SEJARAH BEBERAPA TOPIK ARITMETIKA

dokumen-dokumen yang mirip
MA1121 Pengantar Matematika

6 Menguak Misteri Bilangan π

BEBERAPA NASKAH KUNO MATEMATIKA

FILSAFAT SAINS NILAI PI (π)

SEJARAH BEBERAPA TOPIK ALJABAR

BAHAN BELAJAR: LINGKARAN. Untung Trisna Suwaji. Agus Suharjana

Archimedes dan Taksiran Bilangan π

Gara-Gara Hantu Lingkaran. Hendra Gunawan

4 Jasa Besar Euclid. 4 Jasa Besar Euclid 19

22/7: Aproksimasi Nilai Π. Freedom Institute, 22 Juli 2013

SEJARAH PENGGUNAAN SIMBOL KONSTANTA π

BERGELUT DENGAN HANTU LINGKARAN

SUKSES BELAJAR KALKULUS

Home Page. Title Page. Contents. Page 1 of 25. Go Back. Full Screen. Close. Quit

Arief Ikhwan Wicaksono, S.Kom, M.Cs

SEJARAH MATEMATIKA HINDIA

Pendahuluan. PENGERTIAN ALJABAR DAN SEJARAHNYA Oleh: Hendra Kartika Update: 01 November 2016

BILANGAN. Bilangan Satu Bilangan Prima Bilangan Komposit. Bilangan Asli

BASIS 60 PADA JAM. Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Teori Bilangan. Oleh : Ade Dani Kurnia Suhada

KOMPETENSI. Menentukan nilai perbandingan trigonometri suatu sudut.

BILANGAN DAN KETERBAGIAN BILANGAN BULAT

2 Pythagoras Membuka Jalan 7

Kuliah Umum: LINGKARAN DAN SEGI TAK TERHINGGA

BAB VI BILANGAN REAL

MATEMATIKA ITU INDAH DAN MENARIK (Sekilas tentang Pola Bilangan) Oleh Endang Cahya MA

MATEMATIKA. Hendra Gunawan

BAB I BILANGAN. Skema Bilangan. I. Pengertian. Bilangan Kompleks. Bilangan Genap Bilangan Ganjil Bilangan Prima Bilangan Komposit

I. PENDAHULUAN. Matematika menurut catatan sejarah, telah lahir sejak jaman Mesir kuno,

BAB II MACAM-MACAM FUNGSI

PEMBAHASAN SOAL OSN MATEMATIKA SMP TINGKAT PROPINSI 2012 OLEH :SAIFUL ARIF, S.Pd (SMP NEGERI 2 MALANG)

SUKSES BELAJAR KALKULUS

pangkatnya dari bilangan 10 yang dipangkatkan ( 1

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN. pencacahan dan pengukuran. Simbol ataupun lambang yang digunakan untuk

Karya Monumental umat Islam dalam IPTEKS. AIK IV - Pertemuan II Lusiana Ulfa H, S.Ei, M.Si

2 Pythagoras Membuka Jalan 7

Materi Olimpiade Tingkat Sekolah Dasar BIDANG ALJABAR

14. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR MATEMATIKA SD/MI

STUDI SEJARAH DAN PERKEMBANGAN BILANGAN PRIMA

SOAL DAN PEMBAHASAN OSN MATEMATIKA SMP 2012 TINGKAT PROVINSI (BAGIAN A : ISIAN SINGKAT)

09. Mata Pelajaran Matematika A. Latar Belakang B. Tujuan

(a) 32 (b) 36 (c) 40 (d) 44

Dosen prmbimbing. Bintang Wicaksono M.Pd. BAHAN AJAR DERET BILANGAN. Oleh : Junainah ( ) Siti Zumanah ( )

08. Mata Pelajaran Matematika A. Latar Belakang B. Tujuan

37. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI)

MAKALAH KALKULUS Integral Turunan Limit

Penerapan Turunan Fungsi Dalam Bidang Kimia

KISI-KISI UJIAN SEKOLAH

Identitas, bilangan identitas : adalah bilangan 0 pada penjumlahan dan 1 pada perkalian.

41. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunalaras (SDLB-E)

KTSP Perangkat Pembelajaran SMP/MTs, KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) Mapel Matematika kls VII s/d IX. 1-2

a b c d e nol di belakang pada representasi desimalnya adalah... a b c d e. 40.

