BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penerapan Perencanaan Pajak Sebagai Upaya Meminimalkan Beban Pajak Pada PT Abadi Karya Mulia Penerapan pajak yang dilakukan oleh PT Abadi Karya Mulia tidak dapat dipisahkan dengan upaya-upaya yang dilakukan pihak manajemen utuk menyesuaikan dengan peraturan pajak yang berlaku. Penerapan Perencanaan Pajak yang dilakukan pada dasarnya adalah dengan mempertimbangkan aspek perpajakan dan memilih alternative yang menimbulkan beban pajak yang paling kecil (bila perusahaan dalam kondisi laba). Berikut adalah laporan laba rugi PT Abadi Karya Mulia tahun 2011 setelah menerapkan tax planning : 55
56 Tabel 4.1 PT Abadi Karya Mulia Laporan Rekonsiliasi Laba Rugi Fiskal Tahun 2011 (dalam rupiah) Keterangan Laporan Keuangan Koreksi Fiskal Laporan Keuangan Komersial Positif Negatif Fiskal PENGHASILAN Penghasilan 633.353.500 633.353.500 TOTAL PENGHASILAN 633.353.500 633.353.500 BIAYA-BIAYA OPERASIONAL Beban Gaji 370.998.850 370.998.850 Sewa Ruangan Kantor 15.000.000 15.000.000 Biaya Pemeliharaan Villa 1.500.000 1.500.000 - Biaya Administrasi 573.555 573.555 Perlengkapan Kantor 17.686.750 17.686.750 Pemeliharaan Peralatan Kantor 8.492.500 8.492.500 Perjalan Dinas Surveyor 89.188.675 89.188.675 Telepon, Listrik & Air 15.740.000 15.740.000 Pos & Surat-Surat 5.000.000 5.000.000 Depresiasi Peralatan Kantor 6.775.000 6.775.000 TOTAL BIAYA-BIAYA OPERASIONAL 530.955.330 1.500.000 529.455.330 LABA OPERASI 102.398.170 1.500.000 103.898.170 PENDAPATAN LAIN-LAIN Pendapatan bunga 34.451 34.451 - Keuntungan Selisih Kurs 279.691 279.691 TOTAL PENDATAN LAIN-LAIN 314.142 34.451 279.691 BIAYA LAIN-LAIN Rugi Selisih Kurs 7.342.452 7.342.452 Pajak Bunga 6.890 6.890 - TOTAL BIAYA LAIN-LAIN 7.349.342 6.890 7.342.452 LABA (RUGI) BERSIH SEBELUM PAJAK 95.362.000 96.835.000 Tarif 25% x 50% x PKP 11.920.250-12.104.375 PPh Terutang 11.920.250 12.104.375 Sumber PT Abadi Karya Mulia Tahun 2011 Adapun penjelasan dari laporan laba rugi PT Abadi Karya Mulia setelah penerapan tax planning adalah sebagai berikut :
57 1. Pendapatan, terdapat dua jenis penghasilan yang di peroleh PT Abadi Karya Mulia. Yaitu pendapatan berasal dari kegiatan operasional perusahaan dan pendapatan yang berasal dari luar kegiatan usaha perusahaan. Pendapatan yang berasal dari opersional perusahaan sebagian besar didapat dari hasil penjualan jasa konsultasi pembangunan kapal. Atas pendapatan ini perusahaan memperoleh pendapatan sebesar Rp 633.353.500,- sedangkan pendapatan yang diperoleh dari luar usaha sesuai dengan yang ada di laporan keuangan komersial perusahaan tahun 2011 adalah pendapatan bunga deposito perusahaan serta keuntungan selisih kurs yaitu sebesar Rp 314.142. 2. Beban Usaha, beban ini merupakan biaya-biaya yang digunakan perusahaan yang berhubungan dengan kegiatan operasional dan biaya umum lainnya yang menurut ketentuan perpajakan dapat dikurangkan dari penghasilan (deductible expense) yang memenuhi syarat sebagai biaya yang diperbolehkan sebagai pengurang penghasilan bruto. Uraian lengkap atas perencanaan pajak pada beban usaha dapat dijelaskan sebagai berikut: a) Beban gaji, sebesar Rp 36.000.000 merupakan akun untuk mencatat pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk kepentingan pembayaran gaji karyawan perusahaan. Berdasarkan pasal 6 ayat (1) huruf a UU PPh No 36 Tahun 2008, beban gaji termasuk beban yang dikeluarkan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto wajib pajak.
