III. KERNGK PEMIKIRN 3.1. Kerangka Konseptual Penelitian Peningkatan perekonomian suatu wilayah dapat diidentifikasi sebagai dampak dari pertumbuhan ekonomi dan penurunan tingkat kemiskinan. Sebagian besar negara yang berhasil mengurangi kemiskinan secara signifikan dalam angka waktu yang lama ketika pertumbuhan ekonominya meningkat. Lau pengurangan kemiskinan akibat dari pertumbuhan ekonomi bisa sangat berbeda, tergantung pada ketidakadilan dan pola distribusi pertumbuhan (Bank Dunia, 2, 27). pabila pertumbuhan memberi keuntungan bagi mereka yang kaya, kemiskinan akan berkurang secara lambat. Sektor pertanian primer memiliki peran sebagai sumber penyerapan tenaga kera, sumber pendapatan sebagian besar masyarakat maupun sumber penyedia bahan baku sektor industri. Melalui strategi tersebut produksi pertanian primer meningkat secara nyata sekaligus diperoleh pemerataan pendapatan pada tingkat yang moderat (Booth, 2), namun keberhasilan pertumbuhan ekonomi tidak selamanya dapat bergantung pada sektor pertanian primer. Ketika peningkatan produksi primer teradi secara melimpah (over supply), maka muncul tekanan harga sehingga peningkatan produksi tidak diikuti dengan peningkatan pendapatan produsen atau petani. Upaya yang terus memacu pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produksi primer ustru akan meningkatkan resiko kerugian. Oleh karena itu perlunya peranan sektor industri pengolahan hasil pertanian untuk menopang peningkatan produksi sektor pertanian primer. Berdasarkan konsep pemikiran yang telah di kemukakan maka kerangka konseptual penelitian untuk mengembangkan sektor pertanian dan industri
62 pengolahan hasil pertanian melalui investasi di Provinsi Sulawesi Tengah agar tercipta peningkatan perekonomian wilayah, maka salah satu alat yang paling baik digunakan adalah model Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE). Model Sistem Neraca Sosial Ekonomi dapat menggambarkan secara lengkap tentang struktur perekonomian wilayah, keterkaitan antar faktor produksi, institusi rumahtangga, sektor produksi, tabungan dan investasi, dan perdagangan luar negeri. Berdasarkan penelasan tersebut maka kerangka pikir dalam penelitian ini disaikan pada Gambar 7. ktivitas perekonomian dalam kerangka SNSE terdiri dari neraca aktivitas produksi dan neraca institusi rumahtangga. Neraca aktivitas produksi terdiri dari sektor pertanian dan industri pengolahan hasil pertanian, Neraca institusi rumahtangga terdiri dari rumahtangga berdasarkan pendapatan di sektor pertanian, berpendapatan rendah, dan berpendapatan tinggi di perdesaan maupun di perkotaan. Selain itu terdapat institusi swasta dan pemerintah. Jika pemerintah Sulawesi Tengah mengembangkan sektor pertanian dan industri pengolahan hasil pertanian (Neraca ktivitas Produksi) maka dampak langsungnya adalah dari sisi penerimaan, aktivitas produksi diperoleh dari penualan pasar domestik, penerimaan ekspor dan penerimaan paak ekspor oleh pemerintah. Sisi pengeluaran aktivitasnya meliputi permintaan antara, upah, sewa dan value added (nilai tambah) dari paak. Neraca Institusi, yang mencakup rumahtangga (berdasarkan pendapatan sektor pertanian, pendapatan rendah, dan pendapatan tinggi), perusahaan dan pemerintah. Dampaknya dari pengembangan sektor pertanian dan industri pengolahan hasil pertanian bahwa rumahtangga menerima pendapatan faktor produksi, berbagai bentuk transfer seperti transfer pendapatan diantara rumahtangga itu sendiri, transfer pendapatan dari pemerintah, transfer
63 dari perusahaan (berupa asuransi) atau transfer dari luar negeri (misalnya remittances). NERC KTIVITS Ekspor SEKTOR INDUSTRI PENGOLHN HSIL PERTNIN DISTRIBUSI PENDPTN NTR SEKTOR PERTNIN 1 2 3 1 2 3 4 5 I mpor LUR NEGERI Keterangan : 1. Industri makanan dan minuman 2. Industri kulit 3. Industri hasil hutan dan lainnya Paak Transfer Keterangan : 1. Sub Sektor Tanaman Pangan 2. Sub Sektor Perkebunan 3. Sub Sektor Peternakan 4 Sub Sektor Kehutanan Penualan Transfer Pembelian Faktor PSR FKTOR Investasi Transfer Transfer Paak Tidak Langsung Belana Pemerintah PSR BRNG/ JS Tabungan KPITL INSTITUSI PEMERINTH Pembayaran Paak Pembayaran Paak Subsidi INSTITUSI SWST Transfer/Subsi di Pengeluaran Konsumsi Penerimaan dari Faktor Produksi Tabungan Pemerintah Tabungan Rumah Tangga Subsidi GOLONGN PENDPTN SEKTOR PERTNIN Transfer GOLONGN PENDPT N RENDH GOLONGN PENDPT N TINGGI DISTRIBUSI PENDPTN NTR RUMHTNGG (DES/KOT) NERC INSTITUSI RUMH Gambar 7. Kerangka Pemikiran Pengaruh Investasi Sektor Pertanian dan Industri Pengolahan Hasil Pertanian di Provinsi Sulawesi Tengah Keterangan : = Neraca endogen institusi rumahtangga = Neraca endogen sektor produksi = Keterkaitan antar sektor = Keterkaitan satu sektor
