BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 Analisis struktur perekonomian kota Depok sebelum dan sesudah otonomi daerah UNIVERSITAS SEBELAS MARET Oleh: HARRY KISWANTO NIM F BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Daerah Penelitian 1. Geografis Kota Depok adalah salah satu wilayah termuda di Jawa Barat mempunyai luas wilayah sekitar 200,29 Km². Secara geografis Kota Depok terletak pada koordinat 6º º Lintang Selatan dan 106º º Bujur Timur. Bentang alam Kota Depok dari selatan ke utara merupakan daerah dataran rendah dan perbukitan bergelombang lemah dengan elevasi antara meter diatas permukaan laut dan kemiringan lerengnya kurang dari 15 persen. Wilayah Kota Depok berbatasan dengan 3 (tiga) Kabupaten dan 1 (satu) Propinsi. Secara lengkap wilayah Kota Depok mempunyai batasbatas sebagai berikut:

2 a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Ciputat, Kabupaten Tanggerang dan wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi dan Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Cibinong dan Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor. d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Parung dan Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. Secara Administratif Kota Depok terbagi dalam 6 Kecamatan dan 63 Kelurahan. Secara umum letak antar ibukota tiap-tiap Kecamatan dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut ini: Tabel 4.1 Jarak Antar Ibukota Kecamatan di Kota Depok (Km) Kecamatan Sawangan Pancoran Mas Sukmajaya Cimanggis Beji Limo Sawangan Pancoran Mas Sukmajaya Cimanggis Beji Limo Sumber: Kota Depok Dalam Angka Penduduk

3 Jumlah penduduk Kota Depok pada tahun 2007 mencapai jiwa, yang terdiri dari laki-laki jiwa dan perempuan jiwa. Laju pertumbuhan penduduk Kota Depok tahun ,43 persen. Kecamatan Cimanggis paling besar jumlah penduduknya dibandingkan dengan kecamatan lain di Kota Depok yaitu sebesar jiwa, sedangkan kecamatan dengan jumlah penduduk terkecil adalah kecamatan Beji yaitu jiwa. Di tahun 2007, kepadatan penduduk Kota Depok mencapai 7.339,37 jiwa/km². Kecamatan Sukmajaya merupakan kecamatan terpadat di Kota Depok dengan tingkat kepadatan ,61 jiwa/km², kemudian kecamatan Beji dengan tingkat kepadatan 9.782,38 jiwa/km². Sedangkan kecamatan dengan kepadatan penduduk terendah adalah kecamatan Sawangan yaitu sebesar 3.634,84 jiwa/km². Tabel 4.2 Penduduk, Luas Wilayah, dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan di Kota Depok Tahun 2007 Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah Kepadatan Penduduk (jiwa/ Km²) Sawangan ,84 Pancoran Mas ,59 Sukmajaya ,61 Cimanggis ,27 Beji ,38 Limo ,07

4 Kota Depok ,37 Sumber: Kota Depok Dalam Angka Ekonomi a. Pertumbuhan Ekonomi Perekonomian Kota Depok terus meningkat sebelum maupun sesudah otonomi daerah dilaksanakan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi tiap tahunnya sebesar 4,69% atas dasar harga konstan. Laju pertumbuhan ekonomi Kota Depok dilihat dari kelompok sektor yang terbagi dalam sektor primer, sekunder, dan tersier mengalami penurunan dan peningkatan tiap tahunnya. Laju pertumbuhan Kota Depok pada tahun 2006 sebesar 6,65% mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2005 yaitu sebesar 6,96%, hal itu dikarenakan penurunan yang sangat signifikan dalam sektor primer tahun 2006 sebesar -4,27%, peningkatan yang signifikan terjadi pada sektor tersier yaitu sebesar 7,73% pada tahun Laju pertumbuhan Kota Depok dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini. Tabel 4.3 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Depok Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun Sektor ,00 3,04 3,58 2,23 4,24 4,69-4, ,66 7,04 8,57 7,21 7,27 9,00 7,14 4-3,92 4,20 3,87 5,62 5,66 7,85 3,03

5 5-2,40 6,64 3,84 5,54 5,58 2,00 3,49 6-3,81 5,59 2,67 5,87 5,91 6,06 9,38 7-3,29 3,73 15,38 6,95 6,83 7,94 2,22 8-9,30 5,04 6,69 10,09 10,32 6,64 2,80 9-2,59 4,77 5,21 4,78 4,83 3,93 8,04 PDRB - 4,41 5,89 6,10 6,37 6,50 6,96 6,65 Sumber: Kota Depok Dalam Angka 2007, data diolah *) Keterangan: Sektor 1 = Pertanian, 2 = Pertambangan dan galian, 3 = Industri pengolahan, 4 = Listrik, gas dan air bersih, 5 = Bangunan, 6 = Perdagangan, hotel dan restoran, 7 = Pengangkutan dan komunikasi, 8 = Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, 9 = Jasa-jasa. b. Struktur Ekonomi Sebelum maupun selam pelaksanaan otonomi daerah, struktur perekonomian Kota Depok tidak terjadi pergeseran yang terlalu signifikan, dua sektor ekonomi yaitu sektor industri pengolahan dan

6 sektor perdagangan, hotel, dan restoran tetap menjadi sektor yang dominan dalam konstribusi PDRB Kota Depok dengan rata-rata konstribusi pembentukan PDRB sebelum maupun sesudah otonomi daerah diatas 30%. Berdasarkan tabel 4.4 sektor ekonomi yang memberikan konstribusi terkecil terhadap pembentukan PDRB tahun 2006 adalah sektor pertanian dengan konstribusi sebesar 2,65% Tabel 4.4 Persentase Distribusi Sektor Ekonomi Kota Depok Atas Dasar Harga Berlaku 2000 Tanpa Migas Tahun (dalam persen) Sektor ,59 4,02 3,84 3,92 3,59 3,23 2,99 2, ,56 38,45 38,24 38,38 38,30 38,52 38,49 37,54 4 3,23 3,47 3,37 3,97 4,34 4,09 4,81 4,73 5 7,04 6,60 6,33 5,81 5,87 5,98 5,27 4, ,86 30,49 30,61 30,54 30,44 30,60 30,07 32,32 7 5,06 5,04 5,48 5,72 5,66 5,64 6,81 6,42 8 3,81 3,80 3,82 3,65 3,82 3,94 3,85 3,53 9 8,44 8,12 8,32 8,02 7,98 8,00 7,71 7,94 jumlah Sumber: Kota Depok Dalam Angka 2007 *) Keterangan: Sektor 1 = Pertanian, 2 = Pertambangan dan galian, 3 = Industri pengolahan, 4 = Listrik, gas dan air bersih, 5 = Bangunan, 6 = Perdagangan, hotel dan restoran, 7 = Pengangkutan dan komunikasi, 8 = Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, 9 = Jasa-jasa. c. PDRB Perkapita Selama kurun waktu PDRB per kapita Kota Depok menunjukkan perkembangan yang positif tiap tahunya berdasarkan PDRB atas harga konstan maupun atas dasar harga berlaku. Rata-rata

7 perkembangan PDRB per kapita atas dasar konstan per tahunnya sebesar 2,78% sedangkan menurut harga berlaku sebesar 12,79%. Perkembangan terbesar PDRB per kapita atas dasar harga konstan tahun 2000 terdapat pada tahun 2005 yaitu sebesar 3,61% sedangkan atas dasar harga berlaku pertumbuhan terbesar terdapat pada tahun 2005 sebesar 15,38%. Tabel 4.5 PDRB Per Kapita Penduduk Kota Depok Tahun Tahun Atas harga berlaku AHK , , , , , , , , , , , , , , , ,94 Rata-rata Pertumbuhan (%) 12,79% 2,78% Sumber: PDRB Kota Depok 2007

8 B. Hasil Analisis dan Pembahasan 1. Analisis Deskritif a. Analisis Kontribusi Sektoral Untuk melihat perubahan struktur ekonomi di Kota Depok sebelum dan sesudah otonomi daerah dapat dilihat melalui analisis kontribusi sektoral. Salah satu indikator perubahan struktur ekonomi adalah terjadinya pergeseran kontribusi tiap-tiap sektor di dalam Produk Domestik Regional Bruto, pergeseran kontribusi sektoral dengan adanya kenaikan maupun penurunan kontribusi salah satu sektor ekonomi. 1) Sebelum Otonomi Daerah Berdasarkan tabel 4.6 dapat dilihat terdapat 2 sektor yang memberikan kontribusi terbesar untuk PDRB pada masa sebelum otonomi daerah ( ) adalah pertama, sektor industri pengolahan dengan rata-rata kontribusi pada saat sebelum otonomi daerah sebesar 38,34%, sektor kedua yang memberikan kontribusi

9 terbesar adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan ratarata kontribusi sebelum otonomi daerah adalah sebesar 30,43%. Sementara itu sektor ekonomi di Kota Depok yang memberikan kontribusi terendah selama masa sebelum otonomi daerah adalah sektor listrik, gas, dan air bersih dengan rata-rata kontribusi sebesar 3,45% dan sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan dengan rata-rata kontribusi sebesar 3,71% terhadap PDRB Kota Depok. Tabel 4.6 Kontribusi Sektor dalam PDRB Kota Depok Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tanpa Migas Sebelum Otonomi Daerah ( ) Sektor Rata-rata % , , ,93 4, , , ,10 38, , , ,76 3, , , ,99 6, , , ,79 30, , , ,25 5, , , ,07 3, , , ,53 8,20 PDRB , , , Sumber: BPS Kota Depok, data diolah *) Keterangan: Sektor 1 = Pertanian, 2 = Pertambangan dan galian, 3 = Industri pengolahan, 4 = Listrik, gas dan air bersih, 5 = Bangunan, 6 = Perdagangan, hotel dan restoran, 7 = Pengangkutan dan komunikasi, 8 = Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, 9 = Jasa-jasa

10 2) Sesudah Otonomi Daerah Setelah berjalannya otonomi daerah ( ), kontribusi tiap-tiap sektor ekonomi terhadap PDRB tidak terlalu banyak terjadi perubahan. Sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB tetap terdapat pada sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Sektor industri pengolahan memberikan rata-rata kontribusi pada masa serelah otonomi daerah sebesar 40,36% dengan terjadi kenaikan kontribusi dilihat dari saat sebelum otonomi daerah, Sektor selanjutnya yang memberikan kontribusi terbesar adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan rata-rata kontribusi setelah otonomi daerah sebesar 29,43%. Sementara itu untuk sektor yang memberikan kontribusi terendah mengalami perubahan, pada masa setelah otonomi daerah sektor yang memberikan kontribusi terendah adalah sektor listrik, gas, dan air bersih dan sektor pertanian. Sektor pertanian memberikan rata-rata kontribusi sebesar 3,59% sedangkan sektor listrik, gas, dan air minum memberikan rata-rata kontribusi sebesar 3,31% Tabel 4.7 Kontribusi Sektor dalam PDRB Kota Depok Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tanpa Migas Setelah Otonomi Daerah ( ) Sektor Rata-rata % , , , , ,56 3, , , , ,42 40,36

