BAB II ANALISIS DATA
|
|
|
- Shinta Hartono
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II ANALISIS DATA Pada bab dua ini, peneliti membahas dua kajian. Kajian filologis dan kajian isi. Kajian filologis membahas tentang cara kerja filologi berdasarkan penggarapan naskah tunggal yakni metode standar, sedangkan kajian isi membahas tentang suluk atau mistik yang terkandung dalam naskah SDR ini. A. Kajian Filologis Kajian filologis ini digunakan untuk menggambarkan, melukiskan, menuliskan, melaporkan objek penelitian dengan cara mengkritisi teks yang bersih dari kesalahan berdasarkan data yang ditemukan atau sebagaimana adanya. 1. Deskripsi Naskah Deskripsi naskah adalah gambaran secara ringkas dan terperinci mengenai wujud dan fisik naskah maupun isi naskah dengan tujuan untuk mempermudah pengenalan terhadap naskah beserta konteks isinya. Edwar Djamaris (2002: 11) menguraikan bahwa naskah yang sudah berhasil dikumpulkan, segera diolah berupa deskripsi naskah. Hal-hal yang diungkapkan dalam membuat deskripsi suatu naskah menurut Emuch Hermansoemantri (1986: 2), yaitu judul naskah; nomor naskah; tempat penyimpanan naskah; asal naskah; keadaan n askah; ukuran naskah; tebal naskah; jumah baris per halaman; huruf, aksara, tulisan; cara penulisan; bahan naskah; bahasa naskah; bentuk teks; umur naskah; pengarang/ penyalin; asal usul naskah; fungsi sosial naskah; dan ikhtisar teks/ cerita. Deskripsi naskah SDR adalah sebagai berikut : 41
2 42 a. Judul Naskah Naskah ini berjudul Suluk Dewaruci Gambar 27: Judul naskah SDR Berbunyi : Suluk Dewaruci Inilah sampul bagian luar pada naskah. Masih terlihat utuh, tetapi pada jilidan sudah terlihat sobek sedikit, dan pada kertas yang bertuliskan judul juga terlihat sobek sedikit. Judul naskah secara eksplisit juga tersurat pada halaman 1 baris pertama. Gambar 28: Judul naskah secara tersurat Berbunyi : Punika tȇgȇsipun Suluk Dewaruci Terjemahan : Ini arti Suluk Dewaruci
3 43 b. Nomor Naskah Tidak ada nomor naskah pada naskah ini, karena naskah ini merupakan milik pribadi. c. Tempat Penyimpanan Naskah Naskah ini disimpan di rumah Bapak Joko Setiono yang beralamatkan di Jalan Raden Patah, Dusun Jambean, Desa Cekok, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur. d. Asal Naskah Naskah SDR ini awalnya dibeli dari seorang pedagang yang berjualan di pasar loak Gladak, Surakarta, Jawa Tengah. e. Keadaan Naskah Keadaan naskah secara fisik masih baik dan utuh/lengkap. Jilidan pada naskah ini hanya menggunakan benang warna merah, tapi ada yang sobek sedikit pada jilidan. Tidak ada lembaran naskah yang hilang maupun isi naskah yang berlubang. Pada halaman 15 kertas bagian tepi agak rapuh/sobek sedikit. Kertas pada sampul naskah berwarna kebiruan kusam, dengan kertas isi naskah berwarna putih agak kecoklat-coklatan. Pada sampul naskah tertulis judul naskah, yang menggunakan bolpoin warna biru. Akan tetapi, pada isi naskah menggunakan bolpoin warna hitam. Dan terlihat seperti bekas lipatan pada naskah ini.
4 44 Gambar 29: Pemakaian tinta biru pada judul Pemakaian bolpoin biru pada penulisan judul naskah di cover depan. Gambar 30: Penjilidan naskah Penjilidan naskah menggunakan benang warna merah dan terlihat masih rapi. Gambar 31: Bagian tepi naskah Bagian tepi naskah pada halaman 15 sudah agak rapuh/sobek.
5 45 Gambar 32: Bekas lipatan pada naskah Pada naskah yang ditemukan peneliti terlihat adanya bekas lipatan naskah simetris. Gambar 33: Kondisi jilidan naskah Seperti inilah pada jilidan naskah sudah agak sobek sedikit.
6 46 f. Ukuran Naskah 1) Ukuran Kertas Panjang Lebar : 21,3 cm : 17,2 cm 2) Ukuran Teks Panjang Lebar Margin atas Margin bawah Margin kanan Margin kiri : 17,5 cm : 12 cm : 1,7 cm : 2,1 cm : 3,1 cm : 2,1 cm g. Tebal Naskah Tebal naskah ini 0,3 cm dengan rincian halaman sebagai berikut : 1) Cover dalam - 2) Isi naskah 38 halaman 3) Halaman kosong 2 halaman kosong setelah sampul depan Jadi, total halaman pada naskah SDR ada 40 halaman. h. Jumlah Baris Tiap Halaman Jumlah baris tiap halaman pada naskah SDR ada 21 baris, kecuali pada halaman terakhir, yakni halaman 38 ada 23 baris.
7 47 i. Huruf, Aksara, dan Tulisan 1) Huruf yang digunakan dalam naskah SDR ini menggunakan huruf Jawa. 2) Aksara yang digunakan dalam naskah ini memakai aksara Jawa carik miji ketumbar (ngȇtumbar). 3) Tulisan Pada naskah SDR ini tulisannya bolak-balik, rapi, dan jelas. Akan tetapi ada beberapa halaman yang tintanya sudah mulai luntur. Seperti pada halaman 25, 27, 29, dan 35. Hal ini dimungkinkan kualitas tinta yang kurang baik, sehingga mengakibatkan penulisan di verso agak sulit untuk dibaca. Tulisan dalam naskah ini menggunakan style aksara Jawa miji ketumbar (ngȇtumbar) dengan condong ke kanan. Tulisan naskah ini juga menggunakan tinta warna hitam, kecuali pada judul menggunakan tinta biru. Penekanan pena dalam naskah ini tidak menentu, ada yang tipis ada yang tebal. Mayoritas tulisannya cukup tebal dan jelas. Tulisan naskah ini bagus, sehingga mudah dibaca. Halaman juga ditulis dengan aksara Jawa.
8 48 Gambar 34. Penulisan pada naskah Seperti inilah tulisan naskah, terlihat rapi dan jelas. Gambar 35: Penulisan yang mulai luntur tintanya Contoh : pada halaman 27 tulisannya sudah mulai luntur tintanya, akan tetapi masih bisa dibaca.
9 49 j. Cara Penulisan Penulisan teks pada setiap halaman ditulis dengan bolak-balik atau lebih dikenal dengan sistem recto verso, yaitu lembaran naskah yang ditulisi pada kedua halaman depan belakang. Selain itu teks juga ditulis ke arah lebar, dimana teks tersebut ditulis sejajar dengan lebar lembaran naskah, ditulis dari kiri ke kanan. Penulisannya sangat rapi. Gambar 36: Tulisan spidol biru a (halaman 1) Pada halaman 1 di pojok kanan atas terlihat tulisan dengan spidol warna biru, tetapi tulisan itu tidak terlalu jelas dan sulit untuk dibaca. Begitu pula pada halaman 16 dijumpai lagi, akan tetapi tulisan spidol birunya terdapat di pojok kiri bawah. Seperti gambar di bawah ini. Gambar 37: Tulisan spidol biru b (halaman 16)
10 50 Penyisipan ditulis seperti pada di bawah ini: Gambar 38: Penyisipan a Berbunyi: punika dados jasad (halaman 18), penyisipan kata dados ditambahkan di atasnya. Terjemahan : ini menjadi jasad Gambar 39: Penyisipan b Berbunyi:.lajȇng. (halaman 5), penyisipan kata lajȇng ditulis di bawahnya. Terjemahan: selanjutnya Penulisan yang salah jelas dengan adanya coretan. Seperti di bawah ini: Gambar 40: Coretan a (halaman 7)
11 51 Gambar 41: Coretan b (halaman 15) Gambar 42: Coretan c Berbunyi: ing jagada... dan ipun (halaman 16) Terjemahan: di dunia... dan nya Gambar 43: Coretan d Berbunyi: ing ngandhap (halaman 25) Terjemahan: di bawah
12 52 Gambar 44: Coretan e Berbunyi: manjing pangrunguning bapa lan biyang, sabab bapa aningali biyang wus birahi (halaman 31) Terjemahan: memasuki pendengaran bapak dan ibu, sebab bapak melihat ibu sudah bernafsu k. Bahan Naskah Bahan yang digunakan pada naskah SDR ini adalah kertas. Kertas bergaris, tetapi pada kanan dan kiri kertas terdapat garis bantu dengan pensil, sehingga penulisannya rapi. Selain itu kertasnya berwarna putih kecoklatan, sedangkan pada sampulnya berwarna kebiru-biruan. Kualitas kertas cukup baik, akan tetapi kertas ini juga mudah rusak, misalnya pada kertas yg bertuliskan judul naskah yang bagian tepi sudah ada yang sobek, begitu pula pada jilidannya. l. Bahasa Naskah Naskah SDR menggunakan bahasa Jawa Baru ragam krama, akan tetapi di dalamnya banyak ditemukan kata-kata serapan dari bahasa Arab.
13 53 m. Bentuk Teks Naskah ini berbentuk prosa (gancaran). Keseluruhannya terdiri dari 16 bagian, akan tetapi dalam bagian ke-16 bukan merupakan SDR atau tidak ada kaitannya dengan SDR, meskipun masih dalam satu jilidan naskah. Adapun kalimat pada bagian ke-16 yakni: Gambar 45: Bagian terakhir (halaman 38) Berbunyi sebagai berikut : Punika pȇthikan saking Srat Pustakaraja, andikanipun Risang Suyati, Dewi Rugmawati, ingkang pȇpidik wontȇn ing Wukir Mahendra, dhumatȇng buyut, wastana. 1. tapaning ati iku tȇmȇn, sing sapa tȇmȇn atine, adad barang kang kinarȇpake tȇka. 2. tapaning nyawa iku mung eling, sing sapa eling ing dalȇm sadina sapisan kewala, adad barang kang sinȇdya ana.
14 54 3. tapaning rasa iku mung ȇning, sing sapa ngeningakȇn ing dalȇm sadina sapisan kewala, adad kang cinipta dadi. Terjemahan : Inilah kutipan dari Serat Pustakaraja, beliau adalah Risang Suyati, Dewi Rugmawati, yang bertempat tinggal di Gunung Mahendra, kepada buyutnya, bernama. 1. Tapa hati itu bertapa di tingkat hati itu sungguh-sungguh, yang siapa sungguh-sungguh hatinya, maka apa yang diinginkan akan datang. 2. Tapa nyawa itu bertapa di tingkat nyawa itu hanya ingatan, yang siapa selalu ingat di setiap harinya saja, maka apa yang diinginkan ada. 3. Tapa rasa itu bertapa di tingkat rasa itu hanya jernih, yang siapa menjernihkan rasa setiap harinya sekali, maka biasanya yang diinginkan tercapai. Bagian ke-16 ini masih masuk pada naskah halaman 38, akan tetapi bukan bagian dari SDR. Hal ini dapat dibuktikan pada Blog Kyai Sayyid Ahmad Muhammad yang berjudul Pustakaraja Purwa Rahasia Sejarah Tanah Djawa NKRI. Kutipannya sebagai berikut: Dewi Rukmawati dhawuh: He Kupa, salawase kowe tȇmȇn ing ati, saiki wus ora. Jer tapaning ati wus owah, èngȇta yèn: tapaning ati iku tȇmȇn tapaning nyawa iku mung eling tapaning rasa iku mung ȇning Sing sapa ing saben sadina sapisan bae ngeningake rahsa, adat barang kang cinipta dadi Sing sapa ing sadina sapisan eling, samubarang kang kinarsakna tȇka Sing sapa tȇmȇn atine salawase adat barang kang kinarȇpna dadi
15 55 Terjemahan : Dewi Rukmawati berpesan: Hei Kupa, selamanya kamu sungguh-sungguh di dalam hati, sekarang sudah tidak. Bahwa bertapa di hati sudah berubah, ingatlah apabila: Bertapa di tingkat hati itu sungguh-sungguh Bertapa di tingkat nyawa/roh itu hanya ingat Bertapa di tingkat rasa itu hanya jernih Barang siapa di setiap hari sekali saja menjernihkan rasa (perasaan), maka keinginannya akan tercapai Barang siapa setiap harinya ingat, maka apapun itu yang diinginkan akan datang/tercapai. Barang siapa bersungguh-sungguh hatinya selamanya apapun yang diinginkan akan terwujud. Berdasarkan pembuktian tersebut dapat disimpulkan jika bagian ke-16 bukan bagian dari SDR, akan tetapi interteks (mengambil dari Pustakaraja). Jadi naskah SDR hanya terdiri dari 15 bagian. n. Umur Naskah Pada naskah SDR ini belum diketahui umurnya, karena dalam naskah tidak ada keterangan. Akan tetapi jika dilihat dari naskah masih bagus, dimungkinkan naskah ini tergolong naskah muda dan dilihat dari bahasa naskah ini menggunakan bahasa Jawa Baru ragam krama serta penulisan aksara Jawa yang sudah menggunakan aksara rekan (aksara rȇkan).
16 56 o. Pengarang/ Penyalin Tidak ada keterangan pengarang/ penyalin pada naskah ini. Meskipun pada bagian terakhir (bagian 16) naskah tertulis : Punika pethikan saking Srat Pustakaraja, andikanipun Risang Suyati, Dewi Rugmawati, ingkang pȇpidik wonten ing Wukir Mahendra, dhumateng buyut, wastana. Terjemahan : Inilah petikan dari Serat Pustakaraja, beliau adalah Risang Suyati, Dewi Rugmawati, yang bertempat tinggal di Gunung Mahendra, kepada buyutnya. Hal ini tidak menunjukkan adanya pengarang/penyalin pada naskah tersebut. p. Asal Usul Naskah Naskah SDR ini asalnya saya beli dari pedagang (seorang bapak) yang rumahnya di Sangkrah, Surakarta yang berjualan di pasar Loak Gladak, Surakarta. q. Fungsi Sosial Naskah SDR ini berfungsi sebagai piwulang atau pȇpèling, untuk menuju manusia sempurna itu dibutuhkan empat tahap yakni : syariat, tarekat, hakekat, dan makrifat (sembah raga, budi, manah, dan rasa). Sering digunakan dalam wejangan pertunjukan wayang/penyajian wayang. r. Ikhtisar Naskah Naskah SDR menceritakan kisah Bratasena untuk menuju manusia yang sempurna guna menemukan jati dirinya atau pencarian sangkan paraning dumadi asal dan tujuan hidup manusia bisa dikatakan juga manunggaling
17 57 kawula Gusti, untuk itu Bratasena harus mencari Tirta Pawitrasari (Air Kehidupan) yang disebut juga Tirta Pawitra Suci. Dimana termuat amanat ajaran konsepsi manusia, konsepsi Tuhan, dan bagaimana manusia menuju Tuhannya. Kisah perjalanan Bratasena dalam menuju manusia sempurna atau jati diri yang sejati ini dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu : syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. Dalam naskah yang diteliti oleh peneliti hanya berisi secara singkat atau ringkas gambaran perjalanan Bratasena berawal pergi ke Gunung Reksamuka, lalu mengalahkan dua raksasa yakni Rukmaka dan Rukmakala, selanjutnya ke sumur Sigrangga, dilanjutkan pergi ke Samudra Jinȇm (Minangkalbu) dan di sinilah Bratasena bertemu dengan Dewaruci (Dewa berwujud tubuh kerdil). Dimana Air Tirta Pawitrasari yang dicari Bratasena secara eksplisit merupakan penggambaran sumber orang hidup yakni Tuhan sendiri. Dalam cerita ini pengarang secara langsung juga menjelaskan dan menuliskan artinya, contoh, Bratasena sewaktu membunuh naga estri: Bratasena lajȇng mȇjahi naga estri tȇgȇsipun: mȇpȇt nȇpsu kawan prakawis. Terjemahan: Bratasena lalu membunuh naga betina yang artinya: mengendalikan nafsu empat perkara. Dalam naskah ini selanjutnya lebih menyampaikan pengaplikasian perjalanan batin manusia, bagaimana melawan pancamaya yang menggambarkan nafsu manusia dengan diwujudkan cahaya yang berwarna 5 macam, yakni: merah (nafsu amarah), hitam (luamah), kuning (sufiah) dan
18 58 putih (mutmainah). Selain itu, ada penjelasan tentang urut-urutannya alam ada tujuh yakni alam akhadiyat, wahdad, wakidiyat, arwah, misal, ajȇsan, insan kamil. Dalam naskah ini juga memuat hal baik yang perlu dilakukan manusia untuk mendekatkan kepada Hyang Widhi, Sang Kholiq. Inilah yang membedakan naskah ini dengan naskah Dewaruci lainnya. (halaman 22) 2. Kritik Teks Kritik teks adalah menempatkan teks pada tempat yang sewajarnya, memberi evaluasi terhadap teks, meneliti dan mengkaji lembaran naskah, lembaran bacaan yang mengandung kalimat-kalimat atau rangkaian kata-kata tertentu (Darusuprapta, 1984 : 4). Kritiks teks bertujuan untuk menyajikan sebuah teks dalam bentuk yang seasli mungkin dan bersih dari kesalahan berdasarkan bukti - bukti yang terdapat dalam teks, sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Melalui kritik teks inilah peneliti berusaha mengembalikan teks ke dalam bentuk aslinya atau paling tidak mendekati asli, bersih dari kesalahan dan dapat dipertanggungjwabkan (Siti Baroroh Baried dkk, 194 : 61). Berdasarkan hal tersebut peneliti menggunakan pedoman Ejaan Bahasa Jawa Yang Disempurnakan (EYD: 2011), Kamus Kawi-Jawa (C.F. Winter dan Ranggawarsita: 1987), Baoesastra Djawa (Poerwadarminta: 1939), dan sebagainya. Di dalam kritik teks biasanya ditemukan varian-varian dan varian-varian tersebut dalam penelitian dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) jenis, yaitu: a. Hiperkorek yaitu perubahan ejaan karena pergeseran lafal.
19 59 b. Lakuna yaitu bagian yang terlewati atau terlampui, baik huruf, suku kata, kata, maupun kelompok kata. c. Ketidakkonsistenan yaitu penulisan suku kata maupun kata yang tidak konsisten penggunaan huruf/ aksara. d. Korup yaitu bagian teks hilang, akan tetapi bukan karena kerusakan kertas melainkan peneliti yakin bahwa pada teks masih ada kelanjutan. Terjadinya korup pada naskah ini dimungkinkan pengarang istirahat waktu proses menyalin naskah, atau dimungkinkan pada naskah yang akan disalin mempunyai daya magic, sehingga pengarang tidak berani untuk menyalinnya. Pengelompokan varian/ kesalahan pada naskah SDR ini disusun dalam bentuk tabel. Untuk mempermudah dan memahami, maka dibuat singkatan sebagai berikut : No. Hal/ : menunjukkan nomor urut. : halaman/ baris. : edisi teks berdasarkan konteks kalimat. * : edisi teks berdasarkan pertimbangan linguistik. k Edisi : korup pada naskah : bacaan yang telah dibetulkan. Tabel 1: Hiperkorek No Hal/ brs Kata Gambar Edisi 1 1/ 5 Tanahjultarki Tanajultarki*
20 60 2 2/7 Kundur kondur* 3 18/10 Dadtipun datipun* 4 29/18 Sahdad sahadat* 5 30/5 ngȇdad ngȇdat* 6 33/14 Muttak mutlak@ 7 33/18 Wujudtolah wujudolah@ 9 35/12 Wujudte wujude* 10 35/20 Tankala tatkala@
21 /18 Ibulwiyah 12 35/21 ghaibul gaibul* 13 37/3 apȇngale apngale* 14 37/5 Dadtolah datolah* Tabel 2: Lakuna Suku Kata No Hal/ brs Kata Gambar Edisi 1 1/9 Barat ibarat@ 2 8/10 Panggèning panggènaning@
22 /4 Ujudipun wujudipun* 4 32/8 Witaning wiwitaning@ 5 33/19 wakita waskita@ 6 35/20 kèndȇ kèndȇl@ 7 35/21 uwiyah uluwiyah@ Tabel 3: Ketidakkonsistenan No Hal/ brs Kata Gambar Edisi 1 ½ Idayad Idayad* 1/10 Idayat 10/5
23 63 2 6/10 Urip urip* 14/3 Urib 3 3/21 nȇpsu nȇpsu* 7/ 11 napsu 4 11/4 Dat dat* 1/6 dad 1/4 2/19 3/1 7/7 7/14 16/5
24 64 16/21 21/14 23/18 23/18 23/20 24/1 5 7/17 Nasut nasut* 31/7 nasud 6 13/15 gaib gaib* 12/14 ghaib 20/ /21 nabati nabati*
25 65 15/4 nabadti 8 25/14 Mukhamad Mukhamad* 21/18 Mukamad 36/ /9 hakekat hakekat* 7/1 Khakhekat Tabel 4: Kategori Korup No Hal/ brs Kata Gambar Edisi 1 30/6 Kang mo. (tidak berani memberi rekomendasi)k
26 66 3. Suntingan Teks, Aparat Kritik, dan Terjemahan Naskah SDR ini ditulis aksara Jawa carik, maka transliterasi merupakan langkah yang sangat dibutuhkan dalam rangka penyuntingan teks. Suntingan teks adalah menyajikan teks bentuk aslinya atau mendekati aslinya, yang bersih dari kesalahan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat dalam naskah yang dikritisi. Karena naskah ini merupakan naskah suluk, maka dalam naskah banyak ditemukan kata-kata yang berbau arab. Seperti kata : wahdad, akhadiyat, wakidiyat, ajesan, misal, nganansir. Kata-kata tersebut tidak mengikuti ejaan pada kamus dan tetap konsisten penulisannya, sehingga peneliti tidak mengkritisi, akan tetapi pada terjemahan dan selanjutnya peneliti menyajikan kata-kata serapan dari bahasa Arab yang tepat. Aparat kritik merupakan kelengkapan yang menyertai kritik teks sebagai pertanggungjawaban suntingan (Margono, 2011: 51). Dalam penelitian ini untuk mendapatkan suntingan teks yang dapat dipertanggungjawabkan secara filologi, maka suntingan teks, kritik teks dan aparat kritik dilakukan secara bersamaan. Jadi, jika ada kata kata yang dianggap keliru diberi nomor kritik teks. Sedangkan pembetulan yang merupakan apparat kritik diletakkan di bawah teks yaitu berupa catatan kaki (foot note). Dalam hal ini metode yang digunakan ialah metode standar. Metode standar adalah metode yang digunakan dalam penyuntingan naskah tunggal. Di dalam metode standar, penyunting mengidentifikasi sendiri bagian dalam teks yang mungkin terdapat masalah dan menawarkan jalan keluar. Jalan keluar tersebut ialah (1) apabila penyunting merasa bahwa ada kesalahan dalam menyarankan bacaan yang lebih baik, (2) jika terdapat teks yang salah, penyunting
27 67 dapat memasukkan koreksi ke dalam teks tersebut dengan tanda yang jelas dengan mengacu pada aparat kritik dan bacaan asli akan ditandai dan didaftar sebagai naskah (Robson, 1994: 25). Hal ini merupakan suatu bentuk pemikiran pembaca yang mempunyai pendapat atas pembetulan bacaan tersebut. Untuk menyunting sebuah teks, peneliti harus memperhatikan pemenggalan kata, sebab naskah SDR ini berbentuk prosa. Untuk mempermudah pembaca dalam memahami suntingan teks SDR, maka di bawah ini adalah pedoman yang digunakan oleh penulis dalam menyajikan suntingan teks SDR. a. Dalam suntingan teks, huruf kapital digunakan untuk menulis teks nama orang maupun tokoh, nama tempat. b. Pemakaian tanda hubung untuk penulisan kata ulang (reduplikasi) dalam teks. Contohnya: adon adon isèn - isèning c. Sastra laku pada penulisan naskah SDR sangat sering muncul, sehingga perlu penegasan dalam transliterasi, yaitu tidak mengulang konsonan penutup kata yang di depan. Contohnya:
28 68 ing ngidayat ing idayat dhatȇng ngamarta dhatȇng Amarta Untuk mempermudah dalam pembacaan dan pemahaman makna transliterasi teks SDR, maka digunakan tanda-tanda sebagai berikut: a. Angka Arab [1, 2, 3...dst] menunjukkan pergantian lembar halaman teks. b. Angka Arab [ˡ...dst] yang berada di dalam teks menunjukkan nomor kritik teks pada kata yang dianggap keliru. c. menunjukkan bahwa edisi teks berdasarkan pertimbangan konteks kalimat. d. Tanda * menunjukkan bahwa edisi teks berdasarkan pertimbangan linguistik. e. Tanda diakritik (ȇ) dibaca e seperti pengucapan kata wontȇn ada jika bahasa Jawa dan kata teduh dalam bahasa Indonesia. f. Tanda diakritik (è) dibaca e seperti pengucapan kata yèn jika untuk bahasa Jawa dan kata edukasi untuk bahasa Indonesia. g. Tanda diakritik (e) dibaca e seperti pengucapan kata pengin ingin jika bahasa Jawa dan kata teras untuk bahasa Indonesia.
