BAB I Geometri dan Prinsip Dasar Kristal

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2. KEDUDUKAN KRISTAL DALAM TIGA DIMENSI Kedudukan Utama Bidang terhadap Ketiga Sumbu Kristalografi

MODUL 3 BIDANG RATA. [Program Studi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Sumatera Barat]

MODUL IV JUDUL : KRISTALOGRAFI I BAB I PENDAHULUAN

PERSAMAAN BIDANG RATA

Kerapatan atom struktur kristal bisa dicari dengan persamaan:

4. Buku teks: Introduction to solid state physics, Charles Kittel, John Willey & Sons, Inc.

BESARAN VEKTOR. Gb. 1.1 Vektor dan vektor

SUSUNAN ATOM BENDA PADAT

Lingkaran adalah tempat kedudukan titik-titik pada bidang yang berjarak

Buku Pendalaman Konsep. Trigonometri. Tingkat SMA Doddy Feryanto

Hasil Kali Titik, Hasil Kali Silang, dan Hasil Kali Tripel

BAB II VEKTOR DAN GERAK DALAM RUANG

VEKTOR. 45 O x PENDAHULUAN PETA KONSEP. Vektor di R 2. Vektor di R 3. Perkalian Skalar Dua Vektor. Proyeksi Ortogonal suatu Vektor pada Vektor Lain

LINGKARAN. Lingkaran. pusat lingkaran diskriminan posisi titik posisi garis garis kutub gradien. sejajar tegak lurus persamaan lingkaran

BAB I STRUKTUR KRISTAL

B. HUKUM-HUKUM YANG BERLAKU UNTUK GAS IDEAL

KEGIATAN BELAJAR SISWA

PERSAMAAN GARIS. Dua garis sejajar mempunyai gradien sama, sehingga persamaan garis yang sejajar l dan melalui titik (3,4) adalah

Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang

MAKALAH GEOMETRI ANALITIK RUANG PERSAMAAN GARIS LURUS

Ringkasan Materi Soal-soal dan Pembahasan MATEMATIKA. SD Kelas 4, 5, 6

A. Menentukan Letak Titik

RANGKUMAN MATERI VEKTOR Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Matematika Sekolah Dosen Pembina: Dr. Tatag Yuli Eko Siswono, M.Pd.

Jika titik O bertindak sebagai titik pangkal, maka ruas-ruas garis searah mewakili

Dr. Ramadoni Syahputra Jurusan Teknik Elektro FT UMY

SUDUT DAN JARAK ANTARA DUA BIDANG RATA

VEKTOR. maka a c a c b d b d. , maka panjang (besar/nilai) vector u ditentukan dengan rumus. maka panjang vector

BAB 1 BESARAN VEKTOR. A. Representasi Besaran Vektor

Siswa dapat menyebutkan dan mengidentifikasi bagian-bagian lingkaran

VII III II VIII HAND OUT PERKULIAHAN GEOMETRI ANALITIK

BAB IV ANALISA KECEPATAN

MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS. Nuryanto.ST.,MT

Matematika Teknik Dasar-2 4 Aljabar Vektor-1. Sebrian Mirdeklis Beselly Putra Teknik Pengairan Universitas Brawijaya

Matematika Proyek Perintis I Tahun 1979

ILMU UKUR TANAH 2 PENENTUAN POSISI

Selain besaran pokok dan turunan, besaran fisika masih dapat dibagi atas dua kelompok lain yaitu besaran skalar dan besaran vektor

Pedoman Penskoran Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa

Sistem Koordinat Kartesian Tegak Lurus dan Persamaan Garis Lurus

dengan vektor tersebut, namun nilai skalarnya satu. Artinya

19. VEKTOR. 2. Sudut antara dua vektor adalah θ. = a 1 i + a 2 j + a 3 k; a. a =

Soal No. 1 Perhatikan gambar berikut, PQ adalah sebuah vektor dengan titik pangkal P dan titik ujung Q

Matematika Ekonomi KUADRAT DAN FUNGSI RASIONAL (FUNGSI PECAH) GRAFIK FUNGSI KUADRAT BERUPA PARABOLA GRAFIK FUNGSI RASIONAL BERUPA HIPERBOLA

IKIP BUDI UTOMO MALANG. Analytic Geometry TEXT BOOK. Alfiani Athma Putri Rosyadi, M.Pd

BAB I PENDAHULUAN. 2. Membagi keliling lingkaran sama besar.

