SEJARAH MATEMATIKA HINDIA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "SEJARAH MATEMATIKA HINDIA"

Transkripsi

1 SEJARAH MATEMATIKA HINDIA A. Sejarah Matematika India Sejarah matematika India yang digunakan untuk memulai dengan menggambarkan geometri yang terkandung dalam Sulbasutras tetapi penelitian ke dalam sejarah matematika India telah menunjukkan bahwa esensi geometri ini lebih tua yang terkandung dalam konstruksi altar dijelaskan dalam teks mitologi Veda Brahmana Shatapatha dan Taittiriya Samhita. Juga telah ditunjukkan bahwa studi matematika astronomi di India kembali ke setidaknya milenium ketiga SM dan matematika dan geometri harus ada untuk mendukung penelitian ini di masa-masa kuno. Yang pertama matematika dikembangkan di lembah Indus. Budaya India yang dikenal paling awal perkotaan pertama kali diidentifikasi pada tahun 1921 di Harappa di Punjab dan kemudian, satu tahun kemudian, di Mohenjo-daro, dekat Sungai Indus di Sindh. Kedua situs tersebut sekarang di Pakistan tetapi ini masih ditutupi oleh panjang kami "matematika India" yang dikembangkan di anak benua India. Mantra, dan pengamatan ritual, yang ditransmisikan secara lisan. Kemudian teks-teks menjadi karya yang ditulis untuk penggunaan mereka mempraktikkan agama Veda. Matematika berikutnya penting di anak benua India dikaitkan dengan teks-teks religius. Ini terdiri dari Sulbasutras yang lampiran untuk Veda memberikan aturan untuk membangun altar. Mereka yang terkandung cukup jumlah pengetahuan geometris, tetapi matematika sedang dikembangkan, bukan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi murni untuk tujuan keagamaan praktis. Matematika yang terkandung dalam teks-teks yang dipelajari secara rinci dalam artikel terpisah di Sulbasutras. Para Sulbasutras utama yang disusun oleh Baudhayana (sekitar 800 SM), Manava (sekitar 750 SM), Apastamba (sekitar 600 SM), dan Katyayana (sekitar 200 SM). Orang-orang ini sama-sama imam dan ulama tapi mereka tidak matematikawan dalam pengertian modern Pada saat Agama Weda dengan upacara kurban yang mulai memudar dan agama-agama lain mulai menggantinya. Salah satunya adalah Jainisme, agama dan filsafat yang didirikan di India sekitar abad SM 6 th. Meskipun periode setelah penurunan dari agama Veda sampai saat Aryabhata I sekitar 500 AD yang digunakan untuk dianggap sebagai periode gelap dalam matematika India, baru-baru ini telah diakui sebagai saat ide matematika banyak dianggap. Bahkan Aryabhata sekarang dianggap sebagai meringkas perkembangan matematika Jaina serta memulai tahap berikutnya. Jika agama Veda memunculkan sebuah studi matematika untuk membangun altar pengorbanan, maka itu Jaina kosmologi yang menyebabkan ide-ide yang tak terbatas dalam matematika Jaina. Kemudian

2 kemajuan matematika sering didorong oleh penelitian astronomi. Agama juga memainkan peran utama dalam penyelidikan astronomi di India untuk kalender yang akurat harus siap untuk memungkinkan ibadah agama terjadi pada saat yang tepat. Yavanesvara, pada abad kedua Masehi, memainkan peran penting dalam astrologi. Dengan sekitar 500 AD era klasik matematika India dimulai dengan karya Aryabhata. Karyanya adalah baik ringkasan matematika Jaina dan awal dari era baru untuk astronomi dan matematika. Ide-idenya astronomi yang benar-benar luar biasa. Dia menggantikan dua setan Rahu, yang Rahu Dhruva yang menyebabkan fase Bulan dan Rahu Parva yang menyebabkan gerhana dengan menutup Bulan atau Matahari atau cahaya mereka, dengan teori modern gerhana. Dia memperkenalkan trigonometri untuk membuat perhitungan astronomi, berdasarkan teori epicycle Yunani, dan ia diselesaikan dengan persamaan solusi bilangan bulat tak tentu yang muncul dalam teori astronomi. Para astronom Hindu tidak memiliki metode umum untuk memecahkan masalah dalam astronomi bola, tidak seperti orang-orang Yunani yang secara sistematis mengikuti metode Ptolemy, berdasarkan teorema terkenal dari Menelaus. Tapi, dengan cara yang sesuai dalam konstruksi bola dunia, mereka mampu mengurangi berbagai masalah mereka untuk perbandingan yang sama siku-siku segitiga pesawat. Selain perangkat ini, mereka kadang-kadang juga digunakan teori persamaan kuadrat, atau menerapkan metode perkiraan berturut-turut.... Dari metode yang diajarkan oleh Aryabhata dan ditunjukkan oleh nya scholiast Bhaskara I, sebagian didasarkan pada perbandingan yang sama siku-siku segitiga pesawat, dan lain-lain yang berasal dari inferensi. Brahmagupta mungkin adalah astronom awal telah dipekerjakan teori persamaan kuadrat dan metode perkiraan berturut-turut untuk memecahkan masalah dalam astronomi bola. Beberapa kemajuan besar di Kerala adalah ahli matematika abad keenam belas dari Kerala yang memberikan solusi integer untuk dua puluh satu jenis sistem dari dua persamaan aljabar. Jenis ini semua kemungkinan pasangan persamaan dari tujuh bentuk berikut: x + y = a, x - y = b, c = xy, x 2 + y 2 = d, x 2 - y 2 = e, x 3 + y 3 = f, dan x 3 - y = g 3. B. Sulbasutra India Sulbasutras adalah lampiran untuk Veda yang memberikan aturan untuk membangun altar. Jika ritual pengorbanan adalah untuk menjadi sukses maka altar harus sesuai dengan pengukuran yang sangat tepat. Orang-orang membuat pengorbanan kepada dewa-dewa mereka sehingga para dewa mungkin senang dan memberikan makanan orang banyak, nasib baik, kesehatan yang baik, umur panjang, dan banyak keuntungan materi

3 lainnya. Untuk para dewa akan senang semuanya harus dilakukan dengan formula yang sangat tepat, sehingga akurasi matematika dipandang paling penting. Hal ini dengan sendirinya memberi kita masalah, karena kita tidak tahu apakah orang-orang ini melakukan investigasi matematika untuk kepentingan mereka sendiri, seperti misalnya Yunani kuno lakukan, atau apakah mereka hanya belajar matematika untuk memecahkan masalah yang diperlukan untuk ritual keagamaan mereka The Sulbasutra Katyayana Namun, memberikan versi yang lebih umum: - Tali yang membentang di sepanjang panjang diagonal dari persegi panjang menghasilkan suatu daerah yang sisi vertikal dan horisontal membuat bersama-sama. Catatan di sini bahwa hasil dinyatakan dalam istilah "tali". kita harus mencatat bahwa seperti yang sering digunakan ada banyak contoh Pythagoras tiga kali lipat dalam Sulbasutras. Sebagai contoh (5, 12, 13), (12, 16, 20), (8, 15, 17), (15, 20, 25), (12, 35, 37), (15, 36, 39), (5/2, 6, 13/2), dan (15/2, 10, 25/2) semua terjadi. Sekarang Sulbasutras benar-benar konstruksi manual untuk bentuk geometris seperti kotak, lingkaran, persegi panjang, dll dan kita menggambarkan hal ini dengan beberapa contoh. Pembangunan pertama kita kaji terjadi di sebagian besar Sulbasutras yang berbeda. Ini adalah konstruksi, berdasarkan teorema Pythagoras, untuk membuat persegi di daerah yang sama untuk dua kotak yang tidak sama.

