XII. STATISTIKA NONPARAMETRIKA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "XII. STATISTIKA NONPARAMETRIKA"

Transkripsi

1 XII. STATISTIKA NONPARAMETRIKA Uji statistika parametrika (uji t dan uji F) hanya dapat digunakan jika data menyebar normal atau tidak ditemukannya petunjuk pelanggaran kenormalan dan keragaman atau variasi antara perlakuanperlakuan atau peubah bebas yang dibandingkan homogen. Data yang memenuhi syarat tersebut skala pengukurannya menimal interval (misalnya data dalam satuan persen dan data yang interval pengukurannya ) lebih baik lagi data yang mempunyai skala pengukuran rasional (misalnya data yang mempunyai satuan pengukuran berat,panjang,volume dansebagainya). Untuk data yang mempunyai skala pengukuran nominal (misalnya ada/tidak, mati/hidup.sembuh/sakit dan sebagainya) data yang mempunyai skala pengukuran ordinal (data yang ada urutannya misalnya agak sakit, sakit dan sembuh; tidak senang, senang dan amat senang; tidak ada kelainan sedikit ada kelainan dan ada kelainan; dan sebagainya). Jadi uji t dan uji F hanya bisa digunakan jika tidak ada petunjuk pelanggaran kenormalan dan keragaman antar perlakuan yang dibandingkan homogen. Untuk data yang memunyai skala pengukuran interval dan rasional bila syarat uji t dan uji F dilanggra masih bisa diusahakan dengan melakukan transformasi data jika setelah ditransformasikan belum juga terpenuhi maka harus diusahakan uji lain. Untuk data yang tidak memenuhi syarat uji t dan ujif dan data dengan satuan pengukuran nominal dan ordinal digunakan uji lain kelompok uji ini disebut uji statistika nonparametrika. Pengujian Data tidak Berpasangan Uji KhiKhuadrat (X ) Untuk membandingkan antara data yang diamati atau diperoleh denagn apa yang diharapkan/teoritis digunakan uji Khi Khuadrat (X ) dengan rumus : X k i ( o Ei) i Ei Disini X adalah nilai Khi Khuadrta yang akan diuji/dibandingkan X tabel Oi adalah frekuensi/jumlah data yang diamati pada kategori kei Ei adalah frekuensi/jumlah yang diharapkan pada kategori ke I dan k adalah banyaknya kategori (i=,,,.k) Biostatistika

2 Bila selisih antara data yang diamati dengan yang diharapkan semakin besar berarti semakin menyimpang dari harapan dan nilai X semakin besar, sebaliknya jika selisih antara data yang diamati dengan yang diharapkan semakin kecil berarti semakin dekat dengan harapan dan nilai X akan semakinkecil Berdasarkan hal tersebut dapat disusun hipotesis sebagai berikut : o : f =f =f = =fk ; fi fi untuk suatu fi Jika X <X (,;db=k), maka o diterima (P>,) X X (,;db=k), maka o ditolak(p<,) X <X (,;db=k), maka o diterima (P<,) Contoh Jika secara teoritis diketahui hasil perkawinan antara jenis ayam tertentu yang berwarna putih denagn hitam akan menghasilkan atau memperoleh anak ayam % berwarna putih, % hitam dan % lagi warna campuran. Dari butir telur yang ditetaskan yaitu telur berasaldari perkawinan ayam yang berbulu hitam dan putih diperoleh hasil ekor warna putih 9 ekor warna hitam dan ekor warna campuran. Dari hasil penelitian tersebut apakah pernyataan/teori tersebut masih bisa diterima. Jawab. ipotesisnya o : f =f =f lawan ; fi fi untuk suatu fi X i ( Oi Ei) Ei (,x) =,x =, +, +,8 =, (9,x),x (,x),x Oleh karena X <X (,;db=)yaitu,<,99 maka o diterima (P>,) sehingga dapat disimpulkan bahwa teori tersebut bisa diterima atau masih berlaku (P>,) Dalam kenyataannya apa yang diharapkan atau teori sering sekali tidak diketahui oleh peneliti karena yang dihadapi oelh peneliti sering halhal yang sifatnya masih baru. Misalnya Biostatistika

3 jenis penyakit yang baru muncul sehingga tingkat kesembuhannya tidak diketahui maka perlu melakukan pendugaan terhadap apa yang diharapkan akan terjadi. Sebagai contoh kita perhatikan ilustrasi sebagai berikutl Suatu kejadian penyakit disuatu daerah menyerang anakbabi yang baru disapih dengan tingkat kematian belum diketahui. Peneliti ingin mencoba menurunkan tingkat kematian anak babi tersebut dengan mencobakan dua jenis obat yaitu obat A danb untuk membuktikan keampuhan obatnya peneliti melakukan percobaan dengan menggunakan 9 ekor anak babi percobaan dan diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel hasil penelitian 9 ekor anak babi penderita Pengobatan Sembuh mati Jumlah Tanpa obat Obat A Obat B 8 Jumlah 8 9 Dari hasil yang diperoleh peneliti ingin mengetahui apakah pengibatan tersebut bisa menurunkan tingkat kematian babi anak babi penderita Dari permasalahan diatas kita bisa menyusun hipotesis sebagai berikut : o : f =f =f ; fi fi untuk suatu fi Disini fi menyattakan tingkat kematian atau kesembuhan anak babi pada katagori ke I (yaitu katagori tanpa diobati, katagori obat A dan katagori obat B) Untuk memecahkan persoalan diatas kita perlu menduga kemungkinan banyaknya anakbabi yang sembuh dan kemungkinan banyaknya anak babi yang mati. Kemungkinan sembuh kita anggap sama pada ternak tanpa diobati maupun diobati obat A dan obat B karena jumlah ternak yang digunakan sama dan kasiat obatpun belum kita ketahui, berdasrkan kenyataan yang dperoleh kita bisa menduga dengan cara sebagai berikut x =,. demikian juga untuk kemungkinan mati juga dianggap sama yaitu 9 Sehingga X dapat dicari dengan rumus diatas yaitu : x8 =9, 9 X = i ( Oi Ei) Ei i ( Oi Ei) Ei Biostatistika

4 (,) =, (,), (,), ( 9,) 9, (8 9,) 9, ( 9,) 9, =, +, =,9 Maka nilai X bila kita bandingkan dengan X (,;db=)=,99 ternyata X <X (,;db=) maka o diterima dan dapat disimpulkan pengobatan pada anak babi yang baru di sapi tidak dapat menurunkan tingkat kematiannya (P>,) asil pengobatan anakanak babi yang baru disapih tidak hanya sembuh dan mati saja, bisa saja yang sembuh menjadi cacat atau normal, sehingga secara umum dapat dirumuskan sebagai berikut : X k i r j ( oi Eij ) Eij Disini Oij adalah frekuensi/jumlah data yang diamati padabaris ke I dan kolom ke j, Eij adalah frekuensi.jumlah data yang diharapkan pada baris ke I dan kolom kej, k adalah jumlah baris dan r adalah jumlah kolom Dalam hal ini Eij dapat dirumuskan sebagai berikut : Oi.. xo. j Eij n Disini Oii adalah total bariske I untuk semua kolom O j adalah total kolom ke j untuk semua baris dan n adalah total seluruh frekuensi/jumlah data yang diamati. Perlu diingat k i j r Oij k j i r k Eij Oi. j i j r O. j n Kriteria penerimaan o sebagai berkut : Jika X <X (,;db=(k)(r) makao diterima (P>,) Jika X >X (,;db=(k)(r) makao ditolak (P<,) Jika X <X (,;db=(k)(r) makao ditolak (P<,)jadi derajat bebas (db)tidak hanya ditentukan oleh banyaknya kategori saja (k)tetapi jug aditentukan oleh kemungkinan apa yang terjadi/kolom ( r ) Untuk k=r= dan unuk data yang frekuensinya sangat kecil (mendekati nol) penggunan rumus diatas akan lebih baik jika dilakukan koreksi. Koreksi yang terkenal adalah koreksi yang dibuat oleh Frank Yates, sehingga rumusnya menjadi Biostatistika

