ANALISIS KINEMATIKA MOBILE MANIPULATOR PADA EXCAVATOR BACKHOE

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ANALISIS KINEMATIKA MOBILE MANIPULATOR PADA EXCAVATOR BACKHOE"

Transkripsi

1 Vol. 7, No., Novembe 25 ISSN: ANALISIS KINEMATIKA MOBILE MANIPULATOR PADA EXCAVATOR BACKHOE Randis ), Suhalena 2), Risti Jayanti 2) Teknik Mesin Alat Beat, Politeknik Negei Balikpapan 2 Teknik Elektonika, Politeknik Negei Balikpapan [email protected] Abstak Eksavato bachoe meupakan alat beat yang paling umum digunakan di bidang petambangan kaena lincah dalam melakukan bebagai jenis pekejaan. Mesin ini juga meupakan alat beat yang paling seba-guna kaena mampu menangani bebagai macam pekejaan alat beat yang lain. Penelitian ini betujuan untuk menghitung kinematika manipulato dan mobile pada eksavato bachoe. Pengambilan data dilakukan di PT.United Tacto Makassa. Data yang diambil adalah panjang boom, am dan bucket, jai-jai oda, leba tack backhoe, dan jaak antaa titik tengah pada 2 oda. Data yang dipeoleh, digunakan dalam pehitungan kinematika lengan dan eksavato mobile. Dai poses pengukuan dipeoleh dimensi utama yaitu jaak sumbu oda (2.2 m), leba tack (.637 m) dan jai-jai oda (.44 m). Aea keja dai boom adalah m, untuk am adalah m dan untuk bucket adalah.482 m. Hasil penelitian pehitungan kinematika lengan dipeoleh posisi x, y dan z pada end effecto xt ( m), yt (4.556 m) dan zt (3.5 m). Kecepatan yang dipeoleh adalah (.56 π ad/sec), (6.26 ππad/s), dan (3.33 πad/s). Pecepatan yang dipeoleh adalah ( 4.79 π ad/sec²), ( 7.79 π ad/sec²), dan ( 4.79 π ad/sec²). Kata Kunci: kinematika manipulato, kinematika mobile, eksavato backhoe, kecepatan, pecepatan Abstact The analysis of the kinematic on the manipulato mobile on the backhoe excavato. The backhoe excavato is the most common heavy equipment used in the mining industies as its ability to agile in doing vaious kinds of wok. The machine is also the most vesatile machine, because it can handle a wide vaiety of othe heavy equipment jobs. This study aims to calculate the kinematics of the manipulato and mobile on the machine. The data is collected in PT. United Tacto Makassa. The data ae the length of the boom, am and bucket, the wheel spokes, the tack backhoe wide, and the distance between the midpoint of 2 wheels. The data obtained is used in the calculation of the kinematics of am and mobile excavatos. Fom the measuement pocess, it deives the main dimensions, including the wheelbase (2.2 m), the width of tack (,637 m), and the adius of the wheel (44 m). The woking ange of boom is m, while that of am is m and that of bucket is,482 m. The esults of the eseach of the am kinematics calculations show the position x, y and z on the end effectos xt ( m), yt (4.556 m) and zt ( 3.5 m). The velocity obtained is (.56 π ad/sec), (6.26 π ad/sec), and (3.33 π ad/sec). The acceleation mobile obtained is ( 4.79 π ad/sec), ( 7.79 π ad/sec), and ( 4.79 π ad/sec²). Keywods :, manipulato kinematics, mobile kinematic, backhoe excavato, velocity, acceleation. Pendahuluan Excavato (ekskavato) adalah alat beat yang tedii dai boom (bahu), lengan (am), seta alat keuk (bucket) dan digeakkan oleh tenaga hidolis yang dimotoi oleh mesin diesel dan beada di atas oda antai (tackshoe). Sesuai dengan namanya (excavation), alat beat ini memiliki fungsi utama untuk pekejaan penggalian (Lidiawati, 23). Pada bidang petambangan, eksavato digunakan untuk mengangkut mateial ke dalam tuck untuk selanjutnya dipindahkan ke tempat yang telah di sediakan. Dalam melaksanakanya, pekejaan 25

2 Vol. 7, No., Novembe 25 ISSN: dilakukan secaa beulang dengan siklus dan uang geak yang sama dalam satuan waktu tetentu, sehingga memungkinkan melakukan kontol otomatis sepeti obot-obot yang ada di industi maju dan bekembang guna meningkatkan tingkat efektifitas dan efisiensi (Muphy,22). Kontol otomatis sangat efektif dan efisien dibandingkan dengan sistem kontol manual. Hal ini disebabkan pada kontol dengan sistem manual, opeato haus beada di kabin dengan tingkat esiko yang sangat besa, sedangkan dengan kontol otomatis, eksavato dapat begeak secaa otomatis sesuai dengan peintah pogam yang telah disematkan ke dalam modul atau chipnya (Caig, 26). Kontol otomatis dapat diteapkan pada suatu alat atau unit dengan bantuan pogam, dimana dapat memeintah dan mengendalikan unit untuk melakukan pekejaan sesuai dengan kehendak dan keinginan dai sebuah pogam yang teintegasi. Di dalam suatu pogam, tedapat bebeapa fomulasi dan pesamaan numeik yang di-compile ke dalam bahasa pogam aga dapat dieksekusi dan dijalankan oleh unit yang besangkutan (Enda, 26). Fomulasi dan pesamaan numeik dapat diteapkan dengan bantuan pesamaan Denenvit- Hatenbeg (Caig, 26 dan Jacob, 26) untuk mengetahui posisi end efecto (dalam hal ini adalah bucket dai excavato). Dengan mengetahui end efecto dai excavato beati dengan fungsi invest, dapat pula ditentukan sudut posisi end efecto yang dimaksud. Pada penelitian sebelumnya yang menyangkut mengenai masalah ini (Idam, 24), telah diancang dan dihitung kinematika lengan dan mobile model eksavato pneumatic dengan menggunakan manipulato 4-Joint (DOF) yang didapat dengan metode DH Paamete dengan sistem kontol bebasis wieless. Kendala yang muncul dalam penelitian ini adalah dimensi dai lengan dan unde caiage yang tidak dapat mempesentasikan ukuan dan dimensi yang sebenanya dai PC 2 kaena ancangan hanya beupa model/pototype. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan pehitungan kinematika untuk lengan dan mobile PC 2 dengan menggunakan pesamaan Denenvit Hatenbeg 2. Kajian Pustaka Konsep Kinematika Sebuah lengan dapat dianggap sebagai sebuah lengan manipulato obot, dimana konsep dan analisis kinematika dapat diteapkan sebagaimana konsep dan analisis kinematika yang umumnya diteapkan pada manipulato obot. Gamba. Tansfomasi Kinematik Maju dan Kinematik Balik (Afandi, 22) Bedasakan Gamba dipeoleh infomasi bahwa jika jai-jai dan dai suatu stuktu obot n-dof diketahui, maka posisi yang dinyatakan dengan P(x,y,z) dapat dihitung. Jika meupakan sebuah fungsi bedasakan waktu (t), maka posisi dan oientasi P(t) dapat dihitung juga secaa pasti. Tansfomasi koodinat ini dikenal sebagai kinematika maju (Afandi, 22). Selanjutnya jika posisi dan oientasi P(t) diketahui maka, (t) tidak langsung dapat dihitung tanpa mendefinisikan beapa DoF stuktu obot tesebut. Jumlah sendi n dai n-dof yang dapat dibuat untuk melaksanakan tugas sesuai dengan posisi dan oientasi P(t) itu dapat benilai n(m,m+, m+2,,m+p), dimana m adalah jumlah sendi minimum dan p adalah jumlah sendi yang dapat ditambahkan. Tansfomasi ini dikenal sebagai kinematika balik (Afandi, 22). Kinematika obot adalah studi analitis pegeakan kaki atau lengan obot tehadap sistem keangka koodinat acuan yang diam/begeak tanpa mempehatikan gaya yang menyebabkan pegeakan tesebut. Model kinematika meepesentasikan hubungan end effecto dalam uang tiga dimensi dengan vaiabel sendi (joint) dalam uang sendi. Pemodelan kinematik ini 26

