ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga DJOKO WASPODO ARTI PENTINGNYA KONOSEMEN DIDALAM PENYERAHAN BARANG OLEH PENGANGKUT DI LAUT

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga DJOKO WASPODO ARTI PENTINGNYA KONOSEMEN DIDALAM PENYERAHAN BARANG OLEH PENGANGKUT DI LAUT"

Transkripsi

1 SKRIPSI PENYERAHAN BARANG OLEH PENGANGKUT DI LAUT FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS AIRLANGGA S U R A B A Y A 1989

2 ARTI PENTINGNYA KONOSEHEN DIDALAM PENYERAHAN BARANG OLEH PENGANGKUT DI LAUT SKRIPSI DIAJUKAN UNTUK MELENGKAPI TUGAS DAN MEMENUHI SYARAT-SYARAT UNTUK MENCAPAI GELAR SARJANA HUKUM OLEH DOSEN PEMBIMBING FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS AIRLANGGA S U R A B A Y A

3 D IU J I PADA TANGGAL ; 30 JU N I 1989 KETUA i S R I Vi'OELAN A S IS, S.H. * SEKRETARIS : NUR^AHYUNI, S. H. ANGGOTA : 1* DJOKO SLAMET, S.H. 2. SAMZARI EOEKTORO, S.H. 3. A. OEMAR VfONGSODIVilRJO, S.H

4 KATA PENGANTAR Dalam rangka m enyelesaikan stu&i pada fa k u lta s hu kum U n iv e rs ita s A irla n gga, maka s k rip s i in i diajukan guna melengkapi sya ra t-syara t mencapai g e la * sarjana hukum. Meskipun demikian bukanlah b e r a rti s e le s a i pulalah kew ajib an pen u lis untuk menuntut ilm u, sebab ilmu adalah ib a ra t lautan yang tak terh in gga batasnya, sehingga apa yang sekarang i n i te la h didapat dan d im ilik i hanyalah merupakan t i t i l c k e c il d a ri lautan ilmu yang maha lu a s. Karenanya segala sesuatunya masih memerlukan pendalaman, pemantapan. bahkan pengembangan. Dengan demikian haruslah dimaklumi apab ila s k rip s i in i masih jauh d ari sempurna, sebab disamping k eterb a ta s - an-keterbatasan yang ada pada p en u lis, maka te rs e le s a ik a n - nya stu di in i b e r a r ti pula t i t i k awal d ari suatu permulaan yang masih panjang, karenanya kekerangan yang ada ada-. lah w ajar. Namun p en u lis juga menyadari bahwa apa yang te la h d icapai adalah merupakan bekal yang tak terh in gga n ila in y a Karenanya dalam kesempatan in i disampaikan terim a kasih yang tak t e r n ila i b»sarnya kepada : 1. Bapak R, Djoko Saemadijo, S.H, selaku Dekan Fakultas Hukum U n iv e rs ita s A irla n g g a. 2. Bapak Djoko Slamet, 3,H., yang te la h membimbing saya dengan penuh kesabaran sebagaimana layaknya seorang bapak kepada anaknya dan dengan cara t e r s e n d ir i hing iv

5 ga dapa'i terselesaik an n ya s k rip s i i n i, 3. Xbu S ri Woelan A z is, S.H., Bapak A. Oemar W ongsodiwirjo S.H., Bapak Samzari B oentoro, S.H., Bapak Djoko Slam et, S.H., Ibu Nurwahyuni, S.H. selaku dosen p e n g u ji. 4. Bapak Daud, selaku Kepala Bagian O perasional P.T* Samudera Indonesia cabang Surabaya, yang tela h banyak membantu penulis dalam mengadakan p e n e litia n d i lapangan. 5. Ibunda Soemasto. T dan kakak-kakak s e rta adikku yang tela h banyak memberikan bantuan dan dorongannya, hingga tim bul kesanggupan untuk m enyelesaikan tugas i n i. 6. Kepada teman-temanku : Budhi. W., Gagok M., Supardi, Budi S., Ibnu Chandra I., Doni, Tatok s e rta yang la in - la in n y a yang tak mungkin disebutkan satu p ers a tu. 7. Seluruh s ta f pengajar dan karyawan d i lingkungan Paku lta s Hukum U n iversita s A irlan gga. Akhirnya dengan mengucapkan syukur k eh a d ira t Tuhan Yang Maha Esa, yang karena rahmat dan i j i n Nya-lah maka semua tugas-tugas in i b isa te rs ele s a ik a n dengan b aik. Surabaya, 14 Juni 1989 Penulis ( Djoko Waspodo )

6 DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... DAFTAR IS I... i v v i BAB I. PENDAHULUAN ^ermasalahan : Latar Belakang dan Rumusannya Penjelasan Judul Alasan Pem ilihan Judul Tujuan Penulisan M etodologi Pertanggungjawaban S istem atik a BAB IX. PENGANGKUTAN BARANG DI LAUT ' 1'. Para Pihak Dalam Pengangkutan Barang Di Laut Timbulnya P e r ja n jia n Pengangkutan Hak dan Kewajiban Rara Pihak Da - lam P erja n jia n Pengangkutan Di Iiaut i BAB I I I. PERANAN KONOSEMEN DALAM PELAKSANAAN PENGANGKUTAN BARANG DI LAUT Pengertian Konosemen Macam-Macam Konosemen Konosemen Sebagai Bukti Hak Atas Barang Pada Pengangkut vi

7 4. Konosemen Sebagai Dasar Untuk Mengajukan Klaim BAB IV. PENYERAHAN BARANG OLEH PENGANGKUT DI LAUT Cara-Cara Penyerahan Barang Oleh Pengangkut Beberapa P ersetu ju an Dalam Penyerahan Barang Garansi Perseorangan Garansi Bank BAB V. PENUTUP Kesimpulan Saran DAFTAR BACAAN LAMPIRAN v ii

8 PENDAHULUAN 1. Permasalahan : L a ta r Belakang. dan Rumusannya Negara Indonesia yang pada saat in i sedang g i a t - g i - atnya melaksanakan pembangunan d i s e g a la bidang untuk me nuju tahap tin g g a l lan das, tentunya memerlukan dana yang cukup besar untuk membiayai pembangunan terseb u t, Adapun dana terseb u t dapat d ip e ro leh d a ri berbagai macam sumber, an tar la in d ari pajak, h a s il devisa perdagangan dan la in - lain n ya, Memang pada saat i n i pemerintah In d on esia, dengan berbagai kebijaksanaan yang te la h dikeluarkannya, berusa ha untuk meningkatkan h a s il d evisa perdagangan lu a r negerin ya dalam h a l i n i khususnya perdagangan kom oditi non m igas. Tentunya keberhabilan d a ri pada program untuk me - ningkatkan h a s il d evisa perdagangan kom oditi non migas i n i tid a k dapat k it a pisahkan d a ri peranan sarana pengang angkutan. karena s e p e r t i'k it a bersama, bahwa tujuan utama d a ri pengangkutan barang i n i adalah melancarkan d is tr ib u s i atau perpindahan barang, yang mana hal in i akan menambah n i l a i ekonomis d a ri pada barang tersebut* Dalam perdagangan an tar negara atau an tar pulau, maka p ilih a n terhadap sarana pentangkutan d i la u t i n i ada la h sangat te p a t, karena s e la in m em iliki daya angkut yang le b ih banyak, juga mempunyai daya terapuh yang le b ih jauh, Sedangkan a p a b ila d itin ja u d a ri s e g i ekonomis, maka biaya~ nya akan jauh le b ih murah.

9 2 Dalam penyelenggaraannya s e h a r i-h a ri, pengangkutan barang d i la u t in i tid a k lep a s dari permasalahan-permasa^ lahan yang ada, salah satu diantaranya adalah raengenai penggunaan p e rja n jia n garan si didalam penyerahan barang o leh pengangkut kepada penerim a/pem ilik barang dalam k a it - annya dengan tanggung jawab pengangkut* S ep e rti k ita ketahui bersama, bahwa didalam bidang pengangkutan di la u t diken al adanya konvensi Pengangkutan In te rn a tio n a l ( VISBY RULES 1968 ) : Pengangkut berkewa - jib a n menyerahkan barang kepada pihak yang dapat menyerahkan dokumen-dokuraen a s l i B i l l o f Lading ( Konosemen ). ^ D ari bunyi ketentuan d ia ta s je la s bahwa keberadaan konosemen a s l i tid a k b isa dikesampingkan didalam s etia p penyerahan barang yang dilakukan o le h pengangkut, Sedangkan kalau k ita lih a t pen gertian d a ri pada konosemen it u s e n d iri adalah s e p e r ti apa yang dinyatakan didalam KUH Dao gang, pasal 506 sebagai b erik u t * Konosemen adalah surat yang b e rta n g g a l, dalam mana s i pengangkut menerangkan, bahwa ia te la h menerima ba - rang-barang teraebut untuk diangkutnya ke suatu ternpat te rten tu dan menyerahkannya d i s itu kepada sese - prang te rte n tu, b egitu pula menerangkan dengan syarat s y a ra t apakah barang-barang it u akan diserahkannya. 1V aria P c ra d ila n, Tahun ke I I I no, 29, Jak arta, Feb ru a ri, 1988, h. 21, 2 R. Subekti dan R, T jit r o s u d ib jo, K ita b Undana-Undang Hukum ^a&ang dan K e p a ilita n, ( Selanjutnya R. Subekti dan R. T jitr o s u d ib jo I )7 Pradnya Param ita, Jak arta, 1975 h. 144

10 3 D is in i dapat disimpulkan bahwa konosemen it u meru- pakan tanda b u k ti pem ilikan atas barang k it a yang ada pada pengangkut, dimana seorang peaegang konosemen yafcg sah dapat menuntut penyerahan barangnya kepada pengangkut. Hal in i sesuai dengan ketentuan yang terdapat didalam pa- s a l 510 KUH Dagang yang bunyinya sebagai b erik u t ^ : S etiap pemegang konosemen berhak menuntut penyerahan barang yang terseb u t didalammya ditem pat tujuan, kec u a li jik a konosemen it u d ip ero leh berlawanan dengan hukum. Jadi.jelas bahwa penggunaan p e rja n jia n ga ra n si, ba- ik it u garan si perseorangan maupun garansi bank untuk me- nggantikan kedudukan konosemen disebabkan karena penerima/ p em ilik barang pada waktu barang akan diserahkan oleh pengangkut belum memegang konosemen yang a s l i. Hal in i tampaknya memang "menyimpang" d a ri ketentuan hukum posi - t i f yang berlaku d i negara k it a, khususnya KUH Dagang. Memang penggunaan p e rja n jia n garan si in i didalam praktek penyerahan barang yang dibuat antara pengangkut dengan penerima barang, dimakawdkan agar barang muatan dapat segera dikeluarkan d a ri gudang d i pelabuhan, sehing- ga dengan demikian akan mengurangi beban yang harus d ip i- kul penerim a/pem ilik barang untuk membayar sewa gudang s e r ta untuk raenghindari te rja d in y a k o n g e s ti. S etelah mengkaji la t a r belakang masalah s e p e r ti d i- uraikan dimuka, maka dapatlah dirumuskan permasalahan yang 3 Ibid..h. 145

11 4 akan saya bahas dalam s k rip s i in i* a* Sampai seberapa jauhkah tanggung jawab yang dibeban kan kepada pengangkut dalam suatu p e rja n jia n pengangkutan barang d i la u t. b. Bagaimanakah peranan konosemen didalam pelaksanaan p e rja n jia n pengangkutan barang d i la u t. c. Dapatkah kedudukan konosemen in i didalam penyerahan barang o le h pengangkut, d iga n tik a n dengan suatu p erja n jia n garan si yang dibuat antara pengangkut dengan penerima barang. 2- Pen.jelasan Judul Untuk menghindari kesalah pahaman didalam m enafsir kan s e r ta m enjelaskan ten tan g apa yang menjadi juga d id a lam s k rip s i i n i, maka saya memandang p erlu untuk m enjelas kan judul H A r t i Pentingnya Konosemen Didalam Penyerahan Barang Oleh Pengangkut Di Laut H* Judul terseb u t d ia ta s dapat d ip ila h -p ila h menjadi MA r t i Pentingnya ", Konosemen Didalam Penyerahan Barang H, " Oleh Pengangkut Di L a u t", A r t i pentingnya dapat d ia r tik a n sebagai suatu ke gunaan atau faedah yang utama, dalam h a l i n i ia la h d id a lam suatu p e rja n jia n pengangkutan barang d i la u t, khususnya b erkaitan dengan tanggung jawab pengangkut terhadap barang yang diangkutnya sejak barang i t u : d iterim a hinigga diserahkannya kepada orang yang berhak menerimanya d item -

