BAB II TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Djaja Gunardi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Fotometri dalam astronomi pertama kali diperkenalkan berdasarkan sensitivitas mata. Dengan mengandalkan kepekaan mata maka manusia mengukur dan membandingkan kecerlangan cahaya yang diterima dari objek langit. Dalam bab ini akan dibahas sistem magnitudo Pogson yang selama ini digunakan astronom sebagai skala kecerlangan objek langit. Selanjutnya, dikupas sistem magnitudo baru, yakni magnitudo Lupton yang mampu untuk menangani kelemahan sistem Pogson. Di subbab terakhir, Penulis akan menjelaskan transformasi fotometri ke sistem standar. Persamaan transformasi ini digunakan untuk mengubah nilai magnitudo instrumental yang diperoleh dari pengamatan ke nilai magnitudo standar..1. Sistem Magnitudo Pogson Sistem fotometri dimulai oleh Hipparchus pada tahun 10 B.C. Bintang-bintang dalam katalog Hipparchus dibagi atas 6 kelas kecerlangan (magnitudo). Bintang yang paling terang tergolong kelas magnitudo pertama hingga yang paling redup, yang hampir tak terlihat oleh mata, termasuk kelas magnitudo keenam. Panjang gelombang yang dapat dideteksi mata disebut daerah kasat mata yaitu antara 375 nm 750 nm. Pada tahun 1830 John Herschel merumuskan bahwa perilaku mata manusia dapat diterjemahkan sebagai fungsi logaritmik, yang sebelumnya telah dideskripsikan secara matematis oleh N.R. Pogson pada tahun 1856; fluks cahaya bintang dengan magnitudo 1 adalah 100 kali dari fluks cahaya bintang bermagnitudo 6 (Sterken dan Manfroid, 199). Dirumuskan dengan : F F 1 m1 m 5 = 10.1 F 1, F, m 1, dan m adalah fluks dan magnitudo kedua bintang. 5
2 Persamaan tersebut dapat diturunkan menjadi m=.5log F + C. Persamaan diatas dikenal sebagai persamaan Pogson; C adalah titik nol persamaan. Harga magnitudo m dan titik nol adalah dua hal yang akan dicari dan ditentukan dalam fotometri astronomi. Pengamatan astronomi terkait dengan peluang mendapatkan informasi foton pada detektor; dimana informasi foton tersebut merupakan informasi cahaya yang dikirimkan oleh benda langit. Foton tiba pada permukaan detektor secara acak. Karena data bintang yang diperoleh berupa cacah foton maka nilai benar jumlah foton yang diperoleh pun berada dalam suatu rentang nilai antara batas bawah dan batas atas fluks bintang. Hal tersebut berpengaruh pada nilai kecerlangan bintang yang kemudian akan berada diantara batas bawah magnitudo dan batas atas magnitudo. Hal tersebut disederhanakan dalam perumusan di bawah ini m m Δm.3 dimana Δm adalah rentang nilai benar magnitudo. Salah satu cara yang kita kenal dalam menentukan galat atau rentang nilai suatu persamaan adalah melalui perambatan kesalahan. Misal kita memiliki fungsi f = f(x), dengan x merupakan variabel bebas hasil pengukuran. Maka galat pengukuran adalah df Δ f = Δx..4 dx Sehingga jika kita aplikasikan pada perumusan Pogson (persamaan.) akan diperoleh atau dm Δ m= Δ f df,5 1 Δ m= Δ f..5 ln10 f Mari kita lihat asal mula adanya perumusan perambatan kesalahan ini. 6
3 Fungsi f dapat diurai menurut deret taylor : f ( x) = f ( a) + f '( a)( x a) + f "( a)( x a) + f '''( a)( x a) +...! 3! a adalah hasil pengukuran yang selanjutnya setelah x. Untuk nilai x a maka suku ketiga dan seterusnya dapat diabaikan, sehingga diperoleh: f ( x) f ( a) + f '( a)( x a) f ( x) f ( a) f '( a)( x a) Δ f df dx Melalui penjabaran perumusan perambatan kesalahan tersebut dapat diperhatikan bahwa perumusan matematis yang kita pergunakan selama ini merupakan suatu pendekatan. Point pertama yang harus diperhatikan adalah terdapat pengabaian pada suku ketiga dan seterusnya dari penguraian deret Taylor fungsi f sehingga diperoleh persamaan perambatan kesalahan. Δx Pengabaian tersebut berlaku untuk suatu nilai Δ x yang kecil, Δ x yang kecil berarti nilai pengamatan yang pertama dan sesudahnya tidak jauh berbeda. Untuk nilai Δ x yang cukup besar maka suku-suku yang lebih tinggi tidak boleh diabaikan. Ataupun bila nilai Δ x yang dimiliki cukup besar maka perumusan tersebut bisa diaplikasikan hanya jika f(x) merupakan fungsi linear. Point kedua yang tidak kalah penting adalah, melalui persamaan.5 diperoleh satu nilai galat pengukuran. Sementara kita sadar rentang nilai benar suatu pengukuran bergantung pada galat. Untuk fungsi yang linear, maka galat yang dikeluarkan oleh perambatan kesalahan (persamaan.5) tersebut berlaku benar. Namun bagaimana halnya untuk suatu fungsi non-linear? Perhatikan ilustrasi grafik dibawah ini untuk suatu fungsi sembarang. 7
4 Δf bawah f(x) f(x) Δf atas Δx bawah x Gambar.1 kurva fungsi sembarang x Δx atas Merujuk pada persamaan.5, dapat disimpulkan hanya terdapat satu nilai Δ m, dan hal itu berarti untuk nilai Δ matas dan Δ mbawah yang diperoleh akan memberikan satu nilai yang sama. Namun setelah melihat grafik di atas, yang kembali menjadi pertanyaan adalah yang selama ini dijadikan galat pengamatan dalam (perumusan) perambatan kesalahan adalah Δ f atas atau f bawah Δ? Yang terjadi sebenarnya adalah persamaan.4 tersebut dapat diaplikasikan khusus pada suatu fungsi linear. Sehingga nilai galat yang diperoleh pun diberikan berdasarkan sifat linearitas dari fungsi linear, dimana untuk suatu nilai Δ x bawah yang bernilai sama akan menghasilkan suatu f atas Δ xatas dan Δ atau Δ f bawah yang bernilai sama pula. Skala magnitudo Pogson (Persamaan.) merupakan fungsi logaritmik, dimana nilai magnitudo objek yang ingin dihitung bergantung pada fluks yang diterima pengamat. Jika fluks F tersebut berada pada suatu nilai benar Δ F maka batas bawah dan batas atas nilai magnitudo yang diperoleh adalah Dan mbawah m( F +Δ F) m atas m( F ΔF) 8
