BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan disajikan hasil dan pembahasan berdasarkan langkah-langkah penelitian yang telah diuraikan dalam bab sebelumnya dalam empat bagian yang meliputi; sampel mtdna, fragmen kb daerah D-loop hasil PCR, hasil sekuensing, serta hasil analisis urutan nukleotida dan mutasi. IV.. Sampel mtdna Pada penelitian ini dianalisis sampel sel yang bersumber dari lima individu dengan umur berbeda. Lima individu tersebut tidak memiliki hubungan kekerabatan antara satu individu dengan individu yang lain (Tabel IV.) Tabel IV.. Data duabelas sampel mtdna yang dianalisis pada lima individu dengan umur berbeda. Nomor Individu Umur Individu (Thn) Jenis Kelamin Jenis sel Yang dianalisis Perempuan Darah (TR) Rambut (TD) Laki-laki Darah (TD) Rambut (TR) Darah (TD) Laki-laki Epitel (TE) Rambut (TR) Darah (TD) Laki-laki Epitel (TE) Rambut (TR) 5 Perempuan Darah (TD) Rambut (TR) TOTAL Jumlah sampel Ket : Kelima individu tersebut tidak memiliki hubungan kekerabatan antara satu individu dengan individu dengan yang lain.

2 Berdasarkan Tabel IV. di atas, sampel-sampel sel tersebut dikelompokkan ke dalam bentuk matriks yang menunjukkan pola distribusi sampel yang dianalisis pada lima individu dengan umur berbeda (Tabel IV.) : Tabel IV.. Pola distribusi sampel yang dianalisis pada lima individu yang berbeda umur dalam bentuk matriks Nomor Umur Jenis Sel individu (Tahun) Darah Rambut Epitel Td Td 5 Td *Td= Tidak dianalisis MtDNA templat disiapkan menggunakan metode lisis sel. Lisis sel dilakukan dalam buffer lisis yang mengandung Tween- (Merck). Tween- adalah detergen non ionik yang dalam larutannya membentuk micelles. Struktur molekul Tween- memiliki bagian hidrofilik yang tersusun oleh senyawa ester atau alkohol dan bagian hidrofobik yang merupakan senyawa hidrokarbon. Interaksi bagian hidrofobik micelles Tween- dengan senyawa fosfolipid dari membran sel membuat senyawa fosfolipid membran larut membentuk campuran micelles dengan Tween-. Inkubasi pada suhu 5 o C selama jam menyebabkan struktur membran sel menjadi rusak. Penambahan enzim proteinase K sebanyak, unit bertujuan untuk mendegradasi enzim-enzim DNAase dan protein lainnya. Enzim proteinase K selanjutnya dideaktivasi pada suhu 5 o C selama 5 menit. Ekstrak DNA hasil lisis langsung dijadikan templat untuk PCR (Noer et al., )

3 IV.. Fragmen kb Daerah D-loop mtdna Hasil PCR Amplifikasi fragmen kb daerah D-loop mtdna untuk semua sampel dilakukan dengan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) menggunakan primer M dan HVR. Analisis fragmen hasil PCR dilakukan dengan elektroforesis gel agarosa % menggunakan standar puc yang dipotong-potong oleh enzim restriksi HinfI (puc/hinfi), menghasilkan lima fragmen DNA berukuran, 5,,, dan 5 pb (Gambar IV. ). 5 pb 5 pb pb pb 5 pb kb Gambar IV.. Contoh fragmen kb daerah D-loop mtdna. Standar dalam penentuan ukuran fragmen hasil amplifikasi digunakan puc/hinfi, ditunjukkan pada lajur. Kontrol positif dan kontrol negatif masing-masing ditunjukkan pada lajur dan. Lajur, 5,, menunjukkan fragmen kb hasil amplifikasi daerah D-loop mtdna dengan teknik PCR. Amplifikasi PCR berhasil diamati dengan bantuan gel agarosa sebagai pita tunggal DNA yang diperkirakan berukuran kb (Gambar IV.). Proses PCR dikontrol oleh dua macam kontrol, kontrol positif dan kontrol negatif. Kontrol positif mengandung templat DNA yang telah pernah berhasil diamplifikasi. Seperti terlihat pada lajur, kontrol positif menghasilkan satu pita fragmen berukuran kb. Hasil ini menunjukkan bahwa proses PCR yang dilakukan berhasil. Kontrol negatif tidak mengandung templat mtdna dan seperti ditunjukkan pada lajur, kontrol negatif tidak menghasilkan pita. Hal ini

4 5 menunjukkan bahwa hasil amplifikasi yang diperoleh bukan berasal dari kontaminan. Ukuran fragmen hasil PCR dapat dihitung berdasarkan selisih total pasang basa dalam mtdna (5) dengan posisi awal primer M (L5) dan posisi akhir HVR (H) +. Berdasarkan perhitungan tersebut diperoleh ukuran fragmen hasil PCR adalah pasang basa. Posisi ukuran fragmen tersebut pada daerah D-loop dapat digambarkan dalam bentuk diagram (Gambar IV.) : M HVR nt 5 nt 5 nt 5 pb pb nt nt nt pb 5 nt HV HV (pb) pb Gambar IV.. Posisi ukuran fragmen hasil PCR pada daerah D-loop. Fragmen 5 menunjukkan selisih total pasang basa dalam mtdna (5 pb) dengan posisi awal primer M (L5), fragmen pb merupakan posisi akhir HVR (H). Fragmen pb menunjukkan ukuran fragmen hasil PCR. Primer M ditunjukkan dengan warna biru, primer HVR ditunjukkan dengan warna merah. Daerah HV ditunjukkan dengan warna hijau, daerah HV ditunjukkan dengan warna kuning. Warna coklat menunjukkan daerah antara HV dan HV Selanjutnya, fragmen kb hasil PCR sebanyak pb pada sampel dianalisis urutan nukleotidanya. IV.. Hasil Sekuensing Fragmen kb D-loop mtdna Hasil sekuensing diperoleh fragmen kb D-loop mtdna sekitar - pb pada sampel sel. Mengingat bahwa pada daerah HV jumlah variasi mutasi (polimorfik) lebih tinggi dari pada daerah HV, maka pengamatan yang menitikberatkan pada keseluruhan HV dan sebagian HV telah cukup

5 representatif dalam penentuan urutan nukleotida daerah D-loop mtdna. Hasil sekuensing terhadap sampel sel mtdna berasal dari lima individu yang umurnya berbeda diperoleh dalam bentuk elektroforegram. Pada individu umur tahun menunjukkan puncak-puncak elektroforegram yang sama pada sel darah, sel epitel, dan sel rambut (Gambar IV., Gambar IV., Gambar IV.5 ) : Gambar IV.. Contoh hasil sekuensing berupa elektroforegram daerah D-loop mtdna pada sel darah individu umur tahun (TD) Gambar IV.. Contoh hasil sekuensing berupa elektroforegram daerah D-loop mtdna pada sel epitel individu umur tahun (TE) Gambar IV.5. Contoh hasil sekuensing berupa elektroforegram daerah D-loop mtdna pada sel rambut individu umur tahun (TR)

