HASIL DAN PEMBAHASAN Eksplorasi Data

dokumen-dokumen yang mirip
PENDUGAAN NILAI RISIKO DENGAN SEBARAN TRANSFORMASI-KERNEL DAN SEBARAN NILAI EKSTREM BUDI HARYANTO

dari tahun pada stasiun pengamat yang berada di daerah Darmaga, Bogor.

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

SEBARAN GENERALIZED EXTREME VALUE (GEV) DAN GENERALIZED PARETO (GP) UNTUK PENDUGAAN CURAH HUJAN EKSTRIM DI WILAYAH DKI JAKARTA

Sebaran Generalized Extreme Value (GEV) dan Generalized Pareto (GP) untuk Pendugaan Curah Hujan Ekstrim di Wilayah DKI Jakarta

KAJIAN BEBERAPA METODE PENDUGAAN NILAI RESIKO OPERASIONAL TRY SUTRISNA

ISSN: JURNAL GAUSSIAN, Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015, Halaman Online di:

Distribution. Contoh Kasus. Widya Rahmawati

SKRIPSI. Disusun Oleh : TYAS ESTININGRUM

PROBLEM SOLVING STATISTIKA LANJUT

Pendugaan Kepekatan Data Nilai Akhir Mahasiswa

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

IKG4A2 Kapita Selekta Dosen: Aniq A. Rohmawati, M.Si Data Deret Waktu dan i.i.d

PENENTUAN VALUE AT RISK

Nur Alamah Fauziyah. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Kata Kunci : Return,Risk,EVT, Portofolio, Saham JII, VaR,VaR-GEV.

PENENTUAN VALUE AT RISK SAHAM KIMIA FARMA PUSAT MELALUI PENDEKATAN DISTRIBUSI PARETO TERAMPAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. return, mean, standard deviation, skewness, kurtosis, ACF, korelasi, GPD, copula,

Estimasi Nilai VaR Dinamis Indeks Saham Menggunakan Peak-Over Threshold dan Block Maxima

SKRIPSI. Oleh: RENGGANIS PURWAKINANTI

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

PERBANDINGAN PENDEKATAN GENERALIZED EXTREME VALUE DAN GENERALIZED PARETO DISTRIBUTION UNTUK PERHITUNGAN VALUE AT RISK PADA PORTOFOLIO SAHAM

PADA PORTOFOLIO SAHAM

PEMULUSAN FUNGSI KERNEL TERHADAP SEBARAN LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK DI PULAU JAWA SHELA SHINTIA ROSALINA

Penggunaan Metode VaR (Value at Risk) dalam Analisis Risiko Investasi Saham dengan Pendekatan Generalized Pareto Distribution (GPD)

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

3.3 Pengumpulan Data Primer

Mata Kuliah Pemodelan & Simulasi. Riani Lubis Program Studi Teknik Informatika Universitas Komputer Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. investasi yang telah dilakukan. Dalam berinvestasi jika investor mengharapkan

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Risiko, Manajemen Risiko, dan Manajemen Risiko Finansial

RINGKASAN RISKA NURIDHA PUTRI.

statistika untuk penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. Analisis regresi adalah suatu metode analisis data yang menggambarkan

STK643 PEMODELAN NON-PARAMETRIK. Pendugaan Fungsi Kepekatan

SKRIPSI. Oleh: ANNISA RAHMAWATI

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data

PENENTUAN NILAI VALUE at RISK PADA SAHAM IHSG MENGGUNAKAN MODEL GEOMETRIC BROWNIAN MOTION DENGAN LOMPATAN

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV PEMBAHASAN. Gambar 4.1 nilai tukar kurs euro terhadap rupiah

Bab III Studi Kasus III.1 Decline Rate

DISTRIBUSI PROBABILITAS KONTINYU. Nur Hayati, S.ST, MT Yogyakarta, Maret 2016

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Menurut Open Darnius (2006, hal: 53) simulasi dapat diartikan sebagai suatu

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB III METODE PENELITIAN

Aplikasi Pemodelan Klaim Asuransi dengan Pendekatan Mixture Exponential Untuk Mencari Value-at-Risk Sebagai Threshold Dalam Menentukan Nilai Ekstrim

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan

STATISTIKA TERAPAN. Pengertian Statistika

ISSN: JURNAL GAUSSIAN, Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, Halaman Online di:

Analisis Fenomena Tekanan Udara Permukaan di Indonesia Sebelum Kejadian Hujan Ekstrem di Kabupaten Indramayu dengan Pendekatan Bootstrap

Analisis Regresi 2. Pokok Bahasan : Asumsi sisaan dan penanganannya

Uji Kolmogorov Smirnov

SEBARAN PARETO TERAMPAT UNTUK MENENTUKAN CURAH HUJAN EKSTRIM (Studi Kasus: Curah Hujan Periode pada Stasiun Darmaga) MUHAMMAD IRFAN

ANALISIS NILAI RISIKO (VALUE AT RISK) MENGGUNAKAN UJI KEJADIAN BERNOULLI (BERNOULLI COVERAGE TEST) (Studi Kasus pada Indeks Harga Saham Gabungan)

METODE PENELITIAN. A. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional. Untuk memperjelas dan memudahkan pemahaman terhadap variabelvariabel

STK643 PEMODELAN NON-PARAMETRIK. Pendugaan Fungsi Kepekatan Regresi Nonparametrik

METODOLOGI HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

Analisis Deret Waktu Keuangan

III. METODE PENELITIAN. Berdasarkan sifat penelitiannya, penelitian ini merupakan sebuah penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. keuntungan atau coumpouding. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa

Jurnal MATEMATIKA Volume 2 Nomor 2 Tahun 2012

DISTRIBUSI PELUANG KONTINYU DISTRIBUSI PROBABILITAS

I. PENDAHULUAN. merangkum, dan mempresentasikan data dengan cara informatif. Sedangkan

ANALISIS GRAFIK PENGENDALI NONPARAMETRIK DENGAN ESTIMASI FUNGSI DENSITAS KERNEL PADA KASUS WAKTU PELOROTAN BATIK TULIS SKRIPSI

ISSN: JURNAL GAUSSIAN, Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014, Halaman Online di:

Kata Kunci: Bagan kendali nonparametrik, estimasi fungsi kepekatan kernel

MA6281 Topik Statistika IV: Analisis Deret Waktu Keuangan

BAB I PENDAHULUAN. penting dalam proses pengambilan keputusan di suatu instansi. Untuk melakukan

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

Signifikansi Kolmogorov Smirnov

CIRI-CIRI DISTRIBUSI NORMAL

MODEL NON LINIER GARCH (NGARCH) UNTUK MENGESTIMASI NILAI VALUE at RISK (VaR) PADA IHSG

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Hidrologi merupakan salah satu cabang ilmu bumi (Geoscience atau

BAB I PENDAHULUAN. utama yang dipertimbangkan industri keuangan. Seperti yang dikemukakan oleh Jorion

PERAMALAN DATA SAHAM S&P 500 INDEX MENGGUNAKAN MODEL TARCH

HASIL DAN PEMBAHASAN Model Regresi Poisson

BAB I PENDAHULUAN. (variables) seperti harga, volume instrumen, dan varian (variance) yang berubah

PENGUJIAN HIPOTESIS. Konsep: Dua macam kekeliruan. Pengujian hipotesis.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

LANDASAN TEORI. Generalized Lambda Distribution (GLD) awalnya diusulkan oleh Ramberg dan

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Interval Kepercayaan Skewness dan Kurtosis Menggunakan Bootstrap pada Data Kekuatan Gempa Bumi

BAB 3 DATA DAN METODOLOGI PENELITIAN

Adi Setiawan Program Studi Matematika, Fakultas Sains dan Matematika Universitas Kristen Satya Wacana Jl. Diponegoro Salatiga 50711

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

ESTIMASI. Arna Fariza PENDAHULUAN

III.METODE PENELITIAN

DISTRIBUSI SAMPLING besar

BAB IV ANALISIS DATA. Data yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah data eksplorasi

(ESTIMASI/ PENAKSIRAN)

BAB III METODE PENELITIAN

Transkripsi:

HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menggunakan data nilai mata uang harian guna mengukur tingkat risiko harian atas suatu posisi dalam perdagangan mata uang. Nilai mata uang selalu berubah dalam hitungan detik, bergantung pada proses transaksi yang melibatkan banyak pihak. Pencatatan nilai mata uang di pusat perdagangan pada suatu periode terdiri dari harga pada saat pembukaan (open), penutupan (close), nilai tertinggi (high) dan terendah (low) serta volume transaksi (volume) pada suatu periode. Pengukuran nilai risiko harian biasa dilakukan atas nilai penutupan harian untuk masing-masing nilai mata uang dengan menghitung perubahannya dalam bentuk nilai log-normal return (atau disebut return) dengan pertimbangan bahwa nilai return tersebut akan saling bebas dan memiliki sebaran yang identik. Periode data yang digunakan adalah dari tahun 2001 hingga 2012, dengan harapan perode tersebut dapat mewakili karakteristik pergerakan nilai mata uang. Eksplorasi Data Perubahan nilai mata uang harian untuk pasangan mata uang EUR/USD, GBP/USD, USD/CAD, USD/CHF, USD/JPY yang dihitung berdasarkan nilai mata uang pada penutupan transaksi harian. Gambar 2 memperlihatkan pergerakan harian masing-masing mata uang yang tidak stasioner pada kurs penutupan. Menurut Blum dan Dacorogna (2002) penerapan transformasi logreturn pada data pergerakan nilai mata uang akan menghasilkan amatan yang stasioner. Transformasi ini juga diharapkan akan dapat membuat asumsi data berasal dari peubah acak yang identik dan saling bebas (i.i.d.). Gambar 2 juga memperlihatkan terjadi pergerakan harga yang sangat besar di pertengahan tahun 2008 hingga awal tahun 2009. Tahun tersebut merupakan tahun kejadian krisis perumahan (subprime mortgage) di Amerika Serikat yang berimbas pada beberapa negara. Kejadian tersebut memberikan pengaruh pula terhadap pergerakan mata uang dunia. Tahap eksplorasi data ini memperlihatkan bentuk sebaran dari sebaran data log-return kurs penutupan harian yang menyimpang dari sebaran normal dengan ujung-ujung sebaran yang membentuk ekor gemuk.

19 (e) USD/JPY (d) USD/CHF (c) USD/CAD (b) GBP/USD (a) EUR/USD Gambar 2 Plot nilai penutupan dan return kurs harian

20 Tabel 2 Statistik Deskriptif Nilai Return Mata Uang Pasangan Rata-Rata Simpangan Baku Rentang Kemencengan Kurtosis EUR/USD -0.00012 0.006715 0.063985-0.00473 1.375379 GPB/USD -1.7E-05 0.006033 0.067571 0.403062 2.724799 USD/CAD 0.000142 0.006242 0.072967-0.20273 3.290753 USD/CHF 0.000198 0.007329 0.136889-0.57041 10.14302 USD/JPY 0.000111 0.006585 0.089652-0.01509 4.165191 Tingkat pergerakan (volatilitas) dapat diukur dengan besar simpangan baku. Tingkat pergerakan tertinggi diperlihatkan oleh pasangan USD/CHF. Hal ini memberikan gambaran risiko pasar yang terbesar adalah pada pasangan mata uang USD/CHF. Skewness yang positif memberikan gambaran bahwa amatan menceng ke kanan dan nilai yang negatif menunjukkan sebaliknya, sedangkan nilai yang mendekati nol memperlihatkan amatan seimbang (Dowd 2002). Tabel 2 memperlihatkan kemencengan (skewness) terbesar ada pada nilai return USD/CHF yang menceng ke kiri (lebih banyak harga turun), dan GBP/USD yang menceng ke kanan. Pasangan mata uang yang lain memiliki nilai absolut kemencengan yang tidak terlalu besar, jadi antara nilai naik dan turun tidak terlalu berbeda. Nilai kurtosis memberikan gambaran tentang bentuk sebaran dibandingkan dengan sebaran normal. Kurtosis yang lebih besar dari 3 memperlihatkan frekuensi data di ujung sebaran lebih tinggi daripada sebaran normal (Dowd 2002). Pasangan mata uang USD/CAD, USD/CHF dan USD/JPY berdasar nilai kurtosisnya terlihat memiliki sebaran ekor gemuk. Bentuk ujung sebaran juga diperlihatkan dengan histogram yang dibandingkan dengan plot sebaran normal dan plot kuantil normal. Plot kuantil normal memperlihatkan sebaran data menyimpang dari sebaran normal teoritis. Di ujung-ujung sebaran terlihat amatan menyimpang dari garis lurus kuantil normal. Gambar 3 memperlihatkan amatan pada ujung-ujung sebaran yang meyimpang dari bentuk sebaran normal. Frekuensi kemunculan data pada ujung sebaran lebih tinggi dari yang diperkirakan oleh sebaran normal.

