HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM

METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG

IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP

III. METODE PENELITIAN

sesuaian harga yang diterima dengan cost yang dikeluarkan. Apalagi saat ini,

III KERANGKA PEMIKIRAN

IV. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton.

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik

I. PENDAHULUAN. khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada

IV. METODE PENELITIAN

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG

ANALISIS SENSITIVITAS

.SIMULASI KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING TEMBAKAU MADURA. Kustiawati Ningsih

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VII. ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PADA USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN Kerangka Skenario Perubahan Harga Input dan Output

METODOLOGI PENELITIAN

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo)

KERANGKA PEMIKIRAN. berupa derasnya arus liberalisasi perdagangan, otonomi daerah serta makin

KERANGKA PEMIKIRAN Struktur Biaya Produksi Usahaternak Sapi Perah

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 3. No 2 Desember 2009)

IV METODE PENELITIAN

VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH

MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR

III. KERANGKA PEMIKIRAN

STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost )

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya)

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 2. No 1 Juni 2008)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

IV. METODE PENELITIAN. Fish Farm) dilaksanakan di lokasi usaha yang bersangkutan yaitu di daerah

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

(The analysis of profitability, comparative advantage, competitive advantage and import policy impact on beef cattle fattening in west java)

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI PADI SAWAH DI KECAMATAN PERBAUNGAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI ABSTRACT

IV. METODE PENELITIAN

Analysis of Competitiveness and Marketing Channels Ikan Kembung ( Rastrelliger sp.) in Rembang Regency, Central Java Effect

ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO

Pendapatan Rata-Rata Peternak Sapi Perah Per Ekor/Bulan

III KERANGKA PEMIKIRAN

Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan penelitian.

ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN

III. METODE PENELITIAN. peneliti menggunakan konsep dasar dan batasan oprasional sebagai berikut:

DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO

DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI. I Made Tamba Ni Luh Pastini

PENENTUAN PRODUK UNGGULAN PADA KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN GIANYAR

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor-Faktor Penting yang Memengaruhi Dayasaing Suatu Komoditas

ANALISIS DAYA SAING USAHA PEMBESARAN IKAN NILA PETANI PEMODAL KECIL DI KABUPATEN MUSI RAWAS

EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA AGRIBISNIS AYAM RAS PEDAGING DI KABUPATEN LAMONGAN JAWA TIMUR

VIII. ANALISIS KEBIJAKAN ATAS PERUBAHAN HARGA OUTPUT/ INPUT, PENGELUARAN RISET JAGUNG DAN INFRASTRUKTUR JALAN

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KELAPA DI KABUPATEN FLORES TIMUR

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHATANI JAGUNG DAN PADI DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA ZULKIFLI MANTAU

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Empiris Tentang Jeruk

DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI

ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KELAPA SAWIT DI KABUPATEN MUKOMUKO (STUDI KASUS DESA BUMI MULYA)

DAMPAK KRISIS MONETER DAN KEBIJAKSANAAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING AGRIBISNIS AYAM RAS PEDAGING DI JAWA BARAT

SENSITIVITAS DAYA SAING JERUK LOKAL KABUPATEN JEMBER [SENSITIVITY OF JEMBER LOCAL CITRUS COMPETITIVENESS]

III. METODE PENELITIAN. Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman

JURUSAN ILMU-ILMU SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR FANNYTA YUDHISTIRA A

DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH TERHADAP USAHA PRODUK SAPI PERAH SISTEM KEMITRAAN DAN MANDIRI

Keunggulan Komparatif dan Kompetitif dalam Produksi Padi di Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung

PERSUSUAN INDONESIA: KONDISI, PERMASALAHAN DAN ARAH KEBIJAKAN

EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU

ANALISIS NILAI TAMBAH DAN DAYA SAING SERTA DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP INDUSTRI TEMPE DI KABUPATEN BOGOR

III. KERANGKA PEMIKIRAN

Transkripsi:

VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi susu sapi lokal dalam bersaing dengan susu impor sebagai produk substitusi impor. Oleh karena itu, daya saing susu sapi segar yang dihasilkan oleh peternak anggota KPGS dianalisis dengan menggunakan Matriks Analisis Kebijakan Pemerintah (PAM). Matriks ini disusun berdasarkan data penerimaan dan biaya produksi yang keseluruhannya terbagi dalam dua bagian yaitu harga privat dan harga ekonomi (Social Opportunity Cost). Masing-masing biaya produksi pada harga privat dan ekonomi dibagi menjadi input asing dan domestik. Hasil analisis dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 12. Tabulasi Dasar Matriks PAM (RP/Liter) Penerimaan Biaya Input Uraian Output Tradable Domestik Pendapatan Nilai Finansial 3013,0 186,2 2038,9 787,9 Nilai Ekonomi 3857,8 173,9 1977,4 1706,5 Dampak Kebijakan dan Distorsi Pasar -844,8 12,3 61,5-918,5 Divergensi yang dihasilkan pada Matriks Analisis Kebijakan Pemerintah bernilai negatif untuk divergensi penerimaan dan divergensi pendapatan. Sedangkan divergensi pada biaya input tradable dan faktor domestik bernilai positif. Divergensi negatif dengan nilai 844,8 pada penerimaan output terjadi karena harga sosial susu lebih tinggi dari harga yang diterima peternak. Hal ini terjadi karena harga sosial susu diperhitungkan berdasarkan harga susu impor yang lebih tinggi daripada harga susu lokal walaupun dengan kondisi tarif impor sebesar nol persen. Divergensi positif pada biaya input tradable sebesar 12,3 terjadi karena harga sosial dari input-input tradable yaitu konsentrat lebih rendah dari harga yang diterima peternak. Hal ini mengindikasikan adanya kebijakan pemerintah 60