64 Untuk pengeluaran rumahtangga yang terdiri dari pengeluaran atas barang-barang konsumsi, transfer antara rumahtangga, paak pendapatan dan sisanya dimasukkan sebagai tabungan dalam Neraca Modal. Perusahaan menerima keuntungan dan transfer, serta membayar paak dan transfer, kemudian sisanya dimasukkan sebagai tabungan dalam Neraca Modal. Selanutnya pengeluaran pemerintah berupa subsidi, konsumsi barang dan asa, transfer ke rumahtangga dan perusahaan, dan menabung. Di sisi lain penerimaan pemerintah berasal dari paak dan transfer pendapatan dari luar negeri. Neraca faktor produksi, termasuk di dalamnya adalah tenaga kera dan modal. Dampak dari pengembangan sektor pertanian dan industri pengolahan hasil pertanian, mereka menerima pendapatan dari penualan asa mereka untuk aktivitas produksi dalam bentuk upah, sewa dan pendapatan faktor bersih yang diterima dari luar negeri. Pendapatan yang didistribusikan ke rumahtangga sebagai distribusi keuntungan dan pendapatan tenaga kera, dan distribusi ke perusahaan sebagai keuntungan yang tidak didistribusikan dan keuntungan perusahaan setelah dikurangi paak. Neraca Rest of the World mencatat transaksi antara domestik dan luar negeri, dengan adanya ineksi sektor pertanian dan industri pengolahan hasil pertanian dampaknya terhadap sisi penerimaan yang berhubungan dengan luar negeri dalam perekonomian domestik berasal dari ekspor, transfer pendapatan institusi dari luar negeri, transfer pendapatan dari faktor produksi dan pemasukan modal dari luar negeri, sedangkan pengeluarannya berupa impor, pembayaran faktor dan transfer ke luar negeri. Berdasarkan penelasan di atas maka sektor pertanian dan industri pengolahan hasil pertanian dipandang sebagai transmisi yang paling baik dalam
65 menembatani proses transformasi. Melalui sektor pertanian dan industri pengolahan hasil pertanian dapat menciptakan kaitan ke depan dan ke belakang. Keterkaitan ke belakang dari investasi baru akan memunculkan peluang investasi lainnya dalam sektor input. Keterkaitan ke depan menciptakan kesempatan investasi baru yang menggunakan output dari proses terdahulu menadi input pada proses berikutnya. Pengembangan sektor pertanian dan industri pengolahan hasil pertanian akan menciptakan kesempatan kera baru di sektor pertanian karena bahan baku yang digunakan oleh industri pengolahan hasil pertanian berada di perdesaan. Selain itu pengembangan tersebut dapat mencegah urbanisasi sehingga berdampak menurunnya tingkat kemiskinan dan menciptakan distribusi pendapatan yang lebih merata. Meningkatnya pendapatan masyarakat akan meningkatkan konsumsi masyarakat terhadap produk industri pengolahan hasil pertanian sehingga menyebabkan peningkatan output. Peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berbasis kepada sektor pertanian dan industri pengolahan hasil pertanian harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari strategi perekonomian wilayah Sulawesi Tengah secara menyeluruh yang tidak saa mengalokasikan secara khusus kegiatan bisnis pertanian dengan wilayah pemasok sarana produksi pertanian, pengolahan produksi pertanian dan peningkatan nilai tambah lainnya tetapi kaitannya dengan wilayah pasar yang luas, baik secara nasional, regional maupun internasional. khirnya meningkatnya pendapatan rumahtangga akan memperbaiki distribusi distribusi pendapatan, menyerap tenaga kera sehingga mengurangi umlah pengangguran dan tingkat kemiskinan. Kondisi tersebut menggambarkan peningkatan perekonomian wilayah Sulawesi Tengah.
