HASIL DAN PEMBAHASAN Eksplorasi Data

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN Eksplorasi Data"

Transkripsi

1 HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menggunakan data nilai mata uang harian guna mengukur tingkat risiko harian atas suatu posisi dalam perdagangan mata uang. Nilai mata uang selalu berubah dalam hitungan detik, bergantung pada proses transaksi yang melibatkan banyak pihak. Pencatatan nilai mata uang di pusat perdagangan pada suatu periode terdiri dari harga pada saat pembukaan (open), penutupan (close), nilai tertinggi (high) dan terendah (low) serta volume transaksi (volume) pada suatu periode. Pengukuran nilai risiko harian biasa dilakukan atas nilai penutupan harian untuk masing-masing nilai mata uang dengan menghitung perubahannya dalam bentuk nilai log-normal return (atau disebut return) dengan pertimbangan bahwa nilai return tersebut akan saling bebas dan memiliki sebaran yang identik. Periode data yang digunakan adalah dari tahun 2001 hingga 2012, dengan harapan perode tersebut dapat mewakili karakteristik pergerakan nilai mata uang. Eksplorasi Data Perubahan nilai mata uang harian untuk pasangan mata uang EUR/USD, GBP/USD, USD/CAD, USD/CHF, USD/JPY yang dihitung berdasarkan nilai mata uang pada penutupan transaksi harian. Gambar 2 memperlihatkan pergerakan harian masing-masing mata uang yang tidak stasioner pada kurs penutupan. Menurut Blum dan Dacorogna (2002) penerapan transformasi logreturn pada data pergerakan nilai mata uang akan menghasilkan amatan yang stasioner. Transformasi ini juga diharapkan akan dapat membuat asumsi data berasal dari peubah acak yang identik dan saling bebas (i.i.d.). Gambar 2 juga memperlihatkan terjadi pergerakan harga yang sangat besar di pertengahan tahun 2008 hingga awal tahun Tahun tersebut merupakan tahun kejadian krisis perumahan (subprime mortgage) di Amerika Serikat yang berimbas pada beberapa negara. Kejadian tersebut memberikan pengaruh pula terhadap pergerakan mata uang dunia. Tahap eksplorasi data ini memperlihatkan bentuk sebaran dari sebaran data log-return kurs penutupan harian yang menyimpang dari sebaran normal dengan ujung-ujung sebaran yang membentuk ekor gemuk.

2 19 (e) USD/JPY (d) USD/CHF (c) USD/CAD (b) GBP/USD (a) EUR/USD Gambar 2 Plot nilai penutupan dan return kurs harian

3 20 Tabel 2 Statistik Deskriptif Nilai Return Mata Uang Pasangan Rata-Rata Simpangan Baku Rentang Kemencengan Kurtosis EUR/USD GPB/USD -1.7E USD/CAD USD/CHF USD/JPY Tingkat pergerakan (volatilitas) dapat diukur dengan besar simpangan baku. Tingkat pergerakan tertinggi diperlihatkan oleh pasangan USD/CHF. Hal ini memberikan gambaran risiko pasar yang terbesar adalah pada pasangan mata uang USD/CHF. Skewness yang positif memberikan gambaran bahwa amatan menceng ke kanan dan nilai yang negatif menunjukkan sebaliknya, sedangkan nilai yang mendekati nol memperlihatkan amatan seimbang (Dowd 2002). Tabel 2 memperlihatkan kemencengan (skewness) terbesar ada pada nilai return USD/CHF yang menceng ke kiri (lebih banyak harga turun), dan GBP/USD yang menceng ke kanan. Pasangan mata uang yang lain memiliki nilai absolut kemencengan yang tidak terlalu besar, jadi antara nilai naik dan turun tidak terlalu berbeda. Nilai kurtosis memberikan gambaran tentang bentuk sebaran dibandingkan dengan sebaran normal. Kurtosis yang lebih besar dari 3 memperlihatkan frekuensi data di ujung sebaran lebih tinggi daripada sebaran normal (Dowd 2002). Pasangan mata uang USD/CAD, USD/CHF dan USD/JPY berdasar nilai kurtosisnya terlihat memiliki sebaran ekor gemuk. Bentuk ujung sebaran juga diperlihatkan dengan histogram yang dibandingkan dengan plot sebaran normal dan plot kuantil normal. Plot kuantil normal memperlihatkan sebaran data menyimpang dari sebaran normal teoritis. Di ujung-ujung sebaran terlihat amatan menyimpang dari garis lurus kuantil normal. Gambar 3 memperlihatkan amatan pada ujung-ujung sebaran yang meyimpang dari bentuk sebaran normal. Frekuensi kemunculan data pada ujung sebaran lebih tinggi dari yang diperkirakan oleh sebaran normal.

4 21 (e) USD/JPY (d) USD/CHF (c) USD/CAD (b) GBP/USD (a) EUR/USD Gambar 3 Plot kuantil sebaran normal dan histogram Berdasarkan hasil pengujian kenormalan sebaran data dengan menggunakan metode Shapiro-Wilk, didapatkan bahwa seluruh data tidak menyebar berdasar sebaran normal. Tabel 3 memperlihatkan hasil uji kenormalan dari nilai return untuk masing-masing pasangan nilai mata uang.

5 22 Tabel 3 Nilai Statistik Uji Kenormalan Pasangan Statistik-W Nilai-p EUR/USD GPB/USD USD/CAD USD/CHF USD/JPY Penentuan VaR Penentuan nilai VaR tidak dapat dilakukan dengan pendekatan sebaran normal karena berdasarkan hasil eksplorasi terlihat bahwa data tidak menyebar secara normal dan memiliki sebaran dengan ekor gemuk. Penentuan nilai VaR dengan teori nilai ekstrim dilakukan dengan menduga parameter untuk memodelkan ujung-ujung sebaran. Ujung kanan merupakan nilai return ekstrim positif yang berarti kerugian untuk posisi jual karena nilai mata uang meningkat dan sebaliknya. Pendugaan VaR merupakan pendugaan kuantil dari sebaran kerugian, jadi model disusun tidak atas seluruh amatan nilai return tetapi hanya nilai return yang negatif pada tiap posisi di masing-masing pasangan mata uang. a. Pelampauan nilai ambang Penentuan VaR dilakukan pada sebaran kerugian untuk masing-masing posisi yang bisa diambil, yaitu posisi jual dan posisi beli. Metode pelampauan ambang (peak over threshold/pot) ini dilakukan dengan penentuan parameter bentuk (ξ) dan skala (σ) berdasarkan amatan ekstrem. Parameter yang diperoleh bergantung amatan yang terpilih sebagai amatan ekstrem yaitu amatan yang melampaui ambang (µ). Pemilihan ambang dilakukan dengan pertimbangan: (1) pemilihan ambang yang terlalu tinggi akan meningkatkan ketelitian pada kuantil yang tinggi tetapi menutup kemungkinan dalam menentukan nilai kuantil yang rendah; (2) pemilihan ambang yang terlalu rendah bisa membuat sebaran generalized Pareto tidak dapat diterapkan dan membuat pendugaan kuantil menjadi bias (Cebrian et al. 2003). Pada penelitian ini ditentukan besar ambang sedemikian sehingga terambil 10% amatan terbesar sebagai amatan ekstrem yang digunakan untuk menyusun model GPD. Menurut Low dan Dark (2008) bila amatan ekstrem yang terpilih

