BAB V MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB V MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING"

Transkripsi

1 BAB V MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING 5.1 Landasan Teori Perencanaan kebutuhan material (material requirements planning) merupakan metode perencanaan dan pengendalian pesanan dan inventori untuk item-item yang tergantung (dependent) pada item-item yang ada di tingkat (level) lebih tinggi. Jumlah item yang hendak diproduksi pada tingkat yang lebih tinggi menentukan jumlah item yang akan dibuat atau diperlukan pada tingkat di bawahnya. Perencanaan kebutuhan material (Material Requirements Planning) merupakan suatu konsep dalam manajemen produksi yang membahas cara yang tepat dalam perencanaan kebutuhan barang dalam proses produksi, sehingga barang yang dibutuhkan dapat tersedia sesuai dengan yang direncanakan (Herjanto, 23). Material requirement planning (MRP) dapat didefinisikan sebagai suatu alat atau set prosedur yang sistematis dalam penentuan kuantitas serta waktu dalam proses pengendalian kebutuhan bahan terhadap komponen-komponen permintaan yang saling bergantungan (dependent demand items). Permintaan dependent adalah komponen barang akhir seperti bahan mentah, komponen suku cadang dan subperakitan dimana jumlah persedian yang dibutuhkan tergantung (dependent) terhadap jumlah permintaan item barang akhir. Contoh dalam perencanaan produk sepeda, permintaan dependent dari persedian adalah alumunium, ban, jok, dan rantai sepeda (Yamit, 1999). MRP sangat bermanfaat bagi perencanaan kebutuhan material untuk komponen yang jumlah kebutuhannya dipengaruhi oleh komponen lain (dependent demand). Sistem MRP mengendalikan agar komponen yang diperlukan untuk kelancaran produksi dapat tersedia sesuai dengan yang dibutuhkan. MRP memberikan peningkatan efisiensi karena jumlah persediaan, waktu produksi dan waktu pengiriman barang dapat direncanakan dengan lebih V-1

2 V-2 baik, karena ada keterpaduan dalam kegiatan yang didasarkan pada jadwal induk. Moto dari MRP adalah memperoleh material yang tepat, dari sumber yang tepat, untuk penempatan yang tepat, pada waktu yang tepat (Gasperz, 24). Berdasarkan MPS yang diturunkan dari rencana produksi, suatu sistem MRP mengidentifikasi item apa yang harus dipesan, berapa banyak kuantitas item yang harus dipesan, dan kapan waktu memesan item tersebut. Suatu sistem MRP pada dasarnya bertujuan untuk merancang suatu sistem yang mampu menghasilkan informasi untuk mendukung aksi yang tepat baik berupa pembatalan pasanan, pesan ulang, atau penjadwalan ulang, aksi ini sekaligus merupakan suatu pegangan untuk melakukan pembelian dan produksi. Tujuan dari perencanaan kebutuhan material adalah sebagai berikut (Yamit, 1999): 1. Menjamin tersediannya material, item, atau komponen pada saat dibutuhkan untuk memenuhi jadwal induk produksi dan menjamin tersediannya produk jadi bagi konsumen. 2. Menjaga tingkat persedian pada kondisi minimum. 3. Merencanakan aktivitas pengiriman, dan aktivitas pembellian.. Sebagai suatu sistem, perencanaan kebutuhan material (material requirement planning) membutuhkan lima sumber informasi utama. Berikut ini adalah lima sumber informasi utama dalam perencanaan kebutuhan material requirement planning (Gasperz, 24): 1. Master production schedule (MPS) yang merupakan suatu pernyataan definitif tentang produk akhir (end item) apa yang direncanakan perusahaan untuk diproduksi, berapa kuantitas yang dibutuhkan, pada waktu kapan dibutuhkan, dan bilamana produk itu akan diproduksi. MPS disusun berkaitan dengan pemasaran, rencana distribusi, perencanaan produksi dan perencanaan kapasitas. 2. Bill of material (BOM) merupakan daftar dari semua material, parts, dan subassemblies, serta kuantitas dari masing-masing yang dibutuhkan untuk memproduksi satu unit produk. BOM (Bill of Material) dibuat untuk menentukan banyaknya setiap material yang dibutuhkan untuk setiap periode waktu.

3 V-3 3. Item master merupakan suatu file yang berisi informasi status tentang material, parts, subassemblies, dan produk-produk yang menunjukkan kuantitas onhand, kuantitas yang dialokasikan, waktu tunggu yang direncanakan, ukuran lot, stok pengaman, kriteria lot sizing, toleransi untuk scrap atau hasil, dan berbagai informasi penting lainnya yang berkaitan dengan suatu item. 4. Pesanan-pesanan (orders) akan memberitahukan tentang berapa banyak dari setiap item yang akan diperoleh sehingga akan meningkatkan stock-on-hand di masa mendatang. 5. Kebutuhan-kebutuhan akan memberitahukan tentang berapa banyak dari masing-masing item itu dibutuhkan sehingga akan mengurangi stock-on-hand di masa mendatang. MRP memiliki ciri-ciri utama. Adapun empat macam yang menjadi ciri-ciri utama pada MRP, yaitu (Nasution, 23): 1. Mampu menentukan kebutuhan pada saat yang tepat, kapan suatu pekerjaan akan selesai (material harus tersedia) untuk memenuhi permintaan produk yang dijadwalkan berdasarkan MPS yang direncanakan. 2. Menentukan kebutuhan minimal setiap item dengan menentukan secara tepat sistem penjadwalan. 3. Menetukan pelaksanaan rencana pemesanan dengan memberikan indikasi kapan pemesanaan atau pembatalan suatu pesanan harus dilakukan. 4. Melakukan penjadwalan ulang atau pemabatalan atas suatu jadwal yang sudah direncanakan dan apabila kapasitas yang ada tidak mampu memenuhi pesanan yang sudah dijadwalkan pada waktu yang dikehendaki, maka MRP dapat memberikan indikasi untuk melakukan rencana penjadwalan ulang (jika mungkin) dengan menentukan prioritas pesana yang realitis. Seandainya penjadwalan ulang ini masih tidak memungkinkan untuk memenuhi pesanan, maka pemabatalan pemesanan tetap harus dilakukan. Pada dasarnya sistem material requirement planning (MRP) menghasilkan tiga jenis keluaran (output), dimana biasanya keluaran atau hasil dari sistem MRP ini berupa laporan-laporan yaitu (Gasperz, 24): 1. MRP primary report

4 V-4 Merupakan laporan utama MRP yang sering disebut secara singkat sebagai laporan MRP biasanya menggunakan salah satu format horizontal dengan waktu dalam buckets (biasanya dalam periode mingguan), atau format vertikal dengan waktu dalam tanggal. 2. MRP action report MRP action report sering disebut juga sebagai MRP exception report yang memberikan informasi kepada perencana tentang item-item yang perlu mendapat perhatian segera, dan merekomendasikan tindakan-tindakan yang perlu diambil. MRP action report memberikan kepada perencana suatu metode yang efektif dan efisien dalam memprioritaskan dimana harus memberikan perhatian sehingga fokus perhatian dapat diarahkan pada item-item yang diinformasikan dalam laporan itu. 3. MRP pegging report MRP pegging report digunakan untuk memudahkan menelusuri sumber dari kebutuhan kotor untuk suatu item. Menggunakan pegging reports, perencana menentukan kebutuhan-kebutuhan yang diakibatkan oleh adanya pesanan. Berdsarkan informasi ini, perencana dapat menyelidiki alternatif-alternatif pada level ini dan pada level yang lebih tinggi dalam BOM. Sistem MRP memiliki empat langkah utama yang harus diterapkan satu per satu pada periode perencanaan dan pada setiap item. Langkah-langkah dasar dalam penyusunan proses MRP adalah sebagai berikut (Nasution, 23): 1. Netting (kebutuhan bersih) merupakan proses perhitungan untuk menetapkan jumah kebutuhan bersih untuk setiap periode selama horison perencanaan yang besarnya merupakan selisih antara kebutuhan kotor dengan keadaan persediaan (yang ada dalam persediaan dan yang sedang dipesan). 2. Lotting merupakan penentuan ukuran lot yang menjamin bahwa semua kebutuhan-kebutuhan akan dipenuhi, pesanan akan dijadwalkan untuk penyelesaian pada awal periode dimana ada kebutuhan bersih yang positif. 3. Offsetting (rencana pemesanan) merupakan salah satu langkah pada MRP untuk menentukan saat yang tepat untuk rencana pemesanan dalam memenuhi kebutuhan bersih. Rencana pemesanan didapat dengan cara

5 V-5 menggabungkan saat awal tersedianya ukuran lot (lot size) yang diinginkan dengan besarnya waktu ancang-ancang. Waktu ancang-ancang ini sama dengan besarnya waktu saat barang mulai dipesan atau diproduksi sampai barang tersebut siap untuk dipakai. 4. Exploding merupakan proses perhitungan kebutuhan kotor untuk tingkat (level) yang lebih bawah dalam suatu struktur produk serta didasarkan atas rencana pemesanan. Dalam proses perhitungan MRP dapat digunakan dengan bantuan model tabel perhitungan MRP yang memiliki beberapa faktor-faktor yang membentuk dalam perhitungan MRP. Adapun penjelasan dan rumus-rumus yang digunakan dalam perhitungan MRP adalah sebagai berikut (Nasution, 23). a. Heading Bagian ini terdiri dari part number, part name, lot size, level, dan lead time. b. Time periode Merupakan periode perencanaan bisa dalam kurun waktu harian, mingguan, dan lain-lain. c. Gross requirement (GR) i. Untuk finish product (end item) sama dengan Jadwal Induk Produksi (JIP). ii. Untuk item level dibawahnya sama dengan part dari releases induknya. d. Schedule receipt (SR) Material yang sudah dipesan dan akan diterima pada periode tertentu. e. Begin inventory (BI) Jumlah persediaan diawal periode. BI t (BI) t-1 (GR) t-1 + (SR) t-1...(5.1) Dimana : (BI) t Begin Inventory pada waktu (t). (GR) t Gross Requirement untuk waktu (t). (SR) t Schedule Receipt dalam waktu (t). Jika Begin Inventory (BI) memberikan hasil negatif, maka BI. f. Net requirement (NR)