5 Selisih antara nilai magnitudo dengan batas atas dan batas bawahnya dihitung dengan cara: Δm Δm bawah atas = m( F) m( F + ΔF). = m( F ΔF) m( F) Untuk suatu objek langit yang terang, fluks F akan bernilai cukup besar dengan ΔF yang kecil, sistem pogson akan berperilaku cukup linear. Sehingga untuk memperoleh galat nilai magnitudo yang kecil dan simetris dapat dilakukan dengan penghitungan perambatan kesalahan. Rentang nilai benar magnitudo menentukan seberapa besar ketelitian penghitungan terhadap nilai magnitudo yang sebenarnya. Pada kasus obyek redup Δ F yang diperoleh mungkin memiliki nilai yang mendekati atau bahkan sama dengan nilai F. untuk kasus tersebut fungsi logaritmik ini akan memberikan nilai galat Δ m yang besar dan tidak simetris. Selama ini yang dijadikan acuan suatu bintang memiliki kualitas citra yang baik sehingga dapat direduksi lebih lanjut adalah nilai F/ Δ F, atau sering dikenal dengan Signal to Noise Ratio (S/N). berbagai Grafik di bawah ini adalah plot berbagai nilai Δ F (Nugraha, 006). Δ matas dan mbawah Δ untuk Maximum-Minimum -6 Signal to Noise Ratio -4 - Magnitudo Gambar. Kurva data antara Signal to noise ratio dan magnitudo 9
6 Untuk nilai Δ F yang besar dimana nilai ΔF mendekati nilai F, diperoleh Δ m atas dan mbawah Δ yang tidak simetris. Pada kasus ini dapat dikatakan bahwa untuk fluks dengan noise yang besar, perilaku asimetris dari galat magnitudo Pogson semakin signifikan. Pada nilai S/N yang cukup besar galat yang dimiliki masih simetris dan kecil, namun pada S/N yang mendekati nol maka terlihat rentang galat yang tidak simetris dan membesar. Hal inilah yang menyebabkan untuk bintang yang redup dimana S/N yang dimiliki cukup kecil, nilai magnitudo yang diperoleh makin tidak mempunyai bobot kepastian yang baik, karena rentang nilai benar yang dimiliki terlalu besar. Pada kenyataannya banyak sekali ditemukan data astronomi dengan S/N yang rendah terutama pada saat kita mengamati obyek-obyek yang lebih redup. Oleh karena itu dibutuhkan suatu teknik ekstraksi data yang dapat mengambil sebanyak mungkin informasi dari sinyal lemah yang mengandung noise yang relatif besar. Salah satu cara memperbaiki kemampuan ekstraksi data ini adalah dengan pendefinisian ukuran terang bintang yang baru yang dapat digunakan baik pada data S/N tinggi maupun S/N rendah... Sistem Magnitudo Lupton Dengan kelemahan yang terdapat dalam sistem Pogson, dan juga berlimpahnya data dengan S/N rendah, maka Lupton et. al.(1999) mengembangkan suatu pendefinisian skala magnitudo baru. Lupton menemukan bahwa sumber perilaku buruk yang dimiliki sistem Pogson pada data dengan S/N rendah adalah definisi magnitudo Pogson yang menggunakan fungsi logaritma. Lupton mengusulkan suatu fungsi arcus sinus hiperbolicus untuk menyempurnakan kekurangan sistem Pogson pada data dengan S/N rendah. Definisi sistem magnitudo Lupton adalah: 1 x μ ( x) a sinh + lnb..6 b Di sini μ ( x) adalah magnitudo Lupton (Luptitudo), a adalah Pogson ratio dan b merupakan sebuah konstanta kalibrasi agar definisi magnitudo Lupton dapat 10
7 dibandingkan dengan magnitudo Pogson. Sementara x adalah harga fluks yang ternormalisir. Sementara varian μ ( x) dihitung menggunakan hubungan (Lupton et al, 1999): Var( μ) = σ x a + 4b..7 dan untuk x mendekati nol, harga varian μ adalah: Var( μ) a 4b = σ..8 Fungsi arcus sinus hiperbolicus dapat ditulis sebagai fungsi logaritma natural sinh 1 x arcsin x ln( x + x + 1). Menggunakan hubungan ini dan persamaan.5, kita bisa mengetahui perilaku asimtotik μ ( x) untuk x tinggi dan x rendah, yakni: x lim μ ( x) m, lim μ( x) = a + ln b x x 0 b Dengan m adalah simbol yang digunakan untuk merepresentasikan nilai magnitudo Pogson. Menurut perilaku tersebut, pada nilai x yang besar, skala asinh magnitudo menghasilkan harga magnitudo yang sama dengan magnitudo Pogson; sementara pada nilai x yang kecil, skala asinh magnitudo akan berperilaku linear. Nilai yang kecil ini jika kita lihat pada gambar.1, terlihat ketidak-linearan kurva mulai memberikan pengaruh pada galat yang tidak simetris pada S/N yang bernilai 4 dan seterusnya hingga mendekati nol. Bahkan kalaupun nilai x yang dimiliki bernilai negatif, secara teoretis skala asinh magnitude ini masih bisa memberikan suatu angka pasti. Sementara pada skala logaritmik yang diterapkan oleh Pogson, untuk suatu harga x yang bernilai negatif, tidak ada magnitudo yang dapat didefinisikan. Pada persamaan.5 dapat dilihat bahwa perumusan Lupton selain harus memperhatikan dan menjangkau nilai x yang berasal dari pengamatan, namun juga bergantung pada nilai konstanta b yang dipergunakan. Konstanta b ditentukan dengan mempertimbangkan dua syarat berikut. 11