6 23 berdasar ambang tidak memenuhi sebaran GPD, maka dipilih ambang lain untuk menentukan amatan ekstrem. Hasil penentuan ambang amatan ekstrem dan jumlah amatan ekstrem untuk masing-masing posisi pada tiap pasangan mata uang disajikan pada Tabel 4. Tabel 4 Ambang dan Cacah Amatan Ekstrem Pasangan Posisi Jual Posisi Beli N Ambang µ N µ n Ambang µ N µ EUR/USD GPB/USD USD/CAD USD/CHF USD/JPY Pendugaan parameter model GPD (bentuk (ξ) dan skala (σ)) dilakukan dengan menggunakan metode Maximum Likelihood Nelder-Mead. Tabel 5 memperlihatkan hasil pendugaan parameter ˆ ξ dan ˆ σ. Pasangan Tabel 5 Hasil Pendugaan Parameter Model GPD Posisi Jual Posisi Beli Bentuk ( ξ ) Skala ( σ ) Bentuk ( ξ ) Skala ( σ ) EUR/USD GBP/USD USD/CAD USD/CHF USD/JPY Parameter Bentuk ( ξ ) pada model memperlihatkan bagaimana perilaku data di ujung sebaran. Menurut (McNeil 1999) Fungsi peluang pada model GPD memiliki bentuk G ( x) ξ ( x µ ) ( σ ) 1 ξ, = 1 1+ jika 0 ξ σ x µ ξ dan Gξ, σ ( x) = 1 exp ( σ ) jika ξ 0 di mana σ > 0 akan berlaku pada x 0 pada saat ξ 0 dan untuk σ ξ < 0 hanya berlaku untuk 0 x. Jadi fungsi peluang pada posisi jual untuk ξ EUR/USD dan posisi beli untuk USD/CAD memiliki ujung sebaran yang terbatas yang merupakan kelompok sebaran Weibull. Sedangkan pasangan dan posisi lainnya memiliki nilai ξ > 0 memiliki sebaran yang merupakan kelompok sebaran Frechet. Bentuk sebaran GPD yang dihasilkan ditampilkan pada

7 24 Gambar 4. Semakin besar nilai ξ menunjukkan ujung sebaran yang semakin gemuk. Nilai ξ terbesar terjadi pada posisi jual untuk pasangan nilai mata uang GBP/USD. Tabel 6 Uji Kesesuaian Model GPD Posisi Jual Posisi Beli Pasangan Nilai Kritik Nilai Kritik D n D ( α = 0.05 ) n ( α = 0.05 ) EUR/USD GBP/USD USD/CAD USD/CHF USD/JPY Model GPD yang diperoleh diuji dengan uji Kolmogorov-Smirnov untuk menguji kesesuaian data amatan ekstrem dengan model. Hasil uji pada Tabel 6 memperlihatkan pada semua pasangan mata uang untuk kedua posisi memiliki statistik uji D n yang kurang dari nilai kritik pada α = 0.05 yang berarti disimpulkan bahwa tidak menolak hipotesis nul yang menyatakan amatan ekstrem menyebar mengikuti model GPD. Setelah diperoleh dugaan parameter, nilai VaR dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan (2) pada halaman 8. Hasil penghitungan VaR dengan metode pelampauan ambang (VaR-gpd) ditampilkan pada Tabel 7. Tabel 7 VaR Berdasar Metode Pelampauan Ambang Pasangan Jual Beli 95% 99% 95% 99% EUR/USD GBP/USD USD/CAD USD/CHF USD/JPY

8 25 Posisi Beli Posisi Jual (e) USD/JPY (d) USD/CHF (c) USD/CAD (b) GBP/USD (a) EUR/USD Gambar 4 Bentuk Sebaran Model GPD

9 26 b. Metode Transformasi-Kernel Pendugaan dengan menggunakan fungsi kernel bergantung pada lebar jendela yang dipergunakan. Semakin lebar jendela dugaan fungsi yang dihasilkan akan semakin mulus tetapi semakin tidak pas dengan data. Pemilihan lebar jendela dilakukan dengan mempertimbangkan kemulusan dan pengepasan fungsi terhadap amatan. Dari keempat metode pemilihan lebar jendela yang dicoba yaitu normal reference distribution (nrd), Sheather-Jones (SJ), unbiased cross validation (ucv), dan biased cross validation (bcv), dipilih metode Sheater-Jones seperti yang disarankan oleh Simonoff (1996) dan Bowman dan Azzalani (1997) untuk data univariate. Gambar 5 memperlihatkan bentuk-bentuk fkp untuk posisi jual dan beli pada untuk pasangan mata uang EUR/USD. Bentuk fkp paling mulus diperlihatkan oleh metode nrd, dan yang paling tidak mulus dihasilkan oleh metode ucv. Pada pasangan mata uang yang lain hasil pemulusan yang ditunjukkan oleh keempat cara penentuan lebar jendela sama dengan hasil pemulusan untuk pasangan mata uang EUR/USD. kepekatan kepekatan (a) Posisi Beli (b) Posisi Jual Gambar 5 Bentuk dugaan fkp untuk lebar jendela yang berbeda pada pasangan mata uang EUR/USD Fungsi kernel yang dipergunakan adalah Fungsi Epanechnikov. Menurut Silvermann (1996) Fungsi Epanechnikov merupakan fungsi kernel yang paling efektif dan menurut Butler dan Schachter (1997) fungsi ini merupakan pilihan umum dalam bidang ekonometrika dan statistika. Perbandingan fungsi kernel ini dengan fungsi kernel yang lain yaitu gaussian, rectangular dan biweight memperlihatkan hasil yang hampir berimpit.

10 27 Gambar 6 Bentuk dugaan fkp dengan fungsi kernel berbeda pada pasangan mata uang EUR/USD Tabel 8 VaR Berdasar Model Pendugaan Transformasi-Kernel dengan Kernel Epanechnikov Backtesting Pasangan Jual Beli 95% 99% 95% 99% EUR/USD GBP/USD USD/CAD USD/CHF USD/JPY Nilai VaRp dari return pergerakan mata uang menyatakan bahwa peluang kejadian nilai return harian melampaui nilai tersebut adalah p %. Untuk menguji nilai VaRp dilakukan pemeriksaan seberapa banyak nilai return yang melanggar (overshoot) VaRp. Kejadian pelanggaran ini, dalam konsep pengelolaan risiko merupakan hal yang tidak diinginkan, sering disebut sebagai bad luck (Jorion 2003). Gambar 7 memperlihatkan kejadian pelanggaran terhadap VaR yang didapat dari perhitungan pada pasangan mata uang EUR/USD untuk posisi jual. Gambar (a) untuk VaR95 dan (b) untuk VaR99. (a) 95% (b) 99% Gambar 7 Nilai Return yang melanggar VaR 95% dan 99%

