UNIVERSITAS INDONESIA
|
|
|
- Erlin Budiaman
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 UNIVERSITAS INDONESIA PENGUKURAN CADANGAN KERUGIAN PENURUNAN NILAI DAN RISIKO KREDIT DENGAN MENGGUNAKAN CREDITRISK + TERHADAP KREDIT PEMILIKAN RUMAH PADA BANK ABC TESIS Kristianti Mutia Fatimah FAKULTAS EKONOMI PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN JAKARTA JANUARI 2012
2 UNIVERSITAS INDONESIA PENGUKURAN CADANGAN KERUGIAN PENURUNAN NILAI DAN RISIKO KREDIT DENGAN MENGGUNAKAN CREDITRISK + TERHADAP KREDIT PEMILIKAN RUMAH PADA BANK ABC TESIS Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Manajemen Kristianti Mutia Fatimah FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN KEKHUSUSAN MANAJEMEN RISIKO JAKARTA JANUARI 2012
3
4
5 KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah Yang Maha Esa karena atas berkat dan rakhmat-nya, saya dapat menyelesaikan tesis ini. Penulisan tesis ini dilakukan untuk memenuhi sebagian dari syarat-syarat untuk mencapai gelar Magister Manajemen di Fakultas Ekonomi. Saya menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan tesis ini, sulit bagi saya untuk dapat menyelesaikan tesis ini. Oleh karena itu, saya menyampaikan ungkapan terimakasih kepada semua pihak yang dengan ikhlas telah memberikan bimbingan, bantuan, dan dorongan kepada saya, yaitu: 1. Prof. Rhenald Kasali, Phd. selaku Ketua Program Magister Manajemen Fakultas Ekonomi. 2. Dr. Dewi Hanggraeni, S.E., M.B.A, selaku dosen pembimbing tesis atas kesabarannya meluangkan waktu untuk memberikan dorongan, bimbingan dan saran-saran yang berharga. 3. Kedua orang tua saya yang selalu mendukung dan mendoakan saya dalam segala hal dan mendorong saya agar cepat menyelesaikan tesis ini. 4. Seluruh staf MM UI (Akademik, Administrasi, Perpustakaan, dan Keamanan) atas segala bantuan yang telah diberikan kepada saya selama masa perkuliahan dan proses penyusunan tesis ini. 5. Erwin Rommy abang saya yang telah memberikan dorongan bagi saya untuk menyelesaikan tesis ini dengan segera. 6. Teman-teman PMR 09 di MMUI, atas bantuan kerja sama, suka dan duka selama saya menempuh studi di MMUI. 7. Bapak Eko Bramantyo selaku atasan saya yang telah berkenan memberikan kesempatan dan memberikan keluangan waktu bagi penulis untuk menyelesaikan pendidikan dan tesis ini. 8. Bimo Aryo Nugroho, Aditia Supriheryanto, A. Dwi Winoto dan Iman Sulaiman rekan-rekan kerja saya yang telah banyak membantu dalam proses penyusunan karya akhir ini. iv
6 Saya berharap Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Saya menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari sempurna. Saya mengharapkan segala kritik dan saran untuk menjadi lebih baik. Semoga tesis ini membawa manfaat bagi pengembangan ilmu. Jakarta, 09 Januari 2012 Penulis v
7
8 ABSTRAK Nama : Kristianti Mutia Fatimah Program Studi : Magister Manajemen Judul : Pengukuran Cadangan Kerugian Penurunan Nilai dan Risiko Kredit dengan Menggunakan CreditRisk + Terhadap Kredit Pemilikan Rumah pada Bank ABC Perhitungan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan economic capital merupakan bagian dari pengukuran risiko kredit bagi setiap industri perbankan. Tidak ditetapkannya metode perhitungan CKPN kolektif yang baku oleh regulator perbankan, mengharuskan setiap Bank untuk menentukan sendiri metode perhitungan CKPN kolektif yang digunakan. Pemilihan KPR sebagai data observasi, didasarkan oleh laporan publikasi yang disusun oleh Bank Indonesia pada kwartal satu tahun 2011 dimana non performing loan kredit perumahan menempati posisi tertinggi diantara fasilitas kredit konsumsi lainnya. Dalam pengukuran risiko kredit dengan menggunakan metode CreditRisk +, data input yang digunakan berupa, exposure at default, recovery rates, default rates dan default rates volitatiliy. Terdapat tiga tahapan dalam pengukuran risiko kredit dengan menggunakan metode CreditRisk +, tahap pertama adalah mengetahui nilai exposure at default, kedua menghitung frequency of defaults dengan menggunakan tingkat keyakinan sebesar 99% dan yang ke tiga menghitung probability of default yang digunakan untuk mendapatkan nilai distribution of losses. Metode CreditRisk + dapat memberikan nilai CKPN kolektif dan economic capital yang digunakan untuk mengukur besarnya modal yang diserap akibat unexpected loss pada portofolio kredit pemilikan rumah untuk periode Januari 2008 sampai dengan Desember 2010 sehingga potensi risiko kredit dapat dikendalikan dan dapat memaksimalkan pengalokasian modal yang dimiliki oleh Bank ABC. Kata Kunci : Risiko Kredit, CreditRisk +, Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) Kolektif, Kredit Pemilikan Rumah, Economic Capital. vii
9 ABSTRACT Name : Kristianti Mutia Fatimah Program : Magister Management Subject : Measurement of Impairment and Credit Risk using CreditRisk + on Housing Loan in Bank ABC Impairment calculation that set up by Central Bank and economic capital is part of credit risk measurement in every banking industry. Since banking regulator does not determine standard method for calculating collective impairment, each bank has to decide its own calculation. Housing loan that selected as observation data is based on first quarter in 2011 of condensed financial statement of Central Bank, whereas non performing loan of housing loan is highest among other consumer credit facilities. In measurement of credit risk using CreditRisk +, input data used are exposure at default, recovery rates, default rates and default rates volitatiliy. There are three stages in measuring credit risk using CreditRisk +, first by Identify the value of exposure at default, second by calculate frequency of default using 99% of confident level, finally calculate probability of default used to obtain value of distribution of losses. CreditRisk + method is able to provide value of collective Impairment and economic capital that used in measuring capital absorbed as result of unexpected loss of credit portfolio of housing loan in January 2008 up to December 2010, thus probable credit risk is controllable and Bank ABC can maximized its capital allocation. Key Words: Credit Risk, CreditRisk +, Collective Impairment, Housing Loan, Economic Capital. viii
10 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL i HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ii HALAMAN PENGESAHAN iii KATA PENGANTAR iv HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR vi ABSTRAK vii DAFTAR ISI ix DAFTAR TABEL xi DAFTAR GAMBAR xii DAFTAR PERSAMAAN xiii DAFTAR LAMPIRAN xiv BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Pembatasan Masalah Kerangka Pemikiran Keaslian Penelitian Sistematika Penulisan 12 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Konsep Bank Kredit Cadangan Kerugian Penurunan Nilai Manajemen Risiko Manajemen Risiko Menurut Basel Committee on Banking Supervision (BCBS) Risiko Risiko Kredit CreditRisk Komponen CreditRisk Economic Capital Provisi Risiko Kredit dengan CreditRisk Pengujian dan Validasi Model Kelebihan dan Kekurangan CreditRisk + 45 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Obyek Penelitian Metode Penelitian Tahapan Penelitian Pengumpulan Data 51 ix
11 3.3 2 Penyusunan Band Pengolahan Data Pengukuran Expected Loss, Unexpected Loss dan Economic Capital Backtesting dan Validasi Model 56 BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Kredit Pemilikan Rumah Bank ABC Kredit Pemilikan Rumah Analisis Pembahasan Pengukuran CKPN Kolektif dan Risiko Kredit Exposure at Default Penentuan Recovery Rate Loss Given Default Number of Default Perhitungan Expected Loss, Unexpected Loss dan Economic Capital Backtesting dan Validasi Model 85 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran 92 DAFTAR REFERENSI 95 x
12 DAFTAR TABEL Tabel 1.1 Daftar Keaslian Penelitian Tabel 2.1 Komponen Risiko Kredit CreditRisk Tabel 4.1 Analisa per Fasilitas Kredit Terhadap Aset dan Total Kredit Bank ABC Tahun Tabel 4.2 Analisa per Sub - Fasilitas Kredit Terhadap Kredit Konsumen Bank ABC Tahun Tabel 4.3 Kolektibilitas Portofolio KPR Bank ABC Tahun Tabel 4.4 Skema pembayaran produk maxi-cash Tabel 4.5 Parameter Produk Utama Tabel 4.6 Total Exposure at Default KPR Bank ABC Tabel 4.7 Rata-rata EAD & LGD per band Bank ABC periode Tabel 4.8 Rata-rata Frekuensi gagal bayar Jan 2010 Mei 2010 band Rp 100 juta Tabel 4.9 Rata-rata Frekuensi gagal bayar Bank ABC Tabel 4.10 Rata-rata Unexpected number of default (n) pada Bank ABC Tabel 4.11 Expected Loss Bank ABC Periode Januari May Tabel 4.12 Perbandingan Penyisihan Aktiva Produktif dengan CKPN kolektif Metode CreditRisk Tabel 4.13 Unexpected Loss Bank ABC Periode Januari Mei Tabel 4.14 Economic Capital Bank ABC Periode Januari Mei Tabel 4.15 Economic Capital Bank ABC Tabel 4.16 Prosentase economic capital terhadap modal untuk tahun Tabel 4.17 Ringkasan Backtesting Portofolio KPR Bank ABC periode Tabel 4.18 Hasil pengukuran Likelihood Ratio Test Tabel 5.1 Kelebihan dan Kekurangan metode CreditRisk+ dibandingkan dengan PPAP xi
13 DAFTAR GAMBAR Gambar 1.1 NPL Kredit Konsumsi Per Juni Gambar 2.1 The Frequency of Defaults Gambar 2.2 Distribution of Losses Gambar 2.3 Distribution of default losses dan actual distribution of losses Gambar 2.4 Capital Requirement under the CSFB CreditRisk + Model Gambar 3.1 Alur CreditRisk Gambar 4.1 Komposisi Aset dan Kewajiban Bank ABC Peridoe Gambar 4.2 Pertumbuhan Kredit Konsumen Bank ABC xii
14 DAFTAR PERSAMAAN Persamaan 2.1 Probability of Default Persamaan 2.2 Probability of Default berdasarkan Poisson Model Persamaan 2.3 Probability Generating Function for Entire Portofolio Persamaan 2.4 Loss Distribution for Entire Portofolio Persamaan 2.5 Frequency of Default Events Persamaan 2.6 Loss Given Defaults Persamaan 2.7 lambda Persamaan 2.8 Expected Loss Persamaan 2.9 Un-Expected Loss Persamaan 2.10 Variance Persamaan 2.11 Standard Deviasi Persamaan 2.12 Economic Capital Persamaan 2.13 Annual Credit Provision Persamaan 2.14 Loglikelihood Ratio xiii
15 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.1 Komposisi Exposure at Default tahun 2008 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah...99 Lampiran 1.2 Komposisi Exposure at Default tahun 2009 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Lampiran 1.3 Komposisi Exposure at Default tahun 2010 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Lampiran 2.1 Komposisi Loss Given Default tahun 2008 dengan RR = 51,03% pada Portofolio Kredit Pemilikan Rumah.102 Lampiran 2.2 Komposisi Loss Given Default tahun 2009 dengan RR = 51,03% pada Portofolio Kredit Pemilikan Rumah.103 Lampiran 2.3 Komposisi Loss Given Default tahun 2010 dengan RR = 51,03% pada Portofolio Kredit Pemilikan Rumah.104 Lampiran 3.1 Komposisi Average Number of Default (λ) tahun 2008 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Lampiran 3.2 Komposisi Average Number of Default (λ) tahun 2009 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Lampiran 3.3 Komposisi Average Number of Default (λ) tahun 2010 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Lampiran 4.1 Komposisi Probability of Default tahun 2008 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Lampiran 4.2 Komposisi Probability of Default tahun 2009 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Lampiran 4.3 Komposisi Probability of Default tahun 2010 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Lampiran 5.1 Komposisi Unexpected Number of Default (n) tahun 2008 dengan tingkat keyakinan 99% Portofolio Kredit Pemilkan Rumah Lampiran 5.2 Komposisi Unexpected Number of Default (n) tahun 2009 dengan tingkat keyakinan 99% Portofolio Kredit Pemilkan Rumah Lampiran 5.3 Komposisi Unexpected Number of Default (n) tahun 2010 dengan tingkat keyakinan 99% Portofolio Kredit Pemilkan Rumah Lampiran 6.1 Komposisi Cummulative Probability of Default tahun 2008 saat melebihi 99%Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Lampiran 6.2 Komposisi Cummulative Probability of Default tahun 2009 saat melebihi 99%Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Lampiran 6.3 Komposisi Cummulative Probability of Default tahun 2010 saat melebihi 99%Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Lampiran 7.1 Komposisi Expected Loss tahun 2008 pada Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Lampiran 7.2 Komposisi Expected Loss tahun 2009 pada Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Lampiran 7.3 Komposisi Expected Loss tahun 2010 pada Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Lampiran 8.1 Komposisi Un-Expected Loss tahun 2008 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah xiv
16 Lampiran 8.2 Komposisi Un-Expected Loss tahun 2009 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Lampiran 8.3 Komposisi Un-Expected Loss tahun 2010 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Lampiran 9.1 Komposisi Economic Capital tahun 2008 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Lampiran 9.2 Komposisi Economic Capital tahun 2009 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Lampiran 9.3 Komposisi Economic Capital tahun 2010 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Lampiran 10 Komposisi Non Performing Loan KPR terhadap portofolio KPR Periode Januari 2008 Desember Lampiran 11 Cadangan Modal Minimum Risiko Kredit Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Periode Januari 2008 Desember xv
17 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Fungsi utama perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat serta bertujuan untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional. Ditengah meningkatnya gejolak perekonomian dunia terutama sebagai dampak krisis AS dan Eropa, perbankan Indonesia masih mampu mempertahankan kinerja yang positif selama triwulan III Aset perbankan terus bertumbuh dan meningkat 1,8% menjadi Rp 3.252,6 triliun. Hal ini ditopang dengan kondisi permodalan yang relatif memadai seperti tercermin pada Capital Adequacy Ratio (CAR) agregat industri perbankan yang mencapai 17,3%, jauh melampaui ketentuan batas minimum permodalan sebesar 8% ( Laporan Perkembangan Pelaksanaan Tugas dan wewenang Bank Indonesia Triwulan III 2011, diakses 30 Desember 2011, 09:40). Sumber utama tingginya profitabilitas berasal dari pendapatan bunga yang tercermin dari Net Interest Income (NII) yang mencapai Rp 114,4 triliun, lebih tinggi dibandingkan NII periode yang sama tahun 2010 sebesar Rp 98,1 triliun. Sekitar 81,5% dari pendapatan bunga tersebut berasal dari pendapatan bunga kredit. Tingginya pendapatan bunga kredit perbankan merupakan dampak langsung dari tingginya penyaluran kredit. Selama triwulan III 2011 kredit perbankan tumbuh 4,1% sehingga secara total selama tahun 2011 telah tumbuh 15,1% (ytd) atau 23,8% (yoy) menjadi Rp 2.031,6 triliun. Kondisi perekonomian Indonesia yang masih relatif stabil dan kondusifnya kinerja dunia usaha membuat kegiatan penyaluran kredit perbankan masih berjalan dengan baik. Relatif stabilnya kinerja perbankan memberikan kontribusi yang positif pada kestabilan sistem keuangan secara keseluruhan. Hal ini tidak terlepas dari peranan sistem perbankan yang mendominasi sistem keuangan Indonesia dengan pangsa total 1
18 2 aset mencapai lebih dari 70%. ( Laporan Perkembangan Pelaksanaan Tugas dan wewenang Bank Indonesia Triwulan III , diakses 30 Desember 2011, 09:40). Meningkatnya kredit perbankan diikuti dengan sedikit peningkatan tekanan risiko kredit. Selama triwulan III 2011, jumlah nominal kredit bermasalah meningkat Rp 2,8 triliun, sehingga mengakibatkan rasio NPL gross perbankan mengalami sedikit peningkatan dari 2,7% menjadi 2,8%. Guna mengantisipasi peningkatan tekanan pada risiko kredit tersebut, perbankan meningkatkan pencadangan kerugian sebesar 3,2% sehingga rasio NPL-net selama triwulan III 2011 stabil pada level 0,6% ( Laporan Perkembangan Pelaksanaan Tugas dan wewenang Bank Indonesia Triwulan III , diakses 30 Desember 2011, 09:40). Kredit merupakan produk perbankan yang memberikan kontribusi terbesar dalam peningkatan aset dan profit bank, namun kredit juga memiliki risiko yang sangat tinggi dan memiliki dampak pada performance bank. Risiko adalah peristiwa / kejadian - kejadian yang potensial untuk terjadi yang mungkin dapat menimbulkan kerugian pada suatu perusahaan (Hanggraeni, 2010 : 2). Fasilitas kredit yang disalurkan oleh Bank pada umumnya adalah, fasilitas kredit korporasi; fasilitas kredit komersial/usaha dan fasilitas kredit konsumen. Fasilitas kredit konsumen meningkat tajam dari tahun 2008 sampai dengan 2010, bahkan masih tumbuh tinggi sepanjang semester I Hal ini didorong oleh daya beli masyarakat yang cukup kuat dan tingkat keyakinan konsumen yang masih terjaga. Kredit pada sektor rumah tangga mayoritas bertujuan untuk kredit perumahan, kemudian kredit kendaraan, dan kredit multiguna cenderung mengalami kenaikan. Kredit perumahan tumbuh tinggi namun demikian memiliki rasio NPL yang paling tinggi diantara kredit konsumsi lainnya pada Juni 2011 yakni 45%, gambar 1.1 merupakan komposisi NPL kredit konsumen per Juni 2011 ( diakses 17 September 2011, 14:06).
19 3 Gambar 1.1 NPL Kredit Konsumsi Per Juni 2011 (sumber: 17 September 2011, 14:06. diolah kembali) Kredit pemilikan rumah merupakan penyaluran kredit yang digunakan untuk membeli rumah atau tempat tinggal dengan jaminan rumah atau tempat tinggal yang akan dibeli tersebut. Dana yang disalurkan kepada kredit pemilikan rumah umumnya dalam jumlah yang cukup besar dan memiliki risiko gagal bayar cukup tinggi. Risiko kredit mencerminkan volatilitas kredit default rate pada nilai yang diharapkan dikalikan dengan jumlah loss given default (Saunders dan Cornett, 2011). Salah satu hal penting dalam mengurangi risiko kredit dalam industri perbankan adalah dengan melakukan pembentukan cadangan penyisihan pada debitur untuk setiap fasilitas kredit dan menghitung economic capital terhadap portofolio dari fasilitas kredit tersebut, dengan dimikian pembentukan cadangan kerugian seharusnya dilakukan dengan menggunakan metode yang tepat. Sejak tahun 2008, kredit konsumsi merupakan kredit yang sangat diminati oleh masyarakat luas terutama kredit kepemilikan rumah, kartu kredit dan kepemilikan kendaraan bermotor. Pada tahun 2010 kredit konsumsi meningkat sebesar 22,91% (Bank ABC, laporan manajemen, Desember 2010), dari peningkatan tersebut kredit pemilikan rumah merupakan penyumbang tertinggi atas profit Bank. Seiring dengan peningkatan kredit konsumsi yang diberikan
20 4 kepada masyarakat, akan berdampak pada peningkatan risiko kredit yang dimiliki oleh Bank ABC. Untuk meminimalisasi risiko kredit akibat kredit default, dibutuhkan modal yang cukup agar dapat mengurangi kerugian yang dihadapi oleh bank, modal seharusnya dapat menutupi unexpected loss, yang artinya unexpected loss tidak dapat ditutupi oleh expected loss. Pada umumnya bank memiliki cadangan dana yang disebut sebagai cadangan umum (general provision) atau cadangan kerugian kredit untuk menutupi expected loss (Jorion, 2009). Oleh karena itu, perhitungan pengalokasian modal yang tepat merupakan faktor penting dalam mengurangi kerugian atau memitigasi risiko kredit. Dengan pertumbuhan kredit yang pesat, bank sebaiknya lebih fokus untuk menjalankan manajemen risiko pada produk tersebut agar dapat mengoptimalkan keuntungan dan meminimalisir kerugian yang akan dihadapi oleh bank dan untuk mencegah adanya permasalahan yang dapat mempengaruhi kinerja. Pembatasan risiko sangat dibutuhkan oleh industri perbankan dalam menjalankan fungsi dan meningkatkan kinerja, oleh karena itu Bank Indonesia memberlakukan PBI No. 5/8/PBI/2003 tentang penerapan manajemen risiko bagi bank umum. Ketetapan yang dimaksud antara lain: ruang lingkup manajemen risiko; kebijakan, prosedur dan penetapan limit; proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, pengendalian dan sistem informasi manajemen risiko; sistem pengendalian intern; pengelolaan risiko produk dan aktivitas baru. Risiko kredit dan cadangan yang dibentuk oleh akunting merupakan salah satu komponen penting dalam pengukuran kerugian bank, namun demikian terdapat perbedaan metode dalam perlakuannya. Pendekatan akunting umumnya mengacu pada kejadian historis (masa lalu), dimana pendapatan (atau kerugian) masa lalu diperhitungkan dan dianalisa, namun ketidakpastian masa depan tidak diperhitungkan sama sekali. Keadaan tersebut tidak sepenuhnya memberikan kepuasan walaupun apabila bank memiliki keuntungan masa lalu dari sumber utamanya yaitu: memberikan pinjaman dan memberikan jasa intermediasai (Crouhy, Galai dan Mark. 2001). Berdasarkan teori tersebut, menjadi menarik
21 5 dianalisa bila perhitungan cadangan metode akuntansi dan risiko kredit dapat diukur dengan menggunakan model yang sama. Salah satu komponen yang dapat mengantisipasi risiko kredit pada akunting adalah perhitungan Penyisihan Aktiva Produktif (PPAP). Saat ini Bank Indonesia mengharuskan bank-bank untuk memperhitungkan penyisihan aktiva produktif (PPAP) atas pemberian kredit kepada nasabah-nasabah dengan metode kolektibilitas. Perhitungan PPAP tersebut diatur melalui PBI Nomor 10/15/PBI/2008 tentang kewajiban penyediaan modal minimum bank umum. Seperti yang disebutukan oleh Saunders dan Cornet (2011), hasil volatilitas default rate dan LGD disebut juga sebagai unexpected loss pada fasiliitas kredit dan hal tersebut merupakan ukuran dari risiko kredit. Dengan demikian dapat diketahui penyediaan modal yang dibutuhkan untuk menutupi unexpected loss. Sejak tahun 2010 Bank Indonesia mulai menerapkan perhitungan PPAP (disebut sebagai Cadangan Kerugian Penurunan Nilian (CKPN)) dengan ketentuan yang disesuaikan dengan metode perhitungan dalam PSAK 55 (revisi 2006). Namun demikian perubahan metode perhitungan tersebut dilakukan secara paralel sampai dengan tahun 2012, dengan artian lain industri perbankan saat ini masih memperhitungkan cadangan dengan metode kolektibilitas versi Bank Indonesia maupun model yang ditetapkan oleh masing-masing internal perbankan (untuk penyesuaian atas PSAK 55 (revisi 2006)). Masa transisi atas perubahan perhitungan cadangan diatur melalui SE BI No.11/33/ DPNP tanggal 8 Desember 2009 perihal perubahan atas surat edaran No. 11/4/DPNP tanggal 27 Januari 2009 tentang Pelaksanaan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia. Perhitungan CKPN dapat dilakukan secara kolektif maupun individual. Perhitungan CKPN secara kolektif dilakukan untuk portofolio kredit dengan karakteristik yang sama dengan jumlah debitur yang besar. Sedangkan untuk debitur yang memiliki outstanding kredit di atas batasan materialitas yang ditetapkan oleh masing-masing bank dan/atau bila bank memiliki bukti objective maka CKPN akan dihitung secara individual. Perhitungan CKPN kolektif dilakukan untuk exposure kredit dengan kategori default. Default merupakan
22 6 gagal bayar atas pinjaman yang sudah jatuh tempo, kebangkrutan, atau restruktur hutang yang disebabkan oleh debitur yang kesulitan dalam pelunasan kewajibannya (Besis, 2010). Tidak ditetapkannya metode perhitungan yang khusus dari Bank Indonesia selaku badan regulator perbankan untuk memperhitungkan CKPN kolektif, menyebabkan bank harus menetapkan model perhitungannya sendiri. Perhitungan CKPN kolektif akan berdampak pada perhitungan penyediaan modal (economic capital) yang harus disediakan oleh Bank untuk mengantisipasi risiko kredit yang dihadapai Bank. Dengan demikian model untuk memperhitungkan CKPN kolektif harus menggunakan metode yang tepat untuk mengantisipasi kerugian yang dihadapi Bank. Dalam menghitung risiko kredit, terdapat beberapa metode pengukuran yang dapat digunakan, seperti Moody s KMV, Credit Risk + dari Credit Suisse Financial Product (CSFP), Credit Portofolio View dari Mckinsey, dan Credit Metrics dari JP Morgan. Dari berbagai metode yang ada, untuk penelitian ini digunakan metode Credit Risk +. Metode ini dipilih untuk mengukur CKPN kolektif dan economic capital karena perhitungan menggunakan metode Credit Risk + dapat dihitung dengan menggunakan data internal berupa jumlah exposure, kolektibilitas dan recovery rate. Dengan data input yang sederhana, Credit Risk + cocok digunakan dalam perhitungan risiko kredit konsumen. Saat ini Bank ABC melakukan perhitungan CKPN kolektif dengan menggunakan metode net flow rate. Net flow rate merupakan suatu metode statistical yang dilakukan dengan manganalisis tingkat kerugian kredit pada setiap periode tunggakan. Mekanisme perhitungan Probability of Default dengan metode net flow rate dilakukan dengan mengelompokkan outstanding kredit berdasarkan masing-masing bucket berdasarkan date past due.