8 Pada data dengan S/N tinggi, skala asinh magnitudo harus menghasilkan harga magnitudo yang sama dengan magnitudo Pogson. Pada data dengan S/N rendah, skala asinh magnitudo harus menghasilkan angka varian μ ( x) yang kecil (mendekati nol). Dengan mempertimbangkan kedua syarat diatas, maka diperoleh satu perumusan sederhana yang dapat merangkum kedua poin penting di atas, yaitu aσ b =..9 dengan σ adalah harga galat pengamatan ternormalisir. Secara sederhana Lupton et al (1999) berusaha mendefinisikan satu sistem pendefinisian skala magnitudo yang sanggup menerjemahkan data dengan S/N rendah dimana fungsi Logaritmik Pogson tidak mampu memberikan hasil yang baik karena rentang galat yang dimilikinya..3 Metode Pengamatan Fotometri CCD Pengamatan fotometri pada dasarnya adalah mengumpulkan kecerlangan suatu bintang dan kemudian mengukurnya atau ditransformasikan ke dalam sistem magnitudo, yang menjadi ukuran kecerlangan bintang itu. Sejarah pengamatan fotometri diawali dengan pengamatan secara visual yang kemudian diikuti dengan plat fotografi, photomultiplier menyusul setelahnya, dan saat ini CCD merupakan instrumen yang kontemporer. Beberapa karakteristik CCD yang menjadikannya sebagai detektor yang saat ini sering dipakai dalam pengamatan dibanding dua detektor terdahulu antara lain adalah efisiensi kuantum yang tinggi, respon linear, rentang dinamika yang lebih lebar, citra yang direkam akan disimpan dalam format digital. 1
9 Gambar.3 Efisiensi kuantum berbagai detektor (Sterken & Manfroid, 199) Pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan bintang-bintang standar yang berada tersebar di seluruh langit. Bintang standar dibutuhkan sehingga pengamat yang berbeda dapat membandingkan hasil pengamatan yang dilakukan dengan pengamat lain yang notabene menggunakan instrumen berbeda dan juga keadaan atmosfer yang berbeda. Dengan demikian, maka bintang standar merupakan alat kalibrasi untuk pengamat yang berbeda-beda. Untuk mengatasi masalah ini maka sistem bintang-bintang standar telah dibuat sehingga pengamat dapat mengkalibrasi pengamatan-pengamatan apapun yang dilakukan dibandingkan pada kecerlangan bintang-bintang standar yang telah diketahui kecerlangannnya. Sistem standar ini hanyalah merupakan salah satu pilihan dari setup instrumen tapi secara umum merupakan prosedur yang paling stabil dan telah dihabiskan banyak waktu untuk pengamatan. Secara umum dapat dikatakan sistem standar terkait dengan fluks mutlak pengamatan dari beberapa bintang standar utama sehingga pengamatan-pengamatan pada sistem standar dapat diubah pada fluks yang dapat diukur. Metode yang dipilih dalam melakukan pengamatan bintang standar adalah fotometri absolut. Ide dasar fotometri absolut yang Penulis kerjakan adalah mengamati bintang standar yang tersebar mewakili berbagai air mass. Dalam setiap pengamatan harus memperhitungkan adanya pengaruh ekstingsi. Ektsingsi 13
10 adalah pengaruh yang diakibatkan oleh atmosfer bumi. Perhitungan ekstingsi dapat dilakukan menggunakan persamaan di bawah ini: m λo = m k sec z.10 λ ' λ dengan k λ = koefisien ekstingsi atmosfer sec z = air mass, z = jarak zenith m λ m λo = magnitudo yang diukur detektor = magnitudo yang sampai di atas permukaan atmosfer. Satu seri pengamatan tentu saja harus disertai dengan pengambilan bias, flat field dan dark. Jika pengamatan dilakukan dalam berbagai panjang gelombang, misalnya menggunakan beberapa filter, maka setiap seri pengamatan dilakukan pada setiap filter secara bergantian. Setiap instrumen fotometri memiliki sistem sendiri, yang dikenal dengan sistem instrumen. Meski duplikasi dilakukan dengan baik dan presisi pada sistem tersebut terhadap hasil observasi, namun pengukuran yang dilakukan tetap memberikan hasil yang berbeda. Oleh karena itu untuk mendapatkan perbandingan langsung hasil observasi yang dilakukan pada berbagai tempat dilakukan standardisasi. Standardisasi dilakukan melalui proses transformasi dari sistem fotometri instrumen ke sistem fotometri standar. Setelah magnitudo yang teramati dikoreksi terhadap pengaruh ekstingsi, maka magnitudo objek tersebut dapat ditransformasikan ke dalam magnitudo standar melalui persamaan V vo m = β ( B V ) + λ γ λ ( B V ) = μ ( m bo m vo ) + ζ bv.11 dimana β λ = koefisien transformasi magnitudo m = magnitudo instrumen yang sudah dikoreksi terhadap ekstingsi vo γ λ μ ζ 0 = konstanta zero point instrumen = koefisien transformasi warna B-V = konstanta zero point dari transformasi warna. 14
BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS
BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS 4.1 Praproses Citra Praproses dan reduksi citra dilakukan dengan bantuan perangkat lunak IRAF. Praproses citra dimulai dengan pengecekan awal pada kualitas data secara
FOTOMETRI STANDAR SISTEM MAGNITUDO BARU LUPTITUDO RETNO PUJIJAYANTI NIM :
FOTOMETRI STANDAR SISTEM MAGNITUDO BARU LUPTITUDO TUGAS AKHIR Diajukan sebagai syarat kelulusan Strata-1 Departemen Astronomi Institut Teknologi Bandung Oleh RETNO PUJIJAYANTI NIM : 10302002 Program Studi
BAB III PENGAMATAN FOTOMETRI CCD
BAB III PENGAMATAN FOTOMETRI CCD Salah satu proyek yang bertujuan untuk mencari obyek-obyek langit sinyal yang lemah adalah proyek survey The Sloan Digital Sky Survey (SDSS). Proyek ini adalah sebuah proyek
UJI IN-SITU KAMERA CCD ST-237 ADVANCE DAN KINERJA ASTRONOMI SISTEM FOTOMETRI BVR JOHNSON
UJI IN-SITU KAMERA CCD ST-237 ADVANCE DAN KINERJA ASTRONOMI SISTEM FOTOMETRI BVR JOHNSON Oleh: Lina Aviyanti dan Judhistira Aria Utama Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia
Oleh : Chatief Kunjaya. KK Astronomi, ITB
Oleh : Chatief Kunjaya KK Astronomi, ITB Kompetensi Dasar XI.3.10 Menganalisis gejala dan ciri-ciri gelombang secara umum XII.3.1 Menerapkan konsep dan prinsip gelombang bunyi dan cahaya dalam teknologi
FOTOMETRI BINT N ANG
