BAB 5 HASIL PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
Gambar Scan gel SDS PAGE protein sel galur HSC-3

PERAN ISOFORM TAp73 DAN STATUS GEN p53 TERHADAP AKTIFITAS htert PADA KARSINOMA SEL SKUAMOSA RISBIN IPTEKDOK 2007

BAB 4 METODE PENELITIAN

BAB 5 HASIL PENELITIAN

BAB 5 HASIL PENELITIAN

BAB 5 HASIL PENELITIAN

BAB 4 METODE PENELITIAN

HASIL. Tabel 1 Perbandingan berat abomasum, fundus, dan mukosa fundus dari domba di atas dan di bawah satu tahun

LAPORAN PRAKTIKUM ISOLASI DNA, ISOLASI PROTEIN DARAH, PCR, DAN ELEKTROFORESIS AGAROSE DAN SDS PAGE

HASIL DAN PEMBAHASAN

Beberapa definisi berkaitan dengan elektroforesis

4 Hasil dan Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN. oleh bakteri Salmonella enterica serotype typhi (Salmonella typhi)(santoso et al.

HASIL DAN PEMBAHASAN. DNA Genom

PENDAHULUAN Latar Belakang

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

LAPORAN PRAKTIKUM 5, 6, 7, 8 ISOLASI DNA, ISOLASI PROTEIN DARAH, SERTA PEMERIKSAAN DENGAN TEKNIK PCR, ELEKTROFORESIS AGAROSE DAN SDS-PAGE

CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI

Fraksinasi merupakan langkah awal untuk melakukan proses purifikasi. Prinsip fraksinasi menggunakan liquid IEF BioRad Rotofor yakni memisahkan enzim

Analisis kadar protein

III. METODOLOGI PENELITIAN

PENGARUH LOGAM BERAT PB TERHADAP PROFIL PROTEIN ALGA MERAH ( (Gracillaria

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan Pertumbuhan dan Peremajaan Isolat Pengamatan Morfologi Isolat B. thuringiensis

LAPORAN PRAKTIKUM ISOLASI DNA MANUSIA (EPITELIAL MULUT DAN DARAH) DAN TEKNIK PCR DAN ISOLASI PROTEIN DARI DRAH, ELEKTROFORESIS AGAROSE DAN SDS-PAGE

BAB I PENDAHULUAN. Kanker Ovarium Epitel (KEO) merupakan kanker ginekologi yang. mematikan. Dari seluruh kanker ovarium, secara histopatologi dijumpai

BAB 1 PENDAHULUAN. Papilloma sinonasal diperkenalkan oleh Ward sejak tahun 1854, hanya mewakili

BAB V KESIMPULAN, SARAN & RINGKASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian Kuantitas dan Kualitas DNA

HASIL DAN PEMBAHASAN Tipe-tipe Sel yang Tumbuh dan Berkembang dalam Kultur

LAPORAN PRAKTIKUM Isolasi DNA, Teknik PCR dan Elektroforesis Agarose Isolasi Protein Darah dan Elektroforesis SDS-PAGE

LAPORAN PRAKTIKUM. Bagian B Supernatan Pengendapan Jumlah /warna 7 ml / berwarna kuning 1 ml Warna merah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

LAPORAN PRAKTIKUM ISOLASI DNA, ISOLASI PROTEIN DARAH, PCR, DAN ELEKTROFORESIS AGAROSE DAN SDS PAGE

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4 Hasil dan Pembahasan

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI... KATA PENGANTAR... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... INTISARI... ABSTRACT...

4 Hasil dan Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia, kanker merupakan penyakit paling mematikan ke-5 dan mengalami

ANALISIS PROTEIN DARAH KERBAU LOKAL (Bubalus bubalis) DI WILAYAH MALANG DAN BANGKALAN SEBAGAI STUDI AWAL PENINGKATAN MUTU GENETIK

UNIVERSITAS INDONESIA EFEK KITOSAN TERHADAP VIABILITAS KULTUR GALUR SEL HSC-4 DAN A549 SECARA IN VITRO SKRIPSI

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KLONING DAN OVEREKSPRESI GEN celd DARI Clostridium thermocellum ATCC DALAM pet-blue VECTOR 1

Pengujian Inhibisi RNA Helikase Virus Hepatitis C (Utama et al. 2000) HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Ekspresi dan Purifikasi RNA

