BAB II LANDASAN TEORI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II LANDASAN TEORI"

Transkripsi

1 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Definisi Lean six sigma. Lean adalah suatu upaya terus menerus untuk menhilangkan pemborosan (waste) dan meningkatkan nilai tambah (value added) produk (barang dan/atau jasa) agar memberikan nilai kepada pelanggan (customer value). Tujuan lean adalah meningkatkan terus menerus customer value melalui peningkatan terus menerus rasio antara nilai tambah terhadap waste (the value-to-waste ratio). Lean Six Sigma merupakan perpaduan dari Lean dan Six Sigma. Lean berfokus pada aliran proses untuk mengidentifikasi dan menghilangkan nilai selain menambah kegiatan, dan Six Sigma berfokus pada data faktual dan metodologi pemecahan masalah kaya untuk mengurangi variasi proses. Kombinasi dari kedua membuat Lean Six Sigma merupakan metodologi yang sempurna untuk manufaktur dan organisasi jasa untuk secara akurat 7

2 8 mengidentifikasi Voice of Customer dan Voice of Business, melaksanakan perbaikan proses dengan metodologi yang telah terbukti oleh Change Agents yang mampu. Hal ini kemudian akan menjadikan perbaikan proses bisnis sebagai sebuah pola pikir, sebagai kebiasaan, dan budaya. Sedangkan pada perusahaan manufactur lean adalah filosofi manajemen proses yang secara sistematis mengidentifikasi dan menghilangkan pemborosan dan nilai non menambahkan aktivitas sepanjang proses. Prinsip-prinsip Lean efektif untuk membuat aliran dalam produktivitas, kapasitas, dan throughput menjadi maksimal. Hasilnya adalah peningkatan kecepatan dan kelincahan dalam perusahaan. Lean juga didefinisikan sebagai sebuah metoda dalam menghilangkan sesuatu yang bersifat waste. Waste didefinisikan sebagai segala macam hal yang tidak memberi nilai tambah ditinjau dari sudut pandang pelanggan akhir. Kata sederhana yang bisa menggantikan waste adalah mubazir atau sia-sia. Dalam organisasi perusahaan, inisiatif Lean diterapkan ke seluruh lini organisasi dalam rangka mencapai proses yang efektif dan lebih efisien, sehingga produktivitas perusahaan meningkat, menurunkan biaya operational, dan meningkatkan keuntungan bisnis Identifikasi Bentuk-Betuk waste atau Pemborosan. Dalam TPS (Toyota Production System) terdapat 3 hal yang mengakibatkan pemborosan, yaitu muda, mura dan muri. Berikut adalah penjelasan tentang 3 hal tersebut : 1. MURI ( Beban berlebihan )

3 9 Adalah kegiatan yang membebani mesin, Peralatan, Orang dengan beban yang melampaui kemampuannya. Contoh : - Penggunaan alat angkat / angkut yang melebihi kapasitasnya. - Operator yang tidak terampil untuk satu jenis pekerjaan, langsung ditugaskan untuk mengerjakan pekerjaan tersebut. Kondisi ini akan mengakibatkan Quality problem, Safety, dll. Selain yang dibebani berlebihan akan cepat rusak, juga akan mengakibatkan PEMBOROSAN untuk perbaikannya. 2. MURA ( Ketidak seimbangan ) Timbul karena suatu saat tertentu terjadi ekses capacity tetapi pada saat yang lain yang segera terjadi beban berlebihan, hal ini terjadi disebabkan adanya ketidak teraturan / fluktuasi dalam volume produksi. Pemborosan terjadi karena ketidak teraturan dalam aktivitas produksi yang menyebabkan beban puncak hanya terjadi sewaktu waktu saja. 3. MUDA ( Pemborosan ) Adalah suatu kondisi, aktivitas / kegiatan yang tidak memberi nilai tambah. Hal ini akan mengakibatkan biaya produksi menjadi tinggi. Pada kegiatan TPS, Muda ( Pemborosan ) merupakan target Improvement untuk dihilangkan.

4 10 MUDA MURA - MURI TPS PEKERJAAN & MUDA KERJA POKOK GERAKAN DALAM BEKERJA MUDA KERJA PELENGKAP Kerja lengkap adalah suatu kegiatan yang tidak menghasilkan nilai tambah, tetapi diperlukan. Contoh : - Mengambil Tool untuk memasang. - Mengambil Part untuk dipasang. - Mensuply /megirim part kejalur. Dan lain-lain Contoh aktivitas tersebut diatas, memang tidak memberi nilai tambah, tetapi harus dilakukan. Namun demikian, usahakan persentase kerja pelengkap ini sekecil mungkin, sehingga persentase kerja pokok menjadi besar. Berikut adalah beberapa contoh dari aktifitas muda : 1. Muda Over produksi ( jumlah prod.melebihi jumlah yg. dibutuhkan ) 2. Muda Transportasi ( Handling yang berulang ulang tanpa memberi kan nilai tambah ). 3. Muda Stock ( adanya persediaan yang melebihi minimal Stock ). 4. Muda Gerakan. ( Gerakan dalam proses kerja yang tidak memberikan nilai tambah ).

5 11 5. Muda Menunggu. ( waktu menunggu,dengan membiarkan mesin dan Operatornya menunggu untuk bekerja ). 6. Muda Proses. ( Pemborosan suatu proses yang tidak perlu terjadi ). 7. Muda Defect. ( disebabkan terjadinya cacat terhadap hasil produksi ). MUDA MURA - MURI TP S MUDA ( Pemborosan ) yang paling berbahaya. Tanbahan persediaan Tambahan Orang. Tambahan penanganan Tambahan ruang produksi Tambahan bunga. Tambahan Mesin. Tambahan Cacat. Tambahan Dokumen. Produksi yang berlebihan menciptakan lebih banyak masalah, Dan menutupi sebab permasalahan yang sebenarnya. Kesimpulan : MUDA merupakan salah satu faktor kerja yang mengakibatkan PEMBOROSAN, sehingga dapat menurunkan PROFIT perusahaan. Aktivitas Perbaikan / Improvement terhadap penyimpangan yang diakibatkan karena ketujuh jenis MUDA harus selalu dilakukan secara kontinyu dan oleh seluruh pihak ( seksi ) secara bersama TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE Total Productive Maintenance (TPM) adalah pilar utama yang membangun lean six sigma. Jika waktu mesin untuk beroperasi (machine uptime) tidak dapat di prediksi dan jika kapabilitas rendah, kita akan tidak mampu memnuhi permintaan pelanggan yang berflukluasi dan fleksibel.

6 12 Pemikiran TPM bukan pada perbaikan mesin, tetapi pencegahan kerusakan mesin/peralatan untuk meningkatkan umur mesin/peralatan. Sasaran TPM adalah memaksimumkan Overall equipment Effectiveness (OEE) untuk menurunkan down time yang tidak terencana (unplanned equipment down time), sehingga kapasitas peralatan itu meningkat dan biaya menurun. Menciptakan suatu lingkungan kerja tempat quality, cost, delivery, safety, dan morale (QCSDM) terus menerus ditingkatkan melalui partisipasi aktif semua karyawan dan manajemen merupakan langkah menuju TPM. Usaha-usaha untuk menrapkan program 5S dan 6S merupakan langkah awal yang baik untuk membangun TPM menuju perusahaan lean sigma (Lean sigma enterprise system). Pengukuran OEE akan memberitahukan kita tentang bagaimana TPM berlangsung, bukan sekedar tentang waktu mesin beroperasi (equipment uptime) dan hasil produski. Dalam TPM, operator mesin HARUS menyadari bahwa perawatan mesin adalah TUGAS UTAMA mereka, BUKAN melepaskan tanggung jawab kepada bagian maintenance. Total Productive Maintenance merupakan suatu filosofi yang bertujuan memaksimalkan efektivitas dari fasilitas yang digunakan di dalam industri, yang tidak hanya dialamatkan pada perawatan saja tapi pada semua aspek dari operasi dan instalasi dari fasilitas produksi termasuk juga didalamnya peningkatan motivasi dari orang-orang yang bekerja dalam perusahaan itu. Komponen dari TPM secara umum terdiri atas 3 bagian, yaitu :