23 7 1.2 Rumusan Masalah Semakin meningkatnya permintaan dan pemberian fasilitas kredit pemilikan rumah maka akan meningkatkan risiko kredit pada portofolio kredit tersebut. Risiko kredit yang dihadapi adalah risiko gagal bayar (credit default) debitur dalam melunasi kewajibannya. Saat ini risiko kredit yang diperhitungkan oleh Bank ABC pada portofolio kredit pemilikan rumah dilakukan dengan menggunakan hasil perhitungan cadangan yang dibentuk berdasarkan PPAP versi Bank Indonesia dan CKPN kolektif metode net flow rate. Perhitungan risiko kredit yang diterapkan dirasa masih kurang tepat, karena Bank hanya memperhitungkan cadangan yang dapat diestimasi (expected loss). Sedangkan perhitungan risiko kredit diharapkan dapat memperhitungkan unexpected loss. Dilain pihak, dengan menggunakan PPAP versi Bank Indonesia, cadangan yang dibentuk untuk menutup kerugian masih lebih tinggi dari seharusnya, dengan demikian alokasi modal yang digunakan untuk pembentukan cadangan (reserve) belum dilakukan secara optimal. Saat ini Bank Indonesia tidak menetapkan metode perhitungan CKPN kolektif dan pengukuran risiko kredit yang baku. Dengan berlakunya PSAK 55 (revisi 2006) bank diwajibkan untuk menentukan pemilihan metode perhitungan CKPN kolektif secara internal, saat ini metode perhitungan yang dipilih oleh Bank ABC adalah metode net flow rate, namun demikian metode net flow rate hanya menghasilkan nilai CKPN kolektif yang berfokus pada sisi akunting, tidak terkait secara langsung dalam perhitungan penyediaan modal (economic capital) yang harus disediakan untuk mengantisipasi risiko kredit yang dihadapi oleh Bank. Dengan demikian menjadi sangat menarik untuk dikaji agar mendapatkan metode perhitungan CKPN kolektif dan risiko kredit yang tepat, sehingga alokasi modal dan perhitungan cadangan kerugian dilakukan secara optimal dan akurat, serta risiko kredit yang dihadapi dapat diantisipasi lebih awal.
24 8 Berdasarkan identifikasi permasalahan di atas, pertanyaan penelitian adalah sebagai berikut: 1. Berapa besar nilai probability of default dengan menggunakan metodologi CreditRisk + dengan model distribusi poisson sebagai dasar perhitungan CKPN kolektif kredit pemilikan rumah? 2. Berapa besar economic capital yang berpengaruh pada Bank ABC untuk menutupi unexpected loss? 3. Apakah metode CreditRisk + dapat digunakan untuk mengukur risiko kredit pada portofolio kredit pemilikan rumah? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan dari penulisan karya akhir ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui nilai probability of default dengan menggunakan metodologi CreditRisk + dengan model distribusi poisson sebagai dasar perhitungan CKPN kolektif kredit pemilikan rumah. 2. Mengetahui besarnya economic capital yang harus disediakan bank untuk menutup kerugian unexpected loss. 3. Menerapkan metode CreditRisk + dalam pengukuran risiko kredit pada portofolio kredit pemilikan rumah. 1.4 Manfaat Penelitian Bagi bank ABC adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui hasil perhitungan CKPN kolektif dengan metodologi CreditRisk + dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti perhitungan PPAP versi Bank Indonesia. 2. Bank dapat mengantisipasi rekening hapus buku berdasarkan hasil perhitungan unexpected loss dengan menggunakan CreditRisk Untuk mengetahui besarnya expected loss dan unexpected loss dari kredit pemilikan rumah yang akan mempengaruhi economic capital.
25 9 Bagi Bank Indonesia sebagai regulator Manfaat penelitian adalah dapat memberikan bahan pertimbangan kepada Bank Indonesia untuk menggunakan CreditRisk + dalam perhitungan CKPN dalam kredit retail lainnya yang dapat menghitung langsung economic capital yang harus disediakan oleh bank. Bagi penelitian selanjutnya: Dapat menggunakan metode CreditRisk + sebagai dasar perhitungan CKPN kolektif untuk fasilitas kredit konsumen lainnya. 1.5 Pembatasan Masalah Dalam pembahasan terdapat beberapa batasan yang ditetapkan dalam penyusunan karya akhir ini antara lain: 1. Obyek penelitian adalah kategori kredit retail untuk fasilitas kredit pemilikan rumah pada bank ABC. 2. Data yang diolah untuk perhitungan CreditRisk + adalah kredit Non Performing Loan (NPL) kredit dengan periode tunggakan melebihi 90 hari. Tunggakan termasuk tunggakan kewajiban dan bunga, namun tidak termasuk denda biaaya administrasi. 3. Data yang digunakan adalah kredit pemilikan rumah untuk periode 1 Januari 2008 sampai dengan 31 Desember Nilai exposure yang digunakan antara Rp 500 Ribu sampai dengan Rp 7,5 Miliar mempertimbangkan bahwa nilai exposure kurang dari Rp 500 Ribu memiliki tingkat risiko yang rendah dan pembatasan nilai exposure sampai dengan Rp 7,5 Miliar disebabkan selama periode observasi 2008 sampai dengan 2010, tidak ada debitur fasilitas kredit KPR Bank ABC yang memiliki pinjaman di atas Rp 7,5 Miliar. Exposure merupakan outstanding kredit yang dimiliki oleh masing-masing debitur.
26 Kerangka Pemikiran Penyusunan karya akhir didasarkan pada teori dan peraturan pengukuran risiko kredit dikaitkan dengan perhitungan CKPN yang diatur pada PSAK 55 (revisi 2006). Model pengukuran risiko kredit yang digunakan adalah CreditRisk + dengan distribusi poisson. Data yang digunakan adalah data bulanan portofolio kejadian gagal bayar debitur untuk fasilitas kredit pemilikan rumah pada bank ABC dalam periode 1 Januari 2008 sampai dengan 31 Desember Dengan dikeluarkannya SE BI No.11/33/DPNP, diharuskan industri perbankan dapat menetapkan metode perhitungan pencadangan kredit dengan model yang mereka pilih. Dengan demikian, karya ahir ini akan memperhitungkan expected loss dan unexpected loss dengan menggunakan model CreditRisk +, atas dasar perhitungan tersebut dapat diketahui dampak yang berpengaruh atas penyerapan economic capital sehingga bank dapat memprediksi modal yang harus dipersiapkan untuk menghindari risiko kredit. 1.7 Keaslian Penelitian Tabel 1.1 Daftar Keaslian Penelitian No. Judul Penulis dan Tahun Uraian Metode Penilitan 1 CreditRisk+, a credit risk management framework 2 Review and implementation of Credit Risk models of the financial sector assessment program CreditRisk Suisse Boston, 1997 Asevani, Liu, Mirestean dan Salvati, 2006 Penggunaan dan perhitungan CreditRisk dijabarkan pada Jurnal ini. Memberikan dasar dari model CreditRisk +, dan memberikan beberapa modifikasi. Memberikan informasi bahwa model dapat berguna untuk stress testing pada sektor keungan. CreditRisk + CreditRisk + 3 Calculating Value-at-Risk Hanaf; Tasche, 2002 Menganalisa bagaimana contribution in CreditRisk + menggunakan VaR yang benar dalam bekontribusi untuk kredit atau pinjaman dalam pembentukan portofolio. CreditRisk +
27 11 Tabel 1.1 (Lanjutan) Daftar Keaslian Penelitian No. Judul Penulis dan Tahun Uraian Metode Penilitan 4 Estimating economic capital allocation for market & credit risk 5 Perhitungan Risiko Kredit dengan metode CreditRisk + Guna meningkatkan kolektibilitas tunggakan kartu kredit (Studi Kasus di Bank X) 6 Penerapan metode CreditRisk+ dalam pengukuran risiko kredit pada pembayaran kendaraan bermotor (studi kasus PT XYZ) 7 Analisis pengukuran risiko kredit KPR Consumer Banking Bank X dengan menggunakan metode CreditRisk + 8 Analisis pengukuran risiko kredit usaha kecil dengan menggunakan metode CreditRisk + (studi kasus Bank X) 9 Analisis pengukuran risiko kartu kredit dengan metode CreditRisk + pada Bank X 10 Pengukuran Risiko Kredit Menggunakan Metode CreditRisk + dengan mempertimbangkan variable makro ekonomi (Studi Kasus di Bank X) 11 Perhitungan Economic Capital akibat risiko kredit pada PT Toyota Astra Financial Services menggunakan metode CreditRisk + (Sumber: Peneliti) kupiec, 2001 penjabaran metode perhitungan cadangan modal yang dibutuhkan untuk mengantisipasi risiko kredit & risiko pasar Setiawan, 2005 Dengan metode CreditRisk +, usaha collection kartu kredit pada bank dapat memaksimalkan usahanya untuk melindungi aset bank. Bank dapat menghitung capital requirement Olof, 2003 Metode perhitungan risiko kredit pada perusahaan pembiayaan kendaraan bermotor menggunakan metode CreditRisk + Rahardja, 2009 CreditRisk + diterapkan pada kredit Kredit Pemilikan Rumah Dewi, 2009 CreditRisk + diterapkan pada kredit usaha kecil menengah Hotmaria, 2009 Bank dapat mengantisipasi risiko kerugian kredit pada kartu kredit dengan menggunakan metode CreditRisk +. Widayanti, 2010 Menganalisa gubungan antara perhitungan CreditRisk + dengan beberapa faktor eksternal Iskandar, 2011 Model CreditRisk + untuk menghitung economic capital pada perusahaan pembiayaan CreditRisk + CreditRisk + CreditRisk + CreditRisk + CreditRisk + CreditRisk + CreditRisk + CreditRisk + Penelitian sebelumnya menggunakan metode CreditRisk + untuk mengetahui nilai expected loss, unexpected loss dan economic capital pada protofolio kredit. Portofolio kredit yang diukur antara lain kartu kredit, kredit usaha kecil menengah, kredit kendaraan bermotor pada bank dan kredit pembiayaan kendaraan bermotor pada perusahaan pembiayaan.
28 12 Sampai dengan saat ini belum ada peneltian yang menganalisa penerapan perhitungan CKPN dikaitkan dengan perhitungan risiko kredit dengan menggunakan model CreditRisk +, karya akhir ini dapat memberikan saran dan solusi kepada bank-bank dalam pemilihan metode yang tepat untuk memperhitungkan CKPN untuk portofolio kredit pemilikan rumah sebagai pengganti metode PPAP versi bank Indonesia yang akan mulai berlaku pada tahun 2012 dan hasil dari perhitungan tersebut dapat dikaitkan dengan perhitungan economic capital atas hasil perhitungan expected loss dan unexpected loss dengan metode CreditRisk + dan menggunakan distribusi poisson. Jurnal di atas memberikan masukan kelebihan dan kekurangan atas model CreditRisk +, dan memberikan masukan kepada penulis untuk menghitung CKPN tersebut dengan model CreditRisk Sistematika Penulisan Sistematikan penulisan karya akhir ini dibagi ke dalam lima bab dengan pembahasan sebagai berikut: Bab 1 Pendahuluan Bab ini membahas latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitan, manfaat penelitian, pembatasan masalah, kerangka pemikiran, keaslian penelitian dan sistematika penulisan. Bab 2 Landasan Teori Bab ini membahas konsep bank, definisi-definisi mengenai kredit, cadangan penurunan nilai, manajemen risiko, manajemenn risiko menurut Bassel Committe on Banking, risiko, risiko kredit, CreditRisk +, komponen CreditRisk +, economic capital, provisi risiko kredit dengan CreditRisk +, pengujian dan validasi model dan kelebihan dan kekurangan CreditRisk +.
29 13 Bab 3 Data dan Metodologi Penelitian Bab ini membahas tahapan penelitan mulai dari obyek penelitian, metode penelitian, tahapan penelitian yang digunakan dalam serangkaian proses pengolahan data yang dimasukkan kedalam perhitungan metode CreditRisk + dan backtesting dan validasi model. Bab 4 Analisis Dan Pembahasan Bab ini menginformasikan gambaran umum kredit pemilikan rumah Bank ABC serta membahas mengenai proses perhitungan dan hasil yang diperoleh dari pengolahan data dengan perhitungan CKPN kolektif metode Credit Risk + kredit pemilikan rumah sebagai pengganti perhitungan PPAP versi Bank Indonesia. Bab ini juga membahas mengenai hasil perhitungan Unexpected Loss serta besarnya Economic Capital yang dapat menyerap cadangan modal yang diperlukan untuk menutup Unexpected loss. Bab 5 Kesimpulan dan Saran Bab ini membahas kesimpulan berdasarkan hasil pembahasan masalah serta saran-saran untuk pengembangan selanjutnya.
30 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Bank Menurut Pasal 1 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 definisi Bank adalah: Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak. Menurut Saunders dan Cornett (2007), bank komersial adalah suatu institusi penyimpanan dana terbesar, diukur dengan besarnya aset yang dimiliki. Bank memberikan fungsi yang hampir sama dengan institusi penyimpanan dana dan credit unions, mereka menerima penyimpanan dana (kewajiban) dan memberikan pinjaman (aset). Masih menurut Saunders dan Cornet (2008), komersial bank adalah bank yang memberikan jasa penyimpanan dana dan memberikan fasilitas pinjaman konsumen, komersial dan real estate. Berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa bank merupakan institusi yang menjalankan fungsi intermediasi atas dana yang diterima dari nasabah. Fungsi intermediasi yang dimaksud adalah antara masyarakat yang membutuhkan dana dengan lembaga penghimpun dana, dimana dana yang diperoleh sebagian bersumber dari masyarakat yang memiliki dana. Jika sebuah bank mengalami kegagalan, dampak yang ditimbulkan akan meluas mempengaruhi nasabah dan lembaga-lembaga yang menyimpan dananya atau menginvestasikan modalnya di bank, dan akan menciptakan dampak pada domestik maupun pasar internasional. Fungsi intermediasi yang ditawarkan oleh Bank antara lain adalah pemberian kredit kepada nasabah, jasa layanan transaksi valuta asing seperti spot, forward dan swap, jasa pasar uang seperti interbank taking/ placement, sertifikat 14
31 15 BI, Repo dan surat berharga seperti SUN, ORI dan sukuk. Produk lainnya yang ditawarkan oleh Bank untuk proses intermediasi adalah deposito. Deposito merupakan simpanan dana pada Bank yang tidak dapat dicairkan/ ditarik oleh nasabah pada jangka waktu tertentu kecuali nasabah membayar biaya penalty atas pencairan yang dipercepat. Sedangkan pada produk demand deposit atau deposito on call, dana pada produk tersebut dapat dicairkan setiap saat, tanpa adanya pemberitahuan awal atau penalty, produk tersebut hampir sama dengan tabungan dan giro nasabah. Jasa lain yang diberikan oleh Bank adalah penyediaan tempat safe deposit box atau yang disebut juga penyimpanan dalam brangkas. Jasa tersebut merupakan penyimpanan yang disediakan oleh Bank kepada nasabah untuk menyimpan barang-barang berharganya untuk menghindari perampokan, kebakaran, banjir atau alasan lainnya. Pada jasa penyimpanan ini Bank mendapatkan pendapata jasa sewa atas penggunaan brangkas tersebut. Pentingnya peran bank dalam melaksanakan fungsinya maka perlu diatur secara baik dan benar. Hal ini bertujuan untuk menjaga kepercayaan nasabah terhadap aktivitas perbankan. 2.2 Kredit Kredit atau yang disebut juga credo dalam bahasa latin, memiliki arti kepercayaan. Dalam industri perbankan, kepercayaan yang diberikan oleh pihak bank adalah memberikan jasa atau uang kepada pihak lain dengan persyaratan pengembalian dalam jangka waktu dan jumlah yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Menurut Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 pasal 1 angka 11, kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
32 16 Menurut Basel Committee on Bank Supervision (2001), kredit adalah aset keuangan yang dihasilkan dari penerimaan kas atau aset lainnya yang diberikan oleh pemberi pinjaman kepada penerima pinjaman, kemudian menjadi kewajiban bagi penerima pinjaman untuk membayar kembali pada tanggal yang telah ditetapkan atau yang disepakati dan biasanya pengembalian termasuk bunga. Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat diartikan, kredit merupakan pemberian pinjaman uang atau pemberian jasa, yang pembayarannya dilakukan dengan cara cicilan dengan jumlah yang telah disepakati bersama antara kedua belah pihak, dan debitur meyakinkan kepada bank bahwa mereka dapat mengembalikan pinjaman dalam waktu yang telah ditentukan. Kepercayaan kepada seseorang atau suatu badan atau perusahaan tumbuh karena adanya pengetahuan dari pemberi pinjaman mengenai kemampuan keuangan peminjam dan reputasi peminjam disamping dengan adanya jaminan yang memadai baik berupa jaminan kebendaan maupun non kebendaan dari pihak peminjam. Pengetahuan atas kemampuan kredit consumer dalam membayar kredit dapat dilakukan dengan beberapa proses berikut ini: Inisiasi, dimana bank menerima permohonan atau memberikan penawaran kredit kepada nasabah. Sumber pelunasan. Analisis aspek keuangan, dalam hal kredit consumer bank meminta data-data keuangan calon debitur. Data-data yang dimaksud seperti slip gaji beberapa bulan terahir, tempat dan lama debitur sudah bekerja dan surat rekomendasi dari perusahaan. Analisis agunan. Keputusan kredit. Dokumentasi dan administrasi kredit. Monitoring kredit.
33 17 Dalam memberikan kredit, bank harus menganalisa kondisi debitur secara detail, hal ini dapat diverifikasi dan digambarkan melalui 5 C s of credit yang terdiri dari (Banker Association for Risk Management, 2010): a. Character (reputation), merupakan sifat dari nasabah, bank memperoleh informasi atas nasabah tersebut dari pihak ke tiga dan bisa juga meminta bank to bank information. b. Capacity (earning volatility), merupakan kemampuan debitur untuk menjalankan usahanya dan mampu membayar kewajiban melalui cashflow yang dihasilkan, c. Capital (leverage), merupakan modal yang dimiliki oleh calon nasabah. d. Condition, merupakan faktor kondisi eksternal yang mempengaruhi kemampuan debitur untuk membayar kewajibannya. e. Collateral, merupakan jaminan dari debitur apabila dirinya tidak dapat memenuhi kewajibannya. Menurut Viethzal (2006), pemberian kredit terdiri dari beberapa unsur bagian, yaitu: a. Terdapat dua pihak, yaitu pemberi kredit (dalam hal ini adalah bank) dan penerima kredit (debitur). b. Kepercayaan yang diberikan oleh pemberi kredit kepada penerima kredit. c. Terdapat persetujuan, berupa kesepakatan pihak bank dengan pihak lainnya yang berjanji membayar dari penerima kredit kepada pemberi kredit. d. Terdapat penyerahan jasa dan uang dari pemberi kredit kepada penerima kredit. e. Terdapat unsur waktu (time element). f. Terdapat unsur risiko (degree of risk). g. Adanya unsur bunga sebagai kompensasi kepada pihak bank.
34 18 Dalam penyaluran kredit, informasi tujuan penggunaan dana merupakan salah satu bagian terpenting, informasi tersebut merupakan identifikasi awal untuk penggolongan jenis kredit. Menurut Vietzal (2006), kredit menurut tujuan penggunaannya dapat dibedakan menjadi: a. Kredit modal kerja, adalah kredit modal kerja perusahaan dalam rangka pembiayaan aktiva lancar perusahaan. b. Kredit investasi, adalah kredit berjangka menengah atau panjang yang diberikan kepada usaha-usaha guna merehabilitasi, modernisasi, perluasan ataupun pendirian proyek baru. c. Kredit konsumsi, adalah kredit yang diberikan bank kepada pihak ketiga/ perorangan untuk keperluan konsumsi berupa barang atau jasa dengan cara membeli, menyewa atau dengan cara lain. Termasuk dalam kredit konsumsi ini adalah kredit kendaraan pribadi, kredit perumahan (untuk digunakan sendiri), kredit untuk pembayaran sewa/ kontrak rumah, dan pembelian alat-alat rumah tangga. Kredit pemilikan rumah dapat didefinisikan sebagai pinjaman yang diberikan kepada debitur untuk membeli rumah. Pengertian rumah disini adalah rumah yang penggunaanya untuk tempat tinggal, bukan sebagai tempat usaha yang digabungkan dengan rumah (rumah kantor/toko). Kredit pemilikan rumah juga bukan diperuntukkan untuk merenovasi rumah. Untuk memudahkan Bank dalam memantau jatuh tempo fasilitas kredit yang diberikan kepada setiap nasabah, kredit dibedakan berdasarkan jangka waktu nya. Menurut Siamat (2004:165), penggolongan kredit berdasarkan jangka waktu terbagi menjadi: Kredit Jangka Pendek (Short-Term Loan) Yaitu kredit yang jangka waktu pengembaliannya kurang dari satu tahun. Biasanya kredit ini dipergunakan untuk kelancaran operasi perusahaan termasuk modal kerja.