12 5 pat tujuan. P en gertian d a ri konosemen adalah s e p e r ti apa yang telah. d itegask a n didalam KUH Dagang, p a sa l 506 yang b u n yinya sebagai b erik u t^ s Konosemen adalah suatu surat yang b erta n g g a i, dalam mana s i pengangkut, menerangkan bahwa ia te la h menerima barang^barang terseb u t untuk diangkutnya ke suatu tempat tujuan te rten tu dan menyerahkannya d is it u kepada seseorang te rte n tu, b egitu pula menerangkan dengan s y a ra t-s y a ra t apakah barang-barang it u akan d iserah - kannya«sedangkan Herman A.C. Law alata m enafsirkan i s i dae r i pasal 506 KUH Dagang terseb u t sebagai b erik u t * Konosemen adalah suatu surat yang b ertan ggai yang d i- tanda tangani oleh agen atau perusahaan pelayaran atau nahkoda k ap al, dalam mana menerangkan bahwa nahkoda kapal te la h menerima barang muatan te rte n tu dengan baik atau rusak sebagian d ia ta s kapal untuk d i- angkut d a ri pelabuhan muat ke pelabuhan tujuan atas dasar s y a ra t-s y a ra t pengangkutan dan penyerahan barang yang d is e tu ju i pengirim, dengan kapal mana dimuati muatan terseb u t. P en gertian didalam penyerahan barang in i adalah b erk aitan dengan tanggung jawab pengangkut, sebagai mana d ia tu r didalam pasal 468 KUH Dagang yang is in y a sebagai b erik u t ^ ; Persetuju an pengangkutan mewajibkan s i pengangkut untuk menjaga akan keselam atan barang yang harus d i - 4I b l d, 1 h Herman A. C arel Lavsalata, Konosemen dan Forwardin g Agency. Cet. I, Akasara Baru, J akarta,1983, h. 19. ^R. Subekti dan R.T jitro s u d ib jo I, op. c i t.»h. 134

13 6 angkutnya mulai saat d ite rim a h in gga s a a t diserahkannya barang terseb u t. D is in i je la s bahwa seseorang pengangkut s e la in d i- bebani tangguiig jawab untuk menjaga keselamatan barang mu- atan selama proses pengangkutan it u berlangsung, maka ia juga harus bertanggung jawab atas diserahkannya barang mu- atan te rs e b u t kepada orang yang benar-benar berh ak. Pengertian pengangkut d i la u t d is in i, saya b ata si pada pen gertian d a ri pada pengangkut khusus barang, d i s i n i tid ak termasuk pengangkutan orang, yang mana h al in i d ia tu r didalam KUH Dagang, pasal 466 yang is in y a sebagai 7 b erik u t : Pengangkut dalam a r t i bab in i ia la h barang siapa yang baik dengan persetujuan c a rte r menurut waktu maupun c a rte r menurut perjalanan baik dengan suatu persetu - juan yang la in, mengikatkan d irin y a untuk menyelenggarakan pengangkutan barang sebagian atau seluruhnya m elalu i lau tan. Secara keseluruhan maksud d a ri judul " A r t i P e n tin g n y a Konosemen Didalam Penyerahan Barang Oleh Pengangkut Di Laut ", adalah untuk membatasi permasalahan dan ru- ang lingkup pembahasan dalam s k rip s i i n i, khususnya menge- n a i tanggung jawab pengangkut atas penyerahan barang kepada penerima barang dengan keharusan diserahkannya konosemen a s l i oleh penerima/perailik barang terseb u t sebagai salah satu tanda bukti atas pem ilikan barang terseb u t, karena didalam p rak tek, keharusan adanya konosemen I n i d i- 7Ib id.

14 7 digan tik an dengan suatu p erja n jia n garansi yang dibuat an- ta r a pengangkut dengan penerima barang. 3. Alasan Pem llih an Judul Penggunaan p e rja n jia n gara n si, baik it u p e rja n jia n garan si perseorangan maupun garansi bank yang d i buat anta ra pengangkut dengan penerim a/pem ilik baiang d i dalam praktek penyerahan barang untuk menggantikan keberadaan konosemen ap ab ila padarsaat it u tern ya ta penerim a/pem ilik barang belum memegang konosemen a s l i. Hal in i dimaksudkan agar supaya barang dapat segera dikeluarkan d a ri gudang pelabuhan, sehingga pihak penerima dapat menghemat biaya untuk menyewa gudang, sek aligu s xrntuk menghindari kongest i pada gudang d i pelabuhan. Sedangkan ap a b ila k ita m elihat ketentuan-ketentuan didalam KUH Dagang, yang mengatur segala perbuatan hukuro d i bidang perdagangan pada umumnya, s e rta pengangkutan pada khususnya, y a itu didalam buku I I KUH Dagang, yang mana ditentukan bahwa dalam s e tia p penyerahan barang yang dilakukan aleh pengangkut kepada penerim a/pem ilik barang harus d iik u t i dengan penyerahan konosemen a s l i oleh penerim a/pem ilik barang kepada pengangkut. Hal in i dimaksudkan agar barang dapat d iterim a oleh pem ilik yang benar-benar berhak atas barang terseb u t, sehingga tid ak ada pihak yang merasa d iru gik an. Perbedaan yang tim bul an tara praktek dan ketentuan

15 8 yang ada didalam ketentuan hukum p o s i t i f mengenai penye - rahan barang i n i menyebabkan d ip ilih n y a judul " A r t i Pentin g n y a Konosemen Didalam Penyerahan Barang Oleh Pengangkut d i la u t 4. Tujuan Penulisan Tujuan penuliean in i disamping untuk memenuhi persyaratan form al untuk mencapai g e la r aarjana pada Fakultas Hukum U n iversita s A irlan gga Surabaya, s e rta untuk melengkapi persyaratan a d m in is tr a tif. D is in i saya in gin mengemukakan permasalahan yang tim bul ak ib at penggunaan d a ri pada p e rja n jia n ga ra n si, baik it u p e rja n jia n garan si bank raaupun ga ra n si perseorangan dalam peranannya menggantikan keharusan adanya konosemen a s l i dalam s e t ia p penyerahan barang, s erta tu.juan yang lainnya adalah mencari dasar hu - kum d a ri penggunaan p e rja n jia n garansi i n i. Untuk hal in ila h saya mencoba menyumbangkan p ik ir - an dalam bentuk penulisan s k rip s i i n i, sesuai dengan b i- dang keilrauaan yang saya tekun i selama i n i. 5. M etodologi a. 'Pendekatan masalah. 3ada penu lisan s k r ip s i i n i saya menggunakan pendekatan masalah stu d i kepustakaan dan y.uridis s o s io lo g is. A r t i pendekatan stu d i kepustakaan, y a itu saya melakukan pendekatan m e la lu i buku-buku ilm ia h, majaj.ah dan ba-

16 9 han k u liah, setela h it u saya melakukan pendekatan secara y u r id is, y a itu berdaearkan peraturan perundang-undangan, khususnya didalam KUH Dagang, buku kedua, bab V a, mengen a i pengangkut&n barang, bagian k esa tu. kemudian pendekatan d a ri s e g i s o s io lo g is, y a itu m elalu i stu d i lapangan dengan m elihat praktek s e h a ri-h a ri mengenai penggunaan p erja n jia n garan si dalam penyerahan barang, khususnya d i PT. Samudera In d on esia cabang Surabaya. b. Sumber d a ta. Dalam penulisan s k rip s i in i saya memperoleh data, per tana d a ri buku-buku llm ia h, majalah s e rta bahan k u liah, kemudian d a ri K itab Undang-Undang Hukum Dagang. Di samping i t u juga d a ri h a s il wawancara dengan in sta n s i yang berkaitan dengan masalah i n i, dalam h a l in i adalah PT. Samudera In d on esia cabang Surabaya. c. Prosedure pengumpulan dan pengolahan d a ta. Data yang te la h saya kumpulkan, baik d a ri h a s il membaca, dan m en gid en tifik a si buku-buku karangan ilm ia h, m ajalah-m ajalah yang ada hubungannya dengan pengangkutan barang m elalu i la u t, dalam h al in i khususnya mengenai penyerahan barang, konosemen dan p e rja n jia n ga ra n s i. S ela in i t u saya juga mengadakan p e n e litia n d i lapangan, y a itu d i PT. Samudera In d on esia cabang Surabaya. D ari data yang te la h terkumpul, kemudian saya su - sun secara berurutan dan saya pisah-pisahkan ke dalam bab-bab dan subbabnya masing-masing sesuai dengan bidang pembahasannya.

17 10 d. A n alisa data. Dari data-data yang te la h saya ku/npulkan ta d i, la - lu saya a n a lisa dengan menggunakan a n a lisa d is k r ip t if dan metode yang digunakan adalah metode d e d u k tif-in d u k tif. D e s k r ip tif in i a rtin y a saya akan menguraikannya secara r in c i mengenai h a l-h a l yang saya bahas dalam p en u lisan in i d a ri lit e r a t u r e - lit e r a t u r e yang ada kaitannya de - ngan penyerahan barang o le h pengangkut d i la u t. Sedangkan c metode d e d u k tif-in d u k tif y a itu secara umum saya m elihat ketentuan-ketentuan umum yang berkaitan dengan penyerahan barang oleh pengangkut didalam ketentuan perundang-undang- an yang berlaku, s e rta melakukan p e n e litia n d i lapangan, khususnya mengenai penggunaan p e rja n jia n garansi dalam kaitan n ya dengan penyerahan barang o leh pengangkut. 6.. Pertanggungjawaban S istem atik a Untuk menudahkan dalam memahami i s i d a ri seluruh s k r ip s i i n i, maka kerangka s k rip s i in i dalam pembahasannya akan d ib a g i didalam 5 bab dan dalam masing-masing babnya te r b a g i atas subbab-subbab. D is in i akan saya a w ali dengan bab I, yang mana meruoakan bab pendahuluan, karena merupakan gambaran secara umum d a ri la t a r belakang permasalahan b eserta rumusan permasalahannya, penjelasan judul, alasan pemilihan judul, tujuan penulisan dan m etodologi yang digunakan, kemudian d ila n ju tk a n dengan pertanggungjawaban sistem a tik a.

18 11 Di dalam bab I I In i akan diuraikan pihak-pihak yang t e r l i b a t d i dalam p e rja n jia n pengangkutan barang d i la u t, yang raana dengan terbentuknya p e r ja n jia n pengangkutan t e r sebut maka sejak saat it u pula timbulah hak dan kewajiban d a r i masing-masing pihak. Di dalam bab I I I dibahas mengenai peranan konosemen didalam pelaksanaan d a r i pada p e r ja n jia n pengangki^tan barang d i la u t, yang mana konosemen in i t e r d i r i d a ri berma - cam-macam bentuk dan jen isn ya, sesuai dengan fu n gsinya. Konosemen in i dapat juga digunakan sebagai tanda bukti hak m ilik atas barang k ita yang berada pada pengangkut, e la iri it u konosemen dapat digunakan sebagai dasar untuk mengajukan klaim kepada pengangkut ap ab ila barang k ita yang diangkut tern ya ta mengalami kerusakan atau kurang jumlahnya. Di dalam bab IV in i akan d ije la s k a n mengenai caracara penyerahan barang oleh pengangkut kepada penerima yang lazim dilakukan dalam praktek pengangkutan d i la u t s e h a r i-h a ri, tentunya dalam kaitannya dengan penyerahan barang in i akan d iu la s pula mengenai penggunaan p e r ja n jig a ra n s i, baik it u garan si perseorangan maupun garansi bank. Di dalam bab V in i adalah sebagai penutup, karena dalam bab in i akan dikemukakan beberapa kesimpulan yang te la h d ip e ro leh d a ri pembahasan-pembahasan sebelumnya dan juga disertakan beberapa saran sebagai pelengkap dan sumbang p ik ir saya.