58 Dalam hal ini, perusahaan telah benar membiayakan seluruh beban yang berkaitan dengan gaji yang dikeluarkan oleh perusahaan tanpa unsure PPh 21 didalamnya. b) Sewa Ruangan Kantor, sebesar Rp 15.000.000 merupakan pengeluaran yang berhubungan dengan kepentingan perusahaan dalam menjalankan kelangsungan usahanya. Sesuai dengan ketentuan perpajakan, pembebanan sewa ruangan kantor digunakan untuk kegiatan operasional kantor dalam rangka mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan usaha. c) Biaya pemeliharaan Villa di puncak sebesar Rp 1.500.000 merupakan biaya yang digunakan perusahaan untuk memelihara villa di puncak. Atas beban ini perusahaan melakukan koreksi positif seluruhnya. Hal ini sudah tepat karena sesuai dengan Pasal 13 huruf a PP 94 tahun 2010 yang berkaitan dengan pengenaan pajak yang bersifat final. d) Biaya administrasi, sebesar Rp 573.555 merupakan biaya yang digunakan untuk keperluan pembukuan yang berkaitan dengan pengarsipan perusahaan dll.
59 Sesuai dengan ketentuan perpajakan, pembebanan biaya administrasi digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan dalam rangka mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan usaha. e) Beban perlengkapan kantor, sebesar Rp 17.686.750 merupakan pengeluaran digunakan untuk pembelian perlengkapan kantor. Dalam hal ini, perusahaan telah membebankan seluruh beban perlengkapan sebagai pengurang penghasilan bruto perusahaan, sehingga tidak dilakukan koreksi fiskal atas beban perlengkapan kantor. Sesuai dengan ketentuan perpajakan, pembebanan beban perlengkapan kantor digunakan untuk kegiatan operasional kantor dalam rangka mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan usaha. f) Pemeliharaan peralatan kantor, sebesar Rp 8.492.500 merupakan beban yang digunakan untuk perbaikan dan perawatan inventaris kantor. Sesuai dengan ketentuan perpajakan, pembebanan pemeliharaan peralatan kantor tidak dilakukan koreksi fikal karena sesuai dengan Pasal 6 ayat (1) UU PPh No 36 Tahun 2008 perusahaan telah melakukan hal yang benar dan tidak melanggar peraturan perpajakan dengan membiayakan seluruh beban pemeliharaan peralatan kantor yang digunakan untuk kepentingan usaha.
60 g) Beban perjalanan dinas surveyor, sebesar Rp 89.188.675 digunakan untuk perjalanan dinas surveyor yang terdiri dari biaya tiket, akomodasi dan pembayaran fiskal luar negrinya. Namun agar biaya tersebut dapat dibebankan, maka diperlukan bukti-bukti atau dokumen yang syah. Dari data yang diperoleh dari perusahaan bahwa bukti-bukti pendukung telah lengkap dan tidak ada koreksi untuk biaya perjalanan surveyor. h) Telpon, listrik & air, sebesar Rp 15.740.000 digunakan untuk pembayaran telpon perusahaan termasuk juga listrik & air sehingga tidak dilakukan koreksi fiskal atas beban telpon listrik & air. Berdasarkan analisa penulis dengan data-data yang didapat dari perusahaan bahwa bukti tersebut sepenuhnya digunakan untuk kepentingan perusahaan i) Depresiasi peralatan kantor, sebesar Rp 6.775.000 di dalam biaya ini terdapat di dalam laporan keuangan komersial atau fiskal. Merupakan biaya yang digunakan untuk penyusutan inventaris kantor dan penyusutan kendaraan. Dalam hal ini perusahaan menggunakan metode garis lurus yang sama pada laporan komersial dan fiskal sehingga perusahaan tidak melakukan koreksi fiskal terhadap akun biaya ini dengan mengacu pada pasal 6 ayat (1) huruf b (penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan biaya lain.
61 3) Pendapatan Lain-lain a) Pendapatan bunga, sebesar Rp 34.451 adalah bunga deposito yang diterima perusahaan. Akun pendapatan bunga ini dikoreksi negative karena termasuk penghasilan yang bersifat final sesuai dengan Pasal 4 ayat 2 UU PPh No 36 Tahun 2008. b) Keuntungan selisih kurs, sebesar Rp 279.691 oleh perusahaan dilaporkan kedalam laporan keuangan fiskal sebesar nilai tersebut untuk menambah pendapatan. Keuntungan selisih kurs tidak dikoreksi karena menurut pajak keuntungan selisih kurs adalah pengahsilan yang bersifat objek pajak sesuai dengan Pasal 4 ayat 1 huruf l. 4) Beban Lain-lain a) Rugi selisih kurs, sebesar Rp 7.342.452 oleh perusahaan dilaporkan kedalam laporan keuangan fiskal sebesar nilai tersebut untuk mengurangi pendapatan. Rugi selisih kurs dilaporkan kedalam laporan keuangan fiskal karena menurut Pasal 6 ayat 1 huruf e UU PPh No 36 Tahun 2008
62 b) Pajak bunga, sebesar Rp 6.890 merupakan biaya yang dikeluarkan untuk membayar Pajak atas bunga deposito. Biaya ini harus dikoreksi positif karena termasuk kedalam pasal 9 ayat (1) huruf h.
