BAB II TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Budi Sasmita
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Semen Semen berasal dari bahasa latin cementum, dimana kata ini mula-mula dipakai oleh bangsa Roma yang berarti bahan atau ramuan pengikat, dengan kata lain semen dapat didefinisikan adalah suatu bahan perekat yang berbentuk serbuk halus, bila ditambah air akan terjadi reaksi hidrasi sehingga dapat mengeras dan digunakan sebagai pengikat (mineral glue). Pada mulanya semen digunakan orang-orang Mesir Kuno untuk membangun piramida yaitu sejak abad ke-5 dimana batu batanya satu sama lain terikat kuat dan tahan terhadap cuaca selama berabad-abad. Bahan pengikat ini ditemukan sejak manusia mengenal api karena mereka membuat api di gua-gua dan bila api kena atap gua maka akan rontok berbentuk serbuk. Serbuk ini bila kena hujan menjadi keras dan mengikat batubatuan disekitarnya dan dikenal orang sebagai batu Masonrym (Rahadja, 1990). Semen merupakan salah satu bahan perekat yang jika dicampur dengan air mampu mengikat bahan-bahan padat seperti pasir dan batu menjadi suatu kesatuan kompak. Sifat pengikatan semen ditentukan oleh susunan kimia yang dikandungnya. Adapun bahan utama yang dikandung semen adalah kapur (CaO), silikat (SiO 2 ), alumunia (Al 2 O 3 ), ferro oksida (Fe 2 O 3 ), magnesit (MgO), serta oksida lain dalam jumlah kecil (Rahadja, 1990). Massa jenis semen yang diisyaratkan oleh ASTM adalah 3,15 gr/cm 3, pada kenyataannya massa jenis semen yang diproduksi berkisar antara 3,03 gr/cm 3 sampai 3,25 gr/cm 3. Variasi ini akan berpengaruh proporsi campuran semen dalam campuran. Pengujian massa jenis ini dapat dilakukan menggunakan Le Chatelier Flask (Rahadja, 1990). 2.2 Jenis Proses Pembuatan Semen Proses Basah Rotary kiln pada desain awal relatif sederhana dibandingkan dengan perkembangan modern. Umpan masuk pada suhu lingkungan dalam bentuk slurry. Kiln proses basah panjangnya bisa mencampai 200 m dengan diameter 5
2 6 mencapai 6 m. Alat dibuat panjang karena banyak air yang akan diuapkan dan mengoptimalkan proses perpindahan panas. Slurry mengandung sekitar 40% air. Hal ini membutuhkan banyak energi untuk menguapkan dan berbagai perkembangan dari proses basah ini bertujuan untuk mengurangi kadar air dari umpan. Proses basah telah bertahan selama lebih dari satu abad karena bahan baku banyak yang cocok untuk pencampuran slurry. Semen yang tebentuk berupa terak (kilnker) dengan temperatur kiln mencapai 1450 o C dan selanjutnya didinginkan secara tepat dengan suatu alat pendingin dan disimpan pada storage kilnker, lalu ditambah dengan gypsum (3-5 %) dan digiling secara kering. Kebutuhan panas pada proses basah kcal/kg kilnker. Keuntungan proses basah : a. Campuran / umpan kiln lebih homogen sehingga mutu semen lebih baik b. Efisiensi penggilingan relatif lebih baik c. Jumlah debu yang dihasilkan lebih sedikit Kerugian proses basah : a. Kebutuhan air dan bahan bakar relatif besar b. Kiln yang digunakan relatif lebih panjang sehingga dibutuhkan banyak tempat c. Membutuhkan panas yang tinggi untuk pembakaran d. Boros bahan bakar Proses Semi/ Antara Pada proses semi basah, kadar air pada raw material antara % yang berupa slurry. Sebelum diumpankan ke kiln, harus disaring dahulu supaya terbentuk filter cake. Pada proses semi kering, kadar air pada raw material antara 1-12 % dan raw material ini berupa butiran yang lembab. Keuntungan proses antara: a. Panas yang digunakan pada waktu pembakaran tidak terlalu besar dibandingkan proses basah b. Ukuran klinker yang keluar kiln seragam Kerugian proses antara adalah Peralatan yang digunakan lebih banyak.
3 Proses Kering Dalam proses kering, bahan baku dicampur masuk kiln melalui preheater. Di sini, gas panas dari kiln, digunakan untuk memanaskan umpan. Akibatnya, umpan sudah panas sebelum masuk kiln. Proses kering jauh lebih efisien termal dari proses basah karena umpan dalam bentuk kering dan sehingga hanya ada sedikit air yang harus diuapkan. Kiln pada proses kering dilengkapi suspension preheater. Alat ini adalah menara dengan serangkaian siklon yang bergerak cepat dengan gas panas yang menjaga umpan melayang di udara. Sepanjang waktu, umpan akan lebih panas dan gas akan lebih dingin sampai umpan berada pada suhu hampir sama dengan gas. Keuntungan proses kering: a. Kiln yang digunakan relatif pendek dan diameter lebih kecil sehingga hemat tempat b. Pemakaian bahan bakar lebih hemat c. Pemakaian panas lebih efisien Kerugian proses kering : a. Relatif lebih banyak menimbulkan debu b. Campuran tepung baku kurang homogen dibandingkan dengan proses basah 2.3 Proses Pembuatan Semen PT. Semen Baturaja (Persero) Tbk melakukan proses pembuatan semen dengan menggunakan proses kering (dry process) (PT. Semen Baturaja (Persero) Tbk, 2013). Dalam proses kering, bahan baku dicampur masuk kiln melalui preheater. Di sini, gas panas dari kiln, digunakan untuk memanaskan umpan. Akibatnya, umpan sudah panas sebelum masuk kiln. Proses kering jauh lebih efisien termal dari proses basah karena umpan dalam bentuk kering dan sehingga hanya ada sedikit air yang harus diuapkan (Con G. Manias). Kiln pada proses kering dilengkapi suspension preheater. Alat ini adalah menara dengan serangkaian siklon yang bergerak cepat dengan gas panas yang menjaga umpan melayang di udara. Sepanjang waktu, umpan akan lebih panas
4 8 dan gas akan lebih dingin sampai umpan berada pada suhu hampir sama dengan gas. Pada dasarnya proses pembuatan semen ada lima tahapan utama. Kelima tahap ini adalah sebagai berikut : Penyediaan bahan baku Bahan baku utama yang digunakan untuk kegiatan produksi semen di PT. Semen Baturaja (Persero) Tbk adalah batu kapur sekitar % dan tanah liat sekitar 7 20 %, sedangkan bahan baku koreksi berupa pasir besi sekitar 1 3 % dan pasir silica 1 6 %. Bahan baku utama diperoleh dari pertambangan sendiri di sekitar lokasi pabrik. Bahan baku koreksi berupa pasir besi diperoleh dari tambang rakyat di sekitar daerah Baturaja dan pasir silica dari tambang rakyat di Krui, Lampung. Untuk memperoleh bahan baku utama perlu dilakukan beberapa proses, yaitu : a. Clearing (pembersihan) b. Stripping of over burden (pengupasan tanah permukaan) c. Drilling (pengeboran) d. Blasting (pengeboman) e. Loading (pemuatan) f. Hauling (pengangkutan) g. Crushing (penghancuran) Khusus untuk penambangan tanah liat tidak memakai proses drilling dan blasting. Setelah mengalami proses penghancuran (ukuran sekitar 8 cm), bahan baku akan disimpan dalam storage dan dilakukan proses preblending untuk menghomogenisasikan kualitas bahan baku Pengeringan dan penggilingan bahan baku Penggilingan bahan mentah adalah cara untuk memperkecil ukuran bahan mentah menjadi lebih kecil atau membuat luas permukaan material menjadi lebih besar. Tujuan dari penggilingan bahan mentah ini adalah untuk mendapatkan campuran bahan mentah yang homogenik dan untuk mempermudah terjadinya reaksi kimia pada saat klinkerisasi. Selain penggilingan, material juga mengalami