29 69 SULUK DEWARUCI [1]Punika tȇgȇsipun: Suluk Dewaruci kawor suraosipun kalayan ngelmi idayad. Tȇgȇsipun idayad, anȇdahakȇn sawarnining kawontȇnan dad 1 sadaya. Ingkang kawȇdharakȇn saking Tanahjultarki 2. Inggih punika sangkan paranipun dad 3 sajati, supados amȇwahana santosaning panggalih. Dene ingkang kadamȇl bȇbuka suraosipun idayad punika, sawarnining pasȇmonipun ngelmi makripat utawi barat 4. Salajȇngipun dumugi ing idayat 5, sami kocap wontȇn ing ngandhap punika. Ingkang kadamȇl bȇbuka rumiyin, lȇlampahanipun: Bratasena nalika puruhita dhatȇng Dhanghyang Druna. Lajȇng anglampahi sapitȇdahipun, ing ngandhap punika pratelanipun sadaya. Ingkang rumiyin tinȇdah dhatȇng ardi Rȇksamuka, tȇgȇsipun sampun ngambah ing makripat. Lajȇng amȇjahi dȇnawa: Rukmaka, Rukmakala. Rukmaka pȇjahipun dados Bathara Endra. Tȇgȇsipun Endra gunung inggih punika ngibarat badan sakojur, utawi dados wȇwȇnganing betalmakmur. [2] Rukmakala pȇjahipun dados Bathara Bayu, tȇgȇsipun Bayu, betal mukadas. Ingkang kaping tiga, Bratasena dhatȇng sumur Sigrangga, tȇgȇsipun, punika ngibarat kasing badan. Bratasena lajȇng mȇjahi naga estri tȇgȇsipun: mȇpȇt nȇpsu kawan prakawis. Nuntȇn Bratasena kundur 6 dhatȇng Amarta, pamit para kadang badhe anggȇbyur 1 dat* 2 Tanajultarki* 3 dat* 4 ibarat@ 5 idayad* 6 kondur*
30 70 dhatȇng tȇlȇnging samodra. Para kadang sami anggèndholi, tȇgȇsipun: angipatakȇn was-wasing panggalih, angungkurakȇn ing sih katrȇsnan. Kaping gangsal Bratasena anggȇbyur ing sagara Jinȇm, tȇgȇsipun sagara Jinȇm, sajatining Pangeran. Kaping nȇm,lajȇng mȇjahi naga Nȇmburnawa, tȇgȇsipun : ngibarat amȇjahi cipta kaliyan pangrasa. Nuntȇn Sang Dewaruci dhatȇng, inggih punika ngibaratipun dhatȇnging dad 7 sajati. Nuntȇn jȇjagongan kaliyan Dewaruci malih, punika ngibaratipun amratandhakakȇn wontȇn ing ngalam sahir tung- [3] gil dad 8 sipat asma apngal. Nuntȇn manjing ing guwa garba. Kapanggih kaliyan Dewaruci punika wontȇn ing ngalam kabir, tandha bilih botȇn kenging pisah. Guwa garba ngibarating ngalam insan kamil, inggih punika mratandhakakȇn yèn sampurna. Kaping pitu, Bratasena nalika wontȇn guwa garba, aningali samodra tanpa tȇpi, inggih punika wahananipun manah. Kaping wolu, Bratasena aningali cahya gumawang pancamaya namanipun inggih punika wahananing jantung, anglimputi jatining manah, dados pangarsaning sarira. Mila dipunwastani muka sipat, dene kuwasa nuntun sajatining sipat kang linuwih ȇmpanipun wontȇn ing cipta, papanipun wontȇn ing paningal pamiyarsa, pangambȇt, pangraos, pamiraose botȇn kasamaran dènira nȇngȇri sajatining rupa. 7 dat* 8 dat*
31 71 Kaping sanga, Bratasena ningali cahya kawan warni : cȇmȇng, abrit, jȇne, pȇthak, inggih punika wahananing budi, mȇdalakȇn wahananing nȇpsu kawan pra- [4] kawis, ingkang sami dados durgamaning manah. Ingkang cȇmȇng, pandamȇlipun murugakȇn hawaning luwe arip sapanunggilanipun. Ingkang abrit, pandamȇlipun murugakȇn hawaning angkara, kadosta: panasten, dȇduka sapanunggilanipun. Ingkang jȇne, pandamȇlipun murugakȇn hawaning murka, kadosta, pȇpenginan, pakarȇman, kabingahan sapanunggilanipun. Ingkang pȇthak, punika tanpa hawa amung murugakȇn, lobaning kautaman, kadosta: puja brata, sapanunggilanipun. Kaping sadasa, Bratasena ningali urup satunggal darbe sorot wolung warni: cȇmȇng, abrit, jȇne, pȇthak, ijȇm, wungu, biru, dadu: inggih punika wahananing Pangeran, kawimbuhan cahyaning pramana, ing ngandhap punika tȇgȇsipun: Ingkang cȇmȇng mȇlȇs mȇlȇng-mȇlȇng, kados musthikaning bumi, inggih punika nisthaning cipta. Ingkang abrit abra marakata, kados sȇsotya gȇniyara, inggih punika anȇdahakȇn du- [5] sthaning cipta. Ingkang jȇne sumunar, kados rȇtna dumilah, inggih punika nȇdahakȇn doraning cipta. Ingkang pȇthak maya-maya wȇnȇs, kados manikmaya, inggih punika nȇdahakȇn sȇtyaning cipta.
32 72 Ingkang ijȇm ngȇnguwung, kados manik tejomaya, inggih punika nȇdahakȇn santosaning cipta. Ingkang biru muyȇg, kados nilapakaja, inggih punika nȇdahakȇn sambawaning cipta. Ingkang wungu mȇngȇs, kados manik pusparaga, inggih punika nȇdahakȇn sambadaning cipta. Ingkang dadu muncar, kados mirah dlima, inggih punika nȇdahakȇn ewah gingsiring cipta. Kaping sȇwȇlas, Bratasena lajȇng ningali rȇrupan kados tawon gumana, awȇning cahyanipun, punika pramananing suksma, ingkang mimbuhi warna sadaya, anglimputi jagad alit jagad agȇng, sak isèn-isènipun sadaya, inggih punika gȇsangipun saking pramananing rahsa. Kaping kalih wȇlas, Bratasena ningali rȇrupan kados golèk gadhing ingkang kasawang kados pȇ- [6] putran mutyara, mancur mancorong cahyanipun, punika pramananing rahsa, kang amurba amisesa ing ngalam sadaya. Inggih punika gȇsangipun saking Atma. Kaping tiga wȇlas, ningali sipat ȇsa, dede jalȇr dede estri, botȇn arah botȇn ȇnggèn, tanpa rupa tanpa warna, cahyanipun gumilang tanpa wȇwayangan, inggih punika dating Atma, kang kawasa nitahakȇn saliring ngalam sadaya, gȇsang botȇn wontȇn kang anggȇsangi, inggih punika dumunung wontȇn ing urip kita.
33 73 Punika kawikanana lampahing ngelmi kawan prakawis, ingkang sami kinawruhan utawi ingkang sami linampahan, dening para wali, manawi sami sagȇd mirib, sami kasȇbut ing ngandhap punika : Sarengat dunungipun wontȇn ing tutuk, pandamȇlipun dhatȇng pangalȇm tuwin panacad, lampahipun trima, tȇgȇsipun sabar. Tarekat dunungipun wontȇn ing grana, pandamȇlipun dhatȇnging karsa, lawan panampik, lampahipun lila. [7]Khakhekat 9 dunungipun wontȇn ing karna pandamȇlipun dhatȇng kasuran, kaliyan kaajrihan lampahipun tȇmȇn. Makripat dunungipun wontȇn ing netra, pandamȇlipun dhatȇng katrȇsnan kalawan dhatȇng kasȇngitan, lampahipun utami. Dene lampahipun dad 10 punika kawan prakawis wau kakumpulakȇn dados satunggal tȇmȇn, trima, lila, utami. Punika kawikanana, ingkang kawastanan pancabaya, inggih punika napsu 11 kawan prakawis, ingkang nitahakȇn cahya kawan warni, gangsal cahyanipun pramana, ingkang sami dados rancananing dad 12 sajati, kasȇbut ing ngandhap punika : Nȇpsu luamah, ȇmpanipun murugakȇn ngangsa-angsa, ing dȇlahan dados cahya cȇmȇng, dipunwastani ngalam nasut, tȇgȇsipun lali, ing ngriku panggènaning supe, poma dipunèngȇt. 9 hakekat* 10 dat* 11 nȇpsu* 12 dat*
34 74 Nȇpsu amarah, inggih nȇpsu hawa, ȇmpanipun murugakȇn duka lan murka, ing dȇlahan dados cahya abrit, dipunwastani ngalam lahut, ing ngri- [8] ku panggènaning rȇkaos, sabab punika awit sangganging adon-adon sadaya, punika poma-poma dipunpoma. Nȇpsu supiyah, ȇmpanipun murugakȇn supe kaliyan penginan, ing delahan dados cahya jȇne, dipunwastani ngalam jabarut, ing ngriku panggènaning gingsir, poma dipunsantosa. Nȇpsu mutmainah, ȇmpanipun murugakȇn emut, ing dȇlahan dados cahya pȇthak, dipunwastani ngalam malakut, ing ngriku panggèning 13 sumȇrȇp karaton, poma dipunwaspada, karana ing ngriku cahyaning pramana dhatȇng katingal sasi : cȇmȇng, abrit, jȇne, pȇthak, ijȇm, sami anglimputi dating karaton, ananging punika dede sajatosing karaton kang rinakit mahasuci. Punika kawikanana, isèn isèning cahya kawan prakawis, gangsal cahyaning pramana, ingkang sami ngrancana dhatȇng ing kasampurnan jati, kasȇbut ing ngandhap punika, poma dipunsantosa ing galih, sampun ngantos gadhah pamilih salah satunggal. [9]Cahya cȇmȇng kadadosanipun nȇpsu luamah, prabawanipun bumi gonjing, ingkang katingal salȇbȇtipun cahya cȇmȇng punika, sawarnining sato kewan, ing ngriku dipunwastani ngalam nasut, tȇgȇsipun supe, poma dipunèngȇt ing galih. Cahya abrit, kadadosanipun nȇpsu amarah, prabawanipun latu amarab- marab, ingkang katingal salȇbȇtipun cahya abrit, ing ngriku warni danawa brakasakan, 13 panggènaning@
35 75 inggih punika ngalam lahut, tȇgȇsipun sangganging adon-adon sadaya, punika poma dipunsarèh. Cahya jȇne, kadadosanipun nȇpsu supiyah prabawanipun angin agȇng, ingkang katingal ing ngriku warni pȇksi sawarnining ibur-iburan, punika ngalam jabarut, tȇgȇsipun gingsir, poma dipunsantosa. Cahya pȇthak, kadadosanipun nȇpsu mutmainah, prabawanipun toya agȇng. Ingkang katingal ing ngriku sawarnining ulam loh. Inggih punika ngalam malakut, tȇgȇsipun karaton ka- [10] rana ing ngriku wiwitipun sumȇrȇp karaton. Sasirnaning cahya kawan prakawis wau. Nuntȇn cahyaning pramana katingal sarȇng sanalika: cȇmȇng, abrit, jȇne, pȇthak, ijȇm, inggih punika ngalam idayat 14, tȇgȇsipun ȇnggèning nȇdahakȇn karaton satunggil-tunggilipun, kasȇbut kados ing ngandhap punika. Karaton sarwa cȇmȇng, inggih punika karatoning sato kewan, manawi kasȇngsȇm ing paningal badhe dados sato kewan. Karaton sarwa abrit, inggih punika karatoning brakasakan, samara bumi sapanunggilanipun dhanyang, yèn ngantos kasȇngsȇm ing ngriku, botȇn wande dados bangsaning dhanyang. Karaton sarwa jȇne, inggih punika karatoning pȇksi, yèn kasȇngsȇm ing ngriku, botȇn wonde dados pȇksi. Karaton sarwa pȇthak, punika karatoning buron toya, yèn kasȇngsȇm inggih dados buron toya. 14 idayad*
36 76 Karaton sarwa ijȇm, punika karato- [11] ning kȇkayon, yèn kasȇngsȇm ing ngriku, inggih dados lȇlȇmbat kajeng aèng. Sasirnanipun cahya pramana, Nuntȇn dhatȇng cahyaning dat kang awȇning, ingkang katingal ing ngriku, samukawis wȇwarnèn sarwa asri, inggih punika ngalam uluhiyah, tȇgȇsipun ngalam ing pangeran. Nuntȇn katingal cahya mancur, ingkang katingal ing ngriku malaekat, tȇgȇsipun kadosta : Katingal bapa, kaki sapanunggilanipun, taksih ngalam uluhiyah. Nuntȇn cahya mancorong, ingkang katingal ing ngriku widadari, tȇgȇsipun kadosta : katingal biyung, nini, sapanunggilanipun, ingkang nama lȇluhur estri, inggih taksih ngalam uluhiyah. Nuntȇn cahya gumilang tanpa wȇwayangan, tanpa arah tanpa ȇnggèn, tanpa kandha tanpa warna, panggènaning nikmat manpangat rahmat, wontȇn ing ngalam baka, tȇgȇsipun baka, langgȇng, inggih punika panggènaning dat sajati, jumȇnȇng kalawan jȇnȇng kita, inggih ingkang gumilang puni- [12] ka botȇn kalih tȇtiga, amung tunggil sibadènipun. Dene ingkang katingal bapa kaki wau, inggih punika wȇwayanganing dat kang saking lȇluhur jalȇr, ingkang sampun limput - linimputan, tȇtȇp tinȇtȇpan, kaliyan dat kita pribadi. Dene ingkang katingal biyung nini, sapanunggilanipun wau, inggih makatȇn ugi, mratandhakakȇn manawi ingkang wau sampun limput linimputan, dat lawan ingkang mahasuci, lajȇngipun botȇn kenging pisah.
37 77 Punika kawikanana sasirnanipun ing jisim, wangsul dhatȇng asalipun saking cahya, dados nukat ghaib 15, benjing wontȇnipun ing ngalam insan kamil, inggih punika ingkang badhe tumitah, dados jagad malih, tȇgȇsipun inggih wadhag punika: Tumurunipun punika awit ngambah akhadiyat. Lajȇng ngambah wahdad. Lajȇng ngambah wakidiyat. Lajȇng ngambah ngalam arwah. [13]Lajȇng ngambah ngalam misal. Lajȇng ngambah ngalam Ajȇsan. Lajȇng ngambah ngalam insan kamil. Dene panginggilipun awit ngambah ing ngalam Ajȇsan, sapanginggilipun dumugi ing ngalam insan kamil malih. Punika kawikanana, tȇgȇsipun ngalam pitung prakawis wau, wijanging satunggal-tunggalipun kados ing ngandhap punika: Akhadiyat, tȇgȇsipun wiwitaning sawiji, ing ngriku wiwit tumitah, ing dat sawiji. Wahdad, tȇgȇsipun jumȇnȇng sawiji, ing ngriku wiwit jumȇnȇnging dat sawiji, wontȇn ing nukat gaib, tȇgȇsipun nukat,: wiji, tȇgȇsipun gaib,: samar, wontȇn dalȇm manungsa wau. Wakidiyat, tȇgȇsipun wȇkasaning sawiji, inggih punika wȇkasaning sipating dat sawiji. 15 gaib*
38 78 Ajȇsan, tȇgȇsipun jisim, inggih punika sampun kanthi Allah, tȇgȇsipun Allah badan. Misal, tȇgȇsipun upama, inggih punika: [14] kadamȇl sêsilih sipat ingkang mahasuci, wontȇn ing jagad alit, kapurba saking jagad alit: Arwah, tȇgȇsipun roh, tȇgȇsing roh urib 16, inggih punika sampun kapanjingan gȇsang. Insan kamil, tȇgȇsipun sampurna, inggih punika manungsa ingkang sampurna. Dene pramana punika tȇgȇsipun waspada. Nyawa, tȇgȇsipun urip, ingkang gȇsang rahsanipun. Suksma, tȇgȇsipun gaib, ingkang gaib ȇnggenipun, inggih punika nukat gaib. Punika kawikanana wȇwayanganing manah, utawi wȇwayanganing roh, ati satunggil darbe asma pȇpitu, nanging pakaryanipun tunggil, kasȇbut ing ngandhap punika pratelanipun satunggil tunggil: Ati, sir, wȇwayanganing roh jasmani, pandamȇlanipun dados andarbeni karsa. Ati suksma, wȇwayanganing rokhani, inggih roh rabani, pandamȇlanipun dados andarbeni pangrasa. [15]Ati jinȇm, wȇwayanganing roh khewani, pandamȇlanipun dados andarbèni panȇdya kaliyan pangrasa. Ati puad, wȇwayanganing roh nabadti 17, pandamȇlipun dados andarbèni panyana lawan pangesthi. 16 urip* 17 nabati*
39 79 Ati budi, wȇwayanganing roh rahmani, pandamȇlanipun dados andarbeni panggraita lan akal. Ati maknawi, wȇwayanganing roh nurani, pandamȇlipun dados andarbeni cipta. Ati sanubari, wȇwayanganing roh ilapi, pandamȇlanipun dados andarbeni karȇp kaanan sadaya. Punika kawikanana, tȇgȇsing roh pitung prakawis wau, wȇwȇjanganipun satunggil-tunggilipun kados ing ngadhap punika: Roh jasmani, tȇgȇsipun punika jisim. Roh rokhani, tȇgȇsipun punika Pangeran. Roh khewani, tȇgȇsipun punika urip, ingkang gȇsang saciptanipun. Roh nabati, tȇgȇsipun punika cukul. [16] Ingkang cukul rahsanipun. Roh rahmani, tȇgȇsipun punika murah, ingkang murah Apngalipun. Roh nurani, tȇgȇsipun punika cahya, inggih cahyaning dad 18. Roh ilapi, tȇgȇsipun punika wȇning, inggih ingkang gumilang tanpa wayangan, dumunung wontȇn ing jaman insan kamil. Punika kawikanana ngalam kawan prakawis, kados ing ngandhap punika: Ngalam nasut, punika tȇgȇsipun lali. Ngalam lahut, punika tȇgȇsipun rȇnggang. Ngalam jabarut, punika tȇgȇsipun gingsir. Ngalam malakut, punika tȇgȇsipun karaton. 18 dat*
40 80 Ananging dede karaton kang ginawe mahamulya, inggih punika karatoning nȇpsu kawan prakawis, mila dipunwaspada sampun ngantos kasamaran. punika: Punika kawikanana ingkang nama nganansir khak, kados ing ngandhap Dad 19, tȇgȇsipun, kagungan, [17] Sipat, tȇgȇsipun, rupa. Asma, tȇgȇsipun aran. Apngal, tȇgȇsipun, panggawe. Punika kawikanana, ingkang dipunwastani nganansir roh, tȇgȇsipun nganansir gȇsang, kados ing ngandhap punika: Wujud, tȇgesipun rupa, inggih punika gȇtih, Ngelmu, tȇgȇsipun punika, paningal, Nur, tȇgȇsipun punika cahya, Suhud, tȇgȇsipun punika saksi, inggih punika napas. Dene ing benjang ingkang rinacut rumiyin, punika: wujud. nuntȇn, : ngelmu, nuntȇn,: nur, nuntȇn,: suhud. Punika kawikanana, ingkang winastanan nganansir jagad, kados ing ngandhap punika: Ingkang tumitah rumiyin, punika banyu, tȇgȇsipun rah kaliyan riwe. Kaping kalih latu, tȇgȇsipun inggih punika nȇpsu kaliyan cahya. 19 dat*
41 81 Kaping tiga angin, tȇgȇsipun punika napas. [18]Kaping sakawan bumi, tȇgȇsipun punika dados jasad, utawi kulit daging. Benjang ingkang rinacut rumiyin banyu, nuntȇn,: gȇni, nuntȇn,: angin, nuntȇn,: bumi. Punika kawikanana, ingkang winastanan nganansir sipat, inggih sipat ingkang mahasuci, ing mangke kawȇdharakȇn satunggil - tunggilipun, kasȇbut kados ing ngandhap punika: Sipat jalal, tȇgȇsipun agung, ingkang agung dadtipun 20, mila dipuntȇmbungakȇn agung, amargi tanpa wȇwangȇnan, awit botȇn lukak, botȇn wuwuh, kawasa nglimputi ing jagad sadaya, inggih punika wontȇnipun amung langgȇng. Sipat jamal, tȇgȇsipun elok, ingkang elok sipatipun, mila sipatipun katȇmbungakȇn elok, amargi dede jalȇr, dede estri, botȇn rupa, botȇn warna, botȇn arah, botȇn ȇnggèn, dumunung wontȇn ngalam baka, tȇgȇsing baka langgȇng. Sipat khahar, tȇgȇsipun wisesa, ingkang wisesa asmanipun, mila asma dipunbasakakȇn wisesa. [19] Inggih punika ingkang nama amurba, amisesa kang kawasa. Sipat kamal, tȇgȇsipun sampurna, ingkang sampurna apngalipun, tȇgȇsipun sampurna mulih, mila katȇmbungakȇn sampurna, awit sampun botȇn bȇbadhe malih, inggih punika karsa Hyang Wisesa jumȇnȇng kalawan sibadènipun. Punika ambuka suraosipun, ngelmu gaib ingkang dumunung wontȇn ing manungsa, sadaya kang wontȇn salȇbȇting badan, sajawining badan kang kangge 20 datipun*
42 82 pasȇmon para nabi, para wali, para majȇnun, para ratu, para oliya, ing ngandhap punika maknanipun utawi tȇgȇsipun. Utawi ingaranan ingsun iku, kahanan kang tunggal kang mahasuci, kang ora kawoworan. Utawi ingsun iku ; ȇnggon kang langgȇng ora paran - paran iya ingsun iki ratu kang mulya tur kang sampurna; tȇgȇse ananing- [20] sun iki, kang ora wiwitan suwung; ya ingsun iki kang tȇrtamtu ing eling-eling sadurunge ana. Sawise ana tȇgȇse eling kang dumȇling; kang eling sangkaning ora. Yaiku kang jumȇnȇng ingsun. Kang tȇmtu ajaling urip sadaya; duk awing - awang uwung - uwung durung dumadi, ananingsun dhewe kang jumȇnȇng tȇka samȇngko; utawi kang dados ugȇring eling iku ngelmu ngalim maklum, tȇgȇse kawruh angawruhi, kinawruhan, sakpanunggilanipun sadaya. Inggih punika ingaranan wiwitaning sih. Wahyu lan nugraha kang ghaib 21 ing Allah tangala tuwin para ratu, kang saèstu dados pȇpingitan, para Nabi, para wali, para mukmin, para majȇnun, para ratu oliya, para manungsa sadaya; utawi kawruh punika, anane lan orane, inggih punika ȇngsih wastanipun. Utawi ingkang ngawruhi iku, tȇtȇp aning ȇnȇng lan ȇning, sapanunggilanipun sadaya, inggih punika wahyu wastanipun. Utawi kang kinawruhan iku, ingaranan sȇpi, samar, samun, suwung, sapanunggilanipun sadaya, inggih [21] punika nugraha wastanipun, iku poma - poma aja sak aja mosik; inggih punika patrapipun ngelmu kraton kang luwih sampurna; inggih punika ingaranan kalimah tokit, tȇgȇse iku ora ana karȇpe kang akèh - akèh, ananging sawiji elinge. Saèstune karȇp kang sawiji: iya iku rasaning ngelmi. 21 gaib*
43 83 Utawi tȇgȇsipun kawan prakawis punika, pangucap, pangambu, paningal, pamiyarsa, ing ngandhap punika dunungipun. : Sir, sangkaning pangucap: dadining bumi, ananing sabda, nȇnging pangucap jatine Pangeran, nyatane rasullolah, kumpuling roh kabèh, tȇtȇping wiji, dad 22 pȇt yaiku sangkaning paran, langgȇng amurba amisesa. Karsa, sangkaning pangganda,: dadining angin, paraning pangambu, nyatane kȇrasa, nȇnging pangganda, jatining mahasuci, nyatane Mukamad 23, kumpuling urip kabèh, tȇtȇping sih, dat lȇs iya iku tan sangkan tan paran-paran, langgȇng kang murba kang misesa. [22]Obah, sangkaning paningal, dadining banyu, paraning wulan, nyatane suci, nȇnging paningal jatining Allah, nyatane Nabiyolah, kumpuling rupa kabèh, tȇtȇping wahyu, dat tap, iya iku tan sangkan tan paran-paran, langgȇng murba wasesa. Osik, sangkaning pamiyarsa, dadining gȇni, paraning srȇngenge, nyataning pangrungu, nȇnging pamiyarsa, jatining jumȇnȇng, nyataning tunggul, kumpuling suwara kabèh, tȇtȇping nugraha, datanpa sangkan tan paran langgȇng kang murba amisesa. Utawi uriping kandha, uriping warna, uriping ganda, uriping rasa. Tȇgȇsipun kandha, pamirȇng. Tȇgȇsipun warna, paningal. Tȇgȇsipun ganda, pangambu. 22 dat* 23 Mukhamad*