63 B. Analisis Penerapan Perencanaan Pajak Sebagai Upaya Meminimalkan Beban Pajak pada PT Abadi Karya Mulia Perencanaan pajak sebagai suatu perencanaan strategis perusahaan, oleh karena itu perlu dilakukan analisis untuk melihat sejauh mana hasil penerapan perencanaan pajak terhadap beban pajak. Berikut adalah laporan laba rugi PT Abadi Karya Mulia tahun 2011 hasil analisis penulis setelah perencanaan pajak.
64 Tabel 4.2 PT Abadi Karya Mulia Laporan Rekonsiliasi Laba Rugi Fiskal Perencanaan Pajak Menurut Perusahaan dan Penulis Keterangan L/K Perencanaan Pajak Koreksi Fiskal Laporan Keuangan Fiskal Perusahaan Penulis Perusahaan Penulis Perusahaan Penulis PENGHASILAN Penghasilan 633.353.500 633.353.500 633.353.500 633.353.500 TOTAL PENGHASILAN 633.353.500 633.353.500 633.353.500 633.353.500 Selisih BIAYA-BIAYA OPERASIONAL Beban Gaji 370.998.500 374.998.500 370.998.500 374.998.500 4.000.000 Sewa Ruangan Kantor 15.000.000 15.000.000 15.000.000 15.000.000 Biaya Pemeliharaan Villa 1.500.000 1.500.000 1.500.000 1.500.000 - - Biaya Administrasi 573.555 573.555 573.555 573.555 Perlengkapan Kantor 17.686.750 17.686.750 17.686.750 17.686.750 Pemeliharaan Peralatan Kantor 8.492.500 8.492.500 8.492.500 8.492.500 Perjalan Dinas Surveyor 89.188.675 94.691.907 89.188.675 94.691.907 5.503.232 Telepon, Listrik & Air 15.740.000 15.740.000 15.740.000 15.740.000 Pos & Surat-Surat 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 Depresiasi Peralatan Kantor 6.775.000 6.775.000 6.775.000 6.775.000 TOTAL BIAYA-BIAYA OPERASIONAL 530.955.330 540.458.562 529.455.330 538.958.562 9.503.232 LABA OPERASI 102.398.170 92.894.938 103.898.170 94.394.938 9.503.232 PENDAPATAN LAIN-LAIN Pendapatan bunga 34.451 34.451 (34.451) (34.451) - - Keuntungan Selisih Kurs 279.691 279.691 279.691 279.691 TOTAL PENDATAN LAIN-LAIN 314.142 314.142 279.691 279.691 BIAYA LAIN-LAIN Rugi Selisih Kurs 7.342.452 7.342.452 7.342.452 7.342.452 Pajak Bunga 6.890 6.890 6.890 6.890 - - TOTAL BIAYA LAIN-LAIN 7.349.342 7.349.342 7.342.452 7.342.452 LABA (RUGI) BERSIH SEBELUM PAJAK 95.362.970 85.859.000 96.835.000 87.332.000 9.503.000 Tarif 25% x 50% x PKP 11.920.250 10.732.375 12.104.375 10.916.500 1.187.875 PPh Terutang 11.920.250 10.732.375 12.104.375 10.916.500 1.187.875 Sumber PT Abadi Karya Mulia
65 Berikut adalah hasil analisa penulis terhadap perencanaan pajak pada PT Abadi Karya Mulia : 1. Pendapatan, dalam hal ini pencatatan pembukuan yang dilakukan saat perusahaan menggunakan modified cash basis dimana pendapatan diakui pada saat terjadinya penerimaan dan pengeluaran uang. Berdasarkan analisa penulis bahwa implementasi perencanaan pajak (tax planning) atas akun Pendapatan telah efisien dan sesuai dengan peraturan perpajakan. 2. Biaya Gaji, penerapan perencanaan pajak terhadap akun biaya gaji yang dilakukan oleh perusahaan yaitu : Biaya Gaji Rp 344.398.858 Perencanaan Pajak Biaya Gaji (dalam bentuk tunjangan) Rp 26.599.992 Biaya gaji setelah perencanaan pajak Rp 370.998.850 Menurut hemat penulis, strategi perusahaan dengan mengganti biaya asuransi karyawan menjadi salah satu tunjangan yang dapat dijadikan penambah akun biaya gaji telah efisien. Namun berdasarkan penelitian penulis ternyata tunjangan asuransi kesehatan Direktur Surveyor tidak dimasukan kedalam perencanaan pajak dan biaya gaji karena perusahaan asuransi yg berbeda. Dalam hal ini, perusahaan seharusnya dapat menambah penghematan pajaknya kembali apabila perusahaan melakukan hal yang sama atas biaya gaji Direkstur Surveyor, yaitu :