21 (e) USD/JPY (d) USD/CHF (c) USD/CAD (b) GBP/USD (a) EUR/USD Gambar 3 Plot kuantil sebaran normal dan histogram Berdasarkan hasil pengujian kenormalan sebaran data dengan menggunakan metode Shapiro-Wilk, didapatkan bahwa seluruh data tidak menyebar berdasar sebaran normal. Tabel 3 memperlihatkan hasil uji kenormalan dari nilai return untuk masing-masing pasangan nilai mata uang.

22 Tabel 3 Nilai Statistik Uji Kenormalan Pasangan Statistik-W Nilai-p EUR/USD 0.988 0.00 GPB/USD 0.974 0.00 USD/CAD 0.964 0.00 USD/CHF 0.955 0.00 USD/JPY 0.964 0.00 Penentuan VaR Penentuan nilai VaR tidak dapat dilakukan dengan pendekatan sebaran normal karena berdasarkan hasil eksplorasi terlihat bahwa data tidak menyebar secara normal dan memiliki sebaran dengan ekor gemuk. Penentuan nilai VaR dengan teori nilai ekstrim dilakukan dengan menduga parameter untuk memodelkan ujung-ujung sebaran. Ujung kanan merupakan nilai return ekstrim positif yang berarti kerugian untuk posisi jual karena nilai mata uang meningkat dan sebaliknya. Pendugaan VaR merupakan pendugaan kuantil dari sebaran kerugian, jadi model disusun tidak atas seluruh amatan nilai return tetapi hanya nilai return yang negatif pada tiap posisi di masing-masing pasangan mata uang. a. Pelampauan nilai ambang Penentuan VaR dilakukan pada sebaran kerugian untuk masing-masing posisi yang bisa diambil, yaitu posisi jual dan posisi beli. Metode pelampauan ambang (peak over threshold/pot) ini dilakukan dengan penentuan parameter bentuk (ξ) dan skala (σ) berdasarkan amatan ekstrem. Parameter yang diperoleh bergantung amatan yang terpilih sebagai amatan ekstrem yaitu amatan yang melampaui ambang (µ). Pemilihan ambang dilakukan dengan pertimbangan: (1) pemilihan ambang yang terlalu tinggi akan meningkatkan ketelitian pada kuantil yang tinggi tetapi menutup kemungkinan dalam menentukan nilai kuantil yang rendah; (2) pemilihan ambang yang terlalu rendah bisa membuat sebaran generalized Pareto tidak dapat diterapkan dan membuat pendugaan kuantil menjadi bias (Cebrian et al. 2003). Pada penelitian ini ditentukan besar ambang sedemikian sehingga terambil 10% amatan terbesar sebagai amatan ekstrem yang digunakan untuk menyusun model GPD. Menurut Low dan Dark (2008) bila amatan ekstrem yang terpilih