6 Pada elektroforegram terdapat deretan puncak-puncak dengan warna berbedabeda yang menunjukkan deretan basa dengan notasi A, C, T, G. Puncak warna hijau melambangkan basa adenin (A), Puncak warna biru melambangkan basa sitosin (C), puncak warna merah melambangkan basa timin (T), dan puncak warna hitam melambangkan basa guanin (G). Hasil sekuen daerah D-loop menggunakan primer M menunjukkan bahwa panjang nukleotida beberapa sampel ada yang sama, akan tetapi ada juga yang berbeda. Untuk sampel yang panjang nukleotidanya sama, langsung dilakukan penjajaran, akan tetapi untuk sampel yang panjang nukleotidanya berbeda dalam satu individu, dilakukan pemotongan nukleotida hingga panjangnya sama (lampiran ). Hasil sekuen dalam bentuk elektroforegram kemudian diterjemahkan menjadi urutan nukleotida. Urutan nukleotida daerah D-loop mtdna (Tabel IV.) menunjukkan bahwa urutan nukleotida pada sel darah, epitel, dan rambut individu umur tahun adalah sama. Tabel IV.. Urutan nukleotida daerah D-loop mtdna pada sel darah, sel epitel, dan sel rambut pada individu umur tahun. Sampel Darah (TD) Posisi nukleotida Urutan nukleotida Epitel (TE) Rambut (TR) Berdasarkan Tabel IV. di atas, urutan nukleotida menunjukkan sama pada sel darah, epitel, dan rambut individu umur tahun. Demikian juga, pada individu

7 dengan umur yang lain yaitu urutan nukleotida menunjukkan sama pada sel darah, sel epitel, dan sel rambut individu umur tahun. Selain itu, urutan nukleotida sel darah dan sel rambut menunjukkan sama pada masing-masing individu umur,, dan tahun (Lampiran ). Dengan demikian, urutan nukleotida daerah D- loop mtdna pada sel yang berbeda, yaitu sel darah, sel epitel, dan sel rambut menunjukkan urutan nukleotida yang sama tiap individu dengan umur tertentu. IV.. Mutasi D-loop mtdna Sampel Sel yang Berbeda Analisis mutasi pada setiap sampel dilakukan dengan cara membandingkan urutan nukleotida dan elektroforegram sampel terhadap standar CRS yang berfungsi sebagai satandar primer dan sampel lain sebagai standar sekuender. Analisis mutasi menggunakan program komputer Seqman DNASTAR. Hasil analisis terhadap sampel dari lima individu memberikan informasi jumlah, jenis dan posisi mutasi pada urutan nukleotida daerah D-loop mtdna. IV... Mutasi D-loop mtdna Sampel Sel yang Berbeda untuk Satu Individu Hasil analisis mutasi pada sel darah, sel epitel, dan sel rambut menunjukkan mutasi yang sama pada individu berumur tahun (Gambar IV.). Elektroforegram daerah D-loop mtdna menunjukkan mutasi transisi TC dan mutasi transisi CT yang sama pada sel darah, epitel, dan rambut individu umur tahun. Demikian pula, elektroforegram daerah D-loop mtdna yang menunjukkan mutasi transversi AC dan AC, dan mutasi transisi TC sama pada sel darah, sel epitel, dan sel rambut pada individu umur tahun dibandingkan standar primer (CRS) dan standar sekunder yang berasal dari sampel pada individu lain (Gambar IV.). Sampel lain yang difungsikan sebagai standar sekunder memiliki posisi nukleotida yang sama dengan sampel yang dianalisis mutasinya. Standar sekunder tersebut digunakan untuk membandingkan mutasi yang terjadi pada sampel yang dianalisis tersebut dengan mutasi yang terjadi pada sampel lain terhadap CRS pada posisi nukleotida yang sama.

8 CRS a). b). c). d). TD TD TE TR Gambar IV.. Elektroforegram daerah D-loop yang menunjukkan a).mutasi transisi TC, b). mutasi transisi CT, c). mutasi transversi AC dan AC, dan d). mutasi transisi TC sama pada sel darah (TD), sel epitel (TE), dan sel rambut (TR) pada individu umur tahun dibandingkan standar primer (CRS) dan standar sekunder (sampel lain, TD) Dengan demikian, individu umur tahun memiliki lima mutasi yang sama pada sel darah, sel epitel, dan sel rambut. Satu mutasi transisi diantaranya CT yang menyebabkan timbulnya poli C yang juga sama pada sel darah, sel epitel, dan sel rambut (Tabel IV.). Urutan nukleotida poli C menunjukkan bahwa urutan nukleotida selanjutnya tidak dapat dibaca lagi dengan jenis primer sekuensing yang sama yaitu primer M. Oleh karena itu, dilakukan sekuensing menggunakan primer M menghasilkan enam mutasi yang sama pada sampel darah dan rambut individu umur tahun (Tabel IV.). Tabel IV.. Ringkasan mutasi pada sampel sel darah, sel epitel, dan sel rambut individu umur tahun Primer sekuensing M M Posisi nukleotida CRS T C A T A A C - C - Darah C T C C C G G T C C C Epitel C T C C C Rambut C T C C C G G T C C C 5

9 Sementara itu, individu umur tahun memiliki delapan mutasi pada daerah D- loop yang sama pada sel darah, sel rambut, dan sel epitel. Elektroforegram daerah D-loop menunjukkan mutasi transisi TC sama pada sel darah, sel epitel, dan sel rambut pada individu umur tahun dibandingkan dengan standar primer (CRS) dan standar sekunder yang berasal dari sampel pada individu lain (Gambar IV.). CRS a). b). c). d). TD TE TR TD Gambar IV.. Contoh elektroforegram daerah D-loop yang menunjukkan a). mutasi transisi TC, dan b). mutasi transisi CT, c). mutasi transisi CT dan d). mutasi transisi C5T yang sama pada sel darah (TD), sel epitel (TE), dan sel rambut (TR) pada individu umur tahun dibandingkan dengan CRS sebagai standar primer dan sampel lain (TD) yang difungsikan sebagai standar sekunder Demikian juga, elektroforegram daerah D-loop yang menunjukkan mutasi transisi C5T dan CT sama pada sel darah, sel epitel, dan sel rambut pada individu umur tahun dibandingkan dengan CRS sebagai standar primer dan sampel lain (TD) yang difungsikan sebagai standar sekunder. Elektroforegram daerah D-loop yang menunjukkan mutasi lain pada sampel individu umur tahun secara lengkap pada lampiran. Dengan demikian, individu umur tahun memiliki delapan mutasi pada daerah D-loop yang sama pada sel darah, sel epitel, dan sel rambut (Tabel IV.5).

10 Tabel IV.5. Ringkasan mutasi pada sampel sel darah, sel epitel, dan sel rambut individu umur tahun Primer sekuensing Posisi nukleotida 5 M CRS T C C C C G A G Darah C T T T T A G A Epitel C T T T T A G A Rambut C T T T T A G A 5 IV... Mutasi D-loop mtdna sampel sel yang berbeda untuk beberapa individu dengan umur yang berbeda Elektroforegram daerah D-loop mtdna pada sel berbeda untuk individu umur tahun dan tahun, menunjukkan bahwa tiap individu tersebut memiliki mutasi yang sama pada sel darah, sel epitel, dan sel rambut. Individu umur tahun memiliki lima mutasi yang sama pada sel darah, sel rambut dan sel epitel, satu mutasi transisi diantaranya TC yang menyebabkan timbulnya poli C yang juga sama pada sel darah, sel epitel, dan sel rambut. Urutan nukleotida poli C menunjukkan bahwa urutan nukleotida selanjutnya tidak dapat dibaca lagi dengan jenis primer sekuensing yang sama yaitu primer M. Oleh karena itu, dilakukan sekuensing menggunakan primer M menghasilkan enam mutasi yang sama pada sel darah dan sel rambut individu umur tahun (Tabel IV.). Berdasarkan hasil analisis mutasi pada sel darah dan sel rambut individu umur tahun yang disekuensing dengan primer M, ditemukan satu mutasi transisi AG yang merupakan komplemen dari mutasi transisi TC. Jenis mutasi yang dominan pada kedua sampel tersebut adalah mutasi transisi, satu mutasi insersi C yang sama pada sel darah dan rambut. Dengan demikian, daerah D-loop mtdna telah berhasil ditentukan varian mutasi yang menunjukkan mutasi yang sama pada sampel sel darah dan sel rambut individu umur tahun (Tabel IV.). Demikian pula, individu umur tahun memiliki