atau distorsi pasar yang mengakibatkan harga sosial pakan dan obat-obatan lebih tinggi daripada harga finansialnya. Di sisi lain divergensi positif senilai 61,5 pada biaya faktor domestik terjadi karena biaya sosial faktor domestik lebih rendah daripada biaya privatnya. Hal ini menandakan bahwa peternak harus mengeluarkan biaya lebih atas faktor domestik dibandingkan dengan biaya sosial faktor domestik yang bersangkutan. Hal tersebut diduga terjadi karena adanya kebijakan pemerintah atau kegagalan pasar pada penggunaan faktor domestik untuk konsentrat dan perdagangan obatobatan. Selain itu, penyebab divergensi positif pada biaya faktor domestik juga diakibatkan oleh pembayaran upah yang sama dengan harga sosialnya. Hal ini berdasarkan penelitian Ilham (2005) yang menyatakan bahwa tenaga kerja yang digunakan peternak dalam membantu usahanya adalah tenaga kerja tidak tetap dan umumnya cenderung mendekati kondisi pasar persaingan sempurna sehingga harga bayangan tenaga kerja tersebut adalah sama dengan tingkat upah yang berlaku di daerah kajian. Sedangkan divergensi negatif sebesar 918,5 pada nilai pendapatan terjadi karena pendapatan finansial peternak lebih kecil daripada pendapatan sosialnya. Hal ini merupakan akumulasi dari efek divergensi harga output dan biaya input baik tradable maupun non tradable. Berdasarkan Matriks Analisis Kebijakan yang telah disusun tersebut, dilakukan perhitungan-perhitungan untuk memperoleh nilai-nilai yang akan menjadi indikator tingkat keuntungan yang diperoleh dari memproduksi susu segar pada kondisi finansial dan ekonomi, nilai keunggulan komparaif dan kompetitif serta nilai untuk mengukur pengaruh kebijakan pemerintah pada output dan input. Berdasarkan Tabel 12, diperoleh indikator-indikator Analisis matriks Kebijakan yang disajikan pada Tabel 13. 61

Tabel 13. Indikator-indikator dari Analisis Matriks Kebijakan Indikator Nilai Private Profitability (PP) 787,9 Private Cost Ratio (PCR) 0,72 Social Profitability (SP) 1.706,5 Domestic Resource Cost Ratio (DRC) 0,54 Input Transfer (IT) 12,3 Nominal Protection Coefficient on Tradable Input (NPCI) 1,07 Transfer Factor (FT) 61,5 Output Transfer (OT) (844,8) Nominal Protection Coefficient on Tradable Output (NPCO) 0,78 Effective Protection Coefficient (EPC) 0,77 Net Transfer (NT) (918,5) Profitability Coefficient (PC) 0,46 Subsidy Ratio to Product (SRP) (0,24) 6.1.1 Keunggulan Kompetitif. Analisis keunggulan kompetitif terdiri dari analisis Keuntungan Finansial atau Private Profitability (PP) dan Rasio Biaya Finansial atau Private Cost Ratio (PCR). Keuntungan finansial usahaternak sapi perah merupakan selisih antara penerimaan penjualan susu dan Penjualan karung dengan biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi susu yang dihitung dengan harga aktual atau harga privat yaitu harga yang sudah dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah. Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 7, dapat dilihat bahwa penerimaan privat dalam memproduksi susu segar adalah Rp 787,9/liter susu. Biaya total yang dikeluarkan adalah Rp 2.225,06/liter susu yang terdiri dari biaya input tradable sebesar Rp 186,15/liter dan biaya faktor domestik sebesar Rp 2.038,91/liter. Oleh karena itu, diperoleh nilai keuntungan privat usahaternak sapi perah anggota KPGS sebesar Rp 787,9/liter. Nilai keuntungan privat yang lebih besar dari nol tersebut menunjukkan bahwa usahaternak sapi perah untuk menghasilkan komoditi susu 62