23 berdasar ambang tidak memenuhi sebaran GPD, maka dipilih ambang lain untuk menentukan amatan ekstrem. Hasil penentuan ambang amatan ekstrem dan jumlah amatan ekstrem untuk masing-masing posisi pada tiap pasangan mata uang disajikan pada Tabel 4. Tabel 4 Ambang dan Cacah Amatan Ekstrem Pasangan Posisi Jual Posisi Beli N Ambang µ N µ n Ambang µ N µ EUR/USD 1413 0.01134 141 1511-0.01062 151 GPB/USD 1434 0.00998 143 1486-0.00936 148 USD/CAD 1532 0.00967 153 1393-0.01008 139 USD/CHF 1514 0.01139 151 1420-0.01137 142 USD/JPY 1495 0.01019 149 1411-0.00996 141 Pendugaan parameter model GPD (bentuk (ξ) dan skala (σ)) dilakukan dengan menggunakan metode Maximum Likelihood Nelder-Mead. Tabel 5 memperlihatkan hasil pendugaan parameter ˆ ξ dan ˆ σ. Pasangan Tabel 5 Hasil Pendugaan Parameter Model GPD Posisi Jual Posisi Beli Bentuk ( ξ ) Skala ( σ ) Bentuk ( ξ ) Skala ( σ ) EUR/USD -0.12947 0.00421 0.13062 0.00338 GBP/USD 0.34324 0.00289 0.04923 0.00301 USD/CAD 0.13269 0.00338-0.04448 0.00528 USD/CHF 0.11578 0.00385 0.19214 0.00363 USD/JPY 0.12959 0.00420 0.21345 0.00350 Parameter Bentuk ( ξ ) pada model memperlihatkan bagaimana perilaku data di ujung sebaran. Menurut (McNeil 1999) Fungsi peluang pada model GPD memiliki bentuk G ( x) ξ ( x µ ) ( σ ) 1 ξ, = 1 1+ jika 0 ξ σ x µ ξ dan Gξ, σ ( x) = 1 exp ( σ ) jika ξ 0 di mana σ > 0 akan berlaku pada x 0 pada saat ξ 0 dan untuk σ ξ < 0 hanya berlaku untuk 0 x. Jadi fungsi peluang pada posisi jual untuk ξ EUR/USD dan posisi beli untuk USD/CAD memiliki ujung sebaran yang terbatas yang merupakan kelompok sebaran Weibull. Sedangkan pasangan dan posisi lainnya memiliki nilai ξ > 0 memiliki sebaran yang merupakan kelompok sebaran Frechet. Bentuk sebaran GPD yang dihasilkan ditampilkan pada

24 Gambar 4. Semakin besar nilai ξ menunjukkan ujung sebaran yang semakin gemuk. Nilai ξ terbesar terjadi pada posisi jual untuk pasangan nilai mata uang GBP/USD. Tabel 6 Uji Kesesuaian Model GPD Posisi Jual Posisi Beli Pasangan Nilai Kritik Nilai Kritik D n D ( α = 0.05 ) n ( α = 0.05 ) EUR/USD 0.0398 0.1137 0.0444 0.1099 GBP/USD 0.0521 0.1129 0.0493 0.1110 USD/CAD 0.0268 0.1091 0.0538 0.1145 USD/CHF 0.0601 0.1099 0.0708 0.1133 USD/JPY 0.0613 0.1106 0.0242 0.1137 Model GPD yang diperoleh diuji dengan uji Kolmogorov-Smirnov untuk menguji kesesuaian data amatan ekstrem dengan model. Hasil uji pada Tabel 6 memperlihatkan pada semua pasangan mata uang untuk kedua posisi memiliki statistik uji D n yang kurang dari nilai kritik pada α = 0.05 yang berarti disimpulkan bahwa tidak menolak hipotesis nul yang menyatakan amatan ekstrem menyebar mengikuti model GPD. Setelah diperoleh dugaan parameter, nilai VaR dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan (2) pada halaman 8. Hasil penghitungan VaR dengan metode pelampauan ambang (VaR-gpd) ditampilkan pada Tabel 7. Tabel 7 VaR Berdasar Metode Pelampauan Ambang Pasangan Jual Beli 95% 99% 95% 99% EUR/USD 0.01413 0.01972 0.01307 0.01970 GBP/USD 0.01223 0.02011 0.01147 0.01669 USD/CAD 0.01212 0.01878 0.01367 0.02162 USD/CHF 0.01416 0.02153 0.01406 0.02189 USD/JPY 0.01322 0.02144 0.01257 0.02036

