GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN"

Transkripsi

1 V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Lokasi dan Keadaan Geografis Kelompok Tani Pondok Menteng merupakan salah satu dari tujuh anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Rukun Tani yang sebagian besar anggotanya memiliki mata pencaharian sebagai petani. Adapun Kelompok Tani lainnya yang tergabung dalam Gapoktan Rukun tani adalah Bina Mandiri, Sukamaju, Silih Asih, Sawah Lega, Tani Jaya, dan KWT Citapen Berkarya. Setiap kelompok tani memiliki jumlah anggota, luas lahan, dan jenis usaha yang berbeda seperti pada Tabel 8. Tabel 8. Nama, Jumlah Anggota, Luas, dan Jenis Usaha Anggota Kelompok Tani Gapoktan Rukun Tani Tahun 2012 No. 1. Kelompok Luas Lahan Jumlah Tani (Ha) Anggota Pondok Menteng Jenis Usaha Padi sawah, cabai keriting, buncis, kacang panjang, tomat, timun, caisin, dan jagung manis. 2. Bina Mandiri 5 20 Kelinci 3. Sukamaju 5 20 Domba, sapi potong, dan kambing 4. Silih Asih 5 5 Sale pisang, keripik pisang, dan kerajinan betek 5. Sawah Lega Padi sawah, bengkoang, dan ubi jalar 6. Tani Jaya Padi sawah, jagung manis, terung, buncis, dan caisin 7. KWT Citapen Keripik pisang, keripik jamur, dan Berkarya pangsit Sumber: Gapoktan Rukun Tani, 2012 Tabel 8 menunjukkan bahwa Kelompok Tani Pondok Menteng merupakan salah satu anggota Gapoktan Rukun Tani dengan usahatani hortikultura yang memiliki jumlah anggota paling banyak. Sedangkan kelompok tani lainnya sebagian besar tidak bergerak dalam usahatani hortikultura. Kelompok Tani Pondok Menteng terletak di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. Jaraknya ke Kantor Kecamatan adalah ±10 Km dan ±25 Km ke Ibukota Kabupaten. Sedangkan jarak ke Pasar Teknik Umum (TU) Induk Kemang dan Pasar Induk Jakarta berturut-turut adalah ±25 Km dan ±60 Km.

2 Desa Citapen merupakan salah satu dari 13 desa di Kecamatan Ciawi dengan luas wilayah sebesar Ha. Menurut WKBP3K (Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan), luas Desa Citapen adalah 393 Ha dengan lahan sawah seluas 153 Ha dan 240 Ha lahan kering. Luas lahan yang diusahakan oleh Kelompok Tani Pondok Menteng adalah 75 Ha yang terdiri dari 40 Ha lahan sawah dan 35 Ha lahan kering. Penggunaan lahan sawah dan lahan kering di Desa Citapen dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Penggunaan Lahan Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor Tahun 2012 No. Keterangan Luas (Ha) 1. Lahan Sawah Pengairan Teknis Pengairan Sederhana Sawah Tadah Hujan Jumlah Lahan Sawah 2. Lahan Darat Pekarangan dan Perumahan Tegal/ kebun Kolam Hutan Rakyat Perkebunan Lain-lain Jumlah Lahan Darat Total Sumber: Gapoktan Rukun Tani, 2012 Berdasarkan Tabel 9 dapat dilihat bahwa penggunaan lahan terbesar adalah sawah, yakni 153 Ha (38,93%). Hal tersebut menunjukkan bahwa mata pencaharian utama penduduk Desa Citapen adalah bertani. Sementara itu, lahan yang digunakan untuk kegiatan usahatani hortikultura adalah sebesar 42 Ha (10,69%). Desa Citapen merupakan dataran tinggi yang berada pada ketinggian antara 450 m dpl sampai dengan 800 m dpl dengan iklim tropis/ basah. Suhu ratarata berkisar antara 20 0 C sampai dengan 32 0 C dengan keasaman (ph) tanah antara antar 4,5 sampai 7,0. Pemanfaatan lahan sawah dan lahan darat Desa Citapen dapat ditanami sepanjang tahun/ tidak ada lahan bera. Jenis tanah adalah

3 latosol, andosol, inseptisol sehingga cocok untuk ditanami berbagai komoditi tanaman pangan, hortikultura, dan pemeliharaan ternak. 5.2 Keadaan Penduduk Jumlah penduduk Desa Citapen pada tahun 2011 adalah orang yang terdiri dari orang laki-laki dan orang perempuan. Jumlah terbesar penduduk Desa Citapen, baik perempuan maupun laki-laki berada pada golongan umur tahun dan jumlah yang paling kecil adalah golongan umur di atas 45 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Desa Citapen berada pada usia produktif. Struktur kependudukan Desa Citapen berdasarkan umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Struktur Penduduk Desa Citapen Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2011 No. Golongan Umur Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan Jiwa Tahun 1,332 1,013 2, Tahun 2,443 2,229 4, >45 Tahun , Jumlah 4,442 4,054 8, Sumber: Kantor Kepala Desa Citapen, Kecamatan Ciawi 2011, (diolah) Tingkat pendidikan penduduk Desa Citapen sebagian besar adalah tamat SD/ Sederajat, yakni sebesar 35,6 persen dan diikuti oleh penduduk dengan tingkat pendidikan belum sekolah sebesar 25,84 persen. Sedangkan penduduk dengan tingkat pendidikan Diploma dan Sarjana relatif sedikit, yaitu sebesar 29 persen dan 33 persen. Jumlah penduduk Desa Citapen pada tahun 2011 berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada Tabel

4 Tabel 11. Jumlah Penduduk Desa Citapen Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2011 No Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa) 1 Belum Sekolah ,84 2 Usia 7-45 tahun tidak pernah sekolah 0 0,00 3 SD tidak tamat 125 3,34 4 Tamat SD/Sederajat ,06 5 SLTP/Sederajat ,92 6 SLTA/Sederajat ,17 7 Diploma (1,2,3) 29 0,77 8 S-1, S-2, S ,88 Jumlah Penduduk ,00 Sumber: Kantor Kepala Desa Citapen, Kecamatan Ciawi 2011, (diolah) Mata pencaharian penduduk Desa Citapen sebagian besar adalah sebagai buruh tani, yaitu sebesar 1950 jiwa atau 55,61 persen. Urutan kedua adalah sebagai petani sebesar 710 jiwa atau 20,25 persen diikuti oleh buruh industri kerajinan, buruh, pegawai negeri, pedagang, tukang kayu, pegawai swasta, tukang batu, peternak, pengrajin, guru swasta, dan TNI/ POLRI. Jumlah penduduk Desa Citapen berdasarkan jenis pekerjaannya diuraikan pada Tabel 12. Tabel 12. Jumlah Penduduk Desa Citapen Berdasarkan Jenis Pekerjaan Tahun 2011 No Jenis Pekerjaan Jumlah penduduk (Jiwa) 1 Petani ,25 2 Buruh Tani ,61 3 Buruh 250 7,13 4 Pegawai Swasta 25 0,71 5 Pegawai Negeri 76 2,16 6 Pengrajin/Penjahit/Jasa 7 0,19 7 Pedagang 76 2,16 8 Peternak 8 0,22 9 TNI/POLRI 2 0,05 10 Tukang Kayu 50 1,42 11 Tukang Batu 25 0,71 12 Guru Swasta 7 0,19 13 Buruh Industri Kerajinan 320 9,12 Total ,00 Sumber: Kantor Kepala Desa Citapen, Kecamatan Ciawi 2011, (diolah) 47

5 5.3 Karakteristik Petani Responden Petani responden dalam penelitian ini adalah petani yang melakukan kegiatan usahatani sayuran yang merupakan anggota Kelompok Tani Pondok Menteng. Responden yang dipilih adalah petani yang melakukan kegiatan usahatani sayuran dalam setahun terakhir, yaitu antara bulan agustus 2011 hingga Juli Hal ini dilakukan agar data yang diperoleh lebih akurat. Rata-rata luas lahan petani responden adalah m 2. Petani responden dibagi menjadi dua kelompok, yaitu petani luas dan petani sempit. Petani luas adalah petani yang memiliki luas lahan di atas luas rata-rata. Sedangkan petani sempit adalah petani yang memiliki luas lahan di bawah luas rata-rata. Karakteristik penguasaan lahan petani responden dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 13. Karakteristik Petani Responden di Kelompok Tani Pondok Menteng Berdasarkan Luas Lahan No Luas Lahan (m2) Jumlah 1 Petani luas (>3.697) Petani Sempit (<3697) Jumlah Sebagian besar petani responden menjadikan kegiatan bertani sebagai usaha utama. Sebanyak 76,92 persen petani luas menjadikan bertani sebagai usaha utama dan hanya tiga persen sebagai usaha sampingan. Sedangkan pada petani sempit, 100 persen menjadikan bertani sebagai usaha utama. Karakteristik status usaha petani responden dapat dilihat pada Tabel 14. Tabel 14. Karakteristik Petani Responden di Kelompok Tani Pondok Menteng Berdasarkan Status Usaha Status No Usaha Petani Luas Petani Sempit Total 1 Utama Sampingan Jumlah Petani luas dan petani sempit didominasi oleh golongan umur tahun, yaitu sebanyak 76,92 persen untuk petani luas dan 46,67 persen untuk petani 48