sapi segar menguntungkan secara privat dan dapat bersaing pada tingkat harga privat. Selain menggunakan analisis Keuntungan Finansial, Rasio Biaya Finansial (PCR) juga dapat digunakan untuk menilai keunggulan kompetitif dari pengusahaan komoditi. PCR merupakan rasio antara biaya input non tradable dengan nilai tambah atau selisih antara penerimaan dan input tradable pada tingkat harga aktual. Nilai PCR menunjukkan bagaimana alokasi sumberdaya diarahkan untuk mencapai efisiensi finansial dalam memproduksi susu segar. Suatu aktivitas akan efisien secara finansial jika nilai PCR yang diperoleh lebih kecil dari satu (<1). Semakin kecil nilai PCR yang diperoleh, maka semakin tinggi tingkat keunggulan kompetitif yang dimiliki. Hasil analisis matriks PAM menunjukkan bahwa nilai PCR yang diperoleh adalah 0,7. Nilai tersebut menunjukkan bahwa usahaternak sapi perah yang dilakukan oleh peternak anggota KPGS efisien secara finansial dan memiliki keunggulan secara kompetitif. Nilai PCR sebesar 0,7 memiliki arti bahwa untuk mendapatkan nilai tambah output sebesar satu rupiah pada harga privat diperlukan tambahan biaya faktor domestik sebesar Rp 0,7. Jadi, untuk memperoleh nilai tambah sebesar Rp 2.930,60/liter susu diperlukan tambahan biaya faktor domestik sebesar Rp 2.038,91/liter susu. Hal ini berarti penggunaan faktor domestik sudah efisien sehingga layak untuk diusahakan karena untuk meningkatkan nilai tambah susu sebesar satu rupiah membutuhkan biaya faktor domestik kurang dari satu rupiah. 6.1.2 Keunggulan Komparatif Keunggulan komparatif adalah salah satu indikator untuk menilai apakah komoditas susu sapi segar yang diusahakan oleh peternak anggota KPGS memiliki daya saing, mampu hidup tanpa bantuan pemerintah, dan memiliki peluang yang besar sebagai produk substitusi impor. Keunggulan komparatif dapat diukur dengan menggunakan nilai Keuntungan Sosial atau Social Profitability (SP) dan Rasio Biaya Sumberdaya Domestik atau Domestic Resource Cost Ratio (DRC). 63

Keuntungan sosial adalah keuntungan yang diperoleh pada pasar persaingan sempurna dimana tidak ada campur tangan pemerintah dan kegagalan pasar di dalamnya. Keuntungan sosial usahaternak sapi perah oleh peternak anggota KPGS yang ditunjukkan dengan nilai Social Profitability (SP) adalah positif (>1) yaitu Rp 1.706,5/liter. Keuntungan sosial tersebut menunjukkan bahwa usahaternak sapi perah untuk memproduksi komoditi susu segar menguntungkan secara ekonomi tanpa adanya kebijakan pemerintah. Selain dari indikator keuntungan ekonomi, keunggulan komparatif usahaternak sapi perah dalam menghasilkan komoditi susu segar juga dapat diketahui dari Rasio Biaya Sumberdaya Domestik atau Domestic Resource Cost Ratio (DRC). Suatu usaha efisien secara ekonomi jika nilai DRC lebih kecil dari satu (DRC<1). Nilai DRC yang lebih kecil dari satu menunjukkan bahwa untuk memperoleh tambahan satu rupiah output diperlukan tambahan biaya faktor domestik lebih kecil dari satu rupiah yang dinilai pada harga sosial. Semakin kecil nilai DRC maka komoditas tersebut akan semakin memiliki keunggulan komparatif. Nilai DRC yang lebih besar dari satu (DRC>1) menunjukkan adanya pemborosan sumberdaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai DRC yang diperoleh adalah 0,5 yang berarti bahwa untuk memperoleh nilai tambah sebesar Rp 3.857,78/liter susu diperlukan tambahan biaya faktor domestik sebesar Rp 1.977,99. Hal ini menunjukkan bahwa komoditi susu efisien dalam menggunakan sumberdaya ekonomi. Selain itu, jika ditempat lain menghasilkan DRC satu dan di daerah penelitian didapatkan hasil 0,5 maka terjadi efisiensi sebesar 0,5. Nilai DRC yang lebih kecil dari satu tersebut juga menunjukkan bahwa usahaternak yang dilakukan oleh peternak anggota KPGS efisien secara ekonomi dan memiliki keunggulan komparatif. Nilai keuntungan sosial (Rp 1.706,5/liter) yang lebih besar dibandingkan keuntungan privat (Rp 787,9/liter) menunjukkan kondisi pendapatan yang lebih menguntungkan pada tingkat harga sosial. Keuntungan sosial yang lebih tinggi dari keuntungan privat tersebut diakibatkan oleh harga susu impor yang cukup tinggi yaitu Rp 3.765,78/liter sementara harga susu di tingkat peternak adalah Rp 64