11 delapan mutasi pada daerah D-loop yang sama pada sel darah, sel epitel, dan sel rambut. Elektroforegram daerah D-loop menunjukkan mutasi transisi TC sama pada sel darah, sel epitel, dan sel rambut pada individu umur tahun dibandingkan dengan standar primer (CRS) dan standar sekunder yang berasal dari sampel pada individu lain (Gambar IV.). Sementara itu, elektroforegram daerah D-loop yang menunjukkan mutasi yang sama pada sel darah dan sel rambut ditemukan pada tiap individu umur,, dan tahun (lampiran ). Individu umur tahun memiliki tiga mutasi yang sama pada sel darah dan sel rambut. Elektroforegram daerah D-loop yang menunjukkan satu mutasi transisi CT, satu mutasi insersi pada posisi C, dan satu mutasi transisi TC masing-masing menunjukan mutasi yang sama pada sel darah dan sel rambut pada individu umur tahun dibandingkan standar primer (CRS) dan sampel lain (TD) yang difungsikan sebagai standar sekunder (Gambar IV.). CRS a). b). c). TD TR TD Gambar IV.. Elektroforegram daerah D-loop yang menunjukkan a). mutasi transisi CT, b). mutasi insersi C, dan c). mutasi delesi T sama pada sel darah (TD) dan sel rambut (TR) pada individu umur tahun dibandingkan standar primer (CRS) dan standar sekunder (sampel lain, TD)

12 Satu mutasi insersi C menyebabkan pembacaan urutan nukleotida pada urutan CRS bergeser satu basa ke kiri, sehingga mutasi yang ditunjukkan sebagai mutasi delesi T (Gambar IV.c) bergeser pembacaannya menjadi mutasi transisi TC yang menyebabkan timbulnya urutan nukleotida poli C. Namun demikian, ketiga mutasi pada sampel tersebut menunjukkan sama pada sel darah dan sel rambut individu umur tahun. Tabel IV.. Ringkasan mutasi pada sampel sel darah dan sel rambut individu umur tahun Primer sekuensing M Posisi nukleotida CRS C A T Darah T C C Rambut T C C Demikian pula, individu umur tahun menunjukkan mutasi yang sama pada sel darah dan rambut. Elektroforegram daerah D-loop yang menunjukkan mutasi insersi G, mutasi transisi TC, mutasi transversi CA, mutasi delesi A, dan mutasi transisi TC yang sama pada sel darah dan rambut pada individu umur tahun dibandingkan standar primer (CRS) dan sampel pada individu lain (TD) yang difungsikan sebagai standar sekunder (Gambar IV.).

13 CRS a). b). c). d). e). TD TD TR Gambar IV.. Elektroforegram daerah D-loop yang menunjukkan a). mutasi insersi G, b). mutasi transisi TC, c). mutasi transversi CA, d). mutasi delesi A, e). mutasi transisi TC yang sama pada sel darah (TD) dan sel rambut (TR) pada individu umur tahun dibandingkan standar primer (CRS) dan standar sekunder (sampel lain, TD) Satu mutasi insersi G menyebabkan pembacaan urutan nukleotida berikutnya pada urutan CRS bergeser satu basa ke kiri, sehingga mutasi yang ditunjukkan sebagai mutasi transisi TC (Gambar IV.e) bergeser pembacaannya menjadi mutasi transisi TC yang menyebabkan timbulnya urutan nukleotida poli C. Namun demikian, lima mutasi pada sampel tersebut menunjukkan mutasi yang sama pada sel darah dan sel rambut individu umur tahun (Tabel IV.). Tabel IV.. Ringkasan mutasi pada sampel sel darah dan sel rambut individu umur tahun Primer M sekuensing Posisi nukleotida CRS - T C A T Darah G C A - C Rambut G C A - C

14 5 Sementara itu, individu umur tahun menunjukkan tujuh mutasi yang sama pada sel darah dan sel rambut. Elektroforegram daerah D-loop yang menunjukkan mutasi transisi CT, mutasi transisi GA, mutasi transisi TC, mutasi transisi TC, dan mutasi transisi CT yang sama pada sel darah dan sel rambut pada individu umur tahun dibandingkan standar primer (CRS) dan standar sekunder yang berasal dari sampel individu lain (TR) yang difungsikan sebagai standar sekunder (Gambar IV.). CRS a). b) c). d). e) TR TD TR Gambar IV.. Elektroforegram daerah D-loop yang menunjukkan a). mutasi transisi CT, b). mutasi transisi GA, c). mutasi transisi TC, d). mutasi transisi TC, e). mutasi transisi CT yang sama pada sel darah (TD) dan sel rambut (TR) pada individu umur tahun dibandingkan standar primer (CRS) dan standar sekunder (sampel lain, TR) Mutasi transisi GA (Gambar IV.b) menunjukkan sama pada sel darah dan sel rambut individu umur tahun, jenis mutasi ini juga ditemukan pada pasien osteosarcoma (Guo Guang, ). Mutasi transisi GA tersebut di atas hanya ditemukan pada individu umur tahun yang menunjukkan mutasi yang sama pada sel darah dan sel rambut. Demikian juga, elektroforegram yang menunjukkan mutasi transisi TC dan T5C menunjukkan mutasi yang sama pada sel darah dan sel rambut individu umur tahun (lampiran ). Dengan demikian, pada individu umur tahun ditemukan tujuh mutasi yang sama pada sel darah dan sel rambut (tabel IV.).

15 Tabel IV.. Ringkasan mutasi pada sampel sel darah dan sel rambut individu umur tahun. Primer sekuensing M Posisi nukleotida 5 CRS C G T T C T T Darah T A C C T C C Rambut T A C C T C C Posisi dan jenis mutasi pada sel darah dan sel rambut individu umur tahun di atas adalah sama. Dengan demikian, urutan nukleotida daerah D-loop mtdna pada sel yang dianalisis, dengan CRS sebagai standar menunjukkan mutasi yang sama pada sel berbeda tiap individu (Tabel IV.). Tabel IV.. Total mutasi mtdna D-loop pada sampel yang dianalisis. Mutasi dengan CRS sebagai standar pada dua belas sampel sel terdiri dari sel darah, sel epitel dan sel rambut berasal dari lima individu dengan umur,,,, dan tahun. Primer sekuensing M Posisi nukleotida Posisi nukleotida 5-5 CRS C T G - T T C C C C A - A T C C T C G A T G Darah T C C Rambut T C C Darah G C A - C Rambut G C A - C Darah C T C C C Epitel C T C C C Rambut C T C C C Darah C T T T T A G A Epitel C T T T T A G A Rambut C T T T T A G A Darah T A C C T C C Rambut T A C C T C C 5 5 5

