BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA"

Transkripsi

1 BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Bab ini berisi pengumpulan dan pengolahan datadata yang diperoleh 4.1. Pengumpulan Data Data-data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah Profil PT Semen Gresik, Proses di unit Kiln, data gangguan operasi di unit Kiln mulai tahun , data kecelakaan kerja periode , deskripsi peralatan yang terjadi gangguan, penilaian tingkat risiko / kriteria pada perusahaan. Sedangkan data gangguan operasi kiln secara keseluruhan, identifikasi dan penilaian dampak kegiatan perusahaan PT Semen Gresik, data kecelakaan kerja secara lengkap ada dilampiran Profil PT.Semen Gresik (Persero) Tbk. PT.Semen Gresik(Persero),Tbk merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terdiri dari pabrik semen unit I, unit II, unit III, dan unit IV. Pabrik Semen Gresik unit I dan II terletak di desa Sidomoro kecamatan kebomas kabupaten Gresik dengan luas bangunan m 2 yang terletak di area 750 Ha. Pabrik semen gresik unit III terletak di desa Sumber Arum kecamatan kerek kabupaten Tuban Jawa Timur dengan luas bangunan m 2 yang terletak di area Ha. Adapun pabrik unit III yang terletak di Kerek Tuban terbagi menjadi empat bagian. Sementara ini yang beroperasi adalah pabrik Tuban I, II dan III sedangkan untuk Tuban IV tidak beroperasi karena kendala modal dan lainnya. Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Tonasa digabung menjadi satu yaitu dengan nama Semen Gresik Group. 33

2 34 Persaingan yang kian merajalela diantara perusahaan semen sekarang ini, memberikan motivasi kepada PT.Semen Gresik (Persero) untuk memberikan pelayanan yang lebih kepada konsumennya. Persaingan tidak hanya terjadi antar produk domestik, tetapi juga dengan produk impor sesuai dengan prinsip dasar pemasaran yang berorientasi kepada pelanggan (customer oriented) dimana pelanggan dalam hal ini adalah pemakai semen. Masing-masing perusahaan berusaha membuat produk baru yang diharapkan dapat mengakomodasi kebutuhan dan keinginan konsumen Proses Produksi di PT.Semen Gresik (Persero)Tbk Penyiapan Bahan Baku Penambangan bahan baku di PT. Semen Gresik, Pabrik Tuban meliputi batu kapur (limestone) dan tanah liat (clay), yang dapat dipenuhi sendiri oleh PT Semen Gresik Tuban. Untuk bahan tambahannya adalah pasir besi diambil dari Jepara, Probolinggo, Cilacap, Banyuwangi. Oleh karena pasir besi sudah tidak dipakai lagi maka diganti dengan copper slag yang diperoleh dari Gresik. Sedangkan untuk pasir silika didatangkan dari Bangkalan, Cilacap, Banyuwangi, Cilacap, dan Banyuwangi. Gypsum diperoleh dengan cara membeli dari PT Petrokimia Gresik. Trass untuk produksi semen type Portland Pozzoland Cement (PPC) diperoleh dari beberapa daerah di Pati. Ada beberapa tahap yang harus dilakukan dalam penambangan batu kapur meliputi tahap pembabatan (Clearing); tahap pengupasan tanah (Stripping);tahap pembongkaran(breaking dengan system pengeboran (Drilling) dan peledakan (Blasting);tahap pemuatan (Loading );dan tahap pengangkutan (Hauling )batu kapur dapat diperoleh dari lahan atau area berupa bukit di sekitar pabrik, yaitu di Desa Sumber Arum, Pongpongan, dan lahan milik

3 35 Perhutani. Batu kapur tersebut ditambang pada lahan seluas 800 hektar yang mana dihitung sejak tahun 1999 bukit kapur tersebut dapat dikonsumsi selama 50 tahun. Sedangkan untuk penambangan tanah liat, diambil dari desa Tobo, Sugihan, Temandang, Sambung Rejo dan Pongpongan dilakukan pada lahan seluas 350 hektar dan penambangan yang dilakukan setiap pabrik per harinya mencapai 7500 ton.tanah liat ditambang dengan menggunakan clay pit dan ditimbun pada clay storage. Sistem yang digunakan dalam penambangan tanah liat adalah Open Pit, yaitu sistem penambangan yang pada akhir penambangannya membuat daerah tambang berbentuk lubang galian terbuka. Sistem ini bermaksud untuk memfungsigandakan lahan tanah liat, tanah liatnya ditambang untuk bahan baku semen, sedangkan bekas galian yang berupa lubang terbuka dapat digunakan sebagai penampung air. Dalam hal ini adalah air hujan, dimana air tersebut dapat digunakan untuk memenuhi air proses dan air sanitasi. Tahap penggalian hampir sama dengan penggalian batu kapur. Yang berbeda adalah penggalian tanah liat tidak menggunakan Drilling dan Blasting Proses Pemecahan Bahan Baku ( Crushing ) Batu kapur diangkut dengan menggunakan dump truck menuju Crusher. Ada 2 buah Crusher. Batu kapur ditumpahkan ke dalam hopper yang kapasitasnya 75 ton. Kemudian oleh Wobbler Feeder (1FE1) batu kapur dipisahkan. Untuk batu kapur yang ukurannya kecil (2,5 inch) akan jatuh ke dalam Belt Conveyor (1BC1 dan 1BC2) dan yang ukurannya besar (> 2,5 inch) akan jatuh ke dalam Crusher (1CR1 dan 1CR2). Di dalam Crusher, batu kapur akan mengalami pengecilan ukuran. batu kapur yang berupa bongkahan-bongkahan besar (2,5 inch) oleh Hammer Mill akan dipukul supaya bongkahan menjadi lebih halus. Dari Hopper dan Crusher batu kapur akan dibawa oleh belt

4 36 conveyor (1 BC 1 dan 1 BC 2) kemudian keduanya bertemu dalam 1 BC 3 dan diangkut menuju Surge Bin (1 FB 1), oleh Apron Conveyor (1 AC 1) selanjutnya turun ke 1 BC 4. Produk Limestone bercampur dengan produk Clay Cutter pada 1 BC 6 yang menuju ke Limestone Clay Mix Storage untuk dipreblending. Untuk Proses Alir Tanah Liat, material dibawa dari quarry dengan dump truck menuju Clay Hopper (1 HP 3). Kemudian oleh Apron Conveyor (1 AC 2) diumpankan ke Clay Cutter (1 CR 3) yang berfungsi untuk memotong tanah liat sehingga memudahkan proses pengeringan. Produk dari Clay Cutter akan turun ke (1 BC 5) kemudian ditimbang oleh Belt scale (1 BW 2) yang terdapat dalam (1 BC 5), dimana clay dan batu kapur akan bercampur pada belt conveyor (1 BC 6) menuju ke Limestone Clay Storage untuk dipreblending. Sedangkan untuk proses alir material di reclaiming batu kapur dan tanah liat produk dari Crusher dibawa oleh belt conveyor untuk disimpan ke dalam Limestone Clay Storage yang berfungsi sebagai preblending. Sebagai alat untuk penumpukan digunakan Tripper (1 TR 1) yang dipasang pada bagian bawah atap dari bangunan storage. Ukuran Storage Limestone Clay Mix adalah 48,8 m x 454 m, kapasitas total storage adalah Mton dengan 2 stok Pile yang masing-masing Mton. Pada Limestone Clay Mix Storage dilengkapi Reclaimer tipe Bridge Scrapper. Limestone produk dari Crusher dapat pula disimpan dalam Limestone Conical Pile yang kapasitasnya Mton. Limestone Clay Mix yang ada dalam storage di reklaiming dengan Scrapper. Produknya dibawa Belt Conveyor (2 BC 1) dan dimasukkan dalam Mix bin (2 BI 1). Batu kapur yang berada dalam Conical Pile dibawa oleh (2BC2) menuju ke Limestone Bin (2 BI 2). Pasir Besi dan Pasir Silika yang disimpan dalam Open Storage di reklaim dengan menggunakan Loader dan dimasukkan ke dalam Hopper (2

5 37 HP 1) yang kapasitasnya 75 ton secara bergantian. Keluar dari Hopper oleh Apron Conveyor ditransfer ke 2 BC 4 dan dibawa menuju ke Iron Bin ( 2 BI 3 ) dan Silika Bin (2 BC 4 ) yang masing-masing mempunyai kapasitas 150 ton Unit Pengolahan Bahan ( Raw Grinding ) Keempat material (batu kapur, tanah liat, copper slag, dan pasir silika ) keluar dari binnya masing-masing dan sebelum masuk ke Belt Conveyor (2 BC 5) ditimbang dahulu dengan Weight Feeder (WF). Dari (2 BC 6) ke (3 BC 2) diumpankan ke dalam Roller Mill (RM) untuk digiling dan dikeringkan. Produk keluar Raw Mill mempunyai kehalusan 170 mesh dan dengan kadar air <1%. Produk Raw Mill dibawa aliran udara masuk ke dalam Cyclone (3 CN 1) akibat tarikan Mill Fan (3 FN 2), kemudian dilepas ke Stack (3 SK 1), setelah melewati Electrosatic Precipitator (3 EP 1). Sisa produk yang masih diambil oleh EP. Kedua produk dari Cyclone dan EP dibawa oleh Air Slide (3 AS 1), Screw Conveyor (3 SC 2) dan Bucked Elevator (3 BE 3) ke Blending Silo. Produk Raw Mill sebelum disimpan ke Blending Silo (3 BS 1) diambil dahulu sampelnya oleh alat sampler (3 SM 1) dan dibawa oleh Sampler Transport (3 ST 1) ke laboratorium untuk dianalisa. Material dari Raw Mill yang masih kasar dikembalikan lagi ke dalam sistem lewat Belt Conveyor (3 BC 1), Bucket Elevator (3 BE 1), Belt Conveyor (3 BC 2) bersama- sama dengan fresh feed untuk digiling kembali dalam Raw Mill. Untuk Pengeringan raw material yang digiling dalam sistem Raw Material, digunakan sisa udara panas dari Preheater yang temperaturnya 349 C dan dari Cooler dengan temperatur 252 C. Bila Raw Mill tidak beroperasi, maka gas panas dari Preheater dan Clinker Cooler dibypass lewat Conditioning Tower (3 CT 1).