5 X k i r j ( Oij Eij ) Eij Khusus untuk k = r = rumusnya menjadi : X n ( OO OO ). n ( O.)( O.)( O. )( O ) Jika kemungkinan yang terjadi dari individuindividu dapat kita skor sehingga dapat dibuat skala ordinal maka uji KhiKhuadrat (X ) tidak lagi baik diterapkan maka diperlukan uji lain uji tersebut antra lain adalah uji Wilcoxon,uji KruskalWallis dan ada pula uji lainnya. Uji Wilcoxon tidak berpasanganan Uji ini umumnya digunakan jika skala pengukuran hanya ordinal dan skala interval maupun rasional yang tidak memenuhi syarat untuk uji t atau uji F katagori/perlakuan sama dengan dua (P=) ipotesisnya o : r =r lawan :r r Prosedur pengujian hipotesis. tentukan data dari kecil ke besar tanpa memandang apakah data tersebut dari perlakuan pertama (p) atau perlakuan ke dua(p).. Berikan rangking dari angka sampai n (n=n +n) dengan catatan data yang skor/nilainya samaharus diberikan rangking yang sama (ratrata rangking). Jumlahkan rangking dari perlakuan pertama (T) dan rangking dari perlakuan kedua (T).. cari daerah penerima dari opada tabel yang telah disediakan.. kriteria penerimaan o adalah sebagai berikut : Contoh : a. Jika T atau T berada di dalam daerah penerimaan o dari tabel maka o diterima. b. Jika T atau T berada di luar daerah peneriaman o dari tabel maka ho ditolak. Seorang peneliti ingin mengetahui perbedaan p daging ayam dari dua pasar yang berbeda. Untuk tujuan tersebut peneliti membeli potong paha ayam yang terdiri dari 8 potong dari pasar A dan 8 potong dari pasar B kemudian diukur pnya dan diperoleh hasil sebagai berikut : Biostatistika

6 Pasar A B Jawab ulangan 8,8,,,,9,,,8,,,,,,,, ipotesisnya : o :r A =r B lawan :r A r B. urutkan data dari kecil ke besar yaitu A A A A A A B B A A,,,8,8,9,,,,, B B B B B B,,,,,,. Perangkingan datanya sebagai berikut A A A A A A B B A A,,,, 8 9, 9, B B B B B B. T = + +, +, ++, + 9, + 9, =, T =, ! = 9,. Daerah penerimaan o menurut tabel α=, adalah antara 98 dan α=, antara 9. Karena T dan T tidak terletak diantara 9 atau berada di luar daerah penerimaan omaka o ditolaksehingga disimpulkan p daging ayam di pasar A berbeda nyata (P<,) dibandingkan di pasar B Uji MannWhitney Uji wilcoxon tidak berpasangan dapat pula didekati dengan uni Z (pendekata normal ), hal ini telah dilakukan oleh Mann dan Whetney tahun 9. cara pengujian ini dikenal dengan uji MannWhitney data tidak berpasangan yaitu mencari pendekataan terhadap nilai tengah dan simpangan baku dari sebaran normal (n<n) dengan cara sebagai berikut : n( n n Z nn ( n n ) T Biostatistika

7 Disini T adalah jumlah ranking dari perlakuan pertama (T) atau perlakuan kedua (T). Dalam ini antara T dan T ada hubungan kesetaraan yaitu : T = n(n+n+)t Kriteria penerimaan o sebagai berikut : Jika Z <Z α=,), maka o diterima (P>,) Jika Z >Z α=,), maka o ditolak (P<,) Jika Z >Z α=,), maka o ditolak (P<,) Dari contoh diatas kita dapat melakukan pengujian sebagai berikut : T = n(n+n+)t T! = 8(8+8+)9, T =9,=, n( n n ) 8(8 8 ) 8 nn ( n n ) 8x8(8 8 ) 9, 9, Z Z T, 8,,89 9, 9, T 9, 8,,89 9, 9, Jadi pengambilan T dan T sebagai T memberikan nilai yang sama hanya berbeda tanda saja maka untuk pengujian dua arah memberikan makna yang sama Dari hasil pengujian ditas maka diperoleh hasil Z >Z (α=,) yaitu,89>,. jadi o ditolak pada taraf signifikansi %maka kesimpulan sama dengan uji wilcoxon tidak berpasangan. Untuk p> maka uji Wilcoxon tidak praktik digunakan makadih=gunakan uji lain salah satu uji tersebut adalah uji KruskalWallis. Uji KruskalWallis uji ini umumnya digunakan jika skala pengukuran datanya ordinal dan skala intervalmaupun rasional yang tidak memenuhi syarta untuk uji t atau uji f.kategori/perlakuan yang diteliti lebih Biostatistika

8 besar dari dua (P>) dan termasuk klasifikasi satu arah (tidak ada peubah lain selain perlakuan ) atau tidak berpasangan atau dalam rancangan percobaan/lingkungan terkenal dengan nama Rancangan Acal Lengkap (RAL). Rumus uji KuskalWallis adalah sebagai berikut : K N( N ) Disini k i Ri ni ( N ) K; nilai KruskalWallis dari hasilperhitungan Ri: jumlah rank dari kategori/perlakuan ke i Ni : Banyaknya ulanganpada kategori/perlakuan kei k: banyaknya kategori/perlakuan (i=,,,..,k) N:Jumlah seluruh data (N=n+n+n+..+nk) ipotesisnya o :r =r=r= =rk : ri ri,untuk suatu pasangan ri ( i i) Ri Disini ri adalah ratarata rangking kei dalam hal ini dugaan untuk ri adalah ni Kriteria penerimaan o adalah sebagai berikut : Jika K<X (,:db=(k),maka o diterima (P>,) Jika K>X (,:db=(k),maka o diterima (P<,) Jika K>X (,:db=(k),maka o diterima (P<,) Jika o ditolak berarti ada pasangan ratarata rngking yangberbeda untuk mencari pasangan ratrata rangking yang berbeda, untuk mencari pasangan mana yang berbeda maka kita harus malakukan uji lanjutan yaitu uji ratarata rangking dengan rumussebagai berikut : t t / ; db N k ( S N K ) N k ( n i n' i S N( N ) Jika ri ri ' t pada α=,, maka o diterma berarti pasangan ratarata rangking perlakuan tersebut tidakberbeda nyata (P>,) sedangkan jika ri ri ' t pada α=,, maka o ditolak berarti pasangan ratarata rangking perlakuan tersebut berbeda nyata (P<,) dan jika Biostatistika

9 ri ri' pada α=,, maka oditolak berarti pasangan ratarata rangking perlakuan tersebut t berbeda sangat nyata (P>,) Contoh Seorang peneliti ingin mengetahui perbedaan jumlah polikel yang dihasilkan oleh kambing kacang betina bila diberikan perlakuan yang berbeda untuk tujuan tersebut peneliti melakukan percobaan dengan menggunakan ekor kambing betina. asil penelitiaanya sebagai berikut : Perlakuan ( i) Jawab ipotesisnya o : r =r =r =r= r Ulangan : r ri untuk mengetahui pasangan ri (i i) asil rangkingnya sebagai berikut : Perlakuan (i) ulangan Ri Ri,,,, 9, 9 9, 9,,,,,, 8,, 9 9 9,,,,,, 9,,8 K N( N ) k i Ri ni ( N ) K, ( ( ), 8,, 9, ) ( ) K (,) 8, Oleh karena K>X α=,:db= yaitu,>, Biostatistika 8

10 Maka ho ditolak (p<,) sehingga dapat disimpulakn bahwa perlakuan yang diberikan berpengaruh sangat nyata (P<,) terhadap jumlah polikel yang dihasilkan oleh kambing kacang betina. Selanjutnya untuk mencari antara perlakua mana saja yang berbeda dilanjutkan ujinya dengan rumus sebagai berikut : S N( N ) ( ), t t / ; db N k ( S Untuk t,;db==,8 maka N K ) N k ( n n' t,,8, ) ( t =,8(,98)(,)=,9 untuk t, ;db= =,8 maka t,,8, ) ( t =,8(,98)(,)=8,8 terkecil ) ) untuk mempermudah membandingkan antara perlakuan kita urut dari ri terbesar sampai perlakuan ri (rri) (rri) (rri) (riri) Signifikansi,,,,, 9,,8,,9,,,,,8,,, a a ab bc c a ab ab bc c Keterangan Nilai ri dengan huruf yang sama pada kolomsignifikansi menunjukkan tidakberbeda nyata (P>,) sebaliknya dengan huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata (P<,) atau sangat nyata (P<,) Uji tanda Pengujian Data Berpasangan Biostatistika 9

