Buku Pegangan tentang Air Tak Berekening (NRW) untuk Manajer. Panduan untuk Memahami Kehilangan Air

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Buku Pegangan tentang Air Tak Berekening (NRW) untuk Manajer. Panduan untuk Memahami Kehilangan Air"

Transkripsi

1 Buku Pegangan tentang Air Tak Berekening (NRW) untuk Manajer Panduan untuk Memahami Kehilangan Air

2 Judul asli: The Manager s Non-Revenue Water Hanbook: A Guide to Understanding Water Losses Buku Pegangan tentang Air Tak Berekening (NRW) untuk Manajer Panduan untuk Memahami Kehilangan Air

3 Tim Publikasi Pengarang: Malcolm Farley Gary Wyeth Zainuddin Bin Md. Ghazali Arie Istandar Sher Singh Penyunting: Niels van Dijk Vivian Raksakulthai Elizabeth Kirkwood

4 1. PENGANTAR Latar Belakang Tantangan-tantangan yang dihadapi perusahaan -perusahaan air minum di Asia Dampak NRW: Lingkaran Setan dan Malaikat Mengatasi NRW Penyebab-penyebab kegagalan dan jalan menuju keberhasilan Buku Pegangan tentang NRW untuk Manajer MENENTUKAN TINGKAT KEHILANGAN AIR: NERACA AIR Berapa banyak air yang hilang Komponen neraca air: Dimana kehilangan air terjadi? Langkah-langkah kunci untuk menyusun neraca air Memperbaiki keakuratan hasil-hasil neraca air Keakuratan meter produksi Keakuratan meter pelanggan Siklus penagihan pelanggan MENYUSUN STRATEGI UNTUK MENGURANGI DAN MENGELOLA AIR TAK BEREKENING (NRW) Membentuk tim penyusun strategi Arti penting menetapkan sasaran-sasaran pengurangan NRW yang tepat Memperioritaskan komponen-komponen pengurangan NRW Landasan pemikiran strategi pengurangan NRW: Kesadaran, lokasi, dan perbaikan (ALR) 3.5 Pertimbangan-pertimbangan anggaran untuk melaksanakan strategi MENINGKATKAN KESADARAN TENTANG STRATEGI Mendapatkan persetujuan tingkat tinggi Membangun kesadaran dan konsensus staf Menjangkau pelanggan MEMAHAMI KEHILANGAN NONFISIK Definisi kehilangan nonfisik Elemen-elemen kehilangan nonfisik dan strategi-strategi pengelolaan Bagaimana mengatasi ketidakakuratan meter pelanggan Konsumsi tak resmi Kesalahan-kesalahan pembacaan meter Kesalahan penanganan data dan pembukuan... viii I

5 6. MEMAHAMI KEHILANGAN FISIK Definisi kehilangan fisik Elemen-elemen kehilangan fisik Kehilangan dari pipa transmisi dan distribusi Kebocoran dan limpahan dari reservoir dan tangki penyimpanan air Kebocoran hingga meter pelanggan Karakteristik kebocoran Mengembangkan satu strategi pengelolaan kebocoran Pengendalian kebocoran aktif (ALC) Pengelolaan tekanan Kecepatan dan kualitas perbaikan Manajemen aset MEMAHAMI DISTRIK METER AREA (DMA) Kriteria dan proses pembentukan DMA Menggunakan hasil-hasil DMA untuk mengurangi tingkat-tingkat NRW Memperkirakan kehilangan fisik Menentukan kehilangan nonfisik (komersial) Pendekatan pengelolaan DMA Manfaat tambahan DMA Pengelolaan tekanan yang lebih baik Mempertahankan kualitas air Menyediakan pasokan air yang berkesinambungan (24/7) MEMANTAU KINERJA PENGELOLA NRW Karakteristik indikator-indikator kinerja Indikator-indikator kinerja untuk kehilangan fisik Menyatakan nrw sebagai persentase Indikator-indikator kinerja lain untuk kehilangan fisik Indeks kebocoran infrastruktur (infrastructure leakage index/ili) Indikator-indikator kinerja untuk kehilangan nonfisik Melaksanakan satu program pemantauan ANEKS 1: DAFTAR ISTILAH... ANEKS 2: LANGKAH-LANGKAH UNTUK MENGHITUNG NRW DENGAN MENGGUNAKAN TABEL NERACA AIR IWA... ANEKS 3: SAMPEL DAFTAR PERIKSA AUDIT AIR

6 Daftar Gambar Gambar 1.1: Lingkaran Setan NRW... 5 Gambar 1.2: Lingkaran Malaikat NRW... 5 Gambar 1.3: Mengurangi NRW merupakan tanggung jawab setiap orang... 7 Gambar 2.1: Neraca air yang menunjukkan komponen-komponen NRW Gambar 3.1: Mengidentifikasi tingkat ekonomi NRW Gambar 3.2: Dampak waktu pada total volume yang hilang Gambar 4.1: Bagan untuk membantu staf memahami komponen-komponen NRW Gambar 5.1: Empat pilar kehilangan nonfisik Gambar 6.1: Waktu bocor dan volume kehilangan air Gambar6.2:Empat pilar untuk mewujudkan keberhasilan strategi pengelolaan kebocoran Gambar 6.3: Satu jaringan distribusi umum Gambar 6.4: Hubungan tekanan/kebocoran Gambar 7.1: Tata Letak DMA secara umum Gambar 7.2: Profil aliran DMA 24-jam secara umum Gambar 7.3: Hubungan aliran DMA dan tekanan selama tiga hari Gambar 7.4: NNF berdasarkan waktu Gambar 7.5: Dari deteksi dan perbaikan kebocoran menuju rehabilitasi pipa Gambar 8.1: Pohon keputusan untuk memilih indikator-indikator kinerja Gambar 8.2: Konsep ILI Daftar Tabel Tabel 2.1: Contoh indikatif keakuratan meter Tabel 3.1: Volume dan analisis biaya untuk aktivitas-aktivitas pengelolaan NRW Tabel 6.1: Laju aliran untuk semburan yang dilaporkan dan tidak dilaporkan Tabel 6.2: Menghitung background losses Tabel 8.1: Indikator-indikator yang direkomendasikan untuk kehilangan fisik dan NRW Tabel 8.2: Matriks target kehilangan fisik Daftar Boks Boks 1.1: Mengapa Perusahaan-Perusahaan Air Minum Susah Payah untuk Mengurangi NRW?... 4 Boks 2.1: WB-EasyCalc Boks 7.1: Pemodelan Jaringan... 69

7

8 PRAKATA Kebanyakan negara-negara maju mempunyai infrastrutur yang mapan dan praktik-praktik operasional yang mapan untuk mengelola dan mengontrol air tak berekening/atr (non-revenue water/nrw). Namun tidaklah demikian yang terjadi di negara-negara berkembang; banyak negaranegara berkembang masih berjuang untuk memastikan bahwa para pelanggan mendapatkan pasokan air minum yang aman dalam jumlah yang cukup, yang seringkali disalurkan melalui jaringan pipa yang tidak memadai dengan sistem pencatatan yang lemah serta tingkat ketrampilan teknis dan teknologi yang rendah. Sistem penetapan tarif dan kebijakan-kebijakan pengumpulan pendapatan seringkali tidak mencerminkan nilai yang sesungguhnya dari air yang dipasok sehingga membatasi pendapatan perusahaan dan mendorong para pelanggan untuk memberi nilai rendah pada layanan yang diberikan. Negara-negara berkembang di Asia mengalami tantangan-tantangan serupa dalam mengurangi NRW, termasuk infrastruktur yang menua, hambatan keuangan, tata kelola yang lemah, dan rancangan proyek yang buruk. Walaupun demikian, banyak perusahaan air minum di dalam kawasan ini yang bisa memanfaatkan para staf yang penuh motivasi dan gigih untuk melaksanakan solusisolusi apabila tantangan-tantangan untuk mengurangi NRW sudah bisa diidentifikasi. Dengan menggunakan pesan-pesan kunci, Buku Pegangan tentang Air Tak Berekening (NRW) untuk Manajer ini memandu manajer perusahaan penyedia layanan air minum melalui tahapan dalam mengatasi NRW, pertama dengan memahami dan mengkuantifikasikan NRW, dan kemudian menyusun strategi untuk mengatasinya. Bab 1 : menelaah skala NRW, dan menitikberatkan pada tantangan-tantangan yang dihadapi perusahaan-perusahaan penyedia layanan air minum di Asia. Para manajer perusahaan air minum dan staf operasional harus berkomitmen untuk mengelola NRW sebagai satu proses jangka panjang yang memadukan banyak aspek dalam operasional air. Penanganan NRW merupakan tanggung jawab para manajer dalam perusahaan air minum, termasuk bagian keuangan dan administrasi, produksi, distribusi, layanan pelanggan, dan bagian bagian lain. Perusahaan-perusahaan air harus mengakhiri satu siklus yang disebut sebagai Lingkaran Setan dimana perusahaan-perusahaan menghadapi meningkatnya NRW, kerugian finansial, keterbatasan investasi, dan layanan yang buruk. Sebaliknya, perusahaan tersebut harus mengikuti Lingkaran Malaikat yang memungkinan mereka untuk mengurangi NRW, meningkatkan efisiensi, menjaga sumber daya finansial, dan mendorong kepuasan dan kemauan kuat dari pelanggan untuk berinvestasi. vii Bab 2 : menyoroti perlunya memahami dan secara akurat mengkuantifikasikan NRW sebagai satu indikator ketidakefisienan dalam operasional sebuah perusahaan air minum. Neraca air (water balance) dari Asosiasi Air Internasional (International Water Association/IWA) merupakan satu metode yang sangat bagus bagi para manajer perusahaan air minum untuk merinci dan mengidentifikasi komponen-komponen dalam NRW. Memastikan keakuratan data yang digunakan untuk menghitung tingkat NRW juga penting untuk memahami masalah secara sepenuhnya. Mengumpulkan data yang akurat dari meter produksi dan meter pelanggan membantu untuk mengukur tingkat NRW yang sesungguhnya. Selain itu, siklus tagihan pelanggan juga harus menjadi faktor dalam penghitungan NRW untuk memastikan bahwa jangka waktu yang digunakan untuk pengukuran volume konsumsi selaras dengan pengukuran volume meter produksi.

