MENINGKATKAN AKTIVITAS PEMBELAJARAN OPERASI HITUNG MENGGUNAKAN MODEL MAKE-A MATCH SISWA KELAS IV SDN 14/1 SEI. BAUNG.

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MENINGKATKAN AKTIVITAS PEMBELAJARAN OPERASI HITUNG MENGGUNAKAN MODEL MAKE-A MATCH SISWA KELAS IV SDN 14/1 SEI. BAUNG."

Transkripsi

1 MENINGKATKAN AKTIVITAS PEMBELAJARAN OPERASI HITUNG MENGGUNAKAN MODEL MAKE-A MATCH SISWA KELAS IV SDN 14/1 SEI. BAUNG Devi Haryani 1 ABSTRAK Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dapat merangsang dan mengembangkan bakat yang dimilikinya, berpikir kritis, dan dapat memecahkan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran maka akan tercipta situasi belajar aktif yang sangat menentukan bagi keberhasilan mencapai tujuan pembelajaran. Akan tetapi pada kenyataannya, aktivitas belajar siswa sangat rendah yaitu dalam aktivitas belajar siswa. Hal ini dipengaruhi kurangnya sarana penunjang pembelajaran yang tidak menggunakan model dalam proses pembelajaran. Untuk mengatasi masalah tersebut maka digunakanlah model Make A-Match. Skipsi ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk meingkatkan aktivitas belajar siswa pada pembelajaran operasi hitung menggunakan model Make A-Match siswa kelas IV SDN 14/1 Sei.Baung. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan dalam beberapa siklus. Setiap siklus melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui lembar observasi aktivitas belajar siswa, hasil belajar siswa dan lembar observasi guru. Dari hasil observasi memperlihatkan bahwa pada setiap siklus aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan. Pada siklus I ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal ketuntasannya dengan presentase 44% dan nilai rata-rata 59,6 dan hanya 12 orang siswa yang tuntas. Pada siklus II mengalami peningkatan presentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal 74% dan nilai rata-rata 64 dan hanya 20 siswa yang tuntas, dan pada siklus III ketutasan hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan yaitu dengan presentase 100% dengan nilai rata-rata 85,9, sertta semua siswa tuntas dalam KKM 60. Selain itu aktivitas siswa pada siklus I, II dan III juga mengalami peningkatan yaitu pada siklus I dengan persentase 45% berada pada kategori kurang aktif, siklus II meningkat menjadi 67% dengan kategori cukup aktif dan pada siklus III meningkat juga menjadi 89,7% dengan kategori sangat aktif. Berdasarkan hasil ini dapat disimpulkan bahwa dengan model Make A-Match dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada pembelajaran matematika di kelas IV SDN 14/1 Sei Baung. Adapun saran yang diajukan yaitu siswa harus mengikuti aturan yang disampaikan oleh guru dalam mencocockkan kartu soal dan jawaban, kepada guru diharapkan menjadikan model Make A-Match sebagai alternative yang digunakan untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa. Kata Kunci: Aktivitas, model Make A-Match, matematika PENDAHULUAN Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. perkembangan pesat dibidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika dibidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan menciptakan dimasa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini (BSNP, 2006). 1 Devi Haryani adalah mahasiswa FKIP PGSD Universitas Jambi. Dosen pembimbing skripsi I Drs.Husni Sabil, M.Pd. dan Dosen pembimbing skripsi II Dra.Destrinelli.M.Pd.

2 Keterampilan berpikir merupakan suatu kebutuhan, karena dengan keterampilan tersebut seseorang akan memiliki kunci-kunci dalam menyelesaikan masalah, menyaring informasi, pencapaian prestasi atau pembentukan kepribadian. Dimana salah satu dari keterampilan berpikir dapat terlihat pada hasil belajar matematika. Hasil belajar matematika sangatlah penting bagi siswa kelas awal di sekolah dasar karena akan selalu digunakan mereka seumur hidupnya dan dalam kegiatan sehari-haripun berkaitan erat dengan matematika. Kegiatan berhitung merupakan bagian dari matematika awal akan mempengaruhi pengembangan kognitif siswa, kegiatan ini dapat dijumpai setiap hari dan dimana-mana. Begitu dekatnya kegiatan berhitung dengan kehidupan, membuat pengembangan berhitung untuk siswa sekolah dasar menjadi hal yang signifikan. Didalam perkembangan kemampuan matematika, siswa diharuskan menguasai konsep bilangan, yaitu angka-angka yang merupakan dasar ilmu pengetahuan. Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari SD untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dann kreatif, serta kemampuan bekerja sama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, menggelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Dalam mengaktifkan siswa pada proses belajar mengajar, guru harus dapat menggunakan strategi pembelajaran yang tepat dan efektif dengan menggunakan media pembelajaran yang konkrit, menarik dan bervariasi serta mampu memanejemenkan kelas. Untuk mencapai tujuan pembelajaran ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru sebelum memulai proses pembelajaran. Diantaranya adalah guru harus menetapkan materi pelajaran dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai berdasarkan kurikulum yang dipakai, melaksanakan metode belajar yang disesuaikan dengan materi dan karakteristik peserta didik sehingga dapat menarik perhatian siswa untuk dapat aktif dalam pembelajaran dan terlihat secara langsung, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Dari hasil wawancara peneliti dan guru kelas IV SDN 14/1 Sei.Baung yang bernama Fitri Gishari.S.Pd, guru masih kesulitan untuk menyampaikan materi pelajaran, khususnya materi operasi hitung bilangan. Kesulitan guru ini terutama dalam penerapan dan penyampaian materi, aktivitas guru yang masih dominan dari pada siswa, membuat pembelajaran matematika dirasakan kurang menarik bagi siswa. Guru sudah menggunakan media dan alat peraga sebagai penunjang materi jika diperlukan, setelah itu guru memberikan pertanyaan kepada siswa tetapi hanya sebagian kecil siswa yang bisa menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Selain itu siswa juga tidak mampu mengemukakan gagasan/ pendapatnya pada saat proses pembelajaran berlangsung karena disini siswa kurang aktif. Pada saat mengerjakan tugas/ latihan banyak siswa yang beraktivitas mencontoh pekerjaan temannya dibandingkan mengerjakan sendiri-sendiri. Berdasarkan keterangan dari siswa kelas IV SDN 14/1 Sei.Baung, semuanya beranggapan bahwa matematika merupakan pelajaran yang sukar untuk dipelajari. Di samping itu proses belajar mengajar selalu diawali dengan penjelasan materi didepan kelas beserta contoh soal dan latihan. Siswa selalu disuruh untuk mencatat apa yang ditulis oleh guru dan tidak melibatkan siswa dalam menyelesaikan masalah. Guru biasanya meminta siswa mengerjakan soal-soal dibuku latihan, kemudian dikumpul dan begitu seterusnya. Keaktifan dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dapat merangsang dan mengembangkan bakat yang dimilikinya, berpikir kritis, dan dapat memecah permasalahanpermasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu guru dapat merekayasa sistem pembelajaran secara sistematis, sehingga merangsang keaktivan siswa dalam proses pembelajaran. Mc Keachie (dalam Dimyati, 2002:119) mengemukakan 7 aspek terjadinya keaktifan siswa, diantaranya (1) partisipasi siswa dalam menetapkan tujuan kegiatan pembelajaran (2) tekanan pada aspek afektif dalam belajar (3) partisipasi siswa dalam