35 19 Kredit Jangka Menengah (Medium-term Loan) Yaitu kredit yang jangka waktu pengembaliannya satu sampai dengan tiga tahun. Biasanya kredit ini digunakan untuk menambah modal kerja, misalnya membiayai pengadaan bahan baku. Kredit jangka menengah dapat pula dalam bentuk investasi. Kredit Jangka Panjang (Long-term Loan) Yaitu kredit yang diberikan untuk memperlancar kegiatan usaha nasabah di bidang perdagangan. Fungsi penggolongan kualitas dalam kredit untuk setiap debitur adalah untuk membantu Bank dalam mengukur nilai cadangan yang di bentuk atau biaya yang diakibatkan keterlambatan debitur dalam pembayaran kewajibannya. Bank Indonesia mengatur dan membedakan kredit berdasarkan kualitasnya, dituangkan dalam PBI No.7/2/PBI/2005, adalah: a. Kualitas lancar, cadangan yang dibentuk pada kualitas ini adalah sebesar 1%, debitur yang dapat dikategorikan dalam kolektibilitas ini antara lain: tidak menunggak baik bunga dan pokok, kegiatan usaha memiliki potensi pertumbuhan yang lebih baik, likuiditas dan modal kerja yang kuat. b. Kualitas Dalam Perhatian Khusus (DPK), cadangan yang dibentuk pada kredit dengan kulaitas DPK sebesar 5%, debitur yang dapat di kategorikan dalam kolektibilitas ini antara lain: tunggakan pembayaran pokok dan bunga kurang dari 90 hari, perolehan laba cukup baik namun terdapat potensi penurunan, likuiditas dan modal kerja cukup baik. c. Kualitas Kurang Lancar (KL), cadangan yang dibentuk pada kredit dengan kulaitas KL sebesar 15%, debitur yang dapat dikategorikan dalam kolektibilitas ini antara lain: tunggakan pembayaran pokok dan bunga antara hari, kegiatan usaha menunjukkan potensi pertumbuhan yang sangat terbatas atau tidak mengalami pertumbuhan, likuiditas kurang dan modal kerja terbatas. d. Kualitas Diragukan, cadangan yang dibentuk dengan kulaitas diragukan sebesar 50%, debitur yang dapat di kategorikan dalam kolektibilitas ini
36 20 antara lain: tunggakan pembayaran pokok dan bunga antara hari, kegiatan usaha menurun, likuiditas sangat rendah, rasio modal terhadap hutang cukup tinggi. e. Kualitas Macet, cadangan yang dibentuk dengan kulaitas macet sebesar 100%, debitur yang dapat di kategorikan dalam kolektibilitas ini antara lain: tunggakan pembayaran pokok dan bunga lebih besar dari 180 hari, kelangsungan usaha sangat diragukan dan sulit untuk pulih kembali dan pelanggaran yang prinsip terhadap persyaratan pokok dalam perjanjian kredit. Kredit dengan kolektibilitas kurang lancar, diragukan dan macet di sebut juga dengan kredit Non Performing Loan (NPL) atau digolongkan sebagai kredit default. Bank Indonesia mengatur mengenai pengakuan nilai agunan/ jaminan yang diberikan oleh debitur. Aturan tersebut tertuang pada PBI No. 31/148/KEP/DIR pasal 6 poin d yang mengatur besaran prosentase agunan dalam bentuk rumah tinggal: a. 70% untuk penilaian yang dilakukan belum melampaui enam bulan. b. 50% untuk penilaian yang dilakukan setelah enam bulan tetapi belum melampaui 18 bulan. c. 30% untuk penilaian yang dilakukan setelah melampaui 18 bulan tetapi belum melampaui 30 bulan. d. Nol persen untuk penilaian yang dilakukan setelah melampaui 30 bulan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai Dengan berlakunya Pernyataan Standar Keuangan Akuntan Keuangan (PSAK) No. 55 (revisi 2006), Bank Indonesia mengeluarkan PBI No. 11/33/DPNP perihal Perubahan atas Surat Edaran No. 11/4/DPNP tanggal 27 Januari 2009 tentang Pelaksanaan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia. Dalam PBI tersebut, Bank Indonesia mengatur penerapan estimasi penurunan nilai secara kolektif bagi Bank yang menghadapi beberapa keterbatasan kondisi.
37 21 Bank Indonesia mempersiapkan penerapan PSAK No. 55 (Revisi 2006) mengenai instrumen keuangan atas pengakuan dan pengukuran yang kompleks dan berlaku secara internasional. Pada point d mengenai transparansi penerapan estimasi penurunan nilai kolektif, bank diharapkan memberikan informasi yang lebih transparan kepada masyarakat dan pengguna laporan keuangan bank, dengan kata lain laporan yang diberikan kepada masyarkat terhadap kondisi keuangan Bank adalah keadaan keuangan Bank apa adanya, dengan meminimalisasi unsur tambahan yang dilaporkan oleh Bank untuk meningkatan aset Bank. Cadangan kerugian penurunan nilai adalah penyisihan yang dibentuk penurunan nilai kredit (impairment) atas aset, dimana nilai kredit yang tercatat lebih kecil dari nilai tercatat awal. Evaluasi penurunan nilai yang diatur pada PSAK 55 (revisi 2006) dilakukan dengan dua metode, metode tersebut adalah: a. Secara Individual (Individual Assessment), evaluasi penurunan nilai yang dilakuka terhadap aset yang signifikan secara individual yang memiliki bukti obyektif penurunan nilai, yang dihitung dengan metode diskonto arus kas (Discounted Cash Flow). b. Secara Kolektif (Collective Assessment), evaluasi penurunan nilai yang dilakukan secara kolektif atas kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang sejenis, yang dihitung dengan metode statistik berdasarkan data historis. Dengan berlakunya PSAK 55 (revisi 2006) mengindikasikan adanya istilah baru, istilah-istilah penting yang berkaitan dengan CKPN antara lain: Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif, kecuali: pinjaman yang diberikan dimaksudkan untuk dijual dalam waktu dekat, pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuaan awal ditetapkan dalam kelompok tersedia untuk dijual. Biaya transaksi adalah biaya tambahan yang dapat diatribusikan secara langsung untuk perolehan, penerbitan atau pelepasan aset keuangan atau
38 22 kewajiban keuangan. Biaya tambahan adalah biaya yang tidak akan terjadi apabila entitas tidak memperoleh, menerbitkan atau melepaskan instrumen keuangan. Dalam PSAK No 50 (Revisi tahun 2006) poin No 72 disebutkan juga: a) Untuk setiap kelompok aset keuangan dan exposure kredit lainnya, entitas mengungkapkan informasi mengenai exposure risiko kredit, termasuk: Jumlah yang paling mewakili nilai maksimal exposure risiko kredit pada tanggal neraca, tanpa memperhitungkan nilai wajar dari setiap agunan, dalam hal pihak lawan tidak mampu memenuhi kewajibannya atas instrumen keuangan; dan b) Konsentrasi risiko kredit yang signifikan. Berdasarkan PSAK 55 (revisi 2006), jenis kredit berdasarkan evaluasi mengenai terdapat atau tidaknya bukti obyektif bahwa kredit mengalami penurunan nilai dibedakan menjadi: a. Kredit yang mengalami penurunan nilai, yaitu jika terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal kredit tersebut (peristiwa yang merugikan); dan b. Kredit yang tidak mengalami penurunan nilai. 2.3 Manajemen Risiko Definisi Manajemen Risiko menurut Culp (2002), risiko manajemen adalah proses yang dilakukan oleh organisasi untuk memastikan atau mengidentifikasi risiko dan harus dijabarkan agar bisnis utama dapat beroperasi. Menurut Chapman (2006), manajemen risiko adalah bagian dari pengendalian internal. Manajemen risiko ditujukan untuk mefasilitasi keefektifan dan keefisiensian operasi bisnis, mengembangkan laporan internal dan eksternal dan membantu hukum dan peraturan sudah diterapkan dengan benar. Tujuannya adalah untuk memastikan identifikasi dan penilaian atas risiko bisnis yang dihadapi dan tanggapan dari mereka apakah akan di keluarkan atau dikurangkan atau bila dimungkinkan memindahkan risiko tersebut ke pihak ketiga.
39 23 Menurut Idroes (2008), manajemen risiko didefinisikan sebagai suatu metode logis dan sistematik dalam identifikasi, kuantifikasi, menentukan sikap, menetapkan solusi, serta melakukan monitor dan pelaporan risiko yang berlangsung pada setiap aktivitas atau proses. Sedangkan menurut Hanggraeni (2010: 3), manajemen risiko merupakan suatu rangkaian prosedur dan metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memonitor dan mengontrol risiko yang timbul dari bisnis opersional suatu perusahaan. Manajemen risiko ditujukan untuk memastikan kesinambungan profitabilitas dan pertumbuhan usaha sejalan dengan visi dan misi perusahaan. Di dalam strategi pengendalian dan pengeloalaan risiko usaha, perusahaan melakukan identifikasi dan pembuatan peta risiko (risk mapping), kuantifikasi dan pengukuran risiko (risk measurement and assessment), penanganan risiko (risk treatment) serta kebijakan manajemen risiko. Banker Association for Risk Management (2010) menginformasikan, untuk mendapatkan penerapan manajemen risiko yang efektif, Bank perlu memperhatikan aktivitas-aktivitas yang diterapkan. Dalam industri perbankan, aktivitas tersebut di bagi menjadi dua, yaitu: a. Managing Risk. Dalam risiko kredit pengelolaan risiko kredit terbagi menjadi: front end, middle end dan back end. b. Menyediakan modal setelah adanya upaya pengelolaan risiko. Dalam aktivitas manajemen risiko diperlukan pengembangan mekanisme penerapan proses manajemen risiko. Proses penerapan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa tahapan, yaitu: a. Identifikasi risiko. Tahap identifikasi risiko berfungsi mengidentifikasi seluruh jenis risiko yang melekat pada setiap aktivitas operasional yang berpotensi merugikan bank.
40 24 b. Pengukuran risiko. Tahap pengukuran risiko digunakan untuk mengukur profil risiko yang berfungsi untuk mendapatkan prediksi efektifitas penerapan manajemen risiko yang dilakukan. c. Pemantauan dan limit risiko. Tahap pemantauan dan limit risiko berfungsi antara lain, memastikan posisi yang melampaui limit segera ditindaklanjuti dan disesuaikan dengan prosedur yang berlaku. d. Pengendalian Risiko. Tahap pengendalian risiko digunakan oleh Bank dalam mengelola risiko, terutama untuk risiko yang berdampak langsung pada kelangsungan operasioanal bank. Penerapan manajemen risiko yang baik dalam setiap entitas dapat memberikan peningkatan nilai shareholder, memberikan informasi kepada management mengenai potensi kerugian dimasa datang, memperhitungkan modal yang diperlukan untuk menutup risiko kerugian yang dihadapi Manajemen Risiko Menurut Basel Committee on Banking Supervision (BCBS) Perhitungan kebutuhan modal dan ketentuan seluruh bank di dunia dalam menajalankan kegiatan operasional mengacu kepada Basel II yang sebelumnya adalah pada Basel I. Tujuan fundamental dari Basel Committe adalah (BCBS, Consultative document, overview of the new basel capital accord, 2001): Memperkuat kerangka dasar budaya dan stabilitas atas sistem perbankan internasional. Menciptakan kerangka dasar yang konsisten dan tidak memihak bagi bank-bank di berbagai negara. Basel I hanya membahas tentang perhitungan kebutuhan modal untuk menutup risiko kredit dan risiko pasar, pendekatan yang digunakan tidak membedakan kualitas pengelolaan aset. Pada Basel I juga tidak mencakup seluruh
41 25 risiko yang dihadapi oleh Bank pada saat ini seperti risiko likuiditas, stratetgi, kepatuhan, hukum dan lain-lain. Perhitungan modal yang dilakukan pada Basel I dengan menggunakan standardized yaitu dengan menetapkan nilain 8% untuk rasio penyedia modal terhadap total aset yang dimilikinya. Basel I dirancang oleh komite basel sebagai standar yang sederhana, yang mensyaratkan bank-bank untuk memisahkan eksposurnya ke dalam kelas yang lebih luas, yang menggambarkan kesamaan tipe debitur. Eksposur kepada nasabah dengan tipe yang sama akan memiliki persyaratan modal yang sama, tanpa memperhatikan perbedaan yang potensial pada kemampuan pembayaran kredit dan risiko yang dimiliki oleh masing - masing individu nasabah (Hotmaria, 2009; 13). Dengan adanya perkembangan kegiatan operasional dan peraturan yang dihadapi oleh industri perbankan, pihak-pihak regulator perbankan internasional menganggap perlu dilakukan pembaharuna peraturan kegiatan operasional yang dilakuka oleh perbankan. Atas alasan tersebut maka dikeluarkan Basel II yang isinya melengkapi kekurangan dari ketentuan yang terdapat pada Basel I. Kerangka kerja Basel II memiliki tiga konsep regulasi yang lebih dikenal dengan tiga pilar,yaitu (BCBS, Principles for the management of credit risk, 2000): Pilar 1 Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (Minimum Capital Requirement); Bank diminta untuk menghitung modal minimum untuk risiko kredit, risiko pasar, dan risiko operasional. Pilar 2 Review terhadap aturan kecukupan modal dan proses pengawasan internal. Pilar dua fokus kepada persyaratan modal di atas tingkat minimum yang dihitung pada Pilar 1. Pilar 3 Market Discipline; mekanisme pengelolaan internal dan eksternal pada perekonomian pasar bebas tanpa campur tangan langsung pemerintah. Penyediaan modal minimum dengan Basel II lebih menyelaraskan antara profil risiko yang dimiliki oleh bank dalam membentuk economic capital dan
42 26 minimum capital requirement yang ditetapkan oleh regulator. Di lain pihak Basel II bertujuan meningkatkan keamanan dan kesehatan sistem keuangan, dengan menitikberatkan pada perhitungan permodalan yang berbasis risiko, supervisory review process, dan market discipline (Widayanti, 2010: 17). Terdapat tiga pendekatan untuk memperhitungkan kecukupan modal dalam Basel II, yaitu (BCBS, Consultative document, the standardized approach to credit risk, suporting document to the new basel capital accord, 2001): Standardized Approach Dalam pendekatan Standardized Approach perhitungan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) berdasarkan bobot tertentu untuk menetapkan besarnya aset berisiko. Aset berisiko adalah dasar yang digunakan dalam menghitung capital requirement untuk menutupi risiko kredit. Penetapan bobot dalam perhitungan ATMR Standardized Approach diberikan oleh lembaga pemeringkat dari pihak eksternal. Foundation Internal Ratings-Based Approach (IRB-Foundation) Pada pendakatan IRB-Foundation bank dapat menggunakan model internal dalam menghitung kebutuhan modalnya. Melalui pendekatan ini, bank dapat menerapkan diferensiasi yang lebih tepat pada setiap kategori aset. Advance Internal Rating Based Approach Pada pendekatan Advance Internal Rating Based Approach (IRB Advance), masing-masing bank melakukan perhitungan probability of default (PD), exposure of default (EAD), loss given default (LGD) dan jangka waktu. Pendekatan ini hanya berlaku untuk sovereign bank dan perusahaan namun tidak berlaku untuk portofolio retail Risiko Menurut Hanggraeni (2010: 3), definisi risiko adalah peristiwa/kejadiankejadian yang potensial untuk terjadi yang mungkin dapat menimbulkan kerugian pada suatu perusahaan.
43 27 Difinisi risiko menurut Vaughn (2007), terbagi menjadi beberapa difinisi, yaitu: Risk is the chance of loss Chance of loss berhubungan dengan suatu eksposure terhadap kemungkinan kerugian. Risk is the possibility of loss Possibility berarti bahwa probabilitas suatu peristiwa berada diantara nol dan satu. Risk is uncertainty Uncertainty dapat bersifat subyektif dan obyektif. Subjective uncertainty didasarkan pada pengetahuan dan sikap seorang individu dalam menilai situasi risiko, sedangkan objective uncertainty terkandung dalam dua difinisi risiko berikut: - Risk is the dispersion of actual from expected result. - Risk is the probability of any outcome different from the one expected. Berdasarkan difinisi risiko tersebut, disimpulkan bahwa risiko adalah kesempatan, kemungkinan atau ketidak pastian terjadi nya kerugian yang dihadapi. Namun bila ketidak pastian tersebut dapat diantisipasi lebih awal, maka kerugian yang dihadapi akan dapat diminimalisir. Difinisi lain risiko adalah, potensi kerugian yang tidak dapat diantisipasi yang akan berdampak negatif terhadap pendapatan dan permodalan, yang akan menjadi kendala untuk mencapai tujuan bank. Berdasarkan pada PBI No:5/8/PBI/2003 tentang penerapan manajemen risiko bagi bank umum, bank wajib menerapkan manajemen risiko secara efektif. Bank umum dengan tingkat kompleksitas usaha yang tinggi wajib menerapkan delapan jenis risiko yang ditetapkan Bank Indonesia. Delapan jenis risiko adalah sebagai berikut:
44 28 a. Risiko pasar adalah risiko dimana nilai wajar atau arus kas dimasa mendatang atas instrumen keuangan akan berfluktuasi karena adanya perubahan pada variabel pasar, seperti tingkat bunga, tingkat nilai tukar dan harga ekuitas. b. Risiko kredit adalah risiko yang terjadi akibat kegagalan pihak lawan (counterparty) dalam memenuhi kewajibannya. Risiko kredit dikelola baik pada tingkat transaksi maupun portofolio. Pengelolaan risiko kredit dirancang untuk menjaga independensi dan integritas proses penilaian risiko, serta diversifikasi risiko kredit. c. Risiko operasional adalah potensi timbulnya kerugian sebagai akibat dari kejadian-kejadian yang melibatkan manusia, proses, sistem dan kejadiankejadian diluar Bank. d. Risiko likuiditas adalah potensi timbulnya kerugian akibat dari ketidakmampuan bank dalam membayar penarikan oleh nasabah, mendanai pertumbuhan aset dan memenuhi kewajiban sesuai kontrak melalui akses tak terbatas untuk pendanaan pada tingkat suku bunga pasar yang wajar. e. Risiko hukum adalah risiko akibat tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis. Kelemahan aspek yuridis tersebut antara lain disebabkan adanya, ketidakadaan peraturan perundang-undangan yang mendukung atau kelemahan perikatan seperti tidak dipenuhinya syarat sahnya kontrak dan pengikatan dokumen yang tidak sempurna. f. Risiko reputasi adalah risiko akibat menurunnya tingka kepercayaan stakeholder yang bersumber dari persepsi negatif terhadap Bank. Risiko ini melekat dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh Bank. Kegagalan Bank dalam menjaga reputasinya di mata masyarakat dapat menimbulkan pandangan maupun persepsi negatif masyarakat terhadap Bank. Apabila risiko ini dihadapi oleh Bank, maka dalam waktu singkat dapat terjadi penurunan atau hilangnya kepercayaan nasabah terhadap Bank yang pada
45 29 akhirnya akan memberikan dampak negatif terhadap pendapatan dan volume aktivitas bank. g. Risiko strategik adalah risiko akibat ketidaktepatan dalam pengambilan dan/ atau pelaksanaan suatu keputusan stratejik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis. Ketidakmampuan Bank dalam melakukan penyusunan strategi yang tepat dapat menimbulkan kegagalan bisnis bank di masa yang akan datang. h. Risiko kepatuhan adalah risiko akibat bank tidak mematuhi dan/ atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku Risiko Kredit Menurut Saunders (2001), risiko kredit adalah risiko tidak tercapainya proyeksi cash inflow dari pinjaman dan sekuritas yang dimiliki oleh lembaga intermediasi finansial. Risiko kredit dapat dibedakan menjadi dua, yaitu risiko kredit spesifik dan risiko kredit sistematis. Risiko kredit spesifik adalah kemungkinan terjadinya default yang disebabkan oleh adanya risiko proyek yang dijalankan oleh perusahaan. Sedangkan risiko kredit sistematis adalah risiko terjadinya default yang disebabkan oleh faktor ekonomi makro yang mempengaruhi kegiatan debitur. Menurut Crouchy, Galai dan Mark (2001), risiko kredit adalah risiko yang melekat pada kualitas kredit masing-masing debitur dan dapat mempengaruhi aset bank. Gagal bayar adalah, debitur tidak mau atau tidak mampu memenuhi kewajibannya sesuai dengan perjanjian yang telah ditetapkan. Menurut Jorion (2009), risiko kredit adalah risiko kerugian ekonomi yang berasal dari kegagalan salah satu pihak untuk memenuhi kewajibannya. Dampak kegagalan tersebut dapat diukur dengan biaya penggantian cash flow jika pihak lain gagal bayar. Menurut Horcher (2005), risiko kredit timbul dari harapan pembayaran atau kinerja yang terdapat pada perjanjian dengan debitur namun sepertinya akan mengalami kerugian akibat gagal bayar dari debitur tersebut.
46 30 Sedangkan definisi risiko kredit menurut Basel II adalah potensi pihak lawan (counterparty) gagal dalam memenuhi kewajiban pada bank sesuai dengan yang telah di janjikan. Dari definisi-definisi di atas, risiko kredit disebabkan adanya kegagalan yang dilakukan oleh debitur atau pihak yang memberikan pinjaman dalam memenuhi kewajiban yang telah tercantum dalam perjanjian dan berdampak pada cashflow yang dimiliki oleh lembaga intermediasi finansial. Menurut Horcher (2005), risiko kredit termasuk: Default Risk, adalah terjadinya kegagalan atas pembayaran, umumnya berhubungan dengan pinjaman atau pembelian barang. Counterparty pre-setlement risk, sumber utama risiko kredit pada pasar keuangan timbul dari sejumlah counterparties dalam transaksi derifatif seperti swaps, forwards dan options. Risiko kredit ini mengacu kepada risiko counterparty sejak transaksi tersebut timbul berkaitan dengan counterparty Counterparty settlement risk, risiko settlement adalah risiko transaksi yang timbul dari pertukaran pembayaran antara kedua belah pihak yang dituangkan dalam perjanjian. Legal Risk, adalah risiko dimana perusahaan secara legal tidak diperbolehkan mengetahui secara rinci atas transaksi, biasanya transaksi yang dimaksud adalah transaksi derifative. Sovereign or country risk, disebabkan oleh hukum, kebijakan dan peraturan dan pengaruh politik pada transaksi internasional. Concentration risk, berdampak pada organisasi dengan exposure yang tidak dilakukan difersifikasi berdasarkan wilayah atau sektor. Risiko Kredit dapat timbul dari dua belah pihak, baik dari pihak nasabah maupun pihak pemberi kredit. Risiko kredit yang ditimbulkan dari pihak pemberi kredit antara lain, melakukan penilaian atas suatu agunan namun nilai yang diberikan terlampau tinggi dibandingkan dengan nilai sebenarnya, adanya kesalahan yang dilakukan oleh staff penilai kredit dalam melakukan penilaian
47 31 kemampuan membayar nasabah, target performance dari staff perbankan untuk mendapatkan nasabah sehingga staff kredit tidak detail melakukan analisa atas kemampuan membayar debitur. Risiko yang ditimbulkan dari pihak nasabah antara lain, debitur tidak melakukan pembayaran kewajibannya (default), debitur terkena musibah, adanya peningkatan suku bunga pinjaman yang ditetapkan oleh pemerintah yang mempengaruhi pembayaran cicilan nasabah. Credit Suisse (1997), membagi risiko kredit menjadi dua macam yaitu: a. Credit Spread Risk: ditampilkan oleh portofolio dimana keuntungan kredit diperdagangkan dan dilakukan secara marked to market. Perubahan pada penilitan keuntungan akan berdampak pada nilai portfolio. b. Credit Default Risk: Seluruh exposure portofolio menampilkan risiko default kredit, sebagai hasil dari kerugian yang disebabkan oleh gagal bayar debitur. Menurut Besis (2010), Basel II membagi empat komponen utama risiko kredit, yaitu: a. Probability of Default (PD), difinisi dari default yang dapat digunakan antara lain gagal bayar atas pinjaman yang sudah jatuh tempo, kebangkrutan, atau restruktur hutang yang disebabkan oleh debitur yang kesulitan dalam pelunasan kewajibannya. Basel II mendefinisikan kejadian default sebagai tidak adanya pembayaran kewajiban oleh debitur yang melebihi 90 hari. b. Exposure at Default (EAD) mengukur jumlah maksimum yang dapat hilang diakibatkan oleh gagal bayar (default). c. Loss Given Default (LGD), adalah bagian dari jumlah resiko yang efektif akan hilang seiring dengan terjadinya default, setelah mencoba berbagai cara dan melakukan re-cover atas jaminan. d. Credit Conversion Factor (CCF), sesuai dengan Basel II, untuk memetakan exposure komitment dibandingkan dengan exposure kas, atau kontinjensi dan komitment off-balance sheet.