11 Uji tanda dipakai untuk data yang berpasangan dengan kategori/perlakuan dua (P=) dan terbaik jika digunakan pada data dengan skala pengukuran nominal (ada/tidak, mati/hidup,sakit/sehat dan sebagainya) ipotesisnya o : p = p lawan : p p Disini p adalah jumlah pasangan positip dan p adalah jumlah pasangan negative. Dalam hal ini pi diperoleh jika Xi>Xi dan p diperoleh jika Xi<Xi jika Xi =Xi maka pasangan data tersebut tidak dipakai sehingga n= p+p Jika p=p maka p/n=p/n, jadi jika p/n=p/n=, maka o diterima dan jika p/n atau p dekat dengan, maka o mungkin diterima, sedangkan jika p/n atau p/n jauh lebih besar atau lebih kecil dari dari, maka o kemungkinan ditolak untuk membuat kriteria penerimaan o(diterimaatau ditolak) maka telah dibuat tabel (tabel uji tanda) sehingga : Jika p atau p berada di dalam daerah peneriman o pada tingkat kepercayaan 9% (α=,) maka o diterima (P>,) sedangkan jika berada di luar daerah penerimaan α=, maka o ditolak (p<,) dan jika berada di luar daerah penerimaan untuk α=, maka o ditolak (P<,) Contoh: Seorang peneliti ingin mengetahui perbedaan kelainan ginjalkanan dan kiri pada ternak kelinci akibat pemberian insektisida pada pakannya. Dari ekor kelinci yang diperiksa diperoleh data sebagai berikut : Kelinci 8 9 Ginjal kanan Ginjalkiri Xi Xi ipotesisnya o : p = Plawan : p p Dari tabel diatas dapat ditentukan p= dan p = sehingga n= +=9. Untuk n =9 pada α=, daerah penerimaa o adalahantara 8 dan pada α=, antara 9. Oleh karena p dan p berada di dalam daerah penerimaan o maka o diterima (P>,) sehingga dapat disimpulkan bahwa kelainan ginjal kelinci tidak terdapat perbedaan yang nyata (P>,) antara yang kanan dengan yang kiri. Biostatistika

12 Jika p> maka uji tanda kurang praktis lagi digunakan maka salah satu uji yang baik dipakai adalah uji Cochran Uji Cochran Uji ini umumnya digunakan jika skala pengukuran datanya nominal(ada/tidak,mati/hidup,sakit/sehat dan sebagainya)katagori/perlakuan yang diteliti lebih besar dari dua (p>) dan termasuk klasifikasi dua arah (ada peubah lain/peubah sampingan selainperlakuan) atau berpasangan atau dlam rancangan percobaan/lingkungan terkenal dengan nama Rancangan Acal Kelompok (RAK) rumus uji Cochran adalah sebagai berikut : Disini c N c( c ) ( Ci ) i c T r Rj( c Rj) j T: Nilai Cochran dari hasil perhitungan. c: Banyaknya katagori/perlakuan Ci: jumlah data pada katagori/perlakuan kei r:banyaknya kelompok ulangan Rj:jumlah data pada kelompok ulangan kej N: jumlah seluruh data positip (N=Ci Rj ipotesisnya o:p =p =p=.=pc c r i j :p i p I untuk suatu pasangan pi( i i) Disini p I adalah katagori/perlakuan kei Kriteria penerimaan ho adalah sebagai berikut : Jika T<X (,;db=(c) maka o diterima (P>,) Jika T>X (,;db=(c) maka o diterima (P<,) Jika T>X (,;db=(c) maka o diterima (P>,) Jika o ditolak berarti ada kategori/perlakuan yang berbeda, untukmencari pasangan mana yang berbeda maka kita harus melakukan uji lanjutan lanjutan dari uji cochran yang biasa digunakan adalah uji Mc Nemar dengan rumus sebagai berikut : Biostatistika

13 Rumus uji Mc Nemar T ( C B) ( B C) ( B C) ( B C) Disini B : banyaknya nilai negative dari dua pasang perlakuan yang dibandingkan(b=) C : Banyaknya nilai positif dari dua pasang perlakuan yang dibandingkan (C=) Kriteria penerimaan ho adalah sebagai berikut : Jika T<X α=,;db= maka o diterima berarti pasangan perlakuan tersebut tidak berbeda nyata (P>,). Sedangkan jika T X α=,;db= maka o ditolak berarti pasangan perlakuan tersebut berbeda nyata (P>,) dan jika T X α=,;db= maka o ditolak berarti pasangan ratarata rangking perlakuan tersebut berbeda sangat nyata (P<,) Contoh Salah satu cara untuk mengetahui adanya pembusukan pada daging adalah dengan mengunakan uji Eber. Seorang peneliti ingin pemeriksaan adanya pembusukan daging sapi yang dijual sore hari disuatu asar. Pada pasar tersebut terdapat kios daging sapi peneliti ingin mengetahui apakah terdapat perbedaan diantara kios tersebut. Untuk tujuan tersebut peneliti mengambil sample tiap hari selama hari data yang diperoleh sebagai berikut : Tabel hasil uji Eber. Ari kej Kios (i) Rj 8 9 Ci 8 Jawab ipotesisnya Biostatistika

14 T T o : p = p = p = p ; pi pi untuk pasangan pi (i i) c N c( c ) ( Ci ) i c r Rj( c Rj) j ( ) (,) (,) (8,) (,) ( ) ( ) ( )... ( ) T (,), Oleh karena T>X α=,;db=() yaitu,>, maka o ditolak (P>,) sehingga dpat disimpulkan terdapat perbedaan yang sangat nyata (P>,) antara kiosdaging di pasartersebut. Selanjtnya untukmengetahui antar kios mana yang berbeda dilanjutkan dengan uji Mc Nemar dengan rumus sebagai berikut : T ( C B) ( B C) ( B C) ( B C) ( ) Kios dengan nilai T, ( ) ( ) Kios dengan nilai T, ( ) ( 9) Kios dengan nilai T 9, ( 9) ( ) Kios dengan nilai T, ( ) ( 8) Kios dengan nilai T 8, ( 8) ( ) Kios dengan nilai T, ( ) Tabel X α=,;db==,8 dan X α=,;db==, Untuk mempermudah membandingkan antara perlakuan kita baut tabel sebagai berikut : Kios Signifikansi,, Biostatistika

15 Keterangan a ab b c Nilai dengan huruf yang sama pada kolom signifikansi menunjukkan tidakberbeda nyata (P>,) sebaliknya denganhuruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata (P>,) atau sangat nyata (p>,) Jika kemungkinan yang terjadi dari individuindividu dari data yang berpasangan dapat kita skor sehingga dapat dibuat skala ordinal maka uji tanda tidak lagi baik diterapkan maka diperlukan uji lain uji tersebut antara lain adalah uji Wilcoxon dan uji Friedman dan ada pula ujiuji yang lainnya. a a ab b Uji Wilcoxon Berpasangan uji ini umumnya digunakan jika skala pengukuran danya ordinal dan skala interval maupun rasional yang tida memenuhi syarat untuk uji t atau uji F katagori /perlakuan sama dengan dua (P=) dan berpasangan. ipotesisnya : o : r = r lawan :r r Prosedur pengujian hipotesis.. Untuk setiap pasangan data cari di (di = pi pi) disini pi adalah perlakuan pertama pada pasangan ke i dan pi adalah perlakuan kedua pada pasangan kei. Berikan rangking pada di dari angka sampai n (banyaknya pasangan) tanpa memandang tanda (harga mutlaknya) dengan catatan data yang skornya/nilainya sama harus diberikan rangking yang sama (ratarata rangking) dan jika di= pasangan tersebut dibuang/dianggap tidak ada, maka (n=banyaknya di ). Berikan tanda (+) pada rangking yang berasal dari di positip (di>) dan tanda () pada rangking yang berasal dari di negative (di<). jumlahkan rangking yang bertanda positif (T) dan rangking yang bertanda negative (T). cari daerah penerima dari o pada tabel yang telah disediakan. Kriteria penerimaan o adalah sebagai berikut: a. Jika T atau T berada di dalam daerah penerimaan o dari tabel maka o diterima. Biostatistika

16 b. Jika T atau T berada di luar daerah penerimaan o dari tabel maka ho ditolak. Contoh Dari panelis yang digunakan untuk mengetahuiperbedaan citarasa antara daging sapi sebelum dan sesudah diberikan penyedap rasa dipeoleh hasil sebagai berikut: Tabel hasil uji citarasa panelis sebelum dan sesudah diberikan bahan penyedap Panelis (i) Sebelum (pi) Sesudah (pi) di Ri ,,,,,,,,,,,,, T=8 dan T =8 8 Daerah penerimaan untuk n= pada α=, adalah antara dan pada α=, antara 9 ipotesisnya : o ; r =r lawan :r r Oleh karena T dan T berada di luar daerah penerimaan pada α=, dan α=, maka o ditolak (P<,) jadi dapat disimpulkan bahwa pemberian bahan penyedap dapat meningkatkan skor panelis secara sangat nyata (P<,) Untuk p> maka uji Wilcoxon tidak praktis digunakan uji lain, salah satu uji tersebut adalah uji Friedman Uji Friedman Uji ini umumnya digunakan jika skalapengukuran datanya ordinal dan skala interval maupun rasional yang tidak memenuhi syarat untuk uji t atau uji F katagori/perlakuan yang diteliti lebih Biostatistika

