Hasil dan Pembahasan

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Hasil dan Pembahasan"

Transkripsi

1 Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Hasil Analisis Pustaka Stoikiometri Analisis (kajian) kesesuaian antara ketiga pustaka stoikiometri dilakukan untuk mendapatkan kerangka struktur hiperteks yang memuat semua konsep penting dalam topik stoikiometri. Analisis tersebut dimulai dari struktur global, struktur makro sampai rincian konsep/prinsip yang terkandung di dalam ketiga teks tersebut. IV.1.1 Struktur Global Struktur global berfungsi untuk menyederhanakan materi ke dalam suatu struktur agar lebih memudahkan pemahaman materi. 26 Penyederhanaan tersebut dapat terlihat dari pengorganisasian konsep dari teks dalam pustaka stoikiometri yang dipilih. Suatu struktur global harus menunjukkan keterpaduan hubungan dan keutuhan hierarki antar konsep. Struktur global yang dihasilkan akan menjadi tautan utama dalam hiperteks, di mana unit-unit informasi yang dikemas dalam bentuk simpul akan ditautkan ke teks uraian yang bersangkutan. Struktur global ini sesuai dengan tipe hiperteks berstruktur awal yang memiliki pola navigasi sebagaimana dijelaskan pada Bab II. Dengan demikian, struktur global dapat dijadikan dasar pengembangan hiperteks dan dapat dikelola sesuai dengan kriteria pengajaran, agar pengetahuan mudah dijangkau dan mudah diajarkan. 26 Berikut struktur global yang diturunkan dari masing-masing teks stoikiometri. Struktur global dari pustaka 1 (global 1) memuat 11 (sebelas) makro utama. Struktur global dari pustaka 2 (global 2) memuat 16 (enam belas) makro utama. Sedangkan struktur global dari pustaka 3 (global 3) memuat 9 (sembilan) makro utama. 43

2 Pustaka 1 (Global 1) Buku Chemistry Matter and Its Changes (2000) karangan James E. Brady, Joel W. Russell, dan John R. Holum. 16 Stoikiometri: hubungan kimia secara kuantitatif. Pendahuluan (a) Konsep mol. (b) Penentuan mol unsur dan senyawa. (c) Persen komposisi. (d) Rumus empiris dan rumus molekul. (e) Penulisan dan penyetaraan persamaan kimia. (f) Penggunaan persamaan kimia dalam perhitungan. (g) Perhitungan pereaksi pembatas. (h) Hasil teoritis dan persen hasil. (i) Reaksi dalam larutan. (j) Konsentrasi molar. (k) Stoikiometri reaksi dalam larutan. Pustaka 2 (Global 2) Buku Chemistry; Structure and Dynamics (1996) karangan George M. Bodner, Lyman H. Rickard, dan James N. Spencer. 17 Mol: penghubung antara dunia makroskopik dan atomik dalam kimia. (a) Dunia makroskopik, dunia atom, dan dunia lambang dalam kimia. (b) Massa sebuah atom. (c) Mol sebagai jembatan antara skala makroskopik dan skala atom. (d) Mol sebagai suatu kumpulan atom. (e) Pengubahan gram menjadi mol. (f) Rumus kimia. (g) Mol sebagai suatu kumpulan molekul. (h) Reaksi kimia dan hukum kekekalan atom. (i) Persamaan kimia sebagai pernyataan reaksi kimia. (j) Dua tinjauan persamaan kimia: molekul vs mol. 44

3 (k) Penyetaraan persamaan kimia. (l) Perbandingan mol dan persamaan kimia. (m) Stoikiometri (n) Penentuan rumus senyawa. (o) Analisis unsur. (p) Mur dan baud dalam pereaksi pembatas. Pustaka 3 (Global 3) Buku Kimia Dasar; Konsep-Konsep Inti jilid 1 edisi ketiga (2003) karangan Raymond Chang yang dialihbahasakan oleh Muhamad Abdulkadir Martoprawiro dkk. 18 Stoikiometri (a) Massa atom (b) Massa molar suatu unsur dan bilangan Avogadro. (c) Massa molekul. (d) Spektrometer massa. (e) Persen komposisi senyawa. (f) Penentuan rumus empiris melalui percobaan. (g) Reaksi kimia dan persamaan kimia. (h) Jumlah pereaksi dan produk. (i) Pereaksi pembatas dan hasil reaksi. Analisis struktur global dari ketiga pustaka stoikiometri belum bisa dilakukan secara mendasar karena setiap makro utama tidak bersesuaian secara langsung dan memiliki tingkat abstraksi yang cukup tinggi. Struktur global tidak menunjukkan konsep-konsep yang lebih terinci yang harus ada dalam topik stoikiometri. Karena itu diperlukan rincian konsep/prinsip dari topik stoikiometri sebagai dasar analisis agar dapat ditentukan struktur global dari pustaka mana yang akan dijadikan kerangka dasar pada penyusunan hiperteks. IV.1.2 Analisis Konsep/Prinsip 45

4 Kajian lebih mendalam terhadap ketiga pustaka stoikiometri dilakukan untuk membuat rincian konsep/prinsip dan subkonsep yang terkandung di dalam pustaka masing-masing. Rincian konsep/prinsip dan subkonsep yang diperoleh dari ketiga pustaka dikelompokkan menjadi 8 (delapan) makro utama, masing-masing terdiri dari beberapa konsep yang lebih spesifik sebanyak 29 (dua puluh sembilan) konsep. Untuk mengetahui pustaka mana yang memuat konsep lebih lengkap tentang stoikiometri, maka dibuat daftar konsep hasil gabungan dari ketiga pustaka, kemudian konten dari masing-masing pustaka dikaji. Hasil kajian ketiga pustaka dibuat daftar periksa (checklist) seperti terlihat pada Tabel IV.1. Tabel IV.1 Analisis kesesuaian konsep. No. Makro Utama 1 Tiga dunia 2 Massa atom 3 Mol 4 Rumus kimia 5 Persamaan kimia Konsep Pustaka Pengertian tiga dunia - - Tinjauan tiga dunia - - Spektrometer massa - Massa atom relatif - Satuan massa atom - Massa atom rata-rata - Pengertian mol Massa molar - Mol sebagai jembatan kimia - - Bilangan Avogadro Mol unsur Mol senyawa Pengubahan jumlah atom mol - massa Massa rumus (massa molekul) Persen massa (komposisi) Rumus empiris Rumus molekul Pengertian persamaan kimia Penyetaraan persamaan kimia Hukum kekekalan massa

5 6 Stoikiometri reaksi 7 Stoikiometri larutan 8 Perhitungan Molekul vs mol - - Hasil teoritis dan persen hasil Pereaksi pembatas Analogi pereaksi pembatas - - Kemolaran - - Pengubahan mol - kemolaran - - Pengenceran larutan - - Kesetaraan stoikiometri - - Analisis unsur Berdasarkan tabel tersebut, maka pustaka 1 memuat 18 (delapan belas) konsep, pustaka 2 memuat 25 (dua puluh lima) konsep, sedangkan pustaka 3 memuat 19 (sembilan belas) konsep dari 29 konsep yang dirumuskan. Dengan demikian pustaka 2 memiliki konten yang lebih lengkap dibanding dengan kedua pustaka lainnya. Selain itu pada pustaka 2 terdapat satu pendekatan baru yang digunakan dalam menjelaskan konsep mol, yang merupakan konsep dominan dalam topik stoikiometri, yaitu pendekatan tentang tiga dunia dalam kimia. Pendekatan tentang tiga dunia cukup menarik untuk disampaikan, dan diharapkan dengan menggunakan pendekatan ini dapat meningkatkan wawasan pembaca tentang ilmu kimia. Ilmu kimia ini seringkali dipandang sebagai ilmu yang rumit, terutama oleh orang yang baru pertama kali belajar kimia. Kerumitan tersebut disebabkan oleh bahasa yang dipakai oleh para kimiawan tidak mudah dipahami. Hal ini terkait dengan adanya tiga dunia yang sangat berbeda di dalam ilmu kimia, yaitu dunia makroskopik (macroscopic), dunia atom (atomic), dan dunia lambang (symbolic). 17 Dunia makroskopik, atau disebut juga skala makroskopik, yaitu skala pengukuran dengan objek yang dapat dilihat oleh mata telanjang. Skala makroskopik ini di antaranya menyangkut sebagian besar alat dan bahan yang digunakan pada percobaan di laboratorium. Dunia atom menunjukkan implikasi percobaan tersebut dalam tingkatan atom atau molekul, yaitu tentang bagaimana karakteristik dan tingkah-laku dari atom-atom atau molekul yang terjadi selama percobaan berlangsung