2.930,48/liter. Selain itu, hal tersebut juga disebabkan oleh adanya nilai pajak sebesar 10 persen untuk bahan baku konsentrat dan obat-obatan pada tingkat harga finansial sehingga menyebabkan biaya finansial input tradable untuk konsentrat dan obat-obatan lebih tinggi dari biaya sosialnya. Biaya aktual tenaga kerja yang dibayarkan lebih tinggi dari biaya sosialnya juga menyebabkan keuntungan sosial lebih tinggi daripada keuntungan privat. Nilai DRC yang lebih kecil dari PCR (DRC<PCR) menunjukkan bahwa tidak terdapat kebijakan pemerintah yang meningkatkan efisiensi produsen dalam berproduksi. Hal ini terjadi karena sejak tahun 2000 pemerintah telah menghapus subsidi atas pakan ternak dan obat-obatan. Selain itu, kebijakan pemerintah yang diduga sangat signifikan dalam mengurangi efisiensi peternak adalah adanya penghapusan tarif impor susu dari 5 persen menjadi 0 persen yang mulai berlaku sejak Bulan Februari tahun 2009. Adanya kebijakan-kebijakan tersebut, pengusahaan sapi perah menjadi tidak efisien jika dibandingkan apabila pemerintah tidak menghapus subsidi terhadap pakan ternak maupun obat-obatan dan menghapus tarif impor susu. Besarnya nilai keuntungan sosial daripada keuntungan privat yang diperoleh peternak sapi perah serta nilai DRC yang lebih kecil dari PCR mengindikasikan adanya pengaruh intervensi pemerintah atau distorsi pasar yang tidak memberikan insentif yang baik kepada peternak sapi perah sehingga keuntungan privat yang dihasilkan menjadi lebih rendah dibandingkan keuntungan yang diperoleh tanpa adanya intervensi pemerintah terhadap input produksi dan distorsi pada pasar output. Distorsi pada pasar output diindikasikan oleh adanya fenomena IPS yang cenderung memilih untuk lebih menggunakan susu impor walaupun harga susu impor lebih mahal. Akan tetapi kebijakan pemerintah terhadap output berupa peningkatan tarif impor diduga dapat memberikan insentif yang baik kepada peternak dimana dengan adanya penetapan tarif impor susu maka akan meningkatkan harga susu lokal. 6.1.3 Dampak Kebijakan Pemerintah Suatu kebijakan pemerintah dalam suatu aktivitas ekonomi dapat memberikan dampak positif maupun negatif terhadap pelaku ekonomi dalam 65

sistem tersebut. Dampak kebijakan juga dapat menurunkan atau meningkatkan produksi maupun produktivitas dari suatu aktivitas ekonomi. Dampak kebijakan pemerintah tersebut dapat dihitung dengan menggunakan Matriks Analisis Kebijakan yang akan menghasilkan beberapa indikator dampak kebijakan. Tujuan dari kebijakan pemerintah dalam perdagangan biasanya adalah untuk melindungi produsen dalam negeri. Jika harga produksi impor komoditi serupa lebih rendah dari produksi dalam negeri, maka akan melemahkan daya saing dari produksi domestik karena konsumen akan cenderung untuk membeli produk dengan harga yang lebih murah. Akibatnya, permintaan terhadap produk domestik akan menurun dan berimplikasi terhadap penurunan produksi dalam negeri dan pendapatan produsen lokal. Hal tersebut akan mengurangi devisa negara dan nilai tukar uang terhadap mata uang asing akan melemah. Permasalahan mengenai susu impor berbeda dari permasalahan perdagangan internasional komoditi lainnya. Dengan harga susu impor yang jauh lebih tinggi daripada susu lokal, IPS cenderung lebih banyak menggunakan susu impor dan menurunkan harga susu di tingkat peternak. Kebijakan pemerintah yang seharusnya lebih memihak kepada produsen susu sapi lokal dihapus satu per satu termasuk didalamnya adalah kebijakan penghapusan subsidi atas pakan dan obat-obatan serta yang terakhir penghapusan tarif impor susu menjadi nol persen yang diduga semakin melemahkan daya saing komoditi susu sapi lokal. 1. Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Input Bentuk distorsi atau campur tangan pemerintah pada input dapat berupa penetapan pajak atau subsidi. Dalam kasus usaha peternakan sapi perah, tidak ada kebijakan pemerintah dalam hal input yang dapat memacu peningkatan produksi peternak. Adapun dampak kebijakan pemerintah terhadap input ditunjukkan oleh nilai Transfer Input (IT), Transfer Faktor (FT), dan Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI). a. Transfer Input (IT) Nilai transfer input merupakan selisih antara biaya privat input tradable dengan biaya bayangannya. Transfer input (IT) yang bernilai positif mengindikasikan adanya kebijakan subsidi negatif atau pajak pada unsur input tradable yang akan mengurangi tingkat keuntungan produsen. Sebaliknya, 66

transfer input yang bernilai negatif menunjukkan adanya kebijakan subsidi pada input karena subsidi pada harga input akan mengakibatkan biaya yang dikeluarkan untuk input pada tingkat harga privat lebih rendah daripada tingkat harga sosial. Hal tersebut menunjukkan bahwa kebijakan subsidi pada input tradable akan menguntungkan produsen lokal. Berdasarkan hasil analisis, transfer input ditunjukkan dengan nilai positif 12,3. Nilai tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah pada input tradable merugikan produsen sebesar Rp 12,3/liter susu. Artinya terdapat pajak atas input asing sehingga harga input asing yang diterima peternak lebih tinggi dari harga yang seharusnya diterima tanpa adanya distorsi pasar (pajak). Dengan kata lain, terdapat transfer pendapatan dari peternak kepada produsen input asing. Selain itu, adanya praktik monopoli terhadap bahan baku pakan yaitu polar yang hanya didistribusikan oleh PT. Indofood Sukses makmur Bogasari diduga juga merupakan salah satu penyebab adanya transfer pendapatan dari peternak kepada produsen input asing. Hal ini karena praktik monopoli menyebabkan kegagalan pada pasar input yang menyebabkan mekanisme pasar dalam pembentukan harga tidak bekerja. b. Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI) Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI) merupakan rasio antara biaya input tradable yang dihitung berdasarkan harga privat dengan biaya input tradable yang dihitung berdasarkan harga bayangan dan merupakan indikasi adanya transfer input. Nilai NPCI menunjukkan tingkat proteksi atau distorsi yang dibebankan pemerintah pada input tradable bila dibandingkan tanpa adanya kebijakan. Nilai NPCI yang lebih besar dari satu (NPCI>1) mengindikasikan adanya kebijakan proteksi terhadap produsen input tradable selain terdapat pajak pada input tersebut, sedangkan sektor yang menggunakan input tersebut dirugikan dengan tingginya biaya produksi. Sebaliknya, jika nilai NPCI lebih kecil dari satu (NPCI<1) maka mengindikasikan adanya subsidi atas input tersebut. 67