48 CreditRisk + Pada tahun 1997 CreditRisk + pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan oleh Credit Suisse First Boston (CSFB), metode pendekatan CreditRisk + dapat diterapkan untuk jenis kredit pinjaman korporasi dan retail, derivatif dan obligasi yang diperjual belikan. CreditRisk + menurut Credit Suisse (1997: 4), Is a statistical model of credit default risk that makes no assumptions about the causes of default. Menurut Besis (2010: 672), CreditRisk + is a model that generates loss distributions based on default event, recovery rates and exposure at book value. Dengan demikian CreditRisk + dapat menghasilkan distribusi kerugian berdasarkan kejadian gagal bayar, tingkat pengembalian kredit (pelunasan) dan nilai exposure kredit pada nilai buku. Pendekatan CreditRisk + merupakan model statistik yang tidak membahas penyebab terjadinya default, dan menganggap default rate sebagai variabel kontinu dan memasukkan unsur keragaman default rate yang dipertimbangkan sebagai continous random variable, maka dari itu model ini lebih bersifat default model. CreditRisk + digunakan untuk memperkirakan expected losses dari kredit dan distribusi dari kerugian tersebut, berfokus pada pengukuran kecukupan cadangan modal (capital reserved) untuk menanggulangi kerugian tersebut pada tingkatan tertentu (Alhaqiqi, 2009: 21) Komponen CreditRisk + Menurut Credit Suisse (1997, 1), CreditRisk + terdiri dari tiga komponen pokok yaitu Credit Measurement, Economic Capital dan Application. Hubungan antar ketiganya dapat dijelaskan pada tabel di bawah ini:
49 33 Tabel 2.1 Komponen Risiko Kredit CreditRisk + CreditRisk + Credit Measurement Economic Capital Application Exposure Default Rates Credit Defaults Provisioning Loss Distribution Recovery Rates Default Rates Volatility Limits CreditRisk + Model Scenario Analysis Portofolio Management (Sumber tabel: Credit Suisse First Boston, 1997) Komponen data untuk memperhitungkan CreditRisk + adalah sebagai berikut: a. Exposures: adalah outstanding dari transaksi yang dilakukan debitur secara menyeluruh. Dalam beberapa transaksi dapat digunakan untuk menentukan asumsi mengenai tingkat exposure pada saat terjadi default. b. Default Rates: Merupakan jumlah peristiwa yang mewakili kemungkinan terjadinya default pada setiap debitur. Default Rates dapat diperoleh dengan beberapa cara, yaitu: - Observasi credit spread dari instrumen keuangan yang diperdagangkan dapat digunakan untuk mendapatkan probability of default dari penilaian pasar. - Menggunakan credit rating, bersama dengan mapping dari default rates ke credit ratings, dapat digunakan untuk menetapkan cara terbaik dalam mengetahui probability of default dari debitur. - Menggunakan continous scale, dapat digunakan sebagai pengganti dari kombinasi credit rating dan default rate. c. Recovery Rates : Merupakan nilai exposure pada saat terjadinya default yang dapat ditagih kembali oleh Bank setelah fasilitas kredit dihapusbukukan. Namun nilai exposure yang tidak dapat di tagih kembali
50 34 merupakan jumlah kerugian yang ditanggung oleh bank. Kerugian tersebut dapat dihitung dengan rumusan nilai sebesar jumlah pinjaman yang diberikan kepada debitur dikurangi jumlah recovery. Sumber pelunasan yang umum digunakan dalam perhitungan recovery rate terbagi menjadi dua, yaitu recovery rate pinjaman macet yang bersumber dari likuiditas agunan dan recovery rate yang bersumber dari angsuran pinjaman macet (Dewi, 2009). d. Default Rates Volatilities : Actual default rates berfluktuasi disekitar nilai rata-rata yang dapat digambarkan dengan standar deviasi (volatility) dari default rates. Standar deviasi dari default rates bila dibandingkan dengan actual default rates akan merefleksikan fluktuasi default selama siklus ekonomi. Dalam pengukuran risiko kredit yang berupa portofolio digunakan Credit Risk Portofolio +, yang merupakan pengembangan dari CreditRisk +. Dalam Credit Risk Portofolio +, harus dilakukan pembagian portofolio ke dalam beberapa band. Menurut Crouhy (2001) terdapat tiga tahapan dalam pengukuran risiko kredit dengan menggunakan Credit Risk Portofolio +, tahapan tersebut adalah: a. Probability Generating Function for Each Band Setiap band merupakan bagian dari suatu portofolio, sehingga Probability of Default menjadi: G j (z)= Prob(ndefaults)z nlj... (2.1) Dan jumlah default yang terjadi berdasarkan poisson model adalah:...(2.2) b. Probability Generating Function for the Entire Portofolio Setiap band merupakan portofolio exposure, bersifat independen dengan band yang lain, maka Probability Generating Function for Entire Portofolio adalah:
51 35...(2.3) expected number of defaults dari portofolio. c. Loss Distribution for the Entire Portofolio Dari probability generating function for entire portofolio di atas, maka didapat distribusi kerugian dari turunan pertama probability of defaults, yaitu: Prob (loss of NL) =...(2.4) Untuk n = 1,2,3...n Setelah data input di atas dilakukan, terdapat beberapa tahapan dalam pemodelan CreditRisk +, adalah sebagai berikut: Stage I a. Frequency of Default Event Terjadi akibat default kredit dari serangkaian peristiwa yang tidak dapat diprediksi kepastiannya bila terjadi default atau kepastian jumlah default. Model yang tepat untuk menentukan exposure default losses (dari sejumlah debitur yang banyak) dengan probability of default yang relatif kecil, adalah dengan menggunakan distribusi Poisson. Menurut Duffe (2003:59), Poisson model didasarkan pada: - Probability of survival for t years is p(t) = e λ t Meaning that the time to default is exponentially distributed. - The expected time to defaults is I/λ - The probability of default over a time periode of length Δ, given survival to the beginning of this period, is approximately Δ λ, for small Δ.
52 36 Dengan rumus: Prob.n (defaults) =...(2.5) Dimana: e = bilangan exponensial = 2,71828 λ = mean = angka rata-rata default = P A! = factorial n = jumlah debitur default dimana n = 0,1,2,3,...,n Sedangkan menurut Besis (2010, 672), dasar distribusi poisson adalah: - Probability density function (PDF): P(K=k) = exp(-n)nk/k! - n is the default intensity per unit of time, for instance one year, or the average number of defaults in a one year period it is identical to the default intensity: λ - k is the random number of defaults, from 0 to the maximum number of exposures in a portfolio segment and k! Is the factorial of k. Distribusi poisson sebaiknya tidak dikaitkan dengan perbedaan exposure yang besar, namun model tersebut hanya digunakan untuk menghitung defaults. Dalam distribusi poisson, mean default rate pinjaman adalah sama dengan variance sehingga σ 2 = mean atau σ = mean. CreditRisk + tidak mengasumsikan penyebab terjadinya default. Kejadian default dianggap sebagai peristiwa yang tidak dapat ditentukan secara tepat kapan terjadinya dan berapa jumlahnya (Dewi 2009, 24). Pada umumnya actual default rates berfluktuasi disekitar nilai rata-rata. Variasi actual default rates digambarkan dengan volatility dari default rates.
53 37 Default rate Possible path of default rate Mean Frequency of of default rate Time horizon Gambar 2.1 The frequency of defaults Sumber: Saunders (2000:126) Gambar 2.1 menginformasikan standar deviasi dari default rates jika dibandingkan dengan actual default rates merefleksikan fluktuasi default selama siklus ekonomi. Dengan mengasumsikan bahwa default rates volatility konstan, maka default rate sama dengan nilai rata-ratanya. Ketidakpastian default rate merupakan salah satu ketidakpastian yang turut diperhitungkan pada permodelan CreditRisk +. Faktor ketidakpastian lainnya yang turut diperhitungkan juga adalah jumlah loss of severity. Untuk besarnya loss of severity pada individual loan-by-loan basis, loss severities atau loan exposures dikelompokkan dengan membuat band (Iskandar, 2011). b. Severity of the Losses Disebut juga dengan Loss Given Default, merupakan besarnya tingkat kerugian dari peristiwa default. Exposure pinjaman setiap debitur disesuaikan dengan recovery rate, yang akan mendapatkan Loss Given Default (CSFB, 1997:27) dengan rumusan sebagai berikut: LGD = Exposure at Default x (1-recovery rate)...(2.6) Menurut Crouhy, et. al. (2001, 407), In CreditRisk +, the exposure for each obligor is adjusted by the anticipated recovery rate in order to calculate the loss given default. These adjusted exposures are exogenous to the model, and are independen of market risk and downgrade risk.
54 38 Selanjutnya, dari probabilitas terjadinya credit events, kerugian dibedakan menjadi dua jenis, yaitu expected loss dan unexpected loss. - Expected Loss merupakan: kerugian yang sudah diantisipasi. Perkiraan timbul berdasarkan data historis munculnya credit events. Besarnya expected loss diperkirakan dengan nilai rata-rata (nj atau lambda) yang merupakan nilai rata-rata dari total outstanding debitur dalam suatu golongan kelas dari distribusi probabilitas. Dalam industri per-bankan, expected loss dapat terdeteksi dari tingkat kerugian rata-rata dalam kondisi bisnis normal. Menurut Jorion (2005, 155), perhitungan lambda dan expected loss adalah sebagai berikut: Lambda (mean) =...(2.7) Expected Loss = PD x EAD x LGD...(2.8) Dimana: PD : Probability of Default, atau peluang debitur mengalami default dari setiap golongan kelas. EAD : Exposure at Default, atau jumlah debitur yang default berdasarkan golongan kelas dalam satu band. LGD : Loss Given Devault, atau besarnya kerugian yang akan timbul apabila debitur default. - Unexpected Loss adalah: kerugian yang tidak diperkirakan sebelumnya, atau tingkat kerugiannya berada di atas rata-rata. Untuk menutup risiko dari unexpected loss, bank menyediakan modal untuk menutup risiko kredit. Unexpected Loss dihitung dengan cara mengambil nilai kerugian maksimum pada tingkat keyakinan yang dipilih yaitu 99%, dimana tingkat 99% merupakan tingkat keyakinan yang tertinggi dalam memprediksi expected loss yang dapat di atasi oleh economic capital dan atau provisi. Dengan ditetapkannya tingkat keyakinan 99%, kemungkinan kerugian hanya sebesar 0,1% yang akan melebihi nilai expected loss, nilai unexpected loss ini dianggap sebagai ukuran Value
55 39 at Risk (VaR), (Saunders, 2002). Bila unexpected loss terjadi, Bank wajib segera me-cover unexpected loss tersebut dengan modal Bank atau yang disebut juga dengan economic capital, oleh karena itu perlu dilakukan proses monitoring dalam pergerakan unexpected loss agar tidak terjadi kekurangan modal atau kerugian. Unexpected Loss dapat dihitung dengan menggunakan rumusan berikut: Unexpected Loss = n x kelompok Band x Band x (1-R)...(2.9) Dimana: n = Unexpected default number = nilai n saat cumulative probability of default > 99% R = Recovery Rate CreditRisk + mempertimbangkan dua hal, yaitu default dan non default yang merupakan fokus perhitungan expected dan unexpected loss. Default dimodelkan sebagai continous variable dengan probability distribution. Probability tersebut dapat dianalogikan dengan konsep event probability pada asuransi. Dimana dalam hal ini individual loan memiliki probability of default yang kecil dan masing-masing loan s probability of default adalah saling tidak tergantung satu dengan lainnya. Dengan asumsi tersebut maka distribusi probability of default dipersamakan dengan distribusi Poisson. Distribusi Poisson merupakan distribusi frekuensi credit default yang banyak terjadi karena karakteristiknya sederhana. Distribusi poisson mencerminkan suatu probabilita jumlah atau frekuensi kejadian, seperti frekuensi terjadinya gagal bayar, frekuensi terjadinya kecelakaan jalan tol, frekuensi kesalahan sistem auto debet, dan sebagainya. Distribusi poisson memiliki satu parameter yaitu λ (lambda) yang merupakan rata-rata frekuensi terjadinya kesalahan operasional (Alhaqiqi, 2009 : 31). Nilai unexpected number of default terjadi pada saat cumulative probability of default mencapai nilai > 99%. Rumusan yang digunakan untuk memperhitungkan cumulative probability of default adalah dengan menggunakan Excel [POISSONINV (Level of Confidence, λ)+1].
56 40 Stage II Distribution of default losses didapat dari perkalian probability of default dengan severity of losses. Untuk mendapatkan the loss distribution dengan portofolio yang bagus, kerugian dari net exposure (setelah disesuaikan dengan recovery) dibagi menjadi beberapa band. Setelah loss function selesai dihitung, individual default rates didistribusikan dengan distribusi Poisson. Apabila losses dikelompokkan menjadi band, maka distribution of losses dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 2.2 Distribution of Losses Sumber: Saunders (2002:7) Menurut Saunders (2002), fungsi Loss adalah simetris dan mendekati distribusi normal, dimana aproksi loss meningkat sebesar kenaikan jumlah loans dalam sebuah portfolio. Default rates dan loss rates pada Gambar 2.2 di atas menunjukkan kurva dengan fatter tails dan khususnya distribusi Poisson mengimplikasikan bahwa mean default rate dari sebuah portfolio pinjaman harus sama dengan variance-nya, atau dapat dijelaskan dengan rumus sebagai berikut: σ 2 = mean...(2.10) atau
57 41 σ = mean...(2.11) Nilai mean dapat berubah-ubah tergantung pada siklus bisnis yang terjadi. Ekspansi ekonomi akan mengakibatkan nilai mean default rate akan menjadi rendah, dan sebaliknya bila kontraksi ekonomi nilai mean default rate akan menjadi tinggi. Gambar 2.3 Distribution of default losses dan actual distribution of losses Sumber : Saunders (2000 : 96) Economic Capital Economic Capital adalah modal yang disiapkan dalam mengantisipasi besarnya kerugian yang harus di-cover oleh modal Bank. Menurut Servigny (2004, 240), umumnya untuk mengukur economic capital adalah dengan persamaan berikut: EC p (α) = Var (α) - EL p...(2.12) Dimana: EL p = Expected Loss Var (α) = Value at Risk dengan confidence level α
58 42 Sedangkan menurut Saunders (2002, 129), economic capital dapat dijelaskan dengan gambar 2.4 di bawah ini: Probability Expected Loss (EL) 99% Percentile Loss Level (Unexpected Loss (UL)) Economic Capital Loss Distribution Gambar 2.4 Capital Requirement under the CSFB CreditRisk + Model Saunders (2002, 126) Perhitungan economic capital dibutuhkan sebagai pelengkap untuk menutupi risiko perusahaan yang diakibatkan oleh unexpected credit default losses. Agar kerugian unexpected loss dapat dicover dengan modal perusahaan, maka kecukupan modal harus mempertimbangkan besarnya unexpected loss. Menurut Besis (2010), economic capital tergantung dari nilai portofolio yang digunakan untuk mengosongkan kerugian. Modal pada tingkat keyakinan tertentu adalah persentase kerugian dikurangi expected loss dan dikurangi nilai yang berhubungan dengan kerugian yang tidak ada. Expected loss adalah keseluruhan nilai buku kerugian yang dapat diprediksi. Dengan demikian sama saja dengan nilai buku dikalikan dengan probability of default dan loss given default.
59 43 Economic Capital sebagai pengukur risiko memiliki beberapa keuntungan (Credit Suisse First Buston, 1997): a. Pengukuran economic risk lebih tepat dibandingkan dengan spesifikasi yang ditetapkan oleh regulator. b. Mengukur economic risk pada setiap portfolio dan keuntungan dari diversifikasi. c. Mengukur secara obyektif perbedaan antara masing-masing portfolio dengan mengambil bagian kualitas kredit dan ukuran dari exposure. d. Pengukur yang dinamis, yang menggambarkan perubahan risiko dari portfolio dan dapat digunakan sebagai alat untuk mengoptimalisasikan portfolio Provisi Risiko Kredit dengan CreditRisk + Salah satu aplikasi dari CreditRisk + yang disebutkan pada Credit Suisse adalah membentuk metodologi provisi risiko kredit yang sesuai dalam merefleksikan kerugian kredit dari portofolio dalam beberapa tahun dan lebih memberikan perhitungan yang lebih akurat dari penghasilan yang sebenarnya dengan membandingkan pendapatan dengan kerugian. Provisi kredit dimaksudkan untuk melindungi distribusi penurunan profit yang dihasilkan selama di bawah rata-rata kerugian yang di derita selama beberapa tahun. Provisi digunakan untuk membedakan portofolio menjadi non performing dan performing. Provisi terhadap non performing portofolio harus dilakukan secara penuh menjadi tingkat recovery yang diharapkan melalui jaminan, administrasi dan likuidasi. Pada CreditRisk + Annual Credit Provision (ACP) memberikan expected loss pada portofolio performing, dengan rumusan sebagai berikut: ACP = Exposure x Default Rate x (100% - Recovery Rate)...(2.13) ACP dapat diperhitungkan secara terus menerus untuk merefleksikan perubahan kualitas portfolio kredit. ACP hanya mewakilkan pada tingkat yang diharapkan dan rata-rata dari kerugian kredit.
60 44 Elemen ke dua pada pembentukan provisi kredit adalah Incremental Credit Reserve (ICR). ICR melindungi unexpected loss dan digunakan untuk me-absorb kerugian yang memiliki tingkat lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat expected loss Pengujian dan Validasi Model Basel Committee mensyaratkan bahwa backtesting dan validasi model harus dilaksanakan secara rutin agar akurasi model tetap layak digunakan terutama dalam penggunaan Internal Rating-Based Approach. Backtesting adalah suatu kerangka kerja untuk melakukan verifikasi apakah kerugian aktual masih dapat diatasi oleh nilai kerugian yang diprediksi. Backtesting dapat dilakukan dengan menghitung jumlah kesalahan yang terjadi dibandingkan dengan jumlah data. Angka kerugian aktual atau actual loss yang digunakan sebagai pembanding nilai VaR adalah nilai exposure (EAD) portofolio kredit pemilikan rumah yang dikategorikan Non Performing loan setiap bulan selama periode pengamatan. Jika nilai actual loss lebih besar dari nilai VaR artinya nilai VaR dapat menutupi actual loss. Validasi model merupakan proses pemeriksaan untuk meyakini kelayakan atau kesesuaian dari model yang akan digunakan. Pada karya ahir ini validasi model dilakukan dengan menggunakan metode Likelihood Ratio (LR) Test, yaitu dengan menghitung banyaknya jumlah real loss yang melebihi nilai VaR setiap bulan selama periode observasi dan selanjutnya dibandingkan dengan jumlah kesalahan yang masih dapat diterima selama periode observasi. Dalam melakukan validasi model, dapat dilakukan uji statistik likelihood ratio dengan persamaan sebagai berikut:...(2.14)
61 45 Dimana: LR = Likelihood Ratio p* = probabilitas kesalahan di bawah null hypotesis N = jumlah kesalahan estimasi T = jumlah data observasi Kemudian nilai LR dibandingkan dengan nilai chi-squared dengan derajat bebas pada level yang diharapkan. Hipotesis untuk pengujian LR adalah sebagai berikut: H0 : LR < Chi-squared, pemodelan diterima, back testing teruji H1 : LR > Chi-squared, pemodelan ditolak, back testing tidak teruji 2.6. Kelebihan dan Kekurangan CreditRisk + Menurut Servigny (2004), terdapat model yang cepat dan tepat untuk mengidentifikasi risiko kredit dan dapat menghitung kerugian portofolio secara mudah, namun perhitungan tersebut memerlukan banyak asumsi dalam penerapan distribusinya. Sebaliknya, terdapat pendekatan simulasi yang dapat mengakomodasi distribusi yang lebih kompleks namun memerlukan banyak waktu untuk melakukan simulasi. Beberapa model pengukuran risiko kredit seperti, Credit Portfolio View, Credit Metrics, KMV, dan KPMG relatif lebih sulit digunakan pada sektor retail, dikarenakan jumlah debitur yang banyak namun tidak ada keterkaitan antar debitur dan nilai credit exposure yang relatif kecil, sehingga sulit dilakukan pengukuran historical transition matrix seperti yang dipersyaratkan pada pengukuran Credit Portfolio View dan Credit Metrics. Dengan demikian pengukuran risiko terhadap mass product seperti kredit konsumen atau retail sangat cocok digunakan metode CreditRisk + (Rahardja, 2009). Kelebihan CreditRisk + antara lain: Tidak membuat asumsi atas penyebab default sehingga perhitungan dilakukan secara sederhana dan efisien. Membutuhkan data input dasar yang digunakan sesuai dengan yang disyaratkan oleh Basel II IRB.
62 46 Setiap instrumen, hanya diperlukan exposure at default dan perhitungan probabilty of default. Probability of Default dapat dihitung berdasarkan kelompok band. Dapat mengetahui nilai LGD per kelas band. Kelemahan CreditRisk + adalah: Sulit untuk mengetahui risiko kredit per debitur (individual), karena pengukuran dilakukan pada sekelompok debitur dengan jumlah yang banyak (kolektif). Exposure setiap debitur tidak sensitif dengan variability dari interset rate. Distribusi Poisson underestimate terhadap actual probability of default, Dimana mean dapat berubah tergantung pada siklus bisnis.
