BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Bambang Dharmawijaya
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 3 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karsinoma Sel Skuamosa Rongga Mulut (KSSRM) Sebanyak 91% dari seluruh kanker rongga mulut adalah KSSRM. 2 KSSRM merupakan bagian dari kanker di daerah kepala dan leher yang menempati peringkat 10 kanker terbanyak di dunia dengan distribusi geografis yang luas 1 dan secara signifikan menyebabkan morbiditas-mortalitas 12. Berbagai literatur memperlihatkan variasi klasifikasi yang dipakai untuk menggambarkan kanker mulut sehingga menyulitkan untuk menginterpretasikan data epidemiologinya. Biasanya kanker mulut didefinisikan sebagai kanker yang berasal dari seluruh mukosa rongga mulut, tonsil, faring dan laring tetapi tidak termasuk kanker yang berasal dari bibir Etiologi Insidensi KSSRM yang tinggi 3 dan bervariasi di lokasi dan kelompok etnik yang berbeda 2 berhubungan langsung dengan kebiasaan yang merupakan faktor resiko kanker mulut seperti penggunaan tembakau, menyirih dan konsumsi alkohol. 3 Tembakau mengandung karsinogen yang potensial meliputi nitrosamines (nicotine), polycyclic aromatic hydrocarbons, nitrodicthanolamine, nitrosoproline, dan polonium. Asap tembakau mengandung karbonmonoksida, thiocyanate, hydrogen cyianide, nicotine dan metabolit dari kandungan ini. 4 Sebanyak 80% pasien kanker mulut adalah perokok. 13 Prevalensi konsumsi tembakau telah menurun di negara maju, namun pada negara dengan pendapatan rendah atau sedang pengkonsumsi tembakau semakin meningkat, khususnya di antara remaja dan wanita. 3 Lebih dari 250 juta penduduk Asia Tenggara menggunakan smokeless tobacco; 95% berada di India dan Bangladesh (13%), sementara di Indonesia distribusi pengguna oral tobacco sebesar 0,8% dari 212 juta penduduk (WHO). Di India, jumlah diagnosa kanker 3
2 (2001). 13 Semua bentuk alkohol dapat menyebabkan kanker mulut, 4 yang berhubungan dengan penggunaan tembakau diperkirakan kasus per hingga dari kanker yang terdiagnosa termasuk alkohol yang terkandung di dalam mouthwash. Dalam karsinogenesis, alkohol dapat berperan secara independen dan bereaksi sinergis dengan tembakau dengan memberikan efek dehidrasi pada mukosa sehingga meningkatkan permeabilitas mukosa. Telah diperkirakan bahwa perokok menggunakan mouthwash lebih sering. 4 Faktor lain yang juga berperan dalam terjadinya KSSRM meliputi kebiasaan menyirih, pajanan sinar UV, faktor nutrisi, faktor genetic, infeksi Human Papilloma Virus, Herpes Simplex Virus dan Candida Patogenesis Karsinoma sel skuamosa rongga mulut terjadi akibat adanya proses perubahan sel yang bertahap dari normal menjadi lesi displastik hingga akhirnya menjadi karsinoma sel skuamosa. Lesi premalignansi atau prekanker didefinisikan oleh WHO sebagai jaringan yang berubah secara morfologis. Lesi yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah leukoplakia dan eritroplakia, sedangkan lichen planus lebih diklasifikasikan sebagai suatu kondisi dengan potensi menjadi malignan. 12 Secara histopatologis, lesi premalignan dapat memperlihatkan adanya displasia dengan kategori dengan ringan, sedang dan berat. Berdasarkan kriteria histomorfologis displasia ringan memiliki sel displastik yang terbatas pada lapisan basal epitelium, sementara perubahan pada displasia sedang dan berat meliputi perubahan morfologi seluler dan peningkatan ketebalan lapisan epitel sebanyak 2/3 sampai 3/4 ketebalan lapisan epitel. Carcinoma in-situ adalah lesi di mana sel abnormal meliputi seluruh epitel tanpa menginvasi membran dasar. Suatu KSSRM didiagnosis ketika terdapat kerusakan membran dasar dan invasi sel epitel displastik menuju jaringan ikat. keberadaan dan 4
3 5 keparahan displasia diperkirakan berhubungan dengan peningkatan resiko ke arah keganasan. 12 Karsinoma sel skuamosa rongga mulut dapat berkembang di tempat yang sebelumnya terdapat leukoplakia dan eritroplakia atau dapat berkembang secara de novo. Secara klinis, lesi memiliki tampilan lesi prakanker pada tahap awal karsinogenesis. Ketika telah menginvasi submukosa, KSSRM tampak sebagai ulserasi kronis yang ireguler, dengan tepian yang meninggi dan terdapat indurasi. 12 Gambar 2.1 Karsinoma sel skuamosa tahap lanjut pada lidah dan dasar mulut dengan metastasis mencapai nodus limfa regional (Gambar diambil dari: Silverman S, Eversole LR, Truelove EL. Essential of oral medicine. London: Bc Decker inc; 2001.) Seperti kanker di tempat lain, KSSRM dikelompokkan secara klinis sebagai dasar pembuatan rencana perawatan. Sistem staging yang digunakan merupakan klasifikasi tumor-nodemetastasis (TNM). Dimana T menunjukkan ukuran tumor, N menggambarkan ada atau tidaknya lesi yang bermetastasis ke nodus limfa dan M menunjukkan ada atau tidaknya metastasis yang jauh ke beberapa organ atau lokasi, lokasi yang paling sering terkena adalah paru-paru Aspek molekuler pada karsinogenesis KSSRM Karsinogenesis merupakan proses genetik yang memicu perubahan morfologi dan tingkah laku seluler. Analisis perubahan di tingkat molekuler dapat menjadi alat diagnosis utama dan pemandu untuk melakukan perawatan, karena perubahan morfologis terjadi setelah adanya perubahan genetik. 4 5
4 6 Kanker mulut dan lesi prakanker berkembang sebagai akibat dari siklus sel yang tidak terkontrol yang dikarenakan multiple mutations. Proto-oncogene, TSG, dan molekul gatekeeper (cyclins dan CDK) merupakan kelompok gene DNA perbaikan yang dapat bermutasi di karsinoma sel skuamosa. 12 Dalam menonaktifkan TSG dibutuhkan loss of heterozygosity (LOH) atau two-hit-hypothesis (knudson s hypothesis) yang menyatakan bahwa dalam inaktivasi TSG, kedua alel harus bermutasi.4, 14, 15. Pada KSSRM, LOH dilaporkan terjadi pada kromosom 3p, 4q, 9p, 11q dan 17p. 4 Pada sel epitel normal, lesi dengan perubahan histologis ringan, seperti hyperplasia dan diplasia ringan, delesi satu dari dua alel pada kromosom 3p dan 9p21 adalah kejadian yang paling sering terjadi. Namun delesi ini dapat juga mempengaruhi terjadinya transformasi menuju keganasan karena pada regio kromosom 3p14 dan 9p21 terdapat TSG. 4 Gambar 2.2 Diagram patogenesis molekuler kanker pada kepala dan leher. (Gambar diambil dari: Focus on Head and Neck Cancer, Cancer Cell, April 2004) Pada lesi kanker, proses siklus sel menjadi tidak terkontrol. Peningkatan dalam siklus sel biasanya merupakan akibat dari banyaknya mutasi yang terjadi pada berbagai gen yang meregulasi pembelahan sel. 6
