LEAN MANUFACTURING. part 2

dokumen-dokumen yang mirip
Lean Thinking dan Lean Manufacturing

BAB V HASIL DAN ANALISIS

BAB II LANDASAN TEORI

VI. TOYOTA PRODUCTION SYSTEM. A. Pengertian Toyota Production System (TPS)

SISTEM PRODUKSI JUST IN TIME (SISTEM PRODUKSI TEPAT WAKTU) YULIATI, SE, MM

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Dasar pemikiran dari lean thinking adalah berusaha menghilangkan waste

RANCANGAN SISTEM KANBAN UNTUK MENGURANGI NON VALUE ADDED ACTIVITIES PADA PROSES PRODUKSI DI PT. CENTRAL WINDU SEJATI

BAB I PENDAHULUAN. Pada umumnya, tujuan akhir suatu perusahaan adalah untuk memperoleh

Mulai. Studi Pendahuluan. Perumusan Masalah. Penetapan Tujuan. Pemilihan Variable. Pengumpulan Data. Menggambarkan Process Activity Mapping

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang

DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... SURAT PERNYATAAN... SURAT KETERANGAN PENELITIAN... LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING... LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI...

BAB IV RENCANA IMPLEMENTASI DAN KEBUTUHAN SUMBER DAYA

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

SISTEM PRODUKSI JUST IN TIME (SISTEM PRODUKSI TEPAT WAKTU) YULIATI, SE, MM

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

USULAN IMPLEMENTASI SISTEM PRODUKSI JUST IN TIME DENGAN KARTU KANBAN DI LINE PRODUKSI CORE MAKING DISA TIPE MESIN VERTIKAL PT AT INDONESIA

B A B 5. Ir.Bb.INDRAYADI,M.T. JUR TEK INDUSTRI FT UB MALANG 1

BAB II LANDASAN TEORI. Toyota Produksi Sistem. Tujuan produksi Lean digambarkan untuk mendapatkan

BAB I PENDAHULUAN I - 1

MRP. Master Production. Bill of. Lead. Inventory. planning programs. Purchasing MODUL 11 JIT DAN MRP

LEAN MANUFACTURING. Part 1

14 PRINSIP TOYOTA WAY

Pengantar Sistem Produksi Lanjut. BY Mohammad Okki Hardian Reedit Nurjannah

Wita Anggraita P, 2 Widia Juliani, 3 Pratya Poeri Suryadhini 1,2,3. Program Studi Teknik Industri, Fakultas Rekayasa Industri, Telkom University

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PENERAPAN SISTEM KANBAN PENYEDIAAN MATERIAL UNTUK PROSES PRODUKSI PADA PT X

Perancangan dan Penerapan Kanban di PT. X

Permasalahan yang akan dijadikan objek penelitian ini adalah keterlambatan pengerjan proyek pembuatan High Pressure Heater (HPH) di PT.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. A. Kesimpulan

BAB I PENDAHULUAN. fashion. Mulai dari bakal kain, tas batik, daster, dress, rompi, dan kemeja

BAB II LANDASAN TEORI

BAB V ANALISIS HASIL. material dalam sistem secara keseluruhan. Value stream mapping yang

I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN

Pendahuluan. I.1 Latar belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Penerapan Lean Manufacturing dalam Proses Produksi Common Rail 4D56

KATA PENGANTAR. berkenan memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat ANALISA PENERAPAN KONSEP LEAN THINKING

Pengantar Manajemen Produksi & Operasi

BAB XII JUST IN TIME

BAB 2 LANDASAN TEORI

IDENTIFIKASI PENYEBAB KETERLAMBATAN WAKTU PERBAIKAN MESIN PRODUKSI DENGAN VALUE STREAM MAPPING DI PERUSAHAAN PENGOLAHAN SUSU

MANAJEMEN PERSEDIAAN. HARIRI, SE., M.Ak Universitas Islam Malang 2017

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Lean Definition 2.2 A House of Lean

PERANCANGAN PERBAIKAN SISTEM SUPPLY CHAIN DENGAN LEAN MANUFACTURING PADA PT. CAKRA COMPACT ALUMINIUM INDUSTRIAL TUGAS SARJANA.