Nilai NPCI yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 1,1. Nilai ini menunjukkan adanya kebijakan proteksi terhadap produsen input, sedangkan produsen susu dirugikan karena biaya produksi meningkat dengan penggunaan input tersebut. Dampak kebijakan input asing terhadap komoditi susu mengakibatkan biaya produksi menjadi lebih tinggi, karena peternak harus membeli input asing (pakan ternak dan obat-obatan) dengan harga yang lebih mahal 1,1 persen dari harga yang seharusnya. Sebaliknya, pihak importir pakan ternak dan obat-obatan diuntungkan sebesar 1,1 persen. c. Transfer Faktor (FT) Input yang digunakan dalam proses sistem komoditi selain faktor produksi yang dapat diperdagangkan, digunakan juga faktor produksi domestik dimana harga ditentukan oleh harga domestik. Transfer faktor adalah perbedaan harga sosial dengan harga privat yang diterima oleh peternak sapi perah anggota KPGS untuk pembayaran faktor produksi domestik. Transfer faktor domestik bisa timbul sebagai akibat kegagalan pasar maupun kebijakan pemerintah yang bersifat distortif (Pearson et al, 2005). Hasil analisis menunjukkan bahwa FT pada pengusahaan sapi perah adalah Rp 61,5. Nilai ini menunjukkan bahwa harga input non-tradable yang dikeluarkan oleh pemerintah pada tingkat harga finansialnya lebih tinggi dibandingkan dengan biaya input non tradable yang dikeluarkan jika dihitung dengan harga sosial. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kebijakan pemerintah tidak melindungi produsen domestik. Akibatnya, peternak harus membayar input domestik lebih mahal Rp 61,5/liter dari harga sosialnya sementara produsen input domestik mendapatkan tambahan keuntungan senilai Rp 61,5. 2. Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Output Tingkat ukuran campur pemerintah pada output dapat dilihat dari nilai Transfer Output (OT) dan Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO). Bentuk distorsi pemerintah tersebut dapat berupa subsidi atau kebijakan hambatan perdagangan berupa tarif dan pajak ekspor. 68

a. Transfer Output (OT) Divergensi pada harga output menyebabkan pendapatan privat berbeda dengan pendapatan sosial, serta terjadinya transfer output (TO). Nilai OT yang positif menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah pada output menyebabkan harga output privat lebih besar dibandingkan harga output pada kondisi harga bayangan. Hal ini menunjukkan adanya insentif konsumen kepada produsen dimana konsumen membayar lebih tinggi dari harga yang seharusnya dibayarkan. Sedangkan nilai OT yang negatif menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah dan distorsi pasar yang berlaku saat ini menyebabkan harga output pada kondisi aktual menjadi lebih rendah dibandingkan harga bayangannya. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai OT adalah negatif yaitu sebesar Rp 844,8/liter susu. Hal ini menunjukkan bahwa harga susu di pasar domestik jauh lebih rendah dari harga impornya sehigga terjadi adanya transfer output dari produsen kepada konsumen sebesar Rp 844,8/liter. Implikasi dari adanya transfer output tersebut adalah konsumen (dalam hal ini IPS) membeli susu dengan harga yang lebih rendah Rp 844,8/liter dari harga yang seharusnya diterima peternak apabila pasar tidak terdistorsi atau tanpa kebijakan pemerintah. Hal ini merugikan peternak susu lokal karena peternak lokal kurang mendapatkan insentif untuk meningkatkan produksinya. Tingginya perbedaan harga antara susu impor dan susu lokal diduga adalah akibat adanya penghapusan tarif impor susu menjadi nol persen. Tidak adanya tarif impor semakin menghapus proteksi terhadap produsen susu lokal karena IPS lebih memilih untuk membeli susu impor sehingga komoditi susu dalam negeri sulit bersaing dengan susu impor. b. Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO) Nilai Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO) adalah rasio antara penerimaan yang dihitung berdasarkan harga finansial dengan penerimaan yang dihitung berdasarkan harga bayangan. NPCO merupakan indikasi dari Transfer Output dimana NPCO menunjukkan seberapa besar harga privat berbeda dengan harga sosial (Pearson et al, 2005). Nilai NPCO yang lebih kecil dari satu (NPCO<1), harga domestik lebih rendah dari harga dunia. Hal ini berarti harga domestik di disproteksi. 69