6 Sedangkan dunia lambang merupakan bahasa yang seringkali digunakan oleh para kimiawan di mana zat-zat hanya dituliskan dalam lambang dan suatu proses kimia pun dituliskan dalam persamaan kimia yang terdiri dari lambang-lambang atau rumus zat. Penggunaan lambang ini bisa mewakili skala makroskopik maupun skala atom. Misalnya penulisan lambang H 2 O, lambang tersebut bisa mewakili air pada skala makroskopik yang merupakan zat cair bening tak berwarna sebagaimana sudah dikenal dalam kehidupan sehari-hari, bisa juga mewakili sebuah molekul pada dunia atom yang terdiri dari 2 buah atom hidrogen dan 1 buah atom oksigen. 17 Dalam pustaka 2, konsep mol dinyatakan sebagai jembatan kimia yang menghubungkan antara skala makroskopik dan skala atom. Contohnya skala makroskopik dinyatakan dalam gram suatu zat, sedangkan skala atom ditunjukkan oleh jumlah atom dalam gram zat yang diketahui. Konsep mol dapat menghubungkan kedua skala (dunia) tersebut. Berdasarkan 2 hal di atas, muatan konsep yang lebih lengkap dan adanya pendekatan baru dalam menjelaskan konsep mol yaitu tentang tiga dunia, maka struktur global dari pustaka 2 dipilih sebagai struktur global utama. IV.1.3 Struktur Makro Setelah dibuat rincian konsep lengkap dan dipilih struktur global dari pustaka 2 sebagai struktur global utama, maka pekerjaan berikutnya adalah membuat struktur makro yang akan dijadikan sebagai tautan utama dalam hiperteks. Struktur makro tersebut merupakan gabungan dari seluruh konsep dalam ketiga pustaka stoikiometri sebagaimana tercantum pada Tabel IV.1. Penyusunan struktur makro dilakukan dengan menguraikan struktur global utama ke dalam kelompok-kelompok konsep yang lebih spesifik tersebut. Penurunan struktur global dan struktur makro dilakukan dengan tetap memperhatikan keterpaduan antar konsep dan hubungan hierarkinya. Keterpaduan konsep 48

7 ditunjukkan dengan menyimpan konsep-konsep yang saling terkait secara langsung dalam satu makro, misalnya konsep tentang massa atom relatif, satuan massa atom, dan massa atom rata-rata disimpan dalam makro massa atom. Sedangkan hubungan hierarki antar konsep ditunjukkan dengan menyimpan konsep-konsep secara urut dari atas ke bawah, misalnya makro tentang mol unsur disimpan di sebelah atas dari makro tentang mol senyawa. Dengan demikian diharapkan struktur ilmu tetap terjaga, makro dan konsep yang disimpan di sebelah atas dapat menjadi dasar untuk menjelaskan konsep di bawahnya, dan konsep di bawah dapat menjelaskan konsep di bawahnya lagi. Untuk menghindari tampilan teks yang terlalu panjang dalam setiap simpul di dalam hiperteks, maka setiap konsep bisa ditampilkan dalam beberapa bagian, tetapi tetap dengan menjaga keutuhan konsep dan struktur teks. Struktur global dan makro yang dihasilkan terdiri dari 12 makro utama yaitu tiga dunia dalam kimia, massa atom, konsep mol, mol unsur, mol senyawa, persamaan kimia, stoikiometri reaksi, penentuan rumus senyawa, analisis unsur, pereaksi pembatas, hasil teoritis dan persen hasil, serta reaksi larutan. Masing-masing makro utama tersebut terdiri dari beberapa konsep/prinsip sehingga dihasilkan struktur makro sebagaimana diuraikan di bawah ini. STRUKTUR MAKRO STOIKIOMETRI 1. Tiga dunia dalam kimia (a) Tinjauan tiga dunia (b) Peranan dunia lambang 2. Massa atom (a) Massa atom relatif (b) Satuan massa atom (c) Massa atom rata-rata 3. Konsep Mol (a) Pengertian mol (b) Massa molar 49

8 (c) Mol sebagai jembatan kimia 4. Mol unsur (a) Bilangan Avogadro (b) Pengubahan jumlah atom massa (c) Pengubahan massa mol (d) Pengubahan mol massa jumlah atom 5. Mol senyawa (a) Rumus kimia (b) Perbandingan atom (c) Kesetaraan stoikiometri 6. Persamaan kimia (a) Hukum kekekalan massa (b) Pengertian persamaan kimia (c) Wujud zat (d) Tinjauan molekul vs mol (e) Penyetaraan persamaan kimia (f) Perbandingan mol dalam persamaan kimia 7. Stoikiometri reaksi (a) Tahap perhitungan (b) Stoikiometri dari Breathalyzer 8. Penentuan rumus senyawa (a) Rumus empiris (b) Rumus molekul 9. Analisis unsur 10. Pereaksi pembatas (a) Pemodelan pereaksi pembatas (b) Grafik pereaksi pembatas (c) Analogi mur dan baut 11. Hasil teoritis dan persen hasil 12. Reaksi larutan (a) Reaksi antar dua jenis larutan (b) Reaksi antara larutan dan bukan larutan 50

9 (c) Konsentrasi larutan (d) Pengenceran larutan (e) Stoikiometri dalam reaksi larutan Struktur global dan makro ini selanjutnya menjadi struktur awal dari hiperteks yang sekaligus berfungsi sebagai tautan utama atau menu. Untuk tetap mempertahankan keutuhan dan hierarki antar konsep, maka tampilannya dalam hiperteks dibuat dalam bentuk diagram pohon. IV.2 Representasi Teks Berdasarkan hasil penggabungan struktur makro dan struktur global dari ketiga pustaka stoikiometri dengan mengambil konsep-konsep yang bersesuaian, maka selanjutnya dibuat representasi teks untuk teks masukan ke dalam hiperteks. Representasi ini dibuat dengan cara mengembangkan struktur global dan struktur makro yang telah dihasilkan pada kajian sebelumnya. Pendekatan dan tahapan analisis yang secara keseluruhan didasarkan pada pekerjaan analisis teks diterapkan dengan memadukan pandangan menurut disiplin kebahasaan dan logika agar keutuhan dan hierarki konsep bisa tetap dipertahankan. Berikut ini representasi teks yang akan dibuat menjadi teks dasar (teks masukan) untuk hiperteks. REPRESENTASI TEKS STOIKIOMETRI 1. Tiga dunia dalam kimia (a) Pengertian tiga dunia Menjelaskan pengertian tiga dunia dalam kimia, yaitu dunia makroskopik, dunia atom, dan dunia lambang. (b) Tinjauan tiga dunia Memberi contoh tinjauan tiga dunia, misalnya air dapat ditinjau dalam dimensi yang berbeda menurut tiga dunia dalam kimia. (c) Peranan dunia lambang 51

10 Menjelaskan bahwa dunia lambang seringkali mewakili dunia makroskopik sekaligus dunia atom. 2. Massa atom (a) Massa atom relatif Mendefinisikan massa atom relatif berdasarkan prinsip kerja alat spektrometer massa menggunakan isotop atom karbon-12 sebagai standar. (b) Satuan massa atom Menjelaskan pengertian satuan massa atom (sma) sebagai suatu massa yang besarnya tepat sama dengan seperduabelas massa dari satu atom karbon-12. (c) Massa atom rata-rata Menjelaskan tentang massa atom rata-rata yang sering juga disebut berat atom, dan menunjukkan karakteristik dari nilai rata-rata. 3. Mol sebagai jembatan kimia (a) Pengertian mol Menjelaskan bahwa satu mol dari suatu zat mengandung jumlah partikel unsur yang sama dengan jumlah atom dalam 12,000 gram isotop C-12. (b) Massa molar Menjelaskan satu mol unsur apa saja memiliki massa dalam gram yang sama dengan berat atom unsur tersebut. (c) Jembatan kimia Menjelaskan konsep mol adalah konsep yang menjembatani massa suatu zat (skala makroskopik) dengan jumlah atom di dalamnya (skala atom). 4. Mol unsur (a) Bilangan Avogadro Menjelaskan tentang bilangan Avogadro dan bagaimana bilangan tersebut diperoleh. (b) Mol sebagai kumpulan atom Mendefinisikan mol unsur sebagai kumpulan atom dari unsur-unsur. (c) Pengubahan jumlah atom massa 52

11 Menjelaskan pemilihan faktor satuan yang tepat dalam pengubahan jumlah atom massa. 5. Pengubahan massa mol jumlah atom (a) Perhitungan Memberi contoh perhitungan yang menggunakan massa molar suatu unsur untuk pengubahan massa mol, dan bilangan Avogadro untuk pengubahan mol jumlah atom. (b) Latihan Memberi soal-soal latihan. 6. Rumus kimia Menjelaskan bahwa rumus kimia menunjukkan komposisi unsur-unsur penyusun senyawa berdasarkan angka subskrip. 7. Kesetaraan stoikiometri (a) Perbandingan atom Menjelaskan perbandingan mol atom dalam suatu senyawa selalu sama dengan perbandingan jumlah atom-atom tunggalnya. (b) Pengertian kesetaraan stoikiometri Menjelaskan kesetaraan stoikiometri dari dua jenis unsur dalam suatu rumus kimia, serta memberi contoh tentang kesetaraan stoikiometri. 8. Mol senyawa (a) Mol sebagai kumpulan molekul Menjelaskan mol senyawa sebagai kumpulan molekul. (b) Pengubahan mol massa jumlah molekul - jumlah atom Menjelaskan pengubahan mol massa senyawa menggunakan massa molar, pengubahan massa jumlah molekul menggunakan bilangan Avogadro, dan pengubahan jumlah molekul jumlah atom menggunakan rumus kimia. 9. Hukum kekekalan massa Menjelaskan bahwa materi tetap dipertahankan jumlah dan massanya dalam reaksi kimia. 10. Persamaan kimia (a) Pengertian persamaan kimia 53

