III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 22 Februari sampai dengan 21 Maret 2016 di wilayah Kecamatan Arjasa, Kecamatan Mangaran dan Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. B. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed method) kualitatif dan kuantitatif untuk mendapatkan hasil yang lebih komprehensif. Metode kualitatif merupakan penelitian yang berlandaskan pada filsafat yang digunakan untuk meneliti pada kondisi suatu obyek alamiah, bukan suatu eksperimen dimana peneliti adalah instrumen kunci. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu data yang akan dikumpulkan mula-mula disusun, ditabulasi, dijelaskan dan kemudian dianalisa (Sugiyono, 2009). Metode kuantitatif merupakan penelitian yang lebih menekankan pada aspek pengukuran secara obyektif terhadap fenomena sosial. Setiap fenomena sosial dijabarkan ke dalam beberapa indikator, setiap variabel yang ditentukan diukur dengan memberikan simbol-simbol angka. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menjelaskan suatu masalah tetapi menghasilkan generalisasi. Generalisasi adalah suatu kenyataan kebenaran yang terjadi dalam suatu realitas tentang suatu masalah yang diperkirakan akan berlaku pada suatu populasi tertentu (Sumanto, 1995). Metode dasar yang digunakan dalam metode penelitian ini adalah metode penelitian survei yaitu pengumpulan data dari jumlah individu dalam jangka waktu yang bersamaan melalui alat pengukur berupa daftar pernyataan yang berupa kuesioner (Singarimbun dan Effendi, 1995). 14
15 C. Teknik Penentuan Sampel 1. Metode Penentuan Lokasi Populasi dalam penelitian ini adalah peternak sapi potong di Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive sampling atau sengaja dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut letaknya dekat dengan tempat tinggal peneliti sehingga mempermudah dalam pelaksanaan penelitian, keadaan lokasinya dapat dijadikan tempat penelitian dengan populasi ternak sapi potong cukup tinggi yaitu 190.993 ekor (Dinas Peternakan, 2016) seperti yang tercantum pada Tabel 1. Potensi usaha peternakan sapi potong ini juga didukung dengan luas lahan pertanian basah 30.359,6367 ha dan luas lahan pertanian kering 27.938,3259 ha (Badan Pusat Statistik, 2013). Hal ini menunjukkan potensi limbah tanaman pangan sebagai pakan ternak sapi potong di daerah tersebut cukup tinggi. Tabel 1. Jumlah populasi ternak dan peternak sapi potong di Kabupaten Situbondo tahun 2016 Kategori No Kecamatan Populasi Ternak (ekor) Jumlah Peternak (orang) Populasi Tertinggi (>10.000) Ternak Populasi Ternak Sedang (5.000-10.000) 1 Arjasa 26.755 9.550 2 Banyuputih 21.800 6.645 3 Jangkar 19.833 7.891 4 Asembagus 19.015 6.583 5 Kendit 12.122 4.551 6 Panji 10.040 4.209 7 Kapongan 9.963 4.959 8 Bungatan 9.504 4.486 9 Mangaran 9.093 4.435 10 Sumbermalang 8.826 5.958 11 Mlandingan 8.663 4.120 12 Banyuglugur 7.570 3.308 13 Jatibanteng 6.909 4.425 14 Panarukan 6.775 3.637 15 Situbondo 5.144 1.555 Populasi Ternak 16 Suboh 4.630 2.636 Terendah (<5.000) 17 Besuki 4.371 3.010 Jumlah 190.993 81.958 Sumber : Dinas Peternakan (2016).
