BAB III METODE PENELITIAN
|
|
|
- Devi Budiono
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah Explanatory Research dibidang gizi masyarakat, yaitu penelitian yang menjelaskan hubungan antar variabel. Metode yang digunakan adalah survey dengan pendekatan belah lintang (Crossectional) dimana variabel sebab dan akibat diambil dalam waktu yang bersamaan( Singarimbun, 1987 ). B. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Posyandu Mawar V kelurahan Tingkir Tengah Kecamatan Tingkir Kota Salatiga.Waktu penelitian dilakukan mulai dari penyusunan proposal sampai dengan penulisan Karya tulis Ilmiah yaitu bulan April Juli tahun 2006.Sedangkan pengambilan data pada bulan Juni C. Populasi dan Sampel Populasi penelitian adalah semua keluarga yang mempunyai balita yang ada di Posyandu Mawar V Kelurahan Tingkir Tengah Kota Salatiga yang berjumlah 45 keluarga. Pada penelitian ini tidak dilakukan penarikan sampel karena semua anggota populasi diteliti. D. Jenis dan Cara Pengumpulan Data 1. Jenis data Jenis data yang diambil dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. - Data primer meliputi identitas responden, umur, pendidikan, dan pengetahuan gizi ibu, sedangkan balita meliputi data nama, tanggal lahir, jenis kelamin dan berat badan. - Data sekunder meliputi data posyandu dan data monografi kelurahan setempat, yang meliputi keadaan geografis dan keadaan penduduk.
2 13 2. Cara Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melaui wawancara langsung dengan ibu balita berdasarkan kuesioner dan pengukuran antropometri. 3. Alat Pengumpulan Data Sebagai instrumen pengumpulan data adalah kuesioner, KMS/ buku KIA dan dacin dengan ketelitian 0,1 kg. E. Pengolahan dan Analisis Data 1. Pengolahan Data Data yang diperoleh diedit untuk diperiksa apakah ada kesalahan dalam pengisian setelah itu diolah dan hasilnya disusun dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi untuk data pendidikan ibu, pengetahuan gizi ibu dan status gizi balita. a. Pendidikan Ibu Pendidikan ibu dihitung dengan tahun sukses, dikelompokkan menjadi beberapa tingkatan yang diberi kode sesuai dengan tingkatan sekolah yaitu: 1. Pendidikan dasar : 1-9 tahun 2. Pendidikan menengah : tahun 3. Pendidikan tinggi : 13 tahun b. Pengetahuan Gizi Ibu Cara pengkategorian dilakukan dengan menetapkan cut off point dari skor yang telah dijadikan persen. Kategori pengetahuan gizi dibagi dalam tiga kelompok yaitu : 1. Baik bila skor > 80 % 2. Sedang bila skor % 3. Kurang bila skor < 60 % c. Status Gizi Balita Status gizi balita diolah berdasarkan hasil pengukuran antropometri dengan menggunakan baku rujukan WHO NCHS dan dikelompokkan berdasarkan hasil kesepakatan pakar gizi pada bulan Mei tahun 2005 di Semarang mengenai klasifikasi status gizi di Indonesia yaitu :
3 14 1. Gizi lebih, bila Z- score terletak > + 2SD 2. Gizi baik, bila Z- score terletak -2 SD s/d +2 SD 3. Gizi kurang, bila Z- score terletak -3 SD sampai < -2 SD 4. Gizi buruk, bila Z- score terletak <-3 SD Cara pengolahan data dengan menggunakan Z- score dengan indeks BB/U.) 2. Analisis Data: Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan masing-masing variabel yang diteliti dengan melihat distribusi frekuensinya. Untuk mengetahui normal tidaknya distribusi data menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. Analisis analitik hubungan pendidikan ibu dengan status gizi balita menggunakan uji korelasi Rank Spearman dan hubungan pengetahuan gizi ibu dengan status gizi balita menngunakan uji Korelasi Pearson. F. Definisi Operasional 1. Pendidikan Ibu Balita Lamanya pendidikan formal yang ditempuh ibu balita diukur berdasarkan tahun sukses sekolah. Skala ukur : Interval 2. Pengetahuan Gizi Ibu Balita Kemampuan ibu dalam menjawab pertanyaan tentang pengetahuan gizi dan status gizi, diukur dengan memberi skor pada kuesioner. Bila jawaban benar diberi skor 1,dan 0 bila salah. Maka nilai yang akan didapat antara Selanjutnya dilakukan penjumlahan skor dibagi jumlah pertanyaan dikali 100%. Skala ukur : Interval 3. Status Gizi Balita Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat komsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Diukur berdasarkan hasil pengukuran antropometri dengan menggunakan indeks BB/U dihitung dengan cara perhitungan Z skor. Skala ukur : Interval.