6 sempit. Untuk golongan umur di atas 50 tahun untuk petani luas adalah 23,08 persen dan 23,33 persen untuk petani sempit. Golongan umur tahun hanya terdapat pada petani sempit sebanyak 30 persen. Karakteristik umur petani responden dapat dilihat pada Tabel 15. Tabel 15. Karakteristik Petani Responden di Kelompok Tani Pondok Menteng Berdasarkan Umur Petani Luas Petani Sempit Total No Golongan Umur tahun tahun >50 tahun Jumlah Berdasarkan tingkat pendidikan, 69,23 persen petani luas memiliki tingkat pendidikan SD, 15,38 persen SLTP, dan 15,38 persen SLTA. Sedangkan petani sempit memiliki jumlah sebesar 66,67 persen SD, 16,67 persen tidak sekolah, 10 persen SLTA, dan 6,67 persen SLTP. Karakteristik status usaha petani responden dapat dilihat pada Tabel 16. Tabel 16. Karakteristik Petani Responden di Kelompok Tani Pondok Menteng Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat No Pendidikan Petani Luas Petani Sempit Total 1 Tidak Sekolah SD SLTP SLTA Jumlah Pengalaman bertani petani luas sebagian besar adalah tahun, yaitu sebanyak 38,46 persen diikuti dengan pengalaman tahun sebesar 30,77 persen, pengalaman di bawah 10 tahun sebesar 23,08 persen, dan pengalaman di atas 30 tahun sebesar 7,69 persen. Petani sempit juga didominasi oleh pengalaman bertani selama tahun sebanyak 46,67 persen diikuti dengan pengalaman tahun sebesar 23,33 persen, pengalaman di bawah 10 tahun sebesar 16,67 49

7 persen, dan pengalaman di atas 30 tahun sebesar 3,33 persen. Karakteristik pengalaman bertani petani responden dapat dilihat pada Tabel 17. Tabel 17. Karakteristik Petani Responden di Kelompok Tani Pondok Menteng Berdasarkan Pengalaman Bertani Pengalaman No Bertani Petani Luas Petani Sempit Total 1 < 10 tahun tahun tahun >30 tahun Jumlah Status kepemilikan lahan dibagi menjadi dua, yaitu pemilik dan penyewa. Persentasi status kepemilikan penyewa pada petani luas adalah yang paling besar, yaitu 61,54 persen. Begitu juga dengan petani sempit. Sebagian besar petani merupakan petani penyewa dengan persentasi sebesar 60,00 persen. Karakteristik status kepemilikan lahan petani responden dapat dilihat pada Tabel 18. Tabel 18. Karakteristik Petani Responden di Kelompok Tani Pondok Menteng Berdasarkan Status Kepemilikan Lahan Petani Luas Petani Sempit Total No Uraian 1 Pemilik Penyewa Jumlah Gambaran Umum Usahatani Sayuran Kelompok Tani Pondok Menteng Lahan yang diolah petani Desa Citapen terdiri dari dua jenis, yaitu lahan sawah dan lahan tegalan. Lahan sawah digunakan untuk kegiatan usahatani padi dan lahan tegalan untuk usahatani sayuran. Jenis sayuran yang diusahakan adalah cabai keriting, tomat, timun, kacang panjang, buncis, jagung manis, dan caisin. Usahatani sayuran yang dilakukan di Desa Citapen adalah usahatani dengan sistem monokultur dan tumpangsari. Jenis sayuran yang paling sering dijadikan sebagai tanaman tumpangsari adalah caisin. Caisin ditumpangsarikan 50

8 dengan jenis sayuran lainnya, yaitu cabai keriting, kacang panjang, buncis, tomat, timun, dan jagung manis pada awal penanaman. Hal ini dilakukan karena sayuran caisin tidak mempengaruhi pertumbuhan jenis sayuran lainnya. Jenis sayuran yang berada dalam satu rumpun memiliki risiko kerusakan yang tinggi karena rentan terserang penyakit. Oleh sebab itu, petani menumpangsarikan sayuran yang berbeda rumpun. Misalnya, cabai keriting dengan kacang panjang atau buncis, tomat dengan caisin, serta timun dengan jagung. Pola tanam yang dilakukan terdiri dari tiga musim tanam dalam satu tahun. Ketujuh jenis sayuran tersebut ditanam secara bergiliran sepanjang tahun tanpa adanya masa bera lahan. Tanaman cabai biasanya hanya dapat diusahakan sekali dalam setahun karena usia tanamnya yang panjang, yaitu selama tujuh bulan. Tanaman caisin dapat diusahakan hingga delapan kali dalam setahun karena umur tanamnya hanya 1,5 bulan. Jenis sayuran lainnya dapat diusahakan tiga hingga empat kali dalam setahun tergantung umur tanamnya. Pada umumnya, petani melakukan metode tumpang gilir dalam kegiatan usahanya, yakni tidak menanam jenis sayuran yang sama selama dua kali periode berturut-turut. Misalnya, menanam jagung pada MT I dan menanam timun pada MT II. Hal tersebut dilakukan agar tanaman tidak diserang penyakit dan untuk menjaga kesuburan tanah. Selain itu, harga jual komoditas juga merupakan salah satu pertimbangan bagi petani dalam menentukan jenis sayuran yang akan ditanam. Informasi harga jual sayuran diperoleh dari Gapoktan Rukun Tani. Pola tanam sayuran yang diterapkan petani luas dan petani sempit Pondok Menteng dapat dilihat pada Tabel 19 dan Tabel 20. Tabel 19. Pola Tanam Usahatani Sayuran Golongan Petani Luas di Kelompok Tani Pondok Menteng Agustus 2011-Juli 2012 MT I MT II MT III Pola Tanam Jumlah Petani Pola Tanam Jumlah Petani Pola Tanam B + C 6 To + C 3 KP + C 3 KP + C 5 C 7 CK + C 5 To + KP 1 To + JM 1 CK + B 2 C 1 JM + C 1 CK + JM 1 Jumlah Petani Ti + C 1 Ti + C 1 JM + C 1 51

9 Berdasarkan Tabel 19 dan Tabel 20, dapat diketahui bahwa jenis sayuran yang selalu diproduksi oleh petani luas dan petani sempit sepanjang tahun adalah caisin. Hal ini terjadi karena tanaman caisin merupakan jenis tanaman yang memiliki usia tanam paling pendek. Selain itu, perawatan tanaman caisin relatif lebih mudah dibandingkan dengan tanaman lainnya. Tabel 20. Pola Tanam Usahatani Sayuran Golongan Petani Sempit di Kelompok Tani Pondok Menteng Agustus 2011-Juli 2012 MT I MT II MT III Pola Tanam Jumlah Petani Pola Tanam Jumlah Petani Pola Tanam KP + C 4 To + C 10 KP + C 3 B + C 9 B + C 3 Ti + C 3 JM + C 2 JM + C 3 B + To 1 To + C 2 Ti + C 1 JM + C 9 Keterangan: B C KP To : Buncis : Caisin : Kacang Panjang : Tomat Jumlah Petani B + C 1 JM : Jagung Manis Ti : Timun CK : Cabai Keriting Usahatani sayuran yang dilakukan oleh petani Kelompok Menteng terdiri dari beberapa tahap, yaitu persemaian, pengolahan lahan, penanaman, perawatan tanaman, serta panen dan pasca panen. Keseluruhan tahap tersebut dilakukan dengan menggunakan peralatan sederhana berupa cangkul, koret, parang, ember, dan sprayer. Benih yang digunakan oleh petani sebagian besar diperoleh dari Gapoktan Rukun Tani. Hanya beberapa petani yang menggunakan benih sendiri. Adapun jumlah kebutuhan rata-rata benih per hektar dalam satu kali musim tanam dapat dilihat pada Tabel

10 Tabel 21. Jumlah Kebutuhan Rata-rata Benih Per Hektar Golongan Petani Luas dan Petani Sempit di Kelompok Tani Pondok Menteng Agustus Juli 2012 No. Benih Satuan Petani Luas Petani Sempit MT I MT II MT III MT I MT II MT III 1 Cabai Keriting Kg Buncis Kg Kacang Panjang Kg Tomat Kg Timun Kg Jagung Manis Kg Caisin Kg Dalam menjalankan kegiatan usahanya, petani menggunakan pupuk yang berbeda berdasarkan jenis sayuran yang diusahakan. Adapun jenis pupuk yang digunakan oleh petani sayuran di Pondok Menteng adalah pupuk kandang, NPK, Urea, SP 36, KCL, TSP, ZA, dan kapur dolomit. Penggunaan rata-rata pupuk per hektar dalam satu kali musim tanam yang dilakukan oleh petani luas dan petani sempit dapat dilihat pada Tabel 22. Pupuk kandang merupakan jenis pupuk yang paling banyak digunakan oleh petani luas maupun petani sempit. Hal ini disebabkan oleh pupuk kandang digunakan dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan pupuk lainnya. Pupuk kandang digunakan pada saat pengolahan lahan dan merupakan pupuk dasar yang selalu digunakan pada awal penanaman semua jenis sayuran. Tabel 22. Jumlah Kebutuhan Rata-rata Pupuk Per Hektar Golongan Petani Luas dan Petani Sempit di Kelompok Tani Pondok Menteng Agustus Juli 2012 No Jenis Pupuk Satuan Petani Luas Petani Sempit MT I MT II MT III MT I MT II MT III 1 Kandang Kg 21, , , , , , NPK Kg Urea Kg SP 36 Kg KCL Kg TSP Kg ZA Kg Dolomit Kg , ,

