BAB 3 GAMBARAN UMUM KABUPATEN KUNINGAN, KECAMATAN CIBEUREUM, CIBINGBIN, DAN CIGUGUR

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 3 GAMBARAN UMUM KABUPATEN KUNINGAN, KECAMATAN CIBEUREUM, CIBINGBIN, DAN CIGUGUR"

Transkripsi

1 BAB 3 GAMBARAN UMUM KABUPATEN KUNINGAN, KECAMATAN CIBEUREUM, CIBINGBIN, DAN CIGUGUR Bab ini terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama akan menjelaskan mengenai gambaran umum Kabupaten Kuningan dan bagian kedua akan menjelaskan mengenai gambaran umum Cibeureum, Cibingbin, dan Cigugur. Adapun pembahasan mengenai gambaran umum wilayah kajian studi yang meliputi aspek geografis, kependudukan, ketenagakerjaan, kondisi perekonomian, serta kondisi IPM ini terkait dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui sejauhmana kemampuan usaha tape ketan sebagai motor penggerak pengembangan ekonomi lokal yang diantaranya meliputi aspek tenaga kerja, modal, bahan baku, jiwa wirausaha dan kemampuan manajerial. Selanjutnya pada bagian ketiga akan dijelaskan mengenai gambaran umum usaha tape ketan di Cibeureum, Cibingbin, dan Cigugur. 3.1 Gambaran Umum Kabupaten Kuningan Pada sub bab ini akan dijelaskan bagaimana gambaran umum Kabupaten Kuningan yang meliputi kondisi geografis, kependudukan, ketenagakerjaan, kondisi perekonomian dan IPM menurut kecamatan Letak dan Keadaan Geografis Kabupaten Kuningan memiliki luas wilayah sebesar 1.117,95 Km 2 dan terletak pada titik koordinat ' ' Bujur Timur dan 6 47' ' Lintang Selatan. Sedangkan ibu kotanya terletak pada titik koordinat 6 45' ' Lintang Selatan dan ' ' Bujur Timur. Secara administratif, Kabupaten Kuningan berbatasan dengan: Sebelah Utara : Kabupaten Cirebon Sebelah Timur : Kabupaten Brebes (Jawa Tengah) Sebelah Selatan : Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap (Jawa Tengah) Sebelah Barat : Kabupaten Majalengka 33

2 34 Gambar 3.1 Peta Administrasi Kabupaten Kuningan KABUPATEN MAJALENGKA Pasawahan Mandirancan Pancang LEGENDA GUNUNG CIREMAI Cilimus KABUPATEN CIREBON Batas Provinsi Batas Kabupaten Jalaksana Japara Batas Cigugur Kramatmulya Cipicung Ciawigebang Kalimanggis Sungai Danau Darma Nusaherang Kadugede KUNINGAN Garawangi Lebakwangi Cidahu Luragung Cimahi KABUPATEN BREBES Ibukota Kabupaten Ibukota Gunung Wilayah Kajian Studi Hantara Ciniru Sumber : Bapeda Kabupaten Kuningan Selajambe Ciwaru Cibeureum Cibingbin U Skala 1 : Subang Cilebak Karangkancana PROVINSI JAWA TENGAH Km KABUPATEN CIAMIS KABUPATEN CILACAP Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung 2008

3 35 Adapun karakteristik penggunaan lahan di Kabupaten Kuningan dapat dilihat pada tabel 3.1 di bawah. Tabel 3.1 Karakteristik Penggunaan Lahan Kabupaten Kuningan Tahun 2006 No. Guna Lahan Luas (%) 1. Hutan 347,38 Km 2 (29,47%) 2. Lahan pertanian Sawah Irigasi Ha (15,31 %) Sawah Tadah Hujan Ha (9,88 %) Kebun Campuran Ha (16,59 %) Danau 475 Ha (0,4 %) Lain-lain Ha (4,71 %) 3. Lahan Kritis - 4. Permukiman Ha (8,3%) Sumber: Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jawa Barat, 2007 Guna lahan di Kabupaten Kuningan didominasi oleh lahan pertanian yang luasnya mencapai 62,23% dari luas wilayah total. Lahan pertanian sendiri terbagi ke dalam beberapa jenis yaitu sawah, kebun, danau, dan lain-lain. Sebagian besar sawah di Kabupaten Kuningan telah memiliki pengairan yang baik. Namun, luas sawah tadah hujan juga masih besar yaitu sekitar 39,23% dari luas total lahan sawah. Komposisi guna lahan yang didominasi oleh lahan pertanian ini selanjutnya berpengaruh terhadap lapangan kerja penduduk Kabupaten Kuningan dimana sebagian besar penduduknya bekerja pada sektor pertanian. Sementara terkait dengan penelitian, tata guna lahan di Kabupaten Kuningan turut mempengaruhi aspek bahan baku usaha tape ketan Kependudukan Menurut Hasil Suseda, Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) Kabupaten Kuningan adalah sebesar 1,17% pertahun. Jumlah penduduk Kabupaten Kuningan terus meningkat baik adanya kelahiran maupun karena migrasi. Kondisi kependudukan Kabupaten Kuningan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3.2

4 36 Tabel 3.2 Penduduk dan Beberapa Informasi Demografi Kabupaten Kuningan Tahun Informasi Demografi 1. Jumlah Penduduk Total Laki-laki Perempuan Tahun Laju Pertumbuhan Penduduk 2,80 1,89 1,17 3. Komposisi Umur Sumber : Suseda Tahun Struktur umur penduduk Kabupaten Kuningan masih relatif muda dengan jumlah penduduk antara laki-laki perempuan yang tidak terlalu jauh berbeda. Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Kuningan semakin berkurang dari tahun ke tahun. Tabel 3.3 Persentase Tingkat Pendidikan Penduduk Usia 10 Tahun ke Atas Kabupaten Kuningan Tahun Pendidikan yang Ditamatkan (%) (%) <SD 23,55 20,84 SD 50,31 51,82 SLTP sederajat 13,43 13,73 SMA sederajat 10,25 10,88 Akademi/PT 2,46 2,72 Jumlah (%) 100,00 100,00 Nominal Sumber: Data Suseda Kab. Kuningan, 2007 Menurut tabel di atas, latar belakang pendidikan penduduk Kabupaten Kuningan lebih dari separuhnya (sebanyak 51,82% pada tahun 2007) masih merupakan lulusan SD. Dan secara keseluruhan, penduduk yang telah menempuh pendidikan wajar pendidikan dasar 9 tahun (lulusan SMP ke bawah) di Kabupaten Kuningan terdapat sebanyak 69,55%.

