STATISTIKA II (BAGIAN
|
|
|
- Fanny Kusnadi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 STATISTIKA II (BAGIAN -1) Oleh : WIJAYA [email protected] FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2009 Wijaya : Statistika I 0
2 I. PENDAHULUAN Statistika adalah pengetahuan cara cara mengumpulkan, mengolah, menyajikan, menganalisis data dan menafsirkannya atau menarik kesimpulan berdasarkan analisis tersebut. Statistika Deskriptif adalah bagian dari statistika yang hanya berkaitan dengan pengumpulan, pengolahan dan penyajian data sehingga memberikan informasi yang berguna, tanpa menarik kesimpulan terhadap gugus data (populasi). Statistika Inferensia adalah semua metode yang berhubungan dengan analisis sebagian data untuk kemudian sampai pada peramalan atau penarikan kesimpulan mengenai gugus data (populasi). Data adalah keterangan mengenai suatu hal yang berbentuk bilangan atau kategori. Data dapat dibagi atas dasar : 1. Sifatnya : a. Data Kuantitatif adalah data yang berbentuk bilangan. Data Diskrit : Data hasil menghitung (membilang) ; merupakan bilangan bulat. Data Kontinyu : Data hasil mengukur; bisa berbentuk bilangan pecahan. b. Data Kualitatif adalah data yang dikategorikan menurut kualitas objek. 2. Sumbernya : a. Data Internal : Data yang menggambarkan keadaan di dalam suatu organisasi. b. Data Eksternal : Data yang menggambarkan keadaan di luar suatu organisasi. Wijaya : Statistika I 1
3 3. Cara Memperolehnya : a. Data Primer : Data yang diperoleh langsung dari sumbernya. b. Data Sekunder : Data yang diperoleh dari pihak lain. 4. Skala Data : a. Skala Nominal atau Data Klasifikasi, misal jenis kelamin, pekerjaan dll.. b. Skala Ordinal atau Data Berperingkat, misal opini (baik, sedang, jelek). c. Skala Interval, misal suhu d. Skala Rasio, misal pendapatan keluarga, produksi dll. Data yang baru dikumpulkan dan belum mengalami pengolahan apapun disebut Data Mentah. Proses pengumpulan data dapat dilakukan melalui Sensus dan Sampling. Populasi adalah keseluruhan pengamatan yang menjadi perhatian kita. Banyaknya pengamatan atau anggota populasi disebut Ukuran Populasi. Ukuran populasi ada terhingga ada yang tak hingga. Dalam Statistika Inferensia, kita ingin memperoleh kesimpulan mengenai populasi, meskipun kita tidak mungkin atau tidak praktis untuk mengamati keseluruhan individu yang menyusun populasi. Oleh karena itu, kita terpaksa menggantungkan pada sebagian anggota populasi (contoh) untuk menarik kesimpulan mengenai populasi tersebut. Contoh atau Cuplikan adalah himpunan bagian dari populasi. Apabila kita menginginkan kesimpulan dari contoh terhadap populasi menjadi sah, maka contoh harus bersifat representatif (mewakili). Sebaliknya apabila contoh tidak representatif maka kesimpulan akan menjadi bias. Kesimpulan yang tidak bias adalah kesimpulan yang sesuai dengan keadaan sebenarnya. Untuk menghilangkan kemungkinan kesimpulan yang bias, kita perlu mengambil Contoh Acak Sederhana atau disingkat Contoh Acak. Contoh Acak n pengamatan adalah suatu contoh yang dipilih sedemikian rupa sehingga himpunan bagian yang berukuran n dari populasi tersebut mempunyai peluang yang sama untuk dipilih. Wijaya : Statistika I 2
4 Apabila populasinya terhingga, penentuan contoh acak dapat dilakukan dengan menuliskan semua anggota pada sepotong kertas kecil (cara undian). Untuk populasi yang berukuran besar, penentuan contoh acak dilakukan dengan menggunakan Tabel Angka Acak. Penyajian Data ada dua cara, yaitu dalam bentuk : 1. Tabel atau Daftar, seperti Tabel Distribusi Frekuensi dan Daftar Baris Kolom. 2. Grafik atau Diagram, seperti Diagram Batang, Diagram Garis (Grafik), Diagram Lambang atau Simbol (Piktogram), Diagram Pastel (Lingkaran) dan Diagram Pencar (Titik). Wijaya : Statistika I 3
5 II. UKURAN STATISTIK BAGI DATA 2.1 Parameter dan Statistik Terminologi dan notasi yang digunakan statistikawan dalam mengolah data sepenuhnya bergantung pada apakah data tersebut merupakan populasi atau suatu contoh yang diambil dari suatu populasi. Misal banyaknya kesalahan ketik pada setiap halaman yang dilakukan oleh seorang sekretaris ketika mengetik sebuah dokumen setebal 10 halaman adalah 1, 0, 1, 2, 3, 1, 1, 4, 0 dan 2. Pertama, jika diasumsikan bahwa dokumen itu memang tepat setebal 10 halaman maka data tersebut merupakan populasi terhingga yang kecil. Kita dapat mengatakan bahwa banyaknya kesalahan ketik terbesar adalah 4, atau menyatakan nilai tengah (rata rata) hitungnya adalah 1,5. Bilangan 4 dan 1,5 tersebut merupakan deskripsi bagi populasi. Kita menyebut nilai nilai demikian itu parameter populasi. Parameter adalah sembarang nilai yang menjelaskan ciri populasi Sekarang misalkan bahwa data tersebut merupakan contoh 10 halaman dari naskah yang jauh lebih tebal. Maka bilangan 4 dan 1,5 tersebut merupakan deskripsi bagi contoh, dan disebut statistik. Statistik adalah sembarang nilai yang menjelaskan ciri suatu contoh. 1.0 Distribusi Frekuensi Ciri ciri penting bagi data dengan segera dapat diketahui melalui pengelompokan data tersebut ke dalam beberapa kelas, kemudian dihitung banyaknya pengamatan yang masuk ke dalam setiap kelas. Susunan demikian dalam bentuk tabel disebut distribusi (sebaran) frekuensi. Data yang disajikan Wijaya : Statistika I 4
6 dalam bentuk distribusi frekuensi dikatakan sebagai data yang dikelompokkan. Pengelompokan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai data tersebut, tetapi kita kehilangan identitas masing masing pengamatan. Distribusi Frekuensi adalah susunan data berdasarkan kelas interval atau kategori tertentu. Distribusi Frekuensi ada dua macam, yaitu : 1. Distribusi Frekuensi Numerik adalah distribusi frekuensi yang pembagian kelasnya dinyatakan dengan angka. 2. Distribusi Frekuensi Kategori adalah distribusi frekuensi yang pembagian kelasnya berdasarkan kategori. Langkah langkah penyusunan distribusi frekuensi adalah sebagai berikut : a. Menentukan banyaknya kelas interval (5 sampai 20) atau digunakan Aturan Sturges, yaitu : 1 + 3,3 Log n, dimana n menunjukkan ukuran sampel. b. Menentukan selisih bilangan terbesar dengan terkecil, yang disebut rentang (range). c. Menentukan panjang kelas interval (p) dimana p = (rentang : banyaknya kelas interval). d. Mencacah banyaknya pengamatan yang masuk ke dalam kelas interval. Teladan 2.1. Tabel di bawah ini menunjukkan gaji (dalam jutaan rupiah) 40 karyawan pabrik Rotan dalam setahun. 2,2 4,1 3,5 4,5 3,2 3,7 3,0 2,6 3,4 1,6 3,1 3,3 3,8 3,1 4,7 3,7 2,5 4,3 3,4 3,6 2,9 3,3 3,9 3,1 3,3 3,1 3,7 4,4 3,2 4,1 1,9 3,4 4,7 3,8 3,2 2,6 3,9 3,0 4,2 3,5 Wijaya : Statistika I 5
7 1. Banyaknya kelas interval = 1 + 3,3 log n = 1 + 3,3 log 40 = 6,3 (misal kelas intervalnya sebanyak 7). 2. Selisih bilangan terbesar dengan terkecil = 4,7 1,6 = 3,1 3. Panjang kelas interval (p) = 3,1 : 7 = 0,44 (untuk memudahkan diambil panjang kelas intervalnya 0,5). Daftar distribusi frekuensinya disajikan pada Tabel 1 berikut. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Gaji (dalam juta rupiah) 40 Karyawan Pabrik Rotan. Interval Titik Frek. Frek. Frekuensi Kumulatif Kelas Tengah (f) Relatif Kurang Dari Lebih Dari 1,5 1,9 1,7 2 0,05 5 % 2 5 % % 2,0 2,4 2,2 1 0,03 3 % 3 8 % % 2,5 2,9 2,7 4 0,10 10 % 7 18 % % 3,0 3,4 3,2 15 0,37 37 % % % 3,5 3,9 3,7 10 0,25 25 % % % 4,0 4,4 4,2 5 0,12 12 % % 8 20 % 4,5 4,9 4,7 3 0,08 8 % % 3 8 % Dari Tabel 1 di atas, yang dimaksud dengan : a. Tepi (limit) Kelas adalah nilai nilai dalam setiap kelas, terdiri dari Tepi Kelas Bawah : 1,5 ; 2,0 ; 2,5 ; 3,0 ; 3,5 ; 4,0 dan 4,5 Tepi Kelas Atas : 1,9 ; 2,4 ; 2,9 ; 3,4 ; 3,9 ; 4,4 dan 4,9 b. Batas Kelas adalah nilai nilai teoritis dari tepi kelas, terdiri dari Batas Kelas Bawah : 1,45 ; 1,95 ; 2,45 ; 2,95 ; 3,45 ; 3,95 dan 4,45 Batas Kelas Atas : 1,95 ; 2,45 ; 2,95 ; 3,45 ; 3,95 ; 4,45 dan 4,95 c. Lebar (Panjang) Kelas adalah selisih batas atas kelas dengan batas bawah kelas d. Frekuensi Kelas adalah banyaknya pengamatan yang masuk ke dalam setiap kelas e. Titik Tengah Kelas adalah titik tengah antara batas atas dengan batas bawah kelas Wijaya : Statistika I 6
8 g. Frekuensi Kumulatif Kurang Dari dihitung atas dasar batas atas kelas, sedangkan Frekuensi Kumulatif Lebih Dari dihitung atas dasar batas bawah kelas. Dari Tabel 1 dapat dikemukakan misalnya : a. Karyawan yang mempunyai gaji antara 3,5 sampai 3,9 juta sebanyak 10 orang. b. Karyawan dengan gaji minimal 3,0 juta sebanyak 33 orang atau 82,5 %. Penyajian dalam bentuk diagram dan grafik disajikan pada Gambar 1 (Histogram, Poligon Frekuensi dan Kurva Frekuensi) dan Gambar 2 (Kurva Frekuensi Kumulatif atau OGIF). Histogram Gaji Gambar 1. Histogram, Poligon Frekuensi dan Kurva Frekuensi Wijaya : Statistika I 7
9 Kurva OGIV % F < % F > Gambar 2. OGIF atau Frekuensi Kumulatif Kurang Dari dan Lebih dari 2.3 Model Populasi Gambar 1 menunjukkan bahwa Poligon Frekuensi merupakan garis patah patah yang menghubungkan titik titik tengah kelas interval. Garis patah patah ini dapat didekati oleh sebuah lengkungan halus yang bentuknya secocok mungkin dengan poligon tersebut. Lengkungan yang didapat dinamakan Kurva Frekuensi. Kurva frekuensi ini merupakan Model Populasi yang ikut menjelaskan ciri ciri populasi. Oleh karena itu model populasi biasanya didekati atau diturunkan dari kurva frekuensi. Bentuk kurva untuk model populasi diantaranya bentuk simetrik, positif atau miring ke kiri (ekor kura menjulur ke kanan), negatif atau miring ke kanan (ekor kurva menjulur ke kiri), bentuk J, bentuk J terbalik dan bentuk U. 2.4 Kurva Lorentz Misalkan pendapatan per hari 10 orang masing masing Rp ,, apabila digambarkan dengan grafik dimana absis menyatakan kumulatif jumlah orang dan ordinat menyatakan kumulatif pendapatan, maka grafiknya disajikan pada Gambar 3. Seandainya orang yang ke 10 mempunyai pendapatan Rp , dan 9 orang lainnya tidak mempunyai pendapatan (nol), maka kurvanya adalah OPQ. Wijaya : Statistika I 8
10 10 Q P Gambar 3. Grafik atau Kurva Lorentz Kurva OQ menunjukkan pembagian pendapatan yang sama, artinya kalau data tersebut merupakan data tingkat nasional (data penduduk dan pendapatan) dan angka angka kumulatif dinyatakan dengan persentase maka terjadi pembagian pendapatan yang sama yaitu x % penduduk mendapat x % pendapatan nasional. Dalam prakteknya apabila kurva Lorentz diterapkan pada data pendapatan negara, kurvanya akan menyerupai ORQ. Semakin dekat ke OQ pendapatan makin merata. 2.5 Ukuran Data Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang data (sampel atau populasi), selain dengan tabel dan diagram, masih diperlukan ukuran ukuran lain yang merupakan wakil dari data tersebut. Ukuran yang dimaksud dapat berupa Ukuran Pemusatan (rata rata, median, modus), Ukuran Letak atau Fraktil atau Kuantil (Persentil, Desil, Quartil) dan Ukuran Penyimpangan atau Keragaman (Rentang, Rentang Antar Quartil, Simpangan Antar Quartil, Rata rata Simpangan, Ragam, Simpangan Baku, Koefisien Keragaman, Koefisien Keragaman Quartil, Bilangan Baku). (Contoh). Penjelasan berikut merupakan ukuran data bagi Sampel Wijaya : Statistika I 9