6 Unit Pembakaran Pada proses kering pembakarannya menggunakan alat Preheater sebelum masuk Rotary Kiln. Komposisi kimia umpan sangat penting, karena mempengaruhi hasil terak dan mutu semen yang dihasilkan.tepung baku produk dari Roller Mill dimasukkan ke dalam dua Blending Silo (3 BL 1 dan BL 2) yang masing-masing berkapasitas ton. Tipe Blending Silo adalah Continues Mixing Silo. Pemasukan tepung baku ke masing-masing silo diatur secara bergantian dengan selang waktu selama 36 menit. Untuk memperoleh hasil pencampuran yang baik perlu menjaga isi dari setiap silo, sedikitnya setengah dari kapasitas silo, yaitu ton. Apabila isi silo kurang dari setengah maka proses pencampuran material menjadi tidak baik. Material keluar dari silo dikirim ke Kiln Feed Bin (BI 1) yang kapasitasnya 90 ton lewat Air Slide (AS), Junction Box (JB) masuk ke dalam Kiln Feed Bin (BI 1) turun ke Air Slide untuk ditransport kedalam Preheater untuk SLC dan ILC. PT.Semen Gresik (Persero) Tbk pabrik Tuban menggunakan Preheater jenis Double String, Preheater dengan 4 stage atau 4 Cyclone yang dipasang seri. Dimana string I merupakan ILC (In Line Calciner) dan string II adalah SLC (Separator Line Calciner). Untuk meningkatkan efisiensi pemisahan antara gas panas dan material di dalam Preheater, maka pada stage teratas dipasang Double Cyclone. Pemberian nama stage dimulai dari atas ke bawah. Stage I III berfungsi sebagai pemanas awal umpan kiln, sedangkan stage IV berfungsi sebagai pemisah produk, keluar dari Flash Calciner yang telah terkalsinasi. Proses pemanasan umpan pada stage I III terjadi karena adanya perpindahan panas antara gas panas yang keluar dari kiln dan keluar dari Cooler dengan umpan Kiln yang masih dingin. Umpan Kiln yang masih dingin masuk ke dalam Riser

7 39 Duct Stage I kemudian tercampur dengan gas panas ikut masuk ke dalam Cyclone. Di dalam Cyclone umpan kiln dipisahkan antara campuran gas dengan material. Material yang kasar akan jatuh menuju Down Pipe sedang material halus akan terangkat oleh gas yang keluar dari Cyclone. Arah masuknya material (Fixed Kiln) dengan gas panas adalah Counter Current. Material umpan Kiln yang jatuh ke Rise Pipe dimasukkan ke dalam Riser Duct Stage II kemudian mengalami proses seperti pada Cyclone stage I, demikian pula stage III. Material yang keluar dari Cyclone Stage III masuk ke dalam ILC dan SLC akan mengalami kalsinasi dalam kedua kalsiner tersebut yang kemudian terbawa oleh aliran gas akan masuk ke dalam Cyclone stage IV. Material yang keluar dari Cyclone Stage IV lewat Riser Duct diumpankan ke dalam Kiln. Di dalam Stage Kiln Feed mengalami kalsinasi sampai 91 %. Umpan kiln dari Preheater masuk ke kiln. Disini material akan mengalami proses pembakaran menjadi clinker. Karena kalsinasi 91 % sudah terjadi pada kalsiner maka di dalam kiln, umpan akan mengalami kalsinasi lebih lanjut dan pelelehan di daerah Burning Zone sehingga menghasilkan clinker. Sistem pembakaran Rotary Kiln yang digunakan adalah Indirrect Firing yaitu batu bara hasil penggilingan di Coal Mill dengan menggunakan gas panas dari Preheater, tidak digunakan langsung melainkan ditampung dahulu di dalam Coal Bin. Batubara yang digunakan mempunyai kehalusan 170 mesh dan kebutuhan batu bara yang digunakan untuk pembakaran terak di kiln sebesar 16,7 ton/jam. Sedangkan supply udara pembakar di rotary kiln berasal dari Primary Air Fan dan udara sekunder berasal dari gas buang Cooler Kompartemen I. di rotary kiln dibagi menjadi 4 zone, yaitu : 1. Zone Kalsinasi : suhu C 2. Zone Transisi : suhu C 3. Zone Pembakaran (Burning) : suhu C

8 40 4. Zona Pendinginan (Cooling) : suhu C Clinker panas yang keluar dari Kiln dengan temperatur sekitar 1400 C turun ke Cooler untuk pendinginan sampai temperatur 82 C. Clinker Cooler yang digunakan adalah jenis Grate Cooler yang terdiri atas 9 kompartemen. Sebagai media pendingin digunakan udara yang dihasilkan oleh 16 buah fan dan ditembus ke dalam kompartemen. Clinker halus masuk ke tiap-tiap lubang grate dan turun ke Chain Conveyor (CV), kemudian dimasukkan ke Pan Conveyor (DB). Sedangkan clinker yang masih kasar dihancurkan terlebih dahulu oleh Clinker Breaker (5 CR 1), kemudian masuk ke Drag Conveyor (CV) selanjutnya ditransfer ke Pan Conveyor (5 DB 1 dan 2) dan akhirnya dimasukkan ke dalam Clinker Storage Silo (BI) yang berkapasitas ton. Bila terjadi kondisi up set, maka clinker yang masih mentah bisa dimasukkan ke Marginal Bin (BI) yang kapasitasnya 1000 ton dan kemudian dibawa dump truck dimasukkan ke dalam hopper dicampur terak dari Clinker Storage menuju ke Bin Clinker (BI) yang berkapasitas 120 ton Unit Penggilingan Akhir ( Finish Mill ) Produk cooler (clinker) keluar dengan temperatur 82 C dibawa oleh Pan Conveyor (DB) disimpan di dalam Dome Clinker Storage (BI) dengan kapasitas ton. Sedangkan untuk clinker mentah dibawa ke Marginal Bin (5 BI 1) dengan kapasitas ton, diangkut oleh truck ditumpahkan ke Hopper (5 HP 1) dibawa ke Belt Conveyor (5 BC 1) dan dicampur clinker dari Clinker Storage Silo dan dibawa ke Clinker Bin. Clinker Storage Silo mempunyai 11 unit Outlet dan setiap Outlet dilengkapi dengan Aumont Clinker Discharge Gate (FG). Discharge ini mengumpankan clinker ke tiga buah Belt Conveyor (5 BC 2), diteruskan ke 6 BE 1 dan dibawa ke

9 41 Clinker Bin (6 BI 3). Gypsum atau Trass dengan kadar 14 % diambil dari Storage menggunakan Loader atau langsung dari truck ditumpahkan ke Hopper (6 HP 1), kemudian diumpankan ke Belt Conveyor (6 BC 1) melalui Apron Conveyor (6 AC 1). Dari belt dibawa ke Hummer Crusher (6 CR 1) dengan kapasitas 171 ton untuk dihancurkan menjadi produk dengan ukuran 25 mm. produk Crusher dibawa ke Gypsum Bin atau Trass Bin (6 BI 1 dan BI 2) melalui Bucked Elevator (6 BE 2) dimana kapasitas binnya 175 ton. Clinker, Gypsum, dan Trass bila digunakan keluar dari masing-masing bin dan ditimbang dengan Weight Feeder (WF). Untuk Gypsum 10,7 ton/jam, sedangkan clinkernya 204 ton/jam, ditransfer oleh Belt Conveyor (6 BC 3) dan lewat Bucket Elevator (6 BE 3) dimasukkan ke Surge Bin (6 BI 4). Clinker/ Gypsum Mix keluar dari Surge Bin diumpankan ke Roll Crusher atau HRC / Hidrolic Roller Crusher (6 CR 1) untuk precrushing sebelum dimasukkan dalam Finish Mill. Sebagian material yang telah dicrushing diresirkulasi kembali ke Roll Crusher dan melalui Belt Conveyor (6 BC 4) dikembalikan ke Surge Bin.Dan sisa material yang telah dicrushing masuk ke dalam Finish Mill / Ball Mill (6BM 1) dengan rata-rata 215 ton/jam. Produk dari Finish Mill (6 BM 1) dikirim ke Separator (6 SP 1) lewat Air Slide (6 AS 1), Bucket Elevator (6 BE 4), dimana produk yang telah halus dibawa oleh aliran udara ke dalam Cyclone (6 CN 1) dan Dust Collector (6 BF 2). Hasil dari Cyclone dan Dust Collector oleh Air Slide (6 AS 2) diumpankan ke Bucket Elevator (6 BE 5), kemudian dimasukkan ke Silo Semen yang jumlahnya ada 4 buah lewat Air Slide (6 AS 3). Temperatur produk akhir semen adalah 40 C dengan kehalusan 325 mesh ( 45 ) atau blaine.

10 Unit Pengisian ( Packer ) Pada unit kerja pengisian, proses dimulai dari silo. Dari silo yang berjumlah 4, tetapi pada setiap pengoperasiannya hanya digunakan 2 silo secara bergantian, karena ada keterbatasan lime, maka material dari 2 silo tersebut ditransportasikan pada vibrating screen dengan menggunakan air slide dan bucket elevator pada masing-masing line. Pada vibrating screen ini terjadi proses pemisahan antara material halus dan kasar. Untuk material yang kasar akan dibuang melalui pipa buang sedangkan untuk material yang halus akan dilanjutkan ke bin yang kemudian didistribusikan ke 4 packer dari setiap bin. Kapasitas untuk setiap packer yaitu 2000 sak tiap jam, mesin packer tersebut bekerja secara otomatis dalam mengisi semen melalui lubang-lubang yang terdapat pada sudut kantong dan lubang kantong tersebut akan menutup sendiri setelah terisi penuh. Setelah proses packing, maka kantongkantong semen tersebut akan ditransportasikan dengan belt conveyor yang dipasang di belt weight sebagai mesin penimbang semen. Untuk sak semen yang kurang dari kapasitas yang telah ditentukan akan direject secara otomatis dengan dilewatkan pada balde-balde sebagai pemisah kantong dan semen, semen yang telah dipisahkan akan dimasukkan ke bin-bin kembali dengan bucket elevator. Untuk memudahkan pengontrolan dan penelusuran apabila terjadi komplain dari konsumen, maka pada setiap kantong terdapat kode-kode yang meliputi tanggal pengiriman, tanggal pengepakan dan lain-lain sehingga mutu dari semen yang didistribusikan masih dapat diatasi dengan baik oleh perusahaan.

11 Gambaran Proses Unit Kiln (Pembakaran) Pada proses kering pembakarannya menggunakan alat Preheater sebelum masuk Rotary Kiln. Komposisi kimia umpan sangat penting, karena mempengaruhi hasil terak dan mutu semen yang dihasilkan. Alat utama pada proses ini adalah Blending Silo, Preheater, Rotary Kiln, Clinker Cooler Blending Silo Dan Kiln Feed Tepung baku produk dari Roller Mill dimasukkan ke dalam dua Blending Silo (3 BL 1 dan BL 2) yang masingmasing berkapasitas ton. Tipe Blending Silo adalah Continues Mixing Silo. Pemasukan tepung baku ke masingmasing silo diatur secara bergantian dengan selang waktu selama 36 menit.untuk memperoleh hasil pencampuran yang baik perlu menjaga isi dari setiap silo, sedikitnya setengah dari kapasitas silo, yaitu ton. Apabila isi silo kurang dari setengah maka proses pencampuran material menjadi tidak baik.material keluar dari silo dikirim ke Kiln Feed Bin(BI 1) yang kapasitasnya 90 ton lewat Air Slide (AS), Junction Box (JB) masuk ke dalam Kiln Feed Bin (BI 1) turun ke Air Slide untuk ditransport kedalam Preheater untuk SLC dan ILC Suspention Preheater PTSG Tuban menggunakan Preheater jenis Double String, Preheater dengan 4 stage atau 4 Cyclone yang dipasang seri. Dimana string I merupakan ILC (In Line Calciner) dan string II adalah SLC (Separator Line Calciner). Untuk meningkatkan efisiensi pemisahan antara gas panas dan material di dalam Preheater, maka pada stage teratas dipasang Double Cyclone. Pemberian nama stage dimulai dari atas ke bawah. Stage I III berfungsi sebagai pemanas awal umpan kiln, sedangkan stage IV berfungsi sebagai pemisah produk, keluar dari Flash Calciner yang telah terkalsinasi.