19 BAB II PENGANGKUTAN BARANG DI LAUT 1. Para Pihak Dalam Pengangkutan Barang Di Laut Yang dimaksudkan dengan para pihak dalam pengang - kutan barang d i la u t, adalah para pihak yang t e r lib a t d i dalam pembentukan p e rja n jia n pengangkutan barang d i la u t, dalam h al i n i, pertama, pihak pengangkut sebagai penye * -* len ggara d a ri pada pengangkutan it u s e n d ir i. Kedua, pihak pemakai jasa angkutan, dalam h al i n i b isa pengirim barang atau b isa juga pengguna penyediaan kapal dalam h al t e r ja d i c a r te r k ap al. Untuk le b ih jela sn y a, maka akan saya coba untuk menjelaskannya sa tu p ersa tu. Yang dimaksud dengan pengangkut, khususnya pengangkutan barang d i la u t, sebagaimana te la h d ia tu r didalam K itab Undang-Undang Hukum Dagang k it a, didalam pasal 466 s e p e r ti apa yang te la h saya kemukakan d i dalam penjelasan ju d u l, pada bab pendahuluan. Dimana menurut Wiwoho Soedjono dalam menafsirkan i s i d a ri pada pasal 466 KUH Dagang terseb u t adalah sebagai b erik u t, bahwa yang dimaksud de: - ngan pengangkut, ia la h orang yang mengikatkan d i r i untuk Q melakukan pengangkutan menyeberang la u t. Pengertian orang d is in i menurut hukum dapat berupa orang p rib a d i (n a tu rli.jk persoon) atau dauat juga badan hukum (re ch t p e rs o o n ). Q Wiwoho Soedjono, Hukum Pengangkutan Di Indonesia dan perkembangannya, lib e r t y, Yogyakarta, 1987, h.1. 12

20 13 Sedangkan pen afsiran d a ri kata mengikatkan d i r i d is in i b e r a r ti pelaksanaan pengangkutan it u ter.iad i karena adanya p e rja n jia n yang dibuat sebeluranya antara pengangkut dengan peraakai ja sa angkutan. Apabila k ita m elihat pengertian pengangkut menurut Konvensi Pengangkutan Laut In te rn a tio n a l, y a itu The Hague Rules 1924 yang mengatur tentang " In te rn a tio n a l Convent!- on fo r The U n ific a tio n o f C erta i Rules R ela tin g to B i l l o f Lading ", yang ditan da tangani d i B ru ssel pada ta n gga l 24 Agustus 1924» yang mengartikan pengangkut sebagai be- r ik u t ^ : Pengangkut adalah termasuk pem ilik kapal, atau pihak oengguna kapal, penyedia kapal dalam h al kapal d i - c a r te r, yang te la h mengadakan p e rja n jia n pengangkutan Jadi kalau k it a bandingkan dengan p e n g e rtia n pengangkut s e p e r ti apa yang d ia tu r didalam KUH Dagang, dengan p en gertian pengangkut d ila u t menurut The Hague Rules 1924, maka menurut Wiwoho Soedjono pen gertian pengangkut menurut The Hague Rules 1924 terseb u t le b ih lu a s. D ikatakan le b ih luas karena termasuk dalam p en gertia n pengangkut d is in i adalah pem ilik kapal. Sedangkan pengertian pengangkut 'nenurut The Hamburg Rules 1978, yang mana k it a dapat menemui perbedaan antara q Wiwoho Soedjono, Hukum Laut Khusus Tentang Pengangkutan Barang d i In d on esia,l ib e r t y, Jfogyakarta, 1986, h Ibid.

21 14 C a rrie r (pengangkut) dan Actual C a rrie r (pengangkut sesunggu hn ya). Menurut p asal 1 The Hamburg Rules 1978, yang mana disebu tkan bahwa pengangkut atau c a r r ie r adalah : S etiap orang untuk siapa atau untuk atas nama siapa. o e rja n jia n pengangkutan barang d i la u t it u diadakan dengan pihak mereka yang berkepentingan dengan barangbarang muatan terseb u t. sedangkan p en gertia n pengangkut yang sesungguhnya atau a c- ip tu a l c a r r ie r adalah : Mereka yang melaksanakan pengangkutan barang yang t e lah dipercayakan kepadanya oleh pengangkut T c a r r ie r ) dan termasuk pula orang-orang la in terhadap mana pe - laksanaan: nya te la h dipercayakan kepadanya Jadi s etela h k ita mengetahui pengertian d a ri pada pengangkut khususnya pengangkutan barang d i la u t, baik yang d ia tu r didalam KUH Dagang, pasal 466 nya, maupun yang d ia tu r didalam The Hague Rules 1924 dan The Hamburg Rules 1978 didalam pasal 1 nya, maka dapatlah k ita sim - pulkan bahwa yang dimaksudkan dengan pengangkut dalam suatu p e rja n jia n pengangkutan barang d i la u t, bukanlah nah- koda atau awak kapal yang lainnya yang bertugas mengope- rasik an kapal untuk mengangkut barang terseb u t, melainkan siap a s a ja, yang menjadi pihak dalam pembentukan p e r ja n ji- an pengangkutan barang d i la u t, yang mana ia memberikan p r e s t a s i untuk menyelenggarakan pengangkutan. 11 Ib id. 12I b id.,h. 49

22 15 Setelah k ita mengetahui pengertian pengangkut, yang mana merupakon salah satu pihak dalam p e r ja n jia n pengangkutan barang d i la u t, maka sekarang k ita mencoba untuk me- mahami pengertian d a ri pada pengirim sebagai pihak yang la in c^alam suatu p erja n jia n pengangkutan, dalam h al in i ia sebagai pemakai jasa sarana angkutan te rs eb u t. Pengi - rim d is in i b isa oem ilik barang, b isa ju a orang yang d i - kuasakan untuk mencarikan dan sekaligu s mengurus h a l-h a l yang berhubungan dengan pengangkutan barang yang akan d i- k irim te rs e b u t. Orang s e p e r ti in i lazim disebut sebagai ek sp ed itu r, yang mana mengenai eksoeditu r in i d ia tu r d i dalam pasal 86 hingga pasal 90 KUH Dagang* Jadi dalam h al in i siapa yang dimaksudkan dengan pihak oengirim barang d is in i. K itab Undang-Undang Hukum Dagang k ita s e n d iri tid a k merumuskan dengan je la s siapa pengirim itu, te ta p i kalau k ita mencari pengertian pengirim d i luar KUH Dagang k ita, maka dapat k ita temukan d i dalam The Hamburg Rules 1978, didalam pasal 1 ayat 8 yang is in y a adalah sevagai b erik u t ^ : Pengirim (e k s o e d itu r) adalah s e tia p orang yang untuk sia p a dan untuk atas nama siap a p e r ja n jia n pengangkutan barang d i la u t te la h diadakan dengan pihak pengangkut atau s e tia p orang atas nama siapa barang-barang muatan itu benar-benar tela h diserahkan keoada peng - angkut sehubungan dengan te la h terjadinya. p erja n jia n pengangkutan d i la u t. 15Ib id,,h. 13

23 16 Dari uraian d ia ta s dapatlah k ita simpulkan, bahwa pengirim it u b isa aaja p em ilik barang it u s e n d iri atau orang la in yang d ib e ri kuasa atau bertin dak atas naraa pe m ilik barang untuk mengurus pengiriman barang terseb u t dengan menggunakan kapal la u t* pihak in i dalam praktek l a - zim disebut sebagai ekspeditur* S ela in pihak pihak yang t e r lib a t didalam p e r ja n ji an pengangkutan, a e p e rti pengangkut dan pengirim barang* masih ada pihak la in yang berada d i lu a r p e m ja n jia n pengangkutan it u s e n d ir i, te ta p i mempunyai kepentingan te rh a - dap terla k san an ygrp erja n jia n pengangkutan terseb u t. Pihak i n i adalah pihak penerima barang yang berkepen tin gan a ta s diterim anya barang kirim an terseb u t. Kedudukan penerima sebagai pihak k e t ig a d i lu a r p e rja n jia n pengangkutan barang in i mendapat s i f a t hukumnya d a ri i s i pasal 1317 ayat 1 KUH Perdata yang berbunyi se bagai b erik u t ; L a g i pula diperbolehkan juga untuk minta ditetapkan nya suatu ja n ji guna kepentingan seorang pihak k e t i - ga, ap a b ila suatu penetapan j a n j i, yang dibuat sese - orang untuk d irin y a s e n d iri atau suatu pemberian yang dilakukannya bagi orang la in yang memuat ja n ji yang s e p e r ti itu. 14. R. Subekti dan R. T jitr o s u d ib ;jo, K ita b Undang-Undang Hukum P e rd a ta. (S elanju tn ya R. Subekti Dan R, T j i t r o su d ib jo I I ), Pradnya Param ita, Jakarta, 1980, h. 304.

24 17 Oleh karena itu la h pihak k e tig a i n i, walaupun b era - da d i lu ai\.pih ak«pih ak dalam p e r ja n jia n pengangkutan sebaga i ak ib at d a ri kedudukan hukumnya, maka ia mempunyai hak dan kew ajiban, haknya d is in i adalah untuk meraanfaatkan ja n ji khusus yang ada didalam p e rja n jia n pengangkutan t e r sebut y a itu menerima barang-barang k irim an- Jadi siapa yang dapat disebut sebagai penerima ba rang d is in i biasanya dapat d ilih a t d a ri apa yang t e r t u lis didalam konosemen, s e p e r ti apa yang te la h d ia tu r didalam pasal 506 ayat 2 KUH Dagang yang mana disebutkan, bahwa penerima barang i n i dapat disebutkan namanya (op naam) dapat juga orang yang ditunjuk oleh pengirim maupun se - orang k e t ig a (aan o r d e r) dan dapat juga disebutkan seba g a i pembawa (aan toonder) baik dengan atau tanpa menyebutkan nama seseorang te r te n tu disampingnya. 2. Timbulnya P e r ja n jia n Pen&anftkutan Barang Di L au t. Sebelum k ita memahami pen gertian d a ri pada p erjan jia n pengangkutan barang d i la u t, maka k it a harus mengeta?- hui t e r le b ih dahulu sejak kapan p e rja n jia n pengangkutan it u tim b al. Hal in i sangat penting karena b erk aitan era t dengan timbulnya hak dan kewajiban d a ri para pihak yang ada didalam p e rja n jia n pengangkutan barang terseb u t. Kalau k ita m elihat ketentuan dasar mengenai p erja n - jian /persetu ju an, maka dapat k ita jumpai didalam pasal

25 KUH P erd ata yang menyatakan seb agai b e rik u t s Suatu persetujuan adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau le b ih mengikatkan d irin y a terhadap satu orang lain n ya atau le b ih. Dalam hal in i ap a b ila k ita m elihat pada p e rja n jia n pengangkutan barang d i la u t, maka yang menjadi para pihak nya d ie in i adalah, pertama, pihak pengangkut sebagai p e- nyelenggara pengangkutan barang d i la u t. Kedua, pihak p e- makai jasa angkutan te rs e b u t, dalam hal in i b isa pengirim barang atau b isa juga pengguna penyediaan kapal dalam hal t e r ja d i p e rja n jia n c a rte r. Kemudian untuk sahnya p e rja n jia n pengangkutan t e r sebut sehingga is in y a dapat mengikat para pihak untuk me- laksanaka;n p resta sin ya yang terkandmig didalamnya, maka p e rja n jia n terseb u t harus memenuhi s y a ra t-s y a ra t s e p e r ti apa yang d ia tu r didalam p asal 1320 KUH P erd a ta yang menya takan sebagai b erik u t ^ i Untuk sahnya suatu p e rja n jia n diperlukan syara t-sya r a t j 1* Sepakat mereka yang mengikatkan d ir in y a. 2. Kecakapan untuk membuat suatu p erik a ta n. 3. Suatu hal t e r t e n t u.. 4. Satu sebab yang h a la l, Selanjutnya ap a b ila keempat syarat didalam pasal 1320 KUH Perdata it u terpenuhi maka persetujuan it u sah menurut hukum dalam h al in i b e r a r ti i s i d ari pada persetujuan itu m engikat para pihak yang membuatnya. Hal i n i ten tu sesu ai 1gI b l d.,h. 305

