PENGARUH IMPLEMENTASI MODEL PRIMER MODIFIKASI
|
|
|
- Handoko Rachman
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PEGARUH IMPLEMETASI MODEL PRIMER MODIFIKASI DA KOMUIKASI TERAPEUTIK TERHADAP KEPUASA PASIE DI RUAG RAWAT IAP ( RSUD PAEMBAHA SEOPATI BATUL ) TESIS Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajad Magester Program Studi Magester Kedokteran Keluarga Minat Utama Pendidikan Profesi Kesehatan Oleh : SUHARTII RAHAYU MARIA IM : S PROGRAM PASCA SARJAA UIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2014
2 PEGARUH IMPLEMETASI MODEL PRIMER MODIFIKASI DA KOMUIKASI TERAPEUTIK TERHADAP KEPUASA PASIE DI RUAG RAWAT IAP ( RSUD PAEMBAHA SEOPATI BATUL ) TESIS Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajad Magester Program Studi Magester Kedokteran Keluarga Minat Utama Pendidikan Profesi Kesehatan Oleh : SUHARTII RAHAYU MARIA IM : S PROGRAM PASCA SARJAA UIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
3 2014 KATA PEGATAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan karunia-ya penulis dapat menyelesaikan Tesis yang berjudul PEGARUH IMPLEMETASI MODEL PRIMER MODIFIKASI DA KOMUIKASI TERAPEUTIK TERHADAP KEPUASA PASIE DI RUAG RAWAT IAP ( RSUD PAEMBAHA SEOPATI BATUL ) Tesis ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Program Studi Magister Kedokteran Keluarga minat Pendidikan Profesi Kesehatan Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pada kesempatan ini perkenankan penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada : 1. Bapak Prof. Dr. H. Ravik Karsidi,M.S selaku Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta atas fasilitas dan kesempatan yang telah diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Magester di Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2. Bapak Prof.Dr.Ir.Ahmad Yunus.M.S. selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi kesempatan pada penulis untuk menimba ilmu di Magester Kedokteran Keluarga Universitas Sebelas Maret Surakarta.
4 3. Bapak Dr. dr.hari Wujoso, Sp F,MM selaku Ka Prodi Magester Kedokteran keluarga yang telah memberikan kesempatan, fasilitas dan saran kepada penulis selama mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Magester Kedokteran keluarga di Universitas Sebelas Maret Surakarta ini. 4. Ibu Dr unuk Suryani,M.Pd. selaku ka. Peminatan PDPK yang telah dengan sabar memberi kesempatan dan fasilitas serta semangat semangat sehingga tesis ini dapat terselesaikan. 5. Prof.Dr,dr, Ambar Mudogdo,Sp.PA(K) sebagai pembimbing utama yang dengan penuh perhatian telah memberikan dorongan, bimbingan, semangat dan saran selama penulis menyusun tesis ini. 6. Bapak Prof. Dr. Samsi Haryanto,M.Pd sebagai pembimbing pendamping yang dengan penuh perhatian dan kesabaran telah memberikan bimbingan, saran, dan semangat kepada penulis sehingga penyusunan tesis ini bisa selesai. 7. Kepada dr. I Wayan Sudana selaku Direktur RSUD Panembahan Senopati Bantul yang telah memberi ijin untuk melakukan penelitian di Rumah sakit Panembahan Senopati Bantul sehingga penyusunan tesis ini bisa terlaksana dengan baik. 8. Bapak I yoman Gunarsa.S.Psi selaku Ka. Bag. Pengembangan yang telah memberikan kesempatan dan bantuan kepada penulis untuk melakukan penelitian di RSUD Panembahan Senopati Bantul.
5 9. Suami dan anaka anak yang telah memberi semangat, dorongan, bantuan dengan penuh cinta kasih dan selalu ada saat penulis membutuhkan. Semoga segala bantuan yang diberikan mendapatkan balasan yang lebih besar dari Tuhan Yang Maha Esa. Penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu dengan kerendahan hati penulis mohon kritik dan saran dari pembaca. Akhir kata semoga tesis ini bermanfaat. Surakarta, Mei 2014 Penulis
6
7
8 PEGARUH IMPLEMETASI MODEL PRIMER MODIFIKASI DA KOMUIKASI TERAPEUTIK DU RUAG RAWAT IAP ( RSUD PAEMBAHA SEOPATI BATUL ) Suhartini Rahayu maria¹,ambar Mudigdo², Samsi haryanto³ Magester Kedokteran Keluarga Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta Intisari Model primer modifikasi dan Komunikasi terapeutik memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan hubungan yang terapeutik kepada pasien.penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh Implementasi model primer modifikasi dan komunikasi terapeutik oleh perawat terhadap kepuasan pasien di ruang rawat inap RSUD Panembahan Senopati bantul. Metode dalam penelitian ini adalah analitik Correlasional.dengan rancangan cross sectional study. Sampel terdiri dari 30 perawat primer, 60 perawat asosiet,dan Sembilan puluh pasien, dimana satu perawat Primer dan dua perawat asosiet diobservasi dalam implementasi model primer modifikasi dan komunikasi terapeutik kemudian 3 pasien kelolaan dalam pengambilan data dengan kuesioner kemudian dikelompokan, diambil skor rata rata menjadi satu unit analisis X₁ untuk implementasi model primer modifikasi, X₂ untuk Implementasi Komunikasi Terapeutik dan Y untuk kepuasan pasien, dengan demikian untuk unit analisis menjadi 30X₁, 30 X₂ dan 30 Y. Data dianalisis dengan menggunakan uji Regresi sederhana dan regresi ganda dibantu dengan program SPSS for Windows versi Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ada pengaruh yang signifikan antara implementasi model primer modifikasi terhadap kepuasan pasien,dan semakin tinggi implementasi model primer modifikasi semakin tinggi pula tingkat kepuasan pasien. F hit :23,169> F tab 4.20 (1,28 )danp = 0,000 < dari 5% ( 0,05 ).R² = 0,453 R = 0,673.Persamaan regresi Y = 34, ,499 X₁. Ada pengaruh yang signifikan antara implementasi Komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien,dan semakin tinggi implementasi komunikasi terapeutik semakin tinggi pula kepuasan pasien F hit :23,169> F tab 4.20 (1,28 )danf hit :23,739> F tab 4.20 (1,28 )danp = 0,000 < dari 5% ( 0,05 ).R² = 0,459R = 0,677.Persamaan regresi Y = 32, ,653 X₂. Ada pengaruh yang signifikan antara implementasi model primer modifikasi dan implementasi komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien,dan semakin tinggi implementasi model primer modifikasi dan implementasi komunikasi terapeutik semakin tinggi pula tingkat kepuasan pasien. F hit :15,584>F tab ( 2,27) = 3,35 (1,27 )danp = 0,000 < dari 5% ( 0,05 ).R² = 0,536 R = Persamaan regresi Y =23, ,867X₁ + 0,986X₂ Kata kunci :Implementasi Model Primer Modifikasi, Implementasi Komunikasi Terapeutik, Kepuasan Pasien
9 THE EFFECT OF MODIFICATIO PRIMARY MODEL AD THERAPEUTIC COMMUICATIO IMPLEMETATIO I WARD ROOM (PAEMBAHA SEOPATI HOSPITAL OF BATUL ) Rahayu Suhartini Maria¹, Ambar Mudigdo² Samsi Haryanto ³ Magister of Family Medicine Program Graduated Program Sebelas Maret University Abstract The modification primary model and therapeutic communications provide comprehensive nursing care and therapeutic correlation to the patient. This study aims to analyze the effect of the modification primary model and therapeutic communication implementation by nurses to the patient satisfaction in ward room of Panembahan Senopati Hospital of Bantul. This study used an analytic correlation method, with cross sectional study. The sample consisted of 30 primary nurses, 60 nurse associated, and 90 patients, where one primary nurse and two nurses associated are observed in the modification primary model and of therapeutic communication implementation and then 3 patients managed in the data collection by questionnaire then grouped, taken average scores into one unit of analysis X 1 for implementation of the modification model primary, X 2 for the implementation of Therapeutic Communication and Y for patient satisfaction, thus the unit of analysis to be 30X 1, 30X 2 and 30 Y. Data were analyzed using simple regression test and multiple regression helped with SPSS for Windows version The study results showed that there is significant correlation between the implementation of modifications primary model to the patient satisfaction, and the higher the primary modification model implementation are higher the level of patient satisfaction too. Fhits: > Ftab 4.20 (1.28) and P = <5% (0.05). R 2 = R = Regression equation Y = X 1. There is a significant correlation between the implementation of therapeutic communication to the patient satisfaction, and higher therapeutic communication implementation are higher the patient satisfaction too, F hits: > F tab 4.20 (1.28) and F hits: > F tab 4.20 (1.28) and P = <5% (0.0 5). R 2 = R = Regression equation Y = X 2. There is significant correlation between the implementation of the primary model modification and therapeutic communication to the patient satisfaction, and the higher of modification primary model and therapeutic communication implementation are higher the level of satisfaction patients. F hits: > F tab (2,27) = 3.35 (1.27) and P = <5% (0.0 5). R 2 = R = Regression equation Y = X X 2. Keywords: Modification Primary Model Implementation, Therapeutic Communication Implementation, Patient Satisfaction DAFTAR ISI
10 HALAMA JUDUL... KATA PEGATAR... i ii ITISARI... v ABSTRACT... vi DAFTAR ISI... vii BAB I PEDAHULUA A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Identifikasi Masalah... 4 C. Rumusan Masalah... 4 D. Tujuan Penelitian... 4 E. Manfaat Penelitian... 5 BAB II TIJAUA PUSTAKA... A. Kajian Pustaka Rumah Sakit Keperawatan Komunikasi Terapeutik Konsep Kepuasan B. Penelitian Yang Relevan C. Kerangka Berfikir D. Hipotese BAB III METODE PEELITIA
11 A. Tempat Penelitian.. 47 B. Waktu Penelitian.. 47 C. Tata Laksana Penelitian 1. Jenis Penelitian Rancangan Penelitian Bahan Penelitian Populasi Sampel Variabel Penelitian Definisi Operasional Tehnik Pengumpulan Data a. Pengumpulan data b. Uji Validitas dan Reliabilitas c. Tehnik Analisis BAB IV HASIL PEELITIA DA PEMBAHASA A. Gambaran Umum tempat Penelitian 1. Sejarah Perkembangan Rumah Sakit Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Rumah Sakit Jenis Pelayanan Rumah Sakit Gambaran Seksi keperawatan dan Kebidanan.. 73 B. Diskripsi Data 1. Karakteristik responden Data Implementasi Model Primer Modifikasi.. 78
12 3. Data Implementasi Komunikasi terapeutik Data Kepuasan Pasien 82 C. Analisis Data 1. Pengelompokan Data Analisis Regresi a. Para Syarat Analisis regresi.. 86 b. Analisis Regresi Sederhana 88 c. Analisis Regresi Ganda. 93 D. Pembahasan 97 E. Keterbatasan penelitian. 105 BAB V KESIMPULA DA SARA A. Kesimpulan B. Saran dan Implikasi 1. Implikasi Saran DAFTAR PUSTAKA. 110 DAFTAR BAGA
13 Bagan 1. Sistem pemberian Asuhan Keperawatan model fungsional Bagan 2. Sistem pemberian Asuhan Keperawatan model Kasus 20 Bagan 3. Sistem pemberia Asuhan Keperawatan model TIM.. 21 Bagan 4. Sistem pemberian Asuhan Keperawatan model Primer 22 Bagan 5. Kerangka Berfikir. 45
14 DAFTAR TABEL Tabel 1 Rumus Douglas 18 Tabel 2 Definisi Operasional Variabel 53 Tabel 3 Hasil Reliability.. 61 Tabel 4 Pengelompokan data.. 62 Tabel 5 Karakteristik Responden 75 Tabel 6 Data Skor Implementasi Model Primer Modifikasi 78 Tabel 7 Data Skor Implementasi Komunikasi terapeutik.. 80 Tabel 8 Data Skor kepuasan pasien. 82 Tabel 9 Data Skor X₁, X₂ dan Y 84 Tabel 10 Hasil Uji ormalitas Tabel 11 Hasil Uji Linieritas. 87 Tabel 15 Hasil Uji Multikolinieritas 87 Tabel 16 Hasil Uji Hipotese Tabel 17 Hasil Uji Determinan Hipotese Tabel 18 Hasil Uji Koefficien Persamaan regresi X₁ Y. 90 Tabel 19 Hasil Uji Hipotese Tabel 20 Hasil Uji Determinan Hipotese Tabel 21 Hasil Uji Koefficien Persamaan regresi X₂ Y.. 92 Tabel 22 Hasil Uji Hipotese Tabel 23 Hasil Uji Determinan Hipotese Tabel 24 Hasil Uji Koefficien Persamaan regresi X₁, X₂ Y 95
15 Tabel 25 Sumbangan Relatif dan sumbangan Efektif 96 DAFTAR DIAGRAM Diagram 1 Sebaran Skor Implementasi Model prime Modifikasi. 79 Diagram 2 Sebaran Skor Implementasi Komunikasi terapeutik. 81 Diagram 3 Sebaran Skor Kepuasan Pasien 83 DAFTAR LAMPIRA Lampiran 1. Lembar Permohonan Izin penelitian
16 Lampiran 2, Lembar Izin penelitian Lampiran 3. Lembar cheklist Tugas Perawat Primer Lampiran 4. Lembar cheklist Tugas Perawat Asosiate Lampiran 5. Lembar checklist Komunikasi Terapeutik Lampiran 6. Lembar Kuesioner Kepuasan Pasien Lampiran 7. Lembar Petunjuk Pengisian Lembar Observasi Implementasi Model primer Modifikasi Perawat primer Lampiran 8. Lembar Petunjuk Pengisian Lembar Observasi Implementasi Model primer Modifikasi Perawat Asosiet Lampiran 9. Lembar Petunjuk Pengisian Lembar Observasi Komunikasi terapeutik Perawat Primer dan Perawat asosiet. Lampiran 10. Data penelitian Lampiran 11 Hasil Uji Validitas dan Uji Reliabelitas Lampiran 12 Hasil Analisa data. BAB I PEDAHULUA
17 A. Latar Belakang Masalah RSUD Panembahan Senopati Bantul adalah rumah sakit milik pemerintah kabupaten Bantul merupakan rumah sakit tipe B pendidikan, dengan kapasitas tempat tidur 298 TT. Dalam melaksanakan fungsinya rumah sakit melaksanakan pelayanan prima dan pasien oriented. Untuk mengidentifikasi adanya ketidak puasan pasien terhadap pelayanan, rumah sakit menyediakan tempat aduan berupa SMS center Direktur serta kotak saran, sehingga masalah cepat dapat diatasi. amun dari waktu ke waktu ketidak puasan pasien masih tetap muncul dengan masalah yang hampir sama yaitu tentang kinerja perawat mengenai kecepatan pelayanan dan keramahan. Banyak disebut bahwa perawat kurang cepat menanggapi keluhan dan perawat kurang ramah atau bahkan tidak ramah. Masalah kepuasan pasien merupakan masalah yang sangat mempengaruhi citra rumah sakit, dimana bila pasien puas akan kembali ke rumah sakit tersebut. Pasien yang puas akan secara tidak sadar mempromosikan kepada orang lain untuk ke rumah sakit yang terkait bila membutuhkan pelayanan rumah sakit, demikian juga sebaliknya bila merasa tidak puas rumah sakit akan ditinggalkan pasien dan citra rumah sakit akan kurang baik, sehingga akan dijauhi oleh masyarakat. Dengan demikian masalah kepuasan pasien sangat penting untuk dikelola dengan serius, bagaimana caranya agar pasien merasa puas, hal yang tidak memuaskan pasien tidak akan terjadi lagi. Perawat merupakan Sumber Daya Manusia yang paling banyak dan selama 24 jam disamping pasien, sehingga keluhan tidak puas banyak ditujukan kepada perawat. Memang rumah sakit dengan cepat menanggapi keluhan ketidak puasan
18 pasien, namun nyatanya keluhan yang sama muncul lagi. Dengan demikian apakah penanganan yang dilakukan kurang pas?. Apakah jumlah perawat yang kurang? sehingga beban kerja perawat terlalu berat? ataukah perilaku perawat kurang menunjukkan sebagai perawat yang professional?. Memang jumlah tenaga perawat masih kurang menurut standar ketenagaan, sehingga beban kerja perawat dirasa terlalu berat. Sebagai upaya meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dengan tujuan untuk meningkatkan kepuasan pasien. RSUD Panembahan Senopati Bantul menggunakan MPKP ( Model Praktik Keperawatan Profesional ) mengingat seluruh perawat minimal bebasis D III Keperawatan. Untuk lebih dapat memenuhi harapan pasien akan pelayanan keperawatan yang dibutuhkan, maka dari model penugasan Asuhan Keperawatan TIM diganti dengan model penugasan asuhan keperawatan PRIMER. amun dikarenakan perawat yang berbasis pendidikan urse masih kurang maka diterapkan penugasan asuhan keperawatan Model Primer Modifikasi yang mana sebagai PP ( Perawat Primer ) tidak semuanya urse namun sebagian ada yang dilaksanakan oleh perawat berbasis DIII keperawatan yang berpengalaman dan dipandang mampu. Demikian juga dalam penerapan komunikasi terapeutik yang juga masih belum optimal, sedikit demi sedikit akan bisa optimal dengan kedekatan perawat pasien dimana mulai dari awal masuk sampai pulang sekelompok pasien dirawat oleh sekelompok perawat yang sama, sehingga kesan perawat kurang atau tidak ramah akan berkurang atau hilang. Dengan demikian diharapkan ketidakpuasan pasien akan berkurang bahkan tidak muncul lagi. Seharusnya upaya tersebut mampu mengubah perilaku perawat menjadi perilaku yang professional
19 sehingga masalah ketidak puasan pasien terkait kecepatan menanggapi keluhan dan keramahan tidak akan muncul lagi. amun dalam kenyataanya masalah tersebut masih muncul dan muncul lagi. Sebagai solusi yang perlu dipertimbangkan dilihat kembali apakah pemberlakuan model penugasan dalam memberikan asuhan keperawatan dengan model primer modifikasi sudah terdokumentasi dengan baik dalam arti dokumen sebagai peraturan pertauran, tata cara dan standar operasioanal prosedur sudah ada? kemudian apakah sudah dilaksanakan dengan baik?. apakah sudah dibuat indikator indikator penilaian? Kalau memang belum ada perlu dibuat, kalau sudah ada apakah secara periodik dilakukan evaluasi?.kalau belum hal tersebut perlu dilakukan untuk mengetahui keberhasilan program tersebut. Sebetulnya akan terasa terbantu bila SPI ( Sistem Pengawas Internal ) berjalan dengan baik sehingga secara periodik akan dilakukan audit internal baik audit system maupun audit kepatuhan. Dengan demikian lama kelamaan bukan hanya menjalankan aturan saja namun akan menjadikan rasa tanggung jawab moral pribadi yang akhirnya akan merubah perilaku masing masing individu, secara tidak sadar akan selalu berperilaku professional. Sehingga dapat dikatakan disini bahwa untuk mangatasi ketidak puasan pasien terkait dengan kinerja perawat adalah dengan menerapkan model penugasan asuhan keperawatan kepada pasien dengan model primer modifikasi dan melaksanakan komunikasi terapeutik dengan baik dan benar serta secara periodik dievaluasi melalui audit system dan audit kepatuhan sampai terbentuk perilaku perawat professional.