11 , , , , ,41 3, , , , , ,28 6, , , , , , , , , , ,87 5, , , , , ,29 3, , , , , ,84 7,76 PDRB , , , , , Sumber: BPS Kota Depok, data diolah *) Keterangan: Sektor 1 = Pertanian, 2 = Pertambangan dan galian, 3 = Industri pengolahan, 4 = Listrik, gas dan air bersih, 5 = Bangunan, 6 = Perdagangan, hotel dan restoran, 7 = Pengangkutan dan komunikasi, 8 = Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, 9 = Jasa-jasa b. Analisis Pertumbuhan Analisis laju pertumbuhan menggunakan data PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000 dan atas dasar harga berlaku. PDRB atas dasar harga konstan mengambarkan perubahan PDRB tanpa dipengaruhi oleh perubahan harga yang biasanya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Sedangkan PDRB atas dasar harga berlaku yaitu dengan memperhitungkan pengaruh harga. 1) Sebelum Otonomi Daerah

12 Laju pertumbuhan PDRB Kota Depok atas dasar harga konstan 2000 pada masa sebelum otonomi daerah ( ) menunjukkan hasil yang positif di semua sektor lapangan usaha, walaupun cenderung fluktuatif tiap tahunnya. Tabel 4.8 Laju Pertumbuhan PDRB Kota Depok Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tanpa Migas Sebelum Otonomi Daerah ( ) Sektor Rata-rata (%) 1. Pertanian 2,67 2,00 2,33 2. Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan 0,08 5,66 2,87 4. Listrik, Gas dan Air Bersih 4,18 3,92 4,05 5. Bangunan 0,26 2,40 1,32 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 3,48 3,81 3,64 7. Pengangkutan dan Komunikasi 1,58 3,29 2,43 8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 0,31 9,30 4,80 9. Jasa-Jasa 2,14 2,59 2,36 Sumber: BPS Kota Depok, data diolah Berdasarkan tabel 4.8 beberapa sektor di Kota Depok pada masa sebelum otonomi daerah ( ) menunjukkan peningkatan yang tinggi. Dilihat dari rata-rata pertumbuhan, sektor yang menempati peringkat pertama untuk laju pertumbuhannya adalah sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan dengan rata-rata sebesar 4,80%. Sektor selanjutnya yang menunjukkan rata-rata tertinggi kedua adalah sektor listrik, gas, dan air bersih dengan laju pertumbuhan sebesar 4,05%. Sektor dengan rata-rata laju

13 pertumbuhan terendah dalam masa sebelum otonomi daerah adalah sektor Bangunan dengan rata-rata laju pertumbuhan dengan rata-rata sebesar 1,32%. Sedangkan berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku pertumbuhan sektor tertinggi sebelum otonomi daerah berlangsung adalah sektor pertanian dengan rata-rata sebesar 18.14%. Sektor listrik, gas, dan air bersih pada posisi kedua dengan laju pertumbuhan sebesar 14.93%. Sektor dengan rata-rata laju pertumbuhan terendah dalam masa sebelum otonomi daerah adalah sektor Bangunan dengan rata-rata laju pertumbuhan dengan rata-rata sebesar 7.30%. Tabel 4.9 Laju Pertumbuhan PDRB Kota Depok Atas Dasar Harga Berlaku Sebelum Otonomi Daerah ( ) Sektor rata-rata (%) 1. Pertanian Pertambangan dan Penggalian 3. Industri Pengolahan

14 4. Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa Sumber: BPS Kota Depok, data diolah 2) Sesudah Otonomi Daerah Laju pertumbuhan PDRB Kota Depok berdasarkan atas dasar harga konstan 2000 selama masa otonomi daerah ( ) cenderung fluktuatif. Jadi, pada satu tahun mengalami kenaikan, namun pada tahun berikutnya justru mengalami penurunan tingkat pertumbuhan. Dari semua sektor lapangan usaha tingkat pertumbuhannya tetap positif, kecuali pada sektor pertanian. Pada tahun 2006 terjadi penurunan tingkat pertumbuhan hingga negatif 4,26%. Bila diambil rata-rata pertumbuhan selama otonomi daerah maka sektor dengan rata-rata laju pertumbuhan tertinggi ditempati oleh sektor industri pengolahan sebesar 7.70%. Sektor pengangkutan dan komunikasi berada pada peringkat ke dua dengan rata-rata laju pertumbuhan 7.17%. Selanjutnya, pada peringkat ke tiga adalah sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 6.92%. Sektor ekonomi terendah selama masa otonomi daerah di Kota Depok yaitu sektor pertanian dengan rata-rata 2,25%. Tabel 4.10

15 Laju Pertumbuhan PDRB Kota Depok Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tanpa Migas Sesudah Otonomi Daerah ( ) Sektor Rata-rata (%) 1 3,04 3,58 2,23 4,24 4,69-4,26 2, ,04 8,57 7,21 7,27 9,00 7,14 7,70 4 4,20 3,87 5,62 5,66 7,85 3,03 5,04 5 6,64 3,84 5,54 5,58 2,00 3,49 4,51 6 5,59 2,67 5,87 5,91 6,06 9,38 5,91 7 3,73 15,38 6,95 6,83 7,94 2,22 7,17 8 5,04 6,69 10,09 10,32 6,64 2,80 6,92 9 4,77 5,21 4,78 4,83 3,93 8,04 5,26 Sumber: BPS Kota Depok, data diolah *) Keterangan: Sektor 1 = Pertanian, 2 = Pertambangan dan galian, 3 = Industri pengolahan, 4 = Listrik, gas dan air bersih, 5 = Bangunan, 6 = Perdagangan, hotel dan restoran, 7 = Pengangkutan dan komunikasi, 8 = Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, 9 = Jasa-jasa Sedangkan berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku, bila diambil rata-rata pertumbuhan selama otonomi daerah maka sektor dengan rata-rata laju pertumbuhan tertinggi ditempati oleh sektor listrik, gas, dan air bersih sebesar 23.87%. Sektor pengangkutan dan komunikasi berada pada peringkat ke dua dengan rata-rata laju pertumbuhan 22.37%. Selanjutnya, pada peringkat ke tiga adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 18.26%. Sektor ekonomi terendah selama masa otonomi daerah di Kota Depok yaitu sektor pertanian dengan rata-rata 9.33%.

16 Tabel 4.11 Laju Pertumbuhan PDRB Kota Depok Atas Dasar Harga Berlaku Setelah Otonomi Daerah ( ) Sektor ratarata (%) Sumber: BPS Kota Depok, data diolah *) Keterangan: Sektor 1 = Pertanian, 2 = Pertambangan dan galian, 3 = Industri pengolahan, 4 = Listrik, gas dan air bersih, 5 = Bangunan, 6 = Perdagangan, hotel dan restoran, 7 = Pengangkutan dan komunikasi, 8 = Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, 9 = Jasa-jasa 2. Analisis Kuantitatif a. Location Quotient (LQ) Perekonomian Kota Depok terbentuk dari 9 sektor ekonomi yang memberikan kontribusi terhadap PDRB Kota Depok, sektor-sektor tersebut yaitu sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih, sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel, dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, dan sektor jasa-jasa. Kesembilan sektor tersebut sangat

17 penting untuk dikembangkan sehingga nantinya dapat dijadikan sektor unggulan atau sektor basis bagi Kota Depok. Sektor-sektor yang mempunyai kelebihan produksi sehingga nantinya dapat di ekspor ke daerah lain dikatakan sektor basis, sedangkan sektor-sektor yang tidak mampu mengekspor ke daerah lain dikatakan non basis. Untuk mengindentifikasikan sektor-sektor mana yang dikatakan sektor basis atau sektor non basis digunakan alat analisis sektor basis ekonomi yaitu metode Location Quotient (LQ). Dalam perhitungan metode location Quotient (LQ), jika nilai LQ > 1 maka sektor tersebut dikatakan lebih berspesialisasi atau dominan di tingkat kota/ kabupaten dibandingkan di tingkat propinsi, dapat dikatakan sektor tersebut adalah sektor basis, selanjutnya jika nilai LQ = 1 maka sektor tersebut baik di tingkat kota/kabupaten maupun di tingkat propinsi mempunyai tingkat spesialisasi yang sama, jika LQ < 1 maka sektor tersebut di tingkat kota/kabupaten mempunyai tingkat spesialisasi yang rendah dibandingkan di tingkat propinsi. Berdasarkan penghitungan LQ dari PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000 di Kota Depok sebelum dan selama otonomi daerah, dapat diperoleh hasil sebagai berikut:

18 Tabel 4.12 Hasil Perhitungan Location Quotient Kota Depok Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tanpa Migas Menurut Lapangan Usaha Tahun Sektor Ratarata sebelum otonomi daerah Ratarata sesudah otonomi daerah , Sumber : BPS Kota Depok, data diolah. *) Keterangan: Sektor 1 = Pertanian, 2 = Pertambangan dan galian, 3 = Industri pengolahan, 4 = Listrik, gas dan air bersih, 5 = Bangunan, 6 = Perdagangan, hotel dan restoran, 7 = Pengangkutan dan komunikasi, 8 = Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, 9 = Jasa-jasa Berdasarkan tabel 4.12 diatas sebelum otonomi daerah berlangsung yaitu kurun waktu sektor yang mempunyai nilai LQ > 1 atau dapat dikatakan sektor basis adalah sektor listrik, gas, dan air minum dengan rata-rata LQ sebesar 1,78, sektor bangunan

19 dengan rata-rata LQ sebesar 2,27, sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan rata-rata LQ sebesar 1,48, sektor pengangkutan dan komunikasi dengan rata-rata LQ sebesar 1,25, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan dengan rata-rata LQ sebesar 1,25, dan sektor jasa-jasa dengan rata-rata nilai LQ sebesar 1,15. Sedangkan untuk sektor-sektor ekonomi di Kota Depok pada masa sebelum otonomi daerah yang mempunyai nilai LQ < 1 atau sektor non basis adalah sektor pertanian dan sektor industri pengolahan dengan rata-rata indeks LQ sebesar 0,24 dan 0,87. Setelah berjalannya otonomi daerah, sektor-sektor yang menjadi sektor unggulan atau sektor basis di Kota Depok tidak banyak mengalami perubahan, rata-rata kurun waktu hanya sektor jasa-jasa yang tadinya pada saat sebelum otonomi daerah merupakan sektor basis dengan rata-rata LQ sebesar 1,15 bergeser menjadi sektor non basis setelah berjalannya otonomi daerah dengan rata-rata LQ sebesar 0,98. Sementara itu sektor-sektor seperti sektor listrik, gas, dan air minum, sektor bangunan dengan, sektor perdagangan, hotel, dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan tetap menjadi sektor basis atau sektor yang diunggulkan di Kota Depok. b. Dynamic Location Quotient (DLQ)