26 19 dengan isi pasal 1333 KUH Perdata ayat 1 yang berbunyi 17 Semua persetujuan yang dibuat secara sah, berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Sedangkan apabila kita melihat pada ketentuan hu - kum positif yang pada saat ini masih berlaku di Indonesia, bahwa untuk mengadakan suatu perjanjian pengangkutan ba - rang atau orang tidak disyaratkan dalam bentuk tertulis. Jadi cukup diwujudkan dengan persetu.juan kehenciak secara lisan saja.1 Oleh karena perjanjian pengangkutan itu si- fatnya konsensuil, maka c ^ u p l a h dengan hanya kata sepakat dari kedua belah pihak serta memenuhi krlteria dari ketiga pasal tersebut diatas, maka se.jak saat itu pula telah tim- bul perjanjian pengangkutan. Dari sini jelaslah sudah, bah- wa untuk mengetahui kapan timbulnya perjanjian pengangkutan itu'haruslah dilihat secara kasus per k a s u s. D a l a m.praktek sehari-hari di masyarakat, seorang pengirim.barang yang hendak mengirimkan barangnya datang kepada pengangkut barang di laut, kemudian oleh pengang - kut diberitahukan mengenai svarat-syarat yang ditetapkan oleh pengangkut untuk pengiriman barang tersebut, terma - suk mengenai biaya pengangkutan, setelah pengirim mengetahui syarat-syarat dan menyetujuinya untuk mengirimkan barangnya, maka sebaliknya pengangkut'akan menyatakan 17Ibide)h.306 -o R. Soekardono, Hukum Dagang Indonesia, Jilid II, CV. Rajawali, Jakarta, 19& 6,'h. 11T

27 20 persetujuannya untuk mengangkut barang terseb u t, maka sejak saat itu la h timbulnya p e rja n jia n pengangkutan barang d i. l a u t. Biasanya kesepakatan kehendak antara para pihak dalam pengangkutan barang d i la u t kemudian dituangkan dalam bentuk p e rja n jia n t e r t u lis, h al in i b isa saja berbentuk konosemen yang harus d i tanda tangani oleh pengirim barang atau ke dalam bentuk dokumen pengangkutan yang lain n ya, h a l in i hanyalah sebagai barang b u k ti, bahwa te la h t e r ja - d i p e rja n jia n pengangkutan barang d i la u t antara pengangkut dengan pengirim barang. S etelah k ita mengulas mengenai kapan mulainya tim - bul p e rja n jia n pengangkutan, maka k ita sekarang akan mencoba untuk mengetahui apa pen gertian d a ri pada p e rja n jia n pengangkutan barang d i la u t itu s e n d ir i. Tentang p e r ja n jia n pengangkutan buku ke I I KUH Dagang tid a k memberikan d e fin is in y a. T eta p l pen gertian d a ri p e rja n jia n pengangkutan it u dapat d ita fs ir k a n s e p e r ti ketentuan yang terd a p a t d i dalam bab V a, buku I I KUH Dagang te rs eb u t. Juga The Hague Rules tid a k menetapkan me - ngenai d i f i n i s i d a ri p e rja n jia n pengangkutan it u. Namun demikian The Hague Rules, didalam pasal 1 ad b memuat rumusan mengenai p e rja n jia n pengangkutan (c o n tra c t o f car r ia g e ) hanya berlaku untuk p e rja n jia n pengangkutan yang dimuat didalam B i l l Of la d in g, atau didalam bentuk dokumen yang la in sepanjang dokumen it u ada sangkut pamtnya dengan pengangkutan barang d i la u t. Ia juga b erlak u untuk

28 21 s e tia p B i l l o f Lading atau s e tia p macam dokumen yang d i te - tapkan dalam c a rte r p a r t i j. '1^ Hanya The Hamburg Rules 1978 yang memberikan d i f i n i - s i mengenai p erja n jia n pengangkutan barang d i la u t s e p e r ti apa yang dirumuskan d i dalam pasal 1 ayat 6 sebagai mana b erik u t i n i, P erja n jia n pengangkutan barang d i la u t (con - t r a c t o f c a rria g e by sea ) memberi kewajiban kepada pengangkut untuk melakukan pengangkutan d i la u t d a ri pelabuhan yang satu ke pelabuhan yang la in dan terhadap terla k san a- nya pengangkutan barang muatan i t u pengangkut berhak atas po pembayaran uoah angkutan. 3. Hak Dan Kewajiban Para Pihak Dalam P e rja n jia n Pengangkutan Barang Di L au t. S ep e rti apa yang te la h saya kemukakan d i dalam subbab yang terdahulu, bahwa d i dalam p e rja n jia n pengangkutan barang d i la u t ada 2 pihak, y a itu pihak pengangkut dan p i hak pengirim barang, yang mana masing-masing pihak mempun yai hak dan kewajiban yang tim bul bersamaan dengan tim - bulnya p e rja n jia n pengangkutan terseb u t. Di Indonesia per^anggung jawaban pengangkut in i d ia tu r didalam K itab Undang-Undang Hukum Dagang d i dalam pasal 468 sampai dengan pasal 479» yang mana ketentuan - ^9 wiwoho Soedjono, on. c i t., h f Ib id «* h- 50

29 22 ketentuan didalam KUH Dagang digunakan sebagai dasar untuk menyelesaikan segala permasalahan yang timbul dalam pengangkutan barang di la u t khusuenya pelayaran didalam n e g e r i, sedangkan untuk pelayaran lu a r n eg eri yang b ers i-_ f a t in te r n a tio n a l, maka s e la in KUH Dagang diperlukan pula ketentuan-ketentuan s e p e r ti misalnya The Hamburg Buies 1978 dan The Hague Rules Dalam pembahabarl.ini^saya akan mencoba untuk membandingkan antara KUH Dagang dengan ketentuan in te rn a tio n a l d ia ta s, dalam kaitannya dengan pertanggungjawaban pengangkut. Didalam KUH Dagang ketentuan dasar mengenai tanggung jawab pengangkut terdapat didalam pasal 468 a y a t'1 KUH Dagang yang bunyinya sebagai b e rik u t 5 P e rja n jia n pengangkutan mewajibkan pengangkut menjaga keselamatan barang s e ja t saat penerimaan sampai saat panyerahannya yang menjadi permasalahannya ia la h dimana penerimaan dan penyerahan barang it u t e r j a d i, apakah penerimaan dan penyerahan it u d i pelabuhan, sepanjang k apal( a lo n g sid e ship ) t di gudang atau d i geladak. Dari s in i tampak bahwa KUH Dagang k it a tid a k menetapkan dengan je la s masa p e r i ode pertanggungjawaban pengangkut, b egitu pula dengan PP. noraer 2 tahun 1969 sebagai peraturan pelaksanaannya, b e r- '2V Subekti dan R. T jitr o s u d ib jo I, op, c i t..... i h. 134.

30 23 dasarkan p a sa l 14 nya dikatakan, bahwa perusahaan p e la y a r an bertanggung jawab sebagai pemgangkut barang kepada p e - m ilik barang sejak saat menerima barang d a ri pengirim sam- p a i menyerahkan barang yang yang diangkutnya kepada pene rima sesu ai dengan ketentuan perundang-undangan yang b e r laku atau syara t-sya ra t p e rja n jia n pengangkutan atau ke^a* zim an-kelazim an yang b erlak u dalam bidang p elayaran* Untuk mengatasi masalah i n i mnka dalam p rak tek pengangkutan barang d i la u t digunakan klausula " Prom ta c k le to ta c k le 11 atau " From warehouse to warehouse Kalau k ita m elihat pada ketentuan The Hague Rules 1924» ketentuan yang mengatur mengenai pertanggungjawaban terd ap at didalam pasal 1 ayat 2 yang is in y a menyatakan bahwa tanggung jawab pengangkut dim ulai s eja k.sa a t barang dirauat sampai barang dibongkar. Hal in i t e r lih a t d a ri ka- ta w Prom the tim e whom the goods are loaded on to the t i ~ pp me whwn they are discharge from the ship H. Dengan dew mikian maka tanggung jawab pengangkut b era k h ir pada saat dibongkar d ari kapal ( D e liv e ry o f goods alo n gsid e the ship = dekat kapal ) Ketentuan mengenai masa pertanggungan jawab pengang kut yang le b ih je la s terd ap at didalam The Hamburg Rules 1978 f yang mana di dalam pasal 4 nya mengatur mengenai ^^Wiwoho Soedjono, op. c i t.. h. 57

31 24 p eriod o f re s p o n b ility. Pertanggungan jawab pengangkut adalah saat barang-barang ada dibawah kekuasaannya y a itu dipelabuhan muatan selama berlangsungnya pengangkutan sampai di pelabuhan pembongkaran atau dapat d ita fs ir k a n atau pertanggungan jawab pengangkut adalah pada saat barang ada dibawah penguasaan pengangkut sampai pada saat barang diserah ^ kan kepada consignee (p en e rim a). Adapun yang dimaksudkan dengan penerima itu ia la h mereka yang jflempunyai hak untuk diserahkannya barang-barang muatan kepadanya Dengan demikian maka masa pertanggungjawaban pengangkut didalam The Hamburg Rules 1978 adalah le b ih tegas dan memberikan tanggung jawab yang b esa r kepada pengangkut Selanjutnya didalam pasal 468 KUH Dagang ayat 2 nya menyatakan bahwa pengangkut diw ajibkan menjaga keselam atan barang yang diangkutnya, serta mengganti kerugian ap ab ila tern ya ta barang itu mengalami kerusakan seluruhnya atau sebagian sehingga ca ca t pada waktu diserahkan. Dalam h al t e r ja d i demikian maka pengangkut harus memberikan kerugian kepada pengirim atas k elalaian n ya menjaga keselamatan barang, te ta p i pengangkut juga d ib e r i ke- sempatan untuk membela d i r i, ya itu dengan ja la n membukti- kan kepada pengirim bahwa ia bersama dengan seluruh pega- wai yang b ek erja padanya te la h berusaha semaksimal mung - k in untuk menjaga keselamatan barang yang diangkutnya 23I b i d.,h. 59.

32 25 dan kerusakan pada barang muatan it u t e r ja d i disebabkan oleh suatu sebab yang tidak b isa d ih in d a ri atau yang s i - fatn ya memaksa atau biasa diken al dengan i s t ila h " Force Majeur,f. Didalam ay&t 3 nya ditentukan bahwa pengangkut harus bertanggung jawab atas kerusakan atau keh ilan gan pada barang muatan yang disebabkan oleh perbuatan orangorang yang b e k e rja padanya, demikian juga pengangkut b ertanggung jawab atas a la t - a la t yang digunakannya. Didalam pasal 469 KUH Dagang ditetapkan, bahwa pengangkut tid ak bertanggung jawab atas barang-barang b erharga (emas, ' permata dan sebagain ya), k ecu a li kalau s i f a t, harga barang dan bentuknya tela h diberitahukan te r le b ih dahulu kepadanya. Pemberitahuan in i p erlu bagi pengangkut agar ia dapat menentukan besarnya biaya pengangkutan de - ngan memperhitungkan r e s ik o dan harga barang-barang t e r s e but, demikian pula agar pengangkut dapat mentimpannya d i- dalara suatu tempat yang khusus sehingga tid ak mudah dapat d ic u r i orang. S ela in apa yang menjadi kewajiban pengangkut untuk bertanggung jawab atas keselamatan barang s erta keharusan untuk memberikan ga n ti ru g i ap ab ila ia l a l a i, maka d is in i pengangkut d ib e r i hak untuk menuntut ga n ti ru g i kepada pengirim barang, h al in i s e p e r ti apa yang d ia tu r didalam p asal 478 dan 479 KUH Dagang, yang mana antara la in me - nyebutkan, pengangkut berhak minta g a n ti r u g i kepada pe-

33 26 n girim, jik a pengangkut menderita kerugian karena su ratsu rat yang p erlu untuk pengangkutan barang terseb u t tidak d ib e rik a n kepadanya seb agai mana m estin ya. Pengangkut ju ga dapat menuntut g a n ti r u g i, karena kepadanya tid a k d ib e- r i tahukan dengan sebenarnya. sesuai dengan keadaan, ujud dan s ifa tn y a d a ri barang muatan oleh pengirim,. Mengenai barang-barang muatan yang dapat menimbulkan bahaya bagi muatan dan kapal it u s e n d ir i, atau terh a- dap barang-barang selundupan, maka pengangkut berhak me - musnahkannya tanpa harus memberikan g a n ti r u g i kepada pen girim, h al in i d ia tu r didalam pasal 479 ayat 2 KUH Dagang. S ela in pihak pengangkut yang m em iliki hak dan kewajib a n didalam suatu p e rja n jia n pengangkutan barang d i la u t, masih ada pihak yang la in d is in i y a itu pihak pen gitim. - Mengenai hal in i KUH.TDagang tid ak aecara tegas mengatur tentang tanggung jawab pengirim barang. Namun.demikian kala u k ita t e l i t i le b ih cermat, maka tanggung jawab pengirim it u dapat dijumpai didalam beberapa pasal dalam buku I I KUH Dagang, pada bab V A, y a it u : -a.. Adanya kewajiban d a ri pihak pengirim barang untuk menyerahkan barang yang akan d ik irim it u dalam keadaan baik dan te la h memenuhi syarat untuk diangkut (p asal 468 KUH Dagang) b. Pengirim barang w ajib menyerahkan surat-surat/dokumendokumen yang d ip erlu k an untuk mengangkutan te rs e b u t sebagai mana mestinya (p asal 478 KUH Dagang).

