4. HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Suhendra Hengki Kartawijaya
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 42 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Permen Jelly Rumput Laut Karakteristik permen jelly rumput laut yang diuji pada optimasi formula meliputi karakteristik sensori, fisik dan kimia. Karakteristik sensori meliputi penampakan, warna, aroma, rasa dan tekstur. Karakteristiki fisik dan kimia meliputi kekuatan gel, rigiditas dan a w Karakteristik Sensori Karakteristik sensori yang diamati pada penentuan formula terbaik permen jelly rumput laut antara lain penampakan, warna, aroma, tekstur dan rasa. 1. Penampakan Nilai rata-rata penampakan permen jelly rumput laut untuk setiap perbedaan konsentrasi gelatin dapat dilihat pada Gambar 10. Rata-rata penampakan c bc a ab 6,2 6,93 7,33 6,47 7,4 4% 5% 6% 7% Pembanding Konsentrasi Gelatin Keterangan: Adanya huruf yang berbeda menunjukkan bahwa perlakuan tersebut berbeda nyata pada taraf nyata 5%. Gambar 10. Histogram rata-rata penampakan permen jelly rumput laut Berdasarkan Gambar 10, dapat dilihat bahwa nilai sensori rata-rata penampakan permen jelly rumput laut berkisar antara 6,20-7,33 (agak suka sampai suka). Nilai rata-rata penampakan tertinggi terdapat pada perlakuan penambahan gelatin sebesar 6% dengan nilai 7,33, sedangkan nilai penampakan terendah terdapat pada perlakuan penambahan gelatin 4%. Hasil uji chi-square dengan menggunakan Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi gelatin memberikan pengaruh yang berbeda terhadap penampakan permen jelly yang 42
2 43 dihasilkan (taraf nyata 0,05). Hasil uji khi-kuadrat parameter organoleptik permen jelly rumput laut dapat dilihat pada Lampiran 8. Untuk mengetahui perlakuan yang memberikan pengaruh beda nyata, maka dilanjutkan dengan uji lanjut multiple comparisons. Hasil uji lanjut multiple comparisons menunjukkan bahwa penambahan gelatin 4% dengan 5% dan 6% memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap penampakan permen jelly yang dihasilkan. Selain itu penambahan gelatin 6% dengan 7% juga memberikan pengaruh yang berbeda nyata. Hasil uji lanjut multiple comparisons parameter organoleptik permen jelly rumput laut dapat dilihat pada Lampiran 9. Penambahan gelatin sebesar 6% menghasilkan penampakan permen jelly yang paling disukai oleh panelis karena permen tersebut memiliki warna yang cerah, bentuk yang utuh dan rapih. Penambahan gelatin 6% dengan 4% dan 7% memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap penampakan. Hal ini dikarenakan pada penambahan gelatin 4 % menghasilkan permen dengan bentuk yang kurang kompak dan kurang utuh, akibat gelatin yang ditambahkan terlalu sedikit. Sedangkan penambahan gelatin pada konsentrasi 7% sudah melebihi batas optimal. Menurut Ali (1987), penggunaan gelatin yang melebihi batas optimal akan menghasilkan gel yang terlalu keras, sedangkan jumlah gelatin yang kurang dari jumlah optimum akan menghasilkan gel yang lunak dan lengket, serta sulit dicetak sehingga penampkannya kurang disukai oleh panelis. Penambahan gelatin dalam industri pangan terutama bertujuan untuk mengubah cairan menjadi padatan yang elastis atau mengubah bentuk sol menjadi gel (Vail et al 1978 dalam Damayanti 2007). Selain itu gelatin juga bersifat menyerap air sehingga membentuk larutan yang kental. Rendahnya gelatin yang ditambahkan pada perlakuan 4% belum cukup untuk menyerap air dan mengubah cairan menjadi padatan, sehingga permen yang dihasilkan kurang kompak dan bentuknya tidak utuh. Sementara itu penambahan gelatin yang terlalu tinggi pada perlakuan 7% menghasilkan penampakan permen jelly yang lebih rendah dibanding penambahan gelatin 4%. Hal ini karena penambahan gelatin yang terlalu banyak sudah melebihi titik optimal, sehingga bentuk dan tekstur yang dihasilkan kurang rapih dan kurang kompak. Selain itu kandungan air yang tersisa
3 44 tidak mencukupi sebagai media perangkap bagi gelatin untuk membentuk tekstur yang kompak. 2. Warna Nilai rata-rata warna permen jelly rumput laut untuk setiap perbedaan konsentrasi gelatin dapat dilihat pada Gambar Rat-rata warna a a a 5,87 6,23 6,37 a 5,77 7, % 5% 6% 7% Pembanding Konsentrasi gelatin Gambar 11. Histogram nilai rata-rata warna permen jelly rumput laut Berdasarkan Gambar 11, dapat dilihat bahwa nilai sensori warna permen jelly rumput laut berkisar antara 5,77-6,37 (agak suka). Nilai warna tertinggi terdapat pada permen jelly dengan penambahan gelatin 6% sedangkan penambahan gelatin 4% memberikan nilai sensori warna yang paling rendah. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi gelatin tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap warna permen jelly yang dihasilkan. Hasil uji lanjut multiple comparisons juga membuktikan bahwa tidak ada sepasang pun perlakuan yang memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap warna permen jelly yang dihasilkan. Permen jelly rumput laut yang dihasilkan hampir semuanya berwarna merah muda. Warna ini berasal dari essence stroberi yang ditambahkan. Essence stroberi yang ditambahkan untuk semua perlakuan memiliki konsentrasi yang sama, sehingga tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap warna permen jelly rumput laut yang dihasilkan. 44
4 45 3. Aroma Nilai rata-rata kesukaan panelis terhadap aroma permen jelly yang dihasilkan untuk setiap konsentrasi gelatin dapat dilihat pada Gambar Rata-rata aroma 8 a a a a ,33 6,53 6,73 5, % 5% 6% 7% Pembanding Konsentrasi gelatin Gambar 12. Histogram nilai rata-rata aroma permen jelly rumput laut Berdasarkan Gambar 12, dapat dilihat bahwa nilai sensori aroma permen jelly rumput laut berkisar antara 5,93-6,53 (agak suka sampai suka). Nilai aroma tertinggi terdapat pada permen jelly dengan penambahan gelatin 6% sedangkan penambahan gelatin 7% memberikan nilai sensori aroma yang paling rendah. Hasil uji chi-square dengan menggunakan Kruskal-Wallis, menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi gelatin memberikan pengaruh yang berbeda terhadap aroma permen jelly yang dihasilkan (taraf nyata 0,05). Untuk mengetahui perlakuan yang memberikan pengaruh beda nyata, maka dilanjutkan dengan uji lanjut multiple comparisons. Hasil uji lanjut multiple comparisons, menunjukkan bahwa ternyata tidak ada sepasang pun perlakuan yang memberikan pengaruh beda nyata terhadap aroma permen jelly yang dihasilkan. Aroma yang dihasilkan terutama dipengaruhi oleh penambahan essence sroberi. Penambahan essence sroberi untuk semua perlakuan sama besar. Di samping itu penambahan gelatin juga memberikan sedikit pengaruh terhadap aroma permen jelly yang dihasilkan, karena gelatin merupakan protein yang mengandung asam amino prolin dan hidroksiprolin (Bower et al 2006). Gelatin yang ditambahkan memiliki warna kekuningan dan aroma yang khas gelatin. Perpaduan aroma khas dari gelatin dengan essence sroberi disukai
5 46 oleh panelis sampai batas tertentu. Hal ini dapat dilihat dari nilai tertinggi aroma permen jelly yang dihasilkan terdapat pada penambahan gelatin 6% sedangkan penambahan gelatin 7% memiliki nilai rata-rata aroma permen jelly terendah. Penambahan gelatin yang terlalu banyak menyebabkan aroma permen jelly yang dihasilkan didominasi oleh aroma gelatin sehingga kurang disukai oleh panelis. 4. Tekstur Uji tekstur adalah penginderaan yang dihubungkan dengan indera peraba atau sentuhan. Tekstur yang dimaksud adalah tingkat kekenyalan dari permen jelly rumput laut yang dihasilkan. Nilai sensori tekstur permen jelly rumput laut berkisar antara 5,63-6,73 (agak suka sampai suka). Nilai sensori tekstur tertinggi terdapat pada permen jelly dengan penambahan gelatin 6% sedangkan penambahan gelatin 7% menghasilkan nilai sensori tekstur yang paling rendah. Hasil uji chi-square dengan menggunakan Kruskal-Wallis, menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi gelatin memberikan pengaruh yang berbeda terhadap tekstur permen jelly yang dihasilkan (taraf nyata 0,05). Untuk mengetahui perlakuan yang memberikan pengaruh beda nyata, maka dilanjutkan dengan uji lanjut multiple comparisons. Nilai rata-rata kesukaan panelis terhadap tekstur permen jelly yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar Rata-rata tekstur a ab 5,7 6,1 b 6,73 a 5,63 6, % 5% 6% 7% Pembanding Konsentrasi gelatin Gambar 13. Histogram nilai rata-rata tekstur permen jelly rumput laut Hasil uji lanjut multiple comparisons (Lampiran 9) menunjukkan bahwa perlakuan penambahan gelatin 4% dan penambahan gelatin 7% berbeda nyata 46
