BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Koridor jalan Seturan Raya merupakan kawasan yang memiliki resiko tindakan kejahatan yang relatif tinggi, terutama pada malam hari.catatan dalam dua tahun terakhir mencatat terdapat 4 jenis tindakan kriminal yang pernah terjadi di Jalan Seturan Raya. Tindakan-tindakan kriminal tersebut adalah sebagai berikut: a) Tindakan kriminal perkelahian dan penyerangan b) Tindakan kriminal pencurian kendaraan c) Tindakan kriminal penjambretan d) Tindakan kriminal vandalisme (graffiti) Melalui penelitian yang telah dilakukan ditemukan bahwa ada hubungan antara pemanfaatan ruang pada malam hari di Jalan Seturan Raya dengan resiko tindakan kejahatan.terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi adanya resiko tindakan kriminal di Koridor jalan Seturan Raya. a) Variabel-variabel yang berpengaruh terhadap tindakan perkelahian dan penyerangan berturut-turut adalah keragaman aktivitas. aksesibilitas, pencahayaan, dan pengawasan. b) Variabel-variabel yang berpengaruh terhadap tindakan pencurian kendaraan berturut-turut adalah aksesibilitas, keragaman aktivitas, pengawasan dan pencahayaan. c) Variabel-variabel yang berpengaruh terhadap tindakan penjambretan adalah keragaman aktivitas. aksesibilitas, pengawasan, dan pencahayaan. d) Variabel-variabel yang berpengaruh terhadap tindakan vandalisme (graffiti) adalah keragaman aktivitas, aksesibilitas dan pengawasan. 126
Dari hasil penilaian tersebut terdapat empat variabel yang berpengaruh paling dominan dalam mempengaruhi resiko terjadinya tindakan kriminal yaitu variabel keragaman aktivitas, aksesibilitas, pencahayaan, dan pengawasan. 6.2. Saran Penggunaan ruang pada malam hari dalam konsep kota 24 jam tidak hanya memberikan dampak positif bagi perkembangan kota dari sisi ekonomi, budaya hingga perkembangan kota, tetapi juga menimbulkan beberapa dampak negatif. Kondisi seperti ini dapat secara jelas menjelaskan fenomena yang terjadi di Jalan Seturan Raya. Jalan Seturan Raya yang beberapa tahunterakhir berkembang dengan pesat, memberikan begitu banyak manfaat bagi perkembangan kota dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Namun demikian, kawasan yang aktif pada malam hari ini juga menimbulkan dampak negatif, baik di dalam dan pengaruhnya bagi kawasan di sekitarnya. Salah satu isu yang berkembang adalah bahwa perkembangan kawasan ini sebagai kawasan yang aktif di malam hari menimbulkan adanya resiko tindakan kriminal di dalam kawasan ini sendiri. Melalui penemuan-penemuan tersebut dapat disuimpulkan bahwa perlu ada upaya peningkatan kualitas perancangan lingkungan yang bertujuan : a) Meminimalisir dampak terjadinya tindakan kriminal sebagai salah satu pemenuhan kebutuhan akan rasa aman di masyarakat sehingga salah satu persyaratan keberlanjutan ruang-ruang perkotaan dapat tercapai. b) Sebagai upaya penciptaan ruang-ruang perkotaan yang aman bagi seluruh warga kota. c) Mengoptimalkan kontribusi penggunaan ruang-ruang di malam hari dengan cara meminimalisir dampak-dampak negatif. d) Menciptakan keadilan dalam penggunaan ruang. 127