34 27 c. Pengirim barang w ajib meraberikan keterangan-keterangan yang benar dan lengkap tentang s i f a t - s i f a t atau macamnya barang yang diangkut ( p asal 479 KUH Dagang). Dari ketentuan-ketentuan terseb u t d iatas maka dapat d ita fs ir k a n * bahwa tanggung jawab pengirim barang it u adala h pengirim w ajib sepenuhnya memberikan bantuannya se - panjang in i diperlulcan untuk kelancaran dan ketepatan pes* ; n yelen ggaraan pengangkutan. S ela in kewajiban, maka pengirim juga m em iiiki hak antara la in hak untuk minta kepada pengangkut untuk kepedanya d ite rb itk a n dokumen angkutan yang dikenal dengan nama konosemen / B i l l o f Lading. S ep erti k ita ketahui b e r- sama bahwa konosemen it u s en d iri ada yang tra n s fe ra b le dan yang tid a k tra n s fe ra b le, mengenai konosemen in i sen - d i r i untuk le b ih jelasn ya akan diuraikan pada bab b erik u t nya secara le b ih mendalam. 24 Jbid.,h. 69

35 BAB I I I PERANAN KONOSEMEN DALAM PELAKSANAAN PENGANGKUTAN BARANG DI LAUT 1 P en gertia n Konosemen Didalam praktek pengangkutan barang d i la u t dengan menggunakan kapal, balk it u barang eksoor-im oor d a ri satu negara ke negara la in, maupun untuk pengangkutan dalam neg e r i, s e tia p barang muatan s e la lu d ilen gk a p i dengan dokumen pengapalan atau sh ip p in g dokumen, Dokumen pengapalan mempunyai fu n g s i an tara la in ^ a. Melindungi muatan mulai sejak dipersiapkan untuk dirnu^a t kedalam kapal d i pelabuhan pemuatan, sampai muatan terseb u t diserahkan kepada pem iliknya atau niereka yang berhak atas diterim anya barang terseb u t d i pelabuhan tu juan. b. Menyatakan hak m ilik atas barang yang diangkut oleh kap a l, s erta hak-hak-lain yang tim bul sebagai akib at d a ri pengangkutan. Kalau k ita perhatikan le b ih jauh, maka yang dapat d i sebu t seb agai dokumen pengapalan adalah : 1. Faktur penjualan barang. 2. Konosemen. 3. P o lls Asuransi Laut. Sesuai dengan oermasalahan yang akan dibahas dalam penulisan s k rip s i i n i, maka dokumen kedualah, y a itu kono- 25 F.D.C Sudjatmiko, Pokok-Pokok Pelayaran Niaga, Cen'dana?ress, J ak arta, 19857_KT"32^ 28

36 29 semen adalah dokumen te rp en tin g ap abila dibandingkan dengan kedua dokumen yang l a i n, apa yang menyebakan konose. men menjadi dokumen te rp e n tin g, hal in i karena konosemen mencakup 2 kepentingan,.yaitu kepentingan pem iagaan dan kepentingan pengangkutan barang yang disebutkan didalam konosemen te rs eb u t, Selanjutnya mengenai konosemen in i akan k ita bahas dalam pembahasan b erik u t i n i. Kalau k ita lih a t pen gertian d a ri pada konosemen it u s e n d ir i, maka akan dapat k ita jumpai didalam KUH Da* gang didalam pasal 506 ayat 1 yang bunyinya sebagai b e r i kut 27 : Konosemen adalah suatu su rat yang b erta n g g a i dalam mana s i pengangkut menerangkan bahwa ia te la h meneriata barang-barang tersebut untuk diangkutnya kesuatu tempat tujuan te rte n tu dan menyerahkannya d is it u kepada seseorang te rten tu b egitu pula menerangkan dengan sya«* ra t-s y a ra t apakah barang-barang it u diserahkan. Menurut Wiwoho Soedjono, p e n g e rtia n konosemen d id a lam KUH Dagang dengan pen gertian konosemen yang terdapat. didalam The Hamburg Rules 1978 pasal: 1.:ayat: 7' nya, memi. _ l i k i beberapa kesamaan, y a itu sama sama mempunyai dua fu n g- s i sebagai dokumen angkutan dan sehagai bukti penerimaan barang i b i a. 27 R. Subekti dan R. T jitr o s u d ib jo I, op. c i t M h. 144 pq Wiwoho Soedjono, o p. c i t.» h.54

37 30 Memang fu n gsi konosemen sebagai suatu dokumen angkutan adalah sangat p en tin g, hal in i mengingat bahwa barang barang yang dikirim kan dengan kapal terseb u t mempunyai n i- l a i yang tid a k k e c il, sebaliknya bagi pengangkut, konosemen in i merupakan suatu tanda bukti te la h adanya suatu p e rja n jia n pengangkutan barang dengan pengirim yang kemudian dituangkan kedalam bentuk konosemen in i * o leh karena itu la h, maka d a ri konosemen dapat k ita ketahui s a* Pihak-pihak yang ik u t s e rta dalam pengusahaan pengangkutan barang d i la u t ( ( nahkoda atau perusahaan p ela yaran ). b. S yarat-sya rat yang diajukan pengangkut kepada pengirim. c* Merek dan je n is - je n is barang. d. Syarat penyerahan barang dan pembayaran sewa gudang dan a la t - a la t la in yang digunakan untuk pengangkutan. 6. Nama pelabuhan muat dan pelabuhan tu ju a n. Kalau b erb icara mengenai s y a ra t-s y a ra t yang d ia ju kan o le h pengangkut didalam suatu konosemen, maka h a l i n i biasanya b eris ik a n mengenai pembatasan-pembatasan tanggung jawab dalam pembayaran ga n ti ru gi yang harus dibayar apab im t e r ja d i klaim;*,maka d is in i dapatlah k ita simpulkan bahwa konosemen i n i s ifa tn y a adalah p e rja n jia n yang b e r s i f a t sepihak, h al i n i karena p e rja n jia n mengenai pembatasan _ tanggung jawab i n i hanyalah dibu at secara sepihak o le h pengangkut tanpa melakukan kompromi te r le b ih dahulu dengan pengirim. D is in i pengirim hanyalah tin g g a l menyetujuinya.

38 31 atau tid a k menyetujui syara t-syara t terseb u t. S yarat-sya - ra t s e p e r ti te la h saya uraikan diataa didalam bj^dang pengangkutan baranig di la u t lazim disebut sebagai Clausula Ca- s a to r ia. Namun demikian, pihak pengangkut dalam menentukan s y a ra t-s y a ra t pembatasan tanggung jawab ^ang harus d ip i- kulnya, tid a k la h dapat semaunya s e n d iri. Dalam hal i n i Y karena hanya pengangkut yang menentukan syara t-sya ra t te r sebut, sedakan pengirim seakan-akan "dipaksa" untuk tun - duk pada syarat terseb u t 9 maka sudah sewajam ya kalau wewe- nang pengangkut dalam menentukan sya ra t-syara t yang t e r dapat didalam konosemen d ib a ta s i. Pembatasan in i bukan da r i pihak pemerintah setempat, maksudnya pemerintah dari negara dimana kapal i t u d id a fta rk a n ( negara bendera ). Di Indonesia hukum p o s i t i f yang mengatur masalah i n i dapat k i t a jumpai didalam K ita b Undang-Undang Hukum Dagang pq didalam pasal 470 nya yang bunyinya sebagai b erik u t * i Tidaklah diperbolehkan kepada pengangkut untuk minta d ip e rja n jik a n, bahwa ia bertanggung jawab atau tid ak selain n ya sampai harga yang terb a ta s untuk kerugian yang disebabkan karena kurang diusahakannya akan pem eliharaan, perlengkapan atau peranak buahan a la t p e- ngangkutannya ataupun kurang diusahakannya kesanggupan d a ri a la t angkutan it u untuk dipakai menyelengga- OQ R. Subekti dan R. T jitr o s u d ib jo I, op. c i t.. h. 135

39 32 rakan pengangkutan menurut persetuju an, ataupun yang disebabkan karena salah meraperlakukannya ataupun ku rang penjagaannya terhadap barang yang diangkutnya, j a n j i yang bermaksud demikian adalah b a ta l. Ketentuan s e p e rti yang terdapat didalam pasal 470 KUH Dagang i n i juga terdapat d is e tia p negara manapun dan b erla k u sebagai hukum p o s i t i f yang mana dimaksudkan untuk meiindungi pengirim, penerima atau pem ilik. barang atas k e- pentingannya dalam pengangkutan te r s e b u t. H al semacam it u lazim disebut dengan i s t i l a h Paramount Clausa# 2* Macam-macam. Konosemen Menurut pasal 506 ayat 2 KUH Dagang, konosemen it u ada 3, macam y a itu : 1. Konosemen a ta s nama ( op naam ) 2. Konosemen a ta s p.engganti ( aan o rd e r ) 3. Konosemen a ta s pembawa ( aan todn der ) Dimana masing-masing konosemen terseb u t d ia ta s pe- ngertiannya adalah sebagai b erik u t : ad. 1. Konosemen atas nama atau biasa disebut sebagai ko-. nosemen re k ta, yang a rtin y a konosemen in i ditujukan kepada orang yang namanya disebutkan dengan je la s dalam konosemen i t u. Dimana orang yang namanya d i sebutkan ta d i berhak atas sejumlah barang yang dirt sebutkan didalam konosemen. Konosemen in i ap a b ila p e m ilik yang namanya tercantum didalamnya hendak

40 33 me-nindahtangankan -naka harus dengan cara c e s s ie. Cara in i diatuje didalam pasal. 613 ayat 1 dan 2 KUH P erd ata, d is in i disyaratkan pengalihan haknya harus dinyatakan dalam akta dibawah tangan atau b isa juga dibua.tkan akta didepan n o ta r is. ad. 2. Konosemen atas penggantl, atau biasa juga disebut konosemen a'an o rd er, d is in i disebutkan nama s i penerima atau penggantinya, kalau nama s i penerima hanya disebutkan kepada pengganti s a ja, maka hal in i harus d ita fs ir k a n orang yang akan ditunjuk oleh p en girim. Konosemen semacam in i apab ila hendak d i- pindahtangankan cukuo dengan jala n edosemen, y a itu dengan menulis pada halaman belakang konosemen it u kata-kata yang berbunyi "Untuk saya kepada tuan X atau p en gga n ti", la lu ditanda tangani d iik u t i dengan penyerahan secara f i s i k konosemen terseb u t* a d. 3. Konosemen atas pembawa atau b ia sa juga d ise b u t konosemen aan toonder. f^da konosemen s e p e r ti in i nama s i penerima tid a k disebutkan didalam konosemen atau meskipun namanya disebutkan te ta p i di.belakangnya s e la lu ditambah kata-kata "atau pembawa. Untuk konosemen in i a o a b ila in gin dipindahtangankan, maka cukuo dengan melakukan penyerahan f i s i k d a ri pada konosemen terseb u t, tanpa menuliskan kata apa-apa s e p e r ti endosemen. S etela h k it a mengetahui k e t ig a bentuk konosemen

A. C O B O L R e se rv e d W o rd s

A. C O B O L R e se rv e d W o rd s P e m rop a m rja n T e rstru lctu r 1 (C O B O L ) A. C O B O L R e se rv e d W o rd s R ese rv ed W o rd s, m e ry p a fc a rn :: - k ata y a n g te la h d id e fin is ik a n - y a n g m e m ilik i art!

