BAB IV. KONSEP RANCANGAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV. KONSEP RANCANGAN"

Transkripsi

1 BAB IV. KONSEP RANCANGAN A. TATARAN LINGKUNGAN / KOMUNITAS Dalam tataran lingkungan, produk rancangan yang dibuat dengan memanfaatkan limbah kayu palet secara maksimal. Palet kayu biasa digunakan sebagai bantalan pengepakan dan pengiriman barang peti kemas. Kayu palet ini dikenal sebagai kayu jati Belanda yang tidak jarang dianggap sebagai limbah tidak berguna. Karena kurang keras, maka kegunaannya sebatas pada peti kemas, kotak paket atau peti buah yang umurnya relatif pendek. Kayu palet ini mudah diolah dan harganya juga relatif lebih murah jika dibandingkan dengan kayu jati Jawa. Meski bekas, kayu jati Belanda berwarna cerah dan memiliki guratan-guratan yang khas serta perpaduan warna yang unik. Kedua kelebihan inilah yang membuat jati Belanda memiliki daya jual. Hasil pengolahan palet bisanya dibuat untuk furniture. Kayu Jati belanda memang tak sekuat kayu jati biasa dan bobotnya pun lebih ringan. Namun, lewat ide kreatif dan tangan-tangan terampil, produk yang dianggap tidak bernilai bisa dikreasikan menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual. Pengrajin mainan kayu biasanya menggunakan kayu jati Belanda karena kayu ini mudah diperoleh dan tidak sulit untuk di olah kembali. Karena itu, produk rancangan Tugas Akhir ini menggunakan kayu jati Belanda sebagai bahan baku utama. Target pasar dari perancangan produk Tugas Akhir ini adalah para pengrajin dan pelaku industri yang bergerak untuk memproduksi mainan kayu secara massal. Rancangan produk Tugas Akhir ini menawarkan variasi dan alternatif tehnik sambung untuk mainan kayu. Dengan mengadaptasi dari sambungan yang terdapat dalam 13

2 sambungan furniture, diharapkan hasil rancangan produk Tugas Akhir ini dapat memberikan pilihan baru bagi para pengrajin mainan kayu. Tehnik sambung mainan kayu yang diadaptasi dari sambungan furniture ini pun menawarkan kemudahan bagi pengrajin mainan karena tehnik yang digunakan dari tehnik sambung konvensional tradisional yang artinya mainan kayu dibuat tidak memerlukan alat sambung tambahan seperti paku, mur ataupun lem. Ini berarti pengrajin hanya membutuhkan kayu jati Belanda saja sebagai bahan baku mainan. Selan itu, alat-alat yang dibutuhkan untuk membuat mainan ini cukup sederhana. Tidak dibutuhkan alat-alat berat dan hanya menggunakan peralatan yang mudah diperoleh di pasaran. Sehingga pelaku industri mainan dalam skala kecil pun dapat menerapkan tehnik sambung yang telah di modifikasi dari tehnik sambung furniture ini. 14

3 B. TATARAN SISTEM Dalam tataran sistem, penulis memanfaatkan limbah kayu palet untuk diolah kembali menjadi mainan kayu. Penulis menggunakan kayu jati Belanda karena selain memanfaatkan limbah kayu, corak dan warna ada kayu ini sangat menarik. Untuk menghindari pemakaian zat kimia, tidak dibutuhkan cat dan perwarna tambahan lainnya. Penulis juga bermaksud membuat mainan yang ringan, ramah lingkungan dan bersifat natural. Dalam industri furniture banyak digunakan variasi teknik sambung baik itu yang menggunakan alat bantu penghubung ( Kontemporer Modern) maupun hanya menggunakan kayu itu sendiri ( Konvensional Tradisional). Dalam industri furniture banyak dijumpai variasi teknik sambung yang digunakan sebagai penghubung antar bagian kayu dengan menyesuaikan kondisi kayu yang akan disambung. Dalam pembuatan mainan bongkar pasang pun dibutuhkan sambungan yang kuat dan kokoh. Berikut adalah jenis-jenis sambungan yang biasa digunakan untuk sambungan furniture : 15

4

5

6 Powered by TCPDF (

7

8

9

10 Powered by TCPDF (

11 Penulis mengangkat tema ragam teknik sambung yang digunakan untuk produk rancangan ini diperoleh dari modifikasi sambungan furniture. Berawal dari benda-benda yang besar seperti furniture, penulis mencoba mengaplikasikan teknik sambung ini ke benda yang lebih kecil seperti mainan kayu. Untuk itu penulis mencoba mengadaptasi sambungan furniture untuk diaplikasikan pada mainan kayu dengan mengambil teknik konvensional tradisional dimana mainan tidak memerlukan bantuan alat penghubung lain selain kayu itu sendiri. Alasan penulis menggunakan detail sambungan furniture karena penulis ingin memberikan alternatif lain kepada produsen dan pengrajin mainan untuk membuat mainan bongkar pasang yang lebih variatif. Adapun adaptasi sambungan dilakukan karena dalam setiap sambungan furniture yang digunakan perlu menyesuaikan dengan kondisi dan keadaan dari bentuk mainan yang dibuat agar mainan dapat tersambung dengan kuat dan kokoh. 23

12 1) Proses Pemikiran Dalam Perancangan Produk Sebelum mulai merancang produk, penulis terlebih dulu mencari bentuk mainan apa yang akan dibuat dan material apa yang cocok untuk mewujudkan produk rancangan. Setelah melakukan pencarian, penulis memutuskan untuk membuat mainan kayu dalam bentuk Space Shuttle dan material kayu yang digunakan adalah kayu Jati Belanda. Alasan penulis mengambil bentuk Space Shuttle adalah penulis melihat dari bentuk dasar Space Shuttle yang didominasi bentuk tabung, maka dalam proses pembuatannya pun tidak begitu rumit. Membentuk tabung pada kayu bisa dilakukan dengan mesin bubut. Sedangkan alasan penulis menggunakan kayu jati belanda yaitu karena penulis ingin memanfaatkan limbah kayu jati belanda menjadi produk yang memiliki fungsi dan manfaat yang lebih. Kelebihan menggunakan jenis kayu ini adalah limbah kayu jati belanda mudah diperoleh, materialnya mudah diolah, memiliki tekstur yang indah dan bobot dari kayu ini juga tergolong ringan sehingga cocok jika dijadikan mainan. Tetapi kayu jenis ini juga memiliki kekurangan. yaitu sifatnya yang getas atau mudah patah jika ketebalan kayu melebihi batas minimal kekuatannya. Melalui hasil ekperimen penulis, batas minimal ketebalan kayu agar kekuatan dan kekokohan kau tetap terjaga adalah 3 cm. Jika penulis memaksakan membuat ketebalan kayu dibawah itu makan kayu akan mudah patah. Selain itu, yang perlu diperhatikan dalam penggolahan kayu jati belanda adalah mata kayunya. Mata kayu jati belanda sangat keras dan dapat mengakibatkan resiko retak dan pecah pada permukaan kayu. Karena itu alangkah baiknya sebelum diolah kayu diseleksi terlebih dahulu dengan menyingkirkan semua mata yang terdapat pada kayu. 24

13 Gambar 4. 1 Mata Kayu Jati Belanda Untuk bentuk rancangan produk, penulis melihat sudah banyak mainan yang mengambil bentuk Space Shuttle namun lebih banyak dibuat dengan bahan plastik. Adapun yang berbahan kayu tetapi bentuk mainan hanya untuk koleksi pajangan semata dan merupakan satu kesatuan utuh, tidak bisa di bongkar pasang. Oleh karena itu penulis memcoba bereksperimen membuat mainan Space Shuttle dalam bentuk puzzle 3D dengan menggunakan teknik sambung yang di modifikasi dari sambungan furniture. Gambar 4. 2 Awal Rancangan Produk 25