FOTOMETRI BINTANG Fotometri Bintang Keadaan fisis bintang dapat ditelaah baik dari spektrumnya maupun dari kuat cahayanya. Pengukuran kuat cahaya bintang ini disebut juga fotometri bintang. Terang Bintang
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 1. Metode Penelitian Penelitian menggunakan metode deskriptif melalui pendekatan kuantitatif. Fenomena yang ada merupakan fenomena alam berupa kumpulan bintang-bintang dalam gugus
FOTOMETRI OBJEK LANGIT
FOTOMETRI OBJEK LANGIT Kecerahan Cahaya Bintang: * Semu (apparent) * Mutlak (absolute) * Bolometrik Warna Bintang Kompetensi Dasar: Memahami konsep dasar astrofisika Judhistira Aria Utama, M.Si. Lab. Bumi
Sistem Magnitudo Terang suatu bintang dalam astronomi dinyatakan dalam satuan magnitudo Hipparchus (abad ke-2 SM) membagi terang bintang
Fotometri Bintang Sistem Magnitudo Terang suatu bintang dalam astronomi dinyatakan dalam satuan magnitudo Hipparchus (abad ke-2 SM) membagi terang bintang dalam 6 kelompok, Bintang paling terang tergolong
BAB I PENDAHULUAN. bawah interaksi gravitasi bersama dan berasal dari suatu awan gas yang sama
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Gugus bintang (stellar cluster) adalah suatu kelompok bintang yang berada di bawah interaksi gravitasi bersama dan berasal dari suatu awan gas yang sama yang menjadi
UJI KONVERGENSI. Januari Tim Dosen Kalkulus 2 TPB ITK
UJI KONVERGENSI Januari 208 Tim Dosen Kalkulus 2 TPB ITK Uji Integral Teorema 3 Jika + k= u k adalah deret dengan suku-suku tak negatif, dan jika ada suatu konstanta M sedemikian hingga s n = u + u 2 +
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang SOAL OLIMPIADE SAINS NASIONAL TAHUN 2015 ASTRONOMI RONDE ANALISIS DATA Waktu: 240 menit KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH
BAB 3 REVIEW SIFAT-SIFAT STATISTIK PENDUGA KOMPONEN PERIODIK
BAB 3 REVIEW SIFAT-SIFAT STATISTIK PENDUGA KOMPONEN PERIODIK 3. Perumusan Penduga Misalkan N adalah proses Poisson non-homogen pada interval 0, dengan fungsi intensitas yang tidak diketahui. Fungsi intensitas
Komunikasi Data POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA. Lecturer: Sesi 5 Data dan Sinyal. Jurusan Teknik Komputer Program Studi D3 Teknik Komputer
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA Jurusan Teknik Komputer Program Studi D3 Teknik Komputer Lecturer: M. Miftakul Amin, S. Kom., M. Eng. Komunikasi Data Sesi 5 Data dan Sinyal 2015 Komunikasi Data 1 Data & Sinyal
BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Kumpulan Rasi Bintang (Sumber:
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Sejak masa lampau bintang-bintang telah menjadi bagian dari kebudayaan manusia. Banyak kebudayaan masa lampau yang menjadikan bintang-bintang sebagai patokan dalam kegiatan
SIFAT BINTANG. Astronomi. Ilmu paling tua. Zodiac of Denderah
PERTEMUAN KE 2 Ide Dasar: Matahari dan bintang-bintang menggunakan reaksi nuklir fusi untuk mengubah materi menjadi energi. Bintang padam Ketika bahan bakar nuklirnya habis. SIFAT BINTANG Astronomi Ilmu
DATA DIGITAL BENDA LANGIT
DATA DIGITAL BENDA LANGIT Chatief Kunjaya KK Astronomi, ITB KOMPETENSI DASAR XII.3.8 Memahami efek fotolistrik dan sinar X dalam kehidupan sehari-hari XII.3.9 Memahami transmisi dan penyimpanan data dalam
(2) dengan adalah komponen normal dari suatu kecepatan partikel yang berhubungan langsung dengan tekanan yang diakibatkan oleh suara dengan persamaan
Getaran Teredam Dalam Rongga Tertutup pada Sembarang Bentuk Dari hasil beberapa uji peredaman getaran pada pipa tertutup membuktikan bahwa getaran teredam di dalam rongga tertutup dapat dianalisa tidak
BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan Tugas Akhir ini adalah
27 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan Tugas Akhir ini adalah metode observasi dengan cara melakukan pengambilan data bintang ganda visual yang
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang SOAL OLIMPIADE SAINS NASIONAL TAHUN 2015 ASTRONOMI SOLUSI ANALISIS DATA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Linieritas metode analisis kalsium dalam tanah dengan AAS ditentukan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Penentuan Linieritas Linieritas metode analisis kalsium dalam tanah dengan AAS ditentukan dengan cara membuat kurva hubungan antara absorbansi pada sumbu y dan konsentrasi
TERMINOLOGI PADA SENSOR
TERMINOLOGI PADA SENSOR Tutorial ini merupakan bagian dari Seri Pengukuran Fundamental Instrumen Nasional. Setiap tutorial dalam seri ini, akan mengajarkan anda tentang topik spesifik aplikasi pengukuran
Ide Dasar: Matahari dan bintang-bintang menggunakan reaksi nuklir fusi untuk mengubah materi menjadi energi. Bintang padam Ketika bahan bakar
PERTEMUAN KE 2 Ide Dasar: Matahari dan bintang-bintang menggunakan reaksi nuklir fusi untuk mengubah materi menjadi energi. Bintang padam Ketika bahan bakar nuklirnya habis. SIFAT BINTANG Astronomi Ilmu
BAB IV OSILATOR HARMONIS
Tinjauan Secara Mekanika Klasik BAB IV OSILATOR HARMONIS Osilator harmonis terjadi manakala sebuah partikel ditarik oleh gaya yang besarnya sebanding dengan perpindahan posisi partikel tersebut. F () =
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.. Respon Impuls Akustik Ruangan. Respon impuls akustik suatu ruangan didefinisikan sebagai sinyal suara yang diterima oleh suatu titik (titik penerima, B) dalam ruangan akibat suatu
Barisan dan Deret Agus Yodi Gunawan