Vektor. Vektor memiliki besaran dan arah. Beberapa besaran fisika yang dinyatakan dengan vektor seperti : perpindahan, kecepatan dan percepatan.

a. jenis-jenis segitiga di tinjau dari panjang sisinya. (i) segitiga sebarang. Adalah segitiga yang disisi-sisinya tindak samapanjang AB BC AC

C. y = 2x - 10 D. y = 2x + 10

PERSAMAAN GARIS LURUS

MATEMATIKA. Sesi VEKTOR 2 CONTOH SOAL A. DEFINISI PERKALIAN TITIK

Vektor di Bidang dan di Ruang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Struktur Kristal. Modul 1 PENDAHULUAN

BAB II PERSAMAAN KUADRAT DAN FUNGSI KUADRAT

MODUL 4 LINGKARAN DAN BOLA

Perkalian Titik dan Silang

GEOMETRI ANALITIK PERTEMUAN2: GARIS LURUS PADA BIDANG KOORDINAT. sofyan mahfudy-iain Mataram 1

01 : STRUKTUR MIKRO. perilaku gugus-gugus atom tersebut (mungkin mempunyai struktur kristalin yang teratur);

Matematika Teknik Dasar-2 5 Perkalian Antar Vektor. Sebrian Mirdeklis Beselly Putra Teknik Pengairan Universitas Brawijaya

PREDIKSI SOAL UAN MATEMATIKA 2009 KELOMPOK TEKNIK

D. GEOMETRI 2. URAIAN MATERI

b = dan a b= 22. Jika sudut antara a dan b adalah a, maka

1. Target: mahasiswa undergraduate menjelang tingkat akhir atau mahasiswa graduate tanpa latar belakang fisika zat padat.

2. Memahami dan mampu menyelesaikan Permasalahan yang berkaitan dengan vektor di Ruang Tiga, yaitu Persamaan Bidang

GAMBAR PROYEKSI ORTOGONAL

MENGGAMBAR BIDANG A. MEMBAGI GARIS DAN SUDUT

D. 90 meter E. 95 meter

01. Perhatikan persegi panjang ABCD di bawah ini. Jika OA = 26 cm, maka panjang BO adalah... (A) 78 cm (B) 52 cm (C) 26 cm (D) 13 cm

B.1. Menjumlah Beberapa Gaya Sebidang Dengan Cara Grafis

SOAL TO UN SMA MATEMATIKA

Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional Tahun 1985 Matematika

UJIAN NASIONAL UTAMA. SMP/MTs MATEMATIKA + - PREDIKSI TAHUN PELAJARAN 2017/2018. Matematika SMP/MTs. Selasa, 24 April 2018 (

KIMIA FISIKA KESETIMBANGAN CAIR-UAP & PADAT-UAP. Prof. Heru Setyawan Jurusan Teknik Kimia FTI ITS

DALIL PYTHAGORAS DAN PEMECAHAN MASALAH GEOMETRI

Pertemuan ke 11. Segiempat Segiempat adalah bidang datar yang dibatasi oleh empat potong garis yang saling bertemu dan menutup D C

18. VEKTOR. 2. Sudut antara dua vektor adalah. a = a 1 i + a 2 j + a 3 k; a = 2. Penjumlahan, pengurangan, dan perkalian vektor dengan bilangan real:

MATEMATIKA EBTANAS TAHUN 1993

MENGGAMBAR BIDANG A. MEMBAGI GARIS DAN SUDUT

D. 18 anak Kunci : C Penyelesaian : Gambarkan dalam bentuk diagram Venn seperti gambar di bawah ini :

GAMBAR TEKNIK PROYEKSI ISOMETRI. Gambar Teknik Proyeksi Isometri

KEDUDUKAN DUA GARIS LURUS, SUDUT DAN JARAK

Diferensial Vektor. (Pertemuan III) Dr. AZ Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

VEKTOR 2 SMA SANTA ANGELA. A. Pengertian Vektor Vektor adalah besaran yang memiliki besar dan arah. Dilambangkan dengan :

yang tak terdefinisikan dalam arti keberadaannya tidak perlu didefinisikan. yang sejajar dengan garis yang diberikan tersebut.

A. PERSAMAAN GARIS LURUS

MATEMATIKA. Sesi VEKTOR A. DEFINISI VEKTOR. a. Unsur-Unsur Vektor. b. Notasi Vektor

Geometri di Bidang Euclid

Vektor Ruang 2D dan 3D

Geometri Ruang (Dimensi 3)

SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2009/2010

SOAL DAN SOLUSI PEREMPATFINAL KOMPETISI MATEMATIKA UNIVERSITAS TARUMANAGARA 2011

Untuk lebih jelasnya, perhatikan uraian berikut.

Jika persegi panjang ABCD di atas diketahui OA = 26 cm, maka panjang BO adalah... A. 78 cm. C. 26 cm B. 52 cm. D. 13 cm Kunci : C Penyelesaian :

Bilangan Real. Modul 1 PENDAHULUAN

PENERAPAN FAKTOR PRIMA DALAM MENYELESAIKAN BENTUK ALJABAR (Andi Syamsuddin*)

Matematika Ujian Akhir Nasional Tahun 2004

VEKTOR. Makalah ini ditujukkan untuk Memenuhi Tugas. Disusun Oleh : PRODI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL MATEMATIKA SMP/MTs TAHUN PELAJARAN 2014/2015-TANGGAL 5 Mei 2015

Kata Pengantar. Puji syukur kehadirat Yang Maha Kuasa yang telah memberikan pertolongan hingga modul ajar ini dapat terselesaikan.

MODUL MATEMATIKA KELAS 8 MARET 2018 TAHUN PELAJARAN 2017/2018

Aljabar Linier Elementer. Kuliah ke-9

Transkripsi:

BAB I Geometri dan Prinsip Dasar Kristal 1.1. Geometri analitik 1.1.1. Sistem koordinat... 1.1.2. Persamaan bidang... 1.1.3. Sistem koordinat resiprok... 1.1.4. Perbandingan aksial 1.1.5. Zona dan sumbu zona... 1.2. Hukum dan postulat kristalografi... 1.2.1. Hukum konstanta sudut... 1.2.2. Hukum indeks rasional... 1.2.3. Postulat kristalografi... 1.3. Definisi kristal... 1.3.1. Struktur kuasi periodik dan aperiodik... 1.3.2. Struktur nyata, teratur dan tidak teratur... 1.4. Kisi dan struktur kristal... 1.4.1. Ukuran satuan sel... 1.4.2. Isi satuan sel... 1.4.3. Bagian asimetri satuan unit sel...

2 1 Geometri dan Prinsip Dasar Kristal Geometri Kristal 1.1. Geometri analitik 1.1.1. Sistem koordinat Tiga sumbu diperlukan untuk menggambarkan suatu kristal (Gambar 1.1). Kita harus melihat kemudian bahwa arah tersebut (tepi kristal) dihubungkan secara erat pada simetri kristal, dalam beberapa kasus, suatu pilihan sumbu segi empat kemudian muncul secara natural. Bentuk kristal dinyatakan dengan perpotongan penampang kristal pada sumbu kristalografi dan sudut antar sumbu. Gambar 1.1. Kristal ortorombik ideal dengan sumbu kristalografi Geomteri kristal dinyatakan dengan seperangkat tiga sumbu yang disebut sumbu kristalografi dan sudut-sudut antara sumbu (Gambar 1.2). Sumbu-sumbu dapat berimpit atau sejajar dengan rusuk penampang kristal.