14 2) Pembuatan Sketsa Rancangan Langkah awal dalam proses perancangan adalah membuat sketsa kerja beserta ukuran produk dengan skala 1 : 1. Untuk itu penulis membutuhkan ukuran produk yang akan dibubut terlebih dahulu. Berikut adalah gambaran sketsa kerja untuk pengrajin bubut kayu. Gambar 4. 3 Sketsa Ukuran Rancangan Untuk di Bubut Setelah proses pembubutan selesai, kemudian produk rancangan kembali dilanjutkan dengan proses pemotongan dan pengamplasan seperti yang sudah di jelaskan pada proses produksi. 26

15 3) Proses Produksi Rancangan Pada saat penulis menentukan bentuk produk rancangan, penulis juga mulai menetapkan jenis sambungan furniture apa yang akan di aplikasikan pada mainan. Misalnya pada bagian roket pesawat, penulis berpendapat bahwa sambungan yang cocok untuk bagian tersebut adalah sambungan purus tertutup. Hal itu disebabkan diameter roket yang tidak terlalu besar tidak memungkinkan jika harus menggunakan sambungan yang rumit seperti sambungan ekor burung, sambungan lidah alur, dan lain sebagainnya. Dengan menggunakan sambungan purus tertutup pada bagian roket kemungkinan terjadi sambungan yang kuat dan kokoh akan semakin besar. Gambar 4. 4 Sambungan purus tertutup pada roket Ketika proses pengerjaan pada bagian roket dilakukan, yang perlu dipehatikan adalah tingkat keakuratan posisi lubang yang dibor. Untuk membuat lubang yang presisi dibutuhkan mal untuk menahan kayu pada saat dibor. 27

16 Pada bagian tangki eksternal, penulis memutuskan untuk menggunakan sambungan ekor burung yang sedikit dimodifikasi karena diameter pada bagian tersebut memungkinkan untuk menggunakan sambungan yang ukurannya lebih besar dibanding pada bagian roket. Selain ingin menambah variasi jenis sambungan pada mainan, modifikasi yang dilakukan dalam proses perancangan bertujuan untuk mencari tahu lebih kuat mana antara sambungan ekor burung yang asli dan yang telah dimodifikasi. Hasilnya, sambungan ekor burung yang telah di modifikasi memiliki tingkat kemudahan yang lebih pada saat pemasangan dan pembongkaran sambungan pada mainan. Selain itu proses pembuatannya nya juga lebih mudah dibanding sambungan ekor burung dalam bentuk asli. Perbandingan bentuk antara sambungan ekor burung yang telah di modifikasi (1) dan bentuk sambungan ekor burung yang asli (2) dapat diperlihatkan sebagai berikut: 1 2 Gambar 4. 5 Sambungan ekor burung pada bagian tangki eksternal. Bagian tangki eksternal secara khusus dilubangi dengan tujuan agar beban mainan menjadi lebih ringan. Dalam proses pelubangannya pun membutuhkan perhatian khusus karena selain membutuhkan peletakan lubang yang presisi, hal lain yang menjadi kendala adalah 28

17 adanya mata kayu di dalam tabung yang tidak terlihat sehingga dapat mengakibatkan mata bor meleset pada saat melubangi tangki. Gambar 4. 6 Kesalahan dalam proses pelubangan tangki eksternal. Pada bagian badan pesawat, penulis memutuskan untuk mengaplikasikan teknik sambung lidah alur, lidah alur bersponing dan sambungan purus tertutup. Untuk lebih jelasnya dapat penulis tunjukkan gambar sebagai berikut: 1 2 Gambar 4. 7 Variasi Sambungan pada badan pesawat. Untuk bagian sayap kanan dan kiri pesawat (1), penulis menggunakan sambungan lidah alur bersponing. Hal ini karena kedua bagian tersebut memiliki bidang yang cukup lebar dibanding bagian 29

18 pecahan lainnya. Oleh karena itu penggunaan sambungan lidah alur bersponing dirasa cukup untuk membuat sambungan yang kuat dan kokoh pada kedua sisinya. Sedangkan untuk bagian sayap atas (2), penulis menggunakan sambungan lidah alur biasa karena bidang yang akan dibuat sambungan tidak terlalu lebar. Pada bagian turbo pesawat, penulis menggunakan sambungan purus tertutup. Karena bentuk bagian turbo yang kecil sehingga hanya memungkinkan untuk membuat sambungan purus tertutup. Gambar 4. 8 Sambungan Purus Tertutup pada bagian Turbo. Setelah semua bagian pesawat lengkap, penulis kemudian memikirkan cara bagaimana menyatukan badan pesawat dengan tangki eksternalnya. Untuk itu penulis membuat pasak di bagian bawah pesawat sepanjang 3 cm dan lubang di beberapa bagian tangki eksternal. 30

19 Gambar 4. 9 Badan Pesawat yang akan disambung ke Tangki Eksternal Pada proses pembuatan pasak, yang harus diperhatikan produsen dan pengrajin adalah besarnya diameter kayu pasak harus pas dengan diameter mata bor yang akan digunakan. Jika pasak terlalu kecil maka sambungan tidak akan kokoh dan menjadi longgar, sedangakan jika terlalu besar pasak tidak akan muat jika dimasukkan ke dalam lubang. Gambar Pasak yang dibuat harus pas dengan ukuran mata bor 31

20 Gambar Hasil Akhir Produk Rancangan Hasil akhir dari produk rancangan ini adalah sebagai media pembelajaran dan eksperimen bagi penulis, dimana hasil temuantemuannya dapat di pergunakan bagi Produsen dan pengrajin yang ingin membuat mainan kayu dengan menggunakan ragam sambungan yang dimodifikasi dari teknik sambunga furniture. Untuk mewujudkan ide rancangan produk dibutuhkan alat dan bahan sebagai media pendukung pembuatan mainan. Berikut penulis jabarkan hal-hal yang dibutuhkan untuk membuat mainan dimulai dari tahap persiapan hingga tahap pengerjaan produk : 32

21 1. Alat dan Bahan Kayu Jati Belanda Meteran Kayu Lis Profil Mal Ukuran Amplas Cutter Gambar Alat dan Bahan bahan Gergaji Pisau Pahat Bor Listrik Mata Bor (10, 5, 3.5, 2, Engsel Sendok) Mesin Router Mata Router ( , , T2201S) Gambar Peralatan Pendukung 33

22 2. Tahap Persiapan Ukuran Rancangan Produk Kayu yang sudah dibubut Pemotongan sisa kayu Pengamplasan Membuat Pola Membuat Mal Gambar Tahap Persiapan Sebelum memulai pengerjaan produk rancangan, diperlukan beberapa persiapan untuk menunjang kelancaran pembuatan sambungan, diantaranya: a. Membuat ukuran dari produk rancangan dengan skala 1:1 sebelum membubut kayu. b. Kayu yang sudah dibubut sesuai ukuran siap untuk mulai pengerjaan produk rancangan. c. Tahap awal dimulai dengan pemotongan kayu sisa dari bekas bubutan. d. Kemudian bagian yang telah terpotong dihaluskan dengan menggunakan amplas. e. Setelah itu cetak pola bagian pesawat yang diperlukan pada kayu. f. Dibutuhkan mal untuk membuat ukuran presisi pada tiap bagian pesawat. 34