11 28 Jumlah kejadian yang tidak melampaui VaR diharapkan sama dengan dengan peluang VaR yang ditetapkan. Gambar 8 memperlihatkan persentase amatan yang berada di bawah VaR dari seluruh amatan kerugian pada suatu posisi berada di sekitar peluang VaR yang ditetapkan. (a) VaR95 (b) VaR99 Gambar 8 Persentase jumlah amatan yang berada di bawah VaR Backtesting dilakukan untuk menguji peluang kejadian overshoot sama dengan p. Hipotesis yang digunakan adalah H 0 : peluang pelanggaran VaRp = p H 1 : peluang pelanggaran VaRp p Pengambilan keputusan didasarkan nilai p-value dengan acuan tingkat kesalahan yang dipilih α = 5%. Apabila p-value > 0.05 maka H0 diterima. Tabel 9 Backtesting VaR-gpd untuk Posisi Jual VaR Pasangan EUR/USD GBP/USD USD/CAD USD/CHF USD/JPY n pelanggaran nilai-p pelanggaran nilai-p Hasil backtesting pada dugaan VaR dengan metode GPD untuk posisi jual pada Tabel 9 memperlihatkan peluang pelanggaran VaRp sama dengan nilai peluang yang ditetapkan dalam penghitungan VaR untuk semua nilai mata uang yaitu sebesar 5%. Persentase pelanggaran yang terjadi atas VaR95 pada posisi jual antara 4.68% hingga 5.22% namun scara statistik persentase tersebut tidak berbeda dengan 5%. Begitu pula untuk VaR99 yang memiliki persentase pelanggaran antara 0.86% hingga 1.27%.

12 29 Tabel 10 Backtesting VaR-gpd untuk Posisi Beli VaR Pasangan EUR/USD GBP/USD USD/CAD USD/CHF USD/JPY n pelanggaran nilai-p pelanggaran nilai-p Persentase pelanggaran VaR95 dan VaR99 dengan metode POT untuk posisi beli masing-masing antara 4.70% hingga 5.49% dan 0.56% hingga 1.09%. Secara statistik persentasi pelanggaran tersebut tidak berbeda dengan peluang VaR yang ditetapkan. Tabel 10 memperlihatkan pada posisi beli hasil backtesting untuk dugaan VaR dengan metode GPD untuk posisi beli memperlihatkan peluang pelanggaran VaRp sama dengan nilai peluang yang ditetapkan dalam penghitungan VaR untuk semua nilai mata uang yaitu sebesar 5% dan 1%. Tabel 11 Backtesting VaR-tk untuk Posisi Jual VaR Pasangan EUR/USD GBP/USD USD/CAD USD/CHF USD/JPY n pelanggaran nilai-p pelanggaran nilai-p Persentase pelanggaran VaR95 dan VaR99 dengan metode Transformasi- Kernel untuk posisi jual masing-masing antara 4.68% hingga 5.22% dan 0.81% hingga 1.27%. Secara statistik persentase pelanggaran tersebut tidak berbeda dengan peluang VaR yang ditetapkan yakni 5% dan 1%. Tabel 11 memperlihatkan hasil backtesting yang memperlihatkan peluang kejadian pelanggaran atas VaR tidak berbeda dengan peluang VaR yang ditetapkan. Tabel 12 Backtesting VaR-tk untuk Posisi Beli VaR Pasangan EUR/USD GBP/USD USD/CAD USD/CHF USD/JPY n pelanggaran nilai-p pelanggaran nilai-p

13 30 Posisi Beli Posisi Jual (e) USD/JPY (d) USD/CHF (c) USD/CAD (b) GBP/USD (a) EUR/USD Gambar 9 Perbandingan VaR-gpd dan VaR-tk

14 31 Hasil backtesting untuk VaR dengan metode Transformasi-Kernel untuk posisi beli memperlihatkan bahwa peluang pelanggaran terhadap VaR95 dan VaR99 tidak berbeda dengan peluang yang ditentukan. Tabel 12 memperlihatkan Hasil backtesting yang serupa dengan hasil backtesting dengan untuk posisi jual dan metode POT pada tabel sebelumnya, meskipun dari persentase pelanggaran atas VaR95 dan VaR99 masing-masing antara 4.68% hingga 5.52% dan 0.79% hingga 1.22% namun secara statistik tidak berbeda dengan 5% dan 1%. Secara keseluruhan, pada kasus nilai return perdagangan mata uang, pendugaan VaR dengan metode Teori nilai ekstrem dan transformasi-kernel memperlihatkan hasil yang hampir sama. Kejadian amatan yang melampaui VaR memiliki peluang yang sama dengan yang diharapkan pada peluang 5% dan 1%. Perbandingan VaR dari peluang 10% hingga 0.1% diperlihatkan oleh Gambar 9. Tampak bahwa VaR yang dihasilkan oleh metode transformasi-kernel dan GPD hampir berimpit kecuali pada kuantil yang sangat tinggi (di atas 99%).

PENDUGAAN NILAI RISIKO DENGAN SEBARAN TRANSFORMASI-KERNEL DAN SEBARAN NILAI EKSTREM BUDI HARYANTO

PENDUGAAN NILAI RISIKO DENGAN SEBARAN TRANSFORMASI-KERNEL DAN SEBARAN NILAI EKSTREM BUDI HARYANTO PENDUGAAN NILAI RISIKO DENGAN SEBARAN TRANSFORMASI-KERNEL DAN SEBARAN NILAI EKSTREM BUDI HARYANTO PROGRAM STUDI STATISTIKA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 PERNYATAAN MENGENAI TESIS

Lebih terperinci

dari tahun pada stasiun pengamat yang berada di daerah Darmaga, Bogor.

dari tahun pada stasiun pengamat yang berada di daerah Darmaga, Bogor. Jika plot peluang dan plot kuantil-kuantil membentuk garis lurus atau linier maka dapat disimpulkan bahwa model telah memenuhi asumsi (Mallor et al. 2009). Tingkat Pengembalian Dalam praktik, besaran atau

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan dianalisis dan dibahas tentang pengukuran risiko operasional klaim asuransi kesehatan pada PT. XYZ menggunakan metode EVT. Pengukuran risiko operasional

Lebih terperinci

SEBARAN GENERALIZED EXTREME VALUE (GEV) DAN GENERALIZED PARETO (GP) UNTUK PENDUGAAN CURAH HUJAN EKSTRIM DI WILAYAH DKI JAKARTA

SEBARAN GENERALIZED EXTREME VALUE (GEV) DAN GENERALIZED PARETO (GP) UNTUK PENDUGAAN CURAH HUJAN EKSTRIM DI WILAYAH DKI JAKARTA SEBARAN GENERALIZED EXTREME VALUE (GEV) DAN GENERALIZED PARETO (GP) UNTUK PENDUGAAN CURAH HUJAN EKSTRIM DI WILAYAH DKI JAKARTA Achi Rinaldi Pendidikan Matematika, IAIN Raden Intan [email protected]

Lebih terperinci

Sebaran Generalized Extreme Value (GEV) dan Generalized Pareto (GP) untuk Pendugaan Curah Hujan Ekstrim di Wilayah DKI Jakarta

Sebaran Generalized Extreme Value (GEV) dan Generalized Pareto (GP) untuk Pendugaan Curah Hujan Ekstrim di Wilayah DKI Jakarta Sebaran Generalized Extreme Value (GEV) dan Generalized Pareto (GP) untuk Pendugaan Curah Hujan Ekstrim di Wilayah DKI Jakarta Achi Rinaldi IAIN Raden Intan Lampung; [email protected] Abstract Extreme

