BAB I PENDAHULUAN BAB II 1

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN BAB II 1"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP) akut, merupakan purpura trombositopenia yang paling sering pada masa anak, dihubungkan dengan ptekie, perdarahan mukokutan, dan kadang-kadang perdarahan ke dalam jaringan. Ada penurunan berat pada trombosit sirkulasi, meskipun terdapat jumlah megakariosit cukup dalam sumsum tulang. 1 Menurut data yang berasal dari penelitian di Eropa dari 1 Januari Agustus 2009 perkiraan insiden terendah dalam empat penelitian adalah 2,2 per 105 anak / tahun (95% confidence interval 1,9, 2,4) dan estimasi insiden tertinggi adalah 5,3 per 105 anak/tahun (95% confidence interval 4.3, 6.4 ). Perkiraan terkuat saat kejadian ITP akut pada anak-anak adalah antara 1,9 dan 6,4 per 10 anak / tahun. 2 Idiopathic Thrombocytopenic Purpura akut paling sering terjadi pada anak. Pada sekitar 75%, episode tersebut terjadi setelah vaksinasi atau infeksi seperti cacar air atau mononukleosis infeksiosa. Sebagian kasus terjadi akibat perlekatan kompleks imun non spesifik. 1 Penatalaksanaan ITP pada anak terutama ITP akut masih menjadi topik kontroversi. Meskipun ITP pada anak umumnya bersifat akut dan biasanya membaik dengan sendirinya dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan, namun sejak seperempat abad yang lalu terdapat perbedaan pendapat di antara para ahli tentang pemberian kortikosteroid secara rutin pada pasien ITP. Dengan diperkenalkannya beberapa pengobatan baru akhir-akhir ini, semakin meramaikan perbedaan pendapat tersebut. Yang menjadi permasalahan sebenarnya adalah apakah seharusnya pada semua pasien ITP, terutama anak-anak perlu diberikan pengobatan. Oleh sebab itu penulis tertarik untuk membahas masalah ITP ini kedalam sebuah referat. BAB II 1

2 TINJAUAN PUSTAKA II.1 DEFINISI Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP) istilah sebelumnya digunakan untuk merujuk kepada "idiopathic" atau "kekebalan" thrombocytopenic purpura. Namun, meskipun tidak semua aspek patogenesis ITP dipahami, penyakit tidak bisa lagi dianggap idiopatik. Selain itu, banyak pasien tidak memperlihatkan gejala klinis purpura pada saat diagnosis. Meskipun singkatan "ITP" tetap sama, sekarang mengacu pada trombositopenia imun, yang dapat berupa primer atau sekunder. 3 Idiopathic Trombositopenia Purpura ialah suatu penyakit perdarahan yang didapat sebagai akibat dari penghancuran trombosit yang berlebihan, yang ditandai dengan: trombositopenia (trombosit < /mm 3 ), purpura, gambaran darah tepi yang umumnya normal, dan tidak ditemukan penyebab trombositopenia yang lainnya. ITP merupakan kelainan autoimun yang menyebabkan meningkatnya penghancu ran trombosit dalam sistem retikuloendotelial. 4 Tabel 2.1 Terminologi terkait ITP 5 Terminologi Nilai ambang batas trombosit ITP Primer ITP sekunder ITP parah Baru didiagnosis ITP Definisi Terbaru < / L (sebelumnya didefinisikan sebagai < / L) tidak adanya penyebab yang menyebabkan trombositopenia (diagnosis eksklusi) trombositopenia imunitas karena penyakit atau paparan obat Perdarahan membutuhkan perawatan terlepas dari jumlah trombosit Dari awal diagnosis hingga 3 bulan (sebelumnya dikenal sebagai ITP akut sampai 6 bulan dari diagnosis) 2

3 ITP persisten ITP kronis ITP tergantung steroid Respon lengkap Respon (R) Tidak ada respon (NR) Kegagalan ITP 3-12 bulan setelah diagnosis > 12 bulan setelah diagnosis (sebelumnya didefinisikan sebagai> 6 bulan setelah diagnosis) Kebutuhan kelanjutan steroid selama minimal 2 bulan untuk mempertahankan jumlah trombosit / L dan menghindari perdarahan (CR) Jumlah trombosit / L + tidak ada perdarahan Jumlah trombosit / L + kenaikan setidaknya 2 kali lipat dari jumlah trombosit awal + tidak ada perdarahan Jumlah trombosit < / L (atau) kurang dari peningkatan 2 kali lipat dari jumlah trombosit awal (atau) perdarahan refrakter untuk mencapai setidaknya R (atau) kehilangan R setelah splenektomi + membutuhkan penanganan untuk mengontrol perdarahan II.2 EPIDEMIOLOGI Insiden ITP pada orang dewasa adalah sekitar 66 kasus per per tahun. Perkiraan rata-rata kejadian pada anak-anak adalah 50 kasus per per tahun. Kasus baru ITP refrakter kronis terdiri sekitar 10 kasus per per tahun. Puncak prevalensi terjadi pada orang dewasa berusia tahun. Puncak prevalensi terjadi pada anak usia 2-4 tahun. Sekitar 40% dari semua pasien yang lebih muda dari 10 tahun. 6 Menurut studi di Denmark dan Inggris, ITP terjadi pada sekitar kasus per per tahun. Sebuah studi di Kuwait melaporkan insiden yang lebih tinggi dari 125 kasus per per tahun. 6 Perdarahan merupakan komplikasi yang paling serius. Perdarahan intrakranial adalah yang paling signifikan. Tingkat kematian dari perdarahan adalah 3

4 sekitar 1% pada anak-anak dan 5% pada orang dewasa. Pada pasien dengan trombositopenia berat, diperkirakan angka kematian 5-tahun dari perdarahan secara signifikan mengangkat pada pasien yang lebih tua dari 60 tahun dibandingkan pasien yang lebih muda dari 40 tahun, 47,8% dibandingkan 2,2%, masing-masing. Usia yang lebih tua dan riwayat perdarahan meningkatkan risiko perdarahan hebat di ITP dewasa. Remisi spontan terjadi pada lebih dari 80% kasus pada anak-anak. Namun, hal ini jarang terjadi pada orang dewasa. 6 II.3 ETIOLOGI 1. Idiopathic Thrombocytopenic Purpura Primer 7 a. Peningkatan destruksi trombosit Ada bukti luas bahwa pasien dengan ITP mengembangkan autoantibodi, umumnya IgG, mengikat bahwa untuk trombosit, yang mengarah ke fagositosis mereka melalui reseptor Fcγ diekspresikan pada makrofag jaringan yang terletak terutama di limpa dan liver. Apa memprovokasi produksi autoantibodi tidak diketahui, tetapi kebanyakan pasien ITP memiliki antibodi terhadap integrin αiibβ3 (glikoprotein IIa / IIIb), glikoprotein Ib/IX, atau protein platelet dengan penyakit klinis, ditandai dengan trombositopenia dan perdarahan mukokutan, adalah dasar. Kerusakan trombosit dalam makrofag atau sel dendritik mendegradasi antigen trombosit untuk peptida. Peptida disajikan pada permukaan sel dalam konteks MHCII dan costimulatory bantuan untuk presentasi ke sel T, memperkuat respon imun awal dan mungkin menghasilkan epitop samar dari glikoprotein trombosit lain, respon imun menyebar melibatkan beberapa antigen. Platelet pada ITP adalah ditandai dengan berkurangnya regulasi sel T dan sel sitokin Thy2, mengarah ke profil Thy1/Thy0 dan regulasi molekul costimulatory yang memfasilitasi proliferasi asal antigen sel T CD4+ dan kerjasama sel B dan sel T untuk menghasilkan isotype-switched, afinitas tinggi antibodi. Ada bukti yang muncul bahwa sel-sel T sitotoksik yang meningkat di sumsum tulang dan dapat menyebabkan destruksi trombosit atau gangguan produksi. Pentingnya kerusakan trombosit di perifer 4