4 15 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Keadaan Geografis Kelurahan Tingkir tengah kecamatan Tingkir Kota Salatiga merupakan salah satu dari 6 ( enam ) kelurahan di Kecamatan Tingkir, dimana batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut : - Sebelah Utara : Kelurahan Tingkir Lor - Sebelah Selatan : Desa Bener Kabupaten Semarang - Sebelah Barat : Kelurahan Cebongan - Sebelah Timur : Desa Barukan Kabupaten Semarang Luas wilayah Kelurahan Tingkir Tengah adalah : Ha 2. Keadaan Penduduk a. Menurut kelompok umur dan jenis kelamin Pada bulan Juni 2006 penduduk kelurahan Tingkir Tengah berjumlah 3430 jiwa yang terdiri dari 1747 orang laki-laki dan 1683 perempuan. Distribusi penduduk menurut umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 2. TABEL 2 KEADAAN PENDUDUK MENURUT KELOMPOK UMUR DAN JENIS KELAMIN Kelompok umur (th) Laki-laki Perempuan jumlah % ,7 9,4 7,9 7,8 8,9 10,2 19,9 13,6 6,8 8,6 Jumlah ,0 Sumber : Monografi Kelurahan Tingkir Tengah Tahun 2006
5 16 Distribusi penduduk berdasarkan kelompok umur yang paling banyak adalah kelompok usia tahun ( 19,9 % ) sedangkan kelompok yang paling rendah adalah usia 0-4 tahun ( 6,7 % ) b. Menurut mata pencaharian Gambaran distribusi penduduk kelurahan Tingkir Tengah menurut mata pencaaharian bagi umur 10 tahun ke atas dapat dilihat pada Tabel 3. TABEL 3 KEADAAN PENDUDUK MENURUT MATA PENCAHARIAN No Mata Pencaharian Jumlah % 1 Petani Sendiri 72 4,4 2 Buruh Tani 130 8,0 3 Buruh Bangunan 107 6,6 4 Buruh Industri 140 8,6 5 Sopir/Angkutan 14 0,8 6 Swasta ,3 7 Pengusaha 85 5,3 8 Pedagang 114 7,0 9 PNS 78 4,8 10 TNI 19 1,2 11 Pensiunan 42 2,6 12 Lain-lain 72 4,4 Jumlah ,0 Sumber :Monografi Kelurahan Tingkir Tengah tahun 2006 Dari Tabel 3 diketahui sebagian besar mata pencaharian penduduk Tingkir Tengah adalah dari sektor swasta yaitu sebesar 751 orang (46,3 %), Petani sendiri 4,4%, sedangkan yang paling sedikit adalah pekerjaan angkutan sebesar 0,8%. c. Menurut tingkat pendidikan Konsep dasar pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti di dalam pendidikan terjadi proses perkembangan atau penambahan kearah yang lebih dewasa, lebih baik dan lebih matang pada diri individu, kelompok atau masyarakat. Distribusi penduduk menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada Tabel 4.
6 17 TABEL 4 KEADAAN PENDUDUK MENURUT TINGKAT PENDIDIKAN No Tingkat Pendidikan Jumlah % 1 Sarjana 170 5,3 2 Tamat Akademi 84 2,6 3 PT 67 2,1 4 Tamat SLTA ,9 5 Tamat SMP ,3 6 Tamat SD Belum Tamat SD ,1 8 Tidak Sekolah 147 4,6 Jumlah ,0 Sumber : Monografi Kelurahan Tingkir Tengah Tahun 2006 Dari Tabel 4 nampak bahwa sebagian besar penduduk Kelurahan Tingkir Tengah berpendidikan rendah yaitu dari yang tidak sekolah sampai dengan lulus SMP sebanyak 2080 orang atau ± 65%, meskipun ada juga yang sampai perguruan tinggi namun proporsinya sedikit.. 3. Sarana umum dan sarana kesehatan yang ada Sarana umum yang ada di kelurahan Tingkir Tengah sampai dengan tahun 2006 terdiri dari 1 balai kelurahan, 7 masjid, 45 Mushola, 2 SD, 1 MI, 1Pondok pesantren dan 3 TK. Sarana kesehatan yang ada di kelurahan Tingkir tengah sampai tahun 2006 meliputi 2 praktek bidan, 2 praktek dorter, 1 Apotek, dan 9 Posyandu,yang salah satu diantaranya adalah poyandu Mawar V. 4. Keadaan umum Posyandu Mawar V Kelurahan Tingkir tengah Posyandu Mawar V adalah posyandu yang terletak di RW 7 yang 10 RT berada dipinggiran jalan raya Salatiga - Suruh.,mempunyai 45 meliputi anak balita, 6 orang kader dimana kegiatan posyandu dilaksanakan sekali sebulan yaitu setiap hari senin minggu ketiga.pelayanan Posyandu meliputi penimbangan, imunisasi dan pelayanan pengobatan dari Puskesmas Cebongan sebagai pembina wilayah di kelurahan Tingkir Tengah.
