VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL Analisis finansial dilakukan untuk melihat sejauh mana Peternakan Maju Bersama dapat dikatakan layak dari aspek finansial. Untuk menilai layak atau tidak usaha tersebut dari aspek finansial digunakan kriteria kelayakan investasi. Kriteria kelayakan investasi yang dapat digunakan diantaranya Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback period (PP). Analisis kriteria kelayakan investasi tersebut menggunakan arus kas (cash flow) untuk mengetahui besarnya manfaat dan biaya yang dikeluarkan selama umur bisnis. Selain menyusun cash flow, dalam penelitian ini juga akan dilakukan analisis laba rugi. Dari hasil analisis laba rugi dapat diketahui jumlah pajak yang harus dibayarkan perusahaan yang akan mempengaruhi cash flow perusahaan yaitu sebagai pengurang atas manfaat bersih (net benefit) yang diterima perusahaan. Selain itu, melalui laporan laba rugi dapat dihitung Break Even Point (BEP) dan Harga Pokok Produksi (HPP) yang berguna dalam pengelolaan bisnis. Peternakan Maju Bersama dihadapkan pada adanya kemungkinan perubahan variabel yang mempengaruhi cash flow. Perusahaan perlu mengetahui sejauh mana perubahan tersebut mempengaruhi aliran kas yang pada akhirnya mempengaruhi kelayakan usaha. Perubahan pada variabel input dan output hingga saat ini memang belum terjadi karena usaha masih relatif baru. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dilakukan analisis nilai pengganti (switching value). Analisis nilai pengganti (switching value) dilakukan terhadap variabel yang berpotensi mempengaruhi kelayakan usaha apabila terjadi perubahan dalam jumlah tertentu misalnya adanya peningkatan harga pakan broiler, peningkatan harga bibit, penurunan harga jual karkas, dan penurunan volume produksi. 7.1. Proyeksi Arus Kas (Cash flow) Aktivitas dalam bisnis diantaranya dapat dilihat dari penerimaan dan pengeluaran perusahaan. Aliran penerimaan dan pengeluaran tersebut dikenal dengan istilah aliran kas (cash flow). Suatu aliran kas (cash flow) terdiri dari beberapa unsur yang nilainya disusun berdasarkan tahapan-tahapan kegiatan 88
bisnis. Unsur-unsur dalam cash flow diantaranya, inflow (arus kas mauk), outflow (arus kas keluar), dan manfaat bersih. 7.1.1. Arus Kas Masuk Arus kas masuk adalah segala sesuatu yang dapat meningkatkan pendapatan proyek. Pada Peternakan Maju Bersama penerimaan berasal dari produk utama, produk sampingan, limbah produksi, dan nilai sisa. Produk utama perusahaan berupa karkas itik pedaging lengkap dengan kepala dan ceker sedangkan produk sampingan berupa ati ampela dan limbah produksi berupa pupuk kandang. Nilai sisa berasal dari peralatan investasi atau reinvestasi yang tidak habis dipakai selama umur bisnis. 7.1.1.1. Penerimaan Penjualan Karkas Pada Peternakan Maju Bersama karkas dijual dalam satuan ekor dengan ukuran satu kilogram per ekor. Harga jual karkas yaitu sebesar Rp 30.000,00 per ekor. Pada tahun ke-2 sampai ke-5 produksi itik diproyeksikan sebanyak lima siklus produksi per tahun. Dalam satu siklus produksi, itik yang dibudidayakan sesuai dengan kapasitas kandang yaitu 2.000 ekor. Tingkat kelangsungan hidup itik diperkirakan sebesar 75 persen sehingga besarnya itik yang dipanen 2.000 ekor dikalikan 75 persen yaitu 1.500 ekor per siklus produksi. Dalam satu tahun dilakukan lima siklus produksi sehingga itik yang dipanen sebanyak 7.500 ekor per tahun. Harga satuan itik sebesar Rp 30.000,00 sehingga penerimaan pada tahun ke-2 sampai ke-5 sebesar Rp 30.000,00 per ekor dikalikan 7.500 ekor hasilnya yaitu Rp 225.000.000,00 per tahun. Proyeksi Jumlah Produksi dan Panen Itik Peternakan Maju Bersama per siklus produksi per tahun dari tahun ke-2 hingga ke-5 dapat dilihat pada Tabel 12. 89
Tabel 12. Proyeksi Produksi dan Panen Itik Tahun ke-2 hingga ke-5 Produksi ke- Jumlah Produksi (Ekor) SR (%) Jumlah Panen Tahun ke- 2 3 4 5 1 2.000 75 1.500 1.500 1.500 1.500 2 2.000 75 1.500 1.500 1.500 1.500 3 2.000 75 1.500 1.500 1.500 1.500 4 2.000 75 1.500 1.500 1.500 1.500 5 2.000 75 1.500 1.500 1.500 1.500 Total Panen (Ekor) 7.500 7.500 7.500 7.500 Harga karkas per ekor (Rp) 30.000 30.000 30.000 30.000 Nilai Penerimaan (Rp) 225.000.000 225.000.000 225.000.000 225.000.000 Pada tahun ke-1 produksi yang dapat dilakukan sebanyak empat siklus produksi. Sama seperti pada tahun ke-2 sampai ke-5 jumlah itik yang dibudidayakan dalam satu siklus produksi yaitu 2.000 ekor sehingga dalam satu tahun diproyeksikan dapat membudidayakan itik sebanyak 8.000 ekor. Dengan tingkat kelangsungan hidup itik sebesar 75 persen, maka itik yang berhasil dipanen dan dijual sebesar 6.000 ekor. Harga jual sebesar Rp 30.000 persatuan sehingga penerimaan pada tahun ke-1 yaitu 6.000 ekor dikalikan Rp 30.000,00 per ekor hasilnya yaitu Rp 180.000.000,00. Proyeksi Jumlah Produksi dan Panen Itik Peternakan Maju Bersama per siklus produksi pada tahun ke-1 dapat dilihat dalam Tabel 13. Tabel 13. Proyeksi Produksi dan Panen Itik Tahun ke-1 Produksi ke- Jumlah Produksi (Ekor) SR (%) Jumlah Panen (ekor) 1 2.000 75 1.500 2 2.000 75 1.500 3 2.000 75 1.500 4 2.000 75 1.500 Total Panen (Ekor) 6.000 Harga karkas per ekor (Rp) 30.000 Nilai (Rp) 180.000.000 7.1.1.2. Penerimaan Penjualan Ati Ampela Jumlah penjualan ati ampela disesuaikan dengan jumlah itik yang berhasil dipanen. Pada tahun ke-0 tidak terdapat penerimaan dari ati ampela karena itik dijual dalam bentuk hidup. 90
Pada tahun ke-2 sampai ke-5 jumlah ati ampela yang dihasilkan sebanyak jumlah itik yang dipenen yaitu 7.500 pasang. Harga ati ampela yaitu Rp 1.000,00 per pasang sehingga penerimaan dari ati ampela sebesar Rp 7.500.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah itik yang dipanen sebanyak 6.000 ekor sehingga jumlah ati ampela yang dihasilkan sebanyak 6.000 pasang. Penerimaan dari penjualan ati ampela sebesar Rp 1.000,00 per pasang dikalikan 6.000 pasang hasilnya adalah Rp 6.000.000,00. 7.1.1.3. Penerimaan Penjualan Pupuk Kandang Pupuk kandang yang dihasilkan dari Peternakan Maju Bersama berupa kotoran itik yang bercampur dengan sekam yang sebelumnya digunakan sebagai alas lantai. Harga satu karung pupuk kandang yaitu Rp 3.000,00. Pada tahun ke-0 jumlah pupuk kandang yang dihasilkan sebanyak 50 karung. Penerimaan dari pupuk kandang sebesar Rp 3.000,00 per karung dikalikan 50 karung sehingga nilai penerimaannya adalah Rp 150.000,00. Pada tahun ke-2 jumlah kotoran yang dihasilkan sebanyak 10 karung per dua minggu sesuai dengan penggantian sekam setiap dua minggu sekali. Lama pemeliharaan sebanyak 10 minggu sehingga selama satu kali produksi menghasilkan pupuk kandang sebanyak 50 karung. Pupuk kandang yang dihasilkan dari tahun ke-2 sebanyak 50 karung per produksi dikalikan lima kali produksi yang hasilnya 250 karung. Harga jual pupuk kandang yaitu Rp 3.000,00 per karung sehingga penerimaan dari penjualan pupuk kandang sebesar Rp 750.000,00. Penerimaan dari pupuk kandang pada tahun ke-3 hingga ke-5 sama dengan penerimaan pada tahun ke-2 yaitu Rp 750.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi. Jumlah pupuk dalam satu siklus produksi sebanyak 50 karung. Jumlah produksi pada tahun ke-1 sebanyak empat siklus sehingga pupuk kandang yang dihasilkan sebanyak 200 karung. Dengan harga Rp 3.000,00 per karung maka penerimaan dari penjualan pupuk kandang pada tahun ke-1 yaitu Rp 3.000,00 per karung dikalikan 200 karung hasilnya adalah Rp 600.000,00. 91
7.1.1.4. Penerimaan Penjualan Itik Hidup Penerimaan penjualan itik hidup terjadi pada tahun ke-0 yaitu pada produksi percobaan. Pada produksi percobaan tersebut peternakan mencoba membudidayakan itik dengan jumlah 900 ekor. Itik yang berhasil dijual hanya sekitar 135 ekor. Harga jual juga jauh di bawah harga pasar yaitu Rp 10.000,00 per ekor yang dijual hidup. Total penerimaan dari penjualan itik hidup sebesar Rp 10.000,00 dikalikan 135 ekor yang hasilnya adalah Rp 1.350.000,00. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari manajemen peternakan, pada produksi percobaan dapat dikatakan mengelami kegagalan panen. Kegagalan panen diakibatkan terlalu sedikitnya pakan broiler yang diberikan. 7.1.1.5. Penerimaan Nilai Sisa Nilai sisa berasal dari nilai investasi yang tidak habis nilai ekonomisnya pada akhir umur bisnis yaitu tahun ke-5. Peralatan itu diantaranya pisau besar, pisau kecil, panci, baskom, dan gayung. Pada Peternakan Maju Bersama, jumlah nilai sisa sebesar Rp 161.333,33. Perincian nilai sisa dapat dilihat dalam Lampiran 6. 7.1.2. Arus Kas Keluar (Outflow) Arus kas keluar adalah komponen biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan. Biaya yang dikeluarkan dibedakan menjadi biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi merupakan biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan faktor-faktor produksi yang akan digunakan dalam proses produksi. Sedangkan biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan agar usaha bisa berlangsung. 7.1.2.1. Biaya Investasi Biaya investasi dikeluarkan pada tahun ke-0 bisnis. Biaya ini digunakan untuk membangun kandang dan mengadakan mesin dan peralatan yang diperlukan dalam usaha pembesaran itik pedaging. Rincian biaya investasi dapat dijelaskan sebagai berikut: 92