20 B. Identifikasi Masalah 1. Adakah pengaruh implementasi model primer modifikasi terhadap kepuasan pasien di ruang rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul? 2. Adakah pengaruh implementasi komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien di ruang rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul? 3. Adakah pengaruh implementasi model primer modifikasi dan komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien di ruang rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul? C. Rumusan Masalah Adakah pengaruh implementasi model primer modifikasi dan komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien di rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul? D. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui tingkat kepuasan pasien dalam implementasi model primer modifikasi dan komunikasi terapeutik RSUD Panembahan Senopati Bantul sehingga hasilnya akan dapat memberikan masukan sebagai bahan pentimbanganuntuk pengambilan keputusan dalam rangka upaya meningkatkan mutu pelayanan keperawatan guna meningkatkan kepuasan pasien/klien, di RSUD Panembahan Senopati Bantul. 2. Tujuan Khusus
21 a. Mengetahui pengaruh implementasi model primer modifikasi terhadap kepuasan pasien di ruang rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul. b. Mengetahui pengaruh implementasi komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien di ruang rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul. c. Mengetahui pengaruh implementasi model primer modifikasi dan komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien di ruang rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul. E. Manfaat Penelitian 1 Manfaat teoritis : 1. Mendapatkan mengetahuan tentang implementasi model primer modifikasi dan komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien 2. Dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan penelitian selanjutnya 2 Manfaat praktis : 1. Bagi Perawat sebagai masukan dalam rangka peningkatan asuhan keperawatan dengan penugasan model primer modifikasi kepada pasien 2. Bagi Rumah Sakit Sebagai masukan dalam rangka upaya peningkatan mutu pelayanan guna meningkatkan kepuasan pasien
22 3. Bagi pasien Dengan pelaksanaan asuhan keperawatan dengan penugasan model primer modifikasi dan pelaksanaan komunikasi terapeutik dengan baik dan benar akan meningkatkan kepuasan pasien. BAB II TIJAUA PUSTAKA A. Kajian Pustaka
23 1. Rumah Sakit a. Pengertian Rumah Sakit Menurut Undang undang omor 36 tahun 2009 tentang Rumah sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyelenggarakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat.rumah sakit diselenggarakan berdasarkan Panca Sila,dan didasarkan pada nilai nilai kemanusiaan, etika dan profesionalitas,mafaat,keadilan,antidiskriminasi,penerimaan perlindungan dan keselamatan pasien serta fungsi pelayanan social yang mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. Sedang menurut undang undang omor 44 tahun 2009 menjelaskan bahwa rumah sakit merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan yang merupakan bagian dari sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dalam mendukung penyelenggaraan upaya kesehatan. Rumah sakit adalah suatu organisasi yang melelui tenaga medis professional yang terorganisir serta sarana kesehatan yang permanen menyelenggarakan pelayanan kedokteran, asuhan keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan Menurut WHO Rumah Sakit adalah Institusi yang merupakan bagian integral dari organisasi kesehatan dan organisasi sosial, berfungsi menyediakan pelayanan kesehatan yang lengkap, baik kuratif maupun preventif bagi pasien rawat jalan dan rawat inap kegiatan pelayanan medis serta perawatan. b. Tugas dan Fungsi Rumah Sakit
24 Menurut Undang Undang Republik Indonesia omor 44 tahun 2009 tentang rumah sakit, rumah sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna, Pelayanan kesehatan paripurna adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative Untuk melaksanakan tugas sebagaimana yang dimaksud diatas rumah sakit mempunyai fungsi : 1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai standard pelayanan rumah sakit 2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua, ketiga sesuai kebutuhan medis 3. Penyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan, dan Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan tehnologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan, c. Rawat Inap Rawat Inap adalah pemeliharaan kesehatan Rumah Sakit di mana pasien tinggal/mondok sedikitnya satu hari berdasarkan rujukan dari rumah sakit atau pelaksana kesehatatan lain Rawat inap merupakan pelayanan kesehatan perorangan
25 yang meliputi observasi, diagnosa, pengobatan, keperawatan serta rehabilitasi medik, dengan menginap di ruang rawat inap pada sarana kesehatan Rumah Sakit baik swata maupun pemerintah serta puskesmas perawatan dan rumah bersalin yang oleh karena penyakitnya pasien harus menginap ( Joko.W,1999) Tenaga dokter dan tenaga perawat merupakan tenaga inti dalam jasa pelayanan rawat inap dirumah sakit dimana kwalitas tenaga dokter dan tenaga perawat memberikan dampak langsung pada kwalitas pelayanan rawat inap dan citra rumah sakit (Putra Panca.A,1999 ) 2. Keperawatan a. Perawat Perawat adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimiliki yang diperoleh melalui pendidikan keperawatan (Gafar L.O.J, 1999 ) b. Keperawatan Keperawatan adalah bentuk pelayanan professional berupa pemenuhan dasar yang diberikan kepada individu yang sehat maupun sakit yang mengalami gangguan fisik,psikis dan social agar dapat mencapai derajat kesehatan yang optimal. Bentuk pemenuhan kebutuhan dasar dapat berupa meningkatkan kemampuan yang ada pada individu,mencegah,memperbaiki dan melakukanrehabilitasi dari suatu keadaan yang dipersepsikan sakit oleh individu ( ursalam,2011 )
26 Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-spritual yang komprehensif, ditujukan pada individu, keluarga dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia ( Kusnanto,2003 ) c. Asuhan keperawatan Keperawatan sebagai suatu profesi di rumah sakit yang cukup potensial dalam menyelenggarakan upaya mutu, selain karena jumlahnya yang dominan juga pelayananya menggunakan metode pemecahan masalah secara ilmiah melalui proses keperawatan. Asuhan keperawatan meliputi 1) Pelayanan keperawatan ( ursing Service ) adlah seluruh fungsi, tugas, kegiatan dan tanggung jawab yang dilaksanakan oleh seorang perawat dalam praktek profesinya. 2) Asuhan keperawatan ( ursing Care) adalah suatu pelayanan keperawatan langsung berupa bantuan, bimbingan, penyuluhan, pengawalan atau perlindungan yang diberikan olah seorang perawat untuk memenuhi kebutuhan pasien. Menurut Doengos ( 2000 ) menyebutkan proses keperawatan adalah proses yang terdiri dari 5 tahap yang spesifik yaitu : 1) Pengkajian
27 Adalah pengumpulan data yang berhubungan dengan pasien secara sistematik, meliputi fisik, psikologi, sosiokultural, spiritual yang komprehensif Pengkajian mencakup data yang dikumpulkan melalui wawancara, pengumpulan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, laboratorium dan diagnosa serta melihat kembali catatan sebelumnya. 2) Identifikasi masalah/ diagnosa keperawatan Adalah analisa data yang telah dikumpulkan untuk mengidentifikasi, memfokuskan dan mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta respon terhadap masalah aktual dan potensial. 3) Perencanaan Adalah proses dua bagian yaitu pertama adalah identifikasi tujuan dan hasil yang diharapkan dari pasien untuk memperbaiki masalah kesehatan atau kebutuhan yang telah dikaji, hasil yang diharapkan harus spsifik, realistik, dapat diukur, menunjukkan kerangka waktu yang pasti, mempertimbangkan keinginan dan sumber pasien. Kedua adalah pemilihan intevensi keperawatan yang tepat untuk membantu pasien dalam mencapai hasil yang diharapkan. 4) Implementasi Implementasi adalah melakukan tindakan dan mendokumentasikan preoses keperawatan s keperawatan, 5) Evaluasi
28 Adalah menentukan kemajuan pasien terhadap pencapaian hasil yang diharapkan dan respon pasien terhadap keefektifan intervensi, Kemudian mengganti rencana keperawatan jika diperlukan. d. Praktik keperawatan professional Seorang Perawat dikatakan professional jika memiliki ilmu pengetahuan, ketrampilan keperawatan professional serta memiliki sikap sesuai kode etik profesi. Adapun yang dimaksud ketrampilan professional keperawatan bukan sekedar trampil dalam melakukan prosedur keperawatan tetapi mencakup ketrampilan interpersonal, ketrampilan intelektual dan ketrampilan tehnikal. ( Gafar 1999 ) Sementara Leddy and Pepper, ( 1995 ) menyatakan keperawatan sebagai profesi mempunyai karakteristik sebagai berikut : a. Kelompok pengetahuan yang mendasari ketrampilan untuk menyelesaikan masalah dalam tatanan praktik keperawatan Ketrampilan dan praktik keperawatan didasarkan pada kiat dan ilmu kepeawatan. Manusia/klien adalah penerima asuhan keperawatan dan setiap manusia merupakan makluk bio-psiko-sosial-spiritual yang berinteraksi dengan lingkungan, sehingga dalam praktik keperawatan juga menerapkan ilmu social, komunikasi,perilaku fisika dan biomedik. b. Kemampuan memberikan pelayanan yang unik kepada masyarakat
29 Fungsi unik perawat adalah memberikan bantuan kepada seseorang dalam melakukan kegiatan untuk menunjang kesehatan dan penyembuhan individu serta membantu agar dapat hidup mandiri. c. Pendidikan yang memenuhi standard dan diselenggarakan di perguruan tinggi/ Universitas Standar minimal seorang perawat adalah lulus pendidikan diploma. Pendidikan tinggi perawat di Indonesia didirikan tahun 1985 di Universitas Indonesia jakarta d. Pengendalian terhadap standar praktik Standar adalah pernyataan atau criteria tentang kualitas praktik. Standar praktik keperawatan menekankan pada tanggung jawab dan tanggung gugat perawat untuk memenuhi standard yang telah ditetapkan yang bertujuan melindungi masyarakat maupun perawat. Dengan demekian perawat bekerja tidak dibawah pengawasan dan pengendalian profesi lain. e. Bertanggung jawab dan bertsnggung gugat terhadap tindakan yang dilakukan. Tanggung gugat ( accountable ) berate bertanggung jawab terhadap pelayanan yang diberikan.tanggung gugat mengandung aspek legal terhadap kelompok sejawat, atasan dan konsumen. f. Karier seumur hidup Karier adalah pekerjaan utama seumur hidup yang dapat dibedakan dengan Job yang merupakan bagian dari pekerjaan rutin. Dakam kariernya perawat
30 bekerja sebagai tenaga penuh, pilihan sendiri yang didasari dengan pendidikan dan pelatihan yang lama dan merupakan pilihan sendiri. g. Fungsi mandiri Dinegara yang telah maju seperti Amerika perawat telah diakui dengan fungsi mandirinya dan mempunyai kewenangan penuh untuk melakukan pelayanan/ asuhan keperawatan. Meskipun dalam pelaksanaanya tetap berkolaborasi dengan tenaga professional lain tetapi asuhan keperawatan yang dilakukan berorientasi kepada kebutuhan klien bukan sebagai ekstensi dari intervensi kedokteran atau profesi lain Selanjutnya Kozier,Erb & Wilkinson,( 1995 ) mengemukakan karakteristik profesionalisasi yang menjadi landasan dan tercermin pada praktik keperawatan professional meliputi : a) Konsep misi yang terbuka terhadap perubahan b) Penguasaan dan penggunaan pengetahuan teoritis c) Kemampuan menyelesaikan masalah d) Pengembangan diri secara berkesinambungan e) Pendidikan formal f) Sistem pengesahan terhadap kompetensi g) Penguatan secara legal terhadap standard professional h) Praktik berdasarkan kode etik i) Hukuman terhadap malpraktik j) Penerimaan dan pelayanan kepada masyarakat
31 k) Perbedaan peran antara pekerjaan professional dengan pekerjaan lain dan boleh praktik otonom. e. Model Praktik Keperawatan Professional Praktik keperawatan professional merupakan praktik keperawatan yang dilandasi oleh nilai nilai professional, yaitu mempunyai otonomi dalam pekerjaannya, bertanggung jawab dan bertanggung gugat, pengambilan keputusan yang mandiri, kolaborasi dengan disiplin ilmu lain, pemberian pembelaan dan memfasilitasi kepentingan klien. Tuntutan terhadap kualitas pelayanan keperawatan mendorong perubahan dalam memberikan asuhan keperawatan yang efektif dan bermutu. Dalam memberikan asuhan keperawatan yang profesional diperlukan sebuah pendekatan menajemen yang memungkinkan diterapkannya metode penugasan yang dapat mendukung penerapan perawatan yang professional di rumah sakit.( Bimo, 2008 ) Menurut Hoffart & Woods, 1996 ( dalam Tukimin 2005 ) Model Praktik Keperawatan Profesional ( MPKP ) merupakan suatu system ( struktur,proses dan nilai nilai professional ) yang memungkinkan perawat professional mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk mendukung pemberian asuhan keperawatan Pengembangan MPKP diperlukan hubungan kolaborasi antar profesi dan diperlukan waktu serta tenaga yang cukup. Meskipun demikian banyak organisasi lain menyepakati bahwa model kolaborasi asuhan keperawatan dapat
32 meningkatkan hasil pelayanan, keefektifan biaya dan kepuasan pasien ( Sitorus, 2000 ) Menurut Hoffart & Woods 1996 ( dalam Tukimin 2005 ) menyimpulkan bahwa MPKP terdiri dari 5 elemen subsistem yaitu nilai nilai professional, hubungan proesional, metode pemberian asuhan keperawatan, pendekatan manajemen serta system kompensasi dan penghargaan. a. ilai nilai professional b. Pendekatan manajemn c. Sistem pemberian asuhan keperawatan d. Hubungan professional e. Kompensasi dan penghargaan a. ilai nilai professional Menurut Leddy & Pepper, ( 1995 ) nilai nilai professional yang melandasi praktik keperawatan meliputi nilai intelektual,nilai komitmen moral, otonomi kendali dan tanggung gugat. 1) ilai intelektual dalam praktik terdiri dari tiga komponen yang saling terkait yaitu ilmu pengetahuan yang nelandasi praktik profesioanal, pendidikan spesialisasi untuk meneruskan ilmu pengetahuan dan menggunakan ilmu pengetahuan dalam berfikir secara kritis dan kreatif. 2) ilai komitmen moral Menurut Koezier pelayanan terhadap masyarakat memerlukan integritas, komitmen moral dan tanggung jawab etik.
33 Perilaku perawat harus dilandasi oleh aspek moral yang meliputi : Beneficience, yaitu selalu mengupayakan tiap keputusan dibuat berdasarkan keinginan untuk melakukan yang terbaik dan tidak merugikan klien Adil yaitu tidak mendiskriminasikan klien berdasarkan agama,ras, social budaya, keadaan ekonomi dan sebagainya tetapi memperlakukan klien sebagai individu yang memerlukan bantuan dengan keunikan yang dimiliki Fidelity, yaitu berperilaku caring, selalu berusaha menepati janji, memberikan harapan yang memadai, komitmen moral serta memperhatikan kebutuhan spiritual klien, sikap pedili dan penuh kasih sayang, 3). Otonomi,kendali dan tanggung gugat. Otonomi,kendali dan tanggung gugat merupakan tiga komponen yang saling terkait. Otonomi berarti kebebasan dan kewenangan malakukan tindakan secara mandiri, kesediaan mengambil resiko dan tanggung jawab. b. Pendekatan manajemen Salah satu pendekatan manajemen penting adalah pemenuhan tenaga perawat. Dalam penyelenggarakan asuhan keperawatan profesioanal jumlah tenaga yang dibutuhkan didasarkan pada jumlah pasien dan derajad ketergantungan pasien/
34 Menurut Douglas ( Dep kes RI 1997 ) untuk pasien rawat inap terdapat standard waktu pelayanan menurut klasifikasi derajat ketergantungan pasien terhadap perawat : a) minimal care, diperlukan 1 2 jam/24 jam; b) partial care diperlukan waktu 2 4 jam/24 jam; dan c) total care diperlukan 6 7 jam /24 jam. Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan rawat inap didapatkan tenaga untuk dinas pagi, siang dan malam tergantung pada banyaknya tingkat ketergantungan pasien perhitungan indek sperti pada table berikut : Tabel 1 rumus Douglas o Klasifikasi pasien Pagi Siang Malam 1 Minimal care 0,17 0, Partial care 0,27 0,15 0,10 3 Total care 0,36 0,30 0,20 f. Sistem pemberian asuhan keperawatan. Menurut Marquis & Huston dalam ursalam ( 2002 ) pemberian asuhan keperawatan terdapat empat model / yaitu : 1) Model fungsional a) Berdasarkan orientasi tugas dari filosofi keperawatan
35 b) Perawat melaksanakan tugas/tindakan tertentu berdasarkan jadwal kegiatan yang ada. Bagan 1 Sistem pemberian asuhan keperawatan model fungsional ( Marquis & Huston dalam ursalam 2002 ) 2). Model Kasus a) Berdasarkan pendekatan holistic dari filosofi keperawatan b) Perawat bertanggung jawab terhadap asuhan pasien tertentu c) Ratio 1 : 1 Perawat pasien
36 d) Pasien dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap shif e) Setiap perawat ditugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien. Bagan 2 Sistem pemberian Asuhan keperawatan model kasus ( Marquis & Huston dalam nursalam 2002 ) 2) Model Tim a) Berdasarkan pada kelompok filosofi keperawatan b) Enam tujuh perawat professional dan perawat pelaksanan bekerja sebagai suatu tim yang dusupervisi oleh kerua tim c) Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan dibagi menjadi 2 3 tim
37 yang terdiri dari tenaga professional,tehnikal dan pembantu dalam satu grup kecil yang saling kerja sama. Bagan 3 Sistem pemberian Asuhan keperawatan model Tim ( Marquis & Huston dalam nursalam 2002 ) 4). Model Primer a) Berdasarkan komprehensif dari filosofi keperawatan b) Perawat bertanggung jawab semua aspek asuhan c) Ratio 1: 6 /! : 8 ( perawat : Pasien ) dan penugasan model kasus d) Kelebihan Model Primer : 1. Bersifat kontinuitas dan komprehensif
38 2. Perawat primer mendapatkan akontabilitas yang tinggi terhadap hasil dan diri 3. Keuntungan antara lain terhadap pasien,perawat,dokter dan rumah sakit. e) Kelemahan model ini hanya dapat dilakukan oleh perawat berpengalaman dan berpengetahuan yang memadai dengan criteria asertif,self direction,kemampuan mengambil keputusan yang tepat, menguasai keperawatan klinik,akontabel serta mampu berkolaborasi dengan berbagai disiplin Bagan 4 Sistem pemberian Asuhan keperawatan model Primer ( Marquis & Huston dalam nursalam 2002 )
39 f) Uraian tugas 1. Kepala Ruang Bansal a. membagi staf keperawatan ke dalam grup model primer sesuai kemampuan dan beban kerja. b. membuat jadwal dinas koordinasi dengan PP. c. membagi pasien kepada grup primer sesuai kemampuan dan beban kerja. d. memfasilitasi dan mendukung kelancaran tugas PP dan PA. e. melaksanakan supervisi dan memberi motivasi seluruh staf keperawatan untuk mencapai kinerja yang optimal. f. melakukan upaya peningkatan mutu asuhan keperawatan dengan melakukan evaluasi melalui angket setiap pasien akan pulang. g. mendelegasikan tugas kepada Penanggung jawab Shift Jaga pada jaga Siang/Malam/Hari Libur. h. berperan sebagai konsultan dari PP. 2. Perawat Primer: a. bertugas pada pagi hari. b. bersama PA menerima operan tugas jaga dari PA yang tugas jaga malam. c. bersama PA melakukan konfirmasi/supervisi tentang kondisi pasien segera setelah selesai operan tugas jaga setiap pasien. d. bersama PA melakukan do a bersama sebagai awal & akhir tugas, dilakukan setelah selesai operan tugas jaga malam.
40 e. melakukan pre conference dengan semua PA yang ada pada grup nya setiap awal dinas pagi. f. membagi tugas/pasien kepada PA sesuai beban kerja dan kemampuan. g. melakukan pengkajian, menetapkan masalah/diagnosis dan perencanaan keperawatan kepada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan ada bukti di catatan perawatan. h. memonitor & membimbing tugas PA. i. membantu tugas PA untuk kelancaran pelaksanaan asuhan pasien. j. mengoreksi, merevisi, dan melengkapi catatan askep yang dilakukan oleh PA yang ada dibawah tanggung jawabnya. k. melakukan evaluasihasil kepada setiap pasien sesuai tujuan yang ada dalam perencanaan askep dan ada bukti di catatan perawatan. l. melaksanakan post conference pada setiap akhir dinas dan menerima laporan akhir tugas jaga dari PA untuk persiapan operan tugas jaga berikutnya. m. mendampingi PA dalam operan tugas jaga kepada PA yang tugas jaga berikutnya. n. memperkenalkan PA yang ada dalam satu grup/yang akan merawat selama pasien dirawat kepada pasien/keluarga baru. o. mendelegasikan tugas kepada PA yang dinas sore/malam/hari libur.
41 p. melaksanakan pendelegasian tugas Penanggung jawab ruang bila pagi hari tidak bertugas. q. menyelenggarakan diskusi kasus/conference dengan dokter/tim kesehatan lain setiap minggu sekali. r. menyelenggarakan diskusi kasus/conference dalam pertemuan rutin keperawatan di ruangan minimal sebulan sekali. s. meyelenggarakan diskusi kasus/conference sesuai prosedur. t. melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan. 3. Perawat Asosiate: a. melaksanakan operan tugas setiap awal dan akhir jaga dari dan kepada PA yang ada dalam satu grup. b. melakukan konfirmasi/supervisi tentang kondisi pasien segera setelah selesai operan setiap pasien. c. melakukan do`a bersama setiap awal dan akhir tugas yang dilakukan setelah selesai serah terima operan tugas jaga. d. mengikuti pre conference yang dilakukan PP setiap awal tugas pagi. e. melaksanakan asuhan keperawatan kepada pasien yang menjadi tanggungjawabnya dan ada bukti di rekam keperawatan. f. melakukan monitoring respon pasien dan ada bukti di rekam keperawatan. g. melakukan konsultasi tentang masalah pasien/keluarga kepada PP.
42 h. membimbing dan melakukan pendidikan kesehatan kepada pasien/keluarga yang menjadi tanggung jawabnya dan ada bukti di rekam keperawatan. i. menerima keluhan pasien/keluarga dan berusaha untuk mengatasinya. j. melengkapi catatan asuhan keperawatan pada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya. k. melakukan evaluasi asuhan keperawatan setiap akhir tugas pada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan ada bukti di rekam keperawatan. l. mengikuti post conference yang diadakan oleh PP pada setiap akhir tugas dan melaporkan kondisi/perkembangan semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya kepada PP. m. bila tidak ada PP, wajib mengenalkan PA yang berada dalam satu grup yang akan memberikan asuhan keperawatan pada jaga berikutnya pada pasien/keluarga baru. n. melaksanakan pendelegasian tugas PP pada sore/malam/hari libur. o. berkoordinasi dengan penganggungjawab shif jaga/dokter/tim kesehatan lain bila ada masalah pasien pada sore/malam/hari libur. p. mengikuti diskusi kasus/conference dengan dokter/tim kesehatan lain setiap minggu/ sekali. q. mengikuti diskusi kasus/conference dalam pertemuan rutin keperawatan di ruangan.
43 r. melaksanakan tugas lain sesuai uraian tugas PA. 3. Komunikasi Terapeutik a. Pengertian Komunikasi Terapeutik Komunikasi terapeutik adalah suatu pengalaman bersama antara perawat pasien yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah pasien yang mempengaruhi perilaku pasien. Hubungan perawat pasien yang terapeutik adalah pengalaman belajar bersama dan pengalaman dengan menggunakan berbagai tehnik komunikasi agar perilaku pasien berubah ke arah positif seoptimal mungkin. Untuk melaksanakan komunikasi terapeutik yang efektif perawat harus mempunyai keterampilan yang cukup dan memahami tentang dirinya. Teori komunikasi sangat sesuai dalam praktek keperawatan (Stuart dan Sundeen, 1987) karena : 1) Komunikasi merupakan cara untuk membina hubungan yang terapeutik. Dalam proses komunikasi terjadi penyampaian informasi dan pertukaran perasaan dan pikiran. 2) Maksud komunikasi adalah mempengaruhi perilaku orang lain. Berarti, keberhasilan intervensi keperawatan bergantung pada komunikasi karena proses keperawatan ditujukan untuk merubah perilaku dalam mencapai tingkat kesehatan yang normal. 3) Komunikasi adalah berhubungan. Hubungan perawat dan pasien yang terapeutik tidak mungkin dicapai tanpa komunikasi.
44 Dalam membina hubungan terpeutik dengan pasien, perawat perlu mengetahui proses komunikasi dan keterampilan berkomunikasi dalam membantu klien memecahkan masalahnya. Elemen yang harus ada pada proses komunikasi adalah pengirim pesan, penerima pesan, media dan umpan balik. Semua perilaku individu pengirim dan penerima adalah komunikasi yang akan member efek pada perilaku. Pesan yang disampaikan dapat berupa verbal dan nonverbal. Bermain merupakan cara berkomunikasi dan berhubungan yang baik dengan klien anak. Perawat dapat menyampaikan atau mengkaji secara nonverbal antara lain : Vokal; nada, kualitas, keras ato lembut, kecepatan, yang semuanya menggambarkan suasana emosi. 1) Gerakan; reflex, postur, ekspresi muka, gerakan yang berulang, atau gerakan-gerakan yang lain. Khusus gerakan dan ekspresi muka dapat diartikan sebagai suasana hati. 2) Jarak (space) Jarak dalam berkomunikasi dengan orang lain menggambarkan keintiman. 3) Sentuhan : dikatakan sangat penting, namun perlu mempertimbangkan aspek budaya dan kebiasaaan. Agar perawat dapat berperan efektif dalam terapeutik ia harus menganalisa dirinya : kesadaran diri klarifikasi nilai, perasaan dan mampu menjadi model
45 yang bertanggung jawab. Seorang perawat tidak akan dapat mengetahui kondisi klien jika tidak ada kemampuan menghargai keunikan pasien. Komunikasi terapeutik tidak dapat berlangsung sendirinya, tetapi harus di rencanakan, di pertimbangkan dan di lakukan secara profesional. Pada saat pertama kali perawat melakukan komunikasi terapeutik proses komunikasi umumnya berlangsung singkat, canggung, semu dan seperti di buat-buat.hal ini akan lebih membantu untuk mempersepsikan masing-masing hubungan pasien karena adanya kesempatan untuk mencapai hubungan antar manusia yang positif sehingga akan mempermudah pencapaian tujuan terapeutik. b. Fase fase Komunikasi Terapeutik 1) Tahap Persiapan (Prainteraksi) Tahap Persiapan atau prainteraksi sangat penting dilakukan sebelum berinteraksi dengan klien (Christina, dkk, 2002). Pada tahap ini perawat menggali perasaan dan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Pada tahap ini perawat juga mencari informasi tentang pasien. Kemudian perawat merancang strategi untuk pertemuan pertama dengan kpasien. Tahap ini harus dilakukan oleh seorang perawat untuk memahami dirinya, mengatasi kecemasannya, dan meyakinkan dirinya bahwa dia siap untuk berinteraksi dengan pasien (Suryani, 2005). Tugas perawat pada tahap ini antara lain: a. Mengeksplorasi perasaan, harapan, dan kecemasan. Sebelum berinteraksi dengan klien, perawat perlu mengkaji perasaannya sendiri (Stuart, G.W dalam Suryani, 2005). Perasaan apa yang muncul sehubungan dengan interaksi yang