44 84 Tȇgȇsipun rasa, pangucap. Uriping jȇsmani. Tȇgȇse sabda iku pangucap sapisan kang nyata. Dene kang pȇpitu iku padha mahasuci kabèh. Utawi kang sinȇbut mahasuci mau, satunggi- [23] l mahasucining kandha. Kalih mahasucining warna. Tiga mahasucining ganda. Sakawan mahasucining rasa. Gangsal mahasucining urip. Kaping nȇm mahasucining rupa. Kaping pitu mahasucining sabda. Utawi tuduhing guru, kang kawan prakawis punika, ana, ora,sira, pȇsthi. Ana, dèn anakakȇn ananing dhewe. Ora, iku ora pisan-pisan, ora ana ananing dhewe. Sira, tȇgȇse sakawula, ingsun tȇgȇse sagusti. Utawi wȇkasaning urip punika, urip pitung prakawis kang kasȇbut ing ngajȇng wau. Tȇgȇse ingaranan pati, iku patȇmoning dad 24 pȇt. Tȇgȇse dad 25 pȇt, iku, nȇnging pangucap. 24 dat* 25 dat*
45 85 Dad 26 plȇng iku nȇnging pamiyarsa. Milanipun ingaranan pati iku, dening wus pa- [24] titis, patȇmoning dad 27 kawan prakawis, inggih punika sampurnaning pituduhing guru. Utawi sih wahyu nugrahaning iku,tȇgȇse sih tȇtȇping ganda, nyataning angin Pangeran tȇtȇping antara. Wahyu tȇgȇse padhanging paningal, nyataning banyu jatining Allah. Nugraha, tȇgȇse pamiyarsa jatining gȇni, nyatane nabiyolah. Pangeran tȇgȇse pangucap, jatining bumi, nyatane rasullolah. Utawi ingkang botȇn arah, botȇn ȇnggèn, botȇn warna, botȇn kandha. Punika tȇgȇsipun, kang botȇn ȇnggèn tȇgȇsipun bumi. Kang botȇn arah tȇgȇsipun angin. Kang botȇn warna tȇgȇsipun banyu. Kang botȇn kandha tȇgȇsipun gȇni. Utawi bangsa kawan prakawis malih kang binasakakȇn, : suwung, samun, sȇpi, samar. Tȇgȇsipun suwung jurang. [25]Tȇgȇsipun samun, ara-ara. Tȇgȇsipun sȇpi, gunung. Tȇgȇsipun samar, sagara. Ing ngandhap punika nyatanipun sadaya. 26 Dat* 27 dat*
46 86 Suwung, pangucap, Samun, pangganda, Sȇpi, paningal, Samar, pamiyarsa. Punika inggahipun kawan prakawis malih, rapal makna murat utawi raosipun, ing ngandhap punika nyatanipun : Sir, tȇtȇping, karsa, Pangeran arane. Warna, tȇtȇping kandha, Allah, Kandha, tȇtȇping warna, Mukhamad, Yèn karsa tȇtȇping sahrasa, rasullolah arane. Yèn kandha, warna, amburasa, tȇtȇping urip Pangeran arane. Yèn urip tȇtȇping Pangeran, mahasuci arane. Yaiku kang ora wiwitan kang ora wȇkasan. [26] Lagi kahananing kadim, salawase anglimputi ing jagad iku kabèh. Punika inggahipun malih, ingkang aran kawula punika, pola, ing ngandhap punika tȇgȇsipun kawula. Cipta, ripta, rasa, kȇrasa, bumi tekate. Ing ngandhap punika buntasipun pindhah kawan prakawis. : Utawi kang aran di rumangsa, Di aja rumangsa, Di waspada,
47 87 Di aja wȇruh, Iku rumangsane dening wis kawimbuhan, sih wahyu nugrahaning Pangeran, ora rumangsa pisan-pisan, yèn anduwenana kang anyar kabèh, iki kagunganing Pangeran. Bisa di waspada iku, dèn awas ing sangkan parane, wis ora sak mamang. Dene basa diaja wȇruh iku, kang ora dèn kawruhi sarupane kang bangsa anyar kabèh, wis ora pisan yèn ngawruhan. [27]Utawa basa di rumangsa, di waspada iku, tuduh kang bȇnȇr, lan wȇkase kang tȇmȇn, iku kang aran sajatining tȇmȇn iku guru. Utawi wijènipun kawan prakawis punika ujudipun 28 : Sir, sampurnaning ngȇlȇd-ȇlȇdan, nȇpsune luamah, pangidhȇpe rasullolah, lungguhe ing eling. Osik, sampurnaning jȇjiling, kumpule ing rȇmpȇla, nȇpsune amarah, pangidhȇpe ing Allah, lungguhe ing cipta. Obah, sampurnaning rai, kumpule ing jajantung, nȇpsune supiyah, pangidȇpe ing Pangeran, lungguhe ing tekat. Karsa, sampurnane ing utȇk, kumpule ing pusȇr, nȇpsune mutmainah, pangidhȇpe Mukhamad, lungguhe ing budi. Utawi kang kocap ing ngajȇng punika, kang bangsa anyar lan kadim, kang bangsa kawula lan Gusti, kang bangsa batin lan lair. Utawi kang bangsa suh sirna, iku tan ana kang 28 wujudipun*
48 88 [28]kȇrasa, amung rasaning kitab, dene kang suh sirna iku, kang katon karungu lan sak rupane sawiji-wiji kabèh, iku tan ana rasa, iku amung rasa pangrasa kȇrasa, amung rasaning kitab, iku sajatine tan prabeda rasane, tan prabeda rupane. Utawi kang ingaran sajatining manungsa iku, wong kang wis ngawruhi ing wiwitane ana, tumȇka maring anane ing samȇngko, tumȇkane ing ora anane ing wȇkasan, yaiku kang jumȇnȇng manungsa, sajatining manungsa. Utawa bangsa limput-linimputan iku, tȇgȇse wȇngi lan rina, sore lan esuk, suruping wȇngi kalimputan raina, suruping esuk kalimputan ing sore. Utawi sampurnaning wȇngi iku pȇtȇnge, Utawi sampurnaning rina iku padhange, Utawi kang dados antaraning wȇngi lan raina, esuk antaraning raina, sore antaraning wȇngi. Utawa antaraning sakawan punika, dhewe- [29] dhewe, Ora ana rina lan wȇngi, esuk lan sore, iku kanyataaning donya. Utawi yèn ora ana, esuk, sore, rina, wȇngi, kadim lan anyar, Gusti lan kawula, tȇgȇse dhewe - dhewe. Ora ana kawula dadi Gusti, Gusti dadi kawula. Ananging ana kalane limput-linimputan. Anyar anglimputi kadim, kadim anglimputi anyar, Gusti kalimputan ing kawula, kawula kalimputan ing Gusti.
49 89 Utawi karone iku padha kanyataan kabèh, kadim aningali anyar, anane anyar tȇka kadim, kang nganakakȇn. Nyatane Gusti, ananing kawula, lan ananing kawula kanyataaning Gusti. Utawi kang wus kocap ing ngajȇng wau sadaya, rasaning martabat sanga, lan rahsaning sahdad 29, lan rasaning kamuksan, lan rasaning kamulyan, kabèh iku prabot. Utawi kang sak bȇnȇre, satuhune kang kak, [30]ora aningali, ora tiningalan. Ora rumangsa, ora karasa, Dene pȇpungkasane iku, ora anȇmbah, ora sinȇmbah, ora muji, ora pinuji. Yaiku jumȇnȇng asma anane ngȇdad 30 kang wajibul wujud, kang wajib anane, kang mo 31 Utawi tȇgȇse kaprawiran kaluhuran. Tȇgȇse kaprawiran iku gȇni lan angin, sabab ora ana kang bisa nyirnakake kaya gȇni lan angin. Utawi kaluhuran iku tȇgȇse bumi lan banyu. ȇndi kang bisa awèh pangan iku nyatane luhur. Sapa kang bisa nyirnakake, yaiku nyatane luhur prawirane. Utawi nyatane sipat rahman, lan sipat rahkim Tȇgȇse sipat rahman iku bumi lan banyu. 29 sahadat* 30 ngȇdat* 31..(tidak berani memberi rekomendasi)k
50 90 [31]Sakrupaning thuthukulan kabèh mȇtu saka bumi, urip tȇka banyu. Dene tȇgȇsipun sipat rahkim punika angin lan gȇni, ȇndi nyatane, dene tariktinarik, kaya mȇntah matȇng tȇka gȇni, tȇlȇs aking tȇka angin, yaiku nyatane sipat rahkim lan rahman. Utawi kang cinatur wau sadaya, kasugihaning Allah, yaiku wajib bikak. Sampun ngantos sȇmang-sȇmang, gȇni pun lair tumȇka ing batos. Yèn botȇn dèn kawruhi sadaya, manawi salah surup, gȇni pun nekatakȇn, pupusing wiji-wiji kang wit-witing kang mȇdharakȇn bangsa kang kathah sadaya pȇsthi dèn tȇkatakȇn, ing lair tumȇkèng batin. Utawi wiwitaning alam nasud 32 iku, dados wontȇn pangucaping kaki, sabab kapanjingan cahya kang muklis, dening anak wus birahi. [32]Utawi wiwitaning alam malakut iku dados cahya kang muklis, manjing pangrunguning bapa lan biyung, sabab bapa aningali biyang wus birahi. Utawi wiwitaning alam jabarut punika, dados cahya kang muklis, manjing patȇmoning bapa lan biyang, kalaning pangantèn, sabab bungah karȇpe bapa lan biyang, lanang wadon. Utawi witaning 33 alam arwah punika, dados wontȇn sawang-sinawang, ing bapa lan biyang, sabab cahya kang muklis, manjing wontȇn rasaning johar. Utawi wiwitaning alam lahut punika, dados cahya kang muklis, sabab manjing liringing bapa lan biyang, sabab wus kapanjingan rasaning roh ilapi. 32 nasut* 33
51 91 Utawi cahya kang muklis panjinge wontȇn alam lahut, coplok sabab sampun campuh ing tingaling bapa lan biyang, dene cahya kang coplok saking ing alam lahut, punika manjing ing alam uluwiyah dados cahya kang muklis, punika gumantung tanpa canthelan, kang gumilang gilang kang waspada ing pribadènipun, utawi badhe nyatakakȇn kuwasaning mȇtu nur rasaning u- [33] rip, Dene kang nampani rasaning roh ilapi, tȇka roh ilapi manjing suwung bapa lan biyang. Utawi cahya kang wontȇn ing suwung punika, dados rasa tȇtiga, kang kawȇngku rasaning suwung iku bakal dados paningal kita. Utawi rasaning khak datolah, kang kawȇngku ing ratu kawan prakawis, punika tȇgȇsipun dados pangambu kita. Utawi rasaning sir, kang kawȇngku mosiking kalamolah, punika dados pangrungu kita. Utawi rasaning jumungah kang kawȇngku wontȇn ing sunat panyarok iku, dados pangucap kita. Utawi rasaning dad muttak 34, kang kawȇngku ing akhadiyat, dados tokit kita. Utawi rasaning johar awal, kang kawȇngku ing wahdad iku, dados napas kita. Utawi rasaning wujudtolah 35, kang kawȇngku ing wakidiyat iku, badhe dadosya wakita 36. Utawi cahya kang muklis, mȇnȇng wontȇn wakidiyat, dening badhe nyatakakȇn rasaning wujudolah* 36
52 92 [34]wujud mokal kang kawȇngku ing jisim alus, mangka lairing wujud meh mokal, dados rasaning mani, lan manikȇm, kang kawȇngku rasaning kalimah loro, dados ngalam, tȇgȇse dados kulit kita. Tȇgȇse alam ajȇsan, dados daging kita. Tȇgȇse alam misal, dados gȇtih kita. Tȇgȇse alam arwah, dados balung kita. Inggih punika laire kalimah kalih, dados alam kawan prakawis. Dununge wujud kita: utawi cahya kang muklis. Angsalipun kendȇl wontȇn ing wakidiyat, amawas gone nyatakakȇn ing kanyataan. Sarȇng dados coplok saking kalairaning jabang bayi, kang muklis iku manjing barȇng panangising jabang bayi, inggih punika wȇkasaning kawruh. Utawi osik punika minangka dados kadhatoning alam arwah, tȇrus rasaning johar, kang mȇngku urip kita, pitung prakawis. [35]Dening urip pitung prakara iku kasrah marang roh ilapi. Dununge wontȇn gène salat kajat sak rȇkangat, tanpa sujud tanpa rukuk, tanpa puji, tanpa dhikir,wontȇn ing alam lahut. Yèn kita turu, yèn kita mȇlèk, dununge wontȇn ing alam sulbi, tȇrus ing dhadha kita, salate kajat kang ngangge sujud rukuk.
53 93 Dununge salat panȇkung wontȇn ing alam uluhiyah: punika salate: salatun dakim mulakhak, yahu analkak, yahu-yahu, yahu sakkamalakak-kamalakak wujudte 37, lah ngali makripattolah. Utawi lakune roh iku dèn kawruhi, pancate ing lawang siji-sijine, waspadaning wȇkasan kita tumȇkaning sajati. Tatkala kèndȇl, roh iku: wontȇn ing alam nasut, ingaranan roh ibulwiyah 38, pujine: lamaujud dailolah. Tankala 39 kèndȇ 40 roh iku: wontȇn alam malakut, ingaranan roh ghaibul 41 uwiyah 42, puji- [36]ne: lamakbud daillollah. Tatkala kèndȇl roh iku: wontȇn ing alam arwah, ingaranan roh kudus, pujine : layatkuru laailollah. Tatkala andungkap ing alam lahut, ingaranan roh ilapi, tanpa puji, tanpa dhikir, amung arȇp paningale dhewe, iku ingaranan sih nugraha. Sirolah sirasa rohku: rasaku Allah, amurba rasaning dumadi kabèh. Rasaku rasa Mukamad 43, anyamadi rasaning dumadi kabèh. Ya ingsun kumpuling rasa, rasaku rasa wasesa, amȇsesani kang dumadi kabèh. Ya ingsun witing rasa, anaku ananing rasa, rasaku rasullolah, ajȇjuluka arolah; ajȇjuluk jalallolah, anglȇbur sakèhing kang ala, ya rasa ya rasullolah. 37 wujude* 38 uluwiyah@ 39 tatkala@ 40 kèndȇl@ 41 gaibul* 42 uluwiyah@ 43 Mukhamad*
54 94 Punika ngelmu kang linarangan para Nabi, para wali, para mukmin sadaya. Tȇgȇse kang ingaranan urip iku, ȇ-[37]nȇnge sadurunge ana sir. Tȇgȇse sadurunge ana karsa, iya iku kang sampurna: apȇngale 44. Ana dene sir iku nyatane rasa, ingsun yaiku dadtolah 45. Tȇgȇse rasa iku nyatane aling ingsun, yaiku sipatollah. Kang ingaran roh ilapi iku, kaya rupa nyata ing dalȇm sadurunge kita nyata, yaiku hakekat mukamaddiyah arane, lan ya ta rupa ing dalȇm maknawiyah iku : roh arane kakat manungsa arane. Dene kang aran ayat sabitah iku cahya, yaiku cahya kang luwih adi-adi, tȇgȇse rupa sadurunge nyata. Tȇgȇse roh ilapi, kanyataane sajroning soca, yaiku kang mahasucining Pangeran. Punika prȇnahing pati, kang datolah prȇnahe rupȇk, sȇbute : hu hu hu hu hu hu: yaiku sahadate dhewe. [38]Dene prȇnahe turu iku sipatollah, prȇnahe wus pȇrak, iku prȇnahing Allah, yaiku sirnaning sipat kabèh. Dene prȇnahe sȇmbahhyang iku ingkang nama Allah, prȇnahe ingkang ngalȇkah, iya iku antaraning muni lan mȇnȇng, yaiku antaraning Gusti lan kawula. Punika panglȇburan badan, sarta tekatipun pisan, ing patine. Punika sȇbutanipun: Alah lȇbur badan dadi nyawa, lȇbur nyawa dadi cahya, lȇbur cahya dadi roh ilapi, lȇbur roh ilapi dadi rasa, lȇbur rasa dadi sir, sirna mulih marang datolah, urip tan kȇna ing pati, urip salawase. 44 apngale* 45 datolah*
55 95 Terjemahan [1] Ini artinya : Suluk Dewaruci yang berisi tentang petunjuk ilmu. Artinya petunjuk, menerangkan tentang beradanya alam semua Dzat. Yang akan dibedah isinya dari Tanazultarki. Yaitu asal dan tujuan dzat sejati, agar bisa kuat hatinya/kuat batinnya. Sedangkan yang dibuat untuk pembuka petunjuk maksudnya itu, penjelasan berbagai macam ilmu makrifat atau ibarat. Selanjutnya hingga sampai petunjuk, sama-sama mengucap berada di bawah itu. Ini permulaan/awal, perjalanannya: Bratasena ketika berguru kepada Dhanghyang Druna, selalu menjalani nasihatnya, di bawah ini semua ceritanya. Yang pertama ditunjukkan ke gunung Reksamuka, artinya mulai memasuki alam makrifat. Lalu membunuh raksasa: Rukmaka, Rukmakala, matinya Rukmaka menjadi/berubah Bathara Endra. Artinya Endra gunung, yaitu ibaratnya semua tubuh, atau jadi cahayanya Baitul Makmur. [2] Rukmakala terbunuh menjadi Bathara Bayu, artinya angin, Baitul Muqadas. Yang ketiga, Bratasena datang ke sumur Sigrangga, artinya itu ibarat kesentosaan atau keperkasaan badan. Bratasena lalu membunuh naga betina yang artinya: mengendalikan empat nafsu perkara. Lalu Bratasena pulang ke Amarta, berpamitan dengan saudara karena dia akan masuk di tengah samudra. Saudara-saudaranya tersebut tidak setuju dan samasama memegang erat-erat, artinya yang menyingkirkan atau menghilangkan perasaan khawatir, sebagai bentuk pengendalian rasa kasih sayang.
56 96 Yang kelima Bratasena masuk ke dalam samudra Jinem, artinya segara Jinem, yaitu hakikat atau sejatinya Pangeran. Yang keenam, lalu membunuh Naga Nemburnawa, artinya ibarat Bratasena dapat membunuh pikiran dan perasaan. Lalu Sang Dewaruci datang, yaitu ibaratnya Dzat sejati datang. Lalu bercakapcakap dengan Dewaruci lagi, ibaratnya itu menandakan di alam sunyi sen- [3] dirian Dzatnya. Lalu masuk di dalam perut. Bertemu dengan Dewaruci itu berada di alam Kabir, tanda jika tidak dapat pisah. Perut ibarat alam manusia sempurna, yaitu menandakan jika sempurna. Yang ketujuh, Bratasena ketika berada perut, melihat samudra tiada batas, yaitulah menerangkan perjalanan hati. Yang kedelapan, Bratasena melihat cahaya bernama Pancamaya, yaitu menerangkan jantung, yang meliputi hakikat/sejatinya hati, yang menjadi pimpinan badan. Maka dari itu dinamakan sifat awal (muka sifat), yang kuasanya menginginkan sifat sejati yang lebih berada di pikiran, tempatnya di penglihatan, penciuman, perasan, yang tidak samar itu menandakan sejatinya dia. Yang kesembilan, Bratasena melihat cahaya empat warna : hitam, merah, kuning, putih, yaitu yang menerangkan tentang sikap, memberi keberadaan nafsu empat per- [4] kara, yang bersama-sama menjadi halangan, godaan atau bahayanya hati. Yang hitam, pekerjaannya menyebabkan rasa lapar, terasa mengantuk dan sejenisnya. Yang merah, pekerjaannya menyebabkan angkara murka, seperti: iri hati, pemarah dan sejenisnya.
57 97 Yang kuning, pekerjaannya menyebabkan hawa kemurkaan, seperti: banyak keinginan, yang disukai bersuka ria dan sejenisnya. Yang putih, tanpa hawa nafsu hanya menyebabkan, murka atau serakah terhadap keutamaan/kebaikan, seperti: bertapa, selalu berdo a kepada-nya, dan sejenisnya. Yang kesepuluh, Bratasena melihat suatu cahaya yang nyala berkilau delapan warna: hitam, merah, kuning, putih, hijau, ungu, biru, merah muda: yaitu menerangkan Pangeran/Allah, ditambah cahayanya terang/cerah, di bawah ini artinya: Yang hitam sangat gilap, seperti mustika/kelebihannya bumi, yaitu merendahkan pikirannya sendiri. Yang merah sangat gemerlapan, seperti api yang membara, yaitu menunjukkan ke-[5] licikan pikiran. Yang kuning bersinar, seperti intan bercahaya, yaitu menunjukkan jahatnya pikiran. Yang putih bersih, seperti putihnya mata, yaitu tanda setianya pikiran Yang hijau berkilau, seperti cahaya manikmaya, yaitu menandakan sentosa/ tentramnya pikiran Yang biru, seperti nilapakaja, yaitu menerangkan jalannya pikiran. Yang ungu semu hitam gilap, seperti manik pusparaga, yaitu menandakan pikiran yang sabar. Yang merah muda, seperti merah delima, yaitu menandakan perubahan pikiran.
58 98 Yang kesebelas, Bratasena lalu melihat seperti tawon gumana (anak tawon), cahayanya sangat cerah, ini pramananing suksma, yang menambahi semua warna dunia ini, yang meliputi jagad/ dunia kecil dunia besar, seisinya semua, yaitu makmurnya dari pramananing rahsa. Yang kedua belas, Bratasena melihat wajah seperti golèk gadhing (boneka gading) yang terlihat seperti [6] mutiara, cahayanya mencolok/ sumorot, ini pramananing rahsa, yang berkuasa menciptakan segala sesuatu semua di alam. Yaitu kehidupan dari Dzat atma. Yang ketiga belas, melihat sifat Esa, bukan laki-laki, bukan perempuan, tidak berarah tidak bertempat, tanpa rupa, tanpa warna (tak jelas raut wajahnya), cahayanya berkilau tanpa bayangan, yaitu Dzat atma, yang berkuasa menciptakan ke semua alam, hidup tidak ada yang menghidupi, yaitu semua berada di dalam pada hidup kita sendiri. Maka ketahuilah jalannya ilmu empat perkara, yang sama-sama harus diketahui atau yang harus dijalani, oleh para wali, atau yang sama-sama bisa mirip dengan wali, yang akan disebut di bawah ini: Syariat yang bertempat di mulut, yang pekerjaannya sebagai pemberi simpati/ ucapan yang baik dan pemberi cacat/ ucapan yang menyakitkan, jalannya menerima, artinya sabar. Tarikat yang bertempat di hidung, yang pekerjaannya berkehendak dan menerima, jalannya ikhlas. [7] Hakikat yang tempatnya di telinga yang pekerjaannya berani dan ketakutan yang jalannya kejujuran.
