Disusun Oleh : D

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Disusun Oleh : D"

Transkripsi

1 digilib.uns.ac.id PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PLAIOMETRIK DAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI LOMPAT JAUH (Studi Eksperimen Latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump pada Siswa Putra SMAN 3 Kota Madiun) TESIS Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Studi Ilmu Keolahragaan Disusun Oleh : D Disusun Oleh : PARDIJONO A PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011 i

2 digilib.uns.ac.id PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PLEOMETRIK DAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI LOMPAT JAUH (Studi Eksperimen Latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump pada Siswa Putra SMAN 3 Kota Madiun) Disusun oleh : PARDIJONO A Telah disetujui oleh Tim Pembimbing Pada tanggal : Pembimbing I Pembimbing II Prof. Dr. H. M. Furqon H., M.Pd NIP Prof. Dr. Muchsin Doewes., dr., AIFO NIP Mengetahui Ketua Program Studi Ilmu Keolahragaan Pascasarjana UNS Prof. Dr. Sugiyanto NIP ii

3 digilib.uns.ac.id PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PLEOMETRIK DAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI LOMPAT JAUH (Studi Eksperimen Latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump pada Siswa Putra SMAN 3 Kota Madiun) Disusun oleh : PARDIJONO A Telah disetujui dan disyahkan oleh Tim Penguji Pada tanggal : Jabatan Nama Tanda Tangan Ketua : Prof. Dr. Sugiyanto... Sekretaris : Dr. Agus Kristiyanto, M.Pd... Anggota Penguji : 1. Prof. Dr. H.M. Furqon H., M.Pd Prof. Dr. Muchsin Doewes., dr.,aifo... Direktur PPs UNS Surakarta,.. Mengetahui, Ketua Program Studi Ilmu Keolahragaan Prof.Drs. Suranto., M.Sc., Ph.D Prof. Dr. Sugiyanto NIP NIP iii

4 digilib.uns.ac.id PERNYATAAN Yang bertanda tangan di bawah ini, saya Nama : Pardijono NIM : A Jurusan/Program : Program Studi Ilmu Keoalahragaan Menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa tesis berjudul PERBEDAAN PENGARUH METODE LATIHAN PLAIOMETRIK DAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI LOMPAT JAUH. (Studi Eksperimen Latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump pada Siswa Putra SMAN 3 Kota Madiun), adalah betul-betul karya saya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya dalam tesis tersebut diberi tanda citasi dan ditunjukkan dalam daftar pustaka. Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan tesis dan gelar yang saya peroleh dari tesis tersebut. Surakarta, Agustus 2011 Pembuat pernyataan ( Pardijono ) iv

5 digilib.uns.ac.id MOTTO Jadi ibadahlah yang menjadi motivasi hidup sejati kita. Hidup kita tiada lain hanya untuk beribadah kepada Allah. Segala gerak gerik kita, pemikiran kita, dan ucapan kita harus dalam rangka beribadah kepada Allah. v

6 digilib.uns.ac.id Persembahan Tesis ini saya persembahkan untuk : Karya ini dipersembahkan Kepada: Ibu Tercinta, Isteri dan Anakku Tersayang, Saudara-saudaraku Tersayang, Almamaterku Tercinta vi

7 digilib.uns.ac.id KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT, yang telah melimpatkan rahmat dan hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini yang berjudul Perbedaan Pengaruh Latihan Plaiometrik dan Kekuatan Terhadap Peningkatan Prestasi lompat jauh (Studi Eksperimen Latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump pada Siswa Putra Kelas XI SMAN 3 Kota Madiun) yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dalam bidang Ilmu Keolahragaan. Pada kesempatan ini, perkenankan saya menyampaikan terima kasih yang tiada terhingga kepada : 1. Prof. Dr. R Karsidi.,M.S. selaku Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan di program Pascasarjana Univesitas Sebelas Maret Surakarta. 2. Prof. Drs. Suranto., M.Sc., Ph.D. selaku Direktur Program Pascasarjana Universtas Sebelas Maret yang telah merestui dan memberi kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian dalam rangka memenuhi tugas akhir. 3. Prof Dr. Sugiyanto selaku Ketua program studi Ilmu Keolahragaan, yang telah memberikan motivasi, bimbingan serta dorongan untuk segera menyelesaikan penulisan tesis ini. 4. Prof. Dr. H.M. Furqon H.,M.Pd dan Prof. Dr. Muchsin Doewes.,dr.,AIFO. selaku pembimbing yang senantiasa dengan tekun rela mengorbankan sebagian waktunya untuk selalu memberikan dorongan dan bimbingan serta membuka cakrawala berfikir agar tesis ini dapat terselesaikan dengan baik. vii

8 digilib.uns.ac.id 5. Ibu dan kakak serta adik tercinta yang selalu mengorbankan segala yang dimilikinya serta senantiasa setia dengan doa-doanya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas ini. 6. Istri dan anak yang sangat saya cintai dan sayangi, yang memberi dorongan dan semangat serta telah merelakan waktunya terbagi dengan dalam penelitian ini. 7. Teman-teman sejawat yang telah membantu dalam penulisan ini, yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. 8. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu juga, yang telah banyak membantu dalam penelitian ini. Semoga ALLAH SWT Yang maha pengasih dan Penyayang memberikan balasan yang setimpal serta senantiasa memberikan rahmat, taufik, serta hidayahnya kepada kita semua. Amien ya Robbal alamin. Surakarta, Pardijono viii

9 digilib.uns.ac.id DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... HALAMAN PENGESAHAN... PERNYATAAN... HALAMAN MOTTO... HALAMAN PERSEMBAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... i ii iii iv v vi vii ix DAFTAR TABEL... xiii DAFTAR GAMBAR... xiv DAFTAR LAMPIRAN... xvi ABSTRAK... xviii ABSTRACT... xix BAB I. PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Identifikasi Masalah... 9 C. Pembatasan Masalah D. Perumusan Masalah E. Tujuan Penelitian F. Manfaat Penelitian ix

10 digilib.uns.ac.id BAB II. KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS A. Kajian Teori Lompat Jauh a. Awalan b. Tolakan c. Melayang di Udara d. Mendarat e. Prestasi Lompat Jauh Latihan a. Prinsip-Prinsip Latihan b. Tujuan Latihan c. Metode Latihan d. Program Latihan e. Sistematis Latihan Plaiometrik a) Bentuk-Bentuk Latihan Plaiometrik b) Mekanisme Kontraksi Otot c) Sistem Energi Latihan Plaiometrik d) Latihan Plaiometrik Hurdle Hopping e) Latihan Plaiometrik Squat Thrust Jump Kekuatan a. Komponen Otot Tungkai b. Peranan Kekuatan Otot Tungkai Terhadap Peningkatan x

11 digilib.uns.ac.id Prestasi Lompat Jauh B. Penelitian yang Relevan C. Kerangka Pemikiran D. Perumusan Hipotesis BAB III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian B. Metode dan Rancangan Penelitian C. Variabel Penelitian Variabel Independen Variabel Dependen D. Definisi Operasional Variabel E. Populasi dan Sampel Populasi Sampel F. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumennya Pengumpulan Data Kekuatan Otot Tungkai Pengumpulan Data Prestasi Lompat Jauh Mencari Reliabilitas Tes Uji Reliabilitas G. Teknik Analisis Data Uji Persyaratan a. Uji Normalitas b. Uji Homogenitas Variansi xi

12 digilib.uns.ac.id 2. Uji Hipotesis BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data B. Pengujian Persyaratan Analisis Uji Normalitas Uji Homogenitas C. Pengujian Hipotesis D. Rangkuman Pengujian Hipotesis E. Pembahasan Hasil Penelitian BAB V. KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Kesimpulan B. Implikasi C. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN xii

13 digilib.uns.ac.id DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. Zona Latihan Berdasarkan Denyut Nadi Tabel 2. Prediksi Pulih Asal dan Diet Tabel 3. Klasifikasi Aktivitas Maksimal pada Berbagai Durasi Serta Sistem Penyediaan Energi untuk Aktivitas Tabel 4. Berbagai Substrat untuk Pasok Energi dan Ciri-Cirinya Tabel 5. Kapasitas ATP dan Jumlah Tenaga Per menit dalam Sistem Energi Tabel 6. Berbagai Olahraga dan Aktivitas dan Sistem-Sistem Energi yang Dominan Tabel 7. Rancangan Penelitian Faktorial 2 x Tabel 8. Pengelompokan Berdasarkan Rancangan Penelitian Faktorial 2 x Tabel 9. Efisien Korelasi Reliabilitas Tabel 10. Ringkasan Anava untuk Eksperimen Faktorial 2 x Tabel 11. Deskripsi Data Hasil Tes Prestasi Lompat Jauh Tiap Kelompok Berdasarkan Penggunaan Latihan Plaiometrik dan Kekuatan Otot Tungkai Tabel 12. Nilai Peningkatan Prestasi Lompat Jauh Masing-Masing sel Tabel 13. Rangkuman Hasil Uji Homogenitas Data Tabel 14. Ringkasan Hasil Analisis Varians Dua Faktor Tabel 15. Kesimpulan Hasil Penelitian xiii

14 digilib.uns.ac.id Tabel 16. Interaksi Antar Variabel A dan B Terhadap Peningkatan Prestasi Lompat Jauh Tabel 17. Time Schedule (Program Kerja) Penelitian Tabel 18. Materi Latihan Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump Tabel 19. Matrik Latihan Lompat Jauh dan Hurdle Hopping Tabel 20. Matrik Latihan Lompat Jauh dan Squat Thrust Jump Tabel 21. Data Hasil Tes Awal Lompat Jauh Tabel 22. Data Hasil Tes Akhir Lompat Jauh Tabel 23. Uji Reliabilitas dengan Anava Tes Awal Tabel 24. Uji Reliabilitas dengan Anava Tes Akhir Tabel 25. Data Tes Awal dan Tes Akhir Prestasi Lompat Jauh dan Kekuatan Otot Tungkai Beserta Pembagian Sel Tabel 26. Persiapan Perhitungan Statistik F untuk Anava Dua Jalan untuk Tes Awal Prestasi Lompat Jauh Tabel 27. Persiapan Perhitungan Statistik F untuk Anava Dua Jalan Untuk Tes Akhir Prestasi Lompat Jauh Tabel 28. Tabel Kerja untuk Menghitung Nilai Homogenitas dan Analisis Varians Tabel 29. Tabel Kerja Untuk menghitung Homogenitas dan Analisis Varians Tabel 30. Hasil Penghitungan Data untuk Uji Homogenitas dan Analisis Varians Tabel 31. Deskripsi Data Penelitian xiv

15 digilib.uns.ac.id Tabel 32. Analisis Varians Tabel 33. Uji Homogenitas dengan Uji Bartlet untuk Hasil Tes Akhir Prestasi Lompat Jauh xv

16 digilib.uns.ac.id DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Pelaksanaan Awalan Lompat Jauh Gambar 2. Pelaksanaan Tolakan Lompat Jauh Gambar 3. Pelaksanaan Lompat Jauh Teknik Melayang Gaya Jongkok Gambar 4. Pelaksanaan Lompat Jauh Teknik Melayang Gaya Berjalan di Udara Gambar 5. Pelaksanaan Lompat Jauh Teknik Melayang Gaya Gantung Gambar 6. Pelaksanaan Lompat Jauh Teknik Pendaratan Gambar 7. Kurva Kecepatan Beban Latihan yang Diikuti dengan Peningkatan Prestasi Gambar 8. Bentuk Latihan Alternate Leg Box Bound Gambar 9. Bentuk Latihan Double Speed Hop Gambar 10. Bentuk Latihan Knee Tuck Jump Gambar 11 : Bentuk Latihan Dept Jump Leap Gambar 12. Bentuk Latihan Decline Ricochet Gambar 13. The Golgi Tendon Organ Gambar 14. Penyediaan ATP Gambar 15. Susunan Otot Tungkai Dilihat dari Belakang Gambar 16. Susunan Otot Tungkai Dilihat dari Depan xvi

17 digilib.uns.ac.id Gambar 17. Histogram Nilai Rata-Rata Hasil Tes Awal dan Tes Akhir Prestasi Lompat Jauh Tiap Kelompok Berdasarkan Penggunaan Latihan dan Kekuatan Otot Tungkai Gambar 18. Histogram Nilai Rata-Rata Peningkatan Prestasi Lompat Jauh pada Tiap Kelompok Perlakuan Gambar 19. Uji Normalitas Latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dengan Kekuatan Otot Tungkai Tinggi Gambar 20. Uji Normalitas Latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dengan Kekuatan Otot Tungkai rendah Gambar 21. Uji Normalitas Latihan Plaiometrik Squat Thrust Jump dengan Kekuatan Otot Tungkai Tinggi Gambar 22. Uji Normalitas Latihan Plaiometrik Squat Thrust Jump dengan Kekuatan Otot Tungkai Rendah Gambar 23. Bentuk Interaksi Perubahan Besarnya Peningkatan Prestasi Lompat Jauh Gambar 24. Peningkatan Beban Latihan dalam Jenis Langkah pada Siklus Mikro xvii

18 digilib.uns.ac.id DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Time Schedule (Program Kerja) Penelitian Lampiran 2. Program Latihan Lampiran 3. Deskripsi Pelaksanaan Latihan Lompat Jauh dan Latihan Plaiometrik Lampiran 4. Rencana Pelaksanaan Pelatihan Lompat Jauh dan Hurdle Hopping Lampiran 5. Matrik Latihan Lompat Jauh dan Hurdle Hopping Lampiran 6. Rencana Pelaksanaan Pelatihan Lompat Jauh dan Squat Thrust Jump Lampiran 7. Matrik Latihan Lompat Jauh dan Squat Thrust Jump Lampiran 8. Keterangan Pelaksanaan Latihan Lampiran 9. Deskripsi Instrumen Penelitian Lampiran 10. Daftar Nama Populasi dan Hasil Tes Kekuatan Otot Tungkai Lampiran 11. Daftar Hasil Klasifikasi Sampel Berdasarkan Kekuatan Otot Tungkai Lampiran 12. Daftar Pembagian Kelompok dengan Cara Ordinal Pairing Rumus ABBA Lampiran 13. Skema Penelitian Berdasarkan Pembagian Kelompok dan Perlakuan Lampiran 14. Daftar Pembagian Kelompok dan Perlakuan dengan Cara Undian xviii

19 digilib.uns.ac.id ABSTRAK PARDIJONO. A Perbedaan Pengaruh Latihan Plaiometrik dan Kekuatan Otot Tungkai Terhadap Peningkatan Prestasi Lompat Jauh. Tesis. Surakarta.Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta September Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Perbedaan pengaruh antara latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump terhadap peningkatan prestasi lompat jauh. (2) Perbedaan hasil prestasi lompat jauh antara atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai tinggi dan kekuatan otot tungkai rendah. (3) Pengaruh interaksi antara latihan plaiometrik dan kekuatan otot tungkai terhadap peningkatan prestasi lompat jauh. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan rancangan factorial 2 X 2. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 3 kota Madiun selama 2 bulan Besarnya sampel penelitian 40 atlet yang berasal dari jumlah populasi sebesar 60 atlet. Teknik pengambilan sampel dengan purposive random sampling. Variabel penelitian terdiri dari variabel independent yakni: variabel manipulatif: latihan plaiometrik Hurdle Hopping dan latihan plaiometrik Squat Thrust Jump, variable atributif yakni : kekuatan otot tungkai tinggi dan kekuatan otot tungkai rendah serta variabel dependent yakni : prestasi lompat jauh. Teknik pengumpulan data dengan Tes dan Pengukuran, data prestasi lompat jauh dites dengan melakukan lompatan yang paling jauh di mana reliabilitas tesnya dicari dengan teknik analisis varians (ANAVA) dan data kekuatan otot tungkai dites dengan leg dynamometer. Teknik analisis data menggunakan ANAVA dan taraf signifikasi α = 0,05. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1)Ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara latihan plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump terhadap Prestasi lompat jauh. Pengaruh latihan Hurdle Hopping mempunyai peningkatan prestasi lompat jauh lebih baik dari pada latihan Squat Thrust Jump untuk peningkatan prestasi lompat jauh (F hitung = 40,3787> F table = 4,11). (2) Ada perbedaan hasil prestasi lompat jauh yang signifikan antara atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai tinggi dan rendah. Peningkatan hasil prestasi lompat jauh pada atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai tinggi lebih baik dari atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai rendah (F hitung = 78,5447 > F table = 4,11). (3) Ada pengaruh interaksi yang signifikan antara latihan plaiometrik dan kekuatan otot tungkai terhadap peningkatan prestasi lompat jauh (F hitung = 98,9703 > F table = 4,11), a) Atlet dengan kekuatan otot tungkai tinggi lebih baik diberikan latihan plaiometrik Hurdle Hopping, b) latihan plaiometrik squat thrust Jump lebih cocok diterapkan pada atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai rendah. Kata Kunci : Latihan Plaiometrik, Latihan Hurdle Hopping, Latihan Squat Thrust Jump, Kekuatan Otot Tungkai, dan Prestasi Lompat Jauh. xix

20 digilib.uns.ac.id ABSTRACT PARDIJONO. A The difference of Effect Plyometrics Training and Strength of Leg Muscle to Improvement of Long Jump Achievement. Thesis. Surakarta. Graduate School of Sebelas Maret University Surakarta September This research is aimed at knowing : (1) The difference of effect between Plyometrics training Hurdle Hopping and Squat Thrust Jump to the Improvement of long jump Achievement. (2) The difference of Long Jump Achievement between the athletes who have high leg muscle strength and those who have low leg muscle strength. (3) The effect of Interaction between Plyometrics Training and the strength of leg muscle to the Improvement of Long Jump Achievement. The Research Method used was experiment with factorial 2 X 2. The research was carried out at SMA Negeri 3 Madiun for two months. The number of research sample was 40 athletes from the total population of 60 athletes. The technique of sampling was purposive random sampling. The research variables consist of independent variable : manipulative variable : Plyometrics training Hurdle Hopping and Plyometrics training Squat Thrust Jump, attributive variable : high leg muscle strength and low leg muscle strength and dependent variable : long jump Achievement. The technique of data collection was Test and Measurement, the achievement data of long jump was tested by doing the longest jumping in which the test reliability was measured using variant analysis technique (ANAVA) and the data of leg muscle strength was tested using leg dynamometer. The technique of data analysis used ANAVA and the level of significance = 0,05. Based on research it can be concluded that : (1) The was significant difference of effect between Plyometrics training Hurdle Hopping and Squat Thrust Jump to the Achievement of long Jump. The training effect Hurdle Hopping had better long jump achievement than training Squat Thrust Jump to improve long jump achievement ( F calculate = > F table = 4.11). (2) There was significant difference of long jump achievement between athletes with high leg muscle strength and those with low leg muscle strength. The improvement of long jump achievement on athletes with high leg muscle strength was better than those with low leg muscle strength ( F calculate = > F table 4.11). (3) There was significant interactional effect between Plyometrics training and leg muscle strength to the improvement of long jump achievement ( F calculate = > F table = 4.11), a) Athletes with high leg muscle strength should be given Plyometrics training Hurdle Hopping b) Plyometrics training squat thrust Jump was better applied to the athletes with low leg muscle strength. Key words : Plyometrics Training, Training Hurdle Hopping, Training Squat Thrust Jump, Leg Muscle Strength, Long Jump Achievement xx

21 digilib.uns.ac.id ABSTRAK PARDIJONO. A Perbedaan Pengaruh Latihan Plaiometrik dan Kekuatan Otot Tungkai Terhadap Peningkatan Prestasi Lompat Jauh. Tesis. Surakarta.Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta September Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Perbedaan pengaruh antara latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump terhadap peningkatan prestasi lompat jauh. (2) Perbedaan hasil prestasi lompat jauh antara atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai tinggi dan kekuatan otot tungkai rendah. (3) Pengaruh interaksi antara latihan plaiometrik dan kekuatan otot tungkai terhadap peningkatan prestasi lompat jauh. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan rancangan factorial 2 X 2. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 3 kota Madiun selama 2 bulan Besarnya sampel penelitian 40 atlet yang berasal dari jumlah populasi sebesar 60 atlet. Teknik pengambilan sampel dengan purposive random sampling. Variabel penelitian terdiri dari variabel independent yakni: variabel manipulatif: latihan plaiometrik Hurdle Hopping dan latihan plaiometrik Squat Thrust Jump, variable atributif yakni : kekuatan otot tungkai tinggi dan kekuatan otot tungkai rendah serta variabel dependent yakni : prestasi lompat jauh. Teknik pengumpulan data dengan Tes dan Pengukuran, data prestasi lompat jauh dites dengan melakukan lompatan yang paling jauh di mana reliabilitas tesnya dicari dengan teknik analisis varians (ANAVA) dan data kekuatan otot tungkai dites dengan leg dynamometer. Teknik analisis data menggunakan ANAVA dan taraf signifikasi α = 0,05. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1)Ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara latihan plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump terhadap Prestasi lompat jauh. Pengaruh latihan Hurdle Hopping mempunyai peningkatan prestasi lompat jauh lebih baik dari pada latihan Squat Thrust Jump untuk peningkatan prestasi lompat jauh (F hitung = 40,3787> F table = 4,11). (2) Ada perbedaan hasil prestasi lompat jauh yang signifikan antara atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai tinggi dan rendah. Peningkatan hasil prestasi lompat jauh pada atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai tinggi lebih baik dari atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai rendah (F hitung = 78,5447 > F table = 4,11). (3) Ada pengaruh interaksi yang signifikan antara latihan plaiometrik dan kekuatan otot tungkai terhadap peningkatan prestasi lompat jauh (F hitung = 98,9703 > F table = 4,11), a) Atlet dengan kekuatan otot tungkai tinggi lebih baik diberikan latihan plaiometrik Hurdle Hopping, b) latihan plaiometrik squat thrust Jump lebih cocok diterapkan pada atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai rendah. Kata Kunci : Latihan Plaiometrik, Latihan Hurdle Hopping, Latihan Squat Thrust Jump, Kekuatan Otot Tungkai, dan Prestasi Lompat Jauh.

22 digilib.uns.ac.id ABSTRACT PARDIJONO. A The difference of Effect Plyometrics Training and Strength of Leg Muscle to Improvement of Long Jump Achievement. Thesis. Surakarta. Graduate School of Sebelas Maret University Surakarta September This research is aimed at knowing : (1) The difference of effect between Plyometrics training Hurdle Hopping and Squat Thrust Jump to the Improvement of long jump Achievement. (2) The difference of Long Jump Achievement between the athletes who have high leg muscle strength and those who have low leg muscle strength. (3) The effect of Interaction between Plyometrics Training and the strength of leg muscle to the Improvement of Long Jump Achievement. The Research Method used was experiment with factorial 2 X 2. The research was carried out at SMA Negeri 3 Madiun for two months. The number of research sample was 40 athletes from the total population of 60 athletes. The technique of sampling was purposive random sampling. The research variables consist of independent variable : manipulative variable : Plyometrics training Hurdle Hopping and Plyometrics training Squat Thrust Jump, attributive variable : high leg muscle strength and low leg muscle strength and dependent variable : long jump Achievement. The technique of data collection was Test and Measurement, the achievement data of long jump was tested by doing the longest jumping in which the test reliability was measured using variant analysis technique (ANAVA) and the data of leg muscle strength was tested using leg dynamometer. The technique of data analysis used ANAVA and the level of significance = 0,05. Based on research it can be concluded that : (1) The was significant difference of effect between Plyometrics training Hurdle Hopping and Squat Thrust Jump to the Achievement of long Jump. The training effect Hurdle Hopping had better long jump achievement than training Squat Thrust Jump to improve long jump achievement ( F calculate = > F table = 4.11). (2) There was significant difference of long jump achievement between athletes with high leg muscle strength and those with low leg muscle strength. The improvement of long jump achievement on athletes with high leg muscle strength was better than those with low leg muscle strength ( F calculate = > F table 4.11). (3) There was significant interactional effect between Plyometrics training and leg muscle strength to the improvement of long jump achievement ( F calculate = > F table = 4.11), a) Athletes with high leg muscle strength should be given Plyometrics training Hurdle Hopping b) Plyometrics training squat thrust Jump was better applied to the athletes with low leg muscle strength. Key words : Plyometrics Training, Training Hurdle Hopping, Training Squat Thrust Jump, Leg Muscle Strength, Long Jump Achievement

23 digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Faktor utama untuk mencapai prestasi olahraga yang maksimal adalah adanya peningkatan kualitas dalam pelatihan dan pembinaan. Peningkatan dalam pelatihan dan pembinaan olahraga tersebut dapat dicapai dengan penerapan berbagai disiplin ilmu dan teknologi. Upaya meningkatkan prestasi olahraga, harus melalui latihan yang dilakukan dengan pendekatan ilmiah terhadap ilmuilmu yang terkait. Berbagai ilmu yang berkaitan dengan olahraga antara lain adalah psikologi olahraga, biomekanika, dan fisiologi latihan (Pate R., Rotella R. & Mc Clenaghan B. 1993:3). Dengan dukungan dari berbagai disiplin ilmu tersebut akan dapat dikembangkan teori-teori latihan yang baik, sehingga prestasi olahraga dapat meningkat. Atletik merupakan induk dari semua cabang olahraga dimana gerakan yang ada didalamnya bisa dikatakan pola gerak dasar hidup manusia. Gerakan-gerakan dalam atletik merupakan gerakan yang dilakukan manusia sehari-hari. Atletik juga bisa diartikan sebagai aktivitas jasmani atau latihan fisik, berisikan gerakangerakan alamiah dasar atau wajar seperti jalan lari, lompat dan lempar. Karena atletik merupakan gerakan yang dilakukan sehari-hari, maka dalam hidupnya manusia tentu pernah melakukan gerakan jalan, lari, lompat serta lempar. Akhir-akhir ini terjadi perkembangan prestasi yang sangat pesat dalam olahraga atletik khususnya nomor commit lompat to jauh. user Hal ini dapat dilihat dari adanya 1

24 digilib.uns.ac.id 2 pemecahan-pemecahan rekor dalam lompat jauh. Pada saat ini telah banyak atlet yang mampu mengukir prestasi yang sangat mengagumkan dan sangat sulit untuk dibayangkan sebelumnya. Pesatnya perkembangan pencapaian prestasi dalam olahraga, khususnya dalam prestasi lompat jauh tentunya tidak terlepas dari beberapa faktor yang mendukung. Faktor-faktor yang dapat memacu perkembangan prestasi dalam olahraga diantaranya adalah peningkatan kualitas dalam pelatihan dan pembinaan olahraga. Peningkatan kualitas dalam pelatihan dan pembinaan olahraga tersebut dapat dicapai dengan penerapan disiplin ilmu dan teknologi yang terkait dalam pelatihan dan pembinaan olahraga. Dengan dukungan dari berbagai disiplin ilmu tersebut dapat dikembangkan teori latihan yang baik, sehingga prestasi olahraga dapat ditingkatkan dengan baik.pencapaian prestasi olahraga tersebut tidak terlepas dari dukungan masyarakat dan insane olahraga serta pakar di bidang olahraga. Prestasi cabang atletik khususnya nomor lompat jauh tidak dapat tercapai dengan spekulatif, tetapi harus melalui latihan secara intensif dengan program latihan yang baik berdasarkan prinsip-prinsip latihan yang benar. Latihan yang dilakukan tersebut tentunya harus bersifat khusus, yaitu khusus mengembangkan komponen-komponen yang diperlukan dalam lompat jauh. Untuk mencapai prestasi dalam olahraga atletik, khususnya nomor lompat jauh diperlukan berbagai pertimbangan dan perhitungan serta analisis yang cermat mengenai faktor-faktor penentu dan penunjang prestasi tersebut dapat dijadikan dasar dalam menyusun program latihan. Faktor-faktor penunjang dan penentu dalam prestasi lompat jauh

25 digilib.uns.ac.id 3 tersebut diantaranya adalah kekuatan otot tungkai. Dalam upaya menyusun program latihan untuk meningkatkan prestasi lompat jauh harus cermat dan penuh perhitungan, agar latihan tersebut dapat mencapai hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan. Untuk meningkatkan jauhnya lompatan diperlukan latihan yang intensif dan program latihan yang baik. Metode yang digunakan juga harus khusus yang sesuai dengan karakteristik nomor lompat jauh. Faktor-faktor pendukung dalam pencapaian prestasi khususnya atletik antara lain seperti dikemukan Benhard, G (1993:10) sebagai berikut: 1). Bakat, 2) bentuk gerakan dan latihan, 3) tingkat perkembangan faktor prestasi dan sifat-sifat yang berdaya gerak (tenaga, stamina, kecepatan, dan keterampilan), 4) niat dan kemauan. Dalam pembinaan cabang olahraga atletik sebaiknya factor-faktor tersebut dimiliki oleh setiap atlet, karena faktor tersebut merupakan dasar utama untuk keberhasilan dalam pembinaan atlet meraih prestasi maksimal. Menurut M. Sajoto (1988:7) Pengembangan factor-faktor lain yang mendukung dalam pelatihan, misalnya faktor fisik, teknik, taktik, mental dan kematangan juara, hal ini berarti keberadaan fisik yang baik merupakan modal utama bagi atlet dalam meraih prestasi.. Menurut M. sajoto, mengatakan bahwa kondisi fisik adalah suatu kesatuan yang utuh dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisah-pisahkan begitu saja, baik peningkatan maupun pemeliharaannya. Artinya dalam usaha pengembangan kondisi fisik maka seluruhnya komponen tersebut harus dikembangkan, walaupun disana-sini dilakukan dengan system prioritas sesuai keadaan atau status tiap komponen itu dan untuk apa keperluan atau status yang dibutuhkan. Kondisi fisik tersebut antara

26 digilib.uns.ac.id 4 lain: kekuatan, daya tahan, daya otot, kecepatan, kelentukan, kelincahan, keseimbangan, ketepatan dan reaksi. Cabang olahraga atletik nomor lompat jauh merupakan olahraga yang gerakannya tidak begitu kompleks, sehingga atlet seharusnya lebih cepat menguasai dan mencapai tingkat keberhasilan. Teknik lompat jauh yang harus dikuasai atlet adalah 1) melakukan awalan, 2) melakukan tolakan atau tumpuan, 3) melakukan sikap posisi badan di udara, 4) melakukan pendaratan dengan teknik yang benar sehingga atlet dapat mencapai lompatan terjauhnya. Kenyataan di lapangan atlet umumnya belum mampu memperoleh hasil lompatan yang optimal. Untuk memproleh itu semua diperlukan latihan-latihan khusus yang cocok untuk cabang olahraga tertentu, kualitas-kualitas kondisional dan teknik olahraga harus dianalisis secara hati-hati. Untuk suatu analisis semacam itu, seorang pelatih harus memiliki pengetahuan dalam anatomi fungsional (otot-otot yang ambil bagian dalam suatu tindakan dan bagaimana tindakan itu), fisiologi (kapasitas daya tahan aerobic dan anaerobic), biomekanik (efisiensi keterampilan, pengaruh tenaga, kecepatan, akselarasi dan sebagainya), teori latihan dan lebih dari itu jadilah pemain yang berpengalaman dalam cabang olahraga tertentu. Latihan-latihan khusus dapat diuraikan dengan menggunakan contoh : seorang pelompat melatih rangkaian lompatan yang berbeda-beda tanpa atau dengan berat tambahan. Fox (1998:171) menyatakan bahwa latihan harus bersifat khusus, ditujukan terhadap system energy yang digunakan dan khsusus terhadap pola gerak yang sesuai dengan keterampilan olahraga tersebut.