46 akan dilakukan. Apakah ada perasaan cemas? Apa yang dicemaskan? (Suryani, 2005). b. Menganalisis kekuatan dan kelemanhan sendiri. Kegiatan ini sangat penting dilakukan agar perawat mampu mengatasi kelemahannya secara maksimal pada saat berinteraksi dengan pasien. Misalnya seorang perawat mungkin mempunyai kekuatan mampu memulai pembicaraan dan sensitif terhadap perasaan orang lain, keadaan ini mungkin bisa dimanfaatkan perawat untuk memudahkannya dalam membuka pembicaraan dengan pasien dan membina hubungan saling percaya (Suryani, 2005). c. Mengumpulkan data tentang pasien. Kegiatan ini juga sangat penting karena dengan mengetahui informasi tentang pasien perawat bisa memahami pasien. Paling tidak perawat bisa mengetahui identitas pasien yang bisa digunakan pada saat memulai interaksi (Suryani, 2005). d. Merencanakan pertemuan yang pertama dengan pasien. Perawat perlu merencanakan pertemuan pertama dengan pasien. Hal yang direncanakan mencakup kapan, dimana, dan strategi apa yang akan dilakukan untuk pertemuan pertama tersebut (Suryani, 2005). 2) Tahap Perkenalan ( Orientasi ) Perkenalan merupakan kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu atau kontak dengan pasien (Christina, dkk, 2002). Pada saat berkenalan, perawat harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada pasien (Brammer dalam Suryani, 2005). Dengan memperkenalkan dirinya berarti perawat telah bersikap
47 terbuka pada pasien dan ini diharapkan akan mendorong klien untuk membuka dirinya (Suryani, 2005). Tujuan tahap ini adalah untuk memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat dengan keadaan pasien saat ini, serta mengevaluasi hasil tindakan yang lalu (Stuart, G.W dalam Suryani, 2005). Tugas perawat pada tahap ini antara lain: a. Membina rasa saling percaya, menunjukkan penerimaan, dan komunikasi terbuka. Hubungan saling percaya merupakan kunci dari keberhasilan hubungan terapeutik (Stuart, G.W dalam Suryani, 2005), karena tanpa adanya rasa saling percaya tidak mungkin akan terjadi keterbukaan antara kedua belah pihak. Hubungan yang dibina tidak bersifat statis, bisa berubah tergantung pada situasi dan kondisi (Rahmat, J dalam Suryani 2005). Karena itu, untuk mempertahankan atau membina hubungan saling percaya perawat harus bersikap terbuka, jujur, ikhlas, menerima klien apa adanya, menepati janji, dan menghargai pasien (Suryani, 2005). b. Merumuskan kontrak pada pasien (Christina, dkk, 2002). Kontrak ini sangat penting untuk menjamin kelangsungan sebuah interaksi (Barammer dalam Suryani, 2005). Pada saat merumuskan kontrak perawat juga perlu menjelaskan atau mengklarifikasi peran-peran perawat dan pasien agar tidak terjadi kesalah pahaman pasien terhadap kehadiran perawat. Disamping itu juga untuk menghindari adanya harapan yang terlalu tinggi dari klien terhadap perawat karena karena pasien menganggap perawat seperti dewa penolong yang serba bisa dan serba tahu (Gerald, D dalam Suryani, 2005). Perawat perlu
48 menekankan bahwa perawat hanya membantu, sedangkan kekuatan dan keinginan untuk berubah ada pada diri pasien sendiri (Suryani, 2005). c. Menggali pikiran dan perasaan serta mengidentifikasi masalah klien. Pada tahap ini perawat mendorong pasien untuk mengekspresikan perasaannya. Dengan memberikan pertanyaan terbuka, diharapkan perawat dapat mendorong pasien untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya sehingga dapat mengidentifikasi masalah pasien. d. merumuskan tujuan dengan pasien. Perawat perlu merumuskan tujuan interaksi bersama pasien karena tanpa keterlibatan pasien mungkin tujuan sulit dicapai. Tujuan ini dirumuskan setelah pasien diidentifikasi. Fase orientasi, fase ini dilaksanakan pada awal setiap pertemuan kedua dan seterusnya, tujuan fase ini adalah memvalidasi keakuratan data, rencana yang telah dibuat dengan keadaan pasien saat ini, dan mengevaluasi hasil tindakan yang lalu. Umumnya dikaitkan dengan hal yang telah dilakukan bersama pasien (Cristina, dkk, 2002). 3) Tahap Kerja Tahap kerja ini merupakan tahap inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik (Stuart, G.W dalam Suryani, 2005). Pada tahap ini perawat dan pasien bekerja bersama-sama untuk mengatasi masalah yang dihadapi pasien. Pada tahap kerja ini dituntut kemampuan perawat dalam mendorong klien mengungkap perasaan dan pikirannya. Perawat juga dituntut untuk mempunyai
49 kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap adanya perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal pasien. Pada tahap ini perawat perlu melakukan active listening karena tugas perawat pada tahap kerja ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah pasien. Melalui active listening, perawat membantu pasien untuk mendefinisikan masalah yang dihadapi, bagaimana cara mengatasi masalahnya, dan mengevaluasi cara atau alternatif pemecahan masalah yang telah dipilih. Perawat juga diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan pasien. Tehnik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-hal penting dalam percakapan, dan membantu perawat-klien memiliki pikiran dan ide yang sama (Murray, B & Judth dalam Suryani, 2005). Tujuan tehnik menyimpulkan adalah membantu pasien menggali hal-hal dan tema emosional yang penting (Fontaine & Fletcner dalam Suryani, 2005) 4) Tahap Terminasi Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dengan pasien. Tahap ini dibagi dua yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir (Stuart, G.W dalam Suryani, 2005). Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawat-pasien, setelah terminasi sementara, perawat akan bertemu kembali dengan pasien pada waktu yang telah ditentukan.terminasi akhir terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara keseluruhan. Tugas perawat pada tahap ini antara lain:
50 a. Mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi yang telah dilaksanakan. Evaluasi ini juga disebut evaluasi objektif. Dalam mengevaluasi, perawat tidak boleh terkesan menguji kemampuan pasien, akan tetapi sebaiknya terkesan sekedar mengulang atau menyimpulkan.melakukan evaluasi subjektif. Evaluasi subjektif dilakukan dengan menanyakan perasaan pasien setelah berinteraksi dengan perawat. b. Perawat perlu mengetahui bagaimana perasaan pasien setelah berinteraksi dengan perawat. Apakah klien merasa bahwa interaksi itu dapat menurunkan kecemasannya? Apakah pasien merasa bahwa interaksi itu ada gunanya? Atau apakah interaksi itu justru menimbulkan masalah baru bagi pasien. c. Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan. Tindakan ini juga disebut sebagai pekerjaan rumah untuk pasien. Tindak lanjut yang diberikan harus relevan dengan interaksi yang akan dilakukan berikutnya. Misalnya pada akhir interaksi pasien sudah memahami tentang beberapa alternative mengatasi marah. Maka untuk tindak lanjut perawat mungkin bisa meminta pasien untuk mencoba salah satu dari alternative tersebut. d. Membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya. Kontrak ini penting dibuat agar terdapat kesepakatan antara perawat dan pasien untuk pertemuan berikutnya. Kontrak yang dibuat termasuk tempat, waktu, dan tujuan interaksi. Stuart G.W. (1998) dalam Suryani (2005), menyatakan bahwa proses terminasi perawat-pasien merupakan aspek penting dalam asuhan keperawatan, sehingga jika hal tersebut tidak dilakukan dengan baik oleh perawat, maka regresi dan
51 kecemasan dapat terjadi lagi pada pasien. Timbulnya respon tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuan perawat untuk terbuka, empati dan responsif terhadap kebutuhan pasien pada pelaksanaan tahap sebelumnya. 4. Konsep kepuasan a. Kepuasan Pelanggan Merupakan dasar yang penting dalam mengukur mutu dari pelayanan. Tingkat kepuasan pasien adalah sangat tergantung pada kinerja penyaji jasa. Kepuasan pelanggan merupakan respon pelanggan terhadap evaluasi yang ia rasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja aktual produk yang dirasakan setelah pemakaiannya. Jadi tingkat kepuasan pasien merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan. Apabila kinerja dibawah harapan, maka pelanggan akan kecewa. Bila kinerja melebihi harapan, pelanggan akan sangat puas..(tjiptono Fandy, 2008) Tingkat kepuasan pelayanan pasien dari persepsi pasien atau keluarga terdekat. Kepuasan pasien akan tercapai bila diperoleh hasil yang optimal bagi setiap pasien dan pelayanan kesehatan memperhatikan kemampuan pasien dan keluarganya, ada perhatian terhadap keluhan, kondisi lingkungan fisik dan tanggap kepada kebutuhan pasien sehingga tercapai keseimbangan yang sebaik-baiknya
52 antara tingkat rasa puas dan derita serta jerih payah yang harus dialami guna memperoleh hasil tersebut. Ada beberapa metode yang dapat dipergunakan untuk mengukur dan memantau kepuasan pelanggan, diantaranya: 1) Sistem keluhan dan saran Pemberi jasa perlu memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi para pelanggannya untuk menyampaikan saran, pendapat dan keluhan mereka. 2) Survei kepuasan pasien. Melalui survei, akan diperoleh tanggapan dan umpan balik secara langsung dari pelanggan dan juga memberikan tanda positif bahwa pemberi jasa menaruh perhatian kepada pelanggannya. 3) Ghos shopping Metode ini dilaksanakan dengan cara mempekerjakan beberapa orang berperan sebagai pelanggan produk perusahaan pesaing. 4) Lost customer analysis Metode ini dengan menghubungi pelanggannya yang telah berhenti membeli.( Supranto, 2006 ). 1. Pengertian Kepuasan Kepuasan bisa diartikan sebagai upaya pemenuhan sesuatu atau membuat sesuatu memadai ( Tjiptono dan Chandra, 2005 : 195 ). Sedangkan Kotler ( 2003:61
53 ) mendefinisikan kepuasan sebagai perasaan senang atau kecewa seseorang yang dialami setelah membandingkan antara persepsi kinerja atau hasil suatu produk dengan harapan-harapannya.dari definisi-definisi tersebut di atas dapat disimpulkan, yaitu adanya perbandingan antara harapan dan kinerja/hasil yang dirasakan pelanggan. Harapan pelanggan dibentuk dan didasarkan oleh beberapa faktor, di antaranya pengalaman berbelanja di masa lampau, opini teman dan kerabat, serta informasi dan janji-janji perusahaan dan para pesaing. 2. Pengertian Pelanggan Menurut Zulian Yamit ( 2005 : 75 ) secara tradisional pelanggan diartikan orang yang membeli dan menggunakan produk. Dalam perusahaan yang bergerak dibidang jasa, pelanggan adalah orang yang menggunakan jasa pelayanan. Dalam dunia perbankan pelanggan diartikan nasabah. Pandangan tradisional ini menyimpulkan bahwa pelanggan adalah orang yang berinteraksi dengan perusahaan sebelum proses produksi selesai, karena mereka adalah pengguna produk. Sedangkan orang yang berinteraksi dengan perusahaan sebelum proses produksi berlangsung adalah dianggap sebagai pemasok. Pelanggan dan pemasok dalam konsep tradisional ini adalah orang yang berada di luar perusahaan atau disebut pelanggan dan pemasok eksternal. Tepatkah pengertian pelanggan seperti ini dalam kaitannya dengan Mutu?.Apakah perhatian terhadap yang diinginkan pelanggan dan pemasok eksternal akan memberikan jaminan perusahaan akan menghasilkan produk yang mutu?konsep pelanggan dan pemasok sebenarnya tidak hanya dilihat dari luar perusahaan. Ada pelanggan dan pemasok yang selama ini terlupakan oleh pelaku bisnis, yaitu pelanggan dan pemasok yang berada didalam perusahaan atau
54 disebut pelanggan dan pemasok internal. Misalnya, terdapat proses tranformasi yang melalui proses 1, proses 2 hingga proses 3 yang masing-masing memiliki inputproses- output ( I-P-O ). Output proses 2 akan diserahkan dan menjadi input proses 3 yang akan melakukan Disamping pelanggan internal dan eksternal, masih terdapat pihak lain yang terlibat sebelum produk dikirim ke pelanggan eksternal. Pihak lain tersebut adalah distributor atau disebut sebagai pelanggan perantara yang melakukan kegiatan distribusi produk dari perusahaan ke pelanggan eksternal. Kepuasan pelanggan eksternal dipengaruhi pula oleh kualitas pelayanan purna jual. Uraian tersebut, menyimpulkan bahwa pemasok dan pelanggan adalah setiap orang atau badan yang datang dari dalam perusahaan mauapun yang datang dari luar perusahaan. Selain itu, dapat pula disimpulkan bahwa terdapat tiga jenis pelanggan yaitu : proses berikutnya. 1. Pelanggan internal ( internal customer ) adalah setiap orang yang ikut menangani proses pembuatan maupun penyediaan produk di dalam perusahaan atau organisasi. 2. Pelanggan perantara ( intermediate customer ) adalah mereka yang bertindak atau berperan sebagi perantara untuk mendistribusikan produk kepada pihak konsumen atau pelanggan eksternal. Pelanggan perantara ini bukan sebagai pemakai akhir. 3. Pelanggan eksternal ( external customer ) adalah pembeli atau pemakai akhir, yang disebut sebagai pelanggan yang nyata ( real customer ). 3. Pengertian Kepuasan Pelanggan
55 Apa sebenarnya kepuasan pelanggan itu? Untuk mendefinisikan kepuasan pelanggan sebenarnya tidaklah mudah, karena pelanggan memiliki berbagai macam karakteristik, baik pengetahuan, kelas sosial, pengalaman, pendapatan maupun harapan. Misalnya, seorang pelanggan baru ingin mencoba masakan tertentu dari sebuah restoran. Sebelum melakukan pembelian, pelanggan baru tersebut pasti memiliki harapan bahwa dia akan dilayani secara baik, pelayannya ramah, cepat tanggap, dan masakan yang ingin dicobanya enak. Jika harapan pelanggan ini sesuai dengan apa yang dialami dan dirasakan melebihi harapannya sudah dapat dipastikan pelanggan tersebut akan merasa puas. Tetapi bila yang dialami dan dirasakan pelanggan tidak sesuai dengan harapannya, misal pelayanannya tidak ramah, tidak tanggap dan masakannya tidak enak, sudah dapatdipastikan pelanggan tidak merasa puas. Dari contoh diatas, kepuasan pelanggan dapat diketahui setelah pelanggan menggunakan produk dan jasa pelayanan. Dengan kata lain kepuasan pelanggan merupakan evaluasi purna beli atau hasil evaluasi setelah membandingkan apa yang dirasakan dengan harapannya. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kepuasan pelanggan adalah hasil( outcome) yang dirasakan atas penggunaan produk dan jasa, sama atau melebihi harapan (dalam Zulian Yamit,2005 : 78 ) Kepuasan pelanggan telah menjadi konsep sentral dalam wacana bisnis dan manajemen ( Tjiptono dan Chandra, 2005 : 192 ). Pelanggan umumnya mengharapkan produk berupa barang atau jasa yang dikonsumsi dapat diterima dan dinikmatinya dengan pelayanan yang baik atau memuaskan. Kepuasan
56 pelanggan dapat membentuk persepsi dan selanjutnya dapat memposisikan produk perusahaan di mata pelanggannya, b. Mengukur Kepuasan Pelanggan Bagaimana mengukur kepuasan pelanggan? Diatas tadi disimpulkan bahwa kepuasan pelanggan adalah hasil yang dirasakan atas penggunaan produk dan jasa, sama atau melebihi harapan yang diinginkan. Bagaimana mengetahui hasil yang dirasakan pelanggan melebihi atau kurang dari harapan yang dinginkan?. Kotler 2003 mengemukakan beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengukur kepuasan pelanggan, metode tersebut antara lain: 1.Sistem pengaduan Sistem ini memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk memberikan saran, keluhan dan bentuk ketidak puasan lainnya dengan cara menyediakan kotak saran. Setiap saran dan keluhan yang masuk harus menjadi perhatian bagi perusahaan, sebab saran dan keluhan itu pada umumnya dilandasi oleh pengalaman mereka dan hal ini sebagai bentuk kecintaan mereka terhadap perusahaan..2. Survey pelanggan Survey pelanggan merupakan cara yang umum digunakan dalam mengukur kepuasan pelanggan misalnya, melalui surat pos, telepon, atau wawancara secara langsung. 3.Panel pelanggan
57 Perusahaan mengundang pelanggan yang setia terhadap produk dan mengundang pelanggan yang telah berhenti membeli atau telah pindah menjadi pelanggan perusahaan lain. Dari pelanggan yang setia akan diperoleh informasi tingkat kepuasan yang mereka rasakan dan dari pelanggan yang telah berhenti membeli,perusahaan akan memperoleh informasi mengapa hal itu dapat terjadi. Apabila pelanggan yang telah berhenti membeli ( customer loss rate ) ini meningkat hal ini menunjukkan kegagalan perusahaan dalam memuaskan pelanggan. Implikasi dari pengukuran kepuasan pelanggan tersebut adalah pelanggan dilibatkan dalam pemgembangan produk atau jasa dengan cara mengidentifikasi apa yang dibutuhkan pelanggan. Hal ini berbeda dengan pelanggan dalam konsep tradisional, dimana mereka tidak dalam pengembangan produk, karena mereka berada diluar sistem. Tujuan untuk melibatkan pelanggan dalam pengembangan produk dan jasa adalah agar perusahaan dapat memenuhi harapan pelanggan, bahkan jika mungkin melebihi harapan pelanggan. Persepsi yang akurat mengenai harapan pelanggan merupakan hal yang perlu, namun tidak cukup untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan. Perusahaan harus mewujudkan harapan pelanggan ke dalam desain dan standar kepuasan pelanggan. Desain dan standar kepuasan pelanggan dikembangkan atas dasar harapan konsumen dan prioritasnya. c. Kepuasan Pasien Merupakan dasar yang penting dalam mengukur mutu dari pelayanan. Tingkat kepuasan pasien adalah sangat tergantung pada kinerja penyaji jasa. Kepuasan
58 pelanggan merupakan respon pelanggan terhadap evaluasi yang ia rasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja aktual produk yang dirasakan setelah pemakaiannya. Jadi tingkat kepuasan pasien merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan. Apabila kinerja dibawah harapan, maka pelanggan akan kecewa. Bila kinerja melebihi harapan, pelanggan akan sangat puas..(tjiptono Fandy, 2008). Kepuasan bisa diartikan sebagai upaya pemenuhan sesuatu atau membuat sesuatu memadai ( Tjiptono dan Chandra, 2005 : 195 ). Sedangkan Kotler ( 2003:61 ) mendefinisikan kepuasan sebagai perasaan senang atau kecewa seseorang yang dialami setelah membandingkan antara persepsi kinerja atau hasil suatu produk dengan harapan-harapannya.dari definisi-definisi tersebut di atas dapat disimpulkan, yaitu adanya perbandingan antara harapan dan kinerja/hasil yang dirasakan pelanggan. Harapan pelanggan dibentuk dan didasarkan oleh beberapa faktor, di antaranya pengalaman berbelanja di masa lampau, opini teman dan kerabat, serta informasi dan janji-janji perusahaan dan para pesaing. Tingkat kepuasan pelayanan pasien dari persepsi pasien atau keluarga terdekat. Kepuasan pasien akan tercapai bila diperoleh hasil yang optimal bagi setiap pasien dan pelayanan kesehatan memperhatikan kemampuan pasien dan keluarganya, ada perhatian terhadap keluhan, kondisi lingkungan fisik dan tanggap kepada kebutuhan pasien sehingga tercapai keseimbangan yang sebaik-baiknya antara tingkat rasa puas dan derita serta jerih payah yang harus dialami guna memperoleh hasil tersebut.
59 Ada beberapa metode yang dapat dipergunakan untuk mengukur dan memantau kepuasan pelanggan, diantaranya: 1) Sistem keluhan dan saran Pemberi jasa perlu memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi para pelanggannya untuk menyampaikan saran, pendapat dan keluhan mereka. 2) Survei kepuasan pasien. Melalui survei, akan diperoleh tanggapan dan umpan balik secara langsung dari pelanggan dan juga memberikan tanda positif bahwa pemberi jasa menaruh perhatian kepada pelanggannya. 3) Ghos shopping Metode ini dilaksanakan dengan cara mempekerjakan beberapa orang berperan sebagai pelanggan produk perusahaan pesaing. 4) Lost customer analysis Metode ini dengan menghubungi pelanggannya yang telah berhenti membeli.( Supranto, 2006 ). B. Penelitian yang relevan 1. Penelitian Efektifitas Penerapan Model Praktek Keperawatan Profesional di ruang rawat inap rumah sakit telah dilaksanakan oleh Universitas Gajah Mada Yogyakarta dengan hasil tidak ada pengaruhnya terhadap kepuasan
60 perawat, namun berpengaruh signifikans terhadap kepuasan pasien,hal ini membuktikan bahwa model praktek keperawatan professional ( model TIM ) berpengaruh positif terhadap kepuasan pasien,akan demikian pula dengan model Primer modifikasi seperti yang akan diteliti. ( Desire Farlinda 2011 ) 2. Penelitian tentang hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien telah dilaksanakan oleh Universitas Muhamadiyah Surabaya dengan hasil menujukkan menunjukkan koefisien korelasi (p) = 0,550, Signification (rs ) = 0,007< α 0,05 Sedangkan dalam penelitian yang akan dilakukan dari Model Praktek Keperawatan Profesional sudah khusus mengacu pada Model Primer, walaupun belum semua Perawat primer berbasis urse, sehingga disebut model primer modifikasi.tujuannya untuk mengetahui pengaruh implementasi model primer modifikasi dan komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien dengan menggunakan regresi ganda( Azis Slamet 2006 ) 3. Penelitian tentang pengaruh Komunikasi terapeutik terhadap kepuasan Pasien juga dilaksanakan di Universitas Sumatra Utara dengan hasil penerapan komunikasi terapeutik berpengaruh signifikans terhadap kepuasan pasien. Hal ini relevan terhadap penelitian yang akan penulis lakukan, yang mana juga mengenai pengaruh implementasi komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien.( Salman ) 4. Penelitian tentang Pengaruh persepsi mutu yan Asuhan keperawatan terhadap kepuasan klien rawat Inap dilaksanakan di Universitas Diponegoro dengan hasil mutu yan Asuhan keperawatan berpengaruh signifikan terhadap
61 kepuasan klien. Hal ini relevan terhadap penelitian yang akan penulis lakukan mengenai kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan, yang mana penulis mengkususkan model primer modifikasi dan komunikasi terapeutik. ( Ester unuk ( 2009 ) 5. Kepuasan pasien rawat inap terhadap pelayanan perawat di rawat inap dilaksanakan di Undip dengan hasil dari kelima dimensi mutu menyatakan berpengaruh signifikan walaupun tingkat signifikansinya tidak sama. Hal ini relevan terhadap penelitian yang akan penulis lakukan terkait dengan pelayanan keperawatan. C. Kerangka Pikir Kerangka Pikir Kerangka konseptual atau dapat juga disebut kerangka pikir menjelaskan alur berfikir dalam penelitian ini. Kerangka Konseptual adalah kerangka antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan. (otoatmodjo, 2002 : 21) Berdasarkan deskripsi teori pada Bab sebelumnya, maka dalam penelitian ini dapat dibangun kerangka konseptual atau kerangka berfikir penelitian yang dijelaskan sebagai Pengaruh implementasi model primer modifikasi dan Komunikasi terapeutik terhadap kepuasan seperti berikut :
62 Bagan: 5 Kerangka Pikir D. Hipotesis Hipotesis Penelitian ini adalah : 1. Ada pengaruh implementasi model primer modifikasi terhadap kepuasan Pasien di ruang rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul.
63 Semakin baik implementasi model primer modifikasi semakin tinggi tingkat kepuasan pasien. 2. Ada pengaruh impelementasi komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien di rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul. Semakin baik implementasi komunikasi terapeutik semakin tinggi tingkat kepuasan pasien 3. Ada pengaruh implementasi Model Primer Modifikasi dan komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien di rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul. Semakin baik implementasi model primer modifikasi dan komunikasi terapeutik semakin tinggi tingkat kepuasan pasien
64 BAB III METODOLOGI PEELITIA Metodologi Penelitian adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmu pengetahuan atau pemecahan suatu masalah pada dasarnya menggunakan metode ilmiah (otoatmodjo, 2005 : 19) A. Tempat Penelitian Tempat penelitian ini dilaksanakan di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Waktu Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2013 sampai dengan bulan Desember tahun 2013;. RSUD Panembahan Senopati Bantul adalah Rumah sakit Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul, yang merupakan rumah sakit Tipe B Pendidikan dengan kapasitas tempat tidur 298 TT. Jumlah tenaga perawat/bidan sebanyak 263 orang. Metode penugasan perawat di rawat Inap sejak akhir tahun 2009 menggunakan metode primer modifikasi, bertahap mulai dari ruang percontohan yaitu mula mula ruang Mawar, usa Indah, dan Melati kemudian diikuti oleh semua ruang. B. Waktu Penelitian Penelitian dimulai bulan Oktober 2013 dengan rincian sebagai berikut : Jadwal Penelitian
65 o Jenis kegiata n 1 Proposa l Bimbin gan Semina r 2 Peneliti an Pencari an data Pengola han dan analisis data Pembua tan laporan 3 Semina r hasil Bulan Juli 2013 Agu stus 2013 Sept emb er 2013 Okto ber 2013 ov emb er 2013 Dese mbe r 2013 Janu ari 2014 Febr uari 2014 Mar et 2014 Apri l Ujian Tesis Revisi 5 dan Penges ahan Tesis
66 C. Tatalaksana Penelitian 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dipergunakan dalam peneliti ini adalah metode Correlasional. Dimana metode ini mempunyai tujuan antara lain untuk menggambarkan sistematikanya suatu situasi atau medan, interesan yang nyata dan teliti, serta untuk menyelidiki berbagai ragam rahasia dan unsur yang bersesuaian dengan unsur lain berdasarkan korelasi bilangan 2. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian ini menggunakan metode analitik, dengan pendekatan Cross sectional yaitu Suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antar faktor-faktor risiko dengan efek pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus suatu saat Point time approach. ( otoadmodjo S,2005;146) 3. Bahan Penelitian Sebagai bahan penelitian adalah perawat yang menggunakan sistem penugasan Primer modifikasi dan pasien yang dirawat oleh perawat yang terkait.untuk perawat dulakukan observasi pelaksanaan tugas sesuai tugas masing masing dengan menggunakan lembar cheklis sedangkan untuk memperoleh data kepuasan pasien menggunakan kuesioner yang nantinya diisi oleh pasien yang menjadi tanggung jawab perawat terkait.