5 37 Latar belakang pendidikan sebagian besar masyarakat Kabupaten Kuningan yang masih rendah berpengaruh terhadap supply tenaga kerja usaha kecil yang melimpah. Hal ini dikarenakan usaha kecil dapat mudah dimasuki oleh masyarakat dengan latar belakang pendidikan dan keterampilan yang rendah Ketenagakerjaan Masalah-masalah dasar ketenagakerjaan pada umumnya selama ini berkisar pada pemutusan hubungan kerja (PHK), sempitnya lapangan kerja, lambannya transformasi tenaga kerja dari sektor primer ke sektor sekunder, produktivitas yang rendah, dan masalah pengangguran. Berikut adalah gambaran mengenai kondisi ketenagakerjaan di Kabupaten Kuningan. Tabel 3.4 Beberapa Indikator Ketenagakerjaan Kabupaten Kuningan Tahun Indikator N % N % 1. Jumlah Angkatan Kerja , ,1 2. Jumlah yang Bekerja , ,6 3. Pola Distribusi Sektoral 3.1 Pertanian 3.2 Industri 3.3 Perdagangan 3.4 Jasa-jasa 3.5 Lainnya 4. Pengangguran/Mencari Pekerjaan Total Laki-laki Perempuan Sumber: Data Suseda Kab. Kuningan, ,3 5,41 29,3 10,9 15,1 9,4 7,1 14, ,89 4,58 30,12 10,95 13,45 10,44 6,99 17,82 Lapangan pekerjaan penduduk Kabupaten Kuningan didominasi oleh sektor pertanian, perdagangan, serta sektor jasa. Sektor pertanian merupakan lapangan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Dari jumlah penduduk total Kabupaten

6 38 Kuningan yang bekerja, sebanyak 40,89% bekerja pada sektor pertanian, 30,12% bekerja pada sektor perdagangan, dan sebanyak 10,95% bekerja pada sektor jasa. Masalah pengangguran juga semakin membutuhkan perhatian lebih karena terdapat peningkatan angka pengangguran dari tahun 2006 ke tahun 2007 di Kabupaten Kuningan. Hal ini diakibatkan oleh adanya ketidakseimbangan antara laju pertumbuhan angkatan kerja dengan laju pertumbuhan kesempatan kerja. Selain itu, luas lahan pertanian tidak mungkin bertambah dengan adanya pembangunan-pembangunan. Terkait dengan hal ini, kreatifitas masyarakat dalam memanfaatkan talenta yang dimiliki seperti salah satunya dengan mengolah tape ketan dapat membantu memecahkan persoalan ketenagakerjaan di Kabupaten Kuningan Kondisi Perekonomian Salah satu indikator untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah Laju Pertumbuhan PDRB. Indikator tersebut menggambarkan laju pertumbuhan produk yang dihasilkan oleh seluruh kegiatan ekonomi (LPE) yang bisa digambarkan dengan data pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan. Tabel 3.5 PDRB Kab. Kuningan Menurut Sub Sektor Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun (Jutaan Rupiah) Lapangan Usaha Tahun *) 2005**) 1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan , , ,65 Perikanan 2. Pertambangan dan Penggalian , , ,58 3. Industri Pengolahan , , ,20 4. Listrik, Gas, dan Air Bersih , , ,92 5. Bangunan , , ,80 6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran , , ,12 7. Pengangkutan dan Komunikasi , , ,35 8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Persh , , ,59 9. Jasa-Jasa , , ,66 PDRB , , ,8 Sumber: Kabupaten Kuningan dalam Angka *) Angka Perbaikan **) Angka Sementara

7 39 Pada tabel 3.5 dapat dilihat bahwa kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kabupaten Kuningan pada tahun 2005 sangat dominan yaitu sebesar Rp 1.358,2 milyar atau sekitar 42,69% dari jumlah total PDRB. Sementara kontribusi sektor listrik, gas dan air bersih hanya berperan sebesar 0,4% dan menjadi sektor yang memberikan sumbangan paling rendah terhadap PDRB Kabupaten Kuningan. Sementara jika dilihat dari kondisi industrinya, secara keseluruhan industri di Kabupaten Kuningan belum dapat berkembang secara optimal. Selain jumlahnya yang masih sedikit, nilai investasi yang ditanamkan pemodal juga belum dapat dikatakan cukup untuk menjadikan hasil bumi di Kabupaten Kuningan dapat dikembangkan menjadi agroindustri. Tabel 3.6 Jumlah Industri Menurut Skala Kabupaten Kuningan Tahun 2007 No. Jenis Jumlah 1. Besar 4 2. Sedang Kecil UKM UKM Dibina Diskop PUKM Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab. Kuningan, 2007 Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah industri skala besar di Kabupaten Kuningan masih sangat rendah, yaitu hanya terdapat empat buah industri. Jenis industri yang paling mendominasi adalah usaha kecil menengah, baik yang dibina maupun tidak dibina Diskop dan UKM. Sehingga dapat dikatakan keberadaan UKM seperti usaha tape ketan memiliki peran penting dalam meningkatkan perekonomian di Kabupaten Kuningan karena UKM telah menjadi sumber pendapatan bagi banyak masyarakat lokal Kondisi IPM per Melalui Suseda Kabupaten Kuningan 2007, dapat diketahui gambaran mengenai kondisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sampai tingkat kecamatan. Secara garis besar, kondisi IPM per kecamatan dapat dilihat pada tabel 3.7

8 40 Tabel 3.7 Stratifikasi IPM Berdasarkan Kriteria UNDP di Kabupaten Kuningan Tahun 2007 Kategori IPM Tinggi (IPM>=80) Menengah Atas (66<=IPM<80) Menengah Bawah (50=<IPM<66) Rendah (IPM<50) Sumber : Suseda Tahun Kuningan, Jalaksana, Kramatmulya, Cilimus, Mandirancan, Cigugur, Darma, Ciawigebang, Garawangi, Pasawahan, Nusaherang, Subang, Sindangagung, Kadugede, Cigandamekar, Cipicung, Luragung, Ciwaru, Lebakwangi, Cidahu, Ciniru, Pancalang, Cilebak, Kalimanggis, Hantara, Japara, Maleber, Salajambe, Karangkancana, Cimahi Cibeureum, Cibingbin Jika kita lihat maka seluruh kecamatan terbagi menjadi dua kategori yaitu kategori menengah atas dan menengah bawah. Tidak ada kecamatan yang masuk kategori IPM tinggi dan rendah. Stratifikasi ini dapat dijadikan acuan dalarn mengalokasikan anggaran pembangunan. Jumlah kecamatan yang IPM nya masuk kategori menengah bawah pada tahun 2007 adalah dua kecamatan yaitu Cibeureum dan Cibingbin dan merupakan wilayah kajian studi dalam penelitian ini. 3.2 Gambaran Umum Cibeureum, Cibingbin, dan Cigugur Pada sub bab ini akan dijelaskan bagaimana gambaran umum Cibeureum, Cibingbin, dan Cigugur yang merupakan wilayah kajian studi dalam penelitian mengenai usaha tape ketan di Kabupaten Kuningan Kondisi Geografis dan Kependudukan Berikut akan dijelaskan mengenai bagaimana gambaran letak geografis dan kependudukan di Cibeureum, Cibingbin, dan Cigugur. Secara administratif, batas-batas Cibeureum, Cibingbin, dan Cigugur dapat dilihat pada tabel 3.8 berikut.

