V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 5.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan Perusahaan resmi bernama Mitra Mina Nusantara pada tahun 2010, sebelumnya usaha pemasaran benih ikan air tawar yang dirintis sejak tahun 2007 oleh mahasiswa Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor (IPB), yaitu Agus Purnomo dan Prawira sempat berganti nama dua kali terkait perubahan manajemen perusahaan. Nama pertama PT MMN adalah Mina Nusantara Abadi hasil kerjasama Agus, Prawira, dan Toto. Dengan keterbatasan modal, Agus yang saat itu berstatus mahasiswa departemen budidaya perikanan IPB meminjam kolam laboratorium budidaya perikanan untuk menjalankan usahanya. Kerjasama mulai dilakukan dengan PT Cherax Farmindo Makmur dan pengiriman benih patin pun dilakukan. Sebagai orang Palembang, Toto menyarankan untuk mulai memasarkan benih patin di sana karena pasar masih terbuka lebar. Akhirnya pengiriman ke Palembang mulai dilakukan dengan mengambil benih dari petani, kemudian dikirim. Pengiriman ke Palembang sudah dilakukan sampai tiga kali hingga didapatlah langganan. Selang beberapa bulan, permintaan benih ikan patin semakin bertambah banyak. Peluang itu dimanfaatkan dengan menampung benih ikan patin seukuran larva dari beberapa usaha pembenihan ikan di Bogor. Benih ikan patin tersebut kemudian ditawarkan ke beberapa perusahaan budidaya dan pembesaran ikan patin di berbagai daerah. Pada tahun 2008 PT Cherax Farmindo makmur mengalami kebangkrutan, sehingga hubungan kerjasama antara Mina Nusantara Abadi terputus. Ketersediaan benih patin seringkali fluktuatif karena pengaruh cuaca yang ekstrim sehingga tidak jarang perusahaan harus membeli benih ikan patin ke Subang, Jawa Barat untuk memenuhi permintaan pelanggannya. Kondisi usaha yang sedang menurun diiringi mundurnya Toto dari tim membuat Mina Nusantara Abadi akhirnya dibubarkan. Keinginan yang kuat untuk tidak tergantung kepada orang lain menimbulkan tekad yang kuat dari Agus dan Prawira untuk terus berusaha meskipun tanpa suntikan dana dari PT Cherax Farmindo Makmur. Ide untuk menjalankan bisnis pemasaran benih ikan semakin berkembang ketika melihat situasi dan peluang dimana saat itu pasaran di Palembang terbuka
lebar. Agus dan Prawira pun membuat Mitra Patin Indonesia dengan tambahan orang yaitu Yayat. Seiring dengan berjalannya waktu, usaha ini semakin ramai, namun pesaing juga semakin banyak jumlahnya. Awal tahun 2009, terjadi penurunan permintaan benih ikan patin secara drastis. Hal ini disebabkan karena harga ikan patin konsumsi jatuh dari harga Rp 12.000 18.000 per kg menjadi Rp 8.000 9.000 per kg begitu pula dengan harga benih. Pada saat itu harga benih ikan patin hanya mencapai Rp 60 per ekor. Keadaan ini menyebabkan para pembudidaya ikan patin mengurangi aktivitas pembesaran patin dan beralih ke ikan jenis lain. Keadaan ini membuat usaha pembibitan ikan milik Agus jatuh karena banyak bibit yang tidak terjual. Pada Januari 2009, mobil yang mengantarkan benih ikan masuk ke dalam jurang dan hancur. Dua minggu setelah peristiwa itu, mobil yang dipakai untuk mendistribusikan benih ke Palembang terbalik. Kedua peristiwa ini menyebabkan