11 Kegiatan pemanenan dilakukan pada waktu yang berbeda sesuai dengan jenis sayuran yang ditanam. Cabai keriting dapat dipanen pada umur 105 hari, buncis pada umur 50 hari, kacang panjang pada umur 60 hari, tomat pada umur 60 hari, timun pada umur 50 hari, jagung manis pada umur 95 hari, dan caisin pada umur 35 hari. Hasil produksi rata-rata sayuran per hektar petani luas dan petani sempit di Kelompok Tani Pondok Menteng dapat dilihat pada Tabel 23. Tabel 23. Jumlah Produksi Rata-rata Sayuran (Kg) Per Hektar Petani Luas dan Petani Sempit di Kelompok Tani Pondok Menteng Agustus 2011-Juli 2012 No 1 Jenis Sayuran Cabai Keriting Petani Luas Petani Sempit MT I MT II MT III MT I MT II MT III - - 2, Buncis 2, , , , , Kacang Panjang 3, , , , Tomat 1, , , , , Timun , Jagung Manis - 1, , , , , Caisin 12, , , , , , Berdasarkan Tabel 23, dapat diketahui bahwa petani sempit tidak mengusahakan cabai keriting. Hal tersebut terjadi karena adanya keterbatasan lahan, dimana usahatani cabai keriting membutuhkan waktu tanam yang paling panjang, yaitu 6-7 bulan. Jika petani sempit memilih untuk mengusahakan cabai keriting, kemungkinan tidak dapat mengusahakan jenis sayuran yang lain dalam waktu yang sama. Dalam menjalankan kegiatan usahataninya, petani di Kelompok Tani Pondok Menteng pada umumnya menggunakan tenaga kerja dari luar keluarga. Penggunaan tenaga kerja luar keluarga terjadi karena adanya keterbatasan tenaga kerja dalam keluarga untuk melakukan kegiatan usahataninya. Tenaga kerja yang digunakan adalah tenaga kerja pria dan tenaga kerja wanita. Penggunaan rata-rata tenaga kerja per hektar dapat dilihat pada Tabel 24. Berdasarkan Tabel 24 dapat diketahui bahwa penggunaan tenaga kerja pria dan wanita berbeda sesuai dengan jenis kegiatannya. Petani di Kelompok Tani 54

12 Pondok Menteng pada umumnya hanya menggunakan tenaga kerja pria pada kegiatan pemasangan mulsa dan penyemprotan. Sedangkan pada kegiatan persemaian benih dan penyiangan, tenaga kerja yang lebih banyak digunakan adalah tenaga kerja wanita. Hal ini terlihat dari jumlah hari kerja pria dan wanita pada kegiatan tersebut. Begitu juga dengan kegiatan pengolahan, tenaga kerja yang paling banyak digunakan adalah tenaga kerja pria. Pada kegiatan lainnya, penggunaan tenaga kerja pria dan wanita relatif seimbang. 55

13 Tabel 24. Jumlah Kebutuhan Tenaga Kerja (HOK) Per Hektar Petani Luas dan Petani Sempit di Kelompok Tani Pondok Menteng Tahun 2012 Petani Luas Petani Sempit No Kegiatan MT I MT II MT III MT I MT II MT III HKP HKW HKP HKW HKP HKW HKP HKW HKP HKW HKP HKW 1 Persemaian Benih Pemasangan Mulsa Pengolahan Lahan Penanaman Benih Pemasangan Ajir Penyiangan Pemupukan Penyemprotan Pemanenan

14 Kegiatan usahatani yang dilakukan oleh petani di Kelompok Tani Pondok Menteng berbeda sesuai dengan jenis sayuran yang diusahakan. Komoditas cabai merah dan tomat membutuhkan proses persemaian terlebih dahulu, sedangkan komoditas lain tidak. Begitu juga dengan kegiatan lainnya, seperti pemupukan dan penyemprotan. Frekuensi dan waktu pemupukan pada setiap komoditas berbeda. Hal tersebut tergantung kebutuhan nutrisi dan penyakit yang menyerang sayuran yang ditanam. Adapun gambaran umum kegiatan usahatani ketujuh sayuran yang diusahakan oleh petani di Kelompok Tani Pondok Menteng akan diuraikan sebagai berikut Gambaran Umum Usahatani Cabai Keriting Cabai kerirting merupakan tanaman yang peka terhadap kondisi alam khususnya curah hujan. Hal ini berpengaruh pada kualitas produksi cabai. Curah hujan yang ideal untuk cabai keriting adalah mm/ tahun dengan kelembaban persen. Proses produksi cabai keriting yang dilakukan oleh petani Pondok Menteng dimulai dengan kegiatan persemaian benih. Persemaian benih dilakukan di dalam media polybag berukuran 12 cm x 8 cm. Bahan yang dimasukkan ke dalam polybag adalah campuran tanah dan pupuk kandang. Benih yang disemaikan dalam polybag diletakkan pada bedengan tersendiri yang sudah dipasang mulsa. Pemasangan mulsa bertujuan untuk melindungi benih dalam polybag dari terpaan sinar matahari langsung, dari siraman air hujan, menjaga kelembaban, serta melindungi dari serangan hama penyakit. Persemaian ini dilakukan selama 25 hari hingga bibit cabai tumbuh ke permukaan polybag. Selama persemaian, dilakukan penyemprotan setelah cabai berumur 10 hari. Tahap kedua yang dilakukan dalam proses produksi cabai keriting adalah pengolahan lahan. Lahan ini akan digunakan untuk menaman benih yang telah disemaikan. Pengolahan lahan yang dilakukan adalah membersihkan gulma dan bekas tanaman sebelumnya, menggemburkan tanah, dan membuat bedengan. Penggemburan tanah dilakukan agar akar tanaman cabai keriting mudah menyerap nutrisi dari dalam tanah. Pembuatan bedengan bertujuan untuk mempermudah pengaturan sirkulasi air. Panjang, lebar, dan tinggi bedengan adalah 10 m x 100 cm x 50 cm. Selanjutnya, tanah dicangkul kembali, diberi kapur dolomit, dan 57

15 kemudian dibuat lubang tanam. Kapur dolomit bertujuan untuk menetralkan ph tanah. ph tanah yang cocok untuk cabai keriting adalah 6-7. Lubang tanam dibuat dengan kedalaman 30 cm dan dimeter 5 cm. Pada lubang tanam diberi pupuk kandang dan pupuk kimia. Tahap ketiga adalah penanaman bibit. Bibit ditanam dengan memindahkan bibit dari polybag ke lahan yang telah diolah. Bibit ditanam dengan melepas polybag terlebih dahulu pada lubang tanam yang telah dibuat dengan jarak tanam sebesar 40 cm x 60 cm. Penanaman dilakukan pada sore hari agar bibit tidak terkena sinar matahari terik. Setelah penanaman, hal penting yang harus dilakukan adalah pemeliharaan. Kegiatan pemeliharaan cabai keriting yang dilakukan oleh petani Pondok Menteng terdiri dari penyulaman, pengajiran, penyiangan, pemupukan, dan pengandalian hama dan penyakit. Penyulaman merupakan penggantian bibit yang mati dan pertumbuhannya lamban dengan bibit baru dari persemaian yang sama. Penyulaman dilakukan setelah tanaman berumur satu minggu di lahan. Pengajiran adalah kegiatan pemasangan ajir (penopang tanaman yang terbuat dari bambu) agar tanaman cabai keriting tetap tumbuh tegak. Pengajiran dilakukan setelah tanaman berumur 25 hari di lahan. Penyiangan dilakukan untuk membersihkan gulma di sekitar tanaman cabai keriting. Selain mengganggu, gulma juga dapat merebut makanan tanaman. Pemupukan dilakukan untuk menjaga tingkat kesuburan tanah sehingga tanaman cabai keriting memperoleh nutrisi yang cukup. Pemupukan dilakukan sebanyak lima kali selama proses produksi cabai keriting. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menyemprotkan obat-obatan kepada tanaman. Penyemprotan dilakukan secara rutin, yakni sekali dalam seminggu agar tanaman cabai keriting terhindar dari kerusakan akibat hama dan penyakit tanaman. Tahap terakhir dari proses produksi cabai keriting adalah panen dan pasca panen. Pada umumnya, tanaman cabai keriting yang diusahakan petani Pondok Menteng dapat dipanen pada saat tanaman sudah berusia hari. Frekuensi pemanenan mampu mencapai kali hingga tanaman berusia tujuh bulan tergantung perawatan yang dilakukan. Satu tanaman cabai mampu memproduksi sebanyak 0,3 kilogram hingga satu kilogram. Rata-rata produksi cabai keriting di 58