1) Kandang Kandang merupakan komponen investasi terbesar pada Peternakan Maju Bersama. Peternakan memiliki satu buah kandang dengan kapasitas 2.000 ekor itik. Kandang pada Peternakan Maju Bersama merupakan kandang permanen dan tertutup. Kandang ini dilengkapi dengan fasilitas penghangat dari lampu yang dinamakan induk buatan. Fasilitas ini berfungsi sebagai induk bagi itik. Hal ini dilakukan karena pada anak itik masih tidak tahan dengan cuaca dingin. Pembangunan kandang menghabiskan biaya yang cukup besar yakni mencapai Rp 23.140.500,00. Umur ekonomis kandang diperkirakan sekitar lima tahun operasional atau enam tahun sejak kandang dibangun. 2) Instalasi Listrik Instalasi listrik dibangun untuk menjamin ketersediaan listrik untuk keperluan peternakan. Listrik diperlukan terutama untuk membuat induk buatan dan untuk penerangan kandang. Pembangunan instalasi listrik menghabiskan biaya sebesar Rp 1.700.000,00. Umur ekonomis instalasi listrik selama enam tahun. 3) Instalasi Air Instalasi air dibangun untuk menjamin ketersediaan pasokan air untuk keperluan peternakan. Umur ekonomis instalasi air selama enam tahun. Pembangunan instalasi air menghabiskan biaya sekitar Rp 1.354.000,00. Biaya tersebut digunakan dalam pembuatan sumur galian, pembelian selang, paralon, mesin pompa air, lem paralon, keran air dan biaya pemasangan. Perincian biaya instalasi air dapat dilihat dalam Tabel 14. 93
Table 14. Perincian Biaya Instalasi Air No Uraian Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Nilai (Rp) 1. Selang 30 Meter 2.500,00 75.000,00 2. Paralon 3 Buah 12.500,00 37.500,00 3. Mesin pompa air 1 Buah 350.000,00 350.000,00 4. Biaya pemasangan Paket dan gali sumur 1 500.000,00 500.000,00 5. Keran, lem paralon, Paket dsb 1 100.000,00 100.000,00 Jumlah 1.062.500,00 4) Mesin Rucah Pakan Mesin pakan digunakan untuk menghancurkan ubi yang merupakan campuran pada ransum itik. Itik yang berumur lebih dari satu bulan diberikan pakan buatan berupa limbah sayuran dari pasar, dedak, ampas tempe, pakan broiler, pakan pur, dan ubi. Ubi perlu dihancurkan terlebih dahulu agar lebih halus sehingga mudah dimakan itik. Proses penghancuran menggunakan mesin penghancur atau mesin rucah pakan. Harga beli mesin rucah pakan yaitu Rp 3.500.000,00 dengan umur ekonomis sekitar enam tahun. 5) Freezer Freezer berfungsi sebagai tempat penyimpanan karkas sebelum didistribusikan ke pelanggan. Karkas dapat disimpan dalam freezer hingga satu bulan. Kapasitas freezer dapat menampung karkas lebih dari 100 ekor. Biaya untuk membeli freezer sebesar Rp 2.500.000,00. Umur ekonomis freezer sekitar lima tahun. 6) Tempat Pakan dan Minum Tempat pakan (nampan) dan minum merupakan peralatan yang penting dalam pembesaran itik pedaging. Tempat pakan dan minum berfungsi untuk tempat makan dan minum itik yang disediakan di kandang. Tempat pakan yang terdapat di Peternakan Maju Bersama berjumlah 30 buah dengan ukuran yang sama. Harga setiap tempat pakan sekitar Rp 3.350,00. Sedangkan untuk tempat minum terdapat dua ukuran yaitu tempat minum kecil dan tempat 94
minum besar. Perbedaan ukuran tempat minum menyebabkan perbedaan harga beli dimana tempat minum kecil harganya Rp 2.000,00 per buah sedangkan tempat minum besar harganya Rp 10.000,00 per buah. Umur ekonomis tempat pakan dan minum dapat diperkirakan selama dua tahun. 7) Bola Lampu Fungsi utama lampu adalah untuk digunakan dalam induk buatan. Induk buatan diperuntukan bagi bibit yang baru didatangkan hingga umur tiga minggu. Induk buatan sangat penting untuk menjadikan ruangan tetap hangat sehingga seolah itik berada dengan induknya. Jumlah bola lampu yang dimiliki sebanyak 150 buah. Harga setiap bola lampu yaitu Rp 6.000,00. Umur ekonomis bola lampu diperkirakan selama dua tahun. 8) Serokan Serokan digunakan sebagai peralatan pembersihan kandang. Peternakan memiliki dua buah serokan. Harga beli serokan yaitu Rp 5.000,00 per buah. Umur ekonomis serokan yaitu selama tiga tahun. 9) Cangkul Cangkul berfungsi untuk membuat parit dan keperluan sanitasi kandang. Selain itu, cangkul dapat digunakan untuk membersihkan kotoran dan sisa pakan dan sekam. Peternakan memiliki dua buah cangkul dengan harga cangkul per buahnya yaitu Rp 35.000,00. Umur ekonomis cangkul diperkirakan mencapai dua tahun. 10) Ember Ember digunakan untuk diantaranya mencuci peralatan, tempat menuangkan pakan dari karung, dan penggunaan lainnya. Peternakan memiliki lima buah ember dengan ukuran besar. Ember diperoleh dari toko perkakas setempat dengan harga Rp 15.000,00 per buah. Umur ekonomis ember diperkirakan mencapai dua tahun. 95
11) Pisau Besar Pisau besar merupakan peralatan kerja untuk proses penanganan pasca panen. Pisau besar digunakan untuk penanganan pasca panen yaitu pembersihan. Peternakan memiliki dua buah pisau besar. Harga per satuan pisau besar yaitu Rp 15.000,00. Pisau memiliki umur ekonomis sekitar dua tahun. 12) Pisau Kecil Pisau kecil digunakan untuk pemotongan itik atau menyembelih itik. Peternakan memiliki dua buah pisau kecil. Harga per satuan pisau kecil sebesar Rp 3.000,00. Umur ekonomis pisau kecil selama dua tahun. 13) Panci Panci digunakan untuk merebus air yang akan digunakan untuk menyeduh itik. Hal ini akan membuat bulu itik mudah untuk dicabuti. Peternakan memiliki dua buah panci. Harga satuan panci yaitu Rp 120.000,00. Umur ekonomis panci sekitar dua tahun. 14) Gayung Gayung digunakan untuk mengambil air. Perusahaan memiliki dua buah gayung. Harga beli gayung yaitu Rp 5.000,00 per buah. Umur ekonomis gayung selama tiga tahun. 15) Timbangan Duduk Timbangan duduk digunakan untuk menimbang bobot karkas ataupun itik hidup. Jumlah timbangan sekitar tiga buah. Harga timbangan yaitu Rp 50.000,00 per buah. Umur ekonomis timbangan selama enam tahun. 96
16) Baskom Baskom digunakan dalam proses produksi ataupun pasca panen. Perusahaan memiliki baskom sebanyak empat buah. Harga beli baskom Rp 15.000,00 per buah. Umur ekonomis baskom yaitu tiga tahun. 17) Sepatu Boot Sepatu boot digunakan untuk kerja para karyawan. Hal ini supaya kebersihan badan karyawan dapat terjaga mengingat kandang banyak kotoran ternak itik, sisa pakan, dan sekam. Peternakan memiliki inventaris sepatu boot sebanyak lima buah. Harga setiap sepatu yaitu Rp 60.000,00. Umur ekonomis sepatu boot selama dua tahun. 18) Timbangan Digital 5 Kg Timbangan digital 5 kg digunakan untuk menimbang bobot karkas. Timbangan digital digunakan untuk ketelitian dalam penimbangan. Harga beli timbangan digital yaitu Rp 170.000,00. Umur ekonomis timbangan digital selama lima tahun. 19) Mesin Sealer Plastik Mesin sealer plastik digunakan untuk merekatkan plastik kemasan karkas. Peternakan memiliki satu buah mesin sealer. Mesin sealer dibeli seharga Rp 150.000,00. Umur ekonomis mesin sealer plastik selama lima tahun. 20) Buku Panduan Beternak Itik Buku panduan beternak itik digunakan untuk menambah informasi menganai usaha ternak itik terutama aspek teknis produksi. Peternakan memiliki dua buah buku panduan dengan harga masing-masing sekitar Rp 60.000,00. Umur ekonomis buku panduan yaitu enam tahun. Selain melakukan investasi, perusahaan juga melakukan reinvestasi. Reinvestasi dilakukan untuk mengganti peralatan investasi yang telah habis umur 97
ekonomisnya. Pada tahun ke-2 peternakan melakukan reinvestasi untuk peralatan investasi seperti tempat pakan, tempat minum, cangkul, ember besar, dan bola lampu dengan jumlah biaya reinvestasi sebesar Rp 1.365.500,00. Pada tahun ke-3, ke-4, dan ke-5 jumlah biaya reinvestasi yang dikeluarkan masing-masing sebesar Rp 581.000,00; Rp 1.435.500,00; dan Rp 576.000,00. Total biaya reinvestasi selama umur bisnis mencapai Rp 3.958.000,00. Rincian biaya reinvestasi dapat dilihat dalam Lampiran 7. 7.1.2.2. Biaya Operasional Biaya operasional dikeluarkan secara berkala selama proyek berjalan. Biaya operasional meliputi biaya tetap dan biaya variabel. 1) Biaya Tetap Biaya tetap merupakan biaya yang secara total tidak mengalami perubahan, walaupun ada perubahan volume produksi atau penjualan (dalam batas tertentu). Biaya tetap pada Peternakan Maju Bersama meliputi biaya sewa lahan, biaya gaji PJ kandang, biaya gaji anak kandang, biaya gaji manajer, biaya listrik, biaya komunikasi, biaya administrasi kantor, biaya pemeliharaan kandang, biaya sekam, biaya promosi atau pemasaran, biaya tenaga kerja pengiriman, biaya listrik tetap, karung, dan sapu lidi. Pada tahun ke-0 perusahaan telah melakukan produksi yaitu produksi percobaan sehingga telah mengeluarkan biaya tetap. Biaya tetap yang dikeluarkan pada tahun ke-0 sebesar Rp 16.106.000,00. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dibutuhkan biaya tetap sebesar Rp 32.506.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 biaya tetap yang dikeluarkan berbeda dari tahun ke-2 sampai ke-5 yaitu sebesar Rp 28.406.000,00. Adanya perbedaan biaya tetap tersebut dikarenakan jumlah siklus produksi yang berbeda. Perincian biaya tetap dapat dijelaskan sebagai berikut: 98