Secara Bahasa Jepang Kartu penanda yang berarti Isyarat

ISSN : e-proceeding of Engineering : Vol.2, No.1 April 2015 Page 878

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. massal. Sejumlah pekerjaan perakitan dikelompokkan kedalam beberapa pusatpusat

Minggu 11: Perencanaan Kegiatan Produksi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 13 MANAJEMEN SEDIAAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

Seminar Nasional IENACO ISSN:

Implementasi Lean Manufacturing untuk Identifikasi Waste pada Bagian Wrapping di PT. X Medan

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

PENGURANGAN WASTE DILANTAI PRODUKSI DENGAN METODE LEAN MANUFACTURING DI PT. KEMASAN CIPTATAMA SEMPURNA PASURUAN

Menghilangkan kegagalan/kesalahan dalam segala bentuk Percaya bahwa biaya persediaan dapat dikurangi Perbaikan secara terus menerus

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pada Perusahaan Roti Roterdam Malang. Berdasarkan hasil analisis

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

MINIMASI WASTE PADA PT. PETROKIMIA KAYAKU MENGGUNAKAN ANALISIS LEAN MANUFACTURING

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN I.1

ABSTRACT. Keywords: Traditional Methods, Cost Centre, Just In Time methods, Inventory. Universitas Kristen Maranatha

BAB IV PENGUMPULAN, PENGELOLAHAN DAN ANALISIS DATA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB 6 MANAJEMEN PERSEDIAAN

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

LAMPIRAN. 1. Layout Packaging Bottle. xix. Sumber : Data internal Packaging-Bottling Line 2 PT. Multi Bintang

BAHAN AJAR : Manajemen Operasional Agribisnis

DEVIS ZENDY NPM :

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

Meminimasi Lead Time Produksi Menggunakan Pendekatan Lean Manufacturing di PT Indofarma (Persero) Tbk (dengan Studi Kasus Kapsul Piroxicam 20 mg)

Strategi Peningkatan Produktivita s

BAB I PENDAHULUAN. Sun (2011) mengatakan bahwa lean manufacturing merupakan cara untuk

Akuntansi Biaya. Job Order Costing. Wahyu Anggraini, SE., M.Si. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi Manajemen.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

5 BAB V ANALISA DAN HASIL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sebelum penggunaan MRP biaya yang dikeluarkan Rp ,55,- dan. MRP biaya menjadi Rp ,-.

Tesis MM 2403 PERANCANGAN PENGELOLAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU PIPA PVC DI PT. DJABES SEJATI MENGGUNAKAN METODE JUST IN TIME (JIT)

Bab I Pendahuluan. Support. Webbing QC Sewing. Gambar I.1 Skema alur proses produksi tas di PT. Eksonindo Multi Product Industry

Evaluasi Sistem Bisnis Lean Oleh: Vincent Gaspersz, Lean Six Sigma master Black Belt

BAB 2 LANDASAN TEORI

PENERAPAN LEAN MANUFACTURING DALAM MENGIDENTIFIKASI DAN MEMINIMASI WASTE DI PT. HILON SURABAYA SKRIPSI. Oleh : SABTA ADI KUSUMA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Dengan kondisi ekonomi yang sulit sekarang ini karena dampak krisis ekonomi

PERANCANGAN LEAN PRODUCTION SYSTEM DENGAN PENDEKATAN COST INTEGRATED VALUE STREAM MAPPING PADA DIVISI KAPAL NIAGA STUDI KASUS PT PAL INDONESIA

TUGAS AKHIR PENERAPAN METODE LEAN SIGMA UNTUK MEMPERBAIKI KINERJA QUALITY, COST DAN DELIVERY PRODUK SUNVISOR ASSY DI PT. APM ARMADA AUTOPARTS

BAB I PENDAHULUAN. performansinya secara terus menerus melalui peningkatan produktivitas. Lean

Transkripsi:

LEAN MANUFACTURING part 2

Alhamdulillah selesai juga nulis bagian 2 ini.. Seperti pada bagian sebelumnya, tulisan ini sengaja dibuat dalam kalimat yang singkat dan padat, so kalau teman2 ada yang kurang jelas bisa ditanyakan lewat milis invocatio2004@yahooogroups.com atau kontak langsung ke penulis dan pugn.. Pada bagian 2 ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Teguh A.W (Farmasi UNPAD 2004) yang telah memberikan pengetahuan kepada penulis mengenai konsep takt time.. Akhir kata, semoga ilmu pada bagian 2 ini dapat memberikan manfaat bagi temen2,, Sanggahan, pertanyaan, saran, kritik atas materi di bagaian 2 ini dibuka demi kebaikan kita bersama... Salam, Pogung Dalangan, 26 Mei 2009 tbaw