12 44 Proses pemanasan umpan pada stage I III terjadi karena adanya perpindahan panas antara gas panas yang keluar dari kiln dan keluar dari Cooler dengan umpan Kiln yang masih dingin. Umpan Kiln yang masih dingin masuk ke dalam Riser Duct Stage I kemudian tercampur dengan gas panas ikut masuk ke dalam Cyclone. Di dalam Cyclone umpan kiln dipisahkan antara campuran gas dengan material. Material yang kasar akan jatuh menuju Down Pipe sedang material halus akan terangkat oleh gas yang keluar dari Cyclone. Arah masuknya material (Fixed Kiln) dengan gas panas adalah Counter Current. Material umpan Kiln yang jatuh ke Rise Pipe dimasukkan ke dalam Riser Duct Stage II kemudian mengalami proses seperti pada Cyclone stage I, demikian pula stage III. Material yang keluar dari Cyclone Stage III masuk ke dalam ILC dan SLC akan mengalami kalsinasi dalam kedua kalsiner tersebut yang kemudian terbawa oleh aliran gas akan masuk ke dalam Cyclone stage IV. Material yang keluar dari Cyclone Stage IV lewat Riser Duct diumpankan ke dalam Kiln. Di dalam Stage Kiln Feed mengalami kalsinasi sampai 91 % Rotary Kiln Umpan kiln dari Preheater masuk ke kiln. Disini material akan mengalami proses pembakaran menjadi clinker. Karena kalsinasi 91 % sudah terjadi pada kalsiner maka di dalam kiln, umpan akan mengalami kalsinasi lebih lanjut dan pelelehan di daerah Burning Zone sehingga menghasilkan clinker. Sistem pembakaran Rotary Kiln yang digunakan adalah Indirrect Firing yaitu batu bara hasil penggilingan di Coal Mill dengan menggunakan gas panas dari Preheater, tidak digunakan langsung melainkan ditampung dahulu di dalam Coal Bin. Batu bara yang digunakan mempunyai kehalusan 170 mesh dan kebutuhan batu bara yang digunakan untuk pembakaran terak di kiln sebesar 16,7 ton/jam. Sedangkan

13 45 supply udara pembakar di rotary kiln berasal dari Primary Air Fan dan udara sekunder berasal dari gas buang Cooler Kompartemen I. di rotary kiln dibagi menjadi 4 zone, yaitu : 1. Zone Kalsinasi : suhu C 2. Zone Transisi : suhu C 3. Zone Pembakaran (Burning) : suhu C 4. Zona Pendinginan (Cooling) : suhu C Clinker Cooler Clinker panas yang keluar dari Kiln dengan temperatur sekitar 1400 C turun ke Cooler untuk pendinginan sampai temperatur 82 C. Clinker Cooler yang digunakan adalah jenis Grate Cooler yang terdiri atas 9 kompartemen. Sebagai media pendingin digunakan udara yang dihasilkan oleh 16 buah fan dan ditembus ke dalam kompartemen. Clinker halus masuk ke tiap-tiap lubang grate dan turun ke Chain Conveyor (CV), kemudian dimasukkan ke Pan Conveyor (DB). Sedangkan clinker yang masih kasar dihancurkan terlebih dahulu oleh Clinker Breaker (5 CR 1), kemudian masuk ke Drag Conveyor (CV) selanjutnya ditransfer ke Pan Conveyor (5 DB 1 dan 2) dan akhirnya dimasukkan ke dalam Clinker Storage Silo (BI) yang berkapasitas ton. Bila terjadi kondisi up set, maka clinker yang masih mentah bisa dimasukkan ke Marginal Bin (BI) yang kapasitasnya 1000 ton dan kemudian dibawa dump truck dimasukkan ke dalam hopper dicampur terak dari Clinker Storage menuju ke Bin Clinker (BI) yang berkapasitas 120 ton. Maksud dari pendinginan clinker : a. Agar menghindari pembentukan C 2 S, karena C 3 S akan terurai dan menyebabkan kualitas semen menjadi rendah. b. Menjaga peralatan yang tidak tahan panas. c. Panas yang terkandung dalam Clinker dapat digunakan lagi.

14 Data Gangguan Operasi Di Unit Kiln Dari data gangguan operasi periode , data biaya kerusakan di unit kiln selanjutnya dilakukan pengelompokan bentuk kerusakan disetiap peralatan perusahaan.tabel dibawah ini menyajikan ringkasan dari data yang diperoleh.tabel gangguan operasi dan tabel biaya secara detail dapat dilihat dibagian lampiran. Berikut tabel gangguan operasi yang terjadi diarea permesinan di unit KIln Tabel 4.1 Tabel gangguan permesinan periode Nama Euipment yang berpotensi berbahaya Pada permesinan periode Bentuk kerusakan Total Kerusakan Rotary kiln 1) Perbaikan Ducting Tertier 2) 451 DB 3 lepas dari sprocket 3) Perbaikan Inlet seal kiln 4) Perb. AS Drum 471 WF1 5) Service main gear 6) Per. Tire pada kiln 441 tire 1 7) 441 KL 1 slipping tire 2 putus 8) Perb. Kiln shoe yang lepas 9) 441 CV 1& 2 putus 10) 481 BL 3 macet 11) 411 BL 1 macet 12) 411 Bl 6 Epansion joint lepas 12 Clincker Cooler 1) Cooler Section 2 grate supporter putus 2) Cooler Sect 3 berat 3) Cooler Sect 2 berat 4) Perb cooler comp 4 5) Seal hidrolik cooler sect 1 bocor 6) Actuator cooler sect 2 lepas 7) 441 CC1 Blader accumulator rusak 8) 441 CC1 Sect 2 servis acculator 9) Compartemen 13 plate ada yang lepas 10) Compartemen 16 grate plate ada yang lepas 11) Grate plate comp 7 lepas 11 Preaheter I.D FAN Clincker Breacker 1) 481 FN 4 V-belt putus 1) 441 CR 1 bearing rusak 2) Ganti hammer 441 CR 2 3) 481 PW 1 V-belt putus 4) 441 CR 2 V-belt putus terganjal coating 5) V-belt 441 CR 2 putus 1 5 Bucket Elevator 1) 421 BE 4 bearing take up rusak 3 2) 421 BE 4 miring 3) 411CP3 Coupling Alrm

15 Data kecelakaan kerja periode Dari penelitian yang dilakukan terhadap perusahaan, peneliti mendapat data kecelakaan yang berhubungan dengan peralatan yang berpotensi terdapat risiko. Berkut tabelnya : Tabel 4.2 Tabel kecelakaan kerja No Unit Kerja Tanggal Jenis Kecelakaan Keparahan Kategori Keterangan Biaya Pengobatan 1 Seksi pemeliharaan mesin kiln & Coal Mill 18/1/2005 Dalam Dinas Ringan Murni Kuku Ibu jari tangan kiri lepas dan robek 2 cm Rp PP- 2 Coal Mill Tuban 1 ( Perbaikan 482 PP -2 Coal mill Tuban 2 / pasang flanges bearing ) 2 Seksi Kiln & Coal Mill Tuban 1 & II 10/10/2005 Dalam Dinas Ringan Murni Mengalami luka bakar pada lengan bawah kanan + / - 5 cm ( Melakukan bongkar pipa 492 VT 1 yang macet ) 3 Seksi Pemeliharaan Mesin Kiln & Coal Mill 4/8/2004 Dalam Dinas Ringan Murni Terjepit ( Saat Perbaikan 452 DB 2 Tbn II ) 4 Seksi Kiln & Coal Mill Tuban 1 & II 24/4/2003 Dalam Dinas Ringan Murni Terjepit ( Luka cuwil pada jari tengah tangn kiri & kuku lepas pada saat pengecekan Bearing Fan 451 FN 1) 5 Seksi Kiln & Coal Mill Tuban 1 & II 2/6/2003 Dalam Dinas Ringan Murni Kejatuhan benda / luka sobek pada tungkak kaki kiri sedalam + / - 2cm ( Pada saat pemasangan batu brick bersama 8 orang swabina gatra di 443 KL 1/ Rotary kiln ) 6 Seksi Pemeliharaan Mesin Kiln & Coal Mill 30/12/2003 Dalam Dinas Ringan Murni Patah tulang terbuka pada ibu jari tangan kanan ( Pada saat melepas Dowel Coupling pada 423 BE-3 Kiln III ) 7 Seksi Pemeliharaan Mesin Kiln & Coal Mill 30/7/2003 Dalam Dinas Berat Murni Rp Rp Rp Rp Rp Rp Deskripsi Peralatan Yang Sering Terjadi Gangguan Unit Pembakaran pada area permesinan di PT.Semen Gresik Plant Tuban I dilakukan sebagai fokus (obyek) dari penelitian ini karena unit tersebut menjadi hal yang paling mendasar pada proses produksi semen dibandingkan dengan unit-unit yang lain. Tolak ukur keberhasilan pabrik semen dapat dikatakan ditentukan oleh keberhasilan mengoperasikan peralatan di unit ini dengan run factor yang setinggi

16 48 tingginya, dengan catatan tidak mengesampingkan peralatan peralatan yang lainnya. Secara umum setiap equipment pada unit pembakaran ini sangat mempengaruhi proses produksi semen. Hal ini dikarenakan, jika terjadi suatu kegagalan equipment maka secara otomatis akan mematikan equipment lain yang langsung berhubungan sehingga hal ini nantinya akan dapat mematikan unit pembakaran secara keseluruhan agar tidak timbul dampak dan kerugian yang lebih besar. namun dari banyak equipment yang ada di unit pembakaran ini terdapat beberapa equipment penting yang harus diperhatikan lebih lanjut dan perlu diketahui terutama pengidentifikasian resiko bahaya sehingga perusahaan dapat lebih fokus dan dapat menentukan tindakan yang tepat untuk mengurangi bahkan menghindari bahaya yang nantinya mungkin akan terjadi. Berikut ini diskripsi dari masing masing equipmentnya: 1. Clinker Cooler (PII) Type : Reciprocating hidrolic grate Kapasitas : 7500 MTP day Size : 1633H / 1844/1845H Karakteristik : HYD Pump (4) 90 KW, 1500 rpm ; HYD Oil pump (1) 3,75 KW,1500 Rpm ; Lube Pump (1) 0,33 KW ; Hidrolic System, Grate Plate, Pusher, Cross Head Assembly, Internal Whell assembly, moveable frame, stationary frame 2. Clinker Breaker I (FII) Type : #8M Karakteristik : hammer shaft, hammer hubs, hammer assembly, bearing and bearing pillow block Motor 75 KW, 100 Rpm

17 49 3. Clinker Breaker II (FII) Type : #8M Karakteristik : Hammer shaft, hammer hubs, hammer assembly, bearing and bearing pillow block Motor 75 KW, 100 Rpm 4. Preheater ID Fan ( Solyvent_Vente) Type : F18 TDR 324 3TD8A Kapasitas : m 3 per hour Tekanan : -846 MM W.G Temperatur : C Karakteristik : Impeller assembly and electrical ; Equipment motor : 2500 KW, 100 Rpm 5. Rotary Kiln (FII) Kapasitas : 7500 MTPH Ukuran : 5,6m (Wide) x 84.0m (long) Karakteristik : Reading ring, thrust ring, kiln shell, feed and section, thrust support roller, gear, clutch, backstop, pillow block with bearing, gear spring mounts, auxillary diesel engine, lubrication system, hydrolic cylinder, pinion with integral shaft, air cowl with hardware, nose cashing with hardware, tail casing with hardware, bracing, thrust support roller, bearings hydrolic thrust device assembly, main gear reducer, and auxillary gear reducer, main dive motor (2) 600KW, 1150 Rpm DC

18 50 6. EP Fan (FII) Type : Series BC Backward Curver Blocked Kapasitas : AM 3 /hour Pressure : -305 MM W.G Temperatur : 40 0 C Karakteristik : Motor 30 KW ; Flanged inlet and outlet,access door dram connection, shaft seal, channel base, belt guard, safe and bearing guard, shaft and bearing, belt drift and manual opposite outlet damper 7. Bucket Elevator (Rexnord Corporation) Type : Chain Model Number C Kapasitas : 676 MTPH raw mill Lift MM Karakteristik : Drift, lunk bet LC MS ;Right angle hollow- shaft ; Reducer guard, chain, and bucket ; Main motor 132 KW, 1500 Rpm; motor 42 KW, 1500 Rpm Chain Speed 1,93 M/Sec

19 Kriteria Risiko PT Semen Gresik Dari data yang diperoleh, untuk menentukan tingkat risiko didasarkan atas formulasi sebagai berikut: Risk = S X L 1. Konsekuensi atau akibat / S Adalah tingkat keparahan dengan kecelakaan terhadap seseorang akibat bahaya yang ada atau tingkatan menunjukkan kadar keparahan cidera dan kehilangan hari kerja. Berikut kriteria akibat dari perusahaan : 1. P 3 K ( Tidak signifikan ) adalah kondisi yang menyebabkan cidera sangat ringan dan dapat ditangani melalui perawatan P 3 K atau tidak menyebabkan kehilangan hari kerja. 2. Perawatan medik ringan / klinik ( minor) adalah cidera yang dapat ditangani melalui perawatan ringan / medical clinic dan masih dapat kembali bekerja pada hari / shift yang sama 3. Serius ( sedang ) / sedang adalah cidera yang memerlukan perawatan medis / mengakibatkan hilangnya fungsi anggota tubuh untuk sementara waktu atau kehilangan hari kerja dibawah 3 hari 4. Sangat serius ( major ) / berat adalah Cidera yang mengakibatkan cacat / hilang fungsi tubuh secara permanen atau kehilangan hari kerja (LTA ) 3 hari atau lebih 5. Bencana / meninggal adalah berakibat fatal / kematian dan kehilangan hari kerja dan tenaga kerja.