7 18 B. Gambaran Umum Ibu Balita 1. Umur Ibu Balita Umur ibu tertua 44 tahun dan umur termuda 21 tahun, selanjutnya dikelompokkan berdasarkan umur. Data distribusi umur ibu dapat dilihat pada Tabel 5. TABEL 5 DISTRIBUSI IBU BALITA MENURUT UMUR No Kelompok Umur (th) Jumlah % Jumlah ,0 Dari Tabel 5 dapat diketahui bahwa kelompok umur th prosentasenya 31.2% dan kelompok umur tahun 6,6%. 2. Tingkat Pendidikan Ibu Pendidikan merupakan hal yang diperlukan bagi kemajuan dan kelangsungan masa depan bangsa dan negara, terutama bagi seorang ibu yang merupakan tempat belajar yang pertama kali bagi anak. Distribusi ibu balita menurut tingkat pendidikan selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 6. TABEL 6 DISTRIBUSI IBU BALITA MENURUT TINGKAT PENDIDIKAN No Pendidikan Jumlah % 1 Dasar 29 64,4 2 Menengah 13 28,9 3 Tinggi 3 6,7 Jumlah ,0 Dari Tabel 6 diketahui Ibu balita dengan tingkat pendidikan dasar sebanyak 29 orang (64,4%), menengah 28,9% dan tingkat pendidikan tinggi sebesar 6,7%. Pendidikan ibu merupakan salah satu unsur penting yang ikut
8 19 menentukan keadaan gizi anak.penelitian lain mengemukakan bahwa ibu dengan pendidikan yang tinggi maka prevalensi gizi kurang umumnya rendah, sebaliknya bila pendidikan ibu rendah prevalensi gizi kurang umumnya tinggi (Sayogya, 1983). 3. Pengetahuan Gizi Ibu Tingkat pengetahuan gizi ibu bervariasi, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor pendidikan. Pengetahuan ibu diharapkan berperan dalam peningkatan status gizi balitanya. Skor pengetahuan gizi ibu tertinggi adalah 100, sedangkan terendah 72 sehingga skor rata-rata adalah 86,58 dengan standar deviasi 10,060. Distribusi ibu balita menurut pengetahuan gizi dapat dilihat pada Tabel 7 TABEL 7 DISTRIBUSI IBU BALITA MENURUT PENGETAHUAN GIZI No Kategori pengetahuan Jumlah (%) 1 sedang 17 37,8 2 baik 28 62,2 Jumlah ,0 Dari Tabel distribusi pengetahuan gizi ibu diketahui ibu dengan pengetahuan gizi baik sebanyak 28 orang (62,2%) dan ibu dengan pengetahuan gizi sedang sebanyak 37,8%.Sedangkan ibu dengan pengetahuan gizi kurang tidak ditemukan. Pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari pengalaman yang berasal dari berbagai macam sumber, misalnya media massa, media elektronik, buku atau kerabat dekat. Pengetahuan dapat membentuk keyakinan tertentu sehingga seseorang berperilaku sesuai kenyataan tersebut. Semakin tinggi pengetahuan gizi seseorang akan semakin memperhitungkan jenis dan jumlah makanan yang dipilih untuk dikomsumsi, dan akan lebih banyak mempergunakan pertimbangan rasional dan pengetahuan tentang nilai gizi makanan tersebut.
9 20 C. Keadaan Umum Balita 1. Jenis Kelamin Distribusi jenis kelamin balita dapat dilihat pada Tabel 8 TABEL 8 DISTRIBUSI BALITA MENURUT JENIS KELAMIN No Jenis Kelamin Jumlah % 1 laki-laki perempuan Jumlah ,0 Dari Tabel 5 diketahui bahwa dari 45 balita, 25 orang berjenis kelamin perempuan dan 20 orang (44,4%) jenis kelamin laki-laki. 2. Status Gizi Balita Status gizi yang baik penting bagi kesehatan dan kesejahteraan setiap orang. Seseorang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakan mampu menyediakan zat penting yang diperlukan tubuh. Dari hasil pengolahan data dengan perhitungan Z skor diketahui nilai maximal Z Skor adalah 1,4 dan nilai minimal -2,8 sehingga rata-rata nilai Z skor -0,715 dengan Standar Deviasi 1,4349. Data dan jumlah distribusi balita berdasarkan status gizi dapat dilihat pada Tabel 9. TABEL 9 DISTRIBUSI BALITA BERDASARKAN STATUS GIZI No Status Gizi Jumlah % 1 2 Kurang Baik ,4 75,6 Jumlah ,0 Dari distribusi Tabel 9 diketahui bahwa dari 45 orang anak balita 11 orang diantaranya (24,4%) mempunyai status gizi kurang dan 34 anak mempunyai status gizi baik. Sedangkan untuk anak yang status gizi buruk maupun lebih tidak ditemukan.
10 21 Dampak dari status gizi yang kurang baik akan mengganggu perkembangan dan pertumbuhan fisik balita, seperti balita yang menderita KEP. Pada umumnya penderita KEP terjadi marasmus dan kwashiorkor, atau marasmus kwashiorkor. Apabila keadaan ini tidak segera mendapat perhatian maka akan menyebabkan kematian pada penderita KEP. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi adalah kemiskinan, pendidikan yang rendah, pengetahuan gizi yang kurang, lingkungan yang kurang sehat, asupan gizi yang kurang, penyakit infeksi dan pelayanan kesehatan yang kurang memadai. D. Hubungan Pendidikan Ibu dengan Status Gizi Balita Tingkat pendidikan ibu lebih penting dalam menentukan status gizi anak daripada pendidikan ayah. Hubungan pendidikan ibu dengan status gizi balita, dapat dilihat pada Gambar 2 GAMBAR 2 TINGKAT PENDIDIKAN IBU DENGAN STATUS GIZI BALITA status gizi balita pendidikan ibu Dari hasil Gambar 2 dapat dilihat ada kecenderungan bahwa semakin tinggi pendidikan ibu balita semakin baik status gizi balitanya..dengan
11 22 menggunakan uji korelasi Rank Spearman terdapat hasil signifikan 0,007 ( p value < 0,05) dengan nilaai r = 0,398 dengan demikian Ha diterima. Jadi ada hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu dengan status gizi balita. Pendidikan ibu merupakan salah satu unsur penting yang menentukan keadaan gizi anak. Penelitian lain mengemukakan bahwa masyarakat dengan pendidikan cukup tinggi maka pravalensi gizi kurang umumnya rendah,sebaliknya bila pendidikan ibu rendah pravalensi gizi kurang tinggi. Pendidikan ibu juga berperan dalam penyusunan pola makan rumah tangga maupun pola pengasuhan anak (Sayogya, 1983). E. Hubungan Pengetahuan Gizi Ibu dengan Status Gizi Balita Dari hasil penelitian diperoleh hubungan pengetahuan gizi ibu dengan status gizi balita, dapat dilihat pada Gambar 3 GAMBAR 3 PENGETAHUAN GIZI IBU DEGAN STATUS GIZI BALITA status gizi balita pengetahuan ibu Dari hasil Gambar 3 dapat dilihat ada kecenderungan semaki tinggi pengetahuan ibu semakin baik status gizi balita. Dari hasil hubungan pengetahuan ibu dengan status gizi balita dengan menggunakan uji Korelasi
12 23 Pearson dengan hasil signifikan = 0,001 (p-value < 0,05 ) sehingga terima Ha, jadi ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan gizi ibu dengan status gizi balita. Nilai koefisien korelasi ( r ) didapat = 0,493 artinya kekuatan / keeratan hubungan termasuk kuat dan berpola linier positif. Semakin tinggi pengetahuan gizi seeorang akan semakin memperhitungkan jenis dan jumlah makanan yang dipilih untuk dikomsumsi. Ibu yang pengetahuan gizinya rendah akan berprilaku memilih makanan yang menarik panca indra dan tidak memilih berdasarkan nilai makanan tersebut (sediaoetama, 1989) dengan demikian pengetahuan gizi ibu sangat menentukan arah perkembangan dan pertumbuhan anak balita, serta menentukan status gizi balitanya. Menurut Notoatmodjo (1997), dikatakan bahwa perilaku didasari oleh pengetahuan akan lebih permanen dianut oleh seseorang dibanding dengan perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Pengetahuan yang dimiliki sangat penting untuk terbentuknya sikap dan tindakan dalam mengurus rumah tangga khususnya untuk mengurus anak balita dalam penanggulangan status gizi kurang..