12 Menjelaskan pengertian dan cara penulisan persamaan kimia. (b) Wujud zat Menginformasikan lambang-lambang yang digunakan untuk menyatakan wujud zat dalam reaksi kimia. 11. Tinjauan molekul vs mol Menjelaskan bahwa persamaan kimia seringkali ditinjau dari dua pemahaman yang berbeda, yaitu tinjauan molekul dan mol, tetapi keduanya tetap berpegang pada kesetaraan reaksi. 12. Penyetaraan persamaan kimia (a) Tips penyetaraan Menginformasikan tips penyetaraan persamaan kimia. (b) Tahap penyetaraan Memberi langkah-langkah umum dalam penyetaraan persamaan kimia. 13. Perbandingan mol dalam persamaan kimia (a) Hubungan mol antar zat Menjelaskan hubungan mol antar zat dalam reaksi kimia didasarkan pada koefisien reaksi. (b) Manfaat reaksi setara Menjelaskan manfaat reaksi setara untuk meramalkan jumlah zat yang diperlukan dalam suatu reaksi. 14. Stoikiometri reaksi (a) Tahap perhitungan Menjelaskan tahap-tahap umum dalam perhitungan stoikiometri reaksi. (b) Stoikiometri dari Breathalyzer Menjelaskan prinsip stoikiometri dalam alat Breathalyzer untuk menentukan kadar alkohol dalam darah. 15. Penentuan rumus senyawa (a) Rumus empiris Menjelaskan cara penentuan rumus empiris suatu senyawa berdasarkan persen komposisinya. (b) Rumus molekul 54

13 Menjelaskan cara penentuan rumus molekul suatu senyawa berdasarkan persen komposisi dan berat molekulnya. 16. Analisis unsur Contoh analisis cuplikan Menjelaskan analisis unsur dari cuplikan tertentu, umumnya senyawa karbon, berdasarkan reaksi pembakaran senyawa tersebut sehingga diperoleh persen komposisi dari unsur-unsurnya. 17. Pereaksi pembatas (a) Pemodelan pereaksi pembatas Menjelaskan konsep pereaksi pembatas menggunakan pemodelan gambar (alat peraga). (b) Grafik pereaksi pembatas Menjelaskan konsep pereaksi pembatas melalui grafik tentang jumlah zat-zat yang bereaksi. (c) Analogi mur dan baut Menjelaskan konsep pereaksi pembatas dengan analogi mur dan baut. 18. Hasil teoritis dan persen hasil Menjelaskan bahwa hasil sebenarnya dari suatu reaksi tidak selalu sama dengan hasil perhitungan stoikiometri. 19. Reaksi larutan (a) Reaksi antar dua jenis larutan Memberi contoh reaksi antara dua jenis larutan yang menghasilkan endapan. (b) Reaksi antara larutan dan bukan larutan Memberi contoh reaksi antara larutan dan bukan larutan yang menghasilkan gas. (c) Konsentrasi larutan Menjelaskan pengertian kemolaran sebagai pernyataan konsentrasi larutan. (d) Penentuan mol Menjelaskan penentuan mol zat yang diketahui kemolaran dan volumenya. 55

14 20. Pengenceran larutan Menjelaskan bahwa pada pengenceran larutan, jumlah zat terlarut tidak berubah. 21. Stoikiometri dalam reaksi larutan Memberi contoh perhitungan stoikiometri dalam reaksi larutan. Pada representasi teks di atas, struktur global dan struktur makro mengalami pengembangan dari 12 (dua belas) menjadi 21 (dua puluh satu) makro utama yang masing-masing terdiri dari beberapa konsep/prinsip. Pengembangan ini dilakukan untuk menghindari paparan informasi (data) yang terlalu banyak di setiap simpul yang akan dibuat pada tampilan hiperteks. Representasi teks ini kemudian dikembangkan dengan penambahan informasiinformasi pendukung, gambar-gambar, contoh soal dan latihan yang bersumber pada tiga pustaka stoikiometri terpilih menjadi teks dasar (teks masukan) untuk dibuat hiperteks. Teks dasar (teks masukan) tercantum pada bagian Lampiran 1. IV.3 Pengalihan Teks Menjadi Hiperteks Teks dasar (teks masukan) yang diperoleh dari representasi teks hasil analisis ketiga pustaka dialihkan dalam bentuk hiperteks. Pengalihan representasi tekstual menjadi hipertekstual secara mendasar berkenaan dengan pengalihan fungsi dari model representasi teks menjadi model representasi hiperteks. Karakteristik utama dari hiperteks adalah pengelolaan informasi (data) yang akan ditampilkan dalam suatu jaringan simpul yang terhubung satu sama lain oleh tautan. Pengalihan teks menjadi hiperteks dilakukan dengan menggunakan program exelearning dan Mozilla Firefox. Fasilitas idevice (instructional Device) yang digunakan antara lain tujuan, pengetahuan awal, teks bebas, aktivitas membaca, studi kasus, refleksi, dan pilihan ganda. Penggunaan idevice tersebut dilakukan untuk mendukung aspek interaktivitas hiperteks. 56

15 Tampilan menu idevice terletak pada layar komputer jendela kiri bagian bawah sebagaimana ditunjukkan pada Gambar IV.1, sedangkan di bagian atas dari jendela kiri terdapat menu struktur global dan struktur makro sebagai tautan utama. Gambar IV.1 Menu idevice Berdasarkan idevice yang tersedia, maka teks dasar (teks masukan) tentang topik stoikiometri diformat sedemikian rupa sehingga tampilannya lebih interaktif. Konten yang bersifat informasi umum ditampilkan dalam bentuk teks bebas seperti pada gambar IV.2. Pada gambar tersebut muncul informasi umum tentang pengertian massa atom relatif dan cara memperolehnya dengan menggunakan spektrometer massa, informasi tersebut ditampilkan dalam teks bebas pada jendela kanan saat diklik menu tentang massa atom relatif pada jendela kiri. 57

16 Gambar IV.2 Tampilan teks bebas. Contoh-contoh soal dan pembahasannya bisa ditampilkan dalam bentuk interaktif seperti pada Gambar IV.3. Permasalahan atau kasus dipaparkan pada layar komputer dan dapat langsung dibaca, sedangkan pembahasannya disembunyikan dulu untuk memberi kesempatan pada pembaca memikirkan penyelesaian tersebut. Pembahasan tersebut bisa dimunculkan dengan klik di sini yang terdapat di sebelah kiri bawah dari teks. 58

17 Gambar IV.3 Tampilan contoh soal. Soal-soal latihan yang ditampilkan dalam bentuk pilihan ganda terlihat pada Gambar IV.4. Pada latihan tersebut disediakan petunjuk pengerjaan soal yang bisa dimunculkan saat diklik ikon untuk petunjuk (hint) yang terletak di sebelah atas dari pilihan jawaban (option). Di depan masing-masing pilihan jawaban ada ikon berupa lingkaran yang dapat diklik oleh pembaca sesuai dengan jawaban yang dipilih. Jika jawaban salah maka akan muncul komentar tentang jawaban salah di bagian bawahnya, dan jika jawaban yang dipilih benar maka akan muncul komentar tentang jawaban benar dilengkapi dengan uraian pembahasan. 59

18 Gambar IV.4 Tampilan soal latihan pilihan ganda. Demikianlah teks dasar (teks masukan) dialihkan ke dalam tampilan hiperteks. Tampilan dua jendela dimaksudkan untuk memperlihatkan struktur keilmuan dan struktur teks dari setiap konsep. Jendela kiri yang berisi struktur global dan struktur makro merupakan dasar (menu utama) untuk navigasi hiperteks. Pada jendela kiri, pembaca dapat menentukan di mana posisinya dan memperkirakan ke mana akan bergerak mulai dari konsep paling global sampai ke konsep paling spesifik. Dalam hal ini, struktur global dan struktur makro mewadahi kepentingan scanning dari pembaca. Konsep-konsep pada struktur global dan struktur makro berfungsi sebagai tautan utama yang jika diklik maka akan memunculkan teks dari konsep yang bersangkutan pada jendela kanan. Di dalam teks itu sendiri, ada bagian-bagian yang masih bisa diklik untuk mendapatkan penjelasan lebih jauh. Dalam hal ini, tautan dalam struktur makro mewadahi kepentingan browsing dari pembaca, sedangkan tautan di dalam teks mewadahi kepentingan querying. 60