7 13 1. Total approach : semua orang ikut terlibat, bertanggung jawab dan menjaga semua fasilitas yang ada dalam pelaksanaan TPM. 2. Productive action : sikap proaktif dari seluruh karyawan terhadap kondisi dan operasi dari fasilitas produksi. 3. Maintenance : pelaksanaan perawatan dan peningkatan efektivitas dari fasilitas dan kesatuan operasi produksi. Keuntungan dari pelaksanaan TPM bisa dinikmati oleh semua pihak karena adanya peningkatan efektivitas dari fasilitas yang dapat dilihat melalui peningkatan Overall Effectivenes. Overall Effectivenes merupakan suatu indikator dari efektivitas suatu proses. TPM mempertimbangkan Overall Effectivenes sebagai salah satu ukuran performance dan perbaikan yang signifikan Manfaat implementasi TPM : Berikut adalah beberapa manfaat implemantasi TPM : 1. Reduksi dalam unplanned downtime 2. Meningkatkan kapasitas produksi 3. Reduksi biaya-biaya perawatan (maintenance cost) dan memperpanjang masa pakai peralatan 4. Operator-operator mesin terlibat aktif dalam memaksimumkan kinerja peralatan 5. Menetapkan rencana perawatan, termasuk perawatan preventive (preventive maintenance) dan perawatan prediktif (predictive maintenance) 6. Meningkatkan kualitas produk

8 14 7. Meningkatkan OEE Perhitungan Overall Effectiveness adalah sebagai berikut: Overall Effectiveness = % availability x % performance x % quality % Availability = Loading time - (breakdown+ set up time loss) x100% Loading time % Performance = Quantity produced x100% Time run x capacity given time Atau % Performance = Time run Minor stoppage Reduce speed x100% Time run % Quality = Amount produced Defect Reprocesse d x100% Produced atau % Quality = Time run Defect time Reprocessi ng time x100% Time run Berikut adalah beberapa langkah yang harus di lakukan sebelum membangun system TPM : 1. Mengembalikan peralatan atau mesin ke kondisi yang dapat di andalkan dengan cara sebagai berikut : - Bersihkan mesin dan peralatan secara hari-hati (oleh semua anggota TPM tim) - Gunakan color-coded tag atau catatan-catatan tentatng area yang membutuhkan perbaikan atau perawatan. - Lakukan perbaikan atau perawatan mesin dan peralatan

9 15 2. Eliminasi breakdowns - Lakukan peninjauan ulan defect tags dalam tahap di atas - Eliminasi factor-faktor yang berkontribusi terhadap kegagalan (factorfaktor yang menyebabkan kerusakanmesin dan peralatan. - Tingkatkan aksesibilitas terhadap bagian atau area sehingga pembersihan, penyesuaian, pemberian minyak, inspeksi, dan aktifitas lain dapat dilakukan secara teratur. 3. Mengembangkan data base informasi tentang TPM Tunjuk satu tim untuk mendokumentasikan semua prosedur preventive maintenance. 4. Eliminasi cacat 1. Siapkansuatu deteksi awal (peringatan dini) 2. Lakukan instalasi visual control melalui TPM Activity Board atau audit 5S/6S 3. Bantu mencegah kerusakan di masa yang akan datang melalui pelatihan semua staf maintenance tentang teknik-tenik TPM.yang sesuai. 4. Lakukan implementasi 5S atau 6S, kaizen, dll, untuk meningkatkan housekeeping dan organisasi. 5. Tinjau uang dan tingkatkan kinerja mesin dan peralatan secara regular, melalu pertemuan bersama secara periodic antara bagian produksi dan bagian perawatan guna membahas kemajuan dan hambatan TPM

10 16 6. Tingkatkan keamanan untuk mencapai kecelakaan nol (zero accidents) dengan mentaati semua prosedur standar seperti lock-out/tagout procedure, proper lifting techniques, penggunaan alat-alat pengaman, dll Implementasi 5S atau 6S Perusahaan-perusahaan lean-sigma memulai program peningkatan terus menerus secara mendasar melalui perbaikan housekeeping menggunakan prinsip 5S atau 6S untuk menciptakan dan memelihara agar tepat kerja menjadi teratur, bersih, aman dan mem\iliki kinerja tinggi. 5S, yang memungkinkan setiap orang memisahkan kondisi-kondisi normal dan abnormal, merupakan landasan untuk peningkatan terus menerus, zero defect, reduksi biaya, dan untuk menciptakan area kerja yang aman dan nyaman. 5S adalah program peningkatan terus menerus yang memiliki akronim berikut : 1. Seiri (Sort = Pengaturan) : Secara tegas memisahkan item yang dibutuhkan dari item yang tidak dibutuhkan, kemudian menghilangkan atau membuang item yang tidak diperlukan dari tempat kerja. 2. Seiton (Stabilize, Straighten, Set in order, Simplify) : Menyimpan item yang di perlukan di tempat agar mudah di ambil jika akan di gunakan. 3. Seiso (Shine, Sweep) :

11 17 Mempertahankan area kerja agar tetap bersih dan rapih 4. Seiketsu (Standardize) : Melakukan standarisasi terhadap praktek 3S (Seiri, Seiton, dan Seiso) di atas 5. Shitsuke (Sustain, self-discipline) : Membuat agar kedisiplinan menjadi suatu kebiasaan melalui mengikuti prosedur-prosedur yang telah di tetapkan Tujuan implementasi 5S Langkah langkah pendekatan terhadap penerapan 5S pada daerah tertentu : 1. 1S- Sort Menyingkirkan atau membuang dari tempat kerja semua item yang tidak digunakan lagi dalam pelaksanaan tugas atau aktivitas. T/M mengidentifikasi item yang tidak dibutuhkan (dies usang pada rak) dan rak red-tags. 2. 2S- Stabilize Mengatur atau menyusun item-item yang di perlukan dalam area kerja, kemudian mengidentifikasi dan memberikan label atau tanda, sehingga setiap orang dapat menemukan item-item itu secara mudah dan cepat. Item diletakkan pada area red-tag. Item mungkin akan digunakan line yang lain atau pada akhirnya dibuang. 3. 3S-Shine Menjaga atau memelihara agar area kerja tetap bersih dan rapih (bersinar). Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan :

12 18 1. Tentukan the shine target 2. Tentukan jadwal untuk melakukan house keeping 3. Buat prosedur untuk melakukan shine harian 4. Tetapkan periode Inspeksi secara regular 4. 4S-Standardize Menstandarisasikan atau menciptakan konsistensi implementasi 1S-3S. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan : 1. Meninjau ulang prosedur-prosedur yang dilakukan untuk 1S- 3S, dan memasukan elemen-elemen 3S itu ke dalam aktifitas harian 2. Menggunakan visual process control dan petunjuk-petunjuk visual apa saja yang tepat untuk membantu orang mengingat atau memahami tentang hal-hal yang terjadi dan mempertahankan 3S yang telah di tetapkan 3. Menciptakan 5S agreements untuk memfleksibelkan keputusan-keputusan tentang siapa yang akan bertanggung jawab untuk tugas apa, dll. 5. 5S-Sustain Menjamin keberhasilan dan kontinuitas program 5S atau 6S jika dimasukan safety, atau 7S, jika telah mengadopsi lean six sigma sebagai suatu disiplin.