11 2.5.1 Data Tidak Dikelompokkan 1. Ukuran Pemusatan Ukuran pemusatan merupakan sembarang ukuran yang menunjukkan pusat segugus data yang telah diurutkan. a. Rata rata Hitung (Aritmatic Mean) atau Nilai Tengah Misalkan x 1, x 2,..., x n, tidak harus semuanya berbeda, merupakan sebuah contoh terhingga berukuran n, maka rata ratanya adalah : x = ( x i ) / n Teladan 2.2. Hasil pengukuran contoh juice jeruk yang dibotolkan (dalam liter) oleh Perusahaan A datanya adalah 1,06 ; 1,01 ; 0,88 ; 0,91 ; 1,14. Maka rata rata hitungnya : x = (1,06 + 1,01 + 0,88 + 0,91 + 1,14) / 5 = 1,00 Untuk data yang disajikan dalam tabel frekuensi, dimana x 1 sebanyak f 1, x 2 sebanyak f 2,..., x n sebanyak f n, maka : x = ( f i x i ) / f i Teladan 2.3. Misal x = nilai ujian Statistika mahasiswa f = banyaknya mahasiswa yang yang mendapat nilai x x i f i f i x i x = (6745) : 100 = 67, Wijaya : Statistika I 10
12 b. Rata rata Gabungan Bila contoh acak berukuran n 1, n 2,..., n k, diambil dari k populasi masing masing dengan rata rata x 1, x 2,..., x k, maka rata rata gabungannya x c x c = ( n i x i ) / n i Teladan 2.4. Tiga kelas statistika masing masing mempunyai 28, 32 dan 35 mahasiswa, pada ujian akhir mencapai rata rata 83, 80 dan 76. Berapa rata rata gabungannya : Jawab : x c = [ (28 x 83) + (32 x 80) + ( 35 x 76)] : ( ) = 79,41 c. Rata rata Tertimbang (Terboboti) Bila contoh dengan nilai x 1, x 2,..., x n, diberi bobot w 1, w 2,..., w n, maka rata rata tertimbangnya x w x w = ( w i x i ) / w i Teladan 2.5. Nilai ujian 3 mata kuliah seorang mahasiswa adalah : Mata Kuliah Nilai (x) SKS (w) w.x Statistika Akuntansi x w = 30 : 10 = 3 T. Ekonomi Beberapa Sifat Rata rata Hitung 1. Jumlah dari selisih nilai pengamatan terhadap rata ratanya adalah nol, atau jumlah simpangannya adalah nol. Wijaya : Statistika I 11
13 (x i x) = 0 2. Jumlah simpangan kuadrat dari rata ratanya berharga minimum : (x i x) 2 (x i k) 2 k = nilai pengamatan Misal nilai pengamatan (x i ) yaitu 2, 3 dan 4 maka rata ratanya (x ) = 3. (x i x) 2 = (2 3) 2 + (3 3) 2 + (4 3) 2 = 2 untuk k = 2 maka (x i k) 2 = (2 2) 2 + (3 2) 2 + (4 2) 2 = 5 untuk k = 3 maka (x i k) 2 = (2 3) 2 + (3 3) 2 + (4 3) 2 = 2 untuk k = 4 maka (x i k) 2 = (2 4) 2 + (3 4) 2 + (4 4) 2 = 5 3. Bila k sembarang nilai yang merupakan rata rata anggapan (asumsi), dan d i merupakan selisih dari nilai pengamatan terhadap k, maka : x = k + ( f i d i ) / f i x f f.x d i = x k f.d i Cara I : x = ( f i x i ) / f i = ( 110 ) : 12 = 9, Cara II : x = k + ( f i d i )/ f i, misal k = 10 x = 10 + ( 10)/12 = 9,17 4. Penambahan atau pengurangan suatu konstanta c pada setiap nilai pengamatan, maka rata rata semula sama dengan rata rata yang baru dikurangi atau ditambah dengan c. Jadi jika nilai pengamatan semula adalah x i dengan rata ratanya x, dan nilai pengamatan yang baru adalah y i dengan rata ratanya y dimana y i = x i + c, maka x = y c. 5. Penggandaan atau pembagian setiap nilai pengamatan dengan suatu konstanta c, maka rata rata semula sama dengan rata rata yang baru dibagi atau digandakan dengan c. Jadi jika nilai pengamatan semula x i dengan Wijaya : Statistika I 12
14 rata ratanya x, dan pengamatan yang baru y i dengan rata ratanya y dimana y i = c.x i, maka x = y / c. d. Rata rata Harmonik Rata rata Harmonik (H) bagi n buah bilangan x 1, x 2,..., x n, adalah n dibagi dengan jumlah kebalikan bilangan bilangan tersebut. H = n / (1/x) Dalam praktek rata rata harmonik paling sering digunakan merata ratakan kecepatan untuk beberapa jarak tempuh yang sama, untuk mencari harga rata rata suatu komoditi tertentu, dan dana bersama yang dibeli dengan cara menginvestasikan sejumlah uang tertentu setiap kali. Teladan 2.6. Seorang keryawan menanamkan uang 1200 dolar per bulan untuk usaha bersama. Dalam tiga bulan terakhir harga sahamnya adalah 2,4 ; 3,0 dan 4,0 dolar. Berapa rata rata harga saham yang dibeli karyawan tersebut? Penyelesaian : 3 H = = 36 / 12 = 3 dolar per saham. (1/2,4) + (1/3,0) + (1/4,0) Keterangan : jika menggunakan rata rata hitung hasilnya 9,4 : 3 = 3,13, dan tentu saja merupakan hasil yang salah. Hal ini bisa dijelaskan sebagai berikut : Pada Bulan I : saham yang dibeli 1200 : 2,4 = 500 lembar Pada Bulan II : saham yang dibeli 1200 : 3,0 = 400 lembar Pada Bulan III : saham yang dibeli 1200 : 4,0 = 300 lembar Rata ratanya = 3600 dolar : 1200 lembar = 3 dolar per lembar e. Rata rata Ukur (Geometrik) Rata rata Ukur (U) bagi n buah bilangan x 1, x 2,..., x n, adalah akar ke n hasil kali bilangan bilangan tersebut. Wijaya : Statistika I 13
15 U = (x 1. x x n ) 1/n Log U = 1/n. Log (x 1. x x n ) Teladan 2.7. Selama periode 4 tahun berturut turut seorang karyawan telah menerima kenaikan gaji tahunan sebesar 7,2 ; 8,6 ; 6,9 dan 9,8 %, maka rasio gaji tahun sedang berjalan dengan tahun sebelumnya adalah 1,72 ; 1,86 ; 1,69 dan 1,98. Maka rata rata ukur bagi rasio kenaikan gaji tersebut adalah : Log U = 1/4. Log (1,72) (1,86) (1,69) (1,98) Log U = 0,034 U = 1,08 (sama dengan 8 %) Hubungan rata rata Ukur Dengan Bunga Majemuk Pada bunga majemuk, jumlah uang pada akhir tahun ke n dengan bunga tetap r adalah : P n = P 0 ( 1 + r) n r = ( n P n / P 10 ) 1 Kalau tingkat bunga berubah dari waktu ke waktu yaitu r 1, r 2,..., r n maka : P n = P 0 ( 1 + r 1 )(1 + r 2 )...(1 + r n ) Dari kedua formula di atas dapat dikembangkan menjadi : ( 1 + r) n = ( 1 + r 1 )(1 + r 2 )...(1 + r n ) Wijaya : Statistika I 14
16 Teladan 2.8. Pendapatan Nasional suatu negara tahun 1976 sebesar 400 milyar dolar, dan pada tahun 1980 sebesar 500 milyar dolar. Berapa rata rata tingkat pertumbuhan pendapatan nasional per tahun? Jawab : r = ( n P n / P 0 ) 1 = (P n / P 0 ) 1/4 1 r = (500 / 400) 1/4 1 = 1,057 1 = 0,057 = 5,7 % f. Median (Me) merupakan nilai rata rata ditinjau dari segi kedudukannya dalam urutan data. membagi keseluruhan data menjadi dua bagian yang sama banyaknya (setelah data diurutkan dari terkecil sampai terbesar, atau sebaliknya). Me = Data ke ½ (n + 1) Teladan 2.9. Nilai 5 kali kuiz Statistika seorang mahasiswa adalah 79, 82, 86, 92 dan 93. Maka Me = data ke ½ (5 + 1) = data ke 3 = 86. Teladan Kadar nikotin contoh acak 6 batang rokok merk tertentu adalah 2,9 ; 2,3 ; 1,9 ; 2,7 ; 3,1 dan 2,5 mg. Setelah data diurutkan menjadi 1,9 ; 2,3 ; 2,5 ; 2,7 ; 2,9 ; 3,1. Maka mediannya Me = data ke ½ (6 + 1) = data ke 3 ½ = (2,5 + 2,7) : 2 = 2,6 mg. g. Modus (Mo) Modus suatu pengamatan adalah nilai yang paling sering terjadi, atau nilai dengan frekuensi paling tinggi. Modus tidak selalu ada, juga bisa lebih dari satu nilai. Teladan Nilai 5 kali kuiz Statistika seorang mahasiswa adalah 79, 82, 86, 92 dan 93. Maka Modusnya tidak ada. Wijaya : Statistika I 15
17 Teladan Banyaknya mobil yang terjual oleh 9 penyalur selama bulan September 1997 adalah 18, 10, 11, 98, 22, 15, 11, 25 dan 17. Maka modusnya ada satu (unimodal) yaitu 11. Teladan Gaji (dalam ribuan rupiah) 8 orang Guru SD tertentu adalah 290, 255, 255, 310, 290, 275, 300, 325 dan 340. Maka Modusnya ada dua (Bimodal) yaitu 290 dan Ukuran Letak (Fraktil atau Kuantil) Ukuran Letak adalah nilai nilai yang dibawahnya terdapat sejumlah pecahan atau persentase tertentu. a. Persentil (P) = nilai yang membagi segugus pengamatan menjadi 100 bagian. P i = data ke i ( n + 1) / 100 b. Desil (D) = nilai yang membagi segugus pengamatan menjadi 10 bagian. D i = data ke i ( n + 1) / 10 c. Quartil (Q) = nilai yang membagi segugus pengamatan menjadi 4 bagian. Q i = data ke i ( n + 1) / 10 Teladan Data upah mingguan (ribu rupiah) 13 karyawan Pabrik Tekstil adalah 40, 30, 50, 65, 45, 55, 70, 60, 80, 35, 85, 95, 100. Setelah diurutkan menjadi 30, 35, 40, 45, 50, 55, 60, 65, 70, 80, 85, 95, 100. Maka : P 10 = data ke 10 (13 + 1) / 100 = data ke 1,4 = ,4 (35 30) = 32 P 25 = data ke 25 (13 + 1) / 100 = data ke 3,5 = ,5 (45 40) = 42,5 P 50 = data ke 50 (13 + 1) / 100 = data ke 7 = 60 D 5 = data ke 5 (13 + 1) / 10 = data ke 7 = 60 D 7 = data ke 7 (13 + 1) / 10 = data ke 9,8 = ,8 (80 70) = 78 K 1 = data ke 1 (13 + 1) / 4 = data ke 3,5 = ,5 (45 40) = 42,5 Wijaya : Statistika I 16
18 K 2 = data ke 2 (13 + 1) / 4 = data ke 7 = 60 K 3 = data ke 3 (13 + 1) / 4 = data ke 10,5 = ,5 (85 80) = 82,5 ( jadi : P 10 = D 1, P 25 = Q 1, P 50 = D 5 = Q 2, P 75 = Q 3 ) 3. Ukuran Penyimpangan/Keragaman/variasi/Penyebaran/Dispersi Ukuran penyimpangan adalah ukuran yang menunjukkan penyimpangan nilai suatu variabel terhadap nilai rata ratanya. Ukuran penyimpangan ini sebagai pelengkap bagi ukuran pemusatan dalam membandingkan dua atau lebih gugus bilangan yang berbeda. Rumus ukuran penyimpangan yang dibahas merupakan rumus ukuran penyimpangan contoh (untuk populasi lambang x dan s diganti dengan μ dan σ) yang meliputi : a. Rentang / Range / Jangkauan = Selisih nilai terbesar dengan terkecil b. Rentang Antar Kuartil (RAK) = K 3 K 1 c. Simpangan Kuartil (SK) = ½ ( K 3 K 1 ) d. Rata rata Simpangan (RS) = 1/n x x x 2 ( x) 2 / n e. Ragam atau Varians ( s 2 ) = n 1 f. Ragam Gabungan (s 2 g ) = [ (n i 1) 2 ] / ( n i ) k g. Simpangan Baku Gabungan (s g ) = s g 2 h. Simpangan Baku (s) = s i. Koefisien Variasi atau Koefisien Keragaman (KK) = ( s / x ) x 100 % j. Koefisien Keragaman Kuartil (KKK) = ( K 3 K 1 ) / ( K 3 + K 1 ) k. Bilangan Baku ( z ) = ( x i x ) / s Teladan Data berikut merupakan banyaknya ikan (x i ) yang dapat ditangkap dari dua buah kolam oleh 9 orang. Wijaya : Statistika I 17
19 Kolam Nilai pengamatan A B Dari data di atas dapat kita hitung nilai nilai yang lain, seperti tercantum pada tabel berikut : Nilai pengamatan x Me A x i x x i x B x i x x i x Selanjutnya kita hitung nilai penyimpangannya : Ukuran Gugus A Gugus B Rentang 15 3 = = 12 RAK 11 4,5 = 6,5 8,5 7 = 1,5 SK 3,25 0,75 RS 1/9 (28) = 28/9 1/9 (16) = 16/9 s 2 [ 700 (72) 2 /9 ] / 8 = 15,5 [ 654 (72) 2 /9 ] / 8 = 9,8 s 15,5 = 3,94 9,8 = 3,13 2 s g [(8) 3,94 + (8) 3,13 ] / = 3,53 s g 3,53 = 1,88 KK (%) (3,94 : 8) x 100 % = 49,3 (3,13 : 8) x 100 % = 39 KKK 6,5 : 15,5 = 41,9 % 1,5 : 15,5 = 9,7 % Wijaya : Statistika I 18
20 Data di atas menunjukkan bahwa antara Gugus A dan B walaupun mempunyai ukuran pemusatan dan Rentang yang sama, tetapi mempunyai ukuran keragaman yang berbeda. Ternyata Rentang tidak berhasil mengukur keragaman nilai nilai diantara kedua ekstrim tersebut. Gugus A mempunyai nilai keragaman yang lebih besar dibanding gugus B. Dalam praktek ukuran keragaman yang banyak digunakan adalah Ragam, Simpangan Baku, Koefisien Keragaman dan Bilangan Baku. Teladan Harga 5 buah mobil bekas masing masing adalah Rp , Rp , Rp , Rp 4, , Rp , dan harga 5 ekor ayam masing masing adalah Rp 6000, Rp 8000, Rp 9000, Rp 5500, Rp Tentukan harga mobil atau harga ayam yang lebih beragam! Penyelesaian : Untuk Mobil : Rata rata (x) = Rp : 5 = Rp Simpangan baku (s) = Rp KK (%) = : = 8,78 % Untuk Ayam : Rata rata (x) = Rp : 5 = Rp Simpangan baku (s) = Rp KK (%) = : = 24,95 % Jadi harga ayam lebih beragam dibandingkan harga mobil. Teladan Misal seorang mahasiswa mendapat nilai ujian Ekonomi Makro 82, sedangkan rata rata kelasnya 68 dengan simpangan baku 8. Nilai ujian Statistikanya 89, sedangkan rata rata kelasnya 80 dengan simpangan baku 6. Dalam ujian mana ia mempunyai kedudukan yang lebih baik? Penyelesaian : Ekonomi Makro : Bilangan Baku = ( x i x ) / s = ( ) / 8 = 1,75 Statistika : Bilangan Baku = ( x i x ) / s = ( ) / 6 = 1,50 Wijaya : Statistika I 19