Barisan dan Deret Agus Yodi Gunawan Barisan. Definisi. Barisan tak hingga adalah suatu fungsi dengan daerah asalnya himpunan bilangan bulat positif dan daerah kawannya himpunan bilangan real. Notasi untuk
BAB II PENGANTAR SOLUSI PERSOALAN FISIKA MENURUT PENDEKATAN ANALITIK DAN NUMERIK
BAB II PENGANTAR SOLUSI PERSOALAN FISIKA MENURUT PENDEKATAN ANALITIK DAN NUMERIK Tujuan Instruksional Setelah mempelajari bab ini pembaca diharapkan dapat: 1. Menjelaskan cara penyelesaian soal dengan
BAB IV SEBARAN ASIMTOTIK PENDUGA TURUNAN PERTAMA DAN KEDUA DARI KOMPONEN PERIODIK FUNGSI INTENSITAS PROSES POISSON PERIODIK DENGAN TREN LINEAR
3 BAB IV SEBARAN ASIMTOTIK PENDUGA TURUNAN PERTAMA DAN KEDUA DARI KOMPONEN PERIODIK FUNGSI INTENSITAS PROSES POISSON PERIODIK DENGAN TREN LINEAR 4.. Sebaran asimtotik dari,, Teorema 4. ( Normalitas Asimtotik
BAB II LANDASAN TEORI. landasan pembahasan pada bab selanjutnya. Pengertian-pengertian dasar yang di
5 BAB II LANDASAN TEORI Bab ini membahas pengertian-pengertian dasar yang digunakan sebagai landasan pembahasan pada bab selanjutnya. Pengertian-pengertian dasar yang di bahas adalah sebagai berikut: A.
= = =
= + + + = + + + = + +.. + + + + + + + + = + + + + ( ) + ( ) + + = + + + = + = 1,2,, = + + + + = + + + =, + + = 1,, ; = 1,, =, + = 1,, ; = 1,, = 0 0 0 0 0 0 0...... 0 0 0, =, + + + = 0 0 0 0 0 0 0 0 0....
KATA KUNCI : MAGNITUDO, BINTANG CIRIUS, IRIS. I. PENDAHULUAN. ANNISA PERMATASARI 1, SUTRISNO 2, BURHAN INDRIAWAN 3 1
KATA KUNCI : AGNITUDO, BINTANG CIRIUS, IRIS. I. PENDAHULUAN. ANNISA PERATASARI 1, SUTRISNO, BURHAN INDRIAWAN 3 1 PENENTUAN AGNITUDO UTLAK BINTANG CIRIUS DENGAN ENGGUNAKAN TELESKOP CELESTRON 000 DI LABORATORIU
PENGENALAN ASTROFISIKA
PENGENALAN ASTROFISIKA Hukum Pancaran Untuk memahami sifat pancaran suatu benda kita hipotesakan suatu pemancar sempurna yang disebut benda hitam (black body) Pada keadaan kesetimbangan termal, temperatur
III HASIL DAN PEMBAHASAN
7 III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Perumusan Model Pada bagian ini akan dirumuskan model pertumbuhan ekonomi yang mengoptimalkan utilitas dari konsumen dengan asumsi: 1. Terdapat tiga sektor dalam perekonomian:
TINJAUAN PUSTAKA. Analisis regresi adalah suatu metode analisis data yang menggambarkan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analisis Regresi Analisis regresi adalah suatu metode analisis data yang menggambarkan hubungan fungsional antara variabel respon dengan satu atau beberapa variabel prediktor.
1.2 Tujuan. 1.3 Metodologi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penginderaan jauh telah menjadi sarana umum untuk mendapatkan data spasial dengan akurasi yang baik. Data dari penginderaan jauh dihasilkan dalam waktu yang relatif
PENGUKURAN MAGNITUDO SEMU PLANET VENUS FASE QUARTER MENGGUNAKAN SOFTWARE
PENGUKURAN MAGNITUDO SEMU PLANET VENUS FASE QUARTER MENGGUNAKAN SOFTWARE IRIS VERSI 5.59 DI LABORATORIUM ASTRONOMI UNIVERSITAS NEGERI MALANG PADA BULAN APRIL 2014 Cicik Canggih Dwi Tyonila 1, Sutrisno
Pertemuan 7 Deteksi Koheren dan Deteksi non-koheren Sinyal Bandpass
Page 1 of 8 Pertemuan 7 Deteksi Koheren dan Deteksi non-koheren Sinyal Bandpass 7.2.1 Basis Ruang Keadaan Sinyal Pada dasarnya deteksi pada sinyal terima bandpass digital dari sinyal kirim mempunyai dua
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA. Pendahuluan Uji perbandingan dua distribusi merupakan suatu tekhnik analisis ang dilakukan untuk mencari nilai parameter ang baik diantara dua distribusi. Tekhnik uji perbandingan
Bab IV Spektroskopi. IV Obyek Pengamatan. Bintang program: Nama : RS Gru (HD ) α 2000 : 21 h m δ 2000
Bab IV Spektroskopi Pengamatan spektroskopi variabel delta Scuti biasanya dimaksudkan untuk mendeteksi komponen non-radial dari pulsasi. Hal ini membutuhkan resolusi kisi yang tinggi demi dapat mendeteksi
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
35 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Implementasi GUI GUI diimplementasikan sesuai dengan program pengolah citra dan klasifikasi pada tahap sebelumya. GUI bertujuan untuk memudahkan pengguna mengidentifikasi
MACLAURIN S SERIES. Ghifari Eka
MACLAURIN S SERIES Ghifari Eka Taylor Series Sebelum membahas mengenai Maclaurin s series alangkah lebih baiknya apabila kita mengetahui terlebih dahulu mengenai Taylor series. Misalkan terdapat fungsi
TINJAUAN PUSTAKA. Model Regresi Linier Ganda
TINJAUAN PUSTAKA Model Regresi Linier Ganda Hubungan antara y dan X dalam model regresi linier umum adalah y = X ß + e () dengan y merupakan vektor pengamatan pada peubah respon (peubah tak bebas) berukuran
BAB V PERAMBATAN GELOMBANG OPTIK PADA MEDIUM NONLINIER KERR
A V PERAMATAN GELOMANG OPTIK PADA MEDIUM NONLINIER KERR 5.. Pendahuluan erkas (beam) optik yang merambat pada medium linier mempunyai kecenderungan untuk menyebar karena adanya efek difraksi; lihat Gambar
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pemetaan Batimetri 4.1.1. Pemilihan Model Dugaan Dengan Nilai Digital Asli Citra hasil transformasi pada Gambar 7 menunjukkan nilai reflektansi hasil transformasi ln (V-V S
BAB 4 SEBARAN ASIMTOTIK PENDUGA KOMPONEN PERIODIK
BAB 4 SEBARAN ASIMTOTIK PENDUGA KOMPONEN PERIODIK 4. Sebaran Asimtotik,, Teorema 4. (Sebaran Normal Asimtotik,, ) Misalkan fungsi intensitas seperti (3.2) dan terintegralkan lokal. Jika kernel K adalah
BAB II DASAR TEORI. sebagian besar masalahnya timbul dikarenakan interface sub-part yang berbeda.