17 besar dari dua (P>) dan termasuk klasifikasi dua arah (ada peubah lain/sampingan selain perlakuan)atau berpasangan atau dalam rancangan percobaan/lingkungan terkenal dengan nama Rancangan Acal Kelompok (RAK) Rumus uji Friedman adalah sebagai berikut ; F nk( k ) k i Ri n( k ) Disini : F: nilai Friedman dari hasil perhitungan Ri : jumlah rank dari kategori/perlakuan ke i k: banyaknya katagori/perlakuan (i=,,,,k) n: jumlah pasangan atau kelompok hipotesisnya o : R = R = R =..=Rk : Ri Ri untuk suatu pasngan Ri (i i) Disini Ri adalah jumlah rangking ke i Kriteria penerimaan o adalah sebagai berikut : Jika F<X (,:db=(k), maka diterima (P>,) Jika F>X,:db=(k), maka ditolak(p<,) Jika F>X,:db=(k), maka o ditolak (P<,) Jika o ditolak berarti ada pasangan ratarata rangking yang berbeda untuk mencari pasangan mana yang berbeda maka kita harus melakukan uji lanjutan yaitu uji jumlah rangking dengan rumus sebagai berikut : nk( k ) t t / ; db ( k )( n ) Disini k adalah banyaknya katagori /perlakuan dan n adalah banyaknya pasangan atau kelompok. Jika Ri Ri' t pada α=, maka o diterima berate pasangan rangking perlakuan tersebut berbeda nyata (P<,) dan jika Ri Ri' t pada α=, maka o ditolak berate pasangan rangking perlakuan tersebut berbeda nyata (P<,) dan jika Ri Ri' t pada α=, maka o ditolak berarti paangan rangking perlakuan tersebut berbeda sangat nyata (P>,) Catatan Biostatistika

18 Pada uji KuskalWallis perangkingan data dilakukan serempak seluruh data sedangkan uji Friedman perangkingan data dilakukan tiap pasangan atau kelompok. Contoh Seorang peneliti ingin mengetahui perbedaan titer antibody pada ayam buras jantan yang diberikan jenis vaksin yang berbeda. Pengukuran antobodi dilakukan setiap minggu yaitu pada minggu pertama,kedua dan ketiga Data yang di[eroleh sebagai berikut : Minggu ke j ipotesisnya o : R = R =R =R Jenis vaksin ke i : Ri Ri untuk suatu pasangan Ri (i i) Sebelum kita menggunakan rumus Friedman kita harus merangking dulu datanya,hasil rangkingannya sebagai berikut : Minggu ke j Jenis vaksin ke i Ri 9 F nk( k ) k i Ri n( K ) F 9 ) x( ) x( ) F (), 8, Oleh karena nilai F>X (,;db=(k) yaitu 8, >,8 maka o ditolak (P<,) sehingga dpat disimpulkan bahwa jenis vaksin berpengaruh nyata (P<,) terhadap titer antibody ayam buras jantan. Biostatistika

19 Untuk mengetahui antar vaksin yang mana memberikan titer antibody yang berbeda maka dilanjtkan dengan uji sebagai berikut : t t / : db ( k )( n ) nk( k ) Untuk α=, db =()() =, t x( ),,x,8, Untuk α=,db =()() =, t x( ),,x,8, Untuk mempermudah membandingkan antara perlakuan kit aurut dari ri terbesar sampai terkecil : Vaksin kuan Ketrangan Ri (RRi) (RRi) (RRi) Signifikansi,, a a 9 ab a ab a 8 b a Nilai ri dengan huruf yang sama pada kolom signifikansi menunjukkan tidak beda nyata (P>,) sebaliknya dengan huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata ( P<,) atau sangat nyata (P<,) Jadi dapat kita simpulkan vaksin memberikan antibody yang berbeda nyata (P<,) bila dibandingkan dengan vaksin sedangkan antara vaksin, dan demikian pula antara vaksin, dan tidak terdapat perbedaan yang nyata (P>,) Metode Korelasi Jenjang Spearman. Metode korelasi jenjang ini dikemukaan oleh Carl Spearman pada tahun 9. Metode ini diperlukan untuk mengukur keeratan hubungan antara variabel dimana kedua variablel itu tidak mengikuti distribusi normal dan conditional variable tidak diketahui sama. Korelasi rank dipergunakan apabila pengukuran kuanditatif secara eksak tidak mungkin dilakukan. Data kedua variable berpasangan. Misalnya munkukur tingkat moral, tingkat kesenangan, tingkat motivasi dan sebagainya. Biostatistika 8

20 Untuk mengitung koefesien korelasi ramk, yang dinotasikan dengan r s dilakukan langkahlangkah sebagai berikut :. Nilai pengamatan dari dau variable yang akan diukuir hubunghannya diberi jenjang, bila ada nilai pengamatan yang sama dihitung jenjang rataratanya. Setiap pasang jenjang dihitung perbedaannya. Perbedaan setiap pasang jenjang tersebut dikuadratkan dan dihitung jumlahnya. Nilai r s (koefesien korelasi spearman) dihitung dengan rumus di i rs n(n ) n Disini di : menunjukkan perbedaan setiap pasang rank n : menunjukkan jumlha pasangan rank itopesis o yang akan diuji mengatakan bvahwa dua variable yang diteliti dengan nilai jenjang itu independent artinga tidak hubungan antara variable yang satu dengan yang lainnya. o : ρs = : ρs Kreteria pengambilan keputusan adalah o diterima apabila r s ρs( ) o ditolak apabila r s > ρs( ) Nilai ρs( ) dapat dilihat pada table spearman. Untuk nilai n dapat dipergunakan Tabel t, dimana nial t sample dapat dihitung dengan rumus : n t rs rs o diterima apabila t /, n t t /,n o ditolak apabila t> /, n atau t t /,n Teladan : Seorang peneliti ingin mencarai korelasi antara adanya bahan berbahaya pada Feses dengan pada daging ayam broiler dengan skor (=tidak ada, =di bawah normal, =Normal, =di atas normal dan =jauh diatas normal). asilnya sebagai berikut : Tabel.8.. Bahan Berbahaya pada Feses dan Daging Ayam Broiler. Biostatistika 9

21 Peubah Ayam Broiler 8 9 Feses Daging Jenjang X,,,,,,,, Jenjang Y 8 8,, 8,,,, d,,,, d,, 9,, Dari data tersebut koefesian korelasi Spearman dapat dihitung dengan rumus : n di i rs = (/() = /99 =, =,9 n(n ) r Tabel, : db = =, dan r Tabel, : db = =,8 Kesimpulan : r s > r Tabel, db, yaitu,9>,, maka terdapat korelasi positif yang sangat nyata (P<,) antara bahan berbahaya pada feses dengan pada dagung ayam. Berarti makin banyak bahan berbahaya pada feses maka pada dagingnya juga semakin banyak. Biostatistika

XIII. STATISTIKA NON PARAMETRIKA

XIII. STATISTIKA NON PARAMETRIKA XIII. STATISTIKA NON PARAMETRIKA 8.. Pengujian Data Tidak Berpasangan 8.. Uji Khi-Khuadrat (X 2 ) Suatu kejadian penyakit disuatu daerah menyerang anak babi yang baru disapih dengan tingkat kematian belum

Lebih terperinci

UJI INDEPENDEN ANTARA DUA FAKTOR

UJI INDEPENDEN ANTARA DUA FAKTOR UJI INDEPENDEN ANTARA DUA FAKTOR Banyak data hasil pengamatan yang dapat digolongkan kedalam beberapa factor, karakteristik atau atribut dengan tiap factor atau atribut teridiri dari beberapa klasifikasi,

Lebih terperinci

BAB 9 PENGGUNAAN STATISTIK NON-PARAMETRIK DALAM PENELITIAN

BAB 9 PENGGUNAAN STATISTIK NON-PARAMETRIK DALAM PENELITIAN BAB 9 PENGGUNAAN STATISTIK NON-PARAMETRIK DALAM PENELITIAN Istilah nonparametrik pertama kali digunakan oleh Wolfowitz, pada tahun 94. Metode statistik nonparametrik merupakan metode statistik yang dapat

Lebih terperinci

STATISTIK NON PARAMTERIK

STATISTIK NON PARAMTERIK STATISTIK NON PARAMTERIK PROSEDUR PENGOLAHAN DATA : PARAMETER : Berdasarkan parameter yang ada statistik dibagi menjadi Statistik PARAMETRIK : berhubungan dengan inferensi statistik yang membahas parameterparameter

Lebih terperinci

Nanparametrik_Korelasi_M.Jain uri, M.Pd 1

Nanparametrik_Korelasi_M.Jain uri, M.Pd 1 Nanparametrik_Korelasi_MJain uri, MPd 1 Pengertian Pada penelitian yang ingin mengetahui ada tidaknya hubungan di antara variabel yang diamati, atau ingin mengetahui seberapa besar derajat keeratan hubungan

Lebih terperinci

Nonparametrik_uji k sampel_m. Jainuri, M.Pd

Nonparametrik_uji k sampel_m. Jainuri, M.Pd Uji U / U Test atau Uji Mann-Whitney digunakan untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel independen bila tingkatan datanya ordinal. Bila dalam suatu pengamatan datanya berbentuk interval, maka dirubah