21 Ternyata dalam ujian Ekonomi Makro mahasiswa tersebut berada 1,75 simpangan baku di atas rata rata kelasnya, sedangkan dalam Statistika ia hanya 1,5 simpangan baku di atas rata rata kelasnya. Dengan demikian mahasiswa tersebut mempunyai kedudukan yang lebih baik dalam ujian Ekonomi Makro. Pengkodean Terhadap Ragam Pengkodean disini dimaksudkan sebagai operasi penjumlahan, pengurangan, penggandaan atau pembagian setiap nilai pengamatan dengan suatu konstanta. Misalkan data pengamatan semula adalah x i kemudian masing masing nilai ditambah dengan konstanta c, sehingga rata rata data pengamatan semula adalah x dan rata rata yang baru y = x + c. Kita hitung ragam bagi y yaitu : ( y y) 2 [( x + c) ( x + c)] 2 ( x x) 2 s 2 = = = n 1 n 1 n 1 Bila setiap pengamatan ditambah atau dikurangi dengan suatu konstanta c, maka ragam data semula sama dengan ragam data yang baru. Sekarang misalkan nilai data awal digandakan dengan konstanta c, jadi y = cx maka rata ratanya y = cx dan ragam bagi y : ( y y) 2 ( cx cx ) 2 c 2 (x x) 2 s 2 = = = n 1 n 1 n 1 Bila setiap pengamatan digandakan (atau dibagi) dengan suatu konstanta c, maka ragam data semula sama dengan ragam data yang baru dibagi (atau digandakan) dengan c 2. Teladan Data berikut merupakan banyaknya ikan (x i ) yang dapat ditangkap dari dua buah kolam oleh 9 orang. Kolam Nilai pengamatan s 2 A ,5 B ,75 Wijaya : Statistika I 20
22 Misalkan data dalam gugus A ditambah dengan 2, sedangkan data gugus B digandakan 2 kali. Hasilnya adalah : Nilai pengamatan A x i x B x i x Untuk A : s 2 = [ 1024 (90) 2 /9 ] : 8 = 15,5 = ragam data asal Untuk B : s 2 = [ 2616 (144) 2 /9 ] : 8 = 39 = ragam data asal dikali Data Dikelompokkan Misalkan kita gunakan data Gaji (dalam jutaan rupiah) 40 karyawan Pabrik rotan yang tertera pada Tabel Distribusi Frekuensi. Selang frek. (f) Tengah (x) f.x c f.c log x f.log x f / x 1,5 1,9 2 1,7 3, ,23 0,46 1,18 2,0 2,4 1 2,2 2, ,34 0,34 0,45 2,5 2,9 4 2,7 10, ,43 1,72 1,48 3,0 3,4 15 3,2 48, ,51 7,65 4,69 3,5 3,9 10 3,7 37, ,57 5,70 2,70 4,0 4,4 5 4,2 21, ,62 3,10 1,19 4, 5 4,9 3 4,7 14, ,67 2,01 0,64 Jumlah 136, ,98 12,33 1. Ukuran Pemusatan a. Rata rata Hitung (x) : Cara I : x = (f.x) / f = (136,5) : 40 = 3,41 Cara II : x = X 0 + p [ (f.c) / f ] = 3,2 + 0,5 [ 17 / 40 ] = 3,41 Wijaya : Statistika I 21
23 X 0 = titik tengah kelas yang dipilih, dan diberi nilai c = 0 p = panjang kelas interval b. Rata rata Ukur ( U) : Log U = [ f.log x ] / f = 20,98 : 40 = 0,525 U = 3,35 c. Rata rata Harmonik (H) : H = [ f ] / (f / x) = 40 : 12,33 = 3,24 Dari ketiga perhitungan rata rata tersebut terdapat hubungan bahwa H < U < X, secara umum berlaku H U X. d. Median : Me = B + p [ (½ n F) / f ] Me = Median B = Batas bawah kelas median (kelas dimana median terletak) = 2,95 p = Panjang kelas = 0,5 n = Ukuran contoh = 40 F = Jumlah frekuensi dengan tanda kelas lebih kecil dari kelas median = 7 f = frekuensi kelas median = 15 Jadi Me = 2,95 + 0,5 [ (20 7) : 15 ] = 2,95 + 0,43 = 3,38 e. Modus (Mo) : Mo = B + p [ ( f 1 / (f 1 + f 2 ) ] Me = Modus B = Batas bawah kelas modus = 2,95 p = Panjang kelas = 0,5 f 1 = Selisih frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas sebelumnnya = 11 f 2 = Selisih frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas sesudahnya = 5 Jadi Mo = 2,95 + 0,5 [ (11) : (11 + 5) ] = 2,95 + 0,34 = 3,29 Wijaya : Statistika I 22
24 2. Ukuran Letak Persentil : P i = B + p [ (in/100 F) / f ] Desil : D i = B + p [ (in/10 F) / f ] Kuartil : K i = B + p [ (in/4 F) / f ] B = Batas bawah kelas P i, atau D i atau K i p = Panjang kelas = 0,5 n = Ukuran contoh = 40 F = Jumlah frekuensi dengan tanda kelas lebih kecil dari kelas Pi, D i, atau K i f = frekuensi kelas P i, D i, atau K i Teladan P 25 = data ke 25 (40) / 100 = data ke 10 = 2,95 + 0,5 [ 10 7 ] / 15 = 2,95 + 0,10 = 3,05 2. P 50 = data ke 50 (40) / 100 = data ke 20 = 2,95 + 0,5 [ 20 7 ] / 15 = 2,95 + 0,43 = 3,38 3. P 75 = data ke 75 (40) / 100 = data ke 30 = 3,45 + 0,5 [ ] / 10 = 3,45 + 0,40 = 3,85 4. D 2 = data ke 2 (40) / 10 = data ke 8 = 2,95 + 0,5 [ 8 7 ] / 15 = 2,95 + 0,03 = 2,98 5. D 5 = data ke 5 (40) / 10 = data ke 20 = 2,95 + 0,5 [ 20 7 ] / 15 = 2,95 + 0,43 = 3,38 6. D 7 = data ke 7 (40) / 10 = data ke 28 = 3,45 + 0,5 [ ] / 10 = 3,45 + 0,30 = 3,75 7. K 1 = data ke 1 (40) / 4 = data ke 10 = 2,95 + 0,5 [ 10 7 ] / 15 = 2,95 + 0,10 = 3,05 8. K 2 = data ke 2 (40) / 4 = data ke 20 = 2,95 + 0,5 [ 20 7 ] / 15 = 2,95 + 0,43 = 3,38 Wijaya : Statistika I 23
25 9. K 3 = data ke 3 (40) / 4 = data ke 30 = 3,45 + 0,5 [ ] / 10 = 3,45 + 0,40 = 3,85 Hubungan nilai persentil, desil dan kuartil dapat digambarkan dengan diagram berikut : Batas Gaji 3,05 3,38 3,85 Persentase Ukuran Letak P 25 = K 1 P 50 = D 5 = K 2 P 75 = K 3 Dari diagram tersebut dapat dikemukakan, misalnya : sebanyak 25 % atau 10 orang karyawan memperoleh gaji lebih kecil dari Rp 3,05 juta. banyaknya karyawan dengan gaji dari Rp 3,05 juta sampai Rp 3,85 juta sebanyak 50 % atau 20 orang. 3. Ukuran Penyimpangan / Keragaman Misalkan kita gunakan data Gaji (dalam jutaan rupiah) 40 karyawan Pabrik rotan yang tertera pada Tabel Distribusi Frekuensi. Selang frek. (f) Tengah (x) x x f. x x x 2 f. x 2 f.log x 1,5 1,9 2 1,7 1,71 3,42 2,89 5,78 0,46 2,0 2,4 1 2,2 1,21 1,21 4,84 4,84 0,34 2,5 2,9 4 2,7 0,71 2,84 7,29 29,16 1,72 3,0 3,4 15 3,2 0,21 3,15 10,24 153,60 7,65 3,5 3,9 10 3,7 0,29 2,90 13,69 136,90 5,70 4,0 4,4 5 4,2 0,79 3,95 17,64 88,20 3,10 4, 5 4,9 3 4,7 1,29 3,87 22,09 66,27 2,01 Jumlah 6,21 21,34 78,68 484,75 20,98 a. Rentang Antar Kuartil (RAK) = K 3 K 1 = 3,85 3,05 = 0,80 Wijaya : Statistika I 24
26 b. Simpangan Kuartil (SK) = ½ (K 3 K 1 ) = 0,40 c. Rata rata Simpangan (RS) = 1/n f x x = 1/40 ( 21,34 ) = 0,53 d. Ragam (s 2 ) = [ f. x 2 ( f.x) 2 /n ] / n 1 = (484,75 465,81) : 39 = 0,49 e. Simpangan Baku (s) = s = 0,49 = 0,7 f. Koef. Keragaman (KK) = ( s / x ) x 100 % = (0,7 / 3,41) x 100 % = 20,53 % g. KK. Kuartil (KKK) = (K 3 K 1 ) / (K 3 + K 1 ) = 0,80 : 6,90 = 11,59 % 2.6 Dalil Chebyshev dan Kaidah Empirik Dalil Chebyshev : Sekurang kurangnya 1 1/k 2 bagian data terletak dalam k simpangan baku dari rata ratanya. Teladan Misalkan data IQ suatu contoh acak mahasiswa mempunyai rata rata 120 dengan simpangan baku 8. Gunakan dalil Chebyshev untuk menentukan selang yang mengandung sekurang kurangnya 810 mahasiswa mempunyai IQ yang terletak di dalamnya! Penyelesaian : 810 : 1080 = 3/4, jadi 1 1/k 2 = 3/4, maka diperoleh nilai k = 2 dan x ± 2 s = 120 ± 2 (8) = 120 ± 16. Jadi sekurang kurangnya 810 mahasiswa mempunyai IQ antara 104 sampai 136. Dalil Chebyshev kurang banyak memberikan manfaat apabila nilai k = 1. Disamping itu hanya memperhatikan batas bawahnya saja (dengan istilah sekurang kurangnya), dan tidak memperhatikan bagaimana bentuk sebaran data pengamatan, apakah berbentuk genta (simetris) atau tidak. Oleh karena itu, untuk sebaran data pengamatan yang berbentuk genta akan lebih baik digunakan Kaidah Empirik. Wijaya : Statistika I 25
27 2.6.2 Kaidah Empirik Pada sebaran pengamatan yang berbentuk genta (simetrik) maka kira kira : 68 % pengamatan terletak dalam 1 simpangan baku dari rata ratanya. 95 % pengamatan terletak dalam 2 simpangan baku dari rata ratanya. 99,7 % pengamatan terletak dalam 3 simpangan baku dari rata ratanya. Misal dengan menggunakan data gaji 40 karyawan Pabrik Rotan (Tabel 2) diperoleh rata rata (x) = 3,41 dengan simpangan baku (s) = 0,70. Maka menurut Kaidah Empirik berarti kurang lebih 68 % atau 27 diantara 40 karyawan memperoleh gaji yang terletak dalam selang x ± s = 3,41 ± 0,7 atau antara 2,71 sampai 4,11 juta rupiah. 2.7 Kemenjuluran (Skewness) dan Keruncingan (Kurtosis) Kurva Kemenjuluran digunakan untuk mengetahui derajat kesimetrian sebuah model (distribusi), dinyatakan dengan Koefisien Kemenjuluran Pearson (KM) : 3 ( rata rata median ) KM = Simpangan baku Teladan Misal digunakan data pada Tabel 2, tentang gaji 40 karyawan Pabrik Rotan diperoleh nilai rata rata (x) = 3,41, median (Me) = 3,38 dan simpangan baku = 0,7. Maka Koefisien Kemenjuluran Pearson : (s) KM = 3 ( 3,41 3,38 ) 0,7 = 0,13 (positif, atau sedikit menjulur ke kanan) Kurtosis menunjukkan tinggi rendahnya atau runcing datarnya suatu kurva. Kurva yang runcing dinamakan Leptokurtik, yang datar dinamakan Platikurtik dan yang normal dinamakan Mesokurtik. Kurtosis, yaitu : Untuk menentukannya digunakan Koefisien Koefisien Kurtosis = [ 1/n f (x x) 4 ] / s 4 Wijaya : Statistika I 26
28 Ketentuan : Jika K = 3, maka kurvanya Mesokurtik (normal) K > 3, maka kurvanya Leptokurtik (runcing) K < 3, maka kurvanya Platikurtik (datar) Teladan Untuk data Gaji 40 Karyawan Pabrik Rotan. Selang f x (x x) 4 f.(x x) 4 1,5 1,9 2 1,7 8,55 17,10 2,0 2,4 1 2,2 2,14 2,14 2,5 2,9 4 2,7 0,25 1,00 K = 1/40 (30,60) : 0,24 3,0 3,4 15 3,2 0,002 0,03 = 3,19 3,5 3,9 10 3,7 0,007 0,07 (Leptokurtik) 4,0 4,4 5 4,2 0,39 1,95 4, 5 4,9 3 4,7 2,77 8,31 Jumlah 6,21 30,60 Wijaya : Statistika I 27
29 III. ANGKA INDEKS Angka Indeks atau Indeks merupakan angka yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk melakukan perbandingan antara kegiatan yang sama (produksi, penjualan, konsumsi dan perkembangan harga) dalam waktu yang berbeda. Tujuan pembuatan angka indeks yaitu untuk mengukur secara kuantitatif terjadinya suatu perubahan dalam dua waktu yang berlainan, misalnya indeks harga mengukur perubahan harga. Dalam penentuan angka indeks diperlukan dua macam waktu, yaitu : 1. Waktu Dasar, merupakan waktu dimana suatu kegiatan digunakan sebagai dasar perbandingan. 2. Waktu Sedang Berjalan atau waktu yang bersangkutan, merupakan waktu dimana suatu kegiatan akan dibandingkan terhadap kegiatan pada waktu dasar. Angka Indeks yang biasa digunakan yaitu Indeks Harga (Ip), Indeks Kuantitas atau produksi (Iq) dan Indeks Nilai (Iv). Adapun hubungan antara ketiga indeks tersebut adalah Iv = Ip x Iq. 3.1 Indeks Tidak Tertimbang (Sederhana) Indeks Harga Relatif Tidak Tertimbang (Sederhana) Indeks harga relatif tidak tertimbang (sederhana) adalah indeks harga yang terdiri dari satu macam barang. Untuk Harga, rumusnya : I t/0 = ( P t / P 0 ) x 100 % Untuk produksi, rumusnya : I t/0 = ( Q t / Q 0 ) x 100 % Indeks Harga Agregatif Tidak Tertimbang Indeks harga agregatif tidak tertimbang adalah indeks harga yang terdiri dari beberapa macam barang. Wijaya : Statistika I 28
30 Untuk Harga, rumusnya : I t/0 = ( P t / P 0 ) x 100 % Untuk produksi, rumusnya : I t/0 = ( Q t / Q 0 ) x 100 % Indeks Harga Rata rata Relatif Tidak Tertimbang a. Bila rata ratanya adalah rata rata hitung : Untuk Harga, rumusnya : I t/0 = 1/n ( P t / P 0 ) x 100 % Untuk produksi, rumusnya : I t/0 = 1/n ( Q t / Q 0 ) x 100 % b. Bila rata ratanya adalah rata rata ukur : Untuk Harga, rumusnya : Log I t/0 = 1/n Log (P t / P 0 ) Untuk produksi, rumusnya : Log I t/0 = 1/n Log (Q t / Q 0 ) Keterangan : P t = harga barang pada waktu t P 0 = harga barang pada waktu 0 (waktu dasar) Q t = kuantitas barang pada waktu t Q 0 = kuantitas barang pada waktu 0 (waktu dasar) V t = nilai barang pada waktu t = P t x Q t V 0 = nilai barang pada waktu 0 (waktu dasar) = Po x Qo Teladan 3.1. Misal harga (juta rupiah) dan produksi (buah) 4 jenis barang pada tahun 1994, 1995 dan 1996 adalah sebagai berikut : Barang Harga Produksi A B C D JML Wijaya : Statistika I 29