Lebih terperinci

KAJIAN BEBERAPA METODE PENDUGAAN NILAI RESIKO OPERASIONAL TRY SUTRISNA

KAJIAN BEBERAPA METODE PENDUGAAN NILAI RESIKO OPERASIONAL TRY SUTRISNA KAJIAN BEBERAPA METODE PENDUGAAN NILAI RESIKO OPERASIONAL TRY SUTRISNA DEPARTEMEN STATISTIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2014 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

Lebih terperinci

ISSN: JURNAL GAUSSIAN, Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015, Halaman Online di:

ISSN: JURNAL GAUSSIAN, Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015, Halaman Online di: ISSN: 2339-2541 JURNAL GAUSSIAN, Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015, Halaman 141-150 Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/gaussian APLIKASI METODE PUNCAK AMBANG BATAS MENGGUNAKAN PENDEKATAN DISTRIBUSI

Lebih terperinci

Distribution. Contoh Kasus. Widya Rahmawati

Distribution. Contoh Kasus. Widya Rahmawati Distribution Widya Rahmawati Contoh Kasus Mahasiswa A sudah mendapatkan data hasil penelitian Mahasiswa A sedang mempertimbangkan angka statistik mana yang sebaiknya ditampilkan (mean atau median) analisis

Lebih terperinci

SKRIPSI. Disusun Oleh : TYAS ESTININGRUM

SKRIPSI. Disusun Oleh : TYAS ESTININGRUM APLIKASI METODE PUNCAK AMBANG BATAS MENGGUNAKAN PENDEKATAN DISTRIBUSI PARETO TERAMPAT DAN ESTIMASI PARAMETER MOMEN-L PADA DATA CURAH HUJAN (Studi Kasus : Data Curah Hujan Kota Semarang Tahun 2004-2013)

Lebih terperinci

PROBLEM SOLVING STATISTIKA LANJUT

PROBLEM SOLVING STATISTIKA LANJUT PROBLEM SOLVING STATISTIKA LANJUT 1. Ujilah validitas dan reliabilitas hasil koesioner gaya kepemimpinan yang terdiri dari 12 item dan diisi oleh 44 responden dalam data pada file Excel. 2. Berikan gambaran

Lebih terperinci

Pendugaan Kepekatan Data Nilai Akhir Mahasiswa

Pendugaan Kepekatan Data Nilai Akhir Mahasiswa Pendugaan Kepekatan Data Akhir Mahasiswa Julio Adisantoso G16109011/STK 7 Mei 2010 Ringkasan Diketahui data pengamatan dari sebaran dengan fungsi kepekatan f yang tidak diketahui. Fungsi f dapat diduga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Aktuaria adalah suatu disiplin ilmu yang menerapkan metode-metode statistika maupun matematika dalam menentukan price dan resiko pada industri asuransi dan keuangan.

Lebih terperinci

IKG4A2 Kapita Selekta Dosen: Aniq A. Rohmawati, M.Si Data Deret Waktu dan i.i.d

IKG4A2 Kapita Selekta Dosen: Aniq A. Rohmawati, M.Si Data Deret Waktu dan i.i.d IKG4A2 Kapita Selekta Dosen: Aniq A. Rohmawati, M.Si Data Deret Waktu dan i.i.d Data merupakan kumpulan informasi yang diharapkan dapat dinterpretasikan dengan baik dan akurat. Terdapat beberapa jenis

Lebih terperinci

PENENTUAN VALUE AT RISK

PENENTUAN VALUE AT RISK PENENTUAN VALUE AT RISK SAHAM KIMIA FARMA PUSAT MELALUI PENDEKATAN DISTRIBUSI PARETO TERAMPAT (Studi Kasus : Harga Penutupan Saham Harian Kimia Farma Pusat Periode Oktober 2009 September 2014) SKRIPSI

Lebih terperinci

Nur Alamah Fauziyah. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Kata Kunci : Return,Risk,EVT, Portofolio, Saham JII, VaR,VaR-GEV.

Nur Alamah Fauziyah. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Kata Kunci : Return,Risk,EVT, Portofolio, Saham JII, VaR,VaR-GEV. ANALISIS RISIKO PADA PORTOFOLIO SYARIAH DENGAN PEMODELAN VALUE AT RISK (VaR) BLOCK MAXIMA GENERALIZED EXTREME VALUE (Studi Kasus : Indeks Harga Saham Syariah Jakarta Islamic Index (JII) Periode 3 Januari

Lebih terperinci

PENENTUAN VALUE AT RISK SAHAM KIMIA FARMA PUSAT MELALUI PENDEKATAN DISTRIBUSI PARETO TERAMPAT

PENENTUAN VALUE AT RISK SAHAM KIMIA FARMA PUSAT MELALUI PENDEKATAN DISTRIBUSI PARETO TERAMPAT ISSN: 2339-2541 JURNAL GAUSSIAN, Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015, Halaman 453-462 Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/gaussian PENENTUAN VALUE AT RISK SAHAM KIMIA FARMA PUSAT MELALUI PENDEKATAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. return, mean, standard deviation, skewness, kurtosis, ACF, korelasi, GPD, copula,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. return, mean, standard deviation, skewness, kurtosis, ACF, korelasi, GPD, copula, BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini akan dibahas semua konsep yang mendasari penelitian ini yaitu return, mean, standard deviation, skewness, kurtosis, ACF, korelasi, GPD, copula, VaR, estimasi VaR dengan

Lebih terperinci

Estimasi Nilai VaR Dinamis Indeks Saham Menggunakan Peak-Over Threshold dan Block Maxima

Estimasi Nilai VaR Dinamis Indeks Saham Menggunakan Peak-Over Threshold dan Block Maxima Jurnal Matematika Vol. 2 No. 2, Desember 2012. ISSN : 1693-1394 Estimasi Nilai VaR Dinamis Indeks Saham Menggunakan Peak-Over Threshold dan Block Maxima Komang Dharmawan Jurusan Matematika FMIPA, Universitas

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh: RENGGANIS PURWAKINANTI

SKRIPSI. Oleh: RENGGANIS PURWAKINANTI APLIKASI METODE MOMEN MOMEN PROBABILITAS TERBOBOTI UNTUK ESTIMASI PARAMETER DISTRIBUSI PARETO TERAMPAT PADA DATA CURAH HUJAN (Studi Kasus Data Curah Hujan Kota Semarang Tahun 2004-2013) SKRIPSI Oleh: RENGGANIS

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN.1. Karakteristik Data Pengamatan karakteristik tegakan hutan seumur puspa dilakukan pada dua plot di Hutan Pendidikan Gunung Walat dengan luas masing-masing plot berukuran 1

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Pergerakan Harga Saham Pergerakan harga harian indeks LQ45 dan lima saham perbankan yang termasuk dalam kelompok LQ45 selama periode penelitian ditampilkan dalam bentuk

Lebih terperinci

PERBANDINGAN PENDEKATAN GENERALIZED EXTREME VALUE DAN GENERALIZED PARETO DISTRIBUTION UNTUK PERHITUNGAN VALUE AT RISK PADA PORTOFOLIO SAHAM

PERBANDINGAN PENDEKATAN GENERALIZED EXTREME VALUE DAN GENERALIZED PARETO DISTRIBUTION UNTUK PERHITUNGAN VALUE AT RISK PADA PORTOFOLIO SAHAM ISSN: 2339-2541 JURNAL GAUSSIAN, Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016, Halaman 361-371 Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/gaussian PERBANDINGAN PENDEKATAN GENERALIZED EXTREME VALUE DAN GENERALIZED