20 52 2. Kemungkinan ( likelihoods ) / L Adalah kemungkinan terjadinya kecelakaaan ketika terpapar dengan bahaya atau terkait dengan keterdekatan aktifitas terhadap bahaya Berikut kriteria peluang dari perusahaan: A. Hampir Pasti terjadi adalah sangat mungkin terjadi / hampir dipastikan akan terjadi pada semua kondisi / kegiatan atau keterdekatan aktivitas terhadap potensi bahaya terjadi lebih dari satu kali dalam sehari. B. Mungkin Terjadi adalah mungkin akan terjadi / bukan suatu hal yang aneh untuk terjadi atau keterdekatan aktivitas terhadap potensi bahaya, terjadi satu kali atau lebih dalam seminggu, namun kurang dari satu kali dalam sehari. C. Sedang adalah biasanya tidak terjadi, namun ada kemungkinan untuk dapat terjadi pada kondisi tertentu. Atau keterdekatan aktivitas terhadap potensi bahaya satu kali atau lebih dalam sebulan, namun kurang dari satu kali dalam seminggu. D. Kecil kemungkinannya adalah kecil kemungkinan untuk terjadi, biasanya pada kondisi tertentu atau keterdekatan aktivitas terjadi satu kali atau lebih dalam sebulan, namun dari satu kali dalam seminggu. E. Jarang sekali adalah belum pernah terjadi sebelumnya / secara praktek tidak mungkin terjadi, biasanya pada kondisi yang khusus / luar biasa setelah bertahun tahun ( 4 tahun) atau keterdekatan aktivitas terhadap potensi bahaya jarang sekali terjadi.

21 53 Sedangkan untuk menentukan level risiko terhadap safety personal pihak perusahaan sudah menetapkan kriterianya sebagai berikut: a. Cidera ringan : kecelakaan dengan kehilangan kurang dari 2 hari. b. Cidera Sedang (berat) : Kecelakaan dengan kehilangan lebih dari 2 hari c. Meninggal Dari kriteria risiko tersebut digunakan untuk penilaian risiko terhadap kegagalan operasi di area permesinan dengan mengimplementasikan metode hazops. 4.2 Pengolahan Data Berdasarkan data penelitian terhadap peralatan permesinan yang berpotensi memiliki risiko didapatkan rincian data kerusakan. Pembahasan selanjutnya peneliti berusaha melakukan observasi kerugian biaya yang diderita pihak perusahaan yang sebelumnya belum dianalisa untuk melakukan tingkatan risk level, pembahasan selanjutnya implementasi pada worksheet hazops, perangkingan risk level, dan tindakan pencegahan. Sedangkan identifikasi penelitian dan dampak kegiatan periode yang dilakukan oleh peneliti dapat dilihat didalam lampiran Hubungan kegagalan operasi dan biaya pengobatan Untuk memperjelas mengapa diadakan penelitian ini difokuskan pada departemen kiln.dari sini peneliti berusaha mengadakan kajian terhadap data berupa kegagalan operasi permesinan dan data kecelakaan dan ternyata dari sekian departemen yang ada data yang kecelakaan hanya terdapat pada unit kiln untuk periode selanjutnya peneliti mengadakan kajian terhadap peralatan yang ada didalam unit ini, dari 5 peralatan yang ada, peralatan rotary kilnlah yang

22 54 paling banyak terjadi kegagalan operasi dan biaya penobatan yang tinggi jika terjadi kecelekaan kerja. Untuk memperjelas kajian hubungan jumlah kerusakan dan peralatan, dibuatlah diagram paretonya. Berikut gambar diagram paretonya. Gambar 4.1 Digram pareto Jika ditabelkan antara potensi peralatan yang rusak terhadap biaya pengobatan adalah sebagai berikut: Tabel 4.3 Hubungan antara kerusakan dan biaya Jenis Peralatan Total Kerusakan Biaya Rotary Kiln 12 Rp Clincker Cooler 11 Preaheter I.D. Fan 1 Rp Clincker Breacker 5 Bucket Elevator 3 Rp ,00

23 Penentuan Tingkat Risiko Keparahan Kecelakaan kerja yang terjadi di area permesinan menyebabkan sistem keuangan perusahaan berkurang untuk biaya pengobatan, dengan adanya brainstorming pihak peneliti dengan Chief Safety Officer menyatakan jika kecelakaan kerja yang terjadi diarea kiln maka sistem produksi akan berhenti. Dari brainstorming dengan pihak perusahaan dapat kita kalkulasi sehari biaya SDM per hari (gaji ) perusahaan jika area kiln berproduksi ( analisa ratarata) dalam hitungan rupiah sebagai berikut: Rp Rp = = Rp / hari 760karyawan 22hari ker ja Rp / hari Dari tabel 4.2 dapat kita ketahui tingkat keparahan kecelakaan kerja periode penelitian yang berskala risiko ringan dan berat beserta biaya pengobatan. Berdasarkan tabel 4.2, peneliti berusaha menambahkan klarifikasi tingkat severity terhadap biaya level risiko keparahan pada karyawan untuk periode penelitian sebagai berikut: Tingkat keparahan = Hilang hari kerja X biaya SDM + Biaya Pengobatan No 1.Total biaya = Rp 2 hari kerja X Rp Rp = Rp RP No 2.Total biaya = Rp 2 hari kerja X Rp Rp = Rp Rp No 3.Total biaya = Rp 2 hari kerja X Rp Rp = Rp Rp

24 56 No 4.Total biaya = Rp 2 hari kerja X Rp Rp = Rp Rp No 5.Total biaya = Rp 2 hari kerja X Rp Rp = Rp Rp No 6.Total biaya = Rp 2 hari kerja X Rp Rp = Rp No 7.Total biaya = Rp 7 hari kerja X Rp Rp = Rp ( tidak kerja 7 hari) Rp Dari hasil pengolahan data kecelakaan kerja diatas. Peneliti dapat menambahkan penjelasan ramalan klarifikasi severity level range biaya untuk tingkat keparahan terhadap karyawan dengan pendekatan taksiran sebagai berikut P 3 K (Tidak signifikan) = Obat 2 ringan yang ada di P 3 K (betadine, dll) Perawatan medik ringan = Rp Sedang = Rp s/d Rp Berat = Rp (Tergantung hilang hari kerja + biaya pengobatan ) Meninggal = Kebijaksanaan perusahaan Penentuan Risk Level Sumber-sumber risiko yang telah diidentifikasi pada sub bab sebelumnya menunjukkan potensi risiko yang ada pada unit kiln pada area permesinan.sumber-sumber tersebut akan menjadi dasar penentuan risk level dimana risk level didapat dari perkalian antara severity (akibat) dengan peluang (likelihood). Penelitian ini menggunakan kriteria penentuan severity dan likelihood yang dipergunakan oleh perusahaan selama ini.namun, karena belum adanya informasi yang berkaitan dengan kerugian ditinjau dari aspek biaya, maka peneliti mencoba untuk menambahkan aspek biaya pada kriteria severity tersebut yang sudah dibahas pada subbab

25 57 sebelumnya. Risk level ini berkisar antara risiko rendah, resiko sedang, risiko tinggi,dan risiko berlebihan. Penentuan risk level ini digunakan untuk memberikan penilaian terhadap potensi risiko yang tertuang dalam worksheet hazops yang kemudian dikelompokkan kedalam Identifikasi penilaian dampak kegiatan (IPDK).Untuk mengetahui lebih detail tentang risk level yang ada diperusahaan. Berikut tabel risk level yang dijadikan acuan peneliti untuk memberikan penilaian tentang risiko pada tabel hazops dan identifikasi penilaian dampak kegiatan yang terjadi diperusahaan: Tabel 4.4 Tabel Risk level Peluang Nilai / Score Akibat / Severity P3K Minor Sedang Major Meninggal A Hampir pasti H H F F F B Mungkin terjadi M H H F F C Sedang L M H F F D Kecil kemungkinan L L M H F E Jarang L L M H H Sedangkan tabel score adalah sebagai berikut Tabel 4.5 Tabel score Nilai / Score F : Resiko berlebihan H : Resiko tinggi M : Resiko sedang L : Resiko rendah Implementasi Risiko Pada Worksheet Hazops Setelah dilakukan dasar penentuan tingkat severity dan likelihood, pembahasan selanjutnya dilakukan implementasi risiko pada worksheet hazops.implementasi risiko pada worksheet ini dilakukan perparameter, dari worksheet hazops ini ada beberapa rekommendasi terhadap risiko yang akan dicantumkan pada lembar lampiran. Implementasi ini diteruskan ke pembahasan identifikasi penilaian dampak kegiatan (IPDK) dari peneliti untuk penelitian periode Berikut Tabel Implementasi pada metode Hazops.

26 58 Tabel 4.6 Worksheet Hazops Worksheet Hazops Company : PT Semen Gresik (Persero),Tbk Fasility : Kiln Tuban 1 Session : 9 mei 2006 Nodes : Permesinan Paramater : Aliran Drawing No : Intention : Untuk mereduksi adanya flow pada saat proses pembakaran yang ada pada peralatan Guide Word Deviation Cause Consequence SafeGuard S L RL Recommendation Action By High High flow 1) Kiln Shoe Lepas 1) Gangguan keselamatan (terjadi luka bakar) Lakukan shutdown 3 C H 1) Perbaikan Kiln Shoe sehingga dapat Teknisi Pada rotary kiln 1 berputar kembali, Servis rutin dan penggantian 2) Ducting tertier pada 1) Gangguan keselamatan ( terpeleset ) Penggunaan alat control 2 C M 1) Pembersihan pada ducting tertier Teknisi rotary kiln pada ducting 3) As drum 471 WF1rusak 1) Gangguan keselamatan (terkilir pada tangan) None 1 D L 1) Perbaikan pada AS Drum 471 WF1 Teknisi Pada rotary kiln 4) 481 FN 4 V-belt putus 1) Debu panas, luka cuwil pada tangan Alat vibrasi meter 2 D L 1) Check bag filter fan Teknisi Pada preaheter I.D Fan 1) Check kondisi motor kiln drive Teknisi 5) Tire Failure 1) Gangguan Keselamatan ( luka bakar ) None 3 C H 1) Check kondisi tyre (ring, hanger,stopper, Teknisi Pada Rotary kiln 1 dan tire pad) 6) 441 KL 1 Slipping 1) Gangguan keselamatan ( terpeleset,luka bakar) None 3 C M 1) Penjagaan pada clearence Teknisi tire 2 putus pada rotary kiln 7) 441 CV 1 & 2 putus 1) Gangguan keselamatan ( terjadi luka bakar) 2 D L 1) Lakukan perbaikan pada 441 cv 1 & 2 Pada rotary kiln yang putus None Teknisi 8) 411 BL 6 epansion 1) Gangguan keselamatan (terjadi debu panas) None 1 D L 1) Pemasangan kembali BL 6 epansion Teknisi joint lepas pada rotary kiln joint yang lepas More More Flow 1) Seal Kiln Broken 1) Gangguan keselamatan ( terpeleset, luka bakar) None 3 D M 1) Check kondisi seal Pada Rotary Kiln 1 2) Check kondisi seal untuk slide apakah terjadi kerusakan ( ada kebocoran atau tidak) Teknisi 2) Seal hidrolik cooler sect 1 1) Gangguan kesehatan mata ( terjadi debu panas None 2 C M 1) Check kondisi seal bocor adanya kebocoran ) 2) Check kondisi seal untuk slide apakah terjadi kerusakan ( ada kebocoran atau tidak) 3) Actuator Rusak 2) Terpeleset ( karena adanya tumpahan material None 2 D L 1) Pengecekan kondisi actuator ( kondisi seal ) Pada Clincker Cooler 1 dari kebocoran) 2) Check kondisi seal actuator untuk masing-masing slide gate dan roll (bocor atau tidak) Teknisi 4) Cooler section 2 grate 1) Gangguan keselamatan (terkilir karena adanya Pressure Cooler Control 2 C M 1) Check kondisi grate supporter Teknisi supporter putus supporter yang putus) Yang putus dan segera lakukan perbaikan Pada clincker cooler 5) Cooler section 3 dan 2 1) Gangguan keselamatan (terkilir karena adanya Pressure Cooler Control 2 C M 1) Check kondisi cooler section 3 Teknisi berat pada clincker cooler supporter yang putus) 6) Cooler comp 4 rusak 1) Gangguan keselamatan (terpeleset) Pressure Cooler Control 2 C M 1) Check cooler comp dan lakukan perbaikan Teknisi pada clincker cooler 7) Actuator cooler 1) Terpeleset (karena adanya tumpahan Pressure Cooler Control 2 D L 1) Check kondisi actuator cooler dan Teknisi material sect 2 lepas dari kebocoran) pemasangan kembali yang lepas pada clincker cooler