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Statistik Non Parametrik Penelitian di bidang ilmu sosial seringkali menjumpai kesulitan untuk memperoleh data kontinu yang menyebar mengikuti distribusi normal. Data penelitian

Lebih terperinci

Penggolongan Uji Hipotesis

Penggolongan Uji Hipotesis Penggolongan Uji Hipotesis Macam Data Deskriptif (1 sampel) Komparatif (2 sampel) Macam Hipotesis Komparatif (k sampel) Asosiatif Berpasangan Independen Berpasangan Independen Berpasangan Independen Nominal

Lebih terperinci

RUMUS KORELASI SPEARMAN RANK & CONTOH PENERAPANNYA

RUMUS KORELASI SPEARMAN RANK & CONTOH PENERAPANNYA RUMUS KORELASI SPEARMAN RANK & CONTOH PENERAPANNYA Metode Korelasi Spearman Rank(rho) bisa juga disebut Korelasi Berjenjang dengan notasi (r s ). Metode ini dikemukakan oleh Carl Spearman tahun 1904. Kegunaannya

Lebih terperinci

Statistik Non Parameter

Statistik Non Parameter Statistik Non Parameter A. Pengertian Non Parametrik Istilah nonparametrik sendiri pertama kali digunakan oleh Wolfowitz, 1942. Istilah lain yang sering digunakan antara lain distribution-free statistics

Lebih terperinci

STATISTIK NON PARAMETRIK (2)

STATISTIK NON PARAMETRIK (2) STATISTIK NON PARAMETRIK (2) 12 Debrina Puspita Andriani Teknik Industri Universitas Brawijaya e-mail : [email protected] Blog : http://debrina.lecture.ub.ac.id/ 2 Outline Uji Korelasi Urutan Spearman Statistik

Lebih terperinci

OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2010

OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2010 ANALISIS KORELASI OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2010 ANALISIS KORELASI II. ANALISIS KORELASI 1. Koefisien Korelasi Pearson Koefisien Korelasi Moment Product Korelasi

Lebih terperinci

OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2011

OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2011 ANALISIS KORELASI OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2011 ANALISIS KORELASI II. ANALISIS KORELASI 1. Koefisien Korelasi Pearson Koefisien Korelasi Moment Product Korelasi

Lebih terperinci

STATISTIKA UJI NON-PARAMETRIK

STATISTIKA UJI NON-PARAMETRIK STATISTIKA UJI NON-PARAMETRIK DISUSUN OLEH : Jayanti Syahfitri DOSEN PENGAMPU : Dr. Risnanosanti, M.Pd PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER PENDIDIKAN BIOLOGI (S-2) FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Data Data adalah bentuk jamak dari datum, yang dapat diartikan sebagai informasi yang diterima yang bentuknya dapat berupa angka, kata-kata, atau dalam bentuk lisan dan tulisan

Lebih terperinci

13Ilmu. Uji Peringkat Wilcoxon dan Mann Whitney

13Ilmu. Uji Peringkat Wilcoxon dan Mann Whitney Modul ke: Fakultas 13Ilmu Komunikasi Uji Peringkat Wilcoxon dan Mann Whitney Uji Wilcoxon untuk melihat perbedaan tanpa melihat besarnya perbedaan. Uji Mann Whiyney untuk menguji rata-rata dua sampel berukuran

Lebih terperinci

Mata Kuliah: Statistik Inferensial

Mata Kuliah: Statistik Inferensial DATA BERPERINGKAT Prof. Dr. H. Almasdi Syahza, SE., MP Email: [email protected] Uji Jumlah Peringkat Wilcoxon PENGERTIAN STATISTIKA NONPARAMETRIK Statistika nonparametrik untuk data berperingkat: Statistika

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Pengertian dan Kegunaan Statistika

BAB 1 PENDAHULUAN Pengertian dan Kegunaan Statistika BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Pengertian dan Kegunaan Statistika Statistik dapat berarti tiga hal. Pertama statistik bisa berarti kumpulan data. Ada buku bernama Buku Statistik Indonesia (Statistical Pocketbook

Lebih terperinci

Statistik Non Parametrik

Statistik Non Parametrik Statistik Non Parametrik STATISTIK PARAMETRIK DAN NON PARAMETRIK Statistik parametrik, didasarkan asumsi : - sampel random diambil dari populasi normal atau - ukuran sampel besar atau - sampel berasal

Lebih terperinci

Statistik Dasar. 1. Pendahuluan Persamaan Statistika Dalam Penelitian. 2. Penyusunan Data Dan Penyajian Data

Statistik Dasar. 1. Pendahuluan Persamaan Statistika Dalam Penelitian. 2. Penyusunan Data Dan Penyajian Data Statistik Dasar 1. Pendahuluan Persamaan Statistika Dalam Penelitian 2. Penyusunan Data Dan Penyajian Data 3. Ukuran Tendensi Sentral, Ukuran Penyimpangan 4. Momen Kemiringan 5. Distribusi Normal t Dan

Lebih terperinci

STATISTIK NONPARAMETRIK (2)

STATISTIK NONPARAMETRIK (2) PERTEMUAN KE-13 Ringkasan Materi: STATISTIK NONPARAMETRIK () 1. Korelasi Spearman Rank Dari semua statistik yang didasarkan atas ranking (peringkat), koefisien korelasi Spearman Rank merupakan statistik

Lebih terperinci

BAB III MATERI METODE. Analisis pendapatan pada usaha peternakan kambing diperlukan untuk

BAB III MATERI METODE. Analisis pendapatan pada usaha peternakan kambing diperlukan untuk 13 BAB III MATERI METODE 3.1. Kerangka Pemikiran Keberhasilan usaha ditentukan oleh besarnya pendapatan yang diperoleh. Analisis pendapatan pada usaha peternakan kambing diperlukan untuk mengetahui besarnya

Lebih terperinci

STATISTIK PERTEMUAN XI

STATISTIK PERTEMUAN XI STATISTIK PERTEMUAN XI Topik Bahasan: Analisis Ragam (ANOVA) Universitas Gunadarma 1. Pendahuluan Metode hipotesis dengan menggunakan distribusi z dan distribusi t efektif untuk uji hipotesis tentang perbedaan

Lebih terperinci

Skala pengukuran dan Ukuran Pemusatan. Ukuran Pemusatan

Skala pengukuran dan Ukuran Pemusatan. Ukuran Pemusatan Skala Pengukuran Nominal (dapat dikelompokkan, tidak punya urutan) Ordinal (dapat dikelompokkan, dapat diurutkan, jarak antar nilai tidak tetap sehingga tidak dapat dijumlahkan) Interval (dapat dikelompokkan,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Statistik Menurut Sofyan (2013) pengertian statistik berasal dari bahasa Latin, yaitu status yang berarti negara dan digunakan untuk urusan negara. Pada mulanya, statistik

Lebih terperinci

Uji Korelasi Kendal Tau dan Uji Korelasi Spearman Rank

Uji Korelasi Kendal Tau dan Uji Korelasi Spearman Rank Uji Korelasi Kendal Tau dan Uji Korelasi Spearman Rank KORELASI KENDAL TAU Korelasi Kendal tau digunakan untuk mengukur kekuatan atau hubungan dua variable. Data yang digunakan berskala ordinal dan tidak

Lebih terperinci

Kuliah 4. Ukuran Penyebaran Data

Kuliah 4. Ukuran Penyebaran Data Kuliah 4. Ukuran Penyebaran Data Mata Kuliah Statistika Dr. Ir. Rita Rostika MP. 21 Maret 2012 Prodi Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran Content Rentang Data Rentang

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB LANDASAN TEORI.1 Metode Statistik Nonparametrik Metode statistik nonparametrik adalah metode yang modelnya tidak menetapkan syarat-syarat mengenai parameter-parameter populasi yang merupakan induk

Lebih terperinci

STK 211 Metode Statistika PENGUJIAN HIPOTESIS

STK 211 Metode Statistika PENGUJIAN HIPOTESIS STK Metode Statistika PENGUJIAN HIPOTESIS Pendahuluan Dalam mempelajari karakteristik populasi sering telah memiliki hipotesis tertentu. pemberian DHA pada anak-anak akan menambah kecerdasannya atau pemberian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN BAB II PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN BAB II PEMBAHASAN BAB I PENDAHULUAN 11 Latar Belakang Pengujian Mann-Whitney dipakai apabila karakteristik kelompok item yang menjadi sumber sampelnya tidak diketahui Metode ini diterapkan terhadap data yang diukur dengan

Lebih terperinci

5 Departemen Statistika FMIPA IPB

5 Departemen Statistika FMIPA IPB Suplemen Responsi Pertemuan ANALISIS DATA KATEGORIK (STK351) 5 Departemen Statistika FMIPA IPB Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Referensi Waktu Uji Khi-Kuadrat Uji Kebebasan Uji Kehomogenen Uji Kebaikan

Lebih terperinci

BAB III. Objek dan Metode Penelitian

BAB III. Objek dan Metode Penelitian 46 BAB III Objek dan Metode Penelitian 3.1 Objek Penelitian Objek penelitian merupakan proses yang mendasari pemilihan, pengolahan, dan penafsiran semua data dan keterangan yang berkaitan dengan apa yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Objek atau variabel dalam penelitian ini adalah motivasi belajar siswa yang

BAB III METODE PENELITIAN. Objek atau variabel dalam penelitian ini adalah motivasi belajar siswa yang 57 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek dan Subjek Penelitian Objek atau variabel dalam penelitian ini adalah motivasi belajar siswa yang menggunakan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Melalui Metode Diskusi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. berupa hasil perhitungan statistik yang datanya diperoleh dari responden. Hasil

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. berupa hasil perhitungan statistik yang datanya diperoleh dari responden. Hasil 49 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian Dalam bab ini dibahas mengenai hasil penelitian yang dilaksanakan, yaitu berupa hasil perhitungan statistik yang datanya diperoleh dari responden.