6 47 dengan penambahan gelatin 6% terhadap tekstur permen jelly yang dihasilkan. Sedangkan tekstur permen jelly dengan penambahan gelatin 5% tidak berbeda nyata dengan penambahan gelatin 6%. Secara umum tekstur permen jelly rumput laut yang dihasilkan dipengaruhi oleh penambahan gelatin dan pati termodifikasi serta dari rumput laut sendiri. Namun dalam hal ini penambahan pati termodifikasi dan rumput laut memiliki jumlah yang sama untuk semua perlakuan, sehingga faktor utama yang menyebabkan perbedaan tekstur adalah perbedaan gelatin yang ditambahkan. Penambahan gelatin dalam industri pangan bertujuan untuk membentuk gel, pemantap emulsi, pengental, pengikat air dan pelapis. Gelatin juga berguna untuk mengubah cairan menjadi padatan yang elastis atau mengubah bentuk sol menjadi gel (vail et al dalam Damayanti 2007). Menurut (Lebert et al 2004), gelatin jika dipanaskan pada suhu 71 o C akan larut karena pecahnya agregat molekul dan cairan yang tadinya bebas menjadi terperangkap sehingga larutan menjadi kental. Gel gelatin mulai leleh pada suhu o C Oleh karena itu penambahan gelatin pada konsentrasi yang rendah (4%) menyebabkan tekstur permen jelly yang dihasilkan kurang disukai oleh panelis. Hal ini karena tekstur permen jelly yang dihasilkan kurang kompak, kurang kenyal dan kurang elastis. Penambahan gelatin 6% menghasilkan tekstur permen jelly yang paling disukai oleh panelis. Tekstur permen jelly yang dihasilkan lebih elastis, kenyal dan kompak. Akan tetapi pada penambahan gelatin 7% justru menghasilkan nilai sensori tekstur permen jelly yang rendah dan berbeda nyata dengan penambahan gelatin 6%. Hal ini disebabkan oleh pada konsentrasi 7% sudah jumlah gelatin yang digunakan sudah melebihi batas optimal. Menurut Ali (1987), penggunaan gelatin dengan konsentrasi yang melebihi batas optimal akan menghasilkan gel yang terlalu keras, sedangkan jumlah gelatin yang kurang dari jumlah optimum akan menghasilkan gel yang lunak dan lengket, serta sulit dicetak. Selain itu penambahan gelatin yang berlebihan menyebabkan adonan kurang kompak dan kurang kenyal. Namun adonan akhir yang dihasilkan menjadi lengket dan keras sehingga pada akhirnya menyebabkan pengemasan permen jelly menjadi sulit dan tidak rapi. Hal ini karena jumlah air sebagai media perangkap gelatin dalam membentuk gel tidak mencukupi. Penambahan gelatin dilakukan di
7 48 akhir pemasakan menyebabkan air yang ada dalam adonan tidak mencukupi untuk merangkap gelatin. Jika air yang tersedia sedikit dan konsentrasi gelatin tinggi, maka gel yang terbentuk agak keras dan kurang elastis. Kekurangan air ini disebabkan oleh penguapan dan pengikatan air oleh pati dan rumput laut. 5. Rasa Rasa merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi nilai penerimaan konsumen terhadap suatu makanan. walaupun aroma, warna dan tekstur baik, jika rasanya tidak enak maka makanan tersebut tidak akan diterima. Nilai sensori rasa permen jelly rumput laut berkisar antara 5,63-6,83 (agak suka sampai suka). Nilai sensori rasa tertinggi terdapat pada permen jelly dengan penambahan gelatin 5% sedangkan penambahan gelatin 7% memberikan nilai sensori rasa yang paling rendah. Hasil uji chi-square menggunakan Kruskal- Wallis menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi gelatin memberikan pengaruh yang berbeda terhadap rasa permen jelly rumput laut yang dihasilkan. Untuk mengetahui perlakuan yang memberikan pengaruh beda nyata, maka dilanjutkan dengan uji lanjut multiple comparisons. Nilai rata-rata rasa permen jelly yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 14. cd 8 ab bc 7 a 6 Rata-rata rasa 5 4 6,83 7,17 3 6,13 6,4 5, % 5% 6% 7% Pembanding Konsentrasi gelatin Gambar 14. Histogram nilai rata-rata rasa permen jelly rumput laut Gambar 14 menunjukkan bahwa Hasil uji lanjut multiple comparisons menunjukkan bahwa penambahan gelatin 4% dan penambahan gelatin 7% memberikan pengaruh yang berbeda nyata dengan penambahan gelatin 5% terhadap rasa permen jelly rumput laut yang dihasilkan. Penambahan gelatin 5% 48
8 49 menghasilkan rasa permen jelly yang paling disukai oleh panelis. Rasa permen jelly yang dihasilkan umumnya memiliki rasa manis akibat penambahan gula dan essence sroberi. Adanya perpaduan aroma dari gelatin dengan rasa manis dari gula dan essence sroberi menyebabkan penambahan gelatin 5% memiliki rasa yang paling disukai oleh panelis. Namun penambahan gelatin yang terlalu banyak (penambahan gelatin 7%) paling tidak disukai oleh panelis karena aroma permen yang dihasilkan didominasi oleh aroma gelatin sehingga mempengaruhi terhadap rasa yang dihasilkan Karakteristik fisik dan kimia Selain karakteristik sensori, dalam penentuan formula terbaik permen jelly rumput laut juga dilakukan pengujian terhadap karakteristik fisik dan kimia yang meliputi kekuatan gel, rigiditas dan water activity (a w ). 1. Kekuatan gel Kekuatan gel merupakan daya tahan bahan untuk pecah akibat gaya tekan yang diberikan. Kekuatan gel permen jelly rumput laut diukur dengan menggunakan tekstur analyser (TA-XT21), dengan diameter slinder 1 inchi (2,54 cm) dan kecepatan penekanan 1,5mm/s. Contoh grafik pengukuran kekuatan gel dapat dilihat pada Lampiran 22. Nilai kekuatan gel yang besar menunjukkan bahwa kondisi permen jelly rumput laut tersebut keras. Semakin lunak permen jelly maka semakin kecil kekuatan gelnya. Nilai rata-rata kekuatan gel permen jelly rumput laut berkisar antara 326, g f /cm 2. Nilai tertinggi terdapat pada permen jelly dengan penambahan gelatin 6% yaitu sebesar 635g f /cm 2. Nilai kekuatan gel ini mendekati kekuatan gel pada permen jelly pembanding yaitu sebesar 752,86g f /cm 2. Penambahan gelatin 4% menghasilkan permen jelly dengan nilai kekuatan gel yang paling rendah yaitu sebesar 326,67g f /cm 2. Umumnya semakin tinggi penambahan konsentrasi gelatin, maka kekuatan gel semakin tinggi pula. Namun peningkatan kekuatan gel ini terjadi sampai batas konsentrasi optimal gelati. Hal ini dapat dilihat dari kekuatan gel permen jelly pada penambahan gelatin 7% lebih kecil disbanding kekuatan gel permen jelly pada penambahan gelatin 6 %. Nilai rata-rata kekuatan gel permen jelly rumput laut pada setiap konsentrasi gelatin yang berbeda dapat dilihat pada Gambar 15.
9 50 Kekuatan gel (g f /cm2) 800 d c b 500 a , , , % 5% 6% 7% Pembanding Konsentrasi gelatin Gambar 15. Histogram nilai rata-rata kekuatan gel permen jelly rumput laut Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi gelatin terhadap kekuatan gel, maka dilakukan uji F menggunakan ANOVA (analisis of variance). Namun sebelum dilakukan uji F, terlebih dahulu dilakukan uji kehomogenan atau kenormalan galat. Uji kehomogenan galat dilakukan dengan menggunakan uji kolmogrof simirnov. Berdasarkan uji kolmogrov simirnov, ternyata semua perlakuan menghasilkan galat yang menyebar normal sehingga dapat dilakukan uji F. Hasil uji kolmogrof simirnov terhadap kekuatan gel dapat dilihat pada Lampiran 11. Hasil uji F menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi gelatin memberikan pengaruh yang berbeda terhadap kekuatan gel permen jelly yang dihasilkan (taraf nyata 0,05). Hasil uji F terhadap kekuatan gel dapat dilihat pada Lampiran 6. Untuk mengetahui perlakuan yang memberikan pengaruh beda nyata, maka dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan. Hasil uji lanjut Duncan terhadap kekuatan gel permen jelly dapat dilihat pada Lampiran 13. Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa semua perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kekuatan gel permen jelly dengan perlakuan yang lain. Hal ini ditandai dengan huruf yang berbeda pada histogram yang terdapat pada Gambar 15. Umumnya semakin tinggi gelatin yang digunakan, maka akan semakin tinggi kekuatan gel yang dihasilkan. Penambahan gelatin dalam industri pangan bertujuan untuk pembentuk gel, pemantap emulsi, pengental, pengikat air dan pelapis. Gelatin juga berguna untuk mengubah cairan 50
10 51 menjadi padatan yang elastis atau mengubah bentuk sol menjadi gel (Lebert et al 2004). Oleh karena itu penambahan gelatin dalam jumlah sedikit (4%) menghasilkan permen jelly dengan kekuatan gel yang lebih rendah. Akan tetapi pada penambahan gelatin 7% justru menyebabkan penurunan kekuatan gel permen jelly karena gelatin yang ditambahkan sudah melebihi batas optimal. Menurut Ali (1987), penggunaan jumlah gelatin yang melebihi jumlah optimum akan menghasilkan gel yang terlalu keras, sedangkan jumlah gelatin yang kurang dari jumlah optimum akan menghasilkan gel yang lunak dan lengket, serta sulit dicetak. Kekuatan gel permen jelly dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu jenis rumput laut yang digunakan, konsentrasi gelatin, konsentrasi gula, dan konsentrasi pati termodifikasi yang ditambahkan dalam bahan. Kappaphycus alvarezii merupakan rumput laut yang menghasilkan kappa karagenan, sehingga membentuk gel yang kuat tetapi rapuh. Selain gelatin pati termodifikasi juga mempengaruhi kekuatan gel yang dihasilkan. Pati termodifikasi memiliki kelarutan yang rendah ketika dipanaskan, dan mampu dengan cepat membentuk gel ketika didinginkan (Heeres 2001). 2. Rigiditas Nilai rigiditas diperoleh dengan cara membagi nilai kekuatan gel dengan jarak penekanan sampai permen mulai pecah. Gambar 16 menunjukkan bahwa nilai rigiditas permen jelly rumput laut berkisar antara 314,3-921,4 g f /cm 3. Rigiditas tertinggi terdapat pada permen jelly penambahan gelatin 6% sedangkan nilai rigiditas terendah terdapat pada penambahan gelatin 7%. Nilai rata-rata rigiditas permen jelly rumput laut untuk setiap konsentrasi gelatin yang berbeda dapat dilihat pada Gambar 16. Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi gelatin terhadap rigiditas, maka dilakukan uji F menggunakan ANOVA (analisis of variance). Namun sebelum dilakuan uji F, terlebih dahulu dilakukan uji kehomogenan atau kenormalan galat. Uji kehomogenan galat dilakukan dengan menggunakan uji kolmogrof simirnov. Berdasarkan uji kolmogrov simirnov, ternyata semua perlakuan menghasilkan galat yang menyebar normal sehingga dapat dilakukan uji F.