16 Dalam mtdna, mutasi adalah perbedaan nukleotida yang terdapat pada sampel dibandingkan dengan standar CRS karena CRS belum tentu wild type. Jenis mutasi yang dominan pada kedua belas sampel dari lima individu tersebut adalah mutasi transisi yaitu mutasi yang disebabkan oleh perubahan dari basa Purin menjadi basa Purin yang lain yaitu dari basa Adenin menjadi basa Guanin, dan atau perubahan dari basa Pirimidin menjadi basa Pirimidin yang lain yaitu basa Timin menjadi basa Sitosin, atau sebaliknya. Mutasi transversi selalu lebih sedikit dibandingkan dengan mutasi transisi. Hal ini karena tahapan reaksi mutasi transversi lebih panjang dibandingkan dengan mutasi transisi. Hasil analisis penentuan urutan nukleotida yang ditentukan dengan metoda dideoksi Sanger untuk semua sampel berjumlah kurang lebih 5.5 pb, telah berhasil diperoleh. Hasil analisis urutan nukleotida menggunakan program seqman DNASTAR dengan CRS sebagai rujukan menunjukkan bahwa untuk tiga sel yang berbeda, yaitu sel darah, sel epitel, dan sel rambut, pada individu berumur tahun dan tahun, posisi dan jenis mutasi masing-masing individu tersebut adalah sama. Sementara itu, analisis urutan nukleotida sel darah dan sel rambut individu berumur,, dan tahun juga menunjukkan posisi dan jenis mutasi yang sama.urutan nukleotida D-loop mtdna sama pada sel berbeda tiap individu. Hal ini disebabkan oleh karena sel-sel tersebut bersumber dari satu sel telur yang memiliki satu jenis mtdna kemudian terdiferensiasi seiring dengan perkembangan embrio. Pada fase perkembangan selanjutnya menjadi manusia dewasa, diferensisasi ini tidak menyebabkan adanya perubahan pada urutan nukleotida mtdna pada sel rambut, epitel, dan darah dalam satu individu. Dengan demikian, ketiga jenis sel tersebut dapat dikatakan mewakili keseluruhan jenis sel yang ada pada tubuh manusia. Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat diusulkan untuk menggunakan salah satu dari sel darah atau sel epitel atau sel rambut dalam keperluan identifikasi forensik. Hal ini didasarkan pada temuan penelitian ini bahwa urutan nukleotida D-loop mtdna sama pada ketiga sel tersebut untuk berbagai individu dengan umur berbeda.

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan Dalam bab ini akan dipaparkan hasil dari tahap-tahap penelitian yang telah dilakukan. Melalui tahapan tersebut diperoleh urutan nukleotida sampel yang positif diabetes dan sampel

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. telah banyak dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa fenomena munculnya

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. telah banyak dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa fenomena munculnya BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian terhadap urutan nukleotida daerah HVI mtdna manusia yang telah banyak dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa fenomena munculnya rangkaian poli-c merupakan fenomena

Lebih terperinci

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN. Pengambilan sampel. Penyiapan templat mtdna dengan metode lisis sel

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN. Pengambilan sampel. Penyiapan templat mtdna dengan metode lisis sel 16 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN Bab ini menggambarkan tahapan penelitian yang terdiri dari pengambilan sampel, penyiapan templat mtdna dengan metode lisis sel, amplifikasi D-loop mtdna dengan teknik

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Secara garis besar langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini

BAB III METODE PENELITIAN. Secara garis besar langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini BAB III METODE PENELITIAN Secara garis besar langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: pengumpulan sampel; lisis terhadap sampel mtdna yang telah diperoleh; amplifikasi daerah D-loop

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini dilakukan lima tahap utama yang meliputi tahap

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini dilakukan lima tahap utama yang meliputi tahap BAB III METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini dilakukan lima tahap utama yang meliputi tahap penyiapan templat mtdna, amplifikasi fragmen mtdna pada daerah D-loop mtdna manusia dengan teknik PCR, deteksi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN Bagan Alir Penelitian ini secara umum dapat digambarkan pada skema berikut:

BAB III METODE PENELITIAN Bagan Alir Penelitian ini secara umum dapat digambarkan pada skema berikut: BAB III METODE PENELITIAN Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: pengumpulan sampel, lisis terhadap sampel mtdna yang telah diperoleh, amplifikasi daerah HVI mtdna sampel dengan menggunakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. amplifikasi daerah HVI mtdna sampel dengan menggunakan teknik PCR;

BAB III METODE PENELITIAN. amplifikasi daerah HVI mtdna sampel dengan menggunakan teknik PCR; BAB III METODE PENELITIAN Secara garis besar, langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: pengumpulan sampel; lisis terhadap sampel mtdna yang telah diperoleh; amplifikasi daerah HVI mtdna

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pada penelitian ini terdapat lima tahapan penelitian yang dilakukan yaitu

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pada penelitian ini terdapat lima tahapan penelitian yang dilakukan yaitu BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada penelitian ini terdapat lima tahapan penelitian yang dilakukan yaitu pengumpulan sampel berupa akar rambut, ekstraksi mtdna melalui proses lisis akar rambut, amplifikasi

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian akan diawali dengan preparasi alat dan bahan untuk sampling

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian akan diawali dengan preparasi alat dan bahan untuk sampling 16 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian akan diawali dengan preparasi alat dan bahan untuk sampling sel folikel akar rambut. Sampel kemudian dilisis, diamplifikasi dan disekuensing dengan metode dideoksi

Lebih terperinci

3 Metodologi Penelitian

3 Metodologi Penelitian 3 Metodologi Penelitian 3.1 Alat Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Penelitian Biokimia, Program Studi Kimia, Institut Teknologi Bandung. Peralatan yang digunakan pada penelitian ini diantaranya

Lebih terperinci

Profil Genetik Daerah Hipervariabel I (HVI) DNA Mitokondria pada Populasi Dataran Tinggi. Gun Gun Gumilar, Ridha Indah Lestari, Heli Siti HM.

Profil Genetik Daerah Hipervariabel I (HVI) DNA Mitokondria pada Populasi Dataran Tinggi. Gun Gun Gumilar, Ridha Indah Lestari, Heli Siti HM. Gun Gun Gumilar, Ridha Indah Lestari, Heli Siti HM. J.Si. Tek. Kim Profil Genetik Daerah Hipervariabel I (HVI) DNA Mitokondria pada Populasi Dataran Tinggi Gun Gun Gumilar, Ridha Indah Lestari, Heli Siti

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan Penyebab ketidakberhasilan penentuan urutan daerah HVSI mtdna manusia yang mengandung poli-c melalui direct sequencing dan keberhasilan sekuensing setelah kloning diduga terjadi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tubuh manusia tersusun atas sel yang membentuk jaringan, organ, hingga

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tubuh manusia tersusun atas sel yang membentuk jaringan, organ, hingga 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 DNA Mitokondria Tubuh manusia tersusun atas sel yang membentuk jaringan, organ, hingga sistem organ. Dalam sel mengandung materi genetik yang terdiri dari DNA dan RNA. Molekul

Lebih terperinci

MUTASI DAERAH D-LOOP mtdna SEL DARAH, EPITEL, DAN RAMBUT DARI INDIVIDU YANG BERBEDA

MUTASI DAERAH D-LOOP mtdna SEL DARAH, EPITEL, DAN RAMBUT DARI INDIVIDU YANG BERBEDA i MUTASI DAERAH D-LOOP mtdna SEL DARAH, EPITEL, DAN RAMBUT DARI INDIVIDU YANG BERBEDA TESIS Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Institut Teknologi Bandung Oleh RAFIUDDIN

Lebih terperinci

ANALISIS VARIASI NUKLEOTIDA DAERAH D-LOOP DNA MITOKONDRIA PADA SATU INDIVIDU SUKU BALI NORMAL

ANALISIS VARIASI NUKLEOTIDA DAERAH D-LOOP DNA MITOKONDRIA PADA SATU INDIVIDU SUKU BALI NORMAL ISSN 1907-9850 ANALISIS VARIASI NUKLEOTIDA DAERAH D-LOOP DNA MITOKONDRIA PADA SATU INDIVIDU SUKU BALI NORMAL Ketut Ratnayani, I Nengah Wirajana, dan A. A. I. A. M. Laksmiwati Jurusan Kimia FMIPA Universitas