5 9 pengeringan dengan media pengeringanya berupa gas panas yang dapat berasal dari hot gas generator ataupun dari kiln exchaust gas. Bahan mentah utama yang terdiri dari batu kapur dan tanah liat di garuk dengan menggunakan reclaimer dari stock pile masing masing, kemudian bahan koreksi yang berupa pasir silika dan pasir besi di campur dengan bahan mentah uatama dalam sebuah belt conveyor untuk di umpankan ke dalam vertical mill. Di dalam vertical mill keempat bahan mentah yang telah bercampur dengan proporsi tertentu itu mengalami proses penggilingan dan pengeringan. selanjunya, material yang telah halus di hisap dengan sebuah fan. Untuk mendapatkan produk vertical mill tepung baku atau raw meal yang memiliki kehalusan sesuai dengan standard, maka material yang terhisap harus melewati separator terlebih dahulu dan selanjutnya di pisahkan dari gas panas dengan menggunakan 4 buah cyclone. Tepung baku yang telah terpisah dari gas panas selanjutnya di masukkan ke CF Silo ( Continous Flow Silo ) dengan menggunakan alat transport berupa fluxoslide dan belt bucket elevator. Di dalam CF Silo raw meal akan dihomogenisasi dan di simpan serta siap di umpan ke kiln. produk atas dari Cyclone separator adalah uap air, gas panas dan sebagian debu yang terikat pada waktu pemisahan ini di transportasikan ke Electric Precipitator. Di dalam Electric Precipitator ini debu ditangkap oleh elektroda elektoroda yang bertegangan tinggi. Debu yang terkumpul ini di kembalikan lagi ke CF Silo. Sedangkan gas panas dari kiln, uap air dan sebagian debu yang tidak tertangkap oleh elektrode elektroda Electric Precipitator di transportastikan ke cerobong (stack) dengan bantuan sebuah fan adalah IDF fan Pembentukan klinker (pembakaran) Tepung baku (raw meal) yang telah dihomogenisasi di dalam CF Silo dikeluarkan dan dengan menggunakan serangkaian peralatan transport, tepung baku di umpankan ke kiln. Tepung baku yang di umpankan ke Kiln di sebut umpan baku atau umpan kiln (kiln feed). proses pembakaran yang terjadi meliputi pemanasan awal umpan baku di preheater (pengeringan, dehidrasi dan
6 10 dekomposisi), pembakaran di kiln (klinkerisasi) dan pendinginan di Grate cooler (quenching). a. Pengeringan Pengeringan di sini adalah proses penguapan air yang masih terkandung dalam umpan baku. Terjadi pada saat umpan baku kontak dengan gas panas pada temperatur sampai 200 ºC. b. Dehidrasi Dehidrasi adalah proses terjadinya pelepasan air kristal (combined water) yang terikat secara molekuler di dalam mineral mineral umpan baku. Proses ini terjadi pada temperatur ºC. Kondisi ini menyebabkan struktur mineral menjadi tidak stabil dan akan terurai pada temperature ºC. c. Dekomposisi dan kalsinasi Dekomposisi adalah proses penguraian atau pemecahan mineral mineral umpan baku menjadi oksida oksida yang relatif terjadi pada temperature ºC. Proses yang terjadi ialah : Kaolin menjadi Metakaolin Al 4 (OH) 8.Si 4 O 8 2(Al 2 O 3.SiO 2 ) + 4H 2 O Metakaolin menjadi oksida oksida reaktif Al 2 O 3.2SiO 2 Al 2 O 3 + 2SiO 2 Proses kalsinasi adalah proses penguraian karbonat menjadi oksida CaO dan MgO serta CO 2 sebagai gas. Proses kalsinasi berlangsung dari cyclone I hingga cyclone III pada temperature yang berbeda dengan keberhasilan derajat kalsinasi (persentasi unsur CaO yang terurai dari senyawa karbonat) sesuai dengan desain preheater yang digunakan. Reaksi dekomposisi karbonat yaitu : CaCO 3 panas CaO + CO 2 MgCO 3 panas MgO + CO 2
7 11 d. Klinkerisasi Klinkerisasi adalah proses pembentukan senyawa senyawa penyusun semen Portland, baik dalam fasa padat maupun dalam fasa cair. Proses klinkerisasi membutuhkan energi yang sangat tinggi yaitu berkisar 800 kkal/kg klinker dan proses ini sebagian besar terjadi di dalam kiln, cyclone IV A dan calsiner (PT. Semen Baturaja (Persero) Tbk, 2013). e. Quenching Quenching adalah proses pendinginan klinker secara mendadak setelah reaksi klinkerisasi selesai. Quenching dilakukan di dalam Grate cooler dengan media pendingnnya berupa udara luar yang dihembuskan ke dalam Grate cooler dengan menggunakan fan. Tujuan quenching adalah untuk mendapatkan klinker dengan mutu yang baik diantaranya : 1. Mencegahnya terjadinya reaksi inversi terjadi pada pendinginan lambat pada temperatur ± 1200 ºC. 2. Mencegahnya terjadinya pembentukan struktur Kristal beta 2 CaO.SiO 2 yang bersifat hidraulis menjadi Kristal alfa 2 CaO.SiO 2 yang bersifat kurang atau tidak hidraulis. Klinker yang dihasilkan kemudian disimpan di dalam klinker silo. 3. Dengan adanya pendinginan yang mendadak dari temperatur tinggi (1000 C) menjadi temperatur yang rendah (100 C) akan dihasilkan terak yang rapuh (berpori-pori tinggi) sehingga memudahkan dalam proses penggilingan terak. 4. Untuk melindungi peralatan transportasi terak dari temperatur tinggi. 5. Panas terak dikembalikan ke dalam kiln sebagai udara sekunder pada pembakaran Penggilingan klinker Klinker yang disimpan dalam klinker silo dikeluarkan dan di angkut dengan chain conveyor masuk ke dalam bin klinker. Sementara gypsum dari gerbong dibongkar dan disimpan dalam bin gypsum. Dengan perbandingan
8 12 tertentu, klinker dan gypsum dikeluarkan dari bin masing masing dan akan bercampur di belt conveyer. Dari belt conveyer campuran ini kemudian dihancurkan dengan roller press sehingga memiliki ukuran tertentu yang selanjutnya digiling dengan menggunakan alat penggiling berupa tube mill yang berisi bola bola besi sehingga media penghancurnya. Dengan menggunakan sebuah fan, material yang telah halus dihisap dan dipisahkan dari udara pembawanya dengan menggunakan beberapa perangkat pemisah debu. Hasil penggilingan ini disimpan dalan semen silo yang kedap udara. Semen yang dihasilkan harus memenuhi syarat mutu fisik semen dengan kehalusan minimal 3000 cm 2 /g (SNI mempersyaratkan min cm 2 /g) Pengantongan semen Semen dikeluarkan dari semen silo dan diangkut dengan menggunakan belt conveyor masuk ke steel silo. Dengan alat pengantongan berupa Rotary Packer, semen dikantongi dengan setiap 1 sak berisi 50 kg semen, kemudian di bawa ke truk untuk dipasarkan. Selain itu, semen juga dikemas dengan big bag yang bermuatan 1 ton semen dan ada semen curah atau bulk yang diangkut menggunakan truk bermuatan. Proses pembuatan semen dan pengantongan semen di PT. Semen Baturaja (Persero) Tbk dapat dilihat pada gambar 1 dan gambar 2.
9 13
10 14
11 Sistem Kiln Sistem Kiln merupakan suatu sistem dimana terjadi proses pemanasan, pembakaran, dan klinkerisasi dari kiln feed yang berupa campuran batu kapur, pasir silika, tanah liat dan pasir besi menjadi klinker. Klinker adalah batuanbuatan yang dihasilkan dari proses pemanasan raw meal di preheater, pembakaran kiln feed di dalam kiln pada suhu sekitar 1500 o C, dan klinkerisasi di dalam grate cooler. Selama proses pemanasan di dalam kiln, akan terjadi reaksi fisika dan kimia secara bersamaan dan interaksi antar molekul membentuk senyawa klinker. Alat-alat pada sistem kiln ada 3, yaitu: Suspension Preheater, Rotary Kiln, dan Grate cooler (Con G. Manias) Suspension Preheater Suspension Preheater merupakan suatu susunan empat stage cyclone dan satu buah calsiner yang tersusun menjadi satu string. Fungsi pokok dari preheater adalah pemanasan awal raw meal dan tempat terjadinya proses penghilangan kadar air bebas hingga kalsinasi. Sistem preheater dipasang di dalam menara yang terbuat dari baja atau beton dengan ketinggian sekitar m (6 tingkat) di atas inlet kiln. Preheater dengan 4-6 tingkat merupakan jenis yang paling sesuai untuk menghadapi masalah sirkulasi dengan adanya konsentrasi yang berlebih sehingga dapat menyebabkan masalah penyumbatan (clogging) pada sistem preheater. Alat ini merupakan alat yang digunakan untuk pemanasan awal bahan baku sebelum masuk rotary kiln. Pemanasan raw meal terjadi pada preheater melalui beberapa stage cyclone dan pemanas yang digunakan adalah gas hasil pembakaran dari kiln. Suspension Preheater yang digunakan terdiri dari dua bagian yaitu: in-line calsiner (ILC) dan separate line calsiner (SLC).. Gambar Preheater dapat dilihat pada gambar 3.