20 Analisis Location Quotient (LQ) hanya dapat memberikan gambaran posisi sektoral pada satu titik waktu, hal itu merupakan kelemahan dari analisis LQ, sebab suatu sektor ekonomi pada tahun tertentu dapat dikatakan sektor unggulan belum tentu untuk tahun berikutnya menjadi sektor yang unggul. Untuk mengatasi kelemahan dari metode LQ maka digunakan metode Dynamic Location Quotient (DLQ). Dengan membandingkan proporsi laju pertumbuhan sektor terhadap laju pertumbuhan PDRB daerah studi yaitu Kota Depok dengan daerah referensi yaitu Propinsi Jawa Barat, maka hasil perhitungan DLQ di Kota Depok sebelum maupun sesudah berjalannya otonomi daerah adalah sebagai berikut: 1) Sebelum Otonomi Daerah Untuk melihat posisi dan reposisi sektoral dari PDRB Kota Depok pada saat sebelum berjalannya otonomi daerah ( ) dapat diketahui dari nilai DLQ tiap-tiap sektor usaha yang ada, Untuk sektor industri pertanian nilai DLQ sebelum berjalannya otonomi daerah adalah 1.01 hal ini berarti proporsi laju pertumbuhan sektor pertanian terhadap laju pertumbuhan PDRB Kota Depok lebih tinggi dibandingkan proporsi laju pertumbuhan sektor yang sama pada PDRB daerah referensi yaitu Propinsi Jawa Barat. Selanjutnya sektor yang merupakan sektor unggulan pada hasil analisis DLQ adalah sektor industri pengolahan dengan nilai DLQ sebesar Sebelumnya pada hasil perhitungan LQ sebelum otonomi daerah, sektor industri pengolahan merupakan sektor yang tidak diunggulkan dengan nilai LQ

21 < 1. Sektor lain yang merupakan sektor unggulan pada masa sebelum otonomi daerah berdasarkan hasil perhitungan DLQ adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan nilai DLQ sebesar 2.39, dan sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan dengan nilai DLQ sebesar Tabel 4.13 Hasil Perhitungan Dynamic Location Quotient PDRB Atas Dasar Harga Konstan Tahun Dasar 2000 Tanpa Migas Sebelum Otonomi Daerah Kota Depok Lapangan Usaha PDRB Kota PDRB propinsi gin Gi DLQ 1 138, , ,794, ,784, ,269, ,341, ,627, ,805, , , ,266, ,882, , , ,822, ,254, ,024, ,063, ,696, ,567, , , ,572, ,314, , , ,720, ,351, , , ,240, ,099, PDRB 3,342, , , , Rata-rata Sumber : BPS Kota Depok, data diolah. *) Keterangan: Sektor 1 = Pertanian, 2 = Pertambangan dan galian, 3 = Industri pengolahan, 4 = Listrik, gas dan air bersih, 5 = Bangunan, 6 = Perdagangan, hotel dan restoran, 7 = Pengangkutan dan komunikasi, 8 = Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, 9 = Jasa-jasa

22 2) Sesudah Otonomi Daerah Setelah berjalannya masa otonomi daerah kurun waktu terdapat banyak pergeseran posisi dari tiap-tiap sektor. Sektor pertanian tetap menjadi sektor yang dapat diunggulkan untuk tahuntahun yang akan datang dikarenakan berdasarkan hasil perhitungan DLQ sesudah otonomi daerah nilai sektor pertanian DLQ > 1 yaitu Nilai tersebut berbeda dengan hasil perhitungan LQ sektor pertanian pada masa setelah otonomi daerah yang menunjukkan nilai LQ < 1. Sektor lain yang tetap menunjukkan hasil DLQ > 1 adalah sektor industri pengolahan dengan nilai Sektor perdagangan, hotel, dan restoran tetap menjadi sektor basis dengan hasil DLQ sebesar Sementara itu sektor-sektor yang berdasarkan hasil perhitungan analisis DLQ < 1 atau sektor non basis adalah sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan yang pada penghitungan DLQ sebelum otonomi daerah merupakan sektor basis dengan nilai DLQ > 1 setelah otonomi daerah menjadi sebesar Sektor jasajasa bergeser menjadi sektor basis setelah masa otonomi daerah dengan sebelumnya merupakan sektor non basis. Sektor usaha yang tetap menjadi non basis sebelum maupun sesudah otonomi daerah adalah sektor listrik, gas, dan air bersih, sektor bangunan dan sektor pengangkutan dan komunikasi. Secara keseluruhan sebelum dan sesudah otonomi daerah sektor ekonomi yang dapat diunggulkan pada masa mendatang adalah sektor pertanian, sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel, dan restoran, dan sektor jasa-jasa.

23 Tabel 4.14 Hasil Perhitungan Dynamic Location Quotient PDRB Atas Dasar Harga Konstan Tahun Dasar 2000 Tanpa Migas Menurut lapangan Usaha Sesudah Otonomi Daerah Kota Depok PDRB Kota PDRB propinsi gin gn DLQ Lapangan Usaha , , ,481, ,725, ,268, ,094, ,208, ,977, , , ,899, ,755, , , ,935, ,112, , ,500, ,529, ,609, , , ,465, ,143, , , ,362, ,672, , , ,020, ,200, PDRB 3,288, ,066, ,902, ,810, Rata-rata Sumber : BPS Kota Depok, data diolah. *) Keterangan: Sektor 1 = Pertanian, 2 = Pertambangan dan galian, 3 = Industri pengolahan, 4 = Listrik, gas dan air bersih, 5 = Bangunan, 6 = Perdagangan, hotel dan restoran, 7 = Pengangkutan dan komunikasi, 8 = Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, 9 = Jasa-jasa

24 c. Analisis Shift Share Untuk Menentukan Faktor Perubahan Sektor Unggulan Metode LQ dan DLQ hanya menunjukkan posisi dan reposisi sektoral dalam pertumbuhan ekonomi daerah tanpa membahas sebab terjadinya perubahan tersebut. Analisis Shift Share digunakan untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya reposisi sektoral, dengan mengetahui faktor penyebab dari reposisi sektoral tersebut maka suatu daerah dapat mengetahui kemampuan perekonomian daerah untuk mempertahankan sektor unggulan mereka. 1) Menentukan Indeks Total Keuntungan Daerah (ITKD) Indeks total keuntungan daerah (ITKD) diperoleh dari selisih rata-rata laju pertumbuhan PDRB Kota Depok selama tahun sebesar 4,71% dan rata-rata laju pertumbuhan PDRB Jawa Barat sebesar 5,23%. Maka besarnya indeks total keuntungan daerah Kota Depok adalah sebesar minus 0,528, nilai ITKD tersebut menunjukkan kerugian yang diderita oleh Kota Depok dibanding daerah lain dalam satu wilayah Jawa Barat 2) Menentukan Total Shift Share (TSS) Total Shift Share (TSS) ditentukan untuk melihat apakah daerah bagian (Kota Depok) mengalami keuntungan atau mengalami kerugian

25 dengan cara membandingkan laju pertumbuhan daerah bagian (Kota Depok) dengan daerah himpunan yaitu Jawa Barat mempunyai laju pertumbuhan yang sama. Hasil perhitungan TSS Kota Depok sebesar minus ,502 didapat dengan cara mengalikan hasil ITKD Kota Depok sebesar minus 0,528 dengan PDRB Kota Depok tahun awal penelitian yaitu PDRB tahun 1999 sebesar ,16. Dengan hasil TSS sebesar minus ,502 dapat dikatakan bahwa Kota Depok mengalami kerugian sebesar ,502 juta atau sekitar 1,76,- triliun rupiah dengan laju pertumbuhan Kota Depok sebelum maupun sesudah otonomi daerah. Hal tersebut dapat memberikan gambaran untuk Kota Depok akan mengalami kerugian apabila bertumbuh sesuai dengan laju pertumbuhan saat ini ( ) yaitu dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 4,71% sedangkan rata-rata laju pertumbuhan Jawa Barat sebesar 5,23%. Kerugian yang dialami Kota Depok sebelum dan sesudah otonomi daerah sekitar 1,76,- milyar tersebut disebabkan karena sektor-sektor ekonomi yang dianggap unggulan berdasarkan perhitungan DLQ seperti sektor pertanian memiliki nilai Structural Shift Share (LSS) positif sedangkan nilai Locational Shift Share (LSS) negatif, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan memiliki nilai Structural Shift Share (LSS) positif sedangkan nilai Locational Shift Share (LSS) negatif, dan sektor jasa-jasa ternyata memiliki nilai Structural Shift Share (LSS) negatif dan Locational Shift Share (LSS) yang juga negatif. Sebagai contoh sektor pertanian di Kota Depok,

26 tidak tersedianya lahan untuk pertanian membuat sektor ini sulit untuk berkembang dikarenakan banyaknya lahan di Kota Depok diubah dari lahan pertanian untuk menjadi lahan pemukiman atau perumahan. Walaupun sektor-sektor yang dianggap unggulan berdasarkan perhitungan LQ maupun DLQ bernilai negatif pada perhitungan Shift Share bukan berarti sektor-sektor tersebut harus ditinggalkan, sebaiknya sektor-sektor tersebut tetap ditingkatkan dengan memperbaiki kelemahan-kelemahan struktural maupun lokasionalnya. Tabel 4.15 Analisis Shift Share Kota Depok Terhadap Propinsi Jawa Barat Tahun Sektor G g 1999 SSS LSS TSS , , , , , , , , PDRB , ITKD Sumber : BPS Kota Depok, data diolah. *) Keterangan: Sektor 1 = Pertanian, 2 = Pertambangan dan galian, 3 = Industri pengolahan, 4 = Listrik, gas dan air bersih, 5 = Bangunan, 6 = Perdagangan, hotel dan restoran, 7 = Pengangkutan dan komunikasi, 8 = Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, 9 = Jasa-jasa d. Model Rasio Pertumbuhan

27 Model Rasio Pertumbuhan (MRP) digunakan untuk melihat deskripsi sektor ekonomi yang potensial di daerah Kota Depok berdasarkan kriteria pertumbuhan. Dengan analisis ini dapat diketahui deskripsi kegiatan struktur ekonomi di Kota Depok pada masa sebelum dan sesudah otonomi daerah dengan perbandingan dengan Propinsi Jawa Barat. 1) Sebelum Otonomi Daerah Berdasarkan uji MRP di Kota Depok kurun waktu sebelum otonomi daerah ( ) menunjukan bahwa bila dilihat secara klasifikasi dalam empat kategori, maka hanya terdapat 3 (tiga) kategori yang muncul pada pengujian atas semua sektor, yaitu: a) Sektor yang pada tingkat referensi dan tingkat studi memiliki pertumbuhan yang menonjol (kategori dominan), sektor tersebut adalah sektor industri pengolahan dan sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan. b) Sektor yang pada tingkat referensi memiliki pertumbuhan yang menonjol, tetapi di tingkat studi kurang menonjol (kategori potensial), sektor tersebut adalah sektor listrik, gas, dan air bersih, sektor bangunan, dan sektor pengangkutan dan komunikasi. c) Sektor yang pada tingkat referensi dan tingkat studi memiliki pertumbuhan yang kurang menonjol (kategori terbelakang), sektor tersebut adalah sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel, dan restoran, dan sektor jasa-jasa Tabel 4.16