Geometri Kristal 3 Z z a c b Y y X x Gambar 1.2. Sumbu kristalografi dan sudut antar sumbu Untuk menyatakan ke tiga sumbu kristalografi dengan mudah melalui aturan tangan kanan, seperti pada Gambar 1.2. Sumbu X, Y, dan Z secara berturut-tutrut digambarkan sebagai jari tengah, ibu jari dan jari telunjuk. Sudut merupakan sudut antara sumbu Y dan Z, antara sumbu Z ={ b,c }, Gambar 1.2. Penggunaan aturan tangan kanan sebagai sumbu kristalografi

4 Geometri Kristal 1.1.2. Persamaan bidang Gambar 1.3 menunjukkan bidang ABC memotong sumbu x, y, dan z secara berturut-turut pada A, B, dan C. Garis ON merupakan suatu garis yang tegak lurus pada bidang ABC dengan panjang d. Garis OA, OB, dan OC memiliki panjang secara berturut-turut a, b, dan c. Hubungan d terhadap a, b, dan c dinyatakan sebagai: d = a cos cos. c b a Gambar 1.3. Bidang ABC pada ruang tiga dimensi Titik N merupakan suatu titik dengan koordinat (X,Y,Z) berada pada bidang ABC. Dibuat suatu garis dari N yang sejajar OC, maka akan memotong bidang AOB pada K membentuk garis NK, selanjutnya dari titik K dibuat garis yang sejajar OB maka akan memotong OA pada titik M. Panjang OM, MK, dan KN secara berturut-turut sebesar X, Y, dan Z. Panjang ON merupakan penjumlahan OM, MK dan KN, maka : d = X cos os... Dalam OAN, d = OA cos d = OB cos d = OC cos = c cos atau cos = d/c

Geometri Kristal 5 maka persamaan (1.1) di atas menjadi : X cos X (d/a) + Y (d/b) + Z (d/c) = d d{(x/a) + (Y/b) + (Z/c)} = d (X/a) + (Y/b) + (Z/c) = 1... (1.2) Persamaan (1.2) merupakan bentuk persamaan bidang ABC. Gambar 1.4. Persamaan bidang (1.2), (X/a) + (Y/b) + (Z/c) = 1 dapat dinyatakan sebagai hu + kv + lw = 1, dimana a = a/h, b = b/k dan c/l, maka persamaan (1.2) menjadi (Xh/a) + (Yk/b) + (Zl/c) = 1, dengan besaran skalar dari vektor tersebut yaitu (u,v,w) = (X/a,Y/b,Z/c) dan (h,k,l). 1.1.3. Sistem koordinat resiprok Pengenalan sistem koordinat resiprok yang muncul secara rekaan, tidak dibutuhkan dalam geometri kristalografi tetapi penggunaannya secara sederhana sering muncul pada perhitungan. Apabila sistem koordinat langsung dinyatakan sebagai a, b, dan c, maka sistem koordinar resiprok didefinisikan sebagai a *, b *, dan c *. Dengan kata lain bahwa panjang a *, b *, dan c * merupakan resiprok dari panjang a, b, dan c. Jika a, dan c dinyatakan dengan meter, maka a *, b *, dan c * berdimensi meter -1. Vektor resiprok a *, b *,