19 IV.4 Peranan Hiperteks dalam Membangun Pengetahuan Salah satu sifat utama dari hiperteks yang dianggap menguntungkan adalah kemampuannya untuk menampung sejumlah besar informasi. Tetapi bagaimana menampilkan informasi yang dapat meningkatkan pemahaman pembaca terhadap materi bergantung pada kemampuan penulis hiperteks. Untuk penulisan hiperteks, selain perlu pemahaman konsep dalam materi terkait, juga dibutuhkan pengetahuan tentang cara penulisan. Di satu sisi materi harus tampil utuh dan terpadu, sementara di sisi lain tampilan dibatasi oleh luas layar komputer. Dengan demikian maka dalam mendesain hiperteks, harus dijaga struktur hierarki dari konsep-konsep dan tampilan per layar harus memenuhi syarat keutuhan dan keterpaduan. Terdapat perbedaan penting dalam penerapan kriteria keterpaduan antara teks sekuensial dengan hiperteks yaitu dalam konteks bagaimana pembaca membangun representasi mental waktu membaca. Pada penulisan teks sekuensial, penulis lebih mengutamakan keterpaduan dalam teks yang dihasilkan (produk). Sedangkan pada penulisan hiperteks, harus diperhatikan juga keterpaduan dalam cara (proses) membangun pengetahuan itu sendiri. Prinsip keterpaduan dalam hiperteks diwadahi oleh fungsi struktur global dan struktur makro serta aturan navigasinya. Untuk menangani permasalahan mendasar yang muncul dari sifat nonsekuensial hiperteks, yaitu permasalahan tentang disorientasi dalam navigasi, maka halaman jaringan perlu dilengkapi dengan fasilitas antar-muka bagi pembaca. Antar-muka ini, seperti telah dibahas sebelumnya, adalah hasil penerapan model representasi teks terhadap topik tertentu dengan memperhatikan level-level dari setiap simpul sebagai peta navigasi. Model tersebut diharapkan dapat memperkecil masalah disorientasi karena pembaca bisa tetap mengetahui kedudukan navigasinya dan keterpaduan antar konsep di dalamnya. 61

20 Agar strategi membaca dapat membantu pembaca dalam membangun pengetahuan, maka tampilan hiperteks harus mudah diakses oleh pembaca. Pengertian mudah diakses di sini menyangkut kategori pemahaman pembaca yang menggambarkan partisipasinya dalam membangun pengetahuan melalui hiperteks. Kategori tersebut meliputi intelligible (dipahami karena konsep-konsep dilihat terpadu dan mempunyai konsistensi internal), plausible (dipahami karena sesuai dengan dasar pengetahuan yang sudah dimiliki), fruitful (bernilai lebih dari yang sudah dipahami karena memberi penjelasan yang bermanfaat). Mekanisme dari keseluruhan interaksi dimulai dengan menginformasikan konsep (informing), jika yang menjadi target adalah konten dan respon yang diharapkan adalah intelligible. Fungsi kognitif tersebut dipilih untuk memperkenalkan topik baru dengan pembaca bertugas hanya menyimak tanpa memfungsikan keterampilan intelektualnya. Dalam hal ini umumnya digunakan idevice dalam bentuk teks bebas. Jika konten sudah dianggap memadai untuk suatu topik, maka beralih pada fungsi untuk menggali konsep (eliciting) agar konsep yang sudah ada dapat dibangun menjadi pengetahuan. Pada tahap ini, penggunaan hiperteks diharapkan dapat memenuhi kondisi plausible. Untuk itu, tampilan hiperteks dilengkapi dengan contoh soal dan pembahasannya atau studi kasus dan aktivitas membaca. Kemudian untuk memantapkan bangunan pengetahuan yang terbentuk maka hiperteks beralih pada fungsi mengarahkan konsep (directing) melalui tahap-tahap penyelesaian masalah secara luas maupun permasalahan dalam kehidupan seharihari. Fungsi ini ditampilkan lewat soal-soal latihan. Dalam hal ini diharapkan tercapai kondisi fruitful. Dengan cara demikian, hiperteks diharapkan dapat membantu pembaca dalam membangun pengetahuan. 62

Metodologi Penelitian

Metodologi Penelitian Bab III Metodologi Penelitian III.1 Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang dikendalikan oleh analisis teks. Metode deskriptif adalah suatu metode penelitian

Lebih terperinci

Tinjauan Pustaka. II.1 Stoikiometri dan Karakteristiknya

Tinjauan Pustaka. II.1 Stoikiometri dan Karakteristiknya Bab II Tinjauan Pustaka II.1 Stoikiometri dan Karakteristiknya Pertanyaan yang mengawali gagasan penelitian ini adalah, Apa itu stoikiometri dan mengapa penting? Pertanyaan lainnya muncul berdasarkan pengalaman

Lebih terperinci

I.1 Latar Belakang Masalah

I.1 Latar Belakang Masalah Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Masalah Topik stoikiometri terdiri dari konsep-konsep, prinsip, aturan, dan hukum dasar kimia yang cukup penting dan mendasar untuk mendukung pemahaman konsepkonsep

Lebih terperinci

Stoikiometri. Bab 3. Massa atom merupakan massa dari atom dalam satuan massa atom (sma). Secara Mikro atom & molekul.

Stoikiometri. Bab 3. Massa atom merupakan massa dari atom dalam satuan massa atom (sma). Secara Mikro atom & molekul. Bab 3 Stoikiometri Secara Mikro atom & molekul Secara Makro gram Massa atom merupakan massa dari atom dalam satuan massa atom (sma). Perjanjian internasional: 1 atom 12 C beratnya 12 sma Jika ditimbang

Lebih terperinci

Massa atom merupakan massa dari atom dalam satuan massa atom (sma).

Massa atom merupakan massa dari atom dalam satuan massa atom (sma). Bab 3 Stoikiometri Secara Mikro atom & molekul Secara Makro gram Massa atom merupakan massa dari atom dalam satuan massa atom (sma). Perjanjian internasional: 1 atom 12 C beratnya 12 sma Jika ditimbang

Lebih terperinci

STOIKIOMETRI Konsep mol

STOIKIOMETRI Konsep mol STOIKIOMETRI Konsep mol Dalam hukum-hukum dasar materi ditegaskan bahwa senyawa terbentuk dari unsur bukan dengan perbandingan sembarang tetapi dalam jumlah yang spesifik, demikian juga reaksi kimia antara

Lebih terperinci

6.1 HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA

6.1 HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA 6.1 HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA 1. Hukum kekekalan massa oleh Antoine Laurent Lavoiser (1789). Lavoiser mengemukakan pernyataan yang disebut hukum kekekalan massa, yang berbunyi : Pada reaksi kimia, massa

Lebih terperinci

BAB III HASIL PENELITIAN

BAB III HASIL PENELITIAN BAB III HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Buku Teks Kimia SMA Kelas X 1. Identitas Buku Teks Kimia SMA Kelas X Buku yang menjadi obyek penelitian peneliti adalah buku teks kimia SMA kelas X jilid 1 materi

Lebih terperinci

Konsep Mol. 1. Jumlah Partikel Dalam 1 Mol Zat

Konsep Mol. 1. Jumlah Partikel Dalam 1 Mol Zat Konsep Mol Setiap zat yang ada di alam tersusun atas partikel-partikel bentuk atom, molekul, dan ion. Ukuran dan massa partikel-partikel zat tersebut sangat kecil sehingga kita kesulitan untuk mengukurnya.

Lebih terperinci

KIMIA TERAPAN STOIKIOMETRI DAN HUKUM-HUKUM KIMIA Haris Puspito Buwono

KIMIA TERAPAN STOIKIOMETRI DAN HUKUM-HUKUM KIMIA Haris Puspito Buwono KIMIA TERAPAN STOIKIOMETRI DAN HUKUM-HUKUM KIMIA Haris Puspito Buwono Semester Gasal 2012/2013 STOIKIOMETRI 2 STOIKIOMETRI adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari hubungan kuantitatif dari komposisi

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN Bab ini peneliti menganalisis hasil penelitian, yaitu isi buku Teks Kimia SMA Kelas X jilid 1 Materi Pokok Stoikiometri karangan Unggul Sudarmo yang diterbitkan oleh Erlangga

Lebih terperinci

Konsep Mol : Menghubungkan Dunia Makroskopik dan Dunia Molekular

Konsep Mol : Menghubungkan Dunia Makroskopik dan Dunia Molekular Konsep Mol : Menghubungkan Dunia Makroskopik dan Dunia Molekular 1 Secara Mikro atom & molekul Secara Makro gram Massa atom merupakan massa dari atom dalam satuan massa atom (sma). Perjanjian internasional:

Lebih terperinci

Abdul Wahid Surhim 2014

Abdul Wahid Surhim 2014 Abdul Wahid Surhim 2014 Kerangka Pembelajaran Persamaan Kimia Pola Reaktivitas Kimia Berat Atom dan Molekul Mol Rumus Empirik dari Analisis Informasi Kuantitatif dari Persamaan yang Disetarakan Membatasi

Lebih terperinci

WEEK 3, 4 & 5 Bag 3:STOIKIOMETRI. Joko Sedyono Benyamin

WEEK 3, 4 & 5 Bag 3:STOIKIOMETRI. Joko Sedyono Benyamin WEEK 3, 4 & 5 Bag 3:STOIKIOMETRI Joko Sedyono Benyamin 1 Diskripsi Stoikiometri adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari hubungan kuantitatif/jumlah zat yang terlibat dalam reaksi kimia. Kata ini berasal

Lebih terperinci

STOIKIOMETRI. Massa molekul relatif suatu zat sama dengan jumlah massa atom relatif atomatom penyusun molekul zat tersebut.

