PENERAPAN ALGORITMA HYBRID CROSS ENTROPY-GENETIC ALGORITHM DALAM PENYELESAIAN RESOURCE-CONSTRAINED PROJECT SCHEDULING PROBLEM

dokumen-dokumen yang mirip
PENERAPAN ALGORITMA HYBRID CROSS ENTROPY-GENETIC ALGORITHM DALAM PENYELESAIAN RESOURCE-CONSTRAINED PROJECT SCHEDULING PROBLEM

PENERAPAN ALGORITMA HARMONY SEARCH DALAM PENYELESAIAN RESOURCE-CONSTRAINED PROJECT SCHEDULING PROBLEM

PENJADWALAN TRUK PADA SISTEM CROSS DOCKING DENGAN PENYIMPANAN SEMENTARA DENGAN ALGORITMA HYBRID CROSS ENTROPY GENETIC ALGORITHM

PENERAPAN ALGORITMA HARMONY SEARCH DALAM PENYELESAIAN RESOURCE-CONSTRAINED PROJECT SCHEDULING PROBLEM

1, 2 Dosen Teknik Manufaktur Politeknik 17 Agustus 1945 Surabaya

PENDEKATAN CROSS ENTROPY-GENETIC ALGORITHM UNTUK PERMASALAHAN PENJADWALAN JOB SHOP TANPA WAKTU TUNGGU PADA BANYAK MESIN

PENDEKATAN ALGORITMA CROSS ENTROPY- GENETIC ALGORITHM UNTUK MENURUNKAN MAKESPAN PADA PENJADWALAN FLOW SHOP

PENJADWALAN FLOW SHOP DENGAN PENDEKATAN CROSS ENTROPY-GENETIC ALGORITHM UNTUK MENURUNKAN MAKESPAN PADA PEMBUATAN RODA GIGI

PENJADWALAN TRUK PADA SISTEM CROSS DOCKING DENGAN PENYIMPANAN SEMENTARA DENGAN ALGORITMA HYBRID CROSS ENTROPY-GENETIC ALGORITHM

PENYELESAIAN PERMASALAHAN MULTI-OBJECTIVE HYBRID FLOW SHOP SCHEDULING DENGAN ALGORITMA MODIFIED PARTICLE SWARM OPTIMIZATION

BAB I PENDAHULUAN. yang dikerjakan pada beberapa buah mesin (Rosnani Ginting, 2009). Pekerjaan

HIBRIDISASI GENETIC-TABU SEARCH ALGORITHM UNTUK PENJADWALAN JOB TERHADAP BEBERAPA RESOURCE DI DALAM KOMPUTASI GRID

LOGO PENGEMBANGAN METODE HYBRID TABU SEARCH-CROSS ENTROPY UNTUK PENJADWALAN FLOWSHOP

TEKNIK Vol. V, No. 2 PERBANDINGAN PERFORMANSI ALGORITMA CROSS ENTROPY (CE) DINAMIKA DAN ALGORITMA PARTICLE SWARM OPTIMIZATION (PSO) PADA

PERENCANAAN SUMBER DAYA PADA PROYEK DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANT COLONY

Penyelesaian Permasalahan Penjadwalan Aktivitas Proyek dengan Batasan Sumber Daya Menggunakan Metode Cross Entropy

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Algoritma Cross Entropy Untuk Optimalisasi Penjadwalan Pertandingan Kompetisi Liga Super Indonesia. Andhika Eko Prasetyo

PENGEMBANGAN ALGORITMA HYBRID CROSS ENTROPY- TABU SEARCH UNTUK PENYELESAIAN TRAVELLING REPAIRMAN PROBLEM

Penjadwalan Job Shop pada Empat Mesin Identik dengan Menggunakan Metode Shortest Processing Time dan Genetic Algorithm

IMPLEMENTASI ALGORITMA CAT SWARM OPTIMIZATION DALAM MENYELESAIKAN JOB SHOP SCHEDULING PROBLEM (JSSP)

TUGAS AKHIR Pengembangan Algoritma Simulated Annealing pada Permasalahan Hybrid Flowshop Scheduling untuk Minimasi Makespan

