Akhirnya, semoga buku ini bermanfaat bagi semua pihak yang terkait khususnya dalam bidang ketenagakerjaan.

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Akhirnya, semoga buku ini bermanfaat bagi semua pihak yang terkait khususnya dalam bidang ketenagakerjaan."

Transkripsi

1 KATA PENGANTAR Pada tahun anggaran 2014 salah satu kegiatan Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan adalah Penyusunan Data dan Informasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Data dan Informasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja ini secara umum adalah memuat data dan informasi kepesertaan jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan kematian dan program jaminan sosial bagi tenaga kerja bukan penerima upah. Data dan Informasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja baik tenaga kerja penerima upah maupun tenaga kerja bukan penerima upah disajikan menurut provinsi dan menurut program jaminan sosial. Program jaminan sosial tenaga kerja ini mulai dari tanggal 1 Januari tahun 2014 telah diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, dan pada program jaminan sosial tenaga kerja ini hanya terdapat 3 program yaitu program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua dan jaminan kematian. Dan mulai tanggal 1 Januari tahun 2014 program jaminan kesehatan telah dialihkan dan dilaksanakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Data dan Informasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja mengacu pada Permenakertrans RI. No. 1 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Kepmenakertrans Nomor KEP.250/MEN/XII/2008 Tentang Klasifikasi dan Karakteristik Data dari Jenis Informasi Ketenagakerjaan, dan Permenakertrans Nomor PER.03/MEN/II/2009 Tentang Pedoman Penyajian Informasi Ketenagakerjaan. Kami menyadari sepenuhnya bahwa penyajian data dan informasi ini masih jauh dari sempurna, maka kritik dan saran yang bersifat membangun dari berbagai pihak sangat diharapkan, sebagai bahan penyempurnaan lebih lanjut dimasa yang akan datang. Kepada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan dan semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penyusunan data dan informasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja ini mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan disampaikan terima kasih. i

2 Akhirnya, semoga buku ini bermanfaat bagi semua pihak yang terkait khususnya dalam bidang ketenagakerjaan. Jakarta, November 2014 Kepala Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan, Edi Purnama, SH, MM NIP ii

3 SAMBUTAN Kami menyambut baik atas tersusunnya buku Data dan Informasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja dengan berbagai karakteristiknya. Ini merupakan salah satu wujud komitmen Balitfo sebagai penyedia data dan informasi ketenagakerjaan yang benar, akurat dan lengkap serta berkesinambungan, dalam upaya menyediakan data dan informasi ketenagakerjaan kepada berbagai pihak terkait khususnya bagi Ditjen. Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan dalam rangka mengembangkan kepesertaan program jaminan sosial tenaga kerja baik tenaga kerja penerima upah maupun bagi tenaga kerja bukan penerima upah khususnya, dan digunakan sebagai salah satu bahan dalam perumusan kebijakan perencanaan strategi dan pelaksanaan program Jaminan Sosial Tenaga Kerja umumnya. Kepada jajaran Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan, Badan Penelitian, Pengembangan dan Informasi, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I. yang telah menyusun buku Data dan Informasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja, kami ucapkan terima kasih. Akhirnya, semoga buku ini dapat memberikan manfaat bagi para pihak terkait dalam rangka penyusunan kebijakan di bidang ketenagakerjaan. Jakarta, November 2014 Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Informasi Dr. Ir. Sugiarto Sumas, M.T. NIP iii

4 DAFTAR ISI Kata Pengantar... i Sambutan... iii Daftar Isi... v Daftar Tabel... vii Daftar Grafik... ix BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Dasar Hukum... 4 C. Tujuan... 6 BAB II PENJELASAN TEKNIS... 7 A. Metodologi Pengumpulan Data Pengolahan Data Analisis Data Penyajian Data dan Informasi... 8 B. Ruang Lingkup... 8 C. Definisi Operasional... 8 D. Sistematika Penulisan BAB III KONDISI KEPESERTAAN JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA A. Kepesertaan Jamsostek Dalam Hubungan Kerja Program Jaminan Kecelakaan Kerja Program Jaminan Hari Tua Program Jaminan Kematian B. Kepesertaan Jamsostek di Luar Hubungan Kerja BAB IV PENUTUP LAMPIRAN TIM PENYUSUN v

5 DAFTAR TABEL Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Kepesertaan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Penerima Upah di Indonesia menurut provinsi s/d bulan Juni tahun Jaminan Kecelakaan Kerja Penerima Upah di Indonesia menurut provinsi s/d bulan Juni tahun Jaminan Hari Tua Penerima Upah di Indonesia menurut provinsi s/d bulan Juni tahun Jaminan Kematian Penerima Upah di Indonesia menurut provinsi s/d bulan Juni tahun Kepesertaan Jaminan Sosial Tenaga Kerja pada Tenaga Kerja Bukan Penerima Upah di Indonesia menurut provinsi s/d tahun vii

