DATA DAN INFORMASI PEKERJA USIA MUDA AGUSTUS 2013

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DATA DAN INFORMASI PEKERJA USIA MUDA AGUSTUS 2013"

Transkripsi

1 DATA DAN INFORMASI PEKERJA USIA MUDA AGUSTUS 2013 PUSAT DATA DAN INFORMASI KETENAGAKERJAAN Badan Penelitian, Pengembangan dan Informasi Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 2014

2

3 TIM PENYUSUN Pembina Dr. Ir. Sugiarto Sumas, M.T Pengarah Edi Purnama S.H, M.M Penanggung Jawab Dra. Liliek Farayismaya Winarnie Penulis Suzie Susanty, S.P, M.Si Karisma Ayu Rahmawati, S.Kom Pengolah Data Taofik Hidayat, S.Si Karisma Ayu Rahmawati, S.Kom Ervina Samosir, S.Kom

4

5 KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan ketenagakerjaan membutuhkan perencanaan yang baik berdasarkan data dan informasi ketenagakerjaan yang tepat, akurat dan berkualitas, sehingga dapat menggambarkan kondisi yang sesungguhnya. Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan merupakan salah satu unit kerja Eselon II pada Badan Penelitian dan Informasi, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang mempunyai tugas dan fungsi untuk merumuskan kebijakan dan program, menyusun, mengolah, menganalisis, serta menyajikan data dan informasi di bidang ketenagakerjaan. Dalam rangka melaksanakan amanah tersebut diatas, pada tahun 2014 dilakukan kegiatan penyusunan buku Data dan Informasi Pekerja Usia Muda. Buku ini menyajikan data dan informasi pekerja usia muda yang terdiri atas penduduk yang bekerja, penduduk usia muda yang bekerja dan pekerja usia muda dengan berbagai karakteristik data pada tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota. Adapun sumber data dan informasi yang disajikan berdasarkan Data Sakernas Agustus 2013 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Kami berharap semoga Buku Data dan Informasi Pekerja Usia Muda ini dapat menjadi bahan masukan dalam penelaahan kondisi ketenagakerjaan Indonesia. Jakarta, Juli 2014 Kepala Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan Edi Purnama, S.H, M,M NIP i

6

7 SAMBUTAN Pekerja usia muda adalah tenaga kerja yang secara fisik memiliki kemampuan maksimal dalam menjalankan pekerjaannya. Mereka merupakan sumberdaya potensial dengan tingkat produktivitas tinggi dan merupakan aset bangsa sebagai tulang punggung dalam kegiatan perekonomian. Tenaga kerja ini memiliki kepercayaan diri tinggi serta penuh kreatifitas menjalankan tugas pekerjaannya. Cara berpikirnya juga berbeda dengan cara berpikir tenaga kerja berusia di atas mereka, namun dari sisi pengalaman masih sangat terbatas dan memerlukan pembinaan. Akan tetapi sangat disayangkan kondisi tenaga kerja Indonesia saat ini belum sepenuhnya dapat menunjang pertumbuhan perekonomian secara kualitas, karena komposisi tenaga kerja Indonesia masih didominasi oleh pekerja berpendidikan rendah (SMP ke bawah). Akibatnya, situasi ini akan menimbulkan dampak negatif terhadap produktivitas tenaga kerja di Indonesia, dimana masih ada pekerja yang bekerja kurang dari 15 jam per minggu. Masalah-masalah seperti ini menjadi sorotan utama masyarakat yang dalam penyelesaiannya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga harus mengikut sertakan pihak swasta. Dalam mencari solusi untuk mengurai permasalahan ini secara detail diperlukan data dan informasi yang lengkap serta akurat, sehingga nantinya dapat dikeluarkan kebijakan-kebijakan teknis dengan tujuan mencapai pembangunan ketenagakerjaan yang berkualitas. Sebagai salah satu bagian dalam pemerintahan serta dalam rangka mewujudkan salah satu komitmennya sebagai penyedia data dan informasi ketenagakerjaan yang akurat, lengkap dan terkini, Badan Penelitian, Pengembangan dan Informasi (Balitfo) melalui Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan melakukan berbagai upaya dalam melengkapi data iii

8 ketenagakerjaan dari berbagai sumber secara berkesinambungan untuk dapat dimanfaatkan dalam menetapkan kebijakan-kebijakan ketenagakerjaan. Kami menyambut baik atas tersusunnya buku Data dan Informasi Pekerja Usia Muda di tingkat nasional, provinsi, maupun kabupaten/kota sampai bulan Agustus 2013, diiringi ucapan terima kasih kami kepada jajaran Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan, Badan Penelitian Pengembangan, dan Informasi, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, khususya kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan buku ini. Semoga data dan informasi yang disajikan dalam buku ini bermanfaat bagi para pemangku kepentingan ketenagakerjaan dalam menyusun kebijakan ketenagakerjaan. Jakarta, Juli 2014 Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Informasi, Dr. Ir. Sugiarto Sumas, M.T NIP iv

9 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i SAMBUTAN... iii DAFTAR ISI... v DAFTAR GRAFIK... vi DAFTAR TABEL... vi DAFTAR LAMPIRAN... vii BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Dasar Hukum... 2 C. Tujuan... 3 D. Ruang Lingkup... 3 E. Metodologi... 4 F. Definisi Operasional... 4 BAB II GAMBARAN UMUM PEKERJA USIA MUDA A. Penduduk Yang Bekerja B. Penduduk Usia Muda Yang Bekerja C. Pekerja Usia Muda D. Sandingan Data Pekerja Usia Muda Tahun 2012 dan BAB III PENUTUP LAMPIRAN v

10 DAFTAR GRAFIK Grafik 1. Penduduk yang Bekerja di Indonesia Menurut Status Pekerjaan Utama Grafik 2. Pekerja Usia Muda Menurut Status Pekerjaan Utama Grafik 3. Pekerja Usia Muda Menurut Status Bekerja dan Jenis Kelamin Grafik 4. Pekerja Usia Muda Menurut Golongan Umur Grafik 5. Pekerja Usia Muda Menurut Jenis Kelamin Grafik 6. Pekerja Usia Muda Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Grafik 7. Pekerja Usia Muda Menurut Lapangan Pekerjaan Utama Grafik 8. Pekerja Usia Muda Menurut Jenis Pekerjaan Utama Grafik 9. Pekerja Usia Muda Menurut Sektor Formal - Informal Grafik 10. Pekerja Usia Muda Menurut Jam Kerja dan Jenis Kelamin Grafik 11. Pekerja Usia Muda Menurut Daerah Grafik 12. Pekerja Usia Muda Menurut Kategori Upah DAFTAR TABEL Tabel 1. Pekerja Usia Muda Menurut Status Bekerja Tabel 2. Pekerja Usia Muda Menurut Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin Tabel 3. Pekerja Usia Muda Menurut Status Bekerja Tabel 4. Pekerja Usia Muda Menurut Golongan Umur Tabel 5. Pekerja Usia Muda Menurut Pendidikan dan Jenis Kelamin Tabel 7. Pekerja Usia Muda Menurut Jenis Pekerjaan Utama Tabel 8. Pekerja Usia Muda Menurut Sektor Formal/Informal Tabel 9. Pekerja Usia Muda Menurut Daerah Tabel 10. Pekerja Usia Muda Menurut Kategori Upah vi

11 DAFTAR LAMPIRAN NASIONAL Tabel 1.1 Penduduk yang Bekerja di Indonesia Tabel 2.1 Penduduk Usia Muda yang Bekerja Menurut Provinsi dan Status Pekerjaan Utama Tabel 3.1 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Provinsi, Status Bekerja dan Jenis Kelamin Tabel 4.1 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Provinsi, Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin Tabel 5.1 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Provinsi, Golongan Umur dan Jenis Kelamin Tabel 6.1 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Provinsi dan Pendidikan Tabel 7.1 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Provinsi dan Lapangan Pekerjaan Utama Tabel 8.1 Pekerja Usia Muda diindonesia Menurut Provinsi dan Jenis Pekerjaan Utama Tabel 9.1 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Provinsi, Sektor Formal / Informal dan Jenis Kelamin Tabel 10.1 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Provinsi, Jam Kerja dan Jenis Kelamin Tabel 11.1 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Provinsi, Daerah dan Jenis Kelamin Tabel 12.1 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Provinsi, Kategori Upah dan Jenis Kelamin Tabel 13.1 Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda diindonesia Menurut Provinsi, Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin Tabel 13.2 Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Status Bekerja, Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin Tabel 13.3 Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Golongan Umur,Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin Tabel 13.4 Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Pendidikan,Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin Tabel 13.5 Rata Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Lapangan Pekerjaan Utama, Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin Tabel 13.6 Rata Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Jenis Pekerjaan Utama, Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin Tabel Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Sektor Formal Informal, Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin Tabel 13.8 Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Daerah, Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin Tabel 13.9 Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Jam Kerja, Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin vii

12 Tabel Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Provinsi, Status Pekerjaan Utama dan Jam Kerja Tabel Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Status Bekerja, Status Pekerjaan Utama dan Jam Kerja Tabel Rata Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Golongan Umur, Status Pekerjaan Utama dan Jam Kerja Tabel Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Pendidikan, Status Pekerjaan Utama dan Jam Kerja Tabel13.14 Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Lapangan Pekerjaan Utama, Status Pekerjaan Utama dan Jam Kerja Tabel Rata Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Jenis Pekerjaan Utama, Status Pekerjaan Utama dan Jam Kerja Tabel Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Sektor Formal-Informal, Status Pekerjaan Utama dan Jam Kerja Tabel Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Jenis Kelamin, Status Pekerjaan Utama dan Jam Kerja Tabel Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Daerah, Status Pekerjaan Utama dan Jam Kerja Tabel Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Provinsi, Status Pekerjaan Utama dan Sektor Formal-Informal Tabel Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda diindonesia Menurut Status Bekerja, Status Pekerjaan Utama dan Sektor Formal - Informal Tabel Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Golongan Umur, Status Pekerjaan Utama dan Sektor Formal-Informal Tabel Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Pendidikan, Status Pekerjaan Utama dan Sektor Formal-Informal Tabel Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Lapangan Pekerjaan Utama, Status Pekerjaan Utama dan Sektor Formal-Informal Tabel Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Jenis Pekerjaan Utama, Status Pekerjaan Utama dan Sektor Formal-Informal Tabel Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Jam Kerja, Status Pekerjaan Utama dan Sektor Formal-Informal Tabel Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Jenis Kelamin, Status Pekerjaan Utama dan Sektor Formal-Informal Tabel Rata-Rata Upah (Rupiah) Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Daerah, Status Pekerjaan Utama dan Sektor Formal-Informal Tabel 14.1 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Status Bekerja, Daerah dan Jenis Kelamin Tabel 15.2 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Golongan Umur, Sektor Formal-Informal dan Jenis Kelamin Tabel 15.3 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Golongan Umur, Daerah dan Jenis Kelamin Tabel 16.1 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Pendidikan, Status Bekerja dan Jenis Kelamin Tabel 16.2 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Pendidikan, Golongan Umur dan Jenis Kelamin viii