3 kegiatan pembelajaran, terutama yang berbentuk interaksi antar siswa (4) kekompakan kelas sebagai kelompok belajar (5) kebebasan belajar yang diberikan kepada siswa, dan kesempatan untuk berbuat serta mengambil keputusan penting dalam proses pembelajaran (6) pemberian waktu untuk menanggulangi masalah pribadi siswa, baik berhubungan maupun tidak berhubungan dengan belajar. Berdasarkan keterangan diatas, timbullah berbagai macam masalah yang didapat, secara umum proses pembelajaran matematika masih memiliki kualitas rendah, dimana guru kurang menarik perhatian siswa yang ditandai dengan aktivitas belajar mengajar yang masih minim, pemilihan model pembelajaran yang kurang sesuai dengan materi yang menyebabkan siswa sulit dalam memahami konsep materi pelajaran. Siswa hanya pasif mendengarkan dan mencatat saja, bahkan siswa senang bermain dari pada memperhatikan guru menerangkan dan mengerjakan tugasnya. Rendahnya nilai hasil belajar siswa khususnya pada materi operasi bilangan yang selalu dibawah standar KKM (kriteria ketuntasan minimal) yaitu 60,00. Hanya 9 orang siswa dari 27 orang siswa keseluruhan yang mendapat nilai lebih dari 60,00. Presentase siswa yang menguasai konsep operasi bilangan hanya sebesar 38%.yang dinyatakan berhasil dari jumlah siswa kelas IV, nilai ini sangat jauh dari harapan. Oleh karena itu diperlukan tindakan kelas yang tepat agar nantinya pada akhir penelitian terjadi perubahan atau peningkatan hasil belajar khususnya pada materi operasi hitung. Dari berbagai masalah yang timbul, akar dari masalah rendahnya kualitas proses pembalajaran matematika, karena guru tidak menggunakan model pembelajaran yang tepat dan kurang menarik perhatian siswa untuk mengikuti jalannya proses belajar mengajar, keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran yang masih rendah dan siswa masih sulit memahami konsep materi operasi hitung. Berbagai model pembelajaran dapat digunakan untuk mempermudah proses pembelajaran operasi hitung. Penggunaan model pembelajaran yang tepat akan lebih mengarahkan aktivitas belajar. Salah satu model pembelajaran yang digunakan adalah model Make-A Match. Dimana model pembelajaran ini dapat menyenangkan siswa, meningkatkan aktivitas dan motivasi belajar siswa, model ini juga lebih menggunakan keterlibatan siswa yang diharapkan dapat mencapai tujuan pembelajaran secara optimal serta dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN 14/1 Sei.Baung. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis bermaksud mengadakan penelitian tindakan kelas dengan judul Meningkatkan Aktivitas Pembelajaran Operasi Hitung Menggunakan Model Make-A Match Siswa Kelas IV SDN 14/1 Sei.Baung. Berdasarkan uraian dari latar belakang tersebut, maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut Bagaimana Meningkatkan Aktivitas Pembelajaran Operasi Hitung Menggunakan Model Make-A Match Siswa Kelas IV SDN 14/1 Sei.Baung? METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SDN 14/1 Sei.Baung dengan jumlah siswa 27 orang siswa yang terdiri dari 13 orang siswa laki-laki dan 14 orang siswa perempuan dengan umur siswa yang berkisar 9-12 tahun, yang dilakukan penelitian pada semester ganjil tahun ajaran Dalam prosedur penelitian yang dilakukan penulis, meliputi 3 siklus yang masing-masing setiap 1 siklus terdiri dari 3 kali pertemuan yang didalamnya terdapat 4 tahapan yaitu, perencanaan, pelaksanaan, observasi dan evaluasi, dan refleksi Observasi dilaksanakan bersama dengan pelaksanaan penelitian. observasi dilaksanakan selama proses pembelajaran yaitu selama 70 menit (2x35 menit). Observasi dalam penelitian ini adalah proses pengamatan terhadap semua yang terjadi ketika proses pembelajaran berlangsung terhadap tindakan-tindakan yang guru kolaborasi lakukan. Kegiatan observasi merupakan kegiatan penilaian terhadap proses guru dalam mengajar dan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran.

4 Indikator siswa yang di observasi yaitu semangat siswa dalam belajar keaktifan dan aktivitas siswa dalam mencari pasangan atau mencocokkan kartu dalam kegiatan pembelajaran, aktivitas siswa dalam menjalankan atau memahami perintah yang diinstruksikan oleh guru dalam proses pembelajaran, keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan serta dalam menyelesaikan soal yang diberikan guru, dan kemampuan dalam membuat kesimpulan. Indikator guru yang di observasi yaitu kemampuan dalam melakukan apersepsi, penjelasan materi, penguasaan kelas, penjelasan atas model yang diterapkan, penggunaan media pembelajaran, kejelasan suara guru, pemberian pertanyaan dan tugas, menyimpulkan materi dan menutup pembelajaran. Untuk mengetahui atau untuk menganalisis data keberhasilan proses pembelajaran dan hasil penyajian materi diambil data yang diolah adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah data pengambilan tentang keaktivan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Pengambilan data tes siswa dan aktivitas guru dalam kegiatan belajar mengajar yang berlangsung menggunakan lembar observasi (terlampir). Data ini diolah dengan rumus menurut Sudjana (2009:113) adalah: Persentase aktivitas siswa pernidikator = x100% Persentase aktivitas siswa perindikator = x100% Sedangkan untuk menghitung persentase rata-rata skor aktivitas siswa dapat dihitung dengan menggunakan rumus: Persentase rata-rata skor aktivitas siswa perindikator = Persentase rata-rata skor aktivitas siswa persiswa = Selanjutnya aktivitas siswa yang telah dihasilkan dari tes secara formatif tersebut diinterprestasikan dengan ketentuan yang dikemukakan oleh Arikunto (2010:35) sebagai berikut: Tabel tafsiran presentase untuk aktivitas siswa Interval Presentase Keterangan 0% - 40% 50% - 59% 60% - 69% 70% - 79% 80% - 100% Sangat kurang Kurang Cukup Baik Sangat baik (E) (D) (C) (B) (A) Sedangkan cara yang digunakan untuk menghitung persentase rata-rata aktivitas guru perindikator dan persentase rata-rata aktivitas guru, sebagai berikut:

5 Persentase aktivitas guru perindikator = Persentase rata-rata skor aktivitas guru = x100% Selanjutnya data keaktifan aktivitas guru yang telah dihasilkan dari tes secara formatif tersebut diinterprestasikan dengan ketentuan sebagai berikut: 3.4 tabel tafsiran persentase untuk aktivitas guru Interval presentase Keterangan 0% - 40% 50% - 59% 60% - 69% 70% - 79% 80% - 100% Sangat kurang Kurang Cukup Baik Sangat baik (E) (D) (C) (B) (A) Sedangkan data kuantitatif adalah data nilai hasil belajar siswa yang diperoleh melalui pemberian tes yang dilaksanakan setelah proses pembelajaran. Data ini berupa nilai dalam bentuk angka. Ketuntasan baik perorangan maupun klasikal telah tecapai dengan digunakan rumus: Persentase ketuntasan belajar individu = x100% Adapun kriteria ketuntasan individu yang harus dicapai oleh siswa secara minimal mencapai 70% dari kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan oleh guru mata pelajaran matematika dan untuk mengetahui ketuntasan klasikalnya dapat menggunakan rumus menurut Anonim (2007:22) antara lain: Persentase ketuntasan belajar klasikal = x100% HASIL PENELITIAN Hasil penelitian siklus I Penelitian siklus I dilaksanakan pada tanggal 02, 03 dan 04 oktober 2012 selama 6 jam pelajaran. Sebelum pelaksanaan tindakan terlebih dahulu peneliti melakukan persiapanpersiapan yang akan digunakan dalam pelaksanaan tindakan yaitu membuat RPP, membuat lembar observasi, menyiapkan media pembelajaran, dan membuat soal tes untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa. Berdasarkan hasil pengamatan dan pemantauan selama pelaksanaan siklus I, pengajaran dengan menggunakan model Make A-Match belum menunjukkan hasil. Pada siklus I ini siswa telah mau untuk ikut serta dalam kegiatan pembelajaran dan siswa menunjukkan partisipasinya untuk ikut dalam kegiatan pembelajaran yaitu mencari pasangan kartu soal dan kartu jawaban, namun masih juga terdapat kendala-kendala yang dihadapi, maka model ini masih tetap dipertahankan pada siklus berikutnya dimana hasil dan kendala yang ada pada siklus I dijadikan sebagai acuan untuk menyusun rencana kegiatan