FAKULTAS BIOLOGI LABORATORIUM GENETIKA & PEMULIAAN INSTRUKSI KERJA UJI

ANALISIS KERAGAMAN PROTEIN DAN FITOKIMIA TANAMAN PEGAGAN (Centella asiatica) HASIL PERBANYAKAN IN VITRO PUTRI KARINA LAILANI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHASAN

MENJELASKAN STRUTUR DAN FUNGSI ORGAN MANUSIA DAN HEWAN TERTENTU, KELAINAN/ PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SALINGTEMAS

FAKULTAS BIOLOGI LABORATORIUM GENETIKA & PEMULIAAN INSTRUKSI KERJA UJI

LAMPIRAN 1. Pembuatan Reagen Bradford dan Larutan Standar Protein

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai September 2014 di Green

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Tabel 1.2 Hasil Pengamatan Bentuk Sel dan Pewarnaan Gram Nama. Pewarnaan Nama

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN. Oligonukleotida sintetis daerah pengkode IFNα2b sintetis dirancang menggunakan

3. METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. Isolat Lumpur Aktif Penghasil Bioflokulan

SISTEM PERTAHANAN TUBUH

3 Metode Penelitian Alat

BAB I PENDAHULUAN. Karsinoma kolorektal (KKR) merupakan masalah kesehatan serius yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. keparahannya berbanding lurus dengan dosis dan memiliki ambang batas. Jika

FAKULTAS BIOLOGI LABORATORIUM GENETIKA & PEMULIAAN INSTRUKSI KERJA UJI

HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi DNA Kualitas DNA

BAB I PENDAHULUAN. proses di berbagai Negara. Saat ini penggunaan terapi stem cell menjadi

BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yang

BAB I PENDAHULUAN. Kanker ovarium merupakan keganasan ginekologi yang menempati urutan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Jenis jaringan hewan ada empat macam, yaitu jaringan epitel, jaringan ikat, jaringan otot, dan jaringan saraf.

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN

TRANSFORMASI DAN EKSPRESI pet-endo-β-1,4-xilanase DALAM Escherichia coli BL21 SKRIPSI. Oleh : Eka Yuni Kurniawati NIM

HASIL DAN PEMBAHASAN bp bp bp

BAB I. PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. adanya heterogenitas pada perubahan genetik. Kanker payudara menjadi penyebab

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Dasar-Dasar Teknik Analisis Molekuler

BAB I PENDAHULUAN. misalnya sel otot, sel darah, sel otak atau sel jantung. Stem cell berfungsi sebagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kanker ovarium merupakan keganasan yang paling. mematikan di bidang ginekologi. Setiap tahunnya 200.

Lampiran 1 Data Rendemen Pelet Kapang Endofit Xylaria psidii KT30. Berat sampel (pelet) setelah sentrifugase: 0,223 gram

SD kelas 6 - ILMU PENGETAHUAN ALAM BAB 12. RANGKA DAN SISTEM ORGAN PADA MANUSIALatihan soal 12.5

III. METODOLOGI PENELITIAN

PENELITIAN PENGUATAN PURIFIKASI DAN KARAKTERISASI ENZIM FIBRINOLITIK ASAL BAKTERI PANTAI SELATAN JEMBER

Deskripsi. IMUNOGLOBULIN YOLK (IgY) ANTI Canine parvovirus MURNI UNTUK TERAPI INFEKSI VIRUS PARVO PADA ANJING

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 10. SISTEM ORGANISASI KEHIDUPANLatihan Soal 10.5

SISTEM EKSKRESI PADA MANUSIA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

CREATIVE THINKING. MANUSIA DAN ILMU PENGETAHUAN Panca Indra

BAB I PENDAHULUAN. dikalangan wanita sedunia, meliputi 16% dari semua jenis kanker yang diderita

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan 7 sampel dari 7

I. Tujuan Menentukan berat molekul protein dengan fraksinasi (NH 4 ) 2 SO 4 Teori Dasar

Transkripsi:

28 BAB 5 HASIL PENELITIAN Sel galur HSC-3 dan HSC-4 yang telah dikultur dan jaringan mukosa mulut normal dilakukan purifikasi (ekstraksi) protein dengan menggunakan kit Trizol (Invitrogen) sesuai dengan petunjuk produk. Konsentrasi total protein diukur dengan menggunakan Bradford Protein Assay. Protein standar yang digunakan dalam analisis Bradford adalah Bovine Serum Albumine (BSA) dengan konsentrasi 1024 g/ml, 512 g/ml, 256 g/ml, 128 g/ml, 64 g/ml, 32 g/ml, 16 g/ml, 8g/ml. Selanjutnya, dilakukan elektroforesis protein menggunakan SDS- PAGE untuk melihat profil protein target, htert, berdasarkan berat molekulnya. Visualisasi protein dan penentuan berat molekul yang terdapat pada gel dianalisis menggunakan Gel Doc 2000 dengan program Quantity One (BioRad). Gel yang telah dilarikan dimasukkan ke dalam Gel Doc 2000 dan diambil gambarnya dengan menggunakan sumber cahaya white light (epi-white). Mode epi-white digunakan untuk sampel yang mampu memantulkan dan menyebarkan cahaya. Dengan menggunakan mode ini, data akan diukur dalam uncalibrated optical density (uod) units. 52 Semakin tinggi uod akan menggambarkan opacity yang makin meningkat. 53 Kemampuan bagian gel untuk memantulkan cahaya akan dianggap sebagai pita protein dengan densitas minimal tertentu. 52 Densitas minimal yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan pengaturan awal program Quantity One. Pita yang terdapat pada letak tertentu akan dibandingkan dengan pita standar protein, sehingga berat molekul protein dapat diperkirakan. 52 Protein marker yang digunakan adalah SeeBluePlus2 (Invitrogen) yang memiliki efektifitas dalam menentukan berat molekul antara 3 kd dan 188 kd dalam SDS-PAGE. Protein htert dalam SDS-PAGE tampak dengan berat molekul 127 kd yakni diantara pita pertama (biru, 188 kd) dan pita ke-dua (oranye, 98 kd) pada protein marker. Dalam penelitian ini, yang diperkirakan sebagai protein htert adalah protein yang memiliki berat molekul diantara 117 kd dan 137 kd dari hasil analisis menggunakan program Quantity One (BioRad). 28

29 5.1 Profil Protein htert pada Sel Galur HSC-3 Gambar 5.1 Hasil Scan Gel Sel Galur HSC-3 Pada gel sel galur HSC-3, terdapat 8 lajur. Dari kiri ke kanan, lajur pertama merupakan protein marker. Lajur ke-dua hingga ke-delapan merupakan protein sel galur HSC-3 yang berasal dari cawan kultur yang sama dan perlakuan yang sama. Sampel protein dimasukkan dengan volume 15 l sedangkan pada lajur 2, 3, 7, dan 8, sampel protein yang dimasukkan sebanyak 7,5 l. Sehingga pada lajur sampel 2, 3, 7, dan 8 tampak kurang tebal dari pada lajur sampel 4,5, dan 6. Protein marker yang berwarna biru dan oranye terlihat dengan jelas, namun jaraknya sangat dekat. Dengan visualisasi langsung, pita protein sampel yang berada sejajar dengan protein marker diantara 98 kd dan 188 kd, terlihat tipis. 29

30 Gambar 5.2 Hasil Analisis Gel protein sampel HSC-3 dengan menggunakan program Quantity One. Angka dengan warna biru menunjukkan berat molekul protein marker (standar) dan yang berwarna merah menunjukkan berat molekul yang diperkirakan. Dengan menggunakan program Quantity One, tampak 3 pita yang sesuai dengan kualifikasi yakni pita protein pada lajur 2 (131,72 KD), 6 (134,7 kd), dan 7 (135,23 kd). Secara garis besar, pita protein yang diperkirakan sebagai pita protein htert terlihat tipis. 5.2 Profil Protein htert pada Sel Galur HSC-4 Gambar 5.3 Hasil scan gel sel galur HSC-4. Dari kiri ke kanan, lajur pertama merupakan protein marker (Invitrogen SeeBluePlus2), lajur 2, 3, 4, 5 adalah sampel HSC-4 30

31 Pita protein marker pada gel sel galur HSC-4 terlihat samar. Sulit untuk membandingkan pita protein sampel HSC-4 dengan pita protein marker, dikarenakan tidak terlihatnya pita protein yang diperkirakan sebagai htert. Berbeda dengan sampel protein HSC-3, sampel protein HSC-4 tampak homogen karena tidak ada perbedaan volume sampel protein yang dilarikan pada masing-masing lajur yaitu 15 l. Gambar 5.4 Hasil Analisis Gel protein sampel HSC-4 menggunakan program Quantity One. Dari empat lajur sampel protein yang dilarikan, hanya terlihat dua pita protein yang diperkirakan sebagai pita protein htert, yaitu pada lajur 3 (129,56 kd) dan lajur 4 (135,74 kd). Pita protein yang diperkirakan sebagai pita protein htert sangat tipis. 31