67 4. Populasi Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian atau subyek yang diteliti. (otoatmidjo,soekidjo,2005;79) Dalam penelitian ini populasi adalah semua perawat yang bertugas di rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul selain ruang perinatal. Serta semua pasien yang dirawat di ruang rawat inap RSUD Panembahan Senopati bantul saat itu. 5. Sampel Besar sampel adalah Menetapkan besarnya atau jumlah sampel suatu penelitian,tergantung pada dua hal,yaitu:pertama,adanya sumber-sumber yang dapat digunakan untuk menentukan batas maksimal dari besarnya sampel,kedua kebutuhan dari rencana analisis yang menentukan batas minimal dari besarnya sampel.(hidayat,2007;90) Sampel dalam penelitian ini diambil dengan tehnik Proportionte stratifiet rondom sampling ( Sugiyono 2012 ) a. Tiga puluh orang Perawat Primer untuk diobservasi bagaimana implementasi Model Primer Modivikasi dengan menggunakan chek list sesuai job diskripsi Perawat Primer untuk memenuhi kuota minimal sampel. Observasi dilakukan selama dinas pagi. b. Enampuluh Perawat asosiet yang terdiri dari dua perawat asosiet yang membantu satu perawat Primer dalam kelompoknya untuk diobservasi bagaimana implementasi model primer modivikasi dengan menggunakan chek list job diskripsi Perawat asosiet. Observasi dilakukan bersamaan dengan
68 pelaksanaan observasi pada perawat primer yang terkait, bila hanya ada saru perawat asosiet pada pagi hari tersebut maka yang satu lagi dilakukan pada pelaksanaan tugas sore dalam hari tersebut sesuai kelompoknya.. c. Sembilan puluh perawat yang terdiri dari tiga puluh perawat primer dan enam puluh perawat perawat asosiet tersebut diatas untuk diobservasi bagaimana implementasi komunikasi terapeutik dengan menggunakan Standar Operasional prosedur tentang komunikasi terapeutik bersamaan dan dengan cara seperti pada observasi implementasi model primer modivikasi, d. Sembilan puluh pasien yang terdiri dari tiga orang pasien pada masing masing kelolaan satu perawat primer dan dua perawat asosiet diambil secara acak yang bersedia menjadi sampel dari sekitar 6 7 pasien. Yang diminta untuk mengisi kuesioner tentang kepuasan pasien atas implementasi model primer modifikasi dan implementasi komunikasi terapeutik, saat akhir implementasi model primer modivikasi dan komunikasi terapeutik diobservasi. Untuk sampel sebagai unit analisis yaitu sekelompok perawat dalam kelompok Primer yang terdiri dari seorang Perawat primer dan 2 orang perawat assosiet yang dinas pagi dan sore saat tertentu dilakukan observasi dalam pelaksanaan tugas dengan menggunakan lembar cheklist untuk masing masing perawat primer dan perawat assosiet kemudian masing masing skor dijiumlahkan lalu diambil skor rata rata sehingga untuk sekelompok perawat dalam kelompok primer tersebut mempunyai satu skor demikian juga untuk implementasi komunikasi terapeutik demikian. Untuk skor kepuasan pasien, dari 6 8 pasien
69 yang menjadi tanggung jawab perawat terkait akan diambil satu skor dengan memberikan kuesioner kepada 3 pasien yang dirawat dipilih yang mendapat perlakukan lebih banyak dari perawat dan dalam keadaan sadar dan bersedia untuk diteliti, kemudian skor dijumlah dan diambil nilai rata ratanya. 6. Variabel penelitian 1. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini ada dua, yaitu variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variable). a. Variabel bebas (independent variable) adalah : 1) Implementasi Metode primer modifikasi 2) Implementasi komunikasi terapeutik b. Variabel terikat (dependent) adalah : Kepuasan pasien 1 X1 3 Y X2 2 Keterangan : X1 : Implementasi Model primer modifikasi X2 :Implementasi Komunikasi terapeutik Y : Kepuasan pasien 7. Definisi operasional
70 Definisi Operasional adalah Mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati,memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena. (Hidayat,2007;86) Tabel 2. Definisi Operasional Variabel Penelitian Variabel Independen Implementa si model primer modifikasi Implementa si komunikasi terapeutik Definisi Operasional Pelaksanaan Asuhan keperawatan kepada psien dengan model primer modifikasi Pelaksanaan komunikasi terapeutik saat perawat berhubungan dengan pasien terkait program perawatan atau program pengobatan Parameter Pelaksanaan tugas 1. Perawat primer 2. Perawat pelaksana 1. Tahap Pra enteraksi Perawat memahami apa yang akan dilakukan kepeda pasien 2.Tahap Perkenalan Perawat memperkenalkan diri dan menjelaskan apa yang akan dilakukan dan tujuan perlakuan tersebut,member kesempatan pasien untuk bertanya 3.Tahap kerja Perawat mengerjakan dengan trampil dan benar 4.Tahap terminasi Perawat mengakiri tindakan,menjelaskan hasil yang dicapai kepeda pasien serta memberikan penjelasan Alat ukur Chek list Chek list Kuesi Skal a Inter val Inter val Inter Skore 0 : tidak dilakukan 1= kadang kadang 2 : Sering 3 : Selalu 0 :Tidak dilakukan 1:Kadang kadang 2: Sering 3 : Selalu 3=Sangat
71 Dependen Kepuasan pasien Perbandinga n antara yang diharapkan dengan apa yang diterima atau dirasakan pasien terkait pelaksanaan model primer modifikasi dan Komunikasi terapeutik rencana tindak lanjut 1.Tangibles - Penataan ruangan - Penampilan perawat -Kelengkapan alat -sarana informasi/komunikasi 2. Reliability -Kompetensi perawat -Pelayanan cepat tepat -Aman -Ketersediaan perawat 3. Responsiveness -Perawat cepat tanggap terhadap situasi pasien -Perawat cepat bereaksi terhadap keluhan pasien -Bila dibutuhkan cepat datang 4. Assurance - Perilaku perawat menyakinkan - Memberikan jaminan kemanan -Rasa percaya diri perawat tinggi 5. Empaty -Perawat memperhatikan pasien - Perawat memahami pasien -Sikap perawat sopan,sabar dan ramah - Perawat berkomunikasi dengan baik oner val puas 2= Puas 1= Tidak puas 0=SangatTidak Puas 8. Tehnik Pengumpulan Data a. Pengumpulan data
72 1) Macam data Data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui : a) Data primer (skor implementasi model primer modifikasi dan implementasi komunikasi terapeutik ) diperoleh melalui observasi dengan menggunakan lembar cheklist.. Cheklist tentang implementasi model primer modifikasi untuk Perawat primer terdiri dari 16 item, untuk perawat assosiet terdiri dari 16 item, sedangkan untuk komunikasi terapeutik ada 15 item. b) Data primer untuk kepuasan pasien diperoleh dari pasien dengan mengisi kuesioner kepuasan pasien yang terdiri dari 42 item. Data sekunder yang dipergunakan, diperoleh melalui data yang ada di rumah sakit 2) Teknik dan Instrumen untuk Mengumpulkan Data Proses pengumpulan data dilakukan setelah peneliti mendapat persetujuan dari pembimbing penelitian dan telah memperoleh ijin untuk melakukan penelitian tentang Pengaruh Implementasi Model Primer modifikasi dan Komunikasi Terapeutik terhadap Kepuasan pasien di RSUD Panembahan Senopati Bantul dari Ketua Prodi Magister Kedokteran Keluarga US yang selanjutnya diserahkan kepada Direktur RSUD Panembahan Senopati Bantul.Selanjutnya atas izin Direktur RSUD Panembahan Senopati Bantul mulai melakukan penelitian. Langkah pengumpulan data sebagai berikut :
73 1) Menyerahkan surat ijin penelitian kepada Direktur RSUD Panembahan Senopati Bantul. 2) Melakukan observasi Implementasi model primer modifikasi dan komunikasi terapeutik. Untuk dinas pagi dan sore hari itu untuk masing masing perawat dalam kelompok primer modifikasi. 3) Membagikan kuesioner tentang kepuasan pasien kepada 3 orang pasien yang bersedia diantara seluruh pasien yang menjadi tanggung jawab perawat yang terkait.. 4) Melakukan skoring rata rata untuk kelompok implementasi model primer modifikasi dan komunikasi terapeutik sehingga tiap kelompok memperoleh satu skor unit analisis mplementasi model primer modifikasi dan satu skor unit analisis implementasi komunikasi terapeutik. 5) Melakukan skoring rata rata pada 3 pasien yang bersedia mengisi kuesioner untuk mendapatkan.satu unit analisis kepuasan pasien 6) Melakukan pengumpulan data untuk semua sampel. 7) Analisis data dan penarikan kesimpulan. 8) Instrumen penelitian terlampir. b. Uji Validitas dan Reliabilitas 1) Uji Validitas Validitas menunjukkan sejauh mana alat ukur mengukur yang ingin diukur. Dalam penelitian ini pengujian validitas dengan corrected item-total
74 corelation, yaitu dengan cara mengkorelasikan skor tiap item dengan skor totalnya. Teknik statistik yang digunakan untuk mencari koefisien korelasi adalah teknik product moment dari Pearson, dengan menggunakan alat bantu komputer dengan program SPSS for windows dengan rumus sebagai berikut : r = n x n( 2 ( xy) ( x) 2 n x y y) 2 ( y) 2 (Sugiyono, 2005: 37) Keterangan : r = Koefisien korelasi x = Jumlah masing-masing butir y = Jumlah skor total xy = Jumlah antara skor x dan y n = Jumlah subyek Instrumen penelitian dikatakan valid apabila nilai r hitung > r tabel, sebaliknya tidak valid apabila nilai r hitung < r tabel atau valid apabila signifikansi <0,05 dan tidak valid apabila signifikansi > 0,05. Uji Validitas instrument untuk kuesioner tentang kepuasan pasien dengan menggunakan program computer Statistical Pacleage For Scial Sciencis ( SPSS ) Versi For Windows Release, dengan hasil dari 43 item dalam kuesioner tentang kepuasan pasien ada satu item yang tidak valid yaitu item nomer 2 yaitu pada dimensi Tangible isi pertanyaan Fasilitas kamar
75 disiapkan sesuai kebutuhan dengan hasil Pearson Corelasi 0,158 dan significan 0,136 sehingga tinggal 42 item pertayaan dalam kuesioner tentang kepuasan pasien yang dipakai. Uji Reliabelitas dengan menggunakan SPSS untuk 42 item pertanyaan yang dipakai hasilnya Cronbach s Alpha 0,956 ( tabel 3. ) sehingga tingkat reliabelitasnya sangat reliable menurut Anton ugroho. Y. dalam Olah data dengan SPSS ( 2011) Hasil keseluruhan aitem terlampir. Chek List observasi implementasi model primer modivikasi untuk Perawat Primer dan Perawat Asosiet serta chek list observasi implementasi komunikasi terapeutik tidak dilakukan uji validitas maupun reliabelitas. 2) Uji Reliabilitas Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana alat ukur dapat diandalkan atau dipercaya. Apabila alat ukur dipakai dua kali untuk mengukur gejala yang sama dan hasil pengukuran yang diperoleh relatif konsisten, maka alat ukur tersebut reliabel. Pengukuran reliabilitas alat ukur menggunakan reliabilitas konsistensi internal. Setiap pernyataan diuji konsistensinya terhadap variabel penelitian dengan Cronbach s Alpha. Teknik ini merupakan pengujian konsistensi yang cukup sempurna. Pengujian dengan program SPSS for windows Persamaan Cronbach Alpha, sebagai berikut :
76 K r 11 = 1 2 K 1 (Sugiyono, 2005: 43) Dimana : 1 2 b r 11 K = Reliabilitas instrumen = Banyaknya butir pertanyaan 2 b = jumlah varian butir 2 t = Varian total Instrumen dikatakan reliabel bila nilai Croanbach Alpha > 0,60 (Supramono dan Haryanto, 2005). Tabel 3. Hasil Reliabilitas instrument kepuasan pasien Reliability Statistics Cronbach's Alpha of Items Uji Reliabelitas dengan menggunakan SPSS untuk 42 item pertanyaan yang dipakai hasilnya Cronbach s Alpha 0,956 ( tabel 3. ) sehingga tingkat reliabelitasnya sangat reliable menurut Anton ugroho. Y c. Teknik Analisis Sebelum dilakukan analisis data yang ada dikelompokkan berdasarkan keterkaitan kelompoknya. Untuk data implementasi model primer modifikasi
77 satu data implementasi model primer modifikasi oleh seorang PP dikelompokkan dengan dua data implementasi model primer modifikasi oleh Perawat Asosiet yang terkait kemudian dijumlahkan dan diambil satu data rata- rata kemudian disebut variable X₁. Kemudian tiga data implementasi komunikasi terapeutik dari PP dan PA tersebut diatas dikelompokkan dan dijumlahkan kemudian diambil satu data rata rata kemudian disebut variable X₂. Tiga data kepuasan pasien dari pasien kelolaan PP dan Pa terkait dikelompokkan dan dijumlahkan kemudian diambil satu data rata rata, disebut variable Y Kemudian seluruh data berdasarkan keterkaitan dibuat data seperti diatas Tabel 4 Pengelompokan data o X1 X2 Y 1 37, ,3 30,3 70, , ,7 25, ,7 8 34, ,3 33,3 91, , ,3 29,3 88, ,3 32,7 82, ,7 32, , ,7 34,7 88, , , ,3 39,7 83, , ,7 28,3 81
78 21 32, , ,7 26,7 99, ,3 39,7 80, ,3 40, ,3 40, ,3 107, , , ,7 107, ,3 43,3 109,3 Tabel 4. Menunjukkan data setelah dikelompokan X₁ = Variabel Implementasi model primer modifikasi (Variabel Independen) X₂ = Variabel Implementasi Komunikasi Terapeutik ( Var. Independen ) Y = Variabel Kepuasan Pasien ( Var. Dependen ) Untuk menguji hipotesis satu yaitu Kepuasan pasien atas implementasi model primer modifikasi berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kepuasan pasien di ruang rawat inap Panembahan senopati Bantul model analisisnya digunakan analisis regresi linear sederhana dibantu dengan program SPSS for Windows versi 15.0 Persamaan regresi yang digunakan pada hipotesis satu adalah : Y = a + b X₁ di mana : Y a b X₁ = Variabel kepuasan pasien yang diprediksikan = Konstanta dari persamaan regresi = Koefisien regresi dari variabel implementasi model primer modifikasi = Skor unsure faktor Implementasi model primer modifikasi
79 Untuk menguji hipotesis dua yaitu Kepuasan pasien atas implementasi komunikasi terapeutik berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kepuasan pasien di ruang rawat inap Panembahan senopati Bantul model analisisnya digunakan analisis regresi linear sederhana dibantu dengan program SPSS for Windows versi 15.0 Persamaan regresi yang digunakan pada hipotesis dua adalah : Y = a + b X₂ di mana : Y a b X₂ = Variabel kepuasan pasien yang diprediksikan = Konstanta dari persamaan regresi = Koefisien regresi dari variabel implementasi komunikasi terapeutik = Skor unsur faktor implementasi komunikasi terapeutik Model analisis yang digunakan untuk membuktikan hipotesis tiga yaitu Ada pengaruh implementasi model primer modifikasi dan komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien digunakan analisis regresi linier berganda ( Multiple Linier Regression Analysis). Uji ini adalah alat analisis peramalan nilai pengaruh dua variabel bebas atau lebih terhadap satu variabel terikat untuk membuktikan ada atau tidaknya hubungan fungsional atau hubungan kausal antara variabel bebas (independent variable) dengan variabel terikat (dependent variable), (Riduwan, 2003) dibantu dengan program SPSS for Windows versi 15.0 Persamaan regresi yang digunakan pada hipotesis tiga adalah: Y = a + b₁x₁ + b₂x₂ di mana :
80 Y a b₁ X 1 b₂ X 2 = Variabel kepuasan pasien yang diprediksikan = Konstanta dari persamaan regresi = Koefisien regresi dari variabel implementasi model primer modifikasi = Skor unsur faktor variabel implementasi model primer modifikasi = Koefisien regresi dari variabel implementasi komunikasi terapeutik = Skor unsur faktor variabel implementasi komunikasi terapeutik Sebelum model regresi di atas digunakan dalam pengujian hipotesis, terlebih dahulu model tersebut akan diuji apakah model tersebut memenuhi asumsi klasik atau tidak, yang mana asumsi ini merupakan asumsi yang mendasari analisis regresi. Pengujian asumsi klasik ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa model yang diperoleh benar-benar memenuhi asumsi dasar dalam analisis regresi yang meliputi asumsi : Berdistribusi normal ( menggunakan one sample Kolmogorov Smirnov Test ), berdistribusi linier ( menggunakan Anova table ), dan tidak terjadi multikolinearitas (menggunakan VIF Variance Inflation Factor ).
81 BAB IV HASIL PEELITIA DA PEMBAHASA E. GAMBARA UMUM LOKASI PEELITIA Berdasarkan Profil RSUD Panembahan Senopati Bantul Th 2013 : 1. Sejarah perkembangan RSUD Panembahan Senopati Bantul Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati berada di Kota bantul adalah merupakan Rumah sakit Kelas B Pendidikan milik Pemerintah Daerah Tingkat II Bantul, terletak strategis, walaupun bukan pada jalur lalu lintas utama namun mudah dijangkau dan dekat dengan pusat Kota Bantul. Pada awalnya berdiri tahun 1953 sebagai RS HO, kemudian sejak tahun 1967 resmi menjadi Rumah Sakit Umum Kabupaten dengan kapasitas 60 tempat tidur.pada tahun 1978 sebagai RSUD status kelas D.Pada tahun 1993 menjadi RSUD kelas C menurut SK. Menkes.RI o. 202/Menkes/SK/11/1993, tanggal ,Dengan nama RSUD Kabupaten Bantul. Pada tanggal 29 maret 2003 berubah nama menjadi RSUD Panembahan Senopati dengan harapan untuk mengubah citra masyarakat terhadap Rumah Sakit pemerintah agar lebih baik.pada tahun 2007 menjadi RSUD kelas B non Pendidikan menurut SK Menkes RI o 142/menkes/SK/!/2007, tanggal 31 januari Pada tahun 2012 ditetapkan sebagai RSUD kelas B pendidikan menurut SK Menkes RI nomor HK.03.05/III/413/12, tanggal 13 Maret Lulus Akreditasi 5 Pokja bulan ovember 1998, kemudian lulus akreditasi 12 Pokja bulan Desembaer 2010 dengan status penuh berkelanjutan.
82 Pada tanggal 1 Januari 2003 menjadi RS Swadana dengan Perda no 8 tanggal Mulai tahun 2009 pola pengelolaan keuangan sebagai Badan layanan Umum Daerah ( BLUD ) dengan surat Keputusan Bupati Bantul no. 195 tahun 2009 tertanggal 21 Juli Ijin Pendirian o : 445/9539/V.2, tanggal Ijin Penyelenggaraan nmo 445/1835/V. 2, tanggal Visi, Misi, Tujuan dan sasaran Rumah Sakit 1) Visi Terwujudnya Rumah Sakit yang unggul dan menjadi pilihan utama masyarakat bantul dan sekitarnya 2) Misi 1. Memberikan Pelayanan Prima pada customer 2. Meningkatkan profesionalisme Sumber Daya Manusia 3. Melaksanakan peningkatan mutu berkelanjutan (continous quality improvement) 4. Meningkatkan jalinan kerjasama dengan institusi terkait 5. Melengkapi sarana dan prasarana secara bertahap. 6. Melaksanakan Pelayanan Pendidikan dan Penelitian. Misi 1. Memberikan Pelayanan Prima pada customer TUJUA : 1). Terwujudnya proses pelayanan yang berkualitas SASARA :
83 Meningkatnya kualitas proses pelayanan kepada pelanggan Terintegrasikannya proses pelayanan pelanggan 2). erwujudnya kepercayaan dan kepuasan pelanggan SASARA Terintegrasikannya proses pelayanan Meningkatnya kepercayaan pelanggan Meningkatnya kepuasan pelanggan Misi 2 Meningkatkan profesionalisme Sumber Daya Manusia TUJUA 1). Terwujudnya SDM yang produktif,efektif dan esisien SASARA Meningkatnya jumlah SDM yang terlatih Meningkatnya keselamatan pasien 2). Terwujudnya SDM yang berkomitemen SASARA Kelengkapan, ketepatan dan keakuratan administrasi dan pelayanan Meningkatnya disiplin SDM Misi 3 Melaksanakan peningkatan mutu berkelanjutan (continous quality improvement); TUJUA Terwujudnya peningkatan mutu internal dan eksternal
84 SASARA Meningkatnya jenis pelayanan yang terakreditasi Meningkatnya review dan evaluasi pelayanan Misi 4 Meningkatkan jalinan kerjasama dengan institusi terkait TUJUA Terwujudnya standar sarana dan prasarana rumah sakit SASARA Meningkatnya kerjasama pelayanan, operasional dan pendidikan Misi 5 Melengkapi sarana dan prasarana secara bertahap. TUJUA Terwujudnya standar sarana dan prasarana rumah sakit SASARA Meningkatnya kenyamanan bagi pelanggan eksternal dan internal Meningkatnya lingkungan rumah sakit yang sehat dan indah. Misi 6 Menyediakan Pelayanan Pendidikan dan Penelitian TUJUA Terwujudnya rumah sakit sebagai jejaring pelayanan pendidikan dan penelitian
85 SASARA Meningkatnya pelayanan pendidikan dan penelitian bagi institusi dan perorangan Meningkatnya jumlah tenaga pendidik 3. Jenis Pelayanan Rumah Sakit a. Rawat jalan 1). Instalasi gawat darurat 2). Klinik Penyakit Dalam 3) Klinik Penyakit Anak 4). Klinik Penyakit Bedah 5). Klinik Kebidanan dan Kandungan 6). Klinik Kulit & Kelamin 7). Klinik Penyakit Mata 8). Klinik Penyakit T.H.T 9). Klinik Penyakit Syaraf 10). Klinik Penyakit Jiwa 11).Klinik Tumbuh Kembang 12). Klinik Rehabilitasi Medik 13). Klinik Umum/Karyawan 14). Klinik Gigi dan Mulut : a. Gigi Dasar b. Orthodonsi
86 c. Bedah Mulut 15). Klinik Konsultasi Gizi 16). Klinik Konsultasi Psychologi 17). Klinik Ginjal dan hypertensi 18). Klinik Kosmetik Medik 19). Klinik Bedah Ortopedi 20). Klinik Konsultasi Berhenti Merokok 21). Klinik Canna (VCT) 22). Klinik PKBRS b. Rawat Inap 1). RR. Melati I 2).RR Melati II 3). RR. Alamanda I 4). RR Alamanda II 5). RR. Anggrek 6). RR. Flamboyan 7). RR. Bakung 8). RR. Cempaka 9). RR. Pav.usa Indah 10). RR. usa Indah II 11). RR. Pav. Mavar I 12). RR. Pav Mawar II
87 13). RR. Pav. Wijaya Kusuma 14). RR.Pav.Edelweis 15). RR. Perinatal 16). Instalasi Rawat Intensif c. Penunjang Medis 1). Instalasi Bedah Sentral 2). Instalasi Farmasi. 3). Instalasi Radiologi. 4). Instalasi Patologi Klinik / laboratorium 5). Instalasi Gizi 6). IPSRS-IPAL 7). Instalasi Rehabilitasi Medik 8). Unit Elektromedik 9). Unit hemodialisa d. Administrasi dan Keuangan Instalasi Rekam Medik Keuangan / Kasir 4. Gambaran Seksi keperawatan dan Kebidanan Seksi Keperawatan dan Kebidanan merupakan Sub Bidang Keperawatan dan Mutu Rumah sakit mempunyai tugas memberikan bimbingan pelaksanaan Asuhan
88 Keperawatan, Asuhan Kebidanan, pelayanan keperawatan, etika dan mutu keperawatan serta kegiatan pendidikan, pelatihan dan penyuluhan kesehatan Jumlah tenaga Perawat dan Bidan RSUD Panembahan Senopati Bantul adalah 263 orang perawat dan 33 orang Bidan F. Diskripsi data 1. Karakteristik responden Data penelitian diperoleh dari observasi implementasi model primer modifikasi oleh seorang perawat primer dengan chek list Job dis Perawat Primer, dan dua orang perawat asosiet dalam kelompoknya dengan chek list job dis perawat asosiet serta observasi ketiganya untuk implementasi komunikasi terapeutik dengan chek list Standar perasional prosedur ( SOP ) komunikasi terapeutik diambil dalam satu waktu dinas pagi yang sama, bila dinas pagi tersebut hanya ada satu perawat asosiet yang dinas pagi, maka satu lagi diambil saat perawat asosiet dalam kelompoknya dinas sore hari yang sama.untuk tiga kuesioner kepuasan pasien diisi oleh tiga pasien kelolaan di ahkir dinas secara acak siapa yang bersedia menjadi responden. Sehingga dalam satu hari kerja hanya dapat melakukan observasi dan pengumpulan data tentang kepuasan pasien hanya dua kelompok Perawat primer karena sebagai pengumpul data hanya dua orang. Satu kelompok data terdiri dari satu hasil observasi implementasi model primer modifikasi oleh Perawat Primer, dua hasil observasi implementasi model primer modifikasi oleh Perawat Asosiet, tiga hasil observasi
89 implementasi komunikasi terapeutik dari ketiga pertawat dalam kelompok tersebut dan tiga hasil kuesioner kepuasan pasien yang diisi oleh tiga pasien yang dikelola oleh kelompok perawat tersebut dalam satu satuan waktu yang sama. Untuk keseluruhan didapat hasil 30 hasil observasi implementasi model primer modifikasi oleh Perawat Primer. 60 hasil observasi implementasi model primer modifikasi oleh Perawat asosiet, 90 hasil observasi implementasi komunikasi terapeutik oleh Perawat Primer dan Perawat Asosiet serta 90 hasil pengisian kuesioner tentang kepuasan pasien oleh pasien. Berdasarkan data yang diperoleh tersebut diperoleh karakteristik responden seperti disajikan dalam tabel tabel dibawah ini. PERAWAT PRIMER PERAWAT ASOSIET Tabel 5 Karakteristik Responden Jumlah Variabel Klasifikasi Orang Prosentase Janis Laki laki 2 6,7 Kelamin Perempuan 28 93,3 Usia ( tahun ) Jumlah , ,7 Jumlah Pendidikan S1 5 16,7 D4 4 13,3 D Jumlah Janis Kelamin Laki laki 2 3,3 Perempuan 58 96,7 JUmlah
90 Pasien Usia ( tahun ) , , ,3 50 Jumlah 100 Pendidikan D Jenis Kelamin Laki laki Perempuan Jumlah Usia ( tahun ) < , , , Jumlah Pendidikan SD 21 23,3 SLTP 20 22,2 SLTA D3 8 8,9 S1 14 8,6 Jumlah Pekerjaan Pelajar 7 7,8 IRT 24 26,6 Buruh 19 21,1 Swasta 19 21,1 PS 15 16,7 Pensiunan 6 6,7 Jumlah Berdasarkan Tabel 5. dapat diketahui bahwa untuk Perawat primer Laki laki 2 orang ( 6,7% ) sedangkan Perempuan 28 orang ( 93, 3 % ), usia terbanyak antara tahun( 50 % ) kemudian usia ada 13 orang ( 43, 3 % ) hal ini menunjukkan bahwa mayoritas masih dalam usia produktif,artinya bahwa kemampuan bekerja masih tinggi.dari 30 orang PP Pendidikan 21 orang masih D3 Keperawatan, ini untuk menuju model primer masih membutuhkan sarjana keperawatan,ers 21 orang. hal ini dikarenakan
91 yang berpendidikan Sarjana Keperawatan banyak ditugasi sebagai Kepala Ruang. Untuk perawat asosiet Laki laki 2 orang ( 3,3% ) dari 60 PA sedangkan untuk perempuan sebanyak 58 orang ( 96,7% ). Dari 90 Orang perawat primer dan perawat asosiet mayoritas adalah perempuan, hal ini menunjukkan bahwa mayoritas perawat di RSUD Panembahan Senopati Bantul adalah Perempuan. Secara keseluruhan jumlah tenaga Perawat dan Bidan kurang lebih 300 orang untuk laki laki hanya sekitar 15 %. Di Institusi Pendidikan Keperawatanpun dapat dilihat mahasiswanya mayoritas perempuan, hal ini mungkin Profesi perawat belum diminati oleh kaum Laki laki, padahal dalam tugas tugas tertentu sangat membutuhkan kekuatan dan kemampuan Perawat laki laki. Pendidikan sudah memenuhi standard, semua berpendidikan minimal D3. Usia terbanyak usia antara Tahun sebanyak 44 orang ( 73,4% ) usia tersebut mempunyai potensi tinggi untuk dikembangkan. Sehingga dari segi sumber daya manusia mempunyai potensi yang tinggi untuk dikembangkan. Untuk Responden Pasien dari 90 responden perempuan juga lebih banyak yaitu 54 orang ( 60 % ) sedang responden laki laki hanya 36 orang (40%) Pendidikan terbanyak SLTA yaitu 30%, SLTP 22,2 % sedang untuk pekerjaan Ibu rumah tangga 26,6 %, buruh 21,1 % dan swasta 21,1 % hal ini menunjukkan mayoritas pasien menengah kebawah.
92 2. Data Implementasi model primer modifikasi dalam unit analisis Tabel 6 Data Skor Implementasi Model Primer Modifikasi o X₁ 1 37,3 2 37, , ,3 9 38, , , , , , , , , , , , , , , , ,3 1060,5 Skor tertinggi = 45
93 Skor terendah = 24 Mean = 35 Standar Deviasi = 5,9 Sebaran skor X₁ Tinggi sedang Rendah Diagram 1 Sebaran skor Implementasi Model Primer Modifikasi Tinggi skor = > 36,1 42 Sedang skor = > 32,1 36,1 Rendah skor = 32 Dari Diagram 1 dapat dilihat skor Implementasi Model primer Modifikasi yang termasuk skor tinggi hanya 10 ( 33,3% ) yang sedang 9 ( 30 % ), yang rendah 7 ( 23,3 % ) dan sangat rendah 5 ( 16,7 % ) Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa implementasi Model Primer Modifikasi masih belum optimal.
