BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Susanti Darmali
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 51 BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1. Matriks EFAS Berdasarkan matriks EFAS, factor-faktor eksternal bisnis elpiji, adalah sebagai berikut: Tabel 4.1. Matriks EFAS Faktor-Faktor Strategi Eksternal Bobot Rating Skor PELUANG - Pasar yang tumbuh cukup besar Kenaikan harga di masa depan Kemitraan dengan pihak swasta untuk memasok gas elpiji ke masyarakat - Kebijakan pemerintah yang mendukung penggunaan gas Elpiji subsidi langsung dari pemerintah ANCAMAN - Minyak tanah sebagai barang subtitusi bersubsidi bahan baku yang diimpor Pemulihan ekonomi dalam negeri Harga produk Elpiji yang berada di bawah harga pasar internasional
2 52 - Apresiasi nilai dolar atas impor gas Elpiji TOTAL Bobot dan rating pada matriks di atas ditentukan berdasarkan pada isian kuesioner. Dari matriks diperoleh total skor = 2.70 yang menunjukkan bahwa perusahaan sudah mempunyai strategi yang baik dalam mengantisipasi ancaman eksternal yang ada Peluang Kunci Eksternal Perusahaan Kebutuhan Gas Elpiji di pasar nasional yang semakin meningkat merupakan salah satu peluang bagi Pertamina untuk memperluas pasar Gas Elpiji di dalam negeri. Selain itu, upaya pemerintah untuk mengurangi subsidi sekaligus menyamakan harga Gas Elpiji hingga setara dengan harga internasional, dapat dinilai sebagai salah satu faktor yang memberikan sisi positif lain bagi perkembangan pasar Gas Elpiji di Indonesia. Faktor terakhir yang dapat digolongkan menjadi peluang kunci Pertamina adalah kebijakan pemerintah yang mendukung upaya konversi pemakaian MinyakTanah menjadi Gas Elpiji Ancaman Kunci Eksternal Perusahaan Kelangkaan bahan baku gas alam merupakan ancaman bagi Pertamina di masa depan. Jika Pertamina dan pemerintah tidak dapat mengatasi hal ini, dapat dipastikan jika program konversi minyak tanah menjadi Gas Elpiji tidak akan berjalan mulus. Apalagi seperti diketahui bahwa minyak tanah pun merupakan bahan bakar yang
3 53 mendapat subsidi dari pemerintah. Pemulihan ekonomi yang berjalan lambat dan melemahnya nilai rupiah terhadap dolar merupakan ancaman lain yang harus dipertimbangkan oleh Pertamina Analisis Matriks Eksternal Factor Evaluation (EFAS) Nilai skor tertinggi pada matriks EFAS adalah 4.0 dan nilai terendah adalah 1. Pertamina memperoleh skor 2.70 pada matriks EFAS. Hal ini menunjukkan bahwa secara eksternal perusahaan ini memiliki peluang dan ancaman yang tidak begitu besar Analisis Bobot dan Rating Metode analisis untuk model ini adalah dengan memilah-milah faktor-faktor yang menjadi peluang dan ancaman Pertamina sebagai sebuah perusahaan Analisis Peluang dan Ancaman Dari hasil kuesioner yang disebarkan oleh pewawancara dan direspon balik oleh responden, maka penulis telah berhasil memetakan beberapa peluang dan ancaman yang secara sadar dimiliki oleh perusahaan. Peluang: 1. Pasar yang tumbuh besar. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir kenaikan kebutuhan Gas Elpiji setiap tahun bertambah. Permintaan pasar yang terus meningkat di tingkat
4 54 pasar regional menyebabkan peluang yang sangat besar bagi Pertamina untuk memasuki pasar regional. Pertamina membutuhkan impor Gas Elpiji sebesar 3-3,4 juta ton untuk memenuhi kebutuhan Gas Elpiji pada tahun impor dilakukan karena produksi kilang dalam negeri tidak mencukupi program konversi minyak tanah ke Gas Elpiji. Memperhatikan tingkat kebutuhan yang besar tersebut, maka konversi minyak tanah ke Gas Elpiji tidak bisa dilakukan sekaligus. Pemerintah telah menetapkan konversi dilakukan secara bertahap mulai tahun 2007 sampai Pertamina memperkirakan konversi bisa dicapai lebih cepat sehingga pada tahun 2009 target 5,71 ton bisa dicapai. 2. Kenaikan harga di masa depan. Pertamina akan menaikkan harga Elpiji bagi konsumen rumah tangga. Kenaikan tersebut guna memperkecil kerugian pengadaan Gas Elpiji. Kenaikan ini agar harga Gas Elpiji sesuai harga keekonomian. Komsumsi Gas Elpiji nasional diperkirakan mencapai 1,08 juta metrik ton yang terdiri dari 85 persen konsumen rumah tangga dan 15 persen industri. Volume tersebut diperoleh dari produksi Pertamina 82 persen, kerjasama produksi bagi hasil persen dan impor 3 persen. Diperkirakan dalam 3-5 tahun kedepan, konsumsi Gas Elpiji nasional bisa mencapai 2,5-3 juta pertahun. Sebagai gambaran, harga Gas Elpiji dipasar spot mencapai 750 dollar sampai 800 dollar AS per ton, sedangkan harga jual Gas Elpiji di dalam negeri Rp per kilogram. Sedangkan harga keekonomian Rp Rp per kg. Dengan demikian, Pertamina harus menanggung selisih harga Rp Rp
5 per kg, dikalikan volume penjualan sehingga semakin besar volume penjualan Gas Elpiji, maka semakin besar pula kerugian yang ditanggung Pertamina. 3. Kemitraan dengan pihak swasta untuk memasok Gas Elpiji ke masyarakat. Untuk menekan biaya investasi tangki timbun, Pertamina akan menggandeng pihak swasta untuk ikut membangun depo-depo Gas Elpiji guna memasok ke masyarakat. Dengan begitu, Pertamina tidak perlu mengeluarkan dana untuk investasi. Kompensasinya, swasta akan diberi jaminan pemakaian depo untuk pasokan Gas Elpiji. Satu depo diharapkan mampu menampung ton Gas Elpiji per tahun. Selain kemitraan, perlu dilakukan penambahan penyalur Gas Elpiji. Tambahan penyalur Gas Elpiji antara lain dengan mengonversi agen minyak tanah, pangkalan minyak tanah, dan pengecer minyak tanah. Direktur Niaga dan Pengelolaan BBM Direktorat Jenderal Migas Er Soedarmo mengatakan pemerintah sudah menyiapkan tata niaga Gas Elpiji yang di subsidi. Distribusi dan penyediaan Gas Elpiji akan diatur melalui dua peraturan Presiden yaitu PP tentang penetapan harga jual Gas Elpiji tabung 3 kilogram dan penyediaan serta pendistribusian Gas Elpiji tabung 3 kilogram. Nantinya distribusi Gas Elpiji bersubsidi akan dilakukan melalui Skema kewajiban Publik (public service obligation/pso). Dalam skema PSO ini penyediaan Gas Elpiji bersubsidi akan terbuka untuk semua badan usaha yang mampu, bukan hanya Pertamina
6 56 4. Kebijakan pemerintah yang mendukung penggunaan Gas Elpiji. Program konversi minyak tanah ke Gas Elpiji akan dilakukan. Pemerintah dengan membuat proyek percontohan diwilayah DKI Jakarta. Dalam hal ini, Pertamina akan membentuk tim khusus untuk mengawasi pelaksanaan konversi minyak tanah ke Gas Elpiji. Pemerintah mengharapkan adanya kesediaan dari masyarakat untuk barter kompor minyak tanah dengan kompor gas. Pelaksanaan konversi akan mempertimbangkan kedekatan dengan sumber bahan baku Gas Elpiji dan kemampuan fasilitas tangki timbun Gas Elpiji yang tersedia. Kota-kota itu adalah Medan, Batam, Pekanbaru, Jambi, Palembang, Bandar lampung, Jakarta, Cilegon, Bandung, Semarang, Yogjakarta, Surabaya, Denpasar, Ampenan, Balikpapan, Banjarmasin, dan Makassar. 5. subsidi langsung dari pemerintah. Jika dilakukan perhitungan kasar, maka satu kilogram Gas Elpiji akan setara dengan dua liter minyak tanah harga minyak tanah subsidi Rp atau setara dengan 2 kali Rp , atau sama dengan Rp Di lain hal, harga keekonomian Gas Elpiji Rp per kilogram dengan subsidi langsung dari pemerintah sebesar Rp per kilogram Gas Elpiji. Jika dibandingkan dengan harga minyak tanah subsidi yang nilainya sebesar Rp dan harga keekonomian minyak tanah Rp 6.000, maka subsidi pemerintah untuk minyak tanah akan mencapai Rp per liter minyak tanah. Jumlah minyak tanah yang dikonversi sebanyak 1,12 juta kiloliter
7 57 dengan ton Gas Elpiji. Program konversi itu ditargetkan selesai pada tahun 2010 sehingga nantinya total jumlah minyak tanah yang dikonversi sebanyak 10 juta kiloliter dan digantikan dengan 5,71 juta ton Gas Elpiji. Dalam kaitan ini, opsi yang diberikan Pertamina ke Pemerintah adalah menaikan harga Gas Elpiji atau memberi subsidi langsung ke Pertamina. Pertamina juga berharap subsidi lansung dari pemerintah yang selama ini diberikan kepada pengguna minyak tanah bisa dialihkan kepelanggan Gas Elpiji. Ancaman: 1. Minyak tanah sebagai barang substitusi bersubsidi. Pertimbangan Pertamina dalam program ini adalah jika di suatu wilayah yang menjadi target konversi masih ada yang menggunakan minyak tanah bersubsidi dan tetap tidak mau beralih ke Gas Elpiji, maka pasokan minyak tanah pada wilayah itu pun akan dihentikan secara langsung. Sehingga nantinya, minyak tanah dijual dalam kemasan dengan harga non-subsidi bagi masyarakat yang masih membutuhkan. Pemerintah juga mengkhawatirkan kemungkinan tidak berkurangnya pemakaian minyak tanah dengan adanya kebijakan kenaikan harga Gas Elpiji yang rencananya akan dilakukan secara bertahap. Jika ternyata banyak masyarakat yang tetap enggan menggunakan kompor gas, maka pihak Pertamina mempertimbangkan untuk langsung menghentikan distribusi minyak tanah bersubsidi di wilayah-wilayah yang menjadi target konversi.
