BAB V HASIL ANALISA DATA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB III METODE PENELITIAN

TUGAS AKHIR. Diajukan guna melengkapi sebagian syarat dalam mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S1)

BAB V ANALISIS HASIL

BAB I PENDAHULUAN. Laporan Tugas Akhir Latar Belakang Masalah. Pada produksi yang mempunyai tipe produksi massal, yang melibatkan

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB III METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB V ANALISA HASIL. Dari pengolahan data pada bab IV, kita dapat melihat dua metode

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

3.11. Program Microsoft Project BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi Penelitian Tahap dan Prosedur Penelitian

Manajemen Proyek. Teknik Industri Universitas Brawijaya

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

Seminar Nasional Inovasi Dan AplikasiTeknologi Di Industri 2017 ISSN ITN Malang, 4 Pebruari 2017

TIN102 - Pengantar Teknik Industri Materi #5 Ganjil 2014/2015 TIN102 PENGANTAR TEKNIK INDUSTRI

BAB 3 METODE PENELITIAN

Manajemen Operasional PENJADWALAN DAN PENGAWASAN PROYEK

BAB III METODOLOGI. Data yang dominan dalam Tugas Akhir ini adalah Data Sekunder,

BAB V ANALISA DAN HASIL PEMBAHASAN

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

BAB VII SIMULASI CONVEYOR

Kata kunci: PERT, penambahan jam kerja (lembur), lintasan kritis, Time Cost Trade Off.

OPTIMALISASI BIAYA DAN WAKTU PELAKSANAAN PROYEK PEMBANGUNAN RUMAH TINGGAL DENGAN MENGGUNAKAN METODE PERT-CPM

BAB 3 METODE PENELITIAN. Berikut ini adalah diagram alir yang digunakan dalam penyelesaian studi kasus ini: Mulai

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH

PROJECT PLANNING AND CONTROL. Program Studi Teknik Industri Universitas Brawijaya

BAB V ANALISA HASIL. kritis, artinya aktivitas tersebut merupakan aktivitas non kritis.

MATERI 8 MEMULAI USAHA

Analisis Line Efficiency Produk Wall Fan pada Proses Final Assembly (Studi Kasus di PT Panasonic Manufacturing Indonesia)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

ANALISIS PERBAIKAN KESEIMBANGAN LINI PERAKITAN TRANSMISI CURRENT DENGAN MENGGUNAKAN METODE KILLBRIDGE-WESTER

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Proyek konstruksi adalah suatu rangkaian kegiatan yang saling berkaitan dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berikut ini adalah pengertian keseimbangan lini (line balancing)

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

MANAJEMEN PROYEK. Manajemen proyek meliputi tiga fase : 1. Perencanaan 2. Penjadwalan 3. Pengendalian

BAB V ANALISA HASIL. Dari pengolahan data pada bab IV, kita dapat melihat dua metode

BAB VI LINE BALANCING

BAB II LANDASAN TEORI

(Studi Kasus : Proyek Pembangunan Rumah Sakit Prima) GEA GEBY AURORA SYAFRIDON

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENERAPAN PENJADWALAN PROBABILISTIK PADA PROYEK PENGEMBANGAN GEDUNG FSAINTEK UNAIR

BAB II LANDASAN TEORI

PERT dan CPM adalah suatu alat manajemen proyek yang digunakan untuk melakukan penjadwalan, mengatur dan mengkoordinasi bagian-bagian pekerjaan yang

Peristiwa paling akhir / waktu paling lambat dari event (SPL) adalah: a. EET b. ETL c. ETC d. LET e. TEL

PENJADWALAN PROYEK DENGAN ALAT BANTU PROGRAM PRIMAVERA PROJECT PLANNER 3.0 (P3 3.0)

BAB III LANDASAN TEORI

PROJECT TIME MANAGEMENT (MANAJEMEN WAKTU PROYEK BAG.2 : GANTT CHART, CPM DAN PERT) (MATA KULIAH MANAJEMEN PROYEK PERANGKAT LUNAK)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Laju pertumbuhan penduduk Provinsi Bali pada periode tahun