5 7 Banyak dari kelainan molekuler ini, terutama delesi DNA dan amplifikasi gen, adalah akibat dari ketidakstabilan genomik. Memahami mekanisme ketidakstabilan genomik akan menciptakan strategi preventif atau terapetik dalam mencegah atau mengurangi ketidakstabilan tersebut p53 p53 merupakan TSG yang beraksi sebagai pertahanan utama melawan kanker 6,7. Tumor suppressor gene (TSG) adalah gen pengkode protein yang memiliki efek negatif dalam pembelahan sel dengan menghambat siklus sel saat kerusakan DNA terjadi. Kerusakan ini dapat berkembang sebagai konsekuensi dari pemaparan karsinogen atau infeksi oleh virus onkogenik. Jika kerusakan parah dan tidak dapat diperbaiki, protein TSG akan menekan sel sehingga mencapai kematian sel terprogram atau apoptosis. 12 Pada sel yang tidak mengalami tekanan, p53 dijaga dalam level yang sangat rendah dengan berikatan pada MDM2 yang beraksi sebagai ubiquitin ligase, hal ini memfasilitasi degradasi p Apabila terjadi kerusakan DNA, p53 dengan cepat berakumulasi dan teraktivasi, kemungkinan karena respon double strand breaks yang diinduksi oleh agen genotoksik. Beberapa proses lain yang dapat mengaktivasi p53, adalah fosforilasi, glikosilasi, keberikatan pada protein regulatorik, alternative splicing dan asetilasi. 18 Aktivasi p53 memiliki dua hasil yaitu penghentian pertumbuhan atau apoptosis. Beberapa faktor turut mempengaruhi pilihan respon sel yang terjadi, termasuk diantaranya adalah tipe sel, ada tidaknya faktor survival pada lingkungan luar, tingkat kerusakan DNA dan level p Abnormalitas TSG telah dilaporkan pada semua jenis kanker dan mutasi p53 (mutant p53) ditemukan terdapat pada hampir 50% kanker 9 dan sebagian besar KSSRM. Mutasi dapat menyebabkan hilangnya aktivitas p53 atau dengan hilangnya sinyal sel secara upstream atau downstream terhadap p53. 19, 20 Hilangnya kemampuan p53 menyebabkan imortalisasi sel dan memberikan kecenderungan sel untuk bertransformasi menjadi neoplasma. 10 7
6 8 Selain mutasi pada p53, dilaporkan juga adanya single nucleotide polymorphism (SNP) pada kodon 72 dengan substitusi asam amino. Tipe 72P dari CCC mengkode proline dan tipe 72R dari CGC mengkode arginine. Tipe 72P dikaitkan dengan prognosis yang lebih buruk dibandingkan dengan 72R. 9 Pada sel galur KSSRM HSC-3 dan HSC-4 ditemukan mutasi p53 dengan sifat yang berbeda. Pada HSC-3 ditemukan mutasi berupa insersi 4 pasang basa TAAG di kodon dan memiliki SNP 72P. HSC-4 memiliki mutasi berupa missense mutation pada kodon 248 dan memiliki SNP 72R. Missense mutation menghasilkan penurunan aktivitas pengikatan DNA dan hilangnya berbagai fungsi yang dimediasi oleh transkripsi gen p53. Konsekuensinya, sel bertransformasi menuju keganasan dan terlibat di dalam imortalisasi, bertambahnya perbanyakan sel dan ketidakstabilan kromosom DNA. 9 Tabel 2.1 Analisis Mutasi p53 dan SNP pada kodon 72 Sel galur Ekson Kodon Perubahan basa (asam amino) Mutasi SNP pada kodon 72 HSC Insersi TAAG Insersi 4bp CCC (P) HSC CGG(R)CAG (Q) Missense CGC (R) Telah diolah kembali dari Kamiya Y, Ohshima T. The Individual Cell Properties of Oral Squamous Cell Carcinoma and p53 Tumor Suppressore Gene Mutation. Oral Science International.2005: Variasi mutasi p53 mencerminkan keragaman sifat individual kanker yang diperoleh. Berdasarkan penelitian Yoko Kamiya dan Tomoko Ohsima, terdapat perbedaan ekspresi level protein p53 yang diukur menggunakan ELISA pada HSC-3 dan HSC-4. Pada HSC-3, tidak terdapat ekspresi protein p53 atau dapat diklasifikasikan sebagai p53 (-), sebaliknya ekspesi protein p53 yang tinggi nampak pada HSC 4 dan diklasifikasikan sebagai p53 (+). 9 8
7 9 2.3 Telomer dan Telomerase Setiap kromosom eukariotik terdiri dari molekul tunggal DNA yang berhubungan dengan berbagai protein. Molekul DNA pada kromosom eukariotik adalah linear dan memiliki dua ujung. Molekul DNA dari kromosom mengandung kumpulan linear gen-gen yang mengkode protein dan RNA yang bercampur dengan noncoding DNA. Noncoding DNA terdiri dari daerah panjang (long stretches) yang membangun sentromer dan telomer 21 Telomer merupakan bagian yang penting dalam kehidupan sel. 21 Peranan telomer adalah untuk melindungi kromosom dari degradasi, rekombinasi, atau fusi dan untuk mencegah ujung kromosom terdeteksi sebagai untaian yang lepas 22 sehingga mampu menjaga integritas dan kestabilan genome. 6 Telomer pada sebagian besar eukariota diketahui terdiri dari pengulangan rangkaian TTAGGG dan protein. 23 Dalam setiap pembelahan sel telomer akan memendek base pairs karena DNA polymerases tidak mampu mereplikasi 3 termini secara utuh, fenomena ini dinamakan the end of replication problem. 24 Saat telomer menjadi sangat memendek, fungsi perlindungan telomer dipertanyakan, telomer yang disfungsi dikenal sebagai DNA rusak yang memicu penghentian pertumbuhan permanen yang dikenal sebagai replicative senescence. 25 Senescent adalah keadaan dimana terjadi penghentian siklus sel pada fase G1 26, sehingga sel tidak lagi berproliferasi namun tetap dapat hidup untuk periode yang lama. 27 Senescence yang diinduksi oleh pemendekan telomer menekan insidensi kanker seefektif apoptosis dan kejadian ini dimediasi oleh p Mutasi p53 dapat menyebabkan sel kehilangan kemampuan untuk menjalani senescence 6, 26 sehingga pemendekan telomer terus berlanjut hingga sel memasuki hambatan untuk berproliferasi kedua yang dinamakan crisis. Normalnya, setelah periode crisis, sel akan mati. 27 Pada tahun 1985, Greider dan Blackburn mengumumkan penemuan enzim telomerase yang memperpanjang DNA 28 dengan menambah telomer (TTAGGG) repeate pada ujung kromosom. 29 Segera setelah ditemukan, keberadaan telomerase didokumentasikan terdapat pada sebagian besar sel kanker. 24 Aktivitas telomerase juga ditemukan pada sel yang aktif membelahd 9