4 Perhatikan diagram disamping. ABCD dan PQRS adalah dua kotak yang diberikan. Menandai titik X pada PQ sehingga PX sama dengan AB. Kemudian alun-alun di SX memiliki luas sama dengan jumlah dari bidang ABCD kotak dan PQRS. Ini mengikuti dari teorema Pythagoras sejak SX 2 =PX 2 +PS 2. Pembangunan berikutnya yang kita kaji adalah bahwa untuk menemukan sebuah persegi yang sama pada bidang persegi panjang yang diberikan. Kami memberikan versi seperti yang muncul dalam Sulbasutra Baudhayana. Perhatikan diagram di sebelah kanan. The ABCD persegi panjang diberikan. Biarkan L ditandai pada AD sehingga AL = AB. Kemudian menyelesaikan ABML persegi. Sekarang membagi dua LD di X dan membagi persegi panjang LMCD menjadi dua persegi yang sama dengan garis XY. Sekarang memindahkan kotak XYCD ke MBQN posisi. Lengkapi AQPX persegi. Sekarang alun-alun yang baru saja kita dibangun bukanlah yang kami butuhkan dan sedikit lebih banyak pekerjaan yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan. Putar PQ tentang Q sehingga menyentuh OLEH di R. Kemudian QP = QR dan kita melihat bahwa ini adalah ideal "tali" konstruksi. Sekarang menggambar paralel RE untuk YP dan menyelesaikan QEFG persegi. Ini adalah alun-alun yang dibutuhkan sama dengan ABCD persegi panjang yang diberikan. The Sulbasutra Baudhayana tidak menawarkan bukti ini hasil (atau lainnya untuk masalah ini) tapi kita bisa melihat bahwa memang benar dengan menggunakan teorema Pythagoras. EQ 2 = 2 QR-RE 2 =QP 2 -YP 2 =ABYX+BQNM =ABYX+XYCD = ABCD.

5 Semua Sulbasutras berisi metode untuk mengkuadratkan lingkaran. Ini adalah metode perkiraan berdasarkan membangun sebuah persegi samping 13/15 kali diameter lingkaran yang diberikan seperti pada diagram di sebelah kanan. Hal ini sesuai dengan mengambil π = 4 (13/15) 2 = 676/225 = 3,00444 sehingga tidak pendekatan yang sangat baik dan tentu saja tidak sebagus itu diketahui lebih dini ke Babel. Para Sulbasutras juga memeriksa masalah kebalikan dari menemukan lingkaran yang sama pada bidang persegi yang diberikan. Perhatikan diagram di sebelah kanan. Pembangunan berikut akan muncul. Mengingat ABCD persegi menemukan O pusat. Putar OD untuk posisi OE OE mana melewati P titik tengah dari sisi DC persegi. Misalkan Q titik pada PE sehingga PQ adalah sepertiga dari PE. Lingkaran yang dibutuhkan memiliki pusat O dan jari-jari OQ. Sekali lagi ada baiknya menghitung apa nilai π ini menyiratkan untuk mendapatkan merasakan bagaimana akurat konstruksi tersebut. Sekarang jika alun-alun memiliki sisi 2 maka jari-jari lingkaran adalah r dimana r = OE - EQ = 2 a - 2/3 ( 2 a - a) = A ( 2/3 + 2/3). Kemudian 4 a 2 = π 2 ( 2/3 + 2/3) 2 yang memberikan π = 36 / ( 2 + 2) 2 = 3,088. Sebagai tampilan akhir pada matematika dari Sulbasutras kita kaji apa mungkin yang paling luar biasa. Baik Sulbasutra Apastamba dan Sulbasutra Katyayana memberikan pendekatan berikut untuk 2: - Meningkatkan panjang unit dengan ketiga dan keempat ini ketiga dengan sendiri kurang bagian Thirty-fourth itu keempat. Sekarang ini memberikan 2 = 1 + 1/3 + 1 / (3 4) - 1 / (3 4 34) = 577/408 yang, sampai sembilan tempat, 1, Bandingkan nilai yang benar 2 = 1, untuk melihat bahwa Sulbasutra Apastamba memiliki jawaban yang benar sampai lima tempat desimal. Tentu saja metode yang digunakan oleh para ahli matematika sangat penting untuk memahami kedalaman matematika yang diproduksi di India di tengah SM milenium pertama. Jika kita mengikuti saran dari beberapa sejarawan bahwa penulis Sulbasutras yang hanya menyalin sebuah

6 pendekatan yang sudah dikenal ke Babilon maka kita bisa sampai pada kesimpulan bahwa matematika India periode ini adalah jauh lebih maju. C. Jaina Matematika Jainisme adalah agama dan filsafat yang didirikan di India sekitar abad ke-6 SM th. Sampai batas tertentu itu mulai menggantikan agama Veda yang, dengan prosedur pengorbanan mereka, telah melahirkan matematika altar bangunan. Matematika dari agama Veda dijelaskan dalam artikel Sulbasutras India. Sekarang kita bisa menggunakan Jaina matematika untuk menggambarkan matematika dilakukan oleh mereka Jainisme berikut dan memang ini kemudian akan merujuk kepada bagian dari matematika yang dilakukan di anak benua India dari pendiri Jainisme hingga zaman modern. Karya Aryabhata itu dipandang sebagai awal dari sebuah periode klasik baru untuk matematika India. Namun Aryabhata tidak bekerja dalam isolasi dan matematika serta dipandang sebagai orang yang membawa era baru penyelidikan matematika di India, penelitian yang lebih baru menunjukkan bahwa ada kasus untuk melihat dia juga sebagai mewakili akhir-produk masa matematika yang relatif sedikit yang diketahui. Ini adalah periode yang akan kita sebut sebagai periode matematika Jaina. Matematika Jaina diakui lima jenis infinity [2]: -... terbatas dalam satu arah, tak terbatas dalam dua arah, tak terbatas di daerah, tak terbatas di mana-mana dan terus-menerus tak terbatas. Pada karya abad ketiga pada abad kesepuluh, segitiga Pascal muncul untuk memberikan koefisien dari ekspansi binomial. Konsep lain yang para pengikut Jainisme tampaknya telah pergi setidaknya beberapa cara menuju pemahaman adalah bahwa dari logaritma. Mereka mulai memahami hukum indeks. Misalnya Anuyoga Dwara Sutra menyatakan: - Akar kuadrat pertama dikalikan dengan akar kuadrat kedua adalah kubus akar kuadrat kedua. Akar kuadrat kedua adalah akar keempat nomor. Oleh karena itu ini adalah rumus ( a) ( a). = ( a) 3. Sekali lagi Anuyoga menyatakan Sutra Dwara: -... akar kuadrat kedua dikalikan dengan akar kuadrat ketiga adalah kubus akar kuadrat ketiga.

7 Akar kuadrat ketiga adalah akar kedelapan nomor. Oleh karena itu ini adalah rumus D. Angka India ( a) ( a). = ( a) 3. Pertama kita akan memeriksa cara bahwa angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 berevolusi menjadi bentuk yang kita kenal saat ini. Dimulai dengan angka itu sendiri, kita pasti tahu bahwa simbol hari ini mengambil bentuk dekat dengan apa yang mereka miliki saat ini di Eropa pada abad ke-15. Itu adalah munculnya pencetakan yang memotivasi standarisasi simbol. Namun kita tidak boleh lupa bahwa banyak negara menggunakan simbol hari yang cukup berbeda dari 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 dan kecuali kita belajar simbolsimbol mereka benar-benar dikenali seperti misalnya Yunani alfabet adalah seseorang yang tidak terbiasa dengan hal itu. Angka Brahmi telah ditemukan dalam prasasti di gua-gua dan koin di daerah dekat Poona, Bombay, dan Uttar Pradesh. Kencan ini angka memberitahu kita bahwa mereka berada di atas penggunaan cukup jangka waktu yang lama hingga abad ke-4. Tentu saja prasasti yang berbeda agak berbeda dalam gaya simbol-simbol. Berikut adalah salah satu gaya angka Brahmi. Ada cukup banyak teori yang dikemukakan oleh para sejarawan selama bertahun-tahun mengenai asal-usul angka. 1. Angka Brahmi berasal dari budaya lembah Indus 2000 SM. 2. Angka Brahmi berasal dari angka Aramaean. 3. Angka Brahmi berasal dari alfabet Karoshthi. 4. Angka Brahmi berasal dari alfabet Brahmi. 5. Angka Brahmi berasal dari sistem angka sebelum abjad. 6. Angka Brahmi berasal dari Mesir. Pada dasarnya hipotesis ini terdiri dari dua jenis. Salah satunya adalah