9 Bab 3 : mempertimbangkan persyaratan-persyaratan untuk mengembangkan satu strategi pengurangan NRW. Perusahaan-perusahaan penyedia layanan air perlu untuk mempertimbangkan untuk membentuk satu tim pengelolaan NRW untuk menyusun satu strategi, memastikan bahwa semua komponen NRW ditangani, dan memverifikasi bahwa strategi yang dirancang laik dan bisa dipraktikkan terkait dengan beban kerja dan anggaran. Memilih para anggota tim yang tepat mendorong kepemilikan antar berbagai departemen perusahaan air minum yang terlibat dalam pelaksanaan strategi dan juga mendorong tercapainya konsensus di tingkat manajemen senior. Sebagai langkah pertama dalam penyusunan strategi, tim harus menetapkan satu target awal dalam seluruh perusahaan air minum untuk pengurangan NRWberdasarkan pada tingkat ekonomi NRW. Tim dapat menyeimbangkan tujuan-tujuan keuangan dan pasokan air dalam strategi dengan menggunakan hasil-hasil neraca air sembari menetapkan tujuan untuk memperpendek waktu-waktu kesadaran, lokasi, dan perbaikan (awareness, location, and repair/alr) untuk mengatasi kehilangan air. Strategi NRW bisa mencakup satu jangka waktu empat hingga tujuh tahun. Oleh karenanya, proyek-proyek rintisan bisa membantu para manajer penyedia layanan air minum untuk memahami anggaran dan sumber daya keseluruhan yang diperlukan untuk melaksanakan strategi secara menyeluruh. viii Bab 4 : menekankan tingkat kesadaran yang diperlukan di semua tataran mulai dari para pengambil keputusan tingkat tinggi hingga konsumen akhir yang sangat menentukan keberhasilan program pengurangan NRW. Dukungan dari manajemen tingkat tinggi program serta anggaran yang diperlukan bisa mendorong keberlanjutan keuangan strategi tersebut. Manajemen dan staf tingkat menengah harus memahami peran dan tanggung jawab mereka dalam mengurangi NRW karena diperlukan upaya gabungan dari semua departemen dalam perusahaan layanan air minum untuk melakukannya. Selain itu, menjangkau luas kepada pelanggan membantu untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang NRW dan bagaimana pengurangan kehilangan air menghasilkan pasokan dan kualitas air yang lebih baik. Bab 5 : mengatasi kerugian-kerugian komersial. Kerugian komersial menggambarkan pendapatan yang hilang dan bahkan volume yang kecil akan membawa dampak keuangan yang besar. Kerugian-kerugian ini paling sering terjadi akibat meter yang rusak, meter yang tua dan tidak dipelihara secara semestinya, sambungan tidak resmi, dan kesalahan-kesalahan administratif atau bahkan praktik-praktik korupsi selama pembacaan meter dan proses penagihan. Perusahaanperusahaan air minum harus melakukan investasi untuk melakukan pelatihan bagi para pembaca, staf dan kru meter, serta investasi dalam sistem penagihan yang akurat dan kuat, yang bisa secara langsung menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi. Selain itu, kolaborasi dari publik dan departemen-departemen pemerintah tertentu diperlukan untuk mengatasi pencurian dan penggunaan air secara tidak resmi. Bab 6 : menelaah kehilangan fisik. Ini mencakup kebocoran pada pipa transimisi dan distribusi utama, kebocoran dan luberan dari tangki penyimpanan, dan kebocoran di pipa-pipa pelayanan hingga meter pelanggan. Kebocoran dari pipa-pipa transmisi dan distribusi biasanya merupakan kejadian besar yang dapat mengakibatkan kerusakan parah namun biasanya masyarakat melaporkannya dengan cepat, yang dikuti oleh perbaikan oleh perusahaan air minum dalam setiap kondisi darurat. Jenis-jenis kebocoran lainnya sulit untuk dideteksi dan diperbaiki. Keberhasilan satu

10 strategi pengelolaan kebocoran memerlukan manajemen tekanan, pengendalian kebocoran secara aktif, manajemen sambungan pipa dan aset, dan perbaikan yang cepat dan berkualitas tinggi. Bab 7 : membahas tentang zonasi. Membagi satu jaringan pasokan air terbuka menjadi zona-zona atau kawasan bermeter (district meter area/dma) yang lebih kecil yang lebih bisa dikelola sekarang diterima sebagai praktik unggulan internasional. Ini memungkinkan perusahaan air minum untuk bisa memahami jaringan dengan lebih baik dan untuk lebih mudah menganalisis tekanan dan aliran di wilayah-wilayah yang bermasalah. Kriteria untuk membentuk DMA antara lain mencakup ukuran (atau jumlah sambungan), jumlah keran yang harus ditutup, jumlah meteran air, variasi ketinggian tanah dan ciri-ciri topografi yang nampak yang dapat menjadi batas-batas DMA. Para manajer perusahaan air minum menggunakan aliran malam minimum (minimum night flow/mnf) dan aliran malam yang resmi (legitimate night flow/lnf) untuk menghitung aliran malam bersih (net night flow /NNF), serta kerugian-kerugian komersial untuk menentukan NRW dalam sebuah DMA. Membentuk DMA membantu untuk mengelola tekanan, meningkatkan kualitas air, dan memungkinkan pasokan air yang berkesinambungan. Bab 8 : memberikan indikasi kisaran indikator-indikator kinerja (performance indicator/ PI) untuk para manajer perusahaan air minum. PI merupakan satu alat bantu untuk memantau perkembangan dalam mengurangi NRW mengembangkan standar-standar, dan memprioritaskan investasi. IWA merekomendasikan Indeks Kebocoran Infrastruktur (Infrastructure Leakage Index/ILI) sebagai indikator kinerja yang terbaik untuk kerugian fisik. Saat ini, PI terbaik untuk kerugian komersial adalah dengan menyatakannya dalam persentase konsumsi yang resmi. IWA sedang mengembangkan satu indikator lain untuk kerugian komersial yang bernama Indeks Kerugian Nampak (Apparent Loss Index /ALI). Para manajer perusahaan air minum harus mengembangkan dan melaksanakan program-program pemantauan untuk memastikan target-target NRW mereka dipenuhi. ix Saya senang karena telah menjadi bagian dalam penyusunan Buku Pegangan tentang Air Tak Berekening (NRW) untuk Manajer ini. NRW merupakan satu masalah global yang memerlukan strategi pengelolaan yang dapat diterapkan secara global. Untuk bisa mengembangkan strategi seperti itu diperlukan satu pendekatan diagnostik untuk mengidenitifikasi masalah dan kemudian menggunakan perangkat yang ada untuk mengurangi atau menghilangkannya. Landasan untuk keberhasilan penyusunan strategi adalah dengan mengikuti proses langkah demi langkah yaitu mengajukan beberapa pertanyaan dasar tentang kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik utilitas kemudian melakukan tugas-tugas yang tepat untuk menjawabnya. Sebagai seorang konsultan internasional, saya telah bekerja dengan banyak perusahaan penyedia layanan air minum baik di negara-negara maju mapun berkembang untuk memperkenalkan dan melaksanakan strategi-strategi pengurangan NRW. Saya yakin bahwa filosofi, konsep dan rekomendasi yang ada di dalam buku pegangan ini sangat mencerminkan praktik-praktik unggulan internasional, khususnya yang direkomendasikan oleh IWA dan World Bank Institute. Dengan senang hati saya mendukung digunakannya buku pegangan ini. Jika perusahaan-perusahaan penyedia layanan air minum Asia menerapkan pendekatan yang direkomendasikan dalam buku