Lebih terperinci

Pengantar Statistik. Nanang Erma Gunawan

Pengantar Statistik. Nanang Erma Gunawan Pengantar Statistik Nanang Erma Gunawan [email protected] Sekilas tentang sejarah Statistik Statistik: pada awal zaman Masehi, bangsa-bangsa mengumpulkan data untuk mendapatkan informasi mengenai pajak,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Menurut Sutama (2015:43) penelitian

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Menurut Sutama (2015:43) penelitian BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Menurut Sutama (2015:43) penelitian kuantitatif antara lain berhubungan erat dengan kontruksi

Lebih terperinci

Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA.

Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA. Hipotesis statistik Sebuah pernyataan tentang parameter yang menjelaskan sebuah populasi (bukan sampel). Statistik Angka yang dihitung dari sekumpulan sampel.

Lebih terperinci

HIPOTESIS ASOSIATIF KORELASI PRODUCT MOMENT -YQ-

HIPOTESIS ASOSIATIF KORELASI PRODUCT MOMENT -YQ- HIPOTESIS ASOSIATIF KORELASI PRODUCT MOMENT -YQ- PENGERTIAN Hipotesis asosiatif adalah hipotesis yang menunjukkan dugaan adanya hubungan atau pengaruh antara dua variabel atau lebih. Contoh: Rumusan masalah:

Lebih terperinci

MINGGU VI UJI CHI SQUARE. Dyah Maharani, Ph.D.

MINGGU VI UJI CHI SQUARE. Dyah Maharani, Ph.D. MINGGU VI UJI CHI SQUARE Dyah Maharani, Ph.D. PENGERTIAN CHI-SQUARE Chi square adalah pengujian hipotesis mengenai perbandingan antara frekuensi observasi atau yang benar-benar terjadi dengan frekuensi

Lebih terperinci

STATISTIKA NONPARAMETRIK UNTUK PENELITIAN SOSIAL EKONOMI PETERNAKAN. (Kumpulan Bahan Kuliah) Oleh NUGRAHA SETIAWAN

STATISTIKA NONPARAMETRIK UNTUK PENELITIAN SOSIAL EKONOMI PETERNAKAN. (Kumpulan Bahan Kuliah) Oleh NUGRAHA SETIAWAN STATISTIKA NONPARAMETRIK UNTUK PENELITIAN SOSIAL EKONOMI PETERNAKAN (Kumpulan Bahan Kuliah) Oleh NUGRAHA SETIAWAN FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2005 KATA PENGANTAR Penelitian-penelitian dalam

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. dengan upaya kontrol yang ketat terhadap faktor-faktor luar, serta melibatkan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. dengan upaya kontrol yang ketat terhadap faktor-faktor luar, serta melibatkan 31 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen, yaitu penelitian yang didalamnya melibatkan manipulasi terhadap kondisi subjek yang diteliti, disertai

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Materi. Tabel 2. Komposisi Zat Makanan Ransum Penelitian Zat Makanan Jumlah (%)

MATERI DAN METODE. Materi. Tabel 2. Komposisi Zat Makanan Ransum Penelitian Zat Makanan Jumlah (%) MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Blok B, Unit Unggas. Pemotongan puyuh dan penelitian persentase karkas dilakukan di Laboratorium Unggas serta uji mutu

Lebih terperinci

STATISTIKA II (BAGIAN

STATISTIKA II (BAGIAN STATISTIKA II (BAGIAN - ) Oleh : WIJAYA email : [email protected] FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 008 Wijaya : Statistika II (Bagian-) 0 VI. PENGUJIAN HIPOTESIS Hipotesis

Lebih terperinci

Statistika Nonparametrik dengan SPSS, Minitab, dan R

Statistika Nonparametrik dengan SPSS, Minitab, dan R i Statistika Nonparametrik dengan SPSS, Minitab, dan R 017 ii USU Press Art Design, Publishing & Printing Gedung F Jl. Universitas No. 9, Kampus USU Medan, Indonesia Telp. 061-813737; Fax 061-813737 Kunjungi

Lebih terperinci

LANGKAH-LANGKAH PENGOLAHAN DATA PENELITIAN. Oleh: Bambang Avip Priatna Martadiputra

LANGKAH-LANGKAH PENGOLAHAN DATA PENELITIAN. Oleh: Bambang Avip Priatna Martadiputra LANGKAH-LANGKAH PENGOLAHAN DATA PENELITIAN Oleh: Bambang Avip Priatna Martadiputra PERSIAPAN PENELITIAN 1) Menyusun instrumen penelitian berdasarkan dimensi dan indikator yang dirujuk. 2) Uji validitas

Lebih terperinci

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 51 BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Menurut Ari Kunto (1998:15), variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian, sedangkan tempat di mana

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam menentukan desain penelitian maka hal tersebut sangatlah

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam menentukan desain penelitian maka hal tersebut sangatlah 46 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Dalam menentukan desain penelitian maka hal tersebut sangatlah tergantung pada tujuan dari penelitian itu sendiri, mendesain berarti menyusun perencanaan

Lebih terperinci

Asosiasi dan Uji Perbedaan

Asosiasi dan Uji Perbedaan Asosiasi dan Uji Perbedaan Learning Outcomes Pada akhir pertemuan ini, diharapkan mahasiswa akan mampu : Menjelaskan pengertian asosiasi dan Tabulasi Silang. Menghitung koefisien korelasi dan uji perbedaan.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sedangkan skor data post-test adalah skor yang diambil setelah melakukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sedangkan skor data post-test adalah skor yang diambil setelah melakukan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Hasil Penelitian Skor data pre-test dalam penelitian ini adalah skor data yang diambil sebelum pelaksanaan adanya tindakan pada siswa yang menjadi sampel. Sedangkan

Lebih terperinci

STATISTIKA. Statistika pengkuantifikasian (pengkuantitatifan) hasil-hasil pengamatan terhadap kejadian, keberadaan, sifat/karakterisitik, tempat, dll.

STATISTIKA. Statistika pengkuantifikasian (pengkuantitatifan) hasil-hasil pengamatan terhadap kejadian, keberadaan, sifat/karakterisitik, tempat, dll. STATISTIKA Statistika pengkuantifikasian (pengkuantitatifan) hasil-hasil pengamatan terhadap kejadian, keberadaan, sifat/karakterisitik, tempat, dll. Statistika deskriptif: pencatatan dan peringkasan hasil

Lebih terperinci

STATISTIK NON PARAMETRIK (2) Debrina Puspita Andriani /

STATISTIK NON PARAMETRIK (2) Debrina Puspita Andriani    / STATISTIK NON PARAMETRIK (2) 13 Debrina Puspita Andriani E-mail : [email protected] / [email protected] 2 Outline Uji Korelasi Urutan Spearman Statistik Non Parametrik 3 Uji Korelasi Urutan Spearman

Lebih terperinci

PENGUJIAN HIPOTESIS Imam Gunawan

PENGUJIAN HIPOTESIS Imam Gunawan PENGUJIAN HIPOTESIS Imam Gunawan HIPOTESIS.??? Sudut pandang statistik: Pernyataan statistik tentang parameter populasi. Taksiran terhadap parameter populasi melalui data sampel. Sudut pandang penelitian:

Lebih terperinci

ANALISIS NON-PARAMETRIK UJI KOEFESIEN KONTINGENSI. Oleh: M. Rondhi, SP, MP, Ph.D

ANALISIS NON-PARAMETRIK UJI KOEFESIEN KONTINGENSI. Oleh: M. Rondhi, SP, MP, Ph.D ANALISIS NON-PARAMETRIK UJI KOEFESIEN KONTINGENSI Oleh: M. Rondhi, SP, MP, Ph.D Analisis non-parametrik merupakan alat analisis yang digunakan jika data yang digunakan memiliki distribusi nominal atau