13 Tabel 16.3 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Pendidikan, Sektor Formal- Informaldan Jenis Kelamin Tabel 17.1 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Jenis Pekerjaan Utama, Status Bekerja dan Jenis Kelamin Tabel 17.2 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Jenis Pekerjaan Utama dan Pendidikan Tabel 17.3 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Jenis Pekerjaan Utama dan Lapangan Pekerjaan Utama Tabel 17.4 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Jenis Pekerjaan Utama, Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin Tabel 17.5 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Jenis Pekerjaan Utama, Sektor Formal-Informal dan Jenis Kelamin Tabel 17.6 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Jenis Pekerjaan Utama, Daerah dan Jenis Kelamin Tabel 18.1 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Lapangan Pekerjaan Utama, Status Bekerja dan Jenis Kelamin Tabel 18.2 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Lapangan Pekerjaan Utama dan Pendidikan Tabel 18.3 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Lapangan Pekerjaan Utama, Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin Tabel 18.4 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Lapangan Pekerjaan Utama, Sektor Formal - Informal dan Jenis Kelamin Tabel 18.5 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Lapangan Pekerjaan Utama, Daerah dan Jenis Kelamin Tabel 19.1 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Status Pekerjaan Utama, Status Bekerja dan Jenis Kelamin Tabel 19.2 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Status Pekerjaan Utama, Sektor Formal-Informal dan Jenis Kelamin Tabel 19.3 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Status Pekerjaan Utama, Daerah dan Jenis Kelamin Tabel 20.1 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Sektor Formal-Informal, Status Bekerja dan Jenis Kelamin Tabel 21.1 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Kategori Upah, Status Bekerja dan Jenis Kelamin Tabel 21.2 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Kategori Upah, Golongan Umur dan Jenis Kelamin Tabel 21.3 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Kategori Upah dan Pendidikan Tabel 21.4 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Kategori Upah, Sektor Formal- Informal dan Jenis Kelamin Tabel 21.5 Pekerja Usia Muda di Indonesia Menurut Kategori Upah, Daerah dan Jenis Kelamin ix

14 PROVINSI 1. Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua x

15 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berdasarkan hasil Sensus Penduduk Tahun 2010 jumlah penduduk Indonesia adalah 237,6 juta orang, terdiri atas 119,6 juta orang laki-laki dan 118,0 juta orang perempuan. Pada tahun 2013 diperkirakan jumlah penduduk Indonesia meningkat menjadi 250 juta jiwa, dimana sebagian besar penduduk hidup di daerah pedesaan. Indonesia memiliki 4 (empat) ciri-ciri umum kependudukan, yaitu : 1. penduduk yang semakin bertambah. Kondisi ini sebenarnya bukan merupakan penghambat bagi jalannya pembangunan ekonomi jika penduduk menghasilan suatu produksi. 2. Sebagian besar penduduk berusia muda, yaitu kondisi dimana golongan penduduk usia muda lebih besar proporsinya dari pada golongan penduduk usia dewasa. Keadaan penduduk seperti ini disebut sebagai penduduk yang berciri expansive. 3. Persebaran penduduk tidak merata pada setiap pulau, akibat adanya tingkat upah yang lebih menarik di kota (sektor industri) dari pada tingkat upah di desa (sektor pertanian). 4. Sebagian besar penduduk berkerja di sektor pertanian. Kondisi ini disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan pengetahuan penduduk, sehingga jumlah tenaga kerja yang terdidik dan terlatih untuk bekerja pada sektor industri masih rendah. Pada saat ini negara kita sangat membutuhkan generasi penerus yang terampil, berkualitas, mandiri dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai salah satu sumber daya dalam pembangunan Indonesia. Bila dilihat dari kondisi ketenagakerjaan di Indonesia, berdasarkan data Survey Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik bulan Agustus 2013, dapat diketahui bahwa jumlah penduduk Indonesia yang bekerja adalah sebanyak orang, dimana didalammya terdapat pekerja usia muda dengan rentang usia antara 15 sampai 1

16 dengan 24 tahun sebanyak orang atau (14,58%). Kondisi ini cukup memprihatinkan karena penduduk usia muda yang seharusnya masih berada pada bangku pendidikan terpaksa putus sekolah dan sudah harus mencari nafkah sendiri demi memenuhi kebutuhan hidupnya atau keluarganya yang sebagian besar dengan bekerja sebagai buruh. Dalam rangka mengatasi pertumbuhan penduduk Indonesia yang semakin bertambah dari tahun ke tahun, pemerintah harus menetapkan kebijakan-kebijakan yang dapat mengendalikan jumlah pertumbuhan penduduk serta permasalahan yang ditimbulkannya. Salah satu kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dalam bidang ketenagakerjaan adalah memperluas kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan, serta perluasan peluang kerja. Dalam perencanaan pembangunan, data ketenagakerjaan memegang peranan penting, karena tanpa tenaga kerja proses pembangunan tidak mungkin dapat terlaksana. Salah satu data dan informasi yang diperlukan saat ini adalah data pekerja usia muda. Tersedianya data dan informasi ketenagakerjaaan yang lengkap dan akurat, akan memicu perencanaan pembangunan yang tepat sasaran. Untuk mencapai salah satu tujuan pembangunan tersebut diatas, Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan sesuai dengan tugas dan fungsinya, pada tahun 2014 menyusun Data dan Informasi Pekerja Usia Muda. B. Dasar Hukum Landasan hukum Penyusunan Data dan Informasi Pekerja Usia Muda adalah : 1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. 2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Memperoleh Informasi Ketenagakerjaan, Penyusunan dan Pelaksanaan Perencanaan Tenaga Kerja. 3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I Nomor PER.01/MEN/I/2009 Tentang Pedoman Penggunaan Metoda Statistika Ketenagakerjaan. 4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I Nomor PER.03/MEN/II/2009 Tentang Pendoman Penyajian Informasi Ketenagakerjaan. 2

17 5. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I Nomor 2 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.12/MEN/VIII/2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I. 6. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 1 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP/MEN/XII/2008 tentang Klasifikasi dan Karakteristik Data Dari Jenis Informasi Ketenagakerjaan. 7. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan, Badan Penelitian, Pengembangan dan Informasi Tahun Anggaran 2014 No. DIPA /2014 Tanggal 5 Desember Tahun C. Tujuan Tujuan Penyusunan Data dan Informasi Pekerja Usia Muda adalah untuk mengolah data hasil Sakernas bulan Agustus 2013, mengidentifikasi jenis data yang terkait dengan Pekerja Usia Muda, menyajikan data dan informasi pekerja usia muda menurut klasifikasi dan karakteristiknya. D. Ruang Lingkup Data dan informasi Pekerja Usia Muda meliputi berbagai klasifikasi dan karakteristik data dari jenis informasi di tingkat nasional dan provinsi, yaitu: Jenis Kelamin. Golongan Umur. Pendidikan. Lapangan Pekerjaan Utama. Jenis Pekerjaan/Jabatan. Status Pekerjaan. Upah yang diterima. Perkotaan-Perdesaan. 3

18 E. Metodologi Pengolahan data dilakukan dengan tahapan : 1. Mengidentifikasi variabel yang ada dalam row data Sakernas Agustus 2013 dan menentukan variabel yang akan diolah. 2. Menyusun rancangan tabel silang antar variabel. 3. Mengolah row data dengan program aplikasi pengolah data statistik. 4. Melakukan analisis data dalam bentuk narasi, yaitu dengan memberikan gambaran umum tentang kondisi pekerja usia muda edisi Agustus tahun F. Definisi Operasional 1. Penduduk Usia Kerja Adalah penduduk berumur 15 tahun dan lebih. 2. Penduduk yang termasuk angkatan kerja Adalah penduduk usia kerja (15 tahun dan lebih) yang bekerja, atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan pengangguran. 3. Penduduk yang termasuk bukan angkatan kerja Adalah penduduk usia kerja (15 tahun dan lebih) yang masih sekolah, mengurus rumah tangga atau melaksanakan kegiatan lainnya. 4. Bekerja Adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan, paling sedikit 1 (satu) jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. Kegiatan tersebut termasuk pula kegiatan pekerja tidak dibayar yang membantu dalam suatu usaha/kegiatan ekonomi. 5. Punya pekerjaan tetapi sedang tidak bekerja Adalah keadaan dari seseorang yang mempunyai pekerjaan tetapi selama seminggu yang lalu tidak bekerja karena berbagai sebab, seperti : sakit, cuti, menunggu panenan, mogok dan sebagainya. 4

19 6. Penganggur Terbuka, terdiri dari : a. Mereka yang tidak punya pekerjaan dan mencari pekerjaan. b. Mereka yang tidak punya pekerjaan dan mempersiapkan usaha. c. Mereka yang tidak punya pekerjaan dan tidak mencari pekerjaan, karena tidak mungkin mendapat pekerjaan. d. Mereka yang sudah punya pekerjaan, tetapi belum mulai bekerja. (lihat pada An ILO Manual on Concepts and Methods). 7. Setengah Penganggur Adalah mereka yang bekerja dibawah jam kerja normal (kurang dari 35 Jam seminggu), terdiri atas : a. Setengah penganggur terpaksa adalah mereka yang bekerja jam kerja normal (kurang dari 35 jam seminggu), dan masih mencari pekerjan atau masih bersedia menerima pekerjaan. b. Setengah penganggur sukarela adalah mereka yang bekerja dibawah jam kerja normal (kurang dari 35 jam seminggu), dan masih mencari pekerjaan atau tidak bersedia menerima pekerjaan lain (sebagian pihak menyebutkan sebagai pekerja paruh waktu/part time worker). 8. Sekolah Adalah kegiatan seseorang untuk bersekolah disekolah formal, mulai dari pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi selama seminggu yang lalu sebelum pencacahan. Termasuk pula kegiatan dari mereka yang sedang libur sekolah. 9. Mengurus Rumah Tangga Adalah kegiatan seseorang yang mengurus rumah tangga tanpa mendapatkan upah, misalnya : ibu-ibu rumah tangga dan anaknya yang membantu mengurus rumah tangga. Sebaliknya pembantu rumah tangga yang mendapatkan upah walaupun pekerjaannya mengurus rumah tangga dianggap bekerja. 10. Kegiatan Lainnya Adalah kegiatan seseorang selain disebut diatas, yakni mereka yang sudah 5