27 digilib.uns.ac.id 5 Setiap kegiatan fisik yang dilakukan atlet menyebabkan perubahanperubahan anatomi, fisiologi, biokimia dan psikologi. Efisiensi aktifitas tersebut merupakan suatu fungsi durasi, jarak dan banyaknya pengulangan (volume), beban dan velositas (intensitas) dan frekwensi kinerjanya kecepatan (Bompa. 1990:77). Atlet yang mampu mencapai tingkat kinerja yang tinggi, maka volume pelatihan keseluruhan menjadi sangat penting. Dalam hubungannya dengan pelatihan atlet-atlet kelas atas, tidak ada jalan pintas dalam hal kuantitas kerja yang tinggi yang harus dilakukan. Kenaikan yang terus menerus dalam volume latihan barangkali merupakan salah satu prioritas tertinggi dalam pelatihan sekarang ini. Volume latihan yang tinggi jelas dapat dibenarkan secara fisiologis, apabila tidak adaptasi fisiologis tidak mungkin tercapai. Peningkatan volume kerja merupakan segi terpenting bagi pelatihan setiap cabang olahraga yang punya komponen aerobik. Seringkali dijumpai pelatih yang memberikan program latihan untuk pelompat jauh, dengan bentuk latihan yang kurang sesuai dengan karakteristik lompat jauh. Di dalam meningkatkan hasil lompatan ada beberapa bentuk latihan yang sesuai dengan karakteristik nomor lompat jauh. Salah satu aktivitas yang paling dikenal untuk perkembangan tenaga adalah latihan Plaiometrik. Latihan Plaiometrik berusaha untuk menggunakan berat badan sendiri atau menggunakan beberapa alat untuk meningkatkan rangsangan latihan. Banyak metode latihan untuk meningkatkan kondisi fisik atlet lompat jauh, dalam penelitian ini penulis memilih salah satu jenis metode latihan untuk

28 digilib.uns.ac.id 6 kekuatan otot tungkai dengan metode latihan Plaiometrik. Latihan Plaiometrik menggunakan gaya berat untuk meningkatkan energy elastic yang tersimpan di otot selama kontraksi eksentris (masa persiapan) dari suatu kegiatan. Beberapa energi yang disimpan itu kemudian dilepaskan saat kontraksi konsentris (masa pelepasan) yang menyusul dengan segera. Energi simpanan ini memudahkan gerakan meninggi atau melompat. Latihan Plaiometrik digunakan untuk melatih aspek yang eksentris dari kerja otot. Di samping itu latihan Plaiometrik membantu mengembangkan seluruh system neuromuskuler untuk gerakan-gerakan power, tidak hanya jaringan yang berkontraksi. Latihan Plaiometrik adalah gerakan dari rangsangan peregangan otot secara mendadak supaya terjadi kontraksi yang lebih kuat. Latihan tersebut dapat menghasilkan peningkatan daya ledak dan kekuatan kontraksi. Daya ledak dan kekuatan kontraksi otot merupakan cermin peningkatan adaptasi fungsional neuromuskuler. Peningkatan kontraksi otot merupakan perbaikan fungsi reflex peregangan (stretch reflex) dari muscle spindle. Kualitas keterampilan gerak yaitu kekuatan dan keterampilan bekerja sama satu dengan yang lain. Latihan kekuatan dipraktekkan dengan berbagai kombinasi latihan yang lain, latihan tersebut hendaknya dimulai pada usia sangat muda dan berbakat pada cabang olahraga yang disukainya. Latihan plaiometrik berusaha untuk menggunakan berat badan sendiri atau menggunakan beberapa alat untuk meningkatkan rangsangan latihan. Sebagian besar cabang olahraga dapat dilakukan dengan lebih terampil jika atlet memiliki power yang merupakan gabungan dari kekuatan dan kecepatan. Latihan

29 digilib.uns.ac.id 7 plaiometrik membantu para atlet dalam berbagai cabang olahraga, khususnya atletik nomor lompat jauh Program latihan plaiometrik harus diberikan beban lebih yang resestif, temporal dan spesial. Beban lebih yang tepat ditentukan dengan mengontrol ketinggian turun atau jatuhnya atlet, beban yang digunakan dan jarak tempuh. Beban lebih yang tidak tepat dapat mengganggu keefektifan latihan atau bahkan menyebabkan cidera. Jadi dengan menggunakan beban yang melampaui tuntutan beban yang resestif dari gerakan-gerakan plaiometrik tertentu dapat meningkatkan kekuatan tetapi tidak selalu meningkatkan power explosif. Beban lebih resestif pada kebanyakan latihan plaiometrik adalah berupa gaya momentum dari gravitasi dengan menggunakan beban berat tubuh. Bicara masalah momentum hasil kali massa dan kecepatan suatu benda yang jatuh semakin tinggi akan semakin cepat, sehingga momentumnya akan semakin besar. Berbagai jenis dan macam latihan plaiometrik yang dapat dirancang imajinasi dan rasa ingin, serta pemahaman dasar tentang proses neuromuskuler yang terlibat, memungkinkan kita mengembangkan latihan-latihan plaiometrik yang bermanfaat. Namun demikian tidaklah praktis untuk menganalisis setiap pola gerakan keterampilan olahraga dan setiap rangsangan latihan plaiometrik untuk keterampilan olahraga tersebut. Pelatih dan atlet segera dapat mengetahui mana diantara latihan-latihan plaiometrik yang lebih cocok atau tepat untuk kebutuhan latihan.

30 digilib.uns.ac.id 8 Adapun bentuk-bentuk latihan plaiometrik adalah melangkah, melompat, melayang, melompat dengan satu kaki, meloncat dengan menempuh jarak, skiping, mengayun, dan memutar (Bompa, 1994:77). Kemampuan meloncat bisa digunakan sebagai prediktor kekuatan tubuh dan juga bisa merupakan tes diagnostik dalam hal koordinasi gerak. Perkembangan kemampuan meloncat berkaitan erat dengan peningkatan kekuatan dan koordinasi tubuh. Koordinasi tubuh yang berkembang dengan baik dan disertai peningkatan kekuatan yang baik akan menghasilkan perkembangan kemampuan meloncat yang baik pula (Sugiyanto, 1998:155). Menurut Sugiyanto (1998:187) pertumbuhan yang cepat pada laki-laki memberikan keuntungan dalam ukuran dan bentuk tubuh, kekuatan dan fungsi fisiologis yang memberikan kemudahan dalam penampilan fisik selama masa adolesensi. Berdasarkan pada kaidah-kaidah metodologi yang benar, faktor-faktor yang secara khusus terkait dan pola gerak keterampilan dalam lompat jauh perlu mempertimbangkan inovasi dalam bidang metode latihan yang menkaji pada pengembangan teori dan metodologi latihan, penemuan baru hasil penelitian yang relevan yang selaras dengan pemanfaatan pengembangan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, maka perlu mengkaji sejauh mana Perbedaan Pengaruh Metode Latihan Plaiometrik (Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump ) dan Kekuatan Otot Tungkai terhadap Prestasi Lompat Jauh pada Siswa Putra Kelas XI SMAN 3 Kota Madiun.

31 digilib.uns.ac.id 9 B. Identifikasi Masalah Penggunaan metode latihan yang tepat dan mengadakan evaluasi berdasarkan metodologi latihan adalah merupakan wujud keberhasilan dan kemajuan latihan-latihan atletik yang biasanya dilakukan para pelatih yang mengacu pada pengalaman selama menjadi atlet dan yang tidak berbasis pada ilmu keolahragaan, akan menghambat peningkatan latihan dan akan ketinggalan dalam berprestasi. Kelemahan-kelemahan yang terjadi harus dicari alternative pemecahannya sehingga peningkatan prestasi yang maksimal akan tercapai. Berdasarkan pada latar belakang masalah, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut : 1. Prestasi lompat jauh dapat dicapai melalui latihan dan dengan prinsip-prinsip latihan yang benar. 2. Kondisi fisik diperlukan dalam pencapaian prestasi lompat jauh yang maksimal 3. Salah satu jenis metode latihan untuk meningkatkan prestasi lompat jauh adalah dengan metode latihan Plaiometrik 4. Metode latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dan latihan Squat Thrust Jump akan meningkatkan kekuatan otot-otot tungkai. 5. Metode latihan Plaiometrik untuk meningkatkan kekuatan otot tungkai adalah dengan bentuk latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump.

32 digilib.uns.ac.id Bentuk latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump untuk meningkatkan kemampuan saat menumpu pada atlet lompat jauh. 7. Penerapan bentuk latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dan latihan Squat Thrust Jump dengan memperhatikan kekuatan otot tungkai rendah dan tinggi. 8. Untuk mencapai prestasi lompat jauh dipengaruhi berbagai faktor penentu yang perlu dilakukan eksperimen untuk mengetahui sejauhmana pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap prestasi lompat jauh. C. Batasan Masalah Untuk membatasi ruang lingkup penelitian agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda, maka perlu ada batasan-batasan pada permasalahan yang akan diteliti. Dalam penelitian ini tidak akan dikaji keseluruhan faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan prestasi lompat jauh, namun hanya akan meneliti pada permasalahan sebagai berikut: 1. Perbedaan pengaruh latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump terhadap peningkatan prestasi lompat jauh. 2. Perbedaan peningkatan prestasi lompat jauh antara atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai tinggi dan kekuatan otot tungkai rendah. 3. Pengaruh interaksi antara Plaiometrik dengan tinggi dan rendahnya kekuatan otot tungkai terhadap prestasi lompat jauh.

33 digilib.uns.ac.id 11 D. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Adakah perbedaan pengaruh latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump terhadap peningkatan prestasi lompat jauh. 2. Adakah perbedaan peningkatan prestasi lompat jauh antara atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai tinggi dan kekuatan otot tungkai rendah. 3. Adakah pengaruh interaksi antara latihan Plaiometrik dengan tinggi dan rendahnya kekuatan otot tungkai terhadap peningkatan prestasi lompat jauh. E. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui perbedaan pengaruh latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump terhadap peningkatan prestasi lompat jauh. 2. Untuk mengetahui perbedaan peningkatan prestasi lompat jauh antara atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai tinggi dan kekuatan otot tungkai rendah. 3. Untuk mengetahui pengaruh interaksi antara latihan Plaiometrik dengan tinggi dan rendahnya kekuatan otot tungkai terhadap prestasi lompat jauh. F. Manfaat penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan olahraga khususnya teori dan metodologi latihan serta menambah pemahaman mengenai peran latihan fisik yang terkait dengan peningkatan prestasi dalam olahraga atletik khususnya nomor lompat jauh.

34 digilib.uns.ac.id 12 Pelatih dapat menggunakan metode latihan Plaiometrik yang tepat ditinjau dari tinggi rendahnya kekuatan otot tungkai untuk meningkatkan prestasi lompat jauh para atletnya sehingga dapat meningkatkan prestasinya dalam lingkup regional dan nasional yang berlanjut pada tingkat internasional. Sebagai bahan masukan bagi Pembina, guru dan pelatih olahraga khususnya cabang atletik nomor lompat jauh guna menerapkan metode latihan yang efektif dan efisien untuk meningkatkan prestasi.

35 digilib.uns.ac.id 13 BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS A. Kajian Teori 1. Lompat Jauh Atletik adalah cabang olahraga yang paling tua dan merupakan induk dari semua cabang olahraga yang merupakan ragam dan pola gerak dasar hidup manusia. Gerakan-gerakan dalam atletik merupakan gerakan yang dilakukan manusia sehari-hari. Menurut Ballesteros (1980:1) atletik diartikan sebagai aktivitas jasmani atau latihan fisik, berisikan gerak-gerak alamiah dasar atau wajar seperti jalan, lari, lompat dan lempar. Karena atletik merupakan gerakan yang dilakukan manusia sehari-hari, maka hidupnya manusia tentu pernah melakukan gerakan lari, jalan, lompat dan lempar. Atletik merupakan olahraga wajib yang diajarkan di sekolah-sekolah baik sekolah dasar, sekolah menengah pertama sampai pada sekolah menengah atas. Hal ini dapat dibuktikan dalam kurikulum yang menjadi pedoman pengajar, yaitu dalam mata pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan, di sekolah menengah atas mata pelajaran atletik setiap semester mendapat waktu 2 jam pelajaran. Salah satu cabang atletik yang diajarkan di sekolah adalah nomor lompat jauh. Lompat jauh adalah melompat untuk mencapai hasil lompatan yang sejauh-jauhnya. Lompat jauh merupakan salah satu nomor yang diperlombakan dalam cabang olahraga atletik, yang aktivitasnya

36 digilib.uns.ac.id 14 diawali dengan lari awalan, menolak, melayang dan mendarat. Lompat jauh merupakan perpaduan antara lari dan lompatan atau tolakan. Lompat jauh dilakukan dengan tumpuan satu kaki yang bertujuan untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya. Menurut Aip Syarifudin (1992:90) Lompat jauh adalah suatu bentuk gerakan melompat mengangkat kaki ke atas dan ke depan dalam upaya membawa titik berat badan selama mungkin di udara (melayang di udara) yang dilakukan dengan cepat dengan jalan melakukan tolakan pada satu kaki untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya. Tujuan lompat jauh adalah memindahkan titik berat badan untuk mencapai jarak lompatan (horizontal) yang sejauh mungkin. Yoyo B, Ucup Y dan Adang S (2000:15) mengemukakan bahwa, tujuan nomor lompat jauh adalah memindahkan jarak horizontal titik berat badan pelompat sejauh mungkin. Pencapaian hasil lompatan yang baik dapat dicapai melalui pemantapan koordinasi gerak teknik melompat yang meliputi: teknik awalan, teknik menolak, teknik badan di udara, dan teknik badan waktu mendarat yang masing-masing mempunyai cara-cara sendiri. Menurut Bernhart (1993:45) Unsur-unsur dasar bagi suatu prestasi pada lompat jauh dan pembangunannya adalah: 1. Faktor-faktor jasmani (fisik): terutama kecepatan, tenaga lompat dan tujuan yang diarahkan pada keterampilan. 2. Faktor-faktor teknik : ancang-ancang persiapan lompat dan perpindahan fase melayang dan pendaratan.

37 digilib.uns.ac.id 15 Menurut Edi Suparman (1994:5) ada empat teknik lompatan yang merupakan rangkaian gerakan yang terdiri dari: sub teknik awalan, sub teknik tumpuan, sub teknik sikap badan di udara dan sub teknik sikap waktu mandarat. a. Awalan Awalan atau ancang-ancang adalah gerakan untuk mencapai kecepatan yang setinggi-tingginya sebelum mencapai balok tolakan. Awalan lompat jauh seharusnya dijalankan dengan lancer dan kecepatan yang tinggi, tanpa adanya gangguan tanpa mengubah langkah diperbesar atau diperkecil, untuk memperoleh kecepatan menumpu pada balok tumpu dengan cepat dan tepat. Sebab perubahan langkah tersebut akan berakibat berkurangnya kecepatan dan terganggunya pembentukan momentum untuk melompat. Pada umumnya awalan yang digunakan yaitu pada lintasan yang berukuran 40 meter sampai 45 meter dan lebar 1,21 meter sampai 1,22 meter (Roji, 1996:41). Awalan berfungsi untuk mendapatkan kecepatan maksimal pada waktu melompat, hal ini seperti yang dikemukan oleh Jerver (2005:34) bahwa tujuan awalan adalah untuk meningkatkan percepatan horizontal secara maksimum tanpa menimbulkan hambatan sewaktu take off. Awalan lompat jauh dilakukan dengan berlari secepat-cepatnya sebelum salah satu kaki menumpu pada balok tumpuan untuk mendapatkan dorongan ke depan pada waktu melompat.

38 digilib.uns.ac.id 16 Tujuan awalan sebelum melompat adalah untuk meningkatkan percepatan mendatar secara maksimal tanpa menimbulkan hambatan sewaktu menolak. Meskipun kecepatan awalan itu sangat penting dalam lompat jauh, tetapi yang penuh itu digunakan pada saat menumpu pada balok tumpu (Sunaryo Basuki, 1994:95). Lari cepat pada saat melakukan awalan dilakukan secara progresif sampai mencapai maksimal, kemudian memelihara kecepatan, dan persiapan kaki tumpu pada papan tumpu. Selain itu seorang atlet lompat jauh harus memiliki kemampuan lari yang baik dan dapat mengatur pace larinya, karena mengubah-ubah kecepatan membutuhkan kekuatan tambahan karena adanya percepatan. Pelompat yang tidak dapat mengatur pace larinya akan kehilangan kecepatan yang dibangun dari awalan, dan pada saat menolak akan mengalami kegagalan karena pelompat akan memaksakan diri untuk mencapai balok tumpuan dengan cara memperpanjang atau memperpendek pace nya. Tujuan latihan lari dalam cabang lompat jauh adalah untuk meningkatkan kecepatan horizontal secara maksimum tanpa menimbulkan hambatan sewaktu take off. Beberapa hal yang patut diperhatikan dalam latihan sebelum melompat, pada cabang lompat jauh antara lain seperti yang diungkapkan oleh Jarver (2009:25) yaitu : 1. Jarak lari harus cukup panjang, sehingga memungkinkan peningkatan kecepatan sedemekian rupa sesuai dengan kebutuhan pada saat take off. 2. Dalam keadaan lari, atlet harus tetap mampu mengontrol posisi tubuhnya, sehingga atlet commit dapat mencapai to user titik take off dengan tepat.

39 digilib.uns.ac.id Gerakan lari harus dilakukan secara konsisten dan uniform (seragam), sehingga atlet dapat mencapai titik take off dengan tepat. 4. Untuk seorang pemula, sebaiknya jarak lari cukup meter saja, sedangkan untuk yang sudah berpengalaman maka jarak lari tersebut dapat ditingkatkan hingga sejauh meter tergantung pada kemampuan yang bersangkutan dalam menambah kecepatannya. Saran perbaikan atas beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam tahap ini, dapat diikhtisarkan sebagai berikut: 1. Hindarkan ketegangan yang berlebihan, dengan menekankan akumulasi kecepatan secara bertahap. 2. Hindarkan penurunan kecepatan pada saat menginjak papan lompat. 3. Hindarkan langkah berlebihan, dengan menekankan pada kecepatan kaki sejauh kurang lebih 10 meter terakhir. 4. Hindarkan memotong langkah, dengan memanjangkan jarak lari. 5. Hindarkan tercapainya kecepatan maksimum yang terlalu dini, dengan mengurangi jarak lari (Jarver, 2009:26). Gambar 1. Pelaksanaan Awalan Lompat Jauh (IAAF, 1993:39).

40 digilib.uns.ac.id 18 b. Tolakan Tujuan gerakan tolakan adalah untuk merubah gerakan lari menjadi suatu lompatan, dengan melakukan lompatan tegak lurus sambil mempertahankan kecepatan saat badan dalam posisi horizontal. Tolakan lompat jauh adalah menjejakkan salah satu kaki untuk menumpu tanpa langkah melebihi papan tumpu untuk mendapatkan tolakan ke depan atas yang besar. Tolakan merupakan gerakan perpindahan yang sangat cepat antara lari, awalan dan gerakan melayang di udara. Dalam hal ini terjadi perubahan atau perpindahan gerakan mendatar atau horizontal ke gerakan vertikal yang dilakukan secara tepat. Tolakan lompat jauh memegang peranan yang sangat penting, sehingga untuk tolakan dibutuhkan tungkai untuk menolak yang kuat agar tercapai ketinggian lompatan yang kuat. Tumpuan atau tolakan adalah gerakan menjejakkan kaki sekuat mungkin pada balok tumpu yang bertujuan untuk memperoleh kecepatan vertikal sebesar mungkin. Menurut Aip Syarifudin (1992:91) mengemukakan bahwa tolakan adalah perubahan atau perpindahan gerakan horizontal ke gerakan vertikal yang dilakukan secara cepat Tolakan merupakan peralihan dari gerakan lari (awalan) ke gerakan melayang di udara. Tumpuan menggunakan tungkai yang kuat, pada waktu menumpu badan sedikit condong kebelakang. Tungkai ayun diangkat cukup tinggi ke depan atas, sudut tolakan 45 derajat. Lebih lanjut Aip Syarifudin (1992:91) mengemukakan gerakan

41 digilib.uns.ac.id 19 tolakan harus dilakukan dengan tungkai yang kuat agar tercapai tinggi lompatan yang cukup, tanpa kehilangan kecepatan maju. Dari kecepatan maju ke atas dengan sudut yang terbaik yaitu 45 derajat (Roji, 1996:41). Beberapa hal yang patut diperhatikan dalam latihan take off, pada cabang lompat jauh, antara lain: 1. Perubahan gerakan maju ke muka menjadi gerakan bersudut didapat dengan cara memberikan tenaga maksimum pada kaki yang akan take off. 2. Pusat gaya berat si pelompat harus jatuh di atas papan lompat begitu kaki yang akan take off menyentuh papan; dan sekali lagi, pada saat kaki terlepas dari papan lompat tadi. 3. Kaki yang akan take off diletakkan tepat di atas papan lompat dengan lutut yang sedikit ditekuk untuk mendapatkan kekuatan. 4. Gerakan ke depan dan ke atas dilakukan dengan sekuat tenaga, dibantu oleh lutut dari kaki yang memimpin, dan tangan yang berlawanan dengan kaki yang digunakan untuk take off. Tujuannya adalah untuk memperkuat daya lompat. 5. Paling baik kalau sudut take off berkisar di bawah 30 o, tergantung pada kemampuan si pelompat mengkombinasikan kecepatan horizontal dan gerakan membuat sudut tadi. 6. Lompatan yang lebih jauh dapat diperoleh bila pelompat menurunkan pinggulnya sejak dua langkah sebelum take off dan pada saat take off ( jarver, 2009:27). Menurut jarver (2009:27), saran perbaikan atas beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam tahap ini, dapat diikhtisarkan sebagai berikut: 1. Supaya lompatan cukup jauh, usahakan untuk menekankan gerak pada lutut yang memimpin dan sesuaikan panjangnya langkah kedua terakhir sebelum melompat. 2. Hindarkan dorongan dengan cara memperpendek langkah take off.

42 digilib.uns.ac.id Keterbatasan gerak kaki yang melakukan take off dapat dihindarkan dengan cara memperpanjang langkah sewaktu take off. Gambar 2. Pelaksanaan Tolakan Lompat Jauh (IAAF, 1993:37) c. Melayang di Udara Tahap melayang di udara merupakan tahap ketiga dari serangkaian gerakan dalam cabang lompat jauh. Melayang adalah lanjutan dari tolakan pada papan tumpuan dan berakhir saat tumit menyentuh pasir pada bak lompat. Seorang pelompat dapat melayang melintasi suatu garis parabola membutuhkan kecepatan dan kekuatan, karena tubuh mempunyai gaya gravitasi. Kunci pokok prestasi lompat jauh adalah tergantung pada lamanya pelompat dapat mempertahankan posisinya di udara serta bagaimana pelompat dapat melakukan gerakan untuk memperoleh posisi yang efisien. Pada tahap melayang, pelompat harus berusaha untuk dapat mempertahankan diri supaya tidak cepat jatuh ke tanah, sehingga pada saat melayang sangat diperlukan keseimbangan tubuh yang commit baik. to Menurut user Jonath, Haag dan Krempel

43 digilib.uns.ac.id 21 (1987:200) menyatakan pada fase melayang bertujuan untuk menjaga keseimbangan dan mempersiapkan pendaratan. Pada saat melayang posisi badan tetap di jaga dan kalau mungkin diusahakan membuat sikap atau gerakan untuk menambah jarak jangkauan lompatan salah satu upaya untuk mampu bertahan di udara tungkai yang ada di belakang diayun ke depan atas dengan maksimal. Pada saat melayang di uadara ada tiga macam gaya yang sering digunakan atlet dalam lompat jauh yaitu: a) gaya jongkok atau sit down in the air, b) gaya gantung atau hang style, dan c) gaya berjalan di udara atau walking in the air. a) Lompat Jauh Gaya Jongkok Sikap melayang di udara pada lompat jauh gaya jongkok yaitu seperti duduk atau berjongkok di udara. Pelaksanaan teknik lompat jauh gaya jongkok menurut Aip Syarifudin (1992:93) yaitu pada waktu lepas dari tanah (papan tolakan), keadaan sikap badan di udara jongkok dengan jalan membulatkan badan dengan kedua lutut ditekuk kedua tangan ke depan. Pada waktu akan mendarat kedua kaki dijulurkan ke depan, kemudian mendarat pada kedua kaki dengan bagian tumit lebih dahulu, kedua tangan ke depan. Gaya jongkok dalam lompat jauh salah satu gaya yang digunakan atlet dalam mencapai lompatan yang jauh dengan menggunakan kedua kaki jongkok untuk mendapatkan dorongan badan dalam pencapaian gerakan horizontal.

44 digilib.uns.ac.id 22 Gambar 3. Pelaksanaan Lompat Jauh Teknik Melayang Gaya Jongkok ( IAAF, 1993:39) b) Lompat Jauh Gaya Berjalan di Udara Gaya berjalan di udara merupakan gaya dalam lompat jauh yang mana atlet dalam melakukan lompat jauh melakukan gerakan berjalan di udara untuk mendapatkan daya dorong kearah horizontal. Tujuan dari gaya ini adalah mencapai jarak lompatan sejauh mungkin, selain itu untuk membawa dan mempertahankan titik berat setinggi mungkin di udara sesudah melakukan awalan tolakan. Gambar 4. Pelaksanaan Lompat Jauh Teknik Melayang Gaya Berjalan di Udara (IAAF, 1993:40)

45 digilib.uns.ac.id 23 c) Lompat Jauh Gaya Gantung Gaya gantung atu hang Style merupakan lompat jauh dengan sikap pada saat melayang seolah-olah menggantung di udara dengan sikap perut membusur. Sikap gantung tersebut dipertahankan sampai kira-kira pertengahan melayang, sementara itu lengan berayun ke belakang sehingga sikap ini menyerupai busur. Pendaratan dimulai dengan mengayun kaki bagian atas bersama-sama ke depan dengan membungkukkan badan ke depan dan membawa kedua lengan ke depan. Gaya gantung merupakan salah satu gaya dari lompat jauh, yang mana atlet melakukan gerakan menggantung di uadara untuk memberikan ancang-ancang dalam melakukan dorongan terhadap tubuh kearah horizontal. Beberapa hal yang patut diperhatikan dalam latihan melayang di udara, pada cabang lompat jauh, antara lain: 1. Sekali pelompat melepaskan kakinya dari tanah, pusat gaya berat tubuhnya akan bergerak dalam lintasan parabola. 2. Tidak ada suatu apapun yang dapat mempengaruhi atau mengubah kecepatan atau arah gerakan dari pusat gaya berat tubuh pelompat tadi. Tetapi ia dapat mengatur tungkainya sedemikian rupa, sehingga dapat menghindarkan terjadinya rotasi. 3. Gerakan dari tungkai ini terutama ditujukan untuk mendapatkan posisi mendarat yang lebih efisien (Jarver, 2009:28).