28 Hasil Perhitungan Analisis Model Rasio Pertumbuhan Kota Depok Tahun Sebelum OTDA ( ) Menggunakan Data PDRB Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Tanpa Migas PDRB Kota Depok PDRB Jawa Barat RPr RPs Sektor R N R N , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , PDRB , , , , Sumber : BPS Kota Depok, data diolah. *) Keterangan: Sektor 1 = Pertanian, 2 = Pertambangan dan galian, 3 = Industri pengolahan, 4 = Listrik, gas dan air bersih, 5 = Bangunan, 6 = Perdagangan, hotel dan restoran, 7 = Pengangkutan dan komunikasi, 8 = Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, 9 = Jasa-jasa 2) Sesudah Otonomi Daerah Berdasarkan uji MRP di Kota Depok kurun waktu setelah dilaksanakannya otonomi daerah ( ) menunjukan bahwa terdapat pegeseran kategori dibandingkan pada kurun sebelum otonomi daerah. Lebih lanjut bila dilihat secara klasifikasi dalam empat kategori, maka pada kurun waktu sesudah OTDA terdapat 4 (empat) kategori yang muncul pada pengujian atas semua sektornya, yaitu:

29 a) Sektor yang pada tingkat referensi dan tingkat studi memiliki pertumbuhan yang menonjol (kategori dominan), sektor tersebut adalah sektor industri pengolahan dan sektor pengangkutan dan komunikasi yng bergeser menjadi kriteria dominan pada kurun waktu sesudah OTDA yang sebelumnya pada kriteria potensial. b) Sektor yang pada tingkat referensi memiliki pertumbuhan yang menonjol, tetapi di tingkat studi kurang menonjol (kategori potensial), sektor tersebut adalah sektor listrik, gas, dan air bersih, sektor bangunan, dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebelumnya pada kurun waktu sebelum OTDA memiliki kriteria sektor terbelakang tetapi begeser menjadi potensial saat OTDA berlangsung. c) Sektor yang pada tingkatan referensi kurang menonjol, tetapi ditingkat studi mempunyai pertumbuhan menonjol (kategori potensial) adalah sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, sektor tersebut saat sebelum OTDA merupakan sektor kriteria dominan. d) Sektor yang pada tingkat referensi dan tingkat studi memiliki pertumbuhan yang kurang menonjol (kategori terbelakang), sektor tersebut adalah sektor pertanian dan sektor jasa-jasa. Kedua sektor tersebut tetap menjadi sektor kriteria terbelakang meskipun diberlakukannya otonomi daerah. Tabel 4.17

30 Sektor Hasil Perhitungan Analisis Model Rasio Pertumbuhan Kota Depok Tahun Setelah OTDA ( ) Menggunakan Data PDRB Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Tanpa Migas PDRB Kota Depok PDRB Jawa Barat RPr RPs R N R N , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , PDRB , , , , Sumber : BPS Kota Depok, data diolah. *) Keterangan: Sektor 1 = Pertanian, 2 = Pertambangan dan galian, 3 = Industri pengolahan, 4 = Listrik, gas dan air bersih, 5 = Bangunan, 6 = Perdagangan, hotel dan restoran, 7 = Pengangkutan dan komunikasi, 8 = Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, 9 = Jasa-jasa e. Matrik Potensi Analisis matrik potensi sektor / sub sektor ekonomi merupakan penilaian kinerja sektor / sub sektor yang didasarkan pada 2 (dua) indikator perbandingan, yaitu: (1) Perbandingan pertumbuhan (ratio pertumbuhan) yang membandingkan pertumbuhan sektor / sub sektor dengan pertumbuhan total PDRB sebagai rujukan; dan (2) Perbandingan peranan (ratio kontribusi) yaitu membandingkan nilai sektor / sub sektor dengan nilai rata-rata PDRB per sektor / sub sektor. Kedua indikator perbandingan itu masing-masing membentuk 2 (dua) golongan dengan nilai kritis sama dengan 1 (satu), artinya pada ratio pertumbuhan ada sektor / sub sektor nilainya lebih dari 1 (satu) atau kurang sama dengan 1 (satu). Sedangkan pada ratio kontribusi nilai

31 yang mungkin didapat terbagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu lebih dari 1 (satu) atau kurang sama dengan 1 (satu). Dari uraian diatas, maka Status Sektor / Sub Sektor dalam analisis ini dibedakan menjadi 4 (empat) kategori, yaitu: 1) Prima, bila ratio pertumbuhan lebih besar dari 1 dan ratio kontribusi juga lebih besar dari 1. 2) Potensial, bila ratio kontribusi lebih besar dari 1, sementara ratio pertumbuhan bernilai kurang dari atau sama dengan 1. 3) Berkembang, bila ratio pertumbuhan lebih besar dari 1, sementara ratio kontribusi kurang dari atau sama dengan 1. 4) Terbelakang, bila ratio pertumbuhan kurang dari atau sama dengan 1 dan ratio kontribusi juga kurang dari atau sama dengan 1. Hasil analisis Matrik Potensi pada kurun waktu sebelum OTDA ( ) dapat dilihat dari tabel 4.18 berikut ini, Tabel 4.18 Matrik Potensi PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tanpa Migas Sebelum Otonomi Daerah ( ) Lapangan Usaha Pertanian Berkembang Terbelakang 2. Pertambangan dan Penggalian - -

32 3. Industri Pengolahan Potensial Prima 4. Listrik, Gas dan Air Bersih Berkembang Terbelakang Sektor Rata-rata 5. Bangunan Terbelakang Terbelakang 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran Prima Potensial 7. Pengangkutan dan Komunikasi Berkembang Terbelakang 8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Terbelakang Berkembang 9. Jasa-Jasa Berkembang Terbelakang Sumber : BPS Kota Depok, data diolah. Dari hasil analisis matrik potensi yang terdapat pada tabel 4.18 maka dapat dilihat sektor ekonomi yang merupakan sektor prima maupun potensial pada kurun waktu sebelum otonomi daerah ( ) adalah sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Untuk sektor bangunan, pada kurun waktu sebelum OTDA dengan menggunakan analisis matrik potensi merupakan sektor terbelakang, sedangkan untuk sektor lainnya juga pada rata-rata sektor terbelakang pada sebelum OTDA. Hasil analisis matrik potensi pada kurun waktu sesudah otonomi daerah ( ) dapat dilihat pada tabel 4.19 berikut ini, Tabel 4.19

33 Terbelakang Terbelakang Terbelakang Terbelakang Terbelakang Terbelakang Terbelakang Prima Prima Prima Prima Prima Prima Prima Terbelakang Terbelakang Terbelakang Terbelakang Berkembang Terbelakang Terbelakang Berkembang Terbelakang Terbelakang Terbelakang Terbelakang Terbelakang Terbelakang Potensial Potensial Potensial Potensial Potensial Prima Potensial Terbelakang Berkembang Berkembang Berkembang Berkembang Terbelakang Berkembang Terbelakang Berkembang Berkembang Berkembang Terbelakang Terbelakang Berkembang 9 Terbelakang Terbelakang Terbelakang Terbelakang Terbelakang Berkembang Terbelakang Matrik Potensi PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tanpa Migas Sesudah Otonomi Daerah ( ) Sumber : BPS Kota Depok, data diolah. *) Keterangan: Sektor 1 = Pertanian, 2 = Pertambangan dan galian, 3 = Industri pengolahan, 4 = Listrik, gas dan air bersih, 5 = Bangunan, 6 = Perdagangan, hotel dan restoran, 7 = Pengangkutan dan komunikasi, 8 = Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, 9 = Jasa-jasa Dari hasil analisis matrik potensi dapat dilihat berdasarkan tabel 4.19 sektor ekonomi yang mempunyai rata-rata prima pada kurun waktu sesudah OTDA adalah sektor industri pengolahan, hasil tersebut tidak berbeda dengan hasil perhitungan pada kurun waktu sebelum OTDA, kemudian sektor yang mempunyai rata-rata potensial adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Untuk sektor yang menunjukkan hasil rata-rata sektor berkembnag adalah sektor pengangkutan dan komunikasi dan sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan. Sektor-sektor yang merupakan sektor terbelakang adalah sektor pertanian, sektor listrik, gas, dan air minum, sektor bangunan, dan sektor jasa-jasa f. Indeks Williamson

34 Untuk melihat kondisi dan posisi perekonomian di tingkat kecamatan dikaitkan dengan kondisi dan perkembangan perekonomian di tingkat Kota Depok dapat dilakukan dengan menggunakan alat analisis indeks williamson. Indeks williamson mengukur tingkat ketimpangan pendapatan regional di suatu daerah/wilayah yang diperoleh dengan menghitung penyebaran PDRB per kapita tiap-tiap kecamatan yang ada di Kota Depok terhadap tingkat rata-rata PDRB yang lebih tinggi. Nilai Indeks Williamson (IW) berkisar antara 0 dan 1. Bila IW mendekati 0 (nol) maka suatu Daerah/wilayah dikatakan tidak mengalami ketimpangan dalam distribusi pendapatan regional atau tingkat pemerataan pendapatan regional cukup baik. Sementara itu, bila IW mendekaati 1 (satu) berarti di suatu Daerah/wilayah dapat dikatakan mengalami ketimpangan dalam distribusi pendapatan regional. Dengan mengunakan IW ini, akan dapat diketahui ketimpangan antara Daerah dan kecenderungannya, apakah semakin melebar (divergensi) ataukah semakin menyempit (konvergensi). Hasil analisis atau perhitungan IW di Kota Depok dapat dilihat pada tabel 4.20 berikut ini. Tabel 4.20 Hasil Perhitungan Indeks Williamson Kota Depok Tahun Tahun Rata -rata Rata -rata Indeks Williamson 0,320 0,330 0,325 0,350 0,362 0,375 0,395 0,404 0,389 0,379 Sumber : BPS Kota Depok, data diolah Berdasarkan tabel diatas, hasil perhitungan indeks williamson kurun waktu sebelum otonomi daerah ( ) tingkat ketimpangan