11 Rata-rata rigiditas (g f /cm 3 ) 1000,0 800,0 600,0 400,0 200,0 b 366,7 c 800,0 d 921,4 a 314,3 568,2 52 0,0 4% 5% 6% 7% Pembanding Konsentrasi gelatin Gambar 16. Histogram rata-rata rigiditas permen jelly rumput laut Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi gelatin terhadap rigiditas, maka dilakukan uji F menggunakan ANOVA (analisis of variance). Namun sebelum dilakuan uji F, terlebih dahulu dilakukan uji kehomogenan atau kenormalan galat. Uji kehomogenan galat dilakukan dengan menggunakan uji kolmogrof simirnov. Berdasarkan uji kolmogrov simirnov, ternyata semua perlakuan menghasilkan galat yang menyebar normal sehingga dapat dilakukan uji F. Hasil uji F menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi gelatin memberikan pengaruh yang berbeda terhadap rigiditas permen jelly yang dihasilkan (taraf nyata 0,05). Hasil uji F terhadap rigiditas dapat dilihat pada Lampiran 15. Untuk mengetahui perlakuan yang memberikan pengaruh beda nyata, maka dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan. Hasil uji lanjut Duncan terhadap rigiditas permen jelly dapat dilihat pada Lampiran 16. Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa semua perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap rigiditas permen jelly dengan perlakuan yang lain. Hal ini ditandai dengan huruf yang berbeda pada histogram yang terdapat pada Gambar 16. Umumnya semakin tinggi gelatin yang digunakan, maka akan semakin tinggi nilai rigiditas dari permen jelly yang dihasilkan. Namun pada penambahan gelatin 7% justru terjadi penurunan nilai rigiditas. Hal ini karena gelatin yang ditambahkan sudah melebihi batas optimal. Rigiditas permen jelly rumput laut dipengaruhi oleh bahan-bahan yang mampu membentuk gel, seperti rumput laut, gelatin, dan pati termodifikasi. Penambahan gelatin menyebabkan rigiditas permen jelly meningkat sampai 52
12 53 konsentrasi 6%, tetapi menurun kembali saat konsentrasinya ditambahkan. Rigiditas berhubungan erat dengan kekuatan gel dan jarak yang ditempuh untuk pecah. Semakin tinggi nilai kekerasan dan semakin kecil jarak yang ditempuh untuk pecah, maka semakin tinggi pula nilai rigiditasnya. Penambahan gelatin 7% menghasilkan nilai kekuatan gel yang kecil dan jarak tempuh sampai permen pecah yang besar, sehingga rigidtas permen jelly dengan penambahan gelatin 7% juga kecil. 3. Water activity (a w ) Karakteristik kimia yang diuji pada penelitian ini hanya a w, karena nilai a w merupakan komponen yang digunakan dalam penentuan umur simpan selanjutnya. Selain itu perbedaan konsentrasi gelatin akan mempengaruhi nilai a w. Secara umum dapat dinyatakan bahwa kadar air dan aktivitas air a w sangat berpengaruh dalam menentukan masa simpan dari produk pangan, karena faktor ini akan mempengaruhi sifat-sifat fisik (kekerasan dan kekeringan) dan sifat-sifat fisiko kimia, perubahan-perubahan kimia (pencoklatan non enzimatis), kerusakan mikrobiologis dan perubahan enzimatis terutama pangan yang tidak diolah (Winarno dan Jenie 1983). Nilai a w permen jelly rumput laut pada untuk setiap perbedaan konsentrasi gelatin dapat dilihat pada Gambar 17. Rata-rata nilai a w 0,84 0,82 0,82 0,8 0,79 0,78 0,76 0,74 0,74 0,72 0,72 0,7 4% 5% 6% 7% Konsentrasi gelatin Gambar 17. Grafik rata-rata a w permen jelly rumput laut Gambar 17 menunjukkan bahwa nilai rata-rata a w permen jelly rumput laut berkisar antara 0,72-0,82. Nilai a w tertinggi terdapat pada penambahan gelatin 4%, sedangkan nilai a w terendah terdapat pada penambahan gelatin 7%. Semakin tinggi konsentrasi gelatin yang ditambahkan, maka semakin kecil nilai a w permen jelly yang dihasilkan. Menurut Tan dan Miang (2008), penambahan gelatin 2,4%
13 54 pada marsmallow menghasilkan a w sebesar 0,476 sedangkan penambahan gelatin 2,0% menghasilkan a w sebesar 0,497. Hal ini sesuai dengan fungsi gelatin yaitu sebagai pengikat air. Jika dipanaskan pada suhu 71 o C gelatin akan larut karena pecahnya agregat molekul dan cairan yang tadinya bebas menjadi terperangkap sehingga larutan menjadi kental dan air menjadi terikat (Lebert et al 2004). Selain gelatin kandungan sukrosa yang ada dalam permen jelly juga mempengaruhi aw permen jelly yang dihasilkan. Menurut Lebert et al (2004) adanya komponen glukosa dan sukrosa dapat mengendalikan perubahan a w, sehingga pertumbuhan mikroorganisme pada permen jelly dapat dihambat. Aktivitas air (a w ) sangat berpengaruh terhadap kerusakan bahan pangan, karena berhubungan dengan pertumbuhan mikroorganisme. Apabila aktivitas air dijaga pada batas tertentu, pertumbuhan mikroorganisme akan terhambat sehingga dapat meperpanjang umur simpan produk (Abbas et al 2009). Nilai a w permen jelly yang dihasilkan masih cukup tinggi, sehingga masih memungkinkan tumbuhnya kapang. Aktivitas air minimum untuk pertumbuhan kapang yaitu 0,8 (Reardon dan Wade 1991). Akan tetapi pertumbuhan mikroorganisme pada permen jelly yang dihasilkan pada penelitian ini dapat dihambat, menurut Noviani et al (2009) terdapat bakteri yang berasosiasi dengan Kappaphycus alvarezii yang memiliki aktivitas antimikroba. 4.2 Permen Jelly Terbaik Berbasis Indeks Kinerja Penambahan gelatin dengan konsentrasi yang berbeda-beda merupakan perlakuan yang digunakan pada penelitian ini. Kriteria yang menjadi penilaian penting dalam pemilihan permen jelly rumput laut adalah kriteria sensori, fisik dan kimia, karena penambahan gelatin berhubungan paling erat dengan ketiga kriteria ini. Penentuan permen jelly terbaik dilakukan dengan dua pertimbangan,yang pertama hanya mempertimbangkan parameter sensori saja dan yang kedua mempertimbangan parameter fsik, kimia dan sensori. Kedua pertimbangan ini menghasilkan hasil yang sama, yaitu konsentrasi gelatin 6% sebagai perlakuan terpilih. Karakteristik dan nilai kepentingan parameter permen jelly rumput laut dengan pertimbangan parameter sensori dapat dilihat pada Tabel 9. 54
14 55 Tabel 9. Karakteristik dan nilai kepentingan parameter permen jelly dengan pertimbangan parameter sensori. No Parameter Dasar pertimbangan kepentingan Nilai kepentingan 1 Penampakan Penambahan gelatin sedikit mempengaruhi 4 penampakan, karena penampakan dipengaruhi juga oleh tekstur 2 Aroma Aroma yang ada pada gelatin sedikit 3 mempengaruhi nilai aroma permen jelly yang dihasilkan 3 Warna Penambahan gelatin kurang berpengaruh 2 terhadap warna permen Penambahan warna kurang berpengaruh terhadap warna permen jelly yang dihasilkan 4 Tekstur Penambahan gelatin dapat membentuk 5 tekstur permen jelly menjadi lebih kuat 5 Rasa Penambahan gelatin sedikit mempengaruhi rasa permen jelly yang dihasilkan 3 Karakteristik dan nilai kepentingan parameter permen jelly rumput laut dengan pertimbangan gabungan parameter sensori dengan parameter fisik dan kimia dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Karakteristik dan nilai kepentingan parameter permen jelly dengan pertimbangan parameter sensori, fisik maupun kimia No Parameter Dasar pertimbangan kepentingan Nilai kepentingan 1 Kekuatan gel Penambahan gelatin mempengaruhi 4 kekuatan gel yang dihasilkan, selain itu kekuatan gel merupakan parameter yang dijadikan dalam penentuan umur simpan pada penelitian ini 2 Rigiditas Nilai rigiditas dipengaruhi oleh kekuatan 3 gel, sehingga penambahan gelatin juga memberikan pengaruh terhadap rigiditas 3 A w penambahan gelatin juga berpengaruh terhadap a w dari permen jelly yang dihasilkan, karena gelatin dapat mengikat air 3 4 Organoleptik Penambahan gelatin secara umum akan mempengaruhi nilai organoleptik 2
15 56 Pemberian nilai kepentingan pada parameter tersebut bisa diperoleh dari hasil kuisioner yang diisi oleh panelis atau bisa juga ditentukan oleh ahli. Nilai kepentingan dari masing-masing parameter juga ditentukan sesuai dengan tujuan penelitian. Permen jelly dengan kekuatan gel tertinggi diberi score yang paling tinggi. Begitu pula dengan rigiditas, tekstur, penampakan, aroma, warna, dan rasa. Nilai bobot dikalikan dengan score akan menghasilkan nilai alternatif. Nilai alternatif tertinggi menunjukkan permen jelly yang terbaik. Hasil pembobotan permen jelly rumput laut dengan pertimbangan parameter sensori dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11 menunjukkan bahwa penambahan gelatin sebanyak 6% menghasilkan total nilai pembobotan tertinggi sehingga diberi peringkat pertama. Peringkat pertama merupakan perlakuan terpilih dalam penelitian ini yang menghasilkan permen jelly rumput laut terbaik dan paling disukai oleh panelis. Tabel 11. Hasil pembobotan permen jelly rumput laut dengan pertimbangan parameter sensori Parameter Konsentrasi Gelatin (%) Nilai Bobot Penampakan ,23 Warna ,12 Aroma ,17 Tekstur ,18 Rasa ,30 Total nilai 1,77 3,18 3,82 1,23 Peringkat Hasil pembobotan permen jelly rumput laut dengan pertimbangan parameter sensori, fisik dan kimia dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 12. Hasil pembobotan permen jelly rumput laut dengan pertimbangan parameter sensori, fisik dan kimia Konsentrasi gelatin Nilai bobot Parameter 4% 5% 6% 7% Kekuatan gel ,34 Rigiditas ,25 A w ,24 Organoleptik ,17 Total nilai 1,51 2,76 3,76 1,98 56
16 57 Peringkat Tabel 12 menunjukkan bahwa penambahan gelatin sebanyak 6% juga menghasilkan total nilai pembobotan tertinggi sehingga diberi peringkat pertama. Oleh karena kedua pertimbangan tersebut menghasilkan keputusan yang sama, maka penambahan gelatin sebanyak 6% merupakan perlakuan terpilih yang menghasilkan permen jelly terbaik. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa jumlah gelatin yang ditambahkan untuk menghasilkan kekuatan gel yang terbaik berkisar antara 5-12% (Lees dan Jackson 1983). 4.3 Variabel Umur Simpan Permen Jelly Rumput Laut Umur simpan permen jelly rumput laut pada penelitian ini ditentukan dengan metode pendekatan kadar air kritis termodifikasi. Metode ini merupakan modifikasi dari metode-metode yang sudah ada dengan tetap mempertahankan prinsip yang sama. Prinsip yang tetap dipertahankan yaitu kadar air kristis akan tercapai pada saat panelis mulai tidak menerima produk secara organoleptik. Pemilihan metode ini dikarenakan produk permen jelly merupakan produk yang bersifat higroskopis (mudah menyerap uap air), sehingga sulit untuk mencapai kadar air kesetimbangan jika menggunakan metode yang sudah ada. Selain itu metode ini juga cukup mudah, tidak memerlikan biaya yang mahal. Namun metode ini juga memiliki kelemahan yaitu sulitnya menjaga agar kondisi RH ruangan dan suhu selama penyimpanan tetap stabil. Pada penelitian ini produk disimpan pada tiga suhu yang berbeda yaitu 15 o C, 29 o C (suhu ruang) dan 35 o C dengan RH yang berbeda pula. Untuk mengetahui umur simpan, maka terlebih dahulu ditentukan variabel-variabel yang akan digunakan dalam perhitungan umur simpan. Adapun variabel-variabel yang perlu diketahui dalam penentuan umur simpan dengan metode pendekatan kadar air kritis termodifikasi meliputi kadar air awal, kadar air kritis, permeabilitas kemasan, berat kering sampel perkemasan, luas kemasan dan perbedaan tekanan di dalam dan di luar kemasan Kadar air awal dan kadar air kritis Kadar air awal dan kadar air kritis ditentukan dengan metode oven (AOAC 1995). Kadar air awal ditentukan setelah produk selesai dimasak dan merupakan kadar air pada awal penyimpanan (H 0 ). Nilai kadar air awal (H 0 ) basis