Lebih terperinci

KULIAH 2 : UJI NON PARAMETRIK 1 SAMPEL. Tim Pengajar STATSOS Lanjutan

KULIAH 2 : UJI NON PARAMETRIK 1 SAMPEL. Tim Pengajar STATSOS Lanjutan KULIAH : UJI NON PARAMETRIK 1 SAMPEL Tim Pengajar STATSOS Lanjutan What is Statistics Science of gathering, analyzing, interpreting, and presenting data Branch of mathematics Facts and figures Measurement

Lebih terperinci

Perancangan Percobaan

Perancangan Percobaan Perancangan Percobaan Pengertian dasar Faktor Taraf Perlakuan (Treatment) Respons Layout Percobaan & Pengacakan Penyusunan Data Analisis Ragam Perbandingan Rataan Pengertian dasar 3 Faktor: Variabel Bebas

Lebih terperinci

Mata Kuliah: Statistik Inferensial

Mata Kuliah: Statistik Inferensial DATA BERPERINGKAT Prof. Dr. H. Almasdi Syahza, SE., MP Email: [email protected] PENGERTIAN STATISTIKA NONPARAMETRIK Statistika nonparametrik untuk data berperingkat: Statistika yang menggunakan data

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian merupakan suatu cara yang digunakan peneliti untuk mendapatkan data valid yang digunakan untuk memecahkan suatu masalah. Metode deskriptif

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab ini akan diuraikan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan metode penelitian, desain penelitian, populasi dan sampel penelitian, teknik pengumpulan data, prosedur penelitian,

Lebih terperinci

STATISTIK NON PARAMETRIK

STATISTIK NON PARAMETRIK STATISTIK NON PARAMETRIK JI MANN WITNEY PENDAHLAN ji mann witney merupakan salah satu uji statistic beda yang mempunya cirri sample bersifat independent. Sample independent artinya satu pengukuran variable

Lebih terperinci

Analisis Koefisien Korelasi Rank Spearman. Pertemuan ke 11

Analisis Koefisien Korelasi Rank Spearman. Pertemuan ke 11 Analisis Koefisien Korelasi Rank Spearman Pertemuan ke 11 Pengantar Uji Rank Spearman digunakan untuk menguji hipotesis korelasi dengan skala pengukuran variabel minimal ordinal. Uji Rank Spearman diperkenalkan

Lebih terperinci

Lampiran 1. Skema Penelitian

Lampiran 1. Skema Penelitian 105 Lampiran 1. Skema Penelitian DOC (Day Old Chick) Ampas kecap - Diberikan air gula & vaksin antistress - Vaksin ND (umur 4 & 20 hari) - Vaksin gumboro (umur 10 & 25 hari) - umur 0-2 minggu (protein

Lebih terperinci

1.1 Contoh Soal dan Pembahasan Uji 1 Sampel a. Uji Binomial Untuk kasus ukuran sampel 25 Dilakukan penelitian untuk mengetahui kecenderungan

1.1 Contoh Soal dan Pembahasan Uji 1 Sampel a. Uji Binomial Untuk kasus ukuran sampel 25 Dilakukan penelitian untuk mengetahui kecenderungan 1.1 Contoh Soal dan Pembahasan 1.1.1 Uji 1 Sampel a. Uji Binomial Untuk kasus ukuran sampel 5 Dilakukan penelitian untuk mengetahui kecenderungan masyarakat dalam memilih perawatan kecantikan. Berdasarkan

Lebih terperinci

Transformasi Data & Anlisis Data Hilang

Transformasi Data & Anlisis Data Hilang Transformasi Data & Anlisis Data Hilang Rommy Andhika Laksono Perancangan Percobaan UNSUR DASAR PERCOBAAN : 1. Perlakuan (treatment) 2. Ulangan (replication) 3. Pengaturan atau pembatasan lokal (local

Lebih terperinci

6 Departemen Statistika FMIPA IPB

6 Departemen Statistika FMIPA IPB Suplemen Responsi Pertemuan ANALISIS DATA KATEGORIK (STK351) 6 Departemen Statistika FMIPA IPB Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Referensi Waktu Uji Kebaikan Suai Khi- Kuadrat untuk Sebaran Kontinu dan Uji

Lebih terperinci

Gambar 4. Tahapan kajian

Gambar 4. Tahapan kajian III. METODE KAJIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Kajian Survei lapangan dilakukan untuk menganalisa kinerja bisnis usaha tahu dan kebutuhan pasar. Hasil analisa kebutuhan pasar menjadi masukan dalam pengembangan

Lebih terperinci

STATISTIKA NONPARAMETRIK (3)

STATISTIKA NONPARAMETRIK (3) STATISTIKA NONPARAMETRIK (3) Elty Sarvia, ST., MT. Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Universitas Kristen Maranatha Bandung 6.UJI KOLMOGOROV SMIRNOV Untuk menguji apakah data berdistribusi tertentu.

Lebih terperinci

UJI TIGA MEDIAN POPULASI DENGAN HIPOTESIS ALTERNATIF (H 1 ) BERURUT

UJI TIGA MEDIAN POPULASI DENGAN HIPOTESIS ALTERNATIF (H 1 ) BERURUT UJI TIGA MEDIAN POPULASI DENGAN HIPOTESIS ALTERNATIF (H 1 ) BERURUT SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta untuk memenuhi sebagian persyaratan

Lebih terperinci

Resume Regresi Linear dan Korelasi

Resume Regresi Linear dan Korelasi Rendy Dwi Ardiansyah Putra 7410040018 / 2 D4 IT A Statistika Resume Regresi Linear dan Korelasi 1. Regresi Linear Regresi linear merupakan suatu metode analisis statistik yang mempelajari pola hubungan

Lebih terperinci

UJI CHI SQUARE. (Uji data kategorik)

UJI CHI SQUARE. (Uji data kategorik) UJI CHI SQUAR (Uji data kategorik) A. Pendahuluan Uji statistik nonparametrik ialah suatu uji statistik yang tidak memerlukan adanya asumsi-asumsi mengenai sebaran data populasinya (belum diketahui sebaran

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Yang Digunakan Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Nasir (1999:64), menjelaskan bahwa metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status

Lebih terperinci

Utriweni Mukhaiyar MA2281 Statistika Nonparametrik Kamis, 5 Februari 2015

Utriweni Mukhaiyar MA2281 Statistika Nonparametrik Kamis, 5 Februari 2015 Utriweni Mukhaiyar MA2281 Statistika Nonparametrik Kamis, 5 Februari 2015 Prosedur Uji Hipotesis Uji Z Parametrik Uji t ANOVA one way UJI MENYANGKUT RATAAN Asumsi distribusi normal Uji Tanda Uji Rang Tanda

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini mengunakan metode penelitian eksperimen (experimental research). Metode penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan dengan mengadakan

Lebih terperinci

ANALISIS dan INTERPRETASI DATA

ANALISIS dan INTERPRETASI DATA Pertemuan kelima ANALISIS dan INTERPRETASI DATA Salah satu tugas utama statistika inferensia adalah melakukan pengujian hipotesis. Pengujian hipotesis dilakukan sebagai upaya memperoleh gambaran mengenai

Lebih terperinci

JUDUL PENELITIAN DAN STATISTIK YANG DIGUNAKAN UNTUK ANALISIS

JUDUL PENELITIAN DAN STATISTIK YANG DIGUNAKAN UNTUK ANALISIS JUDUL PENELITIAN DAN STATISTIK YANG DIGUNAKAN UNTUK ANALISIS 1. CONTOH 1 a. Judul Penelitian PENGARUH KECERDASAN INTELEKTUAL TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA KELAS X SMA N 1 BUKITTINGGI

Lebih terperinci

S T A T I S T I K A OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON

S T A T I S T I K A OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON S T A T I S T I K A OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2010 PENGUJIAN HIPOTESIS V. PENGUJIAN HIPOTESIS Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap suatu masalah. Setiap

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Bab ini akan membahas tentang hasil penelitian yang telah dilaksanakan,

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Bab ini akan membahas tentang hasil penelitian yang telah dilaksanakan, BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data Bab ini akan membahas tentang hasil penelitian yang telah dilaksanakan, yaitu berupa hasil perhitungan statistik yang datanya diperoleh dari responden.