94 3) Data Implementasi Komunikasi terapeutik dalam unit analisis Tabel 7 Data Skor Implementasi Komunikasi terapeutik o X₂ , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,3 1004,7 Skor tertinggi = 43
95 Skor terendah = 24 Mean = 33 Standar Deviasi = 8,2 Sebaran skor X₂ Tinggi Sedang Rendah Diagram 2. Sebaran Skor Implementasi Komunikasi terapeutik Tinggi skor = > 37,2-45,2 Sedang skor = > 28,8 37,2 Rendah skor = 28,8 Dari Diagram 2 dapat dilihat skor Implementasi Model primer Modifikasi yang termasuk skor tinggi hanya 8 ( 36,7 % ) yang sedang 15 ( 50 % ), yang rendah 7 ( 23,3 % ) Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa implementasi Komunikasi Terapeutik belum optimal
96 4) Data Kepuasan Pasien dalam unit analisis Tabel 8. Data Skor Kepuasan Pasien o Y 1 71, , , , , , , , , , , , , , ,3 2626,8 Skor tertinggi = 109
97 Skor terendah = 67 Mean = 88 Standar Deviasi = 13,1 Sebaran skor Y sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah Diagram 3 Sebaran Skor Kepuasan Pasien Sangat tinggi skor = > 106 Tinggi skor = > 94,6 106 Sedang skor = > 74,9 94,6 Rendah akor = > 59,3 74,9 Sangat rendah skor = 59,3 Dari Diagram 3 dapat dilihat skor Kepuasan Pasien yang termasuk skor sangat tinggi hanya 5 ( 16,7 % ) yang Tinggi 3 ( 10 % ), yang sedang
98 8 ( 26,7 % ) rendah 10 ( 33,3 % ) sedang yang sangat rendah 4 ( 13,3 % ) Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa walau ada skor sangat tinggi namun juga ada skor sangat rendah. G. Analisis Data 1. Pengelompokan data Sebelum dilakukan analisis data yang ada dikelompokkan berdasarkan keterkaitan kelompoknya. Untuk data implementasi model primer modifikasi satu data implementasi model primer modifikasi oleh seorang PP dikelompokkan dengan dua data implementasi model primer modifikasi oleh Perawat Asosiet yang terkait kemudian dijumlahkan dan diambil satu data rata- rata kemudian disebut variable X₁. Kemudian tiga data implementasi komunikasi terapeutik dari PP dan PA tersebut diatas dikelompokkan dan dijumlahkan kemudian diambil satu data rata rata kemudian disebut variable X₂. Tiga data kepuasan pasien dari pasien kelolaan PP dan Pa terkait dikelompokkan dan dijumlahkan kemudian diambil satu data rata rata, disebut variable Y Tabel 9. Skor X₁, X₂ dan Y o X1 X2 Y 1 37, ,3 30,3 70, ,
99 6 27,7 25, ,7 8 34, ,3 33,3 91, , ,3 29,3 88, ,3 32,7 82, ,7 32, , ,7 34,7 88, , , ,3 39,7 83, , ,7 28, , , ,7 26,7 99, ,3 39,7 80, ,3 40, ,3 40, ,3 107, , , ,7 107, ,3 43,3 109,3 Tabel 9 Menunjukkan data setelah dikelompokan X₁ = Variabel Implementasi model primer modifikasi (Variabel Independen) X₂ = Variabel Implementasi Komunikasi Terapeutik ( Var. Independen ) Y = Variabel Kepuasan Pasien ( Var. Dependen )
100 2. Analisis Regresi a. Pra syarat Analisis Regresi Sebelum model regresi di atas digunakan dalam pengujian hipotesis, terlebih dahulu model tersebut akan diuji apakah model tersebut memenuhi asumsi klasik atau tidak, yang mana asumsi ini merupakan asumsi yang mendasari analisis regresi. Pengujian asumsi klasik ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa model yang diperoleh benar-benar memenuhi asumsi dasar dalam analisis regresi yang meliputi asumsi : Berdistribusi normal ( menggunakan one sample Kolmogorov Smirnov Test ), berdistribusi linier ( menggunakan Anova table ), dan tidak terjadi multikolinearitas (menggunakan VIF Variance Inflation Factor ) 1). Uji normalitas Tabel 10. Hasil uji ormalitas Variabel KZ P Keterangan X₁ 0,487 0,972 ormal X₂ 0,990 0,281 ormal Y 0,673 0,756 ormal Data dari diambil dari lampiran halaman 169 Dari data tabel 10. P > 5% sehingga X₁, X₂ dan Y berdistribusi normal
101 2).. Uji Linierita Tabel 11. Hasil Linieritas Variabel F P Keterangan X₁ Y 2, Linier X₂ Y 3,077 0,083 Linier Data diambil dari lampiran halaman 170 Berdasarkan data pada tabel 11. didapatkan X₁ dan X₂ terhadap Y berdistribusi linier 3). Uji Multikolinieritas Tabel 12. Hasil Uji Multikolinieritas Variable Tolerance VIF Ket X₁ 0,508 1,968 Tak berpengaruh X₁ 0,506 1,968 Tak berpengaruh Data diambil dari lampiran halaman 171 Dari tabel 12. dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai VIF X₁ dan X₂ ( variabel Independen ) 1,968 < 10 sehingga dapat dinyatakan efek multikolinearitas bukan masalah yang berarti dalam perhitungan ( Anton ugroho.y, 2011 )
102 b. Analisis Regresi sederhana Untuk membuktikan Hipotesis 1 dan 2 yaitu : 1. Ada pengaruh implementasi model primer modifikasi terhadap kepuasan Pasien di ruang rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul. Semakin baik implementasi model primer modifikasi semakin tinggi tingkat kepuasan pasien. 2. Ada pengaruh impelementasi komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien di rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul. Semakin baik implementasi komunikasi terapeutik semakin tinggi tingkat kepuasan pasien Menggunakan analisis Regresi Sederhana. 1. Hipotesis 1 Ada pengaruh implementasi model primer modifikasi terhadap kepuasan Pasien di ruang rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul. Semakin baik implementasi model primer modifikasi semakin tinggi tingkat kepuasan pasien. Persamaan Regresi Y = a + b X₁ di mana : Y = Variabel kepuasan pasien yang diprediksikan
103 a b = Konstanta dari persamaan regresi = Koefisien regresi dari variabel implementasi model primer modifikasi X₁ = Skor unsure faktor Implementasi model primer modifikasi Dengan bantuan computer dengan program SPSS for windows didapat : Tabel 13. Hasil Uji Hipotese 1 Variable F Sig X₁ Y 23, 169 0,000 Data diambil dari lampiran halaman 173 Berdasar tabel 13 didapatkan F hit = 23,169, akan dibandingkan dengan F tab ( 1,28 ) = 4,20 maka dapat dilihat F hit > F tab = 23,169 > 4,20 dengan demikian dinyatakan bahwa implementasi model primer modifikasi berpengaruh terhadap kepuasan pasien P = 0,000 < dari 5% ( 0,05 ) maka dapat dinyatakan implementasi model primer modifikasi berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien. Tabel 14. Hasil Uji Determinan Hipotese 1 Variable R R squared X₁ Y 0, 673 0,453 Data diambil dari lampiran halaman 173
104 Berdasar tabel 14 didapatkan R² = 0,453 dapat dinyatakan bahwa pengaruh implementasi model primer modifikasi terhadap tingkat kepuasan pasien sebesar 45,3 % koefisen korelasi R = 0,673 berarti tingkat hubungan Kuat ( Sugiyono,2012 ) Tabel 15. Hasil Uji Koefficien persamaan regresi sederhana X₁ Y Variable Coefficien X₁ 1,499 Constanta 34,579 Data diambil dari lampiran halaman 174 Berdasar pada tabel 15 dapat dibuat persamaan regresi sederhana yaitu: Y = 34, ,499 X₁ Berdasarkan tabel 13,tabel 14 dan tabel 15 : dapat ditarik kesimpulan Hipotese 1 diterima bahwa : Ada pengaruh implementasi Model Primer Modifikasi terhadap kepuasan pasien di rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul. Semakin baik implementasi model primer modifikasi semakin tinggi tingkat kepuasan pasien 2. Hipotesis 2 Ada pengaruh impelementasi komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien di rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul.
105 Semakin baik implementasi komunikasi terapeutik semakin tinggi tingkat kepuasan pasien Persamaan Regresi Y = a + b X₂ di mana : Y a = Variabel kepuasan pasien yang diprediksikan = Konstanta dari persamaan regresi b = Koefisien regresi dari variabel implementasi komunikasi terapeutik X₂ = Skor unsure faktor Implementasi komunikasi terapeutik Dengan bantuan computer dengan program SPSS for windows didapat: Tabel 16. Hasil Uji Hipotese 2 Variable F Sig X₂ Y 23, 739 0,000 Data diambil dari lampiran halaman 175 Berdasar tabel 16 didapatkan F hit = 23,739, akan dibandingkan dengan F tab ( 1,28) = 4,20 maka dapat dilihat F hit > F tab = 23,739 > 4,20 dengan demikian dinyatakan bahwa implementasi komunikasi terapeutik berpengaruh terhadap kepuasan pasien
106 P = 0,000, dari 5% ( 0,05 ) maka dapat dinyatakan implementasi komunikasi terapeutik berpengaruh dignifikan terhadap kepuasan pasien. Tabel 17. Hasil Uji Determinan Hipotese 2 R R squared X₂ Y 0, 677 0,459 Data diambil dari lampiran halaman 175 Berdasar tabel 17 didapatkan R² = 0,459 dapat dinyatakan bahwa pengaruh antara implementasi komunikasi terapeutik terhadap tingkat kepuasan pasien sebesar 45,9 %, koefisien korelasi R = 0,677 berarti tingkat hubungan kuat. Tabel 18. Hasil Uji Koefficien persamaan regresi sederhana X₂ Y Variable Coefficien X₂ 1,653 Constanta 32,207 Data diambil dari lampiran halaman 176 Berdasar pada tabel 18 dapat dibuat persamaan regresi sederhana yaitu: Y = 32, ,653 X₂ Berdasarkan tabel 16 tabel 17 dan tabel 18 : dapat ditarik kesimpulan :
107 Hipotese 2 diterima bahwa : Ada pengaruh implementasi komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien di rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul. Semakin baik implementasi komunikasi terapeutik semakin tinggi tingkat kepuasan pasien c. Analisis Regresi Ganda Untuk membuktikan Hipotesis 3 yaitu : Ada pengaruh implementasi Model Primer Modifikasi dan komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien di rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul. Semakin baik implementasi model primer modifikasi dan komunikasi terapeutik semakin tinggi tingkat kepuasan pasien Menggunakan analisis Regresi ganda Hipotesis 3 Ada pengaruh implementasi Model Primer Modifikasi dan komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien di rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul. Semakin tinggi tingkat implementasi model primer modifikasi dan komunikasi terapeutik semakin tinggi pula tingkat kepuasan pasien Persamaan regresi ganda Y = a + b₁x₁ + b₂x₂ di mana : Y = Variabel kepuasan pasien yang diprediksikan
108 a b₁ = Konstanta dari persamaan regresi = Koefisien regresi dari variabel implementasi model primer modifikasi X 1 b₂ = Skor unsur faktor variabel implementasi model primer modifikasi = Koefisien regresi dari variabel implementasi komunikasi terapeutik X 2 = Skor unsur faktor variabel implementasi komunikasi terapeutik Dengan bantuan computer dengan program SPSS for windows didapat : Tabel 19. Hasil Uji Hipotese 3 Variable F Sig X₁, X₂ Y 15,584 0,000 Data diambil dari lampiran halaman 176 Berdasar tabel 19 didapatkan F hit = 15,584, akan dibandingkan dengan F tab ( 2,27) = 3,35 maka dapat dilihat F hit > F tab = 15,584 > 3,35 dengan demikian dinyatakan bahwa implementasi model primer modifikasi dan implementasi komunikasi terapeutik secara bersama sama berpengaruh terhadap kepuasan pasien P = 0,000, dari 5% ( 0,05 ) maka dapat dinyatakan implementasi model primer modifikasi dan implemntasi komunikasi terapeutik secara bersama sama berpengaruh dignifikan terhadap kepuasan pasien.
109 Tabel 20. Hasil Uji Determinan Hipotese 3 R R squared X₁, X₂ Y 0, 732 0,536 Data diambil dari lampiran halaman 177 Berdasar tabel 20 didapatkan R² = 0,536 dapat dinyatakan bahwa pengaruh antara implementasi model primer modifikasi dan komunikasi terapeutik secara bersama sama terhadap tingkat kepuasan pasien sebesar 53,6%, koefisien korelasi R = 0,732 berarti tingkat hubungan kuat. Tabel 21. Hasil Uji Koefficien persamaan regresi sederhana X₁,X₂ Y Variable Coefficien X₁ 0,867 X₂ 0,986 Constanta Data diambil dari lampiran halaman 177 Tabel 22. Sumbangan relative dan sumbangan efektif SE R2 SR X₁ 26,2 0,536 48,8 X₂ 27,4 0,536 51,2 Data diambil dari lampiran halaman 178
110 Berdasar pada tabel 21 dapat dibuat persamaan regresi sederhana yaitu: Y = 23, ,867X₁ + 0,986X₂ Berdasarkan tabel 22 didapatkan Sumbangan Relatif X₁ sebesar 48,8% dan X₂ sebesar 51,2 % secara bersama sama terhadap Kepuasan pasien Sumbangan Efektif X₁ sebesar 26,2 % dan X₂ sebesar 27,4% secara bersama sama terhadap Kepuasan pasien Sumbangan Relatif X₁ sebesar 48,8% dan X₂ sebesar 51,2 % secara bersama sama terhadap Kepuasan pasien Sumbangan Efektif X₁ sebesar 26,2 % dan X₂ sebesar 27,4% secara bersama sama terhadap Kepuasan pasien Berdasarkan tabel 19, tabel 20 dan tabel 21 : dapat ditarik kesimpulan : Hipotese 3 diterima bahwa Ada pengaruh implementasi Model Primer Modifikasi dan komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien di rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul. Semakin baik implementasi model primer modifikasi dan komunikasi terapeutik semakin tinggi tingkat kepuasan pasien H. Pembahasan 1. Dari gambaran tempat penelitian dalam sejarah perkembangan Rumah Sakit, RSUD Panembahan Senopati bantul mengalami perkembangan
111 yang pesat baik dari fasilitas, ketenagaan dan kemampuan mengantisipasi perkembangan kebutuhan akan kesehatan sehingga dengan cepat menjadi Rumah Sakit Tipe B Pendidikan yang pertama di Yogyakarta yang milik Pemerintah daerah. Dengan Visi, Misi dan Motto yang dibuat memberi pacuan dan kesempatan untuk mengoptimalkan diri dalam memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat Bantul dan sekitarnya. 2. Dari gambaran karakteristik responden, untuk tenaga keperawatan minimal sudah DIII Keperawatan dan terlihat banyak yang melanjutkan ke jenjang pendidikan S1, mereka yang belum melanjutkan ke jenjang S1 minatnya untuk melanjutkan ke jenjang S1 juga tinggi. Untuk jumlah tenaga dibanding dengan kebutuhan dalam penerapan model primer masih belum standard sehingga jumlah pasien yang menjadi kelolaan masih terlampau banyak kadang sampai 15 pasien dalam satu kelompok perawat primer sehingga kadang terlihat beban kerja terlalu berat. Usia perawat hampir 60 % berusia 20 s/d 39 tahun dimana dalam usia tersebut masih sangat produktif dan masih respon terhadap perubahan sehingga berpotensi untuk dikembangkan dan ditingkatkan kualitasnya. Hal ini juga tertangkap oleh pihak Manajemen sehingga selalu berusaha untuk mensuport mereka agar meningkatkan kualitas pelayanan.
112 Untuk Pasien masih terlihat banyak dari masyarakat menengah kebawah, hal tersebut mungkin karena Rumah Sakit Pemerintah yang harus memfasilitasi kebutuhan kesehatan bagi masyarakat miskin, sampai ampai karena begitu loyalnya terhadap masyarakat miskin, membuat aturan Rumah Sakit yang mana tidak boleh menolak masyarakat miskin selama masih ada tempat tidur yang kosong, Dengan adanya fasilitas baik tenaga medis dan non medis yang sudah memadai dan dengan tekad yang tinggi akan mampu menarik minat masyarakat menengah keatas, dan memang Rumah Sakit Panembahan Senopati Bantul masih sangat memungkinkan untuk dikembangkan kearah sana. 3. Dalam penugasan perawat dengan model primer, sekelompok perawat yang terdiri dari satu perawat primer dan tiga atau empat perawat asosiet yang merawat pasien kelolaan mulai dari datang sampai pulang memungkinkan perawat mengenal pasien dengan baik apalagi dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien baik bio,psiko,sosiodan cultural secara komprehensif. Sehingga perawat yang mengelola pasien tersebut mengerti dan memahami kebutuhan pasien secara menyeluruh terkait dengan penyakitnya yang membutuhkan pelayanan keperawatan.dengan begitu dengan implementasi model primer modifikasi yang baik akan menghasilkan kebutuhan pasien terpenuhi dengan begitu pasien akan merasa puas.
113 Dari data yang diperoleh melalui observasi terhadap 30 Perawat primer didapatkan hasil untuk Implementasi Model primer Modifikasi, dari 30 Perawat Primer yang berbasis pendidikan S1 atau D IV hanya 10 orang, hal ini dikarenakan banyak yang berpendidikan S1 ditarik menjabat kepala Ruang, sehingga belum sepenuhnya dikatakan model primer, walaupun dalam pelaksanaan mengacu job diskription model primer, sehingga memang ada beberapa skor yang diperoleh rendah.hal ini mungkin secara pribadi belum mau berubah atau mungkin karena kurangnya evaluasi, dimana sepertinya belum pernah dilakukan audit kepatuhan terhadap job diskription.amun dengan adanya minat yang tinggi untuk melanjutkan ke jenjang S1 dan masih banyak yang berusia produktif maka tidak lama lagi akan terpenuhi untuk menerapkan model primer dan akan mendapatkan hasil yang lebih tinggi atau lebih baik. Sedangkan untuk Perawat asosiet justru yang usia tua yang mendapatkan skor rendah hal ini terlihat karena sudah terbiasa dengan model fungsional sehingga sangat sukar untuk diubah, namun mereka hanya tinggal beberapa sehingga bukan merupakan masalah untuk meningkatkan kinerja perawat.kaitannya dengan kepuasan pasien, diperoleh hasil F hit = 23,169, akan dibandingkan dengan F tab ( 1,28 ) = 4,20 maka dapat dilihat F hit > F tab = 23,169 > 4,20 dengan demikian dinyatakan bahwa implementasi model primer modifikasi berpengaruh terhadap kepuasan pasien dan P = 0,000 < dari 5% ( 0,05 ) maka dapat dinyatakan implementasi model primer modifikasi berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien. R² = 0,453 dapat
114 dinyatakan bahwa pengaruh implementasi model primer modifikasi terhadap tingkat kepuasan pasien sebesar 45,3 % yang 54,7% ditentukan oleh factor lain koefisen korelasi R = 0,673 hal ini menunjukkan korelasi antara implementasi model primer modifikasi terhadap kepuasan pasien termasuk kuat (Sugiyono 2012 ) hal ini sesuai dengan keuntungan model primer dari pada dengan model yang lain, dalam model primer pasien akan terpenuhi kebutuhannya secara berkesinambungan dan komprehensif apa yang dibutuhkan untuk meningkatkan derajad kesehatannya terpenuhi dan terbukti berpengaruh yang signifikan terhadap kepuasan pasien. Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Desire.F ( 2011) di ruang rawat inap Rumah Sakit Advent Bandung bahwa penerapan praktek keperawatan Profesional berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien., walaupun dinyatakan tidak berpengaruh terhadap kepuasan perawat,mungkin hal itu disebabkan pelaksanaan model Tim Primer tersebut belum menjadi perilaku perawat saat itu. Dengan keadaan ketenagaan yang banyak berusia produktif dan semangat yang tinggi serta manajemen yang peduli akan mampu mengubah keadaan yang sekarang menjadi yang jauh lebih baik, apalagi dengan hasil persamaan regresi Y = 34, ,499 X₁ yang menujukkan bila implementasi model primer modifikasi misalkan dinaikan menjadi sepuluh maka Kepuasan menjadi 34,579 + (1,499 x 10) = 34, ,99 = 49,57.Dengan hasil yang ada diharapkan dapat menjadi pertimbangan pihak
115 mamajemen untuk mengambil kebijakan, menerapkan model primer modifikasi sesuai SOP/Job diskription sehingga complain tentang kecepatan perawat dalam bertindak tidak muncul lagi. 4. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang terapeutik antara perawat dan pasien, dari beberapa phase yang saling terkait dan dilaksanakan dengan baik akan mendukung tindakan perawat dengan baik dan benar serta mengikut sertakan pasien dalam proses tindakan yang dilakukan perawat dalam merawat dirinya, sehingga pasien akan memberikan kerjasama yang dibutuhkan dan mengurangi kecemasan. Bila hal tersebut dilaksanakan dengan baik maka pasien akan merasa nyaman dan percaya akan tindakan yang dilakukan perawat adalah untuk menolong memenuhi kebutuhan dirinya dalam pemberian asuhan keperawatan kepada dirinya, yang akirnya akan memberikan rasa puas kepada pasien karena hal yang dirasakan sesuai atau justru melampaui harapannya.( Suryani 2005 ) Untuk implementasi Komunikasi terapeutik skor yang didapat hampir 70 % sedang dan rendah hal itu menunjukkan implementasi komunikasi terapeutik belum seluruhnya dilaksanakan sesuai dengan SOP yang ada. Skor yang paling rendah didapatkan pada item tentang persiapan alat. Hal ini karena alat yang masih kurang atau dalam menyiapkan kurang memperhatikan kebutuhan alat yang dipakai saat melaksanakan tindakan, sehingga kesan tidak siap atau justru kesan tidak professional akan muncul dalam perasaan pasien..untuk ruang yang memang alat masih kurang perlu
116 dievaluasi dan kalau perlu dipenuhi kebutuhan alat yang dibutuhkan.kemudian item tentang menjelaskan tujuan tindakan kepada pasien dan memberikan kesempatan untuk bertanya juga masih banyak yang tidak melakuan.hal ini bagi yang belum biasa melakukan akan terasa merepotkan seolah tidak berguna,namun sebetulnya sangat berguna bagi pasien karena tahu apa yang akan dilakan pada dirinya dan memberi rasa aman sehingga tenang tidak cemas,dan masih ada beberapa item yang lain. Oleh karena itu perlu ditingkatkan pelaksanaan komunikasi terapeutik sesuai SOP.. Komunikasi terapeutik memunculkan rasa nyaman dan aman pada pasien dan mendekatkan hubungan perawat pasien sehingga memunculkan rasa percaya terhadap asuhan yang diberikan oleh perawat kepadanya, serta pasien merasa diikut sertakan dalam penanganan dirinya. ( Salman 2010 ). Oleh karena itu Komunikasi terapeutik sangat diperlukan dalam hubungan perawat pasien sehingga pasien akan menjadi pelanggan yang loyal. Kaitannya dengan kepuasan pasien diperoleh hasil F hit = 23,739, akan dibandingkan dengan F tab ( 1,28) = 4,20 maka dapat dilihat F hit > F tab = 23,739 > 4,20 dengan demikian dinyatakan bahwa implementasi komunikasi terapeutik berpengaruh terhadap kepuasan pasien P = 0,000, dari 5% ( 0,05 ) maka dapat dinyatakan implementasi komunikasi terapeutik berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien. R² = 0,459 dapat dinyatakan bahwa pengaruh antara implementasi komunikasi terapeutik terhadap tingkat kepuasan pasien sebesar 45,9 %,
117 koefisien korelasi R = 0,677 berarti tingkat hubungan kuat.dengan hasil persamaan regresi Y = 32, ,653 X₂ yang mengandung arti bila implementasi komunikasi terapeutik misalkan ditingkatkan menjadi 10 maka kepuasan pasien = 32,207 + (1.653 x 10 ) = 32, ,53 =48,74 ( Sugiyono 2012 ). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Salman. ( 2010 ) di Rumah sakit Haji Medan dengan hasil implementasi komunikasi berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien. Oleh karena itu karena implementasi model primer modifikasi belum dilakukan dengan optimal maka perlu ditindak lanjuti dengan meningkatkan implementasi komunikasi terapeutik sesuai SOP yang ada, kemudian secara periodik dievaluasi pelaksanaannya.dengan demikian pasien akan merasa nyaman, percaya dengan penanganan yang diberikan kepadanya sehingga akhirnya akan merasa puas dan menjadi pelanggan tetap bila membutuhkan bantuan untuk penanganan kesehatannya.dengan tenaga yang masih banyak yang produktif maka berpeluang besar untuk membuat perubahan kearah yang diinginkan oleh pihak Manajemen.Sehingga complain pasien mengenai perawat yang tidak ramah akan berkurang atau bahkan hilang. 5. Untuk implementasi model primer modifikasi dan komunikasi terapeutik didapatkan hasil F hit = 15,584, akan dibandingkan dengan F tab ( 2,27) = 3,35 maka dapat dilihat F hit > F tab = 15,584 > 3,35 dengan demikian dinyatakan bahwa implementasi model primer modifikasi dan
118 implementasi komunikasi terapeutik secara bersama sama berpengaruh terhadap kepuasan pasien P = 0,000, dari 5% ( 0,05 ) maka dapat dinyatakan implementasi model primer modifikasi dan implemntasi komunikasi terapeutik secara bersama sama berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien. R² = 0,536 dapat dinyatakan bahwa pengaruh antara implementasi model primer modifikasi dan komunikasi terapeutik secara bersama sama terhadap tingkat kepuasan pasien sebesar 53,6%, sedangkan yang 46,4 ditentukan oleh factor lain koefisien korelasi R = 0,732 berarti tingkat hubungan kuat, ternyata lebih kuat dari pada masing masing variable sendiri sendiri. Dengan persamaan regresi Y = 23, ,867X₁ + 0,986X₂ yang berarti bila X₁ dan X₂ masing masing dinaikan 10 maka kepuasan pasien menjadi 23,869 + ( 0,867 x 10 ) + ( 0,986 x 10 ) = 23, ,67 + 9,86 = ( Sugiyono 2012 ) didapatkan Sumbangan Relatif X₁ sebesar 48,8% dan X₂ sebesar 51,2 % secara bersama sama terhadap Kepuasan pasien Sumbangan Efektif X₁ sebesar 26,2 % dan X₂ sebesar 27,4% secara bersama sama terhadap Kepuasan pasien Sumbangan Relatif X₁ sebesar 48,8% dan X₂ sebesar 51,2 % secara bersama sama terhadap Kepuasan pasien Sumbangan Efektif X₁ sebesar 26,2 % dan X₂ sebesar 27,4% secara bersama berpengaruh signifikan dan kuat terhadap kepuasan pasien dan pengaruhnya
119 hampir sama antara implementasi model primer modifikasi dan implementasi komunikasi terapeutik. Dengan demikian secara bersama akan meningkatkan tingkat kepuasan pasien,dan pengaruhnya lebih kuat daripada masing masing variable sendiri sendiri. Sehingga untuk lebih meningkatkan kepuasan pasien perlu ditingkatkan baik implementasi model primer modifikasi dan implementasi komunikasi terapeutik dengan begitu diharapkan complain tentang kinerja maupun sikap perawat terhadap pasien akan berkurang atau bahkan akan menghilang. I. Keterbatasan Penelitian a. Uji coba instrument untuk mengetahui validitas dan Reliabelitas Instrumen tidak bisa dilakukan karena Rumah Sakit yang se Tipe Rumah Sakit panembahan Senopati bantul dan menggunakan metode penugasan Perawat dengan model Primer Modifikasi sukar ditemukan sehingga menggunakan uji coba terpakai dengan demikian untuk hasil pada item yang tidak valid tidak dipakai. b. Jumlah pasien yang diteliti 90, dua diantaranya berumur 7 tahun dan 9 tahun yang belum mampu untuk mengisi kuesioner sehingga diisi oleh orang tua pasien dan orang tua pasien tersebut menunggui selama dilakukan observasi implementasi model primer modifikasi dan komunikasi terapeutik pada perawat primer dan perawat asosiet yang mengelola pasien tersebut.