9 41 Tabel 3.8 Batas Administratif Cibeureum, Cibingbin, dan Cigugur Orientasi Cibeureum Cibingbin Cigugur Utara Kec. Cimahi Kec.Cimahi Kec.Kramatmulya Selatan Kab. Cilacap Kab. Cilacap Kec. Kadugede Barat Kec. Karangkancana Kec. Cibeureum Kab. Majalengka Timur Kec. Cibingbin Kab. Brebes Kec. Kuningan Sumber: Bapeda Kab. Kuningan, 2008 Kondisi luas wilayah, jumlah penduduk, dan kepadatan di masing-masing kecamatan dapat dilihat pada tabel 3.9. Sedangkan komposisi penduduk menurut jenis kelamin di masing-masing kecamatan dapat dilihat pada tabel 3.10 Tabel 3.9 Luas Daerah, Jumlah Penduduk dan Rata-Rata Kepadatan Penduduk Menurut Tahun 2007 Luas Daerah Jumlah Penduduk Kepadatan (Km 2 ) (Jiwa) (Jiwa/Km 2 ) Cibeureum 31, Cibingbin 72, Cigugur 27, Sumber: Data Suseda Kabupaten Kuningan, 2007 Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa kecamatan dengan luas wilayah terbesar adalah Cibingbin, sementara Cigugur memiliki luas wilayah terkecil dibandingkan dua kecamatan lainnya. Namun, Cibingbin justru memiliki kepadatan yang terendah, dan Cigugur memiliki kepadatan tertinggi. Kelompok Umur Tabel 3.10 Jumlah Penduduk Menurut, Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2007 Kec. Cibeureum Kec. Cibingbin Kec. Cigugur Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan

10 42 Kelompok Kec. Cibeureum Kec. Cibingbin Kec. Cigugur Umur Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan > Jumlah Jumlah L+P Sumber: Data Suseda Kabupaten Kuningan, 2007 Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah penduduk perempuan dan laki-laki di ketiga kecamatan hampir berimbang. Di Cibingbin dan Cigugur, jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dari penduduk perempuan. Namun sebaliknya dengan kondisi di Cibeureum dimana jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari penduduk laki-laki, meskipun tidak selisihnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 182 jiwa. Secara keseluruhan, jumlah penduduk tertinggi berada di Cigugur yang mencapai jiwa. Selanjutnya diikuti oleh Cibingbin sebanyak jiwa, dan jumlah penduduk terendah adalah di Cibeureum yaitu sebanyak jiwa. Jumlah penduduk perempuan di wilayah kajian studi selanjutnya berpengaruh terhadap ketersediaan tenaga kerja usaha tape ketan. Sementara kondisi penduduk menurut tingkat pendidikan di wilayah kajian studi dapat dilihat dari tabel 3.11 berikut. Tabel 3.11 Jumlah Penduduk Menurut dan Ijazah Tertinggi yang Dimiliki Tahun 2007 Ijazah Tertinggi yang Dimiliki Cibeureum Cibingbin Cigugur Tidak/Belum Pernah Sekolah 380 (2,08%) (8,56%) 608 (1,61%) Tidak/Belum Tamat SD (15,42%) (11,40%) (14,17%)

11 43 Ijazah Tertinggi yang Dimiliki Cibeureum Cibingbin Cigugur SD/MI (53,33%) (59,03%) (47,11%) SLTP/MTs Sederajat (22,08%) (15,34%) (13,83%) SLTA/Sederajat (5,83%) (4,04%) (14,75%) SMK 152 (0,83%) 368 (1,09%) (6,28%) PT 76 (0,42%) 178 (0,53%) 848 (2,25%) Jumlah (100%) (100%) (100%) Sumber: Data Suseda Kabupaten Kuningan, 2007 Dari tabel 3.11 dapat dilihat bahwa mayoritas penduduk di masing-masing kecamatan merupakan tamatan SD. Di Cibeureum dan Cibingbin bahkan lebih dari 50% penduduknya merupakan tamatan SD. Sementara penduduk yang telah menempuh pendidikan wajar pendidikan dasar 9 tahun (lulusan SLTP ke bawah) di Cibeureum adalah sebanyak 92,91%, di Cibingbin sebanyak 94,33%, dan di Cigugur sebanyak 76,72%. Kondisi rendahnya latar belakang pendidikan masyarakat di wilayah kajian studi juga turut mempengaruhi ketersediaan tenaga kerja usaha tape ketan Ketenagakerjaan Kondisi ketenagakerjaan di Cibeureum, Cibingbin, dan Cigugur dapat digambarkan melalui jumlah angkatan kerja dan bukan angkatan kerja serta jumlah penduduk yang bekerja menurut sektor. Tabel 3.12 Jumlah Penduduk Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja Menurut Tahun 2007 Kegiatan Utama Jumlah Angkatan Kerja Bukan Angkatan Kerja Bekerja Mencari Jumlah Sekolah Mengurus Lainnya Jumlah Pekerjaan RMT Cibeureum (93,91%) (6,09%) (100%) (31,19%) (63,29%) (5,53%) (100%) Cibingbin (93,86%) (6,14%) (100%) (25,22%) (64,49%) (10,28%) (100%) Cigugur (92,03%) (7,97%) (100%) (32,44%) (47,32%) (20,24%) (100%) Sumber: Data Suseda Kab. Kuningan, 2007

12 44 Dari tabel 3.12 dapat dilihat bagaimana kondisi ketenagakerjaan penduduk di wilayah kajian studi. Menurut tabel 3.12 jumlah penduduk angkatan kerja di ketiga wilayah kajian studi lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk bukan angkatan kerja. Jumlah penduduk angkatan kerja pada ketiga kecamatan sendiri lebih dari 90% telah memiliki pekerjaan. Sementara dari penduduk yang bukan merupakan angkatan kerja, sebagian besar adalah mereka yang mengurus RMT. Sementara gambaran jumlah penduduk yang bekerja menurut lapangan usaha pada masing-masing kecamatan dapat dilihat pada tabel 3.13 berikut. Tabel 3.13 Jumlah Penduduk Menurut dan Lapangan Usaha Tahun 2007 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan Industri Listrik, Gas Konstruksi & Penggalian & Air Cibeureum (47,97%) 76 (0,81%) 152 (1,63%) (13,01%) Cibingbin (42,05%) 90 (0,51%) 190 (1,08%) (8,71%) Cigugur (41,13%) (2,24%) (12,31%) Sumber: Survei Sosial Ekonomi Daerah, 2007 Tabel 3.14 Jumlah Penduduk Menurut dan Lapangan Usaha Tahun 2007 (Lanjutan) Perdagangan Lapangan Usaha Angkutan & Keuangan Jasa Lainnya Komunikasi Jumlah Cibeureum (24,39%) 152 (1,63%) (9,76%) 76 (0,81%) (100%) Cibingbin (19,33%) 714 (4,07%) (13,07%) (11,17%) (100%) Cigugur (25,41%) 940 (4,95%) 816 (4,29%) (9,28%) 74 (0,39%) (100%) Sumber: Survei Sosial Ekonomi Daerah, 2007 Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa kondisi umum lapangan kerja di Cibeureum, Cibingbin, dan Cigugur hampir sama dengan kondisi Kabupaten Kuningan dimana sektor pertanian menjadi sektor yang paling banyak digeluti penduduk di ketiga kecamatan untuk dijadikan lapangan usaha yakni mencapai 47,97% di Cibeureum, 42,05% di Cibingbin, serta 41,13% di Cigugur. Setelah sektor pertanian, sektor perdagangan menjadi lapangan usaha yang