5 ditegaskan oleh fakta bahwa dua pertiga dari pasien mengembangkan dan mempertahankan remisi setelah splenektomi, yang membatasi fagositosis, tetapi juga dapat mengurangi produksi antibodi dari waktu ke waktu. Demikian juga, sebagian besar terapi medis pertama dan lini kedua untuk ITP diyakini bekerja dengan menghambat kerusakan trombosit. b. Produksi trombosit menurun 7 Berdasarkan studi in vivo kinetika, bahwa produksi trombosit bervariasi dari agak meningkat menjadi agak terganggu pada kebanyakan pasien dengan ITP. Sintesis trombopoetin tidak diatur di hati. Kadar plasma TPO pada pasien dengan ITP dari normal menjadi sedikit meningkat sebagai akibat dari peningkatan pembersihan hormon dan pengikatan megakariosit diperbanyak. Antibodi ITP dan mungkin sel T menghambat perkembangan megakariosit in vitro dan dapat menyebabkan apoptosis dan penghancuran trombosit intramedullar in vivo, berkontribusi terhadap kegagalan splenektomi dan perawatan lain yang bertindak dengan menghambat pembersihan. Pada ITP akut, telah dipercaya bahwa penghancuran trombosit meningkat karena adanya antibodi yang dibentuk saat terjadi respon imun terhadap infeksi bakteri/virus atau pada pemberian imunisasi, yang bereaksi silang dengan antigen dari trombosit. 2. Idiopathic Thrombocytopenic Purpura sekunder, penyebabnya adalah: 6,4 Sindrom Antifosfolipid Trombositopenia autoimun (eg, Evans syndrome) Common variable immune deficiency Drug administration side effect Infeksi cytomegalovirus, Helicobacter pylori, hepatitis C, human immunodeficiency virus, varicella zoster. Kelainan limfoproliferatif 5

6 Efek samping transpalantasi sumsum tulang belakang Systemic lupus erythematosus II.4 PATOFISIOLOGI ITP disebabkan oleh antibodi trombosit spesifik yang berikatan dengan trombosit analog kemudian dengan cepat dibersihkan dari sirkulasi oleh sistem fagosit mononuklear melalui reseptor Fc makrofag. Trombosit yang diselimuti oleh antibodi IgG akan mengalami percepatan pembersihan di lien dan di hati setelah berikatan dengan reseptor Fcg yang diekspresikan oleh makrofag jaringan. 8 Adanya perbedaan secara klinis maupun epidemiologis pada antara ITP akut dan kronis menimbulkan dugaan adanya mekanisme patofisiologi terjadinya trombositopenia diantara keduanya. Pada ITP akut, telah dipercaya bahwa penghancuran trombosit meningkat karena adanya antibodi yang dibentuk saat terjadinya respon imun terhadap infeksi bakteri/virus atau pada imunisasi yang bereaksi silang dengan antigen dari trombosit. Sedangkan pada ITP kronis mungkin telah terjadi gangguan dalam regulasi sistem imun seperti pada penyakit autoimun lainnya, yang berakibat terbentuknya antibodi spesifik terhadap trombosit. 8 Antigen pertama yang berhasil diidentifikasi berasal dari kegagalan antibodi ITP untuk berikata dengan trombosit yang secara genetik kekurangan kompleks glikoprotein Ib/IX, Ia/Iia, IV dan V dan determinan trombosit yang lain, serta ditemukan beberapa antibodi yang bereaksi dengan berbagai antigen yang berbeda. Destruksi trombosit dalam sel penyaji antigen yang diperkirakan dipicu oleh antibodi akan menimbulkan pacuan pembentukan neoantigen yang berakibat produksi antibodi yang cukup untuk menimbulkan trombositopenia. 6, 8 6

7 Gambar 2.1 Patogenesis Idiopathic thrombocytopenic purpura.(dalam : Cines DB, Blanchette VS, Chir B. Immune Thrombocytopenic Purpura. N Engl J Med March 28; 346: ). 9 II.5 GEJALA KLINIS Awitan biasanya akut. Memar dan ruam petekie menyeluruh terjadi 1-4 minggu setelah infeksi virus atau pada beberapa kasus tidak ada penyakit yang mendahului. Gambaran klasik pada ITP ialah mengenai anak yang sebelumnya sehat dan mendadak timbul petekie, purpura, dan ekimosis yang dapat tersebar ke seluruh tubuh, biasanya asimetris, dan mungkin mencolok di tungkai bawah. Keadaan ini kadang-kadang dapat dijumpai pada selaput lendir terutama hidung dan mulut sehingga dapat terjadi epistaksis dan perdarahan gusi dan bahkan tanpa kelainan kulit. 1,9 7

8 Gambar 2.2 Gejala Klinis ITP. (Dalam: Cines DB, Blanchette VS, Chir B. Immune Thrombocytopenic Purpura. N Engl J Med March 28; 346: ). 9 Gejala lainnya ialah perdarahan traktus genitourinarius (menoragia, hematuria), traktus digestivus (hematemesis, melena), pada mata (konjungtiva, retina). Hati, limpa dan kelenjar limfe tidak membesar, kecuali tanda perdarahan akut. Fase akut penyakit disertai perdarahan spontan selama 1-2 minggu. Trombositopenia mungkin menetap, tetapi perdarahan mukokutan spontan menyurut. Kadang-kadang awitan lebih perlahan-lahan, dengan memar sedang dan sedikit ptekie. 1 II.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG a. Pemeriksaan Darah Tepi 4 ITP ditandai dengan trombositopenia dengan pemeriksaan darah lengkap dinyatakan normal. Anemia karena kehilangan darah dapat ditemukan, tetapi harus sebanding dengan jumlah, dan durasi perdarahan dan dapat menyebabkan defisiensi besi. Jika anemia ditemukan, jumlah retikulosit dapat membantu menentukan apakah hasil produksi yang buruk atau peningkatan perusakan sel darah merah. Pemeriksaan darah lengkap dan pemeriksaan apusan darah tepi oleh hematopathologist biasanya cukup untuk mendukung kecurigaan klinis ITP 8

9 klasik. Fitur morfologi termasuk trombosit yang besar pada apusan darah perifer (Gambar. 2a, 2b) dan jumlah yang memadai atau meningkat dari megakariosit di sumsum tulang. Informasi paling penting yang akan membantu adalah dari pemeriksaan darah dan sumsum tulang belakang adalah adanya eritrosit, leukosit dan prekursor lainnya normal, sehingga menyingkirkan kelainan hematologi dan penyebab infiltratif lainnya. Gambar 2.3 Trombosit dan megakariosit. (a) apusan darah tepi menunjukkan trombosit normal (panah putus-putus) (b) apusan darah tepi menunjukkan trombositopenia dengan trombosit besar (panah putus-putus ) pada ITP (c) bone marrow dengan jumlah normal megakariosit (panah) (d) aspirasi bone marrow menunjukkan peningkatan megakariosits (panah) pada ITP [Mei-Grunwald-Giemsa stain; a dan b, pembesaran asli x 40; c dan d, pembesaran asli x 10]. (Dalam: Anoop P. Immune thrombocytopenic purpura: Historical perspective, current status, recent advances and future directions. Indian pediatr. 2012; 49: ). 5 b. Pemeriksaan Helicobacter pylori 6 Deteksi infeksi Helicobacter pylori, sebaiknya dengan tes napas urea atau tes antigen pada tinja, harus dipertimbangkan dalam pemeriksaan pada orang dewasa dengan ITP yang khas di mana hal itu mungkin karena adanya bukti klinis (tingkat bukti IIa). Deteksi serologi dapat digunakan tetapi kurang 9

10 sensitif dan kurang spesifik daripada tes lainnya; Selanjutnya, tes dapat menghasilkan hasil positif palsu setelah terapi IV Ig. Kecuali di daerah prevalensi tinggi, literatur tidak mendukung pemeriksaan rutin pada anak-anak dengan ITP. c. Pemeriksaan HIV dan HCV 4,6 Trombositopenia terkait dengan HIV dan infeksi virus hepatitis C (HCV) mungkin secara klinis tidak dapat dibedakan dari ITP primer dan dapat terjadi beberapa tahun sebelum pasien menunjukkan evaluasi gejala lainnya. Sering ditemukan HIV dan atau infeksi HCV pada pasien dewasa yang diduga ITP, terlepas dari prevalensi dan latar belakang faktor risiko pribadi ditemukan dalam riwayat pasien dianjurkan untuk dilakukan pemeriksaan. Pengendalian infeksi ini dapat menyebabkan perbaikan hasil jumlah pemeriksaan darah lengkap. d. Pemeriksaan kadar immunoglobulin secara kuantitatif 6 Dasar imunoglobulin (Ig) kadar (IgG, IgA, dan IgM) harus diukur pada orang dewasa. Juga harus dipertimbangkan pada anak-anak dengan ITP awal, dan diukur pada anak-anak dengan ITP persisten atau kronis sebagai bagian dari evaluasi ulang. Kadar yang rendah dapat menunjukkan kondisi yang umum pada imunodefisiensi (CVID) atau defisiensi IgA selektif. Pengobatan ITP dengan agen imunosupresif karena itu relatif kontraindikasi pada CVID. Meskipun tingkat Ig idealnya harus diuji sebelum digunakan dari IVIg, sering akan diperlukan untuk mengobati pasien sebelum hasilnya diketahui. e. Pemeriksaan Antiglobulin Langsung 6 Direct antiglobulin test (DAT) yang positif ditemukan pada 22% dari 205 pasien (19 anak, 186 orang dewasa) dengan ITP, namun secara perubahan klinis tidak diketahui. Sebuah DAT umumnya sesuai jika anemia dikaitkan dengan jumlah retikulosit tinggi ditemukan dan jika pengobatan dengan anti-d imunoglobulin sedang dipertimbangkan. f. Tes antibodi antiplatelet: tes antibodi-glikoprotein spesifik 6 10

