PERANAN SISTEM MODULO DALAM PENENTUAN HARI DAN PASARAN

dokumen-dokumen yang mirip
II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada bagian ini diterangkan materi yang berkaitan dengan penelitian, diantaranya konsep

PPPPTK MATEMATIKA YOGYAKARTA BAB I PENDAHULUAN

FUNGSI-FUNGSI PADA TEORI BILANGAN DAN APLIKASINYA PADA PERHITUNGAN KALENDER. Sangadji *

BAB 2 LANDASAN TEORI. Musik dan matematika berkaitan satu sama lain secara kompleks. Matematika

II. TINJAUAN PUSTAKA. bilangan yang mendukung proses penelitian. Dalam penyelesaian bilangan

APLIKASI SIFAT-SIFAT GRUP JUMLAHAN MODULO 7 DALAM MENENTUKAN HARI. Pardomuan N. J. M. Sinambela. Abstrak

BAHAN AJAR TEORI BILANGAN. DOSEN PENGAMPU RINA AGUSTINA, S. Pd., M. Pd. NIDN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada bab ini akan dibahas konsep-konsep yang mendasari konsep representasi

Tentukan semua bilangan bulat x sedemikian sehingga x 1 (mod 10). Jawab. x 1 (mod 10) jika dan hanya jika x 1 = 10 k untuk setiap k bilangan bulat.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada bab ini akan diberikan konsep dasar (pengertian) tentang bilangan sempurna,

3 TEORI KONGRUENSI. Contoh 3.1. Misalkan hari ini adalah Sabtu, hari apa setelah 100 hari dari sekarang?

Elvri Teresia br Sembiring adalah Guru Matematika SMA Negeri 1 Berastagi

LANDASAN TEORI. bilangan coprima, bilangan kuadrat sempurna (perfect square), kuadrat bebas

Aritmatika Jam. Oleh Sufyani P

MODUL PERSIAPAN OLIMPIADE. Oleh: MUSTHOFA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

TINJAUAN PUSTAKA. Pada bab ini akan diberikan beberapa definisi teori pendukung dalam proses

Nama Mata Kuliah : Teori Bilangan Kode Mata Kuliah/SKS : MAT- / 2 SKS

II. LANDASAN TEORI. Secara umum, apabila α bilangan bulat dan b bilangan bulat positif, maka ada

Teori Bilangan (Number Theory)

WOLFRAM-ALPHA PADA TEORI BILANGAN

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER. Dosen Pengampu: Rina Agustina, M.Pd. NIDN

R. Rosnawati Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY

MENCARI TANGGAL LAHIR MENURUT PERHITUNGAN MASEHI DAN HIJRIYAH

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

Teori bilangan. Nama Mata Kuliah : Teori bilangan Kode Mata Kuliah/SKS : MAT- / 2 sks. Deskripsi Mata Kuliah. Tujuan Perkuliahan.

KONGRUENSI PADA SUBHIMPUNAN BILANGAN BULAT

PENGAPLIKASIAN KONGRUEN LANJAR UNTUK MENCARI SOLUSI SISTEM PERSAMAAN LINEAR, CHINESE REMAINDER THEOREM, DAN UJI DIGIT ISBN.

Aplikasi Chinese Remainder Theorem dalam Secret Sharing

PENGUJIAN BILANGAN CARMICHAEL. (Skripsi) Oleh SELMA CHYNTIA SULAIMAN

BAB 4. TEOREMA FERMAT DAN WILSON

BAB II LANDASAN TEORI. yang mendasari pembahasan pada bab-bab berikutnya. Beberapa definisi yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. terkait dengan pokok bahasan. Berikut ini diberikan pengertian-pengertian dasar

PERKONGRUENAN POLINOMIAL MODULO m

Oleh : Sutrisno.