17 58 basah permen jelly rumput laut sama besar untuk ketiga suhu penyimpanan yaitu 30,25%. Permen jelly merupakan pangan semi basah yang memiliki kadar air 10-40% dengan a w 0,6-0,9 (Buckle et al 1987). Kadar air yang diperoleh pada penelitian ini masih berada dalam selang tersebut. Nilai kadar air (persen basis basah) permen jelly rumput laut dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 13. Nilai kadar air basis basah selama penyimpanan pada suhu yang berbeda Nilai kadar air basis basah (%) Lama penyimpanan Suhu penyimpanan ( o C) (hari) 15 (RH= 63%) 29 (RH=88%) 35 (RH=93%) 0 30,25 30,25 30, ,15 30,74 31, ,93 30,96 32, ,96 31,26 32, ,15 31,61 33, ,01 31,88 33, ,02 32,66 34,14 Akan tetapi kadar air permen jelly yang telah ditetapkan oleh SNI maksimal 20% basis basah. Kadar air permen jelly yang diperoleh pada penelitian ini lebih besar jika dibandingkan dengan kadar air yang telah ditetapkan oleh SNI tersebut. Tingginya kadar air yang diperoleh karena adanya bahan pengikat seperti gelatin, rumput laut dan pati termodifikasi yang dapat mengikat air, sehingga banyak sisa air yang tidak teruapkan selama proses pemasakan. Gelatin yang dipanaskan pada suhu di atas 71 o C akan larut karena pecahnya agregat molekul dan cairan yang tadinya bebas menjadi terperangkap sehingga larutan menjadi kental. Hal inilah yang menjadikan air terikat di dalam agregat molekul gelatin tersebut (Lees dan Jackson 1983). Penentuan kadar air kritis didasarkan pada kondisi dimana permen jelly rumput laut mulai tidak dapat diterima oleh panelis secara organoleptik. Parameter kritis dari permen jelly rumput laut yang dijadikan sebagai parameter kerusakan adalah kekuatan gel atau tekstur. Hal ini dikarenakan permen jelly rumput laut merupakan produk yang bersifat higroskopis, sehingga mudah menyerap air dari lingkungan, oleh karena itu parameter yang paling cepat mengalami perubahan akibat penyerapan uap air adalah tekstur. 58
18 59 Sampel disimpan selama 7 hari dan dilakukan penilaian terhadap tekstur secara subjektif dan objektif serta pengukuran kadar air setiap hari. Kadar air kritis diperoleh pada saat tekstur mencapai kondisi kritis. Tekstur mencapai kondisi kritis pada saat panelis memberikan penilaian netral (skor 4) dari skala 7. Penilain terhadap tekstur secara subjektif dilakukan dengan menggunakan uji rating sedangkan secara objektif dilakukan dengan menggunakan tekstur analyser. Permen jelly rumput laut yang telah disimpan mengalami perubahan kadar air dan atribut tekstur. Perubahan kadar air selama penyimpanan tersebut terjadi akibat penyerapan uap air dari lingkungan sehingga kadar air permen semakin tinggi dan tekstur semakin melunak. Akan tetapi permen jelly yang disimpan pada suhu 15 o C mengalami penurunan kadar air akibat melepas air dari dalam produk ke lingkungan. Perubahan kadar air basis kering permen jelly rumput laut pada tiga suhu yang berbeda selama penyimpanan dapat dilihat pada Tabel 14. Tabel 14. Perubahan kadar air basis kering selama penyimpanan pada tiga suhu yang berbeda Lama penyimpanan (hari) Nilai kadar air basis kering (gh 2 O/gpadatan) Suhu Penyimpanan ( o C) 15 (RH=63%) 29 (RH=88%) 35 (RH=93%) 0 0,434 0,434 0, ,432 0,443 0, ,428 0,449 0, ,407 0,453 0, ,392 0,461 0, ,389 0,467 0, ,389 0,480 0,519 Semakin lama penyimpanan maka semakin besar nilai kadar air baik kadar air dalam basis basah maupun dalam basis kering. Peningkatan kadar air paling cepat terjadi pada penyimpanan di suhu 35 o C. Akan tetapi permen jelly yang disimpan pada suhu 15 o C mengalami penurunan kadar air selama penyimpanan. Untuk mengetahui hubungan lama penyimpanan dengan nilai kadar air selama penyimpanan maka nilai kadar air diplotkan terhadap lama penyimpanan dengan menggunakan regresi linear sederhana. Grafik perubahan nilai kadar air basis kering terhadap lama penyimpanan pada tiga suhu yang berbeda dapat dilihat pada Gambar 18.
19 60 Nilai kadar air (gh 2 O/gpadatan) 0,600 0,550 0,500 0,450 0,400 0,350 y = 0,013x + 0,436 R² = 0,979 y = 0,009x + 0,437 R² = 0,906 y = 0,007x + 0,434 R² = 0,978 0, Lama penyimpanan (hari) Keterangan: = Penyimpanan pada suhu 15 o C = Penyimpanan pada suhu 29 o C = Penyimpanan pada suhu 35 o C Gambar 18. Grafik Hubungan kadar air dengan lama penyimpanan Gambar 18 menunjukkan bahwa lama penyimpanan memiliki hubungan linear dengan kadar air. Hal ini dapat dilihat dari nilai R 2 (koefisien determinasi) untuk ketiga suhu penyimpanan yang cukup besar yaitu berkisar 0,906-0,979. Koefisien determinasi menunjukkan bahwa seberapa tepat model yang digunakan dapat menjelaskan hubungan antara variabel x dengan variabel y (lama penyimpanan dengan kadar air). Dalam hal ini model regresi linear sederhana yang digunakan untuk ketiga suhu penyimpanan sudah cukup tepat dalam menjelaskan hubungan linear antara nilai kadar air dengan lama penyimpanan. Untuk penyimpanan pada suhu 29 o C dan 35 o C, semakin lama penyimpanan maka kadar air juga semakin meningkat. Akan tetapi pada penyimpanan 15 o C yang terjadi penurunan kadar air. Hal ini dapat dilihat dari nilai slope pada persamaan yang bernilai negatif (-0,009) yang menandakan bahwa penambahan lama penyimpanan mengakibatkan terjadinya penurunan kadar air. Hal ini karena permen jelly yang disimpan pada suhu 15 o C memiliki RH yang lebih kecil dibanding nilai a w permen jelly, sehingga tekanan di dalam kemasan lebih tinggi daripada di luar kemasan. Hal ini dapat dilihat dari selisih tekanan uap air di luar kemasan dan di dalam kemasan yang bernilai negatif. Tingginya tekanan di dalam kemasan menyebabkan terjadinya proses desorpsi yaitu terjadi ketika sampel melepaskan uap air ke lingkungan, sehingga terjadi pengurangan kandungan air 60
20 61 pada produk. Hal ini menunjukkan fenomena karakteristik hidratasi (de Man 1989). Penurunan kadar air ini akan berhenti setelah tercapai keseimbangan dengan lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari Tabel 13 bahwa kadar air pada hari ke 5 dan ke 6 hampir sama. Berdasarkan Gambar 18 juga dapat dilihat bahwa, peningkatan kadar air paling cepat terjadi pada suhu penyimpanan 35 o C. Hal ini dapat dilihat dari nilai slope persamaan regresi linear pada suhu 35 o C yaitu 0,013 lebih besar dari slope pada suhu 29 o C, yaitu 0,007. Nilai slope ini menunjukkan bahwa penambahan lama penyimpanan selama satu hari menyebabkan kenaikan kadar air sebesar nilai slope tersebut.. Kadar air permen jelly rumput laut pada suhu 35 o C mencapai 0,519 gh 2 O/gpadatan di akhir penyimpanan (H6). Sedangkan kadar air pada suhu 29 o C hanya 0,480gH 2 O/gpadatan pada akhir penyimpanan (H6). Peningkatan kadar air terutama disebabkan oleh kandungan uap air yang ada di lingkungan. Semakin tinggi tekanan uap air yang ada di lingkungan, maka akan semakin banyak air yang terserap ke dalam produk, sehingga kadar air akan semakin meningkat. Hal ini juga disebabkan oleh permen jelly yang bersifat higroskopis, akibat tingginya kandungan sukrosa, sehingga mudah menyerap uap air dari lingkungan (Labuza et al 1985). Kandungan uap air yang ada di lingkungan biasanya dinyatakan dalam kelembaban relatif atau relativity humidity (RH). RH merupakan perbandingan antara kandungan uap air yang sebenarnya terdapat pada lingkungan dengan kapasitasnya dalam menampung uap air (Manan 1986). Pengukuran RH pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan termometer bola basah dan bola kering. Selisih antara suhu bola basah dan bola kering diplotkan ke dalam Tabel RH, sehingga diperoleh nilai RH. Tabel RH dapat dilihat pada Lampiran 25. Berdasarkan pengukuran RH yang dilakukan, penyimpanan pada suhu 35 o C memiliki nilai RH yang paling tinggi yaitu 93% oleh karena itu permen jelly yang disimpan pada suhu ini kenaikan airnya lebih cepat. Penyimpanan pada suhu 15 o C memiliki nilai RH paling kecil yaitu 63%, oleh karena itu permen jelly yang disimpan pada suhu ini justru mengalami penurunan kadar air sampai tercapai kondisi kesetimbangan.
21 62 Untuk mengetahui umur simpan permen jelly rumput laut, maka terlebih dahulu ditentukan kadar air kritisnya. Kadar air pada kondisi dimana produk tidak dapat diterima secara organoleptik disebut kadar air kritis. Waktu yang diperlukan oleh produk untuk mencapai kadar air kritis menyatakan umur simpan produk (Labuza 1982). Parameter organoleptik yang dijadikan sebagai pamaeter kritis adalah tekstur. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rahayu dan Arpah (2003) bahwa penentuan kadaluarsa untuk produk jelly sebaiknya menggunakan penilaian subjektif terhadap tekstur dengan bahan pengemas berupa plastik dan kertas. Kadar air kritis diperoleh pada saat tekstur mencapai kondisi kritis. Pada penelitian ini penulis menetapkan tekstur mencapai kritis ketika panelis memberikan skor 4 (netral) dari skala 1-7 terhadap kekenyalan, guna menghindari resiko kerugian bagi konsumen namun tetap tidak merugikan produsen. Kuisioner penilaian terhadap kekenyalan (tekstur) dapat dilihat pada Lampiran 2. Penilaian terhadap kekenyalan (tekstur) dilakukan dengan menggunakan uji rating oleh 10 orang panelis terlatih. Panelis terlebih dahulu dilatih untuk memperkenalkan permen jelly yang telah kadaluarsa dan permen jelly yang masih segar. Penilaian dilakukan setiap hari oleh panelis yang sama. Permen jelly yang disimpan pada suhu 15 o C tidak dapat ditentukan kadar air kritisnya, karena terjadinya penurunan kadar air selama penyimpanan. Dengan kata lain permen jelly yang disimpan pada suhu 15 o C tidak dapat ditentukan umur simpannya dengan metode pendekatan kadar air kritis yang dimodifikasi. Untuk menentukan kadar air kritis, maka terlebih dahulu diplotkan grafik hubungan skor tekstur secara organoleptik terhadap kadar air. Skor tekstur secara organoleptik dengan kadar air memiliki hubungan linear untuk kedua suhu penyimpanan. Hal ini dapat dilihat dari nilai R 2 (koefisien determinasi) untuk kedua suhu cukup besar. Oleh karena itu model regresi linear sederhana yang digunakan untuk menggambarkan hubungan antara nilai tekstur secara organoleptik dengan kadar air sudah cukup tepat. Slope persamaan untuk kedua suhu penyimpanaan bernilai negatif. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan nilai tekstur secara organoleptik seiring dengan bertambahnya kadar air. Grafik hubungan skor tekstur secara organoleptik dengan kadar air pada penyimpanan di suhu 29 o C dan 35 o C dapat dilihat pada Gambar
22 63 Rata-rata skor organoleptik tekstur ,420 y = 41,38x + 24,11 R² = 0,968 0,440 0,460 y = 23,15xx + 16,05 R² = 0,938 0,480 0,500 0,520 0,540 Nilai kadar air (gh 2 O/ gpadatan) Keterangan: = Penyimpanan pada suhu 29 o C = Penyimpanan pada suhu 35 o C Gambar 19. Grafik Hubungan skor organoleptik tekstur dengan kadar air Penurunan nilaii tekstur secara organoleptik paling cepat terjadi pada penyimpanan di suhu 35 o C. Hal ini dikarenakan pertambahan kadar air permen jelly yang disimpan pada suhu 35 o C lebih cepat dibanding suhu 29 o C. Pertambahan kadar air yang lebih cepat menyebabkan penurunan mutu tekstur yang lebih cepat pula. Semakin tinggi kadar air, maka tekstur permen yang dihasilkan akan semakin lunak. Tekstur permen yang semakin lunak tidak disukai oleh panelis, sehingga nilai tekstur secara organoleptik padaa penyimpanan di suhu 35 o C lebih cepat mengalami penurunan dibanding dengan suhu 29 o C. Berdasarkan persamaan regresi linear pada Gambar 19, maka dapat ditentukan kadar air kritis untuk kedua suhuu penyimpanan. Kadar air kritis ditentukan dengan menetapkan skor 4 (netral) sebagai batas kritis tekstur secara organoleptik. Kadar air kritis basiss kering untuk penyimpanan pada suhu 29 o C sebesar 0,4859gH 2 O/g padatan (48,59%) sedangkan untuk penyimpanan pada suhu 35 o C adalah 0,5205gH 2 0/gpadatan (52,05%). Kadar air kritis untuk kedua suhu penyimpanan, jika dikonversi ke dalam kadar air basis basah masih berada pada selang yang telah ditetapkan. Permen jelly termasuk dalam pangan semi basah yang mempunyai kadar air basis basah sekitar 10-40% dan nilai a w berkisar 0,6-0,9 (Buckle et al 1987).
