4 BAB IV PENGUMPULAN dan PENGOLAHAN DATA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "4 BAB IV PENGUMPULAN dan PENGOLAHAN DATA"

Transkripsi

1 4 BAB IV PENGUMPULAN dan PENGOLAHAN DATA 4.1 Pengumpulan Data Sejarah Umum dan Perkembangan Perusahaan Pada awalnya untuk merencanakan serta membuat pesawat terbang di Indonesia, baru terwujud setelah proklamasi kemerdekaan yang ditujukan untuk kelencaran pertahanan dan keamanan. Dengan dipelopori oleh pemuda-pemuda seperti Wiweko Supomo (mantan Direktur Utama Garuda) dan Nurtaino Pringgo Adisuryo pada tahun 1946 di Magetan, dibuatlah sebuah bengkel kecil yang dikenal dengan nama Seksi Percobaan yang berada dibawah pengawasan Komando Depot Perawatan Mayor Udara Nurtaino. Berkat pimpinan mayor Nurtaino, mereka mampu merancang pesawat terbang yang pertama dengan nama SIKUMBANG. Sejalan dengan pertumbuhan dan kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia maka makin tumbuh pula kesadaran akan pentingnya penerbangan baik dalam masa damai maupun dalam masa perang. Untuk itu pada tanggal 16 Desember 1961 dibentuk LAPIP (Lembaga Persiapan Industri Pesawat Terbang) yang ditugaskan untuk mempersiapkan pembangunan Unit Industri Penerbangan yaitu membuat Pesawat Terbang dan menyediakan Suku Cadang. Dengan gugurnya Komandan Udara Nurtaino Pringgo Adisuryo pada tanggal 21 Maret 1966 karena kecalakaan pesawat terbang yang terjadi ditengah kota Bnadung, maka untuk menghormati dan mengabadikan jasa-jasanya LAPIP dirubah menjadi LIPINUR (Lembaga Industri Pesawat Terbang Nurtaino). 38

2 39 Pada masa kegiatan LIPINUR hanya memiliki kurang lebih dari 500 personil, kemudian berdasarkan akta notaries nomor 15 tanggal 28 April 1976 di Jakarta didirikan sebuah perseroan yaitu PT.IPTN. Maka secara resmi PT. IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) berdiri tanggal 23 Agustus 1976 dengan Direktur Utama Prof. Dr. Ing. Bj. Habibie dengan surat keputusan Presiden nomor 15 tanggal 17 April Kehadiran PT. IPTN dalam peraturan Industri Kawasan Prodiksi II, III,dan IV. Pengembangan personil dimulai hanya 500 karyawan pada tahun 1976 dan 900 karyawan pada tahun 1983 dan akhir tahun 1990 sampai sekarang sudah mencapai kurang lebih karyawan dengan kualifikasi tertentu. Hal ini penting artinya dalam hubungan terbuka secara luas lapangan kerja teknologi tinggi sekaligus peningkatan kemampuan sumber daya manusia Indonesia. Menginjak usia sepuluh tahun diselenggarakan Indonesia Air Show (IAS) 1986 yang menaruh perhatian masyarakat luas baik Nasional maupun Internasional. Tahun 1987 kerjasama produksi dengan General Dynamic untuk pembuatan komponen pesawat tempur F-16 di realisasikan. Sementara itu sub-kontrak pembuatan komponen Pesawat Terbang Boeing 767 dan 737 dengan lanjut yang lebih maju dan modern. Kini memasuki dasa warsa yang kedua PT. IPTN tidak hanya mempertahankan dan meningkatkan penguasaaan teknologi, tetapi juga mulai mengarah kepada upaya bisnis industri pesawat terbang yang sesungguhnya. Hal ini dibuktikan dengan dikembangkanya suatu produk baru pesawat N-250 yang sepenuhnya hasil rancanagn bangsa Indonesia. Adapun jenis pesawat terbang tersebut adalah: NC-212, NC-235, NEO-105, NSA-330 (PUMA), NAS-332 (SUPER PUMA), NBK-117, NBELL-412. Dalam rangka meningkatkan peluang-peluang alih teknologi dan bisnis PT. IPTN bersama dengan New Media Development Organization Japan mendirikan patung Nusantara System Internasional (NSI) yang bergerak dalam bidang perangkat lunak komputer, perusahaan yang didirikan pada tahun 1988 tersebut telah beroperasi. Untuk lebih memperluas pemasaran bagi produk-produknya khususnya diwilayah Amerika sejak tahun 1992 yang lalu, PT. IPTN memiliki Branch Office yang berkedudukan di Seatle America. PT. IPTN pada dasawarsa pertama dalam 39

3 40 mewujudkan kemampuan teknologi pembuatan pesawat terbang sekaligus sebagai dasar langkah lanjut yang lebih maju. Selama 24 tahun PT.IPTN telah berkembang dengan pesat, untuk itu guna memperluas bidang usahanya diberbagai jenis bidang maka PT.IPTN dirubah menjadi PT. Dirgantara Indonesia pada tahun 2000 oleh Presiden Abdulrrahman Wahid. Dengan nama yang baru PT. Dirgantara Indonesia tidak dikhususkan hanya dalam pembuatan pesawat terbang saja tetapi usaha-usaha lain, seperti: Sparepart. Jasa Perawatan. Technical Publication. Shop (Repair). Training. Dan pada tahun ini PT. Dirgantar Indonesia tidak hanya khusus memproduksi pesawat terbang tetapi berbagai produk contohnya, sistem persenjataan untuk mendukung pesawat yang ada di Devisi Sistem Persenjataan (Div. Sista) dan disamping itu juga telah membangun klinik dan hotel. Aspek kegiatan pada PT. Dirgantara Indonesia diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Sparepart. Yaitu seperti penjualan suku cadang pesawat terbang yang telah dibuat oleh PT. Dirgantara Indonesia. 2. Jasa Perawatan. Yaitu jasa perawatan yang dilakukan oleh PT. Dirgantara Indonesia, misalnya: melakukan perawatan pesawat terbang kepada Negara-Negara lain yang membeli pesawat kepada PT. Dirgantara Indonesia. 3. Shop (Repair). Yaitu apabila ada pesawat terbang yang rusak baik dalam negeri ataupun dari luar negeri dan memerlukan perbaikan maka PT. Dirgantara Indonesia yang akan memperbaikinya. 40

4 Hasil Produksi PT.Dirgantara Indonesia Berikut adalah daftar produk yang dihasilkan oleh PT. Dirgantara Indonesia, yaitu: 1. Pesawat NC Pesawat CN Pesawat N Helicopter NBO Helicopter NBEL Helicopter PUMA. Gambar 4-1 Produk Helicopter PT. Dirgantara Indonesia Lokasi PT. Dirgantara Indonesia Pada kegiatan ini dilakukan pada bagian Divisi Eurocopter tepatnya di Direktorat Aerostructure PT. Dirgantara Indonesia yang beralamatkan di Jl. Padjadjaran No. 154 Bandung Telepon : , Fax : Website dan dan [email protected] Pemasaran Produk PT. Dirgantara Indonesia Hasil produk PT.Dirgantara Indonesia diantaranya sebagai berikut : 1. Dalam Negeri: Merpati, Garuda, TNI AU. 2. Negara-Negara ASEAN. 3. Timut Tengah dan Asia Barat. 41

5 42 4. Asia Timur dan Asia Selatan. 5. Amerika Utara. 6. Afrika. 7. Korea Struktur Organisasi dan Manajemen PT Dirgantara Indonesia Visi dan Misi PT Dirgantara Indonesia Visi PT Dirgantara Indonesia Menjadi perusahaan kelas dunia dalam bidang industeri Dirgantara yang berbasis pada penguasaan teknologi tinggi dan mampu bersaing dalam pasar global, dengan mengandalkan keunggulan biaya. Misi PT Dirgantara Indonesia 1. Menjalankan usaha dan selalu berorientasi pada aspek bisnis dan komersil,dan dapat menghasilkan produk serta jasa yang memiliki keunggulan biaya. 2. Sebagai pusat keunggulan di bidang industeri kedirgantaraan, terutama dalam rekayasa, rancang bangun, manukfatur, produksi dan pemeliharaan untuk aplikasi diluar industri global yang berkompeten untuk bersaing dan melakukan aliansi strategis dengan industri dirgantara kelas dunia lainya. 3. Menjadikan perusahaan sebagai pemain kelas dunia di industri global yang mampu bersaing dan melakukan aliansi strategis dengan industri dirgantara kelas dunia lainya. Organisasi pada PT Dirgantara Indonesia Direktorat Aerostructure menggunakan struktur Devisi yaitu dimana setiap menager bertanggungjawab atas hampir semua fungsi yang dilakukan dalam membuat dan mendistribusikan kelompok atau lini produk masing-masing divisi. Direktorat Aerostructure terdiri dari 3 Departemen dan 4 Divisi, yaitu: Departemen: 1. Departemen Quality Control Jaminan Mutu, Kode Departemen AI Departemen Urusan umum dan Akuntansi, Kode Departemen AI Depertemen rekayasa, kode departemen AI

6 43 Devisi : 1. Devisi Asisten Direktur Bidang Produk Militer, Kode Devisi MI Devisi Sales and Marketing Aerostructure, Kode Devisi BI Devisi Operation Aircraft Integration, Kode Devisi OI Devisi Logostic and Costomer Support, Kode Devisi CI0000. Bagan 4-1 Struktur Organisasi PT. Dirgantara Indonesia Struktur organisasi PT. Dirgantara Indonesia ini merupakan struktur organisasi fungsional dimana pembagian-pembagian devisi berdasarkan pad fungsi dari masingmasing devisi yang ada pada perusahaan. Adapun tugas dan wewenangnya adalah sebagai berikut: 1. Departemen Quality Control / Jaminan Mutu. a. Bertanggungjawab atas pelaksanaan dan pengawasan terhadap sistem prosedur pengendalian mutu mulai dari bahan baku sampai menjadi barang jadi. b. Bertanggungjawab terhadap pengecekan dan pengawasan kualitas bahan baku yang akan dipakai, dan hasil produksi yang dihasilkan (barang jadi). 43