13 24 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN 1. Sebagian besar ibu (64,4%) memiliki pendidikan tingkat dasar yaitu 1-9 tahun, menengah 13 orang (28,9%) dan pendidikan tinggi 3 orang (6,7%). 2. Sebanyak 62,2% ibu balita mempunyai tingkat pengetahuan baik dan 17 orang ibu (37,8%) tingkat pengetahuan gizinya sedang. 3. Status gizi balita sebagian besar (75,6%) mempunyai status gizi baik dan 11 orang (24,4%) mempunyai status gizi kurang. 4. Ada hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu dengan status gizi balita. 5. Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan gizi ibu dengan status gizi balita. B. SARAN Penyuluhan tentang gizi dari tenaga kesehatan perlu ditingkatkan baik melalui kegiatan posyandu, pertemuan dasawisma, PKK guna meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya ibu balita akan pentingnya pengetahuan tentang gizi, dimana dengan semakin tinggi pengetahuan ibu tentang gizi kemungkinan besar akan meningkat status gizi anak balita.
14 25 DAFTAR PUSTAKA Almatsier,S, 2001, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Gramedia,Jakarta. Apriaji, 1986, Gizi Keluarga, Gramedia, Jakarta Depkes RI, 1998, Laporan Studi Analisis Besar dan Luasnya Masalah Kurang Kalori, Protein serta Faktor yang Mempengaruhi, Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Jakarta. Depkes RI, 1999, Pedoman Tata Laksana KEP pada Anak di Puskesmas dan Rumah Tangga, Departemen Kesehatan, Jakarta. Hardinsyah, 1985, Ekonomi Gizi, Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya keluarga, Fakultas Pertanian IPB. Kardjati, 1985, Aspek Kesehatan dan Gizi anak Sapihan, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta. Khomsan Ali, 2000, Teknik Pengukuran Pengetahuan gizi, Institut Pertanian Bogor. Notoatmodjo Soekidjo, 1997, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip-prinsip Dasar, PT. Bineka Cipta, Jakarta. Roesli,U. 2001, Bayi Sehat Berkat ASI Ekskulsif, Jakarta. PT Elex Media Komputindo. Sayogya, 1983, Tingkat Pendapatan Rumah Tangga dan Kecukupan, Departemen Kesehatan, Jakarta. Soekirman, 2000, Pemanfaatan Antropometri sebagai Indikator Sosial Ekonomi, Jakarta. Soekirman, 2001, Ilmu Gizi dan Aplikasinya, Direktorat jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. Sediaoetama,1989. Ilmu Gizi. Dian Rakyat, Jakarta. Singarimbun,M, Metodologi Penelitian Survei,LP3ES,Jakarta. Suharjo,1996. Berbagai Cara Pendidikan Gizi, Bumi Aksara, Jakarta. Supariasa,Bakri S,Fajar I,2002. Penilaian Status Gizi,Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian adalah survey analitik dengan pendekatan cross sectional di bidang gizi masyarakat, yaitu penelitian yang menjelaskan hubungan antara variabel-variabel
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Berdasarkan tujuan yang akan dicapai, penelitian ini termasuk Explanatory Reseach, yaitu penjelasan hubungan antara pengetahuan gizi ibu dengan status gizi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Anak Balita (1 5 Tahun) Anak balita adalah anak yang berusia 1-5 tahun. Pada kelompok usia ini, pertumbuhan anak tidak sepesat masa bayi, tapi aktifitasnya lebih banyak (Azwar,
METODE PENELITIAN. Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian
METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian payung berjudul Dampak Program Warung Anak Sehat (WAS) terhadap Perilaku Hygiene-Sanitasi Ibu WAS
METODE PENELITIAN. d 2. dimana n : Jumlah sampel Z 2 1-α/2 : derajat kepercayaan (1.96) D : presisi (0.10) P : proporsi ibu balita pada populasi (0.
METODE PENELITIAN Desain Penelitian, Waktu dantempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Sumur Batu, Bantar Gebang Bekasi. Penelitian dilakukan pada bulan Agustusi 2012. Desain penelitian
METODE PENELITIAN. n = z 2 α/2.p(1-p) = (1,96) 2. 0,15 (1-0,15) = 48,9 49 d 2 0,1 2
METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Penelitian ini desain population survey, yaitu dengan mensurvei sebagian dari populasi balita yang ada di lokasi penelitian selama periode waktu tertentu.