8 bahwa angka berasal dari alfabet dalam cara yang mirip dengan angka Yunani yang merupakan huruf awal dari nama-nama angka. Tipe kedua hipotesis adalah bahwa mereka berasal dari suatu sistem nomor sebelumnya dari jenis yang luas sama dengan angka Romawi. Misalnya angka Aramaean dari hipotesis 2 didasarkan pada I (satu) dan X (empat): I, II, III, X, IX, IIX, IIIX, XX. Jika kita meneliti rute yang dipimpin dari angka Brahmi untuk simbol kita sekarang (dan mengabaikan sistem lain yang berkembang dari angka Brahmi) maka kita berikutnya datang ke simbol Gupta. Periode Gupta adalah bahwa selama dinasti Gupta memerintah negara Magadha di timur laut India, dan ini adalah dari AD 4 abad awal Masehi 6 abad akhir. Angka Gupta dikembangkan dari angka Brahmi dan tersebar di daerah yang luas dengan kerajaan Gupta saat mereka menaklukkan wilayah. Angka Gupta berevolusi menjadi angka Nagari, kadang-kadang disebut angka Devanagari. Formulir ini berkembang dari angka Gupta dimulai sekitar abad ke-7 dan terus berkembang sejak abad ke-11. Nama harfiah berarti "tulisan para dewa" dan itu dianggap yang paling indah dari semua bentuk yang berevolusi. Sehingga pada masa ini masyarakat mulai mengerti angka nol. E. Sejarah Angka Nol Angka nol adalah jauh dari konsep intuitif. Masalah matematika dimulai sebagai 'real' masalah daripada masalah abstrak. Angka dalam zaman sejarah awal yang dianggap jauh lebih konkret daripada konsepkonsep abstrak yang merupakan nomor kami hari ini. Ada lompatan mental yang raksasa dari 5 kuda untuk 5 "sesuatu" dan kemudian ke gagasan abstrak dari "lima". Jika masyarakat kuno memecahkan masalah tentang berapa banyak kuda petani diperlukan maka masalah itu tidak akan memiliki 0 atau -23 sebagai jawaban. Orang mungkin berpikir bahwa setelah sistem nomor tempat-nilai muncul maka 0 sebagai indikator tempat kosong adalah ide yang diperlukan, namun Babel memiliki sistem nomor tempat-nilai tanpa fitur ini selama lebih dari 1000 tahun. Selain itu sama sekali tidak ada bukti bahwa Babilonia merasa bahwa ada masalah dengan ambiguitas yang ada. Hebatnya, teks asli bertahan hidup dari era Babilonia matematika. Orangorang Babel menulis pada tablet tanah liat unbaked, menggunakan tulisan runcing. Simbol tersebut ditekan ke tablet tanah liat lunak dengan tepi miring dari stylus dan sehingga memiliki penampilan yang berbentuk baji

9 (cuneiform dan karenanya nama). Sampai sekitar 400 SM bahwa Babel menempatkan dua simbol wedge ke tempat di mana kita akan menempatkan nol untuk menunjukkan yang dimaksudkan, 216 atau 21'' 6. Sekarang Yunani kuno mulai kontribusi mereka untuk matematika sekitar waktu yang nol sebagai indikator tempat kosong datang mulai digunakan dalam matematika Babel. Orang Yunani namun tidak mengadopsi sistem bilangan posisional. Perlu berpikir betapa signifikan fakta ini. Adegan sekarang bergerak ke India di mana itu adalah adil untuk mengatakan angka dan sistem bilangan lahir yang telah berkembang menjadi yang sangat canggih yang kita gunakan saat ini. Di sekitar 500AD Aryabhata merancang sistem nomor yang memiliki nol belum ada adalah sebuah sistem posisional. Dia menggunakan kata "kha" untuk posisi dan akan digunakan kemudian sebagai nama untuk nol. Ada bukti bahwa titik telah digunakan dalam naskah sebelumnya India untuk menunjukkan tempat kosong dalam notasi posisional. Adalah menarik bahwa dokumen yang sama kadang-kadang juga digunakan titik untuk menunjukkan suatu diketahui di mana kita bisa menggunakan x. Kemudian matematikawan India memiliki nama untuk nol dalam jumlah posisional namun tidak memiliki simbol untuk itu. Selain itu Brahmagupta mencoba memberikan aturan untuk aritmatika yang melibatkan angka nol dan negatif pada abad ketujuh. Dia menjelaskan bahwa diberi nomor kemudian jika Anda kurangi dari sendiri Anda mendapatkan nol. Dia memberikan aturan berikut untuk penambahan yang melibatkan nol: - Jumlah nol dan angka negatif adalah negatif, jumlah angka positif dan nol adalah positif, jumlah nol dan nol adalah nol. Brahmagupta kemudian mengatakan bahwa sejumlah bila dikalikan dengan nol adalah nol. Benar-benar Brahmagupta berkata sangat sedikit ketika ia menunjukkan bahwa n dibagi dengan nol adalah n / 0. Jelas ia sedang berjuang di sini. Dia tentu salah ketika ia kemudian mengklaim bahwa nol dibagi dengan nol adalah nol. Namun itu adalah upaya brilian dari orang pertama yang kita tahu yang mencoba untuk memperpanjang aritmatika untuk angka negatif dan nol. Pada 830, sekitar 200 tahun setelah Brahmagupta menulis karya nya, Mahavira menulis Ganita Sara Samgraha yang dirancang sebagai memperbarui buku Brahmagupta. Dia benar menyatakan bahwa: -... nomor dikalikan dengan nol adalah nol, dan nomor tetap sama ketika nol dikurangi dari itu.

10 Pada saat Bhaskara yang menulis lebih dari 500 tahun setelah Brahmagupta. Ia masih berjuang untuk menjelaskan pembagian dengan nol. Dia menulis: Sebuah jumlah dibagi dengan nol menjadi fraksi penyebut yang adalah nol. Fraksi ini disebut suatu jumlah yang tak terhingga. Dalam jumlah yang terdiri dari apa yang memiliki nol untuk pembagi nya, ada perubahan tidak ada, meskipun banyak dapat dimasukkan atau diekstrak, seperti tidak ada perubahan terjadi dalam Allah yang tidak terbatas dan tidak berubah ketika dunia diciptakan atau dihancurkan, meskipun perintah berbagai makhluk adalah diserap atau diajukan. Jadi Bhaskara mencoba untuk memecahkan masalah dengan menulis n / 0 =. Pada pandangan pertama kita mungkin tergoda untuk percaya bahwa Bhaskara memiliki itu benar, tapi tentu saja dia tidak. Jika hal ini benar maka 0 kali harus sama dengan jumlah setiap n, sehingga semua angka adalah sama. Para matematikawan India tidak bisa membawa diri untuk titik mengakui bahwa seseorang tidak bisa dibagi dengan nol. Bhaskara memang benar menyatakan sifat lain dari nol, namun, seperti 0 2 = 0, dan 0 = 0. Karya brilian dari matematikawan India itu dikirimkan ke matematikawan Islam dan Arab lebih jauh ke barat. Itu datang pada tahap awal untuk al-khwarizmi menulis Al'Khwarizmi di Art Hindu berhisab yang menggambarkan sistem tempat-nilai India angka didasarkan pada 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 0. Ide-ide India menyebar ke timur ke China serta barat ke negara-negara Islam. F. Sebuah Sejarah Pi Berikut ini adalah argumen Archimedes '. Pertimbangkan lingkaran dari radius 1, di mana kita menuliskan n -1 poligon reguler 3 2 sisi, dengan semiperimeter b n, dan mengalamatkan poligon reguler 3 2 n -1 sisi, dengan semiperimeter n. Diagram untuk kasus n = 2 adalah di sebelah kanan.efek dari prosedur ini adalah untuk menentukan urutan meningkat b 1, b 2, b 3,..dan urutan menurun a 1, a 2, a 3,... seperti bahwa kedua urutan memiliki batas π. Menggunakan notasi trigonometri, kita melihat bahwa dua semiperimeters diberikan oleh

11 n = K tan (π / K), b n = K sin (π / K), di mana K = 3 2 n -1. Sama, kita memiliki a n +1 = 2 K tan (π / 2 K), b n +1 = 2 K sin (π / 2 K), dan itu bukan latihan yang sulit dalam trigonometri untuk menunjukkan bahwa (1 / n + 1 / b n) = 2 / n (1) n +1 b n = (b n +1) 2... (2) Archimedes, mulai dari 1 = 3 tan (π / 3) = 3 3 dan b 1 = 3 sin (π / 3) = 3 3/2, menghitung 2 menggunakan (1), maka b 2 menggunakan (2 ), maka 3 menggunakan (1), maka b 3 menggunakan (2), dan seterusnya sampai ia menghitung 6 dan b 6. Kesimpulannya adalah bahwa b 6 <π <a 6. Salah satu penemu matematika yaitu Al-Khwarizmi yang tinggal di Baghdad, dan kebetulan memberikan namanya untuk 'algoritma', sedangkan kata al jabr dalam judul salah satu bukunya memberi kami 'aljabar' kata. Al-Kashi hidup masih jauh ke timur, di Samarkand. The Renaissance Eropa dibawa pada waktunya dunia matematika sama sekali baru. Di antara efek pertama dari kebangkitan adalah munculnya rumus matematika untuk π. Salah satu yang paling awal adalah bahwa dari Wallis ( ) 2 / π = ( ) / ( ) dan salah satu yang paling terkenal adalah π / 4 = 1-1/3 + 1/5-1/ Dari sudut pandang perhitungan π, bagaimanapun, juga tidak ada gunanya sama sekali. Dalam seri Gregory, misalnya, untuk mendapatkan 4 desimal memperbaiki kesalahan kita memerlukan kurang dari 0,00005 = 1/20000, dan jadi kita membutuhkan sekitar segi seri.