BAB 5 Bilangan Berpangkat dan Bentuk Akar

41. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs)

Bab. Bilangan Riil. A. Macam-Macam Bilangan B. Operasi Hitung pada. Bilangan Riil. C. Operasi Hitung pada Bilangan Pecahan D.

KUMPULAN SOAL-SOAL OMITS

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR KAMPUS CIBIRU UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA SILABUS

PEMBELAJARAN SEGIBANYAK BERATURAN DI SMP. Sumardyono, M.Pd.

37. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI)

JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-6 1

5 Archimedes Bergelut dengan Lingkaran

GOOGOL DAN GOOGOLPLEX

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR KAMPUS CIBIRU UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA SILABUS

SILABUS. 5. Memahami sifat-sifat bilangan berpangkat dan bentuk akar serta penggunaannya dalam pemecahan masalah sederhana

BAB I PENDAHULUAN. Matematika merupakan bagian dari warisan budaya. 1. budaya, matematika hadir sebagai solusi di tengah-tengah permasalahan

42. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunanetra (SMPLB A)

I. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR MATEMATIKA SMPLB TUNARUNGU

Geometri di Bidang Euclid

Piramida Besar Khufu

Saat menemui penjumlahan langsung pikirkan hasilnya dengan cepat lalu lakukan penjumlahan untuk setiap jawaban yang diperoleh.

Pembahasan OSN Tingkat Provinsi Tahun 2012 Jenjang SMP Bidang Matematika

HUMOR TENTANG PI. Sumardyono, M.Pd.

BAGIAN PERTAMA. Bilangan Real, Barisan, Deret

SD kelas 4 - MATEMATIKA PECAHAN (K13 REVISI 2016)UJI KOMPETENSI PECAHAN (K13 REVISI 2016)

abcde dengan a, c, e adalah bilangan genap dan b, d adalah bilangan ganjil? A B C D E. 3000

BILANGAN-BILANGAN YANG MENAKUTKAN

41. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs)

KUMPULAN SOAL OLIMPIADE MATEMATIKA BAGIAN PERTAMA

Sieve of Eratosthenes, Algoritma Bilangan Prima

BAB I PENDAHULUAN. digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

PROGRAM PEMBELAJARAN KELAS VII SEMESTER I. Mata Pelajaran : Matematika

SEKOLAH TINGGI ILMU STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK SOAL UJIAN MASUK PROGRAM D-IV TAHUN AKADEMIK 2011/2012 MINGGU, 5 JUNI 2011 MATEMATIKA 90 MENIT

43. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunarungu (SMPLB B)

PROGRAM TAHUNAN. Sekolah : MTs... Mata Pelajaran : MATEMATIKA Kelas / Semester : VII / 1 dan 2 Tahun pelajaran : Target Nilai Portah : 55

SELEKSI TINGKAT PROPINSI MATEMATIKA SMA/MA

2. Untuk interval 0 < x < 360, nilai x yang nantinya akan memenuhi persamaan trigonometri cos x 2 sin x = 2 3 cos adalah

SILABUS ALOKASI WAKTU T M P S P I SUMBER BELAJAR MATERI PEMBELAJARAN KOMPETENSI DASAR INDIKATOR. Kuis Tes lisan Tes tertulis Pengamatan Penugasan

MATEMATIKA BISNIS Sesi 1 ini akan membahas manfaat dari mempelajari Matematika Bisnis dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam perekonomian

PENURUNAN METODE NICKALLS DAN PENERAPANNYA PADA PENYELESAIAN PERSAMAAN KUBIK

Uji Komptensi. 2. Tentukan jumlah semua bilangan-bilangan bulat di antara 100 dan 200 yang habis dibagi 5

MATEMATIKA EBTANAS TAHUN 1993

GLOSSARIUM. A Akar kuadrat

PROGRAM TAHUNAN MATA PELAJARAN : MATEMATIKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

SEJARAH MATEMATIKA Perkembangan Matematika Mesir

02. Jika. 0, maka nilai x + y =... 3 = A. 14 B. 16 C. 18 D. 20 E. 21. ; a dan b bilangan bulat, maka a + b =... A. 3 B. 2 C. 2 D. 3 E.