46 digilib.uns.ac.id 24 Gambar 5. Pelaksanaan Lompat Jauh Teknik Melayang Gaya Gantung (IAAF, 1993: 38). d. Mendarat Mendarat merupakan serangkaian gerakan terakhir dari lompat jauh. Pada waktu mendarat kedua tungkai dibawa ke depan lurus dengan jalan mengangkat paha ke atas badan dibungkukkan ke depan, kemudian mendarat pada kedua tumit terlebih dahulu dan mengeper, dengan kedua lutut dibengkokkan (ditekuk), berat badan dibawa ke depan supaya tidak jatuh ke belakang, kepala agak menunduk dan kedua tangan lurus ke depan. Tujuan latihan melakukan pendaratan (landing) dalam cabang lompat jauh adalah : a) Mendapatkan suatu posisi dengan kedua kaki menyentuh pasir sejauh mungkin di depan pusat gaya berat tubuh pelompat. b) Mencegah (jangan sampai) tubuh pelompat jatuh ke belakang. Prinsip teknik pendaratan adalah untuk menjaga agar badan tidak jatuh ke belakang. Setelah mendarat dengan segera tubuh dibawa ke depan,

47 digilib.uns.ac.id 25 agar tidak jatuh ke belakang. Menurut Aip Syarifudin (1992:95) mengemukakan bahwa pada waktu akan mendarat kedua kaki dibawa ke depan lurus dengan jalan mengangkat paha ke atas, badan dibungkukkan ke depan, kedua tangan ke depan. Kemudian mendarat pada kedua tumit terlebih dahulu dan mengeper, dengan kedua lutut dibengkokkan (ditekuk), berat badan dibawa ke depan supaya tidak jatuh ke belakang, kepala ditundukkan, kedua tangan ke depan. Beberapa hal yang patut diperhatikan dalam melakukan pendaratan (landing), pada cabang lompat jauh antara lain: a) Posisi landing yang terbaik hendaknya merupakan lanjutan dari pola melayangkan pusat gaya berat tubuh; tentunya harus terletak sejauh mungkin, yaitu pada jarak horizontal terbesar antara tumit dan pusat gaya berat tubuh. b) Tubuh bagian atas harus setegak mungkin dengan tungkai terjulur lurus ke depan. c) Tangan yang terletak di belakang tubuh sebelum landing, harus segera dilempar ke muka begitu kaki menyentuh pasir d) Gerakan segera dari tangan akan membantu tubuh untuk bertumpu di atas kaki. e) Posisi landing yang efisien tergantung pada teknik yang digunakan pada waktu melayang (Jarver, 2009:31). Saran perbaikan atas beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam tahap ini, dapat diikhtisarkan sebagai berikut:

48 digilib.uns.ac.id 26 a) Cegah peluncuran kaki yang terlampau awal dengan cara memperlambat lengkapnya gerakan melayang. b) Hindarkan terjatuhnya tubuh ke belakang, dengan cara menekukkan kedua lutut begitu tumit menyentuh pasir; gerakan ini hendaknya disertai dengan ayunan tangan ke depan yang cepat. c) Cegah gerakan rotasi ke depan yang terlampau awal dari tubuh dengan cara mempertahankan kelurusan tubuh sedapat-dapatnya sampai sesaat sebelum landing (Jarver, 2009:32). Gambar 6. Pelaksanaan Lompat Jauh Teknik Pendaratan (IAAF, 1993:41) e. Prestasi Lompat Jauh Pengertian Prestasi adalah hasil yang telah dicapai. Sedangkan lompat jauh adalah suatu gerakan melompat mengangkat kaki ke atas depan dalam upaya membawa titik berat badan selama mungkin di udara (melayang di udara) yang dilakukan dengan cepat dan dengan melakukan tolakan satu kaki untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya. Mengacu pada pernyataan tersebut untuk meningkatkan prestasi yang maksimal pelatih dapat memilih bentuk latihan yang tepat dan sesuai dengan cabang olahraga yang akan ditekuni oleh atlet. Karena lompat jauh termasuk nomor lompat

49 digilib.uns.ac.id 27 yang diperlombakan, maka diperlukan metode latihan yang tepat untuk meningkatkan prestasi yang baik didalam lompat jauh selain si pelompat harus memiliki kekuatan, daya ledak, kecepatan, ketepatan, kelentukan dan koordinasi gerak, juga harus memahami dan menguasai teknik untuk melakukan gerakan lompat jauh tersebut serta dapat melakukannya dengan cepat, tepat, luwes dan lancer. Teknik lompat jauh yang benar perlu memperhatikan unsure-unsur, awalan, tolakan, sikap badan di udara (melayang di udara) dan mendarat. Keempat unsur ini merupakan satu kesatuan,yaitu urutan gerakan lompat yang tidak terputus. Prestasi lompat jauh tidak lepas dari beberapa peraturan yang harus ditaati oleh atlet saat melakukan berbagai rangkaian gerakan lompat jauh menurut Jarver (2009:19) beberapa peraturan dalam cabang lompat jauh adalah: a. Setiap peserta boleh melakukan tiga atau enam lompatan, lompatan yang diperhitungkan adalah lompatan yang paling jauh. b. Lompatan harus dimulai dari sebuah papan yang panjangnya 1,22 meter, ujung papan yang paling dekat dengan daerah landing disebut garis take off. c. Jika si pelompat menyentuh daerah di luar batas take off dengan salah satu bagian tubuh tanpa melompat, maka disebut foul atau dis d. Sebelum pelompat mulai melompat, ia boleh lari dulu dalam jarak tak terbatas. e. Jarak lompatan diukur pada sudut tertentu mulai dari jejak terdekat di daerah landing bagian tubuh manapun sampai ke garis take off f. Jika pelompat pada saat landing menyentuh tanah di luar daerah landing, pada jarak yang lebih dekat ke garis take off dari jejak pasir, maka dihitung dis.

50 digilib.uns.ac.id Latihan Menurut Nossek (1995: 3) latihan adalah suatu proses atau dinyatakan dengan kata lain, periode waktu yang berlangsung selama beberapa tahun,sampai atlet tersebut mencapai standar penampilan yang tinggi. Menurut Sukadiyanto (2002: 1) menerangkan bahwa pada prinsipnya latihan merupakan suatu proses perubahan kearah yang lebih baik, yaitu untuk meningkatkan: kualitas fisik kemampuan fungsional peralatan tubuh dan kualitas psikis anak latih. Sedangkan menurut Harsono, (1988: 102) menyatakan bahwa Latihan juga bisa dikatakan sebagai sesuatu proses berlatih yang sistematis yang dilakukan secara berulang-ulang yang kian hari jumlah beban latihannya kian bertambah. Bompa (1990: 3) menyatakan pula latihan adalah merupakan kegiatan yang sistematis dalam waktu yang lama ditingkatkan secara progresif dan individual yang mengarah pada ciri-ciri fisiologis dan psikologis manusia untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. Sedangkan menurut Thomson (1993:61) menyatakan bahwa latihan adalah suatu proses yang sistematis dengan tujuan meningkatkan fitness/kesegaran seorang atlet dalam suatu aktivitas yang dipilih. Ini adalah proses jangka panjang yang semakin meningkat (progresif) dan mengakui kebutuhan individu-individu atlet dan kemampuanya. Program latihan dilakukan mengunakan latihan atau praktek untuk mengembangkan kualitas yang dituntut oleh suatu even. Latihan secara luas diartikan sebagai suatu intruksi yang diorganisasikan dengan tujuan meningkatkan kemampuan fisik, psikis serta

51 digilib.uns.ac.id 29 keterampilan baik intelektual maupun keterampilan gerak olahraga. Dalam pembinaan olahraga prestasi latihan didefinisikan sebagai persiapan fisik, teknik, intelektual, psikis, dan moral. Selanjutnya dikatakan bahwa latihan adalah proses persiapan secara sistematis dalam mempersiapkan atlet menuju kearah tingkat keterampilan yang paling tinggi (Harre, 1982:11). Melalui latihan kemampuan seseorang dapat meningkatkan sebagian besar sestim dapat menyesuaikan diri pada tuntutan fungsi yang melebihi dari apa yang biasa dijumpai dari biasanya. Latihan dapat didefinisikan sebagai peran serta yang sistematis yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas fungsional fisik dan daya tahan (Pate dan Clenaghan, 1993:317). Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa latihan (olahraga) adalah suatu proses kegiatan olahraga yang dilakukan secara sadar, sistematis, bertahap dan berulang-ulang, dengan waktu yang relatif lama, untuk mencapai tujuan akhir dari suatu penampilan yaitu peningkatan prestasi yang optimal. Agar latihan mencapai hasil prestasi yang optimal, maka program/bentuk latihan disusun hendaknya mempertimbangkan kemampuan dasar individu, dengan memperhatikan dan mengikuti prinsip-prinsip atau azas-azas pelatihan. a. Prinsip-Prinsip Latihan Keberhasilan dalam mencapai prestasi tertinggi bagi seorang atlet banyak dipengaruhi oleh kesiapan program latihan, kemampuan pelatih serta kemampuan fisik atlet. Semakin spesifik program latihan tersebut, semakin besar pengaruh yang dicapai dalam penampilan. Untuk

52 digilib.uns.ac.id 30 mencapai tujuan latihan haruslah menganut prinsip-prinsip latihan. Prinsip-prinsip latihan merupakan pedoman untuk menyusun program latihan yang terorganisir dengan baik. Untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan fisik, serta efektifitas latihan dapat dicapai, maka dalam pelaksanaanya harus memperhatikan prinsip-prinsip latihan. Menurut Nossek (1995: 4) prinsip-prinsip dalam latihan adalah terdiri dari: 1) Prinsip pembebanan (loading) sepanjang tahun latihan tersebut 2) Prinsip periodisasi dan penataan beban selama peredaran waktu latihan tersebut 3) Prinsip hubungan antara persiapan yang bersifat umum dan khusus dengan kemajuan spesialisasi 4) Prinsip pendekatan individual dan pembebanan individual 5) Prinsip hubungan terbaik antara kondisi fisik, teknik, taktik dan intelektual (kecerdikan) termasuk kemauan. Menurut Sukadiyanto (2002:12-22) menjelaskan bahwa ada beberapa prinsip-prinsip latihan yang seluruhnya dapat dilaksanakan sebagai pedoman dalam satu kali tatap muka antara lain: (a) Prinsip Kesiapan (readiness), (b) Prisip Individual, (c) Prinsip Adaptasi, (d). Prisip Beban Lebih (Overload), (e). Prinsip Progresif (peningkatan), (f) Prinsip Spesifikasi (kekhususan), (g) Prinsip Variasi, (h) Prinsip pemanasan dan pendinginan, (i) Prinsip Latihan Jangka Panjang (Long

53 digilib.uns.ac.id 31 Term Training), (j) Prinsip Berkebalikan (Reversibility), (k) Prinsip Tidak Berlebihan (Moderat), (l) Prinsip Sistematik. Menurut Suharno HP. (1993: 7-13) prinsip-prinsip latihan adalah: 1) Latihan sepanjang tahun tanpa berseling (prinsip kontinyu dalam latihan) 2) Kenaikan beban latihan secara teratur 3) Prinsip individual (perorangan atlet) 4) Prinsip interval 5) Prinsip stress (penekanan) 6) Prinsip spesialisasi Sedangkan menurut harsono (1988: ) adalah: 1) Prinsip beban lebih (overload principle) 2) Prinsip perkembangan menyeluruh 3) Prinsip spesialisasi 4) Prinsip individualisasi Menurut Nossek (1982: 14) prinsip-prinsip dalam latihan adalah terdiri dari: 1) Prinsip pembebanan (loading) sepanjang tahun latihan tersebut 2) Prinsip periodesasi dan penataan beban selama peredaran waktu latihan tersebut 3) Prinsip hubungan antara persiapan yang bersifat umum dan khusus dengan kemajuan spesialisasi 4) Prinsip pendekatan individual dan pembebanan individual 5) Prinsip hubungan terbaik antara kondisi fisik, teknik, taktik dan intelektual (kecerdikan) termasuk kemauan. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip latihan adalah kaidah-kaidah atau prosedur yang harus diperhatikan dalam

54 digilib.uns.ac.id 32 melaksanakan latihan agar sasaran latihan dapat tercapai dengan maksimal. Prinsip-prinsip tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: 1) Prinsip latihan sepanjang tahun Karena sifat adaptasi atlet terhadap beban latihan yang diterima adalah labil dan sementara, maka untuk mencapai suatu prestasi maksimal, perlu ada latihan sepanjang tahun dan terus menerus secara teratur, terarah, dan berkesinambungan. Terus menerus dan berkesinambungan bukan berarti tidak ada istirahat sama sekali. Agar dapat diketahui dengan jelas suatu latihan yang sistematis, perlu ada periode-periode latihan. 2) Prinsip beban lebih Beban latihan yang diberikan pada atlet harus cukup berat dan diberikan berulang-ulang dengan intensitas yang cukup tinggi sehingga merangsang adaptasi fisik terhadap beban latihan. Kenaikan beban harus bertahap sedikit demi sedikit agar tidak tejadi over training, dan proses adaptasi terhadap beban terjamin keteraturannya. 3) Prinsip perkembangan menyeluruh Prinsip perkembangan menyeluruh memberikan kebebasan kepada atlet untuk melibatkan diri dalam berbagai aspek kegiatan agar ia memiliki dasar yang kokoh guna menunjang ketrampilan khususnya kelak. Dengan melibatkan diri dalam berbagai aktivitas, atlet mengalami perkembangan yang komprehensif terutama dalam hal

55 digilib.uns.ac.id 33 kondisi fisiknya seperti kekuatan, daya tahan, kecepatan, kelincahan gerak dan sebagainya. 4) Prinsip individual Setiap orang berbeda-beda baik fisik, mental, potensi, karakteristik belajarnya, ataupun tingkat kemampuannya, karena perbedaan-perbedaan tersebut harus diperhatikan oleh pelatih agar di dalam memberikan beban dan dosis latihan, metode latihan, serta cara berkomunikasi dapat sesuai dengan keadaan dan karakter atlet sehingga tujuan prestasi dapat tercapai. 5) Prinsip interval Prinsip interval sangat penting dalam merencanakan latihan, karena berguna dalam pemulihan fisik dan mental atlet. Dalam prinsip ini latihan-latihan yang dilakukan menggunakan interval berupa waktu istirahat. Istirahat dapat dilakukan dengan istirahat aktif maupun istirahat pasif. Perbandingan waktu kerja atau latihan dengan waktu istirahat dapat pula menjadi beban latihan untuk meningkatkan kemampuan fisik. 6) Prinsip tekanan Prinsip tekanan atau stress menuntut latihan harus menimbulkan kelelahan secara sungguh-sungguh baik kelelahan lokal maupun kelelahan total jasmani dan rohani. Hal ini penting untuk meningkatkan prestasi, beban yang berat berguna meningkatkan kemampuan organisme, situasi dan kondisi yang berat untuk

56 digilib.uns.ac.id 34 menggembleng mental yang diperlukan dalam menghadapi pertandingan-pertandingan, meskipun demikian pemberian tekanan harus disesuaikan dengan kondisi atlet. 7) Prinsip kekhususan Latihan harus mempunyai bentuk dan ciri yang khusus sesuai dengan sifat dan karakter masing-masing cabang olahraga. b. Tujuan Latihan Tujuan serta sasaran utama dari latihan adalah mencapai prestasi yang maksimal, disamping itu Harre (1982: 10) secara rinci mengemukakan tujuan utama latihan adalah: 1) Untuk meningkatkan kekuatan, kecepatan, power dan daya tahan fisik 2) Untuk meningkatkan teknik dan koordinasi gerakan yang sesuai dengan teknik dasar setiap cabang olahraga 3) Untuk meningkatkan taktik individu maupun kelompok 4) Untuk meningkatkan mental atlet 5) Untuk mengembangkan kepribadian atlet. Latihan fisik mempunyai tujuan memberikan tekanan fisik secara teratur, sistematik dan berkesinambungan, sehingga meningkatkan kemampuan di dalam melakukan kerja atau atkivitas gerak. Tanpa kondisi fisik yang baik atlet tidak dapat mengikuti proses latihan kondisi fisik dengan sempurna. Latihan teknik bertujuan untuk mengembangkan dan membentuk sikap dan gerak melalui pengembangan motorik dan sistem saraf menuju gerakan otomatis. Kesempurnaan commit to teknik user dasar tiap cabang olahraga akan

57 digilib.uns.ac.id 35 menentukan kesempurnaan gerak keseluruhan. Karenanya teknik dasar yang diperlukan oleh tiap cabang olahraga harus dipelajari dan dikuasai dengan baik oleh atlet. Taktik dapat diartikan sebagai suatu siasat yang digunakan untuk memperoleh keberhasilan atau kemenangan secara sportif dengan menggunakan kemampuan teknik individu. Teknik-teknik gerakan yang telah dikuasai dengan baik, dikembangkan dan dilatih lebih keras lagi dalam setiap latihan, sedangkan kekurangan-kekurangan atau kelemahankelemahan yang ada sebisa mungkin ditekan dan dicari suatu cara untuk menutup kekurangan atau kelemahan tersebut. Dengan mengetahui kelebihan dan kekurangan yang ada maka dapat dikembangkan suatu taktik untuk dapat menguasai dan mengalahkan lawan atau mencapai kemenangan, bahkan dengan senjata kekurangan yang ada sekalipun. Latihan mental bertujuan untuk menjaga kestabilan emosi dan meningkatkan motivasi. Harsono (1988:101) mengemukakan bahwa Latihan mental adalah latihan yang menekankan pada perkembangan kedewasaan atlet, emosional, dan impulsif guna mempertinggi efisiensi mental atlet terutama apabila atlet dalam situasi stress yang kompleks. Jadi pada prinsipnya latihan mental adalah untuk menghilangkan atau mengurangi beban psikologis itu mental atlet yang dapat mengganggu penampilan atau prestasi selama berlomba atau bertanding. Mental yang tinggi merupakan modal tambahan yang sangat penting untuk menuju tahap kematangan juara, karena sifat-sifat yang berupa semangat

58 digilib.uns.ac.id 36 bertanding yang bernyala-nyala, tak kenal menyerah dan berputus asa, selalu waspada, dan rasa percaya diri yang tinggi menandakan bahwa atlet siap untuk menjadi seorang kuasa. Demikian pentingnya latihan sehingga para ahli olahraga dan ilmuwan berusaha untuk meneliti lebih jauh cara metode yang dapat meningkatkan kemampuan fisik yang lebih efektif dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta penemuan-penemuan sebelumnya. Aktivitas latihan dipengaruhi oleh bentuk latihan, jenis latihan dan waktu pelaksanaan latihan. Dengan demikian latihan akan merangsang kemampuan adaptasi fisik terhadap perkembangan fisiologis maupun psikologis untuk melawan tekanan dalam latihan. c. Metode Latihan Metode adalah suatu cara yang dalam fungsinya merupakan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan. Pada dasarnya latihan adalah sama dengan belajar, dimana latihan adalah belajar dalam skala yang lebih intesif. Rusli Lutan (1988:397) mendefinisikan metode sebagai suatu cara untuk melangsungkan proses belajar mengajar sehingga tujuan dapat tercapai. Menurut Seidel, et al. (1975:113) menyatakan bahwa Metode mencakup pengertian yang luas mencakup prosedur dan teknik yang digunakan dalam penyajian teori. Dalam kamus bahasa Indonesia

59 digilib.uns.ac.id 37 metode diartikan sebagai cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan dalam rangka mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Mengadopsi pendapat Gagne dalam Singer (1980:25) jika dihubungkan dengan latihan untuk mencapai tujuan latihan secara efektif dan efisien, prosedur dan teknik yang harus dikerjakan pelatih dan atlet mencakup tiga aspek, yakni akurat, efisien dan komunikatif. Akurat mengandung arti bahwa informasi mengenai program latihan yang disusun harus dapat dipahami dan diterima atlet dengan mudah, serta tepat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Efisien berarti bahwa penggunaan waktu dan tenaga diusahakan sesingkat mungkin tetapi diharapkan tujuan dapat dicapai dengan baik dan hasil yang maksimal tanpa kelelahan yang berarti. Komunikasi dalam hal ini adalah situasi lingkungan latihan yang diciptakan harus dapat memberikan motivasi latihan yang baik bagi atlet, ada kesepahaman antara pelatih dengan atlet dalam melaksanakan program latihan yang disusun. Bila ada bentuk komunikasi antara pelatih dan atlet akurat, efisien dan menarik maka semangat latihan dapat meningkat. Keberhasilan pelatih dalam melatih didukung atas beberapa faktor diantaranya adalah metode latihan. Dalam masalah metode latihan fisik, dapat dibedakan menjadi dua macam program latihan. Pertama program latihan peningkatan kondisi fisik, baik perkomponen maupun secara keseluruhan untuk meningkatkan

60 digilib.uns.ac.id 38 status kondisi fisik atlet bersangkutan untuk menghadapi pertandingan. Kedua, program latihan mempertahankan kondisi fisik, yaitu program latihan yang disusun sedemikian rupa untuk mempertahankan kondisi fisik atlet berada dalam puncaknya. Peningkatan kondisi fisik yang diperoleh melalui latihan dapat dilihat berupa peningkatan kemampuan gerak, tidak cepat merasa lelah, dan peningkatan ketrampilan. Untuk itu diperlukan suatu program latihan yang benar dan sesuai dengan tujuan dari latihan itu sendiri. Melihat pendapat tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa metode adalah cara yang sistematis untuk kelancaran pelaksanaan proses belajar atau berlatih dalam mencapai suatu tujuan yang diharapkan. Pada kenyataannya latihan harus mempunyai sasaran dan tujuan yang nyata, yang mana pemenuhan sasaran dan tujuan jangka pendek maupun jangka panjang sangat penting untuk memotivasi seorang atlet dan memungkinkan pelatih mendapatkan umpan balik apakah latihan yang direncanakan itu efektif meningkatkan prestasi atau tidak. d. Program Latihan Dengan berpedoman pada prinsip-prinsip dasar latihan maka program latihan disusun. Dalam penyusunan program latihan perlu diperhatikan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan program latihan tersebut dalam meningkatkan prestasi. Faktor-faktor tersebut adalah:

61 digilib.uns.ac.id 39 1) Intensitas latihan Intensitas latihan adalah suatu dosis (jatah) pelatihan yang harus dilakukan seorang atlet menurut program yang telah ditentukan. Intensitas pelatihan yang dilakukan setiap kali berlatih harus cukup, apabila intensitas suatu pelatihan tidak memadai, maka pengaruh pelatihan terhadap peningkatan kualitas fisik sangat kecil atau bahkan tidak sama sekali. Sebaliknya apabila intensitas pelatihan terlalu tinggi kemungkinan dapat menimbulkan cidera atau sakit. Intensitas pelatihan adalah ukuran kualitas latihan meliputi prosentase kinerja maksimum (Kg.m/detik), prosentase detak jantung maksimal, prosentase VO 2 max, kadar laktat darah dan lain-lain. Dalam menentukan dosis latihan ada tiga cara yang bisa dicapai sebagai patokan ambang rangsang, yaitu: denyut nadi, asam laktat, dan ambang rangsang anaerobik. Cara yang termudah untuk mengetahui intensitas pelatihan sudah cukup atau belum yaitu dengan menghitung denyut nadinya pada waktu pelatihan (Astrand, 1977; Miller, 1994; Brooks, 1996 dalam Nala, 1998:45). Selanjutnya kualitas suatu intensitas yang menyangkut kecepatan atau kekuatan dari suatu aktivitas ditentukan berdasarkan persentase dari denyut nadi. Makin kecil persentasenya disebut intensitas rendah, sedangkan makin tinggi persentasenya disebut intensitas supermaksimal. Tingkat intensitas ini terdiri dari terendah sampai tertinggi (Bompa dalam Nala, 1998:45), terdiri atas :

62 digilib.uns.ac.id 40 a). Intensitas Rendah : 30% - 50% Denyut Nadi b). Intermedium : 50% - 70% Denyut Nadi c). Medium : 70% - 80% Denyut Nadi d). Submaksimal : 80% - 90% Denyut Nadi e). Maksimal f). Supermaksimal : 90% - 100% Denyut Nadi : 100% - 105% Denyut Nadi Nala (1992:38) menyatakan bahwa apabila intensitas suatu pelatihan diambil berdasarkan denyut nadi maka, dapat diukur dengan menggunakan dalil sebagai berikut: Denyut Nadi Maksimal : 220 Umur. Denyut Nadi Optimal : (220 Umur) 10. Denyut Nadi Minimal : 3/4 X (220 Umur). Teknik menghitung denyut nadi yang digunakan adalah dengan cara memegang dan merasakan denyut nadi dengan menggunakan ketiga jari tangan (telunjuk, jari tengah, jari manis) pada nadi pergelangan tangan, pada daerah pengumpul, radialis, lalu dirasakan dan setelah detakan baru dihitung selama 30 detik. Hitungan selama 30 detik, lalu dikalikan 2, sehingga hasil perkalian tersebut merupakan jumlah denyutan per menit (Nala, 1992:72). Sedangkan penghitungan denyut nadi yang lain biasanya dilakukan dengan palpasi pada arteri radialis atau arteri coratid selama 15 detik selanjutnya hasilnya dikalikan empat.

63 digilib.uns.ac.id 41 Tabel 1. Zona Latihan Berdasarkan Denyut Nadi Zona Tingkat Denyut Nadi (Dt/Mnt) 01 Rendah Sedang Tinggi Maksimum > 185 Sumber : Pekik Irianto (2002:57). Dari pendapat ahli tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pelatihan Plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump dapat meningkatkan daya ledak (power) otot tungkai secara efektif, apabila intensitas pelatihan adalah 50% - 70% dari denyut. nadi minimal (Nala, 1992: 38). 2) Lama latihan Lama latihan atau durasi latihan adalah berapa minggu atau bulan program latihan itu dijalankan sehingga seorang atlet dapat mencapai kondisi yang diharapkan. Lama latihan ditentukan berdasarkan kegiatan latihan per minggu, per bulan atau aktivitas latihan yang dilakukan dalam jangka waktu per menit atau jam. Lama latihan berbanding terbalik dengan intensitas latihan. Bila intensitas latihan tinggi maka durasi latihan lebih singkat, sebaliknya bila intensitas latihan rendah commit maka to durasi user latihan lebih panjang. Fox dalam

64 digilib.uns.ac.id 42 Sajoto (1995:70) menyatakan bahwa lama latihan hendaknya dilakukan 4 8 minggu, sedangkan Harsono (1988:117) berpendapat bahwa untuk tujuan olahraga prestasi, lama latihan menit dan untuk olahraga kesehatan lama latihan menit dan training zone. Berdasarkan uraian di atas, maka waktu pelatihan pada penelitian ini adalah empat minggu atau selama 12 kali pelatihan dengan frekuensi pelatihan 3 kali seminggu dimana tidak termasuk tes awal (pre-test) dan tes akhir (post-test). Pelatihan yang diberikan adalah pelatihan Plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump, hingga mencapai daerah pelatihan (training zone), yaitu 50% - 70% dari denyut nadi minimal (Nala, 1992: 38) 3) Frekuensi latihan Yang dimaksud dengan frekuensi latihan adalah jumlah latihan intensif yang dilakukan dalam satu minggu. Untuk menentukan frekuensi latihan harus memperhatikan kemampuan seseorang, sebab kemampuan setiap orang tidak harus memperhatikan kemampuan seseorang, sebab kemampuan setiap orang tidak sama dalam beradaptasi dengan program latihan. Bila frekuensi latihan terlebih dapat mengakibatkan cedera, tetapi bila frekuensi kurang maka tidak memberikan hasil karena otot sudah kembali pada kondisi semula sebelum latihan. Jumlah frekuensi latihan bergantung pada jenis, sifat dan karakter olahraga yang dilakukan. Latihan sebaiknya dilakukan 3 kali

65 digilib.uns.ac.id 43 dalam satu minggu untuk memberi kesempatan bagi tubuh beradaptasi dengan beban latihan. Sajoto (1995:35) mengemukakan bahwa: Program latihan yang dilaksanakan 4 kali setiap minggu selama 6 minggu cukup efektif, namun para pelatih cenderung melaksanakan 3 kali setiap minggu untuk menghindari terjadinya kelelahan yang kronis, dengan lama latihan yang dilakukan selama 6 minggu atau lebih. Berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan bahwa latihan dalam penelitian ini adalah suatu program latihan berbeban secara isotonik yang disusun dengan sistematis guna meningkatkan daya ledak otot, khususnya daya ledak otot tungkai. Adapun penentuan berat beban, repetisi, ulangan dan jumlah latihannya disesuaikan dengan prinsip-prinsip latihan berbeban dan pendapat para ahli di atas. Pelaksanaan masing-masing berat beban untuk program latihan plaiometrik dalam penelitian ini dilakukan selama 6 minggu. Hal ini disesuaikan dengan pendapat Pate (1984:324) bahwa lama latihan 6-8 minggu akan memberikan efek yang cukup berarti bagi atlet, yaitu untuk latihan power dapat meningkat 10%-25%. Untuk frekuensi latihannya sebanyak 3 kali perminggu. Hal ini untuk memberi kesempatan pada tubuh untuk beradaptasi terhadap beban yang diterima otot. Selanjutnya untuk peningkatan beban latihan perminggu adalah kurang dari 5% beban sebelumnya. Untuk penambahan beban adalah dengan jenjang bergelombang seperti gambar 1. Pada gambar

66 digilib.uns.ac.id 44 tersebut dapat dilihat bahwa latihan minggu ke dua meningkat sedikit dari minggu pertama, kemudian minggu ke tiga meningkat sedikit dari minggu ke dua, selanjutnya minggu ke empat turun yaitu dengan berat beban sama dengan minggu ke dua, demikian dilanjutkan sampai masa latihan selesai. Beban Latihan Kecepatan Beban Latihan P Gambar 7. Kurva kecepatan Beban Latihan yang diikuti dengan peningkatan prestasi (Bompa, 1994:46). Metode latihan yang akan dilibatkan dalam penelitian ini yaitu metode latihan Plaiometrik dengan model latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump, yang nantinya diharapkan metode latihan ini dapat meningkatkan prestasi lompat jauh, dalam penelitian ini lompat jauh gaya menggantung (hang style). e. Sistematis Latihan. Pelatihan akan menghasilkan suatu manfaat yang maksimal apabila mengikuti sistem pelatihan yang tepat. Sistematika pelatihan yang salah akan menyebabkan terjadinya suatu cidera. Adapun

67 digilib.uns.ac.id 45 sistematika yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut (Kanca, 1992:2). 1) Pelatihan Peregangan (Streching). Sebelum melakukan pelatihan yang berat, sebaiknya terlebih dahulu melakukan pelatihan peregangan karena bermanfaat untuk : a) Meningkatkan kelenturan (elastisitas) otot-otot, sendi dan menambah mutu gerakan. b) Mengurangi ketegangan otot dan membantu tubuh merasa rileks, serta mencegah terjadinya cidera. c) Meningkatkan kesiap-siagaan tubuh, serta melancarkan sirkulasi darah. Peregangan mutlak harus dilakukan, gerakan peragangan tidak boleh dilakukan secara tiba-tiba harus perlahan - lahan. Peregangan dapat dilakukan secara aktif dan juga bisa dilakukan secara pasif dengan bantuan orang lain. Pada setiap akhir dari usaha peregangan otot pada satu sendi posisinya ditahan selama detik (Nala, 1998: 51). 2) Latihan Pemanasan (Warning-Up). Pemanasan atau warming-up amat perlu dilakukan oleh setiap atlet baik sebelum berlatih (pra-latihan) maupun sebelum bertanding (pra-pertandingan). Sistem tubuh pada saat istirahat berada dalam keadaan tidak begitu aktif (inersia). Untuk mengaktifkan kembali maka perlu dilakukan pemanasan (Nala, 1998:49).