13 45 banyak digeluti penduduk. Di sisi lain, kondisi sawah tadah hujan di wilayah kajian studi yang pola kerjanya dalam setahun hanya mengandalkan curah hujan, menyebabkan sektor pertanian menjadi terbatas dalam menyerap tenaga kerja lokal. Dalam hal ini, keberadaan usaha tape ketan mampu menjadi penyelamat perekonomian Kondisi Perekonomian Kondisi perekonomian Cibeureum, Cibingbin, dan Cigugur akan digambarkan oleh pendapatan perkapita penduduk di masing-masing kecamatan. Tabel 3.15 Income Perkapita (Rp) Penduduk Menurut Tahun 2006 Jumlah Pendapatan Jumlah Penduduk Income Perkapita (Rp) Cibeureum ,17 Cibingbin ,78 Cigugur ,2 Sumber: dalam Angka, 2007 Tabel 3.15 menunjukkan bahwa Cibingbin memiliki pendapatan perkapita terendah dan Cigugur memiliki pendapatan perkapita tertinggi dari ketiga kecamatan. Cigugur yang memiliki jumlah penduduk terbanyak mampu mengimbangi dengan jumlah pendapatan yang tinggi pula. Sementara Cibingbin yang memiliki jumlah penduduk kedua terbanyak tidak mampu mengimbangi dengan jumlah pendapatan yang tinggi sehingga pendapatan perkapita penduduknya menjadi rendah. 3.5 Usaha Tape Ketan Tape ketan merupakan makanan kecil khas Kabupaten Kuningan yang berbahan dasar ketan. Makanan ini merupakan hasil fermentasi yang kemudian dibungkus oleh daun jambu. Keterampilan membuat tape ketan awalnya dimanfaatkan oleh kaum ibu-ibu untuk membuat suguhan ketika mengadakan hajatan. Dan selanjutnya tumbuh dan berkembang menjadi usaha-usaha kecil.

14 46 Usaha tape ketan paling banyak berdiri di Cibeureum yaitu sebanyak 25 unit usaha. 18 unit terdapat di Desa Tarikolot, dan 7 unit terdapat di Desa Cibeureum. Selain di Cibeureum, usaha tape ketan ini juga terdapat di Desa Sindang Jawa, Cibingbin, sebanyak 2 unit usaha, dan di Desa Cigugur, Cigugur, sebanyak 3 unit usaha. Sehingga jika jumlah total dari usaha tape ketan di Kabupaten Kuningan ini adalah sebanyak 30 unit. Usaha tape ketan kemudian semakin berkembang sehingga mampu menjadi salah satu komoditas unggulan Kabupaten Kuningan dan tidak dimiliki oleh wilayah lain. Sehingga untuk produk sejenis, dapat dikatakan usaha tape ketan tidak memiliki pesaing.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Selama lebih dari tiga puluh tahun Indonesia menjalani sistem sentralistik. Namun, reformasi pembangunan telah membawa perubahan tidak hanya terhadap sistem penyelenggaraan

Lebih terperinci

Katalog BPS : 1101002.3208 STATISTIK DAERAH KABUPATEN KUNINGAN 2014 STATISTIK DAERAH KABUPATEN KUNINGAN 2014 ISBN : 978-602-0964-40-9 No. Publikasi : 32080.1450 Katalog BPS : 1101002.3208 Ukuran Buku

Lebih terperinci

kuningankab.bps.go.id

kuningankab.bps.go.id STATISTIK DAERAH KABUPATEN KUNINGAN 2015 STATISTIK DAERAH KABUPATEN KUNINGAN 2015 ISBN : 978-602-0964-61-4 No. Publikasi : 32080.1450 Katalog BPS : 1101002.3208 Ukuran Buku : 18,2 cm x 25,7 cm Jumlah Halaman

Lebih terperinci

I.1 Latar Belakang Kebutuhan primer terbagi menjadi tiga bagian, diantaranya adalah kebutuhan sandang, pangan dan papan. Kebutuhan tersebut tidak

I.1 Latar Belakang Kebutuhan primer terbagi menjadi tiga bagian, diantaranya adalah kebutuhan sandang, pangan dan papan. Kebutuhan tersebut tidak BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kebutuhan primer terbagi menjadi tiga bagian, diantaranya adalah kebutuhan sandang, pangan dan papan. Kebutuhan tersebut tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia

Lebih terperinci

BAB IV KONTEKS LOKASI PENELITIAN

BAB IV KONTEKS LOKASI PENELITIAN 27 BAB IV KONTEKS LOKASI PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Kabupaten Kuningan 4.1.1 Kondisi Geografis Kabupaten Kuningan terletak di ujung Timur Laut Provinsi Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Provinsi

Lebih terperinci

BUPATI KUNINGAN. KEPUTUSAN BUPATI KUNINGAN NOMOR : 487/KPTS.149-diskominfo/2015

BUPATI KUNINGAN. KEPUTUSAN BUPATI KUNINGAN NOMOR : 487/KPTS.149-diskominfo/2015 BUPATI KUNINGAN KEPUTUSAN BUPATI KUNINGAN NOMOR 487/KPTS.149-diskominfo/2015 TENTANG PENUNJUKAN PEJABAT PENGELOLA INFORMASI DAN DOKUMENTASI (PPID) DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN KUNINGAN BUPATI KUNINGAN,

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT. Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan luas wilayah

BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT. Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan luas wilayah 5.1. Kondisi Geografis BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT Propinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 o 50 ' - 7 o 50 ' Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan

Lebih terperinci

BAB 3 KEBIJAKAN DAN KONDISI PEREKONOMIAN WILAYAH KABUPATEN KUNINGAN

BAB 3 KEBIJAKAN DAN KONDISI PEREKONOMIAN WILAYAH KABUPATEN KUNINGAN 113 BAB 3 KEBIJAKAN DAN KONDISI PEREKONOMIAN WILAYAH KABUPATEN KUNINGAN Secara umum suatu wilayah akan tumbuh dan berkembang menuju arah pemanfaatan lahan yang berorientasi ekonomi; yaitu memanfaatkan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KUNINGAN BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH Jalan Siliwangi No. 26 Telp. (0232) Kasturi Kuningan Kode Pos 45521