12 16 1. Kalsiner Gambar 3. Gambar Preheater Sumber: PT Semen Baturaja (Persero) Tbk Kalsiner merupakan salah satu reaktor di dalam suatu pabrik semen dengan proses kering. Kalsiner adalah suatu peralatan yang digunakan untuk proses kalsinasi. Proses kalsinasi adalah proses penguraian karbonat menjadi oksida CaO dan MgO serta CO 2 sebagai gas. Proses kalsinasi adalah proses penguraian karbonat menjadi oksida CaO dan MgO serta CO 2 sebagai gas. Proses kalsinasi berlangsung dari cyclone I hingga cyclone III pada temperature yang berbeda dengan keberhasilan derajat kalsinasi (persentasi unsur CaO yang terurai dari senyawa karbonat) sesuai dengan desain preheater yang digunakan. Pada kalsiner terdapat dua sistem yaitu: a. In Line Calciner (ILC) Aliran udara pembakaran di kalsiner di suplai dari udara tersier dan udara dari kiln. Gambar in line calciner dapat dilihat pada gambar 4. Gambar 4. Gambar In Line Calciner Sumber: Manias, Con. G
13 17 b. Separate Line Calsiner Udara panas tersier dari cooler masuk ke kalsiner melalui sentral inlet di dasar konis dan gas buang keluar kalsiner melalui sisi outlet di bagian atas. Gambar separate line calciner dapat dilihat pada gambar 5. Gambar 5. Gambar Separate Line Calciner Sumber: Manias, Con. G Suspension preheater yang digunakan di PT. Semen Baturaja (Persero) Tbk adalah preheater dengan dua string. Pemanasan raw meal dilakukan oleh preheater siklon empat tingkat. Aliran material dari silo raw meal diangkut oleh conveyer masuk ke bagian puncak preheater (tingkat 1) sedangkan gas panas masuk ke siklon paling bawah berlawanan arah dengan arah aliran material masuk. Aliran gas panas dimungkinkan karena adanya isapan fan, sedangkan material bergerak karena gaya gravitasi. Material yang mengalir dari atas bertemu dengan gas panas dari bawah dalam saluran yang menghubungkan cyclone. Pada saat tersebut terjadi perpindahan panas dari gas ke material. Material yang sempat terbawa oleh gas dari bawah dipisahkan dengan cyclone dan selanjutnya dialirkan ke bawah Rotary Kiln Rotary kiln (tanur putar) merupakan peralatan paling utama pada proses pembuatan semen. Fungsi utamanya adalah sebagai tempat terjadinya proses klinkerisasi sehingga terbentuk senyawa-senyawa penyusun semen yaitu C 3 S, C 2 S, C 3 A dan C 4 AF. Tanur putar ini berbentuk silinder yang terbuat dari baja yang
14 18 dipasang secara horizontal dengan kemiringan 4, berdiameter 4,5 m, panjang 75 m dan kecepatan putar 3 rpm. Tanur putar mampu membakar umpan dengan kapasitas 7800 ton/jam hingga menjadi terak (klinker). Gambar Rotary kiln dapat dilihat pada gambar 6. Gambar 6. Gambar Rotary kiln Sumber: PT Semen Baturaja (Persero) Tbk Pada dasarnya rotary kiln adalah sebuah silinder panjang berputar pada porosnya satu kali setiap satu atau dua menit, sumbu ini cenderung sedikit miring, ujung dengan pembakar yang lebih rendah. Rotasi menyebabkan umpan secara bertahap bergerak dimana umpan masuk pada keadaan dingin dan keluar pada kondisi panas. Alat ini dilengkapi dengan preheater sebagai pemanas awal dan calsiner. Gerakan antara material dan gas panas hasil pembakaran batubara berlangsung secara counter current. Karena panas yang ditimbulkan batubara tinggi maka rotary kiln perlu dilapisi batu tahan api pada bagian dalamnya untuk mencegah agar baja tidak meleleh. Proses klinkerisasi dalam kiln terbagi dalam beberapa zona, yaitu : a. Calcining Zone Pada zona ini raw meal dari preheater akan mengalami pemanasan hingga 1200 ºC dan proses yang terjadi adalah proses penguraian secara maksimum dari unsure unsure reaktif yang terkandung dalam material masih berbentuk bubuk dan bagian dalam kiln digunakan lapisan alumina bricks. b. Transition Zone Pada zona ini material mengalami perubahan fase dari padat ke cair dengan temperature operasi sekitar 1300 ºC. pada zona ini juga terjadi reaksi antara
15 19 CaO dengan senyawa SiO 2, Al dan Fe 2 O 3. Daerah kiln ini dilindungi oleh lapisan High Alumina Bricks. c. Sintering Zone Pada zona ini material mendekati sumber panas yang terpancar dari burner. Pemanasan terjadi hingga 1500 ºC. proses yang terjadi adalah pelelehan dari semua material dan reaksi maksimum antara CaO dengan senyawa SiO 2, Al 2 O 3 dan Fe 2 O 3. Mineral compound ini membentuk senyawa utama klinker yaitu C 3 S (Alite), C 2 S (Belite), C 3 A (Celite) dan C 4 AF (Felite). Reaksi ini disebut reaksi klinkerisasi. d. Cooling Zone Material yang berbentuk cair di sintering zone akan mengalir ke cooling zone dan mengalami perubahan fase material menjauhi gun burner. Temperature akan turun hingga mencapai 1200 ºC. karena adanya gerakan rotasi kiln, maka sebagian besar material akan berbentuk granular atau butiran Grate cooler Grate cooler yaitu clinker cooler dengan efek pendinginan yang terjadi karena adanya udara yang dihembuskan oleh beberapa fan/ blower ke permukaan lapisan klinker di atas grate plate. Pada awal perkembangannya pemakaian grate cooler dimaksudkan untuk mendapatkan laju pendinginan yang cepat dengan tujuan mengurangi pengaruh kristal periclase sehingga diperoleh kualitas klinker yang baik. Tetapi pada kenyataannya diperoleh juga perpindahan panas yang sangat baik sehingga cooler jenis ini bisa menerima klinker dengan temperatur 1360 o C-1400 o C. Gambar Grate cooler dapat dilihat pada gambar 7.