Lebih terperinci

D e skrip to r K u a lifik a si M a g ister S a in s/s 2 (L e v el 7 )

D e skrip to r K u a lifik a si M a g ister S a in s/s 2 (L e v el 7 ) m a sy a ra k a t M e n g h a rm o n ik a n sa in s (ilm u p e n g eta h u a n d a n te k n o lo g i k e d o k te ra n h e w a n ), re g u la si (le g is la s i v ete rin e r d a n siste m k e se h ata

Lebih terperinci

KESIMPULAN DM SARAN. Dari uraian dan pembahasan ten tang stu d i kasus pada. Putra A s li Utarna dirnuka dapat d it a r ik kesimpulan seba-

KESIMPULAN DM SARAN. Dari uraian dan pembahasan ten tang stu d i kasus pada. Putra A s li Utarna dirnuka dapat d it a r ik kesimpulan seba- BAB V KESIMPULAN DM SARAN 1. Kesimpulan Dari uraian dan pembahasan ten tang stu d i kasus pada PT Putra A s li Utarna dirnuka dapat d it a r ik kesimpulan seba- gai b e rik u t : 1. Pabrik t e g e l PT

Lebih terperinci

BAB V. K ita b Undang-undang Hukum P idana (ICUIIP) se b a g a i. suatu perundang-undangan p id a n a yang t e la h d ib e rla k u k a n

BAB V. K ita b Undang-undang Hukum P idana (ICUIIP) se b a g a i. suatu perundang-undangan p id a n a yang t e la h d ib e rla k u k a n BAB V P E N U T U P 1. K esim pulan K ita b Undang-undang Hukum P idana (ICUIIP) se b a g a i suatu perundang-undangan p id a n a yang t e la h d ib e rla k u k a n s e ca ra n a s io n a l b erd a sark

Lebih terperinci

F E A S I B I L I T Y F A T T E N I N G B E E F C A T T L E W I T H D I F F E R E N T F E E D

F E A S I B I L I T Y F A T T E N I N G B E E F C A T T L E W I T H D I F F E R E N T F E E D F E A S I B I L I T Y F A T T E N I N G B E E F C A T T L E W I T H D I F F E R E N T F E E D IN C I B E U R E U M D I S T R I C T K U N I N G A N R E G E N C Y B y : T a t a n g R u s t e n d i T e d

Lebih terperinci

F a u z u l A liw a rm a n 1. M a s A n ie n d a T F.2

F a u z u l A liw a rm a n 1. M a s A n ie n d a T F.2 T A N G G U N G J A W A B H U K U M P E N G E L O L A J A L A N T E R H A D A P K E S E L A M A T A N P E N G G U N A M O B IL D I J A L A N R A Y A K O T A S U R A B A Y A F a u z u l A liw a rm a n 1.

Lebih terperinci

MEMB EK ALI DIR I S EJAK DINI DENG AN K EWIR AUS AHAAN Disampaikan dalam pelatihan Kewirausahaan Akademi Komunikasi Radio dan Televisi (AKOMRTV)

MEMB EK ALI DIR I S EJAK DINI DENG AN K EWIR AUS AHAAN Disampaikan dalam pelatihan Kewirausahaan Akademi Komunikasi Radio dan Televisi (AKOMRTV) MEMB EK ALI DIR I S EJAK DINI DENG AN K EWIR AUS AHAAN Disampaikan dalam pelatihan Kewirausahaan Akademi Komunikasi Radio dan Televisi (AKOMRTV) O le h : A r is B. S e t y a w a n P r o g r a m D I II

Lebih terperinci

P U T U S A N. N o m o r / P d t. G / / P A. P a s B I S M I L L A H I R R A H M A N I R R A H I M

P U T U S A N. N o m o r / P d t. G / / P A. P a s B I S M I L L A H I R R A H M A N I R R A H I M P U T U S A N N o m o r 1 7 1 1 / P d t. G / 2 0 1 5 / P A. P a s B I S M I L L A H I R R A H M A N I R R A H I M D E M I K E A D I L A N B E R D A S A R K A N K E T U H A N A N Y A N G M A H A E S A P

Lebih terperinci

P U T U S A N. N o m o r / P d t. G / / P A. P a s B I S M I L L A H I R R A H M A N I R R A H I M

P U T U S A N. N o m o r / P d t. G / / P A. P a s B I S M I L L A H I R R A H M A N I R R A H I M P U T U S A N N o m o r 1 7 0 6 / P d t. G / 2 0 1 5 / P A. P a s B I S M I L L A H I R R A H M A N I R R A H I M D E M I K E A D I L A N B E R D A S A R K A N K E T U H A N A N Y A N G M A H A E S A P

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA JAMBI NOMOR 37 TAHUN 2014 TENTANG LAGU MARS DAN HYMNE KOTA JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA JAMBI,

PERATURAN WALIKOTA JAMBI NOMOR 37 TAHUN 2014 TENTANG LAGU MARS DAN HYMNE KOTA JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA JAMBI, PERATURAN WALIKOTA JAMBI NOMOR 37 TAHUN 2014 TENTANG LAGU MARS DAN HYMNE KOTA JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : a. bahwa dalam rangka membangkitkan semangat kebersamaan persatuan dan

Lebih terperinci

KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PENCABUTAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENGENAI PERTANAHAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 8, 2013 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 8 TAHUN 201 3 TENTANG PEMBERIAN TAMBAHAN PENGHASILAN KEPADA PEGAWAI NEGERI SIPIL YANG DIBERIKAN TAMBAHAN PENGHASILAN BERDASARKAN BEBAN KERJA DALAM

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, 1 SALINAN NOMOR 11/2014 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 17 TAHUN 2002 TENTANG PERUSAHAAN DAERAH RUMAH POTONG HEWAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 50 TAHUN 2013 TENTANG PENGATURAN BIAYA SATUAN PENDIDIKAN DASAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 50 TAHUN 2013 TENTANG PENGATURAN BIAYA SATUAN PENDIDIKAN DASAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 50, 201 3 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 50 TAHUN 2013 TENTANG PENGATURAN BIAYA SATUAN PENDIDIKAN DASAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. ba h wa berda s

Lebih terperinci

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN IBU TENTANG GARAM BERYODIUM DENGAN PEMILIHAN GARAM DI KELURAHAN BANARAN KECAMATAN BOYOLALI

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN IBU TENTANG GARAM BERYODIUM DENGAN PEMILIHAN GARAM DI KELURAHAN BANARAN KECAMATAN BOYOLALI HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN IBU TENTANG GARAM BERYODIUM DENGAN PEMILIHAN GARAM DI KELURAHAN BANARAN KECAMATAN BOYOLALI KARYA TULIS ILMIAH Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan

Lebih terperinci

USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI

USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L S Y A R I A H ( P P U K -S Y A R I A H ) U S A H A K O N V E K S I P A K A I A N J A D I P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L S Y A R I A H (

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 25 TAHUN 2013 TENTANG TARIP TAKSI ARGOMETER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 25 TAHUN 2013 TENTANG TARIP TAKSI ARGOMETER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 25, 2013 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 25 TAHUN 2013 TENTANG TARIP TAKSI ARGOMETER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. ba h wa den ga n a da n ya kenaikan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PENYERTAAN MODAL PADA PT. BANK JATIM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PENYERTAAN MODAL PADA PT. BANK JATIM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 3, 2011 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PENYERTAAN MODAL PADA PT. BANK JATIM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. ba h wa pen yerta a

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 13/2014 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA SEKRETARIAT DAERAH, SEKRETARIAT

Lebih terperinci

1 0 0 m 2 BUDIDAYA PEMBESARAN IKAN NILA

1 0 0 m 2 BUDIDAYA PEMBESARAN IKAN NILA P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) B U D I D A Y A P E M B E S A R A N I K A N N I L A P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) B U D I D A Y A P E M B E S A

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 34, 2013 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 34 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PEMBAYARAN, PENYETORAN, TEMPAT PEMBAYARAN,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 23 / PRT / M / 2009 TENTANG PEDOMAN FASILITASI PENYELENGGARAAN FORUM JASA KONSTRUKSI

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 23 / PRT / M / 2009 TENTANG PEDOMAN FASILITASI PENYELENGGARAAN FORUM JASA KONSTRUKSI PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 23 / PRT / M / 2009 TENTANG PEDOMAN FASILITASI PENYELENGGARAAN FORUM JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM, Menimbang : Mengingat

Lebih terperinci

P r o f i l U s a h. a A s p e k P a s a r P e r m i n t a a n H a r g a...

P r o f i l U s a h. a A s p e k P a s a r P e r m i n t a a n H a r g a... P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L S Y A R I A H ( P P U K -S Y A R I A H ) I N D U S T R I S O H U N P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L S Y A R I A H ( P P U K -S Y A R I A H

Lebih terperinci

Y a n a In d a w a ti1, D o d d y R id w a n d o n o 2, M o h a m m a d irw a n A fa n d i3

Y a n a In d a w a ti1, D o d d y R id w a n d o n o 2, M o h a m m a d irw a n A fa n d i3 P E R M O D E L A N P E N G E T A H U A N P E R A T U R A N P E R U N D A N G -U N D A N G A N M E N G E N A I A K T A O T E N T IK D I IN D O N E S IA B E R B A S IS O W L Y a n a In d a w a ti1, D o

Lebih terperinci

BAB III PENUTUP. A. Kesimpulan. Dari hasil penelitian tentang Pendirian Bangunan untuk Rumah Tinggal di

BAB III PENUTUP. A. Kesimpulan. Dari hasil penelitian tentang Pendirian Bangunan untuk Rumah Tinggal di BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari hasil penelitian tentang Pendirian Bangunan untuk Rumah Tinggal di Kabupaten Sleman setelah berlakunya Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 1990 tentang Peraturan Bangunan

Lebih terperinci

5 S u k u B u n g a 1 5 %

5 S u k u B u n g a 1 5 % P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) U S A H A A B O N I K A N P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) U S A H A A B O N I K A N B A N K I N D O N E S I A K A

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA MALANG TAHUN

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA MALANG TAHUN SALINAN NOMOR 1 4/2014 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA MALANG TAHUN 2013-2018 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 36 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR SATUAN HARGA DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA MALANG TAHUN 2014

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 36 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR SATUAN HARGA DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA MALANG TAHUN 2014 SALINAN NOMOR 36, 2013 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 36 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR SATUAN HARGA DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA MALANG TAHUN 2014 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang

Lebih terperinci

KEMENTERIAN RISTEK DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

KEMENTERIAN RISTEK DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK No: SURAT EDARAN /UN10.11/PD/2014 Memperhatikan agar pelaksanaan barang/ jasa di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya dapat terlaksana sesuai aturan dan selaras dengan

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG JADWAL RETENSI ARSIP KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG JADWAL RETENSI ARSIP KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 5, 2013 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG JADWAL RETENSI ARSIP KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. ba h wa da la m ra n gka pen da

Lebih terperinci

Program Kerja TFPPED KBI Semarang 1

Program Kerja TFPPED KBI Semarang 1 U P A Y A M E N G G E R A K K A N P E R E K O N O M I A N D A E R A H M E L A L U I F A S I L I T A S I P E R C E P A T A N P E M B E R D A Y A A N E K O N O M I D A E R A H ( F P P E D ) S E K T O R P

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 32, 2013 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 32 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PEMBAYARAN, PENYETORAN, TEMPAT PEMBAYARAN, ANGSURAN

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 26 TAHUN TENTANG PENERTIBAN KEGIATAN TEMPAT USAHA REKREASI DAN HIBURAN UMUM PADA BULAN RAMADHAN DAN IDUL FITRI

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 26 TAHUN TENTANG PENERTIBAN KEGIATAN TEMPAT USAHA REKREASI DAN HIBURAN UMUM PADA BULAN RAMADHAN DAN IDUL FITRI SALINAN NOMOR 26, 2013 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 26 TAHUN 201 3 TENTANG PENERTIBAN KEGIATAN TEMPAT USAHA REKREASI DAN HIBURAN UMUM PADA BULAN RAMADHAN DAN IDUL FITRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

bahwa Terbanding melakukan koreksi terhadap Peredaran Usaha berdasarkan Analisis Arus Kas/Bank;

bahwa Terbanding melakukan koreksi terhadap Peredaran Usaha berdasarkan Analisis Arus Kas/Bank; Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put-61809/PP/M.XIIIB/16/2015 Jenis Pajak : Pajak Pertambahan Nilai Tahun Pajak : 2010 Pokok Sengketa Menurut Terbanding Menurut Pemohon Menurut Majelis : bahwa yang menjadi

Lebih terperinci

USAHA PENANGKAPAN IKAN PELAGIS DENGAN ALAT TANGKAP GILLNET

USAHA PENANGKAPAN IKAN PELAGIS DENGAN ALAT TANGKAP GILLNET P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) P E N A N G K A P A N I K A N P E L A G I S D E N G A N A L A T T A N G K A P G I L L N E T P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L (

Lebih terperinci

KESIMPULAN BAN SARAN - SABAN. Pada lazimnya pengambilan kesimpulan pada akhir. lisa n sep erti in i dilakukan berdasarkan h a sil "comparative

KESIMPULAN BAN SARAN - SABAN. Pada lazimnya pengambilan kesimpulan pada akhir. lisa n sep erti in i dilakukan berdasarkan h a sil comparative BAB 6 KESIMPULAN BAN SARAN - SABAN 6.1. Keslmpulan* Pada lazimnya pengambilan kesimpulan pada akhir tu- lisa n sep erti in i dilakukan berdasarkan h a sil "comparative study" diantara keadaan perusahaan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAW SARAI?