supir luka-luka dan benih ikan banyak yang mati. Berbagai kendala ini diiringi dengan masalah internal yang terjadi. Pada April 2009 kongsi antara Agus, Prawira, dan Yayat berakhir dan Mitra Patin Indonesia bubar. Seiring dengan berakhirnya Mitra Patin Indonesia, Agus dan Prawira tetap melanjutkan usaha mereka. Pemasaran benih ini terus dilakukan walaupun dengan modal minus di petani. Pembayaran dilakukan dengan sistem hutang, mereka mengambil benih dari petani dan baru membayarnya ketika mereka sudah mendapat bayaran dari konsumennya. Hal ini terus berlanjut hingga Desember 2009. Pada awal 2010, Agus menawarkan kerjasama dengan Fauzan, dan mereka tergabung dalam Mitra Mina Nusantara yang berarti usaha perikanan yang bergerak secara nasional dengan konsep kemitraan (bukan monopoli). Mitra Mina Nusantara telah berubah bentuk usaha menjadi perseroan terbatas per 21 Maret 2011. Saat ini PT Mitra Mina Nusantara bergerak dibidang distribusi benih (patin, lele, nila, lobster, bawal, baung, gurame, grasscarp, dll), obat-obatan, perlengkapan ikan hias, dan pakan ke seluruh Indonesia serta melakukan budidaya patin ukuran ¾ inch hingga menjadi 1 inch keatas, ikan hias dan lobster. Hingga saat ini jumlah pengiriman per bulan berkisar antara 600.000 3.000.000 ekor benih dengan nominal omzet mencapai Rp 60 200 juta per bulan.
5.2 Visi, Misi, dan Budaya Perusahaan Visi PT Mitra Mina Nusantara adalah menjadi perusahaan yang kompetitif, terbaik, terbesar, memiliki merek yang kuat, terus hidup, makmur, dan visioner. Misi perusahaan adalah: 1. Menjadi perusahaan pertama yang mengembangkan pola kemitraan yang baik dan unik. 2. Menjadi perusahaan terbaik karena memiliki tim kerja yang baik. 3. Menjadi perusahaan besar karena memiliki orang-orang yang berdedikasi. 4. Memberikan kontribusi kepada lingkungan sekitar. 5. Mengembangkan kemakmuran karena kami percaya bahwa kami akan makmur ketika mengerjakan sesuatu yang kami cintai. 6. Melakukan yang terbaik karena kami tahu apa yang dilakukan. 5.3 Lokasi Perusahaan PT Mitra Mina Nusantara berlokasi di Jalan Raya Cogreg, Desa Cogreg, Kampung Kandang, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor. Tepatnya di Johannes Fish Farm yang merupakan hatchery ikan hias air tawar terbesar di Asia Tenggara dengan luas mencapai 4 hektar dengan fasilitas 10.000 akuarium, 900 bak dan puluhan kolam tanah. 5.4 Organisasi dan Manajemen Perusahaan Struktur organisasi pada PT Mitra Mina Nusantara termasuk struktur organisasi lini karena struktur organisasi ini berskala kecil dimana jumlah karyawan yang dibutuhkan sedikit, hubungan kerja antara pemimpin dan para pekerja masih bersifat langsung, dan semua anggota organisasi masih mengenal satu sama lain. Dalam organisasi ini staf bukan sekedar pelaksana tugas tetapi juga diberikan wewenang untuk memberikan masukan demi tercapainya tujuan secara baik. Demikian juga pimpinan tidak sekedar memberikan perintah atau nasehat tetapi juga bertanggung jawab atas perintah atau nasehat tersebut. Rasa solidaritas antar anggota cukup baik karena saling mengenal, disiplin dan loyalitas sangatlah tinggi. Hierarki perusahaan dapat dilihat pada Gambar 14.