27 Worksheet Hazops Company : PT Semen Gresik (Persero),Tbk Fasility : Kiln Tuban 1 Sesion : 9 mei 2006 Nodes : Permesinan Paramater : Pressure Drawing No : Intention : Untuk mereduksi adanya pressure yang menyebabkan kerusakan peralatan dan berpotensi risiko Guide Word Deviation Cause Consequence SafeGuard S L RL Recommendation Action By High High Pressure 1) 481 BL 3 macet pada 1) Gangguan keselamatan (tersengat panas ) None 2 D L 1) Rekondisi peralatn dan pembenahan kembali Teknisi rotary kiln 481 BL 3 yang macet 2) 411 BL 1 macet pada 1) Gangguan keselamatan (tersengat panas ) None 2 D L 1) Rekondisi peralatn dan pembenahan kembali Teknisi rotary kiln 411 BL 1 yang macet 3) 451 DB 3 lepas dari sprocket 1) Gangguan keselamatan (tersengat panas karena lepasnya ) None 2 D L 1) Pemasangan kembali sprocket yang lepas Teknisi Pada Rotary kiln 1 sprocket 4) 441 CR 1 bearing rusak 1) Gangguan keselamatan ( terjepit, terkilir) Alat vibrasi meter 2 D L 1) Pengecekan kondisi bearing (kondisi grease) Teknisi pada clincker breacker dan penggantian jika rusak 59 5) 441 CC1 blader 1) Gangguan keselamatan (tersengat panas/luka bakar ringan) Pressure Cooler Control 1 D L 1) Check kondisi blader dan penggantian jika rusak Teknisi accumulator rusak pada clincker cooler 6) 441 CC 1 sect 2 acculator 1) Gangguan kesehatan ringan (terkena debu panas) None 1 D L 1) Check kondisi acculator dan dilakukan perbaikan Teknisi rusak pada clincker cooler 7) Compartemen 13 plate 1) Terpeleset (karena adanya tumpahan material dari kebocoran) None 2 C M 1) Rekondisi Compartemen Teknisi ada yang lepas pada clincker cooler 8) Compartemen 16 grate 1) Terpeleset (karena adanya tumpahan material dari kebocoran) None 2 D L 1) Check grate support, guide roll, suara dari cooler Teknisi ada yang lepas pada clincker cooler 2) Check kondisi material dari grate plate ke hopper Teknisi under grate 3) Check kondisi pelumasan (cooler lube system) Operator dan kondisi grate 8) 421 BE 4 bearing take up 1) Gangguan keselamatan (terkilir) Alat vibrasi meter 1 D L 1) Pengecekan bearing dan perbaikan Teknisi rusak pada bucket elevator

28 60 Worksheet Hazops Company : PT Semen Gresik (Persero),Tbk Fasility : Kiln Tuban 1 Sesion : 9 mei 2006 Nodes : Permesinan Paramater : Control Drawing No : Intention : Untuk melancarkan proses pembakaran karen kurangnya kontrol pada peralatan Guide Word Deviation Cause Consequence SafeGuard S L RL Recommendation Action By No No Control 1) Grate plate comp 7 lepas 1) Terpeleset (karena adanya tumpahan material None 2 D L 1) Check grate yang lepas dan lakukan perbaikan Teknisi pada clincker cooler dari kebocoran) 2) Hammer 441 CR 2 rusak 1) Gangguan keselamatan (luka ringan pada teknisi) None 1 D L 1) Check kondisi hammer dan lakukan perbaikan Teknisi pada clincker breacker 3) 481 PW 1 V-belt putus 1) Gangguan keselamatan (terpeleset) Alat vibrasi meter 2 D L 1) Perbaikan dan penggantian jika rusak Teknisi pada clincker breacker 4) 441 CR 2 V-belt putus 1) Gangguan keselamatan (terpeleset) Alat vibrasi meter 2 D L 1) Dilakukan perbaikan pada V-belt Teknisi terganjal coating pada clincker breacker 5) V-belt 441 CR 2 putus 1) Gangguan keselamatan (terpeleset) Alat vibrasi meter 2 D L 1) Check kondisi V-belt dan lakukan perbaikan Teknisi pada clincker breacker Worksheet Hazops Company : PT Semen Gresik (Persero),Tbk Fasility : Kiln Tuban 1 Sesion : 9 mei 2006 Nodes : Permesinan Paramater : Service Failure Drawing No : Intention : Untuk mencegah kerusakan peralatan karena "service failure" Guide Word Deviation Cause Consequence SafeGuard S L RL Recommendation Action By High High Service 1) 421 BE miring pada bucket' 1) Gangguan kesehatan pada pendengaran ( timbul kebisingan ) Limit switch 1 D L 1) Pengecekan motor bucket, baut pondasi, vibrasi, Teknisi Failure elevator bearing,reduction gear

29 Worksheet Hazops Company : PT Semen Gresik (Persero),Tbk Fasility : Kiln Tuban 1 Sesion : 9 mei 2006 Nodes : Permesinan Paramater : Maintenance Drawing No : Intention : Untuk memperpanjang umur mesin Guide Word Deviation Cause Consequence SafeGuard S L RL Recommendation Action By Less Less Maintenance 1) Main Gear rusak 1) Gangguan keselamatan ( terjepit, luka bakar ) Alat vibrasi meter 2 D L 1) Check main gear lube system Pada Rotary Kiln 1 2) Check kondisi contact surface gigi-gigi Teknisi dan vibrasi 3) Check kondisi super bolt dan torque bolt 61 Worksheet Hazops Company : PT Semen Gresik (Persero),Tbk Fasility : Kiln Tuban 1 Sesion : 9 mei 2006 Nodes : Permesinan Paramater : Temperatur Drawing No : Intention : Untuk mereduksi temperatur yang bisa menyebabkan kerusakan peralatan Guide Word Deviation Cause Consequence SafeGuard S L RL Recommendation Action By Tinggi Temperatur Tinggi 1) 411 CP 3 Coupling rusak 1) Gangguan keselamatan ( terjepit ) Control Thermal 1 D L 1) Check coupling Teknisi pada rotary kiln

30 62

31 63

32 64

TUGAS INDUSTRI SEMEN SPESIFIKASI PERALATAN PABRIK SEMEN

TUGAS INDUSTRI SEMEN SPESIFIKASI PERALATAN PABRIK SEMEN TUGAS INDUSTRI SEMEN SPESIFIKASI PERALATAN PABRIK SEMEN KESNI SAVITRI 0807121210 1. ALAT UTAMA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS RIAU 2010 2. BLENDING SILO ( Pencampuran dan Homogenisasi)

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... INTISARI... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... INTISARI... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... INTISARI..... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... i ii iii iv vi xi DAFTAR GAMBAR... xiii DAFTAR LAMPIRAN... xiv BAB I PENDAHULUAN 1.1. Sejarah

Lebih terperinci

SIDANG TUGAS AKHIR Program Studi D3 Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industi ITS - Surabaya LOGO

SIDANG TUGAS AKHIR Program Studi D3 Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industi ITS - Surabaya LOGO SIDANG TUGAS AKHIR Program Studi D3 Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industi ITS - Surabaya LOGO Pabrik Semen menggunakan Bahan Aditif Fly Ash dengan Proses Kering Oleh : Palupi Nisa 230 030 04 Hikmatul

Lebih terperinci

BAB V ANALISA DAN INTREPETASI

BAB V ANALISA DAN INTREPETASI 73 BAB V ANALISA DAN INTREPETASI 5.1 Analisa Proses Produksi Semen Proses produksi dari semen ini dibagi menjadi 6 proses bagian yang besar. Keenam proses ini adalah sebagai berikut : 7. Proses Penambangan

Lebih terperinci

LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. SEMEN PADANG EFISIENSI PANAS PADA KILN UNIT INDARUNG IV

LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. SEMEN PADANG EFISIENSI PANAS PADA KILN UNIT INDARUNG IV LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. SEMEN PADANG EFISIENSI PANAS PADA KILN UNIT INDARUNG IV Dibuat Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat Syarat Yang Diperlukan Pada Kurikulum Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik

Lebih terperinci

PT Semen Gresik (Persero) Tbk. Data Kecelakaan. Tahun 2003 Unit Kerja : SEKSI PEMEL. MESIN KILN & COAL MILL Jabatan : Pelaksana

PT Semen Gresik (Persero) Tbk. Data Kecelakaan. Tahun 2003 Unit Kerja : SEKSI PEMEL. MESIN KILN & COAL MILL Jabatan : Pelaksana 83 Tahun 2003 Unit Kerja : SEKSI PEMEL. MESIN KILN & COAL MILL Jabatan : Pelaksana Tanggal Kecelakaan : 30-12-2003 Jam Kecelakaan : 15:00 Jenis : Terpukul Benda Klasifikasi : Ringan Status : Dalam Dinas

Lebih terperinci

48 juta ton naik 17,7%

48 juta ton naik 17,7% KESIMPULAN PERSAINGAN INDUSTRI KEBUTUHAN KONSUMEN KEPUASAN PELANGGAN 48 juta ton naik 17,7% PT. INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA, Tbk. ORDINARY PORTLAND CEMENT UNIT RAW MILL P 1-2 KUALITAS RAW MEAL PENYIMPANGAN

Lebih terperinci

SISTEM CONTROL PABRIK TUBAN 3 PT SEMEN GRESIK DI TUBAN UNIT KILN MAKALAH

SISTEM CONTROL PABRIK TUBAN 3 PT SEMEN GRESIK DI TUBAN UNIT KILN MAKALAH SISTEM CONTROL PABRIK TUBAN 3 PT SEMEN GRESIK DI TUBAN UNIT KILN MAKALAH Digunakan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sistem Kendali Industri Oleh : 1. Ahmad Nanang. S 2. Arifin Fatah 3. Ari Awaluddin 4.

