BAB IV METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
IV METODOLOGI PENELITIAN

sesuaian harga yang diterima dengan cost yang dikeluarkan. Apalagi saat ini,

HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil analisis, maka pada penelitian ini

III. METODE PENELITIAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP

VI. ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM DEDDY FISH FARM

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur

IV. METODE PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton.

IV. METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

IV. METODE PENELITIAN. Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pemilihan lokasi

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI PADI SAWAH DI KECAMATAN PERBAUNGAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI ABSTRACT

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo)

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG

III. METODE PENELITIAN

.SIMULASI KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING TEMBAKAU MADURA. Kustiawati Ningsih

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data

III KERANGKA PEMIKIRAN

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM

ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO

KERANGKA PEMIKIRAN. berupa derasnya arus liberalisasi perdagangan, otonomi daerah serta makin

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 3. No 2 Desember 2009)

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KEDELAI VS PENGUSAHAAN KEDELAI DI KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR

STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost )

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KELAPA DI KABUPATEN FLORES TIMUR

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan penelitian.

MACAM-MACAM ANALISA USAHATANI

ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KELAPA SAWIT DI KABUPATEN MUKOMUKO (STUDI KASUS DESA BUMI MULYA)

III. METODE PENELITIAN. Definisi operasional dan konsep dasar ini mencakup semua pengertian yang

DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR BAWANG MERAH TERHADAP USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik

EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI. I Made Tamba Ni Luh Pastini

ANALYSIS ON COMPETITIVENESS OF ARABICA COFFEE IN NORTH TAPANULI (Case Study: Bahal Batu III Village, Siborong-borong Subdistrict)

DAYA SAING KACANG TANAH PRODUKSI KECAMATAN KUBU KABUPATEN KARANGASEM

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya)

VII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING LADA PUTIH

ANALISIS DAYA SAING USAHA PEMBESARAN IKAN NILA PETANI PEMODAL KECIL DI KABUPATEN MUSI RAWAS

DAFTAR TABEL. 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun

III. METODE PENELITIAN. peneliti menggunakan konsep dasar dan batasan oprasional sebagai berikut:

Analysis of Competitiveness and Marketing Channels Ikan Kembung ( Rastrelliger sp.) in Rembang Regency, Central Java Effect

III. KERANGKA PEMIKIRAN

DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI

ANALISIS DAYA SAING KEDELAI DI JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING USAHATANI KOPI ROBUSTA (COFFEA CANEPHORA) DI KABUPATEN REJANG LEBONG

Keunggulan Komparatif dan Kompetitif dalam Produksi Padi di Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung

IV. METODE PENELITIAN. Fish Farm) dilaksanakan di lokasi usaha yang bersangkutan yaitu di daerah

IV. METODE PENELITIAN

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI

POLICY BRIEF DAYA SAING KOMODITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI DALAM KONTEKS PENCAPAIAN SWASEMBADA PANGAN. Dr. Adang Agustian

Lampiran 1. Perhitungan Premium Nilai Tukar dan Nilai Tukar Bayangan Tahun 2009

III KERANGKA PEMIKIRAN

ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHATANI JAGUNG DAN PADI DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA ZULKIFLI MANTAU

(The analysis of profitability, comparative advantage, competitive advantage and import policy impact on beef cattle fattening in west java)

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHATANI PALA (STUDI KASUS: KABUPATEN BOGOR DAN SUKABUMI)

ANALISIS SENSITIVITAS

SENSITIVITAS DAYA SAING JERUK LOKAL KABUPATEN JEMBER [SENSITIVITY OF JEMBER LOCAL CITRUS COMPETITIVENESS]

KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2

PENENTUAN PRODUK UNGGULAN PADA KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN GIANYAR

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA AGRIBISNIS AYAM RAS PEDAGING DI KABUPATEN LAMONGAN JAWA TIMUR

Jl. Veteran Malang Telp (0341)

EMBRYO VOL. 7 NO. 2 DESEMBER 2010 ISSN

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 2. No 1 Juni 2008)

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF JERUK SIAM DI SENTRA PRODUKSI

PEMODELAN DAN STRATEGI COMPETITIVENESS AGRIBISNIS TEMBAKAU BESUKI NA-OOGST DI JAWA TIMUR

DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI RAKYAT PADA KELOMPOK TANI DAN NON KELOMPOK TANI (suatu survey di Kelurahan Eka Jaya)

EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI

VII. ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PADA USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN Kerangka Skenario Perubahan Harga Input dan Output

PENGEMBANGAN KAWASAN AGRIBISNIS JAGUNG DAN MANGGA DI KABUPATEN BLORA Development of Corn and Mango Agribusiness Region in Blora District

Transkripsi:

BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Karangasem dengan lokasi sampel penelitian, di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu. Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan metode purposive sampling, yakni suatu metode penentuan lokasi penelitian yang ditentukan dengan secara sengaja didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut : 1. Kecamatan Kubu merupakan sentra produksi komoditas Jambu Mete di Kabupaten Karangasem, di mana Desa Dukuh merupakan salah satu desa dari 9 desa percontohan dalam pemetaan Kawasan Agropolitan Kabupaten Karangasem, yang potensial dalam pengembangan Jambu Mete. 2. Di Desa Dukuh juga terdapat Unit Usaha Produktif (UUP) olahan basah Jambu Mete, yakni UUP Kelompok Tani Subak Abian Jambu Mete Buana Kusuma Kecamatan Kubu. 3. Pada tahun 2009, Kecamatan Kubu mampu menghasilkan produksi Jambu Mete 2,992.77 ton dengan produktivitas 594.98 kg/ha/tahun. (Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Karangasem, 2009). Sementara itu, dalam menghimpun informasi dan data primer di lapangan, serta tambahan informasi dan data sekunder dalam penelitian ini memakan waktu selama tiga bulan, Pebruari - April 2011. 59

60 4.2 Jenis dan Sumber Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis data, yakni data primer dan sekunder. Data primer terfokus pada jenis informasi yang langsung bersumber dari semua stakeholder yang terlibat dalam komoditas unggulan jambu mete dan dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner (daftar pertanyaan). Sementara itu, sumber data lainnya yang penting adalah data sekunder. Hal ini diperoleh dengan mengumpulkan informasi terkait pada penelitian ini yang telah tercetak, baik dalam bentuk laporan tahunan, hasil penelitian dan sumber statistik lainnya yang dapat dipercaya. Informasi ini umumnya bersumber dari instansi pemerintah dan jurnal ilmiah. 4.3 Metode Pengumpulan Data Untuk memperoleh data dan informasi (data primer dan sekunder) yang objektif, maka dilakukan pendekatan atau teknik pengumpulan data sebagai berikut: 1. Survei, dilakukan untuk mengumpulkan data dan informasi kuantitatif dan kualitatif yang berhubungan dengan potensi dan areal pengembangan komoditas unggulan, informasi di tingkat usaha tani, informasi pada tingkat kelembagaan pasar (unit usaha produktif), harga input dan komoditas unggulan di pasar dunia. 2. Observasi langsung ke lapangan, dimaksudkan untuk mengetahui dan melihat secara langsung perilaku stakeholder, serta keberadaan pelaku usaha tani dan pelaku pasar atau kelembagaan yang terkait dengan pengembangan

61 komoditas jambu mete. Hasil observasi ini digunakan sebagai informasi dasar dan klarifikasi serta cek silang berbagai fenomena yang terungkap. 3. Wawancara mendalam, dimaksudkan untuk mengetahui aspek-aspek kualitatif dan kuantitatif secara mendalam serta komprehensif melalui kuesioner yang telah dibuat dan dirancang sebelumnya. Untuk itu, sasaran wawancara mendalam adalah informan kunci yang memiliki kompetensi dengan kajian yang sedang ditelaah. 4.4 Populasi dan Penentuan Sampel Menurut Soekartawi (1995), populasi merupakan jumlah dari anggota secara keseluruhan. Populasi atau keseluruhan objek pengamatan dalam penelitian ini adalah petani jambu mete yang terhimpun ke dalam Subak Abian Bhuana Kubu, Desa Dukuh, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem. Subak Abian Bhuana Kubu ini memiliki luas lahan perkebunan 192,57 ha, dengan jumlah anggota 89 orang. Penentuan Subak Abian dalam penelitian ini ditentukan secara purposive sampling, dengan pertimbangan bahwa hanya Subak Abian Bhuana Kubu saja yang melakukan usaha komoditas jambu mete organik. Sedangkan penentuan sampel/responden dalam penelitian ini dilakukan secara acak (random sampling), sebesar 29% atau sebanyak 25 orang dengan asumsi bahwa jumlah populasi yang ada relatif homogen dilihat dari aspek sosial ekonominya. Sehingga jumlah sampel/responden dari seluruh anggota subak tersebut sudah dapat mewakili populasi yang ada.