32 5.3 Profil Protein htert pada Jaringan Mukosa Sehat Gambar 5 5 Hasil scan gel jaringan mukosa normal. (A) Sampel gingiva no 2, 3, 4, 5, 8, 9 dan 10. (B) Sampel gingiva no. 11, 12, 16, 17, 18, 19, dan 20. (C) Sampel gingiva no. 21, 25, dan 27. Dari ketiga gambar, lajur paling kiri merupakan protein marker. 32

33 Gambar 5.6 Hasil Analisis Gel protein sampel jaringan mukosa sampel no 2,,3, 4, 5, 8, 9, dan 10 (dari kiri ke kanan setelah protein marker: no. 2, 3, 4, 5, 8, 9, dan 10) dengan menggunakan program Quantity One. Terdapat satu pita protein yang diperkirakan sebagai pita protein htert yaitu pada sampel no. 5 (lajur ke5). Gambar 5.7 Hasil Analisis Gel protein sampel jaringan mukosa sampel no 11, 12, 16, 17, 18, 19, dan 20, (dari kiri ke kanan setelah protein marker: no. 11, 12, 16, 17, 18, 19, dan 20) dengan menggunakan program Quantity One. Tidak tampak pita yang diperkirakan sebagai pita protein htert. 33

34 Gambar 5.8 Hasil Analisis gel protein sampel jaringan mukosa sampel no. 21, 25, dan 27 (dari kiri ke kanan setelah protein marker: no. 21, 25, dan 27) dengan menggunakan program Quantity One. Terdapat satu pita protein yang diperkirakan sebagai pita protein htert yaitu pada sampel no. 27 (lajur ke4). Dari 17 sampel protein jaringan normal yang dilarikan dalam SDS- PAGE, hanya terdapat 2 pita protein yang diperkirakan sebagai pita protein htert, yaitu pada protein sampel no. 5 (gambar 5.6) dan 27 (gambar 5.8). Tabel 5.1 menunjukkan keberadaan protein yang diperkirakan sebagai protein htert dan tingkat ekspresi protein htert yang dilakukan secara visualisasi langsung. 34

35 Tabel 5.1 Keberadaan protein yang diperkirakan sebagai protein htert dan tingkat ekspresi Sampel Protein HSC-3 HSC-4 No. Sampel protein. Berat molekul protein yang diperkirakan sebagai protein htert (kd)* Tingkat ekspresi protein htert** 2*** 131.732 Tipis (1) 6 134.697 Tidak terlihat (0) 7*** 135.229 Tipis (1) 3 129.563 Tidak terlihat (0) 4 135.735 Tipis (1) Jaringan 5 130.09 Tipis (1) Mukosa Normal 27 135.735 Sedang (2) *Berat Molekul dianalisis dengan menggunakan program Quantity One (BioRad) **Hasil visualisasi langsung dengan pemeriksaan interpersonal ***Protein yang dilarikan dengan volume 7,5l, setengah dari volume sampel yang lain. 35

36 BAB 6 PEMBAHASAN Protein adalah produk gen yang merupakan penyusun material sel dan memiliki fungsi regulasi sel. Adanya ekspresi protein menunjukkan aktivitas gen yang sedang aktif. Protein htert merupakan molekul kunci enzim telomerase yang dapat teraktivasi oleh adanya onkogen dan ditekan oleh tumor suppressor gene. Penelitian ini bertujuan untuk melihat profil protein htert pada sel galur KSSRM dan jaringan mukosa mulut normal menggunakan metode SDS-PAGE yang memisahkan protein berdasarkan berat molekulnya. Untuk itu, protein sel galur KSSRM dan protein jaringan mukosa normal yang telah diekstraksi dilarikan dalam wadah elektrik sehingga protein akan menempati posisi tertentu di dalam gel dan nampak sebagai pita setelah diwarnai dengan Coomassie Blue. Lokasi pita protein sampel akan dibandingkan dengan lokasi pita protein marker, sehingga berat molekul protein sampel tersebut dapat diperkirakan. 52 Protein htert dalam SDS-PAGE tampak dengan berat molekul 127 kd. Dalam penelitian ini, yang dianggap termasuk sebagai protein htert adalah protein yang diperkirakan memiliki berat molekul diantara 117 KDa dan 137 KDa berdasarkan visualisasi langsung dan penentuan berat molekul menggunakan program Quantity One (BioRad). Dalam melakukan penelitian ini ditemukan beberapa kendala, khususnya dalam memperkirakan berat molekul menggunakan protein marker Invitrogen SeeBluePlus2. Protein marker Invitrogen SeeBluePlus2 memiliki kemampuan untuk memperkirakan berat molekul sampel dengan rentang 3 sampai 188 kd di dalam SDS-PAGE. Protein htert berada di antara pita protein marker yang berwarna oranye (98 kd) dan pita protein marker yang pertama (188 kd). Jika dibandingkan dengan rentang berat molekul lainnya, rentang berat molekul antara 98 kd dan 188 kd merupakan rentang yang paling jauh (dengan selisih 90 KDa) dengan jarak antara pita yang cukup dekat (Gambar 6.1 (B)). Hal ini pernah 36