6 Geometri Kristal dan c * tidak secara umum sejajar a, b, dan c, serta memiliki harga tidak sama dengan 1/a, 1/b,dan 1/c. Gambar 1.5. Sumbu kristalografi dan resiprok Secara matematis hubungan besaran skalar a, b, c dengan a *, b *, c * sebagai: a * a = b * b = c * c = 1; a * b = a * c = b * a = b * c = c * a = c * b = 0 Berdasarkan hal ini, defenisi matematis a *, b *, dan c * : a * = (b x c)/(a b c), b * = (c x a)/(a b c), dan c * = (a x b)/(a b c) dimana, (a b c) = a (b x c) = b (a x c) = c (a x b), merupakan volume... 1.1.4. Perbandingan aksial Apabila kedua sisi pada persamaan (1.3) dikalikan dengan b, maka akan diperoleh persamaan baru : h X l Z + ky + = 0 a / b c / b Harga a/b dan c/b diistilahkan sebagai perbandingan aksial yang dapat disimpulkan dari morfologi kristal. 1.1.5. Zona dan sumbu zona Kebanyakan kristal yang terbentuk baik memiliki permukaan teratur dalam kelompok dari dua atau lebih dengan mematuhi arah pasti dalam kristal. Dengan kata lain, kristal menunjukkan simetri, ciri-ciri ini

Geometri Kristal 7 merupakan perwujudan keadaan luar dari keteraturan susunan atom dalam kristal. Gambar 1.6 merupakan kristal zirkon (ZrSiO 4 ) dan menunjukkan contoh kristal yang memiliki simetri tinggi. kristal tersebut jelas menunjukkan beberapa permukaan memiliki arah bersamaan. Masing-maing permukaan dikatakan terletak dalam suatu zone, dan arah yang sama disebut sumbu zona. Dengan demikian zona dibentuk oleh kumpulan bidang kisi langsung yang memotong sesuai dengan garis potong sejajar, sedangkan sumbu zona merupakan arah garis potong tersebut. Gambar 1.6. Zirkon (ZrSiO 4 ): suatu kristal dengan simetri tinggi Dua permukaan,(h 1 k 1 l 1 ) dan (h 2 k 2 l 2 ) didefinisikan sebagai zona, sedangkan sumbu zona adalah garis perpotongan dua bidang dan dinyatakan melalui penyelesain dengan persamaan berikut : (h 1 X/a) + (k 1 Y/b) + (l 1 Z/c) = 0 dan (h 2 X/a) + (k 2 Y/b) + (l 2 Z/c) = 0 X a( k1l2 k2l1 ) = Y b( l1h 2 l2h1 ) Z = c( h1 k2 h2k1) X/(aU) = Y/(bV) = Z/cW) dimana [UVW] merupakan simbol zona

8 Geometri Kristal 1.2. Hukum dan postulat kristalografi 1.2.1. Hukum konstanta sudut Hukum konstanta sudut diajukan oleh ahli berkebangsaan Denmark yang bernama Nils Steensen (1669) untuk kristal kwarsa. Gambar 1... Penggambaran bagian kanan dari prisma dua kristal kuarsa Untuk semua sampel kuarsa yang dipelajari ditemukan bahwa sudut diedre antara dua muka selalu sama dengan 120 o. Hukum tersebut di atas diberlakukan untuk kristal secara umum oleh ahli berkebangsaan Italia, Domenico Guglielmini (1688) dan berkebangsaan Swis, Moritz Anton Cappeler (1723).Selanjutnya, Jean Bantiste Louis de l Isle (1978) dari Perancis membuat rumusan pendapat ahli-ahli di atas : Sudut antara dua permukaan tidak akan berubah akibat pertumbuhan kristal, dengan demikian sudut tersebut tidak bergantung dari jarak permukaan ke suatu titik tertentu Sudut-sudut antar permukaan berkaitan dari dua individu yang memiliki