ALTERNATIF MENENTUKAN FPB DAN KPK

APOTEMA: Jurnal Pendidikan Matematika. Volume 2, Nomor 2 Juli 2016 p ISSN BILANGAN SEMPURNA GENAP DAN KEPRIMAAN BI LANGAN MERSENNE

KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI AGAMA, MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI, DAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB II KETERBAGIAN. 1. Mahasiswa bisa memahami pengertian keterbagian. 2. Mahasiswa bisa mengidentifikasi bilangan prima

Kongruen Lanjar dan Berbagai Aplikasi dari Kongruen Lanjar

NASKAH SOAL MATEMATIKA JMSO Tingkat SD/MI 2015

Tujuan Instruksional Umum Mahasiswa memahami pengertian relasi, relasi ekuivalen, hasil ganda suatu

KOMPUTER DALAM LOGIKA MANUAL MENCARI HARI. Oleh : Mustaqim. Abstrak

PRESENSI DOSEN DIPEKERJAKAN KOPERTIS WILAYAH V

TEORI BILANGAN Setelah mempelajari modul ini diharapakan kamu bisa :

bab 2 satuan pengukuran waktu tema makanan dan kesehatan

METODE SOLOVAY-STRASSEN UNTUK PENGUJIAN BILANGAN PRIMA

ALGORITMA PENENTUAN HARI BERBASIS KPK

Materi Pembinaan Olimpiade SMA I MAGELANG TEORI BILANGAN

TAHUN PELAJARAN 2015/2016 TAHUN PELAJARAN 2015/2016 BULAN JULI 2015 AGUSTUS 2015 SEPTEMBER 2015 BULAN JANUARI 2016 FEBRUARI 2016 MARET 2016

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA F A K U L T A S M I P A

PENGGUNAAN TEORI KEKONGRUENAN PAI}ATEORI BILANGAN TESIS. 0leh SEKAR SARI ARJANA DALAS

KALENDER PENDIDIKAN TAHUN PELAJARAN 2015/2016 YAYASAN PENDIDIKAN KESATRIAN 67 SMP KESATRIAN 2 SEMARANG

NIP NIP

10 Kapitu (42) - 40 Kapitu (42) 15 Suro 1943 (Dal) - 15 Sapar 1943 (Dal) Pahing Wage Pon Wage 15.

JADWAL KULIAH/RESPONSI/PRAKTIKUM MATRIKULASI T.A 2014/2015 TINGKAT PERSIAPAN BERSAMA - INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Yurnalis 1. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau Kampus Binawidya Pekanbaru (28293), Indonesia.

1. Membilang banyaknya benda dari 1 sampai dengan 10

10 Kapitu (42) - 40 Kapitu (42) 41 Kapitu (42) - 26 Kawolu (26)

KALENDER PENDIDIKAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013

KALENDER PENDIDIKAN TAHUN PELAJARAN 2013/2014

10 Kapitu (42) - 40 Kapitu (42) 41 Kapitu (42) - Kawolu (26) - 1 Kasongo (25)

ETNOMATEMATIKA PADA PENANGGALAN JAWA TERKAIT ARITMETIKA DI DESA YOSOMULYO. Leni Ofta Agustina 1, Sunardi 2, Susanto 3

Jurnal Apotema Vol.2 No. 2 62

KALENDER PENDIDIKAN SMP KESATRIAN 2 SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012

KALENDER PENDIDIKAN SEMESTER GANJIL SMA DON BOSCO PADANG TAHUN PELAJARAN 2010 / 2011

PEMERINTAH KOTA SEMARANG SEKRETARIAT DAERAH

BAB 2 LANDASAN TEORI

KUMPULAN SOAL-SOAL OMITS

BAB II LANDASAN TEORI. bilangan bulat dan mengandung berbagai masalah terbuka yang dapat dimengerti