62 4.5 Variabel dan Cara Pengukuran Variabel Penelitian Variabel penelitian terdiri atas data primer dan data sekunder. Adapun variabel dan cara pengukurannya dapat dilihat pada Tabel 4.1. Tabel 4.1. Variabel dan Cara Pengukuran Variabel Penelitian Pebruari 2011 s/d April 2011 Konsep Sumber data Variabel Pengukuran Analisis efisiensi dan daya saing komoditas Jambu Mete Data primer Data sekunder Struktur Input Input Tradable Faktor Domestik Output fisik Harga Privat Input Harga Faktor Domestik Harga Output Perkembangan luas areal, produksi, productivitas, konsumsi, ekspor dan impor komoditas jambu mete Perkembangan produksi, konsumsi dan harga jambu mete dunia Perkembangan ekspor dan impor komoditas jambu mete dunia Budidaya, pengolahan dan pemasaran jambu mete Perkembangan nilai tukar dolar US terhadap rupiah Nilai pemilahan kandungan komponen input Faktor konversi harga pasar aktual (privat) ke harga bayangan (sosial) Perkembangan harga dasar dan harga impor pupuk kimia Data iklim Kualitatif Informasi siklus dan pola produksi tanaman perkebunan dan kebijakan pengembangan komoditas jambu mete Kualitatif

63 4.6 Metode Analisis Studi ini merupakan jenis penelitian deskriptif dan kuantitatif dengan pendekatan melalui metodologi problem solving, di mana menghasilkan keputusan untuk memecahkan persoalan yang menjadi sasaran penelitian, yakni keputusan pengelompokan komoditas unggulan. Metodologi ini digunakan untuk menguji kebenaran keberadaan atau posisi komoditas unggulan yang ada, menggunakan pendekatan ekonomi yang bersifat mikro dan makro. Alat analisis yang dapat digunakan untuk kepentingan tersebut adalah policy analysis matrix (PAM). PAM merupakan alat analisis yang memiliki kemampuan dan kegunaan yang cukup luas, yakni dapat mengetahui dan mengkaji posisi komoditas unggulan, dari aspek pendapatan petani, prospek pengusahaannya pada posisi penilaian internasional dan posisi komoditas tersebut pada pasar internasional (ekspor atau impor), serta distorsi pasar sebagai akibat dari kegagalan pasar dan distorsi suatu kebijakan pada input dan outputnya. Sebelum menggunakan metode PAM terlebih dahulu dilakukan analisis usahatani, perantara dan kegiatan ekspor. Pada metode yang konvensional, perhitungan efisiensi ekonomi atau keunggulan komparatif dan dampak kebijakan pemerintah dikerjakan secara terpisah dan outputnya terbatas. Dengan pendekatan metode PAM ini, keunggulan-keunggulan komparatif dan kebijakan pemerintah dapat dihitung sekaligus secara menyeluruh dan sistematis. Melalui pendekatan perhitungan matrik PAM tersebut dapat dihasilkan besarnya keuntungan pada nilai finansial

64 dan ekonomi, koefisien keunggulan komparatif atau domestic resource cost ratio (DRC) dan keunggulan kompetitif dalam artian sempit (private cost ratio/pcr). Indikator intervensi pemerintah antara lain kebijakan transfer harga output (output transfer/ot) dan input-input produksi (input transfer/it dan factor transfer/ft); proteksi pada output dan input (nominal protection coefficient on tradable output/npco dan nominal protection coefficient on tradable input/npci); proteksi efektif (effective protection coefficient/ EPC); profitabilitas (profitability coefficient/pc); dan subsidi pada produsen (subsidy ratio to producer/srp). Asumsi yang digunakan dalam analisis PAM adalah : (1) Harga pasar adalah harga yang benar-benar diterima petani atau produsen dan di dalamnya terdapat kebijakan pemerintah. (2) Harga bayangan adalah harga pada pasar persaingan sempurna yang mewakili biaya imbangan sosial yang sesungguhnya. Pada komoditas tradable, harga bayangan adalah harga yang terjadi di pasar internasional. (3) Input tradable adalah input produksi yang dapat diperdagangkan secara internasional (seperti pupuk kimia, benih, alat produksi, obat-obatan). (4) Input non tradable atau faktor domestik adalah input produksi yang tidak diperdagangkan di pasar internasional (seperti tenaga kerja, lahan, modal). (5) Output bersifat tradable, dan input dapat dipisahkan ke dalam input tradable dan faktor domestik (input non tradable). (6) Output fisik adalah hasil produksi usahatani jambu mete, dalam hal ini adalah hasil biji kering gelondongan