13 19 Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk implementasi sustain : 1. Ciptakan suatu fomuir audit 5S 2. Tetapkan jadwal periodik untuk melakukan audit 5S 3. Merayakan kesuksesan implementasi program 5S atau 6S 2.5. Metode Improvement Metode structure cycle Berikut adalah bagian-bagian yang terdapat pada structure cycle 1. QCC (Quality Control Circle) QCC adalah sebuah kelompok yang beranggotakan 4 s/d 10 orang dari golongan 2 & 3 dan berasal dari 1(satu)seksi/departemen yang secara terus menerus menjaga dan meningkatkan kualitas produk, layanan, dan pekerjaan. 2. QCP (Quality Control Project) QCP adalah sebuah kelompok yang beranggotakan 4 s/d 10 orang dari golongan 3 & 4 dan berasal dari 1(satu) departemen/divisi yang secara terus menerus menjaga dan meningkatkan kualitas produk, layanan, dan pekerjaan.

14 20 Struktur Circle QCC 1. Golongan 4 2. Berjumlah 1 orang QCP 1. Dept. Head 2. Berjumlah 1 orang 1. Bergantian per tema 2. Sebagai pemimpin kelompok 3. Semua Golongan 4. Berjumlah 1 orang 1. Ditentukan per Project 2. Sebagai pemimpin kelompok 3. Golongan 4 4. Berjumlah 1 orang Berjumlah min. 4 max 10 (Termasuk Tema Leader) Berjumlah min. 4 max 10 (Termasuk Tema Leader) 3. SS (Suggestion System) SS adalah kegiatan improvement yang dilakukan oleh tiap individu karyawan, ruang lingkupnya adalah area proses kerja. Tiap karyawan dapat melakukan improvement terhadap jenis pekerjaannya agar lebih efektif, efisien, dan menghasilkan kinerja yang maksimal.

15 Metode Improvement PDCA Berikut adalah 8 langkah yag di lakukan improvement dengan menggunakan metode PDCA : Langkah 1 Menentukan Tema & Analisa Situasi Langkah 8 Menetapkan Rencana Berikut Langkah 2 Menetapkan Target Langkah 7 Standarisasi & Rencana Pencegahan YA Langkah 3 Analisa Faktor Penyebab & Menemukan Sumber Penyebab TIDAK Hasil Memuaskan? Langkah 6 Evaluasi Hasil Langkah 4 Mencari ide-ide perbaikan Langkah 5 Implementasi rencana perbaikan Bagan 2.1 Bagan langkah-langkah PDCA 2.6. Langkah-langkah improvement Berikut adalah langkah-langkah improvement dengan menggunakan metode PDCA : 7. Menentukan tema & Analisa Situasi 8. Menetapakan Target

16 22 9. Analisa Faktor & Menemukan Sumber Penyebab 10. Mencari Ide Perbaikan 11. Implementasi Ide Perbaikan 12. Evaluasi Hasil 13. Standarisasi & Rencana Pencegahan Tahapan Kaizen dan Metode QCC P TAHAP KAIZEN METODE QCC 1 Mencari point yang dapat di kaizen 1. Pemilihan Thema 2. Menetapkan Target 2 Analisa kondisi yang ada 3. Analisa kondisi yang ada D C A 3 Mencari solusi / ide untuk perbaikan 4 Membuat rencana kongkrit ide perbaikan / rencana kaizen 5 Melakukan rencana ide perbaikan / kaizen 6 Konfirmasi pelaksanaan proses & hasil 4. Analisa sebab akibat 5. Rencana penanggulangan 6. Penanggulangan 7. Evaluasi hasil 8. Standarisasi & Tindak lanjut Menentukan tema & Analisa Situasi Masalah adalah sesuatu yang : menyimpang dari keinginan menyimpang dari target menyimpang dari standar/aturan

17 23 BANDINGKAN!!!! Apakah t er j adi penyimpangan???? harapan - hal yang diinginkan - St andard kualit as - t arget kondisi Kondisi aktual Keadaan yang sesungguhnya MA SA LA H - MA SA LA H KELO M PO K PRIO RIT A S MA SA LA H T EM A A N A LISA M A SA LA H Pa r a m e t e r h a s il - q u a l it y - c o s t - d e l iv e r y - s a f e t y - mo r a l - e n v ir o n m e n t - p r o d u c t iv it y Pa r a m e t e r imp l e me n t a s i - k e ma m p u a n t e k n is - d a t a p e n d u k u n g - w a k t u p e n y e l e s a ia n - p r io r it a s k e b u t u h a n (u r g e n t ) P A RA MET ER A N A LISA M A SA LA H Bagan 2.2 Parameter analisa masalah 2. Menetapkan Target Dasar penetapan target 4. Sejalan dengan Target yang ditetapkan perusahaan. 5. Sejalan dengan Target customer.

18 24 6. Kondisi terbaik yang pernah dicapai. 7. Hasil dari analisa. 8. Veto (Target diambil berdasarkan kesepakatan bersama tanpa didukung data yang akurat). Perlu diketahui bahwasanya penetapan target nomor 5 ini adalah yang paling lemah. 3. Analisa Faktor & Menemukan Sumber Penyebab Lihat raba ukur cium Selidikilah kondisi di lapangan v ringkas Buatlah ringkasan hasil penyelidikan. Rangkumlah dengan baik data dan fakta yang telah didapatkan. v kel ompokkan Kelompokan masalah yang didapat ( Stratifikasi ) 4. Mencari Ide Perbaikan Bagaimana cara mengembangkan ide? 4. Elimination 5. Apa yang terjadi jika sesuatu dihilangkan? 6. Reversal 7. Apa yang terjadi bila sesuatu dibalik?

19 25 8. Enlargement & Reduction 9. Apa yang terjadi bila sesuatu diperbesar atau dikurangi? 10. Replacement & Substitution 11. Apa yang terjadi bila pengunaan sesuatu diubah settingnya atau diganti? 12. Changing of Sequence 13. Apa yang terjadi bila urutan kerja/proses diubah? 14. Combine 15. Apa yang terjadi bila dua atau lebih pekerjaan digabungkan menjadi satu? 5. Implementasi Ide Perbaikan 14. Seluruh orang yang terlibat harus berperan aktif sesuai dengan pembagian tugas yang telah disepakati. 15. Kumpulkan data dan catat semua hal yang menyimpang selama pelaksanaannya 16. Pengecekan hasil dilakukan dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah perbaikan. 17. Cara penanggulangan 18. Eliminate : Penghilangan 19. Combine : Penggabungan 20. Re-Arrange : Penataan ulang 21. Simplify : Penyederhanaan

20 26 6. Evaluasi Hasil Bandingkanlah hasil improvement dengan sebelum improvement dengan menggunakan data dan seluruh informasi yang ada. 7. Standarisasi & Rencana Pencegahan Penanggulangan yang baik harus ditetapkan sebagai standar untuk mencegah masalah yang sama terulang kembali. Terdapat dua alasaan mengapa standarisasi perlu dilakukan 16. Tanpa Standar, dengan berjalannya waktu, tindakan penganggulangan yang sudah dilakukan sedikit demi sedikit akan dilupakan dan cara lama akan dipakai kembali yang mengakibatkan masalah yang sudah diatasi akan muncul kembali. 17. Tanpa Standar yang jelas, kemungkinan besar masalah yang sama akan muncul jika terdapat pergantian personel. 8. Penetapan Rencana Berikut 4. Kemukakan masalah-masalah/program-program perbaikan yang masih ada 5. Buat rencana tentang apa yang akan dilakukan dengan masalah yang masih tersisa 6. Pikirkan dan ulas apa yang sudah berjalan dengan baik dan apa yang belum berjalan baik.