Dewan Komisaris Direktur Utama (CEO) Sekretaris dan Bendahara Direktur Operasional Trading Produksi Ikan hias Pembenihan LAT Toko Ikanku Aquascape General Manager Operasional Manajer Distribusi & Marketing Fillet Pembesaran LAT Manajer Input Gambar 14. Struktur Organisasi PT Mitra Mina Nusantara PT Mitra Mina Nusantara dalam pelaksanaan kegiatan operasionalnya dipimpin oleh seorang direktur operasional yang bertanggung jawab terhadap seluruh pelaksanaan kegiatan dan menjadi pengambil keputusan. Tugas masing-masing bagian pada perusahaan adalah: 1. General Manajer Operasional a. Mengkoordinasikan seluruh kegiatan purchasing, distribusi dan marketing. b. Memelihara pasar untuk menjaga omzet penjualan.
c. Mengontrol penerapan kebijakan dalam bidang operasional. d. Bertanggung jawab dalam pencapaian target yang telah ditetapkan perusahaan dalam bidang operasional. e. Analisa data dari kegiatan operasional purhasing, distribusi dan marketing. f. Bertanggung jawab kepada Direktur Utama. 2. Manajer Input Tugas manager purchasing untuk membantu GM Operasional adalah: a. Membuat perencanaan pembelian bahan baku. b. Membuat prediksi order ke supplier. c. Melakukan analisa harga bahan baku. d. Bertanggung jawab kepada GM Operasional. 3. Manager Distribusi dan Marketing Tugas manager distribusi dan marketing untuk membantu GM Operasional adalah: a. Membuat perencanaan dan anggaran dalam bidang distribusi dan marketing. b. Melakukan pengembangan di bidang marketing dan distribusi. c. Melakukan koordinasi antar bagian agar tercapainya target perusahaan. d. Mengatasi permasalahan di bidang distribusi dan marketing. e. Membuat laporan secara periodik kepada GM Operasional tentang perkembangan distribusi dan marketing. f. Menjaga hubungan baik dengan konsumen. 5.5 Unit Bisnis PT Mitra Mina Nusantara memiliki tujuh unit bisnis dimana semua unit terintegrasi untuk mencapai tujuan perusahaan, yaitu: 1. Trading Unit bisnis ini berfungsi untuk membina petani plasma, mendistribusikan benih ikan, saprodi, fillet, lobster air tawar. Fillet dan lobster air tawar yang didistribusikan melalui unit trading dilakukan dalam jumlah sedikit. 2. Produksi Ikan Hias
Unit bisnis ini berfungsi untuk memproduksi ikan hias. Ikan hias yang diproduksi adalah black ghost, neon tetra, red house, dan red phantom. Pemasaran ikan hias hasil produksi dijual kepada eksportir ikan hias, yaitu PT Natura yang berada di daerah Bekasi. 3. Pembenihan Lobster Air Tawar Fungsi utama unit ini adalah memproduksi benih lobster air tawar. 4. Toko Ikanku Toko ikanku menjual ikan hias secara retail (eceran). 5. Aquascape Aquascape masih dalam tahap pengembangan dan belum diluncurkan. 6. Pembesaran Lobster Air Tawar 7. Fillet Unit usaha fillet memproduksi fillet ikan lele, patin, dan nila. Unit usaha ini masih dalam tahap coba-coba dimana penjualan masih kurang dari 100 kg per bulan. 5.6 Tenaga Kerja Tenaga kerja di PT Mitra Mina Nusantara terdiri dari tenaga kerja tetap dan tenaga kerja harian. Tenaga kerja tetap adalah, tenaga kerja yang bekerja secara permanen, tenaga kerja tersebut terdiri dari staf perusahaan yang menerima gaji setiap bulan. Tenaga kerja harian adalah tenaga kerja yang dihitung per hari dalam pemberian gaji dan dapat ditambah sewaktu-waktu pada saat perusahaan memerlukannya. PT MMN mempekerjakan 20 orang pegawai tetap (3 SD, 4 SMP, 6 SMA, 6 S1, 1 S2) dan 2 orang pegawai tidak tetap (supir). Untuk menunjang permintaan pasar, PT MMN juga membina 6 orang petani plasma pembenihan patin yang keseluruhannya mempekerjakan lebih dari 20 orang pegawai. Jumlah hari kerja di PT MMN adalah enam hari kerja, dalam penetuan hari libur per minggu ditentukan berdasarkan kesepakatan dari karyawan. Berdasarkan jam kerja karyawan. Pemberian gaji karyawan ditentukan berdasarkan jabatan, lama bekerja, dan jenis pekerjaan. PT MMN berusaha tetap memperhatikan kesejahteraan karyawannya dengan memberikan fasilitas, berupa tunjangan hari