63 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Obyek Penelitian Bank ABC merupakan salah satu bank swasta yang didirikan di Indonesia. Fasilitas kredit yang diberikan oleh bank ABC antara lain: korporasi; kredit komersial/ usaha, yang terdiri dari: kredit komersial, UKM, kredit koperasi primer anggota; kredit konsumen yang terdiri dari kredit kendaraan bermotor, kredit pemilikan rumah, tagihan kartu kredit, Home equity loan, pinjaman tanpa agunan dan kredit syariah. Obyek penelitian dalam karya akhir ini adalah kredit pemilikan rumah bank ABC untuk periode Januari 2008 sampai dengan Desember 2010, dengan data yang digunakan adalah data historis. Pemilihan fasilitas kredit kepemilikan rumah Bank ABC sebagai objek analisa adalah karena bank ABC termasuk dalam sepuluh bank terbesar pemberi kredit pemelikan rumah di Indonesian (Infobank, ed. Maret, 2011), selain itu besarnya kebutuhan masyarakat akan properti, terutama hunian, meningkatkan produktifitas industri perbankan. Alasan lain adalah karena dalam tiga tahun terakhir fasilitas ini menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi, namun demikian kredit pemilikan rumah yang meningkat tinggi sebaiknya diwaspadai oleh perbankan mengingat pada tahun 1997 fasilitas ini menjadi portofolio penyumbang kredit macet tertinggi. Metode yang akan digunakan untuk menganalisa obyek penelitian ini adalah metode CreditRisk +, untuk memperhitungkan CKPN sebagai pengganti perhitungan PPAP kredit versi Bank Indonesia dan pengukuran economic capital yang harus disediakan oleh Bank ABC untuk mengukur penyediaan modal yang harus dipersiapkan. 47
64 48 Kredit pemilikan rumah yaitu kredit yang diberikan oleh Bank kepada nasabah untuk memperoleh rumah dan atau apartment dengan jaminan rumah atau apartemen tersebut sebesar jumlah kredit yang diberikan. Kredit ini tidak temasuk kredit yang diberikan untuk modal kerja dengan jaminan rumah yang disebut sebagai home equity loan, dan kredit untuk membiayai renovasi rumah. Salah satu cara yang dilakukan oleh perbankan dalam memitigasi kredit adalah dengan memperhitungkan penyisihan kredit. Perubahan kebijakan regulator dalam perhitungan penyisihan kerugian menjadi tantangan setiap bank untuk menetapkan metode yang tepat dalam memperhitungkan estimasi kerugian yang akan dihadapi dan untuk penyediaan modal untuk menutup unexpected loss. 3.2 Metode Penelitian Data pendukung dalam penelitian ini didapat dari pengumpulan data, studi pustaka serta analisis kuantitatif. Studi pustaka digunakan sebagai landasan teori untuk mendukung perhitungan CKPN dengan menggunakan metode CreditRisk + dan digunakan untuk memperhitungkan economic capital terkait dengan risiko kredit. Dengan digunakannya CreditRisk + sebagai metode dalam penelitian ini maka studi pustaka yang disusun adalah yang berhubungan dengan teori CreditRisk Tahapan Penelitian Terdapat beberapa tahapan yang dilakukan dalam analisa perhitungan CKPN kolektif dan pengukuran risiko kredit dengan menggunakan metode CreditRisk +. Tahapan tersebut dimulai dari pengumpulan data, identifikasi eksposur NPL, pengelompokan eksposure berdasarkan band, perhitungan default rate, perhitungan probability of default (PD), dan perhitungan economic capital yang sebelumnya dilakukan perhitungan expected loss (CKPN Kolektif) dan unexpected loss. Dalam analisa perhitungan tersebut, diperlukan data input yang
65 49 disediakan oleh portofolio KPR Bank ABC, data input yang harus diketahui adalah: Mengetahui nilai exposure at default, yaitu besarnya suatu portofolio kredit yang dinyatakan default. Mengetahui nilai recovery rate, yaitu tingkat pengembalian pinjaman. Mengetahui number of default, yaitu jumlah kejadian gagal bayar dari debitur dalam suatu periode. Mengetahui nilai probability of default, rata-rata default untuk masingmasing band pada suatu periode. Tahapan pengukuran CKPN kolektif dan risiko kredit dengan metode CreditRisk + dapat dijelaskan dalam flowchart pada gambar 3.1 berikut:
66 50 Mulai Pengumpulan data exposure at default untuk kredit pemilikan rumah dan penetuan recovery rate Penentuan band Perngelompokan EAD sesuai band Perhitungan default rate Melakukan perhitungan Probability of Default dan Cumulative Probabilibty of Default A Gambar 3.1 Alur CreditRisk +
67 51 A Membandingkan hasil PD metode CreditRisk+ dengan metode kolektibilitas Melakukan pengukuran Expected Loss Melakukan pengukuran Unexpected Loss Melakukan pengukuran Economic Capital Validasi model dan Backtesting. jika LR < Chi Square maka model valid Kesimpulan dan saran Selesai (sumber: Diolah) Gambar 3.1 Alur CreditRisk + (Lanjutan) Pengumpulan Data Pengumpulan data yang digunakan adalah data primer kredit pemilikan rumah antara lain jumlah rekening, limit kredit, baki debet, recovery rate dan
68 52 debitur default atau yang tidak memenuhi kewajibannya lebih dari 90 hari sejak Januari 2008 sampai dengan Desember Penyusunan Band Penyusunan band digunakan untuk mempermudah pengukuran risiko kredit untuk memperkecil jumlah data. Langkah-langkah pengelompokkan dan penyusunan band adalah sebagai berikut: a. Data bulanan diurutkan sesuai exposure masing-masing debitur, mulai nilai yang terendah sampai dengan nilai tertinggi, yakni Rp (satu juta rupiah), Rp (sepuluh juta rupiah), Rp (seratus juta rupiah) dan Rp (satu miliar rupiah). b. Setiap exposure kredit dimasukkan ke dalam kelompok exposure yang sesuai dengan kelipatan band-nya dengan cara membagi nilai exposure kredit dengan band-nya sehingga diperoleh 10 kelompok exposure (1,2,3,... 10). - Band dengan unit of exposure Rp (satu juta rupiah) terdiri dari: 1. Nilai exposure Rp. 0,5 juta sampai dengan Rp. 1,49 2. Nilai exposure Rp. 1,5 juta sampai dengan Rp. 2,49 3. Nilai exposure Rp. 2,5 juta sampai dengan Rp. 3,49 4. Nilai exposure Rp. 3,5 juta sampai dengan Rp. 4,49 5. Nilai exposure Rp. 4,5 juta sampai dengan Rp. 5,49 6. Nilai exposure Rp. 5,5 juta sampai dengan Rp. 6,49 7. Nilai exposure Rp. 6,5 juta sampai dengan Rp. 7,49 8. Nilai exposure Rp. 7,5 juta sampai dengan Rp. 8,49 9. Nilai exposure Rp. 8,5 juta sampai dengan Rp. 9, Nilai exposure Rp. 9,5 juta sampai dengan Rp. 10,49
69 53 - Band dengan unit of exposure Rp (sepuluh juta rupiah) terdiri dari: 1. Nilai exposure Rp.10,5 juta sampai dengan Rp. 14,99 2. Nilai exposure Rp. 15 juta sampai dengan Rp. 24,99 3. Nilai exposure Rp. 25 juta sampai dengan Rp. 34,99 4. Nilai exposure Rp. 35 juta sampai dengan Rp. 44,99 5. Nilai exposure Rp. 45 juta sampai dengan Rp. 54,99 6. Nilai exposure Rp. 55 juta sampai dengan Rp. 64,99 7. Nilai exposure Rp. 65 juta sampai dengan Rp. 74,99 8. Nilai exposure Rp. 75 juta sampai dengan Rp. 84,99 9. Nilai exposure Rp. 85 juta sampai dengan Rp. 94, Nilai exposure Rp. 95 juta sampai dengan Rp. 104,99 - Band dengan unit of exposure Rp (seratus juta rupiah) terdiri dari: 1. Nilai exposure Rp.105 juta sampai dengan Rp. 149,99 2. Nilai exposure Rp. 150 juta sampai dengan Rp. 249,99 3. Nilai exposure Rp. 250 juta sampai dengan Rp. 349,99 4. Nilai exposure Rp. 350 juta sampai dengan Rp. 449,99 5. Nilai exposure Rp. 450 juta sampai dengan Rp. 549,99 6. Nilai exposure Rp. 550 juta sampai dengan Rp. 649,99 7. Nilai exposure Rp. 650 juta sampai dengan Rp. 749,99 8. Nilai exposure Rp. 750 juta sampai dengan Rp. 849,99 9. Nilai exposure Rp. 850 juta sampai dengan Rp. 949, Nilai exposure Rp. 950 juta sampai dengan Rp. 1049,99 - Band dengan unit of exposure Rp (satu milyar rupiah) terdiri dari: 1. Nilai exposure Rp juta sampai dengan Rp. 1499,99 2. Nilai exposure Rp juta sampai dengan Rp. 2499,99 3. Nilai exposure Rp juta sampai dengan Rp. 3499,99
70 54 4. Nilai exposure Rp juta sampai dengan Rp. 4499,99 5. Nilai exposure Rp juta sampai dengan Rp. 5499,99 6. Nilai exposure Rp juta sampai dengan Rp. 6499,99 7. Nilai exposure Rp juta sampai dengan Rp. 7499, Pengolahan Data Setelah data dikelompokkan, tahapan selanjutnya adalah mengolah data dengan cakupan sebagai berikut: Penentuan Recovery rates Recovery rate merupakan prosentase rata-rata tagihan tertunggak yang dapat dibayar kembali oleh debitur. Recovery rate dapat menurunkan kerugian bila terjadi default. Nilai recovery rate dihitung dari nilai jaminan yang digunakan untuk setiap debitur dan dibuatkan nilai rata-rata recovery rate dalam kelompoknya. Perhitungan exposure at default berdasarkan band Exposures at default merupakan besarnya nilai outstanding debitur pada saat dinyatakan default. Nilai exposure didapat dari total outstanding tagihan yang default setiap bulan. Pengukuran Severity Loss Exposure pinjaman setiap debitur disesuaikan dengan anticipated recovery rate, yang akan menghitung Loss Given Default (CSFB, 1997:27) dengan rumusan 2.6 yang dijelaskan pada bab dua. Perhitungan Default rate Default rate dapat dihitung dengan memperkirakan jumlah kejadian default (number of default event) setiap bulan untuk masing-masing band, yakni jumlah kejadian kerugian (n) atau lambda (λ), dengan cara membagi nilai exposure pada masing-masing kelompok band kepada common exposurenya. Nilai lambda (λ) yang didapat akan digunakan untuk menghitung number of default events.
71 55 Pengukuran Probability of Default dan Cumulative Probability of Default Probability of Default dapat diperoleh dengan menggunakan poisson model sesuai dengan rumusan 2.2. Penggunaan poisson model mempertimbangkan: - Kejadian debitur macet dilihat berdasarkan data historis - Kejadian macet adalah saling independen - Jumlah debitur banyak dengan skala kredit kecil, sehingga probability of default adalah random dengan probability yang kecil. Untuk mendapatkan jumlah debitur yang mengalami default pada tingkat keyakinan 99% dilakukan dengan memasukkan nilai n = 1,2,3,..., n sehingga besarnya probability of default untuk setiap n kejadian dapat diketahui. Kemudian dengan menjumlahkan nilai probabilitas tersebut akan diperoleh nilai cummulative probability of default sehingga mencapai proyeksi 99%. Perhitungan PPAP dengan metode kolektibilitas yang ditetapkan oleh bank Indonesia adalah sebagai berikut: - Debitur dengan tunggakan pokok dan bunga dalam > hari akan dibentuk PPAP yang akan dikenakan adalah sebesar 15% dari total outstanding setelah dikurangi dengan nilai agunan. - Debitur dengan tunggakan pokok dan bunga dalam > hari akan dibentuk PPAP yang akan dikenakan sebesar 50% dari total outstanding setelah dikurangi dengan nilai agunan. - Debitur dengan tunggakan pokok dan bunga selama > 180 hari akan dibentuk PPAP yang dikenakan sebesar 100% dari total outstanding setelah dikurangi dengan nilai agunan. Prosentase nilai agunan yang dapat diperhitungkan dalam PPAP telah dijelaskan pada bab dua. Pada tahap ini, akan dilakukan perbandingan nilai expected loss hasil perhitungan probability of default CreditRisk + dengan penyisihan aktiva produktif versi Bank Indonesia untuk portofolio kredit pemilikan rumah yang telah dibentuk.
72 Pengukuran Expected Loss, Unexpected Loss dan Economic Capital Expected Loss (EL) diperoleh dari perkalian nilai n = lambda (λ) dengan nilai exposure pada masing-masing kelompok band. Nilai kerugian pada tingkat expected loss yang diakibatkan oleh default di-cover oleh provisi yang telah dicadangkan perusahaan. Nilai Unexpected default Number terjadi pada saat cumulative probability of default mencapai > 99%. Nilai unexpected loss (UL) atau VaR didapat dengan mengalikan nilai n (Cumulative PD > 99%) dengan common exposure pada setiap kelompok band, dimana Value at Risk (VaR) adalah nilai maksimum kerugian yang bisa terjadi pada tingkat keyakinan sebesar 99%. Kerugian untuk tingkat unexpected loss harus dapat di-cover oleh modal perusahaan. Economic capital merupakan penyerapan modal untuk menutupi risiko dengan menggunakan formula yang ditetapkan oleh masing-masing bank. Economic capital diperoleh dari pengurangan antara unexpected loss dengan expected loss rumus (2.12). 3.4 Backtesting dan Validasi Model Backtesting dapat digunakan untuk mengetahui keakuratan metode CreditRisk +. Backtesting dilakukan dengan membandingkan nilai VaR (unexpected loss) dengan actual loss dalam suatu periode waktu tertentu. Jika VaR > actual loss maka nilai VaR dapat menutup actual loss. Begitu juga sebaliknya, bila VaR < actual loss maka bank ABC harus menyediakan economic capital yang digunakan untuk menutup VaR. Validasi model dalam CreditRisk + adalah dengan menggunakan Loglikelihood Ratio test. Validasi dilakukan dengan menghitung berapa banyak actual loss yang melebihi VaR setiap bulannya, dengan rumus (2.14). Dalam test validasi, bila LR lebih besar dibandingkan dengan nilai chi-squared, maka model pengukuran tidak akurat namun jika ternyata lebih kecil, maka model CreditRisk + sudah akurat.
73 BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Kredit Pemilikan Rumah Bank ABC Portofolio kredit pemilikan rumah mengalami kenaikan selama tahun 2008 sampai dengan 2010, peningkatan tersebut juga terjadi pada Bank ABC. Usaha yang dilakukan oleh Bank ABC dalam meningkatkan exposure tidak terlepas dari usaha unit bisnis KPR melalui berbagai program dan pemasaran yang aktif. Dalam melakukan pemasaran yang aktif untuk produk KPR, Bank ABC tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kreditnya dengan melakukan penyesuaian dan mengefektifkan prosedur dan penyaluran kredit pemilikan rumah sesuai dengan perkembangan yang ada. Dalam perkembangannya, aset Bank ABC mengalami peningkatan dalam waktu tiga tahun terakhir, seperti terlihat pada gambar 4.1 berikut: Gambar 4.1 Komposisi Aset Bank ABC Periode Sumber: Bank ABC (Laporan Manajemen, Desember 2010) Total aset tahun 2008 meningkat sebesar 24% dibandingkan dengan total aset 2010, salah satu penyumbang kenaikan aset pada Bank ABC adalah adanya peningkatan penyaluran kredit. Peningkatan kredit terhadap total aset yang terjadi pada Bank ABC antara tahun 2008 dengan 2010 adalah sebesar 78%, dari nilai 57
74 58 tersebut kenaikan tertinggi terjadi pada kredit konsumen dengan persentase kenaikan antara tahun 2008 dengan tahun 2010 adalah sebesar 36% kemudian diikuti oleh kredit komersial sebesar 32%. Sebagai gambaran kenaikan yang terjadi pada fasilitas kredit Bank ABC periode 2008 sampai dengan 2010 dapat dijelaskan pada tabel 4.1 berikut ini: Tabel 4.1 Analisa per Fasilitas Kredit Terhadap Aset dan Total Kredit Bank ABC Tahun Pertumbuhan (%) 2010 Pertumbuhan (%) Total Aset % % Kredit Fasilitas Korporasi % % % terhadap Total Aset 17% 16% 16% % terhadap Total Kredit 28% 25% 24% Komersial/ Usaha Kecil Menengah (UKM) Komersial % % UKM % % KKPA % % Lain-lain % % Total % terhadap Total Aset 23% 24% 25% % terhadap Total Kredit 37% 39% 38% Total Kredit % %
75 59 Tabel 4.1 (Lanjutan) Analisa per Fasilitas Kredit Terhadap Aset dan Total Kredit Bank ABC Tahun Pertumbuhan (%) 2010 Pertumbuhan (%) Total Aset % % Kredit Konsumen Kredit Kendaraan Bermotor % % KPR % % Kartu Kredit % % Home Equity Loan % % Pinjaman Karyawan % % PITA % % Pinjaman pendidikan % % Lain-lain % % Total % terhadap Total Aset 21% 21% 25% % terhadap Total Kredit 34% 35% 37% Syariah % % % terhadap Total Aset 0,51% 0,73% 0,57% % terhadap Total Kredit 0,82% 1,19% 0,85% Total Kredit % % Sumber: Bank ABC (Laporan Manajemen, Desember 2010, Diolah) Berdasarkan tabel 4.1, dapat diketahui pada tahun 2010 fasilitas kredit yang mengalami kenaikan tertinggi terhadap total aset Bank ABC adalah fasilitas kredit konsumen dan komersial, masing-masing memiliki porsi 25%. Sedangkan kenaikan tertinggi per fasilitas kredit dibandingkan dengan total kredit pada tahun 2010 adalah fasilitas kredit komersial sebesar 38% dan fasilitas kredit konsumen sebesar 37%. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui pada sub fasilitas kredit komersial/ usaha, fasilitas yang mengalami kenaikan tertinggi adalah kredit UKM sedangkan fasilitas yang mengalami penurunan terendah adalah kredit komersial/usaha lain-lain, keadaan tersebut mengindikasikan bahwa masyarakat lebih tertarik untuk memiliki fasilitas UKM dibandingkan fasilitas
76 60 komersial/usaha lain-lain pada Bank ABC dan Bank ABC lebih mefokuskan penyaluran kreditnya kepada fasilitas UKM. Masih berdasarkan data pada Tabel 4.1, sub fasilitas kredit konsumen yang mengalami kenaikan tertinggi pada tahun 2010 adalah kredit kendaraan bermotor yaitu meningkat sebesar 37% diikuti dengan Home Equity Loan sebesar 27%, sedangkan KPR mengalami kenaikan sebesar 25% dari periode sebelumnya. Alasan tidak diperhitungkannya kenaikan (penurunan) kredit konsumen lain-lain dan pinjaman pendidikan dalam analisa ini disebabkan nominal outstanding yang jauh dibawah fasilitas kredit konsumen lainnya. Tabel 4.2 Analisa per Sub-Fasilitas Kredit Terhadap Total Kredit Konsumen Bank ABC Tahun % Kredit Konsumen % Kredit Konsumen % Kredit Konsumen 2010 Konsumen Kredit Kendaraan Bermotor % % % KPR % % % Kartu Kredit % % % Home Equity Loan % % % Pinjaman Karyawan % % % PITA % % % Pinjaman pendidikan 257 0% 203 0% 105 0% Lain-lain % 154 0% % Total Kredit Konsumen % % % Sumber: Bank ABC (Laporan Management, Desember 2010, Diolah) Berdasarkan olahan data pada table 4.2, menunjukkan fasilitas kredit konsumen terdiri dari beberapa sub jenis fasilitas kredit, antara lain fasilitas KPR, kredit kendaraan bermotor, tagihan kartu kredit dan pinjaman tanpa agunan (PITA). Pada tahun 2010, kredit KPR menempati urutan kedua dalam penyaluran kreditnya terhadap total kredit konsumen yaitu sebesar 29%. Sedangkan urutan pertama yang mengalami kenaikan adalah fasilitas kredit kendaraan bermotor sebesar 56%. Namun demikian bila dilihat dari saldo outstanding masing-masing
77 61 debitur, fasilitas kredit pemilikan rumah memiliki nilai saldo per debitur yang lebih tinggi dibandingkan dengan fasilitas kendaraan bermotor. Penyebab utamanya adalah dana yang disalurkan bank per debitur memiliki minimal limit jauh diatas kredit kendaraan bermotor. Sebagai contoh, plafond minimal kredit pemilikan rumah adalah Rp 50 Juta, sedangkan untuk fasilitas kendaraan bermotor minimal plafond pencairan adalah Rp 5 Juta. Berdasarkan data observasi yang dimiliki, diketahui total outstanding fasilistas KPR pada Bank ABC per Desember 2010 adalah Rp 5,3 triliun, meningkat sebesar 33% atau sebesar Rp 1,3 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya. Total portofolio kredit rumah per Desember 2010 adalah 21,788 account naik sekitar 1,200 account dibandingkan dengan Desember Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pada saat krisis, Bank sudah melakukan difersifikasi penyaluran dana kepada beberapa fasilitas kredit. Bank lebih memfokuskan pada fasilitas kredit konsumen, dimana salah satu karakteristik yang dimiliki pada fasilitas tersebut adalah jumlah debitur yang banyak (mass debitur) dan nilai yang diberikan kepada masing-masing debitur tersebut sebagian besar tidak melebihi batas materialitas yang ditetapkan oleh Bank. Pertumbuhan kredit konsumen pada Bank ABC sejak tahun 2008 sampai dengan 2010 dapat digambarkan pada gambar 4.2 berikut:
78 62 Gambar 4.2 Pertumbuhan Kredit Konsumen Bank ABC Sumber: Bank ABC (Laporan Manajemen, Desember 2010, diolah) Peningkatan kredit konsumern terjadi pada peningkatan penyaluran kredit pada fasilitas KPR. Peningkatan fasilitas KPR yang terjadi antara tahun 2008 dengan 2009 dan antara tahun 2009 dengan 2010 adalah sebesar: Rp (dalam jutaan) dan Rp (dalam jutaan). Produk utama dari fasilitas KPR yang ditawarkan oleh Bank ABC adalah Home Financing yang bertujuan membiayai pembelian/pembuatan tempat tinggal/hunian (kecuali untuk ruko/ rukan: kombinasi dari hunian dan komersial). Seperti penjelasan sebelumnya, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir kredit konsumen mengalami peningkatan yang cukup signifikan, dengan demikian Bank harus melakukan monitor atas kredit default secara berkala. Berdasarkan data yang di peroleh, persentase kredit pemilikan rumah terhadap total kredit pada tahun 2008, 2009 dan 2010 adalah 33%; 32% dan 30%. Persentase kredit non
79 63 performing loan yang dimiliki oleh Bank ABC selama periode Januari 2008 sampai dengan Desember 2010 dijelaskan pada tabel 4.3 berikut: Tabel 4.3 Kolektibilitas Portofolio KPR Bank ABC Tahun Jenis Kolektibilitas Lancar 90,6 % 94,5% 96,2% DPK 7,3 % 4,2% 3,1% KL 0,4 % 0,2% 0,1% Diragukan 0,2 % 0,1% 0,1% Macet 1,5 % 1,0% 0,5% Total 100 % 100% 100% Sumber: Bank ABC (Laporan Manajemen, diolah) Non Performing Loan (NPL) untuk kredit pemilikan rumah terhadap total keseluruhan kredit pemilikan rumah pada tahun 2008, 2009 dan 2010 masingmasing sebesar 9,4%; 5,5% dan 3,8%. Dilain pihak, berdasarkan rasio keuangan Bank ABC mengalami penurunan, dimana ratio NPL-net adalah 2,00% dan 1,74% masing-masing pada tahun 2008 dan Informasi tersebut mengindikasikan terjadi penurunan NPL dari tahun 2008 sampai dengan 2010, namun demikian bank tetap meningkatkan kewaspadaan, terkait dengan adanya krisis global terutama yang terjadi pada wilayah Eropa dan Amerika yang dapat berdampak pada peningkatan risiko kredit dan mempengaruhi keadaan perekonomian Indonesia Kredit Pemilikan Rumah Kredit pemilikan rumah pada Bank ABC diberikan untuk membeli properti dengan periode pembayaran dan bunga yang telah ditetapkan. KPR terbagi menjadi tiga bagian, yaitu produk utama (KPR); maxi cash dan home exquity/maxima. Dalam karya akhir ini pembahasan hanya mencakup KPR dan maxi cash.
80 64 Fasilitas kredit pemilikan rumah pada Bank ABC dapat dibedakan menjadi beberapa jenis pemberian kredit: Kredit pembiayaan pembangunan/ renovasi, adalah pembiayaan atas tanah dan bangunan sebagai jaminan (setelah selesai). Tujuan pinjaman untuk pembelian tanah atau tanah sekaligus untuk pembangunan. Kredit pinjaman ambil alih/ loan take-over, adalah pinjaman baru yang diberikan untuk pelunasan pinjaman dari bank lain. Top-up program, menyediakan tambahan pinjaman yang telah ada untuk debitur tertentu. Cicilan tetap/ Fixed Installment, penyediaan pinjaman KPR dengan pembayaran cicilan tetap dan tenor berubah mengikuti pergerakan bunga pinjaman. KPR bebas waktu akad, penyediaan pinjaman KPR dimana debitur dapat menandatangani akad kredit dengan Bank ABC dalam masa pembayaran Down Payment (DP) kepada developper dan pencairan kredit akan dilakukan setelah DP dilunasi. KPR bebas grace period, penyediaan pinjaman KPR dimana debitur dapat menandatangani akad kredit dengan Bank ABC setelah memberikan booking fee kepada developper. Pencairan kredit dilakukan pada saat kredit sesuai MOU dengan masingmasing developper, dan developper akan memberikan subsidi pembayaran bunga atas pinjaman debitur sampai dengan uang muka dilunasi oleh debitur. Produk maxi-cash adalah, penyediaan fasilitas pinjaman untuk pembelian properti di mana sistem pembayaran cicilan dibagi atas dua bentuk yaitu installment dan cash advance/ PRK dengan skema sebagai berikut:
81 65 Cash Advance KPR Fasilitas sumber: Bank ABC (Program Produk, 2011) Tabel 4.4 Skema pembayaran produk maxi-cash Persentase 0 35% dari Plafond yang di setujui 65% - 100% dari Plafond yang di setujui Cash advance atau uang muka atau disebut juga dengan PRK adalah nilai tunai yang diterima oleh debitur sesuai dengan persentase yang telah disepakati yaitu maksimal 35% dari Plafond yang disetujui. Sedangkan KPR merupakan pinjaman yang diterima oleh debitur dimana dana tersebut digunakan untuk memperoleh rumah tinggal atau apartemen dengan nilai 65% - 100% dari Plafond yang disetujui. Dalam pemberian kredit diperlukan parameter dalam proses penyaluran kreditnya. Parameter yang digunakan pada produk KPR dan maxi-cash antara lain jenis pasar, jenis jaminan, jangka waktu pinjaman dan batasan nilai pinjaman. Kedua produk tersebut digunakan dalam pembiayaan properti untuk pasar berikut ini: Pasar Primer: pembelian properti kepada pengembang real estate. Properti yang dibeli dapat berupa bangunan jadi atau bangunan yang sedang dalam proses pembangunan dan tanah. Pasar Sekunder: pembelian properti (second hand).
82 66 Batasan nilai pinjaman, jenis jaminan, jangka waktu dan dari produk KPR dan maxi cash dapat dijelaskan pada tabel 4.5 di bawah ini: Table 4.5 Parameter produk utama Produk Jenis Jaminan Min/ Maks. Tenor - Home Financing/ Pasar primer dan Sekunder KPR (termasuk Top up/ Take-Over/ Cross Sell Pembangunan/ Renovasi - Maxi Cash Pasar Primer dan Sekunder Rumah KPR: 1-15 tahun Tinggal Apartemen KPR: 1-10 tahun Ruko KPR: 1-10 tahun Kios* KPR: 1-6 tahun (integrated from apartment) Tanah KPR: 1-5 tahun Rumah Maxicash: 1-10 Tinggal tahun Apartemen Ruko Besar Pinjaman - Rp 50 juta s/d Rp 5 Miliar (luar jabodetabek) - Rp 100 juta s/d Rp 5 Miliar (jabodetabek). - Maxicash: Rp 100 juta 5 M dengan total maks fasilitas cashadvance/ PRK adalah 500 juta. Sumber: Bank ABC (Program Produk, 2011) Parameter merupakan batasan utama yang berlaku dalam pencairan KPR oleh Bank dalam penyaluran kredit fasilitas produk utama. Parameter produk utama dalam pemberian kredit home financing dan maxi cash termasuk kategori jenis pasar, jenis jaminan yang diberikan oleh debitur dalam fasilitas KPR. Pada produk KPR jenis jaminan adalah sama dengan tujuan penggunaan dana yang
83 67 diperoleh. Parameter lainnya adalah jangka waktu pemberian kredit dan syarat besaran pinjaman yang dapat dicairkan. 4.2 Analisis Pembahasan Pengukuran CKPN kolektif dan Risiko Kredit Dalam analisis pembahasan ini akan menganalisa pengukuran CKPN kolektif yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan pengukuran risiko kredit pada kredit pemilikan rumah (KPR) dengan metode CreditRisk +. Model tersebut akan memberikan informasi besarnya Probability of Default dengan menerapkan distribusi Poisson, dan mengetahui nilai expected loss dan unexpected loss serta besarnya economic capital untuk mengetahui besarnya modal yang yang harus disediakan Bank Exposure at Default Pada tahap ini dilakukan penyusunan data nasabah KPR yang menunggak lebih dari 90 hari dari tanggal jatuh tempo atau dinyatakan default setiap akhir periode. Komposisi jumlah exposure kredit yang dinyakatan default pada Bank ABC untuk tahun 2008, 2009 dan 2010 dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.6 Total Exposure at Default KPR Bank ABC Tunggakan (Hari) > ,407 3,603 5,874 > ,844 3,582 4,157 > ,704 38,128 24,168 Total 79,956 45,313 34,199 Sumber: Bank ABC (laporan manajemen, Des ember 2010 jutaan rupiah, diolah) Berdasarkan tabel 4.6 di atas, diketahui nilai exposure at default terjadi penurunan antara tahun 2008 dengan tahun Penurunan tertinggi terjadi pada debitur menunggak selama > hari, yaitu sebesar 59,2%. Di lain pihak penurunan terendah terjadi pada tunggakan > hari, yaitu sebesar 39%.
