BAB II TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Doddy Agusalim
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Devinisi Proyek dan Manajemen Proyek Menurut Simandjuntak Payaman (1984:1), proyek adalah kegiatan kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam satu bentuk kesatuan yang dinamis atau sangat peka terhadap perubahan, dimana diantara kegiatan yang satu dengan yang lain ada saling keterkaitan (interaksi) dan saling ketergantungan (interpedensi), mempunyai awal dan akhir serta tidak berulang dengan mempergunakan waktu dan sumber daya terbatas untuk mencapai hasil akhir yang telah ditentukan dan mendapatkan kemanfaatan (benefit). Beberapa perilaku yang dominan dari kegiatan proyek yang menumbuhkan keharusan cara pengelolaan yang berbeda dari pengelolaan suatu kegiatan dengan lingkungan dan suasana yang relative stabil. Dimana cara pengelolaan tersebut dinamakan manajemen proyek. Untuk itu dikenal berbagai batasan atau definisi, tergantung aspek apa yang ingin diberi penekanan. Menurut H. Kerzner (1982;24), definisi manajemen proyek adalah merencanakan, mengorganisir, memimpin dan mengendalikan sumber daya perusahaan untuk mencapai sasaran jangka pendek yang telah ditentukan. Lebih jauh, manajemen proyek menggunakan pendekatan system dan hirarki (arus kegiatan) vertical maupun horizontal. Sedangkan manajemen proyek konstruksi sendiri mempunyai definisi yang berbeda yaitu suatu sistem manajemen pekerjaan pembangunan fisik, yang ditangani secara professional, dimana tahapan tahapan proyek konstruksi itu diperlakukan sebagai suatu sistem yang menyeluruh, terpadu dengan tujuan untuk mencapai hasil karya yang optimal dalam batasan batasan waktu, mutu, biaya dan kualitas 2.2 Cost Engineering Semula, biaya suatu proyek konstruksi tidak terlalu dipikirkan, yang penting fisik bangunan dapat diselesaikan, berapapun biayanya. Namun Demikian karena berkembangnya pemikiran manusia, terlebih-lebih menyadari Proyek kampus UMN Serpong II - 1
2 akan keterbatasan sumber daya yang ada, maka mulailah dikenal apa yang disebut sebagai cost engineering. Pada awalnya cost engineering dilakukan oleh sedikit orang yang memiliki latar belakang akademis dan pelatihan. Dan pada tahun 1956 terbentuklah asosiasi dari para cost engineer yang memiliki pengalaman serta latar belakang akademis, di Amerika Serikat (USA) diberi nama The American Association of Cost Engineer atau disingkat dengan AACE. Menurut AACE, cost engineering dapat didevinisikan sebagai berikut : Cost Engineering adalah suatu bidang engineering yang meliputi penerapan prinsip-prinsip ilmiah dan teknik dengan menggunakan pengalaman dan pertimbangan-pertimbangan engineering dalam masalahmasalah estimasi biaya, pengendalian biaya dan ekonomi teknik. Setelah berdirinya AACE tersebut, dilapangan cost engineering menjadi berkembang pesat dalam jumlah anggotanya dan menjadi suatu organisasi yang terkenal, dan kemudian mulailah bermunculan organisasi Internasional dalam bidang cost professional lainnya. Cost Engineering menjadi semakin berkembang didorong oleh kesadaran Manajemen dalam Industri, mengenai hal-hal yang menyangkut Cost. Cost Engineering terbagi menjadi dua bidang besar, yaitu : 1. Cost Estimating (Estimasi Biaya) 2. Cost Control (Pengendalian biaya) Jadi, dengan demikian peran seorang cost engineer ada dua, yaitu : memperkirakan biaya Proyek dan mengendalikan (mengontrol) realisasi biaya sesuai batasan-batasan yang ada pada estimasi. Dalam Proyek Kontruksi, apalagi proyek-proyek yang besar, peranan Cost engineer penting sekali dalam pelaksanaan proyek, agar tidak terjadi kekacauan keuangan (financial chaos) yang disebabkan oleh lemahnya estimasi maupun control. 2.3 Devinisi Perkiraan Biaya Perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelenggaraan proyek. Pada taraf pertama dipergunakan untuk mengetahui berapa besar biaya yang diperlukan untuk membangun proyek atau investasi Dalam mengelola suatu Proyek, khususnya di industri konstruksi sasaran utama adalah terpenuhinya target Time, Quality dan Cost. Time atau waktu Proyek kampus UMN Serpong II - 2
3 dipengaruhi oleh factor teknis dan non teknis dimana faktor teknis ditentukan oleh seberapa jauh kesiapan didalam perencanaan (design) dan pelaksanaan (construction), sementara faktor non teknis ditentukan misalnya oleh kondisi alam, cuaca, geologi tanah yang kadang-kadang susah diperkirakan. Jika waktu ini sudah tidak sesuai dengan time frame yang direncanakan, maka akan berdampak kepada cost/biaya.faktor quality bukan saja ditentukan oleh seberapa baiknya mutu dan spesifikasi dari bahan, material dan peralatan yang digunakan, tetapi ditentukan juga oleh workmanshipnya. Walaupun digunakan bahan, material dan peralatan yang bermutu baik namun jika pelaksanaannya tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan, maka hasil mutu atau kualitasnya akan menjadi tidak baik dan tentunya ini juga berpengaruh kepada cost (biaya). Cost atau biaya adalah elemen yang terpenting ketika suatu gagasan atau konsep awal suatu proyek mulai dilakukan pengkajian. Bagi pemilik proyek (developer), cost atau biaya akan menentukan sekali apakah suatu proyek dapat dilaksanakan atau tidak, sementara bagi kontraktor keberhasilan untuk mendapatkan suatu proyek ditentukan salah satunya oleh faktor biaya. Oleh karena itu Perencanaan biaya (Cost plan) seharusnya dilakukan secara baik dan dan benar, karena hal ini jika tidak dilakukan sebagaimana mestinya akan mengganggu jalannya suatu proyek, bahkan kemungkinan akan menyebabkan terhentinya suatu Proyek. Dalam pelaksanaan suatu proyek perlu dipertimbangkan faktor resiko, karena faktor resiko ini adalah sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dan selalu akan dihadapi dalam melaksanakan suatu proyek. Salah satu faktor resiko yang sering dihadapi dalam pelaksanaan suatu proyek adalah cost atau biaya, yaitu berupa ketidak pastian dalam melakukan Perencanaan biaya (Cost biaya). Jika resiko ini tidak diantisipasi sebelumnya maka dapat menimbulkan kerugian dan ketidak ekonomisan dalam suatu proyek. Setiap Pemilik proyek (owner/employer) didalam menjalankan usahanya harus memiliki fungsi manajemen yang tertata dan terorganisir agar kinerja usahanya baik. Kegiatan usaha ini termasuk produksi, pengendalian keuangan dan penjualan. Untuk menjalankan usaha ini kegiatan seperti fungsi-fungsi dibidang keuangan, akutansi, manajemen, pengadaan, pembelian, marketing dan humas termasuk juga estimating harus dapat berjalan dengan baik. Estimate adalah hal terpenting diawal akan dimulainya suatu usaha, karena keberhasilan suatu usaha / bisnis akan sebanding dengan kualitas proses Proyek kampus UMN Serpong II - 3
4 estimasi dan hasil yang dapat diandalkan. Suatu kegiatan usaha / bisnis akan identik dengan resiko. Didalam kegiatan industri konstruksi ada dua kategori resiko yang berasal dari luar (external) dimana hal ini masih sukar dikontrol, yang kedua adalah faktor resiko yang berasal dari dalam (internal) dimana hal ini masih dapat dikontrol. Selanjutnya kita dapat mengurangi sebanyak mungkin resiko dari semua kegiatan internal, diantara kegiatan tersebut adalah proses estimate, sebagaimana telah diuraikan diatas. Glenn M. Hardie dari british Columbia Instute of Technologi dalam bukunya Construction Estimating Technicques member Devinisi Estimating sebagai berikut : The formation of approximate judgment or opinion regarding the value, amount, size or weight of something. In construction parlance, an estimate is an expression of opinion or the prediction of the probable future cost of certain construction activities, usually based on some data having an acceptable degree of reliability. Proses estimasi terdiri dua komponen utama yaitu, Measurement (pengukuran) dan Pricing (harga). Komponen measurement terdiri dari tiga bagian yaitu : 1. Uraian Pekerjaan 2. Penentuan ukuran 3. Perhitungan quantitas Dalam komponen Pricing terdiri dari tiga bagian yaitu : 1. Pengumpulan data 2. Perhitungan data 3. Penggunaan harga Dalam estimasi material, tenaga kerja, peralatan, waktu, uang dan lainnya dapat diklasifikasikan dalam dua istilah yaitu approximate cost estimate dan detailed cost estimate. Approximate cost estimate biasanya dibuat pemilik proyek, developer dan konsultan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran budget secara perkiraan, sedangkan detailed cost estimate dibuat oleh kontraktor, sub-kontraktor, supplier untuk kepetingan mereka didalam mengadakan perjanjian (kontrak), namun detail cost estimate ini dibuat juga oleh para pemilik proyek, developer dan konsultan sebagai acuan dan pedoman didalam melakukan evaluasi tender (evaluasi penawaran harga yang diajukan peserta tender). Proyek kampus UMN Serpong II - 4
5 Dalam kaitannya dengan industri konstruksi, pengertian kedua istilah diatas tidaklah selalu tepat, kadang-kadang approximate cost estimate yang dibuat ternyata memiliki format dan isi yang lebih detail, sebaliknya beberapa detailed cost estimate dibuat seperti halnya format approximate cost estimate. Kata approximate yang digunakan dalam konteks ini tentu saja tidak berarti bahwa estimate dibuat dengan perkiraan yang sembarangan. Proses Pembuatan estimate harus dibuat secara teliti dan dengan didukung data-data pendukung agar estimate tersebut hasilnya cukup akurat dan tidak begitu jauh menyimpang dari kenyataannya dikemudian hari. 2.4 Tahapan-tahapan sistem Perencanaan Biaya Didalam sistem perencanaan biaya (Cost Planning) dilakukan sistem pentahapan (stage) yang terdiri dari : 1. Cost control (Tahap budgeting), berupa approximate estimate (preliminary estimate) 2. Cost planning (tahap desain) 3. Contract Dokumentation (tahap tender) 4. Cost Control (Tahap Construction) Estimate biaya merupakan bagian didalam melakukan Perencanaan biaya dan dilakukan paralel dengan design stage yang terdiri dari : 1. Concept Design stage : a. Membuat estimasi target biaya dari proyek, termasuk infra struktur dan fasilitas penunjang lainnya berdasarkan requirement dan dengan menggunakan referensi data-data dari proyek yang sejenis dan hystorical cost data b. Merencanakan biaya proyek agar desain yang diperoleh sesuai dengan budget c. Melakukan kajian terhadap bentuk dan model bangunan, termasuk sistem mekanikal, elektrikal dan plumbing, dan memberikan saran mengenai segi ekonomisnya d. Menyusun target biaya untuk setiap elemen, komponen, jenis pekerjaan sebagai acuan dalam melaksanakan pengendalian biaya (cost control) e. Melakukan kajian biaya berdasarkan desain alternative dan usulan-usulan lainnya Proyek kampus UMN Serpong II - 5
6 f. Menyiapkan initial budget suatu proyek. 2. Schematic Design Stage : a. Menyusun Preliminary estimate b. Menyusun dan melakukan penyesuaian terhadap Preliminary estimate berdasarkan alternative design dan material / spesifikasi c. Menyusun Detailed elemental cost estimate berdasarkan bentuk, luas bangunan, material/spesifikasi yang telah disepakati d. Memeriksa kembali detailed elemental cost estimate pada tahap schematic design serta melakukan kajian terhadap efek penambahan / pengurangan biaya akibat perubahan desain dan material / spesifikasi. 3. Design Development Stage a. Melakukan pemeriksaan dan evaluasi estimasi biaya selama tahap design development b. Melakukan kajian terhadap efek penambahan / pengurangan biaya akibat perubahan desain dan material / spesifikasi. Tujuan dilakukannya estimasi biaya secara parallel dengan design stage adalah : a. Budget secara realistis dapat tercapai b. Dapat diperoleh budget yang layak dan menguntungkan c. Mendapatkan design yang ekonomis dan efisien d. Design dan budget dapat dikendalikan dan disesuaikan e. Desain sesuai budget yang dialokasikan 2.5 Komponen Estimasi Biaya Dalam melakukan estimasi biaya tergantung dari obyek yang akan dihitung, yaitu berdasarkan fungsi dari bangunan yang diantaranya dapat berupa : - Hotel - Residential (Apartemen) - Perkantoran - Mall (shopping centre) - Rumah sakit (hospital) Proyek kampus UMN Serpong II - 6
7 - School (Sekolah) - Factory (Pabrik) Masing-masing bangunan dengan fungsinya tersendiri mempunyai karakteristik yang berbeda satu sama lain, dan ini berpengaruh kepada sistem analisis dalam melakukan estimasi biaya Estimasi biaya ditinjau dari unsure biayanya dibagi dalam 2 (dua) kategori, yaitu : 1. Hard Cost Adalah komponen biaya secara fisik berupa bangunan dan fasilitasnya, yang secara elemental dapat dibagi dalam beberapa komponen : a. Pekerjaan Pondasi b. Pekerjaan tanah c. Pekerjaan Sub Struktur (Struktur bawah) d. Pekerjaan Struktur atas e. Pekerjaan Arsitektur f. Pekerjaan Interior g. Pekerjaan Mekanikal, Elektrikal dan Plumbing h. Pekerjaan luar i. Furniture, Furnishing dan Equipment / FF & E (khusus untuk hotel, condotel atau novotel) 2. Soft Cost Adalah biaya-biaya non fisik, berupa : a. Professional Services (fee untuk konsultan perencana) b. Biaya untuk perizinan c. Biaya untuk penyambungan (PAM, PLN dan Telkom) d. Overheads Developers e. Pre opening Expenses f. Interest During Construction / IDC (bunga bank) g. Marketing fee Selain kedua kategori diatas, didalam perhitungan biaya proyek terdapat komponen biaya : Preliminary Cost (Pekerjaan persiapan, prasarana dan penunjang) dan Contingency (biaya cadangan) Proyek kampus UMN Serpong II - 7
8 2.6 Metode Estimasi Biaya Approximate Estimate Ada 3 (tiga) bentuk atau type Approximate : 1. Block Plan Cost Estimate. Block Plan Cost Estimate ini merupakan cost indicative secara global berupa harga satuan ( unit rate ) dari suatu bangunan dalam satuan m2 ( meter persegi ), seperti Rp. y / m2 atau USD. y / m2. Biasanya cost estimate tipe ini hanya memberikan gambaran berupa kisaran harga satuan dari suatu bangunan. Block Plan Cost Estimate ini mengindikasikan harga satuan yang sudah termasuk didalamnya untuk pekerjaan pondasi,struktur, arsitektur dan mekanikal, elektrikal dan plumbing. Jika bangunan tersebut berupa hotel dapat pula harga satuan tersebut sudah termasuk komponen FF&E ( furniture, furnishing dan equipment ). Untuk mendapatkan total cost suatu bangunan, harga satuan tersebut dikalikan dengan Total Gross Floor Area ( TGFA ). Block Plan Cost Estimate ini tidak saja memberikan indikasi dari harga suatu bangunan, tetapi juga grade ( kwalitas ) dari bangunan itu sendiri, seperti hotel bintang 3, 4 atau lima atau apartement sekelas rusunami, apartement menengah kebawah atau menengah keatas. Block Plan Cost Estimate ini didasarkan atas referensi dari beberapa proyek yang sejenis yang sudah selesai dibangun maupun sedang dilaksanakan termasuk historycal cost data. 2. Elemental Cost Estimate Elemental Cost Estimate disini masih bersifat approximate. Umumnya dalam Elemental Cost Estimate sudah dicantumkan untuk beberapa bagian pekerjaan secara general, yaitu komponen Pekerjaan Struktur (pondasi, sub-struktur dan struktur atas ), Pekerjaan Arsitektur / Interior dan Pekerjaan Mekanikal, Elektrikal dan Plumbing. 3. Detailed Elemental Cost Estimate Detailed Elemental Cost Estimate masih bersifat approximate walau sudah lebih terperinci. Detailed Elemental Cost Estimate ini dibuat pada saat schematic desain sudah dibuat. Dalam konsep sudah dapat diketahui TGFA, plan dan elevationnya, section termasuk outline spesifikasi. Pada sistim cost estimate ini perhitungannya sudah lebih akurat dibanding Block Plan Cost Estimate dan Detailed Cost Estimate Proyek kampus UMN Serpong II - 8