Contoh-contoh soal induksi matematika

PERANGKAT PEMBELAJARAN (PBM) TAHUN PELAJARAN

Pengantar Teori Bilangan

BAB I TEORI KETERBAGIAN DALAM BILANGAN BULAT

Aplikasi Teori Bilangan Dalam Algoritma Enkripsi-Dekripsi Gambar Digital

10 Kapitu (42) - 40 Kapitu (42) 41 Kapitu (42) - 26 Kawolu (26)

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN MATEMATIKA BAB XIV PENGUKURAN DAN PENAKSIRAN

10 Kapitu (42) - 40 Kapitu (42) 41 Kapitu (42) - 26 Kawolu (26)

BAB V RELASI DAN FUNGSI

mengenal bangun datar

PERTEMUAN 5. Teori Himpunan

LATIHAN UJIAN AKHIR SEKOLAH

Dengan uang Rp 1000,00 Julia akan mendapatkan 6 permen dengan sisa uang Rp 100,00.

KALENDER PENDIDIKAN SMP KESATRIAN 2 SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2010/2011

APLIKASI TEORI BILANGAN UNTUK AUTENTIKASI DOKUMEN

Matematika Diskrit. Reza Pulungan. March 31, Jurusan Ilmu Komputer Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

METODA PEMBUKTIAN DALAM MATEMATIKA

Tujuan Instruksional Umum : Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa dapat mengenal dan mengaplikasikan sifat-sifat dari Grup Faktor

TEORI BILANGAN. Bilangan Bulat Bilangan bulat adalah bilangan yang tidak mempunyai pecahan desimal, misalnya 8, 21, 8765, -34, 0.

Analisis Fenomena Swing Voters Pada Pemilu Reformasi di Kabupaten Rembang. Oleh : Susi Dian Rahayu D2B

BAB I INDUKSI MATEMATIKA

ALMANAK KALENDER TAHUN 2017 LEMBAGA FALAKIYAH PWNU JAWA TIMUR

TEORI BILANGAN (3 SKS)

KALENDER PENDIDIKAN SMP KESATRIAN 2 SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2009/2010 JULI Jml. HB (Jml Minggu = 3)

PT MUSTIKA ALAM LESTARI PANDUAN CONTOH PERHITUNGAN BIAYA JASA PENUMPUKAN TAMBAHAN

PRINSIP INKLUSI DAN EKSKLUSI

KALENDER PENDIDIKAN SMP KESATRIAN 2 SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2008/2009 JULI Jml. HB (Jml Minggu = 3)

CONTOH PERHITUNGAN JANGKA WAKTU SBIS

Program Studi Teknik Informatika Nama : Sekolah Teknik Elektro dan Informatika NIM :

Transkripsi:

PERANAN SISTEM MODULO DALAM PENENTUAN HARI DAN PASARAN Agung Handayanto a a Program Studi Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Jl. Dr. Cipto-Lontar No1 Semarang Telp. (024)8316377 Faks (024) 8448217 Abstrak Pada paper ini dikemukakan berbagai macam rumus guna menentukan hari dan pasaran dalam kalender jawa dari tanggal yang diinginkan. Dengan menggunakan algoritma yang sesuai dengan rumus-rumus, dapat dibuat program dalam komputer, sehingga tidak diperlukan lagi perhitungan secara manual. Kata kunci : pasaran, modulo A. PENDAHULUAN Teori bilangan merupakan bagian dari matematika yang tergolong sudah tua usianya. Namun demikian, akhir-akhir ini Teori Bilangan menjadi dasar dari pengembangan beberapa cabang matematika seperti cryptografi (tulisan rahasia/sandi) dan ilmu pengetahuan komputer sebagai salah satu pengembangan dalam matematika terapan. Sistem modulo merupakan bagian yang cukup penting dalam Teori Bilangan. Salah satu penggunaan sistem modulo yang sangat menarik adalah untuk menentukan hari dan pasaran. Baik hari dan pasaran yang telah lampau ataupun yang akan datang. Syaratnya adalah tanggal, bulan dan tahun yang akan dicari hari dan pasarannya diketahui dengan pasti. Sering kita alami kejadian untuk menentukan hari dan pasaran suatu tanggal yang kita anggap begitu bersejarah bagi kita tak berhasil kita ingat dengan benar. Mau melihat kalendar sudah lama dirobek atau bahkan sudah tidak ada lagi. Karena kesulitan mencari kalender tahun-tahun yang telah lampau untuk menentukan hari dan pasaran tanggal yang penting adalah suatu permasalahan yang harus dicari penyelesaiana atau jawabannya secara umum dan matematis. Oleh karena itu, berikut ini akan disajikan beberapa cara yang mudah dan sederhana untuk keperluan itu. Cara yang akan sajikan di bawah ini tidak hanya dipakai untuk mengingat hari dan pasaran yang telah lampau, melainkan juga untuk menentukan hari dan pasaran yang akan 1