23 64 Untuk mengetahui persentase perubahan kadar air terhadap kadar air awal ketika tercapai kadar air kritis, maka terlebih dahulu dihitung persentase perubahan kadar air pada waktu penyimpanan terhadap kadar air awal, kemudian diplotkan grafik hubungan antara kadar air dengan persentase perubahan kadar air. Kadar air kritis diperoleh dari persamaan hubungan antara skor rating tekstur dengan kadar air. Nilai persentase perubahan kadar air selama penyimpanan terhadap kadar air wal dapat dilihat pada Tabel 15. Tabel 15. Persentase perubahan kadar air selama penyimpanan Lama penyimpanan (hari) Kadar air (g H 2 O/g padatan) Suhu penyimpanan 29 o C 35 o C Perubahan Kadar air kadar air (g H 2 O/g (%) padatan) Perubahan kadar air (%) 0 0, , ,443 2,07 0,448 3,22 2 0,449 3,45 0,470 8,3 3 0,453 4,37 0,479 10,37 4 0,461 6,22 0,491 13,13 5 0,467 7,6 0,498 14,75 6 0,480 10,59 0,519 19,6 Persentase perubahan kadar air terhadap kadar air awal ketika tercapai kadar air kritis dapat ditentukan dari persamaan regresi linear antara persentase perubahan kadar air dengan kadar air selama penyimpanan. Grafik hubungan antara kadar air dengan persentase perubahan kadar air dapat dilihat pada Gambar 20. % perubahan kadar air Keterangan: y = 229,0x 99,38 R² = 0,999 y = 230,9x 100,2 R² = 0,999 0,420 0,440 0,460 0,480 0,500 0,520 0,540 Kadar air (gh 2 O/gpadatan) = penyimpanan pada suhu 29 o C 64
24 65 = penyimpanan pada suhu 35 o C Gambar 20. Grafik hubungan persentase perubahan kadar air dengan kadar air. Persentase perubahan kadar air dengan kadar air memiliki hubungan yang linear. Hal ini dapat dilihat dari nilai R 2 (koefisien determinasi) yang cukup besar yaitu hampir mencapai satu. Oleh itu karena itu model regresi linear sederhana yang digunakan untuk menggambarkan hubungan atara persentase perubahan kadar air dengan kadar air sudah cukup tepat. Berdasarkan persamaan regresi linear yang terdapat pada Gambar 20, maka dapat ditentukan persentase perubahan kadar air ketika kadar air kritis tercapai. Persentase perubahan kadar air untuk suhu 29 o C ketika kadar air kritis tercapai yaitu sebesar 11,89% sedangkan persentase perubahan kadar air ketika kadar air kritis tercapai pada penyimpanan di suhu 35 o C adalah 19,98%. Untuk mengetahui nilai kekuatan gel pada saat kadar air kritis telah tercapai, maka diplotkan grafik hubungan antara nilai kekuatan gel dengan kadar air selama penyimpanan. Kekuatan gel pada saat kadar air kritis tercapai, diperoleh ketika variable x diganti dengan kadar air kritis yang telah diperoleh sebelumnya. Grafik antara nilai kekuatan gel dengan kadar air dapat dilihat pada Gambar 21. Berdasarkan Gambar 21, dapat dilihat bahwa kekuatan gel memiliki hubungan linear dengan kadar air selama penyimpanan. Akan tetapi hubungan tersebut memiliki slope negatif. Hal ini menunjukkan bahwa semakin bertambah kadar air, maka kekuatan gel juga akan menurun. Kekuatan gel (Kgf/cm 2 ) 0,80 0,70 0,60 0,50 0,40 0,30 0,20 y = 9,001x + 4,552 R² = 0,972 y = 5,477x + 2,985 R² = 0,888 0,10 0,00 0,420 0,440 0,460 0,480 0,500 0,520 0,540 Kadar air (gh 2 O/gpadatan) Keterangan: = Penyimpanan pada suhu 29 o C = Penyimpanan pada suhu 35 o C
25 66 Gambar 21. Grafik hubungan kekuatan gel dengan kadar air Berdasarkan persamaan regresi linear yang diperoleh pada Gambar 21, maka dapat ditentukan nilai kekuatan gel ketika kadar air kritis telah tercapai. Nilai kekuatan gel ditentukan oleh nilai slope yang terdapat pada masing-masing persamaan. Semakin tinggi nilai slope, maka penurunan kekuatan gel juga akan semakin besar. Nilai kekuatan gel pada suhu 29 o C ketika kadar air kritis telah tercapai yaitu sebesar 0,18kg f /cm 2, sedangkan untuk suhu 35 o C sebesar 0,134 kg f /cm Permeabilitas uap air kemasan Penentuan permeabilitas uap air kemasan perlu diketahui dalam menduga umur simpan produk. Kemasan akan melindungi uap air dan oksigen dari udara. Laju transpor uap air dan oksigen merupakan faktor utama dalam melakukan kontrol umur simpan. Permeabilitas uap air adalah kecepatan atau laju transmisi uap air melalui suatu luasan bahan yang permukaannya rata dengan ketebalan tertentu sebagai akibat perbedaan tekanan uap air antara produk dalam kemasan dengan lingkungannya pada kondisi suhu dan kelembaban tertentu. Semakin tinggi suhu, maka pori-pori kemasan akan semakin membesar sehingga permeabilitasnya meningkat (Syarief et al 1989). Permen jelly yang disimpan pada penelitian ini dikemas dengan menggunakan plastik oriented polipropilen (OPP). Kemasan yang digunakan untuk ketiga suhu penyimpanan sama. Kemasan ini dipilih karena memiliki permeabilitas uap air yang cukup kecil serta harga yang cukup murah. Permeabilitas uap air kemasan dapat ditentukan dengan menggunakan metode ASTM E dengan menggunakan alat permatran-w 3/31. Prinsip dari pengukuran permeansi uap air dari alat ini adalah sampel dialirkan gas N 2 pada suatu cell dan akan ditangkap oleh suatu sensor. Gas nitrogen kering yang dialirkan melewati sebuah chamber yang didalamnya terdapat sampel (plastik) yang memisahkan aliran gas nitrogen kering dari aliran nitrogen basah. Adanya perbedaan tekanan menyebabkan uap air berdifusi menuju daerah yang bertekanan lebih rendah. Uap air yang berdifusi melalui plastik dibawa oleh gas pembawa (nitrogen kering) menuju sensor infra merah untuk selanjutnya dideteksi sebagai jumlah uap air yang dilewatkan melalui plastik. Pengujian dianggap selesai bila 66
26 67 kondisi kesetimbangan telah tercapai. Kondisi diangap setimbang bila laju uap air yang terdeteksi sensor infra merah telah tetap. Pada penelitian ini penulis menggunakan data permeabilitas uap air dari plastik polipropilen melalui data sekunder, yaitu data yang sudah ada dalam literatur. Permeabilitas beberapa bahan pengemas terhadap uap air dapat dilihat pada Tabel 7. Nilai permeabilitas PP tebal adalah 0,0785gH 2 0/hari m 2 mmhg (Hutasoid 2009) Luas kemasan dan berat padatan produk perkemasan Luas kemasan merupakan salah satu komponen yang harus diketahui untuk menentukan umur simpan produk dengan pendekatan kadar air kritis yang dimodifikasi. Kemasan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan plastik polipropilen yang digunting berbentuk persegi. Penentuan luas permukaan dilakukan dengan mengalikan panjang dan lebar untuk satu kemasan permen jelly. Luas permukaan kemasan dinyatakan dalam satuan m 2. Luas permukaan kemasan yang digunakan pada penelitian ini adalah 0,009m 2 Selain luas permukaan kemasan, berat padatan yang terdapat dalam satu buah kemasan juga harus ditentukan untuk mengetahui umur simpan produk. Berat padatan perkemasan merupakan bobot awal permen jelly perkemasan yang telah dikoreksi dengan kadar air awal. Berat padatan permen jelly rumput laut perkemasan adalah sebesar 2,5g Perbedaan tekanan uap air di dalam dengan di luar kemasan Nilai perbedaan tekanan di luar dan di dalam kemasan ( P) diperoleh berdasarkan penentuan nilai a w produk, RH ruangan, dan tekanan uap air murni pada suhu tertentu. Nilai a w diukur dengan menggunakan alat a w meter. Dari pengukuran aw yang dilakukan pada penelitian pendahuluan, diperoleh nilai a w untuk permen jelly rumput laut sebesar 0,82. Nilai ini masih berada pada selang yang telah ditetapkan. Menurut Buckle et al (1987), nilai a w untuk produk semi basah berkisar antara 0,6-0,9. Perbedaan tekanan di dalam dan di luar kemasan ( P) dihitung sebagai selisih antara tekanan di luar dan di dalam kemasan. Tekanan di luar kemasan dihitung dari perkalian antara tekanan uap murni pada suhu penyimpanan dengan RH, sedangkan tekanan di dalam kemasan dihitung dari perkalian antara tekanan uap murni pada suhu penyimpanan dengan nilai a w