8 58 2. Langkanya pasokan bahan baku. Pertamina membutuhkan impor Gas Elpiji sebesar 3-3,4 juta ton untuk memenuhi kebutuhan Gas Elpiji pada tahun Impor dilakukan karena produksi kilang dalam negeri tidak mencukupi program konversi minyak tanah ke Gas Elpiji. Perkiraan tambahan kebutuhan Gas Elpiji dalam negeri sebagai akibat rencana peralihan minyak tanah sebesar 10 juta kiloliter sekitar 5,7 ton. Apabila ditambah dengan komsumsi Gas Elpiji saat ini, total kebutuhan mencapai 6,8 juta ton. Kemampuan produksi kilang Gas Elpiji dalam negeri hanya sekitar 3 juta ton sehingga 50 persen dari kebutuhan 6,8 juta ton itu atau sekitar juta ton harus tetap diimpor. 3. Pemulihan ekonomi dalam negeri. Membaiknya kondisi ekonomi masyarakat juga mendorong peningkatan jumlah pemakai Gas Elpiji meski situasi pemulihan ekonomi saat ini yang masih dipenuhi ketidakpastian. Harga gas dipasaran dunia diproyeksikan akan lebih tinggi di masa mendatang oleh karena naiknya permintaan akan energi. Sementara itu, produsen gas akan berusaha mempertahankan produksinya pada tingkat yang sama. Merjer dan konsolidasi antar perusahaan minyak dan gas dunia masih akan berlanjut di masa depan dalam rangka peningkatan skala ekonomi yang pada akhirnya mencapai efisiensi biaya. 4. Harga produk yang berada dibawah harga pasar internasional. Harga jual Gas Elpiji nasional saat ini dapat dikatakan masih sangat murah jika dibandingkan
9 59 dengan harga jual di pasar internasional. Harga Gas Elpiji di pasar internasional mencapai 750 dolar sampai 800 dolar AS per ton, atau sekitar Rp hingga Rp per kilogram. Hal ini sangat bertolak belakang dengan harga Gas Elpiji di pasar nasional yang hanya Rp per kilogram. 5. Apresiasi nilai dolar atas impor Gas Elpiji. Langkanya pasokan bahan baku gas secara langsung telah memaksa Pertamina untuk mengimpor impor Gas Elpiji sebesar 3-3,4 juta ton untuk memenuhi kebutuhan Gas Elpiji pada tahun Seiring dengan kondisi pemulihan ekonomi nasional yang tidak kunjung membaik dan begitu lemahnya nilai rupiah terhadap dolas AS, tentu saja akan semakin memberatkan posisi keuangan Pertamina jika harus terus-menerus melakukan impor atas bahan baku gas. Apresiasi atau ketidakstabilan nilai dolar terhadap rupiah merupakan ancaman yang secara tidak langsung akan memberatkan Pertamina di masa depan Matriks IFAS Kondisi factor-faktor internal perusahaan garmen dilihat dari aspek kekuatan dan kelemahannya, yakni sebagai berikut:
10 60 Tabel 4.2. Matriks IFAS Faktor-Faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor KEKUATAN - Pertumbuhan penjualan yang meningkat Kualitas produk yang lebih baik daripada produk substitusi Kinerja Keuangan Baik Pemasaran perusahaan cukup optimal Integrasi vertical yang baik dengan pemasok sumber bahan baku gas Elpiji KELEMAHAN - Ketergantungan terhadap sumber bahan baku gas Elpiji Jaringan distribusi nasional yang kurang optimal kapasitas tangki timbun gas Elpiji Nasional Kapasitas produksi dan gangguan teknis di kilang pengolahan Elpiji Kapabilitas manajemen dalam menentukan harga gas Elpiji TOTAL Bobot dan rating pada matriks di atas ditentukan berdasarkan pada isian kuesioner. Dari matriks diperoleh total skor = 3.10 yang menunjukkan bahwa perusahaan sudah mempunyai strategi yang baik dalam mengantisipasi ancaman internal yang ada Kekuatan Kunci Internal Perusahaan Sebagai salah satu perusahaan nasional yang mengeksplorasi gas alam dan bahan tambang, maka saat ini Pertamina merupakan satu-satunya perusahaan yang dapat memproduksi dan menyediakan Gas Elpiji bagi masyarakat di Indonesia.
11 61 Melalui keunggulan mutlaknya ini, paling tidak terdapat tiga kekuatan kunci internal yang dimiliki oleh Pertamina. Pertama, model bisnis yang terintegrasi dari hulu ke hilir, dimana hal ini memungkinkan bagi Pertamina untuk memiliki kapasitas dan kapabilitas yang dapat mengeksplorasi dan mengeksploitasi gas alam dan bahan tambang di bumi nusantara. Selain itu, jika membandingkan kualitas antara Gas Elpiji dan Minyak Tanah sebagai barang substitusi, sudah dapat dipastikan bahwa pemakaian Gas Elpiji sebagai bahan bakar akan lebih efisien dan ramah lingkungan jika dibandingkan dengan minyak tanah. Terakhir, upaya Pertamina untuk menggalakkan penggunaan Gas Elpiji dikalangan masyarakat umum, telah mendapat dukungan penuh dari Pemerintah pihak-pihak terkait yang menjalin hubungan kerjasama dengan Pertamina Kelemahan Kunci Internal Perusahaan Kelemahan kunci internal perusahaan secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu harga pasar, kemampuan teknis, dan jaringan distribusi. Dari sisi harga pasar, dapat diketahui bahwa harga Gas Elpiji yang berlaku saat ini sudah berada jauh dibawah harga Gas Elpiji internasional. Hal ini jelas menimbulkan masalah tersendiri bagi penerimaan pendapatan penjualan Gas Elpiji Pertamina. Kedua, dari sisi kemampuan teknis dapat terlihat masih banyaknya kendala yang secara prioritas harus segera dibereskan. Kapasitas tangki timbun yang belum dapat memenuhi pasokan produksi Gas Elpiji serta gangguan teknis yang kerap terjadi pada saat proses produksi merupakan salah satu yang perlu diperbaiki. Masalah lain yang
12 62 menjadi kelemahan Pertamina sebagai penyedia bahan bakar Gas Elpiji adalah lemahnya jaringan distribusi Gas Elpiji jika dipetakan secara nasional. Hal ini mengakibatkan langkanya pasokan Gas Elpiji pada daerah-daerah tertentu di Indonesia Analisis Matriks Internal Factor Evaluation (IFAS) Nilai skor tertinggi pada matriks Internal Factor Evaluation (IFAS) adalah 4,0 dan nilai terendah adalah 1. Pada matriks ini, Pertamina memperoleh skor 3,10 dari 4,0 sebagai skor tertinggi. Hal yang dapat diinterpretasikan dari nilai ini bahwa secara internal perusahaan, Pertamina dapat digolongkan sebagai perusahaan nasional yang cukup kuat Analisis Bobot dan Rating Metode analisis untuk model ini adalah dengan memilah-milah faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan Pertamina sebagai sebuah perusahaan Analisis Kekuatan dan Kelemahan Dari hasil kuesioner yang disebarkan oleh pewawancara dan direspon balik oleh responden, maka penulis telah berhasil memetakan beberapa kekuatan dan kelemahan yang secara sadar dimiliki oleh perusahaan. Kekuatan:
13 63 1. Pertumbuhan penjualan yang meningkat. Sebagai satu-satunya pemain dalam industri Gas Elpiji maka Pertamina memiliki kekuatan untuk meraih pasar nasional yang belum terjangkau selama ini. Dengan dukungan dari pemerintah yang berkeinginan untuk mengkonversi minyak tanah ke Gas Elpiji pada 17 kota di Pulau Jawa dan luar Jawa, maka hal ini semakin memastikan kenaikan penjualan Gas Elpiji pada masa yang akan datang. Perkiraan ini cukup sesuai dengan bobot 0.15 dan rating 3.7 yang diberikan oleh para responden yang ada. 2. Kualitas produk yang lebih baik daripada produk substitusi. Materi bahan baku Gas Elpiji yang berbeda dengan Minyak Tanah sebagai produk substitusi telah menempatkan Gas Elpiji sebagai satu-satunya sumber bahan bakar yang ramah lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari hasil residu pembakaran kompor minyak tanah dan kompor gas yang selama ini terjadi di masyarakat. Komponen ini berhasil membawa rating pada titik 3.5 dengan bobot 0.11 dari hasil kuesioner yang didapatkan. 3. Kinerja keuangan yang baik. Jika dilihat dari sisi keuangan, Pertamina bukanlah perusahaan yang berdiri dalam satu atau dua tahun silam. Pengalaman Pertamina dalam hal eksplorasi dan eksploitasi minyak mentah dan bahan tambang telah membuktikan kemandirian dan ketangguhan Pertamina dalam hal keuangan. Hanya saja dengan adanya perbedaan antara harga Gas Elpiji di pasar nasional dan internasional, hal ini telah berimplikasi
14 64 pada kinerja keungan penjualan Gas Elpiji yang kurang memuaskan. Tampak bahwa responden memberikan bobot 0.04 dan rating 2.5 pada faktor ini. Namun dengan seiring rencana kenaikan harga secara bertahap hingga menyamai harga Gas Elpiji internasional, maka komponen ini dapat dipastikan akan semakin membaik. 4. Pemasaran perusahaan yang cukup optimal. Salah satu upaya untuk memperluas pasar pengguna Gas Elpiji adalah dengan melakukan konversi pemakai Minyak Tanah menjadi pemakai Gas Elpiji. Usaha perluasan pemasaran ini telah dilakukan sebelumnya dengan membentuk tim khusus yang akan mengawasia pelaksanaan konversi Minyak Tanah ke Gas Elpiji. Salah satu cara Pertamina adalah dengan melalui program pertukaran/barter kompor minyak tanah dengan kompor gas. 5. Integrasi vertikal yang baik dengan pemasok sumber bahan baku Gas Elpiji. Sebagai salah satu perusahaan tambang nasional, Pertamina memiliki akses untuk mengksplorasi dan mengksploitasi gas alam sebagai bahan baku Gas Elpiji. Meski demikian, dengan adanya keterbatasan kapasitas dan kapabilitas kilang pengolahan gas alam, secara tidak langsung berdampak pada tersendatnya pasokan bahan baku ke kilang pengolahan Gas Elpiji. Meski tidak besar, faktor ini adalah faktor yang dapat memberikan kekuatan bagi kesinambungan proses penyediaan Gas Elpiji di masa depan. Responden memberikan bobot 0.08 dengan rating 1.5 untuk faktor ini.
15 65 Kelemahan: 1. Ketergantungan terhadap sumber bahan baku Gas Elpiji. Akibat dari keterbatasan kapasitas dan kapabilitas kilang pengolahan gas alam, maka untuk sementara pasokan bahan baku Gas Elpiji tidak dapat seluruhnya dipenuhi dari hasil eksplorasi dan eksploitasi gas dalam negeri. Untuk itu, maka Pertamina pun harus mengimpor Gas Elpiji untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Paling tidak, Pertamina membutuhkan tambahan impor Gas Elpiji sebesar 3 3,4 juta ton untuk memenuhi kebutuhan Gas Elpiji pada tahun Dalam hal ini, sebagai responden setuju dan memberikan bobot 0.16 dengan rating 3.8 untuk faktor ini. 2. Jaringan distribusi nasional yang kurang optimal. Tata letak kota di Indonesia yang secara geografis dihubungkan oleh selat dan laut telah mengakibatkan masalah kritis dalan hal usaha distribusi Gas Elpiji secara nasional. Adanya daerah-daerah kecil yang letaknya jauh dari perkotaan serta kebutuhan Gas Elpiji yang berbeda pada setiap kota semakin melemahkan posisi Pertamina pada faktor ini. 3. Kapasitas tangki timbun Gas Elpiji nasional. Lokasi dan kapasitas tangki timbun yang berbeda-beda di setiap kota telah menghambat proses konversi minyak tanah menjadi Gas Elpiji secara tidak langsung. Untuk itu, saat ini pun Pertamina sedang mengarahkan usahanya untuk meningkatkan kemampuan
16 66 kapasitas timbun dari LSP (Liter Setara Premium) menjadi LSP atau naik 42 persen dari kapasitas semula. 4. Kapasitas produksi dan gangguan teknis di kilang pengolahan Gas Elpiji. Kelemahan yang dihadapi Pertamina saat ini diantaranya adalah sering terjadinya gangguan di kilang pengolahan Gas Elpiji. Akibatnya, produksi Gas Elpiji menurun sehingga pasokan Gas Elpiji ke konsumen pun tersendat. Pada akhirnya, terjadilah kelangkaan Gas Elpiji di masyarakat. 5. Kapabilitas manajemen dalam menentukan harga gas Elpiji Upaya internal agar pihak manajemen tumbuh dan berkembang ditengah situasi yang sebagian tidak mudah diprediksi, dimana kapabitas manajemen dalam siap bersanding (bekerjasama, aliansi strategis dengan karakteristik bisnis apapun) dan siap bertanding (bersaing dalam memperoleh berbagai benefit perusahaan) dalam menentukan harga gas Elpiji Matriks IE (Internal-Eksternal) Dengan menggunakan hasil evaluasi dari matriks EFAS dan IFAS, maka didapatkan Skor Bobot Total untuk matriks IFAS sebesar 3.10 pada sumbu horisontal dan matriks EFAS sebesar 2.70 pada sumbu vertikal. Koordinat ini berada pada kuadran II dimana perusahaan sebaiknya menerapkan strategi Growth (Konsentrasi melalui integrasi horizontal). Strategi ini dapat pula diartikan sebagai Strategi
17 67 Pertumbuhan dan Perkembangan Pasar dimana melalui strategi integrasi horizontal maka Pertamina dianjurkan untuk memperluas jaringan distribusi gas Elpiji yang saat ini wilayah cakupannya masih terbatas. Strategi utama yang diterapkan oleh Pertamina adalah Horizontal Integration Strategy, yaitu usaha peningkatan pengawasan terhadap situasi persaingan yang semakin ketat. Melalui strategi ini, maka perusahaan dapat melakukan integrasi secara horizontal dengan membeli/mengakusisi perusahaan-perusahaan sejenis. Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan kepemilikan dan/atau meningkatkan pengendalian atas para pesaing. Strategi pendukung adalah dengan mempercepat proses pengembangan dan intensifikasi eksplorasi gas di kawasan captive market Pertamina dengan membangun infra struktur (pipa) guna memperluas pasar gas dan meningkatkan pangsa pasar gas Pertamina dengan membeli gas dari KPS dan menyempurnakan pola kemitraan dalam penjualan dan pemasaran produk Elpiji. Strategi pendukung lain adalah dengan perluasan usaha Pertamina yang industrinya masih berhubungan satu sama lain atau satu jenis utama, seperti memperluas kegiatan-kegiatan perusahaan ke dalam lokasi geografis yang berbeda dengan mendirikan anak cabang atau pabrik di dalam dan luar negeri serta menambah rentang produk yang ditawarkan kepada pasar melalui diversifikasi produk.