6 V-6 Jumlah aktual yang diinginkan untuk diterima atau diproduksi dalam periode yang bersangkutan. NR t (GR) t - (SR) t - (BI) t...(5.2) g. Planned order receipt (PORt) Jumlah item yang diterima atau diproduksi pada waktu akhir periode. PORt NR t, untuk NR t >, untuk NR t h. Planned ending inventory (PEI) Merupakan fungsi dari NR dan GR. (PEI) t (POR) t + (SR) t + (PEI) t - (GR) t...(5.3) i. Planned order release (PORel) Permintaan yang dilepaskan kepada vendor atau order produksi yang dapat dilepas untuk dimanufaktur. Planned order release dipengaruhi oleh lead time Pembahasan dan Analisis Modul material requirements planning terdiri dari dari beberapa pembahasan yang akan dibahas. Pembahasan dan analisis pada modul jadwal induk industri terdiri dari data penunjang dan perhitungan material requirements planning. Berikut ini adalah pembahasan dan analisis pada modul material requirements planning Data Penunjang Material Requirements Planning Perhitungan Material Requirements Planning (MRP) dibutuhkan data-data yang dapat menunjang hasil perhitungan dalam perencanaan kebutuhan material. Data-data penunjang yang diperlukan dalam perhitungan MRP adalah struktur produk, rencana produksi agregat, scheduled receipt dan inventory status. Struktur produk dan bill of material yang digunakan adalah model eksplosion, karena kebutuhan yang diketahui adalah kebutuhan akan lemari komik dilihat dari hasil

7 V-7 perencanaan agregat. Berikut ini merupakan data-data penunjang yang diperlukan dalam perhitungan MRP. Tabel 5.1 Perencanaan Agregat (JIP) Peramala Perencanaan Periode n Agregat Berdasarkan tabel di atas yang menyatakan bahwa data peramalan dalam jadwal induk produksi sebesar 65 unit untuk periode 1 dan perencanaan agregat sebesar 73 pada periode 1. Hasil perhitungan perencanaan agregat ini yang terdapat pada penjadwalan induk produksi menggunakan metode transportasi akan digunakan untuk perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) pada perhitungan gross requirement. Data penunjang selanjutnya yaitu struktur produk eksploison. Berikut ini gambar struktur produk eksploison. Gambar 5.1 Struktur Produk Eksplosion

8 V-8 Berdasarkan gambar 5.1, struktur produk eksplosion pada pembuatan lemari komik ini disusun berdasarkan tahapan penyusunan dari mulai produk akhir sampai ke komponen-komponen penyusunnya baik komponen utama maupun komponen tambahan. Struktur produk eksplosion pembuatan lemari komik ini memiliki lima level dalam suatu perakitan, dimana level merupakan produk akhir, yaitu lemari komik dan level berikutnya, yaitu level satu sampai dengan level lima merupakan komponen-komponen penyusunnya baik komponen utama maupun komponen tambahan. Setiap komponen utama dan komponen tambahan memiliki kuantitas dan urutan penomoran yang berbeda-beda dalam setiap komponennya. Selain struktur produk eksplosion, data penunjang lain untuk menunjang perhitungan MRP adalah data bill of material eksplosion. Berikut ini adalah bill of material eksplosion lemari komik. Tabel 5.2 BOM Eksplosion No Level Kode Deskripsi Kuantitas - LK Lemari Komik PBL6 Papan Belakang PA5 Papan Atas PTA4 Partisi Atas PT3 Partisi Tengah 1 1, 2 5 PB1, PTB2 Papan Bawah, Partisi Bawah 1, 3 7 1,2,3,4,5 SK Sekrup (,3) 44 Data penunjang lainnya dalam menghitung perencanaan kebutuhan material (MRP) adalah scheduled receipt dan inventory status. Berikut ini merupakan data penunjang untuk scheduled receipt dan inventory status. N o ID Part Numbe r Part Name Due Date Tabel 5.3 Schedule Receipt Schedule Lot Satua Receive Size n Lead Time Begin Inventory Quantit y 1 - LK LF Pcs 1 L 2 6 PBL Lbr PA5 1;2 211;366 2 Lbr PTA4 1;3 212;375 2 Lbr PT3 1;4 2;3 2 Lbr PTB Lbr PB Lbr SK 1;2; 3 21;32;42 5 Pcs

9 V-9 Berdasarkan tabel scheduled receipt dan inventory status diketahui bahwa part number dan part name dari masing-masing komponen merupakan data urutan penomoran dan data nama-nama komponen pembuatan lemari komik berdasarkan struktur produk eksplosion. Due date dalam scheduled receipt merupakan periode yang digunakan untuk membuat scheduled receipt. Scheduled receipt merupakan material yang sudah dipesan pada perusahaan lain dan akan diterima pada periode tertentu. Pada komponen papan atas diketahui bahwa scheduled receipts adalah sebanyak 211 pada periode satu dan 366 pada periode dua. Pada komponen utama dan tambahan terdapat lot size yang merupakan pemesanan material sebelum diproduksi. Sedangkan pada produk akhir, yaitu lemari komik terdapat lot size dengan bentuk lot for lot (LFL). Antara komponen utama dan komponen tambahan dengan produk akhir berbeda karena pada komponen utama dan komponen tambahan harus dipesan atau dibeli terlebih daluhu materialnya sebelum diproduksi, sedangkan pada produk akhir merupakan hasil dari penggabungan komponen-komponen yang telah mengalami proses produksi setelah dilakukan pemesanan atau pembelian material Perhitungan Material Requirements Planning Data-data penunjang yang telah didapat selanjutnya dilakukan perhitungan. Langkah pertama sampai dengan langkah terakhir yang dilakukan perhitungan perencanaan kebutuhan material disusun berdasarkan data-data nama komponen-komponen pada tabel scheduled receipt dan inventory status. Adapun perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) dimulai dari produk akhir, yaitu lemari komik sampai ke komponen-komponen penyusunnya. Berikut adalah tabel perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) untuk lemari komik. Tabel 5.4 MRP Lemari Komik Part Number : - Lot Size : LFL Lead Time : Part Name : LK Level : Qty :1 Period e GR SR BI NR PORt

10 V-1 PEI PORel Contoh perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) komponen lemari komik: Gross Requirement (GR) Schedule Receipt (SR) Begin Inventory (BI) (1) Begin Inventory (BI) (2) Net Requirement (NR) Perencanaan agregat x kuantitas 73 x 1 73 Berdasarkan tabel schedule receipt Berdasarkan tabel inventory status BI t-1 + SR t GR t GR t SR t BI t Planned Order Receipt (PORt) 1 (NR) 1, untuk NR > 73 > Planned Order Receipt (PORt) 2 73 NRt - PEIt-1 ( ) Lot size x lot size ( ) x Planned Ending Inventory (PEI) 1 PORt (NR periode 1 PEI periode ) 73 (73-) Planned Ending Inventory (PEI) 2 PORt (NR periode 2 PEI periode 1) 652 (652-) Planned Order Release (PORel) (PORt) t sesuaikan dengan lead time 73 Berdasarkan perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) untuk produk akhir, yaitu lemari komik dengan hasil perhitungan gross requirement

11 V-11 (GR) yang didapat berdasarkan hasil perhitungan perencanaan agregat dari periode 1 sampai dengan periode 12. Gross requirement (GR) merupakan kebutuhan kotor yang harus diproduksi pada suatu perusahaan dengan kebutuhan pada periode satu adalah sebanyak 73. Pada kolom schedule receipt diketahui bahwa tidak terdapat material yang dipesan dari periode satu sampai dengan periode 12. Kolom begin inventory atau persediaan awal pada produk jadi, yaitu lemari komik tidak terdapat persediaan awal sehingga pada persediaan awal dinyatakan dalam bentuk lot for lot. Net requirement didapat dari hasil perhitungan gross requirement (GR) dengan schedule receipt (SR) dan begin inventory (BI) yang didapat pada periode satu adalah sebanyak 73 yang menyatakan bahwa jumlah aktual yang diinginkan untuk diterima atau diproduksi dalam periode satu adalah sebesar 73 unit. Kolom PORt pada periode satu sampai dengan periode 12 dihasilkan dari perhitungan net requirement (NR). Pada periode satu, hasil PORt sebesar 73 unit yang menyatakan bahwa jumlah item yang diterima atau diproduksi sebanyak 73 unit. Kolom planned ending inventory (PEI) pada periode satu sebesar yang didapat dari selisih antara PORt dengan NR. Kolom PORel pada periode satu sebanyak 73 unit yang didapat berdasarkan hasil perhitungan PORt yang berhubungan dengan lead time. Periode satu sebanyak 73 unit yang menyatakan bahwa permintaan yang dilepaskan kepada vendor atau order produksi yang dapat dilepas untuk dimanufaktur sebanyak 73 unit. Perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) selanjutnya adalah komponen utama dari pembuatan lemari komik, yaitu komponen papan bawah yang disesuaikan dengan struktur produk eksplosion. Berikut ini merupakan perhitungan MRP untuk komponen papan bawah. Tabel 5.5 MRP Papan Bawah Part Number : 1 Lot Size : 2 Lead Time : 1 Part Name : PB1 Level : 5 Qty : 1 Period e GR SR 379 BI 2 NR PORt

12 V-12 PEI PORel Contoh perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) komponen papan bawah: Gross Requirement (GR) Schedule Receipt (SR) Begin Inventory (BI) (1) Begin Inventory (BI) (2) Net Requirement (NR) Planned Order Receipt (PORt) 1 Perencanaan agregat x kuantitas 73 x 1 73 Berdasarkan tabel schedule receipt 379 pada periode 1 Berdasarkan tabel inventory status 2 BI t-1 + SR t GR t GR t SR t BI t ( NR Lot size ) x lot size ( ) x 2 16 Planned Order Receipt (PORt) 2 NRt - PEIt-1 ( ) Lot size x lot size ( ) x 2 66 Planned Ending Inventory (PEI) 1 PORt (NR periode 1 PEI periode ) 16 (151-) 9 Planned Ending Inventory (PEI) 2 PORt (NR periode 2 PEI periode 1) 66 (652-9) 17 Planned Order Release (PORel) (PORt) t sesuaikan dengan lead time