66 3.2. Model Sistem Neraca Sosial Ekonomi Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) merupakan suatu kerangka data yang disusun dalam bentuk matriks yang mencatat situasi perekonomian suatu negara dan keterkaitan antar variabel-variabel ekonomi tersebut pada waktu tertentu (Badan Pusat Statistik, 23). Selain itu model SNSE merupakan model yang tidak hanya menggambarkan transaksi ual beli barang dan asa atau transaksi antar sektor produksi seperti pada model Input-Output, tetapi menggambarkan hubungan timbal balik antar struktur produksi, distribusi pendapatan yang ditimbulkan karena adanya kegiatan produksi, konsumsi, tabungan, dan investasi. Lebih lanut Sutomo (1995), mengemukakan bahwa kerangka SNSE dibentuk dengan maksud agar menggambarkan keterkaitan antara kegiatan atau struktur produksi, distribusi nilai tambah atau distribusi pendapatan faktorial, distribusi pendapatan rumahtangga, konsumsi, tabungan serta investasi dalam suatu wilayah secara terpadu dan komprehensif. Secara umum, kumpulan neraca dalam model SNSE dibagi menadi dua kelompok, yaitu neraca endogen dan neraca eksogen. Selanutnya kelompok neraca endogen dibagi menadi 3, yaitu blok faktor produksi, blok institusi dan blok kegiatan produksi. Blok-blok tersebut disusun dalam bentuk baris dan kolom. Baris pada Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) menunukkan rincian penerimaan, sedangkan kolom menunukkan rincian pengeluaran. Skema Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) secara sederhana disaikan pada Tabel 3. Kerangka SNSE seperti yang disaikan pada Tabel 3 memiliki 4 neraca utama yaitu, (1) neraca faktor produksi, (2) neraca institusi, (3) neraca sektor produksi, dan (4) neraca eksogen/neraca lainnya (rest of world).
67 Tabel 3. Kerangka Dasar Sistem Neraca Sosial Ekonomi Pengeluaran Penerimaan N E R C E N D O G E N Faktor Produksi Institusi 2 Kegiatan Produksi NERC EKSOGEN TOTL N E R C E N D O G E N NERC EKSOGE Faktor Kegiatan Institusi N Produksi Produksi TOTL 1 2 3 4 5 x 1 y1 11 T T 13 Pendapata Jumlah 12 Distribusi n Eksogen Pendapata Nilai Fakt. n Fakt. Tambah Prod. Prod. 1 T 3 4 5 T 21 Pendapata n Institusi dari Faktor Produksi T31 l 1 Peng. Ekspor Fakt. Prod y 1 umlah pengl. fakt. prod. T 22 Transfer ntar Institusi T 32 Perminta an khir Domesti k l 2 Tabunga n Sumber: Thorbecke (2); Sahara (26). T 23 T 33 Transaksi ntar Keg. (I-O) l 3 Paak Tak Langsung x 2 Pendapata n Institusi dari Eksogen x 3 Investasi r Transaksi ntar Eksogen y 2 y 3 Jumlah umlah pengl. institusi umlah pengl. keg. prod. Pengeluar an Eksogen y 2 Jumlah Pendapata n Institusi y 3 Jumlah Output Kegiatan Produksi Jumlah Pendapata n Eksogen Vektor kolom, yaitu nilai-nilai x i yang muncul dalam kolom 4 mewakili ineksi (inections), asumsinya ditentukan secara eksogenus, misalnya arus transfer/pengeluaran pemerintah (pusat, daerah), transfer dari luar negeri ke rumahtangga dan perusahaan, investasi dan ekspor, sedangkan vektor baris, yaitu nilai-nilai 1 i dalam baris ke 4 mewakili kebocoran (linkages), misalnya paak langsung dan tidak langsung, tabungan, impor, dan transfer pendapatan keluar
68 negeri. Tiga neraca lainnya (faktor, institusi, dan aktivitas produksi) diasumsikan ditentukan secara endogenus. Thorbecke (2) mengemukakan beberapa hal penting dalam hubungannya dengan menggunakan kerangka Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE), yakni, Pertama, suatu implikasi penting dari koefisien tetap yakni secara normal menganggap harga-harga konstan. Kasus ini hanya mungkin berlaku dalam kapasitas berlebih. Kedua, perubahan-perubahan variabel eksogen seperti pengeluaran pemerintah (dirinci menurut aktivitas atau sektor), dan alokasi investasi sektoral terhadap total pendapatan faktor, institusi dan produksi. Dengan skema Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) para perencana atau para analis dapat membuat model-model ekonomi dengan memisahkan variabel-variabel mana yang dapat diturunkan didalam sistem (endogen), dan variabel-variabel mana yang ditentukan dari luar sistem (eksogen). Pemisahan didasarkan atas kepentingan serta persepsi para pembuat model. da ketentuan bahwa variabel eksogen adalah variabel yang biasanya dapat diadikan alat untuk mengatur kebiakan (policy tools) oleh pemerintah, Contohnya paak, subsidi, investasi, ekspor, impor, dan lain-lain (ntara, 1999). 