20 pensiun, orang-orang yang cacat jasmani (buta, bisu dan sebagainya) yang tidak melakukan sesuatu pekerjaan seminggu yang lalu. 11. Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Adalah tingkat pendidikan yang dicapai seseorang setelah mengikuti pelajaran pada kelas tertinggi suatu tingkatan sekolah dengan mendapatkan tanda tamat atau ijazah. 12. Jam Kerja Seluruh Pekerjaan Adalah jumlah jam kerja yang dilakukan seseorang (tidak termasuk jam kerja istirahat resmi dan jam kerja yang digunakan untuk hal-hal diluar pekerjan) selama seminggu yang lalu. Bagi pedangang keliling, jumlah jam kerja dihitung mulai berangkat dari rumah sampai tiba kembali dirumah dikurangi waktu yang tidak merupakan jam kerja, seperti mampir kerumah famili/kawan dan sebagainya. 13. Lapangan Pekerjaan Utama Adalah bidang kegiatan dari pekerjaan/usaha/perusahaan/kantor tempat seseorang bekerja. 14. Jenis Pekerjaan/Jabatan Adalah macam pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang/atau ditugaskan kepada seseorang yang sedang bekerja atau yang sementara tidak bekerja. Jenis pekerjaan pada publikasi ini didasarkan atas Klasifikasi Baku Jenis Pekerjaan Indonesia, (KBJI) 2002 yang mengacu pada ISCO Upah/Gaji Bersih Adalah imbalan yang diterima selama sebulan oleh buruh/karyawan berupa uang atau barang yang dibayarkan perusahaan/kantor/majikan. Imbalan dalam bentuk barang dinilai dengan harga setempat. Upah gaji bersih yang dimaksud adalah setelah dikurangi dengan dengan potongan-potongan iuran wajib, pajak penghasilan dan sebagainya. 16. Status Pekerjaan Adalah jenis kedudukan seseorang dalam melakukan pekerjaan di suatu unit 6

21 usaha/kegiatan. Mulai tahun 2001 jenis pekerjaan dibedakan menjadi 7 kategori yaitu : a. Berusaha sendiri, adalah bekerja atau berusaha dengan menanggung resiko secara ekonomis, yaitu dengan tidak kembalinya ongkos produksi yang telah dikeluarkan dalam rangka usahanya tersebut, serta tidak menggunakan pekerja dibayar maupun pekerja tak dibayar, termasuk yang sifat pekerjaannya memerlukan teknologi atau keahlian khusus. b. Berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tak dibayar, adalah bekerja atau berusaha atas resiko sendiri, dan menggunakan buruh/pekerja tak dibayar ataau buruh/pekerja tidak tetap. c. Berusaha dibantu buruh tetap/buruh dibayar, adalah berusaha atas resiko sendiri dan mempekerjakan paling sedikit satu orang buruh atau pekerja tetap yang di bayar. d. Buruh karyawan atau pegawai, adalah seseorang yang bekerja pada orang lain atau instansi/kantor/perusahaan secara tetap dengan menerima upah/gaji baik berupa uang maupun barang. Buruh yang tidak mempunyai majikan tetap, tidak di golongkan sebagai buruh/karyawan,tetapi sebagai pekerja bebas. Seseorang dianggap memiliki majikan tetap jika memiliki 1 (satu) majikan (orang/rumah tangga) yang sama dalam sebulan terakhir, khusus pada sektor bangunan batasnya tiga bulan. Apabila majikannya instansi/lembaga, boleh lebih dari satu. e. Pekerja bebas di pertanian, adalah seseorang yang bekerja pada orang lain/majikan/institusi yang tidak tetap (lebih dari 1 majikan dalam sebulan terakhir) di usaha pertanian bai berupa usaha rumah tangga maupun bukan usaha rumah tangga atas dasar balas jasa dengan menerima upah atau imbalan baik berupa uang maupun barang, dan baik dengan sistem pembayaran baik dengan sistem pembayaran harian maupun borongan. Usaha pertanian meliputi : pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan dan pemburuan, termasuk juga jasa pertanian. f. Pekerja bebas di non pertanian adalah seseorang yang bekerja pada orang lain/majikan/institusi yang tidak tetap (lebih dari 1 majikan dalam 7

22 sebulan terakhir), di usaha non pertanian dengan menerima upah atau imbalan baik berupa uang maupun barang dan baik dengan sistem pembayaran harian maupun borongan. Usaha non pertanian meliputi : usah di sektor pertambangan, industri, listrik, gas dan air, sektor konstruksi/bangunan, sektor perdagangan, sektor angkutan, pergudangan dan komunikasi, sektor keuangan, asuransi, usaha persewaan bangunan, tanah dan jasa perusahaan sektor jasa kemasyarakatan, sosial perorangan. Huruf e dan f yang dikembangkan mulai pada publikasi 2001, pada tahun 2000 dan sebelumnya dikategorikan pada huruf d dan a (huruf e termasuk dalam d dan huruf f termasuk dalam a). g. Pekerja tak dibayar adalah seseorang yang bekerja membantu orang lain yang berusaha dengan tidak mendapat upah/gaji, baik berupa uang maupun barang. 17. Majikan Adalah orang atau pihak yang memberikan pekerjaan dengan pembayaran yang di sepakati. 18. Kegiatan Informal Merujuk pada kegiatan ekonomi yang pada umumnya bersifat tradisional, tidak mempunyai struktur organisasi yang jelas, tidak mempunyai pembukuan, dan tidak mempunyai ikatan yang jelas antara pemilik (majikan) dan Pekerja (buruh). Dalam publikasi ini, pendekatan batasan kegiatan informal dirumuskan dari kombinasi antara jenis pekerjaan utama dan status pekerjaan. 19. Data Adalah informasi yang berupa angka tentang karakteristik atau ciri-ciri khusus suatu populasi. 20. Informasi Ketenagakerjaan Adalah gabungan, rangkaian dan analisis data yang berbentuk angka yang telah diolah, naskah dan dokumen yang mempunyai arti, nilai dan makna tertentu mengenai ketenagakerjaan. 8

23 21. Klasifikasi Data Ketenagakerjaan Adalah pengelompokan data secara sistematis ke dalam golongan pokok, golongan, sub golongan dan kelompok berdasarkan substansi ketenagakerjaan sehingga terdefinisikan dengan jelas. 22. Karakteristik Data Ketenagakerjaan Adalah ciri-ciri khusus yang melekat pada data ketenagakerjaan menurut substansinya. 23. Pekerja Usia Muda Adalah tenaga kerja yang secara pisik dan psikis memiliki kemampuan maksimal dalam menjalankan pekerjaannya yang berusia antara 15 sampai 24 tahun yang telah lepas dari pendidikan dan memiliki kesehatan jasmani dan rohani yang baik. 9

24

25 BAB II GAMBARAN UMUM PEKERJA USIA MUDA A. Penduduk Yang Bekerja penduduk Indonesia yang bekerja sampai dengan bulan Agustus 2013 adalah sebanyak orang. Berdasarkan katagori umur, penduduk yang bekerja dikelompokkan menjadi 2 (dua) yaitu : (1) Usia Muda, yaitu penduduk usia kerja berumur 15 sampai dengan 24 tahun, bekerja secara mandiri dan atau kelompok, baik yang dibantu dan atau membantu orang lain guna menghasilkan barang dan jasa, serta mendapatkan imbalan/keuntungan baik berupa uang maupun barang, dan (2) Dewasa, yaitu penduduk usia kerja berumur 25 tahun ke atas, bekerja secara mandiri dan atau kelompok, baik yang dibantu dan atau membantu orang lain guna menghasilkan barang dan jasa, serta mendapatkan imbalan/keuntungan baik berupa uang maupun barang. Bila dilihat dari status pekerjaan utama, penduduk Indonesia yang bekerja sampai bulan Agustus 2013 dapat dibedakan atas : (1) Pekerja sebesar orang (46,98%) dan (2) Bukan Pekerja sebesar orang (53,02%). Berdasarkan katagori umur, Penduduk Usia Muda yang bekerja sebanyak orang (14,58%), terdiri atas : (1) Pekerja orang (60,53%) dan (2) Bukan Pekerja orang (39,47%), sedangkan Penduduk Dewasa yang bekerja sebanyak orang (85,42%), terdiri atas : (1) Pekerja orang (44,67%) dan (2) Bukan Pekerja orang (55,33%). (Tabel 1.1) 11

26 Grafik 1. Penduduk yang Bekerja di Indonesia Menurut Status Pekerjaan Utama Muda (15-24 Tahun) Dewasa ( 25 Tahun) Pekerja Bukan Pekerja Sumber : Survey Angkatan Kerja Nasional, Agustus 2013, diolah Pusdatinaker B. Penduduk Usia Muda Yang Bekerja Berdasarkan klasifikasi penduduk bekerja seperti yang telah disebutkan diatas, dapat dijelaskan bahwa Penduduk Usia Muda adalah penduduk usia kerja yang berumur 15 sampai dengan 24 tahun. Penduduk Usia Muda yang bekerja dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu: (1) Pekerja dan (2) Bukan Pekerja. Dari total penduduk usia muda yang bekerja sebanyak orang, jumlah Penduduk usia Muda yang bekerja adalah sebanyak orang (60,53%), dimana jumlah tertinggi terdapat di Provinsi Jawa Barat yakni sebanyak orang (21,81%) dan jumlah terendah di Provinsi Papua Barat yaitu sebanyak orang (0,16%). Sedangkan jumlah Penduduk Usia Muda bukan pekerja sebanyak orang (39,47%), dimana jumlah tertinggi terdapat di Provinsi Jawa Timur sebanyak orang (17,06%) dan yang paling rendah terdapat di Provinsi Kepulauan Riau sebanyak orang (0,35%). (Tabel 2.1) C. Pekerja Usia Muda Pekerja Usia Muda berdasarkan Status Pekerjaan Utama dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu : (1) Buruh/karyawan/pegawai yang merupakan 12