13 V Berdasarkan perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) untuk komponen papan bawah diketahui bahwa hasil perhitungan gross requirement (GR) didapat berdasarkan hasil perhitungan perencanaan agregat dikalikan dengan kuantitas dari masing-masing komponen untuk periode satu sampai dengan periode dua belas. Hasil perhitungan gross requirement (GR) pada periode satu adalah sebanyak 73 yang menyatakan bahwa kebutuhan yang harus diproduksi pada suatu perusahaan adalah sebanyak 73 dengan material yang telah dipesan dan diterima (schedule receipt) pada periode satu adalah sebanyak 379 Persediaan awal yang dimiliki oleh perusahaan (begin inventory) sebanyak 2 sehingga menghasilkan kebutuhan bersih (net requirement) sebanyak 151 yang menunjukkan bahwa jumlah material aktual yang diinginkan untuk diterima atau diproduksi dalam periode satu adalah sebesar 151 yang didapat berdasarkan selisih dari hasil perhitungan gross requirement (GR) dengan schedule receipt (SR) dan begin inventory (BI). Hasil perhitungan kebutuhan bersih ini merupakan banyaknya kebutuhan yang akan digunakan untuk melakukan kegiatan produksi per periode. Planned order receipt (PORt) pada periode satu sampai dengan periode 12 dihasilkan dari kelipatan lot size yang harus lebih besar dari perhitungan net requirement (NR). Pada periode satu, hasil PORt sebesar 16 yang menyatakan bahwa jumlah item yang diterima atau diproduksi sebanyak yang telah direncanakan guna memenuhi kebutuhan bersih (net requirement). Planned ending inventory (PEI) pada periode satu sebesar 9 yang menyatakan bahwa jumlah persediaan material yang diproduksi pada waktu akhir periode satu sebanyak 9 yang didapat dari selisih antara PORt dengan NR. Hasil perhitungan planned order release (PORel) pada periode satu sebanyak 66 yang menunjukkan bahwa jumlah item material yang direncanakan untuk dipesan agar memenuhi perencanaan pada masa yang akan datang yang dapat dilepas untuk dimanufaktur adalah sebanyak 66. Perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) selanjutnya adalah komponen utama dari pembuatan lemari komik, yaitu komponen partisi bawah

14 V-14 yang disesuaikan dengan struktur produk eksplosion. Berikut ini merupakan perhitungan MRP untuk komponen partisi bawah. Tabel 5.6 MRP Partisi Bawah Part Number :2 Lot Size : 2 Lead Time : 1 Part Name : PTB2 Level : 5 Qty : 3 Period e GR SR 379 BI 4 NR PORt PEI PORel Contoh perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) komponen papan bawah: Gross Requirement (GR) Schedule Receipt (SR) Begin Inventory (BI) (1) Begin Inventory (BI) (2) Net Requirement (NR) Planned Order Receipt (PORt) 1 Perencanaan agregat x kuantitas 73 x Berdasarkan tabel schedule receipt 379 pada periode 1 Berdasarkan tabel inventory status 4 BI t-1 + SR t GR t GR t SR t BI t ( NR Lot size ) x lot size ( ) x 2

15 V-15 Planned Order Receipt (PORt) NRt - PEIt-1 ( ) Lot size x lot size ( ) x Planned Ending Inventory (PEI) 1 PORt (NR periode 1 PEI periode ) 142 ( ) 9 Planned Ending Inventory (PEI) 2 PORt (NR periode 2 PEI periode 1) 196 (1956-9) 13 Planned Order Release (PORel) (PORt) t sesuaikan dengan lead time 196 Berdasarkan perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) untuk komponen partisi bawah diketahui bahwa hasil perhitungan gross requirement (GR) didapat berdasarkan hasil perhitungan perencanaan agregat dikalikan dengan kuantitas dari masing-masing komponen untuk periode satu sampai dengan periode dua belas. Hasil perhitungan gross requirement (GR) pada periode satu adalah sebanyak 219 yang menyatakan bahwa kebutuhan kotor pada suatu perusahaan adalah sebanyak 219 dengan material yang telah dipesan dan diterima (schedule receipt) pada periode satu adalah sebanyak 379 Persediaan awal yang dimiliki oleh perusahaan (begin inventory) sebanyak 4 sehingga menghasilkan kebutuhan bersih (net requirement) sebanyak 1411 yang menunjukkan bahwa jumlah material aktual yang diinginkan untuk diterima atau diproduksi dalam periode satu adalah sebesar 1411 yang didapat berdasarkan selisih dari hasil perhitungan gross requirement (GR) dengan schedule receipt (SR) dan begin inventory (BI). Hasil perhitungan kebutuhan bersih ini merupakan banyaknya kebutuhan yang akan digunakan untuk melakukan kegiatan produksi per periode. Planned order receipt (PORt) pada periode satu sampai dengan periode 12 dihasilkan dari kelipatan lot size yang harus lebih besar dari perhitungan net requirement (NR). Pada periode satu, hasil PORt sebesar 142

16 V-16 yang menyatakan bahwa jumlah item yang diterima atau diproduksi sebanyak 142 yang telah direncanakan guna memenuhi kebutuhan bersih (net requirement). Planned ending inventory (PEI) pada periode satu sebesar 9 yang menyatakan bahwa jumlah persediaan material yang diproduksi pada waktu akhir periode satu sebanyak 9 yang didapat dari selisih antara PORt dengan NR. Hasil perhitungan planned order release (PORel) pada periode satu sebanyak 196 yang menunjukkan bahwa jumlah item material yang direncanakan untuk dipesan agar memenuhi perencanaan pada masa yang akan datang yang dapat dilepas untuk dimanufaktur adalah sebanyak 196. Perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) selanjutnya adalah komponen utama dari pembuatan lemari komik, yaitu komponen partisi tengah yang disesuaikan dengan struktur produk eksplosion. Berikut ini merupakan perhitungan MRP untuk komponen partisi tengah. Tabel 5.7 MRP Partisi Tengah Part Number : 3 Lot Size : 2 Lead Time : 2 Part Name : PT3 Level : 4 Qty : 1 Period e GR SR 2 3 BI 15 NR PORt PEI PORel Contoh perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) komponen partisi tengah: Gross Requirement (GR) Schedule Receipt (SR) Begin Inventory (BI) (1) Perencanaan agregat x kuantitas 73 x 1 73 Berdasarkan tabel schedule receipt 2 pada periode 1 Berdasarkan tabel inventory status 15 Begin Inventory (BI) (2) BI t-1 + SR t GR t

17 V-17 Net Requirement (NR) Planned Order Receipt (PORt) 1-38 GR t SR t BI t ( NR Lot size ) x lot size NR ( 38 2 ) x 2 Planned Order Receipt (PORt) 2 38 NRt - PEIt-1 ( ) Lot size x lot size ( ) x 2 66 Planned Ending Inventory (PEI) 1 PORt (NR periode 1 PEI periode ) 38 (38 - ) Planned Ending Inventory (PEI) 2 PORt (NR periode 2 PEI periode 1) 66 (652-) 8 Planned Order Release (PORel) (PORt) t sesuaikan dengan lead time 66 Berdasarkan perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) untuk komponen partisi tengah diketahui bahwa hasil perhitungan gross requirement (GR) didapat berdasarkan hasil perhitungan perencanaan agregat dikalikan dengan kuantitas dari masing-masing komponen untuk periode satu sampai dengan periode dua belas. Hasil perhitungan gross requirement (GR) pada periode satu adalah sebanyak 73 yang menyatakan bahwa kebutuhan kotor pada suatu perusahaan adalah sebanyak 73 dengan material yang telah dipesan dan diterima

18 V-18 (schedule receipt) pada periode satu adalah sebanyak 2 Persediaan awal yang dimiliki oleh perusahaan (begin inventory) sebanyak 15 sehingga menghasilkan kebutuhan bersih (net requirement) sebanyak 38 yang menunjukkan bahwa jumlah material aktual yang diinginkan untuk diterima atau diproduksi dalam periode satu adalah sebesar 38 yang didapat berdasarkan selisih dari hasil perhitungan gross requirement (GR) dengan schedule receipt (SR) dan begin inventory (BI). Hasil perhitungan kebutuhan bersih ini merupakan banyaknya kebutuhan yang akan digunakan untuk melakukan kegiatan produksi per periode. Planned order receipt (PORt) pada periode satu sampai dengan periode 12 dihasilkan dari kelipatan lot size yang harus lebih besar dari perhitungan net requirement (NR). Pada periode satu, hasil PORt sebesar 38 yang menyatakan bahwa jumlah item yang diterima atau diproduksi sebanyak 38 yang telah direncanakan guna memenuhi kebutuhan bersih (net requirement). Planned ending inventory (PEI) pada periode satu sebesar yang menyatakan bahwa jumlah persediaan material yang diproduksi pada waktu akhir periode satu sebanyak yang didapat dari selisih antara PORt dengan NR. Hasil perhitungan planned order release (PORel) pada periode satu sebanyak 66 yang menunjukkan bahwa jumlah item material yang direncanakan untuk dipesan agar memenuhi perencanaan pada masa yang akan datang yang dapat dilepas untuk dimanufaktur adalah sebanyak 66. Perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) selanjutnya adalah komponen utama dari pembuatan lemari komik, yaitu komponen partisi atas yang disesuaikan dengan struktur produk eksplosion. Berikut ini merupakan perhitungan MRP untuk komponen partisi atas. Tabel 5.8 MRP Partisi Atas Part Number : 4 Lot Size : 2 Lead Time : 2 Part Name : PTA4 Level : 3 Qty : 2 Period e GR 146 ` SR BI 188 NR PORt