35 pendapatan regional cenderung meningkat pada tahun 1999 sebesar 0,320 menjadi 0,330 pada tahun Namun dengan rata-rata hasil Indeks Williamson sebelum OTDA sebesar 0,325 dapat dikatakan Kota Depok pada kurun waktu sebelum OTDA tidak mengalami ketimpangan distribusi pendapatan regional. Setelah dilaksanakannya otonomi daerah yaitu kurun waktu , hasil perhitungan Indeks Williamson Kota Depok mengalami kenaikan dan penurunan, pada tahun hasil IW terus meningkat dengan hasil pada tahun 2001 sebesar 0,350 dan hasil pada tahun 2005 sebesar 0,404. Akan tetapi hasil perhitungan IW pada tahun 2006 menurun dibandingkan tahun 2005 yaitu sebesar 0,389. Rata-rata Indeks Williamson setelah otonomi daerah dapat dikatakan tetap baik untuk tingkat distribusi pendapatan regional Kota Depok yaitu sebesar 0,379. g. Tipologi Klassen Analisis Tipologi Klassen digunakan untuk mengetahui gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan ekonomi di suatu daerah/wilayah dikaitkan dengan perekonomian di atasnya. Variabel yang dijadikan alat analisis ini adalah pertumbuhan ekonomi Daerah/Wilayah dan pendapatan per kapita Daerah/Wilayah. Kondisi Daerah yang diamati dapat dibagi menjadi 4 (empat) kriteria, yaitu: 1) Daerah maju dan cepat tumbuh

36 2) Daerah maju tapi tertekan 3) Daerah berkembang pesat 4) Daerah relatif tertinggal Hasil analisis Tipologi Klassen untuk mengetahui kedudukan Kota Depok terhadap Propinsi Jawa Barat dan kedudukan kecamatankecamatan terhadap Kota Depok dapat dilihat pada tabel 4.21 dan tabel 4.22 berikut ini. Tabel 4.21 Tipologi Klassen Kota Depok dan Kecamatan-Kecamatan di Kota Depok Sebelum Otonomi Daerah ( ) Kriteria Daerah Maju dan Cepat Tumbuh Daerah Berkembang Cepat Daerah Maju tapi Tertekan 1. Kec. Cimanggis 1. Kec. Limo 1. Kec. Sawangan 1. Kota Depok 1. Kota Depok Daerah Relatif Tertinggal 2. Kec. Sukmajaya 3. Kec. Pancoran Mas 4. Kec. Beji Sumber : BPS Kota Depok, data diolah Berdasarkan tabel 4.21 dapat dilihat bahwa posisi perekonomian Kota Depok terhadap Propinsi Jawa Barat pada masa sebelum otonomi daerah berada pada kriteria daerah relatif tertinggal yang berarti pendapatan per kapita Kota Depok maupun Laju pertumbuhan PDRB Kota Depok berada dibawah Propinsi Jawa Barat. Untuk tiap-tiap kecamatan di Kora Depok pada masa sebelum otonomi daerah rata-rata

37 terdapat di kriteria daerah relatif tertinggal seperti Kecamatan Sukmajaya, Kecamatan Pancoran Mas, dan Kecamatan Beji. Untuk Kecamatan Cimanggis berada di kriteria daerah maju dan cepat tumbuh, Kecamatan Limo daerah berkembang cepat, dan Kecamatan Sawangan daerah maju tapi tertekan. Setelah berlangsungnya otonomi daerah terdapat pergeseran pada hasil analisis Tipologi Klassen, pergeseran hasil Tipologi Klassen pada masa setelah otonomi daerah dapat dilihat pada tabel 4.22 berikut ini. Tabel 4.22 Tipologi Klassen Kota Depok dan Kecamatan-Kecamatan di Kota Depok Setelah Otonomi Daerah ( ) Kriteria Daerah Maju dan Cepat Tumbuh 1. Kec. Cimanggis 1. Kec. Cimanggis 2. Kec. Sawangan 1. Kec. Cimanggis Daerah Berkembang Cepat 1. Kota Depok 2. Kec. Limo 1. Kota Depok 2. Kec. Sukmajaya 3. Kec. Limo 1. Kota Depok 2. Kec. Sukmajaya 3. Kec. Beji Daerah Maju tapi Tertekan 1. Kec. Sawangan 1. Kec. Sawangan 1. Kec. Sukmajaya 1. Kec. Pancoran Mas 1. Kec. Pancoran Mas Daerah Relatif Tertinggal 2. Kec. Pancoran Mas 3. Kec. Beji 2. Kec. Beji 2. Kec. Limo Sumber : BPS Kota Depok, data diolah Dilanjutkan.. Lanjutan.

38 Lanjutan Kriteria Sum ber: BPS Kota Dep ok, data diola h Daerah Maju dan Cepat Tumbuh Daerah Berkemban g Cepat 1. Kec. Cimanggis 1. Kec. Cimanggis 2. Kec. Sukmajaya 1. Kota Depok 1. Kota Depok 3. Kec. Limo 1. Kota Depok 2. Kec. Beji 3. Kec. Pancoran Mas 4. Kec. Limo 5.Kec. Sawangan Daerah Maju tapi B Tertekan e 1. Kec. Sawangan 1. Kec. Sawangan 1. Kec. Cimanggis 3. Kec. Sukamjaya 1. Kec. Sukmajaya 1. Kec. Pancoran Mas rdaerah Relatif Tertinggal d a 2. Kec. Pancoran Mas 3. Kec. Limo 4. Kec. Beji 2. Kec. Beji sarkan tabel diatas, setelah berlangsungnya otonomi daerah ternyata membawa perubahan terhadap perekonomian Kota Depok. Hal itu terlihat dari hasil analisis Tipologi Klassen kurun waktu posisi Kota Depok berubah dari sebelum otonomi adalah kriteria daerah relatif tertinggal menjadi daerah yang berkembang cepat setelah berlangsungnya otonomi daerah, hal itu berarti tingkat pertumbuhan ekonomi di Kota Depok lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat walaupun pendapatan per kapita Kota Depok masih lebih rendah dibandingkan pendapatan per kapita Jawa Barat. Untuk posisi tiap-tiap kecamatan yang ada di Kota Depok mempunyai rata-rata dalam kriteria daerah berkembang cepat dan

39 daerah maju tapi tertekan. Seperti pada tahun 2006, kecamatan Pancoran Mas dan kecamatan Beji yang pada saat sebelum otonomi daerah terdapat dalam kriteria daerah relatif tertinggal namun sesudah otonomi daerah bergeser menjadi daerah yang berkembang cepat, selain itu kecamatan sukmajaya bergeser dalam kriteria daerah maju tapi tertekan setelah otonomi daerah. Untuk Kecamatan Cimanggis yang dari awal tahun penelitian tahun 1999 hingga tahun 2005 termasuk dalam kriteria daerah maju dan cepat tumbuh, namun pada akhir tahun penelitian yaitu tahun 2006 bergeser dalam kriteria daerah maju tapi tertekan, hal itu dikarenakan tingkat pertumbuhan Kecamatan Cimanggis lebih rendah dibandingkan dengan Kota Depok walupun pendapatan per kapita Kecamatan Cimanggis lebih besar dibandingkan dengan Kota Depok. h. Analisis Koefisien Spesialisasi Penggunaan alat analisis koefisien spesialisasi adalah untuk mengetahui tingkat spesialisasi antar daerah kecamatan di Kota Depok. Kriteria pengukurannya adalah bila indeks spesialisasi regional mendekati 0 (nol) maka kedua daerah j dan k tidak memiliki spesialisasi, dan bila indeks spesialisasi mendekati 2 (dua) maka daerah tersebut memiliki spesialisasi (Kim, 1995:883). Batas tengah antara angka nol dan dua tersebut adalah satu, oleh karena itu nilai indeks spesialisasi yang lebih besar dari satu dapat dianggap sebagai sektor

40 yang memiliki spesialisasi. Untuk melihat tinggi rendahnya tingkat spesialisasi suatu daerah terhadap daerah lainnya, sebagai pembanding digunakan nilai rata-rata indeks spesialisasi seluruh daerah. 1) Sebelum Otonomi Daerah Perubahan koefisien spesialisasi pada tahun menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan koefisien spesialisasi sebesar 0,099. Dengan peningkatan tersebut berarti secara keseluruhan tingkat spesialisasi atas sektor-sektor ekonomi pada kecamatankecamatan di Kota Depok antara kurun waktu tersebut mengalami peningkatan. Kecamatan yang mengalami peningkatan spesialisasi antara lain Kecamatan Sukmajaya, Kecamatan Pancoran Mas, dan Kecamatan Sawangan. Sedangkan kecamatan yang mengalami penurunan spesialisasi antara lain Kecamatan Cimanggis, Kecamatan Limo, dan Kecamatan Beji Hasil analisis indeks spesialisasi pertahun menunjukkan bahwa pada tahun 1998 dan 2000 tidak satu pun kecamatan di Kota Depok yang berspesialisasi secara penuh, hal ini dapat dilihat dari koefisien spesialisasi semua kecamatan yang kurang dari 0,5 (lihat tabel 4.20). Urutan kecamatan yang memiliki koefisien spesialisasi tertinggi adalah Kecamatan Pancoran Mas dengan koefisien spesialisasi sebesar 0,0915 sedangkan kecamatan yang memiliki koefisien spesialisasi terendah adalah Kecamatan Limo dengan koefisien spesialisasi sebesar minus 0,0208.

BAB 4 ANALISIS PENENTUAN SEKTOR EKONOMI UNGGULAN KABUPATEN KUNINGAN

BAB 4 ANALISIS PENENTUAN SEKTOR EKONOMI UNGGULAN KABUPATEN KUNINGAN 164 BAB 4 ANALISIS PENENTUAN SEKTOR EKONOMI UNGGULAN KABUPATEN KUNINGAN Adanya keterbatasan dalam pembangunan baik keterbatasan sumber daya maupun dana merupakan alasan pentingnya dalam penentuan sektor

Lebih terperinci

Tabel PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan 2000 di Kecamatan Ngadirejo Tahun (Juta Rupiah)

Tabel PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan 2000 di Kecamatan Ngadirejo Tahun (Juta Rupiah) 3.14. KECAMATAN NGADIREJO 3.14.1. PDRB Kecamatan Ngadirejo Besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kecamatan Ngadirejo selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3.14.1

Lebih terperinci

V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5. 1. Letak Geografis Kota Depok Kota Depok secara geografis terletak diantara 106 0 43 00 BT - 106 0 55 30 BT dan 6 0 19 00-6 0 28 00. Kota Depok berbatasan langsung dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan masyarakatnya mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada dan. swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang

BAB I PENDAHULUAN. dan masyarakatnya mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada dan. swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang Analisis struktur perekonomian kota Depok sebelum dan sesudah otonomi daerah UNIVERSITAS SEBELAS MARET Oleh: HARRY KISWANTO NIM F0104064 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan daerah merupakan

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM. Secara astronomi, Kota Depok terletak pada koordinat 6 o sampai

V. GAMBARAN UMUM. Secara astronomi, Kota Depok terletak pada koordinat 6 o sampai V. GAMBARAN UMUM 5.1 Gambaran Umum Kota Depok 5.1.1 Letak dan Keadaan Geografi Secara astronomi, Kota Depok terletak pada koordinat 6 o 19 00 sampai 6 o 28 00 Lintang Selatan dan 106 o 43 00 sampai 106

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 - IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI 4.1 Kondisi Geografis Kota Dumai merupakan salah satu dari 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37-101 o 8'13

Lebih terperinci

V. ANALISIS SEKTOR-SEKTOR PEREKONOMIAN DALAM PEMBANGUNAN WILAYAH KABUPATEN KARIMUN

V. ANALISIS SEKTOR-SEKTOR PEREKONOMIAN DALAM PEMBANGUNAN WILAYAH KABUPATEN KARIMUN V. ANALISIS SEKTOR-SEKTOR PEREKONOMIAN DALAM PEMBANGUNAN WILAYAH KABUPATEN KARIMUN Pembangunan perekonomian suatu wilayah tentunya tidak terlepas dari kontribusi dan peran setiap sektor yang menyusun perekonomian

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Pusat Statistik Provinsi Lampung ( time series ) pada jangka waktu 6 tahun. terakhir yakni pada tahun 2006 hingga tahun 2007.