6 DAFTAR GRAFIK Grafik 1 Jumlah Penerimaan Jaminan Kecelakaan Kerja Grafik 2 Jumlah Hak Yang Diterima dalam Program Jaminan Kecelakaan Kerja Grafik 3 Jumlah Penerimaan Jaminan Hari Tua Grafik 4 Jumlah Hak Yang Diterima dalam Program Jaminan Jaminan Hari Tua Grafik 5 Jumlah Penerimaan Jaminan Kematian Grafik 6 Jumlah Hak Yang Diterima dalam Program Jaminan Kematian ix

7 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I. No. 2 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. No. PER.12/MEN/VIII/2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, salah satu tugas dan fungsi Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan adalah melaksanakan pengelolaan data dan informasi ketenagakerjaan. Sebagai salah satu kumpulan data dan informasi ketenagakerjaan, Data dan Informasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja sebagai salah satu bahan penyusunan kebijakan, strategi, perencanaan dan program pembangunan bidang ketenagakerjaan dalam rangka peningkatan kesejahteraan pekerja. Sesuai dengan UU RI. No. 3 tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja, program Jamsostek bersifat wajib bagi perusahaan yang mempekerjakan 10 pekerja atau lebih dan/atau sekurang-kurangnya membayar upah 1 juta rupiah per bulan. Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan sebagai akibat peristiwa atau 1

8 keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja, sakit, hamil, bersalin, hari tua, dan meninggal dunia. Program BPJS Ketenagakerjaan ini merupakan upaya pemerintah dalam memberikan perlindungan terhadap pekerja yang sebagian dibebankan kepada perusahaan, dengan memberikan pelayanan berupa Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Hari Tua, Jaminan Kematian dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan. Dalam perkembangannya, sesuai dengan amanah UU RI. No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), program tersebut bertambah menjadi 5 (lima) yang salah satunya adalah Jaminan Pensiun. Namun dalam pelaksanaannya, sesuai dengan amanah UU RI. No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja, mulai per tanggal 1 Januari 2014 Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) telah dialihkan pada lingkup PT. Asuransi Kesehatan (ASKES) yang sekarang berubah menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, dan PT. Jamsostek (Persero) berubah menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. Namun demikian, dalam pelaksanaannya masih banyak perusahaan yang tidak memenuhi ketentuan peraturan perundangan tersebut, sehingga memerlukan pembinaan. Agar pembinaan tersebut dapat dilakukan lebih efektif, maka perlu adanya dukungan data dan informasi jaminan sosial tenaga kerja yang lengkap, akurat dan berkesinambungan. 2

9 Sampai dengan saat ini pengelolaan data dan informasi jaminan sosial tenaga kerja menunjukkan perkembangan yang cukup baik karena adanya dukungan data dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan. Disadari bahwa data dan informasi tersebut merupakan suatu hal yang sangat penting, berharga dan bernilai, apabila data tersebut dicatat dan dilaporkan secara tepat, benar, dan berkesinambungan, sehingga dapat dilihat perkembangan kepesertaan program Jamsostek dari tahun ke tahun sebagai hasil dari kegiatan pembinaan dan pengawasan yang dilaksanakan oleh jajaran Ditjen. Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan BPJS Ketenagakerjaan. Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka salah satu kegiatan Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan pada tahun anggaran 2014 adalah melakukan penyusunan Data dan Informasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja, sebagaimana diamanatkan Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan jo Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Memperoleh Informasi Ketenagakerjaan dan Penyusunan serta Pelaksanaan Perencanaan Tenaga Kerja yang disusun berdasarkan Permenakertrans RI. No. 1 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Kepmenakertrans RI. No. KEP. 250/MEN/XII/2008 Tentang Klasifikasi dan Karakteristik Data dari Jenis Informasi Ketenagakerjaan. Hal tersebut dimaksudkan agar pengelolaan data dan informasi ketenagakerjaan termasuk data dan informasi jaminan sosial 3