STOIKIOMETRI. Massa molekul relatif suatu zat sama dengan jumlah massa atom relatif atomatom penyusun molekul zat tersebut. STOIKIOMETRI Istilah STOIKIOMETRI berasal dari kata-kata Yunani yaitu Stoicheion (partikel) dan metron (pengukuran). STOIKIOMETRI akhirnya mengacu kepada cara perhitungan dan pengukuran zat serta campuran

Lebih terperinci

Materi Pokok Bahasan :

Materi Pokok Bahasan : STOIKIOMETRI Kompetensi : Memiliki kemampuan untuk menginterpretasikan serta menerapkan dalam perhitungan kimia. Memiliki kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan yang dimilikinya dan terbiasa menggunakan

Lebih terperinci

LOGO STOIKIOMETRI. Marselinus Laga Nur

LOGO STOIKIOMETRI. Marselinus Laga Nur LOGO STOIKIOMETRI Marselinus Laga Nur Materi Pokok Bahasan : A. Konsep Mol B. Penentuan Rumus Kimia C. Koefisien Reaksi D. Hukum-hukum Gas A. Konsep Mol Pengertian konsep mol Hubungan mol dengan jumlah

Lebih terperinci

BAB V PERHITUNGAN KIMIA

BAB V PERHITUNGAN KIMIA BAB V PERHITUNGAN KIMIA KOMPETENSI DASAR 2.3 : Menerapkan hukum Gay Lussac dan hukum Avogadro serta konsep mol dalam menyelesaikan perhitungan kimia (stoikiometri ) Indikator : 1. Siswa dapat menghitung

Lebih terperinci

Massa atom merupakan massa dari atom dalam satuan massa atom (sma).

Massa atom merupakan massa dari atom dalam satuan massa atom (sma). Bab 3 1. Apakah yang dimaksud dengan Ar dan Mr? 2. Apakah yang dimaksud dengan mol? 3. Bagaimana cara mencari mol jika diketahui massa zat, volume (dalam STP), dan jumah molekul/partikelnya? 4. Berapa

Lebih terperinci

BAB 4 TEMUAN DAN PEMBAHASAN. merumuskan indikator dan konsep pada submateri pokok kenaikan titik didih

BAB 4 TEMUAN DAN PEMBAHASAN. merumuskan indikator dan konsep pada submateri pokok kenaikan titik didih BAB 4 TEMUAN DAN PEMBAHASAN Secara garis besar, penelitian ini dibagi menjadi tiga tahap yaitu merumuskan indikator dan konsep pada submateri pokok kenaikan titik didih larutan setelah menganalisis standar

Lebih terperinci

Rumus Kimia. Mol unsur =

Rumus Kimia. Mol unsur = Rumus Kimia Menentukan Rumus Kimia Zat Rumus kimia zat dapat dibedakan menjadi rumus empiris dan rumus molekul. Rumus empiris dapat ditentukan dengan menghitung mol komponen penyusun zat dengan menggunakan

Lebih terperinci

kimia Kelas X KONSEP MOL I K-13 A. Persamaan Reaksi

kimia Kelas X KONSEP MOL I K-13 A. Persamaan Reaksi K-13 Kelas X kimia KNSEP ML I Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan berikut. 1. Memahami persamaan reaksi kimia dan komponen-komponennya. 2. Memahami cara

Lebih terperinci

No. Dokumen : FTK-FR-AKD-001 FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN Tgl. Terbit : 02 September SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG Hal : 1/2 SILABUS

No. Dokumen : FTK-FR-AKD-001 FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN Tgl. Terbit : 02 September SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG Hal : 1/2 SILABUS SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG Hal : 1/2 SILABUS Jurusan/Program Studi : MIPA/Pendidikan Mata Kuliah/Kode : Stoikiometri Mata Kuliah Prasyarat : Dasar I dan II Tahun Akademik/Semester : 2013-2014/III Jenjang/Bobot

Lebih terperinci

LOGO. Stoikiometri. Tim Dosen Pengampu MK. Kimia Dasar

LOGO. Stoikiometri. Tim Dosen Pengampu MK. Kimia Dasar LOGO Stoikiometri Tim Dosen Pengampu MK. Kimia Dasar Konsep Mol Satuan jumlah zat dalam ilmu kimia disebut mol. 1 mol zat mengandung jumlah partikel yang sama dengan jumlah partikel dalam 12 gram C 12,

Lebih terperinci

larutan yang lebih pekat, hukum konservasi massa, hukum perbandingan tetap, hukum perbandingan berganda, hukum perbandingan volume dan teori

larutan yang lebih pekat, hukum konservasi massa, hukum perbandingan tetap, hukum perbandingan berganda, hukum perbandingan volume dan teori i M Tinjauan Mata Kuliah ata kuliah Kimia Dasar 1 yang diberi kode PEKI 4101 mempunyai bobot 3 SKS yang terdiri dari 9 modul. Dalam mata kuliah ini dibahas tentang dasar-dasar ilmu kimia, atom, molekul

Lebih terperinci

A. HUKUM PERBANDINGAN VOLUM DAN HIPOTESIS AVOGADRO*

A. HUKUM PERBANDINGAN VOLUM DAN HIPOTESIS AVOGADRO* Di muka kita telah membahas tentang jenis perubahan materi. Bagian dari Kimia yang membahas hubungan kuantitatif (jumlah) antara zat-zat yang terlibat dalam suatu perubahan kimia atau reaksi kimia dikenal

Lebih terperinci

STOIKIOMETRI. STOIKIOMETRI adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari hubungan kuantitatif dari komposisi zat-zat kimia dan reaksi-reaksinya.

STOIKIOMETRI. STOIKIOMETRI adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari hubungan kuantitatif dari komposisi zat-zat kimia dan reaksi-reaksinya. STOIKIOMETRI STOIKIOMETRI adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari hubungan kuantitatif dari komposisi zat-zat kimia dan reaksi-reaksinya. 1.HUKUM KEKEKALAN MASSA = HUKUM LAVOISIER "Massa zat-zat sebelum

Lebih terperinci

1. Hukum Lavoisier 2. Hukum Proust 3. Hukum Dalton 4. Hukum Gay Lussac & Hipotesis Avogadro

1. Hukum Lavoisier 2. Hukum Proust 3. Hukum Dalton 4. Hukum Gay Lussac & Hipotesis Avogadro - - 1. Hukum Lavoisier 2. Hukum Proust 3. Hukum Dalton 4. Hukum Gay Lussac & Hipotesis Avogadro 1. Hukum Lavoisier (Hukum Kekekalan Massa) : Dalam sistem tertutup, massa zat sebelum dan sesudah reaksi

Lebih terperinci

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA BAHAN AJAR KIMIA DASAR BAB IV STOIKIOMETRI

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA BAHAN AJAR KIMIA DASAR BAB IV STOIKIOMETRI No. BAK/TBB/SBG201 Revisi : 00 Tgl. 01 Mei 2008 Hal 1 dari 6 BAB IV STOIKIOMETRI A. HUKUM GAY LUSSAC Bila diukur pada suhu dan tekanan yang sama, volum gas yang bereaksi dan volum gas hasil reaksi berbanding

Lebih terperinci

Tugas Kimia STOIKIOMETRI

Tugas Kimia STOIKIOMETRI Tugas Kimia STOIKIOMETRI NAMA ANGGOTA : 1. Nyoman Dharma Triyasa (10) 2. Komang Jnana Shindu Putra (17) 3. I.G.A Dharsasasmitha Yani (19) 4. Ni Putu Riska Valentini (25) 5. Putu Ayu Rosita Octaviani (26)

Lebih terperinci

BAB I STOIKHIOMETRI I - 1

BAB I STOIKHIOMETRI I - 1 BAB I STOIKHIOMETRI 1.1 PENDAHULUAN Setiap zat, unsur, senyawa dalam kimia mempunyai nama dan rumus uniknya sendiri. Cara tersingkat untuk memerikan suatu reaksi kimia adalah dengan menuliskan rumus untuk

Lebih terperinci

Hukum Dasar Kimia Dan Konsep Mol

Hukum Dasar Kimia Dan Konsep Mol A. PENDAHULUAN Hukum Dasar Kimia Dan Konsep Mol Hukum dasar kimia merupakan hukum dasar yang digunakan dalam stoikiometri (perhitungan kimia), antara lain: 1) Hukum Lavoisier atau hukum kekekalan massa.

Lebih terperinci

HUKUM DASAR KIMIA DAN STOIKIOMETRI

HUKUM DASAR KIMIA DAN STOIKIOMETRI HUKUM DASAR KIMIA DAN STOIKIOMETRI Bagaimana cara untuk mengukur jumlah suatu senyawa yang terkandung dalam suatu material? Ini merupakan pertanyaan dasar yang telah dijawab oleh para kimiawan terdahulu.

Lebih terperinci

Stoikiometri. Berasal dari kata Stoicheion (partikel) dan metron (pengukuran). Cara perhitungan dan pengukuran zat serta campuran kimia.