11 pegangan ini, mereka akan dengan cepat memetik manfaat dari semakin meningkatnya pemahaman tentang kinerja jaringan mereka dan mereka akan semakin mempunyai pengetahuan tentang alatalat yang tersedia untuk mengidentifikasi dan mengurangi tingkat NRW mereka. Malcolm Farley Konsultan Pengelolaan Kehilangan Air Internasional 23 Juni 2008 x

12

13

14 1. PENGANTAR 1.1 LATAR BELAKANG Volume air tak berekening (non-revenue water/nrw) atau kehilangan air di tingkat global sungguh mencengangkan. Setiap tahun lebih dari 32 milyar m3 air yang sudah diolah hilang karena kebocoran dari jaringan-jaringan distribusi. Sementara, 16 milyar m 3 lainnya tersalurkan kepelanggan tanpa ditagih karena pencurian, pembacaan meter yang buruk, atau korupsi. Satu perkiraan konservatif tentang biaya tahunan total yang harus ditanggung perusahaan air minum di seluruh dunia adalah US$14 milyar. Di sejumlah negara berpenghasilan rendah, kerugian ini mewakili 50-60% dari pelayanan air dengan perkiraan global sekitar 35%. Penghematan separuh saja dari jumlah ini akan memberikan pelayanan air kepada 100 juta penduduk lainnya tanpa investasi lebih lanjut 1). Manfaat lain dari pengurangan NRW antara lain adalah: Perusahaan-perusahaan air minum mendapatkan akses tambahan sebesar US$3 milyar dalam bentuk perputaran uang yang dihasilkan sendiri (self-generated cash flow) Perusahaan-perusahaan air minum mengurangi sambungan-sambungan ilegal sehingga menciptakan keadilan antar para pengguna Perusahaan perusahaan yang lebih efisien dan berkelanjutan bisa meningkatkan layanan pelanggan Peluang-peluang usaha baru menciptakan lebih banyak lagi ribuan pekerjaan 1) Sumber: World Bank Discussion Paper No. 8, December 2006

15 Buku Pegangan tentang Air Tak Berekening (NRW) untuk Manajer: 2Panduan untuk Memahami Kehilangan Air Di Asia, banyak perusahaan air minum beroperasi di bawah jurisdiksi pemerintah kota / kabupaten, propinsi, atau pusat. Perusahaan-perusahaan ini seringkali melakukan rotasi atau memperkerjakan para manajer senior dan direktur dengan berbagai latar belakang di luar sektor air. Oleh karenanya, para manajer senior yang menduduki jabatan-jabatan ini mempunyai pengetahuan yang terbatas tentang operasional layanan air, khususnya tentang persyaratan-persyaratan teknis dan kelembagaan yang diperlukan untuk bisa mengelola NRW dan kehilangan air secara efektif. Buku pegangan ini berfungsi untuk membantu para manajer senior perusahaan air minum agar mempunyai pemahaman yang lebih baik tentang definisi, penyebab, dan solusi-solusi praktis untuk mengatasi NRW, yang merupakan satu indikator kinerja kunci bagi operasional sebuah perusahaan air minum. Buku pegangan ini menyediakan informasi yang diperlukan para manajer ketika membahas isu-isu terkait NRW dengan staf mereka. Buku ini tidak dirancang sebagai satu panduan teknis praktis untuk para ahli teknik dalam mengelola NRW namun lebih sebagai rujukan untuk para manajer senior. Dengan mengurangi kehilangan air, perusahaan perusahaan air minum mempunyai tambahan pasokan untuk memperluas layanan mereka ke wilayahwilayah yang kurang mendapatkan layanan. Badan Amerika Serikat untuk Pembangunan Internasional (United States Agency for International Development/USAID), di bawah Kerja Sama Lingkungan-Asia (Environmental Cooperation-Asia/ECOAsia), menunjukkan bagaimana kesepakatan kemitraan kembaran (twinning) dapat membantu perusahaan-perusahaan air minum untuk memenuhi tantangan-tantangan dalam pengelolaan NRW dan menyesuaikan efisiensi operasional mereka untuk memperbaiki penyediaan layanan di wilayah-wilayah perkotaan. ECO-Asia bekerja dengan sejumlah perusahaan air minum yang berhasil untuk mengembangkan dan melaksanakan kemitraan-kemitraan kembaran dengan perusahaan perusahaan layanan publik yang berupaya untuk meningkatkan penyediaan layanan mereka. Selama , ECO-Asia memfasilitasi kemitraan kembaran antara Ranhill Utilities Berhad (Ranhill), sebuah perusahaan layanan publik dari Malaysia yang diakui karena keefektifannya dalam mengurangi dan mengelola NRW, dengan Kewenangan Kerja Air Propinsi (Provincial Waterworks Authority/PWA) Thailand dan Perusahaan Layanan Air dan Saluran Limbah (Water Supply and Sewerage Company/WSSC) Bac Ninh di Vietnam. Kemitraan-kemitraan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas PWA dan WSSC Bac Ninh untuk memahami dan mengatasi NRW dengan lebih baik. Pembelajaran-pembelajaran dari pengalaman-pengalaman Ranhill dan kesepakatankesepakatan kemitraan kembaran ini telah berperan dalam penyusunan Buku Pegangan tentang Air Tak Berekening untuk Manajer ini. 1.2 TANTANGAN-TANTANGAN YANG DIHADAPI PERUSAHAAN - PERUSAHAAN AIR MINUM DI ASIA Ada banyak wilayah-wilayah di Asia yang kaya air namun juga banyak wilayah dimana terdapat kelangkaan air karena geografis kawasan serta kemampuan satu negara untuk membayar untuk

16 Air yang berlimpah meningkatkan kualitas hidup Pelanggan mengantri untuk mendapatkan air di wilayahwilayah yang langka air mendapatkan air. Fotofoto berikut ini menggambarkan ketidakmerataan ketersediaan air antar negara-negara di Asia. Meskipun mengurangi NRW tidak bisa mengatasi perbedaan kontras tersebut, ia dapat membantu untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas air yang tersedia di wilayahwilayah yang langka air. Tidak semua negara atau kawasan - khususnya di bagian-bagian Asia - mempunyai prasarana dan prosedur-prosedur operasional yang mapan untuk mulai menangani NRW. Banyak yang masih berjuang untuk memastikan bahwa para pelanggan mendapatkan layanan air yang cukup untuk menjaga kesehatan dan hidup. Para manajer perusahaan air minum di Asia akan selalu menghadapi tantangan-tantangan yang lebih besar, antara lain sebagai berikut: Urbanisasi yang cepat Menghilangnya pasokan air Polusi lingkungan Infrastruktur yang sudah menua Operasional dan kebijakan pemeliharaan yang buruk, termasuk sistem pencatatan yang tidak efektif Ketrampilan teknis dan teknologi yang tidak memadai Kendala keuangan yang lebih besar, termasuk struktur tarif dan/atau kebijakan pengumpulan pendapatan yang tidak sesuai Pengaruh politik, budaya, dan sosial Kejadian kehilangan air nonfisik yang lebih tinggi, khususnya sambungan-sambungan illegal 3 Pengantar Walaupun demikian, para manajer perusahaan air minum mempunyai sejumlah kekuatan yang bisa mereka manfaatkan: Etika kerja dan tingkat ketekunan yang tinggi Kemampuan untuk melakukan tindakan dengan sumber daya dan materi yang sudah tersedia Staf yang termotivasi dengan potensi untuk mengembangkan kapasitas teknis yang tinggi Staf yang termotivasi dengan potensi untuk mengembangkan kapasitas teknis yang tinggi