65 (7) Harga privat input adalah harga aktual dari input produksi yang dibayar petani jambu mete. (8) Harga faktor domestik adalah harga input non tradable atau faktor domestik yang dibayar oleh petani jambu mete berdasarkan harga yang berlaku di pasar domestik. (9) Eksternalitas diasumsikan sama dengan nol. Asumsi tersebut memberikan arti bahwa pada harga-harga input dan output komoditas yang dianalisis terdapat gangguan yang berupa peraturanperaturan atau pembatasan dari pemerintah maupun kegagalan pasar. Oleh karena itu, harga yang terjadi tidak mencerminkan yang sesungguhnya atau nilai kelangkaannya. Output yang dihasilkan merupakan barang-barang yang diperdagangkan (traded goods), yaitu suatu komoditas yang harganya ditentukan oleh impor atau ekspornya. Input yang digunakan dalam proses sistem komoditas tersebut terdiri atas faktor produksi domestik yang tidak diperdagangkan (input non tradable) dan faktor produksi yang diperdagangkan (input tradable). Faktor domestik atau input non tradable adalah input produksi yang harganya ditentukan oleh pasar domestik. Yang termasuk dalam input non tradable adalah lahan, tenaga kerja, dan modal. Di samping itu, tidak terdapat dampak negatif atau positif kepada pihak lain yang tidak terlibat langsung dalam sistem komoditas yang dianalisis. Supaya analisis PAM ini berjalan dengan baik, diasumsikan pula bahwa komoditas jambu mete domestik mempunyai kualitas yang sama dengan jamu mete yang diproduksi di luar negeri. Asumsi lainya adalah sebagai

66 berikut : (1) tingkat bunga nominal tahun 2010 adalah 21,60 %, (2) laju inflasi tahun 2010 adalah 5,30 % (BI, 2010), (3) tingkat suku bunga sosial 20,30 % per tahun dan (4) nilai tukar rupiah terhadap dolar asumsi APBN Perubahan 2010 adalah Rp 9.200,00 per US $ (BI, 2010). Adapun kerangka dasar analisis PAM seperti disajikan dalam ulasan berikut ini. Pada Tabel 4.2 menghasilkan antara lain indikator keunggulan komparatif dan kebijakan pemerintah. Secara rinci indikator yang dihasilkan adalah : Tabel 4.2 Prosedur Policy Analysis Matrix (PAM) Biaya - biaya Uraian Penerimaan Keuntungan Input tradable Faktor domestik Harga finansial A B C D (private price) Harga ekonomi/sosial E F G H (social price) Dampak kebijakan dan distorsi pasar I J K L (divergences effect) Sumber: Monke dan Pearson, 1995 Keterangan: Keuntungan finansial, D = A (B + C) Keuntungan ekonomi, H = E (F + G) Transfer output, I = A E Transfer input, J = B F Transfer faktor, K = C G Transfer bersih, L = D H atau L = I (J +K) Rasio biaya finansial, PCR = C/(A B) Domestic resource cost ratio, DRC = G/(E - F) Koefisien proteksi nominal ( NPC), - pada output tradable, NPCO = A/E - pada input tradable, NPCI = B/F Koefisien proteksi efektif, EPC = (A-B)/(E-F) Koefisien profitabilitas, PC = (A-B+C)/(E-F+G) atau D/H Rasio subsidi pada produsen, SRP = L/E atau (D-H)/E A. Analisis keuntungan (profitabilitas) 1. Private provitability (PP) : D = A (B + C)