27 status pekerjaan dengan jumlah terbesar dibanding Status Pekerjaan Utama lainnya, yaitu sebanyak orang (85,97%), (2) Pekerja bebas dipertanian sebanyak orang (5,13%)dan (3) Pekerja bebas di non pertanian sebanyak orang (8,90%). (Tabel 2.1) Grafik 2. Pekerja Usia Muda Menurut Status Pekerjaan Utama 5,13% 8,90% Buruh/Karyawan/ Pegawai 85,97% Pekerja bebas di pertanian Pekerja bebas di non pertanian Sumber : Survey Angkatan Kerja Nasional, Agustus 2013,diolah Pusdatinaker Bila dilihat dari Status Pekerjaan Utama pada kelompok Buruh/karyawan/pegawai, Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah Pekerja Usia Muda tertinggi yaitu orang (22,00%) dan yang terendah ditemui di Provinsi Papua Barat yaitu orang (0,17%). Pada Status Pekerjaan Utama pada kelompok Pekerja Bebas di Pertanian jumlah pekerja usia muda tertinggi juga terdapat pada Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (17,21%) dan jumlah terendah juga terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu 716 orang (0,00%), sedangkan di Provinsi DKI Jakarta tidak ada Pekerja Usia Muda yang berstatus sebagai pekerja bebas di pertanian. Pada Status Pekerjaan Utama pada kelompok Pekerja Bebas di Non Pertanian jumlah pekerja usia muda tertinggi masih terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (22,65%) dan jumlah terendah juga masih terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu 168 orang (0,02%). Pekerja Usia Muda menurut Status Bekerja, dikelompokkan sebagai berikut : (1) Bekerja Penuh dan (2) Tidak Penuh, terdiri atas : (a) Setengah Penganggur dan (b) 13

28 Paruh Waktu. Pekerja Usia Muda yang bekerja penuh lebih besar jumlahnya daripada yang bekerja tidak penuh, yaitu sebanyak orang (79,42%), terdiri atas lakilaki sebanyak orang dan perempuan sebanyak orang. Pekerja Usia Muda Setengah Penganggur sebanyak orang (10,54%), terdiri atas laki-laki sebanyak orang dan perempuan sebanyak orang. Untuk yang bekerja Paruh Waktu sebanyak orang (10,04%), terdiri atas laki-laki sebanyak orang dan perempuan sebanyak orang. (Tabel 3.1) Grafik 3. Pekerja Usia Muda Menurut Status Bekerja dan Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Bekerja Penuh Setengah Penganggur Paruh Waktu Sumber : Survey Angkatan Kerja Nasional, Agustus 2013, diolah Pusdatinaker tertinggi Pekerja Usia Muda yang Bekerja Penuh terdapat di provinsi Jawa Barat, yaitu orang (22,68%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Barat, yaitu orang (0,17%). tertinggi Pekerja Usia Muda Setengah Penganggur terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (20,55%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu 436 orang (0,04%). tertinggi Pekerja Usia Muda Paruh Waktu terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (16,23%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu 729 (0,07%) orang. 14

29 Pekerja Usia Muda menurut Golongan Umur dikelompokkan sebagai berikut : (1) Pekerja Usia Muda dengan golongan umur tahun sebanyak orang (29,73%) dan (2) Pekerja Usia Muda dengan Golongan Umur tahun sebanyak orang (70,27%). Disini terlihat bahwa Pekerja Usia Muda dengan Golongan Umur tahun lebih besar jumlahnya bila dibandingkan dengan Pekerja Usia Muda dengan Golongan Umur tahun. Grafik 4. Pekerja Usia Muda Menurut Golongan Umur 29,73% 70,27% Tahun Tahun Sumber : Survey Angkatan Kerja Nasional, Agustus 2013,diolah Pusdatinaker tertinggi Pekerja Usia Muda Golongan Umur tahun terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (24,32%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu orang (0,11%). Sedangkan jumlah tertinggi Pekerja Usia Muda Golongan Umur tahun juga terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (20,75%) dan jumlah terendah juga terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu orang (0,17%). (Tabel 5.1) Pekerja Usia Muda menurut Jenis Kelamin, Pekerja Usia Muda yang bekerja dikelompokkan sebagai sebagai berikut : (1) Pekerja Usia Muda Laki-laki sebanyak (59,78%), dan Pekerja Usia Muda Perempuan sebanyak (40,22%). tertinggi penduduk Usia Muda berjenis kelamin laki-laki terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang dan jumlah terendah terdapat di Provinsi 15

30 Papua Barat, yaitu orang. Sedangkan jumlah tertinggi Pekerja Usia Muda berjenis kelamin perempuan juga terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang, dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Maluku Utara, yaitu orang. Grafik 5. Pekerja Usia Muda Menurut Jenis Kelamin Tahun ,22% 59,78% Laki-Laki Perempuan Sumber : Survey Angkatan Kerja Nasional, Agustus 2013,diolah Pusdatinaker Pekerja Usia Muda menurut Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan terdiri atas : (1) Pekerja Usia Muda tidak tamat atau lulusan SD sebanyak orang (21,12%), (2) Pekerja Usia Muda lulusan SLTP sebanyak orang (23,80%), (3) Pekerja Usia Muda lulusan SLTA Umum sebanyak orang (24,53%), (4) Pekerja Usia Muda lulusan SLTA Kejuruan sebanyak orang (22,62%), (5) Pekerja Usia Muda lulusan di D1 D3 sebanyak orang (3,55%) dan (6) Pekerja Usia Muda lulusan Universitas sebanyak orang (4.38%). Grafik 6. Pekerja Usia Muda Menurut Pendidikan Tertinggi yang di Tamatkan 3,55% 4,38% 22,62% 24,53% 21,12% 23,80% SD SLTP SLTA Umum SLTA Kejuruuan DI/DII/DIII Sarjana Sumber : Survey Angkatan Kerja Nasional, Agustus 2013,diolah Pusdatinaker 16

31 tertinggi Pekerja Usia Muda tidak tamat atau lulusan SD terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (24,10%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Papua Barat yaitu orang (0,14%). tertinggi Pekerja Usia Muda lulusan SLTP terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (24,43%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu orang (0,08%). tertinggi Pekerja Usia Muda lulusan SLTA Umum terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (20,15%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu orang (0,28%). tertinggi Pekerja Usia Muda lulusan SLTA Kejuruan terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (20,91%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Maluku, yaitu orang (0,05%). tertinggi Pekerja Usia Muda lulusan D1 D3 terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (15,49%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu 890 orang (0,26%). tertinggi Pekerja Usia Muda lulusan Universitas terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (15,73%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Barat, yaitu 387 orang (0,09%). (Tabel 6.1) Pekerja Usia Muda menurut Lapangan Pekerjaan Utama dikelompokkan sebagai berikut: (1) Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan sebanyak orang (10,23%), (2) Pertambangan dan Penggalian sebanyak orang (2,12%), (3) Industri sebanyak orang (26,37%) yang merupakan Lapangan Pekerjaan Utama yang paling banyak menyerap Pekerja Usia Muda, 4) Listrik, Gas dan Air Minum sebanyak orang (0,44%) yang merupakan Lapangan Pekerjaan Utama yang paling sedikit menyerap Pekerja Usia Muda, (5) Konstruksi sebanyak orang (8,15%), (6) Perdagangan Besar sebanyak orang (24,18%), (7) Angkutan, Pergudangan dan komunikasi sebanyak orang (4,54%), (8) Keuangan, Asuransi, Usaha Persewaan Bangunan, Tanah dan Jasa Perusahaan sebanyak orang (4,89%) dan (9) Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan sebanyak orang (19,07%) (Tabel 7.1) 17

32 Grafik 7. Pekerja Usia Muda Menurut Lapangan Pekerjaan Utama Sumber : Survey Angkatan Kerja Nasional, Agustus 2013,diolah Pusdatinaker Keterangan: 1. Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan 2. Pertambangan dan Penggalian 3. Industri 4. Listrik, Gas dan Air Minum 5. Kontruksi 6. Perdagangan Besar, Eceran,Rumah Makan dan Jasa Akomodasi 7. Angkutan, Pergudangan dan Komunikasi 8. Keuangan, Asuransi, Usaha Persewaan Bangunan, Tanah dan Jasa Perusahaan 9. Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan tertinggi Pekerja Usia Muda dengan Lapangan Pekerjaan Utama Pertanian, Perkebunan, Perburuan dan Perikanan terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (12,20%), dan jumlah terendah terdapat di Provinsi DKI Jakarta, yaitu orang (0,18%). tertinggi Pekerja Usia Muda dengan Lapangan Pekerjaan Utama Pertambangan dan Penggalian terdapat di Provinsi Kalimantan Timur, yaitu orang (11,98%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Bali, yaitu 326 orang (0,16%), sedangkan di Provinsi DI Yogyakarta tidak ada Pekerja Usia Muda yang bekerja pada lapangan pekerjaan ini. tertinggi Pekerja Usia Muda dengan Lapangan Pekerjaan Utama Industri terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (36,40%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Maluku Utara, yaitu

33 orang (0,01%). tertinggi Pekerja Usia Muda dengan Lapangan Pekerjaan Utama Listrik, Gas dan Air Minum terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (22,60%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Maluku Utara, yaitu 13 orang (0,03%), sedangkan di Provinsi Bengkulu, Provinsi Bangka Belitung, Provinsi DI Yogyakarta, Provinsi Sulawesi Barat dan Provinsi Papua tidak ada Pekerja Usia Muda yang bekerja pada lapangan pekerjaan ini. tertinggi Pekerja Usia Muda dengan Lapangan Pekerjaan Utama Konstruksi terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (18,60%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Papua Barat yaitu, 941 orang (0,12%). tertinggi Pekerja Usia Muda dengan Lapangan Pekerjaan Utama Perdagangan Besar, Eceran, Rumah Makan dan Jasa Akomodasi terdapat pada Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (17,66%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Maluku, yaitu orang (0,12%). tertinggi Pekerja Usia Muda dengan Lapangan Pekerjaan Utama Angkutan, Pergudangan dan Komunikasi terdapat di Provinsi Jawa Timur, yaitu orang (14,60%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Barat, yaitu 998 orang (0,22%). tertinggi Pekerja Usia Muda dengan Lapangan Pekerjaan Utama Keuangan, Asuransi, Usaha Persewaan Bangunan, Tanah dan Jasa Perusahaan terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (17,00 %) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Maluku Utara, yaitu 378 orang (0,08%). tertinggi Pekerja Usia Muda dengan Lapangan Pekerjaan Utama Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (18,20%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu orang (0,20%). Pekerja Usia Muda menurut Jenis Pekerjaan Utama dikelompokkan sebagai berikut : (1) Tenaga Profesional, Teknisi dan Yang Sejenis merupakan jenis pekerjaan yang paling kecil menyerap Pekerja Usia Muda, yaitu orang (8,01%), (2) Tenaga Kepemimpinan Ketatalaksanaan sebanyak orang (0,25%), (3) Tenaga Tata Usaha dan Yang Sejenis sebanyak orang (12,04%), (4) Tenaga Usaha Penjualan sebanyak orang (17,11%), (5) Tenaga Usaha Jasa sebanyak orang (7,91%), (6) Tenaga Usaha Pertanian, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan sebanyak orang (9,70%), (7/8/9) Tenaga Produksi, Operator Alat-alat Angkutan dan Pekerja kasar merupakan jenis pekerjaan yang paling besar 19