METODE PENELITIAN 1 N
32 METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian ini merupakan bagian dari data baseline pada kajian Studi Ketahanan Pangan dan Coping Mechanism Rumah Tangga di Daerah Kumuh yang dilakukan Departemen
METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Teknik Penarikan Contoh
METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian berjudul Dampak Program Warung Anak Sehat terhadap Perubahan Pengetahuan dan Perilaku Hidup Bersih
METODE PENELITIAN Desain, Waktu dan Tempat Cara Pemilihan Contoh
METODE PENELITIAN Desain, Waktu dan Tempat Penelitian mengenai Pemberian Makanan Tambahan (PMT) biskuit yang disubstitusi tepung Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) pada balita gizi kurang dan gizi buruk
KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran
21 KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Kekurangan gizi pada usia dini mempunyai dampak buruk pada masa dewasa yang dimanifestasikan dalam bentuk fisik yang lebih kecil dengan tingkat produktifitas yang
METODE PENELITIAN. n= z 2 1-α/2.p(1-p) d 2
METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Desain dalam penelitian ini adalah cross sectional study. Lokasi penelitian di Desa Paberasan Kabupaten Sumenep. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan
METODE. PAUD Cikal Mandiri. PAUD Dukuh. Gambar 2 Kerangka pemilihan contoh. Kls B 1 :25. Kls A:20. Kls B 2 :30. Kls B:25. Kls A:11
METODE Desain, Tempat dan Waktu Penelitian Desain penelitian ini adalah cross sectional study (sebab akibat diteliti dalam satu waktu). Pemilihan PAUD dilakukan secara purposive, dengan kriteria memiliki
Gambar 1 Hubungan pola asuh makan dan kesehatan dengan status gizi anak balita
17 KERANGKA PEMIKIRAN Masa balita merupakan periode emas, karena pada masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan otak yang optimal, terlebih lagi pada periode dua tahun pertama kehidupan seorang anak.
METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan waktu Jumlah dan Cara penarikan Contoh
METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan waktu Penelitian mengenai hubungan antara kepatuhan konsumsi biskuit yang diperkaya protein tepung ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) dengan status gizi dan morbiditas
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksploratif, yaitu untuk menjelaskan hubungan antara jumlah zat gizi pada makanan balita, frekuensi makan balita, jenis
STUDI DESKRIPTIF POLA NUTRISI BALITA PENGUNJUNG POSYANDU I DI DESA DASUN Rt 02 Rw01 KECAMATAN LASEM KABUPATEN REMBANG. Oleh. Dewi Hartinah ABSTRAK
STUDI DESKRIPTIF POLA NUTRISI BALITA PENGUNJUNG POSYANDU I DI DESA DASUN Rt 02 Rw01 KECAMATAN LASEM KABUPATEN REMBANG Oleh Dewi Hartinah ABSTRAK Latar Belakang : Status gizi kurang bahkan buruk merupakan
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDAPATAN KELUARGA DAN POLA ASUH DENGAN STATUS GIZI ANAK BALITA DI DESA BONGKUDAI KECAMATAN MODAYAG BARAT Rolavensi Djola*
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDAPATAN KELUARGA DAN POLA ASUH DENGAN STATUS GIZI ANAK BALITA DI DESA BONGKUDAI KECAMATAN MODAYAG BARAT Rolavensi Djola* *Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi
METODE PENELITIAN. Kabupaten Sukabumi. Puskesmas Kadudampit Puskesmas Cikidang Puskesmas Citarik. Peserta program pemberian makanan biskuit fungsional
37 METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan waktu Penelitian ini merupakan penelitian survey yang dilakukan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Lokasi penelitian ini terdiri dari 3 Puskesmas yaitu Kadudampit,
BAB III METODA PENELITIAN. A. Jenis/ Rancangan Penelitian dan Metode Pendekatan. wawancara menggunakan kuesioner dengan pendekatan cross sectional.
BAB III METODA PENELITIAN A. Jenis/ Rancangan Penelitian dan Metode Pendekatan Jenis penelitian eksplanatory research dengan metode observasi dan wawancara menggunakan kuesioner dengan pendekatan cross
METODE PENELITIAN. Sedep n = 93. Purbasari n = 90. Talun Santosa n = 69. Malabar n = 102. n = 87. Gambar 3 Teknik Penarikan Contoh
METODE PENELITIAN Desain, Lokasi dan Waktu Penelitian Desain penelitian adalah cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di kebun Malabar PTPN VIII Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung
PERBEDAAN PENGGUNAAN INDEKS MEMBERIKAN PREVALENSI STATUS GIZI YG. BERBEDA.
INDEKS ANTROPOMETRI INDEKS YG SERING DIGUNAKAN : 1. BERAT BADAN MENURUT UMUR (BB/U) 2. TINGGI BADAN MENURUT UMUR (TB/U) 3. BERAT BADAN MENURUT TINGGI BADAN ( BB/TB) PERBEDAAN PENGGUNAAN INDEKS MEMBERIKAN
METODE PENELITIAN Desain Penelitian Teknik Penarikan Contoh
METODE PENELITIAN Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional study. Cross sectional study dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik
BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang akan digunakan adalah deskriptif korelasi yang
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang akan digunakan adalah deskriptif korelasi yang bertujuan untuk menganalisis hubungan antar variabel (Alimul, 2003). Rancangan penelitian
ABSTRAK. Kata kunci: anak balita, perkembangan, indeks antropometri, pertumbuhan, motorik kasar
OPTIMALISASI PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR DAN UKURAN ANTROPOMETRI ANAK BALITA DI POSYANDU BALITAKU SAYANG KELURAHAN JANGLI KECAMATAN TEMBALANG KOTA SEMARANG Ali Rosidi, Agustin Syamsianah Prodi S1 Gizi Fakultas
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Metode Pendekatan Jenis penelitian ini termasuk penelitian Explanatory research yaitu penjelasan yang dilakukan untuk menggambarkan keadaan yang sebenarnya
METODE PENELITIAN. Desain, Tempat dan Waktu
METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional, yaitu pengamatan terhadap paparan dan outcome dilakukan dalam satu periode waktu yang bersamaan.