PEMERINTAH KABUPATEN KUNINGAN BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH Jalan Siliwangi No. 26 Telp. (0232) Kasturi Kuningan Kode Pos 45521 PEMERINTAH KABUPATEN KUNINGAN BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH Jalan Siliwangi No. 26 Telp. (0232) 871863 Kasturi Kuningan Kode Pos 45521 Nomor : 821/5620/Peng.Bin. Sifat Lamp. Hal : Penting : 1 (satu) set : Penanganan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM A. Gambaran Umum Daerah 1. Kondisi Geografis Daerah 2. Kondisi Demografi

BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM A. Gambaran Umum Daerah 1. Kondisi Geografis Daerah 2. Kondisi Demografi BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM Perkembangan Sejarah menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (staatblad Nomor : 378). Provinsi Jawa Barat dibentuk

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

V GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN V GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 5.1 Geografis dan Administratif Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 0 50 7 0 50 Lintang Selatan dan 104 0 48 108 0 48 Bujur Timur, dengan batas-batas

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM LOKASI DAN RESPONDEN

V GAMBARAN UMUM LOKASI DAN RESPONDEN V GAMBARAN UMUM LOKASI DAN RESPONDEN 5.1 Gambaran Umum Kabupaten Kuningan Kabupaten Kuningan terletak di ujung timur laut Provinsi Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Secara

Lebih terperinci

BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN KUNINGAN

BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN KUNINGAN Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Kuningan Tahun 2013 sebanyak 113.239 rumah tangga Jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum di I Kabupaten Kuningan Tahun 2013 sebanyak 3 unit perusahaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT ATA 2014 I - 1

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT ATA 2014 I - 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyampaian laporan keterangan pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD merupakan amanah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 - IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI 4.1 Kondisi Geografis Kota Dumai merupakan salah satu dari 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37-101 o 8'13

Lebih terperinci

I-1 BAB I PENDAHULUAN. I. Latar Belakang

I-1 BAB I PENDAHULUAN. I. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ)

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KUNINGAN. : Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat

BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KUNINGAN. : Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KUNINGAN. Geografis, Administratif dan Kondisi Fisik Kabupaten Kuningan terletak di bagian timur Provinsi Jawa Barat dengan luas wilayah.9,7 Km terletak pada titik

Lebih terperinci

BAB VII IMPLIKASI KONVERSI LAHAN TERHADAP PENGEMBANGAN WILAYAH

BAB VII IMPLIKASI KONVERSI LAHAN TERHADAP PENGEMBANGAN WILAYAH 62 BAB VII IMPLIKASI KONVERSI LAHAN TERHADAP PENGEMBANGAN WILAYAH 7.1 Rencana Tata Ruang Wilayah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Kuningan merupakan matra spasial dari Rencana Pembangunan Jangka

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah 35 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Provinsi Lampung Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah Provinsi Lampung adalah 3,46 juta km 2 (1,81 persen dari

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Letak, Luas dan Batas Wilayah Penelitian. Kabupaten Kuningan terletak di bagian timur Jawa Barat dengan luas

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Letak, Luas dan Batas Wilayah Penelitian. Kabupaten Kuningan terletak di bagian timur Jawa Barat dengan luas III. KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI A. Letak, Luas dan Batas Wilayah Penelitian Kabupaten Kuningan terletak di bagian timur Jawa Barat dengan luas wilayah Kabupaten Kuningan secara keseluruhan mencapai 1.195,71

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH

IV. KONDISI UMUM WILAYAH 29 IV. KONDISI UMUM WILAYAH 4.1 Kondisi Geografis dan Administrasi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 50-7 50 LS dan 104 48-104 48 BT dengan batas-batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI KUNINGAN NOMOR 69 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN BUPATI KUNINGAN NOMOR 69 TAHUN 2016 TENTANG PERATURAN BUPATI KUNINGAN NOMOR 69 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN, TUGAS DAN FUNGSI UNIT PELAKSANA TEKNIS PADA DINAS DAN BADAN (UPTD/UPTB) DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN KUNINGAN DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi Kalimantan Timur dan berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Kabupaten Malinau

Lebih terperinci

Tabel PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan 2000 di Kecamatan Ngadirejo Tahun (Juta Rupiah)

Tabel PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan 2000 di Kecamatan Ngadirejo Tahun (Juta Rupiah) 3.14. KECAMATAN NGADIREJO 3.14.1. PDRB Kecamatan Ngadirejo Besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kecamatan Ngadirejo selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3.14.1

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KUNINGAN SEKRETARIAT DAERAH Jl. Siliwangi No. 88 Telp. (0232) K U N I N G A N Kode Pos 45512

PEMERINTAH KABUPATEN KUNINGAN SEKRETARIAT DAERAH Jl. Siliwangi No. 88 Telp. (0232) K U N I N G A N Kode Pos 45512 PEMERINTAH KABUPATEN KUNINGAN SEKRETARIAT DAERAH Jl. Siliwangi No. 88 Telp. (0232) 871045 K U N I N G A N Kode Pos 45512 Kuningan, 06 Maret 2014 Kepada : Nomor : 821/433/BKD Sifat Lamp. Hal : Penting :

Lebih terperinci

KABUPATEN KUNINGAN DALAM ANGKA. Kuningan Regency in Figure

KABUPATEN KUNINGAN DALAM ANGKA. Kuningan Regency in Figure KABUPATEN KUNINGAN DALAM ANGKA Kuningan Regency in Figure 2015 KABUPATEN KUNINGAN DALAM ANGKA Kuningan Regency In Figure 2015 ISBN : 978-602-0964-68-3 Nomor Publikasi BPS / BPS Publication Number : 32080.1501

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum Dasar hukum penyusunan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2016, adalah sebagai berikut: 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang

Lebih terperinci

BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 36 BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN A. Keadaan Geografi Letak dan Batas Wilayah Kabupaten Ngawi secara geografis terletak pada koordinat 7º 21 7º 31 LS dan 110º 10 111º 40 BT. Batas wilayah Kabupaten

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH 4.1 Wilayah Administrasi dan Letak Geografis Wilayah administrasi Kota Tasikmalaya yang disahkan menurut UU No. 10 Tahun 2001 tentang Pembentukan Pemerintah Kota Tasikmalaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT TAHUN 2015 I - 1

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT TAHUN 2015 I - 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 69 mengamanatkan Kepala Daerah untuk menyampaikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 31 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Gambaran Geografis Wilayah Secara astronomis, wilayah Provinsi Banten terletak pada 507 50-701 1 Lintang Selatan dan 10501 11-10607 12 Bujur Timur, dengan luas wilayah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Geografis dan Demografis Provinsi Kalimantan Timur