8 10 dan memperbarui diri seperti keratinosit, lapisan basal epidermis dan sel hematopoietik untuk menjaga fungsi sel stem mereka. 30 Pada sel normal yang diberikan perlakuan sehingga menunjukkan aktivitas telomerase yang meningkat, pada akhirnya mengalami beberapa kali mitosis tanpa adanya pemendeken telomer 21, 31, membelah secara dahsyat 31 dan menghindari senescence. 31, 32 Hal ini menunjukkan bahwa telomerase dan pemeliharaan telomer adalah kunci immortalisasi sel 11 dan proliferasi tidak terbatas. 33 Aktvitas telomerase nampak pada sebagian besar tumor manusia (85%) 27, namun tidak pada jaringan yang berdekatan dengan tumor, sehingga banyak penelitian yang berfokus pada pengembangan metode diagnosis menggunakan telomerase dan terapi anti-telomerase. 33 Telomerase merupakan RNA-dependent DNA polymerase yang memiliki inti yang terdiri dari subunit RNA yaitu human telomerase RNA (hter), komponen protein (human telomerase associated protein 1-hTEP1) 34, 35 dan subunit katalis human telomerase reverse transcriptase (htert). Dari subunit ini, aktivitas telomerase membutuhkan adanya hter, yang merupakan RNA template dari telomeric repeat, dan htert yang merupakan 34, 36 reverse transcriptase. 2.4 Human Telomerase Reverse Transkriptase (htert) Gen htert atau subunit katalitik telomerase, berlokasi di 5p Gene htert terdiri dari 16 ekson dan 15 intron sepanjang ~35kb. 32 dan mengkode 7 isoform protein 37, salah satunya adalah protein htert yang merupakan komponen kunci yang mengontrol aktivitas telomerase 10, 32. Protein htert memiliki berat molekul 127 kd. 38 Stem sel embrionik manusia mengekspresikan gen TERT dan TR dan menunjukkan aktivitas telomerase. Pada awal kehidupan, htert memiliki peranan dalam pluripotensi sel stem embrionik, regulasi siklus sel, dan kapasitas diferensiasi secara in vitro. Namun selama proses diferensiasi TERT, TR, dan telomerase ditekan. 39 Pada kebanyakan sel epitel normal, ekspresi htert terbatas pada sel induk dan keturunan terdekatnya
9 11 Investigasi mengenai mekanisme aktivasi dan represi transkripsi htrt pada kanker dan sel normal telah menjadi area yang menarik dalam penelitian kanker. Beberapa faktor transkripsi, meliputi produk onkogen dan TSG, mampu memenaruhi transkripsi htert. Sebagian besar pengatur transkripsi htert masih terbukti sebagai pengatur endogen atau fisiologis, namun ditemukan juga bahwa faktor transkripsi c-myc dapat menyerang langsung htert saat c-myc berekspresi berlebih. 40 Promoter htert memiliki beberapa binding site untuk faktor transkripsi Sp1. Mutasi binding site ini secara dramatis menurunkan aktivitas promoter htert pada sel kanker, menunjukkan bahwa Sp1 berkontribusi dalam transkripsi htert. Sp1 dapat berinteraksi dengan protein lain, salah satunya adalah p53 untuk meregulasi negatif transkripsi htert pada sel normal. p53 yang berikatan dengan Sp1 menghambat Sp1 berikatan dengan promoter htert. Inaktivasi p53 memainkan peranan penyebab aktivasi htert pada karsinogenesis selama perubahan dari sel normal dengan telomerase negatif menjadi sel kanker dengan telomerase positif. 40 Peranan p73 dalam pemeliharaan telomer dan pengaturan htert masih harus diselidiki. Ekspresi p73 dan p73 memberikan hasil yang berbeda. P73 menekan promoter htert serupa dengan yang diobservasi pada p53, sedangkan p73 tidak menghasilkan penekanan htert secara konsisten. Hal ini mengindikasikan bahwa isoform p73 memiliki efek yang berbeda dalam ekspresi htert 8 Protein htert mempengaruhi transformasi keganasan sel 41, namun ekspresi htert tidak berhubungan dengan tingkat keganasan tumor yang berdasarkan ukuran, grade, atau status nodal. 34 Beberapa sel yang aktivitas telomerasenya rendah, pada sisi lain dapat memiliki level transkripsi htert yang tinggi. Pada kasus ini, regulasi level alternative splicing memicu melepas ekson yang mengkode fungsi reverse transcriptase, sehingga produk translasi tidak akan memberikan enzim yang aktif. 28 Level htert yang rendah dideteksi dengan real-time RT-PCR pada sebagian besar jaringan mukosa oral normal dan ekspresi htert juga terdeteksi pada sebagian jaringan karsinoma sel skuamosa dengan kenaikan 11
10 12 yang signifikan. Dengan in situ RT-PCR, ekspresi htert tidak terlihat pada epitelium normal atau mild dysplasia namun terdeteksi pada moderate dysplasia dengan histopatologi dengan level yang lebih tinggi: severe dysplasia dan invasive carcinoma. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan ekspresi telomerase terjadi mulai dari karsinogenesis rongga mulut manusia dan mendukung peranan penting telomerase dalam perkembangan kanker mulut manusia. Banyaknya kuantitas transkripsi htert yang terdeteksi pada spesimen jaringan normal dapat juga dikarenakan adanya sel keratinosit rongga mulut dan hematopoietik yang menampakkan level aktivitas telomerase untuk menjalani replikasi, diferensiasi dan regenerasi sel yang konstan Jaringan Gingiva Gingiva merupakan bagian dari mukosa mulut yang melindungi prosesus alveolaris pada rahang dan mengelilingi daerah sekitar leher gigi. Secara anatomis, gingiva terbagi menjadi tipe marginal, attached, dan area interdental. Gingiva terdiri dari jaringan epitel skuamosa berlapis, ada tiga area berbeda berdasarkan morfologi dan fungsinya: oral atau outer epithelium, sulcular epithelium, dan junctional epithelium. 43 Gingiva mempunyai lapisan karakteristik dari epitelium skuamosa, yang terdiri dari sel yang berlekatan sangat erat satu sama lain dan tersusun dalam lapisan yang berbeda yang disebut strata 44 yaitu (1) Sel basal atau sel formatif dari lapisan sel kolumnar atau kuboidal, (2) Sel prickle atau lapisan spinosa dari sel-sel poligonal,(3) Lapisan granular (stratum granulosum) di mana sel-selnya datar dan mengandung banyak partikel keratohialin, (4) Lapisan kornifikasi (stratum korneum) dimana sel-selnya datar dan tenggelam, dan terkeratinisasi atau parakeratinisasi. 45 Tipe sel yang paling penting pada epitel gingiva yaitu keratinosit. Sel-sel lain yang ditemukan dalam epitel yaitu nonkeratinosit yang termasuk di dalamnya sel-sel langerhans, sel merkel dan melanosit 43 12