BAB II DASAR TEORI. Umum Pada kebanyakan sistem, baik itu elektronik, finansial, maupun sosial sebagian besar masalahnya timbul dikarenakan interface sub-part yang berbeda. Karena sebagian besar sinyal
Riwayat Bintang. Alexandre Costa, Beatriz García, Ricardo Moreno, Rosa M Ros
Riwayat Bintang Alexandre Costa, Beatriz García, Ricardo Moreno, Rosa M Ros International Astronomical Union - Comm. 46 Escola Secundária de Loulé, Portugal Universidad Tecnológica Nacional, Argentina
BAB VI DISTRIBUSI PROBABILITAS MENERUS
BAB VI DISTRIBUSI ROBABILITAS MENERUS 6. Distribusi Uniform (seragam) Menerus Distribusi seragam menerus merupakan distribusi yang paling sederhana. Karaketristik distribusi ini adalah fungsi kepadatannya
MATEMATIKA DI BALIK CITRA DIGITAL
MATEMATIKA DI BALIK CITRA DIGITAL Hendra Gunawan Tulisan ini membahas bagaimana matematika berperan dalam pemrosesan citra digital, khususnya pengolahan dan penyimpanan citra dalam bentuk digital secara
Dalam sistem komunikasi saat ini bila ditinjau dari jenis sinyal pemodulasinya. Modulasi terdiri dari 2 jenis, yaitu:
BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 Tinjauan Pustaka Realisasi PLL (Phase Locked Loop) sebagai modul praktikum demodulator FM sebelumnya telah pernah dibuat oleh Rizal Septianda mahasiswa Program Studi Teknik
(T.8) SEBARAN ATIMTOTIK FUNGSI INTENSITAS PROSES POISSON PERIODIK DENGAN TREN FUNGSI PANGKAT
(T.8) SEBARAN ATIMTOTIK FUNGSI INTENSITAS PROSES POISSON PERIODIK DENGAN TREN FUNGSI PANGKAT Ro fah Nur Rachmawati Universitas Bina Nusantara Jl. K.H. Syahdan No. 9 Palmerah Jakarta Barat 11480 [email protected]
FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682)
FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682) Fajar Ramadhan 1, Rhorom Priyatikanto 2, Judhistira Aria Utama 1 1 Departemen Pendidikan Fisika, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Bintang Ganda DND-2006
Bintang Ganda Bintang ganda (double stars) adalah dua buah bintang yang terikat satu sama lain oleh gaya tarik gravitasi antar kedua bintang tersebut. Apabila sistem bintang ini lebih dari dua, maka disebut
BAB IV PENGUJIAN SISTEM DAN ANALISIS HASIL KARAKTERISASI LED
BAB IV PENGUJIAN SISTEM DAN ANALISIS HASIL KARAKTERISASI LED 4.1 Kalibrasi DAC Gambar 4.1. Diagram blok proses kalibrasi DAC Gambar 4.1 memperlihatkan diagram blok proses kalibrasi DAC. Komputer dihubungkan
CNH2B4 / KOMPUTASI NUMERIK
CNH2B4 / KOMPUTASI NUMERIK TIM DOSEN KK MODELING AND COMPUTATIONAL EXPERIMENT 1 REVIEW KALKULUS & KONSEP ERROR Fungsi Misalkan A adalah himpunan bilangan. Fungsi f dengan domain A adalah sebuah aturan
Konvolusi. Esther Wibowo Erick Kurniawan
Konvolusi Esther Wibowo [email protected] Erick Kurniawan [email protected] Filter / Penapis Digunakan untuk proses pengolahan citra: Perbaikan kualitas citra (image enhancement) Penghilangan
5. PEMBAHASAN 5.1 Koreksi Radiometrik
5. PEMBAHASAN Penginderaan jauh mempunyai peran penting dalam inventarisasi sumberdaya alam. Berbagai kekurangan dan kelebihan yang dimiliki penginderaan jauh mampu memberikan informasi yang cepat khususnya
Bab 2 Metode Pendeteksian Planet Luar-surya
Bab 2 Metode Pendeteksian Planet Luar-surya Mendeteksi sebuah planet di bintang lain sangat sulit. Cahaya bintang terlalu terang sehingga kalaupun terdapat planet di bintang tersebut, kontras cahaya antara
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Radiografi sinar-x telah mengalami pengembangan ke arah radiografi sinar-x digital dimana teknik pencitraannya memanfaatkan sensor digital untuk menangkap citra (Ko
Gosong Semak Daun. P. Karya. P. Panggang. Gambar 2.1 Daerah penelitian.