6 pembelajaran pada siklus II. Temuan yang diperoleh selama proses pembelajaran pada siklus I adalah: 1. Dalam kegiatan pembelajaran masih ada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan atau penyampaian materi yang diberikan oleh oleh guru 2. Kurangnya perhatian siswa saat guru menjelaskan langkah-langkah kegiatan pembelajaran sehingga dalam kegiatan mencocokkan kartu soal dengan kartu jawaban ataupun sebaliknyabelum berjalan secara maksimal karena masih ada sebagian siswa yang belum memahami dan siswa ini hanya duduk diam saja dikursi 3. Saat kegiatan pembelajaran berlangsung siswa lebih sibuk dengan kegiatannya sendiri seperti berjalan memamerkan kartu yang dipegangnya kepada teman lain tanpa memperhatikan instruksi yang diberikan oleh guru yaitu agar tidak memperlihatkan kartu soal dan kartu jawabannya selain pasangannya sendiri. 4. Dalam membuat cara jalannya perhitungan operasi hitung ini, hanya sebagian siswa yang benar-benar membuatnya, sementara yang lain sibuk dengan kegiatannya sendiri. Alternative tindakannya adalah sesuai dengan yang diungkapkan oleh B.F Skiner (1958), menurutnya belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progressif. Belajar juga dipahami sebagai suatu perilaku, pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Skinner juga memikirkan tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang dan respon. Adapun langkah-langkah pembelajaran berdasarkan teori kondisioning operan menurut Skinner adalah: 1. Mempelajari keadaan kelas berkaitan dengan perilaku siswa 2. Membuat daftar penguat positif 3. Memilih dan menentukan urutan tingkah laku yang dipelajari serta jenis penguatnya, dan 4. Membuat program pembelajaran berisi urutan perilaku yang dikehendaki, penguat, waktu mempelajari perilaku, dan evaluasi. Menurut Sagala (2011: 15) seorang anak yang belajar telah melakukan perbuatan, dari perbuatannya itu lalu mendapat hadiah, maka dia akan menjadi lebih giat belajar, yaitu responnya menjadi lebih intensif dan kuat. Hasil penelitian siklus II Penelitian siklus II dilaksanakan pada tanggal 09, 10, dan 11 Oktober Pelaksanaan tindakan siklus II dilaksanakan untuk mengatasi masalah yang terdapat pada siklus I. Sebelum pelaksanaan tindakan peneliti dan guru kolaborator melakukan persiapanpersiapan yang akan digunakan dalam pelaksanaan penelitian yaitu membuat RPP, lembar observasi, dan soal tes untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus II ini semua indikator aktivitas siswa telah mengalami peningkatan, baik pada skor maupuyn pada nilai presentasse skornya dibandingkan dengan siklus I. namun pada pelaksanaan pembelajaran yang telah dilakukan pada siklus II ini guru masih mengalami kendala-kendala pada pelaksaan proses pembelajaran. Adapun kendala-kendala yang dihadapi antara lain: A. Saat guru menyampaikan tujuan pembelajaran siswa kurang memperhatikan. B. Pada kegiatan mencocokkan kartu soal dan jawaban suasana kelas menjadi gaduh karena siswa membacakan soal atau jawaban yang dipegangnya. C. Siswa masih asal mencari pasangan tanpa mencari isi dari kartu yang dipegangnya

7 Berdasarkan temuan siklus II maka dilakukan perbaikan untuk pelaksanaan siklus III, yaitu dikemukakan oleh Martinis Yamin (2010) dalam Gagne dan Brigs menjelaskan rangkaian kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam kelas yang diantaranya yaitu: A. Memberikan motivasi atau menarik perhatian siswa, sehingga mereka berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran B. Mengingatkan kompetensi prasyarat. jadi pada saat guru menyampaikan tujuan pembelajran hendaknya guru juga melibatkan siswa, sehingga siswa akan merasa takut apabila tidak memperhatikan, serta C. Memberi petunjuk kepada siswa cara mempelajarinya. Pada saat menyampaikan tujuan pembelajaran hendaknya guru juga melibatkan siswa sehingga siswa akan merasa takut apabila dia tidak memperhatikan. Hentikan kegiatan mencari pasangan kartu jika siswa bekerja dengan bersuara, beri siswa sebuah ancaman siapa yang bersuara berteriak-teriak kartu yang ada ditangannya akan diambil dan tidak boleh mengikuti kegiatan pembelajaran. Hasil Penelitian Siklus III Penelitian siklus III dilaksanakan pada tanggal 16, 17 dan 18 oktober Pelaksanaan tindakan siklus III dilaksanakan untuk mengatasi masalah yang terdapat pada siklus II. Sebelum pelaksanaan tindakan peneliti dan guru kolaborator melakukan persiapanpersiapan yang akan digunakan dalam pelaksanaan penelitian yaitu membuat RPP, menyiapkan lembar observasi, dan soal tes untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa. Berdasarkan data yang diperoleh pada siklus III tampak adanya perubahan setelah menggunakan model Make A-Match pada operasi hitung campuran sudah memberikan hasil yang optimal dan ternyata memberikan perubahan pada aktivitas dan hasil belajar siswa. Hasil refleksi menunjukkan bahwa penerapan model Make A-Match ini menimbulkan rasa percaya diri pada siswa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru, juga melatih keberanian siswa dalam menjawab saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Selain itu juga model ini dapat menumbuhkan rasa disiplin diri dan melatih ketelitian siswa dalam pengerjaan soal. Begitu pula untuk hasil tes yang diperoleh pada siklus III ini ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal sudah mencapai 100% siswa tuntas dan dengan nilai rata-rata 85,9 berarti tindakan yang diberikan sudah baik dan berhasil. PEMBAHASAN Dari hasil penelitian 3 siklus yaitu pada siklus I dilakukan dalam 3 kali pertemuan, siklus II dilakukan dalm 3 kali pertemuan dan pada siklus tiga dilakukan dalam 2 kali pertemuan. Pada setiap siklus yang dilakukan terlihat adanya perubahan aktivitas siswa dan perolehan hasil belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran dalam pelaksanaan penelitian ini. Pada setiap siklus yang dilakukan menggunakan model pembelajaran yang sama yaitu Make A-Match tetapi tindakan yang dilakukan mengalami perubahan yang disebabkan karena adanya perubahan dari diri siswa. Adapun rekapitulasi observasi pada siklus I, II, III yaitu observasi siswa, guru dan hasil tes belajar siswa yang telah dilakukan pada setiap siklus dalam kegiatan pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4.10 rekapitulasi hasil aktivitas siswa siklus I sampai siklus III. No Indikator yang diamati Rata-rata hasil siklus I Rata-rata hasil siklus II Rata-rata hasil siklus III

8 1 Mencocokkan kartu soal dan jawaban Menjalankan atau memahami perintah yang diinstruksikan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran 3 Menggunakan alat hitung dalam operasi hitung 4 Membuat cara jalannya perhitungan operasi hitung 5 Menjawab pertanyaan Menjelaskan soal yang diberikan oleh guru 7 Berdiskusi atau mengemukakan pendapat Jumlah (%) Rata-rata (%) 59,13 82,54 94,31 Tingkat aktivitas Kurang aktif Sangat aktif Sangat aktif Tabel 4.11 Rekap hasil observasi aktivitas guru siklus I, II, dan III No Indikator Persentase Siklus I Siklus II Siklus III 1 Apersepsi Pemberian motivasi atau menarik perhatian siswa 3 Menjelaskan tujuan instruksional pembelajaran 4 Pemberian pengetahuan berdasarkan kompetensi 5 Pengelolaan kelas Pemberian media pembelajaran Pemberian potongan kartu Bimbingan kepada siswa Memberikan penghargaan individu refleksi Pemberian asesmen (proses) dan evaluasi Memberikan umpan balik Jumlah (%) Rata-rata (%) 79 91,6 95,8 Tingkat aktivitas Baik Sangat baik Sangat baik Dari tabel penelitian yang dilakukan pada kegiatan guru pada setiap siklusnya mengalami peningkatan. Pada siklus I jumlah persen yang didapat 38% dengan jumlah ratarata persennya 79% dengan kategori tingkat aktivitasnya baik. Pada siklus II hasil yang didapat jumlah persennya 44% dengan rata-rata 91,6% kategori sangat baik dan pada siklus III kegiatan aktivitas yang dilakukan guru meningkat menjadi 46% sedangkan rata-rata persen meningkat menjadi 95,8% dengan kategori tingkat aktivitasnya sangat baik.