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Geografis dan Demografis Provinsi Kalimantan Timur BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Geografis dan Demografis Provinsi Kalimantan Timur Provinsi Kalimantan Timur terletak pada 113 0 44-119 0 00 BT dan 4 0 24 LU-2 0 25 LS. Kalimantan Timur merupakan

Lebih terperinci

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar BAB II PROFIL WILAYAH KAJIAN Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Andri Endianto, 2015

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Andri Endianto, 2015 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bawang merah merupakan salah satu tanaman yang sering digunakan oleh masyarakat sebagai bumbu dapur atau penyedap rasa. Terutama masyarakat Indonesia yang menambahkankannya

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM KOTA CIMAHI. Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan dan Otonomi

IV. GAMBARAN UMUM KOTA CIMAHI. Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan dan Otonomi IV. GAMBARAN UMUM KOTA CIMAHI Cimahi berasal dari status Kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Bandung sesuai dengan perkembangan dan kemajuannya berdasarkan Undangundang Republik Indonesia Nomor

Lebih terperinci

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan indikator ekonomi makro yang dapat digunakan untuk melihat tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Majalengka

Lebih terperinci

BAB 3 GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN DAN KEUANGAN DAERAH KAB/KOTA DI JAWA TENGAH

BAB 3 GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN DAN KEUANGAN DAERAH KAB/KOTA DI JAWA TENGAH BAB 3 GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN DAN KEUANGAN DAERAH KAB/KOTA DI JAWA TENGAH 3.1 Keadaan Geografis dan Pemerintahan Propinsi Jawa Tengah adalah salah satu propinsi yang terletak di pulau Jawa dengan luas

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Letak Geografis Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu dari delapan Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara geografis terletak antara 116-117

Lebih terperinci

BAB I KONDISI MAKRO PEMBANGUNAN JAWA BARAT

BAB I KONDISI MAKRO PEMBANGUNAN JAWA BARAT BAB I KONDISI MAKRO PEMBANGUNAN JAWA BARAT 1.1. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) beserta Komponennya Angka Partisipasi Kasar (APK) SLTP meningkat di tahun 2013 sebesar 1.30 persen dibandingkan pada tahun

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Analisis struktur perekonomian kota Depok sebelum dan sesudah otonomi daerah UNIVERSITAS SEBELAS MARET Oleh: HARRY KISWANTO NIM F0104064 BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Daerah Penelitian

Lebih terperinci

Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 3. Undang-Undang Nomor 12

Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 3. Undang-Undang Nomor 12 BAB I PENDAHULUAN Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik. Konsekuensi logis sebagai negara kesatuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pulau Karimunjawa). Jarak dari Barat ke Timur adalah 263 km dan dari Utara ke

BAB I PENDAHULUAN. Pulau Karimunjawa). Jarak dari Barat ke Timur adalah 263 km dan dari Utara ke BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Provinsi Jawa Tengah diapit oleh dua provinsi besar, yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur, letaknya antara 5 40 dan 8 30 dan 111 30 bujur timur (termasuk Pulau Karimunjawa).

Lebih terperinci

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau dan Kabupaten Lingga BAB III KONDISI UMUM 3.1. Geografis Wilayah Kepulauan Riau telah dikenal beberapa abad silam tidak hanya di nusantara tetapi juga

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Administrasi Kabupaten Majalengka GAMBAR 4.1. Peta Kabupaten Majalengka Kota angin dikenal sebagai julukan dari Kabupaten Majalengka, secara geografis terletak

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM KABUPATEN MAJALENGKA

GAMBARAN UMUM KABUPATEN MAJALENGKA 59 IV. GAMBARAN UMUM KABUPATEN MAJALENGKA 4.1. Kondisi Fisik Wilayah Beberapa gambaran umum dari kondisi fisik Kabupaten Majalengka yang merupakan wilayah studi adalah kondisi geografi, topografi, tanah

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Kondisi Alam 1. Letak dan Batas Wilayah Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang ada di pulau Jawa, letaknya diapit oleh dua provinsi besar

Lebih terperinci

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI 16 KONDISI UMUM WILAYAH STUDI Kondisi Geografis dan Administratif Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada koordinat 106 0 45 50 Bujur Timur dan 106 0 45 10 Bujur Timur, 6 0 49

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR

4 GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR 44 Keterbatasan Kajian Penelitian PKL di suatu perkotaan sangat kompleks karena melibatkan banyak stakeholder, membutuhkan banyak biaya, waktu dan tenaga. Dengan demikian, penelitian ini memiliki beberapa

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM. Posisi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak antara

BAB IV GAMBARAN UMUM. Posisi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak antara BAB IV GAMBARAN UMUM A. Gambaran Umum Daerah Istimewa Yogyakarta 1. Kondisi Fisik Daerah Posisi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak antara 7.33-8.12 Lintang Selatan dan antara 110.00-110.50 Bujur

Lebih terperinci

BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB. SUBANG TAHUN 2012

BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB. SUBANG TAHUN 2012 BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB. SUBANG TAHUN 2012 4.1.Gambaran Umum Geliat pembangunan di Kabupaten Subang terus berkembang di semua sektor. Kemudahan investor dalam menanamkan modalnya di Kabupaten

Lebih terperinci

Gambar 4.1 Peta Provinsi Jawa Tengah

Gambar 4.1 Peta Provinsi Jawa Tengah 36 BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TENGAH 4.1 Kondisi Geografis Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di tengah Pulau Jawa. Secara geografis, Provinsi Jawa Tengah terletak

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR

BAB III GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR 20 BAB III GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR 3.1. SITUASI GEOGRAFIS Secara geografis, Kota Bogor berada pada posisi diantara 106 derajat 43 30 BT-106 derajat 51 00 BT dan 30 30 LS-6 derajat 41 00 LS, atau kurang

Lebih terperinci

BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1. Letak Geografis Kabupaten Bandung terletak di Provinsi Jawa Barat, dengan ibu kota Soreang. Secara geografis, Kabupaten Bandung berada pada 6 41 7 19 Lintang

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI KUNINGAN NOMOR 66 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN BUPATI KUNINGAN NOMOR 66 TAHUN 2016 TENTANG PERATURAN BUPATI KUNINGAN NOMOR 66 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS POKOK, FUNGSI DAN URAIAN TUGAS, SERTA TATA KERJA KECAMATAN KABUPATEN KUNINGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM. A. Letak Geografis, Iklim

BAB IV KONDISI UMUM. A. Letak Geografis, Iklim 27 BAB IV KONDISI UMUM A. Letak Geografis, Iklim Kabupaten Bungo terletak di bagian Barat Provinsi Jambidengan luas wilayah sekitar 7.160 km 2. Wilayah ini secara geografis terletak pada posisi 101º 27

Lebih terperinci

BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT

BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT 2.1. Gambaran Umum 2.1.1. Letak Geografis Kabupaten Sumba Barat merupakan salah satu Kabupaten di Pulau Sumba, salah satu