a) Biaya Sewa Lahan Besarnya biaya sewa lahan yaitu Rp 1.800.000,00 per tahun. Biaya sewa lahan sudah harus dibayarkan sejak tahun ke-0 hingga ke-5 dengan jumlah yang sama setiap tahunnya. b) Gaji PJ Kandang Gaji PJ kandang terdiri dari gaji harian dan gaji bulanan tetap. Gaji harian dibayarkan setiap hari pada setiap siklus produksi. Produksi yang dilakukan Peternakan Maju Bersama dalam satu tahun dari tahun ke-2 sampai ke-5 sebanyak lima siklus produksi. Satu siklus produksi selama 10 minggu. Satu minggu dihitung selama 7 hari. Gaji harian PJ kandang sebesar Rp 10.000,00 per hari sehingga biaya gaji harian yang dibayarkan untuk PJ kandang sebesar Rp 3.500.000,00. Gaji tetap bulanan yang didapatkan PJ kandang yaitu sebesar Rp 400.000 per bulan. Sehingga gaji tetap yang diterima dalam satu tahun sebesar Rp 4.800.000,00. Dengan demikian, gaji total yang harus dibayarkan untuk PJ kandang dalam satu tahun adalah sebesar Rp 8.300.000,00. Pada tahun ke-0 produksi hanya dilakukan sebanyak satu siklus produksi yaitu produksi percobaan. Sehingga gaji yang dibayarkan untuk PJ kandang yaitu gaji tetap bulanan sebesar Rp 400.000,00 per bulan dikalikan 12 bulan hasilnya yaitu Rp 4.800.000,00. Kemudian mendapat gaji harian sebesar Rp 10.000,00 per hari. Setiap siklus produksi terdapat 10 minggu atau 70 hari sehingga biaya harian PJ harian sebesar Rp 700.000,00. Total biaya gaji PJ kandang pada tahun ke-0 sebesar Rp 4.800.000,00 ditambah Rp 700.000,00 hasilnya adalah Rp 5.500.000,00. Pada tahun ke-1 jumlah produksi sebanyak empat siklus produksi. Biaya harian sebesar Rp 700.000,00 per satu siklus produksi dikalikan empat siklus produksi yang hasilnya adalah Rp 2.800.000,00. Gaji tetap bulanan Rp 400.000,00 per bulan sehingga dalam satu tahun mendapatkan gaji tetap sebesar Rp 4.800.000,00. Total gaji pada tahun ke-1 sebesar Rp 7.600.000,00. 99
c) Gaji Anak Kandang Besarnya gaji anak kandang yaitu Rp 15.000 per hari. Dalam satu siklus produksi terdapat 10 minggu dan dalam satu minggu terdapat 7 hari. Sedangkan dalam satu tahun dari tahun ke-2 hingga ke-5 terdapat lima siklus produksi. Gaji anak kandang Dalam satu siklus produksi sebesar Rp 15.000,00 per hari dikalikan 10 minggu dikalikan tujuh hari per minggu hasilnya adalah Rp 1.050.000,00 per orang. Dengan demikian jumlah gaji anak kandang sebesar Rp 5.250.000,00 per tahun per orang. Peternakan Maju Bersama memiliki dua orang anak kandang sehingga gaji yang dibayarkan untuk anak kandang sebesar Rp 10.500.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi. Gaji anak kandang dalam satu siklus produksi sebesar Rp 1.50.000,00 per orang. Gaji dalam empat siklus produksi sebesar Rp 4.200.000,00 per orang. Peternakan memiliki dua orang anak kandang sehingga gaji yang diperlukan pada tahun ke-1 sebesar Rp 8.400.000,00. Pada tahun ke-0 produksi dilakukan sebanyak satu siklus produksi. Biaya untuk gaji anak kandang sebesar Rp 2.100.000,00. d) Gaji Manajer Biaya ini merupakan biaya pemilik pengelola (manajer). Berdasarkan pengakuan pemilik pengelola bahwa pemilik pengelola tidak mendapatkan gaji. Akan tetapi pemilik pengelola juga terlibat langsung dalam kegiatan usaha Peternakan Maju Bersama. Peran pemilik pengelola hampir sama dengan PJ kandang sehingga gaji yang diperhitungkan untuk pemilik pengelola sama dengan gaji PJ kandang yaitu sebesar Rp 8.300.000,00 pada tahun ke-2 hingga ke-5, Rp 7.600.000,00 pada tahun ke-1, dan Rp 5.500.000,00 pada tahun ke-0. e) Biaya Listrik Biaya listrik tetap yang dikeluarkan setiap bulan sebesar Rp 50.000,00. Biaya tetap listrik per bulan diantaranya berupa biaya beban 100
listrik dan pemakaian penerangan kandang. Jumlah bulan dalam satu tahun yaitu 12 bulan. Dengan demikian biaya listrik tetap per tahun sebesar Rp 600.000,00. f) Biaya Komunikasi Biaya komunikasi adalah biaya untuk pembelian pulsa. Pembelian pulsa dilakukan setiap minggu sebesar Rp 6.000,00 per minggu. Dalam satu siklus produksi terdapat 10 minggu. Biaya komunikasi dalam satu siklus produksi sebesar Rp 60.000,00. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 jumlah produksi sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya komunikasi yang diperlukan sebesar Rp 300.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi sebanyak empat siklus sehingga biaya yang diperlukan sebesar Rp 240.000,00. Pada tahun ke-0 jumlah produksi yang dilakukan yaitu satu siklus produksi sehingga biaya komunikasi yang diperlukan sebesar Rp 60.000,00. g) Biaya Administrasi Kantor Biaya administrasi kantor diantaranya adalah biaya kwitansi, biaya alat tulis, dan biaya pencatatan keuangan. Besarnya biaya administrasi kantor yang diperlukan dalam satu siklus produksi sebesar Rp 10.000,00. Pada tahun ke-0 dilakukan satu siklus produksi sehingga biaya administrasi yang dikeluarkan sebesar Rp 10.000,00. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya administrasi kantor yang dibutuhkan sebesar Rp 50.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus sehingga biaya administrasi kantor yang diperlukan sebesar Rp 40.000,00. h) Biaya Pemeliharaan Kandang Pada setiap awal siklus produksi, peternakan menyiapkan kesiapan produksi misalnya pembelian plastik penutup kandang, membersihkan halaman kandang dan sekitarnya, dan melakukan perbaikan kandang yang terlihat rusak. Biaya tersebut dirangkum ke dalam biaya pemeliharaan 101
kandang. Besarnya biaya pemeliharaan kandang yaitu Rp 100.000,00 per siklus produksi. Pada tahun ke-0 dilakukan satu siklus produksi sehingga biaya pemeliharaan kandang yang dikeluarkan sebesar Rp 100.000,00. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya pemeliharaan kandang yang diperlukan sebesar Rp 500.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya pemeliharaan kandang yang diperlukan sebesar Rp 400.000,00. i) Biaya Sekam Sekam digunakan sebagai alas untuk itik supaya lantai tidak terlalu lembab dan kandang tidak terlalu bau. Sekam yang dibutuhkan pada awal kegiatan produksi sekitar 50 karung. Harga setiap karung sekam sebesar Rp 5.000,00. Dengan demikian biaya sekam pada setiap produksi sebesar 50 karung dikalikan Rp 5.000,00 per karung hasilnya adalah Rp 250.000,00 per siklus produksi. Pada tahun ke-0 dilakukan satu siklus produksi sehingga biaya sekam yang dikeluarkan sebesar Rp 250.000,00. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya sekam yang diperlukan sebesar Rp 1.250.000,00 per tahun. Pada tahun ke-5 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya sekam yang diperlukan sebesar Rp 1.000.000,00. j) Biaya Sapu Lidi Sapu lidi menjadi biaya tetap karena umur ekonomisnya tidak lebih dari satu tahun. Sapu lidi yang dibutuhkan sebanyak dua buah per tahun. Harga sapu lidi yaitu Rp 3.000,00 per buah. Dengan demikian biaya yang dibutuhkan untuk pembelian sapu lidi sebesar Rp 6.000,00 per tahun. 102
k) Biaya Promosi Biaya promosi merupakan biaya yang digunakan untuk mempromosikan itik ke pasar-pasar potensial misalnya ke restoranrestoran. Biaya promosi juga sebagian besar dikeluarkan untuk transportasi promosi tersebut. Pada setiap siklus produksi peternakan menganggarkan biaya promosi sebesar Rp 100.000,00. Pada tahun ke-0 dilakukan satu siklus produksi sehingga biaya promosi yang dikeluarkan sebesar Rp 100.000,00. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya promosi yang diperlukan sebesar Rp 500.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya promosi yang diperlukan sebesar Rp 400.000,00. l) Biaya Tenaga Kerja Pengiriman Biaya tenaga kerja pengiriman merupakan biaya untuk tenaga kerja dalam proses pendistribusian atau pengiriman produk ke pelanggan. Tenaga kerja yang digunakan sebanyak dua orang dengan upah yang mengacu pada upah harian di Peternakan Maju Bersama yaitu Rp 15.000,00 per orang per hari. Pengiriman yang menggunakan tenaga kerja pengiriman dilakukan dalam satu hari sehingga biaya tenaga kerja pengiriman sebesar Rp 30.000,00 per produksi. Pada tahun ke-0 dilakukan satu siklus produksi sehingga biaya tenaga kerja pengiriman yang dikeluarkan sebesar Rp 30.000,00. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya tenaga kerja pengiriman yang diperlukan sebesar Rp 150.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya tenaga kerja pengiriman yang diperlukan sebesar Rp 120.000,00. m) Biaya Karung Karung digunakan untuk mengemas pupuk kandang. Jumlah karung yang diperlukan dalam satu siklus produksi sebanyak 50 buah. Harga 103