19 V-19 PEI PORel Contoh perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) komponen partisi atas: Gross Requirement (GR) Schedule Receipt (SR) Begin Inventory (BI) (1) Begin Inventory (BI) (2) Net Requirement (NR) Planned Order Receipt (PORt) 1 Perencanaan agregat x kuantitas 73 x Berdasarkan tabel schedule receipt 212 pada periode 1 Berdasarkan tabel inventory status 188 BI t-1 + SR t GR t GR t SR t BI t ( NR Lot size ) x lot size ( 16 2 ) x 2 Planned Order Receipt (PORt) 2 16 NRt - PEIt-1 ( ) Lot size x lot size ( ) x Planned Ending Inventory (PEI) PORt (NR periode 1 PEI periode ) 16 (16 - ) Planned Ending Inventory (PEI) 2 PORt (NR periode 2 PEI periode 1)

20 V (134-) 16 Planned Order Release (PORel) (PORt) t sesuaikan dengan lead time 92 Berdasarkan perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) untuk komponen partisi atas diketahui bahwa hasil perhitungan gross requirement (GR) didapat berdasarkan hasil perhitungan perencanaan agregat dikalikan dengan kuantitas dari masing-masing komponen untuk periode satu sampai dengan periode dua belas. Hasil perhitungan gross requirement (GR) pada periode satu adalah sebanyak 146 yang menyatakan bahwa kebutuhan kotor pada suatu perusahaan adalah sebanyak 146 dengan material yang telah dipesan dan diterima (schedule receipt) pada periode satu adalah sebanyak 212 Persediaan awal yang dimiliki oleh perusahaan (begin inventory) sebanyak 188 sehingga menghasilkan kebutuhan bersih (net requirement) sebanyak 16 yang menunjukkan bahwa jumlah material aktual yang diinginkan untuk diterima atau diproduksi dalam periode satu adalah sebesar 16 yang didapat berdasarkan selisih dari hasil perhitungan gross requirement (GR) dengan schedule receipt (SR) dan begin inventory (BI). Hasil perhitungan kebutuhan bersih ini merupakan banyaknya kebutuhan yang akan digunakan untuk melakukan kegiatan produksi per periode. Planned order receipt (PORt) pada periode satu sampai dengan periode 12 dihasilkan dari kelipatan lot size yang harus lebih besar dari perhitungan net requirement (NR). Pada periode satu, hasil PORt sebesar 16 yang menyatakan bahwa jumlah item yang diterima atau diproduksi sebanyak 16 yang telah direncanakan guna memenuhi kebutuhan bersih (net requirement). Planned ending inventory (PEI) pada periode satu sebesar yang menyatakan bahwa jumlah persediaan material yang diproduksi pada waktu akhir periode satu sebanyak yang didapat dari selisih antara PORt dengan NR. Hasil perhitungan planned order release (PORel) pada periode satu sebanyak 92 yang menunjukkan bahwa jumlah item material yang direncanakan untuk dipesan agar memenuhi perencanaan pada masa yang akan datang yang dapat dilepas untuk dimanufaktur adalah sebanyak 92.

21 V-21 Perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) selanjutnya adalah komponen utama dari pembuatan lemari komik, yaitu komponen papan atas yang disesuaikan dengan struktur produk eksplosion. Berikut ini merupakan perhitungan MRP untuk komponen papan atas. Tabel 5.9 MRP Papan Atas Part Number : 5 Lot Size : 2 Lead Time : 1 Part Name : PA5 Level : 2 Qty : 1 Period e GR SR BI 154 NR PORt PEI PORel Contoh perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) komponen partisi tengah: Gross Requirement (GR) Schedule Receipt (SR) Begin Inventory (BI) (1) Begin Inventory (BI) (2) Net Requirement (NR) Planned Order Receipt (PORt) 1 Perencanaan agregat x kuantitas 73 x 1 73 Berdasarkan tabel schedule receipt 211 pada periode 1 Berdasarkan tabel inventory status 154 BI t-1 + SR t GR t GR t SR t BI t ( NR Lot size ) x lot size ( ) x 2 38

22 V-22 Planned Order Receipt (PORt) 2 NRt - PEIt-1 ( ) Lot size x lot size ( ) x 2 28 Planned Ending Inventory (PEI) 1 PORt (NR periode 1 PEI periode ) 38 (365 - ) 15 Planned Ending Inventory (PEI) 2 PORt (NR periode 2 PEI periode 1) 28 (286-15) 9 Planned Order Release (PORel) (PORt) t sesuaikan dengan lead time 28 Berdasarkan perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) untuk komponen papan atas diketahui bahwa hasil perhitungan gross requirement (GR) didapat berdasarkan hasil perhitungan perencanaan agregat dikalikan dengan kuantitas dari masing-masing komponen untuk periode satu sampai dengan periode dua belas. Hasil perhitungan gross requirement (GR) pada periode satu adalah sebanyak 73 yang menyatakan bahwa kebutuhan kotor pada suatu perusahaan adalah sebanyak 73 dengan material yang telah dipesan dan diterima (schedule receipt) pada periode satu adalah sebanyak 211 Persediaan awal yang dimiliki oleh perusahaan (begin inventory) sebanyak 154 sehingga menghasilkan kebutuhan bersih (net requirement) sebanyak 365 yang menunjukkan bahwa jumlah material aktual yang diinginkan untuk diterima atau diproduksi dalam periode satu adalah sebesar 365 yang didapat berdasarkan selisih dari hasil perhitungan gross requirement (GR) dengan schedule receipt (SR) dan begin inventory (BI). Hasil perhitungan kebutuhan bersih ini merupakan banyaknya kebutuhan yang akan digunakan untuk melakukan kegiatan produksi per periode. Planned order receipt (PORt) pada periode satu sampai dengan periode 12 dihasilkan dari kelipatan lot size yang harus lebih besar dari perhitungan net requirement (NR). Pada periode satu, hasil PORt sebesar 38 yang menyatakan bahwa jumlah item yang diterima atau diproduksi sebanyak 38 yang telah

23 V-23 direncanakan guna memenuhi kebutuhan bersih (net requirement). Planned ending inventory (PEI) pada periode satu sebesar 15 yang menyatakan bahwa jumlah persediaan material yang diproduksi pada waktu akhir periode satu sebanyak 15 yang didapat dari selisih antara PORt dengan NR. Hasil perhitungan planned order release (PORel) pada periode satu sebanyak 28 yang menunjukkan bahwa jumlah item material yang direncanakan untuk dipesan agar memenuhi perencanaan pada masa yang akan datang yang dapat dilepas untuk dimanufaktur adalah sebanyak 28. Perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) selanjutnya adalah komponen utama dari pembuatan lemari komik, yaitu komponen papan belakang yang disesuaikan dengan struktur produk eksplosion. Berikut ini merupakan perhitungan MRP untuk komponen papan belakang. Tabel 5.1 MRP Papan Belakang Part Number : 6 Lot Size : 2 Lead Time : 1 Part Name : PBL6 Level : 1 Qty : 1 Period e GR SR 315 BI 155 NR PORt PEI PORel Contoh perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) komponen partisi tengah: Gross Requirement (GR) Schedule Receipt (SR) Begin Inventory (BI) (1) Perencanaan agregat x kuantitas 73 x 1 73 Berdasarkan tabel schedule receipt pada periode 1 Berdasarkan tabel inventory status 155 Begin Inventory (BI) (2) BI t-1 + SR t GR t

24 V-24 Net Requirement (NR) Planned Order Receipt (PORt) 1 GR t SR t BI t ( NR Lot size ) x lot size ( ) x 2 Planned Order Receipt (PORt) 2 58 NRt - PEIt-1 ( ) Lot size x lot size ( ) x 2 34 Planned Ending Inventory (PEI) PORt (NR periode 1 PEI periode ) 58 (575 - ) 5 Planned Ending Inventory (PEI) 2 PORt (NR periode 2 PEI periode 1) 34 (337-5) 8 Planned Order Release (PORel) (PORt) t sesuaikan dengan lead time 34 Berdasarkan perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) untuk komponen papan belakang diketahui bahwa hasil perhitungan gross requirement (GR) didapat berdasarkan hasil perhitungan perencanaan agregat dikalikan dengan kuantitas dari masing-masing komponen untuk periode satu sampai dengan periode dua belas. Hasil perhitungan gross requirement (GR) pada periode satu adalah sebanyak 73 yang menyatakan bahwa kebutuhan kotor pada suatu perusahaan adalah sebanyak 73 dengan material yang telah dipesan dan diterima (schedule receipt) pada periode satu adalah sebanyak Persediaan awal yang dimiliki oleh perusahaan (begin inventory) sebanyak 155 sehingga menghasilkan kebutuhan bersih (net requirement) sebanyak 575 yang menunjukkan bahwa

25 V-25 jumlah material aktual yang diinginkan untuk diterima atau diproduksi dalam periode satu adalah sebesar 575 yang didapat berdasarkan selisih dari hasil perhitungan gross requirement (GR) dengan schedule receipt (SR) dan begin inventory (BI). Hasil perhitungan kebutuhan bersih ini merupakan banyaknya kebutuhan yang akan digunakan untuk melakukan kegiatan produksi per periode. Planned order receipt (PORt) pada periode satu sampai dengan periode 12 dihasilkan dari kelipatan lot size yang harus lebih besar dari perhitungan net requirement (NR). Pada periode satu, hasil PORt sebesar 58 yang menyatakan bahwa jumlah item yang diterima atau diproduksi sebanyak 58 yang telah direncanakan guna memenuhi kebutuhan bersih (net requirement). Planned ending inventory (PEI) pada periode satu sebesar 5 yang menyatakan bahwa jumlah persediaan material yang diproduksi pada waktu akhir periode satu sebanyak 5 yang didapat dari selisih antara PORt dengan NR. Hasil perhitungan planned order release (PORel) pada periode satu sebanyak 34 yang menunjukkan bahwa jumlah item material yang direncanakan untuk dipesan agar memenuhi perencanaan pada masa yang akan datang yang dapat dilepas untuk dimanufaktur adalah sebanyak 34. Perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) selanjutnya adalah komponen tambahan dari pembuatan lemari komik, yaitu komponen sekrup yang disesuaikan dengan struktur produk eksplosion. Berikut ini merupakan perhitungan MRP untuk komponen sekrup. Tabel 5.11 MRP Sekrup Contoh perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) komponen sekrup: Gross Requirement (GR) Perencanaan agregat x kuantitas 73 x