34 menyerap Pekerja Usia Muda, yaitu orang (44,73%) dan (XX/OO) Lainnya sebanyak orang (0,25%). (Tabel 8.1) Grafik 8. Pekerja Usia Muda Menurut Jenis Pekerjaan Utama 10,41% 2,68% 7,60% 10,75% 15,77% 25,05% 14,13% 13,60% Sumber : Survey Angkatan Kerja Nasional, Agustus 2013,diolah Pusdatinaker Keterangan: 1. Tenaga Profesional, Teknisi dan Yang Sejenis 2. Tenaga Kepemimpinan dan Ketatalaksanaan 3. Tenaga Tata Usaha dan Yang Sejenis 4. Tenaga Usaha Penjualan 5. Tenaga Usaha Jasa 6. Tenaga Usaha Pertanian 7/8/9 Tenaga Produksi, Operator Alat-Alat Angkutan dan Pekerja Kasar XX/00 Lainnya tertinggi Pekerja Usia Muda sebagai Tenaga Profesional, Teknisi dan Yang Sejenis terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (20,53%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu orang (0,22%). tertinggi Pekerja Usia Muda sebagai Tenaga Kepemimpinan dan Ketatalaksanaan terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (46,302%) sedangkan di Provinsi Riau, Provinsi Jambi, Provinsi Bangka Belitung, Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Kalimantan Tengah, Provinsi Gorontalo, Provinsi Sulawesi Barat dan Provinsi Papua Barat tidak ada pekerja 20

35 usia muda yang bekerja sebagai tenaga kepemimpinan dan ketatalaksanaan. tertinggi Pekerja Usia Muda sebagai Tenaga Tata Usaha dan Yang Sejenis terdapat di Provinsi DKI Jakarta, yaitu orang (15,01%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Maluku Utara, yaitu orang (0,27%). tertinggi Pekerja Usia Muda sebagai Tenaga Usaha Penjualan terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (18,65%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Maluku Utara, yaitu orang (0,11%). tertinggi Pekerja Usia Muda sebagai Tenaga Usaha Jasa terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (19,15%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu 378 orang (0,05%). tertinggi Pekerja Usia Muda sebagai Tenaga Usaha Pertanian, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (12,47%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi DKI Jakarta, yaitu 55 orang (0,01%). tertinggi Pekerja Usia Muda sebagai Tenaga Produksi, Operator Alat-alat Angkutan dan Pekerja Kasar terdapat di Provinsi Jawa barat, yaitu orang (27,57%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu orang (0,10%). tertinggi Pekerja Usia Muda pada Jenis Pekerjaan Utama Lainnya terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (11,73%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Maluku Utara, yaitu 30 orang (0,12%), sedangkan Provinsi DKI Jakarta, Provinsi DI Yogyakarta, dan Provinsi Nusa Tenggara Barat tidak ada pekerja usia muda dengan jenis pekerjaan lainnya. Pekerja Usia Muda menurut Sektor Formal/Informal dikelompokkan sebagai berikut : (1) Pekerja Usia Muda yang bekerja pada Sektor Formal, dimana jumlahnya lebih besar, yaitu orang (86,18%) dan (2) Pekerja Usia Muda yang bekerja pada Sektor Informal, jumlahnya lebih kecil, yaitu orang (13,82%).(Tabel 9.1) Pekerja Usia Muda menurut Sektor Formal dengan jenis kelamin laki-laki jumlahnya lebih besar, yaitu orang (56,13%), bila dibandingkan dengan jenis kelamin perempuan yaitu orang (43,87%). Pekerja Usia Muda menurut Sektor Informal juga masih didominasi dengan pekerja usia muda yang berjenis kelamin lakilaki yaitu (82,52%) sedangkan Pekerja Usia Muda dengan jenis kelamin perempuan hanya orang (17,48%). 21

36 Grafik 9. Pekerja Usia Muda Menurut Sektor Formal - Informal Formal Informal Laki-Laki Perempuan Sumber : Survey Angkatan Kerja Nasional, Agustus 2013,diolah Pusdatinaker tertinggi Pekerja Usia Muda menurut Sektor Formal terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (22,04%,) dengan jumlah laki laki sebanyak orang dan perempuan sebanyak orang. Sedangkan jumlah Pekerja Usia Muda menurut Sektor Formal terendah terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu orang (0,17%), dengan jumlah laki-laki orang dan perempuan orang. tertinggi Pekerja Usia Muda menurut Sektor Informal juga terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (20,37%), dengan jumlah laki-laki sebanyak orang dan perempuan sebanyak orang. Sedangkan jumlah Pekerja Usia Muda menurut Sektor Informal yang terendah terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu 884 orang (0,06%), dengan jumlah laki-laki 819 orang dan jumlah perempuan sebanyak 65 orang. Pekerja Usia Muda menurut Jam Kerja dikelompokkan sebagai berikut : (1) 0* jam (sementara tidak bekerja) sebanyak orang (7,10%), dengan jumlah lakilaki orang, perempuan orang (2) 1-34 jam sebanyak orang (21,00%) dengan jumlah laki-laki orang dan perempuan orang, (3) jam sebanyak orang (26,28%) dengan jumlah laki-laki 22

37 sebanyak orang dan perempuan orang, dan (4) > 48 jam sebanyak orang (45,62%) yang merupakan jam kerja tertinggi dalam menyerap jumlah Pekerja Usia Muda Indonesia dengan jumlah laki-laki sebanyak orang dan laki-laki berjumlah orang. (Tabel 10.1) tertinggi Pekerja Usia Muda dengan 0* jam kerja (sementara tidak bekerja) terdapat di Provinsi Jawa Tengah, yaitu orang (23,48%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu 490 orang (0,07%). tertinggi Pekerja Usia Muda dengan jam kerja 1 34 jam juga terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (18,08%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu orang (0,09%). tertinggi Pekerja Usia Muda dengan jam kerja jam masih terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (20,60%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Barat, yaitu orang (0,17%). tertinggi Pekerja Usia Muda dengan jam kerja > 48 jam tetap terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (24,12%) dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Barat, yaitu orang (0,12%). Grafik 10. Pekerja Usia Muda Menurut Jam Kerja dan Jenis Kelamin * Laki - Laki Perempuan Sumber : Survey Angkatan Kerja Nasional, Agustus 2013,diolah Pusdatinaker Pekerja Usia Muda menurut Daerah dikelompokkan sebagai berikut : (1) Perkotaan sebanyak orang (65,32%) dan merupakan daerah yang paling 23

38 banyak menyerap Pekerja Usia Muda dan (2) Pedesaan sebanyak orang (34,68%). tertinggi Pekerja Usia Muda Daerah Perkotaan terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (26,17%), sedangkan jumlah terendah terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu orang (0,12%). Bila Daerah Perkotaan dipilah berdasarkan jenis kelamin, maka untuk jenis kelamin laki-laki jumlah terbesar terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (26,17%) dan jumlah terkecil terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu orang (0,12%). Sedangkan untuk jenis kelamin perempuan jumlah terbesar terdapat di Provinsi Jawa Barat, yaitu orang (26,18%) dan jumlah terkecil terdapat di Provinsi Sulawesi Barat, yaitu orang (0,08%). tertinggi Pekerja Usia Muda Daerah Perdesaan terdapat di Provinsi Jawa Timur, yaitu orang (15,73%), sedangkan dan jumlah terendah terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu orang (0,225). Bila Daerah Pedesaan dipilah berdasarkan jenis kelamin, maka untuk jenis kelamin laki-laki jumlah terbesar terdapat di Provinsi Jawa Timur, yaitu orang (15,46%) dan jumlah terkecil terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu orang (0,18%). Sedangkan untuk jenis kelamin perempuan jumlah terbesar juga terdapat di Provinsi Jawa Timur, yaitu orang (16,29%) dan jumlah terkecil terdapat di Provinsi Papua Barat, yaitu orang (0,29%). (Tabel 11.1) Grafik 11. Pekerja Usia Muda Menurut Daerah 34,68% 65,32% Perkotaan Perdesaan Sumber : Survey Angkatan Kerja Nasional, Agustus 2013,diolah Pusdatinaker 24

39 Pekerja Usia Muda menurut Kategori Upah dikelompokkan sebagai berikut: (1) Upah sebesar < Rp sebanyak orang (2,51%), (2) Upah sebesar Rp sebanyak orang (7,11%), (3) Upah sebesar Rp sebanyak orang (10,06%), (4) Rp. Upah sebesar Rp sebanyak orang (13,21%), (5) Upah sebesar Rp sebanyak orang (12,72%), (6) Upah Rp sebanyak orang (23,43%) dan merupakan kategori upah yang paling banyak diterima oleh Pekerja Usia Muda, (7) Upah sebesar Rp sebanyak orang (14,75%), (8) Upah sebesar Rp sebanyak orang (9,74%) dan (9) Upah lebih besar Rp sebanyak orang (6,48%). (Tabel 12.1) Grafik 12 Pekerja Usia Muda Menurut Kategori Upah Sumber : Survey Angkatan Kerja Nasional, Agustus 2013, diolah Pusdatinaker Keterangan: 1. <

Akhirnya, semoga buku ini bermanfaat bagi semua pihak yang terkait khususnya dalam bidang ketenagakerjaan.