Sistem Bilangan Kompleks

SOAL-SOAL dan PEMBAHASAN UN MATEMATIKA SMP/MTs TAHUN PELAJARAN 2008/2009

KISI KISI UJIAN SEKOLAH TULIS

PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA CIREBON

1. BARISAN ARITMATIKA

Transkripsi:

SEJARAH BEBERAPA TOPIK ARITMETIKA Sumardyono, M.Pd. Angka Hindu-Arab Angka yang kita gunakan sekarang ini ada yang menyebut sebagai Angka Arab, Angka Hindu-Arab, atau Angka Hindu. Apa yang disebut Hindu dalam banyak literatur menunjuk pada makna India, suatu wilayah peradaban yang maju sejak zaman dulu. Secara kronologisnya walau dalam bentuk yang berbeda, angka yang kita gunakan sekarang ini berasal mula dari India, lalu mengalami perubahan di wilayah Arab, baru kemudian diterima di Eropa dan di seluruh dunia. Masa peralihan tersebut tidaklah sederhana. Mungkin mula-mula angka itu berasal dari angka Gvalior, lalu secara berangsur-angsur mengalami perubahan bentuk hingga di tangan beberapa matematikawan, semisal Aryabhata I (476-k.550) dan Brahmagupta (k.598- k.670). Catatan Arab yang pertama menjelaskan tentang angka Hindu tersebut adalah Algoritmi de numero Indorum, terjemahan Latin dari karya al-khwarizmi (k.780-k.850). Dari nama al-khwarizmi pada buku itu, muncul istilah algoritma. Beberapa sejarawan mengatakan bahwa penggunaan pertama bilangan nol sebagai nilai tempat dalam sistem basis desimal (seperti sistem yang kita gunakan sekarang) berasal dari al-khwarizmi dalam bukunya tersebut. Oleh matematikawan Eropa, cara penulisan bilangan Hindu-Arab tersebut kemudian dikenal dengan sebutan algorism (nama ini pula yang menjadi cikal bakal kata algoritma). Buku asli tertua yang masih ada yang membahas tentang angka dan bilangan India tersebut adalah Kitab al-fusul fi al-hisab al-hindi, karya Abu al-hasan al-uqlidisi (k.952). Angka India ini mengalami perubahan bentuk dan terpecah menjadi dua bentuk. Yang pertama berkembang di bagian timur daerah Islam saat itu. Bentuk ini akhirnya menjadi angka yang dipakai orang Arab sekarang ini. Sementara yang berkembang di bagian barat (termasuk Spanyol, dulunya daerah kekhalifahan Abbasiyah), menjadi angka Hindu- Arab yang sekarang kita gunakan. Sebagai gambaran, di bawah ini 2 tipe tersebut dari tulisan al-biruni (973-1055) tahun 1082 di kawasan timur dan dari tulisan al-banna al- Marrakushi (1256-1321) di kawasan barat.

Dari bagian barat kawasan Islam, angka Hindu-Arab beserta sistem desimalnya masuk ke Eropa. Selain karya al-khwarizmi, juga lewat karya Abu Kamil (k.850-k.930) dan Kusyar ibn Labban (k.1000), Eropa mengenal sistem desimal dan angka Hindu-Arab. Tetapi penerimaan ini berjalan lambat. Mungkin teks Latin pertama yang memuat Angka Hindu- Arab adalah Codex Vigilanus yang ditulis oleh seorang rahib tahun 976. Tetapi penerimaan luas Angka Hindu-Arab terjadi setelah Fibonacci (k.1170-1240) menulis cara pemakaiannya dalam buku Liber Abaci tahun 1202, lebih-lebih lagi setelah penemuan mesin cetak (sekitar 1500-an). Bilangan Pecahan Menurut catatan sejarah, perkembangan bilangan pecahan tertua mungkin dimulai di Mesir Kuno. Bangsa Mesir Kuno mengenal pecahan berupa pecahan satuan (unit fraction), yaitu pecahan dengan pembilang satu. Pengecualian dengan 2 / 3 mereka memiliki lambang tersendiri. Sementara bangsa Babilonia lewat batu bertulis atau loh telah menunjukkan penggunaan bilangan pecahan hingga pada penarikan akar. Penulisan pecahan bangsa Babilonia telah menggunakan nilai tempat. Penggunaan bilangan pecahan di Yunani Kuno telah begitu akrab, bahkan mereka beranggapan semua ukuran panjang dapat dinyatakan dengan perbandingan bilangan bulat, hanya mereka belum menggunakan pelambangan seperti sekarang ini. Pelambangan dan perhitungan dengan pecahan berkembang dari India. Penulisan pecahan desimal yang mendasari pecahan desimal kita sekarang juga berasal dari India. Brahmagupta yang lahir di Sind (kini Pakistan) dalam Brahmasphutasiddhanta menjelaskan tentang penulisan dan perhitungan bilangan pecahan, hanya belum benar-benar persis seperti yang kita gunakan. Ia dan juga matematikawan India lainnya menyatakan pecahan tanpa garis mendatar yang memisahkan pembilang dan penyebut. Walaupun perhitungan pecahannya sudah berdasarkan nilai tempat (desimal) tetapi belum menggunakan penulisan desimal seperti yang kita pakai. Di Cina dapat kita lihat pada Jiuzhang Suanshu atau sering diterjemahkan The Nine Chapter on The Mathematical Arts (sembilan bab tentang seni matematika) juga telah menggunakan nilai tempat untuk pecahan, bahkan menggunakan ide tentang Kelipatan Persekutuan Terkecil. Penggunaan ide pecahan desimal sendiri diawali pada dinasti Shang (sekitar 1800 hingga 1100 SM).