raya, tunjangan kecelakaan, tunjangan kesehatan, tunjangan pernikahan, dan lainlain. 5.7 Kegiatan Perusahaan Kegiatan perusahaan yang dilakukan oleh PT Mitra Mina Nusantara pada unit pemasaran benih ikan dibagi menjadi tiga bagian. Ketiga bagian tersebut yaitu kegiatan pengadaan benih ikan, proses penanganan, dan distribusi benih ikan. 5.7.1 Pengadaan Benih Ikan Benih ikan yang dipasarkan PT MMN diperoleh dari petani pemasok dan mitra (supplier). Petani-petani tersebut berasal dari daerah Bogor dan Sukabumi. Pengadaan benih ikan dilakukan oleh Iwan selaku penanggung jawab input di unit pemasaran (trading). Pada sistem pengadaan barang, pemesanan barang kepada supplier didasarkan pada jumlah permintaan pelanggan. Order atau pemesanan dari setiap pelanggan akan dimasukkan ke dalam data order pada lembar Purchasing Order (PO), yang merupakan tugas dari bagian trading. Order atau pemesanan barang yang telah terdata dan masuk ke dalam data order kemudian diserahkan ke penanggung jawab input, untuk kemudian ditangani selanjutnya pada bagian pengadaan input. Penangung jawab input memeriksa keberadaan pasokan di petani mitra setiap minggunya sehingga ketersediaan ikan terus terjaga. Kemitraan yang dilakukan PT MMN dengan petani plasma membuat petani memiliki standar untuk benih yang mereka hasilkan. Ketika ada pesanan benih ikan untuk dikirim pada tanggal tertentu, maka penanggung jawab input akan bertugas untuk mencari sumber ikan di petani, apakah suplai yang ada di petani memenuhi jumlah pesanan. Pengecekan dilakukan dua hari sebelum pengiriman. Petani pemasok yang ditetapkan dapat lebih dari satu. Hal ini dilakukan sebagai cadangan apabila benih di salah satu petani tidak memenuhi quota pesanan dan salah satu sumber memiliki benih ikan yang tidak sesuai standar. Penanggung jawab input harus memperhatikan kesehatan dan ukuran ikan pesanan. Pastikan ikan yang akan dikirim sehat, jika tidak yakin, maka ia diharuskan mencari gantinya serta
pastikan ukuran ikan dengan penggaris. Sebelum diangkat, ikan harus sudah disortir. Sortasi dilakukan sejak ikan masih didalam kolam petani, tepatnya dua hari sebelum ikan tersebut dipindahkan. Sortasi adalah memisahkan benih ikan sesuai dengan standar-standar yang telah ditentukan oleh perusahaan dan sesuai dengan keinginan pelanggan. Standar-standar yang ditetapkan yaitu: a. Merupakan hasil sortiran 1 dan 2 (sortiran 3 tidak dijual). b. Benih seragam, tidak ada yang hitam, berwarna bening, ukuran ikan terlihat rata. c. Ukuran pasti pas. d. Tidak dipelihara pada suhu tinggi. e. Sudah makan pelet. Tujuan dilakukannya sortasi adalah: 1. Mendapatkan benih ikan yang memiliki keseragaman, baik ukuran maupun kualitas. 2. Mempermudah di dalam pengiriman. 3. Mendapatkan harga yang tinggi di pasaran. 4. Mengurangi risiko kematian ikan di perjalanan. 5. Mempermudah perhitungan dan mempermudah pembeli untuk mendapatkan ikan dengan ukuran sesuai dengan keinginannya. 5.7.2 Proses Penanganan Ikan-ikan yang dipesan diterima di farm dan menjadi tanggung jawab penanggung jawab input dan perawat ikan. Ikan yang diterima kemudian dicek antara jumlah timbangan dengan jumlah pesananan perusahaan ke petani, kondisi fisik dari produk, dan kesesuaian jenis benih serta ukuran benih yang dipesan. Kriteria ikan baik antara lain tidak ada yang hitam, berwarna bening, ukuran ikan terlihat rata atau seragam ketika di akuarium, ukuran hampir seragam sebelum disortir, dan sebelum diangkat, ikan harus sudah disortir dan dipelihara selama 2 hari di petani. Setelah dicek, kemudian ikan tersebut akan dilanjutkan ke proses penanganan. Pada proses penanganan, sebelum benih ikan tersebut didistribusikan, terlebih dahulu dilakukan beberapa perlakuan untuk