4 Jasa Besar Euclid. 4 Jasa Besar Euclid 19

4 Jasa Besar Euclid. 4 Jasa Besar Euclid 19 4 Jasa Besar Euclid Kota Alexandria (Al-Iskandariya), yang terletak di pantai utara Mesir, dibangun oleh Alexander Agung pada tahun 322 SM, menyaingi kota Athena. Pada tahun 300 SM, Raja Ptolemy I Soter

Lebih terperinci

Geometri di Bidang Euclid

Geometri di Bidang Euclid Modul 1 Geometri di Bidang Euclid Dr. Wono Setya Budhi G PENDAHULUAN eometri merupakan ilmu pengetahuan yang sudah lama, mulai dari ribuan tahun yang lalu. Berpikir secara geometris dari satu bentuk ke

Lebih terperinci

SELEKSI TINGKAT PROPINSI MATEMATIKA SMA/MA

SELEKSI TINGKAT PROPINSI MATEMATIKA SMA/MA SELEKSI TINGKAT PROPINSI CALON PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL 01 MATEMATIKA SMA/MA PETUNJUK UNTUK PESERTA: 1. Tes terdiri dari dua bagian. Tes bagian pertama terdiri dari 0 soal isian singkat dan tes

Lebih terperinci

BEBERAPA NASKAH KUNO MATEMATIKA

BEBERAPA NASKAH KUNO MATEMATIKA BEBERAPA NASKAH KUNO MATEMATIKA Sumardyono, M.Pd. Plimpton 322 Bangsa-bangsa yang menetap di Mesopotamia (sekarang daerah Iraq dan sekitarnya) antara lain Sumeria, Assiria, dan Babilonia. Tetapi yang memiliki

Lebih terperinci

SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT PROVINSI 2009 TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 2010

SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT PROVINSI 2009 TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 2010 Dapatkan soal-soal lainnya di http://forum.pelatihan-osn.com SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT PROVINSI 2009 TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 2010 Waktu : 210 Menit DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT

Lebih terperinci

Gara-Gara Hantu Lingkaran. Hendra Gunawan

Gara-Gara Hantu Lingkaran. Hendra Gunawan Gara-Gara Hantu Lingkaran Hendra Gunawan 2014 1 Misteri Lingkaran Mulai Menghantui Menurut catatan sejarah, dari tahun 2600 SM (saat Piramida Besar dibangun) hingga tahun 575 SM (puncak peradaban Babilonia),

Lebih terperinci

PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA CIREBON

PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA CIREBON PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2011 Matematika berasal dari bahasa latin manthanein atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari. Matematika dalam bahasa

Lebih terperinci

FILSAFAT SAINS NILAI PI (π)

FILSAFAT SAINS NILAI PI (π) FILSAFAT SAINS NILAI PI (π) Rukmono Budi Utomo NIM.30115301 February 28, 2016 Barisan Fibonacci 1.Asal-Usul Bilangan Pi (π) 1 1.Asal-Usul Bilangan Pi (π) 2 3 Bilangan Pi (π) Bilangan Pi atau dilambangkan

Lebih terperinci

2 Pythagoras Membuka Jalan 7

2 Pythagoras Membuka Jalan 7 2 Pythagoras Membuka Jalan Siapa yang tidak pernah mendengar nama Pythagoras? Di sekolah dasar, nama Pythagoras biasanya disebut dalam pelajaran matematika di tahun kelima atau keenam, ketika guru membahas

Lebih terperinci

SELEKSI OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 2004 TINGKAT PROVINSI

SELEKSI OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 2004 TINGKAT PROVINSI SELEKSI OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 2004 TINGKAT PROVINSI Bidang Matematika Bagian Pertama Waktu : 90 Menit DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DIREKTORAT

Lebih terperinci

abcde dengan a, c, e adalah bilangan genap dan b, d adalah bilangan ganjil? A B C D E. 3000

abcde dengan a, c, e adalah bilangan genap dan b, d adalah bilangan ganjil? A B C D E. 3000 Hal. 1 / 7 METHODIST-2 EDUCATION EXPO LOMBA SAINS PLUS ANTAR PELAJAR TINGKAT SMA SE-SUMATERA UTARA TAHUN 2015 BIDANG WAKTU : MATEMATIKA : 120 MENIT PETUNJUK : 1. Pilihlah jawaban yang benar dan tepat.

Lebih terperinci

PENGERTIAN PHYTAGORAS

PENGERTIAN PHYTAGORAS Pythagoras adalah seorang ahli filsafat. Ia tidak hanya mempelajari matematika, tetapi juga music dan ilmu-ilmu lain. Ia lahir di Yunani, tetapi pergi belajar ke Mesir dan Babilonia. Ia terkenal karena

Lebih terperinci

SOAL UJIAN SELEKSI CALON PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2016 TINGKAT PROVINSI

SOAL UJIAN SELEKSI CALON PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2016 TINGKAT PROVINSI HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG SOAL UJIAN SELEKSI CALON PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2016 TINGKAT PROVINSI BIDANG MATEMATIKA Waktu : 210 menit KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL

Lebih terperinci

6 Menguak Misteri Bilangan π

6 Menguak Misteri Bilangan π 6 Menguak Misteri Bilangan π Penemuan Archimedes tentang bilangan π (yang merupakan rasio keliling dan diamater lingkaran) bukan merupakan akhir dari cerita tentang lingkaran. Sebaliknya, penemuan ini

Lebih terperinci

RANGKUMAN MATERI VEKTOR Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Matematika Sekolah Dosen Pembina: Dr. Tatag Yuli Eko Siswono, M.Pd.

RANGKUMAN MATERI VEKTOR Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Matematika Sekolah Dosen Pembina: Dr. Tatag Yuli Eko Siswono, M.Pd. RANGKUMAN MATERI VEKTOR Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Matematika Sekolah Dosen Pembina: Dr. Tatag Yuli Eko Siswono, M.Pd. Universitas Negeri Surabaya Oleh Abdul Hayyih (147785010) Kelas D PROGRAM

Lebih terperinci

PEMBAHASAN SOAL OSN TK. KOTA/ KABUPATEN 2014 MATEMATIKA SMP BAGIAN A: PILIHAN GANDA

PEMBAHASAN SOAL OSN TK. KOTA/ KABUPATEN 2014 MATEMATIKA SMP BAGIAN A: PILIHAN GANDA email: [email protected] PEMBAHASAN SOAL OSN TK. KOTA/ KABUPATEN 0 MATEMATIKA SMP BAGIAN A: PILIHAN GANDA. Sepuluh orang guru akan ditugaskan mengajar di tiga sekolah,yakni sekolah A, B, dan C, berturut

Lebih terperinci

Jikax (2 x) = 57, maka jumlah semua bilangan bulat x yang memenuhi adalah A. -5 B. -1 C. 0 D. 1 E. 5

Jikax (2 x) = 57, maka jumlah semua bilangan bulat x yang memenuhi adalah A. -5 B. -1 C. 0 D. 1 E. 5 Soal Babak Penyisihan OMITS 011 BAGIAN I. PILIHAN GANDA 1. Hasil kali sebarang bilangan rasional dengan sebarang bilangan irasional selalu merupakan anggota dari himpunan bilangan A. Bulat B. Asli C. Rasional

Lebih terperinci

BAB VI BILANGAN REAL

BAB VI BILANGAN REAL BAB VI BILANGAN REAL PENDAHULUAN Perluasan dari bilangan cacah ke bilangan bulat telah dibicarakan. Dalam himpunan bilangan bulat, pembagian tidak selalu mempunyai penyelesaian, misalkan 3 : 11. Timbul

Lebih terperinci

BAB V BILANGAN BULAT

BAB V BILANGAN BULAT BAB V BILANGAN BULAT PENDAHULUAN Dalam bab ini akan dibicarakan sistem bilangan bulat, yang akan dimulai dengan memperluas sistem bilangan cacah dengan menggunakan sifat-sifat baru tanpa menghilangkan

Lebih terperinci

42. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunanetra (SMPLB A)

42. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunanetra (SMPLB A) 42. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunanetra (SMPLB A) A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai

Lebih terperinci

Soal Babak Penyisihan 7 th OMITS SOAL PILIHAN GANDA

Soal Babak Penyisihan 7 th OMITS SOAL PILIHAN GANDA Soal Babak Penyisihan 7 th OMITS SOAL PILIHAN GANDA 1) Sebuah barisan baru diperoleh dari barisan bilangan bulat positif 1, 2, 3, 4, dengan menghilangkan bilangan kuadrat yang ada di dalam barisan tersebut.