7 44 c. Bertanggungjawab atas kualitas bahan baku dan produk jadi yang dihasilkan. 2. Departemen Urusan Umum dan Akuntansi. a. Menetapkan kebijakan pelaksanaan pengolahasn dana, yang meliputi penerimaan, penggunaan, pertanggungjawaban administrasi, pengendalian dan pengawasan. b. Menyusun program kerja jangka pendek dan jangka panjang yang meliputi penerimaan dan penanggungan dana serta pertanggungjawaban administrasi yang sesuai dengan neraca kerja perusahaan. c. Menyusun dan menyimpan laporan keuangan yang meliputi neraca, laba-rugi, cash flow, dan laporan-laporan keuangan lainnya. 3. Departemen Rekayasa a. Lisensi Aircraft. b. Membuat dan bertanggungjawab dalam pembuatan bagian-bagian pesawat yang terdiri atas badan pesawat, pintu pesawat, dan sayap pesawat. 4. Devisi Asisten Direktur Bidang Produk Milter. a. Mengatur dan menetapkan produk miter yang akan dipakai. b. Mengatur dan menetapkan jenis produk militer yang dipakai. 5. Divisi Sales and Marketing Aerostructure. a. Mengatur dan menetapkan strategi pemasaran yang baik untuk memasarkan produksinya baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek. b. Mempelajari keadaan pasar dalam rangka melaksanakan produksinya. c. Menyusun dan mempertahankan kontrak dengan Costumer dan membuat special produk sesuai permintaan. d. Mengusahakan untuk meningkatkan penjualan yang ada serta menjalankan kebijaksanaan dalam penjualan. 6. Devisi Operation Aerostructure a. Membuat dan merancang bangun pesawat terbang. b. Melaksanakan rancangan yang telah dibuat. 7. Devisi Logistic and Costumer Support a. Menetapkan kebijakan pelaksanaan pengolahan perrsedian yang meliputi pembelian, penerimaan, pengeluaran, pertangungjawaban administraasi, pengendalian serta pengawasan persediaan. 44

8 45 b. Menetapkan metode untuk penanganan, keamanan penyimpanan, mencegah kerusakan persedian bahan baku dan menjamin kesesuaian kulaitas bahan baku yang diterima supplier. c. Bertanggungjawab atas technical support, technical publication, and costumer training Tenaga Kerja dan Jam Kerja Tenaga Kerja Tenaga kerja merupakan salah satu dari lima elemen penting dalam berdirinya perusahaan (Man, Material, Machine, Methode, Money). Tenaga kerja adalah elemen penting dari perusahaan untuk menjaga, mengontrol dan meningkatkan proses produksi yang sedang dan akan dijalankan oleh perusahaan. PT Dirgantara Indonesia. memiliki jumlah tenaga kerja sekitar ± orang. Sebagian besar jumlah tenaga kerja didominasi oleh tim member bagian produksi. Jam Kerja Jam kerja yang diberlakukan di dalam PT Dirgantara Indonesia. disesuaikan dengan jam kerja yang telah ditetapkan oleh Departemen Tenaga Kerja dan Transporasi (Depnakertrans). PT Dirgantara Indonesia. memberlakukan jam kerja operasional sebagai berikut : Tabel 4-1 Waktu Jam Kerja Hari Jam Kerja Jam Istirahat Senin-Kamis WIB WIB Jum'at WIB WIB Penentuan Objek Penelitian PT Dirgantara Indonesia. memproduksi beberapa item produk yang berasal dari puluhan group produk. Mengingat begitu banyaknya item produk yang diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia. maka, Penulis mengamati item produk Tail Boom Eurocopter. Diharapkan dengan memilih item produk Tail Boom Eurocopter, dapat membantu PT Dirgantara Indonesia. dalam mengidentifikasi kemungkinan penggunaan tipe lot size selain dari yang saat ini dipergunakan oleh Seksi Production and Planning Control (Seksi PPC) di PT Dirgantara Indonesia. 45

9 Data Permintaan Tail Boom Eurocopter Untuk melakukan penelitian ini Penulis membutuhkan data terkait dengan jumlah permintaan Tail Boom Eurocopter. Data permintaan ini akan dibutuhkan Penulis untuk mengolah data peramalan. Data hasil peramalan ini selanjutnya akan dipakai untuk menerapkan metode persediaan Fixed Period Requirement (FPR), Lot For Lot (LFL), Fixed Order Quantity (FOQ), Least Total Cost (LTC), Fixed Period Requirement (FPR). Kelima metode ini merupakan bagian dari analisa penerapan Material Requirement Planning (MRP I) di PT Dirgantara Indonesia. Berikut data permintaan Tail Boom Eurocopter dari tahun 2002 sampai dengan tahun Tabel 4-2 Data Permintaan Tail Boom Eurocopter Periode Periode Permintaan (unit) Lead Time Tail Boom Eurocopter dan Komponen Penyusunnya Di dalam pembuatan Master Production Schedule (MPS), terdapat kolom kolom penting yang harus diisi. Pengisian kolom ini membutuhkan keterangan pelengkap berupa Lead time produk utama dan komponen penyusunnya. Berikut rangkuman data mengenai lead time dan komponen penyusunnya. 46

10 47 Tabel 4-3 Lead Time Tail Boom Eurocopter dan Komponen Penyusunnya No Level Komponen Kuantitas (unit) Measure Lead Time 1 0 TAIL BOOM 1 Pcs 1 Tahun 2 1 CONE-PYLONE-JUNCTION 1 Pcs 2 Tahun 3 1 KEEL-PRESENTATION 1 Pcs 2 Tahun 4 1 PYLON-ASSY 1 Pcs 2 Tahun 5 1 TAIL-BOOM-EQUIPMENT 1 Pcs 2 Tahun 6 1 TAIL-CONE-ASSY 1 Pcs 2 Tahun 7 2 CONE-PYLONE-JUNCTION-NET 1 Pcs 2 Tahun 8 2 KEEL-PRESENTATION-NT 1 Pcs 1 Tahun 9 2 PYLON-ASSY-NET 1 Pcs 1 Tahun 10 2 TAIL-BOOM-EQUIPMENT-NET 1 Pcs 1 Tahun 11 2 TAIL-CONE-ASSY-NET 1 Pcs 2 Tahun 12 3 CONE PYLON JUNCTION 4 Pcs 1 Tahun 13 3 STRUCTURE ASSY, KEEL 3 Pcs 2 Tahun 14 3 KEEL PRESENTATION 2 Pcs 2 Tahun 15 3 SUPPORT ASSY, BEARING 8 Pcs 1 Tahun 16 3 BASE ASSY ( BEARING N.5) 10 Pcs 2 Tahun 17 3 BASE ASSY (BEARING N.6) 10 Pcs 2 Tahun 18 3 TAIL BOOM EQUIPMENT 2 Pcs 2 Tahun 19 3 TAIL CONE ASSY 2 Pcs 2 Tahun 20 3 FRAME ASSY AT X Pcs 1 Tahun 21 3 FRAME ASSY, OBLIQUE 4 Pcs 2 Tahun 22 3 FRAME ASSY AT X Pcs 2 Tahun 23 3 DECK ASSY, TRANS, MK II 2 Pcs 1 Tahun 24 3 SKIN ASSY, LOWER 4 Pcs 1 Tahun 25 3 SKIN ASSY, SIDE, RH 2 Pcs 1 Tahun 26 3 SKIN ASSY SIDE LH 2 Pcs 1 Tahun 27 3 FRAME ASSY AT Pcs 2 Tahun 28 3 PYLON ASSY, MK II 2 Pcs 1 Tahun 29 3 SPAR ASSY 4 Pcs 1 Tahun 30 3 TAIL ASSY, RIB 2 Pcs 1 Tahun 31 3 SKIN ASSY, LH, FIN 2 Pcs 2 Tahun 32 3 SKIN ASSY, RH, FIN 2 Pcs 2 Tahun Biaya Material, Pesan dan Simpan Tail Boom Eurocopter dan Komponen Penyusunnya Untuk detail data mengenai besar biaya material, pesan, dan simpan, tidak diberikan secara pasti. Penulis membuat asumsi atas rincian biaya yang diperlukan. 47

11 48 Asumsi ini diperiksa dan mendapat persetujuan dari pembimbing PT Dirgantara Indonesia. Tabel 4-4 Struktur Biaya Bahan Baku Tail Boom Eurocopter No Komponen Cost Unit Simpan** Pesan* 1 TAIL BOOM $ $ $ CONE-PYLONE-JUNCTION $ $ $ KEEL-PRESENTATION $ $ 729 $ PYLON-ASSY $ $ $ TAIL-BOOM-EQUIPMENT $ $ $ TAIL-CONE-ASSY $ $ $ CONE-PYLONE-JUNCTION-NET $ $ $ KEEL-PRESENTATION-NT $ $ 729 $ PYLON-ASSY-NET $ $ $ TAIL-BOOM-EQUIPMENT-NET $ $ $ TAIL-CONE-ASSY-NET $ $ $ CONE/PYLON JUNCTION $ $ $ STRUCTURE ASSY, KEEL $ $ 521 $ KEEL PRESENTATION $ $ 208 $ SUPPORT ASSY, BEARING $ $ 313 $ BASE ASSY ( BEARING N.5) $ $ 104 $ BASE ASSY (BEARING N.6) $ $ 104 $ TAIL BOOM EQUIPMENT $ $ $ TAIL CONE ASSY $ $ 781 $ FRAME ASSY AT X12619 $ $ 208 $ FRAME ASSY, OBLIQUE $ $ 208 $ FRAME ASSY AT X10178 $ $ 208 $ DECK ASSY, TRANS, MK II $ $ 208 $ SKIN ASSY, LOWER $ $ 260 $ SKIN ASSY, SIDE, RH $ $ 260 $ SKIN ASSY SIDE LH $ $ 260 $ FRAME ASSY AT 9900 $ $ 208 $ PYLON ASSY, MK/MK2+ $ $ 208 $ SPAR ASSY $ $ 260 $ TAIL ASSY, RIB $ $ 260 $ SKIN ASSY, LH, FIN $ $ 156 $ SKIN ASSY, RH, FIN $ $ 156 $