BAB VI LINE BALANCING

BAB III LANDASAN TEORI. A. Manajemen Proyek

PERENCANAAN PROYEK IT

Tahap pertama merupakan penentuan hubungan tiap kegiatan

VI. TOYOTA PRODUCTION SYSTEM. A. Pengertian Toyota Production System (TPS)

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan produksi dan operasi merupakan kegiatan yang paling pokok

BAB III METODE PENELITIAN

MAKALAH RISET OPERASI NETWORK PLANNING

BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH

STUDI PENJADWALAN DENGAN MENGGUNAKAN METODA PENJADWALAN LINIER PADA PROYEK GEDUNG BERTINGKAT

BAB II LANDASAN TEORI. Pengelola proyek selalu ingin mencari metode yang dapat meningkatkan

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan budaya dan teknologi akan selalu memberikan dorongan kepada

MANAJEMEN PROYEK. Pembelajaran Daring Indonesia Terbuka & Terpadu

BAB II Tinjauan Pustaka

BAB III LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan jasa konstruksi saat ini di Indonesia sudah mulai berkembang

REKAYASA SISTEM BAB I PENDAHULUAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

Perencanaan dan Pengendalian Proyek. Pertemuan V

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. diperoleh dari hasil kerja praktek di industri otomotif sunter yaitu data cycle time

BAB 3 LANDASAN TEORI

MEMPELAJARI PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PRODUKSI PADA PT. HINO MOTORS MANUFACTURING INDONESIA

Penjadwalan proyek. 1. Menunjukkan hubungan tiap kegiatan dan terhadap keseluruhan proyek

PENERAPAN LEAN MANUFACTURING UNTUK MEREDUKSI TIME WASTE PADA PROSES PRODUKSI DI PT. APINDOWAJA AMPUH PERSADA TUGAS SARJANA

Analisis Kebutuhan Man Power dan Line Balancing Jalur Supply Body 3 D01N PT. Astra Daihatsu Motor Karawang Assembly Plant (KAP)

BAB V ANALISA HASIL Kondisi Keseimbangan Lintasan Produksi Aktual

Analisa Perbaikan Penjadwalan Perakitan Panel Listrik Dengan Metode CPM dan PERT (Studi Kasus : PT. Mega Karya Engineering) ABSTRAK

PENULISAN ILMIAH MEMPELAJARI KESEIMBANGAN LINTASAN PRODUKSI PEMASANGAN ACCESSORIES MOBIL YARIS DI PT. TOYOTA ASTRA MOTOR

EMA302 - Manajemen Operasional Materi #9 Ganjil 2014/2015. EMA302 - Manajemen Operasional

Karena kompleksnya suatu proyek, para pengelola proyek selalu ingm memngkatkan kualitas perencanaan dan pengendalian. Banyak metode yang

PERTEMUAN 11 Float dan Lintasan Kritis

Sejarah : Henry L. Gantt ( 9 ) menciptakan Bar Chart untuk mengontrol kegiatan dalam proyek, namun tidak menjelaskan urutan kegiatannya Booz, Allen da

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Analisa Keseimbangan Lintasan Dengan Menggunakan Metode Helgeson-Birnie (Ranked Positional Weight) Studi Kasus PT. D

STUDI ANALISIS DENGAN MENGGUNAKAN METODA PENJADWALAN LINIER PADA PROYEK PERUMAHAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS URUTAN AKTIVITAS PADA PROSES PENGGANTIAN BEARING MOVEABLE ROLLER HYDRAULIK ROLLER PRESSURE (HRP) UNTUK MENGURANGI DOWN TIME

ANALISIS ASSEMBLY LINE BALANCING PRODUK HEAD LAMP TYPE K59A DENGAN PENDEKATAN METODE HELGESON-BIRNIE Studi Kasus PT. Indonesia Stanley electric