Berdasarkan hasil analisis, nilai NPCO pada penelitian ini adalah sebesar 0,78 (NPCO<1) yang menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah menetapkan tarif impor nol persen menyebabkan harga yang diterima produsen lebih rendah dari harga bayangannya. Produsen hanya menerima harga 78 persen dari harga yang seharusnya diterima bila tidak ada distorsi pada pasar output. Dalam hal ini peternak dan IPS sama-sama menerima harga yang lebih rendah dari harga yang seharusnya sehingga terjadi transfer pendapatan dari peternak kepada IPS. Kondisi ini mengakibatkan peternak lokal tidak mendapatkan insentif untuk meningkatkan produksinya. 3. Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Input-Output Kebijakan pemerintah pada input-output adalah analisis gabungan antara kebijakan input dan kebijkan output. Dampak kebijakan secara keseluruhan baik terhadap input maupun output dapat dilihat dari Koefisien Proteksi Efektif (EPC), Transfer Bersih (NT), Koefisien Keuntungan (PC), dan Rasio Subsidi bagi Produsen (SRP). a. Koefisien Proteksi Efektif (EPC) Koefisien proteksi efektif merupakan indikator dari dampak keseluruhan kebijakan input dan output terhadap sistem usahaternak sapi perah di Kecamatan Cikajang. EPC adalah rasio antara selisih penerimaan dan biaya input tradable yang dihitung pada harga aktual dengan selisih penerimaan dan biaya input tradable yang dihitung pada tingkat harga bayangan. Nilai EPC menggambarkan sejauh mana kebijakan pemerintah bersifat melindungi atau menghambat produksi domestik. Nilai EPC yang lebih besar dari satu (EPC>1) mengindikasikan bahwa kebijakan yang melindungi produsen domestik berjalan efektif. Sedangkan nilai EPC yang lebih kecil dari satu (EPC<1) menunjukkan kebijakan yang melindungi produsen domestik tidak berjalan efektif. Adapun nilai EPC yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah 0,77 (EPC<1) yang menunjukkan bahwa kebijakan input-output tidak dapat melindungi peternak lokal dan telah menghambat peternak untuk berproduksi. Peternak lokal dalam hal ini tidak memperoleh fasilitas proteksi dari pemerintah 70

karena harga privat output lebih kecil dari harga bayangannya dan peternak membeli input tradable lebih mahal dari harga bayangannya. b. Transfer Bersih (NT) Transfer bersih adalah selisih antara keuntungan bersih privat dengan keuntungan bersih sosialnya. Transfer Bersih dapat digunakan untuk melihat besarnya tambahan surplus produsen atau berkurangnya surplus produsen yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah. Nilai NT yang positif menunjukkan bahwa ada kebijakan insentif yang membuat surplus produsen bertambah, sedangkan nilai NT yang negatif mengakibatkan surplus produsen berkurang. Berdasarkan Tabel 13, nilai transfer bersih di lokasi penelitian adalah negatif 918,5 yang berarti adanya pengurangan surplus produsen sebesar Rp 918,5/liter yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang berlaku saat ini. Keuntungan yang diperoleh produsen pada kondisi adanya kebijakan pemerintah dan distorsi pasar saat ini lebih rendah Rp 584,688 dibandingkan kerugian apabila tidak ada campur tangan pemerintah. c. Koefisien Keuntungan (PC) Koefisien keuntungan adalah perbandingan antara keuntungan bersih privat dengan keuntungan bersih sosial. Koefisien keuntungan merupakan indikator yang menunjukkan dampak insentif dari semua kebijakan output, kebijakan input asing, dan input domestik (net policy transfer). Nilai PC yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah 0,46 atau lebih kecil dari satu yang berarti kerugian peternak bila ada pengaruh intervensi atau kebijakan dari pemerintah adalah sebesar 46 persen dari kerugian yang diterima tanpa adanya kebijakan. Angka tersebut menunjukkan keuntungan privat yang yang diterima peternak lebih kecil daripada keuntungan bersih sosialnya. d. Rasio Subsidi bagi Produsen (SRP) Rasio Subsidi bagi Produsen (SRP) merupakan rasio antara transfer bersih dengan penerimaan berdasarkan harga bayangan yang menunjukkan persentase subsidi atau insentif bersih atas penerimaan. Nilai SRP negatif (SRP<0) menunjukkan adanya kebijakan pemerintah yang berlaku menyebabkan produsen 71