12 49 CATATAN: *) Biaya Pemesanan atau Setup = Harga x 17,5% Angka 17,5% adalah persentase dari harga per sekali pesan (Sumber: Wawancara dengan Manager Pembelian) **) Biaya Simpan per Bulan = (Harga x 15%) / 12 bulan Angka 15% adalah resiko penyimpanan per tahun per harga satuan material, dengan estimasi sebagai berikut: Biaya penurunan barang/bongkar muat : 0,04% Biaya penyusutan dan rusak barang digudang : 0,35% Biaya pemeliharaan barang : 0,11% Biaya modal tertanam dalam perusahaan : 14,5% + Jumlah : 15% 4.2 Pengolahan Data Peramalan Data permintaan Tail Boom Eurocopter selama rentang tahun 2002 sampai dengan 2012 adalah sebagai berikut : Tabel 4-5 Permintaan Tail Boom Eurocopter (Periode ) Periode Permintaan (unit)

13 50 Data permintaan tersebut akan dipergunakan oleh Penulis untuk meramalkan jumlah permintaan Tail Boom Eurocopter untuk kurun waktu empat tahun kedepan. Dari data tersebut di atas, Penulis merefleksikannya dalam bentuk grafik. Hal in dilakukan untuk mempermudah Penulis dalam melihat pola data permintaan Tail Boom Eurocopter. Unit (Satuan) Permintaan (unit) 3,5 3 2,5 2 1,5 1 0, Periode (Tahun) Grafik 4.1 Permintaan Tail Boom Eurocopter Periode Secara garis besar grafik diatas menunjukan terjadinya Kenaikan dan penurunan permintaan. Walau tidak memperlihatkan terjadinya penurunan atau peningkatan secara konstan di waktu waktu tertentu, namun data permintaan tetap berfluktuasi seperti pola musiman dan siklikal. Dapat diperhatikan pula bahwa grafik diatas menunjukan pola kecenderungan menurun terhitung pada tahun 2005, 2007 dan tahun Berdasarkan grafik diatas Penulis menyimpulkan bahwa metode peramalan yang akan dipakai adalah peramalan dengan metode Single exponential Smooting (SES), Moving Average Kuadratik (MA), Weighted Moving Average (WMA) yang sesuai pola musiman dan siklikal. 50

14 51 1. Membuka aplikasi perangkat lunak WINQSB Modul Forecasting. Gambar 4-2 Tampilan Awal Perangkat Lunsk WinQSB Modul Forecasting 2. Membuat file Forecasting baru Gambar 4-3 WinQSB Forecast - Susun FILE forcasting problem Baru Setelah membuat file Forecasting baru, selanjutnya mengisi profil permasalahan seperti di bawah ini : Gambar 4-4 WinQSB Forecast - Tampilan Forecasting Problem Specification Tail Boom Eurocopter Pada tampilan di atas kolom pertama problem title penulis mengisi permasalahan forecasting Tail Boom Eurocopter, dan kolom ke dua diisi dengan month untuk menentukan hasil dari time unit, sedangkan untuk periodenya penulis 11 periode 51

15 52 yang didapatkan dari permintaan Tail Boom Eurocopter selama 11 tahun kebelakang. Klik OK. Selanjutnya akan muncul tabel untuk memasukan data permintaan masa lalu. Berikut merupakan tampilan yang telah diisi oleh dengan data permintaan selama delapan bulan ke belakang. Gambar 4-5 WinQSB Forecast - Pengisian data histori permintaan Tail Boom Eurocopter Tampilan tersebut terdiri dari dua kolom dan memiliki sebelas baris. Kolom pertama adalah kolom Years. Kolom ini adalah hasil dari Time Unit yang sebelumnya telah ditentukan oleh Penulis. Kolom kedua adalah Historical Data yang diisi berdasarkan jumlah permintaan atas Tail Boom Eurocopter, selama sebelas tahun ke belakang. 1. Klik Solve and Analyze Perform Forcasting Gambar 4-6 WinQSB Forecast - Solve and Analyze Perform Forecasting di WinQSB Modul Forecasting (periode ) Variasi metode peramalan yang dapat dipergunakan di dalam WinQSB Modul Forecasting 52

16 53 Gambar 4-7 WinQSB Forecast - Forecasting Setup Selanjutnya untuk perhitungan ramalan dengan menggunakan aplikasi perangkat lunak WinQSB akan dijelaskan masing masing di subbab-subbab bawah ini Single Eksponensial Smoothing (SES) Metode smoothing adalah metode peramalan dengan mengadakan penghalusan terhadap data pada masa lalu, yaitu dengan mengambil rata-rata dari nilai beberapa tahun untuk menaksir nilai pada beberapa tahun ke depan. Rumus ramalan penghalusan eksponensial sederhana: ( ) = ramalan untuk periode berikutnya α = bobot konstanta penghalus = permintaan aktual (periode sekarang) = ramalan yang telah ditentukan sebelumnya (periode sekarang) Setelah memasukan permintaan Tail Boom Eurocopter selama sebelas tahun ke belakang, lakukan pemecahan masalah dan analisa dengan memilih button Solve and Analyze. Kemudian akan keluar tampilan Forecasting Setup. Di Forecasting Setup terdapat berbagai macam metode peramalan yang bisa diaplikasikan. 53

17 54 Metode pertama yang dipilih adalah, SES (Single exponential Smooting) Gambar 4-8 WinQSB Forecast - Metode Pertama : SES (Single exponential Smooting) Search The Best Di Forecasting Setup terdapat bagian Smoothing constant alpha. Di Forecasting Setup terdapat bagian Smoothing constant alpha. Nilai α berkisar antara 0,01 sampai dengan Salah satu keuntungan dalam mengaplikasikan perangkat lunak WinQSB adalah bahwa untuk metode Single Eksponensial Smoothing user dapat meminta program untuk langsung menentukan nilai α yang memberikan hasil peramalan terbaik. Setelah selesai menentukan metode peramalan permintaan, klik OK. Kemudian akan muncul hasil peramalan seperti di bawah ini. Gambar 4-9 WinQSB Forecast - Hasil Peramalan dengan SES (Single exponential Smooting) 54

18 55 Grafik 4.2 WinQSB Forecast - Peramalan Tail Boom Eurocopter dengan SEST α =0,06 Untuk kembali ke data awal dan melakukan peramalan lagi, klik icon seperti di bawah ini Moving Average (MA) Gambar 4-10 WinQSB Forecast - Icon Return to Data Rumus metode Moving Average (MA) adalah : Dimana : Aktual ft Ft = Ramalan permintaan real untuk periode t = Permintaan aktual pada periode t 55

19 56 M = Jumlah periode yang dipergunakan sebagai dasar peramalan (nilai minimal m adalah 2) Setelah memasukan permintaan Tail Boom Eurocopter selama sebelas tahun ke belakang, prosedur yang sama dilakukan kembali dengan mengganti metode peramalan dengan Moving Average (MA). Akan keluar tampilan Forecasting Setup, dan pada kolom rata-rata periode penulis mengisi dengan rata-rata periode 2 tahun. Moving average (MA) 2 Tahun Gambar 4-11 WinQSB Forecast - Forecasting Setup MA 2 Tahun Gambar 4-12 WinQSB Forecast - Hasil Peramalan Tail Boom Eurocopter dengan MA 2 tahun 56

20 57 Berdasarkan data yang ditampilkan pada tabel diatas dapat diketahui secara langsung dengan peramalan permintaan untuk sebelas periode mendatang, nilai MAD (Mean Absolute Deviation), MSE (Mean Square Error) dan MAPE (Mean Absolute Persentage Error). Grafik 4.3 WinQSB Forecast - Peramalan Tail Boom Eurocopter dengan MA-2 tahun Penulis juga menerapkan metode Moving Average dengan kriteria perataan tahun yang berbeda. Penulis menggunakan Moving Average 3-Tahun, dan Moving Average 4-Tahun. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan akurasi data peramalan dengan lebih akurat. Prosedur yang sama dilakukan kembali dengan mengganti pada rata-rata periode yang akan diterapkan. Moving Average (MA) 3 Tahun Gambar 4-13 WinQSB Forecast - Forecasting Setup MA-3Tahun 57

21 58 Gambar 4-14 WinQSB Forecast - Hasil Peramalan Tail Boom Eurocopter dengan MA 3 tahun Grafik 4.4 WinQSB Forecast - Peramalan Tail Boom Eurocopter dengan MA-3 tahun 58

22 59 Moving Average (MA) 4 Tahun Gambar 4-15 WinQSB Forecast - Forecasting Setup MA 4 tahun Gambar 4-16 WinQSB Forecast - Hasil Peramalan Tail Boom Eurocopter dengan MA 4 tahun Grafik 4.5 WinQSB Forecast - Peramalan Tail Boom Eurocopter dengan MA-4 tahun 59

23 Weighted Moving Average (WMA) Rumus metode Weight Moving Average (WMA) adalah : Dimana : Aktual ft = Ramalan permintaan real untuk periode t Ft = Permintaan aktual pada periode t Ct = Bobot masing masing data yang dipergunakan (Σct = 1 dan pemberian bobot diberikan melalui intuisi) M = Jumlah periode yang dipergunakan sebagai dasar peramalan (nilai minimal m adalah 2) Setelah memasukan permintaan Tail Boom Eurocopter selama sebelas tahun ke belakang, prosedur yang sama dilakukan kembali dengan mengganti metode peramalan dengan Weighted Moving Average. Pemilihan metode peramalan ini juga di dasari dengan melihat pola permintaan selama sebelas tahun ke belakang. Akan keluar tampilan Forecasting Setup, dan pada kolom rata-rata periode penulis mengisi dengan rata-rata periode 2 tahun. Weighted Moving Average (WMA) 4 Tahun dengan pembobotan W(1)=0,25. W(2)=0,25. W(3)=0,3. W(4)=0,2 Gambar 4-17 WinQSB Forecast - Forecasting Setup WMA-4 Tahun dengan pembobotan W(1)=0,25. W(2)=0,25. W(3)=0,3. W(4)=0,2 Sebelum untuk mengetahui hasil peramalan WMA, terlebih dahulu penulis akan menentukan bobot untuk masing-masing periode, yaitu dengan cara klik pada form Enter Moving Average Weight seperti pada tampilan Forecasting Setup WMA diatas, 60