18 68 Formula perhitungan skor responden untuk masing-masing faktor: Skor = Bobot x Rating Formula perhitungan total skor responden untuk masing-masing faktor: Total Skor = Σ Skor Strong Average Weak Strong (3-4) GROWTH GROWTH RETRENCHMENT Konsentrasi melalui Konsentrasi melalui Turnaround Integrasi vertikal Integrasi horizontal Average (2-3) STABILITY GROWTH RETRENCHMENT Hati-hati Konsentrasi melalui Captive Company atau Integrasi horizontal Divestment STABILITY Tak ada perubahan Profit Strategi Low (1-2) GROWTH GROWTH RETRENCHMENT Difersifikasi Difersifikasi Bangkrut atau Likuidasi Konsentrik Konglomerat
19 Strong Average Weak Strong (3-4) GROWTH GROWTH RETRENCHMENT 3.10 Konsentrasi melalui Integrasi vertikal Konsentrasi melalui Integrasi horizontal Turnaround 3.0 Average (2-3) STABILITY GROWTH RETRENCHMENT Hati-hati Konsentrasi melalui Captive Company atau Integrasi horizontal Divestment STABILITY Tak ada perubahan 2.0 Profit Strategi Low (1-2) GROWTH GROWTH RETRENCHMENT Difersifikasi Difersifikasi Bangkrut atau Likuidasi 1.0 Konsentrik Konglomerat Gambar 4.1. Matrix Evaluasi Faktor-faktor Internal Perhitungan skor responden untuk masing-masing faktor kritis: A. PELUANG 1. Pasar yang tumbuh cukup besar: Skor : 0,16 x 3.5 = 0,6
20 70 2. Kenaikan harga di masa depan: Skor : 0,13 x 2.5 = 0,3 3. Kemitraan dengan pihak swasta untuk memasok gas elpiji ke masyarakat: Skor : 0,15 x 3.5 = 0,5 4. Kebijakan pemerintah yang mendukung penggunaan gas elpiji Skor : 0,08 x 3.1 = 0,2 5. subsidi langsung dari pemerintah: Skor : 0,04 x 1.5 = 0,1 B. ANCAMAN 1. Minyak tanah sebagai barang substitusi bersubsidi: Skor : 0,14 x 3.1 = 0,4 2. Langkanya pasokan bahan baku: Skor : 0,05 x 2.1 = 0,1
21 71 3. Pemulihan ekonomi dalam negeri: Skor : 0,1 x 1.5 = 0,2 4. Harga produk Elpiji yang dibawah harga pasar internasional: Skor : 0,07 x 2.1 = 0,1 5. Apresiasi nilai dolar atas impor gas elpiji: Skor : 0,09 x 2.2 = 0,2 Total skor faktor-faktor strategi eksternal: 0,6 + 0,3 + 0,5 + 0,2 + 0,1 + 0,4 + 0,1 + 0,2 + 0,1 + 0,2 = 2,7 C. KEKUATAN 1. Pertumbuhan penjualan yang meningkat: Skor : 0,15 x 3.7 = 0,6 2. Kualitas produk yang lebih baik daripada produk substitusi: Skor : 0,11 x 3.5 = 0,4
22 72 3. Kinerja keuangan yang baik: Skor : 0,04 x 2.5 = 0,1 4. Pemasaran perusahaan yang cukup optimal: Skor : 0,08 x 2.8 = 0,2 5. Integrasi vertikal yang baik dengan pemasok sumber bahan baku gas elpiji: Skor : 0,08 x 1.5 = 0,1 D. KELEMAHAN 1. Ketergantungan terhadap sumber bahan baku gas elpiji: Skor : 0,16 x 3.8 = 0,6 2. Jaringan distribusi nasional yang kurang optimal: Skor : 0,08 x 3.0 = 0,2
23 73 3. Kapasitas tangki timbun gas elpiji nasional: Skor : 0,04 x 1.5 = 0,1 4. Kapasitas produksi dan gangguan teknis di kilang pengolahan elpiji: Skor : 0,11 x 2.5 = 0,3 5. Kapabilitas manajemen dalam menentukan harga Elpiji: Skor : 0,14 x 3.5 = 0,5 Total skor faktor-faktor strategi internal 0,6+ 0,4 + 0,1 + 0,2 + 0,1 + 0,6 + 0,2 + 0,1 + 0,3 + 0,5 = 3, Matriks SWOT Dengan matriks SWOT, dihasilkan informasi bisnis elpiji sebagai berikut:
24 74
25 75 Dengan menggunakan hasil evaluasi dari matriks SWOT, maka didapatkan dua strategi, yaitu strategi Penetrasi Pasar (Market Penetration) dan strategi Pengembangan Pasar (Market Development). Melalui strategi Penetrasi Pasar maka Pertamina seharusnya melakukan strategi peningkatan harga secara bertahap untuk mengurangi potensi kerugian yang semakin besar di masa depan. Strategi utama dari SWOT yang dapat diterapkan adalah Market Penetration Strategy yang berusaha meningkatkan market share suatu produk atau jasa melalui usaha-usaha pemasaran yang lebih besar. Strategi ini dapat diimplementasikan baik secara sendiri-sendiri atau bersama dengan strategi lain melalui penambahan jumlah tenaga penjual, biaya iklan, alat untuk promosi penjualan, dan/atau usaha-usaha promosi lainnya. Tujuan strategi ini adalah meningkatkan pangsa pasar dengan usaha pemasaran yang maksimal dengan catatan dapat dilakukan jika pasar belum jenuh, pangsa pasar pesaing menurun, adanya korelasi yang positif antara biaya 4P pemasaran dan penjualan serta kemampuan bersaing yang meningkat. Strategi pendukungnya adalah dengan meningkatan mutu Sumber Daya Manusia, sistem pelayanan dan teknologi informasi untuk peningkatan mutu pelayanan, serta mendorong peningkatan jumlah pemakai, mutu dan pelayanan gas Elpiji di masyarakat secara bertahap. Sedangkan melalui strategi Pengembangan Pasar, maka Pertamina diharuskan untuk memperluas dan meningkatkan kerjasamanya dengan pihak swasta dalam mendistribusikan Gas Elpiji ke seluruh wilayah nusantara. Dengan kata lain, dalam analisis SWOT ini, Pertamina sebaiknya menggunakan kekuatan untuk
26 76 memanfaatkan peluang (strength + opportunities strategy) yang dapat diraih di masa depan. Strategi kedua yang dapat diterapkan dari SWOT adalah Market Development Strategy yang bertujuan mengenalkan produk-produk atau jasa yang ada ke daerahdaerah yang secara geografis merupakan daerah baru. Pada dasarnya, aktivitas ini sudah sering dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dengan skala internasional, namun tentunya perusahaan pun akan mengalami penurunan jika hanya bermain di pasar lokal. Strategi pendukungnya adalah dengan memperluas, memperkuat dan meningkatkan kandalan jaringan distribusi dan pasokan dalam skala nasional sekaligus meningkatkan kapasitas tangki timbun gas di wilayah-wilayah yang menjadi pusat distribusi Gas Elpiji. Dengan strategi ini maka Pertamina diharapkan dapat meningkatkan pangsa pasarnya secara nasional Matriks Quantitative Strategies Planning (QSP) Setelah pemaparan matriks-matriks input stage dan matching stage, berikut akan dipaparkan matriks untuk Decision Stage. Dengan menggunakan hasil evaluasi dari matriks EFAS IFAS dan matriks SWOT maka didapatkan tiga strategi yang akan dipergunakan. Untuk matriks EFAS IFAS maka perusahaan sebaiknya menerapkan strategi Growth (Konsentrasi melalui integrasi horizontal) atau Strategi Pertumbuhan. Sedangkan dengan matriks SWOT, maka didapatkan pula strategi
27 77 Penetrasi Pasar (Market Peneration) dan strategi Pengembangan Pasar (Market Development). Formula perhitungan total skor kemenarikan/ total attractiveness score: Total Attractiveness Score = Weight x Attractiveness Score Formula perhitungan total skor kemenarikan/ total attractiveness score pada masing-masing faktor untuk setiap strategi yang dipilih: Total Attractiveness Score (Strategi x ) = Σ Total Attractiveness Score
28 78
29 79 Perhitungan total skor kemenarikan (TAS) untuk masing-masing faktor kritis pada Strategi Pertumbuhan (Market Growth): A. PELUANG 1. Pasar yang tumbuh cukup besar: TAS : 0,16 x 4,00 = 0,64 2. Kenaikan harga di masa depan: TAS : 0,12 x 3,00 = 0,36 3. Kemitraan dengan pihak swasta untuk memasok gas elpiji ke masyarakat:: TAS : 0,15 x 3,00 = 0,45 4. Kebijakan pemerintah yang mendukung penggunaan gas elpiji: TAS : 0,08 x 4,00 = 0,3 5. subsidi langsung dari pemerintah: TAS : 0,04 x 2,00 = 0,09 B. ANCAMAN 1. Minyak tanah sebagai barang substitusi bersubsidi: TAS : 0,14 x 4,00 = 0,57
30 80 2. Langkanya pasokan bahan baku: TAS : 0,05 x 3,00 = 0,16 3. Langkanya pasokan bahan baku: TAS : 0,1 x 2,00 = 0,20 4. Harga produk Elpiji yang dibawah harga pasar internasional: TAS : 0,07 x 3,00 = 0,21 5. Apresiasi nilai dolar atas impor gas elpiji: TAS : 0,09 x 3,00 = 0,26 C. KEKUATAN 1. Pertumbuhan penjualan yang meningkat: TAS : 0,14 x 4,00 = 0,55 2. Kualitas produk yang lebih baik daripada produk substitusi: TAS : 0,12 x 4,00 = 0,47 3. Kinerja keuangan yang baik: TAS : 0.04x 3,00 = 0.13
