INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
|
|
|
- Fanny Dharmawijaya
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Katalog : INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA 2015 BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN BARRU Statistics of Barru Regency
2 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KABUPATEN BARRU TAHUN 2015 No.Publikasi : No.Katalog : Ukuran Buku : 17,5 cm x 25 cm Jumlah Halaman : iv + 35 Halaman Naskah Editor : Seksi Neraca Wilayan dan Analisis Statistik : Kepala BPS Kabupaten Barru Ilustrasi sampul : Seksi Integrasi Pengolahan dan Desiminasi Statistik Penerbit Pencetak : Badan Pusat Statistik Kabupaten Barru : CV. DIFA UTAMA, JL. SEHATI NO. 3, MAKASSAR Tahun Terbit : 2016 Cetakan Kedua Dilarang mengumumkan, mendistribusikan, mengomunikasikan, dan/atau menggandakan sebagian atau seluruh isi buku ini untuk tujuan komersil tanpa izin tertulis dari Badan Pusat Statistik
3 KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Kebutuhan konsumen akan data statistik makin kompleks khususnya untuk data sosial-ekonomi penduduk. Untuk memenuhi data tersebut Badan Pusat Statistik Kabupaten Barru telah menerbitkan publikasi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2015 dan merupakan edisi yang ke dua belas. Publikasi ini merupakan indeks komposit yang memberi gambaran menyeluruh mengenai pembangunan manusia. Disebut indeks komposit karena mencakup indikator dibidang pendidikan, kesehatan dan daya beli masyarakat. Terdapat perubahan metodologi dalam penghitungan IPM yaitu Indeks pendidikan dihitung dari indeks harapan lama sekolah umur 7 tahun ke atas dan rata rata lama sekolah usia pendidikan 25 tahun ke atas. Selain itu dalam penghitungan daya beli ada perubahan cakupan komoditas menjadi 66 komoditas makanan dan 30 komoditas non makanan yang berfungsi sebagai salah satu ukuran pencapaia keberhasilan pembangunan di Kabupaten Barru. Data yang digunakan untuk menganalisis dua hal tersebut di atas adalah hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Kepada semua pihak yang telah berpartisipasi sehingga terbitnya publikasi ini diucapkan banyak terima kasih. Saran dan kritik yang membangun kami harapkan untuk perbaikan publikasi. Barru, Oktober 2016 Kepala BPS Kabupaten Barru Samingun, S.Si Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru, 2015 ii
4 DAFTAR ISI DAFTAR ISI Kata Pengantar ii Daftar Isi iii Daftal Tabel iv Daftar Grafik iv Bab I. Pendahuluan 1.1.Latar Belaknag Tujuan Penulisan Sistimatika Penulisan Bab II. Metodologi 2.1. Konsep dan Definis IPM Angka Harapan Hidup Angka Harapan Lama Sekolah Rata-Rata Lama Sekolah Daya Beli/ PPP Sumber Data Bab IV. Kondisi Sosial Ekonomi 3.1.Jumlah dan Pertmbuhan Penduduk Keadaan Kesehatan Tingkat Pendidikan Keadaan Ketenagakerjaan Fasilitas Perumahan Perekonomian Bab IV. Perbandingan Antar Daerah 4.1.Perbandingan Komponen IPM Perbandingan IPM Bab V. Penutup 5.1.Kesimpulan Inplikasi Kebijakan Lampiran Tabel Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,2015 iii
5 DAFTAR ISI DAFTAR TABEL 2.1. Nilai Maksimum dan Minimum Komponen IPM yang Digunakan dalam Penghitungan Jenjang Pendidikan dan Skor yang Digunakan untuk Menghitung Rata-rata Lama Sekolah (MYS) Perkembangan dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Barru seri 2010 periode Nilai Komponen IPM di Sekitar Wilayah Kabupaten Barru Nilai absolut dan Angka Indeks di Sekitar Kabupaten Barru, Indeks Pemabngunan Manusia di Sekitar Kabupaten Barru DAFTAR GRAFIK 3.1. Angka Per Kapita/Tahun Kabupaten Barru dan Provinsi Sulawesi Selatan (Rp.Juta) Nilai Komponen IPM di Sekitar Wilayah Kabupaten Indeks Pemabngunan Manusia di Sekitar Kabupaten Barru Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,2015 iv
6 I. PENDAHULUAN
7 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Belakangan ini, perhatian kita terfokus pada isu pertumbuhan ekonomi, pelaksanaan reformasi ekonomi, dan nawacita, terhadap dimensi pembangunan manusia. Hal terakhir muncul sebagai salah satu isu sehubungan dengan tujuan pembangunan yang dinilai kurang berorientasi pada aspek manusia dan hak-hak azasinya. Hal ini tercermin pada perkembangan pemikiran tentang paradigma pembangunan di dunia selama beberapa dekade terakhir. Pada dekade 60-an, pembangunan berorientasi pada peningkatan produksi (production centered development) dan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Pertumbuhan ekonomi bukanlah akhir dari tujuan pembangunan, tetapi hanya sebagai alat/ cara untuk mencapai tujuan yang lebih esensial yaitu human security. Dalam kerangka pemikiran ini manusia tidak ditempatkan sebagai faktor variabel, tetapi hanya sebagai faktor produksi. Kemudian pada dekade 70- an paradigma pembangunan bergeser dengan lebih menekankan pada distribusi hasil-hasil pembangunan (distribution-growth development). Selanjutnya muncul paradigma pembangunan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar (basic need development) pada dekade 80- an, dan memasuki tahun 90-an paradigma pembangunan terpusat pada aspek manusia (human centered development). Berbagai pergeseran dalam kebijakan pembangunan, berdampak pada penyesuaian pengukuran terhadap hasil-hasil pembangunan tersebut. Kita jumpai berbagai macam program pemerintah yang berbau slogan belaka, menunjukkan betapa perencanaan tidak didasarkan atas pertimbangan dapatkah program itu diukur keberhasilannya. Kebutuhan untuk melihat fenomena atau masalah dalam perspektif waktu dan tempat sering Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
8 BAB 1 PENDAHULUAN menuntut adanya ukuran baku. Upaya untuk mengangkat manusia sebagai tujuan utama pembangunan, sebenarnya telah muncul dengan lahirnya konsep basic need development. Paradigma ini mengukur keberhasilan pembangunan dengan menggunakan Indeks Mutu Hidup (Physical Quality of Life Index), yang memiliki tiga parameter yaitu angka kematian bayi, angka harapan hidup waktu lahir dan tingkat melek huruf. Kemudian dengan muncul dan berkembangnya paradigma baru pembangunan manusia, sejak tahun 1990 UNDP menggunakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) untuk mengukur keberhasilan atau kenerja pembangunan manusia suatu negara atau wilayah. Sejalan dengan itu, perlu dilakukan pengukuran kinerja pembangunan di wilayah Kabupaten Barru, dan selnjutnya metodologi perhitungannya berubah dengan 2 alasan yaitu : a. Beberapa indikator sudah tidak tepat untuk digunakan dalam perhitungan IPM, Angka melek huruf sudah tidak relevan dalam mengukur pendidikan secara utuh karena tidak dapat menggambarkan kualitas pendidikan. Selain itu, karena angka melek huruf disebagian besar daerah sudah tinggi, sehingga tidak dapat membedakan tingkat pendidikan antar daerah dengan baik. PDB per kapita tidak dapat menggambarkan pendapatan masyarakat pada suatu wilayah. b. Menggunakan rumus rata-rata aritmetik dalam penghitungn IPM menggambarkan bahwa capaian yang rendah di suatu dimensi dapat ditutupi oleh capaian tinggi dari dimensi lain. 1.2 Tujuan Penulisan. Laporan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Barru Tahun 2015 disusun dalam kerangka untuk menempatkan dimensi manusia sebagai titik sentral dalam pembangunan, dengan bercirikan dari rakyat, Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