11 Tes antibodi terhadap glikoprotein trombosit spesifik tidak rutin dianjurkan karena platelet terkait IgG (PaIgG) meningkat pada kedua trombositopenia imun dan non-imun. II.7 DIAGNOSIS Diagnosis ITP sebagian besar ditegakkan berdasarkan gambaran klinis adanya gejala dan atau tanda perdarahan, disertai penurunan jumlah trombosit (trombositopeni). Pemeriksaan laboratorium lainnya dapat membantu menyingkirkan kemungkinan penyebab trombositopeni yang lain. 4 Alat diagnostik untuk orang dewasa dan anak-anak yang diduga ITP dikelompokkan menjadi 3 bagian berdasarkan rekomendasi. Sebuah diagnosis dugaan ITP dibuat berdasarkan riwayat pasien, pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah lengkap, dan pemeriksaan apus darah tepi dan tidak disarankan untuk penyebab lain dari trombositopenia. Tidak ada pemeriksaan gold standar yang dipercaya bisa menegakkan diagnosis. Respon terhadap terapi ITP spesifik, misalnya, imunoglobulin intravena (IVIg) dan intravena anti-d adalah mendukung diagnosis tetapi pengecualian pada ITP sekunder. 7 a. Riwayat Pasien Trombositopenia dapat disebabkan oleh banyak kondisi termasuk penyakit sistemik, infeksi, obat-obatan, dan gangguan hematologi primer. Sekitar 60% kasus anak, ada riwayat dari infeksi. Sebelumnya peningkatan risiko ITP juga terkait dengan vaksinasi. Vaksin mumps measles rubella (MMR), perdarahan setelah operasi sebelumnya, perdarahan gigi, dan trauma harus dipertimbangkan ketika memperkirakan mungkin durasi trombositopenia kronis atau gangguan perdarahan lain. Jika diagnosis ITP tegakkan, kontraindikasi atau indikasi diberikan terapi kortikosteroid harus dicatat. Keturunan trombositopenia harus dipertimbangkan pada pasien dengan trombositopenia kronik yang dipengaruhi oleh pengobatan dan pada mereka dengan riwayat keluarga trombositopenia atau gangguan perdarahan. 4,8 11

12 b. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik harus normal selain dari manifestasi perdarahan, splenomegali ringan dapat ditemukan pada pasien yang lebih muda, tapi splenomegali sedang atau berat menunjukkan penyebab lain. Gejala sistemik, seperti demam atau penurunan berat badan, hepatomegali, limfadenopati atau mungkin menunjukkan gangguan yang mendasari seperti HIV, Systemic lupus erythematosus (SLE), atau penyakit limfoproliferatif. 4 II.8 DIAGNOSIS BANDING ITP harus dibedakan dari proses aplasia atau infiltratif sumsum tulang. Aplasia atau pendesakan sumsum kurang mungkin, jika pemeriksaan fisik dan hitung darah normal, kecuali trombositopenia.pembesaran limpa yang bermakna mengesankan penyakit pimer hati dengan splenomegali kongestif, lipidosis, atau retikuloendoteliosis. Purpura trombositopenia dapat merupakan manifestasi awal SLE, AIDS, atau limfoma, tetapi penyakit-penyakit ini jarang pada anak. Berikut beberapa diagnosis banding dari ITP: Tabel 2.2 Etiologi trombositopenia pada anak 5 Peningkatan destruksi Imun Autoimun : ITP, SLE, APLS, ES, CVID Gangguan Produksi Aplasia/displasia Fanconi anemia, myelofibrosis, pearson syndrome Alloimun : NAIT, PTP Obat-obatan : heparin yang dapat menyebabkan trombositopenia Non-imun Neonatus: Infeksi TORCH, kelainan maternal, asfiksia Penggantian sumsum tulang belakang Leukimia, solid tumor Berbagai umur: infeksi* Keturunan 12

13 Bernard Soulier Syndrome, wiskott aldrich syndrome, von willebrand disease Keterangan: ITP, immune thrombocytopenic purpura; SLE, systemic lupus erythematosus; APLS, anti-phospholipid syndrome; ES, Evans syndrome; CVID, common variable immune deficiency; NAIT, neonatal alloimmune thrombocytopenia; PTP, post-transfusion purpura; * Hepatitis viruses B and C, human immunodeficiency virus and H.pylori have proven associations with thrombocytopenia. II.9 PENATALAKSANAAN Berikut merupakan beberapa faktor pertimbangan ketika memutuskan untuk mengobati atau tidak untuk mengobati anak-anak dengan ITP, termasuk gejala perdarahan, jumlah trombosit, dan masalah psikososial dan gaya hidup seperti aktivitas anak. Tabel 2.3 Derajat keparahan dan manajemen pasien ITP 7 Perdarahan / kualitas hidup Derajat 1. Perdarahan kecil, beberapa petechiae ( Total 100) dan / atau 5 memar kecil ( diameter 3 cm); ada perdarahan mukosa Derajat 2. perdarahan ringan, banyak petechiae (> Total 100) dan / atau> 5 memar besar (> diameter 3 cm); ada perdarahan mukosa Derajat 3. perdarahan sedang, perdarahan mukosa yang jelas Derajat 4. perdarahan mukosa atau dicurigai adanya perdarahan internal manajemen pendekatan Observasi Observasi atau pengobatan pada anak-anak tertentu Intervensi untuk mencapai derajat 1/2 pada anak-anak tertentu Intervensi Setelah 2010 pernyataan konsensus internasional, American Society of Hematology (ASH) diperbaharui pedoman manajemen ITP tahun 2011, berikut rekomendasi berdasarkan evidance based: 5 13

14 Tabel 2.4 Manajemen ITP 5 Keadaan Klinis Rekomendasi Derajat Gejala baru suspek ITP Tidak ada perdarahan atau perdarahan kulit hanya pengobatan lini pertama Tidak respon terhadap pengobatan lini pertama dan perdarahan mukosa berulang Waktu untuk splenektomi Imunisasi rutin Pemeriksaan bone marrow tidak diperlukanjika ada gejala khas Observasi IVIg Kortikosteroid Anti D Rituximab Splenektomi Jika persisten trombositopenia berat dengan perdarahan mukosa selama12 bulan ang kegagalan pengoabatan lini kedua Semua imunisasi termasuk MMR diberikan Derajat 1B Derajat 1B Derajat 1B Derajat 1B Derajat 2B Derajat 2C Derajat 2C Derajat 1B a. Penatalaksanaan lini pertama pada ITP anak 7 Hal ini diperlukan untuk memperlakukan semua anak dengan gejala perdarahan parah dan perawatan juga harus dipertimbangkan pada anak dengan perdarahan sedang atau orang-orang pada peningkatan risiko perdarahan. Tabel 2.5 Terapi lini pertama/ pilihan pengobatan awal untuk meningkatkan jumlah trombosit pada anak 14

15 b. Pengobatan untuk anak-anak dengan ITP persisten atau kronis 7 Tujuan pengobatan untuk anak-anak dengan ITP persisten atau kronis adalah untuk mempertahankan jumlah trombosit hemostatik dengan terapi lini pertama (misalnya, IVIg, IV anti-d, kortikosteroid jangka pendek) dan untuk meminimalkan penggunaan terapi kortikosteroid berkepanjangan. Obat sitotoksik harus digunakan dengan sangat hati-hati pada anak-anak. Tabel 2.6 Pilihan pengobatan untuk anak-anak dengan ITP persisten atau kronis 15

16 Indikasi rawat inap: Pada penderita yang sudah tegak diagnosisnya, perlu dilakukan rawat inap bila: 1. Jumlah hitung trombosit < /ul 2. Perdarahan berat 3. Kecurigaan/pasti perdarahan intrakranial 4. Umur < 3 tahun Bila tidak dirawat inap, penderita diwajibkan untuk tidak/menghindari obat anti agregasi (seperti salisilat dan lain sebagainya) dan olahraga yang traumatis (kepala). Splenektomi 5,7 Splenektomi dengan vaksinasi sebelumnya yang sesuai, diikuti oleh antibiotik profilaksis, adalah pengobatan yang efektif untuk ITP anak. Namun, jarang dianjurkan pada anak-anak karena risiko kematian dari ITP pada anak-anak sangat rendah (<0,5%). Angka perbandingan terkait dengan postsplenektomi sepsis hingga 3% pada anak. Risiko sepsis mungkin berlangsung selama hidup. Pada 16