9 Table 4.12 Rekap hasil belajar siswa pada akhir pertemuan siklus I, II, dan III. No Nama siswa Siklus I II III 1 ANDRI ANDRI ZULFI ANDIKA DARUL FIKRI ANISA ALIYA ANDI PADLI AHMAD SYAFI I A.HALIM PERDANA. K AHMAD SYAI IN ARDILA ANGGRAINI AHMAD RAFIQI HUSNUR RIFKI LUTPIATUN NISA M.MILADI NAKWA M.ELMITA SUBRI MUTMAINAH PUTRI IHROTUN PUTRI NABILA PUJA MAWADDAH ASWARNI ANA KHOTRUN NADA ROIHANATUL INNAJAH SUMARNI SUNDIKA WARDANI UMIL ATIKA WASILA TURRAHMAN WAHYU FEBRIAN WAPA ADE SAPUTRA Jumlah nilai Rata-rata kelas 59, ,9 Siswa tidak tuntas Siswa yang tuntas Ketuntasan klasikal % 44% 74% 100% Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa ketuntasan hasil belajar siswa secara individu maupun klasikal menggunakan model Make A-Match ini mengalami peningkatan pada setiap siklusnya yaitu pada siklus I ketuntasan dengan persentase 44% dan nilai rataratanya 59,6. siklus II dengan ketuntasan secara klasikalnya 74% dan nilai rata-ratanya 64, siklus III persentase ketuntasan secara klasikalnya adalah 100% dan nilai rata-ratanya 85,9 dan aktifitas siswa pada siklus I, II dan III juga mengalami peningkatan yaitu pada siklus I dengan persentase 59,13% berada pada kategori kurang aktif, siklus II dengan kategori sangat aktif dengan persentase 82,54%, sedangkan pada siklus III meningkat menjadi 94,31% dengan kategori sangat aktif. Pada siklus I ini ada 15 siswa yang belum mengalami perubahan dan hasil belajar belum meningkat. Untuk itu perlu adanya perbaikan pada siklus selanjutnya dan peningkatan hasil belajar siswa terutama kepada siswa yang belum tuntas dan siswa yang mengalami masalah pada aktivitas belajarnya yang akan dilanjutkan perbaikannya pada siklus II.

10 Kegiatan pembelajaran yang dilakukan pada siklus II terjadi peningkatan yang sangat signifikan dengan tingkat keaktifan siswa yang dapat dilihat pada lembar observasi yaitu ratarata sebesar 67% dengan tingkat aktivitas cukup aktif. Untuk itu aktifitas belajar ini sangat perlu dipertahankan sehingga permasalahan yang muncul pada siklus II ini atau yang dihadapi siswa dalam belajar matematika dapat teratasi dengan menggunakan model Make A- Match ini yang pelaksanaan tindakannya juga harus lebih ditingkatkan. Siswa yang tergolong belum tuntas dalam hasil belajaranya ada 7 siswa yang mengalami masalah terutama malas mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik. Untuk menuntaskan hasil belajar 7 siswa ini perlu dilakukan perbaikan dan direkomendasi pada pelaksanaan siklus III. Berdasarkan hasil siklus I dan siklus II diatas maka dapat diambil tindakan pada siklus III dengan jumlah siswa yang belum tuntas 7 orang siswa dan pada siklus III ini dilaksanakan 2 kali pertemuan. Nilai tes hasil pada siklus III semua siswa drastis tuntas dalam belajarnya atau mengalami peningkatan yang sangat baik dengan rata-rata nilai siswa yaitu 70 dan ketuntasan klasikalnya 100%. Hal ini disebabkan siswa dalam proses pembelajaran lebih mmperhatikan penjelasan yang disampaikan oleh guru dan juga siswa telah mempelajari materi pelajaran dengan baik, siswa merasa nyaman dalam belajar dan siswa lebih diajak belajar sambil bermain dengan menggunakan model Make A-Match. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran metematika dengan menggunakan model Make A-Match dapat dipertahankan karena dapat meningkatkan keaktivitas dan hasil belajar siswa. Model Make A-Match ini dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dapat meningkat, membuat siswa lebih bersemangat dalam belajar dan lebih memahami materi yang diberikan oleh guru. Hal ini juga dikemukakan oleh Rosmaniar (2010) terhadap siswa kelas III SDN 186/IX Muaro Jambi pada pembelajaran matematika materi operasi hitung pada bilangan bulat positif dengan menggunakan model Make-A Match diperoleh adanya peningkatan dalam hasil belajar siswa yang ditandai dengan meningkatnya hasil belajar siswa pada materi tersebut. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang dapat disimpulkan untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dengan menggunakan model Make A-Match perlu persiapan yang matang yaitu guru harus mempersiapkan kartu soal dan jawaban yang matang dalam pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. Untuk mewujudkan itu guru perlu memberi motivasi dan bimbingan kepada siswa. Motivasi tersebut bisa berupa poin dan rangsangan berupa pemberian hadiah-hadiah berupa permen, pensil dan kado bagi siswa yang mampu menjawab pertanyaan guru. Berdasarkan data yang diperoleh pada siklus III tampak adanya perubahan setelah menggunakan model Make A-Match pada operasi hitung campuran sudah memberikan hasil yang optimal dan ternyata memberikan perubahan pada aktivitas dan hasil belajar siswa. Hasil refleksi menunjukkan bahwa penerapan model Make A-Match ini menimbulkan rasa percaya diri pada siswa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru, juga melatih keberanian siswa dalam menjawab saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Begitu pula untuk hasil tes yang diperoleh pada siklus III ini ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal sudah mencapai 100% siswa tuntas dan dengan nilai rata-rata 85,9 berarti tindakan yang diberikan sudah baik dan berhasil. Pada siklus III ketuntasan hasil belajar juga mengalami peningkatan persentase 100% dengan nilai rata-rata 85,9 serta semua siswa tuntas dalam KKM 60. Selain itu aktivitas siswa pada siklus I, II dan III juga mengalami peningkatan yaitu pada siklus I dengan persentase 45% pada ketegori kurang aktif, siklus II meningkat menjadi 67% dengan kategori cukup aktif dan pada siklus III meningkat juga menjadi 89,7% dengan kategori sangat aktif. Sehingga dapat ditegaskan penggunaan model Make A-Match yang diterapkan dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

11 Telah terbuktinya model Make A-Match dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam mata pelajaran matematika, maka disarankan kepada: 1. Siswa: diharapkan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran yaitu mencocokkan kartu atau mencari pasangan kartu pertanyaan dan kartu jawaban dengan mengikuti aturan yang diberikan oleh guru. 2. Guru: diharapkan dalam kegiatan belajar mengajar guru menjadikan model Make A- Match sebagai suatu alternatif dalam mata pelajaran matematika untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa. Karena kegiatan ini sangat bermanfaat khususnya bagi guru dan siswa, maka diharapkan kegiatan ini dapat dilakukan secara berkesinambungan dalam pembelajaran matematika maupun pelajaran lain. 3. Kepada pihak sekolah dapat menggunakan model Make A-Match untuk memperbaiki proses pembelajaran matematika di SD dan menyediakan sarana pembelajaran. DAFTAR RUJUKAN Achjar, Chalil Pengertian Definisi Pembelajaran Menurut Para Ahli, (online) (http://carapedia.com/pengertian_definisi_pembelajaran_menurut_para_ahli_info 507.html. diakses 12 juni 2012) Djamarah & Zain Aswan Startegi Belajar Mengajar Jakarta: Rineka Cipta Dwiwandono, Wuryani, Esti, Sri Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grasindo. Ekawarna Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Gaung Persada. Hamalik, Oemar Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta Hamdani Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia. Hardini, Isriani & Puspita Sari, Dewi Strategi Pembelajaran terpadu. Yogyakarta: Familia. Lorna, Curran Pembelajaran Kooperatif Make A-Match, (online), (http://tarmizi.wordress.com/2008/12/03/pembelajaran-kooperatif-make A-Match/. diakses 12 juni 2012). Mustakim, Burhan & Astuty, Ary Ayo Belajar Matematika. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Purwanto Evaluasi Hasil Belajar. Surakarta: Pustaka Pelajar. Rohani, Ahmad Pengelolaan pengajaran. Jakarta: PT Asdi Mahasatya Rosmaniar Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran Matematika Materi Operasi Hitung Pada Bilangan Bulat Positif dengan Menggunakan Model Make A-Match di Kelas III SDN 186/IX Muaro Jambi (Skripsi tidak diterbitkan). Jambi: Unja. Sagala, Saiful Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. Saiful4min Metode- Make- A Match-Persiapan, (online) (http//saiful4min.blogspot.com/2011/02/metode-make-a-match-tujuan-persiapandan.html/ diakses 12 juni 2012) Sams, Hartini, Rosma Model PTK. Yogyakarta: Teras. Slameto Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Trianto Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara. Wahab, Aziz, Abdul Metode dan Model Mengajar. Bandung: Alfabeta Yamin Martinis Kiat Membelajarkan Siswa. jakarta: Gaung Persada Press

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV sebanyak 19 yang terdiri dari 8 anak laki-laki dan 11 anak perempuan. Penelitian ini