68 digilib.uns.ac.id 46 Proses pemanasan ini sebenarnya berawal di tingkat lapisan luar otak atau korteks otak. Untuk mengantisipasi gerakan pada saat pemanasan, saraf simpatis dirangsang yang menyebabkan terjadinya vasodilatasi atau pelebaran pembuluh darah diseluruh pembuluh skeletal. Bila aktivitas sesungguhnya dimulai, maka akan terjadi vasokontriksi di organ otot skeletal yang tidak bekerja dan tetap terjadi vasodilatasi di otot skeletal yang berkontraksi (Berger dalam Nala, 1998:49), selama pemanasan akan terjadi peningkatan intensitas secara progresif, menaikkan kapasitas kerja organ tubuh serta fungsi saraf, diikuti pula proses metabolik yang cepat. Akibat pemanasan aliran darah meningkat, suhu tubuh naik, yang akan merangsang pusat pernapasan untuk meningkatkan pemasokan oksigen kepada sel otot dan organ tubuh yang lainnya. Peningkatan oksigen dan aliran darah ini akan berdampak memperbesar potensi kerja organ tubuh sehingga penampilan dan kinerja atlet menjadi lebih efektif. Prosedur pemanasan menurut (Fox, 1984; dalam Nala, 1998:50) dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu pemanasan aktif dan pemanasan pasif. Senam pemanasan (calisthenic) merupakan gerakan yang aktif. Sedangkan pemanasan dengan cara pasif yang bertujuan semata-mata untuk meningkatkan suhu tubuh, seperti mandi air panas, selimut tebal, infra merah bahan kimia dan pijat. Pelatihan pemanasan harus melibatkan kelompok otot utama, khususnya yang langsung menyangkut cabang olahraga yang bersangkutan.

69 digilib.uns.ac.id 47 Intensitas dan durasi pelatihan sangatlah bervariasi sesuai dengan cabang olahraga. Intensitas dan durasi pelatihan menurut Nala (1998: 50) yang diambil dari berbagai penelitian ilmiah pakar olahraga, antara lain: a) Lama waktu pemanasan untuk menggerakkan seluruh otot tubuh yaitu berkisar menit atau menit (Powers, 1990:dalam Nala: 1998:50), dimana 5 menit terakhir dipergunakan untuk pemanasan khusus sesuai dengan aktifitas yang akan dilakukan. b) Malahan menurut Berger (dalam Nala, 1998:49) pemanasan cukup dilakukan 5 menit saja apabila Cuma melatih beberapa otot skeletal atau otot yang erat kaitannya dengan gerakan khas atau khusus dari cabang olahraga yang akan dilaksanakan. c) Latihan pemanasan dilakukan antara 5-30 menit tergantung berat ringannya pelatihan inti yang akan dilakukan (Fox, 1984:89 ). d) Ada pula yang menggunakan patokan kenaikan frekuensi denyut nadi. Jika denyut nadi telah meningkat denyutan diatas denyut nadi normal (istirahat). Apabila denyut nadi istirahat yakni 60 denyutan pemanasan cukup dilakukan apabila denyut nadi mencapai 80 denyutan per menit (Powers, 1990:dalam Nala: 1998: 50). Banyak faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan untuk menentukan lama dan tipe gerakan pemanasan. Jadi pemanasan itu tidak selalu lama, bisa berkisar antara menit

70 digilib.uns.ac.id 48 ( Nala: 1998:50). Lamanya pemanasan pada pelatihan ini selama 10 menit. 3) Aktivitas formal (Formal Activity). Fase terakhir dari pelatihan pemanasan adalah suatu kegiatan yang dilakukan sesuai dengan cabang olahraga yang akan dilatihkan. 4) Latihan inti. Latihan yang dilakukan merupakan aktivitas pokok dari cabang olahraga yang dilatihkan. Bentuk pelatihan inti ini adalah pelatihan Plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump yang dilakukan dalam 4-6 set dengan repetisi kali dimana istirahat antar set adalah 1-2 menit. Sedangkan intensitas pelatihannya adalah 50 % sampai dengan 70% dari denyut nadi minimal. 5) Latihan Pendinginan (Cooling-Down), Pendinginan dilakukan setelah melakukan pelatihan atau aktivitas fisik lainnya. Pelatihan pendinginan yang dimaksud adalah melakukan pelatihan yang ringan sesudah masa berat. Dengan melakukan pelatihan pendinginan, derajat keasaman (ph) darah menurun lebih cepat, sehingga kelelahan akibat dari pada pelatihan cepat hilang. Lamanya pendinginan tegantung cepatnya asam laktat dirubah, maka lama waktu dibutuhkan untuk pendinginan adalah menit menurut Powers dalam Nala, (1998:52), Lamanya pendinginan pada pelatihan ini adalah selam 5 menit.

71 digilib.uns.ac.id Plaiometrik Plaiometrik merupakan suatu metode untuk mengembangkan daya ledak atau explosive power, yang merupakan komponen penting dari sebagian besar prestasi/kinerja olahraga (Radcliffe and Farentinos, 1985:1). Dari sudut pandang praktis latihan plaiometrik memang relatif mudah diajarkan dan dipelajari, serta menempatkannya juga lebih sedikit tuntutan fisik tubuh daripada latihan kekuatan dan daya tahan. Plaiometrik berasal dari kata Yunani pleythuein yang berarti meningkatkan atau membangkitkan. kata ini berasal dari kata plio berarti lebih dan metric berarti pengukuran (Wilt & Ecker 1970 dalam Radcliffe and Farentinos, 1985:3). Latihan plaiometrik menunjukkan karakteristik kekuatan penuh dari kontraksi otot dengan respon yang sangat cepat, beban dinamis (dynamic loading) atau penguluran otot yang sangat rumit (Radcliffe and Farentinos, 1985:111). Plaiometrik adalah latihan yang menghasilkan pergerakan otot isometric dan menyebabkan refleks regangan dalam otot. Perhatian latihan plaiometrik dikhususkan pada latihan yang menggunakan pergerakan otototot untuk menahan beban ke atas dan menghasilkan power atau kekuatan eksplosif. Plaiometrik adalah latihan yang tepat untuk orang-orang yang dikondisikan dan dikhususkan untuk menjadikan atlet dalam meningkatkan dan mengembangkan loncatan kecepatan dan kekuatan maksimal. Menurut (Chu, 1992) latihan plaiometrik memberikan keuntungan ganda yaitu; pertama, plaiometrik memanfaatkan gaya dan kecepatan yang dicapai

72 digilib.uns.ac.id 50 dengan percepatan berat badan melawan grafitasi, ini menyebabkan gaya dan kecepatan latihan beban tersedia. Kedua, plaiometrik merangsang berbagai aktifitas olahraga seperti melompat, berlari dan melempar lebih sering dibanding dengan latihan beban. Ini adalah latihan khusus yang dapat menghasilkan kekuatan lebih besar dan kecepatan lebih tinggi. Dari definisi di atas dapat dikatakan bahwa latihan plaiometrik adalah bentuk latihan explosive power dengan menggunakan kontraksi otot yang sangat cepat dan kuat dalam mengatasi tahanan, yakni otot selalu berkontraksi baik saat memanjang maupun pada saat memendek dalam waktu yang cepat. Menurut Sukadiyanto (2002:96) bentuk latihan plaiometrik dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu latihan dengan intensitas rendah (low impact) dan latihan dengan intensitas tinggi (high impact). 1) Bentuk latihan plaiometrik dengan intensitas rendah (low impact) antara lain: a) Skipping b) Rope Jumps ( lompat tali) c) Loncat-loncat ( Hops) atau lompat-lompat d) Melompat di atas bangku atau tali setinggi cm e) Melempar ball medicine 2-4 kg f) Melempar bola tennis yang ringan. 2) Bentuk latihan plaiometrik dengan intensitas tinggi (high impact) meliputi: a) Lompat jauh tanpa awalan (Standing Jump/ long jump)

73 digilib.uns.ac.id 51 b) Triple Jump (lompat tiga kali) c) Lompat jauh dan langkah panjang d) Loncat-loncat dan lompat-lompat e) Melempar bola medicine 5-6 kg f) Drop Jumps dan Reactive Jumps g) Melompat di atas bangku atau tali setinggi di atas 35 cm h) Melempar benda yang relatif berat. Latihan plaiometrik akan efektif apabila pelatih dapat menyusun periodisasi latihan yang tepat. Pelatih perlu memadukan antara frekuensi, volume, intensitas beserta pengembangannya. Perpaduan yang tepat akan menghasilkan penampilan yang maksimal. Tidak ada riset yang menunjukkan secara rinci mengenai aturan volume yang berkaitan dengan set dan repetisi. Literatur lebih menganjurkan agar pelatih menyesuaikan dengan kondisi dan tingkat keberhasilan latihan. Intensitas latihan dalam plaiometrik selalu diukur dengan tingkat kesulitan gerakan. Semakin sulit gerakan, intensitasnya semakin tinggi (Radcliffe & Farentinos, 1985:28). Untuk durasi latihan tergantung pada lamanya pemain mengeksekusi gerakan cabang olahraga tertentu. Tidak ada waktu pasti, tergantung pada tingkat kesulitan dan intensitas latihan dalam sistem energi predominan cabang olahraga tertentu, karena tiap cabang mempunyai sistem predominan yang berbeda-beda. a. Bentuk-bentuk Latihan Plaiometrik Plaiometrik adalah sebuah metode untuk mengembangkan eksplosive power yang penting dalam komponen penampilan olahraga (Radcliffe dan

74 digilib.uns.ac.id 52 Farentinos, 1985: 1). Dengan melihat bentuk latihannya, sangatlah mudah untuk dilakukan. Ada beberapa bentuk gerakan dasar latihan atau bentuk latihan plaiometrik untuk panggul dan kaki. Bentuk latihan plaiometrik menurut Radcliffe dan Farentinos, (1985:15-17), Bompa, (1994:78-141) adalah sebagai berikut: 1) Bounding Adalah menekankan pada loncatan untuk mencapai ketinggian maksimum dan jarak horisontal. Macam-macam latihan bounding adalah: double leg bound, alternate leg bound, double leg box bound, alternate leg box bound, incleane bound, bounding dapat dilakukan dengan dua kaki atau satu kaki secara bergantian. Otot yang terlatih adalah: a) Fleksi paha: Sartorius, iliacus, glacillis. b) Ekstensi paha: Biceps femuris, semitendinosus dan semimembrannosus (kelompok hamstring) serta gluteus maximus dan minimus (kelompok gluteal) c) Ekstensi Lutut: rectus femuris, tensor fascialatae, vastus lateralis, medius dan intermedius (kelompok quadriceps), Ekstensi paha dan fleksi tungkai, melibatkan otot-otot biceps femuris, semitendinosus dan semi membrenosus serta juga melibatkan otot-otot maksimus dan minimus. d) Fleksi lutut dan kaki: gastrocnemeus, peroneus dan soleus

75 digilib.uns.ac.id 53 e) Kelompok otot adduction dan abduction paha: gluteals medius dan minimus, dan abductor longus, brevis, magnus, minimus, dan hallucis. Berikut adalah contoh gerakan bounding. Gambar 8 : Bentuk latihan alternate leg box bound (Radcliffe dan Farentinos, 1985:36) 2) Hopping Gerakan hopping terutama lebih ditekankan pada kecepatan gerakan kaki untuk mencapai lompat-loncat setinggi-tingginya dan sejauh-jauhnya. Hopping dapat dilakukan dengan dua kaki ataupun satu kaki. Macam-macam latihan hopping adalah: double leg speed hop, single speed hop, decline hop, side hop, ankle hop. Otot yang terlatih adalah: a) Fleksi paha: Sartorius, iliacus, glacillis. b) Ekstensi Lutut: rectus femuris, tensor fascialatae, vastus lateralis, medius dan intermedius (kelompok quadriceps), Ekstensi paha dan fleksi tungkai, melibatkan otot-otot biceps femuris, semitendinosus

76 digilib.uns.ac.id 54 dan semi membrenosus serta juga melibatkan otot-otot maksimus dan minimus. c) Fleksi lutut dan kaki: gastrocnemeus, peroneus dan soleus d) Kelompok otot adduction dan abduction paha: gluteals medius dan minimus, dan abductor longus, brevis, magnus, minimus, dan hallucis. Gambar 9: Bentuk latihan double speed hop 3) Jumping Ketinggian maksimum sangat diperlukan dalam jumping, sedangkan pelaksanaan merupakan faktor kedua dan jarak horisontal tidak diperlukan dalam jumping. Macam-macam latihan jumping adalah: squat jump, knee tuck jump, split jump, scissor jump, box jump. Otot yang terlatih adalah: a) Fleksi paha melibatkan otot-otot Sartorius, illiacus dan gracillis b) Ekstensi lutut melibatkan otot-otot rectus femuris, vastus lateralis, medius dan intermedius c) Ekstensi tungkai melibatkan otot rectus femuris, semiteninosus dan semimembranosus

77 digilib.uns.ac.id 55 d) Aduksi paha melibatkan otot gluteus medius dan minimus, dan adductor longus, brevis magnus, minimus dan halucis. Gambar 10 : Bentuk latihan Knee tuck jump (Radcliffe dan Farentinos, 1985:56) 4) Leaping Leaping adalah suatu latihan kerja tunggal yang menekankan jarak horisontal dengan ketinggian maksimum. Bisa dilakukan dengan dengan dua kaki atau satu kaki. Macam-macam gerakan leaping: Quick leap, dept jump leap a) Ekstensi paha melibatkan otot biceps femuris, semiteninosus, dan semimembranosus, serta gluteus maksimum dan minimus. b) Ekstensi lutut melibatkan otot-otot vastus lateralis, medialis dan intermeius. c) Fleksi paha dan pelvis, melibatkan tensor faciae latae, sartoriius, illiacus dan gracilis.

78 digilib.uns.ac.id 56 d) Adduksi dan abduksi paha, melibatkan otot-oot gluteus medius dan minimus, dan adductor longus, brevis dan magnus. 5) Ricochet Gambar 11: Bentuk latihan dept jump leap (Radcliffe dan Farentinos, 1985: 2) Ricochet semata-mata menekankan pada tingkat kecepatan tungkai dan gerakan kaki, meminimalkan jarak vertikal dan horizontal yang memberikan kecepatan pelaksanaan yang lebih tinggi. Macam gerakan ricochet: floor kip, decline ricochet. Otot-otot yang terlatih adalah: a) Ekstensi lutut dan persendian pinggul, melibatkan otot vastus lateralis, medialis, dan intermedius b) Fleksi paha melibatkan otot-otot Sartorius, pectineus, aductor brevis, adductor longus, dan tensor facia latae.

79 digilib.uns.ac.id 57 Gambar 12: Bentuk latihan decline ricochet (Radcliffe dan Farentinos, 1985:82) 6) Skipping Skipping dilakukan dengan melangkah meloncat secara bergantian hop-step, yang menekankan ketinggian dan jarak horizontal. Macam gerakan skipping: box skip, skiping. Latihan plaiometrik merupakan bentuk-bentuk latihan yang menekankan pada pola gerak tubuh bagian bawah. Artinya latihan plaiometrik merupakan salah satu bentuk latihan yang berguna untuk meningkatkan atau mengoptimalkan kinerja power tungkai. b. Mekanisme Kontraksi Otot Anatomi fungsional hopping meliputi (1) fleksi paha, melibatkan otot-otot sartorius, iliacus, dan gracilis : (2) ekstensi lutut, melibatkan otot-otot tensor fasciae latae, vastus lateralis, medialis, intermedius, dan rectus femoris : (3) ekstensi paha dan refleksi tungkai, melibatkan otot-otot biceps femoris, semitendinosus, dan semimembranosus serta juga melibatkan otot-otot gluteus maximus dan minimus, (4) fleksi lutut dan kaki, melibatkan otot-otot gastrocnemius, peroneus, dan soleus, dan (5) aduksi dan abduksi paha, commit melibatkan to user otot-otot gluteus medius dan

80 digilib.uns.ac.id 58 minimus, dan adductir langus, brevis, magnus, minimus, dan hallucis. (Radcliffe, Farentinos, 1985:13) Gerakan plaiometrik terjadi serangkaian kontraksi otot yang selanjutnya Guyton (1992:103) melukiskan mekanisme dasar yaitu pada keadaan relaksasi, ujung-ujung filamen aktin yang berasal dari dua membran Z yang berurutan satu sama lain hampir tidak tumpang tindih sedangkan pada saat yang sama filamen miosin mengadakan tumpang tindih sempurna. Sebaliknya, pada keadaan kontraksi, filamen-filamen aktin ini tertarik ke dalam di antara filamen miosin sehingga sekarang satu sama lain tumpan tindih luas. Membran Z juga tertarik oleh filamen aktin sampai ke ujung-ujung filamen miosin. Memang, filamen aktin dapat ditarik bersama-sama demikian kuatnya sehingga ujung-ujung filamen miosin sebenarnya melengkung waktu kontraksi yang sangat kuat. Jadi kontraksi otot terjadi karena mekanisme sliding filamen. Otot skelet mendapat dua persarafan motorik, yaitu alfa motorneuron dan gamma motorneuron. Alfa motorneuron akan memberikan rangsangan motorik pada serabut otot extrafusal, sedangkan gamma motorneuron akan memberikan rangsangan motorik pada serabut intrafusal. Pengaruh kontraksi tersebut dapat timbul dari rangsangan kemauan saraf somatic (alfa neuron) tetapi dapat juga akibat rangsangan peregangan yang mendadak pada muscle spindle. Sehingga latihan yang disengaja serta dengan peregangan otot yang mendadak akan menyebabkan dua pengaruh pada otot baik melalui gamma motorneuron

81 digilib.uns.ac.id 59 maupun alfa motorneuron, sehingga akan menimbulkan pengaruh kontraksi yang lebih baik. Pengaruh refleks peregangan yang cepat dan mendadak tersebut juga menguntungkan pada organ sensorik relaksasi otot, yaitu Golgi Tendon Organ. Sehingga kontraksi yang kuat dari hasil refleks peregangan segera diikuti dengan mekanisme relaksasi dan menjaga agar tidak terjadi kerusakan pada tendon. Gambar 13. The Golgi Tendon Organ ( Bompa, 1994:21) Kontraksi sebuah otot berubah-ubah dalam kecepatan, kekuatan dan lamanya (duration) untuk menyebabkan perbedaan macam-macam gerakan. Dalam gerakan kekuatan maksimum otot agonist (mover) memakai kekuatan maksimum dan berkontraksi pada kecepatan maksimum, menghasilkan gerakan yang cepat dan kuat. Otot sendi yang beraneka ragam adalah menyilang lebih dari satu sendi dan menyokong

82 digilib.uns.ac.id 60 gerakan dalam tiap sendi yang menyilang. Kelompok hamstrings, yang dilokasikan dibelakang paha membengkokkan lutut dan meluruskan panggul. Dasar dasar proses gerak sadar maupun tak sadar yang terlibat dalam plaiometrik adalah apa yang disebut refleks peregangan (stretch reflex), juga disebut refleks spindle atau refleks miotatik (spindle reflex or myotatic reflex). Alat-alat atau perangkat refleks poros dan refleks regangan itu merupakan komponen-komponen utama dari kontrol keseluruhan sistem syaraf terhadap gerakan tubuh. Dalam pelaksanaan berbagai keterampilan olahraga, suatu gerakan reaktif-ekplosif, otot-otot mungkin mengalami peregangan yang cepat sebagai akibat adanya semacam beban yang dikenakan pada otot-otot tersebut. (Radcliffe, Farentinos, 1985:7) Latihan-latihan plaiometrik diperkirakan menstimulasi berbagai perubahan dalam sistem neuromuskuler, memperbesar kemampuan kelompok-kelompok otot untuk memberikan lebih cepat dan lebih kuat terhadap perubahan-perubahan yang ringan dan cepat pada panjangnya otot. Salah satu ciri penting latihan plaiometrik nampaknya adalah pengkondisian sistem neuromuskuler sehingga memungkinkan adanya perubahan-perubahan arah yang lebih cepat dan kuat, misalnya dari gerakan turun-naik pada lompat dan gerakan kaki arah anterior dan kemudian arah posterior pada waktu lari. Dengan mengurangi waktu yang

83 digilib.uns.ac.id 61 diperlukan untuk perubahan arah ini, maka kekuatan dan kecepatan dapat ditingkatkan. (Radcliffe, Farentinos, 1985:8) c. Sistem Energi Latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump Olahraga merupakan suatu aktivitas fisik yang memerlukan energi. Energi diartikan sebagai kapasitas atau kemampuan untuk melakukan kerja, sedangkan kerja didefinisikan sebagai penerapan dari suatu gaya melalui suatu jarak. Energi menurut Yusuf. H. dan Aip S. (1996: 113) didefinisikan sebagai abilitas untuk melakukan kerja, sedangkan kerja (work) adalah produk dari sesuatu kekuatan (force) melalui suatu jarak (W = F x d). Dengan demikian energi dan kerja tidak dapat dipisahkan. Banyaknya energi yang dikeluarkan untuk kerja otot tergantung pada intensitas, frekuensi, serta ritme dan durasi latihan. Menurut Pate R. Clenaghan M.B. (1993:237) mengatakan kontraksi otot menyebabkan perubahan bentuk energi kimia menjadi energi mekanik yaitu ikatan energi ATP digunakan untuk menambah bahan bakar gerakan tubuh manusia. Tenaga maksimal berarti kecepatan terbesar dimana sistem energi dapat menyediakan energi bagi kerja otot. Kalau kita kaji secara mendasar bahwa, seluruh energi yang digunakan oleh tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia berasal dari matahari. Manusia memeperoleh energi dari tumbuhtumbuhan dan hewan, hidup kita tergantung dari mereka, oleh karena itu kita harus mengkonsumsi tumbuh-tumbuhan dan hewan. Sebagian besar

84 digilib.uns.ac.id 62 energi yang kita dapatkan dari tumbuh-tumbuhan dan hewan kita gunakan untuk: mengalirkan darah, bernafas, pembuatan enzim, kontraksi otot-otot, bergerak dan aktivitas yang lain. Energi yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan yang kita konsumsi, di dalam tubuh kita dipecah, dimana peristiwa ini dikenal dengan istilah pemecahan makanan. Energi yang berasal dari pemecahan makanan digunakan untuk membentuk persenyawaan kimia adenosin trifosfat (ATP) yang ditimbun di dalam otot (Soekarman, 1987:21). Di dalam tubuh terdapat suatu zat kimia yang membuat otot dapat berkontraksi atau berrelaksasi, yaitu adenosin trifosfat atau ATP. Zat ini merupakan suatu senyawa yang selama aktivitas otot diubah menjadi adenosine difosfat atau ADP sambil menghasilkan energi siap pakai untuk otot (Janssen, 1987:12). Secara sistematis proses ini dapat digambarkan sebagai berikut; ATP ADP + energi. Sumber energi yang sewaktu-waktu harus memenuhi kebutuhan untuk aktivitas otot adalah ATP. Bahan ini disimpan dalam jumlah yang terbatas dalam otot, dan diisi kembali bila diperlukan, dari bahan-bahan yang ada dalam tubuh untuk keperluan energi berikutnya. Menurut Janssen (1987:12) mengatakan jumlah ATP yang langsung tersedia adalah cukup untuk kira-kira 1-2 detik aktivitas maksimal, dan jumlah kreatin fosfat habis setelah kira-kira 6-8 detik. Otot yang aktif, energi yang dihasilkan dari glikogen ini memproduksi asam laktat (LA). LA

85 digilib.uns.ac.id 63 mengakibatkan kelelahan. Aktivitas maksimal dalam waktu detik menimbulkan akumulasi LA maksimal. Untuk menghilangkannya perlu waktu detik. Tabel 2 Prediksi pulih asal dan diet (Fox and Mathew, 1981:235) Proses Pulih Waktu Pulih Asal Jenis Diet Minimum Maksimum ATP-PC 1:2 (work 1: relief 2) - - Cadangan fosfagen 3 menit 5 menit - 5 jam (cab. Or intermiten) 24 jam Karbohidrat Cadangan glycogen 10 jam (cab. Or. otot 48 jam karbohidrat Kontinyu) Cadangan glycogen hati tidak diketahui 24 jam - Pengangkutan asam 30 menit (rest aktif) 1 jam - Laktat 1 jam (rest pasif) 2 jam - Cadangan detik - - Sumber energi yang sewaktu-waktu harus memenuhi kebutuhan untuk aktivitas otot adalah ATP. Bahan ini disimpan dalam jumlah yang terbatas dalam otot, dan diisi kembali bila diperlukan, dari bahan-bahan yang ada dalam tubuh untuk keperluan energi berikutnya. Tabel 3 Klasifikasi aktivitas maksimal pada berbagai durasi serta sistem penyediaan energi untuk aktivitas (Janssen, 1987:14) Durasi Aerob/Anaerob Energi Observasi 1 4 detik Anaerob, alaktik ATP detik Anaerob, alaktik ATP + PC detik detik detik Anaerob, alaktik + Anaerob Aerob + anaerob, laktik Aerob ATP + PC + glikogen otot Glikogen otot Glikogen otot + asam lemak Dengan meningkatkat nya durasi, produksi laktat menurun Dengan meningkatkat nya durasi, produksi laktat menurun Dengan meningkatkatnya durasi, dibutuhkan andil lemak yang tinggi

86 digilib.uns.ac.id 64 Sumber energi terpenting untuk melakukan olahraga secara intensif adalah karbohidrat. Karbohidrat mampu menyediakan energi terbanyak per unit waktu. Bilamana intensitas eksersi lebih rendah, pembakaran lemak mulai memegang peran penting. Tabel 4 Berbagai substrat untuk pasok energi dan ciri-cirinya Substrat Dekomposisi Ketersediaan Kecepatan produksi energi Kreatin fosfat Anaerob, alaktik Sangat terbatas Sangat cepat (CP) Glikogen/glukosa Anaerob, laktik Terbatas Cepat Glukosa/glikogen Aerob, alaktik Terbatas Lambat Asam lemak Aerob, alaktik Tak terbatas Sangat lambat ATP dapat diberikan kepada sel otot dalam tiga cara, dua diantaranya secara anaerob, maksudnya adalah oksigen tidak mutlak diperlukan dalam menghasilkan ATP, yaitu sisten ATP-PC dan sistem LA, sedang yang ketiga adalah sistem aerob (memerlukan oksigen untuk menghasilkan ATP) (Smith, NJ. 1983:184). ATP (Adenosin Tri Phosfat) dapat disediakan melalui 3 cara seperti gambar berikut; Gambar 14: Penyediaan ATP Semua energi yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi tubuh berasal dari ATP-ATP yang commit banyak to user terdapat dalam otot. Apabila otot

87 digilib.uns.ac.id 65 berlatih lebih banyak, maka persediaan ATP lebih besar. Padahal yang tersedia dalam otot sangat terbatas jumlahnya, maka untuk dapat berkontraksi berulang-ulang ATP yang digunakan otot harus dibentuk kembali. Pembentukan ATP kembali (resistensis ATP) juga diperlukan energi. Supaya otot dapat berkontraksi dengan cepat atau kuat maka ATP harus dibentuk lebih cepat guna membantu pembentukan ATP lebih cepat ada senyawa Phospho Creatin (PC) yang terdapat dalam otot. Phospho Creatin adalah senyawa kimia yang mengandung fosfat (P), maka senyawa tersebut disebut sebagai Phosphagen system. Apabila PC pecah akan keluar energi, pemecahan ini tidak memerlukan oksigen PC ini jumlahnya sangat sedikit tetapi PC merupakan sumber energi yang tercepat untuk membentuk ATP kembali. Dengan latihan yang cepat dan berat, jumlah ATP-PC tersebut dapat ditingkatkan. Energi yang tersedia dalam sistem ATP-PC hanya untuk bekerja yang cepat dan energi cepat habis. Untuk pembentukan ATP lagi kalau cadangan PC habis, maka dilakukan pemecahan glukosa tanpa oksigen atau disebut sebagai Anaerobics glycolisis. Tabel 5 Kapasitas ATP dan jumlah tenaga per menit dalam sistem energi Sistem Energi Kapasitas ATP (jumlah mol) Tenaga Mol/Menit Timbunan phospagen / ATP-PC 0,6 3,6 Glikolisis anaerobics 1,2 1,6 Aerobics - 1,0

88 digilib.uns.ac.id 66 Penyediaan energi dalam tubuh dapat dipenuhi dengan sistem sebagai berikut : sistem ATP-PC (phosphagen), sistem glykolisis anaerobic (asam laktat), dan sistem aerobic (Yusuf. H. dan Aip S, 1996:113). a) Sistem ATP-PC (phosphagen) Energi dari makanan diperlukan untuk melakukan aktivitas tidak dapat diserap langsung dari makanan tapi diperoleh dari persenyawaan kimia yang disebut ATP (Adenocine Tri Phosphat), ATP disimpan dalam otot dalam jumlah terbatas bila kurang akan terus ditambah melalui senyawa kimia dari zat-zat lain diantaranya PC (Phosfo Creatine) yang juga tersimpan dalam otot. Bila ATP diuraikan, seperti fosfat dilepas dari molekul, maka dengan sendirinya telah dilepaskan antara 7-12 kalori energi senyawa kimiawi dapat ditunjukkan sebagai berikut : ATP ADP + Pi + Energi Disamping energi yang dilepas, sebagai produk sampingan adalah ADP (Adenosine Diphosphate) dan Pi (Phosphat Inorganic) energi dari ATP ini digunakan untuk kontraksi otot. Penampilan yang memakan waktu singkat dan intensitas tinggi energinya perlu disediakan segera. Energi ini didapat dari ATP dan PC. ATP dan PC keduanya mengandung kelompok fosfat, maka sistem ini disebut phosphagen.