31 81 4. Pemasaran perusahaan yang cukup optimal: TAS : 0,8 x 3,00 = 0,25 5. Integrasi vertikal yang baik dengan pemasok sumber bahan baku gas elpiji: TAS : 0,08 x 2,00 = 0,15 D. KELEMAHAN 1. Ketergantungan terhadap sumber bahan baku gas elpiji: TAS : 0,15 x 4,00 = 0,62 2. Jaringan distribusi nasional yang kurang optimal: TAS : 0,08 x 4,00 = 0,32 3. Kapasitas tangki timbun gas elpiji nasional: TAS : 0,05 x 2,00 = 0,10 4. Kapasitas produksi dan gangguan teknis di kilang pengolahan elpiji: TAS : 0,12 x 3,00 = 0,35 5. Kapabilitas manajemen dalam menentukan harga Elpiji: TAS : 0,14 x 4,00 = 0,57
32 82 Total Attractiveness Score Strategi Pertumbuhan ( Market Growth ) = 0,64 + 0,36 + 0,45 + 0,30 + 0,09 +, ,16 +, ,21 + 0,26 + 0,55 + 0,47 + 0,13 + 0,25 + 0,15 + 0,62 + 0,32 + 0,10 + 0,35 + 0,57 = 6,74 Perhitungan total skor kemenarikan (TAS) untuk masing-masing faktor kritis pada Strategi Penetrasi (Market Penetration): A. PELUANG 1. Pasar yang tumbuh cukup besar: TAS : 0,16 x 3,00 = 0,48 2. Kenaikan harga di masa depan: TAS : 0,12 x 2,00 = 0,24 3. Kemitraan dengan pihak swasta untuk memasok gas elpiji ke masyarakat:: TAS : 0,15 x 3,00 = 0,45 4. Kebijakan pemerintah yang mendukung penggunaan gas elpiji: TAS : 0,08 x 3,00 = 0,23
33 83 5. subsidi langsung dari pemerintah: TAS : 0,04 x 1,10 = 0,04 B. ANCAMAN 1. Minyak tanah sebagai barang substitusi bersubsidi: TAS : 0,14 x 3,00 = 0,43 2. Langkanya pasokan bahan baku: TAS : 0,05 x 2,00 = 0,10 3. Pemulihan ekonomi dalam negeri: TAS : 0,10 x 1,00 = 0,10 4. Harga produk Elpiji yang dibawah harga pasar internasional: TAS : 0,7 x 2,00 = 0,14 5. Apresiasi nilai dolar atas impor gas elpiji: TAS : 0,09 x 2,00 = 0,17 C. KEKUATAN 1. Pertumbuhan penjualan yang meningkat: TAS : 0,14 x 4,00 = 0,55
34 84 2. Kualitas produk yang lebih baik daripada produk substitusi: TAS : 0,12 x 3,00 = 0,35 3. Kinerja keuangan yang baik: TAS : 0,04 x 2,00 = 0,08 4. Pemasaran perusahaan yang cukup optimal: TAS : 0,8 x 3,00 = 0,25 5. Integrasi vertikal yang baik dengan pemasok sumber bahan baku gas elpiji: TAS : 0,08 x 1,00 = 0,08 D. KELEMAHAN 1. Ketergantungan terhadap sumber bahan baku gas elpiji: TAS : 0,15 x 4,00 = 0,62 2. Jaringan distribusi nasional yang kurang optimal: TAS : 0,08 x 3,00 = 0,24 3. Kapasitas tangki timbun gas elpiji nasional: TAS : 0,05 x 1,00 = 0,05
35 85 4. Kapasitas produksi dan gangguan teknis di kilang pengolahan elpiji: TAS : 0,12 x 2,00 = 0,23 5. Kapabilitas manajemen dalam menentukan harga Elpiji: TAS : 0,14x 3,00 = 0,43 Total Attractiveness Score Strategi Penetrasi ( Market Penetration ) = 0,48 + 0,24 + 0,45 + 0,23 + 0,04 + 0,43 + 0,10 + 0,10 + 0,14 + 0,17 + 0,55 + 0,35 + 0,08 + 0,25 + 0,08 + 0,62 + 0,24 + 0,05 + 0,23 + 0,43 = 5,27 Perhitungan total skor kemenarikan (TAS) untuk masing-masing faktor kritis pada Strategi Pengembangan Pasar (Market Development): A. PELUANG 1. Pasar yang tumbuh cukup besar: TAS : 0,16 x 3,00 = 0,48 2. Kenaikan harga di masa depan: TAS : 0,12 x 2,00 = 0,24
36 86 3. Kemitraan dengan pihak swasta untuk memasok gas elpiji ke masyarakat: TAS : 0,15 x 2,00 = 0,30 4. Kebijakan pemerintah yang mendukung penggunaan gas elpiji: TAS : 0,08 x 3,00 = 0,23 5. subsidi langsung dari pemerintah: TAS : 0,04 x 1,10 = 0,04 B. ANCAMAN 1. Minyak tanah sebagai barang substitusi bersubsidi: TAS : 0,14 x 3,00 = 0,43 2 Langkanya pasokan bahan baku: TAS : 0,05 x 2,00 = 0,10 3 Pemulihan ekonomi dalam negeri: TAS : 0,10 x 1,00 = 0,10 4 Harga produk Elpiji yang dibawah harga pasar internasional: TAS : 0,7 x 2,00 = 0,14
37 87 5 Apresiasi nilai dolar atas impor gas elpiji: TAS : 0,09 x 2,00 = 0,17 C. KEKUATAN 1. Pertumbuhan penjualan yang meningkat: TAS : 0,14 x 3,00 = 0,41 2. Kualitas produk yang lebih baik daripada produk substitusi: TAS : 0,12 x 3,00 = 0,35 3. Kinerja keuangan yang baik: TAS : 0,04 x 2,00 = 0,08 4. Pemasaran perusahaan yang cukup optimal: TAS : 0,8 x 2,00 = 0,17 5. Integrasi vertikal yang baik dengan pemasok sumber bahan baku gas elpiji: TAS : 0,08 x 1,00 = 0,08 D. KELEMAHAN 1. Ketergantungan terhadap sumber bahan baku gas elpiji: TAS : 0,15 x 3,00 = 0,46
38 88 2. Jaringan distribusi nasional yang kurang optimal: TAS : 0,08 x 3,00 = 0,24 3. Kapasitas tangki timbun gas elpiji nasional: TAS : 0,05 x 1,00 = 0,05 4. Kapasitas produksi dan gangguan teknis di kilang pengolahan elpiji: TAS : 0,12 x 2,00 = 0,23 5. Kapabilitas manajemen dalam menentukan harga Elpiji: TAS : 0,14x 3,00 = 0,43 Total Attractiveness Score Strategi Pengembangan pasar ( Market Development ) = 0,48 + 0,24 + 0,30 + 0,23 + 0,04 + 0,43 + 0,10 + 0,10 + 0,14 + 0,17 + 0,41 + 0,35 + 0,08 + 0,17 + 0,08 + 0,46 + 0,24 + 0,05 + 0,23 + 0,43 = 4,74 Implementasi Strategi Melalui matriks Quantitative Strategies Planning(QSP), dapat diketahui bahwa strategi Pertumbuhan (Market Growth), memiliki skor tertinggi, 6.74, jika
39 89 dibandingkan dengan strategi Penetrasi Pasar dan Pengembangan Pasar yang hanya mencapai 5.27 dan Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh Pertamina dengan strategi Pertumbuhan. Mempercepat pengembangan Upside Potential gas, intensifikasi eksplorasi gas di kawasan captive market Pertamina, membangun infra struktur (pipa) untuk memperluas pasar gas dan meningkatkan market share gas Pertamina dengan membeli gas dari KPS Memperluas jaringan distribusi dalam skala nasional sekaligus meningkatkan kapasitas tangki timbun gas di wilayah-wilayah yang menjadi pusat distribusi Gas Elpiji. Dengan strategi ini maka Pertamina diharapkan dapat meningkatkan pangsa pasarnya secara nasional. Mengembangkan Penyempurnaan pola kemitraan dalam penjualan dan pemasaran produk gas Elpiji. Program konversi pemerintah atas minyak tanah menjadi Elpiji, seyogyanya harus didukung dengan pasokan jumlah gas Elpiji yang memadai pula. Kelangkaan gas Elpiji yang kerap terjadi seharusnya dapat diantisipasi dengan tindakan-tindakan pencegahan perbaikan dan pengaturan lalu lintas pengiriman gas Elpiji dari supplier ke distributor. Meski harga gas Elpiji saat ini masih dinilai lebih rendah daripada harga gas Elpiji secara internasional, namun hal tersebut tidak dapat menjadi alasan penurunan kualitas pelayanan atas gas Elpiji ke masyarakat. Dalam hal ini, para penyelenggara Negara, yaitu pemerintah dan Pertamina, harus memperkuat jaringan distribusi Gas Elpiji ke seluruh nusantara melalui pengaturan produksi dan distribusi Elpiji dengan lebih efektif, mulai dari produksi, pengapalan, pengiriman ke kilang
40 90 elpiji, penyimpanan di kilang, pengiriman ke stasiun pengisian bahan bakar dan terakhir pengiriman elpiji ke konsumen akhir/rumahan. Melalui dukungan pemerintah, maka Pertamina dapat bekerjasama dengan pihak swasta, dalam hal para agen dan sub agen Gas Elpiji, yang tersebar diseluruh wilayah nusantara. Untuk meningkatkan pangsa pasar Gas Elpiji dalam jangka waktu yang relatif lebih cepat. Pada lain hal, melalui program konversi kompor minyak tanah menjadi kompor Elpiji, maka secara tidak langsung, Pertamina telah mendapatkan pelanggan baru dari para pemakai kompor minyak tanah. Tujuan utama dari strategi ini adalah mempertahankan dan menambah pangsa pasar dalam jangka panjang.