120 BAB V KESIMPULA DA SARA A. KESIMPULA Berdasarkan hasil penelitian tentang Pengaruh Implementasi Model Primermodifikasi dan Implementasi Komunikasi Terapeutik terhadap Kepuasan Pasien di Ruang Rawat Inap (RSUD Panembahan Senopati Bantul) Dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Implementasi Model Primer Modifikasi berpengaruh positif yang signifikan terhadap Kepuasan Pasien di Ruang Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul. Semakin tinggi Implementasi Model Primer Modifikasi semakin tinggi pula tingkat Kepuasan Pasien di Ruang Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul. 2. Implementasi Komunikasi Terapeutik berpengaruh positif yang signifikan terhadap Kepuasan Pasien di Ruang rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul. Semakin tinggi implementasi Komunikasi Terapeutik semakin tinggi pula tingkat Kepuasan Pasien di Ruang Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul.
121 3. Implementasi Model Primer Modifikasi dan Implementasi Komunikasi Terapeutik secara bersama sama berpengaruh positif yang signifikan terhadap tingkat kepuasan Pasien di Ruang Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul.Semakin tinggi Implementasi Model primer Modifikasi dan Komunikasi terapeutik secara bersama sama semakin tinggi pula tingkat Kepuasan Pasien di Ruang Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul Denagan sumbangan relatif maupun efektif dari Implementasi Model Primer Modifikasi dan Implementasi Komunikasi terapeutik hampir sama. B. SARA DA IMPLIKASI 1. IMPLIKASI Hasil yang didapat dalam implementasi model primer modifikasi berpengaruh signifikan dan kuat, demikian juga hasil implementasi komunikasi terapeutik.implementasi secara bersama sama jugan berpengaruh signifikan dan kuat dan hasilnya lebih memuaskan dari pada implementasi model primer modifikasi sendiri dan komunikasi terapeutik sendiri.pengaruhnyapun masing masing juga hampir sama kuatnya.dengan demikian bilan implementasi model primer modifikasi dilaksanakan dengan lebih baik maka kepuasan pasien akan meningkat, demikian pula implementasi komunikasi terapeutik dan secara bersama sama dilaksanakan dengan lebih baik akan semakin meningkatkan
122 kepuasan pasien.sehingga secara bersama sama dilakukan lebih baik akan semakin meningkatkan kepuasan pasien. 2. SARA a. Bagi Perawat : Setiap Perawat selalu berupaya melaksanakan model primer modifikasi dan komunikasi terapeutik agar meningkatkan kepuasan Pasien. b. Bagi Peneliti lain a. Penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan responden seluruh perawat dan seluruh pasien Rawat Inap. Agar hasil penelitian menjadi lebih luas. b. Penelitian ini terbatas pada masalah yang berkaitan dengan kepuasan Pasien dalam Implementasi Model primer Modifikasi dan Komunikasi terapeutik, hal ini perlu ditindak lanjuti bagaimana implikasi terhadap perawat itu sendiri dan tim Kesehatan lain.
123 DAFTAR PUSTAKA Anwar, Saifudin Metode Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Arikunto Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Edisi Revisi IV Jakarta : EGC Aditama Tjandra 2010 Manajemen Administrasi Rumah Sakit. Edisi kedua Jakarta : UI Press Anton ugroho.y Olah data dengan SPSS Cetakan pertama.yogyakarta : Skripta Aziz Alimul Hidayat Metode Penelitian Kebutuhan dan Teknik Analisa Jakarta : Salemba Medika. Data. Bimo, T 2009 Evaluasi Penerapan Model Praktik Keperawatan Primer di Ruang Maranata I RS mardi Rahayu Kudus : diunduh tanggal 12 juli 2013 Desire, F. S2011 Efektifitas Penerapan Praktek Keperawatan professional di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Advent Bandung Yogykarta,UGM iew&typ=html&buku_id=52029&obyek_id=4 diunduh tgl 14 Sep, 2013 Departemen Kesehatan Republik Indonesia Undang undang republik Indonesia o 44 tahun 2009 Tentang Kesehatan, Jakarta Dep Kes RI Depkes RI, Standar Pelayanan Rumah Sakit. Direktorat Jendral Pelayanan Medik, cetakan ketiga, Jakarta 1997 Doengoes,M.E.2000 ursing Care Plane, Guedelines for Planing and Documentating Patient Care Edisi IV. Jakarta: penerbit Buku Kedokteran. EGC. Ghony, M. Djunaedi Pedoman Didalam Penelitian dan Penilaian. Surabaya : Usaha asional. Gafar L.O.J.Pengantar Keperawatan profesional. EGG. Jakarta Gaspersz, Vincent Manajemen Kualitas dalam Industri Jasa. Gramedia 2002.,Jakarta, Hadi, Sutrisno Metodologi Research. Yogyakarta : Fakultas Psikologi UGM. Hidayat Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika
124 Joko Wiyono, Manajemen Mutu Pelayanan kesehatan, vol 2. Airlangga University Press, Surabaya, 1999 Kusnanto,H,2004, Metode kualitatif dalam riset kesehatan, PSIK.M Pascasarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Kozier, B,Erb, K.B. & Wilkonson,J.M Fundamental of anursing Concep process and practise. Fith Edition. Addison Wesley, Redwood City. Kotler Edisi Milenium. Manajemen PT Prenhalindo Pemasaran. Jakarta: Laddy, S,& Pepper,JM Conceptual Bases of Professional ursing Ihird Edition, JB. Lippincott Company, Philadelphia. otoatmodjo Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. unuk Ester 2009 Analisis Pengaruh Persepsi mutu yan asuhan keperawatan terhadap kepuasan klien rawat inap di RSU Puri asih Solotigo Semarang Undip diunduh tgl 26 oktober 2013 ursalam 2002 Manajemen keperawatan Aplikasi dalam Praktik keperawatan Prifesional. Salemba Medika, Jakarta ursalam Konsep dan Penerapan Metode Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika. ursalam 2011 Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam praktek keperawatan profesional. Edisi ketiga. Jakarta Salemba medika Putra Panca A.. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja tenaga Perawat di Instalasi Rawat Inap RSU FK UKI. Tesis S2 PPARS UI, Jakarta, 1999 Profil RSUD Panembahan Senopati Bantul tahun diunduh tgl 8 Februari 2014 Sugiono Statistika Untuk Penelitian. Bandung : CV. Alfabeta. Suharto, Pengaruh penempatan perawat sebagai case manager di ruang rawat inap terhadap kepuasan pasien RS ST Theresia Jambi Program pendidikan pasca Sarjana MMR,UGM Yogyakarta Sukadji, Sutarlinah Pengantar Psikologi. Jakarta : Karunia Universitas Terbuka
125 Surachmad, Winarno Dasar dan Teknik Research, Pengantar Psikologi Ilmiah. Bandung : Tarsito. Suryani 2006 Komunikasi Terapeutik Teori dan Praktek. Penerbit Buku kedokteran EGC Supranto,2006.Pengukuran tingkat kepuasan pelanggan.hal 231, Penerbit Rineka cipta, Jakarta, 2006 Salman Pengaruh Komunikasi terapeutik terhadap kepuasan pasien di Rumah Sakit Haji Medan diunduh tgl 14 september 2013 Tjiptono Fandi 2008 Sevice management Yogyakarta : Andi Tukinin 2005 Analisis Tingkat Kepuasan Pasien dalam Implementasi Model Praktek keperawatan Profesional ( MPKP ) di Ruang Penyakit dalam RSUD Gunung Jati Cirebon. Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang Wieke Diah. A 2009 Kepuasan Pasien rawat inap terhadap pelayanan perawat di RSU D Tlogorejo Semarang Program Pascasarjana Universitas Diponegoro semarang diunduh 26 Oktober 2013
126 Jenis Kelamin : Umur : Pendidikan : Jabatan : Chek list Tugas Perawat Primer (PP) Dalam Model Primer Modifikasi o Tugas Perawat primer Bertugas pagi hari 2 Bersama A menerima operan tugas jaga dari PA yang jaga malam. 3 Bersama PA melakukan konfirmasi/supervisi tentang kondisi pasien segera setelah selesai operan dengan petugas jaga malam. 4 Bersama PA melakukan doa bersama sebagai awal dan akhir tugas, dilakukan setelah selesai operan tugas jaga malam. 5 Melakukan preconference dengan semua PA yang ada dalam grupnya setiap awal dinas pagi. 6 Membagi tugas atau pasien kepada PA sesuai dengan kemampuan dan beban kerja. 7 Melakukan pengkajian, menetapkan masalah atau diagnosa dan perencanaan keperawatan kepada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan ada bukti di rekam keperawatan. 8 Memonitor dan membimbing tugas PA 9 Membantu tugas A untuk kelancaran pelaksanaan asuhan pasien. 10 Mengoreksi, merevisi dan melengkapi catatan asuhan keperawatan yang dilakukan oleh PA yang ada di bawah tanggung jawabnya. 11 Melakukan evaluasi hasil kepada setiap pasien sesuai tujuan yang ada dalam perencanaan asuhan keperawatan dan ada bukti dalam rekam keperawatan. 12 Melaksanakan post conference pada setiap akhir dinas dan menerima laporan akhir tugas jaga dari PA untuk persiapan operan tugas jaga selanjutnya. 13 Mendampingi PA dalam operan tugas jaga kepada PA yang tugas jaga selanjutnya. 14 Memperkenalkan PA yang ada dalam satu grup atau yang akan merawat selama pasien dirawat atau kepada pasien/keluarga baru. 15 Mendelegasikan tugas kepada PA pada S/M/L 16 Melaksanakan pendelegasian tugas PJ ruang bila pagi hari tidak bertugas. Dan tugas lain sesuai uraian tugas
127 Jumlah Jenis Kelamin : Umur : Pendidikan : Jabatan : Chek list Tugas Perawat Asosiate (PA ) Dalam Model Primer Modifikasi o Tugas PA Melaksanakan operan tugas setiap awal dan akhir jaga dari dan kepada A yang ada dalam satu grup. 2. Melakukan konfirmasi atau supervisi tentang kondisi pasien segera setelah operan setiap pasien. 3. Melakukan doa bersama setiap awal dan akhir tugas yang dilakukan setelah selesai serah terima operan tugas jaga. 4. Mengikuti pre conference yang dilakukan PP setiap awal tugas. 5. Melaksanakan asuhan keperawatan kepada pasien yang menjadi tanggung jawab dan ada bukti di rekam keperawatan. 6. Melakukan monitoring respon pasien dan ada bukti di rekam keperawatan. 7. Melakukan konsultasi tentang masalah pasien/keluarga kepada PP 8. Membimbing dan melakukan pendidikan kesehatan kepada pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan ada bukti di rekam keperawatan. 9. Menerima keluhan pasien/keluarga dan berusaha untuk mengatasinya. 10 Melengkapi catatan asuhan keperawatan pada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya. 11 Melakukan evaluasi asuhan keperawatan pada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya. 12 Mengikuti post conference yang diadakan PP pada setiap akhir tugas dan melaporkan kondisi dan perkembangan semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya kepada PP. 13 Bila tak ada PP wajib mengenalkan PA yang ada dalam group yang akan memberikan asuhan keperawatan pada jaga berikutnya kepada pasien/keluarga baru. 14 Melakukan pendelegasian tuga PP pada S/M/L 15 Berkoordinasi dengan PPJR/dokter/tim kesehatan lain bila ada masalah pasien pada S/M/L 16 Melaksanakan tugas lain sesuai dengan uraian tugas PA Jumlah
128 Jenis Kelamin : Umur : Pendidikan : Jabatan : Chek list Komunikasi Therapeutik o A. Tahap Pre Interaksi. 1 Baca catatan keperawatan dan catatan medis pasien 2. Cuci tangan 3. Persiapan alat.. B Tahap Orientasi. 4 Memeberikan salam, panggil nama pasien 5. Menjelaskan tujuan tindakan kepada pasien, memberikan kesempatan pasien untuk bertanya.. C Tahap Kerja 6 Menjaga privasi pasien 7 Mendekatkan alat dekat pasien 8 Mengatur posisi pasien yang sesuai 9 Melakukan tindakan dengan benar D Tahap Terminasi 10 Mengevaluasi keadaan pasien 11 Menjelaskan hasil tindakan 12 Mengembalikan posisi pasien 13 Mengucapkan terinma kasih 14 Kontrak waktu rencana tindak lanjut 15.Dokumentasi Jumlah
129 Petunjuk pengisian lembar observasi Implementasi MPM pada PP o 1 0 : Masuk dalam shif roling 1 : Sering tukar jaga siang atau malam 2 : Kadang tukar jaga selain pagi 3 : Selalu jaga pagi selain hari libur/cuti/ijin, bila berhalangan diganti oleh kepala ruang o 2 : 0 : Tidak menerima operan dari tugas jaga malam 1 : Menerima operan tugas jaga malam hanya laporan jumlah pasien 2 : Menerima operan jaga malam dengan laporan jumlah pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan pelaksanaan terapi dan tindakan 3 : Menerima operan jaga malam dengan laporan jumlah pasien yang menjadi tanggung jawabnya, nama pasien dan pelaksanaan perencanaan yang telah dibuat dan dievaluasi o 3 : 0. : Tidak melakuan keliling pasie yang menjadi tanggung jawabnya 1. : Melakukan konfirmasi tentang kondisi pasien hanya yang dilaporkan ada masalah 2. : Melakukan konfirmasi ke semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya hanya tentang pelaksanaan advis Dokter dan kondisi pasien saat ini 3. : melakukan konfirmsi ke semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya baik mengenai advis Dokter maupun, evaluasi Asuhan keperawatan maupun kondisi pasien saat ini o 4 : 0. : Tidak melakukan doa bersama diawal maupun diakhir tugas 1. : Kadang melakukan doa kadang tidak melakukan doa 2. :Hanya melakukan doa bersama diawal tyugas saja 3. : Melakukan doa bersama diawal dan diakhir tugas o 5: 0. : Tidak melakukan pre conference 1. : Kadang melakukan pre conference kadang tidak 2. : Melakukan pre conference hanya membahas pasien tertentu yang menjadi tanggung jawabnya 3. : melakukan preconference membahas semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya. o 6 ; 0. : Tidak dilakukan pembagian tugas 1. : Melakukan pembagian tugas semaunya 2. : Melakukan pembagian tugas berdasarkan kemampuan PA tanpa ikut serta berperan akatif
130 3. : Melakukan pembagian tugas berdasarkan kemampuan PA dengan ikut serta berperan akatif o 7 : 0. : Tidak melakukan proses keperawatan 1. : Melakukan proses keperawatan pada sebagian pasien, dokumentasi tidak lengkap 2. : Melakukan proses keperawatan pada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya namun dokumentasi tidak lengkap 3. :Melakukan proses keperawatan pada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan didokumentasikan dengan lengkap o 8 : 0. :Tidak memonitor maupun membimbing tugas PA 1. : Memonitor tugas PA tanpa membimbing 2. : Membimbing tugas PA tanpa dimonitor 3. : Memonitor dan membimbing tugas PA o 9 : 0. :Tidak pernah membantu tugas PA 1. : Jarang membantu tugas PA 2. : Sering membantu tugas PA 3. : Selalu membantu tugas PA o 10 : 0. :Tak pernah mengoreksi, merivisi dan melengkapi catatan asuhan keperawatan yang dilakukan oleh PA 1. : Jarang mengoreksi, merivisi dan melengkapi catatan asuhan keperawatan yang dilakukan oleh PA 2. : Sering mengoreksi, merivisi dan melengkapi catatan asuhan keperawatan yang dilakukan oleh PA 3. :Selalu mengoreksi, merivisi dan melengkapi catatan asuhan keperawatan yang dilakukan oleh PA o 11 : 0. :Tak pernah melakukan evaluasi hasil kepada setiap pasien yang menjadi tanggung jawabnya 1. : Melakukan evaluasi hasil kepada pasien yang menjadi tanggung jawabnya hanya kalau diminta oleh PA 2. : Melakukan evaluasi hasil kepada sebagian pasien yang menjadi tanggung jawabnya 3. : Melakukan evaluasi hasil kepada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya o 12: 0. :Tidak pernah melakukan post konference 1. : Jarang melakukan post conference diakhir tugas
131 2. : Sering melakukan post conference diakhir tugas 3. : Selalu melakukan post conference diakhir tugas o 13 : 0. :Tak pernah mendampingi PA dalam operan tugas 1. : Jarang mendampingi PA dalam operan tugas 2. : Serint mendampingi PA dalam operan tugas 3. : Selalu mendampingi PA dalam operan tugas o 14 : 0. :Tak pernah memperkenalkan PA yang ada dalam satu grup kepada pasien baru yang akan menjadi tanggung jawabnya 1. : Jarang memperkenalkan PA yang ada dalam satu grup kepada pasien baru yang akan menjadi tanggung jawabnya 2. : Sering memperkenalkan PA yang ada dalam satu grup kepada pasien baru yang akan menjadi tanggung jawabnya 3. : Selalu memperkenalkan PA yang ada dalam satu grup kepada pasien baru yang akan menjadi tanggung jawabnya o 15 : 0. : Tak pernah mendelegasikan tugas kepada PA pada pagi/siang/malam 1. : Jarang mendelegasikan tugas kepada PA pada pagi/siang/malam 2. : Sering mendelegasikan tugas kepada PA pada pagi/siang/malam 3. : Selalu mendelegasikan tugas kepada PA pada pagi/siang/malam o 16 : 0. : Tak pernah melaksanakan pendelagasian tugas PJ Ruang bila pagi hari tak bertugas 1. : Jarang melaksanakan pendelagasian tugas PJ Ruang bila pagi hari tak bertugas 2. : Sering melaksanakan pendelagasian tugas PJ Ruang bila pagi hari tak bertugas 3. :Selalu melaksanakan pendelagasian tugas PJ Ruang bila pagi hari tak bertugas o 17 : 0. : Tak pernah melakukan tugas lain sesuai uraian tugas PP 1. : jarang melakukan tugas lain sesuai uraian tugas PP 2. : Sering melakukan tugas lain sesuai uraian tugas PP 3. : Selalu melakukan tugas lain sesuai uraian tugas PP
132 Petunjuk pengisian lembar observasi Implementasi MPM pada PA o 1 : 0. Tidak melakukan operan tugas setiap awal dan akhir jaga dari dan kepada PA yang ada dalam satu grup 1. : Melakukan operan tugas setiap awal dan akhir jaga dari dan kepada PA yang ada dalam satu grup hanya melaporkan jumlah pasien 2. : Melakukan operan tugas setiap awal dan akhir jaga dari dan kepada PA yang ada dalam satu grup hanya melaporkan jumlah pasien dan masalah yang penting saja 3. :Melakukan operan tugas setiap awal dan akhir jaga dari dan kepada PA yang ada dalam satu grup dengan melaporkan jumlah pasien yang menjadi tanggung jawabnya, nama pasien dan pelaksanaan perencanaan yang telah dibuat dan dievaluasi o 2 : 0. : Tidak melakuan keliling pasien yang menjadi tanggung jawabnya 1. : Melakukan konfirmasi tentang kondisi pasien hanya yang dilaporkan ada masalah 2. : Melakukan konfirmasi ke semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya hanya tentang pelaksanaan advis Dokter dan kondisi pasien saat ini 3. : melakukan konfirmsi ke semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya baik mengenai advis Dokter maupun, evaluasi Asuhan keperawatan maupun kondisi pasien saat ini o 3 0. : Tidak melakukan doa bersama diawal maupun diakhir tugas 1. : Kadang melakukan doa kadang tidak melakukan doa 2. :Hanya melakukan doa bersama diawal tugas saja 3. : Melakukan doa bersama diawal dan diakhir tugas o 4: 0. : Tidak mengikuti pre conference yang dilakukan PP
133 1. : Kadang mengikuti pre conference kadang tidak 2. : Mengikuti pre conference namun kurang memperhatikan 3. : Mengikuti preconferen dengan penuh perhatian o 5 ; 0. : Tidak melaksanakan askep kepada pasien yang menjadi tanggung jawabnya 1. : Jarang melaksanakan askep kepada pasien yang menjadi tanggung jawabnya 2. : Sering melaksanakan askep kepada pasien yang menjadi tanggung jawabnya 3. : Selalu melaksanakan askep kepada pasien yang menjadi tanggung jawabnya o 7 : o 8 : o 6 : 0. :Tidak memonitor respon pasien 1. : Memonitor respon sebagian pasien yang menjadi tanggung jawabnya namun tidak didokumentasikan 2. : Memonitor respon semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya namun hanya sebagian yang didokumentasikan 3. : Memonitor respon semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya dan didokumentasikan 0. Tidak pernah melakukan konsulatasi mengenai masalah pasien kepada PP 1. : Jarang melakukan konsulatasi mengenai masalah pasien kepada PP 2. : Sering melakukan konsulatasi mengenai masalah pasien kepada PP 3. : Selalu melakukan konsulatasi mengenai masalah pasien kepada PP 0. Tak pernah membimbing dan melakukan pendidikan kesehatan kepada pasien yang menjadi tanggung jawabnya 1. : Jarang membimbing dan melakukan pendidikan kesehatan kepada pasien yang menjadi tanggung jawabnya 2. : Sering membimbing dan melakukan pendidikan kesehatan kepada pasien yang menjadi tanggung jawabnya 3. : Selalu membimbing dan melakukan pendidikan kesehatan kepada pasien yang menjadi tanggung jawabnya o 9 : 0. Tak pernah menanggapi dan mengatasi keluahan pasien yang menjadi tanggung jawabnya 1. : Jarang menanggapi dan mengatasi keluahan pasien yang menjadi tanggung jawabnya 2. : Sering menanggapi dan mengatasi keluahan pasien yang menjadi tanggung jawabnya 3. : Selalu menanggapi dan mengatasi keluahan pasien yang menjadi tanggung jawabnya o 10 :
134 0. Tak pernah melengkapi catatan asuhan keperawatan pasien yang menjadi tanggung jawabnya 1. : Jarang melengkapi catatan asuhan keperawatan yang menjadi tanggung jawabnya 2. : Sering melengkapi catatan asuhan keperawatan yang menjadi tanggung jawabnya 3. : Selalu melengkapi catatan asuhan keperawatan yang menjadi tanggung jawabnya o 11 : 0. Tak pernah melakukan evaluasi askep pada setiap pasien yang menjadi tanggung jawabnya 1. : Melakukan evaluasi askep hanya kalau diminta PP 2. : Melakukan evaluasi askep pada sebagian pasien yang menjadi tanggung jawabnya 3. : Melakukan evaluasi askep pada semua pasien yang menjadi tanggung jawabnya o 12 : 0. :Tidak pernah mengikuti post conference yang dilakukan PP 1. : jarang mengikuti post conference yang dilakukan PP 2. : Sering mengikuti post conference yang dilakukan PP 3. : Selalu mengikuti post conference yang dilakukan PP o 13 : 0. :Tak pernah mengenalkan diri pada pasien baru yang akan menjadi tanggung jawabnya bila tak ada PP 1. : Jarang mengenalkan diri pada pasien baru yang akan menjadi tanggung jawabnya bila tak ada PP 2. : Sering mengenalkan diri pada pasien baru yang akan menjadi tanggung jawabnya bila tak ada PP 3. mengenalkan diri pada pasien baru yang akan menjadi tanggung jawabnya bila tak ada PP o 14 : 0. Tak pernah melaksanakan tugas pendelegasian tugas PP pasa pagi/siang/malam 1. : Jarang melaksanakan tugas pendelegasian tugas PP pasa pagi/siang/malam 2. : Sering melaksanakan tugas pendelegasian tugas PP pasa pagi/siang/malam 3. : Selalu melaksanakan tugas pendelegasian tugas PP pasa pagi/siang/malam o 15 : 0. Tak pernah melakukan koordinasi dengan PP/PJR/Dokter/Tim kesehatan lain bila ada masalah pasien pada siang/malam/hari libur 1. : Jarang melakukan koordinasi dengan PP/?PJR/Dokter/Tim kesehatan lain bila ada masalah pasien pada siang/malam/hari libur 2. : Sering melakukan koordinasi dengan PP/PJR/Dokter/Tim kesehatan lain bila ada masalah pasien pada siang/malam/hari libumelakukan koordinasi dengan PP/?PJR/Dokter/Tim kesehatan lain bila ada masalah pasien pada siang/malam/hari libur
135 3. : Selalu melakukan koordinasi dengan PP/PJR/Dokter/Tim kesehatan lain bila ada masalah pasien pada siang/malam/hari libur o 16 : 0. Tak pernah melakukan tugas lain sesuai uraian tuga PA 1. : jarang melakukan tugas lain sesuai uraian tuga PA 2. : Sering melakukan tugas lain sesuai uraian tuga PA 3. : Selalu melakukan tugas lain sesuai uraian tuga PA Petunjuk pengisian lembar observasi Implementasi Komunikasi aterapeutik pada PP dan PA o 1 : 0. : Tidak membaca catatan medis pasien 1. : Membaca catatan medis pasien namun tidak mengerti tujuan tindakan 2. : Membaca catatan medis pasien dan mengerti tujuan tindakan 3. : Membaca catatan medis pasien, mengerti dan memahami tujuan tindakan o 2 : 0. : Tidak cuci tangan sebelum tindakan 1. : Cuci tangan bukan pada air yang mengalir tanpa sabun 2. : Cuci tangan pada air yang mengalir tanpa sabun 3. : Cuci tangan pada air yang mengalir dan dengan sabun