24 61 yang kemudian akan muncul pengaturan input bobot untuk masing-masing periode seperti di bawah ini : Gambar 4-18 Input Bobot WMA-4 Tahun dengan pembobotan W(1)=0,25. W(2)=0,25. W(3)=0,3. W(4)=0,2 Kemudian penulis menentukan bobot untuk data periode t -1, t -2, t -3 dan t -4, memberikan bobot 0,75 untuk data periode t -2 dan bobot sebesar 0,25 untuk data periode t -1. Kemudian setelah bobot masing-masing periode diisi, lalu klik OK, maka pengaturan forecasting akan kembali seperti pada Gambar setelah itu klik OK. Gambar 4-19 Hasil Peramalan Tail Boom Eurocopter dengan WMA 4 Tahun dengan pembobotan W(1)=0,25. W(2)=0,25. W(3)=0,3. W(4)=0,2 Berdasarkan data yang ditampilkan pada tabel diatas dapat diketahui secara langsung dengan peramalan permintaan untuk sebelas periode mendatang, nilai MAD (Mean Absolute Deviation), MSE (Mean Square Error) dan MAPE (Mean Absolute Persentage Error). 61

25 62 Grafik 4.6 WinQSB Forecast - Peramalan Tail Boom Eurocopter dengan MA-4 Tahun dengan pembobotan W(1)=0,25. W(2)=0,25. W(3)=0,3. W(4)=0,2 Penulis juga menerapkan metode Moving Average dengan kriteria perataan tahun yang sama dan menentukan besaran bobot yang berbeda.. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan akurasi data peramalan dengan lebih akurat. Prosedur yang sama dilakukan kembali dengan mengganti pada rata-rata periode yang akan diterapkan, dan menentukan bobot untuk masing-masing periode. Weighted Moving Average (WMA) 4 Tahun dengan pembobotan W(1)=0,3. W(2)=0,1. W(3)=0,2. W(4)=0,4 Gambar 4-20 WinQSB Forecast - Forecasting Setup WMA-4 Tahun dengan pembobotan W(1)=0,25. W(2)=0,25. W(3)=0,3. W(4)=0,2 62

26 63 Gambar 4-21 Input Bobot WMA-4 Tahun dengan pembobotan W(1)=0,25. W(2)=0,25. W(3)=0,3. W(4)=0,2 Gambar 4-22 Hasil Peramalan Tail Boom Eurocopter dengan WMA 4 Tahun dengan pembobotan W(1)=0,25. W(2)=0,25. W(3)=0,3. W(4)=0,2 Grafik 4.7 WinQSB Forecast - Peramalan Tail Boom Eurocopter dengan WMA-4 Tahun dengan pembobotan W(1)=0,25. W(2)=0,25. W(3)=0,3. W(4)=0,2 63

27 64 Weighted Moving Average (WMA) 4 Tahun dengan pembobotan W(1)=0,3. W(2)=0,2. W(3)=0,3. W(4)=0,2 Gambar 4-23 WinQSB Forecast - Forecasting Setup WMA 4 tahun dengan pembobotan W(1)=0,3. W(2)=0,2. W(3)=0,3. W(4)=0,2 Gambar 4-24 Input Bobot WMA 4 tahun dengan pembobotan W(1)=0,3. W(2)=0,2. W(3)=0,3. W(4)=0,2 Gambar 4-25 Hasil Peramalan Tail Boom Eurocopter dengan WMA 4 tahun dengan pembobotan W(1)=0,3. W(2)=0,2. W(3)=0,3. W(4)=0,2 64

28 65 Grafik 4.8 WinQSB Forecast - Peramalan Tail Boom Eurocopter dengan WMA-4 tahun dengan pembobotan W(1)=0,3. W(2)=0,2. W(3)=0,3. W(4)=0, Pembuatan Bild Of Material (BOM) Bill of Material (BOM) adalah struktur yang dibuat berdasarkan level kebutuhan suatu bahan baku menurut kebutuhan level parentnya. Pembuatan BOM ini menggunakan aplikasi terdapat di dalam perangkat lunak WinQSB. Berikut merupakan Bill of Material (BOM) untuk item Tail Boom Eurocopter. Bagan 4-2 struktur Bill Of Material (BOM) Tail Boom Eurocopter 65

29 Perhitungan Lot size Material Requirement Planning (MRP) Membuka aplikasi perangkat lunak WINQSB Modul Forecasting. Gambar 4-26 Tampilan Awal Perangkat Lunsk WinQSB Material Requirement Planning 1. Membuat file Material Requirement Planning baru Gambar 4-27 WinQSB Forecast - Susun FILE MRP Baru Mengisi profil permasalahan Untuk menspesifikasikan permasalahan MRP, kita ikuti prosedur sebagai berikut : o Tulis judul permasalahan o Memasukkan jumlah produk dan part yang sesuai permasalahan o Memasukkan satuan waktu pada tiap periode dalam hal ini dalam tahun o Memasukkan jumlah rencana periode o Memasukkan jumlah rencana periode tiap tahun. Ini akan digunakan untuk menghitung lotsize dan inventori berhubungan dengan biaya. o Masukkan jumlah maksimum dari komponen langsung untuk tiap komponen induknya (yaitu BOM atau rentang struktur produknya). Batas ini adalah berapa 66

30 67 banyak komponen yang dapat dimasukkan / digabungkan untuk masing-masing produk atau sub assembly. Gambar 4-28 WinQSB Forecast - Tampilan MRP Problem Specification Tail Boom Eurocopter Untuk menyelesaikannya masih perlu kita memasukkan data-data input dari persoalan, maka kita pilih option view dan kita masukkan data-data BOM, MPS, dan inventori. Gambar 4-29 WinQSB Forecast - Pengisian data histori Tail Boom Eurocopter o ABC Class adalah tingkatan dari produk. o Sourse code adalah definisi apakah material tersebut dibuat sendiri atau dibeli dari pemasok. o Material type adalah jenis material aslinya yaitu apakah full, semifull, assembly atau componen. 67

31 68 o Unit meassure adalah ukuran satuan material. o Lead time adalah waktu antara yang dibutuhkan untuk membuat produk tersebut. o Lot Size adalah ukuran jumlah lot produk yang dapat diproduksi atau dipesan, dimana tergantung pada perusahaan produsen. o Lot Size Multiple hanya berlaku jika lot sizenya adalah FOQ maka tulis Q didalamnya. o Scrap adalah produk sisa yang merupakan nilai allowance atau toleransi jumlah produk yang dibuat. o Annual demand adalah permintaan tahunan. o Unit Cost adalah biaya tiap unit. o Holding Annual Cost adalah biaya-biaya tahunan yang harus dikeluarkan perusahaan sehubungan dengan proses produksi produk tersebut. o Shortage annual cost adalah biaya penyusutan/ kerugian/tekor tiap tahun yang harus dikeluarkan. o Item deskription adalah gambaran mengenai spesifikasi produk tersebut. Menyusun BOM sesuai alur cerita di View BOM. Gambar 4-30 Tabel BOM Tail Boom Eurocopter Setelah memasukan alur komponen pada BOM setup pada komponen produk Tail Boom Eurocopter, klik pada tanda lingkar pada gambar di bawah ini untuk mengetahui struktur produk Tail Boom. 68

32 69 Gambar 4-31 Icon Product Structure Selection Berikutnya akan muncul gambar tampilan seperti di bawah ini Gambar 4-32 Spesifikasi Product Structure Selection yang Ingin Ditampilkan Gambar di atas adalah gambar seleksi struktur produk Tail Boom Eurocopter, yang di mana penulis memilih Multi-level sehingga pada struktur produk yang tampil akan muncul semua level Tail Boom Eurocopter, yang pada sebelumnya penulis menentukan satu item pada komponen Tail Boom, seperti pada tampilan gambar di atas dan penulis memberi tanda untuk keterangan lead time dan usage yang di mana akan muncul keterangan-keterangan tersebut pada setiap struktur komponen. Setelah itu klik OK. 69

33 70 Gambar 4-33 Bill Of Material (BOM) Tail Boom Eurocopter Mengisi keterangan yang pada View Master Production Schedule (MPS) Gambar 4-34 Master Production Schedule (MPS) Tail Boom Eurocopter Pada gambar di atas penulis mengisi Master Production Schedule (MPS) Tail Boom Eurocopter, berdasarkan hasil terbaik dari perhitungan peramalan yang dilakukan pada tahap sebelumnya Perhitungan lot size tipe Lot For Lot (LFL) Teknik Lot for Lot (LFL) merupakan teknik pengukuran lot yang paling sering diaplikasikan oleh perusahaan. Hal ini dikarenakan proses perhitungannya sederhana dan dianggap dapat meminimumkan biaya persediaan yang akan dikeluarkan. Dasar penggunaan teknik lot size Lot for Lot adalah karena tipe lot ini hanya memenuhi memproduksi sesuai dengan jumlah permintaan yang telah direncanakan dalam kurun 70