karung yaitu Rp 1.000,00 per buah sehingga biaya yang diperlukan untuk karung sebesar Rp 50.000,00 per satu siklus produksi. Pada tahun ke-0 dilakukan satu siklus produksi sehingga biaya karung yang dikeluarkan sebesar Rp 50.000,00. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya karung yang diperlukan sebesar Rp 250.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya karung yang diperlukan sebesar Rp 200.000,00. 2) Biaya Variabel Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya tergantung dengan jumlah produk yang akan dihasilkan. Pada Peternakan Maju Bersama biaya variabel berupa biaya bibit (DOD), biaya pakan broiler, pakan pur, dedak, ubi, limbah sayuran pasar, ampas tempe/tahu, obat-obatan, vaksin dan vitamin, transportasi, lilin, plastik kemasan, karung, biaya pasca penen, box pengiriman, kayu bakar, dan bensin. Pada tahun ke-0 jumlah biaya variabel yang digunakan sebesar Rp 9.365.130,00. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 besarnya biaya variabel yang dikeluarkan yaitu Rp 141.195.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 biaya variabel yang keluarkan sebesar Rp 112.956.000,00. Rincian penggunaan biaya variabel dapat dijelaskan sebagai berikut: a) Biaya Bibit Bibit yang berupa DOD didatangkan dari peternakan penghasil DOD. Hal ini dikarenakan Peternakan Maju Bersama tidak memproduksi DOD. Bibit yang diperlukan dalam satu siklus produksi sebesar 2.000 ekor. Harga bibit yaitu Rp 4.500,00. Biaya yang diperlukan untuk pembelian bibit dalam satu siklus produksi sebesar Rp 9.000.000,00. Khusus pada tahun ke-0 bibit yang dibeli sebanyak 900 ekor. Biaya untuk bibit yang dikeluarkan pada tahun ke-0 sebesar Rp 4.050.000,00. 104
Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya untuk pembelian bibit yang diperlukan sebesar Rp 45.000.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya bibit yang diperlukan sebesar Rp 36.000.000,00. b) Biaya Pakan Broiler Pakan broiler (pakan broiler) diberikan sebagai pakan pokok untuk itik umur 0 4 minggu dan pakan tambahan untuk itik umur 4-10 minggu. Kebutuhan pakan broiler yang ideal yaitu sekitar 34 gr per ekor per hari sampai umur 4 minggu. Kebutuhan pakan broiler pada umur tersebut selama umur panen sebanyak 952 gram atau 0,952 kg per ekor. Pemeliharaan 2.000 ekor membutuhkan pakan broiler sebanyak 1.904 kg sampai umur empat minggu. Pada umur 4 10 minggu (selama 6 minggu atau 42 hari) idealnya itik diberikan pakan broiler sebanyak 2 kg untuk pemeliharaan 1.000 ekor setiap harinya. Pemeliharaan 2.000 ekor itik memerlukan pakan broiler sebanyak 168 kg. total kebutuhan pakan broiler dalam satu siklus produksi sebanyak 272 kg. Dalam satu karung pakan broiler memiliki netto 50 kg sehingga pakan broiler yang diperlukan sebanyak 41,44 karung per siklus produksi. Harga pakan broiler yaitu Rp 260.000,00 per karung sehingga biaya yang diperlukan untuk pembelian pakan broiler dalam satu siklus produksi sebesar Rp 10.774.400,00. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya untuk pembelian pakan broiler yang diperlukan sebesar Rp 53.872.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya pakan broiler yang diperlukan sebesar Rp 43.097.600,00. Khusus pada tahun ke-0 pakan broiler yang digunakan sebanyak 6,5 karung. Dengan demikian, biaya untuk pembelian pakan broiler yang dikeluarkan pada tahun ke-0 sebesar Rp 1.690.000,00. 105
c) Biaya Pakan Pur Pakan Pur diberikan untuk itik umur 4-10 minggu (selama 6 minggu = 42 hari). Jumlah yang diberikan yaitu sebanyak 2,5 kg per hari per 1.000 ekor itik. Kebutuhan pakan pur untuk pemeliharaan 2.000 ekor itik yaitu 210 kg. dalam satu karung memiliki netto 50 kg sehingga pakan pur yang diperlukan sebanyak 4,2 karung. Harga pakan pur yaitu Rp 95.000,00 per karung sehingga biaya yang diperlukan untuk pembelian pakan pur dalam satu siklus produksi sebanyak Rp 399.000,00. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya untuk pembelian pakan pur yang diperlukan sebesar Rp 1.995.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya pakan pur yang diperlukan sebesar Rp 1.596.000,00. Khusus pada tahun ke-0 pakan pur yang digunakan sebanyak 10 karung. Dengan demikian biaya untuk pembelian pakan pur yang dikeluarkan pada tahun ke-0 sebesar Rp 950.000,00. d) Biaya Dedak Dedak diberikan untuk itik umur 4-10 minggu (selama 6 minggu = 42 hari). Jumlah yang diberikan yaitu sebanyak 3,5 kg per hari per 1.000 ekor itik. Kebutuhan dedak untuk pemeliharaan 2.000 ekor itik yaitu 294 kg. Harga dedak yaitu Rp 2.000,00 per kg sehingga biaya yang diperlukan untuk pembelian dedak dalam satu siklus produksi sebanyak 588.000,00. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya untuk pembelian dedak yang diperlukan sebesar Rp 2.940.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya dedak yang diperlukan sebesar Rp 2.352.000,00. Pada tahun ke-0 dedak yang digunakan sebanyak 132,3 kg. Dengan demikian biaya untuk pembelian dedak yang dikeluarkan pada tahun ke-0 sebesar Rp 264.600,00. 106
e) Biaya Ubi Ubi diberikan untuk itik umur 4-10 minggu (selama 6 minggu = 42 hari). Jumlah yang diberikan yaitu sebanyak 25 kg per hari per 1.000 ekor itik. Kebutuhan ubi untuk pemeliharaan 2.000 ekor itik dalam satu siklus produksi yaitu 2.100 kg. Harga ubi yaitu Rp 1.500,00 per kg sehingga biaya yang diperlukan untuk pembelian ubi dalam satu siklus produksi sebanyak 3.150.000,00. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya untuk pembelian ubi yang diperlukan sebesar Rp 15.750.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya ubi yang diperlukan sebesar Rp 12.600.000,00. Pada tahun ke-0 ubi yang digunakan sebanyak 945 kg. Dengan demikian biaya untuk pembelian ubi yang dikeluarkan pada tahun ke-0 sebesar Rp 1.417.500,00. f) Biaya Limbah Sayuran Pasar Limbah sayuran pasar diberikan untuk itik umur 4-10 minggu (selama 6 minggu = 42 hari). Jumlah yang diberikan yaitu sebanyak 50 kg per hari per 1.000 ekor itik. Kebutuhan limbah sayuran pasar untuk pemeliharaan 2.000 ekor itik dalam satu siklus produksi yaitu 4.200 kg. Satu karung memiliki netto sebesar 25 kg sehingga sayuran pasar yang diperlukan yaitu 168 karung. Harga limbah sayuran pasar yaitu Rp 750,00 per karung sehingga biaya yang diperlukan untuk pembelian limbah sayuran pasar dalam satu siklus produksi sebanyak Rp 126.000,00. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya untuk pembelian limbah sayuran pasar yang diperlukan sebesar Rp 630.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya limbah sayuran pasar yang diperlukan sebesar Rp 504.000,00. Pada tahun ke-0 limbah sayuran pasar yang digunakan sebanyak 75,6 karung. Dengan demikian biaya untuk pembelian limbah sayuran pasar yang dikeluarkan pada tahun ke-0 sebesar Rp 56.700,00. 107
g) Biaya Ampas Tempe Ampas tempe diberikan untuk itik umur 4-10 minggu (selama 6 minggu = 42 hari). Jumlah yang diberikan yaitu sebanyak 25 kg per hari per 1.000 ekor itik. Kebutuhan ampas tempe untuk pemeliharaan 2.000 ekor itik dalam satu siklus produksi yaitu 2.100 kg. Satu karung memiliki netto sebesar 50 kg sehingga ampas tempe yang diperlukan yaitu 42 karung. Harga ampas tempe yaitu Rp 15.000,00 per karung sehingga biaya yang diperlukan untuk pembelian ampas tempe dalam satu siklus produksi sebanyak Rp 630.000,00. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya untuk pembelian ampas tempe yang diperlukan sebesar Rp 3.150.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya ampas tempe yang diperlukan sebesar Rp 2.520.000,00. Pada tahun ke-0 ampas tempe yang digunakan sebanyak 18,9 karung. Dengan demikian biaya untuk pembelian ampas tempe yang dikeluarkan pada tahun ke-0 sebesar Rp 283.500,00. h) Biaya Obat-Obatan Biaya obat-obatan dikeluarkan untuk membeli obat-obatan herbal ataupun kimia. Pada Peternakan Maju Bersama penggunaan obat herbal lebih besar dibandingkan kimia. Biaya obat-obatan yaitu sebesar Rp 100.000,00 untuk pemeliharaan sebanyak 1.000 ekor sehingga biaya obatobatan yang dibutuhkan untuk pemeliharaan 2.000 ekor itik yaitu Rp 200.000,00 dalam satu siklus produksi. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya untuk pembelian obat-obatan yang diperlukan sebesar Rp 1.000.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya obat-obatan yang diperlukan sebesar Rp 800.000,00. Pada tahun ke-0 obat-obatan yang digunakan sebanyak 0,9 paket. Dengan demikian biaya untuk pembelian obat-obatan yang dikeluarkan pada tahun ke-0 sebesar Rp 90.000,00. 108