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Amplifikasi Gen Pituitary-Specific Positive Transcription Factor 1 (Pit1) Exon 3

HASIL DAN PEMBAHASAN. Amplifikasi Gen Pituitary-Specific Positive Transcription Factor 1 (Pit1) Exon 3 HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Gen Pituitary-Specific Positive Transcription Factor 1 (Pit1) Exon 3 Amplifikasi gen Pit1 exon 3 pada sapi FH yang berasal dari BIB Lembang, BBIB Singosari, BPPT Cikole,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 4. Hasil Amplifikasi Gen FSHR Alu-1pada gel agarose 1,5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 4. Hasil Amplifikasi Gen FSHR Alu-1pada gel agarose 1,5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Gen FSHR Alu-1 Amplifikasi fragmen gen FSHR Alu-1 dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) dilakukan dengan kondisi annealing 60 C selama 45 detik dan diperoleh produk

Lebih terperinci

Hasil dan Pembahasan

Hasil dan Pembahasan BAB IV Hasil dan Pembahasan Hasil yang diperoleh dari tahapan penelitian akan dijelaskan pada bab ini. Dimulai dengan amplifikasi gen katg, penentuan urutan nukleotida (sequencing), dan diakhiri dengan

Lebih terperinci

Identifikasi Gen Abnormal Oleh : Nella ( )

Identifikasi Gen Abnormal Oleh : Nella ( ) Identifikasi Gen Abnormal Oleh : Nella (10.2011.185) Identifikasi gen abnormal Pemeriksaan kromosom DNA rekombinan PCR Kromosom waldeyer Kromonema : pita spiral yang tampak pada kromatid Kromomer : penebalan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bagi sel tersebut. Disebut sebagai penghasil energi bagi sel karena dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bagi sel tersebut. Disebut sebagai penghasil energi bagi sel karena dalam BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Mitokondria Mitokondria merupakan salah satu organel yang mempunyai peranan penting dalam sel berkaitan dengan kemampuannya dalam menghasilkan energi bagi sel tersebut. Disebut

Lebih terperinci

BAB IV Hasil dan Pembahasan

BAB IV Hasil dan Pembahasan BAB IV Hasil dan Pembahasan Bab ini akan membahas hasil PCR, hasil penentuan urutan nukleotida, analisa in silico dan posisi residu yang mengalami mutasi dengan menggunakan program Pymol. IV.1 PCR Multiplek

Lebih terperinci

menggunakan program MEGA versi

menggunakan program MEGA versi DAFTAR ISI COVER... i HALAMAN PENGESAHAN... ii HALAMAN PERSEMBAHAN... iii PRAKATA... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR LAMPIRAN... x INTISARI... xi ABSTRACT... xii PENDAHULUAN...

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN. Oligonukleotida sintetis daerah pengkode IFNα2b sintetis dirancang menggunakan

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN. Oligonukleotida sintetis daerah pengkode IFNα2b sintetis dirancang menggunakan BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN Oligonukleotida sintetis daerah pengkode IFNα2b sintetis dirancang menggunakan program komputer berdasarkan metode sintesis dua arah TBIO, dimana proses sintesis daerah

Lebih terperinci

VARIASI MUTASI GEN ATPase 6 mtdna MANUSIA PADA POPULASI DATARAN RENDAH

VARIASI MUTASI GEN ATPase 6 mtdna MANUSIA PADA POPULASI DATARAN RENDAH Jurnal Sains dan Teknologi Kimia, Vol 1, No.1 ISSN 2087-7412 April 2010, Hal 80-87 VARIASI MUTASI GEN ATPase 6 mtdna MANUSIA PADA POPULASI DATARAN RENDAH Tanti Himayanti, Heli Siti H. M., Yoni F. Syukriani,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Gen Calpastatin (CAST MspI) Amplifikasi fragmen gen calpastatin (CAST MspI) pada setiap bangsa sapi dilakukan dengan menggunakan mesin thermal cycler (AB Bio System) pada

Lebih terperinci

ANALISIS URUTAN NUKLEOTIDA DAERAH HIPERVARIABEL I (HVI) DNA MITOKONDRIA PADA SUKU SUNDA UNTUK MENENTUKAN MOTIF POPULASINYA

ANALISIS URUTAN NUKLEOTIDA DAERAH HIPERVARIABEL I (HVI) DNA MITOKONDRIA PADA SUKU SUNDA UNTUK MENENTUKAN MOTIF POPULASINYA ANALISIS URUTAN NUKLEOTIDA DAERAH HIPERVARIABEL I (HVI) DNA MITOKONDRIA PADA SUKU SUNDA UNTUK MENENTUKAN MOTIF POPULASINYA ABSTRAK Iman P. Maksum Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Padjadjaran Jl. Raya

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Uji Kuantitas DNA Udang Jari (Metapenaeus elegans De Man, 1907) Laguna Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah dengan Spektrofotometer Pengujian kualitas DNA udang jari (Metapenaeus

Lebih terperinci

Gambar 5. Hasil Amplifikasi Gen Calpastatin pada Gel Agarose 1,5%.

Gambar 5. Hasil Amplifikasi Gen Calpastatin pada Gel Agarose 1,5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Gen Calpastatin (CAST AluI) Amplifikasi fragmen gen CAST AluI dilakukan dengan menggunakan mesin PCR dengan kondisi annealing 60 0 C selama 45 detik, dan diperoleh produk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Babi Babi adalah sejenis hewan ungulata yang bermoncong panjang dan berhidung leper dan merupakan hewan yang aslinya berasal dari Eurasia. Didalam Al-Qur an tertera dengan

Lebih terperinci

TUGAS TERSTRUKTUR BIOTEKNOLOGI PERTANIAN VEKTOR DNA

TUGAS TERSTRUKTUR BIOTEKNOLOGI PERTANIAN VEKTOR DNA TUGAS TERSTRUKTUR BIOTEKNOLOGI PERTANIAN VEKTOR DNA Oleh: Gregorius Widodo Adhi Prasetyo A2A015009 KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Sebelum melakukan PCR, terlebih dahulu dilakukan perancangan primer menggunakan program DNA Star. Pemilihan primer dilakukan dengan mempertimbangkan parameter spesifisitas,

Lebih terperinci

BAB V STUDI KASUS: HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V STUDI KASUS: HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V STUDI KASUS: HASIL DAN PEMBAHASAN 5. Hasil dan Pembahasan Penulis melakukan pembatasan daerah penelitian dari data yang tersedia, yaitu hanya mencari posisi yang mengalami mutasi (misalkan posisi

Lebih terperinci

Pengujian DNA, Prinsip Umum

Pengujian DNA, Prinsip Umum Pengujian DNA, Prinsip Umum Pengujian berbasis DNA dalam pengujian mutu benih memang saat ini belum diregulasikan sebagai salah satu standar kelulusan benih dalam proses sertifikasi. Dalam ISTA Rules,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 32 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Mutasi Gen KRAS Menggunakan Metode HRM dan RFLP pada DNA Standar Sel Kultur Analisis mutasi gen KRAS menggunakan metode HRM telah dilakukan terhadap DNA standar untuk mengetahui

Lebih terperinci

BAB XIII. SEKUENSING DNA

BAB XIII. SEKUENSING DNA BAB XIII. SEKUENSING DNA Pokok bahasan di dalam Bab XIII ini meliputi prinsip kerja sekuensing DNA, khususnya pada metode Sanger, pangkalan data sekuens DNA, dan proyek-proyek sekuensing genom yang ada