136 o 3 : 0. Tidak menyiapkan alat yang akan dipakai 1. : Meyiapkan alat yang akan dipakai kurang lengkap 2 macam atau lebih 2. : Meyiapkan alat yang akan dipakai kurang lengkap 1 macam alat 3. : meyiapkan alat dengan lengkap o 4 : 0. : Tidak memberikan salam pada pasien 1. : Memberikan salam pada pasien tanpa menyebut nama 2. : Memberikan salam pada pasien dengan menyebut nama tanpa tersenyum 3. : Memberikan salam pada pasien dengan menyebut nama sambil tersenyum o 5 : 0. :Tidak menjelaskan tujuan tindakan kepada pasien 1. : Hanya menjelaskan tujuan tindakan kepada pasien tanpa member kesempatan untuk bertanya 2. : Menjelaskan tujuan tindakan kepada pasien dan memberi kesempatan pasien untuk bertanya tapi jawabannya kurang dimengerti pasien 3. : Menjelaskan tujuan tindakan kepada pasien dan memberi kesempatan pasien untuk bertanya tapi jawabannya dapat dimengerti pasien o 6 : 0. : Tidak menjaga privasi pasien 1. : Menjaga privasi dengan menutup pintu/sebagian gorden 2. : Menjaga privasi pasien dengan menutup pintu/ sebagian gorden namun pasien masih terlihat kurang nyaman/malu 3. : Menjaga privasi pasien dengan menutup pintu/gorden sampai pasien terasa nyaman. o 7 : 0. : Alat tidak didekatkan ke pasien 1. : Alat didekatkan ke pasien namun masih diluar jangkauan perawat yang bertugas 2. : Alat didekatkan ke pasien, terjangkau perawat yang bertugas namun masih memerlukan bantuan petugas lain dalam pelaksanaan tindakan 3. : Alat didekatkan ke pasien terjangkau perawat yang bertugas dan tidak memerlukan bantuan perawat lain dalam pelaksanaan tindakan o 8 : 0. : Tidak mengatur posisi pasien 1. : Mengatur posisi pasien namun tidak pas 2. : Mengatur posisi pasien namun kurang pas 3. : Mengatur posisi pasien sesuai kebutuhan o 9 : 0. : Tidak mampu melakukan tindakan 1. : Melakukan tindakan tidak trampil
137 2. : Melakukan tindakan kurang trampil 3. : Melakukan tindakan dengan trampil o 10 : 0. : Tidak mengevaluasi keadaan pasien 1. : Mengevaluasi keadaan pasien tidak lengkap 2. : Mengevaluasi keadaan kurang lengkap 3. : Mengevaluasi keadaan pasien dengan lengkap o 11 : 0. : Tidak menjelaskan hasil tindakan 1. : Menjelaskan hasil tindakan tidak jelas sehingga pasien tidak mengerti 2. : Menjelaskan hasil tindakan kurang jelas sehingga pasien kurang mengerti 3. : Menjelaskan hasil tindakan dengan jelas sehingga pasien mengerti o 12 : 0. : Tidak mengembalikan posisi pasien 1. : Mengembalikan posisi pasien namun tidak sesuai dengan kebutuhan pasien 2. : Mengembalikan posisi pasien kurang sesuai dengan kebutuhan pasien 3. : Mengembalikan posisi pasien sesuai dengan kebutuhan pasien o 13 : 0. : Tidak mengucapkan terima kasih 1. : Mengucapkan terima kasih tidak tulus 2. : Mengucapkan terima kasih kurang tulus 3. : Mengucapkan terima kasih dengan tulus o 14 : \ 0. : Tidak kontrak waktu rencana tindak lanjut 1. : Kontrak waktu rencana tindak lanjut, tempat dan waktu tidak pasti 2. : Kontrak waktu rencana tindak lanjut, tempat dan waktu kurang pasti 3. : Kontrak waktu rencana tindak lanjut, dengan tempat dan waktu pasti 0 15 : 0. : Tidak melakukan dokumentasi 1. : Melakukan dokumentasi tidak lengkap 2. : Melakukan dokumentasi kurang lengkap 3. : Melakukan dokumentasi dengan lengkap
138 Uji Validitas Correlations P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 P11 Total P1 Pearson Correlation 1.393**.364**.223*.371** **.308** ** ** P2 Pearson Correlation.393** 1.502**.362**.342**.219*.465**.219* *.366**.570** P3 Pearson Correlation.364**.502** 1.484**.432**.271**.444**.429**.286**.324**.387**.681** P4 Pearson Correlation.223*.362**.484** 1.367**.454**.347**.248* **.653** P5 Pearson Correlation.371**.342**.432**.367** 1.321**.464**.322**.250*.346**.383**.609** P6 Pearson Correlation *.271**.454**.321** 1.428**.245* *.572** P7 Pearson Correlation.327**.465**.444**.347**.464**.428** 1.301** **.313**.687** P8 Pearson Correlation.308**.219*.429**.248*.322**.245*.301** 1.457**.527**.424**.538** P9 Pearson Correlation ** * ** 1.612**.472**.544** P10 Pearson Correlation.294**.248*.324** ** **.527**.612** 1.467**.528** P11 Pearson Correlation **.387**.354**.383**.211*.313**.424**.472**.467** 1.617** Total Pearson Correlation.398**.570**.681**.653**.609**.572**.687**.538**.544**.528**.617** **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
139 Correlations P12 P13 P14 P15 P16 P17 P18 P19 P20 P21 P22 Total P12 Pearson Correlation 1.335**.336**.297**.381**.455**.209* **.207*.317**.603** P13 Pearson Correlation.335** 1.576**.432**.387**.325**.401**.327**.299**.450**.241*.670** P14 Pearson Correlation.336**.576** 1.484**.471**.380**.268*.380**.257*.280**.279**.639** P15 Pearson Correlation.297**.432**.484** 1.499** **.337**.321**.423**.455**.619** P16 Pearson Correlation.381**.387**.471**.499** 1.553**.386**.455**.220*.330**.401**.656** P17 Pearson Correlation.455**.325**.380** ** 1.311**.282**.298**.349**.283**.610** P18 Pearson Correlation.209*.401**.268*.317**.386**.311** 1.552**.520**.433**.383**.575** P19 Pearson Correlation **.380**.337**.455**.282**.552** 1.430**.483**.440**.509** P20 Pearson Correlation.285**.299**.257*.321**.220*.298**.520**.430** 1.524**.387**.548** P21 Pearson Correlation.207*.450**.280**.423**.330**.349**.433**.483**.524** 1.489**.628** P22 Pearson Correlation.317**.241*.279**.455**.401**.283**.383**.440**.387**.489** 1.616** Total Pearson Correlation.603**.670**.639**.619**.656**.610**.575**.509**.548**.628**.616** **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
140 Correlations P23 P24 P25 P26 P27 P28 P29 P30 P31 P32 P33 Total P23 Pearson Correlation 1.419**.409**.410**.492**.245* **.280**.318**.486** P24 Pearson Correlation.419** 1.522**.243*.380**.249*.264* *.580**.267*.535** P25 Pearson Correlation.409**.522** 1.482**.373**.247*.257*.209*.473**.366**.397**.631** P26 Pearson Correlation.410**.243*.482** 1.379**.313** **.469**.363**.498**.618** P27 Pearson Correlation.492**.380**.373**.379** 1.547**.493**.324**.410**.488**.473**.569** P28 Pearson Correlation.245*.249*.247*.313**.547** 1.764**.614**.550**.375**.421**.668** P29 Pearson Correlation *.257* **.764** 1.624**.550**.377**.328**.633** P30 Pearson Correlation *.333**.324**.614**.624** 1.475**.244*.449**.591** P31 Pearson Correlation.294**.267*.473**.469**.410**.550**.550**.475** 1.389**.413**.620** P32 Pearson Correlation.280**.580**.366**.363**.488**.375**.377**.244*.389** 1.460**.572** P33 Pearson Correlation.318**.267*.397**.498**.473**.421**.328**.449**.413**.460** 1.676** Total Pearson Correlation.486**.535**.631**.618**.569**.668**.633**.591**.620**.572**.676** **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
141 Correlations P34 P35 P36 P37 P38 P39 P40 P41 P42 Total P34 Pearson Correlation 1.331**.342**.288**.281**.343**.306**.364**.353**.555** P35 Pearson Correlation.331** 1.556**.556**.575**.371**.408**.411**.374**.746** P36 Pearson Correlation.342**.556** 1.428**.449**.224*.331**.300**.322**.651** P37 Pearson Correlation.288**.556**.428** 1.449**.517**.503**.519**.361**.592** P38 Pearson Correlation.281**.575**.449**.449** 1.538**.524**.332**.266*.666** P39 Pearson Correlation.343**.371**.224*.517**.538** 1.604**.567**.313**.628** P40 Pearson Correlation.306**.408**.331**.503**.524**.604** 1.497**.438**.600** P41 Pearson Correlation.364**.411**.300**.519**.332**.567**.497** 1.556**.586** P42 Pearson Correlation.353**.374**.322**.361**.266*.313**.438**.556** 1.555** Total Pearson Correlation.555**.746**.651**.592**.666**.628**.600**.586**.555** **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
142 Reliability Scale: ALL VARIABLES Cases Case Processing Summary Valid Excluded a Total a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. % Reliability Statistics Cronbach's Alpha of Items
143 Item-Total Statistics P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 P11 P12 P13 P14 P15 P16 P17 P18 P19 P20 P21 P22 P23 P24 P25 P26 P27 P28 P29 P30 P31 P32 P33 P34 P35 P36 P37 P38 P39 P40 P41 P42 Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item-Total Cronbach's Alpha if Item Item Deleted Item Deleted Correlation Deleted
144 Uji Validitas Correlations P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 P11 Total P1 Pearson Correlation 1.393**.364**.223*.371** **.308** ** ** P2 Pearson Correlation.393** 1.502**.362**.342**.219*.465**.219* *.366**.570** P3 Pearson Correlation.364**.502** 1.484**.432**.271**.444**.429**.286**.324**.387**.681** P4 Pearson Correlation.223*.362**.484** 1.367**.454**.347**.248* **.653** P5 Pearson Correlation.371**.342**.432**.367** 1.321**.464**.322**.250*.346**.383**.609** P6 Pearson Correlation *.271**.454**.321** 1.428**.245* *.572** P7 Pearson Correlation.327**.465**.444**.347**.464**.428** 1.301** **.313**.687** P8 Pearson Correlation.308**.219*.429**.248*.322**.245*.301** 1.457**.527**.424**.538** P9 Pearson Correlation ** * ** 1.612**.472**.544** P10 Pearson Correlation.294**.248*.324** ** **.527**.612** 1.467**.528** P11 Pearson Correlation **.387**.354**.383**.211*.313**.424**.472**.467** 1.617** Total Pearson Correlation.398**.570**.681**.653**.609**.572**.687**.538**.544**.528**.617** **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
145 Correlations P12 P13 P14 P15 P16 P17 P18 P19 P20 P21 P22 Total P12 Pearson Correlation 1.335**.336**.297**.381**.455**.209* **.207*.317**.603** P13 Pearson Correlation.335** 1.576**.432**.387**.325**.401**.327**.299**.450**.241*.670** P14 Pearson Correlation.336**.576** 1.484**.471**.380**.268*.380**.257*.280**.279**.639** P15 Pearson Correlation.297**.432**.484** 1.499** **.337**.321**.423**.455**.619** P16 Pearson Correlation.381**.387**.471**.499** 1.553**.386**.455**.220*.330**.401**.656** P17 Pearson Correlation.455**.325**.380** ** 1.311**.282**.298**.349**.283**.610** P18 Pearson Correlation.209*.401**.268*.317**.386**.311** 1.552**.520**.433**.383**.575** P19 Pearson Correlation **.380**.337**.455**.282**.552** 1.430**.483**.440**.509** P20 Pearson Correlation.285**.299**.257*.321**.220*.298**.520**.430** 1.524**.387**.548** P21 Pearson Correlation.207*.450**.280**.423**.330**.349**.433**.483**.524** 1.489**.628** P22 Pearson Correlation.317**.241*.279**.455**.401**.283**.383**.440**.387**.489** 1.616** Total Pearson Correlation.603**.670**.639**.619**.656**.610**.575**.509**.548**.628**.616** **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
146 Correlations P23 P24 P25 P26 P27 P28 P29 P30 P31 P32 P33 Total P23 Pearson Correlation 1.419**.409**.410**.492**.245* **.280**.318**.486** P24 Pearson Correlation.419** 1.522**.243*.380**.249*.264* *.580**.267*.535** P25 Pearson Correlation.409**.522** 1.482**.373**.247*.257*.209*.473**.366**.397**.631** P26 Pearson Correlation.410**.243*.482** 1.379**.313** **.469**.363**.498**.618** P27 Pearson Correlation.492**.380**.373**.379** 1.547**.493**.324**.410**.488**.473**.569** P28 Pearson Correlation.245*.249*.247*.313**.547** 1.764**.614**.550**.375**.421**.668** P29 Pearson Correlation *.257* **.764** 1.624**.550**.377**.328**.633** P30 Pearson Correlation *.333**.324**.614**.624** 1.475**.244*.449**.591** P31 Pearson Correlation.294**.267*.473**.469**.410**.550**.550**.475** 1.389**.413**.620** P32 Pearson Correlation.280**.580**.366**.363**.488**.375**.377**.244*.389** 1.460**.572** P33 Pearson Correlation.318**.267*.397**.498**.473**.421**.328**.449**.413**.460** 1.676** Total Pearson Correlation.486**.535**.631**.618**.569**.668**.633**.591**.620**.572**.676** **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
147 Correlations P34 P35 P36 P37 P38 P39 P40 P41 P42 Total P34 Pearson Correlation 1.331**.342**.288**.281**.343**.306**.364**.353**.555** P35 Pearson Correlation.331** 1.556**.556**.575**.371**.408**.411**.374**.746** P36 Pearson Correlation.342**.556** 1.428**.449**.224*.331**.300**.322**.651** P37 Pearson Correlation.288**.556**.428** 1.449**.517**.503**.519**.361**.592** P38 Pearson Correlation.281**.575**.449**.449** 1.538**.524**.332**.266*.666** P39 Pearson Correlation.343**.371**.224*.517**.538** 1.604**.567**.313**.628** P40 Pearson Correlation.306**.408**.331**.503**.524**.604** 1.497**.438**.600** P41 Pearson Correlation.364**.411**.300**.519**.332**.567**.497** 1.556**.586** P42 Pearson Correlation.353**.374**.322**.361**.266*.313**.438**.556** 1.555** Total Pearson Correlation.555**.746**.651**.592**.666**.628**.600**.586**.555** **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
148 Reliability Scale: ALL VARIABLES Cases Case Processing Summary Valid Excluded a Total a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. % Reliability Statistics Cronbach's Alpha of Items
149 Item-Total Statistics P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 P11 P12 P13 P14 P15 P16 P17 P18 P19 P20 P21 P22 P23 P24 P25 P26 P27 P28 P29 P30 P31 P32 P33 P34 P35 P36 P37 P38 P39 P40 P41 P42 Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item-Total Cronbach's Alpha if Item Item Deleted Item Deleted Correlation Deleted
150 Frequencies Mean Std. Error of Mean Median Mode Std. Deviation Variance Range Minimum Maximum Sum Valid Missing Statistics a. Multiple modes exist. The smallest value is shown Implementasi Implementasi Model Primer Komunikasi Kepuasan Modifikasi Terapeutik Pasien , , ,5600 1,07191, , , , , ,70 a 33,00 80,00 a 5, , , ,469 28, ,002 21,00 19,00 42,30 24,30 24,30 67,00 45,30 43,30 109, , , ,80 Par Tests One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test ormal Parameters a,b Most Extreme Differences Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Mean Std. Deviation Absolute Positive egative a. Test distribution is ormal. b. Calculated from data. Implementasi Implementasi Model Primer Komunikasi Kepuasan Modifikasi Terapeutik Pasien , , ,5600 5, , ,07677,089,181,123,089,181,123 -,077 -,143 -,121,487,990,673,972,281,756
151 AOVA Table Kepuasan Pasien * Implementasi Model Primer Modifikasi Between Groups Within Groups Total (Combined) Linearity Deviation from Linearity Sum of Squares df Mean Square F Sig. 4775, ,010 4,157, , ,408 48,869, , ,411 2,294, , , , Collinearity Diagnostics a Model 1 Dimension Variance Proportions Implementasi Implementasi Condition Model Primer Komunikasi Eigenvalue Index (Constant) Modifikasi Terapeutik 2,978 1,000,00,00,00 a. Dependent Variable: Kepuasan Pasien,014 14,403,99,20,11,007 19,988,01,80,89 AOVA Table Kepuasan Pasien * Implementasi Komunikasi Terapeutik Between Groups Within Groups Total (Combined) Linearity Deviation from Linearity Sum of Squares df Mean Square F Sig. 4740, ,110 5,659, , ,323 62,477, , ,055 3,077, , , ,052 29
152 Multikolinieritas Model 1 Implementasi Model Primer Modifikasi Coefficients a Implementasi Komunikasi Terapeutik Collinearity Statistics Tolerance a. Dependent Variable: Kepuasan Pasien VIF,508 1,968,508 1,968 Correlations Implementasi Model Primer Modifikasi Implementasi Komunikasi Terapeutik Kepuasan Pasien Pearson Correlation Pearson Correlation Pearson Correlation Correlations **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Implementasi Implementasi Model Primer Komunikasi Kepuasan Modifikasi Terapeutik Pasien 1,701**,673**,000, ,701** 1,677**,000, ,673**,677** 1,000,
153 Regression Descriptive Statistics Kepuasan Pasien Implementasi Model Primer Modifikasi Implementasi Komunikasi Terapeutik Mean Std. Deviation 87, , ,3500 5, ,4900 5,
154 Correlations Pearson Correlation Sig. (1-tailed) Kepuasan Pasien Implementasi Model Primer Modifikasi Implementasi Komunikasi Terapeutik Kepuasan Pasien Implementasi Model Primer Modifikasi Implementasi Komunikasi Terapeutik Kepuasan Pasien Implementasi Model Primer Modifikasi Implementasi Komunikasi Terapeutik Implementasi Implementasi Kepuasan Model Primer Komunikasi Pasien Modifikasi Terapeutik 1,000,673,677,673 1,000,701,677,701 1,000.,000,000,000.,000,000, Model 1 Variables Entered/Removed b Variables Variables Entered Removed Method Implement asi Model. Enter Primer Modifikasi a a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: Kepuasan Pasien
155 Model Summary Model 1 Change Statistics Adjusted Std. Error of R Square R R Square R Square the Estimate Change F Change df1 df2 Sig. F Change,673 a,453,433 9,84459,453 23, ,000 a. Predictors: (Constant), Implementasi Model Primer Modifikasi Model 1 Regression Residual Total AOVA b Sum of Squares df Mean Square F Sig. 2245, ,408 23,169,000 a 2713, , , a. Predictors: (Constant), Implementasi Model Primer Modifikasi b. Dependent Variable: Kepuasan Pasien Model 1 (Constant) Implementasi Model Primer Modifikasi a. Dependent Variable: Kepuasan Pasien Unstandardized Coefficients Coefficients a Standardized Coefficients Correlations B Std. Error Beta t Sig. Zero-order Partial Part 34,579 11,153 3,100,004 1,499,311,673 4,813,000,673,673,673
156 Descriptive Statistics Kepuasan Pasien Implementasi Komunikasi Terapeutik Mean Std. Deviation 87, , ,4900 5, Pearson Correlation Sig. (1-tailed) Correlations Kepuasan Pasien Implementasi Komunikasi Terapeutik Kepuasan Pasien Implementasi Komunikasi Terapeutik Kepuasan Pasien Implementasi Komunikasi Terapeutik Implementasi Kepuasan Komunikasi Pasien Terapeutik 1,000,677,677 1,000.,000,
157 Model 1 Variables Entered/Removed b Variables Entered Implement asi Komunika si Terapeutik a Variables Removed a. All requested variables entered. Method. Enter b. Dependent Variable: Kepuasan Pasien Model Summary Model 1 Change Statistics Adjusted Std. Error of R Square R R Square R Square the Estimate Change F Change df1 df2 Sig. F Change,677 a,459,439 9,79017,459 23, ,000 a. Predictors: (Constant), Implementasi Komunikasi Terapeutik Model 1 Regression Residual Total AOVA b Sum of Squares df Mean Square F Sig. 2275, ,323 23,739,000 a 2683, , , a. Predictors: (Constant), Implementasi Komunikasi Terapeutik b. Dependent Variable: Kepuasan Pasien
158 Model 1 (Constant) Implementasi Komunikasi Terapeutik a. Dependent Variable: Kepuasan Pasien Unstandardized Coefficients Coefficients a Standardized Coefficients Correlations B Std. Error Beta t Sig. Zero-order Partial Part 32,207 11,501 2,801,009 1,653,339,677 4,872,000,677,677,677 Descriptive Statistics Kepuasan Pasien Implementasi Model Primer Modifikasi Implementasi Komunikasi Terapeutik Mean Std. Deviation 87, , ,3500 5, ,4900 5, Model 1 Regression Residual Total AOVA b Sum of Squares df Mean Square F Sig. 2657, ,589 15,584,000 a 2301, , , a. Predictors: (Constant), Implementasi Komunikasi Terapeutik, Implementasi Model Primer Modifikasi b. Dependent Variable: Kepuasan Pasien
159 Model Summary Model 1 Change Statistics Adjusted Std. Error of R Square R R Square R Square the Estimate Change F Change df1 df2 Sig. F Change,732 a,536,501 9,23334,536 15, ,000 a. Predictors: (Constant), Implementasi Komunikasi Terapeutik, Implementasi Model Primer Modifikasi Model 1 (Constant) Implementasi Model Primer Modifikasi Implementasi Komunikasi Terapeutik a. Dependent Variable: Kepuasan Pasien Unstandardized Coefficients Coefficients a Standardized Coefficients Correlations B Std. Error Beta t Sig. Zero-order Partial Part 23,869 11,540 2,068,048,867,410,389 2,116,044,673,377,277,986,449,404 2,198,037,677,390,288 Model Summary Model 1 Change Statistics Adjusted Std. Error of R Square R R Square R Square the Estimate Change F Change df1 df2 Sig. F Change,732 a,536,501 9,23334,536 15, ,000 a. Predictors: (Constant), Implementasi Komunikasi Terapeutik, Implementasi Model Primer Modifikasi SE X₁ : x : X 100% : 26,2 SE X₂ : x 0,404 :0,27351 X 100% : 27,4
160 SE R2 SR X₁ 26,2 0,536 48,8 X₂ 27,4 0,536 51,2
KOMUNIKASI TERAPEUTIK
A. PENGERTIAN Komunikasi terapeutik adalah suatu pengalaman bersama anatara perawat dan klien yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien. B. TUJUAN Tujuan Komunikasi Terapeutik : 1. Membantu pasien
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Komunikasi Terapeutik 2.1.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang dilakukan oleh perawat dan tenaga kesehatan lain yang direncanakan
BAB II TINJAUAN TEORETIS
BAB II TINJAUAN TEORETIS 2.1 Tinjauan pustaka 2.1.1 Komunikasi Teraupetik Menurut Stuart (1998), mengatakan komunikasi terapeutik merupakan hubungan interpersonal antara perawat dengan klien dalam memperbaiki
BAB II TINJAUAN TEORI
BAB II TINJAUAN TEORI A. Keperawatan 1. Pengertian perawat Perawat (nurse) berasal dari bahasa latin yaitu kata nutrix yang berarti merawat atau memelihara. Menurut Kusnanto (2003), perawat adalah seseorang
PENGARUH STRATEGI MIND MAP
PENGARUH STRATEGI MIND MAP DAN METAKOGNITIF TERHADAP PRESTASI BELAJAR ASUHAN KEBIDANAN II MAHASISWA SEMESTER III PRODI DIII KEBIDANAN STIKES ABI SURABAYA TESIS Untuk Memenuhi Sebagaian Persyaratan Mencapai
BAB I PENDAHULUAN. cepat, sehingga masyarakat dengan mudah memperoleh informasi yang diinginkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masa globalisasi ini, arus informasi dari satu tempat ke tempat lain semakin cepat, sehingga masyarakat dengan mudah memperoleh informasi yang diinginkan tanpa
Evaluasi Pengembangan Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) Di RSUD Djojonegoro, Temanggung
Evaluasi Pengembangan Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) Di RSUD Djojonegoro, Temanggung Evaluation of Professional Nursing Practice Model Development in Djojonegoro District Hospital, Temanggung
BAB I PENDAHULUAN. kesehatan penunjang. Rumah sakit dalam menjalankan fungsinya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah sakit merupakan salah satu bentuk sarana kesehatan, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah dan atau masyarakat yang berfungsi untuk melakukan upaya kesehatan
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG PERSALINAN DENGAN KESIAPAN PRIMIGRAVIDA MENGHADAPI PERSALINAN TESIS
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG PERSALINAN DENGAN KESIAPAN PRIMIGRAVIDA MENGHADAPI PERSALINAN TESIS Disusun untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Studi Magister Kedokteran
IJMS Indonesian Journal On Medical Science Volume 3 No 1 - Januari 2016
Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kepuasan Pasien di Bangsal Tjan Timur Rumah Sakit Dr. Oen Solo Baru (The Correlation Therapeutic Communication with Patient Satisfaction Level in Tjan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengirim pesan kepada penerima. Komunikasi merupakan aspek. pencapaian kesembuhan pasien (Siti Fatmawati, 2009:1)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka 1. Komunikasi Terapeutik a. Pengertian Komunikasi Terapeutik Komunikasi merupakan proses pertukaran informasi dari pengirim pesan kepada penerima. Komunikasi merupakan
A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keperawatan sebagai profesi merupakan perubahan proses jangka panjang yang ditujukan untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Dalam proses perubahan
HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN KEPUASAN PASIEN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. ZAINOEL ABIDIN, 2013.