23 3. Tahap Pengerjaan a. Pembuatan Roket Gambar Pembuatan Roket Peluncur Untuk mulai membuat sambungan, bagian yang pertama kali dibuat adalah bagian roket peluncur. Tahapannya adalah sebagai berikut: 1) Kumpulkan semua potongan bagian roket yang telah dibubut. 2) Buat mal dengan menggunakan kayu lis profile 3) Siapkan bor dan pasang pada kayu lis profile sesuai ukuran. 4) Lubangi bagian roket yang perlu dilubangi. 5) Pasangkan dengan bagian roket yang memiliki pasak sehingga terbentuk sambungan purus tertutup. 35

24 b. Pembuatan Badan Pesawat Gambar Pembuatan badan Pesawat Selanjutnya bagian yang dibuat sambungan adalah bagian badan pesawat. Tahapannya adalah sebagai berikut: 1) Ambil bagian kayu bubutan yang telah disiapkan untuk membuat badan pesawat 2) Kemudian amplas bagian depan pesawat hingga membentuk kepala pesawat. 3) Untuk membuat pintu, bagian tengah badan pesawat dipotong dengan menggunakan gergaji chrome. 4) Setelah itu bagian perut pesawat dilubangi dengan menggunakan mesin router (mata ) hingga membentuk ruang. 5) Bagian pintu pesawat juga dibentuk melengkung dengan menggunakan mesin router (mata ) 6) Kemudian untuk bagian engsel pintu menggunakan teknik sambung purus tertutup. 36

25 7) Pada bagian samping badan pesawat dibuat lubang untuk sambungan sayap dengan menggunakan teknik sambung lidah alur bersponing. Mata router yang diperlukan adalah T2201S. 8) Untuk bagian turbo pesawat diperlukan mesin bor dengan mata 5 mili. 9) Sedangkan untuk bagian turbo pesawat bagian atas dan lubang sayap atas, badan pesawat dilubangi dengan mesin router (mata T2201S). c. Pembuatan Sayap Pesawat Gambar Pembuatan Sayap Pesawat Dalam pembuatan sayap pesawat, dibutuhkan antara lain: 1) Pola untuk acunan dalam pemotongan kayu. 2) Setelah itu lalu dilakukan pengamplasan hingga membentuk sayap sesuai yang diinginkan. 37

26 3) Bagian sayap kanan dan kiri lalu dibuat alur pasangan untuk sambungan lidah alur bersponing. Sedangkan pada bagian sayap atas dibuat sambungan lidah alur. d. Pembuatan Turbo Gambar Pembuatan Turbo Pesawat Selanjutnya bagian yang dibuat sambungan adalah bagian turbo pesawat. Tahapannya adalah sebagai berikut: 1) Kayu yang telah dibubut dipotong sesuai bentuk turbo. 2) Bagian turbo atas dipahat lalu diberi pasak untuk sambungan purus tertutup. 3) Sedangkan bagian turbo belakang dipasangkan langsung ke lubang bagian belakang badan pesawat. 38

27 e. Pembuatan Tangki Eksternal Gambar Pembuatan tangki Eksternal Pembuatan tangki eksternal menggunakan teknik sambung ekor burung. Tapi sebelumnya dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Pisahkan kayu yang telah dibubut untuk bagian tangki eksternal. 2) Untuk tangki bagian bawah, dilakukan pengamplasan hingga bagian tersebut berbentuk bulat. 3) Setelah itu bagian tengah tangki dilubangi untuk mengurangi berat kayu. 4) Kemudian mulai membuat sambungan yang diukur dengan detail sebelumnya. 5) Pahat bagian dalam kayu untuk membuat sambungan ekor burung. 6) Sambungan ekor burung yang tepat akan menghasilkan kekokohan pada bagian tangki yang terpisah. 39

28 f. Pembuatan Pasak Sambungan Gambar Pembuatan Pasak Sambungan Langkah terakhir dari tahap pengerjaan produk rancangan adalah pemasangan pasak pada roket dan badan pesawat. Namun sebelum itu dilakukan beberapa hal sebagai berikut: 1) Siapkan kayu yang telah dibubut berdiameter 3 cm untuk di bubut ulang agar dapat memperkecil diameter kayu. 2) Gunakan alat serut kayu sebagai awalan untuk mengurangi diameter kayu. 3) Kemudian gunakan bor listrik untuk mempermudah proses pengurangan diameter. 4) Setelah mendapatkan diameter yang sesuai, stik kayu di potong dengan ukuran 3 cm. 5) Kayu untuk pasak kemudian di tanamkan pada titik-titik bagian roket dan badan pesawat yang dapat dihubungkan pada tangki eksternal sehingga ketiganya dapat menempel satu sama lain. 40

29 41

30 Selain produk rancangan tersebut, penulis juga mempertimbangkan bentuk mainan kayu lainnya yang juga mempergunakan modifikasi dari sambungan furniture. Beberapa produk rancangan yang sejenis antara lain sebagai berikut: Sambungan Purus Tertutup Sambungan Purus Terbuka Sambungan Ekor Burung Sambungan Lidah Lepas Gambar Produk Rancangan lainnya 42

31 C. TATARAN PRODUK Dalam tataran produk dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Kemasan produk Gambar Kemasan Produk Tampak Depan dan Belakang Spesifikasi Produk : Ukuran : 29 cm x 42 cm x 5 cm Berat Bersih : 388 gr Berat Kotor : 508 gr Lifecycle : 1 tahun. Gambar dan icon yang dimunculkan dalam produk antara lain: a) Foto Produk b) Brand Produk c) Logo Produk d) Simbol peringatan e) Tutorial penggunaan f) Alamat Produksi g) Barcode 43

32 2) Paparan Produk Sambungan Ekor Burung Sambungan Lidah Alur Bersponing Sambungan Purus Tertutup Sambungan Lidah Alur Gambar Paparan Produk 44

33 Gambar Kerja Tampak Samping, Depan, Atas, Belakang Skala 1 : 5 dalam satuan cm. Gambar Gambar Kerja Skala 1: 5 45

34 Gambar Kerja Potongan Skala 1 : 5 dalam satuan cm. Gambar Gambar Potongan Tampak Samping Gambar Gambar Potongan Tampak Depan 46

35 D. TATARAN ELEMEN Produk rancangan yang dibuat dengan memanfaatkan limbah kayu palet secara maksimal. Namun penggunaan kayupalet atau yang biasa disebut kayu jati Belanda ini memiliki kekurangan yang harus diperhatikan oleh pengrajin mainan, yaitu adanya batasan-batasan sampai dimana jenis kayu ini tidak boleh diolah secara berlebih karena sifat getasnya. Berikut rangkaian eksperimen dalam proses pembuatan produk rancangan: 1) Tangki Eksternal Tangki Eksternal dibuat dengan 3 potongan. Sambungan yang digunakan adalah sambungan ekor burung. Pada saat membuat lubang untuk bagian tangki eksternal menggunakan bor listrik, tebal kayu yang diperlukan setelah dibor agar kayu tetap kuat adalah 0.5 cm. Jika lebih kecil dari ketebalan tersebut, maka kayu akan mudah patah dan tidak bagus digunakan untuk membuat mainan. Gambar Batas minimal ketebalan kayu Selain itu, untuk membuat sambungan pada bidang yang berbentuk bulat serta berongga dilakukan modifikasi terhadap tehnik sambungan ekor burung. Hasil modifikasi tersebut dapat dilihat pada gambar berikut : 47

36 Gambar Modifikasi Sambungan Ekor Burung Pada bagian atas tangki Gambar Modifikasi Sambungan Ekor Burung Pada bagian bawah tangki 48