11 13 Gambar 2.3 Gambaran sel dari berbagai lapisan epithelium skuamosa dilihat menggunakan mikroskop electron Gambar diambil dari. Newman MG, Takei HH, FA Cs, editors. Carranza's Clinical Periodontology. 9 th ed: WB. Saunders Co.; Komponen Molekuler Jaringan Gingiva Sitoskeleton merupakan suatu jaringan protein kompleks yang bertindak sebagai tulang dan otot bagi sel. 46 Secara morfologis, sitoskeleton pada sel epitel terdiri dari tiga komponen yang berbeda yaitu mikrofilamen, filamen intermediat, dan mikrotubulus. 47 Komponen protein yang terdapat di dalam mikrofilamen adalah actin, myosin, dan protein yang berhubungan seperti tropomyosin, troponin, actinin dan filamin. Mikrotubulus berperan penting dalam mengkoordinasikan sejumlah gerakan sel. Di dalam mikrotubulus, protein yang dominan adalah tubulin. 47 Filamen intermediat merupakan unsur penting pada sel yang sering mendapatkan stres mekanik. Berbeda dengan unsur-unsur sitoskeleton lain, filamen dalam filamen intermediat adalah struktur yang sangat stabil. Tidak terdapat bukti adanya kelompok protein filamen intermediat dapat terurai dan tersusun secara reversibel. Secara umum, hanya dijumpai satu jenis filamen intermediat pada suatu 13
12 14 jenis sel tertentu , 47 filamen keratin. Pada sel epitel, filamen yang ditemukan adalah Jaringan merupakan kelompok-kelompok sel yang menyatu, hal ini membutuhkan kemampuan sel agar mampu berlekatan dengan sel-sel lainnya dengan mekanisme adhesi sel. Fibronektin menghasilkan perlekatan pada fibroblas. 47 Penurunan jenis protein ini dijumpai pada jenis tertentu sel-sel kanker, yang mungkin menjadi penyebab mengapa sel kanker tidak melekat erat satu sama lain, tapi cenderung memisah dan bermetastasis Protein Protein merupakan makromolekul yang terdiri dari satu atau beberapa polipeptida yang terdiri dari rangkaian asam amino yang saling berikatan. 48 Setiap protein memiliki fungsi khas yang dibutuhkan untuk struktur, fungsi dan regulasi dari sel-sel tubuh, jaringan dan organ. Protein merupakan penyusun dari material sel dan dapat berperan sebagai enzim, hormon, elemen structural dan antibodi 49 Struktur protein dapat dilihat sebagai hirarki berupa struktur primer (tingkat satu), sekunder (tingkat dua), tersier (tingkat tiga), dan kuartener (tingkat empat). Struktur primer protein merupakan urutan asam amino penyusun protein yang dihubungkan melalui ikatan peptida (amida). Sementara itu, struktur sekunder protein adalah struktur tiga dimensi lokal dari berbagai rangkaian asam amino pada protein yang distabilkan oleh ikatan hidrogen. 48 Bradford protein assay merupakan prosedur analisis spektroskopik yang digunakan untuk menentukan konsentrasi protein dalam cairan. Penilaian tersebut berbeda-beda tergantung dari komposisi asam amino dari protein yang dinilai. Spectrometer digunakan untuk memproduksi sinar dengan panjang gelombang dan photometer untuk menerima dan menilai intensitas cahaya. Pada metode Bradford terkandung dye Coomassie Brilliant Blue yang dapat berikatan dengan protein dalam cairan asam yang memiliki tingkat penyerapan dari 465 nm sampai 595 nm. Sinar yang ditembakkan oleh 14
13 15 spectrometer sebagian diserap oleh protein dan sebagian diterima oleh photometer. Alat tersebut menghantarkan sinyal tegangan ke galvanometer yang berubah sebanding dengan perubahan jumlah sinar yang diserap sehingga kemudian menunjukkan angka konsentrasi dari protein yang diukur. Kelebihan Bradford protein assay dibandingkan metode yang lain adalah lebih cepat, langkah-langkah pencampuran lebih sedikit, tidak membutuhkan pemanasan dan memberikan respons colorimetric yang lebih stabil. 50 Analisis profil protein dapat menggunakan metode yang dinamakan Sodium Dodecyl Sulfate-PolyAcrylamide Gel Electrophoresis (SDS-PAGE). Protein yang dialirkan dalam medium gel dialiri arus listrik dengan tegangan tertentu. Protein yang bermuatan negatif (anion) akan bergerak ke bawah ke arah kutub positif. Protein dengan berat molekul lebih ringan akan bergerak lebih cepat dalam medium gel. 51 Protein akan terlihat sebagai pita-pita yang dapat terlihat setelah diwarnai dengan staining solution. 15
14 Kerangka Teori Karsinogen/Onkogen Kerusakan DNA p53 Mutant p53 <htert Senescence >htert Telomerase Apoptosis Pemeliharaan Panjang telomer Mampu Menghindari Senescence Pembentukan Kanker 16
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karsinoma Sel Skuamosa Rongga Mulut Sebanyak 91% dari seluruh kanker di rongga mulut adalah karsinoma sel skuamosa rongga mulut. (1) Karsinoma sel skuamosa rongga mulut (KSSRM)
BAB 5 HASIL PENELITIAN
28 BAB 5 HASIL PENELITIAN Sel galur HSC-3 dan HSC-4 yang telah dikultur dan jaringan mukosa mulut normal dilakukan purifikasi (ekstraksi) protein dengan menggunakan kit Trizol (Invitrogen) sesuai dengan
BAB 1 PENDAHULUAN. mukosa rongga mulut. Beberapa merupakan penyakit infeksius seperti sifilis,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejumlah penyakit penting dan serius dapat bermanifestasi sebagai ulser di mukosa rongga mulut. Beberapa merupakan penyakit infeksius seperti sifilis, tuberkulosis,
Gambar Scan gel SDS PAGE protein sel galur HSC-3
34 BAB 5 HASIL PENELITIAN Sampel yang digunakan dalam penelitian ini, berupa sel galur karsinoma sel skuamosa rongga mulut tipe HSC-3 dan HSC-4 serta jaringan mukosa mulut normal. Penelitian diawali dengan
I. PENDAHULUAN. sehingga berpengaruh pada kondisi kesehatan dan kemungkinan mengakibatkan. berbagai penyakit-penyakit yang dapat dialaminya.