Lebih terperinci

Teknik-teknik Dasar Bioteknologi

Teknik-teknik Dasar Bioteknologi Teknik-teknik Dasar Bioteknologi Oleh: TIM PENGAMPU Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Jember Tujuan Perkuliahan 1. Mahasiswa mengetahui macam-macam teknik dasar yang digunakan

Lebih terperinci

2015 IDENTIFIKASI KANDIDAT MARKER GENETIK DAERAH HIPERVARIABEL II DNA MITOKONDRIA PADA EMPAT GENERASI DENGAN RIWAYAT DIABETES MELITUS TIPE

2015 IDENTIFIKASI KANDIDAT MARKER GENETIK DAERAH HIPERVARIABEL II DNA MITOKONDRIA PADA EMPAT GENERASI DENGAN RIWAYAT DIABETES MELITUS TIPE ABSTRAK Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit kelainan metabolisme yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula darah akibat tubuh menjadi tidak responsif terhadap insulin. Salah satu faktor

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN 14 BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN Konfirmasi bakteri C. violaceum dan B. cereus dilakukan dengan pewarnaan Gram, identifikasi morfologi sel bakteri, sekuensing PCR 16s rdna dan uji kualitatif aktivitas

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI FRAGMEN DNA MITOKONDRIA PADA SATU GARIS KETURUNAN IBU DARI SEL EPITEL RONGGA MULUT DAN SEL FOLIKEL AKAR RAMBUT

IDENTIFIKASI FRAGMEN DNA MITOKONDRIA PADA SATU GARIS KETURUNAN IBU DARI SEL EPITEL RONGGA MULUT DAN SEL FOLIKEL AKAR RAMBUT IDENTIFIKASI FRAGMEN DNA MITOKONDRIA PADA SATU GARIS KETURUNAN IBU DARI SEL EPITEL RONGGA MULUT DAN SEL FOLIKEL AKAR RAMBUT Rina Budi Satiyarti 1, Nurmilah 2, Tina Dewi Rosahdi 2 1 UIN Raden Intan Lampung

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 29 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik isolat bakteri dari ikan tuna dan cakalang 4.1.1 Morfologi isolat bakteri Secara alamiah, mikroba terdapat dalam bentuk campuran dari berbagai jenis. Untuk

Lebih terperinci

KATAPENGANTAR. Pekanbaru, Desember2008. Penulis

KATAPENGANTAR. Pekanbaru, Desember2008. Penulis KATAPENGANTAR Fuji syukut ke Hadirat Allah SWT. berkat rahmat dan izin-nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang beijudul "Skrining Bakteri Vibrio sp Penyebab Penyakit Udang Berbasis Teknik Sekuens

Lebih terperinci

MUTASI C825T GEN katg ISOLAT L5 MULTIDRUG RESISTANT Mycobacterium tuberculosis TESIS RINA BUDI SATIYARTI NIM: Program Studi Kimia

MUTASI C825T GEN katg ISOLAT L5 MULTIDRUG RESISTANT Mycobacterium tuberculosis TESIS RINA BUDI SATIYARTI NIM: Program Studi Kimia MUTASI C825T GEN katg ISOLAT L5 MULTIDRUG RESISTANT Mycobacterium tuberculosis TESIS Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Institut Teknologi Bandung Oleh: RINA BUDI

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Mitokondria merupakan organel yang terdapat di dalam sitoplasma.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Mitokondria merupakan organel yang terdapat di dalam sitoplasma. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Fungsi dan Struktur Mitokondria Mitokondria merupakan organel yang terdapat di dalam sitoplasma. Mitokondria berfungsi sebagai organ respirasi dan pembangkit energi dengan

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Kota Padang Sumatera Barat pada bulan Oktober Amplifikasi gen Growth

MATERI DAN METODE. Kota Padang Sumatera Barat pada bulan Oktober Amplifikasi gen Growth III. MATERI DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Pengambilan sampel darah domba dilakukan di Kecamatan Koto Tengah Kota Padang Sumatera Barat pada bulan Oktober 2012. Amplifikasi gen Growth Hormone menggunakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Virus Hepatitis B Gibbon Regio Pre-S1 Amplifikasi Virus Hepatitis B Regio Pre-S1 Hasil amplifikasi dari 9 sampel DNA owa jawa yang telah berstatus serologis positif terhadap antigen

Lebih terperinci

JADWAL PRAKTIKUM BIOKIMIA

JADWAL PRAKTIKUM BIOKIMIA JADWAL PRAKTIKUM BIOKIMIA Waktu Kegiatan dan Judul Percobaan 2 Februari 2018 Penjelasan Awal Praktikum di Lab. Biokimia Dasar 9 Februari 2018 23 Februari 2018 2 Maret 2018 9 Maret 2018 16 Maret 2018 23

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi. Tabel 1. Jumah Sampel Darah Ternak Sapi Indonesia Ternak n Asal Sapi Bali 2 4

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi. Tabel 1. Jumah Sampel Darah Ternak Sapi Indonesia Ternak n Asal Sapi Bali 2 4 MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Genetika Molekuler Ternak, Bagian Pemuliaan dan Genetika Ternak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. penelitian ini

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. ISOLASI DNA GENOM PADI (Oryza sativa L.) KULTIVAR ROJOLELE,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. ISOLASI DNA GENOM PADI (Oryza sativa L.) KULTIVAR ROJOLELE, BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. ISOLASI DNA GENOM PADI (Oryza sativa L.) KULTIVAR ROJOLELE, NIPPONBARE, DAN BATUTEGI Isolasi DNA genom padi dari organ daun padi (Oryza sativa L.) kultivar Rojolele, Nipponbare,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. DNA Genom

HASIL DAN PEMBAHASAN. DNA Genom IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Isolasi DNA Metode isolasi dilakukan untuk memisahkan DNA dari komponen sel yang lain (Ilhak dan Arslan, 2007). Metode isolasi ini sesuai dengan protokol yang diberikan oleh

Lebih terperinci

Metodologi Penelitian. Metode, bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini akan dipaparkan pada bab ini.

Metodologi Penelitian. Metode, bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini akan dipaparkan pada bab ini. Bab III Metodologi Penelitian Metode, bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini akan dipaparkan pada bab ini. III.1 Rancangan Penelitian Secara garis besar tahapan penelitian dijelaskan pada diagram

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Preparasi dan Karakteristik Bahan Baku Produk tuna steak dikemas dengan plastik dalam keadaan vakum. Pengemasan dengan bahan pengemas yang cocok sangat bermanfaat untuk mencegah

Lebih terperinci

REKAYASA GENETIKA. By: Ace Baehaki, S.Pi, M.Si

REKAYASA GENETIKA. By: Ace Baehaki, S.Pi, M.Si REKAYASA GENETIKA By: Ace Baehaki, S.Pi, M.Si Dalam rekayasa genetika DNA dan RNA DNA (deoxyribonucleic Acid) : penyimpan informasi genetika Informasi melambangkan suatu keteraturan kebalikan dari entropi

Lebih terperinci

DNA FINGERPRINT. SPU MPKT B khusus untuk UI

DNA FINGERPRINT. SPU MPKT B khusus untuk UI DNA FINGERPRINT SPU MPKT B khusus untuk UI 1 Pengertian umum Bioteknologi : seperangkat teknik yang memanfaatkan organisme hidup atau bagian dari organisme hidup, untuk menghasilkan atau memodifikasi produk,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Uji Kuantitas DNA Udang Jari (Metapenaeus elegans De Man, 1907) Hasil Tangkapan dari Laguna Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah dengan Spektrofotometer Hasil pengujian kualitas

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi DNA Genomik Sengon

HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi DNA Genomik Sengon HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi DNA Genomik Sengon DNA genomik sengon diisolasi dari daun muda pohon sengon. Hasil uji integritas DNA metode 1, metode 2 dan metode 3 pada gel agarose dapat dilihat pada Gambar