34 71 periode tertentu. Kondisi tersebut tentu tidak akan menghasilkan sisa komponen atau material, yang pada akhirnya akan memboroskan biaya inventory perusahaan. Mengisi keterangan yang pada View - Item Master Gambar 4-35 WinQSB Forecast - Perform Forecasting di WinQSB Modul MRP Tail Boom Eurocopter Setelah penulis memasukan data history komponen pada MRP setup pada komponen produk Tail Boom Eurocopter, klik pada tanda lingkar pada Item Master untuk mengetahui perhitungan MRP lot size LFL. Gambar 4-36 Hasil Perhitungan MRP LFL pada Level 0 Tail Boom Eurocopter Berdasarkan pada tabel di atas merupakan contoh hasil perhitungan MRP pada level nol yakni independent product dari item Tail Boom Eurocopter. Untuk perhitungan level selengkapnya dapat dilihat di bagian lampiran I. Setelah mengetahui perhitungan Material Requirement Planning dengan tipe lot size Lot For Lot (LFL) telah selesai, selanjutnya dapat diketahui biaya yang harus 71

35 72 dikeluarkan untuk membiayai setup, penyimpanan serta pengiriman, dan biaya unit cost pada Tail Boom Eurocopter beserta komponennya dengan metode LFL. Gambar 4-37 Biaya Material Requirement Planning Lor For Lot (LFL) Perhitungan lot size tipe Fixed Order Quantity (FOQ) Di dalam metode FOQ ukuran lot ditentukan secara subjektif menurut intuisi pengguna atau asumsi yang telah ditentukan. Tidak ada teknik pasti yang dikemukakan dalam penentuan ukuran lot yang akan dipakai. Kapasitas produksi selama lead time produksi dalam hal ini dapat dipergunakan sebagai dasar untuk menentukan besarnya lot. Sekali ukuran lot telah ditetapkan maka lot ini akan digunakan untuk seluruh periode selanjutnya dalam perencanaan. Berikut dibawah ini adalah pengisian variabel item master perencanaan bahan baku Tail Boom Eurocopter dengan metode lot sizing Fixed Order Quantity (FOQ), dengan komponen penyusunnya dengan lot size multiplier sebesar 2. prosedur yang sama dilakukan kembali dengan mengganti metode lot size dengan FOQ. 72

36 73 Gambar 4-38 WinQSB Forecast - Perform MRP di WinQSB Modul MRP Tail Boom Eurocopter Setelah penulis memasukan data history komponen pada MRP setup pada komponen produk Tail Boom Eurocopter, dapat diketahui secara langsung perhitungan MRP lot size FOQ, dengan prosedur yang sama pada metode lot size sebelumnya. Gambar 4-39 Hasil Perhitungan MRP FOQ pada Level 0 Tail Boom Eurocopter Berdasarkan pada tabel diatas, merupakan contoh hasil perhitungan MRP metode lot size FOQ pada level nol yakni independent product dari Tail Boom Eurocopter. Untuk perhitungan level selengkapnya dapat dilihat di bagian lampiran II. Setelah mengetahui perhitungan Material Requirement Planning dengan tipe lot size Fixed Order Quantity (FOQ) telah selesai, selanjutnya dapat diketahui biaya yang harus dikeluarkan untuk membiayai setup, penyimpanan serta pengiriman, dan biaya unit cost pada Tail Boom Eurocopter beserta komponennya dengan metode FOQ. 73

37 74 Gambar 4-40 Biaya Material Requirement Planning Fixed Order Quantity (FOQ) Perhitungan lot size tipe Algoritma Wagner Whiting (AWW) Teknik ini menggunakan prosedur optimasi yang didasari model program dinamis. Tujuannya adalah untuk mendapatkan strategi pemesanan yang optimum untuk seluruh jadwal kebutuhan bersih dengan jalan meminimalkan total ongkos pengadaan dan ongkos simpan. Pada dasarnya, teknik ini menguji semua cara pemesanan yang mungkin dalam memenuhi kebutuhan bersih setiap periode yang ada pada horizon perencanaan sehingga senantiasa memberikan jawaban optimal. Berikut dibawah ini adalah pengisian variabel item master perencanaan bahan baku Tail Boom Eurocopter dengan metode lot sizing Algoritma Wagner Whiting (AWW). prosedur yang sama dilakukan kembali dengan mengganti metode lot size dengan AWW. 74

38 75 Gambar 4.41 WinQSB Forecast - Perform MRP di WinQSB Modul MRP Tail Boom Eurocopter Setelah memasukan data history komponen pada MRP setup pada komponen produk Tail Boom Eurocopter, dapat diketahui perhitungan MRP lot size AWW, dengan prosedur yang sama pada metode lot size sebelumnya. Gambar 4.42 Hasil Perhitungan MRP AWW pada Level 0 Tail Boom Eurocopter Berdasarkan pada tabel diatas, merupakan contoh hasil perhitungan MRP metode lot size AWW pada level nol yakni independent product dari Tail Boom Eurocopter. Untuk perhitungan level selengkapnya dapat dilihat di bagian lampiran III. Setelah mengetahui perhitungan Material Requirement Planning dengan tipe lot size Algoritma Wagner Whiting (AWW) telah selesai, selanjutnya dapat diketahui biaya yang harus dikeluarkan untuk membiayai setup, penyimpanan serta pengiriman, dan biaya unit cost pada Tail Boom Eurocopter beserta komponennya dengan metode AWW. 75

39 76 Gambar 4.43 Biaya Material Requirement Planning Algoritma Wagner Whiting (AWW) Perhitungan lot size tipe Least Total Cost (LTC) Teknik ini didasarkan pada pemikiran bahwa jumlah ongkos pengadaan dan ongkos simpan (ongkos total) setiap ukuran pemesanan (lot size) yang ada pada suatu horizon perencanaan dapat diminimalkan jika besar ongkos-ongkos tersebut sama atau hampir sama. Sarana untuk mencapai tujuan tersebut adalah suatu faktor yang disebut Economic Part Period (EPP). Pemilihan ukuran lot ditentukan dengan jalan membandingkan ongkos part period yang ditimbulkan oleh setiap ukuran lot yang akan dilaksanakan. Part period adalah suatu unit yang disimpan dalam persediaan selama satu periode. EPP dapat didefinisikan sebagai kuantitas suatu item persediaan yang bila disimpan dalam persediaan selama satu periode akan menghasilkan ongkos pengadaan yang sama dengan ongkos simpan. EPP dihitung secara sederhana dengan membagi ongkos pengadaan dengan ongkos simpan per unit per periode. Berikut dibawah ini adalah pengisian variabel item master perencanaan bahan baku Tail Boom Eurocopter dengan metode lot sizing Least Total Cost (LTC). prosedur yang sama dilakukan kembali dengan mengganti metode lot size dengan LTC. 76

40 77 Gambar 4.44 WinQSB Forecast - Perform MRP di WinQSB Modul MRP Tail Boom Eurocopter Setelah memasukan data history komponen pada MRP setup pada komponen produk Tail Boom Eurocopter, dapat diketahui perhitungan MRP lot size LTC, dengan prosedur yang sama pada metode lot size sebelumnya. Gambar 4.45 Hasil Perhitungan MRP LTC pada Level 0 Tail Boom Eurocopter Berdasarkan pada tabel diatas, merupakan contoh hasil perhitungan MRP metode lot size LTC pada level nol yakni independent product dari Tail Boom Eurocopter. Untuk perhitungan level selengkapnya dapat dilihat di bagian lampiran IV. Setelah mengetahui perhitungan Material Requirement Planning dengan tipe lot size Least Total Cost (LTC) telah selesai, selanjutnya dapat diketahui biaya yang harus dikeluarkan untuk membiayai setup, penyimpanan serta pengiriman, dan biaya unit cost pada Tail Boom Eurocopter beserta komponennya dengan metode LTC. 77

41 78 Gambar 4.46 Biaya Material Requirement Planning Least Total Cost (LTC) Perhitungan lot size tipe Fixed Period Requirement (FPR) Teknik Fixed Period Requirement (FPR) juga merupakan teknik pengukuran lot diskrit (Teguh B. 2002). Dalam penerapan teknik FPR penentuan ukuran lot didasarkan pada periode waktu tertentu saja. Besarnya jumlah pemesanan didasarkan dengan cara menjumlahkan kebutuhan bersih pada beberapa periode mendatang. Di dalam penerapan teknik FPR ini, selang waktu antar pemesanan dibuat secara tetap dengan penyesuaian pada ukuran lot pemesanan sesuai dengan kebutuhan bersihnya. Berikut dibawah ini adalah pengisian variabel item master perencanaan bahan baku Tail Boom Eurocopter dengan metode lot sizing Fixed Period Requirement (FPR), dengan komponen penyusunnya dengan lot size multiplier sebesar 2 dan shortage annual cost sebesar 50 pada item Tail Boom. prosedur yang sama dilakukan kembali dengan mengganti metode lot size dengan FPR. 78

42 79 Gambar 4-47 WinQSB Forecast - Perform MRP di WinQSB Modul MRP Tail Boom Eurocopter Setelah memasukan data history komponen pada MRP setup pada komponen produk Tail Boom Eurocopter, dapat diketahui perhitungan MRP lot size FPR, dengan prosedur yang sama pada metode lot size sebelumnya. Gambar 4-48 Hasil Perhitungan MRP FPR pada Level 0 Tail Boom Eurocopter Berdasarkan pada tabel diatas, merupakan contoh hasil perhitungan MRP metode lot size FPR pada level nol yakni independent product dari Tail Boom Eurocopter. Untuk perhitungan level selengkapnya dapat dilihat di bagian lampiran V. Setelah mengetahui perhitungan Material Requirement Planning dengan tipe lot size Fixed Period Requirement (FPR) telah selesai, selanjutnya dapat diketahui biaya yang harus dikeluarkan untuk membiayai setup, penyimpanan serta pengiriman, dan biaya unit cost pada Tail Boom Eurocopter beserta komponennya dengan metode FPR. 79

43 80 Gambar 4-49 Biaya Material Requirement Planning Fixed Period Requirement (FPR) 80

BAB II PROFIL PERUSAHAAN

BAB II PROFIL PERUSAHAAN BAB II PROFIL PERUSAHAAN 2.1 Sejarah Umum dan Perkembangan Perusahaan Pada awalnya untuk merencanakan serta membuat pesawat terbang di Indonesia, baru terwujud ssetelah proklamasi kemerdekaan yang ditujukan