datang. Tidak usah bongkar dokumen ataupun menyusun kalendar baru, asal diketahui dengan pasti tanggal, bulan, dan tahun yang bersangkutan dan berpikir sebentar. B. TEORI RELASI KONGRUENSI Dalam himpunan bilangan bulat, kekongruenan merupakan metode atau cara lain untuk menelaah atau menjelaskan tentang keterbagian suatu bilangan bulat. Adapun definisi kekongruenan adalah sebagai berikut. Definisi 1. Jika m suatu bilangan bulat positif, maka a kongruen dengan b modulo m (ditulis : a b (mod m)) jika m membagi habis (a b), jika m tidak membagi habis (a b) maka dikatakan bahwa a tidak kongruen dengan b modulo m (ditulis : a b (mod m)). Dari definisi 1. diatas, muncul beberapa theorema sebagai berikut : Theorema 1. a b (mod m) jika dan hanya jika ada bilangan bulat k sedemikian sehingga a = mk + b. Bukti 1. Dari definisi kekongruenan, dapat ditulis kembali bahwa : Jika m > 0 maka m akan membagi habis (a b) yang ditulis m (a b) jika dan hanya jika a b (mod m). Jika m (a b), maka ada bilangan bulat k sedemikian sehingga (a b) = mk. Sehingga a b (mod m) jika dan hanya jika a b = mk untuk suatu bilangan bulat k. Tetapi karena a b = mk sama artinya dengan a = mk + b, maka a b (mod m) jika dan hanya jika a = mk + b. Theorema 2. (m 1). Setiap bilangan bulat kongruen modulo m dengan tepat satu diantara 0, 1, 2, 3,..., Bukti 2. Menurut algoritma pembagian, jika a dan m adalah bilangan bulat dan m > 0, maka a dapat dinyatakan sebagai a = mq + r dengan 0 r < m. Hal ini berarti bahwa : a r = mq, yaitu a r (mod m). Karena 0 r < m, maka terdapat m buah pilihan untuk r, yaitu 0, 1, 2, 3, 2

..., (m 1). Jadi setiap bilangan bulat akan kongruen modulo m dengan tepat satu di antara 0, 1, 2, 3,..., (m 1). Definisi 2. Jika a r (mod m) dengan 0 r < m, maka r disebut residu (sisa) terkecil dari a modulo m. Untuk kekongruenan modulo m ini, {0, 1, 2, 3,..., (m 1)} disebut himpunan residu terkecil modulo m. Dari definisi 2. diatas,muncul theorema sebagai berikut. Theorema 3. a b (mod m) jika dan hanya jika a dan b memiliki sisa yang sama jika dibagi oleh m. Bukti 3. Pertama : Akan dibuktikan bahwa : jika a b (mod m) maka a dan b memiliki sisa yang sama jika dibagi oleh m. Karena a b (mod m) maka a r (mod m) dan b r (mod m) dengan r adalah residu terkecil modulo m atau 0 r < m. Dari a r (mod m) berarti a = mq + r untuk suatu bilangan bulat q. Dari b r (mod m) berarti b = mt + r untuk suatu bilangan bulat t. Jadi a dan b mempunyai sisa yang sama yaitu r jika dibagi oleh m. Kedua : Akan dibuktikan bahwa : jika a dan b mempunyai sisa yang sama jika dibagi oleh m, maka a b (mod m). Andaikan a mempunyai sisa yang sama (r) jika dibagi oleh m, maka a b (mod m), hal ini berarti a = mq + r. Dan andaikan b mempunyai sisa yang sama (r) jika dibagi oleh m, hal ini berarti b = mt + r. Dari kedua persamaan tersebut diperoleh bahwa : a b = m (q t), berarti m (a b) atau a b (mod m). C. SIFAT RELASI KEKONGRUENAN 3