89 digilib.uns.ac.id 67 Produk akhir dari penguraian kedua kelompok ini adalah careatine (C) dan fosfat inorganic (Pi). Energi akan segera tersedia dan secara biokimia akan dirangkai untuk mensintesis ADP + P ATP. Rangkaian reaksi kimia dapat digambarkan sebagai berikut : PC ATP Pi + C + Energi ADP + Pi + Energi Sistem energi ini berlangsung sekitar 8-10 detik pada latihan intensitas tinggi (Yusuf, H. Dan Aip Sarifudin, 1996: ). b) Sistem anaerobic (asam laktat) Istilah glikolisis berarti menguraikan glikogen atau glukosa (karbohidrat), dan anaerobic berarti tanpa oksigen. Jadi dalam glikolisis anaerobic, glikogen atau glukosa diuraikan tanpa bantuan oksigen. Energi dilepas untuk mensintesis ATP dan hasil akhirnya adalah asam laktat. Waktu sistem ini berlangsung sekitar 40 detik. Bila asam laktat tertimbun dalam otot dan darah dalam jumlah yang tinggi maka akan menyebabkan kelelahan secara temporer. Sistem asam laktat pembentukan energinya lebih lambat dari sistem ATP-PC, jadi kontraksi otot yang cepat mempergunakan sistem ATP- PC dan kontraksi otot lambat mempergunakaan sistem asam laktat (Yusuf. H. dan Aip S, 1996:114)

90 digilib.uns.ac.id 68 c) Sistem aerobic (oksigen). Pembentukan ATP pada sistem ini terjadi dengan metabolisme aerobik. Metabolisme aerobik ini terjadi dalam otot, pengaruhnya juga lebih lambat dan tidak dapat digunakan secara cepat. Atlet yang memanfaatkan oksigen melalui latihan aerobik, hasil yang dicapai adalah : 1) Jantung menjadi lebih kuat sehingga darah dapat dipompa lebih banyak. 2) Pembuluh nadi akan bertambah lebih lebar sehingga banyak darah melaluinya. 3) Sel darah merah akan meningkat jumlahnya sehingga oksigen bertambah. Sistem aerobik merupakan sumber energi untuk aktivitas yang lama antara 2 menit sampai 2-3 jam. Jumlah ATP dalam otot terbatas, dan jika tidak terjadi pembentukan ATP, sumber energi akan segera habis. Dalam otot secara konstan ATP akan terbentuk kembali dari ADP yang sudah ada sehingga jumlah ATP tetap cukup bagi otot untuk melanjutkan aktivitas itu. ATP dapat terbentuk dari : 1) Kreatin fosfat + ADP Kreatin + ATP Proses ini berlangsung secara anaerobik (tanpa menggunakan oksigen) dan alaktik (tanpa membentuk laktat). 2) Glukosa + ADP laktat + ATP (glikolisis)

91 digilib.uns.ac.id 69 Proses ini berlangsung secara anaerobik (tanpa menggunakan oksigen) dan laktik (membentuk laktat). 3) Glukosa + oksigen + ADP air + karbon dioksida + ATP Proses ini berlangsung secara aerobik (menggunakan oksigen) dan alaktik (tanpa membentuk laktat). 4) Lemak + oksigen + ADP air + karbon dioksida + ATP Proses ini berlangsung secara aerobik (menggunakan oksigen) dan alaktik (tanpa membentuk laktat). Dari menganalisa sistem pembentukan energi yang ada, aktivitas olahraga yang kita kerjakan ada kalanya bersifat anaerobik atau aerobik. Supaya kita dapat mempersiapkan sistem energi yang digunakan dalam olahraga tersebut, maka perlu diketahui sistem energi manakah yang dominan dalam olahraga tersebut. Secara garis besar dapat disimpulkan sebagai berikut, jika kita ingin mengetahui energi predominan dari berbagai macam olahraga: 1) Kekuatan yang besar untuk jangka waktu yang pendek menggunakan energi yang berasal dari ATP-PC maupun asam laktat atau dikenal sebagai anaerobik. 2) Kekuatan yang kecil atau sedang yang dapat dipertahankan untuk jangka waktu yang lama menggunakan energi yang berasal dari pembakaran dengan O 2 atau sistem aerobik (Soekarman, 1987: 53).

92 digilib.uns.ac.id 70 Tabel 6. Berbagai olahraga dan aktifitas dan sistem-2 energi yang dominan (Fox and Mathews, 1981, 263) Kegiatan Olahraga 1. Baseball 2. Basketball 3. Fencing 4. Field hockey 5. Football 6. Golf 7. Gymnastics 8. Ice hockey a. Forward, defense b. Goalie 9. Lacrosse a. Goalie,defence,attackman b. Midfielders, man-down 10. Rowing 11. Skiing a. Slalom, jumping, downhill b. Cross-country c. Pleasure skiing 12. Soccer a. Goalie, wings, strikers b. Halfbacks, or link men 13. Swimming and diving a. 50 m. diving b. 100 m, 100 yd (all stroke) c. 200 m,200 yd (all stroke) d. 400m, yd Free style e. 1500, 1650 yd 14. Tennis ATP-FC & Lactic acid Lactic acid O O

93 digilib.uns.ac.id Track and field a. 100m,100yd,200yd,200yd b. Field events c. 200m, 440 yd d. 800m, 880 yd e. 1500m, 1 miles f. 2 miles g. 3 miles, 5000 m h. 6 miles (cross-country), i. Marathon 16. Volleyball 17. Wrestling 18. Softball Dari tabel diatas Fox and Mathews, (1981, 263) menarik kesimpulan antara lain: 1) Untuk atlet yang mengeluarkan seluruh tenaga dalam waktu yang pendek, seperti lompat jauh, angkat besi, maka yang perlu diterapkan adalah sistem energi ATP-PC. 2) Untuk atlet yang penampilannya 30 detik sampai setengah menit yang perlu ditingkatkan ATP-FC dan asam laktat. 3) Untuk atlet dengan waktu penampilan setengah menit sampai dengan 3 menit, maka yang perlu ditingkatkan adalah asam laktat O 2. 4) Pada olahragawan aeerobik, lebih dari 3 menit, maka yang perlu ditingkatkan adalah kapasitas aerobiknya. Jadi untuk pelatihan Plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump menggunakan sistem energi predominanya adalah sistem ATP- PC (phosphagen) commit dan sistem to user anaerobic (asam laktat) karena

94 digilib.uns.ac.id 72 memerlukan waktu singkat dalam melaksanakan Plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump d. Latihan plaiometrik Hurdle Hopping Latihan plaiometrik hurdle hopping adalah meloncat ke depan menggunakan dua kaki dengan rintangan kotak atau bentuk penghalang lain yang ditekankan pada kecepatan gerakan kaki untuk mencapai lompat-loncat setinggi-tingginya dan sejauh-jauhnya. Adapun menu program latihan plaiometrik hurdle hopping adalah: Intensitas : maksimal Volume : 2, 3, 4, 5 set/sesi dengan 4 repetisi t recovery : lengkap (1: 5) t interval : lengkap (1: 2) Irama : secepat mungkin Fekuensi : 3x seminggu 1. Kelebihan a) Kekuatan otot tungkai lebih maksimal dan daya tahan lebih kuat tetapi kecepatan dan kelenturan kurang karena latihan hanya berfokus pada kekuatan otot tungkai b) Atlet mudah dalam melakukan. c) Gerakan cepat menyebabkan lompatan yang sangat kuat. d) Lebih efektif untuk lompatan e) Gerakan lebih bervariasi sehingga atlet lebih senang untuk mengikuti.

95 digilib.uns.ac.id 73 f) Gerakan Hurdle Hopping membutuhkan kematangan fisik yang baik sehingga peserta adalah yang memiliki kondisi fisik yang baik 2. Kekurangan a). Sulit dilakukan bagi atlet yang baru b). Faktor cedera lebih besar karena penempatan kaki pada saat jatuh di tanah harus bersamaan c). Kelenturan kurang maksimal d). Gerakan terlalu kaku e). Gerakan ini membutuhkan power sehingga tidak semua atlet khususnya anak-anak yang di bawah umur. e. Latihan plaiometrik Squat Thrust Jump Posisi berdiri, kemudian dimulai dengan meloncat ke atas dengan tangan diangkat ke atas. Setelah meloncat, ketika turun, langsung ke posisi jongkok dan tangan menyentuh lantai di depan tubuh. dibarengi dengan kaki yang langsung dibuang ke belakang, kaki lurus, begitu juga tangan yang lurus menyentuh lantai, sehingga posisi tubuh Push- up. Setelah itu posisi kaki dipindah lagi ke posisi jongkok untuk mengambil awalan untuk loncat lagi atau ke posis mulai.. Dapat dihitung sekali ketika satu loncatan. 1. Kelebihan a) Gerakan squat thrust membutuhkan kematangan fisik sehingga peserta yang diutamakan sudah memiliki kematangan fisik yang baik.

96 digilib.uns.ac.id 74 b) Mudah dilakukan Atlet baik pemula maupun lanjutan. c) Tidak menggunakan alat sehingga bisa dilakukan dimana dan kapanpun. d) Latihan dikombinasikan dengan otot tungkai dan otot lengan dengan demikian kecepatan dan kelenturan lebih maksimal. e) Latihan ini sangat berguna untuk semua aktivitas yang menggunakan gerakan otot tungkai. 2. Kekurangan a) Kekuatan otot tungkai tidak maksimal b) Gerakan yang monoton sehingga atlet kurang berminat untuk mengikuti. c) Tenaga yang dikeluarkan lebih besar d) Kurang efektif untuk kecepatan Latihan plaiometrik dengan kotak/gawang akan memberikan beban lebih (overload) untuk kelompok otot yang digunakan dalam latihan hurdle hopping dan Squat Thrust Jump. Kondisi yang demikian jika diterapkan pada atlet yang terlatih akan menghasilkan proses penyesuaian tubuh yang optimal. Secara fisiologis latihan ini tampak ringan, namun akan memberikan pengaruh yang baik pada peningkatan kualitas kekuatan tungkai yang sangat dibutuhkan dalam pencapaian prestasi lompat jauh SMA Negeri 3 Kota Madiun. Berdasarkan uraian di atas rancangan penelitian ini akan mengkaji lebih jauh tentang perbedaan pengaruh latihan Plaiometrik hurdle

97 digilib.uns.ac.id 75 hopping dan Squat Thrust Jump terhadap peningkatan kekuatan otot tungkai pada atlet lompat jauh SMA Negeri 3 Kota Madiun. 4. Kekuatan Mengenai latihan kekuatan, beberapa fakta tentang tipologi otot-otot dan gambaran fungsional kontraksi otot tidak dapat dihindari. Otot-otot mendapatkan impuls (=rangsangan) melalui urat syaraf gerak. Rangsangan yang kuat membawa ke kontraksi maksimum. Otot-otot terdiri dari sejumlah besar serat-serat kecil dan tipis. Tetapi bahkan rangsangan rangsangan yang kuat tidak perlu melibatkan kontraksi semua serat yang barkaitan. Dalam olahraga pemain hanya baru % dari serat-serat yang berkaitan ambil bagian dalam kontraksi (Saziorski, 1966 yang dikutip dari Nossek, (1982:60). Karena itu, tujuan dari latihan kekuatan adalah untuk mengaktifkan sebanyak mungkin serat-serat otot dalam kontraksi tunggal. Menurut Imam Hidayat, (1997 : 84) kekuatan adalah gaya yang ditimbulkan oleh kontraksi otot. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kekuatan ialah gaya yang dapat menimbulkan gerak mekanis. Arah dari suatu gerakan tergantung dari arah yang dikerahkan oleh kekuatan yang bersangkutan. Sebuah benda yang dalam keadaan diam, akan bergerak ke arah kanan bila ada kekuatan yang menariknya dari sebelah kanan. Efek dari kekuatan selalu sesuai dengan arah dari bekerjanya kekuatan tersebut (Imam Hidayat, 1997:84).

98 digilib.uns.ac.id 76 Menurut Nossek, (1982:62) Kerja otot-otot selama tindakan kekuatan yang manapun, terjadi dengan dua cara ; yaitu dinamis dan statis. 1) Kerja otot yang dinamis : - Kontraksi isotonik yang didalamnya kekuatan otot dinamis adalah aktif dan dilakukan dengan pemendekan atau pemanjangan otot a). Kontraksi konsentris, tindakan yang berganti-ganti yang didalamnya otot-otot tersebut memendek dengan cara yang positif. b). Kontraksi eksentrik, Suatu tindakan menyerah, dicirikan dengan jenis kekuatan negatif, yang didalamnya otot-otot mengembang. 2) Kerja Otot yang Statis: - Kontraksi isometris, gerakan memegang dengan perubahan panjang otot yang dapat ditiadakan. Dalam tipe kontraksi isotonis akan nampak bahwa terjadi suatu gerakan dari anggota-anggota tubuh kita yang disebabkan oleh memanjang dan memendeknya otot-otot, sehingga terdapat perubahan dalam panjang otot. Dalam latihan-latihan isotonik kita dapat memakai beban kita sendiri sebagai beban (Harsono, 1988:179). Menurut Harsono, (1988:175) Dalam kontraksi isometris tidak memanjang atau memendek sehingga tidak akan nampak suatu gerakan yang nyata, atau dengan perkataan lain, tidak ada jarak yang ditempuh. Semua gerakan merupakan hasil dari dalam hubungannya dengan alatalat susunan otot tubuh. Dari sudut pandang biomekanik, terdapat kekuatan luar dan dalam (outer dan inner force), dengan jalan mana kekuatan-kekuatan

99 digilib.uns.ac.id 77 luar seperti gravitasi, tekanan air, dan angin, perpecahan tanah dan yang lain, mempengruhi kekuatan dalam otot-otot. Menurut Harsono, (1988:172) strength adalah kemampuan otot untuk membangkitkan tegangan terhadap sesuatu tahanan. Kekuatan otot adalah komponen yang sangat penting guna meningkatkan kondisi fisik secara keseluruhan. Kekuatan merupakan daya penggerak setiap aktivitas fisik, kekuatan memegang peranan penting dalam melindungi atlet dari kemungkinan cedera dan dengan kekuatan, atlet akan dapat lebih cepat, melempar atau menendang lebih jauh dan lebih efisien, memukul lebih keras, demikian pula dapat membantu memperkuat stabilitas sendi-sendi. Cara yang paling populer dan paling berhasil dalam meningkatkan kekuatan adalah dengan latihan-latihan tahanan (resistence exercise). Latihan tahanan adalah latihan di mana seorang atlet harus mengangkat, mendorong atau menarik suatu beban, baik itu badan atlet itu sendiri maupun bobot lain dari luar (external resistence) (Yusuf H dan Aip S, 1996:108). Dalam istilah fisik, kekuatan (force) dikarekterisasikan dengan rumus F = m x a (hasil dari masa dan akselerasi). Kekuatan menurut Husein Argasasmita, dkk (2007:56) adalah kemampuan untuk melawan tahanan/resistean atau beban fisik baik dari luar maupun dari badannya sendiri. Kekuatan dibagi menjadi beberapa jenis yaitu : a). Kekuatan Maksimal (maximal Strength). b). Daya tahan kekuatan (Strength Endurance)

100 digilib.uns.ac.id 78 c). Kekuatan kecepatan (Kekuatan/Speed Strength). a). Kekuatan Maksimal Kekuatan maksimal adalah kemampuan untuk melawan tahanan secara maksimal. Batasan ini tidak diperhitungkan seberapa cepat gerakan untuk melawan tahanan tersebut tetapi seberapa besar tahanan yang dapat dilawan. Untuk melatih kekuatan maksimal ada beberapa metode yang dapat digunakan, namun pada prinsipnya adalah menggunakan beban dengan intensitas yang tinggi (berat) dan pengulangan/repetisi yang sedikit. b). Dayatahan Kekuatan Dayatahan kekuatan adalah kemampuan untuk melawan tahanan beban dalam waktu yang lama. Batasan ini merujuk pada lamanya waktu atau lamanya pengulangan secara simultan dalam melawan beban tersebut. Untuk mengembangkan dayatahan kekuatan dapat digunakan berbagai metode yang pada dasarnya adalah menggunakan beban dengan intensitas yang kecil (ringan) dan pengulangan yang banyak. c). Kekuatan Kecepatan Kekuatan kecepatan adalah kemampuan untuk melawan tahanan/beban dengan gerakan yang cepat dan eksplosif. Batasan ini merujuk pada kemampuan melakukan gerakan dengan cepat sehingga bila tahanan yang dihadapi tidak mampu digerakkan dengan cepat maka kekuatan akan berubah menjadi kekuatan eksposif.

101 digilib.uns.ac.id 79 Kekuatan eksplosif merupakan aplikasi usaha yang cepat untuk melawan tahanan namun bebannya cukup berat sehingga gerak yang dihasilkan dan tampak terlihat bebannya tidak bergerak dengan cepat. a. Komponen Otot Tungkai Otot tungkai adalah merupakan otot anggota gerak bagian bawah. Otot gerak bagian bawah yaitu otot tungkai atas dan otot tungkai bagian bawah. Otot tungkai atas dapat diklasifikasikan menjadi: 1). Otot yang terletak pada bidang depan yaitu otot sartorius, otot vastus lateralis, otot rektus femoralis, dan otot vastus medialis. 2). Otot yang terletak pada bidang belakang yaitu otot semi membranosus, otot biseps femoralis, otot semi tendinosus, otot gracilis dan otot glueteus maksimus (Raven, 2000: 14). Otot-otot pada tungkai bawah semua melekat pada kaki dan jari kaki dengan perantara otot-otot panjang yang semua diikat oleh beberapa ikat (ligament) yang dapat digolongkan menjadi: 1) Golongan depan dibentuk oleh tulang kering depan dan muskulus tibialis anterior fungsinya mengangkat pinggir kaki sebelah tengah dan membengkokkan kaki. 2) Otot gastroknemius yang terletak pada bidang luar dan menggerakkan kaki keluar di sendi loncat bawah. 3) Otot trisep betis yang melekat pada tumit dengan perantara otot tibia. 4) Otot ketul (muskulus palangus longus) yang menurunkan ujung jari kaki, mengentulkan jari-jari commit kaki, to dan user menggerakkan kaki ke dalam.

102 digilib.uns.ac.id 80 Dapat disimpulkan bahwa daya ledak (kekuatan) otot tungkai adalah kemampuan sekelompok otot tungkai untuk mengatasi tahanan beban dengan kecepatan tinggi. Lebih jelas dapat dilihat pada gambar komponen kekuatan otot tungkai berikut: Gluteus maksmus Gracilis Semi membranosus Semi tendinosus Biseps femoris Gastroknemius Proneus brevis Soleu Tendon achiles kalkaneus Gambar 15. Susunan Otot Tungkai Dilihat dari Belakang (Raven, 2000:14), Sartorius Rektus femoris Vastus latralis Patela Vastus medialis Tibia Gambar 16.Susunan otot tungkai dilihat dari depan (Raven, 2000: 15).

103 digilib.uns.ac.id 81 b. Peranan Kekuatan Otot Tungkai Terhadap Peningkatan Prestasi Lompat Jauh. Komponen yang sangat besar peranannya terhadap hasil lompatan pada lompat jauh adalah kekuatan otot tungkai yang meliputi kecepatan yaitu pada awalan dan kekuatan yaitu tolakan. Perpaduan antara kecepatan dan kekuatan dinamakan power. Usaha untuk meningkatkan power dibutuhkan latihan yang disesuaikan dengan kemampuan atlet, sebab atlet dari masing-masing cabang baik dari cabang yang samadan bahkan dari cabang yang berbeda yang memiliki kemampuan yang berlainan. Dengan demikian perlu dicari bentuk latihan yang tepat dan efektif untuk meningkatkan power ototnya terutama pada kemampuan melompat adalah kekuatan otot tungkai. Menurut Sugiyanto (1998:254) kemampuan fisik adalah kemampuan sistem organ-organ tubuh di dalam melakukan aktivitas fisik. Kemampuan fisik sangat penting untuk mendukung aktivitas psikomotor. Gerakan yang terampil bisa dilakukan apabila kemampuan fisiknya memadai. Keterampilan bergerak bisa berkembang bila kemampuan fisik mendukung bisa pelaksanaan gerak. Secara garis besar kemampuan fisik bisa dibedakan menjadi 4 macam kemampuan yaitu: a) ketahanan (endurance), b) Kekuatan (strength), c) Fleksibilitas (flexibility), d) Kelincahan (agility). Salah satu dari beberapa kemampuan fisik yang mendukung dalam performa penampilan atlet adalah kekuatan otot. Menurut Sugiyanto (1998:259) kekuatan otot adalah unsur kemampuan fisik yang menjadikan seseorang mampu menahan beban atau tahanan dengan menggunakan kontraksi otot. Kekuatan otot ditentukan oleh besarnya penampang otot serta kualitas kontrol pada commit otot yang to bersangkutan. user

104 digilib.uns.ac.id 82 Teknik untuk lompat jauh yang benar perlu memperhatikan unsurunsur: awalan, tolakan, sikap badan di udara (melayang) dan mendarat. Dipengaruhi juga oleh kecepatan lari awalan, kekuatan otot tungkai saat menumpu, koordinasi sewaktu melayang di udara dan mendarat. Lompat jauh sangat dipengaruhi oleh kecepatan adalah kemampuan organisme atlet dalam melakukan gerakan-gerakan dengan waktu yang sesingkatsingkatnya untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Kekuatan otot tungkai seseorang berperan penting dalam meningkatkan frekuensi langkah lari seseorang, karena frekuensi langkah adalah perkalian antara kekuatan otot tungkai dan kecepatan otot dalam melangkah. Kekuatan otot tungkai ini digunakan saat lari maupun melakukan tolakan. Dalam pencapaian kecepatan awalan dan tolakan kekuatan otot tungkai sangat berpengaruh. Karena otot merupakan faktor pendukung kemampuan seseorang untuk melangkahkan kaki. Besar kecilnya otot benar-benar berpengaruh terhadap kekuatan otot. Para ahli fisiologi berpendapat bahwa pembesaran otot itu disebabkan oleh bertambah luasnya serabut otot akibat suatu latihan. Makin besar serabutserabut otot seseorang, makin kuat pula otot tersebut (Sajoto, 1988:111). A. Penelitian Relevan 1. Penelitian yang dilakukan oleh Subandono (2006), yang berjudul Perbedaan Pengaruh Latihan Plaiometrik dan Fleksibilitas Togok Terhadap Peningkatan Prestasi Lompat Jauh, penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh latihan plaiometrik knee tuck jumps dan squat jump dan fleksibilitas togok

105 digilib.uns.ac.id 83 terhadap peningkatan prestasi lompat jauh. Hasil analisis menunjukkan bahwa latihan knee tuck jumps mempunyai pengaruh yang lebih baik daripada metode latihan squat jumps terhadap prestasi lompat jauh. Metode latihan knee tuck jumps mempunyai pengaruh yang lebih baik daripada metode latihan squat jumps baik pada fleksibiltas tinggi maupun fleksibilitas rendah. 2. Penelitian yang dilakukan oleh M. Sholeh (2008), yang berjudul Pengaruh latihan pliometrik modifikasi gerakan ke depan dan ke samping terhadap kelincahan di lapangan pasir penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari latihan pliometrik modifikasi di lapangan rumput dan di lapangan pasir terhadap kelincahan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Latihan pliometrik di lapangan rumput dan pasir meningkatkan kelincahan, latihan pliometrik modifikasi di lapangan pasir lebih meningkatkan kelincahan dari pada pliometrik di lapangan rumput. B. Kerangka Pemikiran Hasil kajian teoritis tentang pengembangan model latihan dalam olahraga atletik, yang dalam hal ini latihan Plaiometrik Hurdle hopping dan Squat Thrust Jump untuk meningkatkan prestasi lompat jauh yang ditinjau dari kekuatan otot tungkai, maka dapat disusun suatu kerangka pemikiran sebagai berikut: 1. Perbedaan Pengaruh latihan Plaiometrik Hurdle hopping dan Squat Thrust Jump terhadap prestasi lompat jauh. Loncat adalah salah satu latihan kekuatan yang berkaitan dengan kekuatan dan kecepatan. Plaiometrik commit Hurdle to user hopping dan Squat Thrust Jump

106 digilib.uns.ac.id 84 memiliki ciri khas gerakan meloncat ke depan menggunakan dua kaki dengan rintangan kotak atau bentuk penghalang lain yang ditekankan pada kecepatan gerakan kaki untuk mencapai lompat-loncat setinggi-tingginya dan sejauhjauhnya. Prinsip metode latihan plaiometrik adalah otot selalu berkontraksi baik pada saat memanjang (eccentric) atau pun pada saat memendek (concentric). Pelaksanaan latihan plaiometrik yang dilakukan dengan tepat dan benar akan mempercepat peningkatan prestasi lompat jauh pada atlet SMA Negeri 3 Kota Madiun. Pada dasarnya kedua latihan tersebut mempunyai tujuan yang sama tetapi dalam pelaksanaannya bentuk gerakan dan otot yang bekerja berbeda, latihan Plaiometrik Hurdle hopping mengutamakan kecepatan lompatan dengan jangkauan ke depan lebih panjang sedangkan untuk latihan Plaiometrik Squat Thrust Jump mengutamakan kecepatan lompatan dengan gerakan ke samping kiri kanan dan kedepan jangkauannya lebih pendek dibandingkan dengan latihan Plaiometrik Hurdle hopping. Dari uraian tersebut masingmasing mempunyai kelebihan dan kekurangan, sehingga pada akhir program latihan peningkatan pada prestasi lompat jauh yang diinginan berbeda pula. 2. Perbedaan peningkatan prestasi lompat jauh antara atlet yang mempunyai kekuatan otot tungkai tinggi dan kekuatan otot tungkai rendah. Kekuatan otot tungkai akan sangat membantu bagi para atlet untuk melakukan teknik gerakan lompat jauh dengan baik. Dengan mampu melakukan teknik gerakan yang commit benar to seorang user atlet tentu akan lebih mudah

107 digilib.uns.ac.id 85 untuk mencapai prestasi lompat jauh. Semakin tinggi tingkat kekuatan otot tungkai seseorang semakin mudah mencapai prestasi lompat jauh. Sebaliknya tingkat kekuatan otot tungaki yang rendah akan menghambat saat melakukan gerakan lompat jauh yang sempurna, sehingga prestasi lompat jauh kurang begitu baik. Dalam hal ini untuk mencapai prestasi lompat jauh tentunya seseorang yang memiliki kekuatan otot tungkai tinggi berbeda dengan yang memiliki kekuatan otot tungkai yang rendah. 3. Pengaruh interaksi antara latihan Plaiometrik dan kekuatan otot tungkai terhadap peningkatan prestasi lompat jauh. Pelaksanaan latihan Plaiometrik Hurdle hopping akan membutuhkan kekuatan otot tungkai yang tinggi karena jangkauan ke depan lebih panjang, sedangkan latihan Plaiometrik Squat Thrust Jump atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai rendah dapat melaksanakan latihan tersebut dengan baik karena jangkauan lompatan lebih pendek. Walaupun telah diduga secara kuat bahwa pemberian latihan Hurdle hopping lebih baik dibandingkan dengan latihan Squat Thrust Jump, namun tidak dapat menjamin hal tersebut akan berlaku pada kelompok yang memiliki tingkat kekuatan otot tungkai yang berbeda.. Terlihat jelas interaksi dari hasil yang ditimbulkan bila dalam pemberian tugas atau perlakuan betul-betul disesuasikan dengan karakteristik yang dimiliki oleh masing-masing atlet lompat jauh

108 digilib.uns.ac.id 86 C. Hipotesis Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir yang telah dikemukakan diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: 1. Ada perbedaan pengaruh latihan plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump terhadap peningkatan prestasi lompat jauh. 2. Ada perbedaan peningkatan prestasi lompat jauh antara atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai tinggi dan kekuatan otot tungkai rendah. 3. Ada pengaruh interaksi antara latihan Plaiometrik dan kekuatan otot tungkai terhadap peningkatan prestasi lompat jauh.