Geometri Kristal 9 jenis kristal yang sama adalah sama (pada temperatur dan tekanan sama) Pada kondisi fisik tertentu, sudut-sudut antar permukaan merupakan karakteristik untuk satu jenis kristalin (Perlu dicatat bahwa konstanta sudut untuk individu yang jenisnya sama tidak berarti bahwa kristal yang jenisnya berbeda harus ditunjukkan dengan sudut yang berbeda) Princip Bernhardi (1890): jumlah dan dimensi permukaan kristal tidak khas, masing-masing kristal memiliki kekhasan yang asli (habitus), yang terpenting adalah arah dan orientasi yaitu arah garis potong dan normales de faces (Gambar 1.7). Gambar 1.7. Prinsip Bernhardi : tiga polihedral dengan sudut yang sama pada 60 dan 90 antar permukaan normal 1.2.2. Hukum indeks rasional Hukum kristal ini menjelaskan bahwa permukaan suatu kristal tidak membentuk suatu polihedral arbiter. Hukum ini ekuivalen dengan hukum stokiometri dalam kimia, dirumuskan oleh René Just Hauy (1743-1826), juga oleh Ch. S. Weiss, F. Neumann dan W.H. Miller (awal pertengahan abad XIX). 1.2.2.1. Indeks Weiss Gambar 1.8 menunjukkan tiga bidang yang berbeda yaitu P, Q, dan R. Bidang P disebut bidang 1,1,1 karena memotong sumbu x, y dan z secara berturut-turut sepanjang a, b, dan c, bidang Q disebut bidang ½,¾,, karena memotong sumbu x, y dan z secara berturut-turut sepanjang ½a, ¾b, dan (sejajar sumbu z), sedangkan bidang R disebut bidang ½,¾, 1, karena 3

10 Geometri Kristal memotong sumbu x, y dan z secara berturut-turut sepanjang ½a,¾b,1/3c. Cara menyatakan bidang-bidang sebagaimana cara di atas merupakan cara indeksasi Weiss atau sistem indeks Weiss. Dengan demikian, indeks Weiss bidang P : (1,1,1), bidang Q :( ½,¾, ), sedangkan bidang R : (½,¾, 1 ). 3 Gambar 1.8. Perpotongan bidang kristalografi Sistem indeks Weiss mengandung kelemahan, karena mempunyai besaran tak hingga untuk bidang yang sejajar dengan sumbu, oleh karena itu indeks Weiss tidak digunakan untuk menggambarkan bidang. 1.2.2.2. Indeks Miller Untuk menghindari besaran tak hingga pada indeks Weiss di gunakan indeks Miller. Dalam gambar 1.5, perpotongan bidang-bidang dengan sumbu kristalografi secara umum semuanya sama, dan perpotongan itu secara sebarang di beri nama a, b, dan c berturut-turut sepanjang sumbu x, y dan z. Indeks Miller dapat didefinisikan suatu bidang parameter sebagai a/h, b/k, c/l, yang direduksi menjadi bilangan utuh yang paling sederhana. Lambang h, k, dan l mewakili perpotongan bidang yang ditinjau berturut-turut dengan sumbu x, y, dan z relatif terhadap terhadap perpotongan bidang parameter. Dengan demikian, bidang parameter (bidang P pada gambar 1.5) akan mempunyai indeks Miller a b c atau (111). Tentu saja indeks untuk bidang a b c parameter selalu 111 karena perpotongannya selalu dipilih a, b, dan c. Dalam gambar 1.5, bidang Q memiliki indeks Miller h a k b c atau l

Geometri Kristal 11 ½ 1 ¾ 1 1, yang dapat ditata ulang menjadi 2, 4 3,0 dan dengan jalan menghilangkan pecahan indeks tersebut berubah menjadi (640). Disinilah kita dapat melihat mengapa perpotongan (hkl) disebut sebagai perpotongan kebalikan (reciprocal intercepts). Bidang R memiliki indeks Miller Miller a b c atau 1 1, yang dapat ditata ulang menjadi 2, 4,3 dan dengan h k l 1/2 ¾ 11 3 3 jalan menghilangkan pecahan akan menjadi (649). Dalam praktek, tidak biasa mendapatkan indeks sampai sebesar 6. Dari persamaan (1.2) tentang persamaan bidang, persamaan perpotongan bidang (hkl) dapat ditulis sebagai : (hx/a) + (ky/b) + (lz/c) = 1 (1.2) Persamaan dari bidang sejajar melewati the origin yaitu (hx/a) + (ky/b) + (lz/c) = 0 (1.3) 1.2.2.3. Indeks Miller-Bravais Dalam kristal yang mempertunjukkan simetri kelipatan enam (sixfold symetry), empat sumbu koordinat harus digunakan. Sumbu-sumbu tersebut dinyatakan sebagai X, Y, U, dan Z. Sumbu-sumbu X, Y, dan U terletak pada satu bidang, pada.., dan sumbu Z tegak lurus terhadap bidang XYU (gambar 1.8). Dengan demikian, bidang-bidang dalam kristal ini digambarkan oleh empat bilangan, yang disebut indeks Miller-Bravais h, k, i, dan l. Gambar 1.9. Indeks Miller-Bravais (hkil). Sumbu-sumbu kristalografik dinyatakan X,Y,U,Z dan penggambaran bidang