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan faktor penting dalam menunjang segala aktifitas hidup seseorang. Namun banyak orang yang menganggap remeh sehingga mengabaikan kesehatan dengan berbagai
BAB I PENDAHULUAN. kompleks, mencakup faktor genetik, infeksi Epstein-Barr Virus (EBV) dan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karsinoma nasofaring (KNF) adalah tumor ganas yang cenderung didiagnosis pada stadium lanjut dan merupakan penyakit dengan angka kejadian tertinggi serta menjadi
I. PENDAHULUAN. terutama pada daerah transformasi epitel gepeng serviks. Sebagian besar
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kanker serviks adalah keganasan yang berasal dari epitel pada serviks terutama pada daerah transformasi epitel gepeng serviks. Sebagian besar kanker serviks adalah epidermoid
BAB 2 TUMOR. semua jaringan tubuh manusia pada berbagai keadaan sel untuk berkembang biak.
BAB 2 TUMOR 2.1 Definisi Tumor Sel mempunyai tugas utama yaitu bekerja dan berkembang biak. Bekerja bergantung kepada aktivitas sitoplasma sedangkan berkembang biak bergantung pada aktivitas intinya. Proliferasi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. kepala leher dan paling sering ditemukan di Indonesia dan sampai saat ini belum
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Karsinoma nasofarings (KNF) merupakan keganasan yang menyerang daerah kepala leher dan paling sering ditemukan di Indonesia dan sampai saat ini belum diketahui
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Indonesia kasus kanker rongga mulut berkisar 3-4% dari seluruh kasus kanker yang terjadi. Sekitar 90-95% dari total kanker pada rongga mulut merupakan kanker sel skuamosa
BAB 1 PENDAHULUAN. dari semua kanker pada organ reproduksi. Diantara kanker yang ditemukan pada
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Kanker ovarium adalah kanker ginekologi yang dijumpai hampir 30% dari semua kanker pada organ reproduksi. Diantara kanker yang ditemukan pada perempuan,
Bagaimana Proses Terjadinya Keganasan
Bagaimana Proses Terjadinya Keganasan Kanker adalah suatu penyakit dimana terjadi proleferasi sel yang tidak terkontrol (Devita). Kanker terjadi karena adanya kerusakan gen yang mengatur pertumbuhan dan
ketebalan yang berbeda-beda dan kadang sangat sulit ditemukan dengan mikroskop. Namun, ada bukti secara kimiawi bahwa lamina inti benar-benar ada di
Membran Inti Inti sel atau nukleus sel adalah organel yang ditemukan pada sel eukariotik. Organel ini mengandung sebagian besar materi genetik sel dengan bentuk molekul DNA linear panjang yang membentuk
SUHARTO WIJANARKO PERTEMUAN ILMIAH TAHUNAN (PIT) KE-21 TAHUN 2016 PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS BEDAH INDONESIA (IKABI) MEDAN, 12 AGUSTUS 2016
SUHARTO WIJANARKO PERTEMUAN ILMIAH TAHUNAN (PIT) KE-21 TAHUN 2016 PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS BEDAH INDONESIA (IKABI) MEDAN, 12 AGUSTUS 2016 BSK sudah lama diketahui diderita manusia terbukti ditemukan
BAB 1 PENDAHULUAN. Papilloma sinonasal diperkenalkan oleh Ward sejak tahun 1854, hanya mewakili
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tumor rongga hidung dan sinus paranasal atau disebut juga tumor sinonasal adalah tumor yang dimulai dari dalam rongga hidung atau sinus paranasal di sekitar hidung.
BAB I PENDAHULUAN. Karsinoma payudara merupakan penyakit keganasan yang paling sering
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karsinoma payudara merupakan penyakit keganasan yang paling sering dijumpai pada wanita dan penyebab kematian terbanyak. Pengobatannya sangat tergantung dari stadium
BAB I PENDAHULUAN. di negara maju terlebih lagi bagi negara berkembang. Angka kematian akibat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Karsinoma rongga mulut merupakan ancaman besar bagi kesehatan masyarakat di negara maju terlebih lagi bagi negara berkembang. Angka kematian akibat kanker terus meningkat
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kanker Mulut 2.1.1 Definisi Neoplasma epitel yang bersifat invasif dengan berbagai derajat diferensiasi skuamosa serta kecenderungan untuk metastasis ke noda limpa, terjadi terutama
KuTiL = KankeR LeHEr RaHIM????
KuTiL = KankeR LeHEr RaHIM???? Abstrak Jangan salah tafsir!!! Bukan berarti orang yang kutilan itu punya kanker rahim, terutama pada wanita. Karena memang bukan itu yang dimaksud. Disini dimaksudkan bahwa
BAB I PENDAHULUAN. berbeda memiliki jenis histopatologi berbeda dan karsinoma sel skuamosa paling
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kanker kepala dan leher adalah berbagai tumor ganas yang berasal dari saluran aerodigestive atas (UADT), meliputi rongga mulut, nasofaring, orofaring, hipofaring dan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Karsinoma sel skuamosa di laring (KSSL) menempati. urutan kedua dariseluruhkarsinomadi saluran
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Karsinoma sel skuamosa di laring (KSSL) menempati urutan kedua dariseluruhkarsinomadi saluran respirodigesti atas, setelah kavum oris. Lebih dari 95% keganasan di
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Karsinoma larings merupakan keganasan yang cukup sering dan bahkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Karsinoma larings merupakan keganasan yang cukup sering dan bahkan kedua tersering pada keganasan daerah kepala leher di beberapa Negara Eropa (Chu dan Kim 2008). Rata-rata
BAB I PENDAHULUAN. Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas yang berasal dari epitel
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas yang berasal dari epitel mukosa nasofaring dengan predileksi di fossa Rossenmuller. Kesulitan diagnosis dini pada
BAB I. PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan kanker kepala dan leher yang
BAB I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan kanker kepala dan leher yang paling sering dijumpai di dunia maupun di Indonesia (Thompson, 2007; Adham et al., 2012). Insidensi
Ada ORI dan helikase yang membuka pilinan terus sampai terbentuk replication bubble.
Catatan Wane (Berbagi Informasi) Berisi tentang materi-materi yang mungkin bisa bermanfaat buat yang membutuhkan Meliputi tentang kesehatan, penelitian, wisata, budaya, sejarah, bisnis, humor, dan catatan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Staging tumor, nodus, metastasis (TNM) Semakin dini semakin baik. di bandingkan dengan karsinoma yang sudah invasif.