BAB V KESIMPULAN DAW SARAI? BAB V KESIMPULAN DAW SARAI? Berdasarkan uraian terdahulu. pada Bab ini penulis akan menarik kesimpulan isi skripsi guna memberi saran -.ia ran perbaikan sebagai hasil dari pada pembahasan yang telah dilakukan.

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 8, 201 4 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN TAMBAHAN PENGHASILAN BERUPA UANG MAKAN BAGI PEJABAT FUNGSIONAL TERTENTU DI LINGKUNGAN DINAS PENDIDIKAN KOTA MALANG

Lebih terperinci

1, 1 PENANGKAPAN IKAN DENGAN PURSE SEINE

1, 1 PENANGKAPAN IKAN DENGAN PURSE SEINE P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) P E N A N G K A P A N I K A N D E N G A N P U R S E S E I N E P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) P E N A N G K A P A

Lebih terperinci

0,8 9 0,9 4 1,2 4 7,1 6 %

0,8 9 0,9 4 1,2 4 7,1 6 % P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) E M P I N G M E L I N J O P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) E M P I N G M E L I N J O B A N K I N D O N E S I A K A

Lebih terperinci

USAHA PEMBUATAN GULA AREN

USAHA PEMBUATAN GULA AREN P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) G U L A A R E N ( G u l a S e m u t d a n C e t a k ) P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) G U L A A R E N ( G u l a S

Lebih terperinci

BUPATI POHUWATO PROVINSI GORONTALO PERATURAN DAERAH KABUPATEN POHUWATO NOMOR IOTAHUN 2015

BUPATI POHUWATO PROVINSI GORONTALO PERATURAN DAERAH KABUPATEN POHUWATO NOMOR IOTAHUN 2015 BUPATI POHUWATO PROVINSI GORONTALO PERATURAN DAERAH KABUPATEN POHUWATO NOMOR IOTAHUN 2015 TENTANG PERTANGGUNGJAWABAN PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH TAHUN ANGGARAN 2014 DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 17, 2013 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 17 TAHUN 201 3 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 109 TAHUN 201 2 TENTANG PENJABARAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH TAHUN

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MAS ALAH

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MAS ALAH BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MAS ALAH Pengangkutan atau lebih dikenal dengan istilah transportasi di masa yang segalanya dituntut serba cepat seperti sekarang ini memiliki peran yang sangat besar.

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 13, 2013 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 13 TAHUN 201 3 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS PERKANTORAN TERPADU PADA BADAN PENGELOLA KEUANGAN DAN ASET DAERAH

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN DANA CADANGAN PEMILIHAN UMUM WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA MALANG TAHUN 2013

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN DANA CADANGAN PEMILIHAN UMUM WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA MALANG TAHUN 2013 SALINAN NOMOR 4, 201 1 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN DANA CADANGAN PEMILIHAN UMUM WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA MALANG TAHUN 2013 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

EVALUASI KINERJA TRANSJAKARTA BUSWAY KORIDOR I RUTE (BLOK M-KOTA) Oleh : ANINDITO PERDANA ( )

EVALUASI KINERJA TRANSJAKARTA BUSWAY KORIDOR I RUTE (BLOK M-KOTA) Oleh : ANINDITO PERDANA ( ) EVALUASI KINERJA TRANSJAKARTA BUSWAY KORIDOR I RUTE (BLOK M-KOTA) Oleh : ANINDITO PERDANA (3105.100.056) DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB III METODOLOGI BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG PENANGANAN ANAK JALANAN, GELANDANGAN DAN PENGEMIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG PENANGANAN ANAK JALANAN, GELANDANGAN DAN PENGEMIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN NOMOR 4/2014 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG PENANGANAN ANAK JALANAN, GELANDANGAN DAN PENGEMIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. ba h wa

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PENGANGKUTAN BARANG. A. Pengertian dan Pengaturan Perjanjian Hukum Pengangkutan. A.1. Pengertian Pengangkutan Secara Umum

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PENGANGKUTAN BARANG. A. Pengertian dan Pengaturan Perjanjian Hukum Pengangkutan. A.1. Pengertian Pengangkutan Secara Umum BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PENGANGKUTAN BARANG A. Pengertian dan Pengaturan Perjanjian Hukum Pengangkutan A.1. Pengertian Pengangkutan Secara Umum Pengangkutan merupakan bidang yang sangat vital dalam

Lebih terperinci

136 Kerajaan yang Telah Berdiri Datanglah!

136 Kerajaan yang Telah Berdiri Datanglah! 136 Kerajaan yang Telah Berdiri Datanglah! (Penyingkapan 11:15; 12:10) Capo fret 2 G C G A D A Ye - hu - wa, Kau s la - lu a - da Hing - I - blis se - ge - ra bi - na - sa; Di - Ma - lai - kat di sur -

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG ORGAN DAN KEPEGAWAIAN PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM KOTA MALANG

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG ORGAN DAN KEPEGAWAIAN PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM KOTA MALANG SALINAN NOMOR 5/2014 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG ORGAN DAN KEPEGAWAIAN PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM KOTA MALANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang

Lebih terperinci

LAMPIRAN Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No : 23/PRT/M/2009 Tanggal : 31 Agustus 2009 BUKU PANDUAN PENYELENGGARAAN FORUM

LAMPIRAN Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No : 23/PRT/M/2009 Tanggal : 31 Agustus 2009 BUKU PANDUAN PENYELENGGARAAN FORUM LAMPIRAN Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No : 23/PRT/M/2009 Tanggal : 31 Agustus 2009 BUKU PANDUAN PENYELENGGARAAN FORUM PENGANTAR [..Beris i h a l-h a l ya n g perlu dis a m pa ika n terka it pen tin

Lebih terperinci

6 S u k u B u n g a 1 5 % 16,57 % 4,84 tahun PENGOLAHAN IKAN BERBASIS FISH JELLY PRODUCT

6 S u k u B u n g a 1 5 % 16,57 % 4,84 tahun PENGOLAHAN IKAN BERBASIS FISH JELLY PRODUCT P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) P E N G O L A H A N I K A N B E R B A S I S F I S H J E L L Y P R O D U C T ( O T A K -O T A K d a n K A K I N A G A ) P O L A P E M B I A Y

Lebih terperinci

M ( R A M ) 3 2 M B. 3. M

M ( R A M ) 3 2 M B. 3. M PANDUAN 1. T e la h m e n d a fta rka n d iri k e K S E I 2. M e m ilik i P C d e n g a n k u a lifik a s i m in im u m In te l P e n tiu m M e m o ry (R A M ) 3 2 M B. 3. M e m ilik i ja rin g a n in

Lebih terperinci

~ 1 ~ BAB I PENDAHULU AN 1.1. LATAR BEL AK A NG

~ 1 ~ BAB I PENDAHULU AN 1.1. LATAR BEL AK A NG ~ 1 ~ BAB I PENDAHULU AN 1.1. LATAR BEL AK A NG Da la m m e n ja la nk a n tu g a s tu g a s p e m e rin ta h a n, m a ka pe m e rin ta h d a e ra h wa j ib me n y u su n d ok u m e n p e re n ca na a

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 1 0, 2013 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 1 0 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN IZIN MENDIRIKAN DAN IZIN OPERASIONAL RUMAH SAKIT KELAS C DAN RUMAH SAKIT KELAS D DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 12, 2013 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 12 TAHUN 201 3 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA BURING PADA DINAS PEKERJAAN UMUM, PERUMAHAN

Lebih terperinci

BAB III ANALISA & PERANCANGAN SISTEM

BAB III ANALISA & PERANCANGAN SISTEM BAB III ANALISA & PERANCANGAN SISTEM 3.1 Profil Perusahaan PT. Arthawensakti Gemilang (ASG) adalah perusahaan yang bergerak di sektor industri manufaktur dengan jenis produk kemasan kaleng yang berawal

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 5, 201 4 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN TAMBAHAN PENGHASILAN BERDASARKAN BEBAN KERJA KEPADA PEGAWAI NEGERI SIPIL YANG DIPEKERJAKAN DI LUAR PEMERINTAH KOTA

Lebih terperinci

USAHA BUDIDAYA CABAI MERAH

USAHA BUDIDAYA CABAI MERAH P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L S Y A R I A H ( P P U K -S Y A R I A H ) U S A H A B U D I D A Y A C A B A I M E R A H P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L S Y A R I A H ( P

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN UMUM OBJEK PRAKTIK KERJA LAPANGAN. 3.1 Gambaran Singkat Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah

BAB III GAMBARAN UMUM OBJEK PRAKTIK KERJA LAPANGAN. 3.1 Gambaran Singkat Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah BAB III GAMBARAN UMUM OBJEK PRAKTIK KERJA LAPANGAN 3.1 Gambaran Singkat Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Jawa Barat Instansi / suatu badan yang menangani pembangunan daerah provinsi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Natrium adalah kation utama dal am cairan ekstra. c e lu le r konsentrasi Natrium in i sangat penting untuk

TINJAUAN PUSTAKA. Natrium adalah kation utama dal am cairan ekstra. c e lu le r konsentrasi Natrium in i sangat penting untuk 3 BAB I TINJAUAN PUSTAKA A. FISIOLOGI KALIUM DAN NATRIUM. Natrium adalah kation utama dal am cairan ekstra c e lu le r konsentrasi Natrium in i sangat penting untuk mendeteksi tekanan osmotik pada cairan

Lebih terperinci

K A B U P A T E N B A D U N G

K A B U P A T E N B A D U N G L A P O R A N K I N E R J A I N S T A N S I P E M E R I N T A H ( L K j I P ) D I N A S P A R I W I S A T A K A B U P A T E N B A D U N G 2 0 1 4 K A T A P E N G A N T A R O m S w a s t y a s t u P u j

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN NOMOR 6, 201 4 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 48 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERIAN TAMBAHAN PENGHASILAN BERDASARKAN BEBAN KERJA KEPADA

Lebih terperinci

SALINAN NOMOR 1, 2013 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG RUKUN TETANGGA DAN RUKUN WARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN NOMOR 1, 2013 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG RUKUN TETANGGA DAN RUKUN WARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN NOMOR 1, 2013 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG RUKUN TETANGGA DAN RUKUN WARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. ba h wa sebagai tindaklanjut

Lebih terperinci

A s p e k P a s a r P e r m i n t a a n... 9

A s p e k P a s a r P e r m i n t a a n... 9 P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L S Y A R I A H ( P P U K -S Y A R I A H ) U S A H A K E R U P U K I K A N P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L S Y A R I A H ( P P U K -S Y A R

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN BESARAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN UANG PERSEDIAAN TAHUN ANGGARAN 2013

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN BESARAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN UANG PERSEDIAAN TAHUN ANGGARAN 2013 SALINAN NOMOR 6, 2013 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN BESARAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN UANG PERSEDIAAN TAHUN ANGGARAN 2013 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