31 1. Indeks Harga Relatif Sederhana barang A tahun 1995 dan 1996 dengan waktu dasar 1994 : I 95/94 = (P t / P 0 ) x 100% = (8/10) x 100% = 80 % (turun 20 %) I 96/94 = (P t / P 0 ) x 100% = ( 7/10 ) x 100% = 70 % (turun 30 %) Untuk produksi, indeksnya adalah : I 95/94 = (Q t / Q 0 ) x 100% = (30/20) x 100% = 150 % (naik 50 %) I 96/94 = (Q t / Q 0 ) x 100% = (35/20) x 100% = 175 % (naik 75 %) 2. Indeks Harga Agregatif Tidak Tertimbang tahun 1996 dan 1995 dengan waktu dasar tahun 1994 : I 95/94 = ( P t / P 0 ) x 100% = (45/50) x 100% = 90% I 96/94 = ( P t / P 0 ) x 100% = (52/50) x 100% = 104% Untuk produksi, indeksnya adalah : I 95/94 = ( Q t / Q 0 ) x 100% = (80/100 ) x 100% = 80% I 96/94 = ( Q t / Q 0 ) x 100% = (105/100) x 100% = 105% 3. Indeks Harga Rata rata Relatif Tidak Tertimbang tahun 1996 dan 1995 dengan waktu dasar tahun a. Bedasarkan rata rata hitung : I 95/94 = 1/n (P t / P 0 ) x 100 % = ¼ (8/ /15 + 7/5 + 15/20 ) x 100 % = 98,75 % I 96/94 = 1/n (P t / P 0 ) x 100 % = ¼ (7/ / /5 + 15/20) x 100 % = 119,6 % b. Berdasarkan rata rata ukur : Log I 95/94 = 1/n Log (P t / P 0 ) = ¼ (Log 8/10 + Log 15/15 + Log 7/5 + Log 15/20) = 0,015 I 95/94 = 0,9657 x 100 % = 96,57 % Wijaya : Statistika I 30
32 Log I 96/94 = 1/n Log (P t / P 0 ) = ¼ (Log 7/10 + Log 20/15 + Log 10/5 + Log 15/20) = 0,029 I 96/94 = 1,069 x 100 % = 106,9 % 3.2 Indeks Harga Tertimbang Indeks Harga Agregatif Tertimbang Bentuk Umum : I t/0 = ( P t. W / P 0. W ) x 100 a) Laspeyres, bila timbangannya W = Q 0 L t/0 = ( P t. Q 0 / P 0. Q 0 ) x 100 b) Paasche, bila timbangannya W = Q t P t/0 = ( P t. Q t / P 0. Q t ) x 100 c) Marshall Edgeworth, bila timbangannya W = Q 0 + Q t M t/0 = P t (Q 0 + Q t ) / P 0 (Q 0 + Q t ) x 100 d) Walsh, bila timbangannya W = Q 0.Q t W t/0 = P t ( Q 0.Q t ) / P 0 ( Q 0.Q t ) x 100 e). Drobisch D t/0 = ½ ( L t/0 + P t/0 ) = ½ [( P t. Q 0 / P 0.Q 0 ) + ( P t.q t / P 0.Q t ) ] x 100 f) Irving Fisher atau Indeks Ideal : F t/0 = ( L t/o x P t/o ) = [( P t.q 0 / P 0.Q 0 ) ( P t.q t / P 0.Q t ) ] x 100 Teladan 3.2. Misal kita gunakan data berikut untuk menentukan indeks harga agregatif tertimbang tahun 1995 dengan waktu dasar tahun Wijaya : Statistika I 31
33 Barang Harga Produksi 1994 (P 0 ) 1995 (P t ) 1994 (Q 0 ) 1995 (Q t ) A B C D JML Dari data di atas dapat kita susun menjadi tabel berikut : Po Pt Qo Qt Po.Qo ( Vo ) Po.Qt Pt.Qo Pt.Qt ( Vt ) Qo+Qt Qo.Qt A B C D Selanjutnya kita hitung Indeks Harga Agregatif Tertimbang : a. Laspeyres : L 95/94 = ( P t.q 0 / P 0.Q 0 ) x 100 = (1120 : 1175) x 100 = 95,32% b. Paasche : P 95/94 = ( P 0.Q t / P 0.Q t ) x 100 = (980 : 1075) x 100% = 91,16% c. Marshall Edgeworth : M 95/94 = P t (Q 0 + Q t ) / P 0 (Q 0 + Q t ) x 100 (8 x 50) + (15 x 60) + (7 x 50) + (15 x 30) = (10 x 50) + (15 x 60) + (5 x 50) + (20 x 30) = ( 2100 : 2250 ) x 100 = 93,33 % Wijaya : Statistika I 32
34 d. Walsh : W 95/94 = P t ( Q 0.Q t ) / P 0 ( Q 0.Q t ) x 100 (8 600) + (15 875) + (7 600) + (15 225) = (10 600) + (15 875) + (5 600) + (20 225) = (1036,13 : 1085,12) x 100 = 95,49 e. Drobisch D 95/94 = ½ ( L 95/94 + P 95/94 ) = ½ ( 95, ,16 ) x 100 % = 93,24 % f. Irving Fisher atau Indeks Ideal : F 95/94 = ( L 95/94 x P 95/94 ) = ( 95,32 x 91,16 ) x 100 % = 93,22 % Contoh lain : untuk menentukan Indeks Biaya Hidup Agregatif suatu keluarga dengan data sebagai berikut : No. Keperluan Hidup Bagian Pengeluaran Harga Pada Thn Biaya (%) Makanan 60 7, Bahan Bakar, 8 3,5 60 Penerangan dan Air 3. Pakaian Perumahan Lain lain Jumlah Indeks Biaya Hidup Keluarga tahun 1964 dengan tahun dasar 1960 adalah : (60x115)+(8x60)+(12x820)+(15x325)+(5x200) L 64/60 = = 565,6 (60x7,5)+(8x3,5)+(12x175)+(15x86)+(5x43) Wijaya : Statistika I 33
35 3.2.2 Indeks Harga Rata rata Relatif Tertimbang (P t / P 0 ).W Rumus Umum : I t/0 = x 100 W a) Timbangannya W = V 0 = P 0.Q 0 (P t / P 0 ) (P 0.Q 0 ) L t/0 = x 100 P 0.Q 0 b) Timbangannya W = V t = P t.q t (P t / P 0 ) (P t.q t ) P t/0 = x 100 P t.q t Misal kita akan menghitung indeks harga rata rata relatif tertimbang untuk keempat jenis barang pada data di atas : a). Dengan Rumus Laspeyres : (P t / P 0 ) (P 0.Q 0 ) L 95/94 = x 100 P 0.Q 0 (8/10) (15/15) (7/5) (15/20) 300 = x = ( 1120 : 1175 ) x 100 = 95,32 b). Dengan Rumus Paasche : (P t / P 0 ) (P t.q t ) P 95/94 = x 100 P t.q t Wijaya : Statistika I 34
36 (8/10) (15/15) (7/5) (15/20) 225 = x = ( 931,75 : 980 ) x 100 = 95, Indeks Harga Berantai Indeks yang telah dikemukakan merupakan indeks dengan waktu dasar tetap. Apabila waktu dasarnya berubah ubah, misalnya setiap 1 tahun, 2 tahun atau lebih, maka indeksnya akan merupakan indeks berantai. Misal waktu dasarnya berubah setiap n tahun, maka indeks harganya adalah : I t n = ( P t / P t n ) x 100 Teladan 3.3. Harga beras (Rp/kg) di Cirebon selama 5 tahun dari tahun adalah sebagai berikut : Tahun Harga (Rp/kg) Hitung indeks harga berantai tahun 1993, 1994 dan 1995 dengan waktu dasar berubah setiap : a. satu tahun b. dua tahun Pemecahan : a. Waktu dasar berubah setiap satu tahun : Tahun 1993 : I 93/92 = ( 1000 : 900 ) x 100 = 111,11 Tahun 1994 : I 94/93 = ( 1100 : 1000 ) x 100 = 110 Tahun 1995 : I 95/94 = ( 1200 : 1100 ) x 100 = 109,09 b. Waktu dasar berubah setiap dua tahun : Tahun 1993 : I 93/91 = ( 1000 : 800 ) x 100 = 125 Wijaya : Statistika I 35
37 Tahun 1994 : I 94/92 = ( 1100 : 900 ) x 100 = 122,22 Tahun 1995 : I 95/93 = ( 1200 : 1000 ) x 100 = 120 Misal waktu dasarnya berubah setiap satu tahun, maka : I 1/0 = P 1 / P 0, I 2/1 = P 2 / P 1,..., I t/t 1 = P t / P t 1 Jika : I 1/0 x I 2/1 x... x I t/t 1 = P 1 / P 0 x P 2 / P 1 x... x P t / P t 1 = P t / P 0 = I t/0 Jadi indkes berantai pada dasarnya merupakan indeks relatif sederhana. 3.4 Penentuan dan Pergeseran Waktu Dasar Penentuan Waktu Dasar : Keadaan ekonomi (juga sosial, budaya, politik) stabil. Waktu tidak terlalu jauh ke belakang (paling lama 10 tahun atau kalau bisa kurang dari 5 tahun). Dengan kata lain data (produksi, harga atau penjualan) dalam keadaan up to date. Waktu dimana terjadinya peristiwa penting, misalnya pergantian pimpinan di perusahaan dll Pergeseran Waktu Dasar Apabila waktu dasar dari suatu indeks sudah dianggap out of date, maka perlu dilakukan pergeseran atau perubahan waktu dasar melalui : Apabila data asli masih tersedia, maka perlu dilakukan perhitungan kembali dengan menggunakan waktu dasar yang baru. Apabila data asli tidak tersedia, sedangkan data indeks lama tersedia, maka indeks yang baru dapat dihitung dengan rumus : I B = I L / I LD dimana I B adalah Indkes Baru, I L = Indeks Lama dan I LD adalah Indeks Lama pada waktu dasar yang baru. Wijaya : Statistika I 36
38 Teladan 3.4. Misal kita gunakan data harga beras (Rp/kg) di Cirebon selama 5 tahun dari tahun Indeks harga lama dihitung berdasarkan waktu dasar tahun 1992, kemudian akan diganti dengan waktu dasar tahun Indeks harga yang baru dapat dihitung kembali berdasarkan data harga yang asli (1) dan dari data indeks harga yang lama (2). Hasilnya adalah sebagai berikut : Tahun Harga Indeks Lama ( 1992 = 100 ) Indeks Baru 1) ( 1994 = 100 ) Indeks Baru 2) ( 1994 = 100 ) ,89 72,73 72, ,82 81, ,11 90,91 90, , ,33 109,09 109,09 Keterangan : 1) Indeks baru berdasarkan data harga yang asli 1) Indeks baru berdasarkan data indeks harga lama 3.5 Pengujian Indeks dan Pendeflasian Data Berkala Pengujian Indeks Kebaikan atau kesempurnaan indeks dilihat dari kenyataan apakah indeks tersebut memenuhi kriteria pengujian sebagai berikut : a). Time reversal Test, bila I t/0 x I 0/t = 1 Indeks Harga Relatif : I t/0 = P t / P 0 dan I 0/t = P 0 / P t I t/0 x I 0/t = P t /P 0 x P 0 /P t = 1 (memenuhi) Indeks Harga Agregatif Tidak Tertimbang : I t/0 = P t / P 0 dan I 0/t = P 0 / P t I t/0 x I 0/t = ( P t / P 0 )( P 0 / P t ) = 1 (memenuhi) Wijaya : Statistika I 37
39 Indeks Harga Agregatif Tertimbang Laspeyres : L t/0 = P t.q 0 / P 0.Q 0 dan L 0/t = P 0.Q t / P t.q t L t/0 x L 0/t = ( P t.q 0 / P 0.Q 0 )( P 0.Q t / P t.q t ) 1 (tidak memenuhi) Indeks Harga Agregatif Tertimbang Irving Fisher (Indeks Ideal) : F t/0 = L t/0 x P t/0 dan F 0/t = L 0/t x P 0/t P t.q 0 P t.q t P 0.Q t P 0.Q 0 F t/0 x F 0/t =... = 1 P 0.Q 0 P 0.Q t P t.q t P t.q 0 b). Factor Reversal Test, bila I (t/0)p x I (t/0)q = I (t,0)v Indeks Harga Relatif : I (t/0)p = Pt / Po dan I (t/0)q = Qt / Qo I (t/0)p x I (t/0)q = P t /P 0 x Q t /Q 0 = P t.q t / P 0.Q 0 = V t / V 0 (memenuhi) Indeks Harga Agregatif Tidak Tertimbang : I (t/0)p = P t / P 0 dan I (t/0)q = Q t / Q 0 I (t/0)p x I (t/0)q = ( P t / P 0 )( Q t / Q 0 ) = P t Q t / P 0 Q 0 1 (tidak memenuhi) Indeks Harga Irving Fisher (Ideal) : F (t/0)p = L (t/0)p x P (t/0)p dan F (t/0)q = L (t/0)q x P (t/0)q P t.q 0 P t.q t P 0.Q t P t.q t Fp x Fq =... P 0.Q 0 P 0.Q t P 0.Q 0 P t.q 0 = V t / V 0 (memenuhi) c). Circular Test Misal terdapat t buah indeks dari t tahun dengan waktu dasar i, yaitu : I 1/i, I 2/i,..., I t/i (1) Wijaya : Statistika I 38
40 Apabila waktu dasarnya adalah j, maka indeksnya adalah : I 1/j, I 2/j,..., I t/j (2) Apabila setiap indeks pada (1) dibagi dengan indeks I j/i, hasilnya : I 1/i / I j/i = I 1/j, I 2/i / I j/i = I 2/j j jadi I t/i / I j/i = I t/j yaitu sama dengan (2) Teladan. I 85/82 = P 85 / P 82 dan I 84/82 = P 84 / P 82 I 85/82 P 85 P 82 P 85 = x = I 84/82 P 82 P 84 P Pendeflasian Data Secara umum dapat dikatakan bahwa kenaikan indeks harga akan menurunkan daya beli, sebaliknya daya beli meningkat dengan menurunnya indeks harga (jadi kalau indeks harga naik a kali, maka daya beli turun sebesar 1/a kali). Misalnya pada tahun 1988 uang sebanyak Rp 5.000,- dapat digunakan untuk membeli satu sak semen, sedangkan pada tahun 1996 harga satu sak semen Rp ,-, maka nilai rupiah pada tahun 1988 sama dengan 50 sen pada tahun Ini berarti harga telah menjadi dua kali, dan nilai atau daya beli telah berkurang menjadi setengah kali. Untuk mendapatkan data berkala yang nyata, misalnya gaji nyata dan upah nyata atau pendapatan nyata, maka angka angka tersebut harus dibagi dengan indeks harga konsumen atau indeks biaya hidup. Proses ini disebut mendeflasi data. Misal kita ingin mengetahui berapa daya dari gaji karyawan yang bisa dipakai untuk membeli. Jadi kita ingin mengetahui gaji riil atau gaji nyata dari karyawan tersebut. Gaji nyata tahun 1990 diperoleh dari Rp : 0,98 = 5.102, dengan cara yang sama dapat ditentukan gaji nyata untuk tahun tahun yang lain. Dari tabel dibawah untuk tahun 1995 dan 1990 terjadi kenaikan gaji nominal sebesar 60 % yaitu dari ( )/5.000, tetapi sebenarnya berdasarkan gaji nyata hanya naik sebesar ( )/5.102 = 43 %. Hal ini terjadi karena adanya kenaikan indeks biaya hidup atau indeks harga konsumen. Jadi apa yang dapat Wijaya : Statistika I 39
41 dibeli dengan uang sebesar Rp 7.273,- pada tahun 1990 menjadi berharga Rp 8.000,- pada tahun Tahun Indeks Biaya Hidup Gaji Harian (Rp) Gaji Nyata (Rp) Daya Beli Rp 1,00, , , , , , , ,88 Indeks biaya hidup atau indeks harga konsumen disebut deflator. Deflator yang dapat dipertanggungjawabkan harus memenuhi sifat time reversal test, factor reversal test dan circular test. Akan tetapi dalam prkateknya pendeflasian dapat dilakukan walaupun deflator tidak mempunyai sifat tersebut. Apabila kita ingin mendapatkan daya beli rupiah untuk beberapa tahun, dengan anggapan daya beli Rp 1,- pada tahun tertentu (misal tahun 1991), maka daya beli Rp 1,- pada tahun 1990 = 1/0,98 = Rp 1,02,-, daya beli Rp 1,- pada tahun 1992 = 1/1,02 = Rp 0,98,- dan seterusnya untuk tahun tahun yang lain, sehingga diperoleh data pada kolom kelima tabel di atas. Wijaya : Statistika I 40