109 digilib.uns.ac.id BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat Penelitian ini dilaksanakan di lapangan SMA Negeri 3 Kota Madiun. 2. Waktu Penelitian Waktu Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan atau 9 minggu dan frekwensi pertemuan 3 kali dalam seminggu dengan waktu 90 menit setiap kali latihan. Penentuan waktu latihan dengan frekuensi tiga kali seminggu sesuai dengan pendapat Brooks & Fahey (1984:405), bahwa dengan frekuensi tiga kali per minggu akan terjadi peningkatan kualitas keterampilan. Dengan alasan bahwa latihan tiga kali per minggu akan memberikan kesempatan bagi tubuh untuk beradaptasi terhadap beban latihan yang diterima. Latihan dilaksanakan pada sore hari sesuai dengan jadwal latihan yang sudah ada yaitu Senin, Rabu dan Jum at, pada pukul s.d WIB. Secara Keseluruhan jumlah total latihan selama 27 kali pertemuan, yang dimulai bulan Oktober s.d. Desember 2010 B. Metode dan Rancangan Penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan desain faktorial 2 X 2. Desain faktorial adalah suatu pola yang 87

110 digilib.uns.ac.id 88 menyediakan kemungkinan bagi penyelidik untuk sekaligus menyelidiki pengaruh dua jenis variabel eksperimen atau lebih. Menurut Sudjana (2002:148) eksperimen faktorial adalah eksperimen yang menyangkut sejumlah faktor dengan banyak taraf. Demikian dalam penelitian ini desain eksperimennya dengan dua faktor yang masing-masing terdiri atas dua taraf. Sebuah faktor dikombinasikan atau disilangkan dengan semua taraf tiap faktor yang ada dalam eksperimen. Dalam desain faktorial dua atau lebih variabel dimanipulasi secara simultan untuk mengetahui pengaruh masing-masing terhadap variabel terikat, disamping pengaruh-pengaruh yang disebabkan oleh interaksi antar variabel (Furchan, 1982:362). Isaac dan Michael (1984:77) menjelaskan bahwa: desain faktorial 2 x 2 untuk meneliti pengaruh dari dua perlakuan, di mana masing-masing perlakuan atau variabel terdiri dari dua level. Menurut Sutrisno Hadi (2000:462) mengatakan bahwa: desain faktorial adalah suatu pola yang menyediakan kemungkinan bagi penyelidik untuk sekaligus menyelidiki pengaruh dari dua jenis variabel eksperimen atau lebih. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen dua faktor dan dua level. Faktor pertama merupakan variabel manipulatif, yaitu latihan plaiometrik. Latihan plaiometrik terdiri dari latihan plaiometrik Hurdle Hopping dan Squat Trust Jump, sedangkan variabel atributif terdiri dari kekuatan tinggi dan rendah. Sebuah faktor dikombinasikan atau disilangkan dengan semua level

111 digilib.uns.ac.id 89 yang ada dalam eksperimen. Dan secara skematis rancangan penelitian ini dapat digambarkan pada tabel berikut ini: Tabel 7. Rancangan Penelitian Faktorial 2 X 2 Variabel Atributif Kekuatan Otot Tungkai (B) Variabel Manipulatif Tinggi (B 1 ) Rendah (B 2 ) Hurdle Hopping Latihan (A 1 ) a 1 b 1 a 1 b 2 Plaiometrik Squat Trust Jump (A) (A 2 ) a 2 b 1 a 2 b 2 Peningkatan Prestasi Lompat Jauh Keterangan : A = Latihan Plaiometrik A1 A2 B B1 B2 = latihan Hurdle Hopping = Latihan Squat Thrust Jump = Kekuatan Otot Tungkai = Kekuatan Otot Tungkai Tinggi = Kekuatan Otot Tungkai Rendah a 1 b 1 = Metode latihan Hurdle Hopping dengan kekuatan otot tungkai tinggi a 2 b 1 = Latihan Squat Thrust Jump dengan kekuatan otot tungkai tinggi a 1 b 2 = Latihan Hurdle Hopping dengan kekuatan otot tungkai rendah a 2 b 2 = Latihan Squat Thrust Jump dengan kekuatan otot tungkai rendah

112 digilib.uns.ac.id 90 C. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini terdiri dari 2 variabel independen dan 1 variabel dependen, dengan rincian variabel sebagai berikut : 1. Variabel Independen terdiri dari : a. Variabel manipulatif, terdapat dua perlakuan yaitu : 1) Pemberian latihan plaiometrik Hurdle Hopping. 2) Pemberian latihan plaiometrik Squat Trust Jump. b. Variabel atributif, merupakan variabel yang melekat pada sampel dan menjadi sifat dari sampel tersebut adalah kekuatan otot tungkai yang dibedakan tinggi dan rendah. 2. Variabel Dependen Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Peningkatan prestasi lompat jauh. D. Definisi Operasional Variabel Definisi operasional variabel dari masing-masing variabel penelitian perlu dijelaskan agar supaya tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda. 1. Latihan Plaiometrik Hurdle Hopping Metode latihan plaiometrik Hurdle Hopping adalah meloncat ke depan menggunakan dua kaki dengan rintangan kotak atau bentuk penghalang lain yang ditekankan pada kecepatan gerakan kaki untuk mencapai lompat-loncat setinggi-tingginya dan sejauh-jauhnya. Adapun menu program latihan

113 digilib.uns.ac.id 91 plaiometrik hurdle hopping adalah: Volume 2, 3, 4, 5 set/sesi dengan 4 repetisi. 2. Latihan Plaiometrik Squat Trust Jump Latihan Squat Thrust Jump adalah posisi berdiri, kemudian dimulai dengan meloncat ke atas dengan tangan diangkat ke atas, setelah meloncat, ketika turun, langsung ke posisi jongkok dan tangan menyentuh lantai di depan tubuh dibarengi dengan kaki yang langsung dibuang ke belakang, kaki lurus, begitu juga tangan yang lurus menyentuh lantai, sehingga posisi tubuh Push up. Setelah itu posisi kaki dipindah lagi ke posisi jongkok untuk mengambil awalan untuk loncat lagi atau ke posisi semula.dapat dihitung sekali ketika satu loncatan, dilalukan selama 30 detik. Jika tidak sesuai dengan prosedur tes, maka tidak dihitung. 3. Kekuatan Kekuatan adalah kemampuan otot untuk membangkitkan tegangan terhadap sesuatu tahanan. a. Kekuatan Otot Tungkai Tinggi Kemampuan seseorang dalam melaksanakan tarikan dengan meluruskan tungkai memperoleh skor kekuatan tinggi yang tertera pada alat leg dinamometer yang dicatat pada 0,5 kg terdekat (KONI, 1999). b. Kekuatan Otot Tungkai Rendah Kemampuan seseorang dalam melaksanakan tarikan dengan meluruskan tungkai memperoleh skor kekuatan rendah yang tertera pada alat leg dinamometer yang dicatat pada 0,5 kg terdekat (KONI, 1999).

114 digilib.uns.ac.id Prestasi Lompat Jauh Peningkatan hasil lompat jauh dalam penelitian ini adalah hasil yang mampu diraih siswa saat melakukan lompat jauh. Dalam hal ini siswa diberi kesempatan tiga kali lompatan kemudian diambil jarak yang terbaik E. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah individu yang ditetapkan sebagai objek penelitian yang dikenai generalisasi. Dalam penelitian ini populasinya adalah Siswa putra kelas XI SMA Negeri 3 kota Madiun. Dari hasil observasi diketahui bahwa jumlah siswa putra kelas XI SMA Negeri 3 Kota Madiun berjumlah 60 orang. 2. Sampel Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa putra kelas XI kota Madiun sebesar 40 siswa. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik Purposive random sampling, dikatakan purposive sebab populasi dalam penelitian ditentukan untuk mewakili populasi dan ikut dalam penelitian ini. Dikatakan random karena sampel dipilih secara acak (undian). Dari jumlah populasi yang ada untuk menjadi sampel harus memenuhi ketentuan-ketentuan untuk memenuhi tujuan penelitian. Ketentuanketentuan tersebut adalah : 1) Jenis kelamin laki-laki. 2) Berminat untuk mengikuti latihan. 3) Sehat jasmani dan rohani.

115 digilib.uns.ac.id 93 4) Bersedia menjadi sampel penelitian. Seluruh populasi dites kemampuan geraknya, hasil tes tersebut dirangking dari 1-40 Setelah dirangking siswa dibagi dalam dua kelompok, masing-masing kelompok 20 siswa yang memiliki hasil tes di atas rata-rata diklasifikasikan siswa yang memiliki kemampuan gerak tinggi dan 20 siswa yang memiliki hasil tes di bawah rata-rata diklasifikasikan siswa yang memiliki kemampuan gerak rendah. Kemampuan gerak tinggi dibagi lagi dua kelompok dan kemampuan gerak rendah dua kelompok, sehingga keseluruhan ada empat kelompok, masing-masing kelompok 10 siswa. Jadi, 10 siswa yang memiliki kemampuan gerak tinggi ikut latihan plaiometrik hurdle hopping, 10 siswa yang memiliki kemampuan gerak tinggi ikut latihan plaiometrik squat trust dan 10 siswa yang memiliki kemampuan gerak rendah ikut latihan plaiometrik hurdle hopping, 10 siswa yang memiliki kemampuan gerak rendah ikut latihan plaiometrik squat trust. Pengelompokan 10 siswa ini dilakukan secara acak. Pengelompokan masing-masing taraf secara lengkap terdapat pada gambar di bawah ini : Tabel 8. Pengelompokan Berdasarkan Rancangan Penelitian Faktorial 2 X 2 Variabel Manipulatif Latihan Plaiometrik (A) Variabel Atributif Hurdle Hopping (A 1 ) Squat Trust Jump (A 2 ) Kekuatan Otot Tungkai (B) Tinggi (B 1 ) a 1 b 1 (10 Atlet) a 2 b 1 (10 Atlet) Rendah (B 2 ) A 1 b 2 (10 Atlet) a 2 b 2 (10 Atlet)

116 digilib.uns.ac.id 94 F. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumennya Dalam penelitian ini data diperoleh dengan cara tes dan pengukuran. 1. Pengumpulan Data Kekuatan Otot Tungkai Teknik pengumpulan data untuk kekuatan dilakukan dengan pengukuran kekuatan otot tungkai pada pertemuan pertama. Data kekuatan otot tungkai untuk menentukan kelompok-kelompok dalam penelitian eksperimen yang diperoleh dengan tes leg dinamometer. Kekuatan otot tungkai diukur pada awal pertemuan dengan kesempatan melakukan sebanyak dua kali. Hasil yang terbaik dipakai sebagai data sampel. Adapun petunjuk pelaksanaan terlampir. 2. Pengumpulan Data Prestasi Lompat Jauh Data ini diperoleh dengan melakukan tes lompat jauh menggunakan peraturan dari PASI. Data diambil pada waktu tes awal dan tes akhir, dengan kesempatan melakukan tes sebanyak 3 kali. Hasil lompatan yang terjauh dipakai sebagai data sampel, petunjuk pelaksanaan terlampir. 3. Mencari Reliabilitas Tes Tes yang dipergunakan untuk mengumpulkan data kekuatan dengan tes leg dinamometer yang perlu diuji reliabilitasnya sesuai dengan karakteristik dari populasi penelitian. Penghitungan koefisien reliabilitas intraklas dicari dengan ANAVA (Baumgartner & Jackson, 1998:84). Rumus reliabilitasnya adalah : R= R MS P - MS MS P W = Reliabilitas

117 digilib.uns.ac.id 95 MS P = Mean Square antar subyek MS W = Mean Square di dalam subyek Tabel 9. Koefisien Korelasi Reliabilitas ( Stand et all dalam Mulyono B, 2007:38) KOEFISIEN RELIABILITAS Excellent Very good Acceptable Poor Questionable Uji Reliabilitas Untuk mengetahui keajegan hasil tes yang dilakukan dalam pengumpulan data penelitian, dilakukan uji reliabilitas pada hasil tes prestasi lompat jauh pada tes awal maupun tes akhir. Berdasarkan hasil analisis uji reliabilitas tes awal prestasi lompat jauh (pre-test) dengan ANOVA dapat dilihat dilampiran Nilai yang diperoleh R = 0,998. jadi hasil tes awal prestasi lompat jauh dikategorikan Excellent. Sedangkan hasil analisis uji reliabilitas tes akhir prestasi lompat jauh (post-test) dengan ANOVA dapat dilihat dilampiran Nilai yang diperoleh R = 0,997. jadi hasil tes awal prestasi lompat jauh dikategorikan Excellent.

118 digilib.uns.ac.id 96 G. Teknik Analisis Data 1. Uji Persyaratan Dalam penelitian ini teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis mengenai perbedaaan pengaruh (main effect) dan interaksi (interaction) adalah dengan menggunakan teknik Analisis Variansi (ANAVA) Dua Jalan atau Analisis of Varians (ANOVA) Two Way (Isaac & Mitchael, 1984:182). Sebelum sampai pada pemanfaatan ANAVA Dua Jalan, perlu dilakukan uji persyaratan, meliputi : a. Uji Normalitas. Pengujian ini dilakukan terhadap setiap sel untuk mengetahui apakah sampel yang digunakan dalam penelitian ini berdistribusi normal atau tidak. Teknik yang digunakan adalah statistik Anderson- Darling ( pendekatan grafik ) yang dilakukan dengan menggunakan bantuan software MINITAB (Siswandari, 2009:202). b. Uji Homogenitas Variansi Tujuan pengujian ini adalah untuk menaksir selisih rata-rata dan menguji kesamaan atau perbedaan dua rata-rata. Perlu ditekankan adanya asumsi bahwa kedua kelompok mempunyai variansi yang sama agar kegiatan menaksir dan menguji dapat berlangsung. Untuk menghitung uji homogenitas digunakan rumus uji Bartlett pada taraf signifikansi α = Kriteria pengujian yang digunakan adalah jika X 2 h < X 2 t pada taraf signifikansi α = 0.05 yang berarti penyebaran data dalam penelitian bersifat homogen. Teknik ini dilakukan dengan

119 digilib.uns.ac.id 97 menggunakan analisis statistik yang dilakukan dengan manual dan agar lebih yakin tentang kebenaranya dari hasil yang diperoleh dilanjutkan dengan uji statistik. Untuk pengecekan dan pemahaman dilanjutkan penghitungan manual dengan memakai rumus: 2 å 2 x -( å x) = 2 S 1 (Sudjana, 2002: ). n-1 Apabila x 2 hitung < x 2 tabel, maka H 0 diterima, artinya varians sampel bersifat homogen. Sebaliknya apabila x 2 hitung > x 2 tabel, maka H 0 ditolak, artinya varians sampel bersifat tidak homogen. 2. Uji Hipotesis Setelah dilakukan uji normalitas dan homogenitas variansi, maka pemanfaatan ANAVA dalam analisis data sudah bisa dilakukan. Data hasil tes terakhir prestasi lompat jauh dianalisis dengan statistika ANAVA Dua Jalan dan pengujian hipotesis dengan perhitungan Uji F pada taraf signifikan α = 0.05 yang sebelumnya telah dilakukan uji persyaratan yang rumusnya sebagai berikut Y 2 å 2 = X tot Ry= å X N 2 2 tot 2 X 1 + X 3 + X 2 + X 4 J AB = - Ry n. sel 2 2 å X A + å 1 X Ay= n. A å X B + å 1 X By= n. B A2 b2 - Ry - Ry

120 digilib.uns.ac.id 98 AB ( RJK RJK ) Dby = J - + A B Ey= Y 2 - Ry- J AB F = A RJK RJK A E F = B RJK RJK B E JK AB F AB = (Sudjana, 2002 : ). RJK E a. Metode AB untuk Perhitungan Anava Dua Faktor Tabel 10. Ringkasan Anava untuk Eksperimen Faktorial 2 x 2 Sumber Variasi dk JK RJK F o Rata-rata 1 R y R Perlakuan A a - 1 A y A A/E B b - 1 B y B B/E AB (a-1)(b-1) AB y AB AB/E Kekeliruan Ab(n-1) E y E Keterangan : A = Taraf faktorial A B = Taraf faktorial B N = Jumlah sampel

121 digilib.uns.ac.id 99 Penggunaan Anava harus memenuhi persyaratan : 1) observasi untuk masing-masing kelompok independent, 2) setiap kelompok perlakuan memiliki variansi yang sama (homogen), 3) populasi berdistribusi normal. Namun demikian analisis variansi (Anava) tetap tegar (Robust) dan akan tetap memberikan hasil yang akurat walaupun variansi tidak homogen. (Welkowitz, Ewen dan Cohen, 1982:251). b. Uji Rentang Newman-Keuls Setelah Anava Selanjutnya untuk membandingkan pasangan rata-rata perlakuan digunakan uji Rentang Newman Keuls (Sudjana, 2002:36), untuk mengetahui perlakuan manakah yang paling besar pengaruhnya terhadap prestasi lompat jauh yang dicapai oleh atlet. Adapun langkah-langkah untuk melakukan Uji Newman-Keuls adalah sebagai berikut : 1. Susun k buah rata-rata perlakuan menurut urutan nilainya, dari yang paling kecil sampai ke yang terbesar. 2. Dari daftar ANAVA, ambil harga KT (kekeliruan) disetai dk-nya. 3. Hitung kekeliruan baku rata-rata untuk tiap perlakuan dengan rumus Sy= KT ( kekeliruan) n 4. Tentukan taraf signifikan α, lalu gunakan daftar Rentang Student. Untuk uji Newman-Keuls, diambil ν =dk untuk KT (kekeliruan) dan ρ = 2, 3,..., k. Harga-harga yang didapat untuk ν dan ρ dari badan daftar sebanyak (k 1) buah, supaya dicatat. 5. Kalikan harga-harga yang didapat di titik 4) itu masing-masing dengan S y. Dengan jalan demikian diperoleh apa yang dinamakan rentang signifikan terkecil (RST) 6. Bandingkan selisih rata-rata terbesar dan terkecil dengan RST untuk ρ = k, selisih rata-rata terbesar dan terkecil kedua dengan RST untuk ρ

122 digilib.uns.ac.id 100 = (k-1), dan seterusnya. Demikian pula kita bandingkan selisih ratarata terbesar kedua dan dan terkecil dengan RST untuk ρ = (k-1), selisih rata-rata terbesar kedua dan terkecil kedua dengan RST untuk ρ = ( k - 2), dan seterusnya. Dengan jalan begini, semua akan ada ½k (k-1) pasangan yang harus dibandingkan. Jika selisih-selisih yang didapat lebih besar daripada RSTnya masing-masing, maka disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang berarti di antara rata-rata perlakuan.

123 101 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Data yang diperoleh dalam penelitian ini merupakan hasil tes dan pengukuran perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id dengan menggunakan instrument pengukuran yang sudah diukur tingkat validitasnya, selanjutnya hasil pengukuran dari latihan Plaiometrik, kekuatan otot tungkai dan prestasi lompat jauh akan dijelaskan dalam deskripsi data selanjutnya diuraikan mengenai hasil penelitian beserta interpretasinya. Pengambilan data dilakukan pada tes awal dan tes akhir prestasi lompat jauh. Penyajian hasil penelitian berdasarkan hasil analisis statistik yang dilakukan dengan manual dan agar lebih yakin tentang kebenaranya dari hasil yang diperoleh dilanjutkan dengan uji statistik dengan bantuan software MINITAB (Siswandari, 2009 : 202). Berturut-turut berikut disajikan mengenai deskripsi data, uji persyaratan analisis, pengujian hipotesis dan pembahasan hasil penelitian. A. Deskripsi Data Deskripsi hasil analisis data prestasi lompat jauh dilakukan sesuai dengan sel/kelompok perlakuan, dalam penelitian diberikan latihan Plaiometrik dihubungkan dengan Kekuatan otot tungkai. Yang berisikan tentang deskripsi data hasil tes prestasi lompat jauh tiap kelompok berdasarkan penggunaan latihan plaiometrik dan kekuatan otot tungkai. 101

124 102 Tabel 11. Deskripsi Data Hasil Tes Prestasi lompat jauh Tiap Kelompok Berdasar kan Penggunaan Latihan Plaiometrik dan Kekuatan otot tungkai. Latihan Kekuatan Otot Tungkai perpustakaan.uns.ac.id Rendah Hurdle Hopping Tinggi Squat Thrust Jump Rendah Tinggi Statistik Lompat jauh (Pre-test) Lompat jauh (Post-test) Jumlah 2856 digilib.uns.ac.id 2803 Mean Std. Deviation Jumlah Mean Std. Deviation Jumlah Mean Std. Deviation Jumlah Mean Std. Deviation Gambar 17. Histogram Nilai Rata-Rata Hasil Tes Awal dan Tes Akhir Prestasi Lompat jauh Tiap Kelompok Berdasarkan Penggunaan Latihan dan Kekuatan otot tungkai.

125 103 Keterangan: Hurdle Hopping = Kelompok pelatihan dengan latihan Hurdle Hopping Squat Thrust Jump = Kelompok pelatihan dengan latihan Squat Thrust Jump Kkuat tg = Kekuatan otot tungkai tinggi perpustakaan.uns.ac.id Kkuat Rdh = Kekuatan otot tungkai rendah digilib.uns.ac.id = Hasil tes awal = Hasil tes akhir Agar lebih jelas dalam memahami tabel 11 diatas, gambaran menyeluruh dari nilai rata-rata prestasi lompat jauh awal latihan (pre-test) dan sesudah latihan (Posttest) dari keempat kelompok, maka dapat dibuat histogram perbandingan nilai-nilai yang ditunjukan pada gambar 17. Masing-masing sel (kelompok perlakuan) memiliki peningkatan Prestasi lompat jauh yang berbeda. Nilai peningkatan Prestasi lompat jauh masing-masing sel (kelompok perlakuan) adalah sebagai berikut: Tabel 12. Nilai Peningkatan Prestasi Lompat jauh Masing-Masing Sel (Kelompok Perlakuan) No Kelompok Perlakuan (Sel) Nilai Peningkatan Prestasi lompat jauh ( Gain Score ) 1 A 1 B 1 (KP 1 ) A 1 B 2 (KP 2 ) A 2 B 1 (KP 3 ) A 2 B 2 (KP 4 ) 19.4

126 104 Agar lebih jelas gambaran nilai rata-rata peningkatan prestasi lompat jauh yang dicapai tiap kelompok perlakuan disajikan dalam bentuk histogram sebagai berikut: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Gambar 18. Histogram Nilai Rata-Rata Peningkatan Prestasi Lompat jauh Pada Tiap Kelompok Perlakuan. Keterangan : KP 1 = Kelompok atlet dengan latihan Hurdle Hopping pada tingkat Kekuatan otot tungkai tinggi KP 2 = Kelompok atlet dengan latihan Hurdle Hopping pada tingkat Kekuatan otot tungkai rendah KP 3 = Kelompok atlet dengan latihan Squat Thrust Jump pada Kekuatan otot tungkai tinggi KP 4 = Kelompok atlet dengan latihan Squat Thrust Jump pada tingkat Kekuatan otot tungkai rendah

127 105 Latihan Hurdle Hopping dan latihan Squat Thrust Jump memberikan pengaruh yang berbeda terhadap peningkatan Prestasi lompat jauh. Jika antara kelompok atlet yang mendapat latihan dengan latihan Hurdle Hopping dan dengan latihan Squat Thrust Jump dibandingkan, maka dapat diketahui bahwa kelompok perlakuan latihan perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id dengan latihan Hurdle Hopping memiliki peningkatan prestasi lompat jauh yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok dengan perlakuan latihan dengan latihan Squat Thrust Jump. Antara kelompok atlet yang memiliki Kekuatan otot tungkai tinggi dan rendah juga memiliki peningkatan Prestasi lompat jauh yang berbeda. Jika antara kelompok atlet yang memiliki Kekuatan otot tungkai tinggi dan rendah dibandingkan, maka dapat diketahui bahwa kelompok atlet yang memiliki Kekuatan otot tungkai tinggi memiliki peningkatan Prestasi lompat jauh yang lebih baik ( Gain score = 33.7 ) dibandingkan kelompok atlet yang memiliki Kekuatan otot tungkai rendah ( Gain score = 13.9 ). Tapi perlu diperhatikan dari hasil bacaan grafik diatas juga ditunjukkan bahwa, tidak selamanya atlet yang mempunyai Kekuatan otot tungkai tinggi akan mengalami peningkatan lebih baik jika dibandingkan dengan atlet yang mempunyai Kekuatan otot tungkai rendah, sebagai hasil digambarkan dalam grafik bahwa atlet yang mempunyai Kekuatan otot tungkai tinggi diberikan perlakuan dengan latihan Squat Thrust Jump (Gain score = 11.1) peningkatan prestasinya lebih rendah dibandingkan dengan atlet yang mempunyai Kekuatan otot tungkai rendah dengan diberikan perlakuan latihan Squat Thrust Jump ( Gain score = 19.4 ).

128 106 B. Pengujian Persyaratan Analisis perpustakaan.uns.ac.id Sebelum data dianalisis dengan ANOVA, terlebih dahulu dilakukan digilib.uns.ac.id pengujian persyaratan, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas variansi terhadap semua kelompok yang akan dibandingkan. Asumsi-asumsi bahwa populasi berdistribusi normal dan homogenitas varians telah melancarkan teori dan latihan, sehingga banyak persoalan yang dapat diselesaikan dengan lebih mudah. 1. Uji Normalitas Tujuan dari uji normalitas adalah untuk mengetahui sebaran data dari setiap variabel penelitian normal atau tidak. Adapun data penelitian yang diuji normalitasnya adalah meliputi data keseluruhan latihan (latihan Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump) yang dihubungkan dengan kekuatan otot tungkai tinggi dan kekuatan otot tungkai rendah. Selanjutnya menurut Siswandari (2009:134) seandainya dalam melakukan uji persyaratan analisis maka peneliti dapat menggunakan uji Anderson Darling (pendekatan grafis) untuk uji normalitas. a. Uji normalitas data hasil tes pada kelompok perlakuan latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dengan kekuatan otot tungkai tinggi.

129 107 P r o b a b ili ty P l o t o f C 1 No rm a l 60 perpustakaan.uns.ac.id 50 Percent M ean S td ev N 10 A D P - V alu e digilib.uns.ac.id C Gambar 19. Uji normalitas Latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dengan Kekuatan otot tungkai Tinggi Berdasarkan gambar diatas karena nilai p-value > 0.05 atau 0,081 > 0,05 maka Ho diterima dan ini berarti bahwa residu berdistribusi normal. b. Uji normalitas data tes pada kelompok perlakuan latihan Plaiometrik Hurdle Hopping kekuatan otot tungkai rendah. P robability P lot of C1 Norm al Percent M ean S tdev N 10 A D P -Valu e C Gambar 20. Uji normalitas Latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dengan Kekuatan otot tungkai Rendah

130 108 Berdasarkan gambar diatas karena p-value > 0.05 atau 0,439> 0,05 maka Ho diterima dan ini berarti bahwa residu berdistribusi normal. c. Uji normalitas data hasil tes pada kelompok perlakuan latihan Plaiometrik perpustakaan.uns.ac.id Squat Thrust Jump dengan kekuatan otot tungkai tinggi digilib.uns.ac.id Probability Plot of C1 Normal Percent Mean StDev N 10 AD P-Value C Gambar 21. Uji Normalitas Latihan Plaiometrik Squat Thrust Jump dengan Kekuatan otot tungkai Tinggi Berdasarkan gambar diatas karena nilai p-value > 0.05 atau 0,779 > 0,05, maka Ho diterima dan ini berarti bahwa residu berdistribusi normal. d. Uji normalitas data hasil tes pada kelompok perlakuan latihan Plaiometrik Squat Thrust Jump dengan kekuatan otot tungkai rendah

131 109 Probability Plot of C1 Normal perpustakaan.uns.ac.id 60 Percent Mean StDev N 10 AD P-Value digilib.uns.ac.id C Gambar 22. Uji Normalitas Latihan Plaiometrik Squat Thrust Jump dengan Kekuatan otot tungkai Rendah Berdasarkan gambar diatas karena nilai p-value > 0.05 atau 0,468 > 0,05 maka Ho diterima dan ini berarti bahwa residu berdistribusi normal. 2. Uji Homogenitas Uji homogenitas dimaksudkan untuk menguji kesamaan varians antara kelompok A dengan kelompok B. Uji homogenitas pada penelitian ini dilakukan dengan uji Bartlet. Hasil uji homogenitas data antara kelompok A dan kelompok B adalah sebagai berikut Tabel 13: Rangkuman Hasil Uji Homogenitas Data Kelompok N i SD 2 gab χ 2 o χ 2 tabel 5% Kesimpulan Varians homogenitas

132 110 Dari hasil uji homogenitas diperoleh nilai χ 2 o = Sedangkan dengan K - 1 = 4 1 = 3, angka χ 2 tabel 5% = 7,81, yang ternyata bahwa nilai χ 2 o = lebih kecil dari χ 2 tabel 5% = Sehingga dapat disimpulkan bahwa antar perpustakaan.uns.ac.id kelompok dalam penelitian ini memiliki varians yang homogen. digilib.uns.ac.id C. Pengujian Hipotesis Setelah melakukan uji normalitas dan homogenitas data hasil penelitian, maka syarat untuk analisis varians (ANOVA) telah terpenuhi. Agar uji hipotesis dapat dilaksanakan dengan baik maka terlebih dahulu harus ditentukan bagaimana penerimaan dan penolakan hipotesis. Perhitungan lengkap ANOVA desain Faktorial blok 2 x 2, digunakan untuk melihat perbedaan pengaruh antara latihan plaiometrik Hurdle Hopping dan latihan Squat Thrust Jump, juga untuk melihat interaksi antara latihan dengan Kekuatan otot tungkai. Sesuai dengan rumusan dalam BAB III bahwa hipotesis yang akan diuji adalah; Menurut Siswandari (2009;125) 1. Hipotesis 1 : H : α = 0 Versus : 01 H α ± 0 11 Atau dengan kata lain: Latihan Plaiometrik tidak berpengaruh terhadap prestasi (Ho) versus latihan Plaiometrik berpengaruh terhadap prestasi (H1), 2. Hipotesis 2 : H : β = 0 Versus : 02 H β ± Hipotesis 3 : H : 03 αβ = 0 Versus H : αβ ± 0 13

133 111 Hasil analisis data, yang diperlukan untuk pengujian hipotesis sebagai berikut: Tabel 14. Ringkasan Hasil Analisis Varians Dua Faktor ( Prestasi lompat jauh ) Sumber dk JK RJK F o F t Variasi perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Rata-rata Perlakuan A * 4,11 B * 4,11 AB * 4,11 Kekeliruan Total Keterangan : Yang bertanda * signifikan pada P 0,05. Berdasarkan hasil analisis data di atas dapat dilakukan pengujian hipotesis sebagai berikut: 1. Perbedaan pengaruh antara latihan Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump terhadap peningkatan prestasi lompat jauh. Untuk menguji hipotesis yang menyatakan ada perbedaan pengaruh antara latihan Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump terhadap peningkatan prestasi lompat jauh, digunakan analisis variansi Two Way. Berdasarkan hasil perhitungan analisis variansi dua jalan, diperoleh F observasi = Hasil perhitungan ini kemudian dikonsultasikan dengan tabel F dengan Dk pembilang = 1 dan Dk penyebut = 36, dan taraf signifikansi 0,05 diperoleh F tabel = 4,11, karena F observasi > F tabel atau > 4,11, sehingga dapat dikatakan ada perbedaan pengaruh antara latihan

134 112 Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump terhadap peningkatan prestasi lompat jauh. 2. Perbedaan pengaruh prestasi lompat jauh antara atlet yang memiliki perpustakaan.uns.ac.id Kekuatan otot tungkai tinggi dengan rendah. digilib.uns.ac.id Untuk menguji Hipotesis yang menyatakan ada perbedaan pengaruh prestasi lompat jauh antara atlet yang memiliki Kekuatan otot tungkai tinggi dengan rendah digunakan analisis variansi Two Way. Berdasarkan hasil perhitungan analisis variansi dua jalan, diperoleh F observasi = Hasil perhitungan ini kemudian dikonsultasikan dengan tabel F dengan Dk pembilang = 1 dan Dk penyebut = 36, dan taraf signifikansi 0,05 diperoleh F tabel = 4,11, karena F observasi > F tabel atau > 4,11, sehingga dapat dikatakan ada perbedaan pengaruh prestasi lompat jauh antara atlet yang memiliki Kekuatan otot tungkai tinggi dengan rendah. 3. Pengaruh Interaksi antara latihan Plaiometrik dan Kekuatan otot tungkai terhadap peningkatan prestasi lompat jauh. Untuk menguji Hipotesis yang menyatakan ada pengaruh interaksi Antara latihan dan Kekuatan otot tungkai terhadap peningkatan prestasi lompat jauh, digunakan analisis variansi two Way. Berdasarkan hasil perhitungan analisis variansi dua jalan, diperoleh F observasi = , Hasil perhitungan ini kemudian dikonsultasikan dengan tabel F dengan Dk pembilang = 1 dan Dk penyebut = 36, dan taraf signifikansi 0,05 diperoleh F tabel = 4,11, karena F observasi > F tabel atau > 4,11, sehingga dapat dikatakan ada pengaruh interaksi antara latihan dan Kekuatan otot tungkai terhadap peningkatan prestasi lompat jauh.