Ada yang menyebutkan bahwa al-qalasadi (1412-1486) yang pertama menulis tanda garis horizontal di antara pembilang dan penyebut. Sementara Jeff Miller menyebut nama al- Hassar (abad ke-12). Sedangkan pemakaian pecahan desimal berikut cara perhitungannya yang signifikan terdapat pada karya dari al-kasyi (k.1380-1429), Miftah al-hisab (Kunci Perhitungan). Hal ini pertama kali diungkapkan oleh P. Luckey tahun 1948. Sebelumnya sering disebut bahwa penemu pecahan desimal adalah Simon Stevin (1548-1620), yang menulis La Disme tahun 1585, padahal Francçis Viéte (1540-1603) sendiri sebelumnya telah menulis tentang pecahan desimal. Sekarang telah banyak diakui bahwa al-kasyi adalah penemu pecahan desimal. Walaupun demikian, dasar-dasarnya telah diperkenalkan sebelumnya terutama di perguruan yang didirikan oleh al-karaji atau al-karkhi (k.953-k.1019 atau 1029), khususnya al- Samawal (1125-1180). Al-Kasyi sendiri belum menggunakan tanda koma untuk pecahan desimal, tetapi menggunakan tanda berupa kata sha (sebuah huruf arab) antara bilangan bulat dan bagian pecahan desimalnya. Bilangan Pi Bilangan yang dilambangkan dengan huruf Yunani π (baca: pi ) merupakan bilangan yang menyatakan perbandingan diameter terhadap keliling lingkaran, dengan kata lain keliling lingkaran panjangnya π kali diameter lingkaran. Asal mula perhitungan dengan bilangan π telah berusia sangat lama. Bangsa Babilonia sekitar 4000 SM secara tak langsung menggunakan nilai 3 1 / 8 untuk π (prasasti Susa). Papirus Ahmes atau Rhind (1650 SM) telah 4 menggunakan nilai 4 3,16049382. untuk π. 3 Perhitungan teoritik pertama berasal dari Archimedes (287-212 SM), dengan menggunakan keliling poligon luar dan poligon dalam suatu lingkaran, ia menemukan 10 3 < π < 10 70 3. Lalu pada 100 M, Ptolemaeus atau Ptolemy (k.100-170) dengan menghitung busur pada sudut 1 o mendapatkan nilai Chongzhi (429-500) berhasil menemukan nilai π, 377 3,1416. Pada 480 M, Tsu Chung Chih atau Zu 120 355 = 3,14159292. Sementara 113 Aryabhata I pada 530 M menggunakan 62832 = 3,1416 untuk nilai π. Al-Kasyi tahun 1430 20000 M, penemu/perintis bilangan desimal, menemukan nilai π hingga 16 tempat desimal, π = 6,2831853071795865. Lalu pada 1596 M, Viéte dengan bantuan rumus setengah sudut mendapatkan bentuk deret: π = 2 1 1 1 1 1 1 2 2+ 2 2+ 2+ 2... Ludolph van Ceulen (1540-1610) pada 1610 dengan cara Archimedes hingga segibanyak 2 62 sisi mendapatkan nilai π hingga 35 tempat desimal yang kemudian dikenal sebagai Bilangan Ludolphian. Tahun 1621 M, Willebord Snell (1580-1626) menemukan nilai π dengan cara yang lebih cepat, yaitu lewat penggunaan trigonometri hingga 35 tempat desimal. John Wallis pada 1650 menggunakan deret bilangan: π =.2.4.4.6.6.8.8... 1.3.3.5.5.7.7.9... 2. Lalu tahun 1671, James Gregory (1638-1675) menggunakan hubungan trigonometri untuk mendapatkan rumus 71 π = 1 1 / 3 + 4 1 / 5 1 / 7 +. Deret ini sering diatributkan kepada Leibniz, tetapi sebenarnya telah dikenal lebih awal oleh James Gregory. Deret ini belum benar-benar membantu, untuk menghitung