16 2. Metode Pengambilan Sampel Penelitian ini menggunakan metode pengambilan sampel peternak secara sengaja (purposive sampling) yaitu dengan memilih peternak di beberapa desa dari kecamatan terpilih yang memiliki ternak sapi potong minimal 1 ekor, pengalaman beternak minimal 2 tahun, umur peternak maksimal 64 tahun dan umur sapi lebih dari 6 bulan (lepas sapih). Penelitian ini melibatkan responden sebanyak 100 peternak sapi potong sesuai dengan pendapat Frankel dan Wallen (1993), yang menyatakan bahwa jumlah sampel penelitian deskriptif sebanyak 100. Responden ini diambil dari 16.995 peternak di beberapa desa pada Kecamatan Arjasa, Kecamatan Mangaran, dan Kecamatan Besuki berdasarkan pertimbangan bahwa lokasi tersebut memiliki populasi ternak tertinggi, sedang, dan terendah. Rumus pengambilan sampel menurut Mardikanto (2001) : Keterangan : Ni : jumlah sampel peternak pada kecamatan ke-i Nk : jumlah populasi peternak dari setiap kecamatan yang terpilih N : jumlah populasi peternak dari seluruh kecamatan yang terpilih 100 : jumlah responden yang dikehendaki Tabel 2. Jumlah responden peternak sapi potong di Kabupaten Situbondo tahun 2016 Kategori Jumlah Responden Populasi Kecamatan Peternak Desa Nk/N x 100 Ternak (Nk) Tinggi Sedang Rendah Arjasa Mangaran Besuki 9.550 4.435 3.010 Bayeman Curah Tatal Jati Sari Mangaran Trebungan Tanjung Kamal Blimbing Sumber Rejo Pesisir Jumlah (N) 16.995 100 Sumber : Dinas Peternakan (2016). 5 21 30 5 8 13 14 3 1
17 Sampel yang diambil dari penelitian selain dari peternak juga diambil dari unsur instansi pemerintah dan swasta terkait sebagai penentu kebijakan dibidang peternakan, dimana memiliki peran yang sangat penting dalam berlangsungnya usaha peternakan. Sampel yang diambil sebanyak 10 responden dengan metode pengambilan sampel dari instansi pemerintah dan swasta (blantik) secara kebetulan (convenience sampling) yaitu cara pengambilan sampel dengan maksud atau tujuan tertentu. Peneliti menganggap bahwa seseorang atau sesuatu yang diambil sebagai sampel memiliki informasi yang diperlukan bagi penelitiannya (Sunyoto, 2009). D. Metode Pengumpulan Data Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan melakukan wawancara kepada peternak menggunakan kuesioner. Metode pengumpulan data penelitian ini antara lain : 1. Data primer Data primer diperoleh dari hasil pendataan di lapangan dengan cara observasi dan wawancara langsung dengan para peternak menggunakan daftar kuesioner atau pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya. 2. Data sekunder Data sekunder meliputi kondisi geografis, luas lahan, tipe lahan, penggunaan lahan, luas panen, jenis dan jumlah produksi hasil pertanian, jenis dan populasi ternak sapi potong. Data sekunder diperoleh dari beberapa instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik Kabupaten Situbondo, Dinas Peternakan Kabupaten Situbondo, Kecamatan Arjasa, Kecamatan Mangaran, Kecamatan Situbondo dan berbagai sumber kepustakaan yang relevan. E. Teknik Pengumpulan Data Menurut Mangguli (2014), pengumpulan data dilakukan dengan beberapa metode yaitu :
18 1. Metode observasi Pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung pada objek penelitian untuk memperoleh data yang diperlukan. Peneliti mengamati secara langsung situasi dan kondisi. 2. Metode wawancara Metode wawancara merupakan suatu proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan melalui tatap muka antara peneliti dan responden yang dianggap mampu memberikan informasi dalam penelitian ini. Teknik wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu wawancara berpatokan, dimana peneliti melakukan wawancara secara langsung kepada responden dengan menggunakan bantuan daftar pertanyaan berstruktur (kuesioner) dengan tujuan pertanyaan wawancara lebih terarah dan jelas. 3. Dokumentasi Teknik dokumentasi digunakan sebagai alat atau pelengkap untuk membantu dalam penyusunan data-data yang berhubungan dengan kepentingan penelitian. 4. Pencatatan Pencatatan merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mencatat hal-hal yang diperlukan dalam penelitian. Data ini berasal dari data primer pada responden peternak dan data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait. 5. Studi pustaka Studi pustaka merupakan pengumpulan data yang berasal dari buku-buku, prosiding, jurnal ilmiah, internet dan lain-lain yang terkait dengan penelitian ini. F. Teknik Analisis Data Data hasil penelitian evaluasi pemanfaatan limbah tanaman pangan sebagai pakan ternak sapi potong dianalisis dengan menggunakan :
19 1. Analisis deskriptif Suatu metode penganalisaan data dengan cara pengumpulan data, penyusunan dan penggambaran serta pendeskripsian suatu konsep. Analisis ini menggambarkan tujuan penelitian yaitu karakteristik umum peternak, sistem pemeliharaan dan penggunaan limbah tanaman pangan sebagai pakan ternak sapi potong (Mattjik dan Sumertajaya, 2000). 2. Analisis SWOT a. Analisis kualitatif Data primer yang bersifat kualitatif dipaparkan secara deskriptif dan diuji menggunakan matriks SWOT. Analisis SWOT digunakan untuk mengetahui pengaruh internal dan eksternal pemanfaatan limbah tanaman pangan sebagai pakan ternak sapi potong atas kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman serta perumusan strategi pengembangan berdasarkan potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Situbondo. Menurut Rangkuti (2001), kinerja suatu perusahaan dapat ditentukan oleh kombinasi faktor lingkungan internal strength (S) dan weakness (W) serta lingkungan eksternal opportunity (O) dan threats (T) yang dihadapi dunia bisnis, kedua faktor tersebut harus dipertimbangkan dalam analisis SWOT. Matriks SWOT dipakai untuk menyusun faktor-faktor strategis perusahaan. Matriks SWOT ini menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan dapat diselesaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Tabel 3. Matriks SWOT Kekuatan-S Kelemahan-W Daftar Kekuatan Daftar Kelemahan Peluang-O Strategi S-O Strategi W-O Daftar Peluang Gunakan kekuatan Atasi kelemahan untuk memanfaatkan peluang dengan memanfaatkan peluang Ancaman-T Strategi S-T Strategi W-T Daftar Ancaman Gunakan kekuatan Meminimalkan untuk menghindari kelemahan dan ancaman menghindari ancaman Sumber : David (2004).