BAB 2 BAHAN DAN METODE 2.1 Daerah Penelitian Daerah penelitian adalah Pulau Semak Daun (Gambar 2.1) yang terletak di utara Jakarta dalam gugusan Kepulauan Seribu. Pulau Semak Daun adalah pulau yang memiliki
Pertemuan ke-5 Sensor : Bagian 1. Afif Rakhman, S.Si., M.T. Drs. Suparwoto, M.Si. Geofisika - UGM
Pertemuan ke-5 Sensor : Bagian 1 Afif Rakhman, S.Si., M.T. Drs. Suparwoto, M.Si. Geofisika - UGM Agenda Pengantar sensor Pengubah analog ke digital Pengkondisi sinyal Pengantar sensor medan EM Transduser
SATUAN JARAK DALAM ASTRONOMI
SATUAN JARAK DALAM ASTRONOMI Satuan Astronomi (SA) atau Astronomical Unit 1 Astronomical Unit = 149 598 000 kilometers dibulatkan menjadi 150.000.000 kilometer Menurut definisinya, 1 Satuan Astronomi adalah
Bab II Teori Pendukung
Bab II Teori Pendukung II.1 Sistem Autonomous Tinjau sistem persamaan differensial berikut, = dy = f(x, y), g(x, y), (2.1) dengan asumsi f dan g adalah fungsi kontinu yang mempunyai turunan yang kontinu
Ronde Analisis Data. P (φ) = P 0 + P t cos φ dengan P t = 2πP 0r cp B
Halaman 1 dari 6 (D1) Binary Pulsar Dalam pencarian sistematis selama beberapa dekade, astronom telah menemukan sejumlah besar milisecond pulsar (periode rotasi < 10 ms). Sebagian besar pulsar ini ditemukan
BAB V DISTRIBUSI NORMAL. Deskripsi: Pada bab ini akan dibahas mengenai konsep distribusi normal dalam pengukuran.
BAB V DISTRIBUSI NORMAL Deskripsi: Pada bab ini akan dibahas mengenai konsep distribusi normal dalam pengukuran. Manfaat: Memberikan metode distribusi normal yang benar saat melakukan proses pengukuran.
Konsep Dasar Perhitungan Numerik
Modul Konsep Dasar Perhitungan Numerik Drs. Mulyatno, M.Si. D PENDAHULUAN alam mata kuliah Kalkulus, Aljabar Linear, Persamaan Diferensial Biasa, dan mata kuliah lainnya, dapat Anda pelajari berbagai metode
Aspek Terrestrial Pada Penentuan Posisi Hilal
Seminar Sehari Astronomi: Aspek Teoritis dan Observasi Astronomi Visibilitas Hilal Observatorium Bosscha-ITB, Lembang 27 Mei 2006 Aspek Terrestrial Pada Penentuan Posisi Hilal S.Siregar Fakultas Matematika
Usia massa air sering diperkirakan melalui metode perhitungan radio-usia dihitung dari mulai di distribusikannya radioaktif pelacak.
Usia massa air sering diperkirakan melalui metode perhitungan radio-usia dihitung dari mulai di distribusikannya radioaktif pelacak. Deleersnijder et al. Dalam [J. Maret Syst. 28 (2001) 229.] telah menunjukan
PERTIDAKSAMAAN PECAHAN
PERTIDAKSAMAAN PECAHAN LESSON Pada topik sebelumnya, kalian telah mempelajari topik tentang konsep pertidaksamaan dan nilai mutlak. Dalam topik ini, kalian akan belajar tentang masalah pertidaksamaan pecahan.
B A B III SINYAL DAN MODULASI
B A B III SINYAL DAN MODULASI 4.1. Komponen Sinyal Untuk memperdalam komponen sinyal, maka dilihat dari fungsi waktu, sinyal elektromagnetik dapat dibedakan menjadi sinyal kontinyu dan diskrit. Sinyal
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Magnitudo Gempabumi Magnitudo gempabumi adalah skala logaritmik kekuatan gempabumi atau ledakan berdasarkan pengukuran instrumental (Bormann, 2002). Pertama kali, konsep magnitudo
Fungsi F disebut anti turunan (integral tak tentu) dari fungsi f pada himpunan D jika. F (x) = f(x) dx dan f (x) dinamakan integran.
4 INTEGRAL Definisi 4. Fungsi F disebut anti turunan (integral tak tentu) dari fungsi f pada himpunan D jika untuk setiap D. F () f() Fungsi integral tak tentu f dinotasikan dengan f ( ) d dan f () dinamakan
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Teori Probabilitas (Peluang) Probabilitas adalah suatu nilai untuk mengukur tingkat kemungkinan terjadinya suatu peristiwa (event) akan terjadi di masa mendatang yang hasilnya
Husna Arifah,M.Sc : Persamaan Bessel: Fungsi-fungsi Besel jenis Pertama
Bentuk umum PD Bessel : x 2 y"+xy' +(x 2 υ 2 )y =...() Kita asumsikan bahwa parameter υ dalam () adalah bilangan riil dan tak negatif. Penyelesaian PD mempunyai bentuk : y(x) = x r m = a m x m = a m xm
BAB II LANDASAN TEORI. dalam penulisan skripsi ini. Teori-teori yang digunakan berupa definisi-definisi serta
BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan diuraikan beberapa teori-teori yang digunakan sebagai acuan dalam penulisan skripsi ini. Teori-teori yang digunakan berupa definisi-definisi serta teorema-teorema
HASIL DAN ANALISA. 3.1 Penentuan Batas Penetrasi Maksimum
BAB 3 HASIL DAN ANALISA 3.1 Penentuan Batas Penetrasi Maksimum Zonasi kedalaman diperlukan untuk mendapatkan batas penetrasi cahaya ke dalam kolom air. Nilai batas penetrasi akan digunakan dalam konversi
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Distribusi Normal Salah satu distribusi frekuensi yang paling penting dalam statistika adalah distribusi normal. Distribusi normal berupa kurva berbentuk lonceng setangkup yang
Menurut Ming-Hsuan, Kriegman dan Ahuja (2002), faktor-faktor yang mempengaruhi sebuah sistem pengenalan wajah dapat digolongkan sebagai berikut:
BAB 2 LANDASAN TEORI Bab ini akan menjelaskan berbagai landasan teori yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini dan menguraikan hasil studi literatur yang telah dilakukan penulis. Bab ini terbagi
DERET FOURIER DAN APLIKASINYA DALAM FISIKA
Matakuliah: Fisika Matematika DERET FOURIER DAN APLIKASINYA DALAM FISIKA Di S U S U N Oleh : Kelompok VI DEWI RATNA PERTIWI SITEPU (8176175004) RIFKA ANNISA GIRSANG (8176175014) PENDIDIKAN FISIKA REGULER
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Efektivitas Efektivitas berasal dari kata efektif, yang merupakan kata serapan dari bahasa Inggris yaitu effective yang artinya berhasil. Menurut kamus ilmiah popular, efektivitas
Jurusan Teknik Fisika FTI, Institut Teknologi Sepuluh Nopember 2)
IDENTIFIKASI SPEKTRUM INTRINSIK BINTANG TUNGGAL DENGAN MENGGUNAKAN FUNGSI SEBARAN GARIS DSS-7 (Deep Space Spectrograph) DI OBSERVATORIUM BOSSCHA ITB Andreas Liudi Mulyo 1), Dr. Hakim L. Malasan 2), Dr.