II. BERILAH BOBOT (WEIGHT) PADA ISIAN BERIKUT.
Kepada Responden Yang Terhormat Bersama ini kami mengharapkan bantuan Anda untuk mengisi kuesioner yang sedang kami edarkan. Adapun kuesioner ini merupakan survei tentang Peluang, Ancaman, Kekuatan dan
III. METODE PENELITIAN
19 III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Langkah awal yang dilakukan dalam penelitian ini adalah mengetahui visi, misi dan tujuan Perum Pegadaian. Kemudian dilakukan analisis lingkungan internal
BAB VII FORMULASI STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA. 7.1 Perumusan Strategi Pengembangan Usaha Produk Sayuran Organik
96 BAB VII FORMULASI STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA 7.1 Perumusan Strategi Pengembangan Usaha Produk Sayuran Organik Analisis lingkungan membantu perusahaan dalam menentukan langkah strategi yang tepat dalam
BAB 3 METODE PENELITIAN
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Disain Penelitian Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui
BAB 3 METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian
27 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Disain Penelitian Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui
BAB I PENDAHULUAN. satu kepentingan yang sama yaitu untuk memperoleh laba. Perusahaan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Setiap perusahaan yang memasuki persaingan dalam dunia bisnis mempunyai satu kepentingan yang sama yaitu untuk memperoleh laba. Perusahaan yang memproduksi
Bab 3 Metodologi Penelitian
Bab 3 Metodologi Penelitian 3.1 Flowchart Pemecahan Masalah Penelitian adalah kegiatan dalam mengumpulkan, mengolah, menganalisis, dan menyajikan data yang dilakukan secara sistematis dan objektif untuk
BAB I PENDAHULUAN. Dalam dunia bisnis persaingan antara pengusaha (perusahaan) dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. Dalam dunia bisnis persaingan antara pengusaha (perusahaan) dengan pengusaha yang lain bukanlah hal yang baru lagi, tetepi semakin lama semakin ketat. Ini terbukti
III. METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian PT. Pelni merupakan perusahaan pelayaran nasional yang bergerak dalam bidang jasa dan memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam hal pelayanan
BAB 3 METODE PROBLEM SOLVING
BAB 3 METODE PROBLEM SOLVING Penetapan Kriteria Optimasi Penetapan kriteria optimasi dalam studi ini akan dijabarkan sebagai berikut: Kekuatan aspek internal perusahaan yang terdiri dari kekuatan dan kelemahan
VII. FORMULASI STRATEGI
VII. FORMULASI STRATEGI 7.1 Tahapan Masukan (Input Stage) Tahapan masukan (input stage) merupakan langkah pertama yang harus dilakukan sebelum melalui langkah kedua dan langkah ketiga didalam tahap formulasi
BAB I PENDAHULUAN. diproduksi oleh PT Pertamina (Persero). Pada awalnya produk LPG ini hanya dikemas
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar belakang LPG (Liquid Petrolium Gas) adalah salah satu komoditas sektor migas yang diproduksi oleh PT Pertamina (Persero). Pada awalnya produk LPG ini hanya dikemas dalam bentuk
III. KERANGKA PEMIKIRAN
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Strategi Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan jangka panjang. Menurut David (2008) strategi merepresentasikan tindakan yang akan diambil
BAB III METODE PENELITIAN
36 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengembangan bisnis pada PT.Griya Nutrisi Bandung yang beralamat di Jl. Sampurna No. 5 Bandung. Adapun
BAB II MANAJEMEN PEMASARAN
BAB II MANAJEMEN PEMASARAN 2.1 Konsep Pemasaran Pemasaran tidak bisa dipandang sebagai cara yang sempit yaitu sebagai tugas mencari cara-cara yang benar untuk menjual produk/jasa. Pemasaran yang ahli bukan
Analisis lingkungan eksternal terdiri dari lingkungan makro dan lingkungan industri. Lingkungan makro terdiri dari ekonomi, alam, teknologi, politik
Analisis lingkungan eksternal terdiri dari lingkungan makro dan lingkungan industri. Lingkungan makro terdiri dari ekonomi, alam, teknologi, politik dan hukum serta sosial budaya. Sedangkan lingkungan
III. METODE KAJIAN A. Pengumpulan Data Pengumpulan data yang digunakan adalah : 1. Pengumpulan data primer melalui survei lapangan, wawancara
20 III. METODE KAJIAN A. Pengumpulan Data Pengumpulan data yang digunakan adalah : 1. Pengumpulan data primer melalui survei lapangan, wawancara (lampiran 1) dengan pihak perusahaan sebanyak 3 responden
MATERI 3 ANALISIS PEMECAHAN MASALAH DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
MATERI 3 ANALISIS PEMECAHAN MASALAH DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN A. Kerangka Analisis Strategis Kegiatan yang paling penting dalam proses analisis adalah memahami seluruh informasi yang terdapat pada suatu
IV METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini dilakukan di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur.
IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini dilakukan di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja berdasarkan pertimbangan
BAB 3 METODE PENELITIAN
36 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Metode Penelitian Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menggunakan metode deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri
METODE KAJIAN. 3.1 Kerangka Pemikiran
III. METODE KAJIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Potensi perikanan yang dimiliki Kabupaten Lampung Barat yang sangat besar ternyata belum memberikan kontribusi yang optimal bagi masyarakat dan pemerintah daerah.
BAB 5 SIMPULAN dan SARAN
124 BAB 5 SIMPULAN dan SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, maka peneliti memperoleh simpulan sebagai berikut : Kekuatan (strengths) PT. Joey Sasmita Lencana
ANALISIS PEMECAHAN MASALAH DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN. I S K A N D A R I N I Fakultas Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi Universitas Sumatera Utara
ANALISIS PEMECAHAN MASALAH DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN I S K A N D A R I N I Fakultas Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi Universitas Sumatera Utara A. Kerangka Analisis Strategis Kegiatan yang paling penting
DATA DAN INFORMASI MIGAS
DATA DAN INFORMASI MIGAS A. BAHAN BAKAR MINYAK/BBM Foto kesiapan penyediaan BBM/foto pengeboran minyak lepas pantai Foto kapal tangker pertamina Foto depot pertamina dan truk tangki Jumlah lembaga penyalur
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek dan Subjek Penelitian Penelitian ini akan membahas mengenai analisis strategi pengembangan bisnis pada Soerabi Pa is Bandung. Adapun yang menjadi objek dalam penelitian
PENYEDIAAN, PENDISTRIBUSIAN, DAN PENETAPAN HARGA LPG TABUNG 3 KILOGRAM
PENYEDIAAN, PENDISTRIBUSIAN, DAN PENETAPAN HARGA LPG TABUNG 3 KILOGRAM sumber gambar: republika.co.id I. PENDAHULUAN Energi mempunyai peran penting dan strategis untuk pencapaian tujuan sosial, ekonomi,
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada kawasan Objek Wisata Alam Talaga Remis di Desa Kadeula Kecamatan Pasawahan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Kegiatan
ANALISIS PEMECAHAN MASALAH DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN ISKANDARINI. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
ANALISIS PEMECAHAN MASALAH DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN ISKANDARINI Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara A. Kerangka Analisis Strategis Kegiatan yang paling penting dalam proses analisis adalah memahami
BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan komoditas penentu kelangsungan perekonomian suatu negara. Hal ini disebabkan oleh berbagai sektor dan kegiatan ekonomi di Indonesia
BAB IV HASIL ANALISIS DATA. kesengajaan karena kondisi keluarga yang pindah ke Babadan untuk
36 BAB IV HASIL ANALISIS DATA 4.. Gambaran Umum Perusahaan Bisnis Air Isi Ulang BERKAH merupakan salah satu UKM yang bergerak di bidang air minum isi ulang dan didirikan pada tanggal Mei 204 dengan pemilik
BAB VII FORMULASI DAN PEMILIHAN STRATEGI. oleh perusahaan. Pengidentifikasian faktor-faktor eksternal dan internal dilakukan
144 BAB VII FORMULASI DAN PEMILIHAN STRATEGI 7.1 Analisis Matriks EFE dan IFE Tahapan penyusunan strategi dimulai dengan mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi perusahaan serta kekuatan dan
III. METODOLOGI KAJIAN
152 III. METODOLOGI KAJIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dalam rangka menyelesaikan tugas akhir ini dilaksanakan di Pengolahan Ikan Asap UKM Petikan Cita Halus yang berada di Jl. Akar Wangi
RINGKASAN EKSEKUTIF TESIS
RINGKASAN EKSEKUTIF TESIS REFRINAL, 2003. Strategi Bisnis Sewa Gedung Perkantoran, Studi Kasus pada Menara Cakrawala, PT Skyline Building, Jakarta, Dibawah Bimbingan HARIANTO & ANNY RATNAWATI. Penyediaan
BAB I PENDAHULUAN. menggunakan minyak tanah dalam kehidupannya sehari hari.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dewasa ini tingkat ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) sangatlah besar. Hal ini dapat dilihat dari jumlah konsumsi BBM yang
STRATEGI PENGEMBANGAN PRODUK DENGAN ANALISIS SWOT DAN MATRIK BCG DI PT CHINA INTERNASIONAL RAYA LEGOK
1 STRATEGI PENGEMBANGAN PRODUK DENGAN ANALISIS SWOT DAN MATRIK BCG DI PT CHINA INTERNASIONAL RAYA LEGOK Oleh RetnoPutri Nanda (e-mail : [email protected]) Pembimbing : TitinEkowati, S.E.,M.Sc (e-mail
IV. METODE PENELITIAN
IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Koperasi Unit Desa (KUD) Puspa Mekar yang berlokasi di Jl. Kolonel Masturi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.