25 Posisi Beli Posisi Jual (e) USD/JPY (d) USD/CHF (c) USD/CAD (b) GBP/USD (a) EUR/USD Gambar 4 Bentuk Sebaran Model GPD

26 b. Metode Transformasi-Kernel Pendugaan dengan menggunakan fungsi kernel bergantung pada lebar jendela yang dipergunakan. Semakin lebar jendela dugaan fungsi yang dihasilkan akan semakin mulus tetapi semakin tidak pas dengan data. Pemilihan lebar jendela dilakukan dengan mempertimbangkan kemulusan dan pengepasan fungsi terhadap amatan. Dari keempat metode pemilihan lebar jendela yang dicoba yaitu normal reference distribution (nrd), Sheather-Jones (SJ), unbiased cross validation (ucv), dan biased cross validation (bcv), dipilih metode Sheater-Jones seperti yang disarankan oleh Simonoff (1996) dan Bowman dan Azzalani (1997) untuk data univariate. Gambar 5 memperlihatkan bentuk-bentuk fkp untuk posisi jual dan beli pada untuk pasangan mata uang EUR/USD. Bentuk fkp paling mulus diperlihatkan oleh metode nrd, dan yang paling tidak mulus dihasilkan oleh metode ucv. Pada pasangan mata uang yang lain hasil pemulusan yang ditunjukkan oleh keempat cara penentuan lebar jendela sama dengan hasil pemulusan untuk pasangan mata uang EUR/USD. kepekatan kepekatan (a) Posisi Beli (b) Posisi Jual Gambar 5 Bentuk dugaan fkp untuk lebar jendela yang berbeda pada pasangan mata uang EUR/USD Fungsi kernel yang dipergunakan adalah Fungsi Epanechnikov. Menurut Silvermann (1996) Fungsi Epanechnikov merupakan fungsi kernel yang paling efektif dan menurut Butler dan Schachter (1997) fungsi ini merupakan pilihan umum dalam bidang ekonometrika dan statistika. Perbandingan fungsi kernel ini dengan fungsi kernel yang lain yaitu gaussian, rectangular dan biweight memperlihatkan hasil yang hampir berimpit.

27 Gambar 6 Bentuk dugaan fkp dengan fungsi kernel berbeda pada pasangan mata uang EUR/USD Tabel 8 VaR Berdasar Model Pendugaan Transformasi-Kernel dengan Kernel Epanechnikov Backtesting Pasangan Jual Beli 95% 99% 95% 99% EUR/USD 0.01350 0.01894-0.01288-0.01971 GBP/USD 0.01190 0.02082-0.01168-0.01697 USD/CAD 0.01202 0.01880-0.01276-0.02183 USD/CHF 0.01381 0.01975-0.01362-0.01950 USD/JPY 0.01371 0.02221-0.01269-0.01895 Nilai VaRp dari return pergerakan mata uang menyatakan bahwa peluang kejadian nilai return harian melampaui nilai tersebut adalah p %. Untuk menguji nilai VaRp dilakukan pemeriksaan seberapa banyak nilai return yang melanggar (overshoot) VaRp. Kejadian pelanggaran ini, dalam konsep pengelolaan risiko merupakan hal yang tidak diinginkan, sering disebut sebagai bad luck (Jorion 2003). Gambar 7 memperlihatkan kejadian pelanggaran terhadap VaR yang didapat dari perhitungan pada pasangan mata uang EUR/USD untuk posisi jual. Gambar (a) untuk VaR95 dan (b) untuk VaR99. (a) 95% (b) 99% Gambar 7 Nilai Return yang melanggar VaR 95% dan 99%

28 Jumlah kejadian yang tidak melampaui VaR diharapkan sama dengan dengan peluang VaR yang ditetapkan. Gambar 8 memperlihatkan persentase amatan yang berada di bawah VaR dari seluruh amatan kerugian pada suatu posisi berada di sekitar peluang VaR yang ditetapkan. (a) VaR95 (b) VaR99 Gambar 8 Persentase jumlah amatan yang berada di bawah VaR Backtesting dilakukan untuk menguji peluang kejadian overshoot sama dengan p. Hipotesis yang digunakan adalah H 0 : peluang pelanggaran VaRp = p H 1 : peluang pelanggaran VaRp p Pengambilan keputusan didasarkan nilai p-value dengan acuan tingkat kesalahan yang dipilih α = 5%. Apabila p-value > 0.05 maka H0 diterima. Tabel 9 Backtesting VaR-gpd untuk Posisi Jual VaR Pasangan EUR/USD GBP/USD USD/CAD USD/CHF USD/JPY n 1395 1420 1512 1486 1474 95 pelanggaran 70 68 79 75 69 nilai-p 0.95 0.76 0.68 0.91 0.63 99 pelanggaran 12 18 13 12 16 nilai-p 0.79 0.29 0.70 0.60 0.69 Hasil backtesting pada dugaan VaR dengan metode GPD untuk posisi jual pada Tabel 9 memperlihatkan peluang pelanggaran VaRp sama dengan nilai peluang yang ditetapkan dalam penghitungan VaR untuk semua nilai mata uang yaitu sebesar 5%. Persentase pelanggaran yang terjadi atas VaR95 pada posisi jual antara 4.68% hingga 5.22% namun scara statistik persentase tersebut tidak berbeda dengan 5%. Begitu pula untuk VaR99 yang memiliki persentase pelanggaran antara 0.86% hingga 1.27%.