Gambar 3 Hubungan ketahanan pangan rumahtangga, kondisi lingkungan, morbidity, konsumsi pangan dan status gizi Balita
22 KERANGKA PEMIKIRAN Status gizi yang baik, terutama pada anak merupakan salah satu aset penting untuk pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG GIZI DENGAN STATUS GIZI PADA BALITA DI KELURAHAN SIDOHARJO RW 1 RT 2 DAN 4 KECAMATAN LAMONGAN
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG GIZI DENGAN STATUS GIZI PADA BALITA DI KELURAHAN SIDOHARJO RW 1 RT 2 DAN 4 KECAMATAN LAMONGAN Dwi Feni Mariyanti*, Nanik**, Suratmi***.......ABSTRAK....... Balita
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis Penelitian ini merupakan explanatory research yaitu penelitian yang menjelaskan hubungan dua atau lebih variabel yang akan diteliti. Metode yang digunakan
BAB I PENDAHULUAN. peningkatan kesehatan termasuk dalam hal gizi. Hal ini terbukti dari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Komitmen pemerintah untuk mensejahterakan rakyat nyata dalam peningkatan kesehatan termasuk dalam hal gizi. Hal ini terbukti dari penetapan perbaikan status gizi yang
METODE PENELITIAN Desain, Waktu, dan Tempat Penelitian Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data
METODE PENELITIAN Desain, Waktu, dan Tempat Penelitian Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional study. Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada bulan April-Mei 2011. Penelitian dilaksanakan
METODE PENELITIAN Waktu, Tempat, dan Desain Penelitian Jumlah dan Cara Penarikan Contoh
METODE PENELITIAN Waktu, Tempat, dan Desain Penelitian Penelitian mengenai studi karakteristik pertumbuhan anak usia sekolah di Provinsi Jawa Barat dilaksanakan dari bulan Mei-Juli 2011 dengan menggunakan
METODE PENELITIAN. Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian
23 METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Desain penelitian ini adalah crosssectional study dimana seluruh paparan dan outcome diamati pada saat bersamaan dan pengumpulan data dilakukan
III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data dan melakukan analisis sehubungan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kecamatan Pasar Kliwon yang berada di wilayah Kota Surakarta.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Kelurahan Semanggi 1. Letak Geografis Kelurahan Semanggi merupakan salah satu bagian dari Kecamatan Pasar Kliwon yang berada di wilayah Kota Surakarta. Wilayah
GAMBARAN KARAKTERISTIK KELUARGA BALITA DENGAN STATUS GIZI KURANG DAN BURUK DI KELURAHAN LANDASAN ULIN TENGAH KECAMATAN LIANG ANGGANG KOTA BANJARBARU
Al Ulum Vol.60 No.2 April 2014 halaman 33-38 33 GAMBARAN KARAKTERISTIK KELUARGA BALITA DENGAN STATUS GIZI KURANG DAN BURUK DI KELURAHAN LANDASAN ULIN TENGAH KECAMATAN LIANG ANGGANG KOTA BANJARBARU Rusmini
HUBUNGAN PEKERJAAN IBU BALITA TERHADAP STATUS GIZI BALITA DI POSYANDU PRIMA SEJAHTERA DESA PANDEAN KECAMATAN NGEMPLAK KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2009
HUBUNGAN PEKERJAAN IBU BALITA TERHADAP STATUS GIZI BALITA DI POSYANDU PRIMA SEJAHTERA DESA PANDEAN KECAMATAN NGEMPLAK KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2009 ABSTRAK Etik Sulistyorini, SST 1 Tri Rahayu 2 Masalah
BAB 4 METODOLOGI. Penelitian ini menggunakan desain studi Cross Sectional yang bertujuan
BAB 4 METODOLOGI 4.1 Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain studi Cross Sectional yang bertujuan untuk melihat suatu gambaran fenomena kesehatan masyarakat pada satu titik point waktu tertentu.