i) Biaya Vitamin dan Vaksin Penggunaan vitamin dan vaksin sebanyak satu paket untuk itik sebanyak 1.000 ekor. Harga satu paket vitamin dan vaksin yaitu Rp 25.000,00. Pada pemeliharaan itik sebanyak 2.000 ekor diperlukan dua paket vaksin sehingga biaya yang dikeluarkan sebanyak Rp 50.000,00 dalam satu siklus produksi. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya untuk pembelian vitamin dan vaksin yang diperlukan sebesar Rp 250.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya vitamin dan vaksin yang diperlukan sebesar Rp 200.000,00. Pada tahun ke-0 vitamin dan vaksin yang digunakan sebanyak 0,9 paket. Dengan demikian biaya untuk pembelian vitamin dan vaksin yang dikeluarkan pada tahun ke-0 sebesar Rp 22.500,00. j) Biaya Transportasi Pembelian Ampas Tempe Biaya transportasi pembelian ampas tempe dihitung berdasarkan jumlah ampas tempe yang diperlukan dalam satuan karung. Harga transportasi untuk setiap karung yaitu Rp 5.000,00. Ampas tempe yang diperlukan dalam satu siklus produksi sebanyak 42 karung sehingga biaya transportasi ampas tempe yang diperlukan sebesar Rp 210.000,00 per siklus produksi. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya untuk transportasi pembelian ampas tempe yang diperlukan sebesar Rp 1.050.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya transportasi pembelian ampas tempe yang diperlukan sebesar Rp 840.000,00. Pada tahun ke-0 ampas tempe yang digunakan sebanyak 18,9 karung. Dengan demikian biaya untuk transportasi pembelian ampas tempe yang dikeluarkan pada tahun ke-0 sebesar Rp 94.500,00. 109
k) Biaya Transportasi Pembelian Pakan Broiler Biaya transportasi pembelian pakan broiler dihitung berdasarkan jumlah pakan broiler yang diperlukan dalam satuan karung. Harga transportasi untuk setiap karung yaitu Rp 5.000,00. Pakan broiler yang diperlukan dalam satu kali produksi sebanyak 41,44 karung sehingga biaya transportasi pakan broiler yang diperlukan sebesar Rp 207.200,00 dalam satu siklus produksi. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya untuk transportasi pembelian pakan broiler yang diperlukan sebesar Rp 1.036.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya transportasi pembelian pakan broiler yang diperlukan sebesar Rp 828.800,00. Pada tahun ke-0 pakan broiler yang digunakan sebanyak 6,5 karung. Dengan demikian biaya untuk transportasi pembelian pakan broiler yang dikeluarkan pada tahun ke-0 sebesar Rp 32.500,00. l) Biaya Transportasi Pembelian Pakan Pur Biaya transportasi pembelian pakan pur dihitung berdasarkan jumlah pakan pur yang diperlukan dalam satuan karung. Harga transportasi untuk setiap karung yaitu Rp 5.000,00. Pakan pur yang diperlukan dalam satu kali produksi sebanyak 4,2 karung sehingga biaya transportasi pakan pur yang diperlukan sebesar Rp 21.000,00 dalam satu siklus produksi. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya untuk transportasi pembelian pakan pur yang diperlukan sebesar Rp 105.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya transportasi pembelian pakan pur yang diperlukan sebesar Rp 84.000,00. Pada tahun ke-0 pakan pur yang digunakan sebanyak 10 karung. Dengan demikian biaya untuk transportasi pembelian pakan pur yang dikeluarkan pada tahun ke-0 sebesar Rp 50.000,00. 110
m) Biaya Transportasi Pembelian Dedak Biaya transportasi pembelian dedak dihitung berdasarkan jumlah dedak yang diperlukan dalam satuan karung. Harga transportasi untuk setiap karung yaitu Rp 5.000,00. Dedak yang diperlukan dalam satu siklus produksi sebanyak 5,88 karung sehingga biaya transportasi dedak yang diperlukan sebesar Rp 29.400,00 dalam satu siklus produksi. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya untuk transportasi pembelian dedak yang diperlukan sebesar Rp 147.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya transportasi pembelian dedak yang diperlukan sebesar Rp 117.600,00. Pada tahun ke-0 dedak yang digunakan sebanyak 2,65 karung. Dengan demikian biaya untuk transportasi pembelian dedak yang dikeluarkan pada tahun ke-0 sebesar Rp 13.230,00. n) Biaya Transportasi Pembelian Sayuran Pasar Biaya transportasi pembelian limbah sayuran pasar dihitung berdasarkan jumlah limbah sayuran pasar yang diperlukan dalam satuan karung. Harga transportasi untuk setiap karung yaitu Rp 2.500,00. Limbah sayuran pasar yang diperlukan dalam satu siklus produksi sebanyak 168 karung sehingga biaya transportasi limbah sayuran pasar yang diperlukan sebesar Rp 420.000,00 dalam satu siklus produksi. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya untuk transportasi pembelian limbah sayuran pasar yang diperlukan sebesar Rp 2.100.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya transportasi pembelian limbah sayuran pasar yang diperlukan sebesar Rp 1.680.000,00. Pada tahun ke-0 limbah sayuran pasar yang digunakan sebanyak 75,6 karung. Dengan demikian biaya untuk transportasi pembelian limbah sayuran pasar yang dikeluarkan pada tahun ke-0 sebesar Rp 189.000,00. 111
o) Biaya Lilin Lilin digunakan untuk membantu pengelupasan bulu halus pada itik pada saat pengolahan pasca panen. Kebutuhan lilin untuk 1.000 ekor itik yaitu 2 kilogram. Itik yang dipanen dalam satu siklus produksi sebanyak 1.500 ekor sehingga lilin yang diperlukan sebanyak tiga kilogram. harga lilin yaitu Rp 12.000,00 per kg. Dengan demikian biaya lilin sebesar Rp 36.000,00 per siklus produksi. Pada tahun ke-0 itik dijual dalam bentuk hidup sehingga tidak memerlukan biaya lilin. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya untuk lilin yang diperlukan sebesar Rp 180.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya lilin yang diperlukan sebesar Rp 144.000,00. p) Biaya Plastik Kemasan Karkas Plastik kemasan karkas digunakan untuk mengemas karkas. Kebutuhan plastik disesuaikan dengan jumlah itik yang dipanen. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 itik yang dipanen yaitu 7.500 ekor per tahun. Dengan demikian jumlah plastik yang dibutuhkan yaitu 7.500 buah. Harga plastik yaitu Rp 200,00 per buah sehingga biaya yang diperlukan untuk plastik kemasan karkas sebesar Rp 1.500.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah itik yang dipanen sebanyak 6.000 ekor sehingga plastik kemasan karkas yang diperlukan sebanyak 6.000 buah. Biaya yang diperlukan untuk plastik kemasan karkas sebesar Rp 1.200.000,00. Pada tahun ke-0 perusahaan tidak menjual karkas akan tetapi menjual itik hidup. Dengan demikian pada tahun ke-0 tidak mengeluarkan biaya untuk plastik kemasan karkas. 112
q) Biaya Plastik Kemasan Ati Ampela Satu buah plastic kemasan ati ampela dapat digunakan untuk mengemas 20 pasang ati ampela. Harga plastik sekitar Rp 200,00 per buah sehingga biaya kemasan untuk satu pasang ati ampela yaitu Rp 10,00. Jumlah ati ampela yang dihasilkan pada tahun ke-2 hingga ke-5 sebanyak 7.500 pasang per tahun. Dengan demikian biaya untuk plastik kemasan ati ampela sebesar Rp 75.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah itik yang dipanen sebanyak 6.000 ekor sehingga ati ampela yang dihasilkan sebanyak jumlah tersebut yaitu 6.000 ekor. Biaya yang diperlukan untuk plastik kemasan ati ampela yaitu Rp 60.000,00. Pada tahun ke-0 tidak menghasilkan ati ampela. Dengan demikian tidak dikeluarkan biaya untuk plastik kemasan ati ampela. r) Biaya Pasca Panen Biaya pasca panen yaitu biaya yang dikeluarkan untuk proses penanganan pasca panen yang meliputi pemotongan, pencabutan bulu, pembersihan, penimbangan, dan pengemasan. Pada tahun ke-0 tidak memerlukan biaya pasca panen dikarenakan itik dijual hidup. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 jumlah itik yang dipanen dan diproses atau diberikan perlakuaan pasca panen sebanyak 7.500 ekor per tahun. Biaya penangan pasca panen yaitu Rp 1.000,00 per ekor sehingga biaya yang diperlukan untuk pasca panen sebesar Rp 7.500.000,00 per tahun. Pada tahun ke-5 jumlah itik yang di panen sebanyak 6.000 ekor. Biaya yang diperlukan untuk tenaga kerja pasca panen sebesar Rp 6.000.000,00. s) Biaya Box Pengiriman Box pengiriman digunakan untuk pengiriman itik. Box pengiriman dapat berupa kardus atau bahan-bahan lainnya misalnya karung, plastik, 113
keranjang buah, atau box styryofoam. Satu buah box dapat menampung sekitar 25 ekor karkas. Harga box pengiriman disama ratakan yaitu Rp 3.000,00 per buah. Itik yang dipanen dalam satu siklus produksi sebanyak 1.500 ekor sehingga diperlukan box pengiriman sebanyak 60 buah. Biaya yang diperlukan dalam satu kali panen yaitu Rp 180.000,00. Pada tahun ke-0 itik dijual dalam bentuk hidup sehingga tidak memerlukan box pengiriman. Hal ini dikarenakan pembeli yang datang ke kandang. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya untuk box pengiriman yang diperlukan sebesar Rp 900.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya box pengiriman yang diperlukan sebesar Rp 720.000,00. t) Biaya Kayu Bakar Kayu bakar digunakan untuk membuat air panas yang akan digunakan untuk menyeduh itik atau proses pencelupan itik pada air panas tersebut. Satu ikat kayu bakar dapat digunakan untuk mendidihkan air sekitar 10 panci. Satu panci air dapat digunakan untuk proses pencelupan itik sekitar 10 ekor. Harga satu ikat kayu bakar yaitu Rp 3.000,00. Dalam satu kali produksi itik yang dipanen sebanyak 1.500 ekor sehingga dibutuhkan kayu bakar sebanyak 15 ikat. Dengan demikian biaya yang diperlukan untuk kayu bakar yaitu Rp 45.000,00 per satu siklus produksi. Pada tahun ke-0 itik dijual dalam bentuk hidup sehingga tidak memerlukan biaya untuk kayu bakar. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya untuk kayu bakar yang diperlukan sebesar Rp 225.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya kayu bakar yang diperlukan sebesar Rp 180.000,00. 114