17 Buku Pegangan tentang Air Tak Berekening (NRW) untuk Manajer: Panduan untuk Memahami Kehilangan Air Faktor-faktor ini semuanya mempengaruhi ruang lingkup untuk mengelola kehilangan dan kebutuhan dan berdampak pada laju perubahan. Pada saat yang sama, NRW yang terus berlangsung membatasi sumber daya keuangan yang tersedia untuk mengatasi tantangantantangan yang dihadapi perusahaan-perusahaan air minum ini di Asia. Buku pegangan ini memungkinkan para manajer perusahaan air minum di kawasan untuk mengatasi keterbatasanketerbatasan tersebut, mengakui tantangan yang dihadapi, dan membuat perbaikan bertahap terhadap kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik yang ada saat ini. Boks 1.1: Mengapa Perusahaan Perusahaan Air Minum Sulit untuk Mengurangi NRW? Tidak memahami masalah (besaran, sumber, biaya) Kurang kapasitas (kurangnya staf yang terlatih) Dana yang tidak mencukupi untuk mengganti infrastruktur (pipa, meteran) Kurangnya komitmen manajemen dan karyawan Lingkungan pendukung dan insentif kinerja yang lemah Bill Kingdom, Roland Liemberger, Philippe Marin, The Challenge of Reducing Non-Revenue Water in Developing Countries--How the Private Sector Can Help: A Look at Performance-Based Service Contracting, World Bank, Paper No. 8, Dec DAMPAK NRW: LINGKARAN SETAN DAN MALAIKAT Lingkaran Setan NRW (Gambar 1.1) merupakan salah satu alasan kunci buruknya kinerja dan hasilhasil perusahaan seperti terlihat dalam kehilangan air fisik dan nonfisik (lihat Bab 5 dan 6). Kehilangan air fisik, atau kebocoran, mengalihkan air yang sangat berharga sehingga tidak menjangkau pelanggan dan meningkatkan biaya-biaya operasional. Ini juga mengakibatkan investasi yang lebih besar dari yang semestinya untuk meningkatkan kapasitas jaringan. Kehilangan air nonfisik, yang disebabkan ketidakakuratan meter pelanggan, penanganan data yang buruk, dan sambungan illegal, mengurangi pendapatan dan dengan demikian mengurangi peningkatan sumber daya keuangan.

18 Gambar 1.1: Lingkaran Setan NRW Pengeluaran dipusatkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pelanggan yang makin meningkat Penghasilan menurun dan biaya operasional meningkat Anggaran operasional dikurangi khususnya di bidangbidang pemeliharaan jaringan NRW meningkat Para manajer perusahaan air minum menghadapi tantangan untuk mengubah Lingkaran Setan ini menjadi Lingkaran Malaikat (Gambar 1.2). Dalam praktiknya, mengurangi kehilangan air fisik yang sangat besar bisa mengakibatkan lebih banyaknya jumlah air yang tersedia untuk konsumsi dan menunda kebutuhan untuk menginvestasikan sumber-sumber baru, serta mengurangi biaya operasional. Demikian pula halnya, mengurangi kehilangan nonfisik menghasilkan pendapatan lebih banyak. Gambar 1.2: Lingkaran Malaikat NRW Pengantar 5 Pengeluaran ditingkatkan untuk bisa mencakup perbaikan-perbaikan operasional Investasi ditanamkan di program-program lebih lanjut untuk mengurangi ATR Pendapatan meningkat dan biaya operasional turun NRW menurun

19 Buku Pegangan tentang Air Tak Berekening (NRW) untuk Manajer: Panduan untuk Memahami Kehilangan Air 6 Mengganti infrastruktur yang menua memerlukan kapasitas keuangan, yang dapat diperoleh melalui pengurangan ATR 1.4 MENGATASI NRW Perusahaan-perusahaan air minum dimana pun di seluruh dunia harus menggunakan pendekatan diagnostik, diikuti dengan pelaksanaan solusi-solusi yang bisa dipraktikkan dan diwujudkan untuk mengurangi NRW. Langkah pertama adalah untuk belajar tentang jaringan dan praktik-praktik pengoperasian. Pertanyaan-pertanyaan yang umum dalam proses ini antara lain adalah: Berapa banyak air yang hilang? Dimana terjadi kehilangan air? Mengapa terjadi kehilangan air? Strategi-strategi apa yang dapat diperkenalkan untuk mengurangi kehilangan dan memperbaiki kinerja? Bagaimana kita melaksanakan strategi dan mempertahankan pencapaian yang sudah terwujud? 2) Penyebab-penyebab kegagalan dan jalan menuju keberhasilan Meskipun meminimalkan air tak berekning harus menjadi prioritas bagi perusahaan perusahaan air minum, banyak yang masih berjuang untuk mencapai tingkat NRW yang bisa diterima. Kegagalan pelaksanaan strategi-strategi NRW antara lain mulai dari kurangnya pemahaman tentang tingkat masalah hingga kurangnya kapasitas keuangan atau sumber daya manusia. Selain itu, para manajer perusahaan-perusahaan air minum seringkali tidak memberikan perhatian yang cukup kepada NRW karena lemahnya kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur internal sehingga berperan dalam meningkatkan tingkat NRW. 2) Kingdom, B., R. Liemberger, and P. Marin, The Challenge of Reducing Non-Revenue Water in Developing Countries How the Private Sector Can Help: A Look at Performance-Based Service Contracting, World Bank, Paper No. 8, Dec 2006

20 Pengelolaan NRW bukanlah merupakan satu aktivitas yang selesai satu kali saja namun merupakan aktivitas yang memerlukan komitmen jangka panjang dan keterlibatan semua departemen dalam perusahaan air minum. Banyak manajer perusahaan air minum yang tidak memiliki akses ke informasi tentang jaringan secara menyeluruh yang bisa membantu mereka untuk secara penuh memahami sifat NRW dan dampaknya pada operasional perusahaan air minum, kesehatan keuangannya, dan kepuasan pelanggan. Meremehkan kompleksitas NRW serta potensi manfaat untuk mengurangi NRW seringkali mengakibatkan kegagalan program pengurangan NRW. Pengurangan NRW yang berhasil bukanlah berarti memecahkan satu masalah teknis yang berdiri sendiri, namun sebaliknya terikat pada keseluruhan manajemen aset, operasional, dukungan pelanggan, alokasi keuangan, dan faktor-faktor lain (Gambar 1.3) Gambar 1.3: Mengurangi NRW merupakan tanggung jawab setiap orang Data Informasi Dukungan Manajemen Kapasitas Kecakapan Teknis 7 Pengantar Alokasi Keuangan NRW Operasi Komersial Dukungan Pelanggan Operasi & Pemelihara an Manajemen Aset

21 Buku Pegangan tentang Air Tak Berekening (NRW) untuk Manajer: 8Panduan untuk Memahami Kehilangan Air Lemahnya tata kelola juga berdampak pada pengurangan NRW. Para manajer perusahaan air minum seringkali tidak memiliki otonomi, akuntabilitas, dan ketrampilan teknis dan manajerial yang diperlukan untuk memberikan layanan yang bisa diandalkan. Manajemen perusahaan air minum seharusnya juga menangani tantangan-tantangan organisasional seperti kebijakankebijakan yang menjadi penghambat, kapasitas teknis yang tidak memadai, dan infrastruktur yang menua. Akhirnya, rancangan proyek yang buruk menghambat upaya-upaya untuk mengurangi NRW, khususnya meremehkan anggaran yang diperlukan. Walaupun demikian, terjadi peningkatan pemahaman para manajer perusahaan air minum tentang dimensi kelembagaan NRW. Selain itu, sejumlah perangkat juga mulai muncul untuk mendukung pengurangan NRW: Metodologi-metodologi baru yang mengkuantifikasikan kehilangan air fisik dan nonfisik secara lebih akurat Pendekatan-pendekatan teknis yang lebih efektif untuk mengelola kebocoran dan mengurangi tekanan pada sistem Instrumen-instrumen baru untuk melibatkan sektor swasta seperti kontrak-kontrak berbasis kinerja Buku Pegangan tentang NRW untuk Manajer Buku Pegangan tentang NRW untuk Manajer ini merupakan panduan untuk melaksanakan strategistrategi pengurangan NRW dengan mengatasi masing-masing isu ini dan merancang solusisolusi yang disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan khusus perusahaan air minum. Pendekatannya memungkinkan para manajer untuk dengan lebih segar melihat kembali masalah NRW dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Buku pegangan ini memberikan satu titik tolak bagi seorang manajer perusahaan air minum untuk mengkaji NRW, mengubah operasi dan prasarana untuk mengatasi faktor-faktor seperti itu, dan melaksanakan kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik yang diperlukan. Buku pegangan ini mencakup isu-isu berikut: Penghitungan neraca air, atau berapa banyak air yang masuk ke jaringan, dan jumlah yang menyumbang pada air berekening (revenue water) dan air tak berekening satu perusahaan air minum (Bab 2) Memprioritaskan komponen-komponen NRW yang menjadi sasaran dan mengembangkan satu strategi pengurangan (Bab 3) Melibatkan para pemangku kepentingan, termasuk manajemen, staf operasi, dan masyarakat umum, untuk melaksanakan strategi pengurangan (Bab 4) Mengatasi kehilangan air nonfisik (Bab 5) Mengatasi kehilangan air fisik (Bab 6) Membentuk DISTRIK METER AREA (DMA) (District Meter Area/DMA) dan menggunakannya untuk mengelola NRW (Bab 7) Memantau kinerja pengelolaan NRW perusahaan air minum (Bab 8)