84 68 Berdasarkan hasil analisa di atas, teori yang menyatakan loss meningkat sebesar kenaikan jumlah loans dalam sebuah portfolio (Saunders, 2004), tidak sejalan dengan kondisi yang terjadi pada kredit pemilikan rumah pada Bank ABC. Kenaikan loss yang berdampak dari kenaikan loans dapat diminimal dengan menerapkan tahapan mekanismen pengembangan pada manajemen risiko. Tahapan tersebut terdiri dari: identifikasi risiko, pengukuran risiko, pemantauan dan limit risiko, dan pengendalian risiko. Tahapan identifikasi risiko dan pengukuran risiko yang dilakukan oleh Bank ABC adalah dengan menerapkan minimal syarat analisa awal kondisi debitur secara detail, yaitu 5 C s of credit. Analisa awal seperti disebutkan pada program produk kredit rumah, 5 C s of credit terdiri dari: Character, merupakan sifat dari nasabah, bank memperoleh informsai atas nasabah tersebut dari pihak ke tiga dan bisa juga meminta bank to bank information. Dengan demikian Bank ABC dapat memperoleh informasi atas status pinjaman debitur tersebut pada Bank lainnya. Bank ABC menetapkan syarat utama berdasarkan hasil BI checking, debitur tersebut memiliki kolektibilitas lancar selama tiga bulan terakhir pada tanggal verifikasi. Bank ABC juga melakukan analisa atas kriteria individu, antara lain kewarganegaraan, jenis peminjam, usia peminjam pada saat kredit berakhir. Capacity, kemampuan debitur untuk menjalankan usahanya dan mampu membayar kewajiban melalui cashflow yang dihasilkan. Pada tahap ini Bank ABC menganalisa atas profil nasabah apakah calon nasabah tersebut bekerja sebagai karyawan atau pengusaha dan profesional. Bank ABC memastikan calon nasabah tidak termasuk dalam daftar nasabah berisiko tinggi termasuk politically exposed person. Capital, merupakan modal yang dimiliki oleh calon debitur, Bank ABC melakukan analisa minimum pendapatan berdasarkan pendapatan kotor per bulan dan membedakan untuk perhitungan minimum pendapatan untuk karyawan non permanen atau agen dari perusahaan.
85 69 Condition, faktor kondisi eksternal yang mempengaruhi kemampuan debitur untuk membayar kewajibannya. Bank menganalisa pasar dan kondisi persaingan kemudian mengaitkan dan menganalisa industri pekerjaan yang digeluti oleh calon debitur dengan kondisi makro ekonomi atau eksternal, sehingga bank dapat mengantisipasi lebih awal kerugian yang akan dihadapi. Collateral, merupakan jaminan dari debitur apabila dirinya tidak dapat memenuhi kewajibannya. Bank melakukan pemeriksaan fisik atas jaminan dan membagi persyaratan jenis jaminan berdasarkan pasar yang dituju oleh debitur, yaitu pasar primer dan pasar sekunder. Di lain pihak Bank ABC menetapkan minimal nilai appraisal/ jaminan dengan catatan Plafondd yang disetujui tidak boleh lebih rendah dari ketentuan minimum untuk Plafondd, dengan demikian Bank dapat mengetahui besaran nilai yang dapat mecover kewajiban debitur bila debitur tersebut default. Penerapan selanjutnya adalah pemantauan limit risiko, pada tahap ini bank melakukan pemeriksaan dan verifikasi atas dokumen yang dipersyaratkan untuk memenuhi pencairan kredit. Bank ABC juga melakukan prosedur pemeriksaan jaminan dan verifikasi dokumen dan nilai saldo dengan jaminan sesuai dengan ketentuan dan syarat yang telah ditetapkan oleh Bank ABC. Penerapan proses manajemen risiko yang terakhir adalah pengendalian risiko, pada tahap ini Bank ABC melakukan review atas perkembangan peraturan dan kondisi perekonomian yang terjadi. Perubahan tersebut dituangkan pada program produk KPR yang di release secara berkala atau dengan artian lain dikeluarkannya revisi program produk secara berkala oleh Bank ABC. Perincian exposure at default per band untuk selama tahun 2008 sampai dengan 2010 pada Bank ABC dapat dilihat pada lampiran Penentuan Recovery Rate Recovery rate adalah tingkat pengembalian pinjaman yang dilakukan oleh debitur yang sudah dikategorikan default atau hapus buku. Recovery rate dapat
86 70 dihitung dari likuidasi jaminan atau cara pembayaran kembali dari debitur. Pengembalian pinjaman yang berstatus hapus buku merupakan usaha dari bagian penagihan dan kesadaran dari debitur untuk melunasi kewajibannya. Bila penagihan sudah dilakukan secara optimal namun debitur tetap tidak dapat memenuhi kewajibannya, maka bank melakukan hapus tagih. Berdasarkan analisa dan perhitungan yang dilakukan, Bank ABC menetapkan nilai recovery rate untuk periode Januari 2008 sampai dengan Desember 2010 adalah sebesar 51,03%. Perhitungan recovery rate yang dilakukan oleh Bank ABC memasukkan asumsi market rate dan memperhitungkan present value dari masing-masing nilai tunggakan debitur setelah dikurangi dengan biaya-biaya litigasi. Market rate merupakan rata-rata tingkat bunga fasilitas kredit KPR yang diberikan oleh industri perbankan pada saat dilakukan assessment untuk periode tertentu Loss Given Default Loss given default atau sevirity loss atau disebut juga dengan real loss merupakan ukuran jumlah kerugian yang benar-benar terjadi pada masing-masing kejadian default setelah memperhitungkan nilai recovery rate. Perhitungan LGD dapat dilihat pada Bab dua rumus 2.6. Contoh perhitungan LGD yang terjadi pada Bank ABC, dapat dijelaskan dengan mengambil data exposure at default pada band Rp 100 juta untuk bulan Februari 2010 kelas dua yaitu Rp (lampiran 2.3), maka nilai LGD dihasilkan adalah sebagai berikut: Hasil dari perhitungan tersebut memberikan informasi bahwa pada band Rp 100 juta, kelas dua di bulan Februari 2010 dengan recovery rate yang ditetapkan 51,03%, besarnya kerugian dari peristiwa default yang ditanggung oleh Bank adalah sebesar Rp Loss Given Default atau real loss merupakan sebagai actual loss per periode diperoleh dengan cara menjumlahkan loss given default masing-masing
87 71 kelompok band dalam periode yang sama. Berikut Rata-rata EAD dan Real Loss yang terjadi pada Bank ABC untuk periode Januari 2008 sampai dengan Desember 2010: Tabel 4.7 Rata-rata EAD dan LGD per band Bank ABC periode Tahun Band Exposure at Default Real Loss (Sumber: diolah) Dari hasil olah data, didapatkan rata-rata EAD mengalami penurunan dari tahun 2008 sampai dengan Penurunan terbesar terjadi pada Band Rp 100 juta di tahun dengan nilai penurunan sebesar Rp 17,7 Miliar. Penurunan EAD diikuti dengan penurunan real loss per band, sebesar Rp 8,6 Miliar yang terjadi pada Band Rp 100 juta untuk tahun Berdasarkan data observasi yang diperoleh, band Rp 1 Miliar memiliki jumlah debitur yang paling sedikit dibandingkan dengan band Rp 100 juta. Namun bila debitur dengan band Rp 1 Miliar tersebut mengalami default, maka kerugian yang dihadapi oleh Bank ABC cukup siginificant, oleh karena itu hal tersebut sebaiknya menjadi perhatian Bank ABC dalam monitor kreditnya untuk memitigasi risiko kredit. Nilai loss given default (LGD) per band selama periode observasi tahun 2008 sampai dengan 2010 dapat di lihat pada lampiran Number of Default Berdasarkan data observasi, jumlah debitur default pada fasilitas KPR pada tahun 2008 sebanyak 361 nasabah, 2009 sebanyak 214 nasabah, dan 2010 sebanyak 145 nasabah. Number of default merupakan jumlah kejadian gagal bayar
88 72 yang terjadi pada satu periode. Dalam memperhitungkan number of default, perlu diperhitungkan terlebih dahulu nilai rata-rata dari frekuensi gagal bayar (λ). Nilai rata-rata tersebut didapat dari pengukuran loss given default dibagi dengan unit of exposure setiap kelompok band atau dengan kata lain nilai λ diperoleh dari total outstanding dari masing-masing kelompok di setiap band-nya di bagi dengan nilai kelompok band. Contoh yang digunakan adalah pada band Rp 100 Juta untuk periode Januari Mei tahun Berdasarkan data observasi yang didapat pada Bank ABC, nilai rata-rata frekuensi gagal bayar (λ) pada band Rp 100 Juta yang terjadi pada Bank ABC adalah sebagai berikut: Tabel 4.8 Rata-rata frekuensi gagal bayar (λ) Periode Jan 2010 Mei 2010 Band 100 juta Band (sumber: diolah) Kelas Band Jan-10 Feb-10 Mar-10 Apr-10 May ,70 16,85 15,53 13,11 13, ,46 16,07 13,58 13,52 11,51 3 8,75 8,70 8,48 7,88 6,82 4 5,26 6,25 4,80 4,71 4,25 5 3,48 3,45 3,45 2,48 2,48 6 2,41 2,93 2,92 2,40 2,40 7 1,44 0,98 1,47 1,47 1,47 8 0,47 0,47 0,47 0,47 0,47 9 0,48 0,48 0,99 1,47 1, ,98 0,98 0,98 0,98 0,98 Contoh perhitungan rata-rata frekuensi gagal bayar (λ) yang digunakan adalah pada kelas dua bulan Februari Dengan hasil perhitungan LGD sebesar Rp (lampiran 2.3). Dari hasil nilai tersebut diketahui nilai λ adalah sebagai berikut:
89 73 Rata-rata frekuensi gagal bayar (λ) selama tahun 2008 sampai dengan 2010 dapat dilihat pada tabel di bawah 4.9 berikut: Tabel 4.9 Rata-Rata Frekuensi Gagal Bayar Tahun Bank ABC
90 74 Band Kelas Tahun Band ,01 0,45 0,07 2 0,51 0,29 0,09 3 0,26 0,41 0,67 4 1,13 0,13 0, ,31 0,62 0,97 6 1,32 0,41 0,26 7 0,86 0,73 0,56 8 0,70 0,16 0,40 9 0,21 0,16 0, ,99 0,50 0,37 1 5,44 2,78 1, ,27 7,67 5, ,97 8,76 6, ,02 11,29 9, ,90 6,20 4,25 6 7,83 4,65 2,65 7 7,57 4,87 3,37 8 6,78 3,33 2,07 9 6,50 5,21 4, ,22 3,58 2, ,81 18,43 13, ,08 21,51 11, ,40 9,68 5,78 4 9,19 7,35 5, ,78 4,25 2,37 6 4,48 3,21 2,43 7 3,22 2,21 1,11 8 0,77 0,48 0,69 9 1,62 1,94 1, ,29 2,47 0,82 1 2,16 0,78 0,05 2 2,18 1,41 0,44 3 0,47 0,72 0, ,40 0, ,47 0,32 - (sumber: Diolah) Berdasarkan tabel 4.9, diketahui bahwa terjadi penurunan rata-rata frekuensi gagal bayar dari tahun 2008 sampai dengan Nilai rata-rata frekuensi gagal bayar (λ) yang tertinggi terdapat pada band Rp 100 juta kelas dua
91 75 pada tahun 2008 dengan nilai 32,08, kemudian berturut-turut turun menjadi 21,51 dan 5,78 pada masing-masing tahun 2009 dan Tahun 2010 range nilai rata-rata frekuensi gagal bayar tertinggi terjadi pada band Rp 100 juta kelas satu dan dua dengan nilai 13,74 dan 11,77, keadaan ini mengindikasikan bahwa pada band tersebut terjadi kecenderungan debitur mengalami default, hal tersebut harus menjadi perhatian Bank ABC untuk kedepannya. Hasil perhitungan rata-rata debitur gagal bayar (λ) tahun pada Bank ABC dapat dilihat pada lampiran Expected number of defaults didapatkan pada saat jumlah kejadian default memiliki probability of default tertinggi. Dalam penelitian ini probability of default dihitung dengan menggunakan program excel dengan rumus POISSON(n,λ,0). Contoh perhitungan probability of default yang digunakan adalah pada band Rp 100 juta kelas dua pada bulan Februari 2010, diketahui nilai λ adalah sebesar 16,07 (lampiran 3.3), dengan menggunakan rumus poisson, probability of default tertinggi terjadi pada saat jumlah kejadian default (n) = (λ) = 16,07 adalah 0, (lampiran 4.3). Hasil perhitungan probability of default pada Bank ABC dapat dilihat pada lampiran Nilai unexpected number of default terjadi pada saat cumulative probability of default mencapai nilai > 99%. Rumusan yang digunakan untuk memperhitungkan cumulative probability of default adalah dengan menggunakan Excel [POISSONINV (Level of Confidence, λ)+1]. Hasil perhitungan unexpected number of default pada Bank ABC selama Januari 2008 sampai dengan Desember 2010 secara keseleruhan dapat dilihat pada lampiran Sedangkan nilai cumulative probability of default yang melebihi tingkat confidence > 99% dengan menggunakan unexpected number of default selama Januari 2008 sampai dengan Desember 2010 dapat dilihat pada lampiran Tabel 4.10 Rata-rata Unexpected number of default (n)
92 76 pada Bank ABC Band (sumber: diolah) Kelas Band 2008 Tahun ,00 1,92 0,42 2 2,58 1,42 0,50 3 1,33 2,08 2,92 4 4,17 0,75 0,50 5 4,75 3,25 3,92 6 4,83 1,83 1,50 7 3,75 3,50 3,17 8 3,08 0,83 2,00 9 1,08 1,00 1, ,00 2,33 2, ,58 7,33 4, ,58 14,67 11, ,17 16,42 12, ,42 19,75 16, ,58 12,67 9, ,17 10,33 7, ,58 10,67 8, ,58 8,17 6, ,17 11,33 10, ,17 8,58 6, ,42 29,08 23, ,92 33,00 20, ,25 17,50 12, ,00 14,33 11, ,00 9,50 6, ,08 8,33 6,83 7 7,92 6,33 4,25 8 3,42 2,33 3,42 9 5,33 5,92 4, ,58 6,75 3,50 1 6,25 3,08 0,25 2 6,17 4,75 2,17 3 3,00 3,50 2,17 4-2,25 3, ,00 2,00 -
93 77 Dari rata-rata Unexpected Number of Default (n) pada tabel di atas, selama periode 2008 sampai dengan 2010 terlihat trend yang sama dengan rata-rata frekuensi gagal bayar (λ), yaitu terjadi penurunan nilai yang cukup siginifikan pada band Rp 100 juta untuk kelas dua dari angka 45,92 pada tahun 2008 menjadi 20,42 pada tahun Sedangkan pada band dan tahun yang sama dengan kelas satu jumlah rata-rata Unexpected Number of Default (n) memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan dengan kelas lainnya yaitu sebesar 23,00. Hal ini mengindikasikan bahwa penurunan yang terjadi pada kelas tersebut relatif kecil dibandingkan dengan penurunan yang terjadi pada kelas dua atau dengan kata lain band Rp 100 Juta pada kelas satu exposure risiko memiliki kecenderungan mengalami defaults, hal tersebut patut menjadi perhatian Bank ABC. Pada band Rp 1 Miliar kelas empat tahun 2010 terjadi kenaikan rata-rata unexpected number of default (n), bila dibandingkan dengan dengan tahun 2009 terjadi kenaikan nilai sebesar 1,42, hal ini juga harus menjadi perhatian Bank ABC, mengingat exposure pada band tersebut cukup tinggi walaupun jumlah debitur tidak sebanyak band lainnya Perhitungan Expected Loss, Unexpected Loss dan Economic Capital Tahap selanjutnya adalah memperhitungkan expected loss dan unexpected loss untuk mendapatkan economic capital, dengan demikian Bank ABC dapat mengantisipasi besaran modal yang harus disediakan untuk menutupi kerugian akibat unexpected loss. Expected loss diperoleh sebagai hasil kali nilai (n) = lamda (λ) dengan nilai common exposure pada masing-masing band di setiap kelompok band. Berikut nilai expected loss yang terjadi pada band Rp 100 juta kelas dua rentang periode Januari sampai dengan Mei 2010.
94 78 Tabel 4.11 Expected Loss Bank ABC Periode Januari May 2010 Band Kelas Jan-10 Feb-10 Mar-10 Apr-10 May (sumber: diolah) Contoh perhitungan expected loss adalah pada band Rp 100 juta kelas dua pada bulan Februari Berdasarkan hasil perhitungan pada lampiran 3.3 diketahui nilai λ pada kelas dua bulan Februari adalah sebesar 16,07, dengan demikian perhitungan Expected Loss adalah sebagai berikut: Dengan demikian dapat diartikan, dengan tingkat keyakinan sampai dengan 99% pada debitur dengan band Rp 100 juta akan memiliki peluang sebanyak 16,07 kali rata-rata frekwensi gagal bayar, terjadi sebanyak dua kali jumlah kejadian pada bulan Februari 2010 dengan kerugian yang dapat diperkirakan adalah sebesar Rp Dengan demikian, Bank harus menyediakan dananya (membentuk cadangan kerugian) sebesar nilai expected loss untuk menutupi kerugian pada band Rp 100 juta agar mengurangi risiko kredit pada portofolio KPR. Pada tabel 4.12 diinformasikan hasil perhitungan PPAP versi Bank Indonesia dengan CKPN Kolektif CreditRisk + :
95 79 Periode Tabel 4.12 Perbandingan Penyisihan Aktiva Produktif dengan CKPN Kolektif Metode CreditRisk + Penyisihan Aktiva Produktif - kredit CKPN Kolektif metode CreditRisk+ Difference Januari ( ) Februari Maret ( ) April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Periode Penyisihan Aktiva Produktif - kredit CKPN Kolektif metode CreditRisk+ Difference Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Periode Penyisihan Aktiva Produktif - kredit CKPN Kolektif metode CreditRisk+ Difference Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember
96 80 (sumber: diolah) Berdasarkan tabel 4.12, diketahui bahwa rata-rata nilai penyisihan aktiva produktif versi kolektibilitas Bank Indonesia lebih besar dibandingkan dengan nilai CKPN kolektif dengan probability of default model CreditRisk +. Lebih besarnya nilai penyisihan aktiva produktif versi Bank Indonesia disebabkan Bank Indonesia menetapkan minimal persentase penyisihan yang wajib dibentuk untuk masing-masing kolektibilitas, namun demikian bank dapat membentuk penyisihan untuk masing-masing debitur melebihi persentase yang telah ditetapkan. Nilai CKPN kolektif pada metode CreditRisk +, memperhitungkan ketidakpastian default rate dan loss of severity dengan nilai yang sebenarnya tanpa memperhitungkan agunan ataupun biaya atau denda lainnya. Dengan kata lain, metode CreditRisk + hanya memperhitungkan kredit default dan dapat dikelompokkan per band, perhitungan CKPN dapat dilakukan secara kolektif sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh PSAK 50 (Revisi 2006). Keadaan tersebut mengindikasikan kesesuaian dengan teori perhitungan PSAK 50 (revisi 2006) poin 72, bahwa entitas mengungkapkan informasi mengenai exposure risiko kredit dengan jumlah yang mewakili nilai maksimal exposure risiko kredit tanpa memperhitungkan nilai wajar dari setiap agunan. Dalam karya akhir Rahardja (2009), diinformasikan bahwa bank mencadangkan modal berdasarkan PPAP (Pencadangan Penghapusan Aktiva) atas expected loss, namun berdasarkan hasil perhitungan nilai expected loss yang dihitung dengan menggunakan CreditRisk + memiliki nilai jauh dibawah nilai PPAP. Keadaan tersebut mengindikasikan adanya kelebihan dana yang disediakan oleh Bank untuk menutup PPAP. Dengan artian lain adanya PPAP yang dibentuk menyebabkan dana yang dimiliki tidak digunakan secara maksimal. Teori mengenai evaluasi penurunan nilai (PSAK 50, (Revisi, 2006)), disebutkan bahwa evaluasi penurunan nilai yang dilakukan secara kolektif atas kelompok aset keuangan dihitung dengan metode statistik berdasarkan data historis. Sesuai teori yang disebutkan pada CreditSuissee, metode CreditRisk + merupakan metode statistik dari risiko kredit yang diesebabkan oleh kredit default
97 81 tanpa menggunakan asumsi atas penyebab terjadinya default tersebut dilain pihak CKPN kolektif merupakan evaluasi penurunan nilai yang dihitung dengan metode statistik berdasarkan data historis. Berdasarkan kedua teori tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa CKPN kolektif memiliki latar belakang syarat perhitungan yang sama dengan metode CreditRisk +. Berdasarkan perhitungan dan penjelasan di atas, menjawab pertanyaan nomor satu pada bab satu, mengenai besarnya probability of default sebagai dasar perhitungan CKPN kolektif kredit pemilikan rumah. Keseluruhan hasil perhitungan expected loss periode Januari 2008 sampai dengan Desember 2010 dapat dilihat pada lampiran Nilai unexpected loss diperoleh dengan mengalikan nilai n yang memiliki cummulative probability of default melebihi 99% dengan nilai common exposure dari masing-masing band. Berikut nilai unexpected loss yang terjadi pada band Rp 100 Juta kelas dua rentang periode Januari sampai dengan Mei Tabel 4.13 Unexpected Loss Bank ABC Periode Januari May 2010 Band Kelas Jan-10 Feb-10 Mar-10 Apr-10 May (Sumber: diolah) Berdasarkan tabel di atas, contoh yang digunakan pada perhitungan unexpected loss adalah pada kelas dua bulan Februari Pada lampiran 8.3 diketahui nilai unexpected number of default (n) pada band Rp 100 juta kelas dua bulan Februari 2010 adalah 26, dengan demikian nilai unexpected loss adalah:
98 82 Berdasarkan hasil perhitungan unexpected loss tersebut, dapat diartikan pada bulan Februari 2010, dengan tingkat keyakinan melebihi 99% memiliki peluang sebanyak 26 kali kejadian gagal bayar yang tidak dapat diperkirakan dan akan terjadi sebanyak dua kali untuk debitur dengan band Rp 100 juta dengan nilai unexpected loss sebesar Rp Dengan demikian Bank harus menambahkan modalnya sebesar Rp 5.2 Miliar untuk menutup kerugian yang terjadi. Keseluruhan hasil perhitungan unexpected loss periode Januari 2008 sampai dengan Desember 2010 dapat dilihat pada lampiran Setelah mendapatkan hasil perhitungan expected loss dan unexpected loss, tahap selanjutnya adalah memperhitungkan economic capital, yaitu besarnya modal yang harus disediakan oleh Bank ABC untuk menutup kerugian yang disebabkan oleh unexpected loss. Economic capital dapat dicari dengan memperoleh selisih nilai unexpected loss dengan expected loss. Berdasarkan data observasi, nilai economic capital yang dibutuhkan pada Bank ABC untuk band Rp 100 juta dalam rentang periode Januari 2010 sampai dengan Mei 2010 adalah sebagai berikut: Tabel 4.14 Economic Capital Bank ABC periode Januari 2010 Mei 2010 Band Kelas Jan-10 Feb-10 Mar-10 Apr-10 May (sumber: diolah) Berdasarkan tabel di atas, contoh yang digunakan pada perhitungan economic capital adalah pada kelas dua bulan Februari Pada lampiran 8.3 unexpected loss untuk band Rp 100 juta kelas dua bulan Februari 2010 diketahui
99 83 nilai unexpected loss sebesar Rp sedangkan nilai expected loss pada lampiran 7.3 dengan kategori yang sama diketahui adalah sebesar adalah sebagai berikut:. Berdasarkan data tersebut, perhitungan economic capital Dengan demikian, penyerapan modal yang terjadi pada band Rp 100 juta kelas dua di bulan Februari adalah sebesar Rp , hal tersebut harus menjadi perhatian Bank ABC, agar pengalokasian dana yang dimiliki dapat digunakan secara optimal. Perhitungan economic capital merupakan bagian dari tahap pemantauan dan limit risiko, dimana pada tahap tersebut Bank memastikan posisi yang melampaui limit untuk segera di tindak lanjuti. Teori lainnya yang mendukung perhitungan economic capital seperti yang dijelaskan pada bab dua adalah terdapat beberapa keuntungan economic capital sebagai pengukur risiko, antara lain sebagai pengukur yang dinamis, dengan menggambarkan perubahan risiko dari portofolio dan dapat digunakan sebagai alat untuk mengoptimalisasikan portofolio. Membaiknya penurunan economic capital mengindikasikan adanya penurunan jumlah kredit yang mengalami default pada portofolio kredit pemilikan rumah. Penurunan default kredit disebabkan dua hal, yaitu: Pembaharuan peraturan internal Bank ABC dalam pemberian kredit portofolio KPR secara berkala. Bank ABC melakukan analisa yang lebih detail terhadap calon nasabah. Kondisi makro ekonomi yang terjadi pada rentang tahun Pada rentang tahun tersebut, terjadi pertumbuhan konsumsi yang tinggi di Indonesia yang didukung oleh tingginya daya beli masyarakat dan tingkat keyakinan konsumen yang membaik. Daya beli masyarakat di topang dengan kenaikan pendapatan akibat kenaikan tingkat penghasilan pekerja kelas menengah ke atas. Selama
100 84 tahun 2008 sampai dengan 2010 Bank Indonesia meriview dan menurunkan tingkat bunga yang berlaku, per Desember 2008 tingkat bunga yang ditetapkan oleh Bank Indonesia adalah sebesar 9,5%, pada tahun 2009 dan 2010 tingkat bunga yang berlaku adalah 6,5%. Berdasarkan data observasi, nilai economic capital yang dibutuhkan Bank ABC dalam rentang periode Januari 2008 sampai dengan Desember 2010 adalah sebagai berikut: Tabel 4.15 Economic Capital Bank ABC Tahun Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember (sumber: diolah) Berdasarkan tabel 4.15, terjadi kenaikan nilai economic capital pada tahun 2009, terutama pada bulan April sampai dengan Agustus Keseluruhan hasil perhitungan economic capital periode Januari 2008 sampai dengan Desember 2010 dapat dilihat pada lampiran
101 85 Persentase economic capital terhadap modal Bank ABC dapat dilihat pada tabel 4.16 berikut ini: Tabel 4.16 Porsentase economic capital terhadap modal untuk tahun Periode Economic Capital Modal % Desember ,74% Desember ,15% Desember (sumber: diolah) 0,67% Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa kebutuhan economic capital yang relatif kecil yaitu di bawah 2% dari jumlah modal atas portofolio kredit pemilikan rumah periode maka disarankan Bank ABC untuk mengoptimalkan portofolio kredit pemilikan rumah. Sesuai dengan teori keuntungan perhitungan economic capital Credit (Suisse First Buston, 1997), perhitungan economic capital sebagai pengukur risiko terbukti memberikan keuntungan yang lebih tepat dibandingkan dengan spesifikasi yang diterapkan oleh regulator, sehingga bank dapat mengalokasikan modal yang dimilikinya dengan tepat dan dapat mengantisipasi risiko kredit yang dihadapi. Hasil perhitungan economic capital menjawab pertanyaan penelitian kedua pada bab satu, mengenai besaran economic capital yang harus disediakan oleh bank untuk menutupi unexpected loss. Ketentuan penyediaan modal minimum untuk melindungi risiko kredit adalah 8% dari portofolio kredit yang berisiko. Pada model CreditRisk + nilai unexpected loss adalah nilai portfolio kredit yang dianggap berisiko. Persentase risiko kredit untuk metode CreditRisk + adalah nilai unexpected loss dibandingkan dengan total baki debet kredit pemilikan rumah per periode. Hasil perhitungan cadangan modal yang harus disediakan oleh Bank ABC yang digunakan untuk
102 86 me-cover risiko kredit dapat dilihat pada lampiran 11. Berdasarkan olahan data observasi dapat diketahui bahwa, cadangan modal yang harus dibentuk oleh Bank ABC untuk menutup risiko kredit pada portofolio kredit pemilikan rumah mengalami penurunan dari tahun 2008 sampai dengan Informasi tersebut dapat membantu pengoptimalan modal yang dimilikinya dan menjaga solvabilitas dan kinerja yang dimiliki oleh Bank ABC. 4.3 Backtesting dan Validasi Model Untuk mengetahui model sesuai atau tidak dalam perhitungan CKPN dan risiko kredit berdasarkan model CreditRisk +, harus dilakukan perbandingan dengan melakukan backtesting. Backtesting dilakukan dengan membandingkan antara nilai unexpected loss (VaR) dengan besaran actual loss pada setiap bulan sejak periode Januari 2008 sampai dengan Desember Berdasarkan hasil olahan data observasi dengan menggunakan tingkat keyakinan 99%, dapat diketahui bahwa VaR memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan actual loss, dengan demikian menghasilkan nilai binary failure sama dengan nol. Hal tersebut mengindikasikan bahwa nilai VaR dapat menutupi kerugian yang terjadi pada portofolio kredit pemilikan rumah untuk periode Januari 2008 sampai dengan Desember 2010, dengan artian lain model CreditRisk + dalam penelitian ini valid. Dari validasi model tersebut juga dapat diketahui bahwa setiap tahun terdapat penurunan nilai VaR dan Real Loss, hal tersebut sejalan dengan penurunan kredit bermasalah (default) yang terjadi pada Bank ABC. Semakin tinggi tingkat keyakinan dalam memperhitungkan nilai VaR unexpected loss yang diperhitungkan dalam pemodelan risiko kredit maka semakin besar perbedaan antara VaR unexpected loss dengan exposure at default. Dengan demikian pemilihan tingkat keyakinan sebesar 99% yang melebihi standard industri sebesr 95% adalah untuk memastikan solvabilitas perusahaan tetap terjaga dari risiko kredit yang mungkin terjadi.