Stoikiometri. Berasal dari kata Stoicheion (partikel) dan metron (pengukuran). Cara perhitungan dan pengukuran zat serta campuran kimia. Stoikiometri Berasal dari kata Stoicheion (partikel) dan metron (pengukuran). Cara perhitungan dan pengukuran zat serta campuran kimia. Bilangan Avogadro Stoikometri: pengukuran kuantitatif sehingga perlu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Karakteristik Ilmu Kimia Kimia merupakan ilmu yang termasuk rumpun IPA, oleh karenanya kimia mempunyai karakteristik sama dengan IPA. Karakteristik tersebut adalah objek ilmu

Lebih terperinci

Bab IV Hukum Dasar Kimia

Bab IV Hukum Dasar Kimia Bab IV Hukum Dasar Kimia Sumber: Silberberg, Chemistry :The Molecular Nature of Matter and Change Kalsium karbonat ditemukan pada beberapa bentuk seperti pualam, batu koral, dan kapur. Persen massa unsur-unsur

Lebih terperinci

SILABUS. Agustien Zulaidah,ST,MT. Kompetensi Dasar Indikator Materi Pokok & Sub Materi pokok. Alokasi Waktu pengalaman belajar

SILABUS. Agustien Zulaidah,ST,MT. Kompetensi Dasar Indikator Materi Pokok & Sub Materi pokok. Alokasi Waktu pengalaman belajar SILABUS Mata Kuliah : Azas Rekayasa Proses Kode mata Kuliah / SKS : MTK 113 / 2 ( Dua ) Semester : II ( Dua ) Deskripsi Mata Kuliah : Mata kuliah Azas Rekayasa Proses ini mata kuliah yang membahas tentang

Lebih terperinci

Hubungan koefisien dalam persamaan reaksi dengan hitungan

Hubungan koefisien dalam persamaan reaksi dengan hitungan STOIKIOMETRI Pengertian Stoikiometri adalah ilmu yang mempelajari dan menghitung hubungan kuantitatif dari reaktan dan produk dalam reaksi kimia (persamaan kimia) Stoikiometri adalah hitungan kimia Hubungan

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI PEMAHAMAN MATERI PERHITUNGAN KIMIA (STOIKIOMETRI) PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 10 MALANG SEMESTER II TAHUN AJARAN 2012/2013

IDENTIFIKASI PEMAHAMAN MATERI PERHITUNGAN KIMIA (STOIKIOMETRI) PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 10 MALANG SEMESTER II TAHUN AJARAN 2012/2013 IDENTIFIKASI PEMAHAMAN MATERI PERHITUNGAN KIMIA (STOIKIOMETRI) PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 10 MALANG SEMESTER II TAHUN AJARAN 2012/2013 Dwi Fajar Yanti, Dermawan Afandy, Muhammad Su aidy Universitas

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA. 5. Ault, A., (2006), Mole City: A Stoichiometry Analogy, J. Chem. Educ., Vol.83, No. 11, pp. 1587, Online:

DAFTAR PUSTAKA. 5. Ault, A., (2006), Mole City: A Stoichiometry Analogy, J. Chem. Educ., Vol.83, No. 11, pp. 1587, Online: DAFTAR PUSTAKA 1. Sanger, M.J., (2005), Evaluating Students Conceptual Understanding of Balance Equations and Stoichiometric Ratios Using a Particulate Drawing, J. Chem. Educ., Vol.82, No.1, pp.131-134,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 30 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian ini bersifat deskriptif, dimana dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran tentang fenomena-fenomena yang berlangsung

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH KIMIA DASAR (KD) KODE / SKS : KD / 3 SKS

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH KIMIA DASAR (KD) KODE / SKS : KD / 3 SKS 1 1 Pada akhir pokok bahasan ini mahasiswa diharapkan dapat : 1 Memahami pengertian materi, penggolongannya dan hal-hal yang menyangkut materi dan perubahannya sebagai dasar dalam mempelajari kimia Setelah

Lebih terperinci

KIMIA DASAR JOKO SEDYONO TEKNIK MESIN UMS 2015

KIMIA DASAR JOKO SEDYONO TEKNIK MESIN UMS 2015 1 KIMIA DASAR JOKO SEDYONO TEKNIK MESIN UMS 2015 2 Kimia Dasar Lecturer : Joko Sedyono Phone : 08232 798 6060 Email : [email protected] References : 1. Change, Raymond, 2004, Kimia Dasar, Edisi III,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 5 Karawang tahun ajaran 2014-2015. Lokasi penelitian dipilih berdasarkan

Lebih terperinci

KONSEP MOL DAN STOIKIOMETRI

KONSEP MOL DAN STOIKIOMETRI BAB V KONSEP MOL DAN STOIKIOMETRI Dalam ilmu fisika, dikenal satuan mol untuk besaran jumlah zat. Dalam bab ini, akan dibahas mengenai konsep mol yang mendasari perhitungan kimia (stoikiometri). A. KONSEP

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai bagian dari ilmu sains, kimia merupakan salah satu mata pelajaran

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai bagian dari ilmu sains, kimia merupakan salah satu mata pelajaran BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai bagian dari ilmu sains, kimia merupakan salah satu mata pelajaran yang di anggap sulit, hal ini menyebabkan sebagian besar siswa kurang berminat untuk mempelajari

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Stoikiometri kimia merupakan suatu materi pelajaran kimia yang menekankan pada segi kuantitatif analisis kimia. Materi stoikiometri kimia di SMA berdasarkan silabus kimia KTSP

Lebih terperinci

HUKUM DASAR KIMIA. 2CUO. 28GRAM NITROGEN 52 GRAM MAGNESIUM NITRIDA 3 MG + N 2 MG 3 N 2

HUKUM DASAR KIMIA. 2CUO. 28GRAM NITROGEN 52 GRAM MAGNESIUM NITRIDA 3 MG + N 2 MG 3 N 2 HUKUM DASAR KIMIA. 2CUO. 28GRAM NITROGEN 52 GRAM MAGNESIUM NITRIDA 3 MG + N 2 MG 3 N 2 HUKUM DASAR KIMIA 1) Hukum Kekekalan Massa ( Hukum Lavoisier ). Yaitu : Dalam sistem tertutup, massa zat sebelum

Lebih terperinci

MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN ILMU KIMIA

MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN ILMU KIMIA SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN ILMU KIMIA BAB II HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA, STOIKIOMETRI Prof. Dr. Sudarmin, M.Si Dra. Woro Sumarni, M.Si Cepi Kurniawan, M.Si, Ph.D KEMENTERIAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Ilmu kimia merupakan salah satu cabang ilmu sains yang memiliki kedudukan

BAB I PENDAHULUAN. Ilmu kimia merupakan salah satu cabang ilmu sains yang memiliki kedudukan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu kimia merupakan salah satu cabang ilmu sains yang memiliki kedudukan sangat penting terutama dalam menumbuhkembangkan kemampuan menjelaskan secara mikro

Lebih terperinci

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR. UCAPAN TERIMA KASIH... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN. 1.1 Latar Belakang Rumusan Masalah 4

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR. UCAPAN TERIMA KASIH... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN. 1.1 Latar Belakang Rumusan Masalah 4 DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK KATA PENGANTAR. UCAPAN TERIMA KASIH... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN i ii iii v viii x xii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. 1 1.2 Rumusan Masalah

Lebih terperinci

Stoikhiometri : dan metron = mengukur. Membahas tentang : senyawa) senyawa (stoikhiometri. (stoikhiometri. reaksi)

Stoikhiometri : dan metron = mengukur. Membahas tentang : senyawa) senyawa (stoikhiometri. (stoikhiometri. reaksi) STOIKHIOMETRI Stoikhiometri : Dari kata Stoicheion = unsur dan metron = mengukur Membahas tentang : hub massa antar unsur dalam suatu senyawa (stoikhiometri senyawa) dan antar zat dalam suatu reaksi (stoikhiometri

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Bangko, sepetember Penyusun

KATA PENGANTAR. Bangko, sepetember Penyusun KATA PENGANTAR Puji syukur kami ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-nya lah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini sebagai salah satu tugas dari mata kuliah Kimia Dasar. Makalah

Lebih terperinci

STOIKIOMETRI. Purwanti Widhy H, M.Pd

STOIKIOMETRI. Purwanti Widhy H, M.Pd STOIKIOMETRI Purwanti Widhy H, M.Pd [email protected] Menentukan jumlah partikel dan jumlah mol Jumlah molx(n) = jumlah partikelx L 1 mol = L partikel L= bilangan avogadro (6.02 x 10 23 /mol)

Lebih terperinci

STOIKIOMETRI _KIMIA INDUSTRI_ DEWI HARDININGTYAS, ST, MT, MBA WIDHA KUSUMA NINGDYAH, ST, MT AGUSTINA EUNIKE, ST, MT, MBA

STOIKIOMETRI _KIMIA INDUSTRI_ DEWI HARDININGTYAS, ST, MT, MBA WIDHA KUSUMA NINGDYAH, ST, MT AGUSTINA EUNIKE, ST, MT, MBA STOIKIOMETRI _KIMIA INDUSTRI_ DEWI HARDININGTYAS, ST, MT, MBA WIDHA KUSUMA NINGDYAH, ST, MT AGUSTINA EUNIKE, ST, MT, MBA 1. Hukum-Hukum Dasar 2. Persamaan Gas Ideal 3. Persamaan Kimia 4. Yield STOIKIOMETRI