26 V-26 Schedule Receipt (SR) Begin Inventory (BI) (1) Berdasarkan tabel schedule receipt 21 pada periode 1 Berdasarkan tabel inventory status 365 Begin Inventory (BI) (2) Net Requirement (NR) Planned Order Receipt (PORt) 1 BI t-1 + SR t GR t GR t SR t BI t ( NR Lot size ) x lot size ( ) x Planned Order Receipt (PORt) 2 NRt - PEIt-1 ( ) Lot size x lot size ( ) x Planned Ending Inventory (PEI) 1 PORt (NR periode 1 PEI periode ) 3155 ( ) 5 Planned Ending Inventory (PEI) 2 PORt (NR periode 2 PEI periode 1) 284 ( ) 37 Planned Order Release (PORel) (PORt) t sesuaikan dengan lead time 284 Berdasarkan perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) untuk komponen sekrup diketahui bahwa hasil perhitungan gross requirement (GR) didapat berdasarkan hasil perhitungan perencanaan agregat dikalikan dengan kuantitas dari masing-masing komponen untuk periode satu sampai dengan

27 V-27 periode dua belas. Hasil perhitungan gross requirement (GR) pada periode satu adalah sebanyak 3212 yang menyatakan bahwa kebutuhan kotor pada suatu perusahaan adalah sebanyak 3212 dengan material yang telah dipesan dan diterima (schedule receipt) pada periode satu adalah sebanyak 21 Persediaan awal yang dimiliki oleh perusahaan (begin inventory) sebanyak 365 sehingga menghasilkan kebutuhan bersih (net requirement) sebanyak yang menunjukkan bahwa jumlah material aktual yang diinginkan untuk diterima atau diproduksi dalam periode satu adalah sebesar yang didapat berdasarkan selisih dari hasil perhitungan gross requirement (GR) dengan schedule receipt (SR) dan begin inventory (BI). Hasil perhitungan kebutuhan bersih ini merupakan banyaknya kebutuhan yang akan digunakan untuk melakukan kegiatan produksi per periode. Planned order receipt (PORt) pada periode satu sampai dengan periode 12 dihasilkan dari kelipatan lot size yang harus lebih besar dari perhitungan net requirement (NR). Pada periode satu, hasil PORt sebesar 3155 yang menyatakan bahwa jumlah item yang diterima atau diproduksi sebanyak 3155 yang telah direncanakan guna memenuhi kebutuhan bersih (net requirement). Planned ending inventory (PEI) pada periode satu sebesar 5 yang menyatakan bahwa jumlah persediaan material yang diproduksi pada waktu akhir periode satu sebanyak 5 yang didapat dari selisih antara PORt dengan NR. Hasil perhitungan planned order release (PORel) pada periode satu sebanyak 284 yang menunjukkan bahwa jumlah item material yang direncanakan untuk dipesan agar memenuhi perencanaan pada masa yang akan datang yang dapat dilepas untuk dimanufaktur adalah sebanyak 284. Berdasarkan perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) dari masing-masing komponen baik produk akhir sampai ke komponen penyusunnya, yaitu komponen utama dan komponen tambahan akan diringkas dalam bentuk tabel yang merupakan tabel rangkuman pemesanan kebutuhan material untuk masa yang akan datang dari setiap komponen. Adapun rangkuman hasil perhitungan MRP untuk setiap komponen adalah sebagai berikut. Tabel 5.1 Rangkuman PORel Lemari Komik

28 V-28 Berdasarkan tabel rangkuman hasil perhitungan perencanaan kebutuhan material (MRP) untuk setiap komponen terlihat bahwa hasil perhitungan MRP pada tabel tersebut didapat dari hasil perhitungan planned order release (PORel) selama 12 periode yang merupakan permintaan pemesanan material yang dilepaskan kepada vendor atau order produksi yang dapat dilepas untuk dimanufaktur agar memenuhi perencanaan kebutuhan material untuk masa yang akan datang selama 12 periode. Hasil perencanaan kebutuhan material (MRP) untuk produk lemari komik pada tabel di atas mengalami kemajuan pemesanan produk. Hal ini dikarenakan kebutuhan peroduksi yang semakin meningkat juga. Nilai PORel juga dipengaruhi oleh lead time yang menyebebabkan komponen harus dibuat terlebih dahulu. komponen-komponen lain baik komponen utama maupun komponen tambahan yang mengalami proses pemesanan bahan baku yang lebih cepat yang dikarenakan bahan tersebut akan segera dilakukan proses produksi pembuatan lemari komik.

BAB V MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING

BAB V MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING BAB V MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING 5.1. Pengertian Material Requirements Planning (MRP) Menurut Gasperz (2004), Material Requirement Planning (MRP) adalah metode penjadwalan untuk purchased planned orders

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 PENGERTIAN MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING (MRP) Menurut Gasperz (2004), Material Requirement Planning (MRP) adalah metode penjadwalan untuk purchased planned orders dan manufactured

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Untuk memecahkan masalah yang diuraikan pada sub bab 1.2 diperlukan beberapa terori pendukung yang relevan. 2.1 Inventory Control Pengawasan persediaan digunakan untuk mengatur tersedianya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Material Requirement Planning (MRP) Material Requirement Planning (MRP) adalah metode penjadwalan untuk purchased planned orders dan manufactured planned orders,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Material Requirements Planning 2.1.1 Definisi MRP MRP adalah dasar komputer mengenai perencanaan produksi dan inventory control. MRP juga dikenal sebagai tahapan waktu perencanaan

Lebih terperinci

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP)

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) Definisi MRP adalah suatu teknik yang dipakai untuk merencanakan pembuatan/pembelian komponen/bahan baku yang diperlukan untuk melaksanakan MPS. MRP ini merupakan hal

Lebih terperinci

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP)

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) Oleh: Mega Inayati Rif ah, S.T., M.Sc. Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta Jl. Kalisahak No. 28, Komplek Balapan, Yogyakarta PART 1 PENDAHULUAN PENDAHULUAN

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Konsep Dasar Manajemen Permintaan Pada dasarnya manajemen permintaan (demand management) didefinisikan sebagai suatu fungsi pengelolaan dari semua permintaan produk untuk menjamin

Lebih terperinci

Manajemen Persediaan. Perencanaan Kebutuhan Barang_(MRP) Lot for Lot. Dinar Nur Affini, SE., MM. Modul ke: 10Fakultas Ekonomi & Bisnis

Manajemen Persediaan. Perencanaan Kebutuhan Barang_(MRP) Lot for Lot. Dinar Nur Affini, SE., MM. Modul ke: 10Fakultas Ekonomi & Bisnis Manajemen Persediaan Modul ke: 10Fakultas Ekonomi & Bisnis Perencanaan Kebutuhan Barang_(MRP) Lot for Lot Dinar Nur Affini, SE., MM. Program Studi Manajemen Perencanaan Kebutuhan Material Perencanaan Kebutuhan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. melaksanakan kegiatan utama suatu perusahaan.

BAB II LANDASAN TEORI. melaksanakan kegiatan utama suatu perusahaan. BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Informasi Sistem informasi merupakan suatu sistem dalam suatu organisasi yang mempertemukan pengolah transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan

Lebih terperinci

Material Requirements Planning (MRP)

Material Requirements Planning (MRP) Material Requirements Planning (MRP) Pokok Bahasan: I. Tujuan MRP II. Input & Output MRP III. Contoh Logika MRP & Struktur Produk IV. Contoh MRP Kereta Dorong V. Sistem Informasi MR Kuliah ke-4: Rabu,

Lebih terperinci

3 BAB III LANDASAN TEORI

3 BAB III LANDASAN TEORI 3 BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Bahan Baku Bahan baku atau yang lebih dikenal dengan sebutan raw material merupakan bahan mentah yang akan diolah menjadi barang jadi sebagai hasil utama dari perusahaan yang

Lebih terperinci

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP)

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) ABC Amber Text Converter Trial version, http://www.processtext.com/abctxt.html MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) Definisi MRP adalah suatu teknik yang dipakai untuk

Lebih terperinci

MANAJEMEN PERSEDIAAN. Perencanaan Kebutuhan Barang (MRP) -EOQ. Prepared by: Dr. Sawarni Hasibuan. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi Manajemen

MANAJEMEN PERSEDIAAN. Perencanaan Kebutuhan Barang (MRP) -EOQ. Prepared by: Dr. Sawarni Hasibuan. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi Manajemen MANAJEMEN PERSEDIAAN Modul ke: Perencanaan Kebutuhan Barang (MRP) -EOQ Fakultas FEB Prepared by: Dr. Sawarni Hasibuan Program Studi Manajemen www.mercubuana.ac.id Proses dalam MRP Bill of material (BOM)

Lebih terperinci

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP)

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) PENDAHULUAN Dimulai dari 25 s.d 30 tahun yang lalu di mana diperkenalkan mekanisme untuk menghitung material yang dibutuhkan, kapan diperlukan dan berapa banyak. Konsep

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Praktikum Sistem Produksi ATA 2014/2015

BAB 1 PENDAHULUAN. Praktikum Sistem Produksi ATA 2014/2015 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aktifitas produksi yang terjadi pada sebuah perusahaan tidak hanya terbatas pada hal yang berkaitan dengan menghasilkan produk saja, namun kegiatan tersebut erat kaitannya

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Perencanaan Produksi dan Pengendalian Persediaan Pengertian mengenai Production Planning and Inventory control (PPIC) akan dikemukakan berdasarkan konsep sistem. Produksi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. berharga bagi yang menerimanya. Tafri (2001:8).