BAB I PENDAHULUAN. tetap menjaga mutu dan produktivitasnya untuk dapat bersaing di pasar dunia, maka PT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. perusahaan selain manajemen sumber daya manusia, manajemen pemasaran dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Seluruh industri di era globalisasi ini dituntut untuk menghadapi persaingan

CPM DAN PERT CRITICAL PATH METHOD AND PROGRAM EVALUATION REVIEW TECHNIQUE. Pertemuan Copyright By Nurul Adhayanti

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB III LANDASAN TEORI. A. Manajemen Proyek

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. massal. Sejumlah pekerjaan perakitan dikelompokkan kedalam beberapa pusatpusat

Transkripsi:

BAB V HASIL ANALISA DATA 5.1 Hasil Pembahasan CPM Hasil diagram gambar 4.1 (CPM proyek pembuatan truk tipe OF 2528 C tersebut terlihat hubungan ketergantungan antara satu kegiatan dengan kegiatan yang lain dapat ditunjukkan secara spesifik, yaitu menggunakan hubungan FS (Finish to Start) dan mudah untuk diupdate, serta dapat memperkirakan waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan karena mempunyai hubungan matematis. Selain itu, CPM juga dapat menunjukkan lintasan kritis kegiatan proyek sehingga apabila terjadi keterlambatan proyek, prioritas pekerjaan yang akan dikoreksi menjadi mudah dilakukan. CPM pada proyek pembuatan truk tipe OF 2528 C, dengan perhitungan maju dan mundur, lintasan kritis dari diagram CPM proyek pembuatan truk tipe OF 2528 C (lihat gambar 4.1) adalah urutan kegiatan yang melalui Kegiatan A (Proses Engraving), Kegiatan B (Assembly Bracket), Kegiatan C (Harness and Takalan ), Kegiatan D (Assembly Spring and Wishbone), Kegiatan F (Axle), Kegiatan I (Assembly Engine to ), Kegiatan L (Assembly Muffler), 66

67 Kegiatan M (Assembly Cabin to ), Kegiatan P (Assembly Tire to ), dan Kegiatan Q (Final Assy). Lintasan kritis ini ditandai dengan anak panah berwarna merah dengan waktu penyelesaian proyek yaitu 1003 menit. Item-item kegiatan yang melalui lintasan kritis tersebut perlu pengawasan ketat, dan juga tidak boleh terlambat agar waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan tidak mengalami keterlambatan. Walaupun CPM memiliki beberapa kelebihan diatas, metode CPM ini terlihat menjadi tidak efektif dan kompak bila diterapkan pada kegiatan tumpang tindih dan kegiatan yang bersifat berulang karena terlalu banyak mengandung hubungan dan menciptakan dummy yang sangat banyak untuk memecah kegiatan. Hal itu disebabkan karena CPM hanya mempunyai satu hubungan ketergantungan yaitu hubungan finish to start saja. Selain itu, jaringan CPM juga tidak dapat mengindikasikan tingkat produktivitas kegiatan berulang, sehingga tidak dapat mendekti inefisiensi penggunaan alokasi sumber daya yang disebabkan oleh berhentinya suatu pekerjaan. Disamping itu, CPM juga tidak dapat menunjukkan hambatan atau gangguan antar kegiatan di dalam jaringan kerjanya.

68 OF 2528 C : Berikut adalah gambar diagram CPM proyek pembuatan truk tipe Gambar 5.1 Diagram Network CPM 5.2. Hasil Pembahasan PERT Dengan menggunakan analisis network planning dengan menggunakan metode PERT (Program Evaluation and Review Technique), proyek pembuatan truk tipe OF 2528 C ini dapat diselesaikan dalam jangka waktu 1003,2 menit. Serangkaian aktivitas yang masuk kedalam lintas kritis dalam metode PERT pada proyek ini sama dengan metode CPM yaitu urutan kegiatan yang melalui Kegiatan A (Proses Engraving), Kegiatan B (Assembly Bracket), Kegiatan C (Harness and Takalan ), Kegiatan D (Assembly Spring and Wishbone), Kegiatan F (Axle), Kegiatan I (Assembly Engine to ), Kegiatan L (Assembly Muffler), Kegiatan M (Assembly Cabin to ), Kegiatan P (Assembly Tire to ), dan Kegiatan Q (Final Assy). Lintas kritis yang terjadi dalam metode PERT dapat dilihat pada gamabr 4.2. dengan analisa bahwa