9 BAB 1 PENDAHULUAN oleh rakyat dan untuk rakyat. Sehingga diharapkan daerah mempunyai indikator yang berfungsi sebagai ukuran pencapaian pembangunan, terutama yang terkait erat dengan upaya-upaya peningkatan kualitas hidup manusia. Disamping itu, IPM berfungsi sebagai input dalam penyusunan Pola Dasar (Poldas) dan Rencana Pembangunan Lima Tahun Daerah (Repelitada), agar jiwa pembangunan pada era reformasi ini terimplementasi dalam dokumen perencanaan dan untuk penajaman prioritas pembangunan. Penggunaan salah satu indikator komposit (Indeks Pembangunan Manusia) dalam tulisan ini diharapkan dapat memberikan gambaran umum kinerja pembangunan manusia di Kabupaten Barru. 1.3 Sistimatika Penulisan Bab ini akan menguraikan mengenai latar belakang, tujuan penulisan dan organisasi penulisan. Kemudian Bab II membahas tentang metodologi, yang meliputi pengertian konsep, metode yang digunakan dan penjelasan komponen-komponen dan cara penghitungan indeks masing-masing komponen serta sumber data yang digunakan. Bab III membahas mengenai gambaran umum keadaan sosial dan ekonomi Kabupaten Barru yang diuraikan atas jumlah dan pertumbuhan penduduk, keadaan kesehatan, tingkat pendidikan, keadaan ketenagakerjaan, fasilitas perumahan dan trend alokasi APBD. Kemudian Bab IV membahas mengenai perbandingan tingkat kinerja pembangunan manusia antar kabupaten/kota, yang merupakan hasil penghitungan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) antar kabupaten/kota dan komponenkomponennya. Selanjutnya Bab V adalah penutup, yang berisi kesimpulan dan saran implikasi kebijakan. Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
10 II. METODOLOGI
11 BAB II METODOLOGI BAB II METODOLOGI Fenomena atau masalah yang terjadi dimasyarakat menuntut kita untuk merumuskan adanya ukuran baku. Ukuran tersebut sebaiknya berupa agregat agar dapat digunakan untuk menjelaskan sekaligus beberapa indikator. Untuk memehuhi kebutuhan tersebut maka disusunlah indeks agregat yaitu indeks pembangunan manusia.. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui seberapa jauh upaya pemberdayaan yang telah dicapai masyarakat secara cepat adalah indikator komposit. Beberapa indikator komposit yang telah dikembangkan dan direkomendasi UNDP adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indeks Pembangunan Jender (IPJ), Indeks Pemberdayaan Jender (IDJ), dan Indeks Kemiskinan Manusia (IKM). Indikator tersebut digunakan dalam perspektif yang berbeda, dan dalam penyajian laporan ini secara khusus hanya membahas IPM. IPM digunakan untuk mengukur tingkat pencapaian upaya pembangunan manusia secara keseluruhan dan bersifat agregatif. Meskipun demikian ukuran komposit ini sangat penting untuk meningkatkan kesadaran bagi para perencana pembangunan di daerah tentang kualitas pembangunan manusia yang telah dicapai selama ini. Secara umum, langkah yang ditempuh dalam menghadapi pengembangan tolok ukur fenomena yang sifatnya kuantitatif, selalu di mulai dengan memahami konsep, definisi dan batasan baku masalah yang hendak diukur. Maka dalam laporan ini disajikan konsep dan definisi dari beberapa indikator yang digunakan serta sumber data yang dibutuhkan dalam penyusunan buku ini Konsep dan Definisi IPM merupakan indeks komposit yang dihitung dengan menggunakan rata-rata geometrik, yang dirumuskan sebagai berikut: Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
12 BAB II METODOLOGI 3 IPM = x(1)x(2)x(3) (1) Dimana : X(1) : Indeks harapan hidup X(2) : Indeks pendidikan = 1/2 (indeks harapan lama sekolah) + 1/2 (indeks rata-rata lama sekolah). X(3) : Indeks paritas dayabbeli. Nilai indeks hasil hitungan masing-masing komponen tersebut berkisar antara 0 (keadaan terburuk) dan 1 (keadaan terbaik). Dalam laporan ini indeks tersebut dinyatakan dalam ratusan (dikalikan 100) untuk mempermudah penafsiran, seperti yang disarankan oleh BPS (BPS- UNDP, 1996). Masing-masing indeks komponen IPM tersebut merupakan perbandingan antara selisih nilai suatu indikator dan nilai minimumnya dengan selisih nilai maksimum dan nilai minimum indikator yang bersangkutan. Rumusnya dapat disajikan sebagai berikut : Indeks X (i) = X(i) X(i) min X (i) maks X(i) min.. (2) Dimana : X(i) : Indikator ke-i (i=1,2,3) X(i)maks : Nilai maksimum X(i) X(i)min : Nilai minimum X(i) Seperti dalam rekomendasi UNDP, meskipun telah muncul berbagai kritik dan masukan berkaitan dengan rumusan indikator variabel IPM, hingga saat ini masih digunakan ketiga komponen di atas. Komponennya adalah kesehatan (longevity) yang diwakili dengan usia harapan hidup (life expectancy at Age 0; e0), pengetahuan atau kecerdasan diwakili oleh dua buah indikator yaitu harapan lama sekolah (expected years of scholing) dan rata-rata lama sekolah (Mean Years of Schooling/ MYS) serta indikator hidup layak (decent living) atau kemakmuran yang diwakili oleh purschasing power parity/paritas daya Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
13 BAB II METODOLOGI beli. Berhubung data PPP sulit diperoleh maka digunakan pendekatan pengeluaran perkapita penduduk. Tabel 2.1 Nilai Maksimum dan Minimum Komponen IPM yang digunakan dalam penghitungan Indikator Komponen IPM [=X(i)] Maks Nilai Min Catatan (1) (2) (3) (4) Angka Harapan Hidup Sesuai standar global (UNDP) Angka Harapan Lama Sesuai standar global 18 0 Sekolah (UNDP) Rata-rata lama sekolah 15 0 Sesuai standar global (UNDP) Konsumsi Perkapita yang disesuaikan (pendekatan terhadap daya beli UNDP menggunakan PDB per kapita riil yang disesuaikan Angka Harapan Hidup (e 0 ) Seperti yang telah disebutkan dalam BPS-UNDP (1996: 8) bahwa sebenarnya agak berlebihan mengatakan variabel e 0 dapat mencerminkan lama hidup sekaligus hidup sehat, mengingat angka morbiditas tampaknya lebih valid dalam mengukur hidup sehat. Meskipun demikian, karena keterbatasan data dan hanya sedikit negara yang memiliki data morbiditas yang dapat dipercaya maka variabel tersebut tidak digunakan untuk tujuan perbandingan. Penggunaan angka harapan hidup atas pertimbangan bahwa angka ini merupakan resultanta dari beberapa indikator kesehatan. AHH merupakan cerminan dari ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, sanitasi lingkungan, pengetahuan ibu tentang kesehatan, gaya hidup masyarakat, pemenuhan gizi ibu dan bayi Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
14 BAB II METODOLOGI dan lain lain, oleh karena itu AHH untuk sementara bisa mewakili indikator lama hidup Harapan lama sekolah Terhadap perubahan komponen penghitungan dimana pendekatan sebelumnya menggunakan indeks angka melek huruf penduduk 15 tahun ke atas, diubah menjadi indeks harapan lama sekolah penduduk usia 7 tahun ke atas. Perubahan tersebut mengikuti perubahan penghitungan, metodologi penghitungan oleh UNDP pada tahun 2010 HLS a t = FK t n E i i=a Pt i Keterangan : t HLS a Harapan Lama Sekolah pada umur a di tahun t t E i Jumlah penduduk usia i yang bersekolah pada tahun t t P i Jumlah Penduduk usia i pada tahun t i Usia (a,a+1,..., n) FK Faktor koreksi pesantren Rata-rata Lama Sekolah Rata-rata lama sekolah didefenisikan sebagai jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal. Diasumsikan bahwa dalam kondisi normal rata-rata lama sekolah suatu wilayah tidak akan turun. Cakupan penduduk yang dihitung dalam penghitungan rata-rata lama sekolah adalah penduduk berusia 25 tahun keatas. Dimana : MYS : rata-rata lama sekolah (dalam tahun) fi : frekuensi penduduk yang berumur 10 tahun Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
15 BAB II METODOLOGI ke atas untuk jenjang pendidikan i.. Si : skor masing-masing jenjang pendidikan i. LSi : 0 (bila tidak/belum pernah sekolah) LSi : Si (bila tamat) LSi : Si + kelas yang diduduki 1 (bila masih bersekolah dan pernah tamat) LSi : kelas yang diduduki 1 (bila jenjang yang diduduki SD/SR/MI/Sederajat) I : jenjang pendidikan (1,2,3,..,10) Tabel 2.2 Jenjang Pendidikan dan Skor yang Digunakan untuk Menghitung Rata-rata Lama Sekolah (MYS) Jenjang Pendidikan Skor (1) (2) Tidak punya 0 SD/MI/Sederajat 6 SLTP/MTs/Sederajat/Kejuruan 9 SMU/MA/Sederajat/Kejuruan 12 Diploma I/II 14 Diploma III/Sarjana Muda 15 Diploma IV/S1 16 S2 18 S Daya Beli (PPP) Komponen standar hidup layak atau dikenal juga sebagai Purchasing Power Parity (PPP) yang digunakan dalam laporan ini adalah dengan menggunakan konsumsi riil perkapita dari hasil susenas modul konsumsi yang disesuaikan dengan indeks PPP. Selain itu, ada penambahan jumlah komoditas yang dikonsumsi semula 27 komoditas menjadi 96 komoditas dengan perincian 66 komoditas makanan dan 30 komoditas non makanan dengan pormula sebagai berikut PPP i = m i=1 ( p ij ) 1 m p ik Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