103 87 Hasil backtesting selama periode Januaria 2008 sampai dengan Desember 2010 dapat dilihat pada tabel 4.17 di bawah ini: Tabel 4.17 Ringkasan Backtesting Portfolio KPR Bank ABC periode
104 88 Bulan UL (VaR) 2008 Real Loss Difference Binary Failure Januari Februari maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Bulan UL (VaR) Real Loss Difference Binary Failure Januari Februari maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Bulan UL (VaR) Real Loss Difference Binary Failure Januari Februari maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember (sumber: diolah) Dari hasil backtesting yang dilakukan, diketahui bahwa real loss akibat default pada portofolio kredit pemilikan rumah mengalami penurunan dari tahun 2008 sampai dengan Salah satu penyebab turunnya loss akibat default
105 89 adalah adanya pembaharuan kebijakan penyaluran kredit KPR yang dilakukan secara berkala. Bank ABC melakukan perubahan dan mendokumentasikan mencakup kebijakan dan proses underwriting sampai dengan prosess collection. Perubahan yang dilakukan antara lain peraturan waktu tunggu untuk menambah fasilitas kredit, besaran pinjaman dan ketentuan dalam penentuan Debt Burden Ratio (DBR). Setelah mendapatkan hasil backtesting, langkah selanjutnya adalah mengetahui tingkat akurasi model CreditRisk + dalam memperkirakan unexpected loss dengan melakukan Loglikelihood Ratio (LR) Test. Uji LR dilakukan untuk menghitung nilai kerugian sebenarnya yang melebihi unexpected loss setiap bulan selama periode observasi dan kemudian dilakukan perbandingan dengan maksimum kejadian kesalahan (binary failure) yang dapat ditoleransi. Periode observasi yang digunakan adalah 36 bulan dengan tingkat keyakinan 99% dan binary failure yang terjadi adalah nol sehingga hasil pengukuran diperoleh untuk nilai LR = 0, yang berarti lebih rendah dari critical value dengan tingkat keyakinan 99 % pada degree of freedom satu atau LR < 6,6349. Dengan menggunakan data-data tersebut, hasil pengukuran Loglikelihood Ratio dengan menggunakan rumus 2.14 pada bab dua, memberikan hipotesis sebagi berikut: H0 : LR < Chi-squared, permodelan diterima, back testing teruji. Basel committee mensyaratkan bahwa backtesting dan validasi model harus dilaksanakan secara rutin agar akurasi model tetap layak digunakan, pada pembahasan disebutkan bahwa backtesting dilakukan setiap bulan selama tahun 2008 sampai dengan Jika nilai actual loss lebih besar dari nilai VaR artinya nilai VaR dapat menutupi actual loss. Berdasarkan validasi di atas, dapat disimpulkan bahwa metode CreditRisk + dapat digunakan dalam penelitian ini. Sebagai bahan perbandingan, pada penelitian sebelumnya yang disusun oleh Rahardja (2009) Analisis pengukuran risiko kredit KPR Consumer Banking bank X dengan metode CreditRisk + dalam menghitung nilai VaR unexpected didapatkan hasil pengujian LR test sebagai berikut:
106 90 Tabel 4.18 Hasil pengukuran Likelihood Ratio Test Keterangan Hasil T = Total Observasi dalam bulan 25 V = jumlah kesalahan 0 α = Alpha = confidende level 5% LR 0 Chi-square critical value dengan α = 5% 3,8410 Tingkat probabilitas yang digunakan pada karya akhir Rahardja (2009) adalah 95%, menghasilkan likelihood ratio masih lebih rendah dibandingkan dengan nilai critical chi-squared atau LR < 3,8410, dengan demikian metode CreditRisk + dapat digunakan. Dari dua penelitian untuk pengukuruan risiko kredit pada portofolio kredit pemilikan rumah memberikan gambaran bahwa dengan dilakukannya pengujian loglikelihood ratio, memberikan hasil yang sama, sehingga dapat disimpulkan bahwa metode CreditRisk + dapat digunakan secara optimal dalam perhitungan risiko kredit untuk portofolio kredit retail. Hasil Pengukuran loglikelihood ratio test yang dilakukan menjawab pertanyaan penelitian ketiga pada bab satu yaitu, model distribusi poisson CreditRisk + dapat diaplikasikan secara akurat guna mengukur risiko kredit pada portofolio kredit pemilikan rumah pada Bank ABC. Berdasarkan hasil backtesting dan validasi model dengan LR-test dapat diketahui bahwa perhitungan risiko kredit dengan metode CreditRisk + menghasilkan nilai yang optimal dan akurat, keadaan tersebut dapat dibuktikan dengan hasil perhitungan expected loss yang memiliki nilai lebih kecil dibandingkan dengan hasil perhitungan PPAP versi Bank Indonesia, dimana perhitungan expected loss dengan metode CreditRisk + berdasarkan pada data default aktual yang terjadi. Dilain pihak, berdasarkan LR- test tidak terdapat
107 91 kerugian sebenarnya yang melebihi unexpected loss setiap bulan selama periode observasi, sehingga hasil perbandingan antara kerugian sebenarnya yang melebihi unexpected loss dengan maksimum kejadian kesalahan (binary failure) yang dapat ditoleransi adalah nol, dengan artian lain LR-test menunjukkan metode tersebut aplicable dalam memperhitungkan risiko kredit.
108 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan uraian analisis dan pembahasan dari penelitian ini, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Perhitungan CKPN kolektif yang ditetapkan pada PSAK 50 (Revisi 2006) dapat dihitung dengan menggunakan probability of default dengan menggunakan CreditRisk +, seperti yang dijelaskan pada tabel 5.1 berikut: Tabel 5.1 Kelebihan dan Kekurangan Metode CreditRisk + Dibandingkan Dengan PPAP Kelebihan Kekurangan CreditRisk + Kredit default dapat Default tidak dapat diketahui per band (kolektif) diketahui per debitur. Cadangan yang dibentuk Exposure setiap debitur merupakan nilai aktual dari tidak sensitif dengan kredit default. variability dari interset rate. PPAP (Sumber: Peneliti) Dapat memperhitungkan Asumsi bahwa risiko CKPN kolektif dan kredit tidak memiliki unexpected loss sehingga hubungan dengan risiko dapat memperkirakan risiko pasar. kredit yang dihadapi dengan satu model. Sesuai untuk menganalisa risiko gagal bayar pada portofolio yang besar namun dengan jumlah kredit yang kecil daripada portofolio yang memiliki jumlah kredit yang besar. Default dapat diketahui per PPAP yang dibentuk debitur. umumnya lebih tinggi dari yang diharuskan (tidak aktual). Exposure setiap debitur Metode perhitungan sensitif dengan variability dari cadangan tidak applicable interset rate. dengan persyaratan perhitungan cadangan yang tertuang dalam PSAK 55 (Revisi 2006). Asumsi bahwa risiko kredit Risiko kredit memiliki hubungan dengan risiko pasar. diperhitungkan secara terpisah dari cadangan yang dibentuk pada sisi akunting, dan tidak memperhitungkan economic capital. 90
109 91 Dari informasi yang terdapat pada tabel 5.1, diketahui bahwa metode CreditRisk + dapat memperhitungkan CKPN kolektif dan economic capital, dengan demikian metode tersebut dapat menjembatani perbedaan metode perhitungan yang terjadi antara metode akunting dan manajemen risiko, dimana metode akunting hanya memperhitungkan kerugian atau keuntungan data historis saja sedangkan risiko kredit memperhitungkan (mengestimasi) kerugian atau cadangan yang harus dibentuk oleh Bank ABC dimasa depan untuk meminimalisasi risiko kerugian yang dihadapi. 2. Dengan model CreditRisk + nilai economic capital yang dibutuhkan untuk me-cover unexepected loss masing - masing adalah tahun 2008 Rp ,- tahun 2009 Rp ,- dan tahun 2010 Rp ,-. Dari hasil pengolahan data tersebut diketahui nilai economic capital dari tahu mengalami penurunan yang cukup signifikan, yaitu sebesar 47% dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2010, keadaan tersebut dipengaruhi oleh perubahan nilai exposure at default. Berdasarkan olahan data observasi dan dengan hasil yang telah dijelaskan sebelumnya, Bank ABC mengalami penurunan pada distribution of loss, keadaan tersebut merupakan hal utama yang mempengaruhi perhitungan economic capital. 3. Dengan menggunakan backtesting diketahui nilai VaR unexpected loss dapat me-cover exposure at defaults selama periode observasi. Validasi model menggunakan loglikelihood ratio test dengan tingkat keyakinan 99% dan didukung dengan hasil analisa pada bab empat bahwa tidak ada nilai VaR yang melebihi exposure at defaults, dengan demikian model CreditRisk + dapat dinyatakan valid pada perhitungan risiko kredit portofolio KPR dan risiko kerugian pada portofolio KPR bank ABC masih dapat di-cover. Berdasarkan kesimpulan tersebut Bank ABC dapat mempertimbangkan untuk menggunakan model CreditRisk + sebagai pengukur risiko pada portofolio kredit pemilikan rumah.
110 92 Dengan terujinya validitas model maka dapat disimpulkan bahwa metode CreditRisk + dapat digunakan sebagai pendekatan yang efektif untuk mengukur risiko kredit pada Bank ABC. 5.2 Saran Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan di atas, dapat diberikan saran sebagai berikut: 1. Bagi Bank ABC, disarankan dalam perhitungan CKPN kolektif dan pengukuran economic capital pada portofolio KPR untuk mengukur risiko kredit menggunakan metode CreditRisk +. Pengukuran dengan metode CreditRisk + dapat memberikan hasil yang akurat dan efektif dalam pengukuran CKPN kolektif yang langsung terkait dengan perhitungan economic capital dalam pengukuran risiko kredit. Pengkuran sebaiknya dilakukan secara berkala sehigga Bank ABC dapat mengoptimalkan pengalokasian modal. Oleh karena itu Bank perlu memonitor dan menjaga data input yang dipersyaratkan pada metode CreditRisk + dalam perhitungan CKPN kolektif dan risiko kredit. Kelebihan dalam penggunaan metode CreditRisk + adalah data yang dipersiapkan oleh Bank ABC relatif sederhana, yaitu terkait dengan jumlah performing loan, kredit default dan recovery rate. Dalam perhitungan risiko kredit dengan menggunakan CreditRisk + Bank ABC juga tidak perlu membuat asumsi atas penyebab default sehingga perhitungan dilakukan secara sederhana dan efisien. Saran lain yang dapat diberikan berdasarkan hasil analisa dan pembahasan adalah, Bank sebaiknya melakukan difersifikasi penyaluran kredit kepada beberapa jenis fasilitas kredit. Berdasarkan data yang diperoleh, bank meningkatkan penyaluran fasilitas kreditnya pada kredit konsumen dan mengembangkan pemberian kredit nya pada fasilitas kredit kendaraan bermotor dan KPR. Seperti diketahui, bahwa kredit konsumen
111 93 memiliki jumlah debitur yang banyak dan memiliki karakteristik yang sama, dengan demikian risiko kredit yang dihadapi oleh Bank tersebar dan tidak berfokus hanya pada beberapa debitur. Semakin banyaknya dana yang disalurkan pada satu fasilitas kredit akan menyebabkan tingginya risiko kredit akibat faktor external yang dihadapi oleh Bank pada portofolio tersebut. Dengan demikian, disarankan juga agar bank dapat melakukan pengelolaan posisi dan risiko portofolio secara aktif untuk memastikan bahwa tidak ada penyediaan dana yang terkonsentrasi pada satu debitur, sektor, industri, produk, valuta dan atau pengelompokan lainnya yang memiliki kriteria risiko yang serupa. 2. Bagi regulator perbankan dalam hal ini Bank Indonesia, metode CreditRisk + dapat dijadikan referensi dalam perhitungan CKPN kolektif dan economic capital dalam pengukuran risiko kredit sebagai langkah untuk menjalankan penerapan manajemen risiko kredit pada industri perbankan. Pengukuran sebaiknya dilakukan secara periodik dengan periode bulanan untuk menyesuaikan nilai CKPN kolektif dan pengukuran economic capital yang harus disediakan terkait dengan penyerapan modal Bank. Dengan adanya standarisasi pengukuran CKPN kolektif dan economic capital pada industri perbankan, membantu regulator mengoptimalkan proses monitoring. Hal tersebut bertujuan untuk memantau iklim bisnis perbankan, dimana perbankan merupakan industri yang sangat vital dan berpengaruh terhadap kondisi perekonomian negara. 3. Bagi penelitian selanjutnya, dapat menggunakan metode pengukuran lainnya, sehingga dapat dilakukan komparasi antara model untuk mengetahui model mana yang lebih efektif dalam perhitungan CKPN kolektif dan economic capital dalam pengukuran risiko kredit. Dengan demikian, semakin banyak variasi model yang dapat digunakan untuk pengukuran CKPN kolektif dan economic capital dalam pengukuran risiko kredit, maka semakin banyak masukan kepada industri perbankan untuk
112 94 menetapkan metode pengukuran CKPN kolektif dan risiko kredit yang efektif dan efisien. Saran lain bagi penelitian selanjutnya adalah, berdasarkan data observasi dan hasil olah data selama periode observasi, nilai actual loss menunjukkan tidak pernah melebihi nilai VaR, oleh karena itu untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik, penelitian selanjutnya disarankan untuk memperpanjang periode penilitian. 4. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, perhitungan VaR dapat menutup real loss yang terjadi selama tahun 2008 sampai dengan 2010 pada fasilitas KPR. Dilain pihak nilai expected loss (CKPN kolektif) memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan hasil perhitungan PPAP versi Bank Indonesia, dengan demikian cadangan yang dibentuk untuk menutup kerugian memiliki nilai yang lebih akurat sehingga alokasi modal untuk pembentukan cadangan kerugian dari porotofolio kredit dapat dilakukan secara optimal. Oleh karena itu disarankan agar industri perbankan dapat menerapkan metode CreditRisk + untuk mengoptimalkan modal yang dimiliki.
113 95 DAFTAR REFERENSI Asevani, Renzo. G; Liu Kexue; Mirestean, Ali and Salvati, Jean. (2006). Riview and implementation of Credit risk models of the financial sector assessment program. Journal International Monetary Fund, WP/06/134. Alhaqiqi, Firrouz. (2009). Analisis risiko kredit konsumtif dengan metode credit risk pada Bank X, Jakarta: MM-FEUI. Basel Committee on Banking Supervision (2000), Principles for the management of credit risk. Basel Committee on Banking Supervision. (2001). Consultative document, overview of the new basel capital accord. Basel Committee on Banking Supervision. (2001). Consultative document, the standardized approach to credit risk, suporting document to the new basel capital accord. Bank Indonesia. (2003). Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/PBI/2003 tanggal 19 Mei 2003, tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum. Bank Indonesia. (2005). Peraturan Bank Indonesia No. 7/2/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005, tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum. Bank Indonesia. (2008). Peraturan Bank Indonesia No. 10/15/PBI/2008 tanggal 24 September 2008, tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum. Bank Indonesia. (2009). Surat Edaran No. 11/33/ DPNP tanggal 8 Desember 2009 tentang perubahan atas surat edaran No. 11/4/DPNP tanggal 27 Januari 2009 tentang Pelaksanaan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia. Bank Indonesia. (1998). Surat Keputusan Direksi PBI No. 31/148/KEP/DIR tanggal 12 November 1998, tentang Pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif.
114 96 Bessis, Joel. (2010). Risk Management in Banking. Third Edition, United Kingdom: John willey & sons, Ltd. Chapman, Robert J. (2006). Simple Tool and Techniques for Enterprise Risk Management. New Jersey: Willey Finance. Cornett, Million, Saunders. (2008). Financial institutions management, a risk management approach. Mc Graw Hill. Credit Suisse First Boston. (1997). CreditRisk + : A Credit Risk Management Framework.. Available at Crouhy, Michel; Dan Galai; Robert Mark. (2001). Risk Management. New York : McGrew Hill. Culp L, Christopher. (2002). The Art of Risk Management. New Jersey: Willey Finance. Dewi, Diah Kusumo. (2009). Analisis pengukuran risiko kredit usaha kecil dengan metode creditrisk + (Studi Kasus Bank X). Jakarta : MM-FEUI Duffe, Darrel N. et. al. (2003). Credit Risk, Pricing, Measurement and Management. Princeton University Press. Hanggraeni, Dewi. (2010). Pengelolaan Risiko Usaha, Jakarta : UI-Press. Haaf, Hermann; Tasche, Dirk. (2002). Calculating Value at Risk contribution in CreditRisk+. Update, February 28, Horcher, Keren A, (2005). Essentials of Financial Risk Management: John willey and sons, Inc. Hotmaria, Desinta. (2009). Analisis pengukuran risiko kartu kredit dengan metode CreditRisk+ pada Bank X, Jakarta: MM-FEUI. Idroes, Ferry N. (2008). Manajemen Risiko Perbankan, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Iskandar, Rizaldy. (2011). Perhitungan Economic Capital akibat risiko kredit pada PT Toyota Astra Financial Services menggunakan metode CreditRisk +, Jakarta: MM-FEUI.
115 97 Jorion, Philippe. (2005). Financial Risk Management Handbook. New Jersey : John Wiley & Sons, Inc. Jorion, Philippe. (2009). 5 th edition, Financial Risk Management Handbook. New Jersey : John Wiley & Sons, Inc. Kupiec. (2001). Estimating economic capital allocation for market & credit risk. Volume 6/ Number 4. Summer URL: Olof, Robert. (2006). Penerapan metode CreditRisk + dalam pengukuran risiko kredit pada perusahaan pembiayaan kendaraan bermotor (studi kasus PT XYZ), Jakarta : MM-FEUI. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia. (Desember 2008). Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Jakarta - Bank Indonesia. Rivai, Veithzal; Veithzal, Andrian P. (2006). Credit Management Handbook, Edisi Kesatu. Jakarta : Raja Grafindo Persada Standar Akuntansi Keuangan. (1 September 2007). updated 2008, Salemba Empat, Jakarta: Ikatan Akuntan Indonesia. Servigny, A.D.; Renault, Olivier. (2004). Measuring And Managing Credit Risk. New York : McGrew Hill. Siamat, Dahlan. (2004). Manajemen Lembaga Keuangan. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi. Saunders, Anthony. (2001). Financial Institution Management, A Risk Management Approach. fourth edition, New York: Mc Graw Hill. Saunders, Anthony; Linda Allen. (2002). Credit Risk Measurements, New Approach to Value at Risk and Other Paradigms. Second Edition. New York : John Wiley & Sons, Inc. Saunders, Anthony and Cornett, Marcia Millon. (2007). Risk management, financial markets and institutions, an introduction to the risk management approach. Third Edition, Mc Graw Hill. Saunders, Anthony and Cornett, Marcia Millon. (2011). Financial Institutions Management a risk management approach. Seventh Edition, Mc Graw Hill.