69 jalur kritis merupakan jalur yang tidak memiliki tenggang waktu antara selesainya satu tahap kegiatan dengan kegiatan dengan tahap mulainya kegiatan berikutnya. Dalam analisis pembuatan truk tipe OF 2528 C di PT. Mercedes- Benz Indonesia dengan metode PERT (Program Evaluation and Review Technique) juga didapatkan varians dari masing-masing kegiatan. Pada masing-masing kegiatan proyek pembuatan truk tipe OF 2528 C di PT. Mercedes-Benz Indonesia yang melintasi lintasan kritis ini dihasilkan varians sebesar 70,3 dengan standar deviasi sebesar 8,4 menit. Standar variasi ini dapat digunakan untuk mengukur besarnya probabilitas proyek pembuatan truk tipe OF 2528 C di PT. Mercedes-Benz Indonesia sesuai waktu yang telah dihitung dengan waktu normal pada diagram CPM yaitu selama 1003 menit. Dari pehitungan probabilitas tersebut didapatkan hasil bahwa besarnya peluang untuk terselesaikannya pengerjaan proyek selama 1003,2 menit adalah sebesar 49,20%. Berikut adalah lintasan kritis dengan menggunakan metode PERT :

70 Gambar 5.2 Diagram Network PERT Disamping memiliki kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh CPM, metode PERT juga memiliki kelebihan lain, yaitu dapat memperkirakan kemungkinan waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan. Namun, metode PERT ini masih memiliki kelemahan yang sama dengan CPM, yaitu tidak dapat menunjukkan hambatan atau gangguan antar kegiatan dan tidak dapat memperlihatkan dan mempertahankan perhitungan kecepatan produksi. 5.3 Analisa Komparasi Dari perbandingan masing-masing metode perencanaan dan penjadwalan proyek diatas, maka penulis dapat menghasilkan analisa komparasi dari segi waktu. Adapun pembahasannya adalah sebagai berikut:

71 Pada penelitian ini metode yang dipakai untuk penjadwalan adalah metode CPM dan PERT. Perbandingan waktu kedua metode tersebut dapat dilihat pada tabel 5.1 Tabel 5.1 Perbandingan Waktu Uraian CPM PERT Selisih Waktu ( Menit ) 1003 1003,2 0,2 Grafik Perbandingan Metode Terhadap Waktu 1003.2 1003.15 Waktu (Menit) 1003.1 1003.05 1003 1002.95 1002.9 CPM PERT Metode Penjadwalan Gambar 5.3 Grafik Perbandingan Metode CPM dan PERT Berdasarkan tabel dan grafik di atas, maka dapat dilihat bahwa metode CPM lebih efektif dan efisien daripada metode PERT dalam proyek ini, dengan selisih waktu 0,2 menit. 5.4 Menentukan waktu penyelesaian untuk pembuatan truk tipe OF 2528 C.

72 Berdasarkan hasil dari perhitungan menggunakan metode CPM diatas maka dihasilkan lintasan kritis adalah kegiatan A, B, C, D, F, I, L, M, P, Q. Kurun waktu penyelesaian proyek atau waktu siklusnya adalah 1003 menit dengan total tenaga kerja 10 orang yang pengerjannya masingmasing menggunakan 1 kegiatan 1 operator. Pengukuran jenis ini disebut langsung karena pengamat waktu berada di lokasi objek pengukuran sedang diamati atau diproses oleh operator. Dengan demikian, secara langsung pengamat melakukan pengukuran atas waktu kerja yang dibutuhkan oleh seorang operator (objek pengamatan) dalam penyelesaian pekerjaannya. Maka data hasil waktu penyelesaian pada proses pembuatan truk tipe OF 2528 C dapat dilihat pada tabel 5.2. Tabel 5.2 Data Waktu Penyelesaian Jalur Kritis pada proyek pembuatan truk tipe OF 2528 C. Kegiatan Simbol Man Power Waktu Penyelesaian (Menit) Engraving Process A 1 51 Assembly Bracket B 1 37 Harness and Takalan C 1 120 Assembly Spring and Wishbone D 1 110 Axle F 1 135 Assembly Engine To I 1 119