Lebih terperinci

BAB II Tinjauan Pustaka

BAB II Tinjauan Pustaka BAB II Tinjauan Pustaka Pada bab ini dipaparkan penjelasan singkat mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan penelitian ini, yaitu mengenai DNA mitokondria manusia, basis data GenBank, basis data MITOMAP,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Gen Hormon Pertumbuhan (GH) Amplifikasi gen hormon pertumbuhan pada sapi FH yang berasal dari BIB Lembang, BBIB Singosari, dan BET Cipelang; serta sapi pedaging (sebagai

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Tikus ( Rattus norvegicus Gen Sitokrom b

TINJAUAN PUSTAKA Tikus ( Rattus norvegicus Gen Sitokrom b TINJAUAN PUSTAKA Tikus (Rattus norvegicus) Tikus termasuk ke dalam kingdom Animalia, filum Chordata, subfilum Vertebrata, kelas Mamalia, ordo Rodentia, dan famili Muridae. Spesies-spesies utama yang terdapat

Lebih terperinci

BAB IV Hasil dan Pembahasan

BAB IV Hasil dan Pembahasan BAB IV Hasil dan Pembahasan Pada bab ini ditampilkan hasil dan pembahasan dari penyusunan basis data variasi nukleotida mtdna manusia serta sejumlah analisa variasi nukleotida pada mtdna manusia berdasarkan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sintesis fragmen gen HA Avian Influenza Virus (AIV) galur

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sintesis fragmen gen HA Avian Influenza Virus (AIV) galur 20 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. KONDISI OPTIMAL REAKSI AMPLIFIKASI Sintesis fragmen 688--1119 gen HA Avian Influenza Virus (AIV) galur A/Indonesia/5/2005 dilakukan dengan teknik overlapping extension

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Friesian Holstein

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Friesian Holstein TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Friesian Holstein Sapi Friesian Holstein (FH) merupakan bangsa sapi yang paling banyak terdapat di Amerika Serikat, sekitar 80-90% dari seluruh sapi perah yang berada di sana.

Lebih terperinci

1. Kualitas DNA total Udang Jari (Metapenaeus elegans De Man, 1907) Hasil. Tangkapan dari Laguna Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah dengan

1. Kualitas DNA total Udang Jari (Metapenaeus elegans De Man, 1907) Hasil. Tangkapan dari Laguna Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah dengan Lampiran 1. Data dan analisis karakterisasi genetik Udang Jari (Metapenaeus elegans De Man, 1907) Hasil Tangkapan dari Laguna Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah. 1. Kualitas DNA total Udang Jari (Metapenaeus

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... DAFTAR ISI Bab Halaman DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... ix x xii I II III PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Identifikasi Masalah... 2 1.3 Tujuan Penelitian... 2 1.4 Kegunaan Penelitian...

Lebih terperinci

PCR Tanpa Isolasi DNA dari Sel Epitel Rongga Mulut

PCR Tanpa Isolasi DNA dari Sel Epitel Rongga Mulut JMS Vol. 2 No. 1, hal. 35-45, April 1997 PCR Tanpa Isolasi DNA dari Sel Epitel Rongga Mulut A. Saifuddin Noer dan Marsia Gustiananda Kelompok Asam Nukleat dan Genetika Molekul Jurusan Kimia FMIPA - ITB

Lebih terperinci

AMPLIFIKASI IN VITRO DAN IN VIVO FRAGMEN 0,4 KB D-LOOP mtdna SAMPEL FORENSIK

AMPLIFIKASI IN VITRO DAN IN VIVO FRAGMEN 0,4 KB D-LOOP mtdna SAMPEL FORENSIK AMPLIFIKASI IN VITRO DAN IN VIVO FRAGMEN 0,4 KB D-LOOP mtdna SAMPEL FORENSIK Mukhammad Asy ari *, A. Saifuddin Noer ** * Laboratorium Biokimia jurusan Kimia FMIPA UNDIP Semarang ** Laboratorium Rekayasa

Lebih terperinci

Analisis DNA Mitokondria Pada Temuan Rangka di Kompleks Candi Kedaton desa Sentonorejo Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto

Analisis DNA Mitokondria Pada Temuan Rangka di Kompleks Candi Kedaton desa Sentonorejo Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto Analisis DNA Mitokondria Pada Temuan Rangka di Kompleks Candi Kedaton desa Sentonorejo Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto Manuela Renatasya ([email protected]) (Departemen Antropologi, FISIP,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. (a)

HASIL DAN PEMBAHASAN. (a) 8 tampak diskor secara manual. Kriteria penskoran berdasarkan muncul tidaknya lokus, lokus yang muncul diberi skor 1 dan yang tidak muncul diberi skor 0. Data biner yang diperoleh selanjutnya diolah menjadi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN bp bp bp

HASIL DAN PEMBAHASAN bp bp bp HASIL DAN PEBAHASAN Purifikasi dan Pengujian Produk PCR (Stilbena Sintase) Purifikasi ini menggunakan high pure plasmid isolation kit dari Invitrogen. Percobaan dilakukan sesuai dengan prosedur yang terdapat

Lebih terperinci

AMPLIFIKASI IN VITRO DAN IN VIVO FRAGMEN 0,4 KB D-LOOP mtdna SAMPEL FORENSIK

AMPLIFIKASI IN VITRO DAN IN VIVO FRAGMEN 0,4 KB D-LOOP mtdna SAMPEL FORENSIK AMPLIFIKASI IN VITRO DAN IN VIVO FRAGMEN 0,4 KB D-LOOP mtdna SAMPEL FORENSIK Mukhammad Asy ari*, A. Saifuddin Noer** * Laboratorium Biokimia jurusan Kimia FMIPA UNDIP Semarang ** Laboratorium Rekayasa

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi DNA Kualitas DNA

HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi DNA Kualitas DNA HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi DNA Sumber DNA pada Aves biasanya berasal dari darah. Selain itu bulu juga dapat dijadikan sebagai alternatif sumber DNA. Hal ini karena pada sebagian jenis Aves memiliki pembuluh

Lebih terperinci

REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK PERANAN TES DNA DALAM IDENTIFIKASI FORENSIK

REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK PERANAN TES DNA DALAM IDENTIFIKASI FORENSIK REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK PERANAN TES DNA DALAM IDENTIFIKASI FORENSIK KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO RSUP DR. KARIADI

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 21 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian sebelumnya diperoleh kerangka baca terbuka gen IFNα2b yang mengandung tiga mutasi dengan lokasi mutasi yang letaknya berjauhan, sehingga mutagenesis terarah

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. sel pada tubuh memiliki DNA yang sama dan sebagian besar terdapat pada

BAB II KAJIAN PUSTAKA. sel pada tubuh memiliki DNA yang sama dan sebagian besar terdapat pada BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. DNA (Deoxyribonuleic Acid) Deoxyribonucleic acid (DNA) adalah suatu materi yang terdapat pada tubuh manusia dan semua makhluk hidup yang diwarisi secara turun menurun. Semua

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Ekstraksi dan Purifikasi DNA Total DNA total yang diperoleh dalam penelitian bersumber dari darah dan bulu. Ekstraksi DNA yang bersumber dari darah dilakukan dengan metode phenolchloroform,

Lebih terperinci

BAB IV Hasil dan Pembahasan

BAB IV Hasil dan Pembahasan BAB IV Hasil dan Pembahasan Dalam bab ini akan dipaparkan hasil tiap tahap penelitian beserta analisis dan pembahasannya yang terdiri atas analisis 584 sampel berupa urutan nukleotida lengkap mtdna manusia