mempertahankan mutu benih ikan agar benih ikan yang didistribusikan ke pelanggan memiliki kualitas yang baik. Kegiatan proses penanganan yang dilakukan dibedakan menjadi dua hal. Perbedaan proses penanganan dipengaruhi oleh ukuran benih ikan yang dipesan. Benih ikan ukuran 2 inchi jarang dibudidayakan petani namun memiliki permintaan tinggi, kurang lebih 200.000 ekor tiap bulannya. PT MMN mensiasatinya dengan melakukan pendederan benih ukuran ¾ inchi selama sebulan hingga menjadi 2 inchi lalu menjualnya. Proses penanganan untuk kejadian ini diantaranya penerimaan ikan ukuran ¾ inchi dari petani pemasok dengan melakukan pengecekan beberapa hal, melakukan perawatan ikan hingga ikan siap dipanen, pengemasan, dan pembagian. Keadaan kedua ketika ukuran benih yang dipesan adalah ¾ inchi dan 1 inchi ke atas, maka proses penanganannya berupa penerimaan benih ikan dari petani pemasok dengan melakukan pengecekan kondisi ikan, pengemasan ulang, dan pembagian. Pada keadaan pertama, hal-hal yang dilakukan ketika ada ikan yang datang, diantaranya: 1. Penanggung jawab input harus memastikan ikan tidak terlalu lama di kantong, maksimal 6 jam (jika lebih dari 6 jam harus di-repack) atau dibawa bertahap. 2. Sebelum ikan dibawa, penanggung jawab input harus menghitung jumlah kantong dan melakukan sampling jumlah ikan dalam kantong sebanyak 3-5 kantong. 3. Setelah sampai di farm, perawat ikan juga harus menghitung jumlah kantong dan melakukan sampling jumlah ikan dalam kantong sebanyak 3-5 kantong secara acak. 4. Ikan dimasukkan ke dalam akuarium dan air yang ada di dalam kantong diusahakan tidak ikut dimasukkan ke dalam akuarium. 5. Sebisa mungkin ikan tidak terlalu lama berada di udara, tidak terlalu banyak diserok sehingga tidak menimbulkan lecet atau luka di badan ikan. 6. Ikan baru diberi makan keesokan harinya atau 1 x 12 jam setelah ikan masuk akuarium.
Kegiatan perawatan ikan dilakukan selama selang waktu ketika ikan datang hingga waktu panen dan ikan siap dikirim ke konsumen. Perawatan ikan terdiri dari: 1. Pengadaan pakan a. ukuran ikan ¾ 1. Ikan diberi makan cacing sampai bisa diberi makan pellet. 2. Cacing yang digunakan sebisa mungkin tidak menggunakan cacing takaran. 3. Cacing diberok minimal 1 hari sebelum digunakan. 4. Jika menggunakan cacing tangerang maka cacing harus diberok 2-3 hari dan jika cacing tangerang belum siap digunakan maka lebih baik ikan dipuasakan sampai cacing siap. 2. Pemberian pakan a. Ikan diberi makan 2 3 kali sehari tergantung kondisi ikan dan air. b. Jika tidak bisa ganti air karena satu dan lain hal maka lebih baik ikan dipuasakan. c. Ketika pemberian pakan tidak boleh bersisa, lebih baik memberi pakan sedikit-sedikit sampai ikan kenyang. d. Ketika memberi pakan, ikan diusahakan menyebar supaya ikan tidak lecet dan dan makannya rata. 3. Sifon a. Sebelum memberi makan, air disifon atau diganti terlebih dahulu. b. Peralatan sifon sebaiknya dicuci 2 hari sekali. c. Apabila ketika menyifon ikan mati, bangkainya jangan berserakan. 4. Penggantian air a. Harus dipastikan air sudah diendapkan minimal 2 hari. b. Pergantian air dari ½ sampai semuanya tergantung kondisi ikan. c. Jika air di bak tandon tidak mencukupi atau kurang maka air bisa diganti secukupnya saja atau tidak perlu diganti. d. Pergantian air dilakukan setiap hari atau maksimal 3 hari sekali untuk akuarium dan 3-7 hari sekali untuk bak. e. Untuk bak sebisa mungkin disirkulasi atau dialiri air.