73 Assembly Muffler to L 1 111 Assembly Cabin to M 1 112 Assembly Tire To P 1 117 Final Assembly Q 1 91 Total Tenaga Kerja dan Waktu Penyelesaian 10 1003 Sumber : Data peneliti yang diolah Berdasarkan target yang telah ditentukan oleh perusahaan yang sebesar 7 unit/hari maka perhitungan menentukan waktu takt time nya adalah sebagai berikut: Target Produksi = 7 Unit/hari Dalam 1 hari effective working hours = 7,3 jam Asumsi Takt Time = Maka Takt Time = 7,3/7 = 1,04 jam atau 62,4 menit. Berdasarkan hasil dari waktu penyelesaian pada tabel diatas menunjukkan bahwa masih adanya pembagian pekerjaan yang tidak merata atau tidak seragam di antara stasiun kerja melihat masih terdapat perbedaan waktu over atau menganggur dari setiap stasiun. Setelah mengetahui hasil waktu penyelesaian atau lead time maka langkah selanjutnya adalah membalancingkan waktu penyelesaian dengan metode yang digunakan untuk menganalisis yaitu dengan pembuatan peta kerja berdasarkan pengamatan langsung. Berdasarkan hasil analisis peta kerja maka terdapat sebuah usulan yaitu dengan adanya penambahan tenaga

74 kerja atau man power. Adapun perhitungan membalancing waktu penyelesaian proses produksi pada jalur kritis pembuatan truk tipe OF 2528 C dengan usulan penambahan tenaga kerja pada proses Harness and Takalan adalah sebagai berikut : Waktu penyelesaian kegiatan Harness and Takalan = 120 menit Man Power Aktual = 1 operator Tak Time = 62,4 menit Asumsi Man Power = Maka, usulan man power = 120/62,4 menit = 1,92 = 2 MP. Maka perataan data waktu penyelesaian proses produksi dengan usulan penambahan tenaga kerja berdasarkan takt time pada proses pembuatan truk tipe OF 2528 C dapat dilihat pada tabel 5.3 Tabel 5.3 Data waktu penyelesaian proses produksi pada jalur kritis dengan usulan penambahan tenaga kerja berdasarkan takt time pada proses pembuatan truk tipe OF 2528 C Kegiatan Simbol Man Power (Aktual) Waktu Penyelesai an (Menit) Takt Time (Menit) Man Power (Usulan) Waktu Penyelesai an Usulan (Menit) Engraving Process A 1 51 62,4 1 51 Assembly Bracket B 1 37 62,4 1 37 Harness and Takalan C 1 120 62,4 2 60 Assembly Spring and D 1 110 62,4 2 55

75 Wishbone Axle F 1 135 62,4 3 45 Assembly Engine To Assembly Muffler to Assembly Cabin to Assembly Tire To I 1 119 62,4 2 59.5 L 1 111 62,4 2 55.5 M 1 112 62,4 2 56 P 1 117 62,4 2 58.5 Final Assembly Q 1 91 62,4 2 45.5 Total Man Power dan Waktu 10 1003 19 523 Penyelesaian Sumber : Data peneliti yang diolah Berdasarkan perhitungan waktu penyelesaian proses produksi pada tabel 5.3 diatas, diketahui bahwa dengan target dari perusahaan sebesar 7 unit/hari maka takt time untuk produksi truk tipe OH 2528 C adalah sebesar 62,4 menit/unit. Sedangkan diketahui waktu penyelesaian jalur kritis aktual untuk produksi truk tipe OH 2528 C dengan tenaga kerja aktual yaitu masing-masing 1 tenaga kerja dengan total tenaga kerja yaitu 10 orang maka didapatkan total waktu penyelesaian sebesar 1003 menit/ hari dengan cycle time nya sebesar 135 menit. Maka dinyatakan waktu