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. SUBJEK PENELITIAN Subyek dari penelitian tindakan kelas ini adalah peserta didik kelas VIIA MTs NU Tamrinut Thullab Undaan Lor Kudus tahun pelajaran 2009/2010 dengan jumlah

Lebih terperinci

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG Umar Wirahadi Kusuma Universitas Negeri Malang Pembimbing

Lebih terperinci

OLEH : ERI SANTI. UNIVERSITAS JAMBI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN E-Mail: erisanti3@gmail.com

OLEH : ERI SANTI. UNIVERSITAS JAMBI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN E-Mail: erisanti3@gmail.com MENNGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN IPS TENTANG KENAMPAKAN ALAM DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN INTERAKTIF PADA SISWA KELAS IV SDN 198/III KEMANTAN TINGGI 1 OLEH : ERI SANTI UNIVERSITAS JAMBI

Lebih terperinci

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP SIFAT-SIFAT BANGUN RUANG MELALUI METODE EXAMPLES NON EXAMPLES

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP SIFAT-SIFAT BANGUN RUANG MELALUI METODE EXAMPLES NON EXAMPLES PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP SIFAT-SIFAT BANGUN RUANG MELALUI METODE EXAMPLES NON EXAMPLES Indah Wahyu Ningrum 1), Suharno 2), Hasan Mahfud 3) PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret, Jl. Slamet Riyadi No.

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA KELAS V MELALUI MEDIA BENDA-BENDA NYATA PADA MATA PELAJARAN IPA SDN BOGEM BAYAT KLATEN

PENINGKATAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA KELAS V MELALUI MEDIA BENDA-BENDA NYATA PADA MATA PELAJARAN IPA SDN BOGEM BAYAT KLATEN PENINGKATAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA KELAS V MELALUI MEDIA BENDA-BENDA NYATA PADA MATA PELAJARAN IPA SDN BOGEM BAYAT KLATEN NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai Derajat S-1

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1.Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 5 sebanyak 25 siswa, laki-laki sebnyak 13 anak dan perempuan sebanyak 12 anak. Jumlah

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Matematika

NASKAH PUBLIKASI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Matematika PENINGKATAN PERCAYA DIRI DAN KEMANDIRIAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN ATTENTION RELEVANCE CONFIDENCE SATISFACTION (ARCS) (PTK Pada Siswa Kelas VIIA SMP Muhammadiyah 1 Surakarta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi suatu bangsa agar bangsa tersebut dapat meningkatkan kualitas SDM yang dimilikinya. Dengan SDM yang berkualitas maka

Lebih terperinci

BAB. III METODE PENELITIAN

BAB. III METODE PENELITIAN 18 BAB. III METODE PENELITIAN 3.1 Settingdan Karaktersistik Subjek Penelitian Penelitian Tindakan Kelas mata pelajaran PKn tentang Mendeskripsikan tugas dan fungsi pemerintah pusat dan daerah dilakukan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah. dasar itu khususnya adalah pengetahuan prosedural yaitu pengetahuan tentang

BAB II KAJIAN TEORI. dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah. dasar itu khususnya adalah pengetahuan prosedural yaitu pengetahuan tentang BAB II KAJIAN TEORI A. Kerangka Teoretis 1. Model Pembelajaran Langsung Model pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif

Lebih terperinci

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110 ISSN: 1693-1246 Juli 2011 Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110 J P F I http://journal.unnes.ac.id PEMBELAJARAN SAINS DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 SULIKAH A54F100042

NASKAH PUBLIKASI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 SULIKAH A54F100042 PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGERJAKAN OPERASI HITUNG PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI DAN MEDIA POTONGAN LIDI PADA SISWA KELAS 1 SEMESTER 2 SD NEGERI 2 SEDAYU TAHUN 2013/2014 NASKAH

Lebih terperinci

Kata kunci : penggunaan media, gambar seri, peningkatan kemampuan, karangan sederhana.

Kata kunci : penggunaan media, gambar seri, peningkatan kemampuan, karangan sederhana. PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR SERI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN SEDERHANA SISWA KELAS III SDK RANGGA KECAMATAN LEMBOR KABUPATEN MANGGARAI BARAT Herman Yoseph Tagur SDK Rangga Lembor Manggarai

Lebih terperinci

Gambar 1. Skema Penelitian Tindakan Kelas

Gambar 1. Skema Penelitian Tindakan Kelas BAB III METODE PENELITIAN A. Rencana Kegiatan Penelitian Penelitian yang digunakan penulis adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Penelitian tindakan kelas menurut Dave Ebbut dikutip

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI DENGAN METODE KARYA WISATA

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI DENGAN METODE KARYA WISATA PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI DENGAN METODE KARYA WISATA Agustian SDN 02 Curup Timur Kabupaten Rejang Lebong Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan siswa dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu diantara masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya

Lebih terperinci

5 25% BAB I PENDAHULUAN

5 25% BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sekarang ini banyak orang menyebutkan abad melenium. Pada masa ini menuntut penguasaan teknologi adalah kebutuhan mutlak. Bahkan kita dituntut untuk dapat

Lebih terperinci

e-ta ( elektronik Tugas Akhir ) Oleh : AKLI JUNIHARTO NIM : 100210274023

e-ta ( elektronik Tugas Akhir ) Oleh : AKLI JUNIHARTO NIM : 100210274023 PENINGKATAN HASIL BELAJAR PENJUMLAHAN PECAHAN YANG PENYEBUTNYA TIDAK SAMA DENGAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS V SDN PULO 02 KABUPATEN LUMAJANG e-ta ( elektronik Tugas Akhir ) Oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ini. Proses pendidikan seumur hidup itu lebih dikenal dengan istilah long life

BAB I PENDAHULUAN. ini. Proses pendidikan seumur hidup itu lebih dikenal dengan istilah long life 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya pendidikan adalah laksana eksperimen yang tidak pernah selesai sampai kapan pun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini. Proses pendidikan

Lebih terperinci

Putriaji Hendikawati Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Semarang p_aji_unnes@yahoo.com. Abstrak

Putriaji Hendikawati Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Semarang p_aji_unnes@yahoo.com. Abstrak Meningkatkan Aktivitas Belajar Untuk Mencapai Tuntas Belajar Siswa SMP CitischoolMelalui Model Pembelajaran Quantum Teaching Dilengkapi Modul Dan VCD Pembelajaran Putriaji Hendikawati Jurusan Matematika

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. hasil tes keterampilan membaca puisi untuk mengetahui kondisi awal keterampilan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. hasil tes keterampilan membaca puisi untuk mengetahui kondisi awal keterampilan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Pada bab ini akan disajikan hasil penelitian tindakan kelas yang berupa hasil tes dan nontes. Hasil tes meliputi siklus I dan siklus II. Hasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sesuai dengan tuntutan Kurikulum KTSP yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah mengharapkan agar penguasaan

Lebih terperinci

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR Disampaikan pada Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SD Jenjang Lanjut Tanggal 6 s.d. 9 Agustus 200 di PPPG Matematika Oleh: Dra. Sukayati, M.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. ruang sisi datar, maka dengan demikian data yang akan dikumpulkan dalam

BAB III METODE PENELITIAN. ruang sisi datar, maka dengan demikian data yang akan dikumpulkan dalam BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pada penelitian ini, peneliti berusaha mendeskripsikan bentuk pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman siswa dengan menerapkan pembelajaran

Lebih terperinci

PROSIDING ISBN : 978-979-16353-3-2

PROSIDING ISBN : 978-979-16353-3-2 P-6 PEMBELAJARAN FPB DAN KPK DENGAN DAN TANPA ALAT PERAGA PADA SISWA KELAS V SD NEGERI BLENGORKULON KECAMATAN AMBAL KABUPATEN KEBUMEN TAHUN PELAJARAN 2008/2009 Abu Syafik dan Siti Khanifah Program Studi

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2013 di SMP Negeri 3

METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2013 di SMP Negeri 3 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2013 di SMP Negeri 3 Metro. B. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Kelas/Semester Alokasi waktu : SMA Negeri 1 Sukasada : Matematika : X/1 (Ganjil) : 2 x 4 menit (1 pertemuan) I. Standar Kompetensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kimia adalah salah satu mata pelajaran yang semakin penting seiring berkembangnya ilmu dan teknologi sekarang ini, namun faktanya di lapangan menunjukkan bahwa pelajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tantangan kehidupan selalu muncul secara alami seiring dengan berputarnya waktu. Berbagai tantangan bebas bermunculan dari beberapa sudut dunia menuntut untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan pergaulan dengan orang lain