3 Vol. 7, No., Novembe 25 ISSN: diklasifikasikan ke dalam kinematik maju (fowad kinematic) dan kinematik balik (invese kinemtic). Kinematika maju mendeskipsikan posisi dan oientasi end effecto yang dinyatakan dalam posisi sendi, sedangkan kinematika balik mendeskipsikan konfiguasi posisi sendi untuk menghasilkan posisi dan oientasi end effecto tetentu (Afandi, 22). Kinematika Manipulato Kinematika adalah ilmu geak yang mempelakukan geak tanpa mempehatikan gaya yang menyebabkannya. Dalam ilmu kinematika satu studi posisi, kecepatan dan pecepatan meupakan tuunan ode tinggi dai vaiabel posisi tehadap waktu atau vaiabel lain. Oleh kaena itu, studi tentang kinematika manipulato mengacu pada semua popeti geometis dan bebasis waktu geak. Hubungan antaa geakan, gaya dan tosi yang menyebabkan meeka adalah masalah dinamika. Kaitannya dengan geometi manipulato yang kompleks dibuat bebagai keangka kemudian digambakan hubungan antaa keangkakeangka tesebut. Studi tentang kinematika manipulato melibatkan, antaa lain, bagaimana lokasi keangka-keangka ini beubah sebagai mekanisme (Caig, 26, Jacob, 26). Denenvit-Hatenbeg Analisis pesamaan kinematik dapat diselesaikan dengan metoda Denenvit-Hatenbeg Paametes (DH Paamete). Denavit dan Hatenbeg mempekenalkan pendekatan sistematik dan pendekatan umum dengan menggunakan matiks algeba untuk menyatakan dan menunjukkan geometi spasial pada link pada lengan obot dengan fame yang tetap. DH paamete ini menggunakan matiks homogeneous tansfomation 4 x 4 untuk menyatakan hubungan spasial antaa dua link yang behubungan seta menyedehanakan masalah fowad kinematics pada matiks tansfomasi homogeneous yang behubungan dengan penempatan spasial dai fame koodinat lengan tehadap fame koodinat efeensi. Matiks tansfomasi homogeneous dinyatakan dengan matik tansfomasi T pada sendi ke-i (Caig, 26). Suatu caa khas epesentasi analisa hubungan geak otasi dan tanslasi antaa lengan-lengan yang tehubung dalam suatu manipulato telah dipekenalkan oleh Denenvit dan Hatenbeg pada tahun 955. Meskipun telah lima dasawasa yang lalu, metoda ini masih banyak digunakan utamanya untuk pemogaman obot-obot manipulato di industi (Caig, 26). Gamba 2 : Paamete Denenvit-Hatenbeg (Caig, 26) Gamba 2 menunjukan paamete Denenvit- Hatenbeg. Dai gamba dapat dilihat bahwa yang diuku sepanjang sumbu i, dimana a i l bepotongan dengan sumbu panjang angka (a i l ), adalah jaak antaa sumbu i dengan sumbu i-l. Peputaan angka (α i l ) adalah sudut yang diuku dai sumbu i-l ke sumbu i. Link offset (d i ) adalah jaak i, dan dimana a i bepotongan dengan sumbu i. Penggunaan Denenvit-Hatenbeg Pinsip dasa epesentasi D-H adalah melakukan tansfomasi koodinat anta dua link yang bedekatan. Hasilnya adalah suatu matix (4 x 4) yang menyatakan system koodinat dai suatu link dengan link yang tehubung pada pangkalnya (link sebelumnya) (Enda, 26). Dalam konfiguasi seial, koodinat (ujung) link- dihitung bedasakan sendi- atau sendi pada tubuh obot. Sistem koodinat link-2 dihitung bedasakan posisi sendi- yang beada di ujung link- dengan mengasumsikan link- adalah basis geakan link-2, sedemikian seteusnya, (link-3 dihitung bedasakan link-2, hingga link ke-(n) dihitung bedasakan link ke-(n-)) (Enda, 26). Teakhi, posisi koodinat (end effecto) akan dapat diketahui. Repesentasi DH paamete menggunakan 4 buah paamete, yaitu, α, d dan a. Untuk obot dengan n-dof maka keempat paamete itu ditentukan hingga yang ke-n. 27

4 Vol. 7, No., Novembe 25 ISSN: Batasan-batasan dai paamete Denenvit- Hatenbeg dapat dilihat pada Tabel (Enda, 26) Tabel. Batasan Paamete Denenvit-Hatenbeg a i Jaak dai Z i Ke Z i+ Diuku sepanjang i Sudut antaa d i Jaak dai X i i Sudut antaa Z i Z i+ Diuku sekita X i Ke X i Diuku sepanjang dan X i Diuku sekita Aplikasi pehitungan DH paamete dapat dilihat pada pehitungan-pehitungan paamete pada Manipulato Tiga Sendi. Rumus umum DH Paamete adalah (Enda, 26) c i s i α i i s T i cα i c i cα i sα i sα i d i i () s i sα i c i sα i cα i cα i d i I Tabel 2. DH Paamete a i i- 2 L 3 L 2 d i i 2 3 X i X i Z i Z i Kinematika Mobile Mobile obot beati obot yang dapat begeak ke tempat lain, dengan jaak yang agak jauh. Mobile obot banyak digunakan pada aplikasi petahanan dan keamanan, dan penjelajahan lingkungan yang ekstim. Rescue obot dai Intenational Rescue System Institute (IRS) meupakan salah satu mobile obot yang dipegunakan untuk kepeluan SAR (Seach and Rescue), khususnya pada bangunan yang mengalami keusakan akibat gempa bumi dan ledakan. Robot ini dikendalikan oleh seoang opeato (Caig, 26). Mobile obot dengan opeato oiented adalah pengenalan geakan dai obot yang membutuhkan seoang opeato. Jadi seluuh geakan obot untuk memindahkan tubuhnya tegantung dai instuksi yang dibeikan oleh seoang opeato. Sistem ini lebih banyak dipakai untuk aplikasi dilapangan, dibandingkan sistem otomatis penuh, disebabkan oleh keadaan lingkungan yang tidak dapat ditebak (Caig, 26). Mobile Robot adalah konstuksi obot yang cii khasnya mempunyai aktuato beupa oda untuk menggeakkan keseluuhan badan obot tesebut, sehingga obot tesebut dapat melakukan pepindahan posisi dai satu titik ke titik yang lain (Enda, 26). Menuut Jacob (26) umus umum DH Paamete adalah: i ci sc i T ssi s i c c c s i i s c i i a i- si di c idi (2) Bedasakan Tabel DH Paamete didapat tansfomasi matiks sebagai beikut (Jacob, 26) T T 2T 3T 4T Px Py P z (3) Gamba 3. DDMR pada medan 2D catesian (Enda, 26) Mobile obot yang dimaksud di sini adalah mobile obot bepenggeak dua oda kii-kanan yang dikemudikan tepisah (Diffeentially Diven Mobile Robot, disingkat DDMR) (Enda, 26). Pada Gamba 2, obot diasumsikan beada dalam kawasan 2D pada koodinat Catesian XY. Paamete-paamete dalam gamba adalah (sudut aah hadap obot), 2b (leba obot yang 28