76 penyelesaian aktual tersebut tidak dapat memenuhi target takt time yang sudah ditentukan oleh perusahaan. Maka dari itu, dilakukan sebuah usulan penambahan tenaga kerja yang total tenaga kerja aktualnya adalah sebanyak 10 tenaga kerja menjadi 19 tenaga kerja dengan rincian engraving process tetap 1 orang, assembly bracket 1 orang, harness and takalan menjadi 2 orang, assembly spring and wishbone menjadi 2 orang, axle menjadi 3 orang, assembly engine to chassis menjadi 2 orang, assembly muffler to chassis menjadi 2 orang, assembly cabin to chassis menjadi 2 orang, assembly tire menjadi 2 orang dan final assy menjadi 2 orang. Berdasarkan hasil pada tabel 4.6 diketahui bahwa dengan penambahan tenaga kerja tersebut total waktu penyelesaian nya berubah menjadi 523 menit/unit dengan cycle time nya sebesar 60 menit. maka dengan effektivitas waktu yang tersedia dalam 1 hari sebanyak 7,3 jam atau 438 menit/hari, maka produksi per hari berdasarkan cycle time usulan adalah = 7,3 unit/hari atau melebihi dari target yang sudah ditentukan perusahaan sebanyak 7 unit/hari. Berikut adalah tabel perbandingan total waktu penyelesaian, total man power dan cycle time pada proses produksi pembuatan truk tipe OF 2528 C aktual dengan adanya usulan penambahan tenaga kerja. Tabel 5.4 Perbandingan total waktu penyelesaian, total man power dan cycle time pada jalur kritis proses produksi pembuatan truk tipe OF 2528 C aktual dengan adanya usulan penambahan tenaga kerja Data Hasil Total Man Total Waktu Cycle Takt Waktu Pada Power Penyelesaian Time Time

77 Jalur Kritis (Menit) (Menit) (Menit) Aktual 10 1003 135 62,4 Usulan 19 523 60 62,4 Sumber : Data peneliti yang diolah 5.5 Diagram Yamazumi Diagram yamazumi biasanya digunakan untuk membantu dalam mendesain sel-sel produksi dan memonitor perbaikan terus menerus. Dengan yamazumi, akan memungkinkan untuk memvisualisasikan berbagai elemen kerja yang berlangsung dalam proses produksi kemudian membandingkan dengan output yang dibutuhkan konsumen. Grafik yamazumi berbentuk tumpukan sederhana dari bar chart dari lamanya waktu setiap aktivitas dalam proses produksi. Dalam membuat diagram yamazumi untuk melihat keseimbangan lini dari proses produksi membutuhkan takt time dimana takt time yang telah ditentukan perusahaan adalah 62,4 menit/ unit atau 7 unit/hari. Berarti untuk menggunakan metode yamazumi pada setiap proses waktunya tidak lebih dari 62,4 menit. Berikut ini adalah grafik yamazumi menggunakan data waktu penyelesaian usulan dapat dilihat di gambar 5.4