7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Prognosis Kanker Payudara Prognosis dipengaruhi oleh ukuran tumor, metastasis, derajat diferensiasi, dan jenis histopatologi. Menurut Ramli (1994), prognosis kanker payudara
Polimerase DNA : enzim yang berfungsi mempolimerisasi nukleotidanukleotida. Ligase DNA : enzim yang berperan menyambung DNA utas lagging
DNA membawa informasi genetik dan bagian DNA yang membawa ciri khas yang diturunkan disebut gen. Perubahan yang terjadi pada gen akan menyebabkan terjadinya perubahan pada produk gen tersebut. Gen sering
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Mukosa rongga mulut normal dilapisi oleh lapisan epitel skuamosa dan memiliki perbedaan topografi yang berhubungan dengan karateristik fisik. Mukosa rongga mulut dapat dibagi atas
EKSPRESI GEN 3. Ani Retno Prijanti FKUI 2010
EKSPRESI GEN 3 Ani Retno Prijanti FKUI 2010 Regulasi Ekspresi Gen Ekspresi gen, adl produksi suatu produk RNA dari suatu gen tertentu yg dikontrol oleh mekanisme yg kompleks. Secara normal hanya sebagian
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Usage and Attitude Urban Indonesia oleh Research International (2008),
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penggunaan cat rambut dianggap sebagai solusi untuk menutupi uban maupun merubah penampilan untuk mengikuti mode. Menurut penelitian Usage and Attitude Urban
MOLEKULER ONKOGENESIS
MOLEKULER ONKOGENESIS Perpustakaan Nasional Katalog dalam Terbitan (KDT) Molekuler Onkogenesis (Konsep Genetik, Virus, Radiasi - Kimia, Mutasi Gen, Epigenetik dan Signalling) dr. H. Agung Putra, M.Si.
I. PENDAHULUAN. Kanker merupakan masalah utama bagi masyarakat karena menjadi salah
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kanker merupakan masalah utama bagi masyarakat karena menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Salah satu jenis kanker yang memiliki potensi kematian terbesar
BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kanker adalah pertumbuhan dan penyebaran sel secara tidak terkendali, sering menyerang jaringan sekitar dan dapat bermetastasis atau menyebar ke organ lain (World Health
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Karsinoma sel skuamosa merupakan tumur ganas yang berasal dari sel-sel
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Defenisi Karsinoma sel skuamosa merupakan tumur ganas yang berasal dari sel-sel epitel skuamosa yang cenderung menginfiltrasi jaringan sekitarnya dan biasanya menimbulkan metastase.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas epitel nasofaring. Etiologi tumor ganas ini bersifat multifaktorial, faktor etnik dan geografi mempengaruhi risiko
I. PENDAHULUAN. Kanker payudara (KPD) merupakan salah satu tumor ganas penyebab
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kanker payudara (KPD) merupakan salah satu tumor ganas penyebab kematian wanita nomor satu (14,7%) di seluruh dunia (Globocan-IARC, 2012). International Agency for Research
I. PENDAHULUAN. perempuan di dunia dan urutan pertama untuk wanita di negara sedang
I. PENDAHULUAN Kanker serviks menduduki urutan kedua dari penyakit kanker yang menyerang perempuan di dunia dan urutan pertama untuk wanita di negara sedang berkembang (Emilia, dkk., 2010). Berdasarkan
I. PENDAHULUAN. dengan insiden dan mortalitas yang tinggi (Carlos et al., 2014). Sampai saat ini telah
I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Kanker serviks masih merupakan masalah kesehatan perempuan sehubungan dengan insiden dan mortalitas yang tinggi (Carlos et al., 2014). Sampai saat ini telah tedapat 529.000
PERAN ISOFORM TAp73 DAN STATUS GEN p53 TERHADAP AKTIFITAS htert PADA KARSINOMA SEL SKUAMOSA RISBIN IPTEKDOK 2007
PERAN ISOFORM TAp73 DAN STATUS GEN p53 TERHADAP AKTIFITAS htert PADA KARSINOMA SEL SKUAMOSA RISBIN IPTEKDOK 2007 LATAR BELAKANG p53 wt
BAB I PENDAHULUAN. Karsinoma kolorektal (KKR) merupakan masalah kesehatan serius yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karsinoma kolorektal (KKR) merupakan masalah kesehatan serius yang kejadiannya cukup sering, terutama mengenai penduduk yang tinggal di negara berkembang. Kanker ini
BAB I PENDAHULUAN. Endometriosis adalah kelainan ginekologi dengan karakteristik. adanya implantasi jaringan endometrium di lokasi ektopik, misal:
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Endometriosis adalah kelainan ginekologi dengan karakteristik adanya implantasi jaringan endometrium di lokasi ektopik, misal: peritoneum panggul, ovarium
BAB 4 HASIL PENELITIAN
20 BAB 4 HASIL PENELITIAN 4.1 Pengambilan Data Data didapatkan dari rekam medik penderita kanker serviks Departemen Patologi Anatomi RSCM Jakarta periode tahun 2004. Data yang didapatkan adalah sebanyak
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dari jaringan organ yang tidak mengalami diferensiasi membentuk .
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ameloblastoma merupakan tumor odontogenik yang sering terjadi berasal dari jaringan organ email yang tidak mengalami diferensiasi membentuk email. Prosentase ameloblastoma
BAB I PENDAHULUAN. merupakan penyebab kematian pada wanita setelah kanker payudara. Hal ini
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kanker serviks uteri merupakan salah satu masalah penting pada wanita di dunia. Karsinoma serviks uteri adalah keganasan kedua yang paling sering terjadi dan merupakan
BAB I PENDAHULUAN. Selama tiga dasawarsa terakhir, kanker ovarium masih merupakan masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Selama tiga dasawarsa terakhir, kanker ovarium masih merupakan masalah kesehatan perempuan di dunia, termasuk Indonesia. Hal ini terkait dengan tingginya
BAB I PENDAHULUAN. keganasan epitel tersebut berupa Karsinoma Sel Skuamosa Kepala dan Leher (KSSKL)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karsinoma kepala dan leher merupakan istilah luas yang mengacu kepada keganasan epitel sinus paranasalis, rongga hidung, rongga mulut, faring, dan laring. Hampir seluruh
I. PENDAHULUAN. wanita di dunia. Berdasarkan data dari WHO/ICOInformation Centre on. jumlah kasus sebanyak kasus dan jumlah kematian sebanyak
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Kanker serviks merupakan kanker yang paling sering menyerang wanita di dunia. Berdasarkan data dari WHO/ICOInformation Centre on HPV and Cancer, kanker serviks menempati
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Epstein-Barr Virus (EBV) menginfeksi lebih dari. 90% populasi dunia. Di negara berkembang, infeksi
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Epstein-Barr Virus (EBV) menginfeksi lebih dari 90% populasi dunia. Di negara berkembang, infeksi primer terjadi pada awal masa anak-anak dan umumnya asimptomatik.
REPRODUKSI MIKROORGANISME
REPRODUKSI MIKROORGANISME PENDAHULUAN Reproduksi mikroorganisme ialah perkembangbiakan mikroorganisme. Mikroorganisme mengadakan perkembangbiakan dengan dua cara, yaitu secara aseksual dan seksual. Reproduksi
AKTIVITAS GEN DAN PENGATURANNYA: SINTESIS PROTEIN. dr. Arfianti, M.Biomed, M.Sc
AKTIVITAS GEN DAN PENGATURANNYA: SINTESIS PROTEIN dr. Arfianti, M.Biomed, M.Sc Protein Working molecules of the cells Action and properties of cells Encoded by genes Gene: Unit of DNA that contain information
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Paradigma mengenai kanker bagi masyarakat umum. merupakan penyakit yang mengerikan.