Untuk itu terdapat beberapa rekomendasi sebagai masukan perancangan lingkungan dalam penciptaan ruang kota yang aman. Dalam hal ini rekomendasi ditujukan pada perencanaan Koridor jalan Seturan Raya : Tabel 6.1 Rekomendasi Perancangan Lingkungan Aspek Pencahayaan Aksesibiltas Rekomendasi Adanya perbaikan sistem pencahayaan secara menyeluruh. Beberapa lokasi yang kurang mendapat pencahayaan yang memadai yaitu jalur pedestrian, jalan-jalan kecil ke area permukiman dan area parkir. 1. Untuk kelompok ruko, area parkir dibatasi oleh elemen pagar maupun vegetasi untuk membatasi keluar masuk individu. 2. Untuk kawasan-kawasan komersil seperti di koridor Jalan Seturan Raya hendaknya area parkir disediakan secara komunal di beberapa lokasi agar lebih mudah dalam pengawasan dan kontrol akses. 3. Area parkir harus dilengkapi dengan slot atau pembatas agar sistem perparkiran menjadi teratur dan meningkatkan kontrol akses. 4. Pembuatan kantung-kantung parkir pada lahan-lahan tidur sebagai upaya mengiliminasi kantung-kantung parkir liar yang memiliki resiko tinggi. 5. Pengadaan jalur pedestrian untuk meningkatkan pengawasan secara pasif. 6. Perbaikan secara menyeluruh jalur pedestrian dengan pencahayaan yang memadai. 7. Penciptaan akses-akses masuk dan keluar bangunan secara jelas dengan menggunakan pintu, pagar maupun vegetasi-vegetasi tertentu. (1 pintu masuk-1 Pintu keluar) 8. Membatasi akses masuk dan keluar area parkir agar lebih mudah dilakukan pengawasan.(1 pintu masuk-1 pintu keluar) Bersambung 128
Lanjutan Tabel 6.1 Pengawasan Kepemilikan Ketersediaan Fasilitas Pendukung 1. Penempatan fasilitas-fasilitas keamanan semisal pos polisi dan CCTV akan mengurangi resiko tindakan krimninal. 2. Elemen jendela tidak tertutup material apapun agar pengawasan dari dalam keluar bangunan dapat terjamin. 3. Ada akses dari dalam bangunan untuk melihat ke area luar bangunan melalui elemen jendela. 4. Menghindari penciptaan area parkir yang terlalu luas (yang di bebankan kepada satu petugas) karena akan mempersulit pengawasan. 1. Perbaikan pedestrian yang menimbulkan kesan pembagian ruang-ruang secara jelas melalui material tertentu seperti pagar, vegetasi, elevasi, dan perbedaan permukaan paving block. 2. Melengkapi bangunan dengan material pagar dan gerbang agar memperjelas kepemilikan sehingga menimbulkan rasa segan bagi orang asing untuk mengakses area-area privat. 3. Mengeliminasi keberadaan lahan-lahan tidur dengan membangun pusat aktivitas (semisal taman PKL) untuk menghidupkan kawasan. 4. Upaya menghidupkan kembali toko-toko yang tidak aktif agar aktivitas di kawasan dapat berkelanjutan. 5. Bagian depan bangunan-bangunan harus membentuk transisi antara area privat dan publik dengan menggunakan perbedaan tekstur paving block, pagar, vegetasi dan perbedaan ketinggian maupun elevasi. Menyediakan fasilitas pendukung berupa : 1. Pusat informasi. 2. Rambu jalan 3. Penanda parkir 4. Pos Polisi 129
Lanjutan Tabel 6.1 Keragaman Aktivitas Tingkat Pemeliharaan 1. Menempatkan lokasi-lokasi yang rawan secara proporsional. Sebagai contoh menempatkan shelter bus pada bagian depan apotek yang beroperasi 24 jam sehingga pengawasan dapat dilakukan. 2. Menciptakan event-event tertentu secara rutin agar kawasan tetap hidup. 3. Penciptaan taman-taman PKL dengan memanfaatkan keberadaan lahan-lahan tidur. 4. Mensyaratkan fungsi guna lahan campuran dengan sistem insentif. 1. Penanaman vegetasi di sepanjang jalan dan jalur pedestrian. 2. Penciptaan taman-taman dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur. 3. Perbaikan kondisi jalur pedestrian. 4. Pembersihan kawasan dari segala tindak vandalisme agar timbul kesan kawasan terawat dengan baik. Sumber : Olahan Berbagai Sumber 130