16 BAB II METODOLOGI Keterangan p ik : Harga komoditas i di Jakarta Selatan p ij : Harga komoditas i di Kab/Kota j m : jumlah komoditas 2.2. Sumber Data Pengukuran keberhasilan pembangunan suatu daerah yang disajikan dalam tulisan ini menggunakan data hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2012, 2013, 2014 dan Selain dari data survei tersebut, juga menyajikan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Susenas dengan penyajian sampai pada level kabupaten/kota dimulai sejak tahun 1993 (Susenas 1993). Susenas merupakan survei rumahtangga dengan lingkup nasional dan dilakukan secara sampel. Sejak Susenas 1993 ukuran sampel di Kabupaten Barru relatif tidak berubah, begitu juga pada Susenas 2013 dan Susenas 2014 ukuran sampelnya sebesar 540 rumah tangga. Sampel sebesar itu tersebar di seluruh wilayah kecamatan Kabupaten Barru. Keterangan (data) yang dikumpulkan melalui Susenas antara lain menyangkut bidang demografi, kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan dan pengeluaran rumahtangga. Keterangan tersebut umumnya dikumpulkan setiap tahun, yang biasa disebut data pokok (kor) Susenas. Sedangkan data yang lebih rinci dikumpulkan setiap tiga tahun sekali dan disebut data modul (sasaran) Susenas. Data modul Susenas dikelompokkan sebagai berikut: (i) Konsumsi dan pendapatan; (ii). Pendidikan, kesehatan dan perumahan; dan (iii) Sosial budaya, kriminalitas dan wisata nusantara, tetapi cakupan modul ini dapat berubah sesuai dengan kebutuhan. Dalam penyajian laporan ini sebagai indikator atau data basis adalah data yang dihasilkan dari kor Susenas 2014 atau 2015 terutama yang berkaitan dengan indikator pendukung, seperti indikator kependudukan, indikator bidang kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan dan perumahan. Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
17 III. KONDISI SOSIAL EKONOMI
18 BAB III KONDISI SOSIAL EKONOMI BAB III KONDISI SOSIAL EKONOMI 3.1 Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk Berdasarkan hasil Susenas tahun 2015 pada bulan Juli penduduk Kabupaten Barru berjumlah sekitar jiwa. Dari jumlah tersebut tercatat bahwa penduduk perempuan lebih banyak dibanding dengan laki-laki, sehingga mempunyai rasio jenis kelamin sekitar 92 yang berarti diantara 100 perempuan terdapat 92 laki-laki. Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) Kabupaten Barru dari tahun 1990 (SP jiwa) sampai tahun 2000 (SP jiwa) adalah 3,13 persen atau rata-rata pertumbuhannya sekitar 0,31 persen pertahun. Sedangkan LPP selama periode (SP00 dan SP 2010) sekitar 9,72 persen atau rata- rata pertumbuhan per tahun sekitar 0,97 persen pertahun dan untuk periode tahun (SP 2010 dan Penduduk tahun 2015) sekitar 3,18 persen atau rata-rata pertumbuhan pertahunnya sekitar 0,64 persen. Secara umum dapat disimpulkan bahwa dalam tiga periode di atas, pertambahan penduduk di daerah ini dapat dikendalikan. Kalau dilihat dari komposisi umur penduduk dapat diperoleh Angka Beban Tanggungan (ABT) yang secara kasar dapat mencerminkan indikator ekonomi. Makin rendah ABT diperkirakan indikator ekonomi penduduk suatu daerah makin baik, karena dapat dikatakan bahwa jumlah tanggungan penduduk usia produktif (usia tahun) yaitu penduduk usia muda (0-14 tahun) dan usia lanjut (65 tahun ke atas) juga semakin mengecil. ABT di Kabupaten Barru sekitar 64,17 hal ini menunjukkan bahwa setiap seratus penduduk usia produktif secara hipotesis/teori menanggung sekitar 64 penduduk usia non produktif (usia muda dan lanjut). Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
19 BAB III KONDISI SOSIAL EKONOMI 3.2 Keadaan Kesehatan Angka Harapan Hidup (e0) atau lamanya hidup terhitung sejak lahir, yang ternyata sedikit mengalami peningkatan dari 67,73 tahun (tahun 2014) menjadi 68,03 tahun (tahun 2015). Besar kecilnya AHH dipengaruhi oleh banyak variabel baik yang bersifat endogen (kondisi bawaan) maupun eksogen (pengaruh dari luar). Khusus untuk varibel eksogen dapat dibuat daftar yang cukup panjang diantaranya mencakup input makanan, upaya kesehatan dan kondisi lingkungan yang juga dipengaruhi oleh variabel lainnya. Pengaruh variabel-variabel tersebut dapat bersifat langsung maupun tidak langsung, dapat seketika maupun dengan tenggang waktu (time lag) tertentu. Pengaruh variabel-variabel tersebut bekerja secara tersendiri maupun bersinergi dengan variabel lain. Sementara itu, terdapat beberapa variabel yang diperkirakan berpengaruh terhadap AHH/e 0. Secara umum diharapkan bahwa dengan semakin tingginya persentase balita yang ditolong kelahirannya oleh tenaga medis akan semakin tinggi kemungkinan kelangsungan hidupnya. Tetapi perkiraan hubungan tersebut dapat menyimpang jika pertolongan tenaga medis digunakan untuk proses kelahiran yang abnormal dan dengan penanganan yang sudah terlambat. Demikian pula jika dihubungkan dengan beberapa variabel lain seperti persentase bayi yang disusui secara eksklusif selama 4-6 bulan, persentase balita yang telah diimunisasi secara lengkap, serta tingkat ketersediaan puskesmas dan dokter. Terlepas dari keterkaitan tersebut gambaran data menunjukkan perlu adanya intervensi, terutama dari pemerintah untuk memperbaiki derajat kesehatan masyarakat seperti perluasan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga medis. Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
20 BAB III KONDISI SOSIAL EKONOMI 3.3 Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan penduduk Kabupaten Barru berdasarkan hasil Susenas 2015 ternyata cukup bervariasi. Hal ini tercermin dari indikator yang mencakup rata-rata lama sekolah, angka harapan lama sekolah, angka rata-rata lama sekolah sekolah dan persentase penduduk yang telah menamatkan SLTP ke atas. Rata-rata Lama Sekolah (MYS), terlihat diatas 7 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk Kabupaten Barru rata-rata hanya menamatkan sekolah sampai pada tingkat SD, ini tercermin masih rendahnya penduduk yang tamat SLTP ke atas. Sementara itu Angka Partisipasi Sekolah (APS) pada usia SLTP (13-15 tahun) dan SLTA (16-18 tahun) serta perguruan tinggi (19-24 tahun) juga masih tergolong rendah. Kondisi seperti ini mungkin disebabkan oleh faktor fasilitas pendidikan yang masih kurang memadai dan sukar dijangkau, disamping itu masih rendahnya kesadaran para orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. 3.4 Keadaan Ketenagakerjaan Bekerja adalah kegiatan untuk memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan bagi kelangsungan hidup seseorang atau sekelompok orang tertentu. Bekerja atau tidaknya seseorang dipengaruhi oleh adanya kebutuhan ekonomi dan kebutuhan non ekonomi. Adanya tekanan kebutuhan ekonomi akan memaksa paling tidak satu orang dari suatu rumahtangga untuk bekerja. Makin besar tekanan tersebut makin banyak anggota rumahtangga yang terjun ke pasar tenaga kerja baik bekerja maupun mencari pekerjaan. Mereka yang bekerja dan mereka yang sedang mencari pekerjaan disebut dengan angkatan kerja (AK). Dalam kondisi krisis ekonomi sesungguhnya akan semakin banyak penduduk Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
21 BAB III KONDISI SOSIAL EKONOMI yang tergolong sebagai angkatan kerja, tetapi kondisi krisis pula yang mengakibatkan terbatasnya peluang/kesempatan kerja. Salah satu akibatnya dapat berupa peningkatan tingkat pengangguran terbuka (TPT), tetapi data tahun 2014 dibandingkan data tahun 2015 menunjukkan peningkatan TPT (dari 2,27 persen menjadi 7,68 persen). Dampak krisis ekonomi lebih terasa pada sektor industri, yang banyak mengandalkan komponen import. Mereka yang kehilangan pekerjaan dari sektor industri kemudian sebagian beralih ke sektor pertanian dan jasa (termasuk perdagangan) yang bersifat fleksibel dalam penyerapan tenaga kerja. Hal ini tercermin dari penyerapan tenaga kerja sektor industri relatif kecil dibanding dengan sektor pertanian dan jasa-jasa. Gambaran dampak krisis terhadap keadaan ketenagakerjaan tingkat propinsi sekilas tidak terlalu mengkhawatirkan, tetapi keadaan ketenagakerjaan di beberapa kabupaten/kota ternyata mengalami kemerosotan. Dampak yang paling mengkhawatirkan adalah dalam bentuk kombinasi rendahnya tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) disertai dengan tingginya tingkat pengangguran terbuka (TPT). Hal tersebut terutama berkaitan dengan sangat minimnya kesempatan kerja yang berakibat pada tingginya TPT dan bahkan sebagian keluar dari angkatan kerja. 3.5 Fasilitas Perumahan Keadaan perumahan (kualitas dan fasilitas) menggambarkan tingkat kesejahteraan dan budaya, serta kondisi sosial-ekonomi penduduk yang dapat saling berinteraksi dan pada gilirannya dapat mempengaruhi kondisi kesehatan penduduk. Rumah tradisional penduduk Kabupaten Barru adalah rumah panggung yang berlantai dan berdinding kayu, serta beratap dedaunan. Seiring Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