10 tenaga kerja dapat dilakukan secara baik sehingga ada kesamaan persepsi dalam penyajiannya. B. Dasar Hukum Landasan hukum kegiatan Penyusunan Data dan Informasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja ini adalah : 1. Undang-Undang RI. No : 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja; 2. Undang-Undang RI. No : 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan; 3. Undang-Undang RI. No : 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional; 4. Undang-Undang RI. No : 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial; 5. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. No : PER.24/MEN/VI/2006 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Bagi Tenaga Kerja Yang Melakukan Pekerjaan di Luar Hubungan Kerja; 6. Peraturan Pemerintah RI. No. 15 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Memperoleh Informasi Ketenagakerjaan dan Penyusunan serta Pelaksanaan Perencanaan Tenaga Kerja; 7. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. No : PER.01/MEN/I/2009 Tentang Pedoman Penggunaan Metoda Statistika Ketenagakerjaan; 4

11 8. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. No. PER.03/MEN/II/2009 Tentang Pedoman Penyajian Informasi Ketenagakerjaan; 9. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. No. PER.11/MEN/V/2009 Tentang Tata Cara Pemantauan dan Evaluasi Pengelolaan Data dan Informasi Ketenagakerjaan; 10. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. No : PER.19/MEN/IX/2009 Tentang Pembangunan dan Pengembangan Sistem Informasi Ketenagakerjaan; 11. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. No. PER.12/MEN/VIII/2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi; 12. Peraturan Pemerintah RI. No : 84 Tahun 2013 Tentang Perubahan kesembilan atas Peraturan Pemerintah RI. Nomor : 14 Tahun 1993 Tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja; 13. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. No. 1 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP.250/MEN/XII/2008 Tentang Klasifikasi dan Karakteristik Data Dari Jenis Informasi Ketenagakerjaan; 14. Surat Pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran dari Pusdatinaker, Badan Penelitian, Pengembangan dan Informasi, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Tahun Anggaran 2014 No. DIPA /2014 tanggal 5 Desember

12 C. TUJUAN Berdasarkan latar belakang tersebut, maka kegiatan Penyusunan Data dan Informasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja bertujuan : 1. Mengidentifikasi berbagai jenis data dan informasi jaminan sosial ketenagakerjaan. 2. Menyajikan data dan informasi jaminan sosial ketenagakerjaan sesuai klasifikasi dengan berbagai karakteristiknya. 6

13 BAB II PENJELASAN TEKNIS A. METODOLOGI 1. Pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan melalui koordinasi dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, dengan menggunakan instrumen berupa format tabulasi sesuai dengan Permenakertrans RI. No. 1 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Kepmenakertrans No. 250 Tahun 2008 Tentang Klasifikasi dan Karakteristik Data Dari Jenis Informasi Ketenagakerjaan. 2. Pengolahan data Data yang sudah terkumpul diolah, mengacu pada Permenakertrans nomor 1 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Kepmenakertrans RI. No. 250 Tahun 2008 Tentang Klasifikasi dan Karakteristik Data dari Jenis Informasi Ketenagakerjaan. 3. Analisis data Data yang sudah diolah menurut klasifikasi dengan berbagai karakteristiknya, selanjutnya dianalisis secara deskriptif. 4. Penyajian Data dan Informasi Data dan informasi kepesertaan jaminan sosial tenaga kerja disajikan kedalam bentuk narasi dan tabel 7

14 sesuai Permenakertrans RI. No. 03 Tahun 2009 Tentang Pedoman Penyajian Informasi Ketenagakerjaan. B. RUANG LINGKUP Secara substansi data dan informasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja yang disajikan meliputi data dan informasi Kepesertaan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Dalam Hubungan Kerja dan Kepesertaan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Di Luar Hubungan Kerja, yang mencakup Data dan Informasi Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Hari Tua, dan Jaminan Kematian, periode tahun C. DEFINISI OPERASIONAL Untuk menghindari perbedaan persepsi terhadap berbagai istilah yang digunakan dalam Penyusunan Data dan Informasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja, dikemukakan definisi operasional sebagai berikut : 1. Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja, sakit, hamil, bersalin, hari tua dan meninggal dunia. 8

15 2. Tenaga kerja bukan penerima upah adalah setiap pekerja yang bekerja atau berusaha atas risiko sendiri. 3. Peserta adalah tenaga kerja bukan penerima upah yang telah membayar iuran. 4. Wadah adalah organisasi yang dibentuk oleh, dari dan untuk peserta dalam rangka membantu penyelenggaraan program Jaminan Sosial Tenaga Kerja bagi tenaga kerja bukan penerima upah. 5. Penanggung jawab wadah adalah Pihak yang ditunjuk oleh peserta untuk mewakili peserta dalam hal menyelesaikan hak dan kewajiban para peserta yang meliputi pengumpulan iuran, penyetoran iuran dan pengurusan klaim. 6. Mitra Kerja adalah Wadah atau Institusi atau Organisasi yang telah melakukan Ikatan Kerjasama (IKS) dengan BPJS Ketenagakerjaan sebagai Badan Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja bagi tenaga kerja bukan penerima upah. 7. Penghasilan adalah perolehan dari hasil usaha atau pekerjaan dalam proses produksi barang dan jasa yang dinilai dalam bentuk uang. 8. Kecelakaan Kerja adalah kecelakaan yang terjadi pada saat tenaga kerja melakukan aktivitas sesuai dengan pekerjaannya. 9. Cacat adalah keadaan hilang atau berkurangnya fungsi anggota badan yang secara langsung atau tidak langsung mengakibatkan hilang atau 9