u) Biaya Bensin Bensin digunakan sebagai bahan bakar pada mesin rucah pakan. Dalam satu minggu dibutuhkan sekitar dua liter bensin untuk pemeliharaan itik sebesar 1.000 ekor. Bensin digunakan pada umur pemeliharaan itik 4-10 minggu sehingga kebutuhan bensin dimulai dari umur enam minggu juga atau selama enam minggu. Untuk pemeliharaan itik 2.000 ekor diperlukan bensin sebanyak 24 liter. Harga bensin yaitu Rp 4.500,00. Biaya untuk bensin dalam satu siklus produksi sebesar Rp 108.000,00. Pada tahun ke-0 bensin yang digunakan sebanyak 10,8 liter sehingga biaya untuk bensin sebesar Rp 48.600,00. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya untuk bensin yang diperlukan sebesar Rp 540.000,00 per tahun. Pada tahun ke-1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya bensin yang diperlukan sebesar Rp 432.000,00. v) Biaya Variabel Listrik Biaya variabel listrik yaitu biaya listrik yang digunakan dalam induk buatan. Biaya ini disesuaikan dengan jumlah induk buatan yang digunakan dan induk buatan yang digunakan disesuaikan dengan jumlah itik yang diproduksi. Oleh karena itu biaya biaya listrik dibedakan menjadi biaya variabel dan biaya tetap. Untuk pemeliharaan 2.000 ekor itik diperlukan biaya listrik sebesar Rp 250.000,00 per siklus produksi. Pada tahun ke-0 biaya listrik sebesar Rp 112.500,00. Pada tahun ke-2 hingga ke-5 dilakukan sebanyak lima siklus produksi sehingga biaya untuk listrik yang diperlukan sebesar Rp 1.250.000,00 per tahun. Pada tahun ke- 1 jumlah produksi yang dilakukan sebanyak empat siklus produksi sehingga biaya listrik yang diperlukan sebesar Rp 1.000.000,00. 7.2. Analisis Laba Rugi Analisis laba rugi dilakukan untuk mengetahui perkembangan laba usaha setiap tahunnya. Laba bersih merupakan hasil dari penerimaan dikurangi biaya 115
tetap dan biaya variabel. Selain itu, terdapat komponen yang dapat mengurangi laba bersih yaitu biaya penyusutan dan pajak penghasilan. Biaya penyusutan merupakan biaya atas barang-barang investasi yang nilainya disusutkan setiap tahunnya. Rumus yang digunakan untuk menghitung penyusutan yaitu dengan menggunakan metode perhitungan garis lurus. Formulasi penghitungan penyusutan dilakukan seperti di bawah ini: Penyusutan per Tahun Nilai Beli Nilai Sisa Umur Pakai Nilai beli merupakan harga beli suatu peralatan atau barang investasi. Umur pakai merupakan umur ekonomis dari peralatan investasi tersebut. Nilai sisa merupakan nilai suatu barang investasi apabila telah habis umur pakainya. Peralatan investasi pada Peternakan Maju Bersama dianggap tidak memiliki nilai sisa (nilai sisa = 0) karena peralatan investasi tersebut tidak memiliki nilai jual ketika sudah habis umur ekonomisnya. Pada Peternakan Maju Bersama besarnya penyusutan per tahun dari tahun ke-1 hingga ke-5 sebesar Rp 6.505.250,00. Pada tahun ke-0 biaya penyusutan sebesar Rp 5.779.916,67. Perbedaan ini dikarenakan pada tahun ke-0 hanya dilakukan produksi percobaan dimana pada produksi percobaan tidak menggunakan peralatan pasca panen karena itik yang dipenen dijual dalam bentuk itik hidup. Oleh karena itu, pada tahun ke-0 tidak terdapat penyusutan atas peralatan pasca panen. Rincian biaya penyusutan dapat dilihat dalam Lampiran 8. Besarnya tarif pajak penghasilan mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 tahun 2008 tentang pajak yang ditetapkan tarif pajak penghasilan sebesar 25 persen. Besarnya pajak yang harus dibayarkan perusahaan dimulai pada tahun ke-1 karena pada tahun ke-0 laba perusahaan bernilai negatif. Total pajak penghasilan yang harus dibayarkan selama umur proyek yaitu Rp 62.767.270,83. Berdasarkan proyeksi laba rugi pada Peternakan Maju Bersama menunjukan bahwa pada tahun ke-0 terjadi rugi sebesar Rp 29.751.046,67. Pada tahun ke-2 hingga ke-4 laba perusahaan sama setiap tahunnya yaitu Rp 39.782.812,50. Pada tahun ke-1 laba perusahana sebesar Rp 29.049.562,50. Pada tahun ke-5 laba perusahaan sebesar Rp 39.903.812,50. Selama umur proyek, total 116
laba bersih yang didapatkan perusahaan sebesar Rp 158.550.765,83. Rata-rata laba bersih per tahun sebesar Rp 26.425.127,64 dan rata-rata laba bersih per bulan sebesar Rp 2.202.093,97. Rincian proyeksi laba rugi dapat dilihat dalam Lampiran 9. 7.3. Analisis Kelayakan Investasi Analisis kelayakan investasi dilakukan untuk mengetahui tingkat kelayakan usaha dari aspek finansial. Modal usaha pada Peternakan Maju Bersama menggunakan modal sendiri sehingga tingkat diskonto yang digunakan yaitu tingkat bunga Bank Indonesia (BI rate) pada saat ini (November 2011) yaitu sebesar 6,0 persen. Kriteria yang digunakan dalam analisis finansial pada Peternakan Maju Bersama yaitu Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), dan Payback Period (PP). Besarnya NPV menggambarkan nilai kini dari manfaat bersih yang diperoleh dari bisnis selama umur bisnis tersebut. Perusahaan dikatakan layak untuk dijalankan apabila memiliki NPV > 0. Hasil perhitungan Net Present Value pada Peternakan Maju Bersama yaitu sebesar Rp 123.195.658,77. Hasil perhitungan NPV tersebut menunjukan bahwa Peternakan Maju Bersama akan mendapatkan manfaat kini bersih dari usaha yang dijalankan selama umur proyek sebesar Rp 123.195.658,77. Peternakan Maju Bersama dikatakan layak untuk dijalankan karena NPV yang dihasilkan > 0. Nilai IRR mengindikasikan besarnya kemampuan usaha untuk memberikan pengembalian atas modal yang dikeluarkan. IRR merupakan discount rate yang dapat membuat nilai NPV sama dengan nol. Dengan kata lain, ketika IRR sama dengan nilai discount rate yang digunakan dalam analisis finansial maka usaha tersebut tidak menghasilkan keuntungan bersih karena NPV yang dihasilkan bernilai nol. Selain itu opportunity cost atas deposito yang mungkin akan didapatkan menjadi tidak ada karena pada saat modal ditanamkan pada bank sebagai deposito, pemilik tidak memiliki biaya imbangan yang harus dikorbankan ketika modal didepositokan. Perusahaan dikatakan layak untuk dijalankan ketika IRR yang dihasilkan lebih besar dari discount rate yang ditentukan dalam analisis. 117
Berdasarkan perhitungan pada cash flow didapatkan nilai IRR pada Peternakan Maju Bersama sebesar 64,44 persen. Hal itu menunjukan bahwa usaha mampu memberikan pengembalian atas modal yang dikeluarkan sebesar 64,44 persen. Berdasarkan IRR, dapat dikatakan bahwa Peternakan Maju Bersama layak untuk dijalankan karena IRR yang dihasilkan yaitu 64,44 persen lebih besar dari tingkat diskonto yang digunakan yaitu sebesar 6,00 persen. Nilai Net B/C menunjukan seberapa besar manfaat yang akan didapatkan atas biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan proyek. Perusahaan dikatakan layak untuk dijalankan apabila nilai Net B/C > 1. Nilai Net B/C pada Peternakan Maju Bersama yaitu 3,11 yang artinya setiap Rp 1 yang dikeluarkan sebagai biaya akan menghasilkan manfaat bersih sebesar Rp 3,11. Berdasarkan kriteria Net B/C usaha Peternakan Maju Bersama layak untuk dijalankan. Payback Period (PP) menunjukan seberapa lama modal investasi yang telah dikeluarkan dapat kembali. Perusahaan dikatakan layak untuk dijalankan apabila nilai PP lebih kecil dari umur proyek. Nilai PP pada Peternakan Maju Bersama yaitu 2,36 tahun yang artinya adalah modal investasi yang telah ditanamkan perusahaan akan kembali setelah 2,36 tahun sejak usaha dijalankan. Oleh karena pada Peternakan Maju Bersama terdapat tahun investasi yaitu tahun ke-0 maka periode pengembalian atau Payback Period (PP) dihitung dari tahun operasional yaitu tahun ke-1. Dengan demikian, PP akan terjadi pada tahun ke- 2,36. Peternakan Maju Bersama dikatakan layak untuk dilaksanakan karena PP terjadi pada tahun ke-2,36 yang masih berada dalam umur proyek dimana proyek dilakukan hingga tahun ke-5. Tabel 15. Hasil Analisis Kriteria Kelayakan Investasi No Kriteria Kelayakan Hasil Penilaian 1 NPV Rp 123.195.658,77 2 IRR 64,44 persen 3 Net B/C 3,11 4 PP 2,36 tahun Berdasarkan hasil analisis menggunkan kriteria investasi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa Peternakan Maju Bersama layak untuk dijalankan berdasarkan aspek finansial. Dengan demikian, usaha pembesaran itik pedaging pada Peternakan Maju Bersama dapat direalisasikan selama umur proyek yaitu 118