22 BAB III KONDISI SOSIAL EKONOMI dengan perkembangan teknologi serta ekspose terhadap pola hidup masyarakat lain berangsur-angsur terjadi perubahan. Perubahan yang utama adalah jenis atap yang beralih dari dedaunan menjadi seng, serta perubahan pemanfaatan kolong rumah panggung menjadi tempat hunian sehingga lantai dan dinding berubah menjadi tembok/semen. Perkembangan berikutnya adalah pergeseran pembangunan rumah baru dari rumah panggung menjadi bukan panggung. Pergeseran tersebut diantaranya mengakibatkan adanya rumah yang masih berlantai tanah, yang tentunya berdampak kurang baik bagi kesehatan penghuninya. 3.6 Perekonomian Pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari besarnya nilai PDRB atas dasar harga konstan yang diperoleh pada tahun tertentu dibandingkat dengan nilai PDRB sebelumnya. Penggunaan angka atas dasar harga konstan dimaksudkan untuk menghindari pengaruh perubahan harga, sehingga perubahan yang diukur adalah perubahan produksi yang menggambarkan pertumbuhan riil ekonomi, sedangkan harga konstan yang dimaksud adalah harga konstan tahun Bila diperhatikan selama periode , terlihat bahwa perekonomian Kabupaten Barru berpluktuasi, hal ini terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi berada kisaran 6,32 persen sampai 8,39 persen, dengan pertumbuhan rata-rata 7,61 persen. Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi didaerah ini dalam periode tersebut cukup tinggi, pada tahun 2015 pertumbuhan sedikit melambat yang disebabkan melambatnya pertumbuhan sektor perikanan yang mempunyai share 6,89 persen terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Barru. Struktur ekonomi Kabupaten Barru dapat dilihat dari peranan masingmasing kategori dalam sumbangannya terhadap PDRB total atas dasar Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
23 BAB III KONDISI SOSIAL EKONOMI harga berlaku (ADHB). Di Kabupaten Barru tahun 2015, peranan sektor pertanian terhadap perekonomian masih cukup besar yakni sebesar 36,93 persen, sedikit menurun dibanding tahun 2014 yaitu 37,03 persen. Rendahnya peranan ini dipengaruhi oleh lapangan usaha pertanian, peternakan dan perburuan dengan kontribusi 15,02 persen pada tahun 2014 turun menjadi 14,96 persen pada tahun Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Kabupaten Barru perekonomiannya masih mengandalkan pada sektor pertanian khususnya pada sub kategori perikanan. Tabel dibawah ini menyajikan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Kabupaten Barru Tahun Tabel Perkembangan dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Barru seri Tahun PDRB adh Berlaku (Juta Rp) Perkembangan (Persen) PDRB adh Konstan (Juta Rp) Pertumbuhan (persen) (1) (2) (3) (4) (5) ,86 13, ,38 8, ,10 15, ,47 8, ,62 13, ,48 7, ,13 15, ,99 7, ,60 10, ,55 6,32 Rata-rata XXXXX 13,96 XXXXX 7,61 Sumber : BPS Kabupaten Barru Kategori lain mempunyai kontribusi cukup besar terhadap pembentukan total PDRB Kabupaten barru adalah kategori Konstruksi sebesar 16,64 persen, kategori perdagangan besar dan eceran,reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 8,46 persen dan kategori administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan social wajib sebesar 8,60. persen. Sebaliknya Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
24 BAB III KONDISI SOSIAL EKONOMI yang paling kecil kontribusinya adalah kategori jasa perusahaan yaitu hanya 0,02 persen Penghitungan PDRB perkapita dihitung dengan membagi PDRB atas harga berlaku dengan penduduk pertengahan tahun. Hasil olahan menunjukkan bahwa PDRB perkapita di Kabupaten Barru pada tahun 2011 sebesar Rp dan tahun 2012 naik menjadi Rp , tahun 2013 naik menjadi Rp kemudian pada tahun 2014 naik menjadi Rp serta ditahun 2015 sebesar Rp Angka tersebut bukan merupakan penerimaan secara riil merata disemua penduduk, tetapi menggambarkan rata-rata tingkat pendapatan penduduk. Grafik.3.1 Angka Per Kapita/Tahun Kabupaten Barru dan Provinsi Sulawesi Selatan (Rp.Juta) Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
25 IV. PERBANDINGAN ANTAR DAERAH
26 PERBANDINGAN ANTAR DAERAH BAB IV PERBANDINGAN ANTAR DAERAH Pembangunan yang hanya menitik beratkan pada Sektor Ekonomi dengan bertumpu pada peningkatan hasil produksi/ laju pertumbuhan ekonomi, telah terbukti tidak selalu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Hal ini karena tidak dapat mengungkap fakta vital tentang keadaan penduduk terutama yang berkaitan dengan peluang untuk hidup panjang, keterlibatan dan partisipasi dalam dunia ilmu pengetahuan, menikmati hidup secara layak bagi kemanusiaan. Sehingga terjadi pergeseran paradigma pembangunan dengan berorientasi pada pembangunan manusia. Namun demikian, pembangunan manusia tidak mungkin dapat berkesinambungan tanpa dukungan dengan pertumbuhan ekonomi. Hal ini karena pembangunan manusia merupakan tujuan akhir, sedangkan pertumbuhan ekonomi merupakan alat. Dalam era reformasi sekarang ini, otonomi daerah telah diterapkan secara menyeluruh sejak tahun 2004, sehingga roda pembangunan terfokus pelaksanaannya pada wilayah kabupaten/kota. Untuk itu, tingkat keberhasilan pembangunan (kinerja) perlu diukur pada masing-masing kabupaten/kota. Dalam pembahasan ini, kenerja pembangunan yang dimaksud adalah kinerja pembangunan manusia yang disajikan dalam satu indikator komposit (angka tunggal) yaitu Indeks Pemabangunan Manusia (IPM) IPM dapat digunakan sebagai ukuran kebijakan dan upaya yang dilakukan dalam kerangka pembangunan manusia khususnya upaya pemberdayaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan partisipasi dalam pembangunan. Namun indeks ini hanya akan memberikan gambaran perbandingan antar waktu dan perbandingan antar wilayah. Perbandingan antar kabupaten yang dimaksud dalam buku ini adalah kabupaten yang secara geografis berbatasan langsung dengan Kabupaten Barru, yaitu Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
27 PERBANDINGAN ANTAR DAERAH Kabupaten Bone, Kabupaten Pangkep, Kabupaten Soppeng dan Kota Pare- Pare. Sebelum pembahasan mengenai perbandingan IPM antar wilayah kabupaten/kota, perlu diuraikan terlebih dahulu mengenai keadaan dari masing-masing indikator (komponen) IPM. Komponen-komponen tersebut adalah indikator angka harapan hidup (e o ), harapan lama sekolah, rata-rata lama sekolah dan pendapatan (PPP). 4.1 Perbandingan Komponen IPM Perbandingan komponen IPM tahun 2014 dan 2015 dapat dilihat pada Tabel 4.1. Pada tabel tersebut nampak bahwa pada periode yang sama, perubahan komponen-komponen IPM bervariasi karena terjadinya penurunan dan peningkatan variable tersebut. Namun secara umum relatif mengalami peningkatan. Indeks Kesehatan; Kabupaten Barru pada tahun 2015 menunjukkan kenaikan yang signifikan yaitu sebesar 1,74 persen. Angka kenaikan/ shorfall tersebut relatif lebih tinggi daripada angka indeks Provinsi Sulawesi Selatan. Angka Indeks Kesehatan Kabupaten Barru apabila dibandingkan dengan angka yang diperoleh di daerah sekitanya, maka Kabupaten Soppeng dan Kota Pare-pare mempelihatkan angka yang relative lebih tinggi. Indeks Pendidikan; yang terdiri dari 2 unsur yaitu angka indeks Harapan lama bersekolah dan rata-rata lama bersekolah. Kemajuan yang diperoleh dalam bidang pendidikan dapat ditunjukkan oleh angka shortfall-nya yaitu sebesar 3,41 persen. Kinerja tersebut relatif lebih tinggi daripada angka provinsi yang sebesar 1,94 persen. Kinerja di bidang pendidikan pada daerah sekitarnya, maka daerah yang memiliki kinerja terbaik adalah Kabupaten Bone dan Pare-pare. Lebih dalam lagi, nilai angka indeks harapan lama sekolah masih Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