Kekongruenan modulo suatu bilangan bulat positif adalah suatu relasi atara bilanganbilangan bulat. Dapat ditunjukkan bahwa relasi kekongruenan merupakan relasi ekuivalensi. Telah diketahui bahwa suatu relasi disebutrelasiekuivalensi jika relasi tersebut memiliki sifat refleksi, simetris dan transitif. Jika m, a, b dan c adalah bilangan-bilangan bulat dengan m positif, maka 1. Sifat refleksi : a a (mod m) Bukti : Karena a a = 0 = 0m, maka a a (mod m). 2. Sifat simetris : Jika a b (mod m), maka b a (mod m) Bukti : Karena a b (mod m), maka a b = km untuk suatu bilanagan bulat k, sehingga b a = - km yang berarti bahwa b a (mod m) 3. Sifat transitif : Jika a b (mod m) dan b c (mod m), maka a c (mod m) Bukti : Karena a b (mod m), maka a b = km untuk suatu bilanagan bulat k. Karena b c (mod m), maka b c = hm untuk suatu bilanagan bulat h. Jika kedua ruas dijumlahkan, maka akan diperoleh : a c = (k h) m yang berarti bahwa : a c (mod m). D. SISTEM MODULO 7 Sekarang akan diperkenalkan sistem modulo 7 yang memainkan peranan penting dalam penentuan hari. Sistem ini hanya menggunakan tujuh lambang bilangan, yakni: 0, 1, 2, 3, 4, 5 dan 6. Jumlahan di dalam sistem modulo 7 adalah sama seperti jumlah biasa, kecuali jika jumlah itu lebih besar dari 6, kita bagi jumlah itu dengan 7 dan gunakan sisa itu di tempat jumlah biasa. Oleh karena itu : 1 + 3 = 4, tetapi 5 + 4 = 2 karena jika 9 dibagi 7 sisanya 2. Di bawah ini adalah tabel penjumlahan dari sistem modulo 7 Tabel 1. Sistem Modulo 7 + 0 1 2 3 4 5 6 4

0 0 1 2 3 4 5 6 1 1 2 3 4 5 6 0 2 2 3 4 5 6 0 1 3 3 4 5 6 0 1 2 4 4 5 6 0 1 2 3 5 5 6 0 1 2 3 4 6 6 0 1 2 3 4 5 E. MENENTUKAN HARI Pandang himpunan H = {Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum at, Sabtu}. Dengan menggunakan tiga pengertian pokok, yakni: 1. Sistem modulo 7. 2. Tahun biasa = 365 hari. 3. Tahun kabisat = 366 hari (tahun yang bilangannya habis dibagi empat). Maka akan muncul rumus-rumus yang dapat dipakai untuk mencari hari dari tanggal, bulan, dan tahun yang diinginkan. Pada prinsipnya jumlah semua hari dari Kalendar Masehi dimulai dari tanggal 1 bulan Januari tahun 1 sampai dengan tanggal x bulan y tahun z yang akan dicari harinya, dihitung kemudian hasilnya dibagi dengan 7. Dengan beberapa percobaan yang nanti akan kami uraikan, ternyata apabila sisanya nol jatuh pada hari sabtu, bila sisanya 1 jatuh pada hari Minggu dan seterusnya akhirnya bila sisanya 6 jatuh pada hari Jum at, seperti pada tabel berikut ini. Tabel 2. Sisa Hari Sisa Hari 0 Sabtu 1 Minggu 2 Senin 3 Selasa 4 Rabu 5 Kamis 5