17 anak-anak yang menjalani splenektomi, efektivitas keseluruhan baik, tetapi komplikasi, terutama sepsis, tetap menjadi perhatian. Splenektomi harus maka ditunda sampai usia lebih dari 6 tahun, sebaiknya dengan trombositopenia berat < / L dan perdarahan mukosa berulang terusmenerus selama minimal 12 bulan dan kegagalan obat lini kedua. Splenektomi memiliki respon lengkap baik dan tahan lama (CR) tingkat 75%. Anak-anak harus divaksinasi terhadap pneumococcus, meningococcus dan H.influenzae minimal 2 minggu sebelumnya. Rekomendasi saat ini adalah penisilin profilaksis adalah untuk sampai setidaknya 5 tahun dan selama minimal 1 tahun setelah prosedur dilakukan. Namun banyak dokter, lebih memilih untuk lebih konservatif dalam hal ini dan merekomendasikan profilaksis antibiotik seumur hidup. Respon sebelum IVIG dikaitkan dengan tingkat keberhasilan yang lebih tinggi setelah splenektomi, sedangkan yang tidak respon tidak berarti gagal. Penanganan darurat pada anak 7 Dalam keadaan mengancam jiwa (seperti dengan pasien dewasa), dosis yang lebih besar dari biasanya (2 sampai 3 kali lipat) dari trombosit harus diperhatikan bersama dengan kortikosteroid IV dosis tinggi dan IVIg atau IV anti-d. Tujuan pengobatan adalah untuk meningkatkan jumlah trombosit ke tingkat di mana risiko perdarahan berat miminimalkan sesegera mungkin. Dalam keadaan khusus, splenektomi darurat mungkin perlu dipertimbangkan. II.10 KOMPLIKASI Perdarahan yang serius jarang didapatkan pada ITP, berbeda dengan trombositopenia pada sindrom kegagalan sumsum tulang yang lebih sering menimbulkan perdarahan serius yang dapat mengancam jiwa. Perdarahan otak yang merupakan komplikasi yang paling ditakutkan dan mendorong para dokter untuk melakukan pengobatan pada ITP ternyata sangat jarang didapatkan. Insidens perdarahan otak pada ITP dalam minggu pertama hanya berkisar 0,1-0,2%, namun meningkat menjadi 1% pada mereka dengan jumlah trombosit kurang dari 17

18 20.000/mm 3 setelah 6-12 bulan. Meskipun insiden perdarahan intrakranial sangat rendah, namun angka kematian yang diakibatkannya mencapai 50%. 11 Tidak ada cara yang dapat dilakukan untuk mempediksi terjadinya perdarahan intrakranial, dan pengobatan tidak mengurangi risiko terjadinya perdarahan otak pada ITP. Faktor penting yang berhubungan dengan meningkatnya kemungkinan terjadinya perdarahan intrakranial yaitu riwayat trauma kepala, malformasi arteriovenosus, penggunaan obat antiplatelet seperti aspirin pada anak dengan jumlah trombosit sangat rendah (<10x10 9 /l). Pada pasien ini perlu diidentifikasi segera dan diterapi lebih agresif. 4 II.11 PROGNOSIS Lebih dari 80% anak-anak yang tidak diobati memiliki pemulihan spontan dengan jumlah trombosit normal selama 2-8 minggu. Perdarahan yang fatal terjadi pada 0,9% pada presentasi awal. Sebuah tinjauan sistematis dan metaanalisis mengidentifikasi faktor-faktor berikut terkait dengan risiko yang lebih tinggi dari ITP pada anak-anak menjadi kronis : 6 Perempuan jenis kelamin (rasio odds [OR] 1,17) Usia 11 tahun pada presentasi (OR 2,47) Tidak ada infeksi sebelumnya atau vaksinasi (OR 3,08) Onset berbahaya (OR 11,27) Trombosit / L pada presentasi OR 2.15) Adanya antibodi antinuclear (OR 2,87) Pengobatan dengan metilprednisolon ditambah imunoglobulin intravena (OR 2,67) BAB III 18

19 KESIMPULAN DAN SARAN III.1 KESIMPULAN Immune Thrombocytopenic Purpura (ITP) merupakan kelainan perdarahan didapat pada anak yang paling sering dijumpai. ITP merupakan kelainan autoimun yang menyebabkan munculnya suatu antibodi terhadap trombosit. Diagnosis ITP ditegakkan dengan menyingkirkan kemungkinan penyebab trombositopenia yang lain. Pemeriksaan aspirasi sumsum tulang tidak rutin dilakukan pada ITP, hanya untuk kasus yang meragukan. Pada anak umumnya ITP bersifat akut dan dapat sembuh spontan dalam waktu kurang dari 6 bulan. Tata laksana ITP khususnya ITP akut pada anak masih kontroversial. Pengobatan umumnya dilakukan hanya untuk meningkatkan jumlah trombosit, namun tidak menghilangkan risiko terjadinya perdarahan intrakranial dan perjalanan menjadi ITP kronis. Pengobatan juga potensial menimbulkan efek samping yang cukup serius. III.2 SARAN Pengobatan yang biasa diberikan pada anak dengan ITP meliputi kortikosteroid peroral, imunoglobulin intravena (IVIG), dan yang terakhir, anti-d untuk pasien dengan rhesus D positif. Pengobatan-pengobatan tersebut di atas potensial memberikan efek samping yang serius, sehingga penting bagi kita untuk mempertimbangkan risiko-risiko tersebut agar tidak merugikan pasien. Adanya kemajuan yang pesat dari penelitian-penelitian dalam beberapa tahun untuk menetapkan cara tercepat meningkatkan jumlah trombosit pada pasien ITP. Namun tidak ada penelitian yang menyinggung tentang toksisitas, biaya, dan kesulitan-kesulitan dari pengobatan tersebut. Sehingga sekiranya perlu untuk dilakukan penelitian mengenai hal tersebut. DAFTAR PUSTAKA 19

20 1. Corrigan, JJ. Purpura trombositopenik idiopatik. Dalam: Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM. eds.. Ilmu kesehatan anak nelson 15th. Jakarta: EGC, DR Terrell, LA Beebe, SK Vesely, BR Neas, JB Segal, JN George. The Incidence of immune thrombocytopenic purpura in children and adults: Acritical review of published reports. Am J Hematol Mar; 85 (3): Hoffbrand AV, Pettit JE, Moss PAH. Kapita selekta hematologi 4th. Purpura trombositopenia autoimun (idiopatik). Jakarta: EGC, McCrae K. Immune thrombocytopenia: No longer idiopathic. CCJM 2011 Jun;78(6): Anoop P. Immune thrombocytopenic purpura: Historical perspective, current status, recent advances and future directions. Indian pediatr. 2012; 49: Silverman MA. Idiopathic Thrombocytopenic Purpura. Diakses pada tanggal 14 Desember Cines DB, Liebman H, Stasi R. Pathobiology of secondary immune thrombocytopenia. Semin Hematol Jan; 46 (1 suppl 2): s Provan D, Stasi R, Newland AC, et al. International consensus report on the investigation and management of primary immune thrombocytopenia. American Society of hematology Jan 115(2) 9. Cines DB, Blanchette VS, Chir B. Immune Thrombocytopenic Purpura. N Engl J Med March 28; 346:

BAB 1 PENDAHULUAN. Anemia hemolitik autoimun atau Auto Immune Hemolytic Anemia (AIHA)

BAB 1 PENDAHULUAN. Anemia hemolitik autoimun atau Auto Immune Hemolytic Anemia (AIHA) BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anemia hemolitik autoimun atau Auto Immune Hemolytic Anemia (AIHA) merupakan salah satu penyakit di bidang hematologi yang terjadi akibat reaksi autoimun. AIHA termasuk

Lebih terperinci

Perjalanan Penyakit Purpura Trombositopenik Imun

Perjalanan Penyakit Purpura Trombositopenik Imun Sari Pediatri, Sari Vol. Pediatri, 8, No. 4, Vol. Maret 8, No. 2007: 4, Maret 310-2007 315 Perjalanan Penyakit Purpura Trombositopenik Imun Elizabeth Yohmi#, Endang Windiastuti*, Djajadiman Gatot* Latar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. adanya kombinasi Immune Thrombocytopenia Purpura (ITP) dan anemia