Lebih terperinci

Pabrik Ekosemen (Semen dari Sampah) dengan Proses Kering. Oleh : Lailatus Sa adah ( ) Sunu Ria P. ( )

Pabrik Ekosemen (Semen dari Sampah) dengan Proses Kering. Oleh : Lailatus Sa adah ( ) Sunu Ria P. ( ) Pabrik Ekosemen (Semen dari Sampah) dengan Proses Kering Oleh : Lailatus Sa adah (2308 030 025) Sunu Ria P. (2308 030 035) Latar Belakang Peneliti Jepang Abu Sampah Semen Pabrik Ekosemen di Indonesia Pabrik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Pendahuluan menjelaskan latar belakang dilakukannya penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian yang ingin dicapai, batasan masalah dan sistematika penulisan laporan. 1.1 Latar Belakang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang dan Sejarah Berdirinya PT Holcim Indonesia, Tbk Pabrik Cilacap

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang dan Sejarah Berdirinya PT Holcim Indonesia, Tbk Pabrik Cilacap BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Sejarah Berdirinya PT Holcim Indonesia, Tbk Pabrik Cilacap Pemerintah Indonesia saat ini sedang berjuang keras untuk menjadikan Indonesia menjadi negara yang berkembang

Lebih terperinci

: ALDI MAULANA NPM : JURUSAN : TEKNIK INDUSTRI PEMBIMBING : Dr. Ir. Rakhma Oktavina, MT

: ALDI MAULANA NPM : JURUSAN : TEKNIK INDUSTRI PEMBIMBING : Dr. Ir. Rakhma Oktavina, MT MEMPELAJARI SISTEM PERAWATAN MESIN ROTARY PACKER PADA DIVISI PENGEPAKAN PRODUK SEMEN PCC (POTRLAND COMPOSITE CEMENT) DI PT INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA TBK PLANT 3-4 NAMA : ALDI MAULANA NPM : 30413601 JURUSAN

Lebih terperinci

PERALATAN INDUSTRI KIMIA

PERALATAN INDUSTRI KIMIA PERALATAN INDUSTRI KIMIA (SIZE REDUCTION, STORAGE, REACTOR ) Penyusun: Lely Riawati, ST., MT. Agustina Eunike, ST., MT., MBA. PERALATAN INDUSTRI KIMIA YANG DIBAHAS : I Material Handling II III Size Reduction

Lebih terperinci

C 3 S C 2 S C 3 A C 4 AF

C 3 S C 2 S C 3 A C 4 AF INDUSTRI SEMEN Khamdi Mubarok, M.Eng Definisi Semen merupakan komoditi strategis yang memanfaatkan potensi sumber daya alam bahan galian non logam berupa batu kapur, tanah liat, pasir besi dan gipsum (diimpor)

Lebih terperinci

OPTIMASI JARAK ADJUSTMENT TENSIONING DEVICE PADA DRAG CHAIN CONVEYOR

OPTIMASI JARAK ADJUSTMENT TENSIONING DEVICE PADA DRAG CHAIN CONVEYOR OPTIMASI JARAK ADJUSTMENT TENSIONING DEVICE PADA DRAG CHAIN CONVEYOR Budi Setiyana 1) Abstrak Drag Chain Conveyor (DCC) adalah salah satu jenis alat transport untuk memindahkan material baik powder maupun

Lebih terperinci

PT SEMEN PADANG DISKRIPSI PERUSAHAAN DESKRIPSI PROSES

PT SEMEN PADANG DISKRIPSI PERUSAHAAN DESKRIPSI PROSES PT Semen Padang: Studi Kasus Perusahaan PT SEMEN PADANG DISKRIPSI PERUSAHAAN PT. Semen Padang didirikan pada tahun 1910 dan merupakan pabrik semen tertua di Indonesia. Pabrik berlokasi di Indarung, Padang,

Lebih terperinci

BAB IV PENGENALAN MESIN KILN

BAB IV PENGENALAN MESIN KILN BAB IV PENGENALAN MESIN KILN 4.1 Deskripsi Mesin Kiln Mesin Kiln pada proses produksi keramik melalui beberapa tahapan yang salah satunya adalah pembakaran. Pembakaran bertujuan mengubah material keramik

Lebih terperinci

Prarancangan Pabrik Aluminium Oksida dari Bauksit dengan Proses Bayer Kapasitas Ton / Tahun BAB III SPESIFIKASI PERALATAN PROSES

Prarancangan Pabrik Aluminium Oksida dari Bauksit dengan Proses Bayer Kapasitas Ton / Tahun BAB III SPESIFIKASI PERALATAN PROSES 74 3.1. Size Reduction 1. Crusher 01 BAB III SPESIFIKASI PERALATAN PROSES Kode : SR-01 : Mengecilkan ukuran partikel 50 mm menjadi 6,25 mm : Cone Crusher Nordberg HP 500 : 2 alat (m) : 2,73 Tinggi (m)

Lebih terperinci

Bab III CUT Pilot Plant

Bab III CUT Pilot Plant Bab III CUT Pilot Plant 3.1 Sistem CUT Pilot Plant Skema proses CUT Pilot Plant secara keseluruhan dapat dilihat pada Gambar 3.1. Pada gambar tersebut dapat dilihat bahwa sistem CUT dibagi menjadi beberapa

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB III TINJAUAN PUSTAKA BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 Pendahuluan Indonesia sebagai negara berkembang dimana pembangunan di setiap wilayah di indonesia yang semakin berkembang yang semakin berkekembang pesat-nya bangunanbangunan

Lebih terperinci

BAB III DASAR TEORI SISTEM PLTU

BAB III DASAR TEORI SISTEM PLTU BAB III DASAR TEORI SISTEM PLTU Sistem pembangkit listrik tenaga uap (Steam Power Plant) memakai siklus Rankine. PLTU Suralaya menggunakan siklus tertutup (closed cycle) dengan dasar siklus rankine dengan

Lebih terperinci

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN 41 BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN Start Alat berat masuk ke Workshop Pengecekan sistem hidrolik secara keseluruhan komponen Maintenance Service kerusakan Ganti oli Ganti filter oli Ganti hose hidrolik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian PT Semen Padang merupakan salah satu produsen semen terkemuka di Indonesia. PT Semen Padang menjadi industri semen pertama di Indonesia yang dibangun pada

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN (PT. CEMINDO GEMILANG)

BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN (PT. CEMINDO GEMILANG) BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN (PT. CEMINDO GEMILANG) 2.1 Sejarah Perusahaan PT. Cemindo Gemilang (PT. CG) didirikan pada bulan Juli 2011 untuk memulai proyek pembangunan pabrik semen dengan kapasitas klinker

Lebih terperinci

PROPOSAL KERJA PRAKTEK DI PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. PLANT CILACAP JAWA TENGAH

PROPOSAL KERJA PRAKTEK DI PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. PLANT CILACAP JAWA TENGAH PROPOSAL KERJA PRAKTEK DI PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. PLANT CILACAP JAWA TENGAH Dibuat untuk memenuhi persyaratan permohonan Kerja Praktek di PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. Plant Cilacap Jawa Tengah Oleh: AHMAD

Lebih terperinci

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN 32 BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN 1.1 PERAWATAN MESIN DOUBLE FACER 1.1.1 Tahapan-Tahapan Perawatan Pada perawatan mesin double facer kali ini hanya akan dijelaskan perawatan terhadap mesin double facer

Lebih terperinci

ANALISIS EFISIENSI RAW GRIDING MILL PADA PROSES PEMBUATAN SEMEN

ANALISIS EFISIENSI RAW GRIDING MILL PADA PROSES PEMBUATAN SEMEN ANALISIS EFISIENSI RAW GRIDING MILL PADA PROSES PEMBUATAN SEMEN Budi Setiyana 1) Abstract Raw grinding mill sebagai salah satu bagian dari alat produksi semen mempunyai peranan yang cukup penting. Selain

Lebih terperinci

Prarancangan Pabrik Polistirena dengan Proses Polimerisasi Suspensi Kapasitas Ton/Tahun BAB III SPESIFIKASI ALAT

Prarancangan Pabrik Polistirena dengan Proses Polimerisasi Suspensi Kapasitas Ton/Tahun BAB III SPESIFIKASI ALAT BAB III SPESIFIKASI ALAT 1. Tangki Penyimpanan Spesifikasi Tangki Stirena Tangki Air Tangki Asam Klorida Kode T-01 T-02 T-03 Menyimpan Menyimpan air Menyimpan bahan baku stirena monomer proses untuk 15

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Mesin pemindah bahan (material handling equipment) adalah peralatan yang digunakan untuk memindahkan muatan yang berat dari suatu tempat ke tempat yang lain dalam jarak yang tidak

Lebih terperinci

Studi Awal Desain Pabrik Semen Portland dengan Waste Paper Sludge Ash Sebagai Bahan Baku Alternatif

Studi Awal Desain Pabrik Semen Portland dengan Waste Paper Sludge Ash Sebagai Bahan Baku Alternatif JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 2, (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) F-164 Studi Awal Desain Pabrik Semen Portland dengan Waste Paper Sludge Ash Sebagai Bahan Baku Alternatif Rasdiana Rahma Nur, Firda

Lebih terperinci

BAB II TEKNOLOGI PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA

BAB II TEKNOLOGI PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA BAB II TEKNOLOGI PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA 2.1. Peningkatan Kualitas Batubara Berdasarkan peringkatnya, batubara dapat diklasifikasikan menjadi batubara peringkat rendah (low rank coal) dan batubara

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dengan kapasitas terpasang 2 x 315 MW, tiap unit PLTU 1 Jawa Tengah Rembang memiliki satu buah boiler dengan 5 mill pulveriser yang mensuplai bahan bakar ke burner (ruang bakar).

Lebih terperinci

MEMPELAJARI KESEIMBANGAN LINI PADA PROSES COUNTER LINE MESIN TIPE XD833 CD3 MOTOR SATRIA F150 DI PT. SUZUKI INDOMOBIL MOTOR PLANT CAKUNG

MEMPELAJARI KESEIMBANGAN LINI PADA PROSES COUNTER LINE MESIN TIPE XD833 CD3 MOTOR SATRIA F150 DI PT. SUZUKI INDOMOBIL MOTOR PLANT CAKUNG MEMPELAJARI KESEIMBANGAN LINI PADA PROSES COUNTER LINE MESIN TIPE XD833 CD3 MOTOR SATRIA F150 DI PT. SUZUKI INDOMOBIL MOTOR PLANT CAKUNG Nama : Syaiful Ma arif NPM : 37412250 Jurusan : Teknik Industri

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN PROSES

BAB III PERANCANGAN PROSES BAB III PERANCANGAN PROSES 3.1. Uraian Proses Proses pembuatan natrium nitrat dengan menggunakan bahan baku natrium klorida dan asam nitrat telah peroleh dari dengan cara studi pustaka dan melalui pertimbangan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. lokasi konstruksi, lokasi industri, tempat penyimpanan, bongkaran muatan dan

TINJAUAN PUSTAKA. lokasi konstruksi, lokasi industri, tempat penyimpanan, bongkaran muatan dan II. TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi mesin Pemindah Bahan Mesin pemindah bahan merupakan salah satu peralatan mesin yang digunakan untuk memindahkan muatan dari lokasi satu ke lokasi yang lainnya, misalnya

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN PROSES

BAB III PERANCANGAN PROSES BAB III PERANCANGAN PROSES 3.1. Uraian Proses Reaksi pembentukan C8H4O3 (phthalic anhydride) adalah reaksi heterogen fase gas dengan katalis padat, dimana terjadi reaksi oksidasi C8H10 (o-xylene) oleh

Lebih terperinci

Nurudh Dhuha

Nurudh Dhuha Nurudh Dhuha 6507 040 030 PROGRAM STUDI D4 TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2011 Latar Belakang Di Pabrik Tuban

Lebih terperinci

MAGANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk. PABRIK GRESIK

MAGANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk. PABRIK GRESIK LAPORAN UMUM MAGANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk. PABRIK GRESIK Oleh : MEITA FITRIANA NIM R0006054 PROGRAM D-III HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA FAKULTAS KEDOKTERAN

Lebih terperinci

PT. LAFARGE CEMENT INDONESIA LHOKNGA PLANT ACEH BESAR

PT. LAFARGE CEMENT INDONESIA LHOKNGA PLANT ACEH BESAR LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. LAFARGE CEMENT INDONESIA LHOKNGA PLANT ACEH BESAR Diajukan Sebagai Persyaratan Kurikulum dan Melengkapi Tugas dalam Menyelesaikan Studi pada Fakultas Teknik Universitas Syiah

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. perkecil ukurannya sebesar ton per bulan. Sedangkan kemampuan

BAB V PEMBAHASAN. perkecil ukurannya sebesar ton per bulan. Sedangkan kemampuan BAB V PEMBAHASAN PT Nan Riang mempunyai target produksi batubara yang akan di perkecil ukurannya sebesar 25000 ton per bulan. Sedangkan kemampuan produksi yang ada pada saat ini pada site ampelu adalah