37 2) Roket Peluncur Gambar Sambungan Purus Tertutup pada roket Pada bagian roket, diperlukan mal untuk membuat lubang yang pas dengan pasak yang telah dibuat. Panjang pasaknya pun tidak boleh terlalu pendek agar sambungan bisa terkait dengan kuat. Ukuran pasak minimal panjang 3 cm dengan diameter 2 cm. Produk rancangan tidak melalui proses finishing menggunakan cat karena untuk faktor keamanan penulis sengaja tidak menambahkan zat kimia ke mainan. Selain berbahaya untuk kesehatan anak-anak, produk rancangan ingin dibuat secara alami dan natural. 49

BAB II METODE PERANCANGAN

BAB II METODE PERANCANGAN BAB II METODE PERANCANGAN A. Orisinalitas Bagi pengrajin furniture tradisional, rel pada sebuah laci memiliki peran yang penting sebagai penghubung antara laci dengan benda furniture yang memiliki ruang

Lebih terperinci

IV. KONSEP PERANCANGAN A. TATARAN LINGKUNGAN 1. Lingkungan Hidup a. Limbah Limbah merupakan buangan atau sisa yang dihasilkan dari suatu proses atau kegiatan dari industry maupun domestik ( rumah tangga

Lebih terperinci

BAB IV PROSES PEMBUATAN MESIN

BAB IV PROSES PEMBUATAN MESIN BAB IV PROSES PEMBUATAN MESIN 4.1 Proses Produksi Produksi adalah suatu proses memperbanyak jumlah produk melalui tahapantahapan dari bahan baku untuk diubah dengan cara diproses melalui prosedur kerja

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. TATARAN LINGKUNGAN Dalam melakukan pembelian produk konsumen tidak mengetahui produk edisi terbaru hold project, konsumen mengeluhkan untuk mencari produk edisi terbaru, dikarenakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PROYEK AKHIR. Motor dengan alamat jalan raya Candimas Natar. Waktu terselesainya pembuatan mesin

BAB III METODE PROYEK AKHIR. Motor dengan alamat jalan raya Candimas Natar. Waktu terselesainya pembuatan mesin BAB III METODE PROYEK AKHIR A. Waktu dan Tempat Tempat pembuatan dan perakitan mesin pemotong kerupuk ini di lakukan di Bengkel Kurnia Motor dengan alamat jalan raya Candimas Natar. Waktu terselesainya

Lebih terperinci

BAB II METODE PERANCANGAN

BAB II METODE PERANCANGAN BAB II METODE PERANCANGAN 1. Orisinalitas Perbedaan karya rancangan penulis dengan karya desainer lain berdasarkan riset yang penulis kumpulkan adalah desainer lain ada juga yang membuat rancangan meja

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. Tataran Lingkungan atau Komunitas Perancangan tempat ganti popok bayi model lipat ini adalah produk yang berkaitan dengan kebutuhan orang tua untuk keperluan bayi. Karena produk

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. Tataran Lingkungan/Komunitas Dalam pemilihan material yang akan digunakan untuk membuat sebuah rak, perlu memperhatikan juga unsur kelestarian bagi lingkungan. Penggunaan kayu

Lebih terperinci

WORKING PLAN SIMPLE WALL SHELF S001

WORKING PLAN SIMPLE WALL SHELF S001 A DESKRIPSI PRODUK Simple Wall Shelf berukuran jadi 1.200 x 200 x 50 mm. Ukuran panjang dan lebar bisa ditambah/dikurangi sesuai dengan rencana penempatan anda. Varian ukuran panjang adalah 1.000 1.400mm,

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. Tataran Lingkungan/Komunitas Pemanfaatan bahan kulit asli yang dihasilkan dari kulit hewan bisa mempengaruhi kesinambungan kehidupan hewan. Oleh karena itu diharapkan bisa

Lebih terperinci

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1. Proses Pembuatan Proses pembuatan adalah tahap-tahap yang dilakukan untuk mencapai suatu hasil. Dalam proses pembuatan ini dijelaskan bagaimana proses bahanbahan yang

Lebih terperinci

III. Kerajinan dari Daur Ulang A. Produk Kerajinan dari Kertas Daur Ulang Banyak hal yang dapat diciptakan dari kertas seni (handmade paper).

III. Kerajinan dari Daur Ulang A. Produk Kerajinan dari Kertas Daur Ulang Banyak hal yang dapat diciptakan dari kertas seni (handmade paper). III. Kerajinan dari Daur Ulang A. Produk Kerajinan dari Kertas Daur Ulang Banyak hal yang dapat diciptakan dari kertas seni (handmade paper). Akan tetapi, pada dasarnya unsur kreativitas dan pengalaman

Lebih terperinci

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1. Proses Pembuatan Proses pembuatan adalah tahap-tahap yang dilakukan untuk mencapai suatu hasil. Dalam proses pembuatan ini dijelaskan bagaimana proses bahanbahan yang

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. TATARAN LINGKUNGAN/KOMUNITAS 1. Komunitas Pengguna Kursi goyang berbahan kardus, dengan menggunakan material utamanya adalah kardus yang dipesan khusus agar kursi goyang ini

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP. 2. Tataran System a. Bagian Bagian Casing PC.

BAB IV KONSEP. 2. Tataran System a. Bagian Bagian Casing PC. BAB IV KONSEP 1. Tataran Lingkungan / Komunitas Keterhubungan hasil rancangan ini pada komunitas pengguna komputer desktop untuk memberikan kualitas dan ragam produk kerajinan kriya yang dimasukan ke dalam

Lebih terperinci

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN A. PROSES PENCIPTAAN Pengolahan ide berkarya merupakan proses pengolahan konsep yang kemudian diwujudkan kedalam bentuk karya lukis dimulai dengan mengolah rasa, kepekaan,

Lebih terperinci

BAB II METODE PERANCANGAN A. ORISINALITAS Tempat tidur anak pada umumnya hanya sebagai tempat beristirahat atau tidur, dan kadang digunakan sebagai tempat belajar atau bermain bagi anak-anak, meskipun

Lebih terperinci

c = b - 2x = ,75 = 7,5 mm A = luas penampang v-belt A = b c t = 82 mm 2 = 0, m 2

c = b - 2x = ,75 = 7,5 mm A = luas penampang v-belt A = b c t = 82 mm 2 = 0, m 2 c = b - 2x = 13 2. 2,75 = 7,5 mm A = luas penampang v-belt A = b c t = mm mm = 82 mm 2 = 0,000082 m 2 g) Massa sabuk per meter. Massa belt per meter dihitung dengan rumus. M = area panjang density = 0,000082

Lebih terperinci

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1. Alat dan Bahan A. Alat 1. Las listrik 2. Mesin bubut 3. Gerinda potong 4. Gerinda tangan 5. Pemotong plat 6. Bor tangan 7. Bor duduk 8. Alat ukur (Jangka sorong, mistar)

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. TATARAN LINGKUNGAN/KOMUNITAS Keterhubungan hasil rancangan dengan lingkungan, yaitu pemilihan bahan baku bambu petung diolah menjadi bambu laminasi. Bambu laminasi merupakan

Lebih terperinci

BAB ll METODE PERANCANGAN A. ORISINALITAS Beberapa desainer ada yang bergerak di dunia design toys atau bisa disebut Urban toys, tema yang mereka ambil biasanya karakter pribadi, tokoh kartun, superhero,

Lebih terperinci

BAB II METODOLOGI PERANCANGAN. ruangan yang bersifat modern simple untuk menghemat suatu ruangan.