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO. PDRB Gorontalo Triwulan I Tahun 2012 Naik 3,84 Persen

PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO. PDRB Gorontalo Triwulan I Tahun 2012 Naik 3,84 Persen No. 26/05/75/Th. VI, 7 Mei 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO PDRB Gorontalo Triwulan I Tahun 2012 Naik 3,84 Persen PDRB Gorontalo pada triwulan I tahun 2012 naik sebesar 3,84 persen dibandingkan triwulan

Lebih terperinci

Tabel-Tabel Pokok TABEL-TABEL POKOK. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81

Tabel-Tabel Pokok TABEL-TABEL POKOK. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81 TABEL-TABEL POKOK Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81 Tabel 1. Tabel-Tabel Pokok Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Lamandau Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu dari lima daerah otonom di

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu dari lima daerah otonom di IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Keadaan Umum Lokasi Penelitian 1. Letak Geografis Kabupaten Kulonprogo Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu dari lima daerah otonom di propinsi Daerah Istimewa

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM 4.1 Kabupaten Kuningan Letak dan luas Kependudukan Pendidikan dan kesejahteraan

BAB IV KONDISI UMUM 4.1 Kabupaten Kuningan Letak dan luas Kependudukan Pendidikan dan kesejahteraan 24 BAB IV KONDISI UMUM 4.1 Kabupaten Kuningan 4.1.1 Letak dan luas Kabupaten Kuningan berada pada lintang 06 0 45 LS sampai dengan 07 0 13 LS dan berada pada bujur 108 0 23 BT sampai dengan 108 0 47 BT.

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Situasi Wilayah Letak Geografi Secara geografis Kabupaten Tapin terletak antara 2 o 11 40 LS 3 o 11 50 LS dan 114 o 4 27 BT 115 o 3 20 BT. Dengan tinggi dari permukaan laut

Lebih terperinci

BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB.SUBANG TAHUN 2013

BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB.SUBANG TAHUN 2013 BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB.SUBANG TAHUN 2013 4.1.Gambaran Umum Geliat pembangunan di Kabupaten Subang terus berkembang di semua sektor. Kemudahan investor dalam menanamkan modalnya di Kabupaten Subang

Lebih terperinci

KEMAMPUAN KEGIATAN USAHA KECIL DAN MENENGAH SEBAGAI MOTOR PENGGERAK PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL

KEMAMPUAN KEGIATAN USAHA KECIL DAN MENENGAH SEBAGAI MOTOR PENGGERAK PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL KEMAMPUAN KEGIATAN USAHA KECIL DAN MENENGAH SEBAGAI MOTOR PENGGERAK PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL (Studi Kasus: Usaha Tape Ketan di Kecamatan Cibeureum, Cibingbin, dan Cigugur) T U G A S A K H I R MAYANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tercapainya perekonomian nasional yang optimal. Inti dari tujuan pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. tercapainya perekonomian nasional yang optimal. Inti dari tujuan pembangunan BAB I PENDAHULUAN 1. A 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator kemajuan ekonomi suatu negara. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi maka semakin baik pula perekonomian negara

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Kondisi Alam 1. Letak, Batas Wilayah, dan Keadaan Alam Provinsi Jawa Timur merupakan satu provinsi yang terletak di Pulau Jawa selain Provinsi Daerah Khusus

Lebih terperinci

Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia

Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia Perekonomian Indonesia tahun 2004 yang diciptakan UKM berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM KABUPATEN TULUNGAGUNG

IV. GAMBARAN UMUM KABUPATEN TULUNGAGUNG IV. GAMBARAN UMUM KABUPATEN TULUNGAGUNG 4.1. Indikator Kependudukan Kependudukan merupakan suatu permasalahan yang harus diperhatikan dalam proses pembangunan yang mencakup antara lain mengenai distribusi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Dasar Hukum

BAB I PENDAHULUAN A. Dasar Hukum BAB I PENDAHULUAN A. Dasar Hukum Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Jawa Barat Akhir Tahun Anggaran 2011 disusun berdasarkan ketentuan sebagai berikut: 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1950

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan salah satu unsur utama untuk kelangsungan hidup manusia. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan manusia akan air, keberadaan air semakin lama dirasa semakin

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 26 Administrasi Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Propinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak diantara 6 o 57`-7 o 25` Lintang Selatan dan 106 o 49` - 107 o 00` Bujur

Lebih terperinci

BAB IV TINJAUAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BUNGO

BAB IV TINJAUAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BUNGO BAB IV TINJAUAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BUNGO 1. PERKEMBANGAN KABUPATEN BUNGO merupakan penghitungan atas nilai tambah yang timbul akibat adanya berbagai aktifitas ekonomi dalam suatu daerah/wilayah. Data

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2007

BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2007 BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2007 4.1. Gambaran Umum awa Barat adalah provinsi dengan wilayah yang sangat luas dengan jumlah penduduk sangat besar yakni sekitar 40 Juta orang. Dengan posisi

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Kondisi Alam 1. Letak dan Batas Wilayah Secara geografis Provinsi Sumatera Selatan terletak antara 1 0 4 0 Lintang Selatan dan 102 0-106 0 Bujur Timur dengan

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM PROVINSI LAMPUNG dan SUBSIDI PUPUK ORGANIK

GAMBARAN UMUM PROVINSI LAMPUNG dan SUBSIDI PUPUK ORGANIK 34 IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI LAMPUNG dan SUBSIDI PUPUK ORGANIK 4.1 Gambaran Umum Provinsi Lampung Lintang Selatan. Disebelah utara berbatasan dengann Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu, sebelah Selatan

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH JAWA BARAT SELATAN

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH JAWA BARAT SELATAN BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH JAWA BARAT SELATAN Bab sebelumnya telah memaparkan konsep pembangunan wilayah berkelanjutan dan indikator-indikatornya sebagai landasan teoritis sekaligus instrumen dalam

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM PROVINSI DKI JAKARTA Keadaan Geografis dan Kependudukan

GAMBARAN UMUM PROVINSI DKI JAKARTA Keadaan Geografis dan Kependudukan 41 IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI DKI JAKARTA 4.1. Keadaan Geografis dan Kependudukan Provinsi Jakarta adalah ibu kota Negara Indonesia dan merupakan salah satu Provinsi di Pulau Jawa. Secara geografis, Provinsi

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAMBI. Undang-Undang No. 61 tahun Secara geografis Provinsi Jambi terletak

IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAMBI. Undang-Undang No. 61 tahun Secara geografis Provinsi Jambi terletak IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAMBI 4.1 Keadaan Umum Provinsi Jambi secara resmi dibentuk pada tahun 1958 berdasarkan Undang-Undang No. 61 tahun 1958. Secara geografis Provinsi Jambi terletak antara 0º 45

Lebih terperinci

BAB V KINERJA PEREKONOMIAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA BARAT

BAB V KINERJA PEREKONOMIAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA BARAT BAB V KINERJA PEREKONOMIAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA BARAT 5.1. PDRB Antar Kabupaten/ Kota eranan ekonomi wilayah kabupaten/kota terhadap perekonomian Jawa Barat setiap tahunnya dapat tergambarkan dari salah

Lebih terperinci

2. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839);

2. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 28TAHUN 2000 T E N T A N G PEMBENTUKAN PERANGKAT DAERAH DAN SEKRETARIAT DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN KUNINGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... Halaman BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-3 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH No.12/02/33/Th.VII, 5 Februari 2013 PERTUMBUHAN PDRB JAWA TENGAH TAHUN 2012 MENCAPAI 6,3 PERSEN Besaran PDRB Jawa Tengah pada tahun 2012 atas dasar harga berlaku mencapai

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.. Luas Wilayah Kota Tasikmalaya berada di wilayah Priangan Timur Provinsi Jawa Barat, letaknya cukup stratgis berada diantara kabupaten Ciamis dan kabupaten Garut.