Lebih terperinci

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4 BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Pengumpulan Data 4.1.1 Penentuan Objek Penelitian PT REKABAJA MANDIRI memproduksi ratusan item produk yang berasal dari puluhan group produk. Mengingat begitu

Lebih terperinci

BAB V ANALISA HASIL. Berdasarkan data permintaan produk Dolly aktual yang didapat (permintaan

BAB V ANALISA HASIL. Berdasarkan data permintaan produk Dolly aktual yang didapat (permintaan BAB V ANALISA HASIL Bab ini berisikan mengenai analisa hasil dari pengolahan data dalam perhitungan MRP Dolly pada satu tahun yang akan datang yang telah dibahas pada bab sebelumnya. 5.1 Analisa Peramalan

Lebih terperinci

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Pengumpulan Data 4.1.1 Sejarah Perusahaan CV. Kurnia Teknik adalah sebuah CV spesialis moulding dan juga menerima jasa CNC, EDM, INJECT, dan DIGIT. CV. Kurnia

Lebih terperinci

BAB I TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

BAB I TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN 1 BAB I TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN 1.1. LATAR BELAKANG PERUSAHAAN Pesawat merupakan sarana transportasi yang memiliki arti yang sangat penting bagi pembangunan ekonomi dan pertahanan, terutama menyadari

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Material Requirement Planning (MRP) Material Requirement Planning (MRP) adalah metode penjadwalan untuk purchased planned orders dan manufactured planned orders,

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengumpulan Data Hasil pengumpulan data yang didapat dari departemen PPIC (Production Planning and Inventory Control) PT. Pulogadung Pawitra Laksana (PT. PPL) adalah

Lebih terperinci

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1. Pengumpulan Data 4.1.1. Sejarah Perusahaan CV. Mitra Abadi Teknik merupakan sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang perancangan dan manufaktur untuk peralatan

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 64 4.1 Pengumpulan Data 4.1.1 Data Penjualan BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN PT. Surya Toto Indonesia bergerak di bidang ceramic sanitary wares and plumbing hardware., salah satu produknya yaitu kloset tipe

Lebih terperinci

BAB V ANALISA HASIL. Pada bab sebelumnya telah dilakukan pengolahan data-data yang

BAB V ANALISA HASIL. Pada bab sebelumnya telah dilakukan pengolahan data-data yang BAB V ANALISA HASIL Pada bab sebelumnya telah dilakukan pengolahan data-data yang dikumpulkan untuk pembuatan perencanaan kebutuhan material (MRP). Kemudian dalam bab ini berisikan analisa berdasarkan

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di Perusahaan Menara Cemerlang, suatu perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan karung plastik. Pada saat ini perusahaan sedang mengalami penjualan yang pesat dan mengalami

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI. Jenis data Data Cara pengumpulan Sumber data 1. Jenis dan jumlah produk yang dihasilkan

BAB III METODOLOGI. Jenis data Data Cara pengumpulan Sumber data 1. Jenis dan jumlah produk yang dihasilkan BAB III METODOLOGI 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada Bulan April 2011 sampai Mei 2011 di PT. Pindo Deli Pulp and Paper di bagian Paper machine 12. Lokasi Industri

Lebih terperinci

BAB V ANALISA HASIL. Januari 2008 sampai dengan Desember 2008 rata-rata permintaan semakin

BAB V ANALISA HASIL. Januari 2008 sampai dengan Desember 2008 rata-rata permintaan semakin BAB V ANALISA HASIL Pada bab sebelumnya telah dilakukan pengolahan data-data yang dikumpulkan untuk pembuatan Perencanaan Kebutuhan Material (MRP). Kemudian dalam bab ini berisikan analisa berdasarkan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 VARIABEL PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL Variabel Penelitian di sini merupakan suatu atribut atau nilai atau sifat dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai

Lebih terperinci

Manajemen Persediaan. Perencanaan Kebutuhan Barang (MRP) PPB. Christian Kuswibowo, M.Sc. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi Manajemen

Manajemen Persediaan. Perencanaan Kebutuhan Barang (MRP) PPB. Christian Kuswibowo, M.Sc. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi Manajemen Modul ke: Manajemen Persediaan Perencanaan Kebutuhan Barang (MRP) PPB Fakultas FEB Christian Kuswibowo, M.Sc Program Studi Manajemen www.mercubuana.ac.id Bagian Isi MRP didasarkan pada permintaan dependen.

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengumpulan Data 4.1.1 Data Penjualan Data penjualan grout tipe Fix pada PT.Graha Citra Mandiri mulai dari Januari 2004 sampai dengan Oktober 2006 ditunjukkan pada

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bidang manufaktur, suatu peramalan (forecasting) sangat diperlukan untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bidang manufaktur, suatu peramalan (forecasting) sangat diperlukan untuk BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Peramalan 2.1.1 Pengertian Peramalan Di dalam melakukan suatu kegiatan dan analisis usaha atau produksi bidang manufaktur, suatu peramalan (forecasting) sangat diperlukan untuk

Lebih terperinci

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP)

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) PENDAHULUAN Dimulai dari 25 s.d 30 tahun yang lalu di mana diperkenalkan mekanisme untuk menghitung material yang dibutuhkan, kapan diperlukan dan berapa banyak. Konsep

Lebih terperinci

BAB V ANALISA HASIL. dikumpulkan untuk pembuatan Perencanaan Kebutuhan Material (MRP.

BAB V ANALISA HASIL. dikumpulkan untuk pembuatan Perencanaan Kebutuhan Material (MRP. BAB V ANALISA HASIL Pada bab sebelumnya telah dilakukan pengolahan data data yang dikumpulkan untuk pembuatan Perencanaan Kebutuhan Material (MRP. Kemudian dalam bab ini berisikan analisa berdasarkan hasil

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di PT Klip Plastik Indonesia sejak dari Agustus-Desember 2015, penulis tertarik untuk melakukan penelitian di PT Klip Plastik

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengumpulan Data Dari hasil pengumpulan data yang didapat dari divisi produksi PT. Indotek Jaya, maka data tersebut diperlukan untuk membuat rancangan MRP (Material

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Perencanaan Produksi dan Pengendalian Persediaan Pengertian mengenai Production Planning and Inventory control (PPIC) akan dikemukakan berdasarkan konsep sistem. Produksi

Lebih terperinci

BAB V ANALISA HASIL. yang digunakan untuk meramalkan keadaan yang akan datang memiliki. penyimpangan atau kesalahan dari keadaan aslinya.

BAB V ANALISA HASIL. yang digunakan untuk meramalkan keadaan yang akan datang memiliki. penyimpangan atau kesalahan dari keadaan aslinya. BAB V ANALISA HASIL 5.1 Analisa Hasil Peramalan Permintaan Pada umumnya setiap metode peramalan hanya merupakan sebuah alat yang digunakan untuk meramalkan keadaan yang akan datang memiliki penyimpangan

Lebih terperinci

A B S T R A K. Universitas Kristen Maranatha

A B S T R A K. Universitas Kristen Maranatha A B S T R A K Negara Indonesia saat ini masih menyandang status sebagai negara berkembang dan masih terus melakukan pembangunan besar-besaran di berbagai bidang. Termasuk pembangunan di bidang ekonomi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Persediaan 2.1.1 Pengertian Persediaan Keberadaan persediaan dalam suatu unit usaha perlu diatur sedemikian rupa sehingga kelancaran pemenuhan kebutuhan pemakai dapat dijamin

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 PENGERTIAN MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING (MRP) Menurut Gasperz (2004), Material Requirement Planning (MRP) adalah metode penjadwalan untuk purchased planned orders dan manufactured

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH Mulai Identifikasi Masalah Pengumpulan Data : - data penjualan - data kebutuhan bahan baku - data IM F - data biaya pesan - data biaya simpan Pengolahan Data : - Peramalan

Lebih terperinci

Jurnal String Vol.1 No.2 Tahun 2016 ISSN : PENENTUAN TEKNIK PEMESANAN MATERIAL PADA PROYEK STEEL STRUCTURE MENGGUNAKAN WINQSB

Jurnal String Vol.1 No.2 Tahun 2016 ISSN : PENENTUAN TEKNIK PEMESANAN MATERIAL PADA PROYEK STEEL STRUCTURE MENGGUNAKAN WINQSB PENENTUAN TEKNIK PEMESANAN MATERIAL PADA PROYEK STEEL STRUCTURE MENGGUNAKAN WINQSB Juliana Program Studi Teknik Informatika, Universitas Indraprasta PGRI Email : kallya_des @yahoo.com Abstrak Perencanaan

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODE PEMECAHAN MASALAH BAB 3 METODE PEMECAHAN MASALAH 3.1 Kerangka Pikir Pemecahan Masalah Adapun kerangka pemikiran pemecahan masalah dalam bentuk diagram, adalah sebagai berikut: Gambar 3.1 Flow Diagram Kerangka Pikir Pemecahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan dunia industri menyebabkan terjadinya persaingan yang cukup ketat antar perusahaan. Kualitas merupakan faktor dasar konsumen terhadap

Lebih terperinci

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Pengumpulan Data Pengumpulan data yang dilakukan dengan cara pengamatan dari dokumen perusahaan. Data yang di perlukan meliputi data penjualan produk Jamur Shiitake,

Lebih terperinci

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Model Perumusan Masalah Metodologi penelitian penting dilakukan untuk menentukan pola pikir dalam mengindentifikasi masalah dan melakukan pemecahannya. Untuk melakukan pemecahan

Lebih terperinci

ANALISIS PERENCANAAN PENGENDALIAN BAHAN BAKU MENGGUNAKAN TEKNIK LOTTING DI PT AGRONESIA INKABA BANDUNG

ANALISIS PERENCANAAN PENGENDALIAN BAHAN BAKU MENGGUNAKAN TEKNIK LOTTING DI PT AGRONESIA INKABA BANDUNG ANALISIS PERENCANAAN PENGENDALIAN BAHAN BAKU MENGGUNAKAN TEKNIK LOTTING DI PT AGRONESIA INKABA BANDUNG I Made Aryantha dan Nita Anggraeni Program Studi Teknik Industri, Universitas Komputer Indonesia,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengendalian bahan baku kayu di perusahaan manufaktur Sagitria Collection yang beralamat di Jl.