III. METODE PENELITIAN. Pusat Statistik Provinsi Lampung ( time series ) pada jangka waktu 6 tahun. terakhir yakni pada tahun 2006 hingga tahun 2007. 31 III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Data yang diperlukan dalam penelitian ini seluruhnya adalah data sekunder. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang diterbitkan oleh

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN TAPANULI UTARA DARI SISI PDRB SEKTORAL TAHUN 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN TAPANULI UTARA DARI SISI PDRB SEKTORAL TAHUN 2013 BPS KABUPATEN TAPANULI UTARA No. 08/07/1205/Th. VI, 06 Oktober 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN TAPANULI UTARA DARI SISI PDRB SEKTORAL TAHUN 2013 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Tapanuli Utara yang diukur

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Provinsi Lampung adalah data sekunder berupa PDRB tiap kabupaten/kota di

III. METODE PENELITIAN. Provinsi Lampung adalah data sekunder berupa PDRB tiap kabupaten/kota di 40 III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan untuk menganalisis pengembangan potensi ekonomi lokal daerah tertinggal sebagai upaya mengatasi disparitas pendapatan di Provinsi

Lebih terperinci

I.PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan sebagai perangkat yang saling berkaitan dalam

I.PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan sebagai perangkat yang saling berkaitan dalam I.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan ekonomi merupakan sebagai perangkat yang saling berkaitan dalam struktur perekonomian yang diperlukan bagi terciptanya pertumbuhan yang terus menerus. Pembangunan

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT. Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan luas wilayah

BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT. Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan luas wilayah 5.1. Kondisi Geografis BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT Propinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 o 50 ' - 7 o 50 ' Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan

Lebih terperinci

VII. ANALISIS POTENSI PEREKONOMIAN LOKAL DI WILAYAH PEMBANGUNAN CIANJUR SELATAN

VII. ANALISIS POTENSI PEREKONOMIAN LOKAL DI WILAYAH PEMBANGUNAN CIANJUR SELATAN 102 VII. ANALISIS POTENSI PEREKONOMIAN LOKAL DI WILAYAH PEMBANGUNAN CIANJUR SELATAN Adanya otonomi daerah menuntut setiap daerah untuk dapat melaksanakan pembangunan daerah berdasarkan potensi yang dimiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM A. Gambaran Umum Daerah 1. Kondisi Geografis Daerah 2. Kondisi Demografi

BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM A. Gambaran Umum Daerah 1. Kondisi Geografis Daerah 2. Kondisi Demografi BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM Perkembangan Sejarah menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (staatblad Nomor : 378). Provinsi Jawa Barat dibentuk

Lebih terperinci

Lampiran 1. Peta Wilayah Administrasi Kabupaten Karo

Lampiran 1. Peta Wilayah Administrasi Kabupaten Karo Lampiran 1. Peta Wilayah Administrasi Kabupaten Karo Lampiran 2. Perhitungan Tipologi Klasen Pendekatan Sektoral Kabupaten Karo Tahun 2006 ADHK 2000 No Lapangan Usaha / Sektor Laju Pertumbuhan S 2006 2007

Lebih terperinci

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI 16 KONDISI UMUM WILAYAH STUDI Kondisi Geografis dan Administratif Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada koordinat 106 0 45 50 Bujur Timur dan 106 0 45 10 Bujur Timur, 6 0 49

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah 35 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Provinsi Lampung Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah Provinsi Lampung adalah 3,46 juta km 2 (1,81 persen dari

Lebih terperinci

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan indikator ekonomi makro yang dapat digunakan untuk melihat tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Majalengka

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional dalam rangka

I. PENDAHULUAN. Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional dalam rangka I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan yang disesuaikan dengan potensi dan permasalahan pembangunan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. 2010, serta data-data lain yang mendukung. Data ini diperoleh dari BPS Pusat,

III. METODE PENELITIAN. 2010, serta data-data lain yang mendukung. Data ini diperoleh dari BPS Pusat, 29 III. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data Produk Domestik Bruto (PDRB) Kabupaten Cirebon dan Provinsi Jawa Barat

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM. Posisi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak antara

BAB IV GAMBARAN UMUM. Posisi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak antara BAB IV GAMBARAN UMUM A. Gambaran Umum Daerah Istimewa Yogyakarta 1. Kondisi Fisik Daerah Posisi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak antara 7.33-8.12 Lintang Selatan dan antara 110.00-110.50 Bujur

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI NTT. 4.1 Keadaan Geografis dan Administratif Provinsi NTT

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI NTT. 4.1 Keadaan Geografis dan Administratif Provinsi NTT BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI NTT 4.1 Keadaan Geografis dan Administratif Provinsi NTT Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terdiri dari pulau-pulau yang memiliki penduduk yang beraneka ragam, dengan latar

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi Kalimantan Timur dan berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Kabupaten Malinau

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. ekonomi yang ada di Pulau Jawa. Selain mengetahui struktur juga untuk

BAB III METODE PENELITIAN. ekonomi yang ada di Pulau Jawa. Selain mengetahui struktur juga untuk BAB III METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah bertujuan untuk mengetahui sektor unggulan dan struktur ekonomi yang ada pada seluruh provinsi di Pulau Jawa, sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia, yaitu upaya peningkatan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju. kepada tercapainya kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia, yaitu upaya peningkatan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju. kepada tercapainya kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tujuan pembangunan ekonomi nasional adalah sebagai upaya untuk membangun seluruh kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, yaitu memajukan kesejahteraan umum,

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR

4 GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR 44 Keterbatasan Kajian Penelitian PKL di suatu perkotaan sangat kompleks karena melibatkan banyak stakeholder, membutuhkan banyak biaya, waktu dan tenaga. Dengan demikian, penelitian ini memiliki beberapa

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA 31 KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA Administrasi Secara administratif pemerintahan Kabupaten Katingan dibagi ke dalam 11 kecamatan dengan ibukota kabupaten terletak di Kecamatan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perkembangan suatu perekonomian dari suatu periode ke periode. berikutnya. Dari satu periode ke periode lainnya kemampuan suatu negara

I. PENDAHULUAN. perkembangan suatu perekonomian dari suatu periode ke periode. berikutnya. Dari satu periode ke periode lainnya kemampuan suatu negara 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah perekonomian suatu negara dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dari perkembangan suatu perekonomian dari

Lebih terperinci

Halaman Tulisan Jurnal (Judul dan Abstraksi)

Halaman Tulisan Jurnal (Judul dan Abstraksi) Halaman Tulisan Jurnal (Judul dan Abstraksi) Jurnal Paradigma Ekonomika Vol.1,no 7 April 2013 Analisis Tipologi Pertumbuhan Sektor Ekonomi Basis dan Non Basis dalam Perekonomian Propinsi Jambi Emilia,

Lebih terperinci

Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia

Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia Perekonomian Indonesia tahun 2004 yang diciptakan UKM berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp

Lebih terperinci

III. METODELOGI PENELITIAN

III. METODELOGI PENELITIAN III. METODELOGI PENELITIAN A. Jenis Dan Sumber Data Dalam penelitian ini menggunakan data sekunder yang terdiri dari yang diperoleh dari website BPS Provinsi Lampung dan Bank Indonesia Provinsi Lampung.

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 2012

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 2012 BPS KABUPATEN DELI SERDANG No. 01/07/1212/Th. XIV, 8 Juli 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 2012 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Deli Serdang tahun 2012 yang diukur berdasarkan kenaikan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tujuan pembangunan suatu daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

I. PENDAHULUAN. Tujuan pembangunan suatu daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tujuan pembangunan suatu daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Kerangka kebijakan pembangunan suatu daerah sangat tergantung pada permasalahan dan

Lebih terperinci

Pendapatan Regional / Product Domestic Regional Bruto

Pendapatan Regional / Product Domestic Regional Bruto Kabupaten Penajam Paser Utara Dalam Angka 2011 258 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dalam bab ini disajikan data dalam bentuk tabel dan grafik dengan tujuan untuk mempermudah evaluasi terhadap data

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. institusi nasional tanpa mengesampingkan tujuan awal yaitu pertumbuhan

BAB I PENDAHULUAN. institusi nasional tanpa mengesampingkan tujuan awal yaitu pertumbuhan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan adalah upaya multidimensional yang meliputi perubahan pada berbagai aspek termasuk di dalamnya struktur sosial, sikap masyarakat, serta institusi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. suatu perekonomian dari suatu periode ke periode berikutnya. Dari satu periode ke

I. PENDAHULUAN. suatu perekonomian dari suatu periode ke periode berikutnya. Dari satu periode ke I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah perekonomian suatu negara dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dari perkembangan suatu perekonomian dari suatu

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Pringsewu dan Produk Domestik

III. METODE PENELITIAN. Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Pringsewu dan Produk Domestik III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Untuk kepentingan penelitian ini digunakan data sekunder berupa data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Pringsewu dan Produk Domestik Regional

Lebih terperinci

BAB IV TINJAUAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BUNGO

BAB IV TINJAUAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BUNGO BAB IV TINJAUAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BUNGO 1. PERKEMBANGAN KABUPATEN BUNGO merupakan penghitungan atas nilai tambah yang timbul akibat adanya berbagai aktifitas ekonomi dalam suatu daerah/wilayah. Data

Lebih terperinci

JURNAL GAUSSIAN, Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013, Halaman Online di:

JURNAL GAUSSIAN, Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013, Halaman Online di: JURNAL GAUSSIAN, Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013, Halaman 219-228 Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/gaussian ANALISIS SEKTOR UNGGULAN MENGGUNAKAN DATA PDRB (Studi Kasus BPS Kabupaten Kendal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam jangka panjang yang disertai oleh perbaikan sisterm kelembagaan.