5 Vol. 7, No., Novembe 25 ISSN: diuku dai gais tengah oda ke oda), (Jai-jai oda (oda kii dan kanan adalah sama dan sebangun)), d (jaak antaa titik tengah antaa 2 oda, G dengan titik acuan F), dan x,y ( koodinat acuan di tubuh obot tehadap sumbu XY) (Enda, 26). Dalam kajian kinematik ini obot diasumsikan begeak elatif pelan dan oda tidak slip tehadap pemukaan jalan. Maka komponen x dan y dapat diekspeesikan dalam suatu pesamaan nonholonomic sebagai beikut (Caig, 26) x G sin φ y G cos φ (4) Untuk titik F sebagai acuan analisa, pesamaan di atas dapat ditulis, (Caig, 26) x G sin φ y G cos φ + φ d (5) obotika, begitupula untuk analisis dinamikanya. Posedu penelitian dilakukan dengan menyiapkan data pime dan sekunde yang akan digunakan dalam pelaksanaan pehitungan D-H Paamete dan menghitung pesamaan kinematika dalam poses pegeakan model eksavato dengan sistem hidolik. 4. Hasil Penelitian Pehitungan Kinematika Lengan Dai data pengukuan yang dipeoleh di lapangan, maka dapat dibuat tabel DH Paamete sebagai beikut : Tabel 3. DH Paamete dai hasil pengukuan Masalah klasik dalam kontol kinematik DDMR ini adalah bahwa kontol ini memiliki dua aktuato, namun paamete kontolnya lebih dai dua, yaitu x untuk geakan ke aah X ( DOF). Inilah cii khas dai sistem non-holonomic (Enda, 26). Bentuk umum pesamaan kinematik untuk DDMR ini dapat dinyatakan dalam pesamaan kecepatan sebagai beikut: (Caig, 26) q t T NH q t (6) dimana q adalah sistem koodinat umum obot, q adalah,, φ T, adalah kecepatan adial (v Kecepatan linie dan ω Kecepatan sudut), adalah v, ω T, dan T NH adalah matiks tansfomasi non-holonomic. 3. Metoda Penelitian Pengukuan dan pengambilan data dilakukan di PT. United Tacto Makassa, sedangkan untuk pengolahan/analisis data dilaksanakan pada di Politeknik Negei Balikpapan. Analisis kinematika diselesaikan dengan Metoda Denenvit-Hatenbeg Paametes (DH Paamete), suatu caa khas epesentasi analisa hubungan geak otasi dan tanslasi antaa lengan-lengan yang tehubung dalam suatu manipulato. Matiks Jacobian juga dapat digunakan untuk mengkaji pesamaan geak dengan efisien. Dalam bidang obotika, Jacobian matiks menguaikan hubungan antaa sudut engsel ( N), putaan dan otasi kecepatan dai end effekto (x ). Dengan matiks Jacobian dapat ditemukan pesamaanpesamaaan untuk kecepatan dan pecepatan i - i α (i ) a (i ) d i i Gamba 4. Konfiguasi model Excavato Bachoe Tansfomasi matiks untuk sumbu, dituliskan sebagai beikut IT (7) Tansfomasi matiks untuk sumbu 2, dituliskan sebagai beikut 29

6 Vol. 7, No., Novembe 25 ISSN: T (8) Tansfomasi matiks untuk sumbu 3, dituliskan sebagai beikut 2 3T (9) Tansfomasi matiks untuk sumbu 4, dituliskan sebagai beikut 3 4T () Tabel 4. Data pengukuan excavato backhoe No Paamete Nilai 2b 22 mm 2.2 m 2 R 44 mm.44 m 3 d 637 mm.637 m 4 45 o 5 L R pm 3.33 π ad s , π 2 ad s 2 Pegeakan lengan-lengan dai dasa (base) sampai sumbu 4 dapat dilihat pada pesamaan beikut: 2 3 4T T 2T 3T 4 T () Atau 4T (2) Pegeakan lengan dai dasa (base) menuju endeffecto, sehingga posisi x, y dan z pada end effecto (Bucket) adalah x T (), y T (4.556 m) dan z T (3,5m) Pehitungan Kinematika Mobile untuk Kecepatan Excavato Backhoe Dai data pengukuan excavato backhoe yang dilakukan, maka dipeoleh data sebagi beikut : Gamba 5. DDMR pada medan 2D Catesian Bentuk umum pesamaan kinematika untuk kecepatan excavato backhoe sepeti telihat pada pesamaan: atau x T y T z T cos sin 45 sin cos π 3.33π π 3.33π.482 (3) (4) (5) Dai pesamaan di atas, didapatkan nilai x T (m), y T (4.556m) dan z T (3.5m). 3

7 Vol. 7, No., Novembe 25 ISSN: π 6.26π 3.33π (6) Pehitungan Kinematika Mobile untuk Pecepatan Excavato Backhoe Bentuk umum pesamaan kinematika untuk kecepatan Excavato backhoe sepeti telihat pada pesamaan beikut: sin cos d cos + d sin cos sin d sin d cos. L R sin 45 cos cos sin 45 cos45 sin sin cos Kesimpulan dan Saan (7). L R (8). L R (9) (2) (2) Dai hasil analisis data pada pembahasan di atas, beikut adalah bebeapa kesimpulan. Kinematika lengan excavato backhoe yang dipeoleh pada posisi x, y dan z pada end effecto adalah x T (m), y T (4.556m) dan z T (3.5m). Pesamaan kinematika mobile excavato backhoe untuk kecepatan dipeoleh sebagai beikut.56π 6.26π 3.33π Pesamaan kinematika mobile excavato backhoe untuk kecepatan dipeoleh : Dai kesimpulan di atas dan seiing pekembangan teknologi yang begitu pesat saat ini maka disaankan aga penilitian selanjutnya dapat dikembangkan dengan metode analisis menggunakan fenite element sehingga distibusi tegangan dan dampaknya pada sistem jika dibei beban pada bagian-bagian pada excavato backhoe dapat diketahui. Penelitian selanjutnya juga dihaapkan dapat mengembangkan ke aah otomasi pada excavato backhoe dengan dasa dan landasan pada pehitungan kinematika yang telah dibuat. Dafta Pustaka Afandi MI, 22, Pemodelan Kinematika Sistem Pengaahan Misil dengan Pehitungan Gangguan pada Landasa, LIPI Tanggeang. Caig. J. 26.Intoduction to obotics: mechanics and contol/john J. Caig.-3d ed. USA: Peason Education Intenational. Enda, P. 26. Disain, contol, dan Kecedasan Buatan XE Kecedasan, buatan.yogyakata: Andi Yogyakata Jacob, R, 26, Models of obot manipulation EE 543. Idam. 24. Rancang bangun model excavato dengan system pneumatic. Univesitas Hasanuddin Makassa. Lidiawati I. 23. Definisi Excavato. diakses 2 Novembe. Available fom: vato-adalah.html Muphy. L.22. Digge Blog. Diakses 6 Januai 25. Avalaible fom: constuctionindex.co.uk/the-diggeblog/view excavato-becomes-a-bagain-basementmachine.html. 3

8 Vol. 7, No., Novembe 25 ISSN:

Implementasi Metode Kontrol ν,ω Berbasis Proporsional Integral Untuk Kontrol Gerak Mobile Robot Berpenggerak Differensial : Studi Simulasi

Implementasi Metode Kontrol ν,ω Berbasis Proporsional Integral Untuk Kontrol Gerak Mobile Robot Berpenggerak Differensial : Studi Simulasi Implementasi Metode Kontol ν,ω Bebasis Poposional Integal Untuk Kontol Geak Mobile Robot Bepenggeak Diffeensial : Studi Simulasi Ahmad Nashul Aziz, Enda Pitowano Juusan eknik Elektonika, Mekatonika Politeknik

Lebih terperinci

Pengaturan Formasi Menggunakan Pendekatan Leader - Follower pada Sistem Multi Robot

Pengaturan Formasi Menggunakan Pendekatan Leader - Follower pada Sistem Multi Robot JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 1, (017) ISSN: 337-3539 (301-971 Pint) A-9 Pengatuan Fomasi Menggunakan Pendekatan Leade - Followe pada Sistem Multi Robot Hais Ti Rahmanto dan Achmad Jazidie Juusan Teknik

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN III.1 Pehitungan Pegeakan Robot Dai analisis geakan langkah manusia yang dibahas pada bab dua, maka dapat diambil bebeapa analisis untuk membuat ancangan geakan langkah

Lebih terperinci

BAB II MEDAN LISTRIK DI SEKITAR KONDUKTOR SILINDER

BAB II MEDAN LISTRIK DI SEKITAR KONDUKTOR SILINDER BAB II MDAN ISTRIK DI SKITAR KONDUKTOR SIINDR II. 1 Hukum Coulomb Chales Augustin Coulomb (1736-1806), adalah oang yang petama kali yang melakukan pecobaan tentang muatan listik statis. Dai hasil pecobaannya,