16 berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan. 10. Sakit adalah setiap gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan atau perawatan. 11. Pekerja/buruh adalah setiap pekerja yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain (UU No. 13 Tahun 2003, tentang Ketenagakerjaan). 12. Pemberi Kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum atau badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain (UU No. 13 Tahun 2003, tentang Ketenagakerjaan). D. SISTEMATIKA PENULISAN Buku Data dan Informasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja ini terdiri atas 4 (empat) bab, Bab I Pendahuluan mencakup tentang latar belakang dan tujuan. Bab II Penjelasan Teknis mencakup metoda, ruang lingkup, definisi operasional dan sistimatika, Bab III Kondisi Kepesertaan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Penerima Upah dan Bukan Penerima Upah, dan Bab IV Penutup, serta Lampiran-lampiran. 10

17 BAB III KONDISI KEPESERTAAN JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA Undang-Undang RI. No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). BPJS dibagi menjadi 2 yaitu BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan. Penyajian Data dan Informasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja dalam buku ini hanya terbatas pada data BPJS Ketenagakerjaan tahun 2014 sampai dengan bulan Juni Yang meliputi program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), program Jaminan Hari Tua (JHT), program Jaminan Kematian (JK). A. Kepesertaan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Penerima Upah. Kepesertaan Jaminan Sosial Tenaga Kerja menurut Provinsi Tahun 2014 sampai dengan bulan Juni. Pada tahun 2014 sampai dengan bulan Juni, jumlah perusahaan wajib belum daftar BPJS ketenagakerjaan yang tercatat sebanyak Perusahaan, dan jumlah perusahaan terdaftar hanya Perusahaan. Ini berarti masih banyak perusahaan wajib yang belum daftar (PWBD) 50.01%. Hal ini menunjukan masih perlunya pembinaan pengawasan ketenagakerjaan untuk menyadari pihak perusahaan agar mematuhi penerapan norma ketenagakerjaan di perusahaannya. Sedangkan jumlah peserta tenaga kerja terdaftar sebanyak tenaga kerja, yakni pada program Jaminan 11

18 Kecelakan Kerja sebanyak tenaga kerja, Jaminan Kematian sebanyak tenaga kerja, Jaminan Hari Tua sebanyak tenaga kerja. (Tabel.1) 1. Program Jaminan Kecelakaan Kerja Kecelakaan kerja adalah sebagai salah satu jenis risiko kerja yang mungkin terjadi dimanapun dan dalam bidang pekerjaan apapun. Akibat dari kecelakaan kerja bisa bermacam-macam, mulai dari luka ringan, luka parah, cacat sebagian, cacat fungsi, cacat total, bahkan meninggal dunia. Memberikan rasa aman dalam melakukan tanggung jawab pengusaha melalui pengalihan resiko kepada BPJS Ketenagakerjaan dengan membayar iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) bagi tenaga kerjanya yang jumlahnya berkisar antara 0,24% - 1,74% dari upah sebulan, sesuai dengan kelompok resiko jenis usaha. a. Manfaat Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) yang memberikan kompensasi dan rehabilitasi bagi tenaga kerja yang mengalami kecelakaan pada saat dimulai berangkat bekerja sampai tiba kembali dirumah atau menderita penyakit yang berkaitan dengan pekerjaannya. Iuran untuk program JKK ini sepenuhnya dibayarkan oleh perusahaan. 12

19 Perincian besarnya iuran berdasarkan kelompok jenis usaha sebagaimana tercantum pada kelompok iuran sebagai berikut: 1). Biaya Transport (Maksimum) - Darat/Sungai/Danau Rp ,- - Laut Rp ,- - Udara Rp ,- 2). Sementara tidak mampu bekerja - Empat (4) bulan pertama, 100% upah sebulan - Empat (4) bulan kedua, 75% upah sebulan - Selanjutnya 50% x upah sebulan 3). Biaya Pengobatan/Perawatan Rp ,- (maksimum) 4). Penggantian gigi tiruan Rp ,- (maksimum) 5). Santunan Cacat - Sebagian-tetap : % tabel x 80 bulan upah - Total-tetap : Sekaligus : 70 % x 80 bulan upah Berkala (24 bulan) Rp ,- per bulan* - Kurang fungsi : % kurang fungsi x % tabel x 80 bulan upah 6). Santunan Kematian - Sekaligus : 60 % x 80 bulan upah - Berkala (24 bulan) : Rp ,- per bulan* 13