29 Tabel 10 Backtesting VaR-gpd untuk Posisi Beli VaR Pasangan EUR/USD GBP/USD USD/CAD USD/CHF USD/JPY n 1395 1420 1512 1486 1474 95 pelanggaran 71 74 66 78 72 nilai-p 0.64 1.00 0.71 0.39 0.85 99 pelanggaran 16 16 12 8 13 nilai-p 0.80 0.70 0.79 0.11 0.89 Persentase pelanggaran VaR95 dan VaR99 dengan metode POT untuk posisi beli masing-masing antara 4.70% hingga 5.49% dan 0.56% hingga 1.09%. Secara statistik persentasi pelanggaran tersebut tidak berbeda dengan peluang VaR yang ditetapkan. Tabel 10 memperlihatkan pada posisi beli hasil backtesting untuk dugaan VaR dengan metode GPD untuk posisi beli memperlihatkan peluang pelanggaran VaRp sama dengan nilai peluang yang ditetapkan dalam penghitungan VaR untuk semua nilai mata uang yaitu sebesar 5% dan 1%. Tabel 11 Backtesting VaR-tk untuk Posisi Jual VaR Pasangan EUR/USD GBP/USD USD/CAD USD/CHF USD/JPY n 1395 1420 1512 1486 1474 95 pelanggaran 83 77 79 82 63 nilai-p 0.11 0.46 0.68 0.34 0.23 99 pelanggaran 16 16 13 15 15 nilai-p 0.59 0.59 0.70 0.90 0.90 Persentase pelanggaran VaR95 dan VaR99 dengan metode Transformasi- Kernel untuk posisi jual masing-masing antara 4.68% hingga 5.22% dan 0.81% hingga 1.27%. Secara statistik persentase pelanggaran tersebut tidak berbeda dengan peluang VaR yang ditetapkan yakni 5% dan 1%. Tabel 11 memperlihatkan hasil backtesting yang memperlihatkan peluang kejadian pelanggaran atas VaR tidak berbeda dengan peluang VaR yang ditetapkan. Tabel 12 Backtesting VaR-tk untuk Posisi Beli VaR Pasangan EUR/USD GBP/USD USD/CAD USD/CHF USD/JPY n 1395 1420 1512 1486 1474 95 pelanggaran 77 70 82 75 69 nilai-p 0.36 0.95 0.44 0.91 0.63 99 pelanggaran 16 14 12 17 18 nilai-p 0.59 1.00 0.52 0.51 0.36

30 Posisi Beli Posisi Jual (e) USD/JPY (d) USD/CHF (c) USD/CAD (b) GBP/USD (a) EUR/USD Gambar 9 Perbandingan VaR-gpd dan VaR-tk

31 Hasil backtesting untuk VaR dengan metode Transformasi-Kernel untuk posisi beli memperlihatkan bahwa peluang pelanggaran terhadap VaR95 dan VaR99 tidak berbeda dengan peluang yang ditentukan. Tabel 12 memperlihatkan Hasil backtesting yang serupa dengan hasil backtesting dengan untuk posisi jual dan metode POT pada tabel sebelumnya, meskipun dari persentase pelanggaran atas VaR95 dan VaR99 masing-masing antara 4.68% hingga 5.52% dan 0.79% hingga 1.22% namun secara statistik tidak berbeda dengan 5% dan 1%. Secara keseluruhan, pada kasus nilai return perdagangan mata uang, pendugaan VaR dengan metode Teori nilai ekstrem dan transformasi-kernel memperlihatkan hasil yang hampir sama. Kejadian amatan yang melampaui VaR memiliki peluang yang sama dengan yang diharapkan pada peluang 5% dan 1%. Perbandingan VaR dari peluang 10% hingga 0.1% diperlihatkan oleh Gambar 9. Tampak bahwa VaR yang dihasilkan oleh metode transformasi-kernel dan GPD hampir berimpit kecuali pada kuantil yang sangat tinggi (di atas 99%).