26 BAB 3 METODE PERCOBAAN 3.1. Alat alat 1. Spektrofotometer UV-Visibel La Motte 2. Hot Plate Nouva II 3. Neraca Analitis Ohauss 4. Kuvet 5. ph Meter Lovibond 6. Spatula 7. Labu Takar Pyrex 8. Termometer Fischer 3.2. Bahan 1. KNa C4H4O6 p.a 2. FeSo4 p.a 3. Na2HPO4. 7H2O p.a 4. KH2PO4 p.a 5. C2H5COOC2H6(OH)3 p.a 6. Daun Teh (Camellia sinensis L) 7. Aquadest
27 3.3. Prosedur Percobaan 3.3.1. Penyiapan Reagen 3.3.1.1. Larutan Ferro Tartrat 1. Timbang 500 mg potassium sodium tartrat 2. 10mg fero sulfat 3. Dilarutkan dengan aquadest hingga volume menjadi 100 ml dalam labu takar 4. ditipiskan hingga garis tanda. 3.3.1.2. Buffer Posfat (ph 7,5) Sebelumnya dilakukan pembuatan larutan disodium dihidro pospat 0,0667 M dan larutan potassium dihidro posfat 0,0667 M, dengan cara sebagai berikut: a. Pembuatan Larutan Disodium Dihidro Posfat 0,0667 M 1. Timbang sebanyak 11,867 gr disaodium penta hidrat 2. Kemudian dimasukkan kedalam labu takar 1000 ml 3. Dilarutkan dengan aquadest hingga volume menjadi 1000 ml 4. Kemudian ditipiskan hingga garis tanda. b. Pembuatan Larutan Potassium Dehidro Fosfat 0,0667 M 1. Dimbang sebanyak 9,073 gr monopotasium posfat 2. Kemudian dimasukkan kedalam labu takar 1000 ml 3. Dilarutkan dengan aquadest hihngga volume menjadi 100 ml 4. kemudian ditipiskan hingga garis tanda
28 5. Setelah pembuatan larutan diatas, kemudian dicampurkan 0,0667 M disodium dihidro pofat dengan 0,0667 M. Potassium dihidro posfat dengan perbandingan 84 ml : 16 ml dimana penambahan larutan potassium dihidro dilakukan secara perlahan-lahan sambil disesuaikan ph nya hingga 7,5, dengan menggunakan alat ph meter Neo Met. 3.3.1.3. Larutan Etil Galat 100% 1. Dimbang sebanyak 50 mg etil gallat 2. Larutan dengan aquadest hingga volume 50 ml dalam labu takar. 3.3.2. Pembuatan larutan Blanko Ferro Tartrat 1. Pipet sebanyak 5 ml air dan 5 ml larutan ferro tartrat 2. Lalu masukkan kedalam labu takar 25 ml 3. Kemudian diencerkan dengan buffer posfat hingga volume 25 ml 3.3.3. Pembuatan Kurva Kalibrasi 1. Siapkan larutan standart etil galat 5 %, 10 %, 15%, 20 % dan 25 % 2. Dipipet sebanyak 5 ml larutan standart 5% 3. Tambahkan 5 ml larutan ferro tartrat 4. Diencerkan dengan buffer podfat hingga 25 ml 5. Dilakukan hal yang sama untuk larutan standart 10 %, 15 %, 20 % dan 25%. 6. Kemudian tentukan absorbansi larutan standart dengan menggunakan spektrofotometer La motte pada panjang gelombang 540 nm dengan menggunakan larutan blanko ferro tartrat sebagai panjang gelombang
29 7. kemudian buat kurva kalibrasi. 3.3.4. Pembuatan Sampel 1. Ditimbang sampel sebanyak 30 gr (daun teh) 2. Rendam sampel teh kedalam air panas dengan suhu 80 o C dengan volume 1000 ml 3. Setelah 2 menit aduk air teh dan ambil 2 ml untuk pengecekan absorbansi 4. Dilakukan percobaan yang sama dengan frekuensi waktu 8 menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit dan 25 menit. 3.3.5. Perlakuan Sampel 1. Sampel diambil sebanyak 25 ml pada setiap waktu perendaman 2, 8, 10, 15, 20 dan 25 menit dengan bersamaan dengna pengambilan sampel ekstrak 2. Sampel yang 25 ml dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml dan diencerkan hingga garis tanda (disebut sebagai Beverage) 3. Beverage diambil 2 ml untuk pengecekan tanin sama seperti prosedur pengenceran tanin ekstrak.