Lebih terperinci

BAB MEDAN DAN POTENSIAL LISTRIK

BAB MEDAN DAN POTENSIAL LISTRIK 1 BAB MEDAN DAN POTENSIAL LISTRIK 4.1 Hukum Coulomb Dua muatan listik yang sejenis tolak-menolak dan tidak sejenis taik menaik. Ini beati bahwa antaa dua muatan tejadi gaya listik. Bagaimanakah pengauh

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA Bab II : Kajian Pustaka 3 BAB II KAJIAN PUSTAKA Mateial bedasakan sifat popetinya dibagi menjadi bebeapa jenis, yaitu:. Isotopik : mateial yang sifat popetinya sama ke segala aah, misalnya baja.. Othotopik

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. banyaknya komponen listrik motor yang akan diganti berdasarkan Renewing Free

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. banyaknya komponen listrik motor yang akan diganti berdasarkan Renewing Free BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Pendahuluan Bedasakan tujuan penelitian ini, yaitu mendapatkan ekspektasi banyaknya komponen listik moto yang akan diganti bedasakan Renewing Fee Replacement Waanty dua dimensi,

Lebih terperinci

II. KINEMATIKA PARTIKEL

II. KINEMATIKA PARTIKEL II. KINEMATIKA PARTIKEL Kinematika adalah bagian dai mekanika ang mempelajai tentang geak tanpa mempehatikan apa/siapa ang menggeakkan benda tesebut. Bila gaa penggeak ikut dipehatikan, maka apa ang dipelajai

Lebih terperinci

1 Sistem Koordinat Polar

1 Sistem Koordinat Polar 1 Sistem Koodinat ola ada kuliah sebelumna, kita selalu menggunakan sistem koodinat Katesius untuk menggambakan lintasan patikel ang begeak. Koodinat Katesius mudah digunakan saat menggambakan geak linea

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. mengenai Identifikasi Variabel Penelitian, Definisi Variabel Penelitian,

BAB III METODE PENELITIAN. mengenai Identifikasi Variabel Penelitian, Definisi Variabel Penelitian, BAB III METODE PENELITIAN Pembahasan pada bagian metode penelitian ini akan menguaikan mengenai Identifikasi Vaiabel Penelitian, Definisi Vaiabel Penelitian, Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel,

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGGUNAAN SUMBER BELAJAR DAN MINAT BELAJAR DENGAN HASIL BELAJAR PENGUKURAN DASAR SURVEY

HUBUNGAN PENGGUNAAN SUMBER BELAJAR DAN MINAT BELAJAR DENGAN HASIL BELAJAR PENGUKURAN DASAR SURVEY ISSN 085-05 Junal Penelitian Bidang Pendidikan Volume 0(): 6 -, 04 HUBUNGAN PENGGUNAAN SUMBER BELAJAR DAN MINAT BELAJAR DENGAN HASIL BELAJAR PENGUKURAN DASAR SURVEY Dedek Suhendo dan Kistian Juusan Pendidikan

Lebih terperinci

Fisika Dasar I (FI-321)

Fisika Dasar I (FI-321) Fisika Dasa I (FI-321) Topik hai ini (minggu 7) Geak Rotasi Kinematika Rotasi Dinamika Rotasi Kekekalan Momentum Sudut Geak Menggelinding Kinematika Rotasi Pepindahan Sudut Riview geak linea: Pepindahan,

Lebih terperinci

BAB II Tinjauan Teoritis

BAB II Tinjauan Teoritis BAB II Tinjauan Teoitis BAB II Tinjauan Teoitis 2.1 Antena Mikostip 2.1.1 Kaakteistik Dasa Antena mikostip tedii dai suatu lapisan logam yang sangat tipis ( t

Lebih terperinci

GRAFITASI. F = G m m 1 2. F = Gaya grafitasi, satuan : NEWTON. G = Konstanta grafitasi, besarnya : G = 6,67 x 10-11

GRAFITASI. F = G m m 1 2. F = Gaya grafitasi, satuan : NEWTON. G = Konstanta grafitasi, besarnya : G = 6,67 x 10-11 GRAFITASI Si Isaac Newton yang tekenal dengan hukum-hukum Newton I, II dan III, juga tekenal dengan hukum Gafitasi Umum. Didasakan pada patikel-patikel bemassa senantiasa mengadakan gaya taik menaik sepanjang

Lebih terperinci

Gerak melingkar beraturan

Gerak melingkar beraturan 13/10/01 Geak melingka beatuan geak melingka beatuan adalah geak dimensi dengan laju tetap, Aahnya beubah kecepatan beubah v i = vekto kecepatan awal v f = vekto kecepatan akhi θ = pepindahan sudut Gamba

Lebih terperinci

BAB 11 GRAVITASI. FISIKA 1/ Asnal Effendi, M.T. 11.1

BAB 11 GRAVITASI. FISIKA 1/ Asnal Effendi, M.T. 11.1 BAB 11 GRAVITASI Hukum gavitasi univesal yang diumuskan oleh Newton, diawali dengan bebeapa pemahaman dan pengamatan empiis yang telah dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan sebelumnya. Mula-mula Copenicus membeikan

Lebih terperinci

Fisika Dasar I (FI-321)

Fisika Dasar I (FI-321) Fisika Dasa I (FI-321) Topik hai ini (minggu 7) Geak Rotasi Kinematika Rotasi Dinamika Rotasi Kekekalan Momentum Sudut Geak Menggelinding Kinematika Rotasi RIVIEW Riview geak linea: Pepindahan, kecepatan,

Lebih terperinci

BAB 17. POTENSIAL LISTRIK

BAB 17. POTENSIAL LISTRIK DFTR ISI DFTR ISI... 7. POTENSIL LISTRIK... 7. Potensial dan eda Potensial... 7. Dipole Listik...6 7.3 Kapasitansi Listik...9 7.4 Dielektikum... 7.5 Penyimpanan Enegi Listik...5 7.6 Pealatan : Tabung Sina

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang BAB PENDAHULUAN Lata Belakang Pada zaman moden sepeti saat sekaang ini, enegi listik meupakan kebutuhan pime bagi manusia, baik masyaakat yang tinggal di pekotaan maupun masyaakat yang tinggal di pedesaan

Lebih terperinci

Gambar 4.3. Gambar 44

Gambar 4.3. Gambar 44 1 BAB HUKUM NEWTON TENTANG GERAK Pada bab kita telah membahas sifat-sifat geak yang behubungan dengan kecepatan dan peceaptan benda. Pembahasan pada Bab tesesbut menjawab petanyaan Bagaimana sebuah benda

Lebih terperinci

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN. hasil. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (2002:136) metode penelitian

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN. hasil. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (2002:136) metode penelitian 7 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode adalah suatu caa atau jalan yang ditempuh untuk mencapai suatu hasil. Sedangkan menuut Suhasimi Aikunto (00:36) metode penelitian adalah caa

Lebih terperinci

Gerak Melingkar. B a b 4. A. Kecepatan Linear dan Kecepatan Anguler B. Percepatan Sentripetal C. Gerak Melingkar Beraturan

Gerak Melingkar. B a b 4. A. Kecepatan Linear dan Kecepatan Anguler B. Percepatan Sentripetal C. Gerak Melingkar Beraturan B a b 4 Geak Melingka Sumbe: www.ealcoastes.com Pada bab ini, Anda akan diajak untuk dapat meneapkan konsep dan pinsip kinematika dan dinamika benda titik dengan caa menganalisis besaan Fisika pada geak

Lebih terperinci

APLIKASI PENGELOLAAN DATA KERJA PRAKTEK MAHASISWA (STUDI KASUS: FAKULTAS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS SEMARANG)

APLIKASI PENGELOLAAN DATA KERJA PRAKTEK MAHASISWA (STUDI KASUS: FAKULTAS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS SEMARANG) APLIKASI PENGELOLAAN DATA KERJA PRAKTEK MAHASISWA (STUDI KASUS: FAKULTAS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS SEMARANG) B. Vey Chistioko 1,, Dian Ti Wiyanti 2 Pogam Studi Teknik Infomatika Juusan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode meupakan caa keja yang digunakan untuk memahami, mengeti, segala sesuatu yang behubungan dengan penelitian aga tujuan yang dihaapkan dapat tecapai. Sesuai