3.2.1. nalisis Pengganda Sistem Neraca Sosial Ekonomi Multiflier nalysis (nalisis pengganda) di dalam model SNSE dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu: pengganda neraca (accounting multiplier) dan pengganda harga tetap (fixed price multiplier). nalisis accounting multiplier pada dasarnya sama dengan pengganda dari Leontief Inverse Matrix yang terdapat dalam model Input-Output. Ini berarti bahwa semua analisis pengganda yang terdapat dalam model Input-Output seperti own multiplier, other
69 linkage multiplier dan pengganda total dapat digunakan dalam analisis SNSE, sedangkan analisis fixed price multiplier mengarah pada analisis respon rumahtangga terhadap perubahan Neraca Eksogen dengan memperhitungkan expenditure propensity. Selanutnya apabila diasumsikan bahwa besarnya kecenderungan rata-rata pengeluaran, i, merupakan perbandingan antara pengeluaran sektor ke- untuk sektor ke-i dengan total pengeluaran ke- (Y ), maka: i = T i / Y... (1) atau dalam bentuk matriks adalah : 13 = 21 22...(2) 32 33 pabila persamaan (1) dibagi dengan Y, maka diperoleh: Y/Y = T/Y + X/Y...(3) Selanutnya persamaan (1) disubsitusikan ke persamaan (2) sehingga menadi : I = + X/Y I = X/Y (I )Y = X Y = (I ) -1 X...(4) Jika, Ma = (I ) -1 maka: Y = M a X...(5) Dimana adalah koefisien-koefisien yang menunukkan pengaruh langsung (direct coefficients) dari perubahan yang teradi pada suatu sektor terhadap sektor
7 lainnya. M a adalah pengganda neraca (accounting multiplier) yang menunukkan pengaruh perubahan suatu sektor terhadap sektor lainnya dari seluruh SNSE. Pyatt and Round (1985) melakukan dekomposisi terhadap pengganda neraca agar mendapatkan dampak langsung dan tidak langsung yang dalam bentuk multiplikatif : M a = M a3 M a2 M a1...(6) atau secara aditif dapat ditulis : M a = I + M a1 - I + (M a2 - I) M a1 + (M a3 - I) M a2 M a1...(7) M a1 adalah transfer multiplier, yang menunukkan pengaruh dari satu blok neraca terhadap dirinya sendiri, yang dirumuskan sebagai berikut : Ma1 = (I ) 1.....(8) dimana: = 22...(9) 33 sehingga: M a 1 = ( 1 22 ) 1 ( 1 33 ) 1...(1) Selanutnya M a2 adalah open loop multiplier atau cross effect yang menunukkan pengaruh langsung dari satu blok ke blok lain. Dalam hal ini M a2 dapat dirumuskan:
71 M a2 = (I + * + *2 )...(11) dimana * = (I ) -1 ( ) Oleh karena: maka M * 13 = 13 * 21 = (I 22 ) -1 * 32 = (I 33 ) -1 a2 21 32 dapat ditulis sebagai berikut: M a2 1 * = 21 * * 32 21 * 13 1 * 32 * 32 * 21 * 13 1 * 13...(12) Proses open loop multiplier antara blok tersebut dapat dilihat pada Gambar 8. Gambar 8 menunukkan bahwa apabila ineksi awal teradi pada peningkatan permintaan ekspor (X 3 ), maka output yang terkait dengan blok aktivitas produksi (Y 3 ) akan meningkat, kemudian memberikan pengaruh berikutnya terhadap pendapatan pada blok faktor produksi (Y 1 ) dengan nilai pengganda sebesar 13. Selanutnya, peningkatan pendapatan pada blok faktor produksi akan memberikan pengaruh lanutan terhadap pendapatan pada blok institusi (Y 2 ) dengan nilai pengganda sebesar * 21, dan selanutnya akan meningkatkan pendapatan blok produksi dengan nilai pengganda sebesar * 32. pabila ineksi awal bersumber dari peningkatan pendapatan blok faktor produksi yang berasal dari luar negeri (X 1 ), maka ineksi ini akan berpengaruh terhadap pendapatan pada blok institusi dengan nilai pengganda sebesar * 21 dan selanutnya akan berpengaruh terhadap pendapatan pada blok aktivitas produksi dengan nilai pengganda * 32. Peningkatan pendapatan pada blok aktivitas
72 produksi akan berpengaruh terhadap pendapatan pada blok faktor produksi dengan nilai pengganda sebesar 13.