9 tersebut diatas dimana sudah dapat memberikan gambaran atau indikasi yang lebih detail yang terdiri dari beberapa elemen 2.7 Metode Estimasi Biaya Estimate Detail Detailed estimate dibuat pada tahap tender (tender documentation stage), dimana detailed estimated ini dihitung dan disusun berdasarkan gambar kerja (working drawing) yang dalam tahap tender dikategorikan sebagai gambar tender dan berdasarkan spesifikasi teknik. Detailed estimated ini selanjutnya disebut juga sebagai daftar uraian dan kuantitas pekerjaan atau Bill of Quantity (BoQ). Bill of Quantities (BoQ) atau Daftar Uraian dan Kwantitas Pekerjaan (DUP) merupakan bagian dari Dokumen Tender atau Dokumen Lelang yang terdiri dari uraian pekerjaan/ bagian pekerjaan dilengkapi dengan kwantitas (isi, luas, panjang, lebar, tinggi, jumlah, berat) dan satuannya (m3, m2, m1, kg, buah) serta bagian kolom untuk harga satuan (unit price/ unit rate) Langkah-Langkah Penyusunan Bill of Quantity BoQ disusun dan disiapkan berdasarkan gambar-gambar tender/lelang dan spesifikasi teknis (Rencana Kerja dan Syarat-syarat Teknis/Spesifikasi Teknis dibuat oleh masing-masing Konsultan Perencana). Bill of Quantity ini merupakan terjemahan dan interprestasi dari seluruh Pekerjaan yang tercantum dalam gambar dan spesifikasi teknis yang disusun sedemikian rupa secara sistematikanya sehingga Bill of Quantity yang dibuat dapat mewakili seluruh bagian Pekerjaan yang tercantum dalam gambar dan spesifikasi teknis dan nantinya dapat dijadikan alat untuk menghitung harga atau biaya suatu Pekerjaan. Ditinjau secara umum fungsi BoQ adalah sebagai berikut : 1. BoQ adalah merupakan bahan rujukan dan pedoman didalam menghitung suatu biaya proyek dimana untuk setiap elemen dan bagian pekerjaan dapat lebih diketahui harga / biaya secara detail. BoQ ini merupakan suatu cost estimate yang lebih rinci dan detail sehingga dapat lebih dijadikan sebagai rujukan Cost Budget. Proyek kampus UMN Serpong II - 9
10 2. BoQ adalah merupakan pedoman bagi peserta tender (Tenderer/ Bidder) didalam pengajuan penawaran harga yang merupakan informasi tentang pekerjaan / bagian pekerjaan, jenis pekerjaan yang dilelangkan. 3. BoQ akan digunakan sebagai patokan harga dalam mengevaluasi dan menganalisis Penawaran yang diajukan oleh para peserta tender 4. BoQ dapat dijadikan pedoman/ dasar didalam penilaian kemajuan pekerjaan (Valuation of Progress of Work) sebagai rekomendasi pembayaran kepada Kontraktor. 5. BoQ adalah merupakan rujukan atau pedoman untuk menilai perubahan biaya atau pekerjaan perubahan (tambah/kurang), dimana harga satuan (unit price) yang tercantum dalam BQ tersebut dapat dipergunakan dalam menghitung pekerjaan-pekerjaan perubahan tersebut Kategori Bill of Quantity (BoQ) Pada umumnya Bill of Quantity (BoQ) dapat dibagi menjadi beberapa kategori seperti yang akan dibahas dibawah ini : 1. Kategori Pertama : Adalah merupakan bentuk firm BoQ yang dibuat berdasarkan tender/ kontrak yang bersifat Lump Sum (Bill of Quantity dengan fix quantities), artinya seluruh uraian pekerjaan/bagian pekerjaan dan kwantitas menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari Pemborong, dengan demikian pada tahap tender/ lelang, peserta tender wajib untuk memeriksa kembali BoQ tersebut, dan diijinkan untuk merubahnya (menambah/mengurangi dan mengoreksi), dan tetapi melampirkannya dalam bagian yang terpisah. Pada umumnya BoQ kategori pertama ini terdiri dari uraian pekerjaan dan kwantitasnya yang dihitung berdasarkan gambar-gambar tender/ lelang dan spesifikasi teknis yang benar-benar telah lengkap dan jelas, sehingga BoQ yang disajikan benar-benar dapat mewakili seluruh bagian pekerjaan yang tercantum dalam gambar tender/ lelang dan spesifikasi teknis. Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa BoQ Contract merupakan pedoman harga satuan (Schedule of Unit Rate) yang akan dipergunakan untuk menghitung pekerjaan perubahan (tambah/ kurang). Perubahan ini akan dapat diperhitungkan sebagai pekerjaan tambah/ kurang jika terdapat perbedaan antara gambar pelaksanaan (Construction Drawing) dengan Proyek kampus UMN Serpong II - 10
11 gambar kontrak (Contract Drawing) dan jika ada instruksi tertulis mengenai adanya perubahan pekerjaan tersebut. Pada Bill of Quantity kategori ini kemungkinan masih ada beberapa pekerjaan yang belum tercantum karena memang belum tercantum dalam gambar (belum didesain) tetapi kemungkinan Pekerjaan ini akan dilaksanakan, maka bagian Pekerjaan ini akan dikelompokkan dalam Daftar sendiri berupa bill of provisional sums, berupa nilai estimasi dari Pekerjaan tersebut. 2. Kategori Kedua : Adalah merupakan bentuk BoQ perkiraan atau Bill of Approximate Quantities atau Bill of Provisional Quantities atau Remeasured BoQ. Bentuk, format dan cara pengerjaannya sama dengan kategori pertama, hanya saja kwantitas untuk seluruh bagian pekerjaan bersifat perkiraan saja. BoQ ini dibuat berdasarkan tender/ kontrak Remeasurable artinya seluruh kwantitas dan bagian pekerjaan akan dihitung ulang kembali pada saat pelaksanaan (during construction) berdasarkan gambar pelaksanaan (construction drawing) kecuali Bill Preliminary (Pekerjaan Persiapan, Prasarana dan penunjang) yang merupakan fixed bill of quantities. Pada umumnya BoQ kategori kedua ini dibuat berdasarkan gambar-gambar tender yang kondisinya belum selesai seluruhnya, seperti misalnya ukuran balok, kolom, pelat beton termasuk pembesiannya belum digambarkan secara jelas. Walaupun dikatagorikan sebagai Remeasurable Contract, harga satuan (unit price/ unit rate) untuk seluruh bagian pekerjaan adalah mengikat dan tidak berubah selama tidak ada perubahan spesifikasi. Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa Nilai Kontrak akan disesuaikan dan diperhitungkan kembali berdasarkan hasil remeasurement quantity (pengukuran ulang) dari gambar-gambar pelaksanaan (construction drawing). 3. Katagori Ketiga : Adalah merupakan bentuk BoQ dengan type tender/ kontrak yang sama dengan kategori pertama yaitu Lump Sum basis, hanya saja kolom untuk kwantitas tidak diisi. Masing-masing peserta tender wajib untuk menghitung Proyek kampus UMN Serpong II - 11
12 dan mengisinya ke dalam uraian bagian pekerjaan yang bersangkutan. Selama tahap proses lelang, klarifikasi dan negosiasi, kwantitas dari masing-masing peserta tender yang terseleksi akan diperiksa dan dievaluasi oleh konsultan, dan pada akhirnya BoQ tersebut akan ditetapkan sebagai firm BoQ. BoQ kategori ketiga ini disebut juga Bill of Items Dasar-dasar penyusunan dan Pembuatan Bill of Quantity (BoQ) Pada prinsipnya persiapan penyusunan dan pembuatan BoQ didasarkan kepada hal-hal dibawah ini, antara lain: 1. Penentuan type / jenis tender dan kontrak yang akan mempengaruhi katagori dari Bill of Quantity (BoQ). 2. Spesifikasi Teknis yang menguraikan tentang ketentuan persyaratan, karakteristik dan kriteria teknis mengenai material, peralatan dan metode kerja. 3. Gambar-gambar tender yang diperlukan sebagai pedoman didalam penyusunan BoQ. Gambar tender yang dimaksud adalah gambar-gambar tender beserta revisinya yang akan diberikan juga kepada peserta tender, sehingga gambar yang digunakan untuk pembuatan dan penyusunan BQ akan sama dengan gambar tender yang diberikan kepada Peserta Tender. 4. Standard of Measurement atau Principle of Measurement atau prinsip perhitungan. 5. Standard ini merupakan pedoman didalam melakukan taking off atau measurement yang merinci tentang sistim dan metode dalam melaksanakan perhitungan kwantitas suatu pekerjaan. Ada beberapa standard yang dikeluarkan oleh institusi dari luar negeri seperti International Principle of Measurement diterbitkan oleh The Royal Institution of Chartered Surveyor United of Kingdom, Australian Standard Method of Measurement of Building Works diterbitkan oleh The Australian Institute of Quantity Surveyor dan The Master Builders Federation of Australia, dan Standard Methode of Measurement of Building Works Malaysia. Standard-standard ini merupakan pedoman versi International yang diterbitkan dalam bahasa Inggris, disamping ada juga dalam versi Bahasa Indonesia yang merupakan saduran, adaptasi dan terjemahan dari standard versi International tersebut. Proyek kampus UMN Serpong II - 12
13 6. Catatan Harga/ General Pricing Notes. Catatan Harga ini dibuat selain sebagai pedoman peserta tender dalam melakukan pengisian harga (pricing), juga untuk melengkapi bagian-bagian pekerjaan yang tercantum didalam Standard of Measurement. Catatan Harga atau disebut juga General Pricing Notes lebih menegaskan tentang bagian pekerjaan yang tidak dihitung dalam kwantitas pekerjaan, tetapi harus diperhitungkan dalam harga satuan, selain itu pula menjelaskan tentang hal-hal apa saja yang harus diperhitungkan atau sudah termasuk didalam harga satuan Sistim Format dan Bentuk Penyusunan Bill of Quantity (BoQ) Format dan susunan BoQ pada umumnya terdiri dari beberapa bagian dimana setiap bagian dinamakan daftar (Bill). Adapun bagian bagian itu adalah sebagai berikut : 1. Bagian pertama merupakan Daftar Pekerjaan Persiapan, Prasarana dan Penunjang atau yang disebut sebagai Preliminaries. Di dalam daftar ini memuat bagian yang sifatnya berupa Pekerjaan Persiapan seperti penyediaan personil tim proyek (Project Manager, Site Manager dan staff teknik serta administrasi), peralatan penunjang (tower crane, hoist, concrete mixer dan lain-lain), penyediaan air kerja dan tenaga listrik, kantor dan gudang sementara didalam proyek, pagar, jalan dan jembatan sementara dan lain-lain. 2. Bagian kedua merupakan daftar pekerjaan utama yang disusun berdasarkan lingkup pekerjaan (scope of works) yang ditenderkan. Daftar ini berupa Measured Bill dan terdiri dari beberapa daftar (bill) yang dihitung berdasarkan gambar-gambar Tender. Format dan susunan BoQ pada bagian ini dapat bervariasi tergantung dari jenis proyek dan lingkup pekerjaan yang ditenderkan, pembagian BoQ lebih detail akan diuraikan dalam bagian lain. 3. Bagian ketiga merupakan Daftar Biaya Perkirakan dan Daftar Pekerjaan Khusus disebut juga sebagai Provisional Sum and Daywork Allowances (Daftar Biaya Perkiraan) dan Prime Cost Sum (Daftar Pekerjaan Khusus). Proyek kampus UMN Serpong II - 13
14 Daftar Biaya Perkiraan adalah suatu daftar yang memuat bagian pekerjaan dimana pada waktu diadakan tender belum terdapat gambar dan spesifikasinya, tetapi bagian pekerjaan tersebut pada umumnya akan ada, sehingga pada daftar ini dicadangkan suatu biaya berdasarkan estimasi untuk bagian pekerjaan tersebut. Pada umumnya daftar ini terdiri dari Provisional Sum (PC), Contingency (nilai cadangan) dan Daywork Allowances (daftar harga satuan bahan upah dan peralatan) yang disebut juga Daftar Pekerjaan Harian. Bentuk bill of quantity tergantung dari bentuk bangunan seperti bangunan bertingkat rendah, bangunan bertingkat tinggi dan bangunan bertingkat rendah yang terdiri dari beberapa block seperti tipe resort hotel. Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa layout halaman dapat berupa portrait atas landscape dan masing-masing layout ini mempunyai keuntungan dan kerugian (kelemahan). Untuk layout halaman berupa portrait lebih cocok diterapkan pada bangunan bertingkat rendah (low rise). Dibawah ini disajikan perbandingan antara format layout portrait dan landscape : Proyek kampus UMN Serpong II - 14
15 Tabel II-1 BQ bentuk portrait Proyek kampus UMN Serpong II - 15
16 Tabel II-2 BQ bentuk Landscape Dari kedua perbandingan bentuk bill of quantity diatas antara layout portrait dan landscape masing-masing memiliki keuntungan dan kelemahan terutama jika diaplikasikan pada bangunan bertingkat banyak (highrise building). Keuntungan layout portrait yaitu memudahkan didalam penyusunan format progress evaluation (penilaian kemajuan pekerjaan) dan secara tidak langsung memudahkan juga untuk melakukan evaluasi dan penilaian kemajuan pekerjaan yang diajukan kontraktor, sebaliknya layout portrait ini memiliki kelemahan yaitu pengulangan pada description (uraian pekerjaan) dan pada data input unit rate (memasukkan harga satuan kedalam kolom) untuk setiap lantai dan ini memiliki resiko kekeliruan karena kemungkinan terjadi perbedaan harga satuan yang mencolok pada lantai yang satu dengan lainnya (perbedaan karena kesalahan harga satuan), kelemahan lainnya adalah jumlah halaman bill of quantity menjadi lebih banyak dan lebih tebal selain itu tidak dapat diketahui secara langsung jumlah total quantitas untuk setiap bagian pekerjaan yang sama. Pada bentuk bill of quantity layout landscape memiliki keuntungan yaitu tidak terjadinya pengulangan pengetikan pada description (uraian pekerjaan) dan pengulangan data input unit rate, sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya Proyek kampus UMN Serpong II - 16
17 kesalahan, disamping itu keuntungan lainnya yaitu halaman bill of quantity menjadi sedikit dan lebih tipis. Keuntungan lainnya adalah dapat dengan mudah diketahui jumlah total kuantitas untuk setiap item pekerjaan yang sama. Tetapi format ini memiliki kelemahan antara lain menyulitkan didalam penyusunan progress evaluation, karena untuk setiap lantai tidak dapat diketahui jumlah / harga total untuk setiap jenis atau bagian Pekerjaan, sementara dalam setiap proses pengecekan kemajuan Pekerjaan dilapangan dilakukan lantai perlantai. Tentunya masih ada faktor-faktor lainnya yang perlu dipertimbangkan dalam menerapkan bentuk bill of quantity ini untuk dapat diperoleh format yang lebih sistematis, komprehensif dan effisien Tahap Persiapan Dalam Penyusunan BoQ Didalam menyusun suatu BoQ perlu dilakukan persiapan-persiapan, khususnya pada waktu dilakukan pengukuran dan perhitungan kwantitas (taking off) dan penyusunan item pekerjaan (description) persiapan ini meliputi : 1. Mencari referensi mengenai : a. Type kontrak (tender) apakah lump sum, remeasurable, design and build atau lainnya. b. Jenis bangunan yang akan ditenderkan. c. Lingkup/jenis pekerjaan (paket pekerjaan) yang akan ditenderkan. 2. Menyusun suatu outline BoQ secara garis besar sebagaimana yang diuraikan diatas. 3. Mencatat dan meregister gambar-gambar dan spesifikasi yang akan digunakan didalam melakukan perhitungan serta memeriksa kelengkapan dan kesempurnaan gambar dan spesifikasi tersebut. 4. Mempersiapkan peralatan secukupnya untuk dapat melakukan perhitungan. 5. Mulai menghitung dari pekerjaan yang mudah dulu baru bagian bagian yang sulit. Proyek kampus UMN Serpong II - 17