42 IV. ANALISIS DATA BERKALA Data berkala (Time Series) merupakan data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu untuk menggambarkan perkembangan suatu kegiatan (harga, produksi, penjualan dan lain lain). Di samping itu, untuk mengetahui ada tidaknya perubahan suatu kegiatan akibat perubahan kejadian lain secara kuantitatif. Karena data berkala dapat digunakan untuk membuat garis trend, sehingga data berkala dapat digunakan untuk membuat ramalan ramalan. Secara matematis data berkala dilambangkan dengan Y 1, Y 2,..., Y n dengan Y n = data pada waktu ke n. Jadi Y merupakan fungsi dari waktu (X) atau Y = F(X). Klasifikasi gerakan (variasi) data berkala ada 4 macam, yaitu : 1. Gerakan Trend (T) jangka panjang, yaitu gerakan yang menunjukkan arah perkembangan secara umum (kecenderungan naik atau turun). 2. Gerakan Siklis (C) yaitu gerakan jangka panjang di sekitar garis trend. 3. Gerakan Musiman (S) yaitu gerakan dengan pola tetap dari waktu ke waktu. 4. Gerakan yang tidak teratur atau Irreguler (I), sifatnya sporadis. Jadi data berkala (Y) terdiri dari 4 komponen yaitu Trend (T), Siklis (C), Musiman (S) dan Irreguler (I), sehingga dapat ditulis Y = T.C.S.I. 4.1 Metode Penentuan Garis Trend Linear Metode Tangan Bebas Cara : Gambarkan titik titik pengamatan (diagram pencar) pada sumbu Cartesius. Tarik garis trend melalui dua titik pengamatan, misalkan titik (X 1, Y 1 ) dan (X 2, Y 2 ) Persamaan garis trend dapat ditentukan dengan persamaan Y Y 1 = m (X X 1 ) dengan m = gradien garis lurus. Wijaya : Statistika I 41
43 Teladan 4.1. Hasil penjualan (juta rupiah) kosmetika PT Pasti Ayu adalah : Tahun Nilai (juta Rp) Untuk menggambarkan garis trend, data tahun sebagai absis diubah nilainya menjadi X = 0, 1, 2,..., 7. sehingga diagram pencarnya dapat digambarkan sebagai berikut : 120 Misal garis trend ditarik dari 110 titik (0,78) dan (7,113), maka : 100 gradiennya : 90 m = (113 78) / (7 0) = 5 80 Persamaan garis trend adalah 70 Y = 5 X Metode Rata rata Semi Cara : Data dikelompokkan menjadi 2 bagian yang sama banyaknya. Untuk banyaknya pengamatan genap (n) masing masing menjadi ½ n, dan jika banyaknya pengamatan ganjil masing masing ½ (n 1). Mencari nilai rata rata untuk masing masing kelompok, yang merupakan nilai ordinat (Y) Absis merupakan data tahun (waktu) yang ditengah tengah untuk masing masing kelompok. Persamaan garis trend : Y = mx + C. Wijaya : Statistika I 42
44 Teladan 4.2. (untuk banyaknya pengamatan genap) : Tahun Absis (X) X 1 = 1,5 X 2 = 5,5 Nilai (juta Rp) Ordinat (Y) Y 1 = 93 Y 2 = 107 Garis trend ditarik dari titik (1,5, 93) dan titik (5,5, 107), sehingga diperoleh persamaannya : Y 93 = 14/4 (X 1,5) atau Y = 3,5 X + 87,75 Teladan 4.3. (untuk banyaknya pengamatan ganjil) : Tahun Absis (X) X 1 = 1 X 2 = 5 Nilai (juta Rp) Ordinat (Y) Y 1 = 93 Y 2 = 105 Pengamatan tahun 1992 (X = 3) dengan nilai 93, tidak digunakan dalam menentukan persamaan garis trend. Jadi persamaan garis trend ditarik dari titik (1, 93) dan titik (5, 105), dan persamaannya adalah Y 93 = 12/4 (X 1) atau Y = 3X Metode Rata rata Bergerak. Metode rata rata bergerak mengurangi variasi dari data asli, dan sering dipergunakan untuk memuluskan fluktuasi yang terjadi dalam data tersebut. Proses pemulusan ini disebut Pemulusan Data Berkala. Apabila rata rata bergerak dibuat dari data tahunan atau bulanan sebanyak n tahun atau n bulan, maka rata rata bergerak disebut Rata rata Bergerak Tahunan atau Bulanan dengan orde n. Wijaya : Statistika I 43
45 Tahun X Nilai Rata rata Bergerak 2 tahun 3 tahun 4 tahun , ,33 101, ,5 100,33 101, , ,5 107, Untuk : 2 tahun : ( )/2 = 87 ; ( )/2 = 100,5 dst. 3 tahun : ( )/3 = 93 ; ( )/3 = 98 dst. 4 tahun : ( )/4 = 93 dst. Dari tabel di atas, apabila digambarkan grafiknya maka semakin besar derajat rata rata bergerak maka akan semakin mulus grafiknya dan akan semakin banyak data yang hilang (banyaknya data yang hilang adalah n 1) Metode Kuadrat Terkecil Metode kuadrat terkecil merupakan metode penentuan garis trend yang lebih umum dan lebih baik daripada metode lainnya. Trend yang akan dicari ditentukan sedemikian rupa, sehingga jumlah daripada kuadrat penyimpangan antara nilai nilai yang sebenarnya dengan nilai yang didapat dari trend mencapai harga terkecil. Persamaan bagi trend linear dapat dituliskan sebagai Y = a + bx, dimana Y adalah nilai (data berkala), X adalah waktu, a adalah konstanta dan b adalah koefisien arah garis trend. Untuk memudahkan perhitungan, variabel waktu (X) dibuat sedemikian rupa sehingga X = 0. Hal ini dapat dilakukan dengan pengkodean sebagai berikut : Wijaya : Statistika I 44
46 Untuk n ganjil : Tahun X 1 X 2 X 3 X 4 X 5 X 6 X 7 Kode X = Untuk n genap : Tahun X 1 X 2 X 3 X 4 X 5 X 6 Kode X = Selanjutnya nilai a dan b dihitung berdasarkan rumus : n X.Y X Y X.Y b = = n X 2 ( X ) 2 X 2 a = Y bx, dimana Y adalah rata rata bagi Y dan X adalah rata rata bagi X. Karena rata rata bagi X adalah nol atau x = ( X) / n = 0, maka a = Y. Cara lain untuk menentukan persamaan trend adalah dengan menggunakan persamaan normal, yaitu : Y = an + b X atau a = ( Y b X ) / n = ( Y) / n = Y XY = n X + b X 2 atau b = ( XY n X) / X 2 = ( XY) / X 2 Teladan 4.4. Persen kenaikan produksi padi selama 7 tahun adalah : Tahun X = % Produksi (Y) Setelah dihitung : X 2 = 28 XY = 48 Y = 56 Y = 8 Maka a = Y = 8 dan b = 48 : 28 = 1,714 Wijaya : Statistika I 45
47 Persamaan Trendnya adalah : Y = 8 + 1,714 X, jadi kenaikan produksi setiap tahunnya sebesar 1,714 %. Untuk mengetahui besarnya kenaikan produksi padi tahun 1990 (X = 6) adalah Y = 8 + 1,714 (6) = 18,28 %. Teladan 4.5. Nilai penjualan kosmetika PT Pasti Ayu selama 8 tahun adalah : Tahun Absis (X) Nilai (juta Rp) Setelah dihitung : X 2 = 168 XY = 308 Y = 800 Y = 100 Maka a = Y = 100 dan b = 308 : 168 = 1,83 Persamaan Trendnya adalah : Y = ,83 X, jadi hasil penjualan setiap tahun meningkat sebesar Rp. 1,83 juta. 4.2 Indeks Musiman Gerakan musiman merupakan gerakan yang teratur, artinya naik turunnya terjadi pada waktu waktu yang sama atau berdekatan (bertepatan dengan pergantian musim). Telah diketahui bahwa data berkala (Y) terdiri dari 4 komponen, yaitu Trend (T), Siklis (C), Musiman (S) dan Irreguler (I). Apabila pengaruh komponen T, C dan I dihilangkan maka tinggal komponen S, dan bila S ini dinyatakan dalam angka indeks maka diperoleh indeks musiman. Jadi angka indeks musiman merupakan angka yang menunjukkan nilai relatif dari variabel Y yang merupakan data berkala selama seluruh bulan dalam satu tahun (bisa lebih dari satu tahun). Indeks musiman dapat ditentukan dengan beberapa cara, yaitu cara : (1) Rata rata Sederhana, (2) Rata rata Relatif Bersambung dan Berantai, (3) Rasio Terhadap Trend dan (4) Rasio Terhadap Rata rata Bergerak. Wijaya : Statistika I 46
48 4.2.1 Cara Rata rata Sederhana Penentuan indeks musiman dengan cara rata rata sederhana dapat dilakukan berdasarkan (a) rata rata hitung dan (b) median. Teladan 4.6. Nilai Penjualan (juta rupiah) Barang A selama 5 tahun dari tahun 1991 sampai 1995 adalah sebagai berikut : Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Dari tabel di atas dapat kita hitung rata rata nilai penjualan selama 5 tahun untuk bulan Januari, Februari sampai Desember, dan persentase rata rata tersebut terhadap nilai totalnya. Indeks musiman berdasarkan rata rata diperoleh dengan cara mengalikan faktor (1200 % : 100 %) atau 12 terhadap persentase rata rata setiap bulan. Apabila perhitungan didasarkan pada median, maka nilai penjualan yang menjadi median adalah nilai penjualan pada tahun 1993 (karena banyaknya tahun ganjil). Selanjutnya dengan cara yang sama, dihitung persentase nilai penjualan setiap bulan dan indeks musiman ditentukan dengan mengalikan faktor 12 terhadap persentase nilai penjualan setiap bulan. Wijaya : Statistika I 47
49 Apabila jumlah dari persen rata rata dan persen median tidak sama dengan 100, misalkan X, maka perlu ada penyesuaian dengan mengalikan persen rata rata atau persen median tersebut dengan faktor 100/X. Hal yang sama juga berlaku untuk indeks musiman (IM) berdasarkan rata rata dan median, penyesuaiannya dengan faktor 1200/X. Hasil perhitungan indeks musiman dengan cara rata rata sederhana berdasarkan rata rata hitung dan median adalah : Bulan Rata % Rata IM rata Median % Med IM Me. Jan 15,2 6,41 76, ,41 76,92 Feb 14,0 5,91 70, ,41 76,92 Mar 12,0 5,06 60, ,13 61,56 Apr 12,2 5,15 61, ,70 56,40 Mei 14,8 6,24 74, ,98 71,76 Jun 19,6 8,27 99, ,55 102,60 Jul 23,2 9,79 117, ,83 117,96 Ags 26,8 11,31 135, ,54 138,48 Sep 28,4 11,98 143, ,97 143,64 Okt 27,2 11,48 137, ,11 133,32 Nov 22,8 9,62 115, ,40 112,80 Des 20,8 8,78 105, ,97 107,64 Jumlah Cara Rata rata Relatif Bersambung dan Berantai Cara ini sudah tidak banyak digunakan karena hasilnya sering tidak memuaskan. Penentuan indeksnya yaitu dengan cara menentukan persentase data bulan yang bersangkutan terhadap bulan sebelumnya. Misalkan untuk bulan Februari 1991 adalah 10/11 x 100 % = 90,91 %, untuk bulan Maret 9/10 x 100 % = 90 % dan seterusnya. Hasil perhitungannya adalah : Wijaya : Statistika I 48
50 Bulan Jan 72,22 78,95 80,95 90,91 Feb 90,91 92,31 100,00 88,24 90,00 Mar 90,00 91,67 80,00 80,00 88,89 Apr 77,78 90,91 91,67 108,33 125,00 Mei 157,14 130,00 127,27 115,38 105,00 Jun 136,36 130,77 142,86 146,67 114,29 Jul 146,67 123,53 115,00 113,64 104,17 Ags 104,55 119,05 117,39 116,00 120,00 Sep 117,39 104,00 103,70 100,00 106,67 Okt 85,199 92,31 92,86 106,90 100,00 Nov 86,960 87,50 84,62 80,65 81,25 Des 90,00 90,48 95,45 88,00 92,31 Setelah itu dihitung nilai rata rata (atau median) dari persentase persentase tersebut untuk setiap bulan. Nilai rata rata terhadap persentase ini disebut Nilai Rata rata Relatif Bersambung (kolom 2). Karena jumlah dari persentase rata rata relatif bersambung ini adalah 1231,82 artinya tidak sama dengan 1200, maka perlu dilakukan penyesuaian agar jumlah tersebut sama dengan 1200 atau sangat mendekati Faktor pengalinya adalah 0,874 (diperoleh dari 1231,82 : 1200 = 0,874), jadi masing masing nilai rata rata relatif tersebut dikalikan dengan 0,874 dan hasilnya tercantum pada kolom 3. Karena pada dasarnya kita memberikan nilai 100 % untuk bulan Januari 1991, maka persentase untuk bulan : Februari 1991 = 89,91 % dari bulan Januari 1991 = 89,91 % x 100 = 89,91 %. Maret 1991 = 105,53 % dari bulan Februari 1991 = 105,53 % x 89,91 = 94,88 %. April 1991 = 96,19 % dari bulan Maret 1991 = 96,19 % x 94,88 = 91,27 %. Apabila perhitungan tersebut dilakukan terus sampai bulan Desember 1995, maka akan diperoleh Nilai Rata rata Relatif Berantai (kolom 4). Wijaya : Statistika I 49