pabila ineksi berawal dari peningkatan pendapatan blok non-faktor 73
74 produksi yang berasal dari luar negeri (X 2 ), maka ineksi ini akan berpengaruh terhadap pendapatan pada blok aktivitas produksi dengan nilai pengganda sebesar ktivitas Produksi (Y 3 ) (I- 33 ) -1 X 3 X 3 = permintaan ekspor * 32=(I- 33 ) -1 32 * 13= 13 Y 2 Distribusi pendapata n institusi * 21=(I- 22 ) -1 21 Y 1 Distribusi pendapata n faktor produksi (I- 22 ) -1 X 2 X 2 = pendapatan non-faktor dari luar negeri * 32 dan selanutnya akan berpengaruh terhadap pendapatan pada blok faktor produksi dengan nilai pengganda 13. Peningkatan pendapatan pada blok faktor produksi akan berpengaruh terhadap pendapatan pada blok institusi dengan nilai pengganda sebesar * 21. X 1 = pendapatan faktor dari luar negeri
75 Sumber : Thorbecke (1998). Gambar 8. Proses Pengganda ntara Neraca Endogen Sistem Neraca Sosial Ekonomi Terakhir, M a3 merupakan closed loop multiplier yang menunukkan pengaruh dari satu blok ke blok lain, kemudian kembali pada blok semula. Dalam bentuk matriks M a3 dapat ditulis : Ma3 = (I * 3 ) -1...(13) Persamaan (13) secara rinci dapat ditulis sebagai berikut : * * * 1 ( 1 13 32 21 ) * * * 1 M 3 = ( 1 21 13 32 )...(14) a * * * 1 ( 1 32 21 13 ) Dekomposisi pengganda neraca tidak hanya dilakukan dengan pendekatan rata-rata, tetapi uga dapat dilakukan dengan pendekatan marinal. Dekomposisi pengganda neraca dengan pendekatan marinal memerlukan suatu matriks yang disebut marginal expenditure propensities yang dinotasikan dengan C. Matriks C dibentuk berdasarkan asumsi harga tetap, sehingga pengganda yang diperoleh dengan cara ini seringkali disebut pengganda harga tetap. Secara matematis matriks C dirumuskan sebagai : C = T/ Y...(15) Secara rinci ditulis sebagai: C = C 21 C C 22 32...(16) C 33 karena Y = T + X, maka: Y = T + X...(17)
76 dengan demikian: Y = C T + X Y = (I C) -1 X...(18) atau Y = M c X...(19) Dimana Mc adalah pengganda harga tetap, yang selanutnya dapat didekomposisi ke dalam M c1 (transfer multiplier), M c2 (open loop mutiplier), dan M c3 (closed loop multiplier), sehingga: Mc = M c3 M c2 M c1...(2) Bentuk matriks Mc3, M c2, M c1 sama seperti pada matriks dekomposisi sebelumnya, hanya saa yang digunakan disini adalah marinal pengeluaran (Daryanto dan Hafidzrianda, 21). 3.2.2. nalisis Jalur Struktural Thorbecke (1985) dalam Daryanto (21) metode dekomposisi yang konvensional tidak mampu untuk menguraikan multiplier ke dalam transaksi komponennya atau untuk mengidentifikasi transaksi dengan menyertakan suatu keterkaitan secara berurutan. Dekomposisi multiplier yang konvensional hanya mampu menguraikan pengaruh-pengaruh dalam dan antara neraca endogen. Structural Path nalysis (SP) ini digunakan untuk melacak interaksi dalam suatu perekonomian yang dimulai dari suatu sektor tertentu dan berakhir pada sektor tertentu lainnya. Metode Structural Path nalysis (SP) mampu menunukkan bagaimana pengaruh transmisi dari satu sektor ke sektor lainnya secara bersambungan dalam
77 suatu gambar. Didalam Structural Path nalysis (SP), masing-masing elemen pada multiplier SNSE dapat didekomposisi kedalam pengaruh langsung, total, dan global. Jadi, pada dasarnya Structural Path nalysis (SP) itu adalah sebuah metoda yang dilakukan untuk mengidentifikasi seluruh aringan yang berisi alur yang menghubungkan pengaruh suatu sektor pada sektor lainya dalam suatu sistem sosial ekonomi. Pengaruh dari suatu sektor ke sektor lainnya tersebut dapat melalui sebuah alur dasar (elementary path) atau sirkuit (circuit) (Prihawantoro, 22). Jalur dasar analisis struktural adalah alur yang melalui sebuah sektor tidak lebih dari satu kali. Misalkan sektor i mempengaruhi sektor. Pengaruh dari i ke bisa teradi secara langsung, bisa pula teradi melalui sektor-sektor lain, katakan x dan y. pabila dalam alur i ke tersebut i, x, y, dan hanya dilalui satu kali, maka hal seperti ini disebut sebagai alur dasar, seperti terlihat pada Gambar 9. x y atau i i Sumber : Prihawantoro (22). Gambar 9. Jalur Dasar nalisis Struktural da kalanya suatu sektor, setelah mempengaruhi sektor yang lain, pada akhirnya akan kembali lagi mempengaruhi sektor itu sendiri. Misalkan pengaruh