OPTIMASI PENJADWALAN CERDAS MENGGUNAKAN ALGORITMA MEMETIKA

Dosen Pembimbing : Ir. Budi Santosa, M.S., Ph.D Oleh : Sas Wahid Hamzah

Kata Kunci - Ship Scheduling and Assignment, NP - Hard Problem, Metode Meta-heuristik, Simple Iterative Mutation Algoritm, Minimum requirement draft

PENJADWALAN MESIN BERTIPE JOB SHOP UNTUK MEMINIMALKAN MAKESPAN DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA (STUDI KASUS PT X)

1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

JURNAL TEKNIK NDUSTRI ITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-6 1

1.PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

IMPLEMENTASI METODE HEURISTIK DAN SIMULASI UNTUK MENYEIMBANGKAN LINI PERAKITAN LAMPU

SWARM GENETIC ALGORITHM, SUATU HIBRIDA DARI ALGORITMA GENETIKA DAN PARTICLE SWARM OPTIMIZATION. Taufan Mahardhika 1

PENGEMBANGAN ALGORITMA HYBRID CROSS ENTROPY-TABU SEARCH UNTUK PENYELESAIAN TRAVELLING REPAIRMAN PROBLEM

PENDEKATAN CROSS ENTROPY

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENYELESAIAN PERMASALAHAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM MENGGUNAKAN ALGORITMA DIFFERENTIAL EVOLUTION

PENGEMBANGAN ALGORITMA CROSS ENTROPY- GENETIC ALGORITHM UNTUK MENYELESAIKAN CAPACITATED LOCATION- ROUTING PROBLEM

KOMBINASI ALGORITMA DIFFERENTIAL EVOLUTION DENGAN ITERATED GREEDY UNTUK PERMASALAHAN TRAVELING SALESMAN PROBLEM (TSP)

PENGEMBANGAN ALGORITMA DIFFERENTIAL EVOLUTION UNTUK PENJADWALAN FLOW SHOP MULTI OBYEKTIF DENGAN BANYAK MESIN ABSTRAK

Optimasi Multi Travelling Salesman Problem (M-TSP) Menggunakan Algoritma Genetika

PENERAPAN METODE CROSS ENTROPY DALAM PENYELESAIAN CAPACITATED VEHICLE ROUTING PROBLEM (Study Kasus : Distribusi Koran Jawa Pos Surabaya)

BAB 2 LANDASAN TEORI

Kata kunci: job shop scheduling, CODEQ,

UJM 3 (1) (2014) UNNES Journal of Mathematics.

Keywords Algoritma, Genetika, Penjadwalan I. PENDAHULUAN

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENYELESAIKAN PERMASALAHAN PENJADWALAN DOSEN DENGAN FUZZY

Analisis Komparasi Genetic Algorithm dan Firefly Algorithm pada Permasalahan Bin Packing Problem

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Job shop scheduling problem (JSSP) adalah permasalahan optimasi

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENENTUAN PENJADWALAN JOB SHOP SECARA MONTE CARLO

BAB I PENDAHULUAN. jumlah ketersediaan yang semakin menipis dan semakin mahal, membuat biaya

PERFORMANCE ALGORITMA GENETIKA (GA) PADA PENJADWALAN MATA PELAJARAN

BAB I PENDAHULUAN. lebih efektif dan efisien karena akan melewati rute yang minimal jaraknya,

PERANCANGAN KONFIGURASI JARINGAN DISTRIBUSI PRODUK BISKUIT MENGGUNAKAN METODE ALGORITMA GENETIKA (Studi Kasus: PT. EP)

Blending Agregat Menggunakan Algoritma Genetika

PENERAPAN METODE CROSS ENTROPY DALAM PENYELESAIAN CAPACITATED LOCATION-ROUTING PROBLEM

BAB 2 LANDASAN TEORI

Implementasi Algoritma Genetika dalam Pembuatan Jadwal Kuliah

Kata kunci : algoritma harmony search, resource-constrained project scheduling, penjadwalan.