BAB I PENDAHULUAN. adanya kombinasi Immune Thrombocytopenia Purpura (ITP) dan anemia BAB I PENDAHULUAN Evans syndrome merupakan suatu keadaan kelainan imun yang ditandai adanya kombinasi Immune Thrombocytopenia Purpura (ITP) dan anemia hemolitik autoimun (AIHA) yang terjadi secara bersamaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Anemia hemolitik otoimun (autoimmune hemolytic anemia /AIHA)

BAB I PENDAHULUAN. Anemia hemolitik otoimun (autoimmune hemolytic anemia /AIHA) BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Anemia hemolitik otoimun (autoimmune hemolytic anemia /AIHA) merupakan salah satu penyakit otoimun di bagian hematologi. AIHA tergolong penyakit yang jarang, akan

Lebih terperinci

Hasil Uji Statistik Trombosit Range dengan. Perdarahan Kulit dan Perdarahan Mukosa 64

Hasil Uji Statistik Trombosit Range dengan. Perdarahan Kulit dan Perdarahan Mukosa 64 14 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Frekuensi Karakteristik Trombosit, Perdarahan Kulit, Petechiae, Perdarahan Mukosa, Epistaxis, Perdarahan Gusi, Melena 60 Hasil Uji Statistik Trombosit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kedokteran disebut dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE), yaitu

BAB I PENDAHULUAN. kedokteran disebut dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE), yaitu BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Saat ini masyarakat dihadapkan pada berbagai penyakit, salah satunya adalah penyakit Lupus, yang merupakan salah satu penyakit yang masih jarang diketahui oleh masyarakat,

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. yang telah memenuhi jumlah minimal sampel sebanyak Derajat klinis dibagi menjadi 4 kategori.

BAB V PEMBAHASAN. yang telah memenuhi jumlah minimal sampel sebanyak Derajat klinis dibagi menjadi 4 kategori. digilib.uns.ac.id BAB V PEMBAHASAN Setelah dilakukan penelitian di RSUD Dr. Moewardi telah didapatkan data-data penelitian yang disajikan dalam tabel pada Bab IV. Pada penelitian ini didapatkan sampel

Lebih terperinci

A. Pendahuluan. 1. ITP akut

A. Pendahuluan. 1. ITP akut A. Pendahuluan Idiopatik trombositopenia purpura (ITP) merupakan suatu kelainan didapat yang berupa gangguan autoimun yang mengakibatkan trombositopenia oleh karena adanya penghancuran trombosit secara

Lebih terperinci

BAB II PEMBAHASAN 1. DEFINISI

BAB II PEMBAHASAN 1. DEFINISI BAB I PENDAHULUAN Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP) merupakan suatu penyakit yang belum diketahui pasti penyebabnya. Penyakit ITP itu termasuk ke dalam Trombocytopenia Akuisita. Kelainan ini dahulu

Lebih terperinci

Leukemia. Leukemia / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

Leukemia. Leukemia / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved Leukemia Leukemia merupakan kanker yang terjadi pada sumsum tulang dan sel-sel darah putih. Leukemia merupakan salah satu dari sepuluh kanker pembunuh teratas di Hong Kong, dengan sekitar 400 kasus baru

Lebih terperinci

Anemia Hemolitik. Haryson Tondy Winoto,dr,Msi.Med.,Sp.A Bag. IKA UWK

Anemia Hemolitik. Haryson Tondy Winoto,dr,Msi.Med.,Sp.A Bag. IKA UWK Anemia Hemolitik Haryson Tondy Winoto,dr,Msi.Med.,Sp.A Bag. IKA UWK Anemia hemolitik didefinisikan : kerusakan sel eritrosit yang lebih awal.bila tingkat kerusakan lebih cepat dan kapasitas sumsum tulang

Lebih terperinci

ABSTRAK PREVALENSI KASUS ITP DI RUMAH SAKIT IMMANUEL PERIODE TAHUN

ABSTRAK PREVALENSI KASUS ITP DI RUMAH SAKIT IMMANUEL PERIODE TAHUN ABSTRAK PREVALENSI KASUS ITP DI RUMAH SAKIT IMMANUEL PERIODE TAHUN 1997-2004 Eric Widjaja, 2006. Pembimbing utama : Dani Brataatmadja, dr, Sp.PK Pembimbing pendamping : Henki Pertamana, dr, Sp.PK ITP adalah

Lebih terperinci

TETAP SEHAT! PANDUAN UNTUK PASIEN DAN KELUARGA

TETAP SEHAT! PANDUAN UNTUK PASIEN DAN KELUARGA IMUNODEFISIENSI PRIMER TETAP SEHAT! PANDUAN UNTUK PASIEN DAN KELUARGA TETAP SEHAT! PANDUAN UNTUK PASIEN DAN KELUARGA 1 IMUNODEFISIENSI PRIMER Imunodefisiensi primer Tetap sehat! Panduan untuk pasien dan

Lebih terperinci

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Immunitas Niken Andalasari Sistem Imunitas Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh

Lebih terperinci

BAB 2 PENGENALAN HIV/AIDS. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala

BAB 2 PENGENALAN HIV/AIDS. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala BAB 2 PENGENALAN HIV/AIDS Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). 10,11 Virus ini akan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum HIV/AIDS HIV merupakan virus yang menyebabkan infeksi HIV (AIDSinfo, 2012). HIV termasuk famili Retroviridae dan memiliki genome single stranded RNA. Sejauh ini

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Demam tifoid merupakan masalah kesehatan yang penting di negara-negara

I. PENDAHULUAN. Demam tifoid merupakan masalah kesehatan yang penting di negara-negara 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid merupakan masalah kesehatan yang penting di negara-negara berkembang, salah satunya di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam tifoid merupakan infeksi bakteri sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang dijumpai di berbagai negara berkembang terutama di daerah tropis

Lebih terperinci

Kelainan darah pada lupus eritematosus sistemik

Kelainan darah pada lupus eritematosus sistemik Kelainan darah pada lupus eritematosus sistemik Amaylia Oehadian Sub Bagian Hematologi Onkologi Medik Bagian Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung

Lebih terperinci

Kelainan darah pada Lupus eritematosus sistemik

Kelainan darah pada Lupus eritematosus sistemik Kelainan darah pada Lupus eritematosus sistemik Amaylia Oehadian Sub Bagian Hematologi Onkologi Medik Bagian Penyakit Dalam Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Kelainan darah pada lupus Komponen darah Kelainan

Lebih terperinci

CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI

CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI [email protected] Apakah imunologi itu? Imunologi adalah ilmu yang mempelajari sistem imun. Sistem imun dipunyai oleh berbagai organisme, namun pada tulisan ini sistem

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. sampai bulan sesudah diagnosis (Kurnianda, 2009). kasus baru LMA di seluruh dunia (SEER, 2012).

BAB 1 PENDAHULUAN. sampai bulan sesudah diagnosis (Kurnianda, 2009). kasus baru LMA di seluruh dunia (SEER, 2012). BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Leukemia Mieloid Akut (LMA) adalah salah satu kanker darah yang ditandai dengan transformasi ganas dan gangguan diferensiasi sel-sel progenitor dari seri mieloid. Bila

Lebih terperinci

Author : Hirawati, S.Ked. Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau Files of DrsMed FK UNRI (http://www.files-of-drsmed.

Author : Hirawati, S.Ked. Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau Files of DrsMed FK UNRI (http://www.files-of-drsmed. Author : Hirawati, S.Ked Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau 2009 0 Files of DrsMed FK UNRI (http://www.files-of-drsmed.tk Definisi Demam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Infeksi Dengue telah menjadi masalah kesehatan masyarakat tidak hanya di Indonesia namun juga di dunia internasional. Infeksi Dengue terutama Dengue Haemorrhagic

Lebih terperinci

ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME ZUHRIAL ZUBIR

ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME ZUHRIAL ZUBIR ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME ZUHRIAL ZUBIR PENDAHULUAN Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) adalah penyakit yg disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) HIV : HIV-1 : penyebab

Lebih terperinci

Limfoma. Lymphoma / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

Limfoma. Lymphoma / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved Limfoma Limfoma merupakan kanker pada sistem limfatik. Penyakit ini merupakan kelompok penyakit heterogen dan bisa diklasifikasikan menjadi dua jenis utama: Limfoma Hodgkin dan limfoma Non-Hodgkin. Limfoma

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)/ Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) telah menjadi masalah yang serius bagi dunia kesehatan. Menurut data World Health

Lebih terperinci

Jurnal Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Infeksi Rubella

Jurnal Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Infeksi Rubella Jurnal Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Infeksi Rubella TORCH adalah istilah untuk menggambarkan gabungan dari empat jenis penyakit infeksi yaitu TOxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes. Keempat jenis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh infeksi saluran napas disusul oleh infeksi saluran cerna. 1. Menurut World Health Organization (WHO) 2014, demam tifoid

BAB I PENDAHULUAN. oleh infeksi saluran napas disusul oleh infeksi saluran cerna. 1. Menurut World Health Organization (WHO) 2014, demam tifoid BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar tidak saja di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Selain virus sebagai penyebabnya,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit kanker yang sering terjadi pada anak adalah leukemia, mencapai

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit kanker yang sering terjadi pada anak adalah leukemia, mencapai I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kanker yang sering terjadi pada anak adalah leukemia, mencapai 30%-40% dari seluruh keganasan. Insidens leukemia mencapai 2,76/100.000 anak usia 1-4 tahun (Permono,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Amerika Selatan dan 900/ /tahun di Asia (Soedarmo, et al., 2008).