27 68 permen jelly pada awal penyimpanan. Tekanan uap murni pada suhu tertentu dapat dilihat pada lampiran 20. Tekanan yang diperoleh diluar kemasan untuk suhu 15 o C adalah 8,056mmHg, suhu 29 o C sebesar 26,44mmHg dan pada suhu 35 o C sebesar 39,23mmHg. Tekanan yang diperoleh di dalam kemasan pada suhu 15 o C yaitu 9,4631mmHg, suhu 29 o C sebesar 22,23mmHg dan pada suhu 35 o C sebesar 31,209mmHg. Nilai ini menunjukkan bahwa tekanan di luar kemasan lebih tinggi dibandingkan dengan di dalam kemasan. Akan tetapi untuk permen jelly yang disimpan pada suhu 15 o C terjadi pelepasan uap air dari produk ke lingkungan, karena tekanan di dalam produk lebih tinggi dari tekanan di lingkungan. Oleh karena itu permen jelly yang disimpan pada suhu 15 o C tidak dapat ditentukan umur simpannya dengan metode kadar air kritis yang dimodifikasi. Perbedaan tekanan uap air yang terjadi antara di luar dan di dalam kemasan produk menyebabkan adanya mobilisasi uap air. Uap air akan berpindah dari tekanan yang lebih besar ke tekanan yang lebih kecil. Dalam penelitian ini permen jelly yang disimpan pada suhu 29oC dan 35 o C memiliki tekanan uap air di luar kemasan (P out ) yang lebih besar dari pada tekanan uap air di dalam kemasan (P in ) sehingga uap air akan berpindah dari luar ke dalam kemasan. Hal inilah yang menyebabkan kadar air permen jelly semakin lama akan semakin meningkat dan menurunkan mutu tekstur produk yang terdapat di dalam kemasan. Akan tetapi permen jelly yang disimpan pada suhu 15 o C memiliki tekanan uap air di luar kemasan (P out ) yang lebih kecil dari pada tekanan uap air di dalam kemasan (P in ), hal ini dapat dilihat dari selisih tekanan uap air antara di luar dan di dalam kemasan yang bernilai negatif (Tabel 16). Oleh karena itu uap air akan berpindah dari produk ke lingkungan. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya penurunan kadar air permen jelly yang disimpan pada suhu 15 o C. Produk dinyatakan telah mencapai batas umur simpannya jika mobilisasi air telah mencapai batas kritisnya. Hasil rekapitulasi variabel umur simpan secara rinci untuk tiga suhu penyimpanan dapat dilihat pada Tabel
28 69 Tabel 16. Rekapitulasi variabel umur simpan secara rinci Parameter Suhu Penyimpanan ( o C) Kadar air awal 0,434 0,434 0,434 (gh 2 O/gpadatan) Kadar air kritis - 0,4859 0,5205 (gh 2 O/gpadatan) Permeabilitas kemasan 0,0785 0,0785 0,0785 (g/m 2 hari mmhg) Luas kemasan (m 2 ) 0,009 0,009 0,009 Bobot padatan perkemasan 2,5 2,5 2,5 (gram) ( P) (mmhg) -1,4067 4,21 8,021 RH (%) Umur Simpan Permen Jelly Rumput Laut Pendugaan umur simpan permen jelly rumput laut pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan model pendekatan kadar air kritis yang dimodifikasi melalui persamaan Labuza yang dimodifikasi. Pendekatan kadar air kritis yang dimodifikasi digunakan untuk produk pangan yang yang memiliki kelarutan yang tinggi, seperti produk permen yang memiliki kandungan sukrosa yang tinggi (Labuza et al 1985). Pada kondisi akselerasi kadar air kesetimbangan sulit tercapai, karena kadar air akan naik tanpa batas pada RH tertentu, sehingga pada kondisi tersebut kurva sorpsi isotermis tidak dapat diasumsikan linear. Berdasarkan variabel umur simpan yang diperoleh maka dapat diduga umur simpan dari permen jelly rumput laut pada suhu dan kelembaban yang berbeda dengan menggunakan persamaan Labuza yang dimodifikasi. Hasil pendugaan umur simpan permen jelly rumput laut pada suhu dan kelembaban yang berbeda dapat dilihat pada Tabel 17. Tabel 17 Umur simpan permen jelly rumput laut pada berbagai suhu penyimpanan Suhu penyimpanan ( o C) RH (%) Umur simpan (bulan ) , ,27 Pada penelitian ini, permen jelly yang disimpan pada suhu 15 o C terjadi penurunan kadar air selama penyimpanan. Penurunan ini terjadi sampai tercapai kadar air kestimbangan dengan lingkungan. Hal ini karena permen jelly yang
29 70 disimpan pada suhu 15 o C memiliki nilai RH yang lebih kecil dibandingkan dengan nilai a w permen. Oleh karena itu tekanan uap air yang ada di dalam produk lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan uap air yang ada di luar produk. Tingginya tekanan uap air di dalam produk menyebabkan terjadinya proses desorpsi yaitu terjadi ketika sampel melepaskan uap air ke lingkungan, sehingga terjadi pengurangan kandungan air pada produk. Hal ini menunjukkan fenomena karakteristik hidratasi (de Man 1989). Transfer uap air dari permen ke lingkungan akan terjadi selama penyimpanan sampai terjadi kondisi kesetimbangan antara permen dengan lingkungan (Labuza 2002). Oleh karena nilai kadar air produk yang disimpan pada suhu 15 o C mengalami penurunan selama penyimpanan, maka permen jelly yang disimpan pada suhu 15 o C tidak dapat ditentukan umur simpannya dengan model pendekatan kadar air kritis yang dimodifikasi. Hal ini karena persamaan antara skor tekstur secara organoleptik dengan kadar air bukan merupakan persamaan regresi linear, sehingga sulit untuk mengetahui tercapainya kadar air kritis. Pendekatan kadar air kritis yang dimodifikasi digunakan untuk produk pangan yang memiliki kelarutan yang tinggi, seperti produk permen yang memiliki kandungan sukrosa yang tinggi (Labuza et al 1985). Pada kondisi akselerasi kadar air kesetimbangan sulit tercapai, karena kadar air akan naik tanpa batas pada RH tertentu. Berdasarkan hasil perhitungan umur simpan yang diperoleh, permen jelly yang disimpan pada suhu 29 o C memiliki umur simpan yang lebih lama dibandingkan dengan permen jelly yang disimpan pada suhu 35 o C. Umur simpan suatu produk dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kemasan yang digunakan, sifat kimia dari bahan pangan tersebut, kondisi lingkungan (suhu dan kelembaban). Permen jelly yang digunakan pada penelitian ini merupakan produk pangan semi basah yang bersifat higroskopis karena memiliki kandungan sukrosa yang tinggi. Produk pangan yang bersifat higroskopis mudah mengalami adsorpsi dan desorpsi. Adsorpsi yaitu proses difusi uap air dari lingkungan ke permen sedangkan desorpsi merupakan proses difusi uap air dari permen ke lingkungan. Permen jelly yang disimpan pada suhu 29 o C dan 35 o C mengalami adsorpsi selama penyimpanan. Hal ini dikarenakan tekanan uap air yang terdapat di dalam produk lebih kecil dibandingkan dengan tekanan uap air di luar produk, sehingga terjadi 70
30 71 difusi uap air dari lingkungan ke dalam produk. Uap air akan berpindah dari tekanan yang tinggi ke tekanan yang rendah. Umur simpan permen jelly pada suhu 35 o C lebih cepat dibandingkan pada suhu 29 o C. Hal ini dikarenakan pada suhu 35 o C kelembaban relatif (RH) lebih tinggi dibandingkan penyimpanan pada suhu 29 o C. RH merupakan perbandingan antara kandungan uap air yang sebenarnya terdapat pada lingkungan dengan kapasitasnya dalam menampung uap air. RH yang lebih tinggi menunjukkan bahwa kandungan uap air yang ada di lingkungan juga tinggi (Manan 1986). RH yang tinggi pada suhu 35 o C menyebabkan perbedaan tekanan di luar dan di dalam kemasan semakin besar, sehingga semakin banyak pula uap air yang diserap oleh permen, Oleh karena itu penurunan mutu tekstur semakin cepat. Hal inilah yang menyebabkan umur simpan permen jelly pada suhu 35 o C lebih cepat dibandingkan pada suhu 29 o C. Selain parameter tekstur, kandungan mikroba yang ada pada produk juga menentukan umur simpan dari produk tersebut. Permen jelly terbaik yang dihasilkan pada penelitian pendahuluan memiliki a w sebesar 0,74. Sehingga pertumbuhan mikroba (kapang dan khamir) pada permen jelly yang dihasilkan pada penelitian ini akan dapat terhambat. Nilai a w minimum untuk pertumbuhan kapang dan khamir adalah 0,88 dan 0,80 sedangkan untuk bakteri sebesar 0,91 (Reardon dan Wade 1991). Akan tetapi pertumbuhan mikroorganisme pada permen jelly yang dihasilkan pada penelitian ini dapat dihambat, menurut Noviani et al (2009) terdapat bakteri yang berasosiasi dengan Kappaphycus alvarezii yang memiliki aktivitas antimikroba. Selain itu sukrosa yang terdapat pada permen jelly rumput laut juga dapat mengahambat pertumbuhan mikroba. Menurut Shee et al (2010) kandungan gula 2,5% yang ditambahkan ke dalam biakan bakteri tidak memperlihatkan adanya koloni bakteri hingga hari ke 6.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Fisik Gelatin Pengujian fisik gelatin meliputi rendemen, kekuatan gel dan viskositas. Pengujian fisik bertujuan untuk mengetahui nilai dari rendemen, kekuatan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Permen Jelly Pepaya Karakteristik permen jelly pepaya diketahui dengan melakukan analisis proksimat dan uji mikrobiologis terhadap produk permen jelly pepaya.
PEMANFAATAN Gracilaria sp. DALAM PEMBUATAN PERMEN JELLY
PEMANFAATAN Gracilaria sp. DALAM PEMBUATAN PERMEN JELLY Ella Salamah 1), Anna C Erungan 1) dan Yuni Retnowati 2) Abstrak merupakan salah satu hasil perikanan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan menjadi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. kriteria yaitu warna, kenampakan, tekstur, rasa, dan aroma. Adapun hasil
Nilai Organoleptik BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis Organoleptik Ikan Tongkol Asap Uji organoleptik/mutu hedonik ikan tongkol asap dinilai berdasarkan pada kriteria yaitu warna, kenampakan, tekstur,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. batok sabut kelapa (lunggabongo). Sebelum dilakukan pengasapan terlebih dahulu
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Ikan tongkol (Euthynnus affinis) segar diperoleh dari TPI (Tempat Pelelangan Ikan) kota Gorontalo. Bahan bakar yang digunakan dalam pengasapan ikan adalah batok sabut kelapa
BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2016-Januari 2017.