PENELITI : Fiqihesa Putamawa

Penjadwalan Mata Kuliah Menggunakan Algoritma Genetika di Jurusan Sistem Informasi ITS

PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM DENGAN ALGORITMA BRANCH AND BOUND

Optimasi Penjadwalan Sumberdaya dengan Metode Algoritma Genetik dan Algoritma Momen Minimum. Biemo W. Soemardi 1) Dede Sumirto 2)

2015 APLIKASI ALGORITMA SIMULATED ANNEALING PADA SISTEM KOORDINASI PEMBANGKITAN UNIT THERMAL

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2004 Yogyakarta, 19 Juni 2004

PERBANDINGAN KINERJA ALGORITMA GENETIK DAN ALGORITMA BRANCH AND BOUND PADA TRAVELLING SALESMAN PROBLEM

USULAN PENERAPAN PENJADWALAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE ALGORITMA GENETIKA DI PD BLESSING

USULAN RANCANGAN RUTE TRANSPORTASI MULTI TRIP

MODEL PENYELESAIAN JOB SHOP SCHEDULING PROBLEM MENGGUNAKAN METODE LOCAL SEARCH ALGORITHM DENGAN CROSS OVER

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

PENERAPAN ALGORITMA ANT COLONY PADA PENJADWALAN PRODUKSI

KONSEP ALGORITMA GENETIK BINER UNTUK OPTIMASI PERENCANAAN JADWAL KEGIATAN PERKULIAHAN

TABU SEARCH SEBAGAI LOCAL SEARCH PADA ALGORITMA ANT COLONY UNTUK PENJADWALAN FLOWSHOP

Perbandingan Kombinasi Genetic Algorithm Simulated Annealing dengan Particle Swarm Optimization pada Permasalahan Tata Letak Fasilitas

PENERAPAN METODE SIMULATED ANNEALING UNTUK PENJADWALAN JOB SHOP PADA MESIN PABRIK

OPTIMASI GENETIC ALGORITHM DENGAN SIMULATED ANNEALING UNTUK MULTIPLE DEPOT CAPACITATED VEHICLE ROUTING PROBLEM

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Algoritma Cross Entropy untuk Penentuan Rute Kendaraan dengan Penjemputan dan Pengantaran yang Mempertimbangkan Jendela Waktu dan Durasi Maksimum

ISSN VOL. 12, NO. 2, OKTOBER 2011

PENERAPAN ALGORITMA CODEQ UNTUK MENYELESAIKAN PERMASALAHAN JOB SHOP SCHEDULING

APLIKASI TRAVELLING SALESMAN PROBLEM DENGAN METODE ARTIFICIAL BEE COLONY

PERBANDINGAN KINERJA ALGORITMA GENETIKA DAN SIMULATED ANNEALING UNTUK MASALAH MULTIPLE OBJECTIVE PADA PENJADWALAN FLOWSHOP

PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK TRAVELING SALESMAN PROBLEM DENGAN MENGGUNAKAN METODE ORDER CROSSOVER DAN INSERTION MUTATION

Perancangan Sistem Penjadwalan Asisten Dosen Menggunakan Algoritma Genetika (Studi Kasus: STIKOM Bali)

BAB 1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

OPTIMASI PREVENTIVE MAINTENANCE

Peramalan Kebutuhan Beban Sistem Tenaga Listrik Menggunakan Algoritma Genetika

PENEMPATAN MAHASISWA PESERTA MATA KULIAH UMUM DENGAN ALGORITMA GENETIK DI UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN

Penerapan Algoritma Genetika dalam Job Shop Scheduling Problem

OPTIMASI NURSE SCHEDULING PROBLEM

PRESENTASI TUGAS AKHIR CF 1380 PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MASALAH PENJADWALAN JOB SHOP PADA LINGKUNGAN INDUSTRI PAKAIAN

Improved Particle Swarm Optimization untuk Menyelesaikan Permasalahan Part Type Selection dan Machine Loading pada Flexible Manufacturing System (FMS)

Penjadwalan Job Shop Fleksibel dengan Mempertimbangkan Saat Siap dan Saat Tenggat

PENYELSAIAN MULTI TRAVELING SALESMAN PROBLEM DENGAN ALGORITMA GENETIKA

Transkripsi:

PENERAPAN ALGORITMA HYBRID CROSS ENTROPY-GENETIC ALGORITHM DALAM PENYELESAIAN RESOURCE-CONSTRAINED PROJECT SCHEDULING PROBLEM Nur Rahmawati 1), Budi Santosa 2) 1) Jurusan Teknik Industri, Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS) Jl. Arif Rahman Hakim Surabaya 2) Jurusan Teknik Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember E-mail: rahmawatinur1987@gmail.com Abstrak. Resource-Constrained Project Scheduling Problem (RCPSP) adalah masalah penjadwalan proyek dengan sumber daya yang terbatas dan dengan fungsi tujuan minimasi durasi proyek. Tujuan dilakukannya penelitian ini karena problem penjadwalan proyek merupakan problem kombinatorial yang kompleks. Karena semakin banyak aktivitas dan tipe resource yang akan dijadwalkan, maka problem akan semakin sulit untuk dipecahkan. Dalam penelitian ini digunakan metode analitis untuk menyelesaikan permasalahan dengan pendekatan algoritma hybrid Cross Entropy-Genetic Algorithm. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat diketahui bahwa metoda CEGA sesuai apabila diterapkan pada kasus penjadwalan proyek dengan sumber daya terbatas. Kualitas solusi yang dihasilkan dengan menggunakan metoda ini dalam hal durasi terbaik, selalu menghasilkan nilai yang sama dengan nilai terbaik yang pernah ditemukan dengan metoda sebelumnya (best known) dengan waktu komputasi yang lebih cepat dari metoda bandingannya pada kasus kecil dan besar. Kata Kunci : Hybrid CE-GA, RCPSP 1. Pendahuluan Resource-Constrained Project Scheduling Problem (RCPSP) merupakan problem penjadwalan proyek dengan sumber daya yang terbatas. RCPSP adalah masalah kombinatorial yang sulit untuk dipecahkan. Karena dengan bertambahnya jumlah aktivitas proyek, maka problem akan menjadi semakin kompleks. Beberapa pendekatan analitis telah dicoba seperti Dynamic programming [5], dan Branch and Bound [11] untuk mendapatkan solusi terbaik. Namun pendekatan analitis tidak dapat diterapkan apabila masalah yang diteliti sangat besar dan kompleks [7]. Oleh karena itu, beberapa metoda lain mulai diusulkan untuk memecahkan masalah tersebut. Metoda heuristik bertujuan untuk menemukan solusi optimal dengan cara yang efisien. Sebagian besar metoda heuristik yang telah ada, menggunakan prioritas penyelesaian seperti Shortest activity duration (SAD), minimum late finish time (MILFT), atau minimum total float (MITF) untuk menentukan aktivitas yang harus dijadwalkan terlebih dahulu daripada yang lain. Namun, tidak diketahui mana prioritas yang lebih mendominasi prioritas yang lain atau yang secara konsisten memberikan performansi yang lebih baik dari yang lain [3]. Oleh karena itu, solusi yang didapatkan sering kali bersifat lokal optimal [10]. Saat ini, penyelesaian RCPSP dengan pendekatan metoda metaheuristik seperti genetic Algorithm [2], ant colony optimization [8], particle swarm optimization [13], dan Harmony Search [10] juga telah dilakukan untuk mendapatkan performasi penyesaian problem yang lebih baik. Metoda Cross Entropy sebagai salah satu metoda metaheuristik yang relatif baru telah digunakan dalam beberapa permasalahan optimasi kombinatorial, optimasi kontinu, optimasi noisy, dan rare event simulation [9]. Pada beberapa permasalahan, metoda ini dapat menghasilkan penyelesaian yang cukup optimal dengan perbandingan waktu penghitungan yang relatif lebih singkat, misalnya pada permasalahan Support Vector Machine [12]. Namun algoritma ini memiliki beberapa kelemahan antara lain jumlah populasi yang digunakan harus besar agar dalam populasi yang dibangkitkan tercakup solusi yang optimal. Sebagai konsekuensinya, waktu komputasi yang diperlukan semakin lama. Selain itu, algoritma ini juga memiliki kelemahan lain yaitu masih dimungkinkannya ditemukan solusi yang lebih buruk pada iterasi selanjutnya. Meskipun pada CE terdapat mekanisme updating parameter, namun tidak ada mekanisme pada algoritma ini yang dapat mempertahankan solusi terbaik yang telah ditemukan pada iterasi sebelumnya agar solusi tersebut tidak hilang pada iterasi selanjutnya. C37. 1