16 20 Gambar 7. Gambar Grate cooler Sumber: PT Semen Baturaja (Persero) Tbk Dengan penggunaan udara berlebih, klinker yang keluar bisa mencapai temperatur sampai dengan 65 o C diatas temperatur udara sekitar sehingga bisa langsung digiling. Perpindahan panas terjadi pada kondisi cross current dan counter current antara klinker dengan udara pendingin. Peralatan grate cooler tidak bisa dipisahkan letaknya dari kiln karena terpasang langsung menyambung pada outlet kiln. Menurut (Sutanto, 1992) prinsip kerja dari grate cooler sebagai berikut: 1. Klinker yang keluar dari kiln jatuh di atas grate plate bagian depan membentuk suatu tumpukan. 2. Udara pendinginan klinker ditiup dengan sejumlah fan dari bawah plate dengan menembus kisi-kisi grate plate dan bed klinker di atas grate plate. Sehingga terjadi kontak antara udara pendingin dengan klinker panas, dengan adanya kontak tersebut maka terjadi perpindahan panas. Sisa udara pendinginan masuk ke dalam kiln sebagai udara bakar dan udara pendingin masuk ke dalam kalsiner, dan selebihnya dihisap oleh fan sebagai udara buang setelah terlebih dahulu melalui alat penangkap debu. 3. Grate plate dipasang dengan susunan baris selang-seling antara baris yang statis dan baris yang bergerak maju mundur, dengan adanya gerakan tersebut klinker bergerak terdorong ke belakang dan seterusnya menuju clinker crusher selanjutnya ke chain conveyer. 4. Grate plate digerakkan dengan hydraulic drive. Klinker yang berukuran halus akan turun ke bawah menembus kisi-kisi grate plate dan ditampung di dalam
17 21 hopper yang dilengkapi dengan flap damper dan sensor level. Flap damper akan membuka secara otomatis apabila hopper penuh dan klinker jatuh diterima drag chain menuju chain conveyer. 5. Untuk menjaga ketebalan material di atas grate cooler (grate plate) konstan di pasang satu buah fan pendingin khusus jika tekanan fan naik secara otomatis grate plate akan bergerak lebih cepat. 6. Untuk material yang berukuran besar masuk pada breaker/ crusher untuk dipecah dan hasilnya akan keluar bercampur dengan material dari grate plate cooler menuju alat transportasi. Menurut (Sutanto, 1992) grate cooler mempunya beberapa fungsi diantaranya adalah: 1. Proses quenching Yaitu proses pendinginan klinker yang mendadak, efek pendinginan yang timbul karena adanya hembusan dari beberapa cooling air fan yang langsung kontak dengan klinker outlet kiln. Efek pendinginan yang terjadi akan mengakibatkan klinker turun temperaturnya secara drastis yaitu dari 1350 C menjadi ± 90 C. Tujuan quenching adalah untuk memperoleh klinker yang berbentuk granular/ bulat dan rapuh, sehingga memudahkan pada proses penggilingan dan juga berpengaruh pada mutu semen yang dihasilkan. 2. Menaikkan temperatur udara bakar Udara bakar ini berasal dari udara sisa pendinginan klinker. Sebagian udara yang masih mempunyai temperatur tinggi akan ditarik IDF masuk ke kiln dan kalsiner dan sebagian lagi yang temperaturnya rendah akan dikeluarkan melewati saluran udara buang menuju ESP. 3. Alat transportasi Untuk mengeluarkan material dari kiln menuju alat transportnya untuk kemudian di simpan pada silo klinker. 2.5 Batubara Batubara adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui
18 22 proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen, dan oksigen. Gambar batubara dapat dilihat pada gambar 8. Gambar 8. Gambar Batubara Sumber: Mekka, 2011 Kualitas batubara adalah sifat fisika dan kimia dari batubara yang mempengaruhi potensi kegunaannya. Kualitas batubara ditentukan oleh maseral dan mineral matter penyusunnya, serta oleh derajat coalification (rank). Umumnya, untuk menentukan kualitas batubara dilakukan analisa kimia pada batubara yang diantaranya berupa analisis proksimat dan analisis ultimat. Analisis proksimat dilakukan untuk menentukan jumlah air (moisture), zat terbang (volatile matter), karbon padat (fixed carbon), dan kadar abu (ash), sedangkan analisis ultimat dilakukan untuk menentukan kandungan unsur kimia pada batubara yaitu kadar karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur (Fadarina, 2011) Klasifikasi Batubara a. Gambut (peat) Golongan ini sebenarnya belum termasuk jenis batubara, tapi merupakan bahan bakar. Hal ini disebabkan karena masih merupakan fase awal dari proses pembentukan batubara. Endapan ini masih memperlihatkan sifat awal dari bahan dasarnya (tumbuh-tumbuhan). b. Lignit Golongan ini sudah memperlihatkan proses selanjutnya berupa struktur kekar dan gejala pelapisan. Apabila dikeringkan, maka gas dan airnya akan keluar. Endapan ini bisa dimanfaatkan secara terbatas untuk kepentingan yang bersifat sederhana, karena panas yang dikeluarkan sangat rendah.
19 23 c. Sub-Bituminous Golongan ini memperlihatkan ciri-ciri tertentu yaitu warna yang kehitamhitaman dan sudah mengandung lilin. Endapan ini dapat digunakan untuk pemanfaatan pembakaran yang cukup dengan temperatur yang tidak terlalu tinggi. d. Bituminous Golongan ini dicirikan dengan sifat-sifat yang padat, hitam, rapuh (brittle) dengan membentuk bongkah-bongkah prismatik. Berlapis dan tidak mengeluarkan gas dan air bila dikeringkan. Endapan ini dapat digunakan antara lain untuk kepentingan transportasi dan industri. e. Antrasit Golongan ini berwarna hitam, keras, kilap tinggi, dan pecahannya memperlihatkan pecahan chocoidal. Pada proses pembakaran memperlihatkan warna biru dengan derajat pemanasan yang tinggi. Digunakan untuk berbagai macam industri besar yang memerlukan temperatur tinggi. Semakin tinggi kualitas batubara, maka kadar karbon akan meningkat, sedangkan hidrogen dan oksigen akan berkurang. Batubara bermutu rendah, seperti lignite dan sub-bituminous, memiliki tingkat kelembaban (moisture) yang tinggi dan kadar karbon yang rendah, sehingga energinya juga rendah. Semakin tinggi mutu batubara, umumnya akan semakin keras dan kompak, serta warnanya akan semakin hitam mengkilat. Selain itu, kelembabannya pun akan berkurang sedangkan kadar karbonnya akan meningkat, sehingga kandungan energinya juga semakin besar (Mekka, 2011) Komposisi Batubara Batubara yang digunakan di PT. Semen Baturaja (Persero) Tbk adalah jenis bituminus, dengan nilai kalori antara kkal/ kg. Analisis proksimat dan ultimat dari batubara dapat dilihat pada tabel 1 dan tabel 2.
20 Biomassa Tabel 1. Analisa proksimat batubara Parameter Satuan Hasil Volatile matter % adb 10 Fixed carbon % adb 43,23 Ash Moisture % adb % adb 12,84 6,4 Sumber: Lab. PT. Semen Baturaja (Persero) Tbk Tabel 2. Analisa ultimat batubara Parameter Satuan Hasil Carbon % db 62,34 Hydrogen % db 4,3 Nitrogen % db 0,8 Oxygen Sulfur % db % db 12,72 0,6 Sumber: Lab. PT. Semen Baturaja (Persero) Tbk Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui pross fotosintetik, baik berupa produk maupun buangan. Contoh biomassa antara lain adalah sekam padi, serbuk gergaji, cangkang kelapa sawit, jambu mete, dll. Selain digunakan untuk tujuan primer serat, bahan pangan, pakan ternak, miyak nabati, bahan bangunan dan sebagainya, biomassa juga digunakan sebagai sumber energi (bahan bakar). Umum yang digunakan sebagai bahan bakar adalah biomassa yang nilai ekonomisnya rendah atau merupakan limbah setelah diambil produk primernya. Sumber energi biomassa mempunyai beberapa kelebihan antara lain merupakan sumber energi yang dapat diperbaharui (renewable) sehingga dapat menyediakan sumber energi secara berkesinambungan (suistainable). Indonesia, biomassa merupakan sumber daya alam yang sangat penting dengan berbagai produk primer sebagai serat, kayu, minyak, bahan pangan dan lain-lain yang selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik juga diekspor dan menjadi tulang punggung penghasil devisa negara (Asian Biomass Handbook, 2008). Di
21 Sekam Padi Sekam adalah bagian dari bulir padi-padian berupa lembaran yang kering, bersisik, dan tidak dapat dimakan, yang melindungi bagian dalam. Sekam dapat dijumpai pada hampir semua anggota rumput-rumputan, meskipun pada beberapa jenis budidaya ditemukan pula variasi bulir tanpa sekam. Sekam diperlukan untuk keperluan penanaman ulang tanaman ini. Bulir tanpa sekam tidak dapat digunakan lagi sebagai bahan tanam. Proses pemisahan sekam dari isinya dulu dilakukan dengan penumbukan gabah memakai alat tumbuk, namun sekarang orang memakai mesin giling dan prosesnya disebut penggilingan. Penggilingan atau penumbukan akan menghasilkan beras yang masih tercampur dengan sisa-sisa atau pengotor lainnya. Sekam padi merupakan lapisan keras yang meliputi kariopsis yang terdiri dari dua belahan yang disebut lemma dan palea yang saling bertautan. Pada proses penggilingan beras sekam akan terpisah dari butir beras dan menjadi bahan sisa atau limbah penggilingan. Sekam dikatagorikan sebagai biomassa yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti bahan baku industri, pakan ternak dan energi atau bahan bakar. Gambar sekam padi dapat dilihat pada gambar 9. Gambar 9. Gambar sekam padi Sumber: Mekka, 2011 Dari proses penggilingan padi biasanya diperoleh sekam sekitar 20-30%, dedak antara 8-12% dan beras giling antara 50-63,5% (Mekka, 2011). Menurut Mekka, 2011, Sekam padi memiliki nilai kalori antara kkal/ kg sekam dengan konduktivitas panas 0,271 BTU. Komposisi kimia dan fisika sekam padi dapat dilihat pada tabel 3 dan tabel 4 sedangkan analisis proksimat dan ultimat dari sekam padi dapat dilihat pada tabel 5 dan tabel 6.