21 Tool Improvement Berikut adalah 7 tools yang digunakan untuk improvement dalam lean six sigma : Check Sheet, Stratifikasi, Grafik, Diagram Tulang ikan (Fishbone), Diagram Pareto, Histogram, Scatter Diagram. 9. Check sheet Contoh check sheet : Tabel 2.1 Check sheet data kerusakan part 10. Stratifikasi 4. Stratifikasi adalah alat berupa tabel yang berfugsi mengklasifikasikan data menjadi kelompok yang sejenis yang lebih terperinci atau menjadi unsurunsur tunggal dari masalah/data sehingga menghasilkan informasi yang lebih jelas dan mudah untuk dianalisis.

22 28 5. Kumpulkan dan kelompokanlah masalah berdasarkan faktor-faktor tertentu sesuai baris dan kolom dalam satu tabel secara urut. (misalnya jenis kerusakan, jenis penyebab kerusakan, lokasi kerusakan, material, hari pembuatan, unit kerja, penanggung jawab, waktu, dll), Contoh Stratifikasi : Tabel 2.2 Tabel stratifikasi Location Defect A B C D 11. Grafik Grafik adalah kumpulan data yang dinyatakan dalam bentuk gambar secara sistematis. Grafik berfungsi 22. mempermudah dan memperjelas pembacaan data 23. memaparkan data masa lalu dan masa kini 24. melihat dengan jelas perbandingan dengan data lain yang berhubungan 25. mempermudah menganalisa guna pengambilan keputusan

23 29 Contoh grafik : Bar Graph Digunakan untuk membandingkan data (contoh : pendapatan, pengeluaran, defect, dll) Chart 2.1 Contoh bar graph Line Graph Digunakan untuk menggambarkan pergerakan data. Chart 2.2 Contoh line graph

24 30 Pie Charts Digunakan untuk menunjukan rasio dan perbandingan bobot pendapatan. Chart 2.3 Contoh pie chart Band Graph Digunakan untuk menggambarkan perubahan data Chart 2.4 Contoh band graph

25 31 Gantt Chart Digunakan untuk membuat activity plan atau rencana kegiatan, jadwal Penugasan, dan semacamnya. Tabel 2.3 Contoh gantt chart Radar Chart Digunakan untuk menggambarkan perubahan data. Chart 2.5 Contoh radar chart Isograph

26 32 Digunakan untuk merepresentasikan sebuah kondisi atau data dengan menggunakan simbol. Hal ini membuat mudah untuk dimengerti. Tabel 2.4 Contoh isograph Control Chart Menunjukan nilai rata² sebuah data (Range of Variability) (contoh : dimensi, Kekerasan, berat, netto,dll). X R Chart 2.6 Contoh control chart

27 33 7. Diagram Tulang Ikan Diagram ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui penyebab dari suatu masalah. Diagram sebab akibat merupakan suatu pendekatan terstruktur yang memungkinkan dilakukan suatu analisis lebih terperinci dalam menemukan penyebab-penyebab suatu masalah, ketidaksesuaian, dan kesenjangan yang ada. Contoh : S EBABM A N MET HOD MA CHINE ENV IR ONMENT M A T ER IA L AKIBAT? Diagram bon 2.1 Contoh diagram tulang ikan 8. Diagram Pareto Diagram Pareto merupakan diagram batang untuk menjelaskan hirarki permasalahan sehingga berfungsi untuk menentukan prioritas penyelesaian yang disusun secara menurun dari besar ke kecil. Teknik analisis pareto digunakan untuk mengidentifikasikan dan mengevaluasi cacat atau penyebab yang paling dominan sehingga kita dapat memprioritaskan penyelesaian masalah. Contoh diagram pareto :

28 34 Chart 2.7 Contoh pareto chart 9. Histogram Histogram adalah diagram batang yang menggambarkan bentuk distribusi data. Contoh histogram : Chart 2.8 Contoh histogram chart

29 Scatter Diagram Scarter diagram atau diagram pencar merupakan diagram yang menggambarkan korelasi (hubungan) antara 2 faktor/ data yang ada. Diagram ini berguna untuk mengetahui tingkat hubungan dua kelompok data dan menemukan penyebab yang perlu dikendalikan dan ditingkatkan. Contoh Scatcher diagram : Chart 2.9 Contoh scatter diagram

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Diagram Alir DELAPAN LANGKAH 8. Menetapkan target 1. Menentukan tema & analisa situasi 9. Standarisasi & rencana 2. Menetapkan target 6. Evaluasi hasil 3. Analisa faktor penyebab

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 13 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Total Productive Maintenance Total Productive Maintenance (TPM) adalah teknik silang fungsional yang melibatkan beberapa bagian fungsional perusahaan bukan hanya pada Bagian

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Mutu ( Quality ) Mutu adalah sesuatu yang diputuskan oleh pelanggan dan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh pelanggan. Mutu didasarkan pada pengalaman aktual

Lebih terperinci

1 BAB I PENDAHULUAN. ini disebabkan karena tim perbaikan tidak mendapatkan dengan jelas

1 BAB I PENDAHULUAN. ini disebabkan karena tim perbaikan tidak mendapatkan dengan jelas 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Usaha perbaikan pada industri manufaktur, dilihat dari segi peralatan adalah dengan meningkatkan efektivitas mesin/peralatan yang ada seoptimal mungkin. Pada

Lebih terperinci

Analisa Total Productive Maintenance pada Mesin Machining Center pada PT. Hitachi Power System Indonesia (HPSI) Dengan Menggunakan Metode

Analisa Total Productive Maintenance pada Mesin Machining Center pada PT. Hitachi Power System Indonesia (HPSI) Dengan Menggunakan Metode Analisa Total Productive Maintenance pada Mesin Machining Center pada PT. Hitachi Power System Indonesia (HPSI) Dengan Menggunakan Metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) Achmad Nur Fauzi Program

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN Metode penelitian ini merupakan cara atau prosedur yang berisi tahapantahapan yang jelas yang disusun secara sistematis dalam proses penelitian. Tiap tahapan maupun bagian yang

Lebih terperinci

BAB 1 LANDASAN TEORI

BAB 1 LANDASAN TEORI 5 BAB 1 LANDASAN TEORI 1.1 Produktivitas Menurut Sinungan (2003, P.12), secara umum produktivitas diartikan sebagai hubungan antara hasil nyata maupun fisik (barang-barang atau jasa) dengan masuknya yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Overall Equipment Effectiveness ( OEE ) Overall Equipment Effectiveness (OEE) adalah tingkat keefektifan fasilitas secara menyeluruh yang diperoleh dengan memperhitungkan

Lebih terperinci

BAB V ANALISA HASIL. fokus di dalam program peningkatan kualitas Lean Six Sigma sehingga cacat

BAB V ANALISA HASIL. fokus di dalam program peningkatan kualitas Lean Six Sigma sehingga cacat BAB V ANALISA HASIL 5.1 Analisa Hasil Pengolahan Data Untuk mencari akar penyebab masalah maka data harus dianalisa untuk menghasilkan perbaikan yang tepat. Hasil pengolahan data pada bab IV dijadikan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini akan diuraikan metodologi penelitian atau tahapan-tahapan penelitian yang akan dilalui dari awal sampai akhir. Metodologi penelitian perlu ditentukan terlebih

Lebih terperinci

PENGUKURAN PRODUKTIFITAS MESIN UNTUK MENGOPTIMALKAN PENJADWALAN PERAWATAN (STUDI KASUS DI PG LESTARI)

PENGUKURAN PRODUKTIFITAS MESIN UNTUK MENGOPTIMALKAN PENJADWALAN PERAWATAN (STUDI KASUS DI PG LESTARI) PENGUKURAN PRODUKTIFITAS MESIN UNTUK MENGOPTIMALKAN PENJADWALAN PERAWATAN (STUDI KASUS DI PG LESTARI) Fitri Agustina Jurusan Teknik Industri, Universitas Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang Po Box 2 Kamal,

Lebih terperinci

8 Step Aktivitas QCC. Oleh: Toyota Indonesia Institute

8 Step Aktivitas QCC. Oleh: Toyota Indonesia Institute 8 Step Aktivitas QCC Oleh: Toyota Indonesia Institute Jakarta, 10 Maret 2016 1 Step aktivitas QCC I. Persiapan I-1. Pembentukan Group I-2. Menentukan Nama Group III. Laporan / Persentasi II. QC Step (

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH Analisis Perhitungan Overall Equipmenteffectiveness (OEE).

BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH Analisis Perhitungan Overall Equipmenteffectiveness (OEE). BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH 5.1. Analisis Perhitungan Overall Equipmenteffectiveness (OEE). Analisis perhitungan overall equipment effectiveness pada PT. Selamat Sempurna Tbk. dilakukan untuk melihat

Lebih terperinci

Prosiding SNATIF Ke-1 Tahun ISBN:

Prosiding SNATIF Ke-1 Tahun ISBN: Prosiding SNATIF Ke-1 Tahun 201 4 ISBN: 978-602-1180-04-4 ANALISIS PENERAPAN TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE (TPM) MENGGUNAKAN OVERALL EQUIPMENT EFECTIVENESS (OEE) DAN SIX BIG LOSSES PADA MESIN CAVITEC DI

Lebih terperinci

Total Productive Maintenance (TPM) Sistem Perawatan TIP FTP UB Mas ud Effendi

Total Productive Maintenance (TPM) Sistem Perawatan TIP FTP UB Mas ud Effendi Total Productive Maintenance (TPM) Sistem Perawatan TIP FTP UB Mas ud Effendi Total Productive Maintenance Program perawatan yang melibatkan semua pihak yang terdapat dalam suatu perusahaan untuk dapat

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian menguraikan seluruh kegiatan yang dilaksanakan selama penelitian berlangsung dari awal proses penelitian sampai akhir penelitian. Setiap tahapan dalam

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 48 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Dalam melakukan suatu penelitian perlu dibuat urut-urutan proses pengerjaan yang dilakukan. Urut-urutan proses pengerjaan tersebut disebut Metodologi Penelitian. Hal ini

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian adalah suatu paradigma untuk memecahkan masalah yang terjadi agar penelitian ini lebih sistematis dan terarah. Bab ini berisi langkahlangkah pembahasan

Lebih terperinci

Total Productive Maintenance (TPM) Sistem Perawatan TIP FTP UB Mas ud Effendi

Total Productive Maintenance (TPM) Sistem Perawatan TIP FTP UB Mas ud Effendi Total Productive Maintenance (TPM) Sistem Perawatan TIP FTP UB Mas ud Effendi Total Productive Maintenance Program perawatan yang melibatkan semua pihak yang terdapat dalam suatu perusahaan untuk dapat

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pendahuluan Total Productive Maintenance (TPM) merupakan salah satu konsep inovasi dari Jepang, dan Nippondenso adalah perusahaan pertama yang menerapkan dan mengembangkan konsep

Lebih terperinci

3 BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bagian ketiga dari laporan skripsi ini menggambarkan langkah-langkah yang akan dijalankan dalam penelitian ini. Metodologi penelitian dibuat agar proses pengerjaan penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bagian ini akan dijelaskan macam-macam langkah yang digunakan dalam melakukan penelitian ini. 3.1 Studi Literatur Studi literatur merupakan tahapan penyusunan landasan

Lebih terperinci

BAB 3 LANDASAN TEORI

BAB 3 LANDASAN TEORI BAB 3 LANDASAN TEORI 3.1. Pengukuran Performansi Pengukuran performansi sering disalah artikan oleh kebanyakan perusahaan saat ini. Indikator performansi hanya dianggap sebagai indikator yang menunjukkan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian dan Tujuan Maintenance 2.1.1. Pengertian Maintenance Maintenance merupakan suatu fungsi dalam suatu industri manufaktur yang sama pentingnya dengan fungsi-fungsi lain

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS HASIL

BAB V ANALISIS HASIL BAB V ANALISIS HASIL 5.1.Analisis Perhitungan Overall Equipment Effectiveness (OEE) Analisa perhitungan OEE di PT. XYZ dilakukan untuk melihat tingkat efektivitas penggunaan mesin di mesi reaktor R-102

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 8 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Dasar dari Kualitas Kata kualitas memiliki banyak definisi yang berbeda, dan bervariasi dari yang konvensional sampai yang lebih strategik. Definisi konvensional dari

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode penelitian Berikut ini merupakan flowchart kerangka keseluruhan untuk melakukan penelitian. Menentukan Tema Identifikasi Masalah Menentukan latar belakang masalah

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI KEKURANGAN KANBAN MANUAL DENGAN METODE 5S PADA PT. EDC BAGIAN TESTING

IDENTIFIKASI KEKURANGAN KANBAN MANUAL DENGAN METODE 5S PADA PT. EDC BAGIAN TESTING Profesionalisme Akuntan Menuju Sustainable Business Practice PROCEEDINGS IDENTIFIKASI KEKURANGAN KANBAN MANUAL DENGAN METODE 5S PADA PT. EDC BAGIAN TESTING Farahdhina Leoni 1, Oktri Mohammad Firdaus 2,

Lebih terperinci

BAB 2 Landasan Teori 2.1 Total Quality Management

BAB 2 Landasan Teori 2.1 Total Quality Management BAB 2 Landasan Teori 2.1 Total Quality Management Total Quality Management (TQM) adalah suatu filosofi manajemen untuk meningkatkan kinerja bisnis perusahaan secara keseluruhan dimana pendekatan manajemen

Lebih terperinci

Pengantar Manajemen Pemeliharaan. P2M Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia

Pengantar Manajemen Pemeliharaan. P2M Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia Pengantar Manajemen Pemeliharaan P2M Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia Topik Bahasan Perkembangan manajemen pemeliharaan Sistem pemeliharaan Preventive maintenance (PM) Total

Lebih terperinci

Berikut jenis training & materinyaa :

Berikut jenis training & materinyaa : Berikut jenis training & materinyaa : 1. PREVENTIVE MAINTENANCE & SPARE PART MANAGEMENT (1 hari) 1. Memahami konsep : Corrective Maintenance Preventive Maintenance Predictive Maintenance 2. Proses pembuatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pesatnya perdagangan global menyebabkan setiap perusahaan dituntut untuk menekan biaya produksi dengan melakukan proses produktivitas dan efisiensi pada proses

Lebih terperinci

TIN102 - Pengantar Teknik Industri Materi #14 Ganjil 2014/2015 TIN102 PENGANTAR TEKNIK INDUSTRI

TIN102 - Pengantar Teknik Industri Materi #14 Ganjil 2014/2015 TIN102 PENGANTAR TEKNIK INDUSTRI Materi #14 TIN102 PENGANTAR TEKNIK INDUSTRI 5S Orisinal 2 6623 - Taufiqur Rachman 1 Aktivitas 5S 3 Metode untuk pengaturan tempat kerja dan pengendalian secara visual. Dipopulerkan oleh Hiroyuki Hirano