78 sektor i ke di atas ternyata belum selesai. Jika mempengaruhi z, dan z mempengaruhi i, maka alur dari i ke x ke y ke ke z dan kembali ke i disebut sirkuit. Dalam alur ini setiap sektor dilalui hanya satu kali, kecuali i. Sektor i dilalui dua kali, yakni pada awal alur dan pada akhir alur, seperti terlihat pada Gambar 1. Pengaruh adalah ukuran yang mencerminkan besarnya dampak pengeluaran dari suatu sektor ke sektor lainnya, dan karenanya menggambarkan keeratan hubungan di antara kedua sektor tersebut. Besaran yang dipakai untuk mengukur keeratan hubungan tersebut tergantung atau pendekatan yang digunakan, apakah pendekatan rata-rata ataukah pendekatan marginal. Oleh karena itu bisa digunakan besaran ai atau ci. x v i z Sumber : Prihawantoro (22). Gambar 1. Sirkuit nalisis Jalur Struktural Di dalam metodologi SP ada tiga elemen penting untuk dibahas, yakni alur pengaruh langsung (direct influence), pengaruh total (total influence), dan pengaruh global (global influence) (Daryanto, 21; Prihawantoro, 21). ketiga pengaruh tersebut dapat dielaskan sebagai berikut.
79 1. Pengaruh Langsung Pengaruh langsung dari i ke (ID i ) menunukkan perubahan pendapatan atau produksi disebabkan oleh perubahan satu unit i, selama pendapatan atau produksi pada titik lain (kecuali pada alur dasar yang dilalui dari i ke ) tidak mengalami perubahan. Dengan pendekatan rata-rata, pengaruh ( ID ) langsung dari i ke adalah : i ID = a i i...(21)
8 Industri Kimia x a yx y Pedagang Eceran/ Retailer a xz a xy a zy a xi z R&D Firm a y Produsen Minyak i a i Buruh Tani a si a vi Supplier Gas s a s a v Kilang Minyak v a vv Sumber : Daryanto (21). Gambar 11. Kemungkinan Jalur yang Menghubungkan Beberapa Sektor Gambar 11 yang menyaikan contoh tentang SP untuk kasus dua sektor, alur dasar ini diukur sepanang garis i. Ini berarti petani (sektor ) tampak secara langsung membeli bahan bakar dari produsen bahan bakar (sektor i). Karena alur yang dilalui hanya sekali, ini berarti alur dasar dari i ke mempunyai panang
81 sebesar satu. Setiap kecenderungan pengeluaran rata-rata (average expenditure propensity), a i, dapat diinterpretasikan sebagai kekuatan dari pengaruh transmisi dari sektor i ke sektor. Matrik n dalam model SNSE dapat dikatakan sebuah matriks pengaruh langsung, yang ditentukan berdasarkan persamaan (21) di atas. Pengaruh langsung bisa uga diukur dengan alur dasar yang memiliki panang lebih dari satu. Seperti yang disaikan dalam Gambar 11. Kita lihat petani (sektor ) membeli bahan bakar dari pedagang (sektor s) dimana pedagang membeli bahan bakar tersebut dari produsen (sektor i). Karena tampak ada dua busur, berarti alur dasar dari pengaruh langsung ini mempunyai panang sebesar dua. Keterkaitan ini bisa dirumuskan sebagai berikut. ID ( i, s ) = a a si s...(22) 2. Pengaruh Total Pengaruh total dari i ke adalah perubahan yang di bawah dari i ke baik melalui alur dasar maupun sirkuit yang menghubungkannya. Secara kuantitatif pengaruh total (IT) merupakan perkalian antara pengaruh langsung (ID) dan penggganda alur atau path multiplier (Mp), yang dapat dirumuskan : IT( i ) = ID ( i ) Mp...(23) IT 1 [ 1 a ( a a a )]...(24) ( i ) = axia yxa y yx xy + zy xz dimana : Mp 1 [ 1 a + ( a + a a )]...(25) = yx xy zy xz Dalam Gambar 11, IT dielaskan sepanang tiga alur busur, yaitu i x y. Dengan demikian IT mempunyai alur dasar sebanyak tiga. Dalam hal ini dielaskan bahwa para petani membeli input obat-obatan dari sektor