22 BAB III MATERI DAN METODE 3.1. Materi Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2016-Januari 2017. Penelitian kadar air, aktivitas air (a w ), dan pengujian mutu hedonik dilakukan di Laboratorium
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENGGORENGAN VAKUM TERHADAP MUTU KERIPIK DURIAN Pada tahap ini, digunakan 4 (empat) tingkat suhu dan 4 (empat) tingkat waktu dalam proses penggorengan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Perubahan Konsentrasi O dan CO dalam Kemasan mempunyai densitas antara.915 hingga.939 g/cm 3 dan sebesar,9 g/cm 3, dimana densitas berpengaruh terhadap laju pertukaran udara
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Jelly drink rosela-sirsak dibuat dari beberapa bahan, yaitu ekstrak rosela, ekstrak sirsak, gula pasir, karagenan, dan air. Tekstur yang diinginkan pada jelly drink adalah mantap
HASIL DAN PEMBAHASAN
18 HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan Mutu Organoleptik Biskuit Selama Penyimpanan Uji kesukaan dan mutu hedonik merupakan salah satu cara untuk uji sensori suatu produk. Uji kesukaan dan mutu hedonik dilakukan
HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENENTUAN LAJU RESPIRASI DENGAN PERLAKUAN PERSENTASE GLUKOMANAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENENTUAN LAJU RESPIRASI DENGAN PERLAKUAN PERSENTASE GLUKOMANAN Proses respirasi sangat mempengaruhi penyimpanan dari buah melon yang terolah minimal, beberapa senyawa penting
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pengamatan dilakukan terhadap sifat fisik (uji lipat), organoleptik (uji hedonik), uji skoring dan analisis kimia (Pb). 1.1 Uji Lipat Uji lipat (folding test) merupakan
I. PENDAHULUAN. Buah naga (Hylocereus polyrhizus) merupakan buah yang saat ini cukup populer
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Buah naga (Hylocereus polyrhizus) merupakan buah yang saat ini cukup populer di Indonesia. Buah naga mengandung antara lain vitamin C, betakaroten, kalsium,
BAB III METODE PENELITIAN. Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Provinsi Gorontalo dan analisis
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Lokasi tempat penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Provinsi Gorontalo dan analisis proksimat dilakukan
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. OPTIMASI FORMULA 1. Penentuan Titik Maksimum Tahap awal dalam penelitian ini adalah penentuan titik maksimum substitusi tepung jagung dan tepung ubi jalar. Titik maksimum
HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Sifat Fisik Meatloaf. Hasil penelitian mengenai pengaruh berbagai konsentrasi tepung tulang
IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Sifat Fisik Meatloaf 4.1.1 Daya Ikat Air Meatloaf Hasil penelitian mengenai pengaruh berbagai konsentrasi tepung tulang rawan ayam terhadap daya
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Karakteristik awal cabai merah (Capsicum annuum L.) diketahui dengan melakukan analisis proksimat, yaitu kadar air, kadar vitamin
HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG
V. HASIL DAN PEMBAHASAN.1 Analisis Kimia.1.1 Kadar Air Hasil analisis regresi dan korelasi (Lampiran 3) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara jumlah dekstrin yang ditambahkan pada
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 PEMILIHAN FORMULA Pada penelitian ini, formula awal yang dibuat mengacu pada Salamah et al (2006) yaitu 1.5% hidrokoloid, 28% gula pasir, dan 7% glukosa. Permen yang dihasilkan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Penelitian Pendahuluan Pengamatan suhu alat pengering dilakukan empat kali dalam satu hari selama tiga hari dan pada pengamatan ini alat pengering belum berisi ikan (Gambar
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Karakteristik teh hijau No Parameter SNI Menurut Nasution dan Tjiptadi (1975) 1 Keadaan - Rasa
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. KARAKTERISASI PRODUK Karakteristik produk diketahui dengan melakukan analisis proksimat terhadap produk teh hijau. Analisis proksimat yang dilakukan adalah kadar air, kadar
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Tepung Tulang Ikan Rendemen tepung tulang ikan yang dihasilkan sebesar 8,85% dari tulang ikan. Tepung tulang ikan patin (Pangasius hypopthalmus) yang dihasilkan
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penentuan Laju Respirasi dengan Perlakuan Persentase Glukomanan Proses respirasi sangat mempengaruhi penyimpanan dari buah sawo yang terolah minimal, beberapa senyawa penting
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENGUKURAN LAJU RESPIRASI Setelah dipanen ternyata sayuran, buah-buahan, dan umbi-umbian masih mengalami proses respirasi oleh karena itu sayuran, buah-buahan dan umbiumbian
PEMANFAATAN Gracilaria sp. DALAM PEMBUATAN PERMEN JELLY
Vol IX Nomor 1 Tahun 26 PEMANFAATAN Gracilaria sp. DALAM PEMBUATAN PERMEN JELLY Ella Salamah 1), Anna C Erungan 1) dan Yuni Retnowati 2) Abstrak merupakan salah satu hasil perikanan yang mempunyai nilai
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. KARAKTERISTIK PRODUK Karakteristik produk diketahui dengan melakukan analisis proksimat dan uji mikrobial terhadap produk kopi instan formula. Analisis proksimat yang dilakukan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Perubahan Ion Leakage Ion merupakan muatan larutan baik berupa atom maupun molekul dan dengan reaksi transfer elektron sesuai dengan bilangan oksidasinya menghasilkan ion.
BAB III BAHAN DAN METODE
BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Industri Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran dan
METODOLOGI PENELITIAN
17 METODOLOGI PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian (TPPHP) Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fateta-IPB.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. PENELITIAN PENDAHULUAN Penelitian pendahuluan diawali dengan melakukan uji terhadap buah salak segar Padangsidimpuan. Buah disortir untuk memperoleh buah dengan kualitas paling
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Komposisi Proksimat Fillet Gurami Komponen penting dari komposisi kimia ikan adalah protein dan lemak. Ikan gurami mengandung 75-80% protein dan 6-9% lemak (basis kering) (Tabel 3).
I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2)
I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi Masalah, (3) Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Proses Pengolahan Bumbu Pasta Ayam Goreng Proses pengolahan bumbu pasta ayam goreng meliputi tahapan sortasi, penggilingan, penumisan, dan pengentalan serta pengemasan. Sortasi
METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN A. TEMPAT DAN WAKTU Proses penggorengan keripik durian dengan mesin penggorengan vakum dilakukan di UKM Mekar Sari di Dusun Boleleu No. 18 Desa Sido Makmur Kecamatan Sipora Utara
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 9. Pola penyusunan acak
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Penyusunan Buah Dalam Kemasan Terhadap Perubahan Suhu Penelitian ini menggunakan dua pola penyusunan buah tomat, yaitu pola susunan acak dan pola susunan teratur. Pola
PENGARUH JENIS KEMASAN DAN LAMA PENYIMPANAN TEHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI, DAN ORGANOLEPTIK PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING. (Laporan Penelitian) Oleh
PENGARUH JENIS KEMASAN DAN LAMA PENYIMPANAN TEHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI, DAN ORGANOLEPTIK PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING (Laporan Penelitian) Oleh PUTRI CYNTIA DEWI JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PETANIAN
HASIL DAN PEMBAHASAN. yang optimum untuk gum arabika dan tapioka yang kemudian umur simpannya akan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakterisasi Enkapsulasi Minyak Cengkeh Penelitian pendahuluan dilakukan untuk menentukan perbandingan konsentrasi yang optimum untuk gum arabika dan tapioka yang kemudian
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Organoleptik Bakso Ikan Nila Merah Uji organoleptik mutu sensorik yang dilakukan terhadap bakso ikan nila merah yang dikemas dalam komposisi gas yang berbeda selama
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. mengunakan ikan nike sebanyak 3 kg, fluktuasi suhu yang diperoleh pada ruang pengering antara
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Penelitian Pendahuluan Berdasarkanpenelitian pendahuluan, suhu yang diperoleh dalam alat pengeringan tanpa ikan berfluktuasi antara 35 º C - 41 º C selama 1 jam. Selanjutnya
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. permen soba alga laut Kappaphycus alvarezii disajikan pada Tabel 6.
4.1 Angka Lempeng Total (ALT) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Angka lempeng total mikroba yang diperoleh dari hasil pengujian terhadap permen soba alga laut Kappaphycus alvarezii disajikan pada Tabel 6. Tabel
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Rendemen merupakan suatu parameter yang penting untuk mengetahui nilai
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tepung Tulang Ikan Tuna 4.1.1 Rendemen Rendemen merupakan suatu parameter yang penting untuk mengetahui nilai ekonomis dan efektivitas suatu produk atau bahan. Perhitungan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Susut Bobot Susut bobot merupakan salah satu faktor yang mengindikasikan penurunan mutu buah. Muchtadi (1992) mengemukakan bahwa kehilangan bobot pada buah-buahan yang disimpan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil sidik ragam kadar protein kecap manis air kelapa menunjukkan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. L Kadar Protein Hasil sidik ragam kadar protein kecap manis air kelapa menunjukkan bahwa penambahan gula aren dengan formulasi yang berbeda dalam pembuatan kecap manis air kelapa
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Uji Pembedaan Segitiga Ikan Teri (Stolephorus sp.) Kering
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Uji Pembedaan Segitiga Ikan Teri (Stolephorus sp.) Kering Uji pembedaan segitiga dilakukan untuk melihat perbedaan ikan teri hasil perlakuan dengan ikan teri komersial.
HASIL DAN PEMBAHASAN Pembuatan Adonan Kerupuk
HASIL DAN PEMBAHASAN Peubah yang diamati dalam penelitian ini, seperti kadar air, uji proksimat serka kadar kalsium dan fosfor diukur pada kerupuk mentah kering, kecuali rendemen. Rendemen diukur pada
PENDUGAAN UMUR SIMPAN PRODUK PANGAN
PENDUGAAN UMUR SIMPAN PRODUK PANGAN Paper Pendugaan Umur Simpan Produk Kopi Instan Formula Merk-Z Dengan Metode Arrhenius, kami ambil dari hasil karya tulis Christamam Herry Wijaya yang merupakan tugas
I. PENDAHULUAN. dan dikenal dengan nama latin Cucurbita moschata (Prasbini et al., 2013). Labu
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanaman labu kuning adalah tanaman semusim yang banyak ditanam di Indonesia dan dikenal dengan nama latin Cucurbita moschata (Prasbini et al., 2013). Labu kuning tergolong
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengemasan Buah Nanas Pada penelitian ini dilakukan simulasi transportasi yang setara dengan jarak tempuh dari pengumpul besar ke pasar. Sebelum dilakukan simulasi transportasi,
I. PENDAHULUAN. Pengembangan komoditi perkebunan menempati prioritas yang tinggi dalam
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Pengembangan komoditi perkebunan menempati prioritas yang tinggi dalam pembangunan bidang ekonomi di Provinsi Lampung. Kakao merupakan salah satu komoditas
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Lingkungan selama Proses Pengeringan Kondisi lingkungan merupakan aspek penting saat terjadinya proses pengeringan. Proses pengeringan dapat memberikan pengaruh terhadap sifat
I PENDAHULUAN. Identifikasi Masalah, (3) Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka
I PENDAHULUAN Bab I akan menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi Masalah, (3) Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian dan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pembuatan Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) Asap. Pengolahan ikan tongkol (Euthynnus affinis) asap diawali dengan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pembuatan Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) Asap Pengolahan ikan tongkol (Euthynnus affinis) asap diawali dengan melakukan preparasi ikan. Selanjutnya diberi perlakuan penggaraman
PENGARUH PENAMBAHAN SUKROSA DAN GLUKOSA PADA PEMBUATAN PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING TERHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI DAN ORGANOLEPTIK
PENGARUH PENAMBAHAN SUKROSA DAN GLUKOSA PADA PEMBUATAN PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING TERHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI DAN ORGANOLEPTIK (Laporan Penelitian) Oleh RIFKY AFRIANANDA JURUSAN TEKNOLOGI HASIL
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan bahan yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan fungsinya tidak pernah digantikan oleh senyawa lain. Sebuah molekul air terdiri dari sebuah atom
PEMBAHASAN 4.1.Karakteristik Fisik Mi Jagung Cooking loss
4. PEMBAHASAN 4.1.Karakteristik Fisik Mi Jagung 4.1.1. Cooking loss Menurut Kruger et al. (1996), analisa cooking loss bertujuan untuk mengetahui banyaknya padatan dari mi yang terlarut dalam air selama
5.1 Total Bakteri Probiotik
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Total Bakteri Probiotik Berdasarkan hasil pengamatan (Lampiran 3) menunjukkan bahwa perlakuan penambahan bakteri L. acidophilus pada perbandingan tepung bonggol pisang batu
UMUR SIMPAN. 31 October
UMUR SIMPAN 31 October 2014 1 Outline 1. Pendahuluan 2. Umur Simpan 3. Penentuan Umur Simpan 4. Penutup 31 October 2014 2 Pendahuluan Makanan dan minuman disimpan, holding time mutu menurun. Produk minuman
HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian Tahap Pertama. Tabel 6. Komposisi Kimia TDTLA Pedaging
TDTLA Pedaging HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian Tahap Pertama Penelitian tahap pertama adalah pembuatan tepung daging-tulang leher ayam yang dilakukan sebanyak satu kali proses pembuatan pada waktu yang
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penyangraian bahan bakunya (tepung beras) terlebih dahulu, dituangkan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Proses Pengolahan Cookies Tepung Beras 4.1.1 Penyangraian Penyangraian bahan bakunya (tepung beras) terlebih dahulu, dituangkan pada wajan dan disangrai menggunakan kompor,
IV. METODOLOGI PENELITIAN
IV. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian dilakukan untuk menduga umur simpan dari sampel. Kondisi akselerasi dilakukan dengan mengondisikan sampel pada RH yang tinggi sehingga kadar air kritis lebih cepat
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN MBAHASAN A. SUSUT BOBOT Perubahan susut bobot seledri diukur dengan menimbang bobot seledri setiap hari. Berdasarkan hasil pengukuran selama penyimpanan, ternyata susut bobot seledri mengalami
I. PENDAHULUAN. makanan selingan berbentuk padat dari gula atau pemanis lainnya atau. makanan lain yang lazim dan bahan makanan yang diijinkan.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permen atau kembang gula merupakan produk pangan yang banyak digemari. Menurut SII (Standar Industri Indonesia), kembang gula adalah jenis makanan selingan berbentuk
1. PENDAHULUAN. Jenis makanan basah ataupun kering memiliki perbedaan dalam hal umur simpan
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Parameter sensori sangat penting pada tahap penelitian dan pengembangan produk pangan baru. Produk baru yang dihasilkan harus memiliki penanganan yang tepat agar
IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pengkukusan kacang hijau dalam pembuatan noga kacang hijau.