18 2.8 Perbedaan Preliminary estimate dan Estimate Detail Antara Preliminary estimate dan Estimate Detail, walaupun sama sama berkaitan tentang biaya proyek, namun memiliki perbedaan dalam bentuk format maupun kegunaanya, yang dapat dijelaskan sebagai berikut : Preliminary Estimate Diperlukan untuk menetapkan budget Proyek dan harga jual Dibuat oleh owner atau oleh Konsultan QS yang ditunjuk oleh owner Perhitungan masih kasar / Perkiraan Kegiatan Preliminary estimate merupakan dasar untuk membuat sistem pembiayaan dan menentukan apakah sutu proyek dapat dilanjutkan atau tidaknya Estimate Detail Diperlukan untuk menetapkan biaya proyek sesungguhnya (real) Dibuat oleh Pemborong dan konsultan Perhitungan sudah Detail Menggunakan format satu macam, sesuai yang ditetapkan oleh perusahaan, secara internal. Dokumen ini biasanya merupakan suatu dokumen yang sifatnya rahasia. Kegiatan Estimasi detail merupakan tolak ukur / alat kendali biaya dan dipakai sebagai dasar dalam penentuan prestasi Pekerjaan 2.9 Hubungan antara Preliminary estimate dan Estimate Detail Hubungan antara Preliminary estimate dengan Estimate Detail khususnya pada proyek UMN serpong adalah : Preliminary estimate dibuat sebagai dasar dalam menentukan Estimate Detail. Dalam hal ini preliminary estimate tidak hanya diketahui intern Konsultan QS dan Owner saja, tetapi Pemborong Pekerjaan utama juga mengetahui preliminary estimate ini. Hal ini untuk menekan agar Estimate detail (biaya yang sesungguhnya) tidak melebihi budget yang sudah ada (dalam Preliminary Estimate) Preliminary Estimate digunakan oleh Owner dalam memberikan besarnya uang muka (DP) dan Pembayaran/progres, yang akhirnya nanti akan ada Estimate Detail (biaya yang sudah dihitung bersama) sehingga akan Proyek kampus UMN Serpong II - 18
19 muncul Pekerjaan Tambah/kurang, dan Pembayaran terakhir akan mengacu kepada estimate detail. Dari Preliminary Estimate dan Estimate detail ini akan digunakan sebagai dasar dalam perhitungan nilai kontrak akhir (Final Account) 2.10 Kecermatan Estimasi Sebelum membahas tentang kecermatan estimasi, lebih baik ditetapkan dahulu kriteria seperti apa yang disebut suatu estimasi itu bagus atau jelek. Mungkin karena sifat alamiah manusia lebih mudah mengingat pengalaman yang jelek, maka secara umum suatu estimasi jelek dibuat kriterianya yaitu sebagai berikut : Terjadi pembengkakan biaya cukup besar terhadap nilai estimasi awalnya Terjadi hasil tidak konsisten, terlalu tinggi atau terlalu rendah Kurang detail Dokumentasi jelek/lemah. Tidak dapat diandalkan untuk alokasi dana Tidak dapat diandalkan untuk mengontrol biaya Suatu estimasi dikatakan jelek, biasanya disebabkan oleh lemahnya estimator (cost engineer) sebagai pelaku dan alat yang dipakai. Antara lain sebagai berikut : Estimator tidak qualified Estimator belum terbiasa dengan objek yang dihadapi Data Estimasi lemah/ Jelek Method estimasi jelek Kecermatan disini, jangan dicampur adukkan dengan kriteria tersebut diatas, karena tingkat kecermatan bukan disebabkan oleh kelemahan tersebut diatas tetapi karena kondisi pentahapan proyek itu sendiri. Pada tahap-tahap konstruksi setiap proyek, diperlukan tiga jenis cost estimate yang memiliki tingkat kecermatan yang berbeda-beda. Kecermatan Preliminary estimate (dengan tingkat akurasi %) dibuat pada tahap planning untuk keperluan analisis kelayakan proyek, memiliki kecermatan paling rendah, kemudian semi detail Estimate atau disebut sebagai budget estimate, dibuat pada tahap conceptual engineering atau basic design Proyek kampus UMN Serpong II - 19
20 (dengan tingkat akurasi 10 15%), untuk keperluan menetapkan budget danan yang harus disediakan, memiliki tingkat kecermatan lebih dibandingkan yang pertama. Jenis Cost estimate terakhir, disebut devinitive estimate (dengan tingkat akurasi ± 5 %), dibuat pada tahap detailed engineering sebagai perkiraan akhir (final prediction), untuk pelaksanaan, memiliki tingkat kecermatan yang paling tinggi 2.11 Bentuk-bentuk Kontrak Konstruksi Apabila kita mengamati hasil pembangunan fisik di negeri kita seperti gedung bertingkat, pusat perbelanjaan, pusat listrik, bendungan, jalan raya & jembatan, lapangan terbang dan lain-lain, pertama-tama yang kita kagumi adalah keindahan/kecanggihan bangunan-bangunan tersebut. Kemudian dalam benak kita akan muncul pertanyaan siapa perencana bangunan tersebut dan siapa pula kontraktor pelaksananya. Jarang sekali kita berpikir bahwa untuk merencanakan, melaksanakan dan mengawasi bangunan-bangunan tersebut diperlukan suatu perikatan tertulis antara Pengguna Jasa (Owner) dan Penyedia Jasa (Konsultan, Kontraktor). Bentuk perikatan mengenai jasa konstruksi inilah yang dikenal dengan istilah Kontrak Konstruksi atau Perjanjian Konstruksi. Kontrak/ Perjanjian Berarti ikatan persetujuan antara Pemberi Tugas dan Pemborong, dengan ketentuan seperti yang tercantum dalam Surat Perjanjian Kontrak (selanjutnya disebut Perjanjian) dan ketentuan lainnya yang ada di dalam Dokumen Kontrak yang saling melengkapi satu sama lain Macam-macam Kontrak Dari Aspek Perhitungan Biaya 1) Kontrak Sementara (Re-measurement contracs) Berarti Kontrak yang jumlah Nilai Kontraknya belum Tetap, masih sementara.volume akan dihitung kemudian berdasarkan gambar Terlaksana/as-built drawing (dengan catatan penyimpangan akibat cara pelaksanaan dengan memakai material, bahan yang melebihi ketentuan (Gambar Pelaksanaan dan Spesifikasi) tidak diperhitungkan dimana harga satuan mengikat dan tetap. Proyek kampus UMN Serpong II - 20
21 2) Kontrak Harga Pasti (Lump Sump Contracs) a. Secara umum, kontrak lump sum adalah suatu kontrak dimana volume pekerjaan yang tercantum dalam kontrak tidak boleh diukur ulang. b. Peraturan Pemerintah (PP) No. 29/2000 tentang penyelenggaraan jasa konstruksi memberikan batasan/ definisi bentuk kontrak kerja konstruksi dengan bentuk imbalan Lump Sum sebagai mana tersebut dalam pasal 21 ayat (6) sebagai berikut : Kontrak kerja konstruksi merupakan kontrak jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam jangka waktu tertentu dengan jumlah harga yang pasti dan tetap kontrak kerja konstruksi merupakan kontrak jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam jangka waktu tertentu dengan jumlah harga yang pasti dan tetap serta semua resiko yang mungkin terjadi dalam proses penyelesaian pekerjaan yang sepenuhnya ditanggung oleh Penyedia Jasa sepanjang gambar dan spesifikasi tidak berubah. Selanjutnya dalam penjelasan mengenai pasal 21 ayat (1) tertulis: Pada pekerjaan dengan bentuk Lump Sum, dalam hal terjadi pembetulan perhitungan perincian harga penawaran, karena adanya kesalahan aritmatik maka harga penawaran total tidak boleh diubah. Perubahan hanya boleh dilakukan pada salah satu volume atau harga satuan dan semua resiko akibat perubahan karena adanya koreksi aritmatik menjadi tanggung jawab sepenuhnya Penyedia Jasa, selanjutnya harga penawaran menjadi harga kontrak / harga pekerjaan. c. Robert D. Gilbreath dalam buku Managing Construction Contracs pada halaman 43 menulis mengenai Lump Sum, dimana terjemahan bebas penulis adalah sebagai berikut : Lump Sum adalah Suatu harga yang pasti dan tertentu telah disetujui para pihak sebelum kontrak ditandatangani. Harga ini tetap tidak berubah selama berlakunya kontrak dan tidak dapat diubah kecuali karena perubahan lingkup pekerjaan atau kondisi pelaksanaan dan perintah tambahan dari Pengguna Jasa. Dalam kontrak ini, resiko biaya Proyek kampus UMN Serpong II - 21
22 bagi pengguna jasa minimal (kecil) memberi cukup pengawasan atas pelaksanaan dan pengikatan. d. McNeil Stokes dalam buku Constructions Law in Contractor s Language pada halaman 33 meneulis mengenai kontrak Lumpsum, terjemahan bebas penulis adalah sebagai berikut : Bentuk kontrak yang paling biasa adalah perjanjian Lump Sum, dimana Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa sepakat pada suatu jumlah pasti yang harus dibayar oleh Pengguna Jasa kepada Penyedia untuk pelaksanaan seluruh pekerjaan. Penyedia Jasa memikul resiko untuk dapat melaksanakan seluruh pekerjaan dalam jumlah biaya tercantum dalam kontrak. Keuntungan Penyedia Jasa, bilamana ada, didapat dari selisih antara nilai kontrak dan biaya yang dikeluarkan Penyedia Jasa, termasuk over head dan biaya-biaya tidak langsung. Oleh karena itu, Penyedia jasa harus menambahkan sejumlah biaya untuk menutupi resiko-resiko kenaikan biaya/ harga-harga. Berarti berdasarkan keempat penjelasan diatas menunjukan bahwa, Harga Kontrak adalah tetap, mengikat berdasarkan gambar dan revisinya selama Proses Pelelangan sampai dengan Negosiasi baik berupa penjelasan tertulis maupun gambar. Volume dan item pekerjaan maupun harga satuan tidak dapat berubah karena kenaikan harga-harga bahan, upah, peralatan, bahan bakar, pajakpajak, fluktuasi nilai valuta asing yang terjadi sejak waktu pemasukan penawaran sampai berakhirnya Masa Pemeliharaan atau Serah Terima Kedua, termasuk waktu perpanjangan pelaksanaan. Harga Kontrak tersebut hanya akan disesuaikan jika terdapat perubahan atau penambahan lingkup pekerjaan dan perubahan spesifikasi berdasarkan Instruksi Tertulis dari Direksi Pengawas (DP). Daftar Uraian dan Volume Pekerjaan (BoQ) adalah sebagai bahan/ pedoman di dalam mengevaluasi pembayaran terhadap prestasi pekerjaan yang telah diselesaikan, sedangkan Gambar dan Spesifikasi adalah pedoman di dalam pelaksanaan pekerjaan. Proyek kampus UMN Serpong II - 22
23 3) Kontrak Harga Satuan (Unit Price Contracs) a. Secara umum, Kontrak Harga Satuan adalah Kontrak dimana volume pekerjaan yang tercantum dalam kontrak hanya merupakan perkiraan dan akan diukur ulang untuk menetukan volume pekerjaan yang benarbenar dilaksanakan. b. Peraturan Pemerintah (PP) No. 29/2000 Pasal 21 ayat (2) mengatakan: Kontrak Kerja Konstruksi dengan bentuk imbalan Harga Satuan merupakan kontrak jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam jangka waktu tertentu berdasarkan harga satuan pasti dan tetap untuk setiap satuan/ unsur pekerjaan dengan spesifikasi tertentu yang volume pekerjaannya didasarkan pada hasil pengukuran berasama atas volume pekerjaan yang benar-benar telah dilaksanakan Penyedia Jasa. c. Robert D. Gilbreath dalam buku Managing Construction Contracs pada halaman 44-45, menulis tentang kontrak unit price sebagai berikut : Kontrak Harga Satuan menggambarkan variasi dari kontrak harga pasti, meliputi suatu harga pasti/ tetap untuk semua atau beberapa bagian pekerjaan, harga satuan hanya mengatur harga satuan. Total nilai kontrak ditetapkan dengan mengalikan harga satuan dengan volume pekerjaan yang dilaksanakan. Resiko Pengguna jasa dengan system harga satuan termasuk sebagian besar yang terdapat dalam kontrak harga pasti. Di samping itu, kontrak harga satuan menuntut pemantauan ketat dan verifikasi terhadap jumlah satuan sesungguhnya. Menelusuri berapa banyak yang ditambah, dikurangi, dipasang atau dibongkar benar-benar merupakan suatu pekerjaan yang harus dikerjakan secara sungguh-sungguh. d. McNeil Stokes dalam buku Constructions Law in Contractor s Language pada halaman menulis mengenai kontrak unit price, terjemahan bebas penulis adalah sebagai berikut : Kontrak Harga Satuan, dalam kontrak harga satuan, Penyedia Jasa dibayar suatu jumlah yang pasti untuk setiap satuan pekerjaan yang dilaksanakan. Untuk menghindari sengketa mengenai berapa pekerjaan Proyek kampus UMN Serpong II - 23
24 yang sesungguhnya dilaksanakan, setiap satuan pekerjaan harus ditentukan dengan tepat. Dalam menggunakan metode harga satuan, Pengguna Jasa memperkirakan resiko atas jumlah pekerjaan yang akan dilaksanakan; termasuk resiko pekerjaan yang dibuat Pengguna Jasa atau Perencana (Arsitek). Perkiraan ini, meskipun baru perkiraan harus akuratdan oleh karena itu total biaya konstruksi dapat diperkirakan dengan tepat. Penyedia Jasa menanggung resiko kenaikan harga satuan yang tercantum dalam kontrak. Apabila Penyedia Jasa mengajukan penawaran atas dasar satuan pekerjaan, dia mendasarkan harganya atas biaya melaksanakan jumlah pekerjaan yang diantisipasi. Jika selama masa pelaksanaan pekerjaan jumlah pekerjaan tersebut banyak sekali berkurang, maka biaya per satuan pekerjaan biasanya akan lebih besar daripada yang diperkirakan. Sebaliknya, jika jumlah satuan pekerjaan tersebut banyak sekali bertambah, maka harga satuan yang dikerjakan dapat turun, sehingga harga satuan asli menjadi tinggi. Ini tidak adil. Secara garis besar kontrak ini adalah dimana volume pekerjaan yang tercantum dalam kontrak hanya merupakan perkiraan dan akan diukur ulang untuk menentukan volume pekerjaan yang benar benar dilaksanakan. Aspek Perhitungan Jasa 1) Biaya Tanpa Jasa (Cost Without Fee) a. Dari namanya mudah diketahui bahwa kontrak biaya tanpa tanda jasa adalah bentuk kontrak dimana Penyedia Jasa hanya dibayar biaya pekerjaan yang dilaksanakan tanpa mendapatkan imbalan jasa. Mengingat tujuan penyedia jasa mengerjakan suatu pekerjaan/proyek adalah mendapatkan laba (profit oriented), tentu timbul pertanyaan apakah bentuk kontrak seperti ini ada yang mau melaksanakan. Jawabnya, ada! Biasanya bentuk kontrak ini terutama untuk pekerjaan yang bersifat social (charity purpose), contohnya adalah pembangunan Proyek kampus UMN Serpong II - 24
25 tempat ibadah (mesjid, pesantren, gereja, kuil), yayasan social, panti asuhan dan sebagainya. b. Walaupun secara resmi Penyedia jasa hanya dibayar biaya pekerjaan tanpa imbalan jasa, dapat diyakini bahwa Penyedia jasa masih memperoleh sedikit keuntungan yang tak lain adalah dari effisiensi pemakaian bahan (sehemat mungkin, tanpa harus mencuri mutu) dan mengelola pekerjaan sebaik mungkin serta mengusahakan percepatan pekerjaan untuk menekan biaya overhead. Keuntungan dapat lebih ditingkatkan bila Penyedia Jasa mendapatkan Pekerjaan sejenis tapi berulang-ulang. c. Robert D. Gilbreath dalam bukunya Managing Construction Contracts, halaman 50, menyebut bentuk kontrak ini sebagai Cost Reimbursable, No Fee. Dia menulis sebagai berikut: Terjemahan bebas penulis : Biaya dibayar kembali, tak ada jasa. Dalam pengaturan ini, Penyedia jasa hanya diganti biaya-biaya yang telah dikeluarkan. Tidak ada jasa yang dibayarkan. Alternative ini sangat sedikit Pemakaianya dalam dunia konstruksi komersial. Bila digunakan, biasanya digunakan pada Pekerjaan yang dilaksanakan untuk organisasi-organisasi Nirlaba (Perguruan tinggi, Yayasanyayasan social dan sebagainya) atau untuk Pekerjaan riset dan pengembangan dalam mana Penyedia Jasa memperoleh keuntungan dengan berperan serta dalam usaha. Konstruksi-konstruksi atau usaha pabrik dimana Penyedia Jasa mendapat Keuntungan dari uji coba produksinya, atau metode kerja yang mungkin mengarah pada suatu kontrak. 2) Biaya ditambah Jasa (Cost Plus Fee) a. Dalam bentuk kontrak seperti ini, Penyedia jasa dibayar seluruh biaya untuk melaksanakan pekerjaan, ditambah jasa yang biasanya dalam bentuk prosentase dari biaya (misalkan 10 %). Dalam hal ini tidak ada batasan mengenai besarnya biaya seperti batasan apa saja yang dapat dikategorikan sebagai biaya selain yang sudah jelas seperti biaya Proyek kampus UMN Serpong II - 25
26 bahan, peralatan, alat bantu, upah, sewa dan sebagainya seperti overhead penyedia jasa. b. Robert D. Gilbreath dalam bukunya Managing Construction Contracts, halaman 54, menamakan bentuk kontrak ini sebagai Cost Plus Percentage of Costs. Selanjutnya dia menulis untung rugi bentuk kontrak ini sebagai berikut : Biaya ditambah persentase biaya Dalam pengaturan ini, para penyedia jasa dibayar untuk biaya-biaya yang sudah dukeluarkan dan diberi jasa secara proporsional bagi biayabiaya yang berhubungan langsung dengan beberapa bagian atau seluruh pekerjaan. Semakin tinggi biaya-biaya langsung semakin tinggi jasa konstruksi. Kebanyakan pengguna jasa sepakat bahwa pengaturan ini paling tidak menguntungkan bagi semuanya. Bukan hanya para Penyedia Jasa yang tidak memiliki rangsangan untuk mengawasi biaya, tetapi mereka juga diberikan rangsangan positif untuk menaikkan biaya. Karena kekurangan pengawasan atas biaya ini, usaha pengguna jasa selama pemilihan penyedia jasa dan pemantauan biaya berikutnya serta usaha pengawasan biaya menjadi sangat penting. Dalam banyak kasus persentase jasa dirundingkan kembali selama masa pelaksanaan, terutama jika biaya-biaya yang bersangkutan telah melampaui perkiraan semula. Hal ini menuntut Pertimbangan waktu dan usaha. Barangkali rekomendasi pengawasan terbaik mengenai pendekatan biaya ditambah persentase jasa atas biaya adalah dengan menghindari pemberian harga dengan cara ini. Jika ini tak dapat dicegah, tetapkan persentase jasa terendah dan pantau biaya-biaya dan pelaksanaan konstruksi dengan hati-hati. Pengaturan biaya ditambah persentase atas biaya tidak dianjurkan untuk digunakan. Jika cara ini tetap digunakan batasi jangka waktunya untuk periode pelaksanaan yang pendek, dengan biaya rendah atau pekerjaan darurat ini diserahkan pelaksanaannya kepada para Penyedia Jasa yang dapat dipercaya. Proyek kampus UMN Serpong II - 26