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE DI DEPARTEMEN NON JAHIT PT. KERTA RAJASA RAYA

IMPLEMENTASI TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE DI DEPARTEMEN NON JAHIT PT. KERTA RAJASA RAYA JURNAL TEKNIK INDUSTRI VOL. 3, NO. 1, JUNI 001: 18-5 IMPLEMENTASI TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE DI DEPARTEMEN NON JAHIT PT. KERTA RAJASA RAYA Tanti Octavia Ronald E. Stok Dosen Fakultas Teknologi Industri,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Teknologi merupakan komponen penting bagi berkembangnya

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Teknologi merupakan komponen penting bagi berkembangnya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Teknologi merupakan komponen penting bagi berkembangnya perusahaan. Semakin berkembangnya industri semakin banyak pula teknologi yang dikembangkan. Salah satu

Lebih terperinci

Evaluasi Efektivitas Mesin Creeper Hammer Mill dengan Pendekatan Total Productive Maintenance (Studi Kasus: Perusahaan Karet Remah di Lampung Selatan)

Evaluasi Efektivitas Mesin Creeper Hammer Mill dengan Pendekatan Total Productive Maintenance (Studi Kasus: Perusahaan Karet Remah di Lampung Selatan) Evaluasi Efektivitas Mesin Creeper Hammer Mill dengan Pendekatan Total Productive Maintenance (Studi Kasus: Perusahaan Karet Remah di Lampung Selatan) Melani Anggraini *1), Rawan Utara *2), dan Heri Wibowo

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pada bab ini akan diuraikan tahapan atau langkah-langkah yang dilakukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pada bab ini akan diuraikan tahapan atau langkah-langkah yang dilakukan BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini akan diuraikan tahapan atau langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian secara sistematik, sehingga akan memudahkan dalam pelaksanaan penelitian. Hasil yang

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Stephens (2004:3), yang. yang diharapkan dari kegiatan perawatan, yaitu :

BAB 2 LANDASAN TEORI. Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Stephens (2004:3), yang. yang diharapkan dari kegiatan perawatan, yaitu : BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Definisi maintenance Maintenance (perawatan) menurut Wati (2009) adalah semua tindakan teknik dan administratif yang dilakukan untuk menjaga agar kondisi mesin/peralatan tetap

Lebih terperinci

Implementasi Metode Overall Equipment Effectiveness Dalam Menentukan Produktivitas Mesin Rotary Car Dumper

Implementasi Metode Overall Equipment Effectiveness Dalam Menentukan Produktivitas Mesin Rotary Car Dumper Implementasi Metode Overall Equipment Effectiveness Dalam Menentukan Produktivitas Mesin Rotary Car Dumper Melani Anggraini* 1), Marcelly Widya W 2), Kujol Edy F.B. 3) 1,2,3) Program Studi Teknik Industri

Lebih terperinci

BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH

BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH 5.1 Analisa Perhitungan Overall Equipment Effectiveness (OEE) Analisa perhitungan Overall Equipment Effectiveness di PT. Gramedia Printing Group dilakukan untuk melihat

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LADASA TEORI Dalam penulisan tugas akhir ini diperlukan teori-teori yang mendukung, diperoleh dari mata kuliah yang pernah didapat dan dari referensi-referensi sebagai bahan pendukung. Untuk mencapai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada industri manufaktur mesin/peralatan yang telah tersedia dan siap

BAB I PENDAHULUAN. Pada industri manufaktur mesin/peralatan yang telah tersedia dan siap BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada industri manufaktur mesin/peralatan yang telah tersedia dan siap pakai dibutuhkan pada setiap saat ketika proses produksi akan dimulai. Fungsi mesin/peralatan

Lebih terperinci

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Pengumpulan Data Mesin atau peralatan yang menjadi objek penelitian adalah pada bagian pengeringan di PT. XYZ yaitu pada mesin Dryer Twind. Karena mesin ini bersifat

Lebih terperinci

VI. TOYOTA PRODUCTION SYSTEM. A. Pengertian Toyota Production System (TPS)

VI. TOYOTA PRODUCTION SYSTEM. A. Pengertian Toyota Production System (TPS) VI. TOYOTA PRODUCTION SYSTEM A. Pengertian Toyota Production System (TPS) Perusahaan berupaya untuk meningkatkan taraf kehidupan keryawan melalui usaha yang berkelanjutan untuk menghasilkan laba, sekaligus

Lebih terperinci

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 28 BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 4.1 Identifikasi masalah Pada bagian produksi di Stamping Plant PT. Astra Daihatsu Motor, banyak masalah yang muncul berkaitan dengan kualitas yang dihasilkan

Lebih terperinci

BAB V ANALISA HASIL Analisis Perhitungan Overall Equipment Effectiveness (OEE)

BAB V ANALISA HASIL Analisis Perhitungan Overall Equipment Effectiveness (OEE) 48 BAB V ANALISA HASIL 5.1. Analisis Perhitungan Overall Equipment Effectiveness (OEE) Analisis perhitungan overall equipment effectiveness di PT. Inkoasku dilakukan untuk melihat tingkat efektivitas penggunaan

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA 2017

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA 2017 TUGAS AKHIR ANALISIS NILAI OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS (OEE) UNTUK MENINGKATKAN EFEKTIVITAS MESIN WRAPPING HIGH SPEED DI PT. TORABIKA EKA SEMESTA Diajukan guna melengkapi sebagian syarat dalam mencapai

Lebih terperinci

Bab 3 Metodologi Pemecahan Masalah

Bab 3 Metodologi Pemecahan Masalah Bab 3 Metodologi Pemecahan Masalah 3.1. Flowchart Pemecahan Masalah Pada bagian ini akan diuraikan langkah-langkah pemecahan masalah yang dihadapi dan dapat digambarkan pada flowchart di bawah ini: Gambar

Lebih terperinci

SKRIPSI ANALISIS PENINGKATAN EFEKTIFITAS MESIN SEWING MENGGUNAKAN METODE OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS (OEE) DI PT.

SKRIPSI ANALISIS PENINGKATAN EFEKTIFITAS MESIN SEWING MENGGUNAKAN METODE OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS (OEE) DI PT. SKRIPSI ANALISIS PENINGKATAN EFEKTIFITAS MESIN SEWING MENGGUNAKAN METODE OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS (OEE) DI PT. SIOEN INDONESIA Disusun Oleh: ACHMAD ROSID 2012.10.215.319 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. b. Meminimalkan biaya bahan baku dan upah kerja. c. Kecepatan proses produksi dengan basis mess production yang seragam.

BAB 1 PENDAHULUAN. b. Meminimalkan biaya bahan baku dan upah kerja. c. Kecepatan proses produksi dengan basis mess production yang seragam. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Persaingan dalam dunia industri semakin meningkat, efisiensi produksi semakin menjadi tuntutan yang tidak bisa dihindarkan. Jika hal ini tidak diperhitungkan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Gambar 3.1 Flow Chart Metodologi Penelitian Metodologi penelitian perlu ditentukan terlebih dahulu, agar di dalam mencari solusi untuk memecahkan masalah lebih terarah dan

Lebih terperinci

PRESENTASI SIDANG SKRIPSI. September

PRESENTASI SIDANG SKRIPSI. September PRESENTASI SIDANG SKRIPSI 1 ANALISIS KINERJA DAN KAPABILITAS MESIN DENGAN PENERAPAN TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE (TPM) DI PT. X Disusun oleh Nama : Teguh Windarto NPM : 30408826 Jurusan : Teknik Industri

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian merupakan gambaran dari tahapan yang dilalui dalam menyelesaikan suatu masalah yang ditemui dalam sebuah penelitian, dimana dibuat berdasarkan latar

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL PENGOLAHAN DATA

BAB IV ANALISIS HASIL PENGOLAHAN DATA BAB IV ANALISIS HASIL PENGOLAHAN DATA 4.1. Analisis Perhitungan Overall Equipment Effectiveness (OEE) Analisa perhitungan overall equipment effectiveness di PT. Sulfindo Adi Usaha dilakukan untuk melihat