BAB I PENDAHULUAN. keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan pergaulan dengan orang lain BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Belajar merupakan salah satu bentuk kegiatan individu dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan. Tujuan dari setiap belajar mengajar adalah untuk memperoleh hasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini pemerintah sedang giat berupaya meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini dikarenakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut: 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Matematika adalah bagian yang sangat dekat dengan kehidupan seharihari. Berbagai bentuk simbol digunakan manusia sebagai alat bantu dalam perhitungan, penilaian,

Lebih terperinci

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat S-1 Pendidikan Matematika. Diajukan Oleh : WAHYU VITA LESTARI A 410 060 130

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat S-1 Pendidikan Matematika. Diajukan Oleh : WAHYU VITA LESTARI A 410 060 130 EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN METODE PENEMUAN TERBIMBING DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL SISWA (Untuk Kelas VIII SMP N 1 Tirtomoyo Semester Genap Pokok Bahasan Prisma) SKRIPSI Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

Wilis Tinah Program Studi PG-PAUD, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya

Wilis Tinah Program Studi PG-PAUD, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMAHAMI KONSEP BILANGAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE PEMBERIAN TUGAS MELALUI MEDIA POHON BILANGAN PADA ANAK KELOMPOK A DI TK AVICENNA SURABAYA Wilis Tinah Program Studi PG-PAUD, Fakultas

Lebih terperinci

Dewi Indriani, Miharty, dan Jimmi Copriady Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Riau Email: dewi_indriani90@yahoo.co.id

Dewi Indriani, Miharty, dan Jimmi Copriady Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Riau Email: dewi_indriani90@yahoo.co.id PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE BENAR ATAU SALAH BESERTA ALASAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA POKOK BAHASAN KOLOID DI KELAS XI IPA SMA MUHAMMADIYAH 1 PEKANBARU Dewi Indriani, Miharty,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Dan salah satu hal yang menentukan kualitas pembelajaran adalah

Lebih terperinci

ISSN 2252-9063. Kumpulan Artikel Mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika (KARMAPATI) Volume 2, Nomor 6, Agustus 2013

ISSN 2252-9063. Kumpulan Artikel Mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika (KARMAPATI) Volume 2, Nomor 6, Agustus 2013 Penerapan Model Pembelajaran PDEODE (Predict Discuss Explain Observe Discuss Explain) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Teknologi Informasi dan Komunika (Studi Kasus : Kelas VII D SMP Negeri 3 Singaraja

Lebih terperinci

PENGGUNAAN MEDIA BAGAN GARIS WAKTU (TIME LINE CHART) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPS KELAS V SD

PENGGUNAAN MEDIA BAGAN GARIS WAKTU (TIME LINE CHART) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPS KELAS V SD PEGGUAA MEDIA BAGA GARIS WAKTU (TIME LIE CHART) UTUK MEIGKATKA HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARA IPS KELAS V SD Dini Yuli Mityasari PGSD, FIP, Universitas egeri Surabaya (diniyulimityasari@gmail.com)

Lebih terperinci

ALAT PENILAIAN KEMAMPUAN GURU (APKG)

ALAT PENILAIAN KEMAMPUAN GURU (APKG) ALAT PENILAIAN KEMAMPUAN GURU (APKG) PETUNJUK 1. Kumpulkan dokumen perangkat dari guru sebelum pengamatan, cacatan hasil pengamatan selama dan sesudah, serta cacatan kemajuan dan hasil belajar peserta

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Efektivitas Pembelajaran Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu

Lebih terperinci

Sutrisno Nurul Hidayah Malinau Kalimantan Utara nuruljhd@gmail.com

Sutrisno Nurul Hidayah Malinau Kalimantan Utara nuruljhd@gmail.com PENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI OPERASI HITUNG BILANGAN BERPANGKAT TIGA DENGAN MEDIA PEMBELAJARAN MOLIKUR-13 DI KELAS VI SDN 010 MALINAU KOTA Sutrisno Nurul Hidayah Malinau Kalimantan Utara

Lebih terperinci

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 6 MALANG

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 6 MALANG 1 PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 6 MALANG Rima Buana Prahastiwi 1, Subani 2, Dwi Haryoto 3 Jurusan Fisika

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. adalah dengan mengembangkan program pendidikan, khususnya pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. adalah dengan mengembangkan program pendidikan, khususnya pendidikan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu pengetahuan dan teknologi memainkan peranan penting dalam upaya mencapai tujuan dan cita-cita pembangunan suatu bangsa. Oleh karena itu, semua bangsa

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN MENEMUKAN MAKNA DAN INFORMASI SECARA TEPAT DALAM KAMUS DENGAN MEMBACA MEMINDAI

PEMBELAJARAN MENEMUKAN MAKNA DAN INFORMASI SECARA TEPAT DALAM KAMUS DENGAN MEMBACA MEMINDAI PEMBELAJARAN MENEMUKAN MAKNA DAN INFORMASI SECARA TEPAT DALAM KAMUS DENGAN MEMBACA MEMINDAI Suhardi SD Negeri 007 Ranai Bunguran Timur Natuna Abstrak: Siswa kelas IV SDN 007 Ranai cenderungmengalami kesulitan

Lebih terperinci

BANK KATA: Ide Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Oleh: Asri Musandi Waraulia, M.Pd.

BANK KATA: Ide Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Oleh: Asri Musandi Waraulia, M.Pd. BANK KATA: Ide Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Oleh: Asri Musandi Waraulia, M.Pd. Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia mempunyai empat keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan menulis,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan

Lebih terperinci

UNIT PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA. Nyimas Aisyah. Pendahuluan

UNIT PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA. Nyimas Aisyah. Pendahuluan UNIT 5 PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA Nyimas Aisyah Pendahuluan P embelajaran matematika di Sekolah Dasar sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, menurut kurikulum 2006, bertujuan antara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diperhatikan saat ini adalah pembangunan dibidang pendidikan, menyadari. kalangan pendidikan itu sendiri termasuk para guru.

BAB I PENDAHULUAN. diperhatikan saat ini adalah pembangunan dibidang pendidikan, menyadari. kalangan pendidikan itu sendiri termasuk para guru. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan yang giat-giatnya dilakukan oleh bangsa saat ini adalah upaya membentuk manusia Indonesia yang seutuhnya, baik mental, spiritual dan fisik material. Salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan bakat, kemampuan dan minat yang dimilikinya.

BAB I PENDAHULUAN. dengan bakat, kemampuan dan minat yang dimilikinya. 1 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Sekolah Dasar merupakan lembaga pendidikan formal yang bertanggung jawab mendidik dan mengajar agar tingkah laku siswa didik menjadi baik. Salah satu tugas

Lebih terperinci

PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA. Dermalince Sitinjak, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara PENDAHULUAN

PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA. Dermalince Sitinjak, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara PENDAHULUAN PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA Dermalince Sitinjak, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara PENDAHULUAN Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif mantap berkat latihan dan pengalaman. Belajar sesungguhnya adalah ciri khas manusia dan yang membedakannya dengan

Lebih terperinci

Selvia Rosalina Pembimbing: Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.Si Hj. Yuniastuti, S.H, M.Pd

Selvia Rosalina Pembimbing: Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.Si Hj. Yuniastuti, S.H, M.Pd PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN EXAMPLE NON EXAMPLE UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI KELAS VIII B DI SMP NEGERI 1 KEJAYAN KABUPATEN PASURUAN

Lebih terperinci

PUBLIKAS SI JURNAL KARANGP 2012/2013

PUBLIKAS SI JURNAL KARANGP 2012/2013 PUBLIKAS SI JURNAL ILMIAH PENGGUNAAN METODE DISKUSI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN KEAKTIFAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPS KELAS IV SDN 02 DOPLANG KARANGP PANDAN KABUPATEN KARANGANYAR TAHUN

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Examples Non Examples Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga lima orang dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hubungan timbal balik antara guru dan murid yang baik. Untuk itu, selain

BAB I PENDAHULUAN. hubungan timbal balik antara guru dan murid yang baik. Untuk itu, selain 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kondisi belajar yang baik dan memadai sangat membutuhkan hubungan timbal balik antara guru dan murid yang baik. Untuk itu, selain menggunakan strategi belajar mengajar

Lebih terperinci

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Menyelesaikan Studi Program Strata Satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hukum Islam, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidup (way of life) dan pembiasaan (Depag RI, 2005: 46).