5. Pengobatan Penyakit ikan patin ada yang disebabkan oleh infeksi dan non-infeksi. Penyakit non-infeksi adalah penyakit yang timbul akibat adanya gangguan faktor yang bukan patogen. Penyakit non-infeksi ini tidak menular sedangkan penyakit akibat infeksi biasanya timbul karena gangguan organisme patogen, diantaranya jamur dan bakteri.ciri-ciri ikan yang sakit yaitu perut merah, insang atau kepala merah, badan lecet, dan renangnya berputar. 6. Pencatatan ikan mati Penyakit dapat membunuh ikan dan setiap hari harus dicatat jumlah ikan yang mati. 7. Panen Pada proses pemanenan, ikan harus dipuasakan 1 hari sebelum disortir. Untuk ikan yang akan dijual, ikan disortir 2 hari sebelum dijual. Proses penyortiran harus dilakukan secara hati-hati ikan tidak banyak yang mati. Panen merupakan rangkaian terakhir dalam kegiatan perawatan ikan sebelum akhirnya dilakukan proses yang sama untuk keadaan kedua, yaitu pengemasan dan pembagian sesuai konsumen dan wilayah pengiriman. Pada keadaan kedua, benih ikan yang datang diperiksa kembali kondisinya dan menjadi tanggung jawab pj input. Hal-hal yang diperiksa oleh pj input diantaranya kondisi fisik dari ikan, memastikan kesesuaian jenis produk yang dipesan, dan memastikan kesiapan perlengkapan untuk mengepak benih. Pada proses penanganan sebelum benih ikan didistribusikan, terlebih dahulu dilakukan beberapa perlakuan untuk mempertahankan kondisi benih ikan sejak di packing hingga sampai di tangan konsumen. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah sebagai berikut: 1. Benih ikan yang sudah disortir dua hari sebelumya ketika masih di kolam, dimasukkan ke dalam kantong plastik (sistem tertutup) atau gentong (sistem terbuka). 2. Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama dan penyakit serta bahan organik lainya.