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Paradigma mengenai kanker bagi masyarakat umum merupakan penyakit yang mengerikan. Banyak orang yang merasa putus harapan dengan kehidupannya setelah terdiagnosis
BAB I PENDAHULUAN BAB II ISI
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara umum kanker serviks diartikan sebagai suatu kondisi patologis, dimana terjadi pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol pada leher rahim yang dapat menyebabkan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Kanker paru merupakan keganasan penyebab kematian. nomer satu di dunia (Cancer Research UK, 2012).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kanker paru merupakan keganasan penyebab kematian nomer satu di dunia (Cancer Research UK, 2012). Mortalitas kanker ini tercatat sebesar 1.590.000 jiwa pada tahun 2012
ABSTRAK. Kata kunci : karsinoma sel skuamosa, rongga mulut, prevalensi.
ABSTRAK Karsinoma sel skuamosa rongga mulut merupakan karsinoma yang berasal dari epitel berlapis gepeng dan menunjukkan gambaran morfologi yang sama dengan karsinoma sel skuamosa di bagian tubuh lain.
BAB 2 DESKRIPSI SINGKAT PEMBESARAN GINGIVA. jaringan periodonsium yang dapat terlihat secara langsung sehingga mempengaruhi
BAB 2 DESKRIPSI SINGKAT PEMBESARAN GINGIVA Gingiva merupakan bagian dari jaringan periodonsium yang menutupi gigi dan berfungsi sebagai jaringan penyangga gigi. Penyakit periodontal yang paling sering
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Inflamasi kronik memiliki peranan penting dalam patogenesis terjadinya kanker. Salah satu penyakit inflamasi kronik adalah Inflammatory Bowel Disease (IBD) yang dipicu
ABSTRAK. Etiopatogenesis Karsinoma Nasofaring (KNF) Rabbinu Rangga Pribadi, Pembimbing: dr. Freddy Tumewu A., M.S.
ABSTRAK Etiopatogenesis Karsinoma Nasofaring (KNF) Rabbinu Rangga Pribadi, 2005. Pembimbing: dr. Freddy Tumewu A., M.S. Karsinoma Nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas kepala dan leher yang paling banyak
2. Untuk melihat hasil tampilan imunohistokimia Lmp-1 pada KSS rongga
18 mulut. 2. Untuk melihat hasil tampilan imunohistokimia Lmp-1 pada KSS rongga 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kanker adalah penyakit keganasan yang ditandai dengan pembelahan sel
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kanker adalah penyakit keganasan yang ditandai dengan pembelahan sel yang tak terkendali dan kemampuan sel-sel tersebut untuk menyerang jaringan lainnya, baik
KIMIA KEHIDUPAN, BIOLOGI SEL, GENETIKA, DAN BIOLOGI MOLEKULAR
OLIMPIADE NASIONAL MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PERGURUAN TINGGI 2017 (ONMIPA- PT) BIDANG BIOLOGI (TES I) 22 MARET 2017 WAKTU 120 MENIT KIMIA KEHIDUPAN, BIOLOGI SEL, GENETIKA, DAN BIOLOGI MOLEKULAR
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kanker paru adalah kanker yang paling sering didiagnosis di dunia dan merupakan penyebab utama kematian akibat kanker. Data kasus baru kanker paru di Amerika Serikat
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kanker mulut, istilah untuk tumor ganas yang terjadi dalam rongga mulut, termasuk kanker bibir, gingiva, lidah, langit langit rongga mulut, rahang, dasar mulut, orofaringeal,
BAB 1 PENDAHULUAN. kasus diantaranya menyebabkan kematian (Li et al., 2012; Hamdi and Saleem,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kanker ovarium merupakan peringkat keenam keganasan terbanyak di dunia, dan merupakan penyebab kematian ketujuh akibat kanker. Kanker ovarium didiagnosis pada 225.500
BAB I PENDAHULUAN. Hemoglobinopati adalah kelainan pada sintesis hemoglobin atau variasi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hemoglobinopati adalah kelainan pada sintesis hemoglobin atau variasi struktur hemoglobin yang menyebabkan fungsi eritrosit menjadi tidak normal dan berumur pendek.
b. Tumor: massa jaringan abnormal yg tumbuh berlebihan, terus-menerus meskipun rangsang yang menimbulkannya telah hilang.
Kasus: Seorang perempuan Ny. J berusia 40 th mnegeluh ada benjolan di payudara sebelah kiri sejak 3 bulan yang lalu. Benjolan tidak berwarna kemerahan dan tidak terasa nyeri. Pasien juga tidak mengeluh
EKSPRESI GEN. Dyah Ayu Widyastuti
EKSPRESI GEN Dyah Ayu Widyastuti Ekspresi Gen Gen sekuen DNA dengan panjang minimum tertentu yang mengkode urutan lengkap asam amino suatu polipeptida, atau RNA (mrna, trna, rrna) Ekspresi Gen Enam tahapan
I. PENGANTAR. A. Latar Belakang Permasalahan. sinar X dalam bidang medis, yang dalam pelaksanaannya berkaitan dengan
1 I. PENGANTAR A. Latar Belakang Permasalahan Radiografi dental untuk tujuan diagnostik merupakan bentuk penggunaan sinar X dalam bidang medis, yang dalam pelaksanaannya berkaitan dengan adanya radiasi
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Sirosis hati merupakan salah satu permasalahan. penting dalam bidang kesehatan karena dapat menimbulkan
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Sirosis hati merupakan salah satu permasalahan penting dalam bidang kesehatan karena dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius dan membutuhkan penanganan sedini
BAB 4 HASIL. Korelasi stadium..., Nurul Nadia H.W.L., FK UI., Universitas Indonesia
BAB 4 HASIL 4.1 Pengambilan Data Data didapatkan dari rekam medik penderita kanker serviks Departemen Patologi Anatomi RSCM pada tahun 2007. Data yang didapatkan adalah sebanyak 675 kasus. Setelah disaring
BAB I PENDAHULUAN. Kanker merupakan penyebab kematian utama yang memberikan kontribusi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kanker merupakan penyebab kematian utama yang memberikan kontribusi 13% kematian dari 22% kematian akibat penyakit tidak menular utama di dunia (Shibuya et al., 2006).
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. penyebab yang kompleks. Angka kejadian KNF tidak sering ditemukan di dunia barat
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kanker nasofaring (KNF) merupakan tumor daerah leher dan kepala dengan penyebab yang kompleks. Angka kejadian KNF tidak sering ditemukan di dunia barat diperkirakan
Basic Science of Oncology Carsinogenesis
Basic Science of Oncology Carsinogenesis DR. Dr. Wiratno, Sp.THT- KL (K) Kanker Kanker merupakan penyakit karena terjadi gangguan pengendalian (mutasi): Mutasi Proto-onkogen yang mengatur proloferasi sel
BAB I. PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. adanya heterogenitas pada perubahan genetik. Kanker payudara menjadi penyebab
BAB I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Kanker payudara merupakan penyakit kompleks yang ditandai dengan adanya heterogenitas pada perubahan genetik. Kanker payudara menjadi penyebab utama kematian di dunia.