mengeluarkan biaya produksi terhadap input lebih besar dari biaya imbangan untuk berproduksi. Niali SRP yang positif (SRP>0) menunjukkan bahwa adanya kebijakan pemerintah menyebabkan produsen mengeluarkan biaya produksi terhadap input lebih rendah dari biaya imbangan untuk berproduksi. Nilai SRP yang diperoleh dalam penelitian ini adalah negatif 0,24. Ini berarti bahwa kebijakan pemerintah yang berlaku selama ini menyebabkan produsen susu mengeluarkan biaya produksi lebih besar 24 persen dari biaya opportunity cost untuk berproduksi. Jadi secara keseluruhan kebijakan pemerintah merugikan peternak anggota KPGS sebagai produsen susu. 6.2 Dampak Penghapusan Tarif Impor Susu Analisis sensitivitas dilakukan untuk mensubstitusi kelemahan metode PAM yang hanya berlaku pada waktu yang relatif singkat dengan faktor-faktor yang sebenarnya sangat rentan untuk berubah. Analisis sensitivitas yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak penghapusan bea masuk susu impor dari lima persen menjadi nol persen serta untuk mengetahui nilai indikator daya saing jika tarif impor susu dinaikkan menjadi 15 persen karena tarif impor 15 persen menurut Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) sudah cukup adil bagi produsen dan konsumen komoditi susu segar. Penelitian ini lebih menekankan pada efek penghapusan tarif impor susu. Oleh karena itu, penelitian ini hanya menggunakan dua skenario analisis sensitivitas yaitu : 1. Daya saing komoditi susu jika tarif impor naik lima persen Analisis ini bertujuan untuk melihat dampak perubahan daya saing komoditi susu sapi segar yang dihasilkan peternak pasca penghapusan tarif impor susu oleh pemerintah. Analisis ini dilakukan karena diduga adanya penghapusan tarif impor susu menyebabkan daya saing komoditi susu sapi lokal menurun. 2. Daya saing komoditi susu jika tarif impor ditetapkan sebesar 15 persen Hal ini terkait dengan pernyataan Ketua GKSI bahwa tarif impor sebesar 15 persen cukup adil bagi peternak dan produsen serta dapat meningkatkan daya 72

saing dan posisi tawar peternak sapi perah lokal. Adanya pemberlakuan tarif impor senilai 15 persen diharapkan dapat melindungi peternak lokal dan memberikan insentif bagi peternak lokal untuk mengembangkan usahanya. Tabel 13 menunjukkan hasil analisis sensitivitas berdasarkan perubahan tarif impor. Menurut hasil analisis yang dilakukan, adanya penghapusan tarif impor susu mengurangi daya saing komoditi susu sapi lokal baik daya saing secara kompetitif maupun komparatif. Kebijakan pemerintah tersebut tidak memberikan insentif bagi peternak untuk meningkatkan produksi. Menurut hasil analisis yang ditampilkan pada Tabel 14, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai tarif impor maka semakin tinggi pula daya saing komoditi susu sapi segar yang dihasilkan oleh peternak anggota KPGS. Peningkatan daya saing tersebut ditandai dengan semakin tingginya nilai keuntungan privat dan sosial dan semakin kecilnya nilai PCR dan DRC. Tabel 14. Indikator Indikator-indikator dari Analisis Matriks Kebijakan pada Tiga Kondisi Tarif Impor Nilai 0% 5% 15% PP 787,9 913,2 1152,7 PCR 0,72 0,69 0,64 SP 1.706,5 1923,1 2682,9 DRC 0,54 0,51 0,33 IT 12,3 12,3 12,3 NPCI 1,07 1,07 1,07 FT 61,5 61,5 61,5 OT (844,8) (936,1) (796,3) NPCO 0,78 0,77 0,81 EPC 0,77 0,76 0,80 NT (918,5) (1009,8) (1530,2) PC 0,46 0,47 0,43 SRP (0,24) (0,25) (0,37) 73

6.2.1 Analisis Sensitivitas untuk Melihat Perubahan Daya Saing Susu Akibat Penghapusan Tarif Impor Susu dari Lima Persen Menjadi Nol Persen Menurut data yang diperoleh dari pihak KPGS, penghapusan tarif impor susu dari lima persen menjadi nol persen mengakibatkan penurunan harga kurang lebih Rp 200/liter susu. Analisis ini menggunakan proporsi lima persen untuk proporsi perubahan harga dan menghasilkan asumsi bahwa penghapusan tarif impor susu sebesar lima persen menyebabkan harga susu impor turun sebesar Rp 172,43/liter, dari senilai 3.965,43/liter menjadi Rp Rp 3.785/liter. Penghapusan tarif impor tersebut diasumsikan juga menurunkan harga susu lokal dengan proporsi yang sama yaitu lima persen sehingga harga susu lokal turun sebesar Rp145,87/liter, dari Rp 3.063,35/liter menjadi Rp 2.930,48/liter. Adanya perubahan pada harga output tersebut akan merubah keuntungan yang diterima baik secara finansial maupun ekonomi. Dampak penghapusan tarif impor sebesar lima persen adalah penurunan daya saing susu sapi lokal. Hal ini ditunjukkan dengan berkurangnya nilai keuntungan privat dari Rp 913,2/liter pada saat tarif impor susu lima persen menjadi Rp 787,8/liter. Penurunan keuntungan privat tersebut diikuti dengan semakin tingginya nilai PCR yaitu dari 0,69 pada kondisi tarif impor lima persen menjadi 0,72 pada kondisi tarif impor nol persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa susu produksi anggota KPGS mengalami penurunan efisiensi secara finansial dan penurunan keunggulan kompetitif dalam kondisi persaingan dengan susu impor. Jadi, adanya penghapusan tarif impor susu dari lima persen menjadi nol persen menurunkan keuntungan privat dan sosial. Hal ini menyebabkan adanya penurunan daya saing komoditi susu sapi lokal baik dari aspek keunggulan kompetitif maupun keunggulan komparatif. Padahal dengan tarif impor sebesar lima persen saja, nilai DRC lebih kecil dari nilai PCR yang mengindikasikan adanya pengaruh intervensi pemerintah atau distorsi pasar yang tidak memberikan insentif yang baik kepada peternak sapi perah sehingga keuntungan privat yang dihasilkan menjadi lebih rendah dibandingkan keuntungan yang diperoleh tanpa adanya intervensi pemerintah terhadap input produksi dan distorsi pada pasar 74