BAB II LANDASAN TEORI. berharga bagi yang menerimanya. Tafri (2001:8). BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi Sistem informasi adalah data yang dikumpulkan, dikelompokkan dan diolah sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah satu kesatuan informasi yang saling terkait dan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1. Material Requirement Planning (MRP) Menurut Heryanto (1997, p193), persediaan adalah bahan baku atau barang yang disimpan yang akan digunakan untuk memenuhi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sebelum penggunaan MRP biaya yang dikeluarkan Rp ,55,- dan. MRP biaya menjadi Rp ,-.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sebelum penggunaan MRP biaya yang dikeluarkan Rp ,55,- dan. MRP biaya menjadi Rp ,-. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Penelitian Terdahulu Nastiti (UMM:2001) judul: penerapan MRP pada perusahaan tenun Pelangi lawang. Pendekatan yang digunakan untuk pengolahan data yaitu membuat Jadwal

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. ditandai dengan banyaknya perusahaan yang berdiri. Kelangsungan proses bisnis

BAB 1 PENDAHULUAN. ditandai dengan banyaknya perusahaan yang berdiri. Kelangsungan proses bisnis BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan dunia bisnis di Indonesia saat ini sangat pesat. Hal itu ditandai dengan banyaknya perusahaan yang berdiri. Kelangsungan proses bisnis yang ada di perusahaan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 24 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengukuran Waktu Pengukuran waktu adalah pekerjaan mengamati dan mencatat waktu kerja baik setiap elemen ataupun siklus dengan mengunakan alat-alat yang telah disiapkan. Teknik

Lebih terperinci

BAB III. Metode Penelitian. untuk memperbaiki keterlambatan penerimaan produk ketangan konsumen.

BAB III. Metode Penelitian. untuk memperbaiki keterlambatan penerimaan produk ketangan konsumen. BAB III Metode Penelitian 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Pt. Anugraha Wening Caranadwaya, diperusahaan Manufacturing yang bergerak di bidang Garment (pakaian, celana, rompi,

Lebih terperinci

Manajemen Persediaan. Perencanaan Kebutuhan Barang (MRP) PPB. Christian Kuswibowo, M.Sc. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi Manajemen

Manajemen Persediaan. Perencanaan Kebutuhan Barang (MRP) PPB. Christian Kuswibowo, M.Sc. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi Manajemen Modul ke: Manajemen Persediaan Perencanaan Kebutuhan Barang (MRP) PPB Fakultas FEB Christian Kuswibowo, M.Sc Program Studi Manajemen www.mercubuana.ac.id Bagian Isi MRP didasarkan pada permintaan dependen.

Lebih terperinci

BAB II PROSES KERJA DAN MATERIAL

BAB II PROSES KERJA DAN MATERIAL BAB II PROSES KERJA DAN MATERIAL 2.1 Landasan Teori Operation Process Chart (OPC) adalah suatu diagram yang menggambarkan langkah-langkah proses yang dialami oleh bahan baku yang meliputi urutan proses

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di PT. Matrikstama Andalan Mitra, sebuah perusahaan perdagangan, yang beralamatkan di Jl. Daan Mogot KM.12 No.9 Jakarta

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR ANALISA PERSEDIAAN MATERIAL PROYEK PEMBANGUNAN KOMPLEKS PASAR TRADISIONAL DAN PLASA LAMONGAN. Oleh : Arinda Yudhit Bandripta

TUGAS AKHIR ANALISA PERSEDIAAN MATERIAL PROYEK PEMBANGUNAN KOMPLEKS PASAR TRADISIONAL DAN PLASA LAMONGAN. Oleh : Arinda Yudhit Bandripta TUGAS AKHIR ANALISA PERSEDIAAN MATERIAL PROYEK PEMBANGUNAN KOMPLEKS PASAR TRADISIONAL DAN PLASA LAMONGAN Oleh : Arinda Yudhit Bandripta 3107.100.551 Dosen Pembimbing : Ir. Retno Indryani, Ms LATAR BELAKANG

Lebih terperinci

BAB IV JADWAL INDUK PRODUKSI

BAB IV JADWAL INDUK PRODUKSI BAB IV JADWAL INDUK PRODUKSI 4.1 Landasan Teori Jadwal induk produksi (master production schedule, MPS) merupakan gambaran atas periode perencanaan dari suatu permintaan, termasuk peramalan, backlog, rencana

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di Perusahaan Menara Cemerlang, suatu perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan karung plastik. Pada saat ini perusahaan sedang mengalami penjualan yang pesat dan mengalami

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Material Requirement Planning (MRP) Menurut Gaspersz (2005:177) Perencanaan kebutuhan material (material requirement planning = MRP) adalah metode penjadwalan untuk purchased planned

Lebih terperinci

Disusun Oleh : Taruna Jaya JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS GUNADARMA JAKARTA 2013

Disusun Oleh : Taruna Jaya JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS GUNADARMA JAKARTA 2013 Analisis Sistem Material Requirement Planning Pada Proses Perakitan Front Door RH Kijang Innova Di PT. TOYOTA Motor Manufacturing Indonesia Karawang Plant Disusun Oleh : Taruna Jaya 3040818 JURUSAN TEKNIK

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.2. Manajemen Persediaan Persediaan adalah bahan atau barang yang disimpan yang akan digunakan untuk memenuhi tujuan tertentu, misalnya untuk proses produksi atau perakitan untuk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bidang manufaktur, suatu peramalan (forecasting) sangat diperlukan untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bidang manufaktur, suatu peramalan (forecasting) sangat diperlukan untuk BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Peramalan 2.1.1 Pengertian Peramalan Di dalam melakukan suatu kegiatan dan analisis usaha atau produksi bidang manufaktur, suatu peramalan (forecasting) sangat diperlukan untuk

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. yang ada pada perusahaan ini. Pembahasan pada bagian ini dimulai dari landasan

BAB II LANDASAN TEORI. yang ada pada perusahaan ini. Pembahasan pada bagian ini dimulai dari landasan BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka Dalam penyelesaian Tugas Akhir ini digunakan landasan teori yang berkaitan dengan permasalahan yang digunakan untuk menyelesaikan masalah yang ada pada perusahaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan dunia industri menyebabkan terjadinya persaingan yang cukup ketat antar perusahaan. Kualitas merupakan faktor dasar konsumen terhadap

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Persediaan Persediaan sebagai kekayaan perusahaan, memiliki peranan penting dalam operasi bisnis. Dalam pabrik (manufacturing), persediaan dapat terdiri dari: persediaan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen Sejarah manajemen menurut William (2008:44) sebagai bidang studi manajemen mungkin berusia 125 tahun, tetapi ide-ide dan praktek manajemen benarbenar

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di PT Klip Plastik Indonesia sejak dari Agustus-Desember 2015, penulis tertarik untuk melakukan penelitian di PT Klip Plastik

Lebih terperinci

MRP. Master Production. Bill of. Lead. Inventory. planning programs. Purchasing MODUL 11 JIT DAN MRP

MRP. Master Production. Bill of. Lead. Inventory. planning programs. Purchasing MODUL 11 JIT DAN MRP MODUL 11 MRP adalah suatu teknik yang menggunakan BOM (bill of materials), inventory dan master schedule untuk mengetahui kebutuhan suatu part pada suatu waktu. Struktur MRP MRP membutuhkan data dari Bill

Lebih terperinci

Perencanaan Kebutuhan Komponen Tutup Ruang Transmisi Panser Anoa 6x6 PT PINDAD Persero

Perencanaan Kebutuhan Komponen Tutup Ruang Transmisi Panser Anoa 6x6 PT PINDAD Persero Perencanaan Kebutuhan Komponen Tutup Ruang Transmisi Panser Anoa 6x6 PT PINDAD Persero Rizky Saraswati 1), dan I Wayan Suletra 2) 1) Mahasiswa Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas

Lebih terperinci

BAB 5 ANALISIS 5.1. Analisis Forecasting (Peramalan)

BAB 5 ANALISIS 5.1. Analisis Forecasting (Peramalan) BAB 5 ANALISIS 5.1. Analisis Forecasting (Peramalan) Peramalan merupakan upaya untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Peramalan digunakan untuk melihat atau memperkirakan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 5 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian MRP Material Requirement Planning (MRP) adalah suatu teknik yang digunakan untuk perencanaan dan pengendalian item barang (komponen) yang tergantung (dependent) pada

Lebih terperinci

PERENCANAAN KEBUTUHAN MATERIAL (MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING) (MRP) BAB - 8

PERENCANAAN KEBUTUHAN MATERIAL (MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING) (MRP) BAB - 8 PERENCANAAN KEBUTUHAN MATERIAL (MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING) (MRP) BAB - 8 Sebelum penggunaan MRP, perencanaan pengendalian persediaan biasanya dilakukan melalui pendekatan reaktif sbb : a. Reorder

Lebih terperinci

Seminar Nasional Manajemen Ekonomi Akuntansi (SENMEA) UNPGRI KEDIRI

Seminar Nasional Manajemen Ekonomi Akuntansi (SENMEA) UNPGRI KEDIRI Analisis Perencanaan Pengadaan Material Bahan Bangunan pada PT Dhaha Jaya Persada Menggunakan Metode MRP (Material Requirements Planning) Guna Efisiensi Biaya Nazar J Kristiawan Dr. Lilia Pasca Riani,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Persediaan 2.1.1 Pengertian Persediaan Keberadaan persediaan dalam suatu unit usaha perlu diatur sedemikian rupa sehingga kelancaran pemenuhan kebutuhan pemakai dapat dijamin

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Produksi Menurut (Herjanto, 1999): Secara umum, kegiatan produksi atau operasi merupakan suatu kegiatan yang berhubungan dengan penciptaan atau pembuatan barang,

Lebih terperinci

BAHAN AJAR : Manajemen Operasional Agribisnis

BAHAN AJAR : Manajemen Operasional Agribisnis . Mata Kuliah Semester PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN, UNIVERSITAS ANDALAS BAHAN AJAR : Manajemen Operasional Agribisnis : IV Pertemuan Ke : 13 Pokok Bahasan Dosen : Perencanaan Kebutuhan