BAB I PENDAHULUAN. hukum Islam, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidup (way of life) dan pembiasaan (Depag RI, 2005: 46). BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Mata pelajaran Fiqih dalam kurikulum Madrasah Tsanawiyah merupakan salah satu mata pelajaran yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami,

Lebih terperinci

PENANAMAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA PADA PELAKSANAAN ULANGAN HARIAN DALAM MATA PELAJARAN

PENANAMAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA PADA PELAKSANAAN ULANGAN HARIAN DALAM MATA PELAJARAN PENANAMAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA PADA PELAKSANAAN ULANGAN HARIAN DALAM MATA PELAJARAN PKn Studi Kasus: Siswa Kelas VII B MTs Muhammadiyah 07 Klego Boyolali Tahun Ajaran 2013/2014) NASKAH PUBLIKASI

Lebih terperinci

Anita Windarini SMP Negeri 1 Sanggau anitanajori@rocketmail.com

Anita Windarini SMP Negeri 1 Sanggau anitanajori@rocketmail.com Windarini, Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif dan Media Manipulatif, 1 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD DAN MEDIA MANIPULATIF DALAM PEMBELAJARAN LUAS PERMUKAAN BANGUN RUANG SISI LENGKUNG

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh: TSALIS HIDAYATI NIM 11507020. Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam

SKRIPSI. Oleh: TSALIS HIDAYATI NIM 11507020. Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN MATEMATIKA OPERASI HITUNG PERKALIAN DENGAN METODE BERMAIN KARTU PADA SISWA KELAS III MI DADAPAYAM II KECAMATAN SURUH KABUPATEN SEMARANG TAHUN PELAJARAN

Lebih terperinci

Kata Kunci: instrumen penilaian, benar-salah, kemampuan berpikir tingkat tinggi, dinamika rotasi, kesetimbangan tegar

Kata Kunci: instrumen penilaian, benar-salah, kemampuan berpikir tingkat tinggi, dinamika rotasi, kesetimbangan tegar PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES BENAR-SALAH UNTUK MENILAI KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA PADA MATERI DINAMIKA ROTASI DAN KESETIMBANGAN BENDA TEGAR Aliyyatus Sa adah, Sugiyanto, S.Pd, M.Si, dan Drs.

Lebih terperinci

MODEL PEMBELAJARAN KATA ULANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKUIRI PADA SISWA KELAS VIII MTS DARUL ASIQIN BANYURESMI GARUT MAKALAH

MODEL PEMBELAJARAN KATA ULANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKUIRI PADA SISWA KELAS VIII MTS DARUL ASIQIN BANYURESMI GARUT MAKALAH MODEL PEMBELAJARAN KATA ULANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKUIRI PADA SISWA KELAS VIII MTS DARUL ASIQIN BANYURESMI GARUT MAKALAH OLEH: RIDHO ELSY FAUZI NIM. 10.21.0462 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang mampu menghasilkan perubahan-perubahan perilaku (behavior), baik itu

BAB I PENDAHULUAN. yang mampu menghasilkan perubahan-perubahan perilaku (behavior), baik itu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu hal penting untuk menentukan maju mundurnya suatu bangsa, maka untuk menghasilkan sumber daya manusia sebagai subjek dalam pembangunan

Lebih terperinci

ARTIKEL ILMIAH MENINGKATKAN KETERAMPILAN BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN SAINS DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR DI KELAS V SD N 99/I BENTENG RENDAH

ARTIKEL ILMIAH MENINGKATKAN KETERAMPILAN BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN SAINS DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR DI KELAS V SD N 99/I BENTENG RENDAH ARTIKEL ILMIAH MENINGKATKAN KETERAMPILAN BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN SAINS DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR DI KELAS V SD N 99/I BENTENG RENDAH KABUPATEN BATANGHARI Oleh: ERNAWATI NIM : A1D109166

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangun ruang adalah materi pokok dalam pembelajaran matematika di SMP/MTs yang kajian materinya masih bersifat abstrak. Pada materi bangun ruang ini, peserta

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 19 Juni 2013 sampai dengan 19 Agustus 2013.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 19 Juni 2013 sampai dengan 19 Agustus 2013. BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada tanggal 19 Juni 2013 sampai dengan 19 Agustus 2013. Adapun penelitian ini berlokasi di Sekolah Menengah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran 1. Belajar a) Pengertian Belajar Hakikat belajar adalah proses mendapatkan pengetahuan dengan membaca dan menggunakan pengalaman sebagai pengetahuan

Lebih terperinci

Penerapan model pembelajaran langsung dalam mata pelajaran matematika SMP/MTs. Oleh. Dra. Theresia Widyantini, M.Si

Penerapan model pembelajaran langsung dalam mata pelajaran matematika SMP/MTs. Oleh. Dra. Theresia Widyantini, M.Si ARTIKEL Penerapan model pembelajaran langsung dalam mata pelajaran matematika SMP/MTs Oleh Dra. Theresia Widyantini, M.Si PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) MATEMATIKA

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA CARA BELAJAR, HASIL BELAJAR MATA KULIAH ASUHAN KEBIDANAN I DENGAN KEMAMPUAN ANTENATAL CARE MAHASISWA TINGKAT II AKKES SWAKARSA TAHUN

HUBUNGAN ANTARA CARA BELAJAR, HASIL BELAJAR MATA KULIAH ASUHAN KEBIDANAN I DENGAN KEMAMPUAN ANTENATAL CARE MAHASISWA TINGKAT II AKKES SWAKARSA TAHUN HUBUNGAN ANTARA CARA BELAJAR, HASIL BELAJAR MATA KULIAH ASUHAN KEBIDANAN I DENGAN KEMAMPUAN ANTENATAL CARE MAHASISWA TINGKAT II AKKES SWAKARSA TAHUN 2012/2013 ABSTRAK Berdasarkan UU RI No. 20 Tahun 2003

Lebih terperinci

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SEPAK MULA MELALUI MODIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI GAMBIRSARI SURAKARTA

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SEPAK MULA MELALUI MODIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI GAMBIRSARI SURAKARTA UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SEPAK MULA MELALUI MODIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI GAMBIRSARI SURAKARTA Zusuf Awaludin Fajri Prodi Pendidikan Jasmani, Kesehatan

Lebih terperinci

PERAN PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QURAN SEBAGAI MUATAN LOKAL DALAM UPAYA MEMBENTUK KARAKTER KEPRIBADIAN SISWA STUDI DI SMP TRI BHAKTI NAGREG

PERAN PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QURAN SEBAGAI MUATAN LOKAL DALAM UPAYA MEMBENTUK KARAKTER KEPRIBADIAN SISWA STUDI DI SMP TRI BHAKTI NAGREG PERAN PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QURAN SEBAGAI MUATAN LOKAL DALAM UPAYA MEMBENTUK KARAKTER KEPRIBADIAN SISWA STUDI DI SMP TRI BHAKTI NAGREG IRA YUMIRA EMAIL: http // i.yumira@yahoo.co.id STKIP SILIWANGI

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan dalam Rangka Penyelesaian Program Studi Strata I untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

SKRIPSI. Diajukan dalam Rangka Penyelesaian Program Studi Strata I untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP TENTANG POKOK BAHASAN PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN MELALUI PEMANFAATAN ALAT PERAGA DAN LEMBAR KERJA PADA SISWA KELAS IV SD WONOSARI 02 SEMARANG TAHUN AJARAN 2006/2007

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK MELALUI PERMAINAN BALOK SUSUN PADA ANAK KELOMPOK B TK MOJOREJO 2 KEC. KARANGMALANG KAB.

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK MELALUI PERMAINAN BALOK SUSUN PADA ANAK KELOMPOK B TK MOJOREJO 2 KEC. KARANGMALANG KAB. UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK MELALUI PERMAINAN BALOK SUSUN PADA ANAK KELOMPOK B TK MOJOREJO 2 KEC. KARANGMALANG KAB. SRAGEN TAHUN 2014/2015 A53H111002 NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagaian

Lebih terperinci

DARMAWAN ADI NUGROHO X4608513

DARMAWAN ADI NUGROHO X4608513 UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN GERAK DASAR LOKOMOTOR MELALUI APLIKASI PERMAINAN BEREGU PADA SISWA KELAS III SD NEGERI 1 GANCANG KECAMATAN GUMELAR KABUPATEN BANYUMAS TAHUN PELAJARAN 2011/2012 SKRIPSI Oleh:

Lebih terperinci

ALAT PERAGA MATEMATIKA SEDERHANA UNTUK SEKOLAH DASAR. Oleh : Drs. Ahmadin Sitanggang, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara

ALAT PERAGA MATEMATIKA SEDERHANA UNTUK SEKOLAH DASAR. Oleh : Drs. Ahmadin Sitanggang, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara ALAT PERAGA MATEMATIKA SEDERHANA UNTUK SEKOLAH DASAR Oleh : Drs. Ahmadin Sitanggang, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN (LPMP) SUMATERA UTARA 2013 Jl. Bunga Raya No.