TAKT TIME & CYCLE TIME Cycle time: waktu aktual yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu siklus pekerjaan (termasuk waktu kerja manual dan waktu berjalan) Takt time: total jam kerja per hari dibagi total produksi per hari Contoh: Jumlah produksi bulan Juni : 4940 Jumlah hari aktif di bulan Juni : 21 hari Jumlah produksi per hari : 235 unit/hari Jumlah shift per hari : 2 Jumlah jam kerja per shift : 7,5 jam Total jam kerja per hari : 15 jam = 900 menit Takt time = 900/235 = 3,8 menit/unit Dalam realitanya ada 3 kemungkinan: 1. Cycle time = Takt time (paling efisien, kapasitas produksi digunakan 100%) 2. Cycle time < Takt time (stagnasi, inventory) 3. Cycle time > Takt time (stock out) Idealnya pada sistem flow (sistem flow dan pull akan dijelaskan pada bagian selanjutnya), tidak ada lagi waste dan terjadi one piece flow dari awal hingga akhir Namun kenyataannya pelanggan (next process) setiap kali order tidak sebanyak 1 unit tetapi dalam satu palet Nah, untuk itulah digunakan yang namanya pitch Pitch waktu yang setara dengan jumlah pesanan pelanggan setiap kali pemesanan Semakin kecil pitch maka semakin sedit waste dan semakin cepat permasalahan dapat terdeteksi Pitch = takt time x pack out quantity

Contoh: Takt time = 60 detik Pack out quantity = 20 unit Artinya parts digerakkan tiap 20 unit sekali dari satu proses ke proses berikutnya Pitch = 60 x 20 = 1200 detik = 20 menit sekali Bagi temen2 yang bercita-cita jadi manager produksi selain harus paham mengenai proses produksi, temen2 salah satunya harus menguasai takt time Takt time sangat penting pada produksi bagian pengemasan Berikut akan dibahas contoh kasus uji efisiensi operator pengemasan dengan pendekatan takt time Contoh: Seorang supervisor produksi bagian pengemasan bernama Sarmoko ingin mengetahui tingkat efisiensi jumlah operatornya yang menangani pengemasan pada mesin kemas Oleeph AS-2004, Diketahui: Jumlah operator = 5 orang ( sorting 1 orang, cartoning 3 orang, weighing 1 orang) Oleeph AS-2004 mempunyai kecepatan 60 strip/menit Produk yang dihasilkan berupa kemasan strip dengan isi tiap dus adalah 3 strip Jawab: Sarmoko harus mencatat waktu yang dibutuhkan tiap operator untuk menyelesaikan tugasnya (per dus) Ternyata didapat data sebagai berikut (dalam detik): Cartoning Sorting Weighing 1 2 3 Average 2.54 9.32 8.65 5.93 1.44 Speed 60 strip/menit 1 strip/detik 0,33 dus/detik Takt time = 1/0,33 = 3 detik

Sorting = 2,54 / 3 = 0,85 1 orang Cartoning Rata-rata 3 orang cartoning = 7,97 detik So 7,97/3 = 2,66 3 orang Weighing = 1,44/3 = 0,48 1 orang Total 1+3+1 = 5 Dari data terlihat bahwa berdasar hasil perhitungan jumlah operator yang efisien adalah 5 orang, berarti penggunaan operator oleh Sarmoko sudah efisien Simpel kan? (NB: dalam prakteknya konsep takt time tidak hanya berhenti pada perhitungan saja, namun juga sampai pada pengatasan masalah bila ditemukan waste, dan ini sangat variatif, bergantung pada konndisi waktu itu) SISTEM FLOW Rangkai semua langkah dalam value stream yang memberi nilai tambah dalam urutan, sehingga barang dapat bergerak lancar dan cepat menuju pelanggan tanpa berbelokbelok, tanpa menunggu dan tanpa cacat Tujuan flow: untuk mengeliminasi stagnasi kerja Pada sistem tradisional bisa kita temukan banyak lubang yang memungkinkan mengendapnya inventory Dengan adanya one piece flow bisa mengungkapkan berbagai masalah dalam proses (karena adanya inventory dapat menutupi masalah) Bila kondisi ideal one piece flow tercapai, maka pada dasarnya tidak ada lagi WIP If some problem occurs in one piece flow manufacturing then the whole production line stops. In this sense it is very bad system of manufacturing. But when production stops everyone is forced to solve the problem immediately. So team members have to think, and through thinking team members grow and become better team members and people Teruyuki Minoura