BAB I PENDAHULUAN. Amerika Selatan dan 900/ /tahun di Asia (Soedarmo, et al., 2008). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid masih menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia, terutama di negara yang sedang berkembang. Besarnya angka pasti pada kasus demam tifoid di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Infeksi Menular Seksual (IMS) atau Sexually Transmited Infections (STIs) adalah penyakit yang didapatkan seseorang karena melakukan hubungan seksual dengan orang yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan agen penyebab Acquired

BAB I PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan agen penyebab Acquired BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan agen penyebab Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) dan AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV. AIDS didefinisikan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. disebabkan oleh mikroorganisme Salmonella enterica serotipe typhi yang

I. PENDAHULUAN. disebabkan oleh mikroorganisme Salmonella enterica serotipe typhi yang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid akut merupakan penyakit infeksi akut bersifat sistemik yang disebabkan oleh mikroorganisme Salmonella enterica serotipe typhi yang dikenal dengan Salmonella

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Penyakit infeksi Dengue seperti DBD (Demam Berdarah Dengue) kini

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Penyakit infeksi Dengue seperti DBD (Demam Berdarah Dengue) kini BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit infeksi Dengue seperti DBD (Demam Berdarah Dengue) kini telah menjadi masalah kesehatan masyarakat dibanyak negara tropis Asia Tenggara dan wilayah Pasifik

Lebih terperinci

Mengenal Penyakit Kelainan Darah

Mengenal Penyakit Kelainan Darah Mengenal Penyakit Kelainan Darah Ilustrasi penyakit kelainan darah Anemia sel sabit merupakan penyakit kelainan darah yang serius. Disebut sel sabit karena bentuk sel darah merah menyerupai bulan sabit.

Lebih terperinci

PERDARAHAN DAN PEMBEKUAN DARAH (HEMOSTASIS) Era Dorihi Kale, M.Kep

PERDARAHAN DAN PEMBEKUAN DARAH (HEMOSTASIS) Era Dorihi Kale, M.Kep PERDARAHAN DAN PEMBEKUAN DARAH (HEMOSTASIS) Era Dorihi Kale, M.Kep Pengertian Hemostasis merupakan peristiwa penghentian perdarahan akibat putusnya atau robeknya pembuluh darah atau pencegahan kehilangan

Lebih terperinci

BAB. IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB. IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian BAB. IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian mengenai hubungan antara jumlah trombosit dengan kejadian pada pasien DBD (DSS) anak ini dilakukan di RS PKU Muhammadiyah Bantul pada tanggal

Lebih terperinci

MENJELASKAN STRUTUR DAN FUNGSI ORGAN MANUSIA DAN HEWAN TERTENTU, KELAINAN/ PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SALINGTEMAS

MENJELASKAN STRUTUR DAN FUNGSI ORGAN MANUSIA DAN HEWAN TERTENTU, KELAINAN/ PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SALINGTEMAS MENJELASKAN STRUTUR DAN FUNGSI ORGAN MANUSIA DAN HEWAN TERTENTU, KELAINAN/ PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SALINGTEMAS KD 3.8. Menjelaskan mekanisme pertahanan tubuh terhadap benda

Lebih terperinci

TATA LAKSANA IMUNODEFISIENSI PRIMER: PANDUAN UNTUK PASIEN DAN KELUARGA

TATA LAKSANA IMUNODEFISIENSI PRIMER: PANDUAN UNTUK PASIEN DAN KELUARGA IMUNODEFISIENSI PRIMER TATA LAKSANA IMUNODEFISIENSI PRIMER: PANDUAN UNTUK PASIEN DAN KELUARGA TATA LAKSANA IMUNODEFISIENSI PRIMER: PANDUAN UNTUK PASIEN DAN KELUARGA 1 IMUNODEFISIENSI PRIMER Imunodefisiensi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Asia Tenggara termasuk di Indonesia terutama pada penduduk yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Asia Tenggara termasuk di Indonesia terutama pada penduduk yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypty dan atau Aedes albopictus. Infeksi virus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah DBD merupakan penyakit menular yang disebabkan virus dengue. Penyakit DBD tidak ditularkan secara langsung dari orang ke orang, tetapi ditularkan kepada manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. yang paling sering dijumpai pada anak. Data di Departemen Ilmu Kesehatan Anak,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. yang paling sering dijumpai pada anak. Data di Departemen Ilmu Kesehatan Anak, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Leukemia limfoblastik akut (LLA) merupakan jenis penyakit keganasan yang paling sering dijumpai pada anak. Data di Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Penyakit infeksi dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Penyakit infeksi dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Penyakit infeksi dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue I, II, III, dan IV yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegepty dan Aedes albopticus.

Lebih terperinci

BAB 2 DESKRIPSI SINGKAT PEMBESARAN GINGIVA. jaringan periodonsium yang dapat terlihat secara langsung sehingga mempengaruhi

BAB 2 DESKRIPSI SINGKAT PEMBESARAN GINGIVA. jaringan periodonsium yang dapat terlihat secara langsung sehingga mempengaruhi BAB 2 DESKRIPSI SINGKAT PEMBESARAN GINGIVA Gingiva merupakan bagian dari jaringan periodonsium yang menutupi gigi dan berfungsi sebagai jaringan penyangga gigi. Penyakit periodontal yang paling sering

Lebih terperinci

BAB 3 KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP PENELITIAN

BAB 3 KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP PENELITIAN 13 BAB 3 KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP PENELITIAN 3.1. Kerangka Teori Virus Dengue Lingkungan Vektor (Nyamuk) Host (Manusia) Faktor Demografis Jenis Kelamin Umur Demam Berdarah Dengue (DBD) Pekerjaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid merupakan penyakit infeksi tropik sistemik, yang disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 P a g e

BAB I PENDAHULUAN. 1 P a g e BAB I PENDAHULUAN Anemia adalah kondisi medis dimana jumlah sel darah merah atau hemoglobin kurang dari normal. Tingkat normal dari hemoglobin umumnya berbeda pada laki-laki dan wanita-wanita. Untuk laki-laki,

Lebih terperinci

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 8 Anak menderita HIV/Aids. Catatan untuk fasilitator. Ringkasan Kasus:

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 8 Anak menderita HIV/Aids. Catatan untuk fasilitator. Ringkasan Kasus: Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Bab 8 Anak menderita HIV/Aids Catatan untuk fasilitator Ringkasan Kasus: Krishna adalah seorang bayi laki-laki berusia 8 bulan yang dibawa ke Rumah Sakit dari sebuah

Lebih terperinci

Author : Liza Novita, S. Ked. Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau Doctor s Files: (http://www.doctors-filez.