28 PERBANDINGAN ANTAR DAERAH lebih baik bila dibandingkan dengan di kawasan sekitanrnya, keculai Pare-Pare dan bahkan lebih baik daripada angka provinsi. Sedangkan angka indeks rata-rata lama sekolah kondisinya sama dengan pada angka indeks harapan lama bersekolah. Indeks Daya Beli; Komponen Purchasing Power Parity (PPP) atau dikenal dengan komponen daya beli atau standar hidup layak bagi Indonesia. Besarnya nilai angka indeks Kabupaten Barru tahun 2015 adalah 69,55 persen dengan kinerjanya sebesar 0,80 persen. Kinerja dibidang ekonomi/ daya beli merupakan yang terendah dikawasan sekitarnya, dan berada pada posisi 19 se Sulawesi Selatan. Besarnya nilai daya beli Kabupaten Barru pada tahun 2015 yaitu Rp.9,81 juta per kapita per tahun. Angka itu hanya berselish tipis dengan angka provinsi yang sebesar Rp.9,99 juta. Tabel.4.1. Nilai Komponen IPM di Sekitar Wilayah Kabupaten Barru Daerah (1) Indeks Kesehatan Indeks Pendidikan Indeks Daya Beli Shortfall Shortfall (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) 1 Pangkep 69,80 70,26 1,53 58,73 58,80 0,15 70,62 71,68 3,58 2 Barru 73,44 73,90 1,74 61,62 62,93 3,41 69,31 69,55 0,80 3 Bone 70,48 70,78 1,04 54,16 56,33 4,73 62,72 63,05 0,89 4 Soppeng 74,49 74,65 0,60 55,28 56,31 2,29 65,88 66,35 1,39 5 Pare-Pare 77,52 77,83 1,37 72,17 73,46 4,62 77,42 77,72 1,33 6 Sulsel 76,30 76,62 1,35 60,79 61,55 1,94 69,28 70,11 2,71 Sumber : BPS Kabupaten Barru Grafik.4.1. Nilai Komponen IPM di Sekitar Wilayah Kabupaten Barru Shortfall Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
29 PERBANDINGAN ANTAR DAERAH Tabel.4.2. Nilai absolut dan Angka Indeks di Sekitar Kabupaten Barru, 2015 Daerah Angka Harapan Hidup Angka Harapan Lama Sekolah Indeks Harapan Lama Sekolah Rata-Rata Lama Sekolah Indeks Rata-Rata Lama Sekolah Daya Beli (Rp.000) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Pangkep 65,67 12,38 68,76 7,32 48, Barru 68,03 13,53 75,17 7,60 50, Bone 66,01 12,41 68,97 6,55 43, Soppeng 68,52 11,81 65,60 7,05 47, Pare-Pare 70,59 14,44 80,20 10,01 66, Sulsel 69,80 12,99 72,19 7,64 50, Sumber : BPS Kabupaten Barru 4.2 Perbandingan IPM di sekitar Wilayah Kabupaten Barru Perbandingan antar indikator (komponen IPM seperti yang diuraikan pada sub bab sebelumnya) merupakan tinjauan parsial, artinya tingkat keberhasilan/kinerja pembangunan diukur dari satu komponen. Misalnya pada bidang kesehatan tahun 2015 di Barru lebih baik dari wilayah yang lain di daerah sekitarnya (berdasarkan shortfall). Pada bidang pendidikan daerah yang mempunyai kinerja yang baik adalah Kabupaten Bone dan Kota Pare-Pare. Indeks Pembangunan Manusia tahun 2015 sebesar 68,64 mengalami peningkatan sebesar 2,19 persen dan menempati posisi ke-8 se Sulawesi Selatan. Angka IPM Kabupaten Barru tersebut merupakan angka tertinggi setelah Kota Pare-Pare dibandingkan dengan angka yang dicapai oleh wilayah sekitarnya. Kinerja pembangunan manusia yang ditunjukkan oleh nilai shortfall maka Bone dan Pare-pare memilki kinerja yang relatif baik, namun Kabupaten Barru juga telah melampau kinerja Provinsi Sulawesi Selatan. Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
30 PERBANDINGAN ANTAR DAERAH Tabel.4.3. Indeks Pemabngunan Manusia di Sekitar Kabupaten Barru Grafik.4.3. Indeks Pemabngunan Manusia di Sekitar Kabupaten Barru Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
31 V. PENUTUP
32 PENUTUP BAB V P E N U T U P 5.1 Kesimpulan Peningkatan IPM pada tahun 2015 Kabupaten Barru yaitu dari 67,94 tahun 2014 menjadi 68,64 tahun 2015; kondisi itu menempatkan posisi padperingkat ke-8 se Sulawesi Selatan. Kinerja pembangunan manusia pada tahu 2015 sebesar 2,19 persen. Kinerja tersebut memposisikan Kabupaten Barru pada ranking ke 9 se Sulawesi Selatan Berdasarkan komponen IPM, maka dapat ditelusuri komponen yang menjadi kekuatan dan komponen yang harus menjadi perhatian untuk lebih ditingkatkan. Indeks kesehatan berada pada posisi ke-15; indeks pendidikan pada posisi ke-6, dan indeks daya beli pada posisi ke-12. Terlihat bahwa indeks kesehatan merupakan bidang yang harus mendapat perhatian yang khusus oleh pemerintah, sedangkan kedua indeks lainnya harus tetap dipertahankan kinerjanya. Secara umum bahwa Kbaupaten Barru berada pada posisi ke-8 se Sulawesi Selatan, menunjukkan kinerja pembangunan manusia semakin membaik. 5.2 Implikasi Kebijakan Persamaan hubungan IPM dengan komponennya dapat dirancang program peningkatan kesejahteraan penduduk melalui upaya peningkatan kesehatan dan pendidikan penduduk secara umum. Seiring dengan pembangunan kedua komponen tersebut juga diikuti dengan perbaikan ekonomi yang akan meningkatkan daya beli. Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
33 PENUTUP Upaya peningkatan kesehatan dapat dilakukan melalui : Peningkatan ketersediaan obat-obat yang terjangkau oleh masyarakat. Penambahan fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan yang berkualitas untuk lebih mendekatkan layanan kesehatan pada masyarakat. Upaya peningkatan daya beli masyarakat melalui: Perluasan lapangan pekerjaan, terutama pada sektor tanaman pangan dan perikanan, karena kedua sektor ini merupakan penyerap tanaga kerja terbesar. Adanya stabilitas ekonomi, pergendalian harga barangbarang kebutuhan pokok dan produksi pertanian dan perikanan. Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
34 LAMPIRAN TABEL
35 LAMPIRAN TABEL Lampiran Tabel.1. Indeks Pembangunan Manusia Menurut Kabupaten Kota Kabupaten Kota (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Selayar 62,15 62,53 62,87 63,16 63,66 64,32 2 Bulukumba 62,73 63,36 63,82 64,27 65,24 65,58 3 Bantaeng 62,46 63,07 63,99 64,88 65,77 66,20 4 Jeneponto 58,31 58,95 59,62 60,55 61,45 61,61 5 Takalar 60,23 60,83 61,66 62,58 63,53 64,07 6 Gowa 63,83 64,42 64,65 65,45 66,12 66,87 7 Sinjai 61,31 62,13 62,74 63,47 63,83 64,48 8 Maros 64,07 64,95 65,50 66,06 66,65 67,13 9 Pangkep 62,79 63,60 64,30 65,24 66,16 66,65 10 Barru 64,94 65,73 66,07 67,02 67,94 68,64 11 Bone 59,69 60,21 60,77 61,40 62,09 63,11 12 Soppeng 63,51 63,80 64,05 64,43 64,74 65,33 13 Wajo 63,07 64,00 64,88 65,79 66,49 66,90 14 Sidrap 65,54 65,88 66,19 67,15 68,14 69,00 15 Pinrang 66,25 66,96 67,64 68,14 68,92 69,24 16 Enrekang 66,27 67,03 67,74 68,39 69,37 70,03 17 Luwu 63,95 64,71 65,43 66,39 67,34 68,11 18 Tana Toraja 62,83 63,22 63,96 64,55 65,08 65,75 19 Luwu Utara 64,77 65,57 65,99 66,40 66,90 67,44 20 Luwu Timur 68,47 68,94 69,34 69,53 69,75 70,43 21 Toraja Utara 63,51 64,48 64,89 65,65 66,15 66,76 22 Makassar 77,63 77,82 78,47 78,98 79,35 79,94 23 Pare-Pare 73,55 74,20 74,67 75,10 75,66 76,31 24 Palopo 73,03 74,02 74,54 75,02 75,65 76,27 Provinsi 66,00 66,65 67,26 67,92 68,49 69,15 Sumber : BPS Kabupaten Barru Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
36 LAMPIRAN TABEL Lampiran Tabel.2. Rank Indeks Pembangunan Manusia Menurut Kabupaten Kota Kabupaten Kota (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) 1 Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Pare-Pare Palopo Provinsi Sumber : BPS Kabupaten Barru Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