22 26 Tabel 3. Komposisi kimia sekam padi Komponen % Berat Kadar air 9,02 Protein 3,03 Lemak 1,18 Serat 35,68 Abu 17,71 Sumber: Mekka, 2011 Parameter Tabel 4. Komposisi fisika sekam padi Sekam padi Mean particle size (µm) 856 Apparent density (kg.m -3 ) 389 Porosity 0,64 Sumber: Anis, Samsudin Tabel 5. Analisa proksimat sekam padi Parameter Satuan Hasil Volatile matter % adb 54,740 Fixed carbon % adb 14,310 Ash Moisture % adb % adb 19,695 4,705 Sumber: Lab. Teknik Kimia Politeknik Negeri Sriwijaya Tabel 6. Analisa ultimat sekam padi Parameter Satuan Hasil Carbon % db 49,205 Hydrogen % db 3,563 Nitrogen % db 1,257 Oxygen % db 26,14 Sumber: Lab. Teknik Kimia Politeknik Negeri Sriwijaya 2.8 Specific Fuel Consumtion (SFC) Specific Fuel Consumtion adalah jumlah banyaknya energi yang diperlukan/ digunakan untuk menghasilkan sejumlah produk. Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung kedua parameter tersebut adalah : Specific Fuel Consumtion (SFC) = Sumber: PT. Semen Baturaja (Persero) Tbk ( ) ( )
23 27 Kebutuhan energi setiap sistem kiln berbeda, tergantung pada data operasional, data termal, dan data produksinya. Kebutuhan energi setiap sistem kiln dapat dilihat pada tabel 7. Tabel 7. Kebutuhan energi setiap sistem kiln Kiln systems Specific Fuel Consumtion (Kcal/kg) Long wet Long dry Cyclone preheater Precalciner Sumber: Manias, Con. G
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Semen Semen berasal dari bahasa latin cementum, dimana kata ini mula-mula dipakai oleh bangsa Roma yang berarti bahan atau ramuan pengikat, dengan kata lain semen
TUGAS INDUSTRI SEMEN SPESIFIKASI PERALATAN PABRIK SEMEN
TUGAS INDUSTRI SEMEN SPESIFIKASI PERALATAN PABRIK SEMEN KESNI SAVITRI 0807121210 1. ALAT UTAMA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS RIAU 2010 2. BLENDING SILO ( Pencampuran dan Homogenisasi)
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian tugas akhir yang berjudul Kajian Analisa Perhitungan Pemanfaatan Sekam Padi sebagai Bahan Bakar Tambahan di Calciner PT. Semen Baturaja
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... INTISARI... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... INTISARI..... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... i ii iii iv vi xi DAFTAR GAMBAR... xiii DAFTAR LAMPIRAN... xiv BAB I PENDAHULUAN 1.1. Sejarah
C 3 S C 2 S C 3 A C 4 AF
INDUSTRI SEMEN Khamdi Mubarok, M.Eng Definisi Semen merupakan komoditi strategis yang memanfaatkan potensi sumber daya alam bahan galian non logam berupa batu kapur, tanah liat, pasir besi dan gipsum (diimpor)
SIDANG TUGAS AKHIR Program Studi D3 Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industi ITS - Surabaya LOGO
SIDANG TUGAS AKHIR Program Studi D3 Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industi ITS - Surabaya LOGO Pabrik Semen menggunakan Bahan Aditif Fly Ash dengan Proses Kering Oleh : Palupi Nisa 230 030 04 Hikmatul
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. SEMEN PADANG EFISIENSI PANAS PADA KILN UNIT INDARUNG IV
LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. SEMEN PADANG EFISIENSI PANAS PADA KILN UNIT INDARUNG IV Dibuat Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat Syarat Yang Diperlukan Pada Kurikulum Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik
KARAKTERISTIK PEMBAKARAN BIOBRIKET CAMPURAN AMPAS AREN, SEKAM PADI, DAN BATUBARA SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF
KARAKTERISTIK PEMBAKARAN BIOBRIKET CAMPURAN AMPAS AREN, SEKAM PADI, DAN BATUBARA SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF Joko Triyanto, Subroto, Marwan Effendy Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl.
PEMANFAATAN LIMBAH SEKAM PADI MENJADI BRIKET SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF DENGAN PROSES KARBONISASI DAN NON-KARBONISASI
PEMANFAATAN LIMBAH SEKAM PADI MENJADI BRIKET SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF DENGAN PROSES KARBONISASI DAN NON-KARBONISASI Yunus Zarkati Kurdiawan / 2310100083 Makayasa Erlangga / 2310100140 Dosen Pembimbing
Pabrik Ekosemen (Semen dari Sampah) dengan Proses Kering. Oleh : Lailatus Sa adah ( ) Sunu Ria P. ( )
Pabrik Ekosemen (Semen dari Sampah) dengan Proses Kering Oleh : Lailatus Sa adah (2308 030 025) Sunu Ria P. (2308 030 035) Latar Belakang Peneliti Jepang Abu Sampah Semen Pabrik Ekosemen di Indonesia Pabrik
BAB III DASAR TEORI SISTEM PLTU
BAB III DASAR TEORI SISTEM PLTU Sistem pembangkit listrik tenaga uap (Steam Power Plant) memakai siklus Rankine. PLTU Suralaya menggunakan siklus tertutup (closed cycle) dengan dasar siklus rankine dengan
Studi Awal Desain Pabrik Semen Portland dengan Waste Paper Sludge Ash Sebagai Bahan Baku Alternatif
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 2, (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) F-164 Studi Awal Desain Pabrik Semen Portland dengan Waste Paper Sludge Ash Sebagai Bahan Baku Alternatif Rasdiana Rahma Nur, Firda
PEMANFAATAN ABU SEKAM PADI DENGAN TREATMENT HCL SEBAGAI PENGGANTI SEMEN DALAM PEMBUATAN BETON
PEMANFAATAN ABU SEKAM PADI DENGAN TREATMENT HCL SEBAGAI PENGGANTI SEMEN DALAM PEMBUATAN BETON Maria 1, Chris 2, Handoko 3, dan Paravita 4 ABSTRAK : Beton pozzolanic merupakan beton dengan penambahan material
BAB V PEMBAHASAN. Analisis dilakukan sejak batubara (raw coal) baru diterima dari supplier saat
81 BAB V PEMBAHASAN Pada pengujian kualitas batubara di PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, menggunakan conto batubara yang diambil setiap ada pengiriman dari pabrik. Conto diambil sebanyak satu sampel
Dasar Teori Tambahan. Pengadukan sampel dilakukan dengan cara mengaduk sampel untuk mendapatkan sampel yang homogen.