Lebih terperinci

MATEMATIKA. Hendra Gunawan

MATEMATIKA. Hendra Gunawan MENULIS SKRIPSI MATEMATIKA Hendra Gunawan 26 Maret 2011 MATEMATIKA BUKAN BARU LAHIR KEMARIN 2 ±4000 tahun y.l. bangsa Babilonia telah menggunakan geometri sebagai basis perhitungan astronomis. Bangsa Mesir

Lebih terperinci

Catatan Kuliah MA1123 Kalkulus Elementer I

Catatan Kuliah MA1123 Kalkulus Elementer I Catatan Kuliah MA1123 Kalkulus Elementer I Oleh Hendra Gunawan, Ph.D. Departemen Matematika ITB Sasaran Belajar Setelah mempelajari materi Kalkulus Elementer I, mahasiswa diharapkan memiliki (terutama):

Lebih terperinci

SEJARAH MATEMATIKA Perkembangan Matematika Mesir

SEJARAH MATEMATIKA Perkembangan Matematika Mesir E-Learning SEJARAH MATEMATIKA Perkembangan Matematika Mesir Oleh Nanang Khuzaini, S.Pd.Si PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU KEPENDIDIKAN UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

Lebih terperinci

BAB III SISTEM NUMERASI

BAB III SISTEM NUMERASI BAB III SISTEM NUMERASI PENDAHULUAN Sejak zaman dahulu kala, manusia berkepentingan dengan bilangan untuk menghitung banyaknya ternak yang dimiliki, mengukur luas sawahnya, untuk berkomunikasi dengan sesamanya.

Lebih terperinci

SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT KABUPATEN/KOTA TAHUN 2004 TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA TAHUN 2005

SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT KABUPATEN/KOTA TAHUN 2004 TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA TAHUN 2005 SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT KABUPATEN/KOTA TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA TAHUN 200 Bidang Matematika Waktu : 90 Menit DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

Lebih terperinci

Pola (1) (2) (3) Banyak segilima pada pola ke-15 adalah. A. 235 C. 255 B. 250 D Yang merupakan bilangan terbesar adalah. A. C. B. D.

Pola (1) (2) (3) Banyak segilima pada pola ke-15 adalah. A. 235 C. 255 B. 250 D Yang merupakan bilangan terbesar adalah. A. C. B. D. SOAL SELEKSI AWAL 1. Suhu dalam sebuah lemari es adalah 15 o C di bawah nol. Pada saat mati listrik suhu dalam lemari es meningkat 2 o C setiap 120 detik. Jika listrik mati selama 210 detik, suhu dalam

Lebih terperinci

2 Pythagoras Membuka Jalan 7

2 Pythagoras Membuka Jalan 7 2 Pythagoras Membuka Jalan Siapa yang tidak pernah mendengar nama Pythagoras? Di sekolah dasar, nama Pythagoras biasanya disebut dalam pelajaran matematika di tahun kelima atau keenam, ketika guru membahas

Lebih terperinci

MA1121 Pengantar Matematika

MA1121 Pengantar Matematika Catatan Kuliah MA1121 Pengantar Matematika Oleh Hendra Gunawan KK Analisis & Geometri FMIPA-ITB Bandung, Desember 2005 0 PENGANTAR Matakuliah MA1121 Pengantar Matematika I merupakan jembatan antara matematika

Lebih terperinci

Pembahasan Soal SIMAK UI 2012 SELEKSI MASUK UNIVERSITAS INDONESIA. Disertai TRIK SUPERKILAT dan LOGIKA PRAKTIS. Matematika IPA

Pembahasan Soal SIMAK UI 2012 SELEKSI MASUK UNIVERSITAS INDONESIA. Disertai TRIK SUPERKILAT dan LOGIKA PRAKTIS. Matematika IPA Pembahasan Soal SIMAK UI 0 SELEKSI MASUK UNIVERSITAS INDONESIA Disertai TRIK SUPERKILAT dan LOGIKA PRAKTIS Matematika IPA Disusun Oleh : Pak Anang Kumpulan SMART SOLUTION dan TRIK SUPERKILAT Pembahasan

Lebih terperinci

(a) 126 (b) 122 (c) 118 (d) 114

(a) 126 (b) 122 (c) 118 (d) 114 Halaman: 1 1. Seorang murid diminta menghitung hasil pembagian suatu bilangan dengan 6 lalu menambahkan hasil tersebut dengan 12. Tetapi ternyata murid tersebut melakukan kesalahan. Yang ia lakukan adalah

Lebih terperinci

MAKALAH. Pembuktian Teorema Pythagoras

MAKALAH. Pembuktian Teorema Pythagoras MAKALAH Pembuktian Teorema Pythagoras Disusun Oleh: Kelompok 12 1. Muhammad Naufal Faris 12030174229 2. Weni Handayani 14030174003 3. Wahyu Okta Handayani 14030174024 4. Faza Rahmalita Maharani 14030174026

Lebih terperinci

PEMBAHASAN SOAL OSN MATEMATIKA SMP TINGKAT PROPINSI 2012 OLEH :SAIFUL ARIF, S.Pd (SMP NEGERI 2 MALANG)

PEMBAHASAN SOAL OSN MATEMATIKA SMP TINGKAT PROPINSI 2012 OLEH :SAIFUL ARIF, S.Pd (SMP NEGERI 2 MALANG) PEMBAHASAN SOAL OSN MATEMATIKA SMP TINGKAT PROPINSI 0 OLEH :SAIFUL ARIF, S.Pd (SMP NEGERI MALANG) PEMBAHASAN SOAL OLIMPIADE SAINS NASIONAL SMP A. ISIAN SINGKAT SELEKSI TINGKAT PROPINSI TAHUN 0 BIDANG STUDI

Lebih terperinci

09. Mata Pelajaran Matematika A. Latar Belakang B. Tujuan

09. Mata Pelajaran Matematika A. Latar Belakang B. Tujuan 09. Mata Pelajaran Matematika A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir

Lebih terperinci

Soal dan Pembahasan UN Matematika Program IPA 2008

Soal dan Pembahasan UN Matematika Program IPA 2008 Soal dan Pembahasan UN Matematika Program IPA 2008. Diketahui premis premis : () Jika hari hujan, maka udara dingin. (2) Jika udara dingin, maka ibu memakai baju hangat. (3) Ibu tidak memakai baju hangat

Lebih terperinci

Shortlist Soal OSN Matematika 2015

Shortlist Soal OSN Matematika 2015 Shortlist Soal OSN Matematika 2015 Olimpiade Sains Nasional ke-14 Yogyakarta, 18-24 Mei 2015 ii Shortlist OSN 2015 1 Aljabar A1 Fungsi f : R R dikatakan periodik, jika f bukan fungsi konstan dan terdapat

Lebih terperinci

D46 MATEMATIKA. Rabu, 18 April 2012 ( ) Pembahasan soal oleh Perpustakaan.

D46 MATEMATIKA. Rabu, 18 April 2012 ( ) Pembahasan soal oleh  Perpustakaan. DOKUMEN NEGARA Pembahasan soal oleh http://pak-anang.blogspot.com D6 MATEMATIKA SMA/MA IPA MATEMATIKA SMA/MA IPA Perpustakaan SMAN Wonogiri MATEMATIKA Rabu, 8 April 0 (08.00 0.00) A-MAT-ZD-M0-0/0 Hak Cipta

Lebih terperinci

ALGORITMA PENENTUAN HARI BERBASIS KPK

ALGORITMA PENENTUAN HARI BERBASIS KPK ALGORITMA PENENTUAN HARI BERBASIS KPK Oleh: Habib Asyrafy ABSTRAK Kita merasa perlu untuk menentukan hari jika diketahui tanggal bulan dan tahunnya. Lewat pola-pola yang telah diketahui sebelumnya kita

Lebih terperinci

Sistem Bilangan Riil. Pendahuluan

Sistem Bilangan Riil. Pendahuluan Sistem Bilangan Riil Pendahuluan Kalkulus didasarkan pada sistem bilangan riil dan sifat-sifatnya. Sistem bilangan riil adalah himpunan bilangan riil yang disertai operasi penjumlahan dan perkalian sehingga

Lebih terperinci

37. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI)

37. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) 37. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting

Lebih terperinci

08. Mata Pelajaran Matematika A. Latar Belakang B. Tujuan

08. Mata Pelajaran Matematika A. Latar Belakang B. Tujuan 08. Mata Pelajaran Matematika A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir

Lebih terperinci

SOAL BRILLIANT COMPETITION 2013

SOAL BRILLIANT COMPETITION 2013 PILIHAN GANDA. Pada suatu segitiga ABC, titik D berada di AC sehingga AD : DC = 4 :. Titik E berada di BC sehingga BE : EC = : 3. Titik F adalah titik perpotongan antara garis BD dan garis AE. Jika luas

Lebih terperinci

Dalam kehidupan sehari-hari kita akan selalu bertemu yang namanya bilangan karena bilangan selalu dibutuhkan baik dalam teknologi,

Dalam kehidupan sehari-hari kita akan selalu bertemu yang namanya bilangan karena bilangan selalu dibutuhkan baik dalam teknologi, Sejarah Bilangan Sejak zaman purbakala, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pendidikan matematika sangat diperlukan dan telah menyatu dalam kehidupan manusia dan merupakan kebutuhan dasar dari setiap lapisan

Lebih terperinci

EKSPLORASI BILANGAN. 1.1 BARISAN BILANGAN

EKSPLORASI BILANGAN. 1.1 BARISAN BILANGAN EKSPLORASI BILANGAN. 1.1 BARISAN BILANGAN 1 EKSPLORASI BILANGAN Fokus eksplorasi bilangan ini adalah mencari pola dari masalah yang disajikan. Mencari pola merupakan bagian penting dari pemecahan masalah

Lebih terperinci

Home Page. Title Page. Contents. Page 1 of 25. Go Back. Full Screen. Close. Quit

Home Page. Title Page. Contents. Page 1 of 25. Go Back. Full Screen. Close. Quit 1 Page 1 of 25 Himpunan Bilangan dan Fungsi Page 1 of 25 October 5, 2011 CONTENTS 1 Himpunan Bilangan 3 1.1 Himpunan Bilangan Asli.................................. 3 1.2 Himpuan Bilangan Cacah.................................

Lebih terperinci

KTSP Perangkat Pembelajaran SMP/MTs, KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) Mapel Matematika kls VII s/d IX. 1-2

KTSP Perangkat Pembelajaran SMP/MTs, KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) Mapel Matematika kls VII s/d IX. 1-2 KTSP Perangkat Pembelajaran SMP/MTs, PERANGKAT PEMBELAJARAN STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR Mata Pelajaran Satuan Pendidikan Kelas/Semester : Matematika. : SMP/MTs. : VII s/d IX /1-2 Nama Guru

Lebih terperinci

SOAL PERSIAPAN UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2016 / 2017

SOAL PERSIAPAN UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2016 / 2017 SOAL PERSIAPAN UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 06 / 07 MATA PELAJARAN : Matematika KELOMPOK : TEKNIK (RPL, TKJ). Bentuk sederhana dari p q r 0 0 0 0 p q r 8 0 p q r 8 pqr 6 5 5 p q r p q r p q r 5 adalah....

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut adanya sumber daya manusia yang berkualitas, yang mampu menghadapi berbagai tantangan dan mampu bersaing. Sumber

Lebih terperinci

SOAL&PEMBAHASAN MATEMATIKATKDSAINTEK SBMPTN. yos3prens.wordpres.com

SOAL&PEMBAHASAN MATEMATIKATKDSAINTEK SBMPTN. yos3prens.wordpres.com SOAL&PEMBAHASAN MATEMATIKATKDSAINTEK SBMPTN 05 yosprens.wordpres.com SOAL DAN PEMBAHASAN MATA UJI MATEMATIKA TKD SAINTEK SBMPTN 05 Berikut ini 5 soal mata uji matematika beserta pembahasannya yang diujikan

Lebih terperinci

LOMBA MATEMATIKA NASIONAL KE-25

LOMBA MATEMATIKA NASIONAL KE-25 LOMBA MATEMATIKA NASIONAL KE-25 Babak Penyisihan Tingkat SMA Minggu, 9 November 20 HIMPUNAN MAHASISWA MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS GADJAH MADA SEKIP UTARA UNIT III

Lebih terperinci

SOAL SELEKSI TINGKAT KOTA/KABUPATEN OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2007 BIDANG MATEMATIKA SMP. 3 dari yang terkecil sampai yang terbesar.

SOAL SELEKSI TINGKAT KOTA/KABUPATEN OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2007 BIDANG MATEMATIKA SMP. 3 dari yang terkecil sampai yang terbesar. SOAL SELEKSI TINGKAT KOTA/KABUPATEN OLIMPIADE SAINS NASIONAL 007 BIDANG MATEMATIKA SMP SOAL PILIHAN GANDA. Urutan bilangan bilangan adalah.. a. b. c. d. e., 5,, 5,,, dan, dan, dan 5, dari yang terkecil

Lebih terperinci

43. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunarungu (SMPLB B)

43. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunarungu (SMPLB B) 43. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunarungu (SMPLB B) A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai

Lebih terperinci

BAB V BARISAN DAN DERET BILANGAN

BAB V BARISAN DAN DERET BILANGAN BAB V BARISAN DAN DERET BILANGAN Peta Konsep Barisan dan Deret Bilangan mempelajari Pola bilangan Barisan bilangan Deret bilangan jenis jenis Aritmatika Geometri Aritmatika Geometri mempelajari Sifat Rumus

Lebih terperinci

Soal UN 2009 Materi KISI UN 2010 Prediksi UN 2010

Soal UN 2009 Materi KISI UN 2010 Prediksi UN 2010 PREDIKSI UN 00 SMA IPA BAG. (Berdasar buku terbitan Istiyanto: Bank Soal Matematika-Gagas Media) Logika Matematika Soal UN 009 Materi KISI UN 00 Prediksi UN 00 Menentukan negasi pernyataan yang diperoleh

Lebih terperinci

MakALAH TEOREMA PYTHAGORAS

MakALAH TEOREMA PYTHAGORAS MakALAH TEOREMA PYTHAGORAS Makalah ini di susun untuk memenuhi tugas mata pelajaran Matematika Disusun oleh: SITI ZENAB KELAS : VIII-C MTS AL-ROHMAH TAHUN AJARAN 2016-2017 KATA PENGANTAR Alhamdulillah,

Lebih terperinci

LINGKARAN. A. PERSAMAAN LINGKARAN B. PERSAMAAN GARIS SINGGUNG LINGKARAN

LINGKARAN. A. PERSAMAAN LINGKARAN B. PERSAMAAN GARIS SINGGUNG LINGKARAN LINGKARAN. A. PERSAMAAN LINGKARAN B. PERSAMAAN GARIS SINGGUNG LINGKARAN 4 ia nc o3 D.c om Bab r: w be Su m. pa ww ne b Lingkaran Setelah mempelajari bab ini, Anda harus mampu merumuskan persamaan lingkaran

Lebih terperinci

Pasangan sudut siku-siku yang dibuat oleh dua garis yang berpotongan adalah sama.

Pasangan sudut siku-siku yang dibuat oleh dua garis yang berpotongan adalah sama. SEJARAH MATEMATIKA YUNANI A. Sejarah Matematika Yunani Matematika Yunani merujuk pada matematika yang ditulis di dalam bahasa Yunani antara tahun 600 SM sampai 300 M. Matematikawan Yunani tinggal di kota-kota

Lebih terperinci

TEOREMA PYTHAGORAS ( sumber: )

TEOREMA PYTHAGORAS ( sumber:  ) 1 A. Siapa Pythagoras TEOREMA PYTHAGORAS Pythagoras adalah seorang ahli matematika murni pertama. Lahir sekitar 569 SM di Sámos - Yunani dan meninggal sekitar 500-475 SM di Metapontum Lucania Italia. Ayahnya

Lebih terperinci

Prestasi itu diraih bukan didapat!!! SOLUSI SOAL

Prestasi itu diraih bukan didapat!!! SOLUSI SOAL SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT PROVINSI 2013 TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 2014 Prestasi itu diraih bukan didapat!!! SOLUSI SOAL BAGIAN PERTAMA Disusun oleh : BAGIAN PERTAMA 1. ABC adalah segitiga sama

Lebih terperinci

48. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Atas Luar Biasa Tunalaras (SMALB E) A. Latar Belakang

48. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Atas Luar Biasa Tunalaras (SMALB E) A. Latar Belakang 48. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Atas Luar Biasa Tunalaras (SMALB E) A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran

Lebih terperinci

Pembahasan OSN Tingkat Provinsi Tahun 2012 Jenjang SMP Bidang Matematika

Pembahasan OSN Tingkat Provinsi Tahun 2012 Jenjang SMP Bidang Matematika Pembahasan OSN Tingkat Provinsi Tahun 202 Jenjang SMP Bidang Matematika Bagian A : Soal Isian Singkat. Sebuah silinder memiliki tinggi 5 cm dan volume 20 cm 2. Luas permukaan bola terbesar yang mungkin

Lebih terperinci

Lingkaran. A. Persamaan Lingkaran B. Persamaan Garis Singgung Lingkaran

Lingkaran. A. Persamaan Lingkaran B. Persamaan Garis Singgung Lingkaran Bab Sumber: www.panebiancod.com Setelah mempelajari bab ini, Anda harus mampu merumuskan persamaan lingkaran dan menggunakannya dalam pemecahan masalah; menentukan persamaan garis singgung pada lingkaran

Lebih terperinci

INFORMASI PENTING. No 1 Bilangan Bulat. 2 Pecahan Bentuk pecahan campuran p dapat diubah menjadi pecahan biasa Invers perkalian pecahan adalah

INFORMASI PENTING. No 1 Bilangan Bulat. 2 Pecahan Bentuk pecahan campuran p dapat diubah menjadi pecahan biasa Invers perkalian pecahan adalah No RUMUS 1 Bilangan Bulat Sifat penjumlahan bilangan bulat a. Sifat tertutup a + b = c; c juga bilangan bulat b. Sifat komutatif a + b = b + a c. Sifat asosiatif (a + b) + c = a + (b + c) d. Mempunyai

Lebih terperinci

ISTIYANTO.COM. memenuhi persamaan itu adalah B. 4 4 C. 4 1 PERBANDINGAN KISI-KISI UN 2009 DAN 2010 SMA IPA

ISTIYANTO.COM. memenuhi persamaan itu adalah B. 4 4 C. 4 1 PERBANDINGAN KISI-KISI UN 2009 DAN 2010 SMA IPA PERBANDINGAN KISI-KISI UN 009 DAN 00 SMA IPA Materi Logika Matematika Kemampuan yang diuji UN 009 UN 00 Menentukan negasi pernyataan yang diperoleh dari penarikan kesimpulan Menentukan negasi pernyataan

Lebih terperinci

TRY OUT UJIAN NASIONAL TAH SMA/MA PROGRAM STUDI IPA MATEMATIKA

TRY OUT UJIAN NASIONAL TAH SMA/MA PROGRAM STUDI IPA MATEMATIKA DOKUMEN SEKOLAH MATEMATIKA SMA/MA IPA PAKET NAMA : NO.PESERTA : TRY OUT UJIAN NASIONAL TAH TAHUN UN PELAJARAN 0/0 SMA/MA PROGRAM STUDI IPA MATEMATIKA PUSPENDIK SMAYANI SMA ISLAM AHMAD YANI BATANG 0 TRY

Lebih terperinci

TRY OUT UJIAN NASIONAL TAH SMA/MA PROGRAM STUDI IPA MATEMATIKA

TRY OUT UJIAN NASIONAL TAH SMA/MA PROGRAM STUDI IPA MATEMATIKA DOKUMEN SEKOLAH MATEMATIKA SMA/MA IPA PAKET NAMA : NO.PESERTA : TRY OUT UJIAN NASIONAL TAH TAHUN UN PELAJARAN 0/0 SMA/MA PROGRAM STUDI IPA MATEMATIKA PUSPENDIK SMAYANI SMA ISLAM AHMAD YANI BATANG 0 TRY

Lebih terperinci

PREDIKSI UAN MATEMATIKA 2008 Oleh: Heribertus Heri Istiyanto, S.Si Blog:

PREDIKSI UAN MATEMATIKA 2008 Oleh: Heribertus Heri Istiyanto, S.Si   Blog: PREDIKSI UAN MATEMATIKA 2008 Oleh: Heribertus Heri Istiyanto, S.Si Email: [email protected] Blog: http://istiyanto.com Berikut soal-soal yang dapat Anda gunakan untuk latihan dalam menghadapi

Lebih terperinci

KUMPULAN SOAL OLIMPIADE MATEMATIKA BAGIAN PERTAMA

KUMPULAN SOAL OLIMPIADE MATEMATIKA BAGIAN PERTAMA KUMPULAN SOAL OLIMPIADE MATEMATIKA BAGIAN PERTAMA KUMPULAN SOAL OLIMPIADE MATEMATIKA Bagian Pertama Disusun Oleh Raja Octovin P. D APRIL 2008 SMA NEGERI 1 PEKANBARU Jl. Sulthan Syarif Qasim 159 Pekanbaru

Lebih terperinci

LOMBA MATEMATIKA NASIONAL KE-26

LOMBA MATEMATIKA NASIONAL KE-26 LOMBA MATEMATIKA NASIONAL KE-26 Babak Penyisihan Tingkat SMP Minggu, 8 November HIMPUNAN MAHASISWA MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS GADJAH MADA SEKIP UTARA UNIT III

Lebih terperinci

41. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunalaras (SDLB-E)

41. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunalaras (SDLB-E) 41. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunalaras (SDLB-E) A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting

Lebih terperinci

LOMBA MATEMATIKA NASIONAL KE-27

LOMBA MATEMATIKA NASIONAL KE-27 LOMBA MATEMATIKA NASIONAL KE-27 Babak Penyisihan Tingkat SMP Minggu, 0 Oktober 2016 HIMPUNAN MAHASISWA MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS GADJAH MADA SEKIP UTARA UNIT

Lebih terperinci

Galileo and the Science of Mechanics

Galileo and the Science of Mechanics Galileo and the Science of Mechanics Galileo and the Science of Mechanics http://www.google.co.id/imgres?q=galileo+and+the+science+of+mechanic/ ILMU astronomi dikaitkan dengan imamat dan tradisi ilmiah

Lebih terperinci

English as Medium of Instruction

English as Medium of Instruction Outline Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember 18th May 2013 Outline Outline 1 2 3 4 Outline Outline 1 2 3 4 Outline Outline 1 2 3 4 Outline Outline 1 2 3 4 1 Tentukan angka terakhir

Lebih terperinci

Penerapan Turunan Fungsi Dalam Bidang Kimia

Penerapan Turunan Fungsi Dalam Bidang Kimia Penerapan Turunan Fungsi Dalam Bidang Kimia Kelompok 2 Asmiladita Pridilla Athiya Salma Avira Yunita Besafina Hanan Dicky Syahreza Dwi Bhakti Kusuma PERSAMAAN DIFERENSIAL DAN APLIKASINYA DALAM KIMIA A.

Lebih terperinci

SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT PROVINSI 2007 TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 2008

SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT PROVINSI 2007 TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 2008 Dapatkan soal-soal lainnya di http://forum.pelatihan-osn.com SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT PROVINSI 2007 TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 2008 Bidang Matematika Bagian Pertama Waktu : 90 Menit DEPARTEMEN

Lebih terperinci

TRY OUT UJIAN NASIONAL SMA/MA MATEMATIKA IPA 01 MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN (MGMP) MATEMATIKA KOTA BATAM

TRY OUT UJIAN NASIONAL SMA/MA MATEMATIKA IPA 01 MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN (MGMP) MATEMATIKA KOTA BATAM TRY OUT UJIAN NASIONAL SMA/MA 2016 MATEMATIKA IPA 01 MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN (MGMP) MATEMATIKA KOTA BATAM MATA PELAJARAN Mata Pelajaran Jenjang Program Studi : Matematika : SMA/MA : IPA WAKTU PELAKSANAAN

Lebih terperinci

15 Polihedron Reguler dan Rumus Euler

15 Polihedron Reguler dan Rumus Euler 15 Polihedron Reguler dan Rumus Euler Di antara pembaca mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa Archimedes tidak menggunakan polihedron reguler (beraturan) untuk menaksir volume dan luas permukaan bola,

Lebih terperinci

BAB III KOMBINATORIK

BAB III KOMBINATORIK 37 BAB III KOMBINATORIK Persoalan kombinatorik bukan merupakan persoalan yang baru dalam kehidupan nyata. Banyak persoalan kombinatorik yang sederhana telah diselesaiakan dalam masyarakat. Misalkan, saat

Lebih terperinci

SEKOLAH TINGGI ILMU STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK SOAL UJIAN MASUK PROGRAM D-IV TAHUN AKADEMIK 2011/2012 MINGGU, 5 JUNI 2011 MATEMATIKA 90 MENIT