IV. METODE PENELITIAN
IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini dilakukan pada CV Salim Abadi (CV SA), yang terletak di Jalan Raya Punggur Mojopahit Kampung Tanggul Angin, Kecamatan Punggur,
BAB IV STRATEGI PENGELOLAAN MAJALAH "AL MIHRAB" DALAM PENGEMBANGAN DAKWAH DENGAN ANALISIS SWOT
BAB IV STRATEGI PENGELOLAAN MAJALAH "AL MIHRAB" DALAM PENGEMBANGAN DAKWAH DENGAN ANALISIS SWOT Dalam upaya pengembangan dakwah melalui jurnalistik yang telah dilakukan oleh pengelola majalah "Al-Mihrab",
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di kawasan Kampung Wisata Ekologis (KWE) Puspa Jagad yang berada di Desa Semen, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar pada
ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK PT. Mulia Lestari adalah salah satu perusahaan tekstil terkemuka yang beralamatkan di Jl. Cibaligo no. 70 Cimindi-Cimahi. Produk yang dihasilkan adalah kain rajut, yang sebagian besar adalah berbentuk
PPN Palabuhanratu. PPN Palabuhanratu ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' '
9 3 METODOLOGI PENELITIAN 3. Waktu dan Tempat Pengumpulan data di lapangan dilaksanakan pada bulan Juli 00 hingga Januari 0 di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat. Peta
BAB III KERANGKA PEMIKIRAN
BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Strategi Perusahaan Manajemen meliputi perencanaan, pengarahan, pengorganisasian dan pengendalian atas keputusan-keputusan dan
IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Metode Penentuan Responden
IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada usaha Durian Jatohan Haji Arif (DJHA), yang terletak di Jalan Raya Serang-Pandeglang KM. 14 Kecamatan Baros, Kabupaten
Analisis Strategi Pemasaran Es Krim Walls dengan Pendekatan SWOT dan QSPM pada PT Roxy Prameswari di Lampung
Analisis Strategi Pemasaran Es Krim Walls dengan Pendekatan SWOT dan QSPM pada PT Roxy Prameswari di Lampung Abstrak Sarwinda Pamareta * Muhammadiyah University of Metro, Metro City 34111, Indonesia Penelitian
PERUMUSAN STRATEGI KORPORAT PERUSAHAAN CHEMICAL
PERUMUSAN STRATEGI KORPORAT PERUSAHAAN CHEMICAL Mochammad Taufiqurrochman 1) dan Buana Ma ruf 2) Manajemen Industri Program Studi Magister Manajemen Teknologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
BAB I PENDAHULUAN. dihasilkan melalui proses pengilangan minyak mentah. Saat ini BBM telah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan suatu jenis bahan bakar yang dihasilkan melalui proses pengilangan minyak mentah. Saat ini BBM telah menjadi kebutuhan pokok dalam
PERUMUSAN STRATEGI PERUSAHAAN PT X MENGGUNAKAN MATRIKS EVALUASI FAKTOR
PERUMUSAN STRATEGI PERUSAHAAN PT X MENGGUNAKAN MATRIKS EVALUASI FAKTOR Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Abstrak: Perubahan lingkungan industri dan peningkatan persaingan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Perusahaan CV Mokolay Mitra Utama sendiri merupakan salah satu unit usaha yang bergerak di bidang perkebunan manggis dan durian di Desa Samongari Kabupaten,
BAB III KERANGKA PEMIKIRAN
BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Pengertian Strategi Strategi berasal dari bahasa Yunani kuno yang berarti seni berperang. Suatu strategi mempunyai dasar-dasar atau skema
METODOLOGI PENELITIAN
IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Wisata Agro Tambi yang terletak di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Pemilihan lokasi ini ditentukan secara sengaja
BAB III METODE PENELITIAN
29 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi yang sesuai untuk Rumah Makan Ayam Goreng & Bakar Mang Didin Asgar yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani
BAB I PENDAHULUAN. ini dapat terlihat dari munculnya pesaing pesaing baru maupun pesaing. pesaing yang sudah mapan dalam suatu bidang usaha.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Akhir akhir ini, adanya persaingan dalam dunia bisnis sudah merupakan hal yang tidak baru lagi, melainkan persaingan yang semakin keras dan berat. Hal ini
Materi 8. deden08m.com 1
Materi 8 STRATEGI BISNIS deden08m.com 1 Melihat Keuntungan Persaingan 1) Strategi biaya rendah 2) Strategi membuat perbedaan 3) Strategi berbasis kecepatan 4) Fokus Pasar deden08m.com 2 Ø Strategi Biaya
DAFTAR ISI Daftar Isi...i Daftar Tabel...iv Daftar Gambar...vi Bab I : Pendahuluan... 1 Bab II : Kajian Pustaka dan Kerangka Pemikiran...
DAFTAR ISI Daftar Isi...i Daftar Tabel...iv Daftar Gambar...vi Bab I : Pendahuluan... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Rumusan Masalah... 10 1.3. Tujuan Penelitian... 10 1.4. Kegunaan Penelitian... 11 Bab
Lingkungan umum Lingkungan operasional (Struktur Industri) Tahapan dalam Penyusunan Strategi
ABSTRAK Mobile Information Technology (MIT) adalah perusahaan yang bergerak di bidang retail penjualan notebook, berlokasi di Bandung Electronic Centre lantai 1 G3. MIT didirikan pada tahun 2007. MIT penjualan
III. METODE PENELITIAN
33 III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian PT Bank Syariah Mandiri hadir, tampil, dan tumbuh sebagai bank yang mampu memadukan idealisme usaha dengan nilai-nilai rohani, yang melandasi
4.1.2 Struktur Organisasi Milkfood Barokah
30 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Perusahaan 4.1.1 Sejarah Milkfood Barokah Milkfood Barokah merupakan usaha mikro yang memiliki kegiatan usaha memproduksi minuman susu olahan. Milkfood Barokah
SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN
273 VII. SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 7.1. Simpulan Berdasarkan hasil analisis deskripsi, estimasi, dan simulasi peramalan dampak kebijakan subsidi harga BBM terhadap kinerja perekonomian, kemiskinan,
IV. METODE PENELITIAN
IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di peternakan domba Tawakkal Farm (TF) Jalan Raya Sukabumi Km 15 Dusun Cimande Hilir No. 32, Caringin, Bogor. Pemilihan lokasi
III. METODE KAJIAN. B. Pengolahan dan Analisis Data
19 III. METODE KAJIAN Kajian ini dilakukan di unit usaha Pia Apple Pie, Bogor dengan waktu selama 3 bulan, yaitu dari bulan Agustus hingga bulan November 2007. A. Pengumpulan Data Metode pengumpulan data
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Gama Catering yang beralamat di Komp. Bumi Panyileukan Blok G 13 No. 20 Kota Bandung. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan
DAFTAR LAMPIRAN WAWANCARA PENELITIAN ANALISA PERUMUSAN PERENCANAAN STRATEGI BAGI PENGEMBANGAN BISNIS PADA PT PUSTAKA KENCANA
124 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Wawancara SWOT WAWANCARA PENELITIAN ANALISA PERUMUSAN PERENCANAAN STRATEGI BAGI PENGEMBANGAN BISNIS PADA PT PUSTAKA KENCANA Kuesioner ini adalah kuesioner terbuka. Jawaban
Nofianty ABSTRAK
Nofianty - 0600670101 ABSTRAK PT. Surya Toto adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang saniter atau alat perlengkapan mandi. Tujuan penulisan dari skripsi ini adalah mengidentifikasikan masalah
Analisis SWOT Deskriptif Kualitatif untuk Pariwisata
CHAPTER-09 Analisis SWOT Deskriptif Kualitatif untuk Pariwisata SWOT Filosofi SWOT Analisis SWOT atau Tows adalah alat analisis yang umumnya digunakan untuk merumuskan strategi atas identifikasi berbagai
IV. METODE PENELITIAN
Strategi Pengembangan Usaha Maharani Farm Gambar 4. Kerangka Pemikiran Operasional IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Rumah Potong Ayam Maharani Farm yang beralamat
Strategi Pemasaran. Lili Adi Wibowo
Strategi Pemasaran Lili Adi Wibowo Visi/Misi/Tujuan Perusahaan Strategi Perusahaan Fungis fungsi Manajemen SDM (Kinerja Karyawan: Rekruitment, Pelatihan, Pengembangan, motivasi, kompensasi dll) PEMASARAN
BAB III KERANGKA PEMIKIRAN. teoretik. Manajemen strategi didefinisikan sebagai ilmu tentang perumusan
22 BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Manajemen Strategi Penelitian ini menggunakan perencanaan strategi sebagai kerangka teoretik. Manajemen strategi didefinisikan sebagai