Dasar Teori Tambahan Batubara merupakan mineral bahan bakar yang terbentuk sebagai suatu cebakan sedimenter yang berasal dari penimbunan dan pengendapan hancuran bahan berselulosa yang bersal dari tumbuhtumbuhan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peningkatan kebutuhan pembangunan perumahan, perhubungan dan industri berdampak pada peningkatan kebutuhan bahan-bahan pendukungnya. Beton merupakan salah satu bahan
PERALATAN INDUSTRI KIMIA
PERALATAN INDUSTRI KIMIA (SIZE REDUCTION, STORAGE, REACTOR ) Penyusun: Lely Riawati, ST., MT. Agustina Eunike, ST., MT., MBA. PERALATAN INDUSTRI KIMIA YANG DIBAHAS : I Material Handling II III Size Reduction
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam Millenium yang ketiga ini manusia tidak pernah jauh dari bangunan yang terbuat dari Beton. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang
PENGENALAN SEMEN SEBAGAI BAHAN PEMBENTUK BETON. Ferdinand Fassa
PENGENALAN SEMEN SEBAGAI BAHAN PEMBENTUK BETON Ferdinand Fassa Outline Pertemuan 2 Pendahuluan Semen Pembuatan Semen Portland Komposisi Kimia Pada Portland Cement Kehalusan penggilingan Panas Hidrasi Jenis-Jenis
Arief Sugianto. Ayu Dahlianti Bagus Syaiful Utomo Bondan Ariawan
Presentasi Kelompok 3 PABRIK SEMEN Arief Sugianto Astrid Fatimah Atmadiputri Ayu Dahlianti Bagus Syaiful Utomo Bondan Ariawan Pendahuluan Semen merupakan bahan bangunan yang digunakan untuk merekat, melapis,
BAB II TEKNOLOGI PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA
BAB II TEKNOLOGI PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA 2.1. Peningkatan Kualitas Batubara Berdasarkan peringkatnya, batubara dapat diklasifikasikan menjadi batubara peringkat rendah (low rank coal) dan batubara
PROPOSAL KERJA PRAKTEK DI PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. PLANT CILACAP JAWA TENGAH
PROPOSAL KERJA PRAKTEK DI PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. PLANT CILACAP JAWA TENGAH Dibuat untuk memenuhi persyaratan permohonan Kerja Praktek di PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. Plant Cilacap Jawa Tengah Oleh: AHMAD
BAB I PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang. Secara umum ketergantungan manusia akan kebutuhan bahan bakar
BAB I PENDAHULUAN I. 1. Latar Belakang Secara umum ketergantungan manusia akan kebutuhan bahan bakar yang berasal dari fosil dari tahun ke tahun semakin meningkat, sedangkan ketersediaannya semakin berkurang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sifat Agregat Halus Agregat halus adalah agregat dengan besar butir maksimum 4,76 mm berasal dari alam atau hasil olahan sesuai dengan SNI 03-6820-2002. Riyadi (2013) pada penelitian
ANALISIS PENGARUH PEMBAKARAN BRIKET CAMPURAN AMPAS TEBU DAN SEKAM PADI DENGAN MEMBANDINGKAN PEMBAKARAN BRIKET MASING-MASING BIOMASS
ANALISIS PENGARUH PEMBAKARAN BRIKET CAMPURAN AMPAS TEBU DAN SEKAM PADI DENGAN MEMBANDINGKAN PEMBAKARAN BRIKET MASING-MASING BIOMASS Tri Tjahjono, Subroto, Abidin Rachman Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian PT Semen Padang merupakan salah satu produsen semen terkemuka di Indonesia. PT Semen Padang menjadi industri semen pertama di Indonesia yang dibangun pada
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Biomassa BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Biomassa meliputi semua bahan yang bersifat organik ( semua makhluk yang hidup atau mengalami pertumbuhan dan juga residunya ) (Elbassan dan Megard, 2004). Biomassa
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
20 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Beton Beton merupakan bahan bangunan yang dihasilkan dari campuran atas semen Portland, pasir, kerikil dan air. Beton ini biasanya di dalam praktek dipasang bersama-sama
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman penghasil minyak nabati yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Produksi minyak kelapa sawit Indonesia saat ini mencapai
Bab III CUT Pilot Plant
Bab III CUT Pilot Plant 3.1 Sistem CUT Pilot Plant Skema proses CUT Pilot Plant secara keseluruhan dapat dilihat pada Gambar 3.1. Pada gambar tersebut dapat dilihat bahwa sistem CUT dibagi menjadi beberapa
OLEH : SHOLEHUL HADI ( ) DOSEN PEMBIMBING : Ir. SUDJUD DARSOPUSPITO, MT.
PENGARUH VARIASI PERBANDINGAN UDARA- BAHAN BAKAR TERHADAP KUALITAS API PADA GASIFIKASI REAKTOR DOWNDRAFT DENGAN SUPLAI BIOMASSA SERABUT KELAPA SECARA KONTINYU OLEH : SHOLEHUL HADI (2108 100 701) DOSEN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Yufiter (2012) dalam jurnal yang berjudul substitusi agregat halus beton
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka Yufiter (2012) dalam jurnal yang berjudul substitusi agregat halus beton menggunakan kapur alam dan menggunakan pasir laut pada campuran beton
Prarancangan Pabrik Gasifikasi Batubara Kapasitas Ton/Tahun BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagian besar energi yang digunakan rakyat Indonesia saat ini berasal dari bahan bakar fosil yaitu minyak bumi, gas dan batu bara. Pada masa mendatang, produksi batubara
BAB II STUDI PUSTAKA
BAB II STUDI PUSTAKA 2.1 Beton Konvensional Beton adalah sebuah bahan bangunan komposit yang terbuat dari kombinasi agregat dan pengikat (semen). Beton mempunyai karakteristik tegangan hancur tekan yang
Nama Kelompok. 1. Himawan Sigit Satriaji 2. Ahlan Haryo Pambudi. dosen PEMBIMBING Ir. Budi Setiawan, MT
Nama Kelompok 1. Himawan Sigit Satriaji 2. Ahlan Haryo Pambudi dosen PEMBIMBING Ir. Budi Setiawan, MT Masyarakat Kebutuhan Pasar bisnis properti Bencana Alam Lumpur Lapindo Bahan baku yang belum termanfaatkan
BAB I PENDAHULUAN. lainnya untuk bisa terus bertahan hidup tentu saja sangat tergantung pada ada atau
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan salah satu materi penting yang ada di bumi dan terdapat dalam fasa cair, uap air maupun es. Kebutuhan manusia dan makhluk hidup lainnya untuk bisa terus
BAB 1 PENDAHULUAN. yang diperoleh dari proses ekstraksi minyak sawit pada mesin screw press seluruhnya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Serat buah kelapa sawit (mesocarp), seperti ditunjukkan pada Gambar 1.1 yang diperoleh dari proses ekstraksi minyak sawit pada mesin screw press seluruhnya digunakan
II. DESKRIPSI PROSES. Precipitated Calcium Carbonate (PCC) dapat dihasilkan melalui beberapa proses
II. DESKRIPSI PROSES A. Macam- Macam Proses Precipitated Calcium Carbonate (PCC) dapat dihasilkan melalui beberapa proses sebagai berikut: 1. Proses Calcium Chloride-Sodium Carbonate Double Decomposition
BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN (PT. CEMINDO GEMILANG)
BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN (PT. CEMINDO GEMILANG) 2.1 Sejarah Perusahaan PT. Cemindo Gemilang (PT. CG) didirikan pada bulan Juli 2011 untuk memulai proyek pembangunan pabrik semen dengan kapasitas klinker
Semen (Portland) padatan berbentuk bubuk, tanpa memandang proses
Semen (Portland) Semen didefinisikan sebagai campuran antara batu kapur/gamping (bahan utama) dan lempung / tanah liat atau bahan pengganti lainnya dengan hasil akhir berupa padatan berbentuk bubuk, tanpa
II. DESKRIPSI PROSES. Precipitated Calcium Carbonate (PCC) dapat dihasilkan melalui beberapa
II. DESKRIPSI PROSES A. Macam - Macam Proses Precipitated Calcium Carbonate (PCC) dapat dihasilkan melalui beberapa proses sebagai berikut: 1. Proses Calcium Chloride-Sodium Carbonate Double Decomposition
Bab 2 Tinjauan Pustaka
Bab 2 Tinjauan Pustaka 2.1 Pengertian Biomassa Untuk memperoleh pengertian yang menyeluruh mengenai gasifikasi biomassa, diperlukan pengertian yang sesuai mengenai definisi biomassa. Biomassa didefinisikan
PENGEMBANGAN TEKNOLOGI TUNGKU PEMBAKARAN MENGGUNAKAN AIR HEATER YANG DIPASANG DIDINDING BELAKANG TUNGKU
NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH PENGEMBANGAN TEKNOLOGI TUNGKU PEMBAKARAN MENGGUNAKAN AIR HEATER YANG DIPASANG DIDINDING BELAKANG TUNGKU Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Menyelesaikan Program Studi Strata
BAB III LANDASAN TEORI. untuk bangunan gedung, jembatan, jalan, dan lainnya baik sebagai komponen
BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Beton Beton merupakan salah satu bahan konstruksi yang telah umum digunakan untuk bangunan gedung, jembatan, jalan, dan lainnya baik sebagai komponen struktural maupun non-struktural.