27 3) Biaya Ditambah Jasa Pasti (Cost Plus Fixed Fee) a. Bentuk Kontrak seperti ini pada dasarnya sama dengan bentuk kontrak Biaya ditambah Jasa (Cost Plus Fee) sebagai mana diuraikan sebelumnya. Perbedaannya terletak pada jumlah imbalan (fee) untuk Penyedia jasa. Dalam bentuk kontrak Cost Plus Fee, besarnya imbalan jasa/jasa penyedia jasa yang pasti dan tetap (fixed fee) walaupun biaya berubah Terlihat disini bahwa bentuk kontrak ini sedikit lebih baik dari pada bentuk kontrak Cost plus fee karena satu hal sudah pasti yaitu jumlah imbalan/fee yang tetap. Namun tetap saja bentuk ini masih beresiko bagi Pengguna jasa karena tidak ada kepastian mengenai batas biaya yang diperlukan. Sebaliknya, dari aspek Penyedia Jasa tidak ada rangsangan untuk maniakkan/menambah biaya karena bila hal ini terjadi, dia tidak mendapat tambahan imbalan/fee. b. Robert D. Gilbreath dalam bukunya Managing Construction Contracts, halaman 53, menulis bentuk kontrak ini sebagai berikut : Biaya ditambah Jasa pasti Pilihan ini mengizinkan Penyedia Jasa untuk dibayar atas semua biaya yang dikeluarkan dan menerima sejumlah imbalan/fee pasti/tetap untuk jasa yang diberikan. Imbalan pasti tersebut ditetapkan sebelum kontrak ditandatangani dan tidak berubah kecuali lingkup pekerjaan diubah. Oleh karena Penyedia jasa akan dibayar sehubungan dengan seluruh biaya yang dikeluarkan, tanpa batas, dan imbalan/jasanya terjamin, Penyedia jasa tidak memiliki rangsangan atas harga atau biaya. Oleh karena tidak ada harga-harga pagu (ceiling prices), jasa insentifatau rumus pembagian biaya, Usaha Pengguna jasa untuk berunding menjadi berkurang atau bahkan bersepakat dengan calon Penyedia Jasa sebelum penunjukkan. Tetapi beberapa Evaluasi diperlukan untuk menetapkan jumlah imbalan yang pasti. Perubahan biaya secara tetap dan pengawasandari pihak pengguna Jasa diperlukan. Jumlah Imbalan pasti harus mempunyai beberapa hubungan dengan tingkat kesulitan dalam pelaksanaan pekerjaan, biaya Pekerjaan, dan lamanya pelaksanaan. Kontrak yang menggunakan metode ini harus Proyek kampus UMN Serpong II - 27
28 menetapkan jumlah pengeluaran yang diperlukan, Penyedia jasa harus melakukan Pengawan dan pemeriksaan. Tambahan lagi, devinisi dari biaya-biaya yang akan dibayar kembali dan biaya-biaya yang diperkirakan tercakup dalam imbalan/jasa haruslah diteliti. Perubahan pada Pekerjaan membutuhkan evaluasi detail dan perundingan sebagai dampak terhadap imbalan pasti. Metode ini sangat biasa untuk kontrak-kontrak konstruksi dan untuk beberapa kontrak jasa. Sistem Kontrak di Proyek UMN serpong Berdasarkan uraian jenis kontrak konstruksi diatas, maka dapat disimpulkan oleh Penulis bahwa kontrak diproyek UMN serpong adalah kontrak yang spesialis. Karena jika dilihat dari Jenis kontrak menurut Aspek perhitungan biaya, tidak ada kriterianya. Baik Volume maupun harga satuan akan dihitung ulang dan dibicarakan kemudian. Pada prinsipnya harga satuan akan dicari bersama-sama antara pihak owner, Konsultan QS dan Pemborong Pekerjaan utama, untuk mendapatkan harga yang terbaik dan tentunya dengan kualitas terbaik juga. Untuk Kontrak sementara yang digunakan sebagai dasar adalah Preliminary estimate yang dibuat intern konsultan QS dan Owner. Preliminary estimate sebagai dasar Kontrak sementara (tanpa menunggu dari estimate detail jadi dulu) merupakan suatu kontrak yang sangat unik menurut penulis. Pada umumnya Owner (Pemberi Tugas) mengadakan kontrak dengan Pemborong dengan nilai yang sudah Fix dan pasti dengan dasar estimate detail, walaupun kadang masih ada kemungkinan untuk berubah nilai kontraknya, tetapi sebagian besar tidak akanbanyak Pekerjaan tambah/kurangnya. Tentunya kontrak seperti ini memiliki resiko-resiko yang harus dihadapi dan ditanggung oleh semua Pihak yang terlibat dalam Proyek ini. Seperti : Bagi Pihak Owner : Apabila Preliminary Estimate jatuhnya jauh lebih besar dari estimate detail, maka Pihak owner kelebihan dalam membayar DP awal kepada Pemborong, Walaupun nanti pada pembayaran selanjutnya akan dipotong terhadap pengembalian uang muka, tetapi apabila Proyek kampus UMN Serpong II - 28
29 Preliminary Estimatenya jauh lebih kecil dari pada estimate detail maka akan terjadi hal sebaliknya. Bagi Pihak Pemb. : Apabila Preliminary Estimate jatuhnya jauh lebih besar dari estimate detail, maka Pihak Pemborong akan diuntungkan dengan over DP awal, Walaupun nanti pada pembayaran selanjutnya akan dipotong terhadap pengembalian uang muka, tetapi apabila Preliminary Estimatenya jauh lebih kecil dari pada estimate detail maka akan terjadi hal sebaliknya (Pemborong dirugikan dengan DP yang sedikit) yang seharusnya lebih dri yang dibayarkan. Bagi Pihak QS : Apabila Preliminary Estimate jatuhnya jauh lebih besar maupun lebih kecil dari estimate detail maka kedua keadaan tersebut akan sangat berpengaruh bagi konsultan Quantity Surveyor. Hal ini berkaitan dengan masalah kecermatan estimasi dan Nama Perusahaan. Menurut Penulis, dasar kontrak yang idealnya dipakai seharusnya tetap mengacu ke Estimate Detail, karena sudah bersifat pasti dan minim resiko kekhawatiran akan kondisi diatas, selain itu Semua pihak yang terlibat akan merasa tenang dengan kepastian dasar kontrak yang digunakan. Apabila dilihat dari segi Aspek Perhitungan jasa maka kontrak diproyek ini adalah system Biaya Ditambah Jasa Pasti (Cost Plus Fixed Fee). Karena Pemborong Pekerjaan utama dan Pemberi tugas sudah negosiasi diawal tentang besarnya jasa yang diterima oleh Pemborong Pekerjaan utama dimana besarnya jasa tersebut adalah fixed (tidak akan berubah) walaupun ada perubahan Pekerjaan yang mengakibatkan berubahnya nilai kontrak akhir atau adanya Pekerjaan tambah/pekerjaan Kurang.. Proyek kampus UMN Serpong II - 29
30 Di Proyek ini, sistem Penunjukan kontraktor Pekerjaan utama yang sekaligus sebagai Main Contractor dilakukan secara langsung tanpa adanya proses tender (system Penunjukan langsung). Hal ini dilakukan karena sebelumnya Kontraktor ini sudah pernah bekerja sama dalam proyek sebelumnya dengan team yang sama. Untuk sub kontraktor, yang pada umumnya memiliki kontrak dengan main kontraktor, pada proyek ini kontrak sub kontraktor langsung dengan owner (direct contrac). Penunjukan sub kontraktor dilakukan dengan sistem tender. Sistem Penunjukan sub kontraktor langsung oleh pemberi tugas (direct contract) maupun lewat Pemborong utama (main contract) memiliki beberapa karakteristik tersendiri, diantaranya :» Sistem penunjukan langsung Kelebihan : a. Lebih murah b. Kontraktor yang dipilih spesialis di bidangnya c. Sesuai keinginan owner d. Dokumen tender dapat dipersiapkan secara matang Kerugian : a. Banyak pekerjaan ; banyak paket tender, banyak koordinasi. b. Waktu lebih lama c. Diperlukan tenaga pengawas yang lebih banyak» Lewat pemborong utama Keuntungan : a. Pekerjaan lebih sedikit b. Waktu relatif lebih singkat c. Tenaga pengawas lebih sedikit Kerugian : a. Owner tidak dapat langsung memilih b. Relatif lebih mahal (terjadi dobel keuntungan) c. Gambar tender harus siap seluruhnya Proyek kampus UMN Serpong II - 30
31 Istilah-istilah dalam Kontrak 1) Harga Satuan Harga Satuan adalah merupakan acuan untuk menentukan Total Harga Penawaran. Harga satuan juga akan dipergunakan sebagai dasar dalam menghitung biaya pekerjaan tambah dan kurang sekiranya ada instruksi perubahan (variation order / VO). Setiap Harga Satuan Pekerjaan sudah termasuk harga bahan, upah, hak patent, biaya perlengkapan, pengangkutan, resiko, bea materai, biaya-biaya umum, fluktuasi harga, biaya-biaya kewajiban umum kepada Pemerintah yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut (bila ada), PPh, overhead dan di luar pajak PPN 10% dan keuntungan. 2) Harga Borongan/Harga Kontrak Harga Borongan yang selanjutnya disebut Harga Kontrak berarti jumlah Harga Kontrak keseluruhan dari pekerjaan yang tersebut dalam Surat Penawaran dan yang telah disetujui serta ditetapkan oleh Pemberi Tugas dalam Surat Perintah Kerja (SPK) dan disahkan dalam Kontrak. 3) Biaya Perkiraan Pekerjaan Harian Berarti harga satuan baik untuk upah/tenaga kerja, bahan maupun untuk peralatan. Harga satuan ini akan digunakan untuk menghitung Pekerjaan tambah yang didasarkan atas penggunaan/ pemakaian tenaga orang dan peralatan, misalnya untuk pekerjaan-pekerjaan yang susah ditentukan harga satuannya, pekerjaan bongkar pasang. Harga satuan yang dicantumkan oleh Pemborong sudah mencakup biaya tidak terduga seperti : waktu yang tidak produktif, lembur, maupun faktor pengkali untuk jam lembur, Pajak PPh, bahan yang terbuang, bahan bakar, peralatan, daya, asuransi peralatan, biaya kerusakan, transportasi, administrasi, supervisi, ongkos kerja, alat penunjang, dan biaya lain yang bersangkutan dengan hal tersebut (Catatan : jam kerja dihitung 7 jam/hari atau 8 jam termasuk 1 jam untuk istirahat). 4) Biaya Cadangan (Contingency) Proyek kampus UMN Serpong II - 31
32 Berarti sejumlah biaya/ uang yang disediakan oleh Pemberi Tugas sebagai Biaya Cadangan, apabila biaya tersebut tidak terpakai atau terpakai sebagian akan dikeluarkan dari Harga kontrak seluruhnya atau sebagian melalui Instruksi Direksi Pengawas. 4) PC Rate Adalah merupakan item/ pokok pekerjaan didalam Bill of Quantity dimana harga satuan untuk bahan/ material tertentu sudah ditentukan. Pemberi Tugas berhak untuk menentukan/ memilih type, jenis dan ukuran dari material tersebut sepanjang harga satuannya berkisar pada PC Rate tersebut, begitu pula Pemberi Tugas berhak untuk menentukan/ memilih type, jenis dan ukuran dari material tersebut dengan PC Rate yang lebih mahal atau lebih murah. Untuk hal ini akan diperhitungkan sebagai pekerjaan tambah/kurang. 5) Provisional Sum Berarti jumlah Perkiraan Biaya yang termasuk di dalam Harga Kontrak untuk pekerjaan-pekerjaan yang mungkin akan dilaksanakan tetapi gambar Perencanaan belum ada atau belum jelas dimana Harga Satuan Pekerjaan mengikat dan volume akan dihitung kembali berdasarkan gambar pelaksanaan yang merupakan lampiran dari Instruksi tertulis dari DP. Pelaksanaan pekerjaan tersebut berdasarkan Instruksi tertulis dari DP. Perkiraan biaya tersebut akan dikeluarkan dari Harga Kontrak jika pekerjaan pekerjaan yang tercantum di dalam provisional sum tidak dilaksanakan atau dilaksanakan akan dihitung sebagai Pekerjaan Tambah Kurang melalui Instruksi tertulis dari DP. 6) Bills of Quantities atau BoQ Adalah daftar uraian pekerjaan, volume dan harga satuan yang terdapat dalam Dokumen-dokumen Tender dan Kontrak. Harga satuan dalam BQ dan Kontrak adalah dasar harga yang dipakai untuk menghitung biaya Pekerjaan Tambah atau Kurang. Proyek kampus UMN Serpong II - 32
33 2.12 Ruang Lingkup Pekerjaan Struktur Pekerjaan Beton Beton didapat dari pencampuran bahan-bahan agregat halus dan kasar yaitu pasir, batu, batu pecah, atau bahan semacam lainnya, dengan menambahkan secukupnya bahan perekat semen, dan air sebagai bahan pembantu guna keperluan reaksi kimia selama proses pengerasan dan perawatan beton berlangsung. Agregat halus dan kasar, disebut sebagai bahan susun kasar campuran, merupakan komponen utama beton. Nilai kekuatan serta daya tahan (durability) beton merupakan fungsi dari banyak factor, diantaranya ialah nilai banding campuran dan mutu bahan susun, metode Pelaksanaan pengecoran, Pelaksanaan finishing, temperature, dan kondisi perawatan pengerasanya. Beton mutu tinggi saat ini didefinisikan sebagai beton dengan kuat tekanan melebihi 41 MPa. Material dasar yang dipakai tidak banyak berbeda dengan beton mutu normal, yaitu material komposisi yang sangat heterogen yang terdiri atas unsur-unsur seperti pasta semen, agregat, zona kontak antara pasta agregat dengan rongga-ronga kosong. Perilaku mekanik beton akan dipengaruhi oleh karakteristik unsur-unsur penyusunnya. Perkembangan pada bahan tambahan mineral dan kimia telah memungkinkan diproduksinya beton 90 MPa sampai dengan 120 MPa. Pernambahan bahan kimia seperti plasticizer, super plasticizer dan bahan tambahan mineral seperti fly ash, blast furnace slag dan silica fume sangat dominan dalam memproduksi beton mutu tinggi. Bahan-bahan tersebut telah tersedia di Indonesia tapi sangat sulit mendapatkan agregat beton yang mutunya baik dan konsisten, sehingga diperlukan pemasok khusus yang dapat diawasi dan dikendalikan mutu produksinya. Beton mutu tinggi telah diproduksi secara komersial diberbagai Negara, terutama untuk konstruksi gedung bertingkat tinggi. Beton kiranya tidak berlebihan jika dikatakan sebagai material bangunan yang paling banyak digunakan dalam pembangunan manusia dan sudah sangat tua sejarahnya. Dari dulu sampai sekarang beton disukai para ahli struktur untuk digunakan sebagai material bangunan karena beberapa keunggulannya yang antara lain adalah : Bahan campurannya mudah didapat secara alami dibanyak tempat Mudah dibuat dan dilaksanakan Proyek kampus UMN Serpong II - 33
34 Mudah dibentuk untuk aspek structural maupun arsitektural dari berbagai komponen bangunan sesuai keinginan perencananya Memiliki tingkah laku yang deformasi relatife kaku Memiliki ketahanan yang relative baik terhadap suhu tinggi ataupun kebakaran Memiliki ketahanan yang cukup baik terhadap abrasi atau penggerusan Memiliki ketahan korosi dan keawetan jangka panjang yang cukup baik Biaya pelaksanaan dan perawatan pembangunan yang relatif murah Dalam tiga dasawarsa terakhir ini, beton berkinerja tinggi menjadi makin berperan dan makin sering digunakan untuk keperluan stuktur bangunan modern dinegara-negara maju. Untuk pembangunan di Indonesia dari sekian banyak gedung tinggi dan jembatan serta jalan layang yang dibangun dewasa ini, ternyata beton juga merupakan bahan bangunan yang paling banyak digunakan oleh para ahli struktur. Namun demikian beton konvensional yang terdiri dari campuran semen portland, pasir, kerikil dan air sebagai material bangunan masih menunjukkan banyak kelemahan diantaranya : Kekuatan relative tidak tinggi Komponen struktur bangunan relative berat Pelaksanaannya relative lambat sehubungan dengan lama proses pengerasannya Pada lingkungan yang agresif seperti yang mengandung larutan garam sulfat beton bermutu rendah mudah mengalami korosi sehingga mengakibatkan rapuh atau keropos Karena itu bila kita sejenak menengok kembali kemasa akhir Abad ke-19 dan awal Abad ke-20 yaitu masa dimulainya pembangunan gedung-gedung tinggi dan jembatan terbentang panjang, terutama diamerika serikat yang saat itu ekonominya berkembang pesat sehingga membutuhkan ekspansi pembangunan secara besar-besaran, ternyata kekuatan dan kinerja beton pada waktu itu masih belum memadai untuk digunakan sebagai material struktur utama bangunan tinggi atau jembatan panjang sehingga baja menjadi primadona yang dianggap cocok untuk menunjang sistem struktur. Proyek kampus UMN Serpong II - 34