30 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Data pengukuran absorbansi dari larutan seri standar dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 4.1. Pembuatan Larutan Seri Standar Larutan Seri Absorbansi 5 0,249 10 0,327 15 0,431 20 0,540 25 0,630 Pengaruh lama perendaman daun teh terhadap konsentrasi tannin dapat dilihat dibawah ini: Tabel 4.2. Data Percobaan No Temperatur ( o C) Waktu (Detik) Absorbansi Tanin Ekstrak Tanin Beverage 1 80 2 0,8431 138,13 35,67 2 80 8 1,4350 232,64 57,43 3 80 10 1,6724 281,34 69,78 4 80 15 1,8904 312,47 78,34 5 80 20 2,1051 343,36 85,58 6 80 25 2,3766 390,09 97,34
31 4.2. Perhitungan 4.2.1. Penentuan Persamaan Garis Regresi a. Metode Least Square Tabel 4.3. Metode Least Square X Y 0,249 5 0,327 10 0,431 15 0,540 20 0,630 25 Tabel 4.4. Penentuan Persamaan Garis Regresi No X Y XY X 2 1 0,249 5 1,254 0,0620 2 0,327 10 3.27 0,1069 3 0,431 15 6.465 0,1857 4 0,540 20 10,8 0,2916 5 0,630 25 15,75 0,3969 2,177 75 37,539 1,0431 Persamaan garis regresi untuk kurva kalibrasi dapat diturunkan dari persamaan garis Y= ax + b, dimana a = slope, b = Intercept a = n ( XY) ( X) ( Y) n( X 2 ) ( X) 2 = 5(37,539) (2,177)(75) 5(1.0431) (2,177) 2 =24,42 0,476 =51,30
32 b = ( X 2 ) ( Y) ( XY) ( X) n ( X 2 ) ( X) 2 = (1.0431) (75) (37,539) (2,177) 5(1.0431) (2,177) 2 = 3,098 0,476 = 6,50 Maka, persamaan garis regresi yang diperoleh ialah: Y = ax + b Y = 51,30X + ( 6,50) Konsentrasi Tanin Ekstrak (Y), dimana X = Absorbansi Y = ax + b Untuk X = 2,177 Y = 51,30 (2,177) + ( 6,50) = 105, 18 Konsentrasi Tanin Beverage (ppm) = Y Y = ax + b Untuk X= 35,67 Y = 51,30 (35,67) + (-6,50) = 1823,37
33 4.3. Pembahasan Hasil dari pengaruh lamanya penyimpanan ekstrak teh terhadap konsentrasi tanin ekstrak dan juga terhadap konsentrasi tanin beverage dapat dilihat pada grafik dibawah ini 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 0 5 10 15 20 25 30 35 Gambar 4.1. Grafik Konsentrasi Tanin Ekstrak Vs Waktu Perendaman Daun Teh (Camellia sinensis L) Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa konsentrasi tanin akan bertambah besar dengan kenaikan waktu perendaman daun teh hingga 25 menit. Begitu juga halnya dengan konsentrasi tanin beverage akan bertambah besar dengan kenaikan waktu perendaman daun teh hingga 25 menit. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut ini yang menunjukkan hubungan antara konsentrasi tanin beverage dengan waktu perendaman daun teh.
34 120 100 80 60 40 Grafik Konsentrasi Tanin Beverage Vs Waktu Perendaman Daun Teh 20 0 0 10 20 30 40 Gambar 4.2. Grafik Konsentrasi Tanin Beverage Vs Waktu Perendaman Daun Teh(Camellia sinensis L) Perendaman daun teh yang terlalu lama akan dapat menaikkan konsentrasi tanin yang dapat mengakibatkan kerugian bagi tubuh seperti fungsi ginjal terganggu, demam, syaraf lemah dan insomnia, sembelit dan lainnya. Menurut Winarno (1993), penyeduhan teh dapat dilakukan dengan perendaman dalam air panas dengan suhu 88 o C selama 5 menit atau pada suhu 93 o C selama 3 menit. Suhu terendah yang baik adalah 85 o C dengan waktu yang diperlukan selama 6 7 menit. Dalam kondisi tersebut seluruh tanin telah terekstrak. Bila air yang digunakan dalam proses perendaman daun teh sedang mendidih maka proses ekstraksi berlangsung terlalu kuat sehingga teh terasa sepat. Agar hasil yang diperoleh lebih baik lagi, sebaiknya pemeriksaan konsentrasi tanin dilakukan dengan menggunakan alat Gas Chromatography Mass Spektcrophotometer (GC MS), karena alat tersebut dapat mengidentifikasi konponen-komponen lain yang bersifat beracun pada teh.
35 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan pada proses perendaman daun teh selama 8, 10 dan 15 menit menghasilkan kadar tabin beverage sebesar 57,43; 69,78; 78,34 ppm yang sesuai dengan standart PT.Coca-Cola Bottling Indonesia Medan Plant, yaitu dengan standart 50 80 mg/l. 5.2. Saran 1) Hendaknya dilakukan pemeriksaan konsentrasi tanin terhadap suhu perendaman daun teh. 2) Diharapkan pada waktu pemeriksaan konsentrasi tanin dilakukan dengan menggunakan alat Gas Chromatography Mass Spektrofotometer (GC MS) yang mana diharapkan dapat memperoleh hasil yang lebih baik. 3) Hendaknya dilakukan pemeriksaan terhadap kadar kafein pada teh.