Akhirnya, semoga buku ini bermanfaat bagi semua pihak yang terkait khususnya dalam bidang ketenagakerjaan. KATA PENGANTAR Pada tahun anggaran 2014 salah satu kegiatan Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan adalah Penyusunan Data dan Informasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Data dan Informasi Jaminan Sosial

Lebih terperinci

Tabel Lampiran 1. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi Per Propinsi

Tabel Lampiran 1. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi Per Propinsi Tabel., dan Padi Per No. Padi.552.078.387.80 370.966 33.549 4,84 4,86 2 Sumatera Utara 3.48.782 3.374.838 826.09 807.302 4,39 4,80 3 Sumatera Barat.875.88.893.598 422.582 423.402 44,37 44,72 4 Riau 454.86

Lebih terperinci

Fungsi, Sub Fungsi, Program, Satuan Kerja, dan Kegiatan Anggaran Tahun 2012 Kode. 1 010022 Provinsi : DKI Jakarta 484,909,154

Fungsi, Sub Fungsi, Program, Satuan Kerja, dan Kegiatan Anggaran Tahun 2012 Kode. 1 010022 Provinsi : DKI Jakarta 484,909,154 ALOKASI ANGGARAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PENDIDIKAN YANG DILIMPAHKAN KEPADA GUBERNUR (Alokasi Anggaran Dekonsentrasi Per Menurut Program dan Kegiatan) (ribuan rupiah) 1 010022 : DKI Jakarta 484,909,154

Lebih terperinci

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan 2007 Kerja sama Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan, Departemen Kehutanan dengan Direktorat Statistik Pertanian, Badan Pusat Statistik Jakarta, 2007 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2014 TENTANG RINCIAN TUGAS LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN PROVINSI ACEH, PROVINSI SUMATERA UTARA, PROVINSI RIAU,

Lebih terperinci

Data Dan Informasi PENEMPATAN TENAGA KERJA LUAR NEGERI

Data Dan Informasi PENEMPATAN TENAGA KERJA LUAR NEGERI Data Dan Informasi PENEMPATAN TENAGA KERJA LUAR NEGERI PUSAT DATA DAN INFORMASI KETENAGAKERJAAN Badan Penelitian, Pengembangan dan Informasi Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jakarta, 2014 KATA

Lebih terperinci

BADAN PUSAT STATISTIK

BADAN PUSAT STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK KEBUTUHAN DATA KETENAGAKERJAAN UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN OLEH: RAZALI RITONGA DIREKTUR STATISTIK KEPENDUDUKAN DAN KETENAGAKERJAAN BADAN PUSAT STATISTIK Pokok bahasan Latar Belakang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA MEMPEROLEH INFORMASI KETENAGAKERJAAN DAN PENYUSUNAN SERTA PELAKSANAAN PERENCANAAN TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa sebagai tindak lanjut

Lebih terperinci

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau dan Kabupaten Lingga BAB III KONDISI UMUM 3.1. Geografis Wilayah Kepulauan Riau telah dikenal beberapa abad silam tidak hanya di nusantara tetapi juga

Lebih terperinci

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH 1 SALINAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR 29 TAHUN 2014 T E N T A N G UPAH MINIMUM PROVINSI DAN UPAH MINIMUM SEKTORAL PROVINSI TAHUN 2015 PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Lebih terperinci

IV. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS

IV. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS IV. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS Hasil kajian dan analisis sesuai dengan tujuan dijelaskan sebagai berikut: 1. Profil Koperasi Wanita Secara Nasional Sebagaimana dijelaskan pada metodologi kajian ini maka

Lebih terperinci

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA September 2011 1. Pendahuluan Pulau Kalimantan terkenal

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2015

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2015 BADAN PUSAT STATISTIK No. 5/5/Th.XVIII, 5 Mei 5 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-5 EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-5 TUMBUH,7 PERSEN MELAMBAT DIBANDING TRIWULAN I- Perekonomian Indonesia yang diukur

Lebih terperinci

PENDUDUK LANJUT USIA

PENDUDUK LANJUT USIA PENDUDUK LANJUT USIA Salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk. Dengan semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk, menyebabkan jumlah penduduk

Lebih terperinci

SAMBUTAN DIRJEN PAUDNI

SAMBUTAN DIRJEN PAUDNI i SAMBUTAN DIRJEN PAUDNI Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional yang menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional berperan penting

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

Lebih terperinci

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 SEMESTER I

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 SEMESTER I 1 KATA PENGANTAR Kualitas belanja yang baik merupakan kondisi ideal yang ingin diwujudkan dalam pengelolaan APBD. Untuk mendorong tercapainya tujuan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh penyerapan

Lebih terperinci

MENATA ULANG INDONESIA Menuju Negara Sejahtera

MENATA ULANG INDONESIA Menuju Negara Sejahtera MENATA ULANG INDONESIA Menuju Negara Sejahtera Ironi Sebuah Negara Kaya & Tumbuh Perekonomiannya, namun Kesejahteraan Rakyatnya masih Rendah KONFEDERASI SERIKAT PEKERJA INDONESIA Jl Condet Raya no 9, Al

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18/PRT/M/2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18/PRT/M/2015 TENTANG PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18/PRT/M/2015 TENTANG IURAN EKSPLOITASI DAN PEMELIHARAAN BANGUNAN PENGAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN

Lebih terperinci

KEBUTUHAN DATA DAN INFORMASI UNTUK MENDUKUNG PERENCANAAN SDMK

KEBUTUHAN DATA DAN INFORMASI UNTUK MENDUKUNG PERENCANAAN SDMK KEBUTUHAN DATA DAN INFORMASI UNTUK MENDUKUNG PERENCANAAN SDMK Disajikan Pada : Lokakarya Nasional Pengembangan dan Pemberdayaan SDMK Tahun 2014 Kepala Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan SDMK Kerangka

Lebih terperinci

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - 1 LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 TRIWULAN III KATA PENGANTAR Kualitas belanja yang baik merupakan kondisi ideal yang ingin

Lebih terperinci

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I 1 laporan monitoring realisasi APBD dan dana idle Tahun 2013 Triwulan I RINGKASAN EKSEKUTIF Estimasi realisasi belanja daerah triwulan I Tahun 2013 merupakan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 01 TAHUN 2013 TENTANG PENGENDALIAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR MINYAK

PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 01 TAHUN 2013 TENTANG PENGENDALIAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR MINYAK MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBL.lK INDONESIA PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 01 TAHUN 2013 TENTANG PENGENDALIAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR MINYAK DENGAN

Lebih terperinci

PENATAAN RUANG KAWASAN HUTAN

PENATAAN RUANG KAWASAN HUTAN PENATAAN RUANG KAWASAN HUTAN Dengan telah diterbitkannya undang undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan ruang, maka semua peraturan daerah provinsi tentang rencana tata ruang wilayah provinsi harus

Lebih terperinci

POLICY UPDATE WIKO SAPUTRA

POLICY UPDATE WIKO SAPUTRA POLICY UPDATE Arah dan Strategi Kebijakan Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Balita (AKABA) di Indonesia WIKO SAPUTRA Peneliti Kebijakan Ekonomi dan Publik

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KF.03.01/MENKES/312/2014 TENTANG HARGA DASAR OBAT PROGRAM RUJUK BALIK

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KF.03.01/MENKES/312/2014 TENTANG HARGA DASAR OBAT PROGRAM RUJUK BALIK KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KF.03.01/MENKES/312/2014 TENTANG HARGA DASAR OBAT PROGRAM RUJUK BALIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Pakpak Bharat Tahun 2013 sebanyak 8.056 rumah tangga

Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Pakpak Bharat Tahun 2013 sebanyak 8.056 rumah tangga Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Pakpak Bharat Tahun 2013 sebanyak 8.056 rumah tangga Jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum di Kabupaten Pakpak Bharat Tahun 2013 sebanyak 0 Perusahaan

Lebih terperinci

Indikator Pasar Tenaga Kerja Indonesia Agustus 2012

Indikator Pasar Tenaga Kerja Indonesia Agustus 2012 Indikator Pasar Tenaga Kerja Indonesia Agustus 2012 ISSN. 2088-5679 No. Publikasi: 04120.1207 Katalog BPS: 2302004 Ukuran Buku: 29,5 cm X 21,5 cm Jumlah Halaman: 115 halaman Naskah: Subdirektorat Statistik

Lebih terperinci

Seuntai Kata. Manggar, 16 Agustus 2013 Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Belitung Timur. Zainubi, S.Sos

Seuntai Kata. Manggar, 16 Agustus 2013 Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Belitung Timur. Zainubi, S.Sos Seuntai Kata Sensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) setiap 10 (sepuluh) tahun sekali sejak 1963. Pelaksanaan ST2013 merupakan

Lebih terperinci

Produktivitas Tenaga Kerja Presentation at BAPPENAS Chris Manning and M. Raden Purnagunawan, USAID-SEADI Project Jakarta, June 15, 2012

Produktivitas Tenaga Kerja Presentation at BAPPENAS Chris Manning and M. Raden Purnagunawan, USAID-SEADI Project Jakarta, June 15, 2012 Produktivitas Tenaga Kerja Presentation at BAPPENAS Chris Manning and M. Raden Purnagunawan, USAID-SEADI Project Jakarta, June 15, 2012 PERBEDAAN PRODUKTIVITAS MENURUT SEKTOR Perhitungan produktivitas

Lebih terperinci

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79 No. 17/03/34/Th.XVII, 2 Maret 2015 NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI 1. Nilai Tukar Petani (NTP) Pada Februari 2015, NTP

Lebih terperinci

Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kota Pagar Alam Tahun 2013 sebanyak 17.936 rumah tangga

Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kota Pagar Alam Tahun 2013 sebanyak 17.936 rumah tangga Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kota Pagar Alam Tahun 2013 sebanyak 17.936 rumah tangga Jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum di Kota Pagar Alam Tahun 2013 sebanyak 1 Perusahaan Jumlah perusahaan

Lebih terperinci

Analisis Tingkat Partisipasi Pendidikan Siswa Madrasah

Analisis Tingkat Partisipasi Pendidikan Siswa Madrasah Analisis Tingkat Partisipasi Pendidikan Siswa Madrasah Oleh : Ir Zainal Achmad, M.Si 1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Pendidikan merupakan indikator utama pembangunan dan kualitas SDM suatu bangsa. Salah

Lebih terperinci

BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA

BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA PEMBENTUKAN KANTOR REGIONAT XIII DAN KANTOR REGIONAL XIV NOMOR 20 TAHUN 2014 TANGGAL.. 21 JULI 2OT4 NOMOR 20 TAHUN 20 14 TBNTANG PEMBENTUKAN KANTOR REGIONAL XIII DAN KANTOR REGIONAL XIV DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

KODE ETIK PEMASOK 1. UPAH YANG DI BAYARKAN CUKUP UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN HIDUP

KODE ETIK PEMASOK 1. UPAH YANG DI BAYARKAN CUKUP UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN HIDUP KODE ETIK PEMASOK Peraturan ini memberikan standard minimum yang bilamana mungkin, harus di lampaui oleh pemasok. Dalam penerapannya, para pemasok harus mengikuti hukum nasional dan hukum lainnya yang

Lebih terperinci

ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019. Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014

ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019. Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014 ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019 Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014 Pokok Bahasan 1. Keterpilihan Perempuan di Legislatif Hasil Pemilu 2014 2.