51 Rata rata Relatif Median Bulan Bersambung Berantai Bersambung Berantai Asal Sesuaian Asal Sesuaian Jan 80,76 78, ,95 77,06 100,00 Feb 92,29 89,91 89,91 100,00 97,60 97,60 Mar 108,33 105,53 94,88 80,00 78,08 76,21 Apr 98,74 96,19 91,27 91,67 89,47 68,19 Mei 126,96 123,68 112,88 127,27 124,22 84,71 Jun 134,19 130,72 147,56 142,86 139,43 118,11 Jul 97,90 95,37 140,73 115,00 112,24 132,57 Ags 115,40 112,42 158,21 117,39 114,57 151,89 Sep 106,35 103,60 163,91 103,70 101,21 153,73 Okt 95,45 92,98 152,40 92,86 90,63 139,33 Nov 84,20 82,02 125,00 84,62 82,59 115,07 Des 91,25 88,89 111,11 95,45 93,16 107,20 Jumlah 1231, , , ,30 Hal yang sama dapat dilakukan apabila kita menggunakan perhitungan tersebut berdasarkan median (kolom 5, 6 dan 7). Dalam hal ini karena jumlah median relatif bersambung adalah 1229,77 artinya lebih dari 1200, maka perlu penyesuaian dengan mengalikan masing masing nilai median relatif bersambung tersebut dengan faktor 1229,77 : 1200 = 0,976. Adapun hasil setelah dilakukan penyesuaian tercantum pada kolom Cara Rasio Terhadap Trend Untuk data berkala apabila Y/T = CSI dianggap sebagai indeks musiman sebenarnya merupakan indeks musiman yang tidak murni, karena masih mengandung komponen C dan I (yang merupakan kelemahan dari cara ini). Cara rasio terhadap trend seharusnya kita mencari persamaan trend bulanan, tetapi hal ini tidak praktis. Oleh karena itu, kita akan menentukan trend tahunan berdasarkan rata rata bulanan. Trend yang akan dicari merupakan trend linear. Wijaya : Statistika I 50
52 Teladan 4.7. Nilai Penjualan (juta rupiah) Barang A selama 5 tahun dari tahun 1991 sampai 1995 adalah sebagai berikut : Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Rata rata 16,33 17,67 19,50 21,25 24 Data di atas kita susun kembali dengan waktu sebagai absis (X) dan rata rata nilai penjualan sebagai ordinatnya (Y) : Absis X Y 16,33 17,67 19,50 21,25 24 Dengan menggunakan metode kuadrat terkecil, kita memperoleh persamaan regresinya adalah : Y = 19,75 + 1,892 X. Jadi nilai penjualan meningkat sebesar 1,892 juta rupiah setiap tahun atau sebesar 0,16 juta rupiah setiap bulan. Untuk X = 0 atau pada tanggal 30 bulan Juni 1993, nilai penjualan (berdasarkan trend tersebut) sebesar 19,75 juta, sehingga pada tanggal 15 Juli 1993 (setengah bulan berikutnya) nilai penjualannya adalah sebesar 19,75 + ½ (0,16) = 19,83 juta Wijaya : Statistika I 51
53 rupiah. Karena perhitungan berdasarkan trend waktunya ditetapkan pada pertengahan bulan, maka nilai penjualan pada bulan Agustus 1993 sebesar (19,83 + 0,16) = 19,99, untuk bulan September (19,99 + 0,16) = 20,15 dan seterusnya untuk bulan bulan berikutnya. Untuk bulan bulan sebelum bulan Juli 1993, maka nilai 19,83 berkurang sebesar 0,16 setiap bulan. Hasil perhitungan nilai penjualan berdasarkan trend tersebut adalah sebagai berikut : Bulan Jan 15,03 16,95 18,87 20,79 22,71 Feb 15,19 17,11 19,03 20,95 22,87 Mar 15,35 17,27 19,19 21,11 23,03 Apr 15,51 17,43 19,35 21,27 23,19 Mei 15,67 17,59 19,51 21,43 23,35 Jun 15,83 17,75 19,67 21,59 23,51 Jul 15,99 17,91 19,83 21,75 23,67 Ags 16,15 18,07 19,99 21,91 23,83 Sep 16,31 18,23 20,15 22,07 23,99 Okt 16,47 18,39 20,31 22,23 24,15 Nov 16,63 18,55 20,47 22,39 24,31 Des 16,79 18,71 20, ,47 Selanjutnya data nilai penjualan yang asli dibagi dengan nilai penjualan berdasarkan garis trend untuk waktu yang bersesuaian. Misalnya untuk bulan Januari 1991 = (11 : 15,03) x 100 = 73,19. Bulan Februari = (10 : 15,19) x 100 = 65,83 dan seterusnya. Indeks musiman berdasarkan rata rata (atau median) dihitung berdasarkan data hasil pembagian tersebut dan hasilnya adalah sebagai berikut : Wijaya : Statistika I 52
54 Bulan IM Rata Sesuai Jan 73,19 76,70 79,49 81,77 88,07 79,84 80,24 Feb 65,83 70,13 78,82 71,60 78,71 73,02 73,39 Mar 58,63 63,69 62,53 56,85 69,47 62,23 62,54 Apr 45,13 57,37 56,85 61,12 86,24 61,34 61,65 Mei 70,20 73,91 71,76 70,00 89,94 75,16 75,54 Jun 94,76 95,77 101,68 101,90 102,08 99,24 99,74 Jul 137,59 117,25 115,99 114,94 105,62 118,28 118,87 Agt 142,41 138,35 135,07 132,36 125,89 134,82 135,49 Sep 165,54 142,62 138,96 131,40 133,39 142,38 143,09 Okt 139,65 130,51 128,02 139,45 132,51 134,03 134,70 Nov 120,26 113,21 107,47 111,66 106,95 111,91 112,47 Des 107,21 101,55 101,79 97,56 98,08 101,24 101, ,5 1199, Cara Rasio Terhadap Rata rata Bergerak Dengan cara ini pertama dihitung dahulu rata rata bergerak selama 12 bulan, kemudian dihitung rata rata bergerak 2 bulan berdasarkan rata rata bergerak 12 bulan. Rata rata bergerak 2 bulan ini disebut rata rata bergerak 12 bulan terpusat. Angka angka pada rata rata bergerak 2 bulan (12 bulan terpusat) digunakan sebagai pembagi terhadap data yang asli, dalam satuan persen. Indeks musiman diperoleh dengan cara mencari rata rata dari hasil pembagian tersebut, atau dengan mencari mediannya. Wijaya : Statistika I 53
55 Teladan 4.8. Hasil penjualan (juta rupiah) barang A selama 5 tahun ( ). Thn J F M A M J J A S O N D Kemudian kita hitung rata rata 12 bulan dan rata rata 2 bulan. Hasil perhitungan rata rata 12 bulan adalah sebagai berikut : Thn J F M A M J J A S O N D ,3 16,5 16,7 16,8 17,1 17,3 17, ,3 17,5 17,4 17,5 17,6 17,7 17,8 18,1 18,2 18,3 18,3 18, ,8 18,9 19,1 19,3 19,3 19,5 19,7 19,7 19,7 19,8 19,9 20, ,3 20,4 20,5 20,9 21,2 21,3 21,5 21,8 22,1 22,7 23,2 23, ,3 23,4 23,7 23,8 24,0 Hasil perhitungan rata rata 2 bulan adalah sebagai berikut : Thn J F M A M J J A S O N D ,4 16,6 16,8 17,0 17,2 17, ,4 17,4 17,5 17,5 17,5 17,6 17,8 18,0 18,1 18,2 18,3 18, ,7 18,8 19,0 19,2 19,3 19,4 19,6 19,7 19,7 19,8 19,9 20, ,2 20,3 20,5 20,7 21,1 21,2 21,4 21,6 21,9 22,4 22,9 23, ,3 23,4 23,6 23,7 23,8 23,9 Indeks musiman diperoleh dengan cara membagi data asli dengan rata rata 2 bulan, hasilnya adalah : Wijaya : Statistika I 54
56 Bulan IM Rata2 Sesuaian Jan 74,80 80,34 84,28 85,73 81,29 80,31 Feb 68,89 79,62 73,75 76,99 74,81 73,90 Mar 63,00 63,16 58,65 67,94 63,19 62,43 Apr 57,27 57,38 62,77 84,35 65,44 64,65 Mei 74,12 72,58 71,26 88,27 76,56 75,63 Jun 96,43 102,99 103,72 100,33 100,87 99,65 Jul 133,98 118,31 117,41 116,93 121,66 120,19 Agt 138,64 139,20 137,26 134,07 137,29 135,63 Sep 161,19 143,41 142,35 132,30 144,81 143,06 Okt 135,61 131,80 131,65 138,52 134,40 132,77 Nov 116,48 114,82 110,66 109,08 112,76 111,40 Des 103,81 102,93 105,00 94, , , Gerakan Siklis Y = TCSI, jika pengaruh trend (T) dan musiman (S) bersifat tetap maka tinggal Y/TS = CI yaitu tinggal pengaruh Siklis (C) Irreguler (I). Untuk menggambarkan gerakan siklis dan irreguler, data dari trend dibagi dengan indeks musiman berdasarkan trend, kemudian dikurangi dengan 100 %. Misalnya kita ambil data dari trend : Wijaya : Statistika I 55
57 Bulan I M Jan 73,19 76,70 79,49 81,77 88,07 80,24 Feb 65,83 70,13 78,82 71,60 78,71 73,39 Mar 58,63 63,69 62,53 56,85 69,47 62,54 Apr 45,13 57,37 56,85 61,12 86,24 61,65 Mei 70,20 73,91 71,76 70,00 89,94 75,54 Jun 94,76 95,77 101,68 101,90 102,08 99,74 Jul 137,59 117,25 115,99 114,94 105,62 118,87 Agt 142,41 138,35 135,07 132,36 125,89 135,49 Sep 165,54 142,62 138,96 131,40 133,39 143,09 Okt 139,65 130,51 128,02 139,45 132,51 134,70 Nov 120,26 113,21 107,47 111,66 106,95 112,47 Des 107,21 101,55 101,79 97,56 98,08 101,75 Apabila setiap data dibagi dengan indeks musiman pada bulan yang bersangkutan, kemudian dikurangi dengan 100 %, maka kita dapatkan data untuk gerakan siklis. Misal bulan : Januari 1991 = (73,19 : 80,24 %) 100 % = 8,8, Februari 1991 = (65,83 : 73,39 %) 100 % = 10,3 dan seterusnya. Thn J F M A... O N D ,8 10,3 6,3 26,8... 3,7 6,9 5, ,4 4,4 1,8 6,9... 3,1 0,7 0, ,9 7,4 0 7, , ,9 2,4 9,1 0,9... 3,5 0,7 4, ,8 7,3 11,1 39,9... 1,6 4,9 3,6 Grafik gerakan siklis dibuat dengan sumbu X sebagai waktu dan nilai tersebut sebagai sumbu Y atau ordinatnya. Wijaya : Statistika I 56
58 DAFTAR PUSTAKA Anto Dajan Pengantar Metode Statistika Jilid I. LP3ES. Jakarta. J. Supranto Statistik : Teori dan Aplikasi, Jilid I. Erlangga. Jakarta. Robert, G. D. Steel dan James H. Torrie Prinsip dan Prosedur Statistika. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Ronald E. Walpole Pengantar Statistika. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Sudjana Metoda Statistika. Tarsito. Bandung. Wijaya : Statistika I 57
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON
S T A T I S T I K A Oleh : WIJAYA email : [email protected] FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2010 Wijaya : Statistika 0 I. PENDAHULUAN Statistika adalah
PENYAJIAN DATA. Cara Penyajian Data meliputi :
PENYAJIAN DATA Cara Penyajian Data meliputi : 1. Tabel Tabel terbagi menjadi : - Tabel Biasa - Tabel Kontingensi - Tabel Distribusi Tabel Distribusi terbagi menjadi : Tabel Distribusi Mutlak Tabel Distribusi
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Data Data adalah bentuk jamak dari datum, yang dapat diartikan sebagai informasi yang diterima yang bentuknya dapat berupa angka, kata-kata, atau dalam bentuk lisan dan tulisan
UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
UKURAN PEMUSATAN MAKALAH UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH Dasar-dasar Biostatistik Deskriptif Yang dibina oleh Bapak Dr. Saichudin, M.Kes Ibu dr. Anindya, S.Ked Oleh : Derada Imanadani 130612607847/2013
BAB I DISTRIBUSI FREKUENSI
BAB I DISTRIBUSI FREKUENSI A. Pengertian Distribusi Frekuensi adalah penyajian data yang telah digolongkan dalam kelas-kelas menurut urutan tingkatannya beserta jumlah individu pada masing-masing kelas.
PENS. Probability and Random Process. Topik 2. Statistik Deskriptif. Prima Kristalina Maret 2016
Program Pasca Sarjana Terapan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Probability and Random Process Topik 2. Statistik Deskriptif Prima Kristalina Maret 2016 1 Outline [2][1] 1. Penyajian Data o Tabel
STAND N AR R K OMP M E P T E EN E S N I:
Silabus Matematika Kelas XI IPS Smester 1 STANDAR KOMPETENSI: Menggunakan aturan statistika, kaidah pencacahan, dan sifat- sifat peluang dalam pemecahan masalah. u Kompetensi Dasar 1.1 Membaca data dalam
OUTLINE BAGIAN I Statistik Deskriptif
UKURAN PENYEBARAN 1 OUTLINE BAGIAN I Statistik Deskriptif Pengertian Statistika Penyajian Data Ukuran Pemusatan Ukuran Penyebaran Angka Indeks Deret Berkala dan Peramalan Range, Deviasi Rata-rata, Varians
CIRI-CIRI DISTRIBUSI NORMAL
DISTRIBUSI NORMAL CIRI-CIRI DISTRIBUSI NORMAL Berbentuk lonceng simetris terhadap x = μ distribusi normal atau kurva normal disebut juga dengan nama distribusi Gauss, karena persamaan matematisnya ditemukan
STATISTIKA DESKRIPTIF Dosen:
LEMBAR TUGAS MAHASISWA (LTM) Mata Kuliah: STATISTIKA DESKRIPTIF Dosen: Nama NIM Kelas Jurusan Akademi : : : : : AKADEMI - AKADEMI BINA SARANA INFORMATIKA J A K A R T A C.2009 1 BAB I PENDAHULUAN Pertemuan
Ukuran Statistik Bagi Data
Ukuran Statistik Bagi Data 1.1 Parameter dan Statistik Dalam statistika dikenal istilah populasi. Populasi merupakan kumpulan objek yang merupakan objek pengamatan kita. Deskripsi dari populasi tersebut
PENGANTAR STATISTIKA PROF. DR. KRISHNA PURNAWAN CANDRA, M.S. JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MULAWARMAN
3/13/15 PENGANTAR STATISTIKA PROF. DR. KRISHNA PURNAWAN CANDRA, M.S. JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MULAWARMAN KULIAH KE-3: PENDESKRIPSIAN DATA PUSTAKA: Walpole RE (198)
Laporan Tugas dan Quiz Statistik Deskriptif. 1. Berikan penjelasan secara singkat apa yang dimaksud dengan:
Nama : Purnomo Satria NIM : 1133467162 Evaluasi Pertemuan 4 dan 5 Laporan Tugas dan Quiz Statistik Deskriptif 1. Berikan penjelasan secara singkat apa yang dimaksud dengan: a. Rata-rata hitung, median,
SILABUS. Kegiatan Pembelajaran Teknik. Memahami cara memperoleh data yang baik, menentukan jenis dan ukuran data, serta memeriksa, dan menyusun data.