Lebih terperinci

BUPATI POHUWATO PROVINSI GORONTALO PERATURAN DAERAH KABUPATEN POHUWATO NOMOR 12 TAHUN 2015

BUPATI POHUWATO PROVINSI GORONTALO PERATURAN DAERAH KABUPATEN POHUWATO NOMOR 12 TAHUN 2015 BUPATI POHUWATO PROVINSI GORONTALO PERATURAN DAERAH KABUPATEN POHUWATO NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN POHUWATO NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 48, 201 3 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 48 TAHUN 201 3 TENTANG PEMBERIAN TAMBAHAN PENGHASILAN BERDASARKAN BEBAN KERJA KEPADA PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA MALANG DENGAN

Lebih terperinci

MANUAL PROSEDUR PELAKSANAAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK LABORATORIUM KIMIA FISIK

MANUAL PROSEDUR PELAKSANAAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK LABORATORIUM KIMIA FISIK MANUAL PROSEDUR PELAKSANAAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK LABORATORIUM KIMIA FISIK JURUSAN KIMIA FAKULTAS MIPA UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2014 i MANUAL PROSEDUR PELAKSANAAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK LABORATORIUM

Lebih terperinci

PENDEKATAN SISTEM. masalah. Solusi

PENDEKATAN SISTEM. masalah. Solusi PENDEKATAN SISTEM 1. Pemecahan Masalah Masalah m eru pa ka n s u a tu kon disi ya n g m em iliki poten s i u n tu k m en im bu lkan keru gian lu ar biasa atau m en gh asilkan keu n tu n gan lu ar bia s

Lebih terperinci

BUPATI PURWOREJO P E R A T U R A N BUPATI P U R W O R E J O. N O M O R : 1 8 T A H U N 2006 T E N T A N G

BUPATI PURWOREJO P E R A T U R A N BUPATI P U R W O R E J O. N O M O R : 1 8 T A H U N 2006 T E N T A N G SALINAN 1 BUPATI PURWOREJO P E R A T U R A N BUPATI P U R W O R E J O. N O M O R : 1 8 T A H U N 2006 T E N T A N G K O D E D A N D A T A W I L A Y A H A D M I N I S T R A SI P E M E R I N T A H A N K

Lebih terperinci

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA,

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA, - 1 - PERATURAN KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA NOMOR 14 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA NOMOR OT.001/PERKA.122/2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA SANDI

Lebih terperinci

MANUAL PROSEDUR PELAKSANAAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR LABORATORIUM KIMIA DASAR

MANUAL PROSEDUR PELAKSANAAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR LABORATORIUM KIMIA DASAR MANUAL PROSEDUR PELAKSANAAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR LABORATORIUM KIMIA DASAR JURUSAN KIMIA FAKULTAS MIPA UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013 i MANUAL PROSEDUR PELAKSANAAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR LABORATORIUM

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 6, 201 2 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. bahwa dalam ran gka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan memperlancar perdagangan dalam maupun luar negeri karena adanya

BAB I PENDAHULUAN. dan memperlancar perdagangan dalam maupun luar negeri karena adanya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengangkutan di Indonesia memiliki peranan penting dalam memajukan dan memperlancar perdagangan dalam maupun luar negeri karena adanya pengangkutan dapat memperlancar

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 1/2014 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. ba h wa Pera tu ra n Da era h

Lebih terperinci

P R O G R A M K ER J A T A H U N A N TIM P EN G G ER A K P K K D E SA P R IN G G O W IR A W A N TA H U N 2011

P R O G R A M K ER J A T A H U N A N TIM P EN G G ER A K P K K D E SA P R IN G G O W IR A W A N TA H U N 2011 P R O G R A M K ER J A T A H U N A N TIM P EN G G ER A K P K K D E SA P R IN G G O W IR A W A N TA H U N 2011 P O K JA IV NO B ID G PR O GR A M T U JU SA SA R K EG IATA N D A K ET 1 2 3 4 5 6 7 8 1 K E

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. pengirim. Dimana ekspeditur mengikatkan diri untuk mencarikan pengangkut

II. TINJAUAN PUSTAKA. pengirim. Dimana ekspeditur mengikatkan diri untuk mencarikan pengangkut 1 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Perjanjian Ekspedisi Perjanjian ekspedisi adalah perjanjian timbal balik antara ekspeditur dengan pengirim. Dimana ekspeditur mengikatkan diri untuk mencarikan pengangkut yang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 4, 201 1 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. ba h wa pa ja k da era

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hidupnya sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Dalam memenuhi kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. hidupnya sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Dalam memenuhi kebutuhan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya salah

Lebih terperinci

A. Latar Belakang Masalah

A. Latar Belakang Masalah 9 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di dalam pelaksanaan pembangunan di Indonesia, bidang transportasi merupakan sarana yang sangat penting dan strategis dalam memperlancar roda kehidupan perekonomian,

Lebih terperinci

MENTER!KEUANGAN REPUBLIK JNDONESIA SALIN AN

MENTER!KEUANGAN REPUBLIK JNDONESIA SALIN AN MENTER!KEUANGAN REPUBLIK JNDONESIA SALIN AN PERA TURA N ME N TER! KEUA NGA N REPUBLI K INDO NESIA NOMOR 127 /PMK.010/2016 TE NTA NG PE NGAMPU NA N PAJA K BERDASARKA N UNDA NG -UNDA NG NO MOR 11 TA HU N

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 35, 201 3 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 35 TAHUN 201 3 TENTANG REKAYASA LALU LINTAS DI KAWASAN JALAN SUMBERSARI JALAN GAJAYANA JALAN MT. HARYONO JALAN DI. PANJAITAN JALAN BOGOR DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, c. ba h wa da la m ra n gka pen yelen gga ra a n u ru s a n

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, c. ba h wa da la m ra n gka pen yelen gga ra a n u ru s a n SALINAN NOMOR 7, 201 2 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 7 TAHUN 2012 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA INSPEKTORAT, BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH, BADAN PELAYANAN PERIZINAN TERPADU, BADAN KEPEGAWAIAN

Lebih terperinci

MANUAL PROSEDUR PELAKSANAAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK

MANUAL PROSEDUR PELAKSANAAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK MANUAL PROSEDUR PELAKSANAAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK JURUSAN KIMIA FAKULTAS MIPA UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2014 MANUAL PROSEDUR PELAKSANAAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK Kode Dokumen : 0090206013 Revisi

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 15, 2013 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 15 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PENGURANGAN ATAU PENGHAPUSAN SANKSI ADMINISTRATIF DAN PENGURANGAN ATAU PEMBATALAN KETETAPAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

Lebih terperinci

Bahwa pada hari ini Kamis tanggal Dua puluh dua bulan Septem ber tahun Dua Ribu Enam Belas

Bahwa pada hari ini Kamis tanggal Dua puluh dua bulan Septem ber tahun Dua Ribu Enam Belas MODEL BA.HP-KWK B E R IT A A C A R A H A S IL P E N E L IT IA N PERSYARATA N A D M IN IS T R A S I D O K U M E N P E R S YARATA N PENCALO N A N D A N P E R Y A R A TA N CALO N D A LA M D A LA M P E M IL

Lebih terperinci

LAPORAN SURVEI. Survei: Kesadaran Merk Bakrie School of Management (BSM) di Kalangan Anak SMA se Jabodetabek

LAPORAN SURVEI. Survei: Kesadaran Merk Bakrie School of Management (BSM) di Kalangan Anak SMA se Jabodetabek LAPORAN SURVEI Survei: Kesadaran Merk Bakrie School of Management (BSM) di Kalangan Anak SMA se Jabodetabek Bidang Pemasaran Dra. Rochyati M. Pd. NIDN: 0315106304 Universitas Bakrie Kompleks GOR Soemantri

Lebih terperinci

3. Pada diri anak didik belum tertanam nilai-nilai

3. Pada diri anak didik belum tertanam nilai-nilai BAB V KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN A. Kesimpulan Dari uraian-uraian dan analisis data di atas, pe nelitian ini menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Pengetahuan tentang Pancasila yang diberikan mela

Lebih terperinci

pendidikan/pengajaran dilihat dari perhitungan ber

pendidikan/pengajaran dilihat dari perhitungan ber BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Berdasarkan pengkajian terhadap data lapangan, mengadakan diskusi tentang hasil penelitian ke mudian membandingkannya dengan landasan konsep teori yang relevan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan pada khususnya mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Dalam

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan pada khususnya mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini, dimana dunia memasuki era gobalisasi, sektor ekonomi dan perdagangan pada khususnya mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Dalam dunia perdagangan soal

Lebih terperinci

- RSI RAS UDAYANA. u n t u k Pe m b a n gu n a n Be r k e l a n i u t a n * È S I P ! P

- RSI RAS UDAYANA. u n t u k Pe m b a n gu n a n Be r k e l a n i u t a n * È S I P ! P - RSI RAS UDAYANA u n t u k Pe m b a n gu n a n Be r k e l a n i u t a n KUT I R -. 29 30 0 KTOBER 20 15 _ m! P * È S I P 4 ' L E M B A G A P E N E M T I A N U P E N G A B D I A N K E P A D A M A S Y A

Lebih terperinci

Deskripsi karya Komposisi MARS WIJAYA KUSUMA SURABAYA

Deskripsi karya Komposisi MARS WIJAYA KUSUMA SURABAYA Deskripsi karya Komposisi MARS WIJAYA KUSUMA SURABAYA Karya : Heni Kusumawati /heni_kusumawati@uny.ac.id NIP : 19671126 199203 2 001 Latar Belakang Penciptaan Lagu Mars Wijaya Kusuma dibuat karena pada

Lebih terperinci

PDF created with FinePrint pdffactory trial version YUK BELAJAR NIHONGO

PDF created with FinePrint pdffactory trial version  YUK BELAJAR NIHONGO 1 YUK BELAJAR NIHONGO PENGANTAR Saat ini sedang bekerja di sebuah perusahaan Jepang? Atau barangkali sedang kuliah jurusan Bahasa Jepang, atau suatu saat anda ingin pergi ke Jepang baik untuk belajar atau

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 59 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil data survai dan analisis yang dilakukan pada lahan parkir Rumah Sakit Umum Daerah RAA Soewondo Pati selama 3 hari dapat diambil kesimpulan

Lebih terperinci

KESIMPULAN DAN SARAN. Dari Permasalahan dan Hipotesa kerja yang. penulis kemukakan dalam Bab I, Pendahuluan dan

KESIMPULAN DAN SARAN. Dari Permasalahan dan Hipotesa kerja yang. penulis kemukakan dalam Bab I, Pendahuluan dan BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 1 Kesimpulan Dari Permasalahan dan Hipotesa kerja yang penulis kemukakan dalam Bab I, Pendahuluan dan telah kemudian dibahas dalam Bab IV, Pemecahan Masalah dan pengujian hi

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN IZIN GANGGUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN IZIN GANGGUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 3/2014 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN IZIN GANGGUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : Mengingat : a. bahwa berda s a

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TENTENG LEVERING SEBAGAI CARA UNTUK MEMPEROLEH HAK MILIK DALAM JUAL BELI MENURUT HUKUM PERDATA

BAB II TINJAUAN TENTENG LEVERING SEBAGAI CARA UNTUK MEMPEROLEH HAK MILIK DALAM JUAL BELI MENURUT HUKUM PERDATA BAB II TINJAUAN TENTENG LEVERING SEBAGAI CARA UNTUK MEMPEROLEH HAK MILIK DALAM JUAL BELI MENURUT HUKUM PERDATA Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya manusia memerlukan usaha-usaha yang dapat menghasilkan barang-barang

Lebih terperinci

BUPATI POHUWATO PROVINSI GORONTALO PERATURAN DAERAH KABUPATEN POHUWATO NOMOR 13 TAHUN 2015 TENTANG

BUPATI POHUWATO PROVINSI GORONTALO PERATURAN DAERAH KABUPATEN POHUWATO NOMOR 13 TAHUN 2015 TENTANG BUPATI POHUWATO PROVINSI GORONTALO PERATURAN DAERAH KABUPATEN POHUWATO NOMOR 13 TAHUN 2015 TENTANG PENAMBAHAN PENYERTAAN MODAL DAERAH KE DALAM MODAL PERSEROAN TERBATAS BANK SULAWESI UTARA GORONTALO DENGAN

Lebih terperinci