Lebih terperinci

Pertemuan Ke-12. Analysis of Varians (anova)_m. Jainuri, M.Pd

Pertemuan Ke-12. Analysis of Varians (anova)_m. Jainuri, M.Pd Pertemuan Ke-1 1 Pendahuluan Statistik parametrik yang digunakan untuk mencari perbedaan atau persamaan dua rata-rata adalah Uji-t, dan analysis of varians (anova/ anova) digunakan untuk mencari perbedaan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN Lokasi dan Subjek Populasi/Sampel Penelitian Lokasi Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN Lokasi dan Subjek Populasi/Sampel Penelitian Lokasi Penelitian 19 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Subjek Populasi/Sampel Penelitian 3.1.1. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian adalah di SMK Negeri 9 Garut, Jl. Raya Bayongbong Km.7 Desa Panembong Kecamatan

Lebih terperinci

PENGUJIAN HIPOTESIS DESKRIPTIF (Satu sampel) Wahyu Hidayat, M.Pd

PENGUJIAN HIPOTESIS DESKRIPTIF (Satu sampel) Wahyu Hidayat, M.Pd PENGUJIAN HIPOTESIS DESKRIPTIF (Satu sampel) Wahyu Hidayat, M.Pd Definisi Pengujian hipotesis deskriptif pada dasarnya merupakan proses pengujian generalisasi hasil penelitian yang didasarkan pada satu

Lebih terperinci

MODEL-MODEL LEBIH RUMIT

MODEL-MODEL LEBIH RUMIT MAKALAH MODEL-MODEL LEBIH RUMIT DISUSUN OLEH : SRI SISKA WIRDANIYATI 65 JURUSAN STATISTIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 04 BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

Lebih terperinci

Non Parametrik Modul ke: 11Ilmu. Rank Spearman. Fakultas. Dra. Yuni Astuti, MS. Komunikasi. Program Studi Periklanan dan Komunikasi Pemasaran

Non Parametrik Modul ke: 11Ilmu. Rank Spearman. Fakultas. Dra. Yuni Astuti, MS. Komunikasi. Program Studi Periklanan dan Komunikasi Pemasaran Non Parametrik Modul ke: Fakultas Ilmu Komunikasi Program Studi Periklanan dan Komunikasi Pemasaran Uji Tanda dan Rank Spearman Dra. Yuni Astuti, MS. Uji korelasi I. PENDAHULUAN Statistika non parametrik

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JAMBI

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JAMBI Prof. Dr. Ir. Zulkifli Alamsyah, M.Sc. PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JAMBI 1 HIPOTESIS Hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah tingkat kebenarannya sehingga masih harus diuji

Lebih terperinci

Uji Korelasi Spearman Rank. Uji Korelasi Kendal Tau

Uji Korelasi Spearman Rank. Uji Korelasi Kendal Tau Uji Korelasi Spearman Rank Uji Korelasi Kendal Tau Pokok Bahasan Pengertian dan Penggunaan Uji Korelasi Pengertian dan Penggunaan Uji Spearman Rank dan Uji Kendall Tau Contoh Kasus Aplikasi SPSS 1 sampel

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. : Ukuran sampel telah memenuhi syarat. : Ukuran sampel belum memenuhi syarat

BAB II LANDASAN TEORI. : Ukuran sampel telah memenuhi syarat. : Ukuran sampel belum memenuhi syarat BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Uji Kecukupan Sampel Dalam melakukan penelitian ini yang berhubungan dengan kecukupan sampel maka langkah awal yang harus dilakukan adalah pengujian terhadap jumlah sampel. Pengujian

Lebih terperinci

III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. wilayah Cikajang, Kabupaten Garut yang masih aktif sebagai anggota KPGS.

III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. wilayah Cikajang, Kabupaten Garut yang masih aktif sebagai anggota KPGS. 35 III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 2.1. Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah peternak sapi perah Kelompok Pamegatan wilayah Cikajang, Kabupaten Garut yang masih aktif sebagai anggota KPGS. 2.2.

Lebih terperinci

BAB ΙΙ LANDASAN TEORI

BAB ΙΙ LANDASAN TEORI 7 BAB ΙΙ LANDASAN TEORI Berubahnya nilai suatu variabel tidak selalu terjadi dengan sendirinya, bisa saja berubahnya nilai suatu variabel disebabkan oleh adanya perubahan nilai pada variabel lain yang

Lebih terperinci

ANALISIS DATA KUANTITATIF

ANALISIS DATA KUANTITATIF 1 ANALISIS DATA KUANTITATIF Analisis data merupakan proses pengolahan, penyajian, dan interpretasi yang diperoleh dari lapangan agar data yang disajikan mempunyai makna. A. Tujuan Analisis Data 1. Menjawab

Lebih terperinci

III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. dalam anggota KPBS Pangalengan dan memiliki sapi perah produktif.

III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. dalam anggota KPBS Pangalengan dan memiliki sapi perah produktif. III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1. Objek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah peternak sapi perah yang tergabung dalam anggota KPBS Pangalengan dan memiliki sapi perah produktif. 3.2. Metode

Lebih terperinci

PENYAJIAN DATA. Etih Sudarnika Laboratorium Epidemiologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB

PENYAJIAN DATA. Etih Sudarnika Laboratorium Epidemiologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB PENYAJIAN DATA Etih Sudarnika Laboratorium Epidemiologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB Proses Pengumpulan Data???? Pencatatan Data Numerik Variable Record ID Nama Spesies Hasil Uji HI 1 Ahmad Ayam broiler

Lebih terperinci

UJI PERBEDAAN DUA SAMPEL. Materi Statistik Sosial Administrasi Negara FISIP UI

UJI PERBEDAAN DUA SAMPEL. Materi Statistik Sosial Administrasi Negara FISIP UI UJI PERBEDAAN DUA SAMPEL Materi Statistik Sosial Administrasi Negara FISIP UI Digunakan untuk menentukan apakah dua perlakukan sama atau tidak sama Uji parametrik Uji non parametrik: T- test asumsi: distribusi

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. apa yang akan dipakai pakai, karena dengan hal itu akan mepermudah penelitian,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. apa yang akan dipakai pakai, karena dengan hal itu akan mepermudah penelitian, 31 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian Dalam penyusunan penelitian seorang peneliti harus menentukan metode apa yang akan dipakai pakai, karena dengan hal itu akan mepermudah penelitian,

Lebih terperinci

CONTOH DATA YANG DIANALISIS DENGAN ANAVA SATU JALUR CONTOH DATA YANG DIANALISIS DENGAN ANAVA DUA JALUR

CONTOH DATA YANG DIANALISIS DENGAN ANAVA SATU JALUR CONTOH DATA YANG DIANALISIS DENGAN ANAVA DUA JALUR CONTOH DATA YANG DIANALISIS DENGAN ANAVA SATU JALUR Data Sampel I Data Sampel II Data Sampel III 5 4 7 9 8 5 9 4 6 CONTOH DATA YANG DIANALISIS DENGAN ANAVA DUA JALUR Kategori Data Sampel I Data Sampel

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen. Jenis penelitian ini merupakan penelitian yang bertujuan untuk menilai

Lebih terperinci

OLEH : WIJAYA. FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2009

OLEH : WIJAYA.   FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2009 PERANCANGAN PERCOBAAN OLEH : WIJAYA email : [email protected] FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2009 I. ANALISIS REGRESI 1. 2. Regresi Linear : Regresi Linear Sederhana

Lebih terperinci

Analisis Koefisien Korelasi Rank Spearman

Analisis Koefisien Korelasi Rank Spearman Analisis Koefisien Korelasi Rank Spearman Pengantar Uji Rank Spearman digunakan untuk menguji hipotesis korelasi dengan skala pengukuran variabel minimal ordinal. Uji Rank Spearman diperkenalkan oleh Spearman

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. A. Lokasi, subjek, populasi, dan sampel penelitian. Penelitian ini dilakukan di TKIT An-Nur yang beralamat di TKIT AN-

BAB III METODE PENELITIAN. A. Lokasi, subjek, populasi, dan sampel penelitian. Penelitian ini dilakukan di TKIT An-Nur yang beralamat di TKIT AN- BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi, subjek, populasi, dan sampel penelitian Penelitian ini dilakukan di TKIT An-Nur yang beralamat di TKIT AN- NUR Desa Kertawinangun, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Dalam melakukan sebuah penelitian diperlukan data yang diambil dari lokasi tempat peneliti meneliti. Dalam penelitian juga harus mencantumkan dimana peneliti

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas 13 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ini telah dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Penelitian dilakukan pada bulan November 2013 sampai dengan Januari

Lebih terperinci

VI. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI USAHA PEMBESARAN LELE DUMBO DI CV JUMBO BINTANG LESTARI

VI. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI USAHA PEMBESARAN LELE DUMBO DI CV JUMBO BINTANG LESTARI VI. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI USAHA PEMBESARAN LELE DUMBO DI CV JUMBO BINTANG LESTARI 6.1. Analisis Fungsi Produksi Model fungsi produksi yang digunakan adalah fungsi Cobb Douglas. Faktor-faktor

Lebih terperinci