Lebih terperinci

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. SEMEN INDONESIA (PERSERO) TBK PABRIK TUBAN 01 JUNI 30 JUNI 2016

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. SEMEN INDONESIA (PERSERO) TBK PABRIK TUBAN 01 JUNI 30 JUNI 2016 LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. SEMEN INDONESIA (PERSERO) TBK PABRIK TUBAN 01 JUNI 30 JUNI 2016 Diajukan oleh: Muhammad Ridho Agus Saputra NRP: 5203013032 Apolonaris Ama Maran NRP: 5203013051 JURUSAN TEKNIK

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan PT. Sabas Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak di pengolahan pakan ternak unggas dan perikanan. Perusahaan ini didirikan pada bulan April

Lebih terperinci

BAB IV PENGOPERASIAN PULVERIZER DAN COAL FEEDER

BAB IV PENGOPERASIAN PULVERIZER DAN COAL FEEDER BAB IV PENGOPERASIAN PULVERIZER DAN COAL FEEDER A. Pulverizer (Mill) 1. Fungsi Pulverizer (Mill) PLTU dengan bahan bakar batubara memerlukan perlakuan khusus agar kalor yang terkandung dalam batubara dapat

Lebih terperinci

USULAN PERBAIKAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA BERDASARKAN METODE SWIFT PADA PT KRAKATAU STEEL DIVISI WIRE ROD MILL

USULAN PERBAIKAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA BERDASARKAN METODE SWIFT PADA PT KRAKATAU STEEL DIVISI WIRE ROD MILL USULAN PERBAIKAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA BERDASARKAN METODE SWIFT PADA PT KRAKATAU STEEL DIVISI WIRE ROD MILL Retno Fitri Wulandari 36412165 SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN

Lebih terperinci

BAB III ELECTROSTATIC PRECIPITATOR

BAB III ELECTROSTATIC PRECIPITATOR BAB III ELECTROSTATIC PRECIPITATOR 3.1 Gambaran Umum Elektrostatik merupakan salah satu cabang ilmu fisika yang mempelajari tentang medan listrik statik. Elektrostatik diaplikasikan dalam dunia industri,

Lebih terperinci

Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara Lampiran 1 Uraian Tugas dan Tanggung Jawab 1. Branch Manager Bertanggung jawab kepada PT. Rolimex Kimia Nusa Mas cabang Medan. a. Menangani, memimpin dan menentukan kebijakan operasional sehari-hari di

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) PADA INDUSTRI BIOETANOL SKALA RUMAH DI SUKABUMI

KUESIONER PENELITIAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) PADA INDUSTRI BIOETANOL SKALA RUMAH DI SUKABUMI LAMPIRAN 53 Lampiran 1. Kuesioner Penelitian KUESIONER PENELITIAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) PADA INDUSTRI BIOETANOL SKALA RUMAH DI SUKABUMI Data Responden Nama :.. Usia :.. Berilah tanda silang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Umum Konveyor. Konveyor (Conveyor) berasal dari kata convoy yang artinya, berjalan bersama dalam suatu grup besar. Konveyor berfungsi mengangkut suatu barang dalam

Lebih terperinci

BAB III SPESIFIKASI ALAT PROSES

BAB III SPESIFIKASI ALAT PROSES digilib.uns.ac.id BAB III SPESIFIKASI ALAT PROSES 3.1. Spesifikasi Alat Utama 3.1.1 Mixer (NH 4 ) 2 SO 4 Kode : (M-01) : Tempat mencampurkan Ammonium Sulfate dengan air : Silinder vertical dengan head

Lebih terperinci

5.1 PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. secara terpadu. Perusahaan ini termasuk perusahaan perseroan terbatas dengan

5.1 PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. secara terpadu. Perusahaan ini termasuk perusahaan perseroan terbatas dengan V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk adalah salah satu produsen semen terbesar di Indonesia yang memproduksi berbagai jenis semen

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Semen Semen berasal dari bahasa latin cementum, dimana kata ini mula-mula dipakai oleh bangsa Roma yang berarti bahan atau ramuan pengikat, dengan kata lain semen

Lebih terperinci

Penentuan Interval Waktu Pemeliharaan Pencegahan pada Peralatan Sub-Unit RKC 3 di PTX Pabrik Tuban

Penentuan Interval Waktu Pemeliharaan Pencegahan pada Peralatan Sub-Unit RKC 3 di PTX Pabrik Tuban Fesa Putra Kristianto & Bobby O.P. Soepangkat, Penentuan Interval Waktu Pemeliharaan Pencegahan pada Peralatan Sub-Unit RKC 3 di PTX Pabrik Tuban Penentuan Interval Waktu Pemeliharaan Pencegahan pada Peralatan

Lebih terperinci

ANALISIS KUALITAS KEHALUSAN SEMEN PPC 40 KG MENGGUNAKAN METODE STATISTICAL QUALITY CONTROL

ANALISIS KUALITAS KEHALUSAN SEMEN PPC 40 KG MENGGUNAKAN METODE STATISTICAL QUALITY CONTROL ANALISIS KUALITAS KEHALUSAN SEMEN PPC 40 KG MENGGUNAKAN METODE STATISTICAL QUALITY CONTROL QUALITY ANALYSIS OF PPC CEMENT 40 KG FINENESS USING STATISTICAL QUALITY CONTROL METHO Debrina Puspita Andriani

Lebih terperinci

Lampiran 1. Uraian Tugas dan Tanggung Jawab

Lampiran 1. Uraian Tugas dan Tanggung Jawab Lampiran 1 Uraian Tugas dan Tanggung Jawab 1. Manager Bunut Rubber Factory Manager Factory merupakan pimpinan tertinggi di pabrik yang mengelola kebijakan di pabrik, penanggung jawab utama atas jalannya

Lebih terperinci

CYLINDER HEAD E HP GASKET CARBURETOR INSULATOR HP WASHER, PLAIN 8 X 6 X

CYLINDER HEAD E HP GASKET CARBURETOR INSULATOR HP WASHER, PLAIN 8 X 6 X E - CYLINDER HEAD see E- 0 0 0 0 HP 0 000 HEAD COMP CYLINDER 0 HP 0 000 HOLDER CAMSHAFT. HP 0 000 GUIDE IN VALVE HP 0 000 GUIDE EX VALVE HP 0 000 GASKET CYLINDER HEAD HP 0 000 GASKET CARBURETOR INSULATOR

Lebih terperinci

Lampiran -1 : Spesifikasi Mesin dan Peralatan. 10 Pisau duduk. Gear Box no : 5 Zn 280. Ratio : 1 : 20. : Spc 400x4 & Spc 400x4

Lampiran -1 : Spesifikasi Mesin dan Peralatan. 10 Pisau duduk. Gear Box no : 5 Zn 280. Ratio : 1 : 20. : Spc 400x4 & Spc 400x4 Lampiran -1 : Spesifikasi Mesin dan Peralatan 1. Breaker Tahun Operasi : 1994 Produksi Spesifikasi : Lokal : 11 pisau putar 10 Pisau duduk Elektro Motor Putaran mesin : 140 Amp : 100 HP : 1460 RPM Cos

Lebih terperinci

BAB III Produksi Asphalt Mixing Plant (AMP) Jenis Takaran

BAB III Produksi Asphalt Mixing Plant (AMP) Jenis Takaran BAB III Produksi Asphalt Mixing Plant (AMP) Jenis Takaran 3.1. Pengertian Asphalt Mixing Plant ( AMP ) Asphalt Mixing Plant (AMP) atau unit produksi campuran beraspal adalah seperangkat perlalatan mekanik

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS TINGKAT INTENSITAS ENERGI SEKTOR INDUSTRI PADA SUB-SEKTOR INDUSTRI SEMEN DAN INDUSTRI TEKSTIL SKRIPSI

UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS TINGKAT INTENSITAS ENERGI SEKTOR INDUSTRI PADA SUB-SEKTOR INDUSTRI SEMEN DAN INDUSTRI TEKSTIL SKRIPSI UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS TINGKAT INTENSITAS ENERGI SEKTOR INDUSTRI PADA SUB-SEKTOR INDUSTRI SEMEN DAN INDUSTRI TEKSTIL SKRIPSI DAVID KARUNIA MULYONO 0706269672 PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA FAKULTAS

Lebih terperinci

Pabrik Silika dari Fly Ash Batu Bara dengan Proses Presipitasi

Pabrik Silika dari Fly Ash Batu Bara dengan Proses Presipitasi Pabrik Silika dari Fly Ash Batu Bara dengan Proses Presipitasi Disusun oleh : Dina Febriarista 2310 030 015 Fixalis Oktafia 2310 030 085 Dosen Pembimbing : Ir. Imam Syafril, MT 19570819 198601 1 001 Pemanfaatan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini akan dipaparkan mengenai metodologi penelitian yang akan dijabarkan satu persatu, mulai dari perumusan masalah sampai pada pengambilan kesimpulan dan pemberian

Lebih terperinci

Konstruksi CVT. Parts name

Konstruksi CVT. Parts name Konstruksi CVT C 3 D 4 E 5 6F 7 G B 2 8 H Parts name A 1 A. Crankshaft B. Primary sliding sheave (pulley bergerak) C. Weight / Pemberat D. Secondary fixed sheave(pulley tetap) E. Secondary sliding sheave

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ULANG BELT CONVEYOR B-W600-6M DENGAN KAPASITAS 9 TON / JAM

BAB III PERANCANGAN ULANG BELT CONVEYOR B-W600-6M DENGAN KAPASITAS 9 TON / JAM 37 BAB III PERANCANGAN ULANG BELT CONVEYOR B-W600-6M DENGAN KAPASITAS 9 TON / JAM 3.1. Penjelasan dan Perencanaan Produk PT.CCCM Merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang conveyor system dan

Lebih terperinci

Oleh : Umi Fitriyani

Oleh : Umi Fitriyani PENENTUAN WAKTU PERAWATAN PULVERIZER MENGGUNAKAN METODE RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE (RCM) II DENGAN PENDEKATAN BENEFIT- COST ANALYSIS Study Kasus di PT.PJB UP Paiton Oleh : Umi Fitriyani 6506 040

Lebih terperinci

TURBOCHARGER BEBERAPA CARA UNTUK MENAMBAH TENAGA

TURBOCHARGER BEBERAPA CARA UNTUK MENAMBAH TENAGA TURBOCHARGER URAIAN Dalam merancang suatu mesin, harus diperhatikan keseimbangan antara besarnya tenaga dengan ukuran berat mesin, salah satu caranya adalah melengkapi mesin dengan turbocharger yang memungkinkan

Lebih terperinci

BAB III SPESIFIKASI PERALATAN PROSES. : untuk menyerap NH3 dan CO2 oleh. : Menara bahan isian (packed tower) : Low alloy steel SA 204 grade C

BAB III SPESIFIKASI PERALATAN PROSES. : untuk menyerap NH3 dan CO2 oleh. : Menara bahan isian (packed tower) : Low alloy steel SA 204 grade C BAB III SPESIFIKASI PERALATAN PROSES 3.1. Absorber Kode : AB : untuk menyerap NH3 dan CO2 oleh H2O Material Kondisi Operasi : Menara bahan isian (packed tower) : Low alloy steel SA 204 grade C : T = 40

Lebih terperinci

BAB III PEMBAHASAN. Forklift sedang mengangkat beban, kemudian forklift tidak mampu

BAB III PEMBAHASAN. Forklift sedang mengangkat beban, kemudian forklift tidak mampu 29 BAB III PEMBAHASAN 3.1. Permasalahan 3.1.1. Flow yang Dihasilkan Kurang 3.1.1.1. Gambaran Masalah Forklift sedang mengangkat beban, kemudian forklift tidak mampu mengangkat beban pada ketinggian yang