20 - Biaya pemakaman : Rp ,-* 7). Biaya Rehabilitasi - Rehabilitasi medis Rp ,- (maksimum) - Penggantian pembelian alat bantu/ kursi roda (orthese) dan/ atau alat pengganti anggota badan (prothese) maksimal 140% dari patokan harga yang ditetapkan oleh Pusat Rehabilitasi RS Umum Pemerintah. 8). Penyakit akibat kerja 31 (tiga puluh satu) jenis penyakit akibat hubungan kerja sampai dengan 3 tahun setelah berhenti bekerja sesuai dengan Keputusan Presiden RI. No. 22 Tahun b. Tata Cara Menjadi Peserta Untuk menjadi peserta program BPJS Ketenagakerjaan pengusaha ataupun tenaga kerja melakukan pendaftaran dengan cara : 1) Menghubungi kantor BPJS Ketenagakerjaan terdekat, dan dapat juga menghubungi service point office BPJS Ketenagakerjaan. 2) Mengisi formulir F1 untuk pendaftaran perusahaan. 3) Mengisi formulir F1a untuk pendaftaran tenaga kerja dan keluarga. 4) Membayar iuran pertama sesuai dengan jumlah yang telah dihitung dan ditetapkan BPJS 14

21 Ketenagakerjaan.(sesuai dengan PP nomor 84 Tahun 2013) c. Iuran - Program BPJS Ketenagakerjaan : % Iuran dikali Upah dan menjadi tanggungan Perusahaan/ Tenaga Kerja - JKK : 0,24 1,74 d. Tentang Tauma Center (TC) Manfaat lain dari program JKK yang diberikan oleh BPJS Ketenagakerjaan saat ini adalah dengan memperluas jaringan pelayanan kesehatan dengan membentuk jejaring Trauma Center (TC) dengan beberapa Rumah Sakit dan Klinik. e. Manfaaf Trauma Center (TC) Tujuan dibentuknya Trauma Center (TC) adalah agar peserta lebih mudah menjangkau rumah sakit/klinik dan mempermudah administrasi pada saat terjadi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dapat ditangani secara cepat dan tepat. Jaminan Kecelakaan Kerja Tenaga Kerja Penerima Upah menurut Provinsi Tahun 2014 sampai dengan bulan Juni. 15

22 Pada tahun 2014 sampai dengan bulan Juni, jumlah pekerja peserta BPJS Ketenagakerjaan pada program jaminan kecelakan kerja sebanyak tenaga kerja. Jumlah peserta pada program jaminan kecelakaan kerja tertinggi terdapat di Provinsi DKI. Jakarta yaitu sebanyak tenaga kerja, kemudian diikuti oleh Provinsi Jawa Barat sebanyak tenaga kerja dan Jawa Timur sebanyak tenaga kerja. Sedangkan yang terendah di Provinsi Gorontalo yaitu sebanyak tenaga kerja. (Tabel.1) 16

23 Grafik 1. Jumlah Penerimaan Jaminan Kecelakaan Kerja ACEH 151 SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT 739 RIAU JAMBI SUMATERA SELATAN BENGKULU LAMPUNG BANGKA BELITUNG KEPULAUAN RIAU DKI JAKARTA JAWA BARAT JAWA TENGAH DI YOGYAKARTA 503 JAWA TIMUR BANTEN BALI NUSA TENGGARA BARAT NUSA TENGGARA KALIMANTAN BARAT KALIMANTAN TENGAH KALIMANTAN SELATAN KALIMANTAN TIMUR SULAWESI UTARA SULAWESI TENGAH SULAWESI SELATAN SULAWESI TENGGARA GORONTALO SULAWESI BARAT MALUKU MALUKU UTARA PAPUA BARAT PAPUA Sumber : BPJS Ketenagakerjaan, diolah oleh Pusdatinaker 17