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH Flow diagram untuk pemecahan masalah yang terdapat pada PT. Pulogadung Pawitra Laksana (PT. PPL) dapat dilihat dalam diagram 3.1 di bawah ini. Mulai Identifikasi Masalah

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Material Requirements Planning 2.1.1 Definisi MRP MRP adalah dasar komputer mengenai perencanaan produksi dan inventory control. MRP juga dikenal sebagai tahapan waktu perencanaan

Lebih terperinci

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP)

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) Oleh: Mega Inayati Rif ah, S.T., M.Sc. Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta Jl. Kalisahak No. 28, Komplek Balapan, Yogyakarta PART 1 PENDAHULUAN PENDAHULUAN

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini berlangsung dari bulan Agustus hingga Desember 2010 berlokasi di PT.YPP divisi produksi Minyak Telon yang beralamatkan di Jln.Pulo

Lebih terperinci

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP)

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) Definisi MRP adalah suatu teknik yang dipakai untuk merencanakan pembuatan/pembelian komponen/bahan baku yang diperlukan untuk melaksanakan MPS. MRP ini merupakan hal

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.2. Manajemen Persediaan Persediaan adalah bahan atau barang yang disimpan yang akan digunakan untuk memenuhi tujuan tertentu, misalnya untuk proses produksi atau perakitan untuk

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Indonesia yaitu PT. Indosat, Tbk yang beralamat di jalan Daan Mogot KM 11

BAB III METODE PENELITIAN. Indonesia yaitu PT. Indosat, Tbk yang beralamat di jalan Daan Mogot KM 11 BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di salah satu perusahaan telekomunikasi di Indonesia yaitu PT. Indosat, Tbk yang beralamat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. PT United Tractors Tbk (PTUT) merupakan salah satu distributor alat-alat berat

BAB 1 PENDAHULUAN. PT United Tractors Tbk (PTUT) merupakan salah satu distributor alat-alat berat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang PT United Tractors Tbk (PTUT) merupakan salah satu distributor alat-alat berat serta penyedia pelayanan purna jual baik berupa suku cadang maupun servis dengan cabang-cabang

Lebih terperinci

BAB 5 ANALISIS 5.1. Analisis Forecasting (Peramalan)

BAB 5 ANALISIS 5.1. Analisis Forecasting (Peramalan) BAB 5 ANALISIS 5.1. Analisis Forecasting (Peramalan) Peramalan merupakan upaya untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Peramalan digunakan untuk melihat atau memperkirakan

Lebih terperinci

3 BAB III LANDASAN TEORI

3 BAB III LANDASAN TEORI 3 BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Bahan Baku Bahan baku atau yang lebih dikenal dengan sebutan raw material merupakan bahan mentah yang akan diolah menjadi barang jadi sebagai hasil utama dari perusahaan yang

Lebih terperinci

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha Abstrak Perusahaan Plastik X adalah perusahaan penghasil plastik injection process dengan orientasi pasar lokal, sehingga harus dapat mempertahankan dan meningkatkan produktivitasnya agar dapat memenangkan

Lebih terperinci

ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU TEMPE \MENGGUNAKAN MATERIAL REQUIREMENT PLANNING

ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU TEMPE \MENGGUNAKAN MATERIAL REQUIREMENT PLANNING ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU TEMPE \MENGGUNAKAN MATERIAL REQUIREMENT PLANNING Kusumawati, Aulia Jurusan Teknik Industri Universitas Serang Raya Jl Jalan Raya Serang, Cilegon KM. 5 Taman

Lebih terperinci

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Data Perusahaan PT.YPP adalah salah satu perusahaan nasional yang bergerak di bidang obatobatan (Jamu). Terletak di jalan Pulo Buaran Raya Blok X no.6 Kawasan

Lebih terperinci

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP)

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) ABC Amber Text Converter Trial version, http://www.processtext.com/abctxt.html MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) Definisi MRP adalah suatu teknik yang dipakai untuk

Lebih terperinci

BAB V MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING

BAB V MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING BAB V MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING 5.1. Pengertian Material Requirements Planning (MRP) Menurut Gasperz (2004), Material Requirement Planning (MRP) adalah metode penjadwalan untuk purchased planned orders

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Konsep Dasar Manajemen Permintaan Pada dasarnya manajemen permintaan (demand management) didefinisikan sebagai suatu fungsi pengelolaan dari semua permintaan produk untuk menjamin

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di perusahaan global penghasil peralatan listrik

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di perusahaan global penghasil peralatan listrik BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian 3.1.1 Lokasi dan Jadwal Penelitian Penelitian ini dilakukan di perusahaan global penghasil peralatan listrik (Electrical Equipment) yaitu PT.. Schneider

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Identifikasi, Analisis, dan Evaluasi Sistem Pengendalian Bahan Baku Tahun 2011 Bahan baku merupakan suatu material yang memiliki peranan penting dalam proses produksi. Ketersediaan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA II.1 Peramalan...7

TINJAUAN PUSTAKA II.1 Peramalan...7 DAFTAR ISI Halaman Lembar Judul...i Lembar Pengesahan...ii Lembar Pernyataan...iii Kata Pengantar...iv Daftar Isi...vi Daftar Tabel...x Daftar Gambar...xii Daftar Persamaan...xiii Daftar Lampiran...xv

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH Flow diagram pemecahan masalah dapat dilihat pada diagram 3.1 Mulai Identifikasi Masalah Pengumpulan Data : - Data Produksi - Data Kebutuhan bahan baku - Inventory Master

Lebih terperinci

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN 5.1 Peramalan Kebutuhan Bahan Baku Pada bab ini berisikan tentang analisa hasil dari pengolahan data dalam perhitungan Forecasting dan MRP tepung terigu untuk 12 bulan yang

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR. Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat Dalam Mencapai Gelar Sarjana Strata Satu ( S1 )

TUGAS AKHIR. Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat Dalam Mencapai Gelar Sarjana Strata Satu ( S1 ) TUGAS AKHIR PERENCANAAN KEBUTUHAN MATERIAL PEMBUATAN PRODUK OBAT COSTAN FORTE, MENGGUNAKAN METODE MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) DI PT. SAMCO FARMA, TANGERANG Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Persediaan (Inventory) Persediaan adalah sumber daya menganggur (idle resources) yang menunggu proses selanjutnya, yang dimaksud dengan proses yang lebih lanjut tersebut adalah

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Manajemen Pengertian manajemen menurut Robbins dan Coulter (2010;23) adalah pengkoordinasikan dan pengawasan dari aktivitas pekerjaan orang lain sehingga pekerjaan mereka

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Permintaan mengalami penurunan pada periode tertentu dan kenaikan pada periode setelahnya sehingga pola yang dimiliki selalu berubah-ubah (lumpy)

Lebih terperinci

Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Skripsi Strata 1 Semester Ganjil Tahun 2006 / 2007

Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Skripsi Strata 1 Semester Ganjil Tahun 2006 / 2007 Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Skripsi Strata 1 Semester Ganjil Tahun 2006 / 2007 ANALISIS DAN USULAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU KERTAS CARBON LESS MELALUI SISTEM MRP (MATERIAL REQUIREMENTS

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Material Requirement Planning (MRP) Menurut Gaspersz (2005:177) Perencanaan kebutuhan material (material requirement planning = MRP) adalah metode penjadwalan untuk purchased planned

Lebih terperinci

PERENCANAAN KEBUTUHAN BAKU PUPUK NPK DI PT. PUPUK KUJANG CIKAMPEK

PERENCANAAN KEBUTUHAN BAKU PUPUK NPK DI PT. PUPUK KUJANG CIKAMPEK PERENCANAAN KEBUTUHAN BAKU PUPUK NPK DI PT. PUPUK KUJANG CIKAMPEK Robi Dwi Agustian 1, Julian Robecca Program Studi Teknik Industri, Universitas Komputer Indonesia, Bandung Jl Dipati Ukur No 112-116 40132,

Lebih terperinci

Seminar Nasional IENACO 2015 ISSN:

Seminar Nasional IENACO 2015 ISSN: PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN METODE MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) PADA USAHA DAGANG (UD) MITRA USAHA KAYU DI KABUPATEN ENREKANG Arminas 1*, Neno Ikranegara 2 1,2 Prodi Teknik & Manajemen

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH Dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi, maka penulis menggunakan metode penyelesaian masalah yang dapat digambarkan sebagai berikut: Penelitian Pendahuluan Identifikasi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Produksi Proses produksi adalah cara, metode, dan teknik untuk menciptakan atau menambah nilai guna suatu barang dengan sumber daya yang ada. Untuk melaksanakan fungsi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Distribusi Distribusi merupakan suatu proses kegiatan aliran atau penyaluran barang dari produsen sampai ke tangan konsumen. Distribusi memerlukan perencanaan, dan pengendalian

Lebih terperinci

PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU BAJA MS DI DIREKTORAT PRODUKSI ATMI CIKARANG

PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU BAJA MS DI DIREKTORAT PRODUKSI ATMI CIKARANG PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU BAJA MS DI DIREKTORAT PRODUKSI ATMI CIKARANG Siti Rohana Nasution 1, Temotius Agung Lukito 2 1,2) Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Pancasila 1) [email protected],

Lebih terperinci

BAB V ANALISA HASIL. periode April 2015 Maret 2016 menghasilkan kurva trend positif (trend meningkat)

BAB V ANALISA HASIL. periode April 2015 Maret 2016 menghasilkan kurva trend positif (trend meningkat) 102 BAB V ANALISA HASIL 5.1 Peramalan Metode peramalan yang digunakan dalam penelitian ini adalah proyeksi trend yang terdiri dari linier trend model, quadratic trend model, exponential growth curve trend