Manfaat flow production: 1. Menekan penanganan material 2. Mengurangi WIP inventory 3. Menekan production lead time 4. Mengurangi tempat penyimpanan Tuntutan flow production: 1. Tempatkan mesin sesuai dengan urutan proses 2. Gunakan mesin yang compact dan yang mudah dipindahkan 3. Sejauh mungkin mendekati one piece flow 4. Produksi sesuai takt time 5. Sesedikit mungkin area WIP 6. Multiskilled operator 7. Produksi dengan berdiri (tanpa kursi) (sebenarnya habis flow production ada yang namanya process oriented layout dan product oriented layout, namun karena susah dijelaskan lewat tulisan jadi gak saya cantumin disini, bagi temen2 yang pengen tau bisa langsung ke saya or pugn (nb: no sms, hehe) Kasus: Pada bagian produksi tentunya kita harus memproduksi berbagai macam produk dari berbagai raw material pula. Lalu sebaiknya apakah kita menggunakan mesin super serba guna namun dengan harga yang sangat mahal atau membeli mesin kecil yang khusus untuk tiap karakter produk dengan harga yang jauh lebih murah? Jawab: Mesin super serba guna harganya sangat mahal tidak memungkinkan untuk membeli dalam jumlah yang cukup akan terjadi stagnasi dalam rangkaian produksi waste Lebih baik kiranya jika pake mesin kecil yang murah aja, so minimalisir waste Ingat : waste dalam bentuk apapun adalah haram hukumnya bagi orang produksi

Multiskilled Employee Kasus: Sarmoko seorang manager produksi yang bertanggungjawab di solid ethical line mempunyai 3 karyawan senior yang sangat ahli dan berpengalaman dalam bidang masing2, namanya adalah Kasdut, Tandut, dan Panda. Kasdut sangat ahli di bagian granulasi, Tandut adalah masternya pencetakan tablet, dan Panda sangat jenius pada bagian penyalutan tablet. Namun sayangnya belum ada karyawan lain yang seahli mereka. Sehingga Sarmoko menjadikan mereka sebagai orang kepercayaannya. Suatu ketika, Tandut cuti hamil selama 3 bulan. Mendengar kabar tersebut, Sarmoko langsung pusing 7 keliling, masalahnya tidak ada karyawan yang sanggup mencetak tablet sebagus Tandut. Maka terjadilah stagnasi pada pencetakan tablet, dan target produksi pun terbengakalai... Kasus tersebut akan sering kita temui jika kita tidak memperhatikan pentingnya regenerasi dan pelatihan pada semua karyawan Dalam lean, semua karyawan idealnya multiskilled, sehingga jika terjadi suatu masalah pada salah satu karyawan tidak akan memberikan dampak signifikan pada rangkaian produksi. Cara untuk membangun multiskilled employee bisa lewat banyak hal, salah satunya dengan pelatihan secara berkala, melakukan on the job training pada karyawan baru (pendampingan), memberikan tanggungjawab pada setiap karyawan, baik senior maupun junior agar setiap karyawan tergugah untuk mengembangkan skillnya, dll

PULL VS PUSH Pull: produksikan hanya sesuai dengan permintaan pelanggan Pull dikendalikan oleh pelanggan Push dikendalikan oleh perusahaan Sistem push: material didorong ke proses berikutnya berdasar kapasitas yang tersedia Sistem pull: material ditarik ke proses berikutnya sesuai dengan yang diperlukan Permasalahan mendasar dari sistem push adalah terjadinya produksi berlebih, sehingga menimbulkan waste berupa: a. tambahan penanganan b. tambahan ruang produksi c. tambahan bunga d. tambahan mesin e. tambahan defect f. tambahan overhead g. tambahan persediaan h. tambahan orang i. tambahan dokumen KANBAN Tahun 1950an, Taiichi Ohno pergi ke USA untuk mempelajari proses perakitan massal di pabrik Ford. Ohno belajar banyak dari pengalaman itu dan menyadari bahwa kinerja sistem Ford berhenti sebelum menjadi lebih baik lagi. Ohno juga mempelajari supermarket yang memesan dan refill persediaan dengan sistem sinyal. Inilah yang merupakan cikal bakal Kanban system... Kanban dalam bahasa Jepang berarti kartu Alat kendali berupa kartu untuk mengendalikan sistem JIT Kanban bukan satu2nya alat JIT, tapi cukup penting untuk memperlancar flow process dan mengontrol inventory in process

To be continued...