2. Pembahasan Resource-Constrained Project Scheduling Problem (RCPSP) merupakan problem penjadwalan proyek dengan sumber daya yang terbatas. RCPSP adalah masalah kombinatorial yang sulit untuk dipecahkan. Karena dengan bertambahnya jumlah aktivitas proyek, maka problem akan menjadi semakin kompleks. 2.1. Persamaan Berikut ini adalah formulasi matematika dari RCPSP dengan fungsi tujuan untuk meminimasi durasi proyek [11] : Min{Max f i i = 1,2,, n} (1) Subject to : f i f j d i ; j P i ;i = 1,2,, n (2) At r ik R k ;k = 1,2,, K;t = s 1, s 2,, s n (3) Dimana : N = jumlah aktivitas yang terdapat pada proyek f i = waktu penyelesaian aktivitas i (i = 1,2,, n) d i = durasi aktivitas i P i = predecessor aktivitas i R k = jumlah sumber daya tipe k yang tersedia (k = 1,2,, K) K = jumlah tipe sumber daya r ik = jumlah sumber daya tipe k yang diperlukan oleh aktivitas ke- i A t = sekelompok aktivitas yang berjalan pada waktu ke-t s i = f i d i (4) s i = waktu mulai aktivitas i Persamaan (1) merepresentasikan fungsi tujuan dari RCPSP. Persamaan (2) merepresentasikan precedence constraints. Persamaan (3) merepresentasikan resource constraints. 2.2. Algoritma CE-GA Secara umum, mekanisme penerapan algoritma CEGA pada RCPSP : 1. Pendefinisian Nilai Input dan Output Input yang dibutuhkan dalam penelitian ini terdiri dari: jumlah aktivitas (n), indeks aktivitas, durasi aktivitas, kebutuhan sumber daya pada tiap aktivitas, precedence constraints, jumlah sumber daya yang tersedia, jumlah Populasi yang dibangkitkan (N), (parameter penghalus), ρ (proporsi sampel elite dari keseluruhan sampel), serta toleransi pemberhentian (β). Output yang dihasilkan dalam penelitian ini terdiri dari: waktu mulai dan selesai, durasi proyek, serta waktu komputasi. 2. Penentuan Nilai Parameter Inisial Nilai parameter yang harus ditentukan diawal adalah : a. Jumlah Populasi yang dibangkitkan (N) Pada penelitian ini jumlah populasi yang dibangkitkan sebesar 300 populasi. b. (parameter penghalus) Nilai yang paling optimal untuk parameter penghalus 0,4-0,9 [4]. Nilai parameter penghalus yang digunakan pada penelitian ini adalah 0.9. c. ρ (proporsi sampel elite dari keseluruhan sampel) Nilai yang paling optimal untuk parameter ρ 1% - 10% [6]. Pada penelitian kali ini, digunakan ρ sebesar 5%. Toleransi pemberhentian (β) Pada penelitian ini, nilai β yang digunakan adalah 0,0005. Parameter pindah silang (Pps) Pada penelitian ini, parameter pindah silang yang digunakan adalah 1. Nilai tersebut didasarkan pada penelitian terdahulu [1]. Parameter Mutasi (Pm) C37. 2