Author : Liza Novita, S. Ked. Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau Doctor s Files: (http://www.doctors-filez. Author : Liza Novita, S. Ked Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau 2009 0 Doctor s Files: (http://www.doctors-filez.tk GLOMERULONEFRITIS AKUT DEFINISI Glomerulonefritis Akut (Glomerulonefritis

Lebih terperinci

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen P2PL) Kementerian Kesehatan RI (4),

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen P2PL) Kementerian Kesehatan RI (4), BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi dari virus HIV (Human Immunodeficiency

Lebih terperinci

Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan. Sistem Imunitas

Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan. Sistem Imunitas Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Immunitas Niken Andalasari Sistem Imunitas Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta

Lebih terperinci

1 Universitas Kristen Maranatha

1 Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kegiatan di PMI antara lain mencakup pengerahan donor, penyumbangan darah, pengambilan, pengamanan, pengolahan, penyimpanan, dan penyampaian darah kepada pasien. Kegiatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masih menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia. Angka kejadian

BAB I PENDAHULUAN. masih menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia. Angka kejadian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Demam tifoid adalah penyakit sistemik akut pada saluran pencernaan yang masih menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia. Angka kejadian demam tifoid di

Lebih terperinci

Derajat 2 : seperti derajat 1, disertai perdarah spontan di kulit dan atau perdarahan lain

Derajat 2 : seperti derajat 1, disertai perdarah spontan di kulit dan atau perdarahan lain Demam berdarah dengue 1. Klinis Gejala klinis harus ada yaitu : a. Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas, berlagsung terus menerus selama 2-7 hari b. Terdapat manifestasi perdarahan ditandai dengan

Lebih terperinci

BAB I Infeksi dengue adalah suatu infeksi arbovirus yang ditularkan melalui

BAB I Infeksi dengue adalah suatu infeksi arbovirus yang ditularkan melalui BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infeksi dengue adalah suatu infeksi arbovirus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti atau aedes albopictus (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan FKUI, 2002:Hal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sekitar 90 % dan biasanya menyerang anak di bawah 15 tahun. 2. Demam berdarah dengue merupakan masalah kesehatan masyarakat karena

BAB I PENDAHULUAN. sekitar 90 % dan biasanya menyerang anak di bawah 15 tahun. 2. Demam berdarah dengue merupakan masalah kesehatan masyarakat karena BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang ditransmisikan oleh nyamuk Ae. Aegypti. 1 Menyebabkan banyak kematian pada anakanak sekitar 90 % dan biasanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Seiring proses penuaan mengakibatkan tubuh rentan terhadap penyakit. Integritas

BAB I PENDAHULUAN. Seiring proses penuaan mengakibatkan tubuh rentan terhadap penyakit. Integritas 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring proses penuaan mengakibatkan tubuh rentan terhadap penyakit. Integritas sistem imun sangat diperlukan sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap ancaman,

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1. Atopi, atopic march dan imunoglobulin E pada penyakit alergi

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1. Atopi, atopic march dan imunoglobulin E pada penyakit alergi BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Atopi, atopic march dan imunoglobulin E pada penyakit alergi Istilah atopi berasal dari bahasa Yunani yaitu atopos yang berarti out of place atau di luar dari tempatnya, dan

Lebih terperinci

Untuk mendiagnosia klinik DBD pedoman yang dipakai adalah yang disusun WHO :

Untuk mendiagnosia klinik DBD pedoman yang dipakai adalah yang disusun WHO : Musim hujan, akan merupakan yangdiharaplkan nyamuk untuk berkembang biak dan siap mencari mangsa, terutama nyamuk Aedes Aegity penyebab DBD. Hati- hati... Dewasa ini penyakit DBD masih merupakan salah

Lebih terperinci

164 Immune Thrombocytopenia Purpura

164 Immune Thrombocytopenia Purpura 164 Immune Thrombocytopenia Purpura Waktu Pencapaian kompetensi Sesi di dalam kelas : 2 X 50 menit (classroom session) Sesi dengan fasilitasi Pembimbing : 2 X 50 menit (coaching session) Sesi praktik dan

Lebih terperinci

Dr. Indra G. Munthe, SpOG

Dr. Indra G. Munthe, SpOG Dr. Indra G. Munthe, SpOG PENDAHULUAN Suatu kumpulan gejala berupa trombosis vena atau arteri disertai peninggian kadar antibodi anti post polipid (APA). SAF mengakibatkan kegagalan kehamilan yg berubungan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetic foot merupakan salah satu komplikasi Diabetes Mellitus (DM).

BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetic foot merupakan salah satu komplikasi Diabetes Mellitus (DM). BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Diabetic foot merupakan salah satu komplikasi Diabetes Mellitus (DM). Diabetic foot adalah infeksi, ulserasi, dan atau destruksi jaringan ikat dalam yang berhubungan

Lebih terperinci

Urutan mekanisme hemostasis dan koagulasi dapat dijelaskan sebagai berikut:

Urutan mekanisme hemostasis dan koagulasi dapat dijelaskan sebagai berikut: MEKANISME HEMOSTASIS Urutan mekanisme hemostasis dan koagulasi dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Segera setelah pembuluh darah terpotong atau pecah, rangsangan dari pembuluh darah yang rusak itu menyebabkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. banyak ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis. World Health Organization

BAB I PENDAHULUAN. banyak ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis. World Health Organization BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah penyakit banyak ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis. World Health Organization (WHO) mencatat negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human Immunodeficiency Virus(HIV) dan penyakitacquired Immuno

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human Immunodeficiency Virus(HIV) dan penyakitacquired Immuno BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Infeksi Human Immunodeficiency Virus(HIV) dan penyakitacquired Immuno Deficiency Syndrome(AIDS) saat ini telah menjadi masalah kesehatan global. Selama kurun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. tersebut disebut AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome). UNAIDS

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. tersebut disebut AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome). UNAIDS BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus atau HIV merupakan virus yang menyerang imunitas manusia. Kumpulan gejala penyakit yang muncul karena defisiensi imun tersebut disebut AIDS

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. DARAH Darah adalah cairan jaringan tubuh. Fungsi utamanya adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga mensuplai jaringan tubuh dengan

Lebih terperinci

: Ikhsanuddin Ahmad Hrp, S.Kp., MNS. NIP : Departemen : Kep. Medikal Bedah & Kep. Dasar

: Ikhsanuddin Ahmad Hrp, S.Kp., MNS. NIP : Departemen : Kep. Medikal Bedah & Kep. Dasar Nama : Ikhsanuddin Ahmad Hrp, S.Kp., MNS. NIP : 19720826 200212 1 002 Departemen : Kep. Medikal Bedah & Kep. Dasar Mata Kuliah : Kep. Medikal Bedah Topik : Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. virus DEN 1, 2, 3, dan 4 dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegepty dan Aedesal

BAB I PENDAHULUAN. virus DEN 1, 2, 3, dan 4 dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegepty dan Aedesal 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Infeksi dengue masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi. Infeksi dengue disebabkan oleh virus DEN 1,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Psoriasis merupakan penyakit kulit autoimun kronis yang mengakibatkan

BAB I PENDAHULUAN. Psoriasis merupakan penyakit kulit autoimun kronis yang mengakibatkan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Psoriasis merupakan penyakit kulit autoimun kronis yang mengakibatkan proliferasi berlebihan di epidermis. Normalnya seseorang mengalami pergantian kulit setiap 3-4

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. rawat inap di RSU & Holistik Sejahtera Bhakti Kota Salatiga. kanker payudara positif dan di duga kanker payudara.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. rawat inap di RSU & Holistik Sejahtera Bhakti Kota Salatiga. kanker payudara positif dan di duga kanker payudara. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium RSU & Holistik Sejahtera Bhakti Kota Salatiga pada bulan Desember 2012 - Februari 2013. Jumlah sampel yang diambil

Lebih terperinci

MATURASI SEL LIMFOSIT

MATURASI SEL LIMFOSIT BAB 5 MATURASI SEL LIMFOSIT 5.1. PENDAHULUAN Sintesis antibodi atau imunoglobulin (Igs), dilakukan oleh sel B. Respon imun humoral terhadap antigen asing, digambarkan dengan tipe imunoglobulin yang diproduksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sampai saat ini penyakit Tuberkulosis Paru ( Tb Paru ) masih menjadi

BAB I PENDAHULUAN. Sampai saat ini penyakit Tuberkulosis Paru ( Tb Paru ) masih menjadi 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Sampai saat ini penyakit Tuberkulosis Paru ( Tb Paru ) masih menjadi masalah kesehatan yang utama di dunia maupun di Indonesia. Penyakit Tuberkulosis merupakan penyebab

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dengue dan ditandai empat gejala klinis utama yaitu demam yang tinggi, manifestasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dengue dan ditandai empat gejala klinis utama yaitu demam yang tinggi, manifestasi BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. DBD (Demam Berdarah Dengue) DBD adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh empat serotype virus Dengue dan ditandai empat gejala klinis utama yaitu demam yang tinggi, manifestasi

Lebih terperinci

PENDEKATAN DIAGNOSIS DEMAM BERDARAH DENGUE PADA ANAK DI SELURUH PUSKESMAS KEPERAWATAN WILAYAH KABUPATEN JEMBER PERIODE 1 JANUARI 31 DESEMBER 2007

PENDEKATAN DIAGNOSIS DEMAM BERDARAH DENGUE PADA ANAK DI SELURUH PUSKESMAS KEPERAWATAN WILAYAH KABUPATEN JEMBER PERIODE 1 JANUARI 31 DESEMBER 2007 PENDEKATAN DIAGNOSIS DEMAM BERDARAH DENGUE PADA ANAK DI SELURUH PUSKESMAS KEPERAWATAN WILAYAH KABUPATEN JEMBER PERIODE 1 JANUARI 31 DESEMBER 2007 SKRIPSI Oleh Siska Yuni Fitria NIM 042010101027 FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. inflamasi. Hormon steroid dibagi menjadi 2 golongan besar, yaitu glukokortikoid