SEKOLAH TINGGI ILMU STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK SOAL UJIAN MASUK PROGRAM D-IV TAHUN AKADEMIK 2011/2012 MINGGU, 5 JUNI 2011 MATEMATIKA 90 MENIT SEKOLAH TINGGI ILMU STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK SOAL UJIAN MASUK PROGRAM D-IV TAHUN AKADEMIK 2011/2012 MINGGU, 5 JUNI 2011 MATEMATIKA 90 MENIT Petunjuk Di bawah setiap soal dicantumkan 5 kemungkinan

Lebih terperinci

Prestasi itu diraih bukan didapat!!! SOLUSI SOAL

Prestasi itu diraih bukan didapat!!! SOLUSI SOAL SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT PROVINSI 013 TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 014 Prestasi itu diraih bukan didapat!!! SOLUSI SOAL BAGIAN PERTAMA Disusun oleh : Solusi Olimpiade Matematika Tk Provinsi 013

Lebih terperinci

Karya Monumental umat Islam dalam IPTEKS. AIK IV - Pertemuan II Lusiana Ulfa H, S.Ei, M.Si

Karya Monumental umat Islam dalam IPTEKS. AIK IV - Pertemuan II Lusiana Ulfa H, S.Ei, M.Si Karya Monumental umat Islam dalam IPTEKS AIK IV - Pertemuan II Lusiana Ulfa H, S.Ei, M.Si ... Universitas tertua di dunia adalah Universitas Karaouin, didirikan seorang muslimah di Fez, Maroko pada 859

Lebih terperinci

41. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs)

41. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) 41. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai

Lebih terperinci

Pelatihan-osn.com Konsultan Olimpiade Sains Nasional contact person : ALJABAR

Pelatihan-osn.com Konsultan Olimpiade Sains Nasional  contact person : ALJABAR ALJABAR 1. Diberikan a 4 + a 3 + a 2 + a + 1 = 0. Tentukan a 2000 + a 2010 + 1. 2. Diberikan sistem persamaan 2010(x y) + 2011(y z) + 2012(z x) = 0 2010 2 (x y) + 2011 2 (y z) + 2012 2 (z x) = 2011 Tentukan

Lebih terperinci

Dari gambar jaring-jaring kubus di atas bujur sangkar nomor 6 sebagai alas, yang menjadi tutup kubus adalah bujur sangkar... A. 1

Dari gambar jaring-jaring kubus di atas bujur sangkar nomor 6 sebagai alas, yang menjadi tutup kubus adalah bujur sangkar... A. 1 1. Diketahui : A = { m, a, d, i, u, n } dan B = { m, e, n, a, d, o } Diagram Venn dari kedua himpunan di atas adalah... D. A B = {m, n, a, d} 2. Jika P = bilangan prima yang kurang dari Q = bilangan ganjil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Matematika merupakan bagian dari warisan budaya. 1. budaya, matematika hadir sebagai solusi di tengah-tengah permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. Matematika merupakan bagian dari warisan budaya. 1. budaya, matematika hadir sebagai solusi di tengah-tengah permasalahan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Matematika merupakan bagian dari warisan budaya. 1 Sebagai warisan budaya, matematika hadir sebagai solusi di tengah-tengah permasalahan kehidupan sosial masyarakat.

Lebih terperinci

Latihan Ujian 2012 Matematika

Latihan Ujian 2012 Matematika Latihan Ujian 2012 Matematika Hari/Tanggal : Minggu, 19 Februari 2012 Waktu : 120 menit Jumlah Soal : 60 soal Petunjuk Tulis nomor peserta dan nama Anda di tempat yang disediakan pada Lembar Jawaban. Materi

Lebih terperinci

SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT KABUPATEN/KOTA TAHUN 2002 TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA TAHUN 2003

SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT KABUPATEN/KOTA TAHUN 2002 TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA TAHUN 2003 Dapatkan soal-soal lainnya di http://forum.pelatihan-osn.com SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT KABUPATEN/KOTA TAHUN 00 TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA TAHUN 003 Bidang Matematika Waktu : 90 Menit DEPARTEMEN

Lebih terperinci

SELEKSI OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 2006 TINGKAT PROVINSI

SELEKSI OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 2006 TINGKAT PROVINSI SELEKSI OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 2006 TINGKAT PROVINSI Bidang Matematika Bagian Pertama Waktu : 90 Menit DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DIREKTORAT

Lebih terperinci

SEJARAH BEBERAPA TOPIK ARITMETIKA

SEJARAH BEBERAPA TOPIK ARITMETIKA SEJARAH BEBERAPA TOPIK ARITMETIKA Sumardyono, M.Pd. Angka Hindu-Arab Angka yang kita gunakan sekarang ini ada yang menyebut sebagai Angka Arab, Angka Hindu-Arab, atau Angka Hindu. Apa yang disebut Hindu

Lebih terperinci

SUKSES BELAJAR KALKULUS

SUKSES BELAJAR KALKULUS SUKSES BELAJAR KALKULUS Hendra Gunawan, Ph.D. Bandung, 14 Maret 2007 BELAJAR =? proses menumbuhkembangkan pengetahuan dan/atau keterampilan, dengan/melalui pengalaman, pengamatan, mencoba melakukan, praktek/latihan,

Lebih terperinci

37. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI)

37. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) 37. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting

Lebih terperinci

Pembahasan OSK Tahun 2011 Tingkat SMP Bidang Matematika

Pembahasan OSK Tahun 2011 Tingkat SMP Bidang Matematika Pembahasan OSK Tahun 011 Tingkat SMP Bidang Matematika Bagian A : Pilihan Ganda 1. Nilai dari a. 113 b. c. 91 73 1 8! 9! + 3 adalah... d. e. 71 4 Jawaban : c 1 8! 9! + 3 = 10 9 10 + 3 = 73. Menggunakan

Lebih terperinci

LOMBA MATEMATIKA NASIONAL KE-25

LOMBA MATEMATIKA NASIONAL KE-25 LOMBA MATEMATIKA NASIONAL KE-5 Babak Penyisihan Tingkat SMP Minggu, 9 November 04 HIMPUNAN MAHASISWA MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS GADJAH MADA SEKIP UTARA UNIT III

Lebih terperinci

DALIL PYTHAGORAS DAN PEMECAHAN MASALAH GEOMETRI

DALIL PYTHAGORAS DAN PEMECAHAN MASALAH GEOMETRI DALIL PYTHAGORAS DAN PEMECAHAN MASALAH GEOMETRI Segitiga 1. Beberapa sifat yang berlaku pada segitiga adalah : Jumlah sudut-sudut sembarang segitiga adalah 180 0 Pada segitiga ABC berlaku AC = BC B = A

Lebih terperinci

(a) 32 (b) 36 (c) 40 (d) 44

(a) 32 (b) 36 (c) 40 (d) 44 Halaman:. Jika n = 8, maka n0 n bernilai... (a) kurang dari 00 (b) (d) lebih dari 00. Penumpang suatu pesawat terdiri dari anak-anak dari berbagai negara, 6 orang dari Indonesia yang termasuk dari anak-anak

Lebih terperinci

SOAL OSN MATEMATIKA SMP TINGKAT KABUPATEN 2012

SOAL OSN MATEMATIKA SMP TINGKAT KABUPATEN 2012 SOAL OSN MATEMATIKA SMP TINGKAT KABUPATEN 2012 BAGIAN A : PILIHAN GANDA SOAL 1 Pernyataan yang benar diantara pernyataan-pernyataan berikut adalah : A. {Ø} Ø D. {a,b} {a, b, {{a,b}}} B. {Ø} Ø E. {a,ø}

Lebih terperinci

MATEMATIKA (Paket 1) Waktu : 120 Menit

MATEMATIKA (Paket 1) Waktu : 120 Menit MATEMATIKA (Paket ) Waktu : 0 Menit (0) 77 0 Website : Pilihlah jawaban yang paling tepat!. Hasil dari 0 : 7 + ( ) adalah.... 0 0. Agus mempunyai sejumlah kelereng, diberikan kepada Rahmat, bagian diberikan

Lebih terperinci

SOAL UJIAN SELEKSI CALON PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2014 TINGKAT PROVINSI

SOAL UJIAN SELEKSI CALON PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2014 TINGKAT PROVINSI HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG SOAL UJIAN SELEKSI CALON PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2014 TINGKAT PROVINSI BIDANG MATEMATIKA Waktu : 210 menit KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL

Lebih terperinci

Modul 2 SEGITIGA & TEOREMA PYTHAGORAS

Modul 2 SEGITIGA & TEOREMA PYTHAGORAS Modul 2 SEGITIGA & TEOREMA PYTHAGORAS A. Pengantar Materi yang akan di bahas pada kegiatan pembelajaran ini terdiri atas pengertian segitiga, hubungan sisi-sisi segitiga, jenis-jenis segitiga ditinjau

Lebih terperinci