16 Kelompok Tani Pondok Menteng mencapai sepuluh ton per hektar. Hasil produksi tanaman cabai keriting akan dijual oleh petani ke Gapoktan Rukun Tani yang dimasukkan dalam karung Gambaran Umum Usahatani Timun Kegiatan usahatani timun diawali dengan pengolahan lahan. Pengolahan lahan bertujuan untuk menggumburkan tanah, membuang gulma dan sisa tanaman sebelumnya, serta membuat bedengan. Penggemburan tanah dilakukan secara manual dengan menggunakan cangkul yang bertujuan agar akar tanaman mudah menembus tanah untuk mengambil zat-zat makanan. Bedengan dibuat dengan panjang 120 cm, lebar 50 cm dan tinggi bedengan 30 cm. Pada tahap pengolahan lahan, pembuatan lubang tanam juga dilakukan. Lubang tanam dibuat dengan kedalaman 5-10 cm dengan jarak tanam cm. Pada lubang tanam diberikan pupuk kandang dan pupuk kimia. Tahap kedua adalah penanaman benih. Pada umumnya, petani Pondok Menteng melakukan penanaman pada sore hari. Hal ini dilakukan agar bibit tidak akan terkena sinar matahari yang terik dan dapat beradaptasi dengan keadaan lahan hingga pagi hari. Setelah penanaman benih, tahap selanjutnya adalah pemasangan ajir. Pemasangan ajir bertujuan untuk menopang tanaman agar dapat tumbuh tegak. Meskipun tanaman timun sebenarnya menjalar dipermukaan tanah, ajir berguna penopang timun agar buahnya menggantung. Buah timun yang menggantung menjadikan permukaan kulitnya mulus, warnaya tidak berbelang, dan tidak mudah busuk. Tahap berikutnya adalah pemeliharaan. Pemeliharaan tanaman bertujuan untuk menjaga pertumbuhan tanaman normal dan baik, sehingga mampu menghasilkan tanaman timun yang berkualitas. Pemeliharaan tanaman yang dilakukan meliputi pemupukan, penyiangan, serta perlindungan hama dan penyakit. Pemupukan bertujuan untuk meningkatkan nutrisi dalam tanah agar kebutuhan tanaman dapat terpenuhi. Pemupukan dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada saat tanaman berumur tujuh hari dan 25 hari. Penyiangan dilakukan untuk membersihkan gulma yang mengganggu tanaman. Penyiangan dilakukan sebelum pemberian pupuk kimia. Hal ini bertujuan agar tanaman dapat menyerap 59

17 pupuk kimia secara maksimal. Pencegahan dan pemberantasan hama dan penyakit tanaman dilakukan untuk melindungi tanaman dari ancaman kerusakan yang ditimbulkan. Pemberantasan hama dan penyakit dilakukan melalui penyemprotan rutin dengan selang waktu sekali dalam satu minggu. Tahap terakhir dalam usahatani timun adalah panen dan pasca panen. Pemanenan timun dilakukan ketika timun sudah berusia hari. Frekuensi pemanenan timun dapat dilakukan sebanyak kali hingga tanaman berusia 2,5 bulan. Satu tanaman mentimun mampu memproduksi tiga kilogram hingga empat kilogram. Hasil produksi ini kemudian dimasukkan ke dalam karung untuk dijual ke Gapoktan Rukun Tani Gambaran Umum Usahatani Tomat Kegiatan usahatani tanaman tomat hampir sama dengan tanaman cabai keriting. Hal pertama yang harus dilakukan adalah persemaian benih dalam media tanam polybag. Biji tomat dimasukkan ke dalam polybag yang telah diisi tanah dan pupuk kandang. Persemaian ini berlangsung selama 25 hari hingga bibit tanaman muncul ke permukaan tanah dalam polybag. Sebelum bibit tomat dipindahkan ke lahan, lahan harus diolah terlebih dahulu. Pengolahan lahan yang dilakukan adalah membersihkan gulma dan sisa tanaman sebelumnya, menggemburkan tanah, dan membuat bedengan. Penggemburan tanah dilakukan agar akar tanaman mudah menyerap nutrisi dari dalam tanah. Bedengan dibuat dengan ukuran panjang 10 m, lebar 100 cm, dan tinggi 50 cm. Selanjutnya, tanah diberi kapur dolomit, dan kemudian dibuat lubang tanam. Lubang tanam dibuat dengan kedalaman 30 cm dan dimeter 5 cm. Pada lubang tanam diberi pupuk kandang dan pupuk kimia. Tahap ketiga adalah penanaman bibit. Bibit ditanam dengan memindahkan dari polybag pada lubang tanam yang telah dibuat. Jarak tanam tanaman tomat adalah 40 cm x 60 cm. Penanaman dilakukan pada sore hari agar bibit tidak terkena sinar matahari terik. Hal penting yang harus dilakukan adalah pemeliharaan. Kegiatan pemeliharaan tomat yang dilakukan sama seperti yang dilakukan pada tanaman cabai keriting, yakni penyulaman, pengajiran, penyiangan, pemupukan, dan pengandalian hama dan penyakit. Penyulaman dilakukan untuk mengganti bibit 60

18 yang mati dan pertumbuhannya lamban dengan bibit baru dari persemaian yang sama. Pengajiran dilakukan agar tanaman tetap tumbuh tegak. Penyiangan dilakukan untuk membersihkan gulma di sekitar tanaman. Pemupukan dilakukan untuk menjaga tingkat kesuburan tanah sehingga tanaman tomat memperoleh nutrisi yang cukup. Pemupukan dilakukan sebanyak enam kali. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menyemprotkan obat-obatan. Penyemprotan dilakukan secara rutin, yakni sekali dalam seminggu agar tanaman terhindar dari kerusakan akibat hama dan penyakit tanaman. Tahap terakhir adalah panen dan pasca panen. Pada umumnya, tanaman tomat dapat dipanen pada saat tanaman sudah berusia 65 hari. Frekuensi pemanenan mampu mencapai kali hingga tanaman berusia tiga bulan. Satu tanaman tomat mampu memproduksi sebanyak 3-4 kilogram. Hasil produksi tanaman cabai keriting akan dijual oleh petani ke Gapoktan Rukun Tani yang dimasukkan dalam kotak persegi yang terbuat dari papan. Satu kotak memuat 50 kilogram tomat Gambaran Umum Usahatani Jagung Manis Budidaya tanaman jagung manis diawali dengan pengolahan lahan. Pada tahap ini, dilakukan permbersihan lahan dari gulma dan tanaman sebelumnya. Selain itu, penggemburan tanah dan pembuatan bedengan juga dilakukan. Panjang bedengan yang dibuat adalah 10 m dengan lebar 120 cm dan tinggi 30 cm. Selanjutnya, dilakukan pembuatan lubang tanam dengan kedalaman 5 cm dan diberi pupuk kandang. Benih jagung manis kemudian dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan jarak tanam sebesar 30 cm x 30 cm. Jarak tanam menentukan kualitas buah yang akan dihasilkan. Jika jarak tanam renggang, ukuran buah yang dihasilkan lebih besar. Kegiatan penanaman jagung relatif lebih sederhana dibandingkan jenis sayuran lainnya. Tahap perawatan tanaman jagung manis terdiri dari kegiatan pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit tanaman. Kegiatan pemupukan dilakukan sebanyak dua kali, yaitu ketika tanaman berumur 10 hari dan 30 hari. Pupuk yang diberikan adalah pupuk kimia. Hama dan penyakit yang mengganggu pertumbuhan jagung manis dapat dikendalikan dengan penyemprotan obat-obatan 61

19 kepada tanaman. Frekuensi penyemprotan dilakukan berdasarkan ada atau tidaknya penyakit yang menyerang. Penyemprotan pertama dilakukan ketika tanaman berumur 15 hari. Setelah berumur hari, tanaman jagung siap untuk dipanen. Tanaman jagung manis hanya dapat dipanen sebanyak satu kali. Hal ini berbeda dengan jenis sayuran lain yang dapat dipanen sebanyak lebih dari satu kali. Jagung yang sudah dipanen dimasukkan ke dalam karung dan kemudian akan dijual ke Gapoktan Rukun Tani Gambaran Umum Usahatani Kacang Panjang Tahap pertama dalam usahatani kacang panjang adalah pengolahan lahan. Lahan dibersihkan dari gulma dan sisa tanaman sebelumnya. Kemudian lahan digemburkan, diberikan pupuk kandang, dan dilakukan pembuatan bedengan. Bedengan dibuat dengan ukuran panjang 10 m, lebar 50 cm, dan tinggi 30 cm. Setelah pembuatan bedengan, dilakukan pembuatan lubang tanam. Lubang tanam dibuat sesuai dengan jarak tanam kacang panjang, yaitu 40 cm x 50 cm dan diberi pupuk kandang. Tahap berikutnya adalah kegiatan penanaman. Benih kacang panjang dimasukkan ke dalam lubang tanam yang telah disediakan. Benih kacang panjang dimasukkan sebanyak dua biji pada setiap lubang tanam. Pemeliharaan yang dilakukan pada tanaman kacang panjang adalah pemasangan ajir, pemupukan, dan pengendalian hama dan penyakit tanaman. Pemasangan ajir dilakukan agar tanaman kacang panjang menjalar ke atas mengikuti ajir tersebut. Pemupukan dilakukan sebanyak dua kali, yaitu ketika kacang panjang berusia 10 hari dan 30 hari. Pupuk yang diberikan adalah pupuk kimia. Hama dan penyakit tanaman kacang panjang dapat dikendalikan dengan penyemprotan obat-obatan yang dilakukan hingga lima kali. Penyemprotan pertama dilakukan ketika tanaman berumur 10 hari. Penyemprotan selanjutnya dilakukan setiap sekali dalam seminggu. Tanaman kacang panjang dapat dipanen ketika sudah berusia hari. Pemanenan dapat dilakukan sebanyak 14 kali dengan jarak panen selama tiga atau empat hari. Kacang panjang yang dipanen diikat dengan menggunakan karet 62