24 Jumlah Pekerja penerima jaminan kecelakaan kerja pada tahun 2014 sampai dengan bulan Juni sebanyak kasus dengan hak yang diterima sebesar ,80 rupiah. Jumlah pekerja penerima jaminan kecelakaan kerja tertinggi terdapat di Provinsi Jawa Timur yaitu sebanyak kasus dengan hak yang diterima sebesar ,28 rupiah dan pada Provinsi Jawa Barat dengan jumlah pekerja penerima Jaminan Kecelakaan Kerjanya lebih kecil yaitu kasus, namun jumlah hak yang diterima lebih besar yaitu sebesar ,77 rupiah. Sedangkan jumlah penerima Jaminan Kecelakaan Kerja terendah terdapat pada Provinsi Maluku Utara yaitu sebanyak 7 kasus dengan hak yang diterima sebesar ,76 rupiah. Dan provinsi yang sama sekali belum ada datanya yaitu Provinsi Sulawesi Barat dikarenakan belum adanya cabang BPJS Ketenagakerjaan di provinsi tersebut. (Tabel.2) 18

25 Grafik 2. Jumlah Hak Yang Diterima dalam Program Jaminan Kecelakaan Kerja ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT RIAU JAMBI SUMATERA SELATAN BENGKULU LAMPUNG BANGKA BELITUNG KEPULAUAN RIAU DKI JAKARTA , , , , , , , , , , ,79 JAWA BARAT ,77 JAWA TENGAH DI YOGYAKARTA JAWA TIMUR BANTEN BALI NUSA TENGGARA BARAT NUSA TENGGARA KALIMANTAN BARAT KALIMANTAN TENGAH KALIMANTAN SELATAN KALIMANTAN TIMUR SULAWESI UTARA SULAWESI TENGAH SULAWESI SELATAN SULAWESI TENGGARA GORONTALO SULAWESI BARAT MALUKU MALUKU UTARA PAPUA BARAT PAPUA , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,14 Sumber : BPJS Ketenagakerjaan, diolah oleh Pusdatinaker 19

26 2. Program Jaminan Hari Tua Program Jaminan Sosial Hari Tua (JHT) merupakan program penghimpunan dana yang ditujukan sebagai simpanan yang dapat dipergunakan oleh peserta terutama bila penghasilan yang bersangkutan terhenti karena berbagai sebab, seperti meninggal dunia, cacat total tetap atau telah mencapai usia pensiun (55 tahun). a. Manfaat Jaminan Hari Tua Kemanfaatan Jaminan Hari Tua dibayarkan kepada peserta berdasarkan akumulasi dan hasil pengembangannya, jika peserta memenuhi salah satu persyaratan sebagai berikut : 1) Mencapai umur 55 tahun atau meninggal dunia, atau cacat total tetap. 2) Mengalami PHK setelah menjadi peserta sekurang-kurangnya 5 tahun dengan masa tunggu 1 bulan. 3) Menjadi warga negara asing dengan pergi ke luar negeri dan tidak kembali, atau menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS)/TNI/POLRI. b. Iuran Program Jaminan Hari Tua Program BPJS Ketenagakerjaan : % Iuran dikali Upah menjadi tanggungan. Ditanggung Perusahaan = 3,7% Ditanggung Tenaga Kerja = 2% 20

27 c. Tata Cara Pengajuan Jaminan 1. Setiap permintaan JHT, tenaga kerja harus mengisi dan menyampaikan formulir 5 BPJS Ketenagakerjaan kepada kantor BPJS Ketenagakerjaan setempat dengan melampirkan: a. Kartu peserta Jamsostek (KPJ) asli b. Kartu Identitas diri KTP/SIM (fotocopy) c. Surat keterangan pemberhentian bekerja dari perusahaan atau Penetapan Pengadilan Hubungan Industrial d. Kartu Keluarga (KK) 2. Permintaan pembayaran JHT bagi tenaga kerja yang mengalami cacat total dilampiri dengan Surat Keterangan Dokter 3. Permintaan pembayaran JHT bagi tenaga kerja yang meninggalkan wilayah Republik Indonesia dilampiri dengan: a. Pernyataan tidak bekerja lagi di Indonesia b. Fotocopy Paspor c. Fotocopy VISA 4. Permintaan pembayaran JHT bagi tenaga kerja yang meninggal dunia sebelum usia 55 thn dilampiri: a. Surat keterangan kematian dari Rumah Sakit/Kepolisian/Kelurahan b. Fotocopy Kartu keluarga 21