82 asa pedagang besar atau pengecer (y) dimana mereka memperolehnya dari sektor industri obat-obatan pertanian (x). Kemudian untuk memproduksi obat-obatan, sektor industri uga membutuhkan input dari produsen bahan bakar (i). Dari serangkaian alur transaksi tersebut kita melihat adanya pengaruh timbal balik baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk kasus ini pengaruh timbal balik secara langsung dapat terlihat pada alur x ke y, yang mengindikasikan bahwa pedagang obat-obatan (y) secara langsung membeli barang dagangannya dari sektor industri (x), sedangkan pengaruh timbal balik secara tidak langsung kelihatan pada alur z ke y dan x ke z, yang menunukkan bahwa sektor asa pedagang (y) bisa membeli output dari perusahaan yang bergerak dalam bidang penelitian dan pengembangan (reseacrh and development firm) dimana perusahaan ini memperoleh inputnya dari industri kimia (x). 3. Pengaruh Global Pengaruh global dari i ke mengukur keseluruhan pengaruh pada pendapatan atau produksi yang disebabkan oleh satu unit perubahan i. Pengaruh global (GI) dapat dianggap sama dengan pengaruh total (IT) sepanang seluruh alur dasar yang saling berhubungan pada titik i dan titik. Pengaruh global ini dapat diturunkan dengan rumus berikut. dimana : n = p= 1 IG( i ) = mai = IT( i ) ID( ) Mp...(26) i IG( i ) = pengaruh global dari kolom ke i dalam SNSE ke baris, m a i = elemen ke (,i ) pada matrik multplier Ma,
83 IT( i ) = pengaruh total dari i ke, ID( i ) = pengaruh langsung dari i ke, dan Mp = multiplier sepanang alur p. Dalam Gambar 11 titik asal i dan titik tuuan sama-sama mempunyai tiga alur dasar. Contohnya ( i, x, y, ), ( i, s, ) dan ( i, v, ). nggaplah untuk ketiga alur itu masing-masing kita beri inisial 1, 2, dan 3, maka kita bisa menurunkan pengaruh global dari lintasan itu sebagai berikut. IG = IT + IT + IT ( i J ) ( i, x, y, ) ( i, s, ) ( i, v, ) IT + IT IT = ( i ) 1 ( i ) 2 ( i ) 3 + = ID 1 ( i ) 1 + si s + ( vi v )( vv ) 1 M a a a a I a = ID...(27 ) M1 + ID( ) ID( ) 3 ) ( i M 1 i + 2 i 3 khirnya, dapatlah dikatakan SP itu telah membuktikan sebagai suatu perangkat yang mampu untuk mengidentifikasi keterkaitan-keterkaitan yang paling penting didalam model SNSE yang sangat kompleks. Kesulitan yang utama dalam menggunakan pendekatan SP ini adalah ketika kita ingin menghitung alur dasar dalam umlah yang sangat besar, perhitungannya menadi lebih rumit dan kompleks (Daryanto dan Hafidzrianda, 21). 3.2.3. Estimasi Sistem Neraca Sosial Ekonomi dengan Metode Cross Entrophy Model Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) merupakan pengembangan dari model Input-Output. Umumnya data Input-Output dikelompokkan pada interval waktu yang panang, yaitu: antara lima tahun atau lebih, sedangkan data-data pendukung seperti data output, pendapatan domestik regional bruto,
84 nilai tambah, dan lainnya tersedia setiap tahun. Model Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) yang dibangun pada tingkat nasional maupun regional masih banyak yang agregat. Untuk mendapatkan model Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) pada tahun tertentu dan yang diagregasi secara lebih rinci dapat dilakukan dengan metode Cross Entropy/CE. Menurut Robinson et al. (2), bahwa metode Cross Entropy merupakan perluasan dari metode RS, dimana metode Cross Entropy lebih fleksibel dan unggul untuk mengestimasi SNSE ketika data tersebar (scattered) dan tidak konsisten. Sementara itu metode RS mengasumsikan bahwa estimasi dimulai dari suatu SNSE terdahulu yang