TINJAUAN PUSTAKA Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)
5 TINJAUAN PUSTAKA Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Posyandu merupakan salah satu bentuk kegiatan dari Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), dimana masyarakat antara lain melalui kader-kader yang terlatih
BAB I PENDAHULUAN. SDM yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan SDM yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat, kesehatan
METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Jumlah dan Cara Penarikan Contoh
METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Penelitian ini menggunakan desain retrospektif dan cross sectional study. Penelitian dilakukan di dua lokasi yaitu Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari,
METODE PENELITIAN Desain, Waktu dan Tempat Penelitian Jumlah dan Cara Pengambilan Contoh
19 METODE PENELITIAN Desain, Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Cross sectional study yaitu rancangan yang digunakan pada penelitian dengan variabel sebab
BAB 5 ANALISIS HASIL PENELITIAN. Dari hasil penelitian ini diperoleh gambaran umum penelitian yang
4 BAB 5 ANALISIS HASIL PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Dari hasil penelitian ini diperoleh gambaran umum penelitian yang meliputi lokasi penelitian dan aktivitas orang lanjut usia di kelurahan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Tempat Penelitian Kecamatan Getasan merupakan salah satu kecamatan dari 19 Kecamatan di Kabupaten Semarang. Secara administratif batas wilayah Kecamatan
TINJAUAN PUSTAKA. B. PENILAIAN STATUS GIZI Ukuran ukuran tubuh antropometri merupakan refleksi darik pengaruh 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. STATUS GIZI Status gizi anak pada dasarnya ditentukan oleh dua hal yaitu makanan yang dikonsumsi dan kesehatan anak itu sendiri. Kualitas dan kuantitas bahan makanan yang dikonsumsi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. POSYANDU (Pos Pelayanan Terpadu) 1. Pengertian Posyandu Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) adalah pusat kegiatan masyarakat dimana masyarakat dapat memperoleh pelayanan Keluarga
METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Jumlah dan Cara Pengambilan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data
18 METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Desain penelitian ini adalah cross-sectional study. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kebon Kopi 2 Bogor. Penentuan lokasi SDN Kebon Kopi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Status Gizi 1. Pengertian Status Gizi Menurut Supariasa dkk (2002) status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu sedangkan menurut Almatsier
GAMBARAN KARAKTERISTIK KELUARGA BALITA PENDERITA GIZI BURUK DI KABUPATEN BENGKULU SELATAN TAHUN 2014
GAMBARAN KARAKTERISTIK KELUARGA BALITA PENDERITA GIZI BURUK DI KABUPATEN BENGKULU SELATAN TAHUN 2014 Yuliarti Akademi Kebidanan Manna Abstrak: Dampak gizi buruk apabila tidak diatasi akan menyebabkan infeksi
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Metode Penelitian Jenis dan metode penelitian yang dilakukan adalah Explanatory Research (penelitian penjelasan), karena penelitian menjelaskan hubungan variabel
BAB III METODE PENELITIAN. antara variabel bebas dan terikat dengan pendekatan cross sectional, artinya
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan descriptive correlational, yang bertujuan untuk mengungkapkan korelasi antara
MEDICA MAJAPAHIT. Vol 5. No. 2 Oktober Sri Sudarsih 1, Pipit Bayu Wijayanti 2 *)
HUBUNGAN ANTARA PENDAPATAN KELUARGA DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA 36-60 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GONDANG KECAMATAN GONDANG KABUPATEN MOJOKERTO Sri Sudarsih 1, Pipit Bayu Wijayanti 2 *) Abstrak
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA USIA 1-5 TAHUN DI PUSKESMAS CANDI LAMA KECAMATAN CANDISARI KOTA SEMARANG
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA USIA 1-5 TAHUN DI PUSKESMAS CANDI LAMA KECAMATAN CANDISARI KOTA SEMARANG Defi Ratnasari Ari Murdiati*) Frida Cahyaningrum*) *)Akademi kebidanan
Jumlah dan Teknik Pemilihan Sampel
Penelitian METODE PENELITIAN Desain, Waktu dan Tempat Penelitian ini menggunakan desain case control bersifat Retrospective bertujuan menilai hubungan paparan penyakit cara menentukan sekelompok kasus
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. terpadu kepada masyarakat dalam upaya untuk mengatasi masalah kesehatan serta
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Puskesmas Tilote sebagai salah satu pelayanan dasar dan terdepan di Kecamatan Tilango memberikan pelayanan rawat jaan dan rawat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. hidup anak sangat tergantung pada orang tuanya (Sediaoetama, 2008).
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anak Balita Anak balita merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan yang pesat sehingga memerlukan zat gizi yang tinggi setiap kilogram berat badannya. Anak balita ini justru
Nisa khoiriah INTISARI
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI EKSKLUSIF DENGAN PERILAKU IBU DALAM PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA 0 2 TAHUN DI DESA TURSINO KECAMATAN KUTOARJO KABUPATEN PURWOREJO Nisa khoiriah INTISARI
METODOLOGI PENELITIAN
0 METODOLOGI PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini menggunakan metode survey yang dilakukan di lingkungan SMPN 5 Bogor yang berlokasi di Jalan Dadali no 10A Kota Bogor. Pemilihan
BAB II PROFIL WILAYAH. acuan untuk menentukan program kerja yang akan dilaksanakan selama KKN
BAB II PROFIL WILAYAH A. Kondisi Wilayah Survei sangat perlu dilakukan sebelum penerjunan ke lokasi KKN sebagai acuan untuk menentukan program kerja yang akan dilaksanakan selama KKN belangsung, sehingga
BAB IV METOLOGI PENELITIAN
BAB IV METOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional berupa penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian cross sectional, dimana data diambil
BAB IV GAMBARAN LOKASI PENELITIAN
BAB IV GAMBARAN LOKASI PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografis dan Demografis Desa Petir merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Jumlah penduduk Desa
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU TENTANG MP-ASI DENGAN SIKAP DAN PERILAKU PEMBERIAN MP-ASI DI KELURAHAN JEMAWAN, KECAMATAN JATINOM, KABUPATEN KLATEN