Lebih terperinci

ANALISA HASIL TRANSFORMASI DENGAN MENGGUNAKAN PCR KOLONI DAN RESTRIKSI

ANALISA HASIL TRANSFORMASI DENGAN MENGGUNAKAN PCR KOLONI DAN RESTRIKSI 1 ANALISA HASIL TRANSFORMASI DENGAN MENGGUNAKAN PCR KOLONI DAN RESTRIKSI PENDAHULUAN Polimerase Chain Reaction (PCR) PCR adalah suatu reaksi invitro untuk menggandakan jumlah molekul DNA pada target tertentu

Lebih terperinci

EKSTRAKSI DNA. 13 Juni 2016

EKSTRAKSI DNA. 13 Juni 2016 EKSTRAKSI DNA 13 Juni 2016 Pendahuluan DNA: polimer untai ganda yg tersusun dari deoksiribonukleotida (dari basa purin atau pirimidin, gula pentosa,dan fosfat). Basa purin: A,G Basa pirimidin: C,T DNA

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan November 2007 hingga Juli 2009, bertempat di Laboratorium Reproduksi dan Genetika Organisme Akuatik Departemen

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Isolasi Fragmen DNA Penyandi CcGH Mature Plasmid pgem-t Easy yang mengandung cdna GH ikan mas telah berhasil diisolasi. Hal ini ditunjukkan dengan adanya pita DNA pada ukuran

Lebih terperinci

MATERI GENETIK. Oleh : TITTA NOVIANTI, S.Si., M. Biomed.

MATERI GENETIK. Oleh : TITTA NOVIANTI, S.Si., M. Biomed. MATERI GENETIK Oleh : TITTA NOVIANTI, S.Si., M. Biomed. PENDAHULUAN Berbagai macam sifat fisik makhluk hidup merupakan hasil dari manifestasi sifat genetik yang dapat diturunkan pada keturunannya Sifat

Lebih terperinci

VARIAN NON-DELESI 9 PASANG BASA DNA MITOKONDRIA MANUSIA SAMPEL FORENSIK BALI

VARIAN NON-DELESI 9 PASANG BASA DNA MITOKONDRIA MANUSIA SAMPEL FORENSIK BALI Jurnal Pengajaran MIPA, Vol. 6 No. 1 Juni 2005 ISSN: 1412-0917 VARIAN NON-DELESI 9 PASANG BASA DNA MITOKONDRIA MANUSIA SAMPEL FORENSIK BALI Oleh : Gun Gun Gumilar 1), A. Saifuddin Noer 2) Jurusan Pendidikan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR...... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... INTISARI... ABSTRACT... PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang...

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian tentang identifikasi gen angiotensin converting enzyme (ACE)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian tentang identifikasi gen angiotensin converting enzyme (ACE) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian tentang identifikasi gen angiotensin converting enzyme (ACE) insersi/ delesi (I/D) dilakukan pada 100 pasien hipertensi yang berobat di poli jantung rumah sakit dr.

Lebih terperinci

POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR)

POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR) POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR) Disusun oleh: Hanif Wahyuni (1210411003) Prayoga Wibhawa Nu Tursedhi Dina Putri Salim (1210412032) (1210413031) SEJARAH Teknik ini dirintis oleh Kary Mullis pada tahun 1985

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perempuan di dunia dan urutan pertama untuk wanita di negara sedang

I. PENDAHULUAN. perempuan di dunia dan urutan pertama untuk wanita di negara sedang I. PENDAHULUAN Kanker serviks menduduki urutan kedua dari penyakit kanker yang menyerang perempuan di dunia dan urutan pertama untuk wanita di negara sedang berkembang (Emilia, dkk., 2010). Berdasarkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Diabetes diturunkan dari bahasa Yunani yaitu diabêtês yang berarti pipa air

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Diabetes diturunkan dari bahasa Yunani yaitu diabêtês yang berarti pipa air BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Diabetes Mellitus Diabetes diturunkan dari bahasa Yunani yaitu diabêtês yang berarti pipa air melengkung (syphon). Diabetes mellitus (DM) adalah suatu penyakit dimana kadar

Lebih terperinci

Studi Keanekaragaman Nukleotida Gen Car A beberapa Species Salmonella dengan Teknologi PCR

Studi Keanekaragaman Nukleotida Gen Car A beberapa Species Salmonella dengan Teknologi PCR Studi Keanekaragaman Nukleotida Gen Car A beberapa Species Salmonella dengan Teknologi PCR Nurhasanah Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Lampung Jl. S. Brojonegoro No.1 Bandar lampung 35145 E-mail : [email protected]

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Amplifikasi Gen GH Exon 2

HASIL DAN PEMBAHASAN. Amplifikasi Gen GH Exon 2 HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Gen GH Exon 2 Gen GH exon 2 pada ternak kambing PE, Saanen, dan persilangannya (PESA) berhasil diamplifikasi menggunakan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction). Pasangan

Lebih terperinci

DASAR BIOTEKNOLOGI TANAMAN

DASAR BIOTEKNOLOGI TANAMAN DASAR BIOTEKNOLOGI TANAMAN Darda Efendi, Ph.D Nurul Khumaida, Ph.D Sintho W. Ardie, Ph.D Departemen Agronomi dan Hortikultura, Faperta, IPB 2013 Marka = tanda Marka (marka biologi) adalah sesuatu/penanda

Lebih terperinci

PENGANTAR. Latar Belakang. Itik yang dikenal saat ini adalah hasil penjinakan itik liar (Anas Boscha atau

PENGANTAR. Latar Belakang. Itik yang dikenal saat ini adalah hasil penjinakan itik liar (Anas Boscha atau PENGANTAR Latar Belakang Itik yang dikenal saat ini adalah hasil penjinakan itik liar (Anas Boscha atau Wild Mallard). Proses penjinakan telah terjadi berabad-abad yang lalu dan di Asia Tenggara merupakan

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan 32 Bab IV Hasil dan Pembahasan Penggunaan α-amilase dalam beberapa sektor industri mengalami peningkatan dan sekarang ini banyak diperlukan α-amilase dengan sifat yang khas dan mempunyai kemampuan untuk

Lebih terperinci

Variasi Urutan nukleotida Daerah D-Loop DNA Mitokondria Manusia pada Dua Populasi Asli Indonesia Tenggara. Program Studi Kimia FPMIPA UPI

Variasi Urutan nukleotida Daerah D-Loop DNA Mitokondria Manusia pada Dua Populasi Asli Indonesia Tenggara. Program Studi Kimia FPMIPA UPI Variasi Urutan nukleotida Daerah D-Loop DNA Mitokondria Manusia pada Dua Populasi Asli Indonesia Tenggara Heli Siti HM, M.Si., Gun Gun Gumilar, M.Si. 1) Dessy Natalia, Ph.D., Achmad Saifuddin Noer, Ph.D.,

Lebih terperinci

DNA MITOKONDRIA GAJAH SUMATERA SERTA HUBUNGANNYA DENGAN SPESIES DAN SUBSPESIES GAJAH LAIN TESIS

DNA MITOKONDRIA GAJAH SUMATERA SERTA HUBUNGANNYA DENGAN SPESIES DAN SUBSPESIES GAJAH LAIN TESIS DNA MITOKONDRIA GAJAH SUMATERA SERTA HUBUNGANNYA DENGAN SPESIES DAN SUBSPESIES GAJAH LAIN TESIS Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Institut Teknologi Bandung Oleh

Lebih terperinci

3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat

3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat 3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan selama bulan Januari hingga April 2010 bertempat di Laboratorium Karakteristik Bahan Baku, Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan

Lebih terperinci