48 juta ton naik 17,7%
KESIMPULAN PERSAINGAN INDUSTRI KEBUTUHAN KONSUMEN KEPUASAN PELANGGAN 48 juta ton naik 17,7% PT. INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA, Tbk. ORDINARY PORTLAND CEMENT UNIT RAW MILL P 1-2 KUALITAS RAW MEAL PENYIMPANGAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Produk keramik adalah suatu produk industri yang sangat penting dan berkembang pesat pada masa sekarang ini. Hal ini disebabkan oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan
Laporan Kerja Praktek PT. Semen Baturaja (Persero) BAB I PENDAHULUAN
Laporan Kerja Praktek PT. Semen Baturaja (Persero) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Sejarah dan Perkembangan Pabrik Untuk memenuhi semen dalam negeri yang setiap tahun meningkat, maka tahun 1973 di daerah Kabupaten
II. TINJAUAN PUSTAKA. sejenisnya, air dan agregat dengan atau tanpa bahan tambahan lainnya. 2. Kegunaan dan Keuntungan Paving Block
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Paving Block 1. Definisi Paving Block Bata beton (paving block) adalah suatu komposisi bahan bangunan yang dibuat dari campuran semen portland atau bahan perekat hidrolis sejenisnya,
BAB I PENDAHULUAN. melimpah. Salah satu sumberdaya alam Indonesia dengan jumlah yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara dengan sumberdaya alam yang melimpah. Salah satu sumberdaya alam Indonesia dengan jumlah yang melimpah adalah batubara. Cadangan batubara
PENGOLAHAN BATU BARA MENJADI TENAGA LISTIRK
TUGAS LINGKUNGAN BISNIS KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS TENTANG PENGOLAHAN BATU BARA MENJADI TENAGA LISTIRK disusun oleh Ganis Erlangga 08.12.3423 JURUSAN SISTEM INFORMASI SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA
meningkatan kekuatan, kekerasan dan keliatan produk karet. Kata kunci : bahan pengisi; komposisi kimia; industri karet
PENGGUNAAN BAHAN PENGISI ABU TERBANG DALAM INDUSTRI KARET Stefano Munir Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Jenderal Sudirman No. 623, Bandung 40211 Tel. : (022) 6030483,
Sifat Kimiawi Beton Semen Portland (PC) Air Agregat bahan tambah peristiwa kimia PC dengan air hidrasi pasta semen
Sifat Kimiawi Menurut SK-SNI-T15-1991-03, Beton dibuat dengan mencampur (PC), Air dan Agregat, dengan atau tanpa bahan tambah (admixture) dalam perbandingan tertentu. Bahan tambah (admixture) dapat berupa
KARAKTERISTIK MORTAR PADA LIMBAH ABU KELAPA SAWIT. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Kampus Binawidya Km 12,5 Pekanbaru, 28293, Indonesia
KARAKTERISTIK MORTAR PADA LIMBAH ABU KELAPA SAWIT Riski Febriani 1, Usman Malik 2, Antonius Surbakti 2 1 Mahasiswa Program Studi S1Fisika 2 Dosen Jurusan Fisika 2 Dosen Jurusan Fisika Fakultas Matematika
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Perlakuan Awal dan Karakteristik Abu Batubara Abu batubara yang digunakan untuk penelitian ini terdiri dari 2 jenis, yaitu abu batubara hasil pembakaran di boiler tungku
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagian jenis gas dapat dipandang sebagai pencemar udara terutama apabila konsentrasi gas tersebut melebihi tingkat konsentrasi normal dan dapat berasal dari sumber
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Beton banyak digunakan secara luas sebagai bahan kontruksi. Hal ini dikarenakan beton memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki oleh bahan yang lain, diantaranya
Karakterisasi Biobriket Campuran Kulit Kemiri Dan Cangkang Kemiri
EBT 02 Karakterisasi Biobriket Campuran Kulit Kemiri Dan Cangkang Kemiri Abdul Rahman 1, Eddy Kurniawan 2, Fauzan 1 1 Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Malilkussaleh Kampus Bukit Indah,
A. JUDUL KAJIAN TEKNIS TERHADAP SISTEM PENIMBUNAN BATUBARA PADA STOCKPILE DI TAMBANG TERBUKA BATUBARA PT. GLOBALINDO INTI ENERGI KALIMANTAN TIMUR
A. JUDUL KAJIAN TEKNIS TERHADAP SISTEM PENIMBUNAN BATUBARA PADA STOCKPILE DI TAMBANG TERBUKA BATUBARA PT. GLOBALINDO INTI ENERGI KALIMANTAN TIMUR B. ALASAN PEMILIHAN JUDUL PT. Globalindo Inti Energi merupakan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu Penelitian yang sudah pernah dilakukan dan dapat di jadikan literatur untuk penyusunan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Ishaq Maulana
BAB I PENGANTAR. Prarancangan Pabrik Amonium Sulfat dari Amonia dan Asam Sulfat Kapasitas Ton/Tahun
BAB I PENGANTAR A. LATAR BELAKANG Amonium sulfat [(NH 4 ) 2 SO 4 ] atau yang juga dikenal dengan nama Zwavelzure Ammoniak (ZA) merupakan garam anorganik yang digunakan sebagai pupuk nitrogen selain pupuk
BAB I PENDAHULUAN. yang ada dibumi ini, hanya ada beberapa energi saja yang dapat digunakan. seperti energi surya dan energi angin.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan energi pada saat ini dan pada masa kedepannya sangatlah besar. Apabila energi yang digunakan ini selalu berasal dari penggunaan bahan bakar fosil tentunya
PENGERING PELLET IKAN DALAM PENGUATAN PANGAN NASIONAL
KEGIATAN IPTEK bagi MASYARAKAT TAHUN 2017 PENGERING PELLET IKAN DALAM PENGUATAN PANGAN NASIONAL Mohammad Nurhilal, S.T., M.T., M.Pd Usaha dalam mensukseskan ketahanan pangan nasional harus dibangun dari
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 AREN (Arenga pinnata) Pohon aren (Arenga pinnata) merupakan pohon yang belum banyak dikenal. Banyak bagian yang bisa dimanfaatkan dari pohon ini, misalnya akar untuk obat tradisional
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jumlah kebutuhan akan bangunan meningkat dari waktu ke waktu.ini mengakibat kebutuhan akan beton meningkat. Beton umumnya tersusun dari empat bahan penyusun utama
I. PENDAHULUAN. suatu alat yang berfungsi untuk merubah energi panas menjadi energi. Namun, tanpa disadari penggunaan mesin yang semakin meningkat
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kendaraan bermotor merupakan salah satu alat yang memerlukan mesin sebagai penggerak mulanya, mesin ini sendiri pada umumnya merupakan suatu alat yang berfungsi untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggalian dan penambangan menyebabkan berkurangnya sumber daya alam bahan penyusun beton terutama bahan agregat halus dan agregat kasar. Untuk mengantisipasi hal tersebut
PROSES UBC. Gambar 1. Bagan Air Proses UBC
Penulis: Datin Fatia Umar dan Bukin Daulay Batubara merupakan energi yang cukup andal untuk menambah pasokan bahan bakar minyak mengingat cadangannya yang cukup besar. Dalam perkembangannya, batubara diharapkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
19 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Beton Beton merupakan suatu bahan bangunan yang bahan penyusunnya terdiri dari bahan semen hidrolik (Portland Cement), air, agregar kasar, agregat halus, dan bahan tambah.
Bab II Teknologi CUT
Bab II Teknologi CUT 2.1 Peningkatan Kualitas Batubara 2.1.1 Pengantar Batubara Batubara merupakan batuan mineral hidrokarbon yang terbentuk dari tumbuh-tumbuhan yang telah mati dan terkubur di dalam bumi
/BAB II TINJAUAN PUSTAKA. oleh faktor air semen dan suhu selama perawatan.
/BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Beton Beton adalah bahan yang diperoleh dengan mencampurkan agregat halus, agregat kasar, semen Portland, dan air (PBI-2,1971). Seiring dengan penambahan umur, beton akan
PENGARUH PENGGUNAAN RESIN EPOXY PADA CAMPURAN BETON POLIMER YANG MENGGUNAKAN SERBUK GERGAJI KAYU
Konferensi Nasional Teknik Sipil 11 Universitas Tarumanagara, 26-27 Oktober 2017 PENGARUH PENGGUNAAN RESIN EPOXY PADA CAMPURAN BETON POLIMER YANG MENGGUNAKAN SERBUK GERGAJI KAYU Reni O. Tarru 1, Yusri
Efisiensi PLTU batubara
Efisiensi PLTU batubara Ariesma Julianto 105100200111051 Vagga Satria Rizky 105100207111003 Sumber energi di Indonesia ditandai dengan keterbatasan cadangan minyak bumi, cadangan gas alam yang mencukupi
BAB III LANDASAN TEORI
A. Beton BAB III LANDASAN TEORI Beton berdasarkan SNI-03-2847-2007 didefinisikan sebagai campuran antara semen, agregat halus, agregat kasar dan air dengan atau tanpa bahan campuran tambahan membentuk
BAB II STUDI PUSTAKA
BAB II STUDI PUSTAKA 2.1 Beton Beton terbuat dari campuran homogen dengan perbandingan tertentu yang terdiri dari semen, agregat halus, agregat kasar, dan air serta dapat ditambahkan pula dengan bahan
5.1 PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. secara terpadu. Perusahaan ini termasuk perusahaan perseroan terbatas dengan
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk adalah salah satu produsen semen terbesar di Indonesia yang memproduksi berbagai jenis semen
DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i. UCAPAN TERIMAKASIH... ii. DAFTAR ISI... iv. DAFTAR TABEL... vii. DAFTAR GAMBAR... viii. DAFTAR GRAFIK...