Lebih terperinci

Lampiran: 2380/H/TU/2015 4 Mei 2015

Lampiran: 2380/H/TU/2015 4 Mei 2015 1 Lampiran: 2380/H/TU/2015 4 Mei 2015 NO Kepala Dinas Pendidikan 1 Provinsi DKI Jakarta 2 Provinsi Jawa Barat 3 Provinsi Jawa Tengah 4 Provinsi DI Yogyakarta 5 Provinsi Jawa Timur 6 Provinsi Aceh 7 Provinsi

Lebih terperinci

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Asep Sjafrudin, S.Si, M.Si Madrasah Aliyah sebagai bagian dari jenjang pendidikan tingkat menengah memerlukan upaya pengendalian,

Lebih terperinci

Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi

Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Edisi 49 Juni 2014 Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi ISSN: 2087-930X Katalog BPS: 9199017 No. Publikasi: 03220.1407 Ukuran Buku: 18,2 cm x 25,7 cm Jumlah Halaman: xix + 135 halaman Naskah: Direktorat

Lebih terperinci

Arah Kebijakan Program PPSP 2015-2019. Kick off Program PPSP 2015-2019 Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas

Arah Kebijakan Program PPSP 2015-2019. Kick off Program PPSP 2015-2019 Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas Arah Kebijakan Program PPSP 2015-2019 Kick off Program PPSP 2015-2019 Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas Jakarta, 10 Maret 2015 Universal Access Air Minum dan Sanitasi Target RPJMN 2015-2019 ->

Lebih terperinci

gizi buruk. Ketenagakerjaan meliputi rasio penduduk yang bekerja. Secara jelas digambarkan dalam uraian berikut ini.

gizi buruk. Ketenagakerjaan meliputi rasio penduduk yang bekerja. Secara jelas digambarkan dalam uraian berikut ini. gizi buruk. Ketenagakerjaan meliputi rasio penduduk yang bekerja. Secara jelas digambarkan dalam uraian berikut ini. a. Urusan Pendidikan 1) Angka Melek Huruf Angka melek huruf merupakan tolok ukur capaian

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/XI/2010 TENTANG PERENCANAAN TENAGA KERJA MAKRO

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/XI/2010 TENTANG PERENCANAAN TENAGA KERJA MAKRO MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/XI/2010 TENTANG PERENCANAAN TENAGA KERJA MAKRO DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN GOWA

BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN GOWA Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Gowa Tahun 2013 sebanyak 78.708 rumah tangga Jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum di Kabupaten Gowa Tahun 2013 sebanyak 15 Perusahaan Jumlah perusahaan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG STANDAR BIAYA PENILAIAN KINERJA PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI DAN VERIFIKASI LEGALITAS KAYU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN

Lebih terperinci

SURVEI LEMBAGA KEUANGAN KOPERASI SIMPAN PINJAM 2010-2011

SURVEI LEMBAGA KEUANGAN KOPERASI SIMPAN PINJAM 2010-2011 RAHASIA REPUBLIK INDONESIA SURVEI LEMBAGA KEUANGAN KOPERASI SIMPAN PINJAM 2010-2011 PERHATIAN 1. Daftar isian ini digunakan untuk mencatat Keterangan dan Laporan Keuangan Usaha Koperasi Simpan Pinjam Tahun

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.102 /MEN/VI/2004 TENTANG WAKTU KERJA LEMBUR DAN UPAH KERJA LEMBUR

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.102 /MEN/VI/2004 TENTANG WAKTU KERJA LEMBUR DAN UPAH KERJA LEMBUR MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.102 /MEN/VI/2004 TENTANG WAKTU KERJA LEMBUR DAN UPAH KERJA LEMBUR MENTERI

Lebih terperinci

PERATURAN IKATAN MOTOR INDONESIA NOMOR : 007/IMI/PI ORGAN/XI/2008. Tentang PROSEDUR DAN PENATAAN TANDA KEANGGOTAAN. Pasal 1 PENDAHULUAN

PERATURAN IKATAN MOTOR INDONESIA NOMOR : 007/IMI/PI ORGAN/XI/2008. Tentang PROSEDUR DAN PENATAAN TANDA KEANGGOTAAN. Pasal 1 PENDAHULUAN PERATURAN IKATAN MOTOR INDONESIA NOMOR : 007/IMI/PI ORGAN/XI/2008 Tentang PROSEDUR DAN PENATAAN TANDA KEANGGOTAAN Pasal 1 PENDAHULUAN 1. Peraturan Organisasi ini ditetapkan sebagai tindak lanjut dari ketentuan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER-24/MEN/VI/2006 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER-24/MEN/VI/2006 TENTANG PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER24/MEN/VI/2006 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA YANG MELAKUKAN PEKERJAAN

Lebih terperinci

13. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika

13. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika SALINAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PENYIARAN TELEVISI SECARA DIGITAL DAN PENYIARAN MULTIPLEKSING MELALUI SISTEM TERESTRIAL

Lebih terperinci

I. U M U M. TATA CARA PANEN.

I. U M U M. TATA CARA PANEN. LAMPIRAN : PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 17/Permentan/OT.140/2/2010 TANGGAL : 5 Pebruari 2010 TENTANG : PEDOMAN PENETAPAN HARGA PEMBELIAN TANDA BUAH SEGAR (TBS) KELAPA SAWIT PRODUKSI PEKEBUN TATA

Lebih terperinci

ANALISIS DAN EVALUASI PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG KB DAN KS TAHUN 2013

ANALISIS DAN EVALUASI PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG KB DAN KS TAHUN 2013 ANALISIS DAN EVALUASI PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG KB DAN KS TAHUN 2013 BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL DIREKTORAT PELAPORAN DAN STATISTIK Standar Pelayanan Minimal

Lebih terperinci

M E T A D A T A. INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik

M E T A D A T A. INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik M E T A D A T A INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik : Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter, Bank Indonesia 3 Alamat : Jl. M.H. Thamrin No.

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG SYARAT-SYARAT PENYERAHAN SEBAGIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN

Lebih terperinci

Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kota Sungai Penuh Tahun 2013 sebanyak 8.032 rumah tangga

Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kota Sungai Penuh Tahun 2013 sebanyak 8.032 rumah tangga .1572 Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kota Sungai Penuh Tahun 2013 sebanyak 8.032 rumah tangga Jumlah rumah tangga usaha pertanian milik sendiri di Kota Sungai Penuh Tahun 2013 sebanyak 6.603 rumah

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG WAKTU KERJA DAN WAKTU ISTIRAHAT PADA KEGIATAN USAHA

Lebih terperinci

Ujian Nasional. Kebijakan Perubahan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Anies R. Baswedan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Ujian Nasional. Kebijakan Perubahan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Anies R. Baswedan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Kebijakan Perubahan Ujian Nasional Anies R. Baswedan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan disampaikan dalam konferensi pers Jakarta, 23 Januari 2015

Lebih terperinci

SEKTOR-SEKTOR UNGGULAN PENOPANG PEREKONOMIAN BANGKA BELITUNG

SEKTOR-SEKTOR UNGGULAN PENOPANG PEREKONOMIAN BANGKA BELITUNG Suplemen 4. Sektor-Sektor Unggulan Penopang Perekonomian Bangka Belitung Suplemen 4 SEKTOR-SEKTOR UNGGULAN PENOPANG PEREKONOMIAN BANGKA BELITUNG Salah satu metode dalam mengetahui sektor ekonomi unggulan

Lebih terperinci

Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Empat Lawang Tahun 2013 sebanyak 41.675 rumah tangga

Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Empat Lawang Tahun 2013 sebanyak 41.675 rumah tangga Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Empat Lawang Tahun 2013 sebanyak 41.675 rumah tangga Jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum di Empat Lawang Tahun 2013 sebanyak 3 Perusahaan Jumlah perusahaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini di Indonesia sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan nasional

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini di Indonesia sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan nasional BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Saat ini di Indonesia sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan nasional di segala bidang, dimana pembangunan merupakan usaha untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.17/MEN/XI/2010 TENTANG PERENCANAAN TENAGA KERJA MIKRO

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.17/MEN/XI/2010 TENTANG PERENCANAAN TENAGA KERJA MIKRO MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.17/MEN/XI/2010 TENTANG PERENCANAAN TENAGA KERJA MIKRO DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

dari target 28,3%. dari target 25,37%. dari target 22,37%. dari target 19,37%.

dari target 28,3%. dari target 25,37%. dari target 22,37%. dari target 19,37%. b. 2010 target penurunan 5.544 RTM (3,00%) turun 18.966 RTM (10,26%) atau menjadi 40.370 RTM (21,85 %) dari target 28,3%. c. 2011 target penurunan 5.544 RTM (3,00%) turun 760 RTM (2,03%) atau menjadi 36.610

Lebih terperinci

*) Setiap peserta hanya boleh mendaftar satu jenis beasiswa saja. Pertanyaan dapat dikirim ke: diploma@sinarmas-agri.com

*) Setiap peserta hanya boleh mendaftar satu jenis beasiswa saja. Pertanyaan dapat dikirim ke: diploma@sinarmas-agri.com *) Setiap peserta hanya boleh mendaftar satu jenis beasiswa saja Pertanyaan dapat dikirim ke: diploma@sinarmas-agri.com I. UMUM Panduan melamar program diploma Institut Pertanian Bogor TAHUN 2014/2015

Lebih terperinci

Pertemun Koordinasi Dinas Kesehatan Jawa Tengah

Pertemun Koordinasi Dinas Kesehatan Jawa Tengah Pertemun Koordinasi Dinas Kesehatan Jawa Tengah TARGET DAN CAPAIAN INDIKATOR SEMESTER 1 TAHUN 2012 No SUMBER INDIKATOR TARGET CAPAIAN 1 RKP Persentase RSJ yang memberikan layanan subspesialis utama dan

Lebih terperinci

Dasar pengenaan dan pemotongan PPh Pasal 21 pegawai tidak tetap adalah:

Dasar pengenaan dan pemotongan PPh Pasal 21 pegawai tidak tetap adalah: PPh Pegawai Tidak Tetap Pegawai tidak tetap/tenaga kerja lepas adalah pegawai yang hanya menerima penghasilan apabila pegawai yang bersangkutan bekerja, berdasarkan jumlah hari bekerja, jumlah unit hasil

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA SENSUS PERTANIAN 2013 SURVEI RUMAH TANGGA USAHA BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN TAHUN 2014

REPUBLIK INDONESIA SENSUS PERTANIAN 2013 SURVEI RUMAH TANGGA USAHA BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN TAHUN 2014 ST2013-SBK.S REPUBLIK INDONESIA SENSUS PERTANIAN 2013 SURVEI RUMAH TANGGA USAHA BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN TAHUN 2014 RAHASIA Jenis tanaman kehutanan terpilih...... 6 1 I. PENGENALAN TEMPAT 101. Provinsi