Lebih terperinci

PADA PORTOFOLIO SAHAM

PADA PORTOFOLIO SAHAM PERBANDINGAN PENDEKATAN GENERALIZED EXTREME VALUE DAN GENERALIZED PARETO DISTRIBUTION UNTUK PERHITUNGAN VALUE AT RISK PADA PORTOFOLIO SAHAM SKRIPSI Disusun oleh: AYU AMBARSARI 24010212140079 DEPARTEMEN

Lebih terperinci

PEMULUSAN FUNGSI KERNEL TERHADAP SEBARAN LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK DI PULAU JAWA SHELA SHINTIA ROSALINA

PEMULUSAN FUNGSI KERNEL TERHADAP SEBARAN LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK DI PULAU JAWA SHELA SHINTIA ROSALINA i PEMULUSAN FUNGSI KERNEL TERHADAP SEBARAN LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK DI PULAU JAWA SHELA SHINTIA ROSALINA DEPARTEMEN STATISTIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

Lebih terperinci

Penggunaan Metode VaR (Value at Risk) dalam Analisis Risiko Investasi Saham dengan Pendekatan Generalized Pareto Distribution (GPD)

Penggunaan Metode VaR (Value at Risk) dalam Analisis Risiko Investasi Saham dengan Pendekatan Generalized Pareto Distribution (GPD) JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 212) ISSN: 231-928X D-56 Penggunaan Metode VaR (Value at Risk) dalam Analisis Risiko Investasi Saham dengan Pendekatan Generalized Pareto Distribution (GPD)

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Distribusi eksponensial tergenaralisir (Generalized Eponential Distribution) pertama kali diperkenalkan oleh Gupta dan Kundu pada tahun 1999. Distribusi ini diambil

Lebih terperinci

3.3 Pengumpulan Data Primer

3.3 Pengumpulan Data Primer 10 pada bagian kantong, dengan panjang 200 m dan lebar 70 m. Satu trip penangkapan hanya berlangsung selama satu hari dengan penangkapan efektif sekitar 10 hingga 12 jam. Sedangkan untuk alat tangkap pancing

Lebih terperinci

Mata Kuliah Pemodelan & Simulasi. Riani Lubis Program Studi Teknik Informatika Universitas Komputer Indonesia

Mata Kuliah Pemodelan & Simulasi. Riani Lubis Program Studi Teknik Informatika Universitas Komputer Indonesia Mata Kuliah Pemodelan & Simulasi Riani Lubis Program Studi Teknik Informatika Universitas Komputer Indonesia Pokok Bahasan Variabel Acak Pola Distribusi Masukan Pendugaan Pola Distribusi Uji Distribusi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. investasi yang telah dilakukan. Dalam berinvestasi jika investor mengharapkan

BAB I PENDAHULUAN. investasi yang telah dilakukan. Dalam berinvestasi jika investor mengharapkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam dunia bisnis, hampir semua investasi mengandung ketidakpastian atau resiko. Investor tidak mengetahui dengan pasti hasil yang akan diperolehnya dari investasi

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Risiko, Manajemen Risiko, dan Manajemen Risiko Finansial

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Risiko, Manajemen Risiko, dan Manajemen Risiko Finansial BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Risiko, Manajemen Risiko, dan Manajemen Risiko Finansial Risiko adalah kerugian akibat kejadian yang tidak dikehendaki muncul. Risiko diidentifikasikan berdasarkan faktor penyebabnya,

Lebih terperinci

RINGKASAN RISKA NURIDHA PUTRI.

RINGKASAN RISKA NURIDHA PUTRI. RINGKASAN RISKA NURIDHA PUTRI. Analisis Ukuran Risiko Keuangan Menggunakan Teori Nilai Ekstrim : Studi Kasus Indeks Harga Saham Gabungan Periode 2001-2010. Dibawah bimbingan Dr. Ir. Anik Djuraidah, MS.

Lebih terperinci

statistika untuk penelitian

statistika untuk penelitian statistika untuk penelitian Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2013 Freeaninationwallpaper.blogspot.com Apa itu Statistika? Statistika adalah ilmu yang mempelajari cara pengumpulan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia merupakan makhluk sosial yang memiliki perilaku konsumtif. Perilaku tersebut membuat setiap orang memiliki banyak kebutuhan yang perlu dipenuhi. Apalagi sifat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Topik manajemen risiko menjadi mengemuka setelah terjadi banyak kejadian tidak terantisipasi yang menyebabkan kerugian perusahaan. Depresi tajam dan cepat terhadap

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Analisis regresi adalah suatu metode analisis data yang menggambarkan

TINJAUAN PUSTAKA. Analisis regresi adalah suatu metode analisis data yang menggambarkan 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analisis Regresi Analisis regresi adalah suatu metode analisis data yang menggambarkan hubungan antara variabel respon dengan satu atau beberapa variabel prediktor. Misalkan

Lebih terperinci

STK643 PEMODELAN NON-PARAMETRIK. Pendugaan Fungsi Kepekatan

STK643 PEMODELAN NON-PARAMETRIK. Pendugaan Fungsi Kepekatan STK643 PEMODELAN NON-PARAMETRIK Pendugaan Fungsi Kepekatan MATERI 1. Pendahuluan Mengapa pemodelan nonparametrik Penerapan pemodelan nonparametrik (Eksplorasi data dan Inferensia) 2. Pendugaan fungsi kepekatan

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh: ANNISA RAHMAWATI

SKRIPSI. Oleh: ANNISA RAHMAWATI IDENTIFIKASI CURAH HUJAN EKSTREM DI KOTA SEMARANG MENGGUNAKAN ESTIMASI PARAMETER MOMEN PROBABILITAS TERBOBOTI PADA NILAI EKSTREM TERAMPAT (Studi Kasus Data Curah Hujan Dasarian Kota Semarang Tahun 1990-2013)

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian tentang risiko harga sayuran di Indonesia mencakup komoditas kentang, kubis, dan tomat dilakukan di Pasar Induk Kramat Jati, yang

Lebih terperinci

PENENTUAN NILAI VALUE at RISK PADA SAHAM IHSG MENGGUNAKAN MODEL GEOMETRIC BROWNIAN MOTION DENGAN LOMPATAN

PENENTUAN NILAI VALUE at RISK PADA SAHAM IHSG MENGGUNAKAN MODEL GEOMETRIC BROWNIAN MOTION DENGAN LOMPATAN PENENTUAN NILAI VALUE at RISK PADA SAHAM IHSG MENGGUNAKAN MODEL GEOMETRIC BROWNIAN MOTION DENGAN LOMPATAN I Gede Arya Duta Pratama 1, Komang Dharmawan 2, Luh Putu Ida Harini 3 1 Jurusan Matematika Fakultas

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2011 dengan lokasi penelitian berada di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Kabupaten Sukabumi.