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Keangka Pemikian Konseptual Setiap oganisasi apapun jenisnya baik oganisasi non pofit maupun oganisasi yang mencai keuntungan memiliki visi dan misi yang menjadi uh dalam setiap

Lebih terperinci

BAB II METODE PENELITIAN. penelitian korelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan

BAB II METODE PENELITIAN. penelitian korelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan BAB II METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Bentuk penelitian yang dipegunakan dalam penelitian ini adalah bentuk penelitian koelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan menggunakan umus

Lebih terperinci

PENGGUNAAN SENSOR DHT11 SEBAGAI INDIKATOR SUHU DAN KELEMBABAN PADA BABY INCUBATOR

PENGGUNAAN SENSOR DHT11 SEBAGAI INDIKATOR SUHU DAN KELEMBABAN PADA BABY INCUBATOR PENGGUNAAN SENSOR DHT11 SEBAGAI INDIKATOR SUHU DAN KELEMBABAN PADA BABY INCUBATOR Lenty Mawani, Nico Demus Rive Fiman Hutabaat Juusan Teknik Elektomedik, Univesitas Sai mutiaa Indonesia Fakultas Sain Teknologi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. identifikasi variabel penelitian, definisi operasional variabel penelitian, subjek

BAB III METODE PENELITIAN. identifikasi variabel penelitian, definisi operasional variabel penelitian, subjek 9 BAB III METODE PEELITIA A. Identifikasi Vaiabel Penelitian Pada bagian ini akan diuaikan segala hal yang bekaitan dengan identifikasi vaiabel penelitian, definisi opeasional vaiabel penelitian, subjek

Lebih terperinci

Fisika Dasar I (FI-321)

Fisika Dasar I (FI-321) Fisika Dasa I (FI-31) Topik hai ini (minggu ) Geak dalam Satu Dimensi (Kinematika) Keangka Acuan & Sistem Koodinat Posisi dan Pepindahan Kecepatan Pecepatan GLB dan GLBB Geak Jatuh Bebas Mekanika Bagian

Lebih terperinci

TRANSFER MOMENTUM TINJAUAN MIKROSKOPIK GERAKAN FLUIDA

TRANSFER MOMENTUM TINJAUAN MIKROSKOPIK GERAKAN FLUIDA TRANSFER MOMENTUM TINJAUAN MIKROSKOPIK GERAKAN FLUIDA Hingga sejauh ini kita sudah mempelajai tentang momentum, gaya-gaya pada fluida statik, dan ihwal fluida begeak dalam hal neaca massa dan neaca enegi.

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pengaruh

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pengaruh BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Pendekatan dan Metode Penelitian Penelitian ini betujuan untuk mendeskipsikan dan menganalisis pengauh evaluasi dii dan pengembangan pofesi tehadap kompetensi pedadogik

Lebih terperinci

PENGARUH KEPEMIMPINAN DOSEN DAN KEMAMPUAN PRAKTIKUM TERHADAP PRESTASI BELAJAR MAHASISWA DALAM MATAKULIAH FISIKA MODERN

PENGARUH KEPEMIMPINAN DOSEN DAN KEMAMPUAN PRAKTIKUM TERHADAP PRESTASI BELAJAR MAHASISWA DALAM MATAKULIAH FISIKA MODERN Seambi Akademica, Vol. IV, No. 1, Mei 016 ISSN : 337-8085 PENGARUH KEPEMIMPINAN DOSEN DAN KEMAMPUAN PRAKTIKUM TERHADAP PRESTASI BELAJAR MAHASISWA DALAM MATAKULIAH FISIKA MODERN Tamizi Pendidikan Fisika

Lebih terperinci

BAB XII ANALISIS JALUR (PATH ANALYSIS) APA SIH?

BAB XII ANALISIS JALUR (PATH ANALYSIS) APA SIH? BAB XII ANALISIS JALUR (PATH ANALYSIS) APA SIH? KONSEP DASAR Path analysis meupakan salah satu alat analisis yang dikembangkan oleh Sewall Wight (Dillon and Goldstein, 1984 1 ). Wight mengembangkan metode

Lebih terperinci

MODIFIKASI DISTRIBUSI MASSA PADA SUATU OBJEK SIMETRI BOLA

MODIFIKASI DISTRIBUSI MASSA PADA SUATU OBJEK SIMETRI BOLA p-issn: 2337-5973 e-issn: 2442-4838 MODIFIKASI DISTIBUSI MASSA PADA SUATU OBJEK SIMETI BOLA Yuant Tiandho Juusan Fisika, Univesitas Bangka Belitung Email: [email protected] Abstak Umumnya, untuk menggambakan

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI 2.1. Pengertian Umum

BAB II DASAR TEORI 2.1. Pengertian Umum BAB II DASAR TEORI.1. Pengetian Umum Gokat meupakan salah satu poduk yang saat dengan teknologi dan pekembangan. Ditinjau dai segi komponen, Gokat mempunyai beagam komponen didalamnya, namun secaa gais

Lebih terperinci

Komponen Struktur Tekan

Komponen Struktur Tekan Mata Kuliah : Peancangan Stuktu Baja Kode : CIV 303 SKS : 3 SKS Komponen Stuktu Tekan Petemuan 4, 5 Sub Pokok Bahasan : Panjang Tekuk Tekuk Lokal Tekuk Batang Desain Batang Tekan Batang batang tekan yang

Lebih terperinci

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PENERIMA BEASISWA MAHASISWA KURANG MAMPU PADA STMIK BUDIDARMA MEDAN MENERAPKAN METODE PROFILE MATCHING

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PENERIMA BEASISWA MAHASISWA KURANG MAMPU PADA STMIK BUDIDARMA MEDAN MENERAPKAN METODE PROFILE MATCHING SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PENERIMA BEASISWA MAHASISWA KURANG MAMPU PADA STMIK BUDIDARMA MEDAN MENERAPKAN METODE PROFILE MATCHING T.M Syahu Ichsan (1111667 ) Mahasiswa Pogam Studi Teknik Infomatika

Lebih terperinci

Konstruksi Fungsi Lyapunov untuk Menentukan Kestabilan

Konstruksi Fungsi Lyapunov untuk Menentukan Kestabilan JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 6, No., (27) 2337-352 (23-928X Pint) A 28 Konstuksi Fungsi Lyapunov untuk Menentukan Kestabilan Reni Sundai dan Ena Apiliani Juusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3. Jenis dan Lokasi Penelitian 3.. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian ekspeimen semu (quasi ekspeimental eseach, kaena penelitian yang akan dilakukan

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif. Karena

METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif. Karena 35 III. METODOLOGI PENELITIAN 1.1 Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskiptif. Kaena penelitian ini mengkaji tentang Pengauh Kontol Dii dan Lingkungan Keluaga Tehadap

Lebih terperinci

BAB PENERAPAN HUKUM-HUKUM NEWTON

BAB PENERAPAN HUKUM-HUKUM NEWTON 1 BAB PENERAPAN HUKUM-HUKUM NEWTON Sebelumnya telah dipelajai tentang hukum Newton: hukum I tentang kelembaban benda, yang dinyatakan oleh pesamaan F = 0; hukum II tentang hubungan gaya dan geak, yang

Lebih terperinci

Hand Out Fisika 6 (lihat di Kuat Medan Listrik atau Intensitas Listrik (Electric Intensity).