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KOTA BANDUNG

BAB II GAMBARAN UMUM KOTA BANDUNG BAB II GAMBARAN UMUM KOTA BANDUNG A. GEOGRAFI Kota Bandung merupakan Ibu kota Propinsi Jawa Barat yang terletak diantara 107 36 Bujur Timur, 6 55 Lintang Selatan. Ketinggian tanah 791m di atas permukaan

Lebih terperinci

Problem dan Tantangan dalam Implementasi Skema Pensiun Publik Indonesia di masa datang yang berdasarkan pada UU No 40/2004 tentang SJSN

Problem dan Tantangan dalam Implementasi Skema Pensiun Publik Indonesia di masa datang yang berdasarkan pada UU No 40/2004 tentang SJSN 1 Problem dan Tantangan dalam Implementasi Skema Pensiun Publik Indonesia di masa datang yang berdasarkan pada UU No 40/2004 tentang SJSN H. Bambang Purwoko Anggota DJSN dan Guru Besar Fakultas Ekonomika

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kata Pengantar. iii

KATA PENGANTAR. Kata Pengantar. iii 1 ii Deskripsi dan Analisis APBD 2013 KATA PENGANTAR Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan instrumen kebijakan fiskal yang utama bagi pemerintah daerah. Dalam APBD termuat prioritas-prioritas

Lebih terperinci

BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN PURBALINGGA

BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN PURBALINGGA BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN PURBALINGGA Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Purbalingga Tahun 2013 sebanyak 125.349 rumah tangga Jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum di Kabupaten

Lebih terperinci

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA 2013

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA 2013 REPUBLIK INDONESIA INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA 2013 BADAN PUSAT STATISTIK INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA 2013 2013 : Badan Pusat Statistik Boleh dikutip dengan menyebut sumbernya ISSN : 2086-2369 Nomor Publikasi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I 2015 No. 34/05/51/Th. IX, 5 Mei 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I 2015 EKONOMI BALI TRIWULAN I-2015 TUMBUH SEBESAR 6,20% (Y-ON-Y) NAMUN MENGALAMI KONTRAKSI SEBESAR 1,53% (Q-TO-Q) Total perekonomian Bali

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MPENAJAM PASER UTARA NOMOR 23 TAHUN 2012 TENTANG PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QUR AN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MPENAJAM PASER UTARA NOMOR 23 TAHUN 2012 TENTANG PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QUR AN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN MPENAJAM PASER UTARA NOMOR 23 TAHUN 2012 TENTANG PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QUR AN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PENAJAM PASER UTARA, Menimbang : a. bahwa tujuan pendidikan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, HARGA PRODUSEN GABAH DAN HARGA BERAS DI PENGGILINGAN

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, HARGA PRODUSEN GABAH DAN HARGA BERAS DI PENGGILINGAN BPS PROVINSI JAWA BARAT No. 26/5/32/Th XVII, 4 Mei 2015 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, HARGA PRODUSEN GABAH DAN HARGA BERAS DI PENGGILINGAN NILAI TUKAR PETANI APRIL 2015 SEBESAR 102,78 (2012=100) Nilai

Lebih terperinci

Tingkat Kemakmuran dan Keadilan Masyarakat Indonesia: Perbandingan Antar Propinsi

Tingkat Kemakmuran dan Keadilan Masyarakat Indonesia: Perbandingan Antar Propinsi Tingkat Kemakmuran dan Keadilan Masyarakat Indonesia: Perbandingan Antar Propinsi Uzair Suhaimi i uzairsuhaimi.wordpress.com Judul artikel terkesan tendensius dilihat dari sisi substansi maupun metodologi.

Lebih terperinci

BAB 14 PEMBANGUNAN BERDIMENSI KEWILAYAHAN

BAB 14 PEMBANGUNAN BERDIMENSI KEWILAYAHAN BAB 14 PEMBANGUNAN BERDIMENSI KEWILAYAHAN 14.1. PEMBANGUNAN WILAYAH NASIONAL Pembangunan wilayah nasional diarahkan pada pemerataan pembangunan di seluruh wilayah dengan mengoptimalkan potensi dan keunggulan

Lebih terperinci

UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) KEMENTERIAN PU PERA

UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) KEMENTERIAN PU PERA UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) KEMENTERIAN PU PERA Disampaikan oleh: Kepala Badan Pembinaan Konstruksi 23 Desember 2014 PELAKSANA PROGRAM/KEGIATAN UU/PP SEKTORAL ORGANISASI PENGADAAN BARANG DAN JASA KEMENTERIAN

Lebih terperinci

PENGUMUMAN PENGADAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL TAHUN ANGGARAN 2012. Nomor : PENG/ 01/ VII/ 2012/BNN

PENGUMUMAN PENGADAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL TAHUN ANGGARAN 2012. Nomor : PENG/ 01/ VII/ 2012/BNN PENGUMUMAN PENGADAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL TAHUN ANGGARAN 2012 Nomor : PENG/ 01/ VII/ 2012/BNN Badan Narkotika Nasional Tahun Anggaran 2012 akan menerima pendaftaran

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 20152010 TENTANG

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 20152010 TENTANG SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 20152010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN DALAM NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA 1 K 29 - Kerja Paksa atau Wajib Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG UPAH MINIMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG UPAH MINIMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG UPAH MINIMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI TENAGA KERJA DAN

Lebih terperinci

http://www.papuabarat.bps.go.id

http://www.papuabarat.bps.go.id INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT PROVINSI PAPUA BARAT 2012 WELFARE INDICATORS OF PAPUA BARAT PROVINCE 2012 ISSN : 2089-1652 No. Publikasi/Publication Number : 91522.1305 Katalog BPS/BPS Catalogue : 4102004.9100

Lebih terperinci

DAMPAK PERTUMBUHAN INDUSTRI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI KABUPATEN SIDOARJO

DAMPAK PERTUMBUHAN INDUSTRI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI KABUPATEN SIDOARJO Judul : Dampak Pertumbuhan Industri Terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Sidoarjo SKPD : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sidoarjo Kerjasama Dengan : - Latar Belakang Pembangunan

Lebih terperinci

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN Pangkal Pinang 16-17 April 2014 BAGIAN DATA DAN INFORMASI BIRO PERENCANAAN KEMENHUT email: datin_rocan@dephut.go.id PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan pelaksanaan pembangunan

Lebih terperinci

STRUKTUR ONGKOS USAHA PETERNAKAN JAWA TENGAH TAHUN 2014

STRUKTUR ONGKOS USAHA PETERNAKAN JAWA TENGAH TAHUN 2014 No. 78/12/33 Th. VIII, 23 Desember 2014 STRUKTUR ONGKOS USAHA PETERNAKAN JAWA TENGAH TAHUN 2014 TOTAL BIAYA PRODUKSI UNTUK USAHA SAPI POTONG SEBESAR 4,67 JUTA RUPIAH PER EKOR PER TAHUN, USAHA SAPI PERAH

Lebih terperinci

Menimbang : a. bahwa pelayanan kepada masyarakat oleh aparatur pemerintah perlu terus ditingkatkan, sehingga mencapai kualitas yang diharapkan;

Menimbang : a. bahwa pelayanan kepada masyarakat oleh aparatur pemerintah perlu terus ditingkatkan, sehingga mencapai kualitas yang diharapkan; GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR30TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT UNIT PELAYANAN DI INSTANSI PEMERINTAH PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia =============================================================================== Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia !" #$ %$#&%!!!# &%!! Tujuan nasional yang dinyatakan

Lebih terperinci

KAJIAN PEMBENTUKAN DAN PENYELENGGARAAN UNIT PELAKSANA TEKNIS

KAJIAN PEMBENTUKAN DAN PENYELENGGARAAN UNIT PELAKSANA TEKNIS PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG KAJIAN PEMBENTUKAN DAN PENYELENGGARAAN UNIT PELAKSANA TEKNIS BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA (BNPB) - i - DAFTAR

Lebih terperinci

BAB 3. PENDUDUK DAN KETENAGAKERJAAN

BAB 3. PENDUDUK DAN KETENAGAKERJAAN BAB 3. PENDUDUK DAN KETENAGAKERJAAN 3.1. Penduduk Jumlah penduduk yang besar menjadi salah satu modal dasar yang efektif bagi pembangunan bila diikuti dengan kualitas baik. Namun dengan pertumbuhan penduduk

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN. Bab I Pendahuluan I-1

DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN. Bab I Pendahuluan I-1 DAFTAR ISI DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN i iii v vii Bab I Pendahuluan I-1 1.1. Latar Belakang I-1 1.2. Maksud dan Tujuan I-2 1.3. Dasar Hukum I-3 1.4. Hubungan Antar Dokumen I-6

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 5 ayat (3) Peraturan

Lebih terperinci

BAB IV METODA PENELITIAN

BAB IV METODA PENELITIAN BAB IV METODA PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi dan kateristik obyek penelitian, maka penjelasan terhadap lokasi dan waktu penelitian

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2013

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2013 MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PERPANJANGAN PERJANJIAN KERJA PADA PENGGUNA

Lebih terperinci

Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Aceh Besar Tahun 2013 sebanyak 44.038 rumah tangga

Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Aceh Besar Tahun 2013 sebanyak 44.038 rumah tangga ..11110088. Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Aceh Besar Tahun 2013 sebanyak 44.038 rumah tangga Jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum di Kabupaten Aceh Besar Tahun 2013 sebanyak 6

Lebih terperinci

LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DALAM KERANGKA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MISKIN 1 Nani Zulminarni 2

LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DALAM KERANGKA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MISKIN 1 Nani Zulminarni 2 LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DALAM KERANGKA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MISKIN 1 Nani Zulminarni 2 Sebagian besar penduduk miskin di Indonesia adalah perempuan, dan tidak kurang dari 6 juta mereka adalah kepala rumah

Lebih terperinci

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 No. 53/08/19/Th.XIII, 3 Agustus 2015 PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 PRODUKSI CABAI BESAR SEBESAR 3.686,00 TON, CABAI RAWIT SEBESAR 3.099,80 TON, DAN BAWANG MERAH SEBESAR

Lebih terperinci

Tabel-Tabel Pokok TABEL-TABEL POKOK. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81

Tabel-Tabel Pokok TABEL-TABEL POKOK. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81 TABEL-TABEL POKOK Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81 Tabel 1. Tabel-Tabel Pokok Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Lamandau Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan

Lebih terperinci