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. Gambar 4.1 nilai tukar kurs euro terhadap rupiah

BAB IV PEMBAHASAN. Gambar 4.1 nilai tukar kurs euro terhadap rupiah BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Data Gambar 4.1 memperlihatkan bahwa data berfluktuasi dari waktu ke waktu. Hal ini mengindikasikan bahwa data tidak stasioner baik dalam rata-rata maupun variansi. Gambar

Lebih terperinci

Bab III Studi Kasus III.1 Decline Rate

Bab III Studi Kasus III.1 Decline Rate Bab III Studi Kasus III.1 Decline Rate Studi kasus akan difokuskan pada data penurunan laju produksi (decline rate) di 31 lokasi sumur reservoir panas bumi Kamojang, Garut. Persoalan mendasar dalam penilaian

Lebih terperinci

DISTRIBUSI PROBABILITAS KONTINYU. Nur Hayati, S.ST, MT Yogyakarta, Maret 2016

DISTRIBUSI PROBABILITAS KONTINYU. Nur Hayati, S.ST, MT Yogyakarta, Maret 2016 DISTRIBUSI PROBABILITAS KONTINYU Nur Hayati, S.ST, MT Yogyakarta, Maret 2016 DISTRIBUSI PELUANG KONTINYU Berbeda dengan variabel random diskrit, sebuah variabel random kontinyu adalah variabel yang dapat

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Menurut Open Darnius (2006, hal: 53) simulasi dapat diartikan sebagai suatu

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Menurut Open Darnius (2006, hal: 53) simulasi dapat diartikan sebagai suatu xiv BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Pendahuluan Menurut Open Darnius (2006, hal: 53) simulasi dapat diartikan sebagai suatu rekayasa dari suatu model secara logika ilmiah merupakan suatu metode alternatif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Risiko adalah kerugian karena kejadian yang tidak diharapkan terjadi. Misalnya, kejadian sakit mengakibatkan kerugian sebesar biaya berobat dan upah yang hilang karena

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 18 BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini akan dikemukakan metode-metode yang akan digunakan pada bab selanjutnya. Metode-metode pada bab ini yaitu metode Value at Risk dengan pendekatan distribusi normal

Lebih terperinci

Aplikasi Pemodelan Klaim Asuransi dengan Pendekatan Mixture Exponential Untuk Mencari Value-at-Risk Sebagai Threshold Dalam Menentukan Nilai Ekstrim

Aplikasi Pemodelan Klaim Asuransi dengan Pendekatan Mixture Exponential Untuk Mencari Value-at-Risk Sebagai Threshold Dalam Menentukan Nilai Ekstrim ISSN : 2355-9365 e-proceeding of Engineering : Vol.4, No.1 April 2017 Page 1325 Aplikasi Pemodelan Klaim Asuransi dengan Pendekatan Mixture Exponential Untuk Mencari Value-at-Risk Sebagai Threshold Dalam

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB PENDAHULUAN. Latar Belakang Dunia perbankan sebagai institusi yang memiliki izin untuk melakukan banyak aktivitas seperti menghimpun dana secara langsung dari masyarakat dalam bentuk simpanan (giro,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Aktuaria adalah salah satu disiplin ilmu yang merupakan terapan dari metode matematika maupun statistika, diantaranya dalam menentukan harga premi dan

Lebih terperinci

STATISTIKA TERAPAN. Pengertian Statistika

STATISTIKA TERAPAN. Pengertian Statistika STATISTIKA TERAPAN Dr. Akhmad Rizali Pengertian Statistika Statistika: ilmu yang mempelajari cara cara pengumpulan, penyajian, analisis, interpretasi dan pengambilan kesimpulan dari data yang diperoleh

Lebih terperinci

ISSN: JURNAL GAUSSIAN, Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, Halaman Online di:

ISSN: JURNAL GAUSSIAN, Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, Halaman Online di: ISSN: 2339-2541 JURNAL GAUSSIAN, Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, Halaman 81-90 Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/gaussian ANALISIS GRAFIK PENGENDALI NONPARAMETRIK DENGAN ESTIMASI FUNGSI

Lebih terperinci

Analisis Fenomena Tekanan Udara Permukaan di Indonesia Sebelum Kejadian Hujan Ekstrem di Kabupaten Indramayu dengan Pendekatan Bootstrap

Analisis Fenomena Tekanan Udara Permukaan di Indonesia Sebelum Kejadian Hujan Ekstrem di Kabupaten Indramayu dengan Pendekatan Bootstrap 1 Analisis Fenomena Tekanan Udara Permukaan di Indonesia Sebelum Kejadian Hujan Ekstrem di Kabupaten Indramayu dengan Pendekatan Bootstrap Sri Hidayati dan Heri Kuswanto Jurusan Statistika, FMIPA, Institut

Lebih terperinci

Analisis Regresi 2. Pokok Bahasan : Asumsi sisaan dan penanganannya

Analisis Regresi 2. Pokok Bahasan : Asumsi sisaan dan penanganannya Analisis Regresi 2 Pokok Bahasan : Asumsi sisaan dan penanganannya Tujuan Instruksional Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan asumsi-asumsi yang melandasi analisis regresi linier sederhana dan berganda,

Lebih terperinci

Uji Kolmogorov Smirnov

Uji Kolmogorov Smirnov Uji Kolmogorov Smirnov Pengertian Uji Kolmogorov Smirnov merupakan pengujian normalitas yang banyak dipakai, terutama setelah adanya banyak program statistik yang beredar. Kelebihan dari uji ini adalah

Lebih terperinci

SEBARAN PARETO TERAMPAT UNTUK MENENTUKAN CURAH HUJAN EKSTRIM (Studi Kasus: Curah Hujan Periode pada Stasiun Darmaga) MUHAMMAD IRFAN

SEBARAN PARETO TERAMPAT UNTUK MENENTUKAN CURAH HUJAN EKSTRIM (Studi Kasus: Curah Hujan Periode pada Stasiun Darmaga) MUHAMMAD IRFAN SEBARAN PARETO TERAMPAT UNTUK MENENTUKAN CURAH HUJAN EKSTRIM (Studi Kasus: Curah Hujan Periode 2001-2010 pada Stasiun Darmaga) MUHAMMAD IRFAN DEPARTEMEN STATISTIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI RISIKO (VALUE AT RISK) MENGGUNAKAN UJI KEJADIAN BERNOULLI (BERNOULLI COVERAGE TEST) (Studi Kasus pada Indeks Harga Saham Gabungan)

ANALISIS NILAI RISIKO (VALUE AT RISK) MENGGUNAKAN UJI KEJADIAN BERNOULLI (BERNOULLI COVERAGE TEST) (Studi Kasus pada Indeks Harga Saham Gabungan) ISSN: 2339-2541 JURNAL GAUSSIAN, Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014, Halaman 233-242 Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/gaussian ANALISIS NILAI RISIKO (VALUE AT RISK) MENGGUNAKAN UJI KEJADIAN

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. A. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional. Untuk memperjelas dan memudahkan pemahaman terhadap variabelvariabel

METODE PENELITIAN. A. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional. Untuk memperjelas dan memudahkan pemahaman terhadap variabelvariabel 43 III. METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Untuk memperjelas dan memudahkan pemahaman terhadap variabelvariabel yang akan dianalisis dalam penelitian ini, maka perlu dirumuskan

Lebih terperinci

STK643 PEMODELAN NON-PARAMETRIK. Pendugaan Fungsi Kepekatan Regresi Nonparametrik

STK643 PEMODELAN NON-PARAMETRIK. Pendugaan Fungsi Kepekatan Regresi Nonparametrik STK643 PEMODELAN NON-PARAMETRIK Pendugaan Fungsi Kepekatan Regresi Nonparametrik KARAKERISTIK DASAR PENDUGA KEPEKATAN Penduga kepekatan; f x = 1 n n 1 w x x i h Nilai tengah atau Rataan (mean) E{f x }