59 99 Makrifat yang tempatnya di mata, yang kerjanya mencintai dan iri hati, yang jalannya utama. Lalu jalannya Dzat itu ada empat perkara tadi yang jika disatukan jadi satu, kejujuran, pasrah/ sabar, ikhlas, utama. Maka ketahuilah, yang menjadi marabahaya/godaan, yaitu adanya empat macam nafsu, lima cahaya yang terang, yang jadi rencana dzat sejati, yang akan di bahas di bawah ini: Nafsu luamah, yang menyebabkan serakah, di akhirat nantinya menjadi cahaya hitam, yang dinamakan alam nasut, artinya lupa, di situ tempatnya kelalaian, oleh karena itu harus diingat. Nafsu amarah, yaitu nafsu panas, yang menyebabkan marah dan keserakahan, yang nantinya menjadi cahaya merah, yang dinamakan alam lahut, di si- [8] tu tempat yang sulit, sebab itu datangnya dari sikap, oleh karena itu harus waspada. Nafsu supiyah, yang menyebabkan lupa dan keinginan, yang nantinya jadi cahaya kuning, yang dinamakan alam jabarut, di situ tempat yang harus disingkirkan, agar sentosa. Nafsu mutmainah yang menyebabkan ingat, yang nantinya menjadi cahaya putih, yang dinamakan alam malakut, di situ tempatnya mengetahui istana, harap tenang dan hati-hati, karena di situ cahaya pramana yang datang terlihat: hitam, merah, kuning, putih, hijau meliputi Dzat istana, tetapi itu bukan sejatinya istana yang diatur oleh yang Mahamulia.
60 100 Maka ketahuilah, isi-isinya empat perkara, lima cahaya cerah, yang bisa menuju ke kesempurnaan diri, yang disebutkan di bawah ini, yang membuat damainya hati, sudah sampai punya pilihan salah satunya. [9] Cahaya hitam seperti nafsu luamah, yang kekuatannya di gerakan bumi, yang terlihat di dalamnya cahaya hitam itu, berbagai binatang, disitu yang dinamakan alam nasut, artinya lupa, ketika lupa harap ingat di hati. Cahaya merah, seperti nafsu amarah, bentuknya seperti nyala api besar, yang terlihat di dalam cahaya merah, disitu berbagai macam serba kasar, yaitu alam lahut, artinya yang buat kerusuhan semua, ketika mengalami harap sabar. Cahaya kuning, seperti nafsu supiyah yang bentuknya seperti angin ribut, yang terlihat disitu berbagai macam binatang bersayap, itulah alam jabarut, artinya selalu berubah, harap tetap hati-hati. Cahaya putih, seperti nafsu mutmainah, yang bentuknya bagai air besar (samudra), yang terlihat disitu berbagai macam ikan. Yaitu alam malakut, artinya istana, [10]disitu mulai dari diketahuinya istana. Setelah hilangnya empat perkara. Selanjutnya cahaya pramana terlihat: hitam, merah, kuning, putih, hijau, itulah alam hidayat, artinya menunjukkan satu-satunya tempat, seperti di bawah ini. Istana hitam, yaitu istana berbagai bangsa binatang, jika tertarik untuk dilihat maka akan menjadi bangsa binatang. Istana serba merah, yaitu istananya bangsa brakasan (jin, setan dan sebagainya), wujudnya bumi dan sepantarannya dhanyang/abdi, jika sampai tertarik disitu, pasti akan menjadi bangsanya dhanyang/abdi.
61 101 Istana serba kuning, yaitu istana sebangsa burung, yang tertarik disitu, tidak lain akan menjadi bangsanya burung. Istana serba putih, itu istananya sebangsa ikan, yang jika tertarik akan menjadi ikan. Istana serba hijau, yaitu ista- [11]nanya bangsa tumbuhan, yang tertarik disitu suksmanya akan menjadi tersesat tidak tahu jalan untuk menuju yang Mahakuasa. Sehilangnya cahaya pramana. Lalu datang dzat cahaya yang jernih, yang terlihat di situ, serba warna-warna yang hijau/asri, yaitu alam uluhiyah, artinya alam Pangeran. Lalu terlihat cahaya memancar, yang terlihat disitu malaikat, artinya seperti: Terlihat ayah, kakek dan lainnya, yang masih di alam uluhiyah. Lalu terlihat cahaya berkilauan, di situ yang terlihat bidadari, artinya seperti: menyerupai ibu, nenek, dan leluhur perempuan, yang masih di alam uluhiyah. Lalu cahaya berkilauan tanpa bayangan, tanpa arah, tanpa tempat, tanpa bicara, tanpa warna, tempatnya nikmat, manfaat, rahmat, ada di alam baka, artinya baka, abadi, yaitu tempatnya Dzat Sejati, berada dari kita sendiri, yaitu yang berkilauan itu [12] tidak dua, tidak pula tiga, tapi hanya satu. Sedangkan yang terlihat ayah, kakek tadi, yaitu bayangannya Dzat dari leluhur laki-laki, yang sudah saling meliputi, saling menetap dengan Dzat pribadi kita. Sedangkan yang terlihat ibu, nenek, dan lainnya tadi, yaitu menandakan jika yang sudah saling meliputi, Dzat dengan yang Mahamulia, selanjutnya tidak dapat pisah.
62 102 Maka ketahuilah setelah hilangnya jisim, kembali ke asalnya dari cahaya, menjadi nukat gaib, yang nantinya di alam insan kamil (manusia sempurna), yaitu yang akan menciptakan menjadi dunia lagi, artinya seperti di bawah ini: Turunnya ini dikarenakan menginjak/memasuki ahadiyat Lalu menuju/menginjak wahdat Lalu menuju wahidiyat Lalu menuju/menginjak alam arwah [13] Lalu menuju alam misal Lalu menuju alam ajsam Lalu menuju alam insan kamil (manusia sempurna) Sedangkan yang paling atas mulai dari menuju di alam ajsam, sampai di alam insan kamil lagi. Maka ketahuilah, arti alam tujuh perkara tadi, satu persatunya menerangkan seperti di bawah ini: Ahadiyat, arti mulainya sesuatu, di situ beradanya Dzat pertama. Wahdat, arti keberadaan sesuatu, di situlah awal mula keberadaan suatu Dzat, ada di nukat gaib, artinya nukat,: satu, arti gaib,: samar, ada di dalam manusia tadi. Wahidiyat, arti akhirnya satu, yaitu akhir dari sifat sesuatu Dzat. Ajsam, artinya jisim, yaitu sudah dengan Allah, arti Allah adalah badan. Misal, arti seperti, yaitu [14] yang dinamai sifat yang Mahamulia, ada di dunia kecil, yang sudah lama dari dunia kecil.
63 103 Arwah, artinya roh, arti roh hidup, yaitu sudah ditarik dari hidup. Insan kamil, arti sempurna, yaitu manusia yang sempurna. Sedangkan pramana artinya waspada/hati-hati. Nyawa, artinya hidup, yang hidup rahsanya. Suksma, arti gaib, yang gaib tempatnya, yaitu nukat gaib. Maka ketahuilah bayangannya hati, atau bayangannya roh, susunannya mempunyai tujuh nama, tapi setiap namanya beda, berikut di bawah ini susunan keterangannya: Hati sir, merupakan bayangan roh jasmani, pekerjaanya menjadi memiliki kehendak. Hati suksma, bayangannya rohani, yaitu roh rabani, pekerjaanya memiliki perasaan. [15] Hati jinem, bayangannya roh hewani, pekerjaanya memiliki banyak mau/ berkehendak/ keinginan dan rasa. Hati puad, bayangannya roh nabati, pekerjaanya memiliki sangkaan/ perkiraan dan pikiran beribadah. Hati budi, bayangannya roh rahmani, pekerjaanya memiliki angan-angan dan akal. Hati maknawi, bayangan roh nurani, pekerjaanya memiliki gagasan/pikiran. Hati sanubari, merupakan bayangan roh idlafi, pekerjaanya memiliki semua keinginan.
64 104 di bawah ini: Maka ketahuilah, arti tujuh roh tadi, susunannya menjelaskan seperti yang Roh jasmani, artinya jisim. Roh rokhani, artinya Pangeran. Roh hewani, artinya hidup, yang semuanya hidup. Roh nabati, artinya yang hidup, [16] yang hidup rahsa. Roh rahmani, artinya murah hati/penyayang, yang murah hati af al (perbuatan). Roh nurani, artinya cahaya, yaitu cahaya Dzat. Roh idlafi, artinya bening/ bersih, yaitu berkilau tanpa bayangan bertempat di saat insan kamil. Maka ketahuilah alam empat perkara, seperti yang di bawah ini: Alam nasut, ini arti lupa. Alam lahut, ini arti berpisah. Alam jabarut, ini artinya hilang. Alam malakut, ini artinya istana. Tetapi tidak istana yang dibuat Mahaluhur, yaitu istana nafsu empat perkara, maka dari itu harus hati-hati jangan sampai khilaf. Maka ketahuilah yang namanya anasir hak, seperti yang di bawah ini: Dzat, artinya kepunyaan. [17] Sifat, artinya berwujud/berupa. Asma, artinya nama.
65 105 Af al, artinya perbuatan. bawah ini: Maka ketahuilah, yang dinamai anasir roh, arti anasir hidup, seperti di Wujud artinya rupa, yaitu darah, Ilmu, artinya penglihat, Nur, artinya cahaya, Suhud, artinya saksi, yaitu nafas. Sedangkan nanti yang disusun dahulu, yaitu: wujud/rupa, lalu ilmu, lalu,: cahaya, lalu,: suhud. Maka inilah, yang dinamakan anasir jagad/dunia, seperti di bawah ini: Yang diciptakan terlebih dahulu, yaitu air, artinya darah dan keringat. Yang kedua api, artinya yaitu nafsu dan cahaya. Yang ketiga udara, artinya nafas.[18] Yang keempat bumi, artinya menjadi jasad, atau kulit daging. Besok yang dicabut terlebih dahulu air, lalu,: api, lalu,: udara, lalu,: bumi Maka ketahuilah, yang bernama anasir sifat, yaitu sifat yang Mahasuci, yang nantinya dijelaskan susunannya, yang disebut seperti di bawah ini: Sifat jalal, artinya agung, Dzat yang agung, maka disebut agung, karena tanpa batas, mulai tidak berbelok, tidak tumbuh, berkuasa meliputi semua dunia, yaitu hanya keberadaannya yang abadi. Sifat jamal, artinya indah, yang indah itu sifatnya, maka dari itu disebut indah, karena tidak laki-laki, tidak perempuan, tidak berupa/berwujud, tidak berwarna, tidak berarah, tidak bertempat, berada di alam baka, artinya baka abadi.
66 106 Sifat khahar, artinya kuasa, yang kuasa namanya, maka dari itu diberi nama kuasa, [19] yaitu yang bernama Pencipta, Kuasa yang berkuasa segalanya. Sifat kamal, artinya sempurna, yang sempurna perbuatannya, artinya pulang/kembali dengan sempurna, sudah mulai tidak akan lagi, yaitu keinginan Mahakuasa berkuasa dengan keinginannya. Ini membuka maksudnya, ilmu gaib yang berada di manusia, semua yang ada di dalam badan, penjelasan suatu badan para nabi, para wali, para abnormal/gila, para ratu, para oliya (kekasih Allah), di bawah ini maknanya atau artinya: tercampur. Atau yang dinamakan Aku itu, hanya satu yang Mahasuci, yang tidak Atau Aku itu; tempat yang abadi tidak bertujuan, Aku ini ratu yang mulia dan yang sempurna; artinya Aku ini [20] ada, tidak dimulai dengan kekosongan, Aku ini yang tentunya diingat-ingat sebelum ada. Setelah ada artinya ingat apa yang harus diingat; yang diingat tidak asalnya. Yaitu yang berada di Aku. Yang tentunya meninggalnya semua hidup; menuju sepi, sunyi, senyap sebelum menjadi; ada Aku sendiri yang berada sampai nanti; atau yang menjadi patokan ingat itu ilmu alim maklum, artinya megetahui segala ilmu, mengerti, dan sebagainya. Yaitu dinamakan mulainya mengasihi. Wahyu dan nugraha yang gaib dari Allah SWT dan para ratu, yang menjadi simpanan para nabi, para wali, para mukmin, para abnormal/ orang gila, para ratu oliya, para manusia semua; atau ilmu itu, ada dan tidaknya, yaitu disebut kasih mengasihi.
67 107 Atau yang namanya mengetahui itu, tetap tapi diam dan jernih, dan sebagainya, yaitu bernama wahyu. Atau yang mengetahui itu, dinamakan sepi, samar, sepi, tak terlihat dan sejenisnya, [21] yaitu bernama nugraha, yang harus diingat adalah sebaiknya tidak banyak bergerak, itulah tatacara ilmu istana yang sempurna; yaitu dinamakan kalimat tauhid, artinya tidak mempunyai banyak keinginan, tetapi hanya ingat sesuatu. Sebenarnya sesuatu yang menjadi keinginannya yaitu mempunyai ilmu. Atau artinya empat perkara yaitu, mulut, pencium, penglihatan, pendengar, seperti di bawah ini keberadaannya: Sir, asalnya dari mulut, jadinya bumi, ada di sabda atau ucapan, tetapi pengucap dirinya yakni Pangeran, yang nyatanya Rasulullah, berkumpulnya semua roh, tetapnya sesuatu, Dzat pet yaitu asalnya tujuan abadi yang berkuasa. Keinginan, asalnya dari penciuman: jadinya udara, tujuannya pencium, yang terasa nyatanya, tetapi penciuman dirinya Mahasuci, nyatanya yakni Muhammad, berkumpulnya semua hidup, tetap saling mengasihi, Dzat les yaitu tak berasal tak bertujuan, yang berkuasa menciptakan inilah yang abadi. [22] Gerak, asalnya penglihatan, jadinya air, tujuannya bulan, nyatanya suci, tapi penglihatan diri terhadap Allah, nyatanya pada nabiyallah, berkumpulnya semua rupa/wujud, tetapnya di wahyu, Dzat tap, yaitu tidak berasal tidak bertujuan, abadi yang berkuasa. Gagasan, asalnya dari pendengaran, jadinya api, tujuannya matahari, nyatanya untuk mendengar, tapi pendengaran yang keberadaannya pada diri, nyatanya di
68 108 puncak, berkumpulnya semua suara, tetapnya di nugraha, tidak berasal tidak bertujuan, berkuasa atas segalanya inilah yang abadi. Atau menandakan hidupnya, hidupnya berwarna, hidupnya mencium, hidupnya perasaan. Artinya bicara, pendengaran. Arti warna, penglihatan. Arti bau, penciuman. Arti rasa, mulut. Hidupnya jasmani Artinya sabda itu, pengucapan yang nyata. Sedangkan yang tujuh itu dengan Mahasuci. Atau yang disebut Mahasuci tadi, menandakan satu [23] Mahasuci, Dua Mahasucinya warna, Tiga Mahasucinya penciuman, Empat Mahasucinya rasa, Lima Mahasucinya hidup, Yang keenam Mahasucinya rupa/wujud, Yang ketujuh Mahasucinya sabda. Atau petunjuk guru, yang empat perkara itu, ada, tidak, kamu, takdir. Ada, yang mengadakan adanya sendiri,
69 109 Tidak, itu tidak satu-satu, tidak ada adanya sendiri, Kamu, artinya hanya saya, Aku artinya hanya Aku, Atau akhirnya kehidupan itu, hidup ada tujuh perkara yang disebutkan di depan tadi. Atau yang namanya jasad, itu bertemunya Dzat yang hilang, Dzat pȇt (Dzat hilang) itu tetapi pada pengucapan. Dzat pleng akan tetapi itu pada pendengaran. Maka dinamakan jasad itu, sudah berujung[24] bertemunya Dzat empat perkara, yaitu menunjukkan sempurnanya guru. Atau yang memberi wahyu serta nugraha itu artinya saling mengasihi tepatnya di penciuman, nyatanya udara tepatnya antara Pangeran. Wahyu artinya terangnya penglihatan, nyatanya air dirinya Allah. Nugraha artinya pendengaran, dirinya api, nyatanya nabiyallah. Pangeran artinya pengucap, dirinya bumi, nyatanya Rasulullah. Atau yang tidak berarah, tidak bertempat, tidak berwarna, tidak bertanda. Ini artinya, yang tidak bertempat artinya bumi. Yang tidak berarah artinya udara. Yang tidak berwarna artinya air. Yang tidak berwujud artinya api. Atau empat perkara tadi bisa terbinasakan: kosong, senyap, sepi, samar. Artinya kosong jurang.
70 110 [25] Artinya senyap, tanah luas tanpa tumbuhan. Artinya sepi, gunung. Artinya samar, samudra. Di bawah ini semua nyatanya: Kosong, pengucap Senyap, penciuman Sepi, penglihatan Samar, pendengaran Selanjutnya empat tingkatan lagi, makna lafal wirid atau maksudnya, di bawah ini nyatanya: Sir (rahsa), ditentukan kehendak, namanya Pangeran. Warna, ditentukan wujud, Allah. Wujud, ditentukan warna, Muhammad. Jika kehendak ditentukan serahsa, namanya Rasulullah. Jika wujud, warna, rasa, ditentukan hidup, namanya Pangeran. Jika hidup ditentukan Pangeran, namanya Mahasuci. Yaitu yang tidak berawal, yang tidak berakhir. [26] jika keadaannya abadi, meliputi di dunia selamanya. Kemudian tahapan selanjutnya, ini yang namanya kawula (hamba), seperti di bawah ini artinya kawula (hamba): Pikiran, gagasan, rasa, kepekaan, tekadnya bumi.
71 111 Inilah berpindahnya akhir empat perkara: Atau yang namanya di kepekaan, Jangan sampai dirasakan, Harus waspada, Jangan mengetahui, Itu rasanya jika sudah didapatkan, mengasihi/memberi wahyu nugrahanya Pangeran, tidak sekedar satu-satu, jika mempunyai semua yang baru, inilah miliknya Pangeran. Maka harus waspada, hati-hati di asal tujuannya, sudah tidak terang. Sedangkan jangan mengetahui itu maksudnya, yang tidak dapat diketahui serupanya/sewujudnya oleh golongan/bangsa yang baru semua, sudah tidak dapat jika mengetahui. [27] Atau yang dirasakan, dikhawatirkan itu merupakan petunjuk yang benar, dan ucapan jujur, itulah yang dinamakan guru sejati. Atau adanya empat perkara ini wujudnya: Sir (rahsa), sempurnanya di lidah, nafsunya luamah, hormatnya pada Rasulullah, tempatnya diingatan. Gagasan, sempurnanya hati, berkumpulnya di dalam rȇmpȇla (ampela), nafsunya amarah, hormatnya pada Allah, tempatnya di pikiran. Gerak, sempurnanya wajah, berkumpul di jantung, nafsunya supiyah, hormatnya di Pangeran, tempatnya di tekad (keinginan).
72 112 Kemauan, sempurnanya di otak, berkumpulnya di puser, nafsunya mutmainah, hormatnya di Muhammad, tempatnya di budi (sikap). Atau yang diucapkan di depan tadi, yang sebangsa baru dan abadi, tentang hamba dan Allah, yang bangsa batin dan lahir. Atau tentang yang hilang, itu tidak akan ada yang [28] terasa, hanya rasanya kitab, jika yang hilang itu, yang terdengar dan serupanya semua sesuatu, itu tidak ada rasa, hanya rasa, perasa, terasa, hanya kitab rasanya, sejatinya tidak ada perbedaan rasanya, tidak ada perbedaan rupa. Atau yang dinamakan manusia sejati itu, orang yang sudah mengetahui dimulainya ada, sampai kepada siapa nantinya dia berada, sampai tidak adanya di akhir, yaitu yang berada pada manusia, manusia yang sejati. Atau golongan/bangsa itu saling berkaitan, artinya malam dan siang, sore dan pagi, masuknya malam tertutupnya siang, masuknya pagi tertutupnya sore. Atau sempurnanya malam itu gelap. Atau sempurnanya siang itu terang. Atau yang menjadi antara malam dan siang, pagi antaranya siang, sore antaranya malam. Atau antaranya empat ini sendiri-[29] sendiri, Tidak ada siang, dan malam, pagi dan sore, itulah adanya kenyataan dunia. Atau jika tidak ada pagi, sore, siang, malam, abadi dan baru, Allah dan hamba, artinya sendiri-sendiri. Tidak ada hamba jadi Allah, Allah jadi hamba.
73 113 Tetapi ada kalanya saling meliputi. Baru meliputi abadi, abadi meliputi baru, Allah meliputi di hamba, hamba meliputi di Allah. Atau dua-duanya itu semua, kenyataannya saling berkaitan. Abadi melihat yang baru, adanya yang baru sampai pada keabadian, yang mengadakan. Nyatanya Allah, adanya hamba, dan adanya hamba itu adanya Allah. Atau yang sudah diucapkan semua di depan tadi, rasanya sembilan martabat dan rahsanya sahadat, dan rasanya kehilangan, dan rasanya keluhuran, itu semua kebutuhan. Atau yang sebenarnya adalah hak. [30] Tidak melihat, tidak terlihat, Tidak berasa, tidak terasa, Maka akhirnya itu, tidak menyembah, tidak disembah, tidak memuji, tidak dipuji. Yaitu berada pada nama adanya Dzat yang wajib al wujud, yang wajib adanya, yang. Atau artinya berani keluhurannya. Artinya berani itu api dan udara, sebab tidak ada yang dapat menghilangkan/melenyapkan seperti api dan udara. Atau arti keluhuran itu bumi dan air. Mana yang bisa memberi makanan maka akan luhur. Siapa yang bisa menghilangkan, nyatanya yaitu memiliki keberaniaan yang luhur. Atau yang nyatanya sifat Rahman, dan sifat Rakhim
74 114 Artinya sifat Rahman itu bumi dan air. [31] Wujudnya adalah semua tumbuhan yang keluar dari bumi, hidup dengan adanya air. Sedangkan arti sifat Rakhim itu udara dan api, yang mana nyatanya jika saling terkait, seperti mentah dan matang karena adanya api, basah kering karena adanya udara, yaitu nyatanya sifat Rakhim dan Rahman. Atau yang bertempat semua tadi, adalah kekayaannya Allah, yaitu wajib membuka. Sudah sampai, api dari lahir sampai batin. Jika tidak semua diketahui, jika salah masuk, apipun nekad, hilangnya sesuatu permulaan, yang menjelaskan bangsa banyak semua pasti tekadnya dari lahir sampai batin. Atau mulainya alam nasut itu, ada di pengucapan anak, sebab masuknya cahaya yang suci, oleh anak yang sudah berumur. [32] Atau mulainya alam malakut itu menjadi cahaya yang suci, masuk ke pendengarannya bapak dan ibu, sebab bapak melihat ibu yang sudah berumur. Dan mulainya alam jabarut itu, menjadi cahaya yang suci, masuk pertemuannya bapak dan ibu, saat jadi pengantin, sebab keinginannya bapak dan ibu, laki-laki dan perempuan untuk bahagia. Atau mulainya alam arwah itu, menjadi ada saat bapak dan ibu saling lihatmelihat, sebab sudah memasuki rasanya roh johar.