Hand Out Fisika 6 (lihat di Kuat Medan Listrik atau Intensitas Listrik (Electric Intensity). Hand Out Fisika 6 (lihat di http:).1. Pengetian Medan Listik. Medan Listik meupakan daeah atau uang disekita benda yang bemuatan listik dimana jika sebuah benda bemuatan lainnya diletakkan pada daeah itu

Lebih terperinci

Analisis Numerik Ragam pada Pelat Utuh dan Retak: Studi Interaksi Dinamis Struktur dengan Udara ABSTRAK

Analisis Numerik Ragam pada Pelat Utuh dan Retak: Studi Interaksi Dinamis Struktur dengan Udara ABSTRAK Volume 6, Nomo 1, Pebuai 2009 Junal APLIKASI Analisis Numeik pada Pelat Utuh dan Retak: Studi Inteaksi Dinamis Stuktu dengan Udaa Agung Budipiyanto Pogam Diploma Teknik Sipil FTSP ITS email: [email protected]

Lebih terperinci

Liston Hasiholan 1) dan Sudradjat 2)

Liston Hasiholan 1) dan Sudradjat 2) EVALUASI KINERJA KARYAWAN MENGGUNAKAN METODE PEMROGRAMAN LINEAR FUY *) Liston Hasiholan 1) dan Sudadjat 2) ABSTRAK Pengukuan kineja kayawan meupakan satu hal yang mutlak dilakukan secaa peiodik oleh suatu

Lebih terperinci

BAB III EKSPEKTASI BANYAKNYA PENGGANTIAN KOMPONEN LISTRIK MOTOR BERDASARKAN FREE REPLACEMENT WARRANTY DUA DIMENSI

BAB III EKSPEKTASI BANYAKNYA PENGGANTIAN KOMPONEN LISTRIK MOTOR BERDASARKAN FREE REPLACEMENT WARRANTY DUA DIMENSI BAB III EKSPEKTASI BANYAKNYA PENGGANTIAN KOMPONEN LISTRIK MOTOR BERDASARKAN FREE REPLACEMENT WARRANTY DUA DIMENSI 3. Pendahuluan Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan ekspektasi banyaknya komponen

Lebih terperinci

IDENTITAS TRIGONOMETRI. Tujuan Pembelajaran

IDENTITAS TRIGONOMETRI. Tujuan Pembelajaran Kuikulum 03 Kelas X matematika WAJIB IDENTITAS TRIGONOMETRI Tujuan Pembelajaan Setelah mempelajai matei ini, kamu dihaapkan memiliki kemampuan beikut.. Memahami jenis-jenis identitas tigonometi.. Dapat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 33 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Obyek dan Lokasi Penelitian Dalam penelitian ini peneliti memilih obyek penelitian UD. Usaha Mandii Semaang, yang betempat di Jalan Semaang Indah C-VI No 20. UD. Usaha

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA PERENCANAAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA PERENCANAAN DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISA PERENCANAAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisa Gaya-Gaya Pada Poos Lengan Ayun Dai gamba 3.1 data dimensi untuk lengan ayun: - Mateial yang digunakan : S-45 C - Panjang poos : 0,5 m - Diamete poos

Lebih terperinci

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 2, (2017) ISSN: ( Print) F-202

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 2, (2017) ISSN: ( Print) F-202 JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 2, (2017) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Pint) F-202 Pengatuan Kecepatan Moto Induksi Tiga Fasa Menggunakan Metode Flux Vecto Contol Bebasis Self-Tuning PI Fey Avianto dan Mochammad

Lebih terperinci

MAKALAH SABUK ELEMEN MESIN

MAKALAH SABUK ELEMEN MESIN MAKALAH SABUK ELEMEN MESIN Disusun Oleh : IWAN APRIYAN SYAM SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUSA PUTRA KATA PENGANTAR Puji syuku kami panjatkan kehadiat Tuhan yang Maha Esa atas limpahan ahmat dan kaunia-nya,sehingga

Lebih terperinci

ALGORITMA SIMPLIFIKASI PERAMBATAN PANAS KONDUKSI PADA BENDA DENGAN BENTUK BOLA

ALGORITMA SIMPLIFIKASI PERAMBATAN PANAS KONDUKSI PADA BENDA DENGAN BENTUK BOLA ALGORITMA SIMPLIFIKASI PERAMBATAN PANAS KONDUKSI PADA BENDA DENGAN BENTUK BOLA Tomi Tistono Fakultas Teknik Univesitas Medeka Madiun [email protected] Abstak Peambatan panas konduksi pada katagoi

Lebih terperinci

dengan dimana adalah vektor satuan arah radial keluar. F r q q

dengan dimana adalah vektor satuan arah radial keluar. F r q q MEDAN LISTRIK 1 2.1 Medan Listik Gaya Coulomb di sekita suatu muatan listik akan membentuk medan listik. Dalam membahas medan listik, digunakan pengetian kuat medan. Untuk medan gaya Coulomb, kuat medan

Lebih terperinci

Pengembangan instrumen penilaian kemampuan berfikir kritis pada pembelajaran fisika SMA

Pengembangan instrumen penilaian kemampuan berfikir kritis pada pembelajaran fisika SMA Papes semina.uad.ac.id/index.php/quantum Semina Nasional Quantum #5 (018) 477-1511 (7pp) Pengembangan instumen penilaian kemampuan befiki kitis pada pembelajaan fisika SMA Suji Adianti, dan Ishafit Pogam

Lebih terperinci

Stabilisasi Pada Sistem Pendulum-Kereta dengan Menggunakan Metode Fuzzy-Sliding Mode Control

Stabilisasi Pada Sistem Pendulum-Kereta dengan Menggunakan Metode Fuzzy-Sliding Mode Control JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No. 1, (214) ISSN: 2337-3539 (231-9271 Pint) B-53 Stabilisasi Pada Sistem Pendulum-Keeta Menggunakan Metode Fuzzy-Sliding Mode Contol Nioa Fatimah Tanzania, Tihastuti Agustinah

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Di dalam modul ini Anda akan mempelajari aplikasi Fisika Kuantum dalam fisika atom

PENDAHULUAN. Di dalam modul ini Anda akan mempelajari aplikasi Fisika Kuantum dalam fisika atom PENDAHULUAN Di dalam modul ini Anda akan mempelaai aplikasi Fisika Kuantum dalam fisika atom dan fisika molekul yang mencakup: Fisika atom dan Fisika Molekul. Oleh kaena itu, sebelum mempelaai modul ini

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA A. Perambatan Bunyi di Luar Ruangan

TINJAUAN PUSTAKA A. Perambatan Bunyi di Luar Ruangan Kebisingan yang belebihan akan sangat bepengauh tehadap indea pendengaan. Seseoang yang telalu seing beada pada kawasan dengan kebisingan yang tinggi setiap hainya dapat mengalami gangguan pendengaan sementaa

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. ilmiah, apabila penelitian tersebut menggunakan metode atau alat yang tepat. dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.

III. METODE PENELITIAN. ilmiah, apabila penelitian tersebut menggunakan metode atau alat yang tepat. dan menguji kebenaran suatu pengetahuan. 8 III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Suatu penelitian dapat behasil dengan baik dan sesuai dengan posedu ilmiah, apabila penelitian tesebut menggunakan metode atau alat yang tepat. Dengan menggunakan

Lebih terperinci

Pengaturan Footprint Antena Ground Penetrating Radar Dengan Menggunakan Susunan Antena Modified Dipole

Pengaturan Footprint Antena Ground Penetrating Radar Dengan Menggunakan Susunan Antena Modified Dipole Pengatuan Footpint Antena Gound Penetating Rada Dengan Menggunakan Susunan Antena Modified Dipole Ande Eka Saputa (1324243) Jalu Pilihan Teknik Telekomunikasi Sekolah Teknik Elekto dan Infomatika Institut

Lebih terperinci

I Wayan Teresna 1, Djoko Suhantono 1. Bali,Phone : , Fax: Abstrak

I Wayan Teresna 1, Djoko Suhantono 1. Bali,Phone : , Fax: Abstrak Pengauh Kualitas Tingkat Peneangan Lampu (I Wayan Teesna dkk.) PENGARUH KUALITAS TINGKAT PENERANGAN LAMPU, LINGKUNGAN KERJA DAN PERALATAN TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA TEKNISI REPARASI ELEKTRONIK DI WILAYAH

Lebih terperinci

Analisis Pengaruh Marketing Mix Terhadap Kepuasan Konsumen Sepeda Motor

Analisis Pengaruh Marketing Mix Terhadap Kepuasan Konsumen Sepeda Motor 34 Analisis Pengauh Maketing Mix Tehadap Kepuasan Konsumen Sepeda Moto Ti Wahyudi 1), Yopa Eka Pawatya 2) 1,2) Pogam Studi Teknik Industi Juusan Teknik Elekto Fakultas Teknik Univesitas Tanjungpua. e-mail