hingga 4 tempat desimal π saja dibutuhkan perhitungan hingga 10.000 suku! Tahun 1706, John Machin (1680-1751) menemukan rumus lain, tetapi tetap kurang membantu. Tahun 1873, Shanks (1812-1882) menghitung hingga 707 desimal, tetapi segera diketahui desimal ke 528 tidak benar, sehingga ia hanya berhasil menghitung 527 desimal. Lalu Comte de Buffon (1707-1788) pada 1760 untuk pertama kali menggunakan metode peluang untuk menentukan nilai π, yaitu lewat P = 2 L (peluang batang sepanjang L menyentuh garis bila dilontar ke bidang yang memuat garis-garis sejajar dengan jarak sejauh a) πa Irasionalitas bilangan π dibuktikan pertama kali oleh Johann Lambert (1728-1777) tahun 1761. Lalu pada tahun 1882, giliran Ferdinand von Lindemann (1852-1939) membuktikan bahwa π transendental. Lambang π sendiri pertama kali digunakan oleh William Jones (1675-1749) tahun 1706, dan populer lewat tangan Euler. Euler pulalah yang mengemukakan masalah apakah π irasional dan apakah π aljabar pada tahun 1755. Perhitungan dengan komputer dimulai tahun 1949 M oleh ENIAC, komputer generasi awal, di mana dalam tempo 70 jam berhasil menghitung hingga 2037 desimal. Dengan menggunakan superkomputer dan pemilihan rumus yang tepat, kini kita dapat menghitung π secara lebih cepat. Pada bulan Juni 1995, matematikawan Jepang, Yasumasa Kanada menemukan bilangan π teliti hingga 3.221.220.000 tempat desimal. Walaupun secara teoritis kita dapat menghitung dengan desimal hingga berapapun, tetapi patut dicatat bahwa bilangan π hingga 39 tempat desimal saja sudah mencukupi untuk menghitung keliling lingkaran bola dengan jari-jari satu milyar tahun cahaya (jarak beberapa galaksi), dengan ketelitian yang sama untuk ukuran jari-jari atom hidrogen. Logaritma Logaritma ditemukan di awal tahun 1600 oleh John Napier (1550-1617) dan Joost Bürgi (1552-1632), walaupun banyak yang mengatakan Napier adalah perintis yang sebenarnya. Napier sendiri menghabiskan waktu sekitar 20 tahun sebelum menemukan ide logaritma tersebut dengan menerbitkan karyanya, Descriptio (lengkapnya Minifici Logarithmorum Canonis Descriptio) tahun 1614. Bürgi di lain pihak, mempublikasikan Progress-Tabulen (lengkapnya Arithmetische und geometrische Progress-Tabulen) tahun 1620, walaupun penemuannya itu berasal dari tahun 1588. Hal ini diketahui melalui sebuah surat dari seorang astronom Reimanus Ursus Dithmarus yang menjelaskan tentang metode Bürgi dalam menyederhanakan perhitungan matematis lewat penggunaan cara yang kini disebut logaritma. Walaupun demikian, pada prinsipnya kedua logaritma yang mereka temukan sama, yang berbeda hanya pendekatannya. Bila Napier lewat pendekatan aljabar, maka Bürgi menggunakan pendekatan geometris. Sebenarnya, sebelum penemuan logaritma, orang telah lebih dulu menggunakan gagasan yang mendasari penelitian ilmu logaritma yaitu prosthaphaeresis, perubahan proses pembagian dan perkalian kepada penambahan dan pengurangan. Orang pertama yang memulai gagasan ini adalah Ibnu Yunus As-Sadafi al-misri (950-1009) yang sezaman dengan tokoh optik dan geometri, al-haytsam atau al-hazen (965-1039), karena penemuannya terhadap hukum yang kemudian dikenal sebagai Hukum Ibnu Yunus, yaitu 2.cos x. cos y = cos (x + y) + cos (x y). Aturan serupa juga digunakan oleh Viéte, Werner, Pitiscus, dan Tycho Brahe. Sementara ide pekerjaan Napier dapat dijelaskan secara sederhana. Untuk membuat setiap suku pada deret geometri menjadi sangat dekat, kita tentunya memilih bilangan yang mendekati satu. Napier memilih bilangan 1 10 7 (atau 0,9999999), sehingga tiap suku