Jurnal Ilmu keperawatan ISSN: 2338-6371 HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN KEPUASAN PASIEN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. ZAINOEL ABIDIN, 2013 Correlation between Therapeutic
BAB I PENDAHULUAN. penerima jasa pelayanan kesehatan. Keberadaan dan kualitas pelayanan
1 BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Pelayanan kesehatan pada masa kini sudah merupakan industri jasa kesehatan utama di mana setiap rumah sakit bertanggung jawab terhadap penerima jasa pelayanan kesehatan.
BAB I PENDAHULUAN. pelayanan administrasi. Rumah sakit dengan peralatan yang canggih dan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rumah Sakit Sebagai salah satu subsistem pelayanan kesehatan menyelenggarakan dua jenis pelayanan masyarakat yaitu pelayanan kesehatan dan pelayanan administrasi.
PENGARUH KOMPETENSI DOSEN DAN FASILITAS BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MAHASISWA AKADEMI KEBIDANAN ESTU UTOMO BOYOLALI
PENGARUH KOMPETENSI DOSEN DAN FASILITAS BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MAHASISWA AKADEMI KEBIDANAN ESTU UTOMO BOYOLALI TESIS Disusun untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program
INOVASI KEPERAWATAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA PASIEN KANKER DIRUANG SIRSAK RSUD CENGKARENG
INOVASI KEPERAWATAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA PASIEN KANKER DIRUANG SIRSAK RSUD CENGKARENG A. Pengertian Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan atau dirancang untuk tujuan terapi. Seorang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Globalisasi telah memberi dampak positif bagi setiap profesi kesehatan untuk selalu berupaya meningkatkan kinerja profesionalnya dalam kontribusi aterhadap perkembangan
RSUD KOTA DUMAI PELAYANAN GAWAT DARURAT
URAIAN TUGAS PETUGAS ADMINISTRASI DI INSTALASI RAWAT DARURAT Jl. Tanjung Jati No. 4 Dumai URAIAN TUGAS PETUGAS ADMINISTRASI DI INSTALASI RAWAT DARURAT I. Tanggung jawab Secara administrasi bertanggung
PEDOMAN PELAKSANAAN MENAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN METODE TIM
PEDOMAN PELAKSANAAN MENAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN METODE TIM I. Pendahuluan Manajemen adalah proses bekerja melalui upaya orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Manajemen keperawatan merupakan suatu
HUBUNGAN MINAT MASUK PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN DAN MOTIVASI BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR KONSEP KEBIDANAN
HUBUNGAN MINAT MASUK PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN DAN MOTIVASI BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR KONSEP KEBIDANAN TESIS Disusun untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program
INSTRUMEN SUPERVISI ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN SECARA LANGSUNG PADA PERAWAT ASOSIET
INSTRUMEN SUPERVISI ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN SECARA LANGSUNG PADA PERAWAT ASOSIET Beri tanda check list (v) pada kolom Ya bila pekerjaan dilakukan dan pada kolom Tidak bila pekerjaan tidak dilakukan.
BAB II TINJAUAN TEORITIS
BAB II TINJAUAN TEORITIS 1. Pengertian Peran 1.1 Peran Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem. Peran dipengaruhi
BAB I PENDAHULUAN. Keperawatan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan di
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Keperawatan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan di Rumah Sakit, karena itu tujuan pelayanan perawatan merupakan salah satu bagian dari tujuan utama rumah
BAB II PENGELOLAAN PELAYANAN KEPERAWATAN. (Manajemen Pelayanan Keperawatan Profesional). Sistem MPKP ini
BAB II PENGELOLAAN PELAYANAN KEPERAWATAN A. Konsep Dasar Manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk memberikan perawatan, pengobatan dan bantuan terhadap pada
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Timbang terima memiliki beberapa istilah lain. Beberapa istilah itu diantaranya handover, handoffs, shift report, signout, signover dan cross coverage. Handover
METODE BIMBINGAN KLINIK
METODE BIMBINGAN KLINIK I. PENDAHULUAN. Pengalaman belajar bimbingan klinik pada pendidikan tinggi keperawatan maupun kebidanan adalah merupakan proses transformasi dari mahasiswa menjadi seorang perawat
HUBUNGAN MOTIVASI, KOMPETENSI DAN BEBAN KERJA DENGAN KINERJA PERAWAT DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD dr. SOEDIRAN MANGUN SUMARSO WONOGIRI TESIS
HUBUNGAN MOTIVASI, KOMPETENSI DAN BEBAN KERJA DENGAN KINERJA PERAWAT DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD dr. SOEDIRAN MANGUN SUMARSO WONOGIRI TESIS Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister
BAB 1 PENDAHULUAN. berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif ditujukan
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pelayanan keperawatan adalah pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual
BAB 1 PENDAHULUAN. untuk meningkatkan kualitas, dengan memperbaiki sumber daya manusia
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Manajemen sumber daya manusia pada suatu organisasi merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas, dengan memperbaiki sumber daya manusia meningkatkan pula kinerja
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 SERI D NOMOR 9 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 SERI D NOMOR 9 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT
BAB I PENDAHULUAN. perubahan yang sangat pesat menuju perkembangan keperawatan sebagai
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini perkembangan keperawatan di Indonesia telah mengalami perubahan yang sangat pesat menuju perkembangan keperawatan sebagai profesi. Proses ini merupakan proses
SKRIPSI HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PERAWAT TERHADAP PELAKSANAAN MODEL PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL DI RUANG RAWAT INAP RS. JIWA PROF.
SKRIPSI HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PERAWAT TERHADAP PELAKSANAAN MODEL PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL DI RUANG RAWAT INAP RS. JIWA PROF. HB. SAANIN PADANG TAHUN 2011 Penelitian Keperawatan Jiwa E Z
BAB II PENGELOLAAN PELAYANAN KEPERAWATAN. pada pasien (Gillies, 1989). Rumah Sakit Jiwa Derah Provsu telah menerapkan
BAB II PENGELOLAAN PELAYANAN KEPERAWATAN A. Konsep Dasar Manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk memberikan perawatan, pengobatan dan bantuan terhadap pada
HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN KETERSEDIAAN SARANA PRASARANA DENGAN KINERJA BIDAN DALAM PELAKSANAAN KEGIATAN KELAS IBU HAMIL DI KABUPATEN SIDOARJO
HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN KETERSEDIAAN SARANA PRASARANA DENGAN KINERJA BIDAN DALAM PELAKSANAAN KEGIATAN KELAS IBU HAMIL DI KABUPATEN SIDOARJO TESIS Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai
GAMBARAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN DIRUANG RAWAT INAP RSUD SULTANSYARIF MOHAMAD ALKADRIE KOTA PONTIANAK
GAMBARAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN DIRUANG RAWAT INAP RSUD SULTANSYARIF MOHAMAD ALKADRIE KOTA PONTIANAK EKA FEBRIANI I32111019 NASKAH PUBLIKASI PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEJ S A EJ R A AH A PROS PR E OS S E KEPER
SEJARAH PROSES KEPERAWATAN RAHMAD GURUSINGA Proses keperawatan mulai dikenal di Indonesia sekitar tahun 1980-an. Perawat yang dididik sebelum tahun tersebut pada umumnya belum mengenal proses keperawatan
BUPATI BANYUWANGI PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 39 TAHUN 2015 TENTANG PERATURAN INTERNAL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BLAMBANGAN KABUPATEN BANYUWANGI
BUPATI BANYUWANGI PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 39 TAHUN 2015 TENTANG PERATURAN INTERNAL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BLAMBANGAN KABUPATEN BANYUWANGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUWANGI,
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan keperawatan dirasakan sebagai fenomena yang harus direspons oleh perawat. Respon yang ada harus bersifat kondusif dan
BAB I PENDAHULUAN. Banyak persepsi yang menganggap komunikasi itu hal yang mudah, yang menerima pesan dalam berkomunikasi (Suryani, 2015)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Komunikasi merupakan proses yang selalu dilakukan dalam kehidupan setiap manusia, tidak terkecuali perawat. Dalam perkembangan dunia kesehatan komunikasi
HUBUNGAN PERSEPSI KERENTANAN PENYAKIT DAN KESERIUSAN PENYAKIT DENGAN PELAYANAN KESEHATAN PADA HEALTH BELIEF MODEL TESIS
HUBUNGAN PERSEPSI KERENTANAN PENYAKIT DAN KESERIUSAN PENYAKIT DENGAN PELAYANAN KESEHATAN PADA HEALTH BELIEF MODEL TESIS OLEH: PIPIT TRI INDRIAN S541302088 PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. adalah proses komunikasi interprofesional dan pembuatan keputusan yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Praktik Kolaboratif Definisi praktik kolaboratif menurut Jones (2000) dalam Rumanti (2009) adalah proses komunikasi interprofesional dan pembuatan keputusan yang mempertimbangkan
BAB I PENDAHULUAN. seseorang menyampaikan dan mendapatkan respon. Terdapat lima kompenen
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Komunikasi merupakan suatu proses sosial karena melalui komunikasi seseorang menyampaikan dan mendapatkan respon. Terdapat lima kompenen dalam komunikasi diantaranya
BAB I PENDAHULUAN. Pelayanan kesehatan berubah dengan cepat sesuai dengan perubahan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pelayanan kesehatan berubah dengan cepat sesuai dengan perubahan kebutuhan dan harapan masyarakat tentang pelayanan kesehatan. Masyarakat semakin menuntut mutu pelayanan
ETIKA KEPERAWATAN YUNIAR MANSYE SOELI
ETIKA KEPERAWATAN YUNIAR MANSYE SOELI DEFINISI Keperawatan merupakan salah satu profesi yang bergerak pada bidang kesejahteraan manusia yaitu dengan memberikan bantuan kepada individu yang sehat maupun
: Komunikasi Terapeutik, Perawat
GAMBARAN TAHAPAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT TERHADAP PASIEN RUMAH SAKIT ISLAM PKU MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2012 Siti Setiowati Aida Rusmariana, MAN, Zulfa Atabaki, Skep. Ns
HUBUNGAN BERPIKIR KRITIS DAN WAKTU TANGGAP PERAWAT DENGAN KUALITAS ASUHAN KEPERAWATAN DI INSTALASI GAWAT DARURAT RUMAH SAKIT ISLAM SURABAYA.
HUBUNGAN BERPIKIR KRITIS DAN WAKTU TANGGAP PERAWAT DENGAN KUALITAS ASUHAN KEPERAWATAN DI INSTALASI GAWAT DARURAT RUMAH SAKIT ISLAM SURABAYA. TESIS Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister
STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)
STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA -Tahun 2005- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Pengurus Pusat PPNI, Sekretariat: Jl.Mandala Raya No.15 Patra Kuningan Jakarta Tlp: 62-21-8315069 Fax: 62-21-8315070
HUBUNGAN EFIKASI DIRI, KEMANDIRIAN BELAJAR DAN MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA
i HUBUNGAN EFIKASI DIRI, KEMANDIRIAN BELAJAR DAN MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA TESIS Disusun untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Studi Magister
BAB I PENDAHULUAN. dilengkapi dengan dokter yang mampu ini tidak akan memberikan hasil yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah Sakit sebagai salah satu subsistem pelayanan kesehatan menyelenggarakan dua jenis pelayanan masyarakat yaitu pelayanan kesehatan dan pelayanan administrasi. Rumah
BAB I PENDAHULUAN. keperwatan. Layanan ini berbentuk layanan bio-pisiko-sosio-spritual komprehensif
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keperawatan merupakan suatu bentuk layanan kesehatan profesional yang merupakan bagian integral dari layanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperwatan.
maupun sebagai masyarakat profesional (Nursalam, 2013).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan, menuntut perawat bekerja secara profesional yang didasarkan pada standar praktik keperawatan dan
BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit adalah industri yang bergerak di bidang pelayanan jasa
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah sakit adalah industri yang bergerak di bidang pelayanan jasa kesehatan yang tujuan utamanya memberikan pelayanan jasa terhadap masyarakat sebagai usaha meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN. pertanggungjawaban tenaga keperawatan profesional (Depkes RI, 2005).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Upaya peningkatan derajat kesehatan secara optimal menuntut profesi keperawatan mengembangkan mutu pelayanan yang profesional sesuai dengan tuntutan masyarakat di era
STANDAR PRAKTIK KEBIDANAN. IRMA NURIANTI, SKM. M.Kes
STANDAR PRAKTIK KEBIDANAN IRMA NURIANTI, SKM. M.Kes STANDAR ADALAH : Ukuran atau parameter yang digunakan sebagai dasar untuk menilai tingkat kualitas yang telah disepakati dan mampu dicapai dengan ukuran
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI KUALITAS ASUHAN IBU NIFAS DAN KEPUASAN PASIEN DI RSUD SURAKARTA
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI KUALITAS ASUHAN IBU NIFAS DAN KEPUASAN PASIEN DI RSUD SURAKARTA KARYA TULIS ILMIAH Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sains Terapan NURAINI FAUZIAH R1115072
BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan masalah kesehatan benar-benar merupakan kebutuhan. penting. Oleh karena itu, organisasi pelayanan kesehatan diharapkan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dengan begitu kompleksnya masalah hidup sekarang ini menyebabkan masalah kesehatan benar-benar merupakan kebutuhan penting. Oleh karena itu, organisasi pelayanan kesehatan
BAB II. Tinjauan Teori
BAB II Tinjauan Teori 2.1 Teori 2.1.1 Keperawatan Keperawatan merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan professional. Selain itu pelayanan keperawatan menjadi salah satu faktor penentu mutu dan citra
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang fungsi utamanya memberikan pelayanan, perawatan, dan pengobatan kepada seluruh pasien, baik rawat inap, rawat jalan,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. memegang tanggung jawab paling besar untuk perawatan pasien dalam kerangka
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kolaborasi 2.1.1 Defenisi Kolaborasi Kolaborasi adalah hubungan timbal balik dimana pemberi pelayanan memegang tanggung jawab paling besar untuk perawatan pasien dalam kerangka
PADA TAHUN 2020 MENHHASILKAN PERAWAT PROFESIONAL, PENUH CINTA KASIH DAN MAMPU BERSAING SECARA NASIONAL.
VISI AKPER DIRGAHAYU PADA TAHUN 2020 MENHHASILKAN PERAWAT PROFESIONAL, PENUH CINTA KASIH DAN MAMPU BERSAING SECARA NASIONAL. MISI AKPER DIRGAHAYU 1. MENYELENGGARAKAN TRIDHARMA PERGURUAN TINGGI YANG BERKUALITAS
BAB I PENDAHULUAN. terlepas dari sejarah kehidupan bangsa. Setelah Indonesia merdeka pelayanan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia tidak terlepas dari sejarah kehidupan bangsa. Setelah Indonesia merdeka pelayanan kesehatan masyarakat dikembangkan
BAB... METODE PENUGASAN DALAM PELAYANAN KEPERAWATAN
BAB... METODE PENUGASAN DALAM PELAYANAN KEPERAWATAN Setelah mempelajari bagian ini diharapkan mahasiswa mampu: 1) Menyebutkan macam metode penugasan asuhan keperawatan 2) Menjelaskan metode fungsional
HUBUNGAN BEBAN KERJA PERAWAT DENGAN STRES KERJA DI INSTALASI RAWAT INAP RSU ISLAM SURAKARTA SKRIPSI
0 HUBUNGAN BEBAN KERJA PERAWAT DENGAN STRES KERJA DI INSTALASI RAWAT INAP RSU ISLAM SURAKARTA SKRIPSI Di ajukan sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Keperawatan Disusun Oleh: NAMA : JAZA
Tujuan Legeslasi: 1.Memperthankan kualitas pelayanan 2.Memberi kewenangan 3. Menjamin perlindungan hukum 4. Meningkatkan profesionalime
PEMBAHASAN Tujuan: Suatu persyaratan untuk melaksanakan praktek bidan perorangan dalam memberikan pelayanan kebidanan sesuai degan ketentuan 2 yang sudah ditetapkan dalam per undang-undagan serta memberikan
PENGARUH MOTIVASI KERJA DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA PERAWAT PONKESDES DI WILAYAH KABUPATEN TRENGGALEK TESIS
PENGARUH MOTIVASI KERJA DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA PERAWAT PONKESDES DI WILAYAH KABUPATEN TRENGGALEK TESIS Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Magister Kedokteran KeluargaMinat
BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan peranan komunikasi menjadi lebih penting dalam pemberian asuhan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perubahan paradigma dalam keperawatan, dari konsep keperawatan individu menjadi keperawatan paripurna serta kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi kedokteran, menyebabkan
BAB I PENDAHULUAN. harus terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat (Depkes, 1998).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan kesehatan di Indonesia telah diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk. Seperti yang telah dituangkan
PENGARUH KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL, KEMAMPUAN DIRI DAN KEPUASAN KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN KLATEN TESIS
PENGARUH KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL, KEMAMPUAN DIRI DAN KEPUASAN KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN KLATEN TESIS Diajukan Kepada Program Studi Magister Manajemen Program Pascasarjana
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-spriritual yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Perawat 1. Pengertian Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan,
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah sakit merupakan sarana penyedia layanan kesehatan untuk masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI KUALITAS PELAYANAN OBSTETRI NEONATAL EMERGENSI DASAR (PONED) DENGAN KEPUASAN PASIEN DI PUSKESMAS GAJAHAN KARYA TULIS ILMIAH
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI KUALITAS PELAYANAN OBSTETRI NEONATAL EMERGENSI DASAR (PONED) DENGAN KEPUASAN PASIEN DI PUSKESMAS GAJAHAN KARYA TULIS ILMIAH Disusun untuk memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar
HUBUNGAN ANTARA CARA BELAJAR DAN KEAKTIFAN BELAJAR DALAM TUTORIAL DENGAN PRESTASI BELAJAR PADA BLOK TAHAP TAHAP KEHIDUPAN
HUBUNGAN ANTARA CARA BELAJAR DAN KEAKTIFAN BELAJAR DALAM TUTORIAL DENGAN PRESTASI BELAJAR PADA BLOK TAHAP TAHAP KEHIDUPAN (Mahasiswa Fakultas Kedokteran Angkatan 2010/2011 Universitas Mataram) TESIS Disusun
BAB 1 PENDAHULUAN. institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karakteristik tersendiri yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut UU No. 44 Tahun 2009 dinyatakan bahwa rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karakteristik tersendiri yang dipengaruhi oleh
HUBUNGAN ANTARA KEDISIPLINAN BELAJAR DAN ADVERSITY
HUBUNGAN ANTARA KEDISIPLINAN BELAJAR DAN ADVERSITY QUOTIENT DENGAN PRESTASI BELAJAR MATA KULIAH KETERAMPILAN DASAR KEBIDANAN II MAHASISWA AKADEMI KEBIDANAN YAPPI SRAGEN TESIS Disusun untuk Memenuhi Sebagian
BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya mutu pelayanan dengan berbagai kosekuensinya. Hal ini juga yang harus dihadapi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi pada era globalisasi khususnya pada bidang kesehatan, mendorong pelayanan kesehatan untuk terus berupaya meningkatnya
PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
HUBUNGAN MOTIVASI DAN PENGETAHUAN TENTANG TUBERKULOSIS PARU DENGAN KETAATAN PERIKSA DAHAK PENDERITA SUSPECT TUBERKULOSIS PARU (Di Puskesmas Trenggalek KabupatenTrenggalek) TESIS Disusun untuk Memenuhi
Disampaikan Oleh: R. Siti Maryam, MKep, Ns.Sp.Kep.Kom 17 Feb 2014
Disampaikan Oleh: R. Siti Maryam, MKep, Ns.Sp.Kep.Kom 17 Feb 2014 1 Pelayanan keperawatan kesehatan di rumah merupakan sintesa dari keperawatan kesehatan komunitas dan keterampilan teknikal tertentu yang
BAB I PENDAHULUAN. Sakit pasal 1 ayat 1 menyatakan rumah sakit adalah suatu institusi. pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit pasal 1 ayat 1 menyatakan rumah sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Komunikasi 2.1.1 Pengertian Komunikasi Secara Umun Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang disampaikan melalui lambang tertentu, mengandung
MAKALAH TEORI, TIPE KEPEMIMPINAN, PERAN DAN FUNGSI MANAJEMEN KEPERAWATAN
MAKALAH TEORI, TIPE KEPEMIMPINAN, PERAN DAN FUNGSI MANAJEMEN KEPERAWATAN MUHAMMAD JAMAL MISHBAH 6143027 STIKES MUHAMMADIYAH KUDUS TAHUN AKADEMIK 2016/2017 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pelayanan keperawatan adalah bagian integral dari pelayanan kesehatan yang sangat berperan penting dalam upaya pencapaian Visi Departemen Kesehatan Republik Indonesia
BAB 1 PENDAHULUAN. pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna meliputi upaya promotif, pelayanan kesehatan (Permenkes No.147, 2010).
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna meliputi upaya promotif, preventif, kuratif
PENGARUH KONSEP DIRI DAN LINGKUNGAN BELAJAR TERHADAP
PENGARUH KONSEP DIRI DAN LINGKUNGAN BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA KULIAH ASUHAN KEBIDANAN I PADA MAHASISWA SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA TESIS Disusun untuk
HUBUNGAN RELIGIUSITAS, KONSEP DIRI DAN KEINTIMAN KELUARGA DENGAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA MAHASISWA KEBIDANAN POLTEKKES BHAKTI MULIA
HUBUNGAN RELIGIUSITAS, KONSEP DIRI DAN KEINTIMAN KELUARGA DENGAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA MAHASISWA KEBIDANAN POLTEKKES BHAKTI MULIA TESIS Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan untuk mencapai Derajat
HUBUNGAN KINERJA PERAWAT DENGAN KEPUASAN PASIEN RUANG RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT PANTI WALUYA MALANG ABSTRAK
HUBUNGAN KINERJA PERAWAT DENGAN KEPUASAN PASIEN RUANG RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT PANTI WALUYA MALANG Tina Krisnawati 1), Ngesti W. Utami 2), Lasri 3) 1) Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas
BAB II TINJAUAN TEORISTIS
BAB II TINJAUAN TEORISTIS 2.1 Perilaku Caring 2.1.1 Pengertian Caring Perawat Menurut Carruth, dalam Nurachmah (2001) asuhan keperawatan yang bermutu yang diberikan oleh perawat dapat dicapai apabila perawat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau perilaku kepada atau untuk individu atau kelompok melalui antisipasi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Caring Caring adalah kegiatan langsung untuk memberikan bantuan, dukungan, atau perilaku kepada atau untuk individu atau kelompok melalui antisipasi kebutuhan untuk
BAB II LANDASAN TEORI Definisi Komunikasi Terapeutik
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Komunikasi Terapeutik 2.1.1 Definisi Komunikasi Terapeutik Menurut Machfoedz, (2009) Komunikasi terapeutik ialah pengalaman interaktif bersama antara perawat dan pasien dalam
FUNGSI MANAJERIAL TERHADAP PELAKSANAAN MANAJEMEN ASKEP DI RSUD DR. M. YUNUS BENGKULU. Zulkarnain
FUNGSI MANAJERIAL TERHADAP PELAKSANAAN MANAJEMEN ASKEP DI RSUD DR. M. YUNUS BENGKULU Zulkarnain STIKES Bhakti Husada Bengkulu Jl. Kinibalu 8 Kebun Tebeng Telp (0736) 23422 Email : [email protected]
WALIKOTA BALIKPAPAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG
WALIKOTA BALIKPAPAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BALIKPAPAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BAB 1 PENDAHULUAN. sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.
BAB 1 PENDAHULUAN. karakteristik tersendiri dan dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karakteristik tersendiri dan dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan, kemajuan
Keperawatan sebagai Terapi pada Keperawatan Medikal Bedah
Keperawatan sebagai Terapi pada Keperawatan Medikal Bedah Ratna Sitorus Disampaikan pada Seminar HIPMEBI, di RS Persahabatan Jakarta, 11 Februari 2017 Pembahasan 1. Pengertian terapi keperawatan 2. Masalah
BAB I PENDAHULUAN. baik yang bersifat bedah maupun non bedah.(aditama,2002:6) sesuai dengan wewenang, tanggung jawab dan kode etik profesi keperawatan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Rumah sakit merupakan insitusi yang menyediakan pelayanan pasien rawat inap, dimana fungsi utamanya memberikan pelayanan kepada pasien, diagnostik dan terapeutik
HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN KEPUASAN PASIEN DI RAWAT INAP PUSKESMAS KARANGANYAR KABUPATEN PURBALINGGA
HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN KEPUASAN PASIEN DI RAWAT INAP PUSKESMAS KARANGANYAR KABUPATEN PURBALINGGA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mencapai Derajat Sarjana Oleh: METRI