28 5. Permintaan pembayaran JHT bagi tenaga kerja yang berhenti bekerja dari perusahaan sebelum usia 55 tahun telah memenuhi masa kepesertaan 5 tahun telah melewati masa tunggu 1 (satu) bulan terhitung sejak tenaga kerja yang bersangkutan berhenti bekerja, dilampiri dengan: a. Fotocopy surat keterangan berhenti bekerja dari perusahaan b. Surat pernyataan belum bekerja lagi c. Permintaan pembayaran JHT bagi tenaga kerja yang menjadi Pegawai Negeri Sipil/TNI/POLRI Selambat-lambatnya 30 hari setelah pengajuan tersebut BPJS Ketenagakerjaan melakukan pembayaran JHT Jaminan Hari Tua Tenaga Kerja Penerima Upah Menurut Provinsi Tahun 2014 Pada tahun 2014 sampai dengan bulan Juni, jumlah pekerja peserta BPJS Ketenagakerjaan pada program jaminan hari tua sebanyak Tenaga kerja. Jumlah terbanyak terdapat pada Provinsi DKI Jakarta yaitu sebanyak tenaga kerja, kemudian diikuti oleh Provinsi Jawa Barat sebanyak tenaga kerja dan Jawa Timur sebanyak tenaga kerja. Sedangkan yang terendah di Provinsi Gorontalo yaitu sebanyak tenaga kerja. (Tabel.1) 22

29 Grafik 3. Jumlah Penerimaan Jaminan Hari Tua ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT RIAU JAMBI SUMATERA SELATAN BENGKULU LAMPUNG BANGKA BELITUNG KEPULAUAN RIAU DKI JAKARTA JAWA BARAT JAWA TENGAH DI YOGYAKARTA JAWA TIMUR BANTEN BALI NUSA TENGGARA BARAT NUSA TENGGARA KALIMANTAN BARAT KALIMANTAN TENGAH KALIMANTAN SELATAN KALIMANTAN TIMUR SULAWESI UTARA SULAWESI TENGAH SULAWESI SELATAN SULAWESI TENGGARA GORONTALO SULAWESI BARAT MALUKU MALUKU UTARA PAPUA BARAT PAPUA Sumber : BPJS Ketenagakerjaan, diolah oleh Pusdatinaker 23

30 Jumlah pekerja penerima Jaminan Hari Tua pada tahun 2014 sampai dengan bulan Juni sebanyak kasus dengan hak yang diterima sebesar ,28 rupiah. Jumlah pekerja penerima Jaminan Hari Tua tertinggi terdapat di Provinsi Jawa Barat yaitu sebanyak kasus dengan hak yang diterima sebesar ,22 rupiah. Meskipun demikian terdapat juga yang jumlah pekerja penerima jaminan hari tuanya lebih kecil yaitu di Provinsi DKI Jakarta sebanyak kasus namun jumlah hak yang diterima lebih besar seperti yaitu sebesar ,22 rupiah. Dan jumlah penerima Jaminan Hari Tua terendah terdapat pada Provinsi Maluku yaitu sebanyak 852 kasus dengan hak yang diterima sebesar ,11 rupiah. (Tabel.3) 24

31 Grafik 4. Jumlah Hak Yang Diterima Program Jaminan Hari Tua dalam ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT RIAU JAMBI SUMATERA SELATAN BENGKULU LAMPUNG BANGKA BELITUNG KEPULAUAN RIAU , , , , , , , , , ,06 DKI JAKARTA ,22 JAWA BARAT ,22 JAWA TENGAH DI YOGYAKARTA JAWA TIMUR BANTEN BALI NUSA TENGGARA BARAT NUSA TENGGARA KALIMANTAN BARAT KALIMANTAN TENGAH KALIMANTAN SELATAN KALIMANTAN TIMUR SULAWESI UTARA SULAWESI TENGAH SULAWESI SELATAN SULAWESI TENGGARA GORONTALO SULAWESI BARAT MALUKU MALUKU UTARA PAPUA BARAT PAPUA , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,82 Sumber : BPJS Ketenagakerjaan, diolah oleh Pusdatinaker 25

32 3. Program Jaminan Kematian Jaminan Kematian diperuntukkan bagi ahli waris dari peserta program BPJS Ketenagakerjaan yang meninggal bukan karena kecelakaan kerja. Jaminan Kematian diperlukan sebagai upaya meringankan beban keluarga baik dalam bentuk biaya pemakaman dan uang santunan berupa uang. Pengusaha wajib menanggung iuran Program Jaminan Kematian sebesar 0,3% dengan jaminan kematian yang diberikan adalah Rp ,- terdiri dari Rp ,- santunan kematian dan Rp 2 juta biaya pemakaman dan santunan berkala. a. Manfaat Program Jaminan Kematian Program ini memberikan manfaat kepada keluarga tenaga kerja seperti: 1. Santunan Kematian: Rp ,- 2. Biaya Pemakaman: Rp ,- 3. Santunan Berkala: Rp ,-/ bulan (selama 24 bulan) atau dapat diambil sekaligus dimuka. *) sesuai dengan PP Nomor 53 Tahun 2012 b. Iuran Program Jaminan Kematian Program BPJS Ketenagakerjaan : % Iuran dikali Upah dan menjadi tanggungan Ditanggung Perusahaan : 0,3 Ditanggung Tenaga Kerja : - 26