BAB II METODOLOGI PERANCANGAN. ruangan yang bersifat modern simple untuk menghemat suatu ruangan. BAB II METODOLOGI PERANCANGAN A. ORISINALITAS Metode perancangan ini mengacu kepada beberapa desain yang dikembangkan menjadi sebuah furniture yang berbeda dari sebuah desain dan material meja ruang tamu

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI TEKNOLOGI DALAM PROSES PENCIPTAAN SENI KRIYA KAYU I WAYAN JAGRI DI DESA SINGAPADU

IMPLEMENTASI TEKNOLOGI DALAM PROSES PENCIPTAAN SENI KRIYA KAYU I WAYAN JAGRI DI DESA SINGAPADU IMPLEMENTASI TEKNOLOGI DALAM PROSES PENCIPTAAN SENI KRIYA KAYU I WAYAN JAGRI DI DESA SINGAPADU 1. Pendahuluan Oleh Nama: I Wayan Arissusila Nim : 201 121 001 Minat: Penciptaan Seni Seni kriya merupakan

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. DESAIN BENTUK DASAR Sebelum memasuki proses ini, Sebelumnya penulis berkordinasi dengan dosen pembimbing mengenai desain yang seperti apa yang nantinya akan diproduksi. Penilaian

Lebih terperinci

BAB II METODE PERANCANGAN

BAB II METODE PERANCANGAN BAB II METODE PERANCANGAN A. Orisinalitas Pada dasarnya mainan edukatif memiliki berbagai macam variasi bentuk maupun variasi dari cara bermainnya. Ada variasi mainan yang sudah memiliki bentuk dan ukuran

Lebih terperinci

BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1 Alat Dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan untuk pembuatan bagian rangka, pengaduk adonan bakso dan pengunci pengaduk adonan bakso adalah : 4.1.1 Alat Alat yang

Lebih terperinci

2.6. Mesin Router Atas

2.6. Mesin Router Atas 2.6. Mesin Router Atas g f e d c b a Wolfgang Nutsch Dipl.-Ing, Verlag Gb.5.2.89: Over Head Router Bagian-bagian Mesin Router Atas: a. Pedal untuk menaikturunkan mata pisau b. Pedal rem untuk menghentikan

Lebih terperinci

BAB II METODE PERANCANGAN

BAB II METODE PERANCANGAN BAB II METODE PERANCANGAN A. Orisinalitas Perancangan rak buku yang dibuat memiliki orisinialitas sendiri berdasarkan sistematika dan pemilian warna yang contrast. Berbahan dasar multiplek, dan dilapisi

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. TATARAN LINGKUNGAN/KOMUNITAS Keterhubungan hasil rancangan dengan lingkungan yaitu penggunanaan bahan multipleks lapisan-lapisan kayu yang ditumpuk berlapis-lapis dan dipress

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. TATARAN LINGKUNGAN / KOMUNITAS Bahan kayu yang digunakan pada laci berhubungan dengan tataran lingkungan karena ramah lingkungan. Kayu yang digunakan merupakan kayu olahan

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. TATARAN LINGKUNGAN/KOMUNITAS Sepanjang Januari 2015, tercatat 32 kasus pohon tumbang dan 14 pohon sempal di wilayah Jakarta. Beberapa jenis pohon yang tumbang adalah angsana,

Lebih terperinci

BAB II METODE PERANCANGAN

BAB II METODE PERANCANGAN BAB II METODE PERANCANGAN A. Keaslian (Orisinalitas) Sebuah produk tidaklah ada yang benar benar asli dari hasil pemikiran. Melainkan ada pengembangan atau inovasi inovasi baru dari produk yang sudah ada.

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tulang

BAHAN DAN METODE. Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tulang BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2016 di Laboratorium Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Bahan

Lebih terperinci

dari permainan egrang. Seperti yang kita ketahui permainan egrang kini sudah sangat

dari permainan egrang. Seperti yang kita ketahui permainan egrang kini sudah sangat V. ULASAN KARYA PERANCANGAN A. Konsep Perancangan Dalam proses perancangan desain meja belajar ini dibuat untuk turut serta melestarikan kebudayaan Indonesia melalui lemari minimalis yang mengandung esensi

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. TATARAN LINGKUNGAN Produk yang penulis buat merupakan salah satu produk yang berwawasan lingkungan dimana penulis menjadikan sebuah limbah untuk di daur ulang kembali menjadi

Lebih terperinci

DESAIN MAINAN KAYU BERTEMA HEWAN ENDEMIK INDONESIA UNTUK ANAK USIA 4-6 TAHUN. Oleh : Desica Pramudita

DESAIN MAINAN KAYU BERTEMA HEWAN ENDEMIK INDONESIA UNTUK ANAK USIA 4-6 TAHUN. Oleh : Desica Pramudita DESAIN MAINAN KAYU BERTEMA HEWAN ENDEMIK INDONESIA UNTUK ANAK USIA 4-6 TAHUN Oleh : Desica Pramudita LATAR BELAKANG FENOMENA PERMAINAN ANAK DI INDONESIA LATAR BELAKANG Tahun 2010, pasar mainan anak dunia

Lebih terperinci

BAB III METODE PEMBUATAN

BAB III METODE PEMBUATAN BAB III METODE PEMBUATAN 3.1. Metode Pembuatan Metodologi yang digunakan dalam pembuatan paratrike ini, yaitu : a. Studi Literatur Sebagai landasan dalam pembuatan paratrike diperlukan teori yang mendukung

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN. kayu olahan berupa tripleks. Dengan menggunakan bahan baku yang sudah mengalami

BAB IV KONSEP PERANCANGAN. kayu olahan berupa tripleks. Dengan menggunakan bahan baku yang sudah mengalami BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. TATARAN LINGKUNGAN/KOMUNITAS Meja kerja multifungsi ini memiliki hal penting yang terdapat pada perancangan adalah keterkaitannya dengan tataran lingkungan yang mengutamakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kerajinan merupakan suatu benda hasil karya seni manusia yang berkaitan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kerajinan merupakan suatu benda hasil karya seni manusia yang berkaitan A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Kerajinan merupakan suatu benda hasil karya seni manusia yang berkaitan dengan keterampilan tangan. Selain memiliki nilai estetis bentuk benda kerajinan tersebut memiliki

Lebih terperinci

4. Behavioral ( Kebiasaan ) Saat bermain anak sangat aktif, senang berlarian, melompat, memiliki imajinasi yang kuat, tidak cepat lelah, dan tidak bisa diam dalam satu tempat. C. TUJUAN DAN MANFAAT 1.

Lebih terperinci

III. METODE PEMBUATAN. Tempat pembuatan mesin pengaduk adonan kerupuk ini di bengkel las dan bubut

III. METODE PEMBUATAN. Tempat pembuatan mesin pengaduk adonan kerupuk ini di bengkel las dan bubut 16 III. METODE PEMBUATAN A. Waktu dan Tempat Tempat pembuatan mesin pengaduk adonan kerupuk ini di bengkel las dan bubut Amanah, jalan raya candimas Natar, Lampung Selatan. Pembuatan mesin pengaduk adonan

Lebih terperinci

BAB V ULASAN KARYA PERANCANGAN

BAB V ULASAN KARYA PERANCANGAN BAB V ULASAN KARYA PERANCANGAN A. OBJEK REFRENSI Gambar 5.1 : objek refrensi Objek refensi pada meja ruang tamu dan bangku santai dan funiture multifungsi yang berguna untuk tempat hidangan para tamu,

Lebih terperinci

V. ULASAN KARYA PERANCANGAN A. Konsep Perancangan Dalam proses perancangan desain furniture dengan tujuan untuk pemberian nilai baru dengan menggunakan desain mainan tradisional yang sekarang sudah jarang

Lebih terperinci

BAB IV PROSES PENGERJAAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PROSES PENGERJAAN DAN PENGUJIAN BAB IV PROSES PENGERJAAN DAN PENGUJIAN Pada bab ini akan dibahas mengenai pembuatan dan pengujian alat yang selanjutnya akan di analisa, hal ini dimaksudkan untuk memperoleh data yang dibutuhkan dan untuk

Lebih terperinci

A. KELOMPOK DATA BERKAITAN FUNGSI PRODUK RANCANGAN

A. KELOMPOK DATA BERKAITAN FUNGSI PRODUK RANCANGAN BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN A. KELOMPOK DATA BERKAITAN FUNGSI PRODUK RANCANGAN Analisis desain yang pertama dilakukan adalah untuk mendapatkan data atau informasi yang diperlukan berkaitan dengan

Lebih terperinci

BAB III PROSES MANUFAKTUR. yang dilakukan dalam proses manufaktur mesin pembuat tepung ini adalah : Mulai. Pengumpulan data.