75 115 Atau mulainya alam lahut itu, menjadi cahaya yang berkilau, sebab penglihatan pada bapak dan ibu yang masuk, sudah memasuki roh idlafi. Dan cahaya yang berkilau masuknya ada di alam lahut, di lihatnya bapak dan ibu sudah jadi satu bercampur, sedangkan cahaya yang jadi satu, dari alam lahut itu masuk di alam uluhiyah menjadi cahaya suci, itu tergantung tanpa gantungan, yang berkilau yang sebaiknya hati-hati pada pribadinya, atau akan menyatakan/mengungkapkan kuasa-nya keluar cahaya rasanya hi- [33]dup. Sedangkan yang menerima rasanya roh idlafi, sampai roh idlafi masuk dalam kekosongan bapak dan ibu. Atau cahaya yang ada dalam kekosongan itu, menjadi tiga rasa, yang berpangku pada rasa kosong itu pasti menjadi penglihatan kita. Atau rasanya hak Datullah, yang berpangku pada ratu ada empat perkara, ini artinya menjadi penciuman kita. Atau rasanya sir (rahsa), yang berpangku pada gerak-gerik Kalamallah, ini menjadi pendengar kita. Atau rasanya jumungah yang berpangku pada di sunat panyarok itu, jadi pengucap kita. Atau rasanya Dzat mutlak, yang berpangku di ahadiyat, jadi tauhid kita. Atau rasanya johar awal, yang berpangku di wahdat, jadi nafas kita. Atau rasanya wujudtallah, yang berpangku di wahidiyat itu, akan menjadikan kepekaan batin. Atau cahaya yang suci, diam di wahidiyat, adapun apabila menyatakan rasanya
76 116 [34] Wujud mokal yang berpangku di jasad halus, maka lahirnya wujud hampir putus, menjadi rasanya mani, dan manikem, yang berpangku rasanya dua kalimat menjadi di alam manusia, artinya menjadi kulit kita. Arti alam ajsam, menjadi daging kita, Arti alam misal, menjadi darah kita, Arti alam arwah, menjadi tulang kita. Yaitu lahirnya dua kalimat, menjadi empat alam: Berada pada wujud kita: atau cahaya yang suci. Dapatnya keberanian ada di wahidiyat, merupakan tempat mengungkapkan/ menyatakan apa adanya. Bersamaan menjadi satu dari kelahiran si bayi, yang suci itu masuk bersamaan dengan tangisnya si bayi, yaitu akhirnya ilmu. Atau tumbuhnya gagasan ini maka tempatnya menjadi di alam arwah, lalu rasanya johar, yang memangku hidup kita, ada tujuh perkara. [35] Oleh hidup tujuh perkara itu dipasrahkan terhadap roh idlafi. Keberadaannya ada di shalat hajat satu rakaat, tanpa sujud, tanpa rukuk, tanpa puji, tanpa dzikir, berada di alam lahut. Jika kita tidur, jika kita bangun, beradanya ada di alam sulbi, lalu di dada kita, shalat hajat memakai sujud rukuk. Keberadaan rajinnya shalat ada di alam uluhiyah: yaitu shalatnya: shalat daim mulqaq, yahu analkak, yahu -yahu, yahu sakamalakak-kamalakak wujudnya yakni makripatullah.
77 117 Atau lakunya roh itu dapat diketahui, di pintu satu-satunya, akhirnya kewaspadaanya kita sampai pada sejati. Disaat singgah, roh itu: ada di alam nasut, dinamakan roh uluwiyah, pujinya: lamaujud dailullah. Disaat mampir roh itu, ada di alam malakut, dinamankan roh gaib uluwiyah, puji- [36] nya: lamakbud dailullah. Disaat singgah roh itu, ada di alam arwah, dinamakan roh kudus, pujinya: layatkuru laailallah. Disaat memasuki di alam lahut, dinamakan roh idlafi, tanpa puji, tanpa dzikir, hanya ingin melihat sendiri, itu dinamakan memberi nugraha. Siralullah serasa roh-ku: rasa-ku Allah, yang berkuasa rasanya menjadikan semua. Rasa-Ku Muhammad, yang menjadikan semua rasanya. Aku-lah tempat berkumpulnya rasa, rasa-ku rasa kuasa, berkuasa yang menjadikan semua. Aku-lah tempat tumbuhnya rasa, ada-ku adanya rasa, rasa-ku Rasulullah, yang berjulukan arullah; yang berjulukan jalalullah, melebur banyaknya yang jelek, ya rasa ya Rasulullah. Ini ilmu yang dilarang oleh para nabi, para wali, para mukmin semua. Arti yang namanya hidup itu, [37] diamnya sebelum ada sir (rahsa) Arti sebelumnya ada gagasan, yaitu yang sempurna: perbuatannya. Ada juga sir (rahsa) itu nyatanya rasa, Aku yaitu Dzatullah.
78 118 Arti rasa itu nyatanya tertutup Aku, yaitu sifatullah. Yang dinamakan roh idlafi itu, seperti rupa nyata di dalam sebelumnya kita nyata, yaitu hakikat muhammadiyah namanya, dan juga rupa di dalam maknawiyah itu: namanya roh kakat yang namanya manusia. Sedangkan yang namanya ayat sabitah (tetap) itu cahaya, yaitu cahaya yang baik, artinya wujud sebelum nyata adanya. Arti roh idlafi, kenyataan di dalam suci, yaitu yang Mahasuci Pangeran. Ini tepatnya saat meninggal, yang Dzatullah tepatnya rupek, sebutannya: hu hu hu hu hu hu: yaitu sahadat sendiri. [38] Sedangkan tidur tepatnya itu sifatullah, tepatnya sudah dekat, tepatnya itu Allah, yaitu menghilangnya semua sifat. Sedangkan tepatnya sembahyang itu yang bernama Allah, yang tepatnya melangkah, yaitu diantara bersuara dan diam, yaitu antaranya Gusti dan kawula. Ini meleburnya badan, serta tekadnya sekalian, di dalam meninggal. Ini sebutannya: Allah melebur badan menjadi nyawa, melebur nyawa menjadi cahaya, melebur cahaya menjadi roh idlafi, melebur roh idlafi menjadi rasa, melebur rasa menjadi sir (rahsa), hilang pulang kepada Dzatullah, hidup tidak dapat meninggal, hidup selamanya. B. Kajian Isi Naskah SDR ini berisi tentang piwulang atau ajaran untuk menuju manusia yang sempurna (insan kamil). Diawali dengan kisah Bratasena dalam mencari Tirta Pawitrasari (Air Kehidupan) yang disebut juga Tirta Pawitra Suci. Dalam perjalanan pencarian air kehidupan ini, Bratasena tetap kuat dan mampu menghadapi apapun yang menghalanginya. Selain itu, di dalam naskah ini lebih
79 119 ke aplikasi perjalanan batin manusia, bagaimana melawan nafsu, nafsu apa saja yang ada pada manusia, hal baik yang perlu dilakukan untuk mendekatkan kepada Hyang Widhi, Sang Kholiq. Kemudian menerangkan tingkatan 7 alam yakni alam ahadiyat, wahdat, wahidiyat, arwah, misal, ajsam, dan alam insan kamil. Berikut pemaparan/pembahasan isi di dalam naskah SDR di setiap bagian disertai halaman pada naskah: 1. Bagian pertama menceritakan perjalanan Bratasena dalam mencari air Tirta Pawitrasari disertai makna singkatnya. (hal.1-hal.6) 2. Bagian kedua menjelaskan tentang empat tingkatan/tahapan ilmu yang harus dilaksanakan, yakni: syariat, tarikat, hakekat, makrifat. (hal.6-hal.7) 3. Bagian ketiga menjelaskan tentang marabahaya adanya empat nafsu diikuti cahaya, nama alam dan makna singkatnya. (hal.7-hal.8) 4. Bagian keempat menjelaskan tentang isi empat perkara yakni empat cahaya (menandakan empat nafsu) dan diikuti lima cahaya yang menggambarkan istana, seperti berikut: a. Hitam = nafsu luamah = alam nasut b. Merah = nafsu amarah = alam lahut c. Kuning = nafsu supiyah = alam jabarut d. Putih = nafsu mutmainah = alam malakut Setelah hilangnya empat cahaya tersebut, muncul lima cahaya yakni: a. Istana hitam = istana bangsa binatang b. Istana merah = istana bangsa jin, setan, dan sebagainya
80 120 c. Istana kuning = istana bangsa burung d. Istana putih = istana bangsa ikan e. Istana hijau = istana bangsa tumbuhan (hal.8-hal.12) 5. Bagian kelima menjabarkan tentang tujuh alam yakni: mulai dari ahadiyat, wahdat,wahidiyat, arwah, misal,ajsam, insan kamil. (hal.12-hal.13) 6. Bagian keenam menjelaskan tentang makna singkat tujuh alam di bagian sebelumnya yakni: Ahadiyat Wahdat Wahidiyat Arwah Misal Ajsam insan kamil = mulainya sesuatu = beradanya sesuatu = akhirnya satu = roh = seperti = jisim = sempurna, serta dijelaskan arti pramana, nyawa, suksma. (hal.13-hal.14) 7. Bagian ketujuh menjelaskan tentang macam hati atau bayangan roh ada 7 (tujuh), yakni: a. Hati sir (rahsa) = bayangannya roh jasmani = kehendak b. Hati suksma = bayangannya rohani = rasa c. Hati jinȇm = bayangannya roh hewani = kemauan d. Hati fu ad = bayangannya roh nabati = perkiraan dan pikiran
81 121 e. Hati budi = bayangannya roh rahmani = angan-angan dan akal f. Hati maknawi = bayangannya roh nurani = gagasan g. Hati sanubari = bayangannya roh idlafi = keinginan (hal.14-hal.15) 8. Bagian kedelapan menjelaskan tentang 7 (tujuh) roh pada bagian sebelumnya,yakni: a. Roh jasmani = jisim b. Roh rohani = Pangeran c. Roh hewani = hidup d. Roh nabati = hidup rahsanya e. Roh rahmani = murah hati/penyayang f. Roh nurani = cahaya g. Roh idlafi = bersih tanpa bayangan (hal.15-hal.16) 9. Bagian kesembilan menerangkan tentang empat alam beserta arti, seperti: a. Alam nasut = lupa b. Alam lahut = berpisah c. Alam jabarut = hilang d. Alam malakut = istana (hal.16) 10. Bagian kesepuluh menjelaskan tentang anasir hak (hal.16-hal.17) 11. Bagian kesebelas menjabarkan anasir roh (hal.17)
82 Bagian kedua belas menerangkan tentang anasir jagad (dunia). (hal.17- hal.18) 13. Bagian ketiga belas menerangkan tentang anasir sifat (hal.18-hal.19) 14. Bagian keempat belas ini pembukaan maksud dari ilmu gaib yang berada di manusia. (hal.19) 15. Bagian kelima belas menerangkan tentang siapa kawula, siapa Gusti dan cara manusia dapat bersatu dengan Tuhan. (hal.19-hal.38) Penggambaran bagian di atas cukup jelas isi naskah SDR. Tidak sepenuhnya isi di setiap bagian saling berkaitan antara bagian pertama dengan bagian kedua dan selanjutnya, akan tetapi masih satu kesatuan pembahasannya. Dalam naskah SDR ini lebih cenderung pada ajaran suluk/tasawuf/mistik Jawa yang mana dapat pula jika diterapkan pada kehidupan manusia sesungguhnya. Untuk mengetahui ajaran suluk/tasawuf yang terkandung pada naskah, maka kandungan isi SDR dibahas secara berurutan. 1. Perjalanan Bratasena Suluk Dewaruci dimulai dari perjalanan Bratasena yang mencari Tirta Pawitrasari (air kehidupan) berisi tentang petunjuk ilmu yang menerangkan tentang beradanya Dzat. Yang akan dibedah isinya dari Tanazultarki, yaitu asal dan tujuan Dzat sejati. Tokoh Bratasena di sini dapat diartikan lambang tiap manusia ketika berguru pada Dhanghyang Druna (guru sejati) selalu menjalani nasihatnya. Tidak memandang resiko yang akan dihadapi oleh Bratasena. Manusiapun sebaiknya memiliki sikap seperti Bratasena yang tidak ragu dalam menjalankan nasihat dari sang guru, sayangnya dalam
83 123 kehidupan sekarang sulit dijumpai manusia yang seperti Bratasena, penuh ragu-ragu dan was-was. Perjalanan Bratasena ini diawali pergi ke gunung Reksamuka, yang artinya mulai memasuki alam makrifat pada tahapan kedua yakni tarikat. Di gunung Reksamuka Bratasena dapat membunuh raksasa Rukmaka dan Rukmakala, yang mana matinya Rukmaka menjadi Bathara Endra. Endra artinya gunung ibarat semua tubuh yang tepatnya di dalam Baitul Makmur, sedangkan Rukmakala terbunuh menjadi Bathara Bayu, yang artinya angin, tepatnya di Baitul Muqadas. Selanjutnya Bratasena disuruh datang ke sumur Sigrangga, artinya ibarat keperkasaan atau kesentosaan badan. Dalam sumur Sigrangga Bratasena diserang oleh naga betina, akan tetapi akhirnya Bratasena dapat membunuh naga betina yang artinya dapat mengendalikan empat nafsu. Lalu Bratasena pulang ke Amarta, untuk berpamitan dengan saudara-saudaranya karena dia akan masuk di tengah samudra. Akan tetapi saudara-saudaranya tidak setuju jika Bratasena pergi ke tengah samudra. Oleh karena itu saudara-saudaranya sama-sama memegang erat-erat. Hanya saja Bratasena tetap pada pendiriannya untuk meninggalkan saudara-saudaranya untuk pergi ke tengah samudra sesuai perintah dari sang guru, artinya yang menyingkirkan atau menghilangkan perasaan khawatir, sebagai bentuk pengendalian rasa kasih sayang. Lalu sesampai samudra, Bratasena memasuki lautan atau samudra Jinem, artinya Jinem yaitu hakikat atau sejatinya Tuhan. Keenam, dalam perjalanan memasuki samudra tersebut, Bratasena diserang Naga Nemburnawa, dan Bratasena dapat membunuh Naga Nemburnawa, artinya ibarat Bratasena dapat membunuh pikiran dan perasaan. Selanjutnya
84 124 datanglah Sang Dewaruci, ibaratnya Dzat Sejati (Tuhan) yang datang. Lalu bercakap-cakap Dewaruci dengan Bratasena, ibaratnya menandakan berada pada alam sunyi sendirian. Lalu Bratasena masuk di dalam perut, dan di situlah bertemu dengan Dewaruci tepatnya di alam Kabir yang tandanya tidak dapat pisah. Perut ibarat alam manusia sempurna, yaitu menandakan kesempurnaan. Yang ketujuh, Bratasena ketika berada di dalam perut, melihat samudra tanpa batas, yaitu menerangkan perjalanan hati. Kemudian Bratasena melihat cahaya Pancamaya, yaitu menerangkan jantung, yang meliputi hakikat atau sejatinya hati. Kesembilan, Bratasena melihat cahaya empat warna yang menerangkan tentang sikap, yang sama-sama menjadi halangan atau godaannya hati yaitu: a. Warna hitam, menyebabkan rasa lapar, terasa mengantuk dan sejenisnya. b. Warna merah, menyebabkan angkara murka, sperti amarah, memarahi dan sejenisnya. c. Warna kuning, menyebabkan hawa kemurkaan, seperti keinginan, yang disukai, yang disenangi sejenisnya. d. Warna putih, tanpa hawa nafsu hanya menyebabkan kemurkaan/ keserakahan terhadap keutamaan/ajaran, seperti : do a kepada-nya, dan sejenisnya. Setelah hilangnya empat cahaya Bratasena melihat satu barang yang menyala berkilauan delapan warna, yaitu: hitam, merah, kuning, putih, hijau, ungu, biru, merah muda yaitu menerangkan Tuhan. Selanjutnya Bratasena
85 125 lalu melihat cahaya berkilat terang memancar, itulah namanya pramana (ruh, kewaspadaan). Yang kedua belas, Bratasena melihat seperti mutiara, cahayanya berkilauan, inilah pramananya rahsa, yang berkuasa menciptakan segala sesuatu semua di alam. Yaitu kehidupan dari Dzat atma. Yang ketiga belas, Bratasena melihat sifat Esa, tidak laki-laki, tidak perempuan, tidak terarah tidak ditempat, tanpa rupa, tanpa warna (tak jelas raut wajahnya), cahayanya berkilau tanpa bayangan, yaitu Dzat atma, yang berkuasa memerintahkan ke semua alam, hidup tidak ada yang menghidupi, semua tergantung pada hidup kita sendiri. 2. Ajaran Suluk/Tasawuf/Mistik Jawa Dalam naskah SDR ini lebih banyak ajaran suluk daripada cerita perjalanan Bratasena secara lengkap. Terbukti secara tersurat naskah ini berisi tentang Tuhan, manusia dan bersatunya manusia dengan Tuhan, yang mana secara tersirat banyak makna dibalik itu semua. Untuk itu, di bawah ini dapat diulas dan dijelaskan sebagai berikut oleh peneliti. a. Konsepsi Tuhan Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Disini mengajarkan jika manusia harus berusaha untuk bersatu dengan Tuhan. Usaha untuk bersatu dengan Tuhan dapat dicapai melalui penghayatan mistik. Di dalam diri setiap manusia ada Tuhan, dan manusiapun sebaiknya sadar akan diri sendiri artinya sadar bahwa manusia adalah ciptaan-nya. Hanya kepada Tuhan, manusia mendekatkan pada-nya, karna hanya Tuhan yang paling
86 126 sempurna, yang kekal abadi. Seperti kutipan teks SDR (halaman 19 dan 20) di bawah ini:.ingaranan ingsun iku, kahanan kang tunggal kang mahasuci, kang ora kawoworan. Utawi ingsun iku ; ȇnggon kang langgȇng ora paran-paran iya ingsun iki ratu kang mulya tur kang sampurna; tȇgȇse ananingsun iki, kang ora wiwitan suwung; ya ingsun iki kang tȇrtamtu ing eling-eling sadurunge ana. Sawise ana tȇgȇse eling kang dumȇling; kang eling sangkaning ora. Yaiku kang jumȇnȇng ingsun. Terjemahan :.yang dinamakan Aku itu, hanya satu yang Mahasuci, yang tidak tercampur.atau Aku itu; tempat yang abadi tidak bertujuan, Aku ini ratu yang mulia dan yang sempurna; artinya Aku ini ada, tidak dimulai dengan kekosongan, Aku ini yang tentunya diingatingat sebelum ada. Setelah ada artinya ingat apa yang harus diingat; yang diingat tidak asalnya. Yaitu yang berada di Aku. Kutipan di atas menjelaskan bahwa Tuhan hanya satu, tidak jamak atau lebih. Hanya Tuhan yang sempurna, tidak yang lain. Keberadaan Tuhan tidak berawal dan tidak berakhir, Dialah Dzat yang kekal/abadi. Tuhan ada sejak alam dan seisinya belum terbentuk. Tuhan hanya sendirian di alam yang kosong. Maka dari itu, Tuhan sebaiknya diingat selalu oleh manusia meskipun Tuhan tidak dapat dilihat secara langsung. Hal tersebut dapat diperhatikan pada kutipan di bawah ini:.sipat ȇsa, dede jalȇr dede estri, botȇn arah botȇn ȇnggèn, tanpa rupa tanpa warna, cahyanipun gumilang tanpa wȇwayangan, inggih punika dating Atma, kang kawasa nitahakȇn saliring ngalam sadaya, gȇsang botȇn wontȇn kang anggȇsangi, inggih punika dumunung wontȇn ing urip kita. Terjemahan: sifat Esa, bukan laki-laki, bukan perempuan, tidak berarah tidak bertempat, tanpa rupa, tanpa warna (tak jelas raut wajahnya), cahayanya berkilau tanpa bayangan, yaitu Dzat atma, yang berkuasa menciptakan ke semua alam, hidup tidak ada yang menghidupi, yaitu semua berada di dalam pada hidup kita sendiri.
87 127 Penjelasan kutipan di atas yakni Tuhan itu tidak laki-laki, tidak perempuan. Tuhan tidak pula mempunyai arah, tidak memiliki tempat, tidak berwujud. Hanya Tuhan yang mempunyai kuasa untuk memerintahkan ke semua alam. Manusia hanya menjalani dan berusaha, untuk hasilnya tergantung pada manusia itu sendiri. Contoh dalam kehidupan sehari-hari, keinginan manusia ingin bekerja sebagai manajer utama di perusahaan ternama. Untuk mendapat kursi manajer, tidak mungkin langsung didapat dengan mudah. Hal ini akan melewati tahapantahapan yang mungkin berawal menjadi satpam, lalu staff dan seterusnya. Dalam hal ini pula yang akan dinilai adalah keuletan seseorang. Keuletan merupakan salah satu bentuk usaha manusia untuk mencapai apa yang diinginkannya. Ungkapan tentang Tuhan dalam naskah SDR ini juga dijelaskan seperti kutipan berikut: Utawi yèn ora ana, esuk, sore, rina, wȇngi, kadim lan anyar, Gusti lan kawula, tȇgȇse dhewe-dhewe. Ora ana kawula dadi Gusti, Gusti dadi kawula. Ananging ana kalane limput-linimputan. Anyar anglimputi kadim, kadim anglimputi anyar, Gusti kalimputan ing kawula, kawula kalimputan ing Gusti.Utawi karone iku padha kanyataan kabèh, kadim aningali anyar, anane anyar tȇka kadim, kang nganakakȇn. Nyatane Gusti, ananing kawula, lan ananing kawula kanyataaning Gusti. Terjemahan: Atau jika tidak ada pagi, sore, siang, malam, abadi dan baru, Allah dan hamba, artinya sendiri-sendiri. Tidak ada hamba jadi Allah, Allah jadi hamba. Tetapi ada kalanya saling meliputi. Baru meliputi abadi, abadi meliputi baru, Allah meliputi di hamba, hamba meliputi di Allah. Atau dua-duanya itu semua, kenyataannya saling berkaitan. Abadi melihat yang baru, adanya yang baru sampai pada keabadian, yang mengadakan. Nyatanya Allah, adanya hamba, dan adanya hamba itu adanya Allah.
88 128 Uraian di atas menyatakan bahwa apa yang ada di dunia ini maupun yang kita lihat dalam kehidupan di bumi ini saling terkait atau meliputi. Tidak sendiri-sendiri. Adanya hamba (manusia) itu karena Allah, Allah juga berada di dalam setiap manusia. Keduanya saling meliputi ataupun berkaitan. Ibaratnya dalam kehidupan perlu adanya kegotong-royongan antarmasyarakat, tidak berjalan sendiri-sendiri. Dalam naskah SDR ini juga disebutkan sifat yang dimiliki Allah. Seperti pada kutipan berikut: Punika kawikanana, ingkang winastanan nganansir sipat, inggih sipat ingkang mahasuci, ing mangke kawȇdharakȇn satunggil - tunggilipun, kasȇbut kados ing ngandhap punika: Sipat jalal, tȇgȇsipun agung, ingkang agung datipun, mila dipuntȇmbungakȇn agung, amargi tanpa wȇwangȇnan, awit botȇn lukak, botȇn wuwuh, kawasa nglimputi ing jagad sadaya, inggih punika wontȇnipun amung langgȇng. Terjemahan: Maka ketahuilah, yang bernama anasir sifat, yaitu sifat yang Mahasuci, yang nantinya dijelaskan susunannya, yang disebut seperti di bawah ini: Sifat jalal, artinya agung, Dzat yang agung, maka disebut agung, karena tanpa batas, mulai tidak berbelok, tidak tumbuh, berkuasa meliputi semua dunia, yaitu hanya keberadaannya yang abadi. Dalam uraian tersebut dijelaskan bahwa sifat yang Mahasuci (Allah) yakni memiliki sifat jalal, yang artinya agung. Allah Mahabesar. Di dunia ini hanya Allah yang berkuasa dan hanya Dia yang abadi. Selain itu Allah juga memiliki sifat jamal. Seperti kutipan berikut: Sipat jamal, tȇgȇsipun elok, ingkang elok sipatipun, mila sipatipun katȇmbungakȇn elok, amargi dede jalȇr, dede estri, botȇn rupa, botȇn warna, botȇn arah, botȇn ȇnggèn, dumunung wontȇn ngalam baka, tȇgȇsing baka langgȇng.