Lebih terperinci

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 4.1 Model Rumusan Masalah dan Pengambilan Keputusan Untuk melakukan pemecahan masalah yang berkaitan dengan perencanaan bahan baku di PT. Mitra Manis Sentosa, maka dibawah

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Untuk memecahkan masalah yang diuraikan pada sub bab 1.2 diperlukan beberapa terori pendukung yang relevan. 2.1 Inventory Control Pengawasan persediaan digunakan untuk mengatur tersedianya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kondisi Industri Kertas Indonesia Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kertas yang besar. Sampai tahun 2011 terdapat 84 pabrik pulp dan kertas. Pabrik-pabrik tersebut

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dihadapi, misalnya dalam kegiatan berorganisasi. memproses data yang ada menjadi informasi yang tepat waktu (timeless), akurat

BAB 1 PENDAHULUAN. dihadapi, misalnya dalam kegiatan berorganisasi. memproses data yang ada menjadi informasi yang tepat waktu (timeless), akurat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini perkembangan dalam bidang teknologi informasi sangat pesat, khususnya pada bidang komputer. Teknologi informasi telah memainkan peranan yang sangat penting

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. 5.1 Permintaan Konsumen

BAB V PEMBAHASAN. 5.1 Permintaan Konsumen BAB V PEMBAHASAN 5.1 Permintaan Konsumen Permintaan konsumen selama 12 periode (bulan) terakhir terhadap produk sandal kelom di Sagitria Collection adalah 6654 pasang dengan perincian 379 pasang pada periode

Lebih terperinci

Bab 1. Pendahuluan. Keadaan perekonomian di Indonesia telah mengalami banyak perubahan.

Bab 1. Pendahuluan. Keadaan perekonomian di Indonesia telah mengalami banyak perubahan. 1 Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Penelitian Keadaan perekonomian di Indonesia telah mengalami banyak perubahan. Sampai saat ini perekonomian Indonesia belum bisa pulih dari krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI. Kerangka kerja yang digunakan oleh tim penulis adalah dengan mengkombinasikan

BAB 3 METODOLOGI. Kerangka kerja yang digunakan oleh tim penulis adalah dengan mengkombinasikan BAB 3 METODOLOGI Kerangka kerja yang digunakan oleh tim penulis adalah dengan mengkombinasikan beberapa metode yang masuk dalam kategori praktek terbaik untuk melakukan pengurangan jumlah persediaan barang

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen Operasi Menurut Mahadevan (2010 : 3) manajemen operasi adalah kunci untuk mencapai keunggulan kompetitif bagi organisasi, apakah mereka berada di industri manufaktur

Lebih terperinci

Enter the Problem (Masukkan Permasalahan)

Enter the Problem (Masukkan Permasalahan) FORECASTING PENGANTAR SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN FORECASTING Program ini mempraktekkan time series forecasting dan linear regresi. Metode time series meliputi simple average, moving average, dengan atau

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen Produksi 2.1.1 Pengertian Manajemen Produksi Dalam kehidupan sehari-hari, baik dilingkungan rumah, sekolah maupun lingkungan kerja sering kita dengar mengenai apa yang

Lebih terperinci

BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH. Kriteria optimasi yang digunakan dalam menganalisis kebutuhan produksi

BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH. Kriteria optimasi yang digunakan dalam menganalisis kebutuhan produksi BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Kriteria optimasi yang digunakan dalam menganalisis kebutuhan produksi pada PT. Sebastian Citra Indonesia terkait dengan jumlah penjualan

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB III TINJAUAN PUSTAKA 1 3.1 PERSEDIAAN BAB III TINJAUAN PUSTAKA Maryani, dkk (2012) yang dikutip oleh Yudhistira (2015), menyatakan bahwa persediaan barang merupakan bagian yang sangat penting bagi suatu perusahaan. Persediaan

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK CV Setia Jaya Socks merupakan perusahaan yang memproduksi kaos kaki. Perusahaan ini berlokasi di Jl. Kopo Permai II, Blok A no 2-6, Bandung dan memiliki lebih dari 50 tenaga kerja langsung. Perusahaan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. berharga bagi yang menerimanya. Tafri (2001:8).

BAB II LANDASAN TEORI. berharga bagi yang menerimanya. Tafri (2001:8). BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi Sistem informasi adalah data yang dikumpulkan, dikelompokkan dan diolah sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah satu kesatuan informasi yang saling terkait dan

Lebih terperinci

Analisis Penerapan MRP Terhadap Perencanaan Dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pada PT. Latif Di Kediri

Analisis Penerapan MRP Terhadap Perencanaan Dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pada PT. Latif Di Kediri Analisis Penerapan MRP Terhadap Perencanaan Dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pada PT. Latif Di Kediri Gunawan Wibisono 1*, Sri Rahayuningsih 2, Heribertus Budi Santoso 3 1,2,3) Jurusan Teknik Industri,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Praktikum Sistem Produksi ATA 2014/2015

BAB 1 PENDAHULUAN. Praktikum Sistem Produksi ATA 2014/2015 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aktifitas produksi yang terjadi pada sebuah perusahaan tidak hanya terbatas pada hal yang berkaitan dengan menghasilkan produk saja, namun kegiatan tersebut erat kaitannya

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB III TINJAUAN PUSTAKA BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 Teori Dunia industri biasanya tak lepas dari suatu peramalan, hal ini disebabkan bahwa peramalan dapat memprediksi kejadian di masa yang akan datang untuk mengambil keputusan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Dalam penyusunan tugas akhir ini dibutuhkan beberapa landasan teori sebagai acuan dalam penyusunannya. Landasan teori yang dibutuhkan antara lain teori tentang Sistem Informasi, teori

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kemampuan dan keterampilan manajemen mengelola sumber daya yang ada

ABSTRAK. Kemampuan dan keterampilan manajemen mengelola sumber daya yang ada ABSTRAK Kemampuan dan keterampilan manajemen mengelola sumber daya yang ada sangat menentukan keberhasilan suatu perusahaan. Pada saat perusahaan semakin besar dan berkembang, kemampuan manajemen untuk

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di PT. Matrikstama Andalan Mitra, sebuah perusahaan perdagangan, yang beralamatkan di Jl. Daan Mogot KM.12 No.9 Jakarta

Lebih terperinci

BAB 3 Metode Penelitian

BAB 3 Metode Penelitian BAB 3 Metode Penelitian 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Kriteria optimasi yang digunakan dalam menganalisis kebutuhan konsumen pada PT. Aneka Indofoil terkait dengan jumlah persediaan adalah sebagai berikut:

Lebih terperinci

BAB III. Metode Penelitian. untuk memperbaiki keterlambatan penerimaan produk ketangan konsumen.

BAB III. Metode Penelitian. untuk memperbaiki keterlambatan penerimaan produk ketangan konsumen. BAB III Metode Penelitian 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Pt. Anugraha Wening Caranadwaya, diperusahaan Manufacturing yang bergerak di bidang Garment (pakaian, celana, rompi,

Lebih terperinci

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 69 BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 4.1 Pengumpulan Data 4.1.1 Data Penjualan Pipa PVC Pada bab ini ditampilkan data-data penjualan pipa PVC yang diambil pada saat pengamatan dilakukan. Data yang ditampilkan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Sejarah Singkat PT. Dirgantara Indonesia Pada tahun 1976 merupakan era baru bagi bangsa Indonesia karena dengan dikeluarakanya peraturan Pemerintah No. 12 tanggal 5

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen Permintaan 2.1.1 Pengertian Manajemen permintaan didefinisikan sebagai suatu fungsi pengelolaan dari semua permintaan produk untuk menjamin bahwa penyusunan jadwal induk

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1. Material Requirement Planning (MRP) Menurut Heryanto (1997, p193), persediaan adalah bahan baku atau barang yang disimpan yang akan digunakan untuk memenuhi

Lebih terperinci

Perencanaan Kebutuhan Komponen Tutup Ruang Transmisi Panser Anoa 6x6 PT PINDAD Persero

Perencanaan Kebutuhan Komponen Tutup Ruang Transmisi Panser Anoa 6x6 PT PINDAD Persero Perencanaan Kebutuhan Komponen Tutup Ruang Transmisi Panser Anoa 6x6 PT PINDAD Persero Rizky Saraswati 1), dan I Wayan Suletra 2) 1) Mahasiswa Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas

Lebih terperinci

BAB V ANALISA HASIL. hasil grafik, dapat di lihat bahwa pola permintaan tidak beraturan sbb : BULAN

BAB V ANALISA HASIL. hasil grafik, dapat di lihat bahwa pola permintaan tidak beraturan sbb : BULAN BAB V ANALISA HASIL 5.1 Analis Peramalan Berdasarkan data permintaan penjualan minuman serbuk merk A6 dari bulan Jan Dec 2012 dapat dibuat grafik untuk mengetahui pola permintaan tersebut. Dari hasil grafik,

Lebih terperinci

Perhitungan Waktu Siklus Perhitungan Waktu Normal Perhitungan Waktu Baku Tingkat Efisiensi...

Perhitungan Waktu Siklus Perhitungan Waktu Normal Perhitungan Waktu Baku Tingkat Efisiensi... ABSTRAK Perusahaan Biskuit X merupakan perusahaan swasta yang berdiri pada tahun 1995 dan memproduksi biskuit marie yang dipasarkan ke beberapa kota di Pulau Jawa. Permasalahan yang terjadi saat ini adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Perusahaan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Perusahaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Perusahaan Kegiatan penelitian dan percobaan terbang di Bumi Nusantara ini dimulai hanya satu tahun setelah Penerbangan Pesawat udara pertama dilakukan oleh persaudaraan

Lebih terperinci

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha Abstrak CV Belief Shoes merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur sepatu. Sepatu yang diproduksi terdiri dari 2 jenis, yaitu sepatu sandal dan sepatu pantofel. Dalam penelitian ini penulis

Lebih terperinci