output saat itu. Distorsi pada pasar output diindikasikan oleh adanya fenomena IPS yang cenderung memilih untuk lebih menggunakan susu impor walaupun harga susu impor lebih mahal. Kondisi ini menunjukkan bahwa pada saat kondisi tarif impor lima persen, pemerintah bahkan belum memberikan kebijakan yang efektif yang dapat dilihat dari nilai EPC yang lebih kecil dari satu, nilai NT yang negatif, serta nilai PC dan SRP yang lebih kecil dari satu. Akibatnya, penghapusan tarif impor susu semakin membuat daya saing susu sapi lokal menurun. 6.2.2 Analisis Sensitivitas Jika Tarif Impor Ditetapkan 15 Persen Menurut ketua GKSI, tarif impor yang sesuai untuk melindungi produk susu sapi lokal adalah 15 persen. Tarif impor sebesar 15 persen diperkirakan cukup adil bagi peternak dan produsen serta dapat meningkatkan daya saing dan posisi tawar peternak sapi perah lokal. Adanya pemberlakuan tarif impor senilai 15 persen diharapkan dapat melindungi peternak lokal dan memberikan insentif bagi peternak lokal untuk mengembangkan usahanya. Dengan tarif impor susu 15 persen, maka harga susu rata-rata di tingkat peternak diperkirakan senilai Rp 3369,50/liter dimana harga susu rata-rata di tingkat peternak dengan tarif impor nol persen adalah Rp 2930,48/liter. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan keuntungan privat di tingkat peternak sebesar Rp 439,02/liter susu, dari Rp Rp 915,2/liter menjadi Rp 1152,7/liter. Peningkatan keuntungan privat tersebut diikuti dengan penurunan nilai PCR dari 0,69 pada saat tarif impor nol persen menjadi 0,64 pada saat tarif impor 15 persen. Peningkatan nilai keuntungan privat dan penurunan nilai PCR tersebut mengindikasikan bahwa keunggulan kompetitif komoditi susu sapi yang dihasilkan peternak meningkat jika tarif impor ditetapkan sebesar 15 persen. Peningkatan keunggulan kompetitif jika tarif impor ditetapkan sebesar 15 persen juga diikuti dengan peningkatan keunggulan komparatif. Hal ini ditandai dengan meningkatnya keuntungan sosial dari Rp 1923,1/liter menjadi Rp 2682,9/liter dan menurunnya nilai DRC dari 0,51 menjadi 0,33. 75

Akan tetapi, penetapan tarif impor sebesar 15 persen belum menunjukkan adanya kebijakan pemerintah yang efektif untuk melindungi dan mendorong pengembangan peternakan sapi perah. Hal ini ditunjukkan dengan nilai DRC yang masih lebih kecil dari PCR, nilai EPC yang lebih kecil dari satu, nilai NT yang negatif, serta nilai PC dan SRP yang juga masih lebih kecil dari satu. 6.3 Implikasi Kebijakan Hasil analisis keuntungan privat dan daya saing komoditas susu segar sapi perah diketahui bahwa keuntungan privat usahaternak sapi perah pada saat bea masuk nol persen adalah 787,9 rupiah per liter, saat bea masuk lima persen adalah 913,2 rupiah per liter dan ketika bea masuk 15 persen adalah 1152,7 rupiah per liter. Kondisi awal terjadi saat bea masuk mencapai lima persen kemudian pemerintah menghapuskan bea masuk menjadi nol persen, hal ini mengakibatkan penurunan pendapatan petrnak akibat penurunan bea masuk. Walaupun pendapatan usahaternak mengalami penurunan, namun komoditas susu segar masih memiliki keunggulan kompetitif maupun komparatif. Hal ini dapat dicermati dari nilai PCR dan DCR yang bernilai kurang dari satu. Hal tersebut menunjukan bahwa penurunan bea masuk telah mengakibatkan daya saing komoditas susu segar sapi perah di tempat penelitian menjadi berkurang. Daya saing yang makin menurun akibat dari penurunan bea masuk mendorong dan memfasilitasi koperasi untuk melakukan pengolahan sederhana susu segar (pasteurisasi dan pengemasan susu segar, pengolahan menjadi yoghurt, keju dsb). Hal ini disertai dengan program promosi secara luas kepada masyarakat tentang manfaat minum susu segar. Langkah ini diperlukan untuk mengantisipasi turunnya bea masuk yang dapat mengakibatkan IPS kembali mengimpor sebagian dari bahan baku susunya dari luar negeri sehingga serapan SSDN menurun drastis. 76