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER-24/MEN/VI/2006 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER-24/MEN/VI/2006 TENTANG PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER24/MEN/VI/2006 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA YANG MELAKUKAN PEKERJAAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR: PER 12/MEN/VI/2007

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR: PER 12/MEN/VI/2007 PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR: PER 12/MEN/VI/2007 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENDAFTARAN KEPESERTAAN, PEMBAYARAN IURAN, PEMBAYARAN SANTUNAN DAN PELAYANAN JAMINAN

Lebih terperinci

: 1. ia. MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBI,IK INDONESIA,

: 1. ia. MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBI,IK INDONESIA, MENTERI TENACA KERJA DAN TRANS[IIGRASI REPUBLIK INDONISIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER-24/MEN/VV2006 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2004 TENTANG PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2004 TENTANG PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2004 TENTANG PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK

KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI INFORMASI Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PENGENAAN SANKSI ADMINISTRATIF KEPADA PEMBERI KERJA SELAIN PENYELENGGARA NEGARA DAN SETIAP ORANG, SELAIN PEMBERI KERJA, PEKERJA,

Lebih terperinci

LAPORAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI NASIONAL PENGHAPUSAN BENTUK-BENTUK PEKERJAAN TERBURUK UNTUK ANAK

LAPORAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI NASIONAL PENGHAPUSAN BENTUK-BENTUK PEKERJAAN TERBURUK UNTUK ANAK LAPORAN PELAKSANAAN RENCANA AKSI NASIONAL PENGHAPUSAN BENTUK-BENTUK PEKERJAAN TERBURUK UNTUK ANAK PERIODE 2002-2007 Diterbitkan oleh : SEKRETARIAT KOMITE AKSI NASIONAL PENGHAPUSAN BENTUK-BENTUK PEKERJAAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.17/MEN/XI/2010 TENTANG PERENCANAAN TENAGA KERJA MIKRO

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.17/MEN/XI/2010 TENTANG PERENCANAAN TENAGA KERJA MIKRO MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.17/MEN/XI/2010 TENTANG PERENCANAAN TENAGA KERJA MIKRO DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

TENTANG PELAKSANAAN PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

TENTANG PELAKSANAAN PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KETENAGAKERJAAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA UBLINDONESIA PERATURAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2014 TENTANG PELAKSANAAN PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 101 TAHUN 2012 TENTANG PENERIMA BANTUAN IURAN JAMINAN KESEHATAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 101 TAHUN 2012 TENTANG PENERIMA BANTUAN IURAN JAMINAN KESEHATAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 101 TAHUN 2012 TENTANG PENERIMA BANTUAN IURAN JAMINAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI DI PROVINSI RIAU

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI DI PROVINSI RIAU UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI DI PROVINSI RIAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KORBAN PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KORBAN PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KORBAN PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, Menimbang : a. bahwa perdagangan orang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KETENAGAKERJAAN

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KETENAGAKERJAAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KETENAGAKERJAAN DENGAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH DARI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM INFORMASI KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM INFORMASI KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM INFORMASI KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa informasi merupakan kebutuhan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

PETA JALAN PENYELENGGARAAN

PETA JALAN PENYELENGGARAAN REPUBLIK INDONESIA PETA JALAN PENYELENGGARAAN JAMINAN SOSIAL BIDANG KETENAGAKERJAAN 2013-2019 JAMINAN KECELAKAAN KERJA Kerjasama Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Kementerian Perencanaan

Lebih terperinci

Menteri Perdagangan Republik Indonesia

Menteri Perdagangan Republik Indonesia Menteri Perdagangan Republik Indonesia PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32/M-DAG/PER/8/2008 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN USAHA PERDAGANGAN DENGAN SISTEM PENJUALAN LANGSUNG DENGAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Desa memiliki hak asal usul dan hak tradisional dalam

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KAMPAR

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KAMPAR LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KAMPAR NOMOR : 05 TAHUN : 2009 SERI : E PERATURAN DAERAH KABUPATEN KAMPAR NOMOR 05 TAHUN 2009 TENTANG PENEMPATAN TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KAMPAR,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN PEMBERI KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN PEMBERI KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN PEMBERI KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1992

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

ANGGARAN DASAR MUKADIMAH

ANGGARAN DASAR MUKADIMAH ANGGARAN DASAR MUKADIMAH Menyadari sepenuhnya bahwa untuk mencapai suatu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, guna mengisi cita-cita Proklamasi Kemerdekaan, pengusaha Indonesia

Lebih terperinci

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankan program

Lebih terperinci