35 Bila melihat penggunaan beton untuk struktur bangunan-bangunan besar di Indonesia, maka sejak dua dasawarsa terakhir ini mutu beton yang digunakan telah banyak meningkat. Dewasa ini kekuatan beton yang banyak digunakan di Indonesia untuk bangunan bisaa berkisar antara MPa, namun sesuai perkembangan teknologi beton, beton yang digunakan untuk bangunanbangunan besar juga cenderung bermutu tinggi dan berkinerja tinggi. Berbagai hasil penelitian menunjukkan banyak kinerja (pefomance) beton dapat ditingkatkan pada beton mutu tinggi dan sangat tinggi, dibandingkan dengan beton konvensional, termasuk peningkatan kemudahan pengerjaannya (workability dan pumpability) dan juga ketahanannya terhadap serangan korosif dari lingkungan yang agresif. Perlu kiranya dimengerti, bahwa beton berkinerja tinggi bisa hanya dibutuhkan untuk suatu kinerja tertentu saja dan tidak selalu perlu berkekuatan tinggi. Misalnya beton kedap air diperlukan untuk pembuatan dinding basement pada suatu bangunan bertingkat banyak di daerah rawan banjir, atau yang muka air tanahnya cukup tinggi. Demikian pula misalnya untuk proses pelaksanaan suatu dinding silo dengan cara slip forming dimana beton yang dituangkan perlu diatur untuk tidak cepat mengeras, dan harus mampu menunggu selesainya pengecoran dibagian keliling lainnya, untuk kemudian bisa secara bersama-sama diangkat bekistingnya dengan kondisi masih plastis tanpa menimbulkan kerusakan pada betonnya. Hal-hal semacam ini memang menuntut kinerja beton yang secara khusus dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan spesifik bangunan yang dikerjakan. Penggunaan beton berkinerja tinggi juga menjadi menarik misalnya untuk mengatasi isu lingkungan yang banyak dikhawatirkan pada pondasi bangunan-bangunan tinggi di Jakarta, yaitu akibat makin merembesnya air laut kedalam kota Jakarta yang dikhawatirkan bisa menimbulakan korosi pada bangunan yang ada. Hasil penelitian yang dilakukan di Universitas Indonesia Maupun diluar negeri menunjukkan bahwa beton berkinerja tinggi yang mengandung pozzolan seperi mikrosilika atau abu terbang ternyata mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam menahan serangan garam agresif, di banding beton normal. Hal ini menunjukkan satu aspek lain lagi yang bisa ditawarkan beton berkinerja tinggi untuk meningkatkan keawetan jangka panjang bangunan. Persoalan yang masih sering diragukan apakah beton bermutu tinggi diatas berkinerja tinggi seperti yang telah disampaikan, bisa Proyek kampus UMN Serpong II - 35
36 diproduksi dengan baik dan menentu di Indonesia (menggunakan material yang tersedia) dan bagaimana kiranya pengaruh penggunaan tambahan bahan-bahan kimiawi dan material (yang sudah merupakan suatu kebutuhan mutlak pada proses pembuatan beton bermutu tinggi) terhadap prilaku mekanik beton. Namun bagai manapun mengingat bahwa syarat ekonomis pada setiap pelaksanaan bangunan akan makin dituntut pada masa yang akan datang. Kiranya penggunaan beton bermutu tinggi dan berkinerja tinggi untuk bangunan sudah merupakan suatu kecenderungan yang dianjurkan agar lebih bisa kompetitif baik dari segi kaemanan, ekonomi, keawetan, maupun juga kecepatan pelaksanaan konstruksi Unsur Pendukung Kekuatan Beton Beton adalah suatu material yang terbentuk dari suatu campuran pasta semen (adukan semen dan air) dengan agregat (pasir dan kerikil) yang bisa ditambahkan suatu bahan additive atau addmixtur tertentu sesuai kebutuhan untuk mencapai kinerja (performance yang diinginkan). Karena kondisi bahan campurannya yang sebagian besar bersifat alami sehingga tidak homogen, maka beton selalu merupakan suatu material yang bersifat heterogen secara internal. Sebagai mana telah disampaikan kinerja beton yang unggul menjadi makin dituntut untuk struktur-struktur modern pada tiga dasawarsa terakhir ini, yang disebabkan oleh tuntutan aspek structural, dan kebutuhan kinerjanya, baik pada keadaan layan (service), keadaan batas (ultimate), maupun pada aspek ketahanan jangka panjang (durability). Seorang ahli perencana biasanya mengenal beton sebagai material pada skala yang besar dan menggambarkan karakteristiknya melalui kuat tekan, modulus elastisitas, dan perilaku mekanik lainnya dimana beton biasanya dimodelisasi sebagai media kontinu yang isotrop, homogen dan elastis. Sebagai mana telah disampaikan beton merupakan suatu material yang terbentuk dari suatu campuran pasta semen bahan additive, pasir, kerikil dan agregat lainnya. Dalam hal ini beton sering dimodelisasi sebagai gabungan dari dua unsure material yang berbeda fungsinya yaitu pasta semen sebagai komponen pengikat dan agregat sebagai komponen pengisi, yang disatukan bersama-sama namun dipisahkan oleh suatu permukaan interface. Adalah merupakan tugas seorang perancang campuran beton, untuk mengamati beton Proyek kampus UMN Serpong II - 36
37 dalam sekala kecil dan mencoba untuk selalu mengubah dan memperbaiki struktur campurannya, sedemikian rupa agar kondisi yang terjadi pada aksi dan reaksi fisika, kimia, dan mekanikal menjadi optimal dan menghasil beton dengan mutu yang maximal. Karena dipengaruhi oleh perilaku bahan-bahan pembentuknya, terutama pasta semen (setelah mengeras) maka beton setelah mengeras mempunyai sifat kuat dalam menahan tekanan. Secara umum ada tiga aspek utama yang menentukan kekuatan beton yaitu: 1. kekuatan pasta semen 2. kualitas agregat yang digunakan 3. daya lekat antara pasta semen dengan agregat dari ketiga aspek yang disebutkan diatas ternyata kekuatan pasta semen merupakan aspek pendukung yang sangat penting, yang dipengaruhi secara langsung oleh dua factor utamanya yaitu factor semen dan factor porositasnya, dimana porositas yang kecil akan menghasilkan pasta semen yang lebih kuat dan demikian juga menghasilkan beton yang bermutu tinggi. Dalam hal ini, penelitian menunjukkan bahwa besarnya porositas berbanding lurus dengan satu factor yang dipengaruhi banyaknya air yang digunakan. Bahan tambahan campuran beton Dalam teknologi beton modern adanya additive dan admixture sebagai bahan tambahan campuran beton merupakan kemajuan luar biasa dalam teknologi beton, karena penambahan additive dan admixture tersebut kedalam campuran beton ternyata telah berhasil meningkatkan kinerja beton hampir disemua aspeknya yaitu, kekuatan, kemudahan pengerjaan, (workability) keawetan, dan kinerja-kinerja lainnya dalam memenuhi tuntutan teknologi modern. Dalam hal ini additive sering digunakan untuk bahan tambahan berupa butiran yang sangat halus, sebagian besar merupakan mineral, seperti abu terbang (fly ash) mikrosilika (silicafume) atau abu slag besi (iron balst furnace slag) yang umumnya ditambahkan pada semen sebagai bahan utama beton. Manfaat dari bahan tambahan campuran beton diantaranya: 1. mempercepat pengikatan hidrasi semen atau pengerasan beton 2. memperlambat pengikatan hidrasi semen atau pengerasan beton Proyek kampus UMN Serpong II - 37
38 3. meningkatkan kinerja kelecakan atau (workbability) adukan beton tanpa menambahkan air 4. mengurangi penggunaan air dalam campuran beton tanpa mengurangi workbability. 5. meningkatkan kinerja kemudahan pemompaan (pumpability) beton 6. mengurangi kecepatan terjadinya slump loss 7. mengurangi susut beton atau memberikan sedikit pengembangan volume beton (expansi) 8. mengurangi terjadinya kecepatan terjadinya bleeding 9. mengurangi terjadinya agregasi Pekerjaan yang termasuk dalam lingkup pekerjaan beton yang akan dimasukan dalam perhitungan analisis biaya bangunan meliputi: 1. Penyediaan dan pendayagunaan semua tenaga kerja, bahan-bahan, instalasi konstruksi dan perlengkapan-perlengkapan untuk semua pembuatan dan mendirikan baja tulangan, bersama dengan semua pekerjaan pertukangan/keahlian lain yang ada hubungan nya dengan itu, lengkap sebagaimana diperlihatkan, dispesifikasikan, atau sebagaimana diperlukannya. 2. Ukuran-ukuran (dimensi) dari bagian-bagian beton bertulang yang tidak termasuk pada gambar-gambar rencana pelaksanaan arsitektur adalah ukuran-ukuran dalam garis besar. Ukuran-ukuran yang tepat, begitu pula besi penulangannya ditetapkan dalam gambar-gambar struktur konstruksi beton bertulang. Jika terdapat selisih dalam ukuran antara kedua macam gambar itu, maka ukuran yang harus berlaku harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan perencana atau pengawas yang ditunjuk guna mendapatkan ukuran yang sesungguhnya disetujui oleh perencana. 3. Jika karena keadaan pasaran, besi penulangan perlu diganti guna kelangsungan pelaksanaan maka jumlah luas penampang tidak boleh berkurang dengan memperlihatkan syarat-syarat lainnya yang termuat dalam PBI Penyediaan dan penempatan tulangan baja untuk semua pekerjaan beton yang berlangsung dicor ditempat, termasuk penyediaan dan penempatan batang-batang dowel ditanamkan didalam beton seperti terlihat dan Proyek kampus UMN Serpong II - 38
39 terperinci di dalam gambar, dan bila disyaratkan, penyediaan penulangan untuk dinding blok beton. 5. Pekerjaan-pekerjaan lain yang termasuk adalah: - Semua pekerjaan beton yang tidak terperinci diluar ini - Pemeliharaan dan finishing, termasuk grouting - Mengatur benda-benda yang ditanam di dalam beton, kecuali tulang beton - Koordinasi dari pekerjaan ini dengan pekerjaan dari lain bagian. - Landasan beton untuk peralatan M/E - Penyediaan dan penempatan stek tulangan pada setiap pertemuan dinding bata dengan kolom/dinding beton struktural dan dinding bata dengan pelat beton struktural seperti yang ditunjukkan oleh pengawas yang ditunjuk. Adukan beton harus didasarkan pada trial mix dan design mix masing-masing untuk umur 7, 14, atau 21 dan 28 hari yang didasarkan pada minimum 20 Hasil uji disetujui tersebut sudah harus disertakan selambat-lambatnya tiga minggu sebelum pengerjaan dimulai, dan selain itu mutu betonpun harus sesuai dengan mutu standard PBI Kekentalan adukan beton diperiksa dengan pengujian slump, dimana nilai slump harus dalam batas-batas yang disyaratkan dalam BPI 1971, bila dipakai pompa beton, slump harus didasarkan pada pengukuran di pelepasan pipa, bukan di truk mixer. Maximum slump harus 100 mm sampai 150 mm Rekomendasi slump untuk variasi beton konstruksi pada keadaan atau kondisi normal: Konstrusi beton maksimum minimum - Dinding, plat pondasi dan pondasi bertulang Pondasi tidak bertulang, kaison, dan sub struktur Plat, balok, kolom dan dinding Pembetonan missal Untuk beton dengan bahan tambahan plasticizer, slump dapat dinaikkan sampai maximum 1,5 cm. Beton setelah dicor harus dilindungi terhadap proses pengeringan yang belum saatnya dengan cara mempertahankan kondisi dimana kehilangan kelembaban adalah minimal dan suhu yang konstan dalam jangka waktu yang diperlukan untuk proses hydrasi semen serta pengerasan beton. Proyek kampus UMN Serpong II - 39
40 a. Masa perawatan dan cara perawatan 1. Perawatan beton dimulai segera setelah pengecoran selesai dilaksanakan dan harus berlangsung terus menerus selama paling sedikit dua minggu jika tidak ditentukan lain. Suhu beton pada awal pengecoran harus dipertahankan tidak melebihi C. 2. Dalam jangka waktu tersebut cetakan dan acuan betonpun harus tetap dalam keadaan basah. Apabila cetakan dan acuan beton tersebut pelaksanaan perawatan beton tetap dilakukan dengan membasahi permukaan beton terus menerus dengan menutupinya dengan karung-karung basah atau dengan cara lain yang disetujui oleh pengawas yang ditunjuk 3. Perawatan dengan uap bertekanan tinggi, uap bertekanan udara luar, pemanasan atau proses-proses lain untuk mempersingkat waktu pengerasan dapat dipakai tetapi harus disetujui terlebih dahulu oleh pengawas yang ditunjuk Beton untuk tangki air, dinding penahan tanah, untuk ruang dibawah tanah, lubang galian (pit), dan pekerjaan beton lainnya yang berhubungan dengan air harus dibuat kedap air, antara lain dengan menambahkan bahan additive yang sesuai.penggunaan bahan additive tersebut harus sesuai petunjuk dari pabrik membuat serta adanya jaminan bahwa bahan additive tersebut tidak akan mempengaruhi kekuatan maupun ketahanan beton apabila digunakan sesuai petunjuk. Nilai slump beton yang diperlukan adalah minimum untuk menjamin pengecoran dan pemadatan beton yang sesuai untuk dilaksanakan. Penyelesaian Finishing Beton 1. Kecuali ditentukan lain, permukaan beton harus segera diselesaikan setelah pembongkaran dan diselesaikan sesuai tingkat dan dimensi seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja. 2. Floor Herdener harus diaplikasikan pada permukaan beton yang masih segar secara merata, dengan cara pelaksanaan dan dalam jumlah sesuai rekomendasi dari pabrik pembuatnya, atau sebanyak 5 kg/m 2, kecuali bila ditentukan lain. Permukaan Floor Hardener harus dirawat dengan cairan khusus sesuai rekomendasi dari pabrik pembuat Floor Hardener Proyek kampus UMN Serpong II - 40
41 Pekerjaan Besi Setiap jenis baja tulangan yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik baja yang terkenal dapat dipakai. Pada umumnya setiap pabrik baja mempunyai standart mutu dan jenis baja, sesuai dengan yang berlaku di Negara yang bersangkutan. Namun demikian, baja tulangan yang terdapat di Indonesia dapat dibagi dalam mutu-mutu sebagai berikut: Mutu sebutan Tegangan leleh karakteristik atau tegangan U-22 U-24 U-32 U-39 U-48 Baja lunak Baja lunak Baja sedang Baja keras Baja keras Tabel II-3 Tabel Baja Tulangan karakteristik yang memberikan tegangan tetap Yang dimaksud dengan tegangan leleh karakteristik dan tegangan karakteristik yang memberikan regangan tetap 0,2%, adalah tegangan yang bersangkutan, dimana dan sejumlah besar hasil-hasil pemeriksaan kemungkinan adanya tegangan yang kurang dari tegangan tersebut, terbatas sampai 5% saja. Tegangan leleh minimum dan tegangan minimum yang memberikan renggangan tetap 0,2%yang dijamin oleh pabrik pembuatnya dengan sertifikat, dapat dianggap sebagai tegangan karakteristik bersangkutan. Baja tulangan dengan mutu yang tidak tercantum dalam daftar diatas dapat dipakai, asal mutu tersebut dijamin oleh pabrik pembuatnya dengan sertifikat. Baja tulangan dengan mutu yang meragukan harus diperiksa dilembaga pemeriksaan bahan-bahan yang diakui. Lembaga tersebut selanjutnya akan memberikan pertimbangn-pertimbangan dan petunjuk-petunjuk tentang penggunaan baja tersebut. Batang tulangan menurut bentuknya dibagi dalam batang polos dan batang yang diprofilkan. Yang dimaksud dengan batang polos adalah batang yang prismatis berpenampang bulat, persegi, lonjong, dan lain-lain, dengan permukaan licin. Yang dimaksudkan dengan batang yang diprofilkan adalah batang prismatis atau dipuntir permukaannya. Diberi rusuk-rusuk yang dipasang tegak lurus atau niring terhadap sumbu batang dengan jarak antara rusuk-rusuk Proyek kampus UMN Serpong II - 41