BAB III PROSES MANUFAKTUR. yang dilakukan dalam proses manufaktur mesin pembuat tepung ini adalah : Mulai. Pengumpulan data. BAB III PROSES MANUFAKTUR 3.1. Metode Proses Manufaktur Proses yang dilakukan untuk pembuatan mesin pembuat tepung ini berkaitan dengan proses manufaktur dari mesin tersebut. Proses manufaktur merupakan

Lebih terperinci

BAB IV PROSES PRODUKSI DAN PENGUJIAN

BAB IV PROSES PRODUKSI DAN PENGUJIAN BAB IV PROSES PRODUKSI DAN PENGUJIAN 4.1 Proses Pembuatan Proses pengerjaan adalah tahapan-tahapan yang dilakukan untuk membuat komponen-komponen pada mesin pemotong umbi. Pengerjaan yang dominan dalam

Lebih terperinci

Ditinjau dari macam pekerjan yang dilakukan, dapat disebut antara lain: 1. Memotong

Ditinjau dari macam pekerjan yang dilakukan, dapat disebut antara lain: 1. Memotong Pengertian bengkel Ialah tempat (bangunan atau ruangan) untuk perawatan / pemeliharaan, perbaikan, modifikasi alt dan mesin, tempat pembuatan bagian mesin dan perakitan alsin. Pentingnya bengkel pada suatu

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PEMBUATAN PATUNG KAYU

BAB III METODOLOGI PEMBUATAN PATUNG KAYU BAB III METODOLOGI PEMBUATAN PATUNG KAYU A. Bagan Proses Penciptaan Ide Studi Literatur Eksplorasi - Observasi - Dokumentasi - Pemilihan Media - Teknik Improvisasi Perancangan Bentuk Proses Pembentukan

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Flow Chart Pembuatan Mesin Pemotong Umbi Mulai Studi Literatur Perencanaan dan Desain Perhitungan Penentuan dan Pembelian Komponen Proses Pengerjaan Proses Perakitan

Lebih terperinci

IV. KONSEP PERANCANGAN

IV. KONSEP PERANCANGAN IV. KONSEP PERANCANGAN Dalam sebuah proses desain, kursi ini di buat dengan menggunakan beberapa metode yang mengacu kepada konsep perancangan. Suatu konsep dalam proses perancangan sangat diperlukan untuk

Lebih terperinci

BAB II METODE PERANCANGAN

BAB II METODE PERANCANGAN BAB II METODE PERANCANGAN A. Orisinalitas Lemari penyimpanan yang beredar di indonesia kini sudah banyak sekali, mulai dari lemari ukuran besar, lemari super mini, tempat tidur yang memiliki fungsi ganda

Lebih terperinci

BAB II METODE PERANCANGAN

BAB II METODE PERANCANGAN 1. Orisinalitas Casing kayu gaya klasik BAB II METODE PERANCANGAN Gambar 2. Five Wood Computer Case (Sumber : Google) Casing PC material kayu dengan model ini lebih mengutamakan sisi bentuk elegan namun

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. TATARAN LINGKUNGAN/KOMUNITAS Mengenalkan dan mendetugas akhirkan tentang pemanfaatan bamboo sebagai partisi ruangan yang digunakan sebagai pembatas antara dua ruang agar memiliki

Lebih terperinci

SOAL PENILAIAN AKHIR SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2017/2018. Mata Pelajaran : Prakarya dan KWU Kompetensi Keahlian : AP/TB/MM/KK/UPW

SOAL PENILAIAN AKHIR SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2017/2018. Mata Pelajaran : Prakarya dan KWU Kompetensi Keahlian : AP/TB/MM/KK/UPW PEMERINTAH PROVINSI BALI DINAS PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 1 TAMPAKSIRING Jl. DR. Ir. Soekarno, Desa Sanding, Kecamatan Tampaksiring Telp. (0361) 981 681 SOAL PENILAIAN AKHIR SEMESTER GANJIL

Lebih terperinci

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1. Proses Pembuatan Proses pembuatan adalah tahap-tahap yang dilakukan untuk mencapai suatu hasil. Dalam proses pembuatan ini dijelaskan bagaimana proses bahan-bahanyang

Lebih terperinci

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1. Proses Pembuatan Proses pembuatan adalah tahap-tahap yang dilakukan untuk mencapai suatu hasil. Dalam proses pembuatan ini dijelaskan bagaimana proses bahan-bahanyang

Lebih terperinci

BAB II METODE PERANCANGAN

BAB II METODE PERANCANGAN BAB II METODE PERANCANGAN A. ORSINALITAS Partisi Ruangan adalah salah satu furnitur yang memiliki fungsi sebagai pembatas antara ruang yang sifatnya portable dan flexible agar mudah saat dipindahkan. Pada

Lebih terperinci

BAB IV PROSES PRODUKSI. Perubahan terjadi seiring dengan perkembangan gaya hidup masyarakat

BAB IV PROSES PRODUKSI. Perubahan terjadi seiring dengan perkembangan gaya hidup masyarakat BAB IV PROSES PRODUKSI 4.1 Ide Karya Perubahan terjadi seiring dengan perkembangan gaya hidup masyarakat yang menjadi serba praktis dan semakin individual, yang membuat teko menjadi sangat jarang digunakan.

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. Tataran Lingkungan Bentuk dari Meja kopi ini dibuat berdasarkan pertimbangan material dan sifat velg bekas yang sudah berbentuk lingkaran dengan mengeksplorasi dari bentuk

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN. karna beberapa faktor yang mendukung dalam pemakaian bahan plywood tersendiri yaitu :

BAB IV KONSEP PERANCANGAN. karna beberapa faktor yang mendukung dalam pemakaian bahan plywood tersendiri yaitu : BAB IV KONSEP PERANCANGAN 1. Tataran Lingkungan Tanggung jawab karya pada lingkungan Penggunaan material plywood pada karya ini memang terdengar relatif murah dan berkualitas. Karena pada plywood sendiri

Lebih terperinci

BAB II METODE PERANCANGAN

BAB II METODE PERANCANGAN BAB II METODE PERANCANGAN A. ORISINALITAS Gambar 1 : Kursi Santai Dengan Rak Buku Sumber : Julianto, 2016 Gambar di atas adalah kursi santai karya sejenis yang dilengkapi dengan rak buku dibawahnya untuk

Lebih terperinci

II. METODE PERANCANGAN A. ORISINALITAS Perancangan tas wanita batok kelapa yang dibuat ini orisinalitas sendiri berdasarkan penggunaan bahan yang berasal dari limbah dan sistem yang digunakan pada tas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian hampir seluruhnya dilakukan di laboratorium Gedung Fisika Material