20 1) Strategi S-O Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pemikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya. 2) Strategi S-T Strategi ini adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman. 3) Strategi W-O Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada. 4) Strategi W-T Strategi ini berdasarkan pada kegiatan yang bersifat bertahan dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman. b. Analisis kuantitatif Analisis kuantitatif ini digunakan untuk menganalisis hasil kuesioner dengan responden instansi pemerintah dan swasta terkait. Data primer dan data sekunder yang telah terkumpul yang bersifat kuantitatif dari kuesioner tersebut akan diperoleh hasil berupa angka kemudian dihitung dengan metode rata-rata, akan didapatkan rincian faktor-faktor internal dan eksternal berupa skor. Kuesioner analisis SWOT dibuat untuk merumuskan perencanaan strategi dan menentukan prioritas strategi untuk mendukung hasil yang komprehensif. Tujuan utama dari hasil pengolahan kuesioner ini yaitu : 1) Menganalisis dan mengklasifikasikan secara kuantitatif faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi. 2) Menganalisis faktor pendorong, mendefinisikan strategi berdasarkan pemetaan tersebut.
21 3) Melihat berbagai alternatif kebijakan yang mungkin dilakukan berdasarkan peluang dan ancaman kedepan berikut alternatif solusinya. 4) Hasil kuesioner ini berupa angka, dimana setiap pertanyaan yang dijawab oleh responden dalam bentuk skala hitung, sehingga diperoleh angka tertentu. Metode rata-rata ini akan menghasilkan rincian faktor-faktor internal (S-W) dan eksternal (O-T) (Rangkuti, 2006). Skala pengisian kuesioner dalam penelitian ini menggunakan skala angka 1-6, yaitu : 1) Penilaian kondisi saat ini Angka 1 = sangat kurang Angka 2 = kurang Angka 3 = ragu-ragu mungkin kurang Angka 4 = ragu-ragu mungkin baik Angka 5 = baik Angka 6 = sangat baik 2) Penilaian tingkat kepentingan Angka 1 = sangat tidak penting Angka 2 = tidak penting Angka 3 = ragu-ragu mungkin tidak penting Angka 4 = ragu-ragu mungkin penting Angka 5 = penting Angka 6 = sangat penting Matriks faktor strategi internal merupakan suatu strategi dimana mengidentifikasi faktor internal pada Kabupaten Situbondo, suatu tabel IFAS (Internal Strategic Factors Analysis Summary) disusun untuk merumuskan faktor-faktor internal tersebut dalam kerangka strength and weakness. Tahapan dari matriks faktor strategi internal antara lain :
22 1) Menentukan faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan dalam kolom 1. 2) Menghitung rating (dalam kolom 1 dijumlahkan dan dibagi jumlah total keseluruhan), untuk masing-masing faktor yang memberikan skala mulai dari 1 (sangat kurang) sampai dengan 6 (sangat baik), berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi wilayah yang bersangkutan. 3) Menghitung bobot (dalam kolom 1 dijumlahkan kemudian dibagi jumlah total keseluruhan), untuk masing-masing faktor yang memberikan skala mulai dari 1 (sangat tidak penting) sampai dengan 6 (sangat penting), berdasarkan penilaian tingkat urgensi pemanfaatan limbah tanaman pangan sebagai pakan ternak sapi potong, (semua bobot tersebut jumlahnya tidak boleh melebihi skor total 1,00) 4) Menghitung rata-rata tertimbang kekuatan (strength) dikurangi rata-rata tertimbang kelemahan (weakness) untuk mendapatkan nilai (x). Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategi internalnya. Matriks faktor strategi eksternal merupakan suatu strategi dimana mengidentifikasi faktor eksternal pada Kabupaten Situbondo, suatu tabel ESFAS (Eksternal Strategic Factors Analysis Summary) disusun untuk merumuskan faktor-faktor eksternal tersebut dalam kerangka opportunity and threats. Tahapan dari matriks faktor strategi eksternal antara lain : 1) Menentukan faktor-faktor yang menjadi peluang dan ancaman dalam kolom 1. 2) Menghitung rating (dalam kolom 1 dijumlahkan dan dibagi jumlah total keseluruhan), untuk masing-masing faktor yang memberikan skala mulai dari 1 (sangat kurang) sampai dengan 6 (sangat baik), berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap
23 kondisi wilayah yang bersangkutan. Peubah yang bersifat positif. 3) Menghitung bobot (dalam kolom 1 dijumlahkan kemudian dibagi jumlah total keseluruhan), untuk masing-masing faktor yang memberikan skala mulai dari 1 (sangat tidak penting) sampai dengan 6 (sangat penting), berdasarkan penilaian tingkat urgensi pemanfaatan limbah tanaman pangan sebagai pakan ternak sapi potong, (semua bobot tersebut jumlahnya tidak boleh melebihi skor total 1,00) 4) Menghitung rata-rata tertimbang peluang (opportunity) dikurangi rata-rata tertimbang ancaman (threats) untuk mendapatkan nilai (y). Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategi eksternalnya. Susunan strategi tersebut dimasukan kedalam gambar dibawah ini : Berbagai Peluang Kuadran 3 Kuadran 1 Kelemahan Internal Kekuatan Internal Kuadran 4 Kuadran 2 Berbagai Ancaman Gambar 1. Diagram analisis SWOT Kuadran 1 : merupakan situasi yang sangat menguntungkan. Perusahaan tersebut memiliki peluang dan kekuatan sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif (growth oriented strategy).
24 Kuadran 2 : meskipun menghadapi berbagai ancaman, perusahaan ini masih memiliki kekuatan dari segi internal. Strategi yang harus diterapkan adalah menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara diversifikasi pemanfaatan limbah tanaman pangan di Kabupaten Situbondo. Kuadran 3 : usaha peternakan sapi potong menghadapi peluang pasar yang sangat besar, tetapi dilain pihak, menghadapi beberapa kendala atau kelemahan internal. Fokus strategi usaha ini adalah meminimalkan masalah-masalah internal sehingga dapat merebut peluang pasar yang lebih baik. Kuadran 4 : merupakan situasi yang sangat tidak menguntungkan, usaha peternakan sapi potong tersebut menghadapi berbagai ancaman dan kelemahan internal. G. Definisi Operasional Beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian yang didefinisikan secara operasional untuk menjadi petunjuk dalam penelitian ini yaitu : 1. Sapi potong atau juga disebut sebagai sapi pedaging, adalah jenis sapi yang pemeliharaannya dikhususkan untuk digemukkan sebagai penghasil daging yang dipelihara oleh peternak rakyat di Kabupaten Situbondo. 2. Pakan (bahan pakan ternak) adalah segala sesuatu yang diberikan kepada ternak yang dapat dicerna baik sebagian atau seluruhnya tanpa mengganggu kesehatan ternak. 3. Limbah tanaman pangan adalah bagian tanaman pangan setelah produk utama dipanen dan dapat dimanfaatkan sebagai pakan. Jenis limbah
25 tanaman pangan yang sering digunakan peternak di Kabupaten Situbondo sebagai pakan ternak sapi potong adalah jerami padi dan jerami jagung. 4. Teknologi pakan adalah pengolahan/peningkatan kualitas limbah tanaman pangan dengan perlakuan baik secara fisik, kimia, biologis, maupun perpaduan antara perlakuan tersebut. 5. Evaluasi pemanfaatan limbah tanaman pangan merupakan sebuah proses yang dilakukan untuk melihat sejauh mana limbah tanaman pangan dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi potong di Kabupaten Situbondo. 6. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah karakteristik peternak dan manajemen pemeliharaan ternak sapi potong serta hal-hal yang bersifat data primer di Kabupaten Situbondo. 7. Faktor internal adalah semua faktor yang mempengaruhi secara langsung pemanfaatan limbah tanaman pangan sebagai pakan ternak di Kabupaten Situbondo yang terdiri dari kekuatan dan kelemahan yang berada dalam ruang lingkup usaha ternak sapi potong. 8. Faktor eksternal adalah semua faktor yang secara tidak langsung mempengaruhi pemanfaatan limbah tanaman pangan sebagai pakan ternak di Kabupaten Situbondo yang terdiri dari peluang dan ancaman yang berada diluar ruang lingkup usaha ternak sapi potong. 9. Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi pemanfaatan limbah tanaman pangan sebagai pakan ternak sapi potong di Kabupaten Situbondo yang dapat ditentukan oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. 10. Strategi merupakan suatu respon/rencana terhadap kekuatan dan kelemahan dari faktor internal serta peluang dan ancaman dari faktor eksternal yang mampu mempengaruhi pemanfaatan limbah tanaman pangan sebagai pakan ternak sapi potong di Kabupaten Situbondo.