89 129 Terjemahan: Sifat jamal, artinya indah, yang indah itu sifatnya, maka dari itu disebut indah, karena tidak laki-laki, tidak perempuan, tidak berupa/berwujud, tidak berwarna, tidak berarah, tidak bertempat, berada di alam baka, artinya baka abadi. Uraian tersebut menjabarkan bahwa Allah memiliki sifat jamal yang artinya indah, sebab Allah tidak laki-laki, tidak pula perempuan. Tidak berwujud. Tempatnya Allah hanya di alam baka/gaib. Tidak dapat dapat dilihat secara langsung. Dialah Sang Penguasa atas segalanya, yang mampu membolak-balikkan takdir seperti hanya membalikkan telapak tangan. Oleh sebab itu, Tuhan memiliki sifat yang disebut sifat khahar. Sipat khahar, tȇgȇsipun wisesa, ingkang wisesa asmanipun, mila asma dipunbasakakȇn wisesa. Inggih punika ingkang nama amurba, amisesa kang kawasa. Terjemahan: Sifat khahar, artinya kuasa, yang kuasa namanya, maka dari itu diberi nama kuasa, [19] yaitu yang bernama Pencipta, Kuasa yang berkuasa segalanya. Uraian di atas menunjukkan bahwa Allah yang berkuasa atas segalanya. Dialah pencipta adanya bumi dan seisinya. Hanya Allah yang sempurna. Jika manusia, baik laki-laki dan perempuan yang sempurna wujudnya maupun sikapnya, kesempurnaan itu hanya milik Sang Khaliq. Seperti kutipan berikut sifat Allah: Sipat kamal, tȇgȇsipun sampurna, ingkang sampurna apngalipun, tȇgȇsipun sampurna mulih, mila katȇmbungakȇn sampurna, awit sampun botȇn bȇbadhe malih, inggih punika karsa Hyang Wisesa jumȇnȇng kalawan sibadènipun. Terjemahan: Sifat kamal, artinya sempurna, yang sempurna perbuatannya, artinya pulang/kembali dengan sempurna, sudah mulai tidak akan lagi, yaitu keinginan Mahakuasa berkuasa dengan keinginannya.
90 130 b. Konsepsi Manusia Penggambaran penciptaaan manusia dalam naskah SDR ini sama halnya penciptaan dunia. Kalau dunia adalah jagad besar dan manusia merupakan jagad kecilnya. Punika kawikanana, ingkang winastanan nganansir jagad, kados ing ngandhap punika: Ingkang tumitah rumiyin, punika banyu, tȇgȇsipun rah kaliyan riwe. Kaping kalih latu, tȇgȇsipun inggih punika nȇpsu kaliyan cahya. Kaping tiga angin, tȇgȇsipun punika napas. Kaping sakawan bumi, tȇgȇsipun punika dados jasad, utawi kulit daging. Benjang ingkang rinacut rumiyin banyu, nuntȇn,: gȇni, nuntȇn,: angin, nuntȇn,: bumi. Terjemahan: Maka inilah, yang bawah ini: dinamakan anasir jagad/dunia, seperti di Yang diciptakan terlebih dahulu, yaitu air, artinya darah dan keringat. Yang kedua api, artinya yaitu nafsu dan cahaya. Yang ketiga udara, artinya nafas.yang keempat bumi, artinya menjadi jasad, atau kulit daging. Besok yang dicabut terlebih dahulu air, lalu,: api, lalu,: udara, lalu,: bumi. Uraian di atas memperjelas bahwa, anasir yang ada di jagad besar merupakan perwujudan di jagad kecil. Anasir ataupun unsur dalam jagad besar yakni adanya air, api, udara, bumi. Masing-masing anasir tersebut merupakan suatu wujud anasir yang ada pada jagad kecil. Seperti, air jika di jagad besar, akan tetapi dalam jagad kecil (manusia) menjadi perwujudan darah dan keringat. Di jagad besar ada api, dalam jagad kecil api menjadi dua perwujudan. Yakni perwujudan yang baik dan perwujudan buruk. Perwujudan buruk dalam bentuk nafsu (marah, rasa keinginan, murka), sedangkan perwujudan baik akan memunculkan cahaya atau kepribadian baik pula (usaha, sabar, ikhlas, selalu menerima). Selanjutnya ada anasir udara, dalam jagad kecil udara menjadi perwujudan
91 131 dari nafas. Tanpa nafas manusia tak mungkin hidup. Anasir yang terakhir yakni bumi. Bumi menjadi perwujudan jasad atau kulit daging. Anasir bumi yang merupakan perwujudan jasad atau kulit daging ini berhubungan dengan tȇdhak siten. Tȇdhak siten adalah salah satu prosesi upacara adat Jawa untuk bayi yang berumur 7 (tujuh) bulan dalam penanggalan Jawa. Tȇdhak artinya menapakan/memijak/turun, sedangkan siten yang berarti siti artinya tanah. Dimana bayi yang berumur 7 (tujuh) bulan harus dapat menapakan/memijak/menurunkan kakinya ke tanah. Hal ini dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Selain itu sebagai penghormatan kepada bumi, dimana tempat seorang anak tinggal dan pertama kalinya menginjakkan kaki ke tanah. Sebagai lambang permohonan do a kepada Tuhan agar si anak kelak siap menghadapi halangan, rintangan, cobaan, dapat membahagiakan kedua orang tuanya serta diberi kemudahan/kelancaran, keselamatan, kesehatan, dan rejeki di dunia. Ini wajar dilaksanakan bagi masyarakat Jawa yang masih menjunjung tinggi nilai budaya, karena memang manusia hidup di dunia sudah ada yang mengatur, dan setiap manusiapun berbeda-beda jalan nasibnya. Setiap manusia yang diciptakan-nya memiliki empat (4) unsur cahaya dalam dirinya. Dimana cahaya tersebut akan menimbulkan nafsu pada manusia. Semua tergantung manusia dalam mengendalikan ataupun menyikapinya. Kutipan dalam SDR sebagai berikut:.wahananing nȇpsu kawan prakawis, ingkang sami dados durgamaning manah.
92 132 Ingkang cȇmȇng, pandamȇlipun murugakȇn hawaning luwe arip sapanunggilanipun. Ingkang abrit, pandamȇlipun murugakȇn hawaning angkara, kadosta: panasten, dȇduka sapanunggilanipun. Ingkang jȇne, pandamȇlipun murugakȇn hawaning murka, kadosta, pȇpenginan, pakarȇman, kabingahan sapanunggilanipun. Ingkang pȇthak, punika tanpa hawa amung murugakȇn, lobaning kautaman, kadosta: puja brata, sapanunggilanipun. Terjemahan:.keberadaan nafsu empat perkara, yang bersama-sama menjadi halangan, godaan atau bahayanya hati. Yang hitam, pekerjaannya menyebabkan mengantuk dan sejenisnya. rasa lapar, terasa Yang merah, pekerjaannya menyebabkan angkara murka, seperti: iri hati, pemarah dan sejenisnya. Yang kuning, pekerjaannya menyebabkan hawa kemurkaan, seperti: banyak keinginan, yang disukai bersuka ria dan sejenisnya. Yang putih, tanpa hawa nafsu hanya menyebabkan, murka atau serakah terhadap keutamaan/ kebaikan, seperti: bertapa, selalu berdo a kepada-nya, dan sejenisnya. Empat unsur cahaya di atas adalah godaan dalam kehidupan manusia di dunia. Jika tak ada empat cahaya yang saling bertolak belakang seperti di atas, perjalanan hidup manusia akan datar-datar saja. Oleh karena itu, Tuhan menciptakan manusia dengan adanya unsur tiga cahaya (hitam, merah, kuning) yang akan mengakibatkan manusia untuk berbuat keburukan, dan hanya ada satu cahaya (putih) agar manusia untuk berbuat kebaikan. Hal ini sebagai bentuk penilaian Tuhan terhadap hamba-nya seberapa jauh hamba-nya itu dapat mengendalikan nafsu buruk, untuk berjalan mendekat kepada-nya dalam hal kebaikan. Empat cahaya tersebut memiliki nama nafsu sendiri, seperti kutipan berikut: Nȇpsu luamah, ȇmpanipun murugakȇn ngangsa-angsa, ing dȇlahan dados cahya cȇmȇng, dipunwastani ngalam nasut, tȇgȇsipun lali, ing ngriku panggènaning supe, poma dipunèngȇt.
93 133 Nȇpsu amarah, inggih nȇpsu hawa, ȇmpanipun murugakȇn duka lan murka, ing dȇlahan dados cahya abrit, dipunwastani ngalam lahut, ing ngriku panggènaning rȇkaos, sabab punika awit sangganging adon-adon sadaya, punika poma-poma dipunpoma. Nȇpsu supiyah, ȇmpanipun murugakȇn supe kaliyan penginan, ing delahan dados cahya jȇne, dipunwastani ngalam jabarut, ing ngriku panggènaning gingsir, poma dipunsantosa. Nȇpsu mutmainah, ȇmpanipun murugakȇn emut, ing dȇlahan dados cahya pȇthak, dipunwastani ngalam malakut, ing ngriku panggènaning sumȇrȇp karaton, poma dipunwaspada, karana ing ngriku cahyaning pramana dhatȇng katingal sasi : cȇmȇng, abrit, jȇne, pȇthak, ijȇm, sami anglimputi dating karaton, ananging punika dede sajatosing karaton kang rinakit mahasuci. Terjemahan: Nafsu luamah, yang menyebabkan serakah, di akhirat nantinya menjadi cahaya hitam, yang dinamakan alam nasut, artinya lupa, di situ tempatnya kelalaian, oleh karena itu harus diingat. Nafsu amarah, yaitu nafsu panas, yang menyebabkan marah dan keserakahan, yang nantinya menjadi cahaya merah, yang dinamakan alam lahut, di situ tempat yang sulit, sebab itu datangnya dari sikap, oleh karena itu harus waspada. Nafsu supiyah, yang menyebabkan lupa dan keinginan, yang nantinya jadi cahaya kuning, yang dinamakan alam jabarut, di situ tempat yang harus disingkirkan, agar sentosa. Nafsu mutmainah yang menyebabkan ingat, yang nantinya menjadi cahaya putih, yang dinamakan alam malakut, di situ tempatnya mengetahui istana, harap tenang dan hati-hati, karena di situ cahaya pramana yang datang terlihat: hitam, merah, kuning, putih, hijau meliputi Dzat istana, tetapi itu bukan sejatinya istana yang diatur oleh yang Mahamulia. Uraian di atas semakin memperjelas, berbagai perwujudan nafsu dari berbagai macam cahaya yang kelak di alam gaib akan berbeda pula alamnya. Semua tergantung manusia yang menjalaninya sewaktu di dunia. Manusia yang sempurna sebaiknya manusia yang dapat mengendalikan nafsu luamah, amarah, supiyah, mutmainah.
94 134 Pemahaman tentang manusia dalam naskah ini juga menjelaskan bahwa ada tujuh nama hati atau bayangan roh, akan tetapi pada hakikatnya hanya satu. Seperti berikut kutipannya: Ati sir, wȇwayanganing roh jasmani, pandamȇlanipun dados andarbeni karsa. Ati suksma, wȇwayanganing rokhani, inggih roh rabani, pandamȇlanipun dados andarbeni pangrasa. Ati jinȇm, wȇwayanganing roh khewani, pandamȇlanipun dados andarbèni panȇdya kaliyan pangrasa. Ati puad, wȇwayanganing roh nabati, pandamȇlipun dados andarbèni panyana lawan pangesthi. Ati budi, wȇwayanganing roh rahmani, pandamȇlanipun dados andarbeni panggraita lan akal. Ati maknawi, wȇwayanganing roh nurani, pandamȇlipun dados andarbeni cipta. Ati sanubari, wȇwayanganing roh ilapi, pandamȇlanipun dados andarbeni karȇp kaanan sadaya. Terjemahan: Hati sir, merupakan bayangan roh jasmani, pekerjaanya menjadi memiliki kehendak. Hati suksma, bayangannya rohani, yaitu roh rabani, pekerjaanya memiliki perasaan. Hati jinem, bayangannya roh hewani, pekerjaanya memiliki banyak mau/berkehendak/keinginan dan rasa. Hati puad, bayangannya roh nabati, pekerjaanya memiliki sangkaan/perkiraan dan pikiran beribadah. Hati budi, bayangannya roh rahmani, pekerjaanya memiliki anganangan dan akal. Hati maknawi, bayangan roh nurani, pekerjaanya memiliki gagasan/ pikiran. Hati sanubari, merupakan bayangan roh idlafi, pekerjaanya memiliki semua keinginan.
95 135 c. Konsep Manunggaling Kawula Gusti Pada intinya dalam naskah SDR ini mengajarkan tentang manunggaling kawula Gusti (bersatunya manusia dengan Tuhan). Maksudnya cara hidup yang seperti apa untuk mencapai atau mendapatkan penghayatan kesatuan antara manusia dengan Sang Khaliq atau Tuhannya. Untuk mencapai penghayatan tersebut dibutuhkan beberapa tahapantahapan/tingkatan-tingkatan layaknya seperti apa yang telah diketahui ataupun dijalani oleh para wali. Seperti pada kutipan SDR (halaman 6 dan 7) berikut: Sarengat dunungipun wontȇn ing tutuk, pandamȇlipun dhatȇng pangalȇm tuwin panacad, lampahipun trima, tȇgȇsipun sabar. Tarekat dunungipun wontȇn ing grana, pandamȇlipun dhatȇnging karsa, lawan panampik, lampahipun lila. Hakekat dunungipun wontȇn ing karna pandamȇlipun dhatȇng kasuran, kaliyan kaajrihan lampahipun tȇmȇn. Makripat dunungipun wontȇn ing netra, pandamȇlipun dhatȇng katrȇsnan kalawan dhatȇng kasȇngitan, lampahipun utami. Terjemahan: Syariat yang bertempat di mulut, yang pekerjaannya sebagai pemberi simpati/ucapan yang baik dan pemberi cacat/ ucapan yang menyakitkan, jalannya menerima, artinya sabar. Tarikat yang bertempat di hidung, yang pekerjaannya berkehendak dan menerima, jalannya ikhlas. Hakikat yang tempatnya di telinga yang pekerjaannya berani dan ketakutan yang jalannya kejujuran. Makrifat yang tempatnya di mata, yang kerjanya mencintai dan iri hati, yang jalannya utama. Kutipan di atas menjelaskan untuk mencapai penghayatan kesatuan antara manusia dengan Tuhan. Yakni setiap manusia sebaiknya memiliki sifat sabar. Sabar artinya sabar dalam menghadapi perjalanan hidup di dunia. Mulai dari permasalahan ringan sampai permasalahan berat,
96 136 manusia diharapkan untuk sabar dalam menyikapinya. Selanjutnya manusia sebaiknya mempunyai rasa ikhlas terhadap segala hal, mulai dari menjalani, ditinggalkan maupun meninggalkan. Jika manusia sudah bisa menjalani kehidupan dengan sabar, ikhlas, lalu diikuti kejujuran. Manusia sebaiknya memiliki perbuatan jujur terhadap semua makhluk ciptaan-nya. Terlebih jujur kepada Sang Khaliq. Karena dengan adanya kejujuran, dengan begitu manusia akan mematuhi semua perintah-nya dan menjauhi segala larangan-nya. Dan inilah jalan utama untuk mencapai penghayatan manusia kepada Tuhan. Hal ini serupa pula dengan cerita Dewaruci. Perjalanan Bratasena untuk mencari Tirta Pawitrasari (Air Kehidupan) tidak mudah. Diperlukannya niat yang sungguh-sungguh dan banyaknya godaan di setiap langkahnya. Langkah perjalanan Bratasena ini berurutan dan langkah tersebut merupakan perjalanan mistis dengan (4) empat tahapan, yakni: syariat, tarikat, hakikat, makrifat. Berikut pemaparannya: Pada kutipan teks SDR (halaman 1) di bawah ini: Bratasena nalika puruhita dhatȇng Dhanghyang Druna. Lajȇng anglampahi sapitȇdahipun Terjemahan: Bratasena ketika berguru kepada Dhanghyang Druna selalu menjalani nasihatnya Kutipan di atas menjelaskan bahwa Bratasena mempunyai guru yang bernama Druna. Druna adalah guru yang dipercaya oleh Bratasena. Oleh karena itu semua yang dikatakan/diperintahkan, pasti dilaksanakan Bratasena. Ini merupakan tahapan/tingkatan syariat pada perjalanan Bratasena. Kemudian tahapan tarikat dalam perjalanan Bratasena ini
97 137 dilambangkan Bratasena mematuhi semua perintah dari Druna, seperti pada kutipan (halaman 1 dan 2) berikut: Ingkang rumiyin tinȇdah dhatȇng ardi Rȇksamuka, tȇgȇsipun sampun ngambah ing makripat. Lajȇng amȇjahi dȇnawa: Rukmaka, Rukmakala. Rukmaka pȇjahipun dados Bathara Endra. Tȇgȇsipun Endra gunung inggih punika ngibarat badan sakojur, utawi dados wȇwȇnganing betalmakmur. Rukmakala pȇjahipun dados Bathara Bayu, tȇgȇsipun Bayu, betal mukadas. Ingkang kaping tiga, Bratasena dhatȇng sumur sigrangga, tȇgȇsipun, punika ngibarat kasing badan. Bratasena lajȇng mȇjahi naga estri tȇgȇsipun: mȇpȇt nȇpsu kawan prakawis Terjemahan: Yang pertama ditunjukkan ke gunung Reksamuka, artinya mulai memasuki alam makrifat. Lalu membunuh raksasa: Rukmaka, Rukmakala, matinya Rukmaka menjadi/berubah Bathara Endra. Artinya Endra gunung, yaitu ibaratnya semua tubuh, atau jadi cahayanya Baitul Makmur. Rukmakala terbunuh menjadi Bathara Bayu, artinya angin, Baitul Muqadas. Yang ketiga, Bratasena datang ke sumur Sigrangga, artinya itu ibarat kesentosaan atau keperkasaan badan. Bratasena lalu membunuh naga betina yang artinya: mengendalikan empat nafsu perkara. Uraian tersebut membuktikan jika Bratasena seorang murid yang patuh terhadap perintah dari gurunya yakni Druna. Sang Guru memerintahkan Bratasena untuk pergi ke gunung Reksamuka untuk mencari Tirta Pawitrasari. Akan tetapi di sana Bratasena tidak menemukan air kehidupan, hanya dua raksasa yang menghadang Bratasena. Dua raksasa tersebut yakni Rukmaka dan Rukmakala. Rukma artinya emas, sedangkan muka artinya wajah. Dua raksasa ini dapat disimbolkan wanita dan harta. Rukmaka merupakan perwujudan simbol dari wanita, sedangkan Rukmakala disimbolkan dengan emas (harta). Wanita dan harta merupakan godaan duniawi bagi seseorang yang ingin mencari jati dirinya. Dapat mengalahkannya dua raksasa tersebut merupakan simbol bahwa Bratasena setidaknya sudah dapat mengendalikan hawa nafsu. Setelah dua raksasa itu
98 138 dibunuh Bratasena, dua raksasa ini adalah hilang dan berubah menjadi Bathara Endra dan Bathara Bayu. Dua raksasa tadi merupakan penjelmaan dari Bathara Endra dan Bathara Bayu. Dua Sang Dewa ini kemudian menyuruh Bratasena untuk kembali ke Druna dan menanyakan yang sesungguhnya keberadaan Tirta Pawitrasari. Tanpa berpikir panjang, Bratasena bergegas meninggalkan tempat tersebut dan kembali pulang untuk menemui Druna. Setelah sampai dan menemui Druna, lalu ditunjukkannya sumur Sigrangga. Seperti pada kutipan naskah SDR (halaman 2) Ingkang kaping tiga, Bratasena dhatȇng sumur sigrangga, tȇgȇsipun, punika ngibarat kasing badan. Bratasena lajȇng mȇjahi naga estri tȇgȇsipun: mȇpȇt nȇpsu kawan prakawis, Nuntȇn Bratasena kundur dhatȇng Amarta, pamit para kadang badhe anggȇbyur dhatȇng tȇlȇnging samodra. Para kadang sami anggèndholi, tȇgȇsipun: angipatakȇn was-wasing panggalih, angungkurakȇn ing sih katrȇsnan. Kaping gangsal Bratasena anggȇbyur ing sagara Jinȇm, tȇgȇsipun sagara Jinȇm, sajatining Pangeran. Kaping nȇm,lajȇng mȇjahi naga Nȇmburnawa, tȇgȇsipun : ngibarat amȇjahi cipta kaliyan pangrasa. Terjemahan: Yang ketiga, Bratasena datang ke sumur Sigrangga, artinya itu ibarat kesentosaan atau keperkasaan badan. Bratasena lalu membunuh naga betina yang artinya: mengendalikan empat nafsu perkara. Lalu Bratasena pulang ke Amarta, berpamitan dengan saudara karena dia akan masuk di tengah samudra. Saudara-saudaranya tersebut tidak setuju dan sama-sama memegang erat-erat, artinya yang menyingkirkan atau menghilangkan perasaan khawatir, sebagai bentuk pengendalian rasa kasih sayang. Yang kelima Bratasena masuk ke dalam samudra Jinem, artinya segara Jinem, yaitu hakikat atau sejatinya Pangeran. Yang keenam, lalu membunuh Naga Nemburnawa, artinya ibarat Bratasena dapat membunuh pikiran dan perasaan.