67 Keuntungan privat merupakan indikator keunggulan daya saing (competitiveness) dari sistem komoditas berdasarkan teknologi, nilai output, biaya input, dan transfer kebijakan yang ada. Apabila D > 0, berarti sistem komoditas memproleh profit atas biaya normal yang mempunyai implikasi bahwa komoditas itu mampu ekspansi, kecuali apabila sumberdaya terbatas atau adanya komoditas alternatif yang lebih menguntungkan. 2. Social provitability ( SP) : H = E ( F + G ) Keuntungan sosial merupakan ukuran keunggulan komparatif (Comparative advantag) dari komoditas pada kondisi tidak ada divergensi baik akibat kebijakan pemerintah maupun distorsi pasar. Apabila H > 0, berarti secara sosial komoditas memperoleh profit atas biaya normal dalam harga sosial dan mempunyai keunggulan komparatif. B. Keunggulan komparatif atau efisiensi ekonomi 1. Private cost ratio ( PCR ) = C / ( A B ) PCR yaitu profitabilitas privat yang menunjukkan kemampuan sistem untuk membayar biaya sumberdaya domestik dan tetap kompetitif. Sistem bersifat kompetitif jika PCR < 1. Semakin kecil PCR berarti semakin kompetitif. 2. Domestic resource cost ratio ( DRCR ) = G / ( E F ) DRCR yaitu indikator keunggulan komparatif, yang menunjukkan jumlah sumberdaya domestik yang dapat dihemat untuk menghasilkan satu unit devisa. Sistem mempunyai keunggulan komparatif jika DRC < 1. Semakin kecil nilai

68 DRC berarti sistem semakin efisien dan mempunyai keunggulan komparatif makin tinggi. C. Kebijakan Pemerintah 1. Kebijakan output 1) Output Transfer : OT = A E. Output Transfer merupakan selisih antara penerimaan yang dihitung atas harga privat (finansial) dengan penerimaan yang dihitung berdasarkan harga sosial (bayangan). Jika nilai OT > 0 menunjukkan adanya transfer dari masyarakat (konsumen) terhadap produsen, demikian juga sebaliknya. 2) Nominal Protection Coefficient on Output (NPCO) = A /E. NPCO merupakan tingkat proteksi pemerintah terhadap output domestik. Kebijakan bersifat protektif terhadap output jika nilai NPCO > 1. Semakin besar nilai NPCO, berarti semakin tinggi tingkat proteksi pemerintah terhadap output. 2. Kebijakan input 1) Transfer Input : IT = B F. Transfer input adalah selisih antara biaya input yang dapat diperdagangkan pada harga privat dengan biaya yang dapat diperdagangkan pada harga sosial. Jika nilai IT > 0 menunjukkan adanya transfer dari petani produsen kepada produsen input tradable. 2) Nominal Protection Coefficient on Input (NPCI) = B/F. NPCI yaitu indikator yang menunjukkan tingkat proteksi pemerintah terhadap harga

69 input pertanian domestik. Kebijakan bersifat protektif terhadap input jika nilai NPCI < 1, berarti ada kebijakan subsidi terhadap input tradable. 3) Transfer Factor : FT = C G. Transfer faktor merupakan nilai yang menunjukkan perbedaan harga privat dengan harga sosial yang diterima produsen untuk pembayaran faktor-faktor produksi yang tidak diperdagangkan. Nilai FT > 0 mengandung arti bahwa ada transfer dari petani produsen kepada produsen input non tradable. 3. Kebijakan input - output 1) Effective Protection Coefficient (EPC) = ( A B )/( E F ). EPC yaitu indikator yang menunjukkan tingkat proteksi simultan terhadap output dan input tradable. Kebijakan masih bersifat protektif jika nilai EPC > 1. Semakin besar nilai EPC berarti semakin tinggi proteksi pemerintah terhadap komoditas pertanian domestik. 2) Net Transfer : NT = D H. Transper bersih merupakan selisih antara keuntungan bersih yang benar-benar diterima produsen dengan keuntungan bersih sosialnya. Nilai NT > 0, menunjukkan tambahan surplus produsen yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang diterapkan pada input dan output, demikian juga sebaliknya. 3) Profitability Coefficient (PC) = D/H. Koefisien keuntungan adalah perbandingan antara keuntungan bersih yang benar-benar diterima produsen dengan keuntungan bersifat sosialnya. Jika PC > 0, berarti secara keseluruhan kebijakan pemerintah memberikan insentif kepada produsen, demikian juga sebaliknya.

70 4) Subsidy Ratio to Producer (SRP) = L/E = (D H) / E : yaitu indikator yang menunjukkan proporsi penerimaan pada harga sosial yang diperlukan apabila subsidi atau pajak digunakan sebagai pengganti kebijakan.