3. Puasakan ikan, kalau bisa 24 jam untuk benih ukuran 1 atau 1 up dan 12 jam untuk benih ukuran ¾. 4. Ikan yang berasal dari petani yang satu harus dipisahkan dengan petani lainnya. Hal ini dilakukan untuk mencegah tertularnya penyakit dan membuat ikan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan barunya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengemasan benih ikan patin yaitu: 1. Jika menggunakan kantong plastik: a. Sediakan kantong plastik sesuai kebutuhan serta pastikan plastik tersebut baru atau kalau bekas sudah dicuci sebelumnya dan tidak bocor. b. Setiap kantong dibuat rangkap untuk menghindari kebocoran. Sediakan karet gelang untuk simpul sederhana. c. Benih ikan ditangkap dengan serokan halus kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik tadi. d. Air yang dipakai adalah air yang telah didinginkan. Suhu air mempengaruhi kemampuan air untuk mengikat oksigen. Makin rendah suhu, makin besar kemampuan air untuk menyerap oksigen. e. Satu persatu kantong diisi dengan oksigen murni. Perbandingan air dengan udara semaksimal mungkin (minimal perbandingan air:oksigen = 1:2). Setelah itu segera diikat dengan karet gelang rangkap. f. Oksigen harus masuk air, memasukkan oksigen dilakukan pelan-pelan agar ikan tidak stres. g. Oksigen sebanyak mungkin (semaksimal kantong). h. Ikan harus di kemas ulang sebelum berangkat (minimal ganti gas). i. Kantong-kantong plastik berisi benih dimasukkan kedalam kardus. Pengiriman ke wilayah Palembang dan jarak dekat, plastik tidak perlu dimasukkan ke dalam kardus. j. Lama pengangkutan. Benih ikan patin dapat diangkut selama 10 jam. Jika jarak yang hendak ditempuh memerlukan waktu yang lama maka satu-satunya cara untuk menjamin agar ikan tersebut selamat adalah dengan mengurangi jumlah benih ikan di dalam setiap kantong plastik. 2. Jika menggunakan gentong, hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
a. Gentong harus sudah bersih dan ada tutupnya. b. Tutup atas ada lubangnya. c. Penataan gentong diatur terlebih dahulu baru isi ikan. d. Penyerokan ikan jangan terlalu banyak dan sebisa mungkin ikan jangan stress, hindari stres ikan dengan sebisa mungkin mengurangi waktu ikan diluar air. e. Nyalakan aerasi saat ikan sudah digentong. f. Aerasi jangan terlalu kuat (kosongkan 1 lubang). Berdasarkan waktu dan jarak pengiriman, sistem pengangkutan terbagi menjadi dua, yaitu: 1. Sistem terbuka Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak jauh namun ditempuh melalui jalur darat dekat dan dalam jumlah pengiriman yang besar. Alat pengangkut berupa gentong. Keuntungan pengiriman dengan menggunakan gentong antara lain ketersediaan oksigen lebih banyak karena merupakan ruang terbuka sehingga apabila pengiriman melebihi jadwal, benih ikan tidak akan kehilangan oksigen. 2. Sistem tertutup Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak dekat dan jauh yang memerlukan waktu lebih dari 4-5 jam. Penggunaan sistem tertutup juga digunakan untuk pengiriman menggunakan kargo pesawat. Cara pengemasan benih ikan yang diangkut dengan kantong plastik: (1) masukkan air bersih ke dalam kantong plastik kemudian benih; (2) hilangkan udara dengan menekan kantong plastik ke permukaan air; (3) alirkan oksigen dari tabung ke kantong plastik sebanyak 2 / 3 volume keseluruhan rongga (air : oksigen = 1:1); (4) kantong plastik diikat; (5) kantong plastik dimasukkan ke dalam dus dengan posisi membujur atau ditidurkan. Dus yang berukuran panjang 0,5 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,5 m dapat diisi dua buah kantong plastik. Pada pengiriman untuk wilayah tertentu, plastik tidak perlu dimasukkan ke dalam kardus. Tahap terakhir pada bagian penanganan adalah proses pembagian benih ikan berdasarkan pesanan dari konsumen. Proses pembagian pesanan disesuaikan dengan jenis dan jumlah pesanan benih untuk pelanggan tertentu.