42 tidak lebih 0,7 kali diameter pengenalnya. Apabila tidak ada data yang meyakinkan (misalnya keterangan dari pabriknya atau hasil-hasil pemeriksaan laboratorium), maka batang yang diprofilkan dengan jarak rusuk yang tidak memenuhi syarat diatas atau batang lain yang dipuntir dengan penampang persegi, lonjong atau berbentuk salib yang permukaannya bertakik, harus dianggap sebagai batang polos. Kawat pengikat harus terbuat dari baja lunak dengan diameter minimum 1mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu dan tidak bersepuh seng. berkas tulangan hanya boleh terdiri dari 2, 3, atau 4 batang yang sejajar. Batangbatang tersebut harus saling bersentuhan, terdiri dari batang-batang yang diprofilkan dengan diameter yang tidak kurang dari 19 mm. diameter batangbatang tulangan didalam berkas tidak boleh berselisih yang satu terhadap yang lainnya lebih dari 3 mm pada setiap penampang, dan harus diikat erat dengan kawat pengikat dengan diameter minimum 2,5 mm dan dengan jarak pengikat tidak lebih dari 24 kali diameter pengenal batang terkecil. Didalam perhitunganperhitungan, suatu berkas tulangan harus dianggap sebagai satu batang tunggal dengan satu diameter ekivalen. a. Tulangan Tulangan yang disediakan adalah tulangan ulir bermutu BJT-40, sesuai dengan SII dan tulangan polos mutu JTP-24, sesuai SII seperti dinyatakan pada gambar-gambar struktur. Tulangan polos dengan diameter lebih kecil atau sama dengan dameter 8 mm harus baja dengan tegangan leleh 200 kg/cm 2. Tulangan ulir dengan diameter lebih besar dari 10 mm harus baja tegangan tarik tinggi, batang berulir dengan tegangan leleh 4000 kg/cm 2. b. Tulangan Anyaman (Wire Mesh) Sediakan tulangan anyaman, mutu U-50, mengikuti SII Pemasangan pada kepanjangan terpanjang yang mungkin dilakukan. Jangan melakukan penghentian /pengakhiran lembar wire mesh antara tumpuan balok atau tepat diatas balok dari struktur menerus. Keseimbangan pengakhiran dari lewatan dalam arah lebar yang berdampinagn untuk mencegah lewatan yang menerus. Wire mesh harus ditahan pada posisi yang benar selama pengecoran. c. Penunjang/Dudukan Tulangan (Bar Support) Proyek kampus UMN Serpong II - 42
43 Dudukan tulangan haruslah tahu beton yang dilengkapi dengan kawat pengikat yang ditanam atau batang kursi tinggi sendiri (individual high chairs). d. Bolstern, Kursi, Spacers, dan Perlengkapan-Perlengkapan Lain Untuk Mengatur Jarak 1. Pakai besi dudukan tulangan menurut rekomendasi CRSI, kecuali diperlihatkan lain pada gambar. 2. Jangan memakai kayu, bata atau bahan-bahan lain yang tidak direkomendasi. 3. Untuk pelat diatas tanah, pakai penunjang dengan lapisan pasir atau horizontal runners dimana bahan dasar tidak akan langsung menunjang batang kursi (chairs legs). Atau pakai lantai kerja yang rata. 4. Untuk beton expose, dimana batang-batang penunjang langsung berhubungan/mengenai cetakan, sediakan penunjang dengan jenis hat-dip-galvanized atau penunjang yang dilindungi plastik e. Kawat Pengikat Dibuat dari baja lunak dan tidak disepuh seng. Persiapan pekerjaan/ perakitan tulangan. Pemasangn tulangan dan pembengkokan harus sedemikian rupa sehingga posisi dari tulang sesuai dengan rencana dan tidak mengalami perubahan bentuk maupun tempat selama pengecoran berlangsung. Pembuatan dan pemasangan tulangan sesuai dengan PBI Toleransi pembuatan dan pemasangan tulangan disesuaikan dengan persyaratan PBI 1971 atau A.C.I Tulangan harus bebas dari kotoran, lemak, kulit giling (mill steel) dan karat lepas, serta bahan-bahan lain yang mengurangi daya lekat. Bersihkan sekali lagi tonjolan pada tulangan atau sambungan pada konstruksi untuk menjamin rekatnya. Proyek kampus UMN Serpong II - 43
44 Pemasangan Tulangan Sesuai dengan yang tercantum pada gambar dan PBI 71 koordinasi dengan bagian lain dan kelancaran pengadaan bahan serta tenaga perlu diadakan untuk menghindari keterlambatan. Adakan/berikan tambahan tulangan pada lubang-lubang (openings)/bukaan. Tulangan harus dipasang sedemikian rupa diikat dengan kawat baja, hingga sebelum dan selama pengecoran tidak berubah tempatnya. 1. Tulangan pada dinding kolom-kolom beton harus dipasang pada posisi yang benar untuk menjaga jarak bersih digunakan spacers/penahan jarak. 2. Tulangan pada balok-balok footing dan pelat harus ditunjang untuk memperoleh lokasi yang tepat selama pengecoran beton dengan panjang jarak, kursi penunjang dan penunjang lain yang diperlukan. 3. tulang-tulang yang langsung diatas tanah dan diatas agregat (seperti pasir, kerikil) dan pada lapisan kedap air harus dipasang/ditunjang hanya dengan tahu beton yang mutunya paling sedikit sama dengan beton yang akan dicor. 4. perhatian khusus perlu dicurahkan terhadap ketepatan tebal penutup beton. Untuk itu tulangan harus dipasang dengan penahan jarak yang terbuat dari beton dengan mutu paling sedikit sama dengan mutu beton yang akan dicor. Penahan-penahan jarak dapat dapat dibentuk blok-blok persegi atau gelang-gelang yang harus dipasang sebanyak minimum 4 buah setiap m2 cetakan atau lantai kerja. Penahan-penahan jarak ini harus tersebar merata. 5. pada pelat-pelat dengan tulangan rangkap, tulangan atas harus ditunjang pada tulangan bawah oleh batang-batangpenunjang atau ditunjang langsung pada cetakan bawah atau lantai kerja oleh blok-blok beton yang tinggi. Perhatian khusus perlu dicurahkan terhadap ketepatan letak dari tulangan-tulangan pelat yang dibengkok yang harus melintasi tulangan balok yang berbatasan. b. Toleransi pada pemasangan tulangan 1. Terhadap selimut beton (selimut beton) : ± 6 mm 2. Jarak terkecil pemisah antara batang : ± 6 mm 3. Tulangan atas pada pelat dan balok: Proyek kampus UMN Serpong II - 44
45 - Balok dengan tinggi sama atau lebih kecil dari 200 mm: ± 6 mm - Balok dengan tinggi dari 200 mm tapi kurang dari 600m : ± 12 mm - Balok dengan lebih dari 600 mm: ± 12 mm - Panjang batang : ± 50 mm c. Pembengkokan tulangan, sesuai dengan PBI batang tulangan tidak boleh dibengkok atau diluruskan dengan cara-cara yang merusak tulang itu. 2. batang tulangan yang diprofilkan, setelah dibengkok dan diluruskan kembali tidak boleh dibengkok lagi dalam jarak 60 cm dari bengkokan sebelumnya. 3. batang tulangan yang tertanam sebagian didalam beton tidak boleh dibengkokkan atau diluruskan dilapangan, kecuali apabila ditentukan di dalam gambar-gambar rencana atau disetujui oleh perencana. 4. membengkok dan meluruskan batang tulangan harus dilakukan dalam keadaan dingin kecuali apabila pemanasan diijinkan. 5. apabila pemanasan diijinkan, batang tulangan dari baja lunak (polos atau diprofilkan) dapat dipanaskan sampai kelihatan merah padam tetapi tidak boleh mencapai suhu lebih dari C. 6. apabila batang tulangan dari baja lunak yang mengalami pengerjaan dingin dalam pelaksanaan ternyata mengalami pemanasan diatas C yang bukan pada waktu las maka dalam perhitungan perhitungan sebagai kekuatan baja harus diambil kekuatan baja tersebut yang tidak mengalami pengerjaan dingin. 7. batang tulangan dari baja keras tidak boleh dipanaskan kecuali diijinkan oleh perencana. 8. batang tulangan yang dibengkok dengan pemanasan tidak boleh didinginkan dengan jalan disiram dengan air. 9. menyepuh batang tulangan dengan seng tidak boleh dilakukan dalam jarak 8 kali diameter (diameter pengenal) batang dari setiap bagian dari bengkokkan. d. Toleransi pada pemotongan dan pembengkokan tulangan 1. batang tulangan harus dipotong dan dibengkok sesuai dengan yang ditunjukkan dalam gambar-gambar rencana dengan toleransi-toleransi yang disyaratan oleh perencana. Apabila tidak ditetapkan oleh Proyek kampus UMN Serpong II - 45
46 perencana, pada pemotongan dan pembengkokkan tulangan ditetapkan toleransi-toleransi seperti tercantum dalam ayat-ayat tersebut 2. terhadap panjang total batang lurus yang dipotong menurut ukuran dan terhadap panjang total dan ukuran intern dari batang yang dibengkok ditetapkan toleransi sebesar ± 25 mm, kecuali mengenai yang ditetapkan dalam ayat 3 dan 4. Terhadap panjang total batang yang diserahkan menurut sesuatu ukuran ditetapkan toleransi sebesar +50 mm dan -25 mm. 3. terhadap jarak turun total dari batang yang dibengkok ditetapkan toleransi sebesar ± 6 mm untuk jarak 60 cm atau kurang dan sebesar ± 12 mm untuk jarak lebih dari 60cm. 4. terhadap ukuran luar dari sekarang, lilitan dan ikatan-ikatan ditetakantoleransi sebesar ± 6 mm. e. Panjang penjangkaran dan penyaluran 1. baja tulangan mutu U-24 (BJTP-24) panjang penjangkaran = 30 diameter tanpa kait panjang penyaluran = 30 diameter dengan kait 2. baja tulangan mutu U-40 (BJTD-40) panjang penjangkaran = 40 diameter tanpa kait panjang penyaluran = 40 diameter dengan kait 3. penyambungan tidak boleh diadakan pada titik dimana terjadi tegangan besar. Sambungan untuk tulangan atas pada balok dan pelat beton harus dadakan ditengah bentang, dan tulangan bawah pada tumpuan. Sambungan harus ditunjang dimana memngkinkan. 4. ketidak-lurusan rangkaian tulangan kolom tidak boleh melampaui perbandingan 1 terhadap standard pembengkokan semua standard pembengkokan harus sesuai dengan SKSNI-91 ( tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung) kecuali ditentukan lain Pekerjaan Bekisting Pada awalnya material kayu digunakan sebagai struktur sementara untuk mendukung beton yang masih basah sampai dengan proses pengeringan. Proyek kampus UMN Serpong II - 46
47 Proses pengeringan beton (setting time) tidak secepat saat ini. Hal ini karena belum ditemukannya zat tambahan yang dapat dimanfaatkan untuk mengatur kecepatan pengerasan material beton. akibatnya pemakaian kayu sebagai struktur sementara sangat tergantung dari kecepatan mengerasnya beton dan baru dibongkar setelah dinyatakan aman. Dapat dikatakan bahwa cetakan beton sebetulnya barang baru dalam pekerjaan konstruksi, dimana perkembangannya sejalan dengan perkembangan beton itu sendiri, baik dari struktur maupun bentuk yang diinginkan. Bentuk cetakan beton (formwork) disesuaikan dengan gambar rencana, biasanya dibuat dilokasi pekerjaan dan dimanfaatkan 1 (satu) atau 3 (tiga) kali dan kemudian dibongkar. Dengan adanya inovasi teknologi dalam bidang cetakan (formwork) saat ini cetakan diproduksi oleh pabrik dengan menggunakan metode prewfabrikasi yang memungkinkan penggunaan lebih dari satu kali. Biaya yang dibutuhkan untuk menyediakan cetakan (formwork) berkisar antara 25% sampai 75% dari biaya struktur total. Efisiensi biaya cetakan beton dapat dilakukan dengan melakukan desain yang terdiri dari beberapa jenis bentuk dan ukuran. Hal ini dapat mengantisipasi pemakaian cetakan hanya satu kali. Cetakan beton (formwork) adalah suatu sarana pembantu struktur beton untuk mencetak sesuai dengan ukuran, bentuk, rupa,ataupun posisi serta alinyemen yang dikehendaki. Dengan demikian cetakan (formwork) harus mampu berfungsi sebagai struktur sementara yang mampu memikul berat sendiri, berat beton basah, beban hidup dan beban peralatan kerja selam proses pengecoran. Dalam proses desain cetakan perlu diperhatikan hal-hal berikut ini: 1. kualitas material cetakan yang digunakan harus mampu menghasilkan permukaan beton yang baik, ketepatan dimensi. 2. keamanan cetakan harus diperhatikan akibat beban tidak menentu dari pembebanan agregat beton. 3. memperhatikan factor ekonomis cetakan agar dapat mereduksi biaya. Selanjutnya akan dipaparkan berbagai macam penggunaan formwork, material, dan metode pelaksanaannya. Proyek kampus UMN Serpong II - 47
48 Persyaratan umum Cetakan merupakan unsur yang sangat penting dalam mekanisme pengecoran beton. Biaya persyaratan yang harus dipenuhi dalam dimensi yang akurat guna menghasilkan beton yang tepat dimensi. Persyaratan umum yang harus dipenuhi bagi suatu cetakan beton adalah: mempunyai volume yang stabil sehingga dapat dihasilkan dimensi beton yang akurat. Dapat digunakan berulang kali Mudah dibongkar pasang serta dipindahkan Rapat air sehingga tidak memungkinkan air agregat keluar dari cetakan. Mempunyai daya lekat rendah dengan beton dan mudah membersihkannya Perencanaan formwork harus dapat memenuhi aspek bisnis (biaya) dan aspek teknologi (strength, workability). Oleh karena itu harus memenuhi hal-hal berikut: 1. ekonomis 2. kuat dan kokoh 3. tidak berubah bentuk 4. memenuhi peryaratan permukaan Material cetakan beton Material yang dapat digunakan untuk pembuatan cetakan adalah besi, kayu, plywood, aluminium, fiber glass. Material besi Material besi merupakan bahan yang hampir memenuhi seluruh persyaratan umum cetakan di atas, hanya saja dari segi biaya relative mahal. Material seperti ini biasanya diproduksi secara pabrikasi dalam bentuk dan desain khusus. Elemen struktur yang sering menggunakan cetakan besi/baja adalah plat lantai. Seringkali cetakan besi tidak diambil kembali setelah pengecoran dan bahkan didesain untuk memikul beban konstruksi. Karena kemampuan material besi/baja dalam memikul beban yang besar maka kadang-kadang sama sekali tidak memerlukan perancah pendukung. Material kayu Proyek kampus UMN Serpong II - 48
49 Jenis kayu yang dapat dimanfaatkan untuk cetakan dapat dibedakan berdasarkan kekerasan kayu. Kayu lunak digunakan sebagai cetakan beton pada umumnya, sedangkan kayu keras dapat digunakan jika hasil pengecoran diharapkan memenuhi standar tertentu, misalnya dalam pembuatan alur atau celah dalam beton; diharapkan untuk mendapatkan sudut-sudut yang tajam dari hasil pengecoran, dihasilkan permukaan yang halus sehingga persyaratan yang harus dipenuhi adalah bahwa kayu harus bebas dari mata kayu, cetakan harus mampu menahan goyangan, dan lain sebagainya yang menyebabkan cetakan menjadi rusak. Kelembaban kayu yang digunakan untuk cetakan beton menjadi hal yang sangat penting. Pada musim kemarau kayu akan menjadi kering dan menjadi lembab pada musim hujan. Penggunaan cetakan kayu terkadang tidak lebih mudah dibandingkan cetakan besi. Daya lekat antara kayu dengan beton cukup besar sehingga diperlukan material lain sebagai pelapis untuk menghambat daya lekat keduanya (biasanya plastik). Keuntungan penggunaan kayu adalah mudah dikerjakan. Sampai saat ini material kayu paling sering dan paling banyak digunakan di Indonesia. Biasanya terdiri dari papan dengan tebal 2-3 cm yang dirangkai dan diperkuat dengan balok kayu. Penggunaan kayu sebagai cetakan harus memperhatikan berbagai macam persyaratan tegangan yang diizinkan yaitu : 1. Tegangan izin lentur 2. Tegangan izin tekan sejajar serat 3. Tegangan izin tegak lurus serat 4. Tegangan izin tarik sejajar serat 5. Tegangan izin tarik tegak lurus serat 6. Tegangan izin geser sejajar serat Material plywood Cetakan ini digunakan karena tuntutan kualitas permukaan beton yang dihasilkan. Banyak digunakan untuk cetakan kolom, balok, dinding, dan plat. Plywood lebih kuat dan lebih ekonomis jika dibandingkan dengan papan kayu Proyek kampus UMN Serpong II - 49