Lebih terperinci

1. Tingkat efectivitas dan efisiensi mesin yang diukur adalah dengan Metode Overall

1. Tingkat efectivitas dan efisiensi mesin yang diukur adalah dengan Metode Overall 1. Tingkat efectivitas dan efisiensi mesin yang diukur adalah dengan Metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) dan Six Big Losses sesuai dengan prinsip TPM (Total Produktive Maintenance) untuk mengetahui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tersebut adalah performance mesin yang digunakan (Wahjudi et al., 2009). Salah

BAB I PENDAHULUAN. tersebut adalah performance mesin yang digunakan (Wahjudi et al., 2009). Salah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Proses operasional kapal laut yang berlangsung dalam suatu industri pelayaran semuanya menggunakan mesin dan peralatan. Menurut Siringoringo dan Sudiyantoro (2004)

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 35 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Metodologi penelitian ini berguna sebagai acuan dalam melakukan penelitian, sehingga penelitian dapat berjalan dengan baik. Penulis melakukan

Lebih terperinci

BAB III METODELOGI PENELITIAN

BAB III METODELOGI PENELITIAN BAB III METODELOGI PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat Effektivitas dari pada mesin mesin m/c.cr.shaft yaitu mesin : Grinding,Fine Boring,dan Gun drilling. Sebagai langkah di dalam

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR ANALISIS PERHITUNGAN OEE ( OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS)

TUGAS AKHIR ANALISIS PERHITUNGAN OEE ( OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS) TUGAS AKHIR ANALISIS PERHITUNGAN OEE (OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS) DENGAN MULTIPLE REGRESI SEBAGAI METODE UNTUK MENGETAHUI LOSSES YANG PALING BERPENGARUH (Studi kasus: CV. Mediatama) Diajukan Sebagai

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian, adalah sebagai berikut :

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian, adalah sebagai berikut : BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodelogi penelitian merupakan cara atau prosedur yang berisi tahapatahapan yang jelas yang disusun secara sistematis dalam proses penelitian. Pada bab sebelumnya telah dijelaskan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Tugas Akhir 35 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian atau kerangka pemecahan masalah merupakan tahap tahap penelitian yang harus ditetetapkan terlebih dahulu, sebelum melakukan penelitian

Lebih terperinci

WHAT IS LEAN MANAGEMENT?

WHAT IS LEAN MANAGEMENT? WHAT IS LEAN MANAGEMENT? Lean thinking is lean, because it provides a way to do more and more with less and less Less human resources, less equipment, less time, less space More efficient, more product,

Lebih terperinci

AKTIFITAS UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI KEGIATAN PERAWATAN

AKTIFITAS UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI KEGIATAN PERAWATAN AKTIFITAS UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI KEGIATAN PERAWATAN Menekan Input 1.03-Planning & Budgeting-R0 1/18 MAINTENANCE PLANNING Maintenance Plan diperlukan untuk melakukan penyesuaian dengan Production

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pendahaluan Total Produktive Maintenance (TPM) merupakan salah satu konsep inovasi dari Jepang, dan Nippondenso adalah perusahaan pertama yang menerapkan dan mengembangkan konsep

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Gambar 3.1 Flow Chart Metodologi Penelitian Metodologi penelitian perlu ditentukan agar di dalam mencari solusi untuk memecahkan masalah lebih terarah dan mempermudah proses

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu kunci sukses perusahaan manufaktur Jepang dalam menciptakan keunggulan operasional adalah manajemen lingkungan kerja menjadi nilai tambah yang dikenal dengan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Kualitas Globalisasi dan kemudahan untuk mengakses informasi dari seluruh dunia, membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Perubahan itu juga Mempengaruhi dunia

Lebih terperinci

KEPEKAAN TERHADAP ADANYA LOSSES

KEPEKAAN TERHADAP ADANYA LOSSES FOCUSED IMPROVEMENT Definisi Semua kegiatan yang diarahkan untuk melakukan improvement pada kinerja dan kapabilitas mesin dan tidak terbatas pada merawat kondisi dasar mesin saja Pada umumnya diarahkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. berperan penting dalam perusahaan selain manajemen sumber daya manusia,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. berperan penting dalam perusahaan selain manajemen sumber daya manusia, BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Tinjauan Manajemen Operasi 2.1.1 Konsep Manajemen Operasi Manajemen operasi merupakan salah satu fungsi bisnis yang sangat berperan penting dalam perusahaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pembangunan industri pada sektor usaha bidang pertambangan batubara

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pembangunan industri pada sektor usaha bidang pertambangan batubara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan industri pada sektor usaha bidang pertambangan batubara adalah suatu upaya pemerintah dalam meningkatkan devisa negara. Hal ini karena pemerintah melihat

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. karena apabila diterapkan secara rinci antara produsen dan konsumen akan terjadi

BAB 2 LANDASAN TEORI. karena apabila diterapkan secara rinci antara produsen dan konsumen akan terjadi 8 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Kualitas Kualitas merupakan ukuran yang tidak dapat didefinisikan secara umum, karena apabila diterapkan secara rinci antara produsen dan konsumen akan terjadi perspektif yang

Lebih terperinci

BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH

BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Setelah mengevaluasi berbagai data-data kegiatan produksi, penulis mengusulkan dasar evaluasi untuk mengoptimalkan sistem produksi produk

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 6 BAB 2 LANDASAN TEORI Kualitas adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan (meeting the needs of customers) (Gasperz, 2006). Pengendalian kualitas secara statistik dengan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 23 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Definisi mengenai Kualitas Saat kata kualitas digunakan, kita mengartikannya sebagai suatu produk atau jasa yang baik yang dapat memenuhi keinginan kita. Menurut ANSI/ASQC Standard

Lebih terperinci

Tabel 4.38 Metode 5W+1H dan Analisis ECRS Untuk Filler. Tabel 4.39 Metode 5W+1H dan Analisis ECRS Untuk Pasteur

Tabel 4.38 Metode 5W+1H dan Analisis ECRS Untuk Filler. Tabel 4.39 Metode 5W+1H dan Analisis ECRS Untuk Pasteur Tabel 4.38 Metode 5W+1H dan Analisis ECRS Untuk Filler Tabel 4.39 Metode 5W+1H dan Analisis ECRS Untuk Pasteur Tabel 4.40 Metode 5W+1H dan Analisis ECRS Untuk Labeller Tabel 4.41 Metode 5W+1H dan Analisis

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Jenis Penelitian bersifat deskriptif yang artinya mengumpulkan data yang dibutuhkan yang dikumpulkan yang diteliti dan diolah untuk mudah dimengerti. Metode

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 61 BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 3.1. Model dan Teknik Penyelesaian Masalah Model pengatasan masalah reject dapat digambarkan sebagai berikut: STUDI PUSTAKA TUJUAN PENELITIAN OBSERVASI PERUSAHAAN

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN ANALISA

BAB V HASIL DAN ANALISA BAB V HASIL DAN ANALISA 5.1 Analisa Hasil Perhitungan Data Berdasarkan hasil dari pengumpulan serta pengolahan data yang sudah dilakukan menggunakan peta kendali p sebelumnya maka diperoleh hasil dari

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Lead Time Istilah lead time biasa digunakan dalam sebuah industri manufaktur. Banyak versi yang dapat dikemukakan mengenai pengertian lead time ini. Menurut Kusnadi,

Lebih terperinci

dalam pembahasan sehingga hasil dari pembahasan sesuai dengan tujuan yang

dalam pembahasan sehingga hasil dari pembahasan sesuai dengan tujuan yang BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Identifikasi Masalah Tahap identifikasi masalah adalah tahap dimana peneliti ingin menemukan masalah yang akan menjadi fokus penelitian. Tahap ini merupakan penggabungan dari

Lebih terperinci

BAB V ANALISA HASIL. sebelumnya menggunakan metode OEE maka dapat disimpulkan bahwa hasil

BAB V ANALISA HASIL. sebelumnya menggunakan metode OEE maka dapat disimpulkan bahwa hasil BAB V ANALISA HASIL Berdasarkan hasil analisa dan perhitungan yang telah dilakukan di bab sebelumnya menggunakan metode OEE maka dapat disimpulkan bahwa hasil pencapain OEE setiap bulannya adalah tidak

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Setiap industri manufaktur berusaha untuk efektif, dan dapat berproduksi dengan biaya produksi yang rendah untuk meningkatkan produktivitas. Usaha ini diperlukan untuk

Lebih terperinci

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisa Permasalahan yang Terjadi Sebelum improvement, di bagian produksi coklat compound terdapat permasalahan yang belum dapat diketahui. Proses grinding coklat compound

Lebih terperinci

Sumber : PQM Consultant QC Tools Workshop module.