99 139 Uraian di atas menjabarkan perjalanan Bratasena mencari Tirta Pawitrasari yang masih pada tahapan/ tingkatan tarikat, yakni mematuhi apa yang diperintahkan oleh Druna untuk pergi ke sumur Sigrangga. Tanpa keraguan, Bratasena pergi ke sumur Sigrangga. Di sumur Sigrangga Bratasena bertemu dengan naga betina yang menyerangnya, akan tetapi Bratasena dapat mengalahkan naga betina tersebut. Dapat diibaratkan Bratasena dapat mengendalikan empat nafsu. Terbunuhnya naga betina ini merupakan penjelmaan dari Dewi Maheswari, dan menyuruh Bratasena untuk pulang, karena sesungguhnya di sumur Sigrangga tidak ada Tirta Pawitrasari. Itu hanya tipuan dari Druna. Kemudian Bratasenapun pulang dan menemui sang guru yakni Druna. Bratasena menceritakan semua apa yang telah dialaminya tadi, dan Bratasena meminta petunjuk yang sesungguhnya di mana dapat ditemukannya Tirta Pawitrasari (Air Kehidupan). Lalu Druna menunjukkan keberadaan Tirta Pawitrasari ada di tengah samudra. Sebelum Bratasena berangkat ke tengah samudra, Bratasena pulang ke Amarta untuk berpamitan kepada saudara-saudaranya. Saat berpamitan kepada saudara-saudaranya, mereka tidak ingin/tidak setuju Bratasena pergi ke tengah samudra tersebut karena akan beresiko besar nantinya. Hal ini tetap tidak dihiraukan oleh Bratasena. Tekadnya untuk pergi ke tengah samudra sudah bulat untuk mencari air kehidupan. Kemudian Bratasena pergi ke samudra Jinem. Samudra Jinem artinya yaitu hakikat atau sejatinya Pangeran. Sampai di samudra ini, Bratasena memandangi lautan luas. Jika Bratasena ingin ke tengah samudra, berarti Bratasena harus masuk ke dalam samudra tersebut, sama saja
100 140 menenggelamkan di samudra yang luas dan dalam itu dapat membunuh dirinya sendiri, akan tetapi jika Bratasena tidak masuk dia hanya membawa pulang malu. Akhirnya Bratasena berpasrah kepada Tuhan, kematian dan hidupnya hanya diserahkan kepada Tuhan. Kemudian Bratasena masuk ke samudra. Di tengah samudra Bratasena dihalangi oleh Naga Nemburnawa. Pada akhirnya Bratasena dapat mengalahkan Naga Nemburnawa ibarat dapat membunuh pikiran dan perasaan. Naga Nemburnawa merupakan simbol nafsu yakni harus dapat mematikan pikiran untuk tidak makan dan minum semaunya/ sepuasnya dan juga perasaan yang hanya ingin menuruti ego. Contohnya hanya demi perempuan yang ingin dinikahinya dia rela bertarung untuk memperebutkan. Selesainya Bratasena membunuh Naga Nemburnawa, Bratasena melihat sosok seperti perwujudannya, hanya saja tubuhnya kecil. Dia adalah Dewaruci. Di sinilah merupakan tahapan/ tingkatan hakikat dalam perjalanan Bratasena. Seperti pada kutipan naskah SDR (halaman 2-4) di bawah ini: Nuntȇn Sang Dewaruci dhatȇng, inggih punika ngibaratipun dhatȇnging dad sajati. Nuntȇn jȇjagongan kaliyan Dewaruci malih, punika ngibaratipun amratandhakakȇn wontȇn ing ngalam sahir tunggil dad sipat asma apngal. Nuntȇn manjing ing guwa garba. Kapanggih kaliyan Dewaruci punika wontȇn ing ngalam kabir, tandha bilih botȇn kenging pisah. Guwa garba ngibarating ngalam insan kamil, inggih punika mratandhakakȇn yèn sampurna. Kaping pitu, Bratasena nalika wontȇn guwa garba, aningali samodra tanpa tȇpi, inggih punika wahananipun manah. Kaping wolu, Bratasena aningali cahya gumawang pancamaya namanipun inggih punika wahananing jantung, anglimputi jatining manah, dados pangarsaning sarira. Mila dipunwastani muka sipat,
101 141 dene kuwasa nuntun sajatining sipat kang linuwih ȇmpanipun wontȇn ing cipta, papanipun wontȇn ing paningal pamiyarsa, pangambȇt, pangraos, pamiraose botȇn kasamaran dènira nȇngȇri sajatining rupa. Kaping sanga, Bratasena ningali cahya kawan warni : cȇmȇng, abrit, jȇne, pȇthak, inggih punika wahananing budi, mȇdalakȇn wahananing nȇpsu kawan prakawis, ingkang sami dados durgamaning manah. Lalu Sang Dewaruci datang, yaitu ibaratnya Dzat sejati datang. Lalu bercakap-cakap dengan Dewaruci lagi, ibaratnya itu menandakan di alam sunyi sendirian Dzatnya. Lalu masuk di dalam perut. Bertemu dengan Dewaruci itu berada di alam Kabir, tanda jika tidak dapat pisah. Perut ibarat alam manusia sempurna, yaitu menandakan jika sempurna. Yang ketujuh, Bratasena ketika berada perut, melihat samudra tiada batas, yaitulah menerangkan perjalanan hati. Yang kedelapan, Bratasena melihat cahaya bernama Pancamaya, yaitu menerangkan jantung, yang meliputi hakikat/sejatinya hati, yang menjadi pimpinan badan. Maka dari itu dinamakan sifat awal(muka sifat), yang kuasanya menginginkan sifat sejati yang lebih berada di pikiran, tempatnya di penglihatan, penciuman, perasan, yang tidak samar itu menandakan sejatinya dia. Yang kesembilan, Bratasena melihat cahaya empat warna: hitam, merah, kuning, putih, yaitu yang menerangkan tentang sikap, memberi keberadaan nafsu empat perkara, yang bersama-sama menjadi halangan, godaan atau bahayanya hati. Uraian di atas menjabarkan sesampainya di dasar samudra, Bratasena bertemu dengan Dewaruci. Dewaruci adalah Dewa atau Tuhan. Di sini mereka bercakap-cakap. Bratasenapun juga menanyakan kepada Dewaruci tentang keberadaan Titra Pawitrasari, akan tetapi jawaban yang mengejutkan bagi Bratasena jika keberadaan air kehidupan tidak akan pernah ada wujudnya. Hanya dapat dirasakan dalam kesadaran pada diri seseorang. Kemudian Dewaruci menyuruh Bratasena masuk ke dalam tubuh Sang Dewaruci. Di dalam perut Dewaruci inilah Bratasena merasa sendiri, di tempat luas tiada batas yang sunyi, kosong. Peristiwa ini merupakan tahapan/tingkatan makrifat. Yakni tingkat yang paling
102 142 sempurna. Dengan bersatunya Bratasena masuk ke dalam tubuh Dewaruci merupakan simbol bersatunya manusia dengan Tuhan. Di dalam perut Dewaruci, Bratasena melihat cahaya yang bernama Pancamaya yang menerangkan jantung, yang meliputi hakikat/sejatinya hati, yang menjadi pimpinan badan. Kemudian Bratasena melihat empat warna cahaya yakni hitam, merah, kuning, putih. Keempat warna tersebut memiliki fungsi kerja yang berbeda-beda sebagai simbol nafsu yang menjadi godaan duniawi seperti yang dijelaskan pada halaman 131. Oleh karena itu, empat nafsu tersebut harus dikendalikan. Setelah melihat empat warna cahaya tadi, Bratasena melihat sesuatu yang menyala berkilau delapan warna seperti pada kutipan naskah SDR (halaman 4 dan 5) berikut: Kaping sadasa, Bratasena ningali urup satunggal darbe sorot wolung warni: cȇmȇng, abrit, jȇne, pȇthak, ijȇm, wungu, biru, dadu: inggih punika wahananing Pangeran, kawimbuhan cahyaning pramana, ing ngandhap punika tȇgȇsipun: Ingkang cȇmȇng mȇlȇs mȇlȇng-mȇlȇng, kados musthikaning bumi, inggih punika nisthaning cipta. Ingkang abrit abra marakata, kados sȇsotya gȇniyara, inggih punika anȇdahakȇn dusthaning cipta. Ingkang jȇne sumunar, kados rȇtna dumilah, inggih punika nȇdahakȇn doraning cipta. Ingkang pȇthak maya-maya wȇnȇs, kados manikmaya, inggih punika nȇdahakȇn sȇtyaning cipta. Ingkang ijȇm ngȇnguwung, kados manik tejomaya, inggih punika nȇdahakȇn santosaning cipta. Ingkang biru muyȇg, kados nilapakaja, inggih punika nȇdahakȇn sambawaning cipta. Ingkang wungu mȇngȇs, kados manik pusparaga, inggih punika nȇdahakȇn sambadaning cipta. Ingkang dadu muncar, kados mirah dlima, inggih punika nȇdahakȇn ewah gingsiring cipta.
103 143 Terjemahan: Yang kesepuluh, Bratasena melihat suatu cahaya yang nyala berkilau delapan warna: hitam, merah, kuning, putih, hijau, ungu, biru, merah muda: yaitu menerangkan Pangeran/Allah, ditambah cahayanya terang/cerah, di bawah ini artinya: Yang hitam sangat gilap, seperti mustika/kelebihannya bumi, yaitu merendahkan pikirannya sendiri. Yang merah sangat gemerlapan, seperti api yang membara, yaitu menunjukkan kelicikan pikiran. Yang kuning bersinar, seperti intan bercahaya, yaitu menunjukkan jahatnya pikiran. Yang putih bersih, seperti putihnya mata, yaitu tanda setianya pikiran Yang hijau berkilau, seperti cahaya manikmaya, yaitu menandakan sentosa/tentramnya pikiran Yang biru, seperti nilapakaja, yaitu menerangkan jalannya pikiran. Yang ungu semu hitam gilap, seperti manik pusparaga, yaitu menandakan pikiran yang sabar. Yang merah muda, seperti merah delima, yaitu menandakan perubahan pikiran. Uraian tersebut menjabarkan tentang delapan warna berkilauan yang dilihat oleh Bratasena. Yang mana delapan warna tersebut mempunyai pekerjaan masing-masing, itu semua adalah penggambaran yang ada di dalam jagad kecil yakni manusia. Sehilangnya delapan warna berkilauan tadi, Bratasena melihat seperti tawon gumana yang cahayanya sangat cerah. Berikut kutipan pada naskah SDR (halaman 5): Kaping sȇwȇlas, Bratasena lajȇng ningali rȇrupan kados tawon gumana, awȇning cahyanipun, punika pramananing suksma, ingkang mimbuhi warna sadaya, anglimputi jagad alit jagad agȇng, sak isèn-isènipun sadaya, inggih punika gȇsangipun saking pramananing rahsa. Terjemahan: Yang kesebelas, Bratasena lalu melihat seperti tawon gumana (anak tawon), cahayanya sangat cerah, ini pramananing suksma,
104 144 yang menambahi semua warna dunia ini, yang meliputi jagad/dunia kecil dunia besar, seisinya semua, yaitu makmurnya dari pramananing rahsa. Kutipan ini menjabarkan jika yang dilihat Bratasena seperti tawon gumana ini perwujudan pramananing suksma dan pramananing rahsa. Setelah hilangnya cahaya cerah tadi, Bratasena melihat wajah seperti golèk gadhing (boneka gading). Seperti pada kutipan naskah SDR (halaman 6): Kaping kalih wȇlas, Bratasena ningali rȇrupan kados golèk gadhing ingkang kasawang kados pȇputran mutyara, mancur mancorong cahyanipun, punika pramananing rahsa, kang amurba amisesa ing ngalam sadaya. Inggih punika gȇsangipun saking Atma. Kaping tiga wȇlas, ningali sipat ȇsa, dede jalȇr dede estri, botȇn arah botȇn ȇnggèn, tanpa rupa tanpa warna, cahyanipun gumilang tanpa wȇwayangan, inggih punika dating Atma, kang kawasa nitahakȇn saliring ngalam sadaya, gȇsang botȇn wontȇn kang anggȇsangi, inggih punika dumunung wontȇn ing urip kita. Terjemahan: Yang kedua belas, Bratasena melihat wajah seperti golèk gadhing (boneka gading) yang terlihat seperti mutiara, cahayanya mencolok/sumorot, ini pramananing rahsa, yang berkuasa menciptakan segala sesuatu semua di alam. Yaitu kehidupan dari Dzat atma. Yang ketiga belas, melihat sifat Esa, bukan laki-laki, bukan perempuan, tidak berarah tidak bertempat, tanpa rupa, tanpa warna (tak jelas raut wajahnya), cahayanya berkilau tanpa bayangan, yaitu Dzat atma, yang berkuasa menciptakan ke semua alam, hidup tidak ada yang menghidupi, yaitu semua berada di dalam pada hidup kita sendiri. Uraian di atas menjabarkan bahwa yang dilihat Bratasena seperti boneka gading itu perwujudan Dzat Sejati yang tidak akan pernah dilihat. Tidak bertempat kedudukan, tidak berwujud, tidak berwarna, tidak perempuan tidak pula laki-laki. Hanya orang-orang yang waspada. Inilah yang berkuasa dalam kehidupan diri manusia, karena Dzat ini yang membawa hidupnya manusia.
105 145 Itulah wejangan/nasihat yang didapat Bratasena selama berada di perut Sang Dewaruci. Sesungguhnya perwujudan Tirta Pawitrasari tidak akan pernah ada, hanya dapat dirasakan dengan ketenangan hati. Pemahaman atau konsep tentang manunggaling kawula Gusti dalam naskah ini juga dijelaskan adanya tujuh tingkatan sebagai perwujudan Tuhan. Seperti kutipan berikut:...wangsul dhatȇng asalipun saking cahya, dados nukat gaib, benjing wontȇnipun ing ngalam insan kamil, inggih punika ingkang badhe tumitah, dados jagad malih, tȇgȇsipun inggih wadhag punika: Tumurunipun punika awit ngambah akhadiyat. Lajȇng ngambah wahdad. Lajȇng ngambah wakidiyat. Lajȇng ngambah ngalam arwah. Lajȇng ngambah ngalam misal. Lajȇng ngambah ngalam Ajȇsan. Lajȇng ngambah ngalam insan kamil. Dene panginggilipun awit ngambah ing ngalam Ajȇsan, sapanginggilipun dumugi ing ngalam insan kamil malih. Punika kawikanana, tȇgȇsipun ngalam pitung prakawis wau, wijanging satunggal-tunggalipun kados ing ngandhap punika: Akhadiyat, tȇgȇsipun wiwitaning sawiji, ing ngriku wiwit tumitah, ing dat sawiji. Wahdad, tȇgȇsipun jumȇnȇng sawiji, ing ngriku wiwit jumȇnȇnging dat sawiji, wontȇn ing nukat gaib, tȇgȇsipun nukat,: wiji, tȇgȇsipun gaib,: samar, wontȇn dalȇm manungsa wau. Wakidiyat, tȇgȇsipun wȇkasaning sawiji, inggih punika wȇkasaning sipating dat sawiji. Ajȇsan, tȇgȇsipun jisim, inggih punika sampun kanthi Allah, tȇgȇsipun Allah badan. Misal, tȇgȇsipun upama, inggih punika: kadamȇl sêsilih sipat ingkang mahasuci, wontȇn ing jagad alit, kapurba saking jagad alit:
106 146 Arwah, tȇgȇsipun roh, tȇgȇsing roh urib, inggih punika sampun kapanjingan gȇsang. Insan kamil, tȇgȇsipun sampurna, inggih punika manungsa ingkang sampurna. Terjemahan: kembali ke asalnya dari cahaya, menjadi nukat gaib, yang nantinya di alam insan kamil (manusia sempurna), yaitu yang akan menciptakan menjadi dunia lagi, artinya seperti di bawah ini: Turunnya ini dikarenakan menginjak/ memasuki ahadiyat Lalu menuju/ menginjak wahdat Lalu menuju wahidiyat Lalu menuju/ menginjak alam arwah Lalu menuju alam misal Lalu menuju alam ajsam Lalu menuju alam insan kamil (manusia sempurna) Sedangkan yang paling atas mulai dari menuju di alam ajsam, sampai di alam insan kamil lagi. Maka ketahuilah, arti alam tujuh perkara tadi, satu persatunya menerangkan seperti di bawah ini: Ahadiyat, arti mulainya sesuatu, di situ beradanya Dzat pertama. Wahdat, artinya keberadaan sesuatu, di situ awal mula keberadaan suatu Dzat, ada di nukat gaib, artinya nukat,: satu, arti gaib,: samar, ada di dalam manusia tadi. Wahidiyat, arti akhirnya satu, yaitu akhir dari sifat sesuatu Dzat. Ajsam, artinya jisim, yaitu sudah dengan Allah, arti Allah adalah badan. Misal, arti seperti, yaitu yang dinamai sifat yang Mahamulia, ada di dunia kecil, yang sudah lama dari dunia kecil. Arwah, artinya roh, arti roh hidup, yaitu sudah ditarik dari hidup. Insan kamil, arti sempurna, yaitu manusia yang sempurna. Uraian di atas menjelaskan tentang tujuh tingkatan, yang nantinya manusia sempurna hanya akan ada di alam baka, tempat-nya, yaitu Alam yang abadi.
BAB III PENUTUP. A. Kesimpulan. 1. Naskah SDR yang dijadikan objek penelitian tidak mempunyai nomor
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap naskah SDR, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Naskah SDR yang dijadikan objek penelitian tidak mempunyai
BAB I PENDAHULUAN. yang terdapat pada kertas, lontar, kulit kayu atau rotan (Djamaris, 1977:20). Naskah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Naskah merupakan obyek material filologi yang menyimpan berbagai ungkapan pikiran dan perasaan hasil budaya bangsa pada masa lalu (Baried, 1985:54). Naskah yang dimaksud
WIRID WOLUNG PANGKAT
WIRID WOLUNG PANGKAT Kepercayaan Jawa yang asli menyatakan bahwa Dzat Tuhan yang disebut dengan Sang Hyang Wenang (Sang Hyang Wisesa, Sang Hyang Widdhiwasa, Hyang Agung) adalah "tan kena kinayangapa" artinya
PATHISARI. Wosing těmbung: Sěrat Pangracutan, suntingan lan jarwanipun teks, kalěpasan.
PATHISARI Skripsi punika asil saking panaliten filologi tumrap Sěrat Pangracutan ingkang kasimpěn ing Perpustakaan Pura Pakualaman Ngayogyakarta mawi kode koleksi 0125/PP/73. Skripsi punika awujud suntingan
SULUK DEWARUCI. (Suatu Tinjauan Filologis dan Kajian Isi)
SULUK DEWARUCI (Suatu Tinjauan Filologis dan Kajian Isi) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Melengkapi Gelar Sarjana Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret
Nilai Moral Dalam Serat Dongeng Asmadaya (Sebuah Tinjauan Filologi Sastra)
Nilai Moral Dalam Serat Dongeng Asmadaya (Sebuah Tinjauan Filologi Sastra) Oleh: Mudika Nofalia Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa [email protected] Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk
BAB III OBJEK, METODE, DAN TEKNIK PENELITIAN
BAB III OBJEK, METODE, DAN TEKNIK PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah naskah Sunda berjudul Sajarah Cijulang (SC). Naskah SC merupakan naskah yang berada di kalangan masyarakat.
BAB III KAJIAN ISI. dari pemikiran nenek moyang terdahulu. Dasar pemikiran serta teori-teori dasar
BAB III KAJIAN ISI Sumber ilmu dan pengetahuan yang berkembang saat ini, merupakan hasil dari pemikiran nenek moyang terdahulu. Dasar pemikiran serta teori-teori dasar yang kemudian dikembangkan dan dipelajari
}USDA JATENG. l'l / 03
}USDA JATENG l'l / 03 BAB I PENDATIULUAN 1. 1. Latar Belakang Karya sastra lama dapat memberikan khazanah ilmu pengetahuan yang beraneka ragam. Penggalian karya sastra lama yang tersebar di daerah-daerah
SERAT SASTRA GENDHING DALAM KAJIAN STRUKTURALISME SEMIOTIK
SERAT SASTRA GENDHING DALAM KAJIAN STRUKTURALISME SEMIOTIK SKRIPSI untuk memperoleh gelar Sarjana Sastra Jawa oleh Aldila Syarifatul Na im 2151407001 BAHASA DAN SASTRA JAWA FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS
BENTUK DAN MAKNA NAMA-NAMA BANGUNAN POKOK DI KERATON KASUNANAN SURAKARTA SKRIPSI
BENTUK DAN MAKNA NAMA-NAMA BANGUNAN POKOK DI KERATON KASUNANAN SURAKARTA SKRIPSI untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Oleh: Nama : Dewi Larasati NIM : 2102408087 JURUSAN BAHASA DAN SASTRA JAWA FAKULTAS
TRANSLITERASI. Pengertian Transliterasi. Manfaat Transliterasi. Metode Transliterasi. Masalah-Masalah Transliterasi
TRANSLITERASI Pengertian Transliterasi Onions (dalam Darusuprapta 1984: 2), adalah suntingan yang disajikan dengan jenis tulisan lain. Manfaat Transliterasi 1. pelestarian naskah 2. pengenalan naskah Baried
BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN
32 BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN Dalam melakukan sebuah penelitian diperlukan dengan adanya sebuah teori yang disertai dengan metode. Metode dapat diartikan sebagai cara-cara, strategi untuk memahami
BAB I PENDAHULUAN. yang luas yang mencakup bidang kebahasaan, kesastraan, dan kebudayaan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Filologi merupakan suatu pengetahuan tentang sastra-sastra dalam arti yang luas yang mencakup bidang kebahasaan, kesastraan, dan kebudayaan (Baroroh-Baried,
BAB III CARA PANALITEN. metode deskriptif. Miturut pamanggihipun Sudaryanto (1988: 62) metode
BAB III CARA PANALITEN A. Jinising Panaliten Panaliten menika kagolong jinising panaliten ingkang ngginakaken metode deskriptif. Miturut pamanggihipun Sudaryanto (1988: 62) metode deskriptif inggih menika
BAB I PENDAHULUAN. dipandang sebagai cipta sastra karena teks yang terdapat dalam teks mengungkapkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Naskah-naskah Nusantara sangat beraneka ragam, yang isinya mengemukakan tentang kehidupan manusia misalnya, masalah politik, sosial, ekonomi, agama, kebudayaan, bahasa,
BAB I PENDAHULUAN. bahasa, dan sastra (Baried, 1983: 4). Cipta sastra yang termuat dalam naskah,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Naskah-naskah yang terdapat di Nusantara memiliki isi yang sangat kaya. Kekayaan itu dapat ditunjukkan oleh aneka ragam aspek kehidupan yang dikemukakan, misalnya masalah
BAB II KAJIAN TEORI. Filologi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu philos yang
7 BAB II KAJIAN TEORI A. Filologi 1. Pengertian Filologi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu philos yang berarti cinta dan logos yang berarti kata. Dengan demikian, kata filologi membentuk
BAB I PENDAHULUAN. Karya-karya Raden Ngabehi Ranggawarsita banyak dipengaruhi oleh kepustakaan. 1988: 40). Kebenaran bahwa SC dikarang oleh Raden
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sêrat Cêcangkriman yang selanjutnya disingkat SC termasukk jenis teks wirid karena isinya memuat ajaran tasawuf atau mistik (Marsono, 1991: 559). SC dikarang
Nilai Pendidikan Moral dalam Serat Suluk Bodho Karya KGPA Anom Amangkunagara V
Nilai Pendidikan Moral dalam Serat Suluk Bodho Karya KGPA Anom Amangkunagara V Oleh: Najib Irwanto Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa [email protected] Abstrak: Penelitian ini bertujuan
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi KI Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Kelas/semester Materi Pokok Kompetensi Alokasi Waktu : SMP Negeri 1 Prambanan Klaten : Pendidikan Bahasa Jawa : VII/satu : Teks Cerita
TINJAUAN FILOLOGI DAN ANALISIS AJARAN MARTABAT TUJUH DALAM SERAT CECANGKRIMAN KARYA RADEN NGABEHI RANGGAWARSITA SKRIPSI
TINJAUAN FILOLOGI DAN ANALISIS AJARAN MARTABAT TUJUH DALAM SERAT CECANGKRIMAN KARYA RADEN NGABEHI RANGGAWARSITA SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah naskah Wawacan Pandita Sawang yang beraksara Arab (Pegon) dan berbahasa Sunda, teks di dalamnya berbentuk puisi/wawacan. Naskah
RENCANA PELAKSANAAN PEMBALAJARAN
RENCANA PELAKSANAAN PEMBALAJARAN Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas/ Semester Pertemuan Ke : SMP N 2 Ngemplak : Bahasa Jawa : VIII/ Ganjil : 1 X Pertemuan Standar Kompetensi : 2. Mampu mengungkapkan pikiran
BAB I PENDAHULUAN. Suatu negara atau kerajaan tentu mempunyai sistem hirarki dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Suatu negara atau kerajaan tentu mempunyai sistem hirarki dalam pemerintahan. Seperti yang terdapat pada kerajaan-kerajaan di Indonesia yang hingga saat ini
ANAFORA GRAMATIKAL DAN LEKSIKAL DALAM NOVEL GARUDA PUTIH KARYA SUPARTO BRATA
i ANAFORA GRAMATIKAL DAN LEKSIKAL DALAM NOVEL GARUDA PUTIH KARYA SUPARTO BRATA SKRIPSI untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan oleh Nama : Nila Haryu Kurniawati NIM : 2102407144 Prodi : Pendidikan Bahasa
BAB 3 OBJEK DAN METODE PENELITIAN. (Ratna, 2004:34). Metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah, sehingga
BAB 3 OBJEK DAN METODE PENELITIAN Metode dapat diartikan sebagai cara, strategi untuk memahami realitas, langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya (Ratna, 2004:34).
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semester Pertemuan Ke Alokasi Waktu Kemampuan berbahasa : SMP N 4 Wates : Bahasa Jawa : VIII/ Gasal : 1 (satu) : 2 x 40 menit :
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan bangsa yang sangat kaya. Salah satu kekayaan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan bangsa yang sangat kaya. Salah satu kekayaan yang dimiliki yaitu kebudayaan.koentjaraningrat (1985) menyebutkan bahwa kebudayaan terdiri dari tujuh
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semester Pertemuan Ke Alokasi Waktu Kemampuan berbahasa : SMP N 4 Wates : Bahasa Jawa : VIII/ Gasal : 1 (satu) : 2 x 40 menit :
UNGGAH-UNGGUHING BASA JAWI*
UNGGAH-UNGGUHING BASA JAWI* Dening Sutrisna Wibawa Universitas Negeri Yogyakarta 1. Pambuka Unggah-ungguhing basa mujudaken perangan ingkang baku soksintena ingkang ngginakaken basa Jawi. Tiyang dipunwastani
BAB I PENDAHULUAN. bangunan besar, benda-benda budaya, dan karya-karya sastra. Karya sastra tulis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia memiliki banyak warisan kebudayaan yang berupa bangunan besar, benda-benda budaya, dan karya-karya sastra. Karya sastra tulis berupa naskah
BAB I PENDAHULUAN. Tradisi tulis yang berkembang di masyarakat Jawa dapat diketahui melalui
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tradisi tulis yang berkembang di masyarakat Jawa dapat diketahui melalui naskah kuna. Jenis isi dari naskah kuna sangat beragam. Jenis teks tersebut antara lain berisi
BAB II TINJAUAN FILOLOGIS. filologi yaitu, dimulai dari penjabaran deskripsi BMK, membuat kritik teks,
BAB II TINJAUAN FILOLOGIS Pada bab II ini menguraikan tentang tinjauan filologis yang dilakukan terhadap naskah BMK. Hal ini dilakukan untuk membahas permasalahan secara mendalam yang ada di dalam naksah.