50 Material aluminium Cetakan jenis ini merupakan perkembangan dari cetakan jenis besi/baja. Kelebihan aluminium adalah ringan dan tidak berkarat. Cetakan aluminium dapat digunakan untuk berbagai bentuk dan ukuran beton. pada umumnya penguat dan penyokong untuk cetakan ini adalah profil baja/aluminium. Cetakan jenis ini biasanya diproduksi secara pabrikasi berupa panel-panel berukuran tertentu dan dirangkai satu dengan yang lain dengan menggunakan baut. Material fiber glass Cetakan jenis ini sesuai untuk pelaksanaan beton arsitektural atau untuk beton pra cetak, akan menghasilkan beton dengan permukaan halus. Pada umumnya ketebalan bahan yang digunakan antara 3 mm sampai dengan 15 mm. Karena sifat material jenis ini, maka bentuk cetakan jenis ini mudah mengikuti bentuk yang diinginkan. Keunggulan cetakan fiberglass diantaranya adalah sebagai berikut: 1. sangat fleksibel dengan desain yang diinginkan 2. dapat menghasilkan tekstur yang beraneka ragam 3. dapat dipakai berulang kali 4. ringan sehingga mudah diangkut 5. pemasangan dan pembongkaran dilapangan mudah dilakukan. Material karton Karton yang berbentuk tabung sudah banyak di pakai untuk menggulung kain dan kertas atau bahan tipis lainnya. Bahan dasar karton terbuat dari krafliner board yang seratnya mempunyai kekuatan tarik yang cukup kuat sehingga kemudian dicoba sebagai alternative untuk bahan cetakan untuk beton kolom bulat. Cetakan jenis ini hanya dapat dimanfaatkan satu kali saja dan menghasilkan permukaan beton yang kasar. Saat ini ukuran yang diproduksi di Indonesia adalah dengan diameter 20 cm sampai 55 cm dengan panjang 10 meter dan ketebalan 3 mm sampai dengan 5 mm. untuk memanfaatkan cetakan ini diperlukan klem /pengaku untuk tiap jarak 1 meter, untuk mengatur kelurusan vertical dan memperkuatnya. Proyek kampus UMN Serpong II - 50
51 Material PVC Cetakan beton dengan menggunakan PVC khusus diaplikasikan pada kolom bulat. Biasanya digunakan pipa PVC tipis (untuk saluran air kotor yang tidak bertekanan) agar diperoleh harga yang murah. Dalam prakteknya pipa ini harus diperkuat dengan kayu dan ditopang di beberapa tempat. Cetakan jenis ini dapat digunakan berulang-ulang. Pembentukan elemen bangunan yang terbuat dari agregat beton dengan tekstur dan bentuk yang diinginkan sangat tergantung pada cetakannya. Pembuatan dan instalasi cetakan (formwork) dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya adalah: 1. Kualitas bahan yang digunakan 2. Kualitas tenaga kerja yang tersedia 3. Peralatan konstruksi yang tersedia 4. Tuntutan kualitas beton yang dihasilkan 5. Anggaran biaya yang tersedia 6. Sistem yang dikehendaki Selain faktor-faktor tersebut diatas juga perlu dipertimbangkan berbagai aspek lain, daintaranya adalah biaya yang akan diserap agar tidak terlalu mahal atau cukup ekonomis; waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan dan instalasinya dapat memenuhi jadwal yang telah direncanakan; dan dapat memenuhi persyaratan kualitas. Pada dasarnya dalam usaha memenuhi fungsinya sebagai cetakan, cetakan beton dapat dibedakan menjadi dua macam: 1. Cetakan untuk pengecoran ditempat (cast in place) 2. Cetakan untuk beton pracetak (precast concrete) Sebenarnya kedua cara tersebut tidak jauh berbeda, sama-sama untuk membentuk beton. Yang membedakan hanyalah lokasi cetakan tersebut berfungsi. Pada pengecoran di tempat, cetakan ditempatkan sesuai posisi komponen beton dalam bangunan itu sendiri. Sedangkan cetakan untuk beton pracetak merupakan satu kesatuan dalam proses produksi, dimana penempatan cetakan tidak pada posisi komponen bangunan akan ditempatkan namun dapat dimana saja ( dilokasi proyek, dipabrik, atau tempat lain yang direncanakan). Proyek kampus UMN Serpong II - 51
52 Selanjutnya pembahasan akan lebih difokuskan pada cetakan untuk beton cor ditempat (cast in place), terutama untuk elemen structural bangunan: pekerjaan fondasi, dinding kolom, balok, dan plat. Proyek kampus UMN Serpong II - 52
BAB III MANAJEMEN DAN ORGANISASI PROYEK
BAB III MANAJEMEN DAN ORGANISASI PROYEK 3.1 Manajemen Proyek Setiap proyek tentu membutuhkan sebuah perencanaan dan pengaturan sehingga kegiatan proyek dapat berjalan lancar, untuk itulah dibutuhkan sebuah
BAB II PROFIL PERUSAHAAN
BAB II PROFIL PERUSAHAAN 2.1 Latar Belakang/ Sejarah Perusahaan Rekagraha Quantitama adalah salah satu Perusahaan swasta Nasional yang bergerak dibidang jasa Konsultan Biaya Bangunan atau yang dikenal
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang sedang berkembang.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang sedang berkembang. Perkembangan tersebut meliputi berbagai sektor kehidupan, misalkan saja aspek sosial dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Kontrak Kontrak merupakan kesepakatan antara pihak pengguna jasa dan pihak penyedia jasa untuk melakukan transaksi berupa kesanggupan antara pihak penyedia jasa
3.2 Struktur Organisasi Laporan Kerja Praktik Struktur organisasi adalah suatu kerangka kerja yang mengatur pola hubungan kerja antar orang atau badan
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK 3.1 ORGANISASI PROYEK Secara umum organisasi dapat diartikan sebagai sebuah system yang terdiri dari sekelompok individu yang melalui suatu hierarki sistematis
BAB II KARAKTERISTIK & MANAJEMEN PROYEK
BAB II KARAKTERISTIK & MANAJEMEN PROYEK 2.1 DATA PROYEK A. Lokasi Proyek Proyek Apartemen Green Bay dibangun di atas pantai,lalu di urug dengan tanah dengan luas total sebesar m2 127.881 dengan detail
ESTIMASI BIAYA PROYEK KONSTRUKSI
ESTIMASI BIAYA PROYEK KONSTRUKSI 1. Pendahuluan adalah seni memperkirakan kemungkinan jumlah biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan yang didasarkan pada informasi yang tersedia pada waktu itu (Iman
Gambar 1.2 View Design Hotel Travello Bandung Proses Pengadaan Proyek Jenis Lelang Proyek Proyek pembangunan Hotel Travello Bandung, o
BAB II DATA - DATA PROYEK 2.1 Pengertian Proyek Pengertian Proyek adalah suatu himpunan atau kumpulan kegiatan yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya, dimana memiliki suatu target kuantitatif
PENGADAAN BARANG/JASA (PROCUREMENT)
PENGADAAN BARANG/JASA (PROCUREMENT) 1. Ruang Lingkup 2. Metode Pemilihan Penyedia 3. Proses Lelang RUANG LINGKUP Pengadaan barang/jasa yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya bersumber dari APBN/APBD,,
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK. proyek dengan tujuan mengatur tahap tahap pelaksanaan
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK 3.1 Sistem Organisasi Sistem organisasi memegang peranan cukup penting dalam sebuah proyek. Sebuah proyek akan berhasil jika di dalamnya terdapat sistem organisasi
DOKUMEN-DOKUMEN PROYEK KONTRAK
DOKUMEN-DOKUMEN PROYEK KONTRAK Saifoe El Unas Dokumen-Dokumen Pada Proyek Dokumen Proyek Dokumen Kontrak Dokumen Tender Dokumen Pelelangan 1 Dokumen Pelelangan Gambar-gambar bestek RKS (Rencana Kerja dan
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK. proyek atau pekerjaan dan memberikannya kepada pihak lain yang mampu
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK 3.1. Pihak Pihak Yang Terkait Dengan Proyek 3.1.1. Pemilik Proyek / Owner Pemilik proyek atau owner adalah seseorang atau instasi yang memiliki proyek atau
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK 3.1 Sistem Organisasi Gambar 3.1 Skema Hubungan Antara Owner, Kontraktor & Konsultan Sumber: Proyek 3.1.1 Organisasi dan Pihak yang Terkait Dalam organisasi
BAB III. SISTEM ORGANISASI dan MANAJEMEN PROYEK
BAB III SISTEM ORGANISASI dan MANAJEMEN PROYEK 3.1 Struktur Organisasi 3.1.1 Organisasi dan Pihak yang Terkait Dalam organisasi proyek pembangunan pada umumnya banyak pihak pihak yang terkait satu sama
BENTUK-BENTUK KONTRAK KONSTRUKSI (RINGKASAN) Oleh: Ir. H. Nazarkhan Yasin
BENTUK-BENTUK KONTRAK KONSTRUKSI (RINGKASAN) Oleh: Ir. H. Nazarkhan Yasin PENGANTAR Bentuk-bentuk kontrak konstruksi dibedakan dari berbagai segi/sudut pandang/aspek termasuk beberapa permasalahan/salah
Faktor-faktor Penentu dalam Pemilihan Jenis Kontrak Untuk Proyek Pembangunan Gedung Pertokoan. M. Ikhsan Setiawan, ST, MT
Faktor Penentu Pemilihan Kontrak Proyek Gedung (M. Ikhsan S) 49 Faktor-faktor Penentu dalam Pemilihan Jenis Kontrak Untuk Proyek Pembangunan Gedung Pertokoan M. Ikhsan Setiawan, ST, MT ABSTRAK Dalam pelelangan
SURVEI MENGENAI BIAYA OVERHEAD SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
SURVEI MENGENAI BIAYA OVERHEAD SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA Henry Pascal Magaline 1, Alvin Januar Haryono 2, Andi 3 ABSTRAK : Biaya overhead sebuah proyek merupakan salah satu unsur harga pokok
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK. sitematis. Dapat diartikan juga sebagai wadah dalam kegiatan sekelompok
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK 3.1 Organisasi Proyek Secara umum organisasi dapat diartikan sebagai sebuah system yang terdiri dari sekelompok individu yang melalui suatu hierarki sistematis
BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Singkat Perusahaan PT. Garindo Mira Sejati adalah perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor Mekanikal dan Elektrikal. Perusahaan ini didirikan dalam bentuk
BAB III. SISTEM ORGANISASI dan MANAJEMEN PROYEK
BAB III SISTEM ORGANISASI dan MANAJEMEN PROYEK 3.1 Struktur Organisasi Organisasi dan Pihak yang Terkait Dalam organisasi proyek pembangunan pada umumnya banyak pihak pihak yang terkait satu sama lain
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jenis-jenis Kontrak Dalam suatu pekerjaan kita lazim mendengar istilah kontrak. Kontrak adalah kesepakatan antara dua belah pihak yang secara hukum mengikat (Zaini et al, 2009).
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perencanaan bangunan atau suatu Konstruksi adalah suatu proses interaksi yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan bangunan atau suatu Konstruksi adalah suatu proses interaksi yang rumit dari segi segi yang menyangkut keahlian, pengetahuan, kelengkapan informasi, dana,
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK. digunakan dalam pelaksanaan pembangunan proyek, oleh karena itu dibutuhkan
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK 3.1 Perencanaan Lapangan (Site Planning) Perencanaan lapangan kerja (site planning) dibuat untuk mengatur penempatan peralatan, stok material dan sarana penunjang
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK 3.1. Struktur Organisasi 3.1.1. Organisasi dan Pihak Yang Terkait Dalam organisasi suatu proyek banyak pihak yang terkait dan mempunyai tugas dan wewenang
Tujuan Instruksional khusus
Tujuan Instruksional Umum Mahasiswa mengetahui berbagai tujuan dari kegunaan estimasi biaya konstruksi, sehingga dapat memperkirakan biaya suatu konstruksi secara tepat sesuai dengan tujuan dan sasarsn
BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini, pada umumnya sistem kontrak konstruksi yang paling banyak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dewasa ini, pada umumnya sistem kontrak konstruksi yang paling banyak digunakan dalam proyek-proyek konstruksi adalah sistem kontrak yang bersifat Lump sum
BAB III: TINJAUAN UMUM PROYEK
BAB III: TINJAUAN UMUM PROYEK 3.1. Definisi Proyek Pengertian proyek secara umum adalah merupakan sebuah kegiatan pekerjaan yang dilaksanakan atas dasar permintaan dari seorang owner atau pemilik pekerjaan
BAB III MANAGEMENT DAN ORGANISASI PROYEK
BAB III MANAGEMENT DAN ORGANISASI PROYEK 3.1 Management Proyek Proyek konstruksi merupakan suatu kegiatan usaha yang kompleks, sifatnya tidak rutin, memiliki keterbatasan terhadap waktu, anggaran dan sumber
BID EVALUATION SYSTEM
BID EVALUATION SYSTEM Kristiawan Quantity Surveyor Tulisan dibawah ini akan membahas beberapa metode yang digunakan oleh Owner untuk meng-evaluasi penawaran yang diajukan oleh para bidder dalam tender
BAB VI LAPORAN KEMAJUAN PEKERJAAN DAN PENGENDALIAN PROYEK. Dalam setiap proyek konstruksi, perencanaan, dan pengendalian merupakan
BAB VI LAPORAN KEMAJUAN PEKERJAAN DAN PENGENDALIAN PROYEK 6.1 Uraian Umum Dalam setiap proyek konstruksi, perencanaan, dan pengendalian merupakan aspek yang harus dipersiapkan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
BAB V ANALISIS SISTEM MANAJEMEN MUTU
BAB V ANALISIS SISTEM MANAJEMEN MUTU Analisis yang dilakukan berdasarkan data dari bab 3 untuk proyek konstruksi tradisional dan bab 4 untuk proyek EPC diperoleh bahwa setiap proyek konstruksi mempunyai
TUGAS AKHIR PRE CONTRACT DAN POST CONTRACT STUDI KASUS PROYEK AD-PREMIER OFFICE JAKARTA
TUGAS AKHIR KAJIAN QUANTITY SURVEYOR PADA TAHAP PRE CONTRACT DAN POST CONTRACT STUDI KASUS PROYEK AD-PREMIER OFFICE JAKARTA Diajukan sebagai syarat untuk meraih gelar Sarjana Teknik Strata 1 (S-1) Disusun
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK 3.1 Organisasi Proyek Organisasi proyek adalah sekumpulan orang yang terorganisir yang memiliki ilmu dan keahlian yang berbeda-beda untuk melaksanakan tugas
BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN
39 BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kontrak Kerja PT Aikovito 1. Prosedur Kontrak Kerja Prosedur di dalam suatu proyek secara garis besar mempunyai beberapa tahapan yaitu sebagai berikut: a. Proses
BAB III SISTEM MANAJEMEN DAN ORGANISASI PROYEK
BAB III SISTEM MANAJEMEN DAN ORGANISASI PROYEK 3.1 Manajemen Proyek Manajemen proyek adalah didefinisikan sebagai suatu proses dari perencanaan, pengaturan, kepemimpinan, dan pengendalian dari suatu proyek
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Proyek konstruksi Proyek adalah suatu kegiatan yang mempunyai jangka waktu tertentu dengan alokasi sumber daya terbatas, untuk melaksanakan suatu kegiatan yang telah ditentukan.
BAB II KAJIAN PUSTAKA. pada beberapa area. Konstruksi dapat juga didefinisikan sebagai susunan (mode,
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Proyek Konstruksi Bangunan Konstruksi merupakan suatu kegiatan membangun sarana maupun prasarana. Dalam sebuah bidang arsitektur atau teknik sipil, sebuah konstruksi juga dikenal
Estimasi biaya konstruksi dikerjakan sebelum pelaksanaan fisik dilakukan dan memerlukan analisis detail dan kompilasi dokumen penawaran dan lainnya. E
BAB II BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 PRINSIP DASAR TEORI Estimasi Biaya adalah seni memperkirakan kemungkinan jumlah biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan yang didasarkan pada informasi yang tersedia
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Proyek Konstruksi Menurut Mulyani (2006), proyek konstruksi adalah suatu rangkaian kegiatan proyek yang berkaitan dengan bidang konstruksi (pembangunan) yang mempunyai dimensi
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK
BAB III Sistem Organisasi Dan Manajemen Proyek BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK 3.1. ORGANISASI PROYEK Proyek merupakan suatu kegiatan usaha yang kompleks, sifatnya tidak rutin,memiliki keterbatasan
BAB IV HASIL DAN ANALISIS
BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4.1 Deskripsi Proyek English First The Plaza Gambar 4.1 English First The Plaza Sumber: Data Primer (2015) Nama Proyek Owner Project Management Konsultan Arsitek Konsultan Quantity
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK 3.1. Sistem Organisasi Proyek 3.2 Struktur Organisasi Proyek PEMBERI TUGAS (OWNER) PT.Kompas Media Nusantara MANAJEMEN KONSTRUKSI PT.Ciriajasa Cipta Mandiri
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Perencanaan MEP Proyek Whiz Hotel Yogyakarta di Yogyakarta, yang
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Pada penelitian ini, dijelaskan secara singkat mengenai Pelaksanaan Perencanaan MEP Proyek Whiz Hotel Yogyakarta di Yogyakarta, yang merupakan sebuah proyek
PERKIRAAN BIAYA PROYEK
Halaman 1 dari Pertemuan 5 Pertemuan 5 PERKIRAAN BIAYA PROYEK 5.1 KEGUNAAN a. Bagi Pemilik, menjadi salah satu patokan untuk menentukan kelanjutan investasi. b. Bagi Konsultan, diajukan kepada pemilik
\\ \upi\Direktori\E - FPTK\JUR. PEND.TEKNIK SIPIL\ ROCHANY NATAWIDJANA\25 FILE UNTUK UPI\BID PRICE.