5.7.3 Kegiatan Distribusi PT MMN memiliki keunggulan dalam hal teknologi pengiriman benih ikan. Benih ikan yang berukuran kecil dan tidak tahan goncangan serta mudah mati dikemas sedemikian rupa dengan teknologi yang disesuaikan dengan kepadatan, waktu dan lokasi. Sebelumnya PT MMN juga mengalami berbagai masalah terkait pengemasan ikan yang kurang baik sehingga ikan lebih cepat mati, namun berkat beberapa trial and error akhirnya didapat standar baku dalam hal pengepakan ikan yang akan dikirim. Teknologi tersebut terletak pada standar tingkat kepadatan pada tiap pengiriman. Standar pengiriman menggunakan kargo bandara, adalah satu box terdiri dari 6 kantong ukuran 40x60 cm. Tiap kantong diisi 2,5 liter air, isi ikan tergantung ukuran, target lokasi kirim, dan skill penerima. Oksigen yang digunakan kurang lebih tiga kali volume air. Pengiriman darat dapat dilakukan dengan sistem terbuka maupun tertutup. Pengiriman menggunakan kantong dilakukan apabila jaraknya tidak terlalu jauh. Kantong ukuran 40x60 cm diisi 10 liter air dengan kadar oksigen semaksimal mungkin. Kantong tersebut berisi 750 hingga 1000 ekor ikan tergantung ukuran dan jarak. Penggunaan gentong digunakan apabila pesanan dilakukan dalam jumlah besar dan jarak yang jauh namun dapat ditempuh lewat jalur darat. Air yang digunakan dalam gentong kira-kira 200 liter (hingga gentong penuh) dengan jumlah ikan ukuran ¾ inchi 35.000-50.000 ekor, ukuran 1 inchi 30.000-40.000 ekor, 1,5inchi berisi 17.000-25.000 dan untuk ikan ukuran 2 inchi akan diisi 10.000-15.000 ekor. Distribusi benih ikan adalah menyalurkan benih ikan dari perusahaan sampai ke konsumen. Pendistribusian benih ini didasarkan pada pesanan tiap konsumen. Pengiriman benih ikan yang dilakukan PT MMN dilakukan dengan menggunakan motor, mobil, bus, dan pesawat tergantung jarak lokasi serta jumlah pesanan. PT Mitra Mina Nusantara memiliki jaringan pemasaran skala nasional dengan wilayah pengiriman yaitu Lampung, Sumatera Selatan (Linggau, Palembang, Kayu Agung, SP Padang, Indra Laya, Belitang, dll), Bengkulu, Jambi, Jawa Barat (Cirata, Jatiluhur, Saguling), Jawa Tengah (Salatiga, Magelang), Yogyakarta, Jawa Timur (Kediri, Sragen, Ngawi), Bali, Ternate, Papua (Sorong), Banjarmasin, Pontianak, Balikpapan, dan Tarakan. Pengiriman perbulan berkisar antara 600.000 3.000.000 ekor benih dengan omset 60 hingga 200 juta per
bulan. Sebagian pasar PT MMN ialah pedagang dan pendeder benih (90 persen) dengan pelanggan tetap lebih dari 6 orang. Pemasaran dilakukan melalui internet, pameran, alumni IPB, dan kunjungan langsung ke petani. 5.8 Rencana Pengembangan Usaha Pola pengembangan PT MMN ditujukan untuk memproyeksikan rencanarencana strategis pengembangan perusahaan jangka panjang. Selain benih, PT MMN berencana membuat unit pembuatan pakan murah, pengolahan ikan (fillet ikan, ikan asap) dan penjualan daging ikan segar untuk membantu penyaluran hasil produksi petani di daerah. Harga pakan yang mahal dan harga jual ikan yang fluktuatif mengakibatkan banyak petani yang gulung tikar karena rendahnya harga jual daging mereka. Dengan membangun unit pembuatan pakan murah, industri pengolahan dan unit penjualan ikan segar, PT MMN mengharapkan hal ini akan berdampak besar bagi petani daging di daerah. Berikut adalah deskripsi usaha yang direncanakan oleh PT MMN: a. Unit pembuatan dan penjualan pakan murah Target pasar : petani pembesaran ikan di Jabodetabek, Lampung, Sumatera Selatan (dari perkiraan benih yang jual, diperkirakan PT MMN dapat menjual 30 hingga 300 ton pakan per bulan) Formulasi pakan yang digunakan sesuai dengan bahan baku lokal daerah pemasaran sehingga harga pakan menjadi terjangkau b. Unit penjualan ikan segar Target pasar: eceran (rumah tangga), rumah makan/catering dan pemancingan. Wilayah incaran sementara berfokus di Jabodetabek, namun dapat dipasarkan pula ke seluruh Indonesia.