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN Kondisi Wilayah Letak Geografis dan Wilayah Administrasi Wilayah Joglosemar terdiri dari kota Kota Yogyakarta, Kota Surakarta dan Kota Semarang. Secara geografis ketiga

Lebih terperinci

Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 /

Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / BAB IV TINJAUAN EKONOMI 2.1 STRUKTUR EKONOMI Produk domestik regional bruto atas dasar berlaku mencerminkan kemampuan sumber daya ekonomi yang dihasilkan oleh suatu daerah. Pada tahun 2013, kabupaten Lamandau

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM 51 BAB IV GAMBARAN UMUM A. Keadaan Geografis 1. Keadaan Alam Wilayah Kabupaten Bantul terletak antara 07 o 44 04 08 o 00 27 Lintang Selatan dan 110 o 12 34 110 o 31 08 Bujur Timur. Luas wilayah Kabupaten

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM Letak Geogafis dan Wilayah Administratif DKI Jakarta. Bujur Timur. Luas wilayah Provinsi DKI Jakarta, berdasarkan SK Gubernur

IV. GAMBARAN UMUM Letak Geogafis dan Wilayah Administratif DKI Jakarta. Bujur Timur. Luas wilayah Provinsi DKI Jakarta, berdasarkan SK Gubernur 57 IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Letak Geogafis dan Wilayah Administratif DKI Jakarta Provinsi DKI Jakarta merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 7 meter diatas permukaan laut dan terletak antara

Lebih terperinci

V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010

V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010 65 V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010 5.1. Gambaran Umum dan Hasil dari Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) Kabupaten Musi Rawas Tahun 2010 Pada bab ini dijelaskan

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA BARAT. Provinsi Jawa Barat, secara geografis, terletak pada posisi 5 o 50-7 o 50

V. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA BARAT. Provinsi Jawa Barat, secara geografis, terletak pada posisi 5 o 50-7 o 50 5.1. Kondisi Geografis V. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA BARAT Provinsi Jawa Barat, secara geografis, terletak pada posisi 5 o 50-7 o 50 Lintang Selatan dan 104 o 48-108 o 48 Bujur Timur, dengan batas wilayah

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN SIMALUNGUN TAHUN 2012

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN SIMALUNGUN TAHUN 2012 BPS KABUPATEN SIMALUNGUN No. 01/08/1209/Th. XII, 1 Agustus 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN SIMALUNGUN TAHUN 2012 Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Simalungun tahun 2012 sebesar 6,06 persen mengalami percepatan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2011

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2011 No.43/08/33/Th.V, 5 Agustus 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2011 PDRB Jawa Tengah pada triwulan II tahun 2011 meningkat sebesar 1,8 persen dibandingkan triwulan I tahun 2011 (q-to-q).

Lebih terperinci

ANALISIS PENYERAPAN TENAGA KERJA PERDESAAN LAHAN KERING BERBASIS PERKEBUNAN

ANALISIS PENYERAPAN TENAGA KERJA PERDESAAN LAHAN KERING BERBASIS PERKEBUNAN ANALISIS PENYERAPAN TENAGA KERJA PERDESAAN LAHAN KERING BERBASIS PERKEBUNAN Adi Setiyanto PENDAHULUAN Tenaga kerja merupakan motor penggerak dalam pembangunan ekonomi. Tenaga kerja sebagai sumber daya

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam skripsi ini adalah jenis data primer dan

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam skripsi ini adalah jenis data primer dan 39 III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam skripsi ini adalah jenis data primer dan sekunder. 1.1.Data primer pengumpulan data dilakukan dengan cara

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA 31 KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA Administrasi Secara administratif pemerintahan Kabupaten Katingan dibagi ke dalam 11 kecamatan dengan ibukota kabupaten terletak di Kecamatan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dalam proses pembangunan, khususnya di negara-negara berkembang. Hal ini

I. PENDAHULUAN. dalam proses pembangunan, khususnya di negara-negara berkembang. Hal ini I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ketenagakerjaan merupakan salah satu aspek yang sangat menonjol dalam proses pembangunan, khususnya di negara-negara berkembang. Hal ini disebabkan masalah ketenagakerjaan

Lebih terperinci

PENGUMUMAN RENCANA UMUM PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH

PENGUMUMAN RENCANA UMUM PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH MELALUI PENGUMUMAN RENCANA UMUM BARANG/JASA PEMERINTAH Nomor : 600/151/DTRCK/2013 Tanggal : 14 Pebruari 2013 DINAS TATA RUANG DAN CIPTA KARYA KABUPATEN KUNINGAN Alamat : Jalan RE. Martadinata No. 528 Kuningan

Lebih terperinci

Produk Domestik Regional Bruto

Produk Domestik Regional Bruto Tabel 9.1 : PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA ATAS DASAR HARGA BERLAKU TAHUN 2007 2010 (Rp. 000) 1. PERTANIAN 193.934.273 226.878.977 250.222.051 272176842 a. Tanaman bahan makanan 104.047.799 121.733.346 134.387.261

Lebih terperinci

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI KEPRI

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI KEPRI BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI KEPRI No. 220/12/21/Th. V, 1 Desember 20 KEADAAN KETENAGAKERJAAN DI PROVINSI KEPULAUAN RIAU SAMPAI DENGAN AGUSTUS 20 TINGKAT PENGANGGURAN KEPRI SEMAKIN TURUN Jumlah angkatan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 20

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 20 No. 10/02/63/Th XIV, 7 Februari 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 20 010 Perekonomian Kalimantan Selatan tahun 2010 tumbuh sebesar 5,58 persen, dengan n pertumbuhan tertinggi di sektor

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan dititikberatkan pada pertumbuhan sektor-sektor yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tujuan pembangunan pada dasarnya mencakup beberapa

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2014 No.51/08/33/Th.VIII, 5 Agustus 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2014 Perekonomian Jawa Tengah yang diukur berdasarkan besaran PDRB atas dasar harga berlaku pada triwulan II tahun

Lebih terperinci