BAB 1 PENDAHULUAN. mutasi sel normal. Adanya pertumbuhan sel neoplasma ini ditandai dengan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Leukemia atau lebih dikenal kanker darah atau sumsum tulang merupakan pertumbuhan sel-sel abnormal tidak terkontrol (sel neoplasma) yang berasal dari mutasi sel normal.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dasar dari setiap manusia yang ada di bumi ini. Hak untuk hidup sehat bukan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hak untuk hidup sehat telah ditetapkan secara internasional sebagai hak dasar dari setiap manusia yang ada di bumi ini. Hak untuk hidup sehat bukan hanya dalam
BAB I PENDAHULUAN. Kanker serviks (leher rahim) adalah salah satu kanker ganas yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kanker serviks (leher rahim) adalah salah satu kanker ganas yang menyerang wanita. Kanker ini adalah kanker ketiga yang umum diderita oleh wanita secara global
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gastritis adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan peradangan pada lapisan lambung. Berbeda dengan dispepsia,yang bukan merupakan suatu diagnosis melainkan suatu
TERAPI GEN. oleh dr.zulkarnain Edward MS PhD
TERAPI GEN oleh dr.zulkarnain Edward MS PhD Pendahuluan Penyakit-penyakit metabolik bawaan biasanya akibat tidak adanya gen atau adanya kerusakan pada gen tertentu. Pengobatan yang paling radikal adalah
BAB I PENDAHULUAN. kematian nomor tujuh di Indonesia dengan persentase 5,7 persen dari keseluruhan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tumor merupakan penyakit yang mengkhawatirkan karena menjadi penyebab kematian nomor tujuh di Indonesia dengan persentase 5,7 persen dari keseluruhan penduduk
BAB I PENDAHULUAN. meluas ke rongga mulut. Penyakit-penyakit didalam rongga mulut telah menjadi perhatian
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Masalah kesehatan gigi dewasa ini tidak hanya membahas gigi geligi saja, tetapi telah meluas ke rongga mulut. Penyakit-penyakit didalam rongga mulut telah menjadi
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kanker adalah penyakit tidak menular yang timbul akibat pertumbuhan tidak normal sel jaringan tubuh yang berubah menjadi sel kanker. Pertumbuhan sel tersebut dapat
BAB 2 DEFINISI, ETIOLOGI, KLASIFIKASI, DAN STADIUM EWING S SARCOMA. pada jaringan lunak yang mendukung, mengelilingi, dan melindungi organ tubuh.
BAB 2 DEFINISI, ETIOLOGI, KLASIFIKASI, DAN STADIUM EWING S SARCOMA Sarcoma adalah suatu tipe kanker yang jarang terjadi dimana penyakit ini berkembang pada struktur pendukung tubuh. Ada 2 jenis dari sarcoma,
BAB I PENDAHULUAN. jutaan wanita di seluruh dunia terkena kanker payudara tiap tahunnya. Walaupun
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kanker payudara adalah keganasan paling sering pada wanita dan diperkirakan jutaan wanita di seluruh dunia terkena kanker payudara tiap tahunnya. Walaupun terdapat
Pembimbing I : Hanna Ratnawati, dr. M.Kes. Pembimbing n : David Gunawan, dr.
ABSTRAK AGEN KARSINOGENIK DAN INTERAKSI SELULERNY A Ronald Leonardo, 2003. Pembimbing I : Hanna Ratnawati, dr. M.Kes. Pembimbing n : David Gunawan, dr. Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan industri
BIOTEKNOLOGI. Perubahan Genetik, Replikasi DNA, dan Ekspresi Gen
BIOTEKNOLOGI Perubahan Genetik, Replikasi DNA, dan Ekspresi Gen Sekilas tentang Gen dan Kromosom 1882, Walther Flemming menemukan kromosom adalah bagian dari sel yang ditemukan oleh Mendel 1887, Edouard-Joseph-Louis-Marie
BAB I PENDAHULUAN. Kanker kulit terbagi 2 kelompok yaitu melanoma dan kelompok non
15 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kanker kulit terbagi 2 kelompok yaitu melanoma dan kelompok non melanoma. Kelompok non melanoma dibedakan atas karsinoma sel basal (KSB), karsinoma sel skuamosa
ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME ZUHRIAL ZUBIR
ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME ZUHRIAL ZUBIR PENDAHULUAN Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) adalah penyakit yg disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) HIV : HIV-1 : penyebab
DNA & PEMBELAHAN SEL?
DNA & PEMBELAHAN SEL?? SIKLUS SEL Sel postmitotik suatu seri kejadian untuk replikasi sel 1 arah, irreversible Fase S (sintesis) Fase G2 Fase M (mitosis) terdiri atas : Profase Metafase Anafase Telofase
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Retinoblastoma merupakan keganasan intraokular paling sering pada anak, yang timbul dari retinoblas immature pada perkembangan retina. Keganasan ini adalah keganasan
ABSTRAK. UJI SITOTOKSISITAS FRAKSI BUAH MERAH (Pandanus Conoideus Lam) TERHADAP KARSINOMA SKUAMOSA EPITEL RONGGA MULUT PADA KULTUR SEL KB
ABSTRAK UJI SITOTOKSISITAS FRAKSI BUAH MERAH (Pandanus Conoideus Lam) TERHADAP KARSINOMA SKUAMOSA EPITEL RONGGA MULUT PADA KULTUR SEL KB Yoki Chandra, 2008 Pembimbing : Hana Ratnawati, dr.,m.kes. Karsinoma
BAB 1 PENDAHULUAN. kardiovaskular dan infeksi (Hauptman, et.al., 2013). Berdasarkan Global Health
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kanker merupakan penyebab kematian ketiga di dunia setelah penyakit kardiovaskular dan infeksi (Hauptman, et.al., 2013). Berdasarkan Global Health Estimates, WHO 2013
BAB 1 PENDAHULUAN. Kanker merupakan penyakit yang melibatkan faktor genetik dalam proses
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kanker merupakan penyakit yang melibatkan faktor genetik dalam proses patogenesisnya, proses pembelahan sel menjadi tidak terkontrol karena gen yang mengatur
BAB I PENDAHULUAN. Kanker payudara merupakan kanker tersering pada wanita di seluruh
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kanker payudara merupakan kanker tersering pada wanita di seluruh dunia. Berbeda dengan negara maju dengan insiden kanker payudara yang stagnan atau malah semakin menurun
BAB I PENDAHULUAN. Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan keganasan. yang berasal dari lapisan epitel nasofaring. Karsinoma
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan keganasan yang berasal dari lapisan epitel nasofaring. Karsinoma nasofaring merupakan neoplasma yang jarang terjadi di sebagian
ASPEK MOLEKULER PERKEMBANGAN
ASPEK MOLEKULER PERKEMBANGAN Pada dasarnya perkembangan organisme multiseluler merupakan manifestasi kegiatan masing-masing sel yang diorganisir dalam sistem hidup. Kegiatan sel dalam perkembangan yang