78 Minute 200 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 51 Engravi ng Process 37 Assemb ly Bracket Harness and Takalan Proses Produksi Truk tipe OF 2528 C Assemb ly Spring and Wishbo ne Main Line 60 55 59.5 55.5 56 58.5 45 45.5 2 2 3 2 2 2 2 2 25 1 25 1 1 1 17 7 Axle Assemb ly Engine To Assemb ly Muffler to Target Takt Time/ unit = 62,4 menit Assemb ly Cabin to Assemb ly Tire To Final Assemb ly Battery Box With Air tank Engine Cycle Time Man Power 110 Cab rear suspens ion Air intake Cycle Time 51 37 60 55 45 59.5 55.5 56 58.5 45.5 25 17 25 7 110 39 Takt Time 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 Man Power 1 1 2 2 3 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 Tire 39 Bumper Gambar 5.4 diagram yamazumi produksi truk tipe OF 2528 C Menurut gambar 5.4 kita bisa lihat produksi yang dijalankan dengan total 25 tenaga kerja aktual masih kurang efisien karena masih terdapat naik turunya grafik yang sangat signifikan dari beberapa proses yang kurang dari batas waktu yang sudah ditentukan oleh perusahaan sebesar 62,4 menit. Terdapat 1 proses yang sangat melebihi waktu takt time yang tersedia yaitu sebesar 110 menit pada proses tire. Sedangkan sebaliknya, pada proses battery box, engine, cab rear, air intake, dan bumper memiliki waktu yang sangat rendah dari waktu takt time yang tersedia, yang masing-masing waktunya adalah 25 menit, 17 menit, 25 menit, 7 menit, dan 39 menit. Oleh sebab itu berikut ini adalah usulan agar waktu penyelesaian proses yang ada tidak melewati batas waktu takt time yang telah ditentukan oleh perusahaan yaitu dengan cara penggabungan proses kerja yang mempunyai waktu kurang atau lebih dari takt time yaitu

79 62,4 menit. Berikut adalah diagram yamazumi setelah adanya penggabungan proses kerja dapat dilihat pada gambar 5.5. Minute 200 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 51 37 Engravin Assembl g Process y Bracket Proses Produksi Truk tipe OF 2528 C 60 55 59.5 55.5 56 58.5 55 55 56 57 2 45 45.5 2 3 2 2 2 2 2 1 1 1 Harness and Takalan Main Line Assembl y Spring and Wishbon e Axle Assembl y Engine To Target Takt Time/ unit = 62,4 menit Assembl y Muffler to Assembl y Cabin to Assembl y Tire To Final Assembl y Waktu Proses Battery Box With Air tank Cab rear suspensio n& Air Intake Waktu Proses 51 37 60 55 45 59.5 55.5 56 58.5 45.5 55 55 56 57 Takt Time 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 62.4 Man Power 1 1 2 2 3 2 2 2 2 2 1 1 1 1 Tire Bumper & Tire Gambar 5.5 diagram yamazumi produksi truk tipe OF 2528 C setelah adanya penggabungan proses kerja Berdasarkan gambar 5.5 terlihat bahwa pada diagram yamazumi di atas sudah terdapat waktu yang tidak terlalu jauh dari waktu takt time, dimana sebelumnya proses tire sebesar 110 menit dan melebihi takt time, setelah digabungkan proses dengan bumper maka menjadi sebesar 56 menit. Sedangkan bumper bertambah menjadi 57 menit. Adapun proses lain, seperti battery box digabung dengan engine sehingga menjadi waktu 55 menit, dan proses cab rear suspension digabung dengan air intake dan menjadi sebesar 55 menit. Waktu tersebut menjadi seimbang atau tidak terlalu rendah dari waktu takt time sehingga dapat mengurangi waktu menganggurnya.

80 Berdasarkan gambar 5.4 dan gambar 5.5 terlihat bahwa pada diagram yamazumi di atas ketika sebelum adanya penggabungan proses kerja dan sesudah adanya proses penggabungan proses kerja disetiap proses akan membuat lini perakitan truk tipe OF 2528 C menjadi lebih optimal. Dengan total tenaga kerja usulan sebanyak 23 orang dari jumlah tenaga kerja aktual sebanyak 25 tenaga kerja, artinya terjadi pengurangan tenaga kerja yang sangat baik untuk perusahaan karena dapat menghemat penggunaan operator. Dengan pengurangan jumlah proses kerja itu berarti berkurang pula jumlah operator di lini proses engine dan air intake untuk pembuatan truk tipe OF 2528 C. 5.6 Hasil Perbandingan Waktu Penyelesaian Proses Kerja Antara Pemetaan Kerja dengan Evaluasi Diagram Yamazumi Berdasarkan hasil perbandingan pada tabel diatas diketahui bahwa jumlah proses kerja pada kondisi aktual yakni 17 proses kerja yang memiliki total tenaga kerja sebanyak 25 orang menunjukkan adanya ketidakseimbangan pada beberapa lintasan produksi sehingga perlu dilakukan perbaikan yaitu dengan menggabungkan proses kerja dengan metode grafik yamazumi. Dengan adanya penggabungan proses maka didapatkan bahwa jumlah proses kerja berkurang menjadi 15 proses kerja dimana proses engine dan air intake digabung dengan proses battery box dan cab rear.