Sumber : PQM Consultant QC Tools Workshop module. Sumber : PQM Consultant. 2011. 7QC Tools Workshop module. 1. Diagram Pareto 2. Fish Bone Diagram 3. Stratifikasi 4. Check Sheet / Lembar Pengecekan 5. Scatter Diagram / Diagram sebar 6. Histogram 7. Control

Lebih terperinci

BAB III KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN BAB III KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kajian Teori Teori yang di gunakan adalah : Line Performance (Operational Excellence) dan Losses 3.1.1 OPERATIONAL EXCELLENCE Operational excellence (OE)

Lebih terperinci

BAB III KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN BAB III KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Total Porductive Maintenance 3.1.1 Pengertian Total Productive Maintenance Salah satu cara yang sangat efektif dan efesien untuk meningkatkan pendayagunaan

Lebih terperinci

No HP : Trainer Agri Group Tier-2

No HP : Trainer Agri Group Tier-2 No HP : 082183802878 Tujuan training : Mengubah paradigma operator mesin bahwa kinerja mesin tidak hanya ditentukan oleh departemen maintenance tetapi oleh operator mesin juga. Mesinnya Rusak Kamu Merusak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tidak ada yang menyangkal bahwa kualitas menjadi karakteristik utama

BAB I PENDAHULUAN. Tidak ada yang menyangkal bahwa kualitas menjadi karakteristik utama BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tidak ada yang menyangkal bahwa kualitas menjadi karakteristik utama dalam perusahaan agar tetap survive. Buruknya kualitas ataupun penurunan kualitas akan

Lebih terperinci

STUDI PENERAPAN TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE (TPM) UNTUK PENINGKATAN EFESIENSI PRODUKSI DI PT. SINAR SOSRO

STUDI PENERAPAN TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE (TPM) UNTUK PENINGKATAN EFESIENSI PRODUKSI DI PT. SINAR SOSRO STUDI PENERAPAN TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE (TPM) UNTUK PENINGKATAN EFESIENSI PRODUKSI DI PT. SINAR SOSRO TUGAS SARJANA Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Analisa Peningkatan..., Achmad, Fakultas Teknik 2016

BAB I PENDAHULUAN. Analisa Peningkatan..., Achmad, Fakultas Teknik 2016 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada setiap industri manufaktur hampir semua proses produksinya menggunakan mesin atau peralatan sebagai fasilitas produksi yang utama. persaingan dalam penjualan produk

Lebih terperinci

Pengenalan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo 6 Maret 2017

Pengenalan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo 6 Maret 2017 Pengenalan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo 6 Maret 2017 Apa itu 5R? 5R merupakan kegiatan menata tempat kerja sehingga diperoleh lingkungan kerja yang nyaman dan

Lebih terperinci

BAB V ANALISA HASIL. mengetahui tingkat efektivitas penggunaan mesin AU L302,dari data hasil. Availability Ratio (%)

BAB V ANALISA HASIL. mengetahui tingkat efektivitas penggunaan mesin AU L302,dari data hasil. Availability Ratio (%) BAB V ANALISA HASIL 5.1 Pembahasan Analisa perhitungan Overal Equipment Effectiveness (OEE) dilakukan untuk mengetahui tingkat efektivitas penggunaan mesin AU L302,dari data hasil perhitungan availability

Lebih terperinci

Jl. Kaliurang Km 14.4 Sleman, DIY 55184 1,2)Email: [email protected] ABSTRAK

Jl. Kaliurang Km 14.4 Sleman, DIY 55184 1,2)Email: teknik.industri@uii.ac.id ABSTRAK Penerapan Metode Total Productive Maintenance (TPM) untuk Mengatasi Masalah Six-Big Losess dalam Mencapai Efisiensi Proses Produksi (Studi Kasus pada PT. Itokoh Ceperindo) Aldila Samudro Mukti 1, Hudaya

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Penyelesaian masalah yang diteliti dalam tugas akhir ini memerlukan teori-teori atau tinjauan pustaka yang dapat mendukung pengolahan data. Beberapa teori tersebut digunakan sebagai

Lebih terperinci

Bacaan Harian BUDAYA KERJAKU

Bacaan Harian BUDAYA KERJAKU Bacaan Harian BUDAYA KERJAKU DI BALAI BESAR PENGEMBANGAN LATIHAN KERJA DALAM NEGERI BANDUNG Diunduh: Djoko Sujono dari: https://eriskusnadi.wordpress.com/2011/08/06/5s-seiri-seitonseiso-seiketsu-shitsuke/

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perbaikan. Perbaikan yang diharapkan dapat meningkatkan keutungan bagi

BAB I PENDAHULUAN. perbaikan. Perbaikan yang diharapkan dapat meningkatkan keutungan bagi 3.1 Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN Untuk tetap bertahan di persaingan usaha, sebuah industri harus selalu melakukan perbaikan. Perbaikan yang diharapkan dapat meningkatkan keutungan bagi

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PENERAPAN METODE LEAN SIGMA UNTUK MEMPERBAIKI KINERJA QUALITY, COST DAN DELIVERY PRODUK SUNVISOR ASSY DI PT. APM ARMADA AUTOPARTS

TUGAS AKHIR PENERAPAN METODE LEAN SIGMA UNTUK MEMPERBAIKI KINERJA QUALITY, COST DAN DELIVERY PRODUK SUNVISOR ASSY DI PT. APM ARMADA AUTOPARTS TUGAS AKHIR PENERAPAN METODE LEAN SIGMA UNTUK MEMPERBAIKI KINERJA QUALITY, COST DAN DELIVERY PRODUK SUNVISOR ASSY DI PT. APM ARMADA AUTOPARTS Diajukan guna melengkapi sebagian syarat dalam mencapai gelar

Lebih terperinci

BAB V ANALISA HASIL PERHITUNGAN. Equipment Loss (Jam)

BAB V ANALISA HASIL PERHITUNGAN. Equipment Loss (Jam) BAB V ANALISA HASIL PERHITUNGAN 5.1 Analisa Nilai Availability Table 5.1 Nilai Availability Mesin Steam Ejector Planned Equipment Loss Time Availability Januari 42 6 36 85.71 Februari 44 7 37 84.09 Maret

Lebih terperinci

Bab 3 Metodologi Pemecahan Masalah

Bab 3 Metodologi Pemecahan Masalah Bab 3 Metodologi Pemecahan Masalah 3.1. Flow Chart Pemecahan Masalah Dalam flow chart pemecahan masalah dalam penelitian ini menggambarkan langkah-langkah yang akan ditempuh dalam melakukan penelitian.

Lebih terperinci