PENURUNAN AIR TAK BEREKENING (Non Revenue Water) Ir. BUDI SUTJAHJO MT Anggota BPP SPAM

PENURUNAN AIR TAK BEREKENING (Non Revenue Water) Ir. BUDI SUTJAHJO MT Anggota BPP SPAM AIR TAK BEREKENING / NON REVENUE WATER 1 D E P A R T E M E N P E K E R J A A N U M U M BADAN PENDUKUNG PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM Jl. Wijaya I No. 68 Kebayoran Baru Jakarta, Telp. (021) 72789126,

Lebih terperinci

Manajemen Aset Berbasis Risiko pada Perusahaan Air Minum (Disusun oleh Slamet Susanto dan Christina Ningsih)*

Manajemen Aset Berbasis Risiko pada Perusahaan Air Minum (Disusun oleh Slamet Susanto dan Christina Ningsih)* Manajemen Aset Berbasis Risiko pada Perusahaan Air Minum (Disusun oleh Slamet Susanto dan Christina Ningsih)* 1. Pendahuluan Air bersih atau air minum sangat penting artinya bagi kehidupan manusia. Kajian

Lebih terperinci

KERANGKA KEBIJAKAN SEKTOR AIR MINUM PERKOTAAN RINGKASAN EKSEKUTIF

KERANGKA KEBIJAKAN SEKTOR AIR MINUM PERKOTAAN RINGKASAN EKSEKUTIF KERANGKA KEBIJAKAN SEKTOR AIR MINUM PERKOTAAN a. Pada akhir Repelita V tahun 1994, 36% dari penduduk perkotaan Indonesia yang berjumlah 67 juta, jiwa atau 24 juta jiwa, telah mendapatkan sambungan air

Lebih terperinci

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas)

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) LAMPIRAN 6 PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) Pihak Pertama Nama: Perwakilan yang Berwenang: Rincian Kontak: Pihak Kedua Nama:

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 270 sampel di wilayah usaha

BAB V PEMBAHASAN. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 270 sampel di wilayah usaha 69 BAB V PEMBAHASAN 5.1 Pemakaian Air Bersih 5.1.1 Pemakaian Air Untuk Domestik Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap sampel di wilayah usaha PAM PT. TB, menunjukkan bahwa pemakaian air bersih

Lebih terperinci

PEDOMAN ETIKA DALAM BERHUBUNGAN DENGAN PARA SUPPLIER

PEDOMAN ETIKA DALAM BERHUBUNGAN DENGAN PARA SUPPLIER PEDOMAN ETIKA DALAM BERHUBUNGAN DENGAN PARA SUPPLIER 2 PALYJA GDF SUEZ - Pedoman Etika Dalam Berhubungan Dengan Supplier GDF SUEZ berjuang setiap saat dan di semua tempat untuk bertindak baik sesuai dengan

Lebih terperinci

Sistem manajemen mutu Persyaratan

Sistem manajemen mutu Persyaratan SNI ISO 9001-2008 Standar Nasional Indonesia Sistem manajemen mutu Persyaratan ICS 03.120.10 Badan Standardisasi Nasional SNI ISO 9001-2008 Daftar isi Daftar isi... i Prakata... iv Pendahuluan... vi 0.1

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, pres-lambang01.gif (3256 bytes) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

Tata Kelola Pemerintahan Daerah dan Kinerja Pendidikan: Survei Kualitas Tata Kelola Pendidikan pada 50 Pemerintah Daerah di Indonesia

Tata Kelola Pemerintahan Daerah dan Kinerja Pendidikan: Survei Kualitas Tata Kelola Pendidikan pada 50 Pemerintah Daerah di Indonesia Tata Kelola Pemerintahan Daerah dan Kinerja Pendidikan: Survei Kualitas Tata Kelola Pendidikan pada 50 Pemerintah Daerah di Indonesia Wilayah Asia Timur dan Pasifik Pengembangan Manusia Membangun Landasan

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2006-2010 Sambutan Ketua BPK Pengelolaan keuangan negara merupakan suatu kegiatan yang akan mempengaruhi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dan bangsa

Lebih terperinci

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Juli 2014 Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi risiko perubahan iklim tercermin melalui serangkaian

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 12 / PRT / M / 2010 TENTANG PEDOMAN KERJASAMA PENGUSAHAAN PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 12 / PRT / M / 2010 TENTANG PEDOMAN KERJASAMA PENGUSAHAAN PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM MENTERI PEKERJAAN UMUM PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 12 / PRT / M / 2010 TENTANG PEDOMAN KERJASAMA PENGUSAHAAN PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

MATERI 1 ARTI PENTING PERENCANAAN STRATEGIS

MATERI 1 ARTI PENTING PERENCANAAN STRATEGIS MATERI 1 ARTI PENTING PERENCANAAN STRATEGIS 1.1. Pengertian Perencanaan Strategis Perencanaan strategis perusahaan adalah suatu rencana jangka panjang yang bersifat menyeluruh, memberikan rumusan ke mana

Lebih terperinci

SILABUS OLIMPIADE EKONOMI. : 120 menit tingkat kabupaten/kota dan provinsi. 150 menit tingkat nasional

SILABUS OLIMPIADE EKONOMI. : 120 menit tingkat kabupaten/kota dan provinsi. 150 menit tingkat nasional SILABUS OLIMPIADE EKONOMI Bidang studi Jenjang Alokasi waktu : Ekonomi : SMA/MA : 120 menit tingkat kabupaten/kota dan provinsi 150 menit tingkat nasional Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran 1. Mengidentifikasi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2005 TENTANG PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2005 TENTANG PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA - - 1 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2005 TENTANG PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

BAB 2 FASE DEFINISI Memahami Masalah User

BAB 2 FASE DEFINISI Memahami Masalah User BAB 2 FASE DEFINISI Memahami Masalah User 2.1. PENDAHULUAN Tujuan dari fase definisi adalah untuk memahami dengan baik masalah-masalah yang dihadapi oleh user dalam memperkirakan biaya dan waktu penyelesaian

Lebih terperinci

Layanan Pengoptimalan Cepat Dell Compellent Keterangan

Layanan Pengoptimalan Cepat Dell Compellent Keterangan Layanan Pengoptimalan Cepat Dell Compellent Keterangan Ikhtisar Layanan Keterangan Layanan ini ("Keterangan Layanan") ditujukan untuk Anda, yakni pelanggan ("Anda" atau "Pelanggan") dan pihak Dell yang

Lebih terperinci

Bagian 1: Darimana Anda memulai?