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. adalah untuk mengetahui kontribusi motivasi dan minat bekerja di industri

BAB III METODE PENELITIAN. adalah untuk mengetahui kontribusi motivasi dan minat bekerja di industri BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Bedasakan pemasalahan, maka penelitian ini temasuk penelitian koelasional yang besifat deskiptif, kaena tujuan utama dai penelitian ini adalah untuk mengetahui

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Bab ini membahas mengenai uraian dan analisis data-data yang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Bab ini membahas mengenai uraian dan analisis data-data yang BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini membahas mengenai uaian dan analisis data-data yang dipeoleh dai data pime dan sekunde penelitian. Data pime penelitian ini adalah hasil kuesione yang disebakan kepada

Lebih terperinci

ANALISIS SEKTOR BASIS DAN NON BASIS DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

ANALISIS SEKTOR BASIS DAN NON BASIS DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM ANALISIS SEKTOR BASIS DAN NON BASIS DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM AZHAR, SYARIFAH LIES FUAIDAH DAN M. NASIR ABDUSSAMAD Juusan Sosial Ekonomi Petanian, Fakultas Petanian Univesitas Syiah Kuala -

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian merupakan strategi umum yang dianut dalam

III. METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian merupakan strategi umum yang dianut dalam III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian meupakan stategi umum yang dianut dalam pengumpulan data dan analisis data yang dipelukan, guna menjawab pesoalan yang dihadapi. Metode

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2. Haga Tahanan Jenis Teoi yang mendasai metode tahanan jenis atau metode geolistik adalah hukum Ohm [7] yang mempunyai pesamaan : V I = (2.) R Dengan V menyatakan tegangan (volt),

Lebih terperinci

Sejarah. Charles Augustin de Coulomb ( )

Sejarah. Charles Augustin de Coulomb ( ) Medan Listik Sejaah Fisikawan Peancis Piestley yang tosi balance asumsi muatan listik Gaya (F) bebanding tebalik kuadat Pengukuan secaa matematis bedasakan ekspeimen Coulomb Chales Augustin de Coulomb

Lebih terperinci

BAB II METODA GEOLISTRIK

BAB II METODA GEOLISTRIK BB METOD GEOLSTRK. Pendahuluan Metode Geolistik Metoda geolistik adalah salah satu metoda dalam geofisika yang memanfaatkan sifat kelistikan untuk mempelajai keadaan bawah pemukaan bumi. Metoda geolistik

Lebih terperinci

MOMENTUM LINEAR DAN TUMBUKAN

MOMENTUM LINEAR DAN TUMBUKAN MOMENTUM LINEAR DAN TUMBUKAN 1. MOMENTUM LINEAR Momentum sebuah patikel adalah sebuah vekto P yang didefinisikan sebagai pekalian antaa massa patikel m dengan kecepatannya, v, yaitu: P = mv (1) Isac Newton

Lebih terperinci

APLIKASI SISTEM INFERENSI FUZZY METODE SUGENO DALAM MEMPERKIRAKAN PRODUKSI AIR MINERAL DALAM KEMASAN

APLIKASI SISTEM INFERENSI FUZZY METODE SUGENO DALAM MEMPERKIRAKAN PRODUKSI AIR MINERAL DALAM KEMASAN Posiding Semina Nasional Penelitian, Pendidikan dan Peneapan MIPA, Fakultas MIPA, Univesitas Negei Yogyakata, 14 Mei 011 APLIKASI SISTEM INFERENSI FUZZY METODE SUGENO DALAM MEMPERKIRAKAN PRODUKSI AIR MINERAL

Lebih terperinci

PENERAPAN METODE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING (SAW) DALAM MENENTUKAN PENDIRIAN LOKASI GRAMEDIA DI SUMATERA UTARA

PENERAPAN METODE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING (SAW) DALAM MENENTUKAN PENDIRIAN LOKASI GRAMEDIA DI SUMATERA UTARA Semina Nasional Teknologi Infomasi dan Multimedia 0 STMIK AMIKOM Yogyakata, 6-8 Febuai 0 ISSN : 0-80 PENERAPAN METODE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING (SAW) DALAM MENENTUKAN PENDIRIAN LOKASI GRAMEDIA DI SUMATERA

Lebih terperinci

ESTIMASI VARIANSI PADA PENARIKAN SAMPEL DUA TAHAP UNTUK DATA TIDAK LENGKAP. Sri Subanti Jurusan Matematika F.MIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta.

ESTIMASI VARIANSI PADA PENARIKAN SAMPEL DUA TAHAP UNTUK DATA TIDAK LENGKAP. Sri Subanti Jurusan Matematika F.MIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta. Vol. 6. No., 0 6, Apil 003, ISSN : 40-858 ESTIMASI VARIANSI PADA PENARIKAN SAMPEL DUA TAHAP UNTUK DATA TIDAK LENGKAP Si Subanti Juusan Matematika F.MIPA Univesitas Sebelas Maet Suakata. Abstact Rasio estimation

Lebih terperinci

trigonometri 4.1 Perbandingan Trigonometri

trigonometri 4.1 Perbandingan Trigonometri tigonometi 4.1 Pebandingan Tigonometi 0 Y x P(x,y) y X x disebut absis y disebut odinat jai-jai sudut positif diuku dai sumbu X belawanan aah putaan jaum jam Definisi : = x + y sin = y cos = x tan = y

Lebih terperinci

TRANSFER MOMENTUM ALIRAN DALAM ANULUS

TRANSFER MOMENTUM ALIRAN DALAM ANULUS SEMESTER GENAP 008/009 TRANSFER MOMENTUM ALIRAN DALAM ANULUS Alian dalam anulus adalah alian di antaa dua pipa yang segais pusat. Jadi ada pipa besa dan ada pipa kecil. Pipa kecil beada dalam pipa besa.

Lebih terperinci

KORELASI. menghitung korelasi antar variabel yang akan dicari hubungannya. Korelasi. kuatnya hubungan dinyatakan dalam besarnya koefisien korelasi.

KORELASI. menghitung korelasi antar variabel yang akan dicari hubungannya. Korelasi. kuatnya hubungan dinyatakan dalam besarnya koefisien korelasi. KORELASI Tedapat tiga macam bentuk hubungan anta vaiabel, yaitu hubungan simetis, hubungan sebab akibat (kausal) dan hubungan Inteaktif (saling mempengauhi). Untuk mencai hubungan antaa dua vaiabel atau

Lebih terperinci

ANALISIS DINAMIK ANTARA KONSUMSI DAN TABUNGAN DALAM WAKTU KONTINU

ANALISIS DINAMIK ANTARA KONSUMSI DAN TABUNGAN DALAM WAKTU KONTINU Posiding SNaPP2011 Sains, Teknologi, dan Kesehatan ISSN:2089-3582 ANALISIS DINAMIK ANTARA KONSUMSI DAN TABUNGAN DALAM WAKTU KONTINU 1 Lian Apianna, 2 Sudawanto, dan 3 Vea Maya Santi Juusan Matematika,

Lebih terperinci

BAB. III METODE PENELITIAN. A.Identifikasi Variabel Penelitian. Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

BAB. III METODE PENELITIAN. A.Identifikasi Variabel Penelitian. Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: BAB. III METODE PEELITIA A.Identifikasi Vaiabel Penelitian Pada bagian ini akan diuaikan segala hal yang bekaitan dengan identifikasi vaiabel penelitian, definisi opeasional vaiabel penelitian, subjek

Lebih terperinci

Gerak Melingkar. Gravitasi. hogasaragih.wordpress.com

Gerak Melingkar. Gravitasi. hogasaragih.wordpress.com Geak Melingka Gavitasi Kinematika Geak Melingka Beatuan Sebuah benda yang begeak membentuk suatu lingkaan dengan laju konstan v dikatakan mengalami geak melingka beatuan. Besa kecapatan dalam hal ini tetap