SILABUS NAMA SEKOLAH : MATA PELAJARAN : Matematika KELAS : XII STANDAR KOMPETENSI : Menerapkan aturan konsep statistika dalam pemecahan masalah. KODE KOMPETENSI : 10 ALOKASI WAKTU : 52 x 45 Kompetensi
DISPERSI DATA. - Jangkauan (Range) - Simpangan/deviasi Rata-rata (Mean Deviation) - Variansi (Variance) - Standar Deviasi (Standart Deviation)
DISPERSI DISPERSI DATA Ukuran penyebaran suatu kelompok data terhadap pusat data. - Jangkauan (Range) - Simpangan/deviasi Rata-rata (Mean Deviation) - Variansi (Variance) - Standar Deviasi (Standart Deviation)
LEMBAR AKTIVITAS SISWA STATISTIKA 2 B. PENYAJIAN DATA
Nama Siswa Kelas : : LEMBAR AKTIVITAS SISWA STATISTIKA 2 B. PENYAJIAN DATA Beberapa bentuk penyajian data, sebagai berikut: Kompetensi Dasar (KURIKULUM 2013): 3.15 Memahami dan menggunakan berbagai ukuran
7.1 ISTILAH-ISTILAH DALAM STATISTIKA A.
STATISTIKA Dalam statistika, angka dikumpulkan dan diatur sedemikian rupa sehingga orang dapat memahaminya, menarik kesimpulan, dan membuat perkiraan berdasarkan angka angka itu. 7.1 ISTILAH-ISTILAH DALAM
SATUAN ACARA TUTORIAL (SAT) Mata Kuliah : Statistika Dasar/PAMA 3226 SKS : 3 SKS Tutorial : ke-1 Nama Tutor : Adi Nur Cahyono, S.Pd., M.Pd.
Tutorial : ke-1 Nama Tutor : a. Menjelaskan pengertian statistik; b. Menjelaskan pengertian statistika; c. Menjelaskan pengertian data statistik; d. Menjelaskan contoh macam-macam data; e. Menjelaskan
RANCANGAN AKTIVITAS TUTORIAL (RAT)
RANCANGAN AKTIVITAS TUTORIAL (RAT) Nama Mata Kuliah/ sks/ Kode : Statistika Dasar/ 3/ PAMA 3226 Nama Tutor/ NPP : Adi Nur Cahyono, S.Pd., M.Pd./088201206 Deskripsi Singkat Mata Kuliah : Mata kuliah ini
STATISTIK DAN STATISTIKA
STATISTIK DAN STATISTIKA MAKNA DARI PENGERTIAN STATISTIK DAN STATISTIKA DATA STATISTIK Pengertian : Data adalah keterangan atau fakta mengenai suatu persoalan bisa berupa kategori (rusak, baik senang,
SUM BER BELA JAR Menerap kan aturan konsep statistika dalam pemecah an masalah INDIKATOR MATERI TUGAS
B. Pembelajaran 2 1. Silabus N o STANDA R KOMPE TENSI KOMPE TENSI DASAR INDIKATOR MATERI TUGAS BUKTI BELAJAR KON TEN INDIKA TOR WAK TU SUM BER BELA JAR Menerap kan aturan konsep statistika dalam pemecah
King s Learning Be Smart Without Limits NAMA : KELAS :
NAMA : KELAS : A. PENGERTIAN STATISTIKA Statistika adalah ilmu yang mempelajari cara mengumpulkan dan menyusun data, mengolah dan menganalisis data, serta menyajikan data. Statistik adalah hasil dari pengolahan
SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH : STATISTIKA DASAR (3 SKS) KODE : MT308
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FPMIPA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH : STATISTIKA DASAR (3 SKS) KODE : MT308 MINGGU POKOK & SUB MATERI METODE & MEDIA TES SUMBER 1
SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH STATISTIKA DESKRIPTIF & PRAKTIKUM (AKN) KODE / SKS: KD / 3 SKS
Minggu Pokok Bahasan ke dan TIU 1 1. Penahuluan konsep statistika dan notasi penjumlahan Sub Pokok Bahasan dan Sasaran Belajar 1.1. Konsep statistika Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian statistika Mahasiswa
PROBABILITAS &STATISTIK. Oleh: Kholistianingsih, S.T., M.Eng.
PROBABILITAS &STATISTIK ke-1 Oleh: Kholistianingsih, S.T., M.Eng. KONTRAK PEMBELAJARAN UAS : 35% UTS : 35% TUGAS : 20% KEHADIRAN :10% SEMUA KOMPONEN HARUS ADA KEHADIRAN 0 NILAI MAKS D PEUBAH DAN GRAFIK
Statistika Pendidikan
Statistika Pendidikan Statistika adalah metode ilmiah yang mempelajari pengumpulan, pengaturan, perhitungan, penggambaran dan penganalisisan data, serta penarikan kesimpulan yang valid berdasarkan penganalisisan
UKURAN PEMUSATAN DATA STATISTIK
UKURAN PEMUSATAN DATA STATISTIK Pengantar Dari setiap kumpulan data, terdapat tiga ukuran atau tiga nilai statistik yang dapat mewakili data tersebut, yaitu rataan (mean), median, dan modus. Ketiga nilai
DIAGRAM SERABI S-2 dan S-3 SMU S-1
DIAGRAM SERABI S-2 dan S-3 SMU S-1 Dapat menyajikan berbagai pecahan dalam bentuk jumlah Setiap pecahan atau sektor memperlihatkan unsur tertentu Dapat dibuat pada bidang datar atau mirip tablet yang rebah
Distribusi Frekuensi
Distribusi Frekuensi Statistik Industri Beberapa Istilah 1 Beberapa (cont ) Kelas interval : banyaknya objek yang dikumpulkan dalam kelompok tertentu, berbentuk interval a b ex: kelas interval pertama
STATISTIKA INDUSTRI I. Agustina Eunike, ST., MT., MBA.
STATISTIKA INDUSTRI I Agustina Eunike, ST., MT., MBA. PERTEMUAN-1 DATA Data Hasil pengamatan pada suatu populasi Untuk mendapatkan informasi yang akurat Pengumpulan data Pengolahan data Penyajian data
SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH : STATISTIKA DASAR (3 SKS) KODE MATA KULIAH : MT308
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FPMIPA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH : STATISTIKA DASAR (3 SKS) KODE MATA KULIAH : MT308 MINGGU KE POKOK & SUB POKOK BAHASAN 1 PENDAHULUAN
Statistika Deskriptif & Distribusi Frekuensi
Statistika Deskriptif & Distribusi Frekuensi Oleh: Zulhan Widya Baskara FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN Mataram, September 2014 Statistika Statistika Deskriptif Statistika Inferensial Statistika Deskriptif
BAB 2 PENYAJIAN DATA
BAB 2 PENYAJIAN DATA A. PENGERTIAN DISTRIBUSI FREKUENSI Daftar yang memuat data berkelompok. Susunan data menurut kelas-kelas interval tertentu atau menurut kategori tertentu dalam sebuah daftar. 1. Kelas-kelas
1.0 Distribusi Frekuensi dan Tabel Silang
ANALISIS DESKRIPTIF 1.0 Distribusi Frekuensi dan Tabel Silang 1.1 Pengantar Statistik deskriptif Statistika deskriptif adalah bidang statistika yang mempelajari tatacara penyusunan dan penyajian data yang
Penyajian Data. Mata Kuliah Statistik STMIK AMIKOM Yogyakarta
Materi 2 Penyajian Data Mata Kuliah Statistik STMIK AMIKOM Yogyakarta Dosen Pengampu: Heri Sismoro, M.Kom. STMIK AMIKOM YOGYAKARTA Jl. Ringroad Utara Condong Catur Yogyakarta. Telp. 0274 884201 Fax 0274
Penyajian Data dalam Bentuk Tabel
Penyajian Data dalam Bentuk Tabel Misalkan, hasil ulangan Bahasa Indonesia 37 siswa kelas XI SMA 3 disajikan dalam tabel di bawah. Penyajian data pada Tabel 1.1 dinamakan penyajian data sederhana. Dari
UKURAN NILAI SENTRAL&UKURAN PENYEBARAN. Tita Talitha, MT
UKURAN NILAI SENTRAL&UKURAN PENYEBARAN Tita Talitha, MT DISTRIBUSI FREKWENSI PENGERTIAN distribusi frekwensi adalah suatu tabel dimana banyaknya kejadian / frekwensi didistribusikan ke dalam kelas-kelas
Pengertian Statistika (1) Statistika: Ilmu mengumpulkan, menata, menyajikan, menganalisis, dan menginterprestasikan data menjadi informasi untuk
Pengertian Statistika (1) Statistika: Ilmu mengumpulkan, menata, menyajikan, menganalisis, dan menginterprestasikan data menjadi informasi untuk membantu pengambilan keputusan yang efektif. Statistik:
BAB 3: NILAI RINGKASAN DATA
BAB 3: NILAI RINGKASAN DATA Penyajian data dalam bentuk tabel dan grafik memberikan kemudahan bagi kita untuk menggambarkan data dan membuat kesimpulan terhadap sifat data. Namun tabel dan grafik belum
Ir. Tito Adi Dewanto. Statistika I: Angka Indeks 1
Ir. Tito Adi Dewanto Statistika I: Angka Indeks 1 ARTI DAN KLASIFIKASI Ukuran yang menyatakan tingkat perubahan harga, kuantitas dan produktivitas pada suatu periode dibandingkan pada periode tertentu
Pengumpulan & Penyajian Data
Pengumpulan & Penyajian Data Cara Pengumpulan Data 1. Mengadakan penelitian langsung ke lapangan atau laboratorium terhadap obyek yang diteliti, hasilnya dicatat dan dianalisis 2. Mengambil atau menggunakan
PENGERTIAN STATISTIK. Tim Dosen Mata Kuliah Statistika Pendidikan 1. Rudi Susilana, M.Si. 2. Riche Cynthia Johan, S.Pd., M.Si. 3. Dian Andayani, S.Pd.
PENGERTIAN STATISTIK Tim Dosen Mata Kuliah Statistika Pendidikan 1. Rudi Susilana, M.Si. 2. Riche Cynthia Johan, S.Pd., M.Si. 3. Dian Andayani, S.Pd. PENGERTIAN STATISTIK Statistik adalah kesimpulan fakta
STK511 Analisis Statistika. Pertemuan 2 Review Statistika Dasar
STK511 Analisis Statistika Pertemuan 2 Review Statistika Dasar Statistika Populasi Sampling Pendugaan Contoh Deskriptif Tingkat Keyakinan Statistika Deskriptif vs Statistika Inferensia Ilmu Peluang Parameter
: Purnomo Satria NIM : PENDISKRIPSIAN DATA
Nama : Purnomo Satria PENDISKRIPSIAN DATA NIM : 1133467162 1. Pendahuluan Dalam suatu penelitian kadang-kadang seorang peneliti menemui kesulitan dalam menyajikan sejumlah besar data statistik dalam bentuk
SILABUS MATERI PEMBELAJARAN. Statistika: Diagram batang Diagram garis Diagram Lingkaran Tabel distribusi frekuensi Histogram dan Ogif
SILABUS Nama Sekolah : SMA Negeri 1 Sungai Penuh Mata Pelajaran : MATEMATIKA Kelas/Program : XI / IPA Semester : 1 STANDAR KOMPETENSI: 1. Menggunakan aturan statistika, kaidah pencacahan, dan sifat-sifat
PENGUKURAN DESKRIPTIF
PENGUKURAN DESKRIPTIF STATISTIK INDUSTRI I Jurusan Teknik Industri Universitas Brawijaya Malang 1 PENGUKURAN DESKRIPTIF Suatu pengukuran yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang data yang diperoleh
Statistika untuk Ekonomi dan Keuangan Modern Edisi 3, Buku 1 SUHARYADI PURWANTO S.K
Statistika untuk Ekonomi dan Keuangan Modern Edisi 3, Buku 1 SUHARYADI PURWANTO S.K BAB 1 PENGERTIAN STATISTIKA 2 Pengertian Statistika Bab 1 OUTLINE 3 BAGIAN I Statistik Deskriptif Pengertian Statistika
TATAP MUKA IV UKURAN PENYIMPANGAN SKEWNESS DAN KURTOSIS. Fitri Yulianti, SP. MSi.