37 LAMPIRAN TABEL Lampiran Tabel.3. Shortfall Reduction Indeks Pembangunan Manusia Menurut Kabupaten Kota Kabupaten Kota (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Selayar 1,00 0,91 0,80 1,34 1,83 5,74 2 Bulukumba 1,69 1,24 1,25 2,73 0,97 7,64 3 Bantaeng 1,63 2,48 2,46 2,55 1,25 9,96 4 Jeneponto 1,54 1,63 2,30 2,28 0,42 7,92 5 Takalar 1,51 2,10 2,41 2,53 1,49 9,66 6 Gowa 1,62 0,67 2,24 1,96 2,20 8,40 7 Sinjai 2,13 1,61 1,97 0,97 1,79 8,20 8 Maros 2,45 1,56 1,65 1,72 1,44 8,50 9 Pangkep 2,17 1,93 2,63 2,63 1,47 10,37 10 Barru 2,26 1,00 2,81 2,79 2,19 10,57 11 Bone 1,28 1,42 1,60 1,79 2,69 8,48 12 Soppeng 0,79 0,68 1,06 0,86 1,70 4,99 13 Wajo 2,52 2,44 2,59 2,06 1,20 10,37 14 Sidrap 1,00 0,91 2,83 3,03 2,69 10,05 15 Pinrang 2,09 2,08 1,54 2,43 1,06 8,87 16 Enrekang 2,24 2,17 1,99 3,12 2,13 11,13 17 Luwu 2,13 2,02 2,77 2,84 2,36 11,56 18 Tana Toraja 1,05 2,02 1,63 1,49 1,93 7,88 19 Luwu Utara 2,27 1,21 1,22 1,47 1,62 7,57 20 Luwu Timur 1,48 1,28 0,62 0,73 2,27 6,22 21 Toraja Utara 2,65 1,15 2,17 1,44 1,81 8,89 22 Makassar 0,85 2,93 2,34 1,77 2,86 10,32 23 Pare-Pare 2,48 1,81 1,69 2,26 2,65 10,44 24 Palopo 3,67 1,98 1,92 2,50 2,55 12,00 Provinsi 1,91 1,83 1,94 1,80 2,08 9,25 Sumber : BPS Kabupaten Barru Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
38 LAMPIRAN TABEL Lampiran Tabel.4. Indeks Kesehatan Menurut Kabupaten Kota Kabupaten Kota (1) (2) (4) (6) (8) (10) (12) 1 Selayar 72,92 72,97 73,03 73,06 73,07 73,38 2 Bulukumba 71,00 71,12 71,24 71,37 71,43 71,89 3 Bantaeng 76,06 76,19 76,29 76,39 76,43 76,57 4 Jeneponto 69,36 69,50 69,64 69,76 69,82 69,98 5 Takalar 70,40 70,46 70,53 70,59 70,62 71,08 6 Gowa 76,49 76,53 76,57 76,58 76,59 76,74 7 Sinjai 70,94 71,06 71,17 71,28 71,33 71,48 8 Maros 74,50 74,53 74,57 74,60 74,62 74,69 9 Pangkep 69,53 69,61 69,69 69,76 69,80 70,26 10 Barru 72,99 73,11 73,25 73,37 73,44 73,90 11 Bone 69,96 70,11 70,27 70,41 70,48 70,78 12 Soppeng 73,89 74,07 74,24 74,41 74,49 74,65 13 Wajo 70,00 70,20 70,39 70,57 70,66 71,13 14 Sidrap 73,79 73,84 73,88 73,93 73,95 74,72 15 Pinrang 73,61 73,68 73,78 73,85 73,89 74,51 16 Enrekang 77,10 77,15 77,19 77,23 77,24 77,39 17 Luwu 75,47 75,51 75,56 75,59 75,61 76,07 18 Tana Toraja 80,04 80,09 80,12 80,15 80,16 80,62 19 Luwu Utara 72,10 72,17 72,23 72,28 72,30 72,92 20 Luwu Timur 75,78 75,87 75,96 76,03 76,06 76,36 21 Toraja Utara 80,67 80,70 80,72 80,75 80,76 81,22 22 Makassar 79,04 79,04 79,05 79,05 79,05 79,18 23 Pare-Pare 77,46 77,48 77,49 77,51 77,52 77,83 24 Palopo 76,83 76,92 77,00 77,08 77,11 77,23 Provinsi 75,28 75,57 75,86 76,15 76,30 76,62 Sumber : BPS Kabupaten Barru Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
39 LAMPIRAN TABEL Lampiran Tabel.5. Indeks Pendidikan Menurut Kabupaten Kota Kabupaten Kota (1) (2) (4) (6) (8) (10) (12) 1 Selayar 54,35 54,89 55,44 55,99 56,96 58,01 2 Bulukumba 51,91 53,11 54,15 55,18 56,39 56,49 3 Bantaeng 46,04 46,99 48,72 50,47 52,42 52,97 4 Jeneponto 44,77 45,90 47,20 49,24 51,22 51,31 5 Takalar 46,72 47,68 49,26 51,17 53,32 54,17 6 Gowa 52,86 54,01 54,40 56,31 57,87 59,53 7 Sinjai 51,95 53,44 54,51 55,99 56,66 57,75 8 Maros 52,98 54,75 55,87 57,02 58,26 59,15 9 Pangkep 51,33 52,95 54,26 56,54 58,73 58,80 10 Barru 55,73 57,12 57,42 59,41 61,62 62,93 11 Bone 49,50 50,30 51,32 52,62 54,16 56,33 12 Soppeng 54,17 54,25 54,33 54,85 55,28 56,31 13 Wajo 50,30 52,11 53,91 55,86 57,44 57,52 14 Sidrap 53,66 54,34 55,04 57,38 59,90 60,18 15 Pinrang 55,72 57,11 58,54 59,56 61,40 61,50 16 Enrekang 56,53 58,09 59,65 61,12 63,50 63,77 17 Luwu 53,30 54,89 56,46 58,79 61,10 61,59 18 Tana Toraja 56,94 57,51 59,23 60,68 61,85 63,10 19 Luwu Utara 53,17 54,82 55,60 56,46 57,57 58,26 20 Luwu Timur 56,43 57,40 58,30 58,70 59,21 60,59 21 Toraja Utara 54,98 57,36 57,99 59,69 60,69 61,68 22 Makassar 72,18 72,54 74,24 75,60 76,43 76,93 23 Pare-Pare 67,67 69,06 69,99 70,89 72,17 73,46 24 Palopo 68,76 71,19 72,30 73,40 74,89 75,87 Provinsi 56,16 57,25 58,34 59,64 60,79 61,55 Sumber : BPS Kabupaten Barru Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
40 LAMPIRAN TABEL Lampiran Tabel.6. Indeks Daya Beli Menurut Kabupaten Kota Kabupaten Kota (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Selayar 60,56 61,03 61,37 61,60 61,97 62,51 2 Bulukumba 66,99 67,34 67,38 67,41 68,95 69,45 3 Bantaeng 69,59 70,09 70,49 70,82 71,02 71,53 4 Jeneponto 63,84 64,21 64,46 64,62 64,87 65,13 5 Takalar 66,43 67,00 67,47 67,85 68,09 68,32 6 Gowa 64,33 64,66 64,88 65,01 65,22 65,45 7 Sinjai 62,52 63,15 63,67 64,08 64,34 64,93 8 Maros 66,64 67,15 67,44 67,78 68,10 68,47 9 Pangkep 69,38 69,80 70,31 70,41 70,62 71,68 10 Barru 67,32 68,00 68,57 69,06 69,31 69,55 11 Bone 61,42 61,89 62,24 62,48 62,72 63,05 12 Soppeng 64,02 64,63 65,13 65,54 65,88 66,35 13 Wajo 71,23 71,64 71,97 72,22 72,43 73,18 14 Sidrap 71,09 71,28 71,33 71,38 71,43 73,06 15 Pinrang 70,90 71,33 71,67 71,93 72,15 72,46 16 Enrekang 66,78 67,20 67,52 67,75 68,07 69,57 17 Luwu 65,00 65,38 65,65 65,83 66,11 67,45 18 Tana Toraja 54,42 54,86 55,15 55,31 55,60 55,89 19 Luwu Utara 70,89 71,26 71,54 71,75 71,93 72,20 20 Luwu Timur 75,07 75,23 75,27 75,31 75,35 75,52 21 Toraja Utara 57,76 57,91 58,36 58,70 59,04 59,38 22 Makassar 82,00 82,20 82,34 82,42 82,69 83,86 23 Pare-Pare 75,89 76,36 76,76 77,09 77,42 77,72 24 Palopo 73,74 74,07 74,39 74,64 74,97 75,72 Provinsi 68,02 68,44 68,76 68,99 69,28 70,11 Sumber : BPS Kabupaten Barru Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Barru,
41 DATA MENCERDASKAN BANGSA BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN BARRU Statistics of Barru Regency Jl. Sultan Hasanuddin No. 93 Barru, Sulawesi Selatan Telp. (0427)-21021,21297 Website : [email protected]
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2016
BPS PROVINSI SULAWESI SELATAN No. 22/04/73/Th.II, 17 April 2017 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2016 IPM Sulawesi Selatan Tahun 2016 Pembangunan manusia di Sulawesi Selatan pada tahun 2016 terus
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2015
BADAN PUSAT STATISTIK No. 34/06/73/Th. I, 15Juni 2016 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2015 IPM Sulawesi Selatan Tahun 2015 Pembangunan manusia di Sulawesi Selatan pada tahun 2015 terus mengalami
Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Mamuju
Katalog BPS: 4102002.7604 Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Mamuju Human Development Index of Mamuju Regency 2012 BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN MAMUJU Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Mamuju
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI SULAWESI SELATAN
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI SULAWESI SELATAN Seuntai Kata Sensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) setiap 10 (sepuluh) tahun
KEADAAN KETENAGAKERJAAN SULAWESI SELATAN AGUSTUS 2014
BPS PROVINSI SULAWESI SELATAN No. 65/1/73/Th. VIII, 5 November 2014 KEADAAN KETENAGAKERJAAN SULAWESI SELATAN AGUSTUS 2014 Jumlah angkatan kerja di Provinsi Sulawesi Selatan pada Agustus 2014 mencapai 3.715.801
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) METODE BARU
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) METODE BARU H.Nevi Hendri, S.Si Soreang, 1 Oktober 2015 Pendahuluan Metodologi IPM Hasil Penghitungan IPM Metode Baru Penutup Pendahuluan SEJARAH PENGHITUNGAN IPM 1990:
PERKEMBANGAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KABUPATEN NGADA, TAHUN O14
BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN NGADA No. 02/10/Th. VII, 05 Oktober 2015 PERKEMBANGAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KABUPATEN NGADA, TAHUN 2010-2O14 (PENGHITUNGAN DENGAN MEMAKAI METODE BARU) Selama kurun
Keadaan Ketenagakerjaan Sulawesi Selatan Agustus 2017
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI SULAWESI SELATAN Keadaan Ketenagakerjaan Sulawesi Selatan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,61 persen Jumlah angkatan kerja pada sebanyak 3.812.358 orang, berkurang
INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT NUSA TENGGARA TIMUR 2014
12 IndikatorKesejahteraanRakyat,2013 INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT NUSA TENGGARA TIMUR 2014 No. ISSN : 0854-9494 No. Publikasi : 53522.1002 No. Katalog : 4102004 Ukuran Buku Jumlah Halaman N a s k a
BERITA RESMI STATISTIK BPS KABUPATEN PASER
BERITA RESMI STATISTIK BPS KABUPATEN PASER IPM (INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA) KABUPATEN PASER TAHUN 2011 Pencapaian pembangunan manusia di Kabupaten Paser pada kurun 2007 2011 terus mengalami peningkatan.
PERKEMBANGAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KABUPATEN NGADA, TAHUN O15
BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN NGADA No. 0/07/Th. VIII, 1 Juli 016 PERKEMBANGAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KABUPATEN NGADA, TAHUN 011 - O15 Selama kurun waktu 011-015, IPM Kabupaten Ngada meningkat dari
ANALISIS HASIL INDIKATOR PEMBANGUNAN MANUSIA KOTA JAKARTA SELATAN 2014
ANALISIS HASIL INDIKATOR PEMBANGUNAN MANUSIA KOTA JAKARTA SELATAN 2014 (Oleh Endah Saftarina Khairiyani, S.ST) 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, perkembangan era globalisasi menuntut setiap insan untuk menjadi
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN LUWU
. BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN LUWU INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KABUPATEN LUWU 2013 Ukuran Buku Jumlah Halaman Naskah Penyunting Gambar Kulit Diterbitkan Oleh : 21 cm x 15 cm : xii +
GAMBARAN SOSIAL - EKONOMI KOTA PALOPO TAHUN Disampaikan oleh : Badan Pusat Statistik Kota Palopo Palopo, 23 Oktober 2014
GAMBARAN SOSIAL - EKONOMI KOTA PALOPO TAHUN 2013 Disampaikan oleh : Badan Pusat Statistik Kota Palopo Palopo, 23 Oktober 2014 Statistik Dasar UU NO. 16 TAHUN 1997 (TENTANG STATISTIK) Statistik yang pemanfaatannya
Pengantar Diskusi Kinerja APBD Sulsel. Oleh. Syamsuddin Alimsyah Koor. KOPEL Indonesia
04/03/2012 Pengantar Diskusi Kinerja APBD Sulsel Oleh Syamsuddin Alimsyah Koor. KOPEL Indonesia Latar Belakang Provinsi Sulsel sebagai pintu gerbang Indonesia Timur?? Dari segi kesehatan keuangan suatu
BERITA RESMI STATISTIK
Hasil Pendaftaran (Listing) Usaha/Perusahaan Sensus Ekonomi 2016 Provinsi Sulawesi Selatan No. 31/05/Th., 24 Mei 2017 BERTA RESM STATSTK BADAN PUSAT STATSTK PROVNS SULAWES SELATAN Hasil Pendaftaran (Listing)
Indikator Sosial Ekonomi Makro Kabupaten Pinrang 2015
Indikator Sosial Ekonomi Makro Kabupaten Pinrang 2015 Indikator Sosial Ekonomi Makro Kabupaten Pinrang 2015 ISBN : No. Publikasi : Katalog BPS : 1301001.7315 Ukuran Buku : 17,6 cm x 25 cm Jumlah Halaman
KABUPATEN ACEH UTARA. Katalog BPS : BADAN PUSAT STATISTIK
Katalog BPS : 4102004.1111 Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Utara Jl. T. Chik Di Tiro No. 5 Telp/Faks. (0645) 43441 Lhokseumawe 24351 e-mail : [email protected], [email protected] BADAN PUSAT
Boleh dikutip dengan mencantumkan sumbernya
INDIKATOR KESEJAHTERAAN MASYARAKAT PROVINSI ACEH 2016 Nomor Publikasi : 11522.1605 Katalog BPS : 4102004.11 Ukuran Buku : 17,6 cm x 25 cm Jumlah Halaman : xvii + 115 Halaman Naskah Gambar Kulit Diterbitkan
IPM KABUPATEN BANGKA: CAPAIAN DAN TANTANGAN PAN BUDI MARWOTO BAPPEDA BANGKA 2014
IPM KABUPATEN BANGKA: CAPAIAN DAN TANTANGAN PAN BUDI MARWOTO BAPPEDA BANGKA 2014 LATAR BELAKANG Sebelum tahun 1970-an, pembangunan semata-mata dipandang sebagai fenomena ekonomi saja. (Todaro dan Smith)
Katalog BPS:
Katalog BPS: 4103.1409 INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT (INKESRA) KABUPATEN ROKAN HILIR TAHUN 2013 No. Katalog : 4103.1409 Ukuran Buku Jumlah Halaman Naskah Gambar Kulit dan Setting Diterbitkan Oleh Kerjasama
Halaman Tulisan Jurnal (Judul dan Abstraksi)
Halaman Tulisan Jurnal (Judul dan Abstraksi) Jurnal Paradigma Ekonomika Vol.1, No.7 April 2013 ANALISIS INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT PERIODE 2007-2011 H. Syamsuddin. HM ABSTRACT
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
71 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisis Ketimpangan dan Tingkat Perkembangan Wilayah Adanya ketimpangan (disparitas) pembangunan antarwilayah di Indonesia salah satunya ditandai dengan adanya wilayah-wilayah
BAB IV KONDISI SOSIAL EKONOMI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
BAB IV KONDISI SOSIAL EKONOMI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Pertumbuhan Ekonomi, Pendapatan Per Kapita dan Struktur Ekonomi Tingkat pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam lima tahun terakhir
BAB IV GAMBARAN UMUM INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI PROVINSI BANTEN
BAB IV GAMBARAN UMUM INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI PROVINSI BANTEN 4.1 Pendidikan di Banten Pemerintah Provinsi Banten sejauh ini berupaya melakukan perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat salah satunya
4 GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR
44 Keterbatasan Kajian Penelitian PKL di suatu perkotaan sangat kompleks karena melibatkan banyak stakeholder, membutuhkan banyak biaya, waktu dan tenaga. Dengan demikian, penelitian ini memiliki beberapa
Indeks Pembangunan Manusia
Indeks Pembangunan Manusia Kuliah Pengantar: Indeks Pembangunan Sub Bidang Pembangunan Perdesaan Di Program Studi Arsitektur, ITB Wiwik D Pratiwi, PhD Indeks Pembangunan Manusia Indeks Pembangunan Manusia
BAB I PENDAHULUAN. LKPJ Gubernur Sulawesi Selatan Tahun
BAB I PENDAHULUAN LKPJ Tahun 2011 ini merupakan LKPJ tahun keempat dari pelaksanaan RPJMD Sulawesi Selatan tahun 2008-2013. Berangkat dari keinginan Pemerintah agar Sulawesi Selatan sebagai Provinsi sepuluh
BAB I PENDAHULUAN. menjadi lebih baik atau meningkat. Pembangunan Nasional yang berlandaskan. dan stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan merupakan suatu langkah dalam membuat sesuatu yang belum ada menjadi ada atau membuat suatu perubahan yaitu membuat sesuatu menjadi lebih baik atau meningkat.
BAB I PENDAHULUAN. P r o f i l K e s e h a t a n P r o v. S u l s e l T a h u n Hal :1
BAB I PENDAHULUAN Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 pasal 34 menyatakan bahwa negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum
BAB 1 PENDAHULUAN. dalam pembangunan adalah IPM (Indeks Pembangunan Manusia). Dalam. mengukur pencapaian pembangunan sosio-ekonomi suatu negara yang
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesejahteraan masyarakat merupakan hal yang harus dicapai dalam pembangunan. Adapun salah satu indikator untuk mengukur keberhasilan dalam pembangunan adalah
KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP
KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan
INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT K O T A K U P A N G /
Katalog BPS : 4103.5371 INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT K O T A K U P A N G 2 0 0 5 / 2 0 0 6 BADAN PUSAT STATISTIK KOTA KUPANG INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT KOTA KUPANG 2005/2006 No. Publikasi : 5371.0612
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Disparitas antar Kabupate/kota di Provinsi Sulawesi Selatan :
57 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian dan pembahasan terhadap Disparitas antar Kabupate/kota di Provinsi Sulawesi Selatan : 1. Pada periode pengamatan
BAB I PENDAHULUAN. P r o f i l K e s e h a t a n P r o v. S u l s e l T a h u n Hal :1
BAB I PENDAHULUAN Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 pasal 34 menyatakan bahwa negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Keberhasilan pembangunan, khususnya pembangunan manusia dapat dinilai secara parsial dengan melihat seberapa besar permasalahan yang paling mendasar di masyarakat
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tahun 2015 di Kabupaten Asmat
Nomor : BRS-02/BPS-9415/Th. I, 28 Juni 2016 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tahun 2015 di Kabupaten Asmat 1. IPM pertama kali diperkenalkan oleh United Nation Development Programme (UNDP) pada tahun 1990
jayapurakota.bps.go.id
INDEKS PEMBANGUNGAN MANUSIA DAN ANALISIS SITUASI PEMBANGUNAN MANUSIA KOTA JAYAPURA TAHUN 2015/2016 ISSN: Nomor Katalog : 2303003.9471 Nomor Publikasi : 9471.1616 Ukuran Buku Jumlah Halaman Naskah : : 16,5
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR BUPATI KABUPATEN BANYUASIN... KATA PENGANTAR BAPPEDA KABUPATEN BANYUASIN... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...
DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR BUPATI KABUPATEN BANYUASIN... KATA PENGANTAR BAPPEDA KABUPATEN BANYUASIN... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... i ii iii iv ix BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar
Tinjauan Ekonomi. Keuangan Daerah
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN Tinjauan Ekonomi & Keuangan Daerah Provinsi SULAWESI Selatan Peta Sulawesi Selatan 2 Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah
I. PENDAHULUAN. perubahan dengan tujuan utama memperbaiki dan meningkatkan taraf hidup
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan merupakan upaya yang sudah direncanakan dalam melakukan suatu perubahan dengan tujuan utama memperbaiki dan meningkatkan taraf hidup masyarakat, meningkatkan
BOX UMKM : PERKEMBANGAN PEMBIAYAAN KOMODITAS 'GERBANG EMAS' OLEH PERBANKAN SULAWESI SELATAN
BOX UMKM : PERKEMBANGAN PEMBIAYAAN KOMODITAS 'GERBANG EMAS' OLEH PERBANKAN SULAWESI SELATAN PENDAHULUAN Dalam mendorong ekonomi kerakyatan, Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan mengembangkan Gerakan Pembangunan
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2015
BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA No. 38/07/34/Th.XVIII, 1 Juli 2016 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2015 IPM Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2015 Pembangunan manusia di Daerah Istimewa Yogyakarta pada
Kesenjangan Sektor Riil dan Keuangan di Sulsel
Pokok Pikiran: Marsuki Kesenjangan Sektor Riil dan Keuangan di Sulsel Disampaikan pada Seminar Nasional (LP2M Unhas, Yayasan Bakti dan SMERU Reseach Institute) Gedung IPTEKS UNHAS, 9 Mei 2018 Pertumbuhan
INDEKS PEMBANGUNAN M A N U S I A K A B U P A T E N K E P U L A U A N S E L A Y A R
INDEKS 4102002.7301 PEMBANGUNAN M A N U S I A K A B U P A T E N K E P U L A U A N S E L A Y A R INDEKS 4102002.7301 PEMBANGUNAN M A N U S I A K A B U P A T E N K E P U L A U A N S E L A Y A R INDEKS PEMBANGUNAN
I. PENDAHULUAN. Pengembangan sumberdaya manusia merupakan proses untuk. ini juga merupakan proses investasi sumberdaya manusia secara efektif dalam
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengembangan sumberdaya manusia merupakan proses untuk meningkatkan pengetahuan manusia, kreativitas dan keterampilan serta kemampuan orang-orang dalam masyarakat. Pengembangan