Lebih terperinci

PENERAPAN FORWARD CHAINING PADA NAVIGASI ROBOT KAKI ENAM

PENERAPAN FORWARD CHAINING PADA NAVIGASI ROBOT KAKI ENAM Univesitas Puta Indonesia YPTK Padang - 23 Oktobe 2015 ISSN : 2460-4690 PENERAPAN FORWARD CHAINING PADA NAVIGASI ROBOT KAKI ENAM Teknik Infomatika Magiste Kompute, UPI YPTK, Padang 3), Teknik Infomatika

Lebih terperinci

Penerapan Metode Saw Dalam Menentukan Juara Dance Sekolah Menengah Pertama

Penerapan Metode Saw Dalam Menentukan Juara Dance Sekolah Menengah Pertama ISSN: 2089-3787 63 Peneapan Metode Saw Dalam Menentukan Juaa Dance Sekolah Menengah Petama Yuni Melliyana, Fitiyadi 2 Pogam Studi Sistem Infomasi, STMIK Banjabau Jl.Ahmad Yani Km 33,5 Loktabat Banjabau,

Lebih terperinci

HUKUM COULOMB Muatan Listrik Gaya Coulomb untuk 2 Muatan Gaya Coulomb untuk > 2 Muatan Medan Listrik untuk Muatan Titik

HUKUM COULOMB Muatan Listrik Gaya Coulomb untuk 2 Muatan Gaya Coulomb untuk > 2 Muatan Medan Listrik untuk Muatan Titik HKM CMB Muatan istik Gaya Coulomb untuk Muatan Gaya Coulomb untuk > Muatan Medan istik untuk Muatan Titik FISIKA A Semeste Genap 6/7 Pogam Studi S Teknik Telekomunikasi nivesitas Telkom M A T A N Pengamatan

Lebih terperinci

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI WAHANA GERAK MANDIRI YANG ADAPTIF MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN HIERARCHICAL EXTENDED KOHONEN MAP (HEKM)

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI WAHANA GERAK MANDIRI YANG ADAPTIF MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN HIERARCHICAL EXTENDED KOHONEN MAP (HEKM) PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI WAHANA GERAK MANDIRI YANG ADAPTIF MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN HIERARCHICAL EXTENDED KOHONEN MAP (HEKM) Inda Hatato Tambunan, 13203178 Pogam Studi Teknik Elekto, Sekolah

Lebih terperinci

ANALISIS PENGARUH HARGA JUAL DAN SALURAN DISTRIBUSI TERHADAP VOLUME PENJUALAN AYAM POTONG DI UD. SUPPLIER DAGING AYAM KOTA TANGERANG

ANALISIS PENGARUH HARGA JUAL DAN SALURAN DISTRIBUSI TERHADAP VOLUME PENJUALAN AYAM POTONG DI UD. SUPPLIER DAGING AYAM KOTA TANGERANG Junal Agibisnis, Vol. 9, No. 2, Desembe 2015, [ 137-148 ] ISSN : 1979-0058 ANALISIS PENGARUH HARGA JUAL DAN SALURAN DISTRIBUSI TERHADAP VOLUME PENJUALAN AYAM POTONG DI UD. SUPPLIER DAGING AYAM KOTA TANGERANG

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Desain penelitian merupakan rencana atau metode yang akan ditempuh

BAB III METODE PENELITIAN. Desain penelitian merupakan rencana atau metode yang akan ditempuh BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Desain penelitian meupakan encana atau metode yang akan ditempuh dalam penelitian, sehingga umusan masalah dan hipotesis yang akan diajukan dapat dijawab

Lebih terperinci

PERKIRAAN WAKTU PELAKSANAAN PROYEK PENINGKATAN JARINGAN DAERAH RAWA BERDASARKAN PERKIRAAN BIAYA DAN LUAS AREAL LAYANAN IRIGASI

PERKIRAAN WAKTU PELAKSANAAN PROYEK PENINGKATAN JARINGAN DAERAH RAWA BERDASARKAN PERKIRAAN BIAYA DAN LUAS AREAL LAYANAN IRIGASI Junal Teknik Sipil ISSN 30-053 Pogam Pascasajana Univesitas Syiah Kuala Pages pp. 4-35 PERKIRAAN WAKTU PELAKSANAAN PROYEK PENINGKATAN JARINGAN DAERAH RAWA BERDASARKAN PERKIRAAN BIAYA DAN LUAS AREAL LAYANAN

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, 30 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskiptif, suatu metode penelitian yang ditujukan untuk untuk menggambakan fenomenafenomena

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN PENELITIAN. tujuan utama yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah untuk memperoleh

BAB III RANCANGAN PENELITIAN. tujuan utama yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah untuk memperoleh 44 BAB III RACAGA PEELITIA.. Tujuan Penelitian Bedasakan pokok pemasalahan yang telah diuaikan dalam Bab I, maka tujuan utama yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah untuk mempeoleh jawaban atas

Lebih terperinci

Geometri Analitik Bidang (Lingkaran)

Geometri Analitik Bidang (Lingkaran) 9 Geometi nalitik idang Lingkaan) li Mahmudi Juusan Pendidikan Matematika FMIP UNY) KOMPETENSI Kompetensi ang dihaapkan dikuasai mahasiswa setelah mempelajai ab ini adalah sebagai beikut. Menjelaskan pengetian

Lebih terperinci

Fisika I. Gerak Dalam 2D/3D. Koefisien x, y dan z merupakan lokasi parikel dalam koordinat. Posisi partikel dalam koordinat kartesian diungkapkan sbb:

Fisika I. Gerak Dalam 2D/3D. Koefisien x, y dan z merupakan lokasi parikel dalam koordinat. Posisi partikel dalam koordinat kartesian diungkapkan sbb: Posisi dan Pepindahan Geak Dalam D/3D Posisi patikel dalam koodinat katesian diungkapkan sbb: xi ˆ + yj ˆ + zk ˆ :57:35 Koefisien x, y dan z meupakan lokasi paikel dalam koodinat katesian elatif tehadap

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negei 10 Salatiga yaitu pada kelas VII D dan kelas VII E semeste genap tahun ajaan 2011/2012.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang BAB PENDAHULUAN. Lata belakang Pekembangan suatu teknologi sangat dipengauhi dengan pekembangan suatu ilmu pengetahuan. Tanpa peanan ilmu pengetahuan, bisa dipastikan teknologi akan sulit untuk bekembang

Lebih terperinci

ENERGI SIMETRI DAN ANTI-SIMETRI PADA ION MOLEKUL HIDROGEN H

ENERGI SIMETRI DAN ANTI-SIMETRI PADA ION MOLEKUL HIDROGEN H ENERGI SIMETRI DAN ANTI-SIMETRI PADA ION MOLEKUL IDROGEN abib Mustofa, Bambang Supiadi, Rif ati Dina andayani Pogam Studi Pendidikan Fisika FKIP Univesitas Jembe email: [email protected] Abstact:

Lebih terperinci

HAND OUT STATISTIK NON PARAMETRIK

HAND OUT STATISTIK NON PARAMETRIK HAND OUT STATISTIK NON PARAMETRIK KASUS (k) SAMPEL BERHUBUNGAN Oleh : Aief Sudajat, S. Ant, M.Si PRODI SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA 006 KASUS (k) SAMPEL BERHUBUNGAN Pada bagian

Lebih terperinci

Kata. Kunci. E ureka. A Gerak Melingkar Beraturan

Kata. Kunci. E ureka. A Gerak Melingkar Beraturan Kata Kunci Geak melingka GM (Geak Melingka eatuan) GM (Geak Melingka eubah eatuan) Hubungan oda-oda Pada bab sebelumnya, kita sudah mempelajai geak luus. Di bab ini, kita akan mempelajai geak dengan lintasan

Lebih terperinci

VDC Variabel. P in I = 12 R AC

VDC Variabel. P in I = 12 R AC SUDI EBAIKAN OSI DAN EFISIENSI MOO INDUKSI IGA FASA DENGAN MEMEBAIKI FAKO DAYA MOO INDUKSI Muhammad Fahmi Syawali izki, A.achman Hasibuan Konsentasi eknik Enegi Listik, Depatemen eknik Elekto Fakultas

Lebih terperinci