Lebih terperinci

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 4.1 Model Rumusan Masalah dan Pengambilan Keputusan Langkah-langkah dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dalam membuat sistem untuk menghasilkan suatu perencanaan

Lebih terperinci

BAB 2 Landasan Teori

BAB 2 Landasan Teori BAB 2 Landasan Teori 2.1. Manajemen Operasional Menurut Jay Heizer dan Barry Render (2010:4), manajemen operasi adalah serangkaian aktifitas yang menghasilkan nilai dalam bentuk barang dan jasa dengan

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 61 BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 3.1 Flow Chart Pemecahan Masalah Gambar 3.1 Flow Chart Metodologi Pemecahan 62 3.2 Penjelasan Flow Chart Metodologi Pemecahan Masalah Dari flow chart metodologi pemcahan

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI. Kerangka kerja yang digunakan oleh tim penulis adalah dengan mengkombinasikan

BAB 3 METODOLOGI. Kerangka kerja yang digunakan oleh tim penulis adalah dengan mengkombinasikan BAB 3 METODOLOGI Kerangka kerja yang digunakan oleh tim penulis adalah dengan mengkombinasikan beberapa metode yang masuk dalam kategori praktek terbaik untuk melakukan pengurangan jumlah persediaan barang

Lebih terperinci

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. yang dibangun, dikembangkan dengan bahasa pemrograman visual basic.net

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. yang dibangun, dikembangkan dengan bahasa pemrograman visual basic.net BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1. Implementasi Kebutuhan Sistem Dalam melakukan tahap implementasi program dilakukan penerapan dari analisa dan perancangan sistem yang telah dibuat sebelumnya. Perangkat

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen Robbins dan Coulter (2012:36) manajemen mengacu pada proses mengkoordinasi dan mengintegrasikan kegiatan-kegiatan kerja agar diselesaikan secara efisien dan efektif dengan

Lebih terperinci

BAB V IMPLEMENTASI DAN ANALISIS MODEL. 5.1 Implementasi Model MRP untuk Perencanaan Pengadaan Firebrick

BAB V IMPLEMENTASI DAN ANALISIS MODEL. 5.1 Implementasi Model MRP untuk Perencanaan Pengadaan Firebrick BAB V IMPLEMENTASI DAN ANALISIS MODEL 5.1 Implementasi Model MRP untuk Perencanaan Pengadaan Firebrick 5.1.1 Penentuan Gross Requirement Firebrick Penentuan kebutuhan firebrick didasarkan pada penjelasan

Lebih terperinci

Jurnal Distribution Requirement Planning (DRP)

Jurnal Distribution Requirement Planning (DRP) PERENCANAAN DAN PENJADWALAN AKTIVITAS DISTRIBUSI HASIL PERIKANAN DENGAN MENGGUNAKAN DISTRIBUTION REQUIREMENT PLANNING (DRP) (Studi Kasus Di UD. Retro Gemilang Internasional Sidoarjo) 2009 Adib Fahrozi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Dalam penyusunan tugas akhir ini dibutuhkan beberapa landasan teori sebagai acuan dalam penyusunannya. Landasan teori yang dibutuhkan antara lain teori tentang Sistem Informasi, teori

Lebih terperinci

Perencanaan Kebutuhan Bahan Baku Dengan Validasi Capacity Requirement Planning (CRP) Pada Perusahaan Rokok Sigaret Keretek Mesin (SKM)

Perencanaan Kebutuhan Bahan Baku Dengan Validasi Capacity Requirement Planning (CRP) Pada Perusahaan Rokok Sigaret Keretek Mesin (SKM) Petunjuk Sitasi: Eunike, A., Herdianto, B., & Setyanto, N. W. (2017). Perencanaan Kebutuhan Bahan Baku Dengan Validasi Capacity Requirement Planning (CRP) Pada Perusahaan Rokok Sigaret Keretek Mesin (SKM).

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB III TINJAUAN PUSTAKA 1 3.1 PERSEDIAAN BAB III TINJAUAN PUSTAKA Maryani, dkk (2012) yang dikutip oleh Yudhistira (2015), menyatakan bahwa persediaan barang merupakan bagian yang sangat penting bagi suatu perusahaan. Persediaan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 22 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengantar Menurut Teguh Baroto (2002, p14), perencanaan dan pengendalian produksi (PPC) adalah aktivitas bagaimana mengelola proses produksi tersebut. PPC merupakan tindakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dan menurut Rangkuti (2007) Persediaan bahan baku adalah:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dan menurut Rangkuti (2007) Persediaan bahan baku adalah: 10 2.1. Persediaan 2.1.1. Pengertian Persediaan BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam perusahaan setiap manajer operasional dituntut untuk dapat mengelola dan mengadakan persediaan agar terciptanya efektifitas

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Permintaan mengalami penurunan pada periode tertentu dan kenaikan pada periode setelahnya sehingga pola yang dimiliki selalu berubah-ubah (lumpy)

Lebih terperinci

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. PT. Tarumatex. Kemudian yang menjadi variabel dependen atau variable terikat

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. PT. Tarumatex. Kemudian yang menjadi variabel dependen atau variable terikat BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen atau varibel bebas (X) yang diteliti adalah metode MRP pada persediaan bahan baku benang pada

Lebih terperinci

Jurnal String Vol.1 No.2 Tahun 2016 ISSN : PENENTUAN TEKNIK PEMESANAN MATERIAL PADA PROYEK STEEL STRUCTURE MENGGUNAKAN WINQSB

Jurnal String Vol.1 No.2 Tahun 2016 ISSN : PENENTUAN TEKNIK PEMESANAN MATERIAL PADA PROYEK STEEL STRUCTURE MENGGUNAKAN WINQSB PENENTUAN TEKNIK PEMESANAN MATERIAL PADA PROYEK STEEL STRUCTURE MENGGUNAKAN WINQSB Juliana Program Studi Teknik Informatika, Universitas Indraprasta PGRI Email : kallya_des @yahoo.com Abstrak Perencanaan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Pengukuran waktu ini akan berhubungan dengan usaha-usaha untuk

BAB II LANDASAN TEORI. Pengukuran waktu ini akan berhubungan dengan usaha-usaha untuk Laporan Tugas Akhir BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengukuran Waktu Kerja Pengukuran waktu ini akan berhubungan dengan usaha-usaha untuk menetapkan waktu baku yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suati pekerjaan.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Indonesia yaitu PT. Indosat, Tbk yang beralamat di jalan Daan Mogot KM 11

BAB III METODE PENELITIAN. Indonesia yaitu PT. Indosat, Tbk yang beralamat di jalan Daan Mogot KM 11 BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di salah satu perusahaan telekomunikasi di Indonesia yaitu PT. Indosat, Tbk yang beralamat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Persaingan antar perusahaan akhir-akhir ini tidak lagi terbatas secara lokal,

BAB I PENDAHULUAN. Persaingan antar perusahaan akhir-akhir ini tidak lagi terbatas secara lokal, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Persaingan antar perusahaan akhir-akhir ini tidak lagi terbatas secara lokal, tetapi mencakup kawasan regional dan global. Oleh karena itu, setiap perusahaan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RERANGKA PEMIKIRAN. penggerakan, dan pengendalian aktivitas organisasi atau perusahaan bisnis atau jasa

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RERANGKA PEMIKIRAN. penggerakan, dan pengendalian aktivitas organisasi atau perusahaan bisnis atau jasa 5 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RERANGKA PEMIKIRAN A. Kajian Pustaka A.1. Teori A.1.1 Manajemen Produksi dan Operasi Menurut Haming (2011:24) Manajemen Operasional dapat diartikan sebagai kegiatan yang berhubungan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB III METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 26 BAB III METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 3.1 METODOLOGI PENELITIAN Dalam pembuatan Tugas Akhir diperlukan tahapan yang terstruktur yaitu tahapan metodologi penelitian. Metodologi penelitian merupakan penggambaran

Lebih terperinci

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 60 BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 4.1 Pengumpulan Data Data-data yang diperlukan untuk penelitian ini adalah : 1. Data Kapasitas Produksi Adapun kapasitas produksi reguler perhari untuk satu lini produksi

Lebih terperinci

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. Implementasi sistem merupakan kumpulan dari elemen-elemen yang telah

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. Implementasi sistem merupakan kumpulan dari elemen-elemen yang telah BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Implementasi Implementasi sistem merupakan kumpulan dari elemen-elemen yang telah didesain kedalam bentuk pemograman untuk menghasilkan suatu tujuan yang dibuat berdasarkan

Lebih terperinci

PENULISAN ILMIAH. : Angelica Herpiani NPM : Pembimbing : Dr. Ir. Rakhma Oktavina, MT

PENULISAN ILMIAH. : Angelica Herpiani NPM : Pembimbing : Dr. Ir. Rakhma Oktavina, MT PENULISAN ILMIAH Mempelajari Perencanaan Kebutuhan Material Dalam Pembuatan Body Keramik Brand Centro Ukuran 10x50 di PT. Industri Keramik Kemenangan Jaya Nama : Angelica Herpiani NPM : 33409672 Fakultas

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. oleh manusia yang terdiri dari komponen komponen dalam organisasi untuk. menyampaikan suatu tujuan, yaitu menyajikan informasi.

BAB II LANDASAN TEORI. oleh manusia yang terdiri dari komponen komponen dalam organisasi untuk. menyampaikan suatu tujuan, yaitu menyajikan informasi. BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Landasan Teori tentang Permasalahan 2.1.1 Sistem informasi Sistem Informasi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem yang dibuat oleh manusia yang terdiri dari komponen komponen

Lebih terperinci

BAB I P E N D A H U L U A N

BAB I P E N D A H U L U A N BAB I PENDAHULUAN 1 BAB I P E N D A H U L U A N 1.1 Latar Belakang Penelitian Sampai saat ini Indonesia masih menyandang status sebagai negara berkembang. Dengan status tersebut, bangsa Indonesia masih

Lebih terperinci

K E L O M P O K S O Y A : I N D A N A S A R A M I T A R A C H M A N

K E L O M P O K S O Y A : I N D A N A S A R A M I T A R A C H M A N K E L O M P O K S O Y A : A H M A D M U K T I A L M A N S U R B A T A R A M A N U R U N G I K A N O V I I N D R I A T I I N D A N A S A R A M I T A R A C H M A N S A L I S U B A K T I T R I W U L A N D

Lebih terperinci

Yayah Sopiyah 1 Didiek Pramono 2. Abstrak. Kata kunci : Material, Persediaan, Teknik Lot Sizing, Biaya Persediaan Minimum.