Pada penelitian ini, parameter mutasi yang digunakan adalah setengah kali Pps. Nilai tersebut didasarkan pada penelitian terdahulu [1]. 3. Pembangkitan Populasi Pembangkitan populasi inisial (iterasi=1) dilakukan dengan menggunakan teknik acak penuh (fully randomized), sedangkan pada pembangkitan populasi setelahnya (iterasi>1) dilakukan dengan menggunakan kaidah algoritma genetika, yakni pindah silang dan mutasi, dengan alur sebagai berikut: Pembobotan sampel elite Adapun aturan pembobotan yang digunakan yakni, jika durasi yang dihasilkan oleh urutan lebih baik daripada durasi terbaik yang pernah dikunjungi pada iterasi sebelumnya, maka bobot yang diberikan adalah senilai banyaknya sampel elite, selebihnya hanya diberi bobot 1. Penghitungan linear fitness ranking Linear fitness ranking (LFR) dihitung dari perbandingan nilai kesesuaian (fitness) semua sampel yang telah dibangkitkan pada iterasi sebelumnya. Nilai LFR adalah sebesar LFR(I(N i + 1)) = Fmax (Fmax Fmin) ( i 1 N 1 ) (5) Dengan i merupakan nilai yang berkisar antara 1 sampai dengan jumlah populasi (N), serta I menunjukkan indeks aktivitas pada matriks populasi. 4. Melakukan Penjadwalan Proyek dengan Skema Paralel Berikut skemanya : a. Memilih sebuah aktivitas yang memiliki nilai prioritas yang lebih tinggi daripada yang lain untuk dijadwalkan tanpa melanggar precedence constraints dan resource constraints. Terlebih dahulu cek apakah masih tersedia resource yang cukup untuk melakukan penjadwalan aktivitas baru pada aktivitas sebelumya yang telah dijadwalkan. b. Menentukan waktu penjadwalan terbaru dimana waktu ini akan sama dengan waktu penyelesaian paling awal dari aktivitas-aktivitas yang telah dijadwalkan sebelumnya. c. Apabila masih terdapat aktivitas yang belum dijadwalkan, maka proses penjadwalan kembali ke langkah 1 hingga diperoleh jadwal proyek. 5. Melakukan Perhitungan Durasi Proyek Durasi proyek akan secara langsung diperoleh setelah dilakukan penjadwalan proyek dengan skema paralel. 6. Mengurutkan Proyek dengan Durasi yang Terkecil Hingga Terbesar 7. Pemilihan Sampel Elite Sampel elite dipilih sebanyak [ρ N] dari jumlah sampel yang dibangkitkan. 8. Perbaharui parameter pindah silang dan parameter mutasi Pembaharuan parameter dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara rata-rata durasi pada sampel elite dengan 2 kali nilai durasi terbaik pada tiap iterasi. Nilai perbandingan tersebut didefinisikan sebagai up. Parameter pindah silang kemudian diperbaharui dengan menggunakan persamaan: P i = (1 α)p i 1 + αup (6) Sedangkan parameter mutasi nilainya didefinisikan sebagai ½ dari nilai parameter pindah silang 9. Pengecekan terhadap Kriteria Pemberhentian 10. Syarat pemberhentian pada penelitian ini adalah jika selisih antara parameter pindah silang hasil pembaharuan dengan parameter pindah silang sebelumnya lebih kecil dari β. 11. Penampilan Hasil Hasil yang ditampilkan berupa: waktu mulai dan selesai tiap aktivitas, durasi proyek, dan waktu komputasi. 2.3. Hasil running Algoritma Pengujian algoritma dilakukan dengan pembuatan kode pada software Matlab. Kemudian kode tersebut dijalankan pada kasus kecil (6 aktivitas). Spesifikasi computer yang digunakan adalah Intel Core 2 Duo, 1,66 GHz, RAM 1 GB, serta menggunakan software Matlab seri 7.10. C37. 3