66 Biaya Gaji setelah perencanaan pajak perusahaan Rp 370.998.850 Perencanaan pajak biaya gaji (dalam bentuk tunjangan asuransi kesehatan) Rp 4.000.000 Biaya gaji setelah perencanaan pajak penulis Rp 374.998.850 Setelah dilakukan analisis penerapan perencanaan pajak, dengan melakukan perencanaan pajak terhadap biaya gaji (dalam bentuk tunjangan asuransi) sebesar Rp 4.000.000 maka biaya gaji karyawan untuk tahun 2009 sebesar Rp 374.998.850,- yang sesuai dengan pasal 6 ayat (1) huruf a tentang mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan. 3. Perjalanan Dinas Surveyor, sebesar Rp 89.188.675 dalam akun ini penulis menemukan jumlah sebesar Rp 5.503.232 atas biaya entertainment yang didukung dengan bukti nominatif dan berhubungan dengan kegiatan untuk mendapat, menagih, dan memelihara penghasilan. Maka penulis berpendapat atas biaya tersebut dapat dijadikan penguran dari penghasilan bruto yg mengacu pada SE-27/PJ.22/1986). Sehingga akan menambah total biaya Perjalanan Dinas Surveyor menjadi sebesar Rp 94.691.907 Perjalanan Dinas Perusahaan Rp 89.188.675 Perencanaan Pajak Perjalanan Dinas Surveyor (didukung bukti nominatif) Rp 5.503.232 Total Perjalanan Dinas Surveyor menurut penulis Rp 94.691.907
67 Berdasarkan penerapan perencanaan pajak diatas menunjukkan bahwa penerapan perencanaan pajak yang dilakukan perusahaan belum efisien. Hal ini dilihat dengan adanya perbedaan PPh Badan terutang menurut perusahaan setelah perencanaan pajak dan PPh Badan menurut penulis Rp 1.187.875 (hasil menurut PPh Badan terutang menurut perusahaan setelah perencanaan pajak dikurangi PPh Badan terutang analisis penulis Rp 12.104.375 Rp 10.916.500). Perbedaan besarnya laba bersih sebelum pajak dan PPh Badan terutang setelah dilakukan perencanaan pajak pada PT Abadi Karya Mulia dengan hasil analisa penulis dijelaskan pada tabel berikut : keterangan Laba bersih sebelum pajak Tabel 4.3 Perbandingan Besarnya PKP dan PPh Badan Terutang PT Abadi Karya Mulia tahun 2012 Laporan Keuangan Komersial Koreksi fiskal Laporan Keuangan Fiskal selisih Perusahaan Penulis Perusahaaan Penulis Perusahaan Penulis 95.362.000 85.859.000 1.472.439 1.472.439 96.835.000 87.332.000 9.503.000 PPh terutang 11.920.250 10.732.375 12.104.375 10.916.500 1.187.875 Total PPh terutang 11.920.250 10.732.375 12.104.375 10.916.500 1.187.875 Perhitungan PPh terutang menurut perusahaan : Tarif PPh Badan 25% x 50% x PKP = 25% x 50% x 96.835.000 = 12.104.375 Perhitungan PPh terutang menurut penulis : Tarif PPh Badan 25% x 50% x PKP = 25% x 50% x 87.332.000 = 10.916.500
68 Dengan demikian jumlah penghematan pajak masing-masing dapat dihitung sebagai berikut : PPh Badan terutang menurut perusahaan Rp 12.104.375 PPh Badan terutang menurut penulis Rp 10.916.500- Penghematan pajak Rp 1.187.875 Dari hasil analisis penulis diatas, total beban yang ditanggung perusahaan bertambah menjadi sebesar Rp 1.187.875 beban tersebut mengakibatkan penurunan jumlah laba bersih sebelum pajak yang diterima perusahaan. Dengan demikian penurunan jumlah Penghasilan Kena Pajak mengakibatkan pernurunan jumlah PPh Badan terutang menjadi Rp 10.916.500,-