Bagian 1: Darimana Anda memulai? Bagian 1: Darimana Anda memulai? Bagian 1: Darimana Anda memulai? Apakah Anda manajer perusahaan atau staf produksi yang menginginkan perbaikan efisiensi energi? Atau apakah Anda suatu organisasi diluar

Lebih terperinci

Kebijakan Integritas Bisnis

Kebijakan Integritas Bisnis Kebijakan Integritas Bisnis Pendahuluan Integritas dan akuntabilitas merupakan nilainilai inti bagi Anglo American. Memperoleh dan terus mengutamakan kepercayaan adalah hal mendasar bagi kesuksesan bisnis

Lebih terperinci

MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI

MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI SALINAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN STANDAR

Lebih terperinci

Program "Integritas Premium" Program Kepatuhan Antikorupsi

Program Integritas Premium Program Kepatuhan Antikorupsi Program "Integritas Premium" Program Kepatuhan Antikorupsi Tanggal publikasi: Oktober 2013 Daftar Isi Indeks 1 Pendekatan Pirelli untuk memerangi korupsi...4 2 Konteks regulasi...6 3 Program "Integritas

Lebih terperinci

KEBIJAAKAN ANTI-KORUPSI

KEBIJAAKAN ANTI-KORUPSI Kebijakan Kepatuhan Global Desember 2012 Freeport-McMoRan Copper & Gold PENDAHULUAN Tujuan Tujuan dari Kebijakan Anti-Korupsi ( Kebijakan ) ini adalah untuk membantu memastikan kepatuhan oleh Freeport-McMoRan

Lebih terperinci

Total Quality Purchasing

Total Quality Purchasing Total Quality Purchasing Diadaptasi dari Total quality management, a How-to Program For The High- Performance Business, Alexander Hamilton Institute Dalam Manajemen Mutu Total, pembelian memainkan peran

Lebih terperinci

SEBUAH AWAL BARU: PERTEMUAN TINGKAT TINGGI TENTANG KEWIRAUSAHAAN

SEBUAH AWAL BARU: PERTEMUAN TINGKAT TINGGI TENTANG KEWIRAUSAHAAN SEBUAH AWAL BARU: PERTEMUAN TINGKAT TINGGI TENTANG KEWIRAUSAHAAN Pertemuan Tingkat Tinggi Tentang Kewirausahaan akan menyoroti peran penting yang dapat dimainkan kewirausahaan dalam memperluas kesempatan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

Kajian Tengah Waktu Strategi 2020. Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik

Kajian Tengah Waktu Strategi 2020. Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Kajian Tengah Waktu Strategi 2020 Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Kajian Tengah Waktu (Mid-Term Review/MTR) atas Strategi 2020 merupakan

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Pendahuluan Kebijakan anggaran mendasarkan pada pendekatan kinerja dan berkomitmen untuk menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Anggaran kinerja adalah

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS

KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS PERNYATAAN DAN PRINSIP KEBIJAKAN Sesuai dengan Undang-undang Intelijen Keuangan dan Anti Pencucian Uang 2002 (FIAMLA 2002), Undang-undang Pencegahan Korupsi 2002

Lebih terperinci

PEDOMAN PELAPORAN KEBERLANJUTAN

PEDOMAN PELAPORAN KEBERLANJUTAN PEDOMAN PELAPORAN KEBERLANJUTAN DAFTAR ISI PENGANTAR 3 1. TUJUAN PEDOMAN PELAPORAN KEBERLANJUTAN GRI 5 2. CARA MENGGUNAKAN PEDOMAN 2.1 Pedoman 7 2.2 Menggunakan Pedoman untuk Menyusun Laporan Keberlanjutan:

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014

KEPUTUSAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN BULAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA NASIONAL TAHUN 2015 2019

Lebih terperinci

Panduan untuk Fasilitator

Panduan untuk Fasilitator United Nations Development Programme (UNDP) The Office of UN Special Ambassador for Asia Pacific Partnership for Governance Reform Panduan untuk Fasilitator Kartu Penilaian Bersama untuk Tujuan Pembangunan

Lebih terperinci

Deklarasi Changwon untuk Kesejahteraan Manusia dan Lahan Basah

Deklarasi Changwon untuk Kesejahteraan Manusia dan Lahan Basah Deklarasi Changwon untuk Kesejahteraan Manusia dan Lahan Basah MENGAPA ANDA HARUS MEMBACA DAN MENGGUNAKAN DEKLARASI INI Lahan basah menyediakan pangan, menyimpan karbon, mengatur arah aliran air, menyimpan

Lebih terperinci

enyatukan dan Memadukan Sumber Daya

enyatukan dan Memadukan Sumber Daya M enyatukan dan Memadukan Sumber Daya Keunggulan kompetitif BCA lebih dari keterpaduan kekuatan basis nasabah yang besar, jaringan layanan yang luas maupun keragaman jasa dan produk perbankannya. Disamping

Lebih terperinci

Terjemahan Tanggapan Surat dari AusAID, diterima pada tanggal 24 April 2011

Terjemahan Tanggapan Surat dari AusAID, diterima pada tanggal 24 April 2011 Terjemahan Tanggapan Surat dari AusAID, diterima pada tanggal 24 April 2011 Pak Muliadi S.E yang terhormat, Terima kasih atas surat Anda tertanggal 24 Februari 2011 mengenai Kalimantan Forests and Climate

Lebih terperinci

UNDANGAN BAGI AGREGATOR PASAR UNTUK BERPARTISIPASI DALAM PROGRAM INISIATIF TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI (CLEAN STOVE INITIATIVE CSI) INDONESIA

UNDANGAN BAGI AGREGATOR PASAR UNTUK BERPARTISIPASI DALAM PROGRAM INISIATIF TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI (CLEAN STOVE INITIATIVE CSI) INDONESIA UNDANGAN BAGI AGREGATOR PASAR UNTUK BERPARTISIPASI DALAM PROGRAM INISIATIF TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI (CLEAN STOVE INITIATIVE CSI) INDONESIA Informasi Umum Inisiatif Tungku Sehat Hemat Energi (Clean Stove

Lebih terperinci

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT SA Seksi 312 RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT Sumber: PSA No. 25 PENDAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan bagi auditor dalam mempertimbangkan risiko dan materialitas pada saat perencanaan

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH 5.1. Sasaran Pokok dan Arah Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tujuan akhir pelaksanaan pembangunan jangka panjang daerah di Kabupaten Lombok Tengah

Lebih terperinci

Kebijakan Anti Korupsi di Seluruh Dunia

Kebijakan Anti Korupsi di Seluruh Dunia Kebijakan Anti Korupsi di Seluruh Dunia I. TUJUAN Undang-undang sebagian besar negara di dunia menetapkan bahwa membayar atau menawarkan pembayaran atau bahkan menerima suap, kickback atau pun bentuk pembayaran

Lebih terperinci

ANZ menyampaikan hasil yang baik sekali bagi para pemegang saham di tahun 2010, selain juga berkinerja bagi para nasabah kami dan masyarakat.

ANZ menyampaikan hasil yang baik sekali bagi para pemegang saham di tahun 2010, selain juga berkinerja bagi para nasabah kami dan masyarakat. ANZ menyampaikan hasil yang baik sekali bagi para pemegang saham di tahun 2010, selain juga berkinerja bagi para nasabah kami dan masyarakat. Kinerja Kami Laba ANZ setelah dikurangi pajak sampai tahun

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK TAHUN 2002 NOMOR 12 SERI C PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 09 TAHUN 2002 TENTANG PENGELOLAAN AIR BAWAH TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DEPOK, Menimbang : a.

Lebih terperinci

Bidang Teknik BALANCED SCORECARD SEBAGAI ALAT UKUR KINERJA DAN ALAT PENGENDALI SISTEM MANAJEMEN STRATEGIS

Bidang Teknik BALANCED SCORECARD SEBAGAI ALAT UKUR KINERJA DAN ALAT PENGENDALI SISTEM MANAJEMEN STRATEGIS Majalah Ilmiah Unikom, Vol.6, hlm. 51-59 BALANCED SCORECARD SEBAGAI ALAT UKUR KINERJA Bidang Teknik BALANCED SCORECARD SEBAGAI ALAT UKUR KINERJA DAN ALAT PENGENDALI SISTEM MANAJEMEN STRATEGIS ISNIAR BUDIARTI

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan

Lebih terperinci

Analisis fundamental. Daftar isi. [sunting] Analisis fundamental perusahaan. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Analisis fundamental. Daftar isi. [sunting] Analisis fundamental perusahaan. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Analisis fundamental Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Analisis fundamental adalah metode analisis yang didasarkan pada fundamental ekonomi suatu perusahaan. Teknis ini menitik beratkan

Lebih terperinci

BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI

BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah sesuai dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

PEDOMAN MUTU PT YUSA INDONESIA. Logo perusahaan

PEDOMAN MUTU PT YUSA INDONESIA. Logo perusahaan PEDOMAN MUTU PT YUSA INDONESIA Logo perusahaan DISETUJUI OLEH: PRESIDEN DIREKTUR Dokumen ini terkendali ditandai dengan stempel DOKUMEN TERKENDALI. Dilarang mengubah atau menggandakan dokumen tanpa seizing

Lebih terperinci

Kode Etik. .1 "Yang Harus Dilakukan"