BAB I PENDAHULUAN. dalam jangka panjang yang disertai oleh perbaikan sisterm kelembagaan. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pembangunan ekonomi pada umumnya didefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan kenaikan pendapatan riil per kapita penduduk suatu negara dalam jangka

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum Lokasi Penelitian 1. Geografis Secara astronomis Kabupaten Bolaang Mongondow terletak antara Lintang Utara dan antara Bujur Timur. Berdasarkan posisi geografisnya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kota dan desa, antara pulau Jawa dengan luar Pulau Jawa maupun antara dua

BAB I PENDAHULUAN. kota dan desa, antara pulau Jawa dengan luar Pulau Jawa maupun antara dua BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan di negara-negara berkembang pada umumnya termasuk di Indonesia masih memunculkan adanya dualisme yang mengakibatkan adanya gap atau kesenjangan antara daerah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Sektor pertanian memiliki kontribusi terhadap pembangunan terutama di daerah, salah satunya di Provinsi Jawa Barat. Pembangunan ekonomi daerah erat kaitannya dengan industrialisasi

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. ini adalah wilayah penelitian Kota Bandar Lampung dengan wilayah. arah tersedianya pemenuhan kebutuhan masyarakat.

III. METODOLOGI PENELITIAN. ini adalah wilayah penelitian Kota Bandar Lampung dengan wilayah. arah tersedianya pemenuhan kebutuhan masyarakat. 43 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Konsep dasar dan Defenisi Operasional Konsep dasar dan defenisi operasional dalam penelitian ini mencakup semua pengertian yang digunakan dalam memperoleh dan menganalisa

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM KOTA CIMAHI. Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan dan Otonomi

IV. GAMBARAN UMUM KOTA CIMAHI. Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan dan Otonomi IV. GAMBARAN UMUM KOTA CIMAHI Cimahi berasal dari status Kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Bandung sesuai dengan perkembangan dan kemajuannya berdasarkan Undangundang Republik Indonesia Nomor

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA No. 52/ V / 15 Nopember 2002 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA INDONESIA TRIWULAN III TAHUN 2002 TUMBUH 2,39 PERSEN Indonesia pada triwulan III tahun 2002 meningkat sebesar 2,39 persen terhadap triwulan II

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dengan kata lain, perkembangannya

I. PENDAHULUAN. dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dengan kata lain, perkembangannya I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan ekonomi daerah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan pemerintah daerah bersama dengan masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi daerah tidak lepas dari pembangunan. yang dimiliki oleh daerahnya. Pembangunan nasional dilakukan untuk

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi daerah tidak lepas dari pembangunan. yang dimiliki oleh daerahnya. Pembangunan nasional dilakukan untuk A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Pembangunan ekonomi daerah tidak lepas dari pembangunan nasional, karena pembangunan nasional di Indonesia dilakukan agar mampu menciptakan pemerataan pendapatan

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. A. Kesimpulan 1. Kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian Provinsi Jawa Tengah

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. A. Kesimpulan 1. Kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian Provinsi Jawa Tengah BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian Provinsi Jawa Tengah berdasarkan hasil analisis LQ dan DLQ dapat disimpulkan sebagai berikut : a. Sektor pertanian

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

V GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN V GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 5.1 Geografis dan Administratif Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 0 50 7 0 50 Lintang Selatan dan 104 0 48 108 0 48 Bujur Timur, dengan batas-batas

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN SIMALUNGUN TAHUN 2012

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN SIMALUNGUN TAHUN 2012 BPS KABUPATEN SIMALUNGUN No. 01/08/1209/Th. XII, 1 Agustus 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN SIMALUNGUN TAHUN 2012 Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Simalungun tahun 2012 sebesar 6,06 persen mengalami percepatan

Lebih terperinci

III.METODE PENELITIAN. rakyat setempat bahkan dapat menolong perekonomian daerah secara keseluruhan

III.METODE PENELITIAN. rakyat setempat bahkan dapat menolong perekonomian daerah secara keseluruhan III.METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Variabel 1. Potensi Ekonomi Merupakan kemampuan ekonomi yang dimiliki daerah yang mungkin atau layak dikembangkan sehingga akan terus berkembang menjadi sumber

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Objek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Provinsi Kalimantan Barat yang terdiri dari 14 (empat belas) kabupaten/kota (Gambar 3.1) dengan menggunakan data sekunder

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Geografis dan Demografis Provinsi Kalimantan Timur

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Geografis dan Demografis Provinsi Kalimantan Timur BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Geografis dan Demografis Provinsi Kalimantan Timur Provinsi Kalimantan Timur terletak pada 113 0 44-119 0 00 BT dan 4 0 24 LU-2 0 25 LS. Kalimantan Timur merupakan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM Letak Geogafis dan Wilayah Administratif DKI Jakarta. Bujur Timur. Luas wilayah Provinsi DKI Jakarta, berdasarkan SK Gubernur

IV. GAMBARAN UMUM Letak Geogafis dan Wilayah Administratif DKI Jakarta. Bujur Timur. Luas wilayah Provinsi DKI Jakarta, berdasarkan SK Gubernur 57 IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Letak Geogafis dan Wilayah Administratif DKI Jakarta Provinsi DKI Jakarta merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 7 meter diatas permukaan laut dan terletak antara

Lebih terperinci

Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 3. Undang-Undang Nomor 12

Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 3. Undang-Undang Nomor 12 BAB I PENDAHULUAN Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik. Konsekuensi logis sebagai negara kesatuan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Lokasi yang diidentifikasi dalam penelitian ini Provinsi Sulawesi Utara dan kabupaten Bolaang Mongondow dan waktu yang dibutuhkan dalam pengumpulan data ini

Lebih terperinci

ANALISIS PERTUMBUHAN EKONOMI KOTA PONTIANAK DENGAN METODE LOCATION QUOTIENT, SHIFT SHARE DAN GRAVITASI

ANALISIS PERTUMBUHAN EKONOMI KOTA PONTIANAK DENGAN METODE LOCATION QUOTIENT, SHIFT SHARE DAN GRAVITASI Buletin Ilmiah Mat. Stat. dan Terapannya (Bimaster) Volume 05, No. 1 (2016), hal 19 24. ANALISIS PERTUMBUHAN EKONOMI KOTA PONTIANAK DENGAN METODE LOCATION QUOTIENT, SHIFT SHARE DAN GRAVITASI Evi Julianti,

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN. batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah Utara dengan Sumatera Barat. - Sebelah Barat dengan Samudera Hindia

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN. batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah Utara dengan Sumatera Barat. - Sebelah Barat dengan Samudera Hindia BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Kondisi Geografis Daerah Kota Bengkulu merupakan ibukota dari Provinsi Bengkulu dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. akademisi ilmu ekonomi, secara tradisional pembangunan dipandang sebagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. akademisi ilmu ekonomi, secara tradisional pembangunan dipandang sebagai BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Pembangunan Ekonomi Pembangunan ekonomi memiliki pengertian yang sangat luas. Menurut akademisi ilmu ekonomi, secara tradisional pembangunan dipandang sebagai suatu fenomena

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keuangan pusat dan daerah membawa implikasi mendasar terhadap. yang antara lain di bidang ekonomi yang meliputi implikasi terhadap

BAB I PENDAHULUAN. keuangan pusat dan daerah membawa implikasi mendasar terhadap. yang antara lain di bidang ekonomi yang meliputi implikasi terhadap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pergeseran paradigma dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan dari pola sentralisasi menjadi desentralisasi yang ditandai dengan lahirnya undang-undang nomer 22 tahun

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini, berfokus pada sektor basis, faktor

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini, berfokus pada sektor basis, faktor digilib.uns.ac.id BAB III METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini, berfokus pada sektor basis, faktor penentu perubahan struktur ekonomi,deskripsi kegiatan ekonomi serta

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR

BAB III GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR 20 BAB III GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR 3.1. SITUASI GEOGRAFIS Secara geografis, Kota Bogor berada pada posisi diantara 106 derajat 43 30 BT-106 derajat 51 00 BT dan 30 30 LS-6 derajat 41 00 LS, atau kurang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. setiap negara yang ada di dunia untuk berlomba lomba meningkatkan daya

I. PENDAHULUAN. setiap negara yang ada di dunia untuk berlomba lomba meningkatkan daya I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berkembangnya perekonomian dunia pada era globalisasi seperti saat ini memacu setiap negara yang ada di dunia untuk berlomba lomba meningkatkan daya saing. Salah satu upaya

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2007

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2007 BPS PROVINSI D.K.I. JAKARTA PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2007 No. 17/05/31/Th.IX, 15 MEI 2007 Perekonomian DKI Jakarta pada triwulan I tahun 2007 yang diukur berdasarkan PDRB atas dasar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM

BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 tentang Pemerintahan Daerah, Pemerintahan Daerah telah diberikan kewenangan untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut

Lebih terperinci

A. Proyeksi Pertumbuhan Penduduk. Pertumbuhan Penduduk

A. Proyeksi Pertumbuhan Penduduk. Pertumbuhan Penduduk Perspektif Kabupaten Berau selama 5 tahun ke depan didasarkan pada kondisi objektif saat ini dan masa lalu yang diprediksi menurut asumsi cetiris paribus. Prediksi dilakukan terhadap indikator-indikator

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN IV TAHUN 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN IV TAHUN 2013 No. 09/02/31/Th. XVI, 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN IV TAHUN 2013 Secara total, perekonomian DKI Jakarta pada triwulan IV/2013 yang diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI PADANG LAWAS TAHUN 2011

PERTUMBUHAN EKONOMI PADANG LAWAS TAHUN 2011 BPS KABUPATEN PADANG LAWAS PERTUMBUHAN EKONOMI PADANG LAWAS TAHUN 2011 No. 01/06/1221/Th. IV, 30 Juli 2012 Pertumbuhan ekonomi Padang Lawas tahun 2011 yang diukur berdasarkan kenaikan laju pertumbuhan

Lebih terperinci

Lampiran 1. PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 (Jutaan Rupiah)

Lampiran 1. PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 (Jutaan Rupiah) 118 Lampiran 1. PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 (Jutaan Rupiah) a. Propinsi Lampung Sektor Provinsi Lampung (Vi) 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Pertanian 10871433 11318866

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI SEKTOR UNGGULAN KABUPATEN WAROPEN

IDENTIFIKASI SEKTOR UNGGULAN KABUPATEN WAROPEN IDENTIFIKASI SEKTOR UNGGULAN KABUPATEN WAROPEN Muhammad Fajar Kasie Statistik Sosial BPS Kab. Waropen Abstraksi Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui deskripsi ekonomi Kabupaten Waropen secara

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1. Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Seluma Kabupaten Seluma merupakan salah satu daerah pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Selatan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 3

Lebih terperinci

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI ACEH

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI ACEH BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI ACEH No.47/11/11/Th.VI, 7 November 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI ACEH TRIWULAN III-2011 Nilai PDRB Aceh atas dasar harga berlaku dengan migas pada triwulan III-2011 sebesar Rp

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Wilayah Perkembangan wilayah merupakan salah satu aspek yang penting dalam pelaksanaan pembangunan. Tujuannya antara lain untuk memacu perkembangan sosial ekonomi dan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN PDRB TAHUN 2013 MENCAPAI 6,2 %

PERTUMBUHAN PDRB TAHUN 2013 MENCAPAI 6,2 % No, 11/02/13/Th.XVII, 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN PDRB TAHUN 2013 MENCAPAI 6,2 % Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2013 meningkat sebesar 6,2 persen terhadap 2012, terjadi pada semua

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan teknologi dan serta iklim perekonomian dunia.

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan teknologi dan serta iklim perekonomian dunia. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hakekatnya pertumbuhan ekonomi mempunyai tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi suatu daerah merupakan salah satu usaha daerah untuk

Lebih terperinci

ANALISIS POTENSI SEKTOR BASIS DI KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI

ANALISIS POTENSI SEKTOR BASIS DI KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI ANALISIS POTENSI SEKTOR BASIS DI KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI Iprisman 1, Nurul Huda 1, Firdaus 1 1 Jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Universitas Bung Hatta E-mail: ipris_man@yahoo.com E-mail: Nurulhuda114@yahoo.com

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder rangkai waktu (Time

III. METODE PENELITIAN. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder rangkai waktu (Time III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder rangkai waktu (Time series) antara tahun 2009 hingga tahun 2013. Data tersebut terdiri dari:

Lebih terperinci

I.PENDAHULUAN. Pembangunan di negara-negara berkembang lebih ditekankan pada pembangunan

I.PENDAHULUAN. Pembangunan di negara-negara berkembang lebih ditekankan pada pembangunan I.PENDAHULUAN A.Latar Belakang Pembangunan di negara-negara berkembang lebih ditekankan pada pembangunan ekonomi, hal ini disebabkan karena terjadinya keterbelakangan ekonomi. Pembangunan di bidang ekonomi

Lebih terperinci

ANALISIS SEKTOR BASIS DAN NON BASIS DI KABUPATEN JAYAPURA. Aurelianus Jehanu 1 Ida Ayu Purba Riani 2

ANALISIS SEKTOR BASIS DAN NON BASIS DI KABUPATEN JAYAPURA. Aurelianus Jehanu 1 Ida Ayu Purba Riani 2 Jurnal Kajian Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume II No 3, Desember 2015 ANALISIS SEKTOR BASIS DAN NON BASIS DI KABUPATEN JAYAPURA Aurelianus Jehanu 1 rulijehanu@gmail.com Ida Ayu Purba Riani 2 purbariani@yahoo.com

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2012

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2012 No.11/02/63/Th XVII, 5 Februari 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2012 Perekonomian Kalimantan Selatan tahun 2012 tumbuh sebesar 5,73 persen, dengan pertumbuhan tertinggi di sektor konstruksi

Lebih terperinci

PEREKONOMIAN DAERAH KOTA BATAM

PEREKONOMIAN DAERAH KOTA BATAM PEREKONOMIAN DAERAH KOTA BATAM Konsentrasi pembangunan perekonomian Kota Batam diarahkan pada bidang industri, perdagangan, alih kapal dan pariwisata. Akibat krisis ekonomi dunia pada awal tahun 1997 pertumbuhan

Lebih terperinci

BPS KABUPATEN TAPANULI TENGAH PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN TAPANULI TENGAH TAHUN 2012

BPS KABUPATEN TAPANULI TENGAH PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN TAPANULI TENGAH TAHUN 2012 BPS KABUPATEN TAPANULI TENGAH No. 01/07/1204/Th. XII, 5 Juli 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN TAPANULI TENGAH TAHUN 2012 Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Tapanuli Tengah tahun 2012 sebesar 6,35 persen mengalami

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi daerah merupakan suatu proses dimana pemerintah

I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi daerah merupakan suatu proses dimana pemerintah 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan ekonomi daerah merupakan suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakat mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada, dengan menjalin pola-pola kemitraan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT ATA 2014 I - 1

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT ATA 2014 I - 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyampaian laporan keterangan pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD merupakan amanah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS SUB SEKTOR POTENSIAL DALAM MENDUKUNG FUNGSI KOTA CILEGON

BAB IV ANALISIS SUB SEKTOR POTENSIAL DALAM MENDUKUNG FUNGSI KOTA CILEGON BAB IV ANALISIS SUB SEKTOR POTENSIAL DALAM MENDUKUNG FUNGSI KOTA CILEGON 4.1 Analisis Struktur Ekonomi Dengan struktur ekonomi kita dapat mengatakan suatu daerah telah mengalami perubahan dari perekonomian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sumber daya manusia ( Sadono Sukirno, 1996:33). Pembangunan ekonomi daerah

BAB I PENDAHULUAN. sumber daya manusia ( Sadono Sukirno, 1996:33). Pembangunan ekonomi daerah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pembangunan ekonomi adalah suatu usaha untuk meningkatkan pendapatan perkapita dengan cara mengolah kekuatan ekonomi potensial menjadi ekonomi riil melalui

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI PADANG LAWAS TAHUN 2012

PERTUMBUHAN EKONOMI PADANG LAWAS TAHUN 2012 BPS KABUPATEN PADANG LAWAS PERTUMBUHAN EKONOMI PADANG LAWAS TAHUN 2012 No. 01/07/1221/Th. V, 8 Juli 2013 Pertumbuhan ekonomi Padang Lawas tahun 2012 yang diukur berdasarkan kenaikan laju pertumbuhan Produk

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI PAPUA BARAT TAHUN 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI PAPUA BARAT TAHUN 2013 No. 09/02/91/Th. VIII, 05 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI PAPUA BARAT TAHUN 2013 Ekonomi Papua Barat tahun 2013 yang diukur dari kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) meningkat sebesar 9,30

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. keberlanjutan pembangunan dari masyarakat agraris menjadi masayarakat industri.

I. PENDAHULUAN. keberlanjutan pembangunan dari masyarakat agraris menjadi masayarakat industri. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada hakekatnya pembangunan ekonomi mempunyai empat dimensi pokok yaitu pertumbuhan, penanggulangan kemiskinan, perubahan atau transformasi ekonomi dan keberlanjutan pembangunan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM KABUPATEN TULUNGAGUNG

IV. GAMBARAN UMUM KABUPATEN TULUNGAGUNG IV. GAMBARAN UMUM KABUPATEN TULUNGAGUNG 4.1. Indikator Kependudukan Kependudukan merupakan suatu permasalahan yang harus diperhatikan dalam proses pembangunan yang mencakup antara lain mengenai distribusi,

Lebih terperinci

Pemerintah Kabupaten Bantul. Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Akhir TA 2007 Kabupaten Bantul

Pemerintah Kabupaten Bantul. Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Akhir TA 2007 Kabupaten Bantul Sumber: BPS Kabupaten Bantul. 5,93% 6,67% 18,53% 13,28% PDRB Tahun 2003 Kabupaten Bantul 8,16% 0,77% 25,15% 20,33% 1,18% 1. Pertanian 2. Pertambangan dan Penggalian 3. Industri Pengolahan 4. Listrik,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membentuk kerja sama antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk

BAB I PENDAHULUAN. membentuk kerja sama antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan ekonomi daerah merupakan suatu proses dimana pemerintah daerah dam masyarakatnya mengelola sumber daya yang ada dan membentuk kerja sama antara pemerintah

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2008

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2008 BPS PROVINSI DKI JAKARTA No. 31/08/31/Th. X, 14 Agustus 2008 PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2008 Secara total, perekonomian DKI Jakarta pada triwulan II tahun 2008 yang diukur berdasarkan

Lebih terperinci

ANALISIS SEKTOR UNGGULAN DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN KEEROM TAHUN Chrisnoxal Paulus Rahanra 1

ANALISIS SEKTOR UNGGULAN DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN KEEROM TAHUN Chrisnoxal Paulus Rahanra 1 ANALISIS SEKTOR UNGGULAN DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN KEEROM TAHUN 2003 2013 Chrisnoxal Paulus Rahanra 1 c_rahanra@yahoo.com P. N. Patinggi 2 Charley M. Bisai 3 chabisay@yahoo.com Abstrak

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI ASAHAN TAHUN 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI ASAHAN TAHUN 2013 BPS KABUPATEN ASAHAN No. 01/05/1208/Th. XVII, 26 Mei 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI ASAHAN TAHUN 2013 Pertumbuhan Ekonomi Asahan Tahun 2013 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas

Lebih terperinci

BPS KABUPATEN TAPANULI TENGAH PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN TAPANULI TENGAH TAHUN 2013

BPS KABUPATEN TAPANULI TENGAH PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN TAPANULI TENGAH TAHUN 2013 BPS KABUPATEN TAPANULI TENGAH No. 1/8/124/Th. XIII, 25 Agustus 214 PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN TAPANULI TENGAH TAHUN 213 Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Tapanuli Tengah tahun 213 sebesar 6,85 persen mengalami

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA SEKTOR PERTANIAN DALAM PEREKONOMIAN WILAYAH DI KOTA BANJAR ABSTRAK

ANALISIS KINERJA SEKTOR PERTANIAN DALAM PEREKONOMIAN WILAYAH DI KOTA BANJAR ABSTRAK ANALISIS KINERJA SEKTOR PERTANIAN DALAM PEREKONOMIAN WILAYAH DI KOTA BANJAR Oleh: Riska Novitasari 1, Dedi Herdiansah S 2, Cecep Pardani 3 1,3 Fakultas Pertanian Universitas Galuh 2 Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. sebuah penelitian. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Struktur

III. METODOLOGI PENELITIAN. sebuah penelitian. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Struktur III. METODOLOGI PENELITIAN A. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel merupakan suatu objek yang diteliti atau menjadi fokus perhatian dalam sebuah penelitian. Variabel yang digunakan dalam

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK DAN POTENSI EKONOMI DAERAH Oleh: Dr. H. Ardito Bhinadi, M.Si

KARAKTERISTIK DAN POTENSI EKONOMI DAERAH Oleh: Dr. H. Ardito Bhinadi, M.Si KARAKTERISTIK DAN POTENSI EKONOMI DAERAH Oleh: Dr. H. Ardito Bhinadi, M.Si A. Analisis Shift-Share Untuk mengetahui tingkat perkembangan perekonomian wilayah digunakan metode shift share. Peubah utama

Lebih terperinci