Wahyu Aris Aprillianto Universitas Muhammadiyah Purworejo
KAJIAN FILOLOGI SERAT-SERAT ANGGITAN DALEM KANGJENG GUSTI PANGERAN ADIPATI ARIYA MANGKUNEGARA IV JILID I (WANAGIRI JAMAN KANGJENG GUSTI PANGERAN ADIPATI ARIYA MANGKUNEGARA III) Wahyu Aris Aprillianto Universitas
BAB I PENDAHULUAN. kaidah yang berlaku pada masing-masing bahasa. Masing-masing kata dalam kalimat
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebuah kalimat umumnya terdiri dari rentetan kata yang disusun sesuai dengan kaidah yang berlaku pada masing-masing bahasa. Masing-masing kata dalam kalimat tersebut
KAJIAN FILOLOGI SÅHÅ KAWRUH SAJATOSING GÊSANG WONTÊN ING SÊRAT SULUK WARNI-WARNI. Mohamad Wahyu Hidayat
KAJIAN FILOLOGI SÅHÅ KAWRUH SAJATOSING GÊSANG WONTÊN ING SÊRAT SULUK WARNI-WARNI Mohamad Wahyu Hidayat 11205241011 Sarining Panalitèn Panalitѐn mênikå ancasipun kanggé ndamêl kajian filologi wontên ing
Ajaran Kesempurnaan Hidup dalam Teks Suluk Ulam Loh
Ajaran Kesempurnaan Hidup dalam Teks Suluk Ulam Loh Oleh : Lilis setyorini Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa [email protected] Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah 1) menyajikan
ANALISIS SEMIOTIK TEKSKIDUNG RUMEKSA ING WENGI
ANALISIS SEMIOTIK TEKSKIDUNG RUMEKSA ING WENGI A. PENDAHULUAN Indonesia mempunyai khasanah sastra klasik yang beraneka ragam, yang terdiri dari sastra-sastra daerah. Sastra klasik adalah sastra dalam bahasa
BAB I PENDAHULUAN. tentang kehidupan, berbagai buah pikiran, gagasan, ajaran, cerita, paham dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagai peninggalan tulisan, naskah menyimpan berbagai informasi tentang kehidupan, berbagai buah pikiran, gagasan, ajaran, cerita, paham dan pandangan hidup yang
Nilai Pendidikan Moral dalam Serat Pamorring Kawula Gusti dan Relevansinya dalam Kehidupan Sekarang
Nilai Pendidikan Moral dalam Serat Pamorring Kawula Gusti dan Relevansinya dalam Kehidupan Sekarang Oleh: Sugeng Triwibowo Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa [email protected] Abstrak:
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SatuanPendidikan : SMP N 4 WATES Kelas/Semester : VII/1 Mata Pelajaran : Bahasa Jawa Materi Pokok : Unggah-ungguh Alokasi Waktu : 2 X 40 menit (80 menit) A. Kompetensi
Ngelmu Kang Kaesthi Jeng Sunan Prawata
1 Ngelmu Kang Kaesthi Jeng Sunan Prawata Sunan Prawata adalah suami dari Ratu Kalinyamat. Pucung Jatawau: gantya mangke kang sumambung, Jeng Sunan Prawata, ambuka tekading galih, pun makaten wahyaning
SKRIPSI. oleh. Nama. : Elok Wahyuni. : Bahasa dan Sastra Jawa NIM. Program. Jurusan FAKULTAS
PEROLEHAN BAHASAA JAWA ANAK PLAYGROUP AULIYAA KENDAL USIA 3-4 TAHUN SKRIPSI untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan oleh Nama NIM : Elok Wahyuni : 2102407065 Program studi :Pendidikan Bahasa dan Sastra
KAJIAN FILOLOGI SÅHÅ PRANATANING GÊSANG ING SÊRAT PURWÅKARÅNÅ. Yesi Permata Eko Wardani
1 KAJIAN FILOLOGI SÅHÅ PRANATANING GÊSANG ING SÊRAT PURWÅKARÅNÅ Yesi Permata Eko Wardani 12205241012 SARINING PANALITÈN Panalitèn mênikå ngêwrat gangsal ancas panalitèn. Ancasipun inggih mênikå 1) ngandharakên
BAB 1 PENDAHULUAN. Aspek-aspek laku..., Lulus Listuhayu, FIB UI, Universitas Indonesia
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebudayaan merupakan hasil pikiran dari kehidupan manusia. Selain itu kebudayaan melatarbelakangi segala aspek kehidupan dan karenanya tidak dapat dipisahkan satu
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
STRUKTUR SERAT PARTAWIGENA SKRIPSI Disusun untuk memperoleh gelar Sarjana Sastra oleh Nama : Imam Arief Hidayat NIM : 2151407002 Program Studi : Sastra Jawa Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa
ABSTRAK. Kata Kunci: Simbol, makna, ajaran, semiotik, Serat Suluk Kaga Kridha Sopana.
ABSTRAK Mustikawati,Yaroh. Menelusuri Makna Serat Suluk Kaga Kridha Sopana karya Raden Sastra Darsana. Skripsi. Program Studi Sastra Jawa. Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas
WIRID HIDAYAT JATI. Anggitanipun Pujangga R. NG. RANGGAWARSITA. Kabangun dening R. TANOJO. Penerbit TRIMURT Surabaya
WIRID HIDAYAT JATI Anggitanipun Pujangga R. NG. RANGGAWARSITA Kabangun dening R. TANOJO Penerbit TRIMURT Surabaya Pambuka Babon asline layang Wiri Hidayat Jati iki, karangane sang misuwur Raden Ngabehi
SÊRAT DONGÈNG BRAMBANG BAWANG SAHA DONGÈNG ARUMSARI (SUATU TINJAUAN FILOLOGIS)
SÊRAT DONGÈNG BRAMBANG BAWANG SAHA DONGÈNG ARUMSARI (SUATU TINJAUAN FILOLOGIS) SKRIPSI Diajukan untuk Melengkapi Persyaratan guna Mencapai Gelar Sarjana Sastra Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan
Assalamu alaikum Wr. Wb. Sugeng enjang, mugi kawilujengan, kasarasan saha karaharjan tansah kajiwa kasalira kula lan panjenengan sedaya.
BUPATI KULONPROGO WEDHAR SABDA WONTEN ING ACARA MUSYAWARAH CABANG VII GABUNGAN PELAKSANA KONSTRUKSI NASIONAL INDONESIA (GAPENSI) KABUPATEN KULONPROGO Wates, 12 Februari 2011 Assalamu alaikum Wr. Wb. Sugeng
Konsep Ketuhanan Jawa Menurut Eyang Ismaya (SEMAR) Diposting oleh admin pada tanggal 19 September 2014
Konsep Ketuhanan Jawa Menurut Eyang Ismaya (SEMAR) http://lib.hukum.univpancasila.ac.id Diposting oleh admin pada tanggal 19 September 2014 Masyarakat Jawa sudah mengenal suatu kekuatan yang maha dengan
BUPATI SEMARANG SAMBUTAN BUPATI SEMARANG PADA ACARA PAMERAN BUKU MURAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014 TANGGAL 27 NOVEMBER 2014
1 BUPATI SEMARANG SAMBUTAN BUPATI SEMARANG PADA ACARA PAMERAN BUKU MURAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014 TANGGAL 27 NOVEMBER 2014 HUMAS DAN PROTOKOL SETDA KABUPATEN SEMARANG 2 Assalamu alaikum Wr. Wb. Salam
BAB 3 OBJEK DAN METODE PENELITIAN
24 BAB 3 OBJEK DAN METODE PENELITIAN Bab ini terdiri dari beberapa uraian yaitu, (1) objek penelitian, (2) metode, (3) prosedur penelitian, (4) teknik pengumpulan data 3.1 Objek Penelitian Objek penelitian
DAFTAR ISI. Hal I. FORMAT PENULISAN SECARA UMUM... 1 II. BAGIAN-BAGIAN TUGAS AKHIR... 6
DAFTAR ISI Hal I. FORMAT PENULISAN SECARA UMUM... 1 1. 1. Bahasa Penulisan... 1 1. 2. Format penulisan... 1 1. 3. Penomoran Halaman... 3 1. 4. Tabel, gambar, grafik, skema, dan objek lainnya... 3 1. 5.
KEKERASAN EMOSIONAL PADA MASA PACARAN DITINJAU DARI KONSEP DIRI REMAJA SKRIPSI. Oleh : DIAN VITANIA ANGGRAINI
KEKERASAN EMOSIONAL PADA MASA PACARAN DITINJAU DARI KONSEP DIRI REMAJA SKRIPSI Oleh : DIAN VITANIA ANGGRAINI 03.40.0243 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG 2008 KEKERASAN EMOSIONAL
Analisis Kalimat Majemuk dalam Cerita Bersambung Ngoyak Lintang Karya Al Aris Purnomo
Analisis Kalimat Majemuk dalam Cerita Bersambung Ngoyak Lintang Karya Al Aris Purnomo Oleh: Feni Astuti Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa [email protected] Abstrak: Penelitian ini bertujuan
SÊRAT KRIDHASMARA (SUATU TINJAUAN FILOLOGIS)
SÊRAT KRIDHASMARA (SUATU TINJAUAN FILOLOGIS) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi sebagian Persyaratan guna Melengkapi Gelar Sarjana Sastra Program Studi Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas
BAB II KAJIAN TEORI. A. Pengertian Filologi. kebudayaan suatu bangsa melalui teks-teks tertulis di dalam naskah-naskah klasik
digilib.uns.ac.id BAB II KAJIAN TEORI A. Pengertian Filologi Filologi adalah suatu disiplin ilmu pengetahuan yang bertujuan memahami kebudayaan suatu bangsa melalui teks-teks tertulis di dalam naskah-naskah
KESALAHAN BERBAHASA JAWA PADA PAPAN NAMA PERTOKOAN DI KABUPATEN PEMALANG
KESALAHAN BERBAHASA JAWA PADA PAPAN NAMA PERTOKOAN DI KABUPATEN PEMALANG SKRIPSI disusun untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan oleh Nama : Nopita Ika Rahmawati NIM : 2102406677 Prodi : Pendidikan Bahasa
Tarik Nafas Tahan Nafas Keluarkan Nafas Jumlah 10 Detik 10 Detik 10 Detik 30 Detik Minggu I : 3 kali
Cipto/cipta bermakna: pengareping rasa, tunggal artinya satu atau difokuskan ke satu obyek. Jadi Cipta Tunggal bisa diartikan sebagai konsentrasi cipta. 1. Cipta, karsa ( kehendak ) dan pakarti ( tindakan
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
DIKSI DALAM NOVEL CLEMANG-CLEMONG KARYA SUPARTO BRATA SKRIPSI Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Oleh Nama : Ria Hutaminingtyas NIM : 2102405609 Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Jurusan
AAK culture library I Javanese Manuscripts
KITAB TOPAH Punika serat kino mengku piwulang kabatosan kautamaning gesang Pengarangipun sampun boten kasumerepan. Kulo babar murih boten ical tanpa lari. Kanggen nambahi kathahing serat-serat Jawi. Sinten
SERAT DEWA RUCI : KONSEP MANUNGGALING KAWULA GUSTI
SERAT DEWA RUCI : KONSEP MANUNGGALING KAWULA GUSTI TRI ULFA SUSILA 2611414001 Jurusan Bahasa Jawa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang, Indonesia Info Artikel SejarahArtikel: Keywords:
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sastra diciptakan pengarang berdasarkan realita (kenyataan) yang ada di dalam masyarakat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sastra memang mencerminkan kenyataan,
KISI-KISI PENULISAN SOAL
KISI-KISI PENULISAN SOAL Jenis Sekolah : SMP Kelas VII/ Semester 1 Alokasi Waktu : 90 menit Mata Pelajaran : Bahasa Jawa Jumlah 10 PG, 5 uraian Kurikulum : Kurikulum 2013 NO KOMPETENSI KOMPETENSI KELAS/
Kawruh warnining udheng-udhengan (suatu tinjauan filologis) Budi Kristiono C UNIVERSITAS SEBELAS MARET BAB I PENDAHULUAN
Kawruh warnining udheng-udhengan (suatu tinjauan filologis) Budi Kristiono C0199012 UNIVERSITAS SEBELAS MARET BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki
ETIKA DAN ESTETIKA CERITA MINTARAGA GANCARAN KARYA PRIJOHOETOMO
ETIKA DAN ESTETIKA CERITA MINTARAGA GANCARAN KARYA PRIJOHOETOMO Oleh: Ririh Probo Siwi program studi pendidikan bahasa dan sastra jawa [email protected] ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
MEDIA PASINAON MAOS UKARA MAWI AKSARA JAWA KANTHI POP-UP BOOK KANGGE SISWA KELAS VII SMPN 1 IMOGIRI
Media Pasinaon Maos... Destiya Novia 65 MEDIA PASINAON MAOS UKARA MAWI AKSARA JAWA KANTHI POP-UP BOOK KANGGE SISWA KELAS VII SMPN 1 IMOGIRI READING JAVANESE SCRIPT LEARNING MEDIA WITH POP-UP BOOK FOR STUDENT
Analisis Deiksis dalam Komik Angkara Tan Nendra Karya Resi Wiji S. dalam Majalah Panjebar Semangat
Analisis Deiksis dalam Komik Angkara Tan Nendra Karya Resi Wiji S. dalam Majalah Panjebar Semangat Oleh: Anis Cahyani Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa [email protected] Abstrak:
STRUKTUR TEKS SERAT PANITIBAYA
STRUKTUR TEKS SERAT PANITIBAYA SKRIPSI disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Oleh Galih Mardiyoga 2102406566 JURUSAN BAHASA DAN SASTRA JAWA
Nilai Moral dalam Serat NitipranaKarangan Raden Ngabehi Yasadipura
Nilai Moral dalam Serat NitipranaKarangan Raden Ngabehi Yasadipura Oleh: Wisnu Wardani Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Jawa [email protected] Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk:
SERAT SULUK GA IB. Sajroning batin Muhammad, ya Muhammad lahir batin, ya Allah ing badanira, iya lahir iya batin, lir ombaking jaladri, tungagae
======= ======= SERAT SULUK GA IB Suluk Ga ib punika piwucal peparingipun Eyang Kangjeng Susuhunan Kalijaga, punika mboten dipun tembangaken, namung dipun waos lan dipun raos. S I N O M Iki kang dadi lelarangan,
KAJIAN FILOLOGI SÅHÅ PIWULANG MORAL WONTÊN ING SÊRAT ÉNDRÅLAKSITÅ
18 Jurnal Penelitian Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jawa Volume 6, Nomor 8, Agustus 2017 KAJIAN FILOLOGI SÅHÅ PIWULANG MORAL WONTÊN ING SÊRAT ÉNDRÅLAKSITÅ PHILOLOGY STUDY AND MORAL VALUES IN SÊRAT ÉNDRÅLAKSITÅ
QUR AN SUCI JARWA JAWI. DALAH TAFSIRIPUN Maulana Muhammad Ali.
QUR AN SUCI JARWA JAWI DALAH TAFSIRIPUN Maulana Muhammad Ali www.aaiil.org The Holy Quran Yasanipun Ingkang Anjarwakaken Design Layout : Maulana Muhammad Ali : R. Ng. H. Minhadjurrahman Djajasugita & M.
SINESTESIA PADA TUTURAN MAHASISWA PBSJ FBS UNNES SKRIPSI
SINESTESIA PADA TUTURAN MAHASISWA PBSJ FBS UNNES SKRIPSI untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan oleh Nama : Suciati Duwi Sartika NIM : 2102407125 Prodi Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa :
AAK culture library I Javanese Manuscripts
KITAB PUNTIR PALAKIYAH Bab punika ingkang gadhah pikajengan badhe sires mawi kalantar an2 iji dhadhu, namung bucal sapindhah kadosta main dhadhu. Kadosta: manawi badhe mitaken ing bab prakawis jangka 13
NASKAH SÊRAT KAWRUH MAHNITISMÊ (SUATU TINJAUAN FILOLOGIS)
NASKAH SÊRAT KAWRUH MAHNITISMÊ (SUATU TINJAUAN FILOLOGIS) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi sebagai Persyaratan guna Melengkapi Gelar Sarjana Jurusan Sastra Jawa Fakultas Ilmu Budaya Uniersitas Sebelas Maret
SERAT GAREBEG MULUD PB VII (SUNTINGAN TEKS DAN KAJIAN ISI)
SERAT GAREBEG MULUD PB VII (SUNTINGAN TEKS DAN KAJIAN ISI) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi sebagian Persyaratan guna Melengkapi Gelar Sarjana Sastra Program Studi Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas
NARASI KELISANAN DALAM TRADISI NGLIWETI PARI DESA JURANGJERO REMBANG
NARASI KELISANAN DALAM TRADISI NGLIWETI PARI DESA JURANGJERO REMBANG Skripsi Untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan Oleh Nama : Arie Ikha Safitri NIM : 2102407060 Program Studi : Pendidikan Bahasa dan
Analisis Gaya Bahasa Kiasan dan Nilai Pendidikan dalam Novel Prau Gethek Nyabrang Jaladri Karya Ir. H. Soekirman
Analisis Gaya Bahasa Kiasan dan Nilai Pendidikan dalam Novel Prau Gethek Nyabrang Jaladri Karya Ir. H. Soekirman Oleh: Devita Pangestuti Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa [email protected]
DAERAH GROBOGAN DI AWAL SEJARAH
DAERAH GROBOGAN DI AWAL SEJARAH Berdasarkan isi dan pola penyajian, yang bersumber pada Serat Sindula atau serat Babad Pajajaran Kuda Laleyan dan Serat Witoradyo, cerita Aji Saka merupakan cerita legendaris,
KITAB ARKIYAK I. (Suatu Tinjauan Filologis)
KITAB ARKIYAK I (Suatu Tinjauan Filologis) SKRIPSI Diajukan untuk Melengkapi Persyaratan Guna Mencapai Gelar Sarjana Sastra Program Studi Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret Disusun
Analisis Konjungsi dalam Wacana Berita pada Rubrik Sariwarta di Majalah Panjebar Semangat Edisi Januari-Desember 2013
Analisis Konjungsi dalam Wacana Berita pada Rubrik Sariwarta di Majalah Panjebar Semangat Edisi Januari-Desember 2013 Oleh: Nur Widiawati Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa [email protected]
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semester Alokasi Waktu : SMP N 8 YOGYAKARTA : Bahasa Jawa : IX/1 : 2 X 40 ( 1 pertemuan) A. Standar Kompetensi Mengungkapkan pikiran, pendapat,
SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU "
SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU " Dalam Sandi Sastra : Ha Huripku Cahyaning Allah Na Nur Hurip cahya wewayangan Ca Cipta rasa karsa kwasa Ra Rasa kwasa tetunggaling pangreh Ka Karsa kwasa kang
BAB I PENDAHULUAN. yang tidak hanya berupa arca atau prasasti, tetapi juga dapat berasal dari naskahnaskah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berbagai ilmu pengetahuan yang ada pada jaman sekarang dapat dikatakan merupakan buah pikir dari warisan leluhur. Warisan leluhur dapat berupa artefak yang tidak hanya
BAB IV ANALISIS TERHADAP TERJEMAH KURAN JAWI BAGUS NGARPAH
65 BAB IV ANALISIS TERHADAP TERJEMAH KURAN JAWI BAGUS NGARPAH A. Sistem Penerjemahan Allah telah menurunkan kitab-nya kepada seluruh makhluk untuk menjadi sumber petunjuk, bimbingan dan kebahagiaan bagi
DAFTAR ISI. Hal I. FORMAT PENULISAN SECARA UMUM... 1 II. BAGIAN-BAGIAN TUGAS AKHIR... 5
DAFTAR ISI Hal I. FORMAT PENULISAN SECARA UMUM... 1 1. 1. Bahasa Penulisan... 1 1. 2. Format penulisan... 1 1. 3. Penomoran Halaman... 3 1. 4. Tabel, gambar, grafik, skema, dan objek lainnya... 3 1. 5.
BAB III METODE DAN TEKNIK PENELITIAN
29 BAB III METODE DAN TEKNIK PENELITIAN Metode ilmiah dari suatu ilmu pengetahuan adalah segala jalan atau cara dalam rangka ilmu tersebut, untuk sampai kepada kesatuan pengetahuan. Tanpa metode ilmiah
pemilik code yang close sou bisa membagi source coden melalui lisensi, entah denga gratis maupun membayar. Meskipun gratis, lisensi terte bisa
pemilik code yang close sou bisa membagi source coden melalui lisensi, entah denga gratis maupun membayar. Meskipun gratis, lisensi terte bisa membuat sebuah softw tidak sepenuhnya open sour Misalnya jika
Oleh : Mas Kumitir 1 P A M E L E N G
Oleh : Mas Kumitir 1 A J I P A M E L E N G Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng : tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene empaning pandamelan wau winastan manekung, pujabrata,
Analisis Nilai Moral Rubrik Wacan Bocah dalam Majalah Djaka Lodang Edisi Juni-Desember 2013 dan Relevansinya dengan Kehidupan Sekarang
Analisis Nilai Moral Rubrik Wacan Bocah dalam Majalah Djaka Lodang Edisi Juni-Desember 2013 dan Relevansinya dengan Kehidupan Sekarang Oleh: Imroati Hasanah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa
Ikrar Minamata インドネシア語
インドネシア語 Ikrar Minamata Melalui kisah lima puluh tahun lalu di Minamata, didapati banyak kegagalan. Dalam penelitian ini, telah dipelajari dari Minamata, betapa sulitnya mengembalikan lingkungan alam yang
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) A. Kompetensi Inti 1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan Kelas/Semester Mata Pelajaran Materi Pokok Alokasi Waktu : SMP N 4 WATES : VII/ Gasal : Bahasa Jawa : Unggah-ungguh : 80 menit A. Kompetensi Inti
DEIKSIS DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA NEGERI 2 SRAGEN
DEIKSIS DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA NEGERI 2 SRAGEN SKRIPSI oleh: BAGUS PRAMURADYA E.G.S. K1209012 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA JULI 2013 DEIKSIS
Kajian Moral Cerita Rakyat Pangeran Elor Lan Pangeran Wetan Karya Anie Soemarno Dalam Majalah Jaya Baya Edisi Maret 2009-April 2009
Kajian Moral Cerita Rakyat Pangeran Elor Lan Pangeran Wetan Karya Anie Soemarno Dalam Majalah Jaya Baya Edisi Maret 2009-April 2009 Oleh: Siswo Mardi Saputro Program setudi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Mugi kawilujengan, kasarasan saha karaharjan tansah kajiwa kasalira kula lan panjenengan sedaya.
BUPATI KULONPROGO WEDHAR SABDA WONTEN ING ACARA MBIKAK UNDIAN KUPON BLONJO MIRAH ING BALAI DESA NOMPOREJO, GALUR Assalamu alaikum Wr. Wb. Wates, 5 Maret 2011 Mugi kawilujengan, kasarasan saha karaharjan
QUR AN SUCI JARWA JAWI. DALAH TAFSIRIPUN Maulana Muhammad Ali.
QUR AN SUCI JARWA JAWI DALAH TAFSIRIPUN Maulana Muhammad Ali www.aaiil.org The Holy Quran Yasanipun Ingkang Anjarwakaken Design Layout : Maulana Muhammad Ali : R. Ng. H. Minhadjurrahman Djajasugita & M.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semester Pertemuan Ke Alokasi Waktu Kemampuan berbahasa : SMP N 4 Wates : Bahasa Jawa : VIII/ Gasal : 1 (satu) : 2 x 40 menit :