20 gelang, dimana satu ikat memiliki berat satu kilogram. Ikatan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam karung dan dijual ke Gapoktan Rukun Tani Gambaran Umum Usahatani Buncis Kegiatan usahahatani buncis hampir sama dengan kegiatan usahatani kacang panjang. Tahap pertama yang dilakukan adalah pengolahan lahan. Pengolahan lahan dilakukan untuk membersihkan lahan dari gulma dan sisa tanaman lainnya, penggemburan, dan pembuatan bedengan. Penggemburan tanah dilakukan dengan mencangkul dan membalikkan tanah, kemudian diberikan pupuk kandang. Sedangkan ukuran bedengan yang dibuat adalah 10 untuk panjang, lebar 50 cm, dan tinggi 30 cm. Pada tahap ini, kegiatan pembuatan lubang tanam dilakukan dengan kedalaman 4-6 cm. Tahap selanjutnya adalah penanaman. Benih buncis ditanam pada lubang tanam yang memiliki jarak tanam 20 cm x 30 cm. Benih kacang panjang dimasukkan sebanyak dua biji pada setiap lubang tanam. Setelah penanaman, hal yang harus diperhatikan adalah perawatan tanaman buncis. Kegiatan pemeliharaan meliputi pemupukan, pemasangan ajir, serta pengendalian hama dan penyakit. Pemupukan bertujuan untuk memberikan tambahan unsur hara bagi tanaman. Pemupukan dilakukan sebanyak dua kali, yaitu ketika tanaman buncis berumur 10 hari dan 30 hari. Pemasangan ajir dilakukan dengan menancapkan ajir di dekat tanaman dengan tujuan agar tanaman buncis dapat tumbuh dengan tegak. Pengendalian hama dan penyakit tanaman dilakukan melalui penyemprotan obat-obatan kepada tanaman buncis. Penyemprotan dilakukan sebanyak enam kali. Penyemprotan pertama dilakukan ketika tanaman buncis berusia 10 hari. Penyemprotan berikutnya dilakukan secara rutin, yaitu sekali dalam seminggu. Pemanenan buncis dapat dilakukan pada saat tanaman berumur hari. Pemanenan dapat dilakukan hingga 15 kali yang dilakukan secara bertahap setiap 2 atau 3 hari sekali. Hasil pemanenan buncis dimasukkan ke dalam karung dan dijual ke Gapoktan Rukun Tani Gambaran Umum Usahatani Caisin Sama seperti jenis sayuran lainnya, kegiatan budidaya sayuran caisin dimulai dengan pengolahan lahan. Pengolahan lahan yang dilakukan adalah 63

21 pembersihan lahan, penggemburan, dan pembuatan bedengan. Pembersihan lahan yang dimaksudkan adalah membersihkan lahan dari gulma dan sisa tanaman sebelumnya. Penggemburan tanah dilakukan dengan cara mencangkul tanah agar tanah pada lapisan dalam dapat terangkat ke permukaan. Setelah lahan digemburkan, dilakukan pembuatan bedengan. Bedengan dibuat dengan ukuran panjang 10 m, lebar 120 cm, dan tinggi 30 cm. Untuk budidaya caisin, persemaian benih tidak dibutuhkan. Benih caisin langsung di tanam pada lubang tanam dengan jarak tanam 20 x 20 cm. Benih dimasukkan ke dalam lubang tanam dan ditutupi dengan pupuk kandang. Tahap selanjutnya adalah pemeliharaan. Pemeliharan yang dilakukan meliputi penyiraman, penyulaman dan penyiangan, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit. Penyiraman dilakukan untuk menjaga ketersediaan air yang dibutuhkan oleh tanaman caisin. Penyulaman dilakukan bersamaan dengan penyiangan. Penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang mati kemudian ditanam kembali bibit caisin yang berasal dari tanaman caisin yang tumbuh banyak dalam satu lubang tanam. Penyiangan dilakukan untuk membersihkan gulma yang mengganggu. Pemupukan tanaman caisin dilakukan sebanyak 2-3 kali selama satu kali musim tanam, yaitu pada umur 7 hari dan 25 hari. Pengendalian hama dan penyakit yang menyerang dilakukan dengan penyemprotan obat-obatan. Penyemprotan dilakukan sebanyak 4-5 kali dalam satu kali musim tanam dengan priode seminggu sekali. Penyemprotan pertama dilakukan setelah tanaman berusia 35 hari. Pemanenan caisin dilakukan sebanyak 1-2 kali. Panen pertama dilakukan setelah tanaman berumur 35 hari Panen kedua dilakukan 10 hari setelah panen pertama, yaitu pada umur 45 hari. Pemanenan dilakukan pada pagi hari agar caisin yang dipenen tidak layu terkena panas matahari terik. Sayur caisin yang dipanen dimasukkan ke dalam karung dengan kapasitas 50 kilogram per karung. Hasil panen petani caisin dujual ke Gapoktan Rukun Tani. 64

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Lokasi dan Kondisi Geografis Desa Citapen Lokasi penelitian tepatnya berada di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Berdasarkan data Dinas

Lebih terperinci

VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI

VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI 6.1 Penerimaan Usahatani Penerimaan usahatani merupakan nilai yang diperoleh dari total produksi usahatani sayuran per hektar yang dikelola oleh petani di Kelompok Tani

Lebih terperinci

Peluang Usaha Budidaya Cabai?

Peluang Usaha Budidaya Cabai? Sambal Aseli Pedasnya Peluang Usaha Budidaya Cabai? Tanaman cabai dapat tumbuh di wilayah Indonesia dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Peluang pasar besar dan luas dengan rata-rata konsumsi cabai

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Keadaan Umum, Geografis, dan Iklim Lokasi Penelitian Desa Ciaruten Ilir merupakan desa yang masih berada dalam bagian wilayah Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten

Lebih terperinci

Cara Sukses Menanam dan Budidaya Cabe Dalam Polybag

Cara Sukses Menanam dan Budidaya Cabe Dalam Polybag Cara Sukses Menanam dan Budidaya Cabe Dalam Polybag Oleh : Tatok Hidayatul Rohman Cara Budidaya Cabe Cabe merupakan salah satu jenis tanaman yang saat ini banyak digunakan untuk bumbu masakan. Harga komoditas

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Letak dan Keadaan Geografi Daerah Penelitian Desa Perbawati merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Batas-batas

Lebih terperinci

BAB IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 24 BAB IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Desa Citapen 4.1.1 Kondisi Geografis dan Administratif Desa Citapen merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Ciawi.Secara geografis

Lebih terperinci

III. TATA LAKSANA TUGAS AKHIR

III. TATA LAKSANA TUGAS AKHIR 16 III. TATA LAKSANA TUGAS AKHIR A. Tempat Pelaksanaan Tugas Akhir Kegiatan Tugas Akhir dilaksanakan di Banaran RT 4 RW 10, Kelurahan Wonoboyo, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. B. Waktu

Lebih terperinci

Cara Menanam Tomat Dalam Polybag

Cara Menanam Tomat Dalam Polybag Cara Menanam Tomat Dalam Polybag Pendahuluan Tomat dikategorikan sebagai sayuran, meskipun mempunyai struktur buah. Tanaman ini bisa tumbuh baik didataran rendah maupun tinggi mulai dari 0-1500 meter dpl,

Lebih terperinci

VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI CAISIN

VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI CAISIN VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI CAISIN Penilaian risiko produksi pada caisin dianalisis melalui penggunaan input atau faktor-faktor produksi terhadap produktivitas caisin. Analisis risiko produksi menggunakan

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM LOKASI DAN KARAKTERISTIK PETANI

V GAMBARAN UMUM LOKASI DAN KARAKTERISTIK PETANI V GAMBARAN UMUM LOKASI DAN KARAKTERISTIK PETANI 5.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 5.1.1. Kabupaten Banyuasin Kabupaten Banyuasin merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Sumatera Selatan.