Tabel 1. Perbandingan hasil running 25 aktivitas 25 Aktivitas No. Replikasi HS PSO CEGA Durasi T(detik) Durasi T(detik) Durasi T(detik) 1 65 34.48 65 34.17 65 27.20 2 65 34.04 65 34.18 65 25.40 3 65 33.95 64 34.25 65 25.59 4 65 34.12 65 34.32 65 20.81 5 65 33.01 64 34.57 65 27.03 6 65 33.24 65 34.16 64 25.40 7 65 33.19 65 34.22 65 27.26 8 65 34.2 65 34.1 64 72.87 9 65 34.06 64 34.35 65 20.10 10 65 34.22 65 34.47 65 24.67 Nilai terbaik 65 33.01 64 34.25 64 25.40 Ratarata 65.2 33.851 64.7 34.279 64.8 29.63 Std. Dev 0.42 0.48 0.42 Tabel 2 Perbandingan hasil running 30 aktivitas 30 Aktivitas No. Replikasi HS PSO CEGA Durasi T(detik) Durasi T(detik) Durasi T(detik) 1 43 25.06 46 24.13 43 176.78 2 45 24.9 46 25.11 43 84.75 3 45 25.39 43 25.59 43 92.46 4 43 24.47 46 25.69 43 141 5 45 24.86 43 25.02 43 53.98 6 43 24.44 43 25.14 43 182.37 7 45 25 46 25.63 43 45.51 8 46 24.42 43 25.14 43 45.45 9 45 25.56 45 25.75 43 68.59 10 45 25.28 43 25 43 111.01 Nilai terbaik 43 24.44 43 25 43 45.45 Ratarata 44.5 24.94 44.27 25.20 43 100.19 Std. Dev 1.08 1.50 0 3. Simpulan Metoda CEGA memberikan capaian durasi yang lebih baik dibandingkan dengan metoda HS pada problem kecil (25 aktivitas). Sedangkan pada problem sedang (30 aktivitas) dan besar (60 aktivitas), CEGA menunjukkan hasil durasi yang lebih stabil pada sepuluh replikasi bila dibandingkan dengan HS dan PSO. Metoda CEGA memberikan kualitas hasil capaian durasi terbaik sama seperti durasi terbaik (best known). Oleh karenanya, algoritma ini sesuai diterapkan pada problem RCPSP. Metoda CEGA menunjukkan performansi yang lebih bagus pada problem besar (60 aktivitas), baik dalam hal durasi maupun waktu komputasi daripada HS dan PSO. C37. 4

DaftarPustaka [1]. Budiman, MA 2010, Pendekatan cross entrophy-genetic algorithm untuk permasalahan penjadwalan job shop tanpa waktu tunggu pada banyak mesin, Tugas akhir, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. [2]. Chan,WT dan Chua, DKH 1996, Construction resource scheduling with genetic algorithms, Jour Constr Eng Manage ASCE, 122(2), pp. 125 32. [3]. Davis, EW dan Patterson, JH 1975, A comparison of heuristic and optimum solutions in resource-constrained project scheduling. Manage Sci, 21, pp. 944 55. [4]. DeBoer, PT, Kroese, DP, Mannor, S, dan Rubinstein, RY, 2003, A tutorial on the cross-entropy method, Technion Israel Institute of Technology, Haifa. [5]. Gavish, B dan Pirkul, H 1991, Algorithms for multi-resource generalized assignment problem, Manage Sci, 37(6), pp. 695 713. [6]. Kroese, DP 2009, Cross-Entropy Method, University of Queensland, Brisbane. [7]. Lee, JK dan Kim, YD 1996, Search heuristics for resource constrained project scheduling, Jour of Operat Res Soc, 47(5), pp.678 89. [8]. Merkle, D, Middendorf, M, dan Schmeck, H 2002, Ant Colony Optimization for Resource- Constrained Project Scheduling, IEEE Trans on Evolut Comp, 6, pp. 4. [9]. Rubinstein, RY dan Kroese, DP 2004, The Cross-entropy method: A unified approach to combinatorial optimization, monte-carlo simulation, and machine learning, Springer Science+Business Media Inc, New York. [10]. Setiawan, A 2010, Penerapan Algoritma Harmony Search Dalam Penyelesaian Resource- Constrained Project Scheduling Problem, Tugas akhir, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. [11]. Stinson JP 1976, A branch and bound algorithm for general class resource-constrained schedulling problem, PhD thesis, University of North Carolina at Chapel Hill, Chapel Hill. [12]. Widyarini, T 2009, Aplikasi Metode Cross Entropy untuk Support Vector Machines, Tugas akhir, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. [13]. Zhang, H, Li, H, dan Tam, CM 2006, Particle swarm optimization for resource-constrained project scheduling.intern Jour of Proj Manage, 24, pp. 83 92. C37. 5