enam tahun yang terdiri dari tahun ke-0 (tahun investasi) dan tahun ke-1 hingga ke-5 (tahun operasional). Rincian arus kas (cash flow) dapat dilihat dalam Lampiran 10. Berdasarkan kriteria investasi yang didapatkan, apabila pemilik merealisasikan usaha pembesaran itik pedaging pada Peternakan Maju Bersama dengan menginvestasikan sumber daya modal maka dinilai sudah tepat. Hal ini dikarenakan semua kriteria investasi yang digunakan pada Peternakan Maju Bersama sudah memenuhi kriteria kelayakan. Seperti yang telah disebutkan di atas, nilai IRR yang didapatkan relatif tinggi yaitu 64,44 persen yang lebih tinggi daripada tingkat diskonto yaitu 6,00 persen. Hal tersebut menunjukkan, apabila sumberdaya modal hanya didepositokan di bank, maka pengembalian yang didapatkan tidak lebih daripada 6,00 persen sedangkan apabila diinvestasikan ke dalam usaha pada Peternakan Maju Bersama akan mendapatkan pengembalian sesuai IRR yaitu 64,44 persen. Net Present Value (NPV) yang didapatkan juga cukup besar yaitu Rp 123.195.658,77. Dengan mengasumsikan umur proyek selama enam tahun (dihitung dari tahun ke-0) rata-rata manfaat bersih yang dapat diterima per tahun sebesar Rp 20.532.609,79 atau sebesar Rp 1.711.050,82 per bulan. Manfaat bersih (laba bersih yang sudah didiskonto) yang diterima per bulan sebesar Rp 1.711.050,82 menunjukan masih lebih besar dibandingkan dengan UMK (Upah Minimum Kabupaten) Kabupaten Bogor tahun 2012 yang akan datang sebesar Rp 1.269.320,00 (berdsarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur Jawa Barat Nomor 561/Kep.1540-Bangsos/2011 tanggal 21 November 2011 tentang Upah Minimum Kabupaten Dan Kota Di Jawa Barat Tahun 2012 6 ). Hal ini menunjukan selain layak, usaha ini juga menguntungkan dibandingkan menjadi pekerja yang memperoleh pendapatan sebesar UMK Kabupaten Bogor sebesar Rp 1.269.320,00. Demikian juga layak berdasarkan Net B/C karena relatif tinggi yaitu sebesar 3,11. Dari PP yang didapatkan, maka modal akan kembali pada tahun ke-2,36 dari umur bisnis sampai tahun ke-5. 6 Upah Minimum Kabupaten (UMK) Kabupaten Bogor Tahun 2012 Rp. 1.269.320,- http://kadinbogor.blogspot.com/2011/12/upah-minimum-kabupaten-umk-kabupaten.html [Desember 2011] 119
7.4. Analisis Nilai Pengganti (Switching Value) Gittinger (1986) menyatakan bahwa suatu variasi pada analisis sensitivitas adalah nilai pengganti (switching value). Nilai pengganti (switching value) ini merupakan perhitungan untuk mengukur perubahan maksimum dari perubahan suatu komponen inflow (penurunan harga output, penurunan produksi) atau perubahan komponen outflow (peningkatan harga input/peningkatan biaya produksi) yang masih dapat ditoleransi sehingga bisnis masih tetap layak. Nilai pengganti (switching value) merupakan suatu nilai dimana pada nilai tersebut nilai NPV yang dihasilkan sama dengan nol, Net B/C sama dengan satu, dan nilai IRR sama dengan tingkat suku bunga (pinjaman atau deposito). Besarnya perubahan ditentukan secara trial and error (coba-coba) hingga diperoleh nilai perubahan maksimum yang masih dapat ditoleransi oleh suatu usaha dari sudut pandang finansial usaha tetap dinyatakan layak untuk dijalankan (limit kelayakan). Analisis nilai pengganti (switching value) tepat dilakukan pada Peternakan Maju Bersama mengingat Peternakan Maju Bersama tersebut masih relatif baru didirikan sehingga perusahaan belum mengalami fluktuasi variabel input dan output produksi. Analisis nilai pengganti (switching value) dilakukan terhadap variabelvariabel yang dianggap paling mempengaruhi kelayakan usaha. Pada Peternakan Maju Bersama, variabel yang dianggap paling mempengaruhi kelayakan usaha adalah variabel harga pakan broiler, harga bibit (DOD), harga karkas, dan volume produksi. Analisis nilai pengganti (switching value) perlu dilakukan terhadap peningkatan harga pakan broiler dikarenakan biaya untuk pakan broiler merupakan biaya terbesar dalam biaya variabel pada Peternakan Maju Bersama yaitu sebesar 37,88 persen dari total biaya variabel. Selain terhadap pakan broiler, analisis switching value juga perlu dilakukan terhadap kenaikan harga bibit karena bibit merupakan biaya terbesar kedua setelah pakan broiler dalam biaya variabel yaitu sebesar 32,03 persen. Sedangkan analisis switching value yang dilakukan terhadap penurunan harga penjualan karkas dikarenakan karkas merupakan produk utama dari Peternakan Maju Bersama yang mendatangkan manfaat terbesar sehingga menjadi variabel yang paling mempengaruhi kelayakan dari aspek penerimaan. Persentase penerimaan dari penjualan karkas mencapai 96,32 120
persen dari total penerimaan selama umur proyek. Analisis switching value juga perlu dilakukan terhadap penurunan volume produksi. Volume produksi sangat berpengaruh terhadap volume penjualan yang pada akhirnya berpengaruh terhadap penerimaan perusahaan. Analisis switching value terhadap penurunan volume produksi akan dilakukan setelah memperhitungkan tingkat kelangsungan hidup (Survival Rate = SR) perusahaan sebesar 75 persen. Dari perhitungan nilai pengganti (switching value) penurunan volume produksi akan diketahui maksimal penurunan volume produksi dari target semula sebesar 1.500 ekor itik, penurunan SR dari semula 75 persen, dan nilai SR minimum yang masih ditoleransi perusahaan sehingga usaha masih layak dijalankan. Berdasarkan hasil perhitungan nilai pengganti (switching value) terhadap harga pakan broiler didapatkan nilai pengganti sebesar 75,00 persen. Artinya adalah usaha akan tetap layak apabila peningkatan harga pakan tidak lebih dari 75,00 persen atau menjadi Rp 454.997,54 per karung dari harga pada kondisi normal atau pada saat ini Rp 260.000,00 per karung. Peningkatan harga bibit yang masih dapat ditolerensi sehingga usaha masih layak dijalankan yaitu apabila tidak lebih dari 88,09 persen. Artinya adalah usaha akan tetap layak dijalankan apabila peningkatan harga pakan tidak lebih dari 88,09 persen atau menjadi Rp 8.464,13 per ekor dari harga pada kondisi normal atau pada saat ini Rp 4.500,00 per ekor. Apabila harga bibit lebih dari Rp 8.464,13 per ekor maka usaha menjadi tidak layak untuk dijalankan. Harga karkas paling rendah yang dapat ditoleransi sehingga usaha masih layak dijalankan adalah apabila tidak kurang dari Rp 24.556,87 per ekor. Dengan kata lain, usaha menjadi tidak layak dari aspek keuangan jika terjadi penurunan harga karkas sebesar Rp 5.443,13 per ekor dari harga pada kondisi normal yaitu Rp 30.000,00 per ekor atau terjadi penurunan harga karkas (nilai pengganti) sebesar 18,14 persen. Penurunan volume produksi yang dapat ditoleransi sehingga usaha masih layak dijalankan yaitu 18,33 persen. Artinya adalah usaha akan tetap layak dijalankan apabila penurunan volume produksi tidak lebih dari 18,33 persen atau sebesar 275 ekor dari jumlah produksi sebesar 1.500 ekor (setelah memperhitungkan SR 75 persen). Hal tersebut menunjukan bahwa perusahaan 121
masih memenuhi kriteria kelayakan investasi apabila dapat memanen itik dalam satu siklus produksi sebanyak tidak kurang dari 1.225 ekor dari itik yang dibudidayakan sebanyak 2.000 ekor atau dari target panen sebanyak 1.500 ekor. Berdasarkan perhitungan nilai pengganti volume produksi maksimum penurunan SR yang masih dapat ditoleransi yaitu sebesar 13,78 persen dari target awal 75 persen. Survival Rate (SR) minimum dari usaha ini sebesar 61,22 persen dari total itik yang dibudidayakan sebesar 2.000 ekor per siklus produksi. Apabila SR dalam setiap siklus produksi selama umur bisnis kurang dari 61,22 persen maka usaha tidak layak untuk dijalankan. Tabel 16. Hasil Analisis Nilai Pengganti (Switching Value) No Variabel yang Berubah Nilai (%) 1 Maksimum peningkatan harga pakan broiler 75,00 2 Maksimum peningkatan harga bibit 88,09 3 Maksimum penurunan harga karkas 18,14 4 Maksimum Penurunan volume produksi 18,33 Berdasarkan hasil perhitungan nilai pengganti, perusahaan perlu mewaspadai fluktuasi harga input dan output produksi terutama penurunan harga jual karkas. Usaha pembesaran itik pedaging pada Peternakan Maju Bersama lebih sensitif terhadap perubahan harga jual karkas dibandingkan perubahan harga pakan broiler dan harga bibit. Perubahan harga jual karkas memiliki tingkat nilai pengganti yang relatif rendah yaitu 18,14 persen yang berarti apabila terjadi penurunan lebih dari 18,14 persen saja dari harga jual karkas akan menyebabkan usaha pembesaran itik menjadi tidak layak untuk dijalankan. Usaha tidak terlalu sensitif terhadap peningkatan harga pakan broiler dan bibit karena persentase peningkatan yang akan menyebabkan usaha menjadi tidak layak berada pada persentase yang relatif tinggi yaitu kenaikan harga sebesar 75,00 persen untuk pakan broiler dan 88,09 persen untuk bibit. Hasil perhitungan switcing value dapat bermanfaat bagi pemilik dan pengelola Peternakan Maju Bersama dalam merencanakan usahanya. Adanya potensi penurunan harga karkas perlu dicermati pemilik dan pengelola perusahaan. Seperti telah disebutkan di atas, penurunan harga karkas yang masih 122