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Daerah Penelitian 1. Kondisi wilayah penelitian a. Letak dan batas wilayah Kabupaten Klaten adalah kabupaten yang berada di antara kota jogja dan kota solo. Kabupaten

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN. perkebunan, khususnya pada sektor tanaman karet. Penduduk di Desa Negeri

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN. perkebunan, khususnya pada sektor tanaman karet. Penduduk di Desa Negeri IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN A. Letak Geografis Desa Negeri Baru yang merupakan salah satu desa berpotensial dalam bidang perkebunan, khususnya pada sektor tanaman karet. Penduduk di Desa Negeri

Lebih terperinci

Cara Menanam Cabe di Polybag

Cara Menanam Cabe di Polybag Cabe merupakan buah dan tumbuhan berasal dari anggota genus Capsicum. Buahnya dapat digolongkan sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana digunakan. Sebagai bumbu, buah cabai yang pedas sangat

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Universitas Lampung pada titik koordinat LS dan BT

III. BAHAN DAN METODE. Universitas Lampung pada titik koordinat LS dan BT III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada titik koordinat 5 22 10 LS dan 105 14 38 BT

Lebih terperinci

BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR

BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR 13 BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir dilaksanakan di Dusun Kwojo Wetan, Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. B. Waktu Pelaksanaan

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Petani cabai merah lahan pasir pantai di Desa Karangsewu berusia antara

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Petani cabai merah lahan pasir pantai di Desa Karangsewu berusia antara V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Identitas Petani 1. Umur Petani Petani cabai merah lahan pasir pantai di Desa Karangsewu berusia antara 30 sampai lebih dari 60 tahun. Umur petani berpengaruh langsung terhadap

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5. Gambaran Umum Desa Ciaruten Ilir Desa Ciaruten Ilir merupakan bagian wilayah Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Desa ini merupakan daerah

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN 5.1 Keadaan Pertanian di Kabupaten Garut Kabupaten Garut terletak di Propinsi Jawa Barat bagian selatan dan memiliki luas wilayah administratif sebesar 306.519 ha (3.065,19

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Karakteristik Wilayah Lokasi yang dipilih untuk penelitian ini adalah Desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Desa Gunung Malang merupakan salah

Lebih terperinci

VI KARAKTERISTIK UMUM RESPONDEN

VI KARAKTERISTIK UMUM RESPONDEN VI KARAKTERISTIK UMUM RESPONDEN Karakteristik umum dari responden pada penelitian ini diidentifikasi berdasarkan jenis kelamin, usia, status pernikahan, tingkat pendidikan, pendapatan di luar usahatani

Lebih terperinci

Menanam Laba Dari Usaha Budidaya Kedelai

Menanam Laba Dari Usaha Budidaya Kedelai Menanam Laba Dari Usaha Budidaya Kedelai Sebagai salah satu tanaman penghasil protein nabati, kebutuhan kedelai di tingkat lokal maupun nasional masih cenderung sangat tinggi. Bahkan sekarang ini kedelai

Lebih terperinci

VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KEMBANG KOL

VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KEMBANG KOL VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KEMBANG KOL 6.1 Sarana Usahatani Kembang Kol Sarana produksi merupakan faktor pengantar produksi usahatani. Saran produksi pada usahatani kembang kol terdiri dari bibit,

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. A. Letak Geografis dan Topografi Daerah Penelitian

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. A. Letak Geografis dan Topografi Daerah Penelitian 60 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak Geografis dan Topografi Daerah Penelitian Daerah penelitian terletak di Desa Fajar Asri Kecamatan Seputih Agung Kabupaten Lampung Tengah. Desa Fajar Asri

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.. Wilayah dan Topografi Secara geografis Kota Pagar Alam berada pada 4 0 Lintang Selatan (LS) dan 03.5 0 Bujur Timur (BT). Kota Pagar Alam terletak di Provinsi Sumatera

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian 16 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Kota Bandar Lampung pada bulan Mei hingga Juni 2012. 3.2

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kelompok Tani Pondok Menteng Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara

Lebih terperinci

III. METODE KEGIATAN TUGAS AKHIR (TA) A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir (TA) dilaksanakan di Dusun Selongisor RT 03 RW 15, Desa Batur,

III. METODE KEGIATAN TUGAS AKHIR (TA) A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir (TA) dilaksanakan di Dusun Selongisor RT 03 RW 15, Desa Batur, 23 III. METODE KEGIATAN TUGAS AKHIR (TA) A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir (TA) dilaksanakan di Dusun Selongisor RT 03 RW 15, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan 21 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran dan Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian Universitas

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Keadaan Umum dan Geografis Penelitian dilakukan di Desa Lebak Muncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Desa Lebak Muncang ini memiliki potensi yang baik dalam

Lebih terperinci

AGRIBISNIS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA

AGRIBISNIS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN AGRIBISNIS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA BAB VI. PERSIAPAN LAHAN Rizka Novi Sesanti KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Umur, Tingkat Pendidikan, dan Pengalaman berusahatani

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Umur, Tingkat Pendidikan, dan Pengalaman berusahatani V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Petani Responden 1. Umur, Tingkat Pendidikan, dan Pengalaman berusahatani Berdasarkan dari penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil komposisi umur kepala keluarga

Lebih terperinci

VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI

VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI 6.1. Keragaan Usahatani Padi Keragaan usahatani padi menjelaskan tentang kegiatan usahatani padi di Gapoktan Jaya Tani Desa Mangunjaya, Kecamatan Indramayu, Kabupaten

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. A. Definisi Operasional, Pengukuran, dan Klasifikasi. yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan data yang

III. METODE PENELITIAN. A. Definisi Operasional, Pengukuran, dan Klasifikasi. yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan data yang III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional, Pengukuran, dan Klasifikasi Definisi operasional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai variabelvariabel yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Gambaran Umum Usahatani Cabai Merah Keriting di Desa Citapen Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, pada umumnya sebagian besar penduduk Desa Citapen adalah bermata pencaharian

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2016 sampai dengan Juli 2016

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2016 sampai dengan Juli 2016 III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2016 sampai dengan Juli 2016 yang bertempat di Greenhouse Fakultas Pertanian dan Laboratorium Penelitian,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian 14 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung Gedung Meneng, Kecamatan raja basa, Bandar Lampung

Lebih terperinci

BAB V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN BAB V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1. Karakteristik Desa 5.1.1. Kondisi Geografis Secara administratif Desa Ringgit terletak di Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Letak Desa

Lebih terperinci

5. GAMBARAN WILAYAH PENELITIAN. Gambaran Umum Provinsi Jawa Barat

5. GAMBARAN WILAYAH PENELITIAN. Gambaran Umum Provinsi Jawa Barat 33 5. GAMBARAN WILAYAH PENELITIAN Gambaran Umum Provinsi Jawa Barat Gambar 10. Peta Wilayah Jawa Barat Provinsi Jawa Barat, secara geografis, terletak pada posisi 50 50 70 50 lintang selatan dan 1040 48-1080

Lebih terperinci

BUDIDAYA CENGKEH SECARA MUDAH OLEH HARI SUBAGYO BP3K DOKO

BUDIDAYA CENGKEH SECARA MUDAH OLEH HARI SUBAGYO BP3K DOKO BUDIDAYA CENGKEH SECARA MUDAH OLEH HARI SUBAGYO BP3K DOKO RuangTani.Com Cengkeh adalah tangkai bunga kering beraroma dari keluarga pohon Myrtaceae. Pohon cengkeh merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh

Lebih terperinci

III. TATA LAKSANA KEGIATAN TUGAS AKHIR

III. TATA LAKSANA KEGIATAN TUGAS AKHIR 20 III. TATA LAKSANA KEGIATAN TUGAS AKHIR A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir (TA) dilaksanakan di Dusun Kenteng Rt 08 Rw 02, Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Lebih terperinci

BAB VII ANALISIS PERBANDINGAN USAHATANI

BAB VII ANALISIS PERBANDINGAN USAHATANI BAB VII ANALISIS PERBANDINGAN USAHATANI 7.1. Produktivitas Usahatani Produktivitas merupakan salah satu cara untuk mengetahui efisiensi dari penggunaan sumberdaya yang ada (lahan) untuk menghasilkan keluaran

Lebih terperinci

I. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung.

I. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung. I. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung. Waktu penelitian dilaksanakan sejak bulan Mei 2010 sampai dengan panen sekitar

Lebih terperinci

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Penyusun I Wayan Suastika

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Kranggan, Desa Banaran, Desa Nomporejo, Desa Karangsewu, Desa Pandowan

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Kranggan, Desa Banaran, Desa Nomporejo, Desa Karangsewu, Desa Pandowan IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Letak Geografis Kecamatan Galur adalah salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Kulon Progo. Kecamatan Galur terdiri dari 7 Desa yaitu Desa Brosot, Desa Kranggan,

Lebih terperinci

V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. aktivitas dan produktivitas kerja. Jumlah petani pada pola tanam padi-ubi

V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. aktivitas dan produktivitas kerja. Jumlah petani pada pola tanam padi-ubi V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum Petani 1) Umur Umur petani merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap aktivitas dan produktivitas kerja. Jumlah petani pada pola tanam padi-ubi

Lebih terperinci

METODE. Lokasi dan Waktu. Materi

METODE. Lokasi dan Waktu. Materi METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2005 sampai dengan Januari 2006. Penanaman dan pemeliharaan bertempat di rumah kaca Laboratorium Lapang Agrostologi, Departemen Ilmu

Lebih terperinci

BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 36 BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN A. Keadaan Geografi Letak dan Batas Wilayah Kabupaten Ngawi secara geografis terletak pada koordinat 7º 21 7º 31 LS dan 110º 10 111º 40 BT. Batas wilayah Kabupaten

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Letak Geografis Desa Karangsewu terletak di Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun batas wilayah Desa Karangsewu adalah

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas 17 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Gedung Meneng, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung mulai

Lebih terperinci

BAB V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Garut. Desa Jatiwangi memiliki empat dusun (Ciakar, Pasir Kaliki, Halimun, dan

BAB V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Garut. Desa Jatiwangi memiliki empat dusun (Ciakar, Pasir Kaliki, Halimun, dan 31 BAB V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1 Letak dan Kondisi Geografis Desa Jatiwangi terletak di wilayah Kecamatan Pakenjeng Kabupaten Garut. Desa Jatiwangi memiliki empat dusun (Ciakar, Pasir Kaliki,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Desa Manjung, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Kecamatan Sawit memiliki ketinggian tempat 150 m dpl. Penelitian ini dilaksanakan

Lebih terperinci

VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI UBI JALAR

VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI UBI JALAR VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI UBI JALAR 8.1 Penerimaan Usahatani Ubi Jalar Penerimaan usahatani ubi jalar terdiri dari penerimaan tunai dan penerimaan tidak tunai. Penerimaan tunai merupakan penerimaan

Lebih terperinci

VII. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI UBI KAYU. Umumnya petani ubi kayu Desa Pasirlaja menggunakan seluruh lahan

VII. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI UBI KAYU. Umumnya petani ubi kayu Desa Pasirlaja menggunakan seluruh lahan VII. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI UBI KAYU 7.1. Analisis Penggunaan Sarana Produksi Budidaya ubi kayu tidak terlalu sulit. Ubi kayu tidak mengenal musim, kapan saja dapat ditanam. Karena itulah waktu

Lebih terperinci

VI. ANALISIS USAHATANI DAN EFEKTIVITAS KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI

VI. ANALISIS USAHATANI DAN EFEKTIVITAS KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI VI. ANALISIS USAHATANI DAN EFEKTIVITAS KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI 6.1. Proses Budidaya Ganyong Ganyong ini merupakan tanaman berimpang yang biasa ditanam oleh petani dalam skala terbatas. Umbinya merupakan

Lebih terperinci

TEKNOLOGI BUDIDAYA BAWANG MERAH DALAM POT/POLYBAG

TEKNOLOGI BUDIDAYA BAWANG MERAH DALAM POT/POLYBAG TEKNOLOGI BUDIDAYA BAWANG MERAH DALAM POT/POLYBAG Tanaman Bawang Merah (Allium Cepa Var Ascalonicum (L)) merupakan salah satu tanaman bumbu dapur yang sangat mudah dijumpai di berbaga tempat. Bumbu yang

Lebih terperinci

III BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan. Kabupaten Pesawaran dari Oktober 2011 sampai April 2012.

III BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan. Kabupaten Pesawaran dari Oktober 2011 sampai April 2012. III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran dari Oktober 2011 sampai April 2012. 3.2 Bahan dan alat Bahan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Kombinasi Produk Optimum Penentuan kombinasi produksi dilakukan untuk memperoleh lebih dari satu output dengan menggunakan satu input. Hal ini

Lebih terperinci

Agroteknologi Tanaman Rempah dan Obat

Agroteknologi Tanaman Rempah dan Obat Agroteknologi Tanaman Rempah dan Obat Syarat Tumbuh Tanaman Jahe 1. Iklim Curah hujan relatif tinggi, 2.500-4.000 mm/tahun. Memerlukan sinar matahari 2,5-7 bulan. (Penanaman di tempat yang terbuka shg

Lebih terperinci

Batas-batas Desa Pasir Jambu adalah sebagai berikut:

Batas-batas Desa Pasir Jambu adalah sebagai berikut: KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Biofisik 4.1.1 Letak dan Aksesibilitas Berdasarkan buku Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Purwakarta (21) Dinas Kehutanan Purwakarta merupakan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada 5 o 22 10 LS dan 105 o 14 38 BT dengan ketinggian

Lebih terperinci

Lampiran 1. Proyeksi Konsumsi Kedelai di Indonesia Tahun Tahun Konsumsi/capita (kg/th) Proyeksi Penduduk (000 Jiwa)

Lampiran 1. Proyeksi Konsumsi Kedelai di Indonesia Tahun Tahun Konsumsi/capita (kg/th) Proyeksi Penduduk (000 Jiwa) LAMPIRAN 201 Lampiran 1. Proyeksi Konsumsi Kedelai di Indonesia Tahun 2009-2025 Tahun Konsumsi/capita (kg/th) Proyeksi Penduduk (000 Jiwa) Pertumbuhan Penduduk (%) Total Konsumsi (000 ton) 2009 2010 2011

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. dilakukan dengan memberi perlakuan (treatment) terhadap objek. penelitian serta adanya kontrol penelitian.

BAB III METODE PENELITIAN. dilakukan dengan memberi perlakuan (treatment) terhadap objek. penelitian serta adanya kontrol penelitian. 31 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini jenis penelitian eksperimen, yaitu penelitian yang dilakukan dengan memberi perlakuan (treatment) terhadap objek penelitian serta adanya

Lebih terperinci

PENANAMAN Untuk dapat meningkatkan produksi hijauan yang optimal dan berkualitas, maka perlu diperhatikan dalam budidaya tanaman. Ada beberapa hal yan

PENANAMAN Untuk dapat meningkatkan produksi hijauan yang optimal dan berkualitas, maka perlu diperhatikan dalam budidaya tanaman. Ada beberapa hal yan Lokakarya Fungsional Non Peneliri 1997 PENGEMBANGAN TANAMAN ARACHIS SEBAGAI BAHAN PAKAN TERNAK Hadi Budiman', Syamsimar D. 1, dan Suryana 2 ' Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Jalan Raya Pajajaran

Lebih terperinci

III. METODOLOGI TUGAS AKHIR (TA)

III. METODOLOGI TUGAS AKHIR (TA) III. METODOLOGI TUGAS AKHIR (TA) A. Tempat Pelaksanaan Kegiatan Tugas Akhir (TA) akan dilaksanakan pada lahan kosong yang bertempat di Dusun Selongisor RT 03 / RW 15, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten

Lebih terperinci

UPAYA PEMULIHAN TANAH UNTUK MENINGKATKAN KETERSEDIAAN BAHAN TANAM NILAM DI KABUPATEN MALANG. Eko Purdyaningsih, SP PBT Ahli Muda

UPAYA PEMULIHAN TANAH UNTUK MENINGKATKAN KETERSEDIAAN BAHAN TANAM NILAM DI KABUPATEN MALANG. Eko Purdyaningsih, SP PBT Ahli Muda UPAYA PEMULIHAN TANAH UNTUK MENINGKATKAN KETERSEDIAAN BAHAN TANAM NILAM DI KABUPATEN MALANG Oleh : Eko Purdyaningsih, SP PBT Ahli Muda A. PENDAHULUAN Tanaman nilam merupakan kelompok tanaman penghasil

Lebih terperinci

Tahun Bawang

Tahun Bawang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Komoditas hortikultura merupakan komoditas yang sangat prospektif untuk dikembangkan melalui usaha agribisnis, mengingat potensi serapan pasar di dalam negeri dan pasar

Lebih terperinci

PEMELIHARAAN TANAMAN BAWANG MERAH

PEMELIHARAAN TANAMAN BAWANG MERAH PEMELIHARAAN TANAMAN BAWANG MERAH Oleh : Juwariyah BP3K Garum Indikator Keberhasilan : Setelah selesai mempelajari pokok bahasan ini peserta diharapkan mampu : a. Menjelaskan kembali penyulaman tanaman

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan dikebun percobaan Politeknik Negeri Lampung,

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan dikebun percobaan Politeknik Negeri Lampung, III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dikebun percobaan Politeknik Negeri Lampung, Bandar lampung. Waktu penelitian dilaksanakan sejak bulan Mei 2011 sampai

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai Mei 2016

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai Mei 2016 III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai Mei 2016 di Lahan Percobaan, Laboratorium Penelitian dan Laboratorium Tanah Fakultas

Lebih terperinci

V KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN

V KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN V KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN 5.1. Gambaran Umum Kecamatan Kebon Pedes, Kabupaten Sukabumi Gambaran umum Kecamatan Kebon Pedes, Kabupaten Sukabumi dalam penelitian ini dihat

Lebih terperinci

Teknologi Budidaya Tumpangsari Ubi Kayu - Kacang Tanah dengan Sistem Double Row

Teknologi Budidaya Tumpangsari Ubi Kayu - Kacang Tanah dengan Sistem Double Row Teknologi Budidaya Tumpangsari Ubi Kayu - Kacang Tanah dengan Sistem Double Row PENDAHULUAN Ubi kayu dapat ditanam sebagai tanaman tunggal (monokultur), sebagai tanaman pagar, maupun bersama tanaman lain

Lebih terperinci

Rahmawati 1 Latifa Hanum 2 RINGKASAN. Keywoard : Perbandingan biaya, Produksi krisan, P4S.