135 113 D. Rangkuman Pengujian Hipotesis Dengan membandingkan F hitung dengan F tabel maka dapat diketahui keputusan ditolak atau diterimanya hipotesis nihil. Untuk itu secara keseluruhan dapat dilihat rangkuman dari hasil uji statistik secara uji F seperti yang tampak dalam tabel berikut perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id ini. Tabel 15. Tabel Kesimpulan Hasil Penelitian Kesimpulan No. Hipotesis Nihil F hitung F tabel pada a=0,05 1. Tidak ada perbedaan pengaruh antara latihan Hurdle Hopping dan Squat ,11 Ditolak Thrust Jump terhadap peningkatan prestasi lompat 2. jauh. Tidak ada perbedaan pengaruh prestasi lompat jauh ,11 Ditolak antara atlet yang memiliki Kekuatan otot tungkai tinggi 3. dengan rendah Tidak ada pengaruh interaksi Antara latihan Plaiometrik ,11 Ditolak dan Kekuatan otot tungkai terhadap peningkatan prestasi lompat jauh Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dapat diketahui adanya pengaruh interaksi antara latihan Plaiometrik dan Kekuatan otot tungkai terhadap peningkatan prestasi lompat jauh, selanjutnya dilakukan analisis lanjut dengan menggunakan

136 114 software MINITAB (Siswandari, 2009 : ). untuk mengetahui sejauh mana perbedaan interaksi masing-masing kelompok perlakuan. perpustakaan.uns.ac.id F. Pembahasan Hasil Penelitian digilib.uns.ac.id 1. Perbedaan pengaruh antara latihan Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump terhadap peningkatan prestasi lompat jauh Berdasarkan pengujian hipotesis pertama ternyata ada perbedaan pengaruh yang nyata antara kelompok atlet yang di latih dengan latihan Hurdle Hopping dan kelompok atlet yang mendapatkan pelatihan dengan latihan Squat Thrust Jump terhadap peningkatan Prestasi lompat jauh. Pada kelompok atlet yang mendapat pelatihan dengan latihan Hurdle Hopping mempunyai peningkatan Prestasi lompat Jauh yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok atlet yang mendapat pelatihan dengan latihan Squat Thrust Jump. Latihan ini akan memberi pengaruh yang baik terhadap peningkatan prestasi lompat jauh terutama pada atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai tinggi daripada atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai rendah. Dengan latihan yang terus menerus diharapkan akan dapat merangsang kemampuan otot yang dibutuhkan untuk mencapai hasil prestasi lompat jauh yang maksimal. Selain latihan Hurdle Hopping dalam penelitian ini juga diterapkan latihan Squat Thrust Jump dimana latihan Squat Thrust Jump adalah Posisi berdiri, kemudian dimulai dengan meloncat keatas dengan tangan diangkat ke atas. Setelah meloncat, ketika turun, langsung ke posisi jongkok dan tangan menyentuh lantai didepan tubuh.dibarengi dengan kaki yang langsung dibuang

137 115 kebelakang, kaki lurus, begitu juga tangan yang lurus menyentuh lantai, sehingga posisi tubuh Push up. Setelah itu posisi kaki dipindah lagi ke posisi jongkok untuk mengambil awalan untuk loncat lagi atau ke posis mulai.. Dapat dihitung sekali ketika satu loncatan. Jika tidak sesuai dengan prosedur tes, maka perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id tidak dihitung. Latihan Squat Thrust Jump juga memberi pengaruh yang baik terhadap peningkatan prestasi lompat jauh terutama pada atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai rendah dibanding atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai tinggi, karena pada saat melakukan tolakan beban kaki tumpu lebih ringan dibandingkan dengan latihan Hurdle Hopping, sehingga pada latihan ini bisa dikatakan lebih mengutamakan repetisi/pengulangan latihan, bukan beban tolakan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dengan latihan Hurdle Hopping prestasi lompat jauh akan lebih dapat ditingkatkan dibandingkan dengan latihan Squat Thrust Jump, hal ini dapat dilihat dari rerata yang menunjukkan bahwa dengan latihan Hurdle Hopping (341.8) lebih baik dibandingkan dengan Squat Thrust Jump (300.3). 2. Perbedaan pengaruh prestasi lompat jauh antara atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai tinggi dengan rendah Selain latihan yang sangat penting dalam peningkatan prestasi lompat jauh, selain itu juga sangatlah penting adanya kemampuan dasar beberapa anggota badan untuk menghasilkan tingkat gerak yang tinggi. Dalam penelitian ini peneliti memfokuskan kemampuan atlet pada kekuatan otot tungkai. Dalam

138 116 kemampuan dasar tubuh kekuatan otot tungkai merupakan kemampuan seseorang dalam melaksanakan gerakan otot tungkai dengan kekuatan dan kecepatan kearah vertikal setinggi-tingginya (Eksplosife). Faktor penentu baik dan tidaknya kekuatan yang dimiliki seseorang perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id bergantung pada intensitas kontraksi otot dan kemampuan otot untuk berkontraksi secara maksimal dalam waktu yang singkat setelah menerima rangsangan serta produksi energi biokimia dalam otot sangat menentukan kekuatan yang dihasilkan. Jika unsur-unsur seperti tersebut diatas dimiliki seseorang, maka ia akan memiliki kekuatan yang baik. Namun sebaliknya jika unsur-unsur tersebut tidak dimiliki maka kekuatan otot yang dihasilkan pun juga tidak baik. Berdasarkan uraian di atas bahwa kekuatan otot tungkai sangatlah penting dalam nomor lompat jauh yakni pada saat melakukan awalan lari ataupun pada saat atlet melakukan tumpuan atau tolakan, apabila tumpuan/tolakan dilakukan dengan cepat dan kuat sehingga untuk mencapai nilai/angka yang tinggi sangat memungkin sekali. Atlet yang memiliki Kekuatan otot tungkai tinggi, akan mampu melakukan awalan dengan baik dan lompatan yang tinggi, dalam hal ini prestasi lompat jauh. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa atlet yang memiliki Kekuatan otot tungkai tinggi akan mendapatkan hasil prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai yang rendah. Hal ini dapat dilihat dari rerata yang menunjukkan bahwa kekuatan otot tungkai

139 117 yang tinggi (350) lebih baik dibandingkan dengan kekuatan otot tungkai rendah (292.1). 3. Pengaruh interaksi antara latihan dan Kekuatan otot tungkai terhadap perpustakaan.uns.ac.id peningkatan prestasi lompat jauh. digilib.uns.ac.id Dari tabel ringkasan hasil analisis varian dua faktor, nampak bahwa faktor-faktor utama penelitian dalam bentuk dua faktor menunjukkan interaksi yang nyata antara faktor model latihan (A) dan faktor Kekuatan otot tungkai (B). Untuk kepentingan pengujian bentuk interaksi AB terbentuklah tabel berikut ini: Tabel 16. Interaksi Antar Varibel A dan B Terhadap Peningkatan Prestasi Lompat jauh Faktor A = Latihan Plaiometrik Taraf A 1 A 2 Rerata A 1 A 2 B = Kekuatan B otot B tungkai Rerata B 1 B

140 118 Interaksi antara dua faktor penelitian dapat dilihat pada gambar berikut: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Gambar 23. Bentuk Interaksi Perubahan Besarnya Peningkatan Prestasi Lompat jauh

141 119 Keterangan : : A 1 = Latihan Hurdle Hopping : A 2 = Latihan Squat Thrust Jump perpustakaan.uns.ac.id : B 1 = Kekuatan otot tungkai tinggi digilib.uns.ac.id : B 2 = Kekuatan otot tungkai rendah Atas dasar gambar di atas, bahwa bentuk garis perubahan memiliki suatu titik pertemuan atau persilangan. Antara latihan Plaiometrik dan Kekuatan otot tungkai memiliki titik persilangan. Berarti terdapat interaksi yang signifikan diantara keduanya. Gambar tersebut menunjukkan bahwa latihan Plaiometrik dan Kekuatan otot tungkai berpengaruh terhadap peningkatan nilai akhir prestasi lompat jauh. Nilai akhir prestasi lompat jauh pada masing-masing sel dapat dibandingkan sebagai berikut : a. Atlet yang memiliki Kekuatan otot tungkai tinggi mendapatkan latihan Hurdle Hopping, memiliki rata-rata nilai akhir prestasi lompat jauh sebesar Atlet yang memiliki Kekuatan otot tungkai tinggi mendapatkan latihan Squat Thrust Jump memiliki rata-rata nilai akhir prestasi lompat jauh sebesar 350. b. Atlet yang memiliki Kekuatan otot tungkai rendah mendapatkan latihan Hurdle Hopping memiliki rata-rata nilai akhir prestasi lompat jauh sebesar Atlet yang memiliki Kekuatan otot tungkai rendah mendapatkan latihan Squat Thrust Jump memiliki rata-rata nilai akhir prestasi lompat jauh sebesar Berdasarkan hasil penelitian yang dicapai, Atlet yang memiliki Kekuatan otot tungkai tinggi lebih cocok jika diberikan pelatihan dengan latihan Hurdle Hopping.

142 120 Atlet dengan Kekuatan otot tungkai rendah lebih cocok jika diberikan pelatihan dengan latihan Squat Thrust Jump perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

143 digilib.uns.ac.id BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan tersebut diatas serta dengan adanya keterbatasan yang ada maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara latihan Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump terhadap prestasi lompat jauh. 2. Ada perbedaan peningkatan prestasi lompat jauh yang signifikan antara kekuatan otot tungkai tinggi dan kekuatan otot tungkai rendah.. 3. Ada pengaruh interaksi antara latihan Plaiometrik dengan kekuatan otot tungkai terhadap peningkatan prestasi lompat jauh. a. Latihan Hurdle Hopping lebih efektif apabila diterapkan pada atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai tinggi. b. Latihan Squat Thrust Jump lebih efektif apabila diterapkan pada atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai rendah. B. Implikasi Kesimpulan dari hasil penelitian ini dapat mengandung pengembangan ide yang lebih luas jika dikaji tentang implikasi yang ditimbulkan. Atas dasar kesimpulan yang telah diambil, dapat dikemukakan implikasinya dalam upaya meningkatkan prestasi lompat jauh, sebagai berikut: 121

144 digilib.uns.ac.id 122 Latihan Hurdle Hopping dan latihan Squat Thrust Jump dapat digunakan untuk meningkatkan secara keseluruhan prestasi lompat jauh.dari hasil temuan tersebut dapat digunakan sebagai acuan dalam peningkatan prestasi cabang atletik khususnya nomor lompat jauh, oleh karena itu pelatih, Pembina serta top organisasi dapat menerapkan hasil temuan ini dalam program latihan untuk meningkatkan prestasi lompat jauh. Kekuatan otot tungkai tinggi dapat digunakan untuk meningkatkan prestasi lompat jauh. Dengan penerapan latihan plaiometrik yang terbukti dapat meningkatkan prestasi lompat jauh, tentunya masih ada faktor pendukung yang lainnya yaitu kekuatan otot tungkai. Pada peningkatan prestasi lompat jauh dengan latihan Hurdle Hopping lebih efektif diterapkan pada atlet lompat jauh. Prestasi lompat jauh pada latihan Squat Thrust Jump memiliki perubahan karakter yang berbeda pada atlet dibandingkan dengan latihan Hurdle Hopping. Mengetahui bahwa latihan Hurdle Hopping lebih memberikan efek pada peningkatan kekuatan pada lompatan dengan tipe adaptasi otot yang tinggi, maka latihan ini perlu disesuaikan dengan program latihan pada periode latihan tertentu. Didalam memilih model latihan khususnya latihan Plaiometrik yang akan dilakukan terhadap atletnya, pembina/pelatih harus mengetahui karakteristik dari model latihan yang akan dipilihnya sekaligus harus mengetahui dan memperhatikan karakteristik dan kondisi fisik dari atletnya. Faktor lain yaitu pelatih harus memiliki pengetahuan yang memadai mengenai efek mekanis terhadap komponen dasar kinematika lompatan / tolakan khususnya pada atlet lompat jauh.

145 digilib.uns.ac.id 123 Latihan Plaiometrik Hurdle Hopping dan latihan Squat Thrust Jump dapat diterapkan pada berbagai Cabang Olahraga. Pemilihan latihan baik latihan Hurdle Hopping maupun latihan Squat Thrust Jump harus disesuaikan dengan tujuan, karena tiap-tiap model latihan tersebut memiliki efek mekanika yang berbeda pada Setiap atlet. Sehubungan dengan komponen dasar kinematika kekuatan otot tungkai, dari hasil penelitian ini penerapan latihan Hurdle Hopping pada atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai tinggi lebih efektif dibandingkan dengan penerapan latihan Squat Thrust Jump. Sedangkan atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai rendah dengan penerapan latihan Squat Thrust Jump lebih efektif dalam peningkatan prestasi lompat jauh dibandingkan dengan penerapan latihan Hurdle Hopping. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pembina/pelatih pada saat melakukan latihan Squat Thrust Jump seperti halnya pada latihan Hurdle Hopping. Secara praktis temuan ini dapat dijadikan salah satu indikator dalam penyusunan program latihan yang dibuat oleh pelatih, guru, pembina dan para praktisi olahraga untuk menemukan dosis yang tepat berdasarkan kondisi siswa serta karakteristik siswa maupun atlet dalam melaksanakan latihan. C. Saran Dalam upaya keikutsertaan meningkatkan kualitas dan prestasi atlet dari cabang olahraga lompat jauh, juga berdasarkan hasil penelitian ini yang tertulis dalam kesimpulan dan implikasi secara menyeluruh, maka kepada Pembina atau

146 digilib.uns.ac.id 124 pelatih olahraga khususnya atletik nomor lompat jauh, dapat diajukan saran-saran sebagai berikut : 1. Hal-hal yang perlu diperhatikan pembina/pelatih pada saat melakukan latihan Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump: a. Membuat program latihan berdasarkan prinsip-prinsip latihan, tujuan latihan dan cocok dengan metode latihan plaiometrik, yang selanjutnya dilaksanakan sesuai dengan sistematika latihan. b. Sebelum latihan dilaksanakan, jelaskan gerakan latihan Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump yang benar terlebih dahulu agar atlet melakukan latihan dengan gerakan yang benar sehingga hasil latihan bisa tercapai dengan maksimal. c. Sebelum melakukan latihan inti, sebaiknya terlebih dahulu melakukan pelatihan peregangan (Streaching) dan latihan pemanasan (Warning- Up) dengan intensitas yang cukup ( sesuai berat ringannya latihan inti ), hal ini untuk mempersiapkan kondisi fisik atlet sehingga terhindar dari cedera pada saat melakukan latihan inti. d. Lakukan latihan inti, dalam hal ini latihan Hurdle Hopping dan Squat Thrust Jump yang sesuai dengan program latihan. e. Lanjutkan dengan Aktivitas formal (Formal Activity), tahap ini adalah bentuk latihan yang sesuai dengan cabang olahraga yang sedang dilatihkan khususnya lompat jauh dengan atlet yang mempunyai kekuatan otot tungkai tinggi.

147 digilib.uns.ac.id 125 f. Kemudian lakukan penenangan (cooling down ) yang dilanjutkan dengan pengarahan dan koreksi dari latihan yang telah dilaksanakan. g. Pantau hasil latihan masing-masing dengan melakukan tes lompat jauh. h. Lanjutkan latihan sesuai dengan program latihan yang telah ditetapkan dan terus dipantau sesuai dengan interval waktu yang telah direncanakan. 2. Latihan Plaiometrik Hurdle Hopping lebih baik diterapkan untuk atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai tinggi sedangkan latihan Squat Thrust Jump lebih cocok diterapkan pada atlet yang memiliki kekuatan otot tungkai rendah terutama untuk nomor atletik lompat jauh gaya menggantung. 3. Peneliti menganjurkan Kepada teman-teman MGMP Pendidikan Jasmani dan Olahraga agar di setiap latihan plaiometrik untuk selalu memperhatikan gerakan yang benar sesuai dengan karakteristik atlet karena masing-masing latihan memiliki kekurangan dan kelebihan. 4. Peneliti sangat menganjurkan sekali kepada ilmuwan olahraga lainnya agar penelitian ini dilanjutkan dengan melibatkan komponen dasar gerakan pada lompat jauh dan melibatkan lebih banyak sampel dan jenis kelamin yang berbeda.

PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PLIOMETRIK DAN KELINCAHAN TERHADAP KECEPATAN TENDANGAN MAEGERI CUDAN

PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PLIOMETRIK DAN KELINCAHAN TERHADAP KECEPATAN TENDANGAN MAEGERI CUDAN PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PLIOMETRIK DAN KELINCAHAN TERHADAP KECEPATAN TENDANGAN MAEGERI CUDAN (Studi Eksperimen Latihan Pliometrik Step-up Jump dan Box To Box pada Karateka Putra UKM INKAI UNS Surakarta)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sepak bola merupakan cabang olahraga yang sudah memasyarakat, baik sebagai hiburan, mulai dari latihan peningkatan kondisi tubuh atau sebagai prestasi untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. maupun tingkat internasional (yang diselenggarakan oleh IAAF). Selain itu,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. maupun tingkat internasional (yang diselenggarakan oleh IAAF). Selain itu, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lompat jangkit merupakan salah satu nomor yang dilombakan dalam kejuaraan atletik, baik untuk tingkat nasional (yang diselenggarakan oleh PASI) maupun tingkat

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI ILMU KEOLAHRAGAAN PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

PROGRAM STUDI ILMU KEOLAHRAGAAN PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA PERBEDAAN PENGARUH JENIS PERMAINAN DAN KELOMPOK UMUR TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN GERAK DASAR (Eksperimen Pada Siswa Umur 6-7 tahun dan Siswa Umur 10-11 tahun pada SD Negeri Jombor 01 Sukoharjo) TESIS

Lebih terperinci

ABSTRAK Perbedaan Pengaruh Metode Latihan Acceleration Sprint dan Sprint Training Terhadap Prestasi Lompat Jauh Ditinjau dari Power Otot Tungkai

ABSTRAK Perbedaan Pengaruh Metode Latihan Acceleration Sprint dan Sprint Training Terhadap Prestasi Lompat Jauh Ditinjau dari Power Otot Tungkai ABSTRAK Djoko Priyanto. 2016. Perbedaan Pengaruh Metode Latihan Acceleration Sprint dan Sprint Training Terhadap Prestasi Lompat Jauh Ditinjau dari Power Otot Tungkai (Studi Eksperimen Metode Latihan Pada

Lebih terperinci

PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PLIOMETRIK DAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN LOMPAT JAUH

PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PLIOMETRIK DAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN LOMPAT JAUH PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PLIOMETRIK DAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN LOMPAT JAUH (Studi Eksperimen Latihan Pliometrik Double Leg Bound dan Depth Jump pada Mahasiswa Jurusan Pendidikan

Lebih terperinci

PERBEDAAN PENGARUH METODE LATIHAN PLYOMETRICS SQUAT JUMP DAN KNEE TUCK JUMP TERHADAP KETEPATAN LONG PASS SEPAKBOLA DITINJAU DARI PANJANG TUNGKAI

PERBEDAAN PENGARUH METODE LATIHAN PLYOMETRICS SQUAT JUMP DAN KNEE TUCK JUMP TERHADAP KETEPATAN LONG PASS SEPAKBOLA DITINJAU DARI PANJANG TUNGKAI PERBEDAAN PENGARUH METODE LATIHAN PLYOMETRICS SQUAT JUMP DAN KNEE TUCK JUMP TERHADAP KETEPATAN LONG PASS SEPAKBOLA DITINJAU DARI PANJANG TUNGKAI (Studi Eksperimen pada Mahasiswa Pembinaan Prestasi Sepakbola

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam kehidupan modern manusia tidak dapat dipisahkan dari olahraga, baik sebagai arena adu prestasi maupun sebagai kebutuhan untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap

Lebih terperinci

PERBANDINGAN PENGARUH METODE LATIHAN PLYOMETRICS DOUBLE LEG BOUND

PERBANDINGAN PENGARUH METODE LATIHAN PLYOMETRICS DOUBLE LEG BOUND PERBANDINGAN PENGARUH METODE LATIHAN PLYOMETRICS DOUBLE LEG BOUND, ALTERNATE LEG BOUND, DAN INCRIMENTAL VERTICAL HOP TERHADAP PRESTASI LOMPAT JANGKIT DITINJAU DARI RASIO TINGGI BADAN : PANJANG TUNGKAI

Lebih terperinci

PENGARUH METODE LATIHAN DRILL

PENGARUH METODE LATIHAN DRILL PENGARUH METODE LATIHAN DRILL DAN INTERVAL TERHADAP KECEPATAN LARI 50 METER DITINJAU DARI RASIO PANJANG TUNGKAI DENGAN TINGGI BADAN SISWA EKSTRAKURIKULER ATLETIK SD NEGERI SURODADI 1 MAGELANG TESIS Disusun

Lebih terperinci

PERBEDAAN PENGARUH METODE LATIHAN BALL HANDLING TERHADAP KETERAMPILAN DRIBBLE BOLA BASKET DITINJAU DARI JENIS KELAMIN TESIS

PERBEDAAN PENGARUH METODE LATIHAN BALL HANDLING TERHADAP KETERAMPILAN DRIBBLE BOLA BASKET DITINJAU DARI JENIS KELAMIN TESIS PERBEDAAN PENGARUH METODE LATIHAN BALL HANDLING TERHADAP KETERAMPILAN DRIBBLE BOLA BASKET DITINJAU DARI JENIS KELAMIN (Studi Eksperimen Latihan Dribble Crossover Dan Two Ball Dribble Pada Pemain Tingkat

Lebih terperinci

PERBEDAAN PENGARUH MODEL JIGSAW

PERBEDAAN PENGARUH MODEL JIGSAW PERBEDAAN PENGARUH MODEL JIGSAW DAN PROBLEM-BASED LEARNING (PBL) TERHADAP PRESTASI BELAJAR DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI KELAS X SMA DI PURWODADI GROBOGAN Tesis Untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Medan (UNIMED). Atletik juga

BAB I PENDAHULUAN. Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Medan (UNIMED). Atletik juga 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Atletik adalah olahraga yang disebut sebagai induk dari cabang olahraga (de mother aller sporte). Atletik merupakan salah satu mata pelajaran Pendidikan Jasmani

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah digilib.uns.ac.id 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Atletik sebagai cabang olahraga tertua di dunia merupakan induk dari semua cabang olahraga yang dilakukan secara luas dan bisa dilakukan

Lebih terperinci

PENGARUH LONCAT KATAK DAN NAIK TURUN BANGKU TERHADAP KEMAMPUAN LOMPAT JAUH. Jurnal. Oleh JODIEKA PERMADI

PENGARUH LONCAT KATAK DAN NAIK TURUN BANGKU TERHADAP KEMAMPUAN LOMPAT JAUH. Jurnal. Oleh JODIEKA PERMADI 1 PENGARUH LONCAT KATAK DAN NAIK TURUN BANGKU TERHADAP KEMAMPUAN LOMPAT JAUH Jurnal Oleh JODIEKA PERMADI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2015 2 ABSTRACT EFFECT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. prestasi dan juga sebagai alat pendidikan. Olahraga memiliki peranan penting dalam

BAB I PENDAHULUAN. prestasi dan juga sebagai alat pendidikan. Olahraga memiliki peranan penting dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Olahraga merupakan aktivitas fisik yang besar manfaatnya bagi manusia. Olahraga dapat berfungsi sarana untuk meningkatkan derajat kesehatan, untuk prestasi dan

Lebih terperinci

PERBEDAAN PENGARUH ANTARA LATIHAN PLIOMETRIK

PERBEDAAN PENGARUH ANTARA LATIHAN PLIOMETRIK PERBEDAAN PENGARUH ANTARA LATIHAN PLIOMETRIK SINGLE LEG SPEED HOPS DAN DOUBLE LEG SPEED HOPS TERHADAP PENINGKATAN POWER OTOT TUNGKAI PADA KARATEKA PUTRA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA TAHUN 2011/2012

Lebih terperinci

PELATIHAN PLYOMETRIC BROAD JUMP

PELATIHAN PLYOMETRIC BROAD JUMP PELATIHAN PLYOMETRIC BROAD JUMP LEBIH MENINGKATKAN KEMAMPUAN LOMPAT JAUH DARI PADA PELATIHAN PLYOMETRIC BOX JUMP PADA SISWA PUTRA KELAS VII SMP PGRI 2 DENPASAR ABSTRAK Lompat jauh merupakan cabang atletik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam kehidupan modern manusia tidak dapat dipisahkan dari olahraga,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam kehidupan modern manusia tidak dapat dipisahkan dari olahraga, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan modern manusia tidak dapat dipisahkan dari olahraga, baik sebagai arena adu prestasi maupun sebagai kebutuhan untuk menjaga kondisi tubuh agar

Lebih terperinci

PERBEDAAN PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN BOLAVOLI DAN KOORDINASI MATA TANGAN TERHADAP PENINGKATAN KETEPATAN SERVIS ATAS

PERBEDAAN PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN BOLAVOLI DAN KOORDINASI MATA TANGAN TERHADAP PENINGKATAN KETEPATAN SERVIS ATAS PERBEDAAN PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN BOLAVOLI DAN KOORDINASI MATA TANGAN TERHADAP PENINGKATAN KETEPATAN SERVIS ATAS (Studi Eksperimen Menggunakan Ketinggian Net Bertahap, Jarak Servis Bertahap dan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS SEBELAS MARET Oleh : Arif Nur Setyawan A BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

UNIVERSITAS SEBELAS MARET Oleh : Arif Nur Setyawan A BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Perbedaan pengaruh latihan plyometrics dan berat badan terhadap peningkatan prestasi lompat jauh ( Studi eksperimen dengan latihan Double Leg bound dan Alternate Leg Bound pada siswa putra kelas VIII MTS

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. unsur yang berpengaruh terhadap semua jenis olahraga. Untuk itu perlu

I. PENDAHULUAN. unsur yang berpengaruh terhadap semua jenis olahraga. Untuk itu perlu I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Atletik merupakan salah satu cabang olahraga yang perlu mendapat perhatian, pembinaan, dan pengembangan serta peningkatan prestasi. Peningkatan ini perlu, karena atletik

Lebih terperinci

PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PLIOMETRIK ANTARA DOUBLE LEG BOUND DAN ALTERNATE LEG BOUND TERHADAP KEMAMPUAN LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK

PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PLIOMETRIK ANTARA DOUBLE LEG BOUND DAN ALTERNATE LEG BOUND TERHADAP KEMAMPUAN LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PLIOMETRIK ANTARA DOUBLE LEG BOUND DAN ALTERNATE LEG BOUND TERHADAP KEMAMPUAN LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK SKRIPSI Oleh: YUYUN DWI ARI WIBOWO X.5606045 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU

Lebih terperinci

e journal jurnal IKOR Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Ilmu Keolahragaan ( Volume II Tahun 2014)

e journal jurnal IKOR Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Ilmu Keolahragaan ( Volume II Tahun 2014) PENGARUH PELATIHAN KNEE TUCK JUMP DAN DOUBLE LEG BOUND TERHADAP DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI I Wayan Just Andika Jurusan Ilmu Keolahragaan, FOK Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia e-mail: [email protected]

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI, KEKUATAN OTOT LENGAN DAN KETAHANAN CARDIOVASKULER

PERKEMBANGAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI, KEKUATAN OTOT LENGAN DAN KETAHANAN CARDIOVASKULER PERKEMBANGAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI, KEKUATAN OTOT LENGAN DAN KETAHANAN CARDIOVASKULER PADA ADOLESENSI USIA 13-18 TAHUN DITINJAU DARI JENIS KELAMIN DAN KETINGGIAN WILAYAH TEMPAT TINGGAL (Studi Kros-Seksional

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. diantaranya dalam kamus olahraga, menurut Syarifudin (1985: 62) lompat

BAB II KAJIAN TEORI. diantaranya dalam kamus olahraga, menurut Syarifudin (1985: 62) lompat BAB II KAJIAN TEORI A. Deskripsi Teori 1. Hakikat Lompat Jauh Lompat jauh merupakan salah satu bagian dari nomor lompat dalam olahraga atletik. Ada banyak pakar yang mengartikan lompat jauh, diantaranya

Lebih terperinci

PERBEDAAN PENGARUH METODE PEMBELAJARAN LOMPAT DAN RASIO PANJANG TELAPAK KAKI : TINGGI BADAN TERHADAP HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK

PERBEDAAN PENGARUH METODE PEMBELAJARAN LOMPAT DAN RASIO PANJANG TELAPAK KAKI : TINGGI BADAN TERHADAP HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PERBEDAAN PENGARUH METODE PEMBELAJARAN LOMPAT DAN RASIO PANJANG TELAPAK KAKI : TINGGI BADAN TERHADAP HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK (Studi Eksperimen Pembelajaran Lompat Melewati Rintangan dan

Lebih terperinci

PERBEDAAN KESADARAN MULTIKULTURAL ANTARA SISWA

PERBEDAAN KESADARAN MULTIKULTURAL ANTARA SISWA PERBEDAAN KESADARAN MULTIKULTURAL ANTARA SISWA KELAS X SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 3 SUKOHARJO DAN SEKOLAH MENENGAH ATAS ASSALAAM SUKOHARJO TAHUN AJARAN 2013/2014 SKRIPSI Oleh: HESTI OKTAVIA NIM. K6410031

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. baik (Djumidar A. Widya, 2004: 65). kaki untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya.