Lebih terperinci

BAB. V SPESIFIKASI PERALATAN

BAB. V SPESIFIKASI PERALATAN BAB. V SPESIFIKASI PERALATAN A. Peralatan Proses Peralatan proses pabrik Dekstrosa dengan kapasitas 60.000 ton/tahun terdiri dari: 1. Tangki Penyimpanan Manihot U. (ST-101) Tabel. 5.1 Spesifikasi Tangki

Lebih terperinci

BAB IV PENGENALAN BALL MILL

BAB IV PENGENALAN BALL MILL BAB IV PENGENALAN BALL MILL 4.1 DESKRIPSI BALL MILL Ball Mill adalah alat penting untuk grinding setelah bahan dilumatkan. Mesin penggiling ini adalah alat yang efisien untuk grinding berbagai bahan menjadi

Lebih terperinci

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN 31 BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN 4.1 ALUR PROSES PELAKSANAAN Mulai perawatan Pemeriksaan dan penyetelan pada mesin oil sealed rotary vacuum pump model P450 Membongkar dan memperbaiki komponen tersebut

Lebih terperinci

BAB III PERAWATAN MESIN PELLET BIJI PLASTIK

BAB III PERAWATAN MESIN PELLET BIJI PLASTIK BAB III PERAWATAN MESIN PELLET BIJI PLASTIK 3.1. Proses produksi mesin pellet biji plastic Proses kerja mesin pellet biji plastik ini adalah dengan cara menggiling plastik recycle yang masih berupa botolan

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI 23 BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Proses Pengolahan Batu Andesit Pengolahan andesit adalah mereduksi ukuran yang sesuai dengan berbagai kebutuhan. Untuk kegiatan ini dilaksanakan melalui unit peremukan (crushing

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) Dalam proses pembuatan mesin pengupas kulit kentang perlu memperhatikan masalah kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Adapun maksud

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI 23 BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Proses Pengolahan Batu Andesit Pengolahan andesit adalah mereduksi ukuran yang sesuai dengan berbagai kebutuhan. Untuk kegiatan ini dilaksanakan melalui

Lebih terperinci

4.1. Pengolahan Data BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Pengumpulan data merupakan kegiatan mencari data-data yang diperlukan sebagai bahan penulis untuk melakukan analisa untuk melakukan analisa sesuai

Lebih terperinci

Arief Sugianto. Ayu Dahlianti Bagus Syaiful Utomo Bondan Ariawan

Arief Sugianto. Ayu Dahlianti Bagus Syaiful Utomo Bondan Ariawan Presentasi Kelompok 3 PABRIK SEMEN Arief Sugianto Astrid Fatimah Atmadiputri Ayu Dahlianti Bagus Syaiful Utomo Bondan Ariawan Pendahuluan Semen merupakan bahan bangunan yang digunakan untuk merekat, melapis,

Lebih terperinci

PRESENTASI SEMINAR SKRIPSI

PRESENTASI SEMINAR SKRIPSI PRESENTASI SEMINAR SKRIPSI LATAR BELAKANG STUDI PENGARUH PENAMBAHAN SLAG DAN FLY ASH SEBAGAI BAHAN ADITIF DI FINISH MILL PABRIK SEMEN KOMPOSIT Diusulkan oleh : Eka Partana 2305 100 008 Aries Purijatmiko

Lebih terperinci

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN 26 BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN 4.1 MESIN SILENT CUTTER TYPE SCR-250S Mesin cutter ini menggunakan motor listrik sebagai penggerak utama dan V-belt untuk mentransmisikan daya dari poros yang satu

Lebih terperinci

STEAM TURBINE. POWER PLANT 2 X 15 MW PT. Kawasan Industri Dumai

STEAM TURBINE. POWER PLANT 2 X 15 MW PT. Kawasan Industri Dumai STEAM TURBINE POWER PLANT 2 X 15 MW PT. Kawasan Industri Dumai PENDAHULUAN Asal kata turbin: turbinis (bahasa Latin) : vortex, whirling Claude Burdin, 1828, dalam kompetisi teknik tentang sumber daya air

Lebih terperinci

PROSES PENAMBANGAN BATUBARA

PROSES PENAMBANGAN BATUBARA PROSES PENAMBANGAN BATUBARA 1. Pembersihan lahan (land clearing). Kegiatan yang dilakukan untuk membersihkan daerah yang akan ditambang mulai dari semak belukar hingga pepohonan yang berukuran besar. Alat

Lebih terperinci

Session 13 STEAM TURBINE OPERATION

Session 13 STEAM TURBINE OPERATION Session 13 STEAM TURBINE OPERATION SISTEM OPERASI Operasi plant yang baik harus didukung oleh hal-hal berikut: Kelengkapan buku manual dari pabrikan Prosedur operasi standar yang meliputi instruksi untuk

Lebih terperinci

ANALISIS UNJUK KERJA GRATE CLINKER COOLER PADA PROSES PRODUKSI SEMEN

ANALISIS UNJUK KERJA GRATE CLINKER COOLER PADA PROSES PRODUKSI SEMEN ANALISIS UNJUK KERJA GRATE CLINKER COOLER PADA PROSES PRODUKSI SEMEN Budi Setiyana 1) Abstract Clinker Cooler sebagai salah satu bagian dari alat produksi semen mempunyai peranan yang cukup penting. Peralatan

Lebih terperinci

PERENCANAAN PERAWATAN PREVENTIVE DAN CORRECTIVE PADA KOMPONEN SISTEM HIDROLIK EXCAVATOR KOMATSU PC200-8

PERENCANAAN PERAWATAN PREVENTIVE DAN CORRECTIVE PADA KOMPONEN SISTEM HIDROLIK EXCAVATOR KOMATSU PC200-8 PERENCANAAN PERAWATAN PREVENTIVE DAN CORRECTIVE PADA KOMPONEN SISTEM HIDROLIK EXCAVATOR KOMATSU PC200-8 Aulia Firdaus 1, Turmizi 2, Ariefin 2 1 Mahasiswa Prodi D-IV Teknik Mesin Produksi dan Perawatan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB II TINJAUAN UMUM BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Sejarah PT Semen Indonesia (Persero) Tbk Pada tanggal 20 Desember 2012, melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Perseroan, resmi mengganti nama dari PT Semen Gresik

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 36 HASIL DAN PEMBAHASAN Dasar Pemilihan Bucket Elevator sebagai Mesin Pemindah Bahan Dasar pemilihan mesin pemindah bahan secara umum selain didasarkan pada sifat-sifat bahan yang berpengaruh terhadap

Lebih terperinci

PERALATAN INDUSTRI KIMIA (MATERIAL HANDLING)

PERALATAN INDUSTRI KIMIA (MATERIAL HANDLING) PERALATAN INDUSTRI KIMIA (MATERIAL HANDLING) Kimia Industri (TIN 4206) PERALATAN INDUSTRI KIMIA YANG DIBAHAS : I Material Handling II Size Reduction III Storage IV Reaktor V Crystallization VI Heat treatment

Lebih terperinci

BAB II LINGKUP KERJA PRAKTEK

BAB II LINGKUP KERJA PRAKTEK 6 BAB II LINGKUP KERJA PRAKTEK 2.1 TUJUAN Tugas kerja praktek ini bertujuan menyelesaikan studi kasus mengenai aspek teknik mesin atau laporan suatu kegiatan atau proses yang berlangsung di perusahaan

Lebih terperinci

LAPORAN SURVEY THROAT RING PLTU SURALAYA #8

LAPORAN SURVEY THROAT RING PLTU SURALAYA #8 2017 LAPORAN SURVEY THROAT RING PLTU SURALAYA #8 PT PLN (Persero) PUSAT PEMELIHARAAN KETENAGALISTRIKAN UNIT WORKSHOP & PEMELIHARAAN II - JAKARTA BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangkit Listrik

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 4 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 URAIAN UMUM Kata semen awalnya digunakan dalam arti ikatan atau bahan perekat tetapi secara umum sekarang digunakan sebagai nama dari jenis ikatan anorganik atau zat perekat

Lebih terperinci

BAB III DESAIN DAN FABRIKASI

BAB III DESAIN DAN FABRIKASI BAB III DESAIN DAN FABRIKASI III. 1 DESAIN Objektifitas dari perancangan ini adalah: 1) modifikasi sistim feeding bahan bakar yang lebih optimal. Sebelumnya, setiap kali penambahan bahan bakar solid (batubara),

Lebih terperinci

2.3.1.PERBAIKAN BAGIAN ATAS MESIN. (TOP OVERHAUL)

2.3.1.PERBAIKAN BAGIAN ATAS MESIN. (TOP OVERHAUL) BAB VII 2.3.1.PERBAIKAN BAGIAN ATAS MESIN. (TOP OVERHAUL) Perbaikan bagian atas adalah yang meliputi bagian. atas dari motor Diesel, yaitu seluruh bagian pada kepala silinder (Cylinder head) atau seluruh

Lebih terperinci

BAB II PROFIL PERUSAHAAN. akte pendirian Nomor 110 dari Notaris Chairani Bustami S.H. akte ini disyahkan

BAB II PROFIL PERUSAHAAN. akte pendirian Nomor 110 dari Notaris Chairani Bustami S.H. akte ini disyahkan BAB II PROFIL PERUSAHAAN A.Sejarah Ringkas PT. Semen Andalas Medan didirikan pada tanggal 17 Januari 1982 dengan akte pendirian Nomor 110 dari Notaris Chairani Bustami S.H. akte ini disyahkan dengan penetapan

Lebih terperinci

BAB III PROSES PRODUKSI

BAB III PROSES PRODUKSI BAB III PROSES PRODUKSI 3.1 PROSES PRODUKSI 3.1.1 Urutan Proses Produksi dari Awal Sampai Jadi a. Persiapan Bahan Baku Bahan baku yang digunakan untuk memproduksi lantai keramik adalah jeldspar dan pasir

Lebih terperinci

BAB IV UNIT PENDUKUNG PROSES DAN LABORATORIUM

BAB IV UNIT PENDUKUNG PROSES DAN LABORATORIUM 52 BAB IV UNIT PENDUKUNG PROSES DAN LABORATORIUM Unit pendukung proses (utilitas) merupakan bagian penting penunjang proses produksi. Utilitas yang tersedia di pabrik PEA adalah unit pengadaan air, unit

Lebih terperinci

BAB III PROSES PERANCANGAN

BAB III PROSES PERANCANGAN BAB III PROSES PERANCANGAN 3.1 aftar Periksa. aftar periksa merupakan daftar dari parameter-parameter yang ada dalam sebuah perancangan. Pada tahapan pertama proses perancangan ini akan dikumpulkan ide-ide

Lebih terperinci

PROSES UBC. Gambar 1. Bagan Air Proses UBC

PROSES UBC. Gambar 1. Bagan Air Proses UBC Penulis: Datin Fatia Umar dan Bukin Daulay Batubara merupakan energi yang cukup andal untuk menambah pasokan bahan bakar minyak mengingat cadangannya yang cukup besar. Dalam perkembangannya, batubara diharapkan

Lebih terperinci

PT. Starindo Cleaning Technologies PRODUCT CATALOG

PT. Starindo Cleaning Technologies PRODUCT CATALOG PT. Starindo Cleaning Technologies PRODUCT CATALOG Dirancang dan diproduksi untuk mampu menghisap berbagai macam / jenis serbuk, tepung atau partikel dalam jumlah yang besar. Mesin bertenaga listrik atau

Lebih terperinci

METODE PELAKSANAAN PENGECORAN PROYEK SUDIRMAN PALACE [MARET 2004]

METODE PELAKSANAAN PENGECORAN PROYEK SUDIRMAN PALACE [MARET 2004] METODE PELAKSANAAN PENGECORAN PROYEK SUDIRMAN PALACE [MARET 2004] I. TEKNIS a. Persiapan konstruksi yang akan dicor (kontraktor) b. Persiapan pit untuk pembuangan air c. Persiapan lokasi pengambilan dan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian tugas akhir yang berjudul Kajian Analisa Perhitungan Pemanfaatan Sekam Padi sebagai Bahan Bakar Tambahan di Calciner PT. Semen Baturaja

Lebih terperinci