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian hampir seluruhnya dilakukan di laboratorium Gedung Fisika Material BAB III METODE PENELITIAN Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah rancang bangun alat. Penelitian hampir seluruhnya dilakukan di laboratorium Gedung Fisika Material Pusat Teknologi Nuklir Bahan

Lebih terperinci

BAB IV PROSES PEMBUATAN

BAB IV PROSES PEMBUATAN 30 BAB IV PROSES PEMBUATAN 4.1 Proses Pembuatan Proses pengerjaan adalah tahapan-tahapan yang dilakukan untuk membuat komponen-komponen pada mesin pembuat stik dan keripik. Pengerjaan yang dominan dalam

Lebih terperinci

IbM KERAJINAN SANGKAR BURUNG DI KELURAHAN REJOMULYO KOTA MADIUN

IbM KERAJINAN SANGKAR BURUNG DI KELURAHAN REJOMULYO KOTA MADIUN IbM KERAJINAN SANGKAR BURUNG DI KELURAHAN REJOMULYO KOTA MADIUN Sigit Setyowibowo 1 & Indah Dwi Mumpuni 2 1,2 STMIK PPKIA Pradnya Paramita Malang Alamat: Jl. LA. Sucipto No. 249A Malang E-mail: 1) densetyo@yahoo.com,

Lebih terperinci

Briefing Desain. Analisa. Sketsa Awasl. penyelesaian

Briefing Desain. Analisa. Sketsa Awasl. penyelesaian BAB II METODOLOGI A. STRATEGI DESAIN Briefing Desain Pengumpulan data Analisa Konsep Desain Proses digital Sketsa Awasl Proses Produksi penyelesaian Gambar 2.1: strategi desain Sumber : data pribadi KEBUTUHAN

Lebih terperinci

III. METODE PROYEK AKHIR. dari tanggal 06 Juni sampai tanggal 12 Juni 2013, dengan demikian terhitung. waktu pengerjaan berlangsung selama 1 minggu.

III. METODE PROYEK AKHIR. dari tanggal 06 Juni sampai tanggal 12 Juni 2013, dengan demikian terhitung. waktu pengerjaan berlangsung selama 1 minggu. 24 III. METODE PROYEK AKHIR 3.1. Waktu dan Tempat Proses pembuatan Proyek Akhir ini dilakukan di Bengkel Bubut Jl. Lintas Timur Way Jepara Lampung Timur. Waktu pengerjaan alat pemotong kentang spiral ini

Lebih terperinci

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN A. KELOMPOK DATA BERKAITAN DENGAN FUNGSI PRODUK RANCANGAN

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN A. KELOMPOK DATA BERKAITAN DENGAN FUNGSI PRODUK RANCANGAN BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN A. KELOMPOK DATA BERKAITAN DENGAN FUNGSI PRODUK RANCANGAN Fungsi produk yang menjelaskan tentang data yang didapat dari berbagai sumber yang digunakan sebagai acuan

Lebih terperinci

Gambar 1 : Tempat Tidur Bayi Dari Kayu

Gambar 1 : Tempat Tidur Bayi Dari Kayu BAB II METODE PERANCANGAN A. ORISINALITAS Gambar 1 : Tempat Tidur Bayi Dari Kayu Gambar di atas adalah Tempat tidur karya sejenis dari segi bahan dan materialnya produk di atas menggunakan bahan baku kayu,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI...i TUJUAN PROGRAM KEAHLIAN...1 STANDAR KOMPETENSI KEAHLIAN...2 PROFIL KOMPETENSI LULUSAN Kompetensi Umum...7

DAFTAR ISI...i TUJUAN PROGRAM KEAHLIAN...1 STANDAR KOMPETENSI KEAHLIAN...2 PROFIL KOMPETENSI LULUSAN Kompetensi Umum...7 DAFTAR ISI DAFTAR ISI...i TUJUAN PROGRAM KEAHLIAN...1 STANDAR KOMPETENSI KEAHLIAN...2 PROFIL KOMPETENSI LULUSAN...7 1. Umum...7 2. Kejuruan...8 RUANG LINGKUP PEKERJAAN...15 SUBSTANSI PEMELAJARAN...16 1.

Lebih terperinci

TLP 12 - Kebutuhan Mesin dan Peralatan

TLP 12 - Kebutuhan Mesin dan Peralatan Jam Kerja 14 jam per hari (50.400 detik per hari) Efisiensi Sistem Produksi 87% Mesin Gergaji TLP 12 - Kebutuhan Mesin dan Peralatan Waktu Jumlah Input Efisiensi Sistem Total Waktu (detik) Material (unit)

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. TATARAN LINGKUNGAN Tataran lingkungan dari produk puzzle ragam hias betawi ini yaitu berkaitan dengan tataran lingkungan non fisik. Perkembangan zaman yang semakin pesat membuat

Lebih terperinci

BAB IV PROSES PRODUKSI

BAB IV PROSES PRODUKSI BAB IV PROSES PRODUKSI 4.1 Proses Pengerjaan Proses pengerjaan adalah suatu tahap untuk membuat komponen-komponen pada mesin pemotong kerupuk rambak kulit. Pengerjaan paling dominan dalam pembuatan komponen

Lebih terperinci

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada Mei hingga Juli 2012, dan Maret 2013 di

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada Mei hingga Juli 2012, dan Maret 2013 di 22 III. METODELOGI PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian dilaksanakan pada Mei hingga Juli 2012, dan 20 22 Maret 2013 di Laboratorium dan Perbengkelan Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian,

Lebih terperinci

LOMBA KOMPETENSI SISWA (LKS) SMK SELEKSI TINGKAT PROPINSI BALI BIDANG LOMBA CABINET MAKING PEMERINTAH PROPINSI BALI

LOMBA KOMPETENSI SISWA (LKS) SMK SELEKSI TINGKAT PROPINSI BALI BIDANG LOMBA CABINET MAKING PEMERINTAH PROPINSI BALI LOMBA KOMPETENSI SISWA (LKS) SMK SELEKSI TINGKAT PROPINSI BALI - 2012 BIDANG LOMBA CABINET MAKING PEMERINTAH PROPINSI BALI DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA 2012 CABINET MAKING Module : Almari Kecil

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENCIPTAAN

BAB III METODOLOGI PENCIPTAAN BAB III METODOLOGI PENCIPTAAN A. Bagan Proses Penciptaan Perjuangan Nelson Mandela dalam menghapuskan politik apartheid dan kecintaan Nelson Mandela terhadap Batik Indonesia KONTEMPLASI STIMULUS IDE Budaya

Lebih terperinci

BAB II METODE PERANCANGAN

BAB II METODE PERANCANGAN BAB II METODE PERANCANGAN A. ORISINALITAS Produk permainan sekoci handcar anak ini termasuk permainan tradisional, yang awalnya terinspirasi dari sebuah kendaraan tradisonal Handcar. Digunakan sekitar

Lebih terperinci

II. METODOLOGI A. PROSES PERANCANGAN

II. METODOLOGI A. PROSES PERANCANGAN II. METODOLOGI A. PROSES PERANCANGAN 1. Strategi Desain Dalam suatu proses perancanagn langkah-langkah yang harus di perhatikan adalah mengumpulkan metode-metode dan teori-teori untuk mengoptimalkan suatu

Lebih terperinci

BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1 Alat Dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan untuk pembuatan bagian rangka, pengaduk adonan bakso dan pengunci pengaduk adonan bakso adalah : 4.1.1 Alat Alat yang

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI Diagram Alur Produksi Mesin. Gambar 3.1 Alur Kerja Produksi Mesin