dapat ditoleransi sehingga usaha masih layak dijalankan apabila tidak lebih dari Rp 5.443,13 per ekor dari harga semula yang ditetapkan sebesar Rp 30.000 per ekor. Potensi penurunan harga karkas lebih dari Rp 5.443,13 dapat terjadi mengingat terdapat potensi peningkatan persaingan pada usaha pembesaran itik pedaging yang dapat meningkatkan penawaran sehingga harga jual produk (karkas) mengalami penurunan. Pengelola perlu memperhatikan potensi terjadinya penurunan harga karkas dengan melakukan tindakan preventif terhadap penurunan harga karkas tersebut. Alternatif yang dapat dilakukan yaitu dengan menurunkan tingkat persaingan dan melakukan efisiensi biaya. Tingkat persaingan dapat diturunkan dengan cara melakukan kerjasama dengan para pesaing atau membentuk perkumpulan usaha misalnya kelompok pengusaha itik atau bergabung dengan asosiasi yang telah ada sebelumnya. Sementara itu, efisiensi biaya dilakukan untuk menurunkan biaya produksi. Salah satu alternatif yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan efisiensi usaha atau biaya yaitu dengan menambah skala usaha. Hal itu dikarenakan skala usaha peternakan sangat menentukan efisiensi usaha (Siregar dan Ilham 2002). Memperbesar skala usaha sampai batas tertentu akan mengakibatkan turunnya biaya produksi rata-rata. Hal ini dalam ilmu ekonomi dikenal sebagai skala usaha dengan hasil bertambah (increasing return to scale), yang kemudian menghasilkan economies of scale yang tinggi. Perluasan selanjutnya sampai pada suatu titik minimum, dalam hal dimana biaya produksi rata-rata tidak berubah (constant return to scale) dan bila dilanjutkan perluasan tersebut akan mengakibatkan naiknya biaya produksi rata-rata (decreasing return to scale). Di luar potensi adanya penurunan harga karkas, penurunan volume produksi dalam setiap siklus produksi pada Peternakan Maju Bersama juga perlu diperhatikan. Hal ini dikarenakan nilai pengganti penurunan volume produksi yang terjadi relatif rendah yaitu 18,33 persen sehingga usaha dapat dikatakan sensitif terhadap penurunan volume produksi. Jumlah produksi perlu dijaga sehingga tidak kurang dari batas nilai pengganti sebesar 18,33 persen atau terjadi penurunan volume produksi lebih dari 275 ekor dalam setiap siklus produksi dari target awal 1.500 ekor. Hal ini berarti produksi terendah yang masih ditolerasi 123
perusahaan yaitu sebesar 1.225 ekor per siklus produksi. Proses budidaya perlu dilakukan mengikuti metode yang tepat, baik dari segi pemberian pakan maupun penanganan penyakit dan semua aspek budidaya lainnya. Pengelola perlu meningkatkan pengetahuan keterampilan budidaya pembesaran itik pedaging. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan kunjungan atau magang ke peternakan itik pedaging yang lebih maju secara terencana. Hasil switching value pada aspek produksi (penurunan volume produksi) memiliki keterkaitan dengan aspek pemasaran. Dengan adanya batasan mengenai produksi yang tidak boleh kurang dari 1.225 ekor itik (hasil perhitungan switching value) maka jumlah produksi (karkas) yang dipasarkan atau dijual juga jangan kurang dari 1.225 ekor per siklus produksi. Hal ini berarti harus ada keterjaminan pasar bagi produk yang dihasilkan (karkas). Untuk memastikan produk terjual maka perlu melakukan penjajakan produksi sebelum waktu panen dan menjalin kontrak dengan pelanggan akan lebih baik sehingga dapat menjamin seluruh produk yang dihasilkan dapat terserap pasar. Hal ini perlu dilakukan karena sejauh ini perusahaan belum memiliki pelanggan tetap atau belum melakukan perjanjian kontrak kerjasama sebagai supplier bagi pelanggan tertentu. Secara keseluruhan, baik variabel input maupun output produksi, usaha pembesaran itik pedaging pada Peternakan Maju Bersama sensitif terhadap penurunan harga karkas dan volume produksi namun tidak sensitive terhadap peningkatan harga pakan broiler dan peningkatan harga bibit. Hal ini dikarenakan variabel peningkatan harga karkas dan volume produksi memiliki tingkat nilai pengganti yang relatif rendah yaitu 18,14 persen untuk penurunan harga karkas dan 18,33 persen untuk penurunan volume produksi sedangkan peningkatan harga pakan broiler dan bibit memiliki tingkat nilai pengganti yang relatif tinggi yaitu 75,00 persen untuk peningkatan harga pakan broiler dan 88,09 persen untuk peningkatan harga bibit. Proyeksi laba rugi dan arus kas (cash flow) nilai pengganti untuk peningkatan harga pakan broiler, peningkatan harga bibit, penurunan harga karkas, dan penurunan volume produksi dapat dilihat masingmasing dalam Lampiran 11, 12, 13, dan 14. 124
7.5. Analisis Harga Pokok Produksi (HPP) dan Break Even Point (BEP) 7.5.1. Harga Pokok Produksi (HPP) Harga Pokok Produksi (HPP) merupakan cara penentuan harga berdasarkan biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu produk dan besarnya harga pokok produksi merupakan acuan yang digunakan oleh produsen dalam penetapan harga jual produk. Penentuan HPP dilakukan pada harga karkas karena karkas merupakan produk utama yang dihasilkan. Harga pokok penjualan yang menguntungkan bagi suatu usaha yaitu apabila lebih besar dari harga pokok produksi. Demikian juga pada Peternakan Maju Bersama yang perlu mengetahui harga pokok penjualan karkas apakah telah berada di atas atau di bawah harga pokok produksi. Perhitungan harga pokok produksi mengacu pada laporan laba rugi untuk mengetahui jumlah total biaya tetap, biaya variabel, dan output yang dihasilkan. Biaya tetap dalam perhitungan harga pokok produksi sudah termasuk biaya penyusutan. Sedangkan output yang dihasilkan berupa karkas itik karena karkas merupakan variabel penerimaan yang paling besar yaitu mencapai 96,32 persen dari total penerimaan perusahaan. Berdasarkan perhitungan, HPP untuk satu ekor karkas itik adalah Rp 24.998,42. Nilai HPP lebih rendah daripada harga penjualan sehingga perusahaan akan mendapatkan keuntungan apabila harga jual yang ditetapkan sebesar harga penjualan saat ini yaitu Rp 30.000,00 per ekor karkas. Perhitungan HPP secara terinci dapat dilihat pada Tabel 17. Tabel 17. Perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) Uraian Jumlah Total biaya tetap (TFC) Rp 212.842.166,67 Total biaya variabel (TVC) Rp 687.101.130,00 Jumlah karkas yang dihasilkan (Q) 36.000 ekor HPP = (TFC + TVC) / Q Rp 24.998,42 per ekor 7.5.2. Break Even Point (BEP) Break Even Point (BEP) adalah suatu keadaan usaha yang berada pada titik impas yaitu pada saat tingkat produksi atau besarnya pendapatan sama dengan besarnya pengeluaran perusahaan sehingga pada saat itu, perusahaan tidak 125
mengalami keuntungan maupun kerugian. Perhitungan BEP dilakukan terhadap karkas karena karkas merupakan produk utama yang dihasilkan sedangkan ati ampela merupakan produk sampingan dan pupuk kandang merupakan produk limbah industri. Perhitungan BEP yang dilakukan dalam analisis ini adalah BEP unit. Nilai BEP unit digunakan untuk mengetahui jumlah karkas yang harus dihasilkan dan dijual oleh Peternakan Maju Bersama sehingga usaha berada pada kondisi tidak untung atau rugi. Variabel yang digunakan dalam perhitungan BEP berasal dari laporan laba rugi selama umur bisnis yaitu total biaya tetap, biaya variabel per unit, dan harga jual karkas. Biaya tetap dalam perhitungan BEP merupakan seluruh biaya tetap dan biaya penyusutan investasi. Total biaya tetap selama umur bisnis yaitu Rp 212.842.166,67. Biaya variabel per unit merupakan seluruh biaya variabel yang dikeluarkan selama umur bisnis yang dibagi dengan jumlah output yang dihasilkan. Total biaya variabel selama umur bisnis yaitu Rp 687.101.130,00 dan jumlah karkas yang dihasilkan yaitu 36.000 ekor sehingga biaya variabel per unit sebesar Rp 19.086,14. Harga jual karkas yaitu Rp 30.000,00 per ekor. Berdasarkan perhitungan, nilai BEP unit pada Peternakan Maju Bersama yaitu 19.502 ekor karkas. Artinya adalah usaha akan mencapai titik dimana tidak untung atau rugi ketika berhasil menjual karkas sebanyak 19.502 ekor dari hasil produksi perusahaan. Dengan kata lain, selama umur proyek dipastikan usaha akan mengalami keuntungan karena total karkas yang akan dihasilkan sebanyak 36.000 ekor yang lebih besar dari BEP unit. Rincian perhitungan BEP dapat dilihat pada Tabel 18. Tabel 18. Perhitungan BEP Unit Uraian Jumlah Total Biaya tetap (TFC) Rp 212.842.166,67 Total biaya variabel (TVC) Rp 687.101.130,00 Jumlah karkas yang dihasilkan (Q) 36.000 ekor Biaya variabel satu ekor karkas (AVC = TVC/Q) Rp 19.086,14 Harga penjualan (P) Rp 30.000,00 BEP = TFC / (P-AVC) 19.502 ekor 126