BAB III PARTIAL ADJUSTMENT MODEL (PAM) Pada dasarnya semua model regresi mengasumsikan bahwa hubungan
BAB III PARTIAL ADJUSTMENT MODEL (PAM) 3.1 Model Distribusi Lag Pada dasarnya semua model regresi mengasumsikan bahwa hubungan antara peubah tak bebas dan peubah-peubah bebas bersifat serentak. Hal ini
ANALISA VARIABEL DUMMY INDEPENDEN NON LINEAR DENGAN REGRESI BERGANDA
ANALISA VARIABEL DUMMY INDEPENDEN NON LINEAR DENGAN REGRESI BERGANDA 1. Tinjauan Teoritis Analisa Dummy Variabel Dummy variabel merupakan variabel-variabel yang sesungguhnya merupakan variabel yang bersifat
ANALISIS GALAT AKIBAT KUANTISASI PADA IMPLEMENTASI DIGITAL SISTEM ADAPTIF LMS
ANALISIS GALAT AKIBAT KUANTISASI PADA IMPLEMENTASI DIGITAL SISTEM ADAPTIF LMS Indrastanti R. Widiasari Fakultas Teknologi Informasi - Universitas Kristen Satya Wacana [email protected] ABSTRACT Most
BAB IV PENGEMBANGAN MODEL KAPLAN
BAB IV PENGEMBANGAN MODEL KAPLAN Pada bab ini akan dibahas model yang dikembangkan dari model Kaplan. Terdapat beberapa asumsi Kaplan yang akan dimodifikasi. Selain itu, pada bab ini juga diberikan analisis
BAB III METODE PENELITIAN
digilib.uns.ac.id BAB III METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka dari buku referensi karya ilmiah. Karya ilmiah yang digunakan adalah hasil penelitian serta
BAB III EXTENDED KALMAN FILTER DISKRIT. Extended Kalman Filter adalah perluasan dari Kalman Filter. Extended
26 BAB III EXTENDED KALMAN FILTER DISKRIT 3.1 Pendahuluan Extended Kalman Filter adalah perluasan dari Kalman Filter. Extended Kalman Filter merupakan algoritma yang digunakan untuk mengestimasi variabel
BAB 4 HASIL PENELITIAN Deskripsi Data Terdistribusi Kualitas Sistem Informasi Business
BAB 4 HASIL PENELITIAN 4.1 Deskripsi Data Hasil Penelitian 4.1.1 Deskripsi Data Terdistribusi Kualitas Sistem Informasi Business Trip Berdasarkan instrumen penelitian yang menggunakan skala 1 (satu) sampai
Dioda-dioda jenis lain
Dioda-dioda jenis lain Dioda Zener : dioda yang dirancang untuk bekerja dalam daerah tegangan zener (tegangan rusak). Digunakan untuk menghasilkan tegangan keluaran yang stabil. Simbol : Karakteristik
BAB 3 MODEL ESTIMASI REGRESI NONPARAMETRIK
BAB 3 MODEL ESTIMASI REGRESI NONPARAMETRIK Dalam melakukan estimasi pada suatu kasus regresi nonparametrik, ada banyak metode yang dapat digunakan. Yasin (2009) dalam makalahnya melakukan estimasi regresi
BAB VIII LEAST-SQUARES FITTING
Deskripsi: BAB VIII LEAST-SQUARES FITTING Pada bab ini akan dibahas mengenai analisis statistik dari beberapa hasil pengukuran pada satu kuantitas tunggal dengan menggunakan grafik kurva y vs x. Hal tersebut
Bab V MetodeFunctional Statistics Algorithm (FSA) dalam Sintesis Populasi
31 Bab V MetodeFunctional Statistics Algorithm (FSA) dalam Sintesis Populasi V.1 Mengenal Metode Functional Statistics Algorithm (FSA) Metode Functional Statistics Algorithm (FSA) adalah sebuah metode
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2. Pengertian Citra Citra (image) atau istilah lain untuk gambar sebagai salah satu komponen multimedia yang memegang peranan sangat penting sebagai bentuk informasi visual. Meskipun
Analisis Rangkaian Listrik Di Kawasan s
Sudaryatno Sudirham Analisis Rangkaian Listrik Di Kawasan s Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik () BAB 4 Tanggapan Frekuensi Rangkaian Orde Pertama Sebagaimana kita ketahui, kondisi operasi
BAB 1 PENGANTAR SISTEM KOMPUTER
BAB 1 PENGANTAR SISTEM KOMPUTER I.1 Lingkungan Komputasi Perkembangan dan penggunaan komputer sering digambarkan sebagai suatu revolusi teknologi yang membawa perubahan yang sangat mendasar pada sebagian
FOTOMETRI PLEIADES MENGGUNAKAN KAMERA DSLR
FOTOMETRI PLEIADES MENGGUNAKAN KAMERA DSLR Iman Firmansyah 1,*), Rhorom Priyatikanto 2, Judhistira Aria Utama 1 1 Departemen Pendidikan Fisika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia, Jl. Dr. Setiabudhi
II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai teori-teori yang mendukung dalam
4 II. TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai teori-teori yang mendukung dalam menentukan momen, kumulan, dan fungsi karakteristik dari distribusi log-logistik (α,β). 2.1 Distribusi Log-Logistik
BAB III TEORI DASAR (3.1-1) dimana F : Gaya antara dua partikel bermassa m 1 dan m 2. r : jarak antara dua partikel
BAB III TEORI DASAR 3.1 PRINSIP DASAR GRAVITASI 3.1.1 Hukum Newton Prinsip dasar yang digunakan dalam metoda gayaberat ini adalah hukum Newton yang menyatakan bahwa gaya tarik menarik dua titik massa m