3 METODE PENELITIAN. Gambar 10 Lokasi penelitian.
3 METODE PENELITIAN 3. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Lambada Lhok Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar, Pemerintah Aceh. Penelitian dilaksanakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Peningkatan kebutuhan akan energi di Indonesia terus meningkat karena makin bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kegiatan serta pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
III. KERANGKA PEMIKIRAN
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Manajemen Manajemen merupakan proses pengkoordinasian kegiatan-kegiatan pekerjaan sehingga pekerjaan tersebut terselesaikan secara efisien
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis dan Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah survei sedangkan metodenya yaitu penelitian kuantitatif. Penelitian survei merupakan penelitian kuantitatif dengan
BAB IV ANALISA STRATEGI PERUSAHAAN
BAB IV ANALISA STRATEGI PERUSAHAAN 4.1 Faktor Strategi Eksternal 4.1.1 Identifikasi Faktor Lingkungan Eksternal Penentuan faktor strategi eksternal bertujuan untuk mengetahui berbagai peluang serta ancaman
METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data
IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di dua lokasi, yakni Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah, khususnya di Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) Agroforestry yang membawahi
BAB IV PEMBAHASAN ANALISIS SWOT MENARA SUCI TOUR AND TRAVEL DAN SHAFIRA TOUR AND TRAVEL. Pendapatan Jumlah jamaah Pendapatan Jumlah
BAB IV PEMBAHASAN ANALISIS SWOT MENARA SUCI TOUR AND TRAVEL DAN SHAFIRA TOUR AND TRAVEL A. Data Temuan Menara suci Tabel 4.1 Data Temuan Travel Shafira Tahun Pendapatan Jumlah jamaah Pendapatan Jumlah
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. melalui Five Forces Porter Analysis dan analisis SWOT, maka dapat diambil
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1 Kesimpulan Setelah melakukan analisis terhadap lingkungan eksternal dan internal melalui Five Forces Porter Analysis dan analisis SWOT, maka dapat diambil kesimpulan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Obyek dan Subjek Penelitian 1. Objek Penelitian Penelitian ini berlokasi pada obyek wisata alam Pantai Siung yang ada di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul,
METODE MAGANG. Waktu dan Tempat
METODE MAGANG Waktu dan Tempat Kegiatan magang ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan bulan Juni 2009 yang bertempat di Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Unit Usaha Marihat, Sumatera Utara. Metode
Seminar Nasional IENACO 2016 ISSN: PERANCANGAN STRATEGIS BISNIS BAGI USAHA KECIL SEPATU BATOK KELAPA
PERANCANGAN STRATEGIS BISNIS BAGI USAHA KECIL SEPATU BATOK KELAPA Ni Luh Putu Hariastuti Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Adhi Tama Sutabaya Email ; [email protected]
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Lokasi penelitian dilaksanakan pada perusahaan CV Septia Anugerah Jakarta, yang beralamat di Jalan Fatmawati No. 26 Pondok Labu Jakarta Selatan. CV Septia Anugerah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pertumbuhan ekonomi di Indonesia saat ini terus meningkat. Hal ini mengakibatkan pengusaha-pengusaha harus bisa mengembangkan pola pikir yang kritis dalam menentukan
IV. METODE PENELITIAN
IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Mitra Alam. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa perusahaan tersebut merupakan
WALIKOTA JAMBI PERATURAN DAERAH KOTA JAMBI NOMOR 10 TAHUN 2013
WALIKOTA JAMBI PERATURAN DAERAH KOTA JAMBI NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN DISTRIBUSI LIQUIFIED PETROLEUM GAS TABUNG 3 (TIGA) KILOGRAM BERSUBSIDI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
METODOLOGI PENELITIAN
IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi yang dijadikan sebagai tempat penelitian adalah PT Godongijo Asri yang beralamat di Desa Serua, Kecamatan Cinangka, Sawangan, Depok, Jawa
PERUMUSAN STRATEGI PENGEMBANGAN BISNIS BUAH SEMANGKA CV SALIM ABADI
VII. PERUMUSAN STRATEGI PENGEMBANGAN BISNIS BUAH SEMANGKA CV SALIM ABADI 7.1 Analisis Lingkungan Perusahaan Hasil analisis lingkungan perusahaan dilakukan melalui pengamatan di lapangan dan wawancara secara
III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar ini mencakup pengertian yang digunakan untuk menunjang dan
36 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar ini mencakup pengertian yang digunakan untuk menunjang dan menciptakan data akurat yang akan dianalisis sehubungan dengan
BAB III KERANGKA PEMIKIRAN
BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Strategi Strategi merupakan cara-cara yang digunakan oleh organisasi untuk mencapai tujuannya melalui pengintegrasian segala keunggulan
III. METODE PENELITIAN
29 A. Metode Dasar Penelitian III. METODE PENELITIAN Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis. Ciri-ciri metode deskriptif analitis adalah memusatkan pada pemecahan
BAB 1 PENDAHULUAN. perkembangan globalisasi yang disertai pertumbuhan perdagangan domestik dan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang masalah Ekonomi nasional sedang mengalami perubahan yang pesat seiring dengan perkembangan globalisasi yang disertai pertumbuhan perdagangan domestik dan persaingan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Investasi Investasi merupakan suatu tindakan pembelanjaan atau penggunaan dana pada saat sekarang dengan harapan untuk dapat menghasilkan dana di masa datang yang
VI. STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA PDAM KABUPATEN SUKABUMI. Dari hasil penelitian pada PDAM Kabupaten Sukabumi yang didukung
VI. STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA PDAM KABUPATEN SUKABUMI Dari hasil penelitian pada PDAM Kabupaten Sukabumi yang didukung oleh wawancara terhadap para responden dan informasi-informasi yang diperoleh dari
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di tengah gencar - gencarnya program pemerintah mengenai konversi energi, maka sumber energi alternatif sudah menjadi pilihan yang tidak terelakkan, tak terkecuali
STRATEGI PEMASARAN DEALER YAMAHA AMIE JAYA UNTUK MENINGKATKAN PENJUALAN MENGGUNAKAN MATRIKS BCG DAN ANALISIS SWOT
STRATEGI PEMASARAN DEALER YAMAHA AMIE JAYA UNTUK MENINGKATKAN PENJUALAN MENGGUNAKAN MATRIKS BCG DAN ANALISIS SWOT Nama : Fitria Shinta Dewi NPM : 13213551 Jurusan : Manajemen Pembimbing : Eva Karla, SE,
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. PT TAJUR merupakan perusahaan yang bergerak dibidang jasa angkutan/ekspedisi, yaitu
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Profil Perusahaan PT TAJUR merupakan perusahaan yang bergerak dibidang jasa angkutan/ekspedisi, yaitu mengirinkan barang dalam skala besar. Sejarah serta perkembangannya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menyebabkan perusahaan harus menghadapi persaingan yang ketat, termasuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan dunia usaha yang semakin pesat dewasa ini menyebabkan perusahaan harus menghadapi persaingan yang ketat, termasuk pada usaha di bidang penjualan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Melalui pembahasan dari Bab I sampai dengan pembahasan Bab IV dan sejumlah 5 (lima) pertanyaan yang dilampirkan pada rumusan masalah, maka kami dapat memberikan
BAB 4 ANALISIS DAN HASIL PENELITIAN
98 BAB 4 ANALISIS DAN HASIL PENELITIAN 4.1 Evaluasi Faktor Internal Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak manajer umum dan manajer pemasaran dari PT Samudera Perdana Transpotama (PT SPT) dan dengan