TATAP MUKA IV UKURAN PENYIMPANGAN SKEWNESS DAN KURTOSIS Fitri Yulianti, SP. MSi. UKURAN PENYIMPANGAN Pengukuran penyimpangan adalah suatu ukuran yang menunjukkan tinggi rendahnya perbedaan data yang diperoleh
STATISTIK 1. PENDAHULUAN
STATISTIK. PENDAHULUAN Statistika yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari cara pengumpulan, pengolahan, penyajian, analisa data dan pengambilan kesimpulan dari siat-siat data. Statistik yaitu kumpulan
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE Parepare, 2009
Dengan Materi: STATISTIKA DESKRIPTIF Presented by: Andi Rusdi, S.Pd. UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE Parepare, 2009 STATISTIK DESKRIPTIF Metode statistik adalah prosedur-prosedur yang yang digunakan
PERTEMUAN 2 STATISTIKA DASAR MAT 130
PERTEMUAN 2 STATISTIKA DASAR MAT 130 Data 1. Besaran Statistika berbicara tentang data dalam bentuk besaran (dimensi) Besaran adalah sesuatu yang dapat dipaparkan secara jelas dan pada prinsipnya dapat
MODUL PRAKTIKUM STATISTIKA
MODUL PRAKTIKUM STATISTIKA PROGRAM STUDI KOMPUTERISASI AKUNTANSI Disusun Oleh: DIEN NOVITA, S.Si., M.T.I. SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER GLOBAL INFORMATIKA MULTI DATA PALEMBANG 05 KATA
ISTILAH UMUM STATISTIKA
ISTILAH UMUM STATISTIKA dan PENYAJIAN DATA BERDASARKAN DAFTAR STATISTIK DAN DIAGRAM By: Kania Evita Dewi ISTILAH UMUM STATISTIKA Statistika ilmu yang berkaitan dengan cara pengumpulan, pengolahan, analisis,
STK 211 Metode statistika. Materi 2 Statistika Deskriptif
STK 211 Metode statistika Materi 2 Statistika Deskriptif 1 Statistika Deskriptif Merupakan teknik penyajian dan peringkasan data sehingga menjadi informasi yang mudah dipahami Penyajian data dapat dilakukan
Statistika Deskriptif
Statistika Deskriptif Materi 2 - STK511 AnalisisStatistika September 26, 2017 Sep, 2017 1 Merupakan teknik penyajian dan peringkasan data sehingga menjadi informasi yang mudah dipahami Apa yang disajikan
STK 211 Metode statistika. Agus Mohamad Soleh
STK 211 Metode statistika Merupakan teknik penyajian dan peringkasan data sehingga menjadi informasi yang mudah dipahami Apa yang disajikan dan diringkas? --> PEUBAH Univariate vs Bivariate vs Multivariate
Prof. Dr. Ir. Zulkifli Alamsyah, M.Sc. PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JAMBI
Prof. Dr. Ir. Zulkifli Alamsyah, M.Sc. PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JAMBI DATA dan VARIABEL DATA = Fakta atau angka-angka. Bila tidak diolah, tidak punya makna Data untuk kepentingan
Probabilitas dan Statistika Analisis Data dan Ukuran Pemusatan. Adam Hendra Brata
Probabilitas dan Analisis dan Adam Hendra Brata Deskriptif Induktif Pembagian Deskriptif Metode guna mengumpulkan, menghitung, dan menyajikan suatu data secara kwantitatif sehingga memberikan informasi
UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI JURUSAN ADMINISTRASI BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI JURUSAN ADMINISTRASI BISNIS RENCANA PROGRAM & KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER(RPKPS) Nama Mata Kuliah Kode Mata Kuliah : Beban sks : 3 sks (1) (2) Minggu
Created by Simpo PDF Creator Pro (unregistered version)
III. DISTRIBUSI FREKUENSI 3.1 Pendahuluan Tujuan dari pembuatan tabel distribusi frekuensi adalah untuk mengatur data mentah (data yang belum dikelompokkan) ke dalam bentuk yang rapi tanpa mengurangi inti
KURVA NORMAL. (Sumber: Buku Metode Statistika tulisan Sudjana)
KURVA NORMAL (Sumber: Buku Metode Statistika tulisan Sudjana) Distribusi Normal (Distribusi GAUSSE) Kurva Normal Suatu alat statistik yang sangat penting untuk menaksir dan meramalkan peristiwa-peristiwa
MODUL 2 penyajian data
Modul ke: 02 MODUL 2 penyajian data Fakultas FEB Nur Azmi Karim, SE, M.Si Program Studi Akuntansi BAB 2 PENYAJIAN DATA 2 PENGANTAR Tujuan Untuk menyajikan data mentah yang diperoleh dari populasi atau
SATUAN ACARA TUTORIAL (SAT) Tutorial ke : 1 Kode/ Nama Mata Kuliah : PAMA 3225 / Statistika Dasar
Tutorial ke : 1 : 3 Kompetensi Umum : Setelah mempelajari bahan ajar matakuliah ini diharapkan mahasiswa 1. Memahami pengetahuan dasar statistika. 2. Memahami tehnik penyajian data dalam bentuk tabel.
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2011 dengan lokasi penelitian berada di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Kabupaten Sukabumi.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Sekolah : SMK Mata Pelajaran : Matematika Kelas : XII (Dua Belas) Program : Teknologi, Kesehatan, dan Pertanian Standar Kompetensi Kompetensi Dasar : 13. Memecahkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Risiko adalah kerugian karena kejadian yang tidak diharapkan terjadi. Misalnya, kejadian sakit mengakibatkan kerugian sebesar biaya berobat dan upah yang hilang karena
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Topik manajemen risiko menjadi mengemuka setelah terjadi banyak kejadian tidak terantisipasi yang menyebabkan kerugian perusahaan. Depresi tajam dan cepat terhadap
SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH STATISTIKA DESKRIPTIF (TK) KODE / SKS: KD / 2 SKS
Minggu Pokok Bahasan ke dan TIU 1 1. Pendahulua n tentang konsep statistika dan notasi penjumlahan Sub Pokok Bahasan dan Sasaran Belajar 1.1. Konsep statistika Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian statistika
Materi UAS: 1. Indeks 2. Trend Linear dan Non Linear 3. Regresi dan korelasi sederhana
STATISTIK I Buku Acuan: 1. Pokok-pokok materi Statistik I oleh Ir.M.Iqbql Hasan,M.M, edisi 2 cetakan 6 th 2010 2. Dasar-dasar statistika untuk Ekonomi oleh Drs. Danang Sunyoto,S.H., S.E.,M.M.,cetakan I
Mengolah dan Menganalisis Data
Mengolah dan Menganalisis Data Dr. Eko Pujiyanto, S.Si., M.T. Materi Data Mengolah dan analisis data Memilih alat analisis yang tepat Data Data 1 Jamak dari DATUM artinya informasi yang diperoleh dari
Pengantar Statistik. Nanang Erma Gunawan
Pengantar Statistik Nanang Erma Gunawan [email protected] Sekilas tentang sejarah Statistik Statistik: pada awal zaman Masehi, bangsa-bangsa mengumpulkan data untuk mendapatkan informasi mengenai pajak,
Rata-rata dari data yang belum dikelompokkan
Rata-rata Hitung (arithmetic mean) Rata-rata hitung (atau sering disebut dengan rata-rata) merupakan suatu bilangan tunggal yang dipergunakan untuk mewakili nilai sentral dari sebuah distribusi. Dalam
Penyajian Data Bab 2 PENGANTAR. Tujuan:
PENYAJIAN DATA 1 PENGANTAR Tujuan: Untuk menyajikan data mentah yang diperoleh dari populasi atau sampel menjadi data yang tertata dengan baik, sehingga bermakna informasi bagi pengambilan keputusan manajerial.
Pengukuran Deskriptif
Pengukuran Deskriptif 2.2 Debrina Puspita Andriani E-mail : [email protected] / [email protected] 2 Outline Pendahuluan Tendensi Sentral Ukuran Dispersi 3 Pendahuluan Pengukuran Deskriptif 4 Definisi
DESKRIPSI MATA KULIAH
DESKRIPSI MATA KULIAH Nama Mata Kuliah Kode Mata Kuliah Kredit : Statistika dan Probabilitas : IF32225 : 3 SKS (3X45 menit) Deskripsi : Membahas mengenai cara-cara pengumpulan data, penganalisisan dan
STATISTIKA. A Pengertian Statistik dan Statistika. B Populasi dan Sampel. C Pengertian Data PENGERTIAN STATISTIKA, POPULASI, DAN SAMPEL
STATISTIKA PENGERTIAN STATISTIKA, POPULASI, DAN SAMPEL A Pengertian Statistik dan Statistika Statistik adalah kumpulan akta berbentuk angka yang disusun dalam datar atau tabel, yang menggambarkan suatu
Berkenalan dengan Statistik. bab
Berkenalan dengan Statistik bab 1 BERKENALAN DENGAN Tujuan Pembelajaran STATISTIK Agar mahasiswa dapat memahami kegunaan ilmu statistik Indikator Pencapaian Pembelajaran. Menjelaskan arti dari statistik
Pengukuran Deskriptif. Debrina Puspita Andriani /
Pengukuran Deskriptif 3 Debrina Puspita Andriani E-mail : [email protected] / [email protected] 2 Outline Pendahuluan Tendensi Sentral Ukuran Dispersi 3 Pendahuluan Pengukuran Deskriptif 4 Definisi Pengukuran
SATUAN ACARA PERKULIAHAN
Topik Bahasan : Membahas Silabus Perkuliahan Tujuan Umum : Mahasiswa Mengetahui Komponen Yang Perlu Dipersiapkan Dalam Matakuliah Ini satu kali Tujuan 1 Menjelaskan tentang Mengakomodasi berbagai masukan
STATISTIKA EKONOMI. Fakultas Ekonomi-Akuntansi
STATISTIKA EKONOMI Fakultas Ekonomi-Akuntansi Universitas Negeri Jakarta Nisrina Anzilla 8335128433 Pengertian Statistik Pengertian statistik berasal dari bahasa Latin, yaitu status yang berarti negara
PENYAJIAN DATA. Etih Sudarnika Laboratorium Epidemiologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB
PENYAJIAN DATA Etih Sudarnika Laboratorium Epidemiologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB Proses Pengumpulan Data???? Pencatatan Data Numerik Variable Record ID Nama Spesies Hasil Uji HI 1 Ahmad Ayam broiler
UKURAN PEMUSATAN DATA
UKURAN PEMUSATAN DATA MODUL 3 Oleh : Firmansyah, S.Kom A. TEMA DAN TUJUAN KEGIATAN PEMBELAJARAN 1. Tema : Ukuran Pemusatan Data 2. Fokus : Pembahasan Materi Pokok 1. Arti dan manfaat ukuran pemusatan data
Statistik Deskriptif Ukuran Dispersi
MAKALAH STATISTIKA DASAR Statistik Deskriptif Ukuran Dispersi Oleh: Kelompok 1 Dwireta Ramadanti Aliv Vito Palox Arif Rahman Hakim Asrar Halim Desi Anggraini Eki Maruci Hary Sentosa Monalisa Muhammad Irvand
Distribusi Frekuensi dan Statistik Deskriptif Lainnya
BAB 2 Distribusi Frekuensi dan Statistik Deskriptif Lainnya Misalnya seorang penjaga gudang mencatat berapa sak gandum keluar dari gudang selama 15 hari kerja, maka diperoleh distribusi data seperti berikut.
DAFTAR PUSTAKA. Beuemer, B.J.M Ilmu Bahan Logam Jilid I. Penerbit Bharatara, Jakarta.
DAFTAR PUSTAKA Amanto, Hari & Daryanto. 2003. ilmu Bahan. (Cetakan Kedua). Bumi Aksara, Jakarta. Beuemer, B.J.M. 1994. Ilmu Bahan Logam Jilid I. Penerbit Bharatara, Jakarta. Djaprie, Sriati. 1997. Teknologi
Statistika I. Pertemuan 2 & 3 Statistika Dasar (Basic( Ari Wibowo, MPd Prodi PAI Jurusan Tarbiyah STAIN Surakarta. Konsep Peubah
Statistika I Pertemuan & 3 Statistika Dasar (Basic( Statistic) Ari Wibowo, MPd Prodi PAI Jurusan Tarbiyah STAIN Surakarta Konsep Peubah Definisi Peubah merupakan karakteristik dari objek yang sedang diamati,
BAB1 PENgantar statistika
BAB1 PENgantar statistika A. PENGERTIAN STATISTIK 1. Dalam arti sempit, Statistik merupakan sekumpulan angka-angka yang menerangkan sesuatu.. Dalam arti luas, Statistik merupakan kumpulan cara atau metode
REVIEW BIOSTATISTIK DESKRIPTIF
REVIEW BIOSTATISTIK DESKRIPTIF POKOK BAHASAN 1. Konsep statistik deskriptif 2. Data dan variabel 3. Nilai Tengah (Ukuran Pusat), posisi dan variasi) pada data tunggal dan kelompok 4. Penyajian data 5.
DISTRIBUSI FREKUENSI MODUL DISTRIBUSI FREKUENSI
DISTRIBUSI FREKUENSI MODUL 3 DISTRIBUSI FREKUENSI 1. Penyajian Data Statistik deskriptif mempelajari tentang cara penyusunan dan penyajian data yang dikumpulan dalam penelitian. Biasanya data ini diucapkan
dapat digunakan formulasi sebagai berikut : Letak Letak Letak
1. Ukuran Letak Agar kita dapat mengetahui lebih jauh mengenai karakteristik data observasi dengan beberapa ukuran sentral, kita sebaiknya mengetahui beberapa ukuran lain, yaitu ukuran letak. Ada tiga
BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Risiko, Manajemen Risiko, dan Manajemen Risiko Finansial
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Risiko, Manajemen Risiko, dan Manajemen Risiko Finansial Risiko adalah kerugian akibat kejadian yang tidak dikehendaki muncul. Risiko diidentifikasikan berdasarkan faktor penyebabnya,
DISTRIBUSI PROBABILITAS KONTINYU. Nur Hayati, S.ST, MT Yogyakarta, Maret 2016
DISTRIBUSI PROBABILITAS KONTINYU Nur Hayati, S.ST, MT Yogyakarta, Maret 2016 DISTRIBUSI PELUANG KONTINYU Berbeda dengan variabel random diskrit, sebuah variabel random kontinyu adalah variabel yang dapat
Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA.
Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA. Populasi : totalitas dari semua objek/ individu yg memiliki karakteristik tertentu, jelas dan lengkap yang akan diteliti Sampel : bagian dari populasi yang
Statistik Deskriptif: Central Tendency & Variation
Statistik Deskriptif: Central Tendency & Variation Widya Rahmawati Central Tendency (Ukuran Pemusatan) dan Variation (Ukuran Simpangan) 1) Ukuran pemusatan atau ukuran lokasi adalah beberapa ukuran yang
MA2081 Statistika Dasar
Catatan Kuliah MA2081 Statistika Dasar Orang Cerdas Belajar Statistika Dosen: Khreshna I.A. Syuhada, MSc. PhD. Kelompok Keilmuan Statistika - FMIPA Institut Teknologi Bandung 2015 1 Tentang MAK6281 Topik
STATISTIK DESKRIPTIF. Penyajian Data, ukuran Pemusatan Data, Ukuran Penyebaran Data
STATISTIK DESKRIPTIF Penyajian Data, ukuran Pemusatan Data, Ukuran Penyebaran Data 1. Statisitik Deskriptif 2. Penyajian Data 3. Ukuran Pemusatan Data 4. Ukuran Penyebaran Data Materi Pokok Indikator Setelah
Modul ke: STATISTIKA BISNIS PENYEJIAN DATA. Tri Wahyono, SE. MM. Fakultas EKONOMI DAN BISNIS. Program Studi AKUNTANSI S1.
Modul ke: STATISTIKA BISNIS PENYEJIAN DATA Fakultas EKONOMI DAN BISNIS Tri Wahyono, SE. MM. Program Studi AKUNTANSI S1 www.mercubuana.ac.id BAB 2 PENYAJIAN DATA 2 PENGANTAR Tujuan: Untuk menyajikan data
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan
V-1 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan penulisan laporan akhir ini, maka dapat dibuat kesimpulan dari setiap modul. Berikut adalah kesimpulan dari masingmasing modul tersebut: 1. Distribusi Frekuensi
ISTILAH UMUM STATISTIKA. JUMLAH PERTEMUAN : 1 PERTEMUAN TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS : Mendeskripsikan istilah umum statistika
1 ISTILAH UMUM STATISTIKA JUMLAH PERTEMUAN : 1 PERTEMUAN TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS : Mendeskripsikan istilah umum statistika Materi : 1.1 Definisi Statistika adalah ilmu yang berkaitan dengan cara pengumpulan,
STK511 Analisis Statistika. Bagus Sartono
STK511 Analisis Statistika Bagus Sartono Pokok Bahasan Pengenalan analisis dan deskripsi data Sebaran peluang peubah acak. Sebaran penarikan contoh Pendugaan parameter Pengujian hipotesis (t-test, one-way