37 disiasati dengan melarikan gel dengan lebih lama supaya rentang 98-188 kd menjadi lebih jauh dan pembacaan diharapkan menjadi lebih akurat. Namun nampaknya hal ini menyebabkan protein yang dilarikan menjadi terdegradasi. Arus yang dilarikan dalam waktu yang lama, pada akhirnya akan menyebabkan panas. Temperatur yang tinggi dapat menyebabkan protein menjadi terdegradasi, sehingga protein marker menjadi tidak terlihat 54 (Gambar 6.1 (C)). Gambar 6.1 Perbandingan kualitas protein marker. (A) Gambaran protein marker Invitrogen SeeBluePlus2 yang ditampilkan di dalam catalog Invitrogen, (B) Gambaran protein marker Invitrogen SeeBluePlus2 yang dilarikan dalam SDS-PAGE selama2 jam yang digunakan dalam penelitian ini, (C) Gambaran protein marker Invitrogen SeeBluePlus2 yang dilarikan selama3 jam. Protein marker menjadi tidak terlihat dan terjadi kesulitan dalam penentuan standar protein. Dengan menggunakan program Quantity One, penelitian ini memperlihatkan bahwa HSC-3 (3 dari 8 lajur), HSC-4 (2 dari 4 lajur), dan 2 dari 17 sampel protein gingiva mengekspresikan protein htert. Namun visualisasi langsung protein htert pada HSC-3 dan HSC-4 secara umum terlihat tipis, pada salah satu protein sampel jaringan mukosa normal tampak tipis dan sementara satu 37

38 protein sampel jaringan mukosa normal lainnya tampak tebal. Tebal dan tipisnya (kuantitas) pita protein tidak dapat dibandingkan satu sama lain karena konsentrasi protein yang dilarikan berbeda-beda. Protein htert yang tampak pada sampel sel galur HSC-3 dan HSC-4 sesuai dengan pernyataan dari berbagai literatur bahwa sebagian besar sel kanker terdapat aktivitas telomerase. 27 Mutasi pada p53 menyebabkan protein p53 tidak dapat menjalankan fungsi normalnya sebagai penekan htert. Berbeda dengan sel kanker, pada sel somatik normal umumnya tidak terdapat aktivitas telomerase (htert). 40 Jaringan mukosa normal terdiri dari jaringan epitel, jaringan ikat, pembuluh darah dan pembuluh saraf. Telomerase diekspresikan pada sel progenitor gamet (sel reproduksi dewasa) 33, 34 kecuali sel proliferatif dari jaringan yang memperbarui diri (sel sumsum tulang, sel basal epidermis, endometrium proliferatif dan sel kelenjar usus). 33 Adanya ekspresi htert yang terdeteksi pada jaringan mukosa normal di dalam penelitian ini diperkirakan karena adanya sel keratinosit dan hematopoietik yang terdapat pada darah. 42 Sel keratinosit adalah sel utama yang terdapat pada jaringan gingiva 43 sedangkan sel hematopoietik adalah sel yang diisolasi dari darah atau sumsum tulang yang dapat memperbarui dirinya sendiri, dapat berdiferensiasi menjadi berbagai variasi sel, dapat mobilisasi dari sum sum tulang ke darah sirkulasi, dan dapat mengalami apoptosis. 55 Berdasarkan penelitian pada sumsum tulang, telomerase ditemukan pada sumsum tulang yang normal dan ganas, hal ini menunjukkan bahwa keberadaan telomerase tidak terbatas pada sel yang imortal. 56 38