Lebih terperinci

METODOLOGI HASIL DAN PEMBAHASAN

METODOLOGI HASIL DAN PEMBAHASAN 3 berada pada jarak sejauh tiga atau empat kali simpangan baku dari nilai tengahnya (Aunuddin 1989). Pendekatan pencilan dapat dilakukan dengan melihat plot peluang normal. Apabila terdapat loncatan vertikal

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Topik manajemen risiko menjadi mengemuka setelah terjadi banyak kejadian yang menyebabkan kerugian pada perusahaan. Depresi tajam dan cepat terhadap rupiah (krisis

Lebih terperinci

Analisis Deret Waktu Keuangan

Analisis Deret Waktu Keuangan Khreshna Syuhada 1 Catatan Kuliah Analisis Deret Waktu Keuangan Khreshna Syuhada 2 Bab 1: Return dan Sifat-sifat Return Misalkan PP tt menyatakan harga aset pada waktu tt. Return atau imbal hasil didefinisikan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Berdasarkan sifat penelitiannya, penelitian ini merupakan sebuah penelitian

III. METODE PENELITIAN. Berdasarkan sifat penelitiannya, penelitian ini merupakan sebuah penelitian III. METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Berdasarkan sifat penelitiannya, penelitian ini merupakan sebuah penelitian deskriptif. Definisi dari penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. keuntungan atau coumpouding. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. keuntungan atau coumpouding. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Investasi Menurut Fahmi dan Hadi (2009) investasi merupakan suatu bentuk pengelolaan dana guna memberikan keuntungan dengan cara menempatkan dana tersebut pada alokasi

Lebih terperinci

Jurnal MATEMATIKA Volume 2 Nomor 2 Tahun 2012

Jurnal MATEMATIKA Volume 2 Nomor 2 Tahun 2012 ISSN : 1693-1394 Jurnal MATEMATIKA Volume 2 Nomor 2 Tahun 2012 ESTIMASI NILAI VAR DINAMIS INDEKS SAHAM MENGGUNAKAN PEAK-OVER THRESHOLD DAN BLOCK MAXIMA Komang Dharmawan 1-12 PERBANDINGAN ANALISIS GENERALIZED

Lebih terperinci

DISTRIBUSI PELUANG KONTINYU DISTRIBUSI PROBABILITAS

DISTRIBUSI PELUANG KONTINYU DISTRIBUSI PROBABILITAS DISTRIBUSI PROBABILITAS Berbeda dengan variabel random diskrit, sebuah variabel random kontinyu adalah variabel yang dapat mencakup nilai pecahan maupun mencakup range/ rentang nilai tertentu. Karena terdapat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. merangkum, dan mempresentasikan data dengan cara informatif. Sedangkan

I. PENDAHULUAN. merangkum, dan mempresentasikan data dengan cara informatif. Sedangkan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Statistika merupakan ilmu tentang pengumpulan, pengaturan, analisis, dan pendugaan data untuk membantu proses pengambilan keputusan secara lebih efisien. Ilmu statistika

Lebih terperinci

ANALISIS GRAFIK PENGENDALI NONPARAMETRIK DENGAN ESTIMASI FUNGSI DENSITAS KERNEL PADA KASUS WAKTU PELOROTAN BATIK TULIS SKRIPSI

ANALISIS GRAFIK PENGENDALI NONPARAMETRIK DENGAN ESTIMASI FUNGSI DENSITAS KERNEL PADA KASUS WAKTU PELOROTAN BATIK TULIS SKRIPSI ANALISIS GRAFIK PENGENDALI NONPARAMETRIK DENGAN ESTIMASI FUNGSI DENSITAS KERNEL PADA KASUS WAKTU PELOROTAN BATIK TULIS SKRIPSI Oleh: Hana Hayati J2E 009 38 JURUSAN STATISTIKA FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA

Lebih terperinci

ISSN: JURNAL GAUSSIAN, Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014, Halaman Online di:

ISSN: JURNAL GAUSSIAN, Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014, Halaman Online di: ISSN: 23392541 JURNAL GAUSSIAN, Volume 3, Nomor 4, Tahun 214, Halaman 821 83 Online di: http://ejournals1.undip.ac.id/index.php/gaussian APLIKASI METODE MOMEN PROBABILITAS TERBOBOTI UNTUK ESTIMASI PARAMETER

Lebih terperinci

Kata Kunci: Bagan kendali nonparametrik, estimasi fungsi kepekatan kernel

Kata Kunci: Bagan kendali nonparametrik, estimasi fungsi kepekatan kernel Jurnal Matematika UNAND Vol. 5 No. 2 Hal. 1 10 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND BAGAN KENDALI NONPARAMETRIK DENGAN ESTIMASI FUNGSI KEPEKATAN KERNEL (STUDI KASUS: INDEKS PRESTASI MAHASISWA

Lebih terperinci

MA6281 Topik Statistika IV: Analisis Deret Waktu Keuangan

MA6281 Topik Statistika IV: Analisis Deret Waktu Keuangan MA6281 Topik Statistika IV: Analisis Deret Waktu Keuangan Referensi: Taylor (2008), Modeling Financial Time Series Tsay (2005), Analysis of Financial Time Series Silabus: Return, volatilitas dan distribusi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting dalam proses pengambilan keputusan di suatu instansi. Untuk melakukan

BAB I PENDAHULUAN. penting dalam proses pengambilan keputusan di suatu instansi. Untuk melakukan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada zaman sekarang, peramalan merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam proses pengambilan keputusan di suatu instansi. Untuk melakukan peramalan

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengantar Pada Bab ini akan dilakukan pembahasan untuk menetapkan beban overbooking melalui model penghitungan. Untuk dapat melakukan penghitungan tersebut, terlebih dahulu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Saham adalah surat berharga yang menjadi bukti seseorang berinvestasi pada suatu perusahaan. Harga saham selalu mengalami perubahan harga atau biasa disebut

Lebih terperinci

Signifikansi Kolmogorov Smirnov

Signifikansi Kolmogorov Smirnov UJI NORMALITAS Rumus Kolmogorov Smirnov Rumus Kolmogorov Smirnov Langkah-langkah penyelesaian dan penggunaan rumus sama, namun pada signifikansi yang berbeda. Signifikansi metode Kolmogorov-Smirnov menggunakan

Lebih terperinci

CIRI-CIRI DISTRIBUSI NORMAL

CIRI-CIRI DISTRIBUSI NORMAL DISTRIBUSI NORMAL CIRI-CIRI DISTRIBUSI NORMAL Berbentuk lonceng simetris terhadap x = μ distribusi normal atau kurva normal disebut juga dengan nama distribusi Gauss, karena persamaan matematisnya ditemukan

Lebih terperinci

MODEL NON LINIER GARCH (NGARCH) UNTUK MENGESTIMASI NILAI VALUE at RISK (VaR) PADA IHSG

MODEL NON LINIER GARCH (NGARCH) UNTUK MENGESTIMASI NILAI VALUE at RISK (VaR) PADA IHSG E-Jurnal Matematika Vol. 4 (2), Mei 215, pp. 59-66 ISSN: 233-1751 MODEL NON LINIER (N) UNTUK MENGESTIMASI NILAI VALUE at RISK (VaR) PADA IHSG I Komang Try Bayu Mahendra 1, Komang Dharmawan 2, Ni Ketut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Belakang Topik manajemen risiko menjadi mengemuka setelah terjadi banyak kejadian yang menyebabkan kerugian pada perusahaan. Depresi tajam dan cepat terhadap rupiah (krisis moneter),