BAB III METODOLOGI Diagram Alur Produksi Mesin. Gambar 3.1 Alur Kerja Produksi Mesin BAB III METODOLOGI 3.1. Diagram Alur Produksi Mesin Gambar 3.1 Alur Kerja Produksi Mesin 3.2. Cara Kerja Mesin Prinsip kerja mesin pencetak bakso secara umum yaitu terletak pada screw penekan adonan dan

Lebih terperinci

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN Sebuah karya seni dapat terlihat dari dorongan perasaan pribadi pelukis. Menciptakan karya seni selalu di hubungkan dengan ekspresi pribadi senimannya. Hal itu di awali

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Penelitian 4.1.1 Gambaran Umum Perusahaan Di negara Indonesia banyak berkembang usaha-usaha dalam industri mebel, dengan memanfaatkan bahan baku kayu hingga

Lebih terperinci

TINJAUAN KEKUATAN DAN ANALISIS TEORITIS MODEL SAMBUNGAN UNTUK MOMEN DAN GESER PADA BALOK BETON BERTULANG TESIS

TINJAUAN KEKUATAN DAN ANALISIS TEORITIS MODEL SAMBUNGAN UNTUK MOMEN DAN GESER PADA BALOK BETON BERTULANG TESIS TINJAUAN KEKUATAN DAN ANALISIS TEORITIS MODEL SAMBUNGAN UNTUK MOMEN DAN GESER PADA BALOK BETON BERTULANG TESIS Diajukan Kepada Program Magister Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

BAB IV. KONSEP PERANCANGAN

BAB IV. KONSEP PERANCANGAN BAB IV. KONSEP PERANCANGAN A. Tataran Lingkungan/Komunitas Menurut ASEAN DNA, sebuah situs untuk mempromosikan pemahaman yang berkaitan dengan karakteristik ASEAN menyebutkan bahwa rata-rata tinggi badan

Lebih terperinci

BAB II METODE PERANCANGAN

BAB II METODE PERANCANGAN BAB II a. Orisinalitas METODE PERANCANGAN Banyak produk rak buku dengan berbagai macam bentuk yang sudah beredar dipasaran, namun dari banyaknya jenis rak yang sudah ada hanya sedikit sekali yang mengeksplorasi

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN Dalam proses perancangan desain gerobak kopi keliling renceng sepeda ini, digunakan metode yang merujuk pada konsep perancangan. Sebuah konsep dalam proses perancangan dirasa

Lebih terperinci

BAB IV PEMBUATAN SISTEM PERPIPAAN UNTUK PENYIRAMAN TANAMAN BUNGA KEBUN VERTIKAL

BAB IV PEMBUATAN SISTEM PERPIPAAN UNTUK PENYIRAMAN TANAMAN BUNGA KEBUN VERTIKAL BAB IV PEMBUATAN SISTEM PERPIPAAN UNTUK PENYIRAMAN TANAMAN BUNGA KEBUN VERTIKAL Bab ini berisikan tentang proses pembuatan sistem perpipaan untuk penyiraman bunga kebun vertikal berdasarkan hasil perancangan

Lebih terperinci

PRAKARYA. by F. Denie Wahana

PRAKARYA. by F. Denie Wahana PRAKARYA by F. Denie Wahana (Produk Sederhana dengan Teknologi) Kompetensi Inti (KI) 1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya 2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab,

Lebih terperinci

Uraian Tugas 1. Pemilik Pemilik UKM Ridho Jaya juga bertindak sebagai pimpinan perusahaan. Dimana tugas pimpinan pada UKM Ridho Jaya ini adalah sebagai berikut: a. Merencanakan produksi yang akan dilakukan

Lebih terperinci

LIMBAH CORRUGATED PAPER SEBAGAI MATERIAL DISPLAY BOOTH

LIMBAH CORRUGATED PAPER SEBAGAI MATERIAL DISPLAY BOOTH LIMBAH CORRUGATED PAPER SEBAGAI MATERIAL DISPLAY BOOTH Priscilla Tamara 1), Peniel Immanuel Gultom 2) 1),2) Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Nasional Malang Jl. Sigura-gura 2 Malang Email

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, mulai pada bulan

BAHAN DAN METODE. Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, mulai pada bulan BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini direncanakan akan dilakukan di Laboratorium Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, mulai pada bulan September- Oktober

Lebih terperinci

BAB III METODE DAN PROSES PENCIPTAAN KARYA

BAB III METODE DAN PROSES PENCIPTAAN KARYA 35 BAB III METODE DAN PROSES PENCIPTAAN KARYA Dalam proses pembuatan karya seni, konsep adalah hal terpenting yang menjadi acuan dalam berkarya, yang menjadi dasar sebuah pemikiran. Konsep dari karya yang

Lebih terperinci

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN A. KELOMPOK DATA BERKAITAN DENGAN DENGAN ASPEK FUNGSI PRODUK PERANCANGAN 1. Furniture Fleksibel Fleksibilitas merupakan sifat kelenturan yang dapat menyesuaikan diri

Lebih terperinci

PANDUAN PELAKSANAAN KURIKULUM PENDIDIKAN KHUSUS

PANDUAN PELAKSANAAN KURIKULUM PENDIDIKAN KHUSUS PANDUAN PELAKSANAAN KURIKULUM PENDIDIKAN KHUSUS Mata Pelajaran : Keterampilan Vokasional Paket Keterampilan : Seni dan Kerajinan Jenis Ketrampilan : Kriya Kayu SEKOLAH MENENGAH PERTAMA LUAR BIASA TUNA

Lebih terperinci

Pemanfaatan Limbah Kayu Kelapa dari CV. UNIQUE Furniture Cibarusah Kab. Bekasi Sebagai Wadah Alat Tulis Modular

Pemanfaatan Limbah Kayu Kelapa dari CV. UNIQUE Furniture Cibarusah Kab. Bekasi Sebagai Wadah Alat Tulis Modular Pemanfaatan Limbah Kayu Kelapa dari CV. UNIQUE Furniture Cibarusah Kab. Bekasi Sebagai Wadah Alat Tulis Modular Iyus Susila 1,*, Fakhri Huseini 1 1 Institut Teknologi dan Sains Bandung, Deltamas, Bekasi

Lebih terperinci

SKRIPSI / TUGAS AKHIR

SKRIPSI / TUGAS AKHIR PROSES MANUFAKTUR MESIN PRESS BAGLOG JAMUR SKRIPSI / TUGAS AKHIR TRI HARTANTO (26410947) JURUSAN TEKNIK MESIN LATAR BELAKANG Dalam industri agrobisnis terutama dalam bidang penanaman jamur. Keberadaan

Lebih terperinci

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1. Alat dan Bahan A. Alat 1. Las listrik 2. Mesin bubut 3. Gerinda potong 4. Gerinda tangan 5. Pemotong plat 6. Bor tangan 7. Bor duduk 8. Alat ukur (Jangka sorong, mistar)

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. TATARAN LINGKUNGAN/KOMUNITAS Hasil rancangan ini diharapkan dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi para pengguna untuk meningkatkan kualitas tidur secara maksimal. Dari

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PEMBUATAN DAN PEMBAHASAN. Sebelum melakukan proses pembuatan rangka pada incinerator terlebih

BAB IV HASIL PEMBUATAN DAN PEMBAHASAN. Sebelum melakukan proses pembuatan rangka pada incinerator terlebih BAB IV HASIL PEMBUATAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Visualisasi Proses Pembuatan Sebelum melakukan proses pembuatan rangka pada incinerator terlebih dahulu harus mengetahui masalah Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Lebih terperinci