BAB 1 PENDAHULUAN. inflamasi. Hormon steroid dibagi menjadi 2 golongan besar, yaitu glukokortikoid BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kortikosteroid adalah derivat hormon steroid yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal. Hormon ini memiliki peranan penting seperti mengontrol respon inflamasi. Hormon

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kelenjar getah bening merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh kita. Tubuh memiliki kurang lebih 600 kelenjar getah bening, namun pada orang sehat yang normal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hepatitis merupakan penyakit inflamasi dan nekrosis dari sel-sel hati yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. Hepatitis merupakan penyakit inflamasi dan nekrosis dari sel-sel hati yang dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hepatitis merupakan penyakit inflamasi dan nekrosis dari sel-sel hati yang dapat disebabkan oleh infeksi virus. Telah ditemukan lima kategori virus yang menjadi agen

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE 17 BAB III BAHAN DAN METODE 3.1. BAHAN Sampel penelitian diambil dari medical record (catatan medis) rumah sakit Dr. Sardjito Yogyakarta pada tanggal 13-16 Desember 2005. Sampel terdiri dari data pasien

Lebih terperinci

HEMATOLOGI KLINIK ANJING PENDERITA DIROFILARIASIS. Menurut Atkins (2005), anjing penderita penyakit cacing jantung

HEMATOLOGI KLINIK ANJING PENDERITA DIROFILARIASIS. Menurut Atkins (2005), anjing penderita penyakit cacing jantung 16 HEMATOLOGI KLINIK ANJING PENDERITA DIROFILARIASIS Menurut Atkins (2005), anjing penderita penyakit cacing jantung memiliki kelainan hematologi pada tingkat ringan berupa anemia, neutrofilia, eosinofilia,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI Halaman SAMPUL DALAM... i LEMBAR PENGESAHAN... ii PENETAPAN PANITIA PENGUJI... iii KATA PENGANTAR... iv LEMBAR KEASLIAN KARYA TULIS

DAFTAR ISI Halaman SAMPUL DALAM... i LEMBAR PENGESAHAN... ii PENETAPAN PANITIA PENGUJI... iii KATA PENGANTAR... iv LEMBAR KEASLIAN KARYA TULIS ABSTRAK PERBEDAAN RERATA JUMLAH TROMBOSIT PADA PASIEN DEMAM BERDARAH DENGUE DENGAN MANIFESTASI PERDARAHAN NEGATIF-RINGAN DAN SEDANG-BERAT DI RSUP SANGLAH TAHUN 2015 Trombositopenia adalah salah satu dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi neonatus khususnya sepsis neonatorum sampai saat ini masih

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi neonatus khususnya sepsis neonatorum sampai saat ini masih BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi neonatus khususnya sepsis neonatorum sampai saat ini masih menjadi masalah karena merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada bayi baru lahir. Masalah

Lebih terperinci

Immunology Pattern in Infant Born with Small for Gestational Age

Immunology Pattern in Infant Born with Small for Gestational Age Immunology Pattern in Infant Born with Small for Gestational Age Dr. Nia Kurniati, SpA (K) Manusia mempunyai sistem pertahanan tubuh yang kompleks terhadap benda asing. Berbagai barrier diciptakan oleh

Lebih terperinci

Bab 1 PENDAHULUAN. tetapi sering tidak diketahui, karena tidak menunjukkan gejala untuk waktu

Bab 1 PENDAHULUAN. tetapi sering tidak diketahui, karena tidak menunjukkan gejala untuk waktu Bab 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Penyakit hati kronis merupakan masalah kesehatan masyarakat, tetapi sering tidak diketahui, karena tidak menunjukkan gejala untuk waktu yang sangat lama,

Lebih terperinci

Sehat merupakan kondisi yang ideal secara fisik, psikis & sosial, tidak terbatas pada keadaan bebas dari penyakit dan cacad (definisi WHO)

Sehat merupakan kondisi yang ideal secara fisik, psikis & sosial, tidak terbatas pada keadaan bebas dari penyakit dan cacad (definisi WHO) 1 Sehat merupakan kondisi yang ideal secara fisik, psikis & sosial, tidak terbatas pada keadaan bebas dari penyakit dan cacad (definisi WHO) Sakit : pola respon yang diberikan oleh organisme hidup thd

Lebih terperinci

Hasil. Kesimpulan. Kata kunci : Obat-obatan kausatif, kortikosteroid, India, SCORTEN Skor, Stevens - Johnson sindrom, Nekrolisis epidermal

Hasil. Kesimpulan. Kata kunci : Obat-obatan kausatif, kortikosteroid, India, SCORTEN Skor, Stevens - Johnson sindrom, Nekrolisis epidermal LATAR BELAKANG Stevens - Johnson sindrom (SJS) dan Nekrolisis epidermal (TEN) adalah reaksi obat kulit parah yang langka. Tidak ada data epidemiologi skala besar tersedia untuk penyakit ini di India. Tujuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. terbanyak yang sering dijumpai pada anak. Sindrom nefrotik adalah suatu sindrom

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. terbanyak yang sering dijumpai pada anak. Sindrom nefrotik adalah suatu sindrom 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sindrom nefrotik (SN, Nephrotic Syndrome) merupakan salah satu penyakit ginjal terbanyak yang sering dijumpai pada anak. Sindrom nefrotik adalah suatu sindrom klinik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang. disebabkan oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di

BAB I PENDAHULUAN. Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang. disebabkan oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara berkembang yang terutama

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Sel Cluster of differentiation 4 (CD4) adalah semacam sel darah putih

BAB 1 PENDAHULUAN. Sel Cluster of differentiation 4 (CD4) adalah semacam sel darah putih BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sel Cluster of differentiation 4 (CD4) adalah semacam sel darah putih atau limfosit. Sel tersebut adalah bagian terpenting dari sistem kekebalan tubuh, Sel ini juga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (DHF) merupakan penyakit infeksi tropik yang disebabkan oleh virus dengue dan

BAB I PENDAHULUAN. (DHF) merupakan penyakit infeksi tropik yang disebabkan oleh virus dengue dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhage Fever (DHF) merupakan penyakit infeksi tropik yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagian besar bakteri ini menyerang

BAB I PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagian besar bakteri ini menyerang BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Penyakit Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagian besar bakteri ini menyerang bagian paru, namun tak

Lebih terperinci

RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN

RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN Pertemuan : Minggu ke 11 Waktu : 50 menit Pokok bahasan : 1. Hemostasis (Lanjutan) Subpokok bahsan : a. Evaluasi hemostasis di laboratorium. b. Interpretasi hasil

Lebih terperinci

Imunisasi: Apa dan Mengapa?

Imunisasi: Apa dan Mengapa? Imunisasi: Apa dan Mengapa? dr. Nurcholid Umam K, M.Sc, Sp.A Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia Jogjakarta Penyebab kematian pada anak di seluruh dunia Campak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan dapat mengenai berbagai organ tubuh. Penyakit tuberkulosis terdapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan didapatkan pasca splenektomi karena trauma maupun penyakit hematologis,

BAB I PENDAHULUAN. dan didapatkan pasca splenektomi karena trauma maupun penyakit hematologis, 1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Lien atau limpa adalah organ penting dalam sistem kekebalan tubuh dan hematopoiesis. Pasien yang tidak memiliki lien (asplenia) oleh karena kongenital, dan didapatkan

Lebih terperinci

LAPORAN TUTORIAL MODUL : Ilmu Penyakit Dalam TRIGGER 5. OLEH: Kelompok Tutorial XVII

LAPORAN TUTORIAL MODUL : Ilmu Penyakit Dalam TRIGGER 5. OLEH: Kelompok Tutorial XVII LAPORAN TUTORIAL MODUL : Ilmu Penyakit Dalam TRIGGER 5 OLEH: Kelompok Tutorial XVII Fasilitator : dr.rifkind Malik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BAITURRAHMAH PADANG 2012/2013 Trigger 5 : Bukan karena

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. autoantibody terhadap trombosit yang berasal dari Immunoglobulin G. 1

BAB I PENDAHULUAN. autoantibody terhadap trombosit yang berasal dari Immunoglobulin G. 1 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Purpura Trombositopenia Idiopatik (ITP) merupakan kelainan didapat yang berupa gangguan autimun yang mengakibatkan trombositopenia karena adanya penghancuran trombosit

Lebih terperinci