konsisten dan hanya mengetahui tentang total baris dan kolom. Kerangka Cross Entropy mengacu pada rentang informasi terdahulu yang lebih luas untuk digunakan secara efisien dalam estimasi. Dengan pemikiran tersebut, maka dalam melakukan agregasi SNSE Sulawesi Tengah akan digunakan dengan metode Cross Entropy. Dua pendekatan yang digunakan dalam penerapan model Cross Entropy, yaitu pendekatan deterministik dan stokastik. Pendekatan deterministik digunakan apabila terdapat ketergantungan yang bersifat fungsional antara satu variabel dengan variabel lainnya. Pendekatan stokastik digunakan apabila terdapat ketergantungan yang bersifat random antara satu variabel dengan variabel lainnya. Dalam Penelitian ini estimasi SNSE hanya dilakukan pada tahun tertentu dan ketergantungan antara satu variabel dengan variabel lainnya yang akan diagregasi bersifat fungsional, maka yang akan digunakan metode Cross Entropy dengan pendekatan deterministik. Golan, Judge dan Robinson (1994) dalam Robinson, Catteno dan El Said (2) melakukan estimasi matriks koefisien pada Tabel Input-Output. Dalam
85 penelitian itu diperoleh matriks koefisien dengan cara meminimumkan arak entropy antara koefisien pada matriks sebelumnya dan matriks koefisien yang baru hasil estimasi. Matriks transaksi T dalam SNSE menunukkan aliran penerimaan dan pengeluaran yang dinyatakan dalam satuan moneter, dimana t i adalah aliran pengeluaran dari umlah kolom terhadap umlah baris i, hal ini ditunukkan dengan persamaan : y i = t i = t i... (28) Model SNSE menunukkan setiap umlah baris harus sama dengan umlah kolom, dimana koefisien matriks dibentuk dari setiap sel pada matriks T dibagi dengan umlah kolomnya, maka diperoleh sebuah matriks baru yang menunukkan besarnya kecenderungan pengeluaran rata-rata (average expenditure propensity), dapat dirumuskan sebagai berikut: i t y i =... (29) Metode Cross Entropy mengukur arak diantara distribusi probabilitas terhadap penilaian Cross Entropy SNSE, masalah ini ditunukkan dengan set awal koefisien matriks dengan cara meminimumkan arak Cross Entropy antara koefisien pada matriks sebelumnya. Matriks koefisien hasil estimasi yang baru : Min I = {} i i ln i = min i ln i i ln... (3) i i i dengan kendala: * y = y i * i,i = 1 dan,i 1
86 dimana: : Matriks koefisien sebelumnya : Matriks koefisien yang diestimasi y* : Matriks vektor kolom diambil dari total masing-masing neraca Nilai dan y* diperoleh dari kumpulan data yang berhasil diperoleh di Provinsi Sulawesi Tengah sesuai tahun yang diamati. Namun, apabila untuk beberapa sel matrik atau matriks vektor kolom total neraca (y*) ternyata tidak tersedia datanya, maka sebagai alternatif akan digunakan informasi-informasi yang tercantum dalam SNSE 25 ataupun SNSE suatu daerah lain yang pernah dibuat pada tahun tersebut, dimana kondisi perekonomiannya cukup dekat dengan struktur perekonomian Sulawesi Tengah. Dengan estimasi metode Cross Entropy akan diperoleh sebuah matriks SNSE yang baru, dimana umlah kolom dan baris harus sama. Matriks SNSE yang baru ini harus dikoreksi, oleh karena bisa saa terdapat nilai-nilai yang tidak logis sesuai dengan kondisi obyektif perekonomian Sulawesi Tengah. Dalam hal ini setiap sel yang ada dalam SNSE Sulawesi Tengah yang akan diamati. ngka yang tidak logis, misalnya: terlalu kecil atau terlalu besar dan atau sebenarnya nilai tersebut harus tidak ada, dilakukan pengecekan ulang dengan menggunakan sumber informasi lain. Hasil koreksi harus dilakukan sedemikian rupa sehingga keseimbangan antara umlah kolom dan baris tetap teraga. Membangun SNSE Sulawesi Tengah dengan menggunakan Cross Entropy dilakukan dengan bantuan perangkat komputer software GMS (General lgebraic Modeling System).