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU TENTANG MP-ASI DENGAN SIKAP DAN PERILAKU PEMBERIAN MP-ASI DI KELURAHAN JEMAWAN, KECAMATAN JATINOM, KABUPATEN KLATEN Skripsi ini Disusun untuk memenuhi Salah Satu Syarat
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
28 BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Luas Wilayah Kelurahan Pasir Mulya merupakan salah satu Kelurahan yang termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor. Dengan luas wilayah
Food Coping Strategy : Tingkat Ketahanan Pangan Rumah Tangga. Status Gizi Balita
16 KERANGKA PEMIKIRAN Karakteristik sebuah rumah tangga akan mempengaruhi strategi dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Karakteristik rumah tangga itu antara lain besar rumah tangga, usia kepala rumah tangga
METODE PENELITIAN Desain, Waktu, dan Tempat Jumlah dan Cara Pemilihan Contoh Jenis dan Cara Pengambilan Data
15 METODE PENELITIAN Desain, Waktu, dan Tempat Penelitian ini dilakukan dengan metode cross sectional study. Lokasi penelitian bertempat di Desa Sukajadi, Sukaresmi, Sukaluyu, dan Sukajaya, Kecamatan Taman
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI EKSKLUSIF DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI DESA HARJOBINANGUN PURWOREJO GITA APRILIA ABSTRAK
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI EKSKLUSIF DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI DESA HARJOBINANGUN PURWOREJO GITA APRILIA ABSTRAK Data dari profil kesehatan kabupaten/ kota di Propinsi Jawa Tengah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Konsumsi gizi yang baik merupakan modal utama bagi kesehatan individu yang dapat mempengaruhi status kesehatan. Individu dengan asupan gizi yang tidak sesuai dengan
PENGETAHUAN IBU DALAM PENATALAKSANAAN GIZI SEIMBANG PADA KELUARGA DI DESA SIBORBORON KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN
PENGETAHUAN IBU DALAM PENATALAKSANAAN GIZI SEIMBANG PADA KELUARGA DI DESA SIBORBORON KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN Emmi Silitonga* Lufthiani** *Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara
BAB III KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP PENELITIAN
BAB III KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP PENELITIAN 3.1. Kerangka Teori Status Gizi Pendidikan ibu Pekerjaan ibu Pendapatan keluarga Jumlah anggota keluarga Langsung Tidak Langsung Biokimia Klinis Antropometri
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STATUS GIZI BAIK DAN GIZI KURANG PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAYO SELINCAH KOTA JAMBI TAHUN 2014
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STATUS GIZI BAIK DAN GIZI KURANG PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAYO SELINCAH KOTA JAMBI TAHUN 2014 Klemens STIKes Prima Jambi Korespondensi penulis :[email protected]
METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Populasi dan Sampel Penelitian n = (zα² PQ) / d²
31 METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian potong lintang (cross sectional study), dengan cara mengukur variabel
BAB 6 HASIL PENELITIAN
BAB 6 HASIL PENELITIAN Setelah melakukan pengambilan data dengan wawancara kepada responden, selanjutnya dilakukan tahapan pengolahan data. Dari data 180 responden yang diwawancara, terdapat 6 responden
BAB IV HASIL PENELITIAN. A. Gambaran Umum Kelurahan Muktiharjo Kidul. memiliki luas wilayah 204,378 ha, dengan batas batas kelurahannya
35 BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Kelurahan Muktiharjo Kidul Muktiharjo Kidul termasuk dalam Kecamatan Pedurungan yang memiliki luas wilayah 204,378 ha, dengan batas batas kelurahannya adalah
METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Pemilihan Contoh
19 METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan metode survey dengan desain cross sectional study. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 6 Bogor. Penentuan
HUBUNGAN TINGKAT PENDAPATAN DAN PENDIDIKAN ORANG TUA DENGAN STATUS GIZI PADA BALITA DI WILAYAH PUSKESMAS KELAYAN TIMUR BANJARMASIN
HUBUNGAN TINGKAT PENDAPATAN DAN PENDIDIKAN ORANG TUA DENGAN STATUS GIZI PADA BALITA DI WILAYAH PUSKESMAS KELAYAN TIMUR BANJARMASIN Noorhidayah 1, Fadhiyah Noor Anisa 2, Titin eka wati 1 STIKES Sari Mulia
BAB I PENDAHULUAN. Menurut Ismawati tahun 2010 (dalam Ariyani dkk, 2012), posyandu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, guna memberdayakan masyarakat
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian survei cross-sectional,
BAB III METODE PENELITIAN 3. Jenis Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian survei cross-sectional, yang didukung oleh data primer yaitu data yang diperoleh langsung melalui pengisian
TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG KELUARGA SADAR GIZI DI DESA SILEBO-LEBO KECAMATAN KUTALIMBARU KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 2015
TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG KELUARGA SADAR GIZI DI DESA SILEBO-LEBO KECAMATAN KUTALIMBARU KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 2015 Erwin Silitonga Dosen Akbid Dewi Maya Medan ABSTRAK Keluarga disebut Sadar
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Gorontalo. Kelurahan Tomulabutao memiliki Luas 6,41 km 2 yang berbatasan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Kondisi Geografis Kelurahan Tomulabutao berlokasi di Kecamatan Dungingi Kota Gorontalo. Kelurahan Tomulabutao memiliki Luas
METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Jumlah dan Cara Pengambilan Contoh
16 METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan desain cross-sectional study. Data yang digunakan adalah data sekunder hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
SIKAP PETANI TERHADAP KONVERSI LAHAN PERTANIAN
55 SIKAP PETANI TERHADAP KONVERSI LAHAN PERTANIAN terhadap konversi lahan adalah penilaian positif atau negatif yang diberikan oleh petani terhadap adanya konversi lahan pertanian yang ada di Desa Cihideung
METODE PENELITIAN. Desain, Waktu dan Tempat. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional study dan
METODE PENELITIAN Desain, Waktu dan Tempat Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional study dan prospective study. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai Agustus 2003 (antara musim
BAB 1 PENDAHULUAN. dimulai dengan perhatian utama pada proses tumbuh kembang sejak. pembuahan sampai mencapai dewasa muda. Pada masa tumbuh kembang
BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tersebut dimulai dengan perhatian utama pada proses tumbuh kembang sejak pembuahan sampai mencapai dewasa muda.