Kode Etik. .1 Yang Harus Dilakukan Kode Etik Kode Etik Dokumen ini berisi "Kode Etik" yang harus dipatuhi oleh para Direktur, Auditor, Manajer, karyawan Pirelli Group, serta secara umum siapa saja yang bekerja di Italia dan di luar negeri

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN :

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Komitmen kami kepada integritas dan tanggung jawab. Kode Etik Syngenta

Komitmen kami kepada integritas dan tanggung jawab. Kode Etik Syngenta Komitmen kami kepada integritas dan tanggung jawab Kode Etik Syngenta Komitmen kami kepada integritas dan tanggung jawab Kode Etik Syngenta Daftar Isi Pesan Gabungan dari Ketua dan CEO.....................................2

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20 TAHUN 2004 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20 TAHUN 2004 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20 TAHUN 2004 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemerintahan dilaksanakan untuk mencapai

Lebih terperinci

PIAGAM UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BAGI PARA SUPPLIER DAN KONTRAKTOR ALSTOM

PIAGAM UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BAGI PARA SUPPLIER DAN KONTRAKTOR ALSTOM 01/01/2014 PIAGAM UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BAGI PARA SUPPLIER DAN KONTRAKTOR ALSTOM PENDAHULUAN Pembangunan berkelanjutan adalah bagian penggerak bagi strategi Alstom. Ini berarti bahwa Alstom sungguhsungguh

Lebih terperinci

PRINSIP ESSILOR. Prinsip-prinsip kita berasal dari beberapa karakteristik Essilor yang khas:

PRINSIP ESSILOR. Prinsip-prinsip kita berasal dari beberapa karakteristik Essilor yang khas: PRINSIP ESSILOR Setiap karyawan Essilor dalam kehidupan professionalnya ikut serta bertanggung jawab untuk menjaga reputasi Essilor. Sehingga kita harus mengetahui dan menghormati seluruh prinsip yang

Lebih terperinci

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN LAMPIRAN VI PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 00 TANGGAL JUNI 00 STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN PERNYATAAN NO. 0 CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN DAFTAR ISI Paragraf PENDAHULUAN-------------------------------------------------------------------------

Lebih terperinci

RENCANA KINERJA BALAI BESAR PULP DAN KERTAS TAHUN ANGGARAN 2015

RENCANA KINERJA BALAI BESAR PULP DAN KERTAS TAHUN ANGGARAN 2015 RENCANA KINERJA BALAI BESAR PULP DAN KERTAS TAHUN ANGGARAN 2015 KATA PENGANTAR R encana Kinerja merupakan dokumen yang berisi target kinerja yang diharapkan oleh suatu unit kerja pada satu tahun tertentu

Lebih terperinci

j-pal policy briefcase [ januari 2013 ] Menyajikan evaluasi oleh Vivi Alatas, Abhijit V. Banerjee, Rema Hanna, Benjamin A. Olken, dan Julia Tobias

j-pal policy briefcase [ januari 2013 ] Menyajikan evaluasi oleh Vivi Alatas, Abhijit V. Banerjee, Rema Hanna, Benjamin A. Olken, dan Julia Tobias briefcase j-pal policy briefcase [ januari 2013 ] MENERJEMAHKAN PENELITIAN KE DALAM AKSI NYATA melibatkan masyarakat dalam mengidentifikasi orang miskin Metode-metode berbasis masyarakat dalam menyeleksi

Lebih terperinci

ALAT PENDETEKSI TINGGI PERMUKAAN AIR SECARA OTOMATIS PADA BAK PENAMPUNGAN AIR MENGUNAKAN SENSOR ULTRASONIK BERBASIS MIKROKONTROLER

ALAT PENDETEKSI TINGGI PERMUKAAN AIR SECARA OTOMATIS PADA BAK PENAMPUNGAN AIR MENGUNAKAN SENSOR ULTRASONIK BERBASIS MIKROKONTROLER AMIK GI MDP Program Studi Teknik Komputer Skripsi Ahli Madya Komputer Semester Ganjil Tahun 2010/2011 ALAT PENDETEKSI TINGGI PERMUKAAN AIR SECARA OTOMATIS PADA BAK PENAMPUNGAN AIR MENGUNAKAN SENSOR ULTRASONIK

Lebih terperinci

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT Risiko Audit dan Materialitas dalam Pelaksanaan Audit Standar Prof SA Seksi 3 1 2 RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT Sumber: PSA No. 25 PENDAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan bagi

Lebih terperinci

Tujuan dari buletin ini adalah untuk menjelaskan syarat-syarat IBM dan menguraikan praktik global IBM yang terkait dengan pemasangan mesin IBM 1.

Tujuan dari buletin ini adalah untuk menjelaskan syarat-syarat IBM dan menguraikan praktik global IBM yang terkait dengan pemasangan mesin IBM 1. Buletin Informasi Internasional untuk Pelanggan - Pemasangan Mesin IBM International Business Machines Corporation Tujuan dari buletin ini adalah untuk menjelaskan syarat-syarat IBM dan menguraikan praktik

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

Transparansi dan Akuntabilitas di Industri Migas dan Pertambangan: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK

Transparansi dan Akuntabilitas di Industri Migas dan Pertambangan: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Briefing October 2014 Transparansi dan Akuntabilitas di Industri Migas dan Pertambangan: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Patrick Heller dan Poppy Ismalina Universitas Gadjah Mada Pengalaman dari

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA AMBON MALUKU KOTA AMBON ADMINISTRASI Profil Wilayah Kota Ambon merupakan ibukota propinsi kepulauan Maluku. Dengan sejarah sebagai wilayah perdagangan rempah terkenal, membentuk

Lebih terperinci

PI HAK YAN G M EM I LI KI HUBUN GAN I STI M EW A

PI HAK YAN G M EM I LI KI HUBUN GAN I STI M EW A Pihak yang Memiliki Hubungan Istimewa SA Se k si 3 3 4 PI HAK YAN G M EM I LI KI HUBUN GAN I STI M EW A Sumber: PSA No. 34 PEN DAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan tentang prosedur yang harus dipertimbangkan

Lebih terperinci

Melaporkan Kemajuan Kawasan-Kawasan Lindung. Panduan sederhana untuk pemantauan di lapangan, dikembangkan untuk Bank Dunia dan WWF

Melaporkan Kemajuan Kawasan-Kawasan Lindung. Panduan sederhana untuk pemantauan di lapangan, dikembangkan untuk Bank Dunia dan WWF Melaporkan Kemajuan Kawasan-Kawasan Lindung Panduan sederhana untuk pemantauan di lapangan, dikembangkan untuk Bank Dunia dan WWF Ditulis untuk Aliansi Bank Dunia/WWF bagi Konservasi Hutan dan Penggunaan

Lebih terperinci

Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas

Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas Mendengarkan Masyarakat yang Terkena Dampak Proyek-Proyek Bantuan ADB Apa yang dimaksud dengan Mekanisme Akuntabilitas ADB? Pada bulan Mei 2003, Asian Development

Lebih terperinci

THE VIET TRI PAPER DESKRIPSI PERUSAHAAN DESKRIPSI PROSES

THE VIET TRI PAPER DESKRIPSI PERUSAHAAN DESKRIPSI PROSES THE VIET TRI PAPER DESKRIPSI PERUSAHAAN THE VIET TRI PAPER, sebuah perusahaan negara, didirikan pada tahun 1961 dan berlokasi di propinsi Phu Tho. Viet Tri berada pada peringkat empat dalam hal kapasitas

Lebih terperinci

Perjanjian BlackBerry ID

Perjanjian BlackBerry ID Perjanjian BlackBerry ID Perjanjian BlackBerry ID atau "Perjanjian" merupakan suatu perjanjian hukum antara Research In Motion Limited, atau anak perusahaannya atau afiliasinya sebagaimana tertera dalam

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan di bidang ekonomi diarahkan

Lebih terperinci

IV. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

IV. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI IV. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 1. Kesimpulan Dari uraian diatas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : (1) Profil koperasi wanita secara nasional per tanggal 26 Desember 2006 adalah : Jumlah

Lebih terperinci

Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014

Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014 Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014 A) Latar Belakang Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat

Lebih terperinci

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Briefing October 2014 Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Patrick Heller dan Poppy Ismalina Universitas Gadjah Mada Memaksimalkan keuntungan dari sektor

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Pemilihan lokasi usaha oleh suatu organisasi (perusahaan) akan mempengaruhi risiko (risk) dan keuntungan (profit) perusahaan tersebut secara keseluruhan. Kondisi ini

Lebih terperinci

LAPORAN PENILAIAN RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN KOTA CIREBON

LAPORAN PENILAIAN RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN KOTA CIREBON LAPORAN PENILAIAN RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN KOTA CIREBON I. PENGANTAR EHRA (Environmental Health Risk Assessment) atau Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan adalah sebuah survey partisipatif di tingkat

Lebih terperinci

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat Naskah Soal Ujian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Petunjuk: Naskah soal terdiri atas 7 halaman. Anda tidak diperkenankan membuka buku / catatan dan membawa kalkulator (karena soal yang diberikan tidak

Lebih terperinci

Nokia Wireless Audio Gateway AD-42W. Edisi 1

Nokia Wireless Audio Gateway AD-42W. Edisi 1 Nokia Wireless Audio Gateway AD-42W Edisi 1 PERNYATAAN KESESUAIAN Dengan ini, NOKIA CORPORATION menyatakan bertanggung jawab bahwa produk AD-42W telah memenuhi ketentuan Pedoman Badan Pengawasan: 1999/5/EC.