IV HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini akan menjelaskan mengenai : (4.1) Penelitian Pendahuluan, dan (4.2) Penelitian Utama. 4.1. Penelitian Pendahuluan Penelitian pendahuluan bertujuan untuk menentukan lama
EVALUASI SENSORI KONSUMEN PADA DODOL RUMPUT LAUT (Eucheuma cottoni) DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG KANJI DAN TEPUNG KETAN.
EVALUASI SENSORI KONSUMEN PADA DODOL RUMPUT LAUT (Eucheuma cottoni) DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG KANJI DAN TEPUNG KETAN Ira Maya Abdiani Staf Pengajar Jurusan Budidaya Perairan FPIK Universitas Borneo Tarakan
METODOLOGI PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pasca Panen Fakultas Pertanian
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pasca Panen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan 18 Maret 2016 sampai
I. PENDAHULUAN. Bab ini menjelaskan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi
I. PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan selama 5-6 bulan di Laboratorium Ilmu dan
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan selama 5-6 bulan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pangan dan Laboratorium Kimia Universitas Muhammadiyah Malang. Kegiatan
BAB V PEMBAHASAN 5.1. Sifat Fisikokimia Kadar Air
BAB V PEMBAHASAN Cake beras mengandung lemak dalam jumlah yang cukup tinggi. Lemak yang digunakan dalam pembuatan cake beras adalah margarin. Kandungan lemak pada cake beras cukup tinggi, yaitu secara
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. FAKTOR MUTU KRITIS Seasoning danmicroencapsulated Ginger Powder merupakan produk flavor berbentuk bubuk yang memiliki kadar air rendah (kurang dari 5%) dan flowability yang tinggi.
Tabel 9. Rata-rata kadar air mi sagu MOCAL
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kadar Air Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam persen. Kadar air merupakan salah satu karakteristik yang sangat penting pada
Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Larutan Perendam terhadap Rendemen Gelatin
4. PEMBAHASAN Dalam penelitian ini dilakukan proses ekstraksi gelatin dari bahan dasar berupa cakar ayam broiler. Kandungan protein dalam cakar ayam broiler dapat mencapai 22,98% (Purnomo, 1992 dalam Siregar
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Oktober Januari 2013.
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Oktober Januari 2013. Pelaksanaan proses pengeringan dilakukan di Desa Titidu, Kecamatan Kwandang, Kabupaten
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN PENDAHULUAN Dari penelitian pendahuluan diperoleh bahwa konsentrasi kitosan yang terbaik untuk mempertahankan mutu buah markisa adalah 1.5%. Pada pengamatan
III. METODE PENELITIAN. Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung dan Laboratorium Teknologi
III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian dan Biomassa, Laboratorium Analisis Hasil Pertanian di Jurusan Teknologi Hasil
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Pangan Jurusan Teknologi
III. BAHAN DAN METODE A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Pangan Jurusan Teknologi Pangan Politeknik Negeri Lampung dan Laboratorium Mikrobiologi Hasil Pertanian,
I. PENDAHULUAN. bermanfaat jika diolah, misalnya dibuat marmalade (Sarwono, 1991). Bagian
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jeruk Bali (Citrus grandis) memiliki kandungan vitamin C yang cukup tinggi dalam 100 g bagian, yaitu sebanyak 43 mg dan vitamin A sebanyak 20 SI (Satuan Internasional),
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. dan mempertahankan kesegaran buah. Pada suhu dingin aktivitas metabolisme
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Suhu Suhu merupakan faktor yang sangat penting untuk memperpanjang umur simpan dan mempertahankan kesegaran buah. Pada suhu dingin aktivitas metabolisme menjadi lambat sehingga
HASIL DAN PEMBAHASAN. Kadar Air dan Aktivitas Air
HASIL DAN PEMBAHASAN Kadar Air dan Aktivitas Air Kadar air dendeng hasil penelitian adalah 19,33%-23,82% dengan rataan 21,49±1,17%. Aktivitas air dendeng hasil penelitian sebesar 0,53-0,84 dengan nilai
III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN
III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN A. Bahan dan Alat Keripik wortel sebagai bahan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan hasil produksi sendiri yang dilakukan di laboratorium proses Balai Besar Industri
III. METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Bahan dan Alat Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah permen jelly pepaya yang terbuat dari pepaya varietas IPB 1 dengan bahan tambahan sukrosa, ekstrak rumput
II. TINJAUAN PUSTAKA. membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi kimiawi
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Aktifitas Air (Aw) Aktivitas air atau water activity (a w ) sering disebut juga air bebas, karena mampu membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi kimiawi
II. TINJAUAN PUSTAKA. bawang putih, dan asam jawa. Masing-masing produsen bumbu rujak ada yang
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bumbu rujak Rujak manis adalah semacam salad. Rujak manis terdiri dari campuran beberapa potongan buah segar dengan dibumbui saus manis pedas. Pada umumnya bumbu rujak manis terbuat
BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan Gizi Pangan, Fakultas
12 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan Gizi Pangan, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang. Penelitian dilakukan pada bulan November
4. PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Fisik Mi Kering Non Terigu Cooking Time
4. PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Fisik Mi Kering Non Terigu 4.1.1. Cooking Time Salah satu parameter terpenting dari mi adalah cooking time yaitu lamanya waktu yang dibutuhkan untuk rehidrasi atau proses
PENYIMPANAN DAN PENGGUDANGAN PENDAHULUAN
PENYIMPANAN DAN PENGGUDANGAN PENDAHULUAN Kegunaan Penyimpangan Persediaan Gangguan Masa kritis / peceklik Panen melimpah Daya tahan Benih Pengendali Masalah Teknologi Susut Kerusakan Kondisi Tindakan Fasilitas
BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2013 di
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2013 di Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Gorontalo. 3.2 Bahan
I PENDAHULUAN. selain sebagai sumber karbohidrat jagung juga merupakan sumber protein yang
I PENDAHULUAN Bab ini akan menguraikan mengenai: (1.1) Latar Belakang, (1.2) Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Penelitian, (1.5) Kerangka Pemikiran, (1.6) Hipotesis
PENGARUH LAMA PENGERINGAN TERHADAP MUTU DODOL RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii
1 PENGARUH LAMA PENGERINGAN TERHADAP MUTU DODOL RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii 1 Ahmad Ibrahim, 2 Asri Silvana Naiu, 2 Lukman Mile [email protected] Jurusan Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan
JURNAL ISSN TEKNOLOGI AGRO-INDUSTRI Vol. 4 No. 1; Juni 2017
JURNAL ISSN 2407-4624 TEKNOLOGI AGRO-INDUSTRI Vol. 4 No. 1; Juni 2017 PENENTUAN UMUR SIMPAN GETUK PISANG RAINBOW YANG DIKEMAS MENGGUNAKAN KEMASAN PLASTIK POLIETILEN FATIMAH 1*, DWI SANDRI 1, NANA YULIANA
Ulangan 1 Ulangan 2 (%)
BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA Deskripsi dan analisis data memuat penjelasan tentang hasil penelitian. Hasil yang diperoleh selama proses penelitian meliputi data sifat kimia, sifat fisik dan organoleptik
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Perbandingan Tepung Tapioka : Tepung Terigu :
28 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Sensoris Pengujian sensoris untuk menentukan formulasi terbaik kerupuk goring dengan berbagai formulasi penambahan tepung pisang kepok kuning dilakukan dengan cara
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian dan
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian dan Biomassa dan Laboratorium Analisis Hasil Pertanian, Jurusan Teknologi Hasil
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Cassava stick adalah singkong goreng yang memiliki bentuk menyerupai french fries. Cassava stick tidak hanya menyerupai bentuk french fries saja, namun juga memiliki karakteristik
HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Fisik Sosis Sapi
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Fisik Sosis Sapi Nilai ph Sosis Sapi Substrat antimikroba yang diambil dari bakteri asam laktat dapat menghasilkan senyawa amonia, hidrogen peroksida, asam organik (Jack
I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Bawang merah (Allium ascalonicum L.) adalah jenis tanaman sayur umbi
I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Penelitian, (6) Hipotesis Penelitian
I. PENDAHULUAN. Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jenis sayuran sehat
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Masalah Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jenis sayuran sehat yang dewasa ini sudah banyak dikenal dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan
PENGARUH FORMULASI PENAMBAHAN TEPUNG SUKUN DALAM PEMBUATAN MIE KERING. Panggung, kec. Pelaihari, kab Tanah Laut, Kalimantan Selatan
JURNAL TEKNOLOGI AGRO-INDUSTRI Vol. 3 No.2 ; November 2016 ISSN 2407-4624 PENGARUH FORMULASI PENAMBAHAN TEPUNG SUKUN DALAM PEMBUATAN MIE KERING * RIZKI AMALIA 1, AK QOYUM FINARIFI 1 1 Jurusan Teknologi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 KOMPOSISI SAMPEL PENGUJIAN Pada penelitian ini, komposisi sampel pengujian dibagi dalam 5 grup. Pada Tabel 4.1 di bawah ini tertera kode sampel pengujian untuk tiap grup
Lampiran 1 Lembar penilaian uji organoleptik ikan segar
LAMPIRAN 61 62 Lampiran 1 Lembar penilaian uji organoleptik ikan segar Nama Panelis : Tanggal pengujian : Instruksi : Cantumkan kode contoh pada kolom yang tersedia sebelum melakukan pengujian. Berilah