Lebih terperinci

MODUL STOIKIOMETRI 1

MODUL STOIKIOMETRI 1 MODUL STOIKIOMETRI 1 1. Pengertian Mol Mol merupakan suatu satuan jumlah, yang berasal dari kata moles yang artinya sejumlah massa / sejumlah kecil massa, hampir sama dengan lusin. 1 mol = 6,02 X 10 23

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. kelompok mahasiswa dalam menyelesaikan soal-soal stoikiometri.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. kelompok mahasiswa dalam menyelesaikan soal-soal stoikiometri. 4.1 Deskripsi Hasil Penelitian BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1.1 Cara Mahasiswa Menyelesaikan Soal-Soal Stoikiometri Cara mahasiswa menyelesaikan soal stoikiometri dianalisis berdasarkan respon

Lebih terperinci

PENDAHULUAN KIMIA TEKNIK. Ramadoni Syahputra

PENDAHULUAN KIMIA TEKNIK. Ramadoni Syahputra PENDAHULUAN KIMIA TEKNIK Ramadoni Syahputra 1. PENDAHULUAN 1.1 UMUM Ilmu kimia sangat berkaitan dengan bidang ilmu-ilmu teknik khususnya teknik elektro. Telah kita ketahui bersama bahwa gejala aliran elektron

Lebih terperinci

KIMIA DASAR I. Dosen : Robby Noor Cahyono, M.Sc.

KIMIA DASAR I. Dosen : Robby Noor Cahyono, M.Sc. KIMIA DASAR I Dosen : Robby Noor Cahyono, M.Sc. PENDAHULUAN Kuliah KIMIA DASAR I SKS (kredit) : 3 sks Status : Wajib Tujuan Pembelajaran Mahasiswa dapat memahami dasar-dasar teori ilmu kimia dan reaksi-reaksi

Lebih terperinci

Tabel Hasil Analisis Kebenaran Konsep pada Objek Penelitian

Tabel Hasil Analisis Kebenaran Konsep pada Objek Penelitian 202 Lampiran B Label Pengertian stoikiometri Pengertian massa atom Perhitungan massa atom Tabel Hasil Analisis pada Objek Penelitian Penjelasan pada Stoikiometri berasal dari bahasa Yunani (stoicheion,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kimia merupakan suatu disiplin ilmu yang mempelajari mengenai materi,

BAB I PENDAHULUAN. Kimia merupakan suatu disiplin ilmu yang mempelajari mengenai materi, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kimia merupakan suatu disiplin ilmu yang mempelajari mengenai materi, sifat materi, perubahan materi dan energi yang menyertai perubahan materi tersebut. Pelajaran kimia

Lebih terperinci

KONSEP MOL DAN STOIKIOMETRI

KONSEP MOL DAN STOIKIOMETRI KONSEP MOL DAN STOIKIOMETRI HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA 1. Asas Lavoiser atau kekekalan massa jumlah sebelum dan setelah reaksi kimia adalah tetap 2. Hukum Gas Ideal P V = nrt Dengan P adalah tekanan (atm),

Lebih terperinci

Reaksi kimia. Lambang-lambang yang digunakan dalam persamaan reaksi, antara lain:

Reaksi kimia. Lambang-lambang yang digunakan dalam persamaan reaksi, antara lain: Reaksi kimia Reaksi kimia A Persamaan Reaksi Persamaan reaksi menggambarkan reaksi kimia yang terdiri atas rumus kimia pereaksi dan hasil reaksi disertai koefisien masing-masing. Pada reaksi kimia, satu

Lebih terperinci

Stoikiometri. OLEH Lie Miah

Stoikiometri. OLEH Lie Miah Stoikiometri OLEH Lie Miah 1 STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR INDIKATOR KARAKTERISTIK MATERI KESULITAN BELAJAR SISWA STANDAR KOMPETENSI Memahami hukum-hukum dasar Kimia dan penerapannya dalam perhitungan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Data-data yang telah dikumpulkan dapat dikaji lebih lanjut untuk dilihat

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Data-data yang telah dikumpulkan dapat dikaji lebih lanjut untuk dilihat 32 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian Data-data yang telah dikumpulkan dapat dikaji lebih lanjut untuk dilihat bagaimana komposisi soal berdasarkan domain kognitif Taksonomi Bloom

Lebih terperinci

STOKIOMETRI. Kimia Kelas X

STOKIOMETRI. Kimia Kelas X STOKIOMETRI Kimia Kelas X SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 12 SURABAYA 2015 STOKIOMETRI STOKIOMETRI Pada materi stokiometri, kita akan mempelajari beberapa hal seperti persamaan reaksi, hukum-hukum dasar kimia,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pepy Susanty, 2014

BAB I PENDAHULUAN. Pepy Susanty, 2014 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Concise Dictionary of Science & Computers mendefinisikan kimia sebagai cabang dari ilmu pengetahuan alam (IPA), yang berkenaan dengan kajian-kajian tentang struktur

Lebih terperinci

STOIKIOMETRI LARUTAN. Andian Ari Anggraeni, M.Sc

STOIKIOMETRI LARUTAN. Andian Ari Anggraeni, M.Sc STOIKIOMETRI LARUTAN Andian Ari Anggraeni, M.Sc A.1. MASSA ATOM RELATIF (A r ) DAN MASSA MOLEKUL RELATIF (M r ) Dari percobaan diketahui bahwa perbandingan massa hidrogen dan oksigen dalam air adalah 1

Lebih terperinci

SILABUS. Alokasi Sumber/ Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian

SILABUS. Alokasi Sumber/ Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian SILABUS Nama Sekolah : SMA Mata Pelajaran : KIMIA Kelas/Semester : X/1 Standar Kompetensi : 1. Memahami struktur atom, sifat-sifat periodik unsur, dan ikatan kimia Alokasi Waktu : 18 jam pelajaran (untuk

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data yang telah dilakukan,

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data yang telah dilakukan, BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data yang telah dilakukan, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Instrumen tes diagnostik model mental berupa

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN UNIVERSITAS GUNADARMA KIMIA DASAR JURUSAN D3 TEKNIK KOMPUTER

SATUAN ACARA PERKULIAHAN UNIVERSITAS GUNADARMA KIMIA DASAR JURUSAN D3 TEKNIK KOMPUTER SATUAN ACARA PERKULIAHAN UNIVERSITAS GUNADARMA KIMIA DASAR JURUSAN D3 TEKNIK KOMPUTER Minggu Ke- Pokok Bahasan dan TIU Sub Pokok Bahasan dan Tujuan Intruksional Khusus Teknik Pembelajaran Media Pembelajaran

Lebih terperinci

STOIKIOMETRI I. HUKUM DASAR ILMU KIMIA

STOIKIOMETRI I. HUKUM DASAR ILMU KIMIA STOIKIOMETRI I. HUKUM DASAR ILMU KIMIA a. Hukum Kekekalan Massa (Hukum Lavoisier) Massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama. Contoh: S + O 2 SO 2 2 gr 32 gr 64 gr b. Hukum Perbandingan Tetap (Hukum

Lebih terperinci

Struktur atom, dan Tabel periodik unsur,

Struktur atom, dan Tabel periodik unsur, KISI-KISI PENULISAN USBN Jenis Sekolah : SMA/MA Mata Pelajaran : KIMIA Kurikulum : 2006 Alokasi Waktu : 120 menit Jumlah : Pilihan Ganda : 35 Essay : 5 1 2 3 1.1. Memahami struktur atom berdasarkan teori

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan Kelas/Semester Mata Pelajaran Materi Pokok Waktu : SMA Muhammadiyah I Metro : X/Genap : Kimia - peminatan : - Massa atom relative (Ar) dan massa

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI 1.1 Kemampuan siswa

BAB II KAJIAN TEORI 1.1 Kemampuan siswa BAB II KAJIAN TEORI 1.1 Kemampuan siswa Kemampuan siswa dalam belajar adalah kecakapan seorang peserta didik, yang dimiliki dari hasil apa yang telah dipelajari yang dapat ditunjukkan atau dilihat melalui

Lebih terperinci

PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

PRAKTIKUM KIMIA DASAR I PRAKTIKUM KIMIA DASAR I REAKSI KIMIA PADA SIKLUS LOGAM TEMBAGA Oleh : Luh Putu Arisanti 1308105006 JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA BADUNG TAHUN 2013/2014

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kimia merupakan salah satu ilmu yang memunculkan fenomena yang abstrak. Banyak

I. PENDAHULUAN. Kimia merupakan salah satu ilmu yang memunculkan fenomena yang abstrak. Banyak I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kimia merupakan salah satu ilmu yang memunculkan fenomena yang abstrak. Banyak materi dalam pembelajaran kimia yang sulit untuk diilustrasikan dalam bentuk gambar dua dimensi.