6 Jum at Perlu diketahui bahwa jumlah hari tahun biasa = 365 hari, berarti 365 = 1 (modulus 7), sedangkan jumlah hari tahun kabisat = 366 hari, berarti 366 = 2 (modulus 7). Suatu tahun tertentu dapat dinyatakan sebagai jumlahan tahun biasa dan tahun kabisat, sehingga jumlah harinya juga dapat dihitung. Misal A tahun = B tahun biasa + C tahun kabisat. Jumlah hari itu dibagi dengan 7, misalkan : A = B + 2 C = D = 7 E + F dimana E : bilangan asli hasil pembagian D oleh 7. F : sisa pembagian. maka A tahun = F hari (modulus 7). Dengan sedikit gambaran di atas maka untuk menentukan hari tertentu dapat dipergunakan beberapa cara sebagai berikut. Cara I : Menggunakan rumus : U + V W = S (modulus 7)...(1) dengan, U : jumlah tahun V : bilangan bulat terbesar dari (U/4) W : jumlah hari dari tanggal (p + l) sampai dengan 31 Desember (lihat tabel 3). S : sisa pembagian modulo 7 (lihat tabel 2). Tabel 3. Jumlah hari tiap-tiap bulan Bulan Tahun biasa / kabisat Bulan Tahun biasa / kabisat Januari 31 Juli 31 Februari 28 / 29 Agustus 31 Maret 31 September 30 April 30 Oktober 31 Mei 31 November 30 Juni 30 Desember 31 Sebagai ilustrasi akan ditentukan hari kemerdekaan RI, tanggal 17 Agustus 1945 jatuh pada hari apa? 6

Dengan menggunakan rumus (1) : U + V W = S (modulus 7), maka berarti : U = 1945 V = (U/4) = (1945/4) = 486.25 = 486 W = jumlah hari dari 18 Agustus 31 Desember = 14 + 30 + 31 + 30 + 31 = 136 sehingga, U + V W = 1945 + 486 136 = 2295 = 6 (modulo 7) Kesimpulan, karena S = 6, maka menurut Tabel 2 : 17 Agustus 1945 jatuh pada hari Jum at. Cara II : Menggunakan rumus : X + Y + Z = S (modulus 7)...(2) dengan, X : U 1 (U adalah jumlah tahun) Y : bilangan bulat terbesar dari (X/4) Z : jumlah hari dari tanggal l Januari sampai tanggal yang dicari (lihat tabel 3). S : sisa pembagian modulo7 (lihat tabel 2). Sebagai ilustrasi akan ditentukan hari kemerdekaan RI, tanggal 17 Agustus 1945 jatuh pada hari apa? Dengan menggunakan rumus (2) : X + Y + Z = S (modulus 7), maka berarti : X = U -1 = 1945-1 = 1944 Y = (X/4) = (1944/4) = 486 Z = jumlah hari dari 1 Januari 17 Agustus = 31 + 28 + 31 + 30 + 31 + 30 + 31 + 17 = 229 sehingga, X + Y + Z = 1944 + 486 + 229 = 2659 = 6 (modulo 7) Kesimpulan, karena S = 6, maka menurut Tabel 2 : 17 Agustus 1945 jatuh pada hari Jum at. Cara III : Untuk abad ke 20, menggunakana rumus : K + L + M N = S (modulus 7)...(3) Untuk abad ke n menggunakan rumus : K + L + M N + (20 n) = S (modulus 7)...(4) 7