Lebih terperinci

Oleh: HARRY SULASTIANTO

Oleh: HARRY SULASTIANTO Oleh: HARRY SULASTIANTO PENGERTIAN KARYA TULIS ILMIAH Karya seorang ilmuwan (yang berupa hasil pengembangan) yang ingin mengembangkan ipteks yang diperolehnya melalui studi kepustakaan, pengalaman, penelitian,

Lebih terperinci

PENGGUNAAN LINGKUNGAN SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BIOLOGI

PENGGUNAAN LINGKUNGAN SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BIOLOGI PENGGUNAAN LINGKUNGAN SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BIOLOGI St. Syamsudduha Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar Kampus II: Jalan Sultan Alauddin Nomor

Lebih terperinci

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SIFAT-SIFAT BANGUN RUANG MENGGUNAKAN MEDIA BANGUN RUANG MULTIWARNA PADA SISWA SEKOLAH DASAR

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SIFAT-SIFAT BANGUN RUANG MENGGUNAKAN MEDIA BANGUN RUANG MULTIWARNA PADA SISWA SEKOLAH DASAR Peningkatan Hasil Belajar Sifat-Sifat Bangun Ruang Menggunakan Bangun Ruang Multiwarna PENINGKATAN HASIL BELAJAR SIFAT-SIFAT BANGUN RUANG MENGGUNAKAN MEDIA BANGUN RUANG MULTIWARNA PADA SISWA SEKOLAH DASAR

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh: Sinta Ambar Husada NIM. 100210204169

SKRIPSI. Oleh: Sinta Ambar Husada NIM. 100210204169 PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV-A SDN PATRANG 01 JEMBER PADA MATA PELAJARAN IPA POKOK BAHASAN GAYA MELALUI METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR AND SHARE (TPS) SKRIPSI

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bilangan, (b) aljabar, (c) geometri dan pengukuran, (d) statistika dan peluang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bilangan, (b) aljabar, (c) geometri dan pengukuran, (d) statistika dan peluang 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pemahaman Konsep Matematika Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), disebutkan bahwa standar kompetensi mata pelajaran

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimental, yang bertujuan untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hlm. 15. 1 Pantur Silaban, Kalkulus Lanjutan, (Jakarta: Erlangga, 1984), hlm. 1.

BAB I PENDAHULUAN. hlm. 15. 1 Pantur Silaban, Kalkulus Lanjutan, (Jakarta: Erlangga, 1984), hlm. 1. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bilangan bulat merupakan salah satu pokok bahasan di dalam pelajaran Matematika jenjang SMP/M.Ts. kelas VII. Bilangan bulat terdiri dari bilangan bulat positif, bilangan

Lebih terperinci

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS IIIB MI ALMAARIF 03 LANGLANG SINGOSARI

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS IIIB MI ALMAARIF 03 LANGLANG SINGOSARI PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS IIIB MI ALMAARIF 03 LANGLANG SINGOSARI Arlita Agustina 1 Muakibatul Hasanah 2 Heri Suwignyo 2 Email: arlitaagustina@ymail.com

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Inti dari proses pendidikan secara keseluruhan adalah proses belajar mengajar. Proses belajar-mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab,

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Metode tanya-jawab seringkali dikaitkan dengan kegiatan diskusi, seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, meskipun

Lebih terperinci

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA (Studi Eksperimen Di kelas XI IPA SMA Negeri 4 Tasikmalaya)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kehidupan yang terus berkembang membawa konsekuensikonsekuensi

BAB I PENDAHULUAN. Kehidupan yang terus berkembang membawa konsekuensikonsekuensi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kehidupan yang terus berkembang membawa konsekuensikonsekuensi tertentu terhadap pola kehidupan masyarakat. Begitu juga dengan dunia pendidikan yang terus berubah

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. A. Upaya Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. A. Upaya Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa 100 BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Upaya Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di SMK Muhammadiyah 03 Singosari Malang Motivasi belajar merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung:

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan unsure yang penting dan utama dalam konteks pembangunan bangsa dan negara. Dalam pendidikan, khususnya pendidikan formal di sekolah, pendidik merupakan

Lebih terperinci

HUBUNGAN MINAT BELAJAR SISWA DENGAN HASIL BELAJAR IPS DI SD GUGUS 1 KABUPATEN KEPAHIANG SKRIPSI

HUBUNGAN MINAT BELAJAR SISWA DENGAN HASIL BELAJAR IPS DI SD GUGUS 1 KABUPATEN KEPAHIANG SKRIPSI HUBUNGAN MINAT BELAJAR SISWA DENGAN HASIL BELAJAR IPS DI SD GUGUS 1 KABUPATEN KEPAHIANG SKRIPSI Oleh: RESSA ARSITA SARI NPM : A1G009038 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

Lebih terperinci

SKRIPSI. Disusun Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S 1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar LAKSANA NIM : A510070450

SKRIPSI. Disusun Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S 1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar LAKSANA NIM : A510070450 PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP PETA INDONESIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BENAR SALAH BERANTAI PADA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR NEGERI 01 JATIHARJO KECAMATAN JATIPURO SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2009 / 2010

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Deskripsi Teori 1. Tes Hasil Belajar a. Pengertian Tes merupakan alat ukur untuk proses pengumpulan data di mana dalam memberikan respon atas pertanyaan dalam instrumen, peserta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang berbobot

BAB I PENDAHULUAN. memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang berbobot BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Matematika ada di mana-mana dalam masyarakat dan matematika itu sangat penting. Sejak memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang

Lebih terperinci

Model Penilaian Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Pendidikan Karater di Sekolah Dasar

Model Penilaian Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Pendidikan Karater di Sekolah Dasar Model Penilaian Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Pendidikan Karater di Sekolah Dasar Oleh: Riyadi Program Studi PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk (1) Memperoleh

Lebih terperinci

Modul Matematika Segi Empat

Modul Matematika Segi Empat Modul Matematika Segi Empat Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP-Standar Isi 2006) Berdasarkan Pendekatan Kontekstual Untuk Siswa SMP Kelas VII Semester 2 Penulis : Tutik Shahidayanti Pembimbing :

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Alasan memilih SDN Sukawening berdasarkan pertimbangan :

BAB III METODE PENELITIAN. Alasan memilih SDN Sukawening berdasarkan pertimbangan : 32 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi, Waktu, dan Jadwal Penelitian 1. Lokasi Penelitian Lokasi tempat penelitian adalah SDN Sukawening kabupaten sumedang. Alasan memilih SDN Sukawening berdasarkan pertimbangan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Metode memiliki arti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan.1 Sedangkan penelitian diartikan sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis

Lebih terperinci

TINGKAT KESUKARAN DAN DAYA BEDA BUTIR-BUTIR SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS) BAHASA INDONESIA DI SMA NEGERI 1 BATU TAHUN AJARAN 2011/2012

TINGKAT KESUKARAN DAN DAYA BEDA BUTIR-BUTIR SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS) BAHASA INDONESIA DI SMA NEGERI 1 BATU TAHUN AJARAN 2011/2012 TINGKAT KESUKARAN DAN DAYA BEDA BUTIR-BUTIR SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS) BAHASA INDONESIA DI SMA NEGERI 1 BATU TAHUN AJARAN 2011/2012 ARTIKEL SKRIPSI OLEH HIGUITA SANTOS NIM 208211416540 UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Guru merupakan komponen yang paling menentukan dalam sistem. pendidikan secara keseluruan, yang harus mendapat perhatian sentral,

BAB I PENDAHULUAN. Guru merupakan komponen yang paling menentukan dalam sistem. pendidikan secara keseluruan, yang harus mendapat perhatian sentral, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Guru merupakan komponen yang paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruan, yang harus mendapat perhatian sentral, pertama dan utama. Figur yang

Lebih terperinci