Yayah Sopiyah 1 Didiek Pramono 2. Abstrak. Kata kunci : Material, Persediaan, Teknik Lot Sizing, Biaya Persediaan Minimum. ANALISIS PERBANDINGAN PENYEDIAAN BAHAN MATERIAL STRUKTUR LANTAI 2 DENGAN METODE MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) (STUDI KASUS: PROYEK GEDUNG GUEST HOUSE V HOTEL) Yayah Sopiyah 1 Didiek Pramono 2 1,2

Lebih terperinci

MODUL 7 PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PRODUKSI

MODUL 7 PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PRODUKSI 2013 MODUL 7 PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PRODUKSI TI 3002 Praktikum Perancangan Sistem Terintegrasi II Laboratorium Sistem Produksi Program Studi Teknik Industri Institut Teknologi Bandung TI 3002 Praktikum

Lebih terperinci

Journal Knowledge Industrial Engineering (JKIE)

Journal Knowledge Industrial Engineering (JKIE) Available online at http://jurnal.yudharta.ac.id/v2/index.php/jkie Journal Knowledge Industrial Engineering (JKIE) PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN METODE MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) PADA

Lebih terperinci

CAPACITY PLANNING. Zulfa Fitri Ikatrinasari, MT., Dr. / Euis Nina S. Y., ST, MT

CAPACITY PLANNING. Zulfa Fitri Ikatrinasari, MT., Dr. / Euis Nina S. Y., ST, MT CAPACITY PLANNING Modul ke: Definisi Kapasitas, Manajemen Kapasitas, Capacity Planning Factors, Bill of Capacity, dan Capacity Requirement Planning. Fakultas Pascasarjana Zulfa Fitri Ikatrinasari, MT.,

Lebih terperinci

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 69 BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 4.1 Pengumpulan Data Pengumpulan data merupakan tahap pendahuluan sebelum memasuki bagian pengolahan data. Data yang dibutuhkan untuk pengolahan terlebih dahulu didokumentasikan.

Lebih terperinci

MANAJEMEN PERSEDIAAN

MANAJEMEN PERSEDIAAN Modul ke: MANAJEMEN PERSEDIAAN Merencanakan Kebutuhan Barang Persediaan dengan Teknik Part Period Balancing Fakultas EKONOMI DAN BISNIS M. Soelton Ibrahem, S.Psi, MM Program Studi Manajemen Perencanaan

Lebih terperinci

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha Abstrak Perusahaan Plastik X adalah perusahaan penghasil plastik injection process dengan orientasi pasar lokal, sehingga harus dapat mempertahankan dan meningkatkan produktivitasnya agar dapat memenangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. secara lebih baik, karena dalam era perdagangan tanpa batas tersebut mengakibatkan

BAB I PENDAHULUAN. secara lebih baik, karena dalam era perdagangan tanpa batas tersebut mengakibatkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dalam era globalisasi saat ini setiap perusahaan harus mampu mempersiapkan diri secara lebih baik, karena dalam era perdagangan tanpa batas tersebut mengakibatkan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 8 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Perencanaan dan Pengendalian Produksi Perencanaan dan pengendalian produksi (PPC) adalah aktivitas dimana mengelola proses produksi tersebut. PPC merupakan tindakan manajemen

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Perencanaan produksi dan penyediaan bahan baku merupakan dua hal yang berkaitan. Berapa banyak bahan baku yang harus disediakan, ditentukan oleh berapa jumlah produk yang akan dibuat pada suatu

Lebih terperinci

JSIKA Vol. 5, No. 7, Tahun 2016 ISSN X

JSIKA Vol. 5, No. 7, Tahun 2016 ISSN X RANCANG BANGUN SISTEM INFOMASI PERENCANAAN KEBUTUHAN BAHAN BAKU PADA UMKM SEPATU DAN SANDAL SUROSO Cahya Apriliana 1) Arifin Puji Widodo 2) Henry Bambang Setyawan 3) S1 / Jurusan Sistem Informasi Institut

Lebih terperinci

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 4.1 Pengumpulan Data Data-data yang dikumpulkan digunakan untuk mendukung pengolahan data yang dilakukan ataupun sebagai input dari setiap metode-metode

Lebih terperinci

PERENCANAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN MENGGUNAKAN METODE MATERIAL REQUIREMENT PLANNING

PERENCANAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN MENGGUNAKAN METODE MATERIAL REQUIREMENT PLANNING PERENCANAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN MENGGUNAKAN METODE MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) PRODUK KACANG SHANGHAI PADA PERUSAHAAN GANGSAR NGUNUT-TULUNGAGUNG Asvin Wahyuni, Achmad Syaichu Jurusan Teknik

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH

BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH 5.1 Analisis Perencanaan Kebutuhan Material (MRP) Perencanaann Kebutuhan Material atau MRP dimulai setelah inputnya yaitu Jadwal Induk Produksi, Struktur Produk dan Catatan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Arti dan Peran Persediaan Persediaan sesungguhnya memiliki arti yang penting bagi perusahaan, baik yang berorintasi perdagangan, industri jasa maupun industri

Lebih terperinci

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 58 BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Dalam penelitian ini pokok bahasan atau variabel independent (x) yang diteliti adalah metode MRP pada persediaan bahan baku serat pada PT. Sun

Lebih terperinci

Bab 1. Pendahuluan. Keadaan perekonomian di Indonesia telah mengalami banyak perubahan.

Bab 1. Pendahuluan. Keadaan perekonomian di Indonesia telah mengalami banyak perubahan. 1 Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Penelitian Keadaan perekonomian di Indonesia telah mengalami banyak perubahan. Sampai saat ini perekonomian Indonesia belum bisa pulih dari krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Lebih terperinci

PENENTUAN KOMBINASI METODE LOT SIZING BERBAGAI LEVEL PADA STRUKTUR PRODUK SPION 7024 UNTUK MEMINIMASI BIAYA PERSEDIAAN DI PT. CIPTA KREASI PRIMA MUDA

PENENTUAN KOMBINASI METODE LOT SIZING BERBAGAI LEVEL PADA STRUKTUR PRODUK SPION 7024 UNTUK MEMINIMASI BIAYA PERSEDIAAN DI PT. CIPTA KREASI PRIMA MUDA PENENTUAN KOMBINASI METODE LOT SIZING BERBAGAI LEVEL PADA STRUKTUR PRODUK SPION 7024 UNTUK MEMINIMASI BIAYA PERSEDIAAN DI PT. CIPTA KREASI PRIMA MUDA Roesfiansjah Rasjidin, Sachbudi Abbas Ras, Futihat

Lebih terperinci

1. Pendahuluan 2. Kajian Pustaka

1. Pendahuluan 2. Kajian Pustaka 1. Pendahuluan Teknologi menjadi elemen yang sangat penting dalam persaingan bisnis saat ini. Melalui implementasi teknologi, perusahaan dapat bersaing dalam persaingan bisnis dengan pemahaman, pemenuhan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN LITERATUR. dengan tahun 2016 yang berkaitan tentang pengendalian bahan baku.

BAB II KAJIAN LITERATUR. dengan tahun 2016 yang berkaitan tentang pengendalian bahan baku. BAB II KAJIAN LITERATUR 2.1 Penelitian Terdahulu Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa penelitian terdahulu sebagai referensi penelitian yang dilakukan. Referensi yang digunakan merupakan

Lebih terperinci

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4 BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Pengumpulan Data 4.1.1 Penentuan Objek Penelitian PT REKABAJA MANDIRI memproduksi ratusan item produk yang berasal dari puluhan group produk. Mengingat begitu

Lebih terperinci

SISTEM PRODUKSI MODUL PERENCANAAN KEBUTUHAN MATERIAL OLEH WAHYU PURWANTO

SISTEM PRODUKSI MODUL PERENCANAAN KEBUTUHAN MATERIAL OLEH WAHYU PURWANTO SISTEM PRODUKSI MODUL PERENCANAAN KEBUTUHAN MATERIAL OLEH WAHYU PURWANTO LABOTARIUM SISTEM PRODUKSI JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 64 4.1 Pengumpulan Data 4.1.1 Data Penjualan BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN PT. Surya Toto Indonesia bergerak di bidang ceramic sanitary wares and plumbing hardware., salah satu produknya yaitu kloset tipe

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. CV. New Sehati merupakan UKM (Usaha Kecil Menengah) keripik yang

BAB I PENDAHULUAN. CV. New Sehati merupakan UKM (Usaha Kecil Menengah) keripik yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah CV. New Sehati merupakan UKM (Usaha Kecil Menengah) keripik yang didirikan oleh Bapak Achmad Munali dan dibantu istrinya Ibu Wahyu Nur Afiyah. Usaha yang berdiri

Lebih terperinci

ANALISIS PERENCANAAN PENGENDALIAN BAHAN BAKU MENGGUNAKAN TEKNIK LOTTING DI PT AGRONESIA INKABA BANDUNG

ANALISIS PERENCANAAN PENGENDALIAN BAHAN BAKU MENGGUNAKAN TEKNIK LOTTING DI PT AGRONESIA INKABA BANDUNG ANALISIS PERENCANAAN PENGENDALIAN BAHAN BAKU MENGGUNAKAN TEKNIK LOTTING DI PT AGRONESIA INKABA BANDUNG I Made Aryantha dan Nita Anggraeni Program Studi Teknik Industri, Universitas Komputer Indonesia,

Lebih terperinci