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i UCAPAN TERIMAKASIH... ii DAFTAR ISI... iv DAFTAR TABEL... vii DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR GRAFIK... ix DAFTAR ISTILAH... x BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Magnesium klorida Salah satu kegunaan yang paling penting dari MgCl 2, selain dalam pembuatan logam magnesium, adalah pembuatan semen magnesium oksiklorida, dimana dibuat melalui
BAB I I TINJAUAN PUSTAKA. direkatkan oleh bahan ikat. Beton dibentuk dari agregat campuran (halus dan
BAB I I TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Beton Beton adalah suatu komposit dari beberapa bahan batu-batuan yang direkatkan oleh bahan ikat. Beton dibentuk dari agregat campuran (halus dan kasar) dan ditambah dengan
BAB I PENDAHULUAN. energi untuk melakukan berbagai macam kegiatan seperti kegiatan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bahan bakar adalah suatu materi yang dapat dikonversi menjadi energi untuk melakukan berbagai macam kegiatan seperti kegiatan transportasi, industri pabrik, industri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Mortar Menurut SNI 03-6825-2002 mortar didefinisikan sebagai campuran material yang terdiri dari agregat halus (pasir), bahan perekat (tanah liat, kapur, semen portland) dan
BAB I PENGANTAR. A. Latar Belakang
BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Batu bara merupakan mineral organik yang mudah terbakar yang terbentuk dari sisa tumbuhan purba yang mengendap dan kemudian mengalami perubahan bentuk akibat proses fisik
1. MOISTURE BATUBARA
1. MOISTURE BATUBARA Pada dasarnya air yang terdapat di dalam batubara maupun yang terurai dari batubara apabila dipanaskan sampai kondisi tertentu, terbagi dalam bentuk-bentuk yang menggambarkan ikatan
BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN REAKTOR GASIFIKASI
BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN REAKTOR GASIFIKASI 3.1 Perancangan Reaktor Gasifikasi Reaktor gasifikasi yang akan dibuat dalam penelitian ini didukung oleh beberapa komponen lain sehinga membentuk suatu
II. TINJAUAN PUSTAKA. dibuat dari campuran semen portland atau bahan perekat hidrolis sejenisnya,
6 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Paving block Bata beton (paving block) adalah suatu komposisi bahan bangunan yang dibuat dari campuran semen portland atau bahan perekat hidrolis sejenisnya, air dan agregat dengan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1. Mortar Mortar didefinisikan sebagai campuran material yang terdiri dari agregat halus (pasir), bahan perekat (tanah liat, kapur, semen portland) dan air dengan komposisi tertentu
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan PT. Sabas Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak di pengolahan pakan ternak unggas dan perikanan. Perusahaan ini didirikan pada bulan April
Pemanfaatan Limbah Sekam Padi Menjadi Briket Sebagai Sumber Energi Alternatif dengan Proses Karbonisasi dan Non-Karbonisasi
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) 1 Pemanfaatan Limbah Sekam Padi Menjadi Briket Sebagai Sumber Energi Alternatif dengan Proses Karbonisasi dan Non-Karbonisasi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tempurung Kelapa Tempurung kelapa terletak dibagian dalam kelapa setelah sabut. Tempurung kelapa merupakan lapisan keras dengan ketebalan 3 mm sam 5 mm. sifat kerasnya disebabkan
BAB III TEORI DASAR. keterdapatannya sangat melimpah di Indonesia, khususnya di Kalimantan dan
BAB III TEORI DASAR 11 3.1 Batubara Peringkat Rendah Batubara termasuk kedalam sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, keterdapatannya sangat melimpah di Indonesia, khususnya di Kalimantan dan
PENGEMBANGAN TEKNOLOGI TUNGKU PEMBAKARAN DENGAN AIR HEATER TANPA SIRIP
PENGEMBANGAN TEKNOLOGI TUNGKU PEMBAKARAN DENGAN AIR HEATER TANPA SIRIP Putro S., Sumarwan Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik, Universitas Muhamadiyah Surakarta Jalan Ahmad Yani Tromol Pos I Pebelan,
Pabrik Silika dari Fly Ash Batu Bara dengan Proses Presipitasi
Pabrik Silika dari Fly Ash Batu Bara dengan Proses Presipitasi Disusun oleh : Dina Febriarista 2310 030 015 Fixalis Oktafia 2310 030 085 Dosen Pembimbing : Ir. Imam Syafril, MT 19570819 198601 1 001 Pemanfaatan
SUMARY EXECUTIVE OPTIMASI TEKNOLOGI AKTIVASI PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI BATUBARA
SUMARY EXECUTIVE OPTIMASI TEKNOLOGI AKTIVASI PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI BATUBARA Oleh : Ika Monika Nining Sudini Ningrum Bambang Margono Fahmi Sulistiyo Dedi Yaskuri Astuti Rahayu Tati Hernawati PUSLITBANG
UJICOBA PEMBAKARAN LIMBAH BATUBARA DENGAN PEMBAKAR SIKLON
UJICOBA PEMBAKARAN LIMBAH BATUBARA DENGAN PEMBAKAR SIKLON Stefano Munir, Ikin Sodikin, Waluyo Sukamto, Fahmi Sulistiohadi, Tatang Koswara Engkos Kosasih, Tati Hernawati LATAR BELAKANG Provinsi Kalimantan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1 Nilai densitas pada briket arang Ampas Tebu. Nilai Densitas Pada Masing-masing Variasi Tekanan Pembriketan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengujian Densitas Densitas atau kerapatan merupakan perbandingan antara berat dengan volume briket. Besar kecilnya kerapatan dipengaruhi oleh ukuran dan kehomogenan penyusun
OPTIMASI JARAK ADJUSTMENT TENSIONING DEVICE PADA DRAG CHAIN CONVEYOR
OPTIMASI JARAK ADJUSTMENT TENSIONING DEVICE PADA DRAG CHAIN CONVEYOR Budi Setiyana 1) Abstrak Drag Chain Conveyor (DCC) adalah salah satu jenis alat transport untuk memindahkan material baik powder maupun
KAJIAN ANALISA PERHITUNGAN PEMANFAATAN SEKAM PADI SEBAGAI BAHAN BAKAR TAMBAHAN DI CALCINER PT. SEMEN BATURAJA (PERSERO) TBK
KAJIAN ANALISA PERHITUNGAN PEMANFAATAN SEKAM PADI SEBAGAI BAHAN BAKAR TAMBAHAN DI CALCINER PT. SEMEN BATURAJA (PERSERO) TBK Disusun sebagai Salah Satu Syarat Menyelesaikan Pendidikan S1 Terapan Jurusan
BAB III LANDASAN TEORI. tidak terlalu diperhatikan di kalangan masyarakat.
BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Umum Dengan semakin banyaknya pemakaian bahan alternatif untuk beton, maka penelitian yang bertujuan untuk membuka wawasan tentang hal tersebut sangat dibutuhkan, terutama penggunaan
PRESENTASI SEMINAR SKRIPSI
PRESENTASI SEMINAR SKRIPSI LATAR BELAKANG STUDI PENGARUH PENAMBAHAN SLAG DAN FLY ASH SEBAGAI BAHAN ADITIF DI FINISH MILL PABRIK SEMEN KOMPOSIT Diusulkan oleh : Eka Partana 2305 100 008 Aries Purijatmiko
AUDIT ENERGI PADA DRY PROCESS ROTARY KILN SYSTEM DI PABRIK SEMEN
TUGAS AKHIR TF 141581 AUDIT ENERGI PADA DRY PROCESS ROTARY KILN SYSTEM DI PABRIK SEMEN RISKA AYU NRP. 2412 100 012 Dosen Pembimbing Harsono Hadi, PhD Ir. Sarwono, MM JURUSAN TEKNIK FISIKA Fakultas Teknologi
Proses Pembakaran Dalam Pembakar Siklon Dan Prospek Pengembangannya
5 Proses Pembakaran Dalam Pembakar Siklon Dan Prospek Pengembangannya 43 Penelitian Pembakaran Batubara Sumarjono Tahap-tahap Proses Pembakaran Tahap-tahap proses pembakaran batu bara adalah : pemanasan