81 Maka dengan pengurangan jumlah proses kerja maka jumlah tenaga kerja menjadi berkurang menjadi 23 orang, dimana dengn mengurangi jumlah operator maka biaya upah kerja dapat direduksi. Selain itu, dengan berkurangnya waktu menganggur maka akan semakin banyak waktu kerja produktif yang dapat dimanfaatkan perusahaan untuk meningkatkan jumlah produksi. Hal ini menunjukkan bahwa metode yang diusulkan memberikan solusi yang baik dan dengan menerapkan metode tersebut maka masalah yang dihadapi perusahaan akan terselesaikan. Akan tetapi, total waktu penyelesaian tidak berubah tetap 746 menit dan cycle time nya juga tetap 60 menit yang artinya dibawah waktu dari takt time yang sudah ditentukan sebesar 62,4 menit atau memenuhi target dari perusahaan. Berikut adalah tabel perbandingan antara sebelum dengan sesudah adanya penggabungan proses kerja pada pembuatan truk tipe OF 2528 C. Tabel 5.5 Tabel Perbandingan Waktu Penyelesaian Proses Kerja Antara Sebelum Dengan Sesudah Adanya Penggabungan Proses Kerja Pada Pembuatan Truk Tipe OF 2528 C Kegiatan Simb ol Man Power (Aktual ) Total Waktu Penyelesaian aktual (Menit) Man Power (Usulan ) Total Waktu Penyelesaian Usulan (Menit) Cycle Time (Menit) Takt Time (Menit) Engraving Process A 1 51 1 51 Assembly Bracket B 1 37 1 37 Harness and Takalan C 2 60 2 60 60 62,4 Assembly Spring and Wishbone D 2 55 2 55

82 Axle F 3 45 3 45 Assembly Engine To Assembly Muffler to Assembly Cabin to Assembly Tire To I 2 59.5 2 59.5 L 2 55.5 2 55.5 M 2 56 2 56 P 2 58.5 2 58.5 Final Assembly Q 2 45.5 2 45.5 Battery Box with Air Tank E 1 25 1 55 Engine G 1 17 Cab rear Suspension J 1 25 Air Intake K 1 7 1 55 Tire N 1 110 1 56 Bumper O 1 39 1 57 Total Man Power dan Waktu Penyelesaian 25 746 23 746 Sumber: Data peneliti yang diolah Berikut adalah tabel perbandingan dari waktu aktual dengan pemerataan kerja dan evaluasi diagram yamazumi. Tabel 5.6 Perbandingan Waktu Penyelesaian, Cycle Time, dan Man Power dari Waktu Aktual dengan pemerataan kerja dan evaluasi diagram yamazumi. Total Waktu Cycle Man Takt

83 Penyelesaian Time power Time (Menit) (Menit) (Menit) Aktual 1003 135,5 16 Dengan Pemerataan Kerja 523 60 25 62,4 Evaluasi Yamazumi 523 60 23 Sumber : Data Peneliti yang diolah Berdasarkan perbandingan di atas, didapatkan hasil waktu penyelesaian paling optimal yaitu sebesar 523 Menit dari waktu penyelesaian aktual 1003 menit dan dengan total tenaga kerja 23 orang atau terjadi kenaikan 7 orang dari total tenaga kerja aktual, dan dengan cycle time nya 60 Menit atau lebih cepat dari cycle time awal sebesar 135,5 menit. Cycle time tersebut dapat memenuhi target perusahaan atau takt time sebesar 62,4 menit.