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA METODE BARU UMUR PANJANG DAN HIDUP SEHAT PENGETAHUAN STANDAR HIDUP LAYAK BADAN PUSAT STATISTIK DAFTAR ISI Pembangunan Manusia Perubahan Metodologi IPM Implementasi IPM Metode
KAJIAN DAN ANALISIS SUMBER DAYA MANUSIA (TINJAUAN IPM) PROVINSI KEPULAUAN RIAU TAHUN
KAJIAN DAN ANALISIS SUMBER DAYA MANUSIA (TINJAUAN IPM) PROVINSI KEPULAUAN RIAU TAHUN 2005-2013 KAJIAN DAN ANALISIS SUMBER DAYA MANUSIA (TINJAUAN IPM) PROVINSI KEPULAUAN RIAU TAHUN 2005-2013 Ukuran Buku
pareparekota.bps.go.id
Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN IPM Kota Parepare Tahun 2015 3 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KOTA PAREPARE 2015 I S S N : 2460-2442 No. Publikasi : 73720.1506 Katalog BPS : 4102002.7372 Ukuran Buku Jumlah
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) SEKADAU TAHUN 2014
BPS KABUPATEN SEKADAU No.02/11/6109/Th. I, 30 November 2015 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) SEKADAU TAHUN 2014 IPM KABUPATEN SEKADAU TAHUN 2014 SEBESAR 61,98 MENINGKAT SELAMA LIMA TAHUN TERAKHIR IPM pertama
BAB I PENDAHULUAN. senantiasa berada di garda terdepan. Pembangunan manusia (human development)
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam perencanaan pembangunan dewasa ini, pembangunan manusia senantiasa berada di garda terdepan. Pembangunan manusia (human development) dirumuskan sebagai perluasan
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) PROVINSI NTB TAHUN 2016
BADAN PUSAT STATISTIK No. 25/04/52/th II, 17 April 2017 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) PROVINSI NTB TAHUN 2016 Indeks Pembangunan Manusia Provinsi NTB pada tahun 2016 mengalami kemajuan yang ditandai
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA METODE BARU KABUPATEN SORONG TAHUN 2014
i ii INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA METODE BARU KABUPATEN SORONG TAHUN 2014 Katalog BPS/ BPS Catalogue : 1413.9107 ISSN : 2302-1535 Nomor Publikasi/ Publication Number : 9107.15.03 Ukuran Buku/ Book size :
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan, yang dilakukan setiap negara ataupun wilayah-wilayah administrasi dibawahnya, sejatinya membutuhkan pertumbuhan, pemerataan dan keberlanjutan. Keberhasilan
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BONTANG
1. Metodologi No. 03/6474/Th. VI, 07 Desember 2016 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) KOTA BONTANG Tahun 2015 Secara nasional Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tahun 2015 berdasarkan metode baru Tahun 2010
Sebagai sebuah instansi sektor publik, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah
BAB. 3 AKUNTABILITAS KINERJA A. PENGUATAN IMPLEMENTASI SAKIP PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH Sebagai sebuah instansi sektor publik, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mempunyai rencana strategis
BAB I PENDAHULUAN. maka membutuhkan pembangunan. Manusia ataupun masyarakat adalah kekayaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat di suatu negara maka membutuhkan pembangunan. Manusia ataupun masyarakat adalah kekayaan bangsa dan sekaligus sebagai
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KABUPATEN TUBAN 2009
Katalog BPS: 1413.3523 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KABUPATEN TUBAN 2009 BADAN PUSAT STATISTIK DAN BAPPEDA KABUPATEN TUBAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KABUPATEN TUBAN 2009 No. Publikasi : 35230.0310 Katalog
Bab I. Pendahuluan. Analisis Pembangunan Sosial Kabupaten Bandung Latar Belakang
Bab I. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Informasi statistik merupakan salah satu bahan evaluasi pelaksanaan perencanaan pembangunan daerah, serta sebagai bahan masukan dalam proses perumusan kebijakan perencanaan
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) BENGKULU TAHUN 2015
No. 38/07/17/I, 1 Juli 2016 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) BENGKULU TAHUN 2015 IPM Bengkulu Tahun 2015 = 68,59 Pembangunan manusia di Bengkulu pada tahun 2015 terus mengalami kemajuan yang ditandai dengan
BERITA RESMI STATISTIK BPS KABUPATEN BLITAR
BERITA RESMI STATISTIK BPS KABUPATEN BLITAR No. 02/06/3505/Th.I, 13 Juni 2017 PROFIL KEMISKINAN KABUPATEN BLITAR TAHUN 2016 RINGKASAN Persentase penduduk miskin (P0) di Kabupaten Blitar pada tahun 2016
PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA (INDONESIAN NUTRITION ASSOCIATION) PROVINSI SULAWESI SELATAN
rektur RS. Kab/Kota Se-Sulsel (daftar terlampir) dalam kegiatan Akreditasi Pelayanan RS dan khususnya yang Pelayanan Kesehatan, : Gedung Fajar, Graha Pena Makassar Narasumber : 1. DR. Minarto, MPS ( DPP
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) KALIMANTAN TIMUR TAHUN 2016
BPS PROVINSI KALIMANTAN TIMUR No. 31/04/64/Th.XX, 17 April 2017 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) KALIMANTAN TIMUR TAHUN 2016 IPM Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2016 Pembangunan manusia di Provinsi Kalimantan
2.1. Konsep dan Definisi
2.1. Konsep dan Definisi Angka Harapan Hidup 0 [AHHo] Perkiraan rata-rata lamanya hidup sejak lahir (0 tahun) yang akan dicapai oleh sekelompok penduduk. Angka Kematian Bayi (AKB) Banyaknya kematian bayi
Harapan Lama Sekolah (HLS) didefinisikan sebagai lamanya (tahun) sekolah formal yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa me
BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN MAGELANG No.02/05/33.08/Th. I, 04 Mei 2017 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) KABUPATEN MAGELANG 2016 1. Perkembangan IPM Kabupaten Magelang, 2010-2016 Pembangunan manusia
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) BANTEN TAHUN 2015
No. 40/07/36/Th.X, 1 Juli 2016 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) BANTEN TAHUN 2015 STATUS PEMBANGUNAN MANUSIA BANTEN MENINGKAT MENJADI TINGGI Pembangunan manusia di Banten pada tahun 2015 terus mengalami
2.2 EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN RKPD SAMPAI DENGAN TAHUN 2013 DAN REALISASI RPJMD
143 2.2 EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN RKPD SAMPAI DENGAN TAHUN 2013 DAN REALISASI RPJMD 2.2.1 Evaluasi Indikator Kinerja Utama Pembangunan Daerah Kinerja pembangunan Jawa Timur tahun 2013 diukur
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2016
BPS PROVINSI LAMPUNG No. 15/05/18/TAHUN II, 5 Mei 2017 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2016 IPM Lampung Tahun 2016 Pembangunan manusia di Lampung pada tahun 2016 terus mengalami kemajuan yang ditandai
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) BANTEN TAHUN 2016
No. 30/05/36/Th.XI, 5 Mei 2017 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) BANTEN TAHUN 2016 PEMBANGUNAN MANUSIA BANTEN TERUS MENGALAMI KEMAJUAN Pembangunan manusia di Banten pada tahun 2016 terus mengalami kemajuan,
Dr. dr. H. Racmat Latief, SpPD, KPTI, M.Kes, FINASIM Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan
Evaluasi Sistem Informasi Kesehatan Di Sulawesi Selatan Menuju Satu Data Dr. dr. H. Racmat Latief, SpPD, KPTI, M.Kes, FINASIM Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan Pada Pertemuan Pemutakhiran
Lampiran 1. Nilai Indeks Williamson PDRB per. (fi/ fi)/(yi- ỳ)^2. Kabupaten/K ota PDRB (000) (fi/ fi) (yi-ỳ) (yi-ỳ)^2.
Lampiran 1. Nilai Indeks Williamson 2004 Kabupaten/K ota PDRB (000) 2004 PDRB per Jumlah kapita Penduduk (fi/ fi) (yi-ỳ) (yi-ỳ)^2 (fi/ fi)/(yi- ỳ)^2 Selayar 317.241 111.458 2,8463 0,0151-0,9043 0,8178
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) PROVINSI GORONTALO 2015
No. 34/06/75/Th.X, 15 Juni 2016 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) PROVINSI GORONTALO 2015 IPM Provinsi Gorontalo Tahun 2015 Pembangunan manusia di Provinsi Gorontalo pada tahun 2015 terus mengalami kemajuan
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2016
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2016 No. 33/05/51/Th. II, 5 Mei 2017 IPM Provinsi Bali Tahun 2016 Progres pembangunan manusia pada tahun 2016 terus mengalami kemajuan yang ditandai dengan terus
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) DKI JAKARTA TAHUN 2016 TERUS MENINGKAT
No. 19/04/31/Th.XIX, 17 April 2017 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) DKI JAKARTA TAHUN 2016 TERUS MENINGKAT Pembangunan manusia di Provinsi DKI Jakarta terus mengalami kemajuan yang ditandai dengan terus
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BONTANG
BADAN PUSAT STATISTIK KOTA BONTANG No. 03/6474/Th. V, 07 Desember 2015 1. Metodologi INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) KOTA BONTANG Tahun 2014 Secara nasional Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tahun 2014
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) PROPINSI NTB TAHUN 2015
BADAN PUSAT STATISTIK No. 40/06/52/th I, 15 Juni 2016 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) PROPINSI NTB TAHUN 2015 Pembangunan manusia di Propinsi NTB pada tahun 2015 terus mengalami kemajuan yang ditandai
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum Dasar hukum penyusunan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2016, adalah sebagai berikut: 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Ketenagakerjaan merupakan masalah yang selalu menjadi perhatian utama
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketenagakerjaan merupakan masalah yang selalu menjadi perhatian utama pemerintah dari masa ke masa. Permasalahan ini menjadi penting mengingat erat kaitannya dengan
KATA SAMBUTAN BUPATI TANJUNG JABUNG TIMUR
KATA SAMBUTAN BUPATI TANJUNG JABUNG TIMUR Assalamualaikum Wr. Wb. Segala puji kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas perkenan dan rahmat-nya, kita telah diberi kesempatan untuk mencurahkan segenap kemampuan
Metodologi Quick Count
PRESS RELEASE: QUICK COUNT dan EXIT POLL PEMILIHAN GUBERNUR PROVINSI SULAWESI SELATAN 22 JANUARI 213 Jl. Lembang Terusan D57, Menteng, Jakarta Pusat Telp. (21) 3919582, Fax (21) 3919528 Website: www.lsi.or.id,
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2015
BPS PROVINSI LAMPUNG No. 15/06/18/TAHUN I, 15 Juni 2016 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2015 IPM Lampung Tahun 2015 Pembangunan manusia di Lampung pada tahun 2015 terus mengalami kemajuan yang ditandai