12 Geometri Kristal (23 _ 5 4), bidang parameter yaitu (11 _ 2 1) Indeks i bergantung dari h dan k. Apabila bidang ABC dalam gambar 1.9 memotong sumbu X dan Y pada a/2 dan b/3, kemudian misalnya memotong sumbu U pada u/5, dan memotong sumbu Z pada c/4, maka bidang dinyatakan sebagai (23 _ 5 4). Secara umum, i = -(h+k) dan bidang parameter yaitu (11 _ 2 1). Kita dapat membuktikan bahwa i = -(h+k) dengan menggunakan gambar 1.9. Dari definisi indeks Miller, OA = a/h, OB = b/k, AOD = 60 OD = DE = OE = p Segitiga EBD dan OBA merupakan segitiga yang setipi/mirip, maka: ED EB = OB = OA a b / / h k tetapi EB = b/k p maka, b/ k p = p a b / / h k atau p = bh ab ak karena a=b=u dalam kristal dengan sixfold symetry (heksagonal), maka : p = u/(h+k), penulisan sebagai u/i, maka diperoleh :i = -(h+k) Alternatif lain, pendekatan dilakukan melalui penggambaran traces bidang (hkil) dari +u, akan dapat dibuktikan juga bahwa i = -(h+k).

Geometri Kristal 13 Gambar 1.10. Indeks Miller-Bravais (hkil) 1.2.3. Postulat kristalografi Hukum indeks rasional telah dirumuskan oleh Bravais dalam bentuk yang lebih umum sebagai berikut : 1.2.3.1. Postulat Bravais Akhir abad ke XIX, postulat ini dilengkapi dan diformulasikan ulang hampir secara bersamaan dengan cara tidak saling berhubungan satu sama lain oleh Schonflies dan Fedorov : 1.2.3.2. Postulat Schonflies dan Fedorov 1.3. Kisi, Motif dan Struktur Suatu kristal ideal disusun oleh atom yang teratur dan berulang.

14 Geometri Kristal Gambar 1.11. Motif, kisi dan struktur 1.4. Definisi Kristal 1.4.1. Struktur kuasi periodik dan aperiodik 1.4.2. Struktur nyata, teratur dan tidak teratur 1.5. Proyeksi Stereografi Keadaan umum tentang ciri-ciri keadaaan luar suatu kristal disebut morfologi kristal. Penjelasan secara analistis tentang bidang dan zona yang diberikan di atas tidak mencukupi untuk suatu pengetahuan serempak dari banyak permukaan ditunjukkan oleh suatu kristal. Penggambaran kristal dalam dua dimensi sangat perlu. Untuk suatu kajian morfologi kristal, sudut antar permukaan, yang merupakan ciri-ciri fundamental suatu kristal harus digambarkan dalam proyeksi bidang, dan proyeksi stereografi merupakan bermanfaat untuk tujuan ini. Selanjutnya, pada kristal yang terbentuk dengan tidak sempurna, simetri sesungguhnya tidak mungkin jelas melalui pengamatan, sebaliknya untuk kristal yang baik, simetri mungkin secara lengkap terungkap oleh proyeksi stereografi.

Geometri Kristal 15 Gambar 1.12... Proyeksi bentuk bola dari kristal kubik Gambar 1.13. Diagram Wuff

16 Geometri Kristal