116 98 Setiawan, Herry. (2005). Perhitungan risiko kredit dengan metode CreditRisk + guna meningkatkan kolektibilitas tunggakan kartu kredit (studi kasus di Bank X), Jakarta: MM-FEUI. Rahardja, Satria Budi. (2009). Analisis pengukuran risiko kredit KPR Consumer Banking Bank X dengan metode CreditRisk +, Jakarta: MM-FEUI. Undang-undang No. 7 tahun 1992 jo Undang-undang No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan umum. Vandendorpe, et.al. (2008). On the parameterization of the CreditRisk + model for estimating portfolio risk, Proquest amsterdam, April 2008, Vol. 42 iss 2. Widayanti, Ira. (2010). Pengukuran risiko kredit menggunakan metode Credit Risk + dengan mempertimbangkan variabel makro ekonomi (studi kasus di Bank X), Jakarta: MM-FEUI. Banker Association for Risk Management. (2010). Uji Kompetensi Profesi Bankir Bidang Manajemen Risiko, Level 2. Majalah Infobank, Nomor 384; Maret 2011, Volume 33. Program Produk Kredit Rumah. (2011). Bank ABC.
117 Lampiran 1.1 Komposisi Exposure at Default tahun 2008 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 99
118 Lampiran 1.2 Komposisi Exposure at Default tahun 2009 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 100
119 Lampiran 1.3 Komposisi Exposure at Default tahun 2010 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 101
120 Lampiran 2.1 Komposisi Loss Given Default tahun 2008 dengan RR = 51,03% pada Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 102
121 Lampiran 2.2 Komposisi Loss Given Default tahun 2009 dengan RR = 51,03% pada Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 103
122 Lampiran 2.3 Komposisi Loss Given Default tahun 2010 dengan RR = 51,03% pada Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 104
123 105
124 Lampiran 3.1 Komposisi Average Number of Default (λ) tahun 2008 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 106
125 Lampiran 3.2 Komposisi Average Number of Default (λ) tahun 2009 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 107
126 Lampiran 3.3 Komposisi Average Number of Default (λ) tahun 2010 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 108
127 Lampiran 4.1 Komposisi Probability of Default tahun 2008 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 109
128 110
129 Lampiran 4.2 Komposisi Probability of Default tahun 2009 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 111
130 Lampiran 4.3 Komposisi Probability of Default tahun 2010 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 112
131 113
132 Lampiran 5.1 Komposisi Unexpected Number of Default (n) tahun 2008 dengan tingkat keyakinan 99% Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 114
133 Lampiran 5.2 Komposisi Unexpected Number of Default (n) tahun 2009 dengan tingkat keyakinan 99% Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 115
134 116
135 Lampiran 5.3 Komposisi Unexpected Number of Default (n) tahun 2010 dengan tingkat keyakinan 99% Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 117
136 118
137 Lampiran 6.1 Komposisi Cummulative Probability of Default tahun 2008 saat melebihi 99% Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 119
138 120
139 Lampiran 6.2 Komposisi Cummulative Probability of Default tahun 2009 saat melebihi 99% Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 121
140 Komposisi Cummulative Probability of Default tahun 2010 saat melebihi 99% 122 Lampiran 6.3
141 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 123
142 Lampiran 7.1 Komposisi Expected Loss tahun 2008 pada Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 124
143 Lampiran 7.2 Komposisi Expected Loss tahun 2009 pada Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 125
144 Lampiran 7.3 Komposisi Expected Loss tahun 2010 pada Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 126
145 Lampiran 8.1 Komposisi Un-Expected Loss tahun 2008 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 127
146 Lampiran 8.2 Komposisi Un-Expected Loss tahun 2009 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 128
147 Lampiran 8.3 Komposisi Un-Expected Loss tahun 2010 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 129
148 130
149 Komposisi Economic Capital tahun 2008 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Lampiran
150 Lampiran 9.2 Komposisi Economic Capital tahun 2009 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 132
151 Lampiran 9.3 Komposisi Economic Capital tahun 2010 Portofolio Kredit Pemilikan Rumah 133
152 134
153 135
154 Komposisi Non Performing Loan KPR terhadap portofolio KPR Periode Januari 2008 Desember 2010 Lampiran
155 Lampiran 11 Cadangan Modal Minimum Risiko Kredit Portofolio Kredit Pemilikan Rumah Periode Januari 2008 Desember
BAB I PENDAHULUAN. perekonomian, memfasilitasi pertumbuhan ekonomi suatu negara untuk memenuhi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perbankan memiliki peranan penting dalam menggerakkan roda perekonomian, memfasilitasi pertumbuhan ekonomi suatu negara untuk memenuhi tantangan dunia usaha dan industri
BAB 4 ANALISIS KREDIT KONSUMTIF BANK X DENGAN INTERNAL MODEL CREDITRISK Gambaran Umum Kredit Konsumtif pada Bank X
51 BAB 4 ANALISIS KREDIT KONSUMTIF BANK X DENGAN INTERNAL MODEL CREDITRISK + Dalam Bab 4 secara lebih mendalam akan dibahas analisis mengenai pengukuran risiko kredit konsumtif pada bank X dengan menggunakan
BAB III KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
BAB III KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kajian Pustaka 3.1.1. Manajemen Risiko Menurut Chapman (2006), manajemen risiko adalah bagian dari pengendalian internal. Manajemen risiko ditujukan untuk
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
43 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Objek Penelitian Objek penelitian yang akan dianalisis dalam karya akhir ini adalah mengenai pengukuran risiko kredit di bagian Consumer Banking, khususnya untuk kredit
BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN
BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN Dalam karya akhir ini pengukuran risiko yang ditunjukan terhadap pembiayaan murabahah pada BNI Syariah dengan menggunakan Metode CreditRisk +, Dalam penerapan metode pengukuran
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Objek Penelitian Penelitian dalam karya akhir ini dilakukan melalui studi pustaka, pengumpulan data dan analisa kuantitatif. Studi pustaka digunakan untuk menyusun landasan
ANALISIS PERHITUNGAN CREDIT RISK + UNTUK KREDIT BISNIS MIKRO PADA BANK RAKYAT INDONESIA TESIS
UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS PERHITUNGAN CREDIT RISK + UNTUK KREDIT BISNIS MIKRO PADA BANK RAKYAT INDONESIA TESIS INDRA KURNIAWAN 0806432985 FAKULTAS EKONOMI PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN JAKARTA DESEMBER
BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN
BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN Bab ini akan menguraikan pemecahan masalah dalam mengukur risiko kredit dengan menggunakan metode Credit Risk +. Dimana pemecahan masalah tersebut akan sesuai mengikuti metodologi
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Desain Penelitian Penelitian ini akan memberikan penjelasan secara deskriptif mengenai hasil perhitungan statistik dalam mengukur risiko kredit menggunakan metode CreditRisk
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE PENELITIAN 1.1 Desain Penelitian Dalam Bab 4 secara lebih mendalam akan dibahas seacara deskriptif mengenai hasil pengukuran risiko kredit pada segmen Kredit Tanpa Agunan pada bank XYZ dengan
BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN
BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN Dalam Bab 4 ini akan dibahas mengenai, analisis pengukuran risiko kredit consumer khususnya mortgage (KPR) pada Bank X dengan menggunakan Internal Model CreditRisk+. Dengan
UNIVERSITAS INDONESIA PENGUKURAN RISIKO KREDIT MENGGUNAKAN METODE CREDIT RISK + DENGAN MEMPERTIMBANGKAN VARIABEL MAKRO EKONOMI (STUDI KASUS DI BANK X)
UNIVERSITAS INDONESIA PENGUKURAN RISIKO KREDIT MENGGUNAKAN METODE CREDIT RISK + DENGAN MEMPERTIMBANGKAN VARIABEL MAKRO EKONOMI (STUDI KASUS DI BANK X) TESIS IRA WIDAYANTI 0806432991 FAKULTAS EKONOMI PROGRAM
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Gambaran Kredit UKM di Bank XYZ Penyaluran kredit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan usaha dalam rangka membangun
BAB I PENDAHULUAN. aktivitas perbankan selalu berkaitan dengan bidang keuangan. Seperti telah
BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG MASALAH Bank merupakan perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, artinya aktivitas perbankan selalu berkaitan dengan bidang keuangan. Seperti telah ditegaskan dalam
BAB I PENDAHULUAN. untuk dibiayai, perbankan lebih memilih mengucurkan dana untuk kredit ritel dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada saat sebelum krisis tahun 1998 sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) tidak dilirik oleh perbankan karena mereka menilai sektor ini tidak layak untuk dibiayai,
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1.1 Gambaran Kredit Tanpa Agunan (KTA) di Bank XYZ Kredit Tanpa Agunan merupakan salah satu produk perbankan yang memberikan fasilitas pinjaman tanpa beban memberikan
BAB II LANDASAN TEORI
9 BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dijelaskan mengenai teori-teori yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan mengenai pengaruh faktor suku bunga kredit, dana pihak ketiga, nilai tukar
BAB I PENDAHULUAN. PSAK 50 dan 55 merupakan standar akuntansi yang mengacu pada International
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah PSAK 50 dan 55 merupakan standar akuntansi yang mengacu pada International Accounting Standard (IAS) 39 mengenai Recognition and Measurement of Financial Instruments
BAB I PENDAHULUAN. dari pelepasan kredit dan pendapatan berbasis biaya (fee based income). Lambatnya
1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Sebagian besar pendapatan bank berasal dari pendapatan bunga yang berasal dari pelepasan kredit dan pendapatan berbasis biaya (fee based income). Lambatnya pertumbuhan
BAB 4 ANALISA DATA. 26 Universitas Indonesia
BAB 4 ANALISA DATA 4.1 Data Kolektibilitas Debitur Tahun 2008 Bank Indonesia melalui PBI No:9/14/PBI/2007 tentang Sistem Informasi Debitur mewajibkan bank umum melaporkan kualitas debitur untuk pemenuhan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada dasarnya pemerintah berkewajiban mensejahterakan rakyatnya secara adil dan merata. Ukuran sejahtera biasanya dapat dilihat dari kemampuan seseorang dalam
BAB I PENDAHULUAN. rakyat (Yunan, 2009:2). Pertumbuhan ekonomi juga berhubungan dengan proses
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia sebagai salah satu negara berkembang berusaha dengan giat melaksanakan pembangunan secara berencana dan bertahap, tanpa mengabaikan usaha pemerataan dan
STRATEGI PENDANAAN MELALUI SEKURITISASI PIUTANG PEMBIAYAAN KONSUMEN PADA PT. ABC FINANCE TESIS
UNIVERSITAS INDONESIA STRATEGI PENDANAAN MELALUI SEKURITISASI PIUTANG PEMBIAYAAN KONSUMEN PADA PT. ABC FINANCE TESIS AGUNG YUDIVIANTHO 0806432101 FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN JAKARTA
BAB I PENDAHULUAN. menyalurkan dana, dan memberikan jasa bank lainnya. Kegiatan menghimpun
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bank adalah sebuah lembaga intermediasi keuangan umumnya didirikan dengan kewenangan untuk menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan menerbitkan promes atau yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Salah satu ukuran untuk melihat kinerja keuangan perbankan adalah melalui
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori 2.1.1. Return on Assets (ROA) Salah satu ukuran untuk melihat kinerja keuangan perbankan adalah melalui Return on Assets (ROA). Return on Assets (ROA) digunakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak tahun 2007 hingga 2010 proporsi jumlah bank gagal dari jumlah bank yang ditetapkan dalam pengawasan khusus cenderung meningkat sesuai dengan Laporan Tahunan Lembaga
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Tingkat Kesehatan Bank Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004, tingkat kesehatan bank adalah hasil penilaian kualitatif
BAB I PENDAHULUAN. biasa disebut dengan intermediasi (Maretha, 2015). Menyalurkan suatu dana
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bank sebagai lembaga intermediasi yang memiliki kegiatan inti yaitu menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki kelebihan dana dan menyalurkan kembali kepada
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan ekonomi dunia kini menjadi salah satu isu utama dalam perkembangan dunia memasuki abad ke-21. Krisis ekonomi yang kembali melanda negara-negara di dunia
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Tinjauan Mengenai Bank 2.1.1.1 Pengertian Bank Menurut Undang-undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan
PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 8/19/PBI/2006 TENTANG KUALITAS AKTIVA PRODUKTIF DAN PEMBENTUKAN PENYISIHAN PENGHAPUSAN AKTIVA PRODUKTIF
PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 8/19/PBI/2006 TENTANG KUALITAS AKTIVA PRODUKTIF DAN PEMBENTUKAN PENYISIHAN PENGHAPUSAN AKTIVA PRODUKTIF BANK PERKREDITAN RAKYAT GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengaruh Risiko Usaha Terhadap Capital Adequacy Ratio (CAR) pada
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Ada tiga penelitian sebelumnya yang sangat bermanfaat bagi penulis sebagai bahan acuan, yaitu dilakukan oleh : 1. Riski Yudi Prasetyo 2012 Penelitian yang
BAB II KAJIAN PUSTAKA. keuangan yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap laporan keuangan.
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Perlakuan Akuntansi Perlakuan akuntansi adalah standar yang melandasi pencatatan suatu transaksi yang meliputi pengakuan, pengukuran atau penilaian
TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Bank
8 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Bank Pengertian bank menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 adalah badan usaha
BAB I PENDAHULUAN. Industri perbankan memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Industri perbankan memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan perekonomian. Begitu penting perannya sehingga ada anggapan bahwa bank merupakan "nyawa
EKUITAS LAPORAN LABA RUGI. Ekuitas
EKUITAS Pada tahun total ekuitas BCA tumbuh 16,6% atau Rp 18,7 triliun menjadi Rp 131,4 triliun. Kenaikan ekuitas ini sejalan dengan peningkatan profitabilitas dan kebijakan pembagian dividen secara terukur.
BAB II KAJIAN PUSTAKA. (Mulyadi, 2010:5). Prosedur adalah suatu urutan pekerjaan klerikal
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Prosedur pengertian prosedur adalah suatu urutan kegiatan klerikal, biasanya melibatkan beberapa orang dalam satu departemen atau lebih, yang
BAB I PENDAHULUAN. memiliki fungsi intermediasi yaitu menghimpun dana dari masyarakat yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Menurut UU No.10 tahun 1998 : Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam
BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN
BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN 2.1 Sektor Perbankan 2.1.1 Pengertian Bank Menurut Undang-Undang Negara Republik Indoneisa Nomor 10 tahun 1998 Tanggal 10 November 1998 tentang perbankan yaitu badan usaha yang
II. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian dan Peran Bank
5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian dan Peran Bank Bank secara sederhana dapat diartikan sebagai lembaga keuangan yang menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dana tersebut ke masyarakat,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bank 2.1.1 Pengertian Bank Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, bank adalah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN. sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang nomor 10 tahun 1998 bahwa yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Pengertian Bank Menurut Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. Pengertian dan Fungsi Kredit Menurut Dahlan Siamat (2005 : 349), kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat disamakan dengan itu, berdasarkan
BAB I PENDAHULUAN. dalam bentuk simpanan. Sedangkan lembaga keuangan non-bank lebih
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lembaga keuangan digolongkan ke dalam dua golongan besar menurut Kasmir (2012), yaitu lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan nonbank. Lembaga keuangan bank atau
BAB I PENDAHULUAN. internasional untuk para nasabah dan investor global agar tetap survive di percaturan
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Dalam menghadapi persaingan internasional, perbankan berlomba-lomba menciptakan produk baru dan layanan yang kompetitif dengan perbankan berskala internasional
ANALISIS PENGUKURAN RISIKO PEMBAYARAN RENTAL KENDARAAN BERMOTOR SECARA KREDIT (STUDI KASUS PADA PT. SURYA DARMA PERKASA)
ANALISIS PENGUKURAN RISIKO PEMBAYARAN RENTAL KENDARAAN BERMOTOR SECARA KREDIT (STUDI KASUS PADA PT. SURYA DARMA PERKASA) SUHERI PURNOMO Jl. Srengseng Raya No.45 RT 008/06 Kembangan Jakarta Barat. 11630
BAB I PENDAHULUAN. Lembaga keuangan perbankan mempunyai peranan penting dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lembaga keuangan perbankan mempunyai peranan penting dalam menstabilkan perekonomian suatu negara. Bank sebagai lembaga intermediasi yang mempertemukan antara pihak
LAPORAN POSISI KEUANGAN
Tata Kelola Perusahaan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Laporan Keuangan Konsolidasian LAPORAN POSISI KEUANGAN BCA membukukan posisi keuangan yang solid, didukung oleh posisi permodalan dan likuiditas
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
9 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kebijakan kebijakan pemerintah dalam bidang perbankan antara lain adalah paket deregulasi Tahun 1983, paket kebijakan 27 Oktober 1988, paket kebijakan
UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Sistem keuangan merupakan salah satu hal yang krusial dalam masyarakat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sistem keuangan merupakan salah satu hal yang krusial dalam masyarakat modern. Sistem pembayaran dan intermediasi hanya dapat terlaksana bila ada sistem keuangan
BAB 1 PENDAHULUAN. termasuk Indonesia. Sektor perbankan berfungsi sebagai perantara keuangan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perbankan dalam perekonomian suatu negara memiliki fungsi dan peranan yang sangat penting. Perbankan merupakan salah satu sub sistem keuangan yang paling penting
3. METODE. Kerangka Pemikiran Penelitian
18 3. METODE Kerangka Pemikiran Penelitian Salah satu parameter kinerja jangkauan layanan LKM mencakup adalah luasnya jangkauan kepada nasabah berupa besarnya jumlah nasabah yang dilayani LKM. Untuk menjangkau
No. 15/28/DPNP Jakarta, 31 Juli 2013 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK UMUM YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA SECARA KONVENSIONAL DI INDONESIA
No. 15/28/DPNP Jakarta, 31 Juli 2013 SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA SECARA KONVENSIONAL DI INDONESIA Perihal: Penilaian Kualitas Aset Bank Umum Sehubungan dengan Peraturan
kemudian hari bagi bank dalam arti luas;
KAJIAN PUSTAKA Pengertian dasar tentang kredit bermasalah Dalam kasus kredit bermasalah, debitur mengingkari janji membayar bunga dan pokok pinjaman mereka yang telah jatuh tempo, sehingga dalam hal ini
BAB I PENDAHULUAN. kembali dana tersebut kepada masyarakat dalam bentuk kredit.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Indonesia telah mengalami perkembangan ekonomi yang sangat cepat. Perkembangan tersebut tidak lepas dari peran bank sebagai lembaga keuangan yang mengatur,
PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/14/PBI/2011 TENTANG PENILAIAN KUALITAS AKTIVA BAGI BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/14/PBI/2011 TENTANG PENILAIAN KUALITAS AKTIVA BAGI BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kelangsungan
BAB I PENDAHULUAN. negara Indonesia memiliki peranan cukup penting. Hal ini dikarenakan sektor
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pembangunan nasional suatu bangsa mencakup di dalamnya pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi sangat bergantung pada keberadaan sektor perbankan yang berfungsi
PROSPEK USAHA Kurang Lancar
LAMPIRAN 85 86 Lampiran. Pedoman umum penggolongan kualitas kredit Bank Syariah Komponen Lancar Dalam Perhatian Khusus Potensi pertumbuh an usaha Kondisi pasar dan potensi debitur dalam persaingan Kualitas
ANALISIS TINGKAT KESEHATAN PERBANKAN BERDASARKAN METODE CAMELS
ANALISIS TINGKAT KESEHATAN PERBANKAN BERDASARKAN METODE CAMELS MUNGNIYATI STIE TRISAKTI [email protected] PENDAHULUAN K esehatan merupakan aspek yang sangat penting dalam berbagai bidang kehidupan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam dunia modern sekarang ini, pertumbuhan dan perkembangan perekonomian suatu negara tergantung pada lembaga keuangannya. Lembaga keuangan terutama perbankan berperan
BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini perkembangan dunia ekonomi di Indonesia semakin meningkat. Hal ini tidak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dewasa ini perkembangan dunia ekonomi di Indonesia semakin meningkat. Hal ini tidak terlepas dari peran semakin meningkatnya sektor usaha mikro, kecil dan
BAB I PENDAHULUAN. dan atau bentuk-bentuk lainnya, dalam rangka meningkatkan taraf hidup. kepada masyarakat yang kekurangan dana (Abdullah, 2005:17).
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pasal 1 Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 (Merkusiwati, 2007:100)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perbankan memiliki peranan yang sangat strategis dalam menunjang berjalannya roda perekonomian dan pembangunan nasional mengingat fungsinya sebagai lembaga
Laporan Keuangan Triwulanan 30 September 2009
Laporan Keuangan Triwulanan 30 September 2009 Bangkok Bank Public Company Limited Jakarta Branch NERACA BANGKOK BANK PCL Per 30 September 2009 dan 2008 (dlm.jutaan rupiah) No. POS - POS 30 September 2009
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Terintegrasinya perekonomian global telah menyebabkan krisis di suatu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Terintegrasinya perekonomian global telah menyebabkan krisis di suatu negara dan dengan cepat berimbas ke negara lain. Salah satu bukti konkretnya adalah krisis
BAB I PENDAHULUAN. Pasar modal merupakan salah satu alternatif pilihan sumber dana jangka panjang bagi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pasar modal merupakan salah satu alternatif pilihan sumber dana jangka panjang bagi perusahaan. Termasuk didalamnya adalah perusahaan-perusahaan pada sektor
Bab I. Pendahuluan. Bank merupakan sebuah lembaga keuangan (financial institution) yang
Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Bank merupakan sebuah lembaga keuangan (financial institution) yang menjadi perantara keuangan (financial intermediary) antara pihak yang kelebihan dana (surplus unit)
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Pembangunan merupakan program pemerintah yang bertujuan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pembangunan merupakan program pemerintah yang bertujuan menciptakan kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kemakmuran, kesejahteraan,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Anggraini Pudji Lestari (2010) dengan topik Pengaruh rasio Likuiditas, Kualitas
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Dalam penelitian ini menggunakan dua peneliti terdahulu sebagai rujukan. Rujukan yang pertama menggunakan penelitian yang dilakukan oleh Anggraini Pudji
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu 2.1.1. Lusia Estine Martin, Saryadi, dan Andi Wijayanto (2014) Lusia Estine Martin, Saryadi, dan Andi Wijayanto melakukan penelitian ini dengan tujuan
I. PENDAHULUAN. Perbankan Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perbankan Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas ekonomi ke arah peningkatan
1. PENDAHULUAN. Perkembangan dan pertumbuhan ekonomi untuk mencapai peningkatan dan
1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan dan pertumbuhan ekonomi untuk mencapai peningkatan dan kemajuan serta kesejahteraan masyarakat pada suatu wilayah, tidak terlepas dari peran perbankan, baik
BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari sektor perbankan. Dunia
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari sektor perbankan. Dunia perbankan memegang peranan penting dalam pertumbuhan stabilitas ekonomi. Hal ini dapat dilihat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bank merupakan badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya ke masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Bank merupakan suatu bidang usaha yang bergerak pada jasa keuangan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bank merupakan suatu bidang usaha yang bergerak pada jasa keuangan yang memegang fungsi penting dalam kegiatan perekonomian suatu negara. Bank mempunyai fungsi utama
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perbankan memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan stabilitas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perbankan memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan stabilitas ekonomi suatu negara. Sebab sektor perbankan mempunyai tugas utama sebagai lembaga penghimpun
PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/ 35 /PBI/2008 TENTANG FASILITAS PENDANAAN JANGKA PENDEK BAGI BANK PERKREDITAN RAKYAT
PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/ 35 /PBI/2008 TENTANG FASILITAS PENDANAAN JANGKA PENDEK BAGI BANK PERKREDITAN RAKYAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa berhubung
BAB I PENDAHULUAN. Tentang Perubahan atas Undang Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut undang undang republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan atas Undang Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan, bank adalah badan usaha yang