adalah (1 10 7 ) L. Kemudian untuk mendapatkan nilai desimal, setiap suku ia kalikan dengan 10 7. Nah, jika N = 10 7 (1 10 7 ) L maka L disebutnya sebagai logaritma dari bilangan N. Kata logaritma berasal dari kata logos (perbandingan) dan arithmos (bilangan). Sebelumnya, ia menyebutnya dengan artifisial numbers (bilangan buatan). Perhatikan bahwa logaritma Napier tidaklah sama dengan logaritma yang kita gunakan sekarang. log a + log Sebagai misal, bila logaritma modern menyatakan log ab = log a + log b atau ab = 10 b maka Logaritma Napier menyatakan N 1.N 2 /10 7 = 10 7. (1 10 7 ) L1 + L2. Jadi, logaritma dari Napier untuk penjumlahan tidak menyatakan N 1.N 2 melainkan N 1 N 2 /10 7. Logaritma Napier dapat kita dekati menjadi logaritma modern, bila bilangan logaritma dan bilangan N kita bagi dengan 10 7. Maka akan kita peroleh logaritma modern, tetapi dengan basis mendekati 1 / e. Sedikit berbeda dengan logaritma Napier, Logaritma Bürgi memiliki bentuk N = 10 8 (1 + 10 4 ) L, dengan tabel dinyatakan dalam bentuk 10L. Burgi menyebut bilangan L sebagai bilangan merah ( red numbers) dan bilangan N sebagai bilangan hitam ( black numbers). Henry Briggs (1561-1631), seorang profesor geometri di Oxford, mendiskusikan logaritma Napier dan menyarankan metodenya sendiri. Ia melihat, seharusnya log(1) = 1 dan log(10) = 1. Briggs lalu membuat tabel logaritma dengan menggunakan syarat yang ia buat tadi. Sehingga ia dapatkan log(10 1/2 ) = log(3,1622277) = 0,500000. Briggs lalu mempublikasi tabel logaritma dari 1 hingga 1000 dalam Logarithmorum chilias prima (tahun 1617). Tahun 1624, ia mempublikasikan lagi tabel dengan bilangan hingga 100.000 dalam Arithmetica logarithmica. Keduanya hingga ketelitian 14 desimal, tetapi tabel pertama mengandung beberapa entri yang tidak tepat. Dari buku tabel kedua itulah, mulai digunakan istilah mantissa dan characteristic. Daftar Pustaka dan Bahan Bacaan Anglin, W. S. 1994. Mathematics: A Concise History and Philosophy. New York: Springer- Verlag. anonim. September 2003 (diakses). tanpa judul. dalam http://www.geocities.com/ mathfair2002/ arit/arithm1.htm Boyer, Carl B. 1968. A History of Mathematics. New York: John Wiley & Sons, Inc. Cooke, R. 1997. The History of Mathematics. A Brief Cource. New York: John Wiley & Sons, Inc. Dali S. Naga. 1980. Berhitung, Sejarah dan Perkembangannya. Jakarta: Gramedia Eves, Howard. 1964. An Introduction to The History of Mathematics. New York: Holt, Rinehart, & Winston, Inc. O`Connor, J. J. & Robertson, E. F. 1999. kumpulan esai dalam http://www-history.mcs.standrew.ac.uk/history/histtopic/ & dalam http://www-history.mcs.standrews.ac.uk/history/mathematics/ Sabra, Berggren, Iqbal, & Alisjahbana. 2001. Sumbangan Islam kepada Sains & Peradaban Dunia. Bandung: Penerbit Nuansa Sitorus, J. 1990. Pengantar Sejarah Matematika dan Pembaharuan Pengajaran Matematika di Sekolah. Bandung: Tarsito.