Rahmawati 1 Latifa Hanum 2 RINGKASAN. Keywoard : Perbandingan biaya, Produksi krisan, P4S. PERBANDINGAN KEUNTUNGAN KRISAN POTONG DENGAN PEMANFAATAN SISTEM TUNAS DAN SISTEM TANAM AWAL DI P4S ASTUTI LESTARI PARONGPONG BANDUNG BARAT Rahmawati 1 Latifa Hanum 2 RINGKASAN Indonesia merupakan negara

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada di lahan sawah milik warga di Desa Candimas

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada di lahan sawah milik warga di Desa Candimas 16 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada di lahan sawah milik warga di Desa Candimas Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan. Penelitian ini dilakukan

Lebih terperinci

Dasar agronomy " penanaman"

Dasar agronomy  penanaman Dasar agronomy " penanaman" Kegiatan penanaman merupakan salah satu langkah dalam budidaya tanaman. Dalam penanaman ada dua macam cara, yaitu langsung ditanam pada media tanam dan melalui pesemaian terlebih

Lebih terperinci

BUDIDAYA KELAPA SAWIT

BUDIDAYA KELAPA SAWIT KARYA ILMIAH BUDIDAYA KELAPA SAWIT Disusun oleh: LEGIMIN 11.11.5014 SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMUNIKASI AMIKOM YOGYAKARTA 2012 ABSTRAK Kelapa sawit merupakan komoditas yang penting karena

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahan milik petani di Desa Dolat Rakyat-

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahan milik petani di Desa Dolat Rakyat- 22 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Percobaan Penelitian ini dilaksanakan di lahan milik petani di Desa Dolat Rakyat- Tongkoh, Kabupaten Karo, Sumatera Utara dengan jenis tanah Andosol, ketinggian tempat

Lebih terperinci

Teknik Budidaya Tanaman Pepaya Ramah Lingkungan Berbasis Teknologi Bio~FOB

Teknik Budidaya Tanaman Pepaya Ramah Lingkungan Berbasis Teknologi Bio~FOB Teknik Budidaya Tanaman Pepaya Ramah Lingkungan Berbasis Teknologi Bio~FOB 1/7 Pepaya merupakan tanaman buah-buahan yang dapat tumbuh di berbagai belahan dunia dan merupakan kelompok tanaman hortikultura

Lebih terperinci

Usahatani Tumpang Sari Tanaman Tomat dan Cabai di Dataran Tinggi Kabupaten Garut

Usahatani Tumpang Sari Tanaman Tomat dan Cabai di Dataran Tinggi Kabupaten Garut Usahatani Tumpang Sari Tanaman Tomat dan Cabai di Dataran Tinggi Kabupaten Garut Endjang Sujitno 1), Taemi Fahmi 1), dan I Djatnika 2) 1) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat, Jln. Kayuambon

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Lokasi Kegiatan Tugas Akhir (TA) dilaksanakan di Dusun Pilangrejo, Rt 02 / Rw 08, Desa Kemasan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo Propinsi Jawa Tengah.

Lebih terperinci

TEKNIS BUDIDAYA TEMBAKAU

TEKNIS BUDIDAYA TEMBAKAU TEKNIS BUDIDAYA TEMBAKAU ( Nicotiana tabacum L. ) Oleh Murhawi ( Pengawas Benih Tanaman Ahli Madya ) Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya A. Pendahuluan Penanam dan penggunaan

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI HORTIKULTURA JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN PANGAN

PROGRAM STUDI HORTIKULTURA JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN PANGAN PERBANDINGAN HASIL BUDIDAYA TANAMAN KANGKUNG SECARA HIDROPONIK DAN KONVENSIONAL (Kevin Marta Wijaya 10712020) PROGRAM STUDI HORTIKULTURA JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN PANGAN POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG BANDAR

Lebih terperinci

II. HASIL DAN PEMBAHASAN

II. HASIL DAN PEMBAHASAN II. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Identitas Petani 1. Umur Petani Faktor umur adalah salah satu hal yang berpengaruh terhadap produktivitas kerja. Semakin produktif umur seseorang maka curahan tenaga yang dikeluarkan

Lebih terperinci

VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL

VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL Sistem Pertanian dengan menggunakan metode SRI di desa Jambenenggang dimulai sekitar tahun 2007. Kegiatan ini diawali dengan adanya

Lebih terperinci

PROFITABILITAS USAHATANI CABAI MERAH (Capsicum annum L.) DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS

PROFITABILITAS USAHATANI CABAI MERAH (Capsicum annum L.) DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS PROFITABILITAS USAHATANI CABAI MERAH (Capsicum annum L.) DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS Oleh MOCHAMAD RAMDAN Fakultas Pertanian Universitas Galuh Ciamis Email: ramdanmoch@gmail.com Abstrak Tujuan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP)

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) 15 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kebun Percobaan Natar, Desa Negara Ratu, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung

Lebih terperinci

BAB II DESA PULOSARI. Desa Pulosari merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan

BAB II DESA PULOSARI. Desa Pulosari merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan BAB II DESA PULOSARI 2.1 Keadaan Umum Desa Pulosari 2.1.1 Letak Geografis, Topografi, dan Iklim Desa Pulosari merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Lokasi dan Kondisi Fisik Kecamatan Berbah 1. Lokasi Kecamatan Berbah Kecamatan Berbah secara administratif menjadi wilayah Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa

Lebih terperinci

V. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN V. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Demografi Desa Citeko, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor Desa Citeko merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Cisarua. Desa Citeko memiliki potensi lahan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN 18 TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN Tinjauan Pustaka Tanaman herbal atau tanaman obat sekarang ini sudah diterima masyarakat sebagai obat alternatif dan pemelihara kesehatan yang

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian 15 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu Lembang Balai Penelitian Tanaman Sayuran 1250 m dpl mulai Juni 2011 sampai dengan Agustus 2012. Lembang terletak

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta.

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta. III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Greenhouse dan Lahan Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta. Penelitian ini

Lebih terperinci

VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI UBI JALAR

VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI UBI JALAR VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI UBI JALAR 6.1. Analisis Aspek Budidaya 6.1.1 Penyiapan Bahan Tanaman (Pembibitan) Petani ubi jalar di lokasi penelitian yang dijadikan responden adalah petani yang menanam

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Pengkajian Teknologi

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Pengkajian Teknologi 12 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Desa Negara Ratu Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan

Lebih terperinci

1 LAYANAN KONSULTASI PADI IRIGASI Kelompok tani sehamparan

1 LAYANAN KONSULTASI PADI IRIGASI Kelompok tani sehamparan 1 LAYANAN KONSULTASI PADI IRIGASI Pilih kondisi lahan sawah Anda: O Irigasi O Tadah hujan O Rawa pasang surut Apakah rekomendasi pemupukan yang diperlukan akan digunakan untuk: O lahan sawah individu petani

Lebih terperinci

PRODUCT KNOWLEDGE PEPAYA CALINA IPB 9

PRODUCT KNOWLEDGE PEPAYA CALINA IPB 9 PRODUCT KNOWLEDGE PEPAYA CALINA IPB 9 Benih Inovasi IPB Teknik Penanaman Benih Pepaya - Sebelum benih disemai, rendam dahulu benih selama 24 jam mengunakan air hangat. - Media tanam untuk pembibitan adalah

Lebih terperinci

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat Dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2016 Agustus 2016 yang

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat Dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2016 Agustus 2016 yang I. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat Dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2016 Agustus 2016 yang bertempat di Lapangan (Green House) dan Laboratorium Tanah Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

LOKASI PENELITIAN. Desa Negera Ratu dan Negeri Ratu merupakan salah dua Desa yang berada

LOKASI PENELITIAN. Desa Negera Ratu dan Negeri Ratu merupakan salah dua Desa yang berada IV. LOKASI PENELITIAN A. Desa Negera Ratu dan Negeri Ratu Desa Negera Ratu dan Negeri Ratu merupakan salah dua Desa yang berada dinaungan Kecamatan Sungkai Utara Kabupaten Lampung Utara Berdasarkan Perda

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hortikultura merupakan salah satu sektor pertanian yang memiliki peran penting dalam pembangunan perekonomian di Indonesia. Peran tersebut diantaranya adalah mampu memenuhi

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Keadaan Wilayah Penelitian dilakukan di Kabupaten Jember, Propinsi Jawa Timur yaitu di Desa Pakusari Kecamatan Pakusari. Desa Pakusari memiliki lima Dusun yaitu Dusun

Lebih terperinci