Tujuan Instruksional Umum Mahasiswa mampu memahami tahapan biaya konstruksi yang dibuat oleh kontraktor, mampu mengintegrasikan komponen komponen biaya sehingga menjadi biaya penawaran dan menguraikan
BAB III: TINJAUAN UMUM PROYEK LINC WAREHOUSE CIKARANG
BAB III: TINJAUAN UMUM PROYEK LINC WAREHOUSE CIKARANG 3.1. Deskripsi LINC WAREHOUSE CIKARANG 3.1.1. Data Proyek Nama Proyek Lokasi Perencana Owner : LINC Warehouse Cikarang : Jababeka 7, Cikarang, Jawa
BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. penyelenggara pembuatan rumah, gedung, jalanan, jembatan, dan lainnya. Perusahaan
BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN III.1 Sejarah Singkat Perusahaan PT PIBS adalah suatu perusahaan yang bergerak di bidang pemborong bangunan dan kontraktor umum (general contractor) sebagai perencana,
BAB II TINJAUAN UMUM PROYEK. didasarkan pada karakteristik dan kondisi proyek itu sendiri. Ditinjau dari sudut
BAB II TINJAUAN UMUM PROYEK 2.1 LATAR BELAKANG KONTRAK Pemilihan kontrak yang sesuai untuk suatu proyek konstruksi lebih didasarkan pada karakteristik dan kondisi proyek itu sendiri. Ditinjau dari sudut
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK 3.1 Struktur Organisasi Lapangan Project Herry Putranto Project Manager Wisnu Yudi Administrasi Agung Logistik Asep Safety Officer Rizal Supervisior Prihartono
3.1 STRUKTUR ORGANISASI LAPANGAN Gambar.3.1 Struktur Organisasi Lapangan (Sumber : Proyek Lexington Residence PT. PP (Persero), Tbk) III -1 3.1.1 Project Manager (PM) Project manager adalah pihak yang
MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR BANGUNAN GEDUNG EDISI 2011 JURU UKUR KUANTITAS BANGUNAN GEDUNG
MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR BANGUNAN GEDUNG EDISI 2011 JURU UKUR KUANTITAS BANGUNAN GEDUNG QUANTITY (KUANTITAS) PEKERJAAN NO. KODE : BUKU KERJA DAFTAR ISI DAFTAR ISI...
BAB II: TINJAUAN UMUM PROYEK
BAB II: TINJAUAN UMUM PROYEK 2.1. Latar Belakang Perusahaan PT. PRIMER EKA PROPERTI bergerak di bidang owner/pemilik proyek dengan berkantor pusat yang beralamat Jl. Gatot Subroto Km3 No.78, Cimone, Karawaci,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1. Tinjauan Umum Proyek dengan segala ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilibatkan didalamnya merupakan salah satu upaya manusia dalam membangun kehidupannya. Suatu proyek
BAB 4 PEMBAHASAN. Pada bab ini, pertama penulis akan membahas penerapan persentase
BAB 4 PEMBAHASAN Pada bab ini, pertama penulis akan membahas penerapan persentase penyelesaian (percentage of completion) yang dilakukan PT. TPHE dengan menggunakan pendekatan fisik. Penulis juga akan
PT. PRATAMA SAVINDO OETAMA COST CONSULTANT / QUANTITY SURVEYOR
PT. PRATAMA SAVINDO OETAMA COST CONSULTANT / QUANTITY SURVEYOR Profesi Quantity Surveyor adalah merupakan suatu Konsultan Teknik khususnya dibidang Cost Engineering dan Cost Management, dimana lingkup
[CASA DOMAINE JAKARTA APARTMENTS (SHANGRI-LA RESIDENCE)] BAB III ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK
3.1 Struktur Organisasi BAB III ORGANISASI DAN 3.1.1 Organisasi Pihak yang Terkait Dalam organisasi proyek pembangunan pada umumnya banyak pihak pihak yang terkait satu sama lain yang mempunyai tugas dan
SEMINAR NASIONAL NOVEMBER MANAJEMEN KLAIM PROYEK KONSTRUKSI Construction Claim Management
SEMINAR NASIONAL 2014 6 NOVEMBER 2014 MANAJEMEN KLAIM PROYEK KONSTRUKSI Construction Claim Management PERMASALAHAN LUMP SUM KONTRAK DARI SISI PANDANG SEKTOR SWASTA/PENGUNA JASA KONSTRUKSI PEMBAHASAN PENYEBAB
KLAIM KONSTRUKSI (STUDI KASUS: PEKERJAAN PENGADAAN GEDUNG KESEHATAN PADA BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA) Herman Susila.
KLAIM KONSTRUKSI (STUDI KASUS: PEKERJAAN PENGADAAN GEDUNG KESEHATAN PADA BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA) Herman Susila Abstrak Klaim merupakan bentuk atau cara permohonan atau permintaan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Proyek Konstruksi Proyek adalah suatu kegiatan yang mempunyai jangka waktu tertentu dengan alokasi sumber daya terbatas, untuk melaksanakan suatu kegiatan yang telah
BAB III STRUKTUR ORGANISASI PROYEK
BAB III STRUKTUR ORGANISASI PROYEK 3.1 Manajemen Proyek Manajemen Proyek adalah sebagai suatu proses dari perencanaan, pengaturan, kepemimpinan dan pengendalian dari suatu proyek oleh para anggotanya dengan
PEMBAYARAN ATAS HASIL PEKERJAAN PENYEDIA JASA KONSULTANSI
PEMBAYARAN ATAS HASIL PEKERJAAN PENYEDIA JASA KONSULTANSI Oleh : Abu Sopian (Widyaiswara Balai Diklat Keuangan Palembang) Abstrak Pengadaan jasa konsultansi dengan nilai di atas Rp50.000.000,- (lima puluh
BAB VI PENGENDALIAN MUTU PROYEK
BAB VI PENGENDALIAN PROYEK 6.1 Uraian Umum Pengawasan (controlling) adalah suatu penilaian kegiatan dengan tujuan agar hasil pekerjaan sesuai dengan rencana, dengan mengusahakan agar semua yang terlibat
TCE-06 DOKUMEN KONTRAK
TCE-06 DOKUMEN KONTRAK DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI Jl. Sapta Taruna Raya Kompleks PU Pasar Jumat Tlp.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Manajemen Proyek Konstruksi Suatu proyek konstruksi biasanya merupakan suatu rangkaian kegiatan yang hanya satu kali dilaksanakan dan umumnya berjangka waktu pendek. Selain
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK
Bab III -Sistem Organisasi dan manajemen proyek BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK Struktur organisasi pekerjaan yang sesuai dengan perencanaan pada setiap pekerjaan suatu proyek perlu dibentuk
Kontraktor. Konsultan Pengawas. Konsultan Perencana
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK 3.1 Struktur Organisasi Kontraktor Konsultan Perencana Pemilik Konsultan Pengawas Gambar 3.1. Skema Hubungan Antara Owner, Kontraktor & Konsultan Sumber:
BAB V PENJADWALAN DAN EVALUASI PROYEK
BAB V PENJADWALAN DAN EVALUASI PROYEK 5.1 Penjadwalan Kerja Dengan Bar Chart dan Curva S Merupakan suatu planing yang baik bila pembuatan penjadwalan kerja pada pelaksanaan suatu kegiatan/proyek dibuat,
BAB VI PENGENDALIAN PROYEK
BAB VI PENGENDALIAN PROYEK 6.1 Uraian Umum Pengawasan (controlling) adalah kegiatan dalam suatu proyek sebagai penilaian yang bertujuan agar hasil pekerjaan sesuai dengan pedoman perencanaan yang telah
BAB III MANAJEMEN ORGANISASI DAN SISTEM KONTRAK. merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan, mongkoordinasi dan
BAB III MANAJEMEN ORGANISASI DAN SISTEM KONTRAK 3.1 Manajemen Organisasi Proyek Dalam membangun suatu proyek, perlu adanya suatu sistem manajemen proyek yang merupakan rangkaian kegiatan suatu usaha dalam
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK. pengaturan, kepemimpinan dan pengendalian dari suatu proyek oleh para
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK 3.1 adalah sebagai suatu proses dari perencanaan, pengaturan, kepemimpinan dan pengendalian dari suatu proyek oleh para anggotanya dengan memanfaatkan sumber
BAB I PENDAHULUAN. struktur, arsitektur, dan MEP yang telah dimulai pada tahun 2016.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang masalah Kompleks Thamrin Nine yang merupakan gedung mixed use, berlokasi di Jl Thamrin, Jakarta Pusat dikembangkan oleh PT Putragaya Wahana. Konstruksi terbagi dalam
II. TINJAUAN PUSTAKA. berhubungan dengan seorang engineer sehingga menghasilkan pilihan yang. suatu proses analisa, teknik dan perhitungan ekonomi.
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Tekno Ekonomi Tekno ekonomi memuat tentang bagaimana membuat sebuah keputusan (decision making) dimana dibatasi oleh ragam permasalahan yang berhubungan dengan seorang engineer
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK. pihak yang terkait satu sama lain yang mempunyai tugas dan wewenang masing
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK 3.1 Struktur Organisasi Dalam organisasi proyek pembangunan apartemen casa de parco, banyak pihak pihak yang terkait satu sama lain yang mempunyai tugas dan
BAB VII MANAJEMEN KONSTRUKSI
BAB VII MANAJEMEN KONSTRUKSI 7.1 Pengertian Manajemen Konstruksi Manajemen adalah suatu metode atau teknik untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan menggunakan sumber daya yang ada secara efektif melalui
BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN
BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1 Manajemen Konstruksi Dalam sebuah proyek konstruksi, terdapat sangat banyak perilaku dan fenomena kegiatan proyek yang mungkin dapat terjadi. Untuk mengantisipasi perilaku
BAB VI KEMAJUAN PEKERJAAN DAN PENGENDALIAN PROYEK
BAB VI KEMAJUAN PEKERJAAN DAN PENGENDALIAN PROYEK Dalam pelaksanaan suatu proyek, suatu ketika dapat menyimpang dari rencana, makapengawasan dan pengendalian proyek sangat diperlukan agar kejadian-kejadian
TINJAUAN STANDAR/SISTIM KONTRAK KONSTRUKSI INTERNASIONAL (AIA, FIDIC, JCT, SIA) (RINGKASAN) Oleh : Ir. H. Nazarkhan Yasin
TINJAUAN STANDAR/SISTIM KONTRAK KONSTRUKSI INTERNASIONAL (AIA, FIDIC, JCT, SIA) (RINGKASAN) Oleh : Ir. H. Nazarkhan Yasin PENGANTAR Dalam dunia internasional dikenal beberapa standar/sistim kontrak konstruksi
BAB III: TINJAUAN UMUM PROYEK
BAB III: TINJAUAN UMUM PROYEK 3.1. Definisi Proyek Menurut Chase (1998), proyek didefinisikan sebagai sebuah rangkaian kegiatan unik yang saling terkait untuk mencapai suatu hasil tertentu dan dilakukan
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK 3.1. Struktur Organisasi Proyek Gambar 3.1 Struktur Organisasi Proyek 3.2. Deskripsi Pekerjaan (Job Description) Job Description adalah gambaran mengenai
COST CONTROL Rencana Anggaran Pelaksana
1 COST CONTROL Pada bab Cost control akan membahas kegiatan pengendalian dan evaluasi biaya proyek sejak saat proyek tersebut dimulai sampai dengan proyek tersebut selesai berdasarkan suatu tolak ukur
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK 3.1. Struktur Organisasi Proyek Gambar 3.1 Struktur Organisasi Proyek III-1 3.2. Deskripsi Pekerjaan (Job Description) Job Description adalah gambaran mengenai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. panjang dan di dalamnya dijumpai banyak masalah yang harus diselesaikan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Proyek Konstruksi Kegiatan konstruksi adalah kegiatan yang harus melalui suatu proses yang panjang dan di dalamnya dijumpai banyak masalah yang harus diselesaikan. Dengan banyaknya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Proyek konstruksi Konstruksi merupakan suatu kegiatan membangun sarana maupun prasarana. Dalam sebuah bidang arsitektur atau teknik sipil, sebuah konstruksi juga dikenal sebagai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Memiliki tujuan yang khusus, produk akhir atau hasil kerja akhir. ditentukan atau mempunyai jangka waktu tertentu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Arti Proyek Konstruksi Proyek konstruksi merupakan suatu kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang terbatas dengan sumber daya tertentu untuk mendapatkan hasil konstruksi dengan
BAB IV HASIL DAN ANALISIS. Data ketidaksesuaian atau defect atau punch list yang terjadi pada 8 proyek yang
BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4.1 Pengambilan data ketidaksesuaian Data ketidaksesuaian atau defect atau punch list yang terjadi pada 8 proyek yang selesai tahun 2011 didapatkan dari salah satu departemen
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Memiliki tujuan khusus, produk akhir atau hasil kerja akhir. ditentukan atau mempunyai jangka waktu tertentu.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Proyek Konstruksi Proyek konstruksi merupakan suatu kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang terbatas dengan sumber daya tertentu untuk mendapatkan hasil konstruksi yang baik
MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR BANGUNAN GEDUNG EDISI 2011 JURU UKUR KUANTITAS BANGUNAN GEDUNG
MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR BANGUNAN GEDUNG EDISI 2011 JURU UKUR KUANTITAS BANGUNAN GEDUNG PEMANTAUAN PELAKSANAAN PEKERJAAN NO. KODE : BUKU KERJA DAFTAR ISI DAFTAR
BAB II DATA PROYEK PADINA SOHO & RESIDENCE. penghubung antara dua provinsi, yaitu Tangerang dan Jakarta. Selain itu, jalan ini
BAB II DATA PROYEK PADINA SOHO & RESIDENCE 2.1 Latar Belakang Proyek Jalan Daan Mogot adalah lokasi yang strategis untuk didirikan bangunan yang berfungsi untuk tempat tinggal dan bisnis, karena jalan
BAB III MANAJEMEN DAN ORGANISASI PROYEK
BAB III MANAJEMEN DAN ORGANISASI PROYEK 3.1 Manajemen Proyek Manajemen proyek adalah salah satu cabang dalam manajemen yang secara umum bertujuan untuk mengelola sumber daya yang ada (tenaga kerja, dana,
PANDANGAN KONTRAKTOR TERHADAP KLAUSUL-KLAUSUL KONTRAK PADA PROYEK KONSTRUKSI Theodorus Bryan 1, Yosua S. Sidarta 2, Andi 3
PANDANGAN KONTRAKTOR TERHADAP KLAUSUL-KLAUSUL KONTRAK PADA PROYEK KONSTRUKSI Theodorus Bryan 1, Yosua S. Sidarta 2, Andi 3 ABSTRAK : Pada proyek konstruksi yang berfokus pada bangunan high-rise, atau dengan
ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI. Estimasi dalam arti luas pada hakekatnya adalah upaya untuk menilai atau memperkirakan suatu nilai melalui
ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI Estimasi dalam arti luas pada hakekatnya adalah upaya untuk menilai atau memperkirakan suatu nilai melalui analisis perhitungan dan berlandaskan pada pengalaman Estimasi Dalam
MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR BANGUNAN GEDUNG EDISI 2011 JURU UKUR KUANTITAS BANGUNAN GEDUNG
MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR BANGUNAN GEDUNG EDISI 2011 JURU UKUR KUANTITAS BANGUNAN GEDUNG PERHITUNGAN BIAYA AKIBAT ADANYA PERUBAHAN PEKERJAAN NO. KODE : BUKU KERJA
BAB VI PENGENDALIAN DAN KEMAJUAN PROYEK. akan semakin diperlukan jika proyek termasuk dalam proyek yang kompleks dan
BAB VI PENGENDALIAN DAN KEMAJUAN PROYEK 6.1. Uraian Umum Dalam setiap proyek konstruksi, perencanaan, dan pengendalian merupakan aspek yang harus dipersiapkan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Kebutuhan
BAB V ANALISA DATA. kenaikan hampir 26% dari estimation cost saat tender. Hal tersebut tentu saja
BAB V ANALISA DATA 5.1 Analisa Data Dari pengumpulan dan pengolahan data yang telah dibahas pada bab sebelumnya, bisa terlihat dari grafik dibawah ini bahwa total harga mengalami kenaikan hampir 26% dari
BAB VI PENGENDALIAN PROYEK DAN KEMAJUAN PEKERJAAN. secara menyeluruh mulai dari perencanaan, pembangunan fisik sampai dengan
BAB VI PENGENDALIAN PROYEK DAN KEMAJUAN PEKERJAAN 6.1 Uraian Umum Dalam penyelenggaraan suatu proyek, kegiatan yang akan dihadapi sangatlah kompleks. Hal ini tentu memerlukan suatu manajemen yang baik
1.4 Manfaat Manajemen Konstruksi
1.4 Manfaat Manajemen Konstruksi 1. Segi Biaya Proyek a. Biaya optimal proyek dapat dicapai karena tim MK sedah berpartisipasi pada tahap perencanaan. b. Biaya pembangunan keseluruhan proyek dapat dihemat
III. METODOLOGI. 3.1 Lokasi dan Waktu Magang
3.1 Lokasi dan Waktu Magang III. METODOLOGI Kegiatan magang dilakukan di perusahaan AECOM Singapore Pte. Ltd, divisi Planning, Design, Development (PDD), tim Landscape Architecture (LA team). Perusahaan
Pengertian manajemen secara umum
Pengertian manajemen secara umum 1. Manajemen sebagai suatu proses, maksud disini dapat dilihat dari bagaimana cara orang melakukan suatu proses untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih
BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK 3.1 Organisasi dan Pihak yang Terkait dalam Proyek Dalam organisasi proyek pembangunan pada umumnya, tentu banyak pihak pihak yang terkait satu sama lain.