dengan: K : jumlah tahun dalam satu abad yang bersangkutan, untuk tahun 1945 maka K = 45. L : jumlah tahun kabisat dalam satu abad yang bersangkutan, untuk tahunn 1945 maka (45/4) = 11.25 = 11. M : tanggal yang akan dicari harinya. N : harga bulan (angka-angka) dicari dari table dibawah ini. S : sisa pembagian (lihat tabel 2). Tabel 4. Harga Bulan (N) Bulan Tahun biasa / kabisat Bulan Tahun biasa / kabisat Januari 6 / 0 Juli 0 Februari 3 / 4 Agustus 4 Maret 3 September 1 April 0 Oktober 6 Mei 5 November 3 Juni 2 Desember 1 Harga bulan N untuk bulan Januari dan Februari masing-masing ada dua macam tergantung pada tahun biasa atau tahun kabisat. Sebagai ilustrasi akan ditentukan hari kemerdekaan RI, tanggal 17 Agustus 1945 jatuh pada hari apa? Dengan menggunakan rumus (3) : K + L + M N = S (modulus 7), maka berarti : K = 1945= 45 L = (K/4) = (45/4) = 11.25 = 11 M = tanggal 17 = 17 N = harga bulan Agustus = 4 sehingga, K + L + M N = 45 + 11 + 17 4 = 69 = 6 (modulo 7) Kesimpulan, karena S = 6, maka menurut Tabel 2 : 17 Agustus 1945 jatuh pada hari Jum at. 8

F. MENENTUKAN PASARAN Seperti pada menentukan hari yang menggunakan modulo 7, dalam mementukan pasaran menggunakan modulo 5. Telah diketahui bahwa nama pasaran adalah Wage, Kliwon, Legi, Pahing, dan Pon. Dalam menentukan pasaran juga masih tergantung pada jumlah hari tahun biasa dan kabisat, yaitu 365 hari dan 366 hari, sehingga dalam menentukan pasaran diperlukan nilai/harga bulan seperti pada tabel 5. Tabel 5. Harga Bulan (B) Bulan Tahun biasa / kabisat Bulan Tahun biasa / kabisat Januari 0 / 1 Juli 4 Februari 4 / 0 Agustus 3 Maret 1 September 2 April 0 Oktober 2 Mei 0 November 1 Juni 4 Desember 1 Dari hasil percobaan diperoleh tabel sisa pasaran untuk harga S sebagai berikut. Tabel 6. Sisa Pasaran Sisa Pasaran 0 Legi 1 Pahing 2 Pon 3 Wage 4 Kliwon Dengan sedikit gambaran di atas maka untuk menentukan pasaran tertentu dapat dipergunakan rumus yang berlaku untuk sembarang abad sebagai berikut. L + M B = S (modulus 5)...(5) dimana, L : jumlah tahun kabisat dalam satu abad yang bersangkutan M : tanggal yang akan dicari pasarannya B : harga bulan untuk menentukan pasaran (lihat tabel 5). S : sisa pembagian modulo 5 (lihat tabel 6). 9

Sebagai ilustrasi akan ditentukan pasaran kemerdekaan RI, tanggal 17 Agustus 1945 jatuh pada pasaran apa? Dengan menggunakan rumus (5) : L + M B = S (modulus 5), maka berarti : L = (45/4) = 11.25 = 11 M = tanggal 17 =17 B = harga bulan pada tabel 5 = 3 sehingga, L + M B = 11 + 17-3 = 25 = 0 (modulo 5) Kesimpulan, karena S = 0, maka menurut Tabel 6 : 17 Agustus 1945 jatuh pada pasaran LEGI. G. PENUTUP Pada pembahasan di atas telah dikemukakan berbagai macam rumus guna menentukan hari dan pasaran dari tanggal yang diinginkan. Dengan menggunakan algoritma yang sesuai dengan rumus-rumus, dapat dibuat program dalam komputer, sehingga tidak diperlukan lagi perhitungan secara manual. Pembahasan tersebut belum mencakup tentang bagaimana timbulnya table 4, 5 dan table 6. Namun demikian diharapkan semoga pembahasan ini dapat memberikan gambaran untuk maksud tersebut. Mudah-mudahan tulisan yang sederhana dan singkat ini berguna bagi kita semua. DAFTAR PUSTAKA Burton, D.M. 1980. Elementary Number Theory. Boston: Allyn &Bacon. Niven, I. dan H.S. Zuckerman. 1976. Introduction to The Theory of Numbers. New Delhi. Willey Eastern Ltd. Sukirman, H. 2004. Pengantar Teori Bilangan. Yogyakarta.UNY. 10