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Hidrologi merupakan salah satu cabang ilmu bumi (Geoscience atau

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Hidrologi merupakan salah satu cabang ilmu bumi (Geoscience atau BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Analisis Hidrologi Hidrologi merupakan salah satu cabang ilmu bumi (Geoscience atau Science de la Terre) yang secara khusus mempelajari tentang siklus hidrologi atau siklus air

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. utama yang dipertimbangkan industri keuangan. Seperti yang dikemukakan oleh Jorion

BAB I PENDAHULUAN. utama yang dipertimbangkan industri keuangan. Seperti yang dikemukakan oleh Jorion BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Risk management atau manajemen risiko saat ini merupakan salah satu prioritas utama yang dipertimbangkan industri keuangan. Seperti yang dikemukakan oleh Jorion

Lebih terperinci

PERAMALAN DATA SAHAM S&P 500 INDEX MENGGUNAKAN MODEL TARCH

PERAMALAN DATA SAHAM S&P 500 INDEX MENGGUNAKAN MODEL TARCH PERAMALAN DATA SAHAM S&P 500 INDEX MENGGUNAKAN MODEL TARCH Universitas Negeri Malang E-mail: [email protected] Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model peramalan terbaik dari data

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Model Regresi Poisson

HASIL DAN PEMBAHASAN Model Regresi Poisson HASIL DAN PEMBAHASAN Model Regresi Poisson Hubungan antara jumlah penderita DBD dan faktor-faktor yang mempengaruhinya dapat diketahui dengan menggunakan analisis regresi. Analisis regresi yang digunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (variables) seperti harga, volume instrumen, dan varian (variance) yang berubah

BAB I PENDAHULUAN. (variables) seperti harga, volume instrumen, dan varian (variance) yang berubah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Selama beberapa tahun terakhir ada banyak perubahan pada lembaga keuangan dalam mengevaluasi dan mengukur risiko. Usaha perbaikan regulasi berkaitan dengan

Lebih terperinci

PENGUJIAN HIPOTESIS. Konsep: Dua macam kekeliruan. Pengujian hipotesis.

PENGUJIAN HIPOTESIS. Konsep: Dua macam kekeliruan. Pengujian hipotesis. Konsep: PENGUJIAN HIPOTESIS Agus Susworo Dwi Marhaendro Hipotesis: asumsi atau dugaan sementara mengenai sesuatu hal. Dituntut untuk dilakukan pengecekan kebenarannya. Jika asumsi atau dugaan dikhususkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Analisis regresi pada dasarnya adalah studi mengenai ketergantungan variabel dependen (respon) dengan satu atau lebih variabel independen (variabel penjelas), dengan

Lebih terperinci

LANDASAN TEORI. Generalized Lambda Distribution (GLD) awalnya diusulkan oleh Ramberg dan

LANDASAN TEORI. Generalized Lambda Distribution (GLD) awalnya diusulkan oleh Ramberg dan 4 II. LANDASAN TEORI Generalized Lambda Distribution (GLD) awalnya diusulkan oleh Ramberg dan Schmeiser (1974), yang memiliki empat parameter dari pengembangan distribusi Lambda Tukey. Keluarga distribusi

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pada bab analisis dan pembahasan ini akan jelaskan tentang pola persebaran jumlah penderita kusta dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, kemudian dilanjutkan dengan pemodelan

Lebih terperinci

Interval Kepercayaan Skewness dan Kurtosis Menggunakan Bootstrap pada Data Kekuatan Gempa Bumi

Interval Kepercayaan Skewness dan Kurtosis Menggunakan Bootstrap pada Data Kekuatan Gempa Bumi Interval Kepercayaan Skewness dan Kurtosis Menggunakan ootstrap pada Data Kekuatan Gempa umi Hardianti Hafid, Anisa, Anna Islamiyati Program Studi Statistia, FMIPA, Universitas Hasanuddin Gempa bumi yang

Lebih terperinci

BAB 3 DATA DAN METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 DATA DAN METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 DATA DAN METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Data Dalam karya akhir ini digunakan data harga komoditas energi pada pasar spot dan futures. Komoditas yang diteliti adalah komoditas energi WTI, Heating oil dan

Lebih terperinci

Adi Setiawan Program Studi Matematika, Fakultas Sains dan Matematika Universitas Kristen Satya Wacana Jl. Diponegoro Salatiga 50711

Adi Setiawan Program Studi Matematika, Fakultas Sains dan Matematika Universitas Kristen Satya Wacana Jl. Diponegoro Salatiga 50711 PENENTUAN DISTRIBUSI SKEWNESS DAN KURTOSIS DENGAN METODE RESAMPLING BERDASAR DENSITAS KERNEL (STUDI KASUS PADA ANALISIS INFLASI BULANAN KOMODITAS BAWANG MERAH, DAGING AYAM RAS DAN MINYAK GORENG DI KOTA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Investasi berkaitan dengan penempatan dana ke dalam bentuk aset yang lain selama periode tertentu dengan harapan tertentu. Aset yang menjadi objek investasi seseorang

Lebih terperinci

ESTIMASI. Arna Fariza PENDAHULUAN

ESTIMASI. Arna Fariza PENDAHULUAN ESTIMASI Arna Fariza PENDAHULUAN MATERI LALU Karena adanya berbagai alasan seperti banyaknya individu dalam populasi amatan, maka penelitian keseluruhan terhadap populasi tersebut tidaklah ekonomis, baik

Lebih terperinci

III.METODE PENELITIAN

III.METODE PENELITIAN III.METODE PENEITIAN 3.1. Kerangka Tahapan Pemikiran Perkembangan industri non perbankan terus menunjukkan tren positif terutama perasuransian dan perusahaan pembiayaan. Hal ini terjadi pula pada PT ABC

Lebih terperinci

DISTRIBUSI SAMPLING besar

DISTRIBUSI SAMPLING besar DISTRIBUSI SAMPLING besar Distribusi Sampling Sampling = pendataan sebagian anggota populasi = penarikan contoh / pengambilan sampel Sampel yang baik Sampel yang representatif, yaitu diperoleh dengan memperhatikan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA. Data yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah data eksplorasi

BAB IV ANALISIS DATA. Data yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah data eksplorasi BAB IV ANALISIS DATA 4. DATA Data yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah data eksplorasi kandungan cadangan bauksit di daerah penambangan bauksit di Mempawah pada blok AIII-h5 sebanyak 8 titik eksplorasi.

Lebih terperinci

(ESTIMASI/ PENAKSIRAN)

(ESTIMASI/ PENAKSIRAN) ESTIMASI PENDAHULUAN Karena adanya berbagai alasan seperti banyaknya individu dalam populasi amatan, maka penelitian keseluruhan terhadap populasi tersebut tidaklah ekonomis, baik tenaga, waktu, maupun

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan dan Obyek Penelitian Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif mengukur potensi risiko indeks dalam nilai value at risk nya dengan

Lebih terperinci