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN 5 BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN 3. Analisis Sistem ahapan analisis adalah tahapan paling awal dalam membuat perangkat lunak, dalam program ini user dapat melakukan pencarian perhitungan konsentrasi

Lebih terperinci

BAB 2. PERSAMAAN KIMIA DAN HASIL REAKSI

BAB 2. PERSAMAAN KIMIA DAN HASIL REAKSI BAB 2. PERSAMAAN KIMIA DAN HASIL REAKSI 1. RUMUS KIMIA 2. MENULISKAN PERSAMAAN KIMIA YANG BALANS 3. HUBUNGAN MASSA DALAM REAKSI KIMIA 4. REAKTAN PEMBATAS 5. HASIL PERSENTASE Reaktan (Pereaksi) Produk (Hasil

Lebih terperinci

Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kimia Kelas X (Implementasi Kurikulum 2013) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 2

Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kimia Kelas X (Implementasi Kurikulum 2013) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 2 Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kimia Kelas X (Implementasi Kurikulum 2013) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 2 A. Identitas Identitas Sekolah : SMA / MA... (sebutkan nama sekolah) Mata Pelajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Beberapa penelitian terhadap pembelajaran kimia menunjukkan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. Beberapa penelitian terhadap pembelajaran kimia menunjukkan bahwa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Beberapa penelitian terhadap pembelajaran kimia menunjukkan bahwa sebagian besar siswa SMA mengalami kesulitan dalam memahami konsep-kosep kimia. Salah satu penelitian

Lebih terperinci

SILABUS MATA PELAJARAN KIMIA (BIDANG KEAHLIAN AGRIBISNIS DAN AGROTEKNOLOGI)

SILABUS MATA PELAJARAN KIMIA (BIDANG KEAHLIAN AGRIBISNIS DAN AGROTEKNOLOGI) SILABUS MATA PELAJARAN KIMIA (BIDANG KEAHLIAN AGRIBISNIS DAN AGROTEKNOLOGI) Satuan Pendidikan : SMK Kelas : X Kompetensi Inti KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya KI 2 : Menghayati

Lebih terperinci

Intisari Konsep Kimia Dasar Jilid-1

Intisari Konsep Kimia Dasar Jilid-1 Intisari Konsep Kimia Dasar Jilid-1 i ii Intisari Konsep Kimia Dasar Intisari Konsep Kimia Dasar Jilid-1 iii iv Intisari Konsep Kimia Dasar INTISARI KONSEP KIMIA DASAR Oleh : Djulia Onggo Edisi Pertama

Lebih terperinci

contoh-contoh sifat Pengertian sifat kimia perubahan fisika perubahan kimia ciri-ciri reaksi kimia percobaan materi

contoh-contoh sifat Pengertian sifat kimia perubahan fisika perubahan kimia ciri-ciri reaksi kimia percobaan materi MATA DIKLAT : KIMIA TUJUAN : 1. Mengembangkan pengetahuan, pemahaman dan kemampuan analisis peserta didik terhadap lingkungan, alam dan sekitarnya. 2. Siswa memiliki pemahaman dan kemampuan untuk menunjang

Lebih terperinci

MATERI adalah segala sesuatu yang mempunyai massa dan menempati ruang ( punya volume )

MATERI adalah segala sesuatu yang mempunyai massa dan menempati ruang ( punya volume ) MATERI adalah segala sesuatu yang mempunyai massa dan menempati ruang ( punya volume ) Perubahan materi 1. perubahan fisis a) perubahan yang tidak menghasilkan zat baru b) perubahan bentuk dan wujud tanpa

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH KIMIA DASAR 1 (ID) KODE / SKS : KD / 2 SKS. Sub Pokok Bahasan Khusus

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH KIMIA DASAR 1 (ID) KODE / SKS : KD / 2 SKS. Sub Pokok Bahasan Khusus 1 1. Materi 1.1. Pengertian materi 1.2. Sifat dan perubahan materi 1.3. Klasifikasi materi 1.4. Hukum-hukum yang berhubungan dengan materi Memahami pengertian materi, massa dan gunaan ilmu kimia Memahami

Lebih terperinci

30 Soal Pilihan Berganda Olimpiade Kimia Tingkat Kabupaten/Kota 2011 Alternatif jawaban berwarna merah adalah kunci jawabannya.

30 Soal Pilihan Berganda Olimpiade Kimia Tingkat Kabupaten/Kota 2011 Alternatif jawaban berwarna merah adalah kunci jawabannya. 30 Soal Pilihan Berganda Olimpiade Kimia Tingkat Kabupaten/Kota 2011 Alternatif jawaban berwarna merah adalah kunci jawabannya. 1. Semua pernyataan berikut benar, kecuali: A. Energi kimia ialah energi

Lebih terperinci

STOKIOMETRI BAB. B. Konsep Mol 1. Hubungan Mol dengan Jumlah Partikel. Contoh: Jika Ar Ca = 40, Ar O = 16, Ar H = 1, tentukan Mr Ca(OH) 2!

STOKIOMETRI BAB. B. Konsep Mol 1. Hubungan Mol dengan Jumlah Partikel. Contoh: Jika Ar Ca = 40, Ar O = 16, Ar H = 1, tentukan Mr Ca(OH) 2! BAB 7 STOKIOMETRI A. Massa Molekul Relatif Massa Molekul Relatif (Mr) biasanya dihitung menggunakan data Ar masing-masing atom yang ada dalam molekul tersebut. Mr senyawa = (indeks atom x Ar atom) Contoh:

Lebih terperinci

BAB IV HUKUM DASAR KIMIA

BAB IV HUKUM DASAR KIMIA BAB IV HUKUM DASAR KIMIA KOMPETENSI DASAR : 2.1 Membuktikan dan mengkomunikasikan berlakunya hukum-hukum dasar kimia melalui percobaan Indikator : 1. Membuktikan berdasarkan percobaan bahwa massa zat sebelum

Lebih terperinci

KISI-KISI PENULISAN SOAL USBN

KISI-KISI PENULISAN SOAL USBN KISI-KISI PENULISAN USBN Jenis Sekolah : SMA/MA Mata Pelajaran : KIMIA Kurikulum : 2013 Alokasi Waktu : 120 menit Jumlah : Pilihan Ganda : 35 Essay : 5 1 2 3 4 3.4 Menganalisis hubungan konfigurasi elektron

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Bandung. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa SMA kelas X dan XI yang telah mempelajari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kimia merupakan cabang ilmu yang paling penting dan dianggap sebagai pelajaran yang sulit untuk siswa oleh guru kimia, peneliti, dan pendidik pada umumnya.

Lebih terperinci

Hukum Dasar Ilmu Kimia Sumber :

Hukum Dasar Ilmu Kimia Sumber : A Hukum Kekekalan Massa (Hukum Lavoisier) Hukum Dasar Ilmu Kimia Sumber : wwwe-dukasinet Pernahkah Anda memperhatikan sepotong besi yang dibiarkan di udara terbuka, dan pada suatu waktu kita akan menemukan,

Lebih terperinci

Dosen : Robby Noor Cahyono, M.Sc. Prof. Dr. Sabirin Matsjeh

Dosen : Robby Noor Cahyono, M.Sc. Prof. Dr. Sabirin Matsjeh KIMIA DASAR I Dosen : Robby Noor Cahyono, M.Sc. Prof. Dr. Sabirin Matsjeh PENDAHULUAN Kuliah KIMIA DASAR I SKS (kredit) : 3 sks Status : Wajib Tujuan Pembelajaran Mahasiswa dapat memahami dasar-dasar teori

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan

BAB I PENDAHULUAN. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I STOIKIOMETRI REAKSI

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I STOIKIOMETRI REAKSI LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I STOIKIOMETRI REAKSI Nama Anggota: Isrenna Ratu Rezky Suci 1157040029 Helmi Fauzi 1157040025 Fajar Gunawan 1157040022 Fresa Agustini 1157040024 JURUSAN KIMIA 1A FAKULTAS

Lebih terperinci

Lembar Kegiatan Siswa

Lembar Kegiatan Siswa Lembar Kegiatan Siswa LEMBAR KEGIATAN PERTEMUAN I I. Lembar Kegiatan Siswa (LKS)-01 : Kelompok Nama Kelompok : Nama Anggota : 1. 4. 2. 5. 3. 6. A. Petunjuk: 1. Bacalah dulu infornasi singkat pada LKS ini,

Lebih terperinci

STOIKIOMETRI. Oleh. Sitti Rahmawati S.Pd.

STOIKIOMETRI. Oleh. Sitti Rahmawati S.Pd. STOIKIOMETRI Oleh Sitti Rahmawati S.Pd Copyright oke.or.id Artikel ini boleh dicopy,diubah, dikutip, di cetak dalam media kertas atau yang lain, dipublikasikan kembali dalam berbagai bentuk dengan tetap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Nur Komala Eka Sari, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Nur Komala Eka Sari, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pembelajaran adalah serangkaian aktivitas yang sengaja diciptakan untuk memudahkan terjadinya proses belajar. Setelah pembelajaran dilakukan, guru perlu mengetahui

Lebih terperinci