BAB II KAJIAN TEORI. baik (Djumidar A. Widya, 2004: 65). kaki untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya. BAB II KAJIAN TEORI A. Deskripsi Teori 1. Hakikat Lompat Jauh Gaya Jongkok a. Pengertian Lompat Jauh Lompat adalah suatu gerakan mengangkat tubuh dari suatu titik ke titik yang lain yang lebih jauh atau

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 7 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Hakikat Power Otot Tungkai a. Pengertian Power otot tungkai Power otot tungkai adalah sekelompok otot tungkai dalam berkontraksi dengan beban tertentu. Salah

Lebih terperinci

2015 PENGARUH LATIHAN PLYOMETRICS TERHADAP PENINGKATAN POWER TUNGKAI DAN HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK

2015 PENGARUH LATIHAN PLYOMETRICS TERHADAP PENINGKATAN POWER TUNGKAI DAN HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Atletik adalah gabungan dari beberapa jenis olahraga yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi lari, lempar, dan lompat. Kata ini berasal dari bahasa

Lebih terperinci

Lompat Jauh. A. Pengertian Lompat Jauh

Lompat Jauh. A. Pengertian Lompat Jauh Lompat Jauh A. Pengertian Lompat Jauh Lompat jauh merupakan salah satu nomor lompat dari cabang olahraga atletik yang paling populer dan paling sering dilombakan dalam kompetisi kelas dunia, termasuk Olimpiade.

Lebih terperinci

TESIS. O l e h : NUR ROCHMAH S

TESIS. O l e h : NUR ROCHMAH S PENGARUH PEMBELAJARAN DENGAN MODEL JIGSAW DAN MODEL STAD TERHADAP PRESTASI BELAJAR KIMIA DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS X SMAN 2 SALATIGA TAHUN PELAJARAN 2013/2014 TESIS O l e h : NUR ROCHMAH

Lebih terperinci

(Studi Eksperimen pada Siswa Ekstrakurikuler Bolavoli SD Negeri Kemiren Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang) TESIS

(Studi Eksperimen pada Siswa Ekstrakurikuler Bolavoli SD Negeri Kemiren Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang) TESIS PENGARUH METODE LATIHAN MASSED PRACTICE DAN DISTRIBUTED PRACTICE TERHADAP KETERAMPILAN DASAR PASSING BOLAVOLI DITINJAU DARI FLEKSIBILITAS PUNGGUNG DAN TUNGKAI SISWA PUTRA SD KEMIREN SRUMBUNG MAGELANG (Studi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam cabang olahraga atletik, nomor lompat merupakan nomor lomba

BAB I PENDAHULUAN. Dalam cabang olahraga atletik, nomor lompat merupakan nomor lomba 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam cabang olahraga atletik, nomor lompat merupakan nomor lomba yang sangat menarik untuk disaksikan. Dari beberapa nomor tersebut, lompat jauh adalah salah

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN. menghasilkan lompatan yang sejauh-jauhnya. Dalam pelaksanaannya,lompat jauh

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN. menghasilkan lompatan yang sejauh-jauhnya. Dalam pelaksanaannya,lompat jauh 1 BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Hakekat Lompat Jauh Lompat jauh merupakan salah satu nomor bergengsi dalam cabang olahraga atletik khususnya dalam nomor lompat. Lompat

Lebih terperinci

Oleh: IMAM SANTOSA S

Oleh: IMAM SANTOSA S PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DAN STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DEVISIONS ( STAD ) TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DITINJAU DARI MOTIVASI BERPRESTASI SISWA KELAS XI

Lebih terperinci

BAB II HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK MENGGUNAKAN ALAT BANTU BAN BEKAS DAN KARDUS A. Pengertian Lompat Jauh

BAB II HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK MENGGUNAKAN ALAT BANTU BAN BEKAS DAN KARDUS A. Pengertian Lompat Jauh 15 BAB II HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK MENGGUNAKAN ALAT BANTU BAN BEKAS DAN KARDUS A. Pengertian Lompat Jauh Lompat jauh merupakan salah satu nomor lompatdalam cabang olahraga atletik. Lompat

Lebih terperinci

PERBEDAAN PENGARUH METODE PEMBELAJARAN TEKNIK DAN BERMAIN

PERBEDAAN PENGARUH METODE PEMBELAJARAN TEKNIK DAN BERMAIN PERBEDAAN PENGARUH METODE PEMBELAJARAN TEKNIK DAN BERMAIN TERHADAP HASIL BELAJAR PASSING BOLA MENYUSUR TANAH SEPAKBOLA PADA SISWA PUTRA KELAS XI SMA NEGERI 1 MOJOLABAN TAHUN PELAJARAN 2014/2015 Oleh :

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dalam proses belajar melatih harus selalu dilakukan. Hal ini sesuai dengan

I. PENDAHULUAN. dalam proses belajar melatih harus selalu dilakukan. Hal ini sesuai dengan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Untuk meningkatkan pendidikan jasmani di sekolah harus ada usaha ke arah perbaikan metode melatih dalam kemampuan gerak siswa. Perbaikan metode dalam proses belajar melatih

Lebih terperinci

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING DAN RASA PERCAYA DIRI TERHADAP KETERAMPILAN BERBICARA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI DI KABUPATEN PACITAN

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING DAN RASA PERCAYA DIRI TERHADAP KETERAMPILAN BERBICARA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI DI KABUPATEN PACITAN PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING DAN RASA PERCAYA DIRI TERHADAP KETERAMPILAN BERBICARA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI DI KABUPATEN PACITAN TESIS Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai

Lebih terperinci

EFEK TERAPI MASSAGE TERHADAP PENYAKIT VERTIGO (Studi Kasus Tentang Aktivitas Berolahraga)

EFEK TERAPI MASSAGE TERHADAP PENYAKIT VERTIGO (Studi Kasus Tentang Aktivitas Berolahraga) EFEK TERAPI MASSAGE TERHADAP PENYAKIT VERTIGO (Studi Kasus Tentang Aktivitas Berolahraga) TESIS Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Studi Ilmu Keolahragaan Oleh

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dalam atletik merupakan gerakan-gerakan yang biasa di lakukan oleh

I. PENDAHULUAN. dalam atletik merupakan gerakan-gerakan yang biasa di lakukan oleh PP 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Atletik merupakan cabang olahraga tertua, karena gerakan-gerakan dalam atletik merupakan gerakan-gerakan yang biasa di lakukan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari

Lebih terperinci

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION DENGAN PROBLEM BASE LEARNING TERHADAP PRESTASI BELAJAR SOSIOLOGI DITINJAU DARI MINAT BELAJAR (Penelitian Dilakukan

Lebih terperinci

PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN HAND SPRING

PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN HAND SPRING PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN HAND SPRING DENGAN MENGGUNAKAN MATRAS GULUNG DAN MATRAS LEBIH TINGGI TERHADAP KEMAMPUAN HAND SPRING PADA MAHASISWA PUTRA SEMESTER II PROGRAM STUDI PENJASKESREK JPOK FKIP UNS

Lebih terperinci

PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA PENGARUH PEMBELAJARAN COOPERATIF TIPE MAKE A MATCH DAN PEMBELAJARAN KONVENSIONAL TERHADAP HASIL BELAJAR PKn DITINJAU DARI KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA PADA MTs N DI KABUPATEN KUDUS TESIS Disusun untuk Memenuhi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berkembang pada masyarakat Indonesia. Dalam melakukan permainan sepakbola

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berkembang pada masyarakat Indonesia. Dalam melakukan permainan sepakbola 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sepakbola merupakan salah satu cabang olahraga permainan yang sedang berkembang pada masyarakat Indonesia. Dalam melakukan permainan sepakbola ada yang bertujuan

Lebih terperinci

TESIS Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Studi Teknologi Pendidikan. Oleh : Endang Lestari S

TESIS Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Studi Teknologi Pendidikan. Oleh : Endang Lestari S PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA BERBASIS INFORMATION TECHNOLOGY (IT) PADA PEMBELAJARAN IPA TERHADAP PRESTASI BELAJAR DITINJAU DARI KEMANDIRIAN BELAJAR DI GUGUS DIPONEGORO UNIT PELAKSANA TUGAS (UPT) PENDIDIKAN

Lebih terperinci

TESIS. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Magister Program studi Teknologi Pendidikan. Oleh. Istanto S

TESIS. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Magister Program studi Teknologi Pendidikan. Oleh. Istanto S PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING DAN COMPETENCY BASED TRAINING TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MELAKUKAN PERBAIKAN DAN ATAU SETING ULANG KONEKSI JARINGAN BERBASIS LUAS (WIDE

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. a. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. a. Latar Belakang Masalah a. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Dalam Kurikulum SMA, pengertian pendidikan jasmani dan kesehatan adalah mata pelajaran yang merupakan bagian pendidikan keseluruhan yang proses pembelajarannya

Lebih terperinci

Skripsi. Oleh: Gilang Ramadhan K

Skripsi. Oleh: Gilang Ramadhan K PEMBELAJARAN FISIKA GASING MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI DAN DISKUSI PADA MATA PELAJARAN FISIKA SMA KELAS X MATERI GERAK LURUS DITINJAU DARI MINAT SISWA Skripsi Oleh: Gilang Ramadhan K 2310046 FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Lompat Jauh a. Pengertian Lompat Jauh Lompat jauh merupakan salah satu nomor lompatdalam cabang olahraga atletik. Lompat jauh merupakan suatu bentuk gerakan melompat,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Atletik adalah gabungan dari beberapa jenis olahraga yang secara garis besar dapat dikelompokan menjadi lari, lempar, dan lompat.kata ini berasal dari bahasa

Lebih terperinci

KONTRIBUSI KECEPATAN KEKUATAN TUNGKAI DAN KESEIMBANGAN TERHADAP HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK JURNAL. Oleh ANGGUN WAHYUNI SARI DEWI

KONTRIBUSI KECEPATAN KEKUATAN TUNGKAI DAN KESEIMBANGAN TERHADAP HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK JURNAL. Oleh ANGGUN WAHYUNI SARI DEWI KONTRIBUSI KECEPATAN KEKUATAN TUNGKAI DAN KESEIMBANGAN TERHADAP HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK JURNAL Oleh ANGGUN WAHYUNI SARI DEWI PENDIDIKAN JASMANI DAN KESEHATAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Lebih terperinci

KEEFEKTIFAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN TERHADAP PENINGKATAN KETERAMPILAN TEKNIK DASAR MEMANAH DITINJAU DARI MOTIVASI BERPRESTASI

KEEFEKTIFAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN TERHADAP PENINGKATAN KETERAMPILAN TEKNIK DASAR MEMANAH DITINJAU DARI MOTIVASI BERPRESTASI KEEFEKTIFAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN TERHADAP PENINGKATAN KETERAMPILAN TEKNIK DASAR MEMANAH DITINJAU DARI MOTIVASI BERPRESTASI (Eksperimen Pembelajaran dengan Metode Taktis dan Drill Pada Mahasiswa Fakultas

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARAKREATIVITAS SISWA DAN KEMAMPUAN NUMERIKDENGAN KEMAMPUAN KOGNITIF FISIKA SISWA SMPKELAS VIII

HUBUNGAN ANTARAKREATIVITAS SISWA DAN KEMAMPUAN NUMERIKDENGAN KEMAMPUAN KOGNITIF FISIKA SISWA SMPKELAS VIII HUBUNGAN ANTARAKREATIVITAS SISWA DAN KEMAMPUAN NUMERIKDENGAN KEMAMPUAN KOGNITIF FISIKA SISWA SMPKELAS VIII Skripsi Oleh: Dwi Isworo K 2308082 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Lebih terperinci

(Studi Eksperimen pada Siswa Ekstrakurikuler Bola Voli SD Negeri Sidoagung 3 Kecamatan Tempuran Kabupaten Magelang) TESIS

(Studi Eksperimen pada Siswa Ekstrakurikuler Bola Voli SD Negeri Sidoagung 3 Kecamatan Tempuran Kabupaten Magelang) TESIS PENGARUH METODE LATIHAN INTERVAL DAN METODE LATIHAN KONTINYU TERHADAP KETERAMPILAN PASSING BAWAH SISWA EKSTRAKURIKULER BOLA VOLI MINI SD NEGERI SIDOAGUNG 3 MAGELANG DITINJAU DARI MOTIVASI SISWA (Studi

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN FISIKA DENG

PEMBELAJARAN FISIKA DENG PEMBELAJARAN FISIKA DENGAN MODEL CTL MELALUI METODE EKSPERIMEN DAN DEMONSTRASI DITINJAU DARI KEMAMPUAN KOMUNIKASI ILMIAH SISWA PADA MATERI FLUIDA KELAS XI SMA NEGERI KEBAKKRAMAT Skripsi Oleh : Emilia Nur

Lebih terperinci

PERBEDAAN PENGARUH METODE LATIHAN DAN KEKUATAN

PERBEDAAN PENGARUH METODE LATIHAN DAN KEKUATAN PERBEDAAN PENGARUH METODE LATIHAN DAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI TERHADAP KEMAMPUAN PASING LAMBUNG SEPAKBOLA PADA SISWA SSB NEW ANDANG TARUNA SRAGEN TAHUN 2012 SKRIPSI Oleh : ROI SETIAWAN NIM. K5606049 FAKULTAS

Lebih terperinci

SUMBANGAN TINGGI BADAN, PANJANG LENGAN, KEKUATAN OTOT LENGAN DAN POWER TUNGKAI TERHADAP KEMAMPUAN FREE THROW SHOOT PADA ATLET BOLABASKET PUTRI

SUMBANGAN TINGGI BADAN, PANJANG LENGAN, KEKUATAN OTOT LENGAN DAN POWER TUNGKAI TERHADAP KEMAMPUAN FREE THROW SHOOT PADA ATLET BOLABASKET PUTRI SUMBANGAN TINGGI BADAN, PANJANG LENGAN, KEKUATAN OTOT LENGAN DAN POWER TUNGKAI TERHADAP KEMAMPUAN FREE THROW SHOOT PADA ATLET BOLABASKET PUTRI (Studi Korelasional Kemampuan Free Throw Shoot pada Atlet

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Proses latihan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi dalam

BAB I PENDAHULUAN. Proses latihan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi dalam 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses latihan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi dalam memberikan peningkatan kemampuan atlet mencapai prestasi puncak. seperti yang dikemukakan oleh

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING, TERSTRUKTUR, DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA. (Studi Eksperimen di SMP Negeri 2 Kebakkramat) Tesis

PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING, TERSTRUKTUR, DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA. (Studi Eksperimen di SMP Negeri 2 Kebakkramat) Tesis PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING, TERSTRUKTUR, DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA (Studi Eksperimen di SMP Negeri 2 Kebakkramat) Tesis Diajukan kepada Program Studi Magister manajemen Pendidikan Universitas

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN BER- BASIS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KEMAMPUAN AWAL TERHADAP PELACAKAN MATERI BIOLOGI DI LUAR KE- LAS PADA PESERTA DIDIK KELAS VII SEMESTER 1 SMP NEGERI 2 BAKI KABUPATEN

Lebih terperinci

PENGARUH PELATIHAN PLAIOMETRIK ALTERNATE LEG BOUND TERHADAP DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI DAN KECEPATAN

PENGARUH PELATIHAN PLAIOMETRIK ALTERNATE LEG BOUND TERHADAP DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI DAN KECEPATAN PENGARUH PELATIHAN PLAIOMETRIK ALTERNATE LEG BOUND TERHADAP DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI DAN KECEPATAN Ketut Juni Artada Ilmu Keolahragaan FOK Universitas Pendidikan Ganesha, Kampus Tengah Undiksha Singaraja,

Lebih terperinci

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PREZI TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI PADA SISWA KELAS X AKUNTANSI SMK NEGERI 1 SUKOHARJO

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PREZI TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI PADA SISWA KELAS X AKUNTANSI SMK NEGERI 1 SUKOHARJO PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PREZI TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI PADA SISWA KELAS X AKUNTANSI SMK NEGERI 1 SUKOHARJO SKRIPSI Oleh : DEWI KUSUMA WATI K7412050 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

PENGARUH PELATIHAN ALTERNATE LEG BOUND DAN SKIPPING TERHADAP KELINCAHAN DAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI

PENGARUH PELATIHAN ALTERNATE LEG BOUND DAN SKIPPING TERHADAP KELINCAHAN DAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI PENGARUH PELATIHAN ALTERNATE LEG BOUND DAN SKIPPING TERHADAP KELINCAHAN DAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI I Putu Gede Eka Pertama Jurusan Ilmu Keolahragaan e-mail: [email protected] ABSTRAK Penelitian ini

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN a. Lokasi dan waktu penelitian Lokasi penelitian akan dilaksanakan di : Lokasi : SMAN 2 Ciamis Waktu : 2-28 September 2013 b. Populasi dan sampel Dalam tercapainya suatu tujuan

Lebih terperinci

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA LINGKUNGAN DAN MEDIA GAMBAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN IPA DITINJAU DARI KREATIVITAS SISWA

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA LINGKUNGAN DAN MEDIA GAMBAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN IPA DITINJAU DARI KREATIVITAS SISWA PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA LINGKUNGAN DAN MEDIA GAMBAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN IPA DITINJAU DARI KREATIVITAS SISWA (Studi Eksperimen Pada Siswa Kelas V di SD Negeri Kecamatan Selogiri Kabupaten

Lebih terperinci

PERBEDAAN PENGARUH METODE LATIHAN LARI CEPAT UP HILL

PERBEDAAN PENGARUH METODE LATIHAN LARI CEPAT UP HILL PERBEDAAN PENGARUH METODE LATIHAN LARI CEPAT UP HILL, DOWN HILL, KOMBINASI DOWN HILL UP HILL DAN RASIO TINGGI DUDUK TINGGI BADAN TERHADAP PRESTASI LARI CEPAT 100 METER (Studi Eksperimen pada Siswa Putra

Lebih terperinci

HUBUNGAN KOORDINASI MATA TANGAN, POWER OTOT LENGAN,

HUBUNGAN KOORDINASI MATA TANGAN, POWER OTOT LENGAN, HUBUNGAN KOORDINASI MATA TANGAN, POWER OTOT LENGAN, DAN KELENTUKAN OTOT PUNGGUNG TERHADAP KEMAMPUAN LEMPARAN ATAS BOLA SOFTBALL PADA MAHASISWA PUTRA PEMBINAAN PRESTASI SOFTBALL JPOK FKIP UNS TAHUN 2013

Lebih terperinci

PENGARUH MODEL LATIHAN PLIOMETRIK DAN POWER

PENGARUH MODEL LATIHAN PLIOMETRIK DAN POWER PENGARUH MODEL LATIHAN PLIOMETRIK DAN POWER OTOT TUNGKAI TERHADAP HASIL BELAJAR KEMAMPUAN RENANG GAYA DADA 50 METER (Studi Eksperimen Latihan Double leg speed hop & Jump to box Pada Siswa Putra Kelas X

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Atletik merupakan aktifitas jasmani yang terdiri dari gerakan-gerakan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Atletik merupakan aktifitas jasmani yang terdiri dari gerakan-gerakan BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teoritik 1. Pengertian Atletik Atletik merupakan aktifitas jasmani yang terdiri dari gerakan-gerakan dasar yang dinamis dan harmonis yaitu jalan, lari, lompat, dan lempar.

Lebih terperinci

ARTIKEL SKRIPSI. Oleh : MINARDI

ARTIKEL SKRIPSI. Oleh : MINARDI PENGARUH LATIHAN PLIOMETRIK MULTIPLE BOX TO BOX JUMPS WITH SINGLE LEG LANDING DAN SINGLE LEG BOUNDING TERHADAP KEMAMPUAN LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA KELAS XI SMKN 1 GROGOL KEDIRI TAHUN PELAJARAN

Lebih terperinci

PENGARUH METODE INKUIRI DAN MOTIVASI BERPRESTASI TERHADAP KEMAMPUAN MENULIS DESKRIPSI SISWA. (Eksperimen pada Siswa Kelas X SMA Negeri

PENGARUH METODE INKUIRI DAN MOTIVASI BERPRESTASI TERHADAP KEMAMPUAN MENULIS DESKRIPSI SISWA. (Eksperimen pada Siswa Kelas X SMA Negeri PENGARUH METODE INKUIRI DAN MOTIVASI BERPRESTASI TERHADAP KEMAMPUAN MENULIS DESKRIPSI SISWA (Eksperimen pada Siswa Kelas X SMA Negeri di Kota Surakarta) TESIS Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan

Lebih terperinci

PENGARUH LATIHAN PLYOMETRIC BARRIER HOPS

PENGARUH LATIHAN PLYOMETRIC BARRIER HOPS PENGARUH LATIHAN PLYOMETRIC BARRIER HOPS (PBH) DAN MULTIPLE BOX TO BOX (MBTB) TERHADAP HASIL TENDANGAN LAMBUNG JAUH DALAM SEPAK BOLA PADA PEMBINAAN PRESTASI SEPAK BOLA KU 19-21 TAHUN POK FKIP UNS TAHUN

Lebih terperinci

Skripsi Oleh: Muhammad Taufik Akbar K

Skripsi Oleh: Muhammad Taufik Akbar K EKSPERIMEN MODEL PBL MELALUI METODE EKSPERIMEN DAN DEMONSTRASI MATERI SUHU DAN KALOR KELAS X MIA SMAN 4 SURAKARTA DITINJAU DARI KEMAMPUAN ANALISIS SISWA Skripsi Oleh: Muhammad Taufik Akbar K2311051 FAKULTAS

Lebih terperinci

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN SMASH NORMAL ANTARA BOLA DILAMBUNGKAN SENDIRI DAN DIUMPAN TOSSER TERHADAP KEMAMPUAN SMASH NORMAL PEMAIN BOLAVOLI PUTRA

Lebih terperinci

PENGARUH LATIHAN DENGAN VARIASI GERAK DAN KOORDINASI

PENGARUH LATIHAN DENGAN VARIASI GERAK DAN KOORDINASI PENGARUH LATIHAN DENGAN VARIASI GERAK DAN KOORDINASI MATA-TANGAN TERHADAP KEMAMPUAN GROUNDSTROKE BACKHAND PADA MAHASISWA PEMBINAAN PRESTASI TENIS LAPANGAN JPOK FKIP UNS TAHUN 2014 Oleh : AMINUDIN K5610007

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. memberikan keuntungan dalam jangkauan langkahnya, hal ini dikarenakan. melakukan berbagai macam gerak.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. memberikan keuntungan dalam jangkauan langkahnya, hal ini dikarenakan. melakukan berbagai macam gerak. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teoritik 1. Hakikat Panjang Tungkai Seorang olahragawan yang memiliki proporsi badan tinggi biasanya diikuti dengan ukuran tungkai yang panjang, meskipun hal itu tidak

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KECEPATAN LARI DAN POWER OTOT TUNGKAI TERHADAP HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA KELAS V SD NEGERI CIWIRU KECAMATAN DAWUAN

HUBUNGAN ANTARA KECEPATAN LARI DAN POWER OTOT TUNGKAI TERHADAP HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA KELAS V SD NEGERI CIWIRU KECAMATAN DAWUAN HUBUNGAN ANTARA KECEPATAN LARI DAN POWER OTOT TUNGKAI TERHADAP HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA KELAS V SD NEGERI CIWIRU KECAMATAN DAWUAN Asep Dedi Paturohman NPM: GIC.14.0703 ABSTRAK Penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan atau bagian hidup yang tidak dapat ditinggalkan. dan kebiasaan sosial maupun sikap dan gerak manusia.

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan atau bagian hidup yang tidak dapat ditinggalkan. dan kebiasaan sosial maupun sikap dan gerak manusia. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Usaha memasyarakatkan olahraga sekarang ini sudah nampak hasilnya. Hal ini ditandai dengan maraknya orang melakukan olahraga untuk kesehatan dan sebagai sarana

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori BAB II KAJIAN PUSTAKA 1. Hakikat Daya Ledak Otot Tungkai a. Pengertian Daya Ledak Daya ledak disebut juga sebagai kekuatan eksplosive. Daya ledak menyangkut kekuatan dan kecepatan kontraksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam dunia olahraga yang sifatnya persaingan satu dengan lainnya, termasuk dalam olahraga permainan sepakbola untuk mencapai prestasi dibutuhkan kemampuan kondisi

Lebih terperinci

pada siswa Siswa Putra Kelas XI MAN 3 Kediri Tahun 2016)

pada siswa Siswa Putra Kelas XI MAN 3 Kediri Tahun 2016) PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PLYOMETRIC DAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK (Eksperimen Latihan Double Leg Bound dan Knee Tuch Jump pada siswa Siswa Putra Kelas

Lebih terperinci

PROGAM STUDI ILMU KEOLAHRAGAAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

PROGAM STUDI ILMU KEOLAHRAGAAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA PENGARUH METODE PEMBELAJARAN PRAKTEK DISTRIBUSI DAN METODE PRAKTEK PADAT TERHADAP KETERAMPILAN MENGGIRING BOLA DALAM SEPAKBOLA DITINJAU DARI KEMAMPUAN GERAK (MOTOR ABILITY) (Studi Siswa SMAN 1 Pulokulon

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Untuk mencapai prestasi yang maksimal, banyak. Harsono (2000:4) mengemukakan bahwa: Apabila kondisi fisik atlet dalam

BAB I PENDAHULUAN. Untuk mencapai prestasi yang maksimal, banyak. Harsono (2000:4) mengemukakan bahwa: Apabila kondisi fisik atlet dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Untuk mencapai prestasi yang maksimal, banyak faktor yang mempengaruhi, salah satunya adalah kemampuan atau kondisi fisik. Menurut Harsono (2000:4) mengemukakan

Lebih terperinci

PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PLIOMETRIK BARRIER HOPS DAN KNEE TUCK JUMP TERHADAP TINGGI LONCATAN PADA MAHASISWA PUTRA UKM BOLAVOLI UNS TAHUN 2014

PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PLIOMETRIK BARRIER HOPS DAN KNEE TUCK JUMP TERHADAP TINGGI LONCATAN PADA MAHASISWA PUTRA UKM BOLAVOLI UNS TAHUN 2014 PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PLIOMETRIK BARRIER HOPS DAN KNEE TUCK JUMP TERHADAP TINGGI LONCATAN PADA MAHASISWA PUTRA UKM BOLAVOLI UNS TAHUN 2014 SKRIPSI Oleh: JOKO SANTOSO K 5609047 FAKULTAS KEGURUAN DAN

Lebih terperinci

FAKTOR ANTROPOMETRI DAN KEMAMPUAN FISIK DOMINAN PADA PRESTASI WHEELCHAIR RACE NOMOR TRACK 100 METER

FAKTOR ANTROPOMETRI DAN KEMAMPUAN FISIK DOMINAN PADA PRESTASI WHEELCHAIR RACE NOMOR TRACK 100 METER FAKTOR ANTROPOMETRI DAN KEMAMPUAN FISIK DOMINAN PADA PRESTASI WHEELCHAIR RACE NOMOR TRACK 100 METER (Analisis Faktor penentu Prestasi Atlet Difabel Wheelchair Race di Jawa Tengah) TESIS Disusun untuk memenuhisebagian

Lebih terperinci

HUBUNGAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI TERHADAP KEMAMPUAN LOMPAT JAUH GAYA BERJALAN DIUDARA PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 11 BANDA ACEH.

HUBUNGAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI TERHADAP KEMAMPUAN LOMPAT JAUH GAYA BERJALAN DIUDARA PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 11 BANDA ACEH. HUBUNGAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI TERHADAP KEMAMPUAN LOMPAT JAUH GAYA BERJALAN DIUDARA PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 11 BANDA ACEH Zukrur Rahmat 1 Abstrak Lompat jauh adalah suatu bentuk gerakan melompat

Lebih terperinci

PERBEDAAN PENGARUH METODE LATIHAN DAN PERSEPSI KINESTETIK TERHADAP PENINGKATAN KETEPATAN MEMUKUL BOLA SOFTBALL

PERBEDAAN PENGARUH METODE LATIHAN DAN PERSEPSI KINESTETIK TERHADAP PENINGKATAN KETEPATAN MEMUKUL BOLA SOFTBALL PERBEDAAN PENGARUH METODE LATIHAN DAN PERSEPSI KINESTETIK TERHADAP PENINGKATAN KETEPATAN MEMUKUL BOLA SOFTBALL (Studi Eksperimen Metode Latihan Jarak Pukul Bertahap dan Jarak Pukul Tetap Pada Atlet Binaan

Lebih terperinci