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara yang berkembang yang giat giatnya melaksanakan

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara yang berkembang yang giat giatnya melaksanakan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan Negara yang berkembang yang giat giatnya melaksanakan pembangunan di segala bidang termasuk pembangunan di bidang kesehatan.pembangunan kesehatan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG KEGIATAN USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG KEGIATAN USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG KEGIATAN USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

SYARAT DAN KETENTUANNYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT:

SYARAT DAN KETENTUANNYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT: SYARAT & KETENTUAN INFOSEKITAR (WEBSITE DAN APLIKASI) ADALAH LAYANAN ONLINE YANG DIMILIKI DAN DIOPERASIKAN OLEH GALAKSI KOMPUTER YAITU APLIKASI YANG MENYEDIAKAN INFORMASI PROMO DISKON/POTONGAN HARGA UNTUK

Lebih terperinci

ECD Watch. Panduan OECD. untuk Perusahaan Multi Nasional. alat Bantu untuk pelaksanaan Bisnis yang Bertanggung Jawab

ECD Watch. Panduan OECD. untuk Perusahaan Multi Nasional. alat Bantu untuk pelaksanaan Bisnis yang Bertanggung Jawab ECD Watch Panduan OECD untuk Perusahaan Multi Nasional alat Bantu untuk pelaksanaan Bisnis yang Bertanggung Jawab Tentang Panduan OECD untuk perusahaan Multi nasional Panduan OECD untuk Perusahaan Multi

Lebih terperinci

PENGELOLAAN DAYA DUKUNG DAN PEMASARAN PARIWISATA BERKELANJUTAN. Oleh : M. Liga Suryadana

PENGELOLAAN DAYA DUKUNG DAN PEMASARAN PARIWISATA BERKELANJUTAN. Oleh : M. Liga Suryadana PENGELOLAAN DAYA DUKUNG DAN PEMASARAN PARIWISATA BERKELANJUTAN Oleh : M. Liga Suryadana KLASIFIKASI WISATA Wisata alam (nature tourism), merupakan aktifitas wisata yang ditujukan pada pemanfaatan terhadap

Lebih terperinci

7 SUMBER DAYA MANUSIA

7 SUMBER DAYA MANUSIA 7 SUMBER DAYA MANUSIA Dalam implementasi manajemen sumber daya manusia, kami menerapkan budaya sharing session sebagai bentuk aktivitas mempertajam nilai organisasi Perseroan. Pencapaian positif dalam

Lebih terperinci

PANDUAN INTERPRETASI UNTUK BUTIR-BUTIR PEDOMAN BSN 401-2000 : "PERSYARATAN UMUM LEMBAGA SERTIFIKASI PRODUK"

PANDUAN INTERPRETASI UNTUK BUTIR-BUTIR PEDOMAN BSN 401-2000 : PERSYARATAN UMUM LEMBAGA SERTIFIKASI PRODUK PEDOMAN KAN 402-2007 PANDUAN INTERPRETASI UNTUK BUTIR-BUTIR PEDOMAN BSN 401-2000 : "PERSYARATAN UMUM LEMBAGA SERTIFIKASI PRODUK" Komite Akreditasi Nasional Adopsi dari IAF-GD5-2006 Issue 2 1 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

SYARAT-SYARAT KEBERHASILAN TATANAN SOSIAL GLOBAL DAN EKONOMI BERORIENTASI PASAR. www.kas.de

SYARAT-SYARAT KEBERHASILAN TATANAN SOSIAL GLOBAL DAN EKONOMI BERORIENTASI PASAR. www.kas.de SYARAT-SYARAT KEBERHASILAN TATANAN SOSIAL GLOBAL DAN EKONOMI BERORIENTASI PASAR www.kas.de DAFTAR ISI 3 MUKADIMAH 3 KAIDAH- KAIDAH POKOK 1. Kerangka hukum...3 2. Kepemilikan properti dan lapangan kerja...3

Lebih terperinci

Electronic Government: Sudahkah Memberi Manfaat?

Electronic Government: Sudahkah Memberi Manfaat? Electronic Government: Sudahkah Memberi Manfaat? Oleh: Mas Wigrantoro Roes Setiyadi *) Electronic Government (e-gov) dibangun untuk memberikan manfaat. Wacana dan upaya membangun e-gov di Indonesia sudah

Lebih terperinci

CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN

CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN Kelompok Kerja Edukasi Masyarakat Di Bidang Perbankan 2007 1. Pendahuluan Bank sebagai lembaga intermediasi dan pelaksana sistem pembayaran memiliki peranan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

Perubahan ini telah memberikan alat kepada publik untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan ekonomi. Kemampuan untuk mengambil keuntungan dari

Perubahan ini telah memberikan alat kepada publik untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan ekonomi. Kemampuan untuk mengambil keuntungan dari PENGANTAR Sebagai salah satu institusi pembangunan publik yang terbesar di dunia, Kelompok (KBD/World Bank Group/WBG) memiliki dampak besar terhadap kehidupan dan penghidupan jutaan orang di negara-negara

Lebih terperinci

Kuesioner Variabel Independen

Kuesioner Variabel Independen Kuesioner Variabel Independen No Pertanyaan Ya Tidak 1 Apakah pengendalian perlu untuk dilakukan di dalam menjalankan suatu usaha? 2 Apakah pengendalian mudah untuk dilaksanakan/diterapkan? 3 Apakah perlu

Lebih terperinci

Virtual Office Semester Ganjil 2014 Fak. Teknik Jurusan Teknik Informatika. caca.e.supriana@unpas.ac.id

Virtual Office Semester Ganjil 2014 Fak. Teknik Jurusan Teknik Informatika. caca.e.supriana@unpas.ac.id Virtual Office Semester Ganjil 2014 Fak. Teknik Jurusan Teknik Informatika Universitas i Pasundan Caca E Supriana S Si MT Caca E. Supriana, S.Si., MT. caca.e.supriana@unpas.ac.id Kantor virtual 2 Kantor

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

Sistem Kualifikasi Pemasok (Supplier Qualification System - SQS)

Sistem Kualifikasi Pemasok (Supplier Qualification System - SQS) Sistem Kualifikasi Pemasok (Supplier Qualification System - SQS) untuk dapat dilihat oleh para pemasok Shell secara global www.shell.com/supplier/qualification Sistem Kualifikasi Pemasok (Supplier Qualification

Lebih terperinci

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep II. LANDASAN TEORI 2.1 Arti dan Pentingnya Pemasaran Pemasaran merupakan faktor penting untuk mencapai sukses bagi perusahaan akan mengetahui adanya cara dan falsafah yang terlibat didalamnya. Cara dan

Lebih terperinci

Nokia Bluetooth Stereo Headset BH-111

Nokia Bluetooth Stereo Headset BH-111 Nokia Bluetooth Stereo Headset BH-111 Edisi 1.0 2 Pendahuluan Tentang headset Dengan Nokia Bluetooth Stereo Headset BH-111, Anda dapat menangani panggilan secara handsfree serta menikmati musik favorit

Lebih terperinci

Prosedur dan Kebijakan Hukum Persaingan Usaha

Prosedur dan Kebijakan Hukum Persaingan Usaha Prosedur dan Kebijakan Hukum Persaingan Usaha Tujuan dan Aplikasi Pedoman Perilaku Bisnis menyatakan, CEVA berkomitmen untuk